-->

Featured Posts

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

ASROKH NAWAWI LANJUTKAN ESTAFET KEPEMIMPINAN GPPU

Dirjen PKH Mengukuhkan Kepengurusan GPPU 2026 - 2030 
(Foto : CR)


Di balik sepotong daging ayam yang tersaji di meja makan atau sebutir telur yang dikonsumsi jutaan masyarakat setiap pagi, terdapat mata rantai panjang yang sering kali luput dari perhatian. Sebelum ayam dipelihara peternak, sebelum pakan diberikan, bahkan sebelum kandang dipenuhi anak ayam, semuanya bermula dari satu sektor yang menjadi fondasi industri perunggasan, yakni pembibitan. Dari sektor inilah kualitas genetik, produktivitas, efisiensi, hingga keberlanjutan industri ditentukan.

Kesadaran akan pentingnya peran tersebut menjadi benang merah Kongres Ke - 14 Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang diselenggarakan di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026. Mengusung tema "Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional", forum empat tahunan ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk menegaskan kembali bahwa kekuatan sektor hulu merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri unggas Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.

Hulu Dari Industri Perunggasan

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Industri perunggasan Indonesia kini telah berkembang menjadi salah satu penyangga utama penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024 populasi ayam ras pedaging mencapai lebih dari 3,2 miliar ekor, sementara populasi ayam ras petelur mendekati 390 juta ekor. Produksi daging ayam nasional telah melampaui 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton. Besarnya angka tersebut menggambarkan betapa strategisnya industri perunggasan dalam menopang konsumsi protein nasional. Namun, di balik capaian itu terdapat satu sektor yang bekerja di balik layar, memastikan seluruh rantai produksi dapat berjalan sejak awal, yakni industri pembibitan.

Ketua Umum GPPU periode dalam 2022–2026, Achmad Dawami dalam sambutannya, menilai pembibitan tidak lagi dapat dipersepsikan sebatas kegiatan menghasilkan Day Old Chick (DOC). Menurutnya, pembibitan telah berkembang menjadi pusat pengendali kualitas industri, mulai dari pengelolaan mutu genetik, peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, hingga penguatan ketahanan terhadap penyakit.

"Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan. Di era modern, sektor pembibitan juga dituntut untuk terus beradaptasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, peningkatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan kesejahteraan hewan (animal welfare). Kemampuan industri pembibitan dalam melakukan inovasi akan sangat menentukan keberhasilan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan yang kini dihadapi industri unggas nasional. Fluktuasi harga bahan baku, meningkatnya ancaman penyakit, tuntutan efisiensi produksi, hingga semakin besarnya perhatian terhadap aspek keberlanjutan dan kesejahteraan hewan menuntut sektor pembibitan untuk terus bertransformasi. Inovasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan agar industri mampu bertahan sekaligus berkembang.

Karena itu, Kongres Ke - 14 GPPU tidak hanya menjadi forum organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Agenda yang digelar juga dirancang sebagai ruang berbagi gagasan dan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. Dalam seminar nasional yang menjadi bagian dari kongres, berbagai isu strategis dibahas secara komprehensif, mulai dari dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi pembibitan, digitalisasi sistem breeding, penguatan biosekuriti, hingga arah kebijakan pemerintah dalam membangun industri perunggasan yang lebih modern dan berkelanjutan. Pemerintah, akademisi, serta pelaku industri duduk bersama membahas bagaimana sektor hulu mampu menjawab tantangan masa depan.

Perjalanan Panjang 55 Tahun

Momentum kongres tahun ini juga menjadi penanda perjalanan panjang organisasi melalui peluncuran buku Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia. Buku tersebut merekam sejarah GPPU sejak berdiri pada 20 Desember 1970, sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan industri pembibitan nasional selama lebih dari lima dekade. Berbagai fase perkembangan industri diulas, mulai dari modernisasi pembibitan, perubahan kebijakan pemerintah, dinamika penyakit unggas, hingga berbagai inovasi yang membentuk wajah industri perunggasan Indonesia saat ini.

Suasana kongres mencapai puncaknya ketika kepengurusan GPPU periode 2026–2030 resmi dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Prosesi tersebut disaksikan pimpinan perusahaan anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan industri perunggasan nasional.

Melalui mekanisme musyawarah mufakat, peserta kongres mempercayakan kelanjutan kepemimpinan organisasi kepada Drh Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030. Dalam sambutan perdananya, ia menyadari bahwa estafet kepemimpinan yang diterimanya datang pada saat industri menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Menurutnya, perubahan iklim usaha, dinamika ekonomi global, hingga tuntutan peningkatan efisiensi akan menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota GPPU memperkuat soliditas organisasi sekaligus mempererat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri.

"Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Insya Allah, melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai dinamika yang ada, industri perunggasan nasional akan terus tumbuh dan berkembang," katanya optimistis.

Selama 55 tahun berdiri, GPPU telah berkembang menjadi organisasi yang menaungi 37 perusahaan pembibitan unggas di Indonesia. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bagaimana sektor pembibitan tidak sekadar menyediakan bibit, tetapi juga menjadi fondasi yang menopang keberhasilan seluruh mata rantai industri perunggasan nasional. Ketika sektor hulu mampu menghasilkan bibit yang sehat, unggul, dan berkualitas, maka produktivitas peternak meningkat, industri pengolahan memperoleh bahan baku yang lebih baik, dan masyarakat pun mendapatkan akses terhadap protein hewani yang aman serta terjangkau.

Dari Kongres Ke - 14 ini, satu pesan tampak mengemuka. Ketahanan pangan tidak dibangun hanya di kandang peternak atau di hilir industri pangan, melainkan dimulai sejak proses pembibitan. Di sanalah cetak biru industri perunggasan Indonesia dirancang. Selama sektor pembibitan terus mampu berinovasi, menjaga kualitas, dan memperkuat kolaborasi, ia akan tetap menjadi arsitek yang menentukan arah pembangunan perunggasan nasional pada masa-masa mendatang. (CR)

PETERNAK UNGGAS DI MAROKO DAN MESIR TERPUKUL OLEH PENURUNAN HARGA DAN RUMOR KUALITAS

Peternak unggas di Maroko dan Mesir menyuarakan kekhawatiran atas penurunan tajam harga unggas dan telur serta penurunan profitabilitas yang drastis. Masalah ini sebagian disebabkan oleh kekhawatiran kualitas yang telah menyebar di seluruh wilayah Arab selama beberapa minggu terakhir.

Asosiasi Peternak Unggas Nasional Maroko mengatakan dalam sebuah pernyataan baru-baru ini bahwa harga jual ayam broiler hidup telah turun menjadi kurang dari MAD 7 ($0,76) per kg, sementara biaya produksi saat ini berkisar antara MAD 15 ($1,62) hingga MAD 17 ($1,84) per kg. Kesenjangan yang semakin lebar antara biaya produksi dan harga pasar mengakibatkan kerugian besar bagi peternak unggas di setiap siklus produksi.

Kesulitan yang dihadapi produsen Maroko mencerminkan tantangan yang lebih luas yang muncul di seluruh industri unggas Afrika Utara, di negara tetangga Mesir.

Telur berwarna putih dan cokelat/merah saat ini dijual di peternakan dengan harga sekitar EGP 65 (US$1,26) per karton, dan sampai ke konsumen dengan harga EGP 80-85 (US$1,56 - US$1,65). Sebaliknya, telur produksi lokal dijual di peternakan dengan harga sekitar EGP 80 per karton dan dijual eceran dengan harga sekitar EGP 90 (US$1,75), seperti yang diungkapkan oleh Dr. Abdel Aziz El-Sayed, kepala divisi unggas di Federasi Kamar Dagang.

UNI EROPA TETAP MENGHAPUS BRASIL DARI DAFTAR EKSPORTIR PROTEIN HEWAN

Uni Eropa secara resmi telah mengkonfirmasi, melalui publikasi di Jurnal Resminya, pengecualian Brasil dari daftar negara yang diizinkan untuk mengekspor berbagai produk asal hewan ke blok tersebut mulai 3 September tahun ini.

Pada praktiknya, Brasil mungkin dicegah untuk mengekspor produk seperti unggas, daging sapi, daging babi, madu, ikan budidaya, kuda, dan produk lain yang ditujukan untuk konsumsi manusia ke pasar Eropa.

Pada tahun 2025, Brasil mengirimkan 233.137 ton daging ayam ke Uni Eropa, yang menempati peringkat ke-8 sebagai tujuan ekspor unggas terbesar Brasil. Di seluruh produk asal hewan, penjualan Brasil ke blok tersebut mencapai sekitar US$2 miliar tahun lalu.

Menurut Komisi Eropa, Brasil gagal memberikan, dalam batas waktu yang dipersyaratkan, informasi yang dianggap cukup untuk menunjukkan implementasi kontrol terkait tidak digunakannya antimikroba tertentu dalam rantai pasokan ekspor.

Persyaratan Eropa ini mulai terbentuk pada Oktober 2024, ketika Uni Eropa menerbitkan peraturan yang mewajibkan negara-negara pengekspor untuk memberikan jaminan formal kepatuhan terhadap aturan baru yang mengatur penggunaan antimikroba.

Langkah yang diterbitkan bulan ini mengkonsolidasikan penilaian yang dilakukan sejak saat itu dan mengkonfirmasi negara mana yang telah memenuhi persyaratan. Sebanyak 92 negara dan wilayah tetap diizinkan untuk mengekspor setidaknya 1 produk asal hewan ke Uni Eropa. Mereka termasuk mitra Mercosur seperti Uruguay, Argentina, dan Paraguay, serta negara-negara dengan sektor ekspor protein hewan yang jauh kurang mapan, termasuk Tunisia, Kenya, dan Uganda.

PRODUKSI PAKAN TERNAK SPANYOL DIPERKIRAKAN TETAP STABIL

Produksi pakan ternak di Spanyol terus meningkat, dengan produksi mencapai hampir 31 juta ton tahun lalu. Terlepas dari metode pelaporan baru dan permintaan pasar yang terus berkembang, para pemimpin industri memperkirakan produksi akan tetap stabil.

Tahun lalu, Spanyol memproduksi 30.861.800 ton pakan ternak, menurut angka dari Confederación Española de Fabricantes de Alimentos Compuestos para Animales (CESFAC). Ini merupakan peningkatan sekitar 1,7 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. CESFAC memperkirakan produksi akan tetap stabil tahun ini, dengan perkiraan total produksi sekitar 30,9 juta ton.

CESFAC, yang mewakili sekitar 750 perusahaan, mencatat bahwa angka tahun lalu tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan tahun-tahun sebelumnya karena perubahan metodologi oleh Kantor Statistik Nasional, yang diterapkan sebagai tanggapan terhadap peraturan Uni Eropa yang baru.

Di Spanyol, yang memiliki populasi babi terbesar di Uni Eropa, pakan babi menyumbang porsi terbesar dari produksi pakan ternak tahun lalu, mencapai hampir 13,4 juta ton, lebih dari 45% dari total. Meskipun produksi mencapai puncaknya di atas 14 juta ton pada tahun 2021 dan sedikit lebih rendah pada tahun berikutnya, produksi pakan babi secara umum tetap di atas 13 juta ton selama 5 tahun terakhir. Hampir 15% dari total produksi terkonsentrasi di wilayah utara Catalonia, dengan tambahan 10% berasal dari Aragon.

AFRIKA SELATAN BERGERAK MENUJU VAKSINASI FLU BURUNG UNTUK UNGGAS

Industri unggas Afrika Selatan sedang mempersiapkan pengenalan kerangka peraturan yang akan memungkinkan produsen untuk memvaksinasi kawanan unggas mereka terhadap flu burung patogenik tinggi (HPAI).

Kerangka kerja tersebut, yang disetujui oleh Departemen Pertanian pada bulan Juni, menandai pergeseran signifikan dari ketergantungan utama pada pemusnahan massal menuju strategi yang menggabungkan vaksinasi dengan biosekuriti ketat dan pengawasan penyakit.

Langkah ini menyusul keberatan resmi yang diajukan oleh Asosiasi Unggas Afrika Selatan (SAPA), yang berpendapat bahwa langkah-langkah pengendalian HPAI yang ada di negara itu tidak lagi praktis atau terjangkau. Industri mengatakan produsen telah dibiarkan tanpa pilihan hukum modern untuk mengurangi dampak wabah flu burung yang berulang.

Setelah meninjau kasus tersebut, Departemen Pertanian menyetujui amandemen Peraturan Penyakit Hewan yang memungkinkan penggunaan vaksin HPAI secara terkontrol di bawah pengawasan pemerintah. Kerangka kerja tersebut menetapkan dasar hukum untuk vaksinasi sambil mempertahankan persyaratan ketat untuk pengawasan, pengujian, dan manajemen wabah.

Pengenalan vaksinasi tidak akan menggantikan langkah-langkah pengendalian penyakit yang ada. Sebaliknya, ini akan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas yang mencakup peningkatan biosekuriti, pengawasan aktif, dan pemantauan berkelanjutan untuk flu burung.

Pihak berwenang juga menekankan pentingnya menjaga standar kesehatan hewan internasional untuk melindungi ekspor unggas Afrika Selatan. Oleh karena itu, program vaksinasi akan disertai dengan sistem pemantauan yang mampu membedakan unggas yang terinfeksi dari unggas yang divaksinasi, membantu menjaga kepercayaan di antara mitra dagang.

Sektor unggas Afrika Selatan telah mengalami beberapa wabah HPAI yang merusak dalam beberapa tahun terakhir. Epidemi tahun 2023 mengakibatkan hilangnya jutaan unggas akibat penyakit dan pemusnahan, menyebabkan kekurangan telur yang parah, mengganggu produksi unggas, dan meningkatkan harga bagi konsumen.

Kerangka kerja vaksinasi baru ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri terhadap wabah di masa mendatang dengan mengurangi ketergantungan pada pemusnahan skala besar sekaligus meningkatkan manajemen penyakit jangka panjang. Produsen unggas hanya dapat melakukan vaksinasi dalam kerangka kerja yang disetujui dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian, yang akan terus mengawasi persetujuan, pengawasan, dan kepatuhan.

INGGRIS MEMBUKA TINJAUAN BIOSEKURITI BERDANA UNTUK PETERNAKAN UNGGAS

Para produsen unggas di Inggris kini dapat mengajukan permohonan tinjauan biosekuriti berdana dari dokter hewan mereka melalui Jalur Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan (Animal Health and Welfare Pathway/AHWP).

Hal ini menyusul dibukanya jendela aplikasi pada awal Juni, yang mencakup tinjauan biosekuriti veteriner yang dilakukan di peternakan. Skema ini telah dikembangkan setelah negosiasi pemerintah/industri selama setahun terakhir.

Skema ini tersedia untuk berbagai usaha unggas yang lebih luas daripada langkah-langkah pendanaan AHWP sebelumnya. Sektor yang memenuhi syarat meliputi ayam petelur, ayam broiler, ayam indukan dan ayam muda, serta kalkun, bebek, dan angsa.

Masih ada beberapa pertanyaan mengenai ambang batas kelayakan untuk berpartisipasi, dengan beberapa sumber industri berpendapat bahwa produsen dengan jumlah unggas di bawah ambang batas saat ini juga dapat memperoleh manfaat dari akses ke tinjauan biosekuriti. Defra telah setuju untuk terus meninjau kriteria kelayakan tersebut.

Para pemohon perlu memberikan nomor CPH, nomor SBI, dan nomor registrasi unggas mereka sebelum mengatur kunjungan dokter hewan. Produsen yang menyelesaikan peninjauan dapat menerima £430 dari Defra untuk biaya kunjungan tersebut.

Máire Burnett, ketua Kelompok Kesehatan & Kesejahteraan Unggas, “Ini adalah kesempatan pertama bagi sektor unggas untuk mendapatkan manfaat dari pendanaan pemerintah di bawah Pathway sejak diperkenalkan dan mencerminkan pentingnya menjaga standar biosekuriti yang tinggi untuk melindungi kawanan unggas dari flu burung dan tantangan penyakit lainnya.”

Ia menambahkan, “Kunjungan dokter hewan yang didanai akan memberikan saran praktis yang disesuaikan untuk membantu peternak unggas mengidentifikasi dan mengatasi risiko biosekuriti spesifik lokasi, memperkuat ketahanan sektor terhadap ancaman penyakit di masa depan. Kami mendorong semua peternak unggas yang memenuhi syarat di Inggris untuk memanfaatkan kesempatan ini.”

KENAIKAN BIAYA BAHAN BAKAR DAN PAKAN MENEKAN PRODUSEN UNGGAS RUSIA

Industri unggas Rusia telah memasuki penurunan yang tak terduga, dengan kenaikan biaya bahan bakar menambah tekanan yang meningkat dari pakan, logistik, dan pinjaman yang mahal, menurut publikasi bisnis negara Izvestia.

Produksi daging unggas Rusia turun 2,1% dari tahun ke tahun dalam 5 bulan pertama tahun 2026 menjadi 2,76 juta ton berat hidup, kata publikasi tersebut, mengutip data resmi dari layanan statistik negara Rusia Rosstat. Penurunan tersebut meningkat menjadi 4% pada bulan Mei.

Produsen dan analis pasar mengatakan melemahnya profitabilitas menjadi penyebab perlambatan tersebut.

Menurut Asosiasi Daging Nasional, profitabilitas di seluruh sektor unggas menurun sekitar 1,5 kali lipat pada tahun 2025, menyebabkan banyak produsen mengalami pengurangan modal kerja. Dihadapi dengan biaya pembiayaan yang tinggi, beberapa peternakan unggas telah mengurangi produksi dan menunda rencana ekspansi.

Seorang juru bicara GAP Resurs, produsen unggas terbesar kedua di Rusia, mengatakan bahwa industri ini telah bergulat dengan biaya transportasi dan logistik yang lebih tinggi, kenaikan harga input produksi utama, dan pengeluaran tambahan yang diakibatkan oleh perubahan persyaratan peraturan.

Biaya transportasi yang lebih tinggi, bersamaan dengan melonjaknya harga bahan bakar, sering disebut sebagai alasan utama penurunan profitabilitas pada tahun 2026.

Kenaikan biaya bahan bakar terjadi ketika Rusia bergulat dengan kekurangan bahan bakar yang semakin parah yang dipicu oleh serangan pesawat tak berawak Ukraina selama berbulan-bulan terhadap kilang minyak, depot bahan bakar, dan terminal ekspor. Serangan tersebut telah melumpuhkan sebagian besar kapasitas penyulingan negara, memaksa pemerintah untuk memberlakukan penjatahan bahan bakar di beberapa wilayah.

Menurut Ekaterina Kosareva, mitra pengelola di perusahaan konsultan BMT Consult, kenaikan biaya bahan bakar kendaraan bermotor telah menjadi salah satu faktor utama yang mengikis profitabilitas sektor ini, bersamaan dengan kenaikan harga pakan dan pajak yang lebih tinggi.

BBVF PUSVETMA KAWAL PENGENDALIAN PMK NASIONAL MELALUI MONITORING PASCAVAKSINASI

Kegiatan webinar dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten. (Foto: Dok BBVF Pusvetma)

Pelaksanaan monitoring pascavaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahun 2025 oleh Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma secara nasional, mengonfirmasi efektivitas program vaksinasi di lapangan. Pengujian terhadap 3.845 sampel serum ternak di 8 provinsi menunjukkan, proporsi antibodi protektif (SP-O positif) pascavaksinasi dasar dan booster mampu bertahan optimal hingga kisaran 73%–100% pada H+56.

Capaian ini secara langsung berhasil menekan proporsi Non-Structural Protein (NSP) positif hingga tersisa 26%, membuktikan kekuatan proteksi imun dalam melindungi populasi ternak.

Dalam webinar bertajuk "Monitoring Pascavaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat (17/7/2026), Kepala BBVF Pusvetma, Drh Edy Budi Susila MSi menegaskan bahwa pemantauan pascavaksinasi adalah instrumen wajib untuk mengawal Roadmap Pengendalian dan Pembebasan PMK 2035 yang ditetapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Program vaksinasi harus didukung dengan penerapan biosecurity, biosafety, surveilans serta pengendalian lalu lintas ternak," tandas Edy. Melalui webinar ini, Pusvetma sebagai laboratorium referensi nasional PMK sekaligus produsen vaksin Aphthovet ingin memberikan pemahaman mengenai efektivitas vaksin di lapangan, serta pentingnya monitoring pascavaksinasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program pengendalian PMK.

Wabah PMK yang kembali muncul pada tahun 2022, Pusvetma bersama balai veteriner di berbagai daerah secara konsisten melakukan pemantauan terhadap sirkulasi virus PMK. Hasil sequencing yang dilakukan hingga 2026, menunjukkan bahwa virus yang beredar di lapangan adalah Serotype O/ME-SA/Ind-2001.

Webinar ini dipandu moderator Drh Indah Purnama Sari MSi selaku Medik Veteriner Ahli Madya, serta host oleh Drh Ribby Ansharieta MSi. Dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten.

Perkuat Sistem Vaksinasi

Membuka presentasinya, Dr drh Dewi Noor Hidayati MSi, Medik Veteriner Ahli Madya Pusvetma sebagai pembicara webinar menuturkan Pusvetma sebagai satu-satunya produsen vaksin PMK lokal, memiliki tanggung jawab untuk memastikan mutu vaksin tetap terjaga hingga diaplikasikan di lapangan.

"Kami ingin mengetahui bagaimana kualitas vaksin Aphthovet PMK setelah digunakan di lapangan, sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program vaksinasi yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner di daerah. Data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat sistem vaksinasi dan memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan pengendalian PMK ke depan," jelas Dewi.

PMK masih menjadi ancaman aktif, karena merupakan penyakit hewan yang sangat mudah menular (contagious) sekaligus termasuk penyakit lintas batas (transboundary animal disease).

Posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara endemis PMK membuat kewaspadaan terhadap masuknya virus maupun munculnya serotipe baru. Oleh sebab itu, perlunya ditingkatkan melalui deteksi dini dan pemantauan berkesinambungan.

Dinamika Respons Imun dan Hasil Monitoring

Lebih lanjut, Dewi memaparkan monitoring dilakukan terhadap 3.845 sampel serum yang berasal dari 62 kabupaten/kota di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-28, ke-42, dan ke-56 setelah vaksinasi dasar untuk melihat dinamika pembentukan antibodi.

Pemeriksaan serologis dilakukan menggunakan metode ELISA dengan dua parameter utama, yaitu SP-O (Structural Protein O) dan NSP (Non-Structural Protein).

Uji ELISA SP-O digunakan untuk mengetahui respons antibodi terhadap hasil vaksinasi maupun infeksi alami, sedangkan antibodi NSP menjadi indikator adanya paparan virus lapang, bukan akibat vaksinasi.

Interpretasi kedua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi efektivitas vaksin. Kombinasi hasil SP-O positif dan NSP negatif menunjukkan kondisi ideal, yaitu kekebalan terbentuk melalui vaksinasi tanpa adanya indikasi paparan virus lapang.

Pada periode kedua pelaksanaan vaksinasi, proporsi ternak dengan antibodi SP-O positif meningkat dan semakin stabil, berkisar 73-100%, sementara proporsi antibodi NSP cenderung menurun. Temuan ini membuktikan vaksinasi membentuk respons kekebalan yang baik.

Dokumentasi riwayat vaksinasi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian PMK. Data mencakup waktu vaksinasi, jenis vaksin yang digunakan, hingga identitas ternak akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas program vaksinasi dan mendukung pengambilan keputusan apabila diperlukan vaksinasi booster.

Monitoring juga memperlihatkan keberhasilan vaksinasi sangat dipengaruhi berbagai faktor di lapangan. Antara lain penyimpanan dan distribusi vaksin (cold chain), ketepatan waktu pemberian booster, teknik vaksinasi, kondisi kesehatan ternak saat divaksin, hingga biosekuriti kandang dan pengendalian lalu lintas ternak menjadi faktor yang menentukan terbentuknya kekebalan optimal.

Pusvetma menegaskan monitoring pascavaksinasi bukan sekadar kegiatan evaluasi internal, melainkan bagian dari kepentingan nasional sekaligus mendukung tahapan Progressive Control Pathway (PCP) menuju status bebas PMK. (ADV)

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

ELANCO PADUKAN INOVASI PRODUK, LAYANAN TEKNIS, DAN AKTIVITAS INTERAKTIF DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Elanco Indonesia. (Foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Berpartisipasi dalam pameran Indo Livestock yang diselenggarakan 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, PT Elanco Animal Health Indonesia menampilkan berbagai inovasi produk serta layanan melalui aktivitas interaktif menarik.

Selain memperkenalkan produk terbaru salah satunya adalah AviPro™ IB-ND C131, di ajang Indo Livestock kali ini Elanco hadir untuk dekat dengan customer dalam suasana yang lebih casual.

Pelanggan setia maupun visitors yang mengunjungi stan Elanco diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan syarat sederhana, yaitu subscribe channel YouTube dan mengikuti akun Instagram Elanco Indonesia. Setelah itu mereka dapat mengikuti permainan padel untuk memperoleh hadiah, juga menikmati suguhan kopi.

Area stan Elanco menghadirkan permainan padel bagi pengunjung untuk memenangkan merchandise menarik.

Stan Elanco mengusung konsep ruang terbuka dipadukan dekorasi ilustrasi kartun ayam yang merepresentasikan peran perusahaan dalam mendukung penyediaan pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Visual tersebut menggambarkan komitmen Elanco sebagai perusahaan yang fokus pada solusi kesehatan hewan, menjaga produktivitas ternak, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami merupakan bagian dari industri sapronak yang turut serta berperan dalam menyediakan pangan ASUH. Melalui inovasi dan solusi kesehatan hewan, kami berkomitmen berkontribusi dalam rantai produksi pangan Indonesia,” jelas Senior Manager Marketing PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Muhamad Aura Maulana.

Bukan hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri peternakan, stan Elanco menjelma sebagai ruang diskusi yang hangat dan nyaman. Elanco berhasil menciptakan pengalaman mengesankan, dengan menghadirkan ruang interaksi yang aktif dan bermakna.

Pengunjung akan mengikuti permainan interaktif di stan Elanco.

Unggulkan AviPro™ IB-ND C131

Salah satu produk yang di-highlight oleh Elanco adalah AviPro™ IB-ND C131, vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap Newcastle disease (ND) dan infectious bronchitis (IB).

Kompleksnya tantangan penyakit pernapasan pada unggas, Elanco merilis AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap ND dan IB dalam satu aplikasi.

Vaksin dirancang aman serta dapat diaplikasikan sejak DOC, tanpa menimbulkan reaksi pascavaksin yang berarti atau mengganggu performa awal ayam. “Salah satu keunggulan AviPro™ IB-ND C131 adalah kemampuannya dalam memberikan respons imun optimal, meski anak ayam masih memiliki maternal derived antibody atau MDA. Perlindungan terhadap IB dan ND dapat terbentuk sejak awal masa pemeliharaan,” jelas Aura.

Selain itu, AviPro™ IB-ND C131 mampu memberikan perlindungan hingga delapan minggu. Kombinasi tersebut membantu peternak menyederhanakan program vaksinasi, tanpa mengurangi kualitas perlindungan terhadap dua penyakit respirasi utama.

Elanco hadirkan ruang diskusi yang bermakna.

Bersiap Meluncurkan AviPro 304

Tidak hanya memperkenalkan produk yang telah tersedia, Elanco juga mengungkapkan rencana peluncuran AviPro 304, vaksin kombinasi generasi terbaru yang menjadi salah satu inovasi penting perusahaan di bidang kesehatan unggas.

Setelah memperkenalkan AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin live kombinasi untuk perlindungan dini terhadap ND dan IB, Elanco juga tengah mempersiapkan peluncuran AviPro™ 304 ND-IB-MG.

Kehadiran vaksin inaktif tiga komponen tersebut akan melengkapi portofolio AviPro™, memberikan pilihan program vaksinasi yang lebih menyeluruh bagi peternak, khususnya dalam menghadapi tantangan ND, IB, dan Mycoplasma gallisepticum (MG).

Keunggulan paling menonjol dari AviPro™ 304 adalah vaksin inaktif kombinasi yang mengandung antigen Newcastle disease (ND), Infectious Bronchitis (IB) tipe Massachusetts, dan Mycoplasma gallisepticum (MG). Kombinasi tiga antigen dalam satu vaksin memberikan kemudahan dalam program vaksinasi breeder maupun layer, sekaligus membantu meningkatkan respons antibodi terhadap ketiga agen penyakit tersebut setelah program priming menggunakan vaksin hidup yang sesuai. Peternak memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyusun program vaksinasi, sehingga interval vaksin dapat diatur lebih efisien dan optimal.

Sebagai vaksin inaktif berbasis oil emulsion, AviPro™ 304 dirancang untuk menghasilkan respons antibodi yang kuat dan mempertahankan kekebalan dalam jangka waktu yang lebih lama sebagai bagian dari program vaksinasi breeder dan layer.

Solusi Menyeluruh untuk Industri Peternakan

Kehadiran Elanco di pameran Indo Livestock 2026, menegaskan komitmennya sebagai penyedia solusi kesehatan hewan yang lengkap. Di sektor unggas, Elanco menghadirkan portofolio produk dan layanan mencakup vaksin, pengendalian penyakit usus, kesehatan saluran pencernaan, enzim, probiotik, formulasi pakan, hingga pendampingan teknis di lapangan.

“Sebagai perusahaan global pada kesehatan hewan, keikutsertaan Elanco di Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri peternakan di Indonesia,” tandas Aura.

Selama pameran berlangsung, banyak customer memanfaatkan kesempatan berkonsultasi mengenai penyusunan program vaksinasi, kasus necrotic enteritis (NE), evaluasi lesion score, intestinal integrity, formulasi nutrisi, penggunaan feed additive, hingga berbagai tantangan kesehatan unggas lainnya.

Tim technical Elanco sigap memberikan pendampingan mulai dari fase hatchery hingga ayam memasuki masa produksi. Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena solusi yang diberikan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan yang dihadapi customer.

Sementara di sektor ruminansia, Elanco juga memiliki portofolio vaksin untuk mendukung pengendalian berbagai penyakit penting, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) bermerk dagang Bioaftogen®, sehingga perusahaan terus memperkuat posisinya sebagai mitra kesehatan hewan di Tanah Air.

Menjawab Tantangan Industri Melalui Pencegahan

Di tengah tantangan industri peternakan yang dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku impor, mengambil contoh soybean meal dan berbagai komponen pakan lainnya, Elanco memandang strategi pencegahan penyakit menjadi investasi yang semakin penting bagi peternak.

Menurut Aura, ketika biaya produksi meningkat, menjaga kesehatan ternak melalui program vaksinasi yang efektif menjadi salah satu cara untuk mempertahankan produktivitas sekaligus menekan kerugian akibat penyakit.

Elanco terus memperkuat posisi dan portofolio produk pencegahan sebagai bagian dari solusi jangka panjang bagi industri peternakan di Indonesia. (ADV)

PAGAR VIRTUAL TIDAK MENGUBAH PERILAKU SAPI

Pagar virtual dapat membuat peternakan sapi lebih fleksibel, efisien, dan ramah hewan. Sebuah studi terbaru oleh Universitas Göttingen menunjukkan bahwa sapi tidak menunjukkan perilaku yang berbeda dengan pagar virtual dibandingkan dengan pagar tradisional. Hal ini secara signifikan mengurangi kekhawatiran umum mengenai kesejahteraan hewan yang terkait dengan pagar virtual.

Dengan pagar virtual, sapi pertama-tama menerima sinyal akustik ketika terlalu dekat dengan pagar, diikuti oleh kejutan ringan jika batas dilanggar.

Semua jenis pagar memengaruhi perilaku sapi. Begitu hewan mendekati pagar fisik atau virtual, mereka melambat; mereka tahu persis seberapa jauh mereka dapat pergi.

Dalam studi ini, kelompok sapi muda tetap lebih jauh dari pagar virtual daripada dari pagar fisik. Kelompok kontrol dengan pagar tradisional mendekati batas jauh lebih cepat. Dalam 97,9% kasus, sapi muda dalam kelompok uji merespons sinyal akustik ketika mereka terlalu dekat dengan tepi padang rumput mereka. Studi sebelumnya di luar negeri melaporkan angka 68% hingga 72% setelah periode pelatihan sekitar 4 minggu.

Waktu yang dihabiskan untuk bergerak, merumput, dan beristirahat tersebar di seluruh padang rumput. Sapi lebih aktif di dekat pagar, sedangkan istirahat terutama terjadi di tengah padang rumput.

Pilihan untuk berbaring lebih jauh dari pagar virtual mungkin dipicu oleh sinyal akustik yang diterima sapi ketika mendekati batas terlalu dekat.

Waktu berbaring harian (8-11 jam) untuk kelompok sapi muda dengan pagar virtual tidak berbeda dari kelompok kontrol. Lebih lanjut, pagar virtual menghasilkan distribusi spasial yang lebih merata dari sapi yang merumput di sekitar pagar.

GELOMBANG PANAS DI EROPA MENURUNKAN PRODUKSI SUSU, DAMPAK TERBESAR DI BELGIA, PRANCIS, DAN JERMAN

Para pengolah susu Belanda mulai memperhatikan sedikit penurunan pasokan susu akibat gelombang panas. Di Vreugdenhil, penurunan volume sejauh ini minimal. Namun, penurunan kadar lemak dan protein menandakan penurunan produksi susu secara keseluruhan yang akan datang.

Pengiriman susu ke pabrik tertinggal beberapa hari dari produksi susu sebenarnya, karena susu dikumpulkan setiap 3 hari sekali. Vreugdenhil menyatakan bahwa para peternak sapi perah memastikan iklim kandang yang baik dan menyediakan pakan tambahan yang tepat untuk sapi-sapi tersebut.

FrieslandCampina mengamati penurunan produksi susu yang lebih tajam dari biasanya, meskipun belum siap untuk menetapkan persentase spesifiknya. Namun, perusahaan telah mencatat perubahan tingkat keparahan dampak terkait panas dalam beberapa tahun terakhir, penurunan produksi yang disebabkan oleh panas kurang terasa dibandingkan di masa lalu.

Hal ini disebabkan oleh langkah-langkah yang diambil oleh para peternak sapi perah, seperti memasang kipas angin dan sistem penyemprotan kabut serta meningkatkan isolasi kandang. Langkah-langkah ini terbukti efektif. FrieslandCampina juga mengamati para peternak sapi perah menyesuaikan praktik penggembalaan mereka, banyak yang sekarang membiarkan sapi mereka merumput di malam hari dan mengurung mereka di kandang pada siang hari. Koperasi susu menyambut baik pendekatan ini dan tentu saja tidak merekomendasikan penggembalaan di siang hari pada hari-hari terpanas.

Panas tampaknya lebih memukul peternakan sapi perah di beberapa negara Eropa. Di Belgia, beberapa peternak telah melihat produksi turun hingga 25% atau lebih. Peternak sapi perah Damien Van Rompu mengelola peternakan dengan 120 sapi di Genappe, Wallonia. Sebelum gelombang panas melanda, mereka menghasilkan 3.500 liter susu setiap hari. "Sekarang, dengan panas yang intens, kami turun di bawah 3.000 liter, mungkin bahkan turun hingga 2.500 liter dalam beberapa hari mendatang. Itu merupakan kerugian pendapatan yang signifikan," kata peternak tersebut.

PERUSAHAAN SWISS MENGEMBANGKAN PEMECAH METANA UNTUK UDARA KANDANG TERNAK

Sebuah perusahaan rintisan Swiss telah mengembangkan teknologi untuk menetralkan metana yang dilepaskan di kandang ternak.

Perusahaan teknologi iklim Sixteen44 telah mengembangkan reaktor plasma yang dapat menetralkan metana di lingkungan dengan konsentrasi gas rendah, seperti kandang ternak. Menurut perusahaan tersebut, reaktor dapat mengubah 60-70% metana yang ada di udara kandang menjadi uap air dan karbon dioksida.

Teknik pengurangan metana yang dikenal hingga saat ini, serta metode yang berpotensi menjanjikan seperti penggunaan bakteri atau oksidasi termal, bekerja buruk atau tidak sama sekali pada konsentrasi metana rendah, seperti yang ditemukan di udara kandang.

Perusahaan Swiss ini berfokus pada kemitraan komersial dengan peternak. Model bagi hasil berdasarkan sertifikat CO₂ sedang dibentuk. Tujuannya adalah untuk menangkap 1 juta ton metana pada tahun 2035 menggunakan reaktor plasma. Hal ini akan dilakukan tidak hanya di Swiss, tetapi juga di negara lain.

AZERBAIJAN LUNCURKAN PROGRAM UNTUK MENCAPAI SWASEMBADA UNGGAS 100%

Azerbaijan meluncurkan program besar untuk memperluas industri unggasnya, memperkenalkan mekanisme subsidi baru untuk meningkatkan produksi daging ayam dan telur dalam negeri.

Inisiatif baru ini merupakan bagian dari Program Negara untuk Pengembangan Produksi dan Pengolahan Pertanian, Perikanan dan Akuakultur untuk tahun 2026–2030, yang baru-baru ini dimulai oleh komite kebijakan pertanian parlemen Azerbaijan.

Menurut Rashad Huseynov, direktur Pusat Penelitian Agraria, program ini menargetkan peningkatan produksi daging unggas sebesar 30% dan peningkatan produksi telur sebesar 27% hingga akhir dekade ini. Tujuan pemerintah adalah untuk meningkatkan swasembada daging unggas negara dari tingkat saat ini sekitar 80% menjadi 100%.

Langkah-langkah dukungan yang direncanakan meliputi subsidi untuk pembelian peralatan, kompensasi untuk suku bunga pinjaman, dan dukungan negara untuk kegiatan peternakan. Untuk pertama kalinya, Azerbaijan juga berencana untuk memperkenalkan subsidi untuk telur tetas dan produk peternakan lainnya, sambil mengatasi masalah penggunaan lahan yang dihadapi oleh peternakan unggas.

Sektor unggas Azerbaijan telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, tetapi negara ini masih bertujuan untuk memperkuat rantai pasokan domestik. Pada tahun 2025, perusahaan unggas menghasilkan sekitar 85.100 ton daging unggas dan lebih dari 1,19 miliar telur, sementara total produksi telur nasional mencapai sekitar 2,34 miliar unit, naik 1,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

ESTONIA INGIN MEMPERSIAPKAN INDUSTRI UNGGASNYA UNTUK PERANG DI TELUK FINLANDIA

Pemerintah Estonia sedang mempertimbangkan rencana untuk berinvestasi dalam penetasan unggas untuk melindungi industri dari pandemi baru atau konflik militer di wilayah tersebut.

Estonia berupaya memperkuat ketahanan pangan domestik setelah para produsen memperingatkan bahwa industri unggas negara itu dapat runtuh dalam beberapa minggu jika perbatasan ditutup karena krisis besar atau konflik militer dengan Rusia, menurut Postimees, sebuah publikasi lokal.

Saat ini negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada impor untuk bagian penting dari produksi unggas: telur tetas dipasok dari Denmark, sementara anak ayam ditetaskan di Finlandia dan dikirim ke peternakan Estonia pada usia satu hari. Tanpa pengiriman ini, produsen lokal akan dengan cepat kehilangan kemampuan untuk membesarkan generasi baru ayam broiler dan ayam petelur, kata publikasi tersebut.

“Jika perbatasan ditutup karena pandemi atau konflik militer, produsen telur dan unggas Estonia akan kekurangan anak ayam karena kami tidak memiliki penetasan sendiri,” kata seorang perwakilan industri.

Kerentanan tersebut menjadi jelas selama pandemi Covid-19, ketika negara-negara termasuk Polandia dan Finlandia membatasi penyeberangan perbatasan.

IKUTI WEBINAR MONITORING PASCA VAKSINASI PMK TAHUN 2025

BBVF PUSVETMA akan menyelenggarakan webinar bertema "Monitoring Pasca Vaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat, 17 Juli 2026, pukul 08.00 - selesai.

  • Pembicara: Dr drh Dewi Noor Hidayati, MKes, Medik Veteriner Ahli Madya, Ketua Tim Kerja Pengembangan Produk.
  • Moderator: drh Indah Purnama Sari, MSi, Medik Veteriner Ahli Madya.
  • Host: drh Ribby Ansharieta, MSi, Medik Veteriner Ahli Pertama.

Webinar ini gratis, terbuka untuk umum, bisa diikuti via Zoom dengan ID Meeting: 303 281 1056, Password: PMK2025.

CLARIANT PERKUAT KUALITAS PAKAN LEWAT INOVASI CLAY MINERAL DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Clariant bersama IMCD Indonesia. (Foto-foto: Infovet/NDV)

Keikutsertaan PT Clariant Adsorbents Indonesia di pameran Indo Livestock yang berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, menyedot perhatian pengunjung. Selain booth yang ramai pengunjung, technical seminar yang diadakan Clariant juga mendapatkan antuasisme tinggi dari peserta.

Mengusung “Inovasi Penggunaan Clay Mineral dalam Industri Peternakan”, seminar eksklusif Clariant berlangsung di Teater 3 NICE PIK 2, di hari kedua Indo Livestock Rabu, (17/6).

“Kami cukup surprised, tidak menduga pengunjung booth Clariant akansebanyak ini. First time kami membuka booth di ajang Indo Livestock, luar biasa senang bisa berinteraksi langsung dengan para customer,” ungkap Regional Manager Asia Pacific for Feed Business Clariant Adsorbents, Erika Kusuma Wardani, ditemui Infovet pada Selasa (16/6).

Erika mengemukakan, pameran peternakan berskala internasional seperti Indo Livestock membuka banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri, salah satunya untuk membuka kesempatan mendapatkan peluang bisnis.

“Kami juga menjadikan ajang pameran untuk branding, awareness, dan berbagi ilmu tentang clay. Kegiatan ini juga semakin relevan seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat,” imbuhnya.

Dalam IDL 2026, Clariant menggandeng salah satu distributor yaitu PT IMCD Indonesia. Business Development Manager Animal Health Division PT IMCD Indonesia, Edy Chandra dan Rizal Iqhbal Putra melihat prospek bisnis toxin binder terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya perhatian industri terhadap kualitas pakan.

Clariant & IMCD Indonesia team berinteraksi langsung dengan customer.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

Clay Specialist

Memiliki pengalaman panjang dan keahlian mendalam dalam pengembangan solusi berbasis clay, Clariant menghadirkan produk toxin binder untuk menjawab kebutuhan industri peternakan modern.

Produsen clay terbesar di dunia ini berpengalaman sudah 30 tahun lebih di Indonesia, mengelola 39 tambang clay di seluruh dunia, serta memiliki 57 jenis clay yang dipasarkan di seluruh dunia, sementara untuk Asia Pacific saat ini telah dipasarkan ke 14 negara.

Perbedaan dan jenis-jenis bentonit.

Clariant tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pemahaman ilmiah mengenai karakteristik clay dan kemampuannya mengikat mikotoksin secara efektif. Melalui pendekatan ini, Clariant berkomitmen membantu industri peternakan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pakan yang lebih aman.

Tantangan industri peternakan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, kualitas pakan menjadi fondasi utama dalam menjaga performa dan kesehatan ternak.

Keberhasilan program kesehatan ternak selain pengaplikasian vaksinasi atau manajemen pemeliharaan, juga bergantung dari pemberian pakan yang aman dan berkualitas.

Pakan yang terkontaminasi mikotoksin dapat menurunkan konsumsi pakan, mengganggu fungsi organ, melemahkan sistem imun, hingga menyebabkan respons vaksinasi menjadi tidak optimal.

“Mikotoksin sering menjadi penyebab utama nutrisi dalam pakan tidak terserap sempurna. Hal ini mengganggu sistem imun dan dampaknya efektivitas vaksinasi berpotensi tidak tercapai secara optimal,” ujar Erika.

Sebagai penyedia utama produk khusus berbasis clay, antara lain bentonite, attapulgite, zeolite, saponite, kerolite, sepiolite, dan lainnya; Clariant memberikan solusi dalam meningkatkan kualitas pakan ternak melalui lini produk toxin binder. Secara selektif menargetkan mikotoksin dengan tetap mempertahankan nutrisi pakan yang penting.

Berbeda dengan banyak produk toxin binder yang masih bergantung pada bahan baku impor, Clariant mengembangkan solusi berbasis sumber daya lokal yang dipadukan dengan pengalaman global dalam teknologi adsorben mineral.

Seminar Clay Mineral

Foto bersama peserta seminar.

Sesi seminar Clariant menghadirkan pembicara yakni Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan peneliti Mycotoxin Research Group Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ika Sumantri, S.Pt. M.Si. M.Sc. Disusul dengan pemaparan materi dari Erika Kusuma Wardani.

Mengawali materi presentasinya, Prof Ika menyebutkan jamur tumbuh optimal pada suhu 25-37°C dengan kelembapan 80-85%. Kemudian produksi mikotoksin meningkat pada lingkungan yang cenderung basa (alkali).

Prof Ika menerangkan alur perpindahan mikotoksin sedari pakan terkontaminasi kemudian dimakan ternak hingga menimbulkan residu yang masuk ke susu, telur, daging yang dikonsumsi manusia.

Menurutnya, mikotoksin bukan sekadar persoalan kualitas pakan, melainkan ancaman yang memengaruhi kesehatan ternak, produktivitas, hingga keamanan pangan. Dalam kondisi iklim tropis seperti Indonesia, pengendalian mikotoksin harus dilakukan secara preventif melalui peningkatan kualitas pakan, penyimpanan, dan penerapan manajemen peternakan yang baik, serta penggunaan toxin binder berbasis clay yang tepat.

Sementara Erika menjelaskan bahwa kemampuan bentonit dalam mengikat mikotoksin dipengaruhi kualitas mineralnya. Bentonit dengan luas permukaan yang lebih besar, volume mikro pori yang tinggi, serta struktur pori yang optimal memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik terhadap mikotoksin.

Erika menggarisbawahi bahwa toxin binder yang baik tidak hanya efektif mengikat toksin, tetapi juga harus tetap menjaga ketersediaan nutrisi bagi ternak.

Rangkaian produk Clariant di antaranya Toxisorb™, Bentomax™, dan Terrana™ hadir sebagai solusi pengikat multitoksin berbasis clay mineral 100% alami.

Bentomax™ tampil sebagai solusi mycotoxin binder yang tak tertandingi. Diformulasikan dari kalsium bentonit pilihan berkualitas tinggi hanya menargetkan mycotoxin tanpa menyerap nutrisi pakan, sehingga nilai gizi tetap terjaga optimal, dan pastinya terjual dengan harga yang affordable.

Hasil pengujian menunjukkan Toxisorb™ Premium mampu bekerja sinergis dengan enzim fitase dalam meningkatkan pelepasan fosfor dari asam fitat.

Lebih lanjut, Erika mengungkapkan bahwa Toxisorb™ Premium juga memiliki kemampuan mengadsorpsi endotoksin yang dihasilkan bakteri gram-negatif. Kemampuan ganda ini menjadi nilai tambah di tengah tantangan peternakan modern, ketika kualitas bahan baku pakan semakin dipengaruhi perubahan iklim dan risiko kontaminasi.

Fungsi tambahan Toxisorb™ Premium dalam mengadsorpsi endotoksin ini menunjukkan bahwa produk tidak hanya berperan sebagai toxin binder, tetapi juga mendukung kesehatan saluran pencernaan ternak. (ADV)

PARA PRODUSEN TANAMAN PANGAN SKOTLANDIA DIDESAK UNTUK MENANAM LEBIH BANYAK TANAMAN PROTEIN INGGRIS UNTUK MENGIMBANGI IMPOR KEDELAI

Perusahaan unggas terkemuka Inggris, 2 Sisters Food Group, menyerukan kepada para petani tanaman pangan Skotlandia untuk membantu memenuhi meningkatnya permintaan rapeseed, kacang-kacangan, dan kacang polong, karena bisnis tersebut mempercepat pergeseran besar dari kedelai impor sebagai bagian dari perjalanannya menuju Net Zero pada tahun 2035.

Upaya menuju diversifikasi ini mengikuti pengumuman keberlanjutan yang signifikan oleh produsen makanan Inggris pada April 2026, yang menetapkan rencana untuk mengurangi jejak karbon pakan unggas dengan mengganti tepung kedelai impor dengan tanaman protein yang ditanam di Inggris.

Langkah ini merupakan investasi besar dalam pertanian Inggris dan peluang jangka panjang bagi para petani tanaman pangan. Dalam strategi 'Nextgen'-nya, 2 Sisters mengumumkan rencana untuk:

  • Mengambil langkah besar pertama menuju pencapaian Net Zero pada tahun 2035.
  • Mengurangi jejak karbon tepung kedelai yang digunakan dalam semua pakan unggas (termasuk ayam dengan kesejahteraan yang lebih tinggi) sekitar 70%.
  • Mengakhiri penggunaan tepung kedelai pada ayam yang dipelihara di Skotlandia pada tahun 2027.
  • Mengurangi ketergantungan pada tepung kedelai impor sebesar 23% dibandingkan dengan tingkat tahun 2012.
  • Membangun pengurangan jejak karbon sebesar 15% yang telah dicapai dengan menggunakan bahan-bahan Inggris.
  • Memberikan suntikan dana yang signifikan ke dalam pertanian Inggris, memperkuat ketahanan pangan secara keseluruhan.

Sebagai bagian dari transisi, 2 Sisters telah mengembangkan kembali pakan unggasnya untuk mengganti hampir seperempat (23%) tepung kedelai impor dengan rapeseed, kacang-kacangan, dan kacang polong yang ditanam di Inggris, membeli sekitar 150.000 ton per tahun dari petani Inggris dan menyuntikkan £50 juta setiap tahun ke dalam ekonomi pertanian.

KEMATIAN MASSAL AKIBAT PANAS EKSTREM DI PETERNAKAN UNGGAS PRANCIS

Sejumlah besar ayam baru-baru ini mati di peternakan unggas di Prancis karena panas. Suhu di negara itu, yang berada di pusat cuaca ekstrem, naik hingga jauh di atas 40°C minggu lalu.

Menurut Reuters, organisasi unggas Prancis ANVOL melaporkan bahwa 2 wilayah unggas utama negara itu, Brittany dan Pays de la Loire, telah paling parah terkena dampak kematian berlebih. Ketua ANVOL Yann Nedelec mengatakan kepada Reuters bahwa perkiraan menunjukkan setidaknya beberapa ratus ribu ayam telah mati karena panas.

Seorang peternak unggas Prancis dari kota pesisir Beauvoir-sur-Mer (di wilayah Pays de la Loire) mengatakan kepada media berita ekonomi Prancis BFMbusiness bahwa ia merasa tak berdaya sementara hewan-hewan di peternakannya mati. Ia telah memasang kipas tambahan untuk menjaga agar udara tetap bergerak, tetapi tidak ada yang mampu mengatasi suhu di atas 40 derajat.

Peternak tersebut memelihara ayam sesuai dengan konsep Label Rouge Prancis, ayam yang tumbuh lambat dengan akses ke luar ruangan, di 4 kandang, masing-masing menampung 4.400 ekor hewan. Selain itu, ia juga memelihara 35.000 burung puyuh. Ayam-ayam tersebut mati baik di dalam maupun di area luar ruangan di antara pepohonan. Ia memperkirakan bahwa setengah dari ayam-ayamnya kini telah mati, dan persentase yang sedikit lebih rendah untuk burung puyuh.

PENTINGNYA UNDANG-UNDANG KEDOKTERAN HEWAN DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya hayati yang sangat besar. Populasi ternak yang mencapai ratusan juta ekor, satwa liar dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, serta meningkatnya jumlah hewan kesayangan menjadikan sektor kesehatan hewan memiliki posisi yang sangat strategis. Dalam beberapa dekade terakhir, tantangan yang dihadapi tidak lagi sebatas penyakit hewan, tetapi juga ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia (zoonosis), keamanan pangan asal hewan, kesejahteraan hewan, perdagangan internasional, hingga ancaman resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR).

Ironisnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki Undang-Undang Kedokteran Hewan yang secara khusus mengatur profesi dokter hewan beserta penyelenggaraan praktik kedokteran hewan secara komprehensif. Berbagai pengaturan masih tersebar dalam sejumlah undang-undang, seperti Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Undang-Undang Kesehatan, Undang-Undang Pemerintahan Daerah, dan berbagai peraturan turunannya. Kondisi tersebut menyebabkan adanya kekosongan norma dalam pengaturan profesi, kewenangan, perlindungan hukum, serta standar pelayanan kedokteran hewan.

Oleh karena itu, kehadiran Undang-Undang Kedokteran Hewan merupakan kebutuhan mendesak bagi Indonesia. Undang-undang ini bukan hanya untuk kepentingan profesi dokter hewan, tetapi merupakan instrumen penting dalam melindungi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan hewan, serta mendukung pembangunan nasional berbasis konsep One Health.

Melindungi Kesehatan Masyarakat dari Ancaman Zoonosis

Lebih dari 60% penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan. Bahkan sekitar 75% penyakit infeksi baru (emerging infectious diseases) berasal dari hewan. Pandemi COVID-19 semakin menyadarkan dunia bahwa kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan.

Indonesia juga pernah menghadapi berbagai penyakit zoonosis seperti: rabies, flu burung (avian influenza), anthraks, leptospirosis, brucellosis, Japanese encephalitis, nipah virus, penyakit mulut dan kuku (PMK) yang berdampak luas terhadap sektor peternakan.

Dokter hewan merupakan garda terdepan dalam mendeteksi, mencegah, mengendalikan, dan memberantas penyakit tersebut.

Melalui Undang-Undang Kedokteran Hewan akan diatur secara jelas kewenangan dokter hewan, sistem pelaporan penyakit, tanggung jawab profesional, standar pelayanan kesehatan hewan, koordinasi lintas sektor. Dengan demikian, respons terhadap wabah dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif.

Menjamin Keamanan Pangan Asal Hewan

Masyarakat setiap hari mengonsumsi produk asal hewan seperti daging, susu, telur, ikan, madu, serta berbagai produk olahan. Seluruh produk tersebut harus memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, halal (ASUH). Keamanan pangan tidak dapat dilepaskan dari kesehatan hewan.

Dokter hewan memiliki peran penting dalam pemeriksaan kesehatan ternak, pengawasan rumah potong hewan, pemeriksaan ante-mortem dan post-mortem, pengawasan residu obat, pengawasan penyakit, sertifikasi kesehatan hewan.

Tanpa regulasi yang kuat, pengawasan keamanan pangan akan menjadi lemah sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan pangan (foodborne disease). Undang-Undang Kedokteran Hewan akan mempertegas tanggung jawab dokter hewan dalam menjamin keamanan pangan sejak dari peternakan hingga meja makan (farm to table).

Memberikan Kepastian Hukum bagi Praktik Kedokteran Hewan

Profesi dokter hewan merupakan profesi kesehatan yang memiliki tanggung jawab besar terhadap kehidupan hewan dan keselamatan masyarakat. Namun hingga kini masih terdapat berbagai persoalan seperti praktik tanpa kompetensi, pelayanan kesehatan hewan oleh pihak yang tidak berwenang, belum adanya standar nasional praktik, perlindungan hukum dokter hewan yang belum memadai.

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memberikan kepastian mengenai, registrasi dokter hewan, izin praktik, standar kompetensi, pendidikan profesi berkelanjutan, disiplin profesi, kode etik, perlindungan hukum, penyelesaian sengketa profesi. Hal tersebut akan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Mendukung Pendekatan One Health

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), FAO, dan UNEP telah mendorong seluruh negara menerapkan konsep One Health. One Health menekankan bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Indonesia membutuhkan dasar hukum yang mampu memperkuat kolaborasi antara dokter, dokter hewan, tenaga kesehatan masyarakat, epidemiolog, ahli lingkungan, pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha. Undang-Undang Kedokteran Hewan menjadi salah satu pilar utama dalam implementasi One Health di Indonesia.

Meningkatkan Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare)

Masyarakat kini semakin peduli terhadap kesejahteraan hewan. Prinsip Five Freedoms maupun Five Domains telah menjadi standar internasional. Kesejahteraan hewan mencakup pemeliharaan, transportasi, perdagangan, penelitian, pertunjukan, pemotongan, penanganan bencana.

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat implementasi kesejahteraan hewan melalui pengawasan dokter hewan yang profesional. Hal ini juga menjadi syarat penting dalam perdagangan internasional.

Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Peternakan merupakan salah satu sektor strategis dalam penyediaan protein hewani. Produktivitas ternak sangat dipengaruhi oleh kondisi kesehatan hewan. Apabila penyakit hewan tidak terkendali, maka akan terjadi penurunan produksi, kematian ternak, kerugian ekonomi, kenaikan harga pangan, terganggunya pasokan nasional.

Pengalaman wabah PMK menunjukkan bahwa penyakit hewan mampu menimbulkan kerugian ekonomi hingga puluhan triliun rupiah. Dengan Undang-Undang Kedokteran Hewan, sistem kesehatan hewan akan menjadi lebih kuat sehingga ketahanan pangan nasional semakin terjamin.

Mendukung Daya Saing Produk Peternakan Indonesia

Perdagangan internasional semakin menuntut adanya jaminan kesehatan hewan. Negara tujuan ekspor mengharuskan adanya sertifikat kesehatan, sistem surveilans, biosekuriti, traceability, animal welfare, pengawasan veteriner. Tanpa sistem veteriner yang kuat, produk Indonesia akan sulit bersaing di pasar internasional. Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat kredibilitas sistem veteriner Indonesia sehingga meningkatkan daya saing ekspor.

Menghadapi Ancaman Resistensi Antimikroba (AMR)

AMR merupakan ancaman global. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat pada hewan dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal. Akibatnya pengobatan menjadi sulit, biaya kesehatan meningkat, angka kematian bertambah.

Dokter hewan memiliki peran penting dalam penggunaan antibiotik secara bijaksana (Prudent Use of Antimicrobials). Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memperkuat pengawasan penggunaan obat hewan dan antibiotik sehingga mendukung program nasional pengendalian AMR.

Memperkuat Sistem Penanggulangan Bencana Biologis

Indonesia rentan terhadap munculnya penyakit hewan eksotik maupun penyakit lintas negara. Ancaman dapat berasal dari perdagangan internasional, perubahan iklim, migrasi satwa liar, lalu lintas hewan. Undang-undang akan memperkuat sistem kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi ancaman biologis.

Memberikan Perlindungan Hukum kepada Dokter Hewan

Dalam menjalankan tugas profesional, dokter hewan sering menghadapi risiko hukum. Belum adanya regulasi yang komprehensif menyebabkan perlindungan profesi menjadi lemah. Undang-Undang Kedokteran Hewan akan memberikan kepastian hukum, standar profesi, mekanisme disiplin, perlindungan terhadap tindakan sesuai standar profesi. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan veteriner.

Memperjelas Peran Pemerintah dan Organisasi Profesi

Undang-Undang Kedokteran Hewan akan mengatur pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan lembaga terkait. Kejelasan peran ini akan menghindari tumpang tindih kebijakan serta meningkatkan efektivitas penyelenggaraan kesehatan hewan nasional.

Mendukung Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan

Kesehatan hewan berkontribusi langsung terhadap pencapaian berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain menghapus kelaparan, meningkatkan kesehatan masyarakat, mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Dengan demikian, Undang-Undang Kedokteran Hewan menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

Penutup

Undang-Undang Kedokteran Hewan bukanlah sekadar regulasi untuk mengatur profesi dokter hewan. Lebih dari itu, undang-undang ini merupakan fondasi bagi sistem kesehatan hewan nasional yang modern, profesional, dan berdaya saing. Kehadirannya akan memperkuat perlindungan masyarakat dari ancaman zoonosis, menjamin keamanan pangan asal hewan, meningkatkan kesejahteraan hewan, mendukung implementasi One Health, mengendalikan resistensi antimikroba, serta memperkokoh ketahanan pangan dan perekonomian nasional.

Dalam era globalisasi, perubahan iklim, meningkatnya mobilitas manusia dan hewan, serta munculnya berbagai penyakit baru, Indonesia memerlukan sistem veteriner yang kuat dan memiliki landasan hukum yang jelas. Oleh sebab itu, pengesahan Undang-Undang Kedokteran Hewan harus menjadi prioritas nasional. Undang-undang ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan masyarakat, kemajuan sektor peternakan, perlindungan profesi dokter hewan, dan terwujudnya Indonesia yang sehat, aman, berdaulat, serta mampu bersaing di tingkat global. (Rilis)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer