-->

Featured Posts

PETERNAK AYAM PEDAGING MENGUJI BIOCHAR UNTUK MENGATASI EMISI AMONIA

Ilustrasi.

Sekelompok peternak ayam pedaging di wilayah West Midlands, Inggris, mengambil langkah praktis untuk mengatasi salah satu tantangan lingkungan dan manajemen terbesar di sektor unggas dengan menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat mengurangi emisi amonia dan meningkatkan kualitas litter di kandang komersial.

Proyek yang didanai melalui program ADOPT ini mempertemukan para produsen di Shropshire, Herefordshire, dan Worcestershire dengan para peneliti serta spesialis biochar untuk mengevaluasi teknologi tersebut dalam kondisi peternakan yang sesungguhnya.

Meskipun biochar semakin mendapat perhatian di dunia pertanian, penggunaannya di kandang unggas masih relatif belum banyak dieksplorasi, sehingga uji coba ini sangat relevan bagi produsen yang mencari solusi praktis untuk memperbaiki kondisi kandang.

Tokoh sentral dalam proyek ini adalah Rob Collins, seorang peternak sekaligus pemimpin proyek, yang meyakini bahwa nilai penting dari upaya ini terletak pada dihasilkannya bukti kuat yang dapat dipercaya oleh produsen unggas lainnya.

"Peternak menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengelola emisi amonia sembari tetap menjaga kesejahteraan dan performa unggas," ujarnya. "Kami ingin menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat memberikan solusi praktis yang mudah diterapkan dalam manajemen peternakan sehari-hari, tanpa menambah kerumitan operasional."

Uji coba ini berfokus pada penerapan langsung biochar hasil rekayasa ke litter unggas. Material tersebut diproduksi dari kayu spruce melalui proses pirolisis yang menghasilkan produk stabil dan sangat berpori, yang mampu menyerap serta menyimpan nutrisi.

Di empat lokasi peternakan ayam pedaging komersial, para peneliti telah memasang sensor amonia untuk merekam data secara real-time di sepanjang siklus pemeliharaan. Para peternak juga akan menilai kondisi litter, karakteristik penanganan material, serta perubahan apa pun yang dapat diamati terkait kesejahteraan unggas.

Collins menyebut pendekatan yang melibatkan banyak peternakan ini sebagai salah satu kekuatan proyek, "Setiap unit peternakan unggas memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Dengan melakukan uji coba di beberapa lokasi, kami dapat melihat bagaimana kinerja biochar dalam berbagai sistem manajemen dan kondisi lingkungan kandang."

RUSIA MELARANG TRANSIT UNGGAS DARI UE

Mulai 5 Agustus, layanan veteriner negara Rusia, Rosselkhoznadzor, melarang transit daging unggas dan beberapa produk lainnya dari Uni Eropa (UE) melalui wilayah Rusia.

Langkah ini akan menghambat transit produk unggas yang diproduksi di Uni Eropa melalui Rusia, dengan pembatasan yang akan tetap berlaku hingga pembicaraan dengan Komisi Eropa mengenai dugaan pelanggaran dilakukan.

Rosselkhoznadzor menyatakan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit hewan dan melindungi konsumen di Rusia.

Badan pengawas veteriner Rusia tersebut merujuk pada sebuah kasus yang melibatkan dugaan transit ilegal produk sampingan unggas asal Jerman melalui Polandia. Pengiriman tersebut melintasi perbatasan menggunakan dokumen veteriner palsu sebelum dikirim ke Uzbekistan melalui Rusia.

"Analisis lanjutan dan tanggapan dari otoritas veteriner Jerman dilaporkan gagal mengungkap identitas pengirim maupun asal-usul sebenarnya dari produk-produk tersebut," ujar Rosselkhoznadzor.

Dampak utama dari larangan transit ini akan ditanggung oleh pemasok Eropa dan pembeli di Asia Tengah, demikian disampaikan Ilya Grashchenkov, seorang analis politik dan presiden Center for Regional Policy Development, kepada kantor berita negara setempat, TASS.

HARGA AYAM DI SURIAH MELONJAK TAJAM DI TENGAH DESAKAN UNTUK MELAKUKAN IMPOR

Harga ayam di Suriah telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini memicu desakan agar pemerintah kembali membuka keran impor unggas setelah kesepakatan yang bertujuan menjaga harga di tingkat peternak agar tetap terkendali tampaknya gagal.

Harga dada ayam telah mencapai sekitar 1.000 lira Suriah baru (US$8,20) per kg, sementara ayam hidup dijual seharga sekitar 400 lira baru (US$3,28) per kg. Menurut Al-Watan, sebuah media lokal, angka-angka ini dianggap "tidak masuk akal" bagi negara dengan standar hidup yang relatif rendah.

Lonjakan harga terbaru ini terjadi meskipun telah ada kesepakatan antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas yang bertujuan menciptakan stabilitas pasar. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pihak berwenang seharusnya menerbitkan buletin harga acuan mingguan, dan para produsen unggas berkomitmen untuk menjual satu ton ayam hidup dengan harga tidak lebih dari US$2.000. Saat ini, harga aktualnya berada 30-40% di atas tingkat tersebut.

Abdul Razzaq Habza, sekretaris Asosiasi Perlindungan Konsumen, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut pada kenyataannya telah gagal, "Kesepakatan yang dicapai antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas hanyalah sekadar tulisan di atas kertas, mengingat para peternak unggas tidak mematuhinya."

Kesepakatan itu muncul setelah adanya tuntutan dari produsen unggas untuk menghentikan impor ayam demi melindungi peternakan lokal. Menurut Habza, para produsen berargumen bahwa pembatasan impor akan menurunkan harga di tingkat lokal, dan pihak berwenang sempat memperkirakan pasar akan stabil dalam hitungan hari.

"Sayangnya, alih-alih melihat penurunan atau bahkan stabilitas harga ayam dan bagian-bagiannya, kita justru menyaksikan lonjakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Di sisi lain, organisasi perlindungan konsumen berpendapat bahwa peternak unggas bukanlah pihak yang harus disalahkan atas kenaikan harga baru-baru ini.

Habza mengatakan bahwa rumah potong hewan dan perantara lainnya adalah pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga yang sedang berlangsung, sementara peternak sebenarnya memiliki pengaruh terbatas terhadap harga akhir yang dibayarkan oleh konsumen.

Sebaliknya, para peternak menjelaskan bahwa harga unggas melonjak akibat kematian massal unggas selama gelombang panas ekstrem, yang sangat berdampak pada tingkat produksi.

Dalam situasi ini, Habza menyatakan bahwa mengizinkan impor unggas merupakan kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kembali harga.

Namun, ia menegaskan bahwa impor tersebut tidak boleh dilakukan tanpa batasan. "Melanjutkan kembali impor ayam telah menjadi kebutuhan mendesak, namun hal itu harus dilakukan dengan pengendalian khusus dan tidak secara sembarangan," ujar Habza.

Tujuannya, tambah dia, adalah menciptakan keseimbangan antara melindungi produsen unggas dalam negeri dan memastikan konsumen dapat membeli ayam dengan harga wajar yang sesuai dengan daya beli mereka.

PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH BIOSEKURITI DI PETERNAKAN AYAM PEDAGING KAMERUN MASIH BELUM MERATA

Peternakan ayam pedaging komersial di wilayah barat laut Kamerun memiliki skor biosekuriti keseluruhan yang relatif baik, namun sebuah studi menemukan adanya celah penting dalam beberapa langkah dasar pencegahan penyakit.

Para peneliti dari Universitas Ngaoundéré mengevaluasi 65 peternakan ayam pedaging komersial di Divisi Mezam, wilayah barat laut Kamerun, antara bulan April dan September 2025. Mereka menemukan skor biosekuriti rata-rata sebesar 76,1%. Namun, beberapa praktik dasar hanya diterapkan di kurang dari separuh jumlah peternakan tersebut. Hanya 35,4% yang memiliki fasilitas bak wheel dip untuk disinfeksi, dan persentase yang sama menerapkan sistem produksi all-in, all-out. Selain itu, hanya 47,7% peternakan yang menyingkirkan ayam mati setidaknya dua kali sehari.

Para peneliti mencatat tingkat kematian rata-rata sebesar 1,9% per siklus produksi. Mereka menemukan bahwa tingkat kematian menurun seiring dengan membaiknya biosekuriti, yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan secara statistik antara kedua faktor tersebut.

Studi ini juga meneliti pengetahuan dan sikap peternak terhadap kesejahteraan hewan. Meskipun skor praktik kesejahteraan hewan tergolong cukup baik, tingkat pengetahuan peternak jauh lebih rendah.

Nilai tengah skor pengetahuan adalah 38%, dibandingkan dengan 60% untuk sikap dan 70% untuk praktik. Para peneliti juga menemukan hubungan positif antara penerapan biosekuriti dengan pengetahuan peternak maupun praktik kesejahteraan hewan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan dapat berperan penting dalam membantu peternak mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan dalam praktik peternakan sehari-hari mereka. Langkah-langkah praktis dapat memberikan dampak nyata

Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini sangat relevan bagi produksi unggas di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, di mana para peternak mungkin menghadapi kendala finansial dan praktis dalam menerapkan sistem biosekuriti yang lebih canggih.

Studi ini menyoroti bahwa biosekuriti dan kesejahteraan hewan tidak boleh dipandang sebagai hal yang terpisah. Para peneliti menyimpulkan bahwa pelatihan terpadu yang mencakup kedua aspek tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan kawanan unggas, mengurangi kerugian, serta mendukung produksi ayam pedaging yang lebih berkelanjutan di Kamerun dan wilayah penghasil unggas lainnya yang memiliki keterbatasan sumber daya.

PRODUSEN TELUR UKRAINA MEMPERINGATKAN ADANYA TANTANGAN YANG KIAN BERAT SETELAH PENDAPATAN ANJLOK

Produsen telur asal Ukraina, Avangard, melaporkan pendapatan sebesar UAH 390,15 juta (US$9,3 juta) pada semester pertama tahun 2026, turun empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan resmi perusahaan.

Meskipun terjadi penurunan pendapatan yang tajam, perusahaan mencatatkan laba bersih sebesar UAH 51,59 juta (US$1,16 juta), berbanding terbalik dengan kerugian bersih sebesar UAH 74,04 juta (US$1,67 juta) pada semester pertama tahun 2025.

Peningkatan laba bersih ini terutama dikaitkan dengan persaingan yang semakin ketat di pasar telur Ukraina dalam beberapa tahun terakhir.

Avangard menyatakan bahwa saat ini mereka tidak memiliki rencana pembangunan modal karena keterbatasan pendanaan, sementara modernisasi aset tetap hanya akan dilakukan jika dana tersedia. Perusahaan menyebutkan bahwa mereka tidak menggunakan pinjaman bank dan arus kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional mencukupi untuk memenuhi kewajiban tepat waktu.

Selain itu, Avangard memaparkan beberapa tantangan utama yang memengaruhi bisnisnya, termasuk ketimpangan paritas harga pertanian, lemahnya daya beli konsumen, rendahnya harga jual telur, serta tingginya biaya produksi akibat mahalnya bahan baku, perlengkapan, dan jasa.

"Terjadi perlambatan tajam dalam pembaruan peralatan peternakan unggas. Berbagai masalah di sektor keuangan, perbankan, perpajakan, dan politik menghambat perusahaan untuk merencanakan kegiatan jangka panjang," ujar perusahaan tersebut.

Meningkatnya biaya logistik dan tenaga kerja membuat produksi telur di Ukraina menjadi semakin mahal, menurut Yulia Flerova, CEO produsen telur Yasensvit, dalam sebuah wawancara dengan majalah lokal Nashe Ptakhivnytstvo. Flerova menjelaskan bahwa struktur biaya produksi telur telah menjadi semakin kompleks; kini, biaya produksi tidak hanya dipengaruhi oleh harga pakan dan energi, tetapi juga oleh faktor logistik, investasi biosekuriti, dan ketersediaan tenaga kerja terampil.

Pentingnya logistik domestik maupun ekspor telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan upaya para produsen beradaptasi terhadap rute transportasi baru dan biaya pengangkutan yang lebih tinggi.

Pernyataan Flerova ini muncul di tengah gangguan parah terhadap ekspor pertanian Ukraina melalui Laut Hitam akibat eskalasi terbaru konflik dengan Rusia; serangan yang semakin intensif terhadap kapal niaga dan infrastruktur pelabuhan dalam beberapa minggu terakhir turut menambah beban biaya logistik serta ketidakpastian bagi para eksportir.

IKAT TUNTAS, LINDUNGI HEPAR: SOLUSI GANDA TOXCARE UNTUK TANTANGAN MULTI-MIKOTOKSIN

Kontaminasi mikotoksin pada bahan baku pakan tetap menjadi tantangan utama industri peternakan di iklim tropis seperti Indonesia. Kelembapan tinggi dan rantai pasok bahan baku yang panjang membuat pakan rentan terkontaminasi lebih dari satu jenis mikotoksin sekaligus, mulai dari aflatoksin B1, okratoksin, fumonisin B1, zearalenon, hingga T-2 toksin.



MERIAHKAN HUT KE-27 PT TEKAD MANDIRI CITRA, LAKUKAN AKSI AMAL DAN SIAPKAN LANGKAH MENUJU PASAR GLOBAL

Menapaki usia ke-27 tahun, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) membuktikan eksistensinya sebagai salah satu pilar utama penyedia obat hewan di Indonesia. Melalui kepemimpinan Direktur Utama TMC, drh. Gowinda Sibit, perusahaan tidak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis semata, melainkan juga menekankan keseimbangan aspek rasional, emosional, dan spiritual.











PETERNAK UNGGAS INGGRIS DIDESAK UNTUK MEMANTAU SUHU DI KANDANG KETIKA GELOMBANG PANAS TERUS BERLANJUT

Persatuan Petani Nasional (NFU) mendesak semua peternak unggas Inggris untuk memantau kondisi lingkungan di kandang unggas dan selama persiapan transportasi sebagai bagian dari prosedur manajemen rutin mereka, mengingat prakiraan cuaca panas saat ini.

Banyak wilayah di Inggris yang mengalami peningkatan suhu hingga di atas 30°C, sehingga Badan Keamanan Kesehatan Inggris mengeluarkan peringatan kesehatan terkait cuaca panas di sebagian besar negara tersebut. Panduan khusus Pemerintah Inggris tersedia untuk diikuti oleh produsen selama cuaca panas, dan peraturan kesejahteraan unggas merekomendasikan untuk berkonsultasi dengan sumber daya pemerintah ini.

Penasihat Senior Kedokteran Hewan NFU, Claire White, menekankan bahwa sangat penting bagi semua produsen unggas untuk memastikan sistem ventilasi mereka berfungsi dengan baik dan, jika dipasang, lubang pophole digunakan sepenuhnya untuk meningkatkan aliran udara.

"Penggunaan sistem kabut jika memungkinkan dapat membantu mengurangi suhu di dalam kandang unggas, namun sistem ini harus dipantau untuk memastikan kelembapan tidak meningkat. Produsen harus mewaspadai tanda-tanda awal tekanan panas, yang meliputi kelesuan, pernapasan dengan mulut terbuka, dan menjauhkan sayap dari tubuh," katanya.

White mencatat bahwa, jika tidak dikelola, tekanan panas dapat dengan cepat berkembang menjadi kelemahan dan kematian. "Stres panas juga akan berdampak pada produktivitas melalui berkurangnya konsumsi pakan, yang dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan produksi telur. Produsen harus mewaspadai bau amonia yang meningkat dan memastikan meteran berfungsi dengan baik. Unggas yang terkena kadar amonia tinggi mungkin tampak mengantuk dan lesu."

AFGHANISTAN MENUJU SWASEMBADA DAGING UNGGAS DAN TELUR

Pihak berwenang Afghanistan berupaya mempercepat pengembangan industri unggas negara itu dengan mempercepat alokasi lahan pertanian kepada investor, karena para pejabat mengatakan sektor ini terus berkembang.

Perwakilan Kamar Pertanian dan Peternakan Afghanistan mengatakan transfer lahan yang lebih cepat kepada investor unggas dapat membantu negara itu mencapai swasembada produksi daging ayam dalam waktu dekat.

Dalam pernyataan yang disebarkan melalui media lokal, para pejabat dari Kementerian Pertanian, Irigasi, dan Peternakan mengatakan industri unggas telah mengalami pertumbuhan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, didukung oleh investasi swasta yang signifikan.

Menurut kementerian, kapasitas produksi domestik telah meningkat secara substansial di seluruh daging ayam, telur konsumsi, pakan unggas, dan anak ayam umur sehari, dengan pertumbuhan lebih lanjut sedang berlangsung. Pengembangan sektor yang berkelanjutan dapat memainkan peran penting dalam memenuhi permintaan domestik sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Sedikit informasi yang dapat diandalkan telah dipublikasikan tentang keadaan industri unggas Afghanistan sejak Taliban kembali berkuasa. Sekitar 14.000 peternakan unggas saat ini beroperasi di seluruh Afghanistan, menyediakan lapangan kerja langsung bagi sekitar 100.000 orang dan lapangan kerja tidak langsung bagi 300.000 orang lainnya. Otoritas Afghanistan mengatakan negara itu mendekati swasembada daging unggas dan pakan unggas, meskipun mereka belum mengungkapkan angka-angka rinci.

Menurut Universitas Ilmu dan Teknologi Pertanian Nasional Afghanistan, negara itu memproduksi sekitar 219.000 ton daging unggas per tahun, sementara permintaan tahunan diperkirakan sekitar 295.000 ton. Ketersediaan daging unggas domestik saat ini hanya mencakup sekitar 46% dari asupan per kapita yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Para peneliti mengatakan perkembangan industri ini terus dibatasi oleh berbagai tantangan, termasuk praktik pertanian tradisional, infrastruktur yang tidak memadai, keahlian teknis yang terbatas, wabah penyakit, penggunaan agen antimikroba yang tidak terkontrol, dan input produksi berkualitas rendah.

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, para peneliti di universitas tersebut memperkirakan bahwa produksi unggas akan tumbuh rata-rata 13% per tahun selama beberapa tahun ke depan, melampaui 400.000 ton pada tahun 2030.

BBPMSOH GELAR WEBINAR KULTUR SEL, TEKNOLOGI STRATEGIS MENJAWAB TANTANGAN KESEHATAN HEWAN

Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH)

Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.

Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.

Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.

Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.

Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin

Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).

Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.

Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.

Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.

Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH.

Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan

Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.

“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.

Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.

“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)

KANDUNGAN PURIN HATI AYAM TERTINGGI, MITOS ATAU FAKTA?

Jangan konsumsi berlebihan, karena kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam dapat menyebabkan gejala asam urat. (Foto: Shutterstock/istetiana)

Sarapan bubur ayam terasa lebih nikmat jika dipadukan dengan sate hati ayam. Namun di balik rasanya yang nikmat, olahan organ ini menjadi pemicu penyakit yang membuat persendian sangat nyeri. Benarkah hati ayam mengandung purin kadar paling tinggi?

Setiap Minggu pagi, di kawasan perumahan elit Shila Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, selalu dipenuhi warga yang berolahraga. Di antara kerumunan orang-orang di kawasan tersebut, tampak seorang pria paruh baya yang juga mengenakan kaos, celana pendek, dan bersepatu olahraga. Hanya saja, dia menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang perempuan yang lebih muda.

Sesekali pria tersebut turun dari kursi roda, lalu jalan berjingkat beberapa langkah, lalu duduk lagi di kursi roda sambil merintih. “Asam urat saya lagi kambuh, tapi saya coba paksa tetep olahraga sebisanya,” tutur Marzuki, nama pria paruh baya itu kepada Infovet.

Pensiunan karyawan sebuah bank swasta ini mengaku sudah tiga bulan lebih terserang asam urat. Kadang sembuh, kadang kumat lagi. Di saat kambuh, pergelangan kaki terasa nyeri tiada tara, begitu keluhnya. Hanya obat generik yang rutin diminum setiap hari jadi peredanya.

Apa gerangan penyebabnya? “Asam urat saya sudah melewati ambang batas. Dokter bilang sih, saya terlalu banyak konsumsi makanan yang banyak mengandung purin. Mungkin yang dimaksud ati ayam, karena saya hobi banget makan ati ayam,” ujarnya.

Sejak pensiun setahun lalu, hampir setiap pagi ia mengaku sarapan bubur ayam. Sate hati dan ampela ayam pasti menjadi pendamping menu sarapannya. Sekali makan bisa habis lima tusuk, makan bubur ayam tanpa sate hati-ampela kurang nikmat, begitu ceritanya.

Sebelum konsumsi rutin hati ayam, Marzuki mengaku hampir tak pernah terkena sakit asam urat. “Makanya, kalau dulu olahraga bisa lari atau jalan cepat. Sekarang harus pakai kursi roda, asam uratnya sering kambuh. Tapi tetap saya paksakan olahraga pagi sebisanya,” tuturnya.

Apa yang dialami Marzuki bisa jadi dialami juga oleh banyak orang. Meski tiap orang memiliki daya tahan tak sama terhadap kadar purin dalam tubuh, namun makanan yang menjadi sumber penyakit ini sebaiknya dihindari. Sekali terserang, rasa nyeri di persendian tak berkesudahan.

Literatur kesehatan yang dimuat situs Rumah Sakit Tirta Medica Centre, di Jakarta, menyebutkan asam urat atau gout merupakan salah satu bentuk radang sendi yang dapat menyebabkan nyeri hebat dan bengkak pada persendian. Kondisi ini terjadi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat di atas batas normal, yaitu 3,4-7,0 mg/dL pada laki-laki dan 2,4-6,0 mg/dL pada perempuan.

Asam urat terbentuk ketika tubuh memecah senyawa purin yang berasal dari makanan atau diproduksi secara alami oleh tubuh. Indonesia menempati posisi keempat dunia dengan prevalensi penyakit asam urat tertinggi. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hiperurisemia di Indonesia mencapai 81%, dengan lebih dari 355 juta penderita di seluruh dunia.

Literatur kesehatan lainnya, tulisan dr Alvin Nursalim, ahli nutrisi di Jakarta, yang dimuat sebuah di media online nasional menyebutkan hati ayam termasuk kelompok jeroan. Hati ayam, dalam 100 gram mengandung 116 kkal kalori, 345 mg kolesterol, serta 4,83 gram lemak. Jeroan dapat menjadi penyebab utama terjadinya peradangan pada sendi.

Orang yang mengalami radang sendi disarankan tidak mengonsumsi jeroan karena dapat memperparah keluhan. Kandungan purin yang tinggi dalam hati ayam juga dapat menyebabkan gejala asam urat. Di sisi lain, hati ayam memang kaya akan vitamin B, seperti vitamin B12 dan folat. Makanan ini juga tinggi mineral, termasuk zat besi, magnesium, dan selenium, serta vitamin-vitamin penting yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K.

Tak hanya hati ayam, sumber purin penyebab asam urat juga ada pada hasil laut. Beberapa jenis makanan laut, seperti kerang, udang, dan teri diyakini menjadi pemicu asam urat karena memiliki kadar tinggi purin. Dari literatur tadi disebutkan, dari semua jenis tersebut, ikan teri kering mengandung purin paling tinggi, mencapai 1.108,6 mg per 100 gram.

Tetap Bernutrisi 
Kehati-hatian mengonsumsi hati ayam juga sudah sering disampaikan oleh para ahli gizi melalui artikel atau berita di berbagai media. Ahli nutrisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Budi Setiawan MS, juga membenarkan bahwa hati ayam memiliki kandungan purin yang tinggi. Menurutnya, hati ayam per 100 gram mengandung 312,2 mg purin dan dikategorikan sebagai makanan dengan kadar purin sangat tinggi. Dengan demikian, kandungan tinggi purin dalam hati ayam bukanlah mitos.

Menurut dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, olahan hati ayam paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya nikmat. Akan tetapi, menurutnya, mengingat hati ayam juga berfungsi sebagai penyaring berbagai racun tubuh, organ ini termasuk dalam bahan makanan yang tidak sehat.

Namun demikian, hati ayam tetap memiliki kandungan nutrisi baik. Dalam hati ayam terdapat beberapa nutrisi yang menyehatkan seperti vitamin A, B12, D, E, dan K. Yang penting, pakar gizi ini menyarankan agar tidak mengonsumsi terlalu sering.

Ia menjelaskan, hati ayam mengandung kandungan lemak dan kolesterol yang cukup tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering, bisa membuat kadar asam urat di dalam darah bisa meningkat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena penyakit asam urat ikut meningkat, mengingat zat purin semakin menumpuk di persendian. Karena alasan ini pulalah penderita asam urat tidak disarankan mengonsumsi hati ayam.

Tak hanya menyebabkan asam urat, jika dikonsumsi berlebihan, hati ayam bisa meningkatkan risiko terkena tekanan darah tinggi. Hal ini disebabkan kadar kolesterol di dalam hati yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat di dalam darah.

“Ini tentu akan memicu penumpukan plak pada pembuluh darah dan bisa menyebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Yang menjadi masalah adalah hipertensi bisa berimbas pada meningkatnya masalah penyakit jantung yang mematikan. Melihat adanya fakta ini, ada baiknya memang kita tidak sering-sering mengonsumsi hati ayam,” ujarnya.

Jangan Berlebihan
Budi tak menampik tentang anggapan bahwa konumsi daging juga menyebabkan seseorang terserang kolesterol. Akan tetapi jika membandingkan secara langsung antara daging dan hati, tentu saja akan ada perbedaannya.

Dari sisi kandungan gizi, hati sebagai jeroan memiliki kandungan kolesterol dan lemak lebih tinggi ketimbang daging. Selain itu, jeroan juga memiliki purin yang tinggi atau yang lebih dikenal dengan asam urat.

“Tapi lagi-lagi, kalau kita hanya mengonsumsi dalam batas wajar, misalnya hanya makan satu porsi, maka tidak perlu terlalu khawatir. Intinya, untuk makan apapun baik daging maupun jeroan tidak boleh berlebihan karena juga akan berdampak kepada kesehatan,” ujar Budi.

Termasuk dalam kebutuhan seperti vitamin dan mineral itu harus dengan ukuran yang pas. Maka itu, ada istilah angka kecukupan gizi yang harus dipatuhi. Angka kecukupan gizi merupakan batasan wajar yang perlu dikonsumsi untuk ukuran orang dewasa, anak-anak, dan ibu hamil.

“Bagi masyarakat umum, angka kecukupan gizi ini tidak mudah untuk diterapkan karena ada kebiasaan bahwa yang namanya makan harus kenyang,” kata Budi.

Menurutnya, selain hati ayam dan jeroan, masih banyak jenis makanan yang sebaiknya dikurangi jumlah konsumsinya, jika sedang menderita asam urat. Sumber makanan berupa daging merah (sapi, kambing, domba), serta daging putih tertentu (daging entok, kalkun, angsa, burung puyuh, dan kelinci) dapat menjadi penyebab asam urat. Jenis makanan ini tergolong memiliki kandungan purin sedang atau berada di atas 100 mg per 100 gram daging mentah.

Budi memberikan tips agar tetap sehat dan aman mengonsumsi olahan jeroan dan hati ayam. Pertama, jangan berlebihan. Yang jadi masalah sering kali jeroan dimasak dengan menggunakan santan, ini yang mengundang risiko, karena semakin bertambahnya kandungan lemak dan kolesterol di dalamnya, termasuk kandungan purin yang tinggi.

Kedua, cara mengolah jeroan, termasuk hati ayam akan lebih aman jika direbus, bukan digoreng. Hati ayam dan jeroan lainnya yang dioleh dengan cara digoreng akan berbahaya karena minyaknya juga sudah mengandung lemak. (AK)

AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT



Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.

Menurut penelitian yang dikutip Selko, penggunaan Selko IntelliBond, yaitu sumber mineral mikro hidroksi (hydroxy trace minerals), dapat meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 liter per ekor tanpa menurunkan konsentrasi IgG dalam kolostrum.

Pentingnya manajemen kolostrum pada pedet
Manajemen kolostrum yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemeliharaan pedet. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah kolostrum yang dikonsumsi pedet dapat memengaruhi kekebalan tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan status hormonal pada masa awal kehidupannya.

Manajemen kolostrum yang baik juga tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolostrum yang tepat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada masa laktasi berikutnya serta umur produktif sapi. (Selko Feed Additives)
Ada beberapa alasan mengapa pedet harus mendapatkan kolostrum dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Kolostrum mengandung imunoglobulin
Kolostrum sapi mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgG, IgA, dan IgM. IgG merupakan imunoglobulin yang paling dominan sehingga konsentrasi IgG sering digunakan sebagai parameter utama untuk menilai kualitas kolostrum.

Secara umum, kolostrum dianggap berkualitas baik apabila memiliki konsentrasi IgG ≥50 mg/mL.
Di tingkat peternakan, kualitas kolostrum dapat diperiksa secara praktis menggunakan kolostrometer atau refraktometer Brix. Nilai Brix minimal sekitar 22% umumnya berkorelasi dengan konsentrasi IgG sekitar 50 g/L atau lebih. Akan tetapi, manfaat kolostrum sebenarnya tidak hanya berasal dari kandungan antibodinya.

Kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada pedet
Pedet yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sempurna. Mereka juga belum memiliki pengalaman imunologis terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Respons kekebalan pada pedet yang baru lahir juga relatif lambat. 

Oleh karena itu, antibodi maternal yang diperoleh melalui kolostrum menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai patogen pada minggu-minggu pertama kehidupannya.IgG, IgA, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum membantu menyediakan kekebalan pasif bagi pedet pada periode kritis tersebut. Karena itu, bukan hanya keberadaan kolostrum yang penting, tetapi juga seberapa cepat pedet mendapatkannya setelah lahir dan berapa banyak yang dikonsumsi.

Pedet membutuhkan energi dari kolostrum sejak jam-jam pertama kehidupannya
Kolostrum juga merupakan sumber energi yang sangat penting bagi pedet. Saat lahir, kandungan lemak tubuh pedet relatif sangat rendah, yaitu kurang dari 3% bobot tubuhnya. Sebagian lemak tersebut merupakan brown fat atau lemak cokelat yang kaya akan mitokondria.

Lemak cokelat memiliki fungsi penting dalam membantu pedet mempertahankan suhu tubuh melalui mekanisme non-shivering thermogenesis, yaitu produksi panas tanpa harus menggigil. Cadangan lemak cokelat tersebut berada di sekitar organ-organ vital, seperti jantung dan ginjal. Kolostrum menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan mekanisme produksi panas tersebut. Menurut artikel Selko, kandungan energi kolostrum sekitar 5,4 kJ ME/L dan disebutkan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan susu.

Pedet memang dapat bertahan hingga sekitar 15 jam tanpa mendapatkan kolostrum, tetapi cadangan energinya akan cepat terkuras apabila tidak mendapatkan kolostrum dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

Ketika cadangan energi semakin menipis, suhu tubuh pedet dapat turun. Pedet kemudian menjadi lemah dan lesu. Pada kondisi hipotermia, refleks menyusu dapat menghilang sehingga pedet semakin tidak mampu minum. Dengan kata lain, semakin terlambat pedet mendapatkan kolostrum, semakin besar risiko terjadinya masalah kesehatan.

Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhan
Selain antibodi dan energi, kolostrum sapi mengandung berbagai growth factors atau faktor pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan pedet.
Beberapa di antaranya adalah:
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1)
Insulin-like Growth Factor-2 (IGF-2)
Transforming Growth Factor-alpha (TGF-α)
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β)

Faktor-faktor tersebut berperan dalam menjaga integritas saluran pencernaan, mendukung pertumbuhan, serta membantu perkembangan sistem kekebalan pedet. Kolostrum sapi merupakan sumber penting faktor pertumbuhan tersebut bagi pedet yang baru lahir. 

Berapa banyak kolostrum yang dibutuhkan pedet?
Sebagai pedoman, pedet dianjurkan mendapatkan kolostrum sekitar 10–12% dari bobot lahirnya pada pemberian pertama. Untuk pedet sapi perah yang baru lahir, artikel ini merekomendasikan sedikitnya 4 liter kolostrum berkualitas baik dalam 12 jam pertama kehidupan.

Pemberian pertama idealnya dilakukan dalam 1–2 jam setelah kelahiran. Sebagai gambaran, pola pemberian yang disebutkan dalam artikel adalah:

Pemberian pertama:
3–4 liter kolostrum sesegera mungkin setelah lahir.
Pemberian kedua:
Sekitar 2 liter, enam jam kemudian.
Pemberian berikutnya:
Tambahan 1–2 liter pada sekitar 12 jam setelah lahir apabila memungkinkan.
Agar pola pemberian tersebut dapat dilakukan secara optimal, seekor sapi induk idealnya menghasilkan sedikitnya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22%. 

Apakah sapi perah menghasilkan kolostrum yang cukup?
Masalahnya, tidak semua sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup. Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 1.731 laktasi sapi Holstein, sebanyak 62,6% sapi menghasilkan kurang dari 6 kg kolostrum pada pemerahan pertama.

Lebih jauh lagi, hanya 27,7% sapi yang menghasilkan sedikitnya 6 kg kolostrum dengan nilai Brix 22%. Penelitian dari University of New Hampshire juga menemukan bahwa sekitar 12% sapi tidak menghasilkan kolostrum sama sekali, sedangkan hampir 25% menghasilkan kolostrum dalam jumlah terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan pedetnya.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa sekitar 73% sapi dara yang baru pertama kali melahirkan (primiparous) dan 61% sapi yang telah beberapa kali melahirkan (multiparous) menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak memadai. 

Dengan demikian, berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, diperkirakan sekitar 25–60% sapi perah dapat menghasilkan kolostrum yang jumlahnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi standar kualitas yang direkomendasikan.

Ini merupakan persoalan penting dalam manajemen pedet karena produksi kolostrum yang rendah dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan pemberian kolostrum pada jam-jam pertama kehidupan.

Apa yang terjadi ketika sapi diberi Selko IntelliBond?
Salah satu pendekatan yang ditawarkan Selko adalah penggunaan Selko IntelliBond, yang mengandung mineral mikro dalam bentuk hydroxy trace minerals.

Menurut Selko, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sumber mineral tersebut sebagai pengganti sumber mineral sulfat dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan performa sapi perah. Selko juga menyebutkan bahwa penggunaan IntelliBond dapat meningkatkan produksi Energy Corrected Milk (ECM) sekitar 1–1,5 kg per ekor per hari.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Professor Jose Santos dari University of Florida secara khusus mengevaluasi pengaruh pemberian IntelliBond selama periode close-up—yaitu periode menjelang kelahiran terhadap produksi kolostrum.

Penelitian University of Florida
Sebanyak 141 ekor sapi Holstein dilibatkan dalam penelitian tersebut. Sapi dibagi secara acak menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama:
30 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi mineral dalam bentuk sulfat.

Kelompok kedua:
31 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi Selko IntelliBond sebagai pengganti penuh sumber mineral sulfat.

Perlakuan dimulai sekitar 21 hari sebelum sapi melahirkan.
Mineral tambahan yang diberikan terdiri atas:
Zinc (Zn): 30 mg/kg bahan kering ransum
Copper (Cu): 7 mg/kg bahan kering ransum
Manganese (Mn): 22 mg/kg bahan kering ransum

Produksi serta kualitas kolostrum kemudian dibandingkan pada pemerahan pertama setelah sapi melahirkan.

Hasil penelitian: produksi kolostrum meningkat
Penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn dari bentuk sulfat menjadi sumber mineral IntelliBond tidak memengaruhi konsumsi bahan kering sapi sebelum melahirkan. Namun, terdapat kecenderungan peningkatan produksi kolostrum sekitar 1,0 kg.

Pada sapi dara, produksi kolostrum meningkat dari rata-rata:
5,54 kg → 7,07 kg
Sementara pada sapi multiparitas:
4,89 kg → 5,47 kg

Jika sapi dara dan sapi multiparitas digabungkan, peningkatan produksi kolostrum pada pemerahan pertama mencapai sekitar 1 kg. Nilai p yang dilaporkan adalah 0,08, sehingga hasil tersebut lebih tepat disebut sebagai tendency atau kecenderungan, bukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada tingkat konvensional p<0,05. 

Bagaimana dengan kualitas kolostrumnya?
Yang menarik, peningkatan volume kolostrum tersebut tidak diikuti dengan penurunan parameter kualitas utama.
Tidak ditemukan perbedaan yang berarti dalam:
persentase lemak,
persentase protein,
persentase laktosa,
total padatan,
jumlah sel somatik,
nilai Brix, maupun
konsentrasi IgG.

Nilai Brix pada kedua kelompok berada di sekitar 27%, sedangkan konsentrasi IgG berada pada kisaran 106–122 g/L, tergantung kelompok sapi.  Artinya, berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan volume kolostrum tidak menyebabkan efek pengenceran terhadap konsentrasi IgG.

Bahkan, total IgG yang dihasilkan cenderung meningkat karena jumlah kolostrum yang diproduksi lebih banyak. Pada sapi dara, total IgG meningkat dari sekitar 574 g menjadi 735 g, sedangkan pada sapi multiparitas meningkat dari sekitar 572 g menjadi 615 g. Namun, perbedaan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan dalam penelitian. 

Memanfaatkan senyawa tanaman untuk meningkatkan kualitas kolostrum
Selain IntelliBond, artikel Selko juga membahas produk lain yang disebut Fytera Lacteco. Fytera Lacteco disebut sebagai PhytoComplex yang dipatenkan dan digunakan sebagai bahan tambahan pakan alami untuk sapi.

Menurut beberapa penelitian yang dikutip Selko, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir sebelum kelahiran dapat meningkatkan kadar imunoglobulin dalam kolostrum dan memperbaiki proses transfer antibodi maternal kepada pedet. 

Dalam salah satu percobaan, pedet dari sapi yang mendapatkan Fytera Lacteco mencapai kadar IgG serum 24 g/L pada 24 jam setelah lahir, yang digunakan dalam penelitian tersebut sebagai ambang keberhasilan transfer imunitas maternal.

Dengan demikian, pendekatan yang ditawarkan Selko tidak hanya berfokus pada meningkatkan jumlah kolostrum, tetapi juga pada upaya mempertahankan atau meningkatkan kualitas imunologis kolostrum.

Membangun program manajemen kolostrum yang baik
Manajemen kolostrum merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeliharaan pedet. Kolostrum memberikan tiga manfaat utama bagi pedet:

1. Antibodi untuk membangun kekebalan pasif.
2. Energi untuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme awal kehidupan.
3. Faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan.

Karena itu, peternakan sapi perah perlu memastikan bahwa sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Target yang disebutkan dalam artikel adalah setidaknya 6 liter kolostrum dengan nilai Brix ≥22% dari pemerahan pertama.
 
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian, sebagian besar peternakan berpotensi menghadapi masalah produksi kolostrum yang tidak mencukupi. Program peningkatan produksi kolostrum dapat meningkatkan volume kolostrum sekitar 1–3 liter per ekor, dan menurut artikel tersebut peningkatan volume tersebut dapat dicapai tanpa harus menurunkan konsentrasi IgG.

Sumber mineral yang digunakan dalam ransum dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Penggantian sumber mineral sulfat dengan Selko IntelliBond dalam penelitian University of Florida meningkatkan produksi kolostrum pada pemerahan pertama sekitar 1 liter, tanpa menurunkan konsentrasi IgG. 

Sementara itu, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir kebuntingan dilaporkan dapat meningkatkan kadar imunoglobulin kolostrum dan memperbaiki transfer kekebalan pasif kepada pedet.

Kesimpulan
Manajemen kolostrum yang baik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan pemeliharaan pedet. Pedet membutuhkan kolostrum bukan hanya sebagai sumber antibodi, tetapi juga sebagai sumber energi dan berbagai faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk perkembangan awal tubuh dan sistem kekebalan.

Idealnya, pedet mendapatkan kolostrum berkualitas tinggi sesegera mungkin setelah lahir. Untuk mendukung program tersebut, sapi induk perlu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang memadai.
Artikel Selko menunjukkan bahwa sekitar 25–60% sapi perah berpotensi tidak menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup sesuai standar yang direkomendasikan. 

Penelitian University of Florida yang melibatkan 141 ekor sapi Holstein menunjukkan bahwa penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn berbasis sulfat dengan Selko IntelliBond hydroxy trace minerals cenderung meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 kg pada pemerahan pertama, tanpa menurunkan nilai Brix maupun konsentrasi IgG kolostrum. 

Dengan demikian, menurut artikel tersebut, pengelolaan sumber mineral mikro dapat menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan produksi kolostrum dan mendukung program manajemen pedet. (INF)

OPTIMALISASI REPRODUKSI KAMBING - DOMBA DENGAN KANDANG PORTABEL USG



Oleh : : Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si (Dosen Prodi Peternakan, Universitas Djuanda)

Beternak domba dan kambing menjadi pilihan yang semakin menarik karena didukung ketersediaan hijauan pakan dan kondisi lingkungan yang sesuai. Meski demikian, mengembangkan usaha peternakan rakyat bukan tanpa tantangan. Produktivitas ternak dan efisiensi pengelolaan masih perlu ditingkatkan agar usaha ini mampu memberikan pendapatan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Potensi Besar di Kaki Gunung Salak

Ciburayut memiliki modal alam yang kuat untuk pengembangan peternakan domba dan kambing. Ketersediaan hijauan pakan masih cukup luas, tanah relatif subur, dan iklim pegunungan mendukung pertumbuhan beragam jenis rumput serta tanaman pakan. Meski pembangunan vila mulai berkembang di sejumlah lokasi, kebutuhan pakan ternak masyarakat hingga kini masih dapat dipenuhi.

Potensi tersebut semakin menarik karena permintaan domba dan kambing di Jawa Barat cukup tinggi. Ternak dari wilayah ini dibutuhkan untuk memenuhi pasar daging maupun ternak hidup di Bogor, Jakarta, Banten, dan berbagai daerah lain di Jawa Barat. Bahkan, sebagian kebutuhan pasar masih dipasok dari Jawa Tengah karena produksi lokal belum mampu memenuhinya.

Peluang inilah yang dikembangkan oleh Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak Bogor. Kelompok yang telah berbadan hukum dan memiliki jaringan pemasaran cukup luas ini telah berkembang menjadi salah satu sentra peternakan rakyat di Ciburayut. Persoalannya, kapasitas produksi belum mampu mengikuti besarnya permintaan pasar.

Reproduksi Menjadi Titik Lemah

Kendala utama bukan terletak pada pemasaran, melainkan pada reproduksi. Banyak induk terlambat diketahui bunting. Sebagian lainnya bahkan dipelihara berbulan-bulan tanpa kepastian kebuntingan. Kondisi ini membuat waktu produktif ternak terbuang, jarak beranak menjadi panjang, dan pertumbuhan populasi berjalan lambat.

Selama ini, peternak umumnya mengandalkan pengamatan visual melalui perubahan bentuk tubuh atau perilaku ternak. Cara tersebut sederhana, tetapi kurang efektif untuk mendeteksi kebuntingan pada tahap awal. Akibatnya, induk yang belum bunting terlambat dikawinkan kembali dan efisiensi reproduksi pun menurun.

Padahal, dengan pengelolaan yang baik, seekor induk domba atau kambing berpotensi beranak hingga dua kali dalam satu tahun. Potensi biologis ini hanya dapat dimanfaatkan secara optimal melalui manajemen reproduksi yang tepat.

Melanjutkan Program Pendampingan

Kondisi tersebut menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Nomor Kontrak: 207/C3/DT.05.00/PM/2026; 485/01/K-X/V/2026).

Program ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pengabdian pada 2024 yang berfokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesehatan ternak, pembangunan bank pakan, serta pengenalan teknik budidaya domba dan kambing secara konvensional.

Tahun ini, pendampingan diarahkan pada peningkatan efisiensi reproduksi melalui pemanfaatan ultrasonografi (USG) portable. Teknologi tersebut memungkinkan pemeriksaan kondisi organ reproduksi, aktivitas ovarium, perkembangan embrio, dan status kebuntingan secara cepat dan lebih akurat.

Bagi sebagian peternak, penggunaan USG menjadi pengalaman baru. Alat yang selama ini lebih dikenal untuk pemeriksaan kesehatan manusia ternyata dapat digunakan secara praktis di kandang untuk membantu menentukan keputusan reproduksi ternak.

Belajar Langsung di Kandang

Kegiatan diawali dengan penyerahan USG portable langsung ke peternak (Caption Foto 1), sosialisasi program, penyuluhan mengenai manajemen reproduksi domba dan kambing. Materi mencakup siklus birahi, waktu perkawinan yang ideal, pentingnya deteksi kebuntingan dini, serta pengelolaan pakan selama masa kebuntingan.

Antusiasme peserta semakin terlihat ketika memasuki sesi praktik secara bertahap dan berkelanjutan. Tim pengabdian (Abdullah Baharun, Deden Sudrajat, Riny Kusumawati) bersama dokter hewan (drh. Annisa Rahmi, M.Si) yang dibantu oleh mahasiswa Universitas Djuanda (Adiba Kanza Arasya, Kustini, Rumaisha Kultsum Qurani, Refacha Nadila, Asep Maman, Alfatir Muhammad Syafur) memperagakan penggunaan USG portable pada sejumlah induk. Melalui layar monitor, peternak dapat melihat gambaran organ reproduksi dan perkembangan embrio di dalam uterus secara langsung.

Pengalaman tersebut tidak hanya menarik, tetapi juga membuka wawasan baru. Peternak dapat mengetahui status kebuntingan ternaknya sekaligus memahami pentingnya pemeriksaan reproduksi sebagai bagian dari pengelolaan usaha.

Selain pemeriksaan kebuntingan, tim mendampingi peternak mengevaluasi kondisi reproduksi calon induk. Pemeriksaan ovarium membantu menentukan kesiapan ternak untuk dikawinkan sehingga waktu perkawinan dapat direncanakan dengan lebih tepat.

Foto Penyerahan USG portable ke Peternak Kampung Domba Gunung Salak, Ciburayut.

(Sumber : Abdullah Baharun, 2026)

Hasil Nyata di Lapangan

Program pendampingan mendapat respons positif. Seluruh peserta mengikuti penyuluhan dan praktik dengan antusias. Diskusi berlangsung aktif karena peternak dapat menghubungkan materi dengan persoalan yang selama ini mereka temui di kandang.

Evaluasi sebelum dan sesudah kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga 90% mengenai manajemen reproduksi, terutama dalam mengenali siklus birahi, menentukan waktu kawin, dan memahami pentingnya deteksi kebuntingan dini. Peternak juga semakin memahami bahwa induk yang belum bunting perlu segera dimasukkan kembali ke program perkawinan agar tidak terus menambah biaya pemeliharaan tanpa menghasilkan keturunan.

Dalam praktik lapangan, sebanyak 176 ekor induk domba dan kambing diperiksa menggunakan USG portable. Hasil pemeriksaan menunjukkan sejumlah induk telah bunting pada fase awal (11 ekor) dan mengalami gangguan reproduksi sebanyak 1 ekor (organ reproduksi abnormal). Induk-induk tersebut dapat segera dipisahkan dan memperoleh manajemen pakan sesuai kebutuhannya. Sementara itu, induk yang belum bunting (164 ekor) langsung dimasukkan ke dalam program perkawinan berikutnya.

Hasil pemeriksaan juga menjadi dasar bagi kelompok peternak untuk mulai membangun pencatatan reproduksi yang lebih sistematis dengan bantuan aplikasi dashboard pada smartphone yang dibuatkan khusus dalam kegiatan PkM. Data status kebuntingan, perkiraan waktu kelahiran, dan jadwal perkawinan dapat digunakan untuk menyusun rencana produksi sekaligus menyesuaikannya dengan kebutuhan pasar.

Dari Teknologi Menuju Peningkatan Pendapatan

Pemanfaatan USG portable bukan sekadar memberikan kepastian mengenai status reproduksi ternak. Teknologi ini membantu peternak mengambil keputusan usaha dengan lebih cepat dan efisien. Induk bunting dapat segera memperoleh pakan tambahan sesuai kebutuhannya, sedangkan induk yang belum bunting tidak perlu dipelihara terlalu lama tanpa kepastian reproduksi.

Dengan semakin pendeknya waktu kosong (days open) dan semakin teraturnya jadwal perkawinan, produktivitas ternak diharapkan meningkat. Lebih banyak kelahiran berarti lebih banyak ternak yang tersedia untuk dibesarkan dan dijual. Pada akhirnya, kapasitas kelompok untuk memenuhi permintaan pasar pun dapat meningkat.

Lebih dari sekadar memperkenalkan alat, pendampingan ini mendorong perubahan cara pandang peternak. Reproduksi tidak lagi dipandang sebagai proses alami yang berjalan begitu saja, melainkan sebagai bagian penting dari strategi usaha yang perlu dikelola dan direncanakan.

Langkah Awal Transformasi Peternakan Rakyat

Pengalaman di Kelompok Ternak Kampung Domba Gunung Salak menunjukkan bahwa teknologi tepat guna akan memberi manfaat maksimal jika disertai pendampingan yang berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan hewan, dan kelompok peternak menjadi fondasi penting agar inovasi tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.

Bagi masyarakat Ciburayut, beternak domba dan kambing bukan sekadar pilihan usaha, tetapi juga peluang untuk mengembangkan sumber penghidupan yang sesuai dengan potensi wilayah. Dengan dukungan teknologi reproduksi yang semakin mudah diakses, peternakan rakyat memiliki peluang untuk tumbuh menjadi sumber penghidupan yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan.

Transformasi tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun, setiap induk yang berhasil dideteksi bunting lebih awal, setiap kelahiran yang dapat direncanakan, dan setiap anak ternak yang lahir sehat merupakan langkah menuju peningkatan kesejahteraan peternak. Dari kandang-kandang sederhana di kaki Gunung Salak, harapan itu tumbuh bersama inovasi yang membawa pengelolaan reproduksi ternak ke arah yang lebih modern dan produktif. (INF)


MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

JAPFA FOR KIDS 2026, MEMPERSIAPKAN MASA DEPAN ANAK MELALUI PENINGKATAN STATUS GIZI

Senam hari sehat Japfa SDN Megamendung
Pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan senam bersama semua siswa SDN Megamendung 01, 02, dan 03. (Foto-foto: NDV/Infovet & Istimewa)

Sudah 18 tahun program Japfa for Kids berjalan. Sebuah program sosial dari PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk, menyasar siswa usia sekolah dasar di sekitar unit operasional Japfa. Program ini bertujuan untuk menurunkan malagizi (gizi buruk dan gizi kurang) pada siswa serta mendorong mereka membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Tahun ini Bogor menjadi salah satu daerah tempat dilaksanakannya Japfa for Kids. Jumat 7 Agustus 2026, jurnalis Infovet mengunjungi empat sekolah dasar penerima manfaat program di Kabupaten Bogor. 

Japfa for Kids di SDN Megamendung

Jurnalis Infovet sampai di lokasi kompleks SDN Megamendung 01, 02, dan 03 di Cilember, Kecamatan Cisarua, Bogor saat pelajaran belum dimulai. Terlihat beberapa siswa laki-laki bermain sepak bola di halaman SDN Megamendung 01. Sementara sebagian anak-anak SDN Megamendung 02 sudah siap di halaman sekolah mereka, mengenakan sarung dan mukena, bersiap untuk sholat dhuha.

Anak-anak SDN Megamendung 01 bermain bola di halaman sekolah.

Lalu tiba waktunya anak-anak berkumpul untuk mengaji dan sholat dhuha. Dilanjutkan dengan pelaksanaan Hari Sehat Japfa dengan melakukan senam sehat untuk seluruh murid dan guru seluruh SDN Megamendung. Setelah senam anak-anak mencuci tangan menggunakan sabun, mengecek kebersihan dan kesehatan kuku, kemudian makan MBG bersama.

Guru SDN Megamendung 01, Ranti didampingi oleh Irma, di sela aktivitasnya bercerita, para orang tua senang mendapatkan pembagian telur dari program Japfa for Kids. Walaupun ada yang pada awalnya agak keberatan karena kesannya dianggap tidak mampu membeli telur sendiri.

Ranti (baju putih) dan Irma.

“Tapi terus saya bilangin jangankan beli 1 kilo, beli satu peti saja Ibu mungkin mampu. Tapi selain telur program ini ada reward-nya untuk kita, anak-anak jadi diperhatikan kesehatannya,” terang Ranti. “Pekan depan nanti ada medical checkup, saya bilang. Kalau kita sengaja datang ke rumah sakit atau ke puskesmas untuk medical checkup anak mana pernah. Kalau anak tidak sakit kan tidak pernah ke dokter.”

Sama dengan di sekolah lainnya, sebelum program Japfa for Kids diimplementasikan pada anak-anak SDN Megamendung. Sekitar 3 atau 4 bulan sebelumnya diadakan pembekalan untuk guru-guru PIC. Apa yang akan disampaikan ke orang tua dan anak, disampaikan lebih dahulu pada guru PIC. Seperti gizi seimbang itu bagaimana dan menu apa saja yang harus ada, pentingnya PHBS, cuci tangan pakai sabun, kesehatan kuku, dan lainnya.

“Sudah terprogram ini 10 anak sampai 6 bulan. Mudah-mudahan setelah itu ada program berikutnya lagi yang menyasar siswa yang lain,” begitu harap Ranti. “Bukannya kita berharap ada siswa yang gizi buruk atau gizi kurang lagi. Tapi dengan program tersebut membuat orang tua lebih termotivasi memperhatikan gizi anak. Mereka juga terpancing kreativitasnya untuk membuat masakan-masakan berbahan telur.”

Sementara itu R Ghaniawatie, guru SDN Megamendung 03, mengatakan orang tua memang terbantu dengan program Japfa for Kids. Namun kadang terkendala oleh anak yang susah diatur pola makannya.

R Ghaniawatie.

“Ada juga anak yang telurnya tidak mau dibawa ke sekolah, makannya di rumah,” tuturnya. “Sampai ada yang dibuat sushi oleh ibunya, karena anaknya bosan. Paling kan kalau yang lain biasanya dibuat nasi goreng, juga mie goreng. Ini dikreasikan, begitu.”

Ghaniawatie juga menyayangkan dalam bekal anak yang dibawa ke sekolah banyak yang tidak memakai sayur. Menurutnya anak-anak sekarang melihat sayuran itu seperti melihat 'musuh'. Bukan salah orang tuanya, namun lebih ke anak-anaknya yang menolak diberi sayur, sehingga diperlukan kreativitas menu dan pembiasaan.

Diceritakannya juga ada orang tua yang heran sewaktu screening anaknya terjaring sebagai malagizi. Padahal sebelum menerima program Japfa for Kids, setiap hari anaknya selalu diberi dua butir telur. Tapi kenyataannya tinggi dan berat badannya memang belum sesuai dengan usianya. Sehingga orang tua tersebut tidak keberatan mengikuti program, agar lebih tahu permasalahan tumbuh kembang anaknya lebih jelas.

Farel Tergerak untuk Makan Sayuran

Erliana Rahayu termasuk orang tua yang anaknya, Muhammad Farel Ilfar siswa kelas 5 SDN Megamendung 01, tidak begitu suka makan sayuran. Selama ini cukup rutin mengonsumsi telur, tapi tidak demikian dengan sayurnya.

“Makanya ada program ini senang karena Farel jadi agak mau makan sayur. Karena saya bilang gini ke dia, ‘Ah, kamu kurang gizi, malu. Enggak baik itu kamu pertumbuhannya.’ Baru dia mau nurut mau makan sayuran,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Obrolan Infovet dengan Erliana terhenti sejenak ketika Farel yang berumur 10 tahun, dengan berat badan 24 kg, tinggi badannya 132 cm, datang mendekati Ibunya. Sebelum pergi lagi, dia dan Ibunya berpose untuk foto.

Erliana dan Farel.

“Kalau sayurannya kan setiap hari dapat dari MBG, telurnya bawa dari rumah.” Erliana melanjutkan. “Kecuali Sabtu dan Minggu baru kita masak sayuran sendiri. Harus yang enak-enak biar Farel mau makan.”

Program untuk Mempersiapkan Masa Depan Anak

Fasilitator program Japfa for Kids untuk kawasan Megamendung, Bogor, Muhammad Trisna Kusuma Wardana menjelaskan program utama dari Japfa for Kids ada tiga. Pertama, program satu hari satu telur. Kedua Hari Sehat Japfa yang memiliki lima komponen yaitu senam sehat, PHBS, cuci tangan pakai sabun, cek kuku, makan bersama. Program ketiga adalah pertemuan orang tua tiap bulan.

Muhammad Trisna Kusuma Wardana

“Pertemuan pertama dilakukan untuk menggali bagaimana komitmen orang tua. Sebelum manfaat diberkan kita tanya apakah berkomitmen dan apakah setuju dengan programnya. Alhamdulillah seluruh orang tua di program ini di SDN Megamendung setuju semuanya,” terang Trisna.

Saat pertemuan tersebut orang tua antusias mengajukan beberapa pertanyaan. Ada yang bertanya bagaimana agar anak tetap tumbuh maksimal, sedangkan anaknya rewel makannya meski asupan gizi yang diberikan orang tua sudah mencukupi.

Trisna menerangkan bahwa orang tua dan guru diminta untuk memastikan gizi anak tercukupi. Yaitu di samping telur juga melengkapinya dengan asupan karbohidrat, sayur, dan buah. Orang tua dan guru diminta untuk mendokumentasikan apa yang anak makan. Kemudian setiap bulannya fasilitator akan memberikan update dan evaluasi, disertai dengan diskusi.

“Diharapkan dengan demikian makan bergizi seimbang dan perilaku sehat menjadi kebiasaan. Pembiasaan itulan jawaban dari keluhan orang tua tadi,” kata Trisna.

Dengan demikian orang tua terpacu kreativitasnya bagaimana caranya agar anak mau makan dengan baik. Hasilnya cukup membuat Trisna terkejut gembira. Ada orang tua yang memasak telur menggunakan cetakan bunga, ada yang dibuat onigiri, dan berbagai kreasi kreatif lainnya.

Onigiri dan telur dadar, kreasi orang tua siswa agar anaknya lebih berselera makan.

“Jadi Japfa for Kids ini mekanismenya sharing contribution. Bukan hanya Japfa saja yang berperan tapi juga dari guru, dari orang tua dan juga puskesmas,” kata Trisna. “Oh ya, setiap tiga minggu lalu di minggu keempatnya semuanya bakal dapat telur, termasuk gurunya. Makanya tadi saya ngobrol dengan Kepala Sekolah Megemendung 03 harapannya telurnya dibagikan menjelang 17 Agustus, karena akan dijadikan ajang lomba.”

Trisna berharap program Japfa for Kids menjadi kebiasaan yang terus dibangun bersama anak-anak. Lebih jauh lagi dia ingin program ini bisa ikut mempersiapkan masa depan anak yang lebih baik.

“Anak-anak ini nanti kan masih melanjutkan pertumbuhannya. Juga untuk persiapan di SMP dan SMA dimana ada ekstrakurikuler seperti Pramuka dan Paskibra, dan lainnya. Jangan sampai tinggi dan berat yang tidak ideal menjadi halangan anak-anak untuk mengejar cita-citanya,” harapnya.

“Apalagi pekerjaan sekarang ini bukan hanya polisi dan tentara yang memiliki syarat minimal tinggi dan berat badan. Jangan sampai masalah pertumbuhan menjadi halangan cita-cita mereka. Anak-anak bisa saja sudah siap secara pemikiran, emosional, pendidikan dan lain-lain namun bisa terhalang oleh masalah tersebut. Jangan sampai terjadi.”

Pencapaian Japfa for Kids

Japfa for Kids adalah bentuk komitmen perusahaan untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat sekitar. Hingga tahun 2025, program ini telah menjangkau 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota yang tersebar di 28 provinsi di Indonesia. Pada pelaksanaan tahun 2026, program berlangsung di delapan wilayah, yaitu Megamendung & Klapanunggal (Kabupaten Bogor, Jawa Barat), Karanganyar (Jawa Tengah), Tegal (Jawa Tengah), Lamongan (Jawa Timur), Sidomulyo (Lampung), Padang Pariaman (Sumatera Barat), Bintan (Kepulauan Riau), dan Sofifi (Maluku Utara).

Rachmat Indrajaya, Direktur Corporate Affairs Japfa menjelaskan, “Selama 18 tahun pelaksanaannya, Japfa for Kids tidak hanya memperluas jangkauan program, tetapi juga terus menyempurnakan pendekatannya agar dampak yang dihasilkan semakin terukur dan berkelanjutan. Melalui edukasi gizi seimbang, pembiasaan konsumsi protein hewani, PHBS, serta kolaborasi dengan guru, orang tua, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, program ini telah membantu membangun kebiasaan hidup sehat pada anak-anak sekolah dasar.”

Rachmat Indrajaya

Upaya tersebut menurut Rachmat turut berkontribusi pada peningkatan status gizi anak penerima manfaat, yang diperkuat melalui pemantauan dan evaluasi secara berkala.

Sejak tahun 2024, Japfa for Kids memperkuat pendekatan berbasis data melalui pengukuran tinggi badan dan berat badan siswa sebelum, selama, dan setelah program berlangsung, sehingga dampak program dapat diukur secara lebih objektif. Pada tahun 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa dengan kondisi gizi kurang dan gizi buruk berhasil meningkat menjadi gizi baik atau sebesar 51,5%. Sementara pada tahun 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.

Japfa for Kids di SDN Cikopo

Foto bersama penerima manfaat program Japfa for Kids di SDN Cikopo.

Dari SDN Megamendung, Infovet melanjutkan kunjungan ke SDN Cikopo, Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Bogor. Sekolah yang juga menerima manfaat program Japfa for Kids. Disambut oleh Emilia Fetristianti, wali kelas 1B dan Eriyanti, wali kelas 6 SDN Cikopo.

Eriyanti.

“Saya dulu juga sempat percaya kalau makan telur terus-terusan bisa bisulan. Oleh fasilitator Japfa dijelaskan, termasuk ke orang tua murid juga, ternyata ada faktor lainnya misalnya kebersihan. Jadi kami paham sekarang,” kata Eriyanti.

Emilia Fetristianti

Rekannya, Emilia, menambahkan bahwa dijelaskan pula protein itu penting untuk anak-anak usia SD yang sedang dalam masa pertumbuhan. Program CSR Japfa tersebut dirasakan manfaatnya tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi anak, namun edukasinya juga membuka pemikiran orang tua dan guru.

“Karena selama ini kan orang tua tahunya makan yang penting kenyang. Ternyata tidak bisa sembarangan,” tutur Eriyanti. “Mereka juga berpikir makanan bergizi seimbang harus yang mahal-mahal. Ternyata dijelaskan kemarin bahwa telur, tahu, tempe yang harganya terjangkau juga bergizi. Lalu orang tua anggapannya juga harus minum susu padahal protein juga bisa dari telur.”

Seperti sekolah penerima manfaat lainnya, SDN Cikopo juga memiliki grup penerima manfaat di WhatsApp. Grup tersebut menjadi tempat orang tua mengunggah foto anak sedang memakan telur, sebagai laporan. Kemudian diteruskan ke aplikasi Japfa for Kids oleh Emilia.

Salah satu wujud berkembangnya pemahaman orang tua akan gizi seimbang. Adalah ketika mereka yang semula mengirim foto dokumentasi, anaknya hanya makan telur dan nasi. Kemudian dalam waktu singkat menu anak sudah ditambahkan dengan sayur.

Sebanyak 23 anak dari SDN Cikopo terjaring sebagai anak malagizi ketika dilakukan screening awal di puskesmas. Salah satu indikasinya adalah tinggi dan berat badan anak tidak sesuai dengan usianya. Keduapuluh tiga anak tersebut diberikan telur omega organik tujuh butir per minggu, untuk dikonsumsi satu hari satu telur.

“Kami bersyukur ada program dari Japfa ini. Anak-anak juga senang, respon orang tua antusias. Bahkan ada orang tuanya yang mengakui kalau memang anaknya susah makan dan menyambut baik program ini,” jelas Emilia.

Eriyanti menambahkan para orang tua anak-anak yang baru masuk kelas 1 yang belum ikut seleksi, pun meminta anaknya diikutkan program.

“Bagi kami program ini sangat bagus. Seharusnya program seperti ini ada di kurikulum, karena sangat penting. Mau banget programnya berlanjut, tidak cuma berhenti di angkatan ini,” harap Eriyanti.

Kepedulian Mendalam Japfa

Ketika pembagian telur dari program Japfa for Kids sudah berjalan, akan ada medical checkup untuk semua siswa. Anemia, riwayat tuberkulosis, karies gigi dan lain-lainnya diperiksa.

“Jika ada anak yang tersuspek penyakit nanti akan ditolong oleh puskesmas. Hal itu akan menjadi catatan kami juga, karena kalau anak-anak mendapati penyakit tersebut itu akan mengurangi respon tubuh terhadap pertumbuhan anak itu. Walaupun kita sudah memastikan makannya baik, gizi seimbang tapi kalau misalnya dia ada penyakit bisa jadi faktor penghambat pertumbuhannya,” terang Trisna.

Jika ada beberapa anak yang teridentifikasi memiliki penyakit lalu pertumbuhannya masih belum menuju ke normal seperti yang diharapkan, Japfa akan menindaklanjuti dengan strategi untuk mengulurkan bantuan tambahan lainnya guna memastikan agar anak-anak tersebut masuk ke dalam gizi normal. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer