-->

Featured Posts

SEARY 9.0 UNSOED ANGKAT ISU KEMANDIRIAN PANGAN DAN OPTIMALISASI SUMBER DAYA LOKAL

Foto bersama dalam acara SEARY 9.0 Unsoed. (Foto-foto: Istimewa)

Unit Penelitian dan Pengembangan Peternakan (UP3) Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) sukses menyelenggarakan Soedirman Event of Animal Husbandry ke-9 (SEARY 9.0) dalam bentuk talkshow nasional yang mengangkat isu strategis seputar inovasi, pangan, dan pengelolaan sumber daya lokal.

Mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal untuk Mendukung SDGs dan Kemandirian Pangan Nasional”, kegiatan ini digelar pada Sabtu (2/5/2026) di Ruang Konferensi Lantai 1 Gedung B Fapet Unsoed.

Acara dipandu oleh moderator Hilmy Abdurrasyid Ammar SPt MSc selaku dosen Fapet Unsoed, dan menghadirkan narasumber utama Ir Bambang Suharno selaku Direktur Utama PT Gallus Indonesia Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

SEARY 9.0 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari Pulau Jawa maupun luar Jawa, di antaranya Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, UGM, UNDIP, UI, IPB, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, serta Unsoed dan sejumlah kampus di Purwokerto. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari fakultas peternakan, tetapi juga lintas disiplin ilmu seperti MIPA, ekonomi, biologi, dan pertanian yang relevan dengan isu SDGs.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unsoed, Prof Akhmad Sodiq. Turut hadir dalam acara tersebut Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, Ketua LPPM Unsoed Prof Elly Tugianti, Wakil Dekan Dr Agus Susanto, Pendiri UP3 Adila Haqi, Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta sejumlah alumni UP3 dan pejabat kampus lainnya.

Dekan Fapet Unsoed menyampaikan harapannya agar forum ini dapat menjadi wadah untuk menggali pengetahuan praktis dari narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Sementara itu, Rektor Unsoed memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak perwakilan kampus dari berbagai daerah.

Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Mereka juga menyampaikan terima kasih atas dukungan para alumni, termasuk para pendiri, yang terus setia mendampingi mahasiswa UP3 dalam berbagai kegiatan.

UP3 sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa Fapet Unsoed yang telah berdiri selama 34 tahun. Organisasi ini berawal dari aktivitas mahasiswa yang saat itu dipimpin oleh Adila Haqi dengan nama Aspirasi Mahasiswa (ASMA) . Hingga kini, alumni UP3 telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari industri peternakan, akademisi, birokrasi, hingga pelaku usaha. Sejak berdiri, UP3 terus berkembang dan turut membawa nama Fapet Unsoed dalam berbagai forum ilmiah di bidang peternakan.

Dari tiga kiri: Dr Agus Susanto, Dr Novia Andri, Bambang Suharno, Adila Haqi, Prof Akhmad Sodiq, Irlan (alumni), dan Prof Elly, saat seremoni pembukaan SEARY 9.0.

Dalam sesi talkshow, Bambang Suharno menegaskan pentingnya peran sektor peternakan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), baik sebagai penyedia sumber gizi maupun penggerak ekonomi masyarakat.

Ia juga menyoroti tantangan dalam sektor peternakan, khususnya terkait rendahnya konsumsi produk peternakan di Indonesia. “Konsumsi telur di Indonesia sekitar 200 butir per orang per tahun, sementara konsumsi rokok mencapai 1.300 batang per orang per tahun. Padahal harga satu batang rokok setara dengan satu butir telur,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi pengembangan sektor peternakan. Apalagi saat ini sering terjadi oversupply ayam dan telur yang solusi jangka pendeknya mengandalkan afkir dini dan cutting produksi DOC . Belum ada upaya konkret yang menjadi langkah utama yaitu peningkatan konsumsi ayam dan telur. Padahal jika ini dilakukan, dampaknya tidak hanya menguntungkan peternakan, tetapi juga meningkatkan gizi serta pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menambahkan, jika setiap orang di Indonesia meningkatkan konsumsi satu butir telur saja, maka dibutuhkan tambahan sekitar 280 juta butir telur, yang berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu orang.

Melalui forum ini, diharapkan lahir pemikiran dan kolaborasi lintas disiplin yang mampu mendorong optimalisasi sumber daya lokal guna memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus mendukung pencapaian SDGs. (INF)

DMK BERHASIL MENARIK PETERNAK SAPI PERAH BARU

Koperasi susu terbesar di Jerman, DMK, berhasil menarik anggota baru tahun lalu. Pengolah susu ini melaporkan hal ini dengan angka sementara untuk tahun 2025, meskipun tidak disebutkan berapa banyak peternak sapi perah yang telah bergabung.

Harga susu DMK rata-rata 51,4 sen per kg pada tahun 2025. Setahun sebelumnya, harga tersebut adalah 47,31 sen per kg susu. Laba bersih perusahaan sedikit turun menjadi €24,2 juta. Pendapatan naik dari €5,1 miliar menjadi €5,3 miliar.

CEO Ingo Müller mengaitkan hasil ini dengan strategi perusahaan. “Kami telah memperkuat posisi pasar kami, mencapai harga pembayaran yang kompetitif untuk peternak sapi perah kami, dan mengambil langkah-langkah penting menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Müller.

Untuk tahun 2026, DMK awalnya mengantisipasi lingkungan pasar yang terus menantang. Pabrik-pabrik susu beroperasi dengan kapasitas penuh, yang memberi tekanan pada pasar bahan baku, terutama di awal tahun. Sementara itu, tanda-tanda stabilisasi pertama terlihat untuk produk-produk susu utama.

DMK berbicara tentang permintaan yang solid di pasar Eropa dan posisi kompetitif internasional yang kuat. Pasokan dan permintaan di pasar susu akan secara bertahap seimbang sepanjang tahun, meskipun ketidakpastian geopolitik dan tingkat produksi yang tinggi tetap menjadi risiko yang dapat menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan.

Tahun lalu, DMK berinvestasi dalam pembangunan gudang pematangan baru untuk keju alami di Hoogeveen. Selain itu, kapasitas produksi diperluas di 2 lokasi di Jerman. Perusahaan susu tersebut menggambarkan ini sebagai langkah-langkah penting untuk produksi produk yang lebih bernilai tambah dan peningkatan daya saing internasional.

Bagi DMK, tahun ini sebagian besar didominasi oleh penggabungan dengan Arla Foods. Ini membutuhkan persetujuan dari otoritas terkait. DMK memperkirakan proses ini akan selesai pada paruh pertama tahun 2026. 

RABOBANK: KONFLIK IRAN BERDAMPAK TIDAK LANGSUNG PADA INDUSTRI BABI

Meskipun dampak langsung dari konflik Timur Tengah saat ini pada industri babi mungkin tetap terbatas, kemungkinan besar dampak tidak langsung akan terasa. Itulah pesan yang disampaikan bank agribisnis Rabobank dalam laporan triwulanan globalnya tentang industri babi.

Divisi RaboResearch memperkirakan dampak tingkat kedua dan ketiga akan menyebar ke seluruh sektor.

Bank tersebut menunjuk pada dampak jangka panjang dari penutupan Selat Hormuz dan mengilustrasikannya dengan 3 jenis dampak yang berbeda.

Logistik: Bank tersebut menunjukkan bahwa tarif pengiriman telah meningkat, dengan harga solar dan gas alam yang lebih tinggi memengaruhi semua pihak dalam rantai pasokan.

Produksi: Kenaikan biaya bahan bakar dan pakan akan berdampak pada margin bagi produsen babi dan rumah potong hewan.

Permintaan Konsumen: Konsumen mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam pengeluaran mereka, sebagian karena ketidakpastian atau inflasi.

Dalam prospek triwulanan, bank tersebut menyoroti perkembangan di berbagai benua. Menariknya, ekspor daging babi AS ke Jepang meningkat sebesar 21% dari tahun ke tahun, akibat dari wabah ASF pada populasi babi hutan di Spanyol yang sebelumnya adalah pemasok utama Jepang.

Brasil juga diuntungkan dari masalah kesehatan di Spanyol. Pengiriman ke Jepang meningkat 60% dibandingkan tahun sebelumnya, mencapai total 43.000 metrik ton. Ekspor Brasil ke Filipina terus menduduki peringkat teratas dengan 121.000 metrik ton.

YAPPI GELAR INDOLIVESTOCK SERVICES AWARD: DORONG SEMANGAT “FOOD FOR BETTER LIVES” MELALUI KETAHANAN PANGAN

Pengurus YAPPI. Dari kiri: Setya Winarno, Desianto B. Utomo, dan Bambang Suharno. (Foto: Infovet/Ridwan)

Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui gelaran Indolivestock Services Award. Dengan mengusung tema “Food for Better Lives”, penghargaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi nyata dalam menyediakan pangan bagi masyarakat.

Ketua YAPPI, Desianto B. Utomo, menjelaskan bahwa penghargaan ini menyasar perusahaan, lembaga, hingga perorangan yang aktif dalam kegiatan sosial berbasis pangan dan gizi. Bentuk kontribusi yang dimaksud sangat beragam, mulai dari pemberian bantuan pangan, penyelenggaraan bazaar pangan murah, hingga inisiatif berbasis komunitas yang rutin dilakukan kepada masyarakat.

“Intinya adalah bagaimana kontribusi mereka terkait pangan ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers YAPPI, Kamis (30/4/2026), di Telaga Seafood Restaurant, Cibubur.

Penerima penghargaan tidak dipilih secara sembarang. Terdapat proses penjaringan yang sistematis, mulai dari seleksi administrasi hingga tahap penetapan pemenang. Beberapa indikator penilaian utama yang menjadi acuan meliputi komitmen dan konsistensi, memiliki dampak sosial, tata kelola dan inovasi, hingga replikasi dan memiliki nilai inspiratif.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris YAPPI, Bambang Suharno, bahwa esensi dari penghargaan ini adalah pemberdayaan pangan yang berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar memberikan piala, tetapi memastikan bahwa akses pangan masyarakat terus terjaga melalui sinergi berbagai pihak.

Sementara itu, Bendahara YAPPI, Setya Winarno menceritakan sejarah singkat YAPPI yang telah berdiri sejak 2002. Dibentuk oleh berbagai organisasi profesi, YAPPI awalnya berfokus pada penilaian pelaku di bidang peternakan dengan nama Yayasan Pengembangan Peternakan Nasional. Namun seiring perkembangan zaman, sejak 2025, berubah menjadi Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia dengan tetap menggunakan nama YAPPI.

Adapun kepengurusan YAPPI saat ini dipunggawai oleh Prof Dr Ir Muladno MSA (Pembina), Drh Desianto B. Utomo MSc PhD (Ketua), Drh Deddy Kusmanagandi MBA (Wakil Ketua), Bambang Suharno (Sekretaris), Winarno SP MSi (Wakil Sekretaris), dan Ir Setya Winarno (Bendahara).

“Kami memberikan penghargaan agar menjadi inspirasi bagi pihak lain, bukan untuk berkompetisi. Semakin banyak pihak yang ikut bergerak dan berkontribusi, maka akan semakin baik bagi ketahanan pangan kita,” pungkas Setya.

Melalui Indolivestock Services Award, YAPPI berharap semangat “Food for Better Lives” yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Indolivestock Expo & Forum 2026, 16-18 Juni, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem pangan yang mandiri dan berdaulat.

Bagi yang berminat ikut dalam penilaian Indolivestock Services Award 2026 bisa mengisi form di link pendaftaran berikut: https://bit.ly/Registration_Indolivestock_Award_2026. Pendaftaran paling lambat 11 Mei 2026. (RBS)

VAKSINDO PERLUAS AKSES PASAR GLOBAL MELALUI EKSPANSI KE KAWASAN EAEU

Pertemuan membahas rencana ekspor produk Vaksindo ke negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4). (Foto-foto: Infovet/NDV)

PT Vaksindo Satwa Nusantara kembali menunjukkan kiprahnya di pasar internasional dengan melaksanakan persiapan mengekspor vaksin ke kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Langkah ekspansif ini bukan sekadar pencapaian bisnis, namun mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang semakin diperhitungkan dalam industri kesehatan hewan global.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pertanian yang disampaikan melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi. “Kami sangat mendukung penuh terhadap upaya perluasan pasar vaksin hewan Indonesia ke kawasan EAEU,” kata Agung dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4).

Agung memberikan apresiasi kepada PT Vaksindo Satwa Nusantara. “Vaksindo menunjukkan komitmen dan kinerja yang kuat sebagai produsen vaksin hewan nasional, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri namun juga berhasil menembus pasar internasional,” lanjutnya.

Audiensi ini dihadiri oleh delegasi Rosselkhoznadzor, I. A. Samoilova, kemudian Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara, Dr Teguh Y. Prajitno beserta tim auditor Good Manufacturing Practices (GMP) Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).

Melalui proses audiensi ini, pemerintah berharap dapat memperoleh hasil yang positif sebagai langkah awal membuka akses ekspor vaksin hewan Indonesia ke negara anggota EAEU yaitu Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan.

“Tentunya kita semua sangat berharap rencana ekspor vaksin ke negara Rusia ini akan sukses. Dukungan untuk Vaksindo kami berikan dengan memperhatikan regulasi yang ada dan melakukan percepatan sesuai dengan prosedur negara pengimpor,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Hendra pun menyampaikan bahwa pemerintah optimis, mengingat pengalaman Vaksindo yang telah mengekspor vaksin dan obat hewan ke lebih dari 20 negara.

Perkuat Kapabilitas Riset Berstandar Internasional

Selama beberapa tahun terakhir, Vaksindo memperkuat kapabilitas riset dan pengembangan serta memastikan produknya memenuhi standar internasional yang ketat. Ekspansi ke negara kawasan Eurasian menjadi bukti bahwa produk vaksin unggas buatan dalam negeri mampu bersaing, baik dari sisi efektivitas maupun keamanan.

Suasana audiensi berlangsung interaktif.

Permintaan dari negara-negara ini terhadap vaksin unggas yang diproduksi Vaksindo, menjadi bukti nyata pengakuan pasar internasional terhadap kualitas produk dalam negeri.

“Kami mengembangkan dan memproduksi vaksin yang terjamin efikasinya, sesuai dengan standar ISO 9001:2015, ISO 17025 dan tentunya CPOHB serta GMP. Didukung penelitian yang komprehensif,” tandas Teguh Y. Prajitno.

Lini produk utama Vaksindo yang rencananya akan diekspor meliputi vaksin ND, AI, IB, IBD. Sebagai pabrik vaksin hewan pertama di Indonesia sejak 1983, Vaksindo memproduksi vaksin untuk segmen hatchery, breeding, dan peternakan komersial.

Produk Vaksindo telah menjangkau lebih dari 24 negara baik di kawasan Asia dan beberapa negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan portofolio produk Vaksindo telah memenuhi standar internasional (GMP & ISO).

Dengan fondasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, dan visi global yang semakin jelas, Vaksindo berada pada jalur pertumbuhan menjanjikan. Vaksindo hadir sebagai kebanggaan industri dalam negeri dan berkontribusi nyata untuk kesehatan hewan dunia. (ADV)

BRASIL SIAP MENCAPAI REKOR PANEN BIJI-BIJIAN DI TENGAH PERTUMBUHAN YANG MODERAT

Brasil berada di jalur yang tepat untuk mencapai rekor panen biji-bijian musim ini, dengan total produksi diperkirakan mencapai 356,3 juta ton, peningkatan 1,2% dari siklus sebelumnya. Meskipun terjadi sedikit penurunan rata-rata hasil panen untuk tanaman utama seperti jagung dan padi, perluasan lahan dan kinerja kedelai yang kuat khususnya mendorong pertumbuhan.

Brasil diperkirakan akan menghasilkan 356,3 juta ton biji-bijian pada musim ini, yang mewakili peningkatan 1,2% – atau 4,1 juta ton – dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Jika dikonfirmasi, ini akan menandai rekor baru untuk volume panen yang dihasilkan oleh produsen Brasil. Angka-angka tersebut berasal dari survei terbaru oleh Companhia Nacional de Abastecimento (Conab), yang dirilis minggu lalu.

Luas lahan tanam pada siklus saat ini diproyeksikan tumbuh sebesar 2%, mencapai 83,3 juta hektar. Ini berarti kurang dari 10% dari seluruh wilayah Brasil.

Namun, hasil panen rata-rata diperkirakan akan sedikit menurun, dari 4.310 kilogram per hektar pada musim sebelumnya menjadi 4.276 kg/ha pada tahun panen 2025/2026. Meskipun proyeksi penurunan sebesar 0,8%, ini masih akan mewakili hasil panen rata-rata nasional tertinggi kedua yang pernah tercatat.

Conab memperkirakan panen kedelai akan kembali mencetak rekor, diperkirakan mencapai 179,2 juta ton. Curah hujan yang berkurang pada bulan Maret memperbaiki kondisi lahan, memungkinkan kemajuan panen mencapai 85,7% dari luas lahan yang ditanami.

Untuk jagung, tanaman yang paling banyak ditanam kedua di negara ini, total produksi diproyeksikan mencapai 139,6 juta ton, penurunan 1,1% dari musim sebelumnya. Meskipun luas lahan yang ditanami tanaman pertama meningkat, tanaman kedua diperkirakan akan menurun sebesar 3,6% dibandingkan musim 2024/2025. Penanaman tanaman jagung kedua hampir selesai, dengan lahan saat ini berada pada tahap perkecambahan hingga pembungaan.

LAUNCHING NUSANTARA LIVESTOCK AND POULTRY EXPO 2026: WUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN LEWAT KOLABORASI INDUSTRI YANG LEBIH MODERN & KOMPETITIF

Foto bersama saat peluncuran Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan produktivitas, industri peternakan nasional terus bergerak menuju arah yang lebih modern dan terintegrasi. PT Debindo Global Expo (DEBINDO) kembali menghadirkan Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 yang resmi diluncurkan pada Rabu (29/4/2026) di Hotel The Westin Jakarta.

Pameran yang kedua kalinya ini merupakan wujud nyata komitmen DEBINDO dalam mendukung program pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan industri peternakan dan perunggasan nasional melalui inovasi dan kolaborasi strategis.

"Penyelenggaraan pameran ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat daya saing industri peternakan nasional. Kolaborasi lintas sektor yang didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan industri ke depan," ujar Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan, sinergi dengan berbagai kementerian, asosiasi, dan mitra strategis diharapkan mampu mendorong penguatan ekosistem industri peternakan secara menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan hilirisasi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, ajang ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi serta praktik terbaik dalam industri peternakan nasional untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Hal itu juga seperti yang disampaikan Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi. "Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 hadir sebagai wadah kolaborasi yang menyatukan pelaku dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan inovasi, pengembangan genetika unggul, serta penguatan hilirisasi, sektor peternakan akan semakin kuat sebagai pilar ketahanan pangan nasional sekaligus mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Nuryani Zainuddin, turut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap pameran ini dapat menjadi platform strategis untuk mendorong kolaborasi, pertukaran informasi, serta pengembangan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperluas akses pasar dan kemitraan usaha secara berkelanjutan.

Beragam inovasi dan solusi akan dihadirkan dalam penyelenggaraan pameran ini, mencakup produksi peternakan dan unggas, sistem kandang dan containment, mesin dan peralatan peternakan, teknologi egg farming, pakan dan nutrisi, obat serta vaksin hewan, layanan logistik, hingga sektor akuakultur dan perikanan. Semuanya dihadirkan sebagai bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi, dengan menekankan pendekatan berkelanjutan sebagai fokus utama dalam pengelolaan peternakan modern.

Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 siap menghadirkan lebih dari 100 brand nasional dan internasional yang akan menampilkan berbagai produk serta solusi inovatif, mulai dari teknologi peternakan, pakan dan nutrisi, kesehatan hewan, hingga sistem pengolahan dan cold chain. Keragaman ini menunjukkan semakin berkembangnya industri peternakan yang kini didorong oleh integrasi teknologi.

Tak sekadar menjadi ajang pameran, Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 juga menghadirkan rangkaian program pendukung yang dikemas secara dinamis. Mulai dari forum diskusi dan seminar industri, sesi knowledge sharing bersama praktisi dan pakar, demonstrasi teknologi peternakan secara langsung, hingga agenda business matching yang membuka peluang kemitraan strategis bagi para pelaku usaha. Sejumlah program unggulan turut dihadirkan, antara lain Nusantara Food Summit, IPB Stakeholder Forum, Business Pitching bersama Ditjen PKH, serta Intensive Livestock Bootcamp berkolaborasi dengan NusaQu.

Selain itu, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, pada momentum peluncuran ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara DEBINDO dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), serta Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Penandatanganan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengembangan industri peternakan nasional, peningkatan kualitas pakan dan pembibitan, serta percepatan adopsi inovasi dan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperkuat ekosistem livestock yang lebih terintegrasi, produktif, dan berdaya saing.

Melalui peluncuran ini, DEBINDO membuka peluang bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dalam Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026, yang diselenggarakan bersamaan dengan Indonesia Agriculture Technology (INDOGRITECH) Expo 2026. Pameran akan berlangsung pada 4-7 November 2026, di Hall 5 ICE BSD City. (RBS)

TEKANAN HARGA POKOK MENGANCAM SEKTOR UNGGAS MESIR DENGAN KRISIS PASOKAN

Meskipun terjadi de-eskalasi sebagian perang di Timur Tengah baru-baru ini, pasar pakan dan unggas di Mesir tetap berada di bawah tekanan yang signifikan.

Para produsen unggas Mesir mulai keluar dari pasar karena melonjaknya biaya pakan dan jatuhnya harga ayam dan telur menekan margin keuntungan, kata para pejabat industri, memperingatkan potensi krisis pasokan dalam beberapa bulan mendatang, seperti yang dilaporkan oleh media lokal Shorouk News.

Harga bahan baku pakan telah meningkat tajam sejak pecahnya perang yang melibatkan Iran pada akhir Februari, dengan harga jagung naik sekitar 26% menjadi EGP16.000 (US$301) per ton dan kedelai melonjak 85% menjadi EGP36.000 (US$677), menurut pelaku pasar. Harga dedak telah meningkat 27%, sementara pakan olahan telah naik sekitar 45%.

Para peternak unggas percaya bahwa produsen pakan yang membentuk stok gudang besar jagung dan kedelai dengan harga lama memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan.

Ahmed Nabil, anggota dewan Federasi Umum Produsen Unggas, mengatakan kepada Shorouk News bahwa perusahaan pakan telah menaikkan harga setiap hari meskipun memiliki stok yang cukup untuk lebih dari 3 bulan.

Para produsen kesulitan dengan biaya tinggi dan ketersediaan pakan yang terbatas, karena pemasok hanya mengirimkan kurang dari setengah kebutuhan peternakan sambil melakukan lindung nilai terhadap volatilitas mata uang, kata Nabil. Sementara itu, harga unggas dan telur telah turun sekitar 25% selama bulan lalu karena produksi yang tinggi dan permintaan yang lemah, tambahnya, sehingga produsen menjual di bawah harga pokok.

Biaya produksi satu tray telur telah naik menjadi sekitar 116 pound Mesir (US$2,18). Pada saat yang sama, harga pasar telah turun menjadi sekitar 100 pound Mesir (US$1,88), dibandingkan dengan 125 pound Mesir (US$2,35) pada awal tahun ini.

“Para produsen telah mulai menarik diri dari sektor ini karena harga produk akhir yang rendah dan kenaikan biaya pakan yang terus berlanjut,” kata Nabil.

Tren ini dapat memicu krisis parah di industri unggas yang sudah terpuruk dalam 6 bulan ke depan. Sameh El-Sayed, kepala divisi unggas di Kamar Dagang Giza, mengatakan harga di tingkat peternak untuk unggas putih telah turun menjadi sekitar EGP72 (US$1,35) per kg, turun dari EGP95 (US$1,79) Ramadan lalu, sementara harga yang wajar dalam kondisi saat ini sekitar EGP85 (US$1,6).

Jika produsen terus keluar, pasar dapat menghadapi kekurangan unggas dan telur, yang mendorong harga ke "tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya", kata Nabil.

Ketegangan geopolitik global telah berkontribusi pada volatilitas di pasar pakan, dengan diskusi yang sedang berlangsung tentang kemungkinan gencatan senjata dalam konflik Iran menambah ketidakpastian.

BLOKADE SELAT HORMUZ BERDAMPAK PADA PASOKAN PAKAN UNGGAS DAN PETERNAKAN KECIL DI UEA

Blokade Selat Hormuz yang sedang berlangsung telah memicu kekurangan pakan yang parah di UEA, memaksa beberapa peternakan unggas kecil dan menengah, yang memiliki penyimpanan terbatas, untuk menghentikan operasi. Sharjah dan Ras Al Khaimah paling terdampak, memicu kekhawatiran baru tentang ketahanan pangan. Pengiriman yang dialihkan sedikit membantu, tetapi biaya dan penundaan tetap ada.

Beberapa peternakan kecil telah menghentikan produksi, menimbulkan kekhawatiran tentang ketahanan pangan. Beberapa pengiriman telah dialihkan melalui saluran alternatif, tetapi dengan biaya lebih tinggi dan waktu transit yang lebih lama.

Sektor unggas termasuk yang paling terdampak oleh krisis ini. Harga pakan yang tersedia di pasar domestik telah meningkat tajam, sementara volumenya seringkali tidak mencukupi untuk membesarkan ayam broiler hingga mencapai berat pasar. Peternakan kecil tanpa lahan pertanian sendiri dipandang sangat rentan, karena mereka hampir sepenuhnya bergantung pada pemasok luar.

UEA masih sangat bergantung pada impor, dengan sekitar 70-75% konsumsi unggasnya berasal dari luar negeri. Brasil tetap menjadi pemasok dominan, mengirimkan sekitar 400.000 ton ke negara tersebut pada tahun 2025, diikuti oleh Afrika Selatan dan beberapa eksportir lainnya.

Eksportir unggas utama ke pasar UEA juga bersiap menghadapi dampaknya. Industri unggas Afrika Selatan sedang mencari saluran alternatif untuk sekitar 50.000 ton unggas yang diekspor setiap tahun ke UEA, menurut Asosiasi Unggas Afrika Selatan (SAPA).

“Jika situasi perang saat ini di Timur Tengah mencegah kapal mengirimkan hasil peternakan, hasil peternakan tersebut akan dijual di Afrika Selatan sebagai ayam beku atau produk olahan dan oleh karena itu tidak akan hilang,” kata Izaak Breitenbach, kepala eksekutif SAPA.

FLU BURUNG MENAMBAH TEKANAN PADA EKSPOR UNGGAS POLANDIA

Wabah flu burung baru di Polandia semakin berdampak buruk pada industri telur negara itu dan dapat melemahkan kinerja ekspor dalam beberapa bulan mendatang.

Polandia telah mencatat puluhan wabah flu burung sejak awal tahun 2026. Penyakit ini telah memengaruhi beberapa wilayah penghasil unggas utama, memicu tindakan pemusnahan dan protokol biosekuriti ketat yang tidak hanya mengganggu produksi, tetapi juga membebani kepercayaan peternak.

Dampaknya semakin terlihat pada populasi unggas nasional. Sejak musim gugur 2025, populasi ayam petelur Polandia telah turun sekitar 7,5 juta ekor, atau sekitar 15% dari total, menurut perkiraan industri.

Para produsen mengatakan kerugian sangat terasa di daerah dengan kepadatan peternakan yang tinggi, di mana wabah cenderung menyebar lebih cepat. Membangun kembali kapasitas akan memakan waktu beberapa bulan. Namun, dengan wabah baru yang dilaporkan hampir setiap minggu, pemulihan yang berkelanjutan masih belum pasti, dan beberapa produsen menunda pengisian kembali stok karena risiko kerugian lebih lanjut.

Pada Maret 2026, inspektorat veteriner utama Polandia memberlakukan pembatasan ekspor telur dari wilayah yang terdampak ke Makedonia Utara, Bosnia dan Herzegovina, dan Kirgistan. Langkah-langkah ini saja kemungkinan tidak akan secara signifikan memengaruhi volume ekspor secara keseluruhan, kata Katarzyna Gawrońska, presiden Kamar Nasional Produsen Unggas dan Pakan.

Namun, ekspor tetap menjadi pilar penting sektor ini. Antara 35% dan 45% produksi telur Polandia dijual ke luar negeri, menurut perkiraan Gawrońska. Permintaan ekspor yang kuat juga membantu peternak Polandia tetap fleksibel dalam strategi penetapan harga mereka, memungkinkan mereka untuk menyeimbangkan pasokan domestik dan menjaga harga ritel tetap relatif kompetitif meskipun produksi semakin ketat.

UPDATE PENYAKIT IB-ND DALAM ELANCO POULTRY MASTER CLASS 2026

Foto bersama dalam Poultry Master Class 2026 yang digelar Elanco. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bertempat di Hotel Tentrem Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (27/4/2026), PT Elanco Animal Health Indonesia bersama PT SHS International menyelenggarakan Elanco Poultry Master Class 2026, yang banyak mengupas mengenai update seputar penyakit Infectious bronchitis (IB) dan Newcastle disease (ND).

“Poultry Master Class kali ini banyak membahas update IB dan ND dengan pembicara yang sesuai di bidangnya. Diharapkan melalui seminar ini kita mendapatkan update khususnya terkait challenge IB dan ND, termasuk intervensi dari Elanco dalam membantu mengatasi penyakit-penyakit tersebut,” ujar Senior Marketing Manager Elanco Animal Health Indonesia, Aura Maulana.

Kegiatan kali ini menjadi momentum Elanco untuk memperkenalkan produk vaksin terbarunya Avipro IB-ND C131, dalam membantu peternak unggas mengatasi gangguan serangan IB dan ND. Vaksin tersebut merupakan vaksin IB H120 dengan ND clone C13-1 dengan perlindungan unggul dan maksimal selama delapan minggu. Dapat diaplikasikan di hatchery dan di lapangan.

Sebab kedua penyakit tersebut masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan Tanah Air. Hal tersebut seperti disampaikan oleh perwakilan dari PT SHS International, Nining Indiarti selaku Area Coordinator Jakarta.

“Satu kasus saja bisa menurunkan performa, menaikkan FCR, yang berujung merugikan peternak. Hadirnya vaksin terbaru ini adalah jawaban dari komitmen kami dalam membantu memberikan proteksi terhadap unggas dengan lebih lama dan lebih awal,” kata Nining.

Seminar kali ini turut menghadirkan pembicara di antaranya Senior Scientist of GD Animal Health Service, and President of the European Collage of Poultry Veterinary Science Netherland Prof Sjaak de Wit DVM PhD Dipl ECPVS, bersama Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP, dan Senior Technical Consultant Vaccines Elanco Asia Pacific Dr Nicholas Phuah.

Prof Sjaak dan Prof Micheal turut menyampaikan materi mengenai perkembangan penyakit IB dan ND yang sampai saat ini masih mengganggu dan memberikan dampak merugikan pada peternakan unggas, baik broiler, layer, maupun breeder, di antaranya gangguan pernapasan, kerusakan organ, penurunan produksi, hingga penurunan kualitas telur.

“Kalau IB dan ND ini sudah bersatu, tentu sangat berat untuk mengatasinya, dampaknya pada recovery sangat sulit sekali,” ujar Prof Michael.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemberian vaksinasi yang optimal. Tentunya dengan memahami bagaimana karakteristik virus, penggunaan vaksinnya, sarana dan prasarana untuk menunjang vaksinasi, tenaga ahli, hingga monitoring pasca vaksinasi harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.

“Vaksin yang digunakan harus aman, bahkan untuk DOC sekali pun. Reaksi pasca vaksinasi juga harus minimal terutama pada iklim panas, di mana stres dapat berimplikasi. Dan yang terpenting juga adalah vaksinasi akan efektif tercapai apabila berintegrasi dengan biosekuriti dan manajemen farm yang baik,” sebutnya.

Untuk strategi vaksin, Nicholas Phuah, turut memberikan gambaran secara mendalam terkait penggunaan vaksin terbaru dari Elanco yang diklaim mampu memberikan proteksi terbaik pada unggas, khususnya dalam menghadapi penyakit IB dan ND. (RBS)

CARA MENGHILANGKAN SIANIDA PADA SINGKONG UNTUK PAKAN SAPI

cara menghilangkan sianida pada singkong untuk pakan sapi

Banyak peternak sapi yang menggunakan singkong sebagai salah satu pakan untuk ternak mereka. Hal yang sama juga diketahui dilakukan oleh peternak kambing.

Namun singkong mengandung sianida yang beracun sehingga berbahaya untuk ternak. Meski demikian kandungan sianida dalam singkong dapat dihilangkan dalam arti diturunkan sebanyak mungkin.

Jenis Singkong Harus Diperhatikan

Kadar sianida pada singkong bisa berbeda untuk jenis singkong yang juga berbeda. Umumnya singkong yang rasanya pahit memiliki kandungan sianida yang lebih tinggi dibanding singkong dengan rasa manis. Disarankan untuk pakan ternak menggunakan singkong yang sianidanya lebih rendah.

Cara Menghilangkan Sianida pada Singkong

Cara menghilangkan sianida pada singkong untuk pakan sapi atau ternak lainnya, cukup mudah. Pengolahan seperti penjemuran, perendaman air, pemasakan (rebus, kukus) dan fermentasi masing-masing bisa mengurangi kadar sianida.

Pengolahan singkong dilakukan sampai kadar sianidanya tidak berbahaya untuk ternak. 

Salah satu cara yang dipakai peternak adalah pencucian, pemotongan, perendaman, pencacahan, penyimpanan/fermentasi. Langkahnya sebagai berikur:

  • Singkong utuh (singkong manis yang kadar sianidanya tidak tinggi) dicuci bersih agar tanah dan kotoran yang melekat pada kulit hilang.
  • Kemudian singkong dipotong menjadi beberapa bagian, atau langsung dicacah kecil-kecil, agar pelepasan sianida lebih cepat.
  • Setelah itu direndam selama 36-48 jam. Saat perendaman akan keluar buih. Lalu buang air rendaman, bilas dengan air bersih mengalir.
  • Cacah singkong (jika belum dicacah), bisa menggunakan mesin pencacah atau secara manual. Dengan dicacah proses fermentasi akan lebih cepat dan singkong lebih mudah dimakan ternak.
  • Simpan singkong dalam wadah tertutup yang kedap udara. Jangan sampai penuh karena biasanya singkong akan mengembang. Seiring waktu akan terjadi fermentasi.

Peternak lain ada yang menggunakan cara berbeda-beda. Misalnya ada yang melakukan pencucian, penjemuran singkong yang sudah dipotong-potong, kemudian dicacah, lalu disimpan kedap udara.

Ada yang melakukan pencucian, perendaman, penjemuran, pencacahan, penyimpanan/fermentasi. Ada juga yang menambahkan perebusan, dan sebagainya. Idealnya konsultasi dulu pada peternak yang sudah berpengalaman menggunakan singkong sebagai pakan.

Meskipun singkong sudah diolah untuk menghilangkan/menurunkan kadar sianidanya. Disarankan pemberian pada sapi secara bertahap tidak boleh drastis karena bisa merubah pH lambung. Jika sapi keracunan atau kembung segera hubungi dokter hewan.

INDUSTRI UNGGAS INGGRIS MEMPERINGATKAN KONFLIK TIMUR TENGAH DAPAT MENAIKKAN HARGA PANGAN DI INGGRIS

Industri daging unggas Inggris membunyikan alarm karena konflik yang meningkat di Timur Tengah mengganggu rantai pasokan global, memberikan tekanan yang semakin besar pada biaya produksi dan mengancam kenaikan harga pangan bagi konsumen Inggris.

Dengan gangguan besar di Selat Hormuz input utama seperti minyak, gas, pupuk, dan komponen pakan penting telah menghadapi penundaan yang signifikan atau kenaikan harga yang tajam. Para pemimpin di seluruh sektor memperingatkan bahwa tanpa intervensi pemerintah yang terkoordinasi, produksi pangan domestik dapat menghadapi tekanan serius sebagai akibatnya.

Richard Griffiths, kepala eksekutif Dewan Unggas Inggris (BPC), mengatakan dampak ketidakstabilan global sudah dirasakan. “Peristiwa global sekali lagi menantang ketahanan produksi pangan domestik kita. Dengan ayam sebagai setengah dari daging yang dikonsumsi bangsa ini, kami menganggap serius peran kami dalam memastikan masyarakat dapat mengakses makanan yang terjangkau. Janji pemerintah tentang rencana pertumbuhan sektor untuk unggas menjadi semakin mendesak dan kami meminta para menteri untuk mempercepat pelaksanaannya.”

Salah satu kekhawatiran yang paling mendesak adalah kenaikan tajam biaya energi dan bahan bakar. Gas minyak cair, yang banyak digunakan untuk memanaskan kandang unggas, sangat rentan terhadap kendala pasokan. Dengan biaya yang meningkat di setiap mata rantai pasokan, produsen bersiap menghadapi tekanan keuangan yang berkelanjutan.

CAPAIAN STRATEGIS DISNAKKESWAN PROVINSI SUMATERA BARAT DALAM PENGUATAN SEKTOR PETERNAKAN

Disnakkeswan Sumbar melakukan sosialisasi konsumsi protein hewani dalam rangka peringatan Hari Susu Nusantara

Sektor peternakan Sumatera Barat bukan sekadar urusan memelihara ternak hewan, melainkan denyut nadi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) membuktikan komitmen tersebut melalui deretan pencapaian yang tidak hanya di atas kertas, tetapi berdampak langsung ke peternak dan masyarakat.

Dari surplus produksi telur yang melimpah hingga garda terdepan perlindungan dari wabah penyakit, menjadi bukti bagaimana transformasi peternakan di Sumbar didorong untuk lebih maju, sehat, dan berdaya saing.

Disnakkeswan Sumbar telah menyalurkan bantuan ternak dan alat serta mesin peternakan, untuk meningkatkan produksi dan populasi peternakan.

Untuk ruminansia, di antaranya adalah penyaluran 40.000 liter N2 cair, plastic sheet, dan plastic glove untuk optimalisasi reproduksi sapi. Ditambah bantuan 20 ekor ternak sapi Simental beserta obat­obatannya. Lengkap dengan 4 unit mesin pencacah pakan ternak.

“Kami juga menyerahkan 5 ekor pejantan pemacek sapi pesisir untuk peningkatan mutu genetik, guna pelestarian plasma nutfah Sumatera Barat,” kata Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi. “Untuk ruminansia kecil sudah disalurkan 240 ekor kambing beserta obat-obatannya.”

Terkait peternakan unggas, 4.000 ekor itik dan 6.000 ekor ayam KUB disalurkan pada masyarakat/peternak. Semua beserta pakan dan obat­obatannya. Selain itu Disnakkeswan Sumbar juga memberikan bantuan 16 unit mesin tetas telur.

“Produksi peternakan Sumbar mengalami surplus. Ketersediaan telur mencapai 363.332 ton dan kebutuhannya sekitar 328.244 ton. Ketersediaan daging ayam 70.544 ton jauh melampaui kebutuhan sebesar 47.610 ton.” Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi menjelaskan. “Ketersediaan susu sekitar 975 ton dibandingkan kebutuhan sebesar 591 ton. Kemudian ketersediaan daging sapi mencapai sekitar 26.581 ton sementara kebutuhan berada di angka 24.367 ton.”

Sosialisasi peningkatan konsumsi protein hewani juga terus dilakukan. Ditindaklanjuti dengan penyaluran telur 12.000 butir dan susu 3.000 botol.

Produksi yang tinggi tentu tidak akan berarti tanpa adanya jaminan kesehatan dan keamanan pangan. Disnakkeswan Sumbar tak henti bekerja keras sebagai ‘perisai’ yang melindungi ternak hewan dan manusia dari ancaman penyakit.

Terkait penyakit hewan menular strategis (PHMS), Disnakkeswan Sumbar berhasil merealisasikan 30.000 vaksinasi rabies dari target 30.000 dosis, 2.000 vaksinasi Jembrana dari target 2.200 dosis, 50.375 vaksinasi PMK dari target 50.375 dosis, 3.000 vaksi nasi Septicaemia Epizootica (SE) dari target 3.000 dosis.

Selain itu berhasil menerbitkan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk 11 unit usaha, dari target 10 unit usaha pada unit usaha produk asal hewan. Pelatihan Juru Sembelih Halah (Juleha) berhasil meluluskan 80 orang juleha ruminansia dan 50 orang juleha unggas.

Kemudian sebanyak 374 Sertifikasi Veteriner diterbitkan untuk hewan, dan 4.949 untuk produk hewan, terkait lalu lintas HPM (Hewan, Produk Hewan, dan Media Pembawa Penyakit Hewan Lainnya).

Layanan pengujian mutu produk peternakan Disnakkeswan Sumbar telah menambah ruang lingkup akreditasi ISO 17025 2017 dengan parameter oksitetrasiklin, penisilin, tilosin dan kanamisin (bioassay) untuk laboratorium kesmavet, serta parameter kadar air dan kadar abu untuk laboratorium pakan.

“Kami telah memproduksi telur fertil 64.932 butir, DOC ayam KUB 39.481 ekor, pullet 3.268 ekor, serta menghasilkan 2.560 ekor ayam afkir untuk konsumsi,” terang Sukarli. “Di Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Barat juga telah diuji 2.164 sampel aktif dan 5.075 sampel pasif. Telah dilakukan pula pelayanan USG terhadap 75 pasien, pelayanan bedah terhadap 369 pasien, pelayanan rawat inap sebanyak 1.384 pasien, pelayanan rawat jalan sebanyak 4.610 pasien, dan pelayanan pengujian PCR.”

Untuk mendukung peternakan sapi Disnakkeswan Sumbar telah mendistribusikan 55.800 dosis semen beku. Serta melakukan pelestarian dan pemanfaatan pakan lokal yang efektif untuk peningkatan produksi ternak sapi.

“Disnakkeswan Sumbar juga menjadi wadah penelitian dan riset yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan BRIN, serta tujuan magang dari mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas,” pungkas Sukarli. “Kami juga melakukan launching penetapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada 3 UPTD lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.” (ADV)

PROYEK CHICKEN4U GHANA MENINGKATKAN DISTRIBUSI ANAK AYAM DWIGUNA UNTUK RUMAH TANGGA PEDESAAN

Proyek Chicken4U Ghana menghadirkan generasi baru unggas unggul kepada peternak skala kecil dengan meningkatkan distribusi anak ayam dwiguna ke daerah pedesaan terpencil.

Sejalan dengan Inisiatif Perbanyakan Unggas (PMI)/Inisiatif Perbanyakan Unggas Afrika (APMI), program ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga, menciptakan aliran pendapatan lokal, dan memberdayakan perempuan dan pemuda yang terlibat dalam produksi unggas tingkat desa.

Inti dari Chicken4U adalah model rantai nilai praktis: peternakan induk bersertifikat menetaskan anak ayam dwiguna berkualitas tinggi yang kemudian dipindahkan ke unit penetasan khusus selama 4 minggu pertama. Kandang penetasan ini menyediakan panas, pakan, dan dukungan vaksinasi, yang sangat meningkatkan kelangsungan hidup dan kinerja setelah anak ayam dijual kepada peternak kecil.

Pendekatan ini mencerminkan kerangka kerja PMI/APMI yang lebih luas, yang telah menghasilkan anak ayam dwiguna yang divaksinasi di seluruh negara peserta di Afrika, dengan manfaat yang dilaporkan dalam produktivitas dan ketahanan kawanan.

Bagi peternak pedesaan, ras dwiguna menawarkan keuntungan "dua-untuk-satu". Tidak seperti banyak ayam broiler yang hampir secara eksklusif berfokus pada daging, unggas ini memberikan hasil telur yang moderat dan berat badan yang dapat diterima, sehingga sangat cocok untuk sistem dengan input rendah, bebas berkeliaran, atau semi-terkurung.

Ras ini dibiakkan agar lebih mudah beradaptasi dengan sistem peternak kecil, yang membantu mengurangi angka kematian dan biaya pakan, dua kendala terbesar dalam peternakan unggas kecil.

Di Ghana, Chicken4U menargetkan rumah tangga yang sebelumnya hanya bergantung pada ayam lokal yang berkeliaran atau ternak impor sesekali. Dengan mengirimkan anak ayam yang divaksinasi dan berkinerja lebih baik langsung ke desa-desa, proyek ini menurunkan risiko kematian dini dan meningkatkan peluang keluarga untuk mendapatkan pengembalian investasi melalui konsumsi rumah tangga dan penjualan telur serta unggas hidup dalam skala kecil.

JAPFA DAN UGM HADIRKAN FASILITAS LAYER FREE-RANGE BERBASIS RISET DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan inovasi peternakan melalui serah terima hibah ayam petelur (layer) sistem free range di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fakultas Peternakan UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Inisiatif ini menjadi tonggak baru dalam kemitraan jangka panjang antara JAPFA dan UGM yang telah terjalin sejak tahun 2003. Kolaborasi tersebut secara bertahap berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari pembangunan Teaching Farm Closed House pada 2017, hibah laboratorium pascapanen berkapasitas 20.000 ekor ayam per hari, hingga pengembangan Closed House yang difokuskan pada penelitian makanan ternak yang mengikuti perbaikan genetika ayam untuk mendapatkan efisiensi optimum pada tahun 2019. Kini, sinergi tersebut berlanjut melalui penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) melalui pendekatan free range. 

Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia, JAPFA, menyampaikan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. “Pada tahap awal, kami menargetkan populasi 1.500 ayam petelur dengan potensi produksi sekitar 1.275 telur per hari. Lebih dari itu, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong inovasi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya produk pangan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ir Budi Guntoro, SPt, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JAPFA dalam mendukung pengembangan akademik dan riset. “Fasilitas Layer Free range ini menjadi pusat inovasi akademis yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Mahasiswa dapat belajar langsung mengenai praktik terbaik dalam kesejahteraan hewan, sehingga menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri peternakan ke depan,” ungkapnya. Fakultas Peternakan UGM sedang mengembangkan tiga model kandang yaitu Cages, Cage-free dan Free range untuk pembelajaran mahasiswa dengan pendekatan automasi dan sistem.

Hibah ayam petelur free range ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan di lingkungan akademik. Hibah ayam free range ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga fasilitas penelitian untuk mengkaji metode pemeliharaan ayam yang paling efektif dan berkelanjutan. 

Sistem free range yang diterapkan dalam fasilitas ini mengedepankan prinsip lima kebebasan hewan (Five Freedoms), di mana ayam memiliki akses ke area umbaran (outdoor) untuk mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak bebas, berinteraksi, dan berjemur di bawah sinar matahari. Pada siang hari, ayam dilepas di area terkbuka, sementara pada malam hari kembali ke kandang utama untuk menjaga keamanan dari predator.

Penerapan sistem ini telah banyak diadopsi di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap kesehatan fisik dan mental ayam maupun terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Akses terhadap pakan alami seperti serangga dan cacing di area umbaran turut berkontribusi pada peningkatan nilai nutrisi telur.

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan pasar telur premium di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan dalam proses produksi pangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen JAPFA sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein hewani yang halal, aman, dan higienis, sekaligus mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

KEMENTAN DORONG INDUSTRI PETERNAKAN UNJUK GIGI DI INDO LIVESTOCK 2026

Rapat sosialisasi persiapan Indo Livestock 2026. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PT Napindo Media Ashatama terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 sebagai ajang internasional yang mempertemukan pelaku industri peternakan, kesehatan hewan, dan pakan dari berbagai negara. Forum ini diproyeksikan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan kemajuan sektor peternakan Indonesia ke tingkat global.

Selain berfungsi sebagai pameran, Indo Livestock juga dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan, teknologi, dan inovasi terbaru. Kehadiran pelaku usaha internasional diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas serta mendorong peningkatan daya saing industri nasional.

Upaya tersebut ditandai dengan rangkaian sosialisasi yang digelar selama dua hari pada 20-21 April 2026 di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, BUMN, hingga pelaku usaha swasta di sektor peternakan dan industri pakan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat industri peternakan dari hulu hingga hilir. Ia menilai peran BUMN sangat strategis dalam mendukung pengembangan sektor tersebut.

“Kami ingin mendorong agar BUMN tidak hanya hadir sebagai institusi bisnis, tetapi juga sebagai lokomotif pembangunan peternakan nasional dengan mengambil peran strategis sebagai offtaker hasil peternakan rakyat, agregator rantai pasok, sebagai pendukung pembiayaan, logistik, hilirisasi, hingga penguatan ekspor,” ujar Nuryani, menekankan peran kunci BUMN dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional.

Ia juga menyebut Indo Livestock 2026 sebagai momentum penting untuk mendorong investasi dan kolaborasi yang lebih luas, seiring dengan potensi besar Indonesia di sektor peternakan, termasuk capaian swasembada ayam dan telur.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Makmun, mendorong para pelaku usaha turut serta dalam pameran berskala global tersebut.

“Ditjen PKH bekerja sama dengan Napindo menggelar acara Indo Livestock 2026 sebagai ajang strategis berkolaborasi. Kita ingin para pengusaha peternakan hadir dan ikut dalam acara tersebut supaya para mitra luar negeri yang hadir juga mengetahui perkembangan dan kemajuan industri peternakan di Indonesia,” kata Makmun.

Menurutnya, Indo Livestock bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga sarana untuk menampilkan capaian industri sekaligus memperluas jejaring bisnis. Dampak nyata terhadap pengembangan sektor menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan ini.

Sementara itu, Sales Manager PT Napindo Media Ashatama, Agnes Nilam Sunardi, menegaskan komitmen pihaknya dalam menghadirkan pameran berkualitas yang memberikan dampak positif bagi industri nasional.

“Kami perusahaan penyelenggara pameran profesional yang memberikan nilai positif bagi bangsa Indonesia di dunia internasional. Kami sudah melaksanakan 100 pameran, dan di antaranya merupakan pameran internasional Indo Livestock Expo dan Forum sejak 2002,” ujar Agnes.

Ia menambahkan, Indo Livestock menjadi sarana untuk memperkenalkan inovasi industri peternakan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program edukatif.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan hasil industri peternakan dan kesehatan hewan kepada dunia, mendorong dan memajukan industri agar mampu bersaing di kancah internasional, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi di bidang peternakan dan pertanian,” pungkasnya.

Indo Livestock 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16-18 Juni di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Kegiatan ini ditargetkan diikuti lebih dari 600 peserta dari 40 negara dengan sekitar 20.000 pengunjung profesional. Melalui sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri peternakan nasional yang lebih terintegrasi, berdaya saing, serta berkelanjutan di tengah dinamika pasar global. (INF)

JANGAN LEWATKAN SEMINAR PERSEMBAHAN DARI SAGAVET BERSAMA FKH UNAIR


SECOND ANNOUNCEMENT

Satria Airlangga Veterinarian (SAGAVET) bersama Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH UNAIR) dengan bangga mempersembahkan:

“Seminar Perunggasan & Hewan Kecil, serta Peluncuran Buku 55 Tahun FKH UNAIR”

Acara akan diselenggarakan pada:
Hari : Sabtu, 23 Mei 2026
Waktu : 08:00-16:00 WIB
Tempat : Tanjung Adiwinata, FKH UNAIR Kampus C, Surabaya

Menghadirkan narasumber yang inspiratif dan topik-topik menarik, di antaranya:
• Prof. Dr. Suwarno, Drh., M.Si (Guru Besar Virologi & Konsultan Perunggasan, FKH UNAIR): “One Hundred Years Newcastle Disease in Indonesia: What Happened

• Henri E. Prasetyo, DVM., M.VSc (PT Dinamika Megatama Citra): “Design Functional Feed for Functional Food: Precision Nutrition to Improve Egg and Poultry Meat Quality

• Prof. Dr. Wiwik Misaco Yuniarti, drh., M.Kes (Guru Besar Klinik & Praktisi Hewan Kecil, FKH UNAIR): “Neurological Examination in Companion Animals: Made Simple

• Drh. Lina Susanti, M.S., Ph.D (Dosen & Praktisi Hewan Kecil, FKH UNAIR): “Introduction to Neuro-ophthalmic Diseases in Small Animals

• Dr. Rizky Fajar Murniwan, SKH., Mvet (Dosen Universitas Indonesia I): Book Launch

Fasilitas:
• Seminar Kit
• Doorprize menarik
• Ilmu yang aplikatif & update

Donasi: Rp 250.000
Daftar sekarang melalui link berikut: https://forms.gle/DUrMq5EQjmW92dAz8

TEMPAT TERBATAS - JANGAN SAMPAI TERLEWAT!

Mari bergabung dan menjadi bagian dari perayaan 55 tahun FKH UNAIR!

Bagi Sponsorship/Alumni, Anda dapat support kegiatan berupa:
• Logo Perusahaan pada Seminar Perunggasan & Hewan Kecil
• Iklan baris/flyer produk perusahaan pada Buku 55 Tahun FKH UNAIR

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PRODUKSI PAKAN TERNAK BRASIL DIPROYEKSIKAN TUMBUH 3,3% PADA TAHUN 2026

Produksi pakan ternak di Brasil diproyeksikan mencapai 97,3 juta ton pada tahun 2026, naik 3,3% dari tahun sebelumnya, menurut perkiraan Sindiracoes (Serikat Nasional Industri Pakan Ternak).

Hasil ini menandai tahun pertumbuhan kedua berturut-turut, dengan produksi mencapai sekitar 94,2 juta ton pada tahun 2025, peningkatan lebih dari 3% dari tahun 2024. Sejak tahun 2021, pertumbuhan kumulatif telah mencapai 16,6%, dari 83,4 juta menjadi 97,3 juta ton, jika proyeksi dikonfirmasi.

“Ekspansi produksi pertanian mendorong masuknya perusahaan-perusahaan baru ke dalam pemasaran produk-produk sektor tradisional, serta diversifikasi bauran ekspor,” kata Ariovaldo Zani, CEO Sindiracoes.

Menurut sektor tersebut, kinerja mencerminkan pemulihan aktivitas peternakan dan akuakultur setelah periode volatilitas yang lebih besar, khususnya terkait dengan biaya biji-bijian dan lingkungan makroekonomi.

Kombinasi perluasan akses pasar, penguatan kelembagaan, dan insentif untuk modernisasi produktif diharapkan dapat meningkatkan daya saing sektor protein hewani selama dekade berikutnya.

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

ANCAMAN TERSEMBUNYI DALAM PAKAN

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. (Foto: Dok. Romindo)

Di dunia perunggasan, pakan selalu menempati posisi sebagai komponen biaya terbesar sekaligus penentu utama performa produksi. Baik pada ayam layer, broiler, maupun breeder, lebih dari 60-70% biaya operasional berasal dari pakan. Namun ironisnya, meskipun porsinya sangat dominan, masih banyak praktisi di lapangan yang melihat pakan hanya sebatas “input nutrisi”, bukan sebagai faktor risiko yang kompleks.

Dalam praktik sehari-hari, ketika terjadi penurunan performa seperti FCR memburuk, menurunnya produksi telur, maupun pertumbuhan yang tidak optimal, fokus utama sering langsung diarahkan pada penyakit infeksi. Padahal, tidak jarang akar masalah sebenarnya berasal dari kualitas pakan yang menurun secara tidak kasat mata.

Salah satu ancaman paling signifikan dalam pakan adalah kontaminasi mikotoksin. Mikotoksin merupakan senyawa toksik yang dihasilkan jamur yang tumbuh pada bahan baku pakan seperti jagung, gandum, maupun bungkil kedelai. Pertumbuhan jamur ini sangat dipengaruhi oleh kadar air, suhu, dan kondisi penyimpanan. Dalam kondisi kelembapan tinggi, seperti yang sering terjadi setelah musim hujan, risiko kontaminasi meningkat secara signifikan.

Aflatoksin, fumonisin, okratoksin, T2-toksin, zearalenon, dan deoksinivalenol (DON) adalah beberapa jenis mikotoksin yang umum ditemukan di pakan unggas. Mikotoksin ini berbahaya karena hanya menimbulkan gejala klinis akut. Pada dosis rendah hingga sedang, mikotoksin lebih sering menyebabkan gangguan subklinis (tanpa gejala). Ayam tetap terlihat normal, tetapi terjadi penurunan efisiensi metabolisme. Nutrisi tidak terserap optimal, fungsi hati terganggu, dan terjadi penekanan sistem imun. Dampaknya pada broiler pertumbuhan tidak optimal, pada layer penurunan produksi dan kualitas telur, serta gangguan reproduksi pada breeder.

Selain itu, mikotoksin juga memiliki efek imunosupresif yang signifikan. Ayam yang terpapar mikotoksin cenderung memiliki respons vaksin lebih rendah. Hal ini sering menimbulkan kesalahpahaman di lapangan, di mana kegagalan vaksinasi dianggap sebagai masalah program vaksin, padahal bisa jadi faktor pakanlah yang menjadi penyebab utamanya. Dalam situasi seperti ini, penggunaan obat atau revaksinasi belum tentu mampu memberikan hasil yang optimal karena sumber masalah utamanya belum teratasi.

Variasi kualitas dari bahan baku juga menjadi tantangan besar dalam formulasi pakan. Secara teoritis, formulasi pakan disusun berdasarkan nilai nutrisis tandar. Namun dalam praktik, nilai nutrisi bahan baku dapat sangat bervariasi antar batch. Kandungan protein, energi, maupun asam amino dapat berbeda tergantung pada asal bahan bakunya, kondisi panen, serta proses penyimpanan.

Tentu hal tersebut akan berdampak langsung pada performa ayam. Pada broiler terlihat dalam bentuk pertumbuhan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Head Office – Jl. Dr Saharjo No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
No. HP/WA: 082331472418
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer