-->

PARTISIPASI INFOVET DI INDO LIVESTOCK 2026, GELAR SEMINAR PERUNGGASAN

Foto bersama Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri peternakan unggas saat ini tengah menghadapi badai tantangan yang tidak main-main. Dari fenomena perubahan iklim global yang ekstrem, ancaman penyakit menular berbahaya, hingga fluktuasi kualitas bahan baku pakan lokal. Dampaknya sangat nyata bagi peternak, angka mortalitas melonjak, efisiensi pakan memburuk, pertumbuhan terhambat, dan ujung-ujungnya keuntungan merosot tajam.

Di tengah situasi pelik ini, Drh H. Baskoro Tri Caroko (BTC), seorang National Poultry Technical Consultant, membawa sebuah angin segar melalui pendekatan holistik dalam pemeliharaan unggas. Pendekatan ini menawarkan satu prinsip, “Keberhasilan peternak menekan mortalitas menempatkan mereka pada peluang profit terbaik. Ketika harga mahal, mendapat laba maksimal, pada waktu harga murah, kerugian minimal,” ujar BTC saat mengisi Seminar Nasional yang digelar Infovet dalam rangkaian Indo Livestock 2026 Expo & Forum, Kamis (18/6/2026).

Bagaimana konsep holistik ini mampu mengubah nasib peternakan dari jurang kerugian, BTC pun membedah formulanya. Pertama, fondasi utama (revolusi mindset dan upgrade operator kandang). Kegagalan sebuah peternakan sering kali secara instan ditimpakan kepada para pekerja lapangan. Namun, konsep holistik ini menegaskan bahwa kegagalan tidak selalu salah operator. Kuncinya ada pada revolusi mindset dan peningkatan kompetensi (upgrade) para penjaga kandang. Operator kandang harus menyadari bahwa tugas mereka bukan sekadar memberi pakan, melainkan memenuhi kesejahteraan unggas secara menyeluruh. Unggas harus dipastikan mendapat pakan berkualitas, air minum bersih, udara segar, serta perlindungan total (tidak keujanan, kepanasan, terhindar dari stres, dan aman dari predator).

Kedua, menjaga kualitas di lingkungan. Satu paradoks terbesar dalam peternakan konvensional adalah membiarkan unggas makan, minum, tidur, dan buang kotoran di tempat yang sama setiap hari. Jika kualitas lingkungan ini tidak dijaga, kandang akan berubah menjadi bom waktu penyakit bagi ternak. Pola holistik mewajibkan peternak secara aktif mengatasi dampak buruk dari siklus biologis ini. Tata kelola limbah dan manajemen kotoran ayam harus diatur sedemikian rupa agar mudah diamankan kapan saja, sehingga amonia tidak meracuni pernapasan unggas.

Ketiga, strategi upgrade total secara holistik. Untuk memanen ayam yang tumbuh cepat, sehat, dan produktif sesuai potensi genetiknya, peternak harus melakukan upgrade kapasitas kandang secara ketat berdasarkan bobot hidup, dengan standar ideal 12 kg live bird (LB) per meter persegi. Kemudian menerapkan program sanitasi, disinfeksi, dan drainase lingkungan kandang yang prima (biosecurity protection). Lakukan pemberian nutrisi dan perawatan intensif dengan menyediakan pakan berkualitas tinggi yang komposisinya seimbang sesuai kebutuhan setiap fase umur unggas. Hingga dukungan suplemen dan bijak antibiotik.

Pada kesempatan tersebut, BTC juga menceritakan kisah sukses para peternak broiler dan layer yang sudah ia bimbing. Dalam membantu melatih para peternak tersebut, ia mengaransemen dan menciptakan potensi team work di kandang.

“Sehingga sukses yang dicapai hakekatnya adalah keberhasilan yang dicapai peternak sendiri, peternak sebagai bintangnya, pemain utama pentas di panggung pertunjukan yang berhasil dan sukses karena bersedia melakukan upgrade manajemen, mau bersungguh-sungguh, dan kerja keras atas arahan yang diberikan, sehingga mortalitas turun, profit naik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan holistik membuktikan bahwa kesuksesan peternakan unggas tidak bisa dicapai dengan cara-cara instan atau parsial. Melalui payung konstelasi One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan yang saling terkait), peternakan dipandang sebagai sebuah ekosistem yang utuh.

“Ketika manusia berkomitmen untuk menjaga semesta, mulai dari menjaga kesehatan pekerja, merawat hewan ternak dengan penuh empati, hingga melestarikan lingkungan kandang, maka alam akan membalasnya dengan produktivitas yang melimpah. Komitmen mulia inilah yang tidak hanya akan menurunkan mortalitas dan menaikkan profit peternak, tetapi juga membawa berkah bagi ketahanan pangan bangsa,” tukasnya. (RBS)

FUMITE OPP, DISINFEKTAN ASAP JADI PILIHAN TEPAT

Fumite OPP merupakan disinfektan asap yang menjadi pilihan tepat untuk hatchery, fumigasi/persiapan kandang kosong, gudang, silo, dan lain sebagainya.



EL NINO MENGANCAM, LINDUNGI TERNAK DENGAN STRESS PACK SL

El Nino mengancam produktivitas ternak?

Fenomena El Nino ekstrem memicu stres pans, perubahan cuaca drastis, dan keterbatasan pakan. Jangan biarkan stres menghancurkan performa ternak, lindungi ternak Anda dengan STRESS PACK SL.



STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

SEMINAR EKSKLUSIF INFOVET 2026, SMART POULTRY FARMING: MORTALITAS TURUN, PROFIT NAIK


Dalam rangka memeriahkan Indo Livestock Expo & Forum 2026, Infovet mengundang Anda untuk mengikuti seminar eksklusif, pada:

Kamis, 18 Juni 2026
13:00-13:45 WIB
Theater 5 NICE, PIK 2, Jakarta

Narasumber:
Drh. Baskoro Tri Caroko
(National Poultry Consultant, Peraih INPOVA Award)

Biaya Pendaftaran:
GRATIS (kapasitas terbatas)

Atau pilih paket berikut:
Rp 100.000/peserta, dapatkan bonus:
Buku Motivasi
E-Sertifikat

atau

Rp 100.000/peserta, dapatkan bonus:
3 Edisi Infovet Digital
E-Sertifikat

Pembayaran
Bank Mandiri: 1260002074119
Bank BCA: 7330301681
a.n. PT Gallus Indonesia Utama

Kirim bukti pembayaran ke: gallus.marketingeo@gmail.com

Pendaftaran, klik: https://bit.ly/Eksklusif_IDL26

WA Panitia: 0877-7829-6375 (Mariyam)

LINDUNGI AYAM DARI SERANGAN ND

Lesi kasar pada unggas yang terinfeksi ND: a) Perdarahan petechiae pada kelenjar proventrikulus. b) Trakea menunjukkan perdarahan yang menyebar. c) Area nekro-perdarahan fokal pada permukaan mukosa usus halus dan tonsil sekum. d) Splenomegali (A) dan limpa normal (B). (Sumber: Poultry Farming - The Latest Scientific Findings and Practical Applications [Working Title] By: Emeritus Prof. László Babinszky)

Penyakit Newcastle disease (ND) adalah infeksi virus yang sangat menular yang memengaruhi ayam dan unggas liar, disebabkan oleh virus ND yakni paramyxovirus tipe 1.

Keganasannya pun bervariasi tergantung strain dan dikategorikan menjadi tiga patotipe, yaitu lentogenik (rendah atau avirulen), mesogenik (sedang), dan velogenik (keganasan tinggi). Strain velogenik menyebabkan morbiditas dan mortalitas tinggi, yang mengakibatkan kerugian produksi yang signifikan dan dampak ekonomi substansial karena biaya langkah-langkah pengendalian.

Virus ND menunjukkan diversitas genetik yang tinggi, menekankan perlunya pengawasan terus-menerus, diagnostik canggih, dan strategi pencegahan yang ditingkatkan. Dengan berkembangnya industri unggas global dan meningkatnya perdagangan internasional, pengendalian ND yang efektif, terutama melalui vaksinasi, tetap penting. Namun, tinjauan komprehensif yang menggabungkan temuan terbaru masih kurang.

Kasus pertama kali ND dilaporkan di Jawa, Indonesia pada 1926, kemudian di Newcastle-on-Tyne, Inggris pada 1927. Virus ini juga muncul di India, di mana dikenal secara umum sebagai penyakit Ranikhet. Virus ini endemik di banyak negara berkembang, termasuk India, dan tetap menjadi kendala utama dalam produksi unggas karena sering terjadi wabah baik pada ayam yang sudah divaksin maupun yang belum divaksin.

Virus ND diklasifikasikan secara taksonomis sebagai Avian orthoavulavirus 1 (AOAV-1), sebelumnya disebut Avian avulavirus 1 (AAvV-1) atau Avian paramyxovirus 1 (APMV-1). Virus ini termasuk dalam genus Orthoavulavirus, subfamili Avulavirinae, famili Paramyxoviridae, dan ordo Mononegavirales.

Virus ini memiliki genom RNA untai tunggal bermuatan negatif sekitar 15,2 kb, yang mengkode enam protein struktural dengan urutan 3ʹ-NP–P–M–F–HN–L-5ʹ: protein nukleokapsid (NP), fosfoprotein (P), protein matriks (M), protein fusi (F), hemagglutinin-neuraminidase (HN), dan protein polimerase besar (L).

Penyebab Penyakit
Apa yang menyebabkan penyakit ND? Sebab virus ini sangat menular dan memiliki dampak signifikan pada unggas. Strain velogenik bertanggung jawab atas bentuk penyakit yang paling parah dan menyebabkan kematian tinggi.

Strain velogenik neurotropik menyebabkan gejala neurologis parah (misalnya tremor, ataksia, putaran kepala, kelumpuhan) dengan sedikit atau tanpa keterlibatan gastrointestinal. Lesi sering tidak ada. Kemudian strain velogenik viscerotropik sangat mematikan, menyebabkan kematian hingga 100%. Tanda-tandanya meliputi diare, dispnea, tremor, dan lesi hemoragik parah di saluran pencernaan, terutama pada proventrikulus dan tonsil sekum.

Virus-virus ini dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan yang hangat dan lembap, pada bulu, kotoran, dan bahan lainnya, serta dapat bertahan tanpa batas waktu pada bahan yang dibekukan. Virus ND cepat dihancurkan oleh dehidrasi dan sinar ultraviolet.
Bagaimana penyakit ND menyebar? Virus menyebar dengan cepat dan dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi, atau melalui pakan dan air, peralatan, pakaian, atau sepatu yang terkontaminasi, bahkan penularan melalui udara dalam jarak pendek juga memungkinkan.

Selain itu, virus juga dapat bertahan selama beberapa minggu di lingkungan, bahkan dalam cuaca dingin. Gejala yang ditimbulkan dari strain velogenik di antaranya gangguan pernapasan (terengah-engah, batuk), tanda-tanda saraf (gemetar, kelumpuhan), pembengkakan kepala dan leher, diare berwarna hijau dan berair, mortalitas tinggi, berhentinya produksi telur, hingga depresi, sayap menjuntai dan berjalan melingkar.

Diagnosis Klinis dan Patologis
ND dapat menyerupai penyakit pernapasan unggas lain seperti Avian influenza (AI), Infectious bronchitis (IB), laringotrakeitis, dan cacar ayam. Strain ND APMV 3 dan 7 juga dapat berkerja silang secara serologis, sehingga diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk pengendalian penyakit.

Lesi kasatmata pada unggas yang terkena ND dapat meliputi kongesti pada organ viseral, seperti otak, ginjal, dan trakea, serta perdarahan petechiae pada mukosa proventrikulus, ulkus hemoragik pada dinding usus, dan splenomegali, tergantung pada strain virus ND yang terlihat.

Diagnosis Banding
Bentuk akut ND harus dibedakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

BERKUTAT DENGAN NEWCASTLE DISEASE SELAMA SEABAD

Prediksi penyakit ND masih tertinggi. (Sumber: GPS Ceva, 2026)

Seratus tahun adalah waktu yang panjang dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dalam rentang itu, manusia berhasil memecahkan struktur DNA, mendarat di bulan, hingga mengembangkan teknologi kecerdasan buatan. Namun di balik semua kemajuan tersebut, ada ironi yang diam-diam bertahan, sebuah penyakit unggas bernama Newcastle disease (ND) masih terus menjadi ancaman nyata bagi industri perunggasan Indonesia, Asia, dan dunia.

Sejak pertama kali dilaporkan pada 1926 di Newcastle upon Tyne dan hampir bersamaan di Indonesia, ND tidak pernah benar-benar hilang. Ia tidak lagi hadir sebagai wabah misterius yang membunuh tanpa penjelasan, tetapi juga belum sepenuhnya terkendali sebagai penyakit yang bisa dieliminasi. Ia berada di antara dua dunia, dipahami secara ilmiah, namun tetap sulit dikendalikan secara praktis.

Pertanyaan yang muncul setelah satu abad bukan lagi sekadar “apa itu ND?” atau “bagaimana cara mencegahnya?”. Pertanyaan yang lebih jujur dan mendasar adalah mengapa dengan segala kemajuan yang ada, masyarakat peternak masih hidup berdampingan dengan penyakit ini?

Dari Misteri Menjadi Ilmu Pengetahuan
Pada awal kemunculannya di Newcastle dan Hindia-Belanda, ND bak teror yang tidak memiliki nama jelas. Peternak saat itu hanya melihat ayam-ayam mereka mati mendadak, menunjukkan gejala saraf, gangguan pernapasan, dan penurunan produksi telur yang drastis. Tidak ada vaksin, tidak ada diagnostik, tidak ada pemahaman.

Dalam konteks itu, ND adalah simbol keterbatasan manusia dalam memahami penyakit infeksius. Namun perlahan, ilmu pengetahuan mulai membuka tabirnya. Virus penyebab ND diidentifikasi sebagai Avian paramyxovirus. Penularannya dipahami, pola epidemiologinya dipetakan. Dunia veteriner mulai memiliki bahasa untuk menjelaskan apa yang sebelumnya hanya dianggap “kutukan”.

Perjalanan ini mencerminkan sesuatu yang fundamental dalam sejarah ilmu pengetahuan, ketakutan sering kali berasal dari ketidaktahuan, dan pemahaman adalah langkah pertama menuju kontrol.

Revolusi Vaksin: Titik Balik yang Menjanjikan
Pertengahan abad ke-20 menjadi titik balik besar bagi dunia veteriner khususnya perunggasan. Munculnya vaksin ND pertama, mulai dari strain lentogenik seperti LaSota dan B1, mengubah lanskap perunggasan global.

Untuk pertama kalinya, manusia memiliki alat untuk melawan ND secara aktif. Mortalitas yang sebelumnya bisa mencapai 100% mulai ditekan. Peternakan ayam modern mulai berkembang. Produksi protein hewani meningkat pesat. Industri perunggasan menjadi salah satu sektor pangan paling efisien di dunia.

Dalam banyak hal, vaksin ND dinilai menjadi simbol kemenangan sains terapan atas kehendak alam. Namun seperti banyak kemenangan awal, realitas kemudian menunjukkan bahwa masalah tidak sesederhana itu.

Dalam sebuah acara seminar di Bogor yang membahas mengenai penyakit ND, Christophe Cazaban selaku Poultry Scientific Director Ceva Sante Animale, menekankan bahwa perjalanan 100 tahun melawan penyakit Newcastle bukan sekadar kisah tentang virus dan vaksin. 100 tahun setelah pertama kali dilaporkan, ND tetap relevan sebagai tantangan strategis industri perunggasan global.

“Evolusi virus yang berkelanjutan menuntut peningkatan kapasitas diagnostik, pengembangan vaksin yang adaptif, serta implementasi biosekuriti yang konsisten”, ujar Christophe.
Ia juga menambahkan bahwa perjalanan ND bukan sekadar sejarah penyakit, tetapi juga cerminan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2026. (CR)

SERATUS TAHUN ND, 55 TAHUN FKH UNAIR: DARI ANCAMAN VIRUS HINGGA VISI KAMPUS

Pembicara pada Seminar Perunggasan yang digelar SAGAVET UNAIR. Dari kiri: Prof Suwarno, Henri E. Prasetyo, dan Bilqis. (Foto: Istimewa)

SAGAVET UNAIR menggelar Seminar Perunggasan dan Hewan Kecil sekaligus launching buku “55 Tahun FKH UNAIR” di Hotel Wyndham Surabaya, Sabtu (23/5/2026). Acara yang dihadiri lebih dari 300 peserta dari kalangan industri, akademisi, praktisi, mahasiswa, dan alumni ini dibuka oleh Ketua SAGAVET periode 2025-2030, Drh Syailin bersama Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Lilik Maslachah.

Pada sesi perunggasan, Prof Dr Suwarno membahas Newcastle disease (ND) atau tetelo yang telah menjadi ancaman industri unggas selama 100 tahun sejak pertama kali ditemukan di Batavia pada 1926. Virus ND kini mengalami banyak mutasi dan mampu menginfeksi lebih dari 250 spesies unggas.

Salah satu strain paling berbahaya adalah genotipe VII (GVII) yang menyebabkan tingginya angka kematian dan kerugian ekonomi besar. Menariknya, strain lentogenik ND juga memiliki potensi sebagai virus onkolitik yang dapat menghancurkan sel kanker manusia.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Henri E. Prasetyo memaparkan pentingnya precision nutrition dalam menghasilkan produk unggas berkualitas, sehat, aman, dan berkelanjutan. Menurutnya, perubahan tren konsumen global mendorong industry perunggasan melakukan transformasi strategi nutrisi berbasis functional food dan animal welfare.

Pada sesi hewan kecil, Prof Wiwik Misaco dan Dr Lina Susanti membahas tantangan diagnosis penyakit saraf dan mata pada hewan piaraan.

Selain pemaparan seminar, acara juga ditandai dengan peluncuran buku “55 Tahun FKH UNAIR” oleh Dr Rizky F. Meriawan yang menggambarkan perjalanan FKH UNAIR menuju institusi Teaching Industry berbasis One Health, SDGs, dan inovasi riset global. (Henri E. Prasetyo)

PETERNAK RAKYAT MENJERIT: PERMINDO GELAR KONSOLIDASI AKBAR SIKAPI ANJLOKNYA HARGA AYAM

Foto bersama dalam kegiatan konsolidasi peternak unggas rakyat mandiri yang digelar Permindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Permindo) menggelar konsolidasi akbar guna menyikapi krisis yang tengah melanda industri perunggasan rakyat. Pertemuan krusial yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Bogor ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat, perwakilan Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN), serta beberapa peternak mandiri dari berbagai daerah.

Kondisi riil di lapangan saat ini dinilai sudah berada pada tahap memprihatinkan. Para peternak rakyat terjepit di antara dua beban berat, yakni harga jual ayam hidup (live bird/LB) di tingkat peternak anjlok drastis, sementara di sisi lain harga bibit ayam (day old chick/DOC) dan pakan justru terus merangkak naik tanpa kendali.

Sekretaris Jenderal Permindo, Heri Irawan, mengungkapkan bahwa ketidakpastian pasar telah memicu praktik-praktik transaksi yang tidak sehat di lapangan. Regulasi harga seolah kehilangan taringnya dalam menghadapi realitas fluktuasi harian. Padahal sehari sebelumnya (Selasa, 19/5/2026), peternak rakyat bersama Kementerian Pertanian dan peternak skala besar telah duduk bersama agar harga jual LB di tingkat peternak bisa diangka Rp 19.500.

“Hari ini kami berkumpul bersama teman-teman peternak menyikapi kondisi harga live bird. Bahkan hingga sejam yang lalu (saat konsolidasi) situasi di lapangan masih menunjukkan adanya transaksi yang ‘kucing-kucingan’. Kondisi ini jelas tidak sejalan jika disandingkan dengan harga pakan dan DOC yang terus-menerus naik,” ungkap Herry.

Bahkan harga yang telah disepakati bersama pemerintah masih jauh dari harga pokok produksi (HPP) peternak yang berada diangka Rp 20.000-an ke atas, namun peternak tetap berupaya menjaga harga tersebut.

Kritik tajam juga dilayangkan terhadap efektivitas langkah-langkah darurat yang diambil oleh otoritas terkait. Ketua Umum Permindo, Kusnan, menilai intervensi yang dilakukan pemerintah selama ini belum menyentuh akar permasalahan mendasar yang dihadapi peternak rakyat mandiri.

“Saya melihat pertemuan di Kementerian Pertanian kemarin hanya berfungsi sebagai pemadam kebakaran saja, tidak menyelesaikan akar masalah. Kemarin kita sudah berupaya agar di angka Rp 21.000, kemudian turun lagi ke Rp 20.000, dan akhirnya kesepakatan itu pecah lagi. Oleh karena itu, kita harus kompak bergerak bersama sebelum memasuki momen krusial seperti Idul Adha dan bulan Suro,” ujar Kusnan.

Sementara itu, menurut salah seorang peternak yang hadir, Toto, menyuarakan keluhannya terkait hasil rapat di Kementan. Baginya, angka tersebut memaksa peternak untuk menanggung kerugian.

“Naik ke Rp 19.500 itu bagaimana? Sementara HPP-nya saja sudah mencapai Rp 21.800, masa kita dipaksa terus merugi? Tapi ya mau gimana. Kita sudah berusaha jangan sampai peternak rakyat mandiri jual di bawah HPP. Kita itu pebisnis, kita engga mau rugi, makannya kita suarakan kebenaran walaupun pahit. Makannya ayo kita kompak dan bersatu,” katanya.

Tiga Poin Resolusi Bersama Permindo
Guna menekan kerugian yang berkepanjang, Ketua Umum Permindo merumuskan tiga poin utama yang menjadi arah pergerakan ke depan.

Pertama, pengamanan harga jual minimal. Peternak sepakat untuk sementara waktu mendukung dan mengawal ketat batas harga Rp 19.500 sebagai benteng pertahanan terakhir, meskipun angka tersebut masih jauh dari ideal dan berada di bawah HPP peternak rakyat.

Kedua, penguatan daya tawar kolektif. Membangun soliditas dan persatuan nasional antarasosiasi peternak mandiri guna memperkuat posisi tawar agar mampu menangkap dan mengeksekusi program-program strategis dari pemerintah secara langsung.

Ketiga, mekanisme hilirisasi bersama. Menyusun tata cara dan menyambut mekanisme program hilirisasi produk perunggasan secara kolektif demi memperluas ketergantungan pada pasar segar (live bird market).

Diversifikasi Pasar dan Kemandirian Supplier
Dalam arahannya, Pembina Permindo, Hartono, menekankan pentingnya merancang ulang pola kerja sama dan pengawasan populasi guna menciptakan satu harga acuan yang ditaati bersama.

Menurutnya, jika peternak tidak kompak dalam menangani situasi ini dengan serius, ke depan ekosistem peternak mandiri bisa pecah. Pemain di industri ini semakin banyak dan padat. Sehingga dibutuhkan keputusan yang tegas dari pemerintah yang diinisiasi oleh soliditas peternak.

Di sisi lain, Wayan, seorang peternak, memberikan usulan taktis mengenai perluasan serapan pasar. Ia meminta agar peternak tidak hanya terpaku pada lingkaran Kementan saja. Permindo didesak untuk melayangkan petisi agar program jaminan sosial protein, penanganan stunting, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) diarahkan untuk menyerap produksi ayam dan telur dari peternak rakyat melalui Kementerian Perdagangan, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

Menutup konsolidasi, Setya Winarno, perwakilan dari GOPAN mengingatkan seluruh peserta untuk tetap optimis namun realistis dalam bergerak.

“Mari kita kompak menjaga harga dasar Rp 19.500 ini sebagai langkah awal sambil terus berjuang menaikkannya. Manfaatkan setiap peluang program pemerintah, dan yang paling penting untuk keberlangsungan usaha ke depan jangan terlalu loyal atau bergantung pada satu supplier sapronak saja agar kita memiliki alternatif efisiensi biaya,” katanya. (RBS)

PEMBUNUH SENYAP YANG TERSEMBUNYI DALAM PAKAN AYAM

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan ternak. (Foto: lelandmills.com)

Bahaya tersembunyi dalam pakan ayam dapat berdampak serius pada kesehatan kawanan, produktivitas, dan konsumen manusia, terutama meliputi mikotoksin, logam berat, bahan kimia tambahan yang tidak diungkapkan, hingga bakteri patogen.

Kontaminan-kontaminan tersebut sering kali tidak terlihat mata telanjang dan dapat bertahan dalam proses pengolahan, yang dapat menyebabkan keracunan kronis, subklinis, sampai akut.

Ancaman tersembunyi dalam pakan ayam yang meliputi mikotoksin (seperti aflatoksin) yang diproduksi jamur atau kapang dapat merusak organ vital, endotoksin yang dapat menyebabkan kebocoran usus dan keracunan darah. Ionofor yang tidak terkontrol dan bisa memicu keracunan, serta kontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli.

Mikotoksin dan endotoksin sering kali tidak terlihat secara kasat mata, akan tetapi dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan, kerusakan organ, hingga kematian. Berikut ini adalah beberapa detail mengenai bahaya tersembunyi dalam pakan unggas:

• Mikotoksin: Adalah senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur (Aspergillus, Fusarium, Penicillium) yang tumbuh pada biji-bijian (jagung, gandum, kedelai) di ladang atau selama penyimpanan. Beberapa mikotoksin tersebut:
- Aflatoksin: Dianggap sebagai yang paling berpotensi menyebabkan kerusakan hati (hepatotoksisitas), supresi yang parah, dan penurunan produksi telur.
- Okratoksin: Sangat nefrotoksik (kerusakan ginjal), menyebabkan kehilangan nafsu makan dan pertumbuhan yang buruk.
- Trichotecenes (T-2, DON): Menyebabkan ulkus mulut, erosi ampela, dan penolakan makan yang parah.
- Zearalenone: Dikenal karena menyebabkan masalah reproduksi, seperti penurunan kesuburan dan kemampuan penetasan.
- Mikotoksin bertopeng: Ini adalah bentuk tersembunyi, sering melekat pada molekul tanaman yang tidak terdeteksi oleh tes standar tetapi berubah kembali menjadi racun aktif di usus ayam.

• Logam berat dan kontaminan polusi industri: Penyimpanan yang tidak tepat dan bahan baku yang terkontaminasi dapat memperkenalkan logam berat dan bahan kimia ke dalam pakan.
- Arsenik, timbal, kadmium, dan merkuri: Logam berat ini terakumulasi secara biologis dalam jaringan unggas (hati, ginjal), menyebabkan keracunan kronis dan menimbulkan risiko bagi konsumen manusia
- Sisa pestisida: Tanaman yang disimpan atau dipanen secara tidak tepat mungkin mengandung residu pestisida organoklorin.
- Dioksin/melamin: Kadang-kadang diperkenalkan melalui bahan baku yang dipalsukan atau terkontaminasi.

• Aditif dan pengisi yang tidak diungkapkan:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

UPDATE PENYAKIT IB-ND DALAM ELANCO POULTRY MASTER CLASS 2026

Foto bersama dalam Poultry Master Class 2026 yang digelar Elanco. (Foto: Infovet/Ridwan)

Bertempat di Hotel Tentrem Jakarta, Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (27/4/2026), PT Elanco Animal Health Indonesia bersama PT SHS International menyelenggarakan Elanco Poultry Master Class 2026, yang banyak mengupas mengenai update seputar penyakit Infectious bronchitis (IB) dan Newcastle disease (ND).

“Poultry Master Class kali ini banyak membahas update IB dan ND dengan pembicara yang sesuai di bidangnya. Diharapkan melalui seminar ini kita mendapatkan update khususnya terkait challenge IB dan ND, termasuk intervensi dari Elanco dalam membantu mengatasi penyakit-penyakit tersebut,” ujar Senior Marketing Manager Elanco Animal Health Indonesia, Aura Maulana.

Kegiatan kali ini menjadi momentum Elanco untuk memperkenalkan produk vaksin terbarunya Avipro IB-ND C131, dalam membantu peternak unggas mengatasi gangguan serangan IB dan ND. Vaksin tersebut merupakan vaksin IB H120 dengan ND clone C13-1 dengan perlindungan unggul dan maksimal selama delapan minggu. Dapat diaplikasikan di hatchery dan di lapangan.

Sebab kedua penyakit tersebut masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan Tanah Air. Hal tersebut seperti disampaikan oleh perwakilan dari PT SHS International, Nining Indiarti selaku Area Coordinator Jakarta.

“Satu kasus saja bisa menurunkan performa, menaikkan FCR, yang berujung merugikan peternak. Hadirnya vaksin terbaru ini adalah jawaban dari komitmen kami dalam membantu memberikan proteksi terhadap unggas dengan lebih lama dan lebih awal,” kata Nining.

Seminar kali ini turut menghadirkan pembicara di antaranya Senior Scientist of GD Animal Health Service, and President of the European Collage of Poultry Veterinary Science Netherland Prof Sjaak de Wit DVM PhD Dipl ECPVS, bersama Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP, dan Senior Technical Consultant Vaccines Elanco Asia Pacific Dr Nicholas Phuah.

Prof Sjaak dan Prof Micheal turut menyampaikan materi mengenai perkembangan penyakit IB dan ND yang sampai saat ini masih mengganggu dan memberikan dampak merugikan pada peternakan unggas, baik broiler, layer, maupun breeder, di antaranya gangguan pernapasan, kerusakan organ, penurunan produksi, hingga penurunan kualitas telur.

“Kalau IB dan ND ini sudah bersatu, tentu sangat berat untuk mengatasinya, dampaknya pada recovery sangat sulit sekali,” ujar Prof Michael.

Oleh karena itu, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan salah satunya melalui pemberian vaksinasi yang optimal. Tentunya dengan memahami bagaimana karakteristik virus, penggunaan vaksinnya, sarana dan prasarana untuk menunjang vaksinasi, tenaga ahli, hingga monitoring pasca vaksinasi harus diperhatikan dengan sebaik mungkin.

“Vaksin yang digunakan harus aman, bahkan untuk DOC sekali pun. Reaksi pasca vaksinasi juga harus minimal terutama pada iklim panas, di mana stres dapat berimplikasi. Dan yang terpenting juga adalah vaksinasi akan efektif tercapai apabila berintegrasi dengan biosekuriti dan manajemen farm yang baik,” sebutnya.

Untuk strategi vaksin, Nicholas Phuah, turut memberikan gambaran secara mendalam terkait penggunaan vaksin terbaru dari Elanco yang diklaim mampu memberikan proteksi terbaik pada unggas, khususnya dalam menghadapi penyakit IB dan ND. (RBS)

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

MEMBENTENGI UNGGAS DARI KOLIBASILOSIS MELALUI JALUR PAKAN

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci  bagi peternak modern. (Foto: Istimewa)

Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.

Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.

Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.

Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.

Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.

Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.

Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.

Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

USUS SEHAT, PERFORMA KUAT: STRATEGI PROBIOTIK, PREBIOTIK, POSTBIOTIK, DAN SINBIOTIK UNTUK UNGGAS MODERN

Kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi. (Foto: Istimewa)

Ketika Tantangan Kandang Semakin Kompleks
Industri perunggasan saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata dan tidak sederhana. Fluktuasi cuaca yang ekstrem, tekanan penyakit pencernaan, kualitas bahan baku pakan yang bervariasi, hingga tuntutan efisiensi produksi memaksa peternak dan pelaku industri untuk berpikir lebih strategis. Dalam kondisi tersebut, kesehatan saluran pencernaan ayam menjadi titik krusial yang menentukan keberhasilan produksi.

Saluran pencernaan bukan hanya tempat pakan dicerna dan diserap, tetapi juga pusat pertahanan tubuh ayam. Sebagian besar sistem imun berada di usus, sehingga gangguan kecil pada keseimbangan mikroflora dapat berdampak besar pada performa ayam. Tidak mengherankan jika pendekatan berbasis kesehatan usus kini menjadi fokus utama dalam manajemen pemeliharaan broiler, layer, maupun breeder.

Kesehatan Usus, Fondasi Performa Produksi
Ayam dengan saluran pencernaan yang sehat akan mampu memanfaatkan nutrien pakan secara optimal. Vili usus yang utuh, mukosa yang kuat, dan populasi bakteri menguntungkan yang stabil akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih seragam, FCR yang lebih efisien, serta daya tahan tubuh yang lebih baik.

Sebaliknya, ketidakseimbangan mikroflora usus sering kali menjadi awal munculnya masalah klasik seperti diare, litter basah, penurunan konsumsi pakan, hingga meningkatnya mortalitas.
Dalam konteks inilah peran probiotik, prebiotik, postbiotik, dan sinbiotik menjadi semakin relevan. Keempatnya bekerja dengan mekanisme yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga ekosistem usus agar tetap sehat dan produktif.

Probiotik Menghadirkan Mikroba Baik ke Dalam Usus
Probiotik dikenal sebagai mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan ketika dikonsumsi dalam jumlah yang cukup. Di dalam saluran pencernaan ayam, probiotik berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

OPTIMALISASI PERFORMA UNGGAS DENGAN ALTERNATIF ALAMI

Ilustrasi klasifikasi probiotik. (Sumber: Vektor Stock.com)

Pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik pada pakan ayam memberikan manfaat signifikan, terutama dalam meningkatkan kesehatan pencernaan, performa pertumbuhan, dan sistem kekebalan tubuh. Senyawa-senyawa ini juga berfungsi sebagai alternatif alami pengganti antibiotik pemacu pertumbuhan (antibiotic growth promoter/AGP).

1. Probiotik
Mikroorganisme hidup (bakteri baik, seperti Lactobacillus dan Bacillus) yang memberikan manfaat kesehatan saat dikonsumsi. Probiotik bermanfaat untuk kesehatan ayam dengan memperkuat pencernaan, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan menekan bakteri jahat seperti Salmonella dan E. coli, yang menghasilkan ayam lebih sehat, pertumbuhan lebih optimal, dan daging atau telur berkualitas lebih baik dengan kandungan lemak lebih rendah serta minim residu antibiotik.

Pemberian senyawa tersebut juga membantu memperkuat sistem imun, mengurangi stres, dan memperbaiki kualitas lingkungan kandang dengan mengurangi bau amonia dari feses.

Manfaat utama probiotik untuk ayam di antaranya:
• Kesehatan pencernaan: Bakteri baik (seperti Lactobacillus) menyeimbangkan mikroflora usus, membantu pencernaan lebih lancar, dan meningkatkan penyerapan nutrisi.

• Peningkatan produktivitas: Penyerapan nutrisi lebih maksimal mendorong pertumbuhan berat badan lebih cepat dan meningkatkan konversi pakan (rasio pakan vs pertambahan bobot), meningkatkan efisiensi produksi.

• Sistem imun lebih kuat: Probiotik membantu melawan patogen dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam serta mengurangi risiko penyakit.

• Kualitas daging dan telur: Daging ayam yang pada pakannya mengandung probiotik cenderung lebih rendah lemak dan lebih tinggi protein, sementara hasil produksi telur memiliki kerabang yang lebih kuat dan kualitas kandungan telur lebih baik.

• Pengurangan limbah dan bau: Feses lebih mudah terurai, mengurangi amonia dan bau, menjadikan lingkungan kandang lebih higienis dan tidak menarik lalat.

• Pengurangan residu antibiotik: Menjadi alternatif alami antibiotik, sehingga produk ayam lebih aman dikonsumsi.

Adapun cara probiotik bekerja sebagai berikut:
• Ekslusif kompetitif/prinsip Gause adalah konsep ekologi yang menyatakan bahwa dua spesies dengan kebutuhan sumber daya (ceruk/niche) yang sama persis tidak dapat hidup berdampingan secara stabil dalam satu habitat. Spesies yang lebih kompetitif akan menyingkirkan atau menyebabkan kepunahan lokal spesies lainnya. Bakteri menguntungkan bersaing dengan bakteri patogen untuk tempat melekat di dinding usus dan nutrisi menghambat pertumbuhan patogen.

• Membantu produksi enzim pencernaan seperti protease, lipase, dan amilase untuk memecah nutrisi.

• Modulasi imun membantu meningkatkan aktivitas sel imun seperti makrofag saat ayam mengalami stres.

Pemberian probiotik bisa dimulai sejak ayam menetas dan sangat bermanfaat saat ayam mengalami stres (vaksinasi, cuaca ekstrem) untuk membantu pemulihan kesehatan usus. Beberapa probiotik yang telah dikenal di antaranya Lactobacillus, Propionibacterium, Bulgaricus, Lactococcus, Streptococcus thermophilus, dan Bifido bacterium.

2. Prebiotik
Merupakan bahan makanan yang tidak dapat dicerna ayam, berfungsi sebagai... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Paktisi perunggasan

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

PAKAN HOLISTIK, PENDEKATAN MENYELURUH UNTUK OPTIMALKAN PERFORMA DAN KUALITAS UNGGAS

Implementasi pakan holistik memberikan dampak nyata pada performa produksi. (Foto: Gemini)

Industri perunggasan Indonesia terus berkembang pesat seiring meningkatnya permintaan daging ayam yang efisien, sehat, dan berkualitas tinggi. Namun, dinamika di lapangan tak pernah mudah. Fluktuasi harga bahan baku, tekanan terhadap performa, tuntutan pengurangan antibiotik, serta ekspektasi konsumen terhadap keamanan pangan membuat banyak pelaku industri mencari solusi yang lebih menyeluruh. Salah satu konsep yang kini banyak diperbincangkan adalah pendekatan pakan holistik atau holistic feed concept.

Berbeda dari pendekatan formulasi konvensional yang fokus hanya pada energi dan protein, konsep pakan holistik melihat pakan sebagai bagian dari sistem biologis ayam secara utuh. Artinya, pakan tidak hanya berperan menyediakan zat gizi, tetapi juga memelihara kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan efisiensi metabolisme, memperkuat sistem imun, hingga berkontribusi terhadap kualitas akhir daging ayam. Pendekatan ini berupaya menjawab tantangan industri modern dengan cara yang lebih berimbang antara nutrisi, kesehatan, dan keberlanjutan produksi.

Melampaui Energi dan Protein, Nutrisi yang Lebih Fungsional
Formulasi pakan modern kini bergerak dari sekadar memenuhi angka kebutuhan nutrisi menuju pemahaman tentang fungsi biologis nutrien di dalam tubuh ayam. Misalnya, sistem energi bersih (net energy system) kini lebih banyak digunakan karena memberikan gambaran lebih akurat mengenai energi yang benar-benar dimanfaatkan untuk pertumbuhan, bukan hanya energi yang dicerna. Sistem ini membantu mengurangi kehilangan panas metabolik yang sering menjadi kendala dalam produksi broiler di daerah tropis.

Sementara itu, fokus pada protein juga telah berevolusi. Dahulu formulasi hanya memperhatikan lysine dan methionine sebagai asam amino utama, kini pendekatan holistik menekankan pentingnya keseimbangan ideal amino acid ratio, termasuk threonine, valine, dan tryptophan. Ketiganya berperan dalam menjaga integritas usus dan sistem imun, serta mendukung pembentukan jaringan otot yang efisien. Tidak kalah penting, keseimbangan mineral seperti zinc, mangan, dan tembaga organik turut diperhatikan karena memiliki peran vital dalam menjaga kekuatan tulang, integritas kulit, dan performa metabolik secara keseluruhan.

Bahan Baku Bukan Sekadar Angka Nutrisi
Dalam konsep pakan holistik, bahan baku tidak dilihat sebatas sumber... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KEMENTAN: HARGA PAKAN TERPANTAU TURUN, BISA TEKAN BIAYA PRODUKSI

Berdasarkan pemantauan SPORA Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk broiler maupun layer. (Foto: Dok. Infovet)

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat tren penurunan harga pakan ternak di tingkat produsen pada periode Februari hingga awal Maret 2026. Penurunan ini diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi peternak, khususnya pada sektor perunggasan yang bergantung pada pakan pabrikan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) Direktorat Pakan Kementan, penurunan terjadi pada berbagai jenis pakan untuk ayam pedaging (broiler) maupun petelur (layer). Pakan broiler starter (BR1) mengalami penurunan rata-rata Rp 112/kg dari 33 pabrik pakan, bahkan pada beberapa pabrik penurunan mencapai Rp 600/kg, dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.010/kg. Pakan broiler pre starter (BR0) tercatat turun rata-rata Rp 82/kg dari 30 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 8.451/kg. 

Sementara untuk pakan broiler finisher (BR2) turun rata-rata Rp 89/kg dari 31 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.967/kg. Penurunan juga terjadi pada pakan layer masa produksi (P3) sebesar Rp 86/kg dari 32 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 6.803/kg, serta konsentrat layer masa produksi (KP3) yang turun rata-rata Rp 74/kg dari 14 pabrik pakan dengan rataan harga produsen sekitar Rp 7.735/kg.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi perkembangan positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.

“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak, karena akan membantu menurunkan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan bisa lebih berkelanjutan dan stabilitas harga produk peternakan juga lebih terjaga,” kata Agung di kantornya, Kamis (5/3/2026).

Kendati demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan baru dilakukan oleh sebagian pabrikan. Dari total 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau 38% telah menyesuaikan harga.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kami secara rutin melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penurunan harga ini menunjukkan adanya penyesuaian yang positif di tingkat industri sehingga dapat membantu menekan biaya produksi peternak,” sebutnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, dalam keterangan terpisah mengatakan industri pakan terus melakukan efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.

“Industri pakan terus melakukan berbagai efisiensi dan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif, sehingga industri pakan dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat produksi jagung nasional sebagai bahan baku utama pakan ternak. “Tidak ada impor jagung khusus pakan. Bahkan kita sudah ekspor. Ekspor di Kalimantan Barat ke Malaysia, juga ekspor ke Filipina. Ada dari NTB dan Gorontalo. Jadi ada tiga tempat, dan Bapak Presiden lepas langsung,” kata Mentan Amran dalam Panen Raya Jagung di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (INF)

MENGHINDARI COLIBACILLOSIS SEBELUM MERUGI

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam. (Foto: Istimewa)

Sebagai penyakit dengan tingkat kejadian yang paling sering ditemukan, peternak tidak boleh lagi abai terhadapnya. Pasalnya kerugian yang ditimbulkan cukup besar, juga terdapat potensi lain yang mungkin memunculkan petaka bagi manusia.

Menular Terus, Tak Kenal Waktu
Kebanyakan E. coli hidup di lingkungan kandang melalui kontaminasi feses. Permulaan infeksi dari bakteri ini mungkin juga terjadi di hatchery, dari infeksi atau telur yang terkontaminasi. Meskipun begitu, infeksi sistemik biasanya membutuhkan bantuan lingkungan atau predisposisi lainnya.

Colibacillosis kebanyakan terjadi melalui kontak langsung dengan lingkungan tempat tinggal ayam yang basah, lembap, dan kotor, bukan dari ayam ke ayam seperti yang selama ini sering diduga peternak. Berdasarkan penelitian Mc Mullin (2004), disebutkan bahwa colibacillosis terjadi baik melalui peroral atau inhalasi, lewat membran sel/yolk/tali pusat, air, muntahan, dengan masa inkubasi 3-5 hari.

Kualitas udara yang buruk dan stres yang berasal dari lingkungan juga menjadi faktor predisposisi infeksi E. coli. Selain itu, timbulnya colibacillosis juga tidak lepas dari sanitasi yang kurang optimal, sumber air minum yang tercemar bakteri, sistem perkandangan dan peralatan kandang yang kurang memadai, serta adanya berbagai penyakit yang bersifat imunosupresif.

Untuk faktor manajemen, pastinya peternak sudah sering mendapatkan penyuluhan, pelatihan, dan lain sebagainya, namun sayangnya tidak adanya perubahan manajemen ke arah yang lebih baik, menjadi kesan adanya “pembiaran” infeksi dari bakteri E. coli.

Lingkup Infeksi yang Luas
Tidak hanya antibiotik yang memiliki lingkup luas, bakteri E. coli ternyata juga dapat menyebabkan infeksi dengan lingkup yang luas, baik secara lokal maupun sistemik, bukan hanya pada saluran pernapasan dan saluran pencernaan saja. Bentuk infeksi sistemik E. coli biasa disebut colisepticemia. Berikut ini beberapa infeksi lokal pada colibacillosis menurut Unandar (2019):... Selengkpanya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026. (CR)

COLIBACILLOSIS: ANCAMAN KLASIK YANG MASIH RELEVAN DI KANDANG MODERN

Bacterial chondronecrosis kerusakan dan kematian jaringan tulang rawan yang disebabkan oleh infeksi colibacillosis, terutama pada ayam broiler, yang menggangu pertumbuhan tulang dan menyebabkan pincang hingga kelumpuhan dan kerusakan pada liver.

Strategi terpadu pencegahan pada broiler, layer, dan breeder melalui biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, dan nutrisi.

Di tengah kemajuan teknologi perunggasan, colibacillosis masih menjadi salah satu penyakit paling sering dijumpai di lapangan. Penyakit yang disebabkan bakteri Escherichia coli (E. coli) ini kerap muncul tanpa disadari, perlahan menurunkan performa ayam, dan pada akhirnya berdampak signifikan terhadap kerugian ekonomi peternak.

Colibacillosis tidak hanya menyerang broiler, tetapi juga layer dan breeder, dengan manifestasi yang berbeda-beda. Yang membuat penyakit ini semakin kompleks adalah sifatnya yang multifaktorial dan sering berperan sebagai penyakit sekunder, memanfaatkan celah dari lemahnya manajemen, biosekuriti, atau kesehatan ayam.

Oleh karena itu, pencegahan colibacillosis tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terpadu yang mencakup biosekuriti, program kesehatan, manajemen pemeliharaan, serta pengelolaan nutrisi pakan secara optimal.

Memahami Colibacillosis Bukan Sekadar Penyakit Bakteri
E. coli sejatinya merupakan bakteri yang umum ditemukan di lingkungan kandang, bahkan di saluran pencernaan ayam. Namun, pada kondisi tertentu, bakteri ini dapat berubah menjadi patogen dan menimbulkan penyakit.

Pada broiler, colibacillosis sering terlihat dalam bentuk dengan infeksi air sacculitis, pericarditis, perihepatitis, dan septicemia. Sementara pada layer dan breeder, dampaknya bisa lebih luas, seperti penurunan produksi telur, kualitas kerabang menurun, egg peritonitis, serta penurunan fertilitas dan daya tetas.

Kondisi stres, infeksi penyakit pernapasan (IB, ND, AI, CRD), kualitas udara kandang yang buruk, serta ketidakseimbangan nutrisi menjadi pemicu utama berkembangnya colibacillosis.

Biosekuriti, Fondasi Pencegahan yang Tidak Bisa Ditawar
Biosekuriti tetap menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2026.

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer