-->

NLP EXPO & INDOGRITECH EXPO 2026, HADIRKAN INOVASI PERTANIAN DAN PETERNAKAN PERKUAT KETAHANAN PANGAN

Prosesi pemotongan pita sebagai simbol resmi dibukanya NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026. (Foto-foto: Dok. Debindo)

Nusantara Livestock & Poultry Expo (NLP Expo) dan Indonesia Agriculture Technology Expo (INDOGRITECH Expo) 2026, resmi dibuka pada Rabu (4/11/2026), berlangsung di Nusantara Hall, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang.

Mengusung tema “Shaping a Resilient Food Estate for Indonesia”, pameran yang digelar 4-7 November 2026 ini bertujuan memperkuat ekosistem pertanian dan peternakan nasional melalui inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan peluang bisnis yang berkelanjutan.

Diselenggarakan oleh Debindo Group, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 menghadirkan berbagai merek nasional dan multinasional, dengan area pameran seluas 5.000 meter persegi di Hall 5 ICE BSD City. Selama empat hari penyelenggaraan, acara ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung dari berbagai segmen industri, termasuk pelaku usaha, pengambil keputusan, petani, peternak, asosiasi, akademisi, serta pemangku kepentingan pemerintah.

Dalam Opening Ceremony yang dipimpin Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, turut hadir sejumlah pejabat pemerintah, pimpinan asosiasi, akademisi, serta perwakilan industri dari sektor pertanian dan peternakan. Penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum strategis untuk mendorong transformasi sektor pertanian dan peternakan Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, dinamika pasar, kebutuhan peningkatan produktivitas, dan pentingnya menjaga keberlanjutan pasokan pangan nasional.

"Selama empat hari pameran ini diharapkan akan menjadi platform bisnis serta kemitraan strategis, dan produktif dalam memberikan kemajuan nyata bagi industri," kata Rafidi.

Momen tersebut juga dimanfaatkan dengan penyelenggaraan Nusantara AgriFuture Summit, sebuah forum diskusi yang mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan sektor pertanian dan peternakan bertajuk “Circular Agriculture: Unlocking the Potential of Land and Livestock”. Diskusi menghadirkan tiga narasumber di antaranya Dr Drh Makmun MSc (Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH), Phil Rickard (Executive Director Asosiasi Biochar Indonesia Internasional/ABII), serta Prof Bayu Dwi Apri Nugroho STP MAgr PhD (Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Litbang dan Kajian Strategis DPN HKTI).

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian oleh Ketua DPD HKTI Banten, Andra Soni SM MAP serta Opening Remarks oleh Ketua Umum DPN HKTI, Dr Sudaryono BEng MM MBA.

“Penguatan sektor pertanian dan peternakan harus berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas dan kesejahteraan para pelakunya. Kita ingin petani dan peternak mendapatkan manfaat nyata dari setiap kebijakan yang dijalankan. Melalui kegiatan seperti NLP Expo dan INDOGRITECH Expo ini, saya berharap kolaborasi dan pemanfaatan teknologi dapat semakin mendorong kemajuan sektor pertanian dan peternakan Indonesia,” ujar Sudaryono.

Sambutan ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian peresmian kedua pameran, yang dilanjutkan dengan prosesi pemotongan pita sebagai simbol resmi dibukanya NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026.

Penyelenggaraan Nusantara AgriFuture Summit.

Memperkuat Kolaborasi untuk Ketahanan Pangan Nasional
Ketahanan pangan membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, peneliti, petani, dan pelaku industri. Melalui NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026, para pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun kemitraan strategis, mengeksplorasi solusi teknologi terkini, serta memperluas akses terhadap peluang investasi dan pasar.

Kedua pameran menyoroti berbagai aspek penting dalam pengembangan sektor pertanian dan peternakan, mulai dari modernisasi praktik budi daya, penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming), penguatan biosekuriti, hingga pengembangan praktik produksi yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada peluang ekspor.

Melalui pendekatan tersebut, acara ini diharapkan menjadi platform yang menghubungkan kebutuhan industri dengan inovasi, sekaligus mendukung upaya membangun sistem pangan Indonesia yang lebih produktif, tangguh, dan berkelanjutan.

NusaFarm: Menghadirkan Pengalaman Pertanian Langsung di Area Pameran
Sebagai bagian dari pengalaman pengunjung, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 juga menghadirkan NusaFarm, sebuah area pertanian berbasis pengalaman (experiential farming) yang menampilkan konsep pertanian cerdas dan aktivitas pertanian secara langsung.

NusaFarm dirancang untuk menghubungkan ekosistem pertanian dengan audiens bisnis maupun konsumen akhir melalui pengalaman langsung, demonstrasi teknologi, aktivitas interaktif, serta kesempatan berinteraksi dengan para profesional industri.

Kehadiran NusaFarm diharapkan dapat memperluas pemahaman pengunjung mengenai penerapan teknologi pertanian modern, sekaligus mempertemukan penyedia solusi dengan pengguna teknologi dari berbagai segmen pasar.

Rangkaian Program Bisnis dan Kolaborasi Industri 
Selain area pameran, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 turut menghadirkan berbagai program pendukung yang dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan, membuka peluang kemitraan, dan mendorong pengembangan bisnis.

Program-program yang hadir melengkapi fungsi pameran sebagai platform bisnis yang tidak hanya menampilkan produk dan teknologi, tetapi juga mendorong dialog, pertukaran pengetahuan, serta pembentukan hubungan kerja sama yang berkelanjutan.

Salah satunya adalah IPB Stakeholder Forum 2026 bertajuk “Meneguhkan Kemandirian, Menginspirasi Masa Depan”. Forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan untuk berbagi perspektif dan menjajaki peluang kolaborasi dalam mendukung kemajuan sektor pertanian dan peternakan nasional.

Selain itu, terdapat HILIRIZE! “Co-op the Future, Create the Value!” pada 5 November 2026, yang mengangkat peluang hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah bagi produk peternakan Indonesia. Sementara itu, Indonesia Agri-Future Forum 2026, hasil kolaborasi HKTI dan Pemuda Tani Indonesia pada 6 November 2026, akan membahas digitalisasi pertanian serta penguatan resiliensi pekerja migran terampil dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Berbagai program lainnya turut dihadirkan melalui kolaborasi dengan asosiasi, institusi, serta pelaku industri di sektor pertanian dan peternakan. Melalui rangkaian program tersebut, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 diharapkan dapat menjadi ruang pertemuan bagi para pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, dan komunitas untuk memperluas wawasan serta membangun peluang kolaborasi lintas sektor.

Foto bersama usai pembagian plakat.

Membuka Peluang bagi Petani dan Pelaku Usaha Daerah
Salah satu fokus NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 adalah memperluas keterlibatan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), perusahaan pertanian dan peternakan, serta pemangku kepentingan daerah.

Melalui pendekatan kolaborasi bisnis antar pelaku usaha (business-to-business/B2B) dan pemerintah dengan pelaku usaha (business-to-government/B2G), platform ini diharapkan dapat mempertemukan petani dan peternak dengan penyedia teknologi modern serta pemangku kepentingan pemerintah.

Akses terhadap teknologi, jejaring industri, dan peluang kemitraan menjadi bagian penting dalam mendorong modernisasi pertanian di berbagai daerah. Kolaborasi yang terbangun juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal serta memperkuat kontribusi mereka terhadap ketahanan pangan nasional.

Melanjutkan Momentum Pertumbuhan Industri
Pada penyelenggaraan tahun lalu, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo mencatat kehadiran 7.814 pengunjung selama empat hari, dengan partisipasi lebih dari 70 merek nasional dan multinasional di area pameran seluas 5.000 meter persegi. Presentasi penyelenggara juga mencatat bahwa 82% pengunjung merupakan pengambil keputusan.

Capaian tersebut menjadi landasan untuk memperluas jangkauan penyelenggaraan pada 2026, dengan target lebih dari 100 merek peserta dan 20.000 pengunjung potensial.

Dengan mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, komunitas petani, akademisi, dan pemerintah dalam satu platform, NLP Expo dan INDOGRITECH Expo 2026 diharapkan dapat memperkuat konektivitas industri serta membuka peluang pertumbuhan baru bagi sektor pertanian dan peternakan.

Sesuai tema, penyelenggaraan ini juga menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pangan nasional yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan. (RBS)
 

CJ INDONESIA 2ND SYMPOSIUM: SOLUSI NUTRISI STRATEGIS DI TENGAH LONJAKAN HARGA PAKAN

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost”. (Foto-foto: Dok. Infovet)

CJ Indonesia 2nd Symposium mengusung tema “Strategic Nutrition Solutions Amid Rising Feed Cost” sukses diselenggarakan bekerja sama dengan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026), di JS Luwansa Hotel and Convention, Jakarta.

Acara ini menjadi momentum penting bagi industri peternakan dalam merespons tantangan biaya bahan baku yang kian meningkat. Technical Marketing Executive CJ BIO, Dr Jae Cheol Kim, mengupas tuntas strategi pengelolaan nutrisi dalam menghadapi tingginya biaya bahan pakan. Ia menekankan pentingnya mempertahankan standar nutrisi terbaik untuk menjaga produktivitas ternak di tengah tekanan ekonomi saat ini.

Beberapa strategi efisiensi pakan yang dapat dilakukan di antaranya menurunkan nilai protein kasar dengan tetap memenuhi kebutuhan asam amino serta penggunaan bahan baku alternatif. Penurunan protein kasar menjadi salah satu strategi yang bisa diterapkan disaat harga bungkil kedelai yang sangat tinggi seperti saat ini. Berfokus pada kecukupan kebutuhan asam amino esensial menjadi kunci dalam formulasi rendah protein.

Dr Kim juga menjelaskan salah satu pendekatan terbaru yang dapat dilakukan yaitu menurunkan nilai digestible lysine dalam pakan. Penurunan nilai lysine akan membuat penggunaan asam amino lainnya berkurang, tetapi untuk mempertahankan performa rasio arginine/lysine harus ditingkatkan. Berdasarkan penelitian, pendekatan ini mampu mencegah penurunan performa broiler disaat feedcost dan kualitas pakan berusaha ditekan.

Melengkapi penjelasan mengenai arginine, Dr Jessica Han dalam presentasinya menjelaskan manfaat lainnya dari arginine selain mengoptimalkan produktivitas. Peningkatan rasio arginine dalam pakan terbukti mampu menjaga produktivitas ternak dalam kondisi heat stress. Selain itu, arginine juga mampu memberikan energi dalam bentuk creatine secara optimal dan sesuai kebutuhan.

Dr Han menunjukkan perbandingan penambahan arginine dan GAA pada pakan yang kekurangan energi metabolis (ME). Hasilnya penambahan arginine terbukti mampu menjaga produktivitas tetap tinggi walaupun energi pakan sudah dikurangi, tetapi tidak dengan GAA.

Pembicara dari kiri: Jae Cheol Kim, Jessica Han, dan Roxanne Barrion.

Sementara pada pembahasan berikutnya dari CJ BIO APAC Technical Solution Center, Dr Roxanne Barrion, memaparkan strategi untuk mempertahankan konsumsi pakan unggas dalam kondisi stres akibat suhu dan kelembapan yang tinggi melalui penambahan inosine monophosphate (IMP) dan tryptophan.

Penurunan konsumsi pakan pada unggas yang mengalami stres akan mengakibatkan penurunan performa hingga mortalitas. Pada kesempatan ini pula, Dr Roxanne memperkenalkan produk tryptophan terbaru dari CJ BIO, yaitu TRP Pro yang berbentuk granule. Peningkatan kualitas fisik dari powder menjadi granule membuat proses pencampuran pakan lebih optimal serta mengurangi potensi loss yang sering terjadi ketika menggunakan bahan baku dalam bentuk powder. Selain itu, TRP Pro mengandung tambahan nutrisi yang berasal dari single cell protein di dalamnya.

Pemberian cendera mata bagi peserta yang mengajukan pertanyaan.

Usai pemaparan semua materi, CJ BIO secara resmi juga meluncuran platform layanan terbaru yaitu “NewTriSolution” yang dirancang untuk membantu pelanggan CJ dalam berbagai kebutuhan seperti program formulasi pakan berbasis web, rasio optimal asam amino, kalkulator asam amino dan ROI. CJ BIO juga menyediakan layanan pengujian laboratorium in-vitro untuk menguji kualitas bahan baku. Dr Kim menyatakan CJ BIO berkomitmen untuk menjadi technical partner bagi seluruh customer CJ BIO. (RBS)

MENGELOLA BROILER SECARA HOLISTIK: KUNCI SUKSES PETERNAKAN SEHAT DAN MENGUNTUNGKAN

Baskoro saat memaparkan materinya. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Dalam dunia peternakan ayam pedaging (broiler), keberhasilan sebuah bisnis sangat bergantung pada bagaimana peternak mengelola kesejahteraan unggas secara menyeluruh.
 
Hal tersebut dibahas oleh National Poultry Technical Consultant, Drh H. Baskoro Tri Caroko, yang menjadi narasumber tunggal dalam Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health” yang dilaksanakan Jannisika Animal Health bersama Golden Rooster, dan Majalah Infovet, Selasa (3/11/2026). 

Dalam paparannya Baskoro menuturkan bahwa kesehatan dan produktivitas broiler dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu perilaku broiler, perubahan lingkungan, dan perlakuan manusia. “Jika ketiga faktor ini diabaikan dan tidak dikelola dengan baik, ayam akan rentan terserang penyakit dan bisnis peternakan pun terancam merugi,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, secara alami broiler terpaksa harus makan, minum, tidur, hingga buang air di tempat yang sama. Kondisi ini membuat mereka hidup di lingkungan yang tercemar kotoran serta paparan bau amonia yang semakin pekat setiap harinya, sehingga berpotensi menjadi sumber utama munculnya berbagai penyakit di kandang.

Situasi ini kian pelik dengan adanya tantangan perubahan iklim yang memicu kelangkaan bahan baku pakan serta peningkatan suhu ekstrem. Kemudian penurunan kualitas bahan baku seperti tepung ikan, bungkil kedelai, jagung pipilan, hingga dedak lokal berdampak langsung pada performa ternak, mulai dari efisiensi FCR yang memburuk, pertumbuhan terhambat, hingga tingginya angka kematian yang berujung pada kerugian finansial.

Di balik faktor lingkungan dan biologis tersebut, keberhasilan kesejahteraan unggas pada dasarnya sangat bertumpu pada kinerja dan kepedulian tim produksi di lapangan. Oleh karena itu, Baskoro memaparkan deskripsi pekerjaan, standarisasi tugas, serta tingkat kesejahteraan operator kandang dan pengawas lapangan harus menjadi perhatian utama. Dijelaskannya bahwa operator kandang layak mendapatkan penghasilan yang layak melalui evaluasi berkala dengan pemberian reward dan peningkatan kapasitas tim melalui rapat konsolidasi rutin. Dengan begitu, kualitas kerja di kandang akan senantiasa terjaga.

“Selain itu, pengawas lapangan juga wajib memahami tata kelola secara holistik agar tidak terjadi salah persepsi dalam mengumpulkan data akurat di lapangan,” jelasnya.

Sharing Online “Optimalisasi Performa Broiler melalui Program Pemeliharaan dan Preventive Health”. 

Agar bisnis tetap berkelanjutan, peternak harus menertibkan kapasitas produksi berdasarkan perhitungan teknis yang matang. Ia pun menjelaskan kapasitas ideal yang direkomendasikan adalah 12 kg/meter dengan mempertimbangkan jenis kandang. Sebagai contoh, kandang open house lantai postal mampu menampung 7-8 periode/tahun dengan hasil panen 0,8-1 kg/ekor, kemudian open house lantai panggung maksimal 6 periode/tahun dengan panen 1,4-1,6 kg/ekor, serta closed house lantai postal dapat mencapai 5 periode/tahun dengan hasil panen 1,8-2 kg/ekor.

Adapun langkah krusial berikutnya, diungkapkan Baskoro adalah persiapan kandang yang bersih, steril, dan lengkap sebelum ayam masuk. Proses ini meliputi pencucian kandang dengan deterjen dan disinfektan, pembersihan pipa air (flushing) menggunakan asam sitrat untuk menghilangkan kerak dan lumut, serta menerapkan masa istirahat kandang selama 14 hari untuk memastikan mikroorganisme patogen mati.

Ia mengemukakan, dengan menerapkan manajemen pengendalian yang baik, seperti pemberian antibiotik secara bijak di awal umur serta pemanfaatan probiotik untuk efisiensi pencernaan, penerapan preventive health secara holistik ini akan membuat bisnis peternakan menjadi lebih safety dan profitable.

“Kalau semua ini bisa kita wujudkan, berarti level beternak sudah meningkat. Semoga ini menjadi jalan kebaikan untuk kita memasuki peradaban baru. Melalui preventive health secara holistik efektif mencegah terjadinya AMR, emerging dan re-emerging disease yang memenuhi standar One Health,” tukasnya. (RBS)

KEMENTAN DAN BULOG SALURKAN 33.000 TON JAGUNG UNTUK PETERNAK DI PULAU JAWA

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, menegaskan pemenuhan kebutuhan jagung pakan harus dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Menurutnya, ketersediaan bahan baku pakan berpengaruh terhadap biaya produksi peternak dan keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

Pemerintah mempercepat pasokan jagung pakan ke Pulau Jawa dengan menyiapkan distribusi sekitar 33.000 ton dari Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Langkah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ini dilakukan untuk merespons kebutuhan peternak mikro yang sebelumnya disampaikan melalui Komisi IV DPR RI.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan ketersediaan jagung berpengaruh terhadap biaya produksi dan keberlangsungan usaha peternak. Kementan juga berkoordinasi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi distribusi serta mencegah penimbunan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, meninjau pemuatan 10.000 ton jagung di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, pada 22 Oktober 2026. Saat peninjauan berlangsung, sebanyak 8.214 ton telah dimuat dan dijadwalkan berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Selain dari Sulawesi Selatan, BULOG menyiapkan sekitar 15.000 ton jagung dari Gorontalo dan 8.000 ton dari NTB. Pasokan tersebut akan disalurkan kepada peternak mikro di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melalui mobilisasi ini, pemerintah berharap ketersediaan jagung pakan di Pulau Jawa semakin terjaga sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan baku pakan dan mendukung keberlangsungan usaha peternakan.

(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)

MALAYSIA BUKA PELUANG IMPOR KAMBING DAN DOMBA DARI INDONESIA

Peluang ekspor kambing dan domba Indonesia ke Malaysia kembali terbuka seiring minat pelaku usaha negara tersebut untuk mendatangkan ternak hidup. Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah-langkah untuk membuka kembali akses ekspor tersebut.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, mengatakan komunikasi dengan otoritas Malaysia telah dilakukan untuk membahas ketentuan ekspor. Salah satu opsi transportasi yang dikaji adalah penggunaan kapal ternak Camara Nusantara guna mendukung pengiriman yang efisien.

Ahlum Nazar dari PT Aliyah Rizq Agriculture menyebut perusahaannya, dengan dukungan para peternak mitra di Sumatera Utara, berpotensi memasok sekitar 2.000 ekor kambing dan domba. Realisasi pasokan tetap bergantung pada spesifikasi ternak dan kesiapan memenuhi persyaratan yang berlaku.

Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) menyambut peluang tersebut karena dapat memperluas pasar, khususnya bagi peternak terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang menghadapi tekanan harga. Teguh Arif Hidayat dari DPP HPDKI berharap akses ekspor nantinya terbuka bagi seluruh pelaku usaha yang memenuhi ketentuan.

Di sisi lain, Nuryanto dari PT Agro Investama menekankan pentingnya efisiensi biaya logistik agar harga ternak Indonesia mampu bersaing di pasar Malaysia.

Kementan bersama pihak terkait terus menyiapkan persyaratan kesehatan hewan, ketersediaan pasokan, dan sarana transportasi. Jika berbagai aspek tersebut terpenuhi, ekspor diharapkan dapat membuka peluang pemasaran yang lebih luas dan meningkatkan daya tawar peternak.

(Sumber: ditjenpkh.pertanian.go.id)

ASOHI RAYAKAN HUT KE-47 DENGAN PROTEIN WALK, KAMPANYEKAN GIZI SEIMBANG DAN HIDUP SEHAT

Kegiatan Protein Walk dimulai dengan pengibaran bendera start oleh Ketua Umum ASOHI (Foto: NDV)

Memasuki usia 47 tahun, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) merayakan hari jadinya dengan menggelar kegiatan jalan sehat bertajuk Protein Walk, Sabtu (24/10) di Taman Wiladatika, Cibubur. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengampanyekan pentingnya konsumsi protein hewani dan penerapan pola hidup sehat.

Kegiatan jalan sehat secara resmi dibuka oleh Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Drh Hendra Wibawa, MSi, PhD. Kehadiran pejabat dan staf lingkup Kementan menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap peran ASOHI dalam memperkuat ekosistem peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

Dalam sambutannya, Hendra berharap ASOHI terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis berbagai pihak, mulai dari peternak, nelayan, dan petani hingga pemerintah serta pelaku usaha. 

Melalui rangkaian kegiatan HUT ke-47 ini, ASOHI diharapkan semakin memperkuat kontribusinya bagi kesehatan hewan dan kemajuan peternakan. Keterlibatan ASOHI sangat penting dalam mendukung hilirisasi peternakan, mulai dari peningkatan kesehatan dan produktivitas ternak hingga menghasilkan produk pangan asal hewan yang berkualitas, aman dan berdaya saing,” pungkas Hendra. 

Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi menuturkan perayaan HUT ke-47 ini tidak sekadar menjadi ajang kebersamaan, tetapi juga kesempatan bagi organisasi untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang. 

“Melalui Protein Walk, selain mengajak keluarga besar ASOHI untuk berolahraga, juga bertujuan memperdalam pengetahuan mengenai peran protein hewani dalam mendukung kesehatan, yang perlu diimbangi dengan aktivitas fisik dan pola hidup sehat,” jelas Harris.

Pemberian cenderamata oleh Ketua Umum ASOHI kepada Drh Arief Wicaksono MSi, Ketua Kelompok Kerja Pengawasan Obat Hewan.

Setelah jalan sehat, acara dilanjutkan dengan talkshow bertema “Pentingnya Makan Daging Ayam dan Telur dan Pola Hidup Sehat Demi Kesehatan”. Diskusi menghadirkan ahli gizi sekaligus konsultan nutrisi, Dr  Rita Ramayulis, DCN, M Kes yang mengupas tuntas pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi melalui konsumsi pangan bergizi, serta penerapan kebiasaan hidup sehat dalam keseharian.

Acara ini semakin semarak diikuti oleh para pengurus ASOHI dari berbagai daerah. Diantaranya dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Riau, dan Lampung.

Keluarga besar ASOHI Pusat dan Daerah bersama narasumber talkshow, Dr Rita Ramayulis DCN, M Kes

Selain itu juga turut dihadiri tamu undangan dari Masyarakat Ilmu Perunggasan Indonesia (MIPI) dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Keterlibatan berbagai organisasi tersebut memperkuat pesan bahwa edukasi mengenai pangan bergizi dan kesehatan masyarakat membutuhkan dukungan bersama dari kalangan profesi, industri, dan pemangku kepentingan terkait.

Sebelum pelaksanaan Protein Walk, ASOHI juga menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang dihadiri para kepala cabang dari berbagai daerah. Forum ini menjadi bagian dari upaya konsolidasi organisasi, termasuk membahas keterlibatan cabang dalam mendukung pengawasan dan penggunaan obat hewan, sejalan dengan agenda hilirisasi peternakan. (NDV)

INDONESIA-URUGUAY JAJAKI PERLUASAN PERDAGANGAN PRODUK PETERNAKAN

Foto: ditjenpkh.pertanian.go.id

Kementerian Pertanian membuka peluang penguatan kerja sama perdagangan subsektor peternakan dan kesehatan hewan dengan Uruguay. Hal ini dibahas dalam pertemuan antara pemerintah kedua negara di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (20/8), yang bertujuan memperkuat kemitraan bilateral sekaligus mendorong akses pasar bagi produk peternakan dari kedua pihak.

Delegasi Uruguay yang hadir antara lain Duta Besar Uruguay untuk Indonesia Cristina González, Wakil Menteri Luar Negeri Valeria Csukasi, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Matías Carámbula, serta perwakilan National Meat Institute (INAC) dan National Milk Institute (INALE).

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyampaikan bahwa Indonesia ingin membangun hubungan perdagangan yang memberikan manfaat bagi kedua negara. Salah satu upaya yang didorong adalah membuka akses pasar timbal balik dengan memperkenalkan produk-produk unggulan industri peternakan Indonesia ke Uruguay.

Menurutnya, produk peternakan nasional telah menjangkau lebih dari 90 negara. Produk tersebut mencakup asam amino untuk suplemen pakan, premiks pakan berbasis kelapa sawit, serta vaksin dan obat hewan. Capaian ini menjadi modal bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan peluang perdagangan dengan mitra internasional.

Wakil Menteri Luar Negeri Uruguay, Valeria Csukasi, menyambut baik rencana Indonesia untuk memasarkan produk peternakannya ke Uruguay. Ia juga menyatakan kesiapan pemerintah Uruguay dalam mendukung proses pembukaan akses pasar bagi produk-produk tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan Uruguay, Matías Carámbula, memaparkan perkembangan sektor pertanian di negaranya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi landasan bagi penguatan hubungan dagang Indonesia-Uruguay, khususnya di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Melalui peluang akses pasar yang lebih terbuka, kedua negara berupaya membangun kerja sama perdagangan yang lebih luas, seimbang, dan saling menguntungkan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id

PUNCAK HATN 2026: “MULAI DARI PETERNAK KITA BERGERAK” YOGYAKARTA CHICKEN AND EGG RUN

Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa)

“Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini diteriakan oleh ribuan peserta lomba  sebelum langkah pertama di garis start, dalam kegiatan Chicken and Egg Run pada puncak acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026, Minggu (18/10/2026), yang diselenggarakan PINSAR Indonesia di Yogyakarta.

Makna filosofis tersebut adalah peternak bukan sekadar objek, melainkan pelaku utama. Peternak harus dilibatkan dalam merumuskan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan menentukan arah pembangunan industri perunggasan.

Peternak sebagai pusat perjuangan, di mana setiap kebijakan, program, dan langkah pembangunan peternakan harus berangkat dari kebutuhan, persoalan, dan kenyataan yang  dihadapi peternak di lapangan.

Peternak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu bersatu, membangun solidaritas, dan bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi, akademisi, serta pelaku usaha lainnya. Bergerak untuk mewujudkan peternakan unggas yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi peternak dan masyarakat.

Foto bersama penyelenggara acara.

Hal tersebut selaras dengan sambutan staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, sebelum melepas para peserta Chicken and Egg Run 2026.
Menurutnya, dalam mewujudkan peternakan yang produktif berdaya saing, peternak perlu berhimpun dalam koperasi. Koperasi dinilai dapat berperan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kegiatan peternakan dari hulu hingga hilir.

Ia juga berharap PINSAR Indonesia terus berperan dalam program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Kami Kementerian Koperasi siap mendukung tata kelola hingga akses pembiayaannya,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi PINSAR Indonesia yang menginisiasi acara ini, yang tidak hanya sekadar mempromosikan olah raga, tetapi sarat dengan unsur edukasi bagi masyarakat akan pentingnya konsumsi daging ayam dan telur, seperti yang disampaikan Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko.

Para peserta yang berhasil meraih juara dalam Chicken and Egg Run.

Lebih jauh dijelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang berkualitas dan terjangkau.

“Saat ini tingkat konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada pada 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini dinilai masih sangat mungkin ditingkatkan, sehingga akan memberkan multiplier effect yang sangat menguntungkan bagi stakeholder perunggasan,” katanya.

Singgih berharap, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih dalam bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani  yang berkualitas, terjangkau, dan sangat dibutuhkan terutama bagi generasi masa depan.

Peserta yang berhasil meraih hadiah utama satu unit mobil listrik BYD.

Kegiatan PINSAR ini dilaksanakan selama dua hari. Diawali dengan Rakornas pada Sabtu (17/10/2026) yang diikuti para pengurus daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemudian dilanjutkan pada Minggu (18/10/2026) dengan peringatan HATN berupa kegiatan Chicken and Egg Run. Lomba ini diselenggarakan dengan tiga katagori, yakni 2,5 km, 5 km, dan 10 km, serta disediakan berbagai macam hadiah menarik, dengan hadirah utama satu unit mobil listrik BYD.

Minat masyarakat Yogyakarta sangat luar biasa, ditandai dengan banyaknya peserta yang mencapai hampir 3.000 orang. Selain itu, di lokasi acara juga diadakan Kuliner Pasar Kangen yang menawarkan berbagai makanan tradisional dan modern, yang juga dimeriahkan photobooth dan live music untuk menghibur para peserta maupun pengunjung lain di sepanjang acara.

Pembagian hadiah bagi peserta lomba kostum terbaik.

Ketua Panitia Pusat Peringatan HATN, Ricky Bangsaratoe, menilai bahwa acara peringatan  HATN yang diselenggarakan di Yogyakarta ini merupakan acara paling meriah yang pernah diselenggarakan PINSAR Indonesia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi standar tinggi bagi penyelengara HATN berikutnya, yaitu PINSAR Kalimantan Barat pada 2027 mendatang,” katanya. Hal tersebut juga diamini oleh Rakhmat Nuriyanto, salah satu penggagas HATN sekaligus Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) periode 2010-2015, yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. (INF)

INDONESIA-TIMOR LESTE PERKUAT KERJA SAMA PETERNAKAN

Sumber: Youtube Ditjen PKH

Indonesia dan Timor-Leste memperkuat kerja sama subsektor peternakan, terutama dalam kesehatan hewan di wilayah perbatasan, peningkatan mutu genetik ternak, pengembangan sumber daya manusia, dan perluasan perdagangan komoditas peternakan.

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, dengan Menteri Muda Bidang Peternakan Timor-Leste, José Viera de Araújo, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (21/9).

Agung mengatakan, kedekatan geografis dan hubungan lintas batas membuat kerja sama kesehatan hewan kedua negara penting untuk mencegah masuknya dan penyebaran penyakit serta menjaga keamanan perdagangan komoditas peternakan.

“Indonesia memandang Timor-Leste sebagai mitra strategis di kawasan. Kami sepakat kerja sama kedua negara terus ditingkatkan karena memiliki karakteristik dan tantangan yang sama, terutama dalam pengendalian penyakit hewan, peningkatan produktivitas ternak, dan penguatan perdagangan komoditas peternakan,” kata Agung.

Sementara itu, José menekankan pentingnya kerjasama untuk mencegah pergerakan ilegal ternak dan produk hewan serta memperkuat pengawasan kesehatan hewan lintas batas terhadap penyakit eksotik.

Ia juga menilai pelatihan dan edukasi penting untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan populasi ternak di Timor-Leste. Karena itu, ia berharap kerja sama inseminasi buatan dan pengembangan genetik ternak dengan Indonesia terus ditingkatkan.

Di bidang perdagangan, pasar Timor-Leste telah menerima sejumlah produk peternakan Indonesia, termasuk karkas dan produk olahan ayam. Pada Juni 2026, Kementan melepas ekspor 17,9 ton karkas dan produk olahan ayam ke negara tersebut senilai Rp1,043 miliar.

Agung mengapresiasi pelaksanaan Import Risk Analysis (IRA) oleh Timor-Leste terhadap sejumlah unit usaha Indonesia pada 2024–2025. Ia berharap penilaian lanjutan dapat membuka peluang perdagangan telur tetas, DOC ayam KUB, DOC parent stock (PS) layer, dan DOC PS broiler.

Pengembangan kerbau turut menjadi agenda kerja sama dengan dukungan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Kolaborasi ini mencakup rencana penyediaan semen beku produksi Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang serta dukungan dua tenaga ahli untuk pelatihan inseminasi buatan dan peningkatan kapasitas petugas peternakan Timor-Leste.

Melalui kerja sama di bidang kesehatan hewan, genetik, sumber daya manusia, dan perdagangan, Indonesia dan Timor-Leste diharapkan dapat memperkuat kemitraan peternakan yang saling menguntungkan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keamanan kesehatan hewan.

Sumber: https://ditjenpkh.pertanian.go.id/

RESMI TERPILIH, DRH MARIA THERESIA WIDIASTUTI PIMPIN PB PDHI PERIODE 2026-2030

Drh M. Th. Widiastuti, Ketua Umum PB PDHI periode 2026-2030. (Foto: Dok. PDHI)

Drh Maria Theresia (M. Th.) Widiastuti resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) untuk periode 2026-2030. Kepastian ini diperoleh setelah ia unggul atas tiga calon pesaing yang masing-masing berasal dari Jawa Timur, Kalimantan Timur II, dan Jawa Barat V dalam Kongres ke-20 PB PDHI yang berlangsung pada 15-18 Oktober 2026.

Mengawali masa kepemimpinannya, kepada Infovet, wanita yang akrab disapa Tuti ini menyampaikan bahwa fokus utama organisasi dalam jangka pendek adalah melakukan penataan internal secara menyeluruh. Salah satunya adalah penguatan unit peminatan non-teritorial. Unit ini diproyeksikan sebagai basis penguatan kompetensi para dokter hewan agar mampu menjawab tantangan profesi yang semakin berkembang.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya juga terus berkomitmen penuh untuk mengawal keberhasilan pembentukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pendidikan dan Layanan Kedokteran Hewan. “Segera dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk ditetapkan sebagai UU,” ujarnya.

Kehadiran undang-undang ini sangat vital sebagai payung hukum yang menaungi standar pendidikan kedokteran hewan, perlindungan profesi, hingga peningkatan mutu layanan kepada masyarakat dan industri terkait.

Guna mewujudkan agenda-agenda besar tersebut, Tuti juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi erat dengan berbagai pihak. Penataan profesi dan regulasi kedokteran hewan memerlukan kerja sama yang solid antara PDHI, seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), pemerintah, serta DPR.

Dalam kepemimpinannya yang baru ini diharapkan dirinya dapat menjalankan amanah serta tanggung jawab dengan baik, membawa kemajuan signifikan bagi PDHI, serta diberi kelancaran dalam memperkuat sinergi dan mewujudkan program-program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat. (INF)

DIGELAR DI IKN, KONGRES XX PDHI BAHAS KEDAULATAN PANGAN DAN PERLINDUNGAN SATWA

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono (tengah) memberikan cinderamata kepada Ketua Umum PB PDHI, M. Munawaroh (kedua kiri) dalam Kongres XX PDHI. (Foto-foto: Humas Otorita IKN/Deden & Istimewa)

Ibu Kota Nusantara (IKN) terpilih menjadi tempat pembukaan penyelenggaraan Kongres XX Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Pembukaan kongres digelar di Kantor Bersama 3, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Kamis (15/10/2026).

Kongres yang mengangkat tema “Sinergi Dokter Hewan Mewujudkan Kedaulatan Pangan Nasional” ini mempertemukan para dokter hewan dari berbagai daerah di Indonesia bersama pemerintah dan pemangku kepentingan bidang veteriner. Kongres menjadi ruang pembahasan mengenai peran profesi dokter hewan dalam mendukung kesehatan hewan, keamanan pangan, kesehatan masyarakat, serta perlindungan lingkungan.

Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menyambut penyelenggaraan kongres tersebut di KIPP Nusantara. Basuki menilai bahwa hadirnya PDHI penting bagi Nusantara, khususnya pengalamannya dalam bidang kesehatan hewan dan perlindungan lingkungan.

“Selamat datang di Nusantara, saya menyimak apa yang disampaikan oleh Bapak Ketum dan Ibu Nurhadi tadi, bahwa salah satu peran strategis dokter hewan tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga meningkatkan kesehatan hewan. Saya sekaligus bercerita, saya sendiri punya ayam, kenapa saya pelihara, karena saya ingin kalau sudah berhasil bisa diberikan ke desa-desa di Sepaku untuk menangani kasus stunting,” kata Basuki melalui siaran resmi Otorita IKN.

Foto bersama seluruh peserta Kongres XX PDHI.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyoroti kongres bukan hanya sekadar seremonial, melainkan refleksi atas perjalanan profesi dokter hewan di Indonesia.

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Pengurus Besar PDHI, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi, termasuk Otorita IKN yang telah memfasilitasi penyelenggaraan kongres ini. Kongres ke-20 PDHI merupakan momentum penting bagi perjalanan organisasi profesi dokter hewan Indonesia,” ujar Nuryani.

Foto bersama peserta Kongres XX PDHI dan para undangan.

Apresiasi ini turut direspons langsung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PDHI, Dr Drh M. Munawaroh MM, yang turut mengajak seluruh peserta sesuai dengan pesan yang disampaikan Kepala Otorita IKN kepadanya.

“Atas nama PDHI, saya mengucapkan selamat datang kepada seluruh delegasi dan terima kasih kepada Bapak Kepala Otorita IKN sehingga acara kongres ini dapat terselenggara di IKN,” katanya.

Selain pembukaan Kongres XX PDHI, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue. Sosialisasi ini membahas pencegahan penyakit yang dapat menular antara hewan dan manusia, sekaligus penanganan dan penyelamatan satwa dalam situasi yang mengancam keselamatannya.

Kegiatan Sosialisasi Zoonosis dan Animal Rescue.

Dalam pemaparan mengenai mitigasi risiko zoonosis pada kebakaran hutan, mengangkat pentingnya pendekatan One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Kebakaran hutan dapat memicu perpindahan satwa dari habitatnya sehingga meningkatkan kemungkinan interaksi dengan manusia maupun hewan domestik, termasuk risiko penularan penyakit lintas spesies.

Pembahasan tersebut juga menekankan perlunya surveilans, penilaian risiko bersama, komunikasi risiko kepada masyarakat, dan penanganan terpadu antarsektor. Sementara itu, materi animal rescue melengkapi pembahasan melalui pendekatan penyelamatan satwa dan hewan peliharaan dalam situasi darurat, termasuk ketika terjadi kebakaran hutan.

Melalui penyelenggaraan Kongres XX PDHI dan sosialisasi zoonosis serta animal rescue, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai kesehatan hewan, keselamatan satwa, dan pencegahan penyakit. (INF)

SEMARAK HATN & WED 2026, INFOVET SELENGGARAKAN WORKSHOP FORMULASI PAKAN

Bambang Suharno (kiri) dan Prof Budi Tangendjaja dalam webinar formulasi pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Industri peternakan unggas kembali dihadapkan pada ujian berat seiring melambungnya harga jagung dan terbatasnya ketersediaan pasokan di pasaran. Menjawab tantangan tersebut, dalam rangka menyambut Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2026, Majalah Infovet menyelenggarakan Workshop Online bertajuk “Strategi Formulasi Pakan Unggas Saat Jagung Mahal dan Pasokan Terbatas”, Jumat (9/10/2026).

Acara ini menghadirkan poultry nutrition consultant, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl, yang juga Ketua Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), sebagai narasumber utama. Acara turut dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Direktur Utama Gallus yang juga Pemimpin Redaksi Infovet Bambang Suharno, serta Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi.

Dalam sambutannya, Bambang menegaskan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas. Ketika harga jagung merangkak naik dan pasokannya menipis, pelaku industri dituntut untuk tidak hanya sekadar mencari ketersediaan bahan baku, melainkan juga memutar otak menyusun formulasi yang efisien.

“Tantangan yang dihadapi industri bukan hanya bagaimana mendapatkan bahan baku, tetapi juga bagaimana menyusun formulasi pakan yang tetap efisien, memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, dan menjaga performa produksi,” ujar Bambang.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan strategi substitusi dan pemanfaatan bahan baku alternatif. Dengan pemahaman yang tepat mengenai keseimbangan nutrisi, peternak dapat menekan biaya produksi tanpa harus mengorbankan produktivitas maupun performa unggas.

Pada kesempatan tersebut, Prof Budi membedah berbagai solusi taktis bagi para formulator pakan dan pelaku industri peternakan. Ia memaparkan potensi pemanfaatan bahan baku pengganti jagung, di antaranya barley yang dapat menjadi sumber energi alternatif dengan kandungan nutrisi yang memadai, ataupun biji sorgum yang dapat diandalkan untuk menunjang kebutuhan karbohidrat ransum.

Adapula pilihan produk turunan singkong guna mencukupi kebutuhan energi, atau pemafaatan dried distiller's grains with solubles (DDGS), yang merupakan produk sampingan yang kaya nutrisi dan potensial untuk dimanfaatkan dalam ransum unggas.

Prof Budi menjelaskan, bahan-bahan tersebut tetap memiliki kelayakan nutrisi, mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, serta mineral yang esensial bagi pertumbuhan dan kesehatan ternak unggas.

Selain itu, dalam paparannya ia juga turut menjabarkan simulasi perhitungan bahan baku pakan beserta harganya guna membantu peternak, perusahaan, maupun self-mixing dalam memformulasikan pakan dengan biaya yang efisien dan mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku.

Foto bersama usai webinar.

Sebagai tindak lanjut dari workshop online, Majalah Infovet turut membuka kesempatan luas bagi perusahaan maupun kelompok usaha yang ingin memperdalam kompetensi di bidang ini. Infovet memfasilitasi program pelatihan intensif serta in-house training yang dirancang khusus bagi tim nutrisi, tim formulasi, bagian produksi, serta tim teknis perusahaan.

Materi dan metode pelaksanaan pelatihan dapat disesuaikan secara fleksibel dengan kebutuhan spesifik di lapangan. Langkah ini diharapkan mampu membawa dampak jangka panjang bagi peningkatan kompetensi sumber daya manusia di sektor peternakan nasional, serta menjaga kestabilan industri unggas di Indonesia. (RBS)

BEGINI SKEMA PENYERAPAN JAGUNG DARI MENTAN UNTUK TEKAN BIAYA PAKAN

Mentan Amran saat berbicara dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: Istimewa)

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyiapkan skema penyerapan jagung untuk membantu peternak memperoleh bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui mekanisme ini, peternak dapat menyerap jagung saat panen raya ketika harga relatif murah, sementara pembiayaan dilakukan Perum Bulog dan stok disimpan melalui koperasi. Skema tersebut diharapkan menjaga keseimbangan harga bagi petani sekaligus menekan beban biaya pakan yang dihadapi peternak.

Hal itu ia sampaikan saat bertemu dengan perwakilan peternak di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Pertemuan berlangsung di tengah persoalan biaya pakan yang menjadi salah satu keluhan peternak, termasuk dalam aksi unjuk rasa di DPR kemarin (7/10/2026). Salah satu tuntutan yang disuarakan berkaitan dengan tingginya harga pakan ayam petelur yang dinilai menekan usaha dan menyebabkan peternak mengalami kerugian.

Dalam pertemuan, Mentan Amran menegaskan perlunya membangun ekosistem yang menghubungkan penyerapan hasil panen petani, kebutuhan jagung peternak, pembiayaan, dan penyimpanan agar pasokan pakan lebih terjamin sepanjang tahun. “Saya mau pakan ini ada sistem. Bapak yang serap, Bulog yang bayar,” tegas Amran.

Menurutnya, pemerintah ingin memastikan petani mendapatkan harga layak saat panen raya, sementara peternak memperoleh jagung dengan harga terjangkau untuk kebutuhan pakan. “Jangan sampai peternak rugi. Kalau rugi peternak, negara juga ikut rugi,” katanya.

Karena itu, Mentan mendorong penyerapan jagung dilakukan ketika produksi melimpah dan harga relatif murah. Jagung yang telah dibeli kemudian disimpan melalui koperasi untuk digunakan saat peternak membutuhkan pasokan, termasuk ketika harga di pasar meningkat. “Negara beli pada saat murah, jangan siksa juga saat mahal,” sebutnya.

Dalam skema tersebut, peternak berperan menyerap jagung saat panen raya, sedangkan Bulog menyediakan pembiayaan, dan koperasi menjadi tempat penyimpanan stok. Dengan mekanisme ini, hasil panen petani dapat terserap dan peternak memiliki akses terhadap bahan baku pakan dengan pasokan lebih terjamin.

Mentan Amran mengatakan saat ini terdapat sekitar 40 ribu ton jagung yang menjadi bagian dari pasokan yang dibahas dalam skema tersebut. Pemerintah tetap melakukan penyerapan dengan mempertimbangkan kapasitas negara dan mengoptimalkan jagung yang tersedia.

“Saat ini ada 40 ribu ton, tapi ini tetap menyerap. Negara punya keterbatasan. Sekarang yang ada dulu 40 ribu jagung,” ungkapnya.

Ia meminta Bulog menghitung kembali kebutuhan anggaran agar mekanisme penyerapan dapat berjalan efektif. Penentuan prioritas penyaluran juga perlu mempertimbangkan ketersediaan jagung dan kebutuhan peternak di lapangan. “Ini sudah solusi terbaik untuk bantu peternak supaya untung,” sebut dia.

Perwakilan peternak dari Lampung, Kasmani, menjelaskan bahwa Lampung Selatan merupakan salah satu sentra produksi jagung. Namun, peternak masih menghadapi tantangan dalam memperoleh jagung dengan harga sesuai kebutuhan.

Ia menyampaikan bahwa harga jagung yang dibeli dari petani atau pengepul berada di kisaran Rp 8.400/kg. Selain harga, perbedaan kadar air juga menjadi kendala. Jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, disebut memiliki kadar air 16-17%, sedangkan jagung yang diserap Bulog dipersyaratkan memiliki kadar air 14%.

Menanggapi itu, Mentan Amran menekankan pentingnya memperkuat fasilitas penyimpanan dan pengeringan agar jagung dari sentra produksi dapat diserap serta memenuhi standar yang ditetapkan. Menurutnya, presiden telah menetapkan dukungan anggaran Rp 5 triliun untuk memperkuat infrastruktur pergudangan Bulog.

“Presiden sudah tetapkan anggaran Rp 5 triliun untuk gudang paket Bulog. Lengkapi dengan dryer,” ucapnya.

Ia meminta pembangunan dan penguatan gudang dilengkapi fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah yang memiliki potensi produksi jagung seperti NTB dan Gorontalo. Fasilitas tersebut untuk menjaga mutu jagung, mengurangi kendala kadar air, serta memperlancar penyerapan hasil panen. (INF)

AFIS 2026: STRATEGI FORMULASI PAKAN DAN JAWABAN ISU GEOPOLITIK PETERNAKAN

Seminar membahas strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia dalam rangkaian AFIS 2026. (Foto: Istimewa)

Himpunan Mahasiswa Nutrisi dan Makanan Ternak (Himasiter), Fakultas Peternakan IPB University, sukses menyelenggarakan Animal Feed Innovation Summit (AFIS) 2026 pada 25-27 September 2026 di kampus IPB University. Mengusung fokus pada inovasi pakan, perhelatan ini memadukan dua agenda utama, yakni Feed Formulation Training (FFT) dan Seminar and Competition of Animal Science (SCAS).

Acara berskala nasional ini menarik antusiasme tinggi dari para peserta yang datang dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, seperti IPB University, Universitas Syiah Kuala, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, BINUS Malang, Dian Nuswantoro, hingga Poltekkes Kemenkes Bandung.

Rangkaian kegiatan diawali pada 25-26 September bertempat di Fakultas Kedokteran dan Gizi melalui sesi workshop FFT. Pada hari pertama, peserta diajak mempelajari teknik formulasi pakan dasar serta strategi adaptasi pakan ayam petelur (layer) dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan fluktuasi harga bahan baku.

Memasuki hari kedua, pelatihan berlanjut pada penyesuaian nutrisi serta evaluasi faktor kualitas bahan pakan utama seperti soybean meal (SBM), jagung, dan dedak padi. Sesi intensif dari teori hingga eksekusi racikan pakan ini dibimbing langsung oleh ahli formulasi ransum, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MS MAppSc.

Rangkaian acara kemudian berpindah ke Fakultas Peternakan pada hari ketiga untuk menggelar puncak seminar dan kompetisi ilmiah SCAS. Seminar nasional kali ini mengusung topik krusial mengenai strategi ketahanan pangan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia, dengan menghadirkan Prof Dr Ir Nahrowi MSc (IPB University) dan Sugeng Wahyudi (Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional/GOPAN).

Dalam paparannya, Prof Nahrowi menyoroti persoalan mendasar peternakan nasional yang masih kekurangan bahan pakan sumber protein. Ia mengajak akademisi dan praktisi untuk mengubah paradigma dasar penyusunan pakan.

“Jangan menghitung biomassanya, tapi hitunglah nutrien yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh ternak,” katanya. Ia juga menambahkan, persoalan utama Indonesia sejatinya bukan pada ketersediaan bahan, melainkan bagaimana mengolah biomassa lokal menjadi nutrien pakan yang aman, tercerna, terstandar, dan kompetitif.

Sebagai solusi konkrit, Prof Nahrowi mengusulkan formulasi kombinasi antara koro, bungkil inti sawit (BIS), dan maggot BSF ketimbang sekadar menggantikan bungkil kedelai secara keseluruhan.

Sementara dari sudut pandang industri dan praktisi, Sugeng ikut menekankan pentingnya efisiensi dan solidaritas peternak. Dirinya mengajak para peternak broiler untuk memperkuat ketahanan usaha melalui skema pembelian bahan baku dan pakan secara kolektif berwadahkan koperasi. Langkah ini dinilai strategis agar peternak lebih tangguh menghadapi fluktuasi harga pasar dan pergerakan kurs mata uang.

Melalui integrasi pelatihan formulasi pakan berbasis perangkat lunak dan diskusi ilmiah tingkat nasional, AFIS 2026 tidak hanya menjadi wadah pengembangan karakter, kemampuan menulis ilmiah, dan kepedulian terhadap isu peternakan berkelanjutan, tetapi juga melahirkan pesan penting yakni kemandirian pakan nasional dimulai dari kemampuan mengolah sumber daya lokal menjadi nutrien yang siap dimanfaatkan secara optimal. (INF)

INDONESIA-CHINA PERKUAT KERJA SAMA PERTANIAN DAN PETERNAKAN

Foto bersama usai Soft Launching rencana expo pertanian dan peternakan kerja sama Indonesia-China. (Foto: Infovet/Ridwan)

Peluang untuk memperkuat kerja sama antara Indonesia dan China di bidang pertanian dan peternakan akan memasuki tahap baru melalui penyelenggaraan Chain Global International Agricultural Cooperation Expo/China International Agricultural Cooperation Expo, yang akan berlangsung pada 10-12 Desember 2026 di ICE BSD, Tanggerang.

Pameran ini diselenggarakan oleh China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association bersama China-ASEAN Industrial Development Center.

Sebagai bagian dari persiapan menuju penyelenggaraan pameran pada Desember mendatang, pada Kamis (1/10/2026), berlangsung Soft Launching dan Business Networking Lunch Meeting di Jakarta, yang didukung TROBOS Communication (TComm), untuk mempertemukan asosiasi dan pemangku kepentingan industri peternakan Indonesia dengan Kantor Perwakilan Indonesia dari China Trade Promotion Council.

Pertemuan ini menjadi forum awal untuk memperkenalkan inisiatif kerja sama tersebut kepada industri Indonesia sekaligus menggali potensi dan kebutuhan industri yang dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama dengan perusahaan-perusahaan China menjelang Chain Global International Agricultural Cooperation Expo/China International Agricultural Cooperation Expo.

Chief Representative of the China Council for the Promotion of International Trade’s Office in Indonesia, Niu Liangliang, menyampaikan bahwa Chain Global International Agricultural Cooperation Expo dirancang tidak hanya sebagai pameran, tetapi juga platform untuk trade and investment matchmaking, kerja sama teknologi, informasi pasar dan kebijakan, serta business visits secara internasional, sekaligus membantu perusahaan pertanian memperluas jaringan dan kerja sama global.

"Pameran ini menjadi platform penting bagi kerja sama industri. Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian program kerja sama pertanian internasional yang dikembangkan pada 2026. Kami harap dari pameran ini kita dapat secara aktif berpartisipasi, berbagi teknologi, membuka peluang pasar, dan membangun platform serta jaringan baru kerja sama di bidang pertanian dan peternakan," ujarnya.

Sementara itu, China Foreign Trade and Economic Cooperation Enterprises Association, Duan Qing Chang, yang juga Secretary General IICPC, memaparkan bahwa kegiatan pada hari ini akan menjadi momentum Soft Launching menuju penyelenggaraan expo pada Desember mendatang, yang akan diperkenalkan langsung oleh pihak penyelenggara dari China kepada komunitas industri Indonesia.

Pameran akan menampilkan teknologi peternakan, terutama di sektor perunggasan, breeding dan peralatan peternakan, pakan dan feed additives, kesehatan hewan, vaksin dan produk veteriner, teknologi pengolahan dan teknologi pendukung, perdagangan dan investasi, kerja sama teknologi, serta business matching antara perusahaan China dan mitra bisnis Indonesia. Dia menegaskan bahwa event ini bukan sekadar pameran, tetapi platform kerja sama bisnis.

“Kami merencanakan area pameran seluas 5.000 meter persegi, dengan fokus pada bidang peternakan dan unggas, pakan serta kesehatan hewan, produk telur dan pengolahan pangan, pertanian cerdas dan mesin pertanian, serta bidang-bidang pertanian lainnya. Pameran ini mencakup seluruh rantai dari pembibitan dan budi daya, pengolahan, hingga distribusi. Perusahaan pertanian, asosiasi industri dan perdagangan, pembeli, serta lembaga penelitian dari Tiongkok, Indonesia, dan negara-negara ASEAN akan diundang untuk berpartisipasi. Jumlah perusahaan peserta diperkirakan lebih dari 100 perusahaan,” ungkap Duan.

Pada kesempatan tersebut, stakeholder peternakan Indonesia memiliki kesempatan untuk menyampaikan kebutuhan pasar dan peluang kerja sama secara langsung kepada perusahaan dan organisasi China.

Rektor Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Prof Dr Ir Asep Saefuddin MSc, yang turut hadir menuturkan bahwa peternakan merupakan salah satu sektor penting dalam penyediaan pangan asal hewan. Namun, di tengah perubahan lingkungan dan meningkatnya kebutuhan pangan, sektor ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

"Variabilitas iklim, keterbatasan sumber daya pakan, tekanan terhadap lingkungan, serta meningkatnya permintaan terhadap pangan asal hewan menuntut adanya perubahan dalam cara kita memandang dan mengelola sistem peternakan," katanya.

Masa depan peternakan tidak cukup hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menghasilkan produk peternakan secara lebih efisien, memiliki ketahanan terhadap perubahan, dan tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan.

“Salah satu peluang penting dalam transformasi peternakan adalah pemanfaatan pertanian presisi dan konsep smart farming. Teknologi memungkinkan pengelolaan peternakan dilakukan berdasarkan data sehingga keputusan dapat dibuat secara lebih terarah,” ungkap dia.

Sementara dari pihak pemerintah, Ketua Kelompok Pemasaran, Direktorat Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian, Tika Kartika, mengatakan event ini bukan sekadar ruang untuk bertukar informasi, tetapi juga merupakan momentum strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi, memperluas jejaring bisnis, dan membangun kemitraan yang lebih konkret antara pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok, khususnya di sektor peternakan dan industri hasil peternakan.

“Kami berharap forum ini dapat membuka ruang dialog yang produktif, mempertemukan kebutuhan dengan kapasitas investasi dan teknologi, serta mengidentifikasi berbagai peluang kerja sama yang saling menguntungkan bagi kedua negara,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum bidang Peternakan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Cecep Wahyudin, ikut menambahkan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan pihak stakeholder peternakan China dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional.

Pada kesempatan yang sama, para undangan yang merupakan pelaku industri peternakan Indonesia juga menyampaikan pandangan mengenai tantangan, peluang, dan kebutuhan untuk pengembangan industri peternakan nasional.

Ketua Umum HPDKI, Ateng Sutisna, mengutarakan harapan akan adanya kerja sama antara HPDKI dengan asosiasi/pelaku usaha di China sesuai yang dibutuhkan anggotanya, antara lain perbaikan genetik, teknologi terapan untuk pemeliharaan, pengolahan hasil ternak untuk susu, daging dan hasil peternakan lainnya, sampai pembiayaan.

Sedangkan perwakilan Global Dairi Alami (GDA), Siska Retno, yang tengah memperbesar kapasitas produksinya dengan membangun farm sapi perah  terintegrasi mengharapkan forum ini bisa menjembatani kebutuhan pengembangan industri peternakan sapi perah di Indonesia. Siska mencontohkan kebutuhan akan vaksin, obat-obatan, dan pakan harus diantisipasi dengan cepat.

"Diharapkan expo yang akan diselenggarakan Desember nanti bukan sekedar pameran promosi produk, tetapi memberikan solusi yang bisa diaplikasikan. Untuk itu diperlukan regulasi dari pemerintah," katanya. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer