-->

YAPPI DAN NAPINDO BERIKAN INDO LIVESTOCK INNOVATION AWARD 2026 BAGI INOVATOR PANGAN NASIONAL

Foto bersama penerima penghargaan didampingi oleh YAPPI, Dirjen PKH, dan Napindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sebagai bentuk komitmen dalam mendorong pengembangan pangan Indonesia yang inovatif, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal, Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) bekerja sama dengan PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan Indo Livestock Innovation Award 2026 pada ajang Indo Livestock 2026 Expo & Forum di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, 16-18 Juni 2026.

Penghargaan ini diberikan kepada individu dan lembaga yang telah menghasilkan inovasi unggul di bidang pangan, peternakan, pertanian, pengolahan pangan, serta kontribusi sosial yang berdampak bagi masyarakat.

Pada 2026, penghargaan diberikan dalam empat kategori, yaitu Inovasi Pangan Berbasis Peternakan; Inovasi Pangan Berbasis Pertanian; Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan; dan Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial.

Tahun ini, Indo Livestock Innovation Award diikuti oleh 40 inovasi dari lembaga riset, 21 perguruan tinggi, dan 11 organisasi filantropi yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Para peserta melibatkan sumber daya manusia unggul yang terdiri atas 12 guru besar, 17 doktor, sembilan magister, dan dua sarjana.

Ketua Umum YAPPI sekaligus Ketua Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026, Drh Desianto Budi Utomo MSc PhD, menjelaskan bahwa proses penilaian dilakukan secara objektif, independen, dan komprehensif dengan mengacu pada enam kriteria utama, yaitu tingkat inovasi, pemanfaatan bahan pangan lokal, dampak ekonomi dan sosial, keberlanjutan dan ramah lingkungan, kualitas produk dan keamanan pangan, serta potensi pengembangan dan replikasi.

“Penghargaan ini tidak hanya memberikan apresiasi kepada para inovator, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai solusi nyata yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Desianto.

Proses penjurian dilakukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari Desianto Budi Utomo, Drh Dedy Kusmanagandi DVM MBA, Ir Bambang Suharno, Ir Setya Winarno, serta Winarno SP MSi. Penilaian juga diperkuat oleh Dewan Juri Ahli dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof Dr Ir Muladno MSA (peternakan), Prof Dr Drh Muh. Rizal M. Damanik MRepSc (gizi dan pangan), Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi MSc (pengolahan pangan), dan Prof Dr Edi Santosa SP MSi (pertanian).

Penerima Indo Livestock Innovation Award 2026
• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Peternakan “AMERTA ADHIKARYA PANGAN PASUPALANA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr dari Fakultas Peternakan IPB University atas inovasi “Green Concentrate Indigofera (GCI): Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional.”

Inovasi ini menghadirkan pakan fungsional berbasis sumber daya lokal yang mampu meningkatkan produktivitas ternak, memperkuat sistem imun, serta menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat. Dengan dukungan teknologi produksi modern dan penerapan yang telah diakui industri, Green Concentrate Indigofera menjadi salah satu solusi strategis dalam mewujudkan kemandirian pakan nasional.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pertanian “AMERTA SIDHAKARYA PANGAN PARISKARA”
Penghargaan diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran RendahTropis.”

Teknologi ini membuka peluang baru bagi produksi benih hortikultura di wilayah tropis dataran rendah. Selain meningkatkan produktivitas secara signifikan, inovasi tersebut mampu menghasilkan benih yang lebih sehat, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, serta mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

• Kategori Inovasi Pangan Berbasis Pengolahan “ANUGERAH SIDHAKARYA PANGAN NUSANTARA”
Penghargaan diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman atas inovasi “Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi.”

Inovasi berbasis Modified Cassava Flour (MOCAF) ini menghadirkan alternatif pangan sehat dengan tekstur menyerupai mie berbahan terigu, namun memiliki kandungan serat lebih tinggi dan indeks glikemik lebih rendah. Teknologi yang sederhana dan ekonomis menjadikan inovasi ini berpotensi memperkuat UMKM sekaligus mendukung kemandirian pangan nasional.

• Penghargaan Khusus Bidang Pangan untuk Kepedulian Sosial “ANUGRAHA ANNADANA NISHKAMA”
Penghargaan khusus diberikan kepada Aditya Prayoga, Founder Rumah Makan Gratis (RMG).

Sejak 2016, Aditya Prayoga menginisiasi pendirian RMG di berbagai wilayah Jabodetabek yang setiap hari menyediakan lebih dari 1.000 porsi makanan bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang. Selain itu, ia juga mengembangkan berbagai program sosial seperti TPA gratis, sekolah gratis, serta pelatihan UMKM.

Dedikasi dan semangat berbagi tanpa pamrih yang ditunjukkan Aditya Prayoga dinilai telah memberikan kontribusi nyata dalam memperkuat solidaritas sosial serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang inklusif dan berkeadilan.

Dari kiri: Desianto Budi Utomo, Agung Suganda, bersama empat orang penerima penghargaan Indo Livestock Innovation Award 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pemberian Penghargaan
Penghargaan diserahkan dalam acara Opening Ceremony Indo Livestock 2026 Expo & Forum 2026 pada Rabu (17/6/2026), oleh Menteri Pertanian yang diwakili oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Dr Drh Agung Suganda, didampingi Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo.

Prosesi penyerahan penghargaan dilanjutkan dengan sesi foto bersama Dirjen PKH, para penerima penghargaan, serta Dewan Juri Indo Livestock Innovation Award 2026.

Acara pembukaan dihadiri sekitar 300 peserta yang terdiri atas pejabat kementerian dan lembaga pemerintah, anggota DPR RI, perwakilan negara sahabat, pimpinan asosiasi peternakan dan kesehatan hewan, kalangan akademisi, pelaku usaha, exhibitor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor agribisnis nasional.

Dialog Inspiratif
Usai pembukaan pameran, YAPPI menyelenggarakan sesi dialog bersama para penerima penghargaan di panggung utama Indo Livestock 2026 Expo & Forum, yang dipandu oleh pengurus YAPPI, Ir Setya Winarno.

Kegiatan turut dihadiri oleh Ketua LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Prof Elly Tugianti, tenaga pengajar dari beberapa kampus, pelaku usaha peternakan dan pertanian, mahasiswa, peneliti, serta pengunjung pameran.

Ketiga penerima penghargaan kategori inovasi memaparkan perjalanan riset, tantangan pengembangan teknologi, hingga proses hilirisasi yang memungkinkan inovasi mereka diterapkan secara luas oleh masyarakat dan industri.

Sementara itu, Aditya Prayoga berbagi kisah inspiratif mengenai perjalanan mendirikan Rumah Makan Gratis dari latar belakang keluarga sederhana. Saat ini, Rumah Makan Gratis telah berkembang menjadi enam lokasi yang masing-masing menyediakan sekitar 300 paket makanan gratis setiap hari, atau total sekitar 1.800 paket per hari.

“Dengan izin Allah, selalu ada orang-orang baik yang membantu sehingga program makan gratis ini dapat terus berjalan dan memberi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujar Aditya.

Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan program pendidikan gratis hingga jenjang perguruan tinggi. Langkah awal telah diwujudkan melalui penyelenggaraan TPA gratis bagi masyarakat.

Foto bersama usai dialog inspiratif bersama para peraih penghargaan. (Foto: Istimewa)

Melalui penyelenggaraan Indo Livestock Innovation Award 2026, YAPPI dan PT Napindo Media Ashatama berharap semakin banyak inovasi dan gerakan sosial yang lahir untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendorong pembangunan pertanian dan peternakan Indonesia yang berkelanjutan. (INF)

PERKUAT KOLABORASI DAN DAYA SAING INDUSTRI PETERNAKAN DI INDO LIVESTOCK 2026

Momen pembukaan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Infovet/Ridwan)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum, secara resmi dibuka dalam Opening Ceremony pada Rabu (17/6/2026) di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Pameran dan forum internasional ini diselenggarakan untuk terus memperkuat kolaborasi dan mendorong inovasi demi meningkatkan daya saing sektor peternakan dan kesehatan hewan di Tanah Air.

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama (Napindo) dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian sebagai tuan rumah, pembukaan resmi dilakukan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi.

Pameran yang bersinergi dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum ini menghadirkan 600 peserta dari 30 negara dengan tujuh paviliun negara, yakni China, Eropa, Indonesia, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam. Sebagai wadah strategis diplomasi ekonomi dan pengembangan industri, pameran ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, asosiasi, investor, serta profesional dari berbagai negara untuk memperluas peluang kerja sama, transfer teknologi, dan mendorong investasi yang mendukung transformasi industri peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.

Dalam sambutannya, Agung Suganda menegaskan bahwa sektor peternakan memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan, pembangunan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan. Seiring meningkatnya kebutuhan protein hewani untuk mewujudkan visi Generasi Emas 2045, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan investor guna meningkatkan produksi, memperkuat investasi, serta memperluas akses pasar bagi produk peternakan Indonesia.

“Indo Livestock merupakan salah satu pameran peternakan berskala internasional di Indonesia. Namun lebih dari pada itu, Indo Livestock adalah instrumen diplomasi ekonomi peternakan Indonesia di hadapan dunia, menjadi tempat bertemunya stakeholder peternakan dari luar negeri dan dalam negeri, menjadi tempat dalam melakukan transaksi bisnis, sekaligus menjadi ruang konsolidasi nasional stakeholder peternakan sehingga diharapkan dapat menjadi booster percepatan modernisasi dunia usaha peternakan dan kesehatan hewan yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB)," ujarnya.

Menyambut positif visi pemerintah dalam mendorong kemajuan sektor peternakan dan kesehatan hewan nasional, Managing Director Napindo, Arya Seta, menyampaikan bahwa Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen Napindo untuk terus menghadirkan platform yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara dalam satu ekosistem yang mendukung pertumbuhan sektor peternakan dan industri pendukungnya.

Menurutnya, penyelenggaraan tahun ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk dan teknologi, tetapi juga sarana untuk memperluas jejaring bisnis, mendorong transfer pengetahuan, serta membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Lebih dari sekadar ajang pameran, Indo Livestock merupakan platform kolaborasi yang mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem industri yang terintegrasi. Melalui partisipasi ratusan perusahaan dari berbagai negara, kami berharap penyelenggaraan tahun ini dapat mendorong lahirnya peluang kerja sama, investasi, dan transfer teknologi yang berkontribusi terhadap pengembangan sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia," kata Arya.

Banyak Program Unggulan
Selain menghadirkan pameran berskala internasional, Indo Livestock 2026 juga menyelenggarakan beragam program unggulan yang dirancang untuk mendorong pengembangan industri sekaligus memperluas partisipasi masyarakat. Salah satunya adalah Indo Livestock Grand Championship (ILGC) yang menjadi sorotan tahun ini pada penyelenggaraan perdananya. Setelah sukses menggelar Kontes Ternak Domba Garut pada hari pertama, rangkaian ILGC berlanjut dengan Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) pada hari kedua dan ketiga (17-18 Juni 2026) dan dapat disaksikan secara langsung oleh masyarakat umum.

Program unggulan lainnya, Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame”, hadir sebagai wadah bagi generasi muda, startup, komunitas, dan pelaku industri untuk mengeksplorasi inovasi serta peluang pengembangan sektor peternakan. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Kementerian Pertanian pada Kamis (18/6/2026), diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi peternak muda yang adaptif dan kreatif.

Pameran lintas sektor ini juga menyelenggarakan program unggulan di sektor perikanan. Fisheries Buyers Meeting diadakan sebagai program unggulan Indo Fisheries 2026, yang bertujuan untuk mempertemukan potential buyers dengan eksportir dan peserta pameran guna membuka peluang kerja sama dan transaksi bisnis internasional.

Rangkaian kegiatan Indo Livestock 2026 semakin lengkap dengan penyelenggaraan seminar, talkshow, focus group discussion, 82 sesi Technical Product Presentation (TPP), business matching, Live Cooking Demo olahan produk hasil perikanan, bazaar UMKM, serta berbagai kegiatan edukatif yang menghadirkan teknologi, inovasi, dan solusi terkini dari para pelaku industri nasional maupun internasional.

Dengan dukungan dari 51 kementerian, lembaga, asosiasi, dan universitas, Indo Livestock 2026 kembali menegaskan posisinya sebagai pameran dan forum internasional terdepan bagi industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor dan sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan, penyelenggaraan ini diharapkan mampu memperkuat investasi, memperluas peluang perdagangan, mempercepat transfer teknologi, serta mendorong peningkatan daya saing sektor peternakan, kesehatan hewan, pertanian, perikanan, dan akuakultur Indonesia di tingkat global.

Pemberian Penghargaan 
Pada momen pembukaan, Napindo bekerja sama dengan Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) turut memberikan penghargaan Indo Livestock Innovation Awards 2026 kepada para insan yang mendukung dan memiliki inovasi terbaik dalam pengembangan sektor pangan, di antaranya: 

- Kategori Amerta Adhikarya Pangan Pasupalana diberikan kepada Prof Dr Ir Luki Abdullah MSc Agr (Fakultas Peternakan IPB University) dengan inovasi "Green Concentrate Indigofera (GCI) Sumber Protein Lokal untuk Kemandirian dan Ketahanan Pakan Nasional."

- Kategori Amerta Sidhakarya Pangan Pariskara diberikan kepada Prof Dr Eni Sumarni STP MSi (Fakultas Pertanian Unsoed) dengan inovasi "Aplikasi Root Zone Cooling pada Sistem Aeroponik untuk Produksi Benih Kentang dan Bawang Putih di Dataran Rendah Tropis."

- Kategori Anugerah Sidhakarya Pangan Nusantara diberikan kepada Dr Santi Dwi Astuti STP MSi (LPPM Unsoed) dengan inovasi "Mie Bebas Gluten Berbasis Tepung Singkong Termodifikasi dengan Teknologi Tepat Guna Non Ekstrusi."

- Kategori Anugraha Annadana Nishkama diberikan kepada Adit Prayoga dengan inovasi melalui yayasan yang dipimpinnya, ratusan porsi makan gratis disajikan setiap hari bagi fakir miskin, pemulung, dan masyarakat kurang mampu tanpa membedakan latar belakang.

Kemudian, pada hari yang sama juga dilakukan pemberian penghargaan bagi para exhibitor pameran. Untuk kategori Best Designed Stand diberikan kepada Ceva (Juara III), Cargill (Juara II), dan Charoen Pokphand Indonesia (Juara I). Kemudian kategori Best Performance Stand diberikan kepada Kapha (Juara III), Mensana Aneka Satwa (Juara II), dan Medion (Juara I). Sedangkan kategori Most Unique Stand diberikan kepada Aviagen (Juara III), Highfarve (Juara II), dan Fenanza (Juara I). (RBS)

PEREBUTKAN PIALA MENTAN, 600 EKOR DOMBA SIAP BERKOMPETISI DI INDO LIVESTOCK 2026

Konferensi pers Indo Livestock 2026 berlangsung di kawasan Jakarta Selatan (Foto: NDV/Infovet)

Ada yang berbeda pada pagelaran Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, yang akan dilaksanakan pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Yaitu diadakannya program Indo Livestock Grand Championship (ILGC), sebuah kontes ternak domba dan seni ketangkasan domba Garut indoor pertama di Indonesia, bekerjasama dengan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI).

“Kami turut berbangga dari HPDKI bisa dilibatkan, kami akan membawa dan menampilkan kurang lebih 600 ekor ternak ke NICE PIK 2. ILGC adalah ajang kompetisi kontes ternak dan seni ketangkasan domba Garut yang memperebutkan Piala Menteri Pertanian Republik Indonesia,” kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP HPDKI, Nuryanto.

ILGC diadakan selama tiga hari dengan hari pertama adalah kontes ternak domba. Mempertandingkan empat kelas utama yaitu Raja Pet, Raja Kasep, Ratu Bibit, dan Raja Pedaging. Kurang lebih 200 ekor domba akan berkompetisi di hari pertama tersebut.

Seni ketangkasan domba Garut akan berlangsung di hari kedua dan ketiga. Menghadirkan kurang lebih 400 ekor domba yang berkompetisi di beberapa kelas yaitu kelas 75 kg ke atas, 65-75 kg, dan di bawah 65 kg.

“Seni ketangkasan domba Garut ini erat kaitannya dengan budaya Sunda. Nanti seperti halnya event-event yang biasa kami laksanakan, ada peternaknya, biasa disebut dengan bobotoh, yang membawa ternaknya. Akan ada juga penampilan seni pencak silat yang diiringi dengan musik tradisional Sunda,” jelas Nuryanto lebih lanjut.

ILGC melibatkan para peternak domba dari sekitar 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat, juga para peternak dari daerah Banten.

Selain itu juga ada eksibisi domba-domba unggulan tipe pedaging, yang merupakan hasil introduksi persilangan yang memiliki keunggulan tipe pedaging yang baik. Yang melibatkan beberapa perwakilan peternak dari Jawa Tengah.

Dorong Diplomasi Ekonomi dan Ekspor Peternakan

Diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama dan dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian RI melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH). Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum berhasil menjaring 600 peserta dari 30 negara, dengan 7 paviliun negara termasuk paviliun negara Indonesia. Menargetkan sebanyak 20.000 pengunjung profesional dari dalam dan luar negeri.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr drh Agung Suganda, MSi menjelaskan, “Untuk tahun ini Kementerian Pertanian lebih terlibat lagi. Tujuannya untuk mendorong agar Expo dan Forum yang akan kita selenggarakan tidak sekedar hanya event saja. Tetapi juga merupakan upaya diplomasi ekonomi khususnya subsektor peternakan Indonesia di hadapan dunia.”

Agung melanjutkan, Indo Livestock 2026 sekaligus merupakan konsolidasi nasional yang mempertemukan seluruh aktor dan stakeholder di bidang peternakan. Termasuk juga menghadirkan mitra-mitra swasta dan mitra negara sahabat, dengan harapan akan terbuka pasar-pasar ekspor baru dari beberapa negara yang ikut berpartisipasi.

Lisa Rusli, Project Director Napindo menjelaskan bahwa Indo Livestock dan Indo Feed 2026 merupakan pameran yang ke-19 sejak diadakan pertama kali pada 2002. Tahun genap diadakan di Jakarta dan tahun ganjil diadakan di Surabaya.

“Selain itu juga ada kegiatan Indo Dairy, ini sudah yang ke-17 kali. Kita juga punya Indo Agrotech, baru yang kelima kali. Indo Vet baru yang keenam kali. Indo Fisheries sudah yang ke-16 kali kita selenggarakan,” jelas Lisa. (NDV)

FLUOROQUINOLONES EXIT, INDUSTRI OBAT HEWAN DIMINTA SIAP BERTRANSFORMASI

Kiri: Hendra Wibawa dan Sugiyono (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi (Fluoroquinolones Exit) menjadi sorotan utama. Dibuka Sambutan Ketum ASOHI, Drh A. Harris Priyadi, Program Temu Anggota ASOHI (PROTAS) 2026 digelar pada Rabu (3/6/2026), di Avenzel Hotel and Convention, Cibubur.

Dalam forum yang menjadi ajang silaturahmi sekaligus pelayanan organisasi kepada anggota tersebut, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar pembatasan antibiotik, tetapi langkah strategis menjaga keberlanjutan industri peternakan nasional di tengah ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).

Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, dalam paparannya bertajuk “Kebijakan Fluorouinolones Exit pada Hewan Produksi" menjelaskan bahwa fluoroquinolone menjadi perhatian global karena tergolong antimikroba kritis yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan banyak digunakan untuk pengobatan infeksi serius. Peningkatan resistansi yang terus terjadi di berbagai negara membuat penggunaannya pada hewan produksi kini menjadi perhatian serius organisasi dunia seperti WHO, FAO, WOAH, hingga Codex Alimentarius.

Menurut Hendra, resistensi antimikroba kini bukan lagi isu masa depan, melainkan tantangan nyata yang sedang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak hanya menyangkut kesehatan manusia dan hewan, tetapi juga keamanan pangan serta daya saing perdagangan internasional. Ia mengingatkan bahwa semakin tinggi penggunaan antibiotik tertentu, semakin besar pula risiko hilangnya efektivitas antibiotik tersebut di masa mendatang. Resistensi bahkan berpotensi memicu Multi Drug Resistance (MDR), ketika pengobatan menjadi semakin sulit dilakukan.

“Kita harus menjaga efektivitas antibiotik yang masih dibutuhkan untuk menyelamatkan kehidupan manusia,” tegas Hendra dalam presentasinya.

Ia menjelaskan bahwa kebijakan global telah bergerak ke arah pengendalian penggunaan fluoroquinolone di sektor peternakan. WHO menempatkannya sebagai Critically Important Antimicrobials, sementara WOAH mendorong penggunaan antibiotik secara bijak (prudent use). Di sisi lain, Codex Alimentarius dan FAO juga telah memasukkan isu resistensi antimikroba sebagai bagian penting dalam tata kelola keamanan pangan dunia.

Sebagai tindak lanjut, Indonesia mengambil langkah melalui pendekatan One Health, yakni integrasi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan. Komitmen ini diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional Pengendalian Resistansi Antimikroba (RAN-AMR), penguatan keamanan pangan, serta peningkatan daya saing ekspor produk peternakan.

Dalam kesempatan tersebut, Hendra memaparkan bahwa pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 63/2026 yang mengatur penghentian penggunaan fluoroquinolone tertentu pada hewan produksi. Namun demikian, ia menekankan bahwa kebijakan ini tidak boleh dipahami sebagai sekadar pelarangan antibiotik.

“Filosofi exit policy adalah transformasi penggunaan antibiotik menuju sistem kesehatan hewan yang lebih preventif dan bertanggung jawab,” jelasnya. Prinsip yang diusung adalah prevention is better than treatment, dengan penguatan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kesehatan ternak, serta penguatan stewardship antibiotik sebagai fondasi utama.

Pemerintah, lanjutnya, akan melakukan berbagai langkah implementasi, mulai dari sosialisasi nasional, penyusunan pedoman teknis, pengawasan distribusi dan penggunaan, hingga surveilans resistensi antimikroba serta monitoring residu. Langkah tersebut diharapkan mampu memastikan transisi berjalan tanpa mengganggu produktivitas peternakan nasional.

Dalam diskusi yang dipandu Wakil Kabid Organisasi Drh Sugiyono, Hendra juga menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Industri obat hewan didorong mengembangkan alternatif seperti produk biologik, probiotik, dan fitobiotik. Dokter hewan diminta memperkuat diagnosis yang tepat serta penggunaan antibiotik secara bijak, sementara peternak perlu meningkatkan biosekuriti, vaksinasi, manajemen kandang, dan praktik budi daya yang baik (Good Farming Practices).

Meski demikian, pemerintah mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam implementasi kebijakan ini, mulai dari perubahan perilaku penggunaan antibiotik, ketersediaan alternatif, kepatuhan di lapangan, hingga pengawasan distribusi. Untuk itu, pemerintah akan memperkuat edukasi, pendampingan teknis, kapasitas laboratorium, dan surveilans sebagai bentuk antisipasi.

Selain materi utama mengenai Fluoroquinolones Exit, PROTAS ASOHI 2026 juga menghadirkan sejumlah topik strategis lain, di antaranya pembahasan pencabutan Surat Keputusan registrasi obat hewan, implementasi Surat Izin Praktik Terintegrasi (SIPT), serta penyesuaian terhadap implementasi KBLI baru bagi pelaku usaha obat hewan. Ragam isu tersebut memperlihatkan bahwa industri kesehatan hewan tengah memasuki fase adaptasi regulasi yang semakin dinamis.

PROTAS sendiri merupakan agenda tahunan ASOHI yang dirancang sebagai wadah pertemuan anggota sekaligus sarana memperkuat komunikasi antara pelaku industri dengan regulator. Tahun ini, forum tersebut terasa semakin penting karena industri obat hewan dituntut tidak hanya adaptif terhadap perubahan regulasi, tetapi juga mampu merespons tuntutan global terkait keamanan pangan dan resistensi antimikroba.

Menutup paparannya, Hendra mengingatkan bahwa kebijakan Fluoroquinolones Exit harus dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan ancaman bagi industri. “Antibiotik yang kita jaga hari ini adalah harapan terapi yang kita wariskan untuk generasi mendatang,” ujarnya. (DS)

REUNI KAFAPET UNSOED 85 HADIRKAN DUA REKTOR DAN PERDANA LIVESTREAMING YOUTUBE

Foto bersama, dari kiri: Sutadi Ronidipuro, Novie Andri Setianto, Hary Soegijono, Prof Akhmad Sodiq, Sinung Nugroho, Dr Achmad Iqbal, Prof Noor Farid, dan Dr Agus Susanto. (Foto-foto: Istimewa)

Reuni Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Kafapet Unsoed) angkatan 1985 berlangsung sukses dan meriah di Hotel Sendang Sari, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pada 23-24 Mei 2026. Kegiatan silaturahmi dua tahunan ini dihadiri sekitar 70 alumni beserta keluarga dari berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah pimpinan Unsoed dan dari Fapet turut hadir dalam acara tersebut. Di antaranya Rektor Unsoed Prof Dr Akhmad Sodiq, Wakil Rektor Prof Noor Farid, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto Dr Achmad Iqbal yang juga pernah menjabat sebagai Rektor Unsoed periode 2014-2018, Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, serta Wakil Dekan Dr Agus Susanto. Hadir pula Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang Sutadi Ronodipuro serta perwakilan sponsor yang mendukung terselenggaranya reuni.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sejak acara pembukaan hingga malam keakraban. Kegiatan kemudian dilanjutkan Minggu pagi dengan senam bersama dan ramah tamah antaralumni. Selain itu, reuni juga diisi diskusi santai, hiburan, serta kegiatan wisata belanja ke Pasar Batik Setono yang diikuti sebagian peserta.

Ketua Kafapet 85, Ir Sinung Nugroho, mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan reuni tahun ini. Menurutnya, reuni bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga sarana memperkuat jejaring dan semangat kebersamaan antaralumni.

“Alhamdulillah teman-teman masih menjaga semangat silaturahmi sesuai moto alumni Fapet 85, yaitu guyub dan lestari. Semoga kebersamaan ini terus terjaga,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Panitia, Dr Ir Hary Soegijono MTh, yang mengapresiasi kerja sama para panitia yang berasal dari berbagai wilayah, mulai dari Pantura, Purwokerto, Jabodetabek, hingga Yogyakarta dan sekitarnya.

“Sungguh menjadi kebahagiaan bagi kami karena Pak Rektor Unsoed, di tengah kesibukan beliau sepulang dari acara di Surabaya, masih menyempatkan hadir bersama wakil rektor, mantan rektor, dekan, dan wakil dekan. Terima kasih juga kepada Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Batang yang turut hadir dan memperkenalkan program unggulan Kabupaten Batang,” katanya.

Dalam sambutannya, Rektor Unsoed, Prof Dr Akhmad Sodiq, mengaku bahagia dapat hadir di tengah para seniornya, mengingat dirinya juga merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1987. Ia mengajak para alumni untuk terus menjaga semangat perjuangan Jenderal Soedirman.

“Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah. Insyaallah dengan memegang semangat itu, kita akan diberi kelancaran dan kesuksesan,” ujarnya seraya mengingatkan kembali pentingnya menjaga moto alumni Unsoed, yaitu Kompak, Semangat, Hebat.

Pada kesempatan itu, Prof Sodiq turut menyampaikan perkembangan terbaru Unsoed, yang saat ini memiliki 103 program studi dengan jumlah mahasiswa sekitar 25.000 orang, meningkat jauh dibandingkan masa ketika angkatan 1985 masih menempuh pendidikan.

Ia berharap para alumni dapat ikut berkontribusi melalui program kuliah praktisi dengan berbagi pengalaman dan ilmu lapangan kepada mahasiswa. “Kami memiliki program kuliah praktisi. Silakan para alumni berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” tambahnya.

Foto bersama usai senam pagi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam reuni kali ini adalah untuk pertama kalinya acara disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube KafapetUnsoedTV, kanal resmi milik Kafapet. Melalui livestreaming tersebut, alumni yang tidak dapat hadir secara langsung, termasuk yang berada di luar negeri, tetap dapat mengikuti jalannya acara secara virtual.

Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak alumni karena dinilai mampu memperluas keterlibatan keluarga besar Kafapet Unsoed. Hal tersebut terlihat dari antusiasme komentar dan percakapan selama siaran berlangsung. Rekaman livestreaming reuni bisa dilihat di: https://www.youtube.com/live/oNa8cAu-H_Q?si=d7vS5zdscIB_HzAc

Acara reuni dipandu oleh Krusharto atau yang lebih dikenal dengan nama panggung “Mbah Gobed”. Dengan gaya humor khas Banyumasan, ia berhasil mencairkan suasana dan menjaga keakraban peserta sejak awal hingga akhir acara. Mbah Gobed sendiri merupakan alumni Fapet Unsoed angkatan 1985 yang kini dikenal sebagai MC profesional di wilayah Jawa Tengah, khususnya Banyumas Raya.

Di sela-sela reuni, para peserta secara aklamasi kembali menetapkan Sinung Nugroho sebagai Ketua Kafapet Unsoed angkatan 1985. Sinung menyatakan kesediaannya untuk kembali mengemban amanah tersebut dan berharap semangat kekeluargaan antaralumni tetap terjaga.

Ia juga menggagas adanya program iuran bulanan alumni guna meringankan biaya penyelenggaraan reuni mendatang. “Harapan saya reuni dua tahun mendatang bisa lebih ringan pembiayaannya karena sudah ditopang dari iuran rutin teman-teman,” ujarnya.

Reuni Kafapet Unsoed angkatan 1985 sendiri secara rutin digelar setiap dua tahun. Sebelumnya reuni dilaksanakan di TMII Jakarta pada 2024 dan Baturraden pada 2022. Sementara lokasi reuni berikutnya yang akan diselenggarakan 2026 masih akan dibahas lebih lanjut. (INF)

PUBLIC EXPOSE TAHUN BUKU 2025 PT MALINDO FEEDMILL TBK

Foto: Malindo

PT Malindo Feedmill Tbk (“Perseroan”) adalah suatu perusahaan terbatas yang didirikan dengan nama "PT Gymtech Feedmill Indonesia" pada tahun 1997. Perseroan bergerak dalam bidang produksi dan penjualan pakan ternak, pembibitan dan distribusi anak ayam usia sehari ras pedaging, pembibitan dan penjualan anak ayam usia sehari ras parent stock serta peternakan ayam ras pedaging. Perseroan mulai mengembangkan bisnis downstream pada tahun 2013.

Bisnis baru yang merupakan sinergi dari bisnis yang telah ada akan membuat Perseroan menjadi Perusahaan Terintegrasi. Perusahaan kembali menambah bisnis baru yaitu bisnis restoran cepat saji dengan nama Sunny Chick pada tahun 2021 dan rumah potong hewan unggas pada tahun 2022. Beberapa tahun terakhir Perusahaan juga melakukan ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Singapura, Oman, Uni Emirat Arab dan Qatar.

Kinerja Keuangan Perseroan Di Tahun 2025 dan Kuartal I 2026

Berikut adalah kinerja keuangan Perseroan di tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024. berdasarkan Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto dan Rekan :

Kinerja operasional Perseroan tetap menunjukkan pertumbuhan pada tahun 2025. Ditinjau dari sisi penjualan, Malindo berhasil mencapai nilai penjualan bersih tahun 2025 sebesar Rp12,69 triliun, yaitu meningkat 1,52% atau Rp190,04 miliar dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp12,50 triliun. Peningkatan penjualan ini terutama didorong oleh adanya peningkatan pada penjualan ayam pedaging sebesar Rp432,53miliar atau 18,75%, peningkatan penjualan makanan olahan sebesar Rp16,64 miliar atau 12,94%, dan peningkatan penjualan lain-lain sebesar Rp31,39 miliar atau 6,12%. Peningkatan penjualan bersih tahun 2025 sebesar 1,52% dari tahun 2024.

Sementara itu dari sisi kinerja keuangan pada tahun ini juga menunjukkan kinerja yang positif dan solid. Laba bruto Malindo tercatat sebesar Rp1,29 triliun pada tahun 2025. Perolehan laba tahun berjalan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp393,59 miliar, dan laba komprehensif tahun berjalan mencapai Rp395,08miliar.

Selain itu, kinerja keuangan Malindo diperkuat oleh posisi keuangan dengan jumlah aset sebesar Rp5,70 triliun, jumlah liabilitas sebesar Rp2,31 triliun, dana syirkah temporer sebesar Rp518,09 miliar, dan jumlah ekuitas sebesar Rp2,88 triliun.

Penjualan bersih Perseroan sebesar Rp3,69 triliun pada kuartal I 2026 naik sebesar Rp526,86 miliar atau naik sebesar 16,61%. Penjualan Pakan ternak naik sebesar 10,92% atau sebesar Rp206,91 miliar, peningkatan penjualan anak ayam/ itik usia sehari sebesar naik 69,20% atau sebesar Rp330,63 miliar dari Rp 477,77 miliar menjadi Rp808,39 miliar di periode Maret 2026. Penjualan ayam pedaging turun sebesar Rp15,91 miliar atau turun sebesar 2,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan Makanan olahan naik 16,81% atau naik sebesar Rp5,83 miliar, penjualan lain lain turun 0,48% atau sebesar Rp604 juta.

Laba kotor Perseroan pada kuartal I 2025 naik sebesar Rp74,76 miliar atau naik 22,79% dari Rp327,97 miliar menjadi Rp402,73 miliar di Maret 2026.

Peningkatan laba kotor di atas ikut mendorong Laba bersih Perseroan meningkat dari Rp62,88 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp123,28 miliar pada akhir Maret 2026 atau naik sebesar Rp60,40 miliar.Faktor utama kenaikan ini adalah harga DOC dan Broiler yang cenderung stabil.

Kendala-kendala yang dihadapi dan Strategi Perseroan

Kendala:

  • Fluktuasi harga live bird dan DOC akibat dinamika supply-demand;
  • Volatilitas harga bahan baku utama dan kurs valuta asing;
  • Tekanan efisiensi di tengah persaingan industri yang ketat.

Strategi PT. Malindo di tahun di 2026:

  • Memperkuat efisiensi operasional dan cost management;
  • Melanjutkan pembangunan solar panel untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendukung keberlanjutan operasional;
  • Mengoptimalkan utilisasi bahan baku dan formulasi pakan;
  • Memanfaatkan potensi pertumbuhan demand domestik dan ekspor;
  • Melanjutkan digitalisasi dan peningkatan produktivitas operasional.

Kegiatan Perseroan di Tahun 2026

Pada tanggal 25 Mei 2026, Perseroan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (“RUPST”). (Rilis)

SERATUS TAHUN ND, 55 TAHUN FKH UNAIR: DARI ANCAMAN VIRUS HINGGA VISI KAMPUS

Pembicara pada Seminar Perunggasan yang digelar SAGAVET UNAIR. Dari kiri: Prof Suwarno, Henri E. Prasetyo, dan Bilqis. (Foto: Istimewa)

SAGAVET UNAIR menggelar Seminar Perunggasan dan Hewan Kecil sekaligus launching buku “55 Tahun FKH UNAIR” di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/5/2026). Acara yang dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan industri, akademisi, praktisi, mahasiswa, dan alumni ini dibuka oleh Ketua SAGAVET periode 2025-2030, Drh Syailin bersama Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Lilik Maslachah.

Pada sesi perunggasan, Prof Dr Suwarno membahas Newcastle disease (ND) atau tetelo yang telah menjadi ancaman industri unggas selama 100 tahun sejak pertama kali ditemukan di Batavia pada 1926. Virus ND kini mengalami banyak mutasi dan mampu menginfeksi lebih dari 250 spesies unggas.

Salah satu strain paling berbahaya adalah genotipe VII (GVII) yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kerugian ekonomi besar. Menariknya, strain lentogenik ND juga memiliki potensi sebagai virus onkolitik yang dapat menghancurkan sel kanker manusia.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Henri E. Prasetyo memaparkan pentingnya precision nutrition dalam menghasilkan produk unggas berkualitas, sehat, aman, dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan tren konsumen global mendorong industry perunggasan melakukan transformasi strategi nutrisi berbasis functional food dan animal welfare.

Pada sesi hewan kecil, Prof Wiwik Misaco dan Dr Lina Susanti membahas tantangan diagnosis penyakit saraf dan mata pada hewan piaraan.

Selain pemaparan seminar, acara juga ditandai dengan peluncuran buku “55 Tahun FKH UNAIR” oleh Dr Rizky F. Meriawan yang menggambarkan perjalanan FKH UNAIR menuju institusi Teaching Industry berbasis One Health, SDGs, dan inovasi riset global. (Henri E. Prasetyo)

ADM SWINE FORUM 2026: DUKUNGAN ADM UNTUK INDUSTRI BABI INDONESIA

ADM Swine Forum 2026 diselenggarakan pada Selasa, 21 April 2026 di Bali. (Foto-foto: ADM)

Berlangsung pada 21 April di Hyatt Regency Sanur Bali, ADM Swine Forum 2026 mempertemukan para pemimpin industri, ahli nutrisi, dan produsen untuk membahas tantangan serta peluang yang terus berkembang dalam sektor babi global. Forum yang diselenggarakan oleh ADM Animal Nutrition ini menjadi platform strategis untuk bertukar wawasan, berbagi inovasi, dan mendorong solusi praktis guna meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan.

Acara ini dimoderatori oleh Prof Budi Tangendjaja, yang memastikan diskusi berjalan dinamis serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka forum, Wully Wahyuni, Country General Manager/Director ADM Animal Nutrition Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kompleksitas industri yang semakin meningkat. Ia menyoroti bahwa sektor babi saat ini tidak hanya membutuhkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga solusi terintegrasi berbasis sains yang didukung oleh kemitraan yang kuat.

Menurut Wully, forum ini tidak hanya dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun dialog dan mendorong kolaborasi di seluruh rantai nilai. Ia menegaskan kembali komitmen ADM untuk menghadirkan solusi praktis yang siap diterapkan di lapangan, sesuai dengan kondisi pasar, sekaligus terus mendorong inovasi dan keberlanjutan. Industri babi di Indonesia, menurutnya, memiliki potensi pertumbuhan yang besar jika para pelaku bersedia beradaptasi dan berinvestasi pada sistem serta teknologi yang lebih baik.

“ADM Swine Forum ini salah satu bentuk komitmen kontribusi ADM terhadap industri peternakan. Setiap tahun kami merencanakan ada event seperti ini dimana kami mengundang industry stakeholder baik itu dari akademisi, praktisi, dan dari customer kami juga,” terang Country General Manager ADM Animal Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni. “Para expert dari ADM juga dihadirkan supaya kita bisa exchange karena pastinya selalu ada teknologi dan inovasi baru. Saya berharap informasi-informasi itu juga bisa diadopsi di Indonesia.”

Menavigasi Industri Global dengan Biaya Tinggi dan Ekspektasi Tinggi

Fabio Catunda, Global Swine Director ADM, membuka sesi presentasi dengan gambaran menyeluruh tentang dinamika industri global. Ia menekankan bahwa daya saing kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan, di tengah kenaikan biaya, keterbatasan sumber daya, serta perubahan preferensi konsumen.

“Keberhasilan tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi dan tanggung jawab dalam proses produksi. Pemahaman terhadap struktur biaya mulai dari pakan, tenaga kerja, hingga investasi modal menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas,” terang Fabio.

Salah satu poin penting yang disampaikannya adalah pentingnya benchmarking. Meskipun rata-rata global terus meningkat, produsen dengan performa terbaik secara konsisten berada di atas rata-rata. Kesenjangan performa ini menjadi peluang besar bagi mereka yang mau mengadopsi praktik manajemen yang lebih baik serta teknologi modern.

Teknologi kini mengubah sistem produksi babi secara signifikan. Fabio menyoroti pergeseran dari manajemen peternakan yang reaktif menuju pendekatan prediktif berbasis teknologi precision livestock. Perangkat seperti sistem monitoring real-time menggunakan kamera dan sensor memungkinkan peternak memantau perilaku ternak, mendeteksi gejala penyakit lebih dini, dan merespons dengan lebih efektif.

Ia juga memperkenalkan konsep produksi energi di dalam peternakan babi. Dengan mengolah kotoran menjadi biomethane dan biocarbon, peternakan dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan keberlanjutan lingkungan. Integrasi antara produksi protein dan energi ini berpotensi menjadi kunci masa depan industri.

Menyeimbangkan Pengurangan Antibiotik dan Permintaan Pasar

Peralihan menuju produksi bebas antibiotik menjadi topik penting lainnya. Fabio menjelaskan bahwa permintaan konsumen, terutama generasi muda, semakin mengarah pada produk daging yang alami dan bebas antibiotik.

Di beberapa pasar, daging babi bebas antibiotik memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Namun, ia juga mengakui bahwa transisi ke sistem ini memiliki tantangan, seperti peningkatan risiko kematian dan kompleksitas manajemen.

Alih-alih menghilangkan antibiotik sepenuhnya, Fabio menyarankan pendekatan yang seimbang. Pengurangan penggunaan antibiotik yang dikombinasikan dengan solusi alternatif, seperti menjaga kesehatan usus, nutrisi yang lebih baik, dan manajemen peternakan yang optimal dapat menjaga performa sekaligus kesejahteraan hewan. Sistem traceability juga berperan penting dalam menangkap nilai tambah tersebut.

Nutrisi Sebagai Penggerak Efisiensi dan Profitabilitas

Dr Pedro Urriola, pakar nutrisi babi, memberikan wawasan mendalam mengenai strategi kecernaan energi dan protein. Ia menekankan bahwa pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam produksi, sehingga efisiensi nutrisi menjadi kunci profitabilitas.

Salah satu rekomendasi utamanya adalah penggunaan sistem net energy, yang memberikan gambaran lebih akurat tentang bagaimana hewan memanfaatkan pakan, terutama di kondisi tropis di mana heat stress memengaruhi metabolisme.

Ia juga menyoroti bahwa efisiensi harus dilihat dalam konteks ekonomi yang lebih luas. Pakan yang meningkatkan feed conversion belum tentu menghasilkan keuntungan lebih tinggi jika biayanya meningkat secara tidak proporsional. Oleh karena itu, strategi nutrisi harus disesuaikan dengan tujuan produksi yang spesifik.

Pada sisi protein, Dr Pedro menekankan pentingnya keseimbangan dan kecernaan asam amino. Ia mengatakan, ”Pendekatan yang beralih dari crude protein ke formulasi asam amino yang presisi memungkinkan performa yang lebih baik sekaligus mengurangi dampak lingkungan. Konsep seperti standardized ileal digestibility dan adaptive protein nutrition turut meningkatkan kemampuan penyesuaian pakan terhadap kondisi yang berbeda.”

Peran Zinc yang Presisi pada Babi

Pedro juga menyoroti peran strategis zinc dalam meningkatkan produktivitas induk dan performa anak babi. Ia menjelaskan bahwa zinc bukan sekadar trace mineral, tetapi komponen fungsional yang mendukung integritas usus, respons imun, dan ketahanan fisiologis secara menyeluruh, terutama pada fase kritis seperti masa bunting dan awal perkembangan.

Menurutnya, aplikasi zinc yang tepat pada induk bunting dapat memberikan dampak positif terhadap perkembangan janin, sehingga menghasilkan anak babi yang lebih kuat dan seragam saat lahir. Hal ini berkontribusi pada tingkat kelangsungan hidup dan performa pertumbuhan yang lebih baik pada fase awal produksi. Pada anak babi, zinc berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, khususnya pada periode pasca-sapih ketika hewan sangat rentan terhadap stres dan gangguan pencernaan.

Pedro menekankan bahwa strategi zinc modern tidak hanya berfokus pada peningkatan level penggunaan. Sebaliknya, pendekatannya harus pada optimalisasi bioavailabilitas dan pemilihan sumber zinc yang tepat untuk memaksimalkan efektivitas sekaligus meminimalkan dampak lingkungan. Dengan meningkatnya tekanan regulasi terhadap penggunaan mineral, presisi dalam nutrisi zinc menjadi semakin penting untuk memastikan performa dan keberlanjutan.

Mengelola Heat Stress dan Menjaga Konsumsi Pakan

Heat stress masih menjadi tantangan utama dalam produksi babi di daerah tropis. Ermin Magtagnob, Technical Manager Swine Asia ADM, menjelaskan bahwa suhu tinggi secara signifikan menurunkan konsumsi pakan pada induk menyusui, yang berdampak langsung pada produksi susu dan pertumbuhan anak babi.

Ia menekankan bahwa palatabilitas pakan saja tidak cukup untuk mengatasi dampak heat stress. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup optimasi nutrisi, perbaikan kondisi kandang, serta manajemen yang lebih baik.

Strategi seperti peningkatan densitas nutrisi, pengaturan waktu pemberian pakan, dan perbaikan sistem ventilasi dapat membantu mengurangi dampak heat stress serta menjaga performa ternak.

Momen pemberian cinderamata untuk para pembicara dan moderator, Prof Dr Ir Budi Tangendjaja MSc MAppl

Memperkuat Biosekuriti di Seluruh Rantai Nilai

Biosekuriti tetap menjadi prioritas utama, terutama dalam menghadapi ancaman penyakit seperti African Swine Fever (ASF). Baik Fabio maupun Ermin menekankan pentingnya penerapan protokol yang ketat di seluruh level produksi.

Biosekuriti yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari manajemen peternakan, operasional pabrik pakan, hingga kontrol rantai pasok. Risiko kontaminasi dapat terjadi di berbagai titik, sehingga konsistensi dan kewaspadaan sangat diperlukan.

Peningkatan biosekuriti tidak hanya penting untuk pencegahan penyakit, tetapi juga untuk memastikan keberlanjutan dan ketahanan industri dalam jangka panjang.

Alternatif Pengganti Beta-Agonist

Dr Chung-Hyun Kim, Director of CD&D ADM Animal Nutrition APAC, membahas kebutuhan untuk beralih dari penggunaan beta-agonist. Meskipun senyawa ini sebelumnya digunakan untuk meningkatkan performa pertumbuhan dan kualitas karkas, regulasi serta kekhawatiran konsumen semakin membatasi penggunaannya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pertumbuhan ke depan akan mengandalkan nutrisi presisi, feed additive fungsional, serta teknik formulasi yang lebih maju. Pendekatan ini memungkinkan produsen mencapai performa yang sebanding tanpa bergantung pada input yang kontroversial.

SINCRO: Nutrisi Presisi untuk Masa Depan

Salah satu sorotan utama forum adalah SINCRO, platform nutrisi presisi dari ADM. Dengan mengintegrasikan analisis near-infrared (NIR), monitoring mikotoksin, dan pemodelan lanjutan, SINCRO memungkinkan penyesuaian formulasi pakan secara real-time.

Sistem ini membantu nutritionist merespons variabilitas bahan baku serta perubahan kondisi peternakan, sehingga meningkatkan konsistensi dan efisiensi. Hal ini mencerminkan pergeseran menuju pengambilan keputusan berbasis data dalam nutrisi hewan.

“SINCRO itu untuk semua spesies baik poultry, aqua, ruminansia, dan swine juga. Kami mempunyai strategi namanya 3S yaitu segmen, solution, dan service,” kata Wully. “Segmennya ternak apa, dan solusi apa yang bisa kami tawarkan? Kemudian service apa yang kami akan berikan? Karena produk saja tidak cukup. Produk bisa ditiru, namun service adalah hal yang berbeda.”

Mengubah Pengetahuan Menjadi Aksi

Menutup forum, Prof Budi menyampaikan refleksi yang jujur dan berdampak mengenai kondisi industri babi di Indonesia.

Ia menyoroti bahwa industri ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina, terutama dalam hal produktivitas, di mana jumlah anak per induk sering kali masih di bawah 10 ekor. Kesenjangan ini dipengaruhi oleh faktor genetika, kualitas pakan, dan praktik manajemen, serta fakta bahwa di banyak daerah, usaha peternakan babi masih dianggap sebagai bentuk tabungan, bukan bisnis komersial sepenuhnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, ia menegaskan pentingnya forum seperti ADM Swine Forum 2026. Platform seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan industri terhadap pengetahuan global, teknologi baru, dan pendekatan inovatif.

Pada akhirnya, ADM Swine Forum 2026 menjadi cerminan kondisi saat ini sekaligus peta jalan menuju masa depan, menegaskan bahwa pertumbuhan berkelanjutan dalam industri babi akan bergantung pada efisiensi, inovasi, dan kolaborasi yang kuat. (Rilis)

MENAKAR KINERJA PERUSAHAAN PUBLIK PETERNAKAN DI TENGAH DINAMIKA PROGRAM MBG

Webinar Nasional dalam rangka HUT ke-34 Infovet, menampilkan Victor Stefano dan Bagus Pekik, yang dipandu oleh Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Kebijakan strategis pemerintah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan menjadi katalisator positif yang mampu mendongkrak kinerja emiten atau perusahaan publik di sektor peternakan/perunggasan nasional. Langkah intervensi ini dinilai efektif dalam menyerap hasil produksi daging ayam dan telur di tingkat domestik guna memperkuat kedaulatan protein bangsa.

Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Nasional “Kinerja Perusahaan Publik Peternakan di Tengah Dinamika Program MBG” dalam rangka HUT ke-34 Infovet yang digelar pada Kamis (21/5/2026), dipandu oleh Pemimpin Redaksi Infovet, Bambang Suharno.

Acara dihadiri oleh sejumlah tokoh peternakan, antara lain Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi, Sugeng Wahyudi dan Setya Winarno (GOPAN), Indra Wahyudi (ADHMI), Baskoro Tri Caroko (konsultan perunggasan), Fadjar Sumping Tjaturrasa (Kementerian Pertanian), serta sejumlah tokoh perguruan tinggi, BRIN, dan lembaga terkait dari beberapa daerah.

Pada kesempatan tersebut, CMO PT Haida Indonesia, Bagus Pekik, didapuk sebagai narasumber yang memaparkan pandangan mendalam mengenai peran subsektor perunggasan nasional.

Menurutnya, sektor ini bukan sekadar lini bisnis biasa, melainkan pilar infrastruktur strategis untuk kedaulatan protein bangsa. Protein hewani berbanding lurus dengan peningkatan kualitas manusia Indonesia.

“Ayam dan telur adalah sumber protein yang paling cepat diproduksi, paling efisien, terjangkau, serta paling demokratis karena dapat diakses oleh hampir seluruh lapisan masyarakat,” ujar Bagus.

Kendati memiliki potensi besar, industri ini masih dibayangi berbagai tantangan klasik dan struktural. Bagus menyoroti volatilitas harga bahan baku pakan impor, seperti jagung dan bungkil kedelai (soybean meal/SBM). Hal ini krusial mengingat komponen biaya pakan menyerap porsi terbesar, yakni berkisar antara 60-70% dari total biaya produksi perunggasan.

Ia mengurai masalah pada sistem perunggasan nasional meliputi, di antaranya ketidakstabilan biaya pakan (feed cost), rantai pasok (supply chain) hulu hingga hilir yang terfragmentasi dan belum terintegrasi secara utuh, lemahnya distribusi logistik antarwilayah yang memicu disparitas pasokan (surplus vs defisit), tingginya ketergantungan pasar pada penjualan ayam hidup (live bird), serta minimnya infrastruktur hilirisasi dan rantai dingin (cold chain), hingga siklus kelebihan pasokan (oversupply) dan kekurangan pasokan (undersupply) yang terus berulang.

Dampak Finansial Kuartal I 2026
Dari sudut pandang pasar modal, Equity Research Analyst PT BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano, yang juga menjadi narasumber, mengonfirmasi adanya lompatan performa yang solid pada kuartal I 2026 (1Q26). Berdasarkan data finansial terbaru, para integrator perunggasan berhasil membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar berkat perbaikan dinamika supply-demand.

Emiten raksasa PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sukses mencetak rekor laba bersih kuartalan tertinggi sebesar Rp 2,6 triliun pada 1Q26, melonjak 13% secara kuartalan (qoq) dan tumbuh signifikan 68% secara tahunan (yoy). Pendapatan kotor CPIN tercatat kokoh di angka Rp 33,3 triliun. Keberhasilan ini didukung oleh strategi pemanfaatan stok bahan baku pakan yang telah dibangun sejak kuartal keempat 2025 sehingga mampu meredam tekanan biaya produksi.

Langkah positif serupa juga diikuti oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang membukukan laba bersih sebesar Rp 1,8 triliun pada 1Q26, melesat 14% qoq dan meroket 167% yoy. Pendapatan kotor JPFA melonjak 22% yoy mencapai Rp 27,2 triliun, didorong oleh pertumbuhan volume dan harga jual rata-rata (ASP) yang kuat di seluruh segmen.

Sementara itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) mencatatkan pertumbuhan tahunan yang solid dengan laba bersih Rp 123 miliar (naik 96% yoy), meskipun mengalami normalisasi margin sebesar 4,0% secara kuartalan akibat mulai meningkatnya tekanan biaya bahan baku.

Menurut analisis ini, program MBG yang mulai berjalan penuh pada awal 2026 diproyeksikan mampu menyerap tambahan sekitar 13,5-20,3% dari total produksi ayam bulanan. Jika program ini diimplementasikan secara menyeluruh hingga mencapai target 82,9 juta penerima manfaat, tingkat penyerapan pasar berpotensi melonjak hingga 16,5-24,7%/bulan. (RBS)

PETERNAK RAKYAT MENJERIT: PERMINDO GELAR KONSOLIDASI AKBAR SIKAPI ANJLOKNYA HARGA AYAM

Foto bersama dalam kegiatan konsolidasi peternak unggas rakyat mandiri yang digelar Permindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar guna menyikapi krisis yang tengah melanda industri perunggasan rakyat. Pertemuan krusial yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Bogor ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), serta beberapa peternak mandiri dari berbagai daerah.

Kondisi riil di lapangan saat ini dinilai sudah berada pada tahap memprihatinkan. Para peternak rakyat terjepit di antara dua beban berat, yakni harga jual ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak anjlok drastis, sementara di sisi lain harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan justru terus merangkak naik tanpa kendali.

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar telah memicu praktik-praktik transaksi yang tidak sehat di lapangan. Regulasi harga seolah kehilangan taringnya dalam menghadapi realitas fluktuasi harian. Padahal sehari sebelumnya (Selasa, 19/5/2026), peternak rakyat bersama Kementerian Pertanian dan peternak skala besar telah duduk bersama agar harga jual LB di tingkat peternak bisa diangka Rp 19.500.

“Hari ini kami berkumpul bersama teman-teman peternak menyikapi kondisi harga live bird. Bahkan hingga sejam yang lalu (saat konsolidasi) situasi di lapangan masih menunjukkan adanya transaksi yang ‘kucing-kucingan’. Kondisi ini jelas tidak sejalan jika disandingkan dengan harga pakan dan DOC yang terus-menerus naik,” ungkap Herry.

Bahkan harga yang telah disepakati bersama pemerintah masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada diangka Rp 20.000-an ke atas, namun peternak tetap berupaya menjaga harga tersebut.

Kritik tajam juga dilayangkan terhadap efektivitas langkah-langkah darurat yang diambil oleh otoritas terkait. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menilai intervensi yang dilakukan pemerintah selama ini belum menyentuh akar permasalahan mendasar yang dihadapi peternak rakyat mandiri.

“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, tidak menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar di angka Rp 21.000, kemudian turun lagi ke Rp 20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi. Oleh karena itu, kita harus kompak bergerak bersama sebelum memasuki momen krusial seperti Idul Adha dan bulan Suro,” ujar Kusnan.

Sementara itu, menurut salah seorang peternak yang hadir, Toto, menyuarakan keluhannya terkait hasil rapat di Kementan. Baginya, angka tersebut memaksa peternak untuk menanggung kerugian.

“Naik ke Rp 19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp 21.800, masa kita dipaksa terus merugi? Tapi ya mau gimana. Kita sudah berusaha jangan sampai peternak rakyat mandiri jual di bawah HPP. Kita itu pebisnis, kita engga mau rugi, makannya kita suarakan kebenaran walaupun pahit. Makannya ayo kita kompak dan bersatu,” katanya.

Tiga Poin Resolusi Bersama Permindo
Guna menekan kerugian yang berkepanjang, Ketua Umum Permindo merumuskan tiga poin utama yang menjadi arah pergerakan ke depan.

Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat untuk sementara waktu mendukung dan mengawal ketat batas harga Rp 19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir, meskipun angka tersebut masih jauh dari ideal dan berada di bawah HPP peternak rakyat.

Kedua, penguatan daya tawar kolektif. Membangun soliditas dan persatuan nasional antarasosiasi peternak mandiri guna memperkuat posisi tawar agar mampu menangkap dan mengeksekusi program-program strategis dari pemerintah secara langsung.

Ketiga, mekanisme hilirisasi bersama. Menyusun tata cara dan menyambut mekanisme program hilirisasi produk perunggasan secara kolektif demi memperluas ketergantungan pada pasar segar (live bird market).

Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Supplier
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya merancang ulang pola kerja sama dan pengawasan populasi guna menciptakan satu harga acuan yang ditaati bersama.

Menurutnya, jika peternak tidak kompak dalam menangani situasi ini dengan serius, ke depan ekosistem peternak mandiri bisa pecah. Pemain di industri ini semakin banyak dan padat. Sehingga dibutuhkan keputusan yang tegas dari pemerintah yang diinisiasi oleh soliditas peternak.

Di sisi lain, Wayan, seorang peternak, memberikan usulan taktis mengenai perluasan serapan pasar. Ia meminta agar peternak tidak hanya terpaku pada lingkaran Kementan saja. Permindo didesak untuk melayangkan petisi agar program jaminan sosial protein, penanganan stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

Menutup konsolidasi, Setya Winarno, perwakilan dari GOPAN mengingatkan seluruh peserta untuk tetap optimis namun realistis dalam bergerak.

“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp 19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting untuk keberlangsungan usaha ke depan jangan terlalu loyal atau bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita memiliki alternatif efisiensi biaya,” katanya. (RBS)

TECHNICAL MEETING INDO LIVESTOCK 2026, SIAP HADIRKAN INOVASI DAN PROGRAM UNGGULAN

Technical Meeting Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Istimewa)

Menjelang pelaksanaan Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum, PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sukses menggelar Technical Meeting pada Selasa (12/5/2026) bersama para peserta pameran, mitra, venue, dan stakeholder terkait.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju pelaksanaan pameran yang akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang.

Sebagai pionir pameran internasional industri peternakan di Indonesia, Indo Livestock terus konsisten menghadirkan platform strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, asosiasi, akademisi, profesional, hingga investor. Melalui ajang ini, para stakeholder dapat memperluas jejaring bisnis, berbagi wawasan, memperkenalkan inovasi, serta mendorong kolaborasi lintas sektor.

Acara dibuka dengan sambutan dari Project Director Napindo, Lisa Rusli, yang menyampaikan apresiasi atas antusiasme dan kehadiran para peserta. “Sejak pertama kali diadakan pada 2002, Indo Livestock terus berkomitmen mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud dukungan kepada industri pameran peternakan di Indonesia. Technical Meeting ini menjadi langkah penting dalam memastikan kesiapan seluruh rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum,” ujarnya.

“Kami optimis penyelenggaraan kali ini akan berjalan optimal serta menghadirkan peluang kolaborasi dan inovasi yang lebih besar bagi industri peternakan, poultry dan ruminansia, pakan ternak, pengolahan susu, pertanian, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan, dan akuakultur di Indonesia.”

Sementara itu, Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, menegaskan bahwa kesiapan Napindo dalam menghadirkan penyelenggaraan pameran yang profesional dan berkualitas guna memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh peserta dan pengunjung.

Technical Meeting ini turut dihadiri perwakilan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian. Dukungan pemerintah, kolaborasi industri, dan program unggulan pada penyelenggaraan edisi ke-19 ini, Indo Livestock secara resmi dituanrumahi oleh Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH. Pameran lintas industri ini juga mendapat dukungan dari 33 kementerian, lembaga, dan asosiasi yang bergerak di berbagai sektor industri terkait.

Tahun ini, Indo Livestock 2026 Expo & Forum siap menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara dengan target 20.000 pengunjung selama tiga hari pelaksanaan. Pengunjung tidak hanya dapat menjelajahi berbagai inovasi dan teknologi terbaru, tetapi juga memperoleh wawasan langsung dari para pakar industri mengenai isu dan tren terkini yang dapat mendukung pengembangan bisnis dan industri nasional.

Selain pameran dan forum, Indo Livestock 2026 juga akan diramaikan dengan sejumlah program unggulan, di antaranya Indo Livestock Grand Championship dan Youth Farmers Day, Program Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, dan Ikan) yang dikemas dalam format Bazaar UMKM, Fun Activities, dan Talkshow turut menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. (INF)

RAYAKAN 18 TAHUN JAPFA FOR KIDS, JAPFA BUKA KOMPETISI AKJJ 2026

Media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026, Selasa (12/5). (Foto: NDV)

Merayakan 18 tahun perjalanan program Corporate Social Responsibility (CSR) JAPFA for Kids, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) menyeleranggakan media gathering sekaligus pembukaan Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026. 

Rachmat Indrajaya selaku Direktur Corporate Affairs JAPFA mengatakan selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia.

”Kami percaya, membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat,” tutur Rachmat saat pembukaan AKJJ yang digelar di Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (12/5). 

Melalui penyelenggaraan AKJJ yang ketiga kalinya, JAPFA ingin lebih memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa.  

AKJJ 2026 mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”.

Sebagai bagian dari penyelenggaraan AKJJ 2026, JAPFA juga turut menghadirkan dewan juri dari berbagai latar belakang profesional.

Pada kesempatan yang sama Retno Artsanti, Head of Social Investment JAPFA mengemukakan tantangan terkait gizi anak di Indonesia masih menjadi perhatian bersama. 

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, sebanyak 11% anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara itu, data yang dihimpun JAPFA di sembilan lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids pada tahun 2025, sebanyak 1.034 dari total 15.498 siswa (sekitar 6,6%) tercatat memiliki status gizi kurang dan gizi buruk. 

“Tahun 2024, JAPFA for Kids menjangkau 7 kabupaten/kota. Dari 15.518 siswa, sebanyak 1.479 diantaranya teridentifikasi memiliki status gizi kurang dan menjadi fokus utama program,” ungkap Artsanti. 

Lebih lanjut Artsanti mengatakan, setelah program berjalan, JAPFA for Kids berhasil meningkatkan status gizi 762 anak atau 51,5% dari total anak. 

Pada 2025, JAPFA for Kids dilaksanakan di 9 kabupaten/kota, menjadikan 123 sekolah sebagai sasaran program. Selanjutnya dari hasil pendataan, sebanyak 1.034 siswa teridentifikasi mengalami malnutrisi dan menjadi sasaran utama intervensi program. Setelah program berjalan, sebanyak 646 siswa berhasil mengalami peningkatan status gizi menjadi gizi baik atau sebesar 62,5%.  

Pakar gizi masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH di acara yang sama menuturkan edukasi publik mengenai pemenuhan gizi seimbang masih perlu terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk media. (NDV)

MUNAS III AMI TETAPKAN SAULAND SINAGA LANJUT PIMPIN AMI PERIODE 2026-2031

Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus)

Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secara aklamasi menetapkan Dr Ir Sauland Sinaga MS untuk kembali memimpin AMI periode 2026-2031. Munas berlangsung di NICE (Nusantara International Convention Exhibition), kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Pelaksanaan Munas dilakukan usai Seminar Nasional Peternakan Babi yang digelar di lokasi yang sama. Acara berlangsung hangat dan penuh suasana kekeluargaan dengan dihadiri berbagai tokoh peternakan nasional serta anggota AMI dari berbagai daerah di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut pendiri AMI sekaligus Ketua Umum AMI periode 2002-2016 Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, serta Bambang Suharno yang juga ikut mendirikan organisasi tersebut. Hadir pula Ketua Umum ASOHI periode 2010-2015 Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, bersama anggota, dan pelaku usaha peternakan babi dari Bali, Jawa, Sulawesi Utara, NTT, Sumatra Utara, dan berbagai daerah lainnya.

Sauland Sinaga (tengah) bersama pendiri AMI Rachmawati Siswadi (kiri), dan Bambang Suharno usai penetapan Sauland melanjutkan kepemimpinan AMI 2026-2031.

Dalam Munas tersebut, Sauland menyampaikan laporan pertanggung jawaban dan paparan berbagai kegiatan serta capaian AMI selama masa kepemimpinannya. Salah satu perhatian utama AMI adalah perjuangan dalam penanganan African Swine Fever (ASF) yang sempat berdampak besar terhadap industri peternakan babi nasional.

Selain itu, AMI juga aktif meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai seminar dan pelatihan bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan perusahaan, antara lain USSEC, perusahaan obat hewan, Infovet, ASOHI, Pusvetma, dan berbagai pihak lainnya.

Sauland juga menyampaikan bahwa di bawah kepemimpinan AMI saat ini, organisasi berhasil mendorong pemerintah menghentikan impor daging babi karena produksi dalam negeri dinilai sudah mencukupi kebutuhan nasional. Menurutnya, kehadiran dan peran AMI kini semakin diperhitungkan, termasuk dalam berbagai forum diskusi dan penyusunan regulasi pemerintah terkait peternakan babi.

“AMI semakin sering dilibatkan dalam berbagai forum strategis pemerintah terkait peternakan babi dan kebijakan peternakan nasional,” ujar Sauland.

Dalam kesempatan itu, Sauland juga menyampaikan bahwa dirinya memperoleh penghargaan Fighting ASF in Asia, Honor Roll dari Asian Agribiz. Menurutnya, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh pengurus dan anggota AMI. “Penghargaan ini bukan untuk saya pribadi, melainkan untuk AMI,” ungkapnya.

Suasana Seminar Nasional dan Munas AMI di NICE PIK 2.

Sementara itu, Dr Ir Rachmawati Siswadi MAgrSc, ikut menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan Sauland yang dinilai berhasil membawa organisasi terus berkembang dan semakin berkontribusi bagi dunia peternakan nasional.

Dalam kesempatan tersebut Rachmawati menyampaikan kronologis berdirinya AMI dan perkembangannya hingga sekarang. AMI berdiri pada 8 Mei 2002, di Kantor Infovet diprakarsai oleh Dr Rachmawati didukung oleh pengurus ASOHi saat itu antara lain Ketua Umum ASOHI A. Karim Mahanan, Sekjen ASOHI Drh Tjiptardjo SE, dan Bambang Suharno.

Menanggapi laporan Sauland, Rachmawati optimistis AMI akan terus maju dan semakin berperan dalam mendukung perkembangan industri peternakan babi Indonesia di masa mendatang. (BS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer