-->

Featured Posts

RUSIA MEMUSNAHKAN TERNAK DI SIBERIA DALAM SKALA BESAR, MENYANGKAL RUMOR PMK

Selama beberapa minggu terakhir, otoritas veteriner Rusia telah menyita dan memusnahkan ternak di setidaknya 10 wilayah di Siberia, yang memberikan pukulan signifikan bagi sektor peternakan sapi perah di wilayah tersebut.

Para pejabat mengatakan tindakan tersebut bertujuan untuk menahan wabah pasteurellosis dan rabies. Namun, para peternak berpendapat bahwa skala dan urgensi kampanye tersebut tidak proporsional, menimbulkan kecurigaan bahwa pihak berwenang mungkin mencoba menyembunyikan wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang lebih luas.

Menurut berbagai perkiraan, hingga 100.000 ekor sapi, ruminansia kecil, dan babi dapat dimusnahkan dalam kampanye yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dalam serangkaian video yang diposting di media sosial Rusia, para peternak mengklaim hewan-hewan disita dan dimusnahkan tanpa pengujian sebelumnya dan dengan tergesa-gesa yang tidak biasa.

Industri peternakan Rusia semakin khawatir tentang hal ini, dengan beberapa pelaku pasar menyarankan bahwa para pejabat mungkin, pada kenyataannya, menanggapi wabah PMK skala besar. “Pasteurellosis tidak terlalu berbahaya dan tidak memerlukan pembantaian besar-besaran, sedangkan PMK membawa risiko serius,” kata seorang sumber industri anonim kepada harian bisnis Kommersant.

Beberapa sumber anonim lainnya menggemakan kekhawatiran ini, mengatakan bahwa kemungkinan PMK menyebabkan kecemasan yang semakin meningkat di sektor ini. Namun, pihak berwenang secara konsisten membantah adanya hubungan dengan PMK.

Wabah penyakit ini dapat memberikan pukulan berat bagi potensi ekspor ternak Rusia. Kazakhstan telah menutup perbatasannya untuk produk ternak Rusia, dan para peternak khawatir bahwa China dapat mengikuti jejaknya, lapor Kommersant.

ASF KOREA SELATAN: 150.000 BABI DIMUSNAHKAN KARENA VIRUS DITEMUKAN DALAM PAKAN

Korea Selatan sedang melewati fase sulit dalam upaya mengendalikan Demam Babi Afrika (ASF). Dalam 3 bulan pertama tahun 2026, setidaknya 148.000 babi harus dimusnahkan di 24 peternakan. Selain itu, hampir 500 ton pakan dimusnahkan karena pihak berwenang memiliki alasan untuk percaya bahwa pakan tersebut terinfeksi virus.

Tingkat pemusnahan tersebut menjadi jelas dari data yang diberikan oleh Kementerian Pangan, Pertanian, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan (MAFRA). Sebagian besar wabah peternakan baru-baru ini terjadi di peternakan di timur laut negara itu, di mana virus tersebut juga terjadi pada babi hutan. Meskipun demikian, virus tersebut juga muncul di berbagai peternakan di provinsi lain. Di antara peternakan yang ditemukan terinfeksi ASF pada Januari dan awal Februari 2026, setidaknya 4 peternakan memiliki sekitar 20.000 babi di lokasi, yang menjelaskan tingkat pemusnahan yang relatif tinggi.

Hingga awal tahun 2026, virus ASF telah ditemukan di total 55 peternakan babi Korea Selatan, sejak virus tersebut pertama kali muncul pada tahun 2019. Tahun 2025 merupakan tahun yang relatif tenang dengan hanya 6 infeksi di peternakan.

Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), total Korea Selatan telah memusnahkan 255.202 babi hingga awal Februari 2026 karena ASF, sejak awal wabah pada tahun 2019. Karena data WOAH tidak termasuk data untuk sebagian besar bulan Februari atau Maret 2026, kemungkinan jumlah ini akan segera melewati angka 300.000.

Selain wabah di peternakan, virus ini juga telah ditemukan pada 1.022 babi hutan pada tahun 2026 hingga saat ini. Semua babi hutan ini ditemukan di wilayah timur laut semenanjung.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, melaporkan tentang penghancuran lebih dari 490 ton pakan dalam upaya memerangi ASF. Investigasi epidemiologi oleh kementerian, pada 19 Februari, menemukan virus ASF di dalam bahan dan pakan yang menggunakan plasma babi, sumber protein yang dapat dicerna yang berasal dari darah babi. Pihak berwenang menduga darah dari babi yang terinfeksi tercampur dalam pakan tersebut. Karena itulah mereka memutuskan untuk membuang semua pakan yang diduga terinfeksi, dan menarik kembali pakan tersebut dari produsen.

CHINA MEMPERKETAT PENGAWASAN IMPOR TEPUNG PAKAN TERNAK KAZAKHSTAN

Keputusan China untuk memperketat peraturan impor tepung pakan ternak menimbulkan kekhawatiran di kalangan eksportir Kazakhstan, yang takut akan gangguan signifikan di sektor yang berkembang pesat ini.

Otoritas Kazakhstan melaporkan bahwa regulator veteriner China sekarang mewajibkan semua pemasok untuk menjalani pendaftaran ulang wajib sebelum mengekspor tepung pakan ternak ke China. Para pemimpin industri lokal memperingatkan bahwa proses persetujuan baru ini rumit dan memakan waktu, mengancam untuk menghentikan pertumbuhan ekspor.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya China yang lebih luas untuk meningkatkan keamanan dan ketertelusuran impor pakan ternak. Namun, eksportir mengatakan bahwa perubahan tersebut akan menciptakan hambatan langsung, dengan tambahan dokumen, inspeksi, dan penundaan.

Didorong hampir sepenuhnya oleh permintaan China, ekspor tepung pakan ternak Kazakhstan telah melonjak. Pada tahun pemasaran 2024/25 saja, pengiriman ke China melebihi 2,2 juta ton, hampir 3 kali lipat volume musim sebelumnya. Tepung berbahan dasar gandum mencakup sekitar 80% ekspor, dengan tepung jelai mencakup sisanya.

Pertumbuhan pesat ini telah memicu investasi besar dalam fasilitas penggilingan biji-bijian, memastikan posisi Kazakhstan sebagai pemasok utama bagi produsen pakan ternak di Tiongkok, terutama di wilayah timur laut.

Namun, peraturan pendaftaran baru telah berdampak pada industri ini. Eksportir sekarang harus menyusun dokumentasi yang ekstensif dan menjalani inspeksi, menyebabkan pengiriman melambat.

Menurut Serikat Produsen Biji-bijian Kazakhstan, penundaan dalam memperoleh kode pendaftaran ulang dapat memaksa pabrik pengolahan untuk menghentikan operasi sementara, sehingga berisiko menghentikan produksi. Logistik kereta api juga dapat terpengaruh, berpotensi menghentikan ekspor dalam jangka pendek.

KONFLIK TIMUR TENGAH MENGANCAM EKSPOR UNGGAS POLANDIA

Konflik militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus berdampak jauh melampaui berita utama geopolitik dan masuk ke pasar unggas global, dengan potensi dampak bagi ekspor daging ayam broiler Polandia.

“Ada risiko bahwa Brasil akan mengalihkan ekspornya ke wilayah lain di dunia, khususnya ke negara-negara Asia, di mana Brasil sudah memiliki posisi dominan. Hal ini dapat menghambat ekspor dan tentu saja meningkatkan persaingan dengan pemasok dari negara-negara Eropa, termasuk Polandia,” kata Wiesław Różański, presiden Serikat Produsen dan Pengusaha Industri Daging Polandia (UPEMI).

Pakar tersebut menunjukkan bahwa situasi serupa telah terjadi di masa lalu di pasar daging lainnya. “Situasinya mungkin analog dengan apa yang terjadi di pasar babi Eropa ketika Spanyol, eksportir terbesar Eropa ke Tiongkok, menderita akibat harga tinggi dan penyebaran ASF. Produk yang tidak dapat diekspor akhirnya masuk ke pasar Eropa, yang menyebabkan ketidakstabilan selama berbulan-bulan,” jelasnya.

Di Brasil, skenarionya bisa serupa. Jika ekspor ke beberapa negara Timur Tengah dibatasi, produsen Brasil akan mencari pelanggan baru.

Industri unggas Polandia khawatir bahwa Brasil, sebagai salah satu produsen unggas paling kompetitif di dunia, memainkan peran penting dalam membentuk dinamika harga global. Jika akses ke pasar Timur Tengah tertentu menjadi terbatas, eksportir Brasil diperkirakan akan secara aktif mencari tujuan alternatif. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan volume yang memasuki pasar yang sudah kompetitif, khususnya di Asia dan Eropa.

Menurut perwakilan sektor unggas, perkembangan harus dipantau secara ketat oleh administrasi publik dan lembaga yang bertanggung jawab atas kebijakan perdagangan. Kemungkinan pergeseran dalam arus perdagangan daging unggas global dapat dengan cepat diterjemahkan menjadi persaingan yang lebih besar dan tekanan harga di pasar Eropa dan dengan demikian memengaruhi situasi produsen di banyak negara Uni Eropa.

PROYEK UNGGAS TERPADU NASIONAL NIGERIA SENILAI US$1 MILIAR MULAI BEROPERASI

Sektor unggas Nigeria bersiap untuk transformasi melalui Proyek Unggas Terpadu Nasional senilai US$1 miliar, sebuah inisiatif di bawah Kemitraan Strategis Nigeria-China (NCSP).

Diumumkan pada awal tahun 2026, proyek ini bertujuan untuk meningkatkan produksi telur dan ayam broiler sekaligus mengatasi kekurangan pakan dan ketergantungan impor. Fase percontohan Proyek Unggas Terpadu Nasional Nigeria kini telah dimulai di negara bagian Enugu, Kaduna, dan Oyo, dengan rencana perluasan nasional pada tahun 2027.

Direktur Jenderal NCSP, Joseph Tegbe, mengungkapkan peluncuran tersebut pada Pameran Kuil Tahun Baru Imlek di Abuja, menandai peringatan ke-55 hubungan diplomatik Nigeria-China. Fase ini memprioritaskan pertanian terpadu, menggabungkan peternakan unggas dengan budidaya jagung dan kedelai skala besar untuk pasokan pakan yang berkelanjutan.

Proyek Unggas Terpadu Nasional ini menampilkan pendekatan spektrum penuh, yang mencakup produksi pakan, penetasan, peternakan ayam petelur dan ayam pedaging, pabrik pengolahan, penyimpanan dingin, dan jaringan distribusi. Ketika beroperasi penuh, Proyek Unggas Terpadu Nasional bertujuan untuk menampung lebih dari 7 juta ayam petelur dan 2 juta ayam pedaging, menghasilkan 6 juta telur setiap hari.

Rencana ini juga mencakup penanaman 60.000 hektar tanaman untuk pakan, yang secara langsung mengatasi krisis pakan unggas Nigeria yang diperburuk oleh kenaikan biaya dan kekurangan.

Pakan bersubsidi akan diperluas ke peternak kecil yang sudah ada, membantu menstabilkan biaya di luar fasilitas baru. Lebih lanjut, transfer teknologi melalui beasiswa dan penelitian bersama di bawah Kemitraan Strategis Nigeria-China akan mendukung pembangunan kapasitas jangka panjang dalam agritech dan manajemen unggas.

Dengan mengekang impor unggas, Proyek Unggas Terpadu Nasional menargetkan ketahanan pangan dan harga konsumen yang lebih rendah untuk telur dan daging. Proyek ini mendukung upaya Nigeria untuk mencapai kemandirian agroindustri, yang berpotensi memungkinkan ekspor produk olahan di masa mendatang. Hingga Maret 2026, kemajuan awal proyek percontohan menunjukkan momentum menuju tujuan-tujuan ini.

EKSPOR DAGING KALKUN RUSIA MELONJAK 40%

Ekspor daging kalkun melonjak 40% tahun lalu ke rekor 40.000 ton, didorong oleh perluasan penjualan ke Afrika dan Asia, kata Anatoly Velmatov, direktur eksekutif Asosiasi Produsen Kalkun Nasional, pada sebuah acara industri di Moskow.

Produksi domestik juga terus tumbuh, meningkat 3,5% menjadi 453.000 ton, melampaui sektor unggas yang lebih luas, yang diperkirakan tumbuh 2,3% pada tahun 2025.

Konsumsi kalkun di Rusia mencapai 2,9 kg per kapita tahun lalu dan diproyeksikan akan berlipat ganda selama dekade berikutnya, kata Velmatov.

Ekspor semakin berorientasi ke pasar negara berkembang. Afrika dan Asia masing-masing menyumbang 38% dan 32,6% dari pengiriman. Tujuan utama di Afrika termasuk Benin, Republik Demokratik Kongo, Liberia, dan Angola, sementara pasar Asia berkisar dari Tiongkok dan Filipina hingga Hong Kong dan Malaysia.

Di negara-negara tetangga, kalkun Rusia sudah berhasil bersaing dengan daging sapi, kata Velmatov. Pergeseran serupa terlihat di dalam negeri, di mana konsumsi daging sapi dan domba menurun pada tahun 2025 sementara permintaan kalkun terus meningkat.

BE PART OF THE NEXT ERA OF AGRICULTURE & LIVESTOCK

- Be the first to see cutting-edgefarming & livestock technology
- Connect directly with 100+ leading industry brands
- Unlock new business opportunities & partnershipjoin free
- High-value seminars by industry experts



KONFLIK TIMUR TENGAH TERUS BERDAMPAK PADA PASAR UNGGAS

Mulai dari kenaikan harga pakan unggas di Vietnam hingga penurunan harga telur di Pakistan, gangguan pasokan global akibat perang di Timur Tengah dan blokade sebagian Selat Hormuz semakin memengaruhi perdagangan unggas.

Di Pakistan, harga telur telah anjlok dalam beberapa pekan terakhir karena ekspor ke Timur Tengah terhenti, lapor media lokal. Perluasan penjualan ke luar negeri, khususnya ke pasar Teluk, telah menjadi pendorong utama pertumbuhan industri unggas Pakistan dalam beberapa tahun terakhir, kata Sohail Ahmed, CEO Noor Poultry. Dengan terganggunya pengiriman, industri ini telah mengalami pukulan signifikan, ia memperingatkan.

Peternak unggas di seluruh Pakistan berjuang untuk tetap bertahan karena pasokan yang biasanya diekspor dialihkan ke pasar domestik, menciptakan kelebihan pasokan. Sehingga telah menurunkan harga, menekan margin yang sudah tipis bagi peternak dan bisnis unggas.

Pakistan tidak sendirian dalam menghadapi dampak buruk perang. Eksportir unggas dan daging utama termasuk Turki, Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga terkena dampak gangguan ini, terutama mereka yang sangat bergantung pada permintaan Timur Tengah.

Rusia dan Ukraina termasuk yang paling rentan, menurut Nan-Dirk Mulder, spesialis global senior untuk protein hewani di Rabobank. Konflik tersebut telah sangat memengaruhi ekspor daging Rusia ke wilayah tersebut, kata Sergey Yushin, direktur eksekutif Asosiasi Daging Nasional Rusia.

Saat ini, sejumlah besar kargo sedang dalam perjalanan, tetapi jadwal pengiriman masih belum pasti. Beberapa eksportir terpaksa menurunkan kontainer dalam perjalanan ke Teluk, yang menyebabkan penundaan dan biaya tambahan.

Biaya pengiriman juga meningkat. Premi asuransi per kontainer telah meningkat dari sekitar US$3.500 menjadi US$4.000, mendorong beberapa pengirim untuk mengubah rute atau menurunkan kargo di tujuan alternatif seperti Mesir, yang selanjutnya mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan biaya produksi, menurut Yushin.

Di Asia, dampaknya dirasakan melalui biaya input yang lebih tinggi. Sektor peternakan Vietnam menghadapi kenaikan harga pakan yang baru, dengan produsen menaikkan harga pada awal Maret karena gangguan rantai pasokan mendorong kenaikan biaya bahan baku dan logistik.

Beberapa produsen melaporkan kenaikan sekitar US$7-11 per ton, menambah tekanan lebih lanjut pada produsen yang sudah bergulat dengan kondisi pasar yang bergejolak.

MENAKAR MASA DEPAN INTEGRASI SAPI-SAWIT DALAM 3RD ICOP CONFERENCE DI RIAU

Prof Nahrowi (kiri), bersama Dr Syahrial Abdi (tengah), dan Ir Joko Irianto (kanan), dalam Opening Ceremony 3rd ICOP Conference 2026. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Rabu (8/4/2026). Bertempat di Bertuah Hall, Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, resmi dibuka 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026. Perhelatan yang digelar secara hybrid ini mengusung tema “Enhancing Food Security through Regenerative Agriculture in Integrated Cattle-Oil Palm System.”

Pilihan Pekanbaru sebagai tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Riau sebagai pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia, menjadikannya laboratorium hidup bagi sistem integrasi.

Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan bobot keilmuan, pakar lintas benua berkumpul, mulai dari Prof Luki Abdullah dari Centras IPB University, hingga ahli internasional seperti Richard ArmstrongSlaney, Assoc Prof Maja Slingerland, Dr Mohd Azid Kabul, serta Prof HenkHogeveen dari Wageningen University. Kolaborasi global ini bertujuan merumuskan formula terbaik dalam menerapkan regenerative agriculture di ekosistem sawit.

Ketua Panitia Pelaksana, Drh Arifin Budiman Nugraha, menekankan bahwa inti dari kesuksesan ICOP adalah transformasi pola pikir. Jika selama ini pemilik kebun merasa khawatir ternak akan merusak tanaman, edukasi konsisten melalui ajang ini berhasil mengikis hambatan psikologis tersebut.

Integrasi kini dipandang bukan sebagai beban operasional, melainkan nilai tambah bagi kedua komoditas. Melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), sapi mendapatkan pakan hijauan di sela pohon sawit, sementara perkebunan menerima pupuk organik gratis, menciptakan siklus nutrisi tertutup yang memulihkan ekosistem tanah sekaligus memproduksi protein hewani.

Apresiasi besar datang dari Pemerintah Provinsi Riau. Dr Syahrial Abdi mewakili Pj Gubernur SF Hariyanto, menegaskan komitmen untuk mentransformasi Riau menjadi lumbung ternak nasional melalui akselerasi program SISKA. Namun, ia juga memberikan catatan strategis bahwa ambisi besar ini menuntut kerja keras kolektif, terutama dalam memperkuat edukasi bagi pekebun swadaya dan penguatan infrastruktur pendukung.

Senada dengan hal tersebut, Ir Joko Irianto dari GAPENSISKA menyoroti bahwa jika potensi lahan sawit Riau dimaksimalkan, defisit daging nasional yang selama ini bergantung pada impor dapat segera teratasi.

3rd ICOP Conference 2026 diselenggarakan di Pekanbaru, Riau.

Dukungan akademis pun mengalir kuat, salah satunya Dr Alim Setiawan Slamet dari IPB University, yang menyatakan bahwa Riau memiliki kewajiban moral mendukung SISKA demi pemenuhan daging nasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Dr Arsyadi Ali, menekankan filosofi “Tiga Tungku Sejarangan”, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi, sebagai fondasi utama agar program ini tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi memberikan dampak instan bagi kemajuan sektor peternakan.

Dari sisi kebijakan teknis, Dr Ir Tri Melasari yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa SISKA adalah solusi cerdas untuk menekan biaya pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan.

Dengan memanfaatkan “piring makan” alami di bawah kanopi sawit, populasi sapi dapat ditambah secara cepat tanpa merusak operasional perkebunan. Meski tantangan berupa keengganan beberapa korporasi masih ada, 3rd ICOP Conference 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa manajemen yang tepat justru meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan struktur tanah.

Implementasi SISKA kini telah memiliki payung hukum yang kuat melalui Permentan No. 105/2014. Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan populasi di berbagai sentra. Di Riau sendiri, populasi sapi integrasi melesat dari estimasi awal 15.000 ekor menjadi lebih dari 150.000 ekor pada 2026. Keberhasilan serupa juga tercatat di Kalimantan Selatan melalui program “SISKA KU INTIP” yang kini melampaui 50.000 ekor, serta Kalimantan Timur yang mencapai 45.000 ekor demi memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain peningkatan populasi, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha. Penghematan pupuk kimia hingga 30% berkat peran sapi sebagai “pabrik pupuk berjalan” telah membuktikan bahwa regenerative agriculture memberikan dampak ekonomi langsung.

Penurunan biaya pakan sebesar 30-40% juga memberikan napas baru bagi target pengurangan impor sapi hidup. Dengan sinergi yang terus menguat, pembukaan perhelatan 3rd ICOP Conference 2026 yang dipandu oleh Dr Windu Negara ini ditutup dengan optimisme bahwa swasembada daging melalui jutaan hektare kebun sawit kini telah menjadi keniscayaan yang nyata. (Sadarman)

SEKTOR UNGGAS ANGOLA MENGANTISIPASI PERTUMBUHAN YANG STABIL PADA TAHUN 2026

Selama bertahun-tahun, Angola sangat bergantung pada impor ayam beku dari AS, Brasil, dan Uni Eropa untuk memenuhi permintaan domestik. Sekarang, keterbatasan devisa, biaya logistik yang tinggi, dan upaya untuk menghemat mata uang asing telah mendorong investasi lokal.

Sektor daging ayam Angola menunjukkan kemajuan yang stabil pada tahun 2026, didorong oleh peningkatan produksi domestik dan permintaan yang stabil. Peternakan unggas memainkan peran kunci dalam ketahanan pangan Angola, dan produksi tahun 2026 diperkirakan akan meningkat 9% menjadi 60.000 metrik ton, sementara konsumsi meningkat 5%.

Tantangan tetap ada, termasuk infrastruktur yang buruk, pakan yang langka, dan larangan impor produk rekayasa genetika (GE) karena tidak adanya undang-undang biokeamanan nasional. Angola mengimpor biji-bijian dan biji minyak non-GE yang mahal dari jauh, meningkatkan biaya untuk pertanian pedesaan kecil dan operasi yang bergantung pada ayam petelur yang sudah tidak produktif.

Dalam jangka panjang, peningkatan produksi dapat mengurangi impor dan membuka pintu bagi ekspor regional.

Africa Press baru-baru ini melaporkan bahwa Menteri Pertanian dan Kehutanan Angola, Isaac dos Anjos, memuji Kompleks Produksi Unggas Terpadu Pembat, yang terletak di pinggiran kota Benguela, karena dilaporkan menunjukkan bahwa ayam dapat diproduksi di Angola dalam siklus 30 hari. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan secara bertahap mengurangi impor unggas dan babi untuk melindungi produksi nasional.

Impor diperkirakan akan tumbuh sedikit sebesar 4% menjadi 270.000 metrik ton, naik dari 260.000 metrik ton pada tahun 2025, seiring dengan meredanya tekanan mata uang.

Angola tidak mengekspor unggas karena kebutuhan domestik yang belum terpenuhi tetapi bertujuan untuk membangun kapasitas untuk penjualan di masa mendatang.

INDUSTRI UNGGAS DI SURIAH DALAM KEKACAUAN

Pasar unggas Suriah menghadapi gejolak yang semakin meningkat, dengan harga melonjak hampir sepertiga dalam beberapa waktu terakhir dan membebani permintaan konsumen. Para pelaku industri mengatakan wabah Newcastle Disease dan, baru-baru ini, lonjakan biaya pakan yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah adalah beberapa pendorong utamanya.

Harga eceran rata-rata ayam baru-baru ini mencapai sekitar 30.000 pound Suriah (€2,5) per kg, naik dari sekitar 22.000 pound Suriah per kg sebulan sebelumnya, lapor media lokal SANA.

Selama beberapa bulan terakhir, industri unggas Suriah telah dilanda serangkaian wabah penyakit yang memengaruhi banyak peternakan. Dokter hewan setempat, Murtada Hassan Reda, mengatakan bahwa wabah tersebut disebabkan oleh Newcastle Disease, yang tidak berbahaya bagi manusia.

Namun, kurangnya transparansi dari pejabat pemerintah mengenai situasi veteriner di sektor unggas telah merusak kepercayaan konsumen. Desas-desus telah beredar di masyarakat Suriah bahwa unggas yang terinfeksi dan berpotensi berbahaya bagi manusia dijual di gerai-gerai ritel.

Kementerian Kesehatan Suriah baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang membantah klaim tersebut dan meyakinkan konsumen bahwa unggas yang tersedia di pasaran aman, meskipun banyak pembeli tetap tidak yakin.

Peternak unggas Suriah juga menghadapi peningkatan persaingan dari unggas beku impor murah setelah pemerintah mengizinkan impor pada akhir tahun 2025. Ma’an Al-Saqqa, pemilik peternakan unggas, mengatakan kepada media lokal bahwa masuknya ayam beku, anak ayam, dan telur tetas yang tidak terduga telah membanjiri pasar, mendorong banyak peternak untuk mempertimbangkan pemusnahan ternak mereka sebelum akhir siklus produksi.

Meskipun terjadi peningkatan harga ritel baru-baru ini, banyak peternak unggas saat ini beroperasi dengan kerugian, Al-Saqqa memperingatkan. Sektor ini sedang mengalami masa yang sangat sulit, dengan beberapa peternakan menangguhkan operasi dalam empat bulan terakhir, menurut Fadel Haj Hashem, direktur jenderal Perusahaan Unggas Umum.

Dalam beberapa minggu terakhir, produsen unggas juga berjuang dengan kenaikan biaya pakan yang terkait dengan meningkatnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Industri pakan Suriah sangat bergantung pada bahan baku impor, sebagian besar karena konflik selama beberapa dekade yang telah melemahkan produksi pertanian domestik negara tersebut.

FLU BURUNG MENURUN DI SELURUH EROPA SETELAH PUNCAK MUSIM DINGIN

Data pengawasan baru dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC), dan Laboratorium Referensi Uni Eropa (EURL) menunjukkan bahwa deteksi flu burung patogenik tinggi (HPAI) telah mulai menurun di seluruh Eropa.

Penurunan ini terjadi setelah musim gugur-musim dingin yang sangat intens, yang terburuk dalam 5 tahun untuk sirkulasi unggas air. Terlepas dari penurunan baru-baru ini, total wabah musim ini tetap lebih tinggi daripada tahun-tahun sebelumnya untuk periode yang sama. Risiko bagi masyarakat umum tetap rendah, menurut EFSA dan ECDC.

Antara 29 November 2025 dan 27 Februari 2026, pihak berwenang mencatat 406 wabah flu burung patogenik tinggi pada burung/unggas domestik, 2.108 pada burung liar di 32 negara Eropa.

Deteksi pada burung liar 3 kali lebih tinggi daripada tahun lalu, dan hampir 5 kali lebih tinggi daripada 2 tahun yang lalu, yang merupakan hasil langsung dari puncak musiman yang luar biasa kuat. Sejak Desember, deteksi telah bergeser ke arah penurunan, konsisten dengan pola musim semi yang khas. Di peternakan unggas, sebagian besar infeksi berasal dari kontak tidak langsung dengan burung liar, sementara penyebaran antar peternakan tetap jarang terjadi.

4 CIRI-CIRI AYAM TIREN

ciri ayam tiren

Ayam tiren (ayam bangkai) adalah ayam yang sudah mati sebelum disembelih, atau proses penyembelihannya tidak benar. Sehingga darah ayam tidak keluar sempurna.

Sayangnya ayam tiren sepertinya masih cukup banyak dijual di pasar. Dan harganya pun biasanya lebih murah.

Ciri-ciri ayam tiren bisa dikenali dari bagian-bagian berikut:

  1. Pembuluh darah di balik kulit ayam terlihat jelas, merah kehitaman.
  2. Daging di balik kulit ayam berwarna kemerahan seperti memar.
  3. Pangkal sayap, berwarna biru kehitaman karena berisi darah.
  4. Pembuluh darah pada leher. Saluran makan (esofagus) dan saluran nafas (trakea) tidak terpotong. Atau terpotong tapi terisi darah berwarna kehitaman.

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

PROF AKHMAD SODIQ KEMBALI TERPILIH JADI REKTOR UNSOED

Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq. (Foto: Fapet Unsoed)

Profesor Akhmad Sodiq kembali terpilih menjadi rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto periode 2026-2030. Ia dinyatakan menang atas dua kandidat lainnya melalui sidang senat tertutup.

Pemilihan digelar di Auditorium Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, dengan melibatkan unsur Senat Akademik serta perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof Dwi Nugroho Wibowo, mengatakan dalam kontestasi ini Prof Akhmad Sodiq bersaing dengan dua kandidat lain, yaitu Prof Ali Rokhman dan Dr Adi Indrayanto.

“Berdasarkan hasil penghitungan, Prof Ali Rokhman meraih 35 suara, sementara Prof Akhmad Sodiq mengantongi 87 suara,” kata Dwi dalam siaran resminya, Rabu (1/4/2026).

Dwi memastikan seluruh tahapan pemilihan telah berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, seluruh proses pemilihan rektor telah dilaksanakan secara transparan, objektif, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami mengapresiasi partisipasi aktif seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ini,” terangnya.

Ia menjelaskan, sebelum masuk tahap pemilihan, panitia telah menjalankan berbagai proses mulai dari penjaringan bakal calon, seleksi administrasi, hingga penyampaian visi dan misi kandidat.

“Seluruh tahapan mulai dari pendaftaran hingga pemungutan suara, telah dilaksanakan sesuai mekanisme. Tahap pemilihan ini menjadi bagian paling krusial dalam keseluruhan proses,” jelasnya.

Ketua Bidang Media dan Publikasi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed (PP Kafapet Unsoed), Farid Dimyati, menambahkan bahwa Prof Akhmad Sodiq merupakan alumni Fapet yang memiliki segudang pengalaman birokrasi.

Sebelum menjabat menjadi Rektor Unsoed periode 2022-2026, ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fapet Unsoed selama dua periode, kemudian Wakil Rektor Unsoed Bidang Akademik, serta Rektor Pertama Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.

“Jadi soal pengalaman mengurus birokrasi, Prof Sodiq sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan jam terbangnya,” ujar Farid.

Ia melanjutkan, meski memiliki banyak kesibukan, Prof Akhmad Sodiq tercatat sebagai alumni yang rajin hadir dalam berbagai kegiatan kealumnian, baik di Purwokerto, Jakarta, maupun wilayah lain.

“Salah satu kelebihan beliau adalah rajin menyambung silaturahmi. Meski sibuk, beliau selalu hadir saat kegiatan alumni. Kami bangga beliau kembali terpilih menjadi Rektor Unsoed. Semoga mampu membawa Unsoed menjadi lebih maju dan mendunia ke depannya,” pungkasnya. (INF)

MEMBENTENGI UNGGAS DARI KOLIBASILOSIS MELALUI JALUR PAKAN

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci  bagi peternak modern. (Foto: Istimewa)

Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.

Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.

Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.

Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.

Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.

Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.

Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.

Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

AVIAGEN AKAN MENGINVESTASIKAN US$40 JUTA DI PUSAT GENETIKA UNGGAS DI UZBEKISTAN

Aviagen berencana untuk menginvestasikan US$40 juta di klaster pembibitan unggas baru di Uzbekistan. Perusahaan genetika unggas AS ini bertujuan untuk memperkuat pasokan unggas domestik negara tersebut dan mengurangi ketergantungan pada stok bibit impor.

Proyek ini, yang akan diimplementasikan oleh divisi pembibitan global Aviagen, akan membangun kompleks genetika dan produksi unggas modern yang dirancang untuk mendukung pengembangan sektor unggas Uzbekistan yang berkembang pesat.

Klaster tersebut diharapkan mencakup peternakan pembibitan, fasilitas penetasan, dan infrastruktur pendukung yang dibangun sesuai dengan standar biosekuriti dan produksi internasional.

Setelah beroperasi, fasilitas ini diproyeksikan mencapai kapasitas tahunan sekitar 4,5 juta ekor unggas, memasok stok bibit berkualitas tinggi kepada produsen unggas lokal. Para pejabat industri mengatakan inisiatif ini akan membantu meningkatkan produktivitas, memperkuat rantai pasokan, dan mendukung upaya negara untuk meningkatkan produksi daging unggas domestik.

LEDAKAN INDUSTRI UNGGAS DI TIMUR TENGAH MEMBUKA PELUANG BAGI EKSPORTIR UNI EROPA

Timur Tengah telah muncul sebagai salah satu pasar pertumbuhan paling dinamis untuk unggas, didukung oleh pertumbuhan populasi yang stabil, sektor jasa makanan yang berkembang, dan upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan. Meskipun produksi domestik di beberapa negara di Timur Tengah telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini tetap sangat bergantung pada impor. Meningkatnya pariwisata, mega-event, dan strategi diversifikasi jangka panjang mengubah kawasan ini menjadi medan pertempuran strategis bagi eksportir global, termasuk dari Eropa.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Teluk yang lebih kaya, termasuk Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain, telah menjadi tujuan yang semakin menarik bagi eksportir unggas Eropa. Pertumbuhan populasi yang berkelanjutan, peningkatan pendapatan, dan ruang lingkup yang terbatas untuk secara signifikan memperluas kapasitas produksi domestik diperkirakan akan memperkuat tren ini.

Populasi di Timur Tengah diperkirakan akan bertambah 20 juta jiwa hingga tahun 2029, di mana 50% di antaranya berusia di bawah 25 tahun, komentar Stig Munck Larsen, kepala konsultan di Dewan Pertanian dan Pangan Denmark dan ketua Kelompok Kerja Perdagangan AVEC.

“Lanskap demografis baru ini akan meningkatkan konsumsi daging unggas baik sekarang maupun di masa depan,” kata Larsen. “Meskipun terjadi pertumbuhan produksi lokal, kebutuhan akan impor yang lebih tinggi di kawasan ini jelas terlihat. Saat ini, permintaan impor sekitar 2,5 juta ton dengan tren yang moderat dan meningkat dalam beberapa tahun mendatang, meskipun permintaan ini akan bervariasi antar negara.”

Prakiraan hingga tahun 2030-an menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan di pasar unggas Timur Tengah, didorong oleh pertumbuhan populasi, peningkatan konsumsi per kapita, dan urbanisasi. Menurut lembaga think tank IndexBox, pada tahun 2035, volume pasar dapat mendekati 10 juta ton dan nilainya lebih dari USD$20 miliar, meningkat dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan moderat sekitar 1% dalam volume dan 2,2% dalam nilai selama periode 2024-35.

Selama bertahun-tahun, Brasil telah mendominasi arus impor di kawasan ini, memanfaatkan skala, harga yang kompetitif, dan rantai pasokan bersertifikat halal. Tetapi lanskap persaingan sedang bergeser. Pemasok dari Uni Eropa, bersama dengan Ukraina dan Rusia, dan baru-baru ini bahkan Turki, semakin menargetkan pembeli Timur Tengah, berupaya untuk mendiversifikasi tujuan ekspor di tengah permintaan yang bergejolak di dalam negeri dan hambatan geopolitik.

Rusia mengalami peningkatan pesat dalam ekspor ke Timur Tengah. Pada tahun 2024, penjualan ke negara-negara Teluk melonjak sebesar 57% hingga melebihi 100.000 ton, dengan sekitar 75% dari volume tersebut masuk ke Arab Saudi.

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan unggas terkemuka Rusia telah memprioritaskan sertifikasi halal untuk lebih meningkatkan penjualan ke negara-negara Muslim.

LARANGAN IMPOR UNGGAS ARAB SAUDI MEMICU KEKHAWATIRAN DI TIMUR TENGAH

Eksportir unggas di beberapa negara Timur Tengah memperingatkan bahwa larangan impor unggas ke Arab Saudi dapat berdampak negatif pada bisnis mereka.

Otoritas Makanan dan Obat Saudi telah memberlakukan larangan total impor unggas mentah dan telur konsumsi dari 40 negara untuk mencegah penyebaran flu burung patogenik tinggi, efektif mulai 1 Maret. Negara-negara yang terkena dampak termasuk India, Cina, Jerman, dan Indonesia, sementara pembatasan sebagian berlaku untuk wilayah tertentu di 16 negara lain, termasuk AS, Prancis, dan Kanada.

Arab Saudi mengimpor unggas terutama dari Brasil, yang menyumbang sekitar 70% pengiriman pada tahun 2025. UEA, Rusia, Ukraina, dan Mesir juga termasuk di antara pemasok terbesar.

Secara paralel, Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Saudi mengeluarkan laporan yang mengungkapkan bahwa produksi unggas negara itu melebihi 1,31 juta ton per tahun. Pada tahun 2023, angka tersebut mencapai 1,1 juta ton, menurut data resmi pemerintah.

Arab Saudi menghadapi kritik di beberapa negara tetangga atas pemberlakuan pembatasan yang luas. Abdel Aziz El-Sayed, anggota Kamar Dagang Kairo, mempertanyakan alasan di balik dimasukkannya Mesir dalam daftar negara yang dikenai pembatasan. Ia mengatakan bahwa Mesir mengekspor unggas ke Arab Saudi dari peternakan komersial besar yang terlindungi dengan baik dari flu burung. Fasilitas-fasilitas ini, tambahnya, sepenuhnya siap untuk inspeksi apa pun oleh pejabat Saudi.

Larangan impor unggas dari Arab Saudi akan berdampak terbatas pada industri unggas India, kata Suresh Chitturi, direktur pelaksana Srinivasa Farms, kepada pers setempat. India hanya mengekspor unggas dalam jumlah kecil ke pasar Arab Saudi, tambahnya.

Namun, cakupan pembatasan yang luas, katanya, yang mencakup banyak negara, termasuk negara-negara dengan industri unggas komersial yang kuat, menunjukkan bahwa ini mungkin lebih merupakan langkah untuk melindungi industri dan membentuk pasar daripada tindakan kesehatan hewan yang ditargetkan secara sempit.

HENDRIX GENETICS MELUNCURKAN INTUITIVE ENTRY POINT KE DIGITAL FLOCK MANAGEMENT

Hendrix Genetics telah meluncurkan Eggsense Lite, alat seluler yang disederhanakan yang dirancang untuk menyederhanakan dan memodernisasi pencatatan data flock harian bagi peternak unggas.

Dikembangkan dalam kemitraan dengan Eggbase, aplikasi baru ini menawarkan kepada peternak intuitive entry point ke digital flock management di seluruh peternakan ayam petelur komersial, ayam broiler, induk, dan pembibitan.

Eggsense Lite telah dibangun dengan mempertimbangkan kepraktisan peternakan. Desainnya yang ringan berfokus pada hal-hal penting: menjaga entri data tetap cepat, sederhana, dan mudah diakses saat bepergian. Tersedia dalam berbagai bahasa yang terus berkembang, aplikasi ini mendukung produsen di mana pun mereka berada.

Pada intinya, Eggsense Lite memungkinkan peternak untuk mencatat 5 indikator fundamental: jumlah telur harian, berat telur, berat badan, angka kematian, konsumsi pakan.

Semua bidang dapat disesuaikan untuk kebutuhan peternakan individu, dan entri secara otomatis tersimpan secara lokal saat bekerja offline, memastikan bahwa tidak ada data yang hilang bahkan di area dengan konektivitas yang tidak andal. Aplikasi ini juga mengubah data mentah kawanan unggas menjadi wawasan visual yang mudah diakses. Pengguna dapat menelusuri grafik yang jelas dan ramah seluler, memutar perangkat mereka untuk tampilan horizontal, memperbesar untuk menganalisis tren, dan beralih antar kandang unggas dengan mudah.

Eggsense Lite dihargai £2 per kandang per bulan. Tanpa perpanjangan otomatis dan dengan pengingat tahunan yang transparan, model berlangganan ini dirancang untuk sesuai dengan operasi semua ukuran, mulai dari peternakan keluarga kecil hingga perusahaan skala besar.

PERANG MENGGUNCANG RANTAI PASOKAN UNGGAS DI TIMUR TENGAH

Perang telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh rantai pasokan unggas di Timur Tengah, mengganggu jalur perdagangan dan memperketat akses ke input penting di seluruh wilayah yang telah menjadi vital bagi pertumbuhan industri global.

Produk unggas adalah sumber protein utama bagi konsumen di Timur Tengah. Perang tersebut mengganggu jalur pasokan untuk wilayah tersebut, yang sangat bergantung pada impor, demikian pernyataan RaboResearch. Secara khusus, Brasil sebagai eksportir utama diperkirakan akan paling terpengaruh. Eksportir Eropa relatif kurang terpengaruh.

Timur Tengah adalah wilayah penting bagi sektor unggas. Wilayah ini menyumbang 8% dari pasar global dan 15% dari perdagangan global terjadi di sini. Lebih lanjut, konsumsi dan produksi tumbuh lebih cepat daripada di bagian lain dunia. Menurut survei oleh RaboResearch, 10% dari peningkatan produksi global terjadi di Timur Tengah.

Konflik AS-Israel dengan Iran kini telah secara substansial mengganggu beberapa jalur pasokan utama. Sejumlah besar negara di kawasan ini bergantung pada transportasi melalui Teluk Persia dan Selat Hormuz yang sekarang diblokir. Hal ini menimbulkan masalah tidak hanya bagi eksportir utama produk unggas, seperti Brasil, tetapi juga bagi pasokan pakan dan kebutuhan lain untuk produksi lokal.

Timur Tengah merupakan pasar yang menarik bagi industri unggas karena pertumbuhan penduduk yang pesat, kebijakan pemerintah tentang ketahanan pangan, dan meningkatnya konsumsi ayam per kapita. Produk unggas merupakan sumber protein utama bagi penduduk, menyumbang 55% dari asupan protein, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 3%.

Selama 20 tahun terakhir, baik produksi maupun konsumsi telah tumbuh pesat. Produksi regional telah berlipat ganda sejak tahun 2004 menjadi lebih dari 7 juta ton. Konsumsi juga telah berlipat ganda menjadi sekitar 9 juta ton. Akibatnya, terjadi impor yang konsisten sekitar 2 juta ton, sedikit lebih dari 20% dari total konsumsi, meskipun ada kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan swasembada.

Arab Saudi sekarang memenuhi 70% kebutuhannya sendiri, naik dari 40% pada 2016. Dengan target untuk lebih meningkatkan swasembada menjadi 85%, memposisikan negara tersebut sebagai pemimpin di kawasan ini.

Negara-negara yang paling rentan terhadap dampak konflik adalah Iran, Kuwait, Oman, Irak, Bahrain, dan Uni Emirat Arab.

Negara-negara tersebut bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan mereka. Arab Saudi kurang bergantung pada transportasi melalui jalur sempit di Teluk Persia ini dan juga dapat mengimpor melalui Laut Merah. Masalahnya terutama menyangkut pakan, tetapi ada masalah tambahan yang dipertaruhkan. Peternakan lokal juga membutuhkan ternak hidup dan peralatan teknis untuk peternakan unggas.

Brasil adalah pengekspor utama ke kawasan Timur Tengah. Negara ini mengekspor 100.000 ton produk unggas per bulan ke Timur Tengah, yang menyumbang lebih dari sepertiga dari total ekspor produk unggas Brasil.

Eksportir lainnya termasuk Turki, Rusia, Ukraina, AS, dan Uni Eropa. Rusia dan Ukraina, khususnya, sangat bergantung pada pasar ini. Bagi eksportir Eropa terutama Prancis, dampaknya relatif terbatas. Nan-Dirk Mulder, analis RaboResearch, memperkirakan permintaan Eropa yang kuat akan mengimbangi hilangnya pangsa pasar.

VAKSINASI FLU BURUNG TIDAK SEPENUHNYA MELINDUNGI BEBEK PRANCIS

Lebih dari separuh bebek yang divaksinasi terhadap flu burung di Prancis masih belum sepenuhnya terlindungi dari virus tersebut.

Sebuah model dari badan kesehatan manusia dan hewan Prancis, Anses, menunjukkan bahwa hanya 40-45% bebek yang mencapai perlindungan penuh dari skema vaksinasi lengkap. Sisanya terlindungi sebagian (karena vaksinasi berkelanjutan) atau memiliki kekebalan yang menurun.

Faktanya, perkiraan eksperimental Anses menunjukkan bahwa tingkat perlindungan pada bebek berusia lebih dari 10 minggu menurun seiring waktu. Untuk mengatasi hal ini, bebek foie gras, yang biasanya dipelihara rata-rata selama 16 minggu, menerima dosis vaksin ketiga.

Pada Oktober 2023, Prancis menjadi negara Eropa pertama yang mewajibkan vaksinasi untuk semua bebek di peternakan dengan lebih dari 250 populasi, setelah wabah flu burung yang menghancurkan pada musim dingin sebelumnya.

Pada 31 Maret 2024, 51 juta dosis telah diberikan, mencakup lebih dari 95% bebek di peternakan yang terkena dampak. Sebagian besar menerima 2 dosis: dosis pertama pada usia 10 hari dan dosis kedua sekitar 20 hari kemudian. Protokol ini telah diikuti dalam kampanye vaksinasi selanjutnya.

Untuk menghitung efektivitas kampanye besar-besaran dan mahal tersebut, para ahli dari Anses mengembangkan model berdasarkan informasi praktis yang dikumpulkan di lapangan oleh direktorat jenderal pertanian negara bagian.

Model ini juga memungkinkan pengujian skenario vaksinasi yang belum digunakan. Salah satu opsinya adalah melewatkan vaksinasi selama periode risiko flu burung yang lebih rendah untuk mengurangi biaya tinggi bagi negara dan sektor unggas. Namun, Anses menganggap hal ini tidak layak. Tanpa vaksinasi musim panas, kekebalan berkembang terlalu lambat, sehingga bebek tidak terlindungi selama periode musim gugur dan musim dingin yang berisiko tinggi.

OPTIMALISASI PERFORMA UNGGAS DENGAN ALTERNATIF ALAMI

Ilustrasi klasifikasi probiotik. (Sumber: Vektor Stock.com)

Pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik pada pakan ayam memberikan manfaat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesehatan pencernaan, performa pertumbuhan, dan sistem kekebalan tubuh. Senyawa-senyawa ini juga berfungsi sebagai alternatif alami pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP).

1. Probiotik
Mikroorganisme hidup (bakteri baik, seperti Lactobacillus dan Bacillus) yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi. Probiotik bermanfaat untuk kesehatan ayam dengan memperkuat pencernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan menekan bakteri jahat seperti Salmonella dan E. coli, yang menghasilkan ayam lebih sehat, pertumbuhan lebih optimal, dan daging atau telur berkualitas lebih baik dengan kandungan lemak lebih rendah serta minim residu antibiotik.

Pemberian senyawa tersebut juga membantu memperkuat sistem imun, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas lingkungan kandang dengan mengurangi bau amonia dari feses.

Manfaat utama probiotik untuk ayam di antaranya:
• Kesehatan pencernaan: Bakteri baik (seperti Lactobacillus) menyeimbangkan mikroflora usus, membantu pencernaan lebih lancar, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

• Peningkatan produktivitas: Penyerapan nutrisi lebih maksimal mendorong pertumbuhan berat badan lebih cepat dan meningkatkan konversi pakan (rasio pakan vs pertambahan bobot), meningkatkan efisiensi produksi.

• Sistem imun lebih kuat: Probiotik membantu melawan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam serta mengurangi risiko penyakit.

• Kualitas daging dan telur: Daging ayam yang pada pakannya mengandung probiotik cenderung lebih rendah lemak dan lebih tinggi protein, sementara hasil produksi telur memiliki kerabang yang lebih kuat dan kualitas kandungan telur lebih baik.

• Pengurangan limbah dan bau: Feses lebih mudah terurai, mengurangi amonia dan bau, menjadikan lingkungan kandang lebih higienis dan tidak menarik lalat.

• Pengurangan residu antibiotik: Menjadi alternatif alami antibiotik, sehingga produk ayam lebih aman dikonsumsi.

Adapun cara probiotik bekerja sebagai berikut:
• Ekslusif kompetitif/prinsip Gause adalah konsep ekologi yang menyatakan bahwa dua spesies dengan kebutuhan sumber daya (ceruk/niche) yang sama persis tidak dapat hidup berdampingan secara stabil dalam satu habitat. Spesies yang lebih kompetitif akan menyingkirkan atau menyebabkan kepunahan lokal spesies lainnya. Bakteri menguntungkan bersaing dengan bakteri patogen untuk tempat melekat di dinding usus dan nutrisi menghambat pertumbuhan patogen.

• Membantu produksi enzim pencernaan seperti protease, lipase, dan amilase untuk memecah nutrisi.

• Modulasi imun membantu meningkatkan aktivitas sel imun seperti makrofag saat ayam mengalami stres.

Pemberian probiotik bisa dimulai sejak ayam menetas dan sangat bermanfaat saat ayam mengalami stres (vaksinasi, cuaca ekstrem) untuk membantu pemulihan kesehatan usus. Beberapa probiotik yang telah dikenal di antaranya Lactobacillus, Propionibacterium, Bulgaricus, Lactococcus, Streptococcus thermophilus, dan Bifido bacterium.

2. Prebiotik
Merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna ayam, berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Paktisi perunggasan

FAO PERKENALKAN GLEAM UNTUK KEBIJAKAN BERBASIS DATA

Seremoni launching GLEAM yang dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

Salah satu agenda penting dalam konferensi International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta adalah peluncuran Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. 

Model ini merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan, sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.

GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr drh Agung Suganda MSi yang hadir mewakili Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi peternakan berkelanjutan menjadi prioritas nasional.

“Subsektor peternakan saat ini menghadapi tantangan ganda yaitu memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau sekaligus menekan dampak lingkungan tanpa mengorbankan produktivitas, kesehatan hewan, dan kesejahteraan peternak,” ujarnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, penguatan produksi dalam negeri berjalan seiring dengan peningkatan keberlanjutan dan efisiensi. Transformasi peternakan berkelanjutan adalah prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, dan memenuhi komitmen iklim. “Pendekatan hulu hingga hilir harus dilakukan secara terintegrasi,” kata Agung.

Livestock Policy Officer FAO, Dominik Wisser, menjelaskan bahwa GLEAM dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

“GLEAM membantu menerjemahkan data yang kompleks menjadi indikator yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung transformasi berkelanjutan sistem peternakan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tanpa intervensi yang tepat, peningkatan produksi peternakan ke depan akan berdampak pada peningkatan emisi.

“Pada tahun 2050, produksi peternakan diproyeksikan meningkat sekitar 20 persen. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi,” tambahnya.

Bagi pelaku usaha, pemanfaatan model seperti GLEAM memberikan arah yang lebih jelas dalam investasi dan pengembangan usaha. Baik itu dari segi efisiensi produksi, pengelolaan pakan, serta penguatan rantai pasok yang berkelanjutan.

Sebelum konferensi berlangsung, FAO juga menggelar pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan model GLEAM dan pedoman teknis terbaru yang dikembangkan melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Inisiatif ini mendukung negara-negara dalam menilai dan mengoptimalkan nilai jasa ekosistem dalam sistem peternakan.

Konferensi kerjasama BRIN dan FAO ini juga menghadirkan berbagai sesi diskusi mulai dari pleno, panel pakar, hingga forum ilmiah paralel yang membahas temuan terkini di bidang peternakan. Selain itu, kompetisi riset pemuda juga digelar untuk mendorong lahirnya inovasi dari generasi muda dalam mendukung transformasi sektor ini.

Diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara, kegiatan ini menjadi bukti bahwa transformasi industri peternakan telah menjadi agenda global. Kolaborasi lintas negara, dukungan sains, serta keterlibatan generasi muda diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer