-->

Featured Posts

FOKUS PADA "GLOCAL": BAGAIMANA RAKSASA BARU DI INDUSTRI DAGING BERUPAYA MENJANGKAU PASARNYA

Tahun 2025 menjadi saksi merger besar antara dua perusahaan daging terbesar asal Brasil. Marfrig dan Brasil Foods (BRF) bergabung membentuk MBRF, sebuah perusahaan raksasa dengan produk yang menjangkau 117 pasar di seluruh dunia. Bagaimana perusahaan sebesar ini berhasil menjangkau setiap pelanggan di berbagai penjuru dunia?

Selama bertahun-tahun, baik Marfrig maupun BRF telah melakukan akuisisi dan menjalin kemitraan strategis di negara-negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang menjanjikan. Contohnya termasuk Amerika Serikat (untuk produk daging sapi), serta Tiongkok, Turki, dan Arab Saudi. Secara keseluruhan, produk MBRF kini hadir di 117 negara di seluruh dunia. Seiring dengan semakin besarnya perusahaan, memahami preferensi lokal menjadi hal yang semakin krusial. Bagaimanapun, strategi yang berhasil di satu pasar belum tentu sukses di pasar lainnya.

Hal inilah yang menjadi alasan utama di balik pendirian pusat inovasi mereka: memanfaatkan wawasan mendalam untuk mengembangkan produk yang akan sukses di pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Patricia Niizu, manajer sains konsumen di MBRF, "Kami bertujuan menjadi perusahaan yang 'glocal'." Perusahaan yang cukup besar untuk tetap kompetitif di dunia yang semakin terglobalisasi, namun juga sangat peka dalam menangkap tren lokal demi meraih kesuksesan di mana pun.

Arab Saudi menjadi contoh bagaimana MBRF melakukan pendekatan terhadap pasarnya. Ia menjelaskan bahwa negara tersebut telah mengalami tren "snackifikasi" (pergeseran pola makan ke arah camilan) selama satu dekade terakhir. Hal ini mendorong MBRF untuk meluncurkan lini produk Sadia Bites, yakni camilan yang dapat disiapkan hanya dalam hitungan menit.

Selain itu, tim inovasi memetakan tren preferensi restoran terkini di Arab Saudi; tidak mengherankan jika cita rasa seperti "Italia" (yang dominan) dan "Meksiko" (yang sedang naik daun) muncul dalam daftar tersebut. Berbekal wawasan itu, tim meluncurkan rangkaian produk untuk air fryer dengan cita rasa global di bawah merek Sadia Broasted Chicken Chunks. Lini produk ini menghadirkan varian rasa seperti "bawang putih dan parmesan" serta "jalapeño".

Namun, menjalankan bisnis dengan pendekatan "glocal" (global sekaligus lokal) tidak cukup hanya dengan memahami pasar secara mendalam. CEO MBRF, Miguel Gularte, membahas topik mengenai kunci sukses di pasar global dalam sebuah diskusi panel di pameran dagang SIAVS di São Paulo yang berlangsung pada 4-6 Agustus. Ia menyoroti pentingnya kehadiran fisik di negara lain, bahkan hingga memanfaatkan rantai produksi lokal yang terintegrasi.

Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada masalah geopolitik terkini di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, seraya menyatakan, "Pasokan pangan di sana tidak terganggu. Perusahaan-perusahaan dari sini (Brasil) tetap melanjutkan pasokan ke wilayah-wilayah yang sedang dilanda konflik tersebut."

DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA

Usaha breeding terus dilakukan untuk pengembangan sapi di Indonesia. (Foto: Infovet/Dok. Joko)

Pengembangan peternakan sapi di Indonesia terus dilakukan untuk meningkatkan populasi sapi secara nasional dan meningkatkan kesejahteraan peternak. Sapi sudah menjadi komoditas strategis nasional karena menjadi sumber protein hewani sebagian masyarakat Indonesia. Usaha breeding dilakukan di tingkat peternak rakyat, kelompok ternak, koperasi, korporasi, instansi pemerintah, hingga industri peternakan sektor swasta.

Hingga saat ini peternakan breeding masih menghadapi cukup banyak kendala dan tantangan terkait produktivitas, performa reproduksi, biaya produksi, angka kematian karena penyakit, serta harga pasca panen yang terkadang tidak bersahabat. Beberapa penyakit masih menjadi musuh besar pengembangan breeding di Indonesia seperti penyakit mulut dan kuku, septisemia epizootika, parasit darah, Bovine viral diarrhea (BVD), dan penyakit lainnya.

BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.

BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.

Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.

Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).

Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.

Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

DRH DEDDY FACHRUDDIN KURNIAWAN ADAKAN AUDIENSI DENGAN ANGGOTA DPR



Drh Deddy Fachruddin Kurniawan dan Tim Melakukan Audiensi Bersama Anggota DPR
(Foto : Sukma, 2026)

Tokoh Muda Veteriner sekaligus Ketua PDHI Jawa Timur II, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet, memimpin delegasi dalam audiensi ke DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta 1 September 2026 lalu.

Deddy mendorong DPR RI agar menempatkan posisi dokter hewan pada porsi signifikan dalam bentuk kewenangan veteriner nasional termasuk pada struktur yang proporsional dalam mendukung penyediaan protein hewani, sebagai pilar utama dalam mendongkrak kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan ketahanan pangan nasional.

Didampingi oleh Drh. Gunadi Setiadarma, Drh. Fitri Nursanti, dan Drh. Sukma Kamajaya, mereka diterima secara resmi oleh jajaran pimpinan dan Anggota DPR RI Fraksi PKS termasuk Dr. H. Ahmad Heryawan, Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI, Drh. H. Slamet, Drh. H. Achmad Ru'yat, Ir. H. Ateng Sutisna, serta DR. Ir. Junaedi Auli.

Dalam paparan utamanya, Drh. Deddy Fachruddin menyampaikan keprihatinan mendalam mengenai peringkat Human Development Index (HDI) Indonesia yang masih tertinggal, padahal Indonesia sedang menikmati puncak bonus demografi dan menyoroti tentang konsumsi protein sebagai salah satu faktor utamanya. Sebagai Praktisi Veteriner Deddy menyampaikan bahwa pemenuhan konsumsi protein hewani bukan sekadar urusan keberlanjutan pangan, namun juga keamanan pangan, untuk menjamin keamanan sosial dan keamanan nasional.

Melanjutkan pada sesi diskusi teknis, Drh. Deddy menegaskan bahwa penguatan posisi dokter hewan sebagai garda terdepan memerlukan payung hukum yang kokoh melalui  percepatan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kedokteran Hewan. 

“Kepastian hukum ini penting untuk pengawasan kesehatan hewan, pencegahan penyakit zoonosis, serta perlindungan profesi dokter hewan secara menyeluruh," ujarnya.

Dalam kesempatan itu Ahmad Heryawan, menyatakan bahwa Badan Aspirasi DPR RI siap memfasilitasi dan mengawal aspirasi agar dapat disalurkan secara efektif sebagaimana drh. Slamet  yang berkomitmen untuk menindaklanjuti masukan yang disampaikan delegasi audiensi, dan akan mensinkronisasikan hal tersebut dengan RUU Pangan, agar peran dokter hewan didalam memastikan keamanan pangan asal hewani bisa sesuai dengan peran yang ada di RUU kedokteran hewan.

Selain itu drh. Achmad Ru'yat, yang juga ikut berdiskusi mendukung penuh penegasan drh. Deddy tentang pentingnya integrasi pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan hewan dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Diskusi diakhiri dengan penyapampaian keinginan Ir. Ateng Sutisna untuk memanfaatkan teknologi peternakan terkini dalam meningkatkan produktivitas hasil ternak yang pada akhirnya akan mensejahterakan peternak. (INF)

MERCOSUR MENGINCAR PASAR BARU MELALUI PERJANJIAN DENGAN SINGAPURA DAN JEPANG

Mercosur telah mempercepat strategi ekspansi komersialnya di Asia melalui dua perkembangan penting bagi sektor agribisnis.

Yang pertama adalah ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas Mercosur-Singapura yang mulai berlaku segera. Selain itu, blok tersebut secara resmi memulai negosiasi untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi dengan Jepang.

Potensi bagi sektor protein hewani sangat besar, khususnya bagi Brasil, mengingat kedua negara tersebut termasuk di antara importir terbesar daging unggas dan daging babi.

Perkembangan ini terjadi di saat Mercosur berupaya memperluas kehadirannya di pasar-pasar strategis, mengurangi ketergantungan pada mitra dagang tradisional, dan memperkuat integrasinya ke dalam rantai perdagangan global.

Agenda ini memperoleh momentum setelah berlakunya perjanjian dengan Uni Eropa secara sementara dan terus berjalan beriringan dengan negosiasi bersama Kanada, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, dan Inggris.

ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS

Ayam menunjukkan gejala respirasi (gasping) akibat infeksi mycoplasma. (Foto: Istimewa)

Di beberapa layer farm yang penulis kunjungi, keluhan yang sering terdengar adalah ngorok tidak hilang meski sudah dua kali terapi, FCR naik tanpa sebab yang jelas, atau ayam batuk ringan yang tiba-tiba memburuk seminggu setelah ada perlakuan vaksinasi. Pola seperti itu hampir selalu mengarah ke satu hal yang sama, yaitu CRD tidak lagi datang sendirian, melainkan bersamaan dengan E. coli, virus pernapasan, dan kondisi kandang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda bahaya sejak awal.

Bentuk rombongan inilah yang dalam literatur disebut complicated chronic respiratory disease (CCRD). Kombinasi Mycoplasma dengan infeksi sekunder E. coli, ND, IB, AMPV, ILT, dan lain sebagainya saling memperberatkan satu sama lain dan menimbulkan kerugian ketika produksi sudah telanjur turun.

Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.

MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.

Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.

Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.

Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. 

Ditulis oleh:
Drh. A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id 

NUTRITION BEYOND INGREDIENTS: INOVASI ALLTECH UNTUK INDUSTRI PAKAN BERKELANJUTAN

Seminar mempertemukan pemimpin industri, akademisi, pemerintah, asosiasi, serta para profesional dalam industri peternakan. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Industri peternakan menghadapi kompleksitas baik dari segi tuntutan efisiensi produksi, ancaman Antimicrobial Resistance (AMR), hingga tuntutan keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut Alltech mengangkat paradigma “Nutrition Beyond Ingredients”, menempatkan nutrisi yang memberikan manfaat ekonomi, fondasi kesehatan ternak, keamanan pangan, dan keberlangsungan lingkungan secara bersamaan.

Pendekatan ini menjadi nilai tambah sekaligus diferensiasi Alltech dalam mendampingi transformasi sektor peternakan Indonesia.

PT Alltech Biotechnology Indonesia berkolaborasi dengan ILDEX Indonesia menyelenggarakan seminar “Nutrition Beyond Ingredients: Driving Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector” pada Kamis, 23 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere, Tangerang Selatan.

Acara dimoderatori oleh Dr Ir Audy Joinaldy SPt, MSc, MM M IP, IPU ASEAN ENG yang memastikan diskusi berjalan dinamis, serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka seminar, Heng Aik Jin, Regional Director Alltech Biotechnology Malaysia & Indonesia menuturkan tema seminar yang diusung sangat relevan dengan kondisi industri peternakan Indonesia sekarang ini. Menurutnya, pemintaan terhadap protein hewan terus meningkat, namun di saat yang sama industri dihadapkan pada banyak tantangan.

“Tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau produce more with the same resources,” tutur Heng.

Nutrisi tidak hanya berbicara mengenai bahan baku, akan tetapi juga bagaimana sains, inovasi, nutrisi yang presisi serta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mendukung kesehatan serta performa ternak sekaligus membangun industri peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.

Kemandirian Pakan, Kunci Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi sebagai keynote speaker mengatakan saat ini dunia dalam turbulensi, dimana ketegangan geopolitik kemudian adanya perang dagang dan krisis iklim mengguncang rantai pasok pangan dan pakan.

Nuryani juga memberikan gambaran supply demand peternakan Indonesia di tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Ia menambahkan, dibalik keberhasilan tersebut masih tersimpan tantangan besar terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor seperti bungkil kedelai, meat bone meal, poultry product meal, dan juga feed additive tertentu juga belum optimalnya pemanfaatan bahan baku lokal. Distribusi pakan yang belum efisien dan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan hijauan juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Produksi Pakan Nasional Tumbuh

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menjelaskan bahwa industri pakan Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi pakan nasional pada 2025 mencapai sekitar 20,3 juta ton dan diproyeksikan tetap tumbuh sekitar enam persen pada 2026, didorong meningkatnya populasi ayam broiler dan layer, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Harga jagung domestik masih berfluktuasi, pasokan soybean meal (SBM) bergantung pada impor kemudian harga asam amino meningkat. Sementara, perubahan regulasi impor dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi struktur biaya industri.

Menurut Tevi, kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif melalui diversifikasi sumber bahan baku, manajemen persediaan yang lebih baik, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, penguatan kemitraan antara produsen pakan, peternak, pemasok bahan baku, dan pemerintah. Ketahanan industri pakan, lanjut Tevi, tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membeli bahan baku murah tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.

Inovasi Mannan-Rich Fraction (MRF)

Dr Ronan Power, Vice President and Chief Scientific Officer Alltech mengajak peserta melihat nutrisi dari perspektif yang lebih luas.

Sebagai perusahaan berbasis sains yang mengembangkan berbagai solusi nutrisi dan kesehatan hewan melalui berbagai riset ilmiah, inovasi Alltech bukan saja diarahkan untuk meningkatkan performa ternak, namun juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari visi global Alltech dalam mendukung pertanian berkelanjutan, dengan entitas bisnis Planet of Plenty ™.

Ronan menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan merupakan titik awal seluruh keberhasilan produksi. “Healthy Gut = Healthy Animal” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasinya.

Gut health integrity tidak hanya mendukung kesehatan saluran pencernaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan baku pakan.

Usus yang sehat juga memungkinkan penyerapan nutrien berlangsung lebih optimal, efisiensi konversi pakan meningkat, performa produksi lebih baik sehingga ketergantungan terhadap penggunaan antibiotik dapat dikurangi.

Selain itu, Ronan juga menyoroti meningkatnya ancaman AMR yang menjadi perhatian dunia. Data global yang dipaparkan menunjukkan pada 2019 sekitar 1,27 juta kematian secara langsung berkaitan dengan AMR, sementara hampir lima juta kematian berkaitan dengan resistensi antimikroba.

Tingginya tingkat resistensi pada isolat Escherichia coli maupun Salmonella memperlihatkan pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan. Menurut Ronan, solusi harus dimulai dari peningkatan kesehatan usus dan pengelolaan mikrobiota yang lebih baik, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan secara alami.

Alltech mengembangkan inovasi bahan pakan bioaktif alami Mannan-Rich Fraction (MRF). Berbagai studi komersial pada broiler maupun layer yang dipaparkan Ronan menunjukkan MRF membantu mengaglutinasi patogen di saluran pencernaan, mengurangi penyebaran gen resistensi antibiotik antarbakteri dan meningkatkan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.

Selain itu memperbaiki performa broiler dan layer, menekan mortalitas hingga lebih dari 20 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

Industri Unggas Terintegrasi Vertikal

US Grains Consultant, Prof Dr Budi Tangendjaja PhD dalam kesempatan yang sama menegaskan efisiensi produksi pakan harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan rantai pasok industri unggas. Tujuan utama industri bukan sekadar menghasilkan pakan termurah, melainkan menghasilkan daging maupun telur dengan biaya produksi paling efisien sesuai kebutuhan pasar.

Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi mulai dari pengadaan bahan baku, logistik, formulasi, operasional feedmill, hingga manajemen pemberian pakan di kandang dikelola secara efisien.

Prof Budi juga menegaskan bahwa industri unggas modern semakin mengarah pada sistem integrasi vertikal, dimana setiap mata rantai produksi saling terhubung dan sebagai bagian dari sistem bersama. Dalam kondisi tersebut baik pemanfaatan teknologi digitalisasi, formulasi presisi, indikator kinerja hingga pengendalian biaya di setiap lini menjadi faktor yang menentukan daya saing industri. (ADV)

CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM


Selama ini, chronic respiratory disease (CRD) pada ayam broiler maupun layer lebih sering dikaitkan dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG), yang dikenal sebagai salah satu patogen utama penyebab gangguan saluran pernapasan. Tidak mengherankan jika berbagai upaya pengendalian di lapangan masih didominasi oleh penggunaan antibiotik, vaksinasi, peningkatan biosekuriti, serta perbaikan ventilasi kandang.

Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberadaan MG tidak selalu berujung pada gejala klinis yang berat. Sebaliknya, banyak peternakan mengalami kasus CRD yang kompleks akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari tingginya kadar amonia, kualitas litter yang buruk, kepadatan kandang, stres lingkungan, hingga ketidakseimbangan nutrisi pakan.

Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.

Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.

Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.

Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.

Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.

Inilah salah satu hubungan paling nyata antara nutrisi dan penyakit respirasi. Formulasi pakan yang kurang efisien tidak hanya meningkatkan biaya pakan, tetapi juga meningkatkan pencemaran udara di dalam kandang yang pada akhirnya memperbesar risiko gangguan pernapasan.

Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

STRATEGI PENGENDALIAN MYCOPLASMA PADA PETERNAKAN MODERN

Pengaplikasian biosekuriti yang baik dan konsisten untuk mengendalikan MG. (Foto: Gemini)

Setelah mengetahui Mycoplasma gallisepticum (MG) yang dapat menyebabkan kerugian besar, sudah seharusnya memang pengendalian diupayakan. Karena membiarkan MG beredar di peternakan, sama saja membuka lebar-lebar gerbang penyakit lain untuk masuk.

Perlu kembali diingat, bahwa ayam modern telah mengalami perkembangan yang signifikan terutama potensi genetiknya. Namun begitu, dibalik performa genetik ayam pedaging dan petelur yang mumpuni, ada salah satu kelemahan yang tidak bisa dikompromikan, yakni rentan stres dan terinfeksi penyakit.

Perkuat Faktor Penyebab, Perlemah Patogen
Tony Unandar selaku private consultant farm mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi status penyakit infeksius dalam suatu peternakan, yakni hospes/inang, mikroba patogen, serta milieu/lingkungan. Apabila ketiga faktor itu mengalami ketidakseimbangan alias lebih menguntungkan patogen, maka yang terjadi adalah efek negatif yang akan didapat.

“Prinsipnya simpel, saya yakin semuanya mengerti karena saya sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi jarang diperhatikan. Hospes dalam hal ini ayam dan juga lingkungan harus kita persiapkan sebaik mungkin, patogennya kita perlemah, sesimpel itu,” tutur Tony.

Kemudian ia juga menjabarkan bahwa memperkuat hospes bisa dengan cara memberikan kecukupan pakan dan air minum yang berkualitas, memberikan suplemen (bila perlu), melakukan vaksinasi, serta menjaga lingkungan tetap kondusif bagi tumbuh kembang ayam.

“Lingkungan ini kan banyak faktor, mulai dari keadaan kandang yang bersih, biosekuriti, sekam yang diganti secara rutin, aliran udara, suhu dan kelembapan, dan banyak yang lain. Kita perkuat ini saja, mikroba patogen akan melemah dengan sendirinya, yang penting konsisten,” ucapnya.

Nantinya lanjut dia, keempat komponen akan bersinergi dan saling memberikan efek positif apabila semua SOP dalam manajemen pemeliharaan dikerjakan. Kalaupun ada faktor lain yang apabila menyebabkan terjadinya outbreak di suatu peternakan, bisa dengan mudah dianalisis karena manajemen internal sendiri sudah dilaksanakan dengan baik.

Upaya Pengendalian Jangan Setengah-Setengah
Dalam bahasa yang lebih teknis, Senior Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Ratriastuti Purnawasita, mengingatkan akan potensi merugikan yang besar karena infeksi MG terutama di sektor breeding, layer komersil, dan unggas dengan masa pemeliharaan yang panjang.

“Di breeding maupun peternakan komersil semua juga pasti mencoba mengendalikan MG, namun memang sebenarnya ini agak sulit dan mungkin belum tuntas 100%, pasti akan ada saja yang berulang,” kata Ratri.

Ia mengungkapkan bahwa MG merupakan mikroba tanpa dinding sel, sehingga pemilihan sediaan antimikroba yang digunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)

AGAR CRD TIDAK MENJADI CCRD

Penularan mikoplasma pada ayam, baik melalui jalur vertikal (dari ayam betina yang terinfeksi ke keturunannya) maupun jalur horizontal (dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang rentan). (Sumber: Veterinary Research (2025) 56:10)

Penyebab utama chronic respiratory disease (CRD) pada unggas adalah bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG). Mikoplasma adalah mikroorganisme prokariotik yang termasuk dalam kelas Mollicutes. Mikroorganisme ini ditandai oleh ketiadaan dinding sel dan ukurannya yang kecil, serta mampu melakukan replikasi sendiri (Lu Z, et al., 2017).

Mikoplasma dapat ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk tanah, tumbuhan, serangga, unggas, mamalia, dan manusia. Ia berkembang biak melalui pembelahan biner atau tunas, membentuk koloni khas berbentuk “telur rebus” pada media kultur padat. Beberapa strain patogenik dari mikoplasma memengaruhi unggas, termasuk MG, Mycoplasma meleagridis (MM), Mycoplasma synoviae (MS), dan Mycoplasma iowae (MI). Di antara itu, MG adalah patogen penting yang menyebabkan penyakit pernapasan kronis pada unggas. Mikroorganisme ini menunjukkan variasi dalam patogenisitas dan tropismenya di antara isolat dari berbagai wilayah (Levisohn S, Dykstra MJ, Lin MY, Kleven SH, 1986).

MG karena tidak memiliki dinding sel, sehingga kebal terhadap beberapa antibiotik. Penyebarannya melalui kontak langsung antar unggas, percikan udara, pakan atau air yang terkontaminasi, serta peralatan. Infeksinya bersifat kronis dan menetap, memengaruhi ayam broiler maupun petelur, menyebabkan gangguan pernapasan, efisiensi konversi pakan menurun, dan infeksi sekunder.

Beberapa faktor berkontribusi pada penyebaran dan tingkat keparahan penyakit ini, seperti kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi; mikoplasma menyebar ketika unggas sehat berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi; lingkungan terkontaminasi antara lain pakan, air, litter, dan peralatan bisa menjadi tempat bakteri hidup; penularan melalui udara karena CRD menyebar lewat percikan udara dari batuk dan bersin unggas; penularan vertikal (melalui telur) induk betina yang terinfeksi bisa menularkan mikoplasma kepada anaknya lewat telur; stres lingkungan seperti kepadatan berlebih, ventilasi buruk, dan fluktuasi suhu meningkatkan kerentanan; imunitas melemah karena unggas dengan sistem kekebalan yang seperti itu kekurangan nutrisi atau infeksi lain lebih rentan terhadap CRD.

Tanda klinis penyakit pernapasan yang disebabkan MG meliputi bulu kusut, kehilangan nafsu makan, lesu, hidung berair, batuk, rales trakea, bernapas melalui mulut, pembengkakan kelopak mata, dan mata yang berair berlebihan (Wu Z, Chen C, et al., 2020). Pada anak ayam, infeksi MG sering menyebabkan pertumbuhan terhambat, peningkatan angka kematian, dan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu. Ayam petelur yang terinfeksi MG mengalami penurunan kinerja produksi, termasuk produksi telur yang lebih rendah dan kualitas telur yang menurun. Ayam pedaging mungkin mengalami penurunan berat badan sebesar 20-40%, penurunan kualitas daging, efisiensi pemanfaatan pakan menurun sekitar 20%, dan peningkatan biaya pengobatan (Yadav JP, Tomar P, Singh Y, Khurana SK, 2022).

Meskipun tingkat kematian akibat MG saja biasanya rendah, hal ini dapat membuat unggas rentan terhadap infeksi sekunder dari patogen seperti virus penyakit Newcastle dan E. coli, yang meningkatkan risiko dalam industri unggas. MG menyebar melalui penularan horizontal dan vertikal di dalam kawanan ayam, bertahan sepanjang periode pemeliharaan dan terbukti sulit untuk diberantas sepenuhnya (De la Cruz L, et al., 2020).

Unggas dari semua usia dapat terinfeksi MG, dengan kasus yang terjadi sepanjang tahun, khususnya puncaknya selama... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

KADIN INDONESIA BAHAS PELUANG KERJA SAMA DENGAN PERWAKILAN URUGUAY


Drh Deddy Fachruddin Kala Menemui Perwakilan Uruguay
(Sumber : KADIN 2026) 

Rabu, 19 Agustus 2026, Drh Deddy Fachruddin mendampingi Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan KADIN INDONESIA menerima kunjungan rombongan pemerintah Uruguay, dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay dan Wakil Menteri Pertanian Uruguay.

Kepada Infovet Deddy mengutarakan bahwa Uruguay, dengan jumlah penduduk yang hanya 3,5 juta (setara malang raya), memiliki jumlah sapi sebanyak 12juta ekor sapi (setara populasi di Indonesia).

"Oleh karena itu, Uruguay adalah salah satu penghasil susu dan daging terbaik di dunia yang mengekspor 75% dari produksi mereka, dengan market share tertinggi nya adalah Amerika-Eropa-China dan Jepang. Kita bisa bekerja sama dengan mereka," tutur Deddy.

Yang menarik adalah Uruguay memiliki definisi yang ketat tentang susu, Hukum Uruguay mendefinisikan susu sebagai produk biologis alami dan sekresi kelenjar ambing. Definisi ini yang membuat produk2 yang “mengaku” susu namun tidak merupakan sekresi alami dari kelenjar ambing, dilarang di uruguay. Hal ini juga yang mengakibatkan, konsumsi susu perkapita di Uruguay adalah salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 232/liter/kapita/tahun.

Indonesia dan Uruguay juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemitraan strategis di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu peluang utama terletak pada kerja sama di industri susu. Indonesia terus memperkuat produksi daging sapi dan susu dalam negeri, sehingga membuka peluang bagi Uruguay untuk berkolaborasi dalam bidang pembibitan dan genetika ternak, peternakan sapi perah, pengembangan pakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, serta industri pengolahan susu.

Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi di Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk pertanian ke Uruguay dan memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin. Produk-produk yang berpotensi dikembangkan antara lain buah-buahan tropis, kopi, kakao, rempah-rempah, produk berbahan dasar kelapa, produk berbasis kelapa sawit, pupuk hayati, pupuk organik, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya.

Bidang strategis lainnya adalah kerja sama dalam teknologi dan penelitian pertanian. Indonesia dan Uruguay dapat mendorong penelitian bersama di bidang bioteknologi, pupuk hayati, pertanian presisi, pertanian cerdas iklim (climate-smart farming), peningkatan produktivitas ternak, mekanisasi pertanian, serta sistem ketertelusuran digital (digital traceability).

Untuk mempercepat implementasi kerja sama, kedua negara dapat mengembangkan kegiatan business matching, pembentukan usaha patungan (joint venture), kemitraan penelitian, pertukaran teknologi, serta peluang investasi yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para petani. (INF)

Suasana Pertemuan KADIN Indonesia dan Perwakilan Uruguay
(Sumber : KADIN 2026)

Drh Deddy Fachrudin Kurniawan MVet


PETERNAK AYAM PEDAGING MENGUJI BIOCHAR UNTUK MENGATASI EMISI AMONIA

Ilustrasi.

Sekelompok peternak ayam pedaging di wilayah West Midlands, Inggris, mengambil langkah praktis untuk mengatasi salah satu tantangan lingkungan dan manajemen terbesar di sektor unggas dengan menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat mengurangi emisi amonia dan meningkatkan kualitas litter di kandang komersial.

Proyek yang didanai melalui program ADOPT ini mempertemukan para produsen di Shropshire, Herefordshire, dan Worcestershire dengan para peneliti serta spesialis biochar untuk mengevaluasi teknologi tersebut dalam kondisi peternakan yang sesungguhnya.

Meskipun biochar semakin mendapat perhatian di dunia pertanian, penggunaannya di kandang unggas masih relatif belum banyak dieksplorasi, sehingga uji coba ini sangat relevan bagi produsen yang mencari solusi praktis untuk memperbaiki kondisi kandang.

Tokoh sentral dalam proyek ini adalah Rob Collins, seorang peternak sekaligus pemimpin proyek, yang meyakini bahwa nilai penting dari upaya ini terletak pada dihasilkannya bukti kuat yang dapat dipercaya oleh produsen unggas lainnya.

"Peternak menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengelola emisi amonia sembari tetap menjaga kesejahteraan dan performa unggas," ujarnya. "Kami ingin menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat memberikan solusi praktis yang mudah diterapkan dalam manajemen peternakan sehari-hari, tanpa menambah kerumitan operasional."

Uji coba ini berfokus pada penerapan langsung biochar hasil rekayasa ke litter unggas. Material tersebut diproduksi dari kayu spruce melalui proses pirolisis yang menghasilkan produk stabil dan sangat berpori, yang mampu menyerap serta menyimpan nutrisi.

Di empat lokasi peternakan ayam pedaging komersial, para peneliti telah memasang sensor amonia untuk merekam data secara real-time di sepanjang siklus pemeliharaan. Para peternak juga akan menilai kondisi litter, karakteristik penanganan material, serta perubahan apa pun yang dapat diamati terkait kesejahteraan unggas.

Collins menyebut pendekatan yang melibatkan banyak peternakan ini sebagai salah satu kekuatan proyek, "Setiap unit peternakan unggas memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Dengan melakukan uji coba di beberapa lokasi, kami dapat melihat bagaimana kinerja biochar dalam berbagai sistem manajemen dan kondisi lingkungan kandang."

RUSIA MELARANG TRANSIT UNGGAS DARI UE

Mulai 5 Agustus, layanan veteriner negara Rusia, Rosselkhoznadzor, melarang transit daging unggas dan beberapa produk lainnya dari Uni Eropa (UE) melalui wilayah Rusia.

Langkah ini akan menghambat transit produk unggas yang diproduksi di Uni Eropa melalui Rusia, dengan pembatasan yang akan tetap berlaku hingga pembicaraan dengan Komisi Eropa mengenai dugaan pelanggaran dilakukan.

Rosselkhoznadzor menyatakan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit hewan dan melindungi konsumen di Rusia.

Badan pengawas veteriner Rusia tersebut merujuk pada sebuah kasus yang melibatkan dugaan transit ilegal produk sampingan unggas asal Jerman melalui Polandia. Pengiriman tersebut melintasi perbatasan menggunakan dokumen veteriner palsu sebelum dikirim ke Uzbekistan melalui Rusia.

"Analisis lanjutan dan tanggapan dari otoritas veteriner Jerman dilaporkan gagal mengungkap identitas pengirim maupun asal-usul sebenarnya dari produk-produk tersebut," ujar Rosselkhoznadzor.

Dampak utama dari larangan transit ini akan ditanggung oleh pemasok Eropa dan pembeli di Asia Tengah, demikian disampaikan Ilya Grashchenkov, seorang analis politik dan presiden Center for Regional Policy Development, kepada kantor berita negara setempat, TASS.

HARGA AYAM DI SURIAH MELONJAK TAJAM DI TENGAH DESAKAN UNTUK MELAKUKAN IMPOR

Harga ayam di Suriah telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini memicu desakan agar pemerintah kembali membuka keran impor unggas setelah kesepakatan yang bertujuan menjaga harga di tingkat peternak agar tetap terkendali tampaknya gagal.

Harga dada ayam telah mencapai sekitar 1.000 lira Suriah baru (US$8,20) per kg, sementara ayam hidup dijual seharga sekitar 400 lira baru (US$3,28) per kg. Menurut Al-Watan, sebuah media lokal, angka-angka ini dianggap "tidak masuk akal" bagi negara dengan standar hidup yang relatif rendah.

Lonjakan harga terbaru ini terjadi meskipun telah ada kesepakatan antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas yang bertujuan menciptakan stabilitas pasar. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pihak berwenang seharusnya menerbitkan buletin harga acuan mingguan, dan para produsen unggas berkomitmen untuk menjual satu ton ayam hidup dengan harga tidak lebih dari US$2.000. Saat ini, harga aktualnya berada 30-40% di atas tingkat tersebut.

Abdul Razzaq Habza, sekretaris Asosiasi Perlindungan Konsumen, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut pada kenyataannya telah gagal, "Kesepakatan yang dicapai antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas hanyalah sekadar tulisan di atas kertas, mengingat para peternak unggas tidak mematuhinya."

Kesepakatan itu muncul setelah adanya tuntutan dari produsen unggas untuk menghentikan impor ayam demi melindungi peternakan lokal. Menurut Habza, para produsen berargumen bahwa pembatasan impor akan menurunkan harga di tingkat lokal, dan pihak berwenang sempat memperkirakan pasar akan stabil dalam hitungan hari.

"Sayangnya, alih-alih melihat penurunan atau bahkan stabilitas harga ayam dan bagian-bagiannya, kita justru menyaksikan lonjakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Di sisi lain, organisasi perlindungan konsumen berpendapat bahwa peternak unggas bukanlah pihak yang harus disalahkan atas kenaikan harga baru-baru ini.

Habza mengatakan bahwa rumah potong hewan dan perantara lainnya adalah pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga yang sedang berlangsung, sementara peternak sebenarnya memiliki pengaruh terbatas terhadap harga akhir yang dibayarkan oleh konsumen.

Sebaliknya, para peternak menjelaskan bahwa harga unggas melonjak akibat kematian massal unggas selama gelombang panas ekstrem, yang sangat berdampak pada tingkat produksi.

Dalam situasi ini, Habza menyatakan bahwa mengizinkan impor unggas merupakan kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kembali harga.

Namun, ia menegaskan bahwa impor tersebut tidak boleh dilakukan tanpa batasan. "Melanjutkan kembali impor ayam telah menjadi kebutuhan mendesak, namun hal itu harus dilakukan dengan pengendalian khusus dan tidak secara sembarangan," ujar Habza.

Tujuannya, tambah dia, adalah menciptakan keseimbangan antara melindungi produsen unggas dalam negeri dan memastikan konsumen dapat membeli ayam dengan harga wajar yang sesuai dengan daya beli mereka.

PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH BIOSEKURITI DI PETERNAKAN AYAM PEDAGING KAMERUN MASIH BELUM MERATA

Peternakan ayam pedaging komersial di wilayah barat laut Kamerun memiliki skor biosekuriti keseluruhan yang relatif baik, namun sebuah studi menemukan adanya celah penting dalam beberapa langkah dasar pencegahan penyakit.

Para peneliti dari Universitas Ngaoundéré mengevaluasi 65 peternakan ayam pedaging komersial di Divisi Mezam, wilayah barat laut Kamerun, antara bulan April dan September 2025. Mereka menemukan skor biosekuriti rata-rata sebesar 76,1%. Namun, beberapa praktik dasar hanya diterapkan di kurang dari separuh jumlah peternakan tersebut. Hanya 35,4% yang memiliki fasilitas bak wheel dip untuk disinfeksi, dan persentase yang sama menerapkan sistem produksi all-in, all-out. Selain itu, hanya 47,7% peternakan yang menyingkirkan ayam mati setidaknya dua kali sehari.

Para peneliti mencatat tingkat kematian rata-rata sebesar 1,9% per siklus produksi. Mereka menemukan bahwa tingkat kematian menurun seiring dengan membaiknya biosekuriti, yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan secara statistik antara kedua faktor tersebut.

Studi ini juga meneliti pengetahuan dan sikap peternak terhadap kesejahteraan hewan. Meskipun skor praktik kesejahteraan hewan tergolong cukup baik, tingkat pengetahuan peternak jauh lebih rendah.

Nilai tengah skor pengetahuan adalah 38%, dibandingkan dengan 60% untuk sikap dan 70% untuk praktik. Para peneliti juga menemukan hubungan positif antara penerapan biosekuriti dengan pengetahuan peternak maupun praktik kesejahteraan hewan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan dapat berperan penting dalam membantu peternak mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan dalam praktik peternakan sehari-hari mereka. Langkah-langkah praktis dapat memberikan dampak nyata

Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini sangat relevan bagi produksi unggas di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, di mana para peternak mungkin menghadapi kendala finansial dan praktis dalam menerapkan sistem biosekuriti yang lebih canggih.

Studi ini menyoroti bahwa biosekuriti dan kesejahteraan hewan tidak boleh dipandang sebagai hal yang terpisah. Para peneliti menyimpulkan bahwa pelatihan terpadu yang mencakup kedua aspek tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan kawanan unggas, mengurangi kerugian, serta mendukung produksi ayam pedaging yang lebih berkelanjutan di Kamerun dan wilayah penghasil unggas lainnya yang memiliki keterbatasan sumber daya.

PRODUSEN TELUR UKRAINA MEMPERINGATKAN ADANYA TANTANGAN YANG KIAN BERAT SETELAH PENDAPATAN ANJLOK

Produsen telur asal Ukraina, Avangard, melaporkan pendapatan sebesar UAH 390,15 juta (US$9,3 juta) pada semester pertama tahun 2026, turun empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan resmi perusahaan.

Meskipun terjadi penurunan pendapatan yang tajam, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar UAH 51,59 juta (US$1,16 juta), berbanding terbalik dengan kerugian bersih sebesar UAH 74,04 juta (US$1,67 juta) pada semester pertama tahun 2025.

Peningkatan laba bersih ini terutama dikaitkan dengan persaingan yang semakin ketat di pasar telur Ukraina dalam beberapa tahun terakhir.

Avangard menyatakan bahwa saat ini mereka tidak memiliki rencana pembangunan modal karena keterbatasan pendanaan, sementara modernisasi aset tetap hanya akan dilakukan jika dana tersedia. Perusahaan menyebutkan bahwa mereka tidak menggunakan pinjaman bank dan arus kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional mencukupi untuk memenuhi kewajiban tepat waktu.

Selain itu, Avangard memaparkan beberapa tantangan utama yang memengaruhi bisnisnya, termasuk ketimpangan paritas harga pertanian, lemahnya daya beli konsumen, rendahnya harga jual telur, serta tingginya biaya produksi akibat mahalnya bahan baku, perlengkapan, dan jasa.

"Terjadi perlambatan tajam dalam pembaruan peralatan peternakan unggas. Berbagai masalah di sektor keuangan, perbankan, perpajakan, dan politik menghambat perusahaan untuk merencanakan kegiatan jangka panjang," ujar perusahaan tersebut.

Meningkatnya biaya logistik dan tenaga kerja membuat produksi telur di Ukraina menjadi semakin mahal, menurut Yulia Flerova, CEO produsen telur Yasensvit, dalam sebuah wawancara dengan majalah lokal Nashe Ptakhivnytstvo. Flerova menjelaskan bahwa struktur biaya produksi telur telah menjadi semakin kompleks; kini, biaya produksi tidak hanya dipengaruhi oleh harga pakan dan energi, tetapi juga oleh faktor logistik, investasi biosekuriti, dan ketersediaan tenaga kerja terampil.

Pentingnya logistik domestik maupun ekspor telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan upaya para produsen beradaptasi terhadap rute transportasi baru dan biaya pengangkutan yang lebih tinggi.

Pernyataan Flerova ini muncul di tengah gangguan parah terhadap ekspor pertanian Ukraina melalui Laut Hitam akibat eskalasi terbaru konflik dengan Rusia; serangan yang semakin intensif terhadap kapal niaga dan infrastruktur pelabuhan dalam beberapa minggu terakhir turut menambah beban biaya logistik serta ketidakpastian bagi para eksportir.

IKAT TUNTAS, LINDUNGI HEPAR: SOLUSI GANDA TOXCARE UNTUK TANTANGAN MULTI-MIKOTOKSIN

Kontaminasi mikotoksin pada bahan baku pakan tetap menjadi tantangan utama industri peternakan di iklim tropis seperti Indonesia. Kelembapan tinggi dan rantai pasok bahan baku yang panjang membuat pakan rentan terkontaminasi lebih dari satu jenis mikotoksin sekaligus, mulai dari aflatoksin B1, okratoksin, fumonisin B1, zearalenon, hingga T-2 toksin.



MERIAHKAN HUT KE-27 PT TEKAD MANDIRI CITRA, LAKUKAN AKSI AMAL DAN SIAPKAN LANGKAH MENUJU PASAR GLOBAL

Menapaki usia ke-27 tahun, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) membuktikan eksistensinya sebagai salah satu pilar utama penyedia obat hewan di Indonesia. Melalui kepemimpinan Direktur Utama TMC, drh. Gowinda Sibit, perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis semata, melainkan juga menekankan keseimbangan aspek rasional, emosional, dan spiritual.











PETERNAK UNGGAS INGGRIS DIDESAK UNTUK MEMANTAU SUHU DI KANDANG KETIKA GELOMBANG PANAS TERUS BERLANJUT

Persatuan Petani Nasional (NFU) mendesak semua peternak unggas Inggris untuk memantau kondisi lingkungan di kandang unggas dan selama persiapan transportasi sebagai bagian dari prosedur manajemen rutin mereka, mengingat prakiraan cuaca panas saat ini.

Banyak wilayah di Inggris yang mengalami peningkatan suhu hingga di atas 30°C, sehingga Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengeluarkan peringatan kesehatan terkait cuaca panas di sebagian besar negara tersebut. Panduan khusus Pemerintah Inggris tersedia untuk diikuti oleh produsen selama cuaca panas, dan peraturan kesejahteraan unggas merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan sumber daya pemerintah ini.

Penasihat Senior Kedokteran Hewan NFU, Claire White, menekankan bahwa sangat penting bagi semua produsen unggas untuk memastikan sistem ventilasi mereka berfungsi dengan baik dan, jika dipasang, lubang pophole digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan aliran udara.

"Penggunaan sistem kabut jika memungkinkan dapat membantu mengurangi suhu di dalam kandang unggas, namun sistem ini harus dipantau untuk memastikan kelembapan tidak meningkat. Produsen harus mewaspadai tanda-tanda awal tekanan panas, yang meliputi kelesuan, pernapasan dengan mulut terbuka, dan menjauhkan sayap dari tubuh," katanya.

White mencatat bahwa, jika tidak dikelola, tekanan panas dapat dengan cepat berkembang menjadi kelemahan dan kematian. "Stres panas juga akan berdampak pada produktivitas melalui berkurangnya konsumsi pakan, yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan produksi telur. Produsen harus mewaspadai bau amonia yang meningkat dan memastikan meteran berfungsi dengan baik. Unggas yang terkena kadar amonia tinggi mungkin tampak mengantuk dan lesu."

AFGHANISTAN MENUJU SWASEMBADA DAGING UNGGAS DAN TELUR

Pihak berwenang Afghanistan berupaya mempercepat pengembangan industri unggas negara itu dengan mempercepat alokasi lahan pertanian kepada investor, karena para pejabat mengatakan sektor ini terus berkembang.

Perwakilan Kamar Pertanian dan Peternakan Afghanistan mengatakan transfer lahan yang lebih cepat kepada investor unggas dapat membantu negara itu mencapai swasembada produksi daging ayam dalam waktu dekat.

Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media lokal, para pejabat dari Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan mengatakan industri unggas telah mengalami pertumbuhan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh investasi swasta yang signifikan.

Menurut kementerian, kapasitas produksi domestik telah meningkat secara substansial di seluruh daging ayam, telur konsumsi, pakan unggas, dan anak ayam umur sehari, dengan pertumbuhan lebih lanjut sedang berlangsung. Pengembangan sektor yang berkelanjutan dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Sedikit informasi yang dapat diandalkan telah dipublikasikan tentang keadaan industri unggas Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa. Sekitar 14.000 peternakan unggas saat ini beroperasi di seluruh Afghanistan, menyediakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 100.000 orang dan lapangan kerja tidak langsung bagi 300.000 orang lainnya. Otoritas Afghanistan mengatakan negara itu mendekati swasembada daging unggas dan pakan unggas, meskipun mereka belum mengungkapkan angka-angka rinci.

Menurut Universitas Ilmu dan Teknologi Pertanian Nasional Afghanistan, negara itu memproduksi sekitar 219.000 ton daging unggas per tahun, sementara permintaan tahunan diperkirakan sekitar 295.000 ton. Ketersediaan daging unggas domestik saat ini hanya mencakup sekitar 46% dari asupan per kapita yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Para peneliti mengatakan perkembangan industri ini terus dibatasi oleh berbagai tantangan, termasuk praktik pertanian tradisional, infrastruktur yang tidak memadai, keahlian teknis yang terbatas, wabah penyakit, penggunaan agen antimikroba yang tidak terkontrol, dan input produksi berkualitas rendah.

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, para peneliti di universitas tersebut memperkirakan bahwa produksi unggas akan tumbuh rata-rata 13% per tahun selama beberapa tahun ke depan, melampaui 400.000 ton pada tahun 2030.

BBPMSOH GELAR WEBINAR KULTUR SEL, TEKNOLOGI STRATEGIS MENJAWAB TANTANGAN KESEHATAN HEWAN

Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH)

Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.

Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.

Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.

Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.

Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin

Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).

Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.

Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.

Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.

Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH.

Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan

Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.

“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.

Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.

“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)

KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?

Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana)

Sarapan bubur ayam terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sate hati ayam. Namun di balik rasanya yang nikmat, olahan organ ini menjadi pemicu penyakit yang membuat persendian sangat nyeri. Benarkah hati ayam mengandung purin kadar paling tinggi?

Setiap Minggu pagi, di kawasan perumahan elit Shila Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, selalu dipenuhi warga yang berolahraga. Di antara kerumunan orang-orang di kawasan tersebut, tampak seorang pria paruh baya yang juga mengenakan kaos, celana pendek, dan bersepatu olahraga. Hanya saja, dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan yang lebih muda.

Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.

Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.

Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.

Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.

Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.

Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.

Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.

Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.

Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.

Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.

Tetap Bernutrisi 
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.

Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.

Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.

Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.

Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.

“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.

Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.

Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.

“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.

Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.

“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.

Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.

Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.

Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer