MENGURAI GEJOLAK HARGA PAKAN: INDUSTRI PERUNGGASAN DORONG SINERGI DAN TRANSPARANSI DATA
PEMBUNUH SENYAP YANG TERSEMBUNYI DALAM PAKAN AYAM
| Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan ternak. (Foto: lelandmills.com) |
Ancaman tersembunyi dalam pakan ayam yang meliputi mikotoksin (seperti aflatoksin) yang diproduksi jamur atau kapang dapat merusak organ vital, endotoksin yang dapat menyebabkan kebocoran usus dan keracunan darah. Ionofor yang tidak terkontrol dan bisa memicu keracunan, serta kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli.
Mikotoksin dan endotoksin sering kali tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kerusakan organ, hingga kematian. Berikut ini adalah beberapa detail mengenai bahaya tersembunyi dalam pakan unggas:
• Mikotoksin: Adalah senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur (Aspergillus, Fusarium, Penicillium) yang tumbuh pada biji-bijian (jagung, gandum, kedelai) di ladang atau selama penyimpanan. Beberapa mikotoksin tersebut:
- Aflatoksin: Dianggap sebagai yang paling berpotensi menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas), supresi yang parah, dan penurunan produksi telur.
- Okratoksin: Sangat nefrotoksik (kerusakan ginjal), menyebabkan kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk.
- Trichotecenes (T-2, DON): Menyebabkan ulkus mulut, erosi ampela, dan penolakan makan yang parah.
- Zearalenone: Dikenal karena menyebabkan masalah reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemampuan penetasan.
- Mikotoksin bertopeng: Ini adalah bentuk tersembunyi, sering melekat pada molekul tanaman yang tidak terdeteksi oleh tes standar tetapi berubah kembali menjadi racun aktif di usus ayam.
• Logam berat dan kontaminan polusi industri: Penyimpanan yang tidak tepat dan bahan baku yang terkontaminasi dapat memperkenalkan logam berat dan bahan kimia ke dalam pakan.
- Arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri: Logam berat ini terakumulasi secara biologis dalam jaringan unggas (hati, ginjal), menyebabkan keracunan kronis dan menimbulkan risiko bagi konsumen manusia
- Sisa pestisida: Tanaman yang disimpan atau dipanen secara tidak tepat mungkin mengandung residu pestisida organoklorin.
- Dioksin/melamin: Kadang-kadang diperkenalkan melalui bahan baku yang dipalsukan atau terkontaminasi.
• Aditif dan pengisi yang tidak diungkapkan:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.
OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION
![]() |
| Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa) |
Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.
Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.
Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.
Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.
Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.
Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.
KEMENTAN: HARGA PAKAN TERPANTAU TURUN, BISA TEKAN BIAYA PRODUKSI
| Berdasarkan pemantauan SPORA Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk broiler maupun layer. (Foto: Dok. Infovet) |
Sementara untuk pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp 89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.967/kg. Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp 86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 6.803/kg, serta konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp 74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.735/kg.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak, karena akan membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” kata Agung di kantornya, Kamis (5/3/2026).
Kendati demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrikan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38% telah menyesuaikan harga.
“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” sebutnya.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam keterangan terpisah mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.
Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ekspor ke Filipina. Ada dari NTB dan Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (INF)
TANIN: DARI ANTINUTRISI MENJADI PRIMADONA BARU DUNIA PETERNAKAN
Namun, dunia berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, yang dulu dianggap racun, kini justru menjadi primadona baru, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ladang dan kandang.
Senyawa Kecil dengan Peran Besar
Tanin adalah senyawa polifenol alami yang banyak ditemukan pada daun, kulit kayu, biji, dan buah berbagai tanaman tropis. Ia terbentuk sebagai bentuk “senjata pertahanan” tanaman terhadap serangan serangga, jamur, atau herbivora.
Sifat khas tanin adalah kemampuannya mengikat protein dan logam. Dalam konteks pakan, sifat ini yang dulu dianggap negatif, karena menghambat kecernaan protein di rumen, tetapi seperti dua sisi mata uang, kemampuan itu pula yang kini justru dimanfaatkan untuk kebaikan.
Tanin terbagi dua jenis utama, yakni tanin terkondensasi (condensed tannin/CT) banyak terdapat di leguminosa seperti Indigofera zollingeriana dan Leucaena leucocephala, umumnya aman dan bermanfaat dalam kadar moderat. Serta tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin/HT) terdapat pada Acacia nilotica atau Chestnut, bersifat lebih reaktif dan berisiko jika berlebih.
Dari Penghambat Menjadi Pengatur
Sebuah lompatan besar dalam riset nutrisi ternak terjadi ketika para ilmuwan menemukan bahwa efek tanin sangat bergantung pada dosisnya.
Dalam kadar tinggi (>5% bahan kering), tanin memang bisa menurunkan konsumsi dan kecernaan pakan. Namun dalam dosis rendah hingga sedang (2-4%), tanin justru bekerja cerdas, ia mengatur pelepasan protein agar tidak terdegradasi di rumen, melainkan langsung diserap di usus halus. Inilah konsep protein bypass, salah satu tonggak penting dalam efisiensi pakan ruminansia.
Penelitian Min et al. (2003), menunjukkan bahwa tanin terkondensasi membentuk kompleks protein-tanin yang stabil di rumen, namun terurai pada pH asam usus. Artinya, protein tidak “terbuang” untuk bakteri rumen, tapi “diselamatkan” untuk tubuh ternak.
Hasilnya? Efisiensi nitrogen meningkat, pertumbuhan ternak lebih optimal, dan limbah nitrogen yang mencemari lingkungan berkurang. Dari sini, tanin mulai dikenal bukan lagi sebagai penghambat, tetapi pengatur alami metabolisme.
Potensi yang Terlupakan
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan tanaman pakan leguminosa yang mengandung tanin dalam kadar ideal. Sebut saja Indigofera zollingeriana, Calliandra calothyrsus, Gliricidia sepium, dan Acacia mangium.
Sayangnya, selama puluhan tahun potensi ini tidak tergarap maksimal. Padahal menurut penelitian Wina et al. (2015), Indigofera zollingeriana mengandung protein kasar 25-31% dan tanin terkondensasi sekitar 2-3%, kadar yang justru ideal untuk meningkatkan efisiensi protein tanpa menurunkan konsumsi.
Bahkan penelitian lanjutan oleh Setyaningsih et al. (2019), pada kambing perah menunjukkan bahwa ekstrak tanin dari Acacia mangium mampu menurunkan kadar amonia rumen dan memperbaiki profil fermentasi. Produksi susu meningkat, sementara bau akibat gas metana menurun signifikan.
Artinya, tanin bukan sekadar zat kimia di daun, tetapi bagian dari solusi nyata menuju peternakan tropis yang efisien dan ramah lingkungan.
Temuan ini menegaskan bahwa senyawa tanin dari tanaman tropis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak. Dengan kemampuan menghambat degradasi berlebih dan menekan aktivitas mikroba penghasil gas, tanin dinilai sebagai solusi alami menuju sistem peternakan rendah emisi dan berkelanjutan di masa depan.
Tanin untuk Langit yang Lebih Biru
Isu perubahan iklim kini menuntut dunia peternakan untuk berbenah. Ruminansia seperti domba, kambing, kerbau, dan sapi menghasilkan gas metana (CH₄) dari fermentasi di rumen. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.
Setiap kali sapi mengunyah, sesungguhnya bumi sedikit memanas, namun tanin membawa harapan. Berbagai penelitian termasuk Jayanegara et al. (2020), menunjukkan bahwa suplementasi tanin terkondensasi sebesar 3% dari bahan kering pakan dapat menurunkan produksi metana hingga 25% tanpa menurunkan kecernaan total.
Bagaimana caranya? Tanin menekan populasi methanogen, mikroba penghasil metana; tanin menggeser fermentasi dari jalur asetat ke propionat, menghasilkan lebih banyak energi dan lebih sedikit gas; serta tanin mengurangi hidrogen bebas di rumen, bahan baku utama pembentukan metana.
Inovasi yang Terus Berkembang
Teknologi pakan modern kini membawa tanin melangkah lebih jauh. Dari sekadar daun pahit di kebun, kini tanin hadir dalam bentuk ekstrak murni dan suplemen pakan.
Ekstrak tanin dari Quebracho, Chestnut, dan Acacia sudah lama digunakan di Eropa dan Amerika sebagai natural methane inhibitor dan rumen modifier. Di Indonesia, penelitian sedang gencar dilakukan untuk mengekstraksi tanin dari bahan lokal seperti kulit jengkol, daun mangga, hingga kulit buah kakao.
Lebih dari itu, tanin juga berperan sebagai antioksidan dan antiparasit alami. Hoste et al. (2015), melaporkan bahwa tanin dapat menurunkan infeksi cacing Haemonchus contortus pada kambing tanpa menggunakan obat kimia sintetis. Artinya tanin tidak hanya menyehatkan ternak, tapi juga menyehatkan sistem produksi, menjadikannya bagian penting dari konsep pakan fungsional (functional feed).
Aditif Potensial dalam Pembuatan Silase
Dalam dunia peternakan modern, silase sudah menjadi bagian penting dari sistem pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit didapat. Namun, tidak semua silase memiliki kualitas yang baik. Banyak peternak masih menghadapi masalah seperti silase cepat rusak, aroma menyengat, tekstur berlendir, hingga pertumbuhan jamur. Masalah ini umumnya terjadi karena proses fermentasi yang tidak sempurna dan aktivitas mikroba yang berlebihan.
Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti mulai melirik tanin sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan silase. Tanin dikenal sebagai senyawa polifenol yang terdapat pada banyak tanaman tropis seperti Indigofera zollingeriana, Acacia mangium, dan Chestnut (Castanea spp.). Dahulu, tanin dianggap antinutrisi karena bisa mengikat protein dan menurunkan daya cerna. Namun kini, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa tanin dalam dosis rendah mampu memperbaiki proses fermentasi silase.
Bagaimana Tanin Bekerja dalam Silase?
Tanin memiliki kemampuan mengikat protein dan karbohidrat larut, membentuk kompleks yang lebih stabil selama proses ensilase. Ikatan ini bersifat reversibel, artinya nutrien tersebut akan terlepas kembali di saluran pencernaan bagian bawah, bukan di rumen. Dengan begitu, protein kasar lebih terlindungi dari degradasi berlebihan dan ternak bisa memanfaatkannya lebih efisien.
Selain itu, tanin juga memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, sehingga silase menjadi lebih awet dan aromanya tetap segar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tanin membantu menurunkan kadar amonia dan pH silase, dua indikator penting dari fermentasi yang sehat.
Bukti dari Penelitian di Lapangan
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dari Acacia dan Chestnut pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. Protein dalam silase lebih terjaga dan tidak banyak hilang selama penyimpanan. Tanin juga membantu menekan gas metana dari ternak tanpa mengganggu proses pencernaan di rumen. Jadi, penggunaan 2% tanin Acacia bisa menjadi pilihan aditif alami yang menjaga kualitas silase sekaligus ramah lingkungan (Sadarman et al., 2020).
![]() |
| Penambahan tanin pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. (Foto: Istimewa) |
Hasil penelitian Sadarman et al. (2022), membuktikan bahwa penambahan 0,50% tanin Chestnut mampu meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung (Zea mays). Silase yang dihasilkan memiliki warna lebih cerah, tekstur padat namun tidak keras, suhu stabil, dan pertumbuhan jamur minimal. Kondisi ini membuat silase lebih tahan disimpan dan lebih disukai ternak.
Studi lain yang dilaporkan Sadarman et al. (2024), menunjukkan bahwa penambahan 2% tanin Chestnut pada pakan komplit berbasis limbah kelapa sawit yang diensilase dapat menghasilkan silase dengan protein kasar lebih tinggi dibandingkan tanpa tanin, sementara kadar lemak dan serat kasar tetap sama. Kandungan abu menurun, menandakan fermentasi berlangsung lebih efisien. Bahkan, tanin memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, amonia, dan total asam lemak volatil (VFA), parameter utama yang menentukan mutu silase.
Bagi peternak, penggunaan tanin sebagai aditif silase menawarkan berbagai keuntungan nyata, antara lain menekan kehilangan bahan kering (BK) selama proses fermentasi; melindungi protein kasar agar tidak cepat terurai oleh mikroba rumen; menjaga aroma, warna, dan tekstur silase agar tetap segar dan disukai ternak; menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, memperpanjang umur simpan; menstabilkan suhu silase, mencegah panas berlebih yang dapat merusak nutrien; menurunkan emisi amonia dan metana, membantu peternakan menjadi lebih ramah lingkungan.
Dengan hasil tersebut, tanin kini dianggap sebagai aditif potensial yang murah, alami, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu silase, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman sumber tanin seperti Indigofera dan Akasia mudah tumbuh di lahan kering, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan lokal untuk pembuatan pakan fermentasi.
Pemanfaatan tanin sebagai aditif silase tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pakan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju peternakan hijau dan berkelanjutan. Dengan kualitas silase yang lebih baik, ternak tumbuh optimal, efisiensi pakan meningkat, dan gas metana yang dihasilkan dari pencernaan dapat ditekan.
Artinya, dengan langkah sederhana menambahkan tanin dalam proses pembuatan silase, peternak turut berkontribusi menjaga bumi dari dampak perubahan iklim. Tanin tidak lagi menjadi “musuh” dalam pakan, melainkan sekutu baru peternak cerdas dalam menghadirkan produksi ternak yang efisien, sehat, dan ramah lingkungan.
Rahasia Keberhasilan Tanin
Namun, seperti segala hal di dunia nutrisi, keseimbangan adalah kunci. Tanin yang berlebihan bisa menurunkan palatabilitas (selera makan), menekan mikroba rumen, dan mengganggu penyerapan mineral. Kadar ideal tanin dalam pakan sebaiknya tidak melebihi 5% bahan kering.
Oleh karena itu, peternak dan formulator pakan perlu memahami kadar tanin dalam bahan pakan dan menyesuaikan dosisnya secara ilmiah. Teknik analisis seperti in vitro gas production kini banyak digunakan untuk menentukan batas optimal penggunaan tanin. Dengan pendekatan ilmiah, “si pahit” bisa menjadi “si penyelamat” atmosfir bumi.
Peternak Mulai Menyadari
“Dulu kami takut memberikan daun Indigofera karena katanya ada tanin. Tapi setelah diuji di laboratorium kampus, ternyata malah bikin kambing cepat gemuk,” ujar seorang peternak di Kampar.
Cerita serupa datang dari Nusa Tenggara Timur, daun Calliandra yang dulu dibuang kini difermentasi atau diensilase dengan molases menjadi pakan bernilai tinggi. Dari pengalaman lapangan ini, menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal laboratorium, tapi soal keberanian mengubah cara pandang.
Tanin dan Masa Depan Peternakan Hijau
Ketika dunia berbicara tentang sustainable livestock, kerap dibayangkan teknologi mahal atau alat canggih. Padahal, sebagian jawabannya bisa ditemukan di daun-daun hijau yang tumbuh di sekitar manusia.
Tanin mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, kadang cukup dengan memahami ulang apa yang sudah ada di alam. Kini, berbagai lembaga penelitian mulai mempromosikan konsep “livestock low carbon”, pakan berbasis tanin menjadi bagian dari strategi global menekan emisi metana.
Peternakan tidak lagi hanya soal produksi daging dan susu, tapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Dalam konteks ini, tanin hadir sebagai jembatan antara produktivitas dan keberlanjutan.
Dari Musuh Menjadi Mitra
Transformasi tanin dari “antinutrisi berbahaya” menjadi “nutrisi cerdas” adalah kisah luar biasa tentang perubahan paradigma. Ia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa mengubah cara dalam melihat alam.
Tanin bukan lagi antagonis dalam pencernaan, melainkan mitra dalam efisiensi dan keberlanjutan. Ia bukan penghalang produktivitas, tapi penjaga keseimbangan antara ternak, manusia, dan bumi.
Peternakan masa depan bukan hanya tentang teknologi tinggi, tetapi tentang kearifan memanfaatkan sumber daya alami dengan ilmu pengetahuan yang benar. Tanin adalah simbol dari gagasan itu, dari yang dulu ditolak karena ketidaktahuan, kini diterima karena pemahaman.
Karena sesungguhnya, sebagaimana ungkapan para ahli nutrisi, “Tidak ada zat yang benar-benar berbahaya, yang berbahaya adalah ketidaktahuan menggunakannya.” Tanin mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan solusi. ***
NUTRISI YANG PRESISI SEPANJANG MUSIM
![]() |
| Penyediaan bahan baku yang berkualitas mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan tidak dirusak oleh keberadaan jamur yang mudah tumbuh di iklim tropis. (Foto: allaboutfeed.net) |
MUSIM BERUBAH, NUTRISI TETAP PRESISI: KUNCI SUKSES DALAM MANAJEMEN PAKAN AYAM
![]() |
| Dengan pendekatan formulasi pakan yang lebih presisi dan disesuaikan dengan perubahan musim, peforma ayam bisa dipastikan optimal sepanjang tahun. (Foto: Istimewa) |
K. C. Mountzouris (*) • V. V. Paraskeuas • E. Griela, dari Laboratory of Nutritional Physiology and Feeding, Department of Animal Science, Agricultural University of Athens, Athens, Greece, pada penelitiannya tentang “Adaptive Poultry Gut Capacity to Resist Oxidative Stress” bahwa stres oksidatif mengakibatkan inflamasi pada mukosa usus dan berpengaruh pada tingkat penyerapan nutrisi pada pakan.
J. M. Díaz Carrasco (*) • L. M. Redondo • N. A. Casanova • M. E. Fernández Miyakawa dari Instituto de Patobiología Veterinaria (IPVET), Instituto Nacional de Tecnología Agropecuaria (INTA) - Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas (CONICET), Castelar, Buenos Aires, Argentina, pada penelitiannya tentang “The Role of Farm Environment and Management in Shaping the Gut Microbiota of Poultry” salah satunya membahas tentang strategi intervensi manajemen pemeliharaan dan nutrisi terhadap kondisi lingkungan kandang. Pada penelitian ini banyak membahas pengaruh manajemen dan nutrisi dalam mengendalikan mikrobiota yang ada di saluran pencernaan.
Reformulasi Berdasarkan Musim
Pada saat puncak musim kemarau sering sekali kondisi suhu rata-rata saat siang hari lebih dari 33-35° C, hal ini mengakibatkan ayam cenderung banyak minum dibandingkan makan. Pada strategi formulasi pakan, nutrisionis sering menggunakan beberapa bahan baku dengan tingkat kecernaan lebih tinggi untuk mengurangi produksi panas metabolik.
Penggunaan bahan baku yang memiliki “heat increament” atau panas metabolik tinggi seperti jagung, sering... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2025.
MIKOTOKSIN, BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO
Saluran pencernaan merupakan penghalang pertama terhadap bahan kimia yang tertelan, kontaminan pakan, dan racun alami. Setelah menelan pakan yang terkontaminasi mikotoksin, sel epitel usus dapat terpapar racun yang menyebabkan kerusakan usus secara langsung.
PENGURUS AINI PERIODE 2025-2029 RESMI DILANTIK
Acara yang sekaligus menjadi ajang halalbihalal tersebut, mengukuhkan Prof Bambang Suwignyo dari Fapet UGM sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) AINI periode 2025-2029, kemudian menunjuk Prof Anuraga Jayanegara dari Fapet IPB sebagai Wakil Ketua Umum, dan Dr Rusmana Wijaya Setia Ningrat dari Fapet UNAND sebagai Sekretaris Jenderal.
Bambang Suwignyo dalam sambutannya menyampaikan harapannya kepada para pengurus AINI yang baru saja dilantik untuk mematuhi dan melaksanankan AD/ART AINI serta keputusan hasil Kongres AINI VI pada 23 Oktober 2024.
“Selamat bekerja, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan dan petunjuk-NYA kepada kita semua dalam membina kehidupan organisasi AINI dengan sebaik-baiknya,” katanya. (INF)
PRINSIP NUTRISI YANG PRESISI PADA PAKAN RENDAH PROTEIN
PELATIHAN FORMULASI PAKAN SAPI PERAH ALA CENTRAS IPB UNIVERSITY
| Para Peserta Pelatihan Formulasi Pakan Sapi Perah (Foto : CR) |
CENTRAS (Center for Tropical Animal Studies) IPB University mengadakan pelatihan bertajuk "Formulation, Production, and Rapid Test of Dairy Cattle Feed Quality", yang dilaksanakan pada Rabu-Kamis (20-21/11) di Ibis Styles Bogor Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, dan kunjungan pada Jumat (22/11) di Nutricell Pacific, Tangerang Selatan.
Tujuan dari kegiatan tersebut yakni untuk menggali lebih dalam mengenai pentingnya formulasi pakan yang tepat, proses produksi yang efisien, serta penerapan uji cepat untuk memastikan kualitas pakan yang optimal. Selain itu acara tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para peternak, pengusaha pakan, dan praktisi di bidang ini.
Ketua CENTRAS IPB University Prof Nahrowi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen CENTRAS dalam mencari solusi atas berbagai tantangan di sektor peternakan sapi perah khususnya dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas.
Peternakan sapi perah di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan yang kompleks. Yang palingh mendasar adalah produktivitas dan kualitas susu sapi perah yang masih rendah. Ia menyebut ada beberapa faktor salah satunya adalah kualitas pakan yang belum bagus.
"Peternak kita terutama skala kecil banyak menghabiskan waktu untuk mencari hijauan pakan. Ini paradigma yang harus kita ubah, supaya waktunya itu dihabiskan di kandang untuk memantau sapi-sapinya," tutur Nahrowi.
Dirinya juga menyoroti mengenai isu kebutuhan susu nasional terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi dan adanya program pemerintah seperti makan bergizi gratis dimana minum susu menjadi salah satu yang digaungkan.
"Ironisnya ketergantungan kita pada impor susu juga terus meningkat karena produksi kita tidak cukup, terlebih setelah terjadi wabah PMK. Alhasil ini tantangan besar yang memerlukan perubahan mendasar khususnya dalam pendekatan budidaya dan pakan ternak sapi perah," jelas Prof Nahrowi.
Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nur Saptahidhayat yang juga memberikan sambutannya melalui daring mengatakan bahwa isu di sektor sapi perah sejatinya semakin menarik, apalagi beberapa waktu lalu sempat terjadi demonstrasi yang bahkan sampai ada kegiatan mandi susu.
"Ini menggambarkan bahwasanya permasalahan di sapi perah ini ternyata tidak sesederhana itu, tidak hanya masalah produksi distribusi dan penyerapan pun juga bermasalah. Demonstrasi justru membuka wawasan semua pimpinan nasional, bahkan sampai ada pertemuan yang baru pertama kali pertemuan membahas sapi perah yang bahkan dihadiri oleh Mensesneg, Menko, dan juga kedepan akan ada diskusi bersama Menhan. Ini memang agak diluar apa yang pernah ia bayangkan," tuturnya.
Ia menegaskan permasalahan persusuan menjadi permasalahan nasional yang menjadi fokus para petinggi negara, karena bersamaan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak terlepas dari peran sapi perah yaitu dalam rangka menyediakan susu.
"Semua lini menjadi penting terkait dengan pengembangan sapi perah, salah satu lini yang tidak kalah penting adalah penyediaan pakan, menjadi satu hal yang mutlak. Dimana-mana kita selalu mendiskusikan tentang sapi terutama sapi perah dan yang menjadi topik paling hangat adalah terkait dengan pakan," pungkas Sapta.
MENJAGA KEAMANAN & KUALITAS PAKAN
Risiko di Dalam Pakan
Pakan yang baik dan berkualitas harus memenuhi persyaratan mutu yang mencakup kualitas nutrisi, kualitas teknis, keamanan pakan, dan nilai bioekonomis penggunaan pakan. Keamanan pakan adalah bagian dari keamanan pangan, karena pakan merupakan salah satu mata rantai awal dari keseluruhan mata rantai makanan.
Dalam sebuah seminar perunggasan, Tony Unandar selaku konsultan perunggasan pernah berujar bahwa selain udara dan lingkungan, pakan juga dapat menjadi pintu masuk bagi mikroba patogen ke dalam tubuh ayam.
Artinya, pakan yang tercemar oleh mikroba patogen atau kualitasnya buruk akan membawa dampak buruk pula bagi pertumbuhan, kesehatan, dan performa ayam. Alih-alih untung, peternak bisa jadi buntung akibat hal tersebut.
Sementara menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dewi Apri Astuti, kualitas pakan berbanding lurus dengan kualitas bahan bakunya. Dalam menjaga kualitas bahan baku pakan, produsen terkendala dari bahan pakan yang bersifat sensitif dan rentan terhadap kerusakan akibat perubahan kondisi lingkungan. Ada beberapa kerusakan kerap terjadi akibat kesalahan penanganan dan penyimpanan, antara lain:
• Kerusakan fisik: Diakibatkan oleh kesalahan handling saat panen, mesin, atau transportasi. Misalnya kerusakan pada biji jagung (broken kernel). Biasanya kerusakan fisik tidak memengaruhi kualitas, tetapi lebih kepada estetika.
• Kerusakan biologis: Disebabkan oleh serangan hama seperti tikus, burung, kutu, dan lain-lain. Misalnya ketika bungkil kedelai diserang hama kutu, maka nutrisi dari bahan tersebut akan berkurang.
• Kerusakan mikrobiologis: Diakibatkan oleh mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, yang dapat menyerap nutrisi dalam bahan pakan dan menghasilkan substansi yang bersifat racun bagi ternak (toksin). Contoh jagung yang terserang jamur, maka jamur tersebut menyerap nutrisi dari jagung dan akan menghasilkan berbagai jenis toksin yang berbahaya bagi ternak mulai dari penurunan produktivitas hingga kematian.
• Kerusakan kimiawi: Biasanya terjadi pada beberapa jenis imbuhan pakan, yang berubah susunan kimia aktifnya akibat kesalahan penyimpanan (tidak sesuai rekomendasi). Contoh, apabila bahan seperti asam organik yang disimpan tidak sesuai dengan rekomendasi, menyebabkan caking (akibat dari reaksi hidrolisis). Apabila asam organik sudah caking biasanya sangat rentan menguap karena sifat asam organik yang volatil.
“Apalagi di tengah kondisi sekarang ini, selain harga bahan baku yang melonjak, kualitasnya terkadang tidak stabil. Oleh karena itu, sangat penting mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang baik dan stabil,” kata Dewi.
Ia memberi contoh, misalnya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2024.
KOLABORASI USDA DAN NARA GELAR KONFERENSI PROTEIN
| Foto Bersama Para Peserta (Foto : CR) |
North American Renderers Association (NARA) kembali hadir menggelar perhelatan seminar di sektor peternakan. Kali ini NARA bersama dengan United States Department of Agriculture (USDA) menggelar acara bertajuk USDA - NARA Animal Protein Conference, USA Rendered Products : Nutrition, Sustainability, and Beyond. Acara tersebut berlangsung pada Selasa 24 September 2024 di Hotel Park Hyatt, Jakarta.
Lisa Ahramijan selaku Konselor Bidang Pertanian Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam pidato pembukanya menyambut baik apa yang telah dilakukan oleh NARA. Ia juga menyebut bahwa USDA akan sepenuhnya mendukung NARA dan menjadi partner yang baik bagi Indonesia dalam industri peternakan khususnya dalam bidang pakan ternak melalui NARA.
Dalam kesempatan yang sama, Senior Vice President NARA Dana Johnson Downing, mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya Indonesia dan Amerika punya sejarah panjang dalam kerja sama dalam berbagai sektor termasuk pertanian, khususnya peternakan. Ia juga sedikit menjelaskan mengenai terminologi rendering yang mungkin asing di telinga masyarakat Indonesia.
"Rendering adalah proses yang memanfaatkan kembali produk sampingan yang jika tidak akan terbuang dari daging yang tidak kita makan. Dengan mengolah bahan-bahan tertentu yang dianggap tidak dapat dimakan oleh banyak konsumen di Amerika Utara, seperti lemak, tulang, dan protein tertentu, para penyedia makanan menyediakan bahan-bahan yang bersih dan aman yang digunakan untuk mengembangkan produk-produk baru yang berkelanjutan sekaligus mengurangi limbah makanan secara keseluruhan," tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa rendering merupakan salah satu cara manusia dalam mengurangi limbah makanan yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk bahan pangan maupun bahan pakan bagi hewan ternak maupun hewan piara. Lebih jauh kemudian Dana menjabarkan mengenai lika - liku produk rendering di Amerika Serikat, hambatan, serta keunggulannya.
Tidak ketinggalan Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak, Desianto Budi Utomo juga menjabarkan mengenai industri pakan di Indonesia. Meskipun pakan unggas masih menjadi pemegang dominasi dalam produksi pakan, ia menyebut bahwa potensi Indonesia masih terbuka dalam industri pet food.
"Pet food ini cukup menjanjikan, namun memang sayangnya terkendala dari bahan baku. Dalam hal ini 85% komponen biaya produksi pakan berasal dari harga bahan baku, apabila harga bahan baku dapat ditekan, Indonesia masih bisa jadi pesaing bagi Thailand dalam industri ini," tuturnya.
Senada dengan Desianto, Syahroni Djaidi Ketua Ketua Perhimpunan Pengusaha Makanan Hewan Kesayangan Indonesia. Dirinya melihat kesenjangan yang cukup lebar antara produksi dan kebutuhan pasar pet food. Hal ini juga ditambah dengan kebutuhan pakan yang semakin meningkat seiring bertambah populasi kucing dan anjing.
“Dari kondisi neraca perdagangan eksisting yang defisit dan kebutuhan pakan hewan yang bertambah tiap tahun, menunjukan peluang untuk memperkuat agroindustri pet food nasional, baik dengan mendorong penggunaan produk lokal yang ada atau membuat produk baru”, tutur dia.
Syahroni berharap keberadaan NARA dapat menjadi salah satu trigger kepada para produsen pet food untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Ia juga yakin bahwa NARA siap menghadirkan bahan baku berkualitas untuk industri pet food.
Selain pet food, pakan akuakultur juga memilki prospek yang menjanjikan di Indonesia. Hal tersebut dikemukakan oleh Denny Mulyono yang juga salah satu Ketua Umum GPMT yang membidangi pakan akuakultur.
Dirinya mengutip data World Bank dimana potensi pakan akuakultur Indonesia diperkirakan meningkat pada tahun 2021 ke atas. Hal tersebut disebabkan karena produksi sektor budidaya akuakultur yang semakin naik karena permintaan pasar. Sedangkan, sektor perikanan tangkap diperkirakan menurun.
"Isu over fishing dan isu lingkungan ini meningkatkan demand di sektor perikanan budi daya, oleh karena itu kesempatan ini kita harus ambil," tuturnya.
Denny juga menyebut bahwa dalam pakan akuakultur, produk hasil rendering digunakan sampai dengan 10%, oleh karenanya ia berharap agar NARA dapat menyediakan bahan baku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau bagi produsen pakan akuakultur.
Acara tersebut juga mengundang berbagai ahli baik dari pakan akuakultur maupun pet food. Beragam narasumber membahas aspek teknis mengenai pentingnya ketersediaan protein yang baik dan cukup dalam suatu formulasi ransum baik pet food maupun pakan akuakultur.
Penyelenggaraan acara ini didukung oleh PT Gallus Indonesia Utama divisi GITA EO dan Majalah Infovet sebagai media partner (CR)
MENJAGA KEAMANAN PAKAN
![]() |
| Jaminan keamanan pakan harus tercapai, karena hal itu akan menunjang jaminan keamanan pangan, sehingga masyarakat tidak ragu dalam mengonsumsi produk ternak. (Foto: Istimewa) |
Pakan bahkan menduduki unsur utama yang memengaruhi biaya produksi peternakan. Menurut hasil survei struktur ongkos usaha peternakan 2017, yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), biaya pakan ayam ras pedaging menduduki 56,95%, ayam ras petelur 70,97%, sapi perah 67,08%, sapi pedaging 57,67%, kambing 51,80%, dan domba 51,94%.
Tidak hanya berperan utama dalam proses produksi peternakan, pakan juga menjadi kunci dalam keberlanjutan industri pakan dan peternakan, karena menjadi faktor utama dalam mencapai produktivitas dan jaminan keamanan pakan. Hal itu menjadi modal penting dalam faktor penjagaan keamanan pangan asal ternak beserta olahannya.
Syarat utama penjaminan keamanan pakan yakni bahan baku pakan yang berkualitas, formulasi pakan yang tepat, pemanfaatan teknologi dalam penjaminan mutu, dan penyimpanan serta distribusi untuk mencegah rekontaminasi.
Bahan Baku Pakan
Bahan pakan berkualitas menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Untuk itu sangat diperlukan adannya kontrol kualitas (quality control/QC) untuk memastikan tidak terdapat kontaminasi atau pemalsuan bahan pakan. Melalui QC pula dapat diidentifikasi adanya faktor-faktor pembatas lain dalam penggunaan bahan pakan, seperti besarnya kandungan serat kasar atau kerapatan jenis, kandungan anti-nutrisi, kandungan asam amino esensial, nilai kecernaan, kandungan lemak kasar, keseimbangan mineral di dalamnya, efeknya terhadap daging, telur atau susu yang dihasilkan, palatabilitas, serta harga dan ketersediaan bahan baku pakan yang akan digunakan (Osfar, 2021).
Penerapan kontrol kualitas yang baik tidak hanya untuk menopang jaminan keamanan pakan, namun lebih dari itu juga dapat diraihnya berbagai manfaat, yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2024.
MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN ENZIM PADA PAKAN
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Nahrowi, menerangkan kepada Infovet bahwa enzim yakni senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator bermacam reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Yang dimaksud dengan katalisator yakni zat yang dapat mempercepat reaksi kimia, tetapi tidak mengubah keseimbangan reaksi atau tidak memengaruhi hasil akhir reaksi.
• Memecah faktor anti-nutrisi yang terdapat dalam campuran pakan. Kebanyakan dari senyawa tersebut tidak mudah dicerna oleh enzim endogenous sehingga dapat mengganggu kelangsungan sistem pencernaan ternak dan berdampak buruk pada kesehatan serta performa ternak.
• Meningkatkan ketersediaan pati, protein, dan garam mineral yang terdapat pada dinding sel yang kaya serat, karena itu tidak mudah dicerna oleh enzim pencernaan sendiri atau terikat dalam ikatan kimia sehingga ternak tidak mampu mencerna.
• Merombak ikatan kimia khusus dalam bahan baku pakan yang biasanya tidak dapat dirombak oleh enzim yang dihasilkan ternak itu sendiri (enzim endogenous).
• Sebagai suplemen tambahan dari enzim yang diproduksi oleh ternak muda, dimana sistem pencernaannya belum sempurna sehingga enzim endogenous kemungkinan belum mencukupi.
PAKAN FERMENTASI UNTUK UNGGAS
Proses pencernaan fermentatif dalam saluran pencernaan unggas hanya terjadi pada organ tembolok, sekum, rektum, dan kolon dalam kondisi terbatas. Pada peternakan unggas komersial pemberian pakannya mengandalkan pakan jadi atau pakan konsentrat pabrikan. Namun dalam proses metabolisme pengurai dalam pencernaan unggas, kedua jenis pakan pabrikan itu tidak terurai seluruhnya karena tidak lengkap hadirnya mikrooganisme pengurai sehingga kandungan protein dalam kotoran masih tinggi kemudian beroksidasi yang menimbulkan bau tak sedap.
Kadar protein, daya cerna, dan asam amino yang rendah, serta serat kasar yang tinggi pada limbah pertanian dan agroindutsri biasanya menjadi faktor pembatas dalam penggunaannya sebagai pakan unggas. Maka untuk menurunkan serat kasar dan meningkatkan nilai nutrisinya diperlukan suatu proses yang dapat mencakup proses kimiawi, biologis melalui teknologi fermentasi (Hutagalung 1978, Yeong 1982, Zamora et al., 1989 dikutip Norbertus Kaleka 1991).
Mikroorganisme yang Terlibat dalam Proses Fermentasi
Fermentasi adalah proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik (tanpa oksigen) (Fardiaz, 1992 dikutip Norbertus Kaleha). Sedangkan menurut Satiawihardja (1992) adalah proses dimana komponen-komponen kimiawi yang dihasilkan akibat adanya pertumbuhan/metabolisme mikroba (secara aerob dan anaerob).
Beberapa jenis mikroorganisme yang mampu meningkatkan kadar protein dan beberapa substrat limbah pertanian, seperti pada tabel berikut:
Jenis Mikroorganisme yang Dapat Meningkatkan Kadar Protein dan
Subtrat Limbah Pertanian
|
Mikroorganisme |
Subtrat |
Kadar
protein Sebelum Fermentasi (%) |
Kadar
Protein Sesudah Fermentasi (%) |
Sumber |
|
Aspergillus niger |
Lumpur
sawit |
11,00-12,00 |
23,00 |
Pasaribu
et al., 1998 |
|
Aspergillus niger |
Bungkil
kelapa |
21,69 |
37,40 |
Sinurat
et al., 1996 |
|
Aspergillus niger
NKRL 337 |
Bungkil
inti sawit |
14,19 |
25,06 |
Bintang
et al., 1999 |
|
Aspergillus niger |
Ampas
sagu |
2,30 |
16,30 |
Ulfah
& Bamualim, 2002 |
|
Aspergillus niger |
Singkong
|
2,00 |
23,37 |
Komplong
et al., 1994 |
|
Aspergillus niger |
Onggok
|
1,85 |
14,74 |
Supriyati,
2003 |
|
Rhizopus oligosporus |
Biji
karet |
19,20 |
30,15 |
Wizna
et al., 2000 |
Sumber: Norbertus Kaleka, 2020.
• Fermentasi onggok dan kulit ari kedelai. Onggok (hasil sampingan pembuatan tapioka ubi kayu) dan kulit ari kedelai (hasil pengupasan biji kedelai) merupakan limbah agroindustri yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan unggas. Campurkan bahan onggok (1,5 kg/15%) dan kulit ari kedelai (1,5 kg/15%) kemudian aduk merata. Masukkan dalam wadah plastik/ember besar lalu tambahkan 8 liter air hangat, setelah agak dingin tambahkan ragi (Aspergillus niger) 100 gr kemudian aduk kembali. Tutup rapat wadah plastik/ember dan biarkan selama tiga hari.
Level
Pemberian Limbah Pertanian dan Limbah Agroindustri Fermentasi untuk Berbagai
Unggas
|
Bahan Pakan
Terfermentasi |
Diberikan
untuk |
Level
Pemberian |
Efek
Terhadap Unggas |
Sumber |
|
Onggok
|
Ayam
kampung hitam |
10%
|
Bobot
hidup 96,7 gr/12 mgg konsumsi pakan 3076 gr, FCR 3,346, IOFC Rp 5.082 |
Supriyati
et al., 2003 |
|
Dedak
padi |
Itik
alabio |
5,10,
dan 15% |
Tidak
berbeda nyata terhadap produksi, telur, konversi pakan |
Rohaeni
et al., 2004 |
|
Bekatul
|
Ayam
Arab grower |
10,
20, 30, dan 40% |
Nyata
menurunkan lemak dan kolesterol daging, serta meningkatkan protein daging |
Sujono,
2001 |
|
Ampas
tahu |
Itik
lokal jantan |
10,
20, dan 30% |
Tidak
nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan FCR |
Setyowati,
2005 |
Sumber:
Norbertus Kaleka, 2020.
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Foto bersama usai Soft Launching rencana expo pertanian dan peternakan kerja sama Indonesia-China. (Foto: Infovet/Ridwan) Peluang untuk memp...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Dari sekian banyak jenis ayam pedaging, berikut adalah 6 dari jenis-jenis ayam pedaging yang populer di Indonesia. Artinya cukup banyak dite...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...
-
Salah satu komponen penting beternak bebek petelur adalah memilih jenis bebek petelur yang tepat. Tingginya produktivitas bukan satu-satunya...






%20April%202025.jpg)

%201%20Desember%202024.jpg)
%202%20Desember%202024.jpg)





