Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini peternakan ayam | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

PENYAKIT MENGANCAM TANPA KENAL JAM

Risiko masalah kualitas air pada musim penghujan meningkat. (Foto: Istimewa)

Dalam setiap musim, baik kemarau dan penghujan tentunya ancaman yang berbeda akan dihadapi peternak. Baik dari segi penyakit dan lingkungan, ancaman tersebut memerlukan strategi yang berbeda.

Cuaca Kering Bikin Ayam Geuring
Di musim kemarau biasanya pada peternakan broiler akan ditemukan kejadian dimana 1-2 ekor ayam yang dipelihara mengalami panting kemudian mati secara tiba-tiba, namun hanya menimpa ayam berukuran besar. Biasanya kejadian tersebut merupakan indikasi ayam mengalami heat stress.

Kematian akibat heat stress cenderung menimpa ayam dewasa karena secara alami tubuh ayam akan menghasilkan panas (hasil metabolisme), ditambah suhu lingkungan yang semakin panas terutama disaat kemarau, sehingga panas dari dalam tubuh tidak bisa distabilkan. Dampak akhir yang terjadi ialah kematian.

Ironisnya, kejadian heat stress tidak hanya terjadi pada ayam broiler, namun juga layer. Yang menjadi pertanyaan seiring adanya perubahan iklim akibat pemanasan global, apakah kasus heat stress hanya disebabkan oleh faktor suhu dan kelembapan lingkungan?

Technical Education and Consultation PT Medion, Drh Christina Lilis, menjelaskan heat stress sudah menjadi problematika utama di dunia perunggasan Indonesia. Stres ini akan muncul ketika ayam tidak bisa membuang panas dari dalam tubuhnya akibat tingginya cekaman suhu.

“Ayam komersial modern yang selama ini kita pelihara termasuk hewan homeotermal, yaitu mampu mengatur suhu tubuhnya sendiri karena memiliki sistem termoregulator. Ayam modern juga lebih sensitif terhadap perubahan suhu, oleh karenanya butuh trik khusus dalam manajemen pemeliharaan,” tutur Christina.

Ia melanjutkan, banyak faktor lain yang memengaruhi kondisi suhu panas di kandang yang membuat ayam stres karena panas, misalnya metabolisme internal dari tubuh ayam, radiasi sinar matahari, aktivitas fermentasi mikroba pada litter kandang. Ketika ayam menghadapi kondisi panas dari berbagai sumber tersebut, ayam akan merespon dengan cara menurunkan suhu tubuhnya melalui pengeluaran kelebihan energi panas dari dalam tubuh.

Mekanisme pengeluaran panas tubuh ini akan berfungsi secara normal (optimal), saat ayam dipelihara pada zona nyaman (comfort zone), di luar kondisi tersebut maka respon ayam untuk mengeluarkan panas tubuh akan berubah. Kondisi tidak nyaman bisa menjadi faktor pemicu munculnya heat stress ialah manajemen pemeliharaan yang kurang baik.

Contohnya pengaturan kepadatan kandang yang tidak sesuai, pemilihan bahan kandang dan konstruksi kandang yang kurang tepat, ventilasi udara tidak baik, serta pemberian ransum dengan kandungan protein berlebihan. Ransum dengan kandungan protein melebihi standar akan dicerna dan zat sisa metabolismenya akan dikeluarkan bersamaan dengan feses, kemudian difermentasi mikroba menghasilkan amonia dan panas.

Musim Penghujan Yang Penuh Ancaman
Di musim penghujan bukan berarti cuaca sejuk dan dingin tidak memengaruhi aktivitas dan performa ayam. Saat musim penghujan, salah satu masalah yang dihadapi yakni kelembapan tinggi. Kelembapan dalam kandang akan memengaruhi suhu. Semakin naik kelembapan, suhu yang dirasakan ayam juga semakin tinggi. Sebaliknya, ayam akan merasakan suhu lebih dingin dibanding suhu lingkungan ketika kelembapan rendah.

Pada kondisi suhu rendah, anak ayam rentan mengalami cold stress alias hipotermia. Hipotermia adalah kondisi turunnya suhu tubuh ayam di bawah normal, kondisi ini lebih sering menyerang ayam muda (0-14 hari), karena belum mampu menyesuaikan suhu tubuh atau termoregulasi sehingga masih sangat bergantung terhadap suhu lingkungan.

Konsumsi pakan dapat meningkat namun konsumsi air minum rendah sehingga tidak tercerna dengan baik. Ayam broiler yang mengalami hidrop ascites karena adanya peningkatan tekanan aliran darah di arteri sehingga plasma darah merembes dan terkumpul di rongga perut. Dampak lain dari kondisi ini adalah memicu necrotic enteritis (NE) karena adanya peningkatan pH sekum untuk aktivitas fermentasi dan populasi Clostridium perfringens penyebab NE pun meningkat.

Menurut Drh Eko Prasetio selaku praktisi perunggasan Tri Group, pada musim penghujan pola dan aplikasi brooding pada ayam muda sangat kritis dan perlu dievaluasi secara intensif. Pasalnya dengan cekaman suhu dingin, kerugian akibat kematian dini kerap terjadi.

Brooding selain penting pada fase pertumbuhan ayam, prinsip utamanya mengondisikan lingkungan senyaman mungkin untuk ayam. Nah, biasanya di musim penghujan ini brooding mestinya memang lebih intensif dilaksanakan, jangan sampai luput dan merugi di kemudian hari,” tutur Eko.

Selain itu, kualitas air di musim penghujan juga menjadi masalah kronis. Berdasarkan data dari Technical Education and Consultaion PT Medion diketahui sebanyak 63,82% dari total sampel air di peternakan mengandung Coliform di atas standar dan 44,84% positif tercemar E. coli. Sumber air yang terlalu dangkal, dekat dengan sumber tumpukan feses, dekat sawah, sungai/rawa, atau septic tank, memiliki risiko besar terkontaminasi E. coli. Adanya kontaminasi bakteri tersebut pada air minum ayam memudahkan infeksi penyakit colibacillosis ataupun tingkat penyembuhan penyakit menjadi rendah.

Kondisi suhu dan kelembapan udara pada musim penghujan meningkatkan risiko pada tumbuhnya jamur pada pakan. Jamur dapat mengurangi palatabilitas ayam, yang juga mengerikan adalah efek toksin yang dihasilkan (mikotoksin), selain dapat menghambat target bobot badan ayam, juga dampak negatif seperti imunosupresi yang berujung pada kematian akibat komplikasi penyakit infeksius.

Arief Hidayat selaku pengamat perunggasan pernah menyatakan bahwa dari data yang ia dapat, pada musim penghujan rata-rata cemaran mikotoksin pada pakan cenderung lebih tinggi daripada musim kemarau, sehingga meningkatkan risiko ayam sakit.

“Kami sudah banyak mengimbau peternak agar jangan hanya mengandalkan toxin binder dan obat saja. Menyimpan pakan dengan baik pada lingkungan yang tepat dapat mencegah tumbuhnya jamur dan menurunkan risiko tercermarnya pakan oleh mikotoksin. Tetapi di lapangan aplikasinya belum sepenuhnya dilakukan juga,” kata Arief.

Selain itu yang perlu diwaspadai juga adalah peningkatan populasi serangga. Saat musim hujan datang, kemunculan larva lalat menjadi hal lumrah di tumpukan feses. Adapun jentik-jentik nyamuk di genangan air atau berkeliarannya kecoa di sela-sela kandang.

Serangga ini berpotensi menjadi vektor bibit penyakit dari dalam feses ke tempat pakan dan air minum. Terlebih saat musim hujan, telur cacing dan bakteri E. coli memiliki daya tahan lebih baik saat berada di luar tubuh ayam. ***

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

DEFISIT STOK, HARGA DAGING AYAM DI SAMPIT MEROKET

Ayam Potong, Meroket Harganya di Sampit
(Foto : Istimewa)


Harga ayam potong di Kota Sampit kembali meroket hingga menembus Rp50-53 ribu per kilogram. Kenaikan disebabkan minimnya pasokan, sehingga ayam yang masih berukuran kecil dan belum waktunya panen terpaksa dijual demi memenuhi permintaan konsumen.

”Pasokan ayam dari Banjarmasin terbatas, karena ayamnya masih belum waktunya panen, terpaksa dijual,” kata Yati Puspita, Pedagang Ayam di Pasar Jalan MT Haryono.

Selain harga tinggi, bobot ayam yang didatangkan juga tidak seperti biasanya.

”Idealnya mencapai 1,7-2 kg per ekor.Ini ayam yang datang 1,2-1,5 kilogram. Ada yang cuma 1 kilogram saja bobotnya per ekor. 

Harga naik sudah empat hari. Per hari ini mulai turun dari Rp53 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. Stabilnya kisaran Rp35-38 ribu per kg,” katanya.

Pasokan ayam ke Kota Sampit juga mengalami kekosongan, sehingga pedagang ayam di Kota Sampit dijatah tidak sebanyak seperti hari-hari biasanya.

Di tempat pemotongan ayam, kebutuhan rata-rata mencapai 15.000 ekor per hari. Namun, dalam satu pekan terakhir, ayam yang didatangkan hanya 8.000-10.000 ekor yang dibagi ke semua pedagang ayam di Kota Sampit.

”Saya ngambil ayam yang didatangkan dari peternak Banjarmasin. Itu pun dibagi-bagi jatahnya sama pedagang ayam yang lain,” katanya. (INF)

Sementara itu, harga ayam di kawasan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit sedikit lebih murah.“Hari ini (kemarin) harga daging ayam Rp48 ribu per kilo. Lumayan turun,” kata Sita, pedagang di kawasan tersebut.Menurutnya, harga itu sudah turun dari hari sebelumnya yang mencapai Rp52 ribu per kilogram.”Semingguan itu harganya naik terus. Minggu lalu 46 ribu/kg, terus naik, saya sempat jual 52 ribu/kg. Di lain ada yang lebih dari itu, tapi sekarang sudah turun. Murah lagi, soalnya kalau mahal pelanggan juga sepi,” ujarnya. (INF)

IMBUHAN PAKAN DAN KLASIFIKASINYA

Imbuhan pakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. (Foto: Istimewa)

Imbuhan pakan berbeda dengan pelengkap pakan. Menurut Kepmen No. 240/Kpts/OT.210/4/2003, imbuhan pakan (feed additive) didefinisikan sebagai suatu zat yang secara alami tidak terdapat dalam pakan, yang tujuan pemakaiannya terutama sebagai pemacu produksi ternak. Sedangkan pelengkap pakan (feed supplement) adalah suatu zat yang secara alami sudah terkandung dalam pakan, tetapi jumlahnya perlu ditingkatkan dengan menambahkannya dalam pakan.

Jadi pelengkap pakan adalah bahan sumber zat gizi yang ditambahkan ke dalam pakan untuk melengkapi kekurangan zat gizi yang ada di dalam pakan. Sebagai contoh asam amino sintetis seperti DL Metionin, vitamin atau mineral mikro (trace element) yang kesemuanya merupakan zat gizi untuk ternak. Sedangkan imbuhan pakan merupakan bahan tambahan dalam pakan (bukan sumber zat gizi), yang berguna meningkatkan pemanfaatan dan penerimaan pakan oleh ternak atau bermanfaat untuk kesehatan/metabolisme ternak/meningkatkan daya guna pakan. Jadi, imbuhan pakan bukan hanya berfungsi sebagai pemacu produksi ternak.

Klasifikasi Imbuhan Pakan
Menurut fungsinya imbuhan pakan dibagi dalam empat kelompok:

1. Imbuhan yang memengaruhi kestabilan pakan, proses produksi pakan dan sifat-sifat pakan. Imbuhan ini ditujukan untuk mempertahankan pakan lebih awet untuk disimpan/tidak cepat mengalami kerusakan. Contohnya bahan pengawet antijamur dan antioksidan. Bahan lainnya yakni imbuhan yang meningkatkan kapasitas/kemampuan dalam produksi pakan, contoh untuk menghasilkan pellet yang lebih baik ditinjau dari kekuatannya, seringkali pabrik pakan menggunakan bahan pengikat pellet untuk meningkatkan nilai PDI (Pellet Durability Index). Disamping itu untuk mengurangi kesusutan produksi karena rendahnya kadar air dalam pakan, pabrik pakan dapat menambahkan imbuhan lain yang dapat meningkatkan kadar air tanpa menimbulkan pengaruh negatif terhadap daya simpan dan bersamaan waktunya mengurangi pemakaian energi karena imbuhan pakan yang ditambahkan mempunyai sifat “pelumas” sehingga proses pemeletan lebih mudah dikerjakan.

2. Imbuhan yang memperbaiki pertumbuhan, efisiensi penggunaan pakan, metabolisme dan penampilan ternak. Dahulu yang termasuk dalam kelompok ini adalah AGP (antibiotic growth promoter) untuk mencegah penyakit bakteri di saluran pencernaan sehingga memperbaiki efisiensi penggunaan pakan. Dengan munculnya aturan pelarangan AGP dalam pakan, maka berbagai alternatif dikembangkan. Disamping itu penggunaan senyawa hormon yang dapat memengaruhi metabolisme dalam tubuh hewan sehingga memengaruhi deposisi protein dan lemak dalam karkas, juga dijual di pasaran dengan tujuan memperbaiki kualitas karkas, seperti mengurangi tebal lemak/meningkatkan otot sehingga karkas lebih memenuhi permintaan konsumen.

3. Imbuhan yang memengaruhi kesehatan ternak. Imbuhan kelompok ini umumnya berupa obat yang digunakan untuk memperbaiki kesehatan ternak, sehingga dapat berproduksi secara optimal. Contoh imbuhan kelompok ini adalah obat koksi dan obat cacing. Penyakit koksi merupakan penyakit umum pada ayam broiler karena bibit penyakitnya (Eimeria sp.) terdapat dimana-mana dan sulit dihilangkan, padahal ayam dipelihara dalam kandang yang tidak dapat steril manakala makan/minum dan pengeluaran kotoran di lokasi yang sama. Oleh karenanya penyakit koksi akan selalu muncul, maka pakan ditambahkan anti-koksi maupun berupa bahan kimia. Selain itu, penambahan obat cacing juga sering dilakukan secara berkala dalam pakan untuk menekan perkembangan parasit ini. Pada pakan untuk pembibitan, obat cacing diberikan terus-menerus agar cacing tidak berkembang dalam usus.

4. Imbuhan yang memengaruhi penerimaan konsumen. Imbuhan jenis ini ditujukan agar konsumen yang mengonsumsi daging, susu, telur mempunyai senyawa yang lebih bermanfaat. Salah satu contoh adalah telur omega yang dihasilkan dari petelur yang pakannya mengandung asam lemak omega 3 tinggi, sehingga omega 3 dapat dipindahkan ke dalam telur dan dapat memenuhi kebutuhan konsumennya. Dalam pemasaran telur juga banyak konsumen yang menghendaki agar kuning telur berwarna kuning cerah sehingga menarik. Untuk menghasilkan telur dengan warna lebih cerah/kuning/sedikit kemerahan, maka di dalam pakan ayam petelur ditambahkan imbuhan pakan alami maupun sintetis yang dapat masuk ke dalam kuning telur sehingga warnanya memikat hati konsumen.

Sifat Imbuhan Pakan
Umumnya imbuhan pakan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

• Jumlahnya kecil. Imbuhan pakan umumnya diberikan dalam jumlah kecil (5 kg/ton pakan). Pemberian yang terlalu banyak akan menggangu formulasi pakan, karena ruangan formula pakan total hanya 100%, sehingga penambahan imbuhan dalam jumlah besar akan mengurangi pemakaian bahan baku pakan yang umumnya diberikan dalam jumlah besar.

• Hasil sintesa kimia/fermentasi/ekstrak bahan alami. Imbuhan pakan banyak dihasilkan dari proses fermentasi untuk menghasilkan bahan aktif seperti enzim atau mikrobanya itu sendiri sebagai probiotik. Beberapa imbuhan pakan merupakan hasil ekstraksi dari tanaman, dimana bahan aktif tanaman digunakan sebagai imbuhan pakan. Beberapa imbuhan pakan merupakan hasil sintesa bahan kimia seperti antioksidan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, imbuhan pakan seharusnya mengandung bahan aktif yang memang memberikan daya guna bagi pakan. Imbuhan pakan yang tidak diketahui bahan aktifnya/komponen utamanya akan sulit didaftarkan dan sulit diterima peternak/pabrik pakan.

Dari Van Der Klis, 2019.

• Bentuknya tepung atau cairan. Karena penggunaan imbuhan pakan adalah dicampur ke dalam ransum, maka untuk memudahkan pencampuran, imbuhan pakan diproduksi dalam bentuk tepung sehingga dapat dicampur dengan premix lain dan dimasukkan ke dalam mixer besar. Kadang kala imbuhan pakan juga diproduksi dalam bentuk cair dan dimasukkan ke dalam mixer dengan cara penyemprotan melalui nozzle.

• Stabil dalam penyimpanan. Untuk dapat digunakan dalam pakan, imbuhan harus mempunyai kestabilan selama penyimpanan sebelum digunakan. Perusahaan imbuhan pakan harus memberikan patokan mengenai penyimpanan.

• Keamanan selama pemakaian. Material Safety Data Sheet (MSDS) harus dikeluarkan oleh pabrik imbuhan pakan karena MSDS memberikan petunjuk mengenai keamanan dan penanggulangan ketika terjadi “kecelakaan” dalam pemakaian/menangani imbuhan pakan tersebut yang ditujukan untuk pekerja.

Keamanan Konsumen
Keamanan pakan merupakan bagian dari keamanan untuk melindungi konsumen, baik pada ternaknya maupun konsumen yang mengonsumsi hasil ternak. Masalah residu akibat ternak diberi pakan yang mengandung imbuhan pakan perlu dibuktikan dengan penelitian. Imbuhan pakan seperti halnya antibiotika bahan aktifnya dapat tersimpan dalam organ ternak, bahkan dapat menimbulkan residu dalam daging, susu maupun telur. Perlu dikemukakan bahwa produk alami dari tanaman juga tidak semuanya aman digunakan. Semua bahan alami dari tanaman juga merupakan bahan kimia yang dapat memengaruhi kesehatan ternak atau manusia yang mengonsumsi hasil ternak. Keamanan imbuhan pakan akan dipengaruhi konsentrasi, lama pemakaian, metabolisme dalam tubuh ternak, bahkan mungkin interaksi dengan bahan lain. Sudah banyak diteliti bahwa suatu senyawa kimia dalam tanaman akan memberi pengaruh positif pada konsentrasi rendah, tetapi ketika konsentrasinya dinaikan menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki.

Untuk mencegah timbulnya efek samping imbuhan pakan pada ternak, maka peraturan pemakaiannya harus diikuti secara ketat. Peraturan biasanya dibuat atas dasar fakta dari penelitian. Di Indonesia peraturan dari Ditjen Produksi Ternak bisa dilihat dalam Ringkasan Imbuhan Pakan edisi II. Apabila ingin mengikuti aturan di Amerika dan Canada bisa dilihat dalam Feed Additive Compendium yang diterbitkan setiap tahun oleh Miller Publ.Co. untuk Eropa, atau Annex. 1 dari Official Journal of the European Economic Community.

Pemakaian Dalam Pakan
Sebelum imbuhan pakan digunakan dalam pembuatan pakan, maka pabrik pakan terlebih dahulu harus mengikuti kaidah-kaidah tertentu seperti Good Manufacturing Practice (GMP) atau Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) beserta traceability-nya. Pedoman cara pembuatan pakan yang baik sudah diatur dalam Kepmentan No 240/Kpts/OT.210?4/2003. Pada prinsipnya Kepmentan atau GMP mengatur berbagai hal berupa bangunan, higiene dan sanitasi, bahan baku, proses pembuatan pakan, pengendalian mutu, audit dan personalia dalam menghasilkan pakan termasuk konsentrat yang bermutu dan memenuhi standar sesuai tujuannya dan melindungi konsumen dari kerugian. Sayangnya Kepmentan No. 240 kurang merinci mengenai proses produksi yang menggunakan imbuhan pakan.

GMP merupakan keharusan dalam menggunakan imbuhan pakan. (Foto: Istimewa)

Dalam membuat peraturan pemakaian imbuhan pakan, maka beberapa informasi di bawah ini sangat diperlukan:

• Uraian produk
• Metode analisis produk
• Stabilitas penyimpanan maupun dalam proses pembuatan pakan
• Resistensi terhadap bakteri
• Penelitian input-output (balance studies), penyerapan dan metabolisme
• Penelitian residu dalam ternak dan produk metabolitnya
• Mekanisme kerja imbuhan pakan (misalnya menghambat sintesa protein atau pembelahan sel dan lain sebagainya)
• Pengaruhnya terhadap lingkungan
• Dosis pemberian
• Kontraindikasi

Informasi tersebut harus disediakan produsen imbuhan pakan ketika bahan tersebut didaftarkan untuk diedarkan. Bagi perusahaan yang akan memproduksi imbuhan pakan dalam negeri, maka segala informasi harus disiapkan. Informasi di atas harus ditunjang dengan data penelitian yang dibuat sesuai dengan metodologi yang bisa dipertanggungjawabkan. ***


Ditulis oleh:
Prof Budi Tangendjaja
Konsultan Nutrisi Ternak Unggas

MEMANFAATKAN SEDIAAN HERBAL & MINYAK ESENSIAL UNTUK KESEHATAN TERNAK

Kunyit, salah satu herbal “langganan” digunakan untuk ternak. (Foto: Istimewa)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu diantaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Sekitar 9.600-an spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan 1.000-an diantaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional (jamu) oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab disapa dengan sebutan jamu. Sejak zaman nenek moyang dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu). Obat herbal terkadang juga sering disebut sebagai jamu. Bahkan bisa dibilang jamu merupakan salah satu identitas bangsa ini.

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia kini menganut tren back to nature alias kembali ke alam, sehingga banyak diantaranya yang mengonsumsi obat herbal dan jamu demi menunjang kesehatan. Begitupun dengan hewan khususnya ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal Bukan Cuma Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya pun juga tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan. Seringkali didengar bahkan melihat ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenisnya, pemilik hewan kerap memberikan jamu agar lebih prima kondisi ternaknya pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan cuma jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan dosen mata kuliah farmasi veteriner FKH IPB, Rini Madyastuti. Menurut Rini, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan, yakni jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk aslinya (daun, rimpang, batang dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu naik kelas menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, dimana kemanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun begitu, pembagian tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” tutur Rini.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan minyak esensial (essential oil) yang juga dapat digunakan dalam menjaga kesehatan manusia dan hewan. Minyak esensial inilah yang juga kemudian dimanfaatkan manusia sebagai sediaan obat maupun imbuhan pakan yang dikenal hingga sekarang ini.

Herbal dan Minyak Esensial (Semakin) Berkembang
Dilarangnya penggunaan antibiotik sebagai growth promoter (AGP) beberapa tahun lalu menyebabkan para produsen dan distributor obat hewan berpikir keras untuk menemukan alternatif penggantinya. Di sisi lain, beberapa jenis sediaan herbal dan minyak esensial dapat digunakan.

Perkembangan jenis produk herbal dan minyak esensial seperti dipaparkan Kasubdit POH, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian (Kementan), Drh Ni Made Ria Isriyanthi. Hal ini ditandai dengan merebaknya produk herbal untuk ternak di pasaran. Ia menyebut, kini produsen obat hewan resmi di Indonesia mencapai 106 produsen.

Empat perusahaan telah memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik (CPOHB) untuk obat alami, sembilan perusahaan memproduksi farmasetik, delapan perusahaan memproduksi sediaan biologik, satu perusahaan memproduksi bahan baku, dan 35 perusahaan memproduksi premiks.

“Obat alami di Indonesia sangat melimpah, selain karena AGP dilarang di Indonesia, penggunaan obat herbal seperti sudah menjadi budaya,” jelas Ria.

Namun begitu, ia mengingatkan agar peternak tetap menggunakan obat hewan herbal yang resmi yang sudah tersertifikasi di Kementan. Sebab obat herbal yang tersertifikasi dan melalui serangkaian uji, serta terbukti secara ilmiah dapat memberikan khasiat. Tak lupa Ria juga mengimbau agar produsen dan distributor obat hewan untuk melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum menjual produknya di pasaran. Ia dan segenap pejabat di Kementan telah berkomitmen untuk mempermudah alur registrasi obat hewan herbal.

Sisi Bisnis Obat Herbal
Tidak bisa dipungkiri sisi bisnis juga bergairah dengan tumbuhnya pasar obat herbal untuk hewan di Tanah Air. Pengembangan produk herbal untuk hewan telah lama dijalankan oleh produsen obat hewan Indonesia. PT Medion Farma Jaya adalah satu diantara banyak produsen yang mengembangkan produknya secara progresif.

Medion mulai meluncurkan produk herbalnya sejak 2012, jauh sebelum pemerintah memutuskan palarangan penggunaan  AGP dalam pakan ternak. Pemasaran produk herbal tersebut dilatarbelakangi tren di banyak negara maju, seperti di Benua Biru dan Amerika Serikat yang sudah mulai melarang penggunaan antibiotic.

Corporate Communications & Marketing Distribution Director PT Medion Farma Jaya, Peter Yan, saat dihubungi Infovet mengakui bahwa penjualan produk herbal meningkat tajam dari 2017 hingga 2019, atau semenjak diberlakukannya pelarangan AGP pada 2018, dengan segmentasi konsumen lebih banyak digunakan pada ayam broiler.

Meskipun begitu bisnis tidak selalu berjalan mulus, Peter mengaku menemui berbagai kendala yang dihadapi Medion. Kendala mengenai ketersediaan bahan baku, standardisasi bahan baku dan registrasi.

Peter mengatakan bahwa sekitar 70% bahan baku untuk produk herbal didapatkan dari produksi dalam negeri, sisanya berasal dari impor. Hal ini disebabkan masih terbatasnya kajian ilmiah dari bahan baku yang digunakan tersebut. Selain itu, ketersediaan bahan baku dari dalam negeri belum sepenuhnya mampu mencukupi permintaan, sehingga impor terpaksa dilakukan.

Tantangan ini mengharuskan Peter dan timnya bekerja ekstra untuk mengekstrak dan menguji bahan baku secara mandiri. Faktor ini pula yang turut andil dalam memperpanjang masa pengembangan maupun produksi dari produk herbal yang dimiliki Medion.

Hal senada juga diungkapkan oleh Drh Akhmad Harris Priyadi dari ASOHI. Dirinya mengungkapkan, perlu ada kolaborasi dari tiga pilar untuk pengembangan produk herbal dan minyak esensial.

“Perguruan tinggi, swasta dan pemerintah harus berkolaborasi memajukan produk herbal, sehingga peternak bisa mendapatkan manfaat. Jadi, pengembangan produk herbal ini seperti proyek keroyokan, tapi semuanya dapat memetik manfaat,” kata Harris.

Pemerintah sebagai pemangku kebijakan menurut Harris, harus memberikan bantuan berupa dana maupun teknis kepada pihak lain yang mengembangkan sediaan herbal dan minyak esensial. Pengembangan produk herbal untuk sektor perunggasan di Indonesia memang masih memerlukan usaha dari berbagai pihak secara sistematik. Hal ini membutuhkan waktu lama, namun jika semua pihak terlibat berkeinginan kuat, maka Indonesia akan menjadi negara terdepan dalam riset maupun produksi produk herbal perunggasan untuk pasar di dalam maupun luar negeri.

Mengenai tren dari pasar imbuhan pakan, termasuk di dalamnya sediaan herbal atau fitogenik, dalam suatu webinar Drh Ahmad Wahyudin selaku Product Manager Kemin Asia Pasifik, menyebutkan total market size industri imbuhan pakan di seluruh dunia pada 2012 mencapai sekitar US$15 triliun dan diperkirakan akan tumbuh lebih besar pada 2020-2025. Ahmad mengatakan bahwa adoption rate dari feed additive fitogenic di indonesia sebesar 50%.

“Kami memperkirakan bahwa market size fitogenic feed additive di Indonesia sebesar US$17 juta. Angka yang cukup besar untuk diseriusi,” kata dia.

Berdasarkan analisis SWOT yang dipaparkan Ahmad, salah satu peluang tumbuhnya fitogenik di Indonesia yaitu kesadaran masyarakat terhadap bahaya residu antibiotik dan kesadaran akan pencemaran lingkungan.

Sementara, tantangan yang dihadapi yaitu keraguan konsumen akan efikasi sediaan fitogenik bagi ternak, harga dari sediaan fitogenik yang tidak terjangkau dan riset untuk pemanfaatan sumber daya.

“Indonesia memiliki sumber daya yang melimpah untuk dijadikan produk fitogenik, namun kelemahannya yaitu dari segi teknologi dan riset belum memadai,” tukasnya.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

CENGKRAMAN IB DI PERUNGGASAN

Gejala pada kasus IB varian saat dilakukan bedah bangkai terlihat adanya timbunan cairan di dalam oviduk. (Foto: Dok. Romindo)

Di tiga bulan terakhir sebanyak 14% kasus infectious bronchitis (IB) ditangani oleh tim lapangan PT Romindo Primavetcom dan ini merupakan kasus viral terbanyak kedua setelah kasus newcastle disease (ND).

Penyakit ini menimbulkan kerugian sangat besar bagi peternak, dimana penyakit ini menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas telur, serta pertumbuhan ayam terganggu. Penyakit IB merupakan penyakit saluran pernapasan atas dan urogenital pada ayam yang bersifat akut dan menular (KING dan CAVANAGH, 1991).

Pada anak ayam umur kurang dari enam minggu dapat menyebabkan kematian dengan tingkat mortalitas 10-30% (HOFSTAD, 1984), dan ditandai dengan gejala pernapasan seperti sesak napas, bersin-bersin, ngorok, serta menyebabkan pertumbuhan badan terhambat (DAVELAAR et al., 1986).

Pada ayam periode bertelur, penyakit IB dapat menyebabkan penurunan produksi hingga mencapai 60% dalam kurun waktu 6-7 minggu dan selalu disertai dengan penurunan mutu telur berupa bentuk telur tak teratur, kerabang telur lunak, dan albumin cair (HOFSTAD, 1984; DAVELAAR et al., 1986; MUNEER et al., 1986; CHUBB, 1988).

Etiologi dari penyakit IB disebabkan oleh virus yang termasuk ke dalam famili Coronaviridae dan hanya memiliki satu genus, yaitu Coronavirus (MURPHY dan KINGSBURY, 1990). Virus IB memiliki banyak serotipe (HOPKINS, 1974; DARBYSHIRE et al., 1979; HOFSTAD, 1984). Virus IB berbentuk pleomorphic, memiliki envelop (selaput luar) dengan diameter 90-200 nm, serta memiliki asam inti berutas tunggal asam ribonukleat (RNA) dengan berat molekul 8 x 106 Base pair (Bp) dan asam polyadenylic pada ujung 3’ (KING dan CAVANAGH, 1991).

Pada partikel virus IB ditemukan tiga macam protein struktural, yaitu protein nucleocapsid (N) yang berhubungan dekat dengan viral RNA, glikoprotein membran (M), dan glikoprotein spike (S) yang terletak pada permukaan virion dan terdapat dalam dua subunit S1 dan S2 (JACKWOOD et al., 1997; IGNJATOVIC et al., 1997). Sub unit S1 mengandung epitope yang spesifik serotipe dan bertanggung jawab dalam menetralisasi (GALLAGHER et al., 1990). Protein S1, S2 , M, dan N merupakan antigen yang dapat menimbulkan respons antibodi pada tubuh ayam yang terinfeksi (KING dan CAVANAGH).

Berdasarkan sifat kimia dan fisiknya, virus IB sangat labil dan sensitif terhadap bahan-bahan yang bersifat lipolitik (seperti ether dan chlorofrom), panas, dan berbagai bahan disinfektan (OTSUKI et al., 1979). Virus IB umumnya dapat diinaktif dengan menempatkannya pada suhu 56° C selama 15 menit dan 45° C selama 90 menit. Virus lebih lama bertahan pada pH 11 daripada pH 3 (ALEXANDER dan COLLINS, 1975).

Ayam yang terinfeksi virus dalam organ dapat terpelihara dengan baik dalam 50% gliserin NaCl physiologis. Sifat yang demikian memungkinkan pengiriman sampel ke laboratorium tanpa pendingin (HOFSTAD, 1984). Isolat virus IB dapat bertahan selama beberapa tahun bila disimpan pada suhu -30° C (HOFSTAD, 1984).

Faktor-faktor yang mendukung kejadian kasus IB di peternakan selama ini meskipun pencegahan dengan vaksinasi sudah dilakukan, namun kasus tetap muncul dikarenakan beberapa hal berikut:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 266, JAKARTA
Telp: 021-8300300

MENGENDALIKAN IB SEMAKSIMAL MUNGKIN

Vaksinasi menjadi salah satu langkah pencegahan yang ditempuh dalam mengendalikan peredaran IB. (Sumber: Poultry World Visit)

Penyakit infectious bronchitis (IB) adalah penyakit yang sudah populer di kalangan peternak ayam layer, namun tidak demikian di kalangan peternak ayam broiler. Kematian yang relatif rendah membuat peternak ayam broiler memandang sebelah mata penyakit ini. Lalu, seberapa besar penyakit ini menyebabkan kerugian pada ayam broiler?

Jangan Remehkan IB di Peternakan Broiler
IB akan menyebabkan ayam mengalami gangguan pernapasan, reproduksi, bahkan gangguan pada ginjal. Hal tersebut akan menghambat pertumbuhan ayam broiler, sehingga pertumbuhan tidak optimal seperti yang diharapkan. ADG yang rendah dan FCR yang tinggi adalah bukti nyata kerugian dari IB. Bahkan, pada ayam yang terserang IB dan kombinasi dengan penyakit lainnya seperti kolibasilosis akan dapat menyebabkan peningkatan kematian. Hal tersebut disampaikan oleh Veterinary Service Coordinator PT Ceva Animal Health Indonesia, Drh Ignatia Tiksa Nurindra.

Meskipun sangat dikenal dan banyak terjadi kasusnya pada layer, pada dasarnya virus IB dapat menginfeksi ayam broiler juga. Hanya saja menurut Tiska, sebelumnya kesadaran peternak terhadap penyakit IB di broiler masih cukup rendah sehingga belum banyak yang mendiagnosis penyakit IB.

“Semakin lama juga semakin banyak kandang yang berdekatan, antara kandang layer dan broiler. Hal tersebut juga berkontribusi dalam mempermudah penularan berbagai penyakit pada ayam layer dan broiler, tidak hanya IB, tetapi penyakit lain juga,” tuturnya.

Ia melanjutkan, sebenarnya sudah cukup lama Ceva dapat mendiagnosis penyakit IB pada ayam broiler. Apabila membuka data laporan penyakit yang dikumpulkan oleh tim Ceva dari 2018 sampai saat ini, tren penyakit IB pada broiler cenderung naik setiap tahunnya. Dari gambaran serologis IB 2020-2023 juga menunjukkan selalu ada tantangan IB di setiap tahunnya.

Misalnya ketika mereka melakukan survei penyakit IB pada peternakan broiler di Indonesia dilakukan pada periode Agustus-Desember 2020 untuk mengetahui adanya virus penyebab IB di beberapa daerah di Indonesia, yaitu di Sumatra, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sampel diambil dari ayam broiler pada usia panen (lebih dari 28 hari) yang divaksin dengan vaksin IB live massachusetts pada saat DOC dengan aplikasi spray.

Data serologi dikumpulkan dari 110 flock ayam yang berasal dari area... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

AWAS, SERANGAN INFECTIOUS BRONCHITIS BISA BIKIN MERINGIS

Gejala klinis umum IB, tidak spesifik. (Sumber: Ceva, 2021)

Pada 2019 lalu seluruh dunia dihebohkan dengan wabah COVID-19. Ternyata virus corona bukan barang baru di sektor perunggasan, virus tersebut juga menyebabkan damage yang sama besar bagi ternak unggas.

Dokter hewan yang berkecimpung di bidang perunggasan tentu tidak asing dengan penyakit infectious bronchitis (IB). Penyakit IB alias chicken bronchitis, atau gasping disease adalah penyakit yang sangat menular yang bersifat akut dan disebabkan oleh Avian Gammacoronavirus yang tidak hanya menyerang saluran pernapasan tapi juga saluran urogenital.

Lebih Dekat Dengan Virus IB
Dalam sejarahnya virus ini pertama kali dilaporkan pada 1977. Hingga kini ada beberapa serotipe yang telah berhasil diidentifikasi di lapangan di antaranya massachusetts/klasik, connecticut, dan sejumlah varian lainnya seperti 793B, QX, D274, dan arkansas. Selain itu, virus ini juga dikenal sangat gampang bermutasi sehingga banyak menghasilkan genotipe dan serotipe yang sangat beragam.

Head of Strategic Business Unit Animal Health and Live Equipment JAPFA, Dr Teguh Prajitno, mengatakan hingga kini telah diketahui sebanyak tujuh genotipe dan sekitar 100 serotipe dari virus IB. Perubahan genetik virus IB ini, lanjut dia, dapat terjadi melalui tiga faktor penyebab, yakni mutasi titik, insersi, delesi, maupun rekombinasi.

“Ketiga penyebab itu menjadikan terjadinya genetic drift, sedangkan rekombinasi menyebabkan terjadinya genetic shift,” tutur Teguh.

Ia menambahkan, virus IB dapat menyebar secara horizontal melalui udara dan droplet yang dikeluarkan melalui batuk dan bersin, selain itu virus juga dapat dieksresi melalui feses. Masa inkubasinya juga tergolong singkat hanya 18-36 jam. Sehari setelah infeksi, keberadaan virus dapat dideteksi pada trakea, ginjal, dan oviduk. Bahkan ia menyebut sampai hari ke-13, virus akan ditemukan di paru-paru, trakea, ovarium, dan oviduk.

Selain itu, penularan virus dari satu peternakan ke peternakan lain dapat terjadi karena kontaminasi silang dari mobilitas kendaraan dan manusia, juga air minum, pakan, litter, dan peralatan yang terkontaminasi dapat menjadi sumber penularan.

Meskipun begitu, kata Teguh, penularan secara vertikal belum terbukti, akan tetapi kerabang telur yang terkontaminasi virus dapat menjadi sumber penularan di hatchery. Utamanya virus IB langganan menyerang ayam broiler, layer, maupun breeder, selain itu spesies unggas lainnya seperti burung puyuh juga dapat terinfeksi IB.

Dalam suatu seminar yang diadakan di Jakarta beberapa waktu lalu, Poultry Health & Research Consultant dari Departemen Mikrobiologi FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, memaparkan lebih dalam mengenai sifat virus IB.

Ia memaparkan bahwa tingkat kesakitan (morbiditas) akibat IB mencapai 100%. Yang artinya dalam sebuah flock atau satu peternakan dapat terinfeksi seluruhnya. Ia juga menjelaskan tropisme dari si virus yang sangat menyukai saluran pernapasan bagian atas dan saluran urogenital. Impaknya selain gangguan pernapasan adalah penurunan produksi telur yang dapat mencapai 70% bahkan terkadang lebih.

Secara umum kata Michael, terdapat tiga tipe serangan yang dimiliki IB, yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PAKAN FERMENTASI UNTUK UNGGAS

Limbah pertanian bisa dimanfaatkan sebagai bahan pakan unggas. (Foto: Istimewa)
 
Pakan merupakan bagian terbesar dalam usaha peternakan, dimana biaya tersebut bisa mencapai 60-70%. Biaya pakan yang mahal terutama pakan pabrikan akan menjadi kendala dalam usaha peternakan rakyat. Sementara itu bahan pakan yang berlimpah seperti limbah pertanian belum dapat dimanfaatkan secara optimal di lingkungan peternakan unggas, disebabkan serat kasarnya yang tinggi sehingga menjadi kendala pada proses metabolisme unggas.

Proses pencernaan fermentatif dalam saluran pencernaan unggas hanya terjadi pada organ tembolok, sekum, rektum, dan kolon dalam kondisi terbatas. Pada peternakan unggas komersial pemberian pakannya mengandalkan pakan jadi atau pakan konsentrat pabrikan. Namun dalam proses metabolisme pengurai dalam pencernaan unggas, kedua jenis pakan pabrikan itu tidak terurai seluruhnya karena tidak lengkap hadirnya mikrooganisme pengurai sehingga kandungan protein dalam kotoran masih tinggi kemudian beroksidasi yang menimbulkan bau tak sedap.

Kadar protein, daya cerna, dan asam amino yang rendah, serta serat kasar yang tinggi pada limbah pertanian dan agroindutsri biasanya menjadi faktor pembatas dalam penggunaannya sebagai pakan unggas. Maka untuk menurunkan serat kasar dan meningkatkan nilai nutrisinya diperlukan suatu proses yang dapat mencakup proses kimiawi, biologis melalui teknologi fermentasi (Hutagalung 1978, Yeong 1982, Zamora et al., 1989 dikutip Norbertus Kaleka 1991).
 
Mikroorganisme yang Terlibat dalam Proses Fermentasi 
Fermentasi adalah proses pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerobik (tanpa oksigen) (Fardiaz, 1992 dikutip Norbertus Kaleha). Sedangkan menurut Satiawihardja (1992) adalah proses dimana komponen-komponen kimiawi yang dihasilkan akibat adanya pertumbuhan/metabolisme mikroba (secara aerob dan anaerob).

Beberapa jenis mikroorganisme yang mampu meningkatkan kadar protein dan beberapa substrat limbah pertanian, seperti pada tabel berikut:

Jenis Mikroorganisme yang Dapat Meningkatkan Kadar Protein dan Subtrat Limbah Pertanian

Mikroorganisme

Subtrat

Kadar protein Sebelum Fermentasi (%)

Kadar Protein Sesudah Fermentasi (%)

Sumber

Aspergillus niger

Lumpur sawit

11,00-12,00

23,00

Pasaribu et al., 1998

Aspergillus niger

Bungkil kelapa

21,69

37,40

Sinurat et al., 1996

Aspergillus niger NKRL 337

Bungkil inti sawit

14,19

25,06

Bintang et al., 1999

Aspergillus niger

Ampas sagu

2,30

16,30

Ulfah & Bamualim, 2002

Aspergillus niger

Singkong

2,00

23,37

Komplong et al., 1994

Aspergillus niger

Onggok

1,85

14,74

Supriyati, 2003

Rhizopus oligosporus

Biji karet

19,20

30,15

Wizna et al., 2000

Sumber: Norbertus Kaleka, 2020.


Fermentasi onggok dan kulit ari kedelai. Onggok (hasil sampingan pembuatan tapioka ubi kayu) dan kulit ari kedelai (hasil pengupasan biji kedelai) merupakan limbah agroindustri yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan unggas. Campurkan bahan onggok (1,5 kg/15%) dan kulit ari kedelai (1,5 kg/15%) kemudian aduk merata. Masukkan dalam wadah plastik/ember besar lalu tambahkan 8 liter air hangat, setelah agak dingin tambahkan ragi (Aspergillus niger) 100 gr kemudian aduk kembali. Tutup rapat wadah plastik/ember dan biarkan selama tiga hari.


• Fermentasi dedak padi. Proses pengolahan gabah menjadi beras akan menyisakan 10% dedak padi, 3% tepung beras, 20% sekam, dan 50% beras (endosperma). Tetapi prosentase tersebut bervariasi tergantung varietas/umur padi, derajat penggilingan, dan penyosokannya (Grist, 1972). Cara membuatnya campurkan dedak padi 5 kg (atau lebih) dengan 2,5 liter air kemudian aduk sehingga seperti adonan, lalu campurkan EM4 dan molases (tetes tebu) ke dalam adonan dan aduk. Masukkan adonan dedak padi tersebut ke kantong plastik dan tutup rapat/ikat, kemudian biarkan selama 2-3 hari pada suhu ruangan dan jangan terkena sinar matahari. Adapun berikutnya cara membuat 2:2 kg dedak padi dibasahi air dengan perbandingan 3:1, lalu aduk sampai jadi adonan. Kemudian kukus adonan selama 15-30 menit, lalu dinginkan. Tambahkan ragi halus (Aspergillus niger) dan aduk merata. Masukkan adonan ke kantong plastik, tutup rapat lalu biarkan selama 1-2 hari dan sudah bisa diberikan sebagai pakan unggas.

• Fermentasi bekatul. Bekatul kandungan protein, kalsium (Ca), dan fosfor (P) hampir sama dengan dedak padi, tetapi serat kasarnya lebih rendah yaitu 4%, sehingga dapat digunakan lebih banyak dari pada dedak padi untuk unggas. Cara membuatnya campurkan 10 kg bekatul dengan 2 liter air sampai adonan saat diperas tidak meneteskan air dan saat dilepas tidak pecah, kemudian kukus selama 15-30 menit. Setelah dingin bubuhi dengan ragi (Rhizophus eligosporus) masukkan ke dalam kantong plastik/ember plastik, tutup rapat. Biarkan selama 5-7 hari. Perlu diperhatikan tidak boleh ada bau tengik dan perubahan warna menjadi cokelat.

• Fermentasi ampas tahu. Dapat dijadikan bahan pakan unggas sumber protein karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar 21-29% (Mathias & Sinurat, 2001) dan kandungan lemak 4,93% (Nuraini, 2009), serat kasar 22,65% (Duldjaman, 2004). Walau ampas tahu dapat digunakan langsung untuk pakan unggas, namun diperlukan fermentasi terlebih dahulu karena asam amino yang rendah dan serat kasar yang tinggi menjadi faktor pembatas. Cara membuat yakni sebanyak 25 kg ampas tahu diperas sampai tidak berair, lalu dikukus selama 30 menit, dinginkan dengan menyebar di atas lantai. Taburkan 5-7 butir ragi (Aspergillus niger) atau 2-3 lembar ragi (Rhizopus oligosporus), dan mineral, lalu aduk merata. Masukkan dalam drum/ember/plastik besar lalu tutup rapat. Biarkan selama 2-3 hari, bila tercium aroma harum berarti proses fermentasi selesai. Ampas tahu fermentasi sudah bisa diberikan langsung pada unggas atau disimpan selama dua bulan (dengan dikeringkan dahulu di bawah sinar matahari). Ampas tahu fermentasi bernilai gizi tinggi dengan bahan kering 28,36%, lemak 5,52%, serat kasar 17,06%, dan BETN 45,44% (Nuraini et al., 2007), disamping karbohidrat, gula, dan pati. ***

Level Pemberian Limbah Pertanian dan Limbah Agroindustri Fermentasi untuk Berbagai Unggas

Bahan Pakan Terfermentasi

Diberikan untuk

Level Pemberian

Efek Terhadap Unggas

Sumber

Onggok

Ayam kampung hitam

10%

Bobot hidup 96,7 gr/12 mgg konsumsi pakan 3076 gr, FCR 3,346, IOFC Rp 5.082

Supriyati et al., 2003

Dedak padi

Itik alabio

5,10, dan 15%

Tidak berbeda nyata terhadap produksi, telur, konversi pakan

Rohaeni et al., 2004

Bekatul

Ayam Arab grower

10, 20, 30, dan 40%

Nyata menurunkan lemak dan kolesterol daging, serta meningkatkan protein daging

Sujono, 2001

Ampas tahu

Itik lokal jantan

10, 20, dan 30%

Tidak nyata terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan FCR

Setyowati, 2005

Sumber: Norbertus Kaleka, 2020.


Ditulis oleh:
Sjamsirul Alam
Praktisi peternakan, koresponden Infovet daerah Bandung

ARTIKEL TERPOPULER

ARTIKEL TERBARU

BENARKAH AYAM BROILER DISUNTIK HORMON?


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer