 |
| Prof Nahrowi (kiri), bersama Dr Syahrial Abdi (tengah), dan Ir Joko Irianto (kanan), dalam Opening Ceremony 3rd ICOP Conference 2026. (Foto-foto: Infovet/Sadarman) |
Rabu (8/4/2026). Bertempat di Bertuah Hall, Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, resmi dibuka 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026. Perhelatan yang digelar secara hybrid ini mengusung tema “Enhancing Food Security through Regenerative Agriculture in Integrated Cattle-Oil Palm System.”
Pilihan Pekanbaru sebagai tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Riau sebagai pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia, menjadikannya laboratorium hidup bagi sistem integrasi.
Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan bobot keilmuan, pakar lintas benua berkumpul, mulai dari Prof Luki Abdullah dari Centras IPB University, hingga ahli internasional seperti Richard ArmstrongSlaney, Assoc Prof Maja Slingerland, Dr Mohd Azid Kabul, serta Prof HenkHogeveen dari Wageningen University. Kolaborasi global ini bertujuan merumuskan formula terbaik dalam menerapkan regenerative agriculture di ekosistem sawit.
Ketua Panitia Pelaksana, Drh Arifin Budiman Nugraha, menekankan bahwa inti dari kesuksesan ICOP adalah transformasi pola pikir. Jika selama ini pemilik kebun merasa khawatir ternak akan merusak tanaman, edukasi konsisten melalui ajang ini berhasil mengikis hambatan psikologis tersebut.
Integrasi kini dipandang bukan sebagai beban operasional, melainkan nilai tambah bagi kedua komoditas. Melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), sapi mendapatkan pakan hijauan di sela pohon sawit, sementara perkebunan menerima pupuk organik gratis, menciptakan siklus nutrisi tertutup yang memulihkan ekosistem tanah sekaligus memproduksi protein hewani.
Apresiasi besar datang dari Pemerintah Provinsi Riau. Dr Syahrial Abdi mewakili Pj Gubernur SF Hariyanto, menegaskan komitmen untuk mentransformasi Riau menjadi lumbung ternak nasional melalui akselerasi program SISKA. Namun, ia juga memberikan catatan strategis bahwa ambisi besar ini menuntut kerja keras kolektif, terutama dalam memperkuat edukasi bagi pekebun swadaya dan penguatan infrastruktur pendukung.
Senada dengan hal tersebut, Ir Joko Irianto dari GAPENSISKA menyoroti bahwa jika potensi lahan sawit Riau dimaksimalkan, defisit daging nasional yang selama ini bergantung pada impor dapat segera teratasi.
 |
| 3rd ICOP Conference 2026 diselenggarakan di Pekanbaru, Riau. |
Dukungan akademis pun mengalir kuat, salah satunya Dr Alim Setiawan Slamet dari IPB University, yang menyatakan bahwa Riau memiliki kewajiban moral mendukung SISKA demi pemenuhan daging nasional.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Dr Arsyadi Ali, menekankan filosofi “Tiga Tungku Sejarangan”, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi, sebagai fondasi utama agar program ini tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi memberikan dampak instan bagi kemajuan sektor peternakan.
Dari sisi kebijakan teknis, Dr Ir Tri Melasari yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa SISKA adalah solusi cerdas untuk menekan biaya pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan.
Dengan memanfaatkan “piring makan” alami di bawah kanopi sawit, populasi sapi dapat ditambah secara cepat tanpa merusak operasional perkebunan. Meski tantangan berupa keengganan beberapa korporasi masih ada, 3rd ICOP Conference 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa manajemen yang tepat justru meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan struktur tanah.
Implementasi SISKA kini telah memiliki payung hukum yang kuat melalui Permentan No. 105/2014. Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan populasi di berbagai sentra. Di Riau sendiri, populasi sapi integrasi melesat dari estimasi awal 15.000 ekor menjadi lebih dari 150.000 ekor pada 2026. Keberhasilan serupa juga tercatat di Kalimantan Selatan melalui program “SISKA KU INTIP” yang kini melampaui 50.000 ekor, serta Kalimantan Timur yang mencapai 45.000 ekor demi memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Selain peningkatan populasi, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha. Penghematan pupuk kimia hingga 30% berkat peran sapi sebagai “pabrik pupuk berjalan” telah membuktikan bahwa regenerative agriculture memberikan dampak ekonomi langsung.
Penurunan biaya pakan sebesar 30-40% juga memberikan napas baru bagi target pengurangan impor sapi hidup. Dengan sinergi yang terus menguat, pembukaan perhelatan 3rd ICOP Conference 2026 yang dipandu oleh Dr Windu Negara ini ditutup dengan optimisme bahwa swasembada daging melalui jutaan hektare kebun sawit kini telah menjadi keniscayaan yang nyata. (Sadarman)