-->

START UP PERUNGGASAN MASUK DAFTAR FORBES UNDER 30

Tim Dari Chickin Indonesia

Pertamina berhasil mengantarkan jawara Start Up Pertamuda Seed and Scale yang diselenggarakan tahun lalu, yaitu Chickin Indonesia, masuk dalam daftar Entrepreneur 30 & Under 30 kategori Tech Enterprise versi Majalah Forbes.

Chickin merupakan startup yang mengembangkan aplikasi Smart Farm Micro Climate Controller sebagai solusi untuk peternakan ayam agar lebih produktif dan efisien. Chickin Indonesia dinilai Forbes sebagai start up teknologi unggas pertama di Asia Tenggara, dan telah berdampak pada peningkatan pendapatan bagi ratusan peternak unggas. Chickin diketahui telah bermitra di beberapa perusahaan di Jawa Tengah seperti Japfa, Charun Pokphand, CJ group, dan 14 rumah potong hewan lainnya.

Adalah Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra alumnus Universitas Brawijaya sebagai Founder Chickin Indonesia. Kedua anak muda ini berhasil mengungguli 50 tim dari 23 universitas dengan mengusung ide bisnis aplikasi Smart Farm Micro Climate Controller sebagai solusi untuk peternakan ayam agar lebih produktif dan efisien.

"Keunggulan aplikasi yang kami ciptakan adalah membantu peternak unggas agar dapat meningkatkan pendapatan mereka hingga 25 persen. Aplikasi yang kami gagas  ini juga memungkinkan peternak menjual ayam dengan harga lebih tinggi," ungkap Ashab. 

Selain itu, Chickin juga menghadirkan teknologi manajemen kandang, Chickin Smart Farm. Peternak diberi kemudahan dalam memonitor kebutuhan pakan, pertumbuhan ayam, mengatur suhu dan kelembaban kandang, serta mencatat seluruh kegiatan administrasi perkandangan secara digital.    Meski banyak yang meragukan ide mereka, Chickin pantang menyerah. Mereka menganut prinsip growth hacker, menerobos sana-sini untuk mendapatkan investor. Upaya yang dilakukan Chickin tak sia-sia ketika mereka mendapatkan suntikan modal sebesar US$2,5 juta dari investor. 

"Ini sama artinya start up kami bisa tumbuh hingga 2.000 persen dalam setahun," ujar Ashab sembari menyebutkan modal awal membangun start up tersebut sekitar Rp7 juta.

Bukan tanpa alasan Chickin membuat aplikasi tersebut. Menurut Ashab, saat ini ayam potong menjadi salah satu komoditas yang tak pernah absen di pasaran. Peluang dari bisnis ini cukup besar bahkan produk panennya pun sering kali membanjiri pasar.

Ashab menuturkan, ketidakseimbangan antara supply-demand selama ini diakibatkan dari panjangnya rantai pasok dari peternak hingga ke end user. Karena itu, Chickin membuat teknologi manajemen kandang untuk menjawab kebutuhan yang ada di sektor peternakan ayam.

"Kami berupaya untuk meningkatkan produktivitas peternak ayam dan mendorong kebutuhan konsumsi ayam pedaging masyarakat. Jadi kami juga membantu peternak menjual hasil panennya," ujarnya.   

Ashab bersyukur atas prestasi yang diraih Chickin. Menurutnya, keberhasilan Chickin tak terlepas dari bantuan Pertamina yang pada tahun lalu melalui Pertamuda Seed and Scale. 

"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami, termasuk Pertamina. Dukungan Pertamina sangat impactful. Dari situ kami bisa berkembang lagi dan mendapat investor, dan itu sangat membantu Chickin dalam perjalanannya," jelasnya.

Fajriyah Usman, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) mengatakan melalui kegiatan ini diharapkan generasi muda dapat menjadi generasi digital economy yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui inovasi berdasarkan ilmu yang sudah didapat dari jenjang pendidikan.

"Pertamina, dalam upaya mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDG’s) khususnya di poin 4, yakni Pendidikan yang berkualitas bagi seluruh warga negara Indonesia; serta poin 8, Mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi dari aspek kewirausahaan, menggerakan generasi muda Indonesia untuk mendorong tumbuhnya startup dari berbagai kampus, yang selanjutnya dapat meningkat menjadi unicorn. Sebagaimana yang digaungkan oleh Kementerian BUMN yang mendorong seluruh BUMN turut andil melahirkan unicorn-unicorn muda Indonesia," pungkas  Fajriyah. (INF)


PETERNAK MANDIRI KHAWATIRKAN KENAIKAN HARGA SAPRONAK


Harga Daging Ayam Disinyalir Bakal Melonjak Seiring Kenaikan Harga Sapronak


Peternak ayam mandiri tengah was-was akibat pergerakan harga pakan. Pasalnya, pakan merupakan komponen terbesar biaya produksi ayam baik petelur maupun broiler. Hal tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Pardjuni. Ia mengatakan harga pakan sejak Januari 2022 hingga akhir Maret 2022 sudah naik 8-10%. Selain itu harga DOC yang sudah mencapai Rp7.700-7.800 per ekor untuk yang sudah vaksin, menyebabkan biaya produksi peternak naik menjadi Rp20-21 ribu per ekor.

"Harga pakan ini mengalami kenaikan luar biasa. Dan akan susah turunnya. Karena sistemnya kan begitu ada order, pabrik akan memproduksi. Jadi, harga cocok, deal, pakan diproduksi, beli, Kalau harga nggak cocok yang nggak diproduksi," kata Pardjuni.

Padahal, lanjut dia, 70% biaya produksi ayam adalah untuk pakan.

"Yang naik itu semua jenis pakan dan konsentrat. Biaya produksi di peternak sekitar 70% untuk pakan," kata Pardjuni.

Di sisi lain, dia menjelaskan, saat ini adalah low season untuk peternak. Dimana, pembelian bibit atau anakan ayam untuk panen saat Lebaran 2022 sudah dilakukan pekan lalu. Selanjutnya, ujar dia, pembelian DOC akan turun sehingga harga anakan akan turun ke kisaran Rp5.500 - 6.000 per ekor.

"Karena nggak ada momen. Pembelian DOC saat ini adalah untuk panen setelah Lebaran. Jadi slow, puncak permintaan itu pekan lalu buat kejar panen Lebaran. Tapi pasokan aman, untuk Lebaran akan naik 20-30% seiring permintaan," kata Pardjuni.

Dengan turunnya harga DOC, biaya produksi diharapkan bisa terkoreksi.

"Kita prediksi Mei harga bagus dan biaya pokok produksi bisa turun karena DOC turun. Itu kalau harga pakan nggak naik. Ini harga pakan sudah alami kenaikan luar biasa, sudah 8-10% dari Januari ke akhir Maret 2022," kata Pardjuni.

Karena itu, dia menambahkan, peternak akan meminta perusahaan pembibitan ayam menurunkan harga DOC.

"Karena komponen yang paling bisa diturunkan itu biaya DOC-nya. Kalau pakan nggak bisa. Ibaratnya, suka harga, deal, produksi. Kalau nggak ya nggak ada pakan. Karena itu harga pakan juga nggak akan gampang turun," kata dia.

Dia memprediksi, harga pokok produksi bisa turun ke bawah Rp20.000 per kg jika harga DOC turun disertai harga pakan stabil tanpa lonjakan berarti.

"Sekarang saja kami beli pakan sudah Rp8.400 - 9.050 harga kandang. Biaya pokok produksi bisa Rp20-21 ribu per kg. Dengan harga jual saat ini, kami masih menikmati keuntungan. Tapi, nanti kalau pakan naik lagi, DOC turun, berarti jual impas. Kecuali kalau pakannya melonjak," kata Pardjuni.

Sementara itu, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) nasional mencatat, harga rata-rata daging ayam ras pada 5 April 2022 bertengger di Rp37.800 per kg. Harga termahal di Nusa Tenggara Timur yang mencapai Rp47.650 per kg. Padahal sebelum puasa, harga daging ayam masih berkisar Rp 32.000 per kg. (INF)

PB PDHI ADAKAN SEMINAR MITIGASI WABAH LSD

Ketum PDHI bersama para pembicara seminar

Lumpy Skin Disease (LSD) merupakan penyakit yang baru - baru ini mewabah di Indonesia khususnya di Provinsi Riau. Atas kekhawatiran mewabahnya LSD PB PDHI menggelar seminar nasional terkait mitigasi wabah penyakit LSD secara luring di Hotel Grand Whiz Simatupang maupun daring mellaui aplikasi Zoom Meeting pada Jum'at (1/4) yang lalu. 

Ketua Umum PDHI Drh Muhammad Munawaroh menyatakan keprihatinannya atas datangnya kembali penyakit baru ke Indonesia. melalui webinar ini diharapkan nantinya PDHI dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait mitigasi wabah LSD. 

"Sebagai partner pemerintah kami ingin berbuat lebih, memberikan rekomendasi bagaimana sebaiknya wabah ini ditangani. Sapi dan daging sapi sudah menjadi bagian penting negara ini, dengan adanya LSD ini juga akan berpotensi mengganggu supply dan demand daging sapi. Nah makanya hal ini harus sgera ditangani supaya tidak seperti ASF kemarin," kata Munawaroh dalam sambutannya.

Hadir sebagai narasumber yakni Drh Arif Wicaksono (Kasubdit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan), Drh Tri Satya Putri Naipospos (Ketua Umum CIVAS), Prof Widya Asmara (Guru Besar FKH UGM), dan Didiek Purwanto (Ketua Umum GAPUSPINDO). 

Drh Arif Wicaksono yang menjadi narasumber pertama mengatakan bahwa hingga kini LSD yang mewabah di Riau telah menginfeksi 381 ekor sapi secara keseluruhan dan sapi yang mati akibat LSD tercatat sebanyak 3 ekor, dan yang dipotong secara terpaksa sebanyak 14 ekor. 

"Kabupaten Indragiri Hulu merupakan kabupaten yang terbanyak terinfeksi LSD, kami masih melakukan mitigasi, dan sudah melakukan vaksinasi kepada sapi - sapi yang masih belum terinfeksi. Pemerintah sendiri sudah menggelontorkan 450.000 dosis vaksin untuk melakukan vaksinasi di sana," tutur Arif.

Sementara itu Drh Tri Satya Putri Naiposos secara mendalam menjelaskan epidemiologi penyakit ini. Ia bialng bahwa LSD menyebar dari benua Afrika yang juga banyak menyerang ruminansia di sana. Penyebarannya paling banyak dikarenakan oleh kontak langsung dan juga melalui vektor serangga seperti nyamuk, lalat pengisap darah, dan caplak.

"Yang juga perlu kita cermati penyakit ini memang tidak begitu mematikan, namun tetap harus dicegah. Terlebih lagi ini merupakan penyakit eksostik di sini, makanya kita harus banyak belajar dari beberapa negara Afrika. Jangan lupakan satwa liar juga, karena satwa liar di sana (Afrika) secara serologis terdeteksi LSD, makanya kalau perlu satwa liar kita dilakukan itu uji serologis biar kita tahu juga keadaanya," tutur wanita yang akrab disapa Ibu Tata tersebut.

Sementara itu Prof Widya asmara menyatakan bahwa LSD bukanlah penyakit yang zoonotik. Ini juga sekaligus mengonfirmasi berita - berita hoax terkait LSD yang beredar di media sosial dan beberapa portal berita.

"Jadi enggak usah takut makan daging atau olahan daging, ini bukan penyakit yang zoonotik. Jadi jangan sampai masyarakat menerima berita - berita hoax mengenai LSD. Daging hewan yang terinfeksi LSD masih boleh dikonsumsi, hanya masalah etika saja," tutur Prof Widya.

Kesiapan pelaku usaha terkait wabah LSD juga dipaparkan oleh Didiek Purwanto. Menurutnya, pelaku usaha terutama feedlot sudah pasti siap dengan hal ini, namun ia menyatakan keraguannya bahwa akan kesiapan peternak mandiri.

"Saya kemarin ke Jawa Timur nanya ke peternak, mereka nggak tahu itu LSD. Di Riau sendiri bahkan saya tanya kalau peternak malah enggak takut LSD, soalnya enggak bikin sapi mati sekaligus banyak kaya penyakit Jembrana, nah ini harus dibenahi," tutur Didiek. (CR)


SAPI BANTUAN PEMPROV RIAU MATI KELELAHAN AKIBAT TERTAHAN DI KARANTINA

Sapi mati akibat kelelahan

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menyayangkan sikap Badan Karantina Pertanian, Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, Jawa Timur (Jatim) yang menahan pengiriman sapi bantuan Pemprov Riau untuk masyarakat.

Atas kondisi itu, sebanyak 5 ekor sapi bantuan masyarakat mati karena kelelahan. Padahal pengiriman sapi tersebut sudah dilengkapi surat kesehatan dan syarat-syarat lainnya.

Bahkan Pemprov Riau telah melakukan koordinasi dengan Direktur Kesehatan Hewan, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan, Kementerian Pertanian terkait pengiriman bantuan sapi tersebut.

Untuk tahap awal sapi bantuan Pemprov Riau dikirim sebanyak 567 ekor, atau 30 persen dari total bantuan sebanyak 1.883 ekor sapi. Namun, saat ini 567 sapi tersebut masih ditahan di Badan Karantina Pertanian, Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Bangkalan, Jawa Timur.

"Kami sedikit kecewa sapi bantuan masyarakat ditahan di Karantina Bangkalan," ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau, Herman, Jumat (1/4/2022) dikutip dari Media Center Riau.

Herman mengatakan, jika pihaknya telah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Kepala Pusat Karantina Hewan, bahwa sapi bantuan Pemprov Riau dari Jatim boleh masuk Riau, meskipun saat ini Riau terkena wabah LSD.

"Tapi hari ini sapi bantuan kita tertahan di Karantina Bangkalan. Alasan mereka masih menunggu instruksi dari pusat, makanya kita bingung juga pusat yang mana lagi. Padahal kita sudah koordinasi Kementan, baik itu Direktur Kesehatan Hewan dan Kepala Pusat Karantina Hewan. Termasuk kita koordinasi dengan Kepala Biro Hukum Kementan," terangnya.

"Jadi sampai hari ini sudah lima hari sapi ditahan di Karantina Bangkalan, dan sudah lima ekor sapi yang mati. Semua sapi yang mati itu sudah dilakukan visum, dan hasilnya semuanya mati karena kelelahan. Sebab kapasitas karantina di sana tidak memadai," sambungnya.

Terkait persoalan itu, Herman mengaku telah melakukan koordinasi dengan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Effendi Sianipar yang intens melakukan memperhatikan hewan ternak masuk ke Riau.

"Beliau minta kronologis kejadian, dan sudah kita sampaikan, termasuk hasil visum sapi. Nanti beliau akan me-sounding-kan dengan Kepala Pusat Karantina Kementan," ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga sudah melakukan rapat dengan pihak pendamping pengadaan sapi dari Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun), Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau guna mencari solusi terkait persoalan ini.

"Jadi nanti kita akan membuat surat Gubernur yang disampaikan ke Kementan, yang ditembuskan ke Dirjen Kesehatan Hewan, dan lainnya," bebernya.

Sebab menurut Herman, atas kondisi ini pihak rekanan pengadaan sapi bantuan Pemprov Riau mengelukan biaya yang harus diluarkan untuk pembelian rumput makan sapi.

"Jadi satu hari itu mereka mengeluarkan biaya 20 juta untuk pengadaan rumput. Jadi selama lima hari sapi tertahan, selain sapi mati, juga biaya ekstra yang harus dikeluarkan," keluhnya.

"Makanya kita ingin mempertahankan dasar apa Karantina Bangkalan menahan sapi kita. Kalau karena Riau kena wabah LSD, Gubernur Riau sudah mengeluarkan surat edaran yang dilarang itu sapi keluar dari Riau, bukan sapi masuk. Bahkan sapi bantuan yang sekarang tertahan itu akan kita masukan ke daerah yang tidak kena wabah, seperti Rokan Hilir (Rohil) dan Kuantan Singingi (Kuansing)," tutupnya. (INF)

BABI BELGIAN LANDRACE

Belgian Landrace, juga dikenal sebagai Belgian Lop-eared dan Improved Belgia, berasal dari Belgia utara pada akhir 1920-an. Tujuannya adalah untuk memperbaiki babi Landrace asli yang pendek dan gemuk tanpa banyak otot. Landrace Jerman (yang juga mengandung genetika British Large White) diimpor dan disilangkan dengan Landrace asli pada 1930-an. Persilangan lebih lanjut dilakukan dengan breed tambahan untuk meningkatkan karakteristiknya.

Landrace Belgia digambarkan sebagai babi putih yang kuat dan berotot dengan telinga yang jatuh. Tubuhnya memanjang, dan punggungnya cukup besar dan agak membulat. Bagian belakang sangat berotot, dan kakinya pendek dan padat.

Belgian Landrace memiliki kesuburan tinggi, menghasilkan 10-12 anak babi per litter dan dapat menghasilkan hingga 7 litter seumur hidup mereka. Babi betina menjadi induk yang baik dan menghasilkan susu dalam jumlah besar.

Belgian Landraces memiliki tingkat pertumbuhan yang rendah, tetapi daging yang dihasilkan memiliki persentase daging tanpa lemak yang tinggi. Mereka sensitif terhadap perubahan lingkungan tetapi beradaptasi dengan baik dengan unit dalam ruangan.

Foto: wikipedia

BABI BELARUS BLACK PIED

Babi ini berasal dari Minsk yang merupakan ibu kota Belarusia, bekas anggota Uni Soviet. Adalah hasil persilangan babi Belarusia asli dengan Large Whites, Large Blacks, Middle Whites dan Berkshires pada abad ke-19.

Ini adalah jenis berukuran sedang dengan bulu putih yang sebagian besar tertutup bintik-bintik hitam. Tubuh lebar dan dalam, dan bagian belakang tubuh relatif lurus. Kepalanya lurus, telinganya berukuran sedang, dan moncongnya berwarna merah muda cerah.

Babi Belarus Black Pied adalah jenis yang tumbuh cepat dan induknya menghasilkan hingga 2 litter per tahun sekitar 10-12 anak babi per litter. Mereka beradaptasi dengan berbagai iklim dan tahan terhadap lingkungan yang penuh tekanan. Mereka juga cukup tahan terhadap penyakit.

Dibiakkan untuk daging dan lemak babi. Kehilangan popularitas setelah tahun 1950-an ketika permintaan daging tanpa lemak mulai meningkat.

Foto: wikipedia

BABI BEIJING BLACK

Beijing Black, juga dikenal sebagai Peking Black, berasal dari Cina. Beijing Black diproduksi pada tahun 1962 dengan menyilangkan babi Berkshire dengan keturunan babi asli Cina. Kemudian Yorkshires dan Soviet Whites juga dimasukkan dalam pembiakan. Beijing Black adalah ras sedang hingga besar yang secara fisik kuat dan kokoh.

Trah ini didominasi warna hitam, dengan beberapa tanda putih. Moncong mereka khas, dengan bagian luar yang fleksibel dan bagian dalam yang menempel kuat ke kepala melalui pelat pelindung yang keras, memberi mereka kemampuan mencari makan yang unggul. Mereka sangat kuat dan mudah beradaptasi, membuatnya sangat cocok untuk kondisi pertanian intensif.

Beijing Black memiliki tingkat perkembangbiakan yang tinggi, dengan induk babi menghasilkan 6-10 anak babi per litter dan 2-3 liter per tahun. Mereka adalah babi dengan efisiensi pakan yang tinggi. Jenis yang populer, dibudidayakan secara ekstensif untuk dagingnya di seluruh China dan Asia Tenggara.

Foto: wikipedia

BABI BAZNA

Babi Bazna awalnya diproduksi di Transylvania tengah, Rumania pada tahun 1972 dari persilangan Berkshires dan Mangalitsas. Babi Bazna lebih ditingkatkan antara tahun 1885 dan 1900 dengan menyilangkan babi jantan Berkshire (diimpor dari Inggris) dengan babi betina. Setelah itu, perbaikan telah dilakukan dengan membiakkan Baznas dengan breed Yorkshire, Sattelschwein, Wessex dan Hampshire. Bazna sekarang lebih tersebar luas di sekitar wilayah Transylvania lainnya.

Bazna berwarna hitam dengan sabuk putih (lebar 30 sampai 40 cm) yang mengelilingi tubuh, mulai dari bahu hingga kaki depan. Garis abu-abu terlihat jelas di mana warna hitam dan putih bertemu, menunjukkan bulu tidak berpigmen yang tumbuh melalui kulit berpigmen. Baznas adalah jenis berukuran sedang bertubuh kekar.

Kepala agak cekung, telinga berukuran sedang dan menghadap ke depan. Betina menghasilkan sekitar 9 anak babi sekali melahirkan.

Mereka dibesarkan secara lokal dan memiliki daging berlemak. Bazna belum dibudidayakan secara intensif dibandingkan dengan banyak breed lainnya, mereka tidak memiliki sifat yang sangat produktif.

Foto: fondazioneslowfood.com

BABI BAYEAUX

Juga dikenal sebagai Porc Bayeaux, breed ini berasal dari Normandia, Prancis disilangkan dari breed Normandia dan British Berkshire pada abad ke-19. Babi Bayeaux hampir mati karena invasi Normandia dalam Perang Dunia II tetapi beberapa peternak yang berkomitmen membuat mereka terus bertahan.

Warnanya putih dengan tanda hitam, jenis besar dengan berat sekitar 350 kg saat dewasa. Ia memiliki tubuh yang panjang dan lebar dengan kaki pendek, dan kepala serta moncong yang lebar dengan telinga yang kecil dan melengkung. Temperamennya tenang.

Ini terutama dibiakkan untuk daging pork karena merupakan jenis yang kuat yang tahan terhadap metode pertanian intensif. Babi Bayeaux berat badannya naik dengan cepat dan induk yang baik.

Foto: lespetitstresseaux.fr

AGAR AIR MINUM SENANTIASA AMAN

Ketersediaan dan kualitas air penting bagi kelangsungan hidup dan performa ayam. (Foto: Istimewa)

Konsumsi air minum ayam sebenarnya dapat menjadi indikasi kondisi kesehatan serta indikasi baik/buruknya manajemen pemeliharaan. Ketika konsumsi air minum menurun, maka harus segera dievaluasi kemungkinan penyebabnya. Banyak faktor yang dapat menyebabkan itu, misalnya ayam sedang terinfeksi suatu penyakit, kondisi lingkungan kandang terlalu dingin, jumlah dan distribusi tempat minum tidak merata, tempat minum kotor, kualitas air buruk terutama terlihat dari fisik air dan lain sebagainya.

Masalah Kuantitas dan Sumber Air Minum
Pada musim penghujan mungkin peternak akan menghadapi masalah yang sama terkait air minum, yakni kualitasnya. Seperti dirasakan peternak layer asal Tigaraksa, Rahmat Hidayat, kandangnya mengalami krisis kualitas air hingga harus mengakali air untuk kebutuhan minum ayamnya.

“Sebenarnya air ada, tetapi kualitasnya jelek, warnanya sangat keruh dan berbau lumpur menyengat. Dari sini saja kita sudah tau bagaimana kualitas kimiawinya, tentunya ini bukan air minum yang layak sekalipun untuk ayam,” tutur Rahmat.

Selama ini Rahmat harus menambah biaya dengan menambahkan beberapa substrat untuk memperbaiki kualitas air minum untuk ayamnya dan menjadi tambahan biaya produksi. Ia sendiri hanya bisa pasrah, karena sumber air di peternakannya berasal dari air permukaan (sungai) yang sewaktu-waktu bisa berubah kualitasnya karena perubahan musim.

Ketersediaan air sejatinya penting bagi kelangsungan hidup dan performa ayam. Air bisa didapat dari berbagai sumber, yang paling mudah misalnya berasal dari air permukaan (sungai, danau, rawa dan lain-lain).

Kendati demikian, dengan kondisi seperti sekarang maka pemanfaatan air sungai dalam aktivitas peternakan, baik sebagai air minum maupun proses pembersihan kandang dan peralatan sebaiknya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (CR)

BABI BA XUYEN

Babi Ba Xuyen berasal dari Vietnam dari persilangan antara babi Berkshire (diimpor dari Inggris dari tahun 1932-1958) dan babi Bo Xu (yang merupakan persilangan antara babi Craonnais dan babi Cina, diimpor oleh orang Prancis dan Cina antara tahun 1900 dan 1920). Mereka ditemukan di sepanjang Delta Sungai Mekong di mana mereka sangat beradaptasi dengan lingkungan air asin.

Ba Xuyen adalah jenis kecil, dengan berat sekitar 100 kg pada saat dewasa. Tubuh dan kaki pendek, pinggul lebar, dan perut besar. Wajahnya pendek dengan moncong sedikit melengkung dan telinga berukuran sedang menghadap ke depan.

Betina melahirkan hingga 3 kali setahun menghasilkan sekitar 8 anak babi per litter. Mereka mudah dilatih dan dijinakkan. Mereka memiliki indera penciuman yang kuat sehingga pandai mencabut makanan yang sulit ditemukan di rawa Delta Mekong. Babi Ba Xuyen sangat tahan terhadap penyakit.

Babi Ba Xuyen terutama diternakkan secara lokal untuk produksi daging. Mereka tidak diternakkan secara intensif karena ukuran litter dan laju pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan jenis lainnya. Mereka mudah dijinakkan dan umumnya dipelihara sebagai hewan peliharaan di Asia Tenggara. Mereka akan makan apa saja, jadi sebagian besar digunakan untuk membersihkan sisa makanan.

Foto: breedslist.com

BABI AUSTRALIAN YORKSHIRE

Jenis ini berasal dari Yorkshire, Inggris dan diperkenalkan ke Australia dan juga Amerika Utara.

Memiliki tubuh yang besar dengan bulu yang sangat halus dan punggung yang lurus. Baik babi jantan maupun babi betina beratnya bisa mencapai hingga 300 kg.

Babi Australian Yorkshire berwarna merah muda hingga putih. Telinganya tegak dan moncongnya panjang, ekornya pendek dan bengkok. Secara umum mudah dilatih dan merupakan jenis yang cerdas.

Dibudidayakan untuk daging berkualitas tinggi. Digunakan untuk bacon, daging tanpa lemak, dan ham.

Foto: wikipedia

BABI BASQUE

Babi Basque berasal dari Perancis dan Spanyol, dan cukup langka. Digunakan untuk memproduksi pork.

Tubuh, kepala dan anggota badannya kokoh. Bulunya halus berwarna pink hingga putih dengan bintik-bintik hitam besar. Kepala dan bokong umumnya berwarna hitam.

Telinganya besar dan melengkung ke depan di atas mata. Karakternya tenang, mereka umumnya berkembang biak dengan baik, memiliki berat sekitar 160 kg saat dewasa.

Foto: wikipedia

DITJEN PKH GELAR WEBINAR BUILDING INDONESIAN DAIRY INDUSTRY

Webinar Building Indonesian Dairy Industry. (Foto: Infovet/Sjamsirul)

Selasa (29/3), dimulai pukul 09:00 WIB, Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, bersama US Dairy Industry’s Experience menggelar webinar “Building Indonesian Dairy Industry”.

Dalam sambutannya, Direktur Pemasaran dan Pengolahan Hasil Peternakan, Ditjen PKH, Tri Melasari, mengemukakan bahwa hambatan pengembangan sapi perah di Indonesia karena kepemilikan rata-rata hanya 2-3 ekor sapi perah/keluarga. 

“Dengan rata-rata produksi susu hanya 12 liter/ekor/hari. Selain itu, regenerasi peternak yang juga berjalan lambat,” kata Tri.

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah telah membuat pilot project sapi perah di Pasuruan, Jawa Timur sebagai percontohan bagi generasi milenial.

“Juga dirintis untuk mempelajari pengalaman pemeliharaan sapi perah peternak di Amerika Serikat dengan bentuk berbagai kerja sama,” tambahnya.

Dalam webinar tersebut turut menghadirkan narasumber diantaranya DR Sophie Eaglen PhD (National Association of Animal Breeders Inc), Paul Thomas (American Breeders Service), Sidney Anders (American Jersey Cattle Association), Timothy Anderson (Wisconsin Departement of Agriculture Trade and Consumer Protection) dan DR Deddy Fachruddin Kurniawan DVM (Dairy Pro Indonesia), dengan moderator Epi Taufik SPt MVPH MSi IPM PhD. (SA)

MENGENAL BIOFILM: WUJUD GAYA HIDUP BAKTERIA

Bakteria secara umum mampu mengekspresikan dua bentuk fenotip yang terkait dengan gaya hidupnya (life style), yaitu Planktonic phenotype dan Biofilm phenotype. Bisa terjadi baik secara in-vitro (air, tanah) maupun secara in-vivo (dalam tubuh induk semang).

Gaya hidup ternyata tidak hanya dijumpai dalam peradaban umat manusia, tetapi juga dalam dunia bakteria. Tulisan ini berusaha meneropong satu gaya hidup bakteria dalam wujud biofilm yang menjadi sumber kontaminasi mikroba patogen dalam sistem distribusi air minum ayam modern.

Seyogianya, pasca pakan non-AGP (Antibiotic Growth Promoter) cemaran mikroba patogen bagi ayam modern, termasuk via air minum, secara holistik harus direduksi semaksimal mungkin, dengan demikian performa akhir tetap optimal dan stabil.

Kenangan tentang Bakteria
Bakteria adalah mikroorganisme prokariotik (tidak mempunyai membran inti sel), dengan ukuran berkisar 0,5-5,0 µm dan berbentuk bacili, cocci, spirilia atau seperti koil. Kebanyakan bakteria berada dalam rupa sel-sel tunggal, tapi ada juga yang cenderung berada dalam kelompok, misalnya streptococcus berbentuk seperti rantai atau staphylococcus akan tampak seperti serumpun buah anggur (Hermans et al., 2010; Timoney, 2010).

Selain secara in-vivo (di dalam tubuh induk semang), bakteria juga mampu untuk berkembang biak secara in-vitro (di luar tubuh induk semang), selama kondisi media atau substrat ideal dan cukup nutrisi yang dibutuhkan (Garret et al., 2008).

Hans Christian Gram pada 1884, membagi bakteria menjadi dua kelompok besar berdasarkan teknik pewarnaan yang ditemukannya. Dengan pewarnaan gram, dinding sel bakteria gram positif yang kaya akan senyawa peptidoglikan dan lipoprotein akan menyerap warna biru-keunguan, sedangkan dinding sel bakteria gram negatif yang terdiri dari peptidoglikan dan lipopolisakarida (LPS) akan menyerap warna merah jambu.

Perbedaan komposisi kimiawi dinding sel juga yang menyebabkan perbedaan sensitivitas bakteria terhadap sediaan antimikroba maupun preparat logam berat seperti perak (Ag) dan tembaga alias Cu (Azam et al., 2012; Chernousova et al., 2013).

Gaya Hidup dan Biofilm
Secara alamiah, baik in-vivo maupun in-vitro, bakteria mengekspresikan dua buah bentuk fenotip yang terkait erat dengan model gaya hidupnya yang saling berlawanan satu sama lain (Hall-Stoodley et al., 2004; Römling, 2005; Garret et al., 2008), yaitu:… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022.

Ditulis oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXIII SUKSES DIGELAR VIRTUAL

Pelatihan PJTOH angkatan XXIII dibuka oleh Dirkeswan Dr Drh Nuryani Zainudin MSi, Rabu (23/3). (Foto: Dok. ASOHI)


JAKARTA, 23-24 Maret 2022. Melalui fasilitas zoom meeting, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali melaksanakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) angkatan XXIII mengingat situasi pandemi COVID-19 yang belum usai.

Drh Forlin Tinora selaku Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan, dalam rangka meningkatkan kemampuan dan keterampilan bagi Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan, ASOHI bekerja sama dengan Direktorat Kesehatan Hewan secara berkesinambungan melaksanakan Pelatihan PJTOH Bersertifikat dimana saat ini sudah mencapai angkatan XXIII.

Adapun materi pelatihan PJTOH secara garis besar tidak berubah, meliputi tiga bagian yaitu materi tentang perundang-undangan, materi kajian teknis (biologik, farmasetik feed additive, feed supplement, obat alami) dan materi tentang pemahaman organisasi dan etika profesi.

“Untuk ini kami menghadirkan pihak-pihak yang kompeten untuk menjadi narasumber yaitu Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Pakan, BBPMSOH (Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan), Komisi Obat Hewan (KOH), Tim CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik), PB PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), Pusat Karantina Hewan, PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil), Ketua Umum ASOHI, beserta Ketua Bidang Peredaran Obat Hewan-ASOHI,” jelas Forlin.

Ia menambahkan, hingga tahun ini minat dokter hewan dan apoteker untuk mengikuti acara pelatihan PJTOH masih cukup tinggi. Peserta angkatan XXIII mencapai 100 orang dari perusahaan obat hewan dan pakan dari berbagai daerah. Hal ini menunjukkan tingginya kesadaran perusahaan dan para penanggungjawab teknis obat hewan/calon penanggungjawab teknis obat hewan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari, dalam sambutannya menjelaskan tugas dari PJTOH. “Yakni memberikan informasi peraturan perundangan bidang obat hewan; memberikan saran dan pertimbangan teknis mengenai jenis obat hewan yang akan diproduksi/diimpor; menolak produksi, penyediaan, peredaran dan repacking obat hewan ilegal; serta menolak peredaran dan repacking obat hewan yang belum mendapat nomor pendaftaran.”

Sementara PJTOH di pabrik pakan, ia menambahkan, memiliki tugas penting menolak penggunaan bahan baku atau obat hewan jadi yang dilarang dicampur dalam pakan ternak dan menyetujui penggunaan bahan baku obat hewan jadi yang dicampur dalam pakan yang memenuhi syarat mutu atau menolak apabila tidak sesuai dengan ketentuan peraturan di bidang obat hewan.

“Selain pelatihan PJTOH tingkat dasar ini, ASOHI merencanakan akan menyelenggarakan Pelatihan PJTOH Tingkat Lanjutan (advance). Pelatihan PJTOH tingkat lanjutan akan membahas topik-topik yang lebih mendalam, sehingga ilmu yang diperoleh dari pelatihan tingkat dasar ini akan terus berkembang dan bermanfaat sesuai perkembangan zaman,” tukasnya.

Pada hari pertama pelatihan, pembicara pertama diisi oleh Direktur Kesehatan Hewan, Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi, yang menyampaikan paparan berjudul Sistem Kesehatan Hewan Nasional. Kemudian dilanjutkan paparan dari Koordinator Substansi Pengawasan Obat Hewan, Drh Ni Made Ria Isriyanthi PhD, yang menyampaikan update seputar peraturan terbaru terkait obat hewan.

Pelatihan PJTOH Angkatan XXIII sangat dirasakan manfaatnya oleh peserta untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, khususnya dalam menjalankan tugas sebagai penanggung jawab teknis obat hewan. (WK)

PENYAKIT TERNAK SAPI LUMPY SKIN DISEASE (LSD)

Lumpy Skin Disease (LSD) adalah penyakit pada ternak sapi yang disebabkan oleh virus dari famili Poxviridae genus Capripoxvirus. Virus ini dapat bertahan lama di lingkungan, terutama saat berada dalam keropeng kulit yang mengering. Penularan Virus LSD paling utama disebarkan oleh vektor serangga berupa nyamuk, lalat dan kutu. Tingkat kejadian penyakit (morbiditas) berkisar pada 10-20% sedangkan tingkat kematian (mortalitas) pada rentang 1-5%.

Penulis: drh Muhammad Munawaroh, MM

Penyakit ini tergolong sebagai Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) Golongan I serta Penyakit Hewan Menular Strategis yang belum ada di Indonesia. Namun, pada awal Tahun 2022 penyakit ini sudah terdeteksi pada ternak sapi di Kabupaten Indragiri Hulu kemudian menyebar ke Kabupaten lainnya di Provinsi Riau. Kejadian penyakit ini menimbulkan kerugian bagi masyarakat peternak, serta dapat mengganggu target pencapaian program Pemerintah untuk meningkatkan populasi sapi dalam negeri apabila semakin meluas penyebarannya ke Provinsi lain di Indonesia. Meski dalam hal ini, Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan vaksin ke Provinsi Riau sebagai langkah pengendalian penyakit.

Sampai dengan saat ini, belum ada kejelasan mengenai asal mula terbawanya penyakit LSD tersebut ke dalam negeri. Pemerintah memiliki instrumen Badan Karantina Pertanian di Kementerian Pertanian yang memiliki tugas dan fungsi untuk mencegah masuknya penyakit dari luar negeri sesuai dengan Undang Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan. Informasi yang berkembang, LSD masuk ke Indonesia di Provinsi Riau diduga akibat adanya vektor yang terbawa oleh moda transportasi dari luar negeri ke Provinsi Riau. Berdasarkan peta penyebaran penyakit hewan dari Badan Kesehatan Hewan Dunia (WAHIS-OIE, 2022), pada Tahun 2021 Thailand yang berbatasan darat langsung dengan Malaysia telah terkonfirmasi mengalami wabah LSD pada ternak sapi terlebih dahulu. 

Pencegahan terhadap masuknya penyakit hewan dari luar negeri harus menjadi perhatian serius dari Pemerintah. Perlu diketahui bahwa penyakit menular pada manusia 70% berasal dari penyakit hewan (Zoonosis). Sementara penyakit hewan yang tidak bersifat Zoonosis mampu menimbulkan kerugian yang besar secara ekonomi. Pemerintah harus bertindak strategis dan progresif dalam mencegah dan mengantisipasi masuknya penyakit hewan dari luar negeri karena hal ini dapat mengancam ketersediaan dan pemenuhan pangan hewani yang aman sehat utuh dan halal bagi rakyat. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang pernah terjadi di Indonesia pada masa lampau dan telah berhasil dieradikasi, jangan sampai masuk kembali dan menambah beban anggaran Pemerintah untuk melakukan pemberantasan. Badan Karantina Pertanian harus fokus dan benar-benar melakukan penyelenggaraan karantina berbasis analisis risiko melalui sinergi yang menyeluruh dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan serta instansi daerah dalam memastikan perlindungan dari serangan penyakit hewan dari luar negeri dijalankan sebagaimana mestinya.

Pendekatan ”One Health” harus dilaksanakan secara konkret dan masif oleh Pemerintah. Pelibatan banyak pihak dalam pengendalian COVID-19 dapat menjadi contoh bagi pengendalian penyakit hewan.

 Pustaka:

  1. OIE 2022
  2. UU No 21 Tahun 2019 Tentang Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan

INI HASIL REMBUK NASIONAL ASOSIASI PETERNAK AYAM PETELUR

Rembuk nasional berlangsung di Auditorium Fapet UGM

Gabungan asosiasi peternak ayam petelur menghelat rembuk nasional mengusung tema “Revitalisasi Peternakan Rakyat Ayam Petelur untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional”, Kamis (24/3). 

Para pengurus koperasi peternakan maupun perwakilan peternak  yang tergabung dalam Pinsar Indonesia, Pinsar Petelur Nasional (PPN), dan Paguyuban Peternak Rakyat Nasional terlihat memenuhi Auditorium Fakultas Peternakan (Fapet) UGM Yogyakarta, tempat berlangsungnya rembuk nasional. 

Selain itu, turut hadir Direktur Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Ir Nasrullah MSc dan perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. 

Acara dibuka dengan sambutan dari Prof Budi Guntoro (Dekan Fapet UGM), Ir Yudianto Yosgiarso (Ketua Presidium PPN) serta Arief Prasetyo Adi (Kepala Badan Pangan Nasional/Bapanas).

Moderator rembuk nasional, Prof Ali Agus memandu kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini. Mengawali rembuk, Ketua Presidium PPN mengemukakan bahwa terjadi kompetisi kurang sehat di tengah-tengah bisnis perunggasan Tanah Air. 

Yudi melanjutkan baik pengusaha di hulu dan peternak berusaha menghasilkan produk ternak yang terbaik. Kendati demikian Yudi menyoroti persoalan terkait data yang kerap kurang akurat, sehingga sejak tahun 2015 dimana terdapat pencanangan swasembada pangan khususnya jagung, harga jagung justru bergejolak.

Yudianto Yosgiarso

“Kami percaya pemerintah dalam hal ini jajaran Kementerian Pertanian memerhatikan permasalahan jagung ini, namun gelombang kenaikan dan kelangkaan jagung terjadi dari tahun 2015 hingga sekarang. Hari ini, jagung naik ke harga Rp 5.600 atau terbilang merangkak naik,” kata Yudi.

Kondisi di industri peternakan di tahun 2020, ketika harga telur masih berkisar antara Rp 18.000- Rp 20.000, cukup meredam gejolak di tengah peternak. Yudi menyebutkan, saat itu harga jagung dalam catatan PPN yang tertinggi harga Rp 5.300 dan hanya terjadi di Januari 2020. Sementara rata-rata di harga Rp 4.500 per kilogram, lalu pada Agustus turun menjadi Rp 3.930 per kilogram.  

“Kondisi tersebut tidak menimbulkan riak-riak para peternak, karena kami masih bisa berusaha atau ada keseimbangan dalam mensinkronisasi antara biaya produksi dan penjualan telur. Karena harga jagung masih wajar,” lanjut Yudi. 

Memasuki tahun 2021, ketika kebijakan PPKM di masa pandemi COVID-19 di bulan April sampai Mei. Pada bulan Juni, harga telur mengalami penurunan. Harga yang semula dari Rp 18.000, turun menjadi Rp 16.900, hingga puncaknya di bulan September 2021 turun di harga Rp 13.500.    

Jagung sebagai sumber energi pakan ayam juga menalami kelangkaaan sekaligus kenaikan harga, paling tinggi terjadi di September mencapai Rp 6.200. “Tentunya masa itu sangat berat bagi kami, karena biaya produksi meningkat,” tambah Yudi. 

Berbagai faktor penyebab penyakit pada ayam yang menyerang ketika menjelang produksi dan kemungkinan kualitas DOC ditambah harga telur jatuh, semakin membuat peternak rugi.  

Skema bantuan penyerapan telur pun, kata Yudi, para peternak meminta bantuan Kementerian Sosial saat diberlakukannya PPKM karena banyak restoran yang tutup dan kondisi perhotelan yang sepi.  

“Melalui kegiatan rembuk ini sebuah awal yang baik. Mari kita berdiskusi dan membuktikan kekompakan peternak dengan difasilitasi para akademisi Fapet UGM, Kementan serta Kemenko Bidang Perekonomian,” ujarnya. 

Pada akhir acara, berdasarkan hasil dialog serta tanggapan pihak terakit dari Dirjen PKH, Kepala Bapanas, Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis dan Perikanan Kemenko Bidang perekonomian,  akademisi Fapet UGM, dan Ketua presidium PPN disepakati tindak lanjut yang harus dilakukan antara lain: 

Peternak:

  • Pendataan populasi dan produksi
  • Membantu pengawasan baik dalam lini produksi maupun pemasaran
  • Pengawasan terhadap peredaran HE

Bapanas: 

  1. Memfasilitasi harmonisasi regulasi yang menjamin kesediaan telur dan harga yang layak
  2. Segera melakukan koordinasi untuk merevisi Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian Telur di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen
  3. Mendorong program pemerintah di tingkat kementerian dan lembaga terkait (Kementerian Sosial, Kementerian Penddikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Kesehatan) melalui penyerapan produk telur dari peternak
  4. Mendorong BUMN Pangan untuk melakukan kerjasama sinergi dari kemitraan dengan peternak rakyat dan UMKM, memgembangkan industri pengolahan telur (tepung telur, liquid egg, dsb)
  5. Memfasilitasi kerjasama pengadaan bahan baku pakan (jagung) antara petani jagung dengan peternak ayam petelur 
  6. Mendorong BUMN Pangan (PT Berdikari/Persero) bukan menjadi kompetitor akan tetapi menjadi mitra strategis, termasuk dalam hal pengembangan integrasi horizontal industri peternakan ayam petelur

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

  1. Memastikan bahwa jagung subsidi (50.000 ton) yang akan dibagikan harus dikelola dengan baik agar dapat membantu peternak ayam petelur
  2. Mendorong dan memastikan harga telur yang layak, dalam artian peternak masih mendapatkan keuntungan dan terjangkau oleh konsumen
  3. Mengkoordinasikan regulasi yang lebih kuat dan kokoh untuk perlindungan peternak di sektor budidaya melalui Peraturan Pemerintah (PP)

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian

  1. Mendorong produktivitas peternak rakyat
  2. Sebagai "orang tua" bagi peternak
  3. Memastikan kompetisi yang adil dan fair bagi semua pelaku usaha ayam petelur
  4. Mengawasi pelaksanaan Permentan Nomor 32 tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi

Dalam rembuk nasional ini juga terdapat agenda acara pencanangan “Gerakan Gemar Makan Telur Ayam Nasional”. (NDV)

AIR DAN KEHIDUPAN AYAM MODERN

Perawatan “watering system” yang kurang baik alias kotor dapat mengakibatkan kualitas air yang dikonsumsi ayam menurun, sehingga tidak memenuhi standar kualitas minimal. (Foto: Dok. Tony)

Oleh: Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

Air tak dapat dipisahkan dari suatu kehidupan, termasuk pada ayam modern.  Adanya masalah pada air minum selama pemeliharaan ayam modern, baik dari kuantitas maupun kualitas, tentu saja memengaruhi penampilan akhirnya. Ujung-ujungnya tuaian panen jelas tidak sesuai dengan potensi genetik ayam yang dipelihara dan kerugian nyata di depan mata.

Air sejatinya bukan merupakan unsur nutrisi, tapi komponen biologis yang sangat penting untuk kehidupan dan pertumbuhan ayam modern. Sebagai ilustrasi, walaupun kehilangan 98% lemak tubuh atau 50% protein tubuh, ayam akan tetap hidup. Tetapi jika kehilangan air  tubuh 10% saja ayam dewasa akan mengalami dehidrasi dengan gangguan-gangguan fisiologis yang cukup serius. Menurut Pattison (1993), kehilangan air tubuh sampai 20% sudah mengakibatkan kematian ayam secara signifikan.

Kualitas Air
Kualitas air yang layak untuk peternakan ayam dapat diamati melalui beberapa kriteria, yaitu warna, kekeruhan, tingkat kesadahan, derajat keasaman (pH), kandungan zat besi, total padatan terlarut, kadar nitrat/nitrit, kandungan senyawa logam berat dan total kandungan mikroorganismenya. Di lapangan, pendeteksian secara dini kualitas air minum dapat menggunakan panca indera, misalnya dengan mengamati kekeruhan, perubahan warna, bau dan bagaimana efeknya pada kulit manusia.

Toleransi ayam terhadap beberapa mineral terlarut sangat terbatas. Sebagai contoh, kadar maksimum beberapa mineral yang terkandung di dalam air yang dianggap layak untuk ayam modern seperti tertera dalam tabel:

Kadar Maksimum Beberapa Mineral dalam Air Minum Ayam

Jenis Mineral/Garam Mineral

Kadar Maksimum (ppm)

Magnesium (Mg++)

125

Klor (Cl-)

250

Sodium (Na+)

50

Sulfat (SO4=)

250

Klorin

5


Air yang berasal dari daerah rawa atau empang umumnya tidak layak untuk peternakan ayam. Biasanya mempunyai pH agak asam karena tingginya proses pembusukan dan fermentasi bahan-bahan organik yang ada. Di samping itu, air rawa umumnya mempunyai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (toe)

MENGENAL MYCOTOXIN, BAHAYA YANG MENGINTAI DI BIJI-BIJIAN

Drs Med Tony Unandar MSc, Private Poultry Farm Consultant, menjadi salah satu narasumber Olmix Indonesia National Webinar: Mycotoxin Risk Management in Poultry, yang diselenggarakan pada 9 Maret 2022 oleh PT Olmix Indonesia Nutrition.

“Karakter umum mycotoxin biasanya tumbuh pada biji-bijian yang kaya makro nutrisi dan mikro nutrisi. Fungi mulai bertunas kemudian berkembang lebih lanjut sambil melakukan metabolisme, dan hasil metabolismenya itu salah satunya mycotoxin,” kata Tony.

Tujuan jamur membentuk mycotoxin adalah untuk melawan predator yang mengancam hidupnya, tapi ternyata mycotoxin juga beracun bagi induk semang.

Dalam satu biji-bijian bisa ditumbuhi oleh lebih dari satu jenis jamur jadi satu bahan baku bisa mengandung lebih dari satu jenis mycotoxin. Jamur bisa tumbuh pada saat biji-bijian disimpan di gudang atau sudah dalam pakan, juga bisa tumbuh seiring pertumbuhan biji-bijian di lapangan.

Manifestasi keracunan mycotoxin bukan hanya tergantung dari levelnya, tapi juga ada efek akumulatif. Maka umur ayam sangat berpengaruh karena makin lama dia makan yang mengandung mycotoxin makin terakumulasi dalam tubuh ayam. Ini terjadi karena mycotoxin mempunyai waktu paruh yang panjang.

Walau di dalam pakan ditemukan level toxin rendah tapi karena adanya efek kumulatif maka ayam akan menunjukkan tanda-tanda keracunan pada umur tertentu. Kebanyakan kasus keracunan mycotoxin terjadi secara sub kronis sampai kronis.

Rata-rata pakan mengandung mycotoxin cocktail. Satu mycotoxin bisa memberikan efek aditif pada toxin lain, atau efek sinergyzing pada toxin lain.

Tony menjelaskan, “Tidak ada batas aman mycotixin, level referensi yang ada pada kita hanyalah patokan kita untuk mengira-ngira bahan baku ini seberapa besar resikonya kalau kita gunakan di lapangan.”

Tidak adanya batas aman pada mycotoxin karena 3 kondisi yaitu ada efek kumulatif, efek sinergyzing, dan adanya bentuk conjugated/masked/modified mycotoxin.

Ketika biji-bijian tumbuh bersama-sama jamur di lapangan, maka mycotoxin yang terbentuk akan coba diikat oleh tumbuhan menjadi bentuk yang tidak terlalu aktif, yang disebut conjugated/masked/modified mycotoxin.

Pada fase 1 kalau ada kontaminasi mycotoxin terlihat jelas adanya gangguan pada feed intake. Terjadi hanya seketika, misalnya terjadi selama seminggu sampai 10 hari  setelah itu normal feed intake-nya.

Pada fase 1 peternak kebanyakan tidak menyadari ada mycotoxin. Pada fase 2 baru infeksi sekundernya jelas, tekanan pada imunosupresinya jelas. Tony menjelaskan, “Maka kita harus melakukan analisa ulang dari data yang kita punya untuk meyakinkan keberadaan mycotoxin. Walapun belum mempunyai hasil lab mycotoxin.”

Umumnya untuk melihat resiko mycotoxin dengan melihat tiga sumber biji-bijian yang paling tinggi yang dipakai. Buat kalkulasi simulasi resikonya seperti apa. Biji-bijian menurut FAO 25% terkontaminasi oleh lebih dari satu jenis mycotoxin.

Dampak mycotoxin pada long-life birds, jika ada mycotoxin dalam pakan jenis apapun pasti merusak gut integrity. Sehingga akan mengganggu absorbsi terutama mikronutrien yang sangat riskan.

Contoh pada konteks dampak terhadap penurunan produksi yaitu kalsium dan vitamin D3, ini sudah dimulai dari rongga usus. Ketika mycotoxin sudah terserap akan dimetabolisme oleh tubuh terutama di hati dan ginjal, keduanya adalah organ detoksifikasi pada ayam.

Kedua organ itu rusak padahal keduanya mensupport metabolisme kalsium dan vitamin D3. Pada long-life birds layer komersil ataupun broiler akan nampak gangguan pada kualitas telur tetas, atau kualitas telur komersil, apakah kerabangnya atau kondisi internal telur.

Menurut Drh Yuana Saputra, Olmix Indonesia Territory Manager, sejak 20 tahun yang lalu Olmix mendedikasikan R&D untuk mengembangkan produk terkait bagaimana penanganan resiko myctoxin yang ada di lapangan. Olmix juga mendedikasikan risetnya untuk bisa memitigasi dengan beberapa platform dan tool di antaranya Myco Evaluator yang bisa diakses di Olmix.com dan Myco Simulator yang bisa didapatkan di playstore.

SUSUN ROADMAP PENGEMBANGAN SUSU ORGANIK INDONESIA

Kerja sama pengembangan susu organik Indonesia (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) bekerja sama dengan Pemerintah Denmark mengembangkan susu sapi organik di Indonesia. Kerja sama tersebut saat ini sedang dalam tahap penyusunan roadmap.

“Ini sebagai wujud komitmen pemerinta dalam pengembangan persusuan organik di Indonesia dan sebagai langkah awal dalam memenuhi kebutuhan susu organik kita lakukan penyusunan roadmap bekerja sama dengan Pemerintah Denmark,” kata Dirjen PKH, Nasrullah, melalui siaran persnya, Rabu (23/3/2022).

Ia menambahkan, roadmap pengembangan persusuan organik Indonesia berisi dari mulai perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang diharapkan menjadi pedoman dan acuan bersama dari masing-masing unit kerja terkait di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Sasaran akhir dari pengembangan persusuan organik yakni terpenuhinya kebutuhan susu organik dalam negeri yang aman dikonsumsi, bernutrisi dan berkualitas baik, serta ramah lingkungan,” ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Tri Melasari, mengatakan bahwa roadmap ini disusun bersama Tim Expert Organik dari Denmark bersama Tim Champion Pengembangan Persusuan Organik Ditjen PKH, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan. Kegiatan ini juga, sebagai tindak lanjut kemitraan antara Indonesia dan Denmark dalam kerja sama Strategic Sector Cooperation (SSC) dalam pengembangan persusuan organik.

Sementara Minister Counsellor Kedubes Denmark, Hanne Larsen, menyatakan kesiapannya untuk berkolaborasi dalam rangka mendukung dan fokus membangun susu organik nasional.

“Kami berharap kesadaran masyarakat tentang produk organik dapat meningkat, melalui kerja sama SSC ini telah diadakan webinar sebanyak dua kali dan akan dilaksanakan upaya penyebaran informasi terkait manfaat konsumsi produk organik,” ungkap Larsen.

“Terciptanya kesadaran masyarakat akan kebutuhan produk organik lebih sehat dan berkualitas, akan menjadi potensi besar bagi pengembangan produk susu organik di Indonesia. Fokus susu organik ini telah menjadi bagian komitmen kami untuk membantu masyarakat seluruh dunia.”

Sebagai informasi, pelaksanaan Courtesy Meeting Kerjasama SSC Indonesia–Denmark sekaligus pembukaan rangkaian kegiatan penyusunan roadmap pengambangan persusuan organik Indonesia sebelumnya telah dilaksanakan di Kantor Pusat Kementan pada Senin (21/3/2022). Selanjutnya perwakilan dari Arla yakni perusahaan susu multinasional asal Denmark, hadir ke Indonesia guna menindaklanjuti LoI (Letter of Intent) atau surat kesedian yang telah ditandatangani di Denmark saat kunjungan Dirjen PKH ke Denmark pada November 2021 lalu. (INF)

PETERNAK DI BLORA DIMINTA WASPADA PENYAKIT ENDEMIS

Ternak Sapi dan Unggas, Rawan Terserang Penyakit di Musim Pancaroba

Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blora, drh R Gundala Wijasena  mengimbau para peternak sapi dan unggas, untuk menjaga kebersihan kandang, untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit akibat pengaruh cuaca.

“Ketika terjadi hujan berhari-hari, hal ini akan menyebabkan hewan menjadi stress, misalnya pada sapi. Itu biasanya karena perubahan cuaca, biasanya panas kemudian menjadi dingin. Dan hal itu menyebabkan penyakit yang sifatnya endemis itu muncul, ” kata dia.

Salah satu penyakit pada sapi, yakni Bovine Ephemeral Fever (BEF), ditularkan oleh serangga (arthropod borne viral disease), bersifat benign non contagius, yang ditandai dengan demam mendadak dan kaku pada persendian. Penyakit dapat sembuh kembali beberapa hari kemudian.

“Atau juga penyakit Surra, yaitu penyakit hewan menular yang disebabkan oleh protozoa parasitik Trypanosoma evansi,” terangnya.

Parasit ini hidup di dalam darah inangnya dan mengakibatkan demam, lemas, anemia, dan penurunan berat badan.

“Karena Blora ini sudah dikenal endemis Surra, sehingga bisa muncul penyakit seperti itu,” jelasnya.

Selain itu juga bisa jadi muncul salmonellosis, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella yang bisa menyebabkan mencret pada sapi muda dan pada sapi dewasa.

“Itu bisa saja terjadi, sehingga perlu penanganan khusus. Diharapkan kandangnya harus selalu kering, selain itu bisa juga diberi vitamin. Minta dokter hewan atau mantri hewan, yang ada di sekitar atau di lokasi untuk bisa memberikan pengobatan pada ternak tersebut,” ungkapnya.

Kemudian, untuk unggas, menurut Gundala Wijasena, seperti unggas atau ayam kampung, seperti kita ketahui, kebanyakan tidak divaksin.

“Ada beberapa penyakit yang sering muncul, yaitu Newcastle Disease (ND) atau tetelo. Itu bisa saja muncul saat-saat hujan atau pancaroba, atau ketika ayam stress karena cuaca, karena ayam tersebut kan belum divaksin,” terangnya.

“Itu yang kami imbau kepada warga masyarakat, jangan sampai ternaknya terjadi kematian. Termasuk unggas atau ayam, kalau mungkin ditempatkan ke yang kering,  jangan sampai terkena percikan air hujan, angin dingin dan diberi minum vitamin khususnya untuk anak ayam,” tuturnya (INF)

MENJAGA KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN BERSAMA GALLINAT PLUS


Derek Dretzler menyampaikan materi dalam webinar


Pasca dilarangnya penggunaan AGP dalam pakan ternak oleh pemerintah, masalah kesehatan saluran cerna menjadi hal yang kerap terjadi dalam suatu peternakan. Hal tersebut disampaikan oleh Didi Widjaja National Sales Manager Jefo Nutrition Indonesia dalam sebuah webinar bertajuk "Gut Health How We Can Manage This In Challanging Time", Selasa (22/3) melalui daring Zoom Meeting. Acara tersebut digagas oleh Jefo Nutrition Indonesia dan BEC Feed Solution Indonesia.

Dalam webinar tersebut dikupas banyak mengenai cara menjaga kesehatan saluran pencernaan pada unggas. Tidak main - main, narasumber yang dihadirkan yakni para pakar perunggasan baik nasional maupun internasional. 

Presenter pertama yakni Tony Unandar, anggota dewan pakar ASOHI sekaligus konsultan perunggasan yang tentu sudah tak asing lagi di dunia perunggasan Indonesia. Dalam presentasinya Tony mengatakan bahwa gangguan pada saluran pencernaan merupakan suatu kejadian kompleks yang disebabkan oleh multifaktor. 

"Dokter hewan harus dapat menganalisis dengan cermat sebelum menegakkan diagnosis dan memberikan treatment pada kasus gangguan pencernaan, jangan sampai salah apalagi kasus yang terkait penggunaan antibiotik," tutur Tony.

Lalu kemudian Tony menjabarkan banyak fakta dan pengalamannya dalam menghadapi kasus - kasus penyakit yang berkaitan dengan saluran pencernaan pada unggas. Secara detil ia merinci beberapa perbedaan penyakit infeksius seperti koksidiosis, nekrotik enteritis, dan salmonellosis.

Kemudian presenter berganti pada David Marks selaku Intensive Livestock Specialist Jefo. Dia menjelaskan mengenai manajemen pemeliharaan terkait pemeliharaan ayam yang mengendepankan pendekatan holistik dalam meminimalisir penyakit pada saluran pencernaan.

Lalu presentasi dilengkapi oleh Derek Detzler Global Technical Manager Poultry Jefo. Yang menarik dalam presentasinya, selain menjelaskan mengenai produk Gallinat Plus yang juga di launching pada hari itu.Gallinat Plus merupakan produk feed additif yang merupakan kombinasi antara asam organik dan essential oil yang berfungsi menjaga kesehatan saluran pencernaan pada ayam.

Yang menarik dari presentasi adalah ketika Derek juga membeberkan secara langsung trial yang dilakukan di farm miliknya. Terlebih lagi ketika dirinya menghadapi pembatasan penggunaan antibiotik di negaranya.

"Saya juga seorang peternak, pembatasan antibiotik di negara kami membuat kami beralih, dan kalau dibilang saya hanya mempromosikan produk ini secara teknik, saya rasa kurang tepat, karena saya juga mencobanya di farm saya, dan performa di farm kami overall bagus," tutur Derek.

Di akhir sesi diadakan sesi tanya jawab yang cukup interaktif dimana pertanyaan dari audiens dijawab dengan jelas dan dapat dimengerti secara seksama. Selain itu dibagikan juga beberapa doorprize kepada para audiens. (CR)

MENJAGA KUALITAS AIR AGAR PERFORMA TETAP MENGALIR

Selain sebagai sumber mineral, air juga memiliki beberapa fungsi dalam fisiologis ayam. (Foto: Dok. Infovet)

Air adalah sumber kehidupan, begitulah kata pepatah. Faktanya memang layaknya manusia, ternak juga butuh minum, tentunya keberlangsungan kualitas air di suatu peternakan juga menunjang performa produksi. Ayam perlu diberikan air minum yang berkualitas agar performanya tetap terjaga.

“Nutrisi” yang Terlupakan
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak tentunya pakan merupakan sumbernya, kendati demikian air juga mengandung nutrisi berupa mineral makro maupun mikro yang juga dibutuhkan ternak. Mineral yang terkandung di dalam air harganya sangat murah alias gratis. Hanya saja tinggal bagaimana peternak dapat menjaga kualitas dari sumber air tersebut.

Selain sebagai sumber mineral, air juga memiliki beberapa fungsi dalam fisiologis ayam. Hal tersebut disampaikan Head of Production AS Putra Perkasa Makmur, Daru Wiratomo, dalam sebuah webinar. Beberapa fungsi air yakni sebagai media untuk penyerapan nutrisi, memperlancar pakan melewati saluran cerna, media transportasi nutrisi pada multi-organ, membuang materi yang tak dibutuhkan oleh urin melalui ginjal, regulasi suhu tubuh dan cairan pelumas persendian dan berbagai organ.

“Kita sering melupakan fungsi air, padahal vital dan esensial. Kita jangan main-main dengan kualitas air di farm. Soalnya ayam butuh air buat minum, kita juga butuh air untuk media pembersih dan disinfeksi, ini penting buat semuanya,” tutur Daru.

Lebih lanjut dijelaskan, air yang hendak diberikan kepada ayam harus memenuhi berbagai kirteria yang baik dari segi fisik, kimia, bahkan mikrobiologis. Ketiganya harus memiliki standar yang baik agar ayam nyaman dan aman dari kondisi penyakit, karena akibat air yang tercemar mikroba patogen atau kualitas fisik dan kimia yang kurang baik.

Bisa Menjadi Kawan atau Lawan
Dalam kesempatan yang sama, peternak broiler dari Berkah Putra Chicken, Rahmad Susilowarno, mengatakan jika di-manage dengan baik air akan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer