-->

Featured Posts

MAROKO: SEKTOR UNGGAS MEMPERINGATKAN KEKURANGAN SETELAH BADAI MENGGANGGU IMPOR PAKAN

Industri pakan dan unggas Maroko dilaporkan menghadapi tekanan yang meningkat setelah berminggu-minggu gangguan impor bahan pakan, menyebabkan pabrik pakan dan produsen unggas kesulitan untuk mendapatkan bahan baku penting.

Pada Januari 2026, pelabuhan-pelabuhan utama Maroko mengalami gangguan operasional yang parah karena serangkaian sistem tekanan rendah yang kuat menyapu Atlantik Utara dan Teluk Biscay. Angin kencang, gelombang tinggi, dan jarak pandang yang buruk membuat kapal tidak aman untuk mendekati pelabuhan atau bagi derek untuk beroperasi, mengakibatkan penumpukan dan penundaan kargo yang signifikan.

Perusahaan pelayaran global utama, termasuk CMA CGM, Maersk, dan Hapag-Lloyd, memerintahkan kapal-kapal yang menuju pelabuhan Maroko untuk menghentikan operasi dan tetap berlabuh di perairan yang aman daripada mencoba berlabuh selama badai.

"Kami menghadapi kekurangan pakan dan bahan baku yang parah, terutama jagung dan kedelai, yang berisiko memicu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam memasok pasar nasional dengan ayam broiler," kata Mustafa Al-Muntasir, kepala Asosiasi Nasional Produsen Daging Unggas.

Gangguan yang berkepanjangan telah mendorong industri pakan Maroko ke titik kritis, kata Asosiasi Produsen Pakan Majemuk di Maroko dalam surat yang ditujukan kepada Kementerian Pertanian. Organisasi tersebut, yang mewakili pabrik pakan di negara itu, mendesak pihak berwenang untuk mengambil tindakan segera untuk mencegah krisis transportasi meningkat menjadi guncangan pasokan yang lebih luas.

Dalam surat tersebut, produsen pakan memperingatkan tentang "ketidakmampuan langsung untuk memproduksi dan menyediakan pakan majemuk yang diperlukan untuk sektor peternakan secara umum, dan sektor unggas khususnya". Mereka juga memperingatkan bahwa beban keuangan yang terkait dengan kapal yang terdampar di lepas pantai pasti akan meningkatkan biaya produksi dan mengganggu pasokan produk hewan ke pasar.

Industri pakan Maroko sangat bergantung pada impor, dengan hampir 90% bahan baku pakan berasal dari luar negeri. Sementara itu, negara tersebut kekurangan kapasitas penyimpanan biji-bijian yang cukup untuk membangun cadangan strategis yang dapat melindungi sektor tersebut selama gangguan pasokan yang berkepanjangan, sehingga produsen sangat rentan terhadap guncangan logistik.

MESIR MENGARAHKAN EKSPOR DI TENGAH KRISIS KELEBIHAN PASOKAN

Karena kelebihan produksi yang parah telah mendorong harga pasar di bawah biaya operasional, para peternak unggas Mesir telah meminta pemerintah untuk segera memfasilitasi ekspor unggas dan telur ke negara-negara Afrika dan Arab.

Mesir saat ini memiliki surplus di pasar unggas domestik, berkisar antara 15% dan 20% dari produksi tahunan, menurut Federasi Umum Produsen Unggas. Mesir memproduksi sekitar 2,4 juta ton daging ayam dan 16,6 miliar telur per tahun, yang berarti negara tersebut dapat memiliki kelebihan hingga 120.000 ton ayam dan miliaran telur.

Surplus tersebut muncul sebagai kombinasi dari peningkatan produksi lokal dan penurunan permintaan, karena melemahnya daya beli penduduk setempat. Menurut Federasi, konsumsi unggas per kapita di negara tersebut telah turun dari 13,7 kg menjadi hanya 9 kg dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan latar belakang ini, unggas di Mesir saat ini diperdagangkan dengan harga EGP 65 per kg (US$1,38), sementara biaya produksi berkisar antara EGP 67 hingga EGP 68 (US$1,42 hingga US$1,44) untuk sebagian besar peternak.

Krisis industri yang terus-menerus telah mendorong Federasi Umum Produsen Unggas untuk menyerahkan memorandum mendesak kepada Kementerian Pertanian yang menuntut tindakan untuk membuka negara-negara Afrika baru bagi ekspor unggas Mesir, kata Mahmoud El-Anani, direktur Federasi tersebut. Membangun ekspor unggas dapat secara signifikan meningkatkan neraca perdagangan luar negeri Mesir.

“Keberhasilan pemerintah dalam memasarkan surplus di wilayah Arab dan Afrika serta membuka pasar mereka untuk unggas beku Mesir dapat menghasilkan pendapatan melebihi US$600 juta per tahun untuk Mesir,” perkiraan El-Anani.

Ia menunjukkan bahwa benua Afrika memiliki peluang yang menjanjikan untuk menyerap surplus tersebut. Cukup banyak negara di kawasan ini yang mengalami kekurangan produk unggas, termasuk Libya, Djibouti, Pantai Gading, Kenya, Ghana, Tanzania, dan Mauritania.

El-Anani meminta para pejabat veteriner Mesir untuk mengundang perwakilan dari layanan veteriner negara-negara tersebut untuk menunjukkan kepada mereka kapasitas industri unggas Mesir, rumah potong hewan, dan fasilitas pengolahan.

Mesir sudah mengekspor sejumlah produk unggas, seperti telur tetas, DOC, serta produk unggas olahan dan unggas beku setengah goreng, tetapi tantangan terbesar adalah membuka pintu untuk mengekspor karkas unggas utuh.

Mohamed Saleh, seorang anggota Federasi, mengatakan bahwa flu burung tetap menjadi kendala utama yang mencegah ekspor unggas dari Mesir selama bertahun-tahun. Sebelum tahun 2006, Mesir menghasilkan rata-rata US$720 juta dari penjualan produk unggas ke negara-negara tetangga. Pada tahun-tahun berikutnya, flu burung menyerang dan industri tersebut tidak pernah benar-benar pulih darinya.

PUASA, MAKAN TELUR AGAR TAK GAMPANG LELAH

Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. (Foto: Istimewa)

Selama berpuasa, asupan protein dari telur sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah. Cukup dua butir saat sahur, dan dua butir saat berbuka. Kuat beraktivitas seharian. Tak percaya? Silakan dicoba.

Menjalankan ibadah puasa selain sebagai bentuk ketaatan spiritual bagi umat muslim, juga memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh, terutama terkait dengan manajemen nutrisi. Selama berpuasa, tubuh tidak menerima asupan makanan dan minuman selama kurang lebih 14 jam.

Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, penting untuk memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka. Makanan yang dikonsumsi sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Karbohidrat kompleks seperti nasi merah, kentang, jagung, atau ubi, dicerna lebih lambat oleh tubuh sehingga memberikan efek kenyang lebih lama.

Meski harga kebutuhan pokok dikabarkan masih mahal, namun asupan nutrisi dalam tubuh harus tetap terpenuhi. Maka, pilihlah makanan sumber protein tinggi tapi harga murah. Selama berpuasa, asupan protein yang cukup sangat dianjurkan agar tubuh tak mudah lelah.

Salah satu sumber protein yang murah dan mudah dijangkau adalah telur. Konsumsi telur saat makan sahur dan berbuka puasa sangat bermanfaat untuk menjaga kekuatan tubuh. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, konsumsi telur ayam dianjurkan saat berbuka dan sahur untuk semua kalangan, baik anak-anak maupun orang dewasa.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam juga cukup bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Kebutuhan protein harian setiap orang berbeda-beda bergantung pada usia, jenis kelamin, serta berat badan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan Peratuan Menteri Kesehatan (Permenkes) mengenai anjuran Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang bisa dijadikan acuan dalam memenuhi kebutuhan protein harian tubuh.

Dalam Permenkes tersebut dijelaskan, protein merupakan salah satu zat gizi makro yang memiliki peran penting dalam proses pembentukan jaringan tubuh. Protein turut membantu pembentukan enzim yang dapat mengoptimalkan fungsi setiap organ di dalam tubuh. Inilah yang menjadi alasan pentingnya mencukupi kebutuhan protein harian tubuh.

Sebagai salah satu zat gizi makro, protein memiliki fungsi yang cukup signifikan di dalam tubuh. Protein ini nantinya akan dicerna menjadi asam amino yang digunakan untuk berbagai macam proses di dalam tubuh. Ada sejumlah fungsi protein pada tubuh di antaranya membantu proses pembentukan sel dan jaringan tubuh yang baru, memperbaiki sel dan jaringan tubuh yang rusak, sebagai sumber asam amino, menjaga kesehatan tulang dan otot, serta mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh.

Cara mengetahui kebutuhan protein harian dapat mengikuti anjuran AKG dari Menkes. Menurut AKG di 2019, kebutuhan protein harian setiap individu dibagi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Berikut penjelasannya, bagi laki-laki yang sudah memasuki masa pubertas, kebutuhan protein harian cenderung bertambah dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari. Untuk usia 10-12 tahun membutuhkan 50 gram/hari, usia 13-15 tahun 70 gram/hari, usia 16-18 tahun 75 gram/hari, usia 19-64 tahun 65 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 64 gram/hari.

Sementara untuk perempuan cenderung memerlukan lebih banyak protein saat sedang dalam masa pubertas. Namun, kebutuhan protein ini akan berangsur menurun seiring pertambahan usia. Adapun kebutuhan protein perempuan per hari sesuai AKG dari Menkes yaitu usia 10-12 tahun membutuhkan 55 gram/hari, usia 13-18 tahun 65 gram/hari, usia 19-64 tahun 60 gram/hari, dan usia 65 tahun ke atas 58 gram/hari.

Dengan memperhatikan khasiat yang begitu banyak, makan telur dua butir setiap sahur dan dua butir saat berbuka, sudah mencukupi setengah kebutuhan protein harian bagi orang dewasa. Setengah kebutuhan lagi dapat dipenuhi dari sumber protein lainnya seperti kacang-kacangan, ikan, dan lainnya.

Jangan "Balas Dendam"
Pada dasarnya, kebutuhan protein harian tubuh dapat dipenuhi dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dalam jumlah yang cukup, baik sumber protein hewani maupun nabati. Perolehan protein hewani tak harus dari telur ayam, tetapi bisa digantikan dengan telur puyuh, bebek, atau daging ayam.

Jika bosan konsumsi bahan makanan yang mengandung protein hewani, juga bisa dialihkan ke protein nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, gandum, tempe, dan tahu.

Dapat disimpulkan bahwa selama menjalankan ibadah puasa, kebutuhan protein harian penting untuk dicukupi guna menyokong proses metabolisme dan pembentukan jaringan di dalam tubuh. Namun diingat, konsumsi makanan selama berpuasa juga sangat dianjurkan tidak berlebihan.

Jangan momen makan sahur dan berbuka puasa menjadi ajang "balas dendam" untuk makan sebanyak-banyaknya. Tubuh memiliki takaran dan dari sisi kesehatan berpuasa sangat menyehatkan badan.

Menurut pakar gizi, Ali Khomsan, mengonsumsi satu jenis menu secara terus-menerus memang bisa membosankan. Karena itu, variasi dalam mengolah telur sangatlah penting. Salah satunya dengan diolah dadar atau diolah menjadi menu kesukaan keluarga.

Manajemen Asupan Nutrisi 
Selama bulan puasa, dalam banyak literatur kesehatan cukup banyak anjuran pola makan saat sahur dan berbuka. Pada saat sahur, disarankan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, termasuk karbohidrat kompleks, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan, dan air putih. Selain itu, tubuh juga perlu menghindari makanan yang terlalu asin atau berminyak karena dapat menyebabkan rasa haus berlebih.

Pada saat berbuka sebaiknya minum dengan air putih untuk merehidrasi tubuh, diikuti dengan makanan manis alami seperti kurma yang kaya akan serat dan gula alami. Setelah itu, konsumsi makanan utama dengan porsi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

Selain itu, untuk mencegah dehidrasi, kebutuhan cairan harian tubuh juga patut diperhatikan, yakni sekitar dua liter atau delapan gelas per hari. Pembagian waktu minum air putih dapat diatur, yakni dua gelas saat berbuka puasa, satu gelas sebelum sholat tarawih, satu gelas setelah sholat tarawih, dua gelas sebelum tidur, dan dua gelas saat sahur.

Melakukan olahraga ringan, seperti jalan kaki atau bersepeda statis, tetap dianjurkan saat berpuasa untuk menjaga kebugaran. Waktu yang tepat untuk berolahraga adalah menjelang berbuka puasa atau setelahnya, dengan intensitas yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Dengan demikian, manajemen nutrisi yang tepat selama berpuasa sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Dengan memperhatikan asupan gizi seimbang, pemenuhan kebutuhan cairan, serta aktivitas fisik yang sesuai, puasa dapat dijalani dengan optimal tanpa mengorbankan kesehatan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

JELANG IDUL FITRI, JAPFA TURUNKAN HARGA PAKAN UNTUK STABILITAS INDUSTRI PERUNGGASAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung stabilitas sektor perunggasan nasional dengan menurunkan harga pakan ternak. Langkah ini dilakukan untuk membantu menekan biaya produksi peternak sekaligus menjaga stabilitas harga produk unggas menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Dr Drh Agung Suganda, MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Republik Indonesia menyatakan, “Tren penurunan harga pakan merupakan perkembangan positif bagi sektor perunggasan nasional. Penyesuaian harga pakan di tingkat industri diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak sehingga usaha peternakan menjadi lebih efisien dan stabilitas harga produk peternakan di pasar tetap terjaga.”

Sejalan dengan hal tersebut, Arif Widjaja, COO Poultry JAPFA, menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pemerintah menjaga stabilitas industri perunggasan. “Sebagai bagian dari komitmen kami untuk melindungi konsumen dan peternak nasional, kami melakukan penyesuaian dengan menurunkan harga pakan. Kami berharap langkah ini dapat membantu peternak meningkatkan efisiensi usaha sekaligus memastikan pasokan ayam tetap terjaga sehingga masyarakat dapat memperoleh produk unggas dengan harga yang lebih stabil, khususnya menjelang lebaran,” ujar Arif.

JAPFA juga terus menjalin koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk melakukan penyesuaian harga secara berkala guna mendukung efisiensi produksi peternak, hingga nantinya produk peternakan hilir dapat dinikmati masyarakat dengan harga terjangkau. “Upaya ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi peternak untuk menjaga biaya produksi, terutama pada periode ketika permintaan daging ayam biasanya meningkat seperti pada Hari Besar Keagamaan,” tambah Arif.

Melalui langkah ini, JAPFA berharap dapat berkontribusi menjaga keseimbangan antara keberlanjutan usaha peternak, stabilitas industri perunggasan, serta keterjangkauan harga produk unggas bagi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri. (Rilis)

MANFAATKAN MOMEN RAMADAN, ASOHI GELAR BAKTI SOSIAL DAN PEMBERIAN SANTUNAN

Foto bersama dalam kegiatan bakti sosial dan santunan yang dilaksanakan ASOHI. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Mengisi momentum kemuliaan bulan suci Ramadan, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyelenggarakan aksi kemanusiaan berupa bakti sosial dan pemberian santunan. Acara tersebut dilaksanakan di Panti Asuhan Mizan Amanah, Jagakarsa, Jumat (6/3/2026).

Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial organisasi terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim dan dhuafa, guna mempererat tali silaturahmi serta berbagi kebahagiaan di bulan yang penuh keberkahan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini. Menurutnya, Ramadan menjadi waktu yang paling tepat untuk memperbanyak amal kebajikan dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

"Alhamdulillah, di bulan yang mulia ini kita dapat mengadakan kegiatan bakti sosial ASOHI untuk memberikan santunan kepada anak-anak di Panti Asuhan Mizan Amanah Jagakarsa," ujar Harris di sela-sela acara.

Pemberian bingkisan dari Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi (kanan) kepada Ustaz Saiful Baihaki (kiri).

Kehadiran pengurus ASOHI disambut hangat oleh keluarga besar Panti Asuhan Mizan Amanah. Ustaz Saiful Baihaki, selaku pengurus panti cabang Jagakarsa, menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam atas konsistensi ASOHI dalam menjalankan program sosial tersebut.

"Kami dari Panti Asuhan Mizan Amanah, khususnya cabang Jagakarsa, menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ASOHI yang rutin berbagi di bulan yang penuh keberkahan ini," ucapnya.

Anak-anak yatim dan dhuafa pun turut menyampaikan doa dan terima kasihnya atas santunan yang diberikan, "Semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan oleh ASOHI beserta keluarganya dan selalu dipanjangkan umurnya."

Melalui kegiatan rutin ini, ASOHI berharap dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan menginspirasi pihak lain untuk turut serta dalam menebar kebaikan, khususnya selama bulan Ramadan. (RBS)

CARA MEMILIH ANAK BUAH KANDANG

Memilih anak buah kandang (ABK) menjadi salah satu faktor paling menentukan keberhasilan sebuah usaha peternakan. SOP kandang yang sudah disusun rapi, sistem manajemen yang baik, serta fasilitas yang memadai tidak akan berjalan optimal jika orang yang menjalankannya tidak tepat. Sebaliknya, dengan ABK yang tepat, pekerjaan di kandang bisa berjalan lebih teratur, efisien, dan minim masalah.

Karena itu, pemilik kandang tidak seharusnya asal dalam merekrut tenaga kerja. Dibutuhkan pertimbangan yang matang agar mendapatkan ABK yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga memiliki sikap yang baik, setia, rajin, patuh terhadap aturan, serta dapat dipercaya. Dengan kriteria yang tepat, SOP yang telah dibuat juga akan lebih mudah dijalankan secara konsisten.

Lalu, bagaimana cara memilih anak buah kandang yang ideal? Berikut beberapa hal penting yang bisa dijadikan acuan dalam memilih ABK.

Kompeten. Yaitu mempunyai kecerdasan dan skill yang memadai, lebih disukai jika sudah berpengalaman sehingga tidak perlu mengajari dari nol. Biasanya orang yang kompeten juga suka belajar. Jika ABK tidak kompeten maka SOP kandang sebagus apapun tidak akan bisa dijalankan dengan baik.

Sehat dan kuat fisik serta mentalnya. Karena bekerja di kandang membutuhkan ketahanan dan kekuatan fisik, juga ketahanan mental.

Patuh. Ini sangat penting, sama seperti kompetensi, agar SOP kandang yang dibuat dijalankan sepenuhnya. Karena kadang terjadi pemilik kandang dan ABK sama-sama memiliki ilmu yang memadai namun beda pandangan, dan ABK merasa SOP dia yang lebih baik. Akibatnya di kandang akan ada dua kepemimpinan sehingga pekerjaan bisa berantakan.

Jika mendapatkan ABK yang pintar dan berpengalaman, jelaskan dari awal bahwa pemilik kandang menghargai ilmu ABK tersebut. Namun di kandang hanya boleh ada satu kepemimpinan dan satu SOP.

Berkeluarga. Dari pengalaman beberapa peternak biasanya ABK yang sudah berkeluarga lebih setia atau bertahan lama kerjanya. Karena bagi mereka pekerjaan itu penting sebab ada keluarga yang harus dinafkahi.

Capai kesepakatan di awal. Sistem penggajian, bonus performa, dll termasuk fasilitas dan hak/kewajiban yang diterima ABK harus dibicarakan dan disepakati dari awal.

Background check. Cek riwayat ABK bisa dari media sosial, tempat bekerjanya yang terdahulu, atau rekan kerjanya.

Perlu diuji. Amati kinerja ABK yang baru. Jangan beri kepercayaan penuh, kepercayaan diberikan bertahap ketika ABK memang layak mendapatkannya. Cek aset secara rutin seperti pakan dan peralatan yang rawan dicuri dan dijual oleh ABK nakal. Jangan lupa utamakan komunikasi yang baik.

KEMENTAN: HARGA PAKAN TERPANTAU TURUN, BISA TEKAN BIAYA PRODUKSI

Berdasarkan pemantauan SPORA Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk broiler maupun layer. (Foto: Dok. Infovet)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya pada sektor perunggasan yang bergantung pada pakan pabrikan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk ayam pedaging (broiler) maupun petelur (layer). Pakan broiler starter (BR1) mengalami penurunan rata-rata Rp 112/kg dari 33 pabrik pakan, bahkan pada beberapa pabrik penurunan mencapai Rp 600/kg, dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.010/kg. Pakan broiler pre starter (BR0) tercatat turun rata-rata Rp 82/kg dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.451/kg. 

Sementara untuk pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp 89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.967/kg. Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp 86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 6.803/kg, serta konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp 74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.735/kg.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak, karena akan membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” kata Agung di kantornya, Kamis (5/3/2026).

Kendati demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrikan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38% telah menyesuaikan harga.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” sebutnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam keterangan terpisah mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan berbagai efisiensi dan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri pakan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ekspor ke Filipina. Ada dari NTB dan Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (INF)

MENGHINDARI COLIBACILLOSIS SEBELUM MERUGI

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagai penyakit dengan tingkat kejadian yang paling sering ditemukan, peternak tidak boleh lagi abai terhadapnya. Pasalnya kerugian yang ditimbulkan cukup besar, juga terdapat potensi lain yang mungkin memunculkan petaka bagi manusia.

Menular Terus, Tak Kenal Waktu
Kebanyakan E. coli hidup di lingkungan kandang melalui kontaminasi feses. Permulaan infeksi dari bakteri ini mungkin juga terjadi di hatchery, dari infeksi atau telur yang terkontaminasi. Meskipun begitu, infeksi sistemik biasanya membutuhkan bantuan lingkungan atau predisposisi lainnya.

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah, lembap, dan kotor, bukan dari ayam ke ayam seperti yang selama ini sering diduga peternak. Berdasarkan penelitian Mc Mullin (2004), disebutkan bahwa colibacillosis terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga menjadi faktor predisposisi infeksi E. coli. Selain itu, timbulnya colibacillosis juga tidak lepas dari sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai, serta adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresif.

Untuk faktor manajemen, pastinya peternak sudah sering mendapatkan penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya, namun sayangnya tidak adanya perubahan manajemen ke arah yang lebih baik, menjadi kesan adanya “pembiaran” infeksi dari bakteri E. coli.

Lingkup Infeksi yang Luas
Tidak hanya antibiotik yang memiliki lingkup luas, bakteri E. coli ternyata juga dapat menyebabkan infeksi dengan lingkup yang luas, baik secara lokal maupun sistemik, bukan hanya pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan saja. Bentuk infeksi sistemik E. coli biasa disebut colisepticemia. Berikut ini beberapa infeksi lokal pada colibacillosis menurut Unandar (2019):... Selengkpanya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026. (CR)

TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Foto: Dok. Infovet)

Transformasi peternakan sapi perah bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Perubahan teknologi, dinamika permintaan pasar, perilaku konsumen, serta sistem transaksi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kebijakan publik dalam meresponsnya.

Terlebih lagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan tekanan kuat atas meningkatnya permintaan akan susu segar dalam negeri (SSDN). Akibatnya, peternakan sapi perah rakyat berada dalam tekanan struktural yang kian besar.

Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.

Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.

Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.

Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.

Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.

Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.

Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.

Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.

Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh  entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***

Ditulis oleh:
Rochadi Tawaf
Ketua Asosiasi Holstein Indonesia

MENTAN KEMBALI LEPAS EKSPOR KOMODITI UNGGAS KE BEBERAPA NEGARA

Mentan Amran Sulaiman Melepas Ekspor Produk Unggas. (Foto: Infovet/CR)

Selasa (3/3) yang lalu Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman melakukan seremonial pelepasan ekspor unggas ke beberapa negara seperti Jepang, Singapura, dan Timor Leste di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta. Pengiriman sendiri akan dilakukan bertahap ke masing - masing negara oleh perusahaan pengekspor sampai dengan 31 Maret mendatang. 

Menurut Amran, ekspor menjadi arah strategis pemerintah dalam memperkuat devisa, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri. Menurutnya, keberhasilan ini membuktikan bahwa industri perunggasan nasional sudah sangat mandiri.


"Protein hewani khususnya unggas, kita sudah bisa swasembada dan ekspor ini merupakan yang kesekian kalinya," ujar Amran. 


Ia sendiri menyebut bahwa pemerintah akan senantiasa mendukung para pelaku usaha yang memang ingin mengharumkan nama bangsa melalui ekspor. Bantuan yang diberikan tentunya dalam aspek legalitas dan pembukaan akses pasar mancanegara. 


Sebanyak 545 ton produk unggas mulai dari telur, karkas, serta produk olahan dikirim pada hari itu. Pada kesempatan tersebut nilai transaksi ekspor yang tercatat yakni 18,2 Miliar Rupiah. 


Petinggi TIB Group Bersama Perwakilan Ditjen PKH. (Foto: Infovet/CR)


Salah satu perwakilan perusahaan yakni Ariefin selaku PT Raja Jeva Nisi (TIB Group) ketika ditemui oleh Infovet menyatakan rasa bangganya karena ikut andil dalam mengharumkan nama bangsa melalui ekspor. Menurutnya ekspor adalah salah satu bukti bahwa produk lokal mampu menembus pasar internasional dan diakui kualitasnya.


"Kita sebelumnya pernah ekspor juga produk olahan kita ke Bangladesh, kita sangat senang kalau produk kita bisa diekspor. Artinya produk kita sudah memenuhi standar dari negara pengimpor, dan kita memang fokus di kualitas," tutur Ariefin. 


Dalam kesempatan yang sama komisaris PT Raja Jeva Nisi Tjandra Srimulianingsih juga mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada kementerian pertanian yang sudah sangat support kepada pelaku usaha. 


"Perizinan segala macamnya kita sangat terbantu, saya ucapkan terima kasih kepada Pak Menteri dan jajarannya," tutur Tjandra. 


Ia melanjutkan bahwa kedepannya TIB Group juga sedang mengincar beberapa negara lagi untuk dijadikan pasar ekspor, karena menurutnya pasar ekspor terutama produk olahan unggas di luar negeri cukup menjanjikan. 


Di hari itu TIB Group sendiri mengekspor sekitar 2 kontainer produk karkas dan olahan daging ayam dengan volume total sebanyak 22 ton. Transaksi yang berhasil dibukukan oleh TIB Group yakni sekitar USD 50.675 atau sekitar 837 juta rupiah. (CR)


PERKUAT HILIRISASI DAN KETAHANAN PANGAN, JAPFA FOOD KEMBALI LEPAS EKSPOR PRODUK OLAGUD READY TO EAT KE SINGAPURA

PT Japfa Food Indonesia (JAPFA Food), unit bisnis hilir JAPFA, kembali melepas ekspor produk OLAGUD Ready-To-Eat (RTE) ke Singapura. Pengiriman ini merupakan bagian dari agenda ekspor rutin produk perunggasan olahan yang diproduksi di dalam negeri. Kali ini, ekspor dilepas oleh Menteri Pertanian RI, Ir H Andi Amran Sulaiman, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan daya saing produk perunggasan nasional di pasar global.

Keberlanjutan ekspor produk perunggasan ini juga mencerminkan ketahanan sektor perunggasan nasional. Saat ini, Indonesia telah mampu mencukupi kebutuhan produk perunggasan dalam negeri secara mandiri. Bahkan, kapasitas produksi yang terjaga dan sistem pengendalian mutu yang ketat memungkinkan Indonesia memperluas pasar ekspor untuk memasok kebutuhan regional, sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Dalam acara pelepasan ekspor di kantor Kementan RI, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan Indonesia telah mencapai swasembada ayam dan memiliki kapasitas produksi yang kuat. Ia juga menekankan bahwa keberhasilan ekspor menjadi bukti Indonesia tidak bergantung pada impor ayam. “Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia sudah kuat. Produksi ayam kita lebih dari cukup. Kita tidak perlu mendatangkan ayam dari luar, termasuk dari Amerika Serikat. Kita sudah melimpah,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan peningkatan ekspor didukung penguatan sistem kesehatan hewan dan sertifikasi internasional. “Setiap produk yang diekspor telah melalui proses sertifikasi veteriner dan pengawasan ketat sesuai persyaratan negara tujuan. Kami memastikan aspek traceability, biosekuriti, dan keamanan pangan terpenuhi agar ekspor berkelanjutan,” ujar Agung.

Sementara itu, Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs JAPFA menyampaikan, “Ekspor ini merupakan keberlanjutan dari pengiriman sebelumnya, sekaligus langkah strategis perusahaan dalam memperluas penetrasi pasar internasional untuk produk hilir bernilai tambah. Melalui penguatan lini bisnis hilir, JAPFA secara konsisten mengembangkan portofolio produk siap konsumsi yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan konsumen global.”

Melalui sinergi dalam aspek produksi, pengawasan, dan sertifikasi, produk olahan berbasis bahan baku dalam negeri dapat terus diperkenalkan ke berbagai negara tujuan, sejalan dengan upaya bersama untuk memajukan industri pangan Indonesia di tingkat internasional.

Produk OLAGUD RTE merupakan fillet dada ayam siap makan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kudapan sehat tinggi protein bagi konsumen. Produk ini diproduksi melalui sistem yang tersertifikasi sesuai standar keamanan pangan dan persyaratan kesehatan hewan yang ditetapkan oleh regulasi negara tujuan ekspor.

Hadir dalam banyak varian rasa untuk dada ayam dan sosis, yaitu; Himalayan Pink Salt, Herbs, Miso Shoyu, Peri-Peri, Smokey, Hainanese, Honey Chicken Sausage, dan Smokey Chicken Sausage. Produk ini dikembangkan berdasarkan riset preferensi konsumen Singapura. Inovasi rasa, konsistensi kualitas, serta pengendalian mutu menjadi fokus utama JAPFA dalam membangun kepercayaan pasar internasional. (Rilis)

COLIBACILLOSIS: ANCAMAN KLASIK YANG MASIH RELEVAN DI KANDANG MODERN

Bacterial chondronecrosis kerusakan dan kematian jaringan tulang rawan yang disebabkan oleh infeksi colibacillosis, terutama pada ayam broiler, yang menggangu pertumbuhan tulang dan menyebabkan pincang hingga kelumpuhan dan kerusakan pada liver.

Strategi terpadu pencegahan pada broiler, layer, dan breeder melalui biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, dan nutrisi.

Di tengah kemajuan teknologi perunggasan, colibacillosis masih menjadi salah satu penyakit paling sering dijumpai di lapangan. Penyakit yang disebabkan bakteri Escherichia coli (E. coli) ini kerap muncul tanpa disadari, perlahan menurunkan performa ayam, dan pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kerugian ekonomi peternak.

Colibacillosis tidak hanya menyerang broiler, tetapi juga layer dan breeder, dengan manifestasi yang berbeda-beda. Yang membuat penyakit ini semakin kompleks adalah sifatnya yang multifaktorial dan sering berperan sebagai penyakit sekunder, memanfaatkan celah dari lemahnya manajemen, biosekuriti, atau kesehatan ayam.

Oleh karena itu, pencegahan colibacillosis tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, serta pengelolaan nutrisi pakan secara optimal.

Memahami Colibacillosis Bukan Sekadar Penyakit Bakteri
E. coli sejatinya merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan kandang, bahkan di saluran pencernaan ayam. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri ini dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan penyakit.

Pada broiler, colibacillosis sering terlihat dalam bentuk dengan infeksi air sacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan septicemia. Sementara pada layer dan breeder, dampaknya bisa lebih luas, seperti penurunan produksi telur, kualitas kerabang menurun, egg peritonitis, serta penurunan fertilitas dan daya tetas.

Kondisi stres, infeksi penyakit pernapasan (IB, ND, AI, CRD), kualitas udara kandang yang buruk, serta ketidakseimbangan nutrisi menjadi pemicu utama berkembangnya colibacillosis.

Biosekuriti, Fondasi Pencegahan yang Tidak Bisa Ditawar
Biosekuriti tetap menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

INDONESIA PERKUAT STANDAR KESEHATAN HEWAN DI TENGAH PEMBATASAN IMPOR UNGGAS SAUDI

Daging ayam beku. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan kebijakan pembatasan impor unggas dan telur oleh Otoritas Pangan dan Obat Arab Saudi (Saudi Food and Drug Authority/SFDA) merupakan langkah sanitari yang bersifat kehati-hatian dan lazim diterapkan dalam perdagangan internasional produk peternakan.

Indonesia saat ini masih termasuk dalam daftar negara yang dikenakan pembatasan impor unggas oleh Arab Saudi. Kebijakan tersebut bukan kebijakan baru, melainkan bagian dari kebijakan sanitari yang telah berlangsung sejak lama dan diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan penyakit unggas global, khususnya sejak peningkatan kasus avian influenza (AI) pada pertengahan 2000-an.

Indonesia mulai masuk dalam daftar temporary banned Arab Saudi sejak 2004, seiring merebaknya wabah AI. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan risiko kesehatan hewan yang bersifat dinamis dan ditinjau berkala oleh otoritas negara tujuan. 

Kementan memandang posisi tersebut sebagai bagian dari proses teknis perdagangan veteriner yang umum terjadi dan tidak secara langsung mencerminkan kondisi terkini sistem kesehatan hewan nasional secara menyeluruh.

Dari sisi ekonomi, dampak kebijakan ini terhadap industri unggas nasional dinilai terbatas karena ekspor produk unggas Indonesia ke Arab Saudi masih relatif kecil, sementara pasar domestik tetap menjadi penopang utama produksi. Namun demikian, pemerintah menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk memperkuat kredibilitas sistem kesehatan hewan dan kesiapan ekspor.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan pemerintah menjadikan dinamika pembatasan sanitari sebagai momentum memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan global produk peternakan.

“Penguatan sistem kesehatan hewan adalah fondasi utama kepercayaan pasar internasional. Karena itu, kami memastikan biosekuriti, surveilans penyakit, serta penerapan zonasi dan kompartemen berjalan konsisten sebagai standar nasional,” ujar Agung di Kantor Kementan Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Ia menegaskan, pemerintah terus mendorong pembukaan akses pasar melalui diplomasi veteriner dan penguatan hilirisasi. “Pendekatan kami tidak hanya membuka pasar, tetapi memastikan produk peternakan Indonesia hadir dengan standar yang diakui dunia. Produk olahan menjadi jalur strategis sekaligus bukti kesiapan industri nasional,” kata dia.

Indonesia merupakan produsen unggas terbesar di ASEAN dengan populasi sekitar 3,9 miliar ekor, sehingga kapasitas produksi nasional telah melampaui kebutuhan domestik dan membuka peluang ekspor produk unggas dan turunannya. 

Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa pembatasan oleh negara mitra merupakan mekanisme reguler dalam perdagangan berbasis sanitari.
“Pembatasan sanitari oleh negara mitra umumnya bersifat berbasis risiko dan menjadi bagian dari mekanisme kehati-hatian. Pemerintah terus memperkuat biosekuriti, surveilans, serta transparansi data penyakit untuk memastikan sistem kesehatan hewan nasional memenuhi standar internasional,” ujar Hendra.

Ia menambahkan, pendekatan zonasi dan kompartemen menjadi instrumen utama dalam proses pembukaan akses pasar. “Melalui penguatan zonasi dan kompartemen, perdagangan dapat dilakukan secara aman berbasis risiko sekaligus mendukung proses dialog teknis dengan negara tujuan,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menjelaskan proses akses pasar unggas ke Arab Saudi saat ini masih berada pada tahap negosiasi persyaratan teknis. “Ekspor produk unggas ke Arab Saudi masih dalam tahap negosiasi persyaratan,” ujar Makmun.

Ia menegaskan bahwa produk unggas segar seperti karkas dan telur belum memperoleh persetujuan akses pasar. “Untuk karkas dan telur, atau produk segar dan beku, saat ini belum disetujui,” kata dia.

Namun demikian, Makmun menyampaikan terdapat kemajuan pada produk olahan unggas. “Persyaratan yang sudah disetujui adalah produk olahan ayam yang telah mengalami pemanasan pada suhu yang mampu membunuh virus HPAI (Highly Pathogenic Avian Influenza),” ujarnya.

Sejalan dengan pengecualian sanitari tersebut, Indonesia masih dapat melakukan ekspor produk olahan unggas. Data menunjukkan ekspor produk olahan daging ayam ke Arab Saudi pada 2023 tercatat 19 ton dengan nilai sekitar USD 294.654. Selain itu, ekspor produk berbasis olahan ayam lainnya terus meningkat hingga mencapai lebih dari USD 132 juta pada 2024.

Pada 2025, Indonesia juga telah memperoleh izin ekspor produk unggas heat-treated retort sterilized atau produk sterilisasi komersial seperti semur ayam, opor ayam, dan rendang ayam untuk kebutuhan jemaah haji Indonesia.

Untuk memastikan standar internasional tetap terpenuhi, Kementan terus menjalankan penguatan biosekuriti berlapis di sentra produksi unggas, peningkatan surveilans penyakit, vaksinasi berbasis risiko, serta pengendalian lalu lintas dan produk unggas secara ketat.
Selain itu, sistem sertifikasi kesehatan veteriner diselaraskan dengan standar Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), termasuk peningkatan ketertelusuran, audit fasilitas, dan verifikasi unit usaha berorientasi ekspor.

Pemerintah menegaskan akan terus membuka komunikasi teknis dengan otoritas Arab Saudi guna memperoleh kejelasan persyaratan, memperkuat kerja sama veteriner, serta menjajaki peluang pemulihan akses pasar secara bertahap, khususnya melalui jalur produk olahan yang telah memenuhi persyaratan sanitari. (INF)

BEBERAPA BENTUK KOLIBASILOSIS

Ilustrasi anak ayam yang terinfeksi omphalitis. (Sumber: Shutterstock.com (kiri) & Diseases and Disorder of the Domestic Fowl and Turkey. CJ. Randall, 1997 (kanan))

Kolibasilosis adalah infeksi bakteri yang disebabkan oleh Escherichia coli (E. coli), yang secara alami hidup di usus unggas (ayam, kalkun, dan bebek).

Meskipun banyak strain E. coli yang tidak berbahaya, beberapa strain patogen dapat menyebabkan infeksi parah ketika masuk ke bagian lain dari tubuh ayam. Infeksi dapat menyebabkan berbagai kondisi seperti kematian, penurunan produksi telur, dan kerugian ekonomi, selain itu juga menyebabkan septikemia (keracunan darah), peritonitis (peradangan pada rongga perut), dan gangguan pernapasan.

Penyakit ini bisa terjadi secara primer atau sekunder, sangat menular, dan dapat menyebar dengan cepat di antara flock, terutama ketika ayam mengalami stres atau hidup dalam kondisi yang tidak bersih, juga dapat lebih parah jika manajemen kandang buruk, ventilasi tidak memadai, dan kualitas air yang jelek. Gejala yang terlihat bila ayam terkena infeksi adalah diare, gangguan pernapasan, penurunan nafsu makan, serta pembengkakan dan peradangan pada organ tubuh.

Kolibasilosis dapat muncul dalam berbagai bentuk, sehingga sulit jika diagnosis hanya berdasarkan gejala klinis. Penyakit ini sering menyerang sistem pernapasan, akan tetapi dapat juga memengaruhi aliran darah, sistem pencernaan, atau organ lainnya.

Penyebab dan Faktor Predisposisi
Bakteri penyebabnya adalah E. coli yang secara alami ada di usus unggas, tetapi bisa menjadi patogen oportunistik saat kekebalan tubuh menurun, terutama terhadap jenis Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC).  Faktor seperti ventilasi buruk, kualitas air minum yang tercemar, kebersihan kandang yang kurang baik, dan tingginya kadar amonia di kandang dapat memicu penyakit.

Kolibasilosis sering muncul setelah unggas terinfeksi penyakit lain/infeksi sekunder, terutama seperti penyakit gumboro, avian influenza, dan newcastle disease. Penularan bisa melalui kontak langsung dengan feses terkontaminasi, kualitas sanitasi tempat penetasan yang buruk, atau secara vertikal melalui telur yang terinfeksi.

Secara garis besar faktor pencetus kejadian penyakit ini adalah berasal dari dalam, yaitu berasal dari DOC atau ayam itu sendiri seperti radang pusar/omphalitis dan stres/dehidrasi karena perjalanan, dan yang berasal dari luar/tata laksana/lingkungan seperti lemahnya biosekuriti, kesalahan fase brooding, dan yang berasal dari udara, air, maupun pakan.

Gejala Klinis Secara Umum
Pada anak ayam terlihat adanya diare, omphalitis, dan tingginya kematian dini. Pada ayam dewasa gejala klinis biasanya diperlihatkan adanya gangguan pernapasan, nafsu makan dan berat badan menurun, diare (feses berair dan berwarna hijau), bulu di sekitar kloaka lengket dan kotor, mata sayu dan meradang, hingga pincang akibat radang sendi (arthritis).

Sedangkan pada ayam petelur terlihat adanya penurunan produksi telur dan penundaan puncak produksi, dan jika menyerang ayam yang sedang berproduksi tinggi terkadang ditemukan keadaan eggs yolk peritonitis.

Beberapa bentuk infeksi E. coli pada ayam petelur, di antaranya:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi Perunggasan

COLIBACILLOSIS YANG BIKIN MIRIS

Temuan umum patologi anatomis pada kasus colibacillosis. (A) Pericarditis. (B) Airsacculitis. (C) Perihepatitis. (Foto: Istimewa)

Penyakit colibacillosis, mungkin semua peternak ayam terutama broiler pernah merasakan kerugian yang diakibatkannya. Walaupun sudah banyak peternak yang bisa dibilang well educated, namun masih saja kerap kali kecolongan, tetapi kenapa cenderung berulang?

Baik peternak, petugas kandang, technical service, maupun sales representative, sudah pasti “kenyang” dengan kemunculan penyakit ini. Namun misteri mengapa ketika kasus colibacillosis dapat terus menggerus usaha peternak secara berulang memang tak pernah bisa diungkap.

Apalagi ketika harga ayam sedang mentok di level terbawah, keberadaan penyakit pasti akan menambah derita peternak, terutama peternak kecil mandiri.

Oportunis di Semua Makhluk Hidup
Bakteri Escherichia coli (E. coli) merupakan bakteri yang normal hidup pada saluran pencernaan mahluk hidup bahkan ketika suatu mahluk tersebut lahir, termasuk manusia (Kohl, 2018). Bakteri tersebut juga normal terdapat banyak di lingkungan peternakan ayam.

Beberapa peneliti mengkategotikan bakteri ini sebagai bakteri komensal yang tergolong pembusuk yang dapat membantu proses pencernaan di saluran cerna. Meskipun kebanyakan non-patogen, beberapa di antaranya menyebabkan infeksi saluran pencernaan pada berbagai makhluk hidup termasuk ayam.

Berdasarkan klasifikasi terbaru menurut uji serologis yang dilakukan berbagai ilmuwan, sederhananya E.coli dibagi menjadi patogen dan non-patogen. Anben et al. (2001), mengelompokkan E. coli yang bersifat patogen sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkan, antara lain penyebab diare dan septisemia sebagai Avian Pathogenic Escherichia Coli (APEC). Galur ini merupakan galur yang berhubungan dengan karakteristik penyakit ketika terjadi infeksi penyakit oleh E. coli maka penyakit tersebut dinamakan colibacillosis.

Bakteri E. coli juga dapat mencemari lingkungan. Biasanya dapat ditemukan dalam litter, kotoran ayam, debu atau kotoran dalam kandang. Debu dalam kandang ayam dapat mengandung 105-106 E. coli per gram. Keberadaan E. coli dalam air minum merupakan indikasi adanya pencemaran oleh feses. Dalam saluran pencernaan ayam normal, terdapat 10-15% bakteri E. coli patogen dari keseluruhan E. coli. (Tabbu, 2000).

Merajalela di Nusantara
Sebagai bakteri patogen, E. coli bisa dibilang “cukup berprestasi” dalam konotasi yang negatif di Indonesia. Seperti dituturkan Technical Education & Consultation Manager PT Medion, Drh Christina Lilis. Berdasarkan data yang telah dirangkum Tim Technical Education and Consultation PT Medion, colibacillosis menduduki peringkat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026 (CR)

PERKUAT DAYA SAING PETERNAKAN NASIONAL, BBPKH CINAGARA DORONG TRANSFORMASI MINDSET DAN DIGTALISASI


Workshop juga digelar secara offline di Aula Rajawali BBPKH Cinagara. (Foto: Istimewa)

Upaya memperkuat daya saing sektor peternakan nasional terus dilakukan melalui berbagai pendekatan strategis. Salah satunya melalui workshop “Akselerasi Peternak dan Kelembagaan Peternak yang Mandiri dan Berdaya Saing” yang diselenggarakan Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Rabu (25/2/2026) secara luring dan daring.

Dalam sesi diskusi, para narasumber menekankan pentingnya transformasi pola pikir (mindset) peternak. Peternak didorong untuk tidak lagi hanya berorientasi pada produksi semata, namun juga memahami manajemen usaha, pencatatan keuangan, biosekuriti, hingga strategi pemasaran.

Kelembagaan peternak seperti kelompok ternak, koperasi, maupun asosiasi dinilai memiliki peran sentral sebagai penggerak ekosistem. “Kelembagaan yang kuat, peternak akan memiliki posisi tawar yang lebih baik, baik dalam pengadaan sarana produksi maupun dalam pemasaran hasil ternak,” tutur Dr Inneke Kusumawaty STP, MP selaku Kepala BBPKH Cinagara.

Perkembangan teknologi turut menjadi bahasan penting. Digitalisasi pencatatan ternak, pemasaran berbasis platform online, hingga pemanfaatan data untuk pengambilan keputusan usaha menjadi peluang yang harus direspons secara positif oleh peternak.

Prof Dr Ir Mat Syukur MSc, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian memaparkan materi tentang penguatan kapasitas milenial pada program pertanian peternakan. 

“Peternak muda memiliki peran strategis dalam mewujudkan swasembada pangan Indonesia. Regenerasi menjadi kunci berkelanjutan sektor pertanian dan peternakan,” kata Mat Syukur, salah satu pemateri workshop ini.   

BBPKH Cinagara, Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian bersiap dalam pembentukan brikade pangan. 

Langkah strategis juga sebagai penggerak utama di tingkat lapangan yang mengkonsolidasi potensi peternakan, memastikan program berjalan secara terarah, terukur dan berkelanjutan sehingga terwujud ekosistem agribisnis yang kuat dan pasokan harga produk peternakan yang stabil. (NDV)

3 RAHASIA KESUKSESAN DR DRH MUHAMMAD MUNAWAROH MM

naik pedati tebu menuju ibu kota

Ketika bertemu orang penting, hal yang sering terbetik di hati saya adalah bagaimana masa lalunya? Bagaimana jalan hidupnya dahulu sehingga bisa menjadi sukses seperti sekarang?

Pertanyaan-pertanyaan itu seringkali tak terjawab. Menjadi penasaran yang kemudian memudar seiring waktu.

Berbeda dengan Dr Drh Muhammad Munawaroh MM, Ketua Umum PB PDHI periode 2022-2026. Saya bisa membaca masa lalunya di buku biografinya yang berjudul Naik Pedati Tebu Menuju Ibu Kota.

Buku biografi tersebut bercerita menggunakan kronologi waktu. Dimulai dari masa kecil, remaja, kuliah, berkarir, bergorganisasi, dan diakhiri dengan tulisan dari para teman dan sejawat.

Masa kecil Munawaroh sepertinya tak jauh berbeda dengan masa kecil banyak orang Indonesia pada umumnya. Kehidupan keluarganya sederhana, sehari-hari berkecukupan namun tidak mewah. Begitu pun masa remajanya, juga masa kuliahnya.

Yang membedakan adalah, didikan orangtuanya berhasil membentuk Munawaroh menjadi pribadi yang mampu memilih pilihan-pilihan yang baik. Sehingga di setiap fase kehidupan, ia terus meningkat. Baik secara akademik, organisasi, maupun karir.

Privilege yang dimiliki Munawaroh tidak sebesar yang dipunyai anak-anak orang kaya dan mapan. Ia juga sering menemui kendala. Namun di tengah keterbatasan, kemampuan menentukan pilihan yang baik menjadi leverage yang melipatgandakan daya juang dan pencapaiannya.

Di samping itu, setelah memilih, dia memperjuangkan pilihannya. Dengan sepenuh hati menjalaninya dengan dedikasi yang patut dikagumi. Meski ada kendala dan keterbatasan, ia mampu mengatasinya dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Contohnya, dulu ketika akan kuliah Munawaroh agak bingung menentukan jurusan. Akhirnya dia memilih kedokteran hewan karena kakaknya adalah lulusan kedokteran hewan. Sehingga memperingan biaya kuliah karena dia bisa menggunakan buku-buku kuliah peninggalan kakaknya.

Pilihannya itu ia jalani dengan penuh tanggung jawab. Selain sungguh-sungguh belajar ia juga mengikuti berbagai kegiatan di kampus, termasuk ikut membuat majalah FKH UGM, Medivet. Ia juga terpilih menjadi mahasiswa teladan dari FKH UGM.

Selain itu Munawaroh sejak kecil mempunyai daya juang yang tinggi. Hasil didikan orangtua dan tempaan keadaan. Cita-cita, berbagai kendala, dari sejak SD hingga kuliah lalu bekerja dan berorganisasi, ia perjuangkan dan umumnya membuahkan hasil yang baik.

Dari buku biografi ini saya mendapatkan rahasia kesuksesan Munawaroh. Pertama adalah menentukan pilihan yang baik. Dalam hidup kita sering dihadapkan pada berbagai pilihan, dimana pilihan tersebut akan menentukan masa depan kita. Sehingga penting untuk memilih pilihan yang tepat.

Kedua adalah memperjuangkan pilihan tersebut. Pilihan sebaik apapun tanpa diperjuangkan terus-menerus sudah tentu tidak menghasilkan apa-apa.

Ketiga adalah daya juang. Memperjuangkan pilihan adalah bagian yang berat. Tanpa daya juang yang tinggi orang akan mudah menyerah di tengah jalan. Karena daya juanglah yang membuat kita tetap setia pada perjuangan kita, hingga akhirnya membawa pada kesuksesan. (NDV)

MOLDOVA MENYITA RATUSAN RIBU TELUR DAN AYAM BROILER KARENA KONTAMINASI PAKAN IMPOR

Hampir 130.000 telur, lebih dari 100.000 ayam broiler, dan sejumlah pakan yang tidak ditentukan disita dari pasar dan dimusnahkan di seluruh Moldova setelah inspeksi rutin mendeteksi kadar metronidazol yang berlebihan. Asalnya ditentukan dari pakan ternak yang diimpor dari Ukraina.

Inspeksi dilakukan oleh badan pengawas veteriner ANSA, yang mengatakan bahwa lebih dari 17 inspeksi lanjutan di gudang pakan, rumah potong hewan, dan peternakan telur memungkinkan petugas veteriner untuk melacak asal kontaminasi ke pakan yang diimpor dari Ukraina. Masih belum jelas apakah ada produk yang terkontaminasi telah dikonsumsi.

The Telegraph, sebuah media berita lokal, menerbitkan permohonan dari sekelompok pelanggan yang mengklaim bahwa ANSA diberitahu tentang kontaminasi produk unggas pada tanggal 22 Desember, tetapi secara publik mengakui masalah tersebut dan mulai menyita produk hanya pada tanggal 2 Januari.

Permohonan banding tersebut juga menyatakan bahwa sebanyak 10 peternakan unggas di Moldova telah membeli pakan yang terkontaminasi. Namun, ANSA dilaporkan hanya menyita produk dari 2 peternakan unggas, Intervetcom SRL dan Raiplai Avicola SRL, menurut publikasi tersebut.

Secara terpisah, media lokal melaporkan bahwa peternakan unggas yang terlibat dalam skandal tersebut telah memasok produk melalui tender negara, termasuk untuk tentara Moldova.

Metronidazol telah dilarang dalam peternakan unggas di Uni Eropa sejak tahun 1990-an dan di Moldova sejak tahun 2011.

Konsumsi telur yang terkontaminasi metronidazol dapat berkontribusi pada resistensi antibiotik, yang berpotensi menyebabkan kegagalan pengobatan pada infeksi di masa mendatang. Hal ini juga dapat menyebabkan efek kesehatan yang merugikan seperti sakit kepala, mual, pusing, sakit perut, dan kemungkinan kerusakan hati dan ginjal. Residu antibiotik menimbulkan risiko termasuk reaksi alergi dan neurotoksisitas, dan penggunaannya pada hewan penghasil makanan dilarang secara luas.

ANSA mengatakan produk-produk yang disita diproses sebagai limbah non-makanan di pabrik biogas untuk menghilangkan risiko kesehatan masyarakat. Regulator veteriner juga menekankan bahwa semua produk telur yang saat ini tersedia di pasar Moldova aman untuk dikonsumsi.

Skandal ini telah mengguncang industri unggas Moldova, menandai insiden veteriner paling serius dalam beberapa tahun terakhir, hanya beberapa minggu setelah negara tersebut menerima persetujuan untuk mengekspor produk unggas ke Uni Eropa.

COBB-VANTRESS MEMPERKENALKAN BROILER BREEDER COBB800

Sumber gambar: Cobb

Cobb-Vantress telah memperkenalkan Cobb800, broiler breeder yang dikembangkan untuk memenuhi tuntutan sistem produksi skala besar dengan hasil tinggi. Menurut perusahaan, produk baru ini merupakan hasil dari seleksi genetik selama beberapa dekade, yang didukung oleh program pengujian komersial paling komprehensif dalam sejarah Cobb.

Cobb800 telah dikembangkan untuk memberikan peningkatan hasil, tingkat kelangsungan hidup, dan daya tetas di berbagai lingkungan produksi. Cobb mengatakan bahwa unggas tersebut telah dievaluasi dalam kondisi komersial dunia nyata, dengan pengujian yang dilakukan di berbagai wilayah geografis, sistem manajemen, dan program nutrisi untuk memvalidasi konsistensi kinerja dalam skala besar.

Penelitian dan pengembangan memainkan peran sentral dalam pengembangan unggas ini. Dr William Herring, wakil presiden penelitian dan pengembangan di Cobb, mengatakan bahwa Cobb800 mencerminkan pergeseran dalam cara kemajuan genetik diuji dan di-delivery.

“Ini adalah produk yang paling dievaluasi secara menyeluruh yang pernah kami kembangkan,” katanya. “Produk ini telah diuji dalam skala komersial, di berbagai sistem produksi, untuk memastikan bahwa peningkatan genetik diterjemahkan menjadi kinerja yang terukur di peternakan.”

Cobb800 juga merupakan produk pertama yang menyelesaikan siklus pengembangan penuhnya melalui platform Proving Grounds Cobb, yang dirancang untuk menilai kinerja genetik dalam kondisi operasi komersial. Perusahaan mengatakan pendekatan ini meningkatkan relevansi dan keandalan data kinerja bagi produsen.

Saat memperkenalkan Cobb800, Cobb menekankan bahwa produk baru ini melengkapi portofolio yang ada, bukan menggantikannya. Cobb500 tetap menjadi solusi utama perusahaan untuk pasar unggas kecil, di mana produk ini terus memberikan kinerja dan efisiensi yang kuat.

Menurut Cobb, upaya penelitian dan peningkatan genetik terus berlanjut di semua lini produk selama pengembangan Cobb800. “Program ini mencerminkan komitmen kami terhadap peningkatan berkelanjutan,” kata Herring. “Pengembangan produk baru tidak mengorbankan lini produk kami yang sudah ada.”

Cobb memposisikan Cobb800 sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menyediakan solusi genetik berbasis data dan tervalidasi secara komersial kepada para produsen, yang dapat diintegrasikan dengan percaya diri ke dalam sistem produksi modern. (Via Poultryworld)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer