MENDUKUNG PERFORMA LAKTASI MELALUI NUTRISI PRESISI
BEST AMINO PRO & CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM
Better flowability & stability, same efficiency. Perfect yout feed with CJ Pro, granular source of amino acids.
RESMI TERPILIH, DRH MARIA THERESIA WIDIASTUTI PIMPIN PB PDHI PERIODE 2026-2030
Selain penguatan internal, PB PDHI di bawah kepemimpinannya juga siap menjalin kolaborasi erat dengan seluruh stakeholder, termasuk jajaran pemerintah dan legislatif. Sinergi ini ditujukan untuk mengawal dan mempercepat pengesahan Undang-Undang Kedokteran Hewan.
Selain itu, Tuti yang sebelumnya Ketua PDHI Cabang DKI Jakarta, juga menyoroti isu krusial mengenai keterbatasan jumlah dokter hewan di ranah birokrasi daerah yang kerap memicu hambatan pada program-program kesehatan hewan nasional. Sebagai respons, PB PDHI berkomitmen memberikan advokasi regulasi guna memperkuat keterlibatan dan kedudukan profesi dokter hewan dalam struktur pemerintahan daerah.
Tidak hanya itu, dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang berdampak pada ekosistem, Tuti menekankan fokus organisasi pada perlindungan satwa liar dan konservasi. Upaya ini akan didukung melalui kesiapan pasokan obat-obatan serta pemenuhan sarana dan prasarana medis yang memadai.
Melalui kepemimpinan baru ini, Tuti mengimbau seluruh dokter hewan di Tanah Air untuk tetap konsisten dan tekun dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Dalam kepemimpinannya yang baru ini diharapkan dirinya dapat menjalankan amanah serta tanggung jawab dengan baik, membawa kemajuan signifikan bagi PDHI, serta diberi kelancaran dalam memperkuat sinergi dan mewujudkan program-program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat. (INF)
DIGELAR DI IKN, KONGRES XX PDHI BAHAS KEDAULATAN PANGAN DAN PERLINDUNGAN SATWA
![]() |
| Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono (tengah) memberikan cinderamata kepada Ketua Umum PB PDHI, M. Munawaroh (kedua kiri) dalam Kongres XX PDHI. (Foto-foto: Humas Otorita IKN/Deden & Istimewa) |
Kongres yang mengangkat tema “Sinergi Dokter Hewan Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional” ini mempertemukan para dokter hewan dari berbagai daerah di Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan bidang veteriner. Kongres menjadi ruang pembahasan mengenai peran profesi dokter hewan dalam mendukung kesehatan hewan, keamanan pangan, kesehatan masyarakat, serta perlindungan lingkungan.
Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut penyelenggaraan kongres tersebut di KIPP Nusantara. Basuki menilai bahwa hadirnya PDHI penting bagi Nusantara, khususnya pengalamannya dalam bidang kesehatan hewan dan perlindungan lingkungan.
“Selamat datang di Nusantara, saya menyimak apa yang disampaikan oleh Bapak Ketum dan Ibu Nurhadi tadi, bahwa salah satu peran strategis dokter hewan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesehatan hewan. Saya sekaligus bercerita, saya sendiri punya ayam, kenapa saya pelihara, karena saya ingin kalau sudah berhasil bisa diberikan ke desa-desa di Sepaku untuk menangani kasus stunting,” kata Basuki melalui siaran resmi Otorita IKN.
“Saya menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Besar PDHI, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk Otorita IKN yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kongres ini. Kongres ke-20 PDHI merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi profesi dokter hewan Indonesia,” ujar Nuryani.
“Atas nama PDHI, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dan terima kasih kepada Bapak Kepala Otorita IKN sehingga acara kongres ini dapat terselenggara di IKN,” katanya.
Selain pembukaan Kongres XX PDHI, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue. Sosialisasi ini membahas pencegahan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, sekaligus penanganan dan penyelamatan satwa dalam situasi yang mengancam keselamatannya.
Pembahasan tersebut juga menekankan perlunya surveilans, penilaian risiko bersama, komunikasi risiko kepada masyarakat, dan penanganan terpadu antarsektor. Sementara itu, materi animal rescue melengkapi pembahasan melalui pendekatan penyelamatan satwa dan hewan peliharaan dalam situasi darurat, termasuk ketika terjadi kebakaran hutan.
Melalui penyelenggaraan Kongres XX PDHI dan sosialisasi zoonosis serta animal rescue, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan hewan, keselamatan satwa, dan pencegahan penyakit. (INF)
SEMARAK HATN & WED 2026, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP FORMULASI PAKAN
![]() |
| Bambang Suharno (kiri) dan Prof Budi Tangendjaja dalam webinar formulasi pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet) |
Dalam sambutannya, Bambang menegaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas. Ketika harga jagung merangkak naik dan pasokannya menipis, pelaku industri dituntut untuk tidak hanya sekadar mencari ketersediaan bahan baku, melainkan juga memutar otak menyusun formulasi yang efisien.
“Tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bagaimana mendapatkan bahan baku, tetapi juga bagaimana menyusun formulasi pakan yang tetap efisien, memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, dan menjaga performa produksi,” ujar Bambang.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan strategi substitusi dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Dengan pemahaman yang tepat mengenai keseimbangan nutrisi, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas maupun performa unggas.
Pada kesempatan tersebut, Prof Budi membedah berbagai solusi taktis bagi para formulator pakan dan pelaku industri peternakan. Ia memaparkan potensi pemanfaatan bahan baku pengganti jagung, di antaranya barley yang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kandungan nutrisi yang memadai, ataupun biji sorgum yang dapat diandalkan untuk menunjang kebutuhan karbohidrat ransum.
Adapula pilihan produk turunan singkong guna mencukupi kebutuhan energi, atau pemafaatan dried distiller's grains with solubles (DDGS), yang merupakan produk sampingan yang kaya nutrisi dan potensial untuk dimanfaatkan dalam ransum unggas.
Prof Budi menjelaskan, bahan-bahan tersebut tetap memiliki kelayakan nutrisi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak unggas.
Selain itu, dalam paparannya ia juga turut menjabarkan simulasi perhitungan bahan baku pakan beserta harganya guna membantu peternak, perusahaan, maupun self-mixing dalam memformulasikan pakan dengan biaya yang efisien dan mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku.
Materi dan metode pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor peternakan nasional, serta menjaga kestabilan industri unggas di Indonesia. (RBS)
BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN
![]() |
| Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa) |
Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.
Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.
Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.
Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.
Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.
Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.
“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.
Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.
Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.
Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.
Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.
“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.
Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)
FIKKIA UNAIR BANYUWANGI LAHIRKAN DOKTER HEWAN LAGI
![]() |
| Pose bersama usai pelantikan dan pengambilan sumpah dokter hewan periode II FIKKIA UNAIR Banyuwangi. (Foto: Infovet/Heru) |
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), Drh Andi Wijanarko, yang turut hadir juga memberikan pesan agar seorang dokter hewan harus mempunyai kompetensi dasar, cara berpikir profesional, berintegritas, memiliki kemampuan berkomunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Hari ini saudara lulus sebagai dokter hewan, tetapi sesungguhnya hari ini saudara baru memiliki pendidikan yang sebenarnya, pendidikan dari kehidupan, masyarakat, pasien peternak, klien, senior dan pengalaman. Dokter hewan harus siap bekerja di mana saja di wilayah Indonesia, maka jadilah dokter hewan yang mempunyai kompeten dalam ilmu, berintegritas dalam profesi, dan mempunyai empati dalam pengabdian,” ungkapnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Banyuwangi, Ir H. Mujiono MSi, menambahkan dokter hewan baru mendapat amanah untuk menjaga kesehatan hewan, menjamin keamanan pangan, melindungi kehidupan peternak, dan ikut melindungi kesehatan manusia.
“Banyuwangi telah memiliki basis peternakan rakyat, kolaborasi antara Pemkab Banyuwangi dengan FIKKIA UNAIR Banyuwangi akan terus berlanjut, sehingga secara langsung akan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Banyuwangi. Semoga dengan kolaborasi dan sinergi ini, ke depan akan menjadi kampus yang maju dan terdepan. Selamat bekerja, mudah-mudahan ilmu bermanfaat dan mensejahterakan masyarakat,” katanya. (HR)
AFIS 2026: STRATEGI FORMULASI PAKAN DAN JAWABAN ISU GEOPOLITIK PETERNAKAN
![]() |
| Seminar membahas strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia dalam rangkaian AFIS 2026. (Foto: Istimewa) |
Acara berskala nasional ini menarik antusiasme tinggi dari para peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti IPB University, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, BINUS Malang, Dian Nuswantoro, hingga Poltekkes Kemenkes Bandung.
Rangkaian kegiatan diawali pada 25-26 September bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi melalui sesi workshop FFT. Pada hari pertama, peserta diajak mempelajari teknik formulasi pakan dasar serta strategi adaptasi pakan ayam petelur (layer) dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku.
Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut pada penyesuaian nutrisi serta evaluasi faktor kualitas bahan pakan utama seperti soybean meal (SBM), jagung, dan dedak padi. Sesi intensif dari teori hingga eksekusi racikan pakan ini dibimbing langsung oleh ahli formulasi ransum, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS MAppSc.
Rangkaian acara kemudian berpindah ke Fakultas Peternakan pada hari ketiga untuk menggelar puncak seminar dan kompetisi ilmiah SCAS. Seminar nasional kali ini mengusung topik krusial mengenai strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia, dengan menghadirkan Prof Dr Ir Nahrowi MSc (IPB University) dan Sugeng Wahyudi (Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN).
Dalam paparannya, Prof Nahrowi menyoroti persoalan mendasar peternakan nasional yang masih kekurangan bahan pakan sumber protein. Ia mengajak akademisi dan praktisi untuk mengubah paradigma dasar penyusunan pakan.
“Jangan menghitung biomassanya, tapi hitunglah nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak,” katanya. Ia juga menambahkan, persoalan utama Indonesia sejatinya bukan pada ketersediaan bahan, melainkan bagaimana mengolah biomassa lokal menjadi nutrien pakan yang aman, tercerna, terstandar, dan kompetitif.
Sebagai solusi konkrit, Prof Nahrowi mengusulkan formulasi kombinasi antara koro, bungkil inti sawit (BIS), dan maggot BSF ketimbang sekadar menggantikan bungkil kedelai secara keseluruhan.
Sementara dari sudut pandang industri dan praktisi, Sugeng ikut menekankan pentingnya efisiensi dan solidaritas peternak. Dirinya mengajak para peternak broiler untuk memperkuat ketahanan usaha melalui skema pembelian bahan baku dan pakan secara kolektif berwadahkan koperasi. Langkah ini dinilai strategis agar peternak lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga pasar dan pergerakan kurs mata uang.
Melalui integrasi pelatihan formulasi pakan berbasis perangkat lunak dan diskusi ilmiah tingkat nasional, AFIS 2026 tidak hanya menjadi wadah pengembangan karakter, kemampuan menulis ilmiah, dan kepedulian terhadap isu peternakan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan pesan penting yakni kemandirian pakan nasional dimulai dari kemampuan mengolah sumber daya lokal menjadi nutrien yang siap dimanfaatkan secara optimal. (INF)
BET CIPELANG MENUJU BESTGEN, MEMBAWA GENOMIK KE MASA DEPAN PETERNAKAN INDONESIA
![]() |
| Acara talkshow mendapat antusiasme dari para pengunjung ILDEX. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa) |
Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang membawa semangat baru dalam keikutsertaannya dalam ILDEX Indonesia 2026 yang berlangsung 16-18 September di ICE BSD, Tangerang. Tidak hanya tampil di area pameran, BET Cipelang juga menggelar talkshow yang menjadi momentum untuk mensosialisasikan arah transformasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.
Talkshow mengusung topik “Precise Improvement Through Genetic Selection: Membangun Peternakan Indonesia Berbasis Genetik Unggul.”
Melalui forum yang diselenggarakan di hari kedua ILDEX pada Kamis (17/9), BET Cipelang memperkenalkan inovasi pengembangan bioteknologi, analisis genomik, sertifikasi genetik, hingga pembangunan bank genomik sebagai bagian dari roadmap menuju BET to BEStGen (Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik).
CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, dalam pemaparannya menekankan bahwa peternakan memiliki peran penting dalam menyediakan protein hewani bagi masyarakat.
Ia menyoroti tantangan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan protein. Di tengah pertumbuhan penduduk produktif dan meningkatnya jumlah konsumen, kebutuhan terhadap protein hewani akan terus berkembang. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sektor peternakan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional. “Kita butuh sistem peternakan yang presisi,” katanya.
Teknologi menjadi semakin penting untuk meningkatkan kemampuan produksi sekaligus efisiensi peternakan. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah genomik.
Perkembangan teknologi genomik membuka peluang untuk membawa peternakan menuju tingkat presisi yang lebih tinggi. Jika selama ini seleksi ternak banyak dilakukan berdasarkan tampilan fisik dan performa yang terlihat, pemetaan genom memungkinkan potensi genetik dibaca melalui data yang lebih spesifik.
Gagasan tersebut sejalan dengan transformasi yang tengah disiapkan BET Cipelang. Kepala BET Cipelang, Deasy Zamanti SPt MSi, menjelaskan bahwa perubahan tersebut berangkat dari kebutuhan agar tupoksi BET Cipelang lebih representatif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan peternakan saat ini.
BET Cipelang tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi embrio, inseminasi, atau teknologi reproduksi, tetapi mulai bergerak menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mengidentifikasi potensi ternak secara lebih presisi.
Salah satu persoalan yang ingin dijawab adalah keterbatasan recording di Indonesia. Pencatatan silsilah dan performa ternak secara konsisten masih menjadi tantangan.
Deasy menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan BET Cipelang melihat potensi genetik tidak hanya dari satu individu, melainkan dalam suatu populasi. Dengan menganalisis materi genetik dari sekumpulan ternak, individu dengan potensi terbaik dapat diidentifikasi untuk mendukung program pemuliaan. “Proses peningkatan mutu genetik dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” ujarnya.
Transformasi itu kemudian diwujudkan melalui BEStGen, paradigma seleksi ternak diharapkan bergeser dari pengamatan fisik menuju pemetaan berbasis data presisi.
Pengembangan genomik tersebut memperluas makna teknologi transfer embrio sapi yang selama ini menjadi kompetensi utama BET Cipelang. Embrio ternak tidak lagi sekadar dipandang sebagai hasil teknologi reproduksi, namun dapat menjadi bagian dari pengembangan genetik.
Materi genetik yang terdapat di dalam embrio ternak dapat dianalisis untuk mengetahui karakter unggul yang ingin dikembangkan. “Sertifikasi genomik dan genetik menjadi fondasi penting, sebelum teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuh Deasy.
Di sisi lain, BET Cipelang juga menyiapkan Bank Genomik. Fasilitas tersebut akan menjadi repository material genetik plasma nutfah ternak Indonesia. Deasy menggambarkannya sebagai sebuah “tabungan” material genetik yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk penelitian, konservasi, maupun pengembangan sumber daya genetik di masa depan.
Edukasi dan Bisnis
Kehadiran BET Cipelang di ajang ILDEX 2026, mendapat respons baik dari para visitors yang menunjukkan adanya ketertarikan terhadap apa yang sedang dikembangkan BET Cipelang dari sisi edukasi maupun peluang bisnis.
Selain pelaku industri, kehadiran BET Cipelang juga mendapat perhatian dari perwakilan Kedutaan Besar Belanda yang datang ke booth untuk berdiskusi. Tak sekadar show off, bagi BET Cipelang, ILDEX menjadi ruang untuk menjajaki kolaborasi dan memperkuat koneksi dengan berbagai asosiasi, komunitas, pelaku industri, hingga mitra internasional.
Keikutsertaan di ILDEX tahun ini diharapakan dapat membuat BET Cipelang semakin dikenal publik. “Siapa yang bawa patung sapi? Nah, pengunjung mengenali sebagai khas BET Cipelang. Ini juga bagian dari promosi,” ujar Deasy diselingi tawa. (ADV)
INDONESIA-CHINA PERKUAT KERJA SAMA PERTANIAN DAN PETERNAKAN
![]() |
| Foto bersama usai Soft Launching rencana expo pertanian dan peternakan kerja sama Indonesia-China. (Foto: Infovet/Ridwan) |
Sebagai bagian dari persiapan menuju penyelenggaraan pameran pada Desember mendatang, pada Kamis (1/10/2026), berlangsung Soft Launching dan Business Networking Lunch Meeting di Jakarta, yang didukung TROBOS Communication (TComm), untuk mempertemukan asosiasi dan pemangku kepentingan industri peternakan Indonesia dengan Kantor Perwakilan Indonesia dari China Trade Promotion Council.
Pertemuan ini menjadi forum awal untuk memperkenalkan inisiatif kerja sama tersebut kepada industri Indonesia sekaligus menggali potensi dan kebutuhan industri yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan China menjelang Chain Global International Agricultural Cooperation Expo/China International Agricultural Cooperation Expo.
Chief Representative of the China Council for the Promotion of International Trade’s Office in Indonesia, Niu Liangliang, menyampaikan bahwa Chain Global International Agricultural Cooperation Expo dirancang tidak hanya sebagai pameran, tetapi juga platform untuk trade and investment matchmaking, kerja sama teknologi, informasi pasar dan kebijakan, serta business visits secara internasional, sekaligus membantu perusahaan pertanian memperluas jaringan dan kerja sama global.
"Pameran ini menjadi platform penting bagi kerja sama industri. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian program kerja sama pertanian internasional yang dikembangkan pada 2026. Kami harap dari pameran ini kita dapat secara aktif berpartisipasi, berbagi teknologi, membuka peluang pasar, dan membangun platform serta jaringan baru kerja sama di bidang pertanian dan peternakan," ujarnya.
Sementara itu, China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association, Duan Qing Chang, yang juga Secretary General IICPC, memaparkan bahwa kegiatan pada hari ini akan menjadi momentum Soft Launching menuju penyelenggaraan expo pada Desember mendatang, yang akan diperkenalkan langsung oleh pihak penyelenggara dari China kepada komunitas industri Indonesia.
Pameran akan menampilkan teknologi peternakan, terutama di sektor perunggasan, breeding dan peralatan peternakan, pakan dan feed additives, kesehatan hewan, vaksin dan produk veteriner, teknologi pengolahan dan teknologi pendukung, perdagangan dan investasi, kerja sama teknologi, serta business matching antara perusahaan China dan mitra bisnis Indonesia. Dia menegaskan bahwa event ini bukan sekadar pameran, tetapi platform kerja sama bisnis.
“Kami merencanakan area pameran seluas 5.000 meter persegi, dengan fokus pada bidang peternakan dan unggas, pakan serta kesehatan hewan, produk telur dan pengolahan pangan, pertanian cerdas dan mesin pertanian, serta bidang-bidang pertanian lainnya. Pameran ini mencakup seluruh rantai dari pembibitan dan budi daya, pengolahan, hingga distribusi. Perusahaan pertanian, asosiasi industri dan perdagangan, pembeli, serta lembaga penelitian dari Tiongkok, Indonesia, dan negara-negara ASEAN akan diundang untuk berpartisipasi. Jumlah perusahaan peserta diperkirakan lebih dari 100 perusahaan,” ungkap Duan.
Pada kesempatan tersebut, stakeholder peternakan Indonesia memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan pasar dan peluang kerja sama secara langsung kepada perusahaan dan organisasi China.
Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Prof Dr Ir Asep Saefuddin MSc, yang turut hadir menuturkan bahwa peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam penyediaan pangan asal hewan. Namun, di tengah perubahan lingkungan dan meningkatnya kebutuhan pangan, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
"Variabilitas iklim, keterbatasan sumber daya pakan, tekanan terhadap lingkungan, serta meningkatnya permintaan terhadap pangan asal hewan menuntut adanya perubahan dalam cara kita memandang dan mengelola sistem peternakan," katanya.
Masa depan peternakan tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menghasilkan produk peternakan secara lebih efisien, memiliki ketahanan terhadap perubahan, dan tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Salah satu peluang penting dalam transformasi peternakan adalah pemanfaatan pertanian presisi dan konsep smart farming. Teknologi memungkinkan pengelolaan peternakan dilakukan berdasarkan data sehingga keputusan dapat dibuat secara lebih terarah,” ungkap dia.
Sementara dari pihak pemerintah, Ketua Kelompok Pemasaran, Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Tika Kartika, mengatakan event ini bukan sekadar ruang untuk bertukar informasi, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi, memperluas jejaring bisnis, dan membangun kemitraan yang lebih konkret antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok, khususnya di sektor peternakan dan industri hasil peternakan.
“Kami berharap forum ini dapat membuka ruang dialog yang produktif, mempertemukan kebutuhan dengan kapasitas investasi dan teknologi, serta mengidentifikasi berbagai peluang kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum bidang Peternakan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Cecep Wahyudin, ikut menambahkan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan pihak stakeholder peternakan China dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional.
Pada kesempatan yang sama, para undangan yang merupakan pelaku industri peternakan Indonesia juga menyampaikan pandangan mengenai tantangan, peluang, dan kebutuhan untuk pengembangan industri peternakan nasional.
Ketua Umum HPDKI, Ateng Sutisna, mengutarakan harapan akan adanya kerja sama antara HPDKI dengan asosiasi/pelaku usaha di China sesuai yang dibutuhkan anggotanya, antara lain perbaikan genetik, teknologi terapan untuk pemeliharaan, pengolahan hasil ternak untuk susu, daging dan hasil peternakan lainnya, sampai pembiayaan.
Sedangkan perwakilan Global Dairi Alami (GDA), Siska Retno, yang tengah memperbesar kapasitas produksinya dengan membangun farm sapi perah terintegrasi mengharapkan forum ini bisa menjembatani kebutuhan pengembangan industri peternakan sapi perah di Indonesia. Siska mencontohkan kebutuhan akan vaksin, obat-obatan, dan pakan harus diantisipasi dengan cepat.
"Diharapkan expo yang akan diselenggarakan Desember nanti bukan sekedar pameran promosi produk, tetapi memberikan solusi yang bisa diaplikasikan. Untuk itu diperlukan regulasi dari pemerintah," katanya. (RBS)
MENYONGSONG HATN & WED, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP ONLINE FORMULASI PAKAN
Dalam rangkaian memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional & World Egg Days (HATN & WED 2026), Majalah Infovet menghadirkan Online Workshop “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas".
Dengan narasumber: Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc, M.Appl (Poultry Nutrition Consultant)
Dalam workshop ini akan dibahas antara lain:
- Dinamika harga jagung dan dampaknya terhadap formulasi
- Formulation Challenge berbasis kasus nyata
Jumat, 9 Oktober 2026
13:20-16:00 WIB
Online - Zoom Meeting
INVESTASI:
Rp 700.000 - tanpa Buku Kompendium
Rp 950.000 - termasuk Buku Kompendium MT 2020 (Subsidi ongkir maksimal Rp 50.000)
Peserta mendapatkan:
- Materi workshop
- Studi kasus dan worksheet formulasi
- E-module/soft file
- Sertifikat keikutsertaan
- Rekaman workshop (periode tertentu)
- Sesi Q&A khusus
INFO & PENDAFTARAN:
WA: 0877-7829-6375
DAFTAR SEKARANG klik https://bit.ly/FormulasiPakan26 atau scan QR Code pada flyer untuk mengamankan tempat Anda.
#MajalahInfovet #FormulasiPakan #PakanUnggas #PoultryNutrition #WorkshopInfovet
PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE
Layer Farm Manager WMU, Ir Arif Afiata Rahmat SPt IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak semestinya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis. “Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.
Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.
Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).
Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut turut menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.
“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.
Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.
“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.
Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien. Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, omega-3, omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.
Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian lebih terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.
“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.
Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.
Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.
“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.
Sementara itu, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur cage-free juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).
“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor Horeka, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.
Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free.
Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan. (INF)
CARA KERJA FITOBIOTIK MENGOPTIMALKAN PRODUKSI UNGGAS
![]() |
| Dampak keseluruhan berbagai komponen bioaktif dari fitobiotik terhadap kesehatan usus ayam. (Sumber: BioRender.com) |
Resistansi ini tidak hanya mengganggu kesehatan unggas, tetapi juga meningkatkan risiko kontaminasi sekunder pada produk hewani, sehingga mengancam kesehatan masyarakat. Mengingat meningkatnya kekhawatiran terkait resistansi antibiotik dan masalah residu, terjadi pergeseran dalam produksi broiler menuju penghapusan penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkat kesehatan saluran pencernaan.
Baru-baru ini, sebuah studi oleh Iwinski dkk. (Iwinski H, Wódz K, et al., 2022), menunjukkan campuran fitogenik dapat secara efektif menghambat galur Salmonella enterica subsp. yang resistan terhadap antibiotik, termasuk serovar Enteritidis, Typhimurium, yang mengindikasikan efektivitas aktivitas antimikrobanya. Pergeseran ini menegaskan perlunya strategi alami alternatif yang mampu menjaga kesehatan dan performa hewan tanpa berkontribusi terhadap resistansi antibiotik.
Dalam produksi unggas modern, broiler dibiakkan secara selektif untuk pertumbuhan yang cepat dan peningkatan massa daging dada, yang pada gilirannya menyebabkan laju metabolisme tinggi (Maharjan P, Martinez D, et al., 2021). Proses seleksi ditambah sistem produksi yang intensif ini, memaparkan ayam-ayam tersebut pada berbagai faktor pemicu stres, termasuk periode pencahayaan yang panjang, kadar debu, amonia yang tinggi, hingga beban patogen, faktor-faktor ini secara bersama-sama memicu stres oksidatif (Mishra B, Jha R, 2019).
Akibatnya, produksi reactive oxygen species (ROS) meningkat pesat, sehingga mengganggu keseimbangan antioksidan, merusak kesehatan saluran pencernaan, dan pada akhirnya memengaruhi performa secara keseluruhan, yang berujung pada kerugian ekonomi yang signifikan (Surai PF, Kochish II, Fisinin VI, Kidd MT, 2019).
Oleh karena itu, pengelolaan kesehatan saluran pencernaan yang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2026.
EKSPOR PERDANA, VAKSIN INDONESIA TEMBUS AFRIKA
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan masuknya vaksin produksi Indonesia ke pasar Afrika menunjukkan kemampuan industri nasional memenuhi persyaratan dan standar internasional.
“Ekspor vaksin ini membuktikan bahwa produk Indonesia mampu bersaing dan menembus pasar internasional. Untuk sampai ke sana, produk kita harus memenuhi persyaratan dan standar yang tidak mudah. Karena itu, capaian ini harus terus kita perluas ke semakin banyak negara,” ujar Agung.
Kinerja ekspor obat hewan nasional juga menunjukkan jangkauan pasar yang semakin luas. Berdasarkan data Kementan, nilai ekspor obat hewan Indonesia pada 2025 mencapai USD 438,10 juta. Sementara sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor tercatat USD 66,37 juta. Produk obat hewan Indonesia kini telah dipasarkan ke 95 negara di berbagai kawasan dunia.
“Kita ingin industri vaksin dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mengambil peran yang semakin besar di pasar global. Pemerintah akan terus mendorong dan membersamai industri agar produk Indonesia semakin luas diterima di mancanegara,” katanya.
Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara, sekaligus Head of Animal Health and Livestock Equipment JAPFA, Teguh Yodiantara Prajitno, mengatakan ekspansi ke Afrika merupakan bagian dari komitmen perusahaan memperluas jangkauan produk kesehatan hewan Indonesia.
“Langkah penetrasi ke pasar Afrika ini merupakan komitmen berkelanjutan kami untuk menyediakan solusi pencegahan penyakit unggas yang didukung riset ilmiah, pengalaman panjang, serta standar kualitas yang konsisten di tingkat global,” katanya. (INF)
INFOVET GELAR SEMINAR EFISIENSI PAKAN SEKALIGUS LAUNCHING BUKU TERBARU
Melalui pendekatan precision nutrition, setiap nutrien dalam pakan perlu dimanfaatkan secara optimal. Konsep feed-digestion-absorption-metabolism-growth-profit menggambarkan keberhasilan nutrisi tidak berhenti pada formulasi, tetapi dari seberapa efektif nutrien dicerna, diserap, dan dimanfaatkan ayam. Perkembangan teknologi evaluasi bahan baku, data performa, enzim pakan, asam amino, serta strategi kesehatan usus semakin membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi secara lebih presisi.
Pendekatan tersebut membawa feed efficiency menuju precision profitability, yaitu bagaimana keputusan nutrisi tidak hanya menghasilkan performa teknis yang baik, tetapi juga memberikan nilai ekonomi optimal. Dengan demikian, masa depan efisiensi pakan membutuhkan integrasi antara nutrition, health, management, technology, data, dan economics.
Prosesi launching secara resmi dilakukan Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi bersama Direktur PT Gallus Indonesia Utama Ir Bambang Suharno.
Platform tersebut ditujukan sebagai panduan bagi peternak, praktisi, dokter hewan, mahasiswa, dan profesional yang ingin belajar serta memperdalam keilmuan. Melalui format digital, pengetahuan dan pengalaman para ahli diharapkan dapat diakses secara lebih praktis dan menjangkau masyarakat peternakan yang lebih luas.
MELURUSKAN MISPERSEPSI KERACUNAN MASSAL MBG
Dalam kasus keracunan yang terjadi selama ini, seoalah-olah dua makanan sumber protein hewani tersebut menjadi “tersangka”. Namun apa sebenarnya yang terjadi? Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan ternyata penyebab utamanya adalah cara mengolah dan penyajian telur ayam dari pihak Dapur MBG yang menjadi penyebab para pelajar keracunan.
Telur rebus yang sudah basi karena terlalu lama jeda dalam menyajikan MBG menjadi pemicu pelajar keracunan. Artinya, bukan telurnya yang menjadi penyebab. Telur ayam tetap menyehatkan, meskipun pakan ayam yang digunakan adalah pakan pabrikan. Pakan pabrikan ayam, bukan sumber racun pada telur dan daging ayam yang dihasilkan.
“Pakan untuk ayam yang akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh ayam baik petelur maupun pedaging,” ujar Yahya Munirudin, ahli pakan ternak kepada Infovet.
Memang aroma pakan pabrikan untuk ayam menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang bahwa pakan ayam pabrikan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat.
Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini bakal membuat orang makin khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total. Ini yang perlu diluruskan.
Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan ayam yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul, dan lainnya. Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman.
“Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan di pabrikan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” ujarnya.
Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi oleh manusia. Ahli pakan ternak ini juga memastikan bahwa industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk menjamin bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.
Melalui Proses Roasting
Dalam proses pengolahan, menurut Yahya, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Ia memberi contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat anti nutrisi yang ada di kedelai.
Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih bersarang di benak sebagian orang. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.
“Dari sisi proses pembuatan pakan, pabrik pakan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan. Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Makanya di kemasan obat-obatan biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.
“Penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah ketat, tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” katanya.
Lupakan Mitos Buruk
Dari pemaparan proses dan sumber bahan pakan unggas yang disampaikan ahli pakan ternak tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang kandungan nutrisinya.
Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang makan telur dan daging ayam. Di era digital sekarang ini, bisa dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kandungan nutrisi pada telur dan daging ayam. Carilah informasi dari sumber yang dipercaya dan lupakan hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa telur dan daging ayam broiler itu berbahaya bagi kesehatan.
Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. U.S. Soybean Export Council, dua tahun lalu pernah merilis data yang menarik untuk disimak. Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan Vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Mirip dengan telur, daging ayam adalah kaya juga akan vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.
Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh, dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.
Sementara itu, 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2 mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg.
Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging unggas dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini. Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. ***
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono (tengah) memberikan cinderamata kepada Ketua Umum PB PDHI, M. Munawaroh (kedua kiri) dalam Kongres XX ...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...



















.jpg)
.jpg)

