-->

Featured Posts

INDONESIA-URUGUAY JAJAKI PERLUASAN PERDAGANGAN PRODUK PETERNAKAN

Foto: ditjenpkh.pertanian.go.id

Kementerian Pertanian membuka peluang penguatan kerja sama perdagangan subsektor peternakan dan kesehatan hewan dengan Uruguay. Hal ini dibahas dalam pertemuan antara pemerintah kedua negara di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/8), yang bertujuan memperkuat kemitraan bilateral sekaligus mendorong akses pasar bagi produk peternakan dari kedua pihak.

Delegasi Uruguay yang hadir antara lain Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González, Wakil Menteri Luar Negeri Valeria Csukasi, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Matías Carámbula, serta perwakilan National Meat Institute (INAC) dan National Milk Institute (INALE).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa Indonesia ingin membangun hubungan perdagangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara. Salah satu upaya yang didorong adalah membuka akses pasar timbal balik dengan memperkenalkan produk-produk unggulan industri peternakan Indonesia ke Uruguay.

Menurutnya, produk peternakan nasional telah menjangkau lebih dari 90 negara. Produk tersebut mencakup asam amino untuk suplemen pakan, premiks pakan berbasis kelapa sawit, serta vaksin dan obat hewan. Capaian ini menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan peluang perdagangan dengan mitra internasional.

Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay, Valeria Csukasi, menyambut baik rencana Indonesia untuk memasarkan produk peternakannya ke Uruguay. Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah Uruguay dalam mendukung proses pembukaan akses pasar bagi produk-produk tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Uruguay, Matías Carámbula, memaparkan perkembangan sektor pertanian di negaranya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi penguatan hubungan dagang Indonesia-Uruguay, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Melalui peluang akses pasar yang lebih terbuka, kedua negara berupaya membangun kerja sama perdagangan yang lebih luas, seimbang, dan saling menguntungkan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id

PUNCAK HATN 2026: “MULAI DARI PETERNAK KITA BERGERAK” YOGYAKARTA CHICKEN AND EGG RUN

Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa)

“Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini diteriakan oleh ribuan peserta lomba  sebelum langkah pertama di garis start, dalam kegiatan Chicken and Egg Run pada puncak acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026, Minggu (18/10/2026), yang diselenggarakan PINSAR Indonesia di Yogyakarta.

Makna filosofis tersebut adalah peternak bukan sekadar objek, melainkan pelaku utama. Peternak harus dilibatkan dalam merumuskan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan menentukan arah pembangunan industri perunggasan.

Peternak sebagai pusat perjuangan, di mana setiap kebijakan, program, dan langkah pembangunan peternakan harus berangkat dari kebutuhan, persoalan, dan kenyataan yang  dihadapi peternak di lapangan.

Peternak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu bersatu, membangun solidaritas, dan bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi, akademisi, serta pelaku usaha lainnya. Bergerak untuk mewujudkan peternakan unggas yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi peternak dan masyarakat.

Foto bersama penyelenggara acara.

Hal tersebut selaras dengan sambutan staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, sebelum melepas para peserta Chicken and Egg Run 2026.
Menurutnya, dalam mewujudkan peternakan yang produktif berdaya saing, peternak perlu berhimpun dalam koperasi. Koperasi dinilai dapat berperan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kegiatan peternakan dari hulu hingga hilir.

Ia juga berharap PINSAR Indonesia terus berperan dalam program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Kami Kementerian Koperasi siap mendukung tata kelola hingga akses pembiayaannya,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi PINSAR Indonesia yang menginisiasi acara ini, yang tidak hanya sekadar mempromosikan olah raga, tetapi sarat dengan unsur edukasi bagi masyarakat akan pentingnya konsumsi daging ayam dan telur, seperti yang disampaikan Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko.

Para peserta yang berhasil meraih juara dalam Chicken and Egg Run.

Lebih jauh dijelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang berkualitas dan terjangkau.

“Saat ini tingkat konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada pada 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini dinilai masih sangat mungkin ditingkatkan, sehingga akan memberkan multiplier effect yang sangat menguntungkan bagi stakeholder perunggasan,” katanya.

Singgih berharap, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih dalam bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani  yang berkualitas, terjangkau, dan sangat dibutuhkan terutama bagi generasi masa depan.

Peserta yang berhasil meraih hadiah utama satu unit mobil listrik BYD.

Kegiatan PINSAR ini dilaksanakan selama dua hari. Diawali dengan Rakornas pada Sabtu (17/10/2026) yang diikuti para pengurus daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemudian dilanjutkan pada Minggu (18/10/2026) dengan peringatan HATN berupa kegiatan Chicken and Egg Run. Lomba ini diselenggarakan dengan tiga katagori, yakni 2,5 km, 5 km, dan 10 km, serta disediakan berbagai macam hadiah menarik, dengan hadirah utama satu unit mobil listrik BYD.

Minat masyarakat Yogyakarta sangat luar biasa, ditandai dengan banyaknya peserta yang mencapai hampir 3.000 orang. Selain itu, di lokasi acara juga diadakan Kuliner Pasar Kangen yang menawarkan berbagai makanan tradisional dan modern, yang juga dimeriahkan photobooth dan live music untuk menghibur para peserta maupun pengunjung lain di sepanjang acara.

Pembagian hadiah bagi peserta lomba kostum terbaik.

Ketua Panitia Pusat Peringatan HATN, Ricky Bangsaratoe, menilai bahwa acara peringatan  HATN yang diselenggarakan di Yogyakarta ini merupakan acara paling meriah yang pernah diselenggarakan PINSAR Indonesia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi standar tinggi bagi penyelengara HATN berikutnya, yaitu PINSAR Kalimantan Barat pada 2027 mendatang,” katanya. Hal tersebut juga diamini oleh Rakhmat Nuriyanto, salah satu penggagas HATN sekaligus Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) periode 2010-2015, yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. (INF)

DI ILDEX INDONESIA 2026, ROMINDO GELAR SEMINAR MENGUPAS KARAKTERISTIK DAN PENANGANAN MYCOPLASMA PADA UNGGAS

PT Romindo Primavetcom turut berpartisipasi dalam pameran internasional ILDEX Indonesia, 16-18 September 2026, dengan menyelenggarakan seminar bertajuk “The Ecology of Avian Mycoplasma Infections”. Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (17/9), menghadirkan Senior Technical Advisor Bioproperties, Prof Dr Chris Morrow PhD BVSc, pakar terkemuka yang juga penerima penghargaan Peter Hannan Award IOM 2024 dan Kesteven Medal AVA 2024.






INDONESIA-TIMOR LESTE PERKUAT KERJA SAMA PETERNAKAN

Sumber: Youtube Ditjen PKH

Indonesia dan Timor-Leste memperkuat kerja sama subsektor peternakan, terutama dalam kesehatan hewan di wilayah perbatasan, peningkatan mutu genetik ternak, pengembangan sumber daya manusia, dan perluasan perdagangan komoditas peternakan.

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dengan Menteri Muda Bidang Peternakan Timor-Leste, José Viera de Araújo, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (21/9).

Agung mengatakan, kedekatan geografis dan hubungan lintas batas membuat kerja sama kesehatan hewan kedua negara penting untuk mencegah masuknya dan penyebaran penyakit serta menjaga keamanan perdagangan komoditas peternakan.

“Indonesia memandang Timor-Leste sebagai mitra strategis di kawasan. Kami sepakat kerja sama kedua negara terus ditingkatkan karena memiliki karakteristik dan tantangan yang sama, terutama dalam pengendalian penyakit hewan, peningkatan produktivitas ternak, dan penguatan perdagangan komoditas peternakan,” kata Agung.

Sementara itu, José menekankan pentingnya kerjasama untuk mencegah pergerakan ilegal ternak dan produk hewan serta memperkuat pengawasan kesehatan hewan lintas batas terhadap penyakit eksotik.

Ia juga menilai pelatihan dan edukasi penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan populasi ternak di Timor-Leste. Karena itu, ia berharap kerja sama inseminasi buatan dan pengembangan genetik ternak dengan Indonesia terus ditingkatkan.

Di bidang perdagangan, pasar Timor-Leste telah menerima sejumlah produk peternakan Indonesia, termasuk karkas dan produk olahan ayam. Pada Juni 2026, Kementan melepas ekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam ke negara tersebut senilai Rp1,043 miliar.

Agung mengapresiasi pelaksanaan Import Risk Analysis (IRA) oleh Timor-Leste terhadap sejumlah unit usaha Indonesia pada 2024–2025. Ia berharap penilaian lanjutan dapat membuka peluang perdagangan telur tetas, DOC ayam KUB, DOC parent stock (PS) layer, dan DOC PS broiler.

Pengembangan kerbau turut menjadi agenda kerja sama dengan dukungan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Kolaborasi ini mencakup rencana penyediaan semen beku produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang serta dukungan dua tenaga ahli untuk pelatihan inseminasi buatan dan peningkatan kapasitas petugas peternakan Timor-Leste.

Melalui kerja sama di bidang kesehatan hewan, genetik, sumber daya manusia, dan perdagangan, Indonesia dan Timor-Leste diharapkan dapat memperkuat kemitraan peternakan yang saling menguntungkan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keamanan kesehatan hewan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

MENDUKUNG PERFORMA LAKTASI MELALUI NUTRISI PRESISI

Sapi perah dengan tingkat produksi tinggi menghadapi tuntutan metabolik yang besar karena mereka harus menopang produksi susu, fungsi kekebalan tubuh, reproduksi, dan kesehatan secara keseluruhan secara bersamaan. Akibat pembagian nutrisi di antara berbagai proses biologis yang saling bersaing ini, ketersediaan sumber daya untuk mendukung laktasi menjadi berkurang.



BEST AMINO PRO & CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM

Better flowability & stability, same efficiency. Perfect yout feed with CJ Pro, granular source of amino acids.


CJ Indonesia 2nd Symposium "Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost"
Hari: Selasa, 3 November 2026
Waktu: 11:30-16:00 WIB
Tempat: Hotel Mercure Gatot Subroto Jakarta







ZOETIS MEMBAWA SOLUSI ND, IBD, IB, DAN REOVIRUS DI ILDEX INDONESIA 2026

Foto bersama peserta seminar. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

Setelah cukup lama absen dari ajang pameran industri perunggasan, Zoetis Indonesia kembali menyapa para pelaku industri secara langsung di ajang ILDEX Indonesia 2026. Kehadiran ini menjadi momentum bagi Zoetis untuk kembali memanfaatkan pameran sebagai ruang interaksi dengan pelanggan, praktisi, akademisi, sekaligus berbagi perkembangan terbaru seputar kesehatan unggas.

“Namun Zoetis sebenarnya selama ini terus aktif dan berkontribusi di dunia perunggasan. Kami secara rutin menggelar seminar teknis yang dikemas dengan nama Poultry Master Class dan ada Hatchery Master Class,” terang Ulrich Erik Ginting, General Manager Zoetis Indonesia.

“Kami berharap bagi peternak kami bisa terus menjadi solusi. Agar kasus penyakit di farm jadi seminimal mungkin, dan ayam sehat terus hingga panen. Juga bagi konsumen agar mereka selalu mendapatkan daging ayam yang sehat.”

Kali ini Poultry Master Class 2026 diadakan di ILDEX pada Rabu (16/9), di ruang Garuda Hall, ICE BSD dengan tema “Bridging the Future: Every Healthy Chick Starts with a Protected Breeder”. Menghadirkan dua pembicara Dr Nicky Love BVSc, BVSc (Hons), MRCVS, Zoetis Global Hatcheries Technical and Veterinary Services Manager, dan Dr Kalen Cookson, DVM, MAM, DACP, Global Director Clinical Research, Zoetis Inc.

Seminar mengangkat sejumlah isu yang masih menjadi tantangan di lapangan. Newcastle disease (ND), khususnya genotipe VII, menjadi salah satu topik yang mendapat sorotan, di samping itu tantangan infectious bursal disease (IBD) atau gumboro dan reovirus.

Pada hari berikutnya, Kamis (17/9), Dr Nicky juga menjadi pembicara di seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), untuk memperingati 100 tahun hari ND sedunia, dengan tema “The Newcastle Disease Centennial International Seminar: A Century of Learning, Protecting Tomorrow”.

Hadapi ND Genotipe VII dengan Perlindungan Vaksin yang Tepat

Dr Nicky memaparkan bahwa karakteristik virus ND genotipe VII yang menunjukkan tingkat replikasi virus yang tinggi serta respons imun bawaan yang intens, mediator apoptosis yang mengakibatkan kerusakan parah pada jaringan limfoid. Protein M, F, dan HN menentukan tingkat replikasi yang tinggi tersebut.

Penelitian pada flock broiler yang terinfeksi virus ND genotipe VII, tingkat kematiannya berkisar antara 5­55%. Gejala klinis utama meliputi gangguan pernapasan, dengan atau tanpa gejala saraf, serta diare berwarna hijau keputihan.

Sedangkan pada pullet dan layer patogenisitasnya bergantung pada berbagai faktor seperti spesies, galur, umur, status kekebalan, dan status reproduksi. Penurunan produksi telur antara 20­60% disertai penurunan kualitas telur (menghasilkan telur tanpa cangkang, bercangkang lunak, retak, berukuran kecil, atau cacat bentuk).

Virus ND genotipe VII bisa ditangani dengan baik oleh produk vaksin Zoetis, Poulvac® Procerta® HVT-ND. Sebuah vaksin rekombinan HVT yang memiliki keunggulan bisa memicu respons imun yang berbeda, dapat memberikan perlindungan memadai secara mandiri atau melengkapi strategi vaksinasi lain saat digunakan bersamaan.

“On site immunity dari vaksin ini begitu cepat. Pada 14 hari sudah memproteksi di 75%, lalu di umur 19 hari proteksi meningkat menjadi 93%,” kata Dr Nicky. “Menariknya, vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND ini mengatasi virus­virus di lapangan. Contohnya di Indonesia yang saat ini naik daun virus ND genotipe VII. Studi yang dilakukan di Malaysia dan Thailand juga membuktikan vaksin ini bisa memberikan perlindungan yang optimal dan menurunkan viral shedding.”

Lebih lanjut Dr Nicky mencontohkan efikasi vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND terhadap tantangan virus ND genotipe VII pada Ayam SPF (specific pathogen free) di Malaysia. Pemberian tunggal Poulvac® Procerta® HVT-ND terbukti efektif memberikan perlindungan. Tingkat perlindungan yang ditunjukkan berkisar antara 95%­100% saat diberikan secara subkutan atau in ovo. Perlindungan tetap teramati baik dengan maupun tanpa penggunaan vaksin ND hidup dan inaktif lainnya.

Poulvac® Procerta® HVT-ND dirancang dengan tujuan menghasilkan perlindungan terhadap ND yang paling cepat dan paling tangguh. Kompatibilitas Poulvac® Procerta® HVT-ND dengan vaksin lain merupakan kunci dalam merancang program vaksinasi yang optimal. Terbukti efektif melawan virus ND genotipe VII.

IBD dan Reovirus, Silent Threat pada Unggas

Sementara itu Dr Kalen Cookson men jelaskan bahwa IBD varian bisa menyebabkan kerusakan bursa dan imunosupresi yang signifikan tanpa gejala kritis yang jelas dan dapat menjadi silent killers. Sehingga surveillance aktif sangat penting meskipun tidak terlihat secara klinis. Semakin dini terinfeksi IBD, semakin besar resiko terjadinya imunosupresi berat dan juga berkepanjangan.

Keberhasilan proteksi terhadap IBD varian pada progeny sangat bergantung pada kombinasi priming breeder yang baik, kualitas vaksin killed yang tinggi, dan juga maternal immunity yang cukup untuk menunda infeksi lapangan pada periode awal kehidupan.

Mirip dengan IBD, infeksi reovirus juga dapat bersifat insidious atau diam­diam. Efek pada pullet tidak terlalu terlihat, tapi dapat menyebabkan masalah kaki pada breeder, bahkan berdampak pada performa broiler juga turunannya.

Program vaksinasi reovirus pada breeder sebaiknya dibangun sejak dini, dengan vaksin live untuk priming. Kemudian dilanjutkan dengan booster atau vaksin primer sebelum vaksin killed agar breeder terlindungi dan dapat menghasilkan maternal antibody yang kuat untuk progeny.

“IBD varian dan juga reovirus semakin banyak ditemukan dari hasil surveillance. Sehingga program vaksinasi breeder perlu dibuat lebih komprehensif untuk memberikan perlindungan yang optimal pada progeny,” jelas Dr Kalen.

Selanjutnya Dr Kalen memaparkan vaksin Poulvac Maternavac® 4 yang memiliki kemampuan cross protection kuat terhadap berbagai IBD varian. Termasuk perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru, terhadap VVIBD terbaru, juga IBDV varian.

Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan dasar perlindungan reovirus yang kuat dengan serokonversi reovirus yang tinggi dibandingkan produk kombinasi.

Dr Kalen mengatakan, “Poulvac Maternavac® 4 memiliki kemampuan tak tertandingi dalam memberikan perlindungan silang terhadap berbagai varian IBDV tipe A2. Vaksin ini memberikan perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru Del­E yang serupa dengan SHG­19, serta perlindungan silang yang lebih unggul terhadap vvIBDV tipe A3 dan varian IBDV tipe A4. Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan perlindungan dasar terbaik terhadap reovirus dengan tingkat serokonversi reovirus tertinggi dibandingkan produk IBD/Reo lainnya.”

Booth Zoetis Jadi Ruang Interaksi

Booth Zoetis Indonesia di ajang ILDEX 2026 menjadi salah satu titik temu bagi perusahaan dengan para pelaku industri perunggasan. Selama pameran berlangsung, booth Zoetis ramai dikunjungi oleh peternak, mitra bisnis, distributor, serta profesional di bidang kesehatan hewan. Para pengunjung berkesempatan berdiskusi langsung dengan tim Zoetis mengenai berbagai solusi kesehatan hewan dan perkembangan industri perunggasan, sekaligus mempererat hubungan dengan pelanggan dan mitra di Indonesia.

Booth Zoetis Indonesia juga menawarkan aktivitas interaktif bagi pengunjung berupa semacam permainan berhadiah. Pengunjung yang beruntung mendapatkan berbagai merchandise menarik dari Zoetis. Aktivitas ini membuat suasana booth lebih hidup, sekaligus menjadi cara Zoetis untuk menciptakan interaksi yang lebih santai dan dekat dengan para pengunjung pameran. (ADV)

RESMI TERPILIH, DRH MARIA THERESIA WIDIASTUTI PIMPIN PB PDHI PERIODE 2026-2030

Drh M. Th. Widiastuti, Ketua Umum PB PDHI periode 2026-2030. (Foto: Dok. PDHI)

Drh Maria Theresia (M. Th.) Widiastuti resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) untuk periode 2026-2030. Kepastian ini diperoleh setelah ia unggul atas tiga calon pesaing yang masing-masing berasal dari Jawa Timur, Kalimantan Timur II, dan Jawa Barat V dalam Kongres ke-20 PB PDHI yang berlangsung pada 15-18 Oktober 2026.

Mengawali masa kepemimpinannya, kepada Infovet, wanita yang akrab disapa Tuti ini menyampaikan bahwa fokus utama organisasi dalam jangka pendek adalah melakukan penataan internal secara menyeluruh. Salah satunya adalah penguatan unit peminatan non-teritorial. Unit ini diproyeksikan sebagai basis penguatan kompetensi para dokter hewan agar mampu menjawab tantangan profesi yang semakin berkembang.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga terus berkomitmen penuh untuk mengawal keberhasilan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan dan Layanan Kedokteran Hewan. “Segera dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk ditetapkan sebagai UU,” ujarnya.

Kehadiran undang-undang ini sangat vital sebagai payung hukum yang menaungi standar pendidikan kedokteran hewan, perlindungan profesi, hingga peningkatan mutu layanan kepada masyarakat dan industri terkait.

Guna mewujudkan agenda-agenda besar tersebut, Tuti juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi erat dengan berbagai pihak. Penataan profesi dan regulasi kedokteran hewan memerlukan kerja sama yang solid antara PDHI, seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), pemerintah, serta DPR.

Dalam kepemimpinannya yang baru ini diharapkan dirinya dapat menjalankan amanah serta tanggung jawab dengan baik, membawa kemajuan signifikan bagi PDHI, serta diberi kelancaran dalam memperkuat sinergi dan mewujudkan program-program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat. (INF)

DIGELAR DI IKN, KONGRES XX PDHI BAHAS KEDAULATAN PANGAN DAN PERLINDUNGAN SATWA

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono (tengah) memberikan cinderamata kepada Ketua Umum PB PDHI, M. Munawaroh (kedua kiri) dalam Kongres XX PDHI. (Foto-foto: Humas Otorita IKN/Deden & Istimewa)

Ibu Kota Nusantara (IKN) terpilih menjadi tempat pembukaan penyelenggaraan Kongres XX Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Pembukaan kongres digelar di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kamis (15/10/2026).

Kongres yang mengangkat tema “Sinergi Dokter Hewan Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional” ini mempertemukan para dokter hewan dari berbagai daerah di Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan bidang veteriner. Kongres menjadi ruang pembahasan mengenai peran profesi dokter hewan dalam mendukung kesehatan hewan, keamanan pangan, kesehatan masyarakat, serta perlindungan lingkungan.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut penyelenggaraan kongres tersebut di KIPP Nusantara. Basuki menilai bahwa hadirnya PDHI penting bagi Nusantara, khususnya pengalamannya dalam bidang kesehatan hewan dan perlindungan lingkungan.

“Selamat datang di Nusantara, saya menyimak apa yang disampaikan oleh Bapak Ketum dan Ibu Nurhadi tadi, bahwa salah satu peran strategis dokter hewan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesehatan hewan. Saya sekaligus bercerita, saya sendiri punya ayam, kenapa saya pelihara, karena saya ingin kalau sudah berhasil bisa diberikan ke desa-desa di Sepaku untuk menangani kasus stunting,” kata Basuki melalui siaran resmi Otorita IKN.

Foto bersama seluruh peserta Kongres XX PDHI.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyoroti kongres bukan hanya sekadar seremonial, melainkan refleksi atas perjalanan profesi dokter hewan di Indonesia.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Besar PDHI, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk Otorita IKN yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kongres ini. Kongres ke-20 PDHI merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi profesi dokter hewan Indonesia,” ujar Nuryani.

Foto bersama peserta Kongres XX PDHI dan para undangan.

Apresiasi ini turut direspons langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PDHI, Dr Drh M. Munawaroh MM, yang turut mengajak seluruh peserta sesuai dengan pesan yang disampaikan Kepala Otorita IKN kepadanya.

“Atas nama PDHI, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dan terima kasih kepada Bapak Kepala Otorita IKN sehingga acara kongres ini dapat terselenggara di IKN,” katanya.

Selain pembukaan Kongres XX PDHI, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue. Sosialisasi ini membahas pencegahan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, sekaligus penanganan dan penyelamatan satwa dalam situasi yang mengancam keselamatannya.

Kegiatan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue.

Dalam pemaparan mengenai mitigasi risiko zoonosis pada kebakaran hutan, mengangkat pentingnya pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kebakaran hutan dapat memicu perpindahan satwa dari habitatnya sehingga meningkatkan kemungkinan interaksi dengan manusia maupun hewan domestik, termasuk risiko penularan penyakit lintas spesies.

Pembahasan tersebut juga menekankan perlunya surveilans, penilaian risiko bersama, komunikasi risiko kepada masyarakat, dan penanganan terpadu antarsektor. Sementara itu, materi animal rescue melengkapi pembahasan melalui pendekatan penyelamatan satwa dan hewan peliharaan dalam situasi darurat, termasuk ketika terjadi kebakaran hutan.

Melalui penyelenggaraan Kongres XX PDHI dan sosialisasi zoonosis serta animal rescue, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan hewan, keselamatan satwa, dan pencegahan penyakit. (INF)

SEMARAK HATN & WED 2026, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP FORMULASI PAKAN

Bambang Suharno (kiri) dan Prof Budi Tangendjaja dalam webinar formulasi pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri peternakan unggas kembali dihadapkan pada ujian berat seiring melambungnya harga jagung dan terbatasnya ketersediaan pasokan di pasaran. Menjawab tantangan tersebut, dalam rangka menyambut Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2026, Majalah Infovet menyelenggarakan Workshop Online bertajuk “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas”, Jumat (9/10/2026).

Acara ini menghadirkan poultry nutrition consultant, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl, yang juga Ketua Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), sebagai narasumber utama. Acara turut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Direktur Utama Gallus yang juga Pemimpin Redaksi Infovet Bambang Suharno, serta Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi.

Dalam sambutannya, Bambang menegaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas. Ketika harga jagung merangkak naik dan pasokannya menipis, pelaku industri dituntut untuk tidak hanya sekadar mencari ketersediaan bahan baku, melainkan juga memutar otak menyusun formulasi yang efisien.

“Tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bagaimana mendapatkan bahan baku, tetapi juga bagaimana menyusun formulasi pakan yang tetap efisien, memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, dan menjaga performa produksi,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan strategi substitusi dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Dengan pemahaman yang tepat mengenai keseimbangan nutrisi, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas maupun performa unggas.

Pada kesempatan tersebut, Prof Budi membedah berbagai solusi taktis bagi para formulator pakan dan pelaku industri peternakan. Ia memaparkan potensi pemanfaatan bahan baku pengganti jagung, di antaranya barley yang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kandungan nutrisi yang memadai, ataupun biji sorgum yang dapat diandalkan untuk menunjang kebutuhan karbohidrat ransum.

Adapula pilihan produk turunan singkong guna mencukupi kebutuhan energi, atau pemafaatan dried distiller's grains with solubles (DDGS), yang merupakan produk sampingan yang kaya nutrisi dan potensial untuk dimanfaatkan dalam ransum unggas.

Prof Budi menjelaskan, bahan-bahan tersebut tetap memiliki kelayakan nutrisi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak unggas.

Selain itu, dalam paparannya ia juga turut menjabarkan simulasi perhitungan bahan baku pakan beserta harganya guna membantu peternak, perusahaan, maupun self-mixing dalam memformulasikan pakan dengan biaya yang efisien dan mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku.

Foto bersama usai webinar.

Sebagai tindak lanjut dari workshop online, Majalah Infovet turut membuka kesempatan luas bagi perusahaan maupun kelompok usaha yang ingin memperdalam kompetensi di bidang ini. Infovet memfasilitasi program pelatihan intensif serta in-house training yang dirancang khusus bagi tim nutrisi, tim formulasi, bagian produksi, serta tim teknis perusahaan.

Materi dan metode pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor peternakan nasional, serta menjaga kestabilan industri unggas di Indonesia. (RBS)

BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN

Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyiapkan skema penyerapan jagung untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui mekanisme ini, peternak dapat menyerap jagung saat panen raya ketika harga relatif murah, sementara pembiayaan dilakukan Perum Bulog dan stok disimpan melalui koperasi. Skema tersebut diharapkan menjaga keseimbangan harga bagi petani sekaligus menekan beban biaya pakan yang dihadapi peternak.

Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.

Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.

Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.

Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.

Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.

Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.

Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.

Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.

Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)

FIKKIA UNAIR BANYUWANGI LAHIRKAN DOKTER HEWAN LAGI

Pose bersama usai pelantikan dan pengambilan sumpah dokter hewan periode II FIKKIA UNAIR Banyuwangi. (Foto: Infovet/Heru)

Senin (28/9/2026), Universitas Airlangga (UNAIR) Banyuwangi kembali melahirkan dokter hewan baru sebanyak 24 orang pada acara pelantikan dan pengambilan sumpah dokter hewan periode II yang dibuka Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA), Dr dr Rahadian Indarto Susilo SpBS (K), bertempat di Pendopo Bupati Graha Shaba Suagata Banyuwangi.

Dekan FIKKIA UNAIR Banyuwangi dalam sambutannya mengucapkan syukur atas dukungan Pemkab Banyuwangi untuk kemajuan kedokteran hewan UNAIR Banyuwangi dengan disediakannya lahan untuk pembangunan gedung baru dan fasilitas kampus lainnya. Ia juga menyampaikan selamat atas diraihnya gelar sebagai dokter hewan dan fakultas akan mengikuti perjalanan dokter hewan baru dalam bekerja dan berkarya. “Jadilah orang yang bermanfaat, bekerja keras, dan selalu membawa nama baik almamater,” katanya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Drh Andi Wijanarko, yang turut hadir juga memberikan pesan agar seorang dokter hewan harus mempunyai kompetensi dasar, cara berpikir profesional, berintegritas, memiliki kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

“Hari ini saudara lulus sebagai dokter hewan, tetapi sesungguhnya hari ini saudara baru memiliki pendidikan yang sebenarnya, pendidikan dari kehidupan, masyarakat, pasien peternak, klien, senior dan pengalaman. Dokter hewan harus siap bekerja di mana saja di wilayah Indonesia, maka jadilah dokter hewan yang mempunyai kompeten dalam ilmu, berintegritas dalam profesi, dan mempunyai empati dalam pengabdian,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Banyuwangi, Ir H. Mujiono MSi, menambahkan dokter hewan baru mendapat amanah untuk menjaga kesehatan hewan, menjamin keamanan pangan, melindungi kehidupan peternak, dan ikut melindungi kesehatan manusia.

“Banyuwangi telah memiliki basis peternakan rakyat, kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi dengan FIKKIA UNAIR Banyuwangi akan terus berlanjut, sehingga secara langsung akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Banyuwangi. Semoga dengan kolaborasi dan sinergi ini, ke depan akan menjadi kampus yang maju dan terdepan. Selamat bekerja, mudah-mudahan ilmu bermanfaat dan mensejahterakan masyarakat,” katanya. (HR)

AFIS 2026: STRATEGI FORMULASI PAKAN DAN JAWABAN ISU GEOPOLITIK PETERNAKAN

Seminar membahas strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia dalam rangkaian AFIS 2026. (Foto: Istimewa)

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University, sukses menyelenggarakan Animal Feed Innovation Summit (AFIS) 2026 pada 25-27 September 2026 di kampus IPB University. Mengusung fokus pada inovasi pakan, perhelatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Feed Formulation Training (FFT) dan Seminar and Competition of Animal Science (SCAS).

Acara berskala nasional ini menarik antusiasme tinggi dari para peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti IPB University, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, BINUS Malang, Dian Nuswantoro, hingga Poltekkes Kemenkes Bandung.

Rangkaian kegiatan diawali pada 25-26 September bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi melalui sesi workshop FFT. Pada hari pertama, peserta diajak mempelajari teknik formulasi pakan dasar serta strategi adaptasi pakan ayam petelur (layer) dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut pada penyesuaian nutrisi serta evaluasi faktor kualitas bahan pakan utama seperti soybean meal (SBM), jagung, dan dedak padi. Sesi intensif dari teori hingga eksekusi racikan pakan ini dibimbing langsung oleh ahli formulasi ransum, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS MAppSc.

Rangkaian acara kemudian berpindah ke Fakultas Peternakan pada hari ketiga untuk menggelar puncak seminar dan kompetisi ilmiah SCAS. Seminar nasional kali ini mengusung topik krusial mengenai strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia, dengan menghadirkan Prof Dr Ir Nahrowi MSc (IPB University) dan Sugeng Wahyudi (Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN).

Dalam paparannya, Prof Nahrowi menyoroti persoalan mendasar peternakan nasional yang masih kekurangan bahan pakan sumber protein. Ia mengajak akademisi dan praktisi untuk mengubah paradigma dasar penyusunan pakan.

“Jangan menghitung biomassanya, tapi hitunglah nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak,” katanya. Ia juga menambahkan, persoalan utama Indonesia sejatinya bukan pada ketersediaan bahan, melainkan bagaimana mengolah biomassa lokal menjadi nutrien pakan yang aman, tercerna, terstandar, dan kompetitif.

Sebagai solusi konkrit, Prof Nahrowi mengusulkan formulasi kombinasi antara koro, bungkil inti sawit (BIS), dan maggot BSF ketimbang sekadar menggantikan bungkil kedelai secara keseluruhan.

Sementara dari sudut pandang industri dan praktisi, Sugeng ikut menekankan pentingnya efisiensi dan solidaritas peternak. Dirinya mengajak para peternak broiler untuk memperkuat ketahanan usaha melalui skema pembelian bahan baku dan pakan secara kolektif berwadahkan koperasi. Langkah ini dinilai strategis agar peternak lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga pasar dan pergerakan kurs mata uang.

Melalui integrasi pelatihan formulasi pakan berbasis perangkat lunak dan diskusi ilmiah tingkat nasional, AFIS 2026 tidak hanya menjadi wadah pengembangan karakter, kemampuan menulis ilmiah, dan kepedulian terhadap isu peternakan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan pesan penting yakni kemandirian pakan nasional dimulai dari kemampuan mengolah sumber daya lokal menjadi nutrien yang siap dimanfaatkan secara optimal. (INF)

BET CIPELANG MENUJU BESTGEN, MEMBAWA GENOMIK KE MASA DEPAN PETERNAKAN INDONESIA

Acara talkshow mendapat antusiasme dari para pengunjung ILDEX. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang membawa semangat baru dalam keikutsertaannya dalam ILDEX Indonesia 2026 yang berlangsung 16-18 September di ICE BSD, Tangerang. Tidak hanya tampil di area pameran, BET Cipelang juga menggelar talkshow yang menjadi momentum untuk mensosialisasikan arah transformasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

Talkshow mengusung topik “Precise Improvement Through Genetic Selection: Membangun Peternakan Indonesia Berbasis Genetik Unggul.”

Melalui forum yang diselenggarakan di hari kedua ILDEX pada Kamis (17/9), BET Cipelang memperkenalkan inovasi pengembangan bioteknologi, analisis genomik, sertifikasi genetik, hingga pembangunan bank genomik sebagai bagian dari roadmap menuju BET to BEStGen (Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik).

CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, dalam pemaparannya menekankan bahwa peternakan memiliki peran penting dalam menyediakan protein hewani bagi masyarakat.

Ia menyoroti tantangan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan protein. Di tengah pertumbuhan penduduk produktif dan meningkatnya jumlah konsumen, kebutuhan terhadap protein hewani akan terus berkembang. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sektor peternakan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional. “Kita butuh sistem peternakan yang presisi,” katanya.

Teknologi menjadi semakin penting untuk meningkatkan kemampuan produksi sekaligus efisiensi peternakan. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah genomik.

Perkembangan teknologi genomik membuka peluang untuk membawa peternakan menuju tingkat presisi yang lebih tinggi. Jika selama ini seleksi ternak banyak dilakukan berdasarkan tampilan fisik dan performa yang terlihat, pemetaan genom memungkinkan potensi genetik dibaca melalui data yang lebih spesifik.

Gagasan tersebut sejalan dengan transformasi yang tengah disiapkan BET Cipelang. Kepala BET Cipelang, Deasy Zamanti SPt MSi, menjelaskan bahwa perubahan tersebut berangkat dari kebutuhan agar tupoksi BET Cipelang lebih representatif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan peternakan saat ini.

BET Cipelang tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi embrio, inseminasi, atau teknologi reproduksi, tetapi mulai bergerak menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mengidentifikasi potensi ternak secara lebih presisi.

Salah satu persoalan yang ingin dijawab adalah keterbatasan recording di Indonesia. Pencatatan silsilah dan performa ternak secara konsisten masih menjadi tantangan.

Deasy menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan BET Cipelang melihat potensi genetik tidak hanya dari satu individu, melainkan dalam suatu populasi. Dengan menganalisis materi genetik dari sekumpulan ternak, individu dengan potensi terbaik dapat diidentifikasi untuk mendukung program pemuliaan. “Proses peningkatan mutu genetik dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” ujarnya.

Transformasi itu kemudian diwujudkan melalui BEStGen, paradigma seleksi ternak diharapkan bergeser dari pengamatan fisik menuju pemetaan berbasis data presisi.

Pengembangan genomik tersebut memperluas makna teknologi transfer embrio sapi yang selama ini menjadi kompetensi utama BET Cipelang. Embrio ternak tidak lagi sekadar dipandang sebagai hasil teknologi reproduksi, namun dapat menjadi bagian dari pengembangan genetik.

Materi genetik yang terdapat di dalam embrio ternak dapat dianalisis untuk mengetahui karakter unggul yang ingin dikembangkan. “Sertifikasi genomik dan genetik menjadi fondasi penting, sebelum teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuh Deasy.

Di sisi lain, BET Cipelang juga menyiapkan Bank Genomik. Fasilitas tersebut akan menjadi repository material genetik plasma nutfah ternak Indonesia. Deasy menggambarkannya sebagai sebuah “tabungan” material genetik yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk penelitian, konservasi, maupun pengembangan sumber daya genetik di masa depan.

Edukasi dan Bisnis

Kehadiran BET Cipelang di ajang ILDEX 2026, mendapat respons baik dari para visitors yang menunjukkan adanya ketertarikan terhadap apa yang sedang dikembangkan BET Cipelang dari sisi edukasi maupun peluang bisnis.

Selain pelaku industri, kehadiran BET Cipelang juga mendapat perhatian dari perwakilan Kedutaan Besar Belanda yang datang ke booth untuk berdiskusi. Tak sekadar show off, bagi BET Cipelang, ILDEX menjadi ruang untuk menjajaki kolaborasi dan memperkuat koneksi dengan berbagai asosiasi, komunitas, pelaku industri, hingga mitra internasional.

Keikutsertaan di ILDEX tahun ini diharapakan dapat membuat BET Cipelang semakin dikenal publik. “Siapa yang bawa patung sapi? Nah, pengunjung mengenali sebagai khas BET Cipelang. Ini juga bagian dari promosi,” ujar Deasy diselingi tawa. (ADV)

INDONESIA-CHINA PERKUAT KERJA SAMA PERTANIAN DAN PETERNAKAN

Foto bersama usai Soft Launching rencana expo pertanian dan peternakan kerja sama Indonesia-China. (Foto: Infovet/Ridwan)

Peluang untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan China di bidang pertanian dan peternakan akan memasuki tahap baru melalui penyelenggaraan Chain Global International Agricultural Cooperation Expo/China International Agricultural Cooperation Expo, yang akan berlangsung pada 10-12 Desember 2026 di ICE BSD, Tanggerang.

Pameran ini diselenggarakan oleh China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association bersama China-ASEAN Industrial Development Center.

Sebagai bagian dari persiapan menuju penyelenggaraan pameran pada Desember mendatang, pada Kamis (1/10/2026), berlangsung Soft Launching dan Business Networking Lunch Meeting di Jakarta, yang didukung TROBOS Communication (TComm), untuk mempertemukan asosiasi dan pemangku kepentingan industri peternakan Indonesia dengan Kantor Perwakilan Indonesia dari China Trade Promotion Council.

Pertemuan ini menjadi forum awal untuk memperkenalkan inisiatif kerja sama tersebut kepada industri Indonesia sekaligus menggali potensi dan kebutuhan industri yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan China menjelang Chain Global International Agricultural Cooperation Expo/China International Agricultural Cooperation Expo.

Chief Representative of the China Council for the Promotion of International Trade’s Office in Indonesia, Niu Liangliang, menyampaikan bahwa Chain Global International Agricultural Cooperation Expo dirancang tidak hanya sebagai pameran, tetapi juga platform untuk trade and investment matchmaking, kerja sama teknologi, informasi pasar dan kebijakan, serta business visits secara internasional, sekaligus membantu perusahaan pertanian memperluas jaringan dan kerja sama global.

"Pameran ini menjadi platform penting bagi kerja sama industri. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian program kerja sama pertanian internasional yang dikembangkan pada 2026. Kami harap dari pameran ini kita dapat secara aktif berpartisipasi, berbagi teknologi, membuka peluang pasar, dan membangun platform serta jaringan baru kerja sama di bidang pertanian dan peternakan," ujarnya.

Sementara itu, China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association, Duan Qing Chang, yang juga Secretary General IICPC, memaparkan bahwa kegiatan pada hari ini akan menjadi momentum Soft Launching menuju penyelenggaraan expo pada Desember mendatang, yang akan diperkenalkan langsung oleh pihak penyelenggara dari China kepada komunitas industri Indonesia.

Pameran akan menampilkan teknologi peternakan, terutama di sektor perunggasan, breeding dan peralatan peternakan, pakan dan feed additives, kesehatan hewan, vaksin dan produk veteriner, teknologi pengolahan dan teknologi pendukung, perdagangan dan investasi, kerja sama teknologi, serta business matching antara perusahaan China dan mitra bisnis Indonesia. Dia menegaskan bahwa event ini bukan sekadar pameran, tetapi platform kerja sama bisnis.

“Kami merencanakan area pameran seluas 5.000 meter persegi, dengan fokus pada bidang peternakan dan unggas, pakan serta kesehatan hewan, produk telur dan pengolahan pangan, pertanian cerdas dan mesin pertanian, serta bidang-bidang pertanian lainnya. Pameran ini mencakup seluruh rantai dari pembibitan dan budi daya, pengolahan, hingga distribusi. Perusahaan pertanian, asosiasi industri dan perdagangan, pembeli, serta lembaga penelitian dari Tiongkok, Indonesia, dan negara-negara ASEAN akan diundang untuk berpartisipasi. Jumlah perusahaan peserta diperkirakan lebih dari 100 perusahaan,” ungkap Duan.

Pada kesempatan tersebut, stakeholder peternakan Indonesia memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan pasar dan peluang kerja sama secara langsung kepada perusahaan dan organisasi China.

Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Prof Dr Ir Asep Saefuddin MSc, yang turut hadir menuturkan bahwa peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam penyediaan pangan asal hewan. Namun, di tengah perubahan lingkungan dan meningkatnya kebutuhan pangan, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

"Variabilitas iklim, keterbatasan sumber daya pakan, tekanan terhadap lingkungan, serta meningkatnya permintaan terhadap pangan asal hewan menuntut adanya perubahan dalam cara kita memandang dan mengelola sistem peternakan," katanya.

Masa depan peternakan tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menghasilkan produk peternakan secara lebih efisien, memiliki ketahanan terhadap perubahan, dan tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Salah satu peluang penting dalam transformasi peternakan adalah pemanfaatan pertanian presisi dan konsep smart farming. Teknologi memungkinkan pengelolaan peternakan dilakukan berdasarkan data sehingga keputusan dapat dibuat secara lebih terarah,” ungkap dia.

Sementara dari pihak pemerintah, Ketua Kelompok Pemasaran, Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Tika Kartika, mengatakan event ini bukan sekadar ruang untuk bertukar informasi, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi, memperluas jejaring bisnis, dan membangun kemitraan yang lebih konkret antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok, khususnya di sektor peternakan dan industri hasil peternakan.

“Kami berharap forum ini dapat membuka ruang dialog yang produktif, mempertemukan kebutuhan dengan kapasitas investasi dan teknologi, serta mengidentifikasi berbagai peluang kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum bidang Peternakan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Cecep Wahyudin, ikut menambahkan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan pihak stakeholder peternakan China dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional.

Pada kesempatan yang sama, para undangan yang merupakan pelaku industri peternakan Indonesia juga menyampaikan pandangan mengenai tantangan, peluang, dan kebutuhan untuk pengembangan industri peternakan nasional.

Ketua Umum HPDKI, Ateng Sutisna, mengutarakan harapan akan adanya kerja sama antara HPDKI dengan asosiasi/pelaku usaha di China sesuai yang dibutuhkan anggotanya, antara lain perbaikan genetik, teknologi terapan untuk pemeliharaan, pengolahan hasil ternak untuk susu, daging dan hasil peternakan lainnya, sampai pembiayaan.

Sedangkan perwakilan Global Dairi Alami (GDA), Siska Retno, yang tengah memperbesar kapasitas produksinya dengan membangun farm sapi perah  terintegrasi mengharapkan forum ini bisa menjembatani kebutuhan pengembangan industri peternakan sapi perah di Indonesia. Siska mencontohkan kebutuhan akan vaksin, obat-obatan, dan pakan harus diantisipasi dengan cepat.

"Diharapkan expo yang akan diselenggarakan Desember nanti bukan sekedar pameran promosi produk, tetapi memberikan solusi yang bisa diaplikasikan. Untuk itu diperlukan regulasi dari pemerintah," katanya. (RBS)

MENYONGSONG HATN & WED, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP ONLINE FORMULASI PAKAN



Harga jagung yang berfluktuasi menjadi tantangan serius dalam menjaga efisiensi biaya pakan. Karena itu, formulasi pakan tidak cukup hanya mengandalkan bahan baku yang biasa digunakan.

Bagaimana menyusun strategi formulasi yang tetap ekonomis, tanpa mengorbankan performa ayam.

Dalam rangkaian memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional & World Egg Days (HATN & WED 2026), Majalah Infovet menghadirkan Online Workshop “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas".

Dengan narasumber: Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc, M.Appl (Poultry Nutrition Consultant)

Dalam workshop ini akan dibahas antara lain:
- Dinamika harga jagung dan dampaknya terhadap formulasi
- Alternatif bahan baku dan strategi optimasi ransum
- Economic formulation untuk menghitung biaya pakan
- Live formulation dengan studi kasus harga jagung Rp 7.000/kg
- Peran feed additive dalam formulasi low-cost
- Formulation Challenge berbasis kasus nyata

Cocok untuk perusahaan obat hewan/feed additive/premix, self mixing farm, akademisi/peneliti, dan feedmill. Jangan lewatkan:

Jumat, 9 Oktober 2026
13:20-16:00 WIB
Online - Zoom Meeting

INVESTASI:
Rp 700.000 - tanpa Buku Kompendium
Rp 950.000 - termasuk Buku Kompendium MT 2020 (Subsidi ongkir maksimal Rp 50.000)

Peserta mendapatkan:
- Materi workshop
- Studi kasus dan worksheet formulasi
- E-module/soft file
- Sertifikat keikutsertaan
- Rekaman workshop (periode tertentu)
- Sesi Q&A khusus

INFO & PENDAFTARAN:
WA: 0877-7829-6375

DAFTAR SEKARANG klik https://bit.ly/FormulasiPakan26 atau scan QR Code pada flyer untuk mengamankan tempat Anda.

Jangan sampai kenaikan harga jagung membuat biaya pakan ikut melonjak tanpa strategi. Saatnya menghitung, mengoptimalkan, dan memformulasikan pakan dengan lebih cerdas.

#MajalahInfovet #FormulasiPakan #PakanUnggas #PoultryNutrition #WorkshopInfovet

PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE

Foto bersama dalam kegiatan Protein Up di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Rabu (30/9/2026). Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Selain merespons tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem tersebut dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan “Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry” yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta.

Layer Farm Manager WMU, Ir Arif Afiata Rahmat SPt IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak semestinya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis. “Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.

Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.

Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut turut menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.

Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.

Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien. Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, omega-3, omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian lebih terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.

Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.

“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.

Sementara itu, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur cage-free juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor Horeka, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.

Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free.

Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer