| Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa) |
PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026
SEKTOR UNGGAS BOTSWANA TUMBUH, NAMUN TANTANGAN PERSAINGAN MASIH ADA
Industri unggas Botswana telah menunjukkan kemajuan pesat menuju swasembada dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung oleh investasi pemerintah dan peningkatan produksi lokal. Namun, studi pasar regional yang dilakukan oleh Botswana Competition and Consumer Authority (CCA) menunjukkan bahwa tingginya biaya produksi, terbatasnya persaingan, dan mahalnya harga pakan terus memengaruhi daya saing jangka panjang sektor ini.
Awal tahun ini, Botswana mengumumkan pencapaian swasembada daging ayam dan telur konsumsi. Nilai subsektor unggas meningkat dari P1,7 miliar (US$124 juta) pada tahun 2022 menjadi P3,5 miliar (US$256 juta) pada tahun 2025. Pemerintah telah menetapkan industri unggas sebagai sektor strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Untuk melanjutkan kemajuan ini, Citizen Entrepreneurial Development Agency (CEDA) meluncurkan program Poultry Financial Suite yang telah diperbarui pada bulan Mei. Program ini diharapkan dapat mendukung 269 peternak unggas, mendirikan 3 tempat penetasan yang mampu memproduksi lebih dari 18 juta anak DOC per tahun, memperkuat produksi pakan lokal, serta menginvestasikan dana mendekati P1 miliar (US$73 juta) di sektor unggas.
Investasi ini mencerminkan ambisi Botswana untuk terus memperluas produksi lokal dan membangun industri unggas yang lebih tangguh.
Terlepas dari kemajuan tersebut, studi pasar unggas regional CCA; yang meneliti industri unggas di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zambia; menemukan bahwa pasar masih sangat terkonsentrasi. Sejumlah kecil perusahaan mendominasi beberapa bagian rantai nilai unggas, mulai dari pembibitan hingga pengolahan, sehingga menyulitkan produsen berskala lebih kecil untuk bersaing.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa Botswana tetap menjadi produsen unggas dengan biaya relatif tinggi, di mana pakan merupakan komponen terbesar dari biaya produksi. Ketergantungan pada input impor dan tingginya biaya transportasi terus menekan margin keuntungan produsen, yang pada akhirnya berkontribusi pada harga unggas yang lebih tinggi.
Menurut studi tersebut, banyak perusahaan unggas terbesar di Botswana memiliki hubungan komersial yang erat dengan perusahaan-perusahaan besar asal Afrika Selatan, khususnya di bidang pembibitan dan pengolahan. Kondisi ini, ditambah dengan pembatasan impor yang dirancang untuk melindungi produksi lokal, telah menciptakan pasar dengan tingkat persaingan yang terbatas.
Industri unggas Botswana telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperluas produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tantangan berikutnya adalah mengembangkan capaian ini dengan menciptakan pasar yang kompetitif, efisien, dan mampu menyediakan produk unggas yang terjangkau bagi konsumen.
SISTEM AI ASAL BRASIL HADIRKAN AKURASI 99% DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN ANAK AYAM
Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama yang sepenuhnya berasal dari Brasil untuk menentukan jenis kelamin anak ayam pedaging (broiler) di tempat penetasan kini telah beroperasi di Pluma Agroavícola, salah satu perusahaan genetika unggas terkemuka di negara tersebut.
Sistem yang diberi nama HatchFlex ini dikembangkan oleh perusahaan Brasil, SmartPixel, dan memadukan kecerdasan buatan, visi komputer, otomatisasi industri, serta sistem optik berpresisi tinggi untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak ayam secara cepat, konsisten, dan andal.
Menurut Lauri Paludo, presiden Grupo Pluma, penerapan sistem ini merupakan langkah maju yang besar bagi perusahaan. "Kami terus berinvestasi dalam teknologi, modernisasi, dan peningkatan proses karena kami yakin inilah jalan untuk mempertahankan keunggulan produk serta daya saing operasional kami," ujarnya.
Menurut Décio Luiz Goldoni, manajer tempat penetasan di Pluma Agroavícola, sistem HatchFlex membawa transformasi signifikan bagi operasional perusahaan. "Ini adalah teknologi mutakhir yang menghadirkan akurasi lebih tinggi dalam proses penentuan jenis kelamin anak ayam. Selain meningkatkan produktivitas, otomatisasi juga membantu memperbaiki kondisi kerja bagi tim kami serta memperkuat komitmen kami terhadap kualitas di setiap tahapan produksi."
Fitur unggulan lainnya dari sistem ini adalah fokusnya pada kesejahteraan hewan. Proyek ini dikembangkan untuk memenuhi standar kesejahteraan internasional yang ketat, guna memastikan unggas ditangani dengan aman dan hati-hati di sepanjang prosesnya.
INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI
https://www.instagram.com/
TIPS WIRAUSAHA KOMPOS KOTORAN SAPI YANG BISA DIKERJAKAN SENDIRI
Usahakan membeli kotoran sapi yang sudah siap dikompos. Ciri-cirinya adalah kotorannya kering, bobotnya ringan karena kandungan air sedikit. Baunya tidak menyengat. Kotorannya berbutir-butir kecil, tidak masih dalam bentuk gumpalan besar-besar yang masih basah.
Kotoran sapi yang demikian akan lebih cepat untuk dibuat kompos.
Penting juga untuk memilih kotoran sapi yang cukup bersih. Yaitu tidak tercampur dengan banyak keriril, tanah, sampah plastik, dan bahan penganggu lainnya. Karena selain buang waktu dan tenaga untuk memilahnya, juga kalau campuran sampah dan lain-lain tersebut banyak bisa membuat proses pengomposan lebih lama.
Untuk pengomposannya pilih teknik yang bisa dikerjakan sendirian. Mungkin pilih metode yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, misal tidak membutuhkan pembalikan/pengadukan yang sering.
Merapikan keuangan juga penting. Ambil sebagian laba sebagai gaji pribadi. Sisa laba dan modal simpan sebagai uang usaha, untuk membeli bahan baku dan ongkos produksi batch berikutnya.
Pemasaran jika baru mampu berproduksi skala kecil bisa menyasar rumah tangga, sekolah, dan perkantoran.
PETERNAK UNGGAS DI ZIMBABWE KEDAPATAN MENGGUNAKAN OBAT HIV DALAM PAKAN TERNAK
Industri unggas Zimbabwe tengah menghadapi skandal kesehatan yang kian membesar, menyusul terungkapnya praktik ilegal di mana peternak ayam pedaging mencampurkan obat antiretroviral (ARV) ke dalam pakan ayam, dengan tujuan menekan angka kematian dan mempercepat pertumbuhan ternak.
Southern Africa Accountability Journalism Project (SA AJP), sebuah inisiatif jurnalisme investigasi yang berfokus pada akuntabilitas publik, mewawancarai dua sumber di industri unggas yang membenarkan adanya praktik penambahan obat HIV ke dalam pakan ternak.
Sebagai contoh, seorang peternak yang beroperasi di kawasan Waterfalls, Harare, mengakui bahwa ia secara diam-diam mencampurkan obat ARV, yang dibelinya secara ilegal dari seorang petugas kesehatan di rumah sakit setempat, ke dalam pakan ayamnya.
Peternak tersebut menyatakan bahwa motivasi awalnya bukanlah untuk mempercepat pertumbuhan ayam, melainkan untuk mengurangi kerugian akibat penyakit unggas yang umum terjadi. Baru belakangan ia meyakini bahwa obat-obatan tersebut juga dapat membantu ayam tumbuh lebih cepat.
Yang menarik, para peternak yang diwawancarai mengungkapkan bahwa obat HIV memberikan dampak luar biasa bagi usaha mereka.
Peternak tersebut, yang sebelumnya berada di ambang kehancuran akibat wabah penyakit Newcastle, mendapati penurunan nyata pada angka kematian ayam serta peningkatan keuntungan.
Terlepas dari potensi efektivitasnya, penggunaan obat HIV dilarang keras di Zimbabwe.
Sejumlah pejabat kesehatan setempat telah menyuarakan kekhawatiran bahwa praktik ini dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, khususnya bagi orang yang hidup dengan HIV. Para analis memperingatkan bahwa konsumen yang secara rutin mengonsumsi unggas yang terpapar obat antiretroviral berisiko menelan residu obat tersebut, meskipun sejauh mana risiko kesehatan yang ditimbulkannya belum diteliti secara mendalam.
Terdapat pula kekhawatiran bahwa paparan berulang terhadap residu ARV berpotensi mengganggu pengobatan HIV pada pasien yang memang sedang mengonsumsi obat tersebut, kendati bukti langsung mengenai dampak semacam itu pada manusia masih terbatas.
KAMERA PINTAR MENGUNGKAP RESPONS AYAM BROILER TERHADAP STRES PANAS DAN PERTAMBAHAN USIA
Sebuah studi baru yang menggunakan teknologi computer vision canggih telah memberikan wawasan baru mengenai perubahan perilaku ayam broiler sepanjang siklus produksi. Hal ini menawarkan sarana baru bagi para peternak unggas untuk memantau kesejahteraan, mendeteksi masalah sejak dini, dan mengelola stres panas secara lebih efektif.
Para peneliti memantau 1.120 ekor ayam broiler jenis Ross 308 selama empat siklus produksi menggunakan sistem pelacakan multi-kamera yang mampu mengikuti pergerakan ayam sejak usia 8 hingga 40 hari. Teknologi ini secara otomatis mengukur tingkat aktivitas serta perilaku makan dan minum, sehingga memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya mengenai bagaimana perilaku broiler berkembang seiring pertumbuhan ayam.
Temuan ini mengonfirmasi banyak pengamatan yang sudah dikenal oleh para peternak unggas, sekaligus menunjukkan bagaimana pemantauan otomatis dapat mengubah cara penilaian kesejahteraan ayam di kandang komersial.
Salah satu kesimpulan yang paling jelas adalah bahwa usia memiliki dampak besar terhadap aktivitas. Seiring pertumbuhan ayam broiler, pergerakan secara keseluruhan menurun secara signifikan. Aktivitas intensitas tinggi, seperti berlari, mulai berkurang sejak usia 15 hari dan menurun lebih cepat dibandingkan pergerakan dengan intensitas lebih rendah. Pada usia sekitar 30 hari, tingkat aktivitas di semua kategori terlihat jauh lebih rendah.
Menurut para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Patricia Soster dari Departemen Patobiologi, Farmakologi, dan Kedokteran Zoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Ghent, Belgia, hal ini mencerminkan realitas biologis ayam broiler modern. Seiring bertambahnya berat badan, pergerakan menjadi lebih berat secara fisik dan ayam secara alami mencurahkan lebih banyak energi untuk pertumbuhan daripada untuk bergerak. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengaitkan penurunan aktivitas pada ayam yang lebih tua dengan masalah mobilitas dan kesehatan kerangka yang lebih buruk.
Bagi para peternak, temuan ini penting karena aktivitas dapat menjadi sinyal peringatan dini. Penyimpangan yang signifikan dari pola aktivitas yang diharapkan dapat mengindikasikan munculnya masalah kesejahteraan, termasuk kepincangan, gangguan kaki, atau masalah manajemen pemeliharaan.
Perilaku minum yang disertai dengan berkurangnya kunjungan ke tempat pakan dapat menjadi peringatan dini bahwa ayam sedang kesulitan menghadapi kenaikan suhu.
TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED
"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.
Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.
Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.
Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).
Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.
Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.
"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.
Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.
Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.
"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.
Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)
LAYER ACADEMY MEMILIH KANDIDAT UNTUK PROGRAM PENGEMBANGAN
BFREPA Layer Academy angkatan pertama telah memilih 8 orang yang terdiri dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait untuk mengikuti program pengembangan selama 12 bulan di sektor telur ayam free-range, yang disponsori oleh ForFarmers UK.
Akademi ini diluncurkan di ajang Pig and Poultry Fair oleh direktur dewan British Free Range Egg Producers Association (BFREPA), Lucy Hinch, dan Greg Marsh, manajer penjualan unggas di ForFarmers UK. Program ini dijalankan untuk BFREPA oleh Hinch dan Bethany Irwin, dengan dukungan dari berbagai perusahaan di sektor tersebut.
Lamaran datang dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait dari seluruh penjuru negeri. Para kandidat yang terpilih mewakili beragam jenis usaha, sistem produksi, dan latar belakang profesional.
Selama 12 bulan ke depan, kelompok peserta ini akan mengunjungi hatchery, lokasi pemeliharaan pullet, unit kandang free-range dan barn (kandang tertutup dengan akses lantai), fasilitas pengolahan telur, pabrik pakan, serta pusat pengemasan. Sesi-sesi pelatihan akan mencakup berbagai topik seperti program vaksinasi, persyaratan supermarket, pengolahan ayam petelur afkir, dan peran British Egg Industry Council.
Para peserta akan bertemu dengan produsen, ahli nutrisi, pengecer, regulator, dan pengambil keputusan di industri ini. Selain materi teknis, program ini juga mencakup pengembangan kepemimpinan, diskusi, dan kesempatan untuk membangun jejaring.
BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED
"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.
Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.
Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.
Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.
“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.
Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.
Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.
“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.
Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.
“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.
Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.
Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.
Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)
KELEBIHAN PRODUKSI PICU KRISIS HARGA PADA SEKTOR AYAM PEDAGING MAROKO
Para produsen ayam pedaging di Maroko menghadapi tekanan finansial yang kian berat akibat gelombang kelebihan produksi, penurunan ekspor, dan tambahan pasokan ayam petelur afkir yang mendorong harga ayam ke tingkat yang, menurut banyak peternak, tidak lagi mampu menutup biaya produksi mereka.
Perwakilan industri menyatakan bahwa pasar terdampak oleh kelebihan pasokan yang berkepanjangan; harga eceran tetap berada di bawah MAD 20 (US$2,20) per kg di banyak pasar, sementara harga grosir di Casablanca, ibu kota negara tersebut, berkisar antara MAD 11,5 hingga MAD 12,5 per kg (US$1,24 hingga US$1,34). Para peternak unggas mengatakan bahwa tingkat harga ini tidak cukup untuk menutupi biaya produksi.
Mohammed Abboud, ketua Asosiasi Nasional Produsen Ayam Pedaging Maroko, mengatakan bahwa banyak peternak yang membawa ayam mereka ke pasar hanya berjuang untuk memulihkan biaya produksi dan menutupi pengeluaran, tanpa mengharapkan keuntungan sama sekali.
Permintaan saat ini berada di bawah tingkat yang biasanya diharapkan selama musim panas. Abboud menambahkan bahwa permintaan yang terkait dengan peristiwa musiman dan kelompok konsumen utama, seperti warga Maroko yang tinggal di luar negeri yang pulang kampung untuk liburan serta musim pernikahan, belum mencapai tingkat yang diantisipasi oleh para produsen.
Situasi saat ini mengancam keberlangsungan usaha peternakan unggas skala kecil di negara tersebut, yang keberadaannya diyakini sebagai faktor kunci dalam menjaga inflasi pangan tetap terkendali.
Jika produksi nantinya terkonsentrasi hanya pada segelintir perusahaan besar, kata Abboud, harga ayam bisa melonjak tajam di masa depan, sehingga memberikan beban tambahan baik bagi pasar maupun daya beli konsumen.
STUDI MENGKAJI DAMPAK LINGKUNGAN DARI PERUBAHAN POLA PRODUKSI TELUR DI INGGRIS
Para akademisi mengemukakan bahwa beralih sepenuhnya ke metode produksi telur organik dan sistem free-range akan meningkatkan emisi sebesar 60% sekaligus melipatgandakan penggunaan lahan.
Studi tersebut, yang membandingkan beberapa skenario bagi industri telur, termasuk peralihan ke sistem kandang tertutup, free-range, dan organik dengan tetap mempertahankan tingkat produksi saat ini, menunjukkan perlunya sektor ini mempertimbangkan aspek lingkungan saat mengarahkan transisi di masa depan untuk meninggalkan sistem produksi telur dengan kandang baterai.
Para akademisi menemukan bahwa meskipun sistem cage-free mungkin lebih sejalan dengan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan ayam, sistem ini mungkin memerlukan populasi ayam yang lebih besar secara keseluruhan, yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Mereka memperkirakan total dampak lingkungan mencapai 2,3 juta ton setara CO2 untuk model organik penuh, dibandingkan dengan 1,4 juta ton untuk komposisi produksi saat ini dan 1,1 juta ton jika seluruh ayam dipelihara dalam kandang baterai. Angka-angka ini didasarkan pada data dasar dari tahun 2009/2010.
Ayam yang dipelihara dalam kandang baterai mengubah pakan menjadi telur dengan lebih efisien dibandingkan ayam dalam sistem bebas kandang. Akibatnya, jumlah ayam dan pakan yang lebih sedikit dapat menghasilkan volume telur yang sama, sebuah faktor krusial mengingat pakan merupakan komponen terbesar dari jejak lingkungan industri ini.
Penulis laporan, Dr. Harriet Bartlett, peneliti senior di Smith School of Enterprise and Environment, Universitas Oxford, mengatakan, "Penelitian kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesejahteraan hewan, dampak lingkungan, dan produksi pangan secara bersamaan saat merancang masa depan peternakan telur. Memahami adanya pertimbangan yang saling bertolak belakang ini akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan hewan di masa depan."
FOKUS PADA "GLOCAL": BAGAIMANA RAKSASA BARU DI INDUSTRI DAGING BERUPAYA MENJANGKAU PASARNYA
Tahun 2025 menjadi saksi merger besar antara dua perusahaan daging terbesar asal Brasil. Marfrig dan Brasil Foods (BRF) bergabung membentuk MBRF, sebuah perusahaan raksasa dengan produk yang menjangkau 117 pasar di seluruh dunia. Bagaimana perusahaan sebesar ini berhasil menjangkau setiap pelanggan di berbagai penjuru dunia?
Selama bertahun-tahun, baik Marfrig maupun BRF telah melakukan akuisisi dan menjalin kemitraan strategis di negara-negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang menjanjikan. Contohnya termasuk Amerika Serikat (untuk produk daging sapi), serta Tiongkok, Turki, dan Arab Saudi. Secara keseluruhan, produk MBRF kini hadir di 117 negara di seluruh dunia. Seiring dengan semakin besarnya perusahaan, memahami preferensi lokal menjadi hal yang semakin krusial. Bagaimanapun, strategi yang berhasil di satu pasar belum tentu sukses di pasar lainnya.
Hal inilah yang menjadi alasan utama di balik pendirian pusat inovasi mereka: memanfaatkan wawasan mendalam untuk mengembangkan produk yang akan sukses di pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Patricia Niizu, manajer sains konsumen di MBRF, "Kami bertujuan menjadi perusahaan yang 'glocal'." Perusahaan yang cukup besar untuk tetap kompetitif di dunia yang semakin terglobalisasi, namun juga sangat peka dalam menangkap tren lokal demi meraih kesuksesan di mana pun.
Arab Saudi menjadi contoh bagaimana MBRF melakukan pendekatan terhadap pasarnya. Ia menjelaskan bahwa negara tersebut telah mengalami tren "snackifikasi" (pergeseran pola makan ke arah camilan) selama satu dekade terakhir. Hal ini mendorong MBRF untuk meluncurkan lini produk Sadia Bites, yakni camilan yang dapat disiapkan hanya dalam hitungan menit.
Selain itu, tim inovasi memetakan tren preferensi restoran terkini di Arab Saudi; tidak mengherankan jika cita rasa seperti "Italia" (yang dominan) dan "Meksiko" (yang sedang naik daun) muncul dalam daftar tersebut. Berbekal wawasan itu, tim meluncurkan rangkaian produk untuk air fryer dengan cita rasa global di bawah merek Sadia Broasted Chicken Chunks. Lini produk ini menghadirkan varian rasa seperti "bawang putih dan parmesan" serta "jalapeño".
Namun, menjalankan bisnis dengan pendekatan "glocal" (global sekaligus lokal) tidak cukup hanya dengan memahami pasar secara mendalam. CEO MBRF, Miguel Gularte, membahas topik mengenai kunci sukses di pasar global dalam sebuah diskusi panel di pameran dagang SIAVS di São Paulo yang berlangsung pada 4-6 Agustus. Ia menyoroti pentingnya kehadiran fisik di negara lain, bahkan hingga memanfaatkan rantai produksi lokal yang terintegrasi.
Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada masalah geopolitik terkini di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, seraya menyatakan, "Pasokan pangan di sana tidak terganggu. Perusahaan-perusahaan dari sini (Brasil) tetap melanjutkan pasokan ke wilayah-wilayah yang sedang dilanda konflik tersebut."
DETEKSI PERSISTEN INFEKSI DAN MUSNAHKAN, CARA TEPAT KENDALIKAN BOVINE VIRAL DIARRHEA
BVD merupakan penyakit endemik di sebagian besar wilayah dunia dengan prevalensi sedang-tinggi pada peternakan sapi perah dan sapi potong. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu patogen infeksius paling signifikan dalam industri peternakan. Virus BVD merupakan virus RNA untai tunggal berselubung kecil, sekitar 12,5 kb, anggota genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Genus Pestivirus terdiri dari empat spesies, yaitu BVDV-1 dan BVDV-2 (sebelumnya disebut sebagai genotipe 1 dan 2), classical swine fever pada babi, dan border disease pada domba.
BVD dikategorikan menjadi dua biotipe berdasarkan karakteristik pertumbuhannya dalam kultur sel biotipe sitopatik dan biotipe non-sitopatik. Biotipe sitopatik (CP) yang langka akan merusak kultur jaringan dan biotipe non-sitopatik (NCP) yang jauh lebih umum tidak akan merusaknya. Biotipe NCP memiliki tropisme untuk leukosit, organ limfoid, dan saluran pernapasan, sementara biotipe CP lebih terbatas pada saluran pencernaan.
Infeksi ini dapat menyebabkan kerugian ekonomi besar karena tingkat kesakitan, kematian, penurunan kesuburan dan produksi susu, performa pertumbuhan yang lambat, diare, kematian pedet, hingga penyakit pernapasan. Penyakit ini juga menyebabkan disfungsi reproduksi seperti aborsi, teratogenesis, resorpsi embrio, mumifikasi janin dan lahir mati, imunosupresif, mudahnya terjadi infeksi sekunder, penurunan produktivitas, dan kondisi infeksi persisten (PI) pada pedet.
Infeksi sementara (trancient infection/TI) pada sebagian besar spesies mengakibatkan gejala menciri BVD, yaitu rendahnya performa reproduksi, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Sapi-sapi TI berperan hingga 93% infeksi rahim yang mengakibatkan kelahiran pedet PI. Secara umum, TI dapat dibagi menjadi lima kategori, yakni akut, akut parah, infeksi hemoragik, penyakit pernapasan, dan imunosupresi. Infeksi akut memiliki peranan penting dalam penularan dan sheeding virus dalam populasi hewan (domestik dan liar).
Tipe BVD akut parah menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi pada hewan yang rentan. Infeksi primer dengan beberapa strain BVD-2 yang sangat virulen menyebabkan perjalanan penyakit perakut hingga akut dan tanda-tanda demam, kematian mendadak, diare, atau pneumonia. Patogenesis BVD-2 paling sering dikaitkan dengan peningkatan virulensi strain. Produksi sitokin inflamasi, sebagai respons terhadap infeksi luas pada fagosit mononuklear, telah diduga sebagai penyebab penyakit parah ini. Dalam beberapa kasus, terjadi penurunan trombosit yang diikuti dengan gejala klinis termasuk perdarahan mukosa, diare berdarah, serta gangguan pencernaan lainnya. BVD juga menyebabkan penyakit kronis dan mucosal disease pada hewan PI.
Rute penularan utama pada populasi yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.
DRH DEDDY FACHRUDDIN KURNIAWAN ADAKAN AUDIENSI DENGAN ANGGOTA DPR
![]() |
| Drh Deddy Fachruddin Kurniawan dan Tim Melakukan Audiensi Bersama Anggota DPR (Foto : Sukma, 2026) |
Tokoh Muda Veteriner sekaligus Ketua PDHI Jawa Timur II, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet, memimpin delegasi dalam audiensi ke DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta 1 September 2026 lalu.
MERCOSUR MENGINCAR PASAR BARU MELALUI PERJANJIAN DENGAN SINGAPURA DAN JEPANG
Mercosur telah mempercepat strategi ekspansi komersialnya di Asia melalui dua perkembangan penting bagi sektor agribisnis.
Yang pertama adalah ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas Mercosur-Singapura yang mulai berlaku segera. Selain itu, blok tersebut secara resmi memulai negosiasi untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi dengan Jepang.
Potensi bagi sektor protein hewani sangat besar, khususnya bagi Brasil, mengingat kedua negara tersebut termasuk di antara importir terbesar daging unggas dan daging babi.
Perkembangan ini terjadi di saat Mercosur berupaya memperluas kehadirannya di pasar-pasar strategis, mengurangi ketergantungan pada mitra dagang tradisional, dan memperkuat integrasinya ke dalam rantai perdagangan global.
Agenda ini memperoleh momentum setelah berlakunya perjanjian dengan Uni Eropa secara sementara dan terus berjalan beriringan dengan negosiasi bersama Kanada, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, dan Inggris.
ANTISIPASI POTENSI KELEMAHAN DALAM PENANGANAN CRD KOMPLEKS
Dua Wajah Mycoplasma yang Tidak Sama
Banyak yang masih menyamaratakan Mycoplasma gallisepticum (MG) dan Mycoplasma synoviae (MS), padahal keduanya punya karakter berbeda dan menuntut strategi deteksi yang berbeda pula.
MG relatif memiliki gejala yang konsisten, lebih mudah dikenali, dan masih cukup responsif terhadap antibiotik. Kerugian dapat muncul karena FCR naik, penurunan produksi telur, ditambah penurunan daya tetas pada breeder.
Sementara untuk MS jauh lebih sulit dideteksi. Infeksi tunggalnya sering tidak bergejala sama sekali dan baru terlihat jelas saat berkomplikasi dengan virus atau bakteri lain. MS juga tidak sebaik MG dalam merespons antibiotik, dan ayam yang pernah terpapar MS akan menjadi carrier sepanjang hidupnya dan terus berpotensi menularkan meski flock tampak sehat-sehat saja. Bila dibiarkan tanpa pengendalian sejak dini, penurunan produksi telur akibat MS bisa mencapai sekitar 7%, juga berdampak pada kualitas kerabang (jumlah telur kualitas II meningkat) yang sering luput dari perhatian.
Titik lemah pertama justru muncul di sini, banyak peternakan masih menganggap “Mycoplasma ya mycoplasma”, tanpa membedakan pendekatan diagnosis dan kontrol untuk masing-masing spesies.
Apa Kata Data Lapangan
Surveilans nasional yang dilakukan pada 350 sampel layer komersial di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi sepanjang 2025, memberikan gambaran cukup mengejutkan. Prevalensi MS secara keseluruhan tercatat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.
NUTRITION BEYOND INGREDIENTS: INOVASI ALLTECH UNTUK INDUSTRI PAKAN BERKELANJUTAN
| Seminar mempertemukan pemimpin industri, akademisi, pemerintah, asosiasi, serta para profesional dalam industri peternakan. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa) |
Industri peternakan menghadapi kompleksitas baik dari segi tuntutan efisiensi produksi, ancaman Antimicrobial Resistance (AMR), hingga tuntutan keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut Alltech mengangkat paradigma “Nutrition Beyond Ingredients”, menempatkan nutrisi yang memberikan manfaat ekonomi, fondasi kesehatan ternak, keamanan pangan, dan keberlangsungan lingkungan secara bersamaan.
Pendekatan ini menjadi nilai tambah sekaligus diferensiasi Alltech dalam mendampingi transformasi sektor peternakan Indonesia.
PT Alltech Biotechnology Indonesia berkolaborasi dengan ILDEX Indonesia menyelenggarakan seminar “Nutrition Beyond Ingredients: Driving Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector” pada Kamis, 23 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere, Tangerang Selatan.
Acara dimoderatori oleh Dr Ir Audy Joinaldy SPt, MSc, MM M IP, IPU ASEAN ENG yang memastikan diskusi berjalan dinamis, serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.
Membuka seminar, Heng Aik Jin, Regional Director Alltech Biotechnology Malaysia & Indonesia menuturkan tema seminar yang diusung sangat relevan dengan kondisi industri peternakan Indonesia sekarang ini. Menurutnya, pemintaan terhadap protein hewan terus meningkat, namun di saat yang sama industri dihadapkan pada banyak tantangan.
“Tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau produce more with the same resources,” tutur Heng.
Nutrisi tidak hanya berbicara mengenai bahan baku, akan tetapi juga bagaimana sains, inovasi, nutrisi yang presisi serta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mendukung kesehatan serta performa ternak sekaligus membangun industri peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.
Kemandirian Pakan, Kunci Menjaga Ketahanan Pangan Nasional
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi sebagai keynote speaker mengatakan saat ini dunia dalam turbulensi, dimana ketegangan geopolitik kemudian adanya perang dagang dan krisis iklim mengguncang rantai pasok pangan dan pakan.
Nuryani juga memberikan gambaran supply demand peternakan Indonesia di tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Ia menambahkan, dibalik keberhasilan tersebut masih tersimpan tantangan besar terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor seperti bungkil kedelai, meat bone meal, poultry product meal, dan juga feed additive tertentu juga belum optimalnya pemanfaatan bahan baku lokal. Distribusi pakan yang belum efisien dan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan hijauan juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.
Produksi Pakan Nasional Tumbuh
Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menjelaskan bahwa industri pakan Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi pakan nasional pada 2025 mencapai sekitar 20,3 juta ton dan diproyeksikan tetap tumbuh sekitar enam persen pada 2026, didorong meningkatnya populasi ayam broiler dan layer, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Harga jagung domestik masih berfluktuasi, pasokan soybean meal (SBM) bergantung pada impor kemudian harga asam amino meningkat. Sementara, perubahan regulasi impor dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi struktur biaya industri.
Menurut Tevi, kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif melalui diversifikasi sumber bahan baku, manajemen persediaan yang lebih baik, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, penguatan kemitraan antara produsen pakan, peternak, pemasok bahan baku, dan pemerintah. Ketahanan industri pakan, lanjut Tevi, tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membeli bahan baku murah tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.
Inovasi Mannan-Rich Fraction (MRF)
Dr Ronan Power, Vice President and Chief Scientific Officer Alltech mengajak peserta melihat nutrisi dari perspektif yang lebih luas.
Sebagai perusahaan berbasis sains yang mengembangkan berbagai solusi nutrisi dan kesehatan hewan melalui berbagai riset ilmiah, inovasi Alltech bukan saja diarahkan untuk meningkatkan performa ternak, namun juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari visi global Alltech dalam mendukung pertanian berkelanjutan, dengan entitas bisnis Planet of Plenty ™.
Ronan menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan merupakan titik awal seluruh keberhasilan produksi. “Healthy Gut = Healthy Animal” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasinya.
Gut health integrity tidak hanya mendukung kesehatan saluran pencernaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan baku pakan.
Usus yang sehat juga memungkinkan penyerapan nutrien berlangsung lebih optimal, efisiensi konversi pakan meningkat, performa produksi lebih baik sehingga ketergantungan terhadap penggunaan antibiotik dapat dikurangi.
Selain itu, Ronan juga menyoroti meningkatnya ancaman AMR yang menjadi perhatian dunia. Data global yang dipaparkan menunjukkan pada 2019 sekitar 1,27 juta kematian secara langsung berkaitan dengan AMR, sementara hampir lima juta kematian berkaitan dengan resistensi antimikroba.
Tingginya tingkat resistensi pada isolat Escherichia coli maupun Salmonella memperlihatkan pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan. Menurut Ronan, solusi harus dimulai dari peningkatan kesehatan usus dan pengelolaan mikrobiota yang lebih baik, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan secara alami.
Alltech mengembangkan inovasi bahan pakan bioaktif alami Mannan-Rich Fraction (MRF). Berbagai studi komersial pada broiler maupun layer yang dipaparkan Ronan menunjukkan MRF membantu mengaglutinasi patogen di saluran pencernaan, mengurangi penyebaran gen resistensi antibiotik antarbakteri dan meningkatkan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.
Selain itu memperbaiki performa broiler dan layer, menekan mortalitas hingga lebih dari 20 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.
Industri Unggas Terintegrasi Vertikal
US Grains Consultant, Prof Dr Budi Tangendjaja PhD dalam kesempatan yang sama menegaskan efisiensi produksi pakan harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan rantai pasok industri unggas. Tujuan utama industri bukan sekadar menghasilkan pakan termurah, melainkan menghasilkan daging maupun telur dengan biaya produksi paling efisien sesuai kebutuhan pasar.
Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi mulai dari pengadaan bahan baku, logistik, formulasi, operasional feedmill, hingga manajemen pemberian pakan di kandang dikelola secara efisien.
Prof Budi juga menegaskan bahwa industri unggas modern semakin mengarah pada sistem integrasi vertikal, dimana setiap mata rantai produksi saling terhubung dan sebagai bagian dari sistem bersama. Dalam kondisi tersebut baik pemanfaatan teknologi digitalisasi, formulasi presisi, indikator kinerja hingga pengendalian biaya di setiap lini menjadi faktor yang menentukan daya saing industri. (ADV)
CRD BUKAN SEKADAR INFEKSI: SAAT KECERNAAN NUTRISI MENJADI KUNCI KESEHATAN PERNAPASAN AYAM
Perkembangan ilmu nutrisi unggas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kesehatan saluran pernapasan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan saluran pencernaan. Konsep gut-lung axis menjelaskan adanya komunikasi biologis antara usus dan paru-paru melalui sistem imun mukosa, metabolit mikrobiota, serta mediator inflamasi. Artinya, kualitas nutrisi yang dikonsumsi ayam dan kemampuan saluran pencernaan dalam mencerna serta menyerap nutrient akan sangat menentukan kemampuan ayam menghadapi tantangan penyakit respirasi, termasuk CRD.
Ketika Kecernaan Nutrisi Menentukan Ketahanan Ayam
Tujuan utama formulasi pakan bukan lagi sekadar memenuhi kebutuhan nutrisi berdasarkan angka kandungan protein atau energi, tetapi memastikan bahwa nutrien tersebut benar-benar dapat dicerna dan dimanfaatkan secara optimal oleh ayam. Nutrisi yang memiliki kecernaan tinggi akan menghasilkan penyerapan asam amino dan energi yang lebih efisien, sehingga mendukung pertumbuhan, produksi telur, sekaligus memperkuat sistem imun.
Sebaliknya, nutrien yang tidak tercerna akan menjadi substrat bagi bakteri di saluran pencernaan bagian bawah. Fermentasi protein oleh bakteri proteolitik menghasilkan berbagai senyawa seperti amonia, amina biogenik, indol, dan hidrogen sulfida yang bersifat iritatif terhadap mukosa usus. Kondisi ini memicu dysbiosis, meningkatkan permeabilitas usus (leaky gut), dan mengaktifkan respons inflamasi sistemik.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada saluran pencernaan, tetapi juga memengaruhi jaringan mukosa saluran pernapasan sehingga ayam menjadi lebih rentan terhadap kolonisasi MG maupun infeksi bakteri sekunder seperti E. coli. Dengan kata lain, kesehatan saluran pernapasan sebenarnya dimulai dari usus yang sehat.
Protein Berlebih: Produktif atau Justru Menjadi Beban?
Masih banyak dijumpai anggapan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan selalu menghasilkan performa yang lebih baik. Padahal, ayam tidak membutuhkan protein dalam jumlah berlebih, melainkan keseimbangan asam amino yang dapat dicerna sesuai kebutuhannya.
Protein yang tidak terserap akan mengalami proses deaminasi dan akhirnya diekskresikan sebagai nitrogen. Semakin tinggi protein yang terbuang, semakin besar pula nitrogen yang dikeluarkan melalui ekskreta. Di dalam litter, nitrogen tersebut akan diuraikan mikroorganisme menjadi gas amonia, terutama ketika kelembapan kandang tinggi dan ventilasi kurang optimal.
Pendekatan precision nutrition yang saat ini berkembang di industri global justru menekankan penggunaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.
STRATEGI PENGENDALIAN MYCOPLASMA PADA PETERNAKAN MODERN
Perkuat Faktor Penyebab, Perlemah Patogen
Tony Unandar selaku private consultant farm mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang memengaruhi status penyakit infeksius dalam suatu peternakan, yakni hospes/inang, mikroba patogen, serta milieu/lingkungan. Apabila ketiga faktor itu mengalami ketidakseimbangan alias lebih menguntungkan patogen, maka yang terjadi adalah efek negatif yang akan didapat.
“Prinsipnya simpel, saya yakin semuanya mengerti karena saya sudah mengingatkan berkali-kali, tetapi jarang diperhatikan. Hospes dalam hal ini ayam dan juga lingkungan harus kita persiapkan sebaik mungkin, patogennya kita perlemah, sesimpel itu,” tutur Tony.
Kemudian ia juga menjabarkan bahwa memperkuat hospes bisa dengan cara memberikan kecukupan pakan dan air minum yang berkualitas, memberikan suplemen (bila perlu), melakukan vaksinasi, serta menjaga lingkungan tetap kondusif bagi tumbuh kembang ayam.
“Lingkungan ini kan banyak faktor, mulai dari keadaan kandang yang bersih, biosekuriti, sekam yang diganti secara rutin, aliran udara, suhu dan kelembapan, dan banyak yang lain. Kita perkuat ini saja, mikroba patogen akan melemah dengan sendirinya, yang penting konsisten,” ucapnya.
Nantinya lanjut dia, keempat komponen akan bersinergi dan saling memberikan efek positif apabila semua SOP dalam manajemen pemeliharaan dikerjakan. Kalaupun ada faktor lain yang apabila menyebabkan terjadinya outbreak di suatu peternakan, bisa dengan mudah dianalisis karena manajemen internal sendiri sudah dilaksanakan dengan baik.
Upaya Pengendalian Jangan Setengah-Setengah
Dalam bahasa yang lebih teknis, Senior Poultry Technical Specialist PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Ratriastuti Purnawasita, mengingatkan akan potensi merugikan yang besar karena infeksi MG terutama di sektor breeding, layer komersil, dan unggas dengan masa pemeliharaan yang panjang.
“Di breeding maupun peternakan komersil semua juga pasti mencoba mengendalikan MG, namun memang sebenarnya ini agak sulit dan mungkin belum tuntas 100%, pasti akan ada saja yang berulang,” kata Ratri.
Ia mengungkapkan bahwa MG merupakan mikroba tanpa dinding sel, sehingga pemilihan sediaan antimikroba yang digunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026. (CR)
AGAR CRD TIDAK MENJADI CCRD
Beberapa faktor berkontribusi pada penyebaran dan tingkat keparahan penyakit ini, seperti kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi; mikoplasma menyebar ketika unggas sehat berinteraksi dengan unggas yang terinfeksi; lingkungan terkontaminasi antara lain pakan, air, litter, dan peralatan bisa menjadi tempat bakteri hidup; penularan melalui udara karena CRD menyebar lewat percikan udara dari batuk dan bersin unggas; penularan vertikal (melalui telur) induk betina yang terinfeksi bisa menularkan mikoplasma kepada anaknya lewat telur; stres lingkungan seperti kepadatan berlebih, ventilasi buruk, dan fluktuasi suhu meningkatkan kerentanan; imunitas melemah karena unggas dengan sistem kekebalan yang seperti itu kekurangan nutrisi atau infeksi lain lebih rentan terhadap CRD.
Tanda klinis penyakit pernapasan yang disebabkan MG meliputi bulu kusut, kehilangan nafsu makan, lesu, hidung berair, batuk, rales trakea, bernapas melalui mulut, pembengkakan kelopak mata, dan mata yang berair berlebihan (Wu Z, Chen C, et al., 2020). Pada anak ayam, infeksi MG sering menyebabkan pertumbuhan terhambat, peningkatan angka kematian, dan fungsi kekebalan tubuh yang terganggu. Ayam petelur yang terinfeksi MG mengalami penurunan kinerja produksi, termasuk produksi telur yang lebih rendah dan kualitas telur yang menurun. Ayam pedaging mungkin mengalami penurunan berat badan sebesar 20-40%, penurunan kualitas daging, efisiensi pemanfaatan pakan menurun sekitar 20%, dan peningkatan biaya pengobatan (Yadav JP, Tomar P, Singh Y, Khurana SK, 2022).
Meskipun tingkat kematian akibat MG saja biasanya rendah, hal ini dapat membuat unggas rentan terhadap infeksi sekunder dari patogen seperti virus penyakit Newcastle dan E. coli, yang meningkatkan risiko dalam industri unggas. MG menyebar melalui penularan horizontal dan vertikal di dalam kawanan ayam, bertahan sepanjang periode pemeliharaan dan terbukti sulit untuk diberantas sepenuhnya (De la Cruz L, et al., 2020).
Unggas dari semua usia dapat terinfeksi MG, dengan kasus yang terjadi sepanjang tahun, khususnya puncaknya selama... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2026.
KADIN INDONESIA BAHAS PELUANG KERJA SAMA DENGAN PERWAKILAN URUGUAY
![]() |
| Drh Deddy Fachruddin Kala Menemui Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Kepada Infovet Deddy mengutarakan bahwa Uruguay, dengan jumlah penduduk yang hanya 3,5 juta (setara malang raya), memiliki jumlah sapi sebanyak 12juta ekor sapi (setara populasi di Indonesia).
"Oleh karena itu, Uruguay adalah salah satu penghasil susu dan daging terbaik di dunia yang mengekspor 75% dari produksi mereka, dengan market share tertinggi nya adalah Amerika-Eropa-China dan Jepang. Kita bisa bekerja sama dengan mereka," tutur Deddy.
Yang menarik adalah Uruguay memiliki definisi yang ketat tentang susu, Hukum Uruguay mendefinisikan susu sebagai produk biologis alami dan sekresi kelenjar ambing. Definisi ini yang membuat produk2 yang “mengaku” susu namun tidak merupakan sekresi alami dari kelenjar ambing, dilarang di uruguay. Hal ini juga yang mengakibatkan, konsumsi susu perkapita di Uruguay adalah salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 232/liter/kapita/tahun.
Indonesia dan Uruguay juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemitraan strategis di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu peluang utama terletak pada kerja sama di industri susu. Indonesia terus memperkuat produksi daging sapi dan susu dalam negeri, sehingga membuka peluang bagi Uruguay untuk berkolaborasi dalam bidang pembibitan dan genetika ternak, peternakan sapi perah, pengembangan pakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, serta industri pengolahan susu.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi di Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk pertanian ke Uruguay dan memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin. Produk-produk yang berpotensi dikembangkan antara lain buah-buahan tropis, kopi, kakao, rempah-rempah, produk berbahan dasar kelapa, produk berbasis kelapa sawit, pupuk hayati, pupuk organik, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya.
Bidang strategis lainnya adalah kerja sama dalam teknologi dan penelitian pertanian. Indonesia dan Uruguay dapat mendorong penelitian bersama di bidang bioteknologi, pupuk hayati, pertanian presisi, pertanian cerdas iklim (climate-smart farming), peningkatan produktivitas ternak, mekanisasi pertanian, serta sistem ketertelusuran digital (digital traceability).
Untuk mempercepat implementasi kerja sama, kedua negara dapat mengembangkan kegiatan business matching, pembentukan usaha patungan (joint venture), kemitraan penelitian, pertukaran teknologi, serta peluang investasi yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para petani. (INF)
![]() |
| Suasana Pertemuan KADIN Indonesia dan Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Drh Deddy Fachrudin Kurniawan MVet
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Artikel ini membahas secara singkat anatomi ayam (struktur tubuh ayam) meliputi bagian tubuh ayam dan fungsinya. Juga organ tubuh ayam dan f...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...
-
Ayam Walik (Sumber: Istimewa) Indonesia adalah negeri yang sangat kaya akan plasma nutfah, baik tanaman maupun hewan. Salah satu plasma ...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...





















.jpeg)
