-->

LIMA BULAN, 8 CABANG: PROSPERRA FARMS ASIA TANCAP GAS EKSPANSI MENUJU 25 CABANG NASIONAL

Grand Opening Prosperra Farms Asia, menandai kiprah baru perusahaan dalam bisnis kemitraan perunggasan. (Foto: Istimewa)

PT Prosperra Farms Asia (PFA) resmi menggelar Grand Opening Prosperra Farms Asia pada Selasa, 15 September 2026, bertempat di Ballroom Grand Rohan Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh seluruh partner Prosperra Farms Asia serta perwakilan mitra peternak dari berbagai wilayah operasional.

Mengusung semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Grand Opening menjadi momentum bagi Prosperra untuk merayakan perjalanan awal perusahaan sekaligus memperkuat komitmen dalam membangun.

“Empowering Farmers, Growing Prosperity” menjadi visi yang mendasari perjalanan Prosperra Farms Asia. Empowering Farmers mencerminkan komitmen untuk memberikan dukungan, pengetahuan, akses, dan pendampingan agar peternak dapat mengembangkan usahanya secara produktif dan berkelanjutan. Sementara Growing Prosperity menggambarkan semangat untuk tumbuh dan berkembang bersama. Prosperra percaya bahwa pertumbuhan perusahaan berjalan seiring dengan keberhasilan para mitra, sehingga kemitraan dibangun untuk menciptakan nilai dan peluang bagi semua pihak.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan secara aktif pada Mei 2026. Dalam waktu sekitar lima bulan sejak memulai bisnis kemitraan, Prosperra telah memperluas kehadirannya menjadi 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari langkah awal Prosperra dalam membangun jaringan kemitraan yang lebih dekat dengan peternak di berbagai wilayah.

Merayakan Pertumbuhan Bersama

Grand Opening Prosperra Farms Asia tidak hanya menjadi penanda perjalanan perusahaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan Prosperra.

Kehadiran seluruh partner dan perwakilan mitra peternak mencerminkan pentingnya kolaborasi dalam membangun bisnis kemitraan. Bagi Prosperra, pertumbuhan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para peternak, partner, dan tim yang menjalankan operasional di lapangan.

Taufik Wibowo Hadi

“Grand Opening ini menjadi momentum untuk merayakan perjalanan yang telah kami lalui bersama. Dalam waktu lima bulan, Prosperra telah hadir di delapan cabang. Angka tersebut bukan hanya tentang ekspansi perusahaan, tetapi juga tentang kepercayaan dan kolaborasi yang dibangun bersama partner dan para mitra peternak,” ujar Taufik Wibowo Hadi, Direktur Operasional Prosperra.

Kolaborasi Bersama Peternak

Sejak awal, Prosperra Farms Asia menempatkan kemitraan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem bisnisnya. Perusahaan berupaya mendukung mitra peternak melalui pendampingan operasional, pengelolaan produksi, penyediaan sarana produksi peternakan, serta monitoring performa budidaya.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun hubungan kemitraan yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menciptakan ruang bagi peternak untuk berkembang bersama perusahaan.

Semangat tersebut tercermin dalam tagline “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, yang menjadi landasan Prosperra dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya.

Menuju 25 Cabang di Seluruh Indonesia

Setelah mencatatkan kehadiran di delapan wilayah dalam lima bulan pertama bisnis kemitraannya, Prosperra Farms Asia telah menyiapkan langkah ekspansi berikutnya.

Perusahaan menargetkan untuk segera memperluas jaringan operasional menjadi 25 cabang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Ekspansi ini menjadi bagian dari visi Prosperra untuk membangun jaringan kemitraan yang lebih luas serta menghadirkan akses pendampingan dan kolaborasi yang lebih dekat dengan peternak di berbagai daerah.

Pertumbuhan jaringan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta kesiapan ekosistem kemitraan di masing-masing daerah.

“Delapan cabang merupakan langkah startegis bagi Prosperra. Ke depan, kami memiliki target untuk hadir di 25 cabang di seluruh Indonesia. Kami ingin membawa semangat Empowering Farmers, Growing Prosperity ke lebih banyak wilayah dan membangun lebih banyak kolaborasi bersama peternak,” kata Taufik.

Dengan rencana tersebut, Prosperra Farms Asia melihat perjalanan lima bulan pertamanya sebagai awal dari langkah yang lebih panjang untuk membangun ekosistem kemitraan perunggasan yang semakin luas di Indonesia.

Tentang Prosperra Farms Asia

PT Prosperra Farms Asia (PFA) merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang kemitraan perunggasan dan pengembangan ekosistem usaha peternakan.

Prosperra Farms Asia didirikan pada Februari 2026 dan mulai menjalankan bisnis kemitraan pada Mei 2026. Dalam lima bulan perjalanan bisnisnya, Prosperra telah hadir di 8 cabang, yaitu Yogyakarta, Magelang, Solo, Madiun, Cirebon, Blitar, Malang, dan Bali.

Dengan semangat “Empowering Farmers, Growing Prosperity”, Prosperra Farms Asia berkomitmen membangun kemitraan yang produktif, kolaboratif, dan berkelanjutan bersama peternak serta seluruh pihak dalam ekosistem perunggasan Indonesia. (ADV)

ILDEX INDONESIA KE-8 RESMI DIBUKA, PERKUAT EKOSISTEM PETERNAKAN DAN PANGAN NASIONAL

Pembukaan ILDEX Indonesia 2026. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Ajang pameran peternakan internasional, ILDEX Indonesia, kembali diselenggarakan untuk kedelapan kalinya, 16-18 September 2026 di ICE BSD, Tangerang. Pameran akbar ini digelar bersamaan dengan Horti & Agri Indonesia, dan menjadi wadah strategis bertemunya para pelaku industri dari dalam dan luar negeri dalam memperkuat ekosistem peternakan dan pangan nasional.

Dalam sambutannya, Direktur PT Permata Kreasi Media (PKM), Fitri Nursanti Poernomo, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

"Saya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, stakeholder, pemerintah, exhibitor, delegasi dari seluruh negara, dan semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini," ujarnya dalam Opening Ceremony ILDEX 2026, Rabu (16/9/2026).

Senada dengan hal tersebut, CEO VNU Asia Pacific, Duangdej Yuaikwarmdee, turut menyampaikan welcome speech kepada para delegasi dan peserta pameran internasional yang hadir.

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Banten yang diwakili oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten, Nasir, juga menyampaikan apresiasinya atas langkah konsisten VNU Asia Pacific dalam menghadirkan pameran internasional ini di Indonesia.

Menurutnya, ILDEX memegang peranan penting dalam mendukung kemajuan industri peternakan, kesehatan hewan, pakan dan nutrisi, peralatan serta teknologi, industri susu, rantai dingin (cold chain), hingga sektor pengemasan (packaging) di Tanah Air.

"Forum ini adalah ruang bertemunya teknologi, modal, pengetahuan, dan pasar. ILDEX dapat menjadi ajang business matching yang menghasilkan kerja nyata hari ini dan investasi jangka panjang, serta memperkuat ekosistem pangan Indonesia," ujar Nasir.

Simbolis konsumsi protein hewani dalam pembukaan ILDEX Indonesia 2026.

Acara pembukaan ILDEX Indonesia ke-8 ini secara resmi dilakukan oleh Menteri Pertanian yang pada kesempatan tersebut diwakili oleh Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Makmun.

Dalam arahannya, Makmun menegaskan bahwa ILDEX merupakan ruang strategis yang mempertemukan informasi serta teknologi terkini, yang tidak hanya menghubungkan para pelaku industri dalam negeri, tetapi juga dunia.

"Dengan terselenggaranya pameran ini, diharapkan sinergi antar-pemangku kepentingan di sektor peternakan, kesehatan hewan, dan pertanian dapat semakin kuat guna mendorong kemandirian serta ketahanan pangan nasional," katanya. (RBS)

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

TEGUH SUDARYATNO KEMBALI DIPERCAYA PIMPIN KAFAPET UNSOED

Ketua Umum Kafapet Unsoed Periode 2026-2030, Teguh Sudaryatno. (Foto: Dok. kafapet Unsoed)

Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) kembali mempercayakan Teguh Sudaryatno sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed melalui Musyawarah Nasional VI (Munas VI) di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026).

Sekretaris Panitia Munas VI Kafapet Unsoed, Farid Dimyati, mengatakan pemilihan ketua umum berlangsung lancar dan ditempuh melalui musyawarah mufakat setelah tiga kandidat memenuhi ketentuan dalam tata tertib persidangan.

"Alhamdulillah munas berjalan lancar. Dari data yang masuk sebenarnya ada lima bakal calon ketua umum, tetapi ada dua bakal calon yang tidak hadir secara luring di lokasi pelaksanaan munas, sehingga sebagaimana dipersyaratkan dalam tata tertib pemilihan dinyatakan gugur," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, terdapat tiga calon ketua umum yang memenuhi ketentuan dan selanjutnya mengikuti proses musyawarah untuk menentukan pemimpin KAFAPET UNSOED, di antaranya Teguh Sudaryatno, A. Bagus Pekik, dan Aries Teguh Wibowo.

Farid melanjutkan, setelah melalui musyawarah ketiga kandidat tersebut, mereka sepakat bahwa Teguh Sudaryatno akan kembali memimpin organisasi. Oleh sebab itu, sidang munas akhirnya menetapkan dan mengesahkan Teguh Sudaryanto sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed periode 2026-2030.

Sebagaimana diketahui, Teguh Sudaryatno sebelumnya dikukuhkan sebagai Ketua Umum Kafapet Unsoed pada 24 Februari 2025, menggantikan ketua sebelumnya periode 2021-2026, Bambang Rijanto Japutra, yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai Wakil Ketua IV Keluarga Alumni Unsoed (KAUNSOED).

Farid berharap dengan terpilihnya kembali Teguh Sudaryatno, organisasi Kafapet Unsoed menjadi lebih baik lagi serta terus memperkuat peran organisasi dalam membangun jejaring alumni dan berkontribusi bagi almamater.

Usai dipercaya kembali memimpin Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno mengungkapkan salah satu prioritas yang akan dilakukan ialah membenahi dan memperkuat basis data alumni Fakultas Peternakan Unsoed.

"Yang pertama kita mungkin database alumni. Selama ini memang database belum rapi, jadi nanti alumni itu ada di mana saja bisa kami ketahui. Kemudian pada waktu kelulusan nanti juga langsung kita data untuk pengajuan kartu anggota alumni," katanya.

Ia juga menambahkan akan terus memperkuat koordinasi dengan para alumni di berbagai wilayah. Menurutnya, hal itu penting mengingat cakupan wilayah organisasi yang luas sehingga membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya.

Selain itu, penekanan terkait pentingnya memperkuat hubungan antara Kafapet dengan Fakultas Peternakan Unsoed melalui berbagai kegiatan yang melibatkan alumni dan mahasiswa.

"Hubungan dengan fakultas yang mungkin beberapa kegiatan yang terkait dengan alumni dan fakultas, baik mengadakan seminar, kemudian melakukan pembekalan untuk mahasiswa baru ataupun pembekalan untuk mahasiswa yang baru akan lulus," pungkasnya.

Ia berharap dengan terpilihnya kembali dirinya dapat menjalankan amanah tersebut dengan baik dan mendapat kesehatan serta kelancaran dalam melaksanakan tugas. (INF)

BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED

Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Kafapet Unsoed. (Foto: Istimewa)

"Bakti Alumni Fakultas Peternakan Unsoed untuk Sukseskan Program Hilirisasi”, menjadi tema Seminar Nasional dalam rangkaian Musyawarah Nasional VI Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) di Purwokerto, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Drijen PKH), Drh Agung Suganda, yang turut hadir mengajak perguruan tinggi, alumni, dan dunia usaha memperkuat kolaborasi untuk mempercepat hilirisasi peternakan nasional.

"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.

Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.

Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.

Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.

“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.

Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.

Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.

“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.

Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.

“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.

Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.

Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.

Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.

Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)

MENGUSUNG ONE HEALTH, ONE WELFARE, KIVNAS XXI RESMI DIGELAR

Foto bersama KIVNAS XXI. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) resmi menyelenggarakan Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional (KIVNAS) XXI yang berlangsung pada 14-15 Agustus 2026, di Grand Serpong Hotel. Mengusung tema besar "One Health, One Welfare", gelaran ilmiah ini menampilkan beragam agenda strategis, mulai dari sesi pleno, presentasi ilmiah (oral dan poster), hingga seminar/workshop dari Unit Peminatan Non-Teritorial (UPNT).

​Rangkaian KIVNAS XXI hari pertama diawali dengan Morning Seminar yang menghadirkan Dr Drh Susan M. Noor, yang mengulas isu-isu krusial terkait kesehatan hewan nasional, termasuk kewaspadaan terhadap E. coli, isu resistansi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR), serta pentingnya penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab pada hewan.

Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi sambutan secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar (PB) PDHI, Drh Andi Wijanarko. Dalam sambutannya, Andi menyampaikan bahwa KIVNAS merupakan wahana penting untuk menyatukan ide demi kemajuan bersama profesi veteriner.

"Kita berkumpul di sini untuk memberikan ide bagi kemajuan kita bersama. KIVNAS ini adalah forum penting untuk memperkuat ilmu dan kolaborasi dalam memajukan kesatuan kedokteran hewan kita. Tema One Health, One Welfare mengingatkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak terpisahkan," ujar Andi.

​Ia juga menegaskan bahwa posisi strategis dokter hewan yang selalu hadir dan dibutuhkan dalam isu-isu vital bangsa, seperti penanganan zoonosis, pengendalian AMR, hingga penjaminan ketahanan dan keamanan pangan. Mengingat KIVNAS digelar menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI, Andi berharap KIVNAS XXI menjadi momentum nyata untuk mewujudkan dokter hewan Indonesia yang berintegritas, adaptif, dan kolaboratif demi melahirkan gagasan serta jejaring baru bagi masa depan.

Pada kesempatan yang sama, hadir sebagai Keynote Speaker, Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa, menyampaikan visi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang maju dan berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak hanya fokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan peternak dan penguatan sistem kesehatan hewan nasional.

Hendra juga memaparkan sejumlah tantangan kompleks yang masih dihadapi saat ini, seperti ancaman zoonosis, Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS), emerging infectious disease (EID), perubahan iklim, degradasi lingkungan, keamanan pangan, hingga dinamika perubahan sistem produksi peternakan, dan risiko AMR.

​Untuk menjawab kompleksitas tersebut, Hendra menyampaikan tiga pesan kunci. Pertama, proteksi. Yakni menjaga kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan untuk ketahanan kehidupan masyarakat.
"Yang kedua, promote. Dengan mempromosikan penguatan animal welfare karena keberadaannya penting bagi keberlanjutan usaha peternakan. Dan ketiga yaitu kolaborasi. Dengan memperkuat sinergi lintas sektor, karena tantangan ke depan yang semakin kompleks, sehingga seluruh pihak harus menjadi satu kesatuan demi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan yang lebih maju dan berkelanjutan," tukasnya.

Usai pembukaan resmi oleh Dirkeswan, kegiatan KIVNAS XXI dilanjutkan dengan pemaparan materi dari jajaran pakar, akademisi, dan praktisi senior. Pada hari pertama, hadir narasumber di antaranya Prof Dr Drh Bambang Pontjo P. (Dosen Patologi SKHB IPB University, Sekjen FAVA), Dr Drh Nusdianto Triakoso (Ketua UPNT AKIVI, Wadir RSHP Unair, Dosen FKH Unair), Drh Kadek Agus Agra Arnawa (Senior Vet, Dokter Hewan Praktisi Central Vet Bali, Anggota UPNT ADBVI), hingga Drh Anang Triatmoko (Dokter Hewan Praktisi GAIA Small Animal Clinic, Anggota UPNT ADBVI).

Kemudian pada hari kedua diskusi ilmiah dilanjutkan dengan pemaparan dari Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia/ASOHI), Dr Siraya Chunekamrai (Veterinary Practice in Thailand, Founder The Thai Pony Foundation), ​Dr Drh Hasbullah Abdurrachman (Konsultan Bisnis, Senior Veterinarian Standard Biosensor Indonesia), ​Prof Dr Drh Widagdo Sri Nugroho (Dosen Dept. Kesmavet FKH UGM & Koord. Bid. Peningkatan Kompetensi UPNT Askesmaveti), Dr Drh Fitria Senja Murtiningrum (Dosen SKHB IPB University, Anggota UPNT ADHPHKI), hingga Drh Fajriyanti Qurrotuain (Dokter Hewan Praktisi, Anggota UPNT ADHPHKI).

Melalui pemaparan materi dan diskusi interaktif selama dua hari, KIVNAS XXI diharapkan melahirkan gagasan inovatif serta memperkuat sinergi interprofesional demi mewujudkan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

SEMARAK HUT KE-41, BBPMSOH HADIRKAN TALKSHOW, EKSPOSE KAJIAN ILMIAH, DAN BAZAR UMKM

Kegiatan talkshow menjadi momentum merefleksikan perjalanan 41 tahun BBPMSOH. (Foto: NDV/Infovet)

Tahun ini Balai Besar Pengujian Mutu Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) memasuki usia yang semakin matang. Memperingati HUT ke-41 sekaligus HUT RI ke-81 BBPMSOH menyelenggarakan berbagai kegiatan.

Acara utama adalah Talkshow dan Ekspose Hasil Kajian Ilmiah BBPMSOH yang berlangsung pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di area parkir kantor BBPMSOH, Bogor. Hadir sebagai tamu antara lain UPT lingkup Direktorat Jenderal Peternakan, ASOHI, pensiunan BBPMSOH, berbagai instani pemerintah di Kecamatan Gunungsindur, dan mitra-mitra BBPMSOH.

Talskhow bertajuk “Kiprah BBPMSOH dari Masa ke Masa: Mengawal Mutu dan Keamanan Obat Hewan Indonesia serta Menjawab Tantangan Masa Depan”, menghadirkan narasumber yaitu Kepala BBPMSOH Drh Hasan Abdullah Sanyata, pejabat senior Kementan drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD, Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan Drh Arief Wicaksono , dan Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Drh Akhmad Harris Priyadi. Talkshow dimoderatori oleh Drh Yuni Yupiana MSc PhD.

Acara semestinya dibuka oleh Dr Drh Agung Suganda MSi, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhalangan hadir. Sehingga diwakili oleh Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD yang membuka acara secara daring.

Dalam sambutannya, Hendra memaparkan. “Obat hewan merupakan komponen vital dalam mendukung produksi peternakan nasional. Oleh karena itu, mutunya harus terjamin mengingat obat hewan berdampak langsung terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, keamanan pangan asal hewan, hingga kesehatan masyarakat. Dalam konteks tersebut, BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai satu-satunya unit pelaksana teknis yang diakui pemerintah secara nasional dalam pengujian mutu, sertifikasi, analisis, dan pemantauan obat hewan.”

Hendra juga menyinggung sedikit mengenai isu resistensi antimikroba (AMR) yang telah menjadi perhatian global dan ancaman serius yang harus diantisipasi. 

“Meningkatnya penggunaan produk herbal sebagai alternatif pengobatan juga membutuhkan metode pengujian dan pengawasan yang relevan. Perkembangan tersebut menuntut BBPMSOH untuk terus memperkuat kapasitas, metode pengujian, serta kesiapan dalam merespons berbagai inovasi dan isu yang berkembang,” tuturnya. 

Jaminan mutu, khasiat, dan keamanan obat hewan pada akhirnya berkaitan erat dengan daya saing produk peternakan Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional. Semakin kuat jaminan terhadap kualitas dan keamanan obat hewan, semakin besar pula kepercayaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan. Peran BBPMSOH menjadi semakin penting dalam memastikan obat hewan yang beredar aman, berkhasiat, dan memenuhi standar, sekaligus mendukung peningkatan daya saing sektor peternakan nasional di tengah tuntutan pasar yang semakin ketat.

Dalam sesi talkshow, Ketua ASOHI mengemukakan BBPMSOH memiliki peran strategis sebagai acuan dan parameter dalam memastikan mutu serta kelayakan obat hewan yang digunakan di industri peternakan. Standar pengujian yang diterapkan BBPMSOH juga dipandang tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan perkembangan produk obat hewan. 

“Jika dahulu obat hewan lebih banyak dipersepsikan sebagai sarana untuk mengobati ternak ketika sakit, kini paradigma tersebut mulai bergeser ke arah promotion dan prevention. Industri peternakan dituntut untuk lebih mengedepankan pencegahan, karena ketika ternak sudah sakit dan membutuhkan pengobatan, kondisi tersebut dapat dikatakan sudah terlambat,” ungkap Harris.

BBPMSOH menjadi rujukan penting bagi pelaku usaha untuk memastikan produk obat hewan yang beredar dan digunakan di peternakan telah memenuhi persyaratan mutu dan keamanan. Sertifikasi dan hasil pengujian BBPMSOH memberikan parameter yang jelas dalam membedakan produk yang layak digunakan di lapangan. Keberadaan standar dan pengawasan tersebut sekaligus mendorong industri obat hewan dan peternakan menjadi lebih tertib, teratur, serta memiliki kepastian dalam memilih produk yang memenuhi standar.

Ekspose Kajian Ilmiah 

Talkshow dilanjutkan dengan Ekspose Kajian Ilmiah yang menghadirkan narasumber para penyelia dari laboratorium BBPMSOH. 

Antara lain Penyelia Unit Virologi, Penyelia Unit Bakteriologi, Penyelia Unit Uji Farmasetik dan Premiks. Acara ini dipandu oleh Drh Rahajeng Setiawaty, MSi sebagai moderator.

Pada hari yang sama pula, seperti perayaan tahun-tahun sebelumnya. BBPMSOH mengadakan bazar murah di area masuk BBPMSOH yang diikuti oleh 25 UMKM. Bazar yang meriah menawarkan buah-buahan, sembako, makanan, minuman, butik, barang antik, kosmetik, dan produk-produk lainnya. (NDV)

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

ASOHI JAWA TIMUR GELAR PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXX, PERKUAT PENGAWASAN & MUTU OBAT HEWAN

Pembukaan Pelatihan PJTOH ASOHI Daerah Jawa Timur dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama. (Foto-foto: Dok. ASOHI)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) Angkatan XXX di Santika Hotel, Malang, Jawa Timur, 4-5 Agustus 2026.

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri para pemangku kepentingan, praktisi medis veteriner, serta perwakilan instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan pemahaman regulasi, standar mutu, dan tata kelola peredaran obat hewan.

Pelatihan dibuka pada Selasa (4/8/2026), dengan rangkaian sambutan oleh Ketua ASOHI Daerah Jawa Timur Drh Suyud, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Dr Ir Indyah Aryani MM, serta pembukaan resmi oleh Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Drh Hendra Wibawa MSi PhD. Acara pembukaan juga dimeriahkan dengan aksi bermain angklung dan sesi foto bersama.

Pembukaan resmi secara daring oleh Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Sesi materi diawali oleh Ketua Umum ASOHI, yang memaparkan peran ASOHI, etika profesional, tanggung jawab hukum dan teknis PJTOH, serta tata cara hubungan kerja dengan instansi pengawas. Pemaparan dilanjutkan oleh Ketua Koordinator Substansi Pengawas Obat Hewan, Drh Arief Wicaksono MSi, yang menyampaikan materi mengenai kebijakan dan regulasi obat hewan, mencakup undang-undang, sistem pengawasan, penanganan obat hewan ilegal, hingga sanksi administratif.

Pada sesi berikutnya menghadirkan pemaparan dari Korwil PDHI Jawa Timur, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, tentang peran dokter hewan dalam industri obat hewan dan apotek veteriner. Materi dilanjutkan oleh Ketua Tim Kerja Mutu Obat Hewan, Drh Liys Desmayanti MSi, yang mengulas secara mendalam prinsip Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB), Cara Distribusi Obat Hewan yang Baik (CDOHB), pengadaan, penyimpanan, hingga prosedur penarikan obat (recall).

Hari pertama ditutup dengan paparan dari Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) yang diwakili oleh apt Muhammad Zahid SSi MSc, mengenai penjaminan mutu, pengujian sampel, dan rantai dingin (cold chain).

Memasuki hari kedua Rabu (5/8/2026), pelatihan dibagi ke dalam dua ruangan paralel pada sesi pagi untuk mendalami topik spesifik, di antaranya Ruang I (perusahaan obat hewan) berfokus pada pendaftaran dan peredaran pakan (medicated feed) yang dibuka secara daring oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi, bersumber dari pemaparan Ahmad Riza Muzammil (Kabid Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan Jatim). Sesi dilanjutkan dengan pembahasan kebijakan karantina obat hewan oleh Drh Wirawan Budi Utomo dari Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur.

Hari kedua Pelatihan PJTOH dibuka oleh Direktur Pakan Dr Ir Tri Melasari SPt MSi melalui daring.

Sementara pada Ruang II (peredaran obat hewan), membahas peran apoteker dalam industri dan apotek veteriner bersama akademisi UGM, Dr apt Nunung Yuniarti SF MSi, serta pemenuhan perizinan apotek veteriner oleh Drh Hilda Sari dari DPMPTSP Kota Malang.

Memasuki sesi pleno kembali, peserta mendapatkan pembekalan materi mengenai regulasi perizinan apotek veteriner dan Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) oleh apt Drs Suhartono MFarm dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Disambung dengan penjelasan peredaran bahan baku obat lintas sektor oleh Wahyuwasti Kiki Mustikasari SFarm Apt MSc dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pada sesi berikutnya, Ketua Bidang Peredaran ASOHI, Drh Andi Wijanarko, mengulas penggunaan obat hewan secara rasional guna mencegah resistansi antimikroba (AMR) dan memperhatikan withdrawal time (waktu henti obat). Penata Perizinan Ahli Muda DPMPTSP Provinsi Jawa Timur, Debby Febriyanti SE, turut memberikan informasi update perizinan berusaha berbasis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. 

Rangkaian materi pelatihan diakhiri oleh Kabid Kesehatan Hewan/PPNS Dinas Peternakan Jatim, Dr Drh Iswahyudi MP, yang memaparkan tata cara dokumentasi dan pelaporan stok obat hewan, serta peran Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam menindak peredaran obat hewan ilegal pada ritel seperti petshop dan poultry shop. Kegiatan diakhiri dengan pelaksanaan post-test, kuis, dan penutupan resmi oleh panitia.

Pihak penyelenggara mengharapkan melalui pelatihan ini para PJTOH memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai etika profesi, tanggung jawab hukum, dan peran teknis di berbagai lini industri. Juga kegiatan ini diharapkan dapat mempererat koordinasi dan kemitraan antara praktisi/pelaku usaha dengan instansi pembina dan pengawas, seperti Dinas Peternakan, BBPMSOH, BPOM, BKHIT (Karantina), serta DPMPTSP, sehingga tercipta iklim usaha yang patuh terhadap regulasi dan perizinan berusaha terbaru. (INF)

MENUJU EDISI KE-20: GRAND LAUNCHING INDO LIVESTOCK 2027 EXPO & FORUM RESMI DIGELAR

Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum, Selasa (28/7/2026). (Foto: Dok. Infovet)

PT Napindo Media Ashatama secara resmi menyelenggarakan momentum penting Grand Launching Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Aloft South Jakarta Hotel, Selasa (28/7/2026). Peluncuran resmi ini menandai dimulainya tahapan persiapan menuju pameran bisnis peternakan dan kesehatan hewan terbesar di Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 21-23 Juli 2027 mendatang di Grand City Convex, Surabaya.

Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum tidak hanya hadir sebagai ajang pameran dagang tahunan, tetapi juga diproyeksikan sebagai ruang kolaborasi strategis dalam mendorong kemajuan subsektor peternakan dan kesehatan hewan nasional. Melalui berbagai kerja sama, para pemangku kepentingan industri diharapkan dapat saling memperkuat sinergi, memperluas jaringan bisnis, serta meningkatkan daya saing peternakan Indonesia di tingkat global.

Project Director PT Napindo Media Ashatama, Lisa Rusli, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang secara konsisten mendukung perjalanan Indo Livestock hingga saat ini.

“Kami sampaikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian selaku tuan rumah, serta dukungan dari kementerian, lembaga, asosiasi, mitra bisnis, peserta pameran, hingga insan media. Melanjutkan keberhasilan tema sebelumnya, Indo Livestock 2027 Expo & Forum akan terus hadir sebagai platform strategis yang mendukung pengembangan peternakan dan kesehatan hewan nasional,” ujar Lisa.

Lisa menegaskan, pameran di tahun mendatang memiliki arti yang sangat istimewa. Memasuki edisi ke-20, pameran ini sekaligus menjadi penanda reflektif 25 tahun perjalanan konsisten Indo Livestock dalam menjembatani ekosistem bisnis dan pengetahuan peternakan di Indonesia. Perjalanan seperempat abad ini merupakan cerminan komitmen berkelanjutan Napindo dalam memfasilitasi teknologi, inovasi, serta peluang investasi di subsektor peternakan dan kesehatan hewan.

“Penyelenggaraan Indo Livestock 2027 Expo & Forum di Surabaya merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan ke wilayah ekosistem peternakan yang kuat. Hal ini memberikan akses yang lebih luas bagi pelaku usaha di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, sekaligus menciptakan peluang investasi baru,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Junior Sales Manager Indo Livestock, Agnes Nilam, turut memaparkan gambaran komprehensif mengenai rencana pelaksanaan Indo Livestock 2027 Expo & Forum. Pemaparan tersebut mencakup target pengunjung, profil peserta pameran, tata letak area pameran, hingga berbagai agenda forum pendukung.

Agnes menjelaskan, Indo Livestock 2027 Expo & Forum ditargetkan akan menghadirkan sekitar 15.000 pengunjung, dengan luas area pameran 5.169 m2, yang akan diikuti oleh sekitar 300 perusahaan dan prinsipal dari 30 negara, dengan menghadirkan 10 paviliun negara. Pameran ini juga bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, dan Indo Fisheries.

Dengan dimulainya rangkaian tahapan peluncuran ini, pihak penyelenggara berharap sinergi yang terjalin antara pemerintah, asosiasi profesi, akademisi, dan pelaku usaha dapat terus memperkuat ekosistem peternakan Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing. (RBS)

RUPS GALLUS DIHADIRI KETUA ASOHI & TETAPKAN KOMISARIS BARU

Foto bersama dalam acara RUPS Gallus. (Foto: Dok. Infovet)

Bertempat di Kantor Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Kamis (4/6), PT Gallus Indonesia Utama (Gallus) yang merupakan Badan Usaha Milik ASOHI menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). RUPS dihadiri Direktur Utama Gallus Ir Bambang Suharno, bersama Direktur Keuangan-HRD Gallus Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Umum ASOHI Drh Akhmad Harris Priyadi, Komisaris Gallus Gani Harijanto, dan segenap pemegang saham atau perwakilannya.

RUPS kali ini membahas beberapa poin krusial mengenai performa dan arah kebijakan perusahaan. Diawali dengan pembukaan oleh Direktur Utama Gallus dan dilanjutkan dengan Pemaparan Laporan Keuangan Hasil Audit Tahun Buku 2025 oleh Direktur Keuangan-HRD Gallus. 

Dalam pertemuan itu, Bambang menyampaikan presentasi tentang peran Gallus dalam mendukung berbagai kegiatan ASOHI melalui kegiatan penulisan artikel di bulletin Info ASOHI, Majalah Infovet, penerbitan buku, event organizer, serta perkembangan Gallus yang dipercaya oleh berbagai lembaga swasta dan pemerintah baik nasional dan internasional.

Setelah Laporan Kegiatan Tahun 2025 serta Rencana Kerja untuk Tahun 2026 dipresentasikan, acara dilanjutkan dengan pandangan dari Dewan Komisaris dan pembahasan hal-hal lain, diakhiri dengan penutup.

Pertemuan diakhiri dengan diskusi mengenai ide-ide pengembangan Gallus ke depan seiring dengan dinamika yang terjadi dalam dunia bisnis peternakan dan perikanan. Ketua Umum ASOHI mendukung berbagai inovasi yang telah dan akan dilakukan Gallus.

Salah satu keputusan dalam RUPS itu juga adalah pengangkatan Drh Gowinda Sibit sebagai Komisaris Gallus yang baru menggantikan Gani Harijanto. Gani menyampaikan sudah cukup lama menjadi komisaris, sehingga perlu adanya penerus. Ia juga menegaskan, dengan adanya pergantian ini, pihaknya akan terus mendukung suksesnya Gallus sebagai Badan Usaha Milik ASOHI. (WK)

TMC RAYAKAN HARI JADI KE-27 DENGAN AKSI DONOR DARAH

Ultah TMC ke 27
Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra (TMC), drh Gowinda Sibit bersama Jajaran Manajemen merayakan ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menandai perjalanan panjang selama 27 tahun mendedikasikan diri di industri obat hewan Tanah Air, PT Tekad Mandiri Citra (TMC) memilih cara yang menyentuh hati untuk merayakan hari jadinya. Melalui program CSR (Corporate Social Responsibility) bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri”, TMC menggelar aksi donor darah serta pemeriksaan kesehatan dan mata secara gratis di Pabrik TMC, Bandung, Jumat (3/7).

TMC adalah produsen obat hewan terkemuka dalam negeri yang didukung oleh pengalaman selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. Berbekal inovasi yang matang serta portofolio solusi kesehatan hewan yang komprehensif dengan membawa semangat dalam tagline “Tumbuh Kembang dan Sehat Bersama TMC”, menjadi landasan komitmen dan tekad TMC untuk menjadi korporasi profesional dan terkemuka berskala internasional yang berorientasi pada pasar melalui penyediaan berbagai produk berkualitas.

Dengan penuh kehangatan dan suka cita, gerakan kemanusiaan ini disambut antusias oleh para karyawan dari berbagai Departemen di TMC, PT Anugerah Panji Mandiri (APM), PT Biomol Nusantara Mandiri (BIOMOL), serta PT Ganesa KALPATARU Satya (KALPATARU).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan PMI (Palang Merah Indonesia) Kota Bandung ini berhasil terkumpul sebanyak 95 kantong darah segar untuk kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dari total kantong darah segar yang terkumpul ini akan disalurkan oleh PMI Kota Bandung.

Selain itu, jangkauan CSR kali ini diperluas dengan menggandeng PT Biotek Farmasi Indonesia untuk penyediaan pemeriksaan kesehatan gratis, serta Optical Noor untuk fasilitas pemeriksaan mata cuma-cuma bagi para peserta.

HUT Tekad Mandiri Cita ke 27
Jajaran Manajemen PT Tekad Mandiri Citra (TMC) mengikuti aksi donor darah yang bertajuk “TMC Peduli – Setetes Darah Untuk Negeri” dalam rangka ulang tahun PT Tekad Mandiri Citra yang ke-27 di Bandung, Jawa Barat

Menurut drh Gowinda Sibit, Direktur Utama PT Tekad Mandiri Citra, kegiatan ini sebagai wujud kebanggaan dalam memaknai TMC yang terus bertumbuh dan berkiprah selama 27 tahun di industri obat hewan Tanah Air. “Kegiatan donor darah ini sebagai bentuk berbagi dan kepedulian sosial TMC kepada masyarakat. Juga sekaligus untuk membantu ketersediaan stok darah khususnya di Kota Bandung,” jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Erwin ini melanjutkan, melalui aksi donor darah ini mengajarkan kesetaraan dan kebersamaan yang tidak ada tandingannya sekaligus beramal dan melatih keikhlasan. “Setelah donor, kita lepas, serahkan kepada yang berwenang dan tidak tahu siapa yang akan mempergunakan darahnya,” ungkapnya.

Pria yang juga aktif melakukan donor darah lebih dari 50 kali ini mengucapkan terima kasih dan apresiasi atas antusiasme para pendonor mengikuti kegiatan ini, “Kegiatan ini akan diagendakan secara berkesinambungan sebagai wujud nyata TMC dalam berkontribusi untuk kesehatan masyarakat.”<’/p>

Ia berharap, TMC akan terus meningkatkan kualitas dan potensi diri agar memiliki daya kompetitif dan komparatif yang baik. “Mari bekerja dan terus belajar dalam membangun TMC agar terus bertumbuh, berkembang, dan sehat,” ajak Pak Erwin.

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA

WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

Kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat dan aman, serta memperhatikan kesejahteraan hewan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan tren tersebut, permintaan telur cage-free menunjukkan pertumbuhan konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satunya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur bebas sangkar.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami siapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Mahawijaya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” tambahnya.

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. Pada saat yang sama, juga semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” kata Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55% konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72% responden juga setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tukasnya. (INF)

YAPPI DAN NAPINDO BERIKAN INDO LIVESTOCK INNOVATION AWARD 2026 BAGI INOVATOR PANGAN NASIONAL

Foto bersama penerima penghargaan didampingi oleh YAPPI, Dirjen PKH, dan Napindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan pangan Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal, Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) bekerja sama dengan PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan Indo Livestock Innovation Award 2026 pada ajang Indo Livestock 2026 Expo & Forum di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, 16-18 Juni 2026.

Penghargaan ini diberikan kepada individu dan lembaga yang telah menghasilkan inovasi unggul di bidang pangan, peternakan, pertanian, pengolahan pangan, serta kontribusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.

Pada 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yaitu Inovasi Pangan Berbasis Peternakan; Inovasi Pangan Berbasis Pertanian; Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan; dan Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial.

Tahun ini, Indo Livestock Innovation Award diikuti oleh 40 inovasi dari lembaga riset, 21 perguruan tinggi, dan 11 organisasi filantropi yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Para peserta melibatkan sumber daya manusia unggul yang terdiri atas 12 guru besar, 17 doktor, sembilan magister, dan dua sarjana.

Ketua Umum YAPPI sekaligus Ketua Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026, Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan komprehensif dengan mengacu pada enam kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, pemanfaatan bahan pangan lokal, dampak ekonomi dan sosial, keberlanjutan dan ramah lingkungan, kualitas produk dan keamanan pangan, serta potensi pengembangan dan replikasi.

“Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi kepada para inovator, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai solusi nyata yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Desianto.

Proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Desianto Budi Utomo, Drh Dedy Kusmanagandi DVM MBA, Ir Bambang Suharno, Ir Setya Winarno, serta Winarno SP MSi. Penilaian juga diperkuat oleh Dewan Juri Ahli dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof Dr Ir Muladno MSA (peternakan), Prof Dr Drh Muh. Rizal M. Damanik MRepSc (gizi dan pangan), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi MSc (pengolahan pangan), dan Prof Dr Edi Santosa SP MSi (pertanian).

Penerima Indo Livestock Innovation Award 2026
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan “AMERTA ADHIKARYA PANGAN PASUPALANA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr dari Fakultas Peternakan IPB University atas inovasi “Green Concentrate Indigofera (GCI): Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional.”

Inovasi ini menghadirkan pakan fungsional berbasis sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat sistem imun, serta menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat. Dengan dukungan teknologi produksi modern dan penerapan yang telah diakui industri, Green Concentrate Indigofera menjadi salah satu solusi strategis dalam mewujudkan kemandirian pakan nasional.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pertanian “AMERTA SIDHAKARYA PANGAN PARISKARA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran RendahTropis.”

Teknologi ini membuka peluang baru bagi produksi benih hortikultura di wilayah tropis dataran rendah. Selain meningkatkan produktivitas secara signifikan, inovasi tersebut mampu menghasilkan benih yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan “ANUGERAH SIDHAKARYA PANGAN NUSANTARA”
Penghargaan diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi.”

Inovasi berbasis Modified Cassava Flour (MOCAF) ini menghadirkan alternatif pangan sehat dengan tekstur menyerupai mie berbahan terigu, namun memiliki kandungan serat lebih tinggi dan indeks glikemik lebih rendah. Teknologi yang sederhana dan ekonomis menjadikan inovasi ini berpotensi memperkuat UMKM sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional.

• Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial “ANUGRAHA ANNADANA NISHKAMA”
Penghargaan khusus diberikan kepada Aditya Prayoga, Founder Rumah Makan Gratis (RMG).

Sejak 2016, Aditya Prayoga menginisiasi pendirian RMG di berbagai wilayah Jabodetabek yang setiap hari menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai program sosial seperti TPA gratis, sekolah gratis, serta pelatihan UMKM.

Dedikasi dan semangat berbagi tanpa pamrih yang ditunjukkan Aditya Prayoga dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat solidaritas sosial serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang inklusif dan berkeadilan.

Dari kiri: Desianto Budi Utomo, Agung Suganda, bersama empat orang penerima penghargaan Indo Livestock Innovation Award 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pemberian Penghargaan
Penghargaan diserahkan dalam acara Opening Ceremony Indo Livestock 2026 Expo & Forum 2026 pada Rabu (17/6/2026), oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Drh Agung Suganda, didampingi Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo.

Prosesi penyerahan penghargaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama Dirjen PKH, para penerima penghargaan, serta Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026.

Acara pembukaan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian dan lembaga pemerintah, anggota DPR RI, perwakilan negara sahabat, pimpinan asosiasi peternakan dan kesehatan hewan, kalangan akademisi, pelaku usaha, exhibitor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor agribisnis nasional.

Dialog Inspiratif
Usai pembukaan pameran, YAPPI menyelenggarakan sesi dialog bersama para penerima penghargaan di panggung utama Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dipandu oleh pengurus YAPPI, Ir Setya Winarno.

Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Prof Elly Tugianti, tenaga pengajar dari beberapa kampus, pelaku usaha peternakan dan pertanian, mahasiswa, peneliti, serta pengunjung pameran.

Ketiga penerima penghargaan kategori inovasi memaparkan perjalanan riset, tantangan pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi yang memungkinkan inovasi mereka diterapkan secara luas oleh masyarakat dan industri.

Sementara itu, Aditya Prayoga berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan mendirikan Rumah Makan Gratis dari latar belakang keluarga sederhana. Saat ini, Rumah Makan Gratis telah berkembang menjadi enam lokasi yang masing-masing menyediakan sekitar 300 paket makanan gratis setiap hari, atau total sekitar 1.800 paket per hari.

“Dengan izin Allah, selalu ada orang-orang baik yang membantu sehingga program makan gratis ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Aditya.

Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi. Langkah awal telah diwujudkan melalui penyelenggaraan TPA gratis bagi masyarakat.

Foto bersama usai dialog inspiratif bersama para peraih penghargaan. (Foto: Istimewa)

Melalui penyelenggaraan Indo Livestock Innovation Award 2026, YAPPI dan PT Napindo Media Ashatama berharap semakin banyak inovasi dan gerakan sosial yang lahir untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pembangunan pertanian dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer