-->

Featured Posts

MENTAN PASTIKAN KONDISI PANGAN INDONESIA AMAN DI TENGAH GEJOLAK DUNIA

Mentan Amran berbicara dalam kegiatan buka puasa bersama di kantornya. (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kondisi pangan Indonesia saat ini tetap aman meskipun dunia tengah menghadapi berbagai dinamika. Pemerintah, kata dia, terus melakukan berbagai langkah strategis untuk memastikan ketersediaan pangan nasional bagi seluruh masyarakat.

“Upaya menjaga stabilitas pangan menjadi bagian penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus mendukung visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Koordinasi intensif terus dilakukan, terutama jelang perayaan Idulfitri agar kebutuhan pangan masyarakat tetap tercukupi,” ujarnya dalam kegiatan buka puasa bersama di kantornya, Rabu (11/3/2026).

Mentan Amran juga menyampaikan apresiasi atas kebijakan presiden yang dinilai berpihak kepada petani. Salah satunya adalah penurunan harga pupuk hingga 20%. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan global seperti di Selat Hormuz. Namun, ia memastikan kondisi pangan Indonesia tetap aman.

“Sekarang dunia mengalami geopolitik, terjadi perang, bahkan jika Selat Hormuz ditutup itu akan berdampak pada banyak negara. Alhamdulillah dari sisi pangan kita aman,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kerja keras kepada seluruh pihak untuk mewujudkan kemandirian nasional di berbagai sektor strategis. “Kita wujudkan kemandirian energi, kemandirian protein, dan kemandirian pangan. Jika semua ini terwujud, Indonesia akan jauh lebih aman. Negara ini milik bersama dan akan kita wariskan kepada anak cucu kita,” ucapnya.

Sebagai penutup, ia memastikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, petani, peternak, koperasi, dan BUMN menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan sinergi yang kuat dan kebijakan yang tepat, pemerintah optimis mampu menjaga stabilitas pasokan pangan sekaligus meningkatkan daya saing sektor pertanian.

Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Wakil Menteri Pertanian, asosiasi pertanian dan peternakan, anggota koperasi, perwakilan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), pelaku usaha, serta direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pangan dan pertanian. (INF)

KETIKA DAGING, SUSU, DAN TELUR MENJADI PENENTU MASA DEPAN BANGSA

Beberapa sumber protein hewani. (Foto: iStock)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipahami secara sederhana, anak-anak makan di sekolah, lalu pulang dengan perut kenyang. Padahal, bagi penulis yang lama bergelut di dunia akademik dan lapangan peternakan, MBG jauh lebih besar dari sekadar urusan perut. Ia adalah titik temu antara kebijakan negara, ilmu gizi, kerja keras peternak, dan harapan orang tua akan masa depan anak-anaknya.

Di balik setiap piring makan siswa ada keputusan penting, sumber gizi apa yang disajikan, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan. Di sinilah produk peternakan yakni daging, susu, dan telur, memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia bukan hanya komoditas, tetapi penentu kualitas tumbuh kembang, kecerdasan, bahkan daya saing generasi mendatang.

Tulisan ini bukan semata-mata pujian pada MBG, tetapi refleksi kritis dari sudut pandang akademisi lapangan. Bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian negara menempatkan produk peternakan lokal sebagai tulang punggung gizi, sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat.

MBG: Investasi Peradaban
MBG seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan belanja rutin tahunan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gizi anak hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia puluhan tahun ke depan. Negara-negara maju telah lama menempatkan gizi anak sebagai fondasi peradaban.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya urusan dapur sekolah, tetapi kebijakan strategis lintas sektor dari pendidikan, kesehatan, pertanian, dan peternakan. Jika salah memilih komposisi gizi, maka peluang emas ini bisa berubah menjadi program mahal dengan dampak minimal.

Sebagai akademisi, penulis melihat MBG sebagai laboratorium kebijakan. Di sinilah ilmu gizi, data stunting, dan realitas lapangan diuji secara nyata, bukan hanya di atas kertas laporan.

Sumber Gizi Lengkap yang Tak Tergantikan
Produk peternakan bukan hanya soal gizi anak sekolah, tetapi juga soal keberlangsungan hidup jutaan peternak rakyat. Ketika negara memilih daging, susu, dan telur sebagai sumber utama gizi MBG, pada saat yang sama negara sedang memilih untuk menghidupkan kandang-kandang kecil di desa.

Bagi peternak, kepastian bahwa produk mereka dibutuhkan secara rutin adalah bentuk keberpihakan paling nyata. MBG membuka ruang pasar yang stabil, terukur, dan berkelanjutan, sesuatu yang selama ini sulit diakses peternak kecil karena fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.

Dengan menjadikan produk peternakan sebagai komponen utama MBG, negara sebenarnya sedang menautkan dua tujuan besar sekaligus, yakni memperbaiki gizi anak dan menjayakan peternak lokal.

Telur Ayam, Protein Murah dengan Dampak Besar
Di banyak desa, usaha ternak ayam petelur dijalankan oleh keluarga dengan modal terbatas. Telur menjadi penopang ekonomi harian, namun harganya sering jatuh ketika produksi melimpah. MBG dapat menjadi penyeimbang yang adil bagi kondisi ini.

Dengan kebutuhan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan, MBG menciptakan permintaan yang relatif stabil. Bagi peternak ayam petelur, ini berarti kepastian penyerapan hasil produksi dan peluang memperbaiki manajemen usaha tanpa dibayangi ketidakpastian pasar.

Setiap butir telur yang tersaji di piring anak sekolah sesungguhnya adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke kandang rakyat. Anak mendapatkan gizi, peternak mendapatkan harapan.

Susu dan Kalsium: Fondasi Sunyi bagi Pertumbuhan Generasi
Peternak sapi perah selama ini hidup dalam tekanan biaya pakan dan harga jual susu yang tidak selalu berpihak. MBG berpotensi menjadi jalan keluar jika dirancang dengan keberpihakan pada susu segar lokal.

Keterlibatan koperasi susu dan peternak kecil dalam rantai pasok MBG akan menciptakan efek domino positif. Produksi meningkat, kualitas diperbaiki, dan pendapatan peternak menjadi lebih layak.

Ketika anak-anak terbiasa minum susu hasil peternak lokal, sesungguhnya kita sedang menanam dua fondasi sekaligus, yaitu tulang yang kuat dan ekonomi desa yang hidup.

Daging dan Zat Besi
Bagi peternak sapi dan kambing rakyat, pasar daging sering kali tidak ramah. Harga fluktuatif, rantai distribusi panjang, dan posisi tawar yang lemah menjadi persoalan klasik. MBG dapat mengubah peta ini jika dikelola dengan tepat.

Meski tidak disajikan setiap hari, kebutuhan daging yang terencana dalam MBG menciptakan pasar yang lebih pasti. Ini memberi ruang bagi peternak untuk merencanakan produksi, penggemukan, dan perbaikan kualitas ternak.

Dengan demikian, daging dalam MBG bukan sekadar menu bergizi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada peternak ruminansia sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Peternak Lokal di Balik Piring Anak Sekolah
Peternak lokal di balik piring anak sekolah jarang disadari, setiap menu MBG menyimpan cerita peternak di desa. Dari kandang sederhana, mereka menyumbang gizi bagi anak-anak yang mungkin tak pernah mereka temui.

Jika rantai pasok dikelola dengan adil, MBG bisa menjadi kebijakan pro-peternak rakyat. Bukan hanya menyerap produk, tetapi juga memberi kepastian harga. Inilah wajah keadilan pangan yang sering luput dari diskusi publik.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Kandang, Bukan dari Impor
Ketika MBG dijalankan dengan orientasi impor, maka yang terjadi hanyalah pemindahan anggaran negara ke luar negeri. Padahal, ketahanan pangan sejati justru dimulai dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini berjuang dengan keterbatasan modal dan akses pasar.

Peternak lokal sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telur jika didukung dengan kebijakan yang konsisten. Dukungan tersebut tidak selalu berupa subsidi, tetapi bisa dalam bentuk kepastian serapan, regulasi harga yang adil, dan pendampingan teknis berkelanjutan.

MBG seharusnya menjadi momentum koreksi arah kebijakan pangan nasional, dari ketergantungan impor menuju kemandirian berbasis produksi dalam negeri.

MBG dan Peluang Kebangkitan Peternakan Rakyat
Permintaan besar dan rutin dari MBG membuka peluang kebangkitan peternakan rakyat yang selama ini stagnan. Pasar yang pasti memberi keberanian bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha, memperbaiki kandang, dan mengadopsi teknologi sederhana.

Namun peluang ini tidak datang otomatis. Tanpa tata kelola yang berpihak, peternak kecil berisiko kembali tersisih oleh pemain besar. Karena itu, desain MBG harus memastikan keterlibatan koperasi, kelompok ternak, dan UMKM peternakan.

Jika dikelola dengan adil, MBG dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Indonesia.

Tantangan Mutu, Keamanan, dan Kontinuitas
Produk peternakan memiliki karakter mudah rusak dan sensitif terhadap penanganan. Oleh karena itu, rantai pasok MBG harus dirancang dengan standar mutu dan keamanan pangan yang ketat.

Bagi peternak, standar ini bukan ancaman, melainkan peluang untuk naik kelas. Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperoleh nilai tambah.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan.

Ilmu Peternakan yang Bekerja Diam-diam
Kualitas produk peternakan tidak lahir secara instan. Ia ditentukan sejak pemilihan bibit, manajemen pakan, hingga kesehatan ternak.

Ilmu peternakan sering kali bekerja di balik layar, namun menjadi penentu keberhasilan MBG. Tanpa pakan berkualitas dan manajemen yang baik, sulit mengharapkan produk bermutu tinggi.

MBG seharusnya juga mendorong pemanfaatan pakan lokal dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan peternak rakyat.

Gizi Hewani dan Keadilan Sosial bagi Anak Indonesia
Akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini menciptakan kesenjangan gizi yang berdampak jangka panjang.

MBG hadir sebagai instrumen keadilan sosial, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh gizi yang layak.

Ketika produk peternakan lokal menjadi bagian dari MBG, keadilan sosial bagi anak bertemu dengan keadilan ekonomi bagi peternak.

Menghubungkan Sekolah, Peternak, dan Negara dalam Satu Ekosistem
MBG tidak boleh dipahami sebagai hubungan jual beli semata. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Sekolah menjadi titik distribusi gizi, peternak sebagai produsen, dan negara sebagai penjamin keberlanjutan.

Ketiganya harus terhubung dalam sistem yang transparan. Ekosistem inilah yang akan memastikan MBG berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Menjaga Harapan di Setiap Butir Telur dan Tetes Susu
Pada akhirnya, MBG adalah tentang harapan yang dititipkan pada hal-hal sederhana, pada butir telur, tetes susu, dan potongan daging. Di sanalah gizi bertemu dengan kerja keras, dan kebijakan bertemu dengan kehidupan nyata.

Harapan orang tua agar anaknya tumbuh sehat, harapan guru melihat muridnya lebih fokus belajar, dan harapan peternak agar jerih payahnya dihargai. Harapan-harapan ini tidak lahir di ruang rapat, tetapi di kandang, di dapur sekolah, dan di meja makan keluarga.

Jika MBG dikelola dengan hati dan ilmu, maka dari kandang-kandang rakyat itulah masa depan bangsa perlahan dibangun.

Catatan Akademisi Lapangan
Sebagai akademisi yang kerap turun ke lapangan, penulis melihat langsung bagaimana peternak rakyat bekerja dalam sunyi. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, merawat ternaknya dengan sumber daya terbatas, dan bertahan di tengah harga yang sering kali tak berpihak.

MBG menghadirkan harapan baru, bukan janji kosong, bahwa kerja keras itu akhirnya mendapat tempat dalam kebijakan negara. Namun harapan ini hanya akan menjadi kenyataan jika MBG dirancang secara adil, transparan, dan benar-benar berpihak pada produksi peternakan dalam negeri.

Pada titik inilah MBG diuji. Apakah ia berhenti sebagai program makan gratis, atau benar-benar menjadi jalan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan peternakan rakyat yang berdaulat. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

NEWCASTLE DISEASE MENYEBAR LEBIH LUAS DI EROPA

Newcastle Disease menyebar ke lebih banyak negara di Eropa, dan di negara-negara tempat penyakit ini sudah umum terjadi, jumlah peternakan yang terinfeksi terus meningkat. Hal ini berdasarkan laporan dari Defra.

Dalam 7 bulan hingga akhir Januari, Polandia melaporkan 66 wabah tambahan di peternakan unggas komersial. Newcastle Disease juga terdeteksi di negara tetangga Slovakia dengan satu wabah di peternakan unggas kecil pada bulan Desember.

Spanyol melaporkan kasus pertamanya di peternakan ayam broiler dengan 15.000 ekor ayam di wilayah Valencia sekitar Natal, dengan jumlah kasus sekarang telah meningkat menjadi 5. Baik Bulgaria dan Makedonia Utara melaporkan satu wabah Newcastle Disease pada unggas komersial pada musim panas 2025.

Jumlah wabah pada unggas yang dipelihara di peternakan non-komersial telah meningkat secara signifikan di Eropa Timur dari 7 pada bulan September dan Oktober menjadi 40 pada bulan Desember, kata Defra. Menurut Sistem Informasi Penyakit Hewan (ADIS), Polandia melaporkan 28 wabah pada Desember 2025 dan 20 wabah pada November 2025.

Selain itu, Latvia, Republik Ceko, dan Slovakia semuanya melaporkan wabah di peternakan non-komersial (unggas dalam penangkaran) pada Desember 2025. Wabah di peternakan non-komersial terus berlanjut hingga tahun 2026 dengan 6 wabah di Republik Ceko dan 6 di Polandia hingga 21 Januari 2026.

PAKAN HOLISTIK, PENDEKATAN MENYELURUH UNTUK OPTIMALKAN PERFORMA DAN KUALITAS UNGGAS

Implementasi pakan holistik memberikan dampak nyata pada performa produksi. (Foto: Gemini)

Industri perunggasan Indonesia terus berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan daging ayam yang efisien, sehat, dan berkualitas tinggi. Namun, dinamika di lapangan tak pernah mudah. Fluktuasi harga bahan baku, tekanan terhadap performa, tuntutan pengurangan antibiotik, serta ekspektasi konsumen terhadap keamanan pangan membuat banyak pelaku industri mencari solusi yang lebih menyeluruh. Salah satu konsep yang kini banyak diperbincangkan adalah pendekatan pakan holistik atau holistic feed concept.

Berbeda dari pendekatan formulasi konvensional yang fokus hanya pada energi dan protein, konsep pakan holistik melihat pakan sebagai bagian dari sistem biologis ayam secara utuh. Artinya, pakan tidak hanya berperan menyediakan zat gizi, tetapi juga memelihara kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan efisiensi metabolisme, memperkuat sistem imun, hingga berkontribusi terhadap kualitas akhir daging ayam. Pendekatan ini berupaya menjawab tantangan industri modern dengan cara yang lebih berimbang antara nutrisi, kesehatan, dan keberlanjutan produksi.

Melampaui Energi dan Protein, Nutrisi yang Lebih Fungsional
Formulasi pakan modern kini bergerak dari sekadar memenuhi angka kebutuhan nutrisi menuju pemahaman tentang fungsi biologis nutrien di dalam tubuh ayam. Misalnya, sistem energi bersih (net energy system) kini lebih banyak digunakan karena memberikan gambaran lebih akurat mengenai energi yang benar-benar dimanfaatkan untuk pertumbuhan, bukan hanya energi yang dicerna. Sistem ini membantu mengurangi kehilangan panas metabolik yang sering menjadi kendala dalam produksi broiler di daerah tropis.

Sementara itu, fokus pada protein juga telah berevolusi. Dahulu formulasi hanya memperhatikan lysine dan methionine sebagai asam amino utama, kini pendekatan holistik menekankan pentingnya keseimbangan ideal amino acid ratio, termasuk threonine, valine, dan tryptophan. Ketiganya berperan dalam menjaga integritas usus dan sistem imun, serta mendukung pembentukan jaringan otot yang efisien. Tidak kalah penting, keseimbangan mineral seperti zinc, mangan, dan tembaga organik turut diperhatikan karena memiliki peran vital dalam menjaga kekuatan tulang, integritas kulit, dan performa metabolik secara keseluruhan.

Bahan Baku Bukan Sekadar Angka Nutrisi
Dalam konsep pakan holistik, bahan baku tidak dilihat sebatas sumber... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

MAROKO: SEKTOR UNGGAS MEMPERINGATKAN KEKURANGAN SETELAH BADAI MENGGANGGU IMPOR PAKAN

Industri pakan dan unggas Maroko dilaporkan menghadapi tekanan yang meningkat setelah berminggu-minggu gangguan impor bahan pakan, menyebabkan pabrik pakan dan produsen unggas kesulitan untuk mendapatkan bahan baku penting.

Pada Januari 2026, pelabuhan-pelabuhan utama Maroko mengalami gangguan operasional yang parah karena serangkaian sistem tekanan rendah yang kuat menyapu Atlantik Utara dan Teluk Biscay. Angin kencang, gelombang tinggi, dan jarak pandang yang buruk membuat kapal tidak aman untuk mendekati pelabuhan atau bagi derek untuk beroperasi, mengakibatkan penumpukan dan penundaan kargo yang signifikan.

Perusahaan pelayaran global utama, termasuk CMA CGM, Maersk, dan Hapag-Lloyd, memerintahkan kapal-kapal yang menuju pelabuhan Maroko untuk menghentikan operasi dan tetap berlabuh di perairan yang aman daripada mencoba berlabuh selama badai.

"Kami menghadapi kekurangan pakan dan bahan baku yang parah, terutama jagung dan kedelai, yang berisiko memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memasok pasar nasional dengan ayam broiler," kata Mustafa Al-Muntasir, kepala Asosiasi Nasional Produsen Daging Unggas.

Gangguan yang berkepanjangan telah mendorong industri pakan Maroko ke titik kritis, kata Asosiasi Produsen Pakan Majemuk di Maroko dalam surat yang ditujukan kepada Kementerian Pertanian. Organisasi tersebut, yang mewakili pabrik pakan di negara itu, mendesak pihak berwenang untuk mengambil tindakan segera untuk mencegah krisis transportasi meningkat menjadi guncangan pasokan yang lebih luas.

Dalam surat tersebut, produsen pakan memperingatkan tentang "ketidakmampuan langsung untuk memproduksi dan menyediakan pakan majemuk yang diperlukan untuk sektor peternakan secara umum, dan sektor unggas khususnya". Mereka juga memperingatkan bahwa beban keuangan yang terkait dengan kapal yang terdampar di lepas pantai pasti akan meningkatkan biaya produksi dan mengganggu pasokan produk hewan ke pasar.

Industri pakan Maroko sangat bergantung pada impor, dengan hampir 90% bahan baku pakan berasal dari luar negeri. Sementara itu, negara tersebut kekurangan kapasitas penyimpanan biji-bijian yang cukup untuk membangun cadangan strategis yang dapat melindungi sektor tersebut selama gangguan pasokan yang berkepanjangan, sehingga produsen sangat rentan terhadap guncangan logistik.

MESIR MENGARAHKAN EKSPOR DI TENGAH KRISIS KELEBIHAN PASOKAN

Karena kelebihan produksi yang parah telah mendorong harga pasar di bawah biaya operasional, para peternak unggas Mesir telah meminta pemerintah untuk segera memfasilitasi ekspor unggas dan telur ke negara-negara Afrika dan Arab.

Mesir saat ini memiliki surplus di pasar unggas domestik, berkisar antara 15% dan 20% dari produksi tahunan, menurut Federasi Umum Produsen Unggas. Mesir memproduksi sekitar 2,4 juta ton daging ayam dan 16,6 miliar telur per tahun, yang berarti negara tersebut dapat memiliki kelebihan hingga 120.000 ton ayam dan miliaran telur.

Surplus tersebut muncul sebagai kombinasi dari peningkatan produksi lokal dan penurunan permintaan, karena melemahnya daya beli penduduk setempat. Menurut Federasi, konsumsi unggas per kapita di negara tersebut telah turun dari 13,7 kg menjadi hanya 9 kg dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan latar belakang ini, unggas di Mesir saat ini diperdagangkan dengan harga EGP 65 per kg (US$1,38), sementara biaya produksi berkisar antara EGP 67 hingga EGP 68 (US$1,42 hingga US$1,44) untuk sebagian besar peternak.

Krisis industri yang terus-menerus telah mendorong Federasi Umum Produsen Unggas untuk menyerahkan memorandum mendesak kepada Kementerian Pertanian yang menuntut tindakan untuk membuka negara-negara Afrika baru bagi ekspor unggas Mesir, kata Mahmoud El-Anani, direktur Federasi tersebut. Membangun ekspor unggas dapat secara signifikan meningkatkan neraca perdagangan luar negeri Mesir.

“Keberhasilan pemerintah dalam memasarkan surplus di wilayah Arab dan Afrika serta membuka pasar mereka untuk unggas beku Mesir dapat menghasilkan pendapatan melebihi US$600 juta per tahun untuk Mesir,” perkiraan El-Anani.

Ia menunjukkan bahwa benua Afrika memiliki peluang yang menjanjikan untuk menyerap surplus tersebut. Cukup banyak negara di kawasan ini yang mengalami kekurangan produk unggas, termasuk Libya, Djibouti, Pantai Gading, Kenya, Ghana, Tanzania, dan Mauritania.

El-Anani meminta para pejabat veteriner Mesir untuk mengundang perwakilan dari layanan veteriner negara-negara tersebut untuk menunjukkan kepada mereka kapasitas industri unggas Mesir, rumah potong hewan, dan fasilitas pengolahan.

Mesir sudah mengekspor sejumlah produk unggas, seperti telur tetas, DOC, serta produk unggas olahan dan unggas beku setengah goreng, tetapi tantangan terbesar adalah membuka pintu untuk mengekspor karkas unggas utuh.

Mohamed Saleh, seorang anggota Federasi, mengatakan bahwa flu burung tetap menjadi kendala utama yang mencegah ekspor unggas dari Mesir selama bertahun-tahun. Sebelum tahun 2006, Mesir menghasilkan rata-rata US$720 juta dari penjualan produk unggas ke negara-negara tetangga. Pada tahun-tahun berikutnya, flu burung menyerang dan industri tersebut tidak pernah benar-benar pulih darinya.

PUASA, MAKAN TELUR AGAR TAK GAMPANG LELAH

Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. (Foto: Istimewa)

Selama berpuasa, asupan protein dari telur sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah. Cukup dua butir saat sahur, dan dua butir saat berbuka. Kuat beraktivitas seharian. Tak percaya? Silakan dicoba.

Menjalankan ibadah puasa selain sebagai bentuk ketaatan spiritual bagi umat muslim, juga memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh, terutama terkait dengan manajemen nutrisi. Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam.

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, penting untuk memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, atau ubi, dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

Meski harga kebutuhan pokok dikabarkan masih mahal, namun asupan nutrisi dalam tubuh harus tetap terpenuhi. Maka, pilihlah makanan sumber protein tinggi tapi harga murah. Selama berpuasa, asupan protein yang cukup sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah.

Salah satu sumber protein yang murah dan mudah dijangkau adalah telur. Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, konsumsi telur ayam dianjurkan saat berbuka dan sahur untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Kebutuhan protein harian setiap orang berbeda-beda bergantung pada usia, jenis kelamin, serta berat badan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan Peratuan Menteri Kesehatan (Permenkes) mengenai anjuran Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang bisa dijadikan acuan dalam memenuhi kebutuhan protein harian tubuh.

Dalam Permenkes tersebut dijelaskan, protein merupakan salah satu zat gizi makro yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan jaringan tubuh. Protein turut membantu pembentukan enzim yang dapat mengoptimalkan fungsi setiap organ di dalam tubuh. Inilah yang menjadi alasan pentingnya mencukupi kebutuhan protein harian tubuh.

Sebagai salah satu zat gizi makro, protein memiliki fungsi yang cukup signifikan di dalam tubuh. Protein ini nantinya akan dicerna menjadi asam amino yang digunakan untuk berbagai macam proses di dalam tubuh. Ada sejumlah fungsi protein pada tubuh di antaranya membantu proses pembentukan sel dan jaringan tubuh yang baru, memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, sebagai sumber asam amino, menjaga kesehatan tulang dan otot, serta mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh.

Cara mengetahui kebutuhan protein harian dapat mengikuti anjuran AKG dari Menkes. Menurut AKG di 2019, kebutuhan protein harian setiap individu dibagi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berikut penjelasannya, bagi laki-laki yang sudah memasuki masa pubertas, kebutuhan protein harian cenderung bertambah dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Untuk usia 10-12 tahun membutuhkan 50 gram/hari, usia 13-15 tahun 70 gram/hari, usia 16-18 tahun 75 gram/hari, usia 19-64 tahun 65 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 64 gram/hari.

Sementara untuk perempuan cenderung memerlukan lebih banyak protein saat sedang dalam masa pubertas. Namun, kebutuhan protein ini akan berangsur menurun seiring pertambahan usia. Adapun kebutuhan protein perempuan per hari sesuai AKG dari Menkes yaitu usia 10-12 tahun membutuhkan 55 gram/hari, usia 13-18 tahun 65 gram/hari, usia 19-64 tahun 60 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 58 gram/hari.

Dengan memperhatikan khasiat yang begitu banyak, makan telur dua butir setiap sahur dan dua butir saat berbuka, sudah mencukupi setengah kebutuhan protein harian bagi orang dewasa. Setengah kebutuhan lagi dapat dipenuhi dari sumber protein lainnya seperti kacang-kacangan, ikan, dan lainnya.

Jangan "Balas Dendam"
Pada dasarnya, kebutuhan protein harian tubuh dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dalam jumlah yang cukup, baik sumber protein hewani maupun nabati. Perolehan protein hewani tak harus dari telur ayam, tetapi bisa digantikan dengan telur puyuh, bebek, atau daging ayam.

Jika bosan konsumsi bahan makanan yang mengandung protein hewani, juga bisa dialihkan ke protein nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, gandum, tempe, dan tahu.

Dapat disimpulkan bahwa selama menjalankan ibadah puasa, kebutuhan protein harian penting untuk dicukupi guna menyokong proses metabolisme dan pembentukan jaringan di dalam tubuh. Namun diingat, konsumsi makanan selama berpuasa juga sangat dianjurkan tidak berlebihan.

Jangan momen makan sahur dan berbuka puasa menjadi ajang "balas dendam" untuk makan sebanyak-banyaknya. Tubuh memiliki takaran dan dari sisi kesehatan berpuasa sangat menyehatkan badan.

Menurut pakar gizi, Ali Khomsan, mengonsumsi satu jenis menu secara terus-menerus memang bisa membosankan. Karena itu, variasi dalam mengolah telur sangatlah penting. Salah satunya dengan diolah dadar atau diolah menjadi menu kesukaan keluarga.

Manajemen Asupan Nutrisi 
Selama bulan puasa, dalam banyak literatur kesehatan cukup banyak anjuran pola makan saat sahur dan berbuka. Pada saat sahur, disarankan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, termasuk karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, dan air putih. Selain itu, tubuh juga perlu menghindari makanan yang terlalu asin atau berminyak karena dapat menyebabkan rasa haus berlebih.

Pada saat berbuka sebaiknya minum dengan air putih untuk merehidrasi tubuh, diikuti dengan makanan manis alami seperti kurma yang kaya akan serat dan gula alami. Setelah itu, konsumsi makanan utama dengan porsi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

Selain itu, untuk mencegah dehidrasi, kebutuhan cairan harian tubuh juga patut diperhatikan, yakni sekitar dua liter atau delapan gelas per hari. Pembagian waktu minum air putih dapat diatur, yakni dua gelas saat berbuka puasa, satu gelas sebelum sholat tarawih, satu gelas setelah sholat tarawih, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.

Melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda statis, tetap dianjurkan saat berpuasa untuk menjaga kebugaran. Waktu yang tepat untuk berolahraga adalah menjelang berbuka puasa atau setelahnya, dengan intensitas yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, manajemen nutrisi yang tepat selama berpuasa sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan memperhatikan asupan gizi seimbang, pemenuhan kebutuhan cairan, serta aktivitas fisik yang sesuai, puasa dapat dijalani dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

JELANG IDUL FITRI, JAPFA TURUNKAN HARGA PAKAN UNTUK STABILITAS INDUSTRI PERUNGGASAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung stabilitas sektor perunggasan nasional dengan menurunkan harga pakan ternak. Langkah ini dilakukan untuk membantu menekan biaya produksi peternak sekaligus menjaga stabilitas harga produk unggas menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dr Drh Agung Suganda, MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyatakan, “Tren penurunan harga pakan merupakan perkembangan positif bagi sektor perunggasan nasional. Penyesuaian harga pakan di tingkat industri diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak sehingga usaha peternakan menjadi lebih efisien dan stabilitas harga produk peternakan di pasar tetap terjaga.”

Sejalan dengan hal tersebut, Arif Widjaja, COO Poultry JAPFA, menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas industri perunggasan. “Sebagai bagian dari komitmen kami untuk melindungi konsumen dan peternak nasional, kami melakukan penyesuaian dengan menurunkan harga pakan. Kami berharap langkah ini dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memastikan pasokan ayam tetap terjaga sehingga masyarakat dapat memperoleh produk unggas dengan harga yang lebih stabil, khususnya menjelang lebaran,” ujar Arif.

JAPFA juga terus menjalin koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan penyesuaian harga secara berkala guna mendukung efisiensi produksi peternak, hingga nantinya produk peternakan hilir dapat dinikmati masyarakat dengan harga terjangkau. “Upaya ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi peternak untuk menjaga biaya produksi, terutama pada periode ketika permintaan daging ayam biasanya meningkat seperti pada Hari Besar Keagamaan,” tambah Arif.

Melalui langkah ini, JAPFA berharap dapat berkontribusi menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha peternak, stabilitas industri perunggasan, serta keterjangkauan harga produk unggas bagi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri. (Rilis)

MANFAATKAN MOMEN RAMADAN, ASOHI GELAR BAKTI SOSIAL DAN PEMBERIAN SANTUNAN

Foto bersama dalam kegiatan bakti sosial dan santunan yang dilaksanakan ASOHI. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Mengisi momentum kemuliaan bulan suci Ramadan, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyelenggarakan aksi kemanusiaan berupa bakti sosial dan pemberian santunan. Acara tersebut dilaksanakan di Panti Asuhan Mizan Amanah, Jagakarsa, Jumat (6/3/2026).

Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial organisasi terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim dan dhuafa, guna mempererat tali silaturahmi serta berbagi kebahagiaan di bulan yang penuh keberkahan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini. Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang paling tepat untuk memperbanyak amal kebajikan dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

"Alhamdulillah, di bulan yang mulia ini kita dapat mengadakan kegiatan bakti sosial ASOHI untuk memberikan santunan kepada anak-anak di Panti Asuhan Mizan Amanah Jagakarsa," ujar Harris di sela-sela acara.

Pemberian bingkisan dari Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi (kanan) kepada Ustaz Saiful Baihaki (kiri).

Kehadiran pengurus ASOHI disambut hangat oleh keluarga besar Panti Asuhan Mizan Amanah. Ustaz Saiful Baihaki, selaku pengurus panti cabang Jagakarsa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas konsistensi ASOHI dalam menjalankan program sosial tersebut.

"Kami dari Panti Asuhan Mizan Amanah, khususnya cabang Jagakarsa, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ASOHI yang rutin berbagi di bulan yang penuh keberkahan ini," ucapnya.

Anak-anak yatim dan dhuafa pun turut menyampaikan doa dan terima kasihnya atas santunan yang diberikan, "Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan oleh ASOHI beserta keluarganya dan selalu dipanjangkan umurnya."

Melalui kegiatan rutin ini, ASOHI berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menginspirasi pihak lain untuk turut serta dalam menebar kebaikan, khususnya selama bulan Ramadan. (RBS)

CARA MEMILIH ANAK BUAH KANDANG

Memilih anak buah kandang (ABK) menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan sebuah usaha peternakan. SOP kandang yang sudah disusun rapi, sistem manajemen yang baik, serta fasilitas yang memadai tidak akan berjalan optimal jika orang yang menjalankannya tidak tepat. Sebaliknya, dengan ABK yang tepat, pekerjaan di kandang bisa berjalan lebih teratur, efisien, dan minim masalah.

Karena itu, pemilik kandang tidak seharusnya asal dalam merekrut tenaga kerja. Dibutuhkan pertimbangan yang matang agar mendapatkan ABK yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga memiliki sikap yang baik, setia, rajin, patuh terhadap aturan, serta dapat dipercaya. Dengan kriteria yang tepat, SOP yang telah dibuat juga akan lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Lalu, bagaimana cara memilih anak buah kandang yang ideal? Berikut beberapa hal penting yang bisa dijadikan acuan dalam memilih ABK.

Kompeten. Yaitu mempunyai kecerdasan dan skill yang memadai, lebih disukai jika sudah berpengalaman sehingga tidak perlu mengajari dari nol. Biasanya orang yang kompeten juga suka belajar. Jika ABK tidak kompeten maka SOP kandang sebagus apapun tidak akan bisa dijalankan dengan baik.

Sehat dan kuat fisik serta mentalnya. Karena bekerja di kandang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik, juga ketahanan mental.

Patuh. Ini sangat penting, sama seperti kompetensi, agar SOP kandang yang dibuat dijalankan sepenuhnya. Karena kadang terjadi pemilik kandang dan ABK sama-sama memiliki ilmu yang memadai namun beda pandangan, dan ABK merasa SOP dia yang lebih baik. Akibatnya di kandang akan ada dua kepemimpinan sehingga pekerjaan bisa berantakan.

Jika mendapatkan ABK yang pintar dan berpengalaman, jelaskan dari awal bahwa pemilik kandang menghargai ilmu ABK tersebut. Namun di kandang hanya boleh ada satu kepemimpinan dan satu SOP.

Berkeluarga. Dari pengalaman beberapa peternak biasanya ABK yang sudah berkeluarga lebih setia atau bertahan lama kerjanya. Karena bagi mereka pekerjaan itu penting sebab ada keluarga yang harus dinafkahi.

Capai kesepakatan di awal. Sistem penggajian, bonus performa, dll termasuk fasilitas dan hak/kewajiban yang diterima ABK harus dibicarakan dan disepakati dari awal.

Background check. Cek riwayat ABK bisa dari media sosial, tempat bekerjanya yang terdahulu, atau rekan kerjanya.

Perlu diuji. Amati kinerja ABK yang baru. Jangan beri kepercayaan penuh, kepercayaan diberikan bertahap ketika ABK memang layak mendapatkannya. Cek aset secara rutin seperti pakan dan peralatan yang rawan dicuri dan dijual oleh ABK nakal. Jangan lupa utamakan komunikasi yang baik.

KEMENTAN: HARGA PAKAN TERPANTAU TURUN, BISA TEKAN BIAYA PRODUKSI

Berdasarkan pemantauan SPORA Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk broiler maupun layer. (Foto: Dok. Infovet)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya pada sektor perunggasan yang bergantung pada pakan pabrikan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk ayam pedaging (broiler) maupun petelur (layer). Pakan broiler starter (BR1) mengalami penurunan rata-rata Rp 112/kg dari 33 pabrik pakan, bahkan pada beberapa pabrik penurunan mencapai Rp 600/kg, dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.010/kg. Pakan broiler pre starter (BR0) tercatat turun rata-rata Rp 82/kg dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.451/kg. 

Sementara untuk pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp 89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.967/kg. Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp 86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 6.803/kg, serta konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp 74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.735/kg.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak, karena akan membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” kata Agung di kantornya, Kamis (5/3/2026).

Kendati demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrikan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38% telah menyesuaikan harga.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” sebutnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam keterangan terpisah mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan berbagai efisiensi dan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri pakan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ekspor ke Filipina. Ada dari NTB dan Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (INF)

MENGHINDARI COLIBACILLOSIS SEBELUM MERUGI

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagai penyakit dengan tingkat kejadian yang paling sering ditemukan, peternak tidak boleh lagi abai terhadapnya. Pasalnya kerugian yang ditimbulkan cukup besar, juga terdapat potensi lain yang mungkin memunculkan petaka bagi manusia.

Menular Terus, Tak Kenal Waktu
Kebanyakan E. coli hidup di lingkungan kandang melalui kontaminasi feses. Permulaan infeksi dari bakteri ini mungkin juga terjadi di hatchery, dari infeksi atau telur yang terkontaminasi. Meskipun begitu, infeksi sistemik biasanya membutuhkan bantuan lingkungan atau predisposisi lainnya.

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah, lembap, dan kotor, bukan dari ayam ke ayam seperti yang selama ini sering diduga peternak. Berdasarkan penelitian Mc Mullin (2004), disebutkan bahwa colibacillosis terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga menjadi faktor predisposisi infeksi E. coli. Selain itu, timbulnya colibacillosis juga tidak lepas dari sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai, serta adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresif.

Untuk faktor manajemen, pastinya peternak sudah sering mendapatkan penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya, namun sayangnya tidak adanya perubahan manajemen ke arah yang lebih baik, menjadi kesan adanya “pembiaran” infeksi dari bakteri E. coli.

Lingkup Infeksi yang Luas
Tidak hanya antibiotik yang memiliki lingkup luas, bakteri E. coli ternyata juga dapat menyebabkan infeksi dengan lingkup yang luas, baik secara lokal maupun sistemik, bukan hanya pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan saja. Bentuk infeksi sistemik E. coli biasa disebut colisepticemia. Berikut ini beberapa infeksi lokal pada colibacillosis menurut Unandar (2019):... Selengkpanya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026. (CR)

TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Foto: Dok. Infovet)

Transformasi peternakan sapi perah bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Perubahan teknologi, dinamika permintaan pasar, perilaku konsumen, serta sistem transaksi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kebijakan publik dalam meresponsnya.

Terlebih lagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan tekanan kuat atas meningkatnya permintaan akan susu segar dalam negeri (SSDN). Akibatnya, peternakan sapi perah rakyat berada dalam tekanan struktural yang kian besar.

Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.

Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.

Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.

Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.

Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.

Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.

Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.

Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.

Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh  entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***

Ditulis oleh:
Rochadi Tawaf
Ketua Asosiasi Holstein Indonesia

MENTAN KEMBALI LEPAS EKSPOR KOMODITI UNGGAS KE BEBERAPA NEGARA

Mentan Amran Sulaiman Melepas Ekspor Produk Unggas. (Foto: Infovet/CR)

Selasa (3/3) yang lalu Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman melakukan seremonial pelepasan ekspor unggas ke beberapa negara seperti Jepang, Singapura, dan Timor Leste di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta. Pengiriman sendiri akan dilakukan bertahap ke masing - masing negara oleh perusahaan pengekspor sampai dengan 31 Maret mendatang. 

Menurut Amran, ekspor menjadi arah strategis pemerintah dalam memperkuat devisa, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa industri perunggasan nasional sudah sangat mandiri.


"Protein hewani khususnya unggas, kita sudah bisa swasembada dan ekspor ini merupakan yang kesekian kalinya," ujar Amran. 


Ia sendiri menyebut bahwa pemerintah akan senantiasa mendukung para pelaku usaha yang memang ingin mengharumkan nama bangsa melalui ekspor. Bantuan yang diberikan tentunya dalam aspek legalitas dan pembukaan akses pasar mancanegara. 


Sebanyak 545 ton produk unggas mulai dari telur, karkas, serta produk olahan dikirim pada hari itu. Pada kesempatan tersebut nilai transaksi ekspor yang tercatat yakni 18,2 Miliar Rupiah. 


Petinggi TIB Group Bersama Perwakilan Ditjen PKH. (Foto: Infovet/CR)


Salah satu perwakilan perusahaan yakni Ariefin selaku PT Raja Jeva Nisi (TIB Group) ketika ditemui oleh Infovet menyatakan rasa bangganya karena ikut andil dalam mengharumkan nama bangsa melalui ekspor. Menurutnya ekspor adalah salah satu bukti bahwa produk lokal mampu menembus pasar internasional dan diakui kualitasnya.


"Kita sebelumnya pernah ekspor juga produk olahan kita ke Bangladesh, kita sangat senang kalau produk kita bisa diekspor. Artinya produk kita sudah memenuhi standar dari negara pengimpor, dan kita memang fokus di kualitas," tutur Ariefin. 


Dalam kesempatan yang sama komisaris PT Raja Jeva Nisi Tjandra Srimulianingsih juga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada kementerian pertanian yang sudah sangat support kepada pelaku usaha. 


"Perizinan segala macamnya kita sangat terbantu, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Menteri dan jajarannya," tutur Tjandra. 


Ia melanjutkan bahwa kedepannya TIB Group juga sedang mengincar beberapa negara lagi untuk dijadikan pasar ekspor, karena menurutnya pasar ekspor terutama produk olahan unggas di luar negeri cukup menjanjikan. 


Di hari itu TIB Group sendiri mengekspor sekitar 2 kontainer produk karkas dan olahan daging ayam dengan volume total sebanyak 22 ton. Transaksi yang berhasil dibukukan oleh TIB Group yakni sekitar USD 50.675 atau sekitar 837 juta rupiah. (CR)


PERKUAT HILIRISASI DAN KETAHANAN PANGAN, JAPFA FOOD KEMBALI LEPAS EKSPOR PRODUK OLAGUD READY TO EAT KE SINGAPURA

PT Japfa Food Indonesia (JAPFA Food), unit bisnis hilir JAPFA, kembali melepas ekspor produk OLAGUD Ready-To-Eat (RTE) ke Singapura. Pengiriman ini merupakan bagian dari agenda ekspor rutin produk perunggasan olahan yang diproduksi di dalam negeri. Kali ini, ekspor dilepas oleh Menteri Pertanian RI, Ir H Andi Amran Sulaiman, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan daya saing produk perunggasan nasional di pasar global.

Keberlanjutan ekspor produk perunggasan ini juga mencerminkan ketahanan sektor perunggasan nasional. Saat ini, Indonesia telah mampu mencukupi kebutuhan produk perunggasan dalam negeri secara mandiri. Bahkan, kapasitas produksi yang terjaga dan sistem pengendalian mutu yang ketat memungkinkan Indonesia memperluas pasar ekspor untuk memasok kebutuhan regional, sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dalam acara pelepasan ekspor di kantor Kementan RI, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan Indonesia telah mencapai swasembada ayam dan memiliki kapasitas produksi yang kuat. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ekspor menjadi bukti Indonesia tidak bergantung pada impor ayam. “Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah kuat. Produksi ayam kita lebih dari cukup. Kita tidak perlu mendatangkan ayam dari luar, termasuk dari Amerika Serikat. Kita sudah melimpah,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan peningkatan ekspor didukung penguatan sistem kesehatan hewan dan sertifikasi internasional. “Setiap produk yang diekspor telah melalui proses sertifikasi veteriner dan pengawasan ketat sesuai persyaratan negara tujuan. Kami memastikan aspek traceability, biosekuriti, dan keamanan pangan terpenuhi agar ekspor berkelanjutan,” ujar Agung.

Sementara itu, Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA menyampaikan, “Ekspor ini merupakan keberlanjutan dari pengiriman sebelumnya, sekaligus langkah strategis perusahaan dalam memperluas penetrasi pasar internasional untuk produk hilir bernilai tambah. Melalui penguatan lini bisnis hilir, JAPFA secara konsisten mengembangkan portofolio produk siap konsumsi yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan konsumen global.”

Melalui sinergi dalam aspek produksi, pengawasan, dan sertifikasi, produk olahan berbasis bahan baku dalam negeri dapat terus diperkenalkan ke berbagai negara tujuan, sejalan dengan upaya bersama untuk memajukan industri pangan Indonesia di tingkat internasional.

Produk OLAGUD RTE merupakan fillet dada ayam siap makan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kudapan sehat tinggi protein bagi konsumen. Produk ini diproduksi melalui sistem yang tersertifikasi sesuai standar keamanan pangan dan persyaratan kesehatan hewan yang ditetapkan oleh regulasi negara tujuan ekspor.

Hadir dalam banyak varian rasa untuk dada ayam dan sosis, yaitu; Himalayan Pink Salt, Herbs, Miso Shoyu, Peri-Peri, Smokey, Hainanese, Honey Chicken Sausage, dan Smokey Chicken Sausage. Produk ini dikembangkan berdasarkan riset preferensi konsumen Singapura. Inovasi rasa, konsistensi kualitas, serta pengendalian mutu menjadi fokus utama JAPFA dalam membangun kepercayaan pasar internasional. (Rilis)

COLIBACILLOSIS: ANCAMAN KLASIK YANG MASIH RELEVAN DI KANDANG MODERN

Bacterial chondronecrosis kerusakan dan kematian jaringan tulang rawan yang disebabkan oleh infeksi colibacillosis, terutama pada ayam broiler, yang menggangu pertumbuhan tulang dan menyebabkan pincang hingga kelumpuhan dan kerusakan pada liver.

Strategi terpadu pencegahan pada broiler, layer, dan breeder melalui biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, dan nutrisi.

Di tengah kemajuan teknologi perunggasan, colibacillosis masih menjadi salah satu penyakit paling sering dijumpai di lapangan. Penyakit yang disebabkan bakteri Escherichia coli (E. coli) ini kerap muncul tanpa disadari, perlahan menurunkan performa ayam, dan pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kerugian ekonomi peternak.

Colibacillosis tidak hanya menyerang broiler, tetapi juga layer dan breeder, dengan manifestasi yang berbeda-beda. Yang membuat penyakit ini semakin kompleks adalah sifatnya yang multifaktorial dan sering berperan sebagai penyakit sekunder, memanfaatkan celah dari lemahnya manajemen, biosekuriti, atau kesehatan ayam.

Oleh karena itu, pencegahan colibacillosis tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, serta pengelolaan nutrisi pakan secara optimal.

Memahami Colibacillosis Bukan Sekadar Penyakit Bakteri
E. coli sejatinya merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan kandang, bahkan di saluran pencernaan ayam. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri ini dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan penyakit.

Pada broiler, colibacillosis sering terlihat dalam bentuk dengan infeksi air sacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan septicemia. Sementara pada layer dan breeder, dampaknya bisa lebih luas, seperti penurunan produksi telur, kualitas kerabang menurun, egg peritonitis, serta penurunan fertilitas dan daya tetas.

Kondisi stres, infeksi penyakit pernapasan (IB, ND, AI, CRD), kualitas udara kandang yang buruk, serta ketidakseimbangan nutrisi menjadi pemicu utama berkembangnya colibacillosis.

Biosekuriti, Fondasi Pencegahan yang Tidak Bisa Ditawar
Biosekuriti tetap menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

INDONESIA PERKUAT STANDAR KESEHATAN HEWAN DI TENGAH PEMBATASAN IMPOR UNGGAS SAUDI

Daging ayam beku. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan kebijakan pembatasan impor unggas dan telur oleh Otoritas Pangan dan Obat Arab Saudi (Saudi Food and Drug Authority/SFDA) merupakan langkah sanitari yang bersifat kehati-hatian dan lazim diterapkan dalam perdagangan internasional produk peternakan.

Indonesia saat ini masih termasuk dalam daftar negara yang dikenakan pembatasan impor unggas oleh Arab Saudi. Kebijakan tersebut bukan kebijakan baru, melainkan bagian dari kebijakan sanitari yang telah berlangsung sejak lama dan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan penyakit unggas global, khususnya sejak peningkatan kasus avian influenza (AI) pada pertengahan 2000-an.

Indonesia mulai masuk dalam daftar temporary banned Arab Saudi sejak 2004, seiring merebaknya wabah AI. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan risiko kesehatan hewan yang bersifat dinamis dan ditinjau berkala oleh otoritas negara tujuan. 

Kementan memandang posisi tersebut sebagai bagian dari proses teknis perdagangan veteriner yang umum terjadi dan tidak secara langsung mencerminkan kondisi terkini sistem kesehatan hewan nasional secara menyeluruh.

Dari sisi ekonomi, dampak kebijakan ini terhadap industri unggas nasional dinilai terbatas karena ekspor produk unggas Indonesia ke Arab Saudi masih relatif kecil, sementara pasar domestik tetap menjadi penopang utama produksi. Namun demikian, pemerintah menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat kredibilitas sistem kesehatan hewan dan kesiapan ekspor.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan pemerintah menjadikan dinamika pembatasan sanitari sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global produk peternakan.

“Penguatan sistem kesehatan hewan adalah fondasi utama kepercayaan pasar internasional. Karena itu, kami memastikan biosekuriti, surveilans penyakit, serta penerapan zonasi dan kompartemen berjalan konsisten sebagai standar nasional,” ujar Agung di Kantor Kementan Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Ia menegaskan, pemerintah terus mendorong pembukaan akses pasar melalui diplomasi veteriner dan penguatan hilirisasi. “Pendekatan kami tidak hanya membuka pasar, tetapi memastikan produk peternakan Indonesia hadir dengan standar yang diakui dunia. Produk olahan menjadi jalur strategis sekaligus bukti kesiapan industri nasional,” kata dia.

Indonesia merupakan produsen unggas terbesar di ASEAN dengan populasi sekitar 3,9 miliar ekor, sehingga kapasitas produksi nasional telah melampaui kebutuhan domestik dan membuka peluang ekspor produk unggas dan turunannya. 

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa pembatasan oleh negara mitra merupakan mekanisme reguler dalam perdagangan berbasis sanitari.
“Pembatasan sanitari oleh negara mitra umumnya bersifat berbasis risiko dan menjadi bagian dari mekanisme kehati-hatian. Pemerintah terus memperkuat biosekuriti, surveilans, serta transparansi data penyakit untuk memastikan sistem kesehatan hewan nasional memenuhi standar internasional,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, pendekatan zonasi dan kompartemen menjadi instrumen utama dalam proses pembukaan akses pasar. “Melalui penguatan zonasi dan kompartemen, perdagangan dapat dilakukan secara aman berbasis risiko sekaligus mendukung proses dialog teknis dengan negara tujuan,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan proses akses pasar unggas ke Arab Saudi saat ini masih berada pada tahap negosiasi persyaratan teknis. “Ekspor produk unggas ke Arab Saudi masih dalam tahap negosiasi persyaratan,” ujar Makmun.

Ia menegaskan bahwa produk unggas segar seperti karkas dan telur belum memperoleh persetujuan akses pasar. “Untuk karkas dan telur, atau produk segar dan beku, saat ini belum disetujui,” kata dia.

Namun demikian, Makmun menyampaikan terdapat kemajuan pada produk olahan unggas. “Persyaratan yang sudah disetujui adalah produk olahan ayam yang telah mengalami pemanasan pada suhu yang mampu membunuh virus HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza),” ujarnya.

Sejalan dengan pengecualian sanitari tersebut, Indonesia masih dapat melakukan ekspor produk olahan unggas. Data menunjukkan ekspor produk olahan daging ayam ke Arab Saudi pada 2023 tercatat 19 ton dengan nilai sekitar USD 294.654. Selain itu, ekspor produk berbasis olahan ayam lainnya terus meningkat hingga mencapai lebih dari USD 132 juta pada 2024.

Pada 2025, Indonesia juga telah memperoleh izin ekspor produk unggas heat-treated retort sterilized atau produk sterilisasi komersial seperti semur ayam, opor ayam, dan rendang ayam untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia.

Untuk memastikan standar internasional tetap terpenuhi, Kementan terus menjalankan penguatan biosekuriti berlapis di sentra produksi unggas, peningkatan surveilans penyakit, vaksinasi berbasis risiko, serta pengendalian lalu lintas dan produk unggas secara ketat.
Selain itu, sistem sertifikasi kesehatan veteriner diselaraskan dengan standar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), termasuk peningkatan ketertelusuran, audit fasilitas, dan verifikasi unit usaha berorientasi ekspor.

Pemerintah menegaskan akan terus membuka komunikasi teknis dengan otoritas Arab Saudi guna memperoleh kejelasan persyaratan, memperkuat kerja sama veteriner, serta menjajaki peluang pemulihan akses pasar secara bertahap, khususnya melalui jalur produk olahan yang telah memenuhi persyaratan sanitari. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer