-->

Featured Posts

PARA PRODUSEN TANAMAN PANGAN SKOTLANDIA DIDESAK UNTUK MENANAM LEBIH BANYAK TANAMAN PROTEIN INGGRIS UNTUK MENGIMBANGI IMPOR KEDELAI

Perusahaan unggas terkemuka Inggris, 2 Sisters Food Group, menyerukan kepada para petani tanaman pangan Skotlandia untuk membantu memenuhi meningkatnya permintaan rapeseed, kacang-kacangan, dan kacang polong, karena bisnis tersebut mempercepat pergeseran besar dari kedelai impor sebagai bagian dari perjalanannya menuju Net Zero pada tahun 2035.

Upaya menuju diversifikasi ini mengikuti pengumuman keberlanjutan yang signifikan oleh produsen makanan Inggris pada April 2026, yang menetapkan rencana untuk mengurangi jejak karbon pakan unggas dengan mengganti tepung kedelai impor dengan tanaman protein yang ditanam di Inggris.

Langkah ini merupakan investasi besar dalam pertanian Inggris dan peluang jangka panjang bagi para petani tanaman pangan. Dalam strategi 'Nextgen'-nya, 2 Sisters mengumumkan rencana untuk:

  • Mengambil langkah besar pertama menuju pencapaian Net Zero pada tahun 2035.
  • Mengurangi jejak karbon tepung kedelai yang digunakan dalam semua pakan unggas (termasuk ayam dengan kesejahteraan yang lebih tinggi) sekitar 70%.
  • Mengakhiri penggunaan tepung kedelai pada ayam yang dipelihara di Skotlandia pada tahun 2027.
  • Mengurangi ketergantungan pada tepung kedelai impor sebesar 23% dibandingkan dengan tingkat tahun 2012.
  • Membangun pengurangan jejak karbon sebesar 15% yang telah dicapai dengan menggunakan bahan-bahan Inggris.
  • Memberikan suntikan dana yang signifikan ke dalam pertanian Inggris, memperkuat ketahanan pangan secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari transisi, 2 Sisters telah mengembangkan kembali pakan unggasnya untuk mengganti hampir seperempat (23%) tepung kedelai impor dengan rapeseed, kacang-kacangan, dan kacang polong yang ditanam di Inggris, membeli sekitar 150.000 ton per tahun dari petani Inggris dan menyuntikkan £50 juta setiap tahun ke dalam ekonomi pertanian.

KEMATIAN MASSAL AKIBAT PANAS EKSTREM DI PETERNAKAN UNGGAS PRANCIS

Sejumlah besar ayam baru-baru ini mati di peternakan unggas di Prancis karena panas. Suhu di negara itu, yang berada di pusat cuaca ekstrem, naik hingga jauh di atas 40°C minggu lalu.

Menurut Reuters, organisasi unggas Prancis ANVOL melaporkan bahwa 2 wilayah unggas utama negara itu, Brittany dan Pays de la Loire, telah paling parah terkena dampak kematian berlebih. Ketua ANVOL Yann Nedelec mengatakan kepada Reuters bahwa perkiraan menunjukkan setidaknya beberapa ratus ribu ayam telah mati karena panas.

Seorang peternak unggas Prancis dari kota pesisir Beauvoir-sur-Mer (di wilayah Pays de la Loire) mengatakan kepada media berita ekonomi Prancis BFMbusiness bahwa ia merasa tak berdaya sementara hewan-hewan di peternakannya mati. Ia telah memasang kipas tambahan untuk menjaga agar udara tetap bergerak, tetapi tidak ada yang mampu mengatasi suhu di atas 40 derajat.

Peternak tersebut memelihara ayam sesuai dengan konsep Label Rouge Prancis, ayam yang tumbuh lambat dengan akses ke luar ruangan, di 4 kandang, masing-masing menampung 4.400 ekor hewan. Selain itu, ia juga memelihara 35.000 burung puyuh. Ayam-ayam tersebut mati baik di dalam maupun di area luar ruangan di antara pepohonan. Ia memperkirakan bahwa setengah dari ayam-ayamnya kini telah mati, dan persentase yang sedikit lebih rendah untuk burung puyuh.

PENTINGNYA UNDANG-UNDANG KEDOKTERAN HEWAN DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya hayati yang sangat besar. Populasi ternak yang mencapai ratusan juta ekor, satwa liar dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, serta meningkatnya jumlah hewan kesayangan menjadikan sektor kesehatan hewan memiliki posisi yang sangat strategis. Dalam beberapa dekade terakhir, tantangan yang dihadapi tidak lagi sebatas penyakit hewan, tetapi juga ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia (zoonosis), keamanan pangan asal hewan, kesejahteraan hewan, perdagangan internasional, hingga ancaman resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).

Ironisnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki Undang-Undang Kedokteran Hewan yang secara khusus mengatur profesi dokter hewan beserta penyelenggaraan praktik kedokteran hewan secara komprehensif. Berbagai pengaturan masih tersebar dalam sejumlah undang-undang, seperti Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Undang-Undang Kesehatan, Undang-Undang Pemerintahan Daerah, dan berbagai peraturan turunannya. Kondisi tersebut menyebabkan adanya kekosongan norma dalam pengaturan profesi, kewenangan, perlindungan hukum, serta standar pelayanan kedokteran hewan.

Oleh karena itu, kehadiran Undang-Undang Kedokteran Hewan merupakan kebutuhan mendesak bagi Indonesia. Undang-undang ini bukan hanya untuk kepentingan profesi dokter hewan, tetapi merupakan instrumen penting dalam melindungi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan hewan, serta mendukung pembangunan nasional berbasis konsep One Health.

Melindungi Kesehatan Masyarakat dari Ancaman Zoonosis

Lebih dari 60% penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan. Bahkan sekitar 75% penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) berasal dari hewan. Pandemi COVID-19 semakin menyadarkan dunia bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan.

Indonesia juga pernah menghadapi berbagai penyakit zoonosis seperti: rabies, flu burung (avian influenza), anthraks, leptospirosis, brucellosis, Japanese encephalitis, nipah virus, penyakit mulut dan kuku (PMK) yang berdampak luas terhadap sektor peternakan.

Dokter hewan merupakan garda terdepan dalam mendeteksi, mencegah, mengendalikan, dan memberantas penyakit tersebut.

Melalui Undang-Undang Kedokteran Hewan akan diatur secara jelas kewenangan dokter hewan, sistem pelaporan penyakit, tanggung jawab profesional, standar pelayanan kesehatan hewan, koordinasi lintas sektor. Dengan demikian, respons terhadap wabah dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif.

Menjamin Keamanan Pangan Asal Hewan

Masyarakat setiap hari mengonsumsi produk asal hewan seperti daging, susu, telur, ikan, madu, serta berbagai produk olahan. Seluruh produk tersebut harus memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, halal (ASUH). Keamanan pangan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan hewan.

Dokter hewan memiliki peran penting dalam pemeriksaan kesehatan ternak, pengawasan rumah potong hewan, pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem, pengawasan residu obat, pengawasan penyakit, sertifikasi kesehatan hewan.

Tanpa regulasi yang kuat, pengawasan keamanan pangan akan menjadi lemah sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan pangan (foodborne disease). Undang-Undang Kedokteran Hewan akan mempertegas tanggung jawab dokter hewan dalam menjamin keamanan pangan sejak dari peternakan hingga meja makan (farm to table).

Memberikan Kepastian Hukum bagi Praktik Kedokteran Hewan

Profesi dokter hewan merupakan profesi kesehatan yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kehidupan hewan dan keselamatan masyarakat. Namun hingga kini masih terdapat berbagai persoalan seperti praktik tanpa kompetensi, pelayanan kesehatan hewan oleh pihak yang tidak berwenang, belum adanya standar nasional praktik, perlindungan hukum dokter hewan yang belum memadai.

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memberikan kepastian mengenai, registrasi dokter hewan, izin praktik, standar kompetensi, pendidikan profesi berkelanjutan, disiplin profesi, kode etik, perlindungan hukum, penyelesaian sengketa profesi. Hal tersebut akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Mendukung Pendekatan One Health

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), FAO, dan UNEP telah mendorong seluruh negara menerapkan konsep One Health. One Health menekankan bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Indonesia membutuhkan dasar hukum yang mampu memperkuat kolaborasi antara dokter, dokter hewan, tenaga kesehatan masyarakat, epidemiolog, ahli lingkungan, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha. Undang-Undang Kedokteran Hewan menjadi salah satu pilar utama dalam implementasi One Health di Indonesia.

Meningkatkan Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare)

Masyarakat kini semakin peduli terhadap kesejahteraan hewan. Prinsip Five Freedoms maupun Five Domains telah menjadi standar internasional. Kesejahteraan hewan mencakup pemeliharaan, transportasi, perdagangan, penelitian, pertunjukan, pemotongan, penanganan bencana.

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat implementasi kesejahteraan hewan melalui pengawasan dokter hewan yang profesional. Hal ini juga menjadi syarat penting dalam perdagangan internasional.

Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Peternakan merupakan salah satu sektor strategis dalam penyediaan protein hewani. Produktivitas ternak sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan hewan. Apabila penyakit hewan tidak terkendali, maka akan terjadi penurunan produksi, kematian ternak, kerugian ekonomi, kenaikan harga pangan, terganggunya pasokan nasional.

Pengalaman wabah PMK menunjukkan bahwa penyakit hewan mampu menimbulkan kerugian ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Dengan Undang-Undang Kedokteran Hewan, sistem kesehatan hewan akan menjadi lebih kuat sehingga ketahanan pangan nasional semakin terjamin.

Mendukung Daya Saing Produk Peternakan Indonesia

Perdagangan internasional semakin menuntut adanya jaminan kesehatan hewan. Negara tujuan ekspor mengharuskan adanya sertifikat kesehatan, sistem surveilans, biosekuriti, traceability, animal welfare, pengawasan veteriner. Tanpa sistem veteriner yang kuat, produk Indonesia akan sulit bersaing di pasar internasional. Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat kredibilitas sistem veteriner Indonesia sehingga meningkatkan daya saing ekspor.

Menghadapi Ancaman Resistensi Antimikroba (AMR)

AMR merupakan ancaman global. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada hewan dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal. Akibatnya pengobatan menjadi sulit, biaya kesehatan meningkat, angka kematian bertambah.

Dokter hewan memiliki peran penting dalam penggunaan antibiotik secara bijaksana (Prudent Use of Antimicrobials). Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat pengawasan penggunaan obat hewan dan antibiotik sehingga mendukung program nasional pengendalian AMR.

Memperkuat Sistem Penanggulangan Bencana Biologis

Indonesia rentan terhadap munculnya penyakit hewan eksotik maupun penyakit lintas negara. Ancaman dapat berasal dari perdagangan internasional, perubahan iklim, migrasi satwa liar, lalu lintas hewan. Undang-undang akan memperkuat sistem kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman biologis.

Memberikan Perlindungan Hukum kepada Dokter Hewan

Dalam menjalankan tugas profesional, dokter hewan sering menghadapi risiko hukum. Belum adanya regulasi yang komprehensif menyebabkan perlindungan profesi menjadi lemah. Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memberikan kepastian hukum, standar profesi, mekanisme disiplin, perlindungan terhadap tindakan sesuai standar profesi. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan veteriner.

Memperjelas Peran Pemerintah dan Organisasi Profesi

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan lembaga terkait. Kejelasan peran ini akan menghindari tumpang tindih kebijakan serta meningkatkan efektivitas penyelenggaraan kesehatan hewan nasional.

Mendukung Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan

Kesehatan hewan berkontribusi langsung terhadap pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain menghapus kelaparan, meningkatkan kesehatan masyarakat, mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, Undang-Undang Kedokteran Hewan menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Penutup

Undang-Undang Kedokteran Hewan bukanlah sekadar regulasi untuk mengatur profesi dokter hewan. Lebih dari itu, undang-undang ini merupakan fondasi bagi sistem kesehatan hewan nasional yang modern, profesional, dan berdaya saing. Kehadirannya akan memperkuat perlindungan masyarakat dari ancaman zoonosis, menjamin keamanan pangan asal hewan, meningkatkan kesejahteraan hewan, mendukung implementasi One Health, mengendalikan resistensi antimikroba, serta memperkokoh ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

Dalam era globalisasi, perubahan iklim, meningkatnya mobilitas manusia dan hewan, serta munculnya berbagai penyakit baru, Indonesia memerlukan sistem veteriner yang kuat dan memiliki landasan hukum yang jelas. Oleh sebab itu, pengesahan Undang-Undang Kedokteran Hewan harus menjadi prioritas nasional. Undang-undang ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, kemajuan sektor peternakan, perlindungan profesi dokter hewan, dan terwujudnya Indonesia yang sehat, aman, berdaulat, serta mampu bersaing di tingkat global. (Rilis)

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

PETERNAK UNGGAS PRANCIS MENILAI DAMPAK GELOMBANG PANAS SAMBIL MEMANTAU RISIKO CUACA DI MASA DEPAN

Menghadapi gelombang panas dengan durasi dan intensitas bersejarah, dengan suhu melebihi 40°C di beberapa wilayah, peternak unggas Prancis sepenuhnya dimobilisasi di lapangan untuk melindungi hewan mereka. Mereka melakukan segala yang mungkin untuk menyediakan kondisi terbaik bagi unggas mereka, kata organisasi produsen ayam broiler Anvol, sambil terus mengawasi kemungkinan gelombang panas berikutnya.

“Pertama-tama, penting untuk diketahui bahwa unggas adalah hewan yang tidak memiliki sistem keringat, yang berarti mereka tidak berkeringat. Oleh karena itu, mereka mengeluarkan panas dengan terengah-engah melalui paruh mereka. Inilah sebabnya mengapa mereka sangat sensitif terhadap kenaikan suhu: semakin panas, semakin cepat laju pernapasan mereka meningkat,” kata dokter hewan Dominique Balloy dalam publikasi Anvol.

Meskipun peternakan dibangun secara berbeda, tujuannya selalu untuk membatasi stres panas pada unggas sebanyak mungkin dalam menghadapi gelombang panas yang sangat intens. Di peternakan unggas yang dikontrol iklimnya, fasilitas sekarang sebagian besar dilengkapi dengan sistem ventilasi, penyemprotan kabut, dan pendinginan untuk membantu hewan mengatur suhu tubuh mereka. Di peternakan bebas kandang di mana hewan-hewan berkeliaran di luar, para peternak membuka kandang mereka sepenuhnya dan menambahkan kipas angin. “Selama sepuluh tahun terakhir, para profesional telah berinvestasi besar-besaran untuk memodernisasi peternakan mereka atau membangun peternakan baru yang dilengkapi dengan sistem ini,” tegas Anvol.

Selain itu, para peternak menyesuaikan pakan unggas dengan memberi makan di pagi dan sore hari untuk menghindari jam-jam terpanas, sehingga membatasi panas tubuh tambahan yang terkait dengan pencernaan. Pada saat yang sama, unggas terus mendapatkan pasokan air yang tidak terbatas, ditambah dengan vitamin, tumbuhan, dan mineral.

“Para peternak sangat waspada, mereka sering mengunjungi kandang unggas mereka. Mereka datang beberapa kali sehari dan malam untuk melihat langsung kondisi kesehatan hewan mereka dan untuk memeriksa apakah peralatan berfungsi dengan baik. Membatasi angka kematian di kandang unggas mereka adalah prioritas utama mereka,” tegas organisasi tersebut.

INDUSTRI UNGGAS EROPA MENDERITA KERUGIAN BESAR AKIBAT GELOMBANG PANAS BARU-BARU INI

Para peternak di seluruh Eropa Barat melaporkan dampak buruk gelombang panas 'omega' yang mematikan terhadap operasi mereka, dengan industri unggas di Prancis tampaknya menjadi yang paling terpukul.

Negara-negara Eropa baru-baru ini berjuang melawan gelombang panas 'omega' yang intens, fenomena cuaca langka di mana sistem tekanan tinggi yang kuat memerangkap udara panas di sebagian besar benua, mencegah udara Atlantik yang lebih dingin masuk.

Di seluruh Eropa, gelombang panas tersebut menghasilkan beberapa rekor suhu nasional dan tingkat stasiun, dengan suhu melebihi 40°C di Eropa Tengah dan mendekati pertengahan 40-an di beberapa bagian Prancis.

Para peternak menghitung kerugian akibat panas ekstrem, yang mendorong kenaikan biaya energi dan mengancam peningkatan kematian unggas di peternakan.

Gelombang panas tersebut dapat merugikan pertanian Italia lebih dari €1,5 miliar melalui penurunan produksi dan pengurangan jam kerja, menurut Cia-Agricoltori Italiani, organisasi perdagangan pertanian terbesar di Italia. Suhu yang luar biasa tersebut berdampak "menghancurkan" pada tanaman dan ternak, organisasi tersebut memperingatkan.

Boerenbond, asosiasi pertanian Flandria di Belgia, juga memperingatkan bahwa gelombang panas akan mengurangi produksi susu dan daging. Namun, organisasi tersebut menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk memberikan perkiraan yang tepat.

Di beberapa negara, gelombang panas telah menyebabkan kerugian besar di kalangan peternak unggas. Yann Nedelec, kepala kelompok industri unggas Prancis ANVOL, baru-baru ini mengatakan kepada Reuters bahwa setidaknya beberapa ratus ribu unggas telah mati di peternakan dalam ruangan maupun luar ruangan, meskipun masih terlalu dini untuk memberikan angka yang tepat.

PERSILANGAN ANTARA RAS AYAM LAMA DENGAN HIBRIDA MODERN MENAWARKAN POTENSI

Ramelsloher (Wikipedia)

Persilangan antara ras ayam lama dengan hibrida modern menawarkan potensi untuk breeding dan ayam petelur atau ayam broiler, demikian laporan Kantor Federal Pertanian dan Pangan Jerman (BLE).

Para peneliti Jerman dari sejumlah lembaga menyelidiki bagaimana persilangan antara ras ayam lama, native dan dalam beberapa kasus terancam punah, dengan galur modern memengaruhi kinerja hewan, kesehatan hewan, ketahanan, perilaku, atau kemampuan beradaptasi. Kombinasi ini dapat bermanfaat, baik dalam peternakan organik maupun peternakan konvensional. Pada saat yang sama, hal ini berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati, kata BLE.

Persyaratan untuk peternakan unggas yang berkelanjutan dan ramah hewan telah meningkat secara signifikan. Pada saat yang sama, permintaan akan produk unggas terus meningkat. Para ahli melihat persilangan antara ras ayam lama, native dengan induk dari peternakan unggas komersial sebagai solusi yang memungkinkan.

Ras ayam lama, native, seperti Ramelsloher dan Bielefeld Kennhuhn, secara khusus dikombinasikan dengan induk dari peternakan unggas komersial. Selanjutnya, para peneliti mengamati karakteristik seperti performa, kesehatan hewan, ketahanan, perilaku, dan kemampuan beradaptasi. Mereka menemukan bahwa persilangan dengan induk berkinerja tinggi memperoleh skor tinggi dalam hal performa bertelur tanpa perubahan negatif pada keseimbangan kalsium.

Namun, terdapat sedikit peningkatan risiko terjadinya fraktur sternum. Meskipun hal itu juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti kondisi pemeliharaan, awal bertelur, atau pemberian pakan.

MHP BERENCANA BERINVESTASI DI SEKTOR UNGGAS ARGENTINA

Setelah serangkaian akuisisi aset produksi unggas di seluruh Eropa, MHP mempertimbangkan untuk memasuki pasar Argentina, ungkap Yuri Kosyuk, CEO dan pendiri MHP, selama konferensi bisnis di Ukraina.

Kosyuk menyatakan bahwa industri unggas Argentina mungkin memiliki potensi yang belum dimanfaatkan secara signifikan, membandingkan kondisinya saat ini dengan pasar yang memiliki tekanan kompetitif terbatas dan ruang pengembangan yang cukup besar. CEO MHP juga menyambut baik reformasi ekonomi yang diperkenalkan oleh Presiden Argentina Javier Milei, termasuk langkah-langkah untuk meliberalisasi ekonomi, mereformasi peraturan ketenagakerjaan, dan mengurangi pengaruh serikat pekerja.

Pasar unggas Argentina dilindungi oleh hambatan impor. Impor unggas dari negara-negara tanpa perjanjian perdagangan preferensial, termasuk Ukraina, dikenakan Tarif Eksternal Umum Mercosur, dengan bea masuk sekitar 12% yang diterapkan pada kategori utama seperti unggas utuh beku dan potongan unggas.

Selama konferensi tersebut, Kosyuk membandingkan potensi investasi di Argentina dengan strategi MHP di Eropa. Di Eropa, katanya, MHP menghadapi pembatasan ekspor unggas Ukraina melalui kuota dan menanggapinya dengan mengakuisisi aset Eropa dan mempercepat pertumbuhannya di wilayah tersebut.

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

SUPERMARKET TERBESAR DI INGGRIS MENYELESAIKAN PERALIHAN KE TELUR BEBAS KANDANG

Tesco telah menyelesaikan transisinya ke telur utuh dan telur bahan baku bebas kandang untuk produk merek sendiri di Inggris dan Irlandia, memenuhi janji yang dibuatnya 10 tahun lalu untuk berhenti menjual telur kandang pada tahun 2025.

Mengikuti jejak Lidl dan Asda, yang telah mencapai target mereka awal tahun ini, perusahaan tersebut mengatakan dalam Laporan Keberlanjutan 2026 yang baru dirilis bahwa mereka telah menyelesaikan perubahan di seluruh rantai pasokan Inggris dan Irlandia.

Namun, karena flu burung di Eropa Tengah dan tantangan pasar lainnya, masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan.

Laporan tersebut menyatakan, “Desember 2025 menjadi batas waktu untuk sejumlah komitmen kesejahteraan hewan dan pengadaan berkelanjutan kami. 100% telur utuh dan telur bahan baku kami untuk Tesco UK dan ROI sekarang berasal dari ayam yang dipelihara tanpa kandang. Komitmen ini sekarang akan dimasukkan ke dalam kebijakan pengadaan telur kami. Karena tantangan pasar di Hongaria dan Slovakia, dan tantangan flu burung di rantai pasokan katering Booker, kami gagal mencapai komitmen telur utuh kami di Eropa Tengah dan Booker.”

Laporan tersebut menambahkan bahwa 97% pemasok utama perusahaan sekarang melaporkan ukuran hasil kesejahteraan hewan di seluruh Inggris dan ROI, yang membantu wawasan Tesco tentang kesejahteraan hewan dan di mana perbaikan dapat dilakukan.

CARA MEMBEDAKAN KELINCI JANTAN DAN BETINA

Cara membedakan kelinci jantan dan betina bisa dilihat dari ciri fisik dan perilakunya.

Untuk kelinci yang sudah besar, usia 3 minggu ke atas, perbedaan kelamin bisa dilihat dari bentuk kepalanya. Kelinci jantan memiliki kepala yang lebih lonjong. Sedangkan kelinci betina kepalanya lebih bulat dan memiliki lipatan pada lehernya.

Untuk lebih memasikan cek kelaminnya. Namun lakukan hati-hati karena saat mengecek perlu menekan bagian kelamin kelinci, yang bisa berbahaya bagi kelinci.

Kelamin kelinci betina memiliki belahan, bentuknya seperti gundukan, jarak anus dan kelamin berdekatan. Kelamin kelinci jantan seperti tabung dengan belahan sangat kecil, jarak anus dan kelamin berjauhan, memiliki testikel di samping kelamin.

Perbedaan kelinci jantan dan betina juga terletak pada puting susunya. Meskipun jumlah putingnya sama, ukuran puting kelinci jantan lebih kecil dan lebih susah ditemukan.

Ukuran dan berat badan juga menjadi pembeda antara kelinci jantan dan betina, dengan catatan jenis atau rasnya sama. Kelinci jantan ukuran dan berat badannya lebih kecil dari kelinci betina.

Dari segi perilaku kelinci jantan lebih agresif. Dan kelinci betina kurang agresif dibandingkan dengan kelinci jantan.

PEMAIN BARU DI SEKTOR UNGGAS ESTONIA DI TENGAH TEKANAN HARGA

Setelah beberapa tahun yang sulit, pasar unggas Estonia menyambut merek daging ayam broiler baru yang dirancang untuk mengurangi volatilitas harga dan membantu mencegah penurunan lebih lanjut dalam swasembada.

Pasar unggas Estonia sedang mengalami masa sulit, lapor Delfi, sebuah media berita lokal, mengutip para pelaku pasar. Menurut data resmi dari Departemen Statistik Estonia, swasembada daging unggas negara itu turun menjadi sekitar 50% tahun lalu, dari sekitar 60%. Pada saat yang sama, konsumen telah melihat inflasi harga yang signifikan, dengan harga unggas naik hampir seperempatnya.

Dengan latar belakang ini, distributor makanan laut Kapten Grant telah memasuki segmen unggas dengan merek daging ayam broiler baru yang bertujuan untuk memperkuat pasokan dan mengurangi tekanan harga, kata Delfi. Diluncurkan oleh distributor makanan laut lokal, Kapten Grant, merek ini memposisikan dirinya sebagai “respons terhadap kesenjangan struktural dalam rantai pasokan daging lokal”.

Menurut Martin Puusepp, CEO Kapten Grant, pasar unggas Estonia sangat membutuhkan pembaruan dan persaingan baru, “Kita melihat situasi di mana harga unggas Estonia telah meningkat sebesar 15-25%, sementara di negara-negara tetangga, harga turun atau tetap lebih rendah.”

Di tengah pasokan daging unggas yang tidak stabil, beberapa pabrik pengolahan daging Estonia telah menghentikan operasinya dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan tambahan di pasar seharusnya membantu konsumen dan pengecer, kata Puusepp.

PROBLEMATIKA PORCINE RESPIRATORY DISEASE COMPLEX PADA BABI

PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus terkadang ringan dan bersifat sementara. (Foto: Dok. Joko)

Penyakit pernapasan kompleks pada babi (Porcine respiratory disease complex/PRDC) adalah satu penyebab utama kerugian ekonomi pada industri peternakan babi secara global. PRDC merupakan penyakit multifaktor yang disebabkan interaksi patogen viral dan bakterial, yang dipengaruhi stresor dari lingkungan, manajemen, dan faktor spesifik pada babinya.

Pada PRDC, beberapa agen viral dan bakterial dapat dideteksi dengan bermacam kombinsai yang dikenal sebagai infeksi polimikrobial. Agen-agen tersebut berperan sebagai patogen primer dan sekunder. Patogenenesis PRDC pada peternakan babi secara umum disebabkan oleh infeksi primer virus yang memicu infeksi sekunder bakteria. Penyakit pernapasan pada babi secara umum mencakup rhinitis, pneumonia, dan pleuritis, yang terkait satu sama lain ataupun tidak terkait.

Beberapa patogen viral yang terlibat dalam PRDC meliputi Porcine reproductive and respiratory syndrome virus (PRRSV), Porcine circovirus type 2 (PCV2), Swine influenza virus (SIV), Pseudorabies virus (PRV), dan Porcine respiratory coronavirus (PRCV) yang merupakan penyakit endemik pada peternakan babi.

Patogen viral tersebut menimbulkan dampak signifikan yang berbeda antar peternakan, dari sisi produktivitas, regional, antar negara, dan menimbulkan kesulitan dalam pengendalian serta penanganan. Walaupun PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus tersebut terkadang ringan dan bersifat sementara.

Walaupun beberapa patogen bakterial potensial yang berkoloni di rongga hidung atau tonsil babi, mekanisme pertahanan tubuh normal pada saluran dan organ pernapasan mencegah terjadinya kerusakan dan penyebaran pada paru. Patogen primer dari viral memiliki kemampuan merusak epitel organ pernapasan atas, menyebabkan infeksi pada parenkim paru, dan memicu terjadinya infeksi sekunder bakteri, serta memperparah perkembangan PRDC.

Beberapa agen bakterial tersebut adalah Mycoplasma hyopneumoniae dan Pasteurella multocida, Streptococcus suis dan Actinobacillus pleuropneumoniae dapat berperan sebagai agen infeksi primer ataupun sekunder tergantung pada beberapa situasi. Jika infeksi primer melanjut sebagai infeksi kompleks dengan infeksi sekunder bakteri menyebabkan penyakit yang lebih parah dan penyakit pernapasan kronis serta menimbulkan kerugian ekonomi peternakan.

PRDC menyebabkan morbiditas 40% dan mortalitas lebih dari 50% pada piglet dan babi lepas sapih, serta 60% pada fase grower/finisher. Angka kejadian tertinggi terjadi pada peternakan skala kecil-menengah, tingkat kepadatan populasi, manajemen pemeliharaan, pembesaran, penularan penyakit, serta persistensi agen penyebabnya.

PRDC juga menyebabkan kerugian ekonomi peternakan hingga... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

DUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN, JAPFA TAMPILKAN INOVASI DAUR ULANG AIR DAN EKONOMI SIRKULAR DI INVIROTECH 2026

Booth JAPFA di INVIROTECH diminati oleh murid-murid dari berbagai Sekolah Menengah. (Foto-foto: JAPFA)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berpartisipasi dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, JAPFA menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju energi yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Tim JAPFA menjelaskan daur ulang air pada anak-anak Sekolah Dasar.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya ketersediaan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan fasilitas daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di berbagai unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.”

Booth JAPFA tak pernah sepi dari pengunjung.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 atau sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kolaborasi dengan masyarakat atau kelompok masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor energi dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara di seluruh fasilitas operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, energi biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapasitas terpasang 1,8 MWp di berbagai unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan kinerja finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

LEBIH JAUH TENTANG STRES OKSIDATIF

Keterangan: PSE MEAT (Pale, Soft, Exudative). DFD MEAT: (Dark, Firm and Dry).

Peternakan unggas merupakan sektor penting dalam industri ternak dengan laju pertumbuhan tercepat, yang secara signifikan meningkatkan gizi dan keamanan pangan, dengan produknya yaitu telur dan daging, yang dikonsumsi di seluruh dunia (Surai, 2016). Salah satu faktor utama yang berdampak negatif terhadap produksi ternak adalah stres oksidatif, yang diperburuk oleh perubahan iklim (Vandana dan Sejian, 2018; Oke et al., 2022, 2024).

Chen et al. (2021), menunjukkan bahwa jika pemanasan global semakin memburuk, dampak merugikan dari stres oksidatif akan menjadi lebih nyata. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, berbagai studi telah menemukan hubungan antara kerusakan oksidan dan penurunan kinerja pertumbuhan pada unggas di bawah stres panas (Kikusato et al., 2021; Oni et al., 2023; Oni et al., 2024).

Tabel 1. Kinerja Pertumbuhan akibat Stres Oksidatif pada Unggas

Referensi/Sumber

Pengaruh Stres Oksidatif pada Kinerja

Surai et al. (2019)

Tingkat pertumbuhan rendah

Mashkoor et al. (2023)

 FCR lebih tinggi

Agrawal et al. (2023)

Pemborosan otot dan penurunan sintesis protein

Zhang et al. (2018)

 Berat badan berkurang


Daging ayam telah menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling terkenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan relatif terjangkau (Petracci et al., 2015; Oke et al., 2021a; Kpomasse et al., 2023a; Akosile et al., 2023a). Untuk memenuhi permintaan daging yang semakin meningkat, ayam broiler yang tumbuh cepat diperlukan dalam produksi unggas. Oleh karena itu, untuk menjembatani kesenjangan dalam permintaan daging, gen unggas selalu berkembang. Seleksi ayam broiler untuk pertumbuhan cepat membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan suhu dibandingkan spesies unggas lainnya, terutama di daerah tropis (Oke et al., 2016).

Kekurangan kelenjar keringat, bulu yang menghangatkan, dan rasio massa terhadap luas permukaan tubuh yang jauh lebih tinggi juga membuat mereka terpapar berbagai stres lingkungan (Bernabucci, 2019). Suhu tubuh ayam dewasa biasanya berkisar 40,6-41,7 °C (Ranjan et al., 2019). Suhu tubuh internal ayam meningkat ketika suhu luar naik di atas 24 °C, yang menyebabkan beberapa perubahan signifikan pada fisiologi dan metabolisme ayam (Cassuce et al., 2013). Ayam dewasa merasa nyaman ketika ditempatkan di lingkungan dengan suhu sekitar 18-24 °C, sedangkan anak ayam membutuhkan suhu yang lebih tinggi selama minggu pertama kehidupannya sekitar 32 °C, yang secara bertahap menurun seiring pertumbuhan mereka (Scanes, 2015).

Faktor manajemen, mikrobiologi, nutrisi, dan lingkungan berkontribusi terhadap stres dalam produksi unggas komersial, yang berdampak buruk pada produktivitas dan kesehatan keseluruhan ayam (Estévez, 2015; Alo et al., 2024). Spesies unggas menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif karena kondisi lingkungan yang keras akibat perubahan iklim (Gonzalez-Rivas et al., 2020).

Sistem termoregulasi ayam menjadi lebih rentan terhadap kondisi lingkungan yang keras, yang dapat menjadi penghambat bagi produksinya (Zaboli et al., 2019). Kondisi stres membuat spesies unggas lebih rentan menghasilkan radikal bebas sementara aktivitas enzim antioksidan dan kemampuan untuk menangkal radikal bebas menurun (Miao et al., 2020). Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan menurunkan kualitas daging mereka.

Tingkat stres memengaruhi tingkat produksi ayam serta efektivitasnya. Selain itu, kondisi stres terutama dikaitkan dengan penurunan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

RUPS GALLUS DIHADIRI KETUA ASOHI & TETAPKAN KOMISARIS BARU

Foto bersama dalam acara RUPS Gallus. (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Kantor Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (4/6), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) yang merupakan Badan Usaha Milik ASOHI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS dihadiri Direktur Utama Gallus Ir Bambang Suharno, bersama Direktur Keuangan-HRD Gallus Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Komisaris Gallus Gani Harijanto, dan segenap pemegang saham atau perwakilannya.

RUPS kali ini membahas beberapa poin krusial mengenai performa dan arah kebijakan perusahaan. Diawali dengan pembukaan oleh Direktur Utama Gallus dan dilanjutkan dengan Pemaparan Laporan Keuangan Hasil Audit Tahun Buku 2025 oleh Direktur Keuangan-HRD Gallus. 

Dalam pertemuan itu, Bambang menyampaikan presentasi tentang peran Gallus dalam mendukung berbagai kegiatan ASOHI melalui kegiatan penulisan artikel di bulletin Info ASOHI, Majalah Infovet, penerbitan buku, event organizer, serta perkembangan Gallus yang dipercaya oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah baik nasional dan internasional.

Setelah Laporan Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kerja untuk Tahun 2026 dipresentasikan, acara dilanjutkan dengan pandangan dari Dewan Komisaris dan pembahasan hal-hal lain, diakhiri dengan penutup.

Pertemuan diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide pengembangan Gallus ke depan seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia bisnis peternakan dan perikanan. Ketua Umum ASOHI mendukung berbagai inovasi yang telah dan akan dilakukan Gallus.

Salah satu keputusan dalam RUPS itu juga adalah pengangkatan Drh Gowinda Sibit sebagai Komisaris Gallus yang baru menggantikan Gani Harijanto. Gani menyampaikan sudah cukup lama menjadi komisaris, sehingga perlu adanya penerus. Ia juga menegaskan, dengan adanya pergantian ini, pihaknya akan terus mendukung suksesnya Gallus sebagai Badan Usaha Milik ASOHI. (WK)

OLAHAN BABAT YANG NIKMAT DAN MITOS MASYARAKAT

Olahan babat yang terlihat nikmat. (Foto: Istimewa)

Tak semua orang suka makan olahan babat, meskipun nikmat. Tak semua orang juga bisa mengolah babat karena butuh kesabaran dan waktu tak singkat. Jika Anda termasuk di dua-duanya, cobalah simak informasi ini.

Jarum jam tangan sudah menujuk angka 12 lewat 10 menit. Saatnya jam makan siang. Sekitaran Pasar Kawak Madiun, Pandean, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur, tampak berderet beberapa warung makan, mulai dari warung pecel, warung bakso, hingga warung soto.

Hampir semua warung ramai pembeli. Namun di antara warung-warung tersebut, satu warung terlihat dipadati pembeli. Meja makan yang tersedia hampir semua terisi pembeli. Warung Soto Jeroan Mbak Iis, nama tempat makan ini.

Berbeda dengan warung soto lainnya, warung ini memiliki menu spesial olahan jeroan sapi untuk bahan baku sotonya. Mulai dari iso, paru, limpa, hingga babat sapi semua tersedia di sini. Dengan kuah santan dan jeroan goreng sungguh mengundang selera para pelanggannya.

“Kami buka dari jam tujuh pagi sampai siang, sehabisnya dagangan saja,” tutur Iswati pemilik warung soto ini.

Menurut perempuan yang akrab disapa Mbak Iis ini, harga seporsi mulai Rp 11.000 untuk soto paru, limpa, babat, iso. Selain soto, warung ini juga menyediakan aneka gorengan sebagai pelangkap.

Olahan jeroan sapi di warung ini memang terasa empuk dan tak ada aroma amisnya. Membuktikan teknik mengolahnya sempurna. Mengolah jeroan, terutama bagian babat tak semua orang bisa. Jika tak menguasai tekniknya, babat masih terasa alot seperti handuk. Maka itu, tak semua orang doyan mengonsumsi jeroan babat, selain pertimbangan kandungan kolesterol.

Iis memberikan sekilas tips agar jeroan sapi bisa diolah menjadi menu yang nikmat. Terlebih saat ini, umat Islam baru saja merayakan Hari Raya Kurban, sisa daging dan jeroan mungkin masih tersimpan di dalam kulkas. Bisa diolah menjadi menu istimewa.

Teknik Bijak Mengolah
Dalam literatur tentang anatomi sapi disebutkan, babat memiliki struktur yang cukup kompleks. Retikulum atau perut jala memiliki permukaan yang menyerupai sarang lebah. Omasum atau perut buku memiliki lipatan-lipatan yang menyerupai lembaran buku. Sedangkan abomasum atau perut sejati memiliki permukaan yang lebih halus.

Tekstur babat yang alami cenderung alot dan memiliki aroma khas yang cukup kuat. Oleh karena itu, diperlukan teknik pengolahan khusus agar babat menjadi empuk dan tidak berbau amis saat disajikan. Proses pengolahan yang tepat akan menghasilkan babat yang lezat dengan tekstur yang kenyal namun tidak alot.

Sebelum diolah, babat perlu dibersihkan dengan baik untuk menghilangkan kotoran dan mengurangi bau amis. Pertama, cuci babat di bawah air mengalir hingga bersih. Gosok permukaan babat menggunakan tangan atau sikat halus untuk menghilangkan kotoran yang menempel.

Kedua, rendam babat dalam air garam selama 15-30 menit. Garam akan membantu menghilangkan lendir dan bau amis. Setelah direndam, bilas kembali babat dengan air bersih hingga tidak ada sisa garam. Selanjutnya, potong babat menjadi ukuran yang lebih kecil agar lebih mudah dibersihkan dan diolah.

Ketiga, rebus sebentar babat dalam air mendidih selama 5 menit, lalu buang air rebusannya. Ini akan membantu menghilangkan kotoran dan bau yang tersisa. Gosok permukaan babat dengan irisan jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis yang tersisa. Lalu, rendam kembali babat dalam air dingin yang dicampur cuka atau air asam jawa selama 30 menit untuk menetralkan bau.

Proses pembersihan yang teliti, menurut Iis, akan membantu mengurangi bau tidak sedap dan membuat babat lebih higienis untuk diolah. Pastikan untuk membersihkan babat dengan seksama sebelum mulai merebus atau mengolahnya lebih lanjut.

Agar Tak Bau Amis 
Salah satu tantangan dalam mengolah babat adalah menghilangkan bau amisnya yang khas. Meski sudah dilakukan pencucian beberapa kali, terkadang bau amis masih ada. Tips yang bisa dilakukan adalah dengan merendam babat dalam air jeruk nipis atau lemon selama 15-30 menit.

Asam sitrat dalam jeruk akan membantu menetralkan bau amis. Atau gunakan daun salam, serai, dan jahe saat merebus babat. Rempah-rempah ini akan memberikan aroma harum yang menutupi bau amis.

Agar serat babat menjadi empuk, rebus babat dengan menambahkan kulit nanas. Enzim dalam nanas membantu melunakkan daging dan sekaligus mengurangi bau. Ada juga yang menggunakan teknik merebus beberapa tahap, agar tekstur babat benar-benar empuk, sebelum diolah sesuai selera.

Nutrisi dalam Babat
Dengan memilih babat yang berkualitas dan teknik mengolahnya yang tepat, akan mendapatkan hasil olahan yang lebih lezat dan aman dikonsumsi. Memang, tak semua orang menyukai olahan babat dan jeroan lainnya karena berbagai alasan.

Tetapi, meski tergolong sebagai jeroan, babat ternyata memiliki beberapa manfaat nutrisi jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Dalam beberapa literatur yang mengulas tentang nutrisi hewan, dijelaskan bahwa babat dan jeroan sapi juga merupakan sumber protein.

Babat kaya akan protein yang penting untuk pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh. Jeroan ini juga mengandung vitamin B12, penting untuk pembentukan sel darah merah dan fungsi saraf.

Babat juga merupakan sumber zat besi yang dapat membantu dalam produksi hemoglobin dan mencegah anemia. Selain itu, mengandung selenium, berperan sebagai antioksidan dan mendukung sistem kekebalan tubuh.

Jeroan ini juga merupakan sumber fosfor, yang penting untuk kesehatan tulang dan gigi. Bahkan, babat dipercaya mengandung zink yang mendukung sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan luka.

Meski nikmat saat disantap, namun perlu diingat bahwa babat juga mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Oleh karena itu, konsumsi babat sebaiknya dibatasi, terutama bagi mereka yang memiliki risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Mitos Seputar Babat
Seperti halnya telur ayam, ternyata jeroan babat juga memiliki sejumlah mitos yang sudah lazim di telinga masyarakat. Ada beberapa mitos dan fakta seputar babat yang perlu diketahui.

Pertama, mitos bahwa babat sulit dicerna. Namun faktanya, jika diolah dengan benar, babat dapat dicerna dengan baik oleh tubuh. Proses perebusan yang tepat membantu melunakkan serat-serat babat.

Kedua, mitos bahwa babat selalu berbau amis. Namun, dengan teknik pembersihan dan pengolahan yang tepat, bau amis pada babat dapat dihilangkan atau diminimalkan.
Ketiga, mitos bahwa babat tidak memiliki nilai gizi. Faktanya, babat mengandung protein, vitamin B12, zat besi, dan mineral lainnya yang bermanfaat bagi tubuh.

Keempat, mitos bahwa mengonsumsi babat menyebabkan kolesterol tinggi. Namun dalam faktanya, meskipun mengandung kolesterol, konsumsi babat dalam jumlah wajar sebagai bagian dari diet seimbang tidak selalu menyebabkan kolesterol tinggi.

Kelima, mitos bahwa babat hanya bisa diolah dengan cara direbus. Tetapi dalam kenyataannya, selain direbus, babat bisa diolah dengan berbagai cara seperti digoreng garing, ditumis, atau dipanggang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa merebus babat agar cepat empuk dan tidak berbau memang memerlukan teknik dan kesabaran. Dengan mempelajari teknik mengolah yang tepat, dapat menghasilkan olahan babat yang lezat dan berkualitas.

Yang pasti, menurut Iis, kombinasi beberapa metode dalam mengolah akan memberikan hasil yang optimal dalam menghilangkan bau amis babat. Nah, bagi yang masih belum pernah mengolah babat atau doyan makan babat, cobalah dengan teknik di atas. (AK)

INDUSTRI UNGGAS AFRIKA SELATAN MELAPORKAN PERTUMBUHAN YANG KUAT DI BAWAH MASTEPLAN

Sektor unggas Afrika Selatan telah melaporkan pertumbuhan investasi dan peningkatan produksi yang signifikan di bawah Poultry Masterplan setelah pertemuan Komite Pengawasan Ekonomi (EOC) pertama antara Departemen Perdagangan, Industri dan Persaingan (DTIC), Departemen Pertanian, dan pemangku kepentingan industri.

Pertemuan tersebut menyoroti kemajuan yang telah dicapai sejak Masterplan diluncurkan pada tahun 2019, termasuk perluasan kapasitas produksi, aktivitas investasi, dan transformasi di dalam sektor tersebut.

Sebanyak 32 pemimpin proyek diakui karena telah membangun operasi unggas skala besar, masing-masing dengan investasi rata-rata sekitar R45 juta. Salah satu investasi individu terbesar adalah KC Hatchery, yang bernilai lebih dari R135 juta. Selain itu, 20 peternak kontrak ayam broiler diakui, bersamaan dengan pengembangan 3 tempat penetasan baru dan sekitar 8 fasilitas peternakan ayam petelur.

Menurut angka industri yang dipresentasikan pada pertemuan tersebut, proyek-proyek ini telah mencapai tingkat keberhasilan yang dilaporkan sebesar 100%, dengan total investasi melebihi R1 miliar (sekitar US$60 juta).

Sektor ini mencatat pertumbuhan yang lebih luas sejak peluncuran Poultry Masterplan, dengan lebih dari R2,1 miliar diinvestasikan di seluruh industri antara tahun 2019 dan 2025.

Selama periode yang sama, produksi unggas meningkat sebesar 26%, naik dari 19,7 juta menjadi 23 juta ekor unggas yang disembelih per minggu. Para pemangku kepentingan industri mengatakan ini mencerminkan peningkatan efisiensi dan perluasan kapasitas di seluruh rantai nilai.

TMC RAYAKAN HARI JADI KE-27 DENGAN AKSI DONOR DARAH

Ultah TMC ke 27
Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra (TMC), drh Gowinda Sibit bersama Jajaran Manajemen merayakan ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menandai perjalanan panjang selama 27 tahun mendedikasikan diri di industri obat hewan Tanah Air, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) memilih cara yang menyentuh hati untuk merayakan hari jadinya. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri”, TMC menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan dan mata secara gratis di Pabrik TMC, Bandung, Jumat (3/7).

TMC adalah produsen obat hewan terkemuka dalam negeri yang didukung oleh pengalaman selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. Berbekal inovasi yang matang serta portofolio solusi kesehatan hewan yang komprehensif dengan membawa semangat dalam tagline “Tumbuh Kembang dan Sehat Bersama TMC”, menjadi landasan komitmen dan tekad TMC untuk menjadi korporasi profesional dan terkemuka berskala internasional yang berorientasi pada pasar melalui penyediaan berbagai produk berkualitas.

Dengan penuh kehangatan dan suka cita, gerakan kemanusiaan ini disambut antusias oleh para karyawan dari berbagai Departemen di TMC, PT Anugerah Panji Mandiri (APM), PT Biomol Nusantara Mandiri (BIOMOL), serta PT Ganesa KALPATARU Satya (KALPATARU).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung ini berhasil terkumpul sebanyak 95 kantong darah segar untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dari total kantong darah segar yang terkumpul ini akan disalurkan oleh PMI Kota Bandung.

Selain itu, jangkauan CSR kali ini diperluas dengan menggandeng PT Biotek Farmasi Indonesia untuk penyediaan pemeriksaan kesehatan gratis, serta Optical Noor untuk fasilitas pemeriksaan mata cuma-cuma bagi para peserta.

HUT Tekad Mandiri Cita ke 27
Jajaran Manajemen PT Tekad Mandiri Citra (TMC) mengikuti aksi donor darah yang bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri” dalam rangka ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menurut drh Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, kegiatan ini sebagai wujud kebanggaan dalam memaknai TMC yang terus bertumbuh dan berkiprah selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. “Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk berbagi dan kepedulian sosial TMC kepada masyarakat. Juga sekaligus untuk membantu ketersediaan stok darah khususnya di Kota Bandung,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini melanjutkan, melalui aksi donor darah ini mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan yang tidak ada tandingannya sekaligus beramal dan melatih keikhlasan. “Setelah donor, kita lepas, serahkan kepada yang berwenang dan tidak tahu siapa yang akan mempergunakan darahnya,” ungkapnya.

Pria yang juga aktif melakukan donor darah lebih dari 50 kali ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme para pendonor mengikuti kegiatan ini, “Kegiatan ini akan diagendakan secara berkesinambungan sebagai wujud nyata TMC dalam berkontribusi untuk kesehatan masyarakat.”<’/p>

Ia berharap, TMC akan terus meningkatkan kualitas dan potensi diri agar memiliki daya kompetitif dan komparatif yang baik. “Mari bekerja dan terus belajar dalam membangun TMC agar terus bertumbuh, berkembang, dan sehat,” ajak Pak Erwin.

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) SIPRUS: VIRUS SUDAH BEREDAR DI BAGIAN UTARA SEJAK DESEMBER 2025

Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di pulau Siprus telah beredar sejak pertengahan Desember 2025. Laporan wabah menunjukkan bahwa virus tersebut muncul pada saat itu di bagian utara pulau yang berbahasa Turki.

Secara resmi, Republik Siprus melaporkan wabah pertamanya pada 19 Februari kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH). Itu adalah pertama kalinya virus tersebut muncul di pulau itu sejak 2008. Namun, itu bukanlah wabah pertama di pulau itu.

Sejak 1974, Siprus telah terbagi menjadi 2 wilayah: bagian selatan yang berbahasa Yunani, yang sekarang secara resmi dikenal sebagai negara Republik Siprus, mencakup sekitar 60% dari pulau itu dan merupakan anggota Uni Eropa. Wilayah utara yang berbahasa Turki bukanlah wilayah yang diakui secara internasional, yang disebut Siprus Utara.

Karena WOAH hanya dapat menerbitkan data yang disediakan oleh negara-negara yang diakui, informasi terperinci, terkini, dan tersedia untuk umum dari wilayah utara lebih sulit didapatkan.

Namun, Uni Praktisi Kedokteran Hewan Eropa melaporkan adanya PMK di Siprus Utara pada pertengahan Desember 2025. Uni tersebut mengutip laporan tentang virus yang ditemukan di dekat kota-kota utara Ayios Sergios (distrik Famagusta) dan Lapithos (distrik Kyrenia). Laboratorium kedokteran hewan di Ankara, Turki, pada saat itu mengkonfirmasi bahwa itu adalah strain SAT-1 dari PMK. Program vaksinasi akan dimulai, kata artikel tersebut.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer