Dalam kasus keracunan yang terjadi selama ini, seoalah-olah dua makanan sumber protein hewani tersebut menjadi “tersangka”. Namun apa sebenarnya yang terjadi? Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan ternyata penyebab utamanya adalah cara mengolah dan penyajian telur ayam dari pihak Dapur MBG yang menjadi penyebab para pelajar keracunan.
Telur rebus yang sudah basi karena terlalu lama jeda dalam menyajikan MBG menjadi pemicu pelajar keracunan. Artinya, bukan telurnya yang menjadi penyebab. Telur ayam tetap menyehatkan, meskipun pakan ayam yang digunakan adalah pakan pabrikan. Pakan pabrikan ayam, bukan sumber racun pada telur dan daging ayam yang dihasilkan.
“Pakan untuk ayam yang akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh ayam baik petelur maupun pedaging,” ujar Yahya Munirudin, ahli pakan ternak kepada Infovet.
Memang aroma pakan pabrikan untuk ayam menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang bahwa pakan ayam pabrikan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat.
Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini bakal membuat orang makin khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total. Ini yang perlu diluruskan.
Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan ayam yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul, dan lainnya. Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman.
“Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan di pabrikan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” ujarnya.
Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi oleh manusia. Ahli pakan ternak ini juga memastikan bahwa industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk menjamin bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.
Melalui Proses Roasting
Dalam proses pengolahan, menurut Yahya, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Ia memberi contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat anti nutrisi yang ada di kedelai.
Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih bersarang di benak sebagian orang. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.
“Dari sisi proses pembuatan pakan, pabrik pakan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan. Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Makanya di kemasan obat-obatan biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.
“Penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah ketat, tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” katanya.
Lupakan Mitos Buruk
Dari pemaparan proses dan sumber bahan pakan unggas yang disampaikan ahli pakan ternak tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang kandungan nutrisinya.
Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang makan telur dan daging ayam. Di era digital sekarang ini, bisa dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kandungan nutrisi pada telur dan daging ayam. Carilah informasi dari sumber yang dipercaya dan lupakan hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa telur dan daging ayam broiler itu berbahaya bagi kesehatan.
Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. U.S. Soybean Export Council, dua tahun lalu pernah merilis data yang menarik untuk disimak. Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan Vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Mirip dengan telur, daging ayam adalah kaya juga akan vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.
Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh, dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.
Sementara itu, 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2 mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg.
Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging unggas dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini. Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. ***


















