-->

Featured Posts

INDO LIVESTOCK GRAND CHAMPIONSHIP DIPERKENALKAN, DORONG STANDAR KOMPETISI TERNAK NASIONAL

Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026. (Foto: Istimewa)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus memperkuat posisinya sebagai platform strategis dalam mendukung pertumbuhan dan transformasi industri peternakan nasional. Salah satu bentuk perwujudan tersebut tercermin melalui partisipasi Indo Livestock sebagai mitra dalam Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026, Sabtu (11/4/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Gebyar Ternak Padjadjaran”.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai program seperti kontes ternak, pameran, serta kegiatan edukatif bagi pelaku industri dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi ini, Indo Livestock berkontribusi memperkuat ekosistem peternakan, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong standar dan sistem kompetisi ternak di tingkat nasional, sejalan dengan format kontes yang telah berkembang di berbagai daerah.

Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, melihat adanya potensi besar dalam pengembangan standar kompetisi ternak yang lebih terstruktur dan terintegrasi di tingkat nasional.

“Kompetisi ternak di berbagai daerah menunjukkan antusiasme dan kualitas yang terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bahwa industri membutuhkan sebuah platform yang dapat mengakomodasi standar yang lebih terukur sekaligus mempertemukan para pelaku industri terbaik dalam satu panggung nasional,” ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, pada penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 nanti menghadirkan inovasi baru melalui peluncuran Indo Livestock Grand Championship sebagai salah satu highlight utama.

Mengusung konsep kompetisi ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, program ini dirancang sebagai pengembangan dari berbagai ajang serupa yang telah berkembang di berbagai daerah, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendorong penerapan standar kualitas terbaik di tingkat nasional.

Menariknya, Indo Livestock Grand Championship akan menjadi kompetisi peternakan indoor pertama di Indonesia yang diselenggarakan di dalam hall exhibition, menghadirkan pengalaman baru dalam penyelenggaraan kontes ternak. Ajang ini dirancang tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan atas perkembangan industri peternakan Indonesia, sekaligus membuka ruang apresiasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan antar pelaku industri.

Melalui inisiatif ini, Napindo berharap dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas, daya saing, serta kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. Lebih jauh, program ini juga dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kegiatan peternakan di tingkat daerah dengan forum industri berskala internasional.

Momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang akan hadir dengan skala lebih luas dan program yang semakin komprehensif. Pameran akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries. (INF)

INDUSTRI TELUR VIETNAM MENCAPAI TONGGAK SEJARAH BEBAS KANDANG

Global Food Partners dan Certified Humane telah mencapai tonggak penting bagi industri telur Vietnam dengan sertifikasi Koperasi Produksi Ternak Nguyen Gia sesuai standar Certified Humane, salah satu standar kesejahteraan hewan ternak terkemuka di dunia.

Sertifikasi ini merupakan hasil dari kemitraan multi-tahun yang diluncurkan antara GFP dan Koperasi pada tahun 2024 untuk mentransisikan seluruh kawanan ayamnya yang berjumlah 50.000 ekor ke sistem 100% bebas kandang, salah satu transisi terbesar ke sistem bebas kandang di Vietnam dan di seluruh Asia.

GFP memberikan dukungan teknis selama transisi, termasuk perbaikan kandang, implementasi praktik terbaik kesejahteraan hewan, dan persiapan peternakan untuk memenuhi standar Certified Humane.

“Kemitraan kami dan sertifikasi ini merupakan contoh kuat bagaimana produsen di Vietnam dapat berhasil bertransisi ke sistem bebas kandang, memperluas akses pasar, dan memenuhi permintaan yang terus meningkat dari bisnis makanan dan perhotelan,” kata Jayasimha Nuggehalli, kepala petugas program dan salah satu pendiri Global Food Partners. “Seiring perusahaan mempercepat kemajuan menuju komitmen dan pelaporan bebas kandang, memiliki pasokan yang andal dan diproduksi secara lokal menjadi lebih penting dari sebelumnya.”

Sertifikasi ini datang pada saat yang kritis, karena perusahaan makanan dan perhotelan di seluruh Vietnam dan Asia meningkatkan pengadaan bahan baku bebas kandang untuk memenuhi komitmen mereka.

BRASIL MELAKUKAN PENGIRIMAN DDG PERTAMA KE CHINA: MEMBUKA PASAR PAKAN BARU

Brasil telah menyelesaikan pengiriman DDG (Dried Distillers Grains) pertamanya ke China, menyusul protokol sanitasi baru antara kedua negara. Ini menandai perkembangan signifikan bagi ekspor produk sampingan etanol jagung dan pakan ternak Brasil. Dengan China yang berupaya mendiversifikasi pemasok di luar Amerika Serikat, Brasil siap untuk meningkatkan pangsa pasar.

Kargo tersebut berangkat dari Pelabuhan Imbituba, di negara bagian Santa Catarina, pada bulan Februari, menandai pembukaan pasar baru yang efektif untuk produk Brasil.

Operasi ini mengikuti formalisasi protokol sanitasi antara kedua negara, yang ditandatangani pada Mei 2025, yang menetapkan kondisi teknis untuk ekspor.

Berdasarkan perjanjian ini, Kementerian Pertanian dan Peternakan (Mapa), melalui Sekretariat Pertahanan Pertanian, memimpin proses persetujuan untuk fasilitas industri yang tertarik untuk mengekspor.

Secara total, 13 pabrik Brasil diizinkan untuk mengekspor setelah memenuhi persyaratan China terkait dengan ketelusuran, kontrol kualitas, dan praktik manufaktur yang baik.

Pengiriman perdana dilakukan oleh Inpasa, yang memperoleh persetujuan ekspor pertama pada Januari 2026.

Perusahaan tersebut mengirimkan 62.000 ton DDGS (Dried Distillers Grains with Solubles), suatu versi produk yang mengandung zat terlarut dan menawarkan nilai gizi tinggi untuk pakan ternak.

WABAH PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK) YANG BERLANJUT DI YUNANI

Perjuangan melawan penyakit mulut dan kuku (PMK) terus berlanjut di Yunani, dengan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) melaporkan 12 wabah tambahan di negara tersebut.

Minggu lalu, jumlah total wabah di Pelopi, Wilayah Aegean Utara di Yunani, mencapai 5. Hari ini, WOAH melaporkan 12 wabah tambahan. Wabah baru tersebut berlokasi di Pelopi, Lesvos, dan Napis.

Serotipe di Yunani dikonfirmasi sebagai SAT-1, dengan total jumlah wabah sebanyak 17, yang setara dengan 3.909 hewan rentan (domba/sapi dan kambing) dan total 282 kasus di negara tersebut hingga 30 Maret.

PERUSAHAAN SWEDIA RAIH PENDANAAN UNTUK ADITIF PENGURANG METANA GENERASI BERIKUTNYA

Volta Greentech telah mengamankan investasi baru sebesar 18 juta SEK (sekitar €1,7 juta), menandai langkah penting menuju peluncuran aditif pakan pengurang metana generasi berikutnya, Lome.

Putaran pendanaan ini, yang dipimpin oleh grup industri Swedia Axel Johnson, memperkuat posisi Volta Greentech saat bersiap untuk membawa solusi berbasis sainsnya ke pasar dan meningkatkan dampak iklimnya di seluruh sektor peternakan.

Didirikan pada tahun 2019, perusahaan bioteknologi Swedia ini kini telah mengumpulkan lebih dari 100 juta SEK (sekitar €9,5 juta) hingga saat ini. Investasi terbaru ini akan mendukung penelitian dan pengembangan berkelanjutan, serta persiapan regulasi untuk peluncuran yang direncanakan di Eropa. Lome, aditif pakan baru Volta Greentech, dirancang untuk secara signifikan mengurangi emisi metana dari ternak ruminansia, mengatasi salah satu masalah iklim yang paling gigih dan menantang di bidang peternakan.

Metana yang dihasilkan di rumen bukan hanya sumber utama emisi gas rumah kaca dari sapi dan domba, tetapi juga mewakili energi yang hilang bagi hewan tersebut. Solusi Volta Greentech mengatasi tantangan ini secara langsung. Aditif pakan ini secara lembut menghambat mikroba penghasil metana di rumen tanpa mengganggu proses pencernaan alami. Dengan mengurangi apa yang disebut perusahaan sebagai "kebocoran energi", aditif ini membantu meningkatkan efisiensi pakan dan bahkan dapat mendukung peningkatan produktivitas.

PERSIAPAN INDO LIVESTOCK 2026 MELALUI KOORDINASI BERSAMA KEMENTAN

Rapat koordinasi panitia persiapan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Dok. Napindo)

Persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus dimatangkan melalui rapat koordinasi panitia yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Rabu (8/4/2026).

Rapat mempertemukan Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sebagai tuan rumah dengan PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sebagai penyelenggara, sekaligus menjadi momentum penting dalam menyelaraskan strategi dan memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan.

Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin, selaku Ketua Pelaksana. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan sektor swasta dalam mendorong kemajuan industri peternakan nasional.

“Indo Livestock merupakan sarana promosi, diseminasi informasi, penguatan jejaring, serta pengembangan inovasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Kolaborasi antara Ditjen PKH dan Napindo ditujukan untuk memperkuat kerja sama, sinergi, dan komitmen dalam penyelenggaraan pameran ini,” ujarnya saat membuka rapat koordinasi panitia tersebut.

Ia menambahkan, sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperluas akses terhadap informasi dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan investasi dan kolaborasi bisnis di sektor peternakan dan kesehatan hewan secara berkelanjutan.

Melalui koordinasi ini, diharapkan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga platform strategis yang mampu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan asosiasi dalam menciptakan ekosistem peternakan yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing global.

Pelaksanaan Indo Livestock 2026 akan menitikberatkan pada penguatan hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta percepatan swasembada protein hewani di Indonesia. Pameran ini akan diselenggarakan pada 16-18 Juni 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum.

Sinergi lintas subsektor ini diharapkan mampu menghadirkan ekosistem industri yang berkesinambungan, sekaligus memperluas peluang kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai highlight utama, untuk pertama kalinya Indo Livestock 2026 akan menghadirkan Indo Livestock Grand Championship. Kompetisi ini difokuskan pada ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, sebagai upaya mendorong peningkatan mutu genetik dan standar kualitas di tingkat peternak nasional. Kehadirannya tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas ternak, tetapi juga sarana pertukaran pengalaman, ruang kolaborasi, serta penguatan jejaring antar pelaku industri.

Adapun program unggulan lainnya turut memperkaya rangkaian kegiatan, mulai dari Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame” yang menjadi wadah bagi generasi muda, startup, dan komunitas untuk mengeksplorasi inovasi di sektor peternakan. Selain itu, terdapat Zona Farmpreneurship yang akan menghadirkan berbagai model bisnis dan solusi peternakan modern bagi calon wirausaha dan investor. Seluruh rangkaian ini diperkuat dengan kegiatan business matchmaking, forum edukasi, serta presentasi teknis produk yang mendorong adopsi teknologi dan pengembangan industri peternakan.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat, Indo Livestock 2026 juga menginisiasi Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, Ikan) dengan tema “Gizi Seimbang Generasi Gemilang”. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi protein hewani dan pola makan sehat dengan target utama masyarakat luas, khususnya orang tua, tenaga pendidik, dan generasi muda.

Dengan skala yang semakin diperluas, penyelenggaraan ke-19 pameran internasional ini diproyeksikan menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara, termasuk 12 paviliun negara resmi. Ajang ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung profesional yang terdiri dari para pemimpin industri, inovator, pembuat kebijakan, distributor, akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan buyers internasional. Target tersebut mencerminkan besarnya potensi kolaborasi dan dampak yang ingin dicapai melalui Indo Livestock 2026 Expo & Forum.

Rangkaian koordinasi dan persiapan yang intensif antara Ditjen PKH Kementan dan Napindo ditujukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan Indo Livestock 2026. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri peternakan nasional serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. (INF)

RUSIA MEMUSNAHKAN TERNAK DI SIBERIA DALAM SKALA BESAR, MENYANGKAL RUMOR PMK

Selama beberapa minggu terakhir, otoritas veteriner Rusia telah menyita dan memusnahkan ternak di setidaknya 10 wilayah di Siberia, yang memberikan pukulan signifikan bagi sektor peternakan sapi perah di wilayah tersebut.

Para pejabat mengatakan tindakan tersebut bertujuan untuk menahan wabah pasteurellosis dan rabies. Namun, para peternak berpendapat bahwa skala dan urgensi kampanye tersebut tidak proporsional, menimbulkan kecurigaan bahwa pihak berwenang mungkin mencoba menyembunyikan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang lebih luas.

Menurut berbagai perkiraan, hingga 100.000 ekor sapi, ruminansia kecil, dan babi dapat dimusnahkan dalam kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam serangkaian video yang diposting di media sosial Rusia, para peternak mengklaim hewan-hewan disita dan dimusnahkan tanpa pengujian sebelumnya dan dengan tergesa-gesa yang tidak biasa.

Industri peternakan Rusia semakin khawatir tentang hal ini, dengan beberapa pelaku pasar menyarankan bahwa para pejabat mungkin, pada kenyataannya, menanggapi wabah PMK skala besar. “Pasteurellosis tidak terlalu berbahaya dan tidak memerlukan pembantaian besar-besaran, sedangkan PMK membawa risiko serius,” kata seorang sumber industri anonim kepada harian bisnis Kommersant.

Beberapa sumber anonim lainnya menggemakan kekhawatiran ini, mengatakan bahwa kemungkinan PMK menyebabkan kecemasan yang semakin meningkat di sektor ini. Namun, pihak berwenang secara konsisten membantah adanya hubungan dengan PMK.

Wabah penyakit ini dapat memberikan pukulan berat bagi potensi ekspor ternak Rusia. Kazakhstan telah menutup perbatasannya untuk produk ternak Rusia, dan para peternak khawatir bahwa China dapat mengikuti jejaknya, lapor Kommersant.

ASF KOREA SELATAN: 150.000 BABI DIMUSNAHKAN KARENA VIRUS DITEMUKAN DALAM PAKAN

Korea Selatan sedang melewati fase sulit dalam upaya mengendalikan Demam Babi Afrika (ASF). Dalam 3 bulan pertama tahun 2026, setidaknya 148.000 babi harus dimusnahkan di 24 peternakan. Selain itu, hampir 500 ton pakan dimusnahkan karena pihak berwenang memiliki alasan untuk percaya bahwa pakan tersebut terinfeksi virus.

Tingkat pemusnahan tersebut menjadi jelas dari data yang diberikan oleh Kementerian Pangan, Pertanian, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan (MAFRA). Sebagian besar wabah peternakan baru-baru ini terjadi di peternakan di timur laut negara itu, di mana virus tersebut juga terjadi pada babi hutan. Meskipun demikian, virus tersebut juga muncul di berbagai peternakan di provinsi lain. Di antara peternakan yang ditemukan terinfeksi ASF pada Januari dan awal Februari 2026, setidaknya 4 peternakan memiliki sekitar 20.000 babi di lokasi, yang menjelaskan tingkat pemusnahan yang relatif tinggi.

Hingga awal tahun 2026, virus ASF telah ditemukan di total 55 peternakan babi Korea Selatan, sejak virus tersebut pertama kali muncul pada tahun 2019. Tahun 2025 merupakan tahun yang relatif tenang dengan hanya 6 infeksi di peternakan.

Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), total Korea Selatan telah memusnahkan 255.202 babi hingga awal Februari 2026 karena ASF, sejak awal wabah pada tahun 2019. Karena data WOAH tidak termasuk data untuk sebagian besar bulan Februari atau Maret 2026, kemungkinan jumlah ini akan segera melewati angka 300.000.

Selain wabah di peternakan, virus ini juga telah ditemukan pada 1.022 babi hutan pada tahun 2026 hingga saat ini. Semua babi hutan ini ditemukan di wilayah timur laut semenanjung.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan tentang penghancuran lebih dari 490 ton pakan dalam upaya memerangi ASF. Investigasi epidemiologi oleh kementerian, pada 19 Februari, menemukan virus ASF di dalam bahan dan pakan yang menggunakan plasma babi, sumber protein yang dapat dicerna yang berasal dari darah babi. Pihak berwenang menduga darah dari babi yang terinfeksi tercampur dalam pakan tersebut. Karena itulah mereka memutuskan untuk membuang semua pakan yang diduga terinfeksi, dan menarik kembali pakan tersebut dari produsen.

CHINA MEMPERKETAT PENGAWASAN IMPOR TEPUNG PAKAN TERNAK KAZAKHSTAN

Keputusan China untuk memperketat peraturan impor tepung pakan ternak menimbulkan kekhawatiran di kalangan eksportir Kazakhstan, yang takut akan gangguan signifikan di sektor yang berkembang pesat ini.

Otoritas Kazakhstan melaporkan bahwa regulator veteriner China sekarang mewajibkan semua pemasok untuk menjalani pendaftaran ulang wajib sebelum mengekspor tepung pakan ternak ke China. Para pemimpin industri lokal memperingatkan bahwa proses persetujuan baru ini rumit dan memakan waktu, mengancam untuk menghentikan pertumbuhan ekspor.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya China yang lebih luas untuk meningkatkan keamanan dan ketertelusuran impor pakan ternak. Namun, eksportir mengatakan bahwa perubahan tersebut akan menciptakan hambatan langsung, dengan tambahan dokumen, inspeksi, dan penundaan.

Didorong hampir sepenuhnya oleh permintaan China, ekspor tepung pakan ternak Kazakhstan telah melonjak. Pada tahun pemasaran 2024/25 saja, pengiriman ke China melebihi 2,2 juta ton, hampir 3 kali lipat volume musim sebelumnya. Tepung berbahan dasar gandum mencakup sekitar 80% ekspor, dengan tepung jelai mencakup sisanya.

Pertumbuhan pesat ini telah memicu investasi besar dalam fasilitas penggilingan biji-bijian, memastikan posisi Kazakhstan sebagai pemasok utama bagi produsen pakan ternak di Tiongkok, terutama di wilayah timur laut.

Namun, peraturan pendaftaran baru telah berdampak pada industri ini. Eksportir sekarang harus menyusun dokumentasi yang ekstensif dan menjalani inspeksi, menyebabkan pengiriman melambat.

Menurut Serikat Produsen Biji-bijian Kazakhstan, penundaan dalam memperoleh kode pendaftaran ulang dapat memaksa pabrik pengolahan untuk menghentikan operasi sementara, sehingga berisiko menghentikan produksi. Logistik kereta api juga dapat terpengaruh, berpotensi menghentikan ekspor dalam jangka pendek.

KONFLIK TIMUR TENGAH MENGANCAM EKSPOR UNGGAS POLANDIA

Konflik militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus berdampak jauh melampaui berita utama geopolitik dan masuk ke pasar unggas global, dengan potensi dampak bagi ekspor daging ayam broiler Polandia.

“Ada risiko bahwa Brasil akan mengalihkan ekspornya ke wilayah lain di dunia, khususnya ke negara-negara Asia, di mana Brasil sudah memiliki posisi dominan. Hal ini dapat menghambat ekspor dan tentu saja meningkatkan persaingan dengan pemasok dari negara-negara Eropa, termasuk Polandia,” kata Wiesław Różański, presiden Serikat Produsen dan Pengusaha Industri Daging Polandia (UPEMI).

Pakar tersebut menunjukkan bahwa situasi serupa telah terjadi di masa lalu di pasar daging lainnya. “Situasinya mungkin analog dengan apa yang terjadi di pasar babi Eropa ketika Spanyol, eksportir terbesar Eropa ke Tiongkok, menderita akibat harga tinggi dan penyebaran ASF. Produk yang tidak dapat diekspor akhirnya masuk ke pasar Eropa, yang menyebabkan ketidakstabilan selama berbulan-bulan,” jelasnya.

Di Brasil, skenarionya bisa serupa. Jika ekspor ke beberapa negara Timur Tengah dibatasi, produsen Brasil akan mencari pelanggan baru.

Industri unggas Polandia khawatir bahwa Brasil, sebagai salah satu produsen unggas paling kompetitif di dunia, memainkan peran penting dalam membentuk dinamika harga global. Jika akses ke pasar Timur Tengah tertentu menjadi terbatas, eksportir Brasil diperkirakan akan secara aktif mencari tujuan alternatif. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan volume yang memasuki pasar yang sudah kompetitif, khususnya di Asia dan Eropa.

Menurut perwakilan sektor unggas, perkembangan harus dipantau secara ketat oleh administrasi publik dan lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan perdagangan. Kemungkinan pergeseran dalam arus perdagangan daging unggas global dapat dengan cepat diterjemahkan menjadi persaingan yang lebih besar dan tekanan harga di pasar Eropa dan dengan demikian memengaruhi situasi produsen di banyak negara Uni Eropa.

PROYEK UNGGAS TERPADU NASIONAL NIGERIA SENILAI US$1 MILIAR MULAI BEROPERASI

Sektor unggas Nigeria bersiap untuk transformasi melalui Proyek Unggas Terpadu Nasional senilai US$1 miliar, sebuah inisiatif di bawah Kemitraan Strategis Nigeria-China (NCSP).

Diumumkan pada awal tahun 2026, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan produksi telur dan ayam broiler sekaligus mengatasi kekurangan pakan dan ketergantungan impor. Fase percontohan Proyek Unggas Terpadu Nasional Nigeria kini telah dimulai di negara bagian Enugu, Kaduna, dan Oyo, dengan rencana perluasan nasional pada tahun 2027.

Direktur Jenderal NCSP, Joseph Tegbe, mengungkapkan peluncuran tersebut pada Pameran Kuil Tahun Baru Imlek di Abuja, menandai peringatan ke-55 hubungan diplomatik Nigeria-China. Fase ini memprioritaskan pertanian terpadu, menggabungkan peternakan unggas dengan budidaya jagung dan kedelai skala besar untuk pasokan pakan yang berkelanjutan.

Proyek Unggas Terpadu Nasional ini menampilkan pendekatan spektrum penuh, yang mencakup produksi pakan, penetasan, peternakan ayam petelur dan ayam pedaging, pabrik pengolahan, penyimpanan dingin, dan jaringan distribusi. Ketika beroperasi penuh, Proyek Unggas Terpadu Nasional bertujuan untuk menampung lebih dari 7 juta ayam petelur dan 2 juta ayam pedaging, menghasilkan 6 juta telur setiap hari.

Rencana ini juga mencakup penanaman 60.000 hektar tanaman untuk pakan, yang secara langsung mengatasi krisis pakan unggas Nigeria yang diperburuk oleh kenaikan biaya dan kekurangan.

Pakan bersubsidi akan diperluas ke peternak kecil yang sudah ada, membantu menstabilkan biaya di luar fasilitas baru. Lebih lanjut, transfer teknologi melalui beasiswa dan penelitian bersama di bawah Kemitraan Strategis Nigeria-China akan mendukung pembangunan kapasitas jangka panjang dalam agritech dan manajemen unggas.

Dengan mengekang impor unggas, Proyek Unggas Terpadu Nasional menargetkan ketahanan pangan dan harga konsumen yang lebih rendah untuk telur dan daging. Proyek ini mendukung upaya Nigeria untuk mencapai kemandirian agroindustri, yang berpotensi memungkinkan ekspor produk olahan di masa mendatang. Hingga Maret 2026, kemajuan awal proyek percontohan menunjukkan momentum menuju tujuan-tujuan ini.

EKSPOR DAGING KALKUN RUSIA MELONJAK 40%

Ekspor daging kalkun melonjak 40% tahun lalu ke rekor 40.000 ton, didorong oleh perluasan penjualan ke Afrika dan Asia, kata Anatoly Velmatov, direktur eksekutif Asosiasi Produsen Kalkun Nasional, pada sebuah acara industri di Moskow.

Produksi domestik juga terus tumbuh, meningkat 3,5% menjadi 453.000 ton, melampaui sektor unggas yang lebih luas, yang diperkirakan tumbuh 2,3% pada tahun 2025.

Konsumsi kalkun di Rusia mencapai 2,9 kg per kapita tahun lalu dan diproyeksikan akan berlipat ganda selama dekade berikutnya, kata Velmatov.

Ekspor semakin berorientasi ke pasar negara berkembang. Afrika dan Asia masing-masing menyumbang 38% dan 32,6% dari pengiriman. Tujuan utama di Afrika termasuk Benin, Republik Demokratik Kongo, Liberia, dan Angola, sementara pasar Asia berkisar dari Tiongkok dan Filipina hingga Hong Kong dan Malaysia.

Di negara-negara tetangga, kalkun Rusia sudah berhasil bersaing dengan daging sapi, kata Velmatov. Pergeseran serupa terlihat di dalam negeri, di mana konsumsi daging sapi dan domba menurun pada tahun 2025 sementara permintaan kalkun terus meningkat.

BE PART OF THE NEXT ERA OF AGRICULTURE & LIVESTOCK

- Be the first to see cutting-edgefarming & livestock technology
- Connect directly with 100+ leading industry brands
- Unlock new business opportunities & partnershipjoin free
- High-value seminars by industry experts



KONFLIK TIMUR TENGAH TERUS BERDAMPAK PADA PASAR UNGGAS

Mulai dari kenaikan harga pakan unggas di Vietnam hingga penurunan harga telur di Pakistan, gangguan pasokan global akibat perang di Timur Tengah dan blokade sebagian Selat Hormuz semakin memengaruhi perdagangan unggas.

Di Pakistan, harga telur telah anjlok dalam beberapa pekan terakhir karena ekspor ke Timur Tengah terhenti, lapor media lokal. Perluasan penjualan ke luar negeri, khususnya ke pasar Teluk, telah menjadi pendorong utama pertumbuhan industri unggas Pakistan dalam beberapa tahun terakhir, kata Sohail Ahmed, CEO Noor Poultry. Dengan terganggunya pengiriman, industri ini telah mengalami pukulan signifikan, ia memperingatkan.

Peternak unggas di seluruh Pakistan berjuang untuk tetap bertahan karena pasokan yang biasanya diekspor dialihkan ke pasar domestik, menciptakan kelebihan pasokan. Sehingga telah menurunkan harga, menekan margin yang sudah tipis bagi peternak dan bisnis unggas.

Pakistan tidak sendirian dalam menghadapi dampak buruk perang. Eksportir unggas dan daging utama termasuk Turki, Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga terkena dampak gangguan ini, terutama mereka yang sangat bergantung pada permintaan Timur Tengah.

Rusia dan Ukraina termasuk yang paling rentan, menurut Nan-Dirk Mulder, spesialis global senior untuk protein hewani di Rabobank. Konflik tersebut telah sangat memengaruhi ekspor daging Rusia ke wilayah tersebut, kata Sergey Yushin, direktur eksekutif Asosiasi Daging Nasional Rusia.

Saat ini, sejumlah besar kargo sedang dalam perjalanan, tetapi jadwal pengiriman masih belum pasti. Beberapa eksportir terpaksa menurunkan kontainer dalam perjalanan ke Teluk, yang menyebabkan penundaan dan biaya tambahan.

Biaya pengiriman juga meningkat. Premi asuransi per kontainer telah meningkat dari sekitar US$3.500 menjadi US$4.000, mendorong beberapa pengirim untuk mengubah rute atau menurunkan kargo di tujuan alternatif seperti Mesir, yang selanjutnya mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan biaya produksi, menurut Yushin.

Di Asia, dampaknya dirasakan melalui biaya input yang lebih tinggi. Sektor peternakan Vietnam menghadapi kenaikan harga pakan yang baru, dengan produsen menaikkan harga pada awal Maret karena gangguan rantai pasokan mendorong kenaikan biaya bahan baku dan logistik.

Beberapa produsen melaporkan kenaikan sekitar US$7-11 per ton, menambah tekanan lebih lanjut pada produsen yang sudah bergulat dengan kondisi pasar yang bergejolak.

MENAKAR MASA DEPAN INTEGRASI SAPI-SAWIT DALAM 3RD ICOP CONFERENCE DI RIAU

Prof Nahrowi (kiri), bersama Dr Syahrial Abdi (tengah), dan Ir Joko Irianto (kanan), dalam Opening Ceremony 3rd ICOP Conference 2026. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Rabu (8/4/2026). Bertempat di Bertuah Hall, Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, resmi dibuka 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026. Perhelatan yang digelar secara hybrid ini mengusung tema “Enhancing Food Security through Regenerative Agriculture in Integrated Cattle-Oil Palm System.”

Pilihan Pekanbaru sebagai tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Riau sebagai pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia, menjadikannya laboratorium hidup bagi sistem integrasi.

Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan bobot keilmuan, pakar lintas benua berkumpul, mulai dari Prof Luki Abdullah dari Centras IPB University, hingga ahli internasional seperti Richard ArmstrongSlaney, Assoc Prof Maja Slingerland, Dr Mohd Azid Kabul, serta Prof HenkHogeveen dari Wageningen University. Kolaborasi global ini bertujuan merumuskan formula terbaik dalam menerapkan regenerative agriculture di ekosistem sawit.

Ketua Panitia Pelaksana, Drh Arifin Budiman Nugraha, menekankan bahwa inti dari kesuksesan ICOP adalah transformasi pola pikir. Jika selama ini pemilik kebun merasa khawatir ternak akan merusak tanaman, edukasi konsisten melalui ajang ini berhasil mengikis hambatan psikologis tersebut.

Integrasi kini dipandang bukan sebagai beban operasional, melainkan nilai tambah bagi kedua komoditas. Melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), sapi mendapatkan pakan hijauan di sela pohon sawit, sementara perkebunan menerima pupuk organik gratis, menciptakan siklus nutrisi tertutup yang memulihkan ekosistem tanah sekaligus memproduksi protein hewani.

Apresiasi besar datang dari Pemerintah Provinsi Riau. Dr Syahrial Abdi mewakili Pj Gubernur SF Hariyanto, menegaskan komitmen untuk mentransformasi Riau menjadi lumbung ternak nasional melalui akselerasi program SISKA. Namun, ia juga memberikan catatan strategis bahwa ambisi besar ini menuntut kerja keras kolektif, terutama dalam memperkuat edukasi bagi pekebun swadaya dan penguatan infrastruktur pendukung.

Senada dengan hal tersebut, Ir Joko Irianto dari GAPENSISKA menyoroti bahwa jika potensi lahan sawit Riau dimaksimalkan, defisit daging nasional yang selama ini bergantung pada impor dapat segera teratasi.

3rd ICOP Conference 2026 diselenggarakan di Pekanbaru, Riau.

Dukungan akademis pun mengalir kuat, salah satunya Dr Alim Setiawan Slamet dari IPB University, yang menyatakan bahwa Riau memiliki kewajiban moral mendukung SISKA demi pemenuhan daging nasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Dr Arsyadi Ali, menekankan filosofi “Tiga Tungku Sejarangan”, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi, sebagai fondasi utama agar program ini tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi memberikan dampak instan bagi kemajuan sektor peternakan.

Dari sisi kebijakan teknis, Dr Ir Tri Melasari yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa SISKA adalah solusi cerdas untuk menekan biaya pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan.

Dengan memanfaatkan “piring makan” alami di bawah kanopi sawit, populasi sapi dapat ditambah secara cepat tanpa merusak operasional perkebunan. Meski tantangan berupa keengganan beberapa korporasi masih ada, 3rd ICOP Conference 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa manajemen yang tepat justru meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan struktur tanah.

Implementasi SISKA kini telah memiliki payung hukum yang kuat melalui Permentan No. 105/2014. Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan populasi di berbagai sentra. Di Riau sendiri, populasi sapi integrasi melesat dari estimasi awal 15.000 ekor menjadi lebih dari 150.000 ekor pada 2026. Keberhasilan serupa juga tercatat di Kalimantan Selatan melalui program “SISKA KU INTIP” yang kini melampaui 50.000 ekor, serta Kalimantan Timur yang mencapai 45.000 ekor demi memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain peningkatan populasi, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha. Penghematan pupuk kimia hingga 30% berkat peran sapi sebagai “pabrik pupuk berjalan” telah membuktikan bahwa regenerative agriculture memberikan dampak ekonomi langsung.

Penurunan biaya pakan sebesar 30-40% juga memberikan napas baru bagi target pengurangan impor sapi hidup. Dengan sinergi yang terus menguat, pembukaan perhelatan 3rd ICOP Conference 2026 yang dipandu oleh Dr Windu Negara ini ditutup dengan optimisme bahwa swasembada daging melalui jutaan hektare kebun sawit kini telah menjadi keniscayaan yang nyata. (Sadarman)

SEKTOR UNGGAS ANGOLA MENGANTISIPASI PERTUMBUHAN YANG STABIL PADA TAHUN 2026

Selama bertahun-tahun, Angola sangat bergantung pada impor ayam beku dari AS, Brasil, dan Uni Eropa untuk memenuhi permintaan domestik. Sekarang, keterbatasan devisa, biaya logistik yang tinggi, dan upaya untuk menghemat mata uang asing telah mendorong investasi lokal.

Sektor daging ayam Angola menunjukkan kemajuan yang stabil pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan produksi domestik dan permintaan yang stabil. Peternakan unggas memainkan peran kunci dalam ketahanan pangan Angola, dan produksi tahun 2026 diperkirakan akan meningkat 9% menjadi 60.000 metrik ton, sementara konsumsi meningkat 5%.

Tantangan tetap ada, termasuk infrastruktur yang buruk, pakan yang langka, dan larangan impor produk rekayasa genetika (GE) karena tidak adanya undang-undang biokeamanan nasional. Angola mengimpor biji-bijian dan biji minyak non-GE yang mahal dari jauh, meningkatkan biaya untuk pertanian pedesaan kecil dan operasi yang bergantung pada ayam petelur yang sudah tidak produktif.

Dalam jangka panjang, peningkatan produksi dapat mengurangi impor dan membuka pintu bagi ekspor regional.

Africa Press baru-baru ini melaporkan bahwa Menteri Pertanian dan Kehutanan Angola, Isaac dos Anjos, memuji Kompleks Produksi Unggas Terpadu Pembat, yang terletak di pinggiran kota Benguela, karena dilaporkan menunjukkan bahwa ayam dapat diproduksi di Angola dalam siklus 30 hari. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan secara bertahap mengurangi impor unggas dan babi untuk melindungi produksi nasional.

Impor diperkirakan akan tumbuh sedikit sebesar 4% menjadi 270.000 metrik ton, naik dari 260.000 metrik ton pada tahun 2025, seiring dengan meredanya tekanan mata uang.

Angola tidak mengekspor unggas karena kebutuhan domestik yang belum terpenuhi tetapi bertujuan untuk membangun kapasitas untuk penjualan di masa mendatang.

INDUSTRI UNGGAS DI SURIAH DALAM KEKACAUAN

Pasar unggas Suriah menghadapi gejolak yang semakin meningkat, dengan harga melonjak hampir sepertiga dalam beberapa waktu terakhir dan membebani permintaan konsumen. Para pelaku industri mengatakan wabah Newcastle Disease dan, baru-baru ini, lonjakan biaya pakan yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah adalah beberapa pendorong utamanya.

Harga eceran rata-rata ayam baru-baru ini mencapai sekitar 30.000 pound Suriah (€2,5) per kg, naik dari sekitar 22.000 pound Suriah per kg sebulan sebelumnya, lapor media lokal SANA.

Selama beberapa bulan terakhir, industri unggas Suriah telah dilanda serangkaian wabah penyakit yang memengaruhi banyak peternakan. Dokter hewan setempat, Murtada Hassan Reda, mengatakan bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Newcastle Disease, yang tidak berbahaya bagi manusia.

Namun, kurangnya transparansi dari pejabat pemerintah mengenai situasi veteriner di sektor unggas telah merusak kepercayaan konsumen. Desas-desus telah beredar di masyarakat Suriah bahwa unggas yang terinfeksi dan berpotensi berbahaya bagi manusia dijual di gerai-gerai ritel.

Kementerian Kesehatan Suriah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang membantah klaim tersebut dan meyakinkan konsumen bahwa unggas yang tersedia di pasaran aman, meskipun banyak pembeli tetap tidak yakin.

Peternak unggas Suriah juga menghadapi peningkatan persaingan dari unggas beku impor murah setelah pemerintah mengizinkan impor pada akhir tahun 2025. Ma’an Al-Saqqa, pemilik peternakan unggas, mengatakan kepada media lokal bahwa masuknya ayam beku, anak ayam, dan telur tetas yang tidak terduga telah membanjiri pasar, mendorong banyak peternak untuk mempertimbangkan pemusnahan ternak mereka sebelum akhir siklus produksi.

Meskipun terjadi peningkatan harga ritel baru-baru ini, banyak peternak unggas saat ini beroperasi dengan kerugian, Al-Saqqa memperingatkan. Sektor ini sedang mengalami masa yang sangat sulit, dengan beberapa peternakan menangguhkan operasi dalam empat bulan terakhir, menurut Fadel Haj Hashem, direktur jenderal Perusahaan Unggas Umum.

Dalam beberapa minggu terakhir, produsen unggas juga berjuang dengan kenaikan biaya pakan yang terkait dengan meningkatnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Industri pakan Suriah sangat bergantung pada bahan baku impor, sebagian besar karena konflik selama beberapa dekade yang telah melemahkan produksi pertanian domestik negara tersebut.

FLU BURUNG MENURUN DI SELURUH EROPA SETELAH PUNCAK MUSIM DINGIN

Data pengawasan baru dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), dan Laboratorium Referensi Uni Eropa (EURL) menunjukkan bahwa deteksi flu burung patogenik tinggi (HPAI) telah mulai menurun di seluruh Eropa.

Penurunan ini terjadi setelah musim gugur-musim dingin yang sangat intens, yang terburuk dalam 5 tahun untuk sirkulasi unggas air. Terlepas dari penurunan baru-baru ini, total wabah musim ini tetap lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya untuk periode yang sama. Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah, menurut EFSA dan ECDC.

Antara 29 November 2025 dan 27 Februari 2026, pihak berwenang mencatat 406 wabah flu burung patogenik tinggi pada burung/unggas domestik, 2.108 pada burung liar di 32 negara Eropa.

Deteksi pada burung liar 3 kali lebih tinggi daripada tahun lalu, dan hampir 5 kali lebih tinggi daripada 2 tahun yang lalu, yang merupakan hasil langsung dari puncak musiman yang luar biasa kuat. Sejak Desember, deteksi telah bergeser ke arah penurunan, konsisten dengan pola musim semi yang khas. Di peternakan unggas, sebagian besar infeksi berasal dari kontak tidak langsung dengan burung liar, sementara penyebaran antar peternakan tetap jarang terjadi.

4 CIRI-CIRI AYAM TIREN

ciri ayam tiren

Ayam tiren (ayam bangkai) adalah ayam yang sudah mati sebelum disembelih, atau proses penyembelihannya tidak benar. Sehingga darah ayam tidak keluar sempurna.

Sayangnya ayam tiren sepertinya masih cukup banyak dijual di pasar. Dan harganya pun biasanya lebih murah.

Ciri-ciri ayam tiren bisa dikenali dari bagian-bagian berikut:

  1. Pembuluh darah di balik kulit ayam terlihat jelas, merah kehitaman.
  2. Daging di balik kulit ayam berwarna kemerahan seperti memar.
  3. Pangkal sayap, berwarna biru kehitaman karena berisi darah.
  4. Pembuluh darah pada leher. Saluran makan (esofagus) dan saluran nafas (trakea) tidak terpotong. Atau terpotong tapi terisi darah berwarna kehitaman.

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

PROF AKHMAD SODIQ KEMBALI TERPILIH JADI REKTOR UNSOED

Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq. (Foto: Fapet Unsoed)

Profesor Akhmad Sodiq kembali terpilih menjadi rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto periode 2026-2030. Ia dinyatakan menang atas dua kandidat lainnya melalui sidang senat tertutup.

Pemilihan digelar di Auditorium Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, dengan melibatkan unsur Senat Akademik serta perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof Dwi Nugroho Wibowo, mengatakan dalam kontestasi ini Prof Akhmad Sodiq bersaing dengan dua kandidat lain, yaitu Prof Ali Rokhman dan Dr Adi Indrayanto.

“Berdasarkan hasil penghitungan, Prof Ali Rokhman meraih 35 suara, sementara Prof Akhmad Sodiq mengantongi 87 suara,” kata Dwi dalam siaran resminya, Rabu (1/4/2026).

Dwi memastikan seluruh tahapan pemilihan telah berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, seluruh proses pemilihan rektor telah dilaksanakan secara transparan, objektif, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami mengapresiasi partisipasi aktif seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ini,” terangnya.

Ia menjelaskan, sebelum masuk tahap pemilihan, panitia telah menjalankan berbagai proses mulai dari penjaringan bakal calon, seleksi administrasi, hingga penyampaian visi dan misi kandidat.

“Seluruh tahapan mulai dari pendaftaran hingga pemungutan suara, telah dilaksanakan sesuai mekanisme. Tahap pemilihan ini menjadi bagian paling krusial dalam keseluruhan proses,” jelasnya.

Ketua Bidang Media dan Publikasi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed (PP Kafapet Unsoed), Farid Dimyati, menambahkan bahwa Prof Akhmad Sodiq merupakan alumni Fapet yang memiliki segudang pengalaman birokrasi.

Sebelum menjabat menjadi Rektor Unsoed periode 2022-2026, ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fapet Unsoed selama dua periode, kemudian Wakil Rektor Unsoed Bidang Akademik, serta Rektor Pertama Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.

“Jadi soal pengalaman mengurus birokrasi, Prof Sodiq sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan jam terbangnya,” ujar Farid.

Ia melanjutkan, meski memiliki banyak kesibukan, Prof Akhmad Sodiq tercatat sebagai alumni yang rajin hadir dalam berbagai kegiatan kealumnian, baik di Purwokerto, Jakarta, maupun wilayah lain.

“Salah satu kelebihan beliau adalah rajin menyambung silaturahmi. Meski sibuk, beliau selalu hadir saat kegiatan alumni. Kami bangga beliau kembali terpilih menjadi Rektor Unsoed. Semoga mampu membawa Unsoed menjadi lebih maju dan mendunia ke depannya,” pungkasnya. (INF)

MEMBENTENGI UNGGAS DARI KOLIBASILOSIS MELALUI JALUR PAKAN

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci  bagi peternak modern. (Foto: Istimewa)

Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.

Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.

Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.

Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.

Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.

Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.

Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.

Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AVIAGEN AKAN MENGINVESTASIKAN US$40 JUTA DI PUSAT GENETIKA UNGGAS DI UZBEKISTAN

Aviagen berencana untuk menginvestasikan US$40 juta di klaster pembibitan unggas baru di Uzbekistan. Perusahaan genetika unggas AS ini bertujuan untuk memperkuat pasokan unggas domestik negara tersebut dan mengurangi ketergantungan pada stok bibit impor.

Proyek ini, yang akan diimplementasikan oleh divisi pembibitan global Aviagen, akan membangun kompleks genetika dan produksi unggas modern yang dirancang untuk mendukung pengembangan sektor unggas Uzbekistan yang berkembang pesat.

Klaster tersebut diharapkan mencakup peternakan pembibitan, fasilitas penetasan, dan infrastruktur pendukung yang dibangun sesuai dengan standar biosekuriti dan produksi internasional.

Setelah beroperasi, fasilitas ini diproyeksikan mencapai kapasitas tahunan sekitar 4,5 juta ekor unggas, memasok stok bibit berkualitas tinggi kepada produsen unggas lokal. Para pejabat industri mengatakan inisiatif ini akan membantu meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasokan, dan mendukung upaya negara untuk meningkatkan produksi daging unggas domestik.

LEDAKAN INDUSTRI UNGGAS DI TIMUR TENGAH MEMBUKA PELUANG BAGI EKSPORTIR UNI EROPA

Timur Tengah telah muncul sebagai salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis untuk unggas, didukung oleh pertumbuhan populasi yang stabil, sektor jasa makanan yang berkembang, dan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Meskipun produksi domestik di beberapa negara di Timur Tengah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini tetap sangat bergantung pada impor. Meningkatnya pariwisata, mega-event, dan strategi diversifikasi jangka panjang mengubah kawasan ini menjadi medan pertempuran strategis bagi eksportir global, termasuk dari Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk yang lebih kaya, termasuk Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain, telah menjadi tujuan yang semakin menarik bagi eksportir unggas Eropa. Pertumbuhan populasi yang berkelanjutan, peningkatan pendapatan, dan ruang lingkup yang terbatas untuk secara signifikan memperluas kapasitas produksi domestik diperkirakan akan memperkuat tren ini.

Populasi di Timur Tengah diperkirakan akan bertambah 20 juta jiwa hingga tahun 2029, di mana 50% di antaranya berusia di bawah 25 tahun, komentar Stig Munck Larsen, kepala konsultan di Dewan Pertanian dan Pangan Denmark dan ketua Kelompok Kerja Perdagangan AVEC.

“Lanskap demografis baru ini akan meningkatkan konsumsi daging unggas baik sekarang maupun di masa depan,” kata Larsen. “Meskipun terjadi pertumbuhan produksi lokal, kebutuhan akan impor yang lebih tinggi di kawasan ini jelas terlihat. Saat ini, permintaan impor sekitar 2,5 juta ton dengan tren yang moderat dan meningkat dalam beberapa tahun mendatang, meskipun permintaan ini akan bervariasi antar negara.”

Prakiraan hingga tahun 2030-an menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan di pasar unggas Timur Tengah, didorong oleh pertumbuhan populasi, peningkatan konsumsi per kapita, dan urbanisasi. Menurut lembaga think tank IndexBox, pada tahun 2035, volume pasar dapat mendekati 10 juta ton dan nilainya lebih dari USD$20 miliar, meningkat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan moderat sekitar 1% dalam volume dan 2,2% dalam nilai selama periode 2024-35.

Selama bertahun-tahun, Brasil telah mendominasi arus impor di kawasan ini, memanfaatkan skala, harga yang kompetitif, dan rantai pasokan bersertifikat halal. Tetapi lanskap persaingan sedang bergeser. Pemasok dari Uni Eropa, bersama dengan Ukraina dan Rusia, dan baru-baru ini bahkan Turki, semakin menargetkan pembeli Timur Tengah, berupaya untuk mendiversifikasi tujuan ekspor di tengah permintaan yang bergejolak di dalam negeri dan hambatan geopolitik.

Rusia mengalami peningkatan pesat dalam ekspor ke Timur Tengah. Pada tahun 2024, penjualan ke negara-negara Teluk melonjak sebesar 57% hingga melebihi 100.000 ton, dengan sekitar 75% dari volume tersebut masuk ke Arab Saudi.

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan unggas terkemuka Rusia telah memprioritaskan sertifikasi halal untuk lebih meningkatkan penjualan ke negara-negara Muslim.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer