-->

AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT



Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.

Menurut penelitian yang dikutip Selko, penggunaan Selko IntelliBond, yaitu sumber mineral mikro hidroksi (hydroxy trace minerals), dapat meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 liter per ekor tanpa menurunkan konsentrasi IgG dalam kolostrum.

Pentingnya manajemen kolostrum pada pedet
Manajemen kolostrum yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemeliharaan pedet. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah kolostrum yang dikonsumsi pedet dapat memengaruhi kekebalan tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan status hormonal pada masa awal kehidupannya.

Manajemen kolostrum yang baik juga tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolostrum yang tepat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada masa laktasi berikutnya serta umur produktif sapi. (Selko Feed Additives)
Ada beberapa alasan mengapa pedet harus mendapatkan kolostrum dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Kolostrum mengandung imunoglobulin
Kolostrum sapi mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgG, IgA, dan IgM. IgG merupakan imunoglobulin yang paling dominan sehingga konsentrasi IgG sering digunakan sebagai parameter utama untuk menilai kualitas kolostrum.

Secara umum, kolostrum dianggap berkualitas baik apabila memiliki konsentrasi IgG ≥50 mg/mL.
Di tingkat peternakan, kualitas kolostrum dapat diperiksa secara praktis menggunakan kolostrometer atau refraktometer Brix. Nilai Brix minimal sekitar 22% umumnya berkorelasi dengan konsentrasi IgG sekitar 50 g/L atau lebih. Akan tetapi, manfaat kolostrum sebenarnya tidak hanya berasal dari kandungan antibodinya.

Kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada pedet
Pedet yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sempurna. Mereka juga belum memiliki pengalaman imunologis terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Respons kekebalan pada pedet yang baru lahir juga relatif lambat. 

Oleh karena itu, antibodi maternal yang diperoleh melalui kolostrum menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai patogen pada minggu-minggu pertama kehidupannya.IgG, IgA, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum membantu menyediakan kekebalan pasif bagi pedet pada periode kritis tersebut. Karena itu, bukan hanya keberadaan kolostrum yang penting, tetapi juga seberapa cepat pedet mendapatkannya setelah lahir dan berapa banyak yang dikonsumsi.

Pedet membutuhkan energi dari kolostrum sejak jam-jam pertama kehidupannya
Kolostrum juga merupakan sumber energi yang sangat penting bagi pedet. Saat lahir, kandungan lemak tubuh pedet relatif sangat rendah, yaitu kurang dari 3% bobot tubuhnya. Sebagian lemak tersebut merupakan brown fat atau lemak cokelat yang kaya akan mitokondria.

Lemak cokelat memiliki fungsi penting dalam membantu pedet mempertahankan suhu tubuh melalui mekanisme non-shivering thermogenesis, yaitu produksi panas tanpa harus menggigil. Cadangan lemak cokelat tersebut berada di sekitar organ-organ vital, seperti jantung dan ginjal. Kolostrum menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan mekanisme produksi panas tersebut. Menurut artikel Selko, kandungan energi kolostrum sekitar 5,4 kJ ME/L dan disebutkan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan susu.

Pedet memang dapat bertahan hingga sekitar 15 jam tanpa mendapatkan kolostrum, tetapi cadangan energinya akan cepat terkuras apabila tidak mendapatkan kolostrum dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

Ketika cadangan energi semakin menipis, suhu tubuh pedet dapat turun. Pedet kemudian menjadi lemah dan lesu. Pada kondisi hipotermia, refleks menyusu dapat menghilang sehingga pedet semakin tidak mampu minum. Dengan kata lain, semakin terlambat pedet mendapatkan kolostrum, semakin besar risiko terjadinya masalah kesehatan.

Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhan
Selain antibodi dan energi, kolostrum sapi mengandung berbagai growth factors atau faktor pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan pedet.
Beberapa di antaranya adalah:
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1)
Insulin-like Growth Factor-2 (IGF-2)
Transforming Growth Factor-alpha (TGF-α)
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β)

Faktor-faktor tersebut berperan dalam menjaga integritas saluran pencernaan, mendukung pertumbuhan, serta membantu perkembangan sistem kekebalan pedet. Kolostrum sapi merupakan sumber penting faktor pertumbuhan tersebut bagi pedet yang baru lahir. 

Berapa banyak kolostrum yang dibutuhkan pedet?
Sebagai pedoman, pedet dianjurkan mendapatkan kolostrum sekitar 10–12% dari bobot lahirnya pada pemberian pertama. Untuk pedet sapi perah yang baru lahir, artikel ini merekomendasikan sedikitnya 4 liter kolostrum berkualitas baik dalam 12 jam pertama kehidupan.

Pemberian pertama idealnya dilakukan dalam 1–2 jam setelah kelahiran. Sebagai gambaran, pola pemberian yang disebutkan dalam artikel adalah:

Pemberian pertama:
3–4 liter kolostrum sesegera mungkin setelah lahir.
Pemberian kedua:
Sekitar 2 liter, enam jam kemudian.
Pemberian berikutnya:
Tambahan 1–2 liter pada sekitar 12 jam setelah lahir apabila memungkinkan.
Agar pola pemberian tersebut dapat dilakukan secara optimal, seekor sapi induk idealnya menghasilkan sedikitnya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22%. 

Apakah sapi perah menghasilkan kolostrum yang cukup?
Masalahnya, tidak semua sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup. Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 1.731 laktasi sapi Holstein, sebanyak 62,6% sapi menghasilkan kurang dari 6 kg kolostrum pada pemerahan pertama.

Lebih jauh lagi, hanya 27,7% sapi yang menghasilkan sedikitnya 6 kg kolostrum dengan nilai Brix 22%. Penelitian dari University of New Hampshire juga menemukan bahwa sekitar 12% sapi tidak menghasilkan kolostrum sama sekali, sedangkan hampir 25% menghasilkan kolostrum dalam jumlah terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan pedetnya.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa sekitar 73% sapi dara yang baru pertama kali melahirkan (primiparous) dan 61% sapi yang telah beberapa kali melahirkan (multiparous) menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak memadai. 

Dengan demikian, berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, diperkirakan sekitar 25–60% sapi perah dapat menghasilkan kolostrum yang jumlahnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi standar kualitas yang direkomendasikan.

Ini merupakan persoalan penting dalam manajemen pedet karena produksi kolostrum yang rendah dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan pemberian kolostrum pada jam-jam pertama kehidupan.

Apa yang terjadi ketika sapi diberi Selko IntelliBond?
Salah satu pendekatan yang ditawarkan Selko adalah penggunaan Selko IntelliBond, yang mengandung mineral mikro dalam bentuk hydroxy trace minerals.

Menurut Selko, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sumber mineral tersebut sebagai pengganti sumber mineral sulfat dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan performa sapi perah. Selko juga menyebutkan bahwa penggunaan IntelliBond dapat meningkatkan produksi Energy Corrected Milk (ECM) sekitar 1–1,5 kg per ekor per hari.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Professor Jose Santos dari University of Florida secara khusus mengevaluasi pengaruh pemberian IntelliBond selama periode close-up—yaitu periode menjelang kelahiran terhadap produksi kolostrum.

Penelitian University of Florida
Sebanyak 141 ekor sapi Holstein dilibatkan dalam penelitian tersebut. Sapi dibagi secara acak menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama:
30 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi mineral dalam bentuk sulfat.

Kelompok kedua:
31 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi Selko IntelliBond sebagai pengganti penuh sumber mineral sulfat.

Perlakuan dimulai sekitar 21 hari sebelum sapi melahirkan.
Mineral tambahan yang diberikan terdiri atas:
Zinc (Zn): 30 mg/kg bahan kering ransum
Copper (Cu): 7 mg/kg bahan kering ransum
Manganese (Mn): 22 mg/kg bahan kering ransum

Produksi serta kualitas kolostrum kemudian dibandingkan pada pemerahan pertama setelah sapi melahirkan.

Hasil penelitian: produksi kolostrum meningkat
Penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn dari bentuk sulfat menjadi sumber mineral IntelliBond tidak memengaruhi konsumsi bahan kering sapi sebelum melahirkan. Namun, terdapat kecenderungan peningkatan produksi kolostrum sekitar 1,0 kg.

Pada sapi dara, produksi kolostrum meningkat dari rata-rata:
5,54 kg → 7,07 kg
Sementara pada sapi multiparitas:
4,89 kg → 5,47 kg

Jika sapi dara dan sapi multiparitas digabungkan, peningkatan produksi kolostrum pada pemerahan pertama mencapai sekitar 1 kg. Nilai p yang dilaporkan adalah 0,08, sehingga hasil tersebut lebih tepat disebut sebagai tendency atau kecenderungan, bukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada tingkat konvensional p<0,05. 

Bagaimana dengan kualitas kolostrumnya?
Yang menarik, peningkatan volume kolostrum tersebut tidak diikuti dengan penurunan parameter kualitas utama.
Tidak ditemukan perbedaan yang berarti dalam:
persentase lemak,
persentase protein,
persentase laktosa,
total padatan,
jumlah sel somatik,
nilai Brix, maupun
konsentrasi IgG.

Nilai Brix pada kedua kelompok berada di sekitar 27%, sedangkan konsentrasi IgG berada pada kisaran 106–122 g/L, tergantung kelompok sapi.  Artinya, berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan volume kolostrum tidak menyebabkan efek pengenceran terhadap konsentrasi IgG.

Bahkan, total IgG yang dihasilkan cenderung meningkat karena jumlah kolostrum yang diproduksi lebih banyak. Pada sapi dara, total IgG meningkat dari sekitar 574 g menjadi 735 g, sedangkan pada sapi multiparitas meningkat dari sekitar 572 g menjadi 615 g. Namun, perbedaan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan dalam penelitian. 

Memanfaatkan senyawa tanaman untuk meningkatkan kualitas kolostrum
Selain IntelliBond, artikel Selko juga membahas produk lain yang disebut Fytera Lacteco. Fytera Lacteco disebut sebagai PhytoComplex yang dipatenkan dan digunakan sebagai bahan tambahan pakan alami untuk sapi.

Menurut beberapa penelitian yang dikutip Selko, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir sebelum kelahiran dapat meningkatkan kadar imunoglobulin dalam kolostrum dan memperbaiki proses transfer antibodi maternal kepada pedet. 

Dalam salah satu percobaan, pedet dari sapi yang mendapatkan Fytera Lacteco mencapai kadar IgG serum 24 g/L pada 24 jam setelah lahir, yang digunakan dalam penelitian tersebut sebagai ambang keberhasilan transfer imunitas maternal.

Dengan demikian, pendekatan yang ditawarkan Selko tidak hanya berfokus pada meningkatkan jumlah kolostrum, tetapi juga pada upaya mempertahankan atau meningkatkan kualitas imunologis kolostrum.

Membangun program manajemen kolostrum yang baik
Manajemen kolostrum merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeliharaan pedet. Kolostrum memberikan tiga manfaat utama bagi pedet:

1. Antibodi untuk membangun kekebalan pasif.
2. Energi untuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme awal kehidupan.
3. Faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan.

Karena itu, peternakan sapi perah perlu memastikan bahwa sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Target yang disebutkan dalam artikel adalah setidaknya 6 liter kolostrum dengan nilai Brix ≥22% dari pemerahan pertama.
 
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian, sebagian besar peternakan berpotensi menghadapi masalah produksi kolostrum yang tidak mencukupi. Program peningkatan produksi kolostrum dapat meningkatkan volume kolostrum sekitar 1–3 liter per ekor, dan menurut artikel tersebut peningkatan volume tersebut dapat dicapai tanpa harus menurunkan konsentrasi IgG.

Sumber mineral yang digunakan dalam ransum dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Penggantian sumber mineral sulfat dengan Selko IntelliBond dalam penelitian University of Florida meningkatkan produksi kolostrum pada pemerahan pertama sekitar 1 liter, tanpa menurunkan konsentrasi IgG. 

Sementara itu, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir kebuntingan dilaporkan dapat meningkatkan kadar imunoglobulin kolostrum dan memperbaiki transfer kekebalan pasif kepada pedet.

Kesimpulan
Manajemen kolostrum yang baik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan pemeliharaan pedet. Pedet membutuhkan kolostrum bukan hanya sebagai sumber antibodi, tetapi juga sebagai sumber energi dan berbagai faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk perkembangan awal tubuh dan sistem kekebalan.

Idealnya, pedet mendapatkan kolostrum berkualitas tinggi sesegera mungkin setelah lahir. Untuk mendukung program tersebut, sapi induk perlu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang memadai.
Artikel Selko menunjukkan bahwa sekitar 25–60% sapi perah berpotensi tidak menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup sesuai standar yang direkomendasikan. 

Penelitian University of Florida yang melibatkan 141 ekor sapi Holstein menunjukkan bahwa penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn berbasis sulfat dengan Selko IntelliBond hydroxy trace minerals cenderung meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 kg pada pemerahan pertama, tanpa menurunkan nilai Brix maupun konsentrasi IgG kolostrum. 

Dengan demikian, menurut artikel tersebut, pengelolaan sumber mineral mikro dapat menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan produksi kolostrum dan mendukung program manajemen pedet. (INF)

PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT

Kadis Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, didampingi stafnya memberikan penjelasan kepada Infovet, Drh Heru Rachmadi tentang pengembangan peternakan sapi perah. (Foto: Infovet/Heru)

Terbentuknya Kabupaten Bandung Barat sebagai daerah otonom pada 2007, subsektor sapi perah menjadi unggulan strategis. Lembang berkembang sebagai sentra persusuan utama Jawa Barat. Kolaborasi KPSBU, industri pengolahan susu, serta Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat terus diperkuat untuk meningkatkan produksi, kualitas susu, dan kesejateraan peternak.

Luas wilayah Kabupaten Bandung Barat adalah 1.305,77 km2 terdiri dari 16 kecamatan, terdapat dataran tinggi yang sangat cocok untuk sapi perah, 500-2400 MDPL dengan suhu rata-rata 18-22 °C ideal untuk produksi susu, curah hujan 2.000-3.000 mm/thn sangat mendukung untuk hijauan pakan.

Adapun kecamatan yang menjadi sentra peternakan sapi perah di antaranya Lembang 15.648 ekor, Cisarua 6.495 ekor, Ngamprah 706 ekor, dan daerah pengembangan kawasan sapi perah baru ada di Gunung Halu saat ini 84 ekor.

Pada Selasa (19/5/2026), Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bandung Barat, Drh Wiwin Aprianti MSi, mengungkapkan kepada Infovet bahwa program dan dukungan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sangat tinggi, antara lain program inseminasi buatan massal untuk meningkatkan mutu genetik ternak, target 19.000 ekor/tahun, juga melakukan uji zuriat untuk metode deteksi genetik guna mengetahui kualitas calon pejantan, pengembangan hijauan pakan ternak berupa pembibitan, dan distribusi benih hijauan pakan.

Ternak unggul odot, rumput gajah, leguminosa, tidak lupa memberikan bantuan bibit dan sapi perah betina produktif dari UPTD Pembibitan Ternak kepada kelompok ternak, juga yang tidak kalah penting adalah kesehatan ternak berupa layanan kesehatan hewan gratis, vaksinasi PMK dan brucellosis, serta pemeriksaan kebuntingan juga penguatan kelembagaan berupa pembinaan koperasi susu, pelatihan di kandang (on farm training).

Populasi ternak sapi perah saat ini sebanyak 26.603 ekor, 5.339 rumah tangga peternak, produksi susu pada 2025 sebanyak 66.232 ton, 15 liter produktivitas/ekor/hari. Sebanyak 27% kontribusi terhadap Jawa Barat dan 7% kontribusi terhadap nasional, harga susu peternak Rp 7.300-8/000/liter, dengan potensi pengembangan produksi susu segar, yogurt, hingga keju lokal.

Dengan dukungan pemerintah ke Kabupaten Bandung Barat yang sangat besar ini kepala dinas mengupayakan adanya peningkatan populasi dari tahun ke tahun dan juga kesejahteraan peternak sapi perah serta pemenuhan gizi masyarakat dari produksi susu serta olahannya.

Dukungan Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, yang menetapkan Kecamatan Lembang sebagai wilayah budi daya dan pengembangan Sumber Daya Genetika Sapi Perah Holstein Indonesia memberikan peluang keberlanjutan Koperasi Peternak Sapi Perah Bandung Utara (KPSBU) Lembang, industri pengolahan susu, serta dinas perikanan dan peternakan dalam menyejahtrakan peternak. (HR)

TRANSFORMASI PETERNAKAN SAPI PERAH

Peternakan sapi perah. (Foto: Dok. Infovet)

Transformasi peternakan sapi perah bukan lagi wacana masa depan, melainkan realitas yang sedang berlangsung. Perubahan teknologi, dinamika permintaan pasar, perilaku konsumen, serta sistem transaksi ekonomi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kebijakan publik dalam meresponsnya.

Terlebih lagi dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), memberikan tekanan kuat atas meningkatnya permintaan akan susu segar dalam negeri (SSDN). Akibatnya, peternakan sapi perah rakyat berada dalam tekanan struktural yang kian besar.

Selama puluhan tahun, kebijakan peternakan sapi perah cenderung dibangun di atas asumsi lama, yakni peternak kecil, produksi SSDN sebagai bahan baku, koperasi sebagai penampung, dan industri pengolah susu (IPS) sebagai penentu harga. Asumsi ini mungkin relevan di masa lalu, tetapi menjadi semakin usang di tengah perubahan lanskap ekonomi yang bergerak ke arah digitalisasi, diferensiasi produk, dan sistem bisnis berbasis pasar.

Sejak era industrialisasi hingga masuk ke fase Internet of Things (IoT) dan ekonomi digital, sektor pertanian dan peternakan telah mengalami perubahan mendasar. Produksi massal bergeser ke produksi spesifik sesuai preferensi konsumen. Komoditas bahan mentah berubah menjadi produk bernilai tambah. Namun, kebijakan peternakan sapi perah masih terlalu fokus pada peningkatan populasi ternak dan volume produksi, bukan pada transformasi sistem bisnis dan kelembagaan peternak.

Perubahan perilaku konsumen yang menuntut produk susu siap saji, aman, berkualitas, dan terlacak asal-usulnya belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan yang operasional. Negara masih memperlakukan SSDN sebagai komoditas primer, padahal pasar telah bergerak ke arah produk olahan dan diferensiasi nilai. Ketimpangan ini membuat peternak rakyat terjebak sebagai pemasok bahan baku dengan posisi tawar yang lemah.

Masalah semakin kompleks ketika pola transaksi bisnis berubah. Sistem pembayaran di sektor pangan kini cenderung menuju cash before delivery, sementara sebagian besar peternak sapi perah masih bergantung pada sistem pembayaran tertunda (kredit) melalui koperasi. Sayangnya, kebijakan belum cukup hadir untuk menjembatani transisi ini, baik melalui skema pembiayaan yang adaptif, integrasi dengan sistem keuangan digital, maupun perlindungan arus kas peternak.

Koperasi yang seharusnya menjadi instrumen transformasi justru sering terjebak dalam peran administratif dan sosial. Kebijakan koperasi peternakan belum secara serius mendorong koperasi bertransformasi menjadi entitas bisnis modern dengan tata kelola profesional. Banyak koperasi diperlakukan sebagai objek program, bukan sebagai corporate vehicle milik peternak yang mampu mengelola rantai nilai dari hulu ke hilir.

Kritik utama terhadap kebijakan peternakan sapi perah adalah kecenderungannya yang terlalu sektoral. Pendekatan pembangunan masih didominasi oleh intervensi teknis—bibit, pakan, kandang, dan produksi—tanpa diimbangi reformasi kelembagaan, model bisnis, dan akses pasar. Padahal, masalah utama peternakan sapi perah rakyat bukan semata pada kemampuan produksi semata, melainkan pada ketidakmampuan sistem untuk menangkap nilai ekonomi dari perubahan pasar yang lintas sektor.

Transformasi peternakan sapi perah seharusnya diposisikan sebagai agenda kebijakan lintas sektor: pertanian, koperasi, industri, keuangan, dan digital. Negara perlu bergeser dari peran sebagai pelaksana program menjadi enabler transformasi, yang menciptakan ekosistem bisnis kondusif bagi peternak dan koperasi untuk tumbuh sebagai pelaku ekonomi modern.

Tanpa koreksi kebijakan yang mendasar, transformasi peternakan sapi perah akan berlangsung secara timpang, pasar bergerak cepat, sementara peternak rakyat tertinggal. Dalam kondisi demikian, jargon kedaulatan pangan dan penguatan peternak hanya akan menjadi retorika, bukan realitas ekonomi.

Transformasi peternakan sapi perah bukan semata urusan peternak, melainkan cermin kemampuan negara membaca perubahan zaman dan menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang relevan, adaptif, dan berpihak pada masa depan.

Jika ini tidak segera dilakukan, tidak mustahil akan terjadi “disrupsi” yaitu perubahan besar dan cepat yang akan mengganggu cara lama (peternak rakyat) baik di sektor ekonomi, teknologi, sosial, maupun tata kelolanya oleh  entitas ekonomi lain non-koperasi, menggantikannya dengan cara baru yang lebih efisien. Dengan kata lain, peternakan rakyat akan terpinggirkan dan tumbuh korporasi yang berjiwa kapitalis. ***

Ditulis oleh:
Rochadi Tawaf
Ketua Asosiasi Holstein Indonesia

LANTIK PENGURUS NASIONAL, AHI KUKUHKAN VISI CIPTAKAN SAPI HOLSTEIN ADAPTIF UNTUK PETERNAK

Foto bersama dalam acara Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029. (Foto: Istimewa)

Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) resmi menyelenggarakan Pelantikan Pengurus Pleno Nasional AHI periode 2025-2029, di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Bandung, Jumat (28/11/2025).

Dalam sambutannya, Ketua Umum AHI, Dr Ir Rochadi Tawaf MS, menegaskan bahwa momen ini merupakan amanat penting dari AD/ART AHI. Ia menekankan bahwa AHI adalah satu-satunya organisasi peternakan sapi yang bergerak spesifik di bidang perbibitan (breeders association) di Indonesia.

“Tuntutan yang diemban organisasi ini amatlah berat. Pasalnya, AHI tidak hanya menjadi tolok ukur (benchmark) perkembangan persusuan, namun juga merupakan kepanjangan tangan kegiatan perbibitan sapi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah. Seperti halnya pembentukan bibit dasar dan bibit sebar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) milik pemerintah,” ujarnya.

Harapan utama yang dibebankan kepada AHI adalah mengawal sapi-sapi unggul hasil seleksi, progeny, dan sertifikasi, sehingga memberikan dampak nyata terhadap peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah secara nasional.

Cita-cita luhur AHI yang dirumuskan dalam kongres nasional adalah membentuk “Sapi Holstein Indonesia, yang adaptif dengan ekosistem dan budaya masyarakat, untuk kesejahteraan peternak.”

Dalam upaya mengaktualisasikan cita-cita tersebut, AHI telah memperkuat jejaring internasional. Langkah strategis ini dilakukan dengan kehadirannya pada World Dairy Expo di Medison Wisconsin bulan lalu, pertemuan dengan Asosiasi Holstein USA dan Asosiasi Animal Breeder USA untuk menjajaki kerja sama, serta menjalin kolaborasi riset pengembangan sapi Holstein di Indonesia dengan International Livestock Research Institute (ILRI) melalui proyek Asia-Africa Dairy Genetic Gain (AADGG Project).

Dukungan Pemerintah Daerah dan Fokus Kesejahteraan
Kepala DKPP Jawa Barat, menyatakan bahwa komitmen pemerintah mendukung penuh kegiatan AHI. Dalam kesempatan ini, disoroti tiga pilar penting yang harus menjadi fokus kerja sama sinergis antara pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi, yaitu pengembangan pedet; memastikan ketersediaan pakan yang memadai, murah, dan berkualitas; serta optimalisasi pemanfaatan kotoran ternak (kohe) sebagai sumber pendapatan masyarakat peternak.

Pemerintah Jawa Barat berharap AHI dapat membantu meningkatkan produksi susu dan penyelesaian masalah limbah sapi perah yang mencemari sungai di Jawa Barat.

FGD Strategis: Sertifikasi dan Kemandirian Genetik
Rangkaian acara dilanjutkan dengan focus group discussion (FGD) yang membahas “Strategi Implementasi Sertifikasi Sapi Holstein Indonesia.” Topik ini dianggap sebagai langkah strategi awal bagi AHI untuk mengawal peningkatan produksi dan produktivitas sapi perah.

Sertifikasi ini menurut AHI dipandang esensial untuk membangun database nasional, meningkatkan mutu genetik melalui verifikasi kualitas (estimated breeding value/EBV), dan mempercepat proses terbentuknya bibit sapi Holstein Indonesia yang unggul.

Model pengembangan sapi perah (Delmansarah) di Jawa Barat, akan dijadikan objek kerja sama antar stakeholder peternakan sapi perah seperti koperasi (GKSI), perusahaan peternakan (mega/medium dairy farm), AHI (asosiasi breeders), dan perguruan tinggi (Unpad dan IPB) dalam membangun persusuan nasional.

AHI menyadari bahwa tercapainya target nasional ini memerlukan kepengurusan nasional yang tangguh, berkomitmen, dan berkemampuan tinggi untuk mengeliminasi kendala sektor persusuan saat ini.

“Pengukuhan pengurus ini diharapkan menjadi motivasi kuat bagi seluruh jajaran AHI untuk menjadikan asosiasi sebagai tolok ukur perkembangan persusuan nasional. AHI berkomitmen penuh untuk melaksanakan program kerjanya demi mendukung upaya pemerintah menciptakan iklim yang kondusif serta membangun persusuan nasional yang berkelanjutan,” tukas Rochadi. (INF)

ASOSIASI HOLESTEIN INDONESIA HADIR DI WORLD DAIRY EXPO 2025

Rochadi Tawaf (paling kiri) bersama Linsey Worden (CEO US Holstein), dan Sarah Sarbecker (Director Sales and Market Development US Holstein), serta Arya Wicaksana (Sekjen AHI) dan Iman Karmawan (Bendahara AHI). (Foto: Dok. Rochadi)

Usai menggelar Kongres Nasional pertama Asosiasi Holestein Indonesia (AHI) pada 10 September 2025, dan launching-nya saat pembukaan ILDEX Indonesia 2025, pada 17-19 September 2025, di ICE BSD City, Tangerang, AHI berangkat ke Medison Wisconsin untuk menghadiri World Dairy Expo, 30 September-3 Oktober 2025 atas undangan ST Genetic, suatu perusahaan penghasil semen beku dan embrio transfer terbesar di USA.

Kesempatan ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan AHI secara lebih meluas kepada asosiasi sejenis di dunia. Pasalnya, event World Dairy Expo yang diselenggarakan sejak 1967, telah menjadi kiblat perkembangan peternakan sapi perah dunia.

Expo tersebut setiap tahun dihadiri sekitar 60 negara di dunia. Selain kontes ternak, pameran ini juga menyelenggarakan seminar para ahli dan juga pameran produk dan sarana peternakan sapi perah.

Pada kesempatan ini, AHI mengikuti berbagai kegiatan di antaranya melihat persiapan kontes ternak. Sapi-sapi peserta kontes rata-rata berproduksi sekitar 50-60 liter/hari/ekor. Selain itu, mengikuti farm tour ketiga peternakan sapi perah, yakni Geno Source Farm, yang memiliki populasi 5.000 ekor sapi laktasi dengan rataan produksi 43 liter/ekor yang diperah dengan routers milking parlor robotic.

Kemudian ke peternakan Morman Dairy Farm yang memiliki 1.000 ekor sapi laktasi, rataan produksinya 50 liter/ekor/hari. Menggunakan individual robotic milking facility. Serta kunjungan ke Farnear Holstein Farm yang memiliki 600 ekor sapi laktasi dengan rataan produksi 43 liter/ekor/hari, menggunakan individual robotic miliking facility.

Selain itu, AHI juga mengikuti seminar tentang Introducing The Genetic Tools dengan topik-topik terkait Calculating Milking Speed PTAs Using Sensor Data; Genetic Tools for Healthier Calves, hingga Improving The Wheels On The Car-Hoof Health and Mobility.

Salah satu yang juga menjadi tujuan utama hadirnya AHI di expo ini adalah bertemu dengan Presiden Nasional Asosiasi Animal Breeder US (NAAB), Jay L. Weiker, untuk membicarakan rencana kerja sama dalam membentuk sapi Holstein Indonesia berkaitan dengan prosedur dan pencatatan dalam sistem produksi dan breeding.

Hal serupa juga dilakukan dengan pertemuan bersama CEO US Holstein, Linsey Worden, untuk membahas rencana kerja sama riset dan pengembangan organisasi dan penelitian tentang sapi Holstein Indonesia.

Dua pertemuan tersebut membicarakan sejarah US Holstein ke Indonesia pada 1989, berdirinya AHI September 2025, kerja sama membentuk sapi Holstein Indonesia, rencana kegiatan jangka pendek (seminar), hingga pengajuan proposal kegiatan kerja sama pada 2026 mendatang.

Pada kesempatan emas ini, peternak sapi perah di Indonesia harus banyak belajar seiring dengan perkembangan teknologi, seperti sistem Internet of Thing (IOT) dan robotik, digitalisasi manajemen pemeliharan dan sistem pola breeding yang akan menghasilkan bibit sapi perah yang berkualitas.

Selanjutnya,  AHI akan menjalin kerja sama tekonologi dan peningkatan SDM anggotanya untuk belajar di US Holstein. Kerja sama diharapkan dapat segera terwujud dalam rangka membantu pemerintah mempercepat peningkatan produksi susu nasional dan kesejahteraan peternak sapi perah. (Rochadi Tawaf-Direktur Utama AHI/INF) 

KONGRES NASIONAL PERTAMA ASOSIASI HOLSTEIN INDONESIA

AHI kembali berdiri, laksanakan kongres nasional. (Foto: Istimewa)

Bandung (10/9/2025), dalam upaya peningkatan produksi SSDN dan terbentuknya bangsa sapi Holstein, Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) kembali berdiri dengan melaksanakan kongres untuk mengupayakan peningkatan produksi dan produktivitas susu dalam negeri.

Sebab pada cetak biru persusuan nasional, target konsumsi susu dalam negeri pada 2026 akan terpenuhi sekitar 60%, dengan asumsi kemampuan produktivitas sapi perah sekitar 20 liter/hari, konsumsi susu meningkat menjadi 30 liter/kapita/tahun, populasi sapi perah menjadi 1,8 juta ekor, dan populasi betina laktasi menjadi 50% dari populasi betina produktif.

“Namun, saat ini konsumsi susu nasional baru mencapai 16,5 kg/kapita, kemampuan rata-rata produksi sekitar 14 liter/ekor/hari, dan populasinya berkisar 485.809 ekor. Pada saat ini ternyata kontribusi produksi SSDN belum beranjak sesuai target yang dibuat, bahkan cenderung menurun dari base line 22%, masih di bawah 20% untuk memenuhi kebutuhan nasional,” tulis Sekretaris AHI, Arya Wicaksana, dalam keterangan resminya.

Menurut data Kementerian Perindustrian (2022), kebutuhan susu dalam enam tahun terakhir mengalami peningkatan rata-rata 6% per tahun, sedangkan produksi SSDN hanya tumbuh 1% saja.

“Artinya, diprediksi akan terjadi kesenjangan yang semakin melebar antara produksi SSDN dengan importasi susu jika tidak dilakukan intervensi peningkatan produksi dan produktivitasnya,” tambahnya.

Melihat fenomena itu, didukung iklim usaha dan kebijakan pemerintah, tokoh inisiator Dr Ir Rochadi Tawaf MS sebagai akademisi, Ir Iman Karmawan MM sebagai praktisi, dan Arya Wicaksana SE sebagai peternak, menginisiasi kembali berdirinya AHI.

Pada 1989, PPSKI pernah bekerja sama dengan US Holstein membentuk AHI, demikian pula Dinas Peternakan Jawa Barat bekerja sama dengan JICA Jepang membentuk IDHIA (1997-2002). Namun kegiatan tersebut terhenti aktivitasnya, sehingga lembaga ini harus dihidupkan kembali. Karena memiliki tujuan mulia yaitu melakukan standarisasi produksi dan meningkatkan mutu genetik sapi perah Holstein yang sesuai kondisi ekosistem iklim dan budaya Indonesia.

Dijelaskan, dalam rangka merealisasikan tujuannya, AHI bekerja sama dengan perusahaan peternakan sapi perah skala menengah dan besar, yang memiliki kelompok peternak binaan. Kerja sama ini produknya berupa sapi-sapi bakalan hasil inovasi teknologi rekayasa genetik.

“AHI dan perusahaan peternakan sapi perah merupakan mitra balai perbibitan sapi perah milik pemerintah. Adapun tugas pokok dan fungsi AHI yaitu mengawal, mengembangkan dan melakukan standariasi, serta sertifikasi sapi perah Holstein Indonesia dalam bentuk bibit sebar kepada peternak,” imbuh dia.

Kongres AHI bertajuk “Membentuk Sapi Perah Holstein Indonesia untuk Membangun Persusuan Nasional”, dilaksanakan di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat.

Dihadiri peserta sebanyak 55 orang yang terdiri dari pendiri AHI, peternak dan perusahaan sapi perah, koperasi susu, perguruan tinggi, lembaga perbibitan pemerintah, dinas-dinas peternakan, asosiasi peternakan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan lainnya.

Dalam kongres tersebut ditetapkan tata tertib dan agenda kongres pertama AHI, penandatanganan akta pendirian, menetapkan AD/ART, dan menetapkan program kerja, sekaligus membentuk dan melantik pengurus AHI periode 2025-2029: Dr Ir Rochadi Tawaf MS (Direktur Utama), Arya Wicaksana SE (Sekretaris), Ir Iman Karmawam MM (Bendahara), Afghan SPt (Direktur Pelaksana). Dewan Pengawas: Teguh Boediyana (Ketua), Drh Desi, Dedi Setiadi, dan Aun Gunawan (Anggota). (INF)

DAFTAR SEKARANG! SEMINAR SEPUTAR SAPI PERAH, TINGKATKAN GIZI MASYARAKAT


Kegiatan ini kolaborasi antara Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta didukung oleh Majalah Infovet, bertajuk “Akselerasi Usaha Sapi Perah, Tingkatkan Gizi Masyarakat”.

Kegiatan ini sangat cocok diikuti oleh para peternak sapi, akademisi/peneliti, pelaku usaha, konsultan, dan pemerintah, untuk menambah wawasan persapiperahan Tanah Air.

Catat tanggal dan waktunya:
• Senin, 29 September 2025

• Pukul 09:00-13:00 WIB (Hybrid)
Offline: Innovation Convention Center (ICC) BRIN, Cibinong, Bogor
Online: Zoom

Pembicara:
Keynote Speaker: Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Agung Suganda MSc

• Prof Budi Tangendjaja: Pengembangan Usaha Sapi Perah Berkelanjutan melalui Optimalisasi Pakan

• Dr Drh Kurnia Achyadi MS: Manajemen Kesehatan Reproduksi Sapi Perah Pasca Out Break Penyakit Mulut dan Kuku

• Dadang Suryana (Direktur PT Sumber Citarasa Alam): Kiat Sukses Pengembangan Usaha Sapi Perah Hulu Hilir

• Dr. Santiananda Arta Asmarasari Spt MSi (Peneliti BRIN): Pemanfaatan Teknologi Seleksi Berbasis Marka Molekuler untuk Perbaikan Genetik Sapi Perah

Investasi: FREE
Offline: 100 orang
Zoom: 500 orang

Kesempatan terbatas, daftar sekarang!
https://bit.ly/SeminarSAPI_ASOHI

Informasi lebih lanjut, hubungi:
0877-7829-6375 (Mariyam)

Scan barcode di sudut kiri bawah flyer 

ASPEK-ASPEK MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI PERAH

Manajemen reproduksi sapi perah mencakup aspek-aspek penting berikut ini:

Deteksi birahi (heat detection), adalah fondasi keberhasilan reproduksi. Sapi perah memiliki periode birahi yang relatif singkat (rata-rata 8-18 jam) dengan gejala yang bervariasi.

Gejala primernya sapi mau dinaiki sapi lain ("standing heat") yang merupakan indikator paling akurat. Gejala sekundernya gelisah, vulva bengkak dan merah, keluar lendir transparan dari vulva, penurunan produksi susu sementara, nafsu makan berkurang, dan saling menaiki sapi lain.

Metode deteksinya dengan observasi visual. Peternak atau pekerja harus mengamati sapi secara teratur, minimal 2-3 kali sehari (pagi, siang, sore/malam) selama 20-30 menit per sesi, terutama pada saat sapi lebih tenang.

Menggunakan alat bantu krayon/stik birahi, dioleskan di pangkal ekor, akan luntur jika sapi dinaiki. Patch deteksi birahi (pressure-activated patches), ditempelkan di punggung, akan berubah warna jika ada tekanan dari sapi lain yang menaiki.

Juga sistem otomatis (aktivitas monitor). Sensor yang dipasang di kalung atau kaki sapi yang mendeteksi peningkatan aktivitas berjalan atau berdiri sebagai indikator birahi. Ini sangat akurat dan mengurangi ketergantungan pada observasi manual.

Tingkat keterampilan inseminator, inseminator yang terampil adalah kunci sukses IB. keterampilannya meliputi pengetahuan anatomi reproduksi sapi yaitu memahami posisi rahim, serviks, dan ovarium. Teknik memasukkan semen, mampu memasukkan gun IB melalui serviks dengan lembut dan benar.

Deposisi semen yang tepat, meletakkan semen di bagian anterior korpus uteri (tubuh rahim) atau awal kornu uteri (tanduk rahim) yang ipsilateral (searah dengan ovarium yang berovulasi). Memahami cara thawing (pencairan) semen beku yang benar (suhu dan waktu yang tepat) untuk menjaga viabilitas spermatozoa. Menjaga kebersihan alat-alat inseminasi untuk mencegah infeksi.

Penentuan waktu Inseminasi Buatan (IB) yang optimal. Konsep umum yang sering digunakan adalah "AM/PM rule".

Yaitu jika sapi menunjukkan birahi di pagi hari (AM), inseminasi dilakukan pada sore hari (PM) di hari yang sama. Jika sapi menunjukkan birahi di sore hari (PM), inseminasi dilakukan pada pagi hari (AM) keesokan harinya.

Prinsipnya adalah menginseminasi sapi 10-14 jam setelah sapi pertama kali menunjukkan gejala birahi berdiri (standing heat), karena ovulasi (pelepasan sel telur) terjadi sekitar 24-32 jam setelah awal birahi.

Ada juga aspek lain yang juga penting dalam manajemen reproduksi. Pencatatan data yang akurat, penting untuk mencatat tanggal melahirkan, tanggal birahi, tanggal inseminasi, jenis semen, hasil kebuntingan, dan masalah reproduksi. Data ini digunakan untuk evaluasi performa dan pengambilan keputusan.

Pemeriksaan kebuntingan dini dilakukan 30-45 hari setelah IB melalui palpasi rektal atau USG untuk mengidentifikasi sapi yang tidak bunting sehingga dapat segera diinseminasi ulang.

Program sinkronisasi birahi digunakan untuk menginduksi birahi pada sekelompok sapi pada waktu yang bersamaan, mempermudah manajemen IB dan mengurangi ketergantungan pada deteksi birahi alami.

Pemeriksaan kesehatan reproduksi rutin dilakukan oleh dokter hewan untuk mendiagnosis dan mengobati masalah reproduksi seperti infeksi rahim, kista ovarium, atau anestrus (tidak birahi).

Manajemen periode transisi. Periode sebelum dan sesudah melahirkan (sekitar 3 minggu sebelum hingga 3 minggu setelah) sangat krusial. Nutrisi yang tepat dan minimnya stres pada periode ini sangat mempengaruhi kesehatan reproduksi pasca-melahirkan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN RENDAHNYA PERFORMA REPRODUKSI SAPI PERAH

Rendahnya performa reproduksi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seringkali gabungan dari beberapa masalah.

Nutrisi yang tidak adekuat. Energi negatif terutama di awal laktasi, sapi kekurangan energi untuk mempertahankan produksi susu dan mulai berovulasi kembali. Defisiensi mineral/vitamin yaitu kekurangan selenium, tembaga, fosfor, vitamin A, atau vitamin E dapat mengganggu fungsi ovarium dan kesuburan. Manajemen deteksi birahi yang buruk, peternak tidak dapat mendeteksi tanda-tanda birahi dengan akurat atau melewatkan waktu optimal untuk inseminasi, ini adalah penyebab umum lama kosong yang panjang.

Inseminasi yang tidak tepat. Inseminasi terlalu cepat atau terlalu lambat dari puncak birahi. Kurangnya keterampilan inseminator dalam menyimpan semen, handling, atau deposisi semen. Cekaman panas (heat stress) secara signifikan menurunkan ekspresi birahi, kualitas oosit, dan tingkat kebuntingan.

Penyakit Reproduksi:

  • Metritis/Endometritis: Infeksi rahim pasca-melahirkan yang dapat menyebabkan peradangan kronis dan mengganggu kebuntingan.
  • Ovarium Kista: Gangguan hormonal yang menyebabkan folikel tidak berovulasi atau korpus luteum tidak mengalami regresi.
  • Brucellosis, Leptospirosis, BVD: Penyakit infeksius yang dapat menyebabkan keguguran, infertilitas, atau kelahiran prematur.
  • Kondisi Tubuh yang Buruk (Body Condition Score/BCS): Sapi yang terlalu kurus atau terlalu gemuk cenderung memiliki masalah reproduksi.
  • Genetik: Beberapa sapi secara genetik memang memiliki kesuburan yang rendah.

TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN DALAM PRODUKSI SUSU SAPI PERAH

Produksi susu sapi perah modern banyak mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kesehatan hewan.

Pemerahan Otomatis (Automatic Milking Systems/Robotic Milking): Robot yang dapat memerah sapi secara otomatis, mendeteksi birahi, menganalisis kualitas susu, dan memantau kesehatan sapi.

Identifikasi dan Pemantauan Sapi Otomatis: Menggunakan tag RFID (Radio Frequency Identification) atau sensor pada kalung/kaki sapi untuk memantau aktivitas, konsumsi pakan, suhu tubuh, dan pola pergerakan (indikator birahi atau penyakit).

Analisis Susu In-line: Sensor yang terintegrasi pada sistem pemerahan untuk menganalisis komponen susu (lemak, protein, laktosa), jumlah sel somatik (indikator mastitis), dan bahkan mendeteksi ketosis.

Sistem Pakan TMR (Total Mixed Ration): Penggunaan mesin pencampur pakan untuk memastikan sapi mendapatkan ransum yang homogen dan seimbang nutrisinya.

Software Manajemen Peternakan: Aplikasi komputer untuk mencatat data individu sapi (produksi susu, reproduksi, kesehatan, silsilah), menganalisis performa, dan membuat keputusan manajemen.

Ventilasi dan Pendinginan Kandang Otomatis: Sistem kipas, sprayer, atau fogger yang diatur otomatis berdasarkan suhu dan kelembaban untuk mengurangi cekaman panas pada sapi.

Teknologi reproduksi ada beberapa macam. Inseminasi Buatan (IB), metode utama untuk membiakkan sapi secara selektif. Sinkronisasi Birahi, penggunaan hormon untuk mengatur siklus estrus sapi sehingga dapat diinseminasi secara bersamaan.

Determinasi Jenis Kelamin Semen (Sexed Semen), semen yang telah diproses untuk menghasilkan anak sapi jantan atau betina sesuai keinginan. Embrio Transfer (ET), memindahkan embrio dari sapi donor unggul ke sapi resipien untuk mempercepat peningkatan genetik.

PARAMETER MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI PERAH YANG BAIK

Manajemen reproduksi yang baik sangat vital karena sapi harus beranak secara teratur untuk dapat terus memproduksi susu. Parameter kunci meliputi:

Lama Kosong (Days Open): Periode dari melahirkan hingga sapi bunting kembali. Idealnya sekitar 85-110 hari. Lama kosong yang terlalu panjang berarti sapi tidak akan mulai siklus laktasi berikutnya dalam waktu yang tepat, sehingga terjadi penurunan produksi susu kumulatif.

Service Per Conception (S/C): Jumlah inseminasi per kebuntingan. Idealnya kurang dari 2. Angka S/C yang tinggi menunjukkan masalah kesuburan atau deteksi birahi yang buruk.

Calving Interval (Interval Beranak): Waktu antara dua kelahiran berturut-turut. Idealnya sekitar 12-13 bulan (sekitar 365-400 hari). Interval yang lebih panjang menunjukkan sapi tidak bunting kembali dengan cepat.

Conception Rate (Angka Kebuntingan): Persentase sapi yang bunting dari seluruh sapi yang diinseminasi. Target yang baik adalah > 40%.

Pregnancy Rate (Angka Kebuntingan Kumulatif): Jumlah sapi yang bunting dibagi dengan jumlah sapi yang berpotensi bunting dalam periode waktu tertentu. Ini adalah indikator performa reproduksi yang komprehensif.

Detection Rate (Angka Deteksi Birahi): Persentase sapi yang birahi terdeteksi dan diinseminasi. Idealnya > 70%. Deteksi birahi yang akurat dan tepat waktu sangat penting.

Heat-to-Service Interval: Waktu dari awal birahi hingga sapi diinseminasi. Inseminasi pada waktu yang tepat sangat penting untuk keberhasilan kebuntingan.

PENYAKIT YANG BERDAMPAK PADA PRODUKSI SUSU

Banyak penyakit yang merugikan dan berdampak pada produksi susu, seringkali diawali dengan penurunan nafsu makan dan gangguan metabolisme. Berikut contohnya.

Mastitis (radang ambing) adalah penyakit paling umum dan merugikan pada sapi perah. Infeksi pada ambing menyebabkan peradangan, nyeri, dan penurunan kualitas serta kuantitas susu. Sapi seringkali menunjukkan demam dan penurunan nafsu makan.

Ketosis merupakan gangguan metabolik yang terjadi ketika sapi tidak dapat memenuhi kebutuhan energi yang sangat tinggi di awal laktasi (peak lactation), sehingga tubuh memecah cadangan lemak. Ini menyebabkan penurunan nafsu makan yang parah, depresi, dan penurunan produksi susu.

Asidosis rumen (acidosis) terjadi akibat konsumsi pakan karbohidrat tinggi yang cepat difermentasi atau perubahan pakan yang mendadak. Menyebabkan pH rumen turun drastis, menurunkan nafsu makan, kembung, diare, dan dapat menyebabkan laminitis (radang kuku).

Displaced abomasum adalah pergeseran posisi abomasum (salah satu lambung sapi) yang sering terjadi pasca-melahirkan. Menyebabkan penurunan nafsu makan drastis, nyeri, dan penurunan produksi susu.

Milk fever (hipokalsemia) adalah kekurangan kalsium parah yang sering terjadi di sekitar periode melahirkan. Menyebabkan sapi lesu, tidak mau makan, bahkan lumpuh. Produksi susu akan sangat terpengaruh atau bahkan terhenti.

Laminitis merupakan peradangan pada lamina kuku yang menyebabkan sapi pincang. Meskipun tidak langsung mengganggu metabolisme, rasa sakit akibat laminitis membuat sapi enggan bergerak, mengurangi waktu makan, dan pada akhirnya menurunkan produksi susu.

Penyakit infeksius lainnya seperti Bovine Viral Diarrhea (BVD), Johne's Disease, Paratuberculosis, atau penyakit parasit (cacingan, koksidiosis) dapat menyebabkan penurunan nafsu makan kronis, gangguan pencernaan, dan akhirnya menurunkan produksi susu secara signifikan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SUSU SAPI PERAH

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi perah sangat kompleks dan saling berkaitan. Genetik, pakan/nutrisi, dan manajemen kesehatan merupakan faktor-faktor utama.

Potensi genetik seekor sapi untuk memproduksi susu sangat bervariasi. Sapi dari ras-ras tertentu (misalnya Holstein, Friesian) memiliki potensi genetik yang lebih tinggi untuk produksi susu dibandingkan ras lainnya. Seleksi genetik yang tepat dan program pemuliaan dapat secara signifikan meningkatkan rata-rata produksi susu dalam suatu populasi.

Pakan dan nutrisi adalah faktor paling kritis dan seringkali menjadi pembatas produksi. Sapi perah membutuhkan asupan nutrisi yang memadai dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, dan yang terpenting, produksi susu. Kualitas dan kuantitas pakan (hijauan dan konsentrat) serta ketersediaan air bersih sangat mempengaruhi. Kekurangan energi, protein, vitamin, atau mineral akan langsung menurunkan produksi susu.

Sapi yang sehat akan berproduksi optimal. Penyakit, terutama yang bersifat infeksius seperti mastitis (radang ambing), brucellosis, atau penyakit metabolik seperti asidosis atau ketosis, dapat menurunkan produksi susu secara drastis, bahkan menyebabkan produksi terhenti. Program vaksinasi, biosekuriti, dan penanganan penyakit yang cepat dan tepat sangat penting.

Selain itu juga ada faktor lingkungan, Suhu, kelembaban, dan ventilasi kandang yang tidak nyaman dapat menyebabkan cekaman panas (heat stress) yang menurunkan nafsu makan dan produksi susu. Manajemen laktasi meliputi frekuensi pemerahan, teknik pemerahan yang benar, dan waktu laktasi (puncak laktasi, akhir laktasi) juga mempengaruhi. Manajemen reproduksi bertujuan agar sapi beranak secara teratur sehingga akan memiliki siklus laktasi yang berkelanjutan.


LEBIH DARI 1.500 SAPI PERAH IMPOR DATANG LAGI

Sapi perah bunting kembali didatangkan untuk perkuat populasi dan mendukung produktivitas peternak lokal. (Foto: Istimewa)

Dalam dua hari, lebih dari 1.500 ekor sapi perah bunting kembali didatangkan dari Australia ke Indonesia untuk memperkuat populasi sapi perah dan mendukung produktivitas peternak lokal.

Sebanyak 1.088 ekor sapi perah tiba di Pelabuhan Tanjung Tembaga, Probolinggo, Sabtu (28/6/2025). Pemasukan ini difasilitasi PT Santosa Agrindo Lestari (Santori), anak perusahaan JAPFA, bekerja sama dengan PT Greenfields Dairy Indonesia, PT Karya Suci Pratama, PT Irfai Berkah Sejahtera, PT Arla Food, serta Koperasi Suka Makmur.

Sehari sebelumnya, 485 ekor sapi perah juga telah masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, oleh PT Kironggo Joyo. Total, dalam waktu dua hari, jumlah sapi perah impor yang masuk mencapai 1.573 ekor.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), Agung Suganda, mengatakan bahwa langkah ini selaras dengan program pemerintah dalam mempercepat peningkatan populasi dan produksi susu nasional, khususnya melalui Program Percepatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN).

“Pemerintah menargetkan peningkatan populasi sapi perah sebanyak satu juta ekor hingga 2029. Ini adalah bagian penting dari strategi mencapai ketahanan pangan dan mendukung program Makan Bergizi Gratis,” ujar Agung dalam keterangan resminya, Sabtu (28/6/2025).

Saat ini, produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 21% dari kebutuhan nasional yang mencapai 4,6 juta ton/tahun. Kehadiran sapi impor ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas peternak lokal dan mendorong kemandirian produksi susu di dalam negeri.

Adapun jenis sapi yang diimpor merupakan persilangan antara Holstein dan Jersey yang memiliki keunggulan genetik berupa produktivitas susu tinggi, masa laktasi panjang, interval kelahiran yang singkat, serta lebih adaptif terhadap iklim tropis Indonesia. Selain itu, ukuran tubuh yang lebih kecil dinilai sesuai untuk dikelola oleh peternak skala kecil dan menengah.

Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Imron Suandy, menegaskan bahwa seluruh sapi impor telah melalui protokol kesehatan hewan sejak sebelum pengiriman hingga tiba di Indonesia. Pemerintah memastikan hewan yang masuk dalam kondisi sehat, bebas penyakit hewan menular strategis, dan telah disertai dokumen lengkap sesuai standar internasional.

“Bersama dengan Badan Karantina Hewan, tindakan karantina dan pemeriksaan kesehatan hewan kami lakukan secara menyeluruh. Ini bagian dari komitmen menjaga kesehatan hewan sekaligus menjamin keamanan pangan asal hewan,” kata Imron.

Ia menambahkan, pengawasan juga dilakukan selama proses distribusi sapi ke para perusahaan joint shipment dan peternak mitra Greenfields di Jawa Timur.

CEO Greenfields, Akhil Chandra, menjelaskan bahwa sapi-sapi tersebut akan didistribusikan kepada 120 peternak mitra yang tersebar di Kabupaten Malang, Blitar, Pasuruan, dan Kota Batu, Jawa Timur.

“Kami juga akan menyerap seluruh hasil susu dari peternak mitra dan memberikan dukungan teknis berkelanjutan agar para peternak dapat meningkatkan produktivitas secara optimal,” katanya. (INF)

MEMPERINGATI HARI SUSU NUSANTARA, DPN SAMPAIKAN BEBERAPA USULAN

Hari Susu Nusantara diperingati setiap 1 Juni. (Foto: Istimewa)

Memperingati Hari Susu Nusantara pada 1 Juni 2025, Dewan Persusuan Nasional (DPN) melihat bahwa tujuan peringatan tersebut adalah untuk memacu perkembangan dan pertumbuan persusuan nasional berbasis peternakan sapi perah rakyat tampaknya masih sangat jauh dari yang diharapkan.

Ketua Umum DPN, Teguh Boediyana, dalam keterangan resminya pada peringatan tersebut, menyatakan bahwa ada beberapa indikator yang menyebabkan minimnya perkembangan dan pertumbuhan industri susu lokal.

Pertama, usaha peternakan sapi perah rakyat masih ditopang oleh usaha peternakan yang  tipologi usahanya sebagai sambilan. “Dalam arti, usahanya belum menjadi sebagai sumber pendapatan utama dari peternak,” sebutnya.

Kedua, usaha peternakan sapi perah rakyat sampai saat ini hanya mampu memenuhi kurang dari 20% dari kebutuhan susu nasional.

Ketiga, saat ini industri pengolahan susu dan juga usaha peternakan skala besar makin tumbuh dan berkembang sangat pesat. “Bahkan dapat dikatakan bahwa industri pengolahan susu mendominasi dan menguasai sektor persusuan nasional dan ketergantungan peternakan sapi perah rakyat pada industri pengolahan susu semakin besar,” imbuhnya.

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya pun menyampaikan beberapa usulan kepada pemerintah, yakni meneguhkan komitmen untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah rakyat, sehingga dapat menjadi cabang utama dari para peternak dan menjadi basis kehidupan ekonomi mereka.

“Kemudian segera merealisasikan terbitnya Peraturan Presiden tentang persusuan nasional untuk menciptakan keseimbangan antara industri pengolahan susu dengan peternakan sapi perah rakyat yang berazaskan keadilan dan pemerataan kesempatan berusaha,” harapnya.

Adapun usulan lain yaitu meminta Presiden Prabowo Subianto segera merealisasikan janji politiknya untuk pembagian susu gratis bagi anak-anak sekolah yang nantinya dapat menjadi basis usaha peternakan sapi perah rakyat dan mengurangi ketergantungan pemasaran susu segar ke industri pengolahan susu. Program ini dapat menjadi pelengkap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini sudah berjalan.

Serta segera merealisasikan rencana impor 1,5 juta sapi perah untuk penambahan populasi dan peningkatan skala pemilikan sapi perah oleh peternak rakyat yang saat ini hanya memiliki sapi rata rata 2-4 ekor. (INF)

KEMENTAN DAN AL-AIN FARMS TEKEN KERJA SAMA DORONG INVESTASI SUSU

Investasi produksi susu menjadi bagian dari kerja sama bilateral antara Indonesia dan PEA. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Al-Ain Farms for Livestock Production dari Persatuan Emirat Arab (PEA) terkait investasi produksi susu di Indonesia.

Penandatanganan MoU ini menjadi bagian dari rangkaian kerja sama bilateral antara Indonesia dan PEA yang ditandatangani pada 9 April 2025 di Abu Dhabi, sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden RI ke PEA.

Kesepakatan investasi produksi susu di Indonesia tertuang dalam Memorandum Saling Pengertian antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, dengan Al-Ain Farms for Livestock Production PEA.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menyambut positif setiap komitmen investasi dan menegaskan bahwa Kementan akan mengawal penuh prosesnya agar dapat segera direalisasikan.

“Jika ingin menarik investor, maka yang utama adalah kenyamanan. Pemerintah hadir untuk mengawal agar proses investasi tidak berbelit,” ujar Mentan Amran beberapa waktu lalu saat menerima kunjungan investor di Jakarta.

Lebih lanjut, ia menegaskan pihaknya akan berkoordinasi erat dengan kementerian dan lembaga terkait untuk mempercepat proses implementasi investasi di lapangan. 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Al-Ain Farms ini difokuskan pada pengembangan sektor susu nasional, termasuk peningkatan produksi dan kualitas susu, serta penguatan ekosistem industri peternakan yang berkelanjutan.

“Kami menyambut baik minat investasi dari Al-Ain Farms yang akan menjadi bagian dari upaya mempercepat swasembada susu. Kerja sama ini juga diharapkan membuka lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan peternak lokal melalui kemitraan,” ujar Agung di kantornya, Kamis (10/4/2025).

Ia menambahkan, selain peningkatan terhadap kuantitas dan kualitas susu, kerja sama ini juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Dalam nota kesepahaman tersebut, Kementan menyatakan dukungannya terhadap rencana investasi Al Ain Farms, salah satunya melalui program pengembangan sapi perah di lokasi-lokasi yang telah ditetapkan dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.

Selain itu, pemerintah juga menawarkan kemudahan akses lahan dan juga insentif diberikan, termasuk pembebasan bea masuk impor ternak dan peralatan industri, skema pembiayaan berbunga rendah, program asuransi peternakan, serta koordinasi lintas sektor demi memastikan keberhasilan implementasi di lapangan.

“Kami percaya bahwa kerja sama ini akan menjadi contoh model investasi strategis yang dapat direplikasi di wilayah lain dalam mendukung ketahanan pangan nasional,” pungkasnya. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer