-->

Featured Posts

JAPFA FOR KIDS 2026, MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN ANAK MELALUI PENINGKATAN STATUS GIZI

Senam hari sehat Japfa SDN Megamendung
Pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan senam bersama semua siswa SDN Megamendung 01, 02, dan 03. (Foto-foto: NDV/Infovet & Istimewa)

Sudah 18 tahun program Japfa for Kids berjalan. Sebuah program sosial dari PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk, menyasar siswa usia sekolah dasar di sekitar unit operasional Japfa. Program ini bertujuan untuk menurunkan malagizi (gizi buruk dan gizi kurang) pada siswa serta mendorong mereka membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tahun ini Bogor menjadi salah satu daerah tempat dilaksanakannya Japfa for Kids. Jumat 7 Agustus 2026, jurnalis Infovet mengunjungi empat sekolah dasar penerima manfaat program di Kabupaten Bogor. 

Japfa for Kids di SDN Megamendung

Jurnalis Infovet sampai di lokasi kompleks SDN Megamendung 01, 02, dan 03 di Cilember, Kecamatan Cisarua, Bogor saat pelajaran belum dimulai. Terlihat beberapa siswa laki-laki bermain sepak bola di halaman SDN Megamendung 01. Sementara sebagian anak-anak SDN Megamendung 02 sudah siap di halaman sekolah mereka, mengenakan sarung dan mukena, bersiap untuk sholat dhuha.

Anak-anak SDN Megamendung 01 bermain bola di halaman sekolah.

Lalu tiba waktunya anak-anak berkumpul untuk mengaji dan sholat dhuha. Dilanjutkan dengan pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan melakukan senam sehat untuk seluruh murid dan guru seluruh SDN Megamendung. Setelah senam anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun, mengecek kebersihan dan kesehatan kuku, kemudian makan MBG bersama.

Guru SDN Megamendung 01, Ranti didampingi oleh Irma, di sela aktivitasnya bercerita, para orang tua senang mendapatkan pembagian telur dari program Japfa for Kids. Walaupun ada yang pada awalnya agak keberatan karena kesannya dianggap tidak mampu membeli telur sendiri.

Ranti (baju putih) dan Irma.

“Tapi terus saya bilangin jangankan beli 1 kilo, beli satu peti saja Ibu mungkin mampu. Tapi selain telur program ini ada reward-nya untuk kita, anak-anak jadi diperhatikan kesehatannya,” terang Ranti. “Pekan depan nanti ada medical checkup, saya bilang. Kalau kita sengaja datang ke rumah sakit atau ke puskesmas untuk medical checkup anak mana pernah. Kalau anak tidak sakit kan tidak pernah ke dokter.”

Sama dengan di sekolah lainnya, sebelum program Japfa for KIDS diimplementasikan pada anak-anak SDN Megamendung. Sekitar 3 atau 4 bulan sebelumnya diadakan pembekalan untuk guru-guru PIC. Apa yang akan disampaikan ke orang tua dan anak, disampaikan lebih dahulu pada guru PIC. Seperti gizi seimbang itu bagaimana dan menu apa saja yang harus ada, pentingnya PHBS, cuci tangan pakai sabun, kesehatan kuku, dan lainnya.

“Sudah terprogram ini 10 anak sampai 6 bulan. Mudah-mudahan setelah itu ada program berikutnya lagi yang menyasar siswa yang lain,” begitu harap Ranti. “Bukannya kita berharap ada siswa yang gizi buruk atau gizi kurang lagi. Tapi dengan program tersebut membuat orang tua lebih termotivasi memperhatikan gizi anak. Mereka juga terpancing kreativitasnya untuk membuat masakan-masakan berbahan telur.”

Sementara itu R Ghaniawatie, guru SDN Megamendung 03, mengatakan orang tua memang terbantu dengan program Japfa for Kids. Namun kadang terkendala oleh anak yang susah diatur pola makannya.

R Ghaniawatie.

“Ada juga anak yang telurnya tidak mau dibawa ke sekolah, makannya di rumah,” tuturnya. “Sampai ada yang dibuat sushi oleh ibunya, karena anaknya bosan. Paling kan kalau yang lain biasanya dibuat nasi goreng, juga mie goreng. Ini dikreasikan, begitu.”

Ghaniawatie juga menyayangkan dalam bekal anak yang dibawa ke sekolah banyak yang tidak memakai sayur. Menurutnya anak-anak sekarang melihat sayuran itu seperti melihat 'musuh'. Bukan salah orang tuanya, namun lebih ke anak-anaknya yang menolak diberi sayur, sehingga diperlukan kreativitas menu dan pembiasaan.

Diceritakannya juga ada orang tua yang heran sewaktu screening anaknya terjaring sebagai malagizi. Padahal sebelum menerima program Japfa for Kids, setiap hari anaknya selalu diberi dua butir telur. Tapi kenyataannya tinggi dan berat badannya memang belum sesuai dengan usianya. Sehingga orang tua tersebut tidak keberatan mengikuti program, agar lebih tahu permasalahan tumbuh kembang anaknya lebih jelas.

Farel Tergerak untuk Makan Sayuran

Erliana Rahayu termasuk orang tua yang anaknya, Muhammad Farel Ilfar siswa kelas 5 SDN Megamendung 01, tidak begitu suka makan sayuran. Selama ini cukup rutin mengonsumsi telur, tapi tidak demikian dengan sayurnya.

“Makanya ada program ini senang karena Farel jadi agak mau makan sayur. Karena saya bilang gini ke dia, ‘Ah, kamu kurang gizi, malu. Enggak baik itu kamu pertumbuhannya.’ Baru dia mau nurut mau makan sayuran,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Obrolan Infovet dengan Erliana terhenti sejenak ketika Farel yang berumur 10 tahun, dengan berat badan 24 kg, tinggi badannya 132 cm, datang mendekati Ibunya. Sebelum pergi lagi, dia dan Ibunya berpose untuk foto.

Erliana dan Farel.

“Kalau sayurannya kan setiap hari dapat dari MBG, telurnya bawa dari rumah.” Erliana melanjutkan. “Kecuali Sabtu dan Minggu baru kita masak sayuran sendiri. Harus yang enak-enak biar Farel mau makan.”

Program untuk Mempersiapkan Masa Depan Anak

Fasilitator program Japfa for Kids untuk kawasan Megamendung, Bogor, Muhammad Trisna Kusuma Wardana menjelaskan program utama dari Japfa for Kids ada tiga. Pertama, program satu hari satu telur. Kedua Hari Sehat Japfa yang memiliki lima komponen yaitu senam sehat, PHBS, cuci tangan pakai sabun, cek kuku, makan bersama. Program ketiga adalah pertemuan orang tua tiap bulan.

Muhammad Trisna Kusuma Wardana

“Pertemuan pertama dilakukan untuk menggali bagaimana komitmen orang tua. Sebelum manfaat diberkan kita tanya apakah berkomitmen dan apakah setuju dengan programnya. Alhamdulillah seluruh orang tua di program ini di SDN Megamendung setuju semuanya,” terang Trisna.

Saat pertemuan tersebut orang tua antusias mengajukan beberapa pertanyaan. Ada yang bertanya bagaimana agar anak tetap tumbuh maksimal, sedangkan anaknya rewel makannya meski asupan gizi yang diberikan orang tua sudah mencukupi.

Trisna menerangkan bahwa orang tua dan guru diminta untuk memastikan gizi anak tercukupi. Yaitu di samping telur juga melengkapinya dengan asupan karbohidrat, sayur, dan buah. Orang tua dan guru diminta untuk mendokumentasikan apa yang anak makan. Kemudian setiap bulannya fasilitator akan memberikan update dan evaluasi, disertai dengan diskusi.

“Diharapkan dengan demikian makan bergizi seimbang dan perilaku sehat menjadi kebiasaan. Pembiasaan itulan jawaban dari keluhan orang tua tadi,” kata Trisna.

Dengan demikian orang tua terpacu kreativitasnya bagaimana caranya agar anak mau makan dengan baik. Hasilnya cukup membuat Trisna terkejut gembira. Ada orang tua yang memasak telur menggunakan cetakan bunga, ada yang dibuat onigiri, dan berbagai kreasi kreatif lainnya.

Onigiri dan telur dadar, kreasi orang tua siswa agar anaknya lebih berselera makan.

“Jadi Japfa for Kids ini mekanismenya sharing contribution. Bukan hanya Japfa saja yang berperan tapi juga dari guru, dari orang tua dan juga puskesmas,” kata Trisna. “Oh ya, setiap tiga minggu lalu di minggu keempatnya semuanya bakal dapat telur, termasuk gurunya. Makanya tadi saya ngobrol dengan Kepala Sekolah Megemendung 03 harapannya telurnya dibagikan menjelang 17 Agustus, karena akan dijadikan ajang lomba.”

Trisna berharap program Japfa for Kids menjadi kebiasaan yang terus dibangun bersama anak-anak. Lebih jauh lagi dia ingin program ini bisa ikut mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik.

“Anak-anak ini nanti kan masih melanjutkan pertumbuhannya. Juga untuk persiapan di SMP dan SMA dimana ada ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Paskibra, dan lainnya. Jangan sampai tinggi dan berat yang tidak ideal menjadi halangan anak-anak untuk mengejar cita-citanya,” harapnya.

“Apalagi pekerjaan sekarang ini bukan hanya polisi dan tentara yang memiliki syarat minimal tinggi dan berat badan. Jangan sampai masalah pertumbuhan menjadi halangan cita-cita mereka. Anak-anak bisa saja sudah siap secara pemikiran, emosional, pendidikan dan lain-lain namun bisa terhalang oleh masalah tersebut. Jangan sampai terjadi.”

Pencapaian Japfa for Kids

Japfa for Kids adalah bentuk komitmen perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar. Hingga tahun 2025, program ini telah menjangkau 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2026, program berlangsung di delapan wilayah, yaitu Megamendung & Klapanunggal (Kabupaten Bogor, Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), Tegal (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa Timur), Sidomulyo (Lampung), Padang Pariaman (Sumatera Barat), Bintan (Kepulauan Riau), dan Sofifi (Maluku Utara).

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa menjelaskan, “Selama 18 tahun pelaksanaannya, Japfa for Kids tidak hanya memperluas jangkauan program, tetapi juga terus menyempurnakan pendekatannya agar dampak yang dihasilkan semakin terukur dan berkelanjutan. Melalui edukasi gizi seimbang, pembiasaan konsumsi protein hewani, PHBS, serta kolaborasi dengan guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, program ini telah membantu membangun kebiasaan hidup sehat pada anak-anak sekolah dasar.”

Rachmat Indrajaya

Upaya tersebut menurut Rachmat turut berkontribusi pada peningkatan status gizi anak penerima manfaat, yang diperkuat melalui pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Sejak tahun 2024, Japfa for Kids memperkuat pendekatan berbasis data melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan siswa sebelum, selama, dan setelah program berlangsung, sehingga dampak program dapat diukur secara lebih objektif. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.

Japfa for Kids di SDN Cikopo

Foto bersama penerima manfaat program Japfa for Kids di SDN Cikopo.

Dari SDN Megamendung, Infovet melanjutkan kunjungan ke SDN Cikopo, Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Sekolah yang juga menerima manfaat program Japfa for Kids. Disambut oleh Emilia Fetristianti, wali kelas 1B dan Eriyanti, wali kelas 6 SDN Cikopo.

Eriyanti.

“Saya dulu juga sempat percaya kalau makan telur terus-terusan bisa bisulan. Oleh fasilitator Japfa dijelaskan, termasuk ke orang tua murid juga, ternyata ada faktor lainnya misalnya kebersihan. Jadi kami paham sekarang,” kata Eriyanti.

Emilia Fetristianti

Rekannya, Emilia, menambahkan bahwa dijelaskan pula protein itu penting untuk anak-anak usia SD yang sedang dalam masa pertumbuhan. Program CSR Japfa tersebut dirasakan manfaatnya tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi anak, namun edukasinya juga membuka pemikiran orang tua dan guru.

“Karena selama ini kan orang tua tahunya makan yang penting kenyang. Ternyata tidak bisa sembarangan,” tutur Eriyanti. “Mereka juga berpikir makanan bergizi seimbang harus yang mahal-mahal. Ternyata dijelaskan kemarin bahwa telur, tahu, tempe yang harganya terjangkau juga bergizi. Lalu orang tua anggapannya juga harus minum susu padahal protein juga bisa dari telur.”

Seperti sekolah penerima manfaat lainnya, SDN Cikopo juga memiliki grup penerima manfaat di WhatsApp. Grup tersebut menjadi tempat orang tua mengunggah foto anak sedang memakan telur, sebagai laporan. Kemudian diteruskan ke aplikasi Japfa for Kids oleh Emilia.

Salah satu wujud berkembangnya pemahaman orang tua akan gizi seimbang. Adalah ketika mereka yang semula mengirim foto dokumentasi, anaknya hanya makan telur dan nasi. Kemudian dalam waktu singkat menu anak sudah ditambahkan dengan sayur.

Sebanyak 23 anak dari SDN Cikopo terjaring sebagai anak malagizi ketika dilakukan screening awal di puskesmas. Salah satu indikasinya adalah tinggi dan berat badan anak tidak sesuai dengan usianya. Keduapuluh tiga anak tersebut diberikan telur omega organik tujuh butir per minggu, untuk dikonsumsi satu hari satu telur.

“Kami bersyukur ada program dari Japfa ini. Anak-anak juga senang, respon orang tua antusias. Bahkan ada orang tuanya yang mengakui kalau memang anaknya susah makan dan menyambut baik program ini,” jelas Emilia.

Eriyanti menambahkan para orang tua anak-anak yang baru masuk kelas 1 yang belum ikut seleksi, pun meminta anaknya diikutkan program.

“Bagi kami program ini sangat bagus. Seharusnya program seperti ini ada di kurikulum, karena sangat penting. Mau banget programnya berlanjut, tidak cuma berhenti di angkatan ini,” harap Eriyanti.

Kepedulian Mendalam Japfa

Ketika pembagian telur dari program Japfa for Kids sudah berjalan, akan ada medical checkup untuk semua siswa. Anemia, riwayat tuberkulosis, karies gigi dan lain-lainnya diperiksa.

“Jika ada anak yang tersuspek penyakit nanti akan ditolong oleh puskesmas. Hal itu akan menjadi catatan kami juga, karena kalau anak-anak mendapati penyakit tersebut itu akan mengurangi respon tubuh terhadap pertumbuhan anak itu. Walaupun kita sudah memastikan makannya baik, gizi seimbang tapi kalau misalnya dia ada penyakit bisa jadi faktor penghambat pertumbuhannya,” terang Trisna.

Jika ada beberapa anak yang teridentifikasi memiliki penyakit lalu pertumbuhannya masih belum menuju ke normal seperti yang diharapkan, Japfa akan menindaklanjuti dengan strategi untuk mengulurkan bantuan tambahan lainnya guna memastikan agar anak-anak tersebut masuk ke dalam gizi normal. (NDV)

PENYAKIT NGOROK YANG MASIH MENJADI MOMOK

Temuan umum patologi anatomis dari CRD (A dan B) pericarditis, perihepatitis, dan air sacculitis pada broiler. (C dan D) hal yang sama terjadi pada unggas layer. (Sumber: Marouf et al. 2022)

Penyakit pernapasan pada unggas merupakan salah satu tantangan utama yang menjadi momok menakutkan. Terlebih lagi aspek kesehatan ternak juga memiliki korelasi dengan produktivitas. Salah satu yang kerap menjadi residivis di Indonesia adalah mycoplasmosis alias chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum.

Ngorok biasa disebut peternak atau CRD kerap ditemui dalam suatu peternakan unggas. CRD adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan ayam dan bersifat kronis. Disebut “kronis” karena penyakit ini berlangsung secara terus menerus dalam jangka waktu lama dan sulit untuk disembuhkan.

Si Penyebab Ngorok
Biang keladi dari penyakit ngorok tadi tidak lain adalah Mycoplasma gallisepticum (MG), yang biasa disebut sebagai organisme mirip bakteri (bacteria-like organism). Berbagai praktisi perunggasan lokal maupun mancanegara bahkan menyebut MG sebagai salah satu patogen yang paling merugikan dalam industri unggas.

Dibalik ukurannya yang sangat kecil dan sederhana, MG memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan di seluruh dunia melalui penurunan produktivitas, peningkatan biaya pengobatan, dan peningkatan mortalitas pada unggas.

Dalam sebuah seminar mengenai penyakit pernapasan pada unggas, Veterinary Service Manager PT Ceva Indonesia, Drh Fauzi Iskandar, menerangkan mengenai sifat dan karakteristik MG. Ia mengatakan bahwa MG adalah bakteri dari kelompok Mycoplasma yang unik karena tidak memiliki dinding sel.

Hal ini membuatnya sangat sulit untuk diberantas dengan antibiotik biasa terutama yang bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri. Bakteri ini berbentuk pleomorfik dan mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan, membuatnya sulit dideteksi dan dikendalikan di peternakan unggas.

“Penggunaan antibiotik yang melisiskan dinding sel tentu tidak akan efektif, oleh karenanya MG ini sangat sulit diberantas, meskipun begitu bukan tidak mungkin untuk dikendalikan, hanya saja butuh “jurus khusus” dalam pengendaliannya,” tutur Fauzi.

Ia melanjutkan, MG dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

SEMARAK HUT KE-41, BBPMSOH HADIRKAN TALKSHOW, EKSPOSE KAJIAN ILMIAH, DAN BAZAR UMKM

Kegiatan talkshow menjadi momentum merefleksikan perjalanan 41 tahun BBPMSOH. (Foto: NDV/Infovet)

Tahun ini Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) memasuki usia yang semakin matang. Memperingati HUT ke-41 sekaligus HUT RI ke-81 BBPMSOH menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Acara utama adalah Talkshow dan Ekspose Hasil Kajian Ilmiah BBPMSOH yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di area parkir kantor BBPMSOH, Bogor. Hadir sebagai tamu antara lain UPT lingkup Direktorat Jenderal Peternakan, ASOHI, pensiunan BBPMSOH, berbagai instani pemerintah di Kecamatan Gunungsindur, dan mitra-mitra BBPMSOH.

Talskhow bertajuk “Kiprah BBPMSOH dari Masa ke Masa: Mengawal Mutu dan Keamanan Obat Hewan Indonesia serta Menjawab Tantangan Masa Depan”, menghadirkan narasumber yaitu Kepala BBPMSOH Drh Hasan Abdullah Sanyata, pejabat senior Kementan drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan Drh Arief Wicaksono , dan Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh Akhmad Harris Priyadi. Talkshow dimoderatori oleh Drh Yuni Yupiana MSc PhD.

Acara semestinya dibuka oleh Dr Drh Agung Suganda MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhalangan hadir. Sehingga diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD yang membuka acara secara daring.

Dalam sambutannya, Hendra memaparkan. “Obat hewan merupakan komponen vital dalam mendukung produksi peternakan nasional. Oleh karena itu, mutunya harus terjamin mengingat obat hewan berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, keamanan pangan asal hewan, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis yang diakui pemerintah secara nasional dalam pengujian mutu, sertifikasi, analisis, dan pemantauan obat hewan.”

Hendra juga menyinggung sedikit mengenai isu resistensi antimikroba (AMR) yang telah menjadi perhatian global dan ancaman serius yang harus diantisipasi. 

“Meningkatnya penggunaan produk herbal sebagai alternatif pengobatan juga membutuhkan metode pengujian dan pengawasan yang relevan. Perkembangan tersebut menuntut BBPMSOH untuk terus memperkuat kapasitas, metode pengujian, serta kesiapan dalam merespons berbagai inovasi dan isu yang berkembang,” tuturnya. 

Jaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan pada akhirnya berkaitan erat dengan daya saing produk peternakan Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Semakin kuat jaminan terhadap kualitas dan keamanan obat hewan, semakin besar pula kepercayaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Peran BBPMSOH menjadi semakin penting dalam memastikan obat hewan yang beredar aman, berkhasiat, dan memenuhi standar, sekaligus mendukung peningkatan daya saing sektor peternakan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.

Dalam sesi talkshow, Ketua ASOHI mengemukakan BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai acuan dan parameter dalam memastikan mutu serta kelayakan obat hewan yang digunakan di industri peternakan. Standar pengujian yang diterapkan BBPMSOH juga dipandang tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan produk obat hewan. 

“Jika dahulu obat hewan lebih banyak dipersepsikan sebagai sarana untuk mengobati ternak ketika sakit, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah promotion dan prevention. Industri peternakan dituntut untuk lebih mengedepankan pencegahan, karena ketika ternak sudah sakit dan membutuhkan pengobatan, kondisi tersebut dapat dikatakan sudah terlambat,” ungkap Harris.

BBPMSOH menjadi rujukan penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk obat hewan yang beredar dan digunakan di peternakan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Sertifikasi dan hasil pengujian BBPMSOH memberikan parameter yang jelas dalam membedakan produk yang layak digunakan di lapangan. Keberadaan standar dan pengawasan tersebut sekaligus mendorong industri obat hewan dan peternakan menjadi lebih tertib, teratur, serta memiliki kepastian dalam memilih produk yang memenuhi standar.

Ekspose Kajian Ilmiah 

Talkshow dilanjutkan dengan Ekspose Kajian Ilmiah yang menghadirkan narasumber para penyelia dari laboratorium BBPMSOH. 

Antara lain Penyelia Unit Virologi, Penyelia Unit Bakteriologi, Penyelia Unit Uji Farmasetik dan Premiks. Acara ini dipandu oleh Drh Rahajeng Setiawaty, MSi sebagai moderator.

Pada hari yang sama pula, seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya. BBPMSOH mengadakan bazar murah di area masuk BBPMSOH yang diikuti oleh 25 UMKM. Bazar yang meriah menawarkan buah-buahan, sembako, makanan, minuman, butik, barang antik, kosmetik, dan produk-produk lainnya. (NDV)

POLANDIA MUNGKIN AKAN MENGHADAPI KRISIS TELUR BARU KARENA FLU BURUNG

Para produsen telur di Eropa Timur membunyikan alarm atas kerugian yang meningkat akibat gelombang baru flu burung patogenik tinggi dan Newcastle Disease. Dengan jutaan ayam petelur dimusnahkan di seluruh Polandia dalam beberapa bulan terakhir, asosiasi industri memperingatkan pengecer dan konsumen untuk bersiap menghadapi pasokan yang lebih ketat dan harga telur yang lebih tinggi.

Sejak awal tahun, sekitar 10 juta unggas telah dimusnahkan di Polandia karena wabah, menurut data dari Inspektorat Veteriner Utama Polandia.

Paweł Podstawka, presiden Federasi Nasional Peternak Unggas dan Produsen Telur, memperingatkan bahwa penyakit menular tersebut berdampak besar pada industri telur negara itu.

Memulihkan kawanan ayam petelur membutuhkan waktu antara 6 dan 9 bulan, yang berarti beberapa peternakan belum pulih dari wabah tahun lalu, yang mengakibatkan hilangnya sekitar 20 juta unggas.

“Tahun ini, wabah flu burung telah memengaruhi 4,88 juta ayam petelur. Dengan populasi ayam petelur nasional sebanyak 38-42 juta ekor, jumlah ayam yang dimusnahkan mewakili kerugian sekitar 12% dari potensi produksi. Satu ayam petelur menghasilkan rata-rata 300-330 butir telur per tahun, jadi kita berbicara tentang kerugian 120-135 juta butir telur per bulan,” kata Podstawka, menambahkan bahwa skala kerugiannya sangat besar.

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

KETUA UMUM PDHI JATIM II DAN KEPALA BRIN SEPAKAT USUNG ONE HEALTH

Ketum PDHI Jatim II Bersama Dengan Kepala BRIN
(Foto : Istimewa)


Jakarta, 5 Agustus 2026 – Dokter Hewan Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melakukan pertemuan strategis bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., di Gedung B.J. Habibie, komplek kantor pusat BRIN di Kawasan Thamrin, Jakarta Pusat.

Pertemuan tersebut membahas masa depan profesi dokter hewan Indonesia dalam menghadapi tantangan global, khususnya terkait One Health, ketahanan pangan (food security),  perkembangan teknologi, serta kebutuhan adaptasi pendidikan dokter hewan terhadap perubahan zaman.

Dalam diskusi tersebut, Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si. menyampaikan apresiasi terhadap dokter hewan yang terus berupaya memberikan kontribusi dalam isu-isu strategis nasional, terutama dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan yang terintegrasi.

Menurutnya, tantangan masa depan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, terutama dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Semua hal tersebut perlu dikolaborasikan dengan isu teknologi, di mana sekarang artificial intelligence (AI) dan robotik medis sudah mulai berkembang. "Kini saatnya bagaimana dokter hewan mampu merespons isu-isu tersebut sehingga kurikulum pendidikan dapat diformulasikan untuk menjawab tantangan tersebut,” lanjutnya.

Prof. Arif menekankan bahwa profesi dokter hewan ke depan harus memiliki kompetensi yang kuat, terbuka terhadap kolaborasi, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. isu ONE HEALTH yang telah menjadi pusat perbicangan dan melibatkan kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan harus menjadi perhatian serius.

Dokter Hewan dan Era Baru Inovasi Teknologi

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PDHI Jawa Timur, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet., menyampaikan bahwa profesi dokter hewan memiliki peluang besar untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Sebagai dokter hewan dengan kepakaran di bidang genomik, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet. melihat bahwa perkembangan teknologi dapat menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat sektor kesehatan hewan, peternakan, konservasi, dan ketahanan pangan.

Pemanfaatan teknologi genomik, kecerdasan buatan, dan pendekatan berbasis data dapat membuka peluang baru dalam, peningkatan produktivitas ternak, pengendalian penyakit hewan, pengembangan kesehatan hewan presisi, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan sistem pangan yang berkelanjutan.

Kedua tokoh ini bersepakat untuk bersama membangun kolaborasi strategis dalam mengusung isu ONE HEALTH kedepan. (INF)

Satu Profesi

Beragam Kontribusi Pengabdian

Satu Tujuan

PDHI sebagai rumah besar ragam profesi dokter hewan indonesia. 

BIG PROBLEM: DIARE KOMPLEKS PADA PETERNAKAN BABI

Piglet menunjukkan tanda diare kompleks. (Foto: Dok. Catrine Relia)

Penyakit pencernaan merupakan salah satu masalah ekonomi terpenting dan multifaktorial dalam produksi babi. Diare neonatal dan pasca-penyapihan merupakan penyakit paling sering terjadi, menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan laju pertumbuhan, dan peningkatan biaya pengobatan.

Biaya penanganan diare neonatal untuk peternakan dengan angka kematian 10% dan biaya untuk diare pasca-penyapihan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per induk babi per tahun. Infeksi pencernaan kompleks selama periode neonatal, serta pada fase pasca-penyapihan dapat terjadi secara bersamaan sehingga menimbulkan pola penyakit klinis yang kompleks, sulitnya tindakan pengendalian dan penanganan.

Diare pada babi secara umum disebabkan oleh agen infeksius dan non-infeksius. Mayoritas agen penyebab penyakit diare pada babi merupakan bagian dari mikroba normal pada saluran pencernaa babi. Usus babi mengandung sekitar 800 spesies bakteri, di antaranya dapat diidentifikasi patogen potensial seperti Clostridium spp., Escherichia coli, dan Salmonella spp. Bakteri ini dapat berubah menjadi patogen penyebab penyakit pada kondisi stres dan shedding bakteri di lingkungan yang sangat tinggi.

Penyakit diare kompleks pada babi secara umum disebabkan oleh multi-agen infeksius, yaitu virus, bakteri, dan parasiter (cacing dan Cystoisosporasuis). Agen virus yang dominan pada diare kompleks pada babi adalah coronavirus dan rotavirus. Sedangkan agen bakterial yang paling dominan menyebabkan penyakit diare kompleks pada babi meliputi E. coli, Clostridium perfingens tipe C, Clostridium perfringens tipe A, Clostridium difficile, Salmonella typhimurium, Lawsonia intercellularis, Brachyspira hyodysenteriae, dan Brachyspira pilosicoli.

Diare kompleks pada babi menjadi masalah yang susah dikendalikan, jika peternak tidak mengetahui sejak dini langkah-langkah pengendalian dan pencegahannya. Faktor lingkungan, hospes, dan agen penyakit menjadi segitiga penyakit infeksius yang harus dikupas satu-per-satu secara terintegrasi. Agen infeksi yang beragam tersebut menyebabkan sulitnya tindakan pengobatan, salah satunya pemilihan antibiotik yang tepat untuk multi-agen bakterial.

E. coli dikenal sebagai kolibasilosis neonatal (umur 0-4 hari), pasca sapih (28-60 hari) hingga 12 minggu. Kolibasilosis ditandai kotoran terlihat diare encer, berwarna putih kekuningan, bersifat basa, usus halus dan lambung bagian fundus terlihat oedematus, serta perdarahan dengan ingesta berbau.

Klostridia adalah basil gram-positif pembentuk spora bersifat anaerobik. Beberapa spesies dari genus Clostridium berkontribusi dalam penyakit diare kompleks pada babi. Clostridium perfringens tipe C dan Clostridioides difficile (sebelumnya Clostridium difficile) dianggap sebagai klostridia patogen enterik yang paling berkorelasi pada babi neonatal. Clostridium perfingens tipe C biasanya terjadi pada neonatal hingga umur tiga minggu. Tanda klinis menciri dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

ASOHI JAWA TIMUR GELAR PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXX, PERKUAT PENGAWASAN & MUTU OBAT HEWAN

Pembukaan Pelatihan PJTOH ASOHI Daerah Jawa Timur dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) Angkatan XXX di Santika Hotel, Malang, Jawa Timur, 4-5 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri para pemangku kepentingan, praktisi medis veteriner, serta perwakilan instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan pemahaman regulasi, standar mutu, dan tata kelola peredaran obat hewan.

Pelatihan dibuka pada Selasa (4/8/2026), dengan rangkaian sambutan oleh Ketua ASOHI Daerah Jawa Timur Drh Suyud, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Dr Ir Indyah Aryani MM, serta pembukaan resmi oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Drh Hendra Wibawa MSi PhD. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama.

Pembukaan resmi secara daring oleh Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Sesi materi diawali oleh Ketua Umum ASOHI, yang memaparkan peran ASOHI, etika profesional, tanggung jawab hukum dan teknis PJTOH, serta tata cara hubungan kerja dengan instansi pengawas. Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua Koordinator Substansi Pengawas Obat Hewan, Drh Arief Wicaksono MSi, yang menyampaikan materi mengenai kebijakan dan regulasi obat hewan, mencakup undang-undang, sistem pengawasan, penanganan obat hewan ilegal, hingga sanksi administratif.

Pada sesi berikutnya menghadirkan pemaparan dari Korwil PDHI Jawa Timur, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, tentang peran dokter hewan dalam industri obat hewan dan apotek veteriner. Materi dilanjutkan oleh Ketua Tim Kerja Mutu Obat Hewan, Drh Liys Desmayanti MSi, yang mengulas secara mendalam prinsip Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB), Cara Distribusi Obat Hewan yang Baik (CDOHB), pengadaan, penyimpanan, hingga prosedur penarikan obat (recall).

Hari pertama ditutup dengan paparan dari Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang diwakili oleh apt Muhammad Zahid SSi MSc, mengenai penjaminan mutu, pengujian sampel, dan rantai dingin (cold chain).

Memasuki hari kedua Rabu (5/8/2026), pelatihan dibagi ke dalam dua ruangan paralel pada sesi pagi untuk mendalami topik spesifik, di antaranya Ruang I (perusahaan obat hewan) berfokus pada pendaftaran dan peredaran pakan (medicated feed) yang dibuka secara daring oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi, bersumber dari pemaparan Ahmad Riza Muzammil (Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Jatim). Sesi dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan karantina obat hewan oleh Drh Wirawan Budi Utomo dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur.

Hari kedua Pelatihan PJTOH dibuka oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi melalui daring.

Sementara pada Ruang II (peredaran obat hewan), membahas peran apoteker dalam industri dan apotek veteriner bersama akademisi UGM, Dr apt Nunung Yuniarti SF MSi, serta pemenuhan perizinan apotek veteriner oleh Drh Hilda Sari dari DPMPTSP Kota Malang.

Memasuki sesi pleno kembali, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai regulasi perizinan apotek veteriner dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) oleh apt Drs Suhartono MFarm dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Disambung dengan penjelasan peredaran bahan baku obat lintas sektor oleh Wahyuwasti Kiki Mustikasari SFarm Apt MSc dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pada sesi berikutnya, Ketua Bidang Peredaran ASOHI, Drh Andi Wijanarko, mengulas penggunaan obat hewan secara rasional guna mencegah resistansi antimikroba (AMR) dan memperhatikan withdrawal time (waktu henti obat). Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Debby Febriyanti SE, turut memberikan informasi update perizinan berusaha berbasis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. 

Rangkaian materi pelatihan diakhiri oleh Kabid Kesehatan Hewan/PPNS Dinas Peternakan Jatim, Dr Drh Iswahyudi MP, yang memaparkan tata cara dokumentasi dan pelaporan stok obat hewan, serta peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam menindak peredaran obat hewan ilegal pada ritel seperti petshop dan poultry shop. Kegiatan diakhiri dengan pelaksanaan post-test, kuis, dan penutupan resmi oleh panitia.

Pihak penyelenggara mengharapkan melalui pelatihan ini para PJTOH memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai etika profesi, tanggung jawab hukum, dan peran teknis di berbagai lini industri. Juga kegiatan ini diharapkan dapat mempererat koordinasi dan kemitraan antara praktisi/pelaku usaha dengan instansi pembina dan pengawas, seperti Dinas Peternakan, BBPMSOH, BPOM, BKHIT (Karantina), serta DPMPTSP, sehingga tercipta iklim usaha yang patuh terhadap regulasi dan perizinan berusaha terbaru. (INF)

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

STUDI MESIR MENYOROTI SALMONELLA YANG RESISTEN TERHADAP BERBAGAI OBAT PADA AYAM BROILER

Sebuah studi baru oleh para peneliti dari Universitas Mansoura dan lembaga-lembaga yang berkolaborasi di Mesir telah mengidentifikasi strain Salmonella enterica yang resisten terhadap berbagai obat dengan keragaman genetik pada ayam broiler, yang menggarisbawahi perlunya pengawasan penyakit yang lebih kuat dan penggunaan antimikroba yang lebih bertanggung jawab dalam produksi unggas.

Diterbitkan dalam Scientific Reports, studi tersebut menemukan bahwa unggas dapat bertindak sebagai reservoir untuk Salmonella yang resisten terhadap antimikroba. Beberapa strain membawa elemen genetik bergerak yang memungkinkan gen resistensi menyebar antar bakteri, meningkatkan tantangan dalam mengendalikan infeksi. Para peneliti mengatakan temuan tersebut menyoroti pentingnya memantau resistensi antimikroba pada unggas.

Para peneliti menganalisis 29 isolat Salmonella enterica yang dikumpulkan dari peternakan ayam broiler di Mesir. Pengujian laboratorium menemukan gen resistensi yang terkait dengan beberapa kelompok antimikroba, termasuk tetrasiklin, aminoglikosida, fenikol, dan sulfonamida.

Studi ini juga mengidentifikasi beberapa serovar Salmonella, termasuk S. Kentucky, S. Jerusalem, dan S. Colorado, yang membawa banyak gen resistensi. Beberapa menunjukkan profil resistensi obat yang luas, artinya mereka resisten terhadap hampir semua kelas antimikroba yang umum digunakan.

Para peneliti juga mendeteksi gen resistensi aphA1 dan fosA3 pada Salmonella dari ayam broiler. Ini adalah salah satu laporan pertama tentang gen-gen ini pada Salmonella yang terkait dengan unggas di Mesir dan menyoroti perlunya pengawasan berkelanjutan.

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa banyak gen resistensi terkait dengan integron kelas 1 – elemen genetik bergerak yang memungkinkan bakteri untuk bertukar gen resistensi. Ini berarti resistensi antimikroba dapat menyebar lebih mudah antar bakteri dalam sistem produksi unggas dan berpotensi melalui rantai makanan.

Analisis genetik juga menunjukkan bahwa bakteri resisten sangat beragam, menunjukkan bahwa beberapa strain resisten yang berbeda beredar dalam produksi ayam broiler Mesir daripada satu strain dominan.

Produsen unggas, dokter hewan, dan pembuat kebijakan harus terus mempromosikan penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab sambil memperkuat program pengawasan. Mendeteksi bakteri resisten sejak dini dapat membantu membatasi penyebarannya.

Resistensi antimikroba menjadi kekhawatiran yang semakin meningkat bagi industri unggas global karena dapat mengurangi efektivitas pengobatan penyakit bakteri pada hewan dan manusia. Para peneliti mengatakan bahwa pemantauan berkelanjutan dan peningkatan biosekuriti akan penting untuk membantu memperlambat penyebaran strain Salmonella yang resisten dalam produksi unggas.

75.000 TELUR ILEGAL DITEMUKAN DI WINA

Inspektur pasar di ibu kota Austria, Wina, baru-baru ini menemukan 75.000 telur ilegal yang berasal dari Ukraina tetapi tidak memiliki stempel, tanda asal lainnya, atau tanggal kedaluwarsa. Oleh karena itu, telur-telur tersebut tidak sesuai dengan peraturan pasar Uni Eropa, kata Marktamt Wien.

Telur-telur tersebut ditemukan di pasar grosir di Wien-Inzersdorf. “Masalah dengan telur dari Ukraina adalah tidak adanya dokumentasi yang menyertainya dan tidak ada stempel yang terlihat pada telur itu sendiri. Tidak jelas apakah itu telur organik, diproduksi di kandang, atau di antaranya. Kita sama sekali tidak membutuhkan hal seperti itu di Wina,” kata juru bicara otoritas pasar.

Marktamt Wien menambahkan bahwa mereka tidak tahu apa yang terjadi pada telur-telur tersebut. “Mungkin telur-telur itu dikirim kembali ke Ukraina dan dimakan di sana; kami tidak tahu. Telur-telur itu tidak dapat dijual di sini, tetapi itu tidak berarti telur-telur itu tidak sehat. Telur-telur itu hanya tidak memiliki tanda atau informasi yang diperlukan.”

Namun, serikat petani Austria, Bauernbund, tidak senang dengan situasi tersebut. “Jika bukan karena inspeksi yang konsisten, produk ilegal ini akan berakhir di pasar kita. Karena itu adalah telur segar, kurangnya tanda jelas terlihat. Jika telur-telur itu dikirim ke industri pengolahan, tidak akan ada yang menyadarinya. Oleh karena itu, kami menginginkan pengawasan yang lebih ketat, baik di tingkat nasional maupun Uni Eropa, untuk mencegah hal ini terjadi lagi dan, yang lebih penting, untuk mencegah telur ilegal masuk ke negara kita,” kata ketua Georg Strasser dalam sebuah pernyataan.

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

MENUJU EDISI KE-20: GRAND LAUNCHING INDO LIVESTOCK 2027 EXPO & FORUM RESMI DIGELAR

Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. Infovet)

PT Napindo Media Ashatama secara resmi menyelenggarakan momentum penting Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Aloft South Jakarta Hotel, Selasa (28/7/2026). Peluncuran resmi ini menandai dimulainya tahapan persiapan menuju pameran bisnis peternakan dan kesehatan hewan terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Juli 2027 mendatang di Grand City Convex, Surabaya.

Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum tidak hanya hadir sebagai ajang pameran dagang tahunan, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi strategis dalam mendorong kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Melalui berbagai kerja sama, para pemangku kepentingan industri diharapkan dapat saling memperkuat sinergi, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tingkat global.

Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang secara konsisten mendukung perjalanan Indo Livestock hingga saat ini.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian selaku tuan rumah, serta dukungan dari kementerian, lembaga, asosiasi, mitra bisnis, peserta pameran, hingga insan media. Melanjutkan keberhasilan tema sebelumnya, Indo Livestock 2027 Expo & Forum akan terus hadir sebagai platform strategis yang mendukung pengembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujar Lisa.

Lisa menegaskan, pameran di tahun mendatang memiliki arti yang sangat istimewa. Memasuki edisi ke-20, pameran ini sekaligus menjadi penanda reflektif 25 tahun perjalanan konsisten Indo Livestock dalam menjembatani ekosistem bisnis dan pengetahuan peternakan di Indonesia. Perjalanan seperempat abad ini merupakan cerminan komitmen berkelanjutan Napindo dalam memfasilitasi teknologi, inovasi, serta peluang investasi di subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

“Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan ke wilayah ekosistem peternakan yang kuat. Hal ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, sekaligus menciptakan peluang investasi baru,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Junior Sales Manager Indo Livestock, Agnes Nilam, turut memaparkan gambaran komprehensif mengenai rencana pelaksanaan Indo Livestock 2027 Expo & Forum. Pemaparan tersebut mencakup target pengunjung, profil peserta pameran, tata letak area pameran, hingga berbagai agenda forum pendukung.

Agnes menjelaskan, Indo Livestock 2027 Expo & Forum ditargetkan akan menghadirkan sekitar 15.000 pengunjung, dengan luas area pameran 5.169 m2, yang akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan dan prinsipal dari 30 negara, dengan menghadirkan 10 paviliun negara. Pameran ini juga bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, dan Indo Fisheries.

Dengan dimulainya rangkaian tahapan peluncuran ini, pihak penyelenggara berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat ekosistem peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (RBS)

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer