-->

Featured Posts

NLP EXPO & INDOGRITECH EXPO 2026, HADIRKAN INOVASI PERTANIAN DAN PETERNAKAN PERKUAT KETAHANAN PANGAN

Prosesi pemotongan pita sebagai simbol resmi dibukanya NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026. (Foto-foto: Dok. Debindo)

Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP Expo) dan Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH Expo) 2026, resmi dibuka pada Rabu (4/11/2026), berlangsung di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.

Mengusung tema “Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia”, pameran yang digelar 4-7 November 2026 ini bertujuan memperkuat ekosistem pertanian dan peternakan nasional melalui inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan peluang bisnis yang berkelanjutan.

Diselenggarakan oleh Debindo Group, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 menghadirkan berbagai merek nasional dan multinasional, dengan area pameran seluas 5.000 meter persegi di Hall 5 ICE BSD City. Selama empat hari penyelenggaraan, acara ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung dari berbagai segmen industri, termasuk pelaku usaha, pengambil keputusan, petani, peternak, asosiasi, akademisi, serta pemangku kepentingan pemerintah.

Dalam Opening Ceremony yang dipimpin Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, turut hadir sejumlah pejabat pemerintah, pimpinan asosiasi, akademisi, serta perwakilan industri dari sektor pertanian dan peternakan. Penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum strategis untuk mendorong transformasi sektor pertanian dan peternakan Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, dinamika pasar, kebutuhan peningkatan produktivitas, dan pentingnya menjaga keberlanjutan pasokan pangan nasional.

"Selama empat hari pameran ini diharapkan akan menjadi platform bisnis serta kemitraan strategis, dan produktif dalam memberikan kemajuan nyata bagi industri," kata Rafidi.

Momen tersebut juga dimanfaatkan dengan penyelenggaraan Nusantara AgriFuture Summit, sebuah forum diskusi yang mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan sektor pertanian dan peternakan bertajuk “Circular Agriculture: Unlocking the Potential of Land and Livestock”. Diskusi menghadirkan tiga narasumber di antaranya Dr Drh Makmun MSc (Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH), Phil Rickard (Executive Director Asosiasi Biochar Indonesia Internasional/ABII), serta Prof Bayu Dwi Apri Nugroho STP MAgr PhD (Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Litbang dan Kajian Strategis DPN HKTI).

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian oleh Ketua DPD HKTI Banten, Andra Soni SM MAP serta Opening Remarks oleh Ketua Umum DPN HKTI, Dr Sudaryono BEng MM MBA.

“Penguatan sektor pertanian dan peternakan harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan para pelakunya. Kita ingin petani dan peternak mendapatkan manfaat nyata dari setiap kebijakan yang dijalankan. Melalui kegiatan seperti NLP Expo dan INDOGRITECH Expo ini, saya berharap kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dapat semakin mendorong kemajuan sektor pertanian dan peternakan Indonesia,” ujar Sudaryono.

Sambutan ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian peresmian kedua pameran, yang dilanjutkan dengan prosesi pemotongan pita sebagai simbol resmi dibukanya NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026.

Penyelenggaraan Nusantara AgriFuture Summit.

Memperkuat Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Nasional
Ketahanan pangan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, peneliti, petani, dan pelaku industri. Melalui NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026, para pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun kemitraan strategis, mengeksplorasi solusi teknologi terkini, serta memperluas akses terhadap peluang investasi dan pasar.

Kedua pameran menyoroti berbagai aspek penting dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan, mulai dari modernisasi praktik budi daya, penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming), penguatan biosekuriti, hingga pengembangan praktik produksi yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada peluang ekspor.

Melalui pendekatan tersebut, acara ini diharapkan menjadi platform yang menghubungkan kebutuhan industri dengan inovasi, sekaligus mendukung upaya membangun sistem pangan Indonesia yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

NusaFarm: Menghadirkan Pengalaman Pertanian Langsung di Area Pameran
Sebagai bagian dari pengalaman pengunjung, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 juga menghadirkan NusaFarm, sebuah area pertanian berbasis pengalaman (experiential farming) yang menampilkan konsep pertanian cerdas dan aktivitas pertanian secara langsung.

NusaFarm dirancang untuk menghubungkan ekosistem pertanian dengan audiens bisnis maupun konsumen akhir melalui pengalaman langsung, demonstrasi teknologi, aktivitas interaktif, serta kesempatan berinteraksi dengan para profesional industri.

Kehadiran NusaFarm diharapkan dapat memperluas pemahaman pengunjung mengenai penerapan teknologi pertanian modern, sekaligus mempertemukan penyedia solusi dengan pengguna teknologi dari berbagai segmen pasar.

Rangkaian Program Bisnis dan Kolaborasi Industri 
Selain area pameran, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 turut menghadirkan berbagai program pendukung yang dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, membuka peluang kemitraan, dan mendorong pengembangan bisnis.

Program-program yang hadir melengkapi fungsi pameran sebagai platform bisnis yang tidak hanya menampilkan produk dan teknologi, tetapi juga mendorong dialog, pertukaran pengetahuan, serta pembentukan hubungan kerja sama yang berkelanjutan.

Salah satunya adalah IPB Stakeholder Forum 2026 bertajuk “Meneguhkan Kemandirian, Menginspirasi Masa Depan”. Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan untuk berbagi perspektif dan menjajaki peluang kolaborasi dalam mendukung kemajuan sektor pertanian dan peternakan nasional.

Selain itu, terdapat HILIRIZE! “Co-op the Future, Create the Value!” pada 5 November 2026, yang mengangkat peluang hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah bagi produk peternakan Indonesia. Sementara itu, Indonesia Agri-Future Forum 2026, hasil kolaborasi HKTI dan Pemuda Tani Indonesia pada 6 November 2026, akan membahas digitalisasi pertanian serta penguatan resiliensi pekerja migran terampil dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Berbagai program lainnya turut dihadirkan melalui kolaborasi dengan asosiasi, institusi, serta pelaku industri di sektor pertanian dan peternakan. Melalui rangkaian program tersebut, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, dan komunitas untuk memperluas wawasan serta membangun peluang kolaborasi lintas sektor.

Foto bersama usai pembagian plakat.

Membuka Peluang bagi Petani dan Pelaku Usaha Daerah
Salah satu fokus NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 adalah memperluas keterlibatan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), perusahaan pertanian dan peternakan, serta pemangku kepentingan daerah.

Melalui pendekatan kolaborasi bisnis antar pelaku usaha (business-to-business/B2B) dan pemerintah dengan pelaku usaha (business-to-government/B2G), platform ini diharapkan dapat mempertemukan petani dan peternak dengan penyedia teknologi modern serta pemangku kepentingan pemerintah.

Akses terhadap teknologi, jejaring industri, dan peluang kemitraan menjadi bagian penting dalam mendorong modernisasi pertanian di berbagai daerah. Kolaborasi yang terbangun juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal serta memperkuat kontribusi mereka terhadap ketahanan pangan nasional.

Melanjutkan Momentum Pertumbuhan Industri
Pada penyelenggaraan tahun lalu, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo mencatat kehadiran 7.814 pengunjung selama empat hari, dengan partisipasi lebih dari 70 merek nasional dan multinasional di area pameran seluas 5.000 meter persegi. Presentasi penyelenggara juga mencatat bahwa 82% pengunjung merupakan pengambil keputusan.

Capaian tersebut menjadi landasan untuk memperluas jangkauan penyelenggaraan pada 2026, dengan target lebih dari 100 merek peserta dan 20.000 pengunjung potensial.

Dengan mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, komunitas petani, akademisi, dan pemerintah dalam satu platform, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 diharapkan dapat memperkuat konektivitas industri serta membuka peluang pertumbuhan baru bagi sektor pertanian dan peternakan.

Sesuai tema, penyelenggaraan ini juga menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pangan nasional yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. (RBS)
 

CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM: SOLUSI NUTRISI STRATEGIS DI TENGAH LONJAKAN HARGA PAKAN

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost”. (Foto-foto: Dok. Infovet)

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost” sukses diselenggarakan bekerja sama dengan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026), di JS Luwansa Hotel and Convention, Jakarta.

Acara ini menjadi momentum penting bagi industri peternakan dalam merespons tantangan biaya bahan baku yang kian meningkat. Technical Marketing Executive CJ BIO, Dr Jae Cheol Kim, mengupas tuntas strategi pengelolaan nutrisi dalam menghadapi tingginya biaya bahan pakan. Ia menekankan pentingnya mempertahankan standar nutrisi terbaik untuk menjaga produktivitas ternak di tengah tekanan ekonomi saat ini.

Beberapa strategi efisiensi pakan yang dapat dilakukan di antaranya menurunkan nilai protein kasar dengan tetap memenuhi kebutuhan asam amino serta penggunaan bahan baku alternatif. Penurunan protein kasar menjadi salah satu strategi yang bisa diterapkan disaat harga bungkil kedelai yang sangat tinggi seperti saat ini. Berfokus pada kecukupan kebutuhan asam amino esensial menjadi kunci dalam formulasi rendah protein.

Dr Kim juga menjelaskan salah satu pendekatan terbaru yang dapat dilakukan yaitu menurunkan nilai digestible lysine dalam pakan. Penurunan nilai lysine akan membuat penggunaan asam amino lainnya berkurang, tetapi untuk mempertahankan performa rasio arginine/lysine harus ditingkatkan. Berdasarkan penelitian, pendekatan ini mampu mencegah penurunan performa broiler disaat feedcost dan kualitas pakan berusaha ditekan.

Melengkapi penjelasan mengenai arginine, Dr Jessica Han dalam presentasinya menjelaskan manfaat lainnya dari arginine selain mengoptimalkan produktivitas. Peningkatan rasio arginine dalam pakan terbukti mampu menjaga produktivitas ternak dalam kondisi heat stress. Selain itu, arginine juga mampu memberikan energi dalam bentuk creatine secara optimal dan sesuai kebutuhan.

Dr Han menunjukkan perbandingan penambahan arginine dan GAA pada pakan yang kekurangan energi metabolis (ME). Hasilnya penambahan arginine terbukti mampu menjaga produktivitas tetap tinggi walaupun energi pakan sudah dikurangi, tetapi tidak dengan GAA.

Pembicara dari kiri: Jae Cheol Kim, Jessica Han, dan Roxanne Barrion.

Sementara pada pembahasan berikutnya dari CJ BIO APAC Technical Solution Center, Dr Roxanne Barrion, memaparkan strategi untuk mempertahankan konsumsi pakan unggas dalam kondisi stres akibat suhu dan kelembapan yang tinggi melalui penambahan inosine monophosphate (IMP) dan tryptophan.

Penurunan konsumsi pakan pada unggas yang mengalami stres akan mengakibatkan penurunan performa hingga mortalitas. Pada kesempatan ini pula, Dr Roxanne memperkenalkan produk tryptophan terbaru dari CJ BIO, yaitu TRP Pro yang berbentuk granule. Peningkatan kualitas fisik dari powder menjadi granule membuat proses pencampuran pakan lebih optimal serta mengurangi potensi loss yang sering terjadi ketika menggunakan bahan baku dalam bentuk powder. Selain itu, TRP Pro mengandung tambahan nutrisi yang berasal dari single cell protein di dalamnya.

Pemberian cendera mata bagi peserta yang mengajukan pertanyaan.

Usai pemaparan semua materi, CJ BIO secara resmi juga meluncuran platform layanan terbaru yaitu “NewTriSolution” yang dirancang untuk membantu pelanggan CJ dalam berbagai kebutuhan seperti program formulasi pakan berbasis web, rasio optimal asam amino, kalkulator asam amino dan ROI. CJ BIO juga menyediakan layanan pengujian laboratorium in-vitro untuk menguji kualitas bahan baku. Dr Kim menyatakan CJ BIO berkomitmen untuk menjadi technical partner bagi seluruh customer CJ BIO. (RBS)

MENGELOLA BROILER SECARA HOLISTIK: KUNCI SUKSES PETERNAKAN SEHAT DAN MENGUNTUNGKAN

Baskoro saat memaparkan materinya. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Dalam dunia peternakan ayam pedaging (broiler), keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada bagaimana peternak mengelola kesejahteraan unggas secara menyeluruh.
 
Hal tersebut dibahas oleh National Poultry Technical Consultant, Drh H. Baskoro Tri Caroko, yang menjadi narasumber tunggal dalam Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health” yang dilaksanakan Jannisika Animal Health bersama Golden Rooster, dan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026). 

Dalam paparannya Baskoro menuturkan bahwa kesehatan dan produktivitas broiler dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu perilaku broiler, perubahan lingkungan, dan perlakuan manusia. “Jika ketiga faktor ini diabaikan dan tidak dikelola dengan baik, ayam akan rentan terserang penyakit dan bisnis peternakan pun terancam merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, secara alami broiler terpaksa harus makan, minum, tidur, hingga buang air di tempat yang sama. Kondisi ini membuat mereka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran serta paparan bau amonia yang semakin pekat setiap harinya, sehingga berpotensi menjadi sumber utama munculnya berbagai penyakit di kandang.

Situasi ini kian pelik dengan adanya tantangan perubahan iklim yang memicu kelangkaan bahan baku pakan serta peningkatan suhu ekstrem. Kemudian penurunan kualitas bahan baku seperti tepung ikan, bungkil kedelai, jagung pipilan, hingga dedak lokal berdampak langsung pada performa ternak, mulai dari efisiensi FCR yang memburuk, pertumbuhan terhambat, hingga tingginya angka kematian yang berujung pada kerugian finansial.

Di balik faktor lingkungan dan biologis tersebut, keberhasilan kesejahteraan unggas pada dasarnya sangat bertumpu pada kinerja dan kepedulian tim produksi di lapangan. Oleh karena itu, Baskoro memaparkan deskripsi pekerjaan, standarisasi tugas, serta tingkat kesejahteraan operator kandang dan pengawas lapangan harus menjadi perhatian utama. Dijelaskannya bahwa operator kandang layak mendapatkan penghasilan yang layak melalui evaluasi berkala dengan pemberian reward dan peningkatan kapasitas tim melalui rapat konsolidasi rutin. Dengan begitu, kualitas kerja di kandang akan senantiasa terjaga.

“Selain itu, pengawas lapangan juga wajib memahami tata kelola secara holistik agar tidak terjadi salah persepsi dalam mengumpulkan data akurat di lapangan,” jelasnya.

Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health”. 

Agar bisnis tetap berkelanjutan, peternak harus menertibkan kapasitas produksi berdasarkan perhitungan teknis yang matang. Ia pun menjelaskan kapasitas ideal yang direkomendasikan adalah 12 kg/meter dengan mempertimbangkan jenis kandang. Sebagai contoh, kandang open house lantai postal mampu menampung 7-8 periode/tahun dengan hasil panen 0,8-1 kg/ekor, kemudian open house lantai panggung maksimal 6 periode/tahun dengan panen 1,4-1,6 kg/ekor, serta closed house lantai postal dapat mencapai 5 periode/tahun dengan hasil panen 1,8-2 kg/ekor.

Adapun langkah krusial berikutnya, diungkapkan Baskoro adalah persiapan kandang yang bersih, steril, dan lengkap sebelum ayam masuk. Proses ini meliputi pencucian kandang dengan deterjen dan disinfektan, pembersihan pipa air (flushing) menggunakan asam sitrat untuk menghilangkan kerak dan lumut, serta menerapkan masa istirahat kandang selama 14 hari untuk memastikan mikroorganisme patogen mati.

Ia mengemukakan, dengan menerapkan manajemen pengendalian yang baik, seperti pemberian antibiotik secara bijak di awal umur serta pemanfaatan probiotik untuk efisiensi pencernaan, penerapan preventive health secara holistik ini akan membuat bisnis peternakan menjadi lebih safety dan profitable.

“Kalau semua ini bisa kita wujudkan, berarti level beternak sudah meningkat. Semoga ini menjadi jalan kebaikan untuk kita memasuki peradaban baru. Melalui preventive health secara holistik efektif mencegah terjadinya AMR, emerging dan re-emerging disease yang memenuhi standar One Health,” tukasnya. (RBS)

KEMENTAN DAN BULOG SALURKAN 33.000 TON JAGUNG UNTUK PETERNAK DI PULAU JAWA

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, menegaskan pemenuhan kebutuhan jagung pakan harus dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Menurutnya, ketersediaan bahan baku pakan berpengaruh terhadap biaya produksi peternak dan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

Pemerintah mempercepat pasokan jagung pakan ke Pulau Jawa dengan menyiapkan distribusi sekitar 33.000 ton dari Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ini dilakukan untuk merespons kebutuhan peternak mikro yang sebelumnya disampaikan melalui Komisi IV DPR RI.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan ketersediaan jagung berpengaruh terhadap biaya produksi dan keberlangsungan usaha peternak. Kementan juga berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi distribusi serta mencegah penimbunan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, meninjau pemuatan 10.000 ton jagung di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, pada 22 Oktober 2026. Saat peninjauan berlangsung, sebanyak 8.214 ton telah dimuat dan dijadwalkan berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Selain dari Sulawesi Selatan, BULOG menyiapkan sekitar 15.000 ton jagung dari Gorontalo dan 8.000 ton dari NTB. Pasokan tersebut akan disalurkan kepada peternak mikro di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melalui mobilisasi ini, pemerintah berharap ketersediaan jagung pakan di Pulau Jawa semakin terjaga sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan baku pakan dan mendukung keberlangsungan usaha peternakan.

(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)

PRODUKSI INKUBATOR UNGGAS RUSIA ANJLOK SEIRING TERHENTINYA INVESTASI DI INDUSTRI TELUR

Produksi inkubator unggas di Rusia merosot 98,4% pada tahun 2025 menjadi hanya 455 unit, turun drastis dari 28.413 unit pada tahun sebelumnya, akibat terhentinya aktivitas investasi di industri telur, menurut riset dari Alto Consulting Group (ACG).

Sebelumnya, angka produksi di segmen ini sempat menunjukkan tren kenaikan sejak tahun 2022, dengan jumlah 20.544 unit, hingga mencapai puncaknya pada tahun 2024.

ACG mengaitkan penurunan produksi inkubator unggas sebesar 98,4% di Rusia pada tahun 2025 dengan rampungnya berbagai proyek besar pengadaan peralatan peternakan, merosotnya jumlah pesanan baru, serta pergeseran permintaan terhadap jenis peralatan unggas yang lebih spesifik.

Faktor terakhir ini mungkin memberikan perspektif yang tidak terlalu suram, industri tersebut mungkin tidak sepenuhnya berhenti berinvestasi, melainkan mengalihkan belanja modal ke peralatan dan teknologi yang berbeda. Meski demikian, para analis belum merinci sejauh mana pergeseran ini benar-benar terjadi.

Analis ACG menyatakan bahwa pemulihan industri ini memerlukan gelombang investasi baru di sektor peternakan unggas, mulai dari peningkatan fasilitas yang sudah ada hingga pembangunan kapasitas baru. Mereka juga menyoroti perlunya peningkatan permintaan terhadap peralatan pertanian dalam negeri, otomatisasi yang lebih luas dalam proses inkubasi, serta dukungan pemerintah yang lebih besar bagi produsen teknologi pertanian (agri-tech) sebagai kunci kebangkitan industri tersebut.

MALAYSIA BUKA PELUANG IMPOR KAMBING DAN DOMBA DARI INDONESIA

Peluang ekspor kambing dan domba Indonesia ke Malaysia kembali terbuka seiring minat pelaku usaha negara tersebut untuk mendatangkan ternak hidup. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah-langkah untuk membuka kembali akses ekspor tersebut.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, mengatakan komunikasi dengan otoritas Malaysia telah dilakukan untuk membahas ketentuan ekspor. Salah satu opsi transportasi yang dikaji adalah penggunaan kapal ternak Camara Nusantara guna mendukung pengiriman yang efisien.

Ahlum Nazar dari PT Aliyah Rizq Agriculture menyebut perusahaannya, dengan dukungan para peternak mitra di Sumatera Utara, berpotensi memasok sekitar 2.000 ekor kambing dan domba. Realisasi pasokan tetap bergantung pada spesifikasi ternak dan kesiapan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menyambut peluang tersebut karena dapat memperluas pasar, khususnya bagi peternak terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menghadapi tekanan harga. Teguh Arif Hidayat dari DPP HPDKI berharap akses ekspor nantinya terbuka bagi seluruh pelaku usaha yang memenuhi ketentuan.

Di sisi lain, Nuryanto dari PT Agro Investama menekankan pentingnya efisiensi biaya logistik agar harga ternak Indonesia mampu bersaing di pasar Malaysia.

Kementan bersama pihak terkait terus menyiapkan persyaratan kesehatan hewan, ketersediaan pasokan, dan sarana transportasi. Jika berbagai aspek tersebut terpenuhi, ekspor diharapkan dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas dan meningkatkan daya tawar peternak.

(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)

SENSOR DAN SOLUSI PERTANIAN CERDAS MENDOMINASI PENGHARGAAN INOVASI EUROTIER

Foto: Eurotier.com

EuroTier telah memberikan pengakuan kepada 31 inovasi di bidang peternakan, yang terdiri dari 4 medali emas dan 27 medali perak. Banyak dari inovasi yang meraih penghargaan berfokus pada teknologi sensor dan kamera, serta solusi pakan yang dirancang untuk membantu mengurangi emisi.

Medali emas pertama diberikan kepada Performanat CatiBovin. Produk ini merupakan bahan tambahan pakan (feed additive) untuk sapi perah yang meningkatkan penyerapan nitrogen dan kalsium serta memperbaiki efisiensi pakan. Hasilnya, emisi amonia dan zat lainnya pun dapat berkurang.

Medali emas kedua diraih oleh Smartcalving dari Lock. Dikembangkan bersama SmaXtec, sistem ini menggabungkan sinyal dari hewan dengan data iklim yang bersumber dari SEB Farm Management System serta aktuator yang ada di area kelahiran (kandang bersalin) seperti tirai, kipas angin, dan gerbang. Saat mendeteksi seekor sapi yang akan melahirkan, sistem ini secara otomatis menyesuaikan kondisi iklim dan pengaturan lain di dalam kandang, sehingga mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja manusia. Inovasi ini juga memenangkan Penghargaan Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare Award), sebuah penghargaan tambahan yang diberikan khusus kepada inovasi yang telah meraih medali emas atau perak dalam kompetisi Penghargaan Inovasi EuroTier.

Kandang beranak (farrowing pen) cerdas dari Weda meraih medali emas ketiga. Sistem ini menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis citra kamera dari induk babi dan anak-anaknya secara terus-menerus. Berdasarkan analisis perilaku tersebut, sistem ini mengatur kondisi iklim, suhu sarang anak babi, serta jadwal pemberian pakan. Dengan cara ini, untuk pertama kalinya, hewan-hewan tersebut secara tidak langsung dapat mengendalikan lingkungan pemeliharaan mereka sendiri. Weda juga menerima Penghargaan Kesejahteraan Hewan untuk inovasi kandang beranak cerdas ini.

Inovasi peraih medali emas terakhir di EuroTier adalah Pigbarn Cleaner dari perusahaan Peter Prinzing. Sistem ini secara otomatis dan hati-hati memindahkan hewan dari bagian kandang tertentu ke balik sekat. Selanjutnya, sebuah robot membersihkan lantai padat menggunakan sikat yang berputar, sementara kotoran dikumpulkan ke dalam wadah untuk kemudian disingkirkan. Menurut laporan dewan juri, sistem ini menghasilkan tingkat kebersihan yang lebih baik serta emisi yang lebih rendah.

Di antara para peraih medali perak terdapat UKKÖ Robotics (Kanada) dengan RovaBarn, sebuah kandang unggas bergerak yang sangat otomatis, serta VetVise GmbH dengan BarnBuddy, sebuah sistem manajemen kesehatan dan kawanan ternak yang mencakup babi, unggas, dan sapi, berbasis kamera dengan dukungan kecerdasan buatan (AI).

Inovasi lain yang meraih penghargaan adalah Weanex NEO dari HealthTech BioActives, sebuah konsep sensorik yang telah dipatenkan dan dirancang untuk mendorong anak babi mengonsumsi pakan padat secara sukarela. Konsep ini meniru senyawa volatil alami yang ditemukan dalam plasenta, kolostrum, dan susu induk babi. Selain itu, Constantec Co., Ltd. menerima pengakuan atas Feed Check, yang memanfaatkan teknologi LiDAR presisi untuk mengoptimalkan pemantauan tingkat pengisian silo pakan. Sensor suhu dan kelembapan yang terintegrasi juga membantu dalam memantau kualitas pakan.

WEO MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA PARA PEMIMPIN INDUSTRI TELUR DALAM AJANG GLOBAL LEADERSHIP CONFERENCE

World Egg Organisation (WEO) telah mengumumkan para pemenang penghargaan industri tahun 2026, sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian luar biasa dalam bidang kepemimpinan, pemasaran, dan inovasi produk telur.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara WEO Global Leadership Conference di Singapura pada tanggal 10 September.

Penghargaan tahun ini menyoroti individu dan perusahaan yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi sektor telur global melalui inovasi, pengembangan bisnis, dan keterlibatan dalam industri.

Penghargaan bergengsi Denis Wellstead Award untuk kategori Tokoh Telur Internasional Tahun Ini diberikan kepada Franz Hofer, CEO Ovotherm, perusahaan spesialis kemasan telur yang berbasis di Austria. Hofer mendapatkan pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari 20 tahun bagi industri telur internasional serta keterlibatannya yang telah berlangsung lama dengan WEO.

Saat penyerahan penghargaan, perwakilan WEO memuji komitmen Hofer terhadap kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan dukungannya bagi komunitas telur global.

Sundaily Farm dari Tiongkok menerima Golden Egg Award untuk kategori Keunggulan Pemasaran (Marketing Excellence) tahun 2026, berkat kampanye yang memukau para juri melalui kreativitas, keterlibatan konsumen, serta dampak bisnis yang terukur. Karya pemenang tersebut ditampilkan dalam sesi Egg Marketing Showcase selama konferensi berlangsung.

Menurut dewan juri, kampanye tersebut menunjukkan pendekatan pemasaran yang inovatif, strategi jangka panjang yang jelas, serta pengukuran kinerja yang efektif.

Ovobel Foods Limited dari India dinobatkan sebagai pemenang Clive Frampton Egg Products Company of the Year Award (Perusahaan Produk Telur Tahun Ini). Penghargaan tersebut diterima oleh Satish Babu dan Sharad Satish, yang mewakili perusahaan keluarga tersebut.

Para juri menyebutkan bahwa kombinasi antara inovasi, ketangguhan, dan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap industri menjadi alasan utama terpilihnya mereka. Ovobel Foods merupakan perusahaan India pertama yang menerima penghargaan Clive Frampton Award, yang menandai tonggak pencapaian penting bagi sektor pengolahan telur di negara tersebut.

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

HENG AIK JIN DAN LIMA PRINSIP KEPEMIMPINANNYA

Heng Aik Jin

"Bagi saya, kepemimpinan yang baik bertumpu pada lima prinsip utama. Kerendahan hati, kemampuan mendengarkan, tindakan, keterlihatan, dan komunikasi. Kelimanya saling berkaitan, karena pada dasarnya kepemimpinan adalah tentang manusia,” kata Heng Aik Jin, Alltech Regional Director for Malaysia and Indonesia, saat diwawancara Infovet.

Lebih lanjut Heng menjelaskan, rendah hati itu penting. Kerendahan hati akan membuka jalan bagi prinsip kedua, mampu untuk mendengarkan. Karena orang yang tinggi hati biasanya sulit mendengarkan orang lain. Entah karena menganggap remeh orang atau merasa sudah memiliki jawaban sendiri yang sempurna.

Namun, mendengar saja tidaklah cukup, harus diiringi dengan kemampuan untuk bertindak. “Kepercayaan tidak akan terbangun jika orang merasa didengarkan tetapi tidak melihat adanya perubahan. Demikian pula, bertindak tanpa mendengarkan terlebih dahulu hanyalah tindakan berdasarkan dugaan semata,” jelas Heng.

Selanjutnya adalah keterlihatan (visibilitas), baik sebagai pemimpin maupun visibilitas tujuan yang ditetapkan. Pemimpin perlu hadir, mudah didekati, dan transparan.

Segala sesuatu juga harus dikomunikasikan dengan jelas. Heng menyarankan agar pemimpin sebaiknya menyampaikan ke mana arah tujuan pekerjaan, apa alasan arah itu dipilih, dan bagaimana cara mencapainya. Ketika visi sudah jelas dan jalannya terlihat nyata, setiap orang akan memahami peran masing-masing dan memberikan kinerja terbaiknya.

“Namun, yang terpenting adalah memastikan tujuan-tujuan tersebut dapat dicapai,” kata Heng. “Jika visi terasa terlalu jauh atau mustahil diraih, orang-orang akan kehilangan semangat. Saat setiap orang dapat membayangkan diri mereka berada di tujuan akhir tersebut dan meyakini bahwa kontribusi mereka berarti, itulah saat organisasi benar-benar melangkah maju bersama.”

Menemukan Impiannya di Alltech

Heng Aik Jin bersama keluarga tercinta.

Berkarier di industri peternakan bukanlah hal yang dicita-citakan oleh Heng sejak kecil. Justru ia ingin menjadi wirausahawan, membangun sesuatu miliknya sendiri. Namun, karena latar belakang keluarganya yang sederhana, Heng tidak memiliki modal untuk memulai bisnis. Sehingga menjadi wirausahawan terasa sulit untuk dicapainya.

Saat bekerja di Alltech, Heng justru menemukan sesuatu yang terasa sangat dekat dengan impiannya.

“Nilai-nilai perusahaan mendorong kami semua untuk berpikir dan bertindak layaknya wirausahawan, memperlakukan bisnis ini seolah-olah milik sendiri,” jelasnya. “Pola pikir seperti itu sangat selaras dengan diri saya. Meskipun saya tidak menjalankan bisnis sendiri, saya dapat menerapkan semangat kepemilikan, hasrat, dan dorongan yang sama dalam pekerjaan sehari-hari. Saya sangat bahagia dengan posisi saya saat ini.”

Suka Duka dalam Pekerjaan

Heng yang meraih gelar sarjana di bidang Studi Asia Tenggara dari University of Malaya, dan kemudian menyelesaikan gelar Master of Business Administration (MBA) di Cardiff Metropolitan University, bergabung dengan Alltech Biotechnology Malaysia pada 2022, dan mengemban peran sebagai Direktur Regional untuk Malaysia dan Indonesia.

Setelah 32 tahun berkecimpung di industri peternakan, tak terhitung banyaknya suka duka yang Heng alami. Salah satu di antara pengalaman-pengalamannya yang berkesan adalah kunjungan pertamanya ke peternakan.

“Saat itu adalah kunjungan ke peternakan babi dan saya harus memeriksa kondisi kesehatan hewan-hewan tersebut, termasuk memeriksa kotoran mereka. Saya hampir muntah,” kenang Heng.

“Sama sekali bukan hal yang nyaman untuk saya kerjakan. Namun, saya tetap melakukannya karena ingin mendapatkan kepercayaan dari peternaknya. Untuk menunjukkan bahwa saya tidak sekadar datang untuk berjualan, melainkan benar-benar memahami ternaknya beserta kebutuhannya.”

Peternak tersebut yang melihat kesediaan Heng untuk terjun langsung menangani pekerjaan lapangan yang kotor, menjadi yakin bahwa produk perusahaan Heng bukanlah penyebab masalah kesehatan yang dialami ternaknya. Hari itu Heng berhasil memenangkan kepercayaannya dan mendapatkan kesepakatan bisnis, yang lebih istimewa lagi mereka tetap menjalin persahabatan hingga saat ini.

Tantangan Utama Bisnis Nutrisi Hewan di Indonesia

Heng membagi tantangan utama bisnis nutrisi hewan di Indonesia menjadi tiga. Pertama, terkait pasokan dan kualitas bahan baku.

Indonesia memiliki iklim tropis yang panas dan lembap dengan curah hujan tinggi. Risiko signifikan iklim yang demikian adalah pertumbuhan jamur dan kontaminasi pada bahan pakan. Selain itu, jagung yang menjadi salah satu biji-bijian bahan pakan terpenting, hanya dipanen dua kali dalam setahun. Hasil panen harus disimpan dalam jangka waktu lama, di mana masa penyimpanan yang panjang menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan jamur dan toksin, yang berdampak langsung pada kualitas serta keamanan pakan.

Kedua, optimalisasi nutrisi. Tantangannya adalah memperoleh nilai gizi terbaik dari setiap kilogram pakan, memastikan hewan benar-benar menyerap dan memanfaatkan nutrisi tersebut secara efektif. Hal ini berkaitan dengan penentuan formulasi dan bahan tambahan yang tepat sesuai dengan kondisi setempat.

Tantangan ketiga adalah iklim dan manajemen peternakan. Karena terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki suhu panas sepanjang tahun, dan stres akibat panas merupakan masalah utama yang memengaruhi kesehatan, laju pertumbuhan, serta produktivitas hewan.

Heng menyarankan, “Desain kandang yang lebih baik serta praktik manajemen peternakan yang lebih baik merupakan kunci untuk mengatasi tantangan lingkungan ini. Hal ini bukan hanya soal apa yang kita berikan sebagai pakan hewan, melainkan juga lingkungan tempat mereka dipelihara.”

Bisnis Alltech ke Depannya

Alltech terutama regional Malaysia dan Indonesia berencana untuk memperluas dan mengembangkan bisnis. Heng mengatakan perusahaan akan terus memperkuat keterlibatan pelanggan melalui seminar teknis, kunjungan pelanggan, focus group discussions, kegiatan di peternakan dan pabrik pakan, uji coba produk, serta program berbagi pengetahuan. Pemasaran digital juga diperkuat untuk menjangkau audiens yang lebih luas serta mengomunikasikan sains, teknologi, dan solusi Alltech secara lebih efektif.

Fokus penting lainnya, lanjut Heng, adalah membangun kemitraan yang lebih kuat dengan distributor, pabrik pakan, integrator, dan produsen. Dengan memadukan penelitian dan teknologi global Alltech serta pemahaman mendalam mengenai pasar lokal, Alltech menghadirkan solusi yang menjawab tantangan spesifik yang dihadapi industri peternakan Indonesia.

Kategori utama produk Alltech mencakup manajemen mikotoksin, manajemen kesehatan saluran pencernaan, nutrisi mineral organik, manajemen enzim, efisiensi pakan, manajemen protein, dan manajemen fungsi rumen.

“Hal yang membedakan Alltech adalah kami tidak memandang produk-produk ini secara terpisah. Kami bertujuan menyediakan solusi nutrisi terintegrasi yang didukung oleh sains, penelitian, dan keahlian teknis untuk menjawab tantangan produksi spesifik yang dihadapi pelanggan,” tutur Heng.

Saling Menghormati

Prinsip hidup Heng sederhana, yaitu bersikap rendah hati, saling menghormati, dan selalu berusaha membantu orang lain sebisa mungkin. Dia berupaya menerapkan ketiga hal tersebut dalamsetiap situasi dan dengan siapapun yang ditemuinya, baik di tempat kerja, di rumah, dan di mana pun.

Untuk mengisi waktu senggangnya Heng gemar bepergian, membaca buku, serta mempelajari sejarah dan beragam budaya.

“Namun, yang paling saya nikmati adalah mengamati kehidupan sehari-hari secara langsung, dekat, dan nyata,” katanya. “Ke mana pun saya pergi, saya selalu menyempatkan diri untuk berjalan-jalan pagi menyusuri pasar setempat, baik pasar basah maupun pasar kering.”

Hal itu dilakukannya baik saat berada di Jakarta, Malaysia, Jepang, bahkan Amerika Serikat. Ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi pasar. Baginya, di situlah orang bisa benar-benar merasakan denyut kehidupan suatu tempat. Bisa mengamati bagaimana orang-orang menjalani hidup, apa yang mereka anggap penting, dan bagaimana mereka berinteraksi. Sebuah cara yang paling jujur dan apa adanya untuk memahami sebuah komunitas beserta budayanya. (ADV)


AVEC MENDESAK UNI EROPA UNTUK MENGHENTIKAN IMPOR UNGGAS DARI THAILAND YANG TIDAK MEMENUHI KETENTUAN

Menyusul audit yang menemukan “kekurangan yang signifikan dan sistemik” dalam sistem pengendalian ekspor dan sertifikasi Thailand, AVEC meminta Komisi Eropa untuk menangguhkan impor unggas dari fasilitas di Thailand yang tidak dapat membuktikan kepatuhannya terhadap aturan Uni Eropa.

Asosiasi Pengolah dan Perdagangan Unggas di Uni Eropa (AVEC) mendesak Komisi Eropa untuk mengambil tindakan tegas terhadap eksportir unggas Thailand yang gagal memenuhi persyaratan Uni Eropa. Hal ini menyusul audit terbaru oleh Komisi Eropa yang mengungkap kelemahan serius dalam aspek ketertelusuran, pengendalian veteriner, prosedur sertifikasi, serta pemisahan antara produk yang memenuhi syarat untuk pasar Uni Eropa dan yang tidak.

Dalam siaran pers baru-baru ini, AVEC menyatakan bahwa impor unggas dari fasilitas atau rantai produksi yang bermasalah harus ditangguhkan sampai langkah-langkah perbaikan diterapkan dan diverifikasi secara independen. Organisasi tersebut juga berpendapat bahwa pemberian kuota tarif tambahan untuk unggas kepada Thailand, di tengah negosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Uni Eropa dan Thailand yang sedang berlangsung, adalah langkah yang tidak tepat selama masalah kepatuhan ini belum terselesaikan.

Audit Komisi Eropa menemukan sejumlah kekurangan yang memengaruhi sistem ekspor unggas Thailand. Auditor melaporkan adanya kelemahan dalam verifikasi HACCP, sistem ketertelusuran, pemisahan antara produk yang memenuhi syarat untuk pasar Uni Eropa dan yang tidak, pengendalian veteriner, serta prosedur sertifikasi ekspor.

Salah satu temuan paling serius adalah ditemukannya produk unggas yang ditujukan untuk Uni Eropa yang diproduksi menggunakan daging cincang dari fasilitas yang tidak memiliki izin untuk mengekspor produk tersebut ke Uni Eropa. Auditor juga menemukan bahwa dua pabrik pengolahan tidak dapat membuktikan bahwa produk yang ditujukan untuk pasar Eropa hanya menggunakan bahan baku yang memenuhi syarat.

AVEC menyambut baik rencana untuk melakukan audit lebih lanjut dan memperketat pengendalian impor, namun menekankan bahwa audit harus menghasilkan tindakan penegakan hukum yang nyata jika ditemukan ketidakpatuhan yang serius.

MENGATASI GANGGUAN KESEIMBANGAN SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Ketika Saluran Pencernaan Menjadi Kunci Daya Saing
Dalam industri perunggasan modern, saluran pencernaan unggas tidak lagi dipandang sekadar sebagai organ pencerna pakan, melainkan sebagai pusat kendali performa, kesehatan, efisiensi produksi, dan bahkan citra produk akhir di mata konsumen.

Keseimbangan sistem pencernaan menentukan seberapa optimal nutrisi diserap, seberap akuat sistem imun bekerja, dan seberapa stabil performa produksi dapat dipertahankan di tengah tantangan penyakit, stres lingkungan, serta tuntutan global akan produk unggas yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Gangguan keseimbangan sistem pencernaan sering kali menjadi awal dari berbagai masalah klasik di kandang, pertumbuhan tidak seragam, FCR memburuk, litter basah, meningkatnya kasus enteritis, hingga penurunan daya tahan terhadap penyakit. Dalam konteks ini, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Industri dituntut untuk menerapkan strategi holistik yang mengintegrasikan nutrisi, manajemen, biosekuriti, dan kesehatan, sejalan dengan isu besar antimicrobial resistance (AMR) dan pendekatan One Health.

Tren Penggunaan Antibiotik, dari Ketergantungan Menuju Transformasi
Sebelum 2014, penggunaan antibiotik dalam industri unggas masih didominasi pendekatan preventif dan promotif, termasuk sebagai antibiotic growth promoter (AGP). Antibiotik menjadi solusi cepat untuk menjaga performa dan menekan penyakit pencernaan. Namun, seiring meningkatnya bukti ilmiah tentang AMR dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, paradigma ini mulai berubah.

Sejak diberlakukan pembatasan dan pelarangan AGP di berbagai negara, termasuk Indonesia, industri unggas memasuki fase transisi yang menantang. Penurunan penggunaan antibiotic berdampak langsung pada meningkatnya tekanan penyakit pencernaan, terutama yang berkaitan dengan bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella. Di sisi lain, konsumen semakin kritis terhadap isu residu antibiotik, keamanan pangan, dan keberlanjutan produksi.

Isu AMR tidak hanya menjadi persoalan teknis peternakan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan global dalam kerangka One Health. Artinya, setiap keputusan di kandang memiliki implikasi hingga ke meja makan konsumen. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan sistem pencernaan tanpa ketergantungan pada antibiotik menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi industri.

Akar Masalah Ketidakseimbangan Sistem Pencernaan
Ketidakseimbangan sistem pencernaan unggas bersifat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet Oktober 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

GELOMBANG PANAS EKSTREM SEBABKAN KERUGIAN PADA INDUSTRI UNGGAS TUNISIA

Industri unggas Tunisia mengalami kerugian signifikan akibat gelombang panas yang memecahkan rekor pada bulan Juli dan Agustus. Menurut Kementerian Pertanian, pemadaman listrik dan air yang terjadi berulang kali semakin memperparah kerusakan di berbagai peternakan.

Saat ini, pihak berwenang tengah menilai skala permasalahan tersebut dan menyiapkan langkah-langkah untuk mendukung industri yang sedang terpuruk ini.

Beberapa peternakan unggas, khususnya usaha skala kecil dan menengah, mengalami gangguan selama periode cuaca sangat panas pada bulan Juli dan Agustus. Pemadaman listrik dan air menyebabkan sistem ventilasi serta pendingin tidak berfungsi, yang mengakibatkan unggas mengalami stres akibat panas, sesak napas, hingga kematian.

Kementerian Pertanian Tunisia menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya berupa kematian unggas, tetapi juga pertumbuhan yang lebih lambat dan penurunan produktivitas, terutama pada produksi ayam broiler. Sejumlah rumah potong hewan pun turut terdampak.

Tunisia mengalami suhu yang sangat menyengat pada musim panas ini, dengan suhu mencapai 49,7°C. Bulan Juli tercatat sebagai bulan terpanas kedua dalam sejarah negara tersebut. Cuaca ekstrem ini membebani infrastruktur dan mendorong permintaan listrik hingga ke tingkat rekor, yang kemudian memicu pemadaman listrik secara luas.

Dalam sebuah pernyataan pada akhir Agustus, Ibrahim Nefzaoui, kepala Kamar Nasional Pedagang Unggas dan Daging Putih Tunisia, menyatakan bahwa produksi daging unggas bulanan telah turun dari sekitar 16.000 ton menjadi 13.600 ton. Ia menyebutkan bahwa penurunan ini sebagian disebabkan oleh kematian unggas akibat gelombang panas.

Pada tanggal 2 September, dalam sebuah wawancara dengan Radio Nasional Tunisia, Nefzaoui merevisi perkiraannya dengan menyatakan bahwa produksi industri bulanan telah turun menjadi 11.000 ton.

Kementerian Pertanian juga menyatakan bahwa perubahan iklim mendorong transformasi industri unggas di Tunisia. Cuaca panas ekstrem memaksa para peternak untuk meningkatkan kualitas peralatan mereka dan memperkuat kemampuan dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa, terutama saat terjadi pemadaman listrik mendadak.

Menyikapi situasi ini, Kementerian mendorong peningkatan investasi pada energi terbarukan serta penerapan sistem energi terbarukan yang lebih luas, mengingat peralatan ventilasi dan pendingin merupakan komponen krusial bagi unit produksi unggas.

INFOVET GRUP SIAPKAN LANGKAH TRANSFORMASI, PEMBACA DIAJAK BERPARTISIPASI

PT Gallus Indonesia Utama. (Foto: Dok. Infovet)

PT Gallus Indonesia Utama (Infovet, Info Akuakultur, Cat&Dog, GITAPustaka, GITA EO, GITA Consultant) tengah menyusun rencana transformasi perusahaan untuk periode 2027-2030. Langkah ini dilakukan untuk memastikan inovasi dan pengembangan layanan perusahaan semakin sesuai dengan kebutuhan pembaca, praktisi, serta mitra industri peternakan dan kesehatan hewan.

Sebagai perusahaan yang menaungi media dan berbagai layanan pendukung industri, Gallus Indonesia Utama memandang masukan dari para pemangku kepentingan sebagai bagian penting dalam menentukan arah pengembangan perusahaan ke depan.

Karena itu, Gallus mengajak pembaca Majalah Infovet, praktisi peternakan dan kesehatan hewan, serta para mitra industri yang selama ini mendukung melalui iklan, sponsorship, jasa konsultasi, penyelenggaraan acara, dan berbagai bentuk kerja sama lainnya untuk berpartisipasi dalam survei ini.

Pendapat Anda akan menjadi masukan berharga bagi pengembangan layanan dan inovasi Gallus agar semakin relevan dengan kebutuhan industri.

Pengisian survei diharapkan tidak memerlukan banyak waktu. Silakan sampaikan pandangan dan harapan Anda melalui tautan berikut: “KLIK DI SINI UNTUK MENGISI SURVEI TRANSFORMASI GALLUS 2027-2030”

Terima kasih atas partisipasi dan kepercayaan Anda selama ini. Bersama masukan dari pembaca dan mitra industri, Gallus Indonesia Utama berkomitmen untuk terus bertumbuh, berinovasi, dan memberikan kontribusi bagi kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan Indonesia. ***

KONSISTEN MEMAKSIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Organ pada saluran pencernaan ayam. (Sumber: Poultryhub, 2020)

Bicara masalah kesehatan ayam, penyakit infeksius memang datangnya lebih banyak dari saluran pernapasan. Tetapi bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan saluran pencernaan, karena komplikasi dalam kasus ayam yang sakit kerap terjadi.

Semua aspek pemeliharaan sangat besar pengaruhnya dan mereka saling terkait. Sederhananya, ayam yang saluran pernapasannya sakit salah satu gejalanya bisa jadi tidak mau makan, ayam yang saluran pencernaannya sakit dan nutrisinya kurang mudah terinfeksi penyakit lain termasuk pernapasan.

Jangan Berat Sebelah
Dari kaca mata ilmu anatomi, saluran pencernaan ayam dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian yang terdiri dari tembolok (crop), lambung (proventriculus), ventriculus, usus halus, usus buntu (caecum), usus besar (colon), dan cloaca. Masing-masing bagian tubuh ini dihuni secara alami oleh mikroflora yang terdiri bakteri, protozoa, maupun jamur. Namun bagian yang paling banyak dihuni jenis bakteri adalah saluran usus.

Yang menjadi kunci kesuksesan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan yakni seimbangnya jumlah mikroorganisme yang ada pada saluran pencernaan. Jika keseimbangan tersebut bergeser, misalnya mikroorganisme patogen lebih banyak ketimbang mikroorganisme komensal dan yang menguntungkan, tentu akan merugikan ayam sebagai hospes.

Mengenai hal itu, David Marks seorang Poultry Consultant berpengalaman, menyatakan ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keseimbangan mikroflora di dalam usus. Faktor pertama yakni dari ransum dan air minum. Inilah alas an pentingnya mengecek kualitas pakan dan air minum. “Pakan yang nutriennya rendah dan tercemar mikotoksin, tidak higienis, serta mengandung cemaran feses kerap menimbulkan masalah pada ayam,” katanya.

Selain itu, air minum juga dapat menjadi media tumbuh kembang ideal bagi bakteri seperti E. coli maupun organisme patogen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keseimbangan mikroflora usus terganggu.

Faktor kedua yakni stres. Stres terjadi karena reaksi fisiologis normal pada ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait lingkungan, maupun perlakuan ayam.

Lebih lanjut dijelaskan, stres juga menyebabkan panjang vili usus berkurang, sehingga mengakibatkan peningkatan frekuensi pergerakan usus dan pH intestinal dari usus. Kondisi inilah yang kemudian berdampak pada mikroflora usus, di mana koloni mikroflora menguntungkan menjadi berkurang dan koloni mikroflora merugikan justru meningkat. Efek lain yang dapat terjadi adalah diare dan munculnya infeksi sekunder bakterial.

Faktor ketiga yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

JANGAN LEWATKAN SEMINAR NASIONAL OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN 2027


“Tetap Tumbuh di Tengah Turbulensi” menjadi tema yang akan diangkat dalam Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan 2027 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Akan dibahas bagaimana prospek industri peternakan Indonesia di tengah dinamika ekonomi dan berbagai tantangan bisnis ke depan.

Forum strategis ini akan menghadirkan para pemimpin asosiasi dan praktisi industri peternakan untuk berbagi pandangan, membahas tantangan, serta mengupas peluang pertumbuhan bisnis peternakan di 2027 mendatang.

NARASUMBER:
• Ketua Umum GPPU
• Ketua Umum GPMT
• Ketua Umum PINSAR INDONESIA
• Ketua Umum HPDKI
• Ketua Umum PPSKI
• Ketua Umum ASOHI

NARASUMBER TAMU:
• Dr Lili Yan Ing (Ekonom Senior, Penasehat Utama Perdagangan Internasional – Kemendagri 2017-2019)

MODERATOR: ASOHI

Hari/tanggal: Kamis, 19 November 2026
Waktu: 08:00-16:00 WIB
Tempat: Aston Priority Simatupang

INVESTASI PESERTA:
Anggota ASOHI: Rp 700.000/orang
Non-anggota ASOHI: Rp 800.000/orang

INFORMASI PEMBAYARAN:
Bank Mandiri Cabang Pasar Minggu Pejaten
No. Rekening: 126.0098041451 a.n ASOHI
Bukti transfer dapat dikirimkan ke: asohipusat@gmail.com

INFORMASI & PENDAFTARAN:
Aidah: +62 818-0659-7525

Jangan lewatkan kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun jejaring bisnis, dan mempersiapkan strategi menghadapi tantangan industri peternakan di 2027 mendatang.

Mari bersama-sama membangun optimisme dan menemukan peluang pertumbuhan di tengah turbulensi.

“Bersama ASOHI, Sinergi Kuat, Industri Meningkat”

CAHAYA FAR-UV MENAWARKAN HARAPAN BARU DALAM UPAYA MELAWAN FLU BURUNG

Tim peneliti di Texas A&M University, Amerika Serikat, tengah bersiap untuk menguji teknologi inovatif yang dapat membantu para peternak unggas dalam menangani salah satu ancaman penyakit paling persisten di industri ini: flu burung yang sangat patogen (HPAI).

Proyek ini akan meneliti apakah cahaya ultraviolet jauh (far-ultraviolet), yang dikenal sebagai far-UVC, dapat mengurangi patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas tanpa membahayakan unggas, pekerja, maupun operasional peternakan.

Morgan Farnell, profesor mikrobiologi dan imunologi unggas sekaligus wakil kepala departemen di Departemen Ilmu Unggas Texas A&M, menyatakan bahwa wabah HPAI yang terjadi saat ini terus menghadirkan tantangan bagi sektor perunggasan. Meskipun flu burung tidak dianggap endemik di Amerika Serikat, virus tersebut tetap ada dalam populasi satwa liar dan terus mengancam produksi unggas komersial.

Farnell bersama rekannya, Ziteng Xu, akan memimpin fase ketiga sekaligus fase terakhir dari program penelitian jangka panjang yang akan dimulai pada musim semi. Penelitian ini akan berfokus untuk menentukan apakah cahaya far-UVC mampu mengurangi jumlah patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas komersial dalam kondisi produksi yang sesungguhnya.

Teknologi far-UVC berbeda dari sistem ultraviolet pembunuh kuman konvensional karena mampu menonaktifkan virus dan bakteri tanpa menembus terlalu dalam hingga merusak kulit serta mata manusia maupun hewan. Karakteristik ini menarik perhatian besar dari para peneliti, yang melihat potensi penerapannya di lingkungan yang dihuni makhluk hidup, seperti rumah sakit, sekolah, restoran, dan fasilitas peternakan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Columbia University dan St. Jude Children’s Research Hospital telah mengkaji teknologi far-UVC dalam ruang isolasi khusus. Temuan tersebut menjadi landasan bagi pengujian di lingkungan yang lebih luas, menyerupai skala komersial. Kini, para peneliti dari Texas A&M berupaya menentukan apakah teknologi ini dapat memberikan hasil serupa di kandang unggas dengan kepadatan populasi burung seperti pada skala komersial.

Uji coba akan dilaksanakan di kompleks peternakan unggas universitas tersebut. Para peneliti akan menggunakan peralatan pengambilan sampel udara untuk mengukur organisme indikator (seperti bakteri aerob, koliform, dan Staphylococcus aureus) sebelum dan sesudah paparan far-UVC. Pengukuran ini akan membantu para ilmuwan menilai apakah teknologi tersebut mampu mengurangi patogen yang berkaitan dengan ancaman penyakit, termasuk flu burung.

Tim Xu juga akan meneliti aspek penerapan praktisnya. Debu di dalam kandang unggas dapat menyerap atau menyebarkan cahaya ultraviolet, yang berpotensi memengaruhi kinerja teknologi tersebut. Oleh karena itu, para peneliti akan memantau seberapa besar radiasi yang mencapai area yang dihuni oleh unggas. Sistem kamera berbasis kecerdasan buatan akan melacak pergerakan dan perilaku unggas, sehingga para ilmuwan dapat mengevaluasi dampaknya terhadap kesejahteraan, ritme sirkadian, serta performa pertumbuhan unggas.

Proyek ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan teknologi keamanan hayati terintegrasi. Xu sedang merancang sistem yang menggabungkan pengolahan udara menggunakan far-UVC dengan ventilasi bertekanan positif serta perangkat robotik untuk disinfeksi lantai. Para peneliti akan mengevaluasi komponen mana yang memberikan pengendalian patogen secara efektif.

NOBLE FOODS MENGUJI TEKNOLOGI AKUSTIK UNTUK MEMANTAU KESEJAHTERAAN AYAM PETELUR

Noble Foods telah meluncurkan proyek perintis di tingkat peternakan untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi akustik dapat digunakan guna memahami, memantau, dan meningkatkan kesejahteraan ayam petelur dengan lebih baik. Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan hewan berbasis bukti nyata dalam industri produksi telur di Inggris.

Proyek ini terlaksana berkat keberhasilan pengajuan pendanaan kepada Innovate UK (lembaga inovasi nasional Inggris) yang dipimpin oleh Emily Marshall, manajer keberlanjutan pertanian di Noble Foods. Pendanaan tersebut mendukung uji coba berbasis riset selama dua tahun, yang dirancang untuk menguji bagaimana teknologi pertanian (agri-tech) terkini dapat diterapkan secara praktis, kredibel, dan dalam skala luas di lingkungan peternakan ayam petelur komersial.

Dikembangkan melalui kemitraan dengan spesialis teknologi pertanian, AgriSound dan Aviasenze, serta dilaksanakan di sebuah peternakan ayam sistem lepas (free-range) yang beroperasi di East Yorkshire, proyek ini akan menguji sistem pemantauan kesejahteraan berbasis akustik yang dirancang khusus untuk ayam petelur. Ini merupakan penerapan pertama dari jenisnya di sektor produksi telur Inggris.

Selain uji coba pada sistem lepas (free-range), Noble Foods juga menguji teknologi ini di salah satu fasilitas peternakan ayam sistem kandang tertutup (barn). Evaluasi sistem di kedua lingkungan pemeliharaan ini akan membantu menentukan bagaimana pemantauan akustik dapat digunakan untuk memahami kesejahteraan unggas dengan lebih baik di berbagai kondisi, sekaligus memberikan wawasan berharga mengenai perilaku kawanan ayam, pengaruh lingkungan, dan indikator kesejahteraan. Tujuannya adalah memastikan bahwa temuan dari proyek ini relevan bagi berbagai model produksi telur di Inggris.

Teknologi ini menganalisis lanskap suara di dalam kandang unggas dengan menggunakan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengidentifikasi pola dalam vokalisasi dan aktivitas kawanan ayam. Pola-pola tersebut dapat menjadi indikator adanya perubahan dalam perilaku, kesehatan, atau kondisi lingkungan. Tujuannya adalah memberikan wawasan berbasis data yang lebih dini kepada tim peternakan, sehingga mereka dapat melakukan pengelolaan kesejahteraan secara proaktif, melengkapi praktik pemeliharaan ternak konvensional.

Proyek ini berupaya mengeksplorasi bagaimana pemantauan kesejahteraan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menghadirkan wawasan berkelanjutan yang bersifat non-invasif, yang diperoleh langsung dari unggas itu sendiri. Dengan mengamati perilaku kawanan unggas secara waktu nyata (real-time), para mitra berharap dapat lebih memahami bagaimana perubahan dalam lingkungan, manajemen, atau kesehatan dapat terdeteksi sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Di dalam tim proyek, teknologi ini dijuluki sebagai ‘Happy-o-Meter’ (alat pengukur kebahagiaan) karena fokusnya dalam membantu para peternak agar lebih memahami indikator kesejahteraan unggas. Meskipun uji coba ini berlandaskan pada sains dan pengumpulan bukti yang kuat, penamaan informal tersebut mencerminkan ambisi untuk lebih memerhatikan ayam dan mempelajari apa yang dapat diungkapkan oleh perilaku mereka mengenai kesejahteraan mereka.

Noble Foods menegaskan bahwa proyek ini bukanlah solusi final atau jawaban tunggal untuk tantangan kesejahteraan, melainkan sebuah uji coba berbasis pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan bukti, menguji asumsi, dan menjadi landasan bagi pemikiran di masa depan.

Melalui kerja sama dengan mitra teknologi, para peternak, dan Innovate UK, perusahaan tersebut berharap hasil dari proyek ini dapat membantu membentuk diskusi yang lebih luas mengenai pemantauan kesejahteraan, penerapan teknologi pertanian (agri-tech), serta transparansi di seluruh industri telur di Inggris. Temuan dari uji coba tersebut akan ditinjau selama periode dua tahun dan dibagikan kepada para produsen serta pemangku kepentingan industri, guna membantu mengidentifikasi aspek-aspek di mana pemantauan akustik dapat memberikan nilai tambah dan aspek-aspek yang memerlukan pengembangan lebih lanjut.

SEKTOR UNGGAS JERMAN MERANGKUL GEN Z

Berlawanan dengan anggapan umum, di Jerman Gen Z sering memasak makanannya sendiri dan sebagian besar dari mereka mengonsumsi daging. Bagi lebih dari separuh kelompok ini, daging unggas menjadi pilihan utama.

Tren nutrisi utama di kalangan generasi muda Jerman adalah protein. Di antara berbagai sumber protein, telur dan daging unggas menempati posisi teratas, diikuti oleh produk susu, bubuk protein, daging sapi, dan ikan.

Temuan ini merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh Civey atas nama Zentralverband der Deutschen Geflügelwirtschaft e.V. (ZDG), organisasi industri perunggasan Jerman.

Di rentang usia 16 hingga 29 tahun, 1 dari 2 orang memasak untuk diri mereka sendiri setiap hari, 71% mengonsumsi makanan secara sadar, 83% responden rutin menyantap daging, dan bagi sebagian besar dari mereka, protein adalah komponen yang wajib ada.

Daging dan makanan nabati sering kali disajikan bersama dalam satu hidangan. Hanya sekitar 1 dari 9 orang yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan (11%).

Terkait pemilihan jenis daging, para responden memiliki preferensi yang jelas: 52% memilih daging unggas, 23% daging sapi, dan 15% daging babi. Preferensi terhadap daging unggas terlihat sangat menonjol di kalangan perempuan, dengan 57% memilih daging unggas dibandingkan 19% yang memilih daging sapi. Sementara itu, di kalangan laki-laki, 46% menyukai daging unggas dan 28% lebih memilih daging sapi.

Sekitar 3 dari 5 responden menganggap daging unggas sebagai elemen penting untuk mendapatkan makanan yang lezat sekaligus sehat. Bahkan, 7 dari 10 responden meyakini bahwa daging unggas dapat berperan penting dalam pola makan yang kaya protein.

Direktur pelaksana ZDG, Wolfgang Schleicher, menyatakan, “Survei ini meluruskan berbagai prasangka mengenai Gen Z. Survei ini juga mematahkan mitos bahwa Gen Z sebagian besar adalah vegan atau vegetarian. Anggapan yang sering terdengar ini keliru. Mengonsumsi daging tetap menjadi hal yang lazim di kalangan Gen Z. Mereka memasak sendiri makanan mereka. Mereka membuat keputusan secara sadar dan tahu persis apa yang penting bagi mereka: cita rasa yang enak, pengalaman bersantap bersama, asupan protein yang cukup, harga yang terjangkau, serta cara penyajian yang praktis dimana semua aspek ini harus terpenuhi. Daging unggas memenuhi semua kriteria tersebut: rasanya lezat, kaya akan protein berkualitas tinggi, serta mudah dipadukan dengan sayuran, salad, maupun hidangan dalam mangkuk (bowl).”

Bagi Gen Z, makanan bukan sekadar tersaji di piring, tetapi juga hadir di internet: 1 dari 5 responden mengaku membagikan foto atau konten lain terkait makanan yang mereka konsumsi melalui media sosial setiap harinya. Hampir 2 dari 5 responden mengunggah konten bertema makanan setidaknya seminggu sekali.

Mereka juga mencari inspirasi melalui internet. Saat ditanya dari mana mereka memperoleh ide dan inspirasi untuk hidangan serta informasi mengenai pola makan, 39% responden menyatakan aktif melakukan riset di internet, 26% mengikuti tren media sosial dan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), 25% mengikuti kreator konten atau influencer, 21% mengandalkan aplikasi atau perangkat pelacak nutrisi, dan 14% membaca artikel atau blog daring.

PERANG MEMBUAT SEKTOR UNGGAS DI GAZA HANCUR LEBUR

Industri unggas di Gaza hampir musnah akibat perang/pendudukan. Kini, upaya berskala kecil mulai dilakukan untuk membangun kembali sektor yang telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksinya tersebut.

Sektor unggas di Jalur Gaza mengalami kehancuran luas selama perang. Menurut laporan dari Kementerian Pertanian setempat, sebagian besar peternakan mengalami kerusakan parah bahkan mencapai 100% pada kategori tertentu. Kehancuran ini mengakibatkan kerugian langsung yang diperkirakan mencapai sekitar US$30,7 juta.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa terdapat sekitar 2.400 peternakan unggas, dengan peternakan ayam broiler mengalami kerusakan paling parah. Peternakan ayam broiler tertutup hancur total, dengan tingkat kerusakan mencapai 100% dan kerugian diperkirakan sebesar US$10,8 juta. Kerusakan pada peternakan ayam broiler terbuka mencapai 95%, yang mengakibatkan kerugian sekitar US$11,6 juta.

Peternakan ayam petelur dan kalkun juga mengalami kerusakan lebih dari 86%, sementara peternakan pembibitan hancur sepenuhnya, yang menyebabkan kerugian besar bagi produksi unggas di seluruh Jalur Gaza.

Sektor unggas sebenarnya menjadi pilar utama industri peternakan di Gaza. Menurut estimasi Kementerian Pertanian, pada tahun 2022 sektor ini memproduksi sekitar 50.000 ton daging putih dan 15.000 ton telur konsumsi, yang membantu memenuhi permintaan pasar lokal serta memperkuat ketahanan pangan.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa sektor ini mencakup sekitar 1.982 peternakan dengan total luas wilayah kurang lebih 297.000 meter persegi, serta kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai sekitar 2,79 miliar ekor unggas. Sebagian besar peternakan terkonsentrasi di kegubernuran Khan Younis dan Gaza, diikuti oleh Deir al-Balah, Gaza bagian utara, dan Rafah. Masing-masing wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah selama perang berlangsung.

Menurut laporan Al Jazeera, warga Palestina di Gaza berupaya secara mandiri untuk menghidupkan kembali peternakan unggas setelah perang menghancurkan berbagai peternakan dan fasilitas produksi. Namun, kelangkaan pakan serta kebutuhan dasar peternakan membuat proses pemulihan menjadi sangat sulit.

Upaya berskala kecil ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan industri unggas lokal, tetapi juga untuk menyediakan sumber pangan dalam negeri, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai ketergantungan wilayah tersebut terhadap daging ayam beku yang dijual di pasar-pasar setempat.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer