-->

Featured Posts

PERANG DAN GEJOLAK EKONOMI MENYEBABKAN KONSUMSI DAGING AYAM DI IRAN TURUN HINGGA SEPARUHNYA

Konsumsi daging ayam di Iran telah turun sekitar 50% selama setahun terakhir. Menurut perwakilan industri, hal ini disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi, reformasi subsidi, serta dampak ekonomi dari konflik terkini negara tersebut dengan Israel dan AS, yang telah mengguncang baik produsen unggas maupun konsumen.

"Kenaikan harga ayam hingga empat kali lipat setelah penghapusan nilai tukar khusus secara langsung menurunkan daya beli konsumen dan memangkas konsumsi ayam hingga sekitar separuhnya," ujar Abdollah Ghasemi, anggota dewan Asosiasi Peternak Unggas Gilan.

Ghasemi mengaitkan krisis ini dengan kombinasi kebijakan pemerintah dan gangguan akibat situasi perang. Ia mengatakan bahwa penghapusan nilai tukar bersubsidi untuk pakan impor, vaksin, dan bahan tambahan pakan, ditambah dengan pengendalian harga yang diberlakukan selama konflik, telah sangat menekan margin keuntungan para produsen unggas.

"Biaya produksi melonjak tajam dan para peternak unggas kehilangan kemampuan untuk melanjutkan produksi," kata Ghasemi.

Menurut data resmi, produksi unggas telah merosot drastis dalam beberapa bulan terakhir. Ghasemi menyebutkan bahwa produksi ayam bulanan turun dari 140 juta ekor pada awal tahun menjadi 94 juta ekor dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, penurunan pasokan belakangan ini telah mendorong kenaikan harga, terutama setelah pemerintah mengumumkan program voucher pangan baru yang sempat meningkatkan permintaan untuk sementara waktu.

Sepanjang tahun ini, perwakilan industri unggas Iran terus mengeluhkan penurunan tingkat konsumsi. Pada bulan Mei, Farzad Talakesh, Sekretaris Jenderal Federasi Unggas Iran, menyatakan bahwa konsumsi ayam telah turun sekitar 25% akibat lonjakan inflasi dan penurunan daya beli rumah tangga.

Laporan mengenai merosotnya konsumsi ayam ini bertolak belakang dengan perkiraan yang lebih optimistis dari pihak berwenang Iran. Awal bulan ini, Kementerian Pertanian Iran menyatakan bahwa konsumsi ayam per kapita tahunan mencapai 26 kg, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 15 kg.

Di tengah penurunan konsumsi tersebut, industri ini juga mengalami kerugian besar di sektor pembibitan. Ghasemi mengungkapkan bahwa 40 juta DOC dimusnahkan karena produsen tidak dapat menyalurkannya, sementara banyak peternakan pembibitan memotong induk unggas dan menjual telur fertil ke pasar telur konsumsi alih-alih menggunakannya untuk penetasan.

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

RAS AYAM LOKAL ASLI SPANYOL DI TENGAH IKLIM YANG MENGHANGAT

Seiring perubahan iklim mengubah kondisi pemeliharaan ternak, keterbatasan jika hanya mengandalkan ras unggas komersial berproduktivitas tinggi pun kian nyata. Ras lokal asli, yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat, mungkin memiliki karakteristik penting bagi ketahanan di masa depan.

Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman paling signifikan terhadap ketahanan pangan global, karena ditandai dengan suhu ekstrem, kekeringan berkepanjangan, pola curah hujan yang tidak menentu, serta munculnya penyakit dan parasit. Semua faktor ini mengurangi kapasitas ekosistem pertanian dalam menghasilkan pangan yang memadai, aman, dan bergizi.

Dalam beberapa dekade terakhir, meningkatnya permintaan akan produk peternakan telah dipenuhi melalui intensifikasi sistem produksi yang berkelanjutan, yang melibatkan unit produksi berskala besar dan intensif dengan menggunakan ras unggul bergenetika terbaik, yang diseleksi demi produktivitas dan efisiensi pakan yang maksimal.

Peningkatan taraf produksi ini didukung oleh sumber pakan berkualitas tinggi (yang sering kali didatangkan melalui impor) yang memungkinkan perwujudan sifat-sifat produksi hasil perbaikan genetik, serta oleh penerapan peternakan presisi yang berbasis pada pemantauan, pengendalian, dan umpan balik secara berkelanjutan, otomatis, dan real-time terkait aspek reproduksi, kesehatan, kesejahteraan hewan, maupun dampak lingkungannya.

Namun, globalisasi galur genetik unggul menyebabkan hilangnya keragaman genetik akibat dominasi pasar global. Padahal, keragaman sumber daya genetik untuk pangan dan pertanian memegang peranan krusial dalam ketahanan pangan; hal ini terutama karena ras lokal, yang dikembangkan dan beradaptasi dengan lingkungan setempat, mungkin menyimpan gen-gen yang diperlukan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kurang optimal. Oleh karena itu, evaluasi terhadap sumber daya genetik lokal menjadi hal yang mutlak diperlukan demi menjamin keberhasilan produksi peternakan di masa depan.

Pada unggas, stres panas akibat perubahan iklim menghambat pertumbuhan, menurunkan kemampuan reproduksi, mengurangi produksi telur serta kualitas daging, dan meningkatkan angka kematian. Sebagai contoh, pada tahun 2022, seorang peternak ayam petelur produktivitas tinggi di Spanyol bagian utara kehilangan 5.000 ekor ayam hanya dalam hitungan jam akibat stres panas saat gelombang panas bulan Juli—ketika suhu mencapai lebih dari 42°C, yang mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar €25.000.

Sama halnya dengan di negara-negara lain, banyak ras unggas asli Spanyol yang terancam punah. Sejak tahun 1975, Instituto Nacional de Investigación y Tecnología Agraria y Alimentaria (INIA-CSIC) telah memelihara koleksi ras unggas Spanyol secara in vivo.

Saat ini, terdapat 10 ras ayam yang menjadi bagian dari program konservasi: Castellana Negra, Cara Blanca, Andaluza Azul, Andaluza Franciscana, Vasca Barrada, Andaluza Perdiz, Villafranquina Roja, Prat Leonada, Prat Blanca, dan Pardo de Leon.

Penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan respons stres yang diukur melalui rasio heterofil terhadap limfosit (H/L) dalam darah saat terjadi stres panas alami, Andaluza Azul dan Andaluza Perdiz memiliki kombinasi produksi telur tinggi namun ketahanan rendah terhadap stres panas, sedangkan Villafranquina Roja dan Prat Leonada memiliki produksi telur rendah namun ketahanan tinggi terhadap stres panas.

Sebaliknya, Andaluza Franciscana menunjukkan produksi telur yang tinggi sekaligus ketahanan yang tinggi terhadap stres panas. Penelitian lain telah mengonfirmasi ketangguhan galur Prat Leonada dan Andaluza Franciscana serta toleransi yang lebih rendah pada Andaluza Azul.

Mengingat keberlanjutan sistem produksi dalam konteks perubahan iklim menuntut pilihan pemuliaan dan tujuan seleksi genetik yang inovatif demi meningkatkan toleransi terhadap panas, penelitian menekankan pentingnya mengidentifikasi latar belakang genetik terkait ketahanan terhadap cekaman panas dan potensi produksi pada galur-galur lokal (autokton).

Meskipun galur lokal umumnya tidak melalui proses seleksi dan memiliki tingkat produksi yang lebih rendah dibandingkan galur komersial, persilangan antara galur komersial dan galur lokal dapat menggabungkan alel-alel unggul dari galur komersial berproduktivitas tinggi dengan gen-gen galur lokal, sehingga meningkatkan ketahanan.

USDA MEMBATALKAN INISIATIF YANG BERTUJUAN MELINDUNGI PETERNAK AYAM PEDAGING

Departemen Pertanian AS (USDA) mengubah arah kebijakannya terkait tiga aturan hukum yang sedianya akan berdampak pada sebagian besar peternak ayam pedaging di AS. Aturan-aturan ini seharusnya mulai berlaku pada bulan Juli 2026.

Menurut USDA, banyak peternak ayam pedaging dan sejumlah organisasi pertanian, ketiga aturan tersebut bertujuan melindungi peternak yang terikat kontrak dengan perusahaan pengolah berskala besar dari sistem pembayaran yang tidak adil dan kewajiban pengeluaran tambahan yang dipaksakan. Ketiga aturan tersebut merupakan bentuk reformasi terhadap Packers and Stockyards Act.

Pada tahun 2024, USDA mencatat adanya "berbagai bentuk penyalahgunaan" yang dialami peternak ayam pedaging dalam sistem pembayaran yang dikenal sebagai sistem 'turnamen' (perbandingan antar-produsen). Selain itu, USDA mengonfirmasi adanya persyaratan tidak adil yang terkadang ditetapkan oleh perusahaan pengolah besar terhadap peternak mitra mereka, seperti kewajiban menanggung "pengeluaran modal tambahan" (misalnya, perubahan pada fasilitas kandang).

Untuk mengatasi hal ini, aturan tersebut sedianya akan menyediakan "sarana penting agar peternak dapat lebih baik dalam mengidentifikasi risiko yang mungkin timbul dari praktik peningkatan modal," demikian pernyataan USDA pada tahun 2024, "serta meningkatkan kemampuan USDA dalam menegakkan larangan yang sudah ada terhadap praktik-praktik yang tidak adil."

Pada bulan Oktober 2025, National Chicken Council (NCC) dan North American Meat Institute (yang mewakili perusahaan pengolahan daging terbesar di AS) menggugat USDA untuk membatalkan aturan kedua. Mereka mengklaim aturan tersebut melanggar hukum dan akan merugikan perusahaan karena memaksakan "kewajiban kepatuhan dan pencatatan" yang mahal, serta memaksa mereka "mengubah praktik kontrak semata-mata untuk menghindari kemungkinan litigasi".

Setelah USDA kembali membuka sesi tanggapan publik, pada tanggal 1 Juni 2026, badan tersebut meresmikan aturan kedua namun menunda pelaksanaannya dari Juli 2026 menjadi 31 Desember 2027. Akan tetapi, sebagaimana telah disebutkan, USDA kini akan mencabut ketiga aturan tersebut melalui proses pembuatan peraturan federal.

Media pertanian melaporkan adanya penentangan dari dua organisasi pertanian besar di AS terhadap perubahan arah kebijakan USDA ini. American Farm Bureau Federation dan National Farmers Union menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa mereka "sangat prihatin" dan mendesak Presiden Trump serta Menteri Pertanian Brooke Rollins untuk memastikan USDA menindaklanjuti hal tersebut. Namun, sebagaimana telah diperkirakan, NCC menyambut baik pembatalan aturan itu. NCC menyatakan bahwa aturan-aturan tersebut "mengancam akan merusak model industri yang efisien dan sukses".

IRAK BERUPAYA MENCAPAI SWASEMBADA DAGING UNGGAS DAN TELUR

Sektor unggas Irak bersiap untuk langkah baru menuju swasembada, seiring dengan langkah Kementerian Pertanian yang meluncurkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, Kementerian menyebutkan bahwa industri unggas di negara tersebut terkendala oleh tingginya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga pakan dan obat-obatan hewan. Hambatan lainnya, tambah Kementerian, meliputi wabah penyakit, rendahnya produktivitas unggas lokal, serta persaingan dari produk unggas impor yang terkadang masuk secara ilegal ke dalam negeri.

"Terkadang produk-produk tersebut, unggas impor, masuk ke pasar dengan harga lebih rendah dan melemahkan daya saing produsen dalam negeri," tambah Kementerian.

Irak masih memiliki jalan panjang untuk mencapai swasembada produksi unggas, mengingat produksi dalam negeri masih jauh dari kebutuhan konsumsi. Menurut Kementerian, saat ini negara tersebut memproduksi 5-6 miliar butir telur konsumsi per tahun, sementara permintaan dalam negeri mencapai sekitar 9 miliar butir.

Kesenjangan pasokan ini bahkan lebih mencolok pada komoditas daging unggas. Produksi diperkirakan mencapai sekitar 400.000 metrik ton pada tahun 2026, sedangkan kebutuhan konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai sekitar 900.000 metrik ton.

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

SEKTOR UNGGAS BOTSWANA TUMBUH, NAMUN TANTANGAN PERSAINGAN MASIH ADA

Industri unggas Botswana telah menunjukkan kemajuan pesat menuju swasembada dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung oleh investasi pemerintah dan peningkatan produksi lokal. Namun, studi pasar regional yang dilakukan oleh Botswana Competition and Consumer Authority (CCA) menunjukkan bahwa tingginya biaya produksi, terbatasnya persaingan, dan mahalnya harga pakan terus memengaruhi daya saing jangka panjang sektor ini.

Awal tahun ini, Botswana mengumumkan pencapaian swasembada daging ayam dan telur konsumsi. Nilai subsektor unggas meningkat dari P1,7 miliar (US$124 juta) pada tahun 2022 menjadi P3,5 miliar (US$256 juta) pada tahun 2025. Pemerintah telah menetapkan industri unggas sebagai sektor strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Untuk melanjutkan kemajuan ini, Citizen Entrepreneurial Development Agency (CEDA) meluncurkan program Poultry Financial Suite yang telah diperbarui pada bulan Mei. Program ini diharapkan dapat mendukung 269 peternak unggas, mendirikan 3 tempat penetasan yang mampu memproduksi lebih dari 18 juta anak DOC per tahun, memperkuat produksi pakan lokal, serta menginvestasikan dana mendekati P1 miliar (US$73 juta) di sektor unggas.

Investasi ini mencerminkan ambisi Botswana untuk terus memperluas produksi lokal dan membangun industri unggas yang lebih tangguh.

Terlepas dari kemajuan tersebut, studi pasar unggas regional CCA; yang meneliti industri unggas di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zambia; menemukan bahwa pasar masih sangat terkonsentrasi. Sejumlah kecil perusahaan mendominasi beberapa bagian rantai nilai unggas, mulai dari pembibitan hingga pengolahan, sehingga menyulitkan produsen berskala lebih kecil untuk bersaing.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa Botswana tetap menjadi produsen unggas dengan biaya relatif tinggi, di mana pakan merupakan komponen terbesar dari biaya produksi. Ketergantungan pada input impor dan tingginya biaya transportasi terus menekan margin keuntungan produsen, yang pada akhirnya berkontribusi pada harga unggas yang lebih tinggi.

Menurut studi tersebut, banyak perusahaan unggas terbesar di Botswana memiliki hubungan komersial yang erat dengan perusahaan-perusahaan besar asal Afrika Selatan, khususnya di bidang pembibitan dan pengolahan. Kondisi ini, ditambah dengan pembatasan impor yang dirancang untuk melindungi produksi lokal, telah menciptakan pasar dengan tingkat persaingan yang terbatas.

Industri unggas Botswana telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperluas produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tantangan berikutnya adalah mengembangkan capaian ini dengan menciptakan pasar yang kompetitif, efisien, dan mampu menyediakan produk unggas yang terjangkau bagi konsumen.

SISTEM AI ASAL BRASIL HADIRKAN AKURASI 99% DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN ANAK AYAM

Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama yang sepenuhnya berasal dari Brasil untuk menentukan jenis kelamin anak ayam pedaging (broiler) di tempat penetasan kini telah beroperasi di Pluma Agroavícola, salah satu perusahaan genetika unggas terkemuka di negara tersebut.

Sistem yang diberi nama HatchFlex ini dikembangkan oleh perusahaan Brasil, SmartPixel, dan memadukan kecerdasan buatan, visi komputer, otomatisasi industri, serta sistem optik berpresisi tinggi untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak ayam secara cepat, konsisten, dan andal.

Menurut Lauri Paludo, presiden Grupo Pluma, penerapan sistem ini merupakan langkah maju yang besar bagi perusahaan. "Kami terus berinvestasi dalam teknologi, modernisasi, dan peningkatan proses karena kami yakin inilah jalan untuk mempertahankan keunggulan produk serta daya saing operasional kami," ujarnya.

Menurut Décio Luiz Goldoni, manajer tempat penetasan di Pluma Agroavícola, sistem HatchFlex membawa transformasi signifikan bagi operasional perusahaan. "Ini adalah teknologi mutakhir yang menghadirkan akurasi lebih tinggi dalam proses penentuan jenis kelamin anak ayam. Selain meningkatkan produktivitas, otomatisasi juga membantu memperbaiki kondisi kerja bagi tim kami serta memperkuat komitmen kami terhadap kualitas di setiap tahapan produksi."

Fitur unggulan lainnya dari sistem ini adalah fokusnya pada kesejahteraan hewan. Proyek ini dikembangkan untuk memenuhi standar kesejahteraan internasional yang ketat, guna memastikan unggas ditangani dengan aman dan hati-hati di sepanjang prosesnya.

INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI

Di dunia peternakan yang terus berubah, informasi saja tidak cukup. Regulasi obat hewan berkembang, menajemen kesehatan ternak semakin kompleks, dan strategi budi daya membutuhkan pemahaman yang terus diperbarui.

Karena itu, Infovet Academy hadir untuk membantu praktisi, dokter hewan, pelaku industri, dan pembudidaya mengubah informasi kompetensi yang bisa diterapkan.

Apa yang didapat?
- Materi praktis dan terstandar dari pakar dan praktisi berpengalaman
- Akses belajar fleksibel, on-demand
- E-sertifikat resmi setelah menyelesaikan program
- Materi dapat dipelajari ulang dan tersedia dalam format ringkasan praktis

Program kelas populer:
- Panduan Lengkap Pendaftaran Obat Hewan
- Sterilisasi Hewan Kesayangan dalam Perspektif Medis

Jangan biarkan kompetensi Anda berhenti pada pengalaman lama. Upgrade pengetahuan, tingkatkan keterampilan, dan siapkan diri menghadapi tantangan industri peternakan ke depan.

Daftar sekarang di Infovet Academy:
WhatsApp CS: 0813-1631-2042

Dari informasi menjadi kompetensi. Investasi terbaik untuk masa depan profesi Anda.
https://www.instagram.com/reel/DdC_4qBB8jn/?stkn=dmNoNjBkbTFudnR4

TIPS WIRAUSAHA KOMPOS KOTORAN SAPI YANG BISA DIKERJAKAN SENDIRI

Usahakan membeli kotoran sapi yang sudah siap dikompos. Ciri-cirinya adalah kotorannya kering, bobotnya ringan karena kandungan air sedikit. Baunya tidak menyengat. Kotorannya berbutir-butir kecil, tidak masih dalam bentuk gumpalan besar-besar yang masih basah.

Kotoran sapi yang demikian akan lebih cepat untuk dibuat kompos.

Penting juga untuk memilih kotoran sapi yang cukup bersih. Yaitu tidak tercampur dengan banyak keriril, tanah, sampah plastik, dan bahan penganggu lainnya. Karena selain buang waktu dan tenaga untuk memilahnya, juga kalau campuran sampah dan lain-lain tersebut banyak bisa membuat proses pengomposan lebih lama.

Untuk pengomposannya pilih teknik yang bisa dikerjakan sendirian. Mungkin pilih metode yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, misal tidak membutuhkan pembalikan/pengadukan yang sering.

Merapikan keuangan juga penting. Ambil sebagian laba sebagai gaji pribadi. Sisa laba dan modal simpan sebagai uang usaha, untuk membeli bahan baku dan ongkos produksi batch berikutnya.

Pemasaran jika baru mampu berproduksi skala kecil bisa menyasar rumah tangga, sekolah, dan perkantoran.

PETERNAK UNGGAS DI ZIMBABWE KEDAPATAN MENGGUNAKAN OBAT HIV DALAM PAKAN TERNAK

Industri unggas Zimbabwe tengah menghadapi skandal kesehatan yang kian membesar, menyusul terungkapnya praktik ilegal di mana peternak ayam pedaging mencampurkan obat antiretroviral (ARV) ke dalam pakan ayam, dengan tujuan menekan angka kematian dan mempercepat pertumbuhan ternak.

Southern Africa Accountability Journalism Project (SA AJP), sebuah inisiatif jurnalisme investigasi yang berfokus pada akuntabilitas publik, mewawancarai dua sumber di industri unggas yang membenarkan adanya praktik penambahan obat HIV ke dalam pakan ternak.

Sebagai contoh, seorang peternak yang beroperasi di kawasan Waterfalls, Harare, mengakui bahwa ia secara diam-diam mencampurkan obat ARV, yang dibelinya secara ilegal dari seorang petugas kesehatan di rumah sakit setempat, ke dalam pakan ayamnya.

Peternak tersebut menyatakan bahwa motivasi awalnya bukanlah untuk mempercepat pertumbuhan ayam, melainkan untuk mengurangi kerugian akibat penyakit unggas yang umum terjadi. Baru belakangan ia meyakini bahwa obat-obatan tersebut juga dapat membantu ayam tumbuh lebih cepat.

Yang menarik, para peternak yang diwawancarai mengungkapkan bahwa obat HIV memberikan dampak luar biasa bagi usaha mereka.

Peternak tersebut, yang sebelumnya berada di ambang kehancuran akibat wabah penyakit Newcastle, mendapati penurunan nyata pada angka kematian ayam serta peningkatan keuntungan.

Terlepas dari potensi efektivitasnya, penggunaan obat HIV dilarang keras di Zimbabwe.

Sejumlah pejabat kesehatan setempat telah menyuarakan kekhawatiran bahwa praktik ini dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, khususnya bagi orang yang hidup dengan HIV. Para analis memperingatkan bahwa konsumen yang secara rutin mengonsumsi unggas yang terpapar obat antiretroviral berisiko menelan residu obat tersebut, meskipun sejauh mana risiko kesehatan yang ditimbulkannya belum diteliti secara mendalam.

Terdapat pula kekhawatiran bahwa paparan berulang terhadap residu ARV berpotensi mengganggu pengobatan HIV pada pasien yang memang sedang mengonsumsi obat tersebut, kendati bukti langsung mengenai dampak semacam itu pada manusia masih terbatas.

KAMERA PINTAR MENGUNGKAP RESPONS AYAM BROILER TERHADAP STRES PANAS DAN PERTAMBAHAN USIA

Sebuah studi baru yang menggunakan teknologi computer vision canggih telah memberikan wawasan baru mengenai perubahan perilaku ayam broiler sepanjang siklus produksi. Hal ini menawarkan sarana baru bagi para peternak unggas untuk memantau kesejahteraan, mendeteksi masalah sejak dini, dan mengelola stres panas secara lebih efektif.

Para peneliti memantau 1.120 ekor ayam broiler jenis Ross 308 selama empat siklus produksi menggunakan sistem pelacakan multi-kamera yang mampu mengikuti pergerakan ayam sejak usia 8 hingga 40 hari. Teknologi ini secara otomatis mengukur tingkat aktivitas serta perilaku makan dan minum, sehingga memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya mengenai bagaimana perilaku broiler berkembang seiring pertumbuhan ayam.

Temuan ini mengonfirmasi banyak pengamatan yang sudah dikenal oleh para peternak unggas, sekaligus menunjukkan bagaimana pemantauan otomatis dapat mengubah cara penilaian kesejahteraan ayam di kandang komersial.

Salah satu kesimpulan yang paling jelas adalah bahwa usia memiliki dampak besar terhadap aktivitas. Seiring pertumbuhan ayam broiler, pergerakan secara keseluruhan menurun secara signifikan. Aktivitas intensitas tinggi, seperti berlari, mulai berkurang sejak usia 15 hari dan menurun lebih cepat dibandingkan pergerakan dengan intensitas lebih rendah. Pada usia sekitar 30 hari, tingkat aktivitas di semua kategori terlihat jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Patricia Soster dari Departemen Patobiologi, Farmakologi, dan Kedokteran Zoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Ghent, Belgia, hal ini mencerminkan realitas biologis ayam broiler modern. Seiring bertambahnya berat badan, pergerakan menjadi lebih berat secara fisik dan ayam secara alami mencurahkan lebih banyak energi untuk pertumbuhan daripada untuk bergerak. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengaitkan penurunan aktivitas pada ayam yang lebih tua dengan masalah mobilitas dan kesehatan kerangka yang lebih buruk.

Bagi para peternak, temuan ini penting karena aktivitas dapat menjadi sinyal peringatan dini. Penyimpangan yang signifikan dari pola aktivitas yang diharapkan dapat mengindikasikan munculnya masalah kesejahteraan, termasuk kepincangan, gangguan kaki, atau masalah manajemen pemeliharaan.

Perilaku minum yang disertai dengan berkurangnya kunjungan ke tempat pakan dapat menjadi peringatan dini bahwa ayam sedang kesulitan menghadapi kenaikan suhu.

TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED

Ketua Umum Kafapet Unsoed Periode 2026-2030, Teguh Sudaryatno. (Foto: Dok. kafapet Unsoed)

Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) kembali mempercayakan Teguh Sudaryatno sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed melalui Musyawarah Nasional VI (Munas VI) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Sekretaris Panitia Munas VI Kafapet Unsoed, Farid Dimyati, mengatakan pemilihan ketua umum berlangsung lancar dan ditempuh melalui musyawarah mufakat setelah tiga kandidat memenuhi ketentuan dalam tata tertib persidangan.

"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.

Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.

Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).

Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.

Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.

"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.

Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.

"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.

Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)

LAYER ACADEMY MEMILIH KANDIDAT UNTUK PROGRAM PENGEMBANGAN

BFREPA Layer Academy angkatan pertama telah memilih 8 orang yang terdiri dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait untuk mengikuti program pengembangan selama 12 bulan di sektor telur ayam free-range, yang disponsori oleh ForFarmers UK.

Akademi ini diluncurkan di ajang Pig and Poultry Fair oleh direktur dewan British Free Range Egg Producers Association (BFREPA), Lucy Hinch, dan Greg Marsh, manajer penjualan unggas di ForFarmers UK. Program ini dijalankan untuk BFREPA oleh Hinch dan Bethany Irwin, dengan dukungan dari berbagai perusahaan di sektor tersebut.

Lamaran datang dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait dari seluruh penjuru negeri. Para kandidat yang terpilih mewakili beragam jenis usaha, sistem produksi, dan latar belakang profesional.

Selama 12 bulan ke depan, kelompok peserta ini akan mengunjungi hatchery, lokasi pemeliharaan pullet, unit kandang free-range dan barn (kandang tertutup dengan akses lantai), fasilitas pengolahan telur, pabrik pakan, serta pusat pengemasan. Sesi-sesi pelatihan akan mencakup berbagai topik seperti program vaksinasi, persyaratan supermarket, pengolahan ayam petelur afkir, dan peran British Egg Industry Council.

Para peserta akan bertemu dengan produsen, ahli nutrisi, pengecer, regulator, dan pengambil keputusan di industri ini. Selain materi teknis, program ini juga mencakup pengembangan kepemimpinan, diskusi, dan kesempatan untuk membangun jejaring.

BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED

Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Kafapet Unsoed. (Foto: Istimewa)

"Bakti Alumni Fakultas Peternakan Unsoed untuk Sukseskan Program Hilirisasi”, menjadi tema Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drijen PKH), Drh Agung Suganda, yang turut hadir mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.

Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.

“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.

Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)

KELEBIHAN PRODUKSI PICU KRISIS HARGA PADA SEKTOR AYAM PEDAGING MAROKO

Para produsen ayam pedaging di Maroko menghadapi tekanan finansial yang kian berat akibat gelombang kelebihan produksi, penurunan ekspor, dan tambahan pasokan ayam petelur afkir yang mendorong harga ayam ke tingkat yang, menurut banyak peternak, tidak lagi mampu menutup biaya produksi mereka.

Perwakilan industri menyatakan bahwa pasar terdampak oleh kelebihan pasokan yang berkepanjangan; harga eceran tetap berada di bawah MAD 20 (US$2,20) per kg di banyak pasar, sementara harga grosir di Casablanca, ibu kota negara tersebut, berkisar antara MAD 11,5 hingga MAD 12,5 per kg (US$1,24 hingga US$1,34). Para peternak unggas mengatakan bahwa tingkat harga ini tidak cukup untuk menutupi biaya produksi.

Mohammed Abboud, ketua Asosiasi Nasional Produsen Ayam Pedaging Maroko, mengatakan bahwa banyak peternak yang membawa ayam mereka ke pasar hanya berjuang untuk memulihkan biaya produksi dan menutupi pengeluaran, tanpa mengharapkan keuntungan sama sekali.

Permintaan saat ini berada di bawah tingkat yang biasanya diharapkan selama musim panas. Abboud menambahkan bahwa permintaan yang terkait dengan peristiwa musiman dan kelompok konsumen utama, seperti warga Maroko yang tinggal di luar negeri yang pulang kampung untuk liburan serta musim pernikahan, belum mencapai tingkat yang diantisipasi oleh para produsen.

Situasi saat ini mengancam keberlangsungan usaha peternakan unggas skala kecil di negara tersebut, yang keberadaannya diyakini sebagai faktor kunci dalam menjaga inflasi pangan tetap terkendali.

Jika produksi nantinya terkonsentrasi hanya pada segelintir perusahaan besar, kata Abboud, harga ayam bisa melonjak tajam di masa depan, sehingga memberikan beban tambahan baik bagi pasar maupun daya beli konsumen.

STUDI MENGKAJI DAMPAK LINGKUNGAN DARI PERUBAHAN POLA PRODUKSI TELUR DI INGGRIS

Para akademisi mengemukakan bahwa beralih sepenuhnya ke metode produksi telur organik dan sistem free-range akan meningkatkan emisi sebesar 60% sekaligus melipatgandakan penggunaan lahan.

Studi tersebut, yang membandingkan beberapa skenario bagi industri telur, termasuk peralihan ke sistem kandang tertutup, free-range, dan organik dengan tetap mempertahankan tingkat produksi saat ini, menunjukkan perlunya sektor ini mempertimbangkan aspek lingkungan saat mengarahkan transisi di masa depan untuk meninggalkan sistem produksi telur dengan kandang baterai.

Para akademisi menemukan bahwa meskipun sistem cage-free mungkin lebih sejalan dengan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan ayam, sistem ini mungkin memerlukan populasi ayam yang lebih besar secara keseluruhan, yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Mereka memperkirakan total dampak lingkungan mencapai 2,3 juta ton setara CO2 untuk model organik penuh, dibandingkan dengan 1,4 juta ton untuk komposisi produksi saat ini dan 1,1 juta ton jika seluruh ayam dipelihara dalam kandang baterai. Angka-angka ini didasarkan pada data dasar dari tahun 2009/2010.

Ayam yang dipelihara dalam kandang baterai mengubah pakan menjadi telur dengan lebih efisien dibandingkan ayam dalam sistem bebas kandang. Akibatnya, jumlah ayam dan pakan yang lebih sedikit dapat menghasilkan volume telur yang sama, sebuah faktor krusial mengingat pakan merupakan komponen terbesar dari jejak lingkungan industri ini.

Penulis laporan, Dr. Harriet Bartlett, peneliti senior di Smith School of Enterprise and Environment, Universitas Oxford, mengatakan, "Penelitian kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesejahteraan hewan, dampak lingkungan, dan produksi pangan secara bersamaan saat merancang masa depan peternakan telur. Memahami adanya pertimbangan yang saling bertolak belakang ini akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan hewan di masa depan."

FOKUS PADA "GLOCAL": BAGAIMANA RAKSASA BARU DI INDUSTRI DAGING BERUPAYA MENJANGKAU PASARNYA

Tahun 2025 menjadi saksi merger besar antara dua perusahaan daging terbesar asal Brasil. Marfrig dan Brasil Foods (BRF) bergabung membentuk MBRF, sebuah perusahaan raksasa dengan produk yang menjangkau 117 pasar di seluruh dunia. Bagaimana perusahaan sebesar ini berhasil menjangkau setiap pelanggan di berbagai penjuru dunia?

Selama bertahun-tahun, baik Marfrig maupun BRF telah melakukan akuisisi dan menjalin kemitraan strategis di negara-negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang menjanjikan. Contohnya termasuk Amerika Serikat (untuk produk daging sapi), serta Tiongkok, Turki, dan Arab Saudi. Secara keseluruhan, produk MBRF kini hadir di 117 negara di seluruh dunia. Seiring dengan semakin besarnya perusahaan, memahami preferensi lokal menjadi hal yang semakin krusial. Bagaimanapun, strategi yang berhasil di satu pasar belum tentu sukses di pasar lainnya.

Hal inilah yang menjadi alasan utama di balik pendirian pusat inovasi mereka: memanfaatkan wawasan mendalam untuk mengembangkan produk yang akan sukses di pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Patricia Niizu, manajer sains konsumen di MBRF, "Kami bertujuan menjadi perusahaan yang 'glocal'." Perusahaan yang cukup besar untuk tetap kompetitif di dunia yang semakin terglobalisasi, namun juga sangat peka dalam menangkap tren lokal demi meraih kesuksesan di mana pun.

Arab Saudi menjadi contoh bagaimana MBRF melakukan pendekatan terhadap pasarnya. Ia menjelaskan bahwa negara tersebut telah mengalami tren "snackifikasi" (pergeseran pola makan ke arah camilan) selama satu dekade terakhir. Hal ini mendorong MBRF untuk meluncurkan lini produk Sadia Bites, yakni camilan yang dapat disiapkan hanya dalam hitungan menit.

Selain itu, tim inovasi memetakan tren preferensi restoran terkini di Arab Saudi; tidak mengherankan jika cita rasa seperti "Italia" (yang dominan) dan "Meksiko" (yang sedang naik daun) muncul dalam daftar tersebut. Berbekal wawasan itu, tim meluncurkan rangkaian produk untuk air fryer dengan cita rasa global di bawah merek Sadia Broasted Chicken Chunks. Lini produk ini menghadirkan varian rasa seperti "bawang putih dan parmesan" serta "jalapeño".

Namun, menjalankan bisnis dengan pendekatan "glocal" (global sekaligus lokal) tidak cukup hanya dengan memahami pasar secara mendalam. CEO MBRF, Miguel Gularte, membahas topik mengenai kunci sukses di pasar global dalam sebuah diskusi panel di pameran dagang SIAVS di São Paulo yang berlangsung pada 4-6 Agustus. Ia menyoroti pentingnya kehadiran fisik di negara lain, bahkan hingga memanfaatkan rantai produksi lokal yang terintegrasi.

Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada masalah geopolitik terkini di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, seraya menyatakan, "Pasokan pangan di sana tidak terganggu. Perusahaan-perusahaan dari sini (Brasil) tetap melanjutkan pasokan ke wilayah-wilayah yang sedang dilanda konflik tersebut."

DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA

Usaha breeding terus dilakukan untuk pengembangan sapi di Indonesia. (Foto: Infovet/Dok. Joko)

Pengembangan peternakan sapi di Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Sapi sudah menjadi komoditas strategis nasional karena menjadi sumber protein hewani sebagian masyarakat Indonesia. Usaha breeding dilakukan di tingkat peternak rakyat, kelompok ternak, koperasi, korporasi, instansi pemerintah, hingga industri peternakan sektor swasta.

Hingga saat ini peternakan breeding masih menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan terkait produktivitas, performa reproduksi, biaya produksi, angka kematian karena penyakit, serta harga pasca panen yang terkadang tidak bersahabat. Beberapa penyakit masih menjadi musuh besar pengembangan breeding di Indonesia seperti penyakit mulut dan kuku, septisemia epizootika, parasit darah, Bovine viral diarrhea (BVD), dan penyakit lainnya.

BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.

BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.

Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).

Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.

Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

DRH DEDDY FACHRUDDIN KURNIAWAN ADAKAN AUDIENSI DENGAN ANGGOTA DPR



Drh Deddy Fachruddin Kurniawan dan Tim Melakukan Audiensi Bersama Anggota DPR
(Foto : Sukma, 2026)

Tokoh Muda Veteriner sekaligus Ketua PDHI Jawa Timur II, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet, memimpin delegasi dalam audiensi ke DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta 1 September 2026 lalu.

Deddy mendorong DPR RI agar menempatkan posisi dokter hewan pada porsi signifikan dalam bentuk kewenangan veteriner nasional termasuk pada struktur yang proporsional dalam mendukung penyediaan protein hewani, sebagai pilar utama dalam mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketahanan pangan nasional.

Didampingi oleh Drh. Gunadi Setiadarma, Drh. Fitri Nursanti, dan Drh. Sukma Kamajaya, mereka diterima secara resmi oleh jajaran pimpinan dan Anggota DPR RI Fraksi PKS termasuk Dr. H. Ahmad Heryawan, Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Drh. H. Slamet, Drh. H. Achmad Ru'yat, Ir. H. Ateng Sutisna, serta DR. Ir. Junaedi Auli.

Dalam paparan utamanya, Drh. Deddy Fachruddin menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia yang masih tertinggal, padahal Indonesia sedang menikmati puncak bonus demografi dan menyoroti tentang konsumsi protein sebagai salah satu faktor utamanya. Sebagai Praktisi Veteriner Deddy menyampaikan bahwa pemenuhan konsumsi protein hewani bukan sekadar urusan keberlanjutan pangan, namun juga keamanan pangan, untuk menjamin keamanan sosial dan keamanan nasional.

Melanjutkan pada sesi diskusi teknis, Drh. Deddy menegaskan bahwa penguatan posisi dokter hewan sebagai garda terdepan memerlukan payung hukum yang kokoh melalui  percepatan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kedokteran Hewan. 

“Kepastian hukum ini penting untuk pengawasan kesehatan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, serta perlindungan profesi dokter hewan secara menyeluruh," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Ahmad Heryawan, menyatakan bahwa Badan Aspirasi DPR RI siap memfasilitasi dan mengawal aspirasi agar dapat disalurkan secara efektif sebagaimana drh. Slamet  yang berkomitmen untuk menindaklanjuti masukan yang disampaikan delegasi audiensi, dan akan mensinkronisasikan hal tersebut dengan RUU Pangan, agar peran dokter hewan didalam memastikan keamanan pangan asal hewani bisa sesuai dengan peran yang ada di RUU kedokteran hewan.

Selain itu drh. Achmad Ru'yat, yang juga ikut berdiskusi mendukung penuh penegasan drh. Deddy tentang pentingnya integrasi pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan hewan dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Diskusi diakhiri dengan penyapampaian keinginan Ir. Ateng Sutisna untuk memanfaatkan teknologi peternakan terkini dalam meningkatkan produktivitas hasil ternak yang pada akhirnya akan mensejahterakan peternak. (INF)

MERCOSUR MENGINCAR PASAR BARU MELALUI PERJANJIAN DENGAN SINGAPURA DAN JEPANG

Mercosur telah mempercepat strategi ekspansi komersialnya di Asia melalui dua perkembangan penting bagi sektor agribisnis.

Yang pertama adalah ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas Mercosur-Singapura yang mulai berlaku segera. Selain itu, blok tersebut secara resmi memulai negosiasi untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi dengan Jepang.

Potensi bagi sektor protein hewani sangat besar, khususnya bagi Brasil, mengingat kedua negara tersebut termasuk di antara importir terbesar daging unggas dan daging babi.

Perkembangan ini terjadi di saat Mercosur berupaya memperluas kehadirannya di pasar-pasar strategis, mengurangi ketergantungan pada mitra dagang tradisional, dan memperkuat integrasinya ke dalam rantai perdagangan global.

Agenda ini memperoleh momentum setelah berlakunya perjanjian dengan Uni Eropa secara sementara dan terus berjalan beriringan dengan negosiasi bersama Kanada, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, dan Inggris.

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

NUTRITION BEYOND INGREDIENTS: INOVASI ALLTECH UNTUK INDUSTRI PAKAN BERKELANJUTAN

Seminar mempertemukan pemimpin industri, akademisi, pemerintah, asosiasi, serta para profesional dalam industri peternakan. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Industri peternakan menghadapi kompleksitas baik dari segi tuntutan efisiensi produksi, ancaman Antimicrobial Resistance (AMR), hingga tuntutan keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut Alltech mengangkat paradigma “Nutrition Beyond Ingredients”, menempatkan nutrisi yang memberikan manfaat ekonomi, fondasi kesehatan ternak, keamanan pangan, dan keberlangsungan lingkungan secara bersamaan.

Pendekatan ini menjadi nilai tambah sekaligus diferensiasi Alltech dalam mendampingi transformasi sektor peternakan Indonesia.

PT Alltech Biotechnology Indonesia berkolaborasi dengan ILDEX Indonesia menyelenggarakan seminar “Nutrition Beyond Ingredients: Driving Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector” pada Kamis, 23 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere, Tangerang Selatan.

Acara dimoderatori oleh Dr Ir Audy Joinaldy SPt, MSc, MM M IP, IPU ASEAN ENG yang memastikan diskusi berjalan dinamis, serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka seminar, Heng Aik Jin, Regional Director Alltech Biotechnology Malaysia & Indonesia menuturkan tema seminar yang diusung sangat relevan dengan kondisi industri peternakan Indonesia sekarang ini. Menurutnya, pemintaan terhadap protein hewan terus meningkat, namun di saat yang sama industri dihadapkan pada banyak tantangan.

“Tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau produce more with the same resources,” tutur Heng.

Nutrisi tidak hanya berbicara mengenai bahan baku, akan tetapi juga bagaimana sains, inovasi, nutrisi yang presisi serta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mendukung kesehatan serta performa ternak sekaligus membangun industri peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.

Kemandirian Pakan, Kunci Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi sebagai keynote speaker mengatakan saat ini dunia dalam turbulensi, dimana ketegangan geopolitik kemudian adanya perang dagang dan krisis iklim mengguncang rantai pasok pangan dan pakan.

Nuryani juga memberikan gambaran supply demand peternakan Indonesia di tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Ia menambahkan, dibalik keberhasilan tersebut masih tersimpan tantangan besar terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor seperti bungkil kedelai, meat bone meal, poultry product meal, dan juga feed additive tertentu juga belum optimalnya pemanfaatan bahan baku lokal. Distribusi pakan yang belum efisien dan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan hijauan juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Produksi Pakan Nasional Tumbuh

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menjelaskan bahwa industri pakan Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi pakan nasional pada 2025 mencapai sekitar 20,3 juta ton dan diproyeksikan tetap tumbuh sekitar enam persen pada 2026, didorong meningkatnya populasi ayam broiler dan layer, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Harga jagung domestik masih berfluktuasi, pasokan soybean meal (SBM) bergantung pada impor kemudian harga asam amino meningkat. Sementara, perubahan regulasi impor dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi struktur biaya industri.

Menurut Tevi, kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif melalui diversifikasi sumber bahan baku, manajemen persediaan yang lebih baik, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, penguatan kemitraan antara produsen pakan, peternak, pemasok bahan baku, dan pemerintah. Ketahanan industri pakan, lanjut Tevi, tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membeli bahan baku murah tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.

Inovasi Mannan-Rich Fraction (MRF)

Dr Ronan Power, Vice President and Chief Scientific Officer Alltech mengajak peserta melihat nutrisi dari perspektif yang lebih luas.

Sebagai perusahaan berbasis sains yang mengembangkan berbagai solusi nutrisi dan kesehatan hewan melalui berbagai riset ilmiah, inovasi Alltech bukan saja diarahkan untuk meningkatkan performa ternak, namun juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari visi global Alltech dalam mendukung pertanian berkelanjutan, dengan entitas bisnis Planet of Plenty ™.

Ronan menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan merupakan titik awal seluruh keberhasilan produksi. “Healthy Gut = Healthy Animal” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasinya.

Gut health integrity tidak hanya mendukung kesehatan saluran pencernaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan baku pakan.

Usus yang sehat juga memungkinkan penyerapan nutrien berlangsung lebih optimal, efisiensi konversi pakan meningkat, performa produksi lebih baik sehingga ketergantungan terhadap penggunaan antibiotik dapat dikurangi.

Selain itu, Ronan juga menyoroti meningkatnya ancaman AMR yang menjadi perhatian dunia. Data global yang dipaparkan menunjukkan pada 2019 sekitar 1,27 juta kematian secara langsung berkaitan dengan AMR, sementara hampir lima juta kematian berkaitan dengan resistensi antimikroba.

Tingginya tingkat resistensi pada isolat Escherichia coli maupun Salmonella memperlihatkan pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan. Menurut Ronan, solusi harus dimulai dari peningkatan kesehatan usus dan pengelolaan mikrobiota yang lebih baik, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan secara alami.

Alltech mengembangkan inovasi bahan pakan bioaktif alami Mannan-Rich Fraction (MRF). Berbagai studi komersial pada broiler maupun layer yang dipaparkan Ronan menunjukkan MRF membantu mengaglutinasi patogen di saluran pencernaan, mengurangi penyebaran gen resistensi antibiotik antarbakteri dan meningkatkan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.

Selain itu memperbaiki performa broiler dan layer, menekan mortalitas hingga lebih dari 20 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

Industri Unggas Terintegrasi Vertikal

US Grains Consultant, Prof Dr Budi Tangendjaja PhD dalam kesempatan yang sama menegaskan efisiensi produksi pakan harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan rantai pasok industri unggas. Tujuan utama industri bukan sekadar menghasilkan pakan termurah, melainkan menghasilkan daging maupun telur dengan biaya produksi paling efisien sesuai kebutuhan pasar.

Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi mulai dari pengadaan bahan baku, logistik, formulasi, operasional feedmill, hingga manajemen pemberian pakan di kandang dikelola secara efisien.

Prof Budi juga menegaskan bahwa industri unggas modern semakin mengarah pada sistem integrasi vertikal, dimana setiap mata rantai produksi saling terhubung dan sebagai bagian dari sistem bersama. Dalam kondisi tersebut baik pemanfaatan teknologi digitalisasi, formulasi presisi, indikator kinerja hingga pengendalian biaya di setiap lini menjadi faktor yang menentukan daya saing industri. (ADV)

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer