-->

Featured Posts

PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Kadis Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, didampingi stafnya memberikan penjelasan kepada Infovet, Drh Heru Rachmadi tentang pengembangan peternakan sapi perah. (Foto: Infovet/Heru)

Terbentuknya Kabupaten Bandung Barat sebagai daerah otonom pada 2007, subsektor sapi perah menjadi unggulan strategis. Lembang berkembang sebagai sentra persusuan utama Jawa Barat. Kolaborasi KPSBU, industri pengolahan susu, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat terus diperkuat untuk meningkatkan produksi, kualitas susu, dan kesejateraan peternak.

Luas wilayah Kabupaten Bandung Barat adalah 1.305,77 km2 terdiri dari 16 kecamatan, terdapat dataran tinggi yang sangat cocok untuk sapi perah, 500-2400 MDPL dengan suhu rata-rata 18-22 °C ideal untuk produksi susu, curah hujan 2.000-3.000 mm/thn sangat mendukung untuk hijauan pakan.

Adapun kecamatan yang menjadi sentra peternakan sapi perah di antaranya Lembang 15.648 ekor, Cisarua 6.495 ekor, Ngamprah 706 ekor, dan daerah pengembangan kawasan sapi perah baru ada di Gunung Halu saat ini 84 ekor.

Pada Selasa (19/5/2026), Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, mengungkapkan kepada Infovet bahwa program dan dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sangat tinggi, antara lain program inseminasi buatan massal untuk meningkatkan mutu genetik ternak, target 19.000 ekor/tahun, juga melakukan uji zuriat untuk metode deteksi genetik guna mengetahui kualitas calon pejantan, pengembangan hijauan pakan ternak berupa pembibitan, dan distribusi benih hijauan pakan.

Ternak unggul odot, rumput gajah, leguminosa, tidak lupa memberikan bantuan bibit dan sapi perah betina produktif dari UPTD Pembibitan Ternak kepada kelompok ternak, juga yang tidak kalah penting adalah kesehatan ternak berupa layanan kesehatan hewan gratis, vaksinasi PMK dan brucellosis, serta pemeriksaan kebuntingan juga penguatan kelembagaan berupa pembinaan koperasi susu, pelatihan di kandang (on farm training).

Populasi ternak sapi perah saat ini sebanyak 26.603 ekor, 5.339 rumah tangga peternak, produksi susu pada 2025 sebanyak 66.232 ton, 15 liter produktivitas/ekor/hari. Sebanyak 27% kontribusi terhadap Jawa Barat dan 7% kontribusi terhadap nasional, harga susu peternak Rp 7.300-8/000/liter, dengan potensi pengembangan produksi susu segar, yogurt, hingga keju lokal.

Dengan dukungan pemerintah ke Kabupaten Bandung Barat yang sangat besar ini kepala dinas mengupayakan adanya peningkatan populasi dari tahun ke tahun dan juga kesejahteraan peternak sapi perah serta pemenuhan gizi masyarakat dari produksi susu serta olahannya.

Dukungan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, yang menetapkan Kecamatan Lembang sebagai wilayah budi daya dan pengembangan Sumber Daya Genetika Sapi Perah Holstein Indonesia memberikan peluang keberlanjutan Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU) Lembang, industri pengolahan susu, serta dinas perikanan dan peternakan dalam menyejahtrakan peternak. (HR)

PUBLIC EXPOSE TAHUN BUKU 2025 PT MALINDO FEEDMILL TBK

Foto: Malindo

PT Malindo Feedmill Tbk (“Perseroan”) adalah suatu perusahaan terbatas yang didirikan dengan nama "PT Gymtech Feedmill Indonesia" pada tahun 1997. Perseroan bergerak dalam bidang produksi dan penjualan pakan ternak, pembibitan dan distribusi anak ayam usia sehari ras pedaging, pembibitan dan penjualan anak ayam usia sehari ras parent stock serta peternakan ayam ras pedaging. Perseroan mulai mengembangkan bisnis downstream pada tahun 2013.

Bisnis baru yang merupakan sinergi dari bisnis yang telah ada akan membuat Perseroan menjadi Perusahaan Terintegrasi. Perusahaan kembali menambah bisnis baru yaitu bisnis restoran cepat saji dengan nama Sunny Chick pada tahun 2021 dan rumah potong hewan unggas pada tahun 2022. Beberapa tahun terakhir Perusahaan juga melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Oman, Uni Emirat Arab dan Qatar.

Kinerja Keuangan Perseroan Di Tahun 2025 dan Kuartal I 2026

Berikut adalah kinerja keuangan Perseroan di tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024. berdasarkan Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan :

Kinerja operasional Perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan pada tahun 2025. Ditinjau dari sisi penjualan, Malindo berhasil mencapai nilai penjualan bersih tahun 2025 sebesar Rp12,69 triliun, yaitu meningkat 1,52% atau Rp190,04 miliar dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,50 triliun. Peningkatan penjualan ini terutama didorong oleh adanya peningkatan pada penjualan ayam pedaging sebesar Rp432,53miliar atau 18,75%, peningkatan penjualan makanan olahan sebesar Rp16,64 miliar atau 12,94%, dan peningkatan penjualan lain-lain sebesar Rp31,39 miliar atau 6,12%. Peningkatan penjualan bersih tahun 2025 sebesar 1,52% dari tahun 2024.

Sementara itu dari sisi kinerja keuangan pada tahun ini juga menunjukkan kinerja yang positif dan solid. Laba bruto Malindo tercatat sebesar Rp1,29 triliun pada tahun 2025. Perolehan laba tahun berjalan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp393,59 miliar, dan laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp395,08miliar.

Selain itu, kinerja keuangan Malindo diperkuat oleh posisi keuangan dengan jumlah aset sebesar Rp5,70 triliun, jumlah liabilitas sebesar Rp2,31 triliun, dana syirkah temporer sebesar Rp518,09 miliar, dan jumlah ekuitas sebesar Rp2,88 triliun.

Penjualan bersih Perseroan sebesar Rp3,69 triliun pada kuartal I 2026 naik sebesar Rp526,86 miliar atau naik sebesar 16,61%. Penjualan Pakan ternak naik sebesar 10,92% atau sebesar Rp206,91 miliar, peningkatan penjualan anak ayam/ itik usia sehari sebesar naik 69,20% atau sebesar Rp330,63 miliar dari Rp 477,77 miliar menjadi Rp808,39 miliar di periode Maret 2026. Penjualan ayam pedaging turun sebesar Rp15,91 miliar atau turun sebesar 2,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan Makanan olahan naik 16,81% atau naik sebesar Rp5,83 miliar, penjualan lain lain turun 0,48% atau sebesar Rp604 juta.

Laba kotor Perseroan pada kuartal I 2025 naik sebesar Rp74,76 miliar atau naik 22,79% dari Rp327,97 miliar menjadi Rp402,73 miliar di Maret 2026.

Peningkatan laba kotor di atas ikut mendorong Laba bersih Perseroan meningkat dari Rp62,88 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp123,28 miliar pada akhir Maret 2026 atau naik sebesar Rp60,40 miliar.Faktor utama kenaikan ini adalah harga DOC dan Broiler yang cenderung stabil.

Kendala-kendala yang dihadapi dan Strategi Perseroan

Kendala:

  • Fluktuasi harga live bird dan DOC akibat dinamika supply-demand;
  • Volatilitas harga bahan baku utama dan kurs valuta asing;
  • Tekanan efisiensi di tengah persaingan industri yang ketat.

Strategi PT. Malindo di tahun di 2026:

  • Memperkuat efisiensi operasional dan cost management;
  • Melanjutkan pembangunan solar panel untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendukung keberlanjutan operasional;
  • Mengoptimalkan utilisasi bahan baku dan formulasi pakan;
  • Memanfaatkan potensi pertumbuhan demand domestik dan ekspor;
  • Melanjutkan digitalisasi dan peningkatan produktivitas operasional.

Kegiatan Perseroan di Tahun 2026

Pada tanggal 25 Mei 2026, Perseroan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (“RUPST”). (Rilis)

BIMBINGAN TEKNIS INSEMINATOR BIB LEMBANG

Pose bersama peserta bimbingan teknis inseminator BIB Lembang dengan pemateri Heru Rachmadi. (Foto: Infovet/Heru)

Bertempat di Balai Inseminasi Buatan Lembang, telah dilaksanakan Pelahtian Calon Inseminator Angkatan II mulai 4-25 Mei 2026, yang diikuti 23 orang peserta yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Tengah.

Pada 16 Mei 2026, Drh Heru Rachmadi, yang juga wartawan Infovet, memberikan pembekalan dan motivasi yang diharapkan peserta akan sukses dan berhasil menjadi petugas inseminator di daerah asalnya masing-masing.

Heru yang berpengalaman selama 30 tahun bekerja bersama inseminator di pedesaan Lombok mengingatkan adanya tantangan lapangan dan harapan membekali peserta agar memberikan pelayanan yang prima dan respons cepat. Peserta juga ditegaskan perlu memahami karakter birahi atau estrus pada ternak sapi, termasuk jenis sapinya, karena memiliki karakter birahinya yang berbeda-beda.

“Karena kalau tidak memahami karakter ini akan terjadi kawin berulang berkali-kali dan ini sangat merugikan. Inseminator mesti paham, dan sosialisasikan ke peternak sesuai dengan tahapan masa birahi sapi dari pre estrus-estrus-met estrus-diestrus,” ujarnya.

Ia juga berharap peserta ini nantinya akan berperan dalam peningkatan populasi ternak di daerahnya masing-masing. “Kalian agen perubahan dalam mensejahterakan masyarakat peternak dari ternak sapi yang bunting, juga bagi kesejahteraan petugas inseminator itu sendiri,” harapnya.

Pada kesempatan itu, Heru juga membekali peserta dengan bimbingan teknis pemeriksaan kebuntingan, asisten teknik reproduksi, juga bimbingan teknis transfer embrio serta bisa menjadi asisten dokter hewan dalam penanganan bedah sesar seperti yang telah dilakukan olehnya sejak 1994.

“Semoga setelah mereka kembali ke daerah masing-masing dapat sukses dan bermanfaat buat masyarakat peternaknya,” tukasnya. (HR)

AFRIKA BARAT MENGHADAPI RISIKO FLU BURUNG YANG KEMBALI MENINGKAT

Setelah beberapa tahun tanpa kasus yang dilaporkan, Pantai Gading telah mengkonfirmasi wabah baru flu burung patogenik tinggi (HPAI), menandai kemunculan kembali penyakit tersebut secara signifikan di negara itu. Wabah besar terakhir tercatat sekitar tahun 2015-2016.

Pada bulan April, pihak berwenang melaporkan wabah HPAI H5N1 di daerah Koun-Fao dekat perbatasan Ghana. Kejadian tersebut, yang dilaporkan kepada Organisasi Kesehatan Hewan Dunia, terjadi di sebuah peternakan unggas komersial dan mengakibatkan hilangnya sekitar 95.000 ekor unggas. Mengingat kedekatannya dengan perbatasan internasional, insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penyebaran lintas batas dan memperkuat perlunya pengawasan dan tindakan respons yang terkoordinasi.

Wabah ini menggarisbawahi risiko regional yang lebih luas yang terkait dengan pergerakan unggas, jaringan perdagangan informal, dan interaksi antara kawanan domestik dan burung liar di sepanjang jalur migrasi. Penguatan biosekuriti tingkat peternakan dan sistem deteksi dini tetap penting untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.

Sementara itu Nigeria terus menghadapi tantangan flu burung yang terus-menerus, setelah mengalami wabah berulang sejak pertama kali H5N1 diperkenalkan pada tahun 2006. Sektor unggas negara ini ditandai dengan perpaduan operasi komersial dan sistem pasar unggas hidup yang luas, yang berkontribusi pada sirkulasi virus yang berkelanjutan.

Beberapa subtipe avian influenza telah terdeteksi dari waktu ke waktu. Strain yang sangat patogen seperti H5N1 dan H5N8 telah menjadi pendorong utama wabah dalam beberapa tahun terakhir, sementara H5N6 juga telah dilaporkan. Selain itu, patogen rendah (LPAI) H9N2 hadir di pasar unggas dan unggas hidup, menambah kompleksitas upaya pengawasan dan pengendalian.

Ko-sirkulasi beberapa strain ini meningkatkan risiko evolusi virus dan mempersulit pengelolaan penyakit. Hal ini juga menyoroti pentingnya pengawasan berkelanjutan, peningkatan kebersihan pasar, dan strategi regional yang terkoordinasi untuk mengurangi penularan. Beberapa laporan juga menyoroti perlunya pendekatan yang lebih disesuaikan.

SERATUS TAHUN ND, 55 TAHUN FKH UNAIR: DARI ANCAMAN VIRUS HINGGA VISI KAMPUS

Pembicara pada Seminar Perunggasan yang digelar SAGAVET UNAIR. Dari kiri: Prof Suwarno, Henri E. Prasetyo, dan Bilqis. (Foto: Istimewa)

SAGAVET UNAIR menggelar Seminar Perunggasan dan Hewan Kecil sekaligus launching buku “55 Tahun FKH UNAIR” di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/5/2026). Acara yang dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan industri, akademisi, praktisi, mahasiswa, dan alumni ini dibuka oleh Ketua SAGAVET periode 2025-2030, Drh Syailin bersama Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Lilik Maslachah.

Pada sesi perunggasan, Prof Dr Suwarno membahas Newcastle disease (ND) atau tetelo yang telah menjadi ancaman industri unggas selama 100 tahun sejak pertama kali ditemukan di Batavia pada 1926. Virus ND kini mengalami banyak mutasi dan mampu menginfeksi lebih dari 250 spesies unggas.

Salah satu strain paling berbahaya adalah genotipe VII (GVII) yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kerugian ekonomi besar. Menariknya, strain lentogenik ND juga memiliki potensi sebagai virus onkolitik yang dapat menghancurkan sel kanker manusia.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Henri E. Prasetyo memaparkan pentingnya precision nutrition dalam menghasilkan produk unggas berkualitas, sehat, aman, dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan tren konsumen global mendorong industry perunggasan melakukan transformasi strategi nutrisi berbasis functional food dan animal welfare.

Pada sesi hewan kecil, Prof Wiwik Misaco dan Dr Lina Susanti membahas tantangan diagnosis penyakit saraf dan mata pada hewan piaraan.

Selain pemaparan seminar, acara juga ditandai dengan peluncuran buku “55 Tahun FKH UNAIR” oleh Dr Rizky F. Meriawan yang menggambarkan perjalanan FKH UNAIR menuju institusi Teaching Industry berbasis One Health, SDGs, dan inovasi riset global. (Henri E. Prasetyo)

ADM SWINE FORUM 2026: DUKUNGAN ADM UNTUK INDUSTRI BABI INDONESIA

ADM Swine Forum 2026 diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026 di Bali. (Foto-foto: ADM)

Berlangsung pada 21 April di Hyatt Regency Sanur Bali, ADM Swine Forum 2026 mempertemukan para pemimpin industri, ahli nutrisi, dan produsen untuk membahas tantangan serta peluang yang terus berkembang dalam sektor babi global. Forum yang diselenggarakan oleh ADM Animal Nutrition ini menjadi platform strategis untuk bertukar wawasan, berbagi inovasi, dan mendorong solusi praktis guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.

Acara ini dimoderatori oleh Prof Budi Tangendjaja, yang memastikan diskusi berjalan dinamis serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka forum, Wully Wahyuni, Country General Manager/Director ADM Animal Nutrition Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kompleksitas industri yang semakin meningkat. Ia menyoroti bahwa sektor babi saat ini tidak hanya membutuhkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga solusi terintegrasi berbasis sains yang didukung oleh kemitraan yang kuat.

Menurut Wully, forum ini tidak hanya dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun dialog dan mendorong kolaborasi di seluruh rantai nilai. Ia menegaskan kembali komitmen ADM untuk menghadirkan solusi praktis yang siap diterapkan di lapangan, sesuai dengan kondisi pasar, sekaligus terus mendorong inovasi dan keberlanjutan. Industri babi di Indonesia, menurutnya, memiliki potensi pertumbuhan yang besar jika para pelaku bersedia beradaptasi dan berinvestasi pada sistem serta teknologi yang lebih baik.

“ADM Swine Forum ini salah satu bentuk komitmen kontribusi ADM terhadap industri peternakan. Setiap tahun kami merencanakan ada event seperti ini dimana kami mengundang industry stakeholder baik itu dari akademisi, praktisi, dan dari customer kami juga,” terang Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni. “Para expert dari ADM juga dihadirkan supaya kita bisa exchange karena pastinya selalu ada teknologi dan inovasi baru. Saya berharap informasi-informasi itu juga bisa diadopsi di Indonesia.”

Menavigasi Industri Global dengan Biaya Tinggi dan Ekspektasi Tinggi

Fabio Catunda, Global Swine Director ADM, membuka sesi presentasi dengan gambaran menyeluruh tentang dinamika industri global. Ia menekankan bahwa daya saing kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, di tengah kenaikan biaya, keterbatasan sumber daya, serta perubahan preferensi konsumen.

“Keberhasilan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi dan tanggung jawab dalam proses produksi. Pemahaman terhadap struktur biaya mulai dari pakan, tenaga kerja, hingga investasi modal menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas,” terang Fabio.

Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah pentingnya benchmarking. Meskipun rata-rata global terus meningkat, produsen dengan performa terbaik secara konsisten berada di atas rata-rata. Kesenjangan performa ini menjadi peluang besar bagi mereka yang mau mengadopsi praktik manajemen yang lebih baik serta teknologi modern.

Teknologi kini mengubah sistem produksi babi secara signifikan. Fabio menyoroti pergeseran dari manajemen peternakan yang reaktif menuju pendekatan prediktif berbasis teknologi precision livestock. Perangkat seperti sistem monitoring real-time menggunakan kamera dan sensor memungkinkan peternak memantau perilaku ternak, mendeteksi gejala penyakit lebih dini, dan merespons dengan lebih efektif.

Ia juga memperkenalkan konsep produksi energi di dalam peternakan babi. Dengan mengolah kotoran menjadi biomethane dan biocarbon, peternakan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Integrasi antara produksi protein dan energi ini berpotensi menjadi kunci masa depan industri.

Menyeimbangkan Pengurangan Antibiotik dan Permintaan Pasar

Peralihan menuju produksi bebas antibiotik menjadi topik penting lainnya. Fabio menjelaskan bahwa permintaan konsumen, terutama generasi muda, semakin mengarah pada produk daging yang alami dan bebas antibiotik.

Di beberapa pasar, daging babi bebas antibiotik memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, ia juga mengakui bahwa transisi ke sistem ini memiliki tantangan, seperti peningkatan risiko kematian dan kompleksitas manajemen.

Alih-alih menghilangkan antibiotik sepenuhnya, Fabio menyarankan pendekatan yang seimbang. Pengurangan penggunaan antibiotik yang dikombinasikan dengan solusi alternatif, seperti menjaga kesehatan usus, nutrisi yang lebih baik, dan manajemen peternakan yang optimal dapat menjaga performa sekaligus kesejahteraan hewan. Sistem traceability juga berperan penting dalam menangkap nilai tambah tersebut.

Nutrisi Sebagai Penggerak Efisiensi dan Profitabilitas

Dr Pedro Urriola, pakar nutrisi babi, memberikan wawasan mendalam mengenai strategi kecernaan energi dan protein. Ia menekankan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi, sehingga efisiensi nutrisi menjadi kunci profitabilitas.

Salah satu rekomendasi utamanya adalah penggunaan sistem net energy, yang memberikan gambaran lebih akurat tentang bagaimana hewan memanfaatkan pakan, terutama di kondisi tropis di mana heat stress memengaruhi metabolisme.

Ia juga menyoroti bahwa efisiensi harus dilihat dalam konteks ekonomi yang lebih luas. Pakan yang meningkatkan feed conversion belum tentu menghasilkan keuntungan lebih tinggi jika biayanya meningkat secara tidak proporsional. Oleh karena itu, strategi nutrisi harus disesuaikan dengan tujuan produksi yang spesifik.

Pada sisi protein, Dr Pedro menekankan pentingnya keseimbangan dan kecernaan asam amino. Ia mengatakan, ”Pendekatan yang beralih dari crude protein ke formulasi asam amino yang presisi memungkinkan performa yang lebih baik sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Konsep seperti standardized ileal digestibility dan adaptive protein nutrition turut meningkatkan kemampuan penyesuaian pakan terhadap kondisi yang berbeda.”

Peran Zinc yang Presisi pada Babi

Pedro juga menyoroti peran strategis zinc dalam meningkatkan produktivitas induk dan performa anak babi. Ia menjelaskan bahwa zinc bukan sekadar trace mineral, tetapi komponen fungsional yang mendukung integritas usus, respons imun, dan ketahanan fisiologis secara menyeluruh, terutama pada fase kritis seperti masa bunting dan awal perkembangan.

Menurutnya, aplikasi zinc yang tepat pada induk bunting dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan janin, sehingga menghasilkan anak babi yang lebih kuat dan seragam saat lahir. Hal ini berkontribusi pada tingkat kelangsungan hidup dan performa pertumbuhan yang lebih baik pada fase awal produksi. Pada anak babi, zinc berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, khususnya pada periode pasca-sapih ketika hewan sangat rentan terhadap stres dan gangguan pencernaan.

Pedro menekankan bahwa strategi zinc modern tidak hanya berfokus pada peningkatan level penggunaan. Sebaliknya, pendekatannya harus pada optimalisasi bioavailabilitas dan pemilihan sumber zinc yang tepat untuk memaksimalkan efektivitas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. Dengan meningkatnya tekanan regulasi terhadap penggunaan mineral, presisi dalam nutrisi zinc menjadi semakin penting untuk memastikan performa dan keberlanjutan.

Mengelola Heat Stress dan Menjaga Konsumsi Pakan

Heat stress masih menjadi tantangan utama dalam produksi babi di daerah tropis. Ermin Magtagnob, Technical Manager Swine Asia ADM, menjelaskan bahwa suhu tinggi secara signifikan menurunkan konsumsi pakan pada induk menyusui, yang berdampak langsung pada produksi susu dan pertumbuhan anak babi.

Ia menekankan bahwa palatabilitas pakan saja tidak cukup untuk mengatasi dampak heat stress. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup optimasi nutrisi, perbaikan kondisi kandang, serta manajemen yang lebih baik.

Strategi seperti peningkatan densitas nutrisi, pengaturan waktu pemberian pakan, dan perbaikan sistem ventilasi dapat membantu mengurangi dampak heat stress serta menjaga performa ternak.

Momen pemberian cinderamata untuk para pembicara dan moderator, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl

Memperkuat Biosekuriti di Seluruh Rantai Nilai

Biosekuriti tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi ancaman penyakit seperti African Swine Fever (ASF). Baik Fabio maupun Ermin menekankan pentingnya penerapan protokol yang ketat di seluruh level produksi.

Biosekuriti yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari manajemen peternakan, operasional pabrik pakan, hingga kontrol rantai pasok. Risiko kontaminasi dapat terjadi di berbagai titik, sehingga konsistensi dan kewaspadaan sangat diperlukan.

Peningkatan biosekuriti tidak hanya penting untuk pencegahan penyakit, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan industri dalam jangka panjang.

Alternatif Pengganti Beta-Agonist

Dr Chung-Hyun Kim, Director of CD&D ADM Animal Nutrition APAC, membahas kebutuhan untuk beralih dari penggunaan beta-agonist. Meskipun senyawa ini sebelumnya digunakan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas, regulasi serta kekhawatiran konsumen semakin membatasi penggunaannya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan ke depan akan mengandalkan nutrisi presisi, feed additive fungsional, serta teknik formulasi yang lebih maju. Pendekatan ini memungkinkan produsen mencapai performa yang sebanding tanpa bergantung pada input yang kontroversial.

SINCRO: Nutrisi Presisi untuk Masa Depan

Salah satu sorotan utama forum adalah SINCRO, platform nutrisi presisi dari ADM. Dengan mengintegrasikan analisis near-infrared (NIR), monitoring mikotoksin, dan pemodelan lanjutan, SINCRO memungkinkan penyesuaian formulasi pakan secara real-time.

Sistem ini membantu nutritionist merespons variabilitas bahan baku serta perubahan kondisi peternakan, sehingga meningkatkan konsistensi dan efisiensi. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju pengambilan keputusan berbasis data dalam nutrisi hewan.

“SINCRO itu untuk semua spesies baik poultry, aqua, ruminansia, dan swine juga. Kami mempunyai strategi namanya 3S yaitu segmen, solution, dan service,” kata Wully. “Segmennya ternak apa, dan solusi apa yang bisa kami tawarkan? Kemudian service apa yang kami akan berikan? Karena produk saja tidak cukup. Produk bisa ditiru, namun service adalah hal yang berbeda.”

Mengubah Pengetahuan Menjadi Aksi

Menutup forum, Prof Budi menyampaikan refleksi yang jujur dan berdampak mengenai kondisi industri babi di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa industri ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina, terutama dalam hal produktivitas, di mana jumlah anak per induk sering kali masih di bawah 10 ekor. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh faktor genetika, kualitas pakan, dan praktik manajemen, serta fakta bahwa di banyak daerah, usaha peternakan babi masih dianggap sebagai bentuk tabungan, bukan bisnis komersial sepenuhnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menegaskan pentingnya forum seperti ADM Swine Forum 2026. Platform seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan industri terhadap pengetahuan global, teknologi baru, dan pendekatan inovatif.

Pada akhirnya, ADM Swine Forum 2026 menjadi cerminan kondisi saat ini sekaligus peta jalan menuju masa depan, menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan dalam industri babi akan bergantung pada efisiensi, inovasi, dan kolaborasi yang kuat. (Rilis)

MENAKAR KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK PETERNAKAN DI TENGAH DINAMIKA PROGRAM MBG

Webinar Nasional dalam rangka HUT ke-34 Infovet, menampilkan Victor Stefano dan Bagus Pekik, yang dipandu oleh Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan strategis pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi katalisator positif yang mampu mendongkrak kinerja emiten atau perusahaan publik di sektor peternakan/perunggasan nasional. Langkah intervensi ini dinilai efektif dalam menyerap hasil produksi daging ayam dan telur di tingkat domestik guna memperkuat kedaulatan protein bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” dalam rangka HUT ke-34 Infovet yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dipandu oleh Pemimpin Redaksi Infovet, Bambang Suharno.

Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh peternakan, antara lain Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi, Sugeng Wahyudi dan Setya Winarno (GOPAN), Indra Wahyudi (ADHMI), Baskoro Tri Caroko (konsultan perunggasan), Fadjar Sumping Tjaturrasa (Kementerian Pertanian), serta sejumlah tokoh perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga terkait dari beberapa daerah.

Pada kesempatan tersebut, CMO PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, didapuk sebagai narasumber yang memaparkan pandangan mendalam mengenai peran subsektor perunggasan nasional.

Menurutnya, sektor ini bukan sekadar lini bisnis biasa, melainkan pilar infrastruktur strategis untuk kedaulatan protein bangsa. Protein hewani berbanding lurus dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ayam dan telur adalah sumber protein yang paling cepat diproduksi, paling efisien, terjangkau, serta paling demokratis karena dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat,” ujar Bagus.

Kendati memiliki potensi besar, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan klasik dan struktural. Bagus menyoroti volatilitas harga bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Hal ini krusial mengingat komponen biaya pakan menyerap porsi terbesar, yakni berkisar antara 60-70% dari total biaya produksi perunggasan.

Ia mengurai masalah pada sistem perunggasan nasional meliputi, di antaranya ketidakstabilan biaya pakan (feed cost), rantai pasok (supply chain) hulu hingga hilir yang terfragmentasi dan belum terintegrasi secara utuh, lemahnya distribusi logistik antarwilayah yang memicu disparitas pasokan (surplus vs defisit), tingginya ketergantungan pasar pada penjualan ayam hidup (live bird), serta minimnya infrastruktur hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga siklus kelebihan pasokan (oversupply) dan kekurangan pasokan (undersupply) yang terus berulang.

Dampak Finansial Kuartal I 2026
Dari sudut pandang pasar modal, Equity Research Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, yang juga menjadi narasumber, mengonfirmasi adanya lompatan performa yang solid pada kuartal I 2026 (1Q26). Berdasarkan data finansial terbaru, para integrator perunggasan berhasil membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar berkat perbaikan dinamika supply-demand.

Emiten raksasa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sukses mencetak rekor laba bersih kuartalan tertinggi sebesar Rp 2,6 triliun pada 1Q26, melonjak 13% secara kuartalan (qoq) dan tumbuh signifikan 68% secara tahunan (yoy). Pendapatan kotor CPIN tercatat kokoh di angka Rp 33,3 triliun. Keberhasilan ini didukung oleh strategi pemanfaatan stok bahan baku pakan yang telah dibangun sejak kuartal keempat 2025 sehingga mampu meredam tekanan biaya produksi.

Langkah positif serupa juga diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada 1Q26, melesat 14% qoq dan meroket 167% yoy. Pendapatan kotor JPFA melonjak 22% yoy mencapai Rp 27,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan volume dan harga jual rata-rata (ASP) yang kuat di seluruh segmen.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mencatatkan pertumbuhan tahunan yang solid dengan laba bersih Rp 123 miliar (naik 96% yoy), meskipun mengalami normalisasi margin sebesar 4,0% secara kuartalan akibat mulai meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Menurut analisis ini, program MBG yang mulai berjalan penuh pada awal 2026 diproyeksikan mampu menyerap tambahan sekitar 13,5-20,3% dari total produksi ayam bulanan. Jika program ini diimplementasikan secara menyeluruh hingga mencapai target 82,9 juta penerima manfaat, tingkat penyerapan pasar berpotensi melonjak hingga 16,5-24,7%/bulan. (RBS)

PETERNAK RAKYAT MENJERIT: PERMINDO GELAR KONSOLIDASI AKBAR SIKAPI ANJLOKNYA HARGA AYAM

Foto bersama dalam kegiatan konsolidasi peternak unggas rakyat mandiri yang digelar Permindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar guna menyikapi krisis yang tengah melanda industri perunggasan rakyat. Pertemuan krusial yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Bogor ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), serta beberapa peternak mandiri dari berbagai daerah.

Kondisi riil di lapangan saat ini dinilai sudah berada pada tahap memprihatinkan. Para peternak rakyat terjepit di antara dua beban berat, yakni harga jual ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak anjlok drastis, sementara di sisi lain harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan justru terus merangkak naik tanpa kendali.

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar telah memicu praktik-praktik transaksi yang tidak sehat di lapangan. Regulasi harga seolah kehilangan taringnya dalam menghadapi realitas fluktuasi harian. Padahal sehari sebelumnya (Selasa, 19/5/2026), peternak rakyat bersama Kementerian Pertanian dan peternak skala besar telah duduk bersama agar harga jual LB di tingkat peternak bisa diangka Rp 19.500.

“Hari ini kami berkumpul bersama teman-teman peternak menyikapi kondisi harga live bird. Bahkan hingga sejam yang lalu (saat konsolidasi) situasi di lapangan masih menunjukkan adanya transaksi yang ‘kucing-kucingan’. Kondisi ini jelas tidak sejalan jika disandingkan dengan harga pakan dan DOC yang terus-menerus naik,” ungkap Herry.

Bahkan harga yang telah disepakati bersama pemerintah masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada diangka Rp 20.000-an ke atas, namun peternak tetap berupaya menjaga harga tersebut.

Kritik tajam juga dilayangkan terhadap efektivitas langkah-langkah darurat yang diambil oleh otoritas terkait. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menilai intervensi yang dilakukan pemerintah selama ini belum menyentuh akar permasalahan mendasar yang dihadapi peternak rakyat mandiri.

“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, tidak menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar di angka Rp 21.000, kemudian turun lagi ke Rp 20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi. Oleh karena itu, kita harus kompak bergerak bersama sebelum memasuki momen krusial seperti Idul Adha dan bulan Suro,” ujar Kusnan.

Sementara itu, menurut salah seorang peternak yang hadir, Toto, menyuarakan keluhannya terkait hasil rapat di Kementan. Baginya, angka tersebut memaksa peternak untuk menanggung kerugian.

“Naik ke Rp 19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp 21.800, masa kita dipaksa terus merugi? Tapi ya mau gimana. Kita sudah berusaha jangan sampai peternak rakyat mandiri jual di bawah HPP. Kita itu pebisnis, kita engga mau rugi, makannya kita suarakan kebenaran walaupun pahit. Makannya ayo kita kompak dan bersatu,” katanya.

Tiga Poin Resolusi Bersama Permindo
Guna menekan kerugian yang berkepanjang, Ketua Umum Permindo merumuskan tiga poin utama yang menjadi arah pergerakan ke depan.

Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat untuk sementara waktu mendukung dan mengawal ketat batas harga Rp 19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir, meskipun angka tersebut masih jauh dari ideal dan berada di bawah HPP peternak rakyat.

Kedua, penguatan daya tawar kolektif. Membangun soliditas dan persatuan nasional antarasosiasi peternak mandiri guna memperkuat posisi tawar agar mampu menangkap dan mengeksekusi program-program strategis dari pemerintah secara langsung.

Ketiga, mekanisme hilirisasi bersama. Menyusun tata cara dan menyambut mekanisme program hilirisasi produk perunggasan secara kolektif demi memperluas ketergantungan pada pasar segar (live bird market).

Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Supplier
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya merancang ulang pola kerja sama dan pengawasan populasi guna menciptakan satu harga acuan yang ditaati bersama.

Menurutnya, jika peternak tidak kompak dalam menangani situasi ini dengan serius, ke depan ekosistem peternak mandiri bisa pecah. Pemain di industri ini semakin banyak dan padat. Sehingga dibutuhkan keputusan yang tegas dari pemerintah yang diinisiasi oleh soliditas peternak.

Di sisi lain, Wayan, seorang peternak, memberikan usulan taktis mengenai perluasan serapan pasar. Ia meminta agar peternak tidak hanya terpaku pada lingkaran Kementan saja. Permindo didesak untuk melayangkan petisi agar program jaminan sosial protein, penanganan stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

Menutup konsolidasi, Setya Winarno, perwakilan dari GOPAN mengingatkan seluruh peserta untuk tetap optimis namun realistis dalam bergerak.

“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp 19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting untuk keberlangsungan usaha ke depan jangan terlalu loyal atau bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita memiliki alternatif efisiensi biaya,” katanya. (RBS)

TECHNICAL MEETING INDO LIVESTOCK 2026, SIAP HADIRKAN INOVASI DAN PROGRAM UNGGULAN

Technical Meeting Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Istimewa)

Menjelang pelaksanaan Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sukses menggelar Technical Meeting pada Selasa (12/5/2026) bersama para peserta pameran, mitra, venue, dan stakeholder terkait.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju pelaksanaan pameran yang akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang.

Sebagai pionir pameran internasional industri peternakan di Indonesia, Indo Livestock terus konsisten menghadirkan platform strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, profesional, hingga investor. Melalui ajang ini, para stakeholder dapat memperluas jejaring bisnis, berbagi wawasan, memperkenalkan inovasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

Acara dibuka dengan sambutan dari Project Director Napindo, Lisa Rusli, yang menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kehadiran para peserta. “Sejak pertama kali diadakan pada 2002, Indo Livestock terus berkomitmen mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud dukungan kepada industri pameran peternakan di Indonesia. Technical Meeting ini menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan seluruh rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum,” ujarnya.

“Kami optimis penyelenggaraan kali ini akan berjalan optimal serta menghadirkan peluang kolaborasi dan inovasi yang lebih besar bagi industri peternakan, poultry dan ruminansia, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.”

Sementara itu, Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, menegaskan bahwa kesiapan Napindo dalam menghadirkan penyelenggaraan pameran yang profesional dan berkualitas guna memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh peserta dan pengunjung.

Technical Meeting ini turut dihadiri perwakilan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian. Dukungan pemerintah, kolaborasi industri, dan program unggulan pada penyelenggaraan edisi ke-19 ini, Indo Livestock secara resmi dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH. Pameran lintas industri ini juga mendapat dukungan dari 33 kementerian, lembaga, dan asosiasi yang bergerak di berbagai sektor industri terkait.

Tahun ini, Indo Livestock 2026 Expo & Forum siap menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara dengan target 20.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Pengunjung tidak hanya dapat menjelajahi berbagai inovasi dan teknologi terbaru, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari para pakar industri mengenai isu dan tren terkini yang dapat mendukung pengembangan bisnis dan industri nasional.

Selain pameran dan forum, Indo Livestock 2026 juga akan diramaikan dengan sejumlah program unggulan, di antaranya Indo Livestock Grand Championship dan Youth Farmers Day, Program Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, dan Ikan) yang dikemas dalam format Bazaar UMKM, Fun Activities, dan Talkshow turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. (INF)

SEGERA HADIR WEBINAR NASIONAL 2026


Bagaimana kinerja emiten peternakan sepanjang 2025? Siapa yang tumbuh agresif, siapa yang tertekan?

Dapatkan insight strategis langsung dari analis pasar modal yang selama ini memantau sektor agribisnis dan peternakan Indonesia dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” yang akan diselengggarakan pada:

Kamis, 21 Mei 2026
14:00 – 16:00 WIB
Via Zoom Meeting

NARASUMBER
• Victor Stefano (Analis Emiten Agribisnis – Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas)

• A. Bagus Pekik H. (CMO Haida Indonesia)

MODERATOR
Bambang Suharno (Pemimpin Majalah Infovet, Agribiznetwork.com & GITA Consultant)

Webinar ini sangat direkomendasikan untuk:
• Direksi & Manager Perusahaan Peternakan
Feedmill & Animal Health Industri
• Investor & Pelaku Pasar Modal
Poultry Practitioner & Akademisi
• Distributor & Supplier Industri Peternakan
• Pelaku usaha yang ingin memahami arah industri 2026
• Akademisi dan Peneliti

BIAYA PENDAFTARAN
Dalam rangka HUT ke-34 INFOVET (GRATIS untuk 34 pendaftar pertama)
• Rp 200.000/orang - Gratis Buku IOHI (Indeks Obat Hewan Indonesia) Edisi 2024 atau 2025
• Rp 100.000/orang - Gratis Buku “Manajemen Unggas” karya Tony Unandar
Subsidi ongkir ditanggung panitia maksimal Rp 20.000

Transfer ke: Bank Mandiri 1260002074119 / BCA 7330301681 a/n PT Gallus Indonesia Utama
Bukti transfer: email ke gallus.marketingeo@gmail.com

PENDAFTARAN: Klik https://bit.ly/INF_26

Kuota terbatas. Prioritas untuk peserta yang registrasi lebih awal.

RAYAKAN 18 TAHUN JAPFA FOR KIDS, JAPFA BUKA KOMPETISI AKJJ 2026

Media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, Selasa (12/5). (Foto: NDV)

Merayakan 18 tahun perjalanan program Corporate Social Responsibility (CSR) JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyeleranggakan media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. 

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

”Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tutur Rachmat saat pembukaan AKJJ yang digelar di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/5). 

Melalui penyelenggaraan AKJJ yang ketiga kalinya, JAPFA ingin lebih memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.  

AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA juga turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.

Pada kesempatan yang sama Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA mengemukakan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. 

“Tahun 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 diantaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program,” ungkap Artsanti. 

Lebih lanjut Artsanti mengatakan, setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5% dari total anak. 

Pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Selanjutnya dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.  

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH di acara yang sama menuturkan edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. (NDV)

MUNAS III AMI TETAPKAN SAULAND SINAGA LANJUT PIMPIN AMI PERIODE 2026-2031

Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus)

Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secara aklamasi menetapkan Dr Ir Sauland Sinaga MS untuk kembali memimpin AMI periode 2026-2031. Munas berlangsung di NICE (Nusantara International Convention Exhibition), kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pelaksanaan Munas dilakukan usai Seminar Nasional Peternakan Babi yang digelar di lokasi yang sama. Acara berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri berbagai tokoh peternakan nasional serta anggota AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pendiri AMI sekaligus Ketua Umum AMI periode 2002-2016 Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, serta Bambang Suharno yang juga ikut mendirikan organisasi tersebut. Hadir pula Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015 Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, bersama anggota, dan pelaku usaha peternakan babi dari Bali, Jawa, Sulawesi Utara, NTT, Sumatra Utara, dan berbagai daerah lainnya.

Sauland Sinaga (tengah) bersama pendiri AMI Rachmawati Siswadi (kiri), dan Bambang Suharno usai penetapan Sauland melanjutkan kepemimpinan AMI 2026-2031.

Dalam Munas tersebut, Sauland menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan paparan berbagai kegiatan serta capaian AMI selama masa kepemimpinannya. Salah satu perhatian utama AMI adalah perjuangan dalam penanganan African Swine Fever (ASF) yang sempat berdampak besar terhadap industri peternakan babi nasional.

Selain itu, AMI juga aktif meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai seminar dan pelatihan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain USSEC, perusahaan obat hewan, Infovet, ASOHI, Pusvetma, dan berbagai pihak lainnya.

Sauland juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan AMI saat ini, organisasi berhasil mendorong pemerintah menghentikan impor daging babi karena produksi dalam negeri dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, kehadiran dan peran AMI kini semakin diperhitungkan, termasuk dalam berbagai forum diskusi dan penyusunan regulasi pemerintah terkait peternakan babi.

“AMI semakin sering dilibatkan dalam berbagai forum strategis pemerintah terkait peternakan babi dan kebijakan peternakan nasional,” ujar Sauland.

Dalam kesempatan itu, Sauland juga menyampaikan bahwa dirinya memperoleh penghargaan Fighting ASF in Asia, Honor Roll dari Asian Agribiz. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan anggota AMI. “Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk AMI,” ungkapnya.

Suasana Seminar Nasional dan Munas AMI di NICE PIK 2.

Sementara itu, Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, ikut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Sauland yang dinilai berhasil membawa organisasi terus berkembang dan semakin berkontribusi bagi dunia peternakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Rachmawati menyampaikan kronologis berdirinya AMI dan perkembangannya hingga sekarang. AMI berdiri pada 8 Mei 2002, di Kantor Infovet diprakarsai oleh Dr Rachmawati didukung oleh pengurus ASOHi saat itu antara lain Ketua Umum ASOHI A. Karim Mahanan, Sekjen ASOHI Drh Tjiptardjo SE, dan Bambang Suharno.

Menanggapi laporan Sauland, Rachmawati optimistis AMI akan terus maju dan semakin berperan dalam mendukung perkembangan industri peternakan babi Indonesia di masa mendatang. (BS)

INOVASI GENETIK HINGGA RANTAI PASOK PETERNAKAN DIKUPAS DALAM SEMINAR NASIONAL AMI

Para pembicara seminar. Dari kiri: Henrik Nielsen, Manmohan Singh, dan Prama Rangga Respati, yang dipandu oleh Agung Puji Haryanto. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) pada Sabtu (9/5/2026) di NICE PIK 2. Mengangkat tema “Inovasi Genetik, Digitalisasi, dan Ketahanan Rantai Pasok Peternakan Babi untuk Daya Saing Global,” acara ini digelar melalui kolaborasi antara AMI, Agrimat, dan Majalah Infovet.

Dalam sambutannya, Ketua AMI, Sauland Sinaga, menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi industri peternakan babi domestik, khususnya di sektor pemuliaan (breeding). Menurutnya, penguatan genetika lokal menjadi fondasi penting untuk meningkatkan performa produksi.

Selain faktor genetik, Sauland menekankan pentingnya digitalisasi peternakan untuk mempermudah pemetaan dan pemantauan permintaan pasar (demand) secara akurat. Ia juga menggarisbawahi urgensi penguatan rantai pasok dan rantai dingin.

“Di Jakarta, kebutuhan daging babi untuk sektor hotel, restoran, sebagian besar masih dipasok impor. Oleh karena itu, sistem rantai dingin ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk lokal,” ujar Sauland, seraya menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku pakan yang juga masih bergantung impor turut menjadi fokus utama yang harus segera dibenahi.

Secara ringkas, AMI memetakan empat isu krusial tersebut untuk memajukan industri babi nasional, yakni breeding untuk meningkatkan kualitas genetik ternak; digitalisasi peternakan sebagai alat pengambilan keputusan berbasis data yang akurat; sistem rantai dingin yang menjamin distribusi dan kualitas produk; serta pemberian nutrisi yang baik untuk efisiensi pakan dan kesehatan ternak.

Sambutan oleh Ketua AMI Sauland Sinaga, dan menampilkan salah satu narasumber yang hadir melalui daring Basilisa Reas.

Memasuki sesi seminar yang dipandu oleh Technical Consultant USSEC, Agung Puji Haryanto, menghadirkan pakar internasional di antaranya Henrik Nielsen, ahli genetika babi dari Denmark, yang memaparkan strategi peningkatan genetik untuk mencapai efisiensi produksi maksimal.

Kemudian dari sisi teknologi digital, Prama Rangga Respati dari Ausvet menjelaskan bagaimana smart farming membantu pemerintah dan peternak dalam melakukan surveilans kesehatan hewan secara real-time. Digitalisasi memungkinkan juga peternak mengelola risiko terkait iklim dan meningkatkan akurasi performa ternak.

Sementara itu, Manmohan Singh dari OctoFrost memaparkan peran teknologi canggih dalam pengolahan daging babi melalui sistem rantai dingin untuk memberikan nilai tambah pada produk industri.

Disusul pemaparan dari Technical Director for Animal Protein USSEC East-Asia, Basilisa Reas, yang memberikan perspektif menarik mengenai kaitan antara nutrisi dan biosekuriti. Ia menegaskan bahwa untuk mencapai performa yang baik, peternak harus menyeimbangkan tiga pilar, yakni genetik, nutrisi, dan biosekuriti.

Ia menjelaskan bahwa nutrisi yang tepat adalah langkah awal biosekuriti. Diet seimbang memperkuat imun, menjaga integritas usus sebagai penghalang infeksi alami, dan mengurangi tekanan penyakit dalam kelompok ternak. Dengan kecukupan nutrisi, terbukti mampu mengurangi ketergantungan peternak pada antibiotik yang sekaligus menjawab isu resistansi antimikroba global.

Suasana Seminar Nasional AMI di NICE PIK 2.

Rangkaian seminar tersebut juga menjadi momen spesial karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun AMI yang ke-24, yang berdiri sejak 8 Mei 2002. Dalam kesempatan tersebut, Sauland Sinaga menyampaikan apresiasinya kepada para pendiri, di antaranya Dr Rachmawati Siswandi dan Bambang Suharno, atas dedikasinya membangun asosiasi hingga saat ini.

Usai seminar yang ditutup dengan diskusi panel, kegiatan pun masih berlanjut dengan agenda internal Munas AMI untuk menentukan arah organisasi ke depan. (RBS)

MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

RUPS 2025: JAPFA PERKUAT FUNDAMENTAL, LABA DAN EKUITAS TUMBUH SIGNIFIKAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, didorong oleh strategi efisiensi, inovasi operasional, dan penguatan di seluruh lini bisnis. Hal ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang diselenggarakan pada 29 April 2026.

Sepanjang 2025, JAPFA membukukan penjualan neto sebesar Rp 60,72 triliun, meningkat dari Rp 55,80 triliun pada tahun sebelumnya. Laba usaha turut naik menjadi Rp 6,18 triliun dari Rp 5,06 triliun, sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4 triliun, tumbuh signifikan dari sekitar Rp 3,02 triliun pada 2024. Peningkatan kinerja ini juga tercermin pada laba per saham (EPS) yang naik dari Rp 260 menjadi Rp 344 per saham. Dari sisi neraca, total aset Perseroan meningkat menjadi Rp 40,06 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 20,02 triliun, mencerminkan fundamental keuangan yang semakin kuat.

Direktur JAPFA, Leo Handoko, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil konsistensi Perseroan dalam menjalankan strategi operasional yang adaptif di tengah dinamika industri.

“Pencapaian ini mencerminkan fokus kami pada efisiensi, inovasi, dan peningkatan kualitas di seluruh segmen usaha. Kami berkomitmen menghadirkan produk dan layanan terbaik sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja positif JAPFA didukung oleh kontribusi seluruh segmen usaha. Segmen pakan ternak memperkuat efisiensi melalui penerapan teknologi dan optimalisasi energi alternatif, serta strategi segmentasi produk untuk memperkuat daya saing. Segmen pembibitan unggas terus memperluas kapasitas melalui modernisasi fasilitas serta peningkatan penetrasi pasar domestik dan ekspor, sementara segmen peternakan komersial tetap menjadi kontributor utama dengan dukungan inovasi kandang closed house dan penguatan kemitraan peternak.

Di sisi hilir, segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen terus mendorong inovasi dan peningkatan kapasitas produksi. Sedangkan segmen budidaya perairan mencatat pertumbuhan melalui ekspansi pasar ekspor dan penguatan dukungan teknis kepada pelanggan.

“Keberhasilan JAPFA pada 2025 merupakan hasil kolaborasi seluruh tim dan mitra bisnis kami. Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi, memperluas pasar, serta memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Leo Handoko. (Rilis)

EKSPOR PRODUK SUSU TEMBUS VIETNAM, DAYA SAING PETERNAKAN NASIONAL KIAN MENGUAT

Seremoni pelepasan ekspor produk olahan susu ke Vietnam. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ekspor produk olahan susu ke Vietnam menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi peternak dan pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah industri peternakan nasional.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Wirata, mengatakan keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan peningkatan daya saing produk susu Indonesia.

“Momentum hari ini menjadi bukti nyata bahwa produk susu Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya pada Pelepasan Ekspor Produk Olahan Susu PT Cisarua Mountain Dairy di Bogor, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data penerbitan sertifikat veteriner, dalam kurun waktu 2023-2026, total ekspor produk nasional telah melampaui 11,9 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 15,3 juta. Dalam tiga tahun terakhir, peningkatan ekspor juga terjadi ke berbagai negara seperti Hong Kong, Filipina, dan Thailand, dengan Filipina menjadi pasar terbesar.

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang konsisten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk olahan susu yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia. “Hal ini mencerminkan komitmen kuat dalam memperluas akses pasar internasional,” sebutnya.

Menurut dia, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga pemenuhan standar internasional, terutama dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan hewan. Pemerintah memastikan sistem jaminan mutu berjalan melalui pengawasan veteriner, sertifikasi, serta harmonisasi standar dengan negara tujuan ekspor.

Sementara itu, Dairy Manufacturing Director PT Cisarua Mountain Dairy, Bayu Triprasetyo, mengungkapkan dukungan dari pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu sekaligus memperlancar proses ekspor, termasuk ke pasar Vietnam yang kian menjanjikan.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Kementerian Pertanian melalui pengawasan kesmavet, serta Kementerian Perdagangan yang telah mendorong kelancaran proses ekspor ke Vietnam. Sinergi ini semakin memperkuat komitmen kami untuk terus menghadirkan produk berkualitas serta berkontribusi lebih besar dalam peningkatan kinerja ekspor nasional,” ujar Bayu.

Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, pemerintah memastikan kegiatan ekspor tidak sekadar mendorong kinerja perdagangan nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi peternak dan pelaku usaha. (INF)

AUDIENSI ASOHI DENGAN MENTERI PPN

Foto bersama usai audiensi ASOHI bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Jakarta, Selasa (5/5/2026). Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) melakukan audiensi strategis dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof Rachmat Pambudy. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pelaku industri obat hewan dengan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan hewan nasional.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi ASOHI dipimpin langsung oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Ketua Umum Akhmad Harris Priyadi, Sekretaris Jenderal Rivo Ayudi Kurnia, Ketua Dewan Pakar Prof Budi Tangendjaja, Ketua Badan Pengawas ASOHI (BPA) Gowinda Sibit, bersama anggota Rakhmat Nuriyanto, serta Sekretaris BPA Bambang Suharno sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

Kepada Menteri PPN, ASOHI turut melaporkan gambaran usaha bisnis obat hewan hingga nilai ekspor yang mencapai triliunan rupiah dalam setahun. Harris juga memperkenalkan struktur kepengurusan baru hasil Munas, serta memaparkan kontribusi nyata asosiasi terhadap sektor peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Fokus utama yang disampaikan meliputi peningkatan volume ekspor dan upaya asosiasi dalam menjaga standar kualitas obat hewan di pasar domestik maupun internasional.

Diskusi juga berkembang pada isu-isu krusial seperti implementasi One Health. ASOHI juga menegaskan komitmennya terhadap penanganan antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba yang terus menjadi perhatian utama dalam industri kesehatan hewan global.

Selain itu, ASOHI juga meminta arahan dari menteri mengenai langkah strategis agar industri obat hewan dapat lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional di masa mendatang.

Suasana audiensi.

Adapun Menteri Prof Rachmat Pambudy didampingi oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Perencana Ahli Utama Anang Nugroho, Tim Ahli Suaedi Sunanto, serta jajaran pejabat lainnya.

Prof Rachmat pun menekankan beberapa poin penting bagi ASOHI, di antaranya terkait peningkatan daya saing. Menekankan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di industri peternakan Indonesia. Kemudian mendorong peningkatan performa ekspor obat hewan. Hingga kontribusi pembangunan dengan mengharapkan peran aktif asosiasi dalam mendukung kebijakan pangan nasional.

Pertemuan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi yang telah lama terjalin. Hubungan antara Prof Rachmat Pambudy dengan media industri peternakan, khususnya Infovet, sudah terbangun sejak lama melalui berbagai kolaborasi, antara lain penerbitan buku “70 Tahun Agribisnis Ayam Ras di Indonesia”, buku “40 Tahun ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia)”, serta keterlibatan beliau sebagai narasumber ahli bagi Infovet.

Pemred Infovet Bambang (paling kiri) saat memberikan Majalah Infovet dan Info Akuakultur kepada Menteri PPN Prof Rachmat Pambudy (tiga kanan).

Melalui audiensi ini, diharapkan tercipta keselarasan kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha demi kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer