-->

Featured Posts

NOBLE FOODS MENGUJI TEKNOLOGI AKUSTIK UNTUK MEMANTAU KESEJAHTERAAN AYAM PETELUR

Noble Foods telah meluncurkan proyek perintis di tingkat peternakan untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi akustik dapat digunakan guna memahami, memantau, dan meningkatkan kesejahteraan ayam petelur dengan lebih baik. Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan hewan berbasis bukti nyata dalam industri produksi telur di Inggris.

Proyek ini terlaksana berkat keberhasilan pengajuan pendanaan kepada Innovate UK (lembaga inovasi nasional Inggris) yang dipimpin oleh Emily Marshall, manajer keberlanjutan pertanian di Noble Foods. Pendanaan tersebut mendukung uji coba berbasis riset selama dua tahun, yang dirancang untuk menguji bagaimana teknologi pertanian (agri-tech) terkini dapat diterapkan secara praktis, kredibel, dan dalam skala luas di lingkungan peternakan ayam petelur komersial.

Dikembangkan melalui kemitraan dengan spesialis teknologi pertanian, AgriSound dan Aviasenze, serta dilaksanakan di sebuah peternakan ayam sistem lepas (free-range) yang beroperasi di East Yorkshire, proyek ini akan menguji sistem pemantauan kesejahteraan berbasis akustik yang dirancang khusus untuk ayam petelur. Ini merupakan penerapan pertama dari jenisnya di sektor produksi telur Inggris.

Selain uji coba pada sistem lepas (free-range), Noble Foods juga menguji teknologi ini di salah satu fasilitas peternakan ayam sistem kandang tertutup (barn). Evaluasi sistem di kedua lingkungan pemeliharaan ini akan membantu menentukan bagaimana pemantauan akustik dapat digunakan untuk memahami kesejahteraan unggas dengan lebih baik di berbagai kondisi, sekaligus memberikan wawasan berharga mengenai perilaku kawanan ayam, pengaruh lingkungan, dan indikator kesejahteraan. Tujuannya adalah memastikan bahwa temuan dari proyek ini relevan bagi berbagai model produksi telur di Inggris.

Teknologi ini menganalisis lanskap suara di dalam kandang unggas dengan menggunakan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengidentifikasi pola dalam vokalisasi dan aktivitas kawanan ayam. Pola-pola tersebut dapat menjadi indikator adanya perubahan dalam perilaku, kesehatan, atau kondisi lingkungan. Tujuannya adalah memberikan wawasan berbasis data yang lebih dini kepada tim peternakan, sehingga mereka dapat melakukan pengelolaan kesejahteraan secara proaktif, melengkapi praktik pemeliharaan ternak konvensional.

Proyek ini berupaya mengeksplorasi bagaimana pemantauan kesejahteraan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menghadirkan wawasan berkelanjutan yang bersifat non-invasif, yang diperoleh langsung dari unggas itu sendiri. Dengan mengamati perilaku kawanan unggas secara waktu nyata (real-time), para mitra berharap dapat lebih memahami bagaimana perubahan dalam lingkungan, manajemen, atau kesehatan dapat terdeteksi sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Di dalam tim proyek, teknologi ini dijuluki sebagai ‘Happy-o-Meter’ (alat pengukur kebahagiaan) karena fokusnya dalam membantu para peternak agar lebih memahami indikator kesejahteraan unggas. Meskipun uji coba ini berlandaskan pada sains dan pengumpulan bukti yang kuat, penamaan informal tersebut mencerminkan ambisi untuk lebih memerhatikan ayam dan mempelajari apa yang dapat diungkapkan oleh perilaku mereka mengenai kesejahteraan mereka.

Noble Foods menegaskan bahwa proyek ini bukanlah solusi final atau jawaban tunggal untuk tantangan kesejahteraan, melainkan sebuah uji coba berbasis pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan bukti, menguji asumsi, dan menjadi landasan bagi pemikiran di masa depan.

Melalui kerja sama dengan mitra teknologi, para peternak, dan Innovate UK, perusahaan tersebut berharap hasil dari proyek ini dapat membantu membentuk diskusi yang lebih luas mengenai pemantauan kesejahteraan, penerapan teknologi pertanian (agri-tech), serta transparansi di seluruh industri telur di Inggris. Temuan dari uji coba tersebut akan ditinjau selama periode dua tahun dan dibagikan kepada para produsen serta pemangku kepentingan industri, guna membantu mengidentifikasi aspek-aspek di mana pemantauan akustik dapat memberikan nilai tambah dan aspek-aspek yang memerlukan pengembangan lebih lanjut.

SEKTOR UNGGAS JERMAN MERANGKUL GEN Z

Berlawanan dengan anggapan umum, di Jerman Gen Z sering memasak makanannya sendiri dan sebagian besar dari mereka mengonsumsi daging. Bagi lebih dari separuh kelompok ini, daging unggas menjadi pilihan utama.

Tren nutrisi utama di kalangan generasi muda Jerman adalah protein. Di antara berbagai sumber protein, telur dan daging unggas menempati posisi teratas, diikuti oleh produk susu, bubuk protein, daging sapi, dan ikan.

Temuan ini merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh Civey atas nama Zentralverband der Deutschen Geflügelwirtschaft e.V. (ZDG), organisasi industri perunggasan Jerman.

Di rentang usia 16 hingga 29 tahun, 1 dari 2 orang memasak untuk diri mereka sendiri setiap hari, 71% mengonsumsi makanan secara sadar, 83% responden rutin menyantap daging, dan bagi sebagian besar dari mereka, protein adalah komponen yang wajib ada.

Daging dan makanan nabati sering kali disajikan bersama dalam satu hidangan. Hanya sekitar 1 dari 9 orang yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan (11%).

Terkait pemilihan jenis daging, para responden memiliki preferensi yang jelas: 52% memilih daging unggas, 23% daging sapi, dan 15% daging babi. Preferensi terhadap daging unggas terlihat sangat menonjol di kalangan perempuan, dengan 57% memilih daging unggas dibandingkan 19% yang memilih daging sapi. Sementara itu, di kalangan laki-laki, 46% menyukai daging unggas dan 28% lebih memilih daging sapi.

Sekitar 3 dari 5 responden menganggap daging unggas sebagai elemen penting untuk mendapatkan makanan yang lezat sekaligus sehat. Bahkan, 7 dari 10 responden meyakini bahwa daging unggas dapat berperan penting dalam pola makan yang kaya protein.

Direktur pelaksana ZDG, Wolfgang Schleicher, menyatakan, “Survei ini meluruskan berbagai prasangka mengenai Gen Z. Survei ini juga mematahkan mitos bahwa Gen Z sebagian besar adalah vegan atau vegetarian. Anggapan yang sering terdengar ini keliru. Mengonsumsi daging tetap menjadi hal yang lazim di kalangan Gen Z. Mereka memasak sendiri makanan mereka. Mereka membuat keputusan secara sadar dan tahu persis apa yang penting bagi mereka: cita rasa yang enak, pengalaman bersantap bersama, asupan protein yang cukup, harga yang terjangkau, serta cara penyajian yang praktis dimana semua aspek ini harus terpenuhi. Daging unggas memenuhi semua kriteria tersebut: rasanya lezat, kaya akan protein berkualitas tinggi, serta mudah dipadukan dengan sayuran, salad, maupun hidangan dalam mangkuk (bowl).”

Bagi Gen Z, makanan bukan sekadar tersaji di piring, tetapi juga hadir di internet: 1 dari 5 responden mengaku membagikan foto atau konten lain terkait makanan yang mereka konsumsi melalui media sosial setiap harinya. Hampir 2 dari 5 responden mengunggah konten bertema makanan setidaknya seminggu sekali.

Mereka juga mencari inspirasi melalui internet. Saat ditanya dari mana mereka memperoleh ide dan inspirasi untuk hidangan serta informasi mengenai pola makan, 39% responden menyatakan aktif melakukan riset di internet, 26% mengikuti tren media sosial dan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), 25% mengikuti kreator konten atau influencer, 21% mengandalkan aplikasi atau perangkat pelacak nutrisi, dan 14% membaca artikel atau blog daring.

PERANG MEMBUAT SEKTOR UNGGAS DI GAZA HANCUR LEBUR

Industri unggas di Gaza hampir musnah akibat perang/pendudukan. Kini, upaya berskala kecil mulai dilakukan untuk membangun kembali sektor yang telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksinya tersebut.

Sektor unggas di Jalur Gaza mengalami kehancuran luas selama perang. Menurut laporan dari Kementerian Pertanian setempat, sebagian besar peternakan mengalami kerusakan parah bahkan mencapai 100% pada kategori tertentu. Kehancuran ini mengakibatkan kerugian langsung yang diperkirakan mencapai sekitar US$30,7 juta.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa terdapat sekitar 2.400 peternakan unggas, dengan peternakan ayam broiler mengalami kerusakan paling parah. Peternakan ayam broiler tertutup hancur total, dengan tingkat kerusakan mencapai 100% dan kerugian diperkirakan sebesar US$10,8 juta. Kerusakan pada peternakan ayam broiler terbuka mencapai 95%, yang mengakibatkan kerugian sekitar US$11,6 juta.

Peternakan ayam petelur dan kalkun juga mengalami kerusakan lebih dari 86%, sementara peternakan pembibitan hancur sepenuhnya, yang menyebabkan kerugian besar bagi produksi unggas di seluruh Jalur Gaza.

Sektor unggas sebenarnya menjadi pilar utama industri peternakan di Gaza. Menurut estimasi Kementerian Pertanian, pada tahun 2022 sektor ini memproduksi sekitar 50.000 ton daging putih dan 15.000 ton telur konsumsi, yang membantu memenuhi permintaan pasar lokal serta memperkuat ketahanan pangan.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa sektor ini mencakup sekitar 1.982 peternakan dengan total luas wilayah kurang lebih 297.000 meter persegi, serta kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai sekitar 2,79 miliar ekor unggas. Sebagian besar peternakan terkonsentrasi di kegubernuran Khan Younis dan Gaza, diikuti oleh Deir al-Balah, Gaza bagian utara, dan Rafah. Masing-masing wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah selama perang berlangsung.

Menurut laporan Al Jazeera, warga Palestina di Gaza berupaya secara mandiri untuk menghidupkan kembali peternakan unggas setelah perang menghancurkan berbagai peternakan dan fasilitas produksi. Namun, kelangkaan pakan serta kebutuhan dasar peternakan membuat proses pemulihan menjadi sangat sulit.

Upaya berskala kecil ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan industri unggas lokal, tetapi juga untuk menyediakan sumber pangan dalam negeri, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai ketergantungan wilayah tersebut terhadap daging ayam beku yang dijual di pasar-pasar setempat.

POULTRY INDIA EXPO 2026 AKAN MENGHADIRKAN INDUSTRI GLOBAL KE HYDERABAD

 

Sumber: poultryindia.co.in

Edisi ke-18 Poultry India Expo akan diselenggarakan pada 25-27 November 2026 di Hitex Exhibition Centre, Hyderabad, Telangana, India. Acara ini akan mempertemukan para profesional di industri unggas dari seluruh rantai nilai, dengan fokus pada teknologi, biosekuriti, nutrisi berkelanjutan, dan otomatisasi.

Acara ini diselenggarakan oleh Indian Poultry Equipment Manufacturers’ Association (IPEMA), sebuah asosiasi yang mewakili para produsen peralatan unggas di India. Asosiasi ini mendorong inovasi, standardisasi, dan praktik berkelanjutan di sepanjang rantai nilai industri unggas, serta mendukung penerapan teknologi pertanian cerdas, solusi kesehatan hewan, dan pengembangan teknologi pertanian (agri-tech) dalam negeri.

Poultry India Expo merupakan acara unggulan IPEMA yang terus berkembang, baik dari segi skala maupun partisipasi internasional.

Edisi ke-17 pada tahun 2025 berhasil menarik lebih dari 500 peserta pameran dari lebih dari 50 negara dan mencatat 51.251 pengunjung dari kalangan industri. Pameran ini menempati area seluas kurang lebih 35.000 meter persegi yang tersebar di 7 aula berpendingin udara.

Demonstrasi langsung dan pameran mencakup bidang pembiakan dan genetika, otomatisasi tempat penetasan dan peternakan, penggilingan pakan, kandang dan ventilasi, diagnostik veteriner, keamanan hayati, pengolahan telur, serta pengelolaan limbah kotoran ternak.

Agenda pendukung, yaitu Knowledge Day, membahas berbagai topik seperti penyakit yang baru muncul (emerging diseases), perencanaan pakan, keberlanjutan, peluang pasar di pedesaan, serta pengembangan karier di sektor unggas.

Pameran tahun 2026 akan berfokus pada biosekuriti, nutrisi berkelanjutan, otomatisasi, dan daya saing sektor unggas India. Penyelenggara memperkirakan kehadiran lebih dari 550 peserta pameran dan lebih dari 51.000 profesional industri dari lebih dari 80 negara.

SENYAWA BIOAKTIF ZAITUN: MENINGKATKAN KETAHANAN UNTUK MEMPERBAIKI KUALITAS PRODUK UNGGAS

Jika ditinjau lebih dalam dari aspek anatomi dan fisiologi unggas, terlihat jelas bahwa saat mengalami stres akibat panas atau tekanan yang meningkat dari virus enterotropik, saluran pencernaan menjadi salah satu organ yang paling rentan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan usus sangatlah penting untuk mempertahankan performa produksi, sekaligus menjamin kualitas daging dan kesejahteraan hewan. Dalam konteks ini, senyawa bioaktif dari zaitun hadir sebagai strategi nutrisi yang menjanjikan.

Spanyol merupakan produsen minyak zaitun terkemuka di dunia. Akibatnya, sejumlah besar produk sampingan termasuk daun zaitun, ampas zaitun, dan air limbah dari penggilingan zaitun dihasilkan setiap tahun. Hingga belum lama ini, bahan-bahan tersebut sebagian besar dianggap sebagai limbah yang hampir tidak memiliki nilai komersial.

Penelitian selama satu dekade terakhir menunjukkan bahwa produk-produk sampingan ini ternyata masih kaya akan senyawa yang aktif secara biologis. Sifat anti-inflamasi dan antioksidannya menawarkan potensi yang cukup besar, tidak hanya bagi kesehatan manusia tetapi juga dalam produksi peternakan.

Hal ini mencerminkan pendekatan nutrisi yang inovatif sekaligus menjadi contoh luar biasa dari ekonomi sirkular.

Studi terkini yang dilakukan di Kasetsart University (Thailand), bekerja sama dengan Lucta S.A., mengevaluasi efek senyawa bioaktif zaitun pada ayam broiler yang dipelihara dalam kondisi stres akibat panas.

Penelitian ini tidak hanya menilai kinerja produksi, tetapi juga respons imun, integritas usus, indikator kesejahteraan, serta kualitas daging. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah suplementasi senyawa bioaktif zaitun dalam pakan dapat meningkatkan kinerja ayam, baik dengan keberadaan maupun ketiadaan salinomisin suatu ionofor yang, selain memiliki aktivitas koksidiostatik, juga dapat membantu mengurangi peradangan usus.

Salah satu temuan yang paling relevan adalah kemampuan senyawa bioaktif zaitun dalam menurunkan rasio heterofil terhadap limfosit (H/L), yang merupakan indikator stres fisiologis yang telah diakui pada unggas. Rasio H/L yang tinggi berkaitan dengan peningkatan stres dan status peradangan sistemik.

Ayam yang diberi suplementasi senyawa bioaktif zaitun menunjukkan rasio H/L yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberi suplementasi (2,28 berbanding 2,63; P < 0,01), yang mengindikasikan penurunan respons stres fisiologis.

Dalam studi ini juga, ayam yang menerima senyawa bioaktif zaitun menunjukkan skor footpad dermatitis yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol, yang mengindikasikan adanya perbaikan pada kesehatan saluran pencernaan maupun kesejahteraan hewan secara keseluruhan.

Ayam broiler yang diberi suplementasi senyawa bioaktif zaitun menunjukkan tingkat drip loss (kehilangan cairan) yang jauh lebih rendah, disertai dengan penurunan oksidasi lipid pada daging dada. Manfaat ini teramati baik dengan maupun tanpa penambahan salinomisin dalam ransum pakan.

Dari perspektif komersial, hasil ini menunjukkan peningkatan kapasitas pengikatan air dan stabilitas oksidatif yang lebih baik. Karakteristik yang berpotensi memperpanjang masa simpan daging unggas segar.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan peningkatan kadar asam lemak tak jenuh tunggal maupun asam lemak tak jenuh ganda pada unggas yang diberi suplemen senyawa bioaktif dari zaitun.

Pemanfaatan senyawa bioaktif yang berasal dari produk sampingan zaitun membuka peluang menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan serta kualitas produk unggas, sekaligus memberikan nilai tambah pada bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah pertanian. Dengan demikian, hal ini menjadi contoh yang sangat baik mengenai keberlanjutan dan ekonomi sirkular dalam produksi unggas modern.

PENCERNAAN AYAM: MASALAH DAN SOLUSINYA

Sistem pencernaan pada ayam. (Sumber :www.bing.com)

Saluran pencernaan (gastrointestinal tract/GIT) yang berfungsi dengan baik jauh lebih dari sekadar organ penyerapan nutrisi, ia bertindak sebagai pusat saraf dari berbagai proses fisiologis yang penting untuk kesehatan usus pada unggas. Fungsi yang tepat dari sistem pencernaan secara langsung memengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, imunokompetensi, dan ketahanan terhadap penyakit.

Oleh karena itu, penerapan strategi yang bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan pencernaan merupakan prioritas dalam manajemen unggas, nutrisi, dan program kesehatan, terutama untuk mencegah enteritis.

Keseimbangan sistem pencernaan pada ayam sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas mereka secara keseluruhan. Hal ini melibatkan fungsi yang tepat dari berbagai organ dan pemeliharaan keseimbangan antara ayam, mikrobiota usus, dan lingkungan usus.

Keseimbangan ini penting untuk mencerna dan menyerap nutrisi, mencegah masuknya patogen, dan menjaga keadaan homeostasis yang diinginkan. Faktor-faktor seperti stres, nutrisi pakan, dan keberadaan mikotoksin dapat mengganggu keseimbangan ini, yang dapat menyebabkan pertumbuhan, kesehatan, dan kinerja yang menurun. Fungsi penghalang sistem pencernaan yang memungkinkan nutrisi penting lolos dan membatasi zat berbahaya adalah aspek kunci dalam menjaga keseimbangan ini.

Dalam konteks peternakan unggas modern, di mana efisiensi dan kesejahteraan hewan semakin penting, kesehatan pencernaan diposisikan sebagai salah satu pilar fundamental untuk menjamin profitabilitas, keberlanjutan, dan ketahanan terhadap tantangan kesehatan dan lingkungan.

Pendukung Keseimbangan
Salah satu elemen terpenting dalam keseimbangan pencernaan unggas adalah mikrobiota usus, di mana ekosistem mikroba dinamis yang secara signifikan memengaruhi pencernaan, kekebalan, dan pertahanan terhadap patogen. Mikrobiota unggas terdiri dari beragam bakteri, jamur, virus, dan protozoa yang berinteraksi satu sama lain dan dengan inang. Spesies seperti Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., atau Saccharomyces spp., sangat penting untuk menjaga kesehatan usus pada unggas dan mencegah penyakit usus. Mereka memfermentasi substrat yang tidak dapat dicerna, yang mengarah pada produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang mengatur pH usus, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat integritas epitel.

Selain itu, mikrobiota yang seimbang bertindak sebagai penghalang terhadap mikroorganisme patogen melalui mekanisme eksklusi kompetitif, produksi zat antimikroba, dan modulasi sistem kekebalan mukosa.

Di luar mikrobiota, kesehatan pencernaan didasarkan pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

BETA BUGS DORONG AMBISI PROTEIN SERANGGA UNTUK INDUSTRI UNGGAS MELALUI PENDANAAN BARU


Beta Bugs telah memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan yang paling diperhatikan di sektor protein serangga, setelah mengumumkan dua perkembangan penting yang dapat membantu mempercepat penerapan bahan baku berbasis serangga di industri unggas.

Perusahaan spesialis genetika Black Soldier Fly (BSF) yang berbasis di Edinburgh ini telah memperoleh investasi baru sebesar £800.000 dari para pemegang saham yang ada saat ini. Selain itu, perusahaan tersebut juga menjalin kemitraan strategis dengan FreezeM Cryogenetics untuk menghadirkan platform genetika canggih mereka, HiPer-Fly, kepada para produsen di seluruh Eropa.

Perkembangan ini sangat berarti bagi sektor unggas karena tepung serangga terus menarik perhatian sebagai sumber protein berkelanjutan untuk pakan unggas. Peningkatan efisiensi, produktivitas, dan konsistensi dalam produksi BSF dipandang sebagai langkah krusial untuk menambah ketersediaan serta meningkatkan keterjangkauan bahan baku berbasis serangga bagi produsen pakan komersial.

Beta Bugs menyatakan bahwa pendanaan terbaru ini akan mendukung pencapaian tonggak penting menjelang penjualan komersial perdana produk HiPer-Fly, yang diperkirakan akan dimulai pada awal tahun 2027. Perusahaan melaporkan bahwa uji coba independen yang rampung pada awal tahun 2026 menunjukkan kinerja yang lebih unggul dibandingkan dengan tolok ukur industri.

HiPer-Fly merupakan hasil dari lebih dari 45 generasi pembiakan selektif yang dirancang untuk meningkatkan kinerja BSF. Menurut perusahaan, uji coba perbandingan terkini telah mengonfirmasi manfaat dari program perbaikan genetik yang mereka jalankan, sekaligus menyoroti peran penting teknik pembiakan canggih dalam sektor budi daya serangga.

ASOHI RAYAKAN HUT KE-47 DENGAN PROTEIN WALK, KAMPANYEKAN GIZI SEIMBANG DAN HIDUP SEHAT

Kegiatan Protein Walk dimulai dengan pengibaran bendera start oleh Ketua Umum ASOHI (Foto: NDV)

Memasuki usia 47 tahun, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) merayakan hari jadinya dengan menggelar kegiatan jalan sehat bertajuk Protein Walk, Sabtu (24/10) di Taman Wiladatika, Cibubur. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi protein hewani dan penerapan pola hidup sehat.

Kegiatan jalan sehat secara resmi dibuka oleh Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Drh Hendra Wibawa, MSi, PhD. Kehadiran pejabat dan staf lingkup Kementan menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap peran ASOHI dalam memperkuat ekosistem peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

Dalam sambutannya, Hendra berharap ASOHI terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis berbagai pihak, mulai dari peternak, nelayan, dan petani hingga pemerintah serta pelaku usaha. 

Melalui rangkaian kegiatan HUT ke-47 ini, ASOHI diharapkan semakin memperkuat kontribusinya bagi kesehatan hewan dan kemajuan peternakan. Keterlibatan ASOHI sangat penting dalam mendukung hilirisasi peternakan, mulai dari peningkatan kesehatan dan produktivitas ternak hingga menghasilkan produk pangan asal hewan yang berkualitas, aman dan berdaya saing,” pungkas Hendra. 

Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi menuturkan perayaan HUT ke-47 ini tidak sekadar menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga kesempatan bagi organisasi untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang. 

“Melalui Protein Walk, selain mengajak keluarga besar ASOHI untuk berolahraga, juga bertujuan memperdalam pengetahuan mengenai peran protein hewani dalam mendukung kesehatan, yang perlu diimbangi dengan aktivitas fisik dan pola hidup sehat,” jelas Harris.

Pemberian cenderamata oleh Ketua Umum ASOHI kepada Drh Arief Wicaksono MSi, Ketua Kelompok Kerja Pengawasan Obat Hewan.

Setelah jalan sehat, acara dilanjutkan dengan talkshow bertema “Pentingnya Makan Daging Ayam dan Telur dan Pola Hidup Sehat Demi Kesehatan”. Diskusi menghadirkan ahli gizi sekaligus konsultan nutrisi, Dr  Rita Ramayulis, DCN, M Kes yang mengupas tuntas pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi melalui konsumsi pangan bergizi, serta penerapan kebiasaan hidup sehat dalam keseharian.

Acara ini semakin semarak diikuti oleh para pengurus ASOHI dari berbagai daerah. Diantaranya dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Riau, dan Lampung.

Keluarga besar ASOHI Pusat dan Daerah bersama narasumber talkshow, Dr Rita Ramayulis DCN, M Kes

Selain itu juga turut dihadiri tamu undangan dari Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Keterlibatan berbagai organisasi tersebut memperkuat pesan bahwa edukasi mengenai pangan bergizi dan kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan bersama dari kalangan profesi, industri, dan pemangku kepentingan terkait.

Sebelum pelaksanaan Protein Walk, ASOHI juga menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dihadiri para kepala cabang dari berbagai daerah. Forum ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi organisasi, termasuk membahas keterlibatan cabang dalam mendukung pengawasan dan penggunaan obat hewan, sejalan dengan agenda hilirisasi peternakan. (NDV)

SPACE 2026: INOVASI YANG MEMBENTUK MASA DEPAN INDUSTRI UNGGAS

Mulai dari peningkatan kesejahteraan hewan dan efisiensi peternakan hingga kemajuan dalam otomatisasi dan keberlanjutan, 7 inovasi khusus sektor unggas telah mendapatkan pengakuan dari dewan juri Innov'SPACE. Para pemenang penghargaan ini diberikan pengakuan resmi selama SPACE 2026, pameran peternakan internasional yang berlangsung di Rennes, Prancis, pada 15 hingga 17 September.

Setelah mengevaluasi 78 pengajuan, dewan juri memilih total 32 inovasi; 26 di antaranya menerima 1 bintang, sementara 6 lainnya dianugerahi 2 bintang. Pilihan terbaik dari dewan juri diumumkan dalam acara Innov’SPACE selama pameran berlangsung pada 15 September.

Elanco France: AviPro Salmonella DUO

AviPro Salmonella DUO adalah vaksin yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter hewan. Ini merupakan satu-satunya vaksin oral hidup yang mengandung 2 galur, yaitu Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium, serta memberikan perlindungan hingga 100 minggu terhadap Salmonella Enteritidis dan hingga 94 minggu terhadap Salmonella Typhimurium.

IFIP: Foodbasket7

Foodbasket7 adalah perangkat berbasis web gratis yang memungkinkan masyarakat untuk memahami konsekuensi dari pilihan pola makan mereka. Pengguna dapat menyusun daftar kebutuhan pangan mingguan dalam hitungan menit, dan perangkat ini akan memberikan penilaian visual yang sederhana mengenai dua aspek yang saling melengkapi: kualitas nutrisi dan dampak lingkungan dari daftar kebutuhan pangan tersebut.

Vencomatic: Ovoclear

Vencomatic memperkenalkan Ovoclear, konveyor rol inspeksi pertama yang mengintegrasikan pembersihan bulu secara otomatis langsung ke dalam proses penanganan telur. Inovasi ini menjawab tantangan lama dalam pengumpulan telur, di mana bulu yang menempel pada telur biasanya harus dibersihkan secara manual, sehingga memerlukan perhatian terus-menerus dari operator.

MCJ Innov: Roll-Bouch

Roll-Bouch adalah gerobak dorong untuk penyebaran pelet yang dirancang bagi peternakan unggas. Gerobak bertenaga listrik ini dilengkapi dengan sistem penyebaran inovatif yang menggunakan empat pintu pengeluaran, yang terletak di kedua sisi mesin. Pintu-pintu tersebut dapat dibuka secara mekanis, sementara laju aliran dapat diatur secara manual dengan mudah dan presisi. Tersedia pula sistem pembukaan pintu yang dioperasikan secara elektrik bagi pengguna yang ingin mengurangi risiko gangguan muskuloskeletal (MSD).

Maison Bleue: Sanihouse

Sanihouse, yang dirancang oleh Innovlap dan Maison Bleue, merupakan fasilitas khusus untuk menangani bangkai hewan di lingkungan peternakan. Fasilitas ini berupa bangunan yang terbuat dari elemen beton bertulang pracetak berinsulasi, serta dilengkapi dengan platform baja tahan karat dan pintu otomatis bermotor. Sistem ini menjadikan proses pembuangan bangkai hewan lebih mudah sekaligus lebih aman.

Mekanisme motor pada platform disinkronkan dengan pembukaan pintu dan dirancang untuk menampung wadah pengangkutan bangkai (rendering bins). Wadah-wadah ini secara otomatis dapat digerakkan ke sisi “zona peternakan” untuk pemuatan bangkai, atau ke sisi “zona publik” agar pihak layanan pengangkutan bangkai dapat mengambilnya secara mandiri.

CCPA Group: Securitor Flash

Securitor Flash dari CCPA Group merupakan solusi nutrisi berbentuk cair yang dirancang untuk mendukung keseimbangan pencernaan dalam produksi unggas. Diformulasikan dengan senyawa aromatik dan minyak esensial bawang putih, produk ini bekerja pada mekanisme komunikasi di dalam mikrobiota usus yang terlibat dalam pengaturan komunitas bakteri serta pembentukan biofilm. Pendekatan ini bertujuan untuk memodulasi fungsi mikrobiota tanpa memberikan pengaruh langsung terhadap pertumbuhan bakteri.

Big Dutchman International: Sharky 430

Sharky 430 adalah robot pembersih otonom pertama yang dikembangkan untuk sistem kandang unggas fase pemeliharaan dan petelur. Robot ini memiliki desain yang ringkas dan kecil, sehingga cocok untuk lorong yang sempit. Dilengkapi dengan lengan pembersih yang sangat fleksibel dengan berbagai sambungan, robot ini mampu menjangkau area yang sulit diakses. Sharky 430 bernavigasi tanpa kontak fisik dengan cara mendeteksi komponen-komponen sistem, tidak diperlukan rel pemandu.

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

RISIKO MENGINTAI, GEGARA TERGIUR TELUR MURAH

Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, konsumen harus jeli saat membelinya. (Foto: Gemini)

Meski kondisi keuangan lagi tipis, sebaiknya jangan pernah tergiur dengan harga murah saat membeli telur. Teliti sebelum membeli dan pastikan telur yang dibeli masih segar. Jangan pertaruhkan kesehatan keluarga gara-gara terpikat harga murah.

Sepulang antar anak sekolah, Pak Rahmat mampir ke warung sembako tak jauh dari sekolah dasar anaknya. Pagi itu, ia “mewakili” istrinya untuk membeli satu kilogram telur ayam. Tak jauh dari warung sembako yang ia datangi, ada juga warung lain yang menjual telur ayam.

Dua warung ini menjual telur dengan harga berbeda, warung pertama memasang tulisan harga telur Rp 27.500/kg, sedangkan di warung kedua tertulis Rp 23.500/kg. Karena sedang penghematan anggaran rumah tangga, tanpa pikir panjang Pak Rahmat memilih ke warung yang menjual harga lebih murah. Lumayan, bisa hemat Rp 4.000, pikirnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, sejenak ia berpikir, kenapa dua warung yang berdekatan jual telur ayam dengan selisih harga yang lumayan. Sesampai di rumah, ia kembali mengecek telur yang ia beli. Satu per satu diamati warna kerabangnya. Tak ada yang beda dengan telur yang biasa ia beli.

“Tapi begitu telur saya guncang pelan, mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser atau terkocok. Hampir semuanya begitu. Karena penasaran, saya pecahkan satu butir. Ternyata kuning telurnya sudah enggak bulat utuh. Putih telurnya juga kelihatan lebih encer dari biasanya. Mungkin ini yang bikin harga jadi lebih murah,” tutur Pak Rahmat kepada Infovet.

Lantaran penasaran, pria berusia 60 tahunan ini mencari tahu melalui ponsel. Cek di Google, ternyata dugaannya tak meleset. Telur yang baru saja ia beli sudah menurun kualitasnya. “Nyesel aku tadi beli pilih yang murah,” ujarnya sambil tarik napas agak dalam.

Di artikel yang ia baca menyebutkan, telur yang mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser saat diguncang itu merupakan pertanda bahwa kualitas telur sudah menurun, tidak segar, meski masih layak konsumsi.

Penampakan putih telur yang encer, disebabkan waktu penyimpanan yang sudah cukup lama, bisa menyebabkan protein telur rusak dan strukturnya menjadi sangat cair. Kantung udara di dalam telur juga membesar. Cairan yang menguap lewat pori-pori cangkang membuat rongga udara di dalam telur semakin besar, sehingga ruang gerak bagian dalam menjadi longgar dan menciptakan bunyi kocokan.

Mengutip artikel yang ia baca, Pak Rahmat bilang, mengonsumsi telur yang kualitasnya menurun atau nyaris busuk berisiko menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan berat akibat kontaminasi bakteri. Telur basi atau rusak sangat rentan ditumbuhi bakteri berbahaya seperti Salmonella. Jika ini terjadi, dapat berdampak pada infeksi saluran pencernaan.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, mengingatkan bahwa memilih telur atau daging ayam yang berkualitas itu penting, karena berdampak pada kesehatan. Bagi anak-anak, orang dewasa, dan ibu menyusui, asupan gizi berupa protein hewani dari telur ayam yang berkualitas bagus sangat diperlukan.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Ahli gizi ini menyarankan, konsumsi telur atau daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Perbedaan Lama dan Baru
Agar tak lagi salah memilih telur ayam, ada informasi dari laman bppsdmp.pertanian.go.id yang patut dijadikan rujukan. Untuk menjamin keamanan dan mutu telur konsumsi, pemerintah telah memperkuat perlindungan konsumen melalui Permentan No. 10/2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) 3926:2023 menetapkan persyaratan mutu telur konsumsi yang mencakup kesegaran, kebersihan, ukuran, serta kondisi fisik telur. Regulasi ini tidak hanya bertujuan melindungi konsumen, tetapi juga mendorong pelaku usaha agar lebih disiplin dalam menerapkan praktik produksi dan penanganan pascapanen yang baik.

Meski demikian, telur yang tidak layak konsumsi masih berpotensi beredar dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali ciri-ciri telur yang segar dan aman, serta lebih selektif dalam memilih telur demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Lalu, seperti apa perbedaan telur ayam baru dan lama? Pada telur ayam baru, batas antara putih telur tebal dan tipis terlihat jelas, tidak terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur bulat, dan posisi di tengah dari putih telur yang tebal.

Sedangkan pada telur ayam lama, batas antara putih telur tebal dan tipis tidak jelas, terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur tidak bulat, dan posisi agak ke pinggir.

Saat membeli telur ayam, perhatikan kondisi fisiknya. Hindari telur yang kotor karena terdapat kotoran ayam atau bercak darah pada cangkang, retak pada cangkang, serta telur yang mengalami pengapuran yang ditandai dengan permukaan cangkang kasar dan adanya noda putih.

Selain itu, untuk mengetahui kondisi telur yang baik atau tidak dapat dilakukan dengan memasukkan telur dalam  larutan garam 10%. Telur yang baik akan tenggelam (kantung udara < 0,5 cm), telur kurang baik melayang (0,5-0,9 cm), dan telur tidak baik mengapung (> 0,9 cm).

Cara lain yang juga mudah adalah dengan mengguncang telur. Cara ini dilakukan dengan mengguncang telur dekat telinga. Untuk telur segar, tidak akan mengeluarkan suara seperti cairan bergeser saat diguncang, menunjukkan bahwa isi di dalamnya masih kental. Sedangkan telur tidak segar, akan terdengar suara seperti cairan bergerak, dan ini menandakan bahwa putih telurnya sudah encer dan kemungkinan besar sudah busuk.

Jeli Sebelum Membeli
Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, ada kalanya konsumen juga perlu sedikit jeli saat membeli. Telur yang baik memiliki kerabang halus, warna merata dan bersih, tidak retak atau pecah, serta memiliki bentuk oval yang normal. Jika tersedia lampu peneropong di tempat penjualan, konsumen juga dapat memilih telur dengan kantong udara yang kecil pada bagian ujung tumpulnya.

Kualitas telur juga dipengaruhi lama penyimpanan. Telur yang baru dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan telur yang telah lama disimpan, terutama pada suhu ruang. Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang dihasilkan dari ayam sehat, telur yang baru dihasilkan, serta telur yang diolah secara benar dan sehat.

Setelah paham dengan memilih telur yang segar, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang benar. Pisahkan telur yang bersih dan kotor, besar-kecil, retak tidak retak, baru dan lama, serta bersihkan jika cangkang telur kotor dengan lap kain atau tisu kering untuk menjaga kebersihannya.

Simpan di baki atau tray telur dan/atau lemari pendingin (7-10 °C) dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Gunakan telur yang lebih lama disimpan dibandingkan dengan telur yang baru (first in first out). Masa simpan telur di suhu ruang selama 15 hari dan di lemari pendingin 30 hari. Dengan penanganan seperti ini, keluarga akan lebih sehat dalam mengonsumsi telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

INDONESIA-URUGUAY JAJAKI PERLUASAN PERDAGANGAN PRODUK PETERNAKAN

Foto: ditjenpkh.pertanian.go.id

Kementerian Pertanian membuka peluang penguatan kerja sama perdagangan subsektor peternakan dan kesehatan hewan dengan Uruguay. Hal ini dibahas dalam pertemuan antara pemerintah kedua negara di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/8), yang bertujuan memperkuat kemitraan bilateral sekaligus mendorong akses pasar bagi produk peternakan dari kedua pihak.

Delegasi Uruguay yang hadir antara lain Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González, Wakil Menteri Luar Negeri Valeria Csukasi, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Matías Carámbula, serta perwakilan National Meat Institute (INAC) dan National Milk Institute (INALE).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa Indonesia ingin membangun hubungan perdagangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara. Salah satu upaya yang didorong adalah membuka akses pasar timbal balik dengan memperkenalkan produk-produk unggulan industri peternakan Indonesia ke Uruguay.

Menurutnya, produk peternakan nasional telah menjangkau lebih dari 90 negara. Produk tersebut mencakup asam amino untuk suplemen pakan, premiks pakan berbasis kelapa sawit, serta vaksin dan obat hewan. Capaian ini menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan peluang perdagangan dengan mitra internasional.

Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay, Valeria Csukasi, menyambut baik rencana Indonesia untuk memasarkan produk peternakannya ke Uruguay. Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah Uruguay dalam mendukung proses pembukaan akses pasar bagi produk-produk tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Uruguay, Matías Carámbula, memaparkan perkembangan sektor pertanian di negaranya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi penguatan hubungan dagang Indonesia-Uruguay, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Melalui peluang akses pasar yang lebih terbuka, kedua negara berupaya membangun kerja sama perdagangan yang lebih luas, seimbang, dan saling menguntungkan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id

PUNCAK HATN 2026: “MULAI DARI PETERNAK KITA BERGERAK” YOGYAKARTA CHICKEN AND EGG RUN

Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa)

“Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini diteriakan oleh ribuan peserta lomba  sebelum langkah pertama di garis start, dalam kegiatan Chicken and Egg Run pada puncak acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026, Minggu (18/10/2026), yang diselenggarakan PINSAR Indonesia di Yogyakarta.

Makna filosofis tersebut adalah peternak bukan sekadar objek, melainkan pelaku utama. Peternak harus dilibatkan dalam merumuskan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan menentukan arah pembangunan industri perunggasan.

Peternak sebagai pusat perjuangan, di mana setiap kebijakan, program, dan langkah pembangunan peternakan harus berangkat dari kebutuhan, persoalan, dan kenyataan yang  dihadapi peternak di lapangan.

Peternak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu bersatu, membangun solidaritas, dan bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi, akademisi, serta pelaku usaha lainnya. Bergerak untuk mewujudkan peternakan unggas yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi peternak dan masyarakat.

Foto bersama penyelenggara acara.

Hal tersebut selaras dengan sambutan staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, sebelum melepas para peserta Chicken and Egg Run 2026.
Menurutnya, dalam mewujudkan peternakan yang produktif berdaya saing, peternak perlu berhimpun dalam koperasi. Koperasi dinilai dapat berperan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kegiatan peternakan dari hulu hingga hilir.

Ia juga berharap PINSAR Indonesia terus berperan dalam program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Kami Kementerian Koperasi siap mendukung tata kelola hingga akses pembiayaannya,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi PINSAR Indonesia yang menginisiasi acara ini, yang tidak hanya sekadar mempromosikan olah raga, tetapi sarat dengan unsur edukasi bagi masyarakat akan pentingnya konsumsi daging ayam dan telur, seperti yang disampaikan Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko.

Para peserta yang berhasil meraih juara dalam Chicken and Egg Run.

Lebih jauh dijelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang berkualitas dan terjangkau.

“Saat ini tingkat konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada pada 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini dinilai masih sangat mungkin ditingkatkan, sehingga akan memberkan multiplier effect yang sangat menguntungkan bagi stakeholder perunggasan,” katanya.

Singgih berharap, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih dalam bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani  yang berkualitas, terjangkau, dan sangat dibutuhkan terutama bagi generasi masa depan.

Peserta yang berhasil meraih hadiah utama satu unit mobil listrik BYD.

Kegiatan PINSAR ini dilaksanakan selama dua hari. Diawali dengan Rakornas pada Sabtu (17/10/2026) yang diikuti para pengurus daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemudian dilanjutkan pada Minggu (18/10/2026) dengan peringatan HATN berupa kegiatan Chicken and Egg Run. Lomba ini diselenggarakan dengan tiga katagori, yakni 2,5 km, 5 km, dan 10 km, serta disediakan berbagai macam hadiah menarik, dengan hadirah utama satu unit mobil listrik BYD.

Minat masyarakat Yogyakarta sangat luar biasa, ditandai dengan banyaknya peserta yang mencapai hampir 3.000 orang. Selain itu, di lokasi acara juga diadakan Kuliner Pasar Kangen yang menawarkan berbagai makanan tradisional dan modern, yang juga dimeriahkan photobooth dan live music untuk menghibur para peserta maupun pengunjung lain di sepanjang acara.

Pembagian hadiah bagi peserta lomba kostum terbaik.

Ketua Panitia Pusat Peringatan HATN, Ricky Bangsaratoe, menilai bahwa acara peringatan  HATN yang diselenggarakan di Yogyakarta ini merupakan acara paling meriah yang pernah diselenggarakan PINSAR Indonesia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi standar tinggi bagi penyelengara HATN berikutnya, yaitu PINSAR Kalimantan Barat pada 2027 mendatang,” katanya. Hal tersebut juga diamini oleh Rakhmat Nuriyanto, salah satu penggagas HATN sekaligus Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) periode 2010-2015, yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. (INF)

DI ILDEX INDONESIA 2026, ROMINDO GELAR SEMINAR MENGUPAS KARAKTERISTIK DAN PENANGANAN MYCOPLASMA PADA UNGGAS

PT Romindo Primavetcom turut berpartisipasi dalam pameran internasional ILDEX Indonesia, 16-18 September 2026, dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “The Ecology of Avian Mycoplasma Infections”. Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (17/9), menghadirkan Senior Technical Advisor Bioproperties, Prof Dr Chris Morrow PhD BVSc, pakar terkemuka yang juga penerima penghargaan Peter Hannan Award IOM 2024 dan Kesteven Medal AVA 2024.






INDONESIA-TIMOR LESTE PERKUAT KERJA SAMA PETERNAKAN

Sumber: Youtube Ditjen PKH

Indonesia dan Timor-Leste memperkuat kerja sama subsektor peternakan, terutama dalam kesehatan hewan di wilayah perbatasan, peningkatan mutu genetik ternak, pengembangan sumber daya manusia, dan perluasan perdagangan komoditas peternakan.

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dengan Menteri Muda Bidang Peternakan Timor-Leste, José Viera de Araújo, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (21/9).

Agung mengatakan, kedekatan geografis dan hubungan lintas batas membuat kerja sama kesehatan hewan kedua negara penting untuk mencegah masuknya dan penyebaran penyakit serta menjaga keamanan perdagangan komoditas peternakan.

“Indonesia memandang Timor-Leste sebagai mitra strategis di kawasan. Kami sepakat kerja sama kedua negara terus ditingkatkan karena memiliki karakteristik dan tantangan yang sama, terutama dalam pengendalian penyakit hewan, peningkatan produktivitas ternak, dan penguatan perdagangan komoditas peternakan,” kata Agung.

Sementara itu, José menekankan pentingnya kerjasama untuk mencegah pergerakan ilegal ternak dan produk hewan serta memperkuat pengawasan kesehatan hewan lintas batas terhadap penyakit eksotik.

Ia juga menilai pelatihan dan edukasi penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan populasi ternak di Timor-Leste. Karena itu, ia berharap kerja sama inseminasi buatan dan pengembangan genetik ternak dengan Indonesia terus ditingkatkan.

Di bidang perdagangan, pasar Timor-Leste telah menerima sejumlah produk peternakan Indonesia, termasuk karkas dan produk olahan ayam. Pada Juni 2026, Kementan melepas ekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam ke negara tersebut senilai Rp1,043 miliar.

Agung mengapresiasi pelaksanaan Import Risk Analysis (IRA) oleh Timor-Leste terhadap sejumlah unit usaha Indonesia pada 2024–2025. Ia berharap penilaian lanjutan dapat membuka peluang perdagangan telur tetas, DOC ayam KUB, DOC parent stock (PS) layer, dan DOC PS broiler.

Pengembangan kerbau turut menjadi agenda kerja sama dengan dukungan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Kolaborasi ini mencakup rencana penyediaan semen beku produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang serta dukungan dua tenaga ahli untuk pelatihan inseminasi buatan dan peningkatan kapasitas petugas peternakan Timor-Leste.

Melalui kerja sama di bidang kesehatan hewan, genetik, sumber daya manusia, dan perdagangan, Indonesia dan Timor-Leste diharapkan dapat memperkuat kemitraan peternakan yang saling menguntungkan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keamanan kesehatan hewan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

MENDUKUNG PERFORMA LAKTASI MELALUI NUTRISI PRESISI

Sapi perah dengan tingkat produksi tinggi menghadapi tuntutan metabolik yang besar karena mereka harus menopang produksi susu, fungsi kekebalan tubuh, reproduksi, dan kesehatan secara keseluruhan secara bersamaan. Akibat pembagian nutrisi di antara berbagai proses biologis yang saling bersaing ini, ketersediaan sumber daya untuk mendukung laktasi menjadi berkurang.



BEST AMINO PRO & CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM

Better flowability & stability, same efficiency. Perfect yout feed with CJ Pro, granular source of amino acids.


CJ Indonesia 2nd Symposium "Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost"
Hari: Selasa, 3 November 2026
Waktu: 11:30-16:00 WIB
Tempat: Hotel Mercure Gatot Subroto Jakarta







ZOETIS MEMBAWA SOLUSI ND, IBD, IB, DAN REOVIRUS DI ILDEX INDONESIA 2026

Foto bersama peserta seminar. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

Setelah cukup lama absen dari ajang pameran industri perunggasan, Zoetis Indonesia kembali menyapa para pelaku industri secara langsung di ajang ILDEX Indonesia 2026. Kehadiran ini menjadi momentum bagi Zoetis untuk kembali memanfaatkan pameran sebagai ruang interaksi dengan pelanggan, praktisi, akademisi, sekaligus berbagi perkembangan terbaru seputar kesehatan unggas.

“Namun Zoetis sebenarnya selama ini terus aktif dan berkontribusi di dunia perunggasan. Kami secara rutin menggelar seminar teknis yang dikemas dengan nama Poultry Master Class dan ada Hatchery Master Class,” terang Ulrich Erik Ginting, General Manager Zoetis Indonesia.

“Kami berharap bagi peternak kami bisa terus menjadi solusi. Agar kasus penyakit di farm jadi seminimal mungkin, dan ayam sehat terus hingga panen. Juga bagi konsumen agar mereka selalu mendapatkan daging ayam yang sehat.”

Kali ini Poultry Master Class 2026 diadakan di ILDEX pada Rabu (16/9), di ruang Garuda Hall, ICE BSD dengan tema “Bridging the Future: Every Healthy Chick Starts with a Protected Breeder”. Menghadirkan dua pembicara Dr Nicky Love BVSc, BVSc (Hons), MRCVS, Zoetis Global Hatcheries Technical and Veterinary Services Manager, dan Dr Kalen Cookson, DVM, MAM, DACP, Global Director Clinical Research, Zoetis Inc.

Seminar mengangkat sejumlah isu yang masih menjadi tantangan di lapangan. Newcastle disease (ND), khususnya genotipe VII, menjadi salah satu topik yang mendapat sorotan, di samping itu tantangan infectious bursal disease (IBD) atau gumboro dan reovirus.

Pada hari berikutnya, Kamis (17/9), Dr Nicky juga menjadi pembicara di seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), untuk memperingati 100 tahun hari ND sedunia, dengan tema “The Newcastle Disease Centennial International Seminar: A Century of Learning, Protecting Tomorrow”.

Hadapi ND Genotipe VII dengan Perlindungan Vaksin yang Tepat

Dr Nicky memaparkan bahwa karakteristik virus ND genotipe VII yang menunjukkan tingkat replikasi virus yang tinggi serta respons imun bawaan yang intens, mediator apoptosis yang mengakibatkan kerusakan parah pada jaringan limfoid. Protein M, F, dan HN menentukan tingkat replikasi yang tinggi tersebut.

Penelitian pada flock broiler yang terinfeksi virus ND genotipe VII, tingkat kematiannya berkisar antara 5­55%. Gejala klinis utama meliputi gangguan pernapasan, dengan atau tanpa gejala saraf, serta diare berwarna hijau keputihan.

Sedangkan pada pullet dan layer patogenisitasnya bergantung pada berbagai faktor seperti spesies, galur, umur, status kekebalan, dan status reproduksi. Penurunan produksi telur antara 20­60% disertai penurunan kualitas telur (menghasilkan telur tanpa cangkang, bercangkang lunak, retak, berukuran kecil, atau cacat bentuk).

Virus ND genotipe VII bisa ditangani dengan baik oleh produk vaksin Zoetis, Poulvac® Procerta® HVT-ND. Sebuah vaksin rekombinan HVT yang memiliki keunggulan bisa memicu respons imun yang berbeda, dapat memberikan perlindungan memadai secara mandiri atau melengkapi strategi vaksinasi lain saat digunakan bersamaan.

“On site immunity dari vaksin ini begitu cepat. Pada 14 hari sudah memproteksi di 75%, lalu di umur 19 hari proteksi meningkat menjadi 93%,” kata Dr Nicky. “Menariknya, vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND ini mengatasi virus­virus di lapangan. Contohnya di Indonesia yang saat ini naik daun virus ND genotipe VII. Studi yang dilakukan di Malaysia dan Thailand juga membuktikan vaksin ini bisa memberikan perlindungan yang optimal dan menurunkan viral shedding.”

Lebih lanjut Dr Nicky mencontohkan efikasi vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND terhadap tantangan virus ND genotipe VII pada Ayam SPF (specific pathogen free) di Malaysia. Pemberian tunggal Poulvac® Procerta® HVT-ND terbukti efektif memberikan perlindungan. Tingkat perlindungan yang ditunjukkan berkisar antara 95%­100% saat diberikan secara subkutan atau in ovo. Perlindungan tetap teramati baik dengan maupun tanpa penggunaan vaksin ND hidup dan inaktif lainnya.

Poulvac® Procerta® HVT-ND dirancang dengan tujuan menghasilkan perlindungan terhadap ND yang paling cepat dan paling tangguh. Kompatibilitas Poulvac® Procerta® HVT-ND dengan vaksin lain merupakan kunci dalam merancang program vaksinasi yang optimal. Terbukti efektif melawan virus ND genotipe VII.

IBD dan Reovirus, Silent Threat pada Unggas

Sementara itu Dr Kalen Cookson men jelaskan bahwa IBD varian bisa menyebabkan kerusakan bursa dan imunosupresi yang signifikan tanpa gejala kritis yang jelas dan dapat menjadi silent killers. Sehingga surveillance aktif sangat penting meskipun tidak terlihat secara klinis. Semakin dini terinfeksi IBD, semakin besar resiko terjadinya imunosupresi berat dan juga berkepanjangan.

Keberhasilan proteksi terhadap IBD varian pada progeny sangat bergantung pada kombinasi priming breeder yang baik, kualitas vaksin killed yang tinggi, dan juga maternal immunity yang cukup untuk menunda infeksi lapangan pada periode awal kehidupan.

Mirip dengan IBD, infeksi reovirus juga dapat bersifat insidious atau diam­diam. Efek pada pullet tidak terlalu terlihat, tapi dapat menyebabkan masalah kaki pada breeder, bahkan berdampak pada performa broiler juga turunannya.

Program vaksinasi reovirus pada breeder sebaiknya dibangun sejak dini, dengan vaksin live untuk priming. Kemudian dilanjutkan dengan booster atau vaksin primer sebelum vaksin killed agar breeder terlindungi dan dapat menghasilkan maternal antibody yang kuat untuk progeny.

“IBD varian dan juga reovirus semakin banyak ditemukan dari hasil surveillance. Sehingga program vaksinasi breeder perlu dibuat lebih komprehensif untuk memberikan perlindungan yang optimal pada progeny,” jelas Dr Kalen.

Selanjutnya Dr Kalen memaparkan vaksin Poulvac Maternavac® 4 yang memiliki kemampuan cross protection kuat terhadap berbagai IBD varian. Termasuk perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru, terhadap VVIBD terbaru, juga IBDV varian.

Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan dasar perlindungan reovirus yang kuat dengan serokonversi reovirus yang tinggi dibandingkan produk kombinasi.

Dr Kalen mengatakan, “Poulvac Maternavac® 4 memiliki kemampuan tak tertandingi dalam memberikan perlindungan silang terhadap berbagai varian IBDV tipe A2. Vaksin ini memberikan perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru Del­E yang serupa dengan SHG­19, serta perlindungan silang yang lebih unggul terhadap vvIBDV tipe A3 dan varian IBDV tipe A4. Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan perlindungan dasar terbaik terhadap reovirus dengan tingkat serokonversi reovirus tertinggi dibandingkan produk IBD/Reo lainnya.”

Booth Zoetis Jadi Ruang Interaksi

Booth Zoetis Indonesia di ajang ILDEX 2026 menjadi salah satu titik temu bagi perusahaan dengan para pelaku industri perunggasan. Selama pameran berlangsung, booth Zoetis ramai dikunjungi oleh peternak, mitra bisnis, distributor, serta profesional di bidang kesehatan hewan. Para pengunjung berkesempatan berdiskusi langsung dengan tim Zoetis mengenai berbagai solusi kesehatan hewan dan perkembangan industri perunggasan, sekaligus mempererat hubungan dengan pelanggan dan mitra di Indonesia.

Booth Zoetis Indonesia juga menawarkan aktivitas interaktif bagi pengunjung berupa semacam permainan berhadiah. Pengunjung yang beruntung mendapatkan berbagai merchandise menarik dari Zoetis. Aktivitas ini membuat suasana booth lebih hidup, sekaligus menjadi cara Zoetis untuk menciptakan interaksi yang lebih santai dan dekat dengan para pengunjung pameran. (ADV)

RESMI TERPILIH, DRH MARIA THERESIA WIDIASTUTI PIMPIN PB PDHI PERIODE 2026-2030

Drh M. Th. Widiastuti, Ketua Umum PB PDHI periode 2026-2030. (Foto: Dok. PDHI)

Drh Maria Theresia (M. Th.) Widiastuti resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) untuk periode 2026-2030. Kepastian ini diperoleh setelah ia unggul atas tiga calon pesaing yang masing-masing berasal dari Jawa Timur, Kalimantan Timur II, dan Jawa Barat V dalam Kongres ke-20 PB PDHI yang berlangsung pada 15-18 Oktober 2026.

Mengawali masa kepemimpinannya, kepada Infovet, wanita yang akrab disapa Tuti ini menyampaikan bahwa fokus utama organisasi dalam jangka pendek adalah melakukan penataan internal secara menyeluruh. Salah satunya adalah penguatan unit peminatan non-teritorial. Unit ini diproyeksikan sebagai basis penguatan kompetensi para dokter hewan agar mampu menjawab tantangan profesi yang semakin berkembang.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga terus berkomitmen penuh untuk mengawal keberhasilan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan dan Layanan Kedokteran Hewan. “Segera dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk ditetapkan sebagai UU,” ujarnya.

Kehadiran undang-undang ini sangat vital sebagai payung hukum yang menaungi standar pendidikan kedokteran hewan, perlindungan profesi, hingga peningkatan mutu layanan kepada masyarakat dan industri terkait.

Guna mewujudkan agenda-agenda besar tersebut, Tuti juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi erat dengan berbagai pihak. Penataan profesi dan regulasi kedokteran hewan memerlukan kerja sama yang solid antara PDHI, seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), pemerintah, serta DPR.

Dalam kepemimpinannya yang baru ini diharapkan dirinya dapat menjalankan amanah serta tanggung jawab dengan baik, membawa kemajuan signifikan bagi PDHI, serta diberi kelancaran dalam memperkuat sinergi dan mewujudkan program-program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat. (INF)

VAKSINDO TEMBUS PASAR AFRIKA DENGAN EKSPOR PERDANA VAKSIN UNGGAS SENILAI 1,9 MILIAR

Ekspor perdana vaksin unggas Vaksindo, penanda luasnya kiprah industri kesehatan hewan Indonesia di pasar internasional. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

Perjalanan PT Vaksindo Satwa Nusantara (Vaksindo) memperluas pasar internasional memasuki babak baru. Pada Kamis (24/9), produsen vaksin hewan yang merupakan bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) ini secara resmi melepas ekspor perdana vaksin unggas ke Zambia, Uganda, Malawi, dan Republik Demokratik Kongo.

Seremoni pelepasan ekspor perdana berlangsung di kawasan Vaksindo Plant 1, Bogor dan disaksikan secara langsung oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Dr Drh Agung Suganda MSi beserta jajaran.

Ekspor tersebut mencakup 8.475 juta dosis vaksin dengan nilai USD 106.875 atau sekitar Rp 1,9 miliar. Bagi Vaksindo, langkah ini bukan sekadar pencapaian komersial, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang untuk memperluas akses terhadap solusi pencegahan penyakit unggas.

Presiden Direktur Vaksindo sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, mengatakan ekspansi ke Afrika merupakan kelanjutan dari perjalanan Vaksindo dalam membangun pasar global.

“Ekspor vaksin ke pasar Afrika ini merupakan komitmen berkelanjutan kami untuk menyediakan solusi pencegahan penyakit unggas yang didukung riset ilmiah, pengalaman panjang, serta standar kualitas yang konsisten di tingkat global,” tegas Teguh.

Selain menandai semakin kuatnya daya saing industri kesehatan hewan Indonesia di pasar internasional, juga membuka akses solusi pencegahan penyakit unggas bagi peternak di kawasan Afrika.

Sebelum memasuki pasar Afrika, Vaksindo telah mengekspor berbagai produk vaksin dan obat hewan ke lebih dari 25 negara di Asia, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Ekspansi ke Afrika memperluas jejak tersebut, sekaligus menunjukkan produk kesehatan hewan produksi Indonesia memiliki peluang untuk diterima di berbagai kawasan dengan karakteristik pasar dan kebutuhan yang berbeda.

Sepuluh Produk untuk Pasar Afrika

Seremoni pelepasan ekspor perdana dihadiri jajaran Kementerian Pertanian dan Direksi JAPFA.

Pada ekspor perdana ini, Vaksindo membawa 10 produk vaksin unggulan. Antara lain Vaksimune NDL IB Plus, Vaksimune IBH Duo, Vaksimune ND Inaktif, Vaksimune ND Inaktif 0,1, Vaksimune Coryza LE, Vaksimune ND Clone IB, Vaksimune IBD D, Vaksimune Pox, Vaksimune NDHV, dan Vaksimune ND LS IB.

Rangkaian produk tersebut ditujukan untuk membantu pengendalian berbagai penyakit unggas yang berpotensi mengganggu kesehatan dan produktivitas peternakan. Kehadiran produk-produk tersebut di pasar Afrika diharapkan dapat mendukung kebutuhan sektor peternakan, serta membuka ruang bagi pengembangan kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.

“Ekspor vaksin ini membuktikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing dan menembus pasar internasional. Untuk sampai ke sana, produk kita harus memenuhi persyaratan dan standar yang tidak mudah,” kata Agung Suganda.

Menurutnya, capaian tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat industri kesehatan hewan nasional. Pemerintah terus mendorong penguatan industri dalam negeri dan ekspor produk kesehatan hewan sebagai bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah.

Data Kementan menunjukkan, nilai ekspor obat hewan Indonesia pada 2025 mencapai USD 438,10 juta. Sementara pada periode Januari-Juli 2026, nilai ekspor tercatat USD 66,37 juta, dengan produk obat hewan Indonesia telah dipasarkan ke 95 negara di berbagai kawasan dunia.

Mutu Menjadi Kunci

Menembus pasar internasional tentu tidak hanya berbicara mengenai kapasitas produksi. Kementan melalui Ditjen PKH terus memperkuat dukungan terhadap industri obat hewan. Mulai dari pemenuhan persyaratan teknis, penguatan regulasi, komunikasi dengan otoritas veteriner negara tujuan, penjaminan mutu, serta pembukaan akses pasar baru.

Salah satu fondasi penting dalam proses tersebut adalah sistem pengujian dan sertifikasi nasional. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) telah mendapat pengakuan sebagai laboratorium rujukan ASEAN untuk pengujian vaksin hewan.

“Semakin kuat sistem penjaminan mutu kita, semakin besar peluang produk vaksin Indonesia diterima di lebih banyak negara,” imbuh Agung.

Bagi Vaksindo, konsistensi terhadap mutu menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pasar. Vaksindo didirikan pada 1983, dikenal sebagai produsen vaksin hewan pertama di Indonesia dan menjadi bagian strategis dari rantai nilai JAPFA. Sebagai produsen vaksin berbasis riset, Vaksindo terus mengembangkan portofolio vaksin ternak khususnya unggas yang digunakan di hatchery, breeding, dan peternakan komersial.

Dari Indonesia untuk Dunia

Jajaran truk kontainer membawa produk vaksin Vaksindo ke empat negara Afrika.

Ekspansi bisnis vaksin ke Afrika memperlihatkan eratnya keterkaitan antara penguatan industri kesehatan hewan dan ketahanan pangan. Kesehatan ternak menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga produktivitas dan keberlanjutan produksi pangan asal hewan.

Pengembangan vaksin tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pasar saat ini. Perubahan tantangan penyakit menuntut inovasi yang berkelanjutan, sekaligus kemampuan industri untuk merespons kebutuhan peternakan secara tepat.

Kemampuan memproduksi vaksin sendiri juga bermakna bagi kedaulatan vaksin Indonesia. Vaksindo mengembangkan vaksin hewan menggunakan strain lapangan dari dalam negeri, sehingga Indonesia memiliki kemampuan menyediakan solusi kesehatan hewan secara mandiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada produk impor.

“Setiap vial vaksin yang digunakan di peternakan mancanegara terdapat pencantuman ‘Made in Indonesia’. Identitas yang menunjukkan bahwa kemampuan industri kesehatan hewan Indonesia tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan domestik, tetapi telah bergerak menuju panggung dunia,” tandas Teguh.

Vaksindo terus membuka peluang kemitraan strategis di berbagai kawasan baru untuk memastikan semakin banyak peternak dunia mendapatkan akses terhadap vaksin berkualitas tinggi.

Arah tersebut sejalan dengan misi Vaksindo sebagai penyedia solusi global yang semakin berkembang dan menjadi pilihan utama di bidang kesehatan hewan. Secara konsisten menghadirkan produk dan layanan berkualitas tinggi yang relevan bagi stakeholder, masyarakat, dan lingkungan. (ADV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer