-->

Featured Posts

LIMA BULAN, 8 CABANG: PROSPERRA FARMS ASIA TANCAP GAS EKSPANSI MENUJU 25 CABANG NASIONAL

Grand Opening Prosperra Farms Asia, menandai kiprah baru perusahaan dalam bisnis kemitraan perunggasan. (Foto: Istimewa)

PT Prosperra Farms Asia (PFA) resmi menggelar Grand Opening Prosperra Farms Asia pada Selasa, 15 September 2026, bertempat di Ballroom Grand Rohan Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh seluruh partner Prosperra Farms Asia serta perwakilan mitra peternak dari berbagai wilayah operasional.

Mengusung semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Grand Opening menjadi momentum bagi Prosperra untuk merayakan perjalanan awal perusahaan sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun.

“Empowering Farmers, Growing Prosperity” menjadi visi yang mendasari perjalanan Prosperra Farms Asia. Empowering Farmers mencerminkan komitmen untuk memberikan dukungan, pengetahuan, akses, dan pendampingan agar peternak dapat mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan. Sementara Growing Prosperity menggambarkan semangat untuk tumbuh dan berkembang bersama. Prosperra percaya bahwa pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan keberhasilan para mitra, sehingga kemitraan dibangun untuk menciptakan nilai dan peluang bagi semua pihak.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan secara aktif pada Mei 2026. Dalam waktu sekitar lima bulan sejak memulai bisnis kemitraan, Prosperra telah memperluas kehadirannya menjadi 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari langkah awal Prosperra dalam membangun jaringan kemitraan yang lebih dekat dengan peternak di berbagai wilayah.

Merayakan Pertumbuhan Bersama

Grand Opening Prosperra Farms Asia tidak hanya menjadi penanda perjalanan perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan Prosperra.

Kehadiran seluruh partner dan perwakilan mitra peternak mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun bisnis kemitraan. Bagi Prosperra, pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para peternak, partner, dan tim yang menjalankan operasional di lapangan.

Taufik Wibowo Hadi

“Grand Opening ini menjadi momentum untuk merayakan perjalanan yang telah kami lalui bersama. Dalam waktu lima bulan, Prosperra telah hadir di delapan cabang. Angka tersebut bukan hanya tentang ekspansi perusahaan, tetapi juga tentang kepercayaan dan kolaborasi yang dibangun bersama partner dan para mitra peternak,” ujar Taufik Wibowo Hadi, Direktur Operasional Prosperra.

Kolaborasi Bersama Peternak

Sejak awal, Prosperra Farms Asia menempatkan kemitraan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem bisnisnya. Perusahaan berupaya mendukung mitra peternak melalui pendampingan operasional, pengelolaan produksi, penyediaan sarana produksi peternakan, serta monitoring performa budidaya.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun hubungan kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menciptakan ruang bagi peternak untuk berkembang bersama perusahaan.

Semangat tersebut tercermin dalam tagline “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, yang menjadi landasan Prosperra dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

Menuju 25 Cabang di Seluruh Indonesia

Setelah mencatatkan kehadiran di delapan wilayah dalam lima bulan pertama bisnis kemitraannya, Prosperra Farms Asia telah menyiapkan langkah ekspansi berikutnya.

Perusahaan menargetkan untuk segera memperluas jaringan operasional menjadi 25 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ekspansi ini menjadi bagian dari visi Prosperra untuk membangun jaringan kemitraan yang lebih luas serta menghadirkan akses pendampingan dan kolaborasi yang lebih dekat dengan peternak di berbagai daerah.

Pertumbuhan jaringan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kesiapan ekosistem kemitraan di masing-masing daerah.

“Delapan cabang merupakan langkah startegis bagi Prosperra. Ke depan, kami memiliki target untuk hadir di 25 cabang di seluruh Indonesia. Kami ingin membawa semangat Empowering Farmers, Growing Prosperity ke lebih banyak wilayah dan membangun lebih banyak kolaborasi bersama peternak,” kata Taufik.

Dengan rencana tersebut, Prosperra Farms Asia melihat perjalanan lima bulan pertamanya sebagai awal dari langkah yang lebih panjang untuk membangun ekosistem kemitraan perunggasan yang semakin luas di Indonesia.

Tentang Prosperra Farms Asia

PT Prosperra Farms Asia (PFA) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang kemitraan perunggasan dan pengembangan ekosistem usaha peternakan.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan pada Mei 2026. Dalam lima bulan perjalanan bisnisnya, Prosperra telah hadir di 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Dengan semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Prosperra Farms Asia berkomitmen membangun kemitraan yang produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan bersama peternak serta seluruh pihak dalam ekosistem perunggasan Indonesia. (ADV)

UE MELUNCURKAN PENYELIDIKAN ANTI-DUMPING TERHADAP IMPOR BEBEK PEKING DARI TIONGKOK

Komisi Eropa telah memulai penyelidikan atas dugaan praktik dumping pada impor bebek Peking dari Tiongkok. Langkah ini diambil menyusul pengaduan yang diajukan oleh lima produsen bebek Peking di Uni Eropa, sebagaimana dinyatakan dalam pengumuman resmi Komisi Eropa.

Pihak pelapor mengklaim bahwa volume dan harga bebek impor telah berdampak negatif, antara lain, terhadap volume penjualan, tingkat harga, dan pangsa pasar industri UE.

Penyelidikan ini mencakup daging bebek Peking dalam berbagai bentuk, termasuk bebek utuh, potongan daging, serta daging bebek yang segar, didinginkan, dibekukan, diasinkan, direndam dalam air garam, dikeringkan, diasap, bertulang, tanpa tulang, maupun olahan atau awetan lainnya.

Komisi sedang memeriksa data impor dan pasar untuk tahun 2025 guna menentukan apakah praktik dumping telah terjadi.

Pihak pelapor berpendapat bahwa harga domestik dan biaya produksi di Tiongkok tidak dapat dijadikan acuan karena adanya distorsi pasar yang signifikan.

Menurut pengaduan tersebut, produsen bebek Tiongkok memperoleh keuntungan dari dukungan negara yang besar, termasuk subsidi untuk lahan, energi, modal, bahan baku, dan tenaga kerja. Produsen UE juga menyoroti dukungan pemerintah terhadap klaster produksi pakan regional, termasuk subsidi bagi fasilitas pengolahan kedelai lokal dan pabrik pakan campuran, khususnya di provinsi seperti Shandong.

Berdasarkan informasi yang tersedia, Komisi Eropa menilai terdapat bukti yang cukup bahwa distorsi signifikan yang memengaruhi harga dan biaya membuat penggunaan harga serta biaya domestik Tiongkok menjadi tidak tepat dalam penyelidikan ini. Jika penyelidikan menyimpulkan bahwa praktik dumping telah terjadi dan merugikan industri Uni Eropa, Komisi dapat mengenakan bea anti-dumping terhadap impor bebek Peking dari Tiongkok.

MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA

IPC di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengambil tempat di ruang Garuda 5A ICE BSD City, Tangerang, dalam rangkaian pameran ILDEX Indonesia 2026, Indonesian Poultry Club (IPC) menyelenggarakan seminar nasional bertajuk "Sinergi dan Strategi Menghadapi Gejolak Harga Pakan" pada Kamis (17/9). Forum ini mempertemukan seluruh stakeholders industri perunggasan guna merumuskan solusi atas tantangan tingginya biaya pakan.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) bekerja sama dengan Trobos. Pemimpin Umum Trobos, Fitri Nursanti Poernomo, menekankan pentingnya forum ini bagi masa depan industri peternakan nasional. Ia mengingatkan bahwa pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya produksi unggas, dengan porsi mencapai lebih dari 60%.

"Ketika harga bahan baku naik akibat berbagai persoalan global maupun domestik, dampaknya tidak hanya berhenti pada bisnis pakan, melainkan menjalar ke peternak hingga konsumen akhir. Apalagi sekitar 30 persen bahan baku pakan kita masih bergantung pada impor," ujar Fitri.

Tantangan lonjakan harga pakan dirasakan nyata oleh para peternak di lapangan. Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa sepanjang rentang April-Agustus, akumulasi kenaikan harga pakan telah mencapai Rp1.500/kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan operasional peternak.

Sebagai langkah mitigasi, Permindo pun berinisiatif menghadirkan inovasi pakan custom. "Kami memformulasi pakan bekerja sama dengan pabrikan. Hasilnya, dalam dua bulan terakhir performa ternak tetap optimal sekaligus mampu meminimalisasi dampak kenaikan harga," terang Heri.

Memasuki sesi seminar yang dipandu Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Sugeng Wahyudi, hadir sebagai narasumber Ketua Permindo, Kusnan. Ia menyoroti tekanan berat yang dialami peternak mandiri. Kenaikan harga pakan secara langsung menaikkan Harga Pokok Produksi (HPP) dan menggerus margin keuntungan peternak.

​"Jika input produksi terus naik sementara harga output di tingkat peternak fluktuatif, sampai kapan peternak sanggup bertahan? Apakah ini yang dinamakan industri unggas yang sehat?" tegas Kusnan. Menurutnya, peternak saat ini menanggung beban berlapis, mulai dari harga day old chick (DOC), pakan, biaya listrik, tenaga kerja, hingga risiko cuaca dan penyakit.

Kusnan juga menggarisbawahi dua hal kunci, yakni akurasi data dan integrasi pasar. "Peternak yang memiliki data adalah peternak yang berdaya. Data merupakan aset ekonomi untuk merumuskan akar permasalahan. Selain itu, penataan pasar harus disiapkan sejak awal, jangan baru mencari solusi ketika kondisi sudah oversupply. Jadi kesimpulannya, kita butuh satu ekosistem dan satu rantai pasok yang solid," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, menanggapi kenaikan pasokan bahan baku, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menyampaikan bahwa pelaku industri pakan beroperasi sesuai dengan regulasi dan ketentuan pemerintah. Kenaikan harga pakan, khususnya yang dipicu oleh fluktuasi harga jagung, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, baik internal maupun eksternal.

Dalam paparan materinya, dijelaskan industri pakan ternak memegang peranan yang sangat strategis karena menyumbang hingga 65% kebutuhan protein hewani nasional. Untuk memastikan industri ini terus berkembang dan mendukung ketahanan pangan, diperlukan dukungan kebijakan pemerintah yang berkesinambungan. Salah satu fokus utama yang harus ditingkatkan adalah produktivitas jagung lokal demi menyokong kebutuhan pabrik pakan ternak, sebagaimana yang diharapkan GPMT agar pemerintah dapat menjaga stabilitas produksi jagung serta bahan pakan lainnya.

Dalam paparannya juga diharapkan dukungan pemerintah terhadap sektor logistik, fasilitas, serta infrastruktur nasional untuk mengantisipasi potensi fluktuasi harga jagung. Di sisi lain, idle capacity industri pakan yang masih berada di angka 30% dinilai sangat memadai untuk mendukung program peningkatan produksi telur dan daging ayam. Namun, intervensi pemerintah secara tidak langsung telah mengubah model bisnis pabrik pakan dari yang sebelumnya berfokus pada "perdagangan dan pengolahan" menjadi "layanan dan pengolahan". Menghadapi berbagai tantangan lingkungan bisnis tersebut, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi mitigasi internal untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul.

Sementara dari sisi pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian yang diwakili Direktur Pakan, Tri Melasari, menguraikan dalam materinya beberapa upaya stabilisasi harga dan kualitas pakan. Di antaranya dalam jangka pendek terkait surat himbauan ke produsen pakan untuk menahan kenaikan harga pakan ternak dan menjaga kualitas pakan sesuai SNI.

Kemudian, ketersediaan jagung dengan harga HAP Rp 6.400/kg dengan kada air 14%, serta perlu impor bahan pakan subsitusi jagung secepatnya dengan harga wajar untuk feedmill, sehingga tidak berebut jagung antara peternak dan feedmill, hingga realisasi jagung SPHP untuk seluruh peternak/koperasi yang memerlukan.

Sementara untuk jangka menengah, melakukan evaluasi populasi temak broiler maupun layer, untuk membuat prognosa kebutuhan pakan dalam tahun berjalan, tiap tiga bulan. Serta evaluasi bahan baku pakan lokal, untuk harga dan ketersediaan tiap tiga bulan dengan data yang akurat.

Serta dalam jangka panjang, membuat peta kebutuhan bahan pakan untuk lima tahun ke depan, pengembangan riset aplikatif sumber bahan baku lokal, hingga perlunya bahan baku alternatif lokal maupun impor dengan harga yg kompetitif sesuai formulasi. (RBS)

BREAKING THE CYCLE: MBG DAN KESEJAHTERAAN PETERNAK RAKYAT DALAM EKOSISTEM RANTAI PASOK BERKEADILAN

GOPAN forum di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) kembali menggelar forum strategis bertajuk "Breaking the Cycle: MBG dan Kesejahteraan Peternak Rakyat Membangun Ekosistem Rantai Pasok yang Berkeadilan". Acara yang diselenggarakan pada Rabu (16/9/2026), di Ruang Garuda 6B, ICE BSD, Tangerang, ini menjadi bagian dari rangkaian pameran peternakan internasional ILDEX Indonesia.

Forum ini menyoroti pentingnya memutus rantai permasalahan peternakan broiler yang kerap berulang, sekaligus mengoptimalkan peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendongkrak kesejahteraan peternak rakyat.

Panitia GOPAN Forum, Yusuf, menjelaskan bahwa tema tahun ini sengaja dibuat lugas dan sederhana mengingat kompleksitas persoalan perunggasan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Menurutnya, evaluasi mendalam diperlukan guna menentukan arah perubahan ke depan.

"Terkait tema sangat sederhana karena kita melihat banyak persoalan yang terus berulang. Karena itu, apa yang harus kita ubah ke depannya? MBG memberikan peluang baru, oleh karena itu bagaimana peternakan rakyat dapat memanfaatkan peluang tersebut," ujar Yusuf.

Melalui forum ini, ia berharap pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan para peternak dapat merumuskan arah kebijakan bersama dalam membangun industri peternakan nasional yang tangguh.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum GOPAN, Heri Dermawan, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar peternak rakyat tidak tertinggal di tengah dinamika industri modern.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda. Ia mengungkapkan bahwa harga ayam saat ini menunjukkan tren perbaikan, yang turut didorong oleh guliran program MBG. Ke depan, program strategis ini akan semakin terintegrasi melalui kewajiban bagi rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) untuk masuk ke dalam marketplace yang disiapkan BGN.

"Saat ini Surat Edaran terkait optimalisasi penyerapan produk peternakan sedang difinalkan. Intinya, program MBG ini harus menyerap produksi para peternak yang ada di sekitar dapur MBG, baik untuk komoditas ayam maupun susu," ujar Agung.

Ia menambahkan, peluang perunggasan nasional masih sangat terbuka lebar, seiring dengan potensi peningkatan konsumsi per kapita. Tantangannya terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan (supply and demand) antara volume produksi dan kebutuhan riil di lapangan.

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah kata Agung, juga mulai memberlakukan sejumlah regulasi ketat guna menciptakan keadilan dalam rantai pasok. Berdasarkan Permentan No. 10/2024, mulai 1 Januari 2027, distribusi DOC dengan skema 50% untuk internal dan 50% untuk eksternal wajib dijalankan pelaku industri. Agung mengapresiasi langkah awal yang telah diinisiasi oleh korporasi seperti Japfa Group dalam mematuhi aturan tersebut.

"Kemudian juga setiap peternak dengan kapasitas produksi unggas mencapai 60 ribu ekor atau lebih dalam per siklus pemeliharaan diwajibkan memiliki RPHU. RPHU inilah yang nantinya berfungsi sebagai marketplace penyedia karkas bagi dapur-dapur MBG di wilayah sekitar," jelasnya.

Di sisi lain, forum ini juga tidak menutup mata terhadap tantangan kenaikan harga pakan akibat melambungnya harga bahan baku. Harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.200-7.500/kg tergantung wilayah, sementara dedak atau katul telah menyentuh angka Rp10.000/kg. Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi perusahaan pakan untuk menahan kenaikan harga, meski dalam rapat koordinasi hari ini, upaya penahanan harga pakan, khususnya konsentrat layer, terus diupayakan demi melindungi peternak petelur di tengah variasi harga telur di berbagai daerah.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga perwakilan dari PT Berdikari, Agus Wahyudi, yang turut memaparkan pandangannya dalam forum tersebut. Agus menyoroti pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan dalam menjadi penyangga (buffer) stabilitas harga sekaligus mitra strategis bagi peternak rakyat.

Dalam pemaparannya, PT Berdikari berkomitmen untuk memperkuat sinergi hilirisasi melalui optimalisasi penyerapan hasil produksi peternak rakyat, sehingga distribusi komoditas protein hewani dapat menjangkau masyarakat secara merata, efisien, dan berkeadilan sejalan dengan visi besar program MBG.

Melalui Gopan Forum 2026, diharapkan terbangun komitmen bersama antara pemerintah, BGN, BUMN, dan peternak rakyat untuk mewujudkan industri perunggasan nasional yang adil, mandiri, dan berkelanjutan. (RBS)

ILDEX INDONESIA KE-8 RESMI DIBUKA, PERKUAT EKOSISTEM PETERNAKAN DAN PANGAN NASIONAL

Pembukaan ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Ajang pameran peternakan internasional, ILDEX Indonesia, kembali diselenggarakan untuk kedelapan kalinya, 16-18 September 2026 di ICE BSD, Tangerang. Pameran akbar ini digelar bersamaan dengan Horti & Agri Indonesia, dan menjadi wadah strategis bertemunya para pelaku industri dari dalam dan luar negeri dalam memperkuat ekosistem peternakan dan pangan nasional.

Dalam sambutannya, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM), Fitri Nursanti Poernomo, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, stakeholder, pemerintah, exhibitor, delegasi dari seluruh negara, dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini," ujarnya dalam Opening Ceremony ILDEX 2026, Rabu (16/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, CEO VNU Asia Pacific, Duangdej Yuaikwarmdee, turut menyampaikan welcome speech kepada para delegasi dan peserta pameran internasional yang hadir.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Banten yang diwakili oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, Nasir, juga menyampaikan apresiasinya atas langkah konsisten VNU Asia Pacific dalam menghadirkan pameran internasional ini di Indonesia.

Menurutnya, ILDEX memegang peranan penting dalam mendukung kemajuan industri peternakan, kesehatan hewan, pakan dan nutrisi, peralatan serta teknologi, industri susu, rantai dingin (cold chain), hingga sektor pengemasan (packaging) di Tanah Air.

"Forum ini adalah ruang bertemunya teknologi, modal, pengetahuan, dan pasar. ILDEX dapat menjadi ajang business matching yang menghasilkan kerja nyata hari ini dan investasi jangka panjang, serta memperkuat ekosistem pangan Indonesia," ujar Nasir.

Simbolis konsumsi protein hewani dalam pembukaan ILDEX Indonesia 2026.

Acara pembukaan ILDEX Indonesia ke-8 ini secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Makmun.

Dalam arahannya, Makmun menegaskan bahwa ILDEX merupakan ruang strategis yang mempertemukan informasi serta teknologi terkini, yang tidak hanya menghubungkan para pelaku industri dalam negeri, tetapi juga dunia.

"Dengan terselenggaranya pameran ini, diharapkan sinergi antar-pemangku kepentingan di sektor peternakan, kesehatan hewan, dan pertanian dapat semakin kuat guna mendorong kemandirian serta ketahanan pangan nasional," katanya. (RBS)

HITUNGAN SEDERHANA KEBUTUHAN LAHAN RUMPUT ODOT UNTUK PAKAN KAMBING

Berdasarkan informasi yang kami temukan, berikut kami contohkan penanaman rumput jenis odot untuk pakan kambing.

Asumsinya adalah penanaman rumput odotnya padat dan terawat dengan baik. Sehingga memberikan panen rumput yang berkualitas.

Maka estimasinya per ekor kambing atau domba per harinya membutuhkan lahan 1m2 rumput odot. Namun jika hasil panennya bagus, bisa kurang dari 1m2.

Jadi jika panennya dilakukan misalnya ketika rumput odot berusia 60 hari, dan panennya setiap hari sebanyak 1m2, maka 1 ekor kambing membutuhkan lahan maksimal 60m2 untuk penanaman rumput odot.

Sebaiknya rumput odot jangan dipanen terlalu muda agar kandungan serat kasarnya mencukupi. Lebih baik sebelum diberikan pada ternak rumput dicacah halus sehingga batangnya juga bisa dikonsumsi oleh ternak.

TIONGKOK MENENTANG PENYELIDIKAN ANTI-DUMPING UE TERHADAP BEBEK PEKING

Penyelidikan anti-dumping Uni Eropa terhadap impor bebek Peking beku asal Tiongkok telah memicu reaksi keras di Tiongkok, di mana perwakilan industri unggas menuduh Brussels bersikap munafik dan menerapkan standar ganda.

Meskipun penyelidikan ini menyasar produk khusus yang sebagian besar ditujukan untuk restoran Tiongkok di seluruh Eropa, para produsen memperingatkan bahwa hal ini bisa menjadi awal dari sengketa perdagangan yang jauh lebih luas terkait produk unggas.

Kasus bebek Peking ini merupakan "serangan gencar" terhadap impor Tiongkok, yang diluncurkan sebagai respons atas meningkatnya defisit perdagangan UE dengan Tiongkok, tulis analis pertanian lokal Zhang Zhiyu dalam sebuah unggahan blog.

Pada tahun 2025, defisit perdagangan UE dengan Tiongkok mencapai €359,8 miliar, dan pada kuartal pertama tahun ini, angka tersebut mencapai €98 miliar, kata Zhiyu, mengutip data perdagangan resmi.

Tiongkok menguasai sekitar seperempat pasar bebek Eropa yang bernilai €800 juta pada tahun 2025, ujar Zhiyu. Meskipun volume perdagangannya kecil, sengketa ini secara luas dipandang sebagai upaya untuk mengimbangi posisi Tiongkok dalam perdagangan produk pertanian.

Namun, pembatasan tersebut bisa berdampak cukup berat, mengingat UE merupakan pasar penting dan premium bagi ekspor bebek Tiongkok.

Industri unggas Tiongkok juga sangat menolak klaim Brussels bahwa daya saing bebek Peking yang kuat disebabkan oleh subsidi negara.

UE menyatakan meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor bebek Peking Tiongkok karena produk tersebut dijual dengan harga rendah yang tidak wajar, hal yang pada dasarnya tidak benar, kata Hou Zhuocheng, ketua Cabang Ilmu Unggas dari Asosiasi Ilmu Peternakan dan Kedokteran Hewan Tiongkok.

Menurut Zhuocheng, keunggulan harga Tiongkok mencerminkan biaya produksi yang lebih rendah, bukan praktik dumping, dan bersumber dari kekuatan struktural industri bebek negara tersebut.

Zhuocheng mengatakan bahwa sebagian besar bebek yang diternakkan di Tiongkok adalah jenis Cherry Valley, yang mencapai bobot siap potong hanya dalam waktu 35-40 hari. Dengan rasio konversi pakan sebesar 1,6-1,8 kg pakan per kg daging, biaya produksinya rendah, yakni sekitar 2,5 yuan (US$0,35) per kg. Sebagai perbandingan, ujarnya, ras bebek lokal Eropa memiliki siklus pertumbuhan yang lebih lama, tingkat konversi pakan yang lebih rendah, serta biaya produksi yang lebih tinggi.

Perwakilan industri Tiongkok juga mempertanyakan cakupan penyelidikan tersebut, dengan argumen bahwa produk yang disasar oleh Brussels tidak sesuai dengan daging bebek yang sebenarnya diekspor Tiongkok ke Uni Eropa.

Dalam pernyataan yang dirilis pada 14 Juli, Kamar Dagang Tiongkok untuk Bahan Makanan dan Produk Lokal (China Chamber of Commerce for Foodstuffs and Native Produce) mengumumkan bahwa pihaknya telah mengadakan rapat koordinasi khusus untuk menanggapi penyelidikan Uni Eropa tersebut. Kamar Dagang tersebut menyatakan bahwa seluruh produk bebek yang diekspor dari Tiongkok ke pasar Eropa berasal dari bebek Cherry Valley, bukan dari ras bebek Beijing tradisional yang disebut dalam penyelidikan, yang mengindikasikan adanya ketidaksesuaian mendasar antara produk yang sedang diselidiki dan komposisi ekspor Tiongkok.

WASPADA ANCAMAN ZOONOSIS SAAT BENCANA ALAM

Peternakan ayam diterjang banjir lumpur. (Sumber: balipost.com)

Penghujung akhir 2025, Indonesia gencar dilanda bencana alam. Faktor alam dan non-alam menjadi pemicu meningkatnya potensi bencana alam tersebut. Sebut saja bencana longsor dan banjir yang melanda tiga provinsi paling barat Indonesia, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Menurut BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sekitar 3,2-3,3 juta warga terdampak akibat bencana tersebut dan dianjurkan untuk mengungsi karena terbatasnya akses logistik dan bahan pangan, (5/12). Bencana ini tidak hanya dirasakan manusia, tetapi juga berdampak pada hewan dan lingkungan.

Dampak Bencana pada Hewan
Rusaknya habitat dan ekosistem membuat mereka kehilangan tempat untuk bernaung. Bencana tersebut juga memberikan pukulan yang berat saat seekor Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) ditemukan mati pasca banjir di Pidie Jaya, Aceh, (29/11). Gajah yang hanyut tersebut mati terjepit di antara material kayu gelondongan. Hal ini menandakan besarnya banjir yang terjadi.

Beda halnya dengan di Sumatra Barat, menurut Kepala DPKH (Dinas Pertenakan dan Kesehatan Hewan) Sumatra Barat, terdapat 591 ekor sapi, 32 ekor kerbau, 187 ekor kambing, 4420 ekor unggas yang terdampak bencana banjir dan longsor (30/11).

Pemerintah sudah melakukan distribusi bantuan obat-obatan dan vitamin untuk hewan lewat Direktorat Jendral Pertenakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian, tetapi bantuan tersebut tidak cukup, dikarenakan selain obat-obatan dan vitamin, ternak juga memerlukan pakan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Terbatasnya ketersediaan pakan disaat bencana ini akan menjadi dampak pada penurunan kualitas kesehatan ternak. Jika hal ini tidak ditangani dengan tepat maka ancaman yang lain akan mengintai.

Ancaman Zoonosis
Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya. Di tengah bencana longsor dan banjir yang mengakibatkan hewan juga terdampak seperti mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar. Penanganan yang tidak tepat akan meningkatkan ancaman zoonosis.

Menurut Kepmentan No. 121/2023 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis, ada lima penyakit yang dikategorikan sebagai zoonosis prioritas, yaitu avian influenza, rabies, anthrax, leptospirosis, dan brucellosis. Kejadian bencana ini membuat pemerintah lewat BNPB, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Lingkungan Hidup harus segera mengidentifikasi bahaya ancaman untuk meminimalkan risiko. Pendekatan melaui One Health bisa menjadi tools untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.

Adapun menurut Kepmentan No. 708/2024 tentang Status Situasi Penyakit Hewan, Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat tidak semuanya bebas dari lima zoonosis prioritas. Detail status situasi penyakit di ketiga provinsi terdampak bencana dapat dilihat pada tabel berikut:


Berdasarkan sudut pandang kesehatan hewan terhadap tabel di atas, cukup memberikan gambaran langkah strategis yang akan diambil. Dari tiga provinsi terdampak bencana, masih terdapat dua zoonosis prioritas yang masih menjadi ancaman. Pengendalian risiko wabah avian influenza dan leptospirosis di dalam situasi kebencanaan menjadi tantanggan tersendiri bagi pemerintah.

Penularan tidak Terkontrol
Situasi berbahaya adalah ketika penyakit dapat menular tanpa adanya kontrol. Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat secara status situasi penyakit tidak bebas dari avian influenza dan leptospirosis. Tidak terhitung jumlahnya kombinasi variabel penularan jika unggas (risiko penularan avian influenza tertinggi) mati (hanyut), sakit terlantar, dan sehat terlantar tidak segera dilakukan surveillance.

Begitu halnya dengan rodensia, vektor leptospirosis ini memiliki kemampuan bertahan hidup di tempat-tempat kumuh. Seiring lambatnya proses evakuasi wilayah pasca bencana akan meningkatkan populasi rodensia dalam wilayah tersebut. Bangkai dari hewan ternak ataupun satwa menjadi presdiposisi penularan zoonosis.

Regulasi Pemerintah dalam Penanganan Hewan Pascabencana
Kementerian Pertanian sudah memberikan regulasi terkait penanganan hewan pascabencana dalam Permentan No. 14/2024 tentang Penanganan Hewan pada Bencana Alam. Di dalam regulasi tersebut dijelaskan adanya Sistem Komando Penanganan Hewan Darurat Bencana Alam. Adapun hal ini seharusnya menjadi fokus utama Kementerian Pertanian dalam melaksanakannya. Dalam Pasal 30  dijelaskan mengenai kegiatan pascabencana:

1. Kajian kebutuhan penanganan hewan akibat bencana alam.
2. Pengisian kembali ternak (restocking).
3. Pengembalian ternak terdampak.
4. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi penanganan hewan.

Regulasi ini penting untuk mengembalikan hulu dari rantai pasok pangan asal hewan. Efek domino regulasi yang tidak dijalankan akan melumpuhkan sektor pangan asal hewan di daerah tersebut. Sebagai concern pemerintah melalui regulasi ini harus menjadikan masyarakat pemilik ternak didukung dalam tahap pemulihan pasokan pangan asal hewan. ***

Ditulis oleh:
Drh Mochamad Alfinanda Santriagung
PT Global Dairi Alami

PERANG DAN GEJOLAK EKONOMI MENYEBABKAN KONSUMSI DAGING AYAM DI IRAN TURUN HINGGA SEPARUHNYA

Konsumsi daging ayam di Iran telah turun sekitar 50% selama setahun terakhir. Menurut perwakilan industri, hal ini disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi, reformasi subsidi, serta dampak ekonomi dari konflik terkini negara tersebut dengan Israel dan AS, yang telah mengguncang baik produsen unggas maupun konsumen.

"Kenaikan harga ayam hingga empat kali lipat setelah penghapusan nilai tukar khusus secara langsung menurunkan daya beli konsumen dan memangkas konsumsi ayam hingga sekitar separuhnya," ujar Abdollah Ghasemi, anggota dewan Asosiasi Peternak Unggas Gilan.

Ghasemi mengaitkan krisis ini dengan kombinasi kebijakan pemerintah dan gangguan akibat situasi perang. Ia mengatakan bahwa penghapusan nilai tukar bersubsidi untuk pakan impor, vaksin, dan bahan tambahan pakan, ditambah dengan pengendalian harga yang diberlakukan selama konflik, telah sangat menekan margin keuntungan para produsen unggas.

"Biaya produksi melonjak tajam dan para peternak unggas kehilangan kemampuan untuk melanjutkan produksi," kata Ghasemi.

Menurut data resmi, produksi unggas telah merosot drastis dalam beberapa bulan terakhir. Ghasemi menyebutkan bahwa produksi ayam bulanan turun dari 140 juta ekor pada awal tahun menjadi 94 juta ekor dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, penurunan pasokan belakangan ini telah mendorong kenaikan harga, terutama setelah pemerintah mengumumkan program voucher pangan baru yang sempat meningkatkan permintaan untuk sementara waktu.

Sepanjang tahun ini, perwakilan industri unggas Iran terus mengeluhkan penurunan tingkat konsumsi. Pada bulan Mei, Farzad Talakesh, Sekretaris Jenderal Federasi Unggas Iran, menyatakan bahwa konsumsi ayam telah turun sekitar 25% akibat lonjakan inflasi dan penurunan daya beli rumah tangga.

Laporan mengenai merosotnya konsumsi ayam ini bertolak belakang dengan perkiraan yang lebih optimistis dari pihak berwenang Iran. Awal bulan ini, Kementerian Pertanian Iran menyatakan bahwa konsumsi ayam per kapita tahunan mencapai 26 kg, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 15 kg.

Di tengah penurunan konsumsi tersebut, industri ini juga mengalami kerugian besar di sektor pembibitan. Ghasemi mengungkapkan bahwa 40 juta DOC dimusnahkan karena produsen tidak dapat menyalurkannya, sementara banyak peternakan pembibitan memotong induk unggas dan menjual telur fertil ke pasar telur konsumsi alih-alih menggunakannya untuk penetasan.

MENYOAL SEDIAAN HERBAL UNTUK KESEHATAN TERNAK YANG OPTIMAL

Berbagai jenis herbal yang dapat dimanfaatkan tersedia di Indonesia. (Foto: Gemini)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu di antaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 9.600 spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan lebih dari 1.000 di antaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab dengan sebutan jamu. Sejak zaman dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan sediaan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya berasal dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu).

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia di masa kini menganut tren kembali ke alam, sehingga banyak di antaranya yang mengonsumsi obat-obatan herbal dan jamu demi menunjang kesehatannya. Begitupun dengan ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal bukan hanya Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan.

Sering kali ketika ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenis, pemilik hewan kerap memberikan jamu untuk ternaknya agar kondisinya lebih prima pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan hanya jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof Drh Min Rahiminawati. Menurut penuturannya, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan yakni jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk asli (daun, rimpang, batang, dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu dikategorikan menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, di mana keamanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik, serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun, kategorisasi tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” ujar Prof Min.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026. (CR)

RAS AYAM LOKAL ASLI SPANYOL DI TENGAH IKLIM YANG MENGHANGAT

Seiring perubahan iklim mengubah kondisi pemeliharaan ternak, keterbatasan jika hanya mengandalkan ras unggas komersial berproduktivitas tinggi pun kian nyata. Ras lokal asli, yang telah beradaptasi dengan lingkungan setempat, mungkin memiliki karakteristik penting bagi ketahanan di masa depan.

Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman paling signifikan terhadap ketahanan pangan global, karena ditandai dengan suhu ekstrem, kekeringan berkepanjangan, pola curah hujan yang tidak menentu, serta munculnya penyakit dan parasit. Semua faktor ini mengurangi kapasitas ekosistem pertanian dalam menghasilkan pangan yang memadai, aman, dan bergizi.

Dalam beberapa dekade terakhir, meningkatnya permintaan akan produk peternakan telah dipenuhi melalui intensifikasi sistem produksi yang berkelanjutan, yang melibatkan unit produksi berskala besar dan intensif dengan menggunakan ras unggul bergenetika terbaik, yang diseleksi demi produktivitas dan efisiensi pakan yang maksimal.

Peningkatan taraf produksi ini didukung oleh sumber pakan berkualitas tinggi (yang sering kali didatangkan melalui impor) yang memungkinkan perwujudan sifat-sifat produksi hasil perbaikan genetik, serta oleh penerapan peternakan presisi yang berbasis pada pemantauan, pengendalian, dan umpan balik secara berkelanjutan, otomatis, dan real-time terkait aspek reproduksi, kesehatan, kesejahteraan hewan, maupun dampak lingkungannya.

Namun, globalisasi galur genetik unggul menyebabkan hilangnya keragaman genetik akibat dominasi pasar global. Padahal, keragaman sumber daya genetik untuk pangan dan pertanian memegang peranan krusial dalam ketahanan pangan; hal ini terutama karena ras lokal, yang dikembangkan dan beradaptasi dengan lingkungan setempat, mungkin menyimpan gen-gen yang diperlukan untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kurang optimal. Oleh karena itu, evaluasi terhadap sumber daya genetik lokal menjadi hal yang mutlak diperlukan demi menjamin keberhasilan produksi peternakan di masa depan.

Pada unggas, stres panas akibat perubahan iklim menghambat pertumbuhan, menurunkan kemampuan reproduksi, mengurangi produksi telur serta kualitas daging, dan meningkatkan angka kematian. Sebagai contoh, pada tahun 2022, seorang peternak ayam petelur produktivitas tinggi di Spanyol bagian utara kehilangan 5.000 ekor ayam hanya dalam hitungan jam akibat stres panas saat gelombang panas bulan Juli—ketika suhu mencapai lebih dari 42°C, yang mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar €25.000.

Sama halnya dengan di negara-negara lain, banyak ras unggas asli Spanyol yang terancam punah. Sejak tahun 1975, Instituto Nacional de Investigación y Tecnología Agraria y Alimentaria (INIA-CSIC) telah memelihara koleksi ras unggas Spanyol secara in vivo.

Saat ini, terdapat 10 ras ayam yang menjadi bagian dari program konservasi: Castellana Negra, Cara Blanca, Andaluza Azul, Andaluza Franciscana, Vasca Barrada, Andaluza Perdiz, Villafranquina Roja, Prat Leonada, Prat Blanca, dan Pardo de Leon.

Penelitian menunjukkan bahwa, berdasarkan respons stres yang diukur melalui rasio heterofil terhadap limfosit (H/L) dalam darah saat terjadi stres panas alami, Andaluza Azul dan Andaluza Perdiz memiliki kombinasi produksi telur tinggi namun ketahanan rendah terhadap stres panas, sedangkan Villafranquina Roja dan Prat Leonada memiliki produksi telur rendah namun ketahanan tinggi terhadap stres panas.

Sebaliknya, Andaluza Franciscana menunjukkan produksi telur yang tinggi sekaligus ketahanan yang tinggi terhadap stres panas. Penelitian lain telah mengonfirmasi ketangguhan galur Prat Leonada dan Andaluza Franciscana serta toleransi yang lebih rendah pada Andaluza Azul.

Mengingat keberlanjutan sistem produksi dalam konteks perubahan iklim menuntut pilihan pemuliaan dan tujuan seleksi genetik yang inovatif demi meningkatkan toleransi terhadap panas, penelitian menekankan pentingnya mengidentifikasi latar belakang genetik terkait ketahanan terhadap cekaman panas dan potensi produksi pada galur-galur lokal (autokton).

Meskipun galur lokal umumnya tidak melalui proses seleksi dan memiliki tingkat produksi yang lebih rendah dibandingkan galur komersial, persilangan antara galur komersial dan galur lokal dapat menggabungkan alel-alel unggul dari galur komersial berproduktivitas tinggi dengan gen-gen galur lokal, sehingga meningkatkan ketahanan.

USDA MEMBATALKAN INISIATIF YANG BERTUJUAN MELINDUNGI PETERNAK AYAM PEDAGING

Departemen Pertanian AS (USDA) mengubah arah kebijakannya terkait tiga aturan hukum yang sedianya akan berdampak pada sebagian besar peternak ayam pedaging di AS. Aturan-aturan ini seharusnya mulai berlaku pada bulan Juli 2026.

Menurut USDA, banyak peternak ayam pedaging dan sejumlah organisasi pertanian, ketiga aturan tersebut bertujuan melindungi peternak yang terikat kontrak dengan perusahaan pengolah berskala besar dari sistem pembayaran yang tidak adil dan kewajiban pengeluaran tambahan yang dipaksakan. Ketiga aturan tersebut merupakan bentuk reformasi terhadap Packers and Stockyards Act.

Pada tahun 2024, USDA mencatat adanya "berbagai bentuk penyalahgunaan" yang dialami peternak ayam pedaging dalam sistem pembayaran yang dikenal sebagai sistem 'turnamen' (perbandingan antar-produsen). Selain itu, USDA mengonfirmasi adanya persyaratan tidak adil yang terkadang ditetapkan oleh perusahaan pengolah besar terhadap peternak mitra mereka, seperti kewajiban menanggung "pengeluaran modal tambahan" (misalnya, perubahan pada fasilitas kandang).

Untuk mengatasi hal ini, aturan tersebut sedianya akan menyediakan "sarana penting agar peternak dapat lebih baik dalam mengidentifikasi risiko yang mungkin timbul dari praktik peningkatan modal," demikian pernyataan USDA pada tahun 2024, "serta meningkatkan kemampuan USDA dalam menegakkan larangan yang sudah ada terhadap praktik-praktik yang tidak adil."

Pada bulan Oktober 2025, National Chicken Council (NCC) dan North American Meat Institute (yang mewakili perusahaan pengolahan daging terbesar di AS) menggugat USDA untuk membatalkan aturan kedua. Mereka mengklaim aturan tersebut melanggar hukum dan akan merugikan perusahaan karena memaksakan "kewajiban kepatuhan dan pencatatan" yang mahal, serta memaksa mereka "mengubah praktik kontrak semata-mata untuk menghindari kemungkinan litigasi".

Setelah USDA kembali membuka sesi tanggapan publik, pada tanggal 1 Juni 2026, badan tersebut meresmikan aturan kedua namun menunda pelaksanaannya dari Juli 2026 menjadi 31 Desember 2027. Akan tetapi, sebagaimana telah disebutkan, USDA kini akan mencabut ketiga aturan tersebut melalui proses pembuatan peraturan federal.

Media pertanian melaporkan adanya penentangan dari dua organisasi pertanian besar di AS terhadap perubahan arah kebijakan USDA ini. American Farm Bureau Federation dan National Farmers Union menyatakan dalam pernyataan bersama bahwa mereka "sangat prihatin" dan mendesak Presiden Trump serta Menteri Pertanian Brooke Rollins untuk memastikan USDA menindaklanjuti hal tersebut. Namun, sebagaimana telah diperkirakan, NCC menyambut baik pembatalan aturan itu. NCC menyatakan bahwa aturan-aturan tersebut "mengancam akan merusak model industri yang efisien dan sukses".

IRAK BERUPAYA MENCAPAI SWASEMBADA DAGING UNGGAS DAN TELUR

Sektor unggas Irak bersiap untuk langkah baru menuju swasembada, seiring dengan langkah Kementerian Pertanian yang meluncurkan serangkaian kebijakan untuk meningkatkan produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Dalam sebuah pernyataan di situs webnya, Kementerian menyebutkan bahwa industri unggas di negara tersebut terkendala oleh tingginya biaya produksi, terutama akibat kenaikan harga pakan dan obat-obatan hewan. Hambatan lainnya, tambah Kementerian, meliputi wabah penyakit, rendahnya produktivitas unggas lokal, serta persaingan dari produk unggas impor yang terkadang masuk secara ilegal ke dalam negeri.

"Terkadang produk-produk tersebut, unggas impor, masuk ke pasar dengan harga lebih rendah dan melemahkan daya saing produsen dalam negeri," tambah Kementerian.

Irak masih memiliki jalan panjang untuk mencapai swasembada produksi unggas, mengingat produksi dalam negeri masih jauh dari kebutuhan konsumsi. Menurut Kementerian, saat ini negara tersebut memproduksi 5-6 miliar butir telur konsumsi per tahun, sementara permintaan dalam negeri mencapai sekitar 9 miliar butir.

Kesenjangan pasokan ini bahkan lebih mencolok pada komoditas daging unggas. Produksi diperkirakan mencapai sekitar 400.000 metrik ton pada tahun 2026, sedangkan kebutuhan konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai sekitar 900.000 metrik ton.

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

SEKTOR UNGGAS BOTSWANA TUMBUH, NAMUN TANTANGAN PERSAINGAN MASIH ADA

Industri unggas Botswana telah menunjukkan kemajuan pesat menuju swasembada dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung oleh investasi pemerintah dan peningkatan produksi lokal. Namun, studi pasar regional yang dilakukan oleh Botswana Competition and Consumer Authority (CCA) menunjukkan bahwa tingginya biaya produksi, terbatasnya persaingan, dan mahalnya harga pakan terus memengaruhi daya saing jangka panjang sektor ini.

Awal tahun ini, Botswana mengumumkan pencapaian swasembada daging ayam dan telur konsumsi. Nilai subsektor unggas meningkat dari P1,7 miliar (US$124 juta) pada tahun 2022 menjadi P3,5 miliar (US$256 juta) pada tahun 2025. Pemerintah telah menetapkan industri unggas sebagai sektor strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Untuk melanjutkan kemajuan ini, Citizen Entrepreneurial Development Agency (CEDA) meluncurkan program Poultry Financial Suite yang telah diperbarui pada bulan Mei. Program ini diharapkan dapat mendukung 269 peternak unggas, mendirikan 3 tempat penetasan yang mampu memproduksi lebih dari 18 juta anak DOC per tahun, memperkuat produksi pakan lokal, serta menginvestasikan dana mendekati P1 miliar (US$73 juta) di sektor unggas.

Investasi ini mencerminkan ambisi Botswana untuk terus memperluas produksi lokal dan membangun industri unggas yang lebih tangguh.

Terlepas dari kemajuan tersebut, studi pasar unggas regional CCA; yang meneliti industri unggas di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zambia; menemukan bahwa pasar masih sangat terkonsentrasi. Sejumlah kecil perusahaan mendominasi beberapa bagian rantai nilai unggas, mulai dari pembibitan hingga pengolahan, sehingga menyulitkan produsen berskala lebih kecil untuk bersaing.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa Botswana tetap menjadi produsen unggas dengan biaya relatif tinggi, di mana pakan merupakan komponen terbesar dari biaya produksi. Ketergantungan pada input impor dan tingginya biaya transportasi terus menekan margin keuntungan produsen, yang pada akhirnya berkontribusi pada harga unggas yang lebih tinggi.

Menurut studi tersebut, banyak perusahaan unggas terbesar di Botswana memiliki hubungan komersial yang erat dengan perusahaan-perusahaan besar asal Afrika Selatan, khususnya di bidang pembibitan dan pengolahan. Kondisi ini, ditambah dengan pembatasan impor yang dirancang untuk melindungi produksi lokal, telah menciptakan pasar dengan tingkat persaingan yang terbatas.

Industri unggas Botswana telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperluas produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tantangan berikutnya adalah mengembangkan capaian ini dengan menciptakan pasar yang kompetitif, efisien, dan mampu menyediakan produk unggas yang terjangkau bagi konsumen.

SISTEM AI ASAL BRASIL HADIRKAN AKURASI 99% DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN ANAK AYAM

Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama yang sepenuhnya berasal dari Brasil untuk menentukan jenis kelamin anak ayam pedaging (broiler) di tempat penetasan kini telah beroperasi di Pluma Agroavícola, salah satu perusahaan genetika unggas terkemuka di negara tersebut.

Sistem yang diberi nama HatchFlex ini dikembangkan oleh perusahaan Brasil, SmartPixel, dan memadukan kecerdasan buatan, visi komputer, otomatisasi industri, serta sistem optik berpresisi tinggi untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak ayam secara cepat, konsisten, dan andal.

Menurut Lauri Paludo, presiden Grupo Pluma, penerapan sistem ini merupakan langkah maju yang besar bagi perusahaan. "Kami terus berinvestasi dalam teknologi, modernisasi, dan peningkatan proses karena kami yakin inilah jalan untuk mempertahankan keunggulan produk serta daya saing operasional kami," ujarnya.

Menurut Décio Luiz Goldoni, manajer tempat penetasan di Pluma Agroavícola, sistem HatchFlex membawa transformasi signifikan bagi operasional perusahaan. "Ini adalah teknologi mutakhir yang menghadirkan akurasi lebih tinggi dalam proses penentuan jenis kelamin anak ayam. Selain meningkatkan produktivitas, otomatisasi juga membantu memperbaiki kondisi kerja bagi tim kami serta memperkuat komitmen kami terhadap kualitas di setiap tahapan produksi."

Fitur unggulan lainnya dari sistem ini adalah fokusnya pada kesejahteraan hewan. Proyek ini dikembangkan untuk memenuhi standar kesejahteraan internasional yang ketat, guna memastikan unggas ditangani dengan aman dan hati-hati di sepanjang prosesnya.

INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI

Di dunia peternakan yang terus berubah, informasi saja tidak cukup. Regulasi obat hewan berkembang, menajemen kesehatan ternak semakin kompleks, dan strategi budi daya membutuhkan pemahaman yang terus diperbarui.

Karena itu, Infovet Academy hadir untuk membantu praktisi, dokter hewan, pelaku industri, dan pembudidaya mengubah informasi kompetensi yang bisa diterapkan.

Apa yang didapat?
- Materi praktis dan terstandar dari pakar dan praktisi berpengalaman
- Akses belajar fleksibel, on-demand
- E-sertifikat resmi setelah menyelesaikan program
- Materi dapat dipelajari ulang dan tersedia dalam format ringkasan praktis

Program kelas populer:
- Panduan Lengkap Pendaftaran Obat Hewan
- Sterilisasi Hewan Kesayangan dalam Perspektif Medis

Jangan biarkan kompetensi Anda berhenti pada pengalaman lama. Upgrade pengetahuan, tingkatkan keterampilan, dan siapkan diri menghadapi tantangan industri peternakan ke depan.

Daftar sekarang di Infovet Academy:
WhatsApp CS: 0813-1631-2042

Dari informasi menjadi kompetensi. Investasi terbaik untuk masa depan profesi Anda.
https://www.instagram.com/reel/DdC_4qBB8jn/?stkn=dmNoNjBkbTFudnR4

TIPS WIRAUSAHA KOMPOS KOTORAN SAPI YANG BISA DIKERJAKAN SENDIRI

Usahakan membeli kotoran sapi yang sudah siap dikompos. Ciri-cirinya adalah kotorannya kering, bobotnya ringan karena kandungan air sedikit. Baunya tidak menyengat. Kotorannya berbutir-butir kecil, tidak masih dalam bentuk gumpalan besar-besar yang masih basah.

Kotoran sapi yang demikian akan lebih cepat untuk dibuat kompos.

Penting juga untuk memilih kotoran sapi yang cukup bersih. Yaitu tidak tercampur dengan banyak keriril, tanah, sampah plastik, dan bahan penganggu lainnya. Karena selain buang waktu dan tenaga untuk memilahnya, juga kalau campuran sampah dan lain-lain tersebut banyak bisa membuat proses pengomposan lebih lama.

Untuk pengomposannya pilih teknik yang bisa dikerjakan sendirian. Mungkin pilih metode yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, misal tidak membutuhkan pembalikan/pengadukan yang sering.

Merapikan keuangan juga penting. Ambil sebagian laba sebagai gaji pribadi. Sisa laba dan modal simpan sebagai uang usaha, untuk membeli bahan baku dan ongkos produksi batch berikutnya.

Pemasaran jika baru mampu berproduksi skala kecil bisa menyasar rumah tangga, sekolah, dan perkantoran.

PETERNAK UNGGAS DI ZIMBABWE KEDAPATAN MENGGUNAKAN OBAT HIV DALAM PAKAN TERNAK

Industri unggas Zimbabwe tengah menghadapi skandal kesehatan yang kian membesar, menyusul terungkapnya praktik ilegal di mana peternak ayam pedaging mencampurkan obat antiretroviral (ARV) ke dalam pakan ayam, dengan tujuan menekan angka kematian dan mempercepat pertumbuhan ternak.

Southern Africa Accountability Journalism Project (SA AJP), sebuah inisiatif jurnalisme investigasi yang berfokus pada akuntabilitas publik, mewawancarai dua sumber di industri unggas yang membenarkan adanya praktik penambahan obat HIV ke dalam pakan ternak.

Sebagai contoh, seorang peternak yang beroperasi di kawasan Waterfalls, Harare, mengakui bahwa ia secara diam-diam mencampurkan obat ARV, yang dibelinya secara ilegal dari seorang petugas kesehatan di rumah sakit setempat, ke dalam pakan ayamnya.

Peternak tersebut menyatakan bahwa motivasi awalnya bukanlah untuk mempercepat pertumbuhan ayam, melainkan untuk mengurangi kerugian akibat penyakit unggas yang umum terjadi. Baru belakangan ia meyakini bahwa obat-obatan tersebut juga dapat membantu ayam tumbuh lebih cepat.

Yang menarik, para peternak yang diwawancarai mengungkapkan bahwa obat HIV memberikan dampak luar biasa bagi usaha mereka.

Peternak tersebut, yang sebelumnya berada di ambang kehancuran akibat wabah penyakit Newcastle, mendapati penurunan nyata pada angka kematian ayam serta peningkatan keuntungan.

Terlepas dari potensi efektivitasnya, penggunaan obat HIV dilarang keras di Zimbabwe.

Sejumlah pejabat kesehatan setempat telah menyuarakan kekhawatiran bahwa praktik ini dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, khususnya bagi orang yang hidup dengan HIV. Para analis memperingatkan bahwa konsumen yang secara rutin mengonsumsi unggas yang terpapar obat antiretroviral berisiko menelan residu obat tersebut, meskipun sejauh mana risiko kesehatan yang ditimbulkannya belum diteliti secara mendalam.

Terdapat pula kekhawatiran bahwa paparan berulang terhadap residu ARV berpotensi mengganggu pengobatan HIV pada pasien yang memang sedang mengonsumsi obat tersebut, kendati bukti langsung mengenai dampak semacam itu pada manusia masih terbatas.

KAMERA PINTAR MENGUNGKAP RESPONS AYAM BROILER TERHADAP STRES PANAS DAN PERTAMBAHAN USIA

Sebuah studi baru yang menggunakan teknologi computer vision canggih telah memberikan wawasan baru mengenai perubahan perilaku ayam broiler sepanjang siklus produksi. Hal ini menawarkan sarana baru bagi para peternak unggas untuk memantau kesejahteraan, mendeteksi masalah sejak dini, dan mengelola stres panas secara lebih efektif.

Para peneliti memantau 1.120 ekor ayam broiler jenis Ross 308 selama empat siklus produksi menggunakan sistem pelacakan multi-kamera yang mampu mengikuti pergerakan ayam sejak usia 8 hingga 40 hari. Teknologi ini secara otomatis mengukur tingkat aktivitas serta perilaku makan dan minum, sehingga memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya mengenai bagaimana perilaku broiler berkembang seiring pertumbuhan ayam.

Temuan ini mengonfirmasi banyak pengamatan yang sudah dikenal oleh para peternak unggas, sekaligus menunjukkan bagaimana pemantauan otomatis dapat mengubah cara penilaian kesejahteraan ayam di kandang komersial.

Salah satu kesimpulan yang paling jelas adalah bahwa usia memiliki dampak besar terhadap aktivitas. Seiring pertumbuhan ayam broiler, pergerakan secara keseluruhan menurun secara signifikan. Aktivitas intensitas tinggi, seperti berlari, mulai berkurang sejak usia 15 hari dan menurun lebih cepat dibandingkan pergerakan dengan intensitas lebih rendah. Pada usia sekitar 30 hari, tingkat aktivitas di semua kategori terlihat jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Patricia Soster dari Departemen Patobiologi, Farmakologi, dan Kedokteran Zoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Ghent, Belgia, hal ini mencerminkan realitas biologis ayam broiler modern. Seiring bertambahnya berat badan, pergerakan menjadi lebih berat secara fisik dan ayam secara alami mencurahkan lebih banyak energi untuk pertumbuhan daripada untuk bergerak. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengaitkan penurunan aktivitas pada ayam yang lebih tua dengan masalah mobilitas dan kesehatan kerangka yang lebih buruk.

Bagi para peternak, temuan ini penting karena aktivitas dapat menjadi sinyal peringatan dini. Penyimpangan yang signifikan dari pola aktivitas yang diharapkan dapat mengindikasikan munculnya masalah kesejahteraan, termasuk kepincangan, gangguan kaki, atau masalah manajemen pemeliharaan.

Perilaku minum yang disertai dengan berkurangnya kunjungan ke tempat pakan dapat menjadi peringatan dini bahwa ayam sedang kesulitan menghadapi kenaikan suhu.

TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED

Ketua Umum Kafapet Unsoed Periode 2026-2030, Teguh Sudaryatno. (Foto: Dok. kafapet Unsoed)

Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) kembali mempercayakan Teguh Sudaryatno sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed melalui Musyawarah Nasional VI (Munas VI) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Sekretaris Panitia Munas VI Kafapet Unsoed, Farid Dimyati, mengatakan pemilihan ketua umum berlangsung lancar dan ditempuh melalui musyawarah mufakat setelah tiga kandidat memenuhi ketentuan dalam tata tertib persidangan.

"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.

Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.

Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).

Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.

Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.

"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.

Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.

"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.

Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)

LAYER ACADEMY MEMILIH KANDIDAT UNTUK PROGRAM PENGEMBANGAN

BFREPA Layer Academy angkatan pertama telah memilih 8 orang yang terdiri dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait untuk mengikuti program pengembangan selama 12 bulan di sektor telur ayam free-range, yang disponsori oleh ForFarmers UK.

Akademi ini diluncurkan di ajang Pig and Poultry Fair oleh direktur dewan British Free Range Egg Producers Association (BFREPA), Lucy Hinch, dan Greg Marsh, manajer penjualan unggas di ForFarmers UK. Program ini dijalankan untuk BFREPA oleh Hinch dan Bethany Irwin, dengan dukungan dari berbagai perusahaan di sektor tersebut.

Lamaran datang dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait dari seluruh penjuru negeri. Para kandidat yang terpilih mewakili beragam jenis usaha, sistem produksi, dan latar belakang profesional.

Selama 12 bulan ke depan, kelompok peserta ini akan mengunjungi hatchery, lokasi pemeliharaan pullet, unit kandang free-range dan barn (kandang tertutup dengan akses lantai), fasilitas pengolahan telur, pabrik pakan, serta pusat pengemasan. Sesi-sesi pelatihan akan mencakup berbagai topik seperti program vaksinasi, persyaratan supermarket, pengolahan ayam petelur afkir, dan peran British Egg Industry Council.

Para peserta akan bertemu dengan produsen, ahli nutrisi, pengecer, regulator, dan pengambil keputusan di industri ini. Selain materi teknis, program ini juga mencakup pengembangan kepemimpinan, diskusi, dan kesempatan untuk membangun jejaring.

BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED

Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Kafapet Unsoed. (Foto: Istimewa)

"Bakti Alumni Fakultas Peternakan Unsoed untuk Sukseskan Program Hilirisasi”, menjadi tema Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drijen PKH), Drh Agung Suganda, yang turut hadir mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.

Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.

“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.

Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer