-->

RAYAKAN 18 TAHUN JAPFA FOR KIDS, JAPFA BUKA KOMPETISI AKJJ 2026

Media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, Selasa (12/5). (Foto: NDV)

Merayakan 18 tahun perjalanan program Corporate Social Responsibility (CSR) JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyeleranggakan media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. 

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

”Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tutur Rachmat saat pembukaan AKJJ yang digelar di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/5). 

Melalui penyelenggaraan AKJJ yang ketiga kalinya, JAPFA ingin lebih memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.  

AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA juga turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.

Pada kesempatan yang sama Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA mengemukakan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. 

“Tahun 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 diantaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program,” ungkap Artsanti. 

Lebih lanjut Artsanti mengatakan, setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5% dari total anak. 

Pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Selanjutnya dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.  

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH di acara yang sama menuturkan edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. (NDV)

MUNAS III AMI TETAPKAN SAULAND SINAGA LANJUT PIMPIN AMI PERIODE 2026-2031

Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus)

Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secara aklamasi menetapkan Dr Ir Sauland Sinaga MS untuk kembali memimpin AMI periode 2026-2031. Munas berlangsung di NICE (Nusantara International Convention Exhibition), kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pelaksanaan Munas dilakukan usai Seminar Nasional Peternakan Babi yang digelar di lokasi yang sama. Acara berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri berbagai tokoh peternakan nasional serta anggota AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pendiri AMI sekaligus Ketua Umum AMI periode 2002-2016 Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, serta Bambang Suharno yang juga ikut mendirikan organisasi tersebut. Hadir pula Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015 Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, bersama anggota, dan pelaku usaha peternakan babi dari Bali, Jawa, Sulawesi Utara, NTT, Sumatra Utara, dan berbagai daerah lainnya.

Sauland Sinaga (tengah) bersama pendiri AMI Rachmawati Siswadi (kiri), dan Bambang Suharno usai penetapan Sauland melanjutkan kepemimpinan AMI 2026-2031.

Dalam Munas tersebut, Sauland menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan paparan berbagai kegiatan serta capaian AMI selama masa kepemimpinannya. Salah satu perhatian utama AMI adalah perjuangan dalam penanganan African Swine Fever (ASF) yang sempat berdampak besar terhadap industri peternakan babi nasional.

Selain itu, AMI juga aktif meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai seminar dan pelatihan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain USSEC, perusahaan obat hewan, Infovet, ASOHI, Pusvetma, dan berbagai pihak lainnya.

Sauland juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan AMI saat ini, organisasi berhasil mendorong pemerintah menghentikan impor daging babi karena produksi dalam negeri dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, kehadiran dan peran AMI kini semakin diperhitungkan, termasuk dalam berbagai forum diskusi dan penyusunan regulasi pemerintah terkait peternakan babi.

“AMI semakin sering dilibatkan dalam berbagai forum strategis pemerintah terkait peternakan babi dan kebijakan peternakan nasional,” ujar Sauland.

Dalam kesempatan itu, Sauland juga menyampaikan bahwa dirinya memperoleh penghargaan Fighting ASF in Asia, Honor Roll dari Asian Agribiz. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan anggota AMI. “Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk AMI,” ungkapnya.

Suasana Seminar Nasional dan Munas AMI di NICE PIK 2.

Sementara itu, Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, ikut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Sauland yang dinilai berhasil membawa organisasi terus berkembang dan semakin berkontribusi bagi dunia peternakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Rachmawati menyampaikan kronologis berdirinya AMI dan perkembangannya hingga sekarang. AMI berdiri pada 8 Mei 2002, di Kantor Infovet diprakarsai oleh Dr Rachmawati didukung oleh pengurus ASOHi saat itu antara lain Ketua Umum ASOHI A. Karim Mahanan, Sekjen ASOHI Drh Tjiptardjo SE, dan Bambang Suharno.

Menanggapi laporan Sauland, Rachmawati optimistis AMI akan terus maju dan semakin berperan dalam mendukung perkembangan industri peternakan babi Indonesia di masa mendatang. (BS)

INOVASI GENETIK HINGGA RANTAI PASOK PETERNAKAN DIKUPAS DALAM SEMINAR NASIONAL AMI

Para pembicara seminar. Dari kiri: Henrik Nielsen, Manmohan Singh, dan Prama Rangga Respati, yang dipandu oleh Agung Puji Haryanto. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) pada Sabtu (9/5/2026) di NICE PIK 2. Mengangkat tema “Inovasi Genetik, Digitalisasi, dan Ketahanan Rantai Pasok Peternakan Babi untuk Daya Saing Global,” acara ini digelar melalui kolaborasi antara AMI, Agrimat, dan Majalah Infovet.

Dalam sambutannya, Ketua AMI, Sauland Sinaga, menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi industri peternakan babi domestik, khususnya di sektor pemuliaan (breeding). Menurutnya, penguatan genetika lokal menjadi fondasi penting untuk meningkatkan performa produksi.

Selain faktor genetik, Sauland menekankan pentingnya digitalisasi peternakan untuk mempermudah pemetaan dan pemantauan permintaan pasar (demand) secara akurat. Ia juga menggarisbawahi urgensi penguatan rantai pasok dan rantai dingin.

“Di Jakarta, kebutuhan daging babi untuk sektor hotel, restoran, sebagian besar masih dipasok impor. Oleh karena itu, sistem rantai dingin ini sangat diperlukan untuk menjaga kualitas produk lokal,” ujar Sauland, seraya menambahkan bahwa ketersediaan bahan baku pakan yang juga masih bergantung impor turut menjadi fokus utama yang harus segera dibenahi.

Secara ringkas, AMI memetakan empat isu krusial tersebut untuk memajukan industri babi nasional, yakni breeding untuk meningkatkan kualitas genetik ternak; digitalisasi peternakan sebagai alat pengambilan keputusan berbasis data yang akurat; sistem rantai dingin yang menjamin distribusi dan kualitas produk; serta pemberian nutrisi yang baik untuk efisiensi pakan dan kesehatan ternak.

Sambutan oleh Ketua AMI Sauland Sinaga, dan menampilkan salah satu narasumber yang hadir melalui daring Basilisa Reas.

Memasuki sesi seminar yang dipandu oleh Technical Consultant USSEC, Agung Puji Haryanto, menghadirkan pakar internasional di antaranya Henrik Nielsen, ahli genetika babi dari Denmark, yang memaparkan strategi peningkatan genetik untuk mencapai efisiensi produksi maksimal.

Kemudian dari sisi teknologi digital, Prama Rangga Respati dari Ausvet menjelaskan bagaimana smart farming membantu pemerintah dan peternak dalam melakukan surveilans kesehatan hewan secara real-time. Digitalisasi memungkinkan juga peternak mengelola risiko terkait iklim dan meningkatkan akurasi performa ternak.

Sementara itu, Manmohan Singh dari OctoFrost memaparkan peran teknologi canggih dalam pengolahan daging babi melalui sistem rantai dingin untuk memberikan nilai tambah pada produk industri.

Disusul pemaparan dari Technical Director for Animal Protein USSEC East-Asia, Basilisa Reas, yang memberikan perspektif menarik mengenai kaitan antara nutrisi dan biosekuriti. Ia menegaskan bahwa untuk mencapai performa yang baik, peternak harus menyeimbangkan tiga pilar, yakni genetik, nutrisi, dan biosekuriti.

Ia menjelaskan bahwa nutrisi yang tepat adalah langkah awal biosekuriti. Diet seimbang memperkuat imun, menjaga integritas usus sebagai penghalang infeksi alami, dan mengurangi tekanan penyakit dalam kelompok ternak. Dengan kecukupan nutrisi, terbukti mampu mengurangi ketergantungan peternak pada antibiotik yang sekaligus menjawab isu resistansi antimikroba global.

Suasana Seminar Nasional AMI di NICE PIK 2.

Rangkaian seminar tersebut juga menjadi momen spesial karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun AMI yang ke-24, yang berdiri sejak 8 Mei 2002. Dalam kesempatan tersebut, Sauland Sinaga menyampaikan apresiasinya kepada para pendiri, di antaranya Dr Rachmawati Siswandi dan Bambang Suharno, atas dedikasinya membangun asosiasi hingga saat ini.

Usai seminar yang ditutup dengan diskusi panel, kegiatan pun masih berlanjut dengan agenda internal Munas AMI untuk menentukan arah organisasi ke depan. (RBS)

RUPS 2025: JAPFA PERKUAT FUNDAMENTAL, LABA DAN EKUITAS TUMBUH SIGNIFIKAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun buku 2025, didorong oleh strategi efisiensi, inovasi operasional, dan penguatan di seluruh lini bisnis. Hal ini disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPS) yang diselenggarakan pada 29 April 2026.

Sepanjang 2025, JAPFA membukukan penjualan neto sebesar Rp 60,72 triliun, meningkat dari Rp 55,80 triliun pada tahun sebelumnya. Laba usaha turut naik menjadi Rp 6,18 triliun dari Rp 5,06 triliun, sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4 triliun, tumbuh signifikan dari sekitar Rp 3,02 triliun pada 2024. Peningkatan kinerja ini juga tercermin pada laba per saham (EPS) yang naik dari Rp 260 menjadi Rp 344 per saham. Dari sisi neraca, total aset Perseroan meningkat menjadi Rp 40,06 triliun dan ekuitas naik menjadi Rp 20,02 triliun, mencerminkan fundamental keuangan yang semakin kuat.

Direktur JAPFA, Leo Handoko, menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil konsistensi Perseroan dalam menjalankan strategi operasional yang adaptif di tengah dinamika industri.

“Pencapaian ini mencerminkan fokus kami pada efisiensi, inovasi, dan peningkatan kualitas di seluruh segmen usaha. Kami berkomitmen menghadirkan produk dan layanan terbaik sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Kinerja positif JAPFA didukung oleh kontribusi seluruh segmen usaha. Segmen pakan ternak memperkuat efisiensi melalui penerapan teknologi dan optimalisasi energi alternatif, serta strategi segmentasi produk untuk memperkuat daya saing. Segmen pembibitan unggas terus memperluas kapasitas melalui modernisasi fasilitas serta peningkatan penetrasi pasar domestik dan ekspor, sementara segmen peternakan komersial tetap menjadi kontributor utama dengan dukungan inovasi kandang closed house dan penguatan kemitraan peternak.

Di sisi hilir, segmen pengolahan hasil peternakan dan produk konsumen terus mendorong inovasi dan peningkatan kapasitas produksi. Sedangkan segmen budidaya perairan mencatat pertumbuhan melalui ekspansi pasar ekspor dan penguatan dukungan teknis kepada pelanggan.

“Keberhasilan JAPFA pada 2025 merupakan hasil kolaborasi seluruh tim dan mitra bisnis kami. Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi, memperluas pasar, serta memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutup Leo Handoko. (Rilis)

EKSPOR PRODUK SUSU TEMBUS VIETNAM, DAYA SAING PETERNAKAN NASIONAL KIAN MENGUAT

Seremoni pelepasan ekspor produk olahan susu ke Vietnam. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan ekspor produk olahan susu ke Vietnam menjadi langkah strategis dalam memperkuat posisi peternak dan pelaku usaha sekaligus meningkatkan nilai tambah industri peternakan nasional.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, I Ketut Wirata, mengatakan keberhasilan ekspor tersebut menunjukkan peningkatan daya saing produk susu Indonesia.

“Momentum hari ini menjadi bukti nyata bahwa produk susu Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor yang terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir,” ujarnya pada Pelepasan Ekspor Produk Olahan Susu PT Cisarua Mountain Dairy di Bogor, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data penerbitan sertifikat veteriner, dalam kurun waktu 2023-2026, total ekspor produk nasional telah melampaui 11,9 juta kilogram dengan nilai mencapai USD 15,3 juta. Dalam tiga tahun terakhir, peningkatan ekspor juga terjadi ke berbagai negara seperti Hong Kong, Filipina, dan Thailand, dengan Filipina menjadi pasar terbesar.

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan yang konsisten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir produk olahan susu yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia. “Hal ini mencerminkan komitmen kuat dalam memperluas akses pasar internasional,” sebutnya.

Menurut dia, keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh kapasitas produksi, tetapi juga pemenuhan standar internasional, terutama dalam aspek keamanan pangan dan kesehatan hewan. Pemerintah memastikan sistem jaminan mutu berjalan melalui pengawasan veteriner, sertifikasi, serta harmonisasi standar dengan negara tujuan ekspor.

Sementara itu, Dairy Manufacturing Director PT Cisarua Mountain Dairy, Bayu Triprasetyo, mengungkapkan dukungan dari pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu sekaligus memperlancar proses ekspor, termasuk ke pasar Vietnam yang kian menjanjikan.

“Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Kementerian Pertanian melalui pengawasan kesmavet, serta Kementerian Perdagangan yang telah mendorong kelancaran proses ekspor ke Vietnam. Sinergi ini semakin memperkuat komitmen kami untuk terus menghadirkan produk berkualitas serta berkontribusi lebih besar dalam peningkatan kinerja ekspor nasional,” ujar Bayu.

Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, pemerintah memastikan kegiatan ekspor tidak sekadar mendorong kinerja perdagangan nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi peternak dan pelaku usaha. (INF)

AUDIENSI ASOHI DENGAN MENTERI PPN

Foto bersama usai audiensi ASOHI bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Jakarta, Selasa (5/5/2026). Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) melakukan audiensi strategis dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Prof Rachmat Pambudy. Pertemuan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi antara pelaku industri obat hewan dengan pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan hewan nasional.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi ASOHI dipimpin langsung oleh jajaran pengurus inti, di antaranya Ketua Umum Akhmad Harris Priyadi, Sekretaris Jenderal Rivo Ayudi Kurnia, Ketua Dewan Pakar Prof Budi Tangendjaja, Ketua Badan Pengawas ASOHI (BPA) Gowinda Sibit, bersama anggota Rakhmat Nuriyanto, serta Sekretaris BPA Bambang Suharno sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

Kepada Menteri PPN, ASOHI turut melaporkan gambaran usaha bisnis obat hewan hingga nilai ekspor yang mencapai triliunan rupiah dalam setahun. Harris juga memperkenalkan struktur kepengurusan baru hasil Munas, serta memaparkan kontribusi nyata asosiasi terhadap sektor peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Fokus utama yang disampaikan meliputi peningkatan volume ekspor dan upaya asosiasi dalam menjaga standar kualitas obat hewan di pasar domestik maupun internasional.

Diskusi juga berkembang pada isu-isu krusial seperti implementasi One Health. ASOHI juga menegaskan komitmennya terhadap penanganan antimicrobial resistance (AMR) atau resistansi antimikroba yang terus menjadi perhatian utama dalam industri kesehatan hewan global.

Selain itu, ASOHI juga meminta arahan dari menteri mengenai langkah strategis agar industri obat hewan dapat lebih berperan aktif dalam pembangunan nasional di masa mendatang.

Suasana audiensi.

Adapun Menteri Prof Rachmat Pambudy didampingi oleh Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas Jarot Indarto, Perencana Ahli Utama Anang Nugroho, Tim Ahli Suaedi Sunanto, serta jajaran pejabat lainnya.

Prof Rachmat pun menekankan beberapa poin penting bagi ASOHI, di antaranya terkait peningkatan daya saing. Menekankan pentingnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di industri peternakan Indonesia. Kemudian mendorong peningkatan performa ekspor obat hewan. Hingga kontribusi pembangunan dengan mengharapkan peran aktif asosiasi dalam mendukung kebijakan pangan nasional.

Pertemuan ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi yang telah lama terjalin. Hubungan antara Prof Rachmat Pambudy dengan media industri peternakan, khususnya Infovet, sudah terbangun sejak lama melalui berbagai kolaborasi, antara lain penerbitan buku “70 Tahun Agribisnis Ayam Ras di Indonesia”, buku “40 Tahun ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia)”, serta keterlibatan beliau sebagai narasumber ahli bagi Infovet.

Pemred Infovet Bambang (paling kiri) saat memberikan Majalah Infovet dan Info Akuakultur kepada Menteri PPN Prof Rachmat Pambudy (tiga kanan).

Melalui audiensi ini, diharapkan tercipta keselarasan kebijakan antara pemerintah dan pelaku usaha demi kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. (INF)

SEARY 9.0 UNSOED ANGKAT ISU KEMANDIRIAN PANGAN DAN OPTIMALISASI SUMBER DAYA LOKAL

Foto bersama dalam acara SEARY 9.0 Unsoed. (Foto-foto: Istimewa)

Unit Penelitian dan Pengembangan Peternakan (UP3) Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) sukses menyelenggarakan Soedirman Event of Animal Husbandry ke-9 (SEARY 9.0) dalam bentuk talkshow nasional yang mengangkat isu strategis seputar inovasi, pangan, dan pengelolaan sumber daya lokal.

Mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal untuk Mendukung SDGs dan Kemandirian Pangan Nasional”, kegiatan ini digelar pada Sabtu (2/5/2026) di Ruang Konferensi Lantai 1 Gedung B Fapet Unsoed.

Acara dipandu oleh moderator Hilmy Abdurrasyid Ammar SPt MSc selaku dosen Fapet Unsoed, dan menghadirkan narasumber utama Ir Bambang Suharno selaku Direktur Utama PT Gallus Indonesia Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

SEARY 9.0 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari Pulau Jawa maupun luar Jawa, di antaranya Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, UGM, UNDIP, UI, IPB, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, serta Unsoed dan sejumlah kampus di Purwokerto. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari fakultas peternakan, tetapi juga lintas disiplin ilmu seperti MIPA, ekonomi, biologi, dan pertanian yang relevan dengan isu SDGs.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unsoed, Prof Akhmad Sodiq. Turut hadir dalam acara tersebut Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, Ketua LPPM Unsoed Prof Elly Tugianti, Wakil Dekan Dr Agus Susanto, Pendiri UP3 Adila Haqi, Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta sejumlah alumni UP3 dan pejabat kampus lainnya.

Dekan Fapet Unsoed menyampaikan harapannya agar forum ini dapat menjadi wadah untuk menggali pengetahuan praktis dari narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Sementara itu, Rektor Unsoed memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak perwakilan kampus dari berbagai daerah.

Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Mereka juga menyampaikan terima kasih atas dukungan para alumni, termasuk para pendiri, yang terus setia mendampingi mahasiswa UP3 dalam berbagai kegiatan.

UP3 sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa Fapet Unsoed yang telah berdiri selama 34 tahun. Organisasi ini berawal dari aktivitas mahasiswa yang saat itu dipimpin oleh Adila Haqi dengan nama Aspirasi Mahasiswa (ASMA) . Hingga kini, alumni UP3 telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari industri peternakan, akademisi, birokrasi, hingga pelaku usaha. Sejak berdiri, UP3 terus berkembang dan turut membawa nama Fapet Unsoed dalam berbagai forum ilmiah di bidang peternakan.

Dari tiga kiri: Dr Agus Susanto, Dr Novia Andri, Bambang Suharno, Adila Haqi, Prof Akhmad Sodiq, Irlan (alumni), dan Prof Elly, saat seremoni pembukaan SEARY 9.0.

Dalam sesi talkshow, Bambang Suharno menegaskan pentingnya peran sektor peternakan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), baik sebagai penyedia sumber gizi maupun penggerak ekonomi masyarakat.

Ia juga menyoroti tantangan dalam sektor peternakan, khususnya terkait rendahnya konsumsi produk peternakan di Indonesia. “Konsumsi telur di Indonesia sekitar 200 butir per orang per tahun, sementara konsumsi rokok mencapai 1.300 batang per orang per tahun. Padahal harga satu batang rokok setara dengan satu butir telur,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi pengembangan sektor peternakan. Apalagi saat ini sering terjadi oversupply ayam dan telur yang solusi jangka pendeknya mengandalkan afkir dini dan cutting produksi DOC . Belum ada upaya konkret yang menjadi langkah utama yaitu peningkatan konsumsi ayam dan telur. Padahal jika ini dilakukan, dampaknya tidak hanya menguntungkan peternakan, tetapi juga meningkatkan gizi serta pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menambahkan, jika setiap orang di Indonesia meningkatkan konsumsi satu butir telur saja, maka dibutuhkan tambahan sekitar 280 juta butir telur, yang berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu orang.

Melalui forum ini, diharapkan lahir pemikiran dan kolaborasi lintas disiplin yang mampu mendorong optimalisasi sumber daya lokal guna memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus mendukung pencapaian SDGs. (INF)

YAPPI GELAR INDOLIVESTOCK SERVICES AWARD: DORONG SEMANGAT “FOOD FOR BETTER LIVES” MELALUI KETAHANAN PANGAN

Pengurus YAPPI. Dari kiri: Setya Winarno, Desianto B. Utomo, dan Bambang Suharno. (Foto: Infovet/Ridwan)

Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui gelaran Indolivestock Services Award. Dengan mengusung tema “Food for Better Lives”, penghargaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi nyata dalam menyediakan pangan bagi masyarakat.

Ketua YAPPI, Desianto B. Utomo, menjelaskan bahwa penghargaan ini menyasar perusahaan, lembaga, hingga perorangan yang aktif dalam kegiatan sosial berbasis pangan dan gizi. Bentuk kontribusi yang dimaksud sangat beragam, mulai dari pemberian bantuan pangan, penyelenggaraan bazaar pangan murah, hingga inisiatif berbasis komunitas yang rutin dilakukan kepada masyarakat.

“Intinya adalah bagaimana kontribusi mereka terkait pangan ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers YAPPI, Kamis (30/4/2026), di Telaga Seafood Restaurant, Cibubur.

Penerima penghargaan tidak dipilih secara sembarang. Terdapat proses penjaringan yang sistematis, mulai dari seleksi administrasi hingga tahap penetapan pemenang. Beberapa indikator penilaian utama yang menjadi acuan meliputi komitmen dan konsistensi, memiliki dampak sosial, tata kelola dan inovasi, hingga replikasi dan memiliki nilai inspiratif.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris YAPPI, Bambang Suharno, bahwa esensi dari penghargaan ini adalah pemberdayaan pangan yang berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar memberikan piala, tetapi memastikan bahwa akses pangan masyarakat terus terjaga melalui sinergi berbagai pihak.

Sementara itu, Bendahara YAPPI, Setya Winarno menceritakan sejarah singkat YAPPI yang telah berdiri sejak 2002. Dibentuk oleh berbagai organisasi profesi, YAPPI awalnya berfokus pada penilaian pelaku di bidang peternakan dengan nama Yayasan Pengembangan Peternakan Nasional. Namun seiring perkembangan zaman, sejak 2025, berubah menjadi Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia dengan tetap menggunakan nama YAPPI.

Adapun kepengurusan YAPPI saat ini dipunggawai oleh Prof Dr Ir Muladno MSA (Pembina), Drh Desianto B. Utomo MSc PhD (Ketua), Drh Deddy Kusmanagandi MBA (Wakil Ketua), Bambang Suharno (Sekretaris), Winarno SP MSi (Wakil Sekretaris), dan Ir Setya Winarno (Bendahara).

“Kami memberikan penghargaan agar menjadi inspirasi bagi pihak lain, bukan untuk berkompetisi. Semakin banyak pihak yang ikut bergerak dan berkontribusi, maka akan semakin baik bagi ketahanan pangan kita,” pungkas Setya.

Melalui Indolivestock Services Award, YAPPI berharap semangat “Food for Better Lives” yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Indolivestock Expo & Forum 2026, 16-18 Juni, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem pangan yang mandiri dan berdaulat.

Bagi yang berminat ikut dalam penilaian Indolivestock Services Award 2026 bisa mengisi form di link pendaftaran berikut: https://bit.ly/Registration_Indolivestock_Award_2026. Pendaftaran paling lambat 11 Mei 2026. (RBS)

WAMENTAN SUDARYONO: SEKTOR PETERNAKAN SERAP TENAGA KERJA

Momen penyerahan cinderamata kepada Wamentan Sudaryono. (Foto: NDV)

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengapresiasi potensi peternakan di Ciamis yang dinilai cukup besar, terutama untuk ayam pedaging. 

Lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) peternakan di daerah Ciamis sudah banyak diminati industri sebelum lulus. 

“Ini menunjukkan sektor peternakan punya prospek bagus dan menyerap tenaga kerja,” katanya saat ditemui awak media usai Dialog Perunggasan “Konsolidasi Peternak Rakyat Nasional 2026” di Ciamis, Jawa Barat, Selasa (28/04).

Ia menuturkan jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari sektor peternakan, khususnya perunggasan seperti ayam petelur dan ayam pedaging.

“Ada jutaan orang yang menggantungkan hidup dari sektor ini. Mereka tidak berpenghasilan tetap, akan tetapi hasil ternaknya bisa menghidupi keluarga,” ujarnya. 

Sudaryono didampingi Ketua Umum Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan menambahkan, saat ini nilai tukar petani (NTP) mengalami peningkatan.

Hal tersebut menunjukkan kesejahteraan petani dan peternak semakin membaik. Kendati demikian, pemerintah akan terus meningkatkannya.

Sudaryono menegaskan, sektor pangan menjadi prioritas pemerintah karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. “Sektor pangan ini sangat strategis. Tidak boleh kita bergantung pada pihak lain,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti peran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai mampu menciptakan pasar baru bagi hasil pertanian dan peternakan.

“Sekarang tidak ada lagi hasil pertanian yang terbuang. Semua terserap pasar. MBG menjadi emerging market bagi petani dan peternak,” jelasnya.

Meningkatnya kebutuhan protein masyarakat melalui program tersebut berdampak pada naiknya permintaan produk seperti telur dan daging ayam.

Selain itu, Sudaryono menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga komoditas pangan, terutama daging ayam dan telur, agar tidak terlalu tinggi maupun terlalu rendah.

“Kalau harga terlalu tinggi harus diturunkan, kalau terlalu rendah harus dinaikkan. Harus dijaga di kisaran yang wajar,” tegasnya.

Pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan produk lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, termasuk dalam program MBG.

“Kalau bisa jangan impor. Jika tidak ada susu, bisa diganti telur atau ayam. Terpenting dari produksi dalam negeri,” pungkasnya. (NDV)

LAUNCHING NUSANTARA LIVESTOCK AND POULTRY EXPO 2026: WUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN LEWAT KOLABORASI INDUSTRI YANG LEBIH MODERN & KOMPETITIF

Foto bersama saat peluncuran Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan produktivitas, industri peternakan nasional terus bergerak menuju arah yang lebih modern dan terintegrasi. PT Debindo Global Expo (DEBINDO) kembali menghadirkan Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 yang resmi diluncurkan pada Rabu (29/4/2026) di Hotel The Westin Jakarta.

Pameran yang kedua kalinya ini merupakan wujud nyata komitmen DEBINDO dalam mendukung program pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan industri peternakan dan perunggasan nasional melalui inovasi dan kolaborasi strategis.

"Penyelenggaraan pameran ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat daya saing industri peternakan nasional. Kolaborasi lintas sektor yang didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan industri ke depan," ujar Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan, sinergi dengan berbagai kementerian, asosiasi, dan mitra strategis diharapkan mampu mendorong penguatan ekosistem industri peternakan secara menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan hilirisasi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, ajang ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi serta praktik terbaik dalam industri peternakan nasional untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Hal itu juga seperti yang disampaikan Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi. "Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 hadir sebagai wadah kolaborasi yang menyatukan pelaku dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan inovasi, pengembangan genetika unggul, serta penguatan hilirisasi, sektor peternakan akan semakin kuat sebagai pilar ketahanan pangan nasional sekaligus mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Nuryani Zainuddin, turut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap pameran ini dapat menjadi platform strategis untuk mendorong kolaborasi, pertukaran informasi, serta pengembangan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperluas akses pasar dan kemitraan usaha secara berkelanjutan.

Beragam inovasi dan solusi akan dihadirkan dalam penyelenggaraan pameran ini, mencakup produksi peternakan dan unggas, sistem kandang dan containment, mesin dan peralatan peternakan, teknologi egg farming, pakan dan nutrisi, obat serta vaksin hewan, layanan logistik, hingga sektor akuakultur dan perikanan. Semuanya dihadirkan sebagai bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi, dengan menekankan pendekatan berkelanjutan sebagai fokus utama dalam pengelolaan peternakan modern.

Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 siap menghadirkan lebih dari 100 brand nasional dan internasional yang akan menampilkan berbagai produk serta solusi inovatif, mulai dari teknologi peternakan, pakan dan nutrisi, kesehatan hewan, hingga sistem pengolahan dan cold chain. Keragaman ini menunjukkan semakin berkembangnya industri peternakan yang kini didorong oleh integrasi teknologi.

Tak sekadar menjadi ajang pameran, Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 juga menghadirkan rangkaian program pendukung yang dikemas secara dinamis. Mulai dari forum diskusi dan seminar industri, sesi knowledge sharing bersama praktisi dan pakar, demonstrasi teknologi peternakan secara langsung, hingga agenda business matching yang membuka peluang kemitraan strategis bagi para pelaku usaha. Sejumlah program unggulan turut dihadirkan, antara lain Nusantara Food Summit, IPB Stakeholder Forum, Business Pitching bersama Ditjen PKH, serta Intensive Livestock Bootcamp berkolaborasi dengan NusaQu.

Selain itu, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, pada momentum peluncuran ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara DEBINDO dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), serta Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Penandatanganan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengembangan industri peternakan nasional, peningkatan kualitas pakan dan pembibitan, serta percepatan adopsi inovasi dan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperkuat ekosistem livestock yang lebih terintegrasi, produktif, dan berdaya saing.

Melalui peluncuran ini, DEBINDO membuka peluang bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dalam Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026, yang diselenggarakan bersamaan dengan Indonesia Agriculture Technology (INDOGRITECH) Expo 2026. Pameran akan berlangsung pada 4-7 November 2026, di Hall 5 ICE BSD City. (RBS)

GOPAN DORONG GENERASI MUDA AMBIL PERAN DI INDUSTRI PERUNGGASAN

Herry Dermawan, Ketua Umum GOPAN. (Foto: NDV)

Ketua Umum Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan, menilai industri perunggasan sekarang tengah memasuki fase penting. Herry menilai regenerasi peternak menjadi isu yang tidak kalah penting. 

Menurut Herry, sudah saatnya generasi muda didorong untuk mengambil peran lebih besar dalam industri perunggasan nasional. Kehadiran peternak muda dinilai mampu membawa pendekatan yang lebih efektif, inovatif, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi modern di sektor budidaya.

Pernyataan ini dikemukakan Herry saat membuka Dialog Perunggasan “Konsolidasi Peternak Rakyat Nasional 2026” yang diadakan di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Ciamis pada Selasa (28/4).

Sebagai organisasi yang mewadahi peternak rakyat mandiri, GOPAN memandang perlu adanya konsolidasi nasional untuk membahas berbagai isu strategis perunggasan. Mulai dari implementasi regulasi, akses peternak terhadap program-program pemerintah, hingga persiapan kaderisasi generasi penerus yang mampu mengambil peran dalam pembangunan industri perunggasan nasional.

“Peternak muda memiliki potensi besar menghadirkan sistem usaha yang lebih efisien dan visioner. Mereka akan menjadi penentu keberlanjutan peternak rakyat di masa depan,” katanya.

Perlindungan Bagi Peternak

Sementara itu, Sekretaris Jenderal GOPAN, Sugeng Wahyudi menegaskan harapannya agar usaha budidaya ayam pedaging (broiler) lebih banyak diserahkan kepada peternak rakyat sesuai amanat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menciptakan pemerataan ekonomi sekaligus memberikan perlindungan usaha bagi peternak kecil. 

“Kalau peternak rakyat mendapatkan ruang usaha yang lebih besar, maka generasi muda akan lebih bersemangat masuk ke sektor perunggasan karena ada perlindungan dalam berusaha,” jelas Sugeng.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dalam melakukan intervensi pasar ketika harga jatuh, sebagaimana perlindungan yang diberikan kepada petani padi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak kecil, agar tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi pasar.

Lebih lanjut Sugeng menjelaskan bahwa dialog perunggasan ini merupakan bagian dari program kerja triwulan organisasi. 

“Kegiatan ini melibatkan berbagai stakeholder lintas generasi mulai dari peternak rakyat, pelaku usaha korporasi, hingga akademisi sebagai pengamat industri,” imbuhnya.

Diskusi yang berlangsung diharapkan mampu melahirkan arah kebijakan strategis bagi penguatan usaha budidaya, serta mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam kepemimpinan komunitas peternak.

Dialog Perunggasan Nasional 2026 tersebut dipandu oleh Moderator Ir H Setya Winarno (Ketua Harian GOPAN). Para pembicara diantaranya Hari Adam, SE, (Peternak dan Ketua Kadin Ciamis), Dr Ir Rohadi Tawaf, MSi (Akademisi, peneliti senior ekonomi dan kebijakan peternakan Unpad) serta Drh Asrokh Nawawi dari Asosiasi Gabungan Perusahaan Pembibitan  Unggas (GPPU). (NDV)

DIALOG PERUNGGASAN DI CIAMIS, WAMENTAN DENGAR ASPIRASI PETERNAK RAKYAT

Wamentan Sudaryono berdialog secara langsung dengan peternak dan peserta dari SMK Industri Perunggasan. (Foto: NDV)

Selasa pagi, (28/4) terlihat ratusan peserta menghadiri Dialog Perunggasan “Konsolidasi Peternak Rakyat Nasional 2026” di Auditorium KH. Ahmad Dahlan, Ciamis, Jawa Barat. Acara ini diselenggarakan oleh Garda Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN). 

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono hadir dan berdialog secara langsung dengan peternak rakyat yang tergabung dalam GOPAN. 

Ia mendengarkan berbagai aspirasi, harapan, serta tantangan yang dihadapi para peternak. Sudaryono menegaskan bahwa aspirasi para peternak tersebut akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kebijakan ke depan, sehingga program pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan riil di lapangan.

“Semoga sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para pelaku usaha pertanian dapat terus diperkuat agar cita-cita besar menuju swasembada pangan nasional dapat terwujud,” harapnya. 

Menurutnya, komitmen pemerintah pusat terhadap penguatan sektor pertanian tidak hanya sebatas wacana, tetapi telah dibuktikan melalui berbagai kebijakan strategis yang dituangkan dalam sejumlah regulasi Presiden RI, Prabowo Subianto. Baik dalam bentuk Peraturan Presiden (Perpres) maupun Instruksi Presiden (Inpres) yang secara khusus mengatur percepatan pembangunan pertanian nasional.

Regulasi tersebut menjadi landasan kuat bagi seluruh daerah untuk bergerak lebih cepat dalam meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk sektor peternakan unggas yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional.

“Presiden Prabowo menempatkan swasembada pangan sebagai agenda penting nasional. Karena itu, pemerintah hadir dengan berbagai kebijakan nyata agar petani dan peternak mendapatkan dukungan yang lebih kuat, baik dari sisi produksi, distribusi, hingga kesejahteraan pelaku usaha pertanian,” jelasnya. 

Sementara itu Ketua Umum GOPAN, Herry Dermawan mengemukakan melalui forum konsolidasi ini, GOPAN berharap lahir langkah bersama yang lebih solid untuk memperkuat posisi peternak rakyat mandiri dalam menghadapi era baru industri perunggasan nasional.

“Kita berada di tengah modernisasi dan persaingan yang semakin ketat. Keberlanjutan sektor perunggasan tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan pasar, tetapi juga oleh keberpihakan terhadap peternak rakyat sebagai fondasi utama industri pangan nasional,” ungkapnya. 

Dalam acara ini juga berlangsung penandatanganan MoU Kandang Binaan GOPAN-SMK Industri Perunggasan Panjalu. Seremoni dilakukan oleh Wamentan, Ketua Umum GOPAN, dan Adisty Risnawati SPt, MM selaku Kepala SMK Industri Perunggasan Panjalu. (NDV)

UPDATE PENYAKIT IB-ND DALAM ELANCO POULTRY MASTER CLASS 2026

Foto bersama dalam Poultry Master Class 2026 yang digelar Elanco. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bertempat di Hotel Tentrem Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (27/4/2026), PT Elanco Animal Health Indonesia bersama PT SHS International menyelenggarakan Elanco Poultry Master Class 2026, yang banyak mengupas mengenai update seputar penyakit Infectious bronchitis (IB) dan Newcastle disease (ND).

“Poultry Master Class kali ini banyak membahas update IB dan ND dengan pembicara yang sesuai di bidangnya. Diharapkan melalui seminar ini kita mendapatkan update khususnya terkait challenge IB dan ND, termasuk intervensi dari Elanco dalam membantu mengatasi penyakit-penyakit tersebut,” ujar Senior Marketing Manager Elanco Animal Health Indonesia, Aura Maulana.

Kegiatan kali ini menjadi momentum Elanco untuk memperkenalkan produk vaksin terbarunya Avipro IB-ND C131, dalam membantu peternak unggas mengatasi gangguan serangan IB dan ND. Vaksin tersebut merupakan vaksin IB H120 dengan ND clone C13-1 dengan perlindungan unggul dan maksimal selama delapan minggu. Dapat diaplikasikan di hatchery dan di lapangan.

Sebab kedua penyakit tersebut masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan Tanah Air. Hal tersebut seperti disampaikan oleh perwakilan dari PT SHS International, Nining Indiarti selaku Area Coordinator Jakarta.

“Satu kasus saja bisa menurunkan performa, menaikkan FCR, yang berujung merugikan peternak. Hadirnya vaksin terbaru ini adalah jawaban dari komitmen kami dalam membantu memberikan proteksi terhadap unggas dengan lebih lama dan lebih awal,” kata Nining.

Seminar kali ini turut menghadirkan pembicara di antaranya Senior Scientist of GD Animal Health Service, and President of the European Collage of Poultry Veterinary Science Netherland Prof Sjaak de Wit DVM PhD Dipl ECPVS, bersama Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP, dan Senior Technical Consultant Vaccines Elanco Asia Pacific Dr Nicholas Phuah.

Prof Sjaak dan Prof Micheal turut menyampaikan materi mengenai perkembangan penyakit IB dan ND yang sampai saat ini masih mengganggu dan memberikan dampak merugikan pada peternakan unggas, baik broiler, layer, maupun breeder, di antaranya gangguan pernapasan, kerusakan organ, penurunan produksi, hingga penurunan kualitas telur.

“Kalau IB dan ND ini sudah bersatu, tentu sangat berat untuk mengatasinya, dampaknya pada recovery sangat sulit sekali,” ujar Prof Michael.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemberian vaksinasi yang optimal. Tentunya dengan memahami bagaimana karakteristik virus, penggunaan vaksinnya, sarana dan prasarana untuk menunjang vaksinasi, tenaga ahli, hingga monitoring pasca vaksinasi harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.

“Vaksin yang digunakan harus aman, bahkan untuk DOC sekali pun. Reaksi pasca vaksinasi juga harus minimal terutama pada iklim panas, di mana stres dapat berimplikasi. Dan yang terpenting juga adalah vaksinasi akan efektif tercapai apabila berintegrasi dengan biosekuriti dan manajemen farm yang baik,” sebutnya.

Untuk strategi vaksin, Nicholas Phuah, turut memberikan gambaran secara mendalam terkait penggunaan vaksin terbaru dari Elanco yang diklaim mampu memberikan proteksi terbaik pada unggas, khususnya dalam menghadapi penyakit IB dan ND. (RBS)

JAPFA DAN UGM HADIRKAN FASILITAS LAYER FREE-RANGE BERBASIS RISET DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan inovasi peternakan melalui serah terima hibah ayam petelur (layer) sistem free range di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fakultas Peternakan UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Inisiatif ini menjadi tonggak baru dalam kemitraan jangka panjang antara JAPFA dan UGM yang telah terjalin sejak tahun 2003. Kolaborasi tersebut secara bertahap berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari pembangunan Teaching Farm Closed House pada 2017, hibah laboratorium pascapanen berkapasitas 20.000 ekor ayam per hari, hingga pengembangan Closed House yang difokuskan pada penelitian makanan ternak yang mengikuti perbaikan genetika ayam untuk mendapatkan efisiensi optimum pada tahun 2019. Kini, sinergi tersebut berlanjut melalui penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) melalui pendekatan free range. 

Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia, JAPFA, menyampaikan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. “Pada tahap awal, kami menargetkan populasi 1.500 ayam petelur dengan potensi produksi sekitar 1.275 telur per hari. Lebih dari itu, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong inovasi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya produk pangan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ir Budi Guntoro, SPt, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JAPFA dalam mendukung pengembangan akademik dan riset. “Fasilitas Layer Free range ini menjadi pusat inovasi akademis yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Mahasiswa dapat belajar langsung mengenai praktik terbaik dalam kesejahteraan hewan, sehingga menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri peternakan ke depan,” ungkapnya. Fakultas Peternakan UGM sedang mengembangkan tiga model kandang yaitu Cages, Cage-free dan Free range untuk pembelajaran mahasiswa dengan pendekatan automasi dan sistem.

Hibah ayam petelur free range ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan di lingkungan akademik. Hibah ayam free range ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga fasilitas penelitian untuk mengkaji metode pemeliharaan ayam yang paling efektif dan berkelanjutan. 

Sistem free range yang diterapkan dalam fasilitas ini mengedepankan prinsip lima kebebasan hewan (Five Freedoms), di mana ayam memiliki akses ke area umbaran (outdoor) untuk mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak bebas, berinteraksi, dan berjemur di bawah sinar matahari. Pada siang hari, ayam dilepas di area terkbuka, sementara pada malam hari kembali ke kandang utama untuk menjaga keamanan dari predator.

Penerapan sistem ini telah banyak diadopsi di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap kesehatan fisik dan mental ayam maupun terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Akses terhadap pakan alami seperti serangga dan cacing di area umbaran turut berkontribusi pada peningkatan nilai nutrisi telur.

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan pasar telur premium di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan dalam proses produksi pangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen JAPFA sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein hewani yang halal, aman, dan higienis, sekaligus mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

KEMENTAN DORONG INDUSTRI PETERNAKAN UNJUK GIGI DI INDO LIVESTOCK 2026

Rapat sosialisasi persiapan Indo Livestock 2026. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PT Napindo Media Ashatama terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 sebagai ajang internasional yang mempertemukan pelaku industri peternakan, kesehatan hewan, dan pakan dari berbagai negara. Forum ini diproyeksikan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan kemajuan sektor peternakan Indonesia ke tingkat global.

Selain berfungsi sebagai pameran, Indo Livestock juga dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan, teknologi, dan inovasi terbaru. Kehadiran pelaku usaha internasional diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas serta mendorong peningkatan daya saing industri nasional.

Upaya tersebut ditandai dengan rangkaian sosialisasi yang digelar selama dua hari pada 20-21 April 2026 di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, BUMN, hingga pelaku usaha swasta di sektor peternakan dan industri pakan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat industri peternakan dari hulu hingga hilir. Ia menilai peran BUMN sangat strategis dalam mendukung pengembangan sektor tersebut.

“Kami ingin mendorong agar BUMN tidak hanya hadir sebagai institusi bisnis, tetapi juga sebagai lokomotif pembangunan peternakan nasional dengan mengambil peran strategis sebagai offtaker hasil peternakan rakyat, agregator rantai pasok, sebagai pendukung pembiayaan, logistik, hilirisasi, hingga penguatan ekspor,” ujar Nuryani, menekankan peran kunci BUMN dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional.

Ia juga menyebut Indo Livestock 2026 sebagai momentum penting untuk mendorong investasi dan kolaborasi yang lebih luas, seiring dengan potensi besar Indonesia di sektor peternakan, termasuk capaian swasembada ayam dan telur.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Makmun, mendorong para pelaku usaha turut serta dalam pameran berskala global tersebut.

“Ditjen PKH bekerja sama dengan Napindo menggelar acara Indo Livestock 2026 sebagai ajang strategis berkolaborasi. Kita ingin para pengusaha peternakan hadir dan ikut dalam acara tersebut supaya para mitra luar negeri yang hadir juga mengetahui perkembangan dan kemajuan industri peternakan di Indonesia,” kata Makmun.

Menurutnya, Indo Livestock bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga sarana untuk menampilkan capaian industri sekaligus memperluas jejaring bisnis. Dampak nyata terhadap pengembangan sektor menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan ini.

Sementara itu, Sales Manager PT Napindo Media Ashatama, Agnes Nilam Sunardi, menegaskan komitmen pihaknya dalam menghadirkan pameran berkualitas yang memberikan dampak positif bagi industri nasional.

“Kami perusahaan penyelenggara pameran profesional yang memberikan nilai positif bagi bangsa Indonesia di dunia internasional. Kami sudah melaksanakan 100 pameran, dan di antaranya merupakan pameran internasional Indo Livestock Expo dan Forum sejak 2002,” ujar Agnes.

Ia menambahkan, Indo Livestock menjadi sarana untuk memperkenalkan inovasi industri peternakan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program edukatif.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan hasil industri peternakan dan kesehatan hewan kepada dunia, mendorong dan memajukan industri agar mampu bersaing di kancah internasional, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi di bidang peternakan dan pertanian,” pungkasnya.

Indo Livestock 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16-18 Juni di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Kegiatan ini ditargetkan diikuti lebih dari 600 peserta dari 40 negara dengan sekitar 20.000 pengunjung profesional. Melalui sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri peternakan nasional yang lebih terintegrasi, berdaya saing, serta berkelanjutan di tengah dinamika pasar global. (INF)

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

INDO LIVESTOCK GRAND CHAMPIONSHIP DIPERKENALKAN, DORONG STANDAR KOMPETISI TERNAK NASIONAL

Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026. (Foto: Istimewa)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus memperkuat posisinya sebagai platform strategis dalam mendukung pertumbuhan dan transformasi industri peternakan nasional. Salah satu bentuk perwujudan tersebut tercermin melalui partisipasi Indo Livestock sebagai mitra dalam Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026, Sabtu (11/4/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Gebyar Ternak Padjadjaran”.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai program seperti kontes ternak, pameran, serta kegiatan edukatif bagi pelaku industri dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi ini, Indo Livestock berkontribusi memperkuat ekosistem peternakan, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong standar dan sistem kompetisi ternak di tingkat nasional, sejalan dengan format kontes yang telah berkembang di berbagai daerah.

Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, melihat adanya potensi besar dalam pengembangan standar kompetisi ternak yang lebih terstruktur dan terintegrasi di tingkat nasional.

“Kompetisi ternak di berbagai daerah menunjukkan antusiasme dan kualitas yang terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bahwa industri membutuhkan sebuah platform yang dapat mengakomodasi standar yang lebih terukur sekaligus mempertemukan para pelaku industri terbaik dalam satu panggung nasional,” ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, pada penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 nanti menghadirkan inovasi baru melalui peluncuran Indo Livestock Grand Championship sebagai salah satu highlight utama.

Mengusung konsep kompetisi ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, program ini dirancang sebagai pengembangan dari berbagai ajang serupa yang telah berkembang di berbagai daerah, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendorong penerapan standar kualitas terbaik di tingkat nasional.

Menariknya, Indo Livestock Grand Championship akan menjadi kompetisi peternakan indoor pertama di Indonesia yang diselenggarakan di dalam hall exhibition, menghadirkan pengalaman baru dalam penyelenggaraan kontes ternak. Ajang ini dirancang tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan atas perkembangan industri peternakan Indonesia, sekaligus membuka ruang apresiasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan antar pelaku industri.

Melalui inisiatif ini, Napindo berharap dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas, daya saing, serta kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. Lebih jauh, program ini juga dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kegiatan peternakan di tingkat daerah dengan forum industri berskala internasional.

Momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang akan hadir dengan skala lebih luas dan program yang semakin komprehensif. Pameran akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer