-->

Featured Posts

YAPPI DAN NAPINDO BERIKAN INDO LIVESTOCK INNOVATION AWARD 2026 BAGI INOVATOR PANGAN NASIONAL

Foto bersama penerima penghargaan didampingi oleh YAPPI, Dirjen PKH, dan Napindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan pangan Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal, Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) bekerja sama dengan PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan Indo Livestock Innovation Award 2026 pada ajang Indo Livestock 2026 Expo & Forum di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, 16-18 Juni 2026.

Penghargaan ini diberikan kepada individu dan lembaga yang telah menghasilkan inovasi unggul di bidang pangan, peternakan, pertanian, pengolahan pangan, serta kontribusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.

Pada 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yaitu Inovasi Pangan Berbasis Peternakan; Inovasi Pangan Berbasis Pertanian; Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan; dan Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial.

Tahun ini, Indo Livestock Innovation Award diikuti oleh 40 inovasi dari lembaga riset, 21 perguruan tinggi, dan 11 organisasi filantropi yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Para peserta melibatkan sumber daya manusia unggul yang terdiri atas 12 guru besar, 17 doktor, sembilan magister, dan dua sarjana.

Ketua Umum YAPPI sekaligus Ketua Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026, Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan komprehensif dengan mengacu pada enam kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, pemanfaatan bahan pangan lokal, dampak ekonomi dan sosial, keberlanjutan dan ramah lingkungan, kualitas produk dan keamanan pangan, serta potensi pengembangan dan replikasi.

“Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi kepada para inovator, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai solusi nyata yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Desianto.

Proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Desianto Budi Utomo, Drh Dedy Kusmanagandi DVM MBA, Ir Bambang Suharno, Ir Setya Winarno, serta Winarno SP MSi. Penilaian juga diperkuat oleh Dewan Juri Ahli dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof Dr Ir Muladno MSA (peternakan), Prof Dr Drh Muh. Rizal M. Damanik MRepSc (gizi dan pangan), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi MSc (pengolahan pangan), dan Prof Dr Edi Santosa SP MSi (pertanian).

Penerima Indo Livestock Innovation Award 2026
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan “AMERTA ADHIKARYA PANGAN PASUPALANA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr dari Fakultas Peternakan IPB University atas inovasi “Green Concentrate Indigofera (GCI): Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional.”

Inovasi ini menghadirkan pakan fungsional berbasis sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat sistem imun, serta menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat. Dengan dukungan teknologi produksi modern dan penerapan yang telah diakui industri, Green Concentrate Indigofera menjadi salah satu solusi strategis dalam mewujudkan kemandirian pakan nasional.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pertanian “AMERTA SIDHAKARYA PANGAN PARISKARA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran RendahTropis.”

Teknologi ini membuka peluang baru bagi produksi benih hortikultura di wilayah tropis dataran rendah. Selain meningkatkan produktivitas secara signifikan, inovasi tersebut mampu menghasilkan benih yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan “ANUGERAH SIDHAKARYA PANGAN NUSANTARA”
Penghargaan diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi.”

Inovasi berbasis Modified Cassava Flour (MOCAF) ini menghadirkan alternatif pangan sehat dengan tekstur menyerupai mie berbahan terigu, namun memiliki kandungan serat lebih tinggi dan indeks glikemik lebih rendah. Teknologi yang sederhana dan ekonomis menjadikan inovasi ini berpotensi memperkuat UMKM sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional.

• Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial “ANUGRAHA ANNADANA NISHKAMA”
Penghargaan khusus diberikan kepada Aditya Prayoga, Founder Rumah Makan Gratis (RMG).

Sejak 2016, Aditya Prayoga menginisiasi pendirian RMG di berbagai wilayah Jabodetabek yang setiap hari menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai program sosial seperti TPA gratis, sekolah gratis, serta pelatihan UMKM.

Dedikasi dan semangat berbagi tanpa pamrih yang ditunjukkan Aditya Prayoga dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat solidaritas sosial serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang inklusif dan berkeadilan.

Dari kiri: Desianto Budi Utomo, Agung Suganda, bersama empat orang penerima penghargaan Indo Livestock Innovation Award 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pemberian Penghargaan
Penghargaan diserahkan dalam acara Opening Ceremony Indo Livestock 2026 Expo & Forum 2026 pada Rabu (17/6/2026), oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Drh Agung Suganda, didampingi Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo.

Prosesi penyerahan penghargaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama Dirjen PKH, para penerima penghargaan, serta Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026.

Acara pembukaan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian dan lembaga pemerintah, anggota DPR RI, perwakilan negara sahabat, pimpinan asosiasi peternakan dan kesehatan hewan, kalangan akademisi, pelaku usaha, exhibitor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor agribisnis nasional.

Dialog Inspiratif
Usai pembukaan pameran, YAPPI menyelenggarakan sesi dialog bersama para penerima penghargaan di panggung utama Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dipandu oleh pengurus YAPPI, Ir Setya Winarno.

Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Prof Elly Tugianti, tenaga pengajar dari beberapa kampus, pelaku usaha peternakan dan pertanian, mahasiswa, peneliti, serta pengunjung pameran.

Ketiga penerima penghargaan kategori inovasi memaparkan perjalanan riset, tantangan pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi yang memungkinkan inovasi mereka diterapkan secara luas oleh masyarakat dan industri.

Sementara itu, Aditya Prayoga berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan mendirikan Rumah Makan Gratis dari latar belakang keluarga sederhana. Saat ini, Rumah Makan Gratis telah berkembang menjadi enam lokasi yang masing-masing menyediakan sekitar 300 paket makanan gratis setiap hari, atau total sekitar 1.800 paket per hari.

“Dengan izin Allah, selalu ada orang-orang baik yang membantu sehingga program makan gratis ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Aditya.

Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi. Langkah awal telah diwujudkan melalui penyelenggaraan TPA gratis bagi masyarakat.

Foto bersama usai dialog inspiratif bersama para peraih penghargaan. (Foto: Istimewa)

Melalui penyelenggaraan Indo Livestock Innovation Award 2026, YAPPI dan PT Napindo Media Ashatama berharap semakin banyak inovasi dan gerakan sosial yang lahir untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pembangunan pertanian dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan. (INF)

PERKUAT KOLABORASI DAN DAYA SAING INDUSTRI PETERNAKAN DI INDO LIVESTOCK 2026

Momen pembukaan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Infovet/Ridwan)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum, secara resmi dibuka dalam Opening Ceremony pada Rabu (17/6/2026) di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Pameran dan forum internasional ini diselenggarakan untuk terus memperkuat kolaborasi dan mendorong inovasi demi meningkatkan daya saing sektor peternakan dan kesehatan hewan di Tanah Air.

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama (Napindo) dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian sebagai tuan rumah, pembukaan resmi dilakukan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi.

Pameran yang bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum ini menghadirkan 600 peserta dari 30 negara dengan tujuh paviliun negara, yakni China, Eropa, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam. Sebagai wadah strategis diplomasi ekonomi dan pengembangan industri, pameran ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi, investor, serta profesional dari berbagai negara untuk memperluas peluang kerja sama, transfer teknologi, dan mendorong investasi yang mendukung transformasi industri peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.

Dalam sambutannya, Agung Suganda menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani untuk mewujudkan visi Generasi Emas 2045, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan investor guna meningkatkan produksi, memperkuat investasi, serta memperluas akses pasar bagi produk peternakan Indonesia.

“Indo Livestock merupakan salah satu pameran peternakan berskala internasional di Indonesia. Namun lebih dari pada itu, Indo Livestock adalah instrumen diplomasi ekonomi peternakan Indonesia di hadapan dunia, menjadi tempat bertemunya stakeholder peternakan dari luar negeri dan dalam negeri, menjadi tempat dalam melakukan transaksi bisnis, sekaligus menjadi ruang konsolidasi nasional stakeholder peternakan sehingga diharapkan dapat menjadi booster percepatan modernisasi dunia usaha peternakan dan kesehatan hewan yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB)," ujarnya.

Menyambut positif visi pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor peternakan dan kesehatan hewan nasional, Managing Director Napindo, Arya Seta, menyampaikan bahwa Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen Napindo untuk terus menghadirkan platform yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara dalam satu ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor peternakan dan industri pendukungnya.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk dan teknologi, tetapi juga sarana untuk memperluas jejaring bisnis, mendorong transfer pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Lebih dari sekadar ajang pameran, Indo Livestock merupakan platform kolaborasi yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem industri yang terintegrasi. Melalui partisipasi ratusan perusahaan dari berbagai negara, kami berharap penyelenggaraan tahun ini dapat mendorong lahirnya peluang kerja sama, investasi, dan transfer teknologi yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia," kata Arya.

Banyak Program Unggulan
Selain menghadirkan pameran berskala internasional, Indo Livestock 2026 juga menyelenggarakan beragam program unggulan yang dirancang untuk mendorong pengembangan industri sekaligus memperluas partisipasi masyarakat. Salah satunya adalah Indo Livestock Grand Championship (ILGC) yang menjadi sorotan tahun ini pada penyelenggaraan perdananya. Setelah sukses menggelar Kontes Ternak Domba Garut pada hari pertama, rangkaian ILGC berlanjut dengan Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) pada hari kedua dan ketiga (17-18 Juni 2026) dan dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat umum.

Program unggulan lainnya, Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame”, hadir sebagai wadah bagi generasi muda, startup, komunitas, dan pelaku industri untuk mengeksplorasi inovasi serta peluang pengembangan sektor peternakan. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Kementerian Pertanian pada Kamis (18/6/2026), diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi peternak muda yang adaptif dan kreatif.

Pameran lintas sektor ini juga menyelenggarakan program unggulan di sektor perikanan. Fisheries Buyers Meeting diadakan sebagai program unggulan Indo Fisheries 2026, yang bertujuan untuk mempertemukan potential buyers dengan eksportir dan peserta pameran guna membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis internasional.

Rangkaian kegiatan Indo Livestock 2026 semakin lengkap dengan penyelenggaraan seminar, talkshow, focus group discussion, 82 sesi Technical Product Presentation (TPP), business matching, Live Cooking Demo olahan produk hasil perikanan, bazaar UMKM, serta berbagai kegiatan edukatif yang menghadirkan teknologi, inovasi, dan solusi terkini dari para pelaku industri nasional maupun internasional.

Dengan dukungan dari 51 kementerian, lembaga, asosiasi, dan universitas, Indo Livestock 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai pameran dan forum internasional terdepan bagi industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, penyelenggaraan ini diharapkan mampu memperkuat investasi, memperluas peluang perdagangan, mempercepat transfer teknologi, serta mendorong peningkatan daya saing sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia di tingkat global.

Pemberian Penghargaan 
Pada momen pembukaan, Napindo bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) turut memberikan penghargaan Indo Livestock Innovation Awards 2026 kepada para insan yang mendukung dan memiliki inovasi terbaik dalam pengembangan sektor pangan, di antaranya: 

- Kategori Amerta Adhikarya Pangan Pasupalana diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr (Fakultas Peternakan IPB University) dengan inovasi "Green Concentrate Indigofera (GCI) Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional."

- Kategori Amerta Sidhakarya Pangan Pariskara diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi (Fakultas Pertanian Unsoed) dengan inovasi "Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran Rendah Tropis."

- Kategori Anugerah Sidhakarya Pangan Nusantara diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi (LPPM Unsoed) dengan inovasi "Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi."

- Kategori Anugraha Annadana Nishkama diberikan kepada Adit Prayoga dengan inovasi melalui yayasan yang dipimpinnya, ratusan porsi makan gratis disajikan setiap hari bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang.

Kemudian, pada hari yang sama juga dilakukan pemberian penghargaan bagi para exhibitor pameran. Untuk kategori Best Designed Stand diberikan kepada Ceva (Juara III), Cargill (Juara II), dan Charoen Pokphand Indonesia (Juara I). Kemudian kategori Best Performance Stand diberikan kepada Kapha (Juara III), Mensana Aneka Satwa (Juara II), dan Medion (Juara I). Sedangkan kategori Most Unique Stand diberikan kepada Aviagen (Juara III), Highfarve (Juara II), dan Fenanza (Juara I). (RBS)

FUMITE OPP, DISINFEKTAN ASAP JADI PILIHAN TEPAT

Fumite OPP merupakan disinfektan asap yang menjadi pilihan tepat untuk hatchery, fumigasi/persiapan kandang kosong, gudang, silo, dan lain sebagainya.



EL NINO MENGANCAM, LINDUNGI TERNAK DENGAN STRESS PACK SL

El Nino mengancam produktivitas ternak?

Fenomena El Nino ekstrem memicu stres pans, perubahan cuaca drastis, dan keterbatasan pakan. Jangan biarkan stres menghancurkan performa ternak, lindungi ternak Anda dengan STRESS PACK SL.



STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

PEREBUTKAN PIALA MENTAN, 600 EKOR DOMBA SIAP BERKOMPETISI DI INDO LIVESTOCK 2026

Konferensi pers Indo Livestock 2026 berlangsung di kawasan Jakarta Selatan (Foto: NDV/Infovet)

Ada yang berbeda pada pagelaran Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, yang akan dilaksanakan pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Yaitu diadakannya program Indo Livestock Grand Championship (ILGC), sebuah kontes ternak domba dan seni ketangkasan domba Garut indoor pertama di Indonesia, bekerjasama dengan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI).

“Kami turut berbangga dari HPDKI bisa dilibatkan, kami akan membawa dan menampilkan kurang lebih 600 ekor ternak ke NICE PIK 2. ILGC adalah ajang kompetisi kontes ternak dan seni ketangkasan domba Garut yang memperebutkan Piala Menteri Pertanian Republik Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP HPDKI, Nuryanto.

ILGC diadakan selama tiga hari dengan hari pertama adalah kontes ternak domba. Mempertandingkan empat kelas utama yaitu Raja Pet, Raja Kasep, Ratu Bibit, dan Raja Pedaging. Kurang lebih 200 ekor domba akan berkompetisi di hari pertama tersebut.

Seni ketangkasan domba Garut akan berlangsung di hari kedua dan ketiga. Menghadirkan kurang lebih 400 ekor domba yang berkompetisi di beberapa kelas yaitu kelas 75 kg ke atas, 65-75 kg, dan di bawah 65 kg.

“Seni ketangkasan domba Garut ini erat kaitannya dengan budaya Sunda. Nanti seperti halnya event-event yang biasa kami laksanakan, ada peternaknya, biasa disebut dengan bobotoh, yang membawa ternaknya. Akan ada juga penampilan seni pencak silat yang diiringi dengan musik tradisional Sunda,” jelas Nuryanto lebih lanjut.

ILGC melibatkan para peternak domba dari sekitar 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, juga para peternak dari daerah Banten.

Selain itu juga ada eksibisi domba-domba unggulan tipe pedaging, yang merupakan hasil introduksi persilangan yang memiliki keunggulan tipe pedaging yang baik. Yang melibatkan beberapa perwakilan peternak dari Jawa Tengah.

Dorong Diplomasi Ekonomi dan Ekspor Peternakan

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama dan dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum berhasil menjaring 600 peserta dari 30 negara, dengan 7 paviliun negara termasuk paviliun negara Indonesia. Menargetkan sebanyak 20.000 pengunjung profesional dari dalam dan luar negeri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr drh Agung Suganda, MSi menjelaskan, “Untuk tahun ini Kementerian Pertanian lebih terlibat lagi. Tujuannya untuk mendorong agar Expo dan Forum yang akan kita selenggarakan tidak sekedar hanya event saja. Tetapi juga merupakan upaya diplomasi ekonomi khususnya subsektor peternakan Indonesia di hadapan dunia.”

Agung melanjutkan, Indo Livestock 2026 sekaligus merupakan konsolidasi nasional yang mempertemukan seluruh aktor dan stakeholder di bidang peternakan. Termasuk juga menghadirkan mitra-mitra swasta dan mitra negara sahabat, dengan harapan akan terbuka pasar-pasar ekspor baru dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi.

Lisa Rusli, Project Director Napindo menjelaskan bahwa Indo Livestock dan Indo Feed 2026 merupakan pameran yang ke-19 sejak diadakan pertama kali pada 2002. Tahun genap diadakan di Jakarta dan tahun ganjil diadakan di Surabaya.

“Selain itu juga ada kegiatan Indo Dairy, ini sudah yang ke-17 kali. Kita juga punya Indo Agrotech, baru yang kelima kali. Indo Vet baru yang keenam kali. Indo Fisheries sudah yang ke-16 kali kita selenggarakan,” jelas Lisa. (NDV)

SEMINAR EKSKLUSIF INFOVET 2026, SMART POULTRY FARMING: MORTALITAS TURUN, PROFIT NAIK


Dalam rangka memeriahkan Indo Livestock Expo & Forum 2026, Infovet mengundang Anda untuk mengikuti seminar eksklusif, pada:

Kamis, 18 Juni 2026
13:00-13:45 WIB
Theater 5 NICE, PIK 2, Jakarta

Narasumber:
Drh. Baskoro Tri Caroko
(National Poultry Consultant, Peraih INPOVA Award)

Biaya Pendaftaran:
GRATIS (kapasitas terbatas)

Atau pilih paket berikut:
Rp 100.000/peserta, dapatkan bonus:
Buku Motivasi
E-Sertifikat

atau

Rp 100.000/peserta, dapatkan bonus:
3 Edisi Infovet Digital
E-Sertifikat

Pembayaran
Bank Mandiri: 1260002074119
Bank BCA: 7330301681
a.n. PT Gallus Indonesia Utama

Kirim bukti pembayaran ke: gallus.marketingeo@gmail.com

Pendaftaran, klik: https://bit.ly/Eksklusif_IDL26

WA Panitia: 0877-7829-6375 (Mariyam)

PROTEIN TINGGI DI BALIK OLAHAN KAKI SAPI

Gulai tunjang, salah satu olahan dari kaki sapi. (Foto: Shutterstock/Sassi Photoworks)

Tidak semua orang mau mengonsumsi olahan kulit dan kaki sapi. Padahal, jika diolah dengan sempurna, nikmatnya luar biasa. Kandungan nutrisinya juga menyehatkan, asal tak berlebihan.

Lebaran Idul Adha tak lama lagi tiba. Aroma hewan kurban sudah tercium hampir di setiap sudut pinggiran jalan. Tak hanya kambing dan domba, sapi dari berbagai varian pun sudah mulai menghuni di kandang-kandang dadakan. Aroma kotoran kambing dan sapi memang cukup menyengat saat melintas di jalanan, namun fenomena ini menjadi hal biasa setahun sekali.

Saat hari penyembelihan hewan kurban tiba adalah saat yang paling ditunggu. Kegembiraan umat Islam menikmati pembagian daging kurban menjadi keberkahan tersendiri. Aneka olahan daging menjadi sajian istimewa di Hari Raya ini.

Di tengah melimpahnya stok daging, tak semua orang memilih untuk dijadikan olahan. Ada yang justru lebih memilih kaki sapi untuk diolah menjadi menu istimewa, seperti gulai tunjang atau olahan lainnya.

Faiz Ramadhan adalah salah satunya. Karyawan perusahaan provider seluler di Jakarta ini punya hobi masak. Sejak masih kuliah, pemilik skill IT (Information Technology) ini gemar memasak gulai kaki sapi. “Masak tunjang memang butuh waktu lama, biar tekstur kikilnya lembut. Dari dulu saya suka,” tuturnya kepada Infovet.

Selain kaki sapi, Faiz juga mengaku sering memasak kulit sapi yang ia beli di pasar. Olahannya tak beda jauh dengan gulai. Selain nikmat, menurutnya kikil sapi memiliki kandungan nutrisi cukup baik bagi tubuh. Salah satunya kandungan protein dan kolagen. “Saya sering baca artikel yang mengulas soal kandungan gizi pada kulit sapi, ternyata kandungan proteinnya cukup tinggi,” ujarnya.

Dalam sebulan, paling tidak satu kali ia memasak gulai kikil. Bahannya ia beli di pasar tak jauh dari rumahnya, di kawasan Parung, Bogor. Saat Idul Adha, biasanya ia mendapat kiriman satu kaki sapi dari panitia kurban di masjid dekat rumahnya. Ia meminta bantuan temannya untuk membersihkan bulu dan kukunya, jika sudah bersih, Faiz siap mengolahnya.

Cek Kandungan Nutrisinya
Tak semua orang mau makan olahan kaki sapi. Ada sebagian orang yang enggan dengan alasan geli ketika terpikirkan kaki sapi yang belum diolah. Apalagi jika proses mengolahnya kurang bersih, masih ada bulu dan aroma perengus yang membuat nafsu makan hilang seketika. Ada juga yang memercayai kandungan kolesterol yang tinggi, apalagi diolah dengan kuah santan.

Merujuk pada laman Fastsecret Indonesia yang mengulas seputar gizi menyebutkan, dalam 100 gram olahan kulit sapi terdapat 100 kalori, dengan rincian 40% lemak, 16% karbohidrat, dan 43% protein. Kandungan gizi yang lumayan jika diabaikan.

Menurut salah satu Dietisien di Rumah Sakit Umum Pemerintah Fatmawati, Akromah SGz RD, mengungkapkan bahwa kulit sapi merupakan sumber protein hewani yang cukup tinggi kandungannya. Dalam 100 gram kulit sapi, memiliki kandungan protein 10 gram. Ini termasuk tinggi. Sementara kandungan lemaknya tak terlalu tinggi, masih di bawah protein.

Menurut ahli gizi ini, kandungan kolesterol pada kulit sapi juga tidak terlalu tinggi. Masih aman untuk dikonsumsi dalam porsi yang wajar. “Tapi prinsipnya semua sumber pangan hewani itu mengandung kolesterol. Namun pada kulit sapi tidak terlalu tinggi dan tetap harus dijaga porsinya” ujarnya kepada Infovet.

Akromah menyebut, wajar-wajar saja apabila ada orang yang takut mengonsumsi olahan kikil, karena ketidaktahuan mereka akan kandungan gizinya. Yang terbayang hanya kandungan kolesterol yang menghantui. Bahkan ada pula yang takut terserang asam urat dan penyakit “menyeramkan” lainnya.

Namun demikian, hal tersebut hanya persepsi yang kurang tepat. “Selama porsinya wajar, tidak berlebihan, tidak masalah. Baik-baik saja konsumsi olahan kulit sapi,” tambahnya.
Banyak literatur yang menyebutkan bahwa olahan kulit sapi, baik dibuat menjadi kerupuk, gulai, maupun sop kikil memiliki kandungan protein hewani. Kerupuk kulit meskipun sudah kering dan digoreng, di dalamnya masih terkandung protein.

Protein hewani ini merupakan kandungan gizi yang baik untuk tubuh. Beberapa manfaat dari protein hewani di antaranya untuk pertumbuhan dan regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan pembentukan energi tubuh, meningkatkan ketahanan tubuh, dan meningkatkan massa otot.

Ini Dia Khasiatnya
Dalam banyak literatur tentang kesehatan, ada beberapa manfaat mengonsumsi olahan kulit sapi. Pertama, manfaat untuk elastisitas kulit. Kikil sapi punya kandungan protein berbentuk kolagen. Kolagen berguna untuk melindungi organ dalam tubuh dan membantu elastisitas kulit.

Kedua, manfaat antioksidan. Dalam kikil sapi ini juga mengandung mineral selenium yang diperlukan tubuh untuk membuat enzim selenoprotein, di antaranya enzim glutation peroksidase yang berfungsi sebagai antioksidan alami untuk membantu mencegah risiko terjadinya penyakit degeneratif yang muncul seiring dengan bertambahnya usia.

Ketiga, manfaat membantu regenerasi sel dalam tubuh. Selain kolagen, kandungan kalsium dari kikil sapi ini juga cukup besar. Nah, dengan mengonsumsi kikil sapi secara baik dan benar, maka asupan mineral seperti kalsium kalogen untuk tubuh akan tercukupi. Sehingga membuat tulang dan gigi kuat, tidak mudah kropos karena asupan kalsiumnya seimbang. Kalsium dan fosfor sangat bagus untuk perkembangan tulang. Nutrisi ini lebih tepat untuk remaja yang sedang dalam masa tumbuh kembang.

Keempat, membantu menjaga stamina. Dengan penambahan rempah seperti jahe merah pada olahan kikil sapi, dipercaya bisa membantu meningkatkan stamina yang mudah lelah. Tentunya selain jahe ada sejumlah rempah lainnya yang bisa dikreasikan seperti cabai jawa atau cabai puyang.

Bagi sebagian orang yang masih merasa geli dengan olahan kulit atau kaki sapi, bisa mencobanya dengan varian olahan yang lain. Jika tak suka dimasak berkuah, bisa diolah dengan cara ditumis atau mengonsumsinya dalam bentuk kerupuk kulit. Kerupuk tersebut terbuat dari kulit sapi dengan tambahan bumbu sehingga memiliki cita rasa yang gurih dan renyah. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

LINDUNGI AYAM DARI SERANGAN ND

Lesi kasar pada unggas yang terinfeksi ND: a) Perdarahan petechiae pada kelenjar proventrikulus. b) Trakea menunjukkan perdarahan yang menyebar. c) Area nekro-perdarahan fokal pada permukaan mukosa usus halus dan tonsil sekum. d) Splenomegali (A) dan limpa normal (B). (Sumber: Poultry Farming - The Latest Scientific Findings and Practical Applications [Working Title] By: Emeritus Prof. László Babinszky)

Penyakit Newcastle disease (ND) adalah infeksi virus yang sangat menular yang memengaruhi ayam dan unggas liar, disebabkan oleh virus ND yakni paramyxovirus tipe 1.

Keganasannya pun bervariasi tergantung strain dan dikategorikan menjadi tiga patotipe, yaitu lentogenik (rendah atau avirulen), mesogenik (sedang), dan velogenik (keganasan tinggi). Strain velogenik menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi, yang mengakibatkan kerugian produksi yang signifikan dan dampak ekonomi substansial karena biaya langkah-langkah pengendalian.

Virus ND menunjukkan diversitas genetik yang tinggi, menekankan perlunya pengawasan terus-menerus, diagnostik canggih, dan strategi pencegahan yang ditingkatkan. Dengan berkembangnya industri unggas global dan meningkatnya perdagangan internasional, pengendalian ND yang efektif, terutama melalui vaksinasi, tetap penting. Namun, tinjauan komprehensif yang menggabungkan temuan terbaru masih kurang.

Kasus pertama kali ND dilaporkan di Jawa, Indonesia pada 1926, kemudian di Newcastle-on-Tyne, Inggris pada 1927. Virus ini juga muncul di India, di mana dikenal secara umum sebagai penyakit Ranikhet. Virus ini endemik di banyak negara berkembang, termasuk India, dan tetap menjadi kendala utama dalam produksi unggas karena sering terjadi wabah baik pada ayam yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.

Virus ND diklasifikasikan secara taksonomis sebagai Avian orthoavulavirus 1 (AOAV-1), sebelumnya disebut Avian avulavirus 1 (AAvV-1) atau Avian paramyxovirus 1 (APMV-1). Virus ini termasuk dalam genus Orthoavulavirus, subfamili Avulavirinae, famili Paramyxoviridae, dan ordo Mononegavirales.

Virus ini memiliki genom RNA untai tunggal bermuatan negatif sekitar 15,2 kb, yang mengkode enam protein struktural dengan urutan 3ʹ-NP–P–M–F–HN–L-5ʹ: protein nukleokapsid (NP), fosfoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F), hemagglutinin-neuraminidase (HN), dan protein polimerase besar (L).

Penyebab Penyakit
Apa yang menyebabkan penyakit ND? Sebab virus ini sangat menular dan memiliki dampak signifikan pada unggas. Strain velogenik bertanggung jawab atas bentuk penyakit yang paling parah dan menyebabkan kematian tinggi.

Strain velogenik neurotropik menyebabkan gejala neurologis parah (misalnya tremor, ataksia, putaran kepala, kelumpuhan) dengan sedikit atau tanpa keterlibatan gastrointestinal. Lesi sering tidak ada. Kemudian strain velogenik viscerotropik sangat mematikan, menyebabkan kematian hingga 100%. Tanda-tandanya meliputi diare, dispnea, tremor, dan lesi hemoragik parah di saluran pencernaan, terutama pada proventrikulus dan tonsil sekum.

Virus-virus ini dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan yang hangat dan lembap, pada bulu, kotoran, dan bahan lainnya, serta dapat bertahan tanpa batas waktu pada bahan yang dibekukan. Virus ND cepat dihancurkan oleh dehidrasi dan sinar ultraviolet.
Bagaimana penyakit ND menyebar? Virus menyebar dengan cepat dan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, atau melalui pakan dan air, peralatan, pakaian, atau sepatu yang terkontaminasi, bahkan penularan melalui udara dalam jarak pendek juga memungkinkan.

Selain itu, virus juga dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan, bahkan dalam cuaca dingin. Gejala yang ditimbulkan dari strain velogenik di antaranya gangguan pernapasan (terengah-engah, batuk), tanda-tanda saraf (gemetar, kelumpuhan), pembengkakan kepala dan leher, diare berwarna hijau dan berair, mortalitas tinggi, berhentinya produksi telur, hingga depresi, sayap menjuntai dan berjalan melingkar.

Diagnosis Klinis dan Patologis
ND dapat menyerupai penyakit pernapasan unggas lain seperti Avian influenza (AI), Infectious bronchitis (IB), laringotrakeitis, dan cacar ayam. Strain ND APMV 3 dan 7 juga dapat berkerja silang secara serologis, sehingga diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk pengendalian penyakit.

Lesi kasatmata pada unggas yang terkena ND dapat meliputi kongesti pada organ viseral, seperti otak, ginjal, dan trakea, serta perdarahan petechiae pada mukosa proventrikulus, ulkus hemoragik pada dinding usus, dan splenomegali, tergantung pada strain virus ND yang terlihat.

Diagnosis Banding
Bentuk akut ND harus dibedakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

BERKUTAT DENGAN NEWCASTLE DISEASE SELAMA SEABAD

Prediksi penyakit ND masih tertinggi. (Sumber: GPS Ceva, 2026)

Seratus tahun adalah waktu yang panjang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rentang itu, manusia berhasil memecahkan struktur DNA, mendarat di bulan, hingga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Namun di balik semua kemajuan tersebut, ada ironi yang diam-diam bertahan, sebuah penyakit unggas bernama Newcastle disease (ND) masih terus menjadi ancaman nyata bagi industri perunggasan Indonesia, Asia, dan dunia.

Sejak pertama kali dilaporkan pada 1926 di Newcastle upon Tyne dan hampir bersamaan di Indonesia, ND tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak lagi hadir sebagai wabah misterius yang membunuh tanpa penjelasan, tetapi juga belum sepenuhnya terkendali sebagai penyakit yang bisa dieliminasi. Ia berada di antara dua dunia, dipahami secara ilmiah, namun tetap sulit dikendalikan secara praktis.

Pertanyaan yang muncul setelah satu abad bukan lagi sekadar “apa itu ND?” atau “bagaimana cara mencegahnya?”. Pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar adalah mengapa dengan segala kemajuan yang ada, masyarakat peternak masih hidup berdampingan dengan penyakit ini?

Dari Misteri Menjadi Ilmu Pengetahuan
Pada awal kemunculannya di Newcastle dan Hindia-Belanda, ND bak teror yang tidak memiliki nama jelas. Peternak saat itu hanya melihat ayam-ayam mereka mati mendadak, menunjukkan gejala saraf, gangguan pernapasan, dan penurunan produksi telur yang drastis. Tidak ada vaksin, tidak ada diagnostik, tidak ada pemahaman.

Dalam konteks itu, ND adalah simbol keterbatasan manusia dalam memahami penyakit infeksius. Namun perlahan, ilmu pengetahuan mulai membuka tabirnya. Virus penyebab ND diidentifikasi sebagai Avian paramyxovirus. Penularannya dipahami, pola epidemiologinya dipetakan. Dunia veteriner mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan apa yang sebelumnya hanya dianggap “kutukan”.

Perjalanan ini mencerminkan sesuatu yang fundamental dalam sejarah ilmu pengetahuan, ketakutan sering kali berasal dari ketidaktahuan, dan pemahaman adalah langkah pertama menuju kontrol.

Revolusi Vaksin: Titik Balik yang Menjanjikan
Pertengahan abad ke-20 menjadi titik balik besar bagi dunia veteriner khususnya perunggasan. Munculnya vaksin ND pertama, mulai dari strain lentogenik seperti LaSota dan B1, mengubah lanskap perunggasan global.

Untuk pertama kalinya, manusia memiliki alat untuk melawan ND secara aktif. Mortalitas yang sebelumnya bisa mencapai 100% mulai ditekan. Peternakan ayam modern mulai berkembang. Produksi protein hewani meningkat pesat. Industri perunggasan menjadi salah satu sektor pangan paling efisien di dunia.

Dalam banyak hal, vaksin ND dinilai menjadi simbol kemenangan sains terapan atas kehendak alam. Namun seperti banyak kemenangan awal, realitas kemudian menunjukkan bahwa masalah tidak sesederhana itu.

Dalam sebuah acara seminar di Bogor yang membahas mengenai penyakit ND, Christophe Cazaban selaku Poultry Scientific Director Ceva Sante Animale, menekankan bahwa perjalanan 100 tahun melawan penyakit Newcastle bukan sekadar kisah tentang virus dan vaksin. 100 tahun setelah pertama kali dilaporkan, ND tetap relevan sebagai tantangan strategis industri perunggasan global.

“Evolusi virus yang berkelanjutan menuntut peningkatan kapasitas diagnostik, pengembangan vaksin yang adaptif, serta implementasi biosekuriti yang konsisten”, ujar Christophe.
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan ND bukan sekadar sejarah penyakit, tetapi juga cerminan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026. (CR)

SEMINAR INOVASI PENGGUNAAN CLAY MINERAL DALAM INDUSTRI PETERNAKAN

 Inovasi penggunaan clay mineral dalam industri peternakan




PEMOTONGAN HEWAN KURBAN PRESIDEN DI JEMBER

Pemeriksaan post mortem yang dilakukan oleh Heru Rachmadi (kiri) dan Rifki Nugroho. (Foto: Dok. Heru)

Rabu (27/5/2026), bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha depan Masjid Besar Darul Muttaqin Tanggul, Kabupaten Jember, dilaksanakan pemotongan hewan kurban sapi bantuan masyarakat dari Presiden Prabowo.

Sebelumnya pada Rabu (20/5/2026), telah dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan oleh dokter hewan pemeriksa dari asal ternak tersebut dengan data jenis sapi ras Limousin yang sudah dilakukan vaksinasi PMK dan LSD, serta dinyatakan sehat oleh Drh Muhammad Jundi serta diterbitkan surat keterangan kesehatan hewan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember No: 500.7.2.4/KL-1/355.09.318/2026, disahkan oleh dokter hewan berwenang/Kabid Kesehatan Hewan Drh Henry Kurniawan Mvet.

Kemudian pada H-1 Idul Adha telah dilakukan pemeriksaan ante mortem oleh Kepala Puskeswan Bangsalsari Jember, Drh Rifki Nugroho Mvet, sedangkan pemeriksaaan post mortem dilakukan setelah hewan dipotong oleh Drh Rifki Nugroho dan Drh. Heru Rachmadi yang merupakan wartawan Infovet.

Hasil pemeriksaan post mortem, semua organ baik hati, limpa, jantung, paru-paru, dan ginjal dalam kondisi baik dan normal pada saat dilakukan sayatan pada organ, tidak ditemukan perubahan-perubahan dan dinyatakan daging kurban memenuhi syarat untuk dikonsumsi.

Ketua Takmir Masjid Besar Darul Muttaqin Tanggul Jember, H. Fauzi menyatakan bahwa daging dibagikan kepada 1.000 penerima. “Semoga barkah dan masyarakat dapat merayakan idul Adha dengan hati senang dan gembira,” katanya. (Heru Rachmadi/Infovet)

FLUOROQUINOLONES EXIT, INDUSTRI OBAT HEWAN DIMINTA SIAP BERTRANSFORMASI

Kiri: Hendra Wibawa dan Sugiyono (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi (Fluoroquinolones Exit) menjadi sorotan utama. Dibuka Sambutan Ketum ASOHI, Drh A. Harris Priyadi, Program Temu Anggota ASOHI (PROTAS) 2026 digelar pada Rabu (3/6/2026), di Avenzel Hotel and Convention, Cibubur.

Dalam forum yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus pelayanan organisasi kepada anggota tersebut, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar pembatasan antibiotik, tetapi langkah strategis menjaga keberlanjutan industri peternakan nasional di tengah ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).

Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Fluorouinolones Exit pada Hewan Produksi" menjelaskan bahwa fluoroquinolone menjadi perhatian global karena tergolong antimikroba kritis yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan banyak digunakan untuk pengobatan infeksi serius. Peningkatan resistansi yang terus terjadi di berbagai negara membuat penggunaannya pada hewan produksi kini menjadi perhatian serius organisasi dunia seperti WHO, FAO, WOAH, hingga Codex Alimentarius.

Menurut Hendra, resistensi antimikroba kini bukan lagi isu masa depan, melainkan tantangan nyata yang sedang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak hanya menyangkut kesehatan manusia dan hewan, tetapi juga keamanan pangan serta daya saing perdagangan internasional. Ia mengingatkan bahwa semakin tinggi penggunaan antibiotik tertentu, semakin besar pula risiko hilangnya efektivitas antibiotik tersebut di masa mendatang. Resistensi bahkan berpotensi memicu Multi Drug Resistance (MDR), ketika pengobatan menjadi semakin sulit dilakukan.

“Kita harus menjaga efektivitas antibiotik yang masih dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia,” tegas Hendra dalam presentasinya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan global telah bergerak ke arah pengendalian penggunaan fluoroquinolone di sektor peternakan. WHO menempatkannya sebagai Critically Important Antimicrobials, sementara WOAH mendorong penggunaan antibiotik secara bijak (prudent use). Di sisi lain, Codex Alimentarius dan FAO juga telah memasukkan isu resistensi antimikroba sebagai bagian penting dalam tata kelola keamanan pangan dunia.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengambil langkah melalui pendekatan One Health, yakni integrasi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Komitmen ini diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistansi Antimikroba (RAN-AMR), penguatan keamanan pangan, serta peningkatan daya saing ekspor produk peternakan.

Dalam kesempatan tersebut, Hendra memaparkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 63/2026 yang mengatur penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi. Namun demikian, ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar pelarangan antibiotik.

“Filosofi exit policy adalah transformasi penggunaan antibiotik menuju sistem kesehatan hewan yang lebih preventif dan bertanggung jawab,” jelasnya. Prinsip yang diusung adalah prevention is better than treatment, dengan penguatan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kesehatan ternak, serta penguatan stewardship antibiotik sebagai fondasi utama.

Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan berbagai langkah implementasi, mulai dari sosialisasi nasional, penyusunan pedoman teknis, pengawasan distribusi dan penggunaan, hingga surveilans resistensi antimikroba serta monitoring residu. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan transisi berjalan tanpa mengganggu produktivitas peternakan nasional.

Dalam diskusi yang dipandu Wakil Kabid Organisasi Drh Sugiyono, Hendra juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Industri obat hewan didorong mengembangkan alternatif seperti produk biologik, probiotik, dan fitobiotik. Dokter hewan diminta memperkuat diagnosis yang tepat serta penggunaan antibiotik secara bijak, sementara peternak perlu meningkatkan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kandang, dan praktik budi daya yang baik (Good Farming Practices).

Meski demikian, pemerintah mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi kebijakan ini, mulai dari perubahan perilaku penggunaan antibiotik, ketersediaan alternatif, kepatuhan di lapangan, hingga pengawasan distribusi. Untuk itu, pemerintah akan memperkuat edukasi, pendampingan teknis, kapasitas laboratorium, dan surveilans sebagai bentuk antisipasi.

Selain materi utama mengenai Fluoroquinolones Exit, PROTAS ASOHI 2026 juga menghadirkan sejumlah topik strategis lain, di antaranya pembahasan pencabutan Surat Keputusan registrasi obat hewan, implementasi Surat Izin Praktik Terintegrasi (SIPT), serta penyesuaian terhadap implementasi KBLI baru bagi pelaku usaha obat hewan. Ragam isu tersebut memperlihatkan bahwa industri kesehatan hewan tengah memasuki fase adaptasi regulasi yang semakin dinamis.

PROTAS sendiri merupakan agenda tahunan ASOHI yang dirancang sebagai wadah pertemuan anggota sekaligus sarana memperkuat komunikasi antara pelaku industri dengan regulator. Tahun ini, forum tersebut terasa semakin penting karena industri obat hewan dituntut tidak hanya adaptif terhadap perubahan regulasi, tetapi juga mampu merespons tuntutan global terkait keamanan pangan dan resistensi antimikroba.

Menutup paparannya, Hendra mengingatkan bahwa kebijakan Fluoroquinolones Exit harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan ancaman bagi industri. “Antibiotik yang kita jaga hari ini adalah harapan terapi yang kita wariskan untuk generasi mendatang,” ujarnya. (DS)

PRODUSEN UNGGAS HUNGARIA MENGINVESTASIKAN LEBIH DARI SATU MILIAR USD UNTUK PENGOLAHAN UNGGAS

Master Goods, produsen unggas terkemuka Hungaria, telah meluncurkan rencana perluasan kapasitas komprehensif yang mencakup 350 miliar HUF (US$1,2 miliar) untuk kapasitas pengolahan baru dan infrastruktur peternakan.

Di bawah program pengembangan yang dipresentasikan, Master Good akan meluncurkan salah satu pabrik pengolahan daging paling modern di Eropa di Sárvár, sebuah kota kecil di Hungaria barat, pada akhir musim panas Eropa. Perusahaan juga akan mengalokasikan investasi untuk rumah potong tambahan dengan kapasitas tahunan 100 juta potong, 31 peternakan baru, serta tempat penetasan dan pabrik pakan.

“Pengembangan berkelanjutan di pasar global bukan hanya tujuan pertumbuhan, tetapi juga syarat untuk tetap kompetitif,” kata László Bárány, direktur pelaksana dan pemilik Master Goods.

Fasilitas baru ini akan termasuk yang paling maju secara teknologi di Eropa dan di seluruh dunia, kata perusahaan tersebut. Dilengkapi dengan robotika dan solusi berbasis kecerdasan buatan, pabrik ini akan mampu menghasilkan 4 kali kapasitas sebelumnya sementara hanya menempati satu setengah kali luas lantai fasilitas yang ada.

Salah satu proyek infrastruktur paling signifikan yang terkait dengan perluasan kapasitas adalah sistem pasokan air, karena kebutuhan pabrik tidak lagi dapat dipenuhi hanya melalui sumur di lokasi. Master Good berencana untuk menginvestasikan 8 miliar HUF (US$26 juta) ke dalam jaringan pipa yang direncanakan dari Sungai Tisza ke pabrik.

Sebagai bagian dari strategi integrasi vertikal dan pertanian sirkularnya, pabrik pengolahan pupuk organik BioFer juga sedang diperluas dan, sebagai respons terhadap meningkatnya permintaan, dapat menjadi fasilitas terbesar sejenisnya di Eropa dalam waktu dekat, lapor Master Goods, tanpa memberikan detail tambahan.

PETERNAK UNGGAS IRAN MENJUAL ANAK AYAM MUDA YANG TIDAK MAMPU MEREKA BERI MAKAN

Akhir-akhir ini, para peternak Iran dilaporkan terpaksa menjual sekitar 25 juta anak ayam sebelum mencapai usia 50 minggu, setelah harga pakan naik hampir empat kali lipat menyusul pecahnya perang Iran melawan AS sekaligus Israel. Angka tersebut dilaporkan oleh Nasser Nabipour, ketua dewan direksi Rantai Ayam Petelur Provinsi Qazvin, kepada publikasi lokal Tabnak.

Industri unggas Iran, yang sudah berjuang di awal tahun, kini menghadapi krisis yang parah dan memburuk dengan cepat yang mengancam kelangsungan hidup peternakan di seluruh negeri. Menurut Nabipour, banyak produsen unggas mungkin terpaksa menangguhkan operasi pada akhir tahun jika kondisi pasar saat ini terus berlanjut.

Para peternak berada di bawah tekanan dari berbagai sisi. Tantangan yang paling mendesak adalah memburuknya krisis likuiditas, dengan suku bunga pinjaman bank dilaporkan naik hingga 110% di tengah gejolak dalam sistem keuangan, kata Nabipour. Akses terhadap kredit yang terjangkau semakin terbatas, sehingga produsen hanya memiliki sedikit pilihan untuk membiayai operasional sehari-hari.

Pemerintah Iran telah berulang kali berjanji untuk mendukung peternak unggas melalui pinjaman lunak dan langkah-langkah bantuan lainnya, tetapi dengan sumber daya keuangan dan administrasi negara yang terbatas, baru-baru ini hanya sedikit tanda-tanda bantuan konkret yang mencapai sektor tersebut.

Pinjaman yang mahal seperti itu dapat menghancurkan peternak yang kekurangan modal kerja dan bergantung pada pinjaman untuk menjaga bisnis mereka tetap berjalan. “Industri mana di dunia yang dapat bertahan dengan suku bunga seperti itu?” kata Nabipour.

Akibat krisis pakan, peternak unggas terpaksa mengurangi produksi secara drastis. “Peternak yang biasa membeli 500 ton pakan sekarang hanya dapat membeli 10 hingga 15 ton,” tambah Nabipour.

Di tengah inflasi yang melonjak, upah dan biaya transportasi telah meningkat hampir 60%, lapor Tabnak, mengutip perkiraan dari Serikat Ayam Petelur Tehran. Gangguan pasokan juga telah memukul pasar aditif pakan. Menurut publikasi tersebut, harga beberapa aditif hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu, sebagian besar karena perang yang sedang berlangsung dan terganggunya arus perdagangan.

KEKHAWATIRAN MENINGKAT ATAS PETERNAKAN UNGGAS "BAYANGAN" POLANDIA YANG MEMASOK PASAR INGGRIS

Kekhawatiran meningkat bahwa peternak unggas Polandia mengirimkan ayam ke Inggris meskipun tidak beroperasi dengan izin yang diperlukan. Dewan Unggas Inggris mengatakan pihaknya menginginkan jaminan bahwa daging dari peternakan Polandia yang beroperasi tanpa izin tidak dikirim ke Inggris.

Hal ini menyusul sebuah studi oleh Biro Jurnalisme Investigasi yang menunjukkan bahwa hampir setengah dari 2.000 peternakan unggas terbesar di Polandia beroperasi tanpa izin pengendalian lingkungan dan polusi yang diperlukan.

Polandia adalah salah satu pengekspor daging unggas terbesar ke Inggris dan pada akhir tahun 2023, otoritas lokal di Inggris didesak untuk meningkatkan pemeriksaan impor Polandia karena meningkatnya ancaman Salmonella, yang memengaruhi ratusan orang di seluruh negeri.

Sekarang, Inspektorat Utama Perlindungan Lingkungan Polandia telah meminta semua inspektur regional untuk memverifikasi catatan mereka tentang jumlah peternakan unggas industri yang membutuhkan izin tertentu.

Pemeriksaan sedang berlangsung tetapi apa yang telah mereka temukan sejauh ini dilaporkan mengejutkan. Di Mazowieckie, wilayah penghasil unggas yang menjadi pusat investigasi Biro, 80% peternakan yang beroperasi tanpa izin cukup besar untuk memerlukan izin.

Investigasi yang sedang berlangsung telah mendorong Dewan Unggas Inggris untuk menyerukan jaminan bahwa daging dari peternakan Polandia yang tidak berlisensi tidak diimpor ke Inggris. Komisi Eropa tidak mengesampingkan kemungkinan proses hukum terhadap Polandia sebagai tanggapan atas temuan tersebut.

REUNI KAFAPET UNSOED 85 HADIRKAN DUA REKTOR DAN PERDANA LIVESTREAMING YOUTUBE

Foto bersama, dari kiri: Sutadi Ronidipuro, Novie Andri Setianto, Hary Soegijono, Prof Akhmad Sodiq, Sinung Nugroho, Dr Achmad Iqbal, Prof Noor Farid, dan Dr Agus Susanto. (Foto-foto: Istimewa)

Reuni Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) angkatan 1985 berlangsung sukses dan meriah di Hotel Sendang Sari, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 23-24 Mei 2026. Kegiatan silaturahmi dua tahunan ini dihadiri sekitar 70 alumni beserta keluarga dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah pimpinan Unsoed dan dari Fapet turut hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Rektor Unsoed Prof Dr Akhmad Sodiq, Wakil Rektor Prof Noor Farid, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Dr Achmad Iqbal yang juga pernah menjabat sebagai Rektor Unsoed periode 2014-2018, Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, serta Wakil Dekan Dr Agus Susanto. Hadir pula Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Sutadi Ronodipuro serta perwakilan sponsor yang mendukung terselenggaranya reuni.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak acara pembukaan hingga malam keakraban. Kegiatan kemudian dilanjutkan Minggu pagi dengan senam bersama dan ramah tamah antaralumni. Selain itu, reuni juga diisi diskusi santai, hiburan, serta kegiatan wisata belanja ke Pasar Batik Setono yang diikuti sebagian peserta.

Ketua Kafapet 85, Ir Sinung Nugroho, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan reuni tahun ini. Menurutnya, reuni bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga sarana memperkuat jejaring dan semangat kebersamaan antaralumni.

“Alhamdulillah teman-teman masih menjaga semangat silaturahmi sesuai moto alumni Fapet 85, yaitu guyub dan lestari. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia, Dr Ir Hary Soegijono MTh, yang mengapresiasi kerja sama para panitia yang berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Pantura, Purwokerto, Jabodetabek, hingga Yogyakarta dan sekitarnya.

“Sungguh menjadi kebahagiaan bagi kami karena Pak Rektor Unsoed, di tengah kesibukan beliau sepulang dari acara di Surabaya, masih menyempatkan hadir bersama wakil rektor, mantan rektor, dekan, dan wakil dekan. Terima kasih juga kepada Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang yang turut hadir dan memperkenalkan program unggulan Kabupaten Batang,” katanya.

Dalam sambutannya, Rektor Unsoed, Prof Dr Akhmad Sodiq, mengaku bahagia dapat hadir di tengah para seniornya, mengingat dirinya juga merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1987. Ia mengajak para alumni untuk terus menjaga semangat perjuangan Jenderal Soedirman.

“Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. Insyaallah dengan memegang semangat itu, kita akan diberi kelancaran dan kesuksesan,” ujarnya seraya mengingatkan kembali pentingnya menjaga moto alumni Unsoed, yaitu Kompak, Semangat, Hebat.

Pada kesempatan itu, Prof Sodiq turut menyampaikan perkembangan terbaru Unsoed, yang saat ini memiliki 103 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 25.000 orang, meningkat jauh dibandingkan masa ketika angkatan 1985 masih menempuh pendidikan.

Ia berharap para alumni dapat ikut berkontribusi melalui program kuliah praktisi dengan berbagi pengalaman dan ilmu lapangan kepada mahasiswa. “Kami memiliki program kuliah praktisi. Silakan para alumni berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” tambahnya.

Foto bersama usai senam pagi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam reuni kali ini adalah untuk pertama kalinya acara disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube KafapetUnsoedTV, kanal resmi milik Kafapet. Melalui livestreaming tersebut, alumni yang tidak dapat hadir secara langsung, termasuk yang berada di luar negeri, tetap dapat mengikuti jalannya acara secara virtual.

Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak alumni karena dinilai mampu memperluas keterlibatan keluarga besar Kafapet Unsoed. Hal tersebut terlihat dari antusiasme komentar dan percakapan selama siaran berlangsung. Rekaman livestreaming reuni bisa dilihat di: https://www.youtube.com/live/oNa8cAu-H_Q?si=d7vS5zdscIB_HzAc

Acara reuni dipandu oleh Krusharto atau yang lebih dikenal dengan nama panggung “Mbah Gobed”. Dengan gaya humor khas Banyumasan, ia berhasil mencairkan suasana dan menjaga keakraban peserta sejak awal hingga akhir acara. Mbah Gobed sendiri merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1985 yang kini dikenal sebagai MC profesional di wilayah Jawa Tengah, khususnya Banyumas Raya.

Di sela-sela reuni, para peserta secara aklamasi kembali menetapkan Sinung Nugroho sebagai Ketua Kafapet Unsoed angkatan 1985. Sinung menyatakan kesediaannya untuk kembali mengemban amanah tersebut dan berharap semangat kekeluargaan antaralumni tetap terjaga.

Ia juga menggagas adanya program iuran bulanan alumni guna meringankan biaya penyelenggaraan reuni mendatang. “Harapan saya reuni dua tahun mendatang bisa lebih ringan pembiayaannya karena sudah ditopang dari iuran rutin teman-teman,” ujarnya.

Reuni Kafapet Unsoed angkatan 1985 sendiri secara rutin digelar setiap dua tahun. Sebelumnya reuni dilaksanakan di TMII Jakarta pada 2024 dan Baturraden pada 2022. Sementara lokasi reuni berikutnya yang akan diselenggarakan 2026 masih akan dibahas lebih lanjut. (INF)

GUTLUK FOR POULTRY, GUT HEALTH SOLUTION

GutLuk, gut health solution to maximize growth performance.









ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer