-->

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KETIKA RUMPUT HIJAU MENYIMPAN ANCAMAN PENYAKIT

Ternak sapi rentan memindahkan antraks ke seluruh provinsi khususnya pada momen kurban. (Foto: Unsplash)

Idul Adha memang sudah lewat, namun setiap menjelang momen tersebut, perhatian terhadap antraks biasanya meningkat. Hal ini bukan tanpa alasan, perayaan Idul Adha melibatkan pergerakan jutaan ekor hewan kurban dari berbagai daerah menuju lokasi penjualan dan pemotongan. Mobilitas ternak yang tinggi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit hewan menular.

Penyakit Kuno, Ancaman Bagi Dunia Modern
Indonesia mungkin adalah negeri yang memiliki ingatan pendek terhadap banyak hal. Bahkan untuk penyakit hewan yang sudah dikenal lebih dari satu abad pun, pola yang sama masih berulang. Antraks adalah salah satu contohnya.

Penyakit ini bukan penyakit baru, bukan pula penyakit misterius yang baru ditemukan para ilmuwan minggu lalu. Bahkan, antraks merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang pernah dipelajari manusia.

Penyebabnya pun sudah diketahui dengan sangat jelas, yaitu bakteri Bacillus anthracis. Cara penularannya dipahami. Metode pencegahannya tersedia. Vaksinnya ada. Prosedur pengendaliannya juga telah ditulis berulang kali dalam buku, jurnal, pedoman kesehatan hewan, hingga peraturan pemerintah.

Celakanya antraks bersifat zoonosis, karena sifatnya tersebut, antraks tidak hanya menjadi persoalan kesehatan hewan, tetapi juga kesehatan masyarakat, keamanan pangan, hingga stabilitas ekonomi peternakan.

Antraks memiliki sejarah panjang di Indonesia. Meskipun berbagai program pengendalian telah dilakukan selama puluhan tahun, penyakit ini belum berhasil dieliminasi sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan luar biasa bakteri penyebab antraks untuk membentuk spora yang mampu bertahan puluhan tahun di lingkungan. Spora tersebut dapat “tertidur” di dalam tanah dalam waktu sangat lama, lalu kembali aktif ketika kondisi lingkungan mendukung. Karena itulah antraks sering disebut sebagai penyakit yang sulit diberantas dan hanya dapat dikendalikan.

Meskipun Indonesia merupakan negara endemis antraks, masih terdapat delapan provinsi di Indonesia yang dinyatakan bebas dari antraks, yakni Aceh, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sabar Menanti Puluhan Tahun
Jika bakteri lain dapat diibaratkan seperti pencuri yang harus terus bergerak untuk bertahan hidup, maka Bacillus anthracis lebih mirip seperti penagih utang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu, bahkan dalam waktu yang sangat lama.

Analogi tersebut dikemukakan oleh Drh Nusdianto Triakoso, salah satu dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Menurutnya, keunggulan terbesar bakteri antraks adalah kemampuannya membentuk spora. Dalam bentuk ini, bakteri seakan berubah menjadi kapsul kehidupan yang nyaris tidak bisa dihancurkan oleh alam.

“Spora antraks mampu bertahan di dalam tanah selama puluhan tahun. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa spora dapat tetap infektif setelah beberapa dekade berada di lingkungan. Bayangkan saja, seekor sapi mati akibat infeksi bakteri antraks pada masa ketika presiden masih berganti melalui sidang MPR, lalu puluhan tahun kemudian seekor sapi lain merumput di lokasi yang sama dan kembali terinfeksi,” tuturnya.

Begitulah cara penyakit ini bekerja, ia tidak terburu-buru, tidak membutuhkan strategi rumit, hanya menunggu kesempatan. Karena itulah daerah yang pernah mengalami wabah antraks sering kali tetap berstatus daerah endemis selama berpuluh tahun. Tanah yang terlihat subur dan hijau bisa saja menyimpan jutaan spora yang tidak terlihat mata. Rumputnya tampak segar, sapinya tampak sehat. Tetapi di bawah permukaan tanah terdapat “warisan biologis” yang belum selesai.

Pagi Masih Makan, Sore Jadi Bangkai
Salah satu alasan antraks begitu ditakuti adalah karena sifatnya yang brutal. Banyak penyakit hewan memberi peringatan terlebih dahulu. Hewan kehilangan nafsu makan, batuk, diare, atau mengalami penurunan bobot badan secara perlahan.

Antraks sering kali tidak seramah itu. Pada kasus akut, peternak bisa melihat sapinya masih makan dengan lahap pada pagi hari. Beberapa jam kemudian hewan tersebut terbaring mati. Tidak ada drama panjang, tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk mencari pengobatan alternatif dari grup WhatsApp peternak.

Kematian bisa terjadi begitu cepat, kadang-kadang muncul gejala seperti demam tinggi, sesak napas, gelisah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh. Namun sering kali gejala tersebut berlangsung sangat singkat bahkan telat disadari peternak.

Setelah hewan mati, tanda yang paling mencolok adalah keluarnya darah gelap dari lubang hidung, mulut, anus, atau alat kelamin. Darah tersebut biasanya tidak mudah membeku. Bangkai hewan yang terinfeksi juga membusuk lebih cepat dibandingkan kematian akibat penyebab lain. Bagi dokter hewan, tanda-tanda ini sudah cukup untuk menyalakan alarm bahaya.

“Daripada Mubazir”
Di lapangan, cerita tentang antraks berubah dari masalah kesehatan hewan menjadi ironi sosial. Dalam banyak kasus, tantangan terbesar bukanlah bakterinya, tetapi justru manusianya.

Ketika seekor sapi sekarat atau mati mendadak di kandang, reaksi ideal adalah melaporkan kejadian tersebut kepada petugas kesehatan hewan. Namun realitas di lapangan sering kali berbeda. Karena harga sapi mahal, kerugian ekonomi terbayang dan terasa berat. Rasa sayang jika daging dibuang atau sekedar kalimat “daripada mubazir”.

Hal itu mungkin menjadi salah satu kalimat paling berbahaya dalam sejarah penyakit zoonosis. Tidak sedikit kasus antraks di Indonesia berawal dari keputusan sederhana, menyembelih ternak yang sakit atau sudah mati lalu membagikan dagingnya kepada warga sekitar.

Logikanya terlihat masuk akal bagi sebagian orang. Kadang mereka mengatakan, “Dagingnya masih bagus,” Dimasak juga mati kumannya,” “Keluarga saya makan tidak apa-apa.” Padahal antraks tidak peduli pada logika tersebut. Bakteri tidak bisa diyakinkan dengan alasan ekonomi, dan spora tidak akan menghilang hanya karena seseorang merasa sayang membuang daging.

Hasilnya adalah pola yang berulang. Hewan terinfeksi disembelih, daging dibagikan, warga terpapar, petugas datang, masyarakat panik, berita muncul, lalu semua orang bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Kasus antraks di Gunungkidul beberapa tahun lalu menjadi contoh yang sangat jelas. Wabah tersebut tidak hanya menyebabkan kematian ternak, tetapi juga berdampak pada manusia. Sejumlah warga terpapar setelah kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi produk ternak yang berasal dari hewan sakit.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat keras bahwa antraks bukan sekadar urusan peternak. Ini adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari pedagang ternak, pengangkut hewan, jagal, panitia kurban, hingga konsumen. Karena satu keputusan yang salah dapat menghasilkan konsekuensi kesehatan bagi masyarakat luas.

Seharusnya Tak Terulang
Antraks sebenarnya mengajarkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penyakit ternak. Ia menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Seekor sapi yang terinfeksi bukan hanya masalah peternak, ia dapat menjadi masalah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Antraks bukan hanya masalah kesehatan hewan saja, tetapi juga kesehatan masyarakat, dan juga lingkungan.

Di era ketika dunia berbicara tentang teknologi peternakan presisi, kecerdasan buatan, dan genomik, antraks justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering kali bukan kurangnya teknologi. Tantangan terbesar adalah memastikan pengetahuan yang sudah ada benar-benar diterapkan.

Karena antraks merupakan penyakit yang dapat bertahan lama dan manusia kerap percaya bahwa masalah lama sudah selesai. Padahal di banyak padang rumput Indonesia, bisa saja jutaan spora antraks masih bersembunyi di dalam tanah, menunggu musim hujan berikutnya, menunggu ternak berikutnya, dan menunggu kelalaian berikutnya. ***

Dirangkum oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

PROBLEMATIKA PORCINE RESPIRATORY DISEASE COMPLEX PADA BABI

PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus terkadang ringan dan bersifat sementara. (Foto: Dok. Joko)

Penyakit pernapasan kompleks pada babi (Porcine respiratory disease complex/PRDC) adalah satu penyebab utama kerugian ekonomi pada industri peternakan babi secara global. PRDC merupakan penyakit multifaktor yang disebabkan interaksi patogen viral dan bakterial, yang dipengaruhi stresor dari lingkungan, manajemen, dan faktor spesifik pada babinya.

Pada PRDC, beberapa agen viral dan bakterial dapat dideteksi dengan bermacam kombinsai yang dikenal sebagai infeksi polimikrobial. Agen-agen tersebut berperan sebagai patogen primer dan sekunder. Patogenenesis PRDC pada peternakan babi secara umum disebabkan oleh infeksi primer virus yang memicu infeksi sekunder bakteria. Penyakit pernapasan pada babi secara umum mencakup rhinitis, pneumonia, dan pleuritis, yang terkait satu sama lain ataupun tidak terkait.

Beberapa patogen viral yang terlibat dalam PRDC meliputi Porcine reproductive and respiratory syndrome virus (PRRSV), Porcine circovirus type 2 (PCV2), Swine influenza virus (SIV), Pseudorabies virus (PRV), dan Porcine respiratory coronavirus (PRCV) yang merupakan penyakit endemik pada peternakan babi.

Patogen viral tersebut menimbulkan dampak signifikan yang berbeda antar peternakan, dari sisi produktivitas, regional, antar negara, dan menimbulkan kesulitan dalam pengendalian serta penanganan. Walaupun PRDC menyebabkan penyakit parah pada peternakan babi, namun beberapa kasus tersebut terkadang ringan dan bersifat sementara.

Walaupun beberapa patogen bakterial potensial yang berkoloni di rongga hidung atau tonsil babi, mekanisme pertahanan tubuh normal pada saluran dan organ pernapasan mencegah terjadinya kerusakan dan penyebaran pada paru. Patogen primer dari viral memiliki kemampuan merusak epitel organ pernapasan atas, menyebabkan infeksi pada parenkim paru, dan memicu terjadinya infeksi sekunder bakteri, serta memperparah perkembangan PRDC.

Beberapa agen bakterial tersebut adalah Mycoplasma hyopneumoniae dan Pasteurella multocida, Streptococcus suis dan Actinobacillus pleuropneumoniae dapat berperan sebagai agen infeksi primer ataupun sekunder tergantung pada beberapa situasi. Jika infeksi primer melanjut sebagai infeksi kompleks dengan infeksi sekunder bakteri menyebabkan penyakit yang lebih parah dan penyakit pernapasan kronis serta menimbulkan kerugian ekonomi peternakan.

PRDC menyebabkan morbiditas 40% dan mortalitas lebih dari 50% pada piglet dan babi lepas sapih, serta 60% pada fase grower/finisher. Angka kejadian tertinggi terjadi pada peternakan skala kecil-menengah, tingkat kepadatan populasi, manajemen pemeliharaan, pembesaran, penularan penyakit, serta persistensi agen penyebabnya.

PRDC juga menyebabkan kerugian ekonomi peternakan hingga... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)

LEBIH JAUH TENTANG STRES OKSIDATIF

Keterangan: PSE MEAT (Pale, Soft, Exudative). DFD MEAT: (Dark, Firm and Dry).

Peternakan unggas merupakan sektor penting dalam industri ternak dengan laju pertumbuhan tercepat, yang secara signifikan meningkatkan gizi dan keamanan pangan, dengan produknya yaitu telur dan daging, yang dikonsumsi di seluruh dunia (Surai, 2016). Salah satu faktor utama yang berdampak negatif terhadap produksi ternak adalah stres oksidatif, yang diperburuk oleh perubahan iklim (Vandana dan Sejian, 2018; Oke et al., 2022, 2024).

Chen et al. (2021), menunjukkan bahwa jika pemanasan global semakin memburuk, dampak merugikan dari stres oksidatif akan menjadi lebih nyata. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1, berbagai studi telah menemukan hubungan antara kerusakan oksidan dan penurunan kinerja pertumbuhan pada unggas di bawah stres panas (Kikusato et al., 2021; Oni et al., 2023; Oni et al., 2024).

Tabel 1. Kinerja Pertumbuhan akibat Stres Oksidatif pada Unggas

Referensi/Sumber

Pengaruh Stres Oksidatif pada Kinerja

Surai et al. (2019)

Tingkat pertumbuhan rendah

Mashkoor et al. (2023)

 FCR lebih tinggi

Agrawal et al. (2023)

Pemborosan otot dan penurunan sintesis protein

Zhang et al. (2018)

 Berat badan berkurang


Daging ayam telah menjadi salah satu sumber protein hewani yang paling terkenal karena kandungan nutrisinya yang tinggi dan relatif terjangkau (Petracci et al., 2015; Oke et al., 2021a; Kpomasse et al., 2023a; Akosile et al., 2023a). Untuk memenuhi permintaan daging yang semakin meningkat, ayam broiler yang tumbuh cepat diperlukan dalam produksi unggas. Oleh karena itu, untuk menjembatani kesenjangan dalam permintaan daging, gen unggas selalu berkembang. Seleksi ayam broiler untuk pertumbuhan cepat membuat mereka lebih rentan terhadap kenaikan suhu dibandingkan spesies unggas lainnya, terutama di daerah tropis (Oke et al., 2016).

Kekurangan kelenjar keringat, bulu yang menghangatkan, dan rasio massa terhadap luas permukaan tubuh yang jauh lebih tinggi juga membuat mereka terpapar berbagai stres lingkungan (Bernabucci, 2019). Suhu tubuh ayam dewasa biasanya berkisar 40,6-41,7 °C (Ranjan et al., 2019). Suhu tubuh internal ayam meningkat ketika suhu luar naik di atas 24 °C, yang menyebabkan beberapa perubahan signifikan pada fisiologi dan metabolisme ayam (Cassuce et al., 2013). Ayam dewasa merasa nyaman ketika ditempatkan di lingkungan dengan suhu sekitar 18-24 °C, sedangkan anak ayam membutuhkan suhu yang lebih tinggi selama minggu pertama kehidupannya sekitar 32 °C, yang secara bertahap menurun seiring pertumbuhan mereka (Scanes, 2015).

Faktor manajemen, mikrobiologi, nutrisi, dan lingkungan berkontribusi terhadap stres dalam produksi unggas komersial, yang berdampak buruk pada produktivitas dan kesehatan keseluruhan ayam (Estévez, 2015; Alo et al., 2024). Spesies unggas menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif karena kondisi lingkungan yang keras akibat perubahan iklim (Gonzalez-Rivas et al., 2020).

Sistem termoregulasi ayam menjadi lebih rentan terhadap kondisi lingkungan yang keras, yang dapat menjadi penghambat bagi produksinya (Zaboli et al., 2019). Kondisi stres membuat spesies unggas lebih rentan menghasilkan radikal bebas sementara aktivitas enzim antioksidan dan kemampuan untuk menangkal radikal bebas menurun (Miao et al., 2020). Hal ini dapat meningkatkan biaya produksi dan menurunkan kualitas daging mereka.

Tingkat stres memengaruhi tingkat produksi ayam serta efektivitasnya. Selain itu, kondisi stres terutama dikaitkan dengan penurunan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

LINDUNGI AYAM DARI SERANGAN ND

Lesi kasar pada unggas yang terinfeksi ND: a) Perdarahan petechiae pada kelenjar proventrikulus. b) Trakea menunjukkan perdarahan yang menyebar. c) Area nekro-perdarahan fokal pada permukaan mukosa usus halus dan tonsil sekum. d) Splenomegali (A) dan limpa normal (B). (Sumber: Poultry Farming - The Latest Scientific Findings and Practical Applications [Working Title] By: Emeritus Prof. László Babinszky)

Penyakit Newcastle disease (ND) adalah infeksi virus yang sangat menular yang memengaruhi ayam dan unggas liar, disebabkan oleh virus ND yakni paramyxovirus tipe 1.

Keganasannya pun bervariasi tergantung strain dan dikategorikan menjadi tiga patotipe, yaitu lentogenik (rendah atau avirulen), mesogenik (sedang), dan velogenik (keganasan tinggi). Strain velogenik menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi, yang mengakibatkan kerugian produksi yang signifikan dan dampak ekonomi substansial karena biaya langkah-langkah pengendalian.

Virus ND menunjukkan diversitas genetik yang tinggi, menekankan perlunya pengawasan terus-menerus, diagnostik canggih, dan strategi pencegahan yang ditingkatkan. Dengan berkembangnya industri unggas global dan meningkatnya perdagangan internasional, pengendalian ND yang efektif, terutama melalui vaksinasi, tetap penting. Namun, tinjauan komprehensif yang menggabungkan temuan terbaru masih kurang.

Kasus pertama kali ND dilaporkan di Jawa, Indonesia pada 1926, kemudian di Newcastle-on-Tyne, Inggris pada 1927. Virus ini juga muncul di India, di mana dikenal secara umum sebagai penyakit Ranikhet. Virus ini endemik di banyak negara berkembang, termasuk India, dan tetap menjadi kendala utama dalam produksi unggas karena sering terjadi wabah baik pada ayam yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.

Virus ND diklasifikasikan secara taksonomis sebagai Avian orthoavulavirus 1 (AOAV-1), sebelumnya disebut Avian avulavirus 1 (AAvV-1) atau Avian paramyxovirus 1 (APMV-1). Virus ini termasuk dalam genus Orthoavulavirus, subfamili Avulavirinae, famili Paramyxoviridae, dan ordo Mononegavirales.

Virus ini memiliki genom RNA untai tunggal bermuatan negatif sekitar 15,2 kb, yang mengkode enam protein struktural dengan urutan 3ʹ-NP–P–M–F–HN–L-5ʹ: protein nukleokapsid (NP), fosfoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F), hemagglutinin-neuraminidase (HN), dan protein polimerase besar (L).

Penyebab Penyakit
Apa yang menyebabkan penyakit ND? Sebab virus ini sangat menular dan memiliki dampak signifikan pada unggas. Strain velogenik bertanggung jawab atas bentuk penyakit yang paling parah dan menyebabkan kematian tinggi.

Strain velogenik neurotropik menyebabkan gejala neurologis parah (misalnya tremor, ataksia, putaran kepala, kelumpuhan) dengan sedikit atau tanpa keterlibatan gastrointestinal. Lesi sering tidak ada. Kemudian strain velogenik viscerotropik sangat mematikan, menyebabkan kematian hingga 100%. Tanda-tandanya meliputi diare, dispnea, tremor, dan lesi hemoragik parah di saluran pencernaan, terutama pada proventrikulus dan tonsil sekum.

Virus-virus ini dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan yang hangat dan lembap, pada bulu, kotoran, dan bahan lainnya, serta dapat bertahan tanpa batas waktu pada bahan yang dibekukan. Virus ND cepat dihancurkan oleh dehidrasi dan sinar ultraviolet.
Bagaimana penyakit ND menyebar? Virus menyebar dengan cepat dan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, atau melalui pakan dan air, peralatan, pakaian, atau sepatu yang terkontaminasi, bahkan penularan melalui udara dalam jarak pendek juga memungkinkan.

Selain itu, virus juga dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan, bahkan dalam cuaca dingin. Gejala yang ditimbulkan dari strain velogenik di antaranya gangguan pernapasan (terengah-engah, batuk), tanda-tanda saraf (gemetar, kelumpuhan), pembengkakan kepala dan leher, diare berwarna hijau dan berair, mortalitas tinggi, berhentinya produksi telur, hingga depresi, sayap menjuntai dan berjalan melingkar.

Diagnosis Klinis dan Patologis
ND dapat menyerupai penyakit pernapasan unggas lain seperti Avian influenza (AI), Infectious bronchitis (IB), laringotrakeitis, dan cacar ayam. Strain ND APMV 3 dan 7 juga dapat berkerja silang secara serologis, sehingga diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk pengendalian penyakit.

Lesi kasatmata pada unggas yang terkena ND dapat meliputi kongesti pada organ viseral, seperti otak, ginjal, dan trakea, serta perdarahan petechiae pada mukosa proventrikulus, ulkus hemoragik pada dinding usus, dan splenomegali, tergantung pada strain virus ND yang terlihat.

Diagnosis Banding
Bentuk akut ND harus dibedakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

BERKUTAT DENGAN NEWCASTLE DISEASE SELAMA SEABAD

Prediksi penyakit ND masih tertinggi. (Sumber: GPS Ceva, 2026)

Seratus tahun adalah waktu yang panjang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rentang itu, manusia berhasil memecahkan struktur DNA, mendarat di bulan, hingga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Namun di balik semua kemajuan tersebut, ada ironi yang diam-diam bertahan, sebuah penyakit unggas bernama Newcastle disease (ND) masih terus menjadi ancaman nyata bagi industri perunggasan Indonesia, Asia, dan dunia.

Sejak pertama kali dilaporkan pada 1926 di Newcastle upon Tyne dan hampir bersamaan di Indonesia, ND tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak lagi hadir sebagai wabah misterius yang membunuh tanpa penjelasan, tetapi juga belum sepenuhnya terkendali sebagai penyakit yang bisa dieliminasi. Ia berada di antara dua dunia, dipahami secara ilmiah, namun tetap sulit dikendalikan secara praktis.

Pertanyaan yang muncul setelah satu abad bukan lagi sekadar “apa itu ND?” atau “bagaimana cara mencegahnya?”. Pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar adalah mengapa dengan segala kemajuan yang ada, masyarakat peternak masih hidup berdampingan dengan penyakit ini?

Dari Misteri Menjadi Ilmu Pengetahuan
Pada awal kemunculannya di Newcastle dan Hindia-Belanda, ND bak teror yang tidak memiliki nama jelas. Peternak saat itu hanya melihat ayam-ayam mereka mati mendadak, menunjukkan gejala saraf, gangguan pernapasan, dan penurunan produksi telur yang drastis. Tidak ada vaksin, tidak ada diagnostik, tidak ada pemahaman.

Dalam konteks itu, ND adalah simbol keterbatasan manusia dalam memahami penyakit infeksius. Namun perlahan, ilmu pengetahuan mulai membuka tabirnya. Virus penyebab ND diidentifikasi sebagai Avian paramyxovirus. Penularannya dipahami, pola epidemiologinya dipetakan. Dunia veteriner mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan apa yang sebelumnya hanya dianggap “kutukan”.

Perjalanan ini mencerminkan sesuatu yang fundamental dalam sejarah ilmu pengetahuan, ketakutan sering kali berasal dari ketidaktahuan, dan pemahaman adalah langkah pertama menuju kontrol.

Revolusi Vaksin: Titik Balik yang Menjanjikan
Pertengahan abad ke-20 menjadi titik balik besar bagi dunia veteriner khususnya perunggasan. Munculnya vaksin ND pertama, mulai dari strain lentogenik seperti LaSota dan B1, mengubah lanskap perunggasan global.

Untuk pertama kalinya, manusia memiliki alat untuk melawan ND secara aktif. Mortalitas yang sebelumnya bisa mencapai 100% mulai ditekan. Peternakan ayam modern mulai berkembang. Produksi protein hewani meningkat pesat. Industri perunggasan menjadi salah satu sektor pangan paling efisien di dunia.

Dalam banyak hal, vaksin ND dinilai menjadi simbol kemenangan sains terapan atas kehendak alam. Namun seperti banyak kemenangan awal, realitas kemudian menunjukkan bahwa masalah tidak sesederhana itu.

Dalam sebuah acara seminar di Bogor yang membahas mengenai penyakit ND, Christophe Cazaban selaku Poultry Scientific Director Ceva Sante Animale, menekankan bahwa perjalanan 100 tahun melawan penyakit Newcastle bukan sekadar kisah tentang virus dan vaksin. 100 tahun setelah pertama kali dilaporkan, ND tetap relevan sebagai tantangan strategis industri perunggasan global.

“Evolusi virus yang berkelanjutan menuntut peningkatan kapasitas diagnostik, pengembangan vaksin yang adaptif, serta implementasi biosekuriti yang konsisten”, ujar Christophe.
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan ND bukan sekadar sejarah penyakit, tetapi juga cerminan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026. (CR)

MENJAGA PERFORMA DARI BAHAYA MIKOTOKSIN

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan. (Foto: Gemini)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa di peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas apapun itu, dapat menyebabkan kerugian yang sangat besar.

Jamur, cendawan, atau kapang tumbuh di mana dan kapan saja, terutama ketika kondisi lingkungan menguntungkan bagi mereka. Yang lebih berbahaya, kebanyakan jamur biasanya tumbuh pada tumbuhan yang biasa digunakan sebagai bahan baku pakan, seperti jagung dan kacang kedelai.

Kedua jenis tanaman tersebut merupakan unsur penting dalam formulasi ransum. Jagung digunakan sebagai sumber energi utama, sedangkan kedelai sebagai sumber protein. Persentase penggunaan jagung dan kacang kedelai dalam suatu formulasi ransum unggas di Indonesia sangat tinggi. Jagung dapat digunakan 50-60%, sedangkan kedelai bisa sampai 20%.

Cemaran Mikotoksin
Commercial Technical Manager-Mycotoxin Risk Management Trouw Nutrition, Dr Swamy Haladi, dalam presentasinya pada webinar Review Mikotoksin Global 2026, menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku dan pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, total mixed rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

“Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan signifikan,” paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang.

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging” (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” katanya.

Jika sudah mengontaminasi bahan baku pakan, apalagi pakan jadi, tentu sangat merugikan produsen pakan maupun peternak. Menurut Tony Unandar, konsultan perunggasan yang juga anggota dewan pakar ASOHI, mikotoksikosis klinis bukanlah kejadian umum di lapangan.

Kasus mikotoksikosis subklinis justru sering ditemukan di lapangan. Gejalanya klinisnya sama dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PEMBUNUH SENYAP YANG TERSEMBUNYI DALAM PAKAN AYAM

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan ternak. (Foto: lelandmills.com)

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan kawanan, produktivitas, dan konsumen manusia, terutama meliputi mikotoksin, logam berat, bahan kimia tambahan yang tidak diungkapkan, hingga bakteri patogen.

Kontaminan-kontaminan tersebut sering kali tidak terlihat mata telanjang dan dapat bertahan dalam proses pengolahan, yang dapat menyebabkan keracunan kronis, subklinis, sampai akut.

Ancaman tersembunyi dalam pakan ayam yang meliputi mikotoksin (seperti aflatoksin) yang diproduksi jamur atau kapang dapat merusak organ vital, endotoksin yang dapat menyebabkan kebocoran usus dan keracunan darah. Ionofor yang tidak terkontrol dan bisa memicu keracunan, serta kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli.

Mikotoksin dan endotoksin sering kali tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kerusakan organ, hingga kematian. Berikut ini adalah beberapa detail mengenai bahaya tersembunyi dalam pakan unggas:

• Mikotoksin: Adalah senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur (Aspergillus, Fusarium, Penicillium) yang tumbuh pada biji-bijian (jagung, gandum, kedelai) di ladang atau selama penyimpanan. Beberapa mikotoksin tersebut:
- Aflatoksin: Dianggap sebagai yang paling berpotensi menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas), supresi yang parah, dan penurunan produksi telur.
- Okratoksin: Sangat nefrotoksik (kerusakan ginjal), menyebabkan kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk.
- Trichotecenes (T-2, DON): Menyebabkan ulkus mulut, erosi ampela, dan penolakan makan yang parah.
- Zearalenone: Dikenal karena menyebabkan masalah reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemampuan penetasan.
- Mikotoksin bertopeng: Ini adalah bentuk tersembunyi, sering melekat pada molekul tanaman yang tidak terdeteksi oleh tes standar tetapi berubah kembali menjadi racun aktif di usus ayam.

• Logam berat dan kontaminan polusi industri: Penyimpanan yang tidak tepat dan bahan baku yang terkontaminasi dapat memperkenalkan logam berat dan bahan kimia ke dalam pakan.
- Arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri: Logam berat ini terakumulasi secara biologis dalam jaringan unggas (hati, ginjal), menyebabkan keracunan kronis dan menimbulkan risiko bagi konsumen manusia
- Sisa pestisida: Tanaman yang disimpan atau dipanen secara tidak tepat mungkin mengandung residu pestisida organoklorin.
- Dioksin/melamin: Kadang-kadang diperkenalkan melalui bahan baku yang dipalsukan atau terkontaminasi.

• Aditif dan pengisi yang tidak diungkapkan:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer