-->

Featured Posts

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

STUDI MESIR MENYOROTI SALMONELLA YANG RESISTEN TERHADAP BERBAGAI OBAT PADA AYAM BROILER

Sebuah studi baru oleh para peneliti dari Universitas Mansoura dan lembaga-lembaga yang berkolaborasi di Mesir telah mengidentifikasi strain Salmonella enterica yang resisten terhadap berbagai obat dengan keragaman genetik pada ayam broiler, yang menggarisbawahi perlunya pengawasan penyakit yang lebih kuat dan penggunaan antimikroba yang lebih bertanggung jawab dalam produksi unggas.

Diterbitkan dalam Scientific Reports, studi tersebut menemukan bahwa unggas dapat bertindak sebagai reservoir untuk Salmonella yang resisten terhadap antimikroba. Beberapa strain membawa elemen genetik bergerak yang memungkinkan gen resistensi menyebar antar bakteri, meningkatkan tantangan dalam mengendalikan infeksi. Para peneliti mengatakan temuan tersebut menyoroti pentingnya memantau resistensi antimikroba pada unggas.

Para peneliti menganalisis 29 isolat Salmonella enterica yang dikumpulkan dari peternakan ayam broiler di Mesir. Pengujian laboratorium menemukan gen resistensi yang terkait dengan beberapa kelompok antimikroba, termasuk tetrasiklin, aminoglikosida, fenikol, dan sulfonamida.

Studi ini juga mengidentifikasi beberapa serovar Salmonella, termasuk S. Kentucky, S. Jerusalem, dan S. Colorado, yang membawa banyak gen resistensi. Beberapa menunjukkan profil resistensi obat yang luas, artinya mereka resisten terhadap hampir semua kelas antimikroba yang umum digunakan.

Para peneliti juga mendeteksi gen resistensi aphA1 dan fosA3 pada Salmonella dari ayam broiler. Ini adalah salah satu laporan pertama tentang gen-gen ini pada Salmonella yang terkait dengan unggas di Mesir dan menyoroti perlunya pengawasan berkelanjutan.

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa banyak gen resistensi terkait dengan integron kelas 1 – elemen genetik bergerak yang memungkinkan bakteri untuk bertukar gen resistensi. Ini berarti resistensi antimikroba dapat menyebar lebih mudah antar bakteri dalam sistem produksi unggas dan berpotensi melalui rantai makanan.

Analisis genetik juga menunjukkan bahwa bakteri resisten sangat beragam, menunjukkan bahwa beberapa strain resisten yang berbeda beredar dalam produksi ayam broiler Mesir daripada satu strain dominan.

Produsen unggas, dokter hewan, dan pembuat kebijakan harus terus mempromosikan penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab sambil memperkuat program pengawasan. Mendeteksi bakteri resisten sejak dini dapat membantu membatasi penyebarannya.

Resistensi antimikroba menjadi kekhawatiran yang semakin meningkat bagi industri unggas global karena dapat mengurangi efektivitas pengobatan penyakit bakteri pada hewan dan manusia. Para peneliti mengatakan bahwa pemantauan berkelanjutan dan peningkatan biosekuriti akan penting untuk membantu memperlambat penyebaran strain Salmonella yang resisten dalam produksi unggas.

75.000 TELUR ILEGAL DITEMUKAN DI WINA

Inspektur pasar di ibu kota Austria, Wina, baru-baru ini menemukan 75.000 telur ilegal yang berasal dari Ukraina tetapi tidak memiliki stempel, tanda asal lainnya, atau tanggal kedaluwarsa. Oleh karena itu, telur-telur tersebut tidak sesuai dengan peraturan pasar Uni Eropa, kata Marktamt Wien.

Telur-telur tersebut ditemukan di pasar grosir di Wien-Inzersdorf. “Masalah dengan telur dari Ukraina adalah tidak adanya dokumentasi yang menyertainya dan tidak ada stempel yang terlihat pada telur itu sendiri. Tidak jelas apakah itu telur organik, diproduksi di kandang, atau di antaranya. Kita sama sekali tidak membutuhkan hal seperti itu di Wina,” kata juru bicara otoritas pasar.

Marktamt Wien menambahkan bahwa mereka tidak tahu apa yang terjadi pada telur-telur tersebut. “Mungkin telur-telur itu dikirim kembali ke Ukraina dan dimakan di sana; kami tidak tahu. Telur-telur itu tidak dapat dijual di sini, tetapi itu tidak berarti telur-telur itu tidak sehat. Telur-telur itu hanya tidak memiliki tanda atau informasi yang diperlukan.”

Namun, serikat petani Austria, Bauernbund, tidak senang dengan situasi tersebut. “Jika bukan karena inspeksi yang konsisten, produk ilegal ini akan berakhir di pasar kita. Karena itu adalah telur segar, kurangnya tanda jelas terlihat. Jika telur-telur itu dikirim ke industri pengolahan, tidak akan ada yang menyadarinya. Oleh karena itu, kami menginginkan pengawasan yang lebih ketat, baik di tingkat nasional maupun Uni Eropa, untuk mencegah hal ini terjadi lagi dan, yang lebih penting, untuk mencegah telur ilegal masuk ke negara kita,” kata ketua Georg Strasser dalam sebuah pernyataan.

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

MENUJU EDISI KE-20: GRAND LAUNCHING INDO LIVESTOCK 2027 EXPO & FORUM RESMI DIGELAR

Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. Infovet)

PT Napindo Media Ashatama secara resmi menyelenggarakan momentum penting Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Aloft South Jakarta Hotel, Selasa (28/7/2026). Peluncuran resmi ini menandai dimulainya tahapan persiapan menuju pameran bisnis peternakan dan kesehatan hewan terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Juli 2027 mendatang di Grand City Convex, Surabaya.

Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum tidak hanya hadir sebagai ajang pameran dagang tahunan, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi strategis dalam mendorong kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Melalui berbagai kerja sama, para pemangku kepentingan industri diharapkan dapat saling memperkuat sinergi, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tingkat global.

Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang secara konsisten mendukung perjalanan Indo Livestock hingga saat ini.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian selaku tuan rumah, serta dukungan dari kementerian, lembaga, asosiasi, mitra bisnis, peserta pameran, hingga insan media. Melanjutkan keberhasilan tema sebelumnya, Indo Livestock 2027 Expo & Forum akan terus hadir sebagai platform strategis yang mendukung pengembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujar Lisa.

Lisa menegaskan, pameran di tahun mendatang memiliki arti yang sangat istimewa. Memasuki edisi ke-20, pameran ini sekaligus menjadi penanda reflektif 25 tahun perjalanan konsisten Indo Livestock dalam menjembatani ekosistem bisnis dan pengetahuan peternakan di Indonesia. Perjalanan seperempat abad ini merupakan cerminan komitmen berkelanjutan Napindo dalam memfasilitasi teknologi, inovasi, serta peluang investasi di subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

“Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan ke wilayah ekosistem peternakan yang kuat. Hal ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, sekaligus menciptakan peluang investasi baru,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Junior Sales Manager Indo Livestock, Agnes Nilam, turut memaparkan gambaran komprehensif mengenai rencana pelaksanaan Indo Livestock 2027 Expo & Forum. Pemaparan tersebut mencakup target pengunjung, profil peserta pameran, tata letak area pameran, hingga berbagai agenda forum pendukung.

Agnes menjelaskan, Indo Livestock 2027 Expo & Forum ditargetkan akan menghadirkan sekitar 15.000 pengunjung, dengan luas area pameran 5.169 m2, yang akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan dan prinsipal dari 30 negara, dengan menghadirkan 10 paviliun negara. Pameran ini juga bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, dan Indo Fisheries.

Dengan dimulainya rangkaian tahapan peluncuran ini, pihak penyelenggara berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat ekosistem peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (RBS)

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

ASROKH NAWAWI LANJUTKAN ESTAFET KEPEMIMPINAN GPPU

Dirjen PKH Mengukuhkan Kepengurusan GPPU 2026 - 2030 
(Foto : CR)


Di balik sepotong daging ayam yang tersaji di meja makan atau sebutir telur yang dikonsumsi jutaan masyarakat setiap pagi, terdapat mata rantai panjang yang sering kali luput dari perhatian. Sebelum ayam dipelihara peternak, sebelum pakan diberikan, bahkan sebelum kandang dipenuhi anak ayam, semuanya bermula dari satu sektor yang menjadi fondasi industri perunggasan, yakni pembibitan. Dari sektor inilah kualitas genetik, produktivitas, efisiensi, hingga keberlanjutan industri ditentukan.

Kesadaran akan pentingnya peran tersebut menjadi benang merah Kongres Ke - 14 Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang diselenggarakan di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026. Mengusung tema "Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional", forum empat tahunan ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk menegaskan kembali bahwa kekuatan sektor hulu merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri unggas Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.

Hulu Dari Industri Perunggasan

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Industri perunggasan Indonesia kini telah berkembang menjadi salah satu penyangga utama penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024 populasi ayam ras pedaging mencapai lebih dari 3,2 miliar ekor, sementara populasi ayam ras petelur mendekati 390 juta ekor. Produksi daging ayam nasional telah melampaui 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton. Besarnya angka tersebut menggambarkan betapa strategisnya industri perunggasan dalam menopang konsumsi protein nasional. Namun, di balik capaian itu terdapat satu sektor yang bekerja di balik layar, memastikan seluruh rantai produksi dapat berjalan sejak awal, yakni industri pembibitan.

Ketua Umum GPPU periode dalam 2022–2026, Achmad Dawami dalam sambutannya, menilai pembibitan tidak lagi dapat dipersepsikan sebatas kegiatan menghasilkan Day Old Chick (DOC). Menurutnya, pembibitan telah berkembang menjadi pusat pengendali kualitas industri, mulai dari pengelolaan mutu genetik, peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, hingga penguatan ketahanan terhadap penyakit.

"Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan. Di era modern, sektor pembibitan juga dituntut untuk terus beradaptasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, peningkatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan kesejahteraan hewan (animal welfare). Kemampuan industri pembibitan dalam melakukan inovasi akan sangat menentukan keberhasilan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing," ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan yang kini dihadapi industri unggas nasional. Fluktuasi harga bahan baku, meningkatnya ancaman penyakit, tuntutan efisiensi produksi, hingga semakin besarnya perhatian terhadap aspek keberlanjutan dan kesejahteraan hewan menuntut sektor pembibitan untuk terus bertransformasi. Inovasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan agar industri mampu bertahan sekaligus berkembang.

Karena itu, Kongres Ke - 14 GPPU tidak hanya menjadi forum organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Agenda yang digelar juga dirancang sebagai ruang berbagi gagasan dan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. Dalam seminar nasional yang menjadi bagian dari kongres, berbagai isu strategis dibahas secara komprehensif, mulai dari dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi pembibitan, digitalisasi sistem breeding, penguatan biosekuriti, hingga arah kebijakan pemerintah dalam membangun industri perunggasan yang lebih modern dan berkelanjutan. Pemerintah, akademisi, serta pelaku industri duduk bersama membahas bagaimana sektor hulu mampu menjawab tantangan masa depan.

Perjalanan Panjang 55 Tahun

Momentum kongres tahun ini juga menjadi penanda perjalanan panjang organisasi melalui peluncuran buku Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia. Buku tersebut merekam sejarah GPPU sejak berdiri pada 20 Desember 1970, sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan industri pembibitan nasional selama lebih dari lima dekade. Berbagai fase perkembangan industri diulas, mulai dari modernisasi pembibitan, perubahan kebijakan pemerintah, dinamika penyakit unggas, hingga berbagai inovasi yang membentuk wajah industri perunggasan Indonesia saat ini.

Suasana kongres mencapai puncaknya ketika kepengurusan GPPU periode 2026–2030 resmi dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Prosesi tersebut disaksikan pimpinan perusahaan anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan industri perunggasan nasional.

Melalui mekanisme musyawarah mufakat, peserta kongres mempercayakan kelanjutan kepemimpinan organisasi kepada Drh Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030. Dalam sambutan perdananya, ia menyadari bahwa estafet kepemimpinan yang diterimanya datang pada saat industri menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Menurutnya, perubahan iklim usaha, dinamika ekonomi global, hingga tuntutan peningkatan efisiensi akan menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota GPPU memperkuat soliditas organisasi sekaligus mempererat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri.

"Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Insya Allah, melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai dinamika yang ada, industri perunggasan nasional akan terus tumbuh dan berkembang," katanya optimistis.

Selama 55 tahun berdiri, GPPU telah berkembang menjadi organisasi yang menaungi 37 perusahaan pembibitan unggas di Indonesia. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bagaimana sektor pembibitan tidak sekadar menyediakan bibit, tetapi juga menjadi fondasi yang menopang keberhasilan seluruh mata rantai industri perunggasan nasional. Ketika sektor hulu mampu menghasilkan bibit yang sehat, unggul, dan berkualitas, maka produktivitas peternak meningkat, industri pengolahan memperoleh bahan baku yang lebih baik, dan masyarakat pun mendapatkan akses terhadap protein hewani yang aman serta terjangkau.

Dari Kongres Ke - 14 ini, satu pesan tampak mengemuka. Ketahanan pangan tidak dibangun hanya di kandang peternak atau di hilir industri pangan, melainkan dimulai sejak proses pembibitan. Di sanalah cetak biru industri perunggasan Indonesia dirancang. Selama sektor pembibitan terus mampu berinovasi, menjaga kualitas, dan memperkuat kolaborasi, ia akan tetap menjadi arsitek yang menentukan arah pembangunan perunggasan nasional pada masa-masa mendatang. (CR)

PETERNAK UNGGAS DI MAROKO DAN MESIR TERPUKUL OLEH PENURUNAN HARGA DAN RUMOR KUALITAS

Peternak unggas di Maroko dan Mesir menyuarakan kekhawatiran atas penurunan tajam harga unggas dan telur serta penurunan profitabilitas yang drastis. Masalah ini sebagian disebabkan oleh kekhawatiran kualitas yang telah menyebar di seluruh wilayah Arab selama beberapa minggu terakhir.

Asosiasi Peternak Unggas Nasional Maroko mengatakan dalam sebuah pernyataan baru-baru ini bahwa harga jual ayam broiler hidup telah turun menjadi kurang dari MAD 7 ($0,76) per kg, sementara biaya produksi saat ini berkisar antara MAD 15 ($1,62) hingga MAD 17 ($1,84) per kg. Kesenjangan yang semakin lebar antara biaya produksi dan harga pasar mengakibatkan kerugian besar bagi peternak unggas di setiap siklus produksi.

Kesulitan yang dihadapi produsen Maroko mencerminkan tantangan yang lebih luas yang muncul di seluruh industri unggas Afrika Utara, di negara tetangga Mesir.

Telur berwarna putih dan cokelat/merah saat ini dijual di peternakan dengan harga sekitar EGP 65 (US$1,26) per karton, dan sampai ke konsumen dengan harga EGP 80-85 (US$1,56 - US$1,65). Sebaliknya, telur produksi lokal dijual di peternakan dengan harga sekitar EGP 80 per karton dan dijual eceran dengan harga sekitar EGP 90 (US$1,75), seperti yang diungkapkan oleh Dr. Abdel Aziz El-Sayed, kepala divisi unggas di Federasi Kamar Dagang.

UNI EROPA TETAP MENGHAPUS BRASIL DARI DAFTAR EKSPORTIR PROTEIN HEWAN

Uni Eropa secara resmi telah mengkonfirmasi, melalui publikasi di Jurnal Resminya, pengecualian Brasil dari daftar negara yang diizinkan untuk mengekspor berbagai produk asal hewan ke blok tersebut mulai 3 September tahun ini.

Pada praktiknya, Brasil mungkin dicegah untuk mengekspor produk seperti unggas, daging sapi, daging babi, madu, ikan budidaya, kuda, dan produk lain yang ditujukan untuk konsumsi manusia ke pasar Eropa.

Pada tahun 2025, Brasil mengirimkan 233.137 ton daging ayam ke Uni Eropa, yang menempati peringkat ke-8 sebagai tujuan ekspor unggas terbesar Brasil. Di seluruh produk asal hewan, penjualan Brasil ke blok tersebut mencapai sekitar US$2 miliar tahun lalu.

Menurut Komisi Eropa, Brasil gagal memberikan, dalam batas waktu yang dipersyaratkan, informasi yang dianggap cukup untuk menunjukkan implementasi kontrol terkait tidak digunakannya antimikroba tertentu dalam rantai pasokan ekspor.

Persyaratan Eropa ini mulai terbentuk pada Oktober 2024, ketika Uni Eropa menerbitkan peraturan yang mewajibkan negara-negara pengekspor untuk memberikan jaminan formal kepatuhan terhadap aturan baru yang mengatur penggunaan antimikroba.

Langkah yang diterbitkan bulan ini mengkonsolidasikan penilaian yang dilakukan sejak saat itu dan mengkonfirmasi negara mana yang telah memenuhi persyaratan. Sebanyak 92 negara dan wilayah tetap diizinkan untuk mengekspor setidaknya 1 produk asal hewan ke Uni Eropa. Mereka termasuk mitra Mercosur seperti Uruguay, Argentina, dan Paraguay, serta negara-negara dengan sektor ekspor protein hewan yang jauh kurang mapan, termasuk Tunisia, Kenya, dan Uganda.

PRODUKSI PAKAN TERNAK SPANYOL DIPERKIRAKAN TETAP STABIL

Produksi pakan ternak di Spanyol terus meningkat, dengan produksi mencapai hampir 31 juta ton tahun lalu. Terlepas dari metode pelaporan baru dan permintaan pasar yang terus berkembang, para pemimpin industri memperkirakan produksi akan tetap stabil.

Tahun lalu, Spanyol memproduksi 30.861.800 ton pakan ternak, menurut angka dari Confederación Española de Fabricantes de Alimentos Compuestos para Animales (CESFAC). Ini merupakan peningkatan sekitar 1,7 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. CESFAC memperkirakan produksi akan tetap stabil tahun ini, dengan perkiraan total produksi sekitar 30,9 juta ton.

CESFAC, yang mewakili sekitar 750 perusahaan, mencatat bahwa angka tahun lalu tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan tahun-tahun sebelumnya karena perubahan metodologi oleh Kantor Statistik Nasional, yang diterapkan sebagai tanggapan terhadap peraturan Uni Eropa yang baru.

Di Spanyol, yang memiliki populasi babi terbesar di Uni Eropa, pakan babi menyumbang porsi terbesar dari produksi pakan ternak tahun lalu, mencapai hampir 13,4 juta ton, lebih dari 45% dari total. Meskipun produksi mencapai puncaknya di atas 14 juta ton pada tahun 2021 dan sedikit lebih rendah pada tahun berikutnya, produksi pakan babi secara umum tetap di atas 13 juta ton selama 5 tahun terakhir. Hampir 15% dari total produksi terkonsentrasi di wilayah utara Catalonia, dengan tambahan 10% berasal dari Aragon.

AFRIKA SELATAN BERGERAK MENUJU VAKSINASI FLU BURUNG UNTUK UNGGAS

Industri unggas Afrika Selatan sedang mempersiapkan pengenalan kerangka peraturan yang akan memungkinkan produsen untuk memvaksinasi kawanan unggas mereka terhadap flu burung patogenik tinggi (HPAI).

Kerangka kerja tersebut, yang disetujui oleh Departemen Pertanian pada bulan Juni, menandai pergeseran signifikan dari ketergantungan utama pada pemusnahan massal menuju strategi yang menggabungkan vaksinasi dengan biosekuriti ketat dan pengawasan penyakit.

Langkah ini menyusul keberatan resmi yang diajukan oleh Asosiasi Unggas Afrika Selatan (SAPA), yang berpendapat bahwa langkah-langkah pengendalian HPAI yang ada di negara itu tidak lagi praktis atau terjangkau. Industri mengatakan produsen telah dibiarkan tanpa pilihan hukum modern untuk mengurangi dampak wabah flu burung yang berulang.

Setelah meninjau kasus tersebut, Departemen Pertanian menyetujui amandemen Peraturan Penyakit Hewan yang memungkinkan penggunaan vaksin HPAI secara terkontrol di bawah pengawasan pemerintah. Kerangka kerja tersebut menetapkan dasar hukum untuk vaksinasi sambil mempertahankan persyaratan ketat untuk pengawasan, pengujian, dan manajemen wabah.

Pengenalan vaksinasi tidak akan menggantikan langkah-langkah pengendalian penyakit yang ada. Sebaliknya, ini akan menjadi bagian dari strategi yang lebih luas yang mencakup peningkatan biosekuriti, pengawasan aktif, dan pemantauan berkelanjutan untuk flu burung.

Pihak berwenang juga menekankan pentingnya menjaga standar kesehatan hewan internasional untuk melindungi ekspor unggas Afrika Selatan. Oleh karena itu, program vaksinasi akan disertai dengan sistem pemantauan yang mampu membedakan unggas yang terinfeksi dari unggas yang divaksinasi, membantu menjaga kepercayaan di antara mitra dagang.

Sektor unggas Afrika Selatan telah mengalami beberapa wabah HPAI yang merusak dalam beberapa tahun terakhir. Epidemi tahun 2023 mengakibatkan hilangnya jutaan unggas akibat penyakit dan pemusnahan, menyebabkan kekurangan telur yang parah, mengganggu produksi unggas, dan meningkatkan harga bagi konsumen.

Kerangka kerja vaksinasi baru ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan industri terhadap wabah di masa mendatang dengan mengurangi ketergantungan pada pemusnahan skala besar sekaligus meningkatkan manajemen penyakit jangka panjang. Produsen unggas hanya dapat melakukan vaksinasi dalam kerangka kerja yang disetujui dan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Departemen Pertanian, yang akan terus mengawasi persetujuan, pengawasan, dan kepatuhan.

INGGRIS MEMBUKA TINJAUAN BIOSEKURITI BERDANA UNTUK PETERNAKAN UNGGAS

Para produsen unggas di Inggris kini dapat mengajukan permohonan tinjauan biosekuriti berdana dari dokter hewan mereka melalui Jalur Kesehatan dan Kesejahteraan Hewan (Animal Health and Welfare Pathway/AHWP).

Hal ini menyusul dibukanya jendela aplikasi pada awal Juni, yang mencakup tinjauan biosekuriti veteriner yang dilakukan di peternakan. Skema ini telah dikembangkan setelah negosiasi pemerintah/industri selama setahun terakhir.

Skema ini tersedia untuk berbagai usaha unggas yang lebih luas daripada langkah-langkah pendanaan AHWP sebelumnya. Sektor yang memenuhi syarat meliputi ayam petelur, ayam broiler, ayam indukan dan ayam muda, serta kalkun, bebek, dan angsa.

Masih ada beberapa pertanyaan mengenai ambang batas kelayakan untuk berpartisipasi, dengan beberapa sumber industri berpendapat bahwa produsen dengan jumlah unggas di bawah ambang batas saat ini juga dapat memperoleh manfaat dari akses ke tinjauan biosekuriti. Defra telah setuju untuk terus meninjau kriteria kelayakan tersebut.

Para pemohon perlu memberikan nomor CPH, nomor SBI, dan nomor registrasi unggas mereka sebelum mengatur kunjungan dokter hewan. Produsen yang menyelesaikan peninjauan dapat menerima £430 dari Defra untuk biaya kunjungan tersebut.

Máire Burnett, ketua Kelompok Kesehatan & Kesejahteraan Unggas, “Ini adalah kesempatan pertama bagi sektor unggas untuk mendapatkan manfaat dari pendanaan pemerintah di bawah Pathway sejak diperkenalkan dan mencerminkan pentingnya menjaga standar biosekuriti yang tinggi untuk melindungi kawanan unggas dari flu burung dan tantangan penyakit lainnya.”

Ia menambahkan, “Kunjungan dokter hewan yang didanai akan memberikan saran praktis yang disesuaikan untuk membantu peternak unggas mengidentifikasi dan mengatasi risiko biosekuriti spesifik lokasi, memperkuat ketahanan sektor terhadap ancaman penyakit di masa depan. Kami mendorong semua peternak unggas yang memenuhi syarat di Inggris untuk memanfaatkan kesempatan ini.”

KENAIKAN BIAYA BAHAN BAKAR DAN PAKAN MENEKAN PRODUSEN UNGGAS RUSIA

Industri unggas Rusia telah memasuki penurunan yang tak terduga, dengan kenaikan biaya bahan bakar menambah tekanan yang meningkat dari pakan, logistik, dan pinjaman yang mahal, menurut publikasi bisnis negara Izvestia.

Produksi daging unggas Rusia turun 2,1% dari tahun ke tahun dalam 5 bulan pertama tahun 2026 menjadi 2,76 juta ton berat hidup, kata publikasi tersebut, mengutip data resmi dari layanan statistik negara Rusia Rosstat. Penurunan tersebut meningkat menjadi 4% pada bulan Mei.

Produsen dan analis pasar mengatakan melemahnya profitabilitas menjadi penyebab perlambatan tersebut.

Menurut Asosiasi Daging Nasional, profitabilitas di seluruh sektor unggas menurun sekitar 1,5 kali lipat pada tahun 2025, menyebabkan banyak produsen mengalami pengurangan modal kerja. Dihadapi dengan biaya pembiayaan yang tinggi, beberapa peternakan unggas telah mengurangi produksi dan menunda rencana ekspansi.

Seorang juru bicara GAP Resurs, produsen unggas terbesar kedua di Rusia, mengatakan bahwa industri ini telah bergulat dengan biaya transportasi dan logistik yang lebih tinggi, kenaikan harga input produksi utama, dan pengeluaran tambahan yang diakibatkan oleh perubahan persyaratan peraturan.

Biaya transportasi yang lebih tinggi, bersamaan dengan melonjaknya harga bahan bakar, sering disebut sebagai alasan utama penurunan profitabilitas pada tahun 2026.

Kenaikan biaya bahan bakar terjadi ketika Rusia bergulat dengan kekurangan bahan bakar yang semakin parah yang dipicu oleh serangan pesawat tak berawak Ukraina selama berbulan-bulan terhadap kilang minyak, depot bahan bakar, dan terminal ekspor. Serangan tersebut telah melumpuhkan sebagian besar kapasitas penyulingan negara, memaksa pemerintah untuk memberlakukan penjatahan bahan bakar di beberapa wilayah.

Menurut Ekaterina Kosareva, mitra pengelola di perusahaan konsultan BMT Consult, kenaikan biaya bahan bakar kendaraan bermotor telah menjadi salah satu faktor utama yang mengikis profitabilitas sektor ini, bersamaan dengan kenaikan harga pakan dan pajak yang lebih tinggi.

BBVF PUSVETMA KAWAL PENGENDALIAN PMK NASIONAL MELALUI MONITORING PASCAVAKSINASI

Kegiatan webinar dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten. (Foto: Dok BBVF Pusvetma)

Pelaksanaan monitoring pascavaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahun 2025 oleh Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma secara nasional, mengonfirmasi efektivitas program vaksinasi di lapangan. Pengujian terhadap 3.845 sampel serum ternak di 8 provinsi menunjukkan, proporsi antibodi protektif (SP-O positif) pascavaksinasi dasar dan booster mampu bertahan optimal hingga kisaran 73%–100% pada H+56.

Capaian ini secara langsung berhasil menekan proporsi Non-Structural Protein (NSP) positif hingga tersisa 26%, membuktikan kekuatan proteksi imun dalam melindungi populasi ternak.

Dalam webinar bertajuk "Monitoring Pascavaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat (17/7/2026), Kepala BBVF Pusvetma, Drh Edy Budi Susila MSi menegaskan bahwa pemantauan pascavaksinasi adalah instrumen wajib untuk mengawal Roadmap Pengendalian dan Pembebasan PMK 2035 yang ditetapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Program vaksinasi harus didukung dengan penerapan biosecurity, biosafety, surveilans serta pengendalian lalu lintas ternak," tandas Edy. Melalui webinar ini, Pusvetma sebagai laboratorium referensi nasional PMK sekaligus produsen vaksin Aphthovet PMK ingin memberikan pemahaman mengenai efektivitas vaksin di lapangan, serta pentingnya monitoring pascavaksinasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program pengendalian PMK.

Wabah PMK yang kembali muncul pada tahun 2022, Pusvetma bersama balai veteriner di berbagai daerah secara konsisten melakukan pemantauan terhadap sirkulasi virus PMK. Hasil sequencing yang dilakukan hingga 2026, menunjukkan bahwa virus yang beredar di lapangan adalah Serotype O/ME-SA/Ind-2001e.

Webinar ini dipandu moderator Drh Indah Purnama Sari MSi selaku Medik Veteriner Ahli Madya, serta host oleh Drh Ribby Ansharieta MSi. Dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten.

Perkuat Sistem Vaksinasi

Membuka presentasinya, Dr drh Dewi Noor Hidayati MSi, Medik Veteriner Ahli Madya Pusvetma sebagai pembicara webinar menuturkan Pusvetma sebagai salah satu produsen vaksin PMK lokal, memiliki tanggung jawab untuk memastikan mutu vaksin tetap terjaga hingga diaplikasikan di lapangan.

"Kami ingin mengetahui bagaimana kualitas vaksin Aphthovet PMK setelah digunakan di lapangan, sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program vaksinasi yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner di daerah. Data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat sistem vaksinasi dan memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan pengendalian PMK ke depan," jelas Dewi.

PMK masih menjadi ancaman aktif, karena merupakan penyakit hewan yang sangat mudah menular (contagious) sekaligus termasuk penyakit lintas batas (transboundary animal disease).

Posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara endemis PMK membuat kewaspadaan terhadap masuknya virus maupun munculnya serotipe baru. Oleh sebab itu, perlunya ditingkatkan melalui deteksi dini dan pemantauan berkesinambungan.

Dinamika Respons Imun dan Hasil Monitoring

Lebih lanjut, Dewi memaparkan monitoring dilakukan terhadap 3.845 sampel serum yang berasal dari 62 kabupaten/kota di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-28, ke-42, dan ke-56 setelah vaksinasi dasar untuk melihat dinamika pembentukan antibodi.

Pemeriksaan serologis dilakukan menggunakan metode ELISA dengan dua parameter utama, yaitu SP-O (Structural Protein O) dan NSP (Non-Structural Protein).

Uji ELISA SP-O digunakan untuk mengetahui respons antibodi terhadap hasil vaksinasi maupun infeksi alami, sedangkan antibodi NSP menjadi indikator adanya paparan virus lapang, bukan akibat vaksinasi.

Interpretasi kedua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi efektivitas vaksin. Kombinasi hasil SP-O positif dan NSP negatif menunjukkan kondisi ideal, yaitu kekebalan terbentuk melalui vaksinasi tanpa adanya indikasi paparan virus lapang.

Pada periode kedua pelaksanaan vaksinasi, proporsi ternak dengan antibodi SP-O positif meningkat dan semakin stabil, berkisar 73-100%, sementara proporsi antibodi NSP cenderung menurun. Temuan ini membuktikan vaksinasi membentuk respons kekebalan yang baik.

Dokumentasi riwayat vaksinasi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian PMK. Data mencakup waktu vaksinasi, jenis vaksin yang digunakan, hingga identitas ternak akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas program vaksinasi dan mendukung pengambilan keputusan apabila diperlukan vaksinasi booster.

Monitoring juga memperlihatkan keberhasilan vaksinasi sangat dipengaruhi berbagai faktor di lapangan. Antara lain penyimpanan dan distribusi vaksin (cold chain), ketepatan waktu pemberian booster, teknik vaksinasi, kondisi kesehatan ternak saat divaksin, hingga biosekuriti kandang dan pengendalian lalu lintas ternak menjadi faktor yang menentukan terbentuknya kekebalan optimal.

Pusvetma menegaskan monitoring pascavaksinasi bukan sekadar kegiatan evaluasi internal, melainkan bagian dari kepentingan nasional sekaligus mendukung tahapan Progressive Control Pathway (PCP) menuju status bebas PMK. (ADV)

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

ELANCO PADUKAN INOVASI PRODUK, LAYANAN TEKNIS, DAN AKTIVITAS INTERAKTIF DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Elanco Indonesia. (Foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Berpartisipasi dalam pameran Indo Livestock yang diselenggarakan 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, PT Elanco Animal Health Indonesia menampilkan berbagai inovasi produk serta layanan melalui aktivitas interaktif menarik.

Selain memperkenalkan produk terbaru salah satunya adalah AviPro™ IB-ND C131, di ajang Indo Livestock kali ini Elanco hadir untuk dekat dengan customer dalam suasana yang lebih casual.

Pelanggan setia maupun visitors yang mengunjungi stan Elanco diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan syarat sederhana, yaitu subscribe channel YouTube dan mengikuti akun Instagram Elanco Indonesia. Setelah itu mereka dapat mengikuti permainan padel untuk memperoleh hadiah, juga menikmati suguhan kopi.

Area stan Elanco menghadirkan permainan padel bagi pengunjung untuk memenangkan merchandise menarik.

Stan Elanco mengusung konsep ruang terbuka dipadukan dekorasi ilustrasi kartun ayam yang merepresentasikan peran perusahaan dalam mendukung penyediaan pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Visual tersebut menggambarkan komitmen Elanco sebagai perusahaan yang fokus pada solusi kesehatan hewan, menjaga produktivitas ternak, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami merupakan bagian dari industri sapronak yang turut serta berperan dalam menyediakan pangan ASUH. Melalui inovasi dan solusi kesehatan hewan, kami berkomitmen berkontribusi dalam rantai produksi pangan Indonesia,” jelas Senior Manager Marketing PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Muhamad Aura Maulana.

Bukan hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri peternakan, stan Elanco menjelma sebagai ruang diskusi yang hangat dan nyaman. Elanco berhasil menciptakan pengalaman mengesankan, dengan menghadirkan ruang interaksi yang aktif dan bermakna.

Pengunjung akan mengikuti permainan interaktif di stan Elanco.

Unggulkan AviPro™ IB-ND C131

Salah satu produk yang di-highlight oleh Elanco adalah AviPro™ IB-ND C131, vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap Newcastle disease (ND) dan infectious bronchitis (IB).

Kompleksnya tantangan penyakit pernapasan pada unggas, Elanco merilis AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap ND dan IB dalam satu aplikasi.

Vaksin dirancang aman serta dapat diaplikasikan sejak DOC, tanpa menimbulkan reaksi pascavaksin yang berarti atau mengganggu performa awal ayam. “Salah satu keunggulan AviPro™ IB-ND C131 adalah kemampuannya dalam memberikan respons imun optimal, meski anak ayam masih memiliki maternal derived antibody atau MDA. Perlindungan terhadap IB dan ND dapat terbentuk sejak awal masa pemeliharaan,” jelas Aura.

Selain itu, AviPro™ IB-ND C131 mampu memberikan perlindungan hingga delapan minggu. Kombinasi tersebut membantu peternak menyederhanakan program vaksinasi, tanpa mengurangi kualitas perlindungan terhadap dua penyakit respirasi utama.

Elanco hadirkan ruang diskusi yang bermakna.

Bersiap Meluncurkan AviPro 304

Tidak hanya memperkenalkan produk yang telah tersedia, Elanco juga mengungkapkan rencana peluncuran AviPro 304, vaksin kombinasi generasi terbaru yang menjadi salah satu inovasi penting perusahaan di bidang kesehatan unggas.

Setelah memperkenalkan AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin live kombinasi untuk perlindungan dini terhadap ND dan IB, Elanco juga tengah mempersiapkan peluncuran AviPro™ 304 ND-IB-MG.

Kehadiran vaksin inaktif tiga komponen tersebut akan melengkapi portofolio AviPro™, memberikan pilihan program vaksinasi yang lebih menyeluruh bagi peternak, khususnya dalam menghadapi tantangan ND, IB, dan Mycoplasma gallisepticum (MG).

Keunggulan paling menonjol dari AviPro™ 304 adalah vaksin inaktif kombinasi yang mengandung antigen Newcastle disease (ND), Infectious Bronchitis (IB) tipe Massachusetts, dan Mycoplasma gallisepticum (MG). Kombinasi tiga antigen dalam satu vaksin memberikan kemudahan dalam program vaksinasi breeder maupun layer, sekaligus membantu meningkatkan respons antibodi terhadap ketiga agen penyakit tersebut setelah program priming menggunakan vaksin hidup yang sesuai. Peternak memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyusun program vaksinasi, sehingga interval vaksin dapat diatur lebih efisien dan optimal.

Sebagai vaksin inaktif berbasis oil emulsion, AviPro™ 304 dirancang untuk menghasilkan respons antibodi yang kuat dan mempertahankan kekebalan dalam jangka waktu yang lebih lama sebagai bagian dari program vaksinasi breeder dan layer.

Solusi Menyeluruh untuk Industri Peternakan

Kehadiran Elanco di pameran Indo Livestock 2026, menegaskan komitmennya sebagai penyedia solusi kesehatan hewan yang lengkap. Di sektor unggas, Elanco menghadirkan portofolio produk dan layanan mencakup vaksin, pengendalian penyakit usus, kesehatan saluran pencernaan, enzim, probiotik, formulasi pakan, hingga pendampingan teknis di lapangan.

“Sebagai perusahaan global pada kesehatan hewan, keikutsertaan Elanco di Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri peternakan di Indonesia,” tandas Aura.

Selama pameran berlangsung, banyak customer memanfaatkan kesempatan berkonsultasi mengenai penyusunan program vaksinasi, kasus necrotic enteritis (NE), evaluasi lesion score, intestinal integrity, formulasi nutrisi, penggunaan feed additive, hingga berbagai tantangan kesehatan unggas lainnya.

Tim technical Elanco sigap memberikan pendampingan mulai dari fase hatchery hingga ayam memasuki masa produksi. Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena solusi yang diberikan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan yang dihadapi customer.

Sementara di sektor ruminansia, Elanco juga memiliki portofolio vaksin untuk mendukung pengendalian berbagai penyakit penting, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) bermerk dagang Bioaftogen®, sehingga perusahaan terus memperkuat posisinya sebagai mitra kesehatan hewan di Tanah Air.

Menjawab Tantangan Industri Melalui Pencegahan

Di tengah tantangan industri peternakan yang dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku impor, mengambil contoh soybean meal dan berbagai komponen pakan lainnya, Elanco memandang strategi pencegahan penyakit menjadi investasi yang semakin penting bagi peternak.

Menurut Aura, ketika biaya produksi meningkat, menjaga kesehatan ternak melalui program vaksinasi yang efektif menjadi salah satu cara untuk mempertahankan produktivitas sekaligus menekan kerugian akibat penyakit.

Elanco terus memperkuat posisi dan portofolio produk pencegahan sebagai bagian dari solusi jangka panjang bagi industri peternakan di Indonesia. (ADV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer