-->

Featured Posts

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AVIAGEN AKAN MENGINVESTASIKAN US$40 JUTA DI PUSAT GENETIKA UNGGAS DI UZBEKISTAN

Aviagen berencana untuk menginvestasikan US$40 juta di klaster pembibitan unggas baru di Uzbekistan. Perusahaan genetika unggas AS ini bertujuan untuk memperkuat pasokan unggas domestik negara tersebut dan mengurangi ketergantungan pada stok bibit impor.

Proyek ini, yang akan diimplementasikan oleh divisi pembibitan global Aviagen, akan membangun kompleks genetika dan produksi unggas modern yang dirancang untuk mendukung pengembangan sektor unggas Uzbekistan yang berkembang pesat.

Klaster tersebut diharapkan mencakup peternakan pembibitan, fasilitas penetasan, dan infrastruktur pendukung yang dibangun sesuai dengan standar biosekuriti dan produksi internasional.

Setelah beroperasi, fasilitas ini diproyeksikan mencapai kapasitas tahunan sekitar 4,5 juta ekor unggas, memasok stok bibit berkualitas tinggi kepada produsen unggas lokal. Para pejabat industri mengatakan inisiatif ini akan membantu meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasokan, dan mendukung upaya negara untuk meningkatkan produksi daging unggas domestik.

LEDAKAN INDUSTRI UNGGAS DI TIMUR TENGAH MEMBUKA PELUANG BAGI EKSPORTIR UNI EROPA

Timur Tengah telah muncul sebagai salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis untuk unggas, didukung oleh pertumbuhan populasi yang stabil, sektor jasa makanan yang berkembang, dan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Meskipun produksi domestik di beberapa negara di Timur Tengah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini tetap sangat bergantung pada impor. Meningkatnya pariwisata, mega-event, dan strategi diversifikasi jangka panjang mengubah kawasan ini menjadi medan pertempuran strategis bagi eksportir global, termasuk dari Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk yang lebih kaya, termasuk Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain, telah menjadi tujuan yang semakin menarik bagi eksportir unggas Eropa. Pertumbuhan populasi yang berkelanjutan, peningkatan pendapatan, dan ruang lingkup yang terbatas untuk secara signifikan memperluas kapasitas produksi domestik diperkirakan akan memperkuat tren ini.

Populasi di Timur Tengah diperkirakan akan bertambah 20 juta jiwa hingga tahun 2029, di mana 50% di antaranya berusia di bawah 25 tahun, komentar Stig Munck Larsen, kepala konsultan di Dewan Pertanian dan Pangan Denmark dan ketua Kelompok Kerja Perdagangan AVEC.

“Lanskap demografis baru ini akan meningkatkan konsumsi daging unggas baik sekarang maupun di masa depan,” kata Larsen. “Meskipun terjadi pertumbuhan produksi lokal, kebutuhan akan impor yang lebih tinggi di kawasan ini jelas terlihat. Saat ini, permintaan impor sekitar 2,5 juta ton dengan tren yang moderat dan meningkat dalam beberapa tahun mendatang, meskipun permintaan ini akan bervariasi antar negara.”

Prakiraan hingga tahun 2030-an menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan di pasar unggas Timur Tengah, didorong oleh pertumbuhan populasi, peningkatan konsumsi per kapita, dan urbanisasi. Menurut lembaga think tank IndexBox, pada tahun 2035, volume pasar dapat mendekati 10 juta ton dan nilainya lebih dari USD$20 miliar, meningkat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan moderat sekitar 1% dalam volume dan 2,2% dalam nilai selama periode 2024-35.

Selama bertahun-tahun, Brasil telah mendominasi arus impor di kawasan ini, memanfaatkan skala, harga yang kompetitif, dan rantai pasokan bersertifikat halal. Tetapi lanskap persaingan sedang bergeser. Pemasok dari Uni Eropa, bersama dengan Ukraina dan Rusia, dan baru-baru ini bahkan Turki, semakin menargetkan pembeli Timur Tengah, berupaya untuk mendiversifikasi tujuan ekspor di tengah permintaan yang bergejolak di dalam negeri dan hambatan geopolitik.

Rusia mengalami peningkatan pesat dalam ekspor ke Timur Tengah. Pada tahun 2024, penjualan ke negara-negara Teluk melonjak sebesar 57% hingga melebihi 100.000 ton, dengan sekitar 75% dari volume tersebut masuk ke Arab Saudi.

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan unggas terkemuka Rusia telah memprioritaskan sertifikasi halal untuk lebih meningkatkan penjualan ke negara-negara Muslim.

LARANGAN IMPOR UNGGAS ARAB SAUDI MEMICU KEKHAWATIRAN DI TIMUR TENGAH

Eksportir unggas di beberapa negara Timur Tengah memperingatkan bahwa larangan impor unggas ke Arab Saudi dapat berdampak negatif pada bisnis mereka.

Otoritas Makanan dan Obat Saudi telah memberlakukan larangan total impor unggas mentah dan telur konsumsi dari 40 negara untuk mencegah penyebaran flu burung patogenik tinggi, efektif mulai 1 Maret. Negara-negara yang terkena dampak termasuk India, Cina, Jerman, dan Indonesia, sementara pembatasan sebagian berlaku untuk wilayah tertentu di 16 negara lain, termasuk AS, Prancis, dan Kanada.

Arab Saudi mengimpor unggas terutama dari Brasil, yang menyumbang sekitar 70% pengiriman pada tahun 2025. UEA, Rusia, Ukraina, dan Mesir juga termasuk di antara pemasok terbesar.

Secara paralel, Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Saudi mengeluarkan laporan yang mengungkapkan bahwa produksi unggas negara itu melebihi 1,31 juta ton per tahun. Pada tahun 2023, angka tersebut mencapai 1,1 juta ton, menurut data resmi pemerintah.

Arab Saudi menghadapi kritik di beberapa negara tetangga atas pemberlakuan pembatasan yang luas. Abdel Aziz El-Sayed, anggota Kamar Dagang Kairo, mempertanyakan alasan di balik dimasukkannya Mesir dalam daftar negara yang dikenai pembatasan. Ia mengatakan bahwa Mesir mengekspor unggas ke Arab Saudi dari peternakan komersial besar yang terlindungi dengan baik dari flu burung. Fasilitas-fasilitas ini, tambahnya, sepenuhnya siap untuk inspeksi apa pun oleh pejabat Saudi.

Larangan impor unggas dari Arab Saudi akan berdampak terbatas pada industri unggas India, kata Suresh Chitturi, direktur pelaksana Srinivasa Farms, kepada pers setempat. India hanya mengekspor unggas dalam jumlah kecil ke pasar Arab Saudi, tambahnya.

Namun, cakupan pembatasan yang luas, katanya, yang mencakup banyak negara, termasuk negara-negara dengan industri unggas komersial yang kuat, menunjukkan bahwa ini mungkin lebih merupakan langkah untuk melindungi industri dan membentuk pasar daripada tindakan kesehatan hewan yang ditargetkan secara sempit.

HENDRIX GENETICS MELUNCURKAN INTUITIVE ENTRY POINT KE DIGITAL FLOCK MANAGEMENT

Hendrix Genetics telah meluncurkan Eggsense Lite, alat seluler yang disederhanakan yang dirancang untuk menyederhanakan dan memodernisasi pencatatan data flock harian bagi peternak unggas.

Dikembangkan dalam kemitraan dengan Eggbase, aplikasi baru ini menawarkan kepada peternak intuitive entry point ke digital flock management di seluruh peternakan ayam petelur komersial, ayam broiler, induk, dan pembibitan.

Eggsense Lite telah dibangun dengan mempertimbangkan kepraktisan peternakan. Desainnya yang ringan berfokus pada hal-hal penting: menjaga entri data tetap cepat, sederhana, dan mudah diakses saat bepergian. Tersedia dalam berbagai bahasa yang terus berkembang, aplikasi ini mendukung produsen di mana pun mereka berada.

Pada intinya, Eggsense Lite memungkinkan peternak untuk mencatat 5 indikator fundamental: jumlah telur harian, berat telur, berat badan, angka kematian, konsumsi pakan.

Semua bidang dapat disesuaikan untuk kebutuhan peternakan individu, dan entri secara otomatis tersimpan secara lokal saat bekerja offline, memastikan bahwa tidak ada data yang hilang bahkan di area dengan konektivitas yang tidak andal. Aplikasi ini juga mengubah data mentah kawanan unggas menjadi wawasan visual yang mudah diakses. Pengguna dapat menelusuri grafik yang jelas dan ramah seluler, memutar perangkat mereka untuk tampilan horizontal, memperbesar untuk menganalisis tren, dan beralih antar kandang unggas dengan mudah.

Eggsense Lite dihargai £2 per kandang per bulan. Tanpa perpanjangan otomatis dan dengan pengingat tahunan yang transparan, model berlangganan ini dirancang untuk sesuai dengan operasi semua ukuran, mulai dari peternakan keluarga kecil hingga perusahaan skala besar.

PERANG MENGGUNCANG RANTAI PASOKAN UNGGAS DI TIMUR TENGAH

Perang telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh rantai pasokan unggas di Timur Tengah, mengganggu jalur perdagangan dan memperketat akses ke input penting di seluruh wilayah yang telah menjadi vital bagi pertumbuhan industri global.

Produk unggas adalah sumber protein utama bagi konsumen di Timur Tengah. Perang tersebut mengganggu jalur pasokan untuk wilayah tersebut, yang sangat bergantung pada impor, demikian pernyataan RaboResearch. Secara khusus, Brasil sebagai eksportir utama diperkirakan akan paling terpengaruh. Eksportir Eropa relatif kurang terpengaruh.

Timur Tengah adalah wilayah penting bagi sektor unggas. Wilayah ini menyumbang 8% dari pasar global dan 15% dari perdagangan global terjadi di sini. Lebih lanjut, konsumsi dan produksi tumbuh lebih cepat daripada di bagian lain dunia. Menurut survei oleh RaboResearch, 10% dari peningkatan produksi global terjadi di Timur Tengah.

Konflik AS-Israel dengan Iran kini telah secara substansial mengganggu beberapa jalur pasokan utama. Sejumlah besar negara di kawasan ini bergantung pada transportasi melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz yang sekarang diblokir. Hal ini menimbulkan masalah tidak hanya bagi eksportir utama produk unggas, seperti Brasil, tetapi juga bagi pasokan pakan dan kebutuhan lain untuk produksi lokal.

Timur Tengah merupakan pasar yang menarik bagi industri unggas karena pertumbuhan penduduk yang pesat, kebijakan pemerintah tentang ketahanan pangan, dan meningkatnya konsumsi ayam per kapita. Produk unggas merupakan sumber protein utama bagi penduduk, menyumbang 55% dari asupan protein, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 3%.

Selama 20 tahun terakhir, baik produksi maupun konsumsi telah tumbuh pesat. Produksi regional telah berlipat ganda sejak tahun 2004 menjadi lebih dari 7 juta ton. Konsumsi juga telah berlipat ganda menjadi sekitar 9 juta ton. Akibatnya, terjadi impor yang konsisten sekitar 2 juta ton, sedikit lebih dari 20% dari total konsumsi, meskipun ada kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan swasembada.

Arab Saudi sekarang memenuhi 70% kebutuhannya sendiri, naik dari 40% pada 2016. Dengan target untuk lebih meningkatkan swasembada menjadi 85%, memposisikan negara tersebut sebagai pemimpin di kawasan ini.

Negara-negara yang paling rentan terhadap dampak konflik adalah Iran, Kuwait, Oman, Irak, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Negara-negara tersebut bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan mereka. Arab Saudi kurang bergantung pada transportasi melalui jalur sempit di Teluk Persia ini dan juga dapat mengimpor melalui Laut Merah. Masalahnya terutama menyangkut pakan, tetapi ada masalah tambahan yang dipertaruhkan. Peternakan lokal juga membutuhkan ternak hidup dan peralatan teknis untuk peternakan unggas.

Brasil adalah pengekspor utama ke kawasan Timur Tengah. Negara ini mengekspor 100.000 ton produk unggas per bulan ke Timur Tengah, yang menyumbang lebih dari sepertiga dari total ekspor produk unggas Brasil.

Eksportir lainnya termasuk Turki, Rusia, Ukraina, AS, dan Uni Eropa. Rusia dan Ukraina, khususnya, sangat bergantung pada pasar ini. Bagi eksportir Eropa terutama Prancis, dampaknya relatif terbatas. Nan-Dirk Mulder, analis RaboResearch, memperkirakan permintaan Eropa yang kuat akan mengimbangi hilangnya pangsa pasar.

VAKSINASI FLU BURUNG TIDAK SEPENUHNYA MELINDUNGI BEBEK PRANCIS

Lebih dari separuh bebek yang divaksinasi terhadap flu burung di Prancis masih belum sepenuhnya terlindungi dari virus tersebut.

Sebuah model dari badan kesehatan manusia dan hewan Prancis, Anses, menunjukkan bahwa hanya 40-45% bebek yang mencapai perlindungan penuh dari skema vaksinasi lengkap. Sisanya terlindungi sebagian (karena vaksinasi berkelanjutan) atau memiliki kekebalan yang menurun.

Faktanya, perkiraan eksperimental Anses menunjukkan bahwa tingkat perlindungan pada bebek berusia lebih dari 10 minggu menurun seiring waktu. Untuk mengatasi hal ini, bebek foie gras, yang biasanya dipelihara rata-rata selama 16 minggu, menerima dosis vaksin ketiga.

Pada Oktober 2023, Prancis menjadi negara Eropa pertama yang mewajibkan vaksinasi untuk semua bebek di peternakan dengan lebih dari 250 populasi, setelah wabah flu burung yang menghancurkan pada musim dingin sebelumnya.

Pada 31 Maret 2024, 51 juta dosis telah diberikan, mencakup lebih dari 95% bebek di peternakan yang terkena dampak. Sebagian besar menerima 2 dosis: dosis pertama pada usia 10 hari dan dosis kedua sekitar 20 hari kemudian. Protokol ini telah diikuti dalam kampanye vaksinasi selanjutnya.

Untuk menghitung efektivitas kampanye besar-besaran dan mahal tersebut, para ahli dari Anses mengembangkan model berdasarkan informasi praktis yang dikumpulkan di lapangan oleh direktorat jenderal pertanian negara bagian.

Model ini juga memungkinkan pengujian skenario vaksinasi yang belum digunakan. Salah satu opsinya adalah melewatkan vaksinasi selama periode risiko flu burung yang lebih rendah untuk mengurangi biaya tinggi bagi negara dan sektor unggas. Namun, Anses menganggap hal ini tidak layak. Tanpa vaksinasi musim panas, kekebalan berkembang terlalu lambat, sehingga bebek tidak terlindungi selama periode musim gugur dan musim dingin yang berisiko tinggi.

OPTIMALISASI PERFORMA UNGGAS DENGAN ALTERNATIF ALAMI

Ilustrasi klasifikasi probiotik. (Sumber: Vektor Stock.com)

Pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik pada pakan ayam memberikan manfaat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesehatan pencernaan, performa pertumbuhan, dan sistem kekebalan tubuh. Senyawa-senyawa ini juga berfungsi sebagai alternatif alami pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP).

1. Probiotik
Mikroorganisme hidup (bakteri baik, seperti Lactobacillus dan Bacillus) yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi. Probiotik bermanfaat untuk kesehatan ayam dengan memperkuat pencernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan menekan bakteri jahat seperti Salmonella dan E. coli, yang menghasilkan ayam lebih sehat, pertumbuhan lebih optimal, dan daging atau telur berkualitas lebih baik dengan kandungan lemak lebih rendah serta minim residu antibiotik.

Pemberian senyawa tersebut juga membantu memperkuat sistem imun, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas lingkungan kandang dengan mengurangi bau amonia dari feses.

Manfaat utama probiotik untuk ayam di antaranya:
• Kesehatan pencernaan: Bakteri baik (seperti Lactobacillus) menyeimbangkan mikroflora usus, membantu pencernaan lebih lancar, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

• Peningkatan produktivitas: Penyerapan nutrisi lebih maksimal mendorong pertumbuhan berat badan lebih cepat dan meningkatkan konversi pakan (rasio pakan vs pertambahan bobot), meningkatkan efisiensi produksi.

• Sistem imun lebih kuat: Probiotik membantu melawan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam serta mengurangi risiko penyakit.

• Kualitas daging dan telur: Daging ayam yang pada pakannya mengandung probiotik cenderung lebih rendah lemak dan lebih tinggi protein, sementara hasil produksi telur memiliki kerabang yang lebih kuat dan kualitas kandungan telur lebih baik.

• Pengurangan limbah dan bau: Feses lebih mudah terurai, mengurangi amonia dan bau, menjadikan lingkungan kandang lebih higienis dan tidak menarik lalat.

• Pengurangan residu antibiotik: Menjadi alternatif alami antibiotik, sehingga produk ayam lebih aman dikonsumsi.

Adapun cara probiotik bekerja sebagai berikut:
• Ekslusif kompetitif/prinsip Gause adalah konsep ekologi yang menyatakan bahwa dua spesies dengan kebutuhan sumber daya (ceruk/niche) yang sama persis tidak dapat hidup berdampingan secara stabil dalam satu habitat. Spesies yang lebih kompetitif akan menyingkirkan atau menyebabkan kepunahan lokal spesies lainnya. Bakteri menguntungkan bersaing dengan bakteri patogen untuk tempat melekat di dinding usus dan nutrisi menghambat pertumbuhan patogen.

• Membantu produksi enzim pencernaan seperti protease, lipase, dan amilase untuk memecah nutrisi.

• Modulasi imun membantu meningkatkan aktivitas sel imun seperti makrofag saat ayam mengalami stres.

Pemberian probiotik bisa dimulai sejak ayam menetas dan sangat bermanfaat saat ayam mengalami stres (vaksinasi, cuaca ekstrem) untuk membantu pemulihan kesehatan usus. Beberapa probiotik yang telah dikenal di antaranya Lactobacillus, Propionibacterium, Bulgaricus, Lactococcus, Streptococcus thermophilus, dan Bifido bacterium.

2. Prebiotik
Merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna ayam, berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Paktisi perunggasan

FAO PERKENALKAN GLEAM UNTUK KEBIJAKAN BERBASIS DATA

Seremoni launching GLEAM yang dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

Salah satu agenda penting dalam konferensi International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta adalah peluncuran Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. 

Model ini merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan, sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.

GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr drh Agung Suganda MSi yang hadir mewakili Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi peternakan berkelanjutan menjadi prioritas nasional.

“Subsektor peternakan saat ini menghadapi tantangan ganda yaitu memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau sekaligus menekan dampak lingkungan tanpa mengorbankan produktivitas, kesehatan hewan, dan kesejahteraan peternak,” ujarnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, penguatan produksi dalam negeri berjalan seiring dengan peningkatan keberlanjutan dan efisiensi. Transformasi peternakan berkelanjutan adalah prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, dan memenuhi komitmen iklim. “Pendekatan hulu hingga hilir harus dilakukan secara terintegrasi,” kata Agung.

Livestock Policy Officer FAO, Dominik Wisser, menjelaskan bahwa GLEAM dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

“GLEAM membantu menerjemahkan data yang kompleks menjadi indikator yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung transformasi berkelanjutan sistem peternakan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tanpa intervensi yang tepat, peningkatan produksi peternakan ke depan akan berdampak pada peningkatan emisi.

“Pada tahun 2050, produksi peternakan diproyeksikan meningkat sekitar 20 persen. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi,” tambahnya.

Bagi pelaku usaha, pemanfaatan model seperti GLEAM memberikan arah yang lebih jelas dalam investasi dan pengembangan usaha. Baik itu dari segi efisiensi produksi, pengelolaan pakan, serta penguatan rantai pasok yang berkelanjutan.

Sebelum konferensi berlangsung, FAO juga menggelar pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan model GLEAM dan pedoman teknis terbaru yang dikembangkan melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Inisiatif ini mendukung negara-negara dalam menilai dan mengoptimalkan nilai jasa ekosistem dalam sistem peternakan.

Konferensi kerjasama BRIN dan FAO ini juga menghadirkan berbagai sesi diskusi mulai dari pleno, panel pakar, hingga forum ilmiah paralel yang membahas temuan terkini di bidang peternakan. Selain itu, kompetisi riset pemuda juga digelar untuk mendorong lahirnya inovasi dari generasi muda dalam mendukung transformasi sektor ini.

Diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara, kegiatan ini menjadi bukti bahwa transformasi industri peternakan telah menjadi agenda global. Kolaborasi lintas negara, dukungan sains, serta keterlibatan generasi muda diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan. (NDV)

POLAR (POLLARD) UNTUK PAKAN SAPI

polar pakan sapi

Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri peternakan, bahan ini sangat umum digunakan untuk program penggemukan sapi dewasa maupun untuk pakan pedet (anak sapi).

Salah satu keunggulan fisik polar adalah teksturnya yang sangat halus. Hal ini karena polar murni hanya mengandung bagian kulit dalam gandum dan sisa inti biji, tanpa menyertakan sekam atau kulit luar gandum yang kasar.

Kandungan Nutrisi Polar

Secara nutrisi, polar mendukung fase pertumbuhan dan penggemukan sapi karena tergolong bahan pakan dengan kandungan protein dan energi yang tinggi.

Berikut adalah rata-rata profil nutrisi pada polar:

  • Protein Kasar: ~17%
  • Lemak Kasar: ~4,5%
  • Serat Kasar: ~8,8%
  • BETN: ~67,6%
  • Kalsium (Ca): ~0,1%
  • Fosfor (P): ~0,9%

Polar juga kaya akan vitamin B kompleks. Kualitas protein yang dimiliki polar memang masih berada di bawah bungkil kedelai, namun nilainya lebih baik dibandingkan dengan protein pada jagung.

Kelebihan utama lainnya adalah polar tidak mengandung zat antinutrisi. Harganya pun cukup terjangkau dengan palatabilitas yang baik di lidah ternak. Namun kadar kalsiumnya rendah, sehingga perlu menambahkan suplementasi kalsium pada ransum.

Fungsi Polar Pakan Sapi

Dalam manajemen pakan harian, polar memiliki beberapa fungsi:

  • Sebagai sumber protein dan energi pendamping ransum utama.
  • Karena palatabilitasnya baik, polar mampu meningkatkan konsumsi pakan harian sapi, yang akan berpengaruh positif pada percepatan pertumbuhan dan bobot badan.
  • Karakteristik fisiknya membantu mengikat dan menstabilkan campuran bahan pakan dalam konsentrat.
  • Nutrisi yang mudah diserap membuat proses pengubahan pakan menjadi daging berjalan lebih efisien.

Namun polar memiliki sifat pencahar ringan (laksatif). Oleh karena itu, penggunaannya wajib dibatasi dan tidak boleh berlebihan agar sapi tidak mengalami diare. Polar juga tidak bisa dijadikan pakan tunggal, penggunaannya umumnya sebagai bahan campuran konsentrat.

Cara Menguji Kualitas Polar Pakan Sapi

Masukkan sedikit polar ke dalam air. Jika semakin banyak material yang mengapung ke permukaan, itu berarti polar tersebut berkualitas rendah karena memiliki kandungan sekam yang tinggi.

Raba dengan tangan, polar yang baik seharusnya terasa halus, lembut, dan tidak menggumpal.

Perhatikan warna dan baunya. Hindari polar yang berbau apek, karena itu menandakan kualitas yang sudah menurun.

BRIN–FAO PERKUAT KOLABORASI GLOBAL, INDONESIA PENGGERAK TRANSFORMASI PETERNAKAN BERBASIS SAINS

Forum internasional Kerjasama BRIN – FAO diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara.

Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu motor penggerak transformasi peternakan global berbasis sains. Melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Food and Agriculture Organization (FAO), arah baru pembangunan sektor peternakan didorong tidak lagi sekadar berorientasi produksi, melainkan berlandaskan keberlanjutan, efisiensi, dan kolaborasi lintas negara.

Momentum ini mengemuka dalam forum International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga panggung strategis untuk merumuskan ulang masa depan industri peternakan dunia.

“Acara ini merupakan kerjasama antara FAO dengan BRIN dalam rangka untuk meningkatkan partnership secara global dalam bidang riset, dalam bidang inovasi serta mendukung food security khususnya dalam persediaan susu,” ungkap Prof Arif Satria SPi, MSi, MPhil, PhD selaku Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Arif menuturkan, tahap pertama telah dilakukan riset untuk menghasilkan sapi-sapi unggul, guna menghasilkan produk susu seiring dengan peningkatan permintaan. Kedua, bagaimana menciptakan inovasi untuk bisa lebih beradaptasi pada perubahan iklim. 

“Upaya yang tercipta adalah sustainable livestock, jadi bagaimana kita menciptakan peternakan yang berkelanjutan,” tandas Arif.

(Kiri ke kanan) Thanawat Tiensin, Rachmat Pambudy, Arif Satria
\

Kolaborasi Global sebagai Fondasi

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal menekankan bahwa kolaborasi yang terbangun dalam forum ini diharapkan memperkuat sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. Kemitraan lintas sektor dinilai penting untuk memastikan inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di level riset, tetapi benar terimplementasi di lapangan.

Asisten Direktur Jenderal FAO, Thanawat Tiensin menggarisbawahi pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan sebagai kerangka besar transformasi peternakan global.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya risiko Zoonosis, degradasi lingkungan, dan tekanan terhadap sistem pangan dunia.

“FAO menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif global dalam menghadapi tantangan sektor peternakan. Riset dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Ketika kita berbicara tentang nutrisi, kita berbicara tentang susu, daging, telur,” terang Thanawat. 

Menurut Thanawat, Indonesia telah meningkatkan sektor perunggasan dari segi produksi ayam dan telur. “Kita menggunakan inovasi, sains, dan teknologi dengan kepemimpinan BRIN untuk lebih memacu produksi susu dalam negeri Indonesia,” imbuh Thanawat. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Prof Dr Ir Rachmat Pambudy MS menilai penguatan sektor peternakan berkelanjutan membutuhkan dukungan dari BRIN, karena semua kemajuan pertanian peternakan pasti dimulai dari riset yang intensif dan terkini. 

Jadi kalau di bidang persapian, sapi perah, pertama kita harus mempunyai bibit yang bagus. Selain itu juga tersedia bahan baku pakan ternak yang luar biasa dari limbah perkebunan. Dan yang paling penting, kita punya demand besar untuk mengisi peningkatan produksi dan produktivitas dalam negeri,” kata Rachmat. 

Bappenas mendukung BRIN, karena sumber daripada kemajuan peternakan adalah research and development. “Seperti arahan Bapak Presiden, kita harus bekerja berbasis ilmu pengetahuan terkini,” lanjutnya. 

Melalui forum ini, BRIN dan FAO menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi global dalam membangun sistem peternakan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Transformasi berbasis sains diharapkan menjadi fondasi penting bagi masa depan sistem agripangan dunia yang lebih resilient. (NDV)

PERTAMA DI INDONESIA, BUKU PANDUAN BUDI DAYA AYAM PETELUR CAGE-FREE UNTUK JAWAB TUNTUTAN PASAR

Kondisi kandang bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas dan mendapat kesejahteraan yang lebih baik. (Foto-foto: Istimewa)

Dalam beberapa tahun terakhir, tren global menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap isu kesejahteraan hewan dan keamanan pangan, khususnya dalam sistem pemeliharaan ayam petelur. Dimana lebih dari 2.300 perusahaan pangan berkomitmen beralih ke penggunaan telur cage-free.

Menanggapi permintaan pasar yang kuat serta meningkatnya perhatian konsumen terhadap keamanan pangan, diterbitkan buku "Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia", pada Selasa, 1 Desember 2025. Buku ini ditulis oleh Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation, dengan tujuan menyediakan metode produksi yang efisien serta analisis ekonomi untuk mendukung produksi telur cage-free berbasis volume.

Penyusunan buku tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan), akademisi, asosiasi, perusahaan integrasi, serta peternak.

Sandi Dwiyanto menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Sejalan dengan tren tersebut, perusahaan pangan global maupun domestik mulai beralih ke penggunaan telur 100% cage-free dalam rantai pasoknya. Di saat yang sama, Kementan juga telah menerbitkan Permentan No. 32/2025 tentang Kesejahteraan Hewan pertama di Indonesia pada akhir 2025 guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional.

Bekerja sama dengan Pertanian Press sebagai penerbit, materi dalam buku ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan praktik budi daya di Indonesia agar relevan dengan kondisi lokal, sekaligus memperkenalkan metode berkelanjutan dari tingkat internasional untuk kebutuhan pelaku industri perunggasan nasional.

"Melalui buku ini, kami ingin memberikan panduan yang tidak hanya mencakup konsep dan prinsip teknis, tetapi juga pengalaman lapangan, analisis ekonomi, serta praktik manajemen yang telah diterapkan oleh peternak di Indonesia maupun di negara lain. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi sektor perunggasan,” ujar Dwiyanto.

Buku ini pun mendapat banyak tanggapan dari para stakeholder perunggasan. Di antaranya dari Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, yang menekankan bahwa buku ini menjadi panduan penting di tengah dinamika industri perunggasan global, di mana isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian.

"Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu keniscayaan. Di Eropa, sistem battery cage telah ditinggalkan. Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN juga bergerak ke arah yang sama. Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, bukan sekadar mengikuti, terutama ketika tuntutan pasar global dan komitmen perusahaan terhadap telur cage-free terus menguat setiap tahunnya,” tulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.

Sementara itu, dari Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, turut memberikan apresiasinya.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dalam industri pangan global mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan, adaptif terhadap kebutuhan pasar, serta tetap menjaga daya saing nasional. Buku ini memberikan gambaran yang komprehensif, mulai dari tren global dan standar kesejahteraan hewan hingga manajemen teknis dan analisis ekonomi, termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok serta analisis bisnis di Indonesia yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak yang mempertimbangkan transformasi sistem,” ujarnya.

Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia".

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami,  yang juga memberikan kata pengantar, turut menyoroti perkembangan industri perunggasan global saat ini menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sistem pemeliharaan ayam petelur yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tren internasional ini, lanjut dia, tidak hanya mendorong munculnya berbagai regulasi baru di sejumlah negara, tetapi juga membentuk ekspektasi pasar terhadap standar produksi yang lebih tinggi.

Ia juga menambahkan, perubahan ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru, baik di dalam negeri maupun dalam rantai pasok global. Namun, peluang tersebut perlu direspons dengan tetap menjaga efisiensi produksi serta mempertimbangkan kondisi pasar domestik agar proses transisi dapat berlangsung secara realistis dan berkelanjutan.

"Saya berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam memahami tren dan peluang tersebut, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi dinamika industri global,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diperkuat oleh hasil survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa 72% konsumen berpendapat hotel, restoran, supermarket, dan perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Selain itu sebanyak 55% konsumen juga menyatakan bahwa mereka lebih cenderung memilih merek makanan yang hanya menggunakan 100% telur cage-free.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana budi daya cage-free, buku ini kini tersedia dan dapat diakses secara gratis melalui website Pertanian Press atau melalui link https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/book/202.  Kehadiran buku panduan ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis sekaligus strategis bagi para pemangku kepentingan, khususnya peternak dan pelaku industri perunggasan, dalam memahami peluang pasar, menavigasi proses transisi, serta mengembangkan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. (INF)

JANGAN LEWATKAN SEMINAR NASIONAL PERCEPATAN INTEGRASI SAPI-SAWIT


Indonesia punya 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit, tapi masih impor daging sapi. Padahal ada solusi sederhana: Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA).

Fakta Kelapa Sawit Indonesia: Indonesia adalah produsen kelap sawit terbesar dunia. Total luas perkebunan sawit mencapai sekitar ±16,8 juta hektare. Kebun sawit tersebar di 26 provinsi di Indonesia. Artinya ada jutaan hektare lahan yang bisa dimanfaatkan untuk ternak sapi.

Fakta Populasi Sapi: Populasi sapi potong Indonesia sekitar 13,5 juta ekor (2025). Jumlah ini masih jauh dari kebutuhan nasional. Akibatnya Indonesia masih impor daging sapi setiap tahun.

Padahal potensinya luar biasa. Di perkebunan sawit tersedia rumput alami, limbah pelepah sawit, lahan terbuka, yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Dalam sistem integrasi sapi-sawit (SISKA), sapi memakan rumput di bawah sawit, kotoran sapi menjadi pupuk organik, gulma kebun berkurang. Hasilnya sawit tetap produktif dan sapi juga berkembang.

Bayangkan jika hanya 10% dari 16 juta ha sawit dimanfaatkan untuk SISKA. Sekitar 1,6 juta hektare lahan tersedia. Dengan kepadatan rendah saja 1-2 ekor sapi per hektare, Indonesia bisa menambah 2-3 juta ekor sapi. Ini menjadi langkah besar menuju swasembada daging sapi.

Untuk membahas peluang besar ini, Pusat Riset Peternakan BRIN bersama WAKENI dan GAPENSISKA serta didukung Majalah Infovet, mengundang Anda dalam Seminar Nasional "Percepatan Integrasi Sapi-Sawit (SISKA) untuk Mendukung Ketahanan Pangan Nasional."

Diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 April 2026
Pukul: 08:30-13:00 WIB
Tempat: Gedung PUSBINDIKLAT BRIN, Cibinong-Bogor

Menghadirkan narasumber:
- Ditjen PKH
Bappenas
Praktisi SISKA
Peneliti BRIN.

Daftarkan sekarang: https://bit.ly/seminar_sapi

KAPASITAS TERBATAS

Peserta mendapat:
- Snack
- Lunch
- E-sertifikat
- Ilmu yang bermanfaat

INSPEKSI GMP IRAK PERKUAT LANGKAH MEDION DI PASAR TIMUR TENGAH

Auditor dan Tim Medion. (Foto: Dok. Medion)

Langkah Medion dalam memperluas jangkauan pasar internasional semakin terbuka dengan diperolehnya sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP) dari Veterinary Department, Ministry of Agriculture, Republic of Iraq. Sertifikasi ini menjadi salah satu syarat penting dalam proses registrasi produk agar dapat dipasarkan di negara tersebut.

Sebelumnya, pada 16 Februari 2026, auditor melakukan inspeksi GMP di fasilitas produksi PT Medion Farma Jaya. Selama proses inspeksi, auditor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, mulai dari fasilitas produksi, sistem mutu, hingga penerapan prosedur operasional yang dijalankan.

Meskipun secara prinsip standar GMP yang digunakan mengacu pada praktik internasional, setiap regulator memiliki pendekatan dan fokus evaluasi yang berbeda. Karena itu, persiapan audit ini menuntut koordinasi yang baik agar setiap detail teknis dapat dipahami secara selaras serta meminimalisir potensi perbedaan interpretasi selama proses komunikasi.

Lebih dari sekadar tahapan regulasi, kunjungan ini menjadi momentum bagi Medion, sebagai perusahaan kesehatan hewan untuk menunjukkan kapabilitas perusahaan yang terus berkembang kepada mitra internasional.

Didukung fasilitas produksi yang modern serta penerapan standar GMP yang konsisten, Medion terus memperkuat kepercayaan mitra sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi vaksin dan obat kesehatan hewannya untuk hadir di pasar Timur Tengah. Sebelumnya, produk vaksin dan obat hewan Medion juga telah digunakan pelaku industri peternakan lebih dari 20 negara di Asia dan Afrika. (INF)

HPDKI DUKUNG PENERTIBAN TERNAK ILEGAL AGAR HARGA TETAP TERJAGA

Pertemuan antara HPDKI bersama Dirjen PKH. (Foto: Istimewa)

“HPDKI mendukung upaya pemerintah menertibkan pemasukan ternak ilegal. Peternak dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar, sehingga sebaiknya impor dihentikan agar harga di tingkat peternak tetap terjaga,” ujar Sekjen Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Ajat Sudarjat, dalam pertemuannya di kantor Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, peternak dalam negeri pada dasarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Karena itu, penguatan pengawasan dinilai penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat.

Sementara itu, Wakil Sekjen DPP HPDKI, Nuryanto, turut menambahkan bahwa pentingnya pengawasan untuk menjaga kesehatan ternak nasional. Ia menilai ternak yang masuk tanpa prosedur resmi berpotensi membawa penyakit yang dapat merugikan peternak. 

“Selain merugikan negara dari sisi pajak dan bea masuk, hal ini juga merusak harga pasar yang selama ini dijaga oleh peternak lokal,” ucap Nuryanto.

Menanggapi hal itu, pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus hadir melindungi peternak melalui penguatan kebijakan dan pengawasan di lapangan.

Dirjen PKH, Agung Suganda, mengatakan bahwa pengawasan terhadap peredaran ternak ilegal terus diperkuat, terutama di wilayah perbatasan. 

“Komitmen Menteri Pertanian jelas, yaitu melindungi peternak lokal dari dampak masuknya ternak ilegal yang bisa menekan harga di tingkat peternak,” kata Agung.

Selain pengawasan, pemerintah juga mendorong pengembangan pasar sebagai langkah konkret meningkatkan kesejahteraan peternak. Di antaranya mempercepat harmonisasi persyaratan ekspor domba dan kambing ke Malaysia, hingga usulan pemotongan hewan dam haji dapat dilakukan di Indonesia sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi peternak.

“Bayangkan kalau pemotongan dam bisa dilakukan di Indonesia, dampak ekonominya luar biasa. Peternak langsung merasakan manfaatnya,” katanya. (INF)

INTEGRASI SAPI-SAWIT, PERKUAT LUMBUNG TERNAK DI SUMATRA UTARA

Pemeliharaan integrasi sapi-sawit. (Foto: Infovet/Joko)

Menurut data BPS 2025, Kabupaten Simalungun memiliki populasi sapi potong 125.000 ekor dan menempati peringkat kedua populasi terbanyak di Sumatra Utara. Secara umum peternakan sapi di Kabupaten Simalungun merupakan peternakan rakyat yang dikelola secara intensif atau semi intensif. Sebagian masyarakat di sekitar perkebunan sawit memelihara sapi dengan sistem integrasi.

Sistem ini memberikan banyak manfaat bagi peternak dan populasi sapi. Peternak mendapatkan tambahan penghasilan dari peternakan sapi. Rumput dan pelepah sawit merupakan sumber pakan yang melimpah dan murah untuk peternakan. Tidak diragukan lagi, sistem ini dapat meningkatkan unsur hara dan kesuburan lahan sawit yang berasal dari kotoran dan urine sapi. Sistem ini sangat signifikan mengurangi biaya pembersihan lahan dan pembelian herbisida.

Sistem ini sangat mendukung peningkatan populasi sapi potong nasional. Pemerintah setempat sangat mendukung program yang telah berjalan bertahun-tahun ini. Pendampingan dan pembinaan terhadap peternak terus digencarkan dalam rangka peningkatan produktivitas, performa reproduksi dan kesehatan ternak.

Sistem integrasi sapi-sawit di Kabupaten Simalungun dapat menjadi role model bagi pengembangan peternakan sapi. Pemeliharaan secara ekstensif di lahan sawit tersebut memberikan kesempatan sapi mendapatkan nutrisi yang cukup dan murah. Murahnya biaya pakan menjadi modal penting untuk menekan biaya produksi peternakan, salah satunya biaya produksi pedet, yang ditentukan oleh beberapa faktor utama yaitu biaya pakan, angka kebuntingan, jarak antar kelahiran, biaya operasional penggembalaan, serta tingkat kematian induk dan pedet.

Penambahan pakan oleh peternak terkadang diberikan pada saat musim kemarau, dimana ketersediaan rumput berkurang. Perkawinan alami menggunakan pejantan menghasilkan angka kebuntingan yang sangat baik >90%. Perkawinan, kebuntingan, dan kelahiran yang terjadi secara alami sangat memungkinkan sapi akan beranak setiap tahun atau calving interval 12-13 bulan. Hal-hal terkait kematian induk dan kematian pedet dapat ditekan masing-masing kurang dari 1% dan 3% dengan melakukan tindakan pencegahan, penanganan, dan pengendalian penyakit. Pada kondisi tersebut, maka biaya produksi pedet yaitu sekitar Rp 3.000.000/ekor pedet.

Tabel kalkulasi biaya produksi pedet di lahan sawit.

Breed sapi dalam program integrasi sapi-sawit di Simalungun ini terdiri dari Peranakan Ongole, sapi Pesisir, dan beberapa sapi persilangan. Breed tersebut lebih tahan dan memiliki risiko kecil terhadap beberapa penyakit yang erat menyerang sapi Bali seperti penyakit Jembrana, malignant catarrhal fever (MCF), dan Baliziekte.

Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat menular khusus pada sapi Bali yang disebabkan oleh retrovirus dari anggota grup lentivirus yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Penyakit ini ditandai dengan demam, peradangan selaput lendir mulut (stomatitis), pembesaran limfoglandula preskapularis, prefemoralis, dan parotid, terkadang disertai keringat darah.

Penyakit Jembrana menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena menimbulkan kematian tinggi hingga mencapai 100%. Masa inkubasi virus berkisar antara 4-7 hari yang diikuti demam hingga mencapai 41 °C yang berlangsung 5-12 hari.

Sementara untuk penyakit MCF sering terjadi pada peternakan sapi Bali yang pemeliharaannya secara langsung atau tidak langsung terjadi kontak dengan domba, yang merupakan hewan pembawa penyakit ini. MCF bersifat akut, menular, dan fatalitasnya tinggi pada sapi Bali, disebabkan Ovine herpesvirus 2 atau Alcelaphine herpesvirus 1 (γ-Herpesviruses).

Mekanisme infeksi MCF pada sapi adalah disfungsi dan lisisnya sel-sel endothelial dan peradangan pembuluh darah, serta lisisnya limfosit pada jaringan limfoid. Sapi Bali terinfeksi akan mengeluarkan lendir kuning dari hidung hingga terjadi gangguan syaraf pusat. Jenis rumput yang ada perkebunan sawit salah satunya adalah jenis Lamtana camara. Rumput ini menghasilkan toksik bernama lamtaden yang bersifat racun bagi hati (hepatotoksik). Konsumsi Lamtana camara oleh sapi Bali dapat menyebabkan penyakit Baliziekte ditandai dengan kerusakan hati dan terjadinya lepuh atau keropeng pada kulit sapi.

Sentra-sentra integrasi sapi-sawit sebagai lumbung produksi ternak harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit. Mempertahankan status populasi agar tetap bebas dari penyakit melalui kontrol lalu lintas dan/atau vaksinasi menjadi pilihan yang tepat. Kegiatan keluar-masuk atau jual-beli sapi merupakan faktor risiko masuknya penyakit ke dalam suatu populasi.

Sebagai produsen ternak, minimnya pemasukan sapi menurunkan faktor risiko masuknya penyakit. Kegiatan surveilans untuk deteksi dini atau pengukuran prevalensi penyakit sangat penting dilakukan secara rutin. Tindakan pencegahan penyakit melalui vaksinasi pada populasi berisiko wajib dilakukan.

Sistem pemeliharaan semi intensif atau ekstensif juga sangat berisiko terhadap penyakit clostridial dan tick borne disease. Salah satu penyakit clostridial yang paling sering terjadi adalah botulisme. Penyakit ini disebabkan karena konsumsi rumput atau pakan yang terjadi kontak dengan bangkai (katak, unggas, materi abortus, plasenta) terkontaminasi Clostridium botulinum. Racun dari Clostridium botulinum bersifat neurotoksik menyebabkan gangguan syaraf pusat.

Sementara tick borne disease merupakan penyakit yang ditularkan melalui hospes yaitu kutu, caplak, tungau, pinjal. Tick borne disease juga dikenal dengan penyakit parasit darah meliputi babesiosis, theileriosis, anaplasmosis dan trypanosomiasis. Kejadian keracunan sianida, herbisida atau pupuk penyubur tanah, buah dan daun merupakan hal yang harus diwaspadai oleh peternak.

Kelemahan dari sistem integrasi sapi-sawit adalah sulitnya mengatasi kejadian inbreeding, sebab pada populasi sapi di lahan sawit semua umur dan jenis kelamin berkumpul di padang penggembalaan yang sama. Kejadian inbreeding yang sering dijumpai adalah anak jantan mengawini induknya atau neneknya. Kejadian inbreeding jarang ditemukan bapak mengawini anaknya atau kakek mengawini cucu betinanya. Hal ini disebabkan sebagian besar sapi-sapi pemacek yang cukup umur, tampilan bagus, tinggi, dan besar biasanya dijual untuk momen kurban atau kebutuhan keluarga.

Penyediaan pejantan unggul seperti Brahman dapat meningkatkan kualitas genetik keturunan yang dihasilkan. Penyediaan pejantan unggul sebanyak 6% dari populasi betina menjamin seluruh betina produktif akan terkawini dan bunting. Model seasional breeding dapat dilakukan untuk menghindari kelahiran pada musim hujan. Kelahiran pada musim kemarau meningkatkan harapan hidup pedet. Perkawinan dilakukan pada musim hujan (November-Februari) sehingga kelahiran terjadi pada musim kemarau (Agustus-Oktober).

Moderniasasi sistem pemeliharaan dengan pagar kejut (electric fenching) menggunakan energi surya dapat membantu mempermudah handling dan rotasi grassing pada populasi dan area penggembalaan. ***

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

UKRAINA MENINGKATKAN EKSPOR TELUR LEBIH DARI 60%

Tahun lalu, Ukraina mengekspor rekor 2,05 miliar telur, peningkatan 65,6% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut laporan Serikat Peternak Unggas Ukraina. Penurunan produksi telur di beberapa negara Uni Eropa akibat serangkaian wabah flu burung merupakan faktor utama yang mendorong dinamika ini.

Secara nilai, ekspor telur Ukraina hampir tiga kali lipat, mencapai US$201,9 juta, menurut Serikat Peternak Unggas.

Sebagian besar ekspor telur Ukraina masuk ke pasar Eropa. Misalnya, tahun lalu, Spanyol menyumbang 16,4% dari pengiriman, Inggris 11,9%, Republik Ceko 10,3%, Polandia 10%, dan Kroasia 8,7%. Di antara negara-negara non-Eropa, pembeli telur Ukraina terbesar adalah Israel dengan pangsa 7,8% pada tahun 2025.

Ekspor produk telur menunjukkan dinamika yang beragam, demikian pernyataan Serikat Peternak Unggas. Pada tahun 2025, penjualan kepada pelanggan asing mencapai 8.200 ton, meningkat 2,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari segi nilai, penjualan melonjak sebesar 40,3% menjadi US$47,8 juta.

LEDAKAN INDUSTRI UNGGAS DI TIMUR TENGAH MEMBUKA PELUANG BAGI EKSPORTIR UNI EROPA

Timur Tengah telah muncul sebagai salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis untuk unggas, didukung oleh pertumbuhan populasi yang stabil, sektor jasa makanan yang berkembang, dan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Meskipun produksi domestik di beberapa negara di Timur Tengah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini tetap sangat bergantung pada impor. Meningkatnya pariwisata, mega-event, dan strategi diversifikasi jangka panjang mengubah kawasan ini menjadi medan pertempuran strategis bagi eksportir global, termasuk dari Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk yang lebih kaya, termasuk Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain, telah menjadi tujuan yang semakin menarik bagi eksportir unggas Eropa. Pertumbuhan populasi yang berkelanjutan, peningkatan pendapatan, dan ruang lingkup yang terbatas untuk secara signifikan memperluas kapasitas produksi domestik diperkirakan akan memperkuat tren ini.

Populasi di Timur Tengah diperkirakan akan bertambah 20 juta jiwa hingga tahun 2029, di mana 50% di antaranya berusia di bawah 25 tahun, komentar Stig Munck Larsen, kepala konsultan di Dewan Pertanian dan Pangan Denmark dan ketua Kelompok Kerja Perdagangan AVEC.

“Lanskap demografis baru ini akan meningkatkan konsumsi daging unggas baik sekarang maupun di masa depan,” kata Larsen. “Meskipun terjadi pertumbuhan produksi lokal, kebutuhan akan impor yang lebih tinggi di kawasan ini jelas terlihat. Saat ini, permintaan impor sekitar 2,5 juta ton dengan tren yang moderat dan meningkat dalam beberapa tahun mendatang, meskipun permintaan ini akan bervariasi antar negara.”

Prakiraan hingga tahun 2030-an menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan di pasar unggas Timur Tengah, didorong oleh pertumbuhan populasi, peningkatan konsumsi per kapita, dan urbanisasi. Menurut lembaga kajian IndexBox, pada tahun 2035, volume pasar dapat mendekati 10 juta ton dan nilainya lebih dari USD$20 miliar, meningkat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan yang moderat sekitar 1% dalam volume dan 2,2% dalam nilai selama periode 2024-2035.

AVEC MENYERUKAN PENANGGUHAN IMPOR UNGGAS DARI CINA

AVEC, asosiasi yang mewakili 95% produksi unggas Eropa, menyerukan kepada lembaga-lembaga Uni Eropa untuk menerapkan penangguhan sementara impor unggas dari Cina menyusul audit Komisi Eropa CT-2025-0037, yang menyimpulkan bahwa kontrol resmi yang mendukung ekspor unggas dari Cina tidak dapat memberikan jaminan yang memuaskan untuk mendukung sertifikasi kesehatan masyarakat dan kesejahteraan hewan Uni Eropa.

Impor dari Cina telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meningkat lebih dari 30% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai sekitar 50.000 ton pada tahun 2025. Impor ini memasuki pasar Uni Eropa dengan kondisi bea masuk penuh.

AVEC telah memperingatkan tentang risiko yang terkait dengan sistem sertifikasi dan kontrol pada tahun 2024. Audit Komisi sekarang mengkonfirmasi kekurangan sistemik yang memengaruhi pengawasan kesejahteraan hewan pada saat penyembelihan, ketertelusuran, kontrol kebersihan, dan keandalan sertifikasi yang mendukung ekspor ke Uni Eropa.

AVEC menekankan bahwa kepercayaan publik terhadap kebijakan pangan Uni Eropa bergantung pada jaminan yang jelas dan dapat diverifikasi untuk semua produk yang dipasarkan, terlepas dari asal-usulnya. “Warga Eropa mengharapkan bahwa makanan yang dijual di Uni Eropa memenuhi tingkat jaminan yang sama, baik yang diproduksi di dalam maupun di luar Eropa,” kata Birthe Steenberg, sekretaris jenderal AVEC.

MESIR PERKUAT POSISI SEBAGAI PRODUSEN UNGGAS TERKEMUKA DI AFRIKA

Sektor unggas Mesir terus menonjol sebagai produsen terkemuka di benua Afrika pada tahun 2025, dengan produksi dalam beberapa tahun terakhir (2023/2024) diperkirakan berkisar antara 1,7 dan 1,8 juta metrik ton (mmt), dan perkiraan industri memproyeksikan pertumbuhan lebih lanjut menuju sekitar 1,9 mmt pada tahun 2028.

Meskipun angka yang banyak dikutip sekitar 2,6 juta ton pada tahun 2024 menunjukkan bahwa Mesir mungkin telah menutup sebagian besar kesenjangan tersebut, berbagai sumber dan proyeksi pemerintah nasional sepakat pada lintasan peningkatan yang konsisten yang didukung oleh investasi jangka panjang, permintaan domestik, dan perluasan kapasitas ekspor. Tren ini tidak hanya mencerminkan volume produksi tetapi juga peningkatan kapasitas dalam operasi ayam broiler, penetasan, dan industri pakan.

Pertumbuhan konsumsi di Mesir termasuk yang tercepat di Afrika. Laporan terbaru mencatat bahwa CAGR konsumsi daging unggas Mesir selama dekade terakhir sekitar +5,7%, melampaui banyak negara lain. Konsumsi ayam per kapita di Mesir diperkirakan sekitar 24 kg per orang per tahun, menempatkannya di posisi tinggi di antara negara-negara Afrika (Afrika Selatan lebih tinggi, sekitar 37 kg/orang).

Selain itu, konsumsi telur kuat, dan produksi ayam broiler dilaporkan mencakup hampir 97% dari permintaan nasional, menurut data kementerian. Penggerak sisi permintaan ini menciptakan peluang dan tekanan bagi produsen untuk mempertahankan kualitas, stabilitas harga, dan keandalan rantai pasokan.

Intervensi regulasi dan kebijakan telah memainkan peran besar dalam membentuk lanskap unggas Mesir. Pada tahun 2025, pemerintah Mesir meluncurkan proyek perakitan peralatan unggas senilai US$3,3 juta di Qantara Barat, membangun peralatan seperti kandang baterai dan sistem pengendalian iklim secara lokal untuk mengurangi ketergantungan impor dan menurunkan biaya produksi.

Selain itu, Kementerian Pertanian dan Reklamasi Lahan mengeluarkan lebih dari 13.200 lisensi pada tahun 2024 untuk proyek ternak, unggas, dan pakan, termasuk sekitar 550 proyek di zona perluasan gurun yang menunjukkan strategi untuk memperluas produksi di luar area tradisional.

Mesir saat ini mempekerjakan sekitar 3,5 juta orang di sektor unggas dan sektor terkait, menjadikannya sumber utama lapangan kerja di pedesaan dan semi-pedesaan.

Ekspor kembali meningkat, setelah gangguan sebelumnya akibat flu burung, dengan fasilitas bersertifikasi yang kini disetujui untuk mengirimkan produk unggas ke lebih dari 20 negara di Asia, Afrika, dan dunia Arab.

Namun, tantangan tetap ada: produsen lokal bersaing dengan impor beku, yang menurunkan harga dan margin; pemadaman listrik, lonjakan suhu tinggi, dan masalah pasokan pakan menambah ketidakstabilan.

Jika Mesir dapat terus meningkatkan operasi terintegrasinya dan berinvestasi dalam industri input lokal (terutama pakan), dan mempertahankan pencapaian regulasinya, Mesir tidak hanya akan mengkonsolidasikan statusnya sebagai produsen teratas tetapi juga berfungsi sebagai contoh bagi negara-negara Afrika lainnya yang bertujuan untuk mengindustrialisasi sektor unggas mereka.

INDUSTRI UNGGAS AFRIKA SELATAN MULAI PULIH PADA 2025 SETELAH TERPUKUL FLU BURUNG

Industri unggas Afrika Selatan mengalami pemulihan pada tahun 2025, memanfaatkan keuntungan yang dicapai setelah gangguan parah yang disebabkan oleh wabah flu burung patogenik tinggi pada tahun 2023.

Menurut USDA Foreign Agricultural Service, produksi daging ayam untuk tahun pemasaran 2025 diperkirakan meningkat menjadi sekitar 1,65 juta metrik ton, naik dari perkiraan 1,59 juta ton pada tahun 2024, yang mencerminkan pemulihan dan pertumbuhan di sektor domestik.

Konsumsi di Afrika Selatan juga meningkat, dengan permintaan daging ayam diproyeksikan mencapai 1,88 juta ton pada tahun 2025, dibantu oleh penurunan harga unggas dan berkurangnya inflasi pangan.

Konsumsi unggas per kapita di Afrika Selatan tetap yang tertinggi di benua Afrika, sekitar 37 kg per orang per tahun, tingkat yang jauh di atas rata-rata Afrika. Permintaan domestik yang kuat ini mendukung skala dan pentingnya sektor unggas dalam ekonomi pangan nasional.

Industri ini juga memainkan peran utama dalam lapangan kerja dan merupakan salah satu pemberi kerja pertanian terbesar di negara ini, mendukung sekitar 58.000 pekerjaan di seluruh rantai nilai.

Namun, tantangan signifikan terus menguji ketahanan produsen unggas Afrika Selatan. Flu burung tetap menjadi ancaman yang berulang. Pada tahun 2025, kasus baru strain H5N1 dilaporkan di provinsi-provinsi seperti Mpumalanga dan North West, yang menyebabkan pemusnahan kawanan unggas yang terinfeksi.

Biaya pakan adalah titik tekanan kritis lainnya. Kenaikan harga pakan telah diperburuk oleh kinerja yang lemah dalam hasil panen lokal, volatilitas harga internasional, dan nilai tukar yang lemah.

Gangguan pasokan energi dan listrik (pemadaman bergilir) terus menambah biaya operasional, yang memengaruhi penyembelihan, pengolahan, dan logistik rantai dingin.

Terlepas dari tantangan ini, analisis para ahli dan pemangku kepentingan industri tetap optimis dengan hati-hati. Asosiasi Unggas Afrika Selatan telah mengkonfirmasi bahwa kapasitas penyembelihan lokal sekitar 21,5 juta ekor unggas per minggu, dengan rencana yang sedang berjalan untuk meningkatkannya menjadi 22,5 juta ekor unggas, yang menandakan kepercayaan dalam meningkatkan pasokan untuk memenuhi permintaan domestik dan regional.

Proses persetujuan vaksin influenza unggas pemerintah sedang berjalan, dan izin pertama untuk vaksin dikeluarkan kepada Astral Foods pada pertengahan tahun 2025, yang menunjukkan pergeseran regulasi menuju manajemen penyakit yang lebih proaktif.

Jika Afrika Selatan dapat mempertahankan momentum dalam penegakan biosekuriti, menstabilkan pasokan energi, dan mengendalikan biaya input (pakan), sektor unggasnya berada pada posisi yang baik untuk tidak hanya mengkonsolidasikan statusnya di antara produsen teratas Afrika, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada impor, meningkatkan ketahanan pangan, dan berfungsi sebagai model untuk produksi yang tangguh di kawasan ini.

CHINA DAN RUSIA BERGERAK MENUJU USAHA PATUNGAN DI BIDANG PETERNAKAN UNGGAS

Image generated using ChatGPT

China dan Rusia telah mengambil langkah baru untuk memperdalam kerja sama di bidang peternakan unggas, dengan menandatangani serangkaian perjanjian yang pada akhirnya dapat mengarah pada pembentukan usaha patungan di bidang genetika dan teknologi breeding.

Beberapa lembaga penelitian pertanian terkemuka Rusia dan China, bersama dengan Persatuan Peternak Unggas Nasional Rusia, telah menandatangani perjanjian untuk mendirikan platform genetika dan breeding ilmiah bersama yang berfokus pada unggas. Menurut Kementerian Pertanian Rusia, platform ini dimaksudkan untuk memfasilitasi kolaborasi penelitian dan pertukaran pengetahuan antar negara, meskipun beberapa detail operasional sejauh ini belum diungkapkan.

Secara paralel, nota kesepahaman kerja sama terpisah ditandatangani antara GenBioTech Rusia, sebuah perusahaan breeding yang berbasis di Kazan, dan Beijing Glbizzia Biotechnology dari China.

Berdasarkan perjanjian tersebut, perusahaan-perusahaan tersebut berencana untuk bekerja sama dalam program persilangan ayam broiler, dengan fokus pada optimalisasi proses breeding, peningkatan pencegahan penyakit, dan perpanjangan masa produktif unggas.

Media Rusia melaporkan bahwa perjanjian yang baru ditandatangani dapat membuka jalan bagi pembentukan usaha patungan dalam bidang peternakan unggas, khususnya karena kedua negara berupaya untuk memperkuat kemampuan genetik domestik dan mengurangi ketergantungan pada bahan pembiakan impor.

Perjanjian tersebut ditandatangani selama kunjungan delegasi dari Kementerian Pertanian Rusia ke China. Inisiatif dan proyek bersama dalam bidang peternakan unggas akan membuat kerja sama Rusia-China: "Lebih efektif, membuka peluang baru untuk memperkuat potensi ilmiah dan teknologi kedua negara," kata Olga Abramova, penasihat menteri pertanian Rusia.

Baik China maupun Rusia telah semakin menekankan pengembangan industri peternakan unggas domestik mereka dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh kekhawatiran tentang keamanan pangan, ketegangan geopolitik, dan risiko rantai pasokan.

China telah membuat kemajuan yang sangat pesat. Lembaga penelitian nasional dan perusahaan pembibitan telah memperkenalkan sistem seleksi berbasis genom dan mengembangkan galur ayam petelur berdaya hasil tinggi baru dan ras ayam broiler berbulu putih, termasuk Shengze 901, Guangming No. 2, dan Wode 188, sejak tahun 2021. Akibatnya, genetika domestik kini memainkan peran yang jauh lebih menonjol di sektor unggas China. Beberapa galur ayam petelur yang dikembangkan secara lokal diperkirakan mencakup sekitar 60% pasar ayam petelur domestik, sementara beberapa persilangan ayam broiler China telah mendapatkan penerimaan yang semakin meningkat di kalangan produsen.

Di Rusia, upaya untuk mengurangi ketergantungan pada genetika unggas impor terkait erat dengan persilangan ayam broiler Smena-9. Dikembangkan oleh para ilmuwan Rusia dan secara resmi terdaftar untuk penggunaan komersial pada tahun 2020, Smena-9 telah diposisikan sebagai landasan strategi substitusi impor negara tersebut.

Pada tahun 2025, pangsa Smena-9 dalam produksi unggas Rusia dilaporkan melebihi 5%, dan pihak berwenang telah menguraikan rencana untuk meningkatkan angka ini menjadi sekitar 20% pada akhir dekade ini. Namun, sumber-sumber industri dan laporan media sesekali menunjukkan bahwa persilangan tersebut masih dikaitkan dengan efisiensi yang agak lebih rendah dibandingkan dengan galur internasional yang sudah mapan, sehingga beberapa produsen unggas terbesar di Rusia enggan untuk beralih dalam skala besar.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer