-->

SEARY 9.0 UNSOED ANGKAT ISU KEMANDIRIAN PANGAN DAN OPTIMALISASI SUMBER DAYA LOKAL

Foto bersama dalam acara SEARY 9.0 Unsoed. (Foto-foto: Istimewa)

Unit Penelitian dan Pengembangan Peternakan (UP3) Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Fapet Unsoed) sukses menyelenggarakan Soedirman Event of Animal Husbandry ke-9 (SEARY 9.0) dalam bentuk talkshow nasional yang mengangkat isu strategis seputar inovasi, pangan, dan pengelolaan sumber daya lokal.

Mengusung tema “Optimalisasi Sumber Daya Lokal untuk Mendukung SDGs dan Kemandirian Pangan Nasional”, kegiatan ini digelar pada Sabtu (2/5/2026) di Ruang Konferensi Lantai 1 Gedung B Fapet Unsoed.

Acara dipandu oleh moderator Hilmy Abdurrasyid Ammar SPt MSc selaku dosen Fapet Unsoed, dan menghadirkan narasumber utama Ir Bambang Suharno selaku Direktur Utama PT Gallus Indonesia Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.

SEARY 9.0 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari Pulau Jawa maupun luar Jawa, di antaranya Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, UGM, UNDIP, UI, IPB, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, serta Unsoed dan sejumlah kampus di Purwokerto. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari fakultas peternakan, tetapi juga lintas disiplin ilmu seperti MIPA, ekonomi, biologi, dan pertanian yang relevan dengan isu SDGs.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Rektor Unsoed, Prof Akhmad Sodiq. Turut hadir dalam acara tersebut Dekan Fapet Unsoed Dr Novie Andri Setianto, Ketua LPPM Unsoed Prof Elly Tugianti, Wakil Dekan Dr Agus Susanto, Pendiri UP3 Adila Haqi, Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta sejumlah alumni UP3 dan pejabat kampus lainnya.

Dekan Fapet Unsoed menyampaikan harapannya agar forum ini dapat menjadi wadah untuk menggali pengetahuan praktis dari narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Sementara itu, Rektor Unsoed memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak perwakilan kampus dari berbagai daerah.

Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Mereka juga menyampaikan terima kasih atas dukungan para alumni, termasuk para pendiri, yang terus setia mendampingi mahasiswa UP3 dalam berbagai kegiatan.

UP3 sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa Fapet Unsoed yang telah berdiri selama 34 tahun. Organisasi ini berawal dari aktivitas mahasiswa yang saat itu dipimpin oleh Adila Haqi dengan nama Aspirasi Mahasiswa (ASMA) . Hingga kini, alumni UP3 telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari industri peternakan, akademisi, birokrasi, hingga pelaku usaha. Sejak berdiri, UP3 terus berkembang dan turut membawa nama Fapet Unsoed dalam berbagai forum ilmiah di bidang peternakan.

Dari tiga kiri: Dr Agus Susanto, Dr Novia Andri, Bambang Suharno, Adila Haqi, Prof Akhmad Sodiq, Irlan (alumni), dan Prof Elly, saat seremoni pembukaan SEARY 9.0.

Dalam sesi talkshow, Bambang Suharno menegaskan pentingnya peran sektor peternakan dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), baik sebagai penyedia sumber gizi maupun penggerak ekonomi masyarakat.

Ia juga menyoroti tantangan dalam sektor peternakan, khususnya terkait rendahnya konsumsi produk peternakan di Indonesia. “Konsumsi telur di Indonesia sekitar 200 butir per orang per tahun, sementara konsumsi rokok mencapai 1.300 batang per orang per tahun. Padahal harga satu batang rokok setara dengan satu butir telur,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi pengembangan sektor peternakan. Apalagi saat ini sering terjadi oversupply ayam dan telur yang solusi jangka pendeknya mengandalkan afkir dini dan cutting produksi DOC . Belum ada upaya konkret yang menjadi langkah utama yaitu peningkatan konsumsi ayam dan telur. Padahal jika ini dilakukan, dampaknya tidak hanya menguntungkan peternakan, tetapi juga meningkatkan gizi serta pertumbuhan ekonomi.

Ia juga menambahkan, jika setiap orang di Indonesia meningkatkan konsumsi satu butir telur saja, maka dibutuhkan tambahan sekitar 280 juta butir telur, yang berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu orang.

Melalui forum ini, diharapkan lahir pemikiran dan kolaborasi lintas disiplin yang mampu mendorong optimalisasi sumber daya lokal guna memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus mendukung pencapaian SDGs. (INF)

YAPPI GELAR INDOLIVESTOCK SERVICES AWARD: DORONG SEMANGAT “FOOD FOR BETTER LIVES” MELALUI KETAHANAN PANGAN

Pengurus YAPPI. Dari kiri: Setya Winarno, Desianto B. Utomo, dan Bambang Suharno. (Foto: Infovet/Ridwan)

Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia (YAPPI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui gelaran Indolivestock Services Award. Dengan mengusung tema “Food for Better Lives”, penghargaan ini bertujuan untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi nyata dalam menyediakan pangan bagi masyarakat.

Ketua YAPPI, Desianto B. Utomo, menjelaskan bahwa penghargaan ini menyasar perusahaan, lembaga, hingga perorangan yang aktif dalam kegiatan sosial berbasis pangan dan gizi. Bentuk kontribusi yang dimaksud sangat beragam, mulai dari pemberian bantuan pangan, penyelenggaraan bazaar pangan murah, hingga inisiatif berbasis komunitas yang rutin dilakukan kepada masyarakat.

“Intinya adalah bagaimana kontribusi mereka terkait pangan ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers YAPPI, Kamis (30/4/2026), di Telaga Seafood Restaurant, Cibubur.

Penerima penghargaan tidak dipilih secara sembarang. Terdapat proses penjaringan yang sistematis, mulai dari seleksi administrasi hingga tahap penetapan pemenang. Beberapa indikator penilaian utama yang menjadi acuan meliputi komitmen dan konsistensi, memiliki dampak sosial, tata kelola dan inovasi, hingga replikasi dan memiliki nilai inspiratif.

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris YAPPI, Bambang Suharno, bahwa esensi dari penghargaan ini adalah pemberdayaan pangan yang berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar memberikan piala, tetapi memastikan bahwa akses pangan masyarakat terus terjaga melalui sinergi berbagai pihak.

Sementara itu, Bendahara YAPPI, Setya Winarno menceritakan sejarah singkat YAPPI yang telah berdiri sejak 2002. Dibentuk oleh berbagai organisasi profesi, YAPPI awalnya berfokus pada penilaian pelaku di bidang peternakan dengan nama Yayasan Pengembangan Peternakan Nasional. Namun seiring perkembangan zaman, sejak 2025, berubah menjadi Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia dengan tetap menggunakan nama YAPPI.

Adapun kepengurusan YAPPI saat ini dipunggawai oleh Prof Dr Ir Muladno MSA (Pembina), Drh Desianto B. Utomo MSc PhD (Ketua), Drh Deddy Kusmanagandi MBA (Wakil Ketua), Bambang Suharno (Sekretaris), Winarno SP MSi (Wakil Sekretaris), dan Ir Setya Winarno (Bendahara).

“Kami memberikan penghargaan agar menjadi inspirasi bagi pihak lain, bukan untuk berkompetisi. Semakin banyak pihak yang ikut bergerak dan berkontribusi, maka akan semakin baik bagi ketahanan pangan kita,” pungkas Setya.

Melalui Indolivestock Services Award, YAPPI berharap semangat “Food for Better Lives” yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Indolivestock Expo & Forum 2026, 16-18 Juni, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem pangan yang mandiri dan berdaulat.

Bagi yang berminat ikut dalam penilaian Indolivestock Services Award 2026 bisa mengisi form di link pendaftaran berikut: https://bit.ly/Registration_Indolivestock_Award_2026. Pendaftaran paling lambat 11 Mei 2026. (RBS)

LAUNCHING NUSANTARA LIVESTOCK AND POULTRY EXPO 2026: WUJUDKAN KEMANDIRIAN PANGAN LEWAT KOLABORASI INDUSTRI YANG LEBIH MODERN & KOMPETITIF

Foto bersama saat peluncuran Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Seiring meningkatnya kebutuhan akan efisiensi dan produktivitas, industri peternakan nasional terus bergerak menuju arah yang lebih modern dan terintegrasi. PT Debindo Global Expo (DEBINDO) kembali menghadirkan Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 yang resmi diluncurkan pada Rabu (29/4/2026) di Hotel The Westin Jakarta.

Pameran yang kedua kalinya ini merupakan wujud nyata komitmen DEBINDO dalam mendukung program pemerintah dalam mempercepat pertumbuhan industri peternakan dan perunggasan nasional melalui inovasi dan kolaborasi strategis.

"Penyelenggaraan pameran ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam memperkuat daya saing industri peternakan nasional. Kolaborasi lintas sektor yang didukung inovasi dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan industri ke depan," ujar Direktur PT Debindo Global Expo, Rafidi Iqra Muhammad, dalam sambutannya.

Ia juga menambahkan, sinergi dengan berbagai kementerian, asosiasi, dan mitra strategis diharapkan mampu mendorong penguatan ekosistem industri peternakan secara menyeluruh, mulai dari sisi produksi hingga distribusi dan hilirisasi.

Melalui kolaborasi lintas sektor, ajang ini diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi serta praktik terbaik dalam industri peternakan nasional untuk mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan.

Hal itu juga seperti yang disampaikan Ketua IV GPPU, Asrokh Nawawi. "Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 hadir sebagai wadah kolaborasi yang menyatukan pelaku dari hulu hingga hilir. Dengan dukungan inovasi, pengembangan genetika unggul, serta penguatan hilirisasi, sektor peternakan akan semakin kuat sebagai pilar ketahanan pangan nasional sekaligus mampu menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan," katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Nuryani Zainuddin, turut menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap pameran ini dapat menjadi platform strategis untuk mendorong kolaborasi, pertukaran informasi, serta pengembangan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperluas akses pasar dan kemitraan usaha secara berkelanjutan.

Beragam inovasi dan solusi akan dihadirkan dalam penyelenggaraan pameran ini, mencakup produksi peternakan dan unggas, sistem kandang dan containment, mesin dan peralatan peternakan, teknologi egg farming, pakan dan nutrisi, obat serta vaksin hewan, layanan logistik, hingga sektor akuakultur dan perikanan. Semuanya dihadirkan sebagai bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi, dengan menekankan pendekatan berkelanjutan sebagai fokus utama dalam pengelolaan peternakan modern.

Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 siap menghadirkan lebih dari 100 brand nasional dan internasional yang akan menampilkan berbagai produk serta solusi inovatif, mulai dari teknologi peternakan, pakan dan nutrisi, kesehatan hewan, hingga sistem pengolahan dan cold chain. Keragaman ini menunjukkan semakin berkembangnya industri peternakan yang kini didorong oleh integrasi teknologi.

Tak sekadar menjadi ajang pameran, Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026 juga menghadirkan rangkaian program pendukung yang dikemas secara dinamis. Mulai dari forum diskusi dan seminar industri, sesi knowledge sharing bersama praktisi dan pakar, demonstrasi teknologi peternakan secara langsung, hingga agenda business matching yang membuka peluang kemitraan strategis bagi para pelaku usaha. Sejumlah program unggulan turut dihadirkan, antara lain Nusantara Food Summit, IPB Stakeholder Forum, Business Pitching bersama Ditjen PKH, serta Intensive Livestock Bootcamp berkolaborasi dengan NusaQu.

Selain itu, sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, pada momentum peluncuran ini juga dilaksanakan penandatanganan MoU antara DEBINDO dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), serta Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Penandatanganan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong pengembangan industri peternakan nasional, peningkatan kualitas pakan dan pembibitan, serta percepatan adopsi inovasi dan teknologi di sektor peternakan, sekaligus memperkuat ekosistem livestock yang lebih terintegrasi, produktif, dan berdaya saing.

Melalui peluncuran ini, DEBINDO membuka peluang bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terlibat dalam Nusantara Livestock and Poultry Expo 2026, yang diselenggarakan bersamaan dengan Indonesia Agriculture Technology (INDOGRITECH) Expo 2026. Pameran akan berlangsung pada 4-7 November 2026, di Hall 5 ICE BSD City. (RBS)

UPDATE PENYAKIT IB-ND DALAM ELANCO POULTRY MASTER CLASS 2026

Foto bersama dalam Poultry Master Class 2026 yang digelar Elanco. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bertempat di Hotel Tentrem Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (27/4/2026), PT Elanco Animal Health Indonesia bersama PT SHS International menyelenggarakan Elanco Poultry Master Class 2026, yang banyak mengupas mengenai update seputar penyakit Infectious bronchitis (IB) dan Newcastle disease (ND).

“Poultry Master Class kali ini banyak membahas update IB dan ND dengan pembicara yang sesuai di bidangnya. Diharapkan melalui seminar ini kita mendapatkan update khususnya terkait challenge IB dan ND, termasuk intervensi dari Elanco dalam membantu mengatasi penyakit-penyakit tersebut,” ujar Senior Marketing Manager Elanco Animal Health Indonesia, Aura Maulana.

Kegiatan kali ini menjadi momentum Elanco untuk memperkenalkan produk vaksin terbarunya Avipro IB-ND C131, dalam membantu peternak unggas mengatasi gangguan serangan IB dan ND. Vaksin tersebut merupakan vaksin IB H120 dengan ND clone C13-1 dengan perlindungan unggul dan maksimal selama delapan minggu. Dapat diaplikasikan di hatchery dan di lapangan.

Sebab kedua penyakit tersebut masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan Tanah Air. Hal tersebut seperti disampaikan oleh perwakilan dari PT SHS International, Nining Indiarti selaku Area Coordinator Jakarta.

“Satu kasus saja bisa menurunkan performa, menaikkan FCR, yang berujung merugikan peternak. Hadirnya vaksin terbaru ini adalah jawaban dari komitmen kami dalam membantu memberikan proteksi terhadap unggas dengan lebih lama dan lebih awal,” kata Nining.

Seminar kali ini turut menghadirkan pembicara di antaranya Senior Scientist of GD Animal Health Service, and President of the European Collage of Poultry Veterinary Science Netherland Prof Sjaak de Wit DVM PhD Dipl ECPVS, bersama Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP, dan Senior Technical Consultant Vaccines Elanco Asia Pacific Dr Nicholas Phuah.

Prof Sjaak dan Prof Micheal turut menyampaikan materi mengenai perkembangan penyakit IB dan ND yang sampai saat ini masih mengganggu dan memberikan dampak merugikan pada peternakan unggas, baik broiler, layer, maupun breeder, di antaranya gangguan pernapasan, kerusakan organ, penurunan produksi, hingga penurunan kualitas telur.

“Kalau IB dan ND ini sudah bersatu, tentu sangat berat untuk mengatasinya, dampaknya pada recovery sangat sulit sekali,” ujar Prof Michael.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemberian vaksinasi yang optimal. Tentunya dengan memahami bagaimana karakteristik virus, penggunaan vaksinnya, sarana dan prasarana untuk menunjang vaksinasi, tenaga ahli, hingga monitoring pasca vaksinasi harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.

“Vaksin yang digunakan harus aman, bahkan untuk DOC sekali pun. Reaksi pasca vaksinasi juga harus minimal terutama pada iklim panas, di mana stres dapat berimplikasi. Dan yang terpenting juga adalah vaksinasi akan efektif tercapai apabila berintegrasi dengan biosekuriti dan manajemen farm yang baik,” sebutnya.

Untuk strategi vaksin, Nicholas Phuah, turut memberikan gambaran secara mendalam terkait penggunaan vaksin terbaru dari Elanco yang diklaim mampu memberikan proteksi terbaik pada unggas, khususnya dalam menghadapi penyakit IB dan ND. (RBS)

JAPFA DAN UGM HADIRKAN FASILITAS LAYER FREE-RANGE BERBASIS RISET DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali memperkuat kolaborasi strategis dalam pengembangan inovasi peternakan melalui serah terima hibah ayam petelur (layer) sistem free range di Pusat Unggulan Antar Perguruan Tinggi (PUAPT), Fakultas Peternakan UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Inisiatif ini menjadi tonggak baru dalam kemitraan jangka panjang antara JAPFA dan UGM yang telah terjalin sejak tahun 2003. Kolaborasi tersebut secara bertahap berkembang melalui berbagai inisiatif, mulai dari pembangunan Teaching Farm Closed House pada 2017, hibah laboratorium pascapanen berkapasitas 20.000 ekor ayam per hari, hingga pengembangan Closed House yang difokuskan pada penelitian makanan ternak yang mengikuti perbaikan genetika ayam untuk mendapatkan efisiensi optimum pada tahun 2019. Kini, sinergi tersebut berlanjut melalui penguatan sistem peternakan berbasis kesejahteraan hewan (animal welfare) melalui pendekatan free range. 

Arif Widjaja, COO Poultry Indonesia, JAPFA, menyampaikan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup (living laboratory) untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi peternakan. “Pada tahap awal, kami menargetkan populasi 1.500 ayam petelur dengan potensi produksi sekitar 1.275 telur per hari. Lebih dari itu, kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendorong inovasi sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya produk pangan yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ir Budi Guntoro, SPt, MSc, PhD, IPU, ASEAN Eng, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi JAPFA dalam mendukung pengembangan akademik dan riset. “Fasilitas Layer Free range ini menjadi pusat inovasi akademis yang memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan dan masyarakat. Mahasiswa dapat belajar langsung mengenai praktik terbaik dalam kesejahteraan hewan, sehingga menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan industri peternakan ke depan,” ungkapnya. Fakultas Peternakan UGM sedang mengembangkan tiga model kandang yaitu Cages, Cage-free dan Free range untuk pembelajaran mahasiswa dengan pendekatan automasi dan sistem.

Hibah ayam petelur free range ini merupakan bagian dari upaya nyata untuk mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengembangan di lingkungan akademik. Hibah ayam free range ini tidak hanya menjadi sarana produksi, tetapi juga fasilitas penelitian untuk mengkaji metode pemeliharaan ayam yang paling efektif dan berkelanjutan. 

Sistem free range yang diterapkan dalam fasilitas ini mengedepankan prinsip lima kebebasan hewan (Five Freedoms), di mana ayam memiliki akses ke area umbaran (outdoor) untuk mengekspresikan perilaku alaminya, seperti bergerak bebas, berinteraksi, dan berjemur di bawah sinar matahari. Pada siang hari, ayam dilepas di area terkbuka, sementara pada malam hari kembali ke kandang utama untuk menjaga keamanan dari predator.

Penerapan sistem ini telah banyak diadopsi di berbagai negara dan terbukti memberikan dampak positif, baik terhadap kesehatan fisik dan mental ayam maupun terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Akses terhadap pakan alami seperti serangga dan cacing di area umbaran turut berkontribusi pada peningkatan nilai nutrisi telur.

Lebih lanjut, kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan pasar telur premium di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap aspek kesehatan, keberlanjutan, dan kesejahteraan hewan dalam proses produksi pangan. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen JAPFA sebagai perusahaan agribisnis terintegrasi dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui penyediaan protein hewani yang halal, aman, dan higienis, sekaligus mendorong transformasi industri peternakan menuju praktik yang lebih berkelanjutan.

KEMENTAN DORONG INDUSTRI PETERNAKAN UNJUK GIGI DI INDO LIVESTOCK 2026

Rapat sosialisasi persiapan Indo Livestock 2026. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) bersama PT Napindo Media Ashatama terus mematangkan persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 sebagai ajang internasional yang mempertemukan pelaku industri peternakan, kesehatan hewan, dan pakan dari berbagai negara. Forum ini diproyeksikan menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi sekaligus memperkenalkan kemajuan sektor peternakan Indonesia ke tingkat global.

Selain berfungsi sebagai pameran, Indo Livestock juga dirancang sebagai wadah pertukaran pengetahuan, teknologi, dan inovasi terbaru. Kehadiran pelaku usaha internasional diharapkan mampu membuka peluang kerja sama yang lebih luas serta mendorong peningkatan daya saing industri nasional.

Upaya tersebut ditandai dengan rangkaian sosialisasi yang digelar selama dua hari pada 20-21 April 2026 di Jakarta. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kementerian dan lembaga, BUMN, hingga pelaku usaha swasta di sektor peternakan dan industri pakan.

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam memperkuat industri peternakan dari hulu hingga hilir. Ia menilai peran BUMN sangat strategis dalam mendukung pengembangan sektor tersebut.

“Kami ingin mendorong agar BUMN tidak hanya hadir sebagai institusi bisnis, tetapi juga sebagai lokomotif pembangunan peternakan nasional dengan mengambil peran strategis sebagai offtaker hasil peternakan rakyat, agregator rantai pasok, sebagai pendukung pembiayaan, logistik, hilirisasi, hingga penguatan ekspor,” ujar Nuryani, menekankan peran kunci BUMN dalam memperkuat ekosistem peternakan nasional.

Ia juga menyebut Indo Livestock 2026 sebagai momentum penting untuk mendorong investasi dan kolaborasi yang lebih luas, seiring dengan potensi besar Indonesia di sektor peternakan, termasuk capaian swasembada ayam dan telur.

Sementara itu, Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH Kementan, Makmun, mendorong para pelaku usaha turut serta dalam pameran berskala global tersebut.

“Ditjen PKH bekerja sama dengan Napindo menggelar acara Indo Livestock 2026 sebagai ajang strategis berkolaborasi. Kita ingin para pengusaha peternakan hadir dan ikut dalam acara tersebut supaya para mitra luar negeri yang hadir juga mengetahui perkembangan dan kemajuan industri peternakan di Indonesia,” kata Makmun.

Menurutnya, Indo Livestock bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga sarana untuk menampilkan capaian industri sekaligus memperluas jejaring bisnis. Dampak nyata terhadap pengembangan sektor menjadi indikator utama keberhasilan kegiatan ini.

Sementara itu, Sales Manager PT Napindo Media Ashatama, Agnes Nilam Sunardi, menegaskan komitmen pihaknya dalam menghadirkan pameran berkualitas yang memberikan dampak positif bagi industri nasional.

“Kami perusahaan penyelenggara pameran profesional yang memberikan nilai positif bagi bangsa Indonesia di dunia internasional. Kami sudah melaksanakan 100 pameran, dan di antaranya merupakan pameran internasional Indo Livestock Expo dan Forum sejak 2002,” ujar Agnes.

Ia menambahkan, Indo Livestock menjadi sarana untuk memperkenalkan inovasi industri peternakan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program edukatif.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan hasil industri peternakan dan kesehatan hewan kepada dunia, mendorong dan memajukan industri agar mampu bersaing di kancah internasional, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi di bidang peternakan dan pertanian,” pungkasnya.

Indo Livestock 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16-18 Juni di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang. Kegiatan ini ditargetkan diikuti lebih dari 600 peserta dari 40 negara dengan sekitar 20.000 pengunjung profesional. Melalui sinergi antara pemerintah dan sektor swasta, penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri peternakan nasional yang lebih terintegrasi, berdaya saing, serta berkelanjutan di tengah dinamika pasar global. (INF)

KOLABORASI SEMINAR AKSELERASI SISKA GUNA PERKUAT KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Foto bersama dalam seminar percepatan SISKA yang digelar di BRIN Cibinong. (Foto-foto: Infovet/Ridwan)

Dalam upaya memperkuat kemandirian pangan, khususnya di sektor persapian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama PT WAKENI menyelenggarakan seminar bertajuk "Percepatan SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit) untuk Ketahanan Pangan Nasional", yang berlangsung pada Selasa (14/4/2026), di Gedung Kelas Baru (Edelweis), Kawasan Sains dan Teknologi (KST) BRIN Cibinong.

Kegiatan strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gabungan Pelaku dan Pemerhati Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit (GAPENSISKA), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), serta Majalah Infovet sebagai mitra media. Seminar ini juga merupakan bagian dari rencana penyelenggaraan pameran Agrimat dan Agrilivestock 2026.

Dalam sambutannya, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Susanto, menegaskan bahwa seminar ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan langkah nyata implementasi SISKA di tingkat nasional.

"BRIN berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada penelitian saja. Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci. SISKA merupakan salah satu strategi utama yang harus diimplementasikan secara cepat demi pembangunan peternakan nasional," ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, saat membuka acara secara resmi menyampaikan bahwa tema integrasi ini sangat relevan dengan program nasional yang telah lama berjalan dan terus ditingkatkan.

"Program SISKA ini tidak hanya berdampak bagi petani atau peternak saja, tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat luas melalui simbiosis mutualisme yang mendukung keberlanjutan usaha pertanian dan peternakan. Kami sangat mendukung penuh komitmen tersebut," ujarnya.

Sesi seminar. Dari kiri: Windu Negara (moderator), Prof Budi Tangendjaja, Bess Tiesnamurti, Tri Melasari, dan Jarot Indarto.

Dalam sesi seminar yang dimoderatori oleh Windu Negara, salah satu perekayasa BRIN, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya. Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan skema bagi peternak skala kecil agar program SISKA memiliki signifikansi nyata.

Sementara dari sisi regulasi dan populasi, Direktur Pakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, memaparkan strategi percepatan populasi sapi nasional melalui integrasi sapi di lahan sawit. Di sisi lain, Direktur PT SISKA Ranch, Wahyu Darsono, yang hadir secara daring, mengusulkan model ko-investasi Business to Business (B2B) serta transformasi kebijakan FPKMS-NOP (Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar) sebagai pilar pendukung ketahanan pangan.

Adapun Peneliti Ahli Utama Kelompok Riset Sistem Integrasi Ternak Berbasis Lahan BRIN, Bess Tiesnamurti, menggarisbawahi peran krusial riset dan inovasi teknologi dalam mempercepat implementasi program SISKA.

Menutup sesi pemaparan, Ketua Dewan Pakar ASOHI sekaligus konsultan pakan, Prof Budi Tangendjaja, memberikan catatan teknis mendalam mengenai kebutuhan nutrisi ternak dalam program sapi kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan SISKA sangat bergantung pada ketersediaan hijauan dan manajemen lahan.

Ia juga menilai bahwa produksi sapi tidak akan maksimal jika hanya mengandalkan limbah sawit dan rumput di sekitar lahan. Diperlukan nutrisi presisi dengan keseimbangan gizi yang baik, sehingga membutuhkan bahan tambahan dari luar seperti onggok, premiks mineral, dan vitamin agar kebutuhan ransum harian terpenuhi secara seimbang.

"Intinya harus bisa membuat ransum sapi ini dengan seimbang, tidak bisa hanya mengandalkan apa yang ada di lahan sawit saja (limbah sawit dan rumput). Oleh karena itu, harus kita gali lebih dalam lagi kebutuhan ransum pakan untuk sapi di lahan sawit ini," tukasnya.

Namun demikian, diharapkan melalui seminar ini terjadi sinkronisasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam mewujudkan akselerasi integrasi sapi-sawit yang berkelanjutan di Indonesia. (RBS)

INDO LIVESTOCK GRAND CHAMPIONSHIP DIPERKENALKAN, DORONG STANDAR KOMPETISI TERNAK NASIONAL

Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026. (Foto: Istimewa)

Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus memperkuat posisinya sebagai platform strategis dalam mendukung pertumbuhan dan transformasi industri peternakan nasional. Salah satu bentuk perwujudan tersebut tercermin melalui partisipasi Indo Livestock sebagai mitra dalam Expo Peternakan & Kontes Sapi Piala Padjadjaran 2026, Sabtu (11/4/2026), yang merupakan bagian dari rangkaian acara “Gebyar Ternak Padjadjaran”.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai program seperti kontes ternak, pameran, serta kegiatan edukatif bagi pelaku industri dan masyarakat umum. Melalui kolaborasi ini, Indo Livestock berkontribusi memperkuat ekosistem peternakan, sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong standar dan sistem kompetisi ternak di tingkat nasional, sejalan dengan format kontes yang telah berkembang di berbagai daerah.

Operation Director Napindo, Adhika Arthapaty, melihat adanya potensi besar dalam pengembangan standar kompetisi ternak yang lebih terstruktur dan terintegrasi di tingkat nasional.

“Kompetisi ternak di berbagai daerah menunjukkan antusiasme dan kualitas yang terus meningkat. Ini menjadi sinyal positif bahwa industri membutuhkan sebuah platform yang dapat mengakomodasi standar yang lebih terukur sekaligus mempertemukan para pelaku industri terbaik dalam satu panggung nasional,” ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, pada penyelenggaraan Indo Livestock ke-19 nanti menghadirkan inovasi baru melalui peluncuran Indo Livestock Grand Championship sebagai salah satu highlight utama.

Mengusung konsep kompetisi ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, program ini dirancang sebagai pengembangan dari berbagai ajang serupa yang telah berkembang di berbagai daerah, sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendorong penerapan standar kualitas terbaik di tingkat nasional.

Menariknya, Indo Livestock Grand Championship akan menjadi kompetisi peternakan indoor pertama di Indonesia yang diselenggarakan di dalam hall exhibition, menghadirkan pengalaman baru dalam penyelenggaraan kontes ternak. Ajang ini dirancang tidak hanya sebagai kompetisi, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan atas perkembangan industri peternakan Indonesia, sekaligus membuka ruang apresiasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan antar pelaku industri.

Melalui inisiatif ini, Napindo berharap dapat berkontribusi pada peningkatan produktivitas, daya saing, serta kesejahteraan peternak secara berkelanjutan. Lebih jauh, program ini juga dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kegiatan peternakan di tingkat daerah dengan forum industri berskala internasional.

Momentum tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum yang akan hadir dengan skala lebih luas dan program yang semakin komprehensif. Pameran akan berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Indonesia, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries. (INF)

PERSIAPAN INDO LIVESTOCK 2026 MELALUI KOORDINASI BERSAMA KEMENTAN

Rapat koordinasi panitia persiapan Indo Livestock 2026 Expo & Forum. (Foto: Dok. Napindo)

Persiapan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 Expo & Forum terus dimatangkan melalui rapat koordinasi panitia yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Rabu (8/4/2026).

Rapat mempertemukan Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) sebagai tuan rumah dengan PT Napindo Media Ashatama (Napindo) sebagai penyelenggara, sekaligus menjadi momentum penting dalam menyelaraskan strategi dan memperkuat sinergi lintas pemangku kepentingan.

Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin, selaku Ketua Pelaksana. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan sektor swasta dalam mendorong kemajuan industri peternakan nasional.

“Indo Livestock merupakan sarana promosi, diseminasi informasi, penguatan jejaring, serta pengembangan inovasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Kolaborasi antara Ditjen PKH dan Napindo ditujukan untuk memperkuat kerja sama, sinergi, dan komitmen dalam penyelenggaraan pameran ini,” ujarnya saat membuka rapat koordinasi panitia tersebut.

Ia menambahkan, sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperluas akses terhadap informasi dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan investasi dan kolaborasi bisnis di sektor peternakan dan kesehatan hewan secara berkelanjutan.

Melalui koordinasi ini, diharapkan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga platform strategis yang mampu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan asosiasi dalam menciptakan ekosistem peternakan yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing global.

Pelaksanaan Indo Livestock 2026 akan menitikberatkan pada penguatan hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta percepatan swasembada protein hewani di Indonesia. Pameran ini akan diselenggarakan pada 16-18 Juni 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum.

Sinergi lintas subsektor ini diharapkan mampu menghadirkan ekosistem industri yang berkesinambungan, sekaligus memperluas peluang kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai highlight utama, untuk pertama kalinya Indo Livestock 2026 akan menghadirkan Indo Livestock Grand Championship. Kompetisi ini difokuskan pada ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, sebagai upaya mendorong peningkatan mutu genetik dan standar kualitas di tingkat peternak nasional. Kehadirannya tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas ternak, tetapi juga sarana pertukaran pengalaman, ruang kolaborasi, serta penguatan jejaring antar pelaku industri.

Adapun program unggulan lainnya turut memperkaya rangkaian kegiatan, mulai dari Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame” yang menjadi wadah bagi generasi muda, startup, dan komunitas untuk mengeksplorasi inovasi di sektor peternakan. Selain itu, terdapat Zona Farmpreneurship yang akan menghadirkan berbagai model bisnis dan solusi peternakan modern bagi calon wirausaha dan investor. Seluruh rangkaian ini diperkuat dengan kegiatan business matchmaking, forum edukasi, serta presentasi teknis produk yang mendorong adopsi teknologi dan pengembangan industri peternakan.

Sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat, Indo Livestock 2026 juga menginisiasi Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, Ikan) dengan tema “Gizi Seimbang Generasi Gemilang”. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi protein hewani dan pola makan sehat dengan target utama masyarakat luas, khususnya orang tua, tenaga pendidik, dan generasi muda.

Dengan skala yang semakin diperluas, penyelenggaraan ke-19 pameran internasional ini diproyeksikan menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara, termasuk 12 paviliun negara resmi. Ajang ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung profesional yang terdiri dari para pemimpin industri, inovator, pembuat kebijakan, distributor, akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan buyers internasional. Target tersebut mencerminkan besarnya potensi kolaborasi dan dampak yang ingin dicapai melalui Indo Livestock 2026 Expo & Forum.

Rangkaian koordinasi dan persiapan yang intensif antara Ditjen PKH Kementan dan Napindo ditujukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan Indo Livestock 2026. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri peternakan nasional serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. (INF)

MENAKAR MASA DEPAN INTEGRASI SAPI-SAWIT DALAM 3RD ICOP CONFERENCE DI RIAU

Prof Nahrowi (kiri), bersama Dr Syahrial Abdi (tengah), dan Ir Joko Irianto (kanan), dalam Opening Ceremony 3rd ICOP Conference 2026. (Foto-foto: Infovet/Sadarman)

Rabu (8/4/2026). Bertempat di Bertuah Hall, Hotel Pangeran Pekanbaru, Riau, resmi dibuka 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026. Perhelatan yang digelar secara hybrid ini mengusung tema “Enhancing Food Security through Regenerative Agriculture in Integrated Cattle-Oil Palm System.”

Pilihan Pekanbaru sebagai tuan rumah didasarkan pada posisi strategis Riau sebagai pemilik lahan kelapa sawit terluas di Indonesia, menjadikannya laboratorium hidup bagi sistem integrasi.

Seminar ini tidak main-main dalam menghadirkan bobot keilmuan, pakar lintas benua berkumpul, mulai dari Prof Luki Abdullah dari Centras IPB University, hingga ahli internasional seperti Richard ArmstrongSlaney, Assoc Prof Maja Slingerland, Dr Mohd Azid Kabul, serta Prof HenkHogeveen dari Wageningen University. Kolaborasi global ini bertujuan merumuskan formula terbaik dalam menerapkan regenerative agriculture di ekosistem sawit.

Ketua Panitia Pelaksana, Drh Arifin Budiman Nugraha, menekankan bahwa inti dari kesuksesan ICOP adalah transformasi pola pikir. Jika selama ini pemilik kebun merasa khawatir ternak akan merusak tanaman, edukasi konsisten melalui ajang ini berhasil mengikis hambatan psikologis tersebut.

Integrasi kini dipandang bukan sebagai beban operasional, melainkan nilai tambah bagi kedua komoditas. Melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), sapi mendapatkan pakan hijauan di sela pohon sawit, sementara perkebunan menerima pupuk organik gratis, menciptakan siklus nutrisi tertutup yang memulihkan ekosistem tanah sekaligus memproduksi protein hewani.

Apresiasi besar datang dari Pemerintah Provinsi Riau. Dr Syahrial Abdi mewakili Pj Gubernur SF Hariyanto, menegaskan komitmen untuk mentransformasi Riau menjadi lumbung ternak nasional melalui akselerasi program SISKA. Namun, ia juga memberikan catatan strategis bahwa ambisi besar ini menuntut kerja keras kolektif, terutama dalam memperkuat edukasi bagi pekebun swadaya dan penguatan infrastruktur pendukung.

Senada dengan hal tersebut, Ir Joko Irianto dari GAPENSISKA menyoroti bahwa jika potensi lahan sawit Riau dimaksimalkan, defisit daging nasional yang selama ini bergantung pada impor dapat segera teratasi.

3rd ICOP Conference 2026 diselenggarakan di Pekanbaru, Riau.

Dukungan akademis pun mengalir kuat, salah satunya Dr Alim Setiawan Slamet dari IPB University, yang menyatakan bahwa Riau memiliki kewajiban moral mendukung SISKA demi pemenuhan daging nasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Dr Arsyadi Ali, menekankan filosofi “Tiga Tungku Sejarangan”, kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi, sebagai fondasi utama agar program ini tidak hanya menjadi konsep di atas kertas, tetapi memberikan dampak instan bagi kemajuan sektor peternakan.

Dari sisi kebijakan teknis, Dr Ir Tri Melasari yang mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, menjelaskan bahwa SISKA adalah solusi cerdas untuk menekan biaya pakan, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam peternakan.

Dengan memanfaatkan “piring makan” alami di bawah kanopi sawit, populasi sapi dapat ditambah secara cepat tanpa merusak operasional perkebunan. Meski tantangan berupa keengganan beberapa korporasi masih ada, 3rd ICOP Conference 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa manajemen yang tepat justru meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan struktur tanah.

Implementasi SISKA kini telah memiliki payung hukum yang kuat melalui Permentan No. 105/2014. Hasilnya mulai terlihat pada lonjakan populasi di berbagai sentra. Di Riau sendiri, populasi sapi integrasi melesat dari estimasi awal 15.000 ekor menjadi lebih dari 150.000 ekor pada 2026. Keberhasilan serupa juga tercatat di Kalimantan Selatan melalui program “SISKA KU INTIP” yang kini melampaui 50.000 ekor, serta Kalimantan Timur yang mencapai 45.000 ekor demi memenuhi kebutuhan daging di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Selain peningkatan populasi, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama bagi para pelaku usaha. Penghematan pupuk kimia hingga 30% berkat peran sapi sebagai “pabrik pupuk berjalan” telah membuktikan bahwa regenerative agriculture memberikan dampak ekonomi langsung.

Penurunan biaya pakan sebesar 30-40% juga memberikan napas baru bagi target pengurangan impor sapi hidup. Dengan sinergi yang terus menguat, pembukaan perhelatan 3rd ICOP Conference 2026 yang dipandu oleh Dr Windu Negara ini ditutup dengan optimisme bahwa swasembada daging melalui jutaan hektare kebun sawit kini telah menjadi keniscayaan yang nyata. (Sadarman)

PROF AKHMAD SODIQ KEMBALI TERPILIH JADI REKTOR UNSOED

Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq. (Foto: Fapet Unsoed)

Profesor Akhmad Sodiq kembali terpilih menjadi rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto periode 2026-2030. Ia dinyatakan menang atas dua kandidat lainnya melalui sidang senat tertutup.

Pemilihan digelar di Auditorium Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, dengan melibatkan unsur Senat Akademik serta perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof Dwi Nugroho Wibowo, mengatakan dalam kontestasi ini Prof Akhmad Sodiq bersaing dengan dua kandidat lain, yaitu Prof Ali Rokhman dan Dr Adi Indrayanto.

“Berdasarkan hasil penghitungan, Prof Ali Rokhman meraih 35 suara, sementara Prof Akhmad Sodiq mengantongi 87 suara,” kata Dwi dalam siaran resminya, Rabu (1/4/2026).

Dwi memastikan seluruh tahapan pemilihan telah berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, seluruh proses pemilihan rektor telah dilaksanakan secara transparan, objektif, dan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami mengapresiasi partisipasi aktif seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ini,” terangnya.

Ia menjelaskan, sebelum masuk tahap pemilihan, panitia telah menjalankan berbagai proses mulai dari penjaringan bakal calon, seleksi administrasi, hingga penyampaian visi dan misi kandidat.

“Seluruh tahapan mulai dari pendaftaran hingga pemungutan suara, telah dilaksanakan sesuai mekanisme. Tahap pemilihan ini menjadi bagian paling krusial dalam keseluruhan proses,” jelasnya.

Ketua Bidang Media dan Publikasi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed (PP Kafapet Unsoed), Farid Dimyati, menambahkan bahwa Prof Akhmad Sodiq merupakan alumni Fapet yang memiliki segudang pengalaman birokrasi.

Sebelum menjabat menjadi Rektor Unsoed periode 2022-2026, ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fapet Unsoed selama dua periode, kemudian Wakil Rektor Unsoed Bidang Akademik, serta Rektor Pertama Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.

“Jadi soal pengalaman mengurus birokrasi, Prof Sodiq sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan jam terbangnya,” ujar Farid.

Ia melanjutkan, meski memiliki banyak kesibukan, Prof Akhmad Sodiq tercatat sebagai alumni yang rajin hadir dalam berbagai kegiatan kealumnian, baik di Purwokerto, Jakarta, maupun wilayah lain.

“Salah satu kelebihan beliau adalah rajin menyambung silaturahmi. Meski sibuk, beliau selalu hadir saat kegiatan alumni. Kami bangga beliau kembali terpilih menjadi Rektor Unsoed. Semoga mampu membawa Unsoed menjadi lebih maju dan mendunia ke depannya,” pungkasnya. (INF)

FAO PERKENALKAN GLEAM UNTUK KEBIJAKAN BERBASIS DATA

Seremoni launching GLEAM yang dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

Salah satu agenda penting dalam konferensi International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta adalah peluncuran Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO. 

Model ini merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan, sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.

GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr drh Agung Suganda MSi yang hadir mewakili Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi peternakan berkelanjutan menjadi prioritas nasional.

“Subsektor peternakan saat ini menghadapi tantangan ganda yaitu memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau sekaligus menekan dampak lingkungan tanpa mengorbankan produktivitas, kesehatan hewan, dan kesejahteraan peternak,” ujarnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, penguatan produksi dalam negeri berjalan seiring dengan peningkatan keberlanjutan dan efisiensi. Transformasi peternakan berkelanjutan adalah prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, dan memenuhi komitmen iklim. “Pendekatan hulu hingga hilir harus dilakukan secara terintegrasi,” kata Agung.

Livestock Policy Officer FAO, Dominik Wisser, menjelaskan bahwa GLEAM dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.

“GLEAM membantu menerjemahkan data yang kompleks menjadi indikator yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung transformasi berkelanjutan sistem peternakan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa tanpa intervensi yang tepat, peningkatan produksi peternakan ke depan akan berdampak pada peningkatan emisi.

“Pada tahun 2050, produksi peternakan diproyeksikan meningkat sekitar 20 persen. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi,” tambahnya.

Bagi pelaku usaha, pemanfaatan model seperti GLEAM memberikan arah yang lebih jelas dalam investasi dan pengembangan usaha. Baik itu dari segi efisiensi produksi, pengelolaan pakan, serta penguatan rantai pasok yang berkelanjutan.

Sebelum konferensi berlangsung, FAO juga menggelar pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan model GLEAM dan pedoman teknis terbaru yang dikembangkan melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Inisiatif ini mendukung negara-negara dalam menilai dan mengoptimalkan nilai jasa ekosistem dalam sistem peternakan.

Konferensi kerjasama BRIN dan FAO ini juga menghadirkan berbagai sesi diskusi mulai dari pleno, panel pakar, hingga forum ilmiah paralel yang membahas temuan terkini di bidang peternakan. Selain itu, kompetisi riset pemuda juga digelar untuk mendorong lahirnya inovasi dari generasi muda dalam mendukung transformasi sektor ini.

Diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara, kegiatan ini menjadi bukti bahwa transformasi industri peternakan telah menjadi agenda global. Kolaborasi lintas negara, dukungan sains, serta keterlibatan generasi muda diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan. (NDV)

PERTAMA DI INDONESIA, BUKU PANDUAN BUDI DAYA AYAM PETELUR CAGE-FREE UNTUK JAWAB TUNTUTAN PASAR

Kondisi kandang bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas dan mendapat kesejahteraan yang lebih baik. (Foto-foto: Istimewa)

Dalam beberapa tahun terakhir, tren global menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap isu kesejahteraan hewan dan keamanan pangan, khususnya dalam sistem pemeliharaan ayam petelur. Dimana lebih dari 2.300 perusahaan pangan berkomitmen beralih ke penggunaan telur cage-free.

Menanggapi permintaan pasar yang kuat serta meningkatnya perhatian konsumen terhadap keamanan pangan, diterbitkan buku "Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia", pada Selasa, 1 Desember 2025. Buku ini ditulis oleh Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation, dengan tujuan menyediakan metode produksi yang efisien serta analisis ekonomi untuk mendukung produksi telur cage-free berbasis volume.

Penyusunan buku tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan), akademisi, asosiasi, perusahaan integrasi, serta peternak.

Sandi Dwiyanto menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Sejalan dengan tren tersebut, perusahaan pangan global maupun domestik mulai beralih ke penggunaan telur 100% cage-free dalam rantai pasoknya. Di saat yang sama, Kementan juga telah menerbitkan Permentan No. 32/2025 tentang Kesejahteraan Hewan pertama di Indonesia pada akhir 2025 guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional.

Bekerja sama dengan Pertanian Press sebagai penerbit, materi dalam buku ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan praktik budi daya di Indonesia agar relevan dengan kondisi lokal, sekaligus memperkenalkan metode berkelanjutan dari tingkat internasional untuk kebutuhan pelaku industri perunggasan nasional.

"Melalui buku ini, kami ingin memberikan panduan yang tidak hanya mencakup konsep dan prinsip teknis, tetapi juga pengalaman lapangan, analisis ekonomi, serta praktik manajemen yang telah diterapkan oleh peternak di Indonesia maupun di negara lain. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi sektor perunggasan,” ujar Dwiyanto.

Buku ini pun mendapat banyak tanggapan dari para stakeholder perunggasan. Di antaranya dari Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, yang menekankan bahwa buku ini menjadi panduan penting di tengah dinamika industri perunggasan global, di mana isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian.

"Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu keniscayaan. Di Eropa, sistem battery cage telah ditinggalkan. Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN juga bergerak ke arah yang sama. Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, bukan sekadar mengikuti, terutama ketika tuntutan pasar global dan komitmen perusahaan terhadap telur cage-free terus menguat setiap tahunnya,” tulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.

Sementara itu, dari Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, turut memberikan apresiasinya.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dalam industri pangan global mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan, adaptif terhadap kebutuhan pasar, serta tetap menjaga daya saing nasional. Buku ini memberikan gambaran yang komprehensif, mulai dari tren global dan standar kesejahteraan hewan hingga manajemen teknis dan analisis ekonomi, termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok serta analisis bisnis di Indonesia yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak yang mempertimbangkan transformasi sistem,” ujarnya.

Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia".

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami,  yang juga memberikan kata pengantar, turut menyoroti perkembangan industri perunggasan global saat ini menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sistem pemeliharaan ayam petelur yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tren internasional ini, lanjut dia, tidak hanya mendorong munculnya berbagai regulasi baru di sejumlah negara, tetapi juga membentuk ekspektasi pasar terhadap standar produksi yang lebih tinggi.

Ia juga menambahkan, perubahan ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru, baik di dalam negeri maupun dalam rantai pasok global. Namun, peluang tersebut perlu direspons dengan tetap menjaga efisiensi produksi serta mempertimbangkan kondisi pasar domestik agar proses transisi dapat berlangsung secara realistis dan berkelanjutan.

"Saya berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam memahami tren dan peluang tersebut, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi dinamika industri global,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diperkuat oleh hasil survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa 72% konsumen berpendapat hotel, restoran, supermarket, dan perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Selain itu sebanyak 55% konsumen juga menyatakan bahwa mereka lebih cenderung memilih merek makanan yang hanya menggunakan 100% telur cage-free.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana budi daya cage-free, buku ini kini tersedia dan dapat diakses secara gratis melalui website Pertanian Press atau melalui link https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/book/202.  Kehadiran buku panduan ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis sekaligus strategis bagi para pemangku kepentingan, khususnya peternak dan pelaku industri perunggasan, dalam memahami peluang pasar, menavigasi proses transisi, serta mengembangkan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. (INF)

INSPEKSI GMP IRAK PERKUAT LANGKAH MEDION DI PASAR TIMUR TENGAH

Auditor dan Tim Medion. (Foto: Dok. Medion)

Langkah Medion dalam memperluas jangkauan pasar internasional semakin terbuka dengan diperolehnya sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP) dari Veterinary Department, Ministry of Agriculture, Republic of Iraq. Sertifikasi ini menjadi salah satu syarat penting dalam proses registrasi produk agar dapat dipasarkan di negara tersebut.

Sebelumnya, pada 16 Februari 2026, auditor melakukan inspeksi GMP di fasilitas produksi PT Medion Farma Jaya. Selama proses inspeksi, auditor melakukan peninjauan terhadap berbagai aspek, mulai dari fasilitas produksi, sistem mutu, hingga penerapan prosedur operasional yang dijalankan.

Meskipun secara prinsip standar GMP yang digunakan mengacu pada praktik internasional, setiap regulator memiliki pendekatan dan fokus evaluasi yang berbeda. Karena itu, persiapan audit ini menuntut koordinasi yang baik agar setiap detail teknis dapat dipahami secara selaras serta meminimalisir potensi perbedaan interpretasi selama proses komunikasi.

Lebih dari sekadar tahapan regulasi, kunjungan ini menjadi momentum bagi Medion, sebagai perusahaan kesehatan hewan untuk menunjukkan kapabilitas perusahaan yang terus berkembang kepada mitra internasional.

Didukung fasilitas produksi yang modern serta penerapan standar GMP yang konsisten, Medion terus memperkuat kepercayaan mitra sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi vaksin dan obat kesehatan hewannya untuk hadir di pasar Timur Tengah. Sebelumnya, produk vaksin dan obat hewan Medion juga telah digunakan pelaku industri peternakan lebih dari 20 negara di Asia dan Afrika. (INF)

HPDKI DUKUNG PENERTIBAN TERNAK ILEGAL AGAR HARGA TETAP TERJAGA

Pertemuan antara HPDKI bersama Dirjen PKH. (Foto: Istimewa)

“HPDKI mendukung upaya pemerintah menertibkan pemasukan ternak ilegal. Peternak dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar, sehingga sebaiknya impor dihentikan agar harga di tingkat peternak tetap terjaga,” ujar Sekjen Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI), Ajat Sudarjat, dalam pertemuannya di kantor Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Senin (16/3/2026).

Ia menambahkan, peternak dalam negeri pada dasarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Karena itu, penguatan pengawasan dinilai penting untuk menciptakan iklim usaha yang sehat.

Sementara itu, Wakil Sekjen DPP HPDKI, Nuryanto, turut menambahkan bahwa pentingnya pengawasan untuk menjaga kesehatan ternak nasional. Ia menilai ternak yang masuk tanpa prosedur resmi berpotensi membawa penyakit yang dapat merugikan peternak. 

“Selain merugikan negara dari sisi pajak dan bea masuk, hal ini juga merusak harga pasar yang selama ini dijaga oleh peternak lokal,” ucap Nuryanto.

Menanggapi hal itu, pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus hadir melindungi peternak melalui penguatan kebijakan dan pengawasan di lapangan.

Dirjen PKH, Agung Suganda, mengatakan bahwa pengawasan terhadap peredaran ternak ilegal terus diperkuat, terutama di wilayah perbatasan. 

“Komitmen Menteri Pertanian jelas, yaitu melindungi peternak lokal dari dampak masuknya ternak ilegal yang bisa menekan harga di tingkat peternak,” kata Agung.

Selain pengawasan, pemerintah juga mendorong pengembangan pasar sebagai langkah konkret meningkatkan kesejahteraan peternak. Di antaranya mempercepat harmonisasi persyaratan ekspor domba dan kambing ke Malaysia, hingga usulan pemotongan hewan dam haji dapat dilakukan di Indonesia sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi peternak.

“Bayangkan kalau pemotongan dam bisa dilakukan di Indonesia, dampak ekonominya luar biasa. Peternak langsung merasakan manfaatnya,” katanya. (INF)

DE HEUS PERLUAS EKSPANSI DI ASIA MELALUI AKUISISI CJ FEED & CARE

Foto: Deheus.id

De Heus Animal Nutrition mengumumkan bahwa proses akuisisi terhadap bisnis CJ Feed & Care dari CJ Cheil Jedang telah resmi diselesaikan. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan sekaligus menunjukkan komitmen De Heus dalam mendukung perkembangan sektor peternakan di kawasan Asia.

Melalui akuisisi ini, posisi De Heus di pasar yang berkembang pesat seperti Vietnam, Indonesia, dan Kamboja semakin kuat. Selain itu, perusahaan juga memperoleh akses langsung ke pasar Korea Selatan dan Filipina. Secara keseluruhan, transaksi ini mencakup 17 fasilitas pabrik pakan beserta operasional peternakan yang tersebar di berbagai negara di Asia.

Akuisisi tersebut semakin mengukuhkan peran De Heus sebagai salah satu pemain penting dalam industri nutrisi hewan. Perusahaan berkomitmen untuk terus memberdayakan peternak serta pelaku budidaya akuakultur di Asia. Dengan menggabungkan pengalaman global De Heus dalam nutrisi hewan dan manajemen peternakan dengan keahlian teknis yang dimiliki CJ Feed & Care, perusahaan berharap dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi peternak, mitra usaha, dan masyarakat lokal.

Bagi De Heus, kemajuan sektor peternakan dimulai dari tingkat peternakan itu sendiri. Melalui pendekatan on-the-farm, perusahaan bekerja langsung bersama para peternak dengan menyediakan pengetahuan, peralatan, serta panduan praktis untuk meningkatkan hasil produksi dan kinerja usaha.

Dengan bergabungnya tim yang lebih besar, De Heus kini semakin siap membantu peternak dalam meningkatkan profesionalisme operasional, produktivitas, dan keuntungan usaha. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat memperkuat bisnis peternak sekaligus mendorong perkembangan sektor pertanian dan peternakan di tingkat lokal.

Di Indonesia, dengan fondasi bisnis CJ Feed & Care yang telah ada, De Heus bertujuan untuk semakin memperkuat akses terhadap genetika unggul serta dukungan pembibitan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam memberdayakan peternak dan meningkatkan hasil produksi yang berkelanjutan.

CEO De Heus Animal Nutrition, Gabor Fluit, menyatakan bahwa akuisisi ini merupakan langkah penting dalam memperkuat kehadiran perusahaan di Asia. Menurutnya, kombinasi antara keahlian teknis dan hubungan pelanggan yang dimiliki CJ Feed & Care dengan pengalaman panjang De Heus di bidang nutrisi hewan akan mempercepat pertumbuhan sekaligus memberikan nilai tambah bagi para peternak.

Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia menambahkan, “Akuisisi ini semakin memperkuat komitmen jangka panjang De Heus dalam mengembangkan sektor nutrisi hewan dan rantai nilai peternakan di Indonesia. Kami tumbuh bersama peternak melalui solusi nutrisi terintegrasi, dukungan teknis yang kuat, serta kolaborasi erat di sepanjang rantai nilai untuk mendukung ketahanan pangan dengan tetap mendukung dan bukan bersaing dengan peternak independen serta bermitra dengan UMKM dan peternak pembibitan lokal.”

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer