-->

KUALITAS AIR BERMASALAH, PENYAKIT MERAJALELA

Air mempunyai pengaruh besar terhadap performa dan pertumbuhan ayam. (Foto: Dok. Infovet)

Air merupakan salah satu komponen yang harus diperhatikan dalam manajemen pemeliharaan ayam, karena air sangat penting dibutuhkan oleh ayam untuk menunjang kehidupan dan produktivitasnya, dimana hampir 80% unsur yang terdapat dalam tubuh ayam terdiri atas air.

Air harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan ternak dan memenuhi syarat dari segi kualitasnya. Air yang kualitasnya kurang baik secara tidak langsung dapat memengaruhi kesehatan ternak.

Pada hampir sebagian besar lokasi peternakan ayam yang ada di Indonesia, dilaporkan sumber airnya mengalami masalah pencemaran kuman patogen dan logam berat. Selain itu pada beberapa daerah dikeluhkan pula oleh para peternak bahwa sumber air yang mereka dapatkan pHnya ada yang rendah (cenderung asam) dan ada juga yang terlalu tinggi (cenderung alkalis). Juga dari hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh peternak, kebanyakan sumber air yang ada di lokasi peternakan tercemar kuman E. coli.

Kriteria Air Minum yang Baik untuk Ayam
Air mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan program vaksinasi dan pemberian obat-obatan untuk ayam, yang mana baik vaksinasi maupun pengobatan dalam pemberiannya mengunakan air sebagai media untuk bisa membawanya masuk ke dalam tubuh ayam.

Ada tiga kriteria penting yang dipersyaratkan untuk air yang layak diberikan pada ayam guna mendukung pertumbuhan, kesehatan dan produktivitasnya, yaitu:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022.

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

SEJAK FEBRUARI 2022, TOTAL 242 EKOR SAPI TERINFEKSI LSD DI RIAU

Vaksinasi LSD Sebagai Antisipasi dan Pengendalian Penyakit
                                                                   (Sumber : Kementan)

Ternak sapi di Provinsi Riau diserang penyakit eksotik. Penyakit yang diderita sapi-sapi tersebut merupakan penyakit kulit bernama Lumpy Skin Disease (LSD). Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau mencatat sejak 9 Februari 2022, sejauh ini sudah ada 242 ekor sapi yang terkena penyakit tersebut.

"Sejak penyakit (LSD) ini ditemukan pada sapi ternak di Kabupaten Indragiri Hulu, kemudian berkembang di tujuh kabupaten dan kota di Riau," sebut Kepala Dinas PKH Provinsi Riau, Herman (10/3/2022).

Ia merincikan, ternak sapi di tujuh daerah yang terpapar LSD adalah, Kabupaten Indragiri Hulu sebanyak 114 ekor, Pelalawan 25 ekor, Kampar 8 ekor, Dumai 20 ekor, Bengkalis 12 ekor, Indragiri Hilir 13 ekor, dan Siak 50 ekor.

"Jadi, jumlah sapi yang sakit terkena penyakit itu ada 242 ekor. Dari 242 ini, terdapat 3 ekor sapi yang mati. Namun, tingkat kematian sapi akibat penyakit ini sangat kecil, maksimal 5 persen," kata Herman. Selain mati, sambung dia, terdapat 13 ekor sapi dipotong paksa oleh pemiliknya, karena takut mati. "Tapi setelah kita tangani secara intensif, angka kesembuhan sapi yang terkena LSD cukup tinggi, ada 84 persen dari total sapi yang terkena penyakit. Jadi, ciri-ciri sapi mulai sembuh dari LSD ini, sapi sudah mau makan. Karena, selama sakit sapi tidak makan sebab tenggorokannya sakit," ujar Herman.

Kemudian ciri-ciri lain sapi sembuh dari penyakit LSD adalah, ulas dia, luka dibagian kulit sapi mulai mengering, lalu benjolan mulai mengecil. Namun, bekas luka masih ada.

"Jadi, dari 114 sapi yang terpapar LSD di Kabupaten Indragiri Hulu itu, kalau kita lihat dari empat kategori itu, Alhamdulillah seratus persen sudah sembuh. Begitu juga di daerah lainnya seratus persen sudah sembuh setelah kita lakukan penyuntikan vitamin. Kecuali di Kota Dumai. Dari 20 ekor sapi yang terpapar, 10 ekor sudah sembuh," imbuh Herman.

Sebelumnya, tim Dinas PKH Riau bersama Kementan sudah turun tangan melakukan penanganan terhadap penyakit LSD yang menyerang sapi, pertama kali ditemukan di Kabupaten Indragiri Hulu. (INF)




VAKSINASI SERENTAK DILAKUKAN UNTUK MENCEGAH LSD MELUAS

Untuk mencegah meluasnya LSD, vaksinasi serentak dilakukan. (Foto: Istimewa)

Untuk mencegah meluasnya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak sapi, Kementerian Pertanian (Kementan) lakukan vaksinasi serentak mulai dari Provinsi Riau.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementan, Nasrullah dalam siaran persnya, Jumat (18/3/2022).

“LSD merupakan penyakit hewan dari Afrika yang menyerang sapi-sapi di Riau pada sebulan terakhir ini, sehingga untuk penanganan darurat, maka Kementan melakukan vaksinasi yang bertujuan mencegah kejadian dan perluasan penyakit," Kata Nasrullah.

Dijelaskan pada tahap pertama, vaksinasi difokuskan di desa tertular dan kemudian akan dilakukan pada zona kontrol (pengendalian) dengan radius 10 km dari desa kasus. "100 ribu dosis vaksin dan logistik vaksinasinya sudah siap," Kata dia.

Lebih lanjut dijelaskan, upaya pengendalian LSD di kabupaten Indragiri Hulu, Pelalawan, Indragiri Hilir, Dumai, Siak, Bengkalis dan Kampar, mendapatkan dukungan Pemda Riau dan kabupaten, serta Australia-Indonesia Health Security Partnership (AIHSP), serta Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa (FAO).

Kepala Dinas PKH Provinsi Riau, Herman, menyambut baik kegiatan vaksinasi, serta berharap kasus baru dan penyebaran LSD dari daerah tertular dapat ditekan. Menurutnya, sebanyak 188 orang petugas kesehatan hewan telah siap melaksanakan vaksinasi.

"Kami sampaikan terima kasih atas dukungan Kementan dan AIHSP serta FAO dalam pengendalian LSD di Riau," ucap Herman.

Secara terpisah Kepala Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal,  menyampaikan saat ini LSD telah menyerang Malaysia, Vietnam, Thailand dan Singapura, serta negara lain di Asia. Kerja sama internasional diperlukan dalam pengendalian penyakit yang dapat menular antar negara dan mengganggu perdagangan ini.

“FAO bekerja sama erat dengan Kementan dan mendukung Indonesia menangani wabah LSD dengan cepat, sebelum menimbulkan gangguan lebih lanjut pada kesehatan hewan dan sistem pangan,” ungkap Rajendra.

Hal senada juga disampaikan Team Leader AIHSP, John Leigh,  yang menyampaikan komitmennya mendampingi dan mendukung proses pengendalian LSD di Riau.

Sementara Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainuddin, menyebutkan bahwa selain tujuh kabupaten tertular, vaksinasi juga dilakukan di Kabupaten Rokan Hulu yang salah satu wilayahnya masuk ke dalam zona kontrol.

"Secara bertahap kita vaksinasi mulai dari desa tertular dan zona kontrol, setelah selesai semua kita bisa lanjutkan ke radius 50 km dari desa kasus atau zona surveilans," pungkas Nuryani. (INF)

AIR MINUM TERKONTROL PERFORMA AYAM TERKATROL

Pada dasarnya air menjadi komponen penyusun terbesar dalam tubuh ayam. (Foto: Infovet/Ridwan)

Air adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia maupun hewan. Bahkan dapat dipastikan tanpa pengembangan sumber daya air secara konsisten peradaban manusia dan perkembangan peternakan khususnya ayam tidak akan mencapai tingkat yang dinikmati sampai saat ini.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor penting penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk kebutuhan air minum.

Air adalah materi esensial di dalam kehidupan, tidak ada satupun makhluk hidup di dunia ini yang tidak membutuhkan air. Sebagian besar tubuh manusia sendiri terdiri dari air, tubuh manusia dewasa rata-rata mengandung air sebanyak 55-60% dari berat badan, sedangkan untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%.

Sedangkan untuk hewan khususnya ayam, pada dasarnya air menjadi komponen penyusun terbesar dalam tubuh ayam, yaitu sebesar 60-85% dari seluruh tubuhnya.

Air bersih dibutuhkan dalam seluruh kegiatan di  suatu lingkungan peternakan ayam, seperti untuk air minum seluruh penghuni farm (ayam dan orang), sebagai komponen untuk kebersihan seperti cuci kandang, cuci peralatan, disinfeksi dan mandi-cuci orang-orang yang tinggal di farm.

Air yang digunakan harus bebas dari kuman penyakit dan bebas dari bahan beracun. Bila ditinjau dari segi kualitas, ada beberapa persyaratan air minum yang harus dipenuhi, diantaranya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (MAS-AHD)

PEMBERIAN AIR MINUM PADA AYAM BROILER

Akses ke air juga harus baik terutama untuk ayam yang masih kecil. (Foto: Shutterstock)

“Air adalah faktor yang biasanya diremehkan dalam peternakan unggas,” kata International Specialist Poultry De Heus Animal Nutrition, Jan van den Brink, dalam webinar Water: Quality and Quantity of Rearing Broiler in Rainy Season, Rabu (23/2). “Kadang terlalu banyak atau sedikit pemberiannya. Kita bisa menerapkan mengatur jumlah air karena air yang diperlukan juga berbeda-beda dari setiap umur broiler.”

Air penting untuk diperhatikan karena asupan air yang tepat akan memberikan asupan pakan yang tepat, dengan kata lain tidak ada air maka ayam tidak akan makan. Akses ke air juga harus baik terutama untuk ayam yang masih kecil, tentu berbeda ketinggian nipple yang dibutuhkan dengan ayam yang sudah besar.

Risiko Tumpahan Air
Air yang digunakan terdiri dari air yang dikonsumsi oleh ayam dan air yang tumpah. Air tidak semuanya masuk ke tubuh ayam dan bisa tumpah ke litter/sekam. Tumpahan air pada sekam akan menyebabkan beberapa permasalahan seperti luka telapak kaki yang menyebabkan ayam kesulitan mengakses pakan.

Sekam basah menyebabkan amonia yang mengganggu ayam dan asam urat yang berpengaruh terhadap ayam. Sekam akan menggumpal. Juga luka lepuh di dada jika ayam tidur di atas sekam basah.

Luka telapak kaki ayam bisa digolongkan dalam tiga kelas. Kelas 0 tidak ada luka, kelas I lukanya ringan sehingga ayam tidak terlalu menderita dan kelas II dengan luka parah yang menyebabkan ayam kesulitan mengakses pakan dan minum.

Luka telapak kaki bisa berasal dari sekam basah dan struktur kulit yang bermasalah, namun sekam basah adalah faktor penyebab yang paling besar.

Luka lepuh di dada merupakan konsekuensi dari kualitas sekam yang buruk. Jika ayam duduk lama di atas sekam yang basah akan menghasilkan panas selain dari ayam sendiri, yang suhunya sampai 40° C. Panas dan lembap akan menyebabkan kulit dada melepuh. Selain itu, sekam yang kotor juga bisa membuat bulu ayam menjadi kotor.

Kualitas Sekam
Tujuan utamanya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (NDV)

IPB UNIVERSITY BERMINAT KEMBANGKAN PETERNAKAN SAPI DI BLORA

Pertemuan perwakilan IPB bersama Bupati Blora

Potensi populasi sapi di Kabupaten Blora yang jumlahnya besar mulai banyak dilirik perguruan tinggi yang memiliki disiplin ilmu peternakan dan turunannya.

Setelah beberapa waktu lalu ada UGM Yogyakarta dan PT. Andini Blora Gama Sejahtera (ABGS) yang akan mendirikan peternakan sapi modern hulu hilir di Desa Megeri.

Kini hadir Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga ingin berkontribusi dalam pembangunan peternakan sapi di Blora.

Jumat malam (11/3/2022), sekira pukul 20.00 WIB, Tim Departemen Agribisnis IPB Bogor datang langsung ke Blora untuk melakukan presentasi dan penjajakan pengembangan peternakan sapi dengan Bupati H. Arief Rohman, S.IP., M.Si.

Tim diterima langsung oleh Bupati di kantor Sekretariat Daerah, Jl. Pemuda no.12 Blora. Tim terdiri dari Dr. Ir. Suharno, M.Adev (Wakil Program Studi S2 Agribisnis IPB).

Kemudian Dr. Ir. Anna Fariyanti, M.Si (Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen Bidang Akademik dan Kemahasiswaan); serta Dr. Ir. Dwi Rachmina, M.Si (Ketua Departemen Agribisnis FEM IPB).

Ketiganya bersama anggota lainnya berdiskusi dengan hangat bersama Bupati H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., didampingi Kepala Bappeda, Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan, Sekretaris Dinas Pendidikan dan para Kabid DP4.

Kepada Bupati dan jajarannya, Dr. Ir. Suharno, M.Adev menyampaikan bahwa pihaknya bersama tim berminat ikut membangun peternakan Blora karena disini potensi sapi sangat besar.

“Komoditas unggulan peternakan Blora adalah sapi , terbesar di Jawa Tengah dan kedua terbesar di Indonesia. Jumlah ini meningkat sebesar 7.22%/tahun. Namun pengelolaan usaha ternak belum mengarah pada pengelolaan bisnis dan masih bersifat individu. Dan juga keterbatasan pakan ternak terbatas pada musim kemarau dan belum mengoptimalkan sumberdaya yang ada (limbah jerami, bungkil jagung, limbah tebu dan lainnya). Sehingga kami tertarik untuk ikut membantu,” ungkap Suharno.

“Kami ingin mengembangkan agribisnis peternakan di Kabupaten Blora, dengan menjalankan bisnis sapi potong sebagai ekonomi andalan kawasan berlandaskan ilmu dan teknologi . Kemudian meningkatkan pendapatan peternak dan mempercepat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blora,” tambahnya.

Gagasan ini menurutnya akan diwujudkan melalui program Kedaireka - Matching Fund Agribisnis - Pemda Blora. Serta Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi Potong Melalui Inovasi Kelembagaan Sekolah Peternak Rakyat di Kabupaten Blora.

Diskusi berlangsung hingga larut malam bersama SKPD terkait untuk memetakan wilayah mana yang akan dijadikan percontohan program dari IPB ini.

Bupati H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., menyampaikan rasa bangganya dan apresiasi setinggi-tingginya atas niat baik IPB Bogor dalam keikutsertaannya untuk bersama-sama membangun sektor peternakan di Kabupaten Blora.

“Ya semalam kita diskusi bersama di kantor hingga larut malam. InshaAllah IPB Bogor bersedia membantu kita lewat program Kedaireka - Matching Fund Agribisnis - Pemda Blora untuk Sesarengan mbangun Blora dalam hal Pengembangan Agribisnis Peternakan Sapi Potong Melalui Inovasi Kelembagaan Sekolah Peternak Rakyat di Kabupaten Blora,” ungkap Bupati, Sabtu (12/3/2022) pagi.

Menurut Bupati, ada beberapa desa yanag akan dicurvei terlebih dahulu untuk menentukan mana lokasi yang cocok.

“Rencananya akan melakukan survei terlebih dahulu ke beberapa desa. Kita minta SKPD terkait untuk mendampingi, seperti ke Desa Palon Kecamatan Jepon, Desa Pengkolrejo Kecamatan Japah, dan beberapa desa lainnya.Mohon doa nya semoga tahapannya lancar agar kedepan para peternak di Kabupaten Blora semakin baik, dan dapat meningkatkan kesejahteraan nya. Dengan begitu perekonomian Blora dari sektor peternakan juga akan tumbuh,” jelas Bupati. (INF)

PETERNAK LAYER DI LAMPUNG GULUNG TIKAR, DINAS PETERNAKAN BERJANJI BERI PENDAMPINGAN

Peternak layer sedang memberi pakan 

Peternak ayam petelur dan pedagang telur di Lampung kini banyak yang gulung tikar, dan menjual aset peternakan mereka kepada pengusaha besar. Bisnis peternakan ayam sudah tidak prospektif lagi karena ada pasar monopoli vertikal dari mulai pakan, obat-obatan, dan bibit ayam. Sekali ada distorsi harga pakan atau bibit, usaha ternak ayam langsung rontok.

Merespon hal tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Lili Mawarti mengatakan pihaknya siap menindaklajuti kondisi yang dialami oleh para peternak rakyat ayam petelur. Pihaknya pun melakukan langkah-langkah pendampingan, dan pembinaan.

"Upaya kami, melakukan pendampingan dan pembinaan terutama ke peternak skala UMKM dengan prioritas terkait peningkatan efisiensi produksi dan budidaya, pengolahan pakan, bantuan penanganan penyakit unggas, dan sebagainya," kata dia.

Kemudian ia mengatakan agar peternak UMKM membentuk kelompok/koperasi untuk memudahkan pembinaan dan komunikasi terkait masalah yang sedang dihadapi. Kemudian pihaknya meminta peningkatan peran Dinas Peternakan Kabupaten/Kota dalam pendampingan.

"Diusahakan rekomendasi untuk subsidi jagung dari instansi lain seperti Kementan, Bulog dan sebagainya, mengusahakan bantuan teknologi pengolahan pakan bekerjasama dengan pabrik-pabrik pakan, akademisi dan lainnya," katanya.

Sebelumnya, Koordinator Kelompok Peternak Ayam Petelur (Ketat) Sejahtera Mandiri Lampung, Yoce H Sadok mengatakan solusi dari Pemerintah Provinsi Lampung diminta untuk berkelompok dan berkoperasi. Saat ini yang tergabung dikempoknya ada 140 peternak. Ia menceritakan di Ketat Sejahtera Mandiri Lampung sudah ada 40 lebih peternak yang kolep/bangkrut. Kendala utamanya ada di harga pakan yang terus melambung saat ini harga pakan Rp345 ribu - Rp370 ribu/sak sebelumnya di angka Rp200 ribu/sak.

"Bila peternak mempunyai 500 ekor, dalam seminggu minimal membutuhkan 7 sak pakan. Bila harga telur Rp20 ribu/kg, untuk 1 petinya cuma dapet Rp300 ribu artinya peternak nombok Rp45 ribu - Rp70 ribu," katanya. (INF)

POTENSI EKONOMI BUDI DAYA BROILER PADA KANDANG CLOSED HOUSE

Ketika penerapan manajemen perkandangan modern telah berjalan baik, diharapkan peternakan Indonesia semakin maju. (Sumber: Shutterstock)

Empat komponen biaya dalam membangun kandang ayam broiler dengan sistem closed house yaitu investasi, operasional dan pemeliharaan, penerimaan, serta keuntungan. Angka terkini investasi yang harus dikeluarkan dalam membangun closed house di kisaran biaya terendah Rp 77.000/ekor ayam.

Sementara kisaran biaya tertinggi Rp 100.000/ekor ayam. Hitungan ini disebutkan oleh dosen Program Studi Teknologi dan Manajemen Ternak, Sekolah Vokasi IPB, Danang Priyambodo SPt MSi.

Lebih lanjut Danang merinci total biaya terendah untuk 40.000 ekor sejumlah Rp 3.098.150.000. Sementara total biaya tertinggi sebanyak Rp 4.012.800.000. Nilai keseluruhan investasi tersebut digunakan untuk keperluan pembelian tanah, pembuatan jalan menuju kandang maupun dalam kandang. Berikutnya kebutuhan penerangan atau listrik, sumur bor atau penampungan air, perizinan, pagar keliling, mess/gudang, genset dan peralatan kandang (PE).

Danang memberi catatan, angka tersebut didapatkan dengan asumsi luasan yakni ukuran 12 m x 120 m, kapasitas 40.000 ekor. “Dengan jumlah dua lantai kandang. Biaya ini bisa berubah sesuai bahan, situasi dan kondisi daerah setempat,” kata Danang saat menjadi pembicara dalam SAS21 Poultry Pilot Project: Closed Poultry House Training, beberapa waktu lalu.

Berikutnya dijelaskan analisis berdasarkan penghitungan ekonomi budi daya broiler sistem closed house memang mengeluarkan biaya investasi cukup tinggi, namun keuntungan yang didapat setiap periodenya juga tinggi. “Kalkulasi yang menguntungkan, Break Even Point/BEP closed house dapat tercapai dalam 3,5-4,5 tahun,” ungkap dia.

Selain itu, umur bangunan kandang closed house yang terbuat dari besi baja mampu bertahan lama lebih kurang 20 tahun. “Setelah BEP, kandang masih tetap bisa digunakan dalam waktu yang masih lama dan dalam kondisi yang tetap baik,” ucapnya.

Operasional dan Pemeliharaan 
Pada komponen kedua yakni biaya operasional dan pemeliharaan, pengeluaran digunakan untuk tenaga kerja, listrik dan air, gas, serta kebutuhan sekam. Kisaran biaya operasional terendah untuk kapasitas tamping… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022. (NDV)

TAJIKISTAN MENINGKATKAN PRODUKSI DAGING UNGGAS

Tajikistan meningkatkan produksi unggas sebesar 30% pada tahun 2021, mengurangi ketergantungan pada daging dan telur ayam impor, kata Kementerian Pertanian Tajikistan.

Pada konferensi pers di Dushanbe pada 31 Januari, wakil Menteri Pertanian, Nigina Anvari, mengatakan bahwa Tajikistan memproduksi 44.100 ton daging unggas pada tahun 2021, dibandingkan dengan 30.600 pada tahun sebelumnya.

Produksi unggas adalah segmen kunci pertanian di Tajikistan dan memainkan peran penting dalam meningkatkan asupan protein penduduk, kata Nigina.

MENGATASI DIARE PADA UNGGAS BERSAMA BETTER PHARMA

Prof Thaweesak Songserm


Diare menjadi momok menakutkan pada peternakan unggas, gejala klinis berupa diare biasanya merupakan manifestasi klinis dari suatu penyakit atau suatu ketidakberesan dalam manajemen pemeliharaan. Better Pharma memahami kondisi tersebut dengan mengadakan webinar bertajuk How to Fight Poultry Diarrhea & Wet Dropping with The Right Solution Selasa (15/3) melalui daring Zoom Meeting.

Hadir sebagai narasumber yakni Prof Dr Thaweesak Songserm yang merupakan pakar perunggasan dari Kasetsart University Bangkok, Thailand. Menurutnya sangat jelas bahwa diare merupakan gangguan dari saluran pencernaan dengan kausa multifaktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal misalnya keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan, dan faktor eksternal yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan mulai dari kualitas pakan dan air minum, ventilasi, brooding, dan lain sebagainya.

"Ini merupakan tantangan bagi tiap peternak bahwa sangat penting menjaga kesehatan dan integritas dari saluran pencernaan, karena menurut saya saluran pencernaan ayam ibarat sebuah kawasan industri yang hampir bekerja tanpa henti," tuturnya.

Lebih lanjut Prof Thaweesak me-review kembali fungsi dari masing - masing organ pada saluran pencernaan. Ia juga menyinggung keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan yang dimana dalam keadaan tidak seimbang, akan terjadi juga diare karena ayam gagal melakukan proses homeostasis.

Ia kemudian membagi penyebab diare menjadi dua yakni infeksius dan non-infeksius. Diare infeksius terjadi karena mikroba patogen semisal bakteri (Salmonella, E.coli, dll), virus (avian reovirus), dan parasit (cacing, koksidia,protozoa lain). Sedangkan diare non infeksius terjadi akibat kesalahan manajemen baik pada kualitas pakan, komposisi pakan, serta kondisi lingkungan.

"Untuk mengenali diare yang infeksius dan non-infeksius dibutuhkan pengalaman dan kecermatan dari para petugas di lapangan supaya kondisi tersebut dapat ditangani dengan baik dan benar, karena jika tidak segera ditangani akan berakibat kerugian masif," tuturnya.

Tidak lupa Better Pharma melakukan launching produknya yang berfungsi untuk mengatasi diare dan wet dropping pada unggas. Produk dengan bahan aktif halquinol itu disebut - sebut sebagai sediaan paling efektif dalam mengatasi diare pada unggas. (CR)


PETERNAKAN UNGGAS KAZAKHSTAN MEMUSNAHKAN SEJUMLAH BESAR AYAM

Peternakan ayam petelur di Kazakhstan telah mulai mengurangi ternaknya, hal itu untuk mengantisipasi penurunan tajam dukungan negara pada tahun 2022.

Saat ini, peternakan unggas Kazakhstan bersiap untuk reformasi pertanian, yang rinciannya belum diungkapkan. Pada tahun 2021, Yerbol Karashukeev, Kementerian Pertanian Kazakhstan, mengungkapkan bahwa pemerintah ingin mereformasi sistem subsidi negara melalui “menyederhanakan mekanismenya, mengoptimalkan arah dan memastikan akses yang sama ke bantuan negara untuk semua perusahaan.”

Di sisi lain, beberapa pejabat pemerintah berpendapat bahwa Kazakhstan telah mencapai tingkat produksi telur yang baik. Dalam hal ini, sebagian besar peternak telur yakin bahwa subsidi negara untuk produksi telur akan dipotong secara substansial, jika tidak sepenuhnya ditinggalkan.

MANFAAT SENYAWA BUTIRAT

Struktur kimia kalsium butirat (kiri) dan tributirin (kanan).

Senyawa butirat merupakan imbuhan pakan yang banyak dipromosikan sebagai pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) karena keunikannya. Asam butirat sebenarnya termasuk ke dalam kelompok pengasam (acidifier) karena merupakan asam organik rantai pendek yang mudah menguap, tetapi asam butirat mempunyai manfaat lain yang berbeda dengan asam organik lainya seperti asam asetat (cuka) maupun propionat. Penemuan asam butirat yang berperan dalam saluran pencernaan ditemukan pada manusia terlebih dahulu sebelum dikembangkan untuk ternak.

Struktur Kimia
Seperti halnya kelompok asam, asam butirat mempunyai gugus karboksilat (-COOH) dengan rantai karbon sebanyak empat buah, sedangkan untuk rantai karbon 1, 2 dan 3 buah dinamakan asam format, asam asetat dan asam propionat. Karena sifatnya yang mudah menguap dan menimbulkan bau yang tidak sedap, maka asam butirat dibuat dalam bentuk garamnya yaitu direaksikan dengan kalsium (atau natrium) menjadi senyawa yang tidak menguap seperti kalsium butirat (lihat gambar di atas), sehingga lebih mudah dicampur ke dalam ransum.

Disamping dalam bentuk garam, di pasaran juga dijual asam butirat yang direaksikan dengan gliserol seperti senyawa lemak pada umumnya (triacyl glycerol) menjadi senyawa yang disebut tributirin yang akan diuraikan lebih lanjut.

Sifat dan Karakteristik sebagai Antibakteri
Asam butirat pada suhu kamar berupa cairan seperti cuka (asam asetat) dan mudah menguap. Asam butirat menghasilkan bau yang tidak sedap sehingga memerlukan penanganan khusus. Karena senyawa butirat merupakan asam, maka pada mulanya kemampuan butirat dalam menghambat perkembangan bakteri dalam usus ternak dikaitkan dengan ion H+ yang dapat menurunkan pH.

Tetapi kemudian diketahui bahwa kemampuan butirat menghambat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2022.

Ditulis oleh:
Prof Budi Tangendjaja
Konsultan Nutrisi Ternak Unggas

FKH IPB UNIVERSITY BERTANSFORMASI MENJADI SKHB

FKH IPB University, bertansformasi menjadi SKHB

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University akan berubah namanya menjadi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), hal tersebut diinformasikan oleh Dekan SKHB IPB University, Prof drh Deni Noviana disela - sela acara Munajat Cinta IKA FKH IPB Sabtu (12/3).

Ia menyampaikan, perubahan ini dilakukan untuk memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2013 tentang Anggaran Dasar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Peraturan Majelis Wali Amanat Nomor 06/MWA-IPB/P/2020 tentang Struktur dan Organisasi Kerja IPB yang mengatur tentang penegakan kegiatan akademik. dari satu ruang lingkup studi atau memiliki karakteristik tertentu harus dilaksanakan dalam bentuk sekolah.

“FKH merupakan bagian dari IPB University yang memiliki satu ruang lingkup kajian. Melalui Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 328 Tahun 2021, berubah nama menjadi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB),” ujarnya.

Lebih dari itu, lanjutnya, perubahan ini dilakukan untuk memperkuat profesi dokter hewan untuk menjawab tantangan dan isu global seperti One Health, ilmu biomedis, bioteknologi klinis, dan spesialisasi kedokteran hewan di bidang kesehatan hewan.

Namun, Prof Deni menyatakan bahwa SKHB IPB University memiliki kurikulum yang ditetapkan secara nasional sama dengan FKH IPB University oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) dengan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI). Kurikulum ini mengacu pada standar International Day 1 Competency Office International des Epizooties (OIE).

“Dengan bentuk sekolah ini, SKHB IPB University dapat membentuk program-program baru di bawah SKHB seperti biomedis, farmasi, spesialisasi veteriner, dan program lain dalam lingkup studi yang sama,” jelasnya.

Seiring dengan itu, lanjutnya, FKH IPB University bertransformasi menjadi SKHB mulai 28 Desember 2021, namun proses transisi dan penyesuaian administrasi berlangsung selama satu tahun.

“Pada masa itu nama dan atribut FKH IPB University masih bisa digunakan sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, kami mohon dukungan dan kerjasama dari semua pihak,” pungkasnya. (CR)

CHINA DIPREDIKSI MENJADI IMPORTIR UNGGAS UTAMA

USDA memperkirakan bahwa China akan menjadi importir utama unggas, karena konsumsi melebihi pertumbuhan produksi domestik. Impor unggas China akan melonjak sebesar 30,9%, mencapai lebih dari 1,2 juta ton pada dekade berikutnya.

Dengan ekspor unggas China yang diproyeksikan mencapai tinggi 23,4%, menjadi 571.000 ton, impor bersih meningkat 40% menjadi 218.000 ton, menurut proyeksi.

PERLAKUAN MENYIMPAN DAGING AGAR TETAP SEGAR

Menyimpan di dalam lemari es merupakan salah satu cara menyimpan yang baik untuk daging. (Foto: Istimewa)

Daging yang akan disimpan di dalam freezer, tak perlu dicuci. Alasannya, hal ini justru membuat kadar air dalam daging akan meningkat dan menyebabkan paparan dengan mikroba yang lebih banyak.

Beberapa waktu lagi umat Islam akan memasuki momentum bulan Ramadan. Menyajikan menu untuk berbuka dan sahur, umumnya ingin ada yang istimewa seperti olahan daging sapi atau kambing.

Hanya saja, di masa pandemi COVID-19 yang belum tahu kapan berakhir, berhemat uang belanja menjadi pertimbangan bagi ibu-ibu rumah tangga. Tidak sedikit orang memilih untuk membeli daging guna kebutuhan beberapa hari ke depan. Bukan tujuan untuk menimbun, melainkan agar lebih hemat dan tak terlalu sering bepergian ke pasar selama masa pandemi.

Menyimpan daging kambing atau daging sapi tidak terlalu sulit, namun tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Kalau tak tahu cara menyimpan yang tepat, daging bisa tak sedap lagi saat akan dimasak.

Oleh karena itu, jika disimpan di dalam kulkas, Anda harus tahu cara menyimpan yang benar. Hal ini dilakukan agar dapat menjaga kualitas sembari meningkatkan masa simpan daging.

“Menyimpan di dalam lemari es merupakan salah satu cara menyimpan yang baik untuk daging. Semua daging hewan yang sudah dipotong, dagingnya harus dipertahankan dengan rantai dingin, di bawah 4° C,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Ir Edi Suryanto MSc IPU kepada Infovet.

Begitu pula saat akan mengolah, harus ada perlakuan beda dalam mengolah daging beku, sebelum sampai ke meja makan. Menurutnya, pencairan daging beku dapat dilakukan dengan beberapa cara agar menghasilkan olahan yang nikmat.

Perhatikan Cara Menyimpan
Edi menjelaskan ada beberapa cara simpan daging di lemari es agar tetap sehat dan awet yang disarankan:

• Lakukan pengecekan kondisi kulkas atau freezer dengan memperhatikan kondisi kebersihan tempat penyimpanan. Pengecekan dilakukan dengan melihat kondisi rak kulkas atau freezer secara fisik, baik pada tempat yang terlihat atau di sela rak. Jika perlu, bersihkan dengan cairan pembersih terlebih dahulu sebelum menyimpan daging. Hal ini penting agar bakteri yang mungkin ada pada rak kulkas dan freezer tidak mengontaminasi daging. Selain itu, suhu kulkas dan freezer juga perlu diperhatikan. Tujuannya untuk menjaga kualitas dan keamanan daging selama disimpan. Pastikan suhu freezer berada di bawah 10° C dan kulkas di bawah 4° C. Suhu penyimpanan yang tidak tepat akan membuat daging mudah rusak saat disimpan.

• Langkah berikutnya yang dilakukan adalah mempersiapkan wadah. Wadah yang digunakan harus bersih dan kedap udara atau tertutup. Hal ini penting agar daging tetap bersih dan cairan dari daging mentah tidak mengontaminasi bahan makanan lain saat penyimpanan. Usahakan menggunakan wadah yang tertutup rapat. Selain wadah, memotong daging sebaiknya dilakukan saat masih segar. Lebih baik lagi jika daging dipotong-potong dan membaginya dalam beberapa wadah untuk ukuran satu kali masak, sehingga daging yang diambil adalah daging yang diperlukan saja dan daging lainnya bisa tetap terjaga kualitasnya. Dengan demikian tidak bongkar muat wadah saat akan memasak sebagian dagingnya. Selain itu, jangan cuci daging kambing atau sapi sebelum disimpan. Kebanyakan orang menganggap mencuci daging akan membuatnya bersih. Anda tidak dianjurkan mencuci daging sebelum disimpan di dalam freezer, karena hal ini justru membuat kadar air dalam daging meningkat. Dampaknya,  menyebabkan paparan dengan mikroba yang lebih banyak.

• Perlunya mencatat tanggal atau memberi label. Setidaknya Anda harus mengingat kapan menyimpan daging di freezer. Tujuannya agar bisa mengontrol dengan tepat mulai kapan waktu penyimpanan daging dan kapan sebaiknya daging paling lambat diolah. Mencatat waktu penyimpanan juga akan memudahkan mengontrol masa simpan. Pada suhu standar kulkas, daging merah seperti daging sapi, kambing, domba, bisa disimpan 4-5 hari. Pada suhu freezer, daging merah bisa disimpan 4-12 bulan. Namun perlu diingat, semakin lama menyimpan, akan semakin kurang kesegaran dagingnya.

• Menjaga kualitas daging saat akan digunakan. Cara menyimpan daging di kulkas yang terakhir adalah memperhatikan kapan daging akan digunakan. Jika akan dipakai dalam 1-2 hari, maka menyimpan daging sesuai porsi yang dibutuhkan. Kulkas bisa jadi pilihan yang tepat.

Memasak Daging Beku
Jika ingin menggunakan daging yang telah disimpan dalam freezer, maka lakukan persiapan dengan mencairkan daging tersebut dalam kulkas selama setengah sehari. Hal ini penting agar daging beku tetap terjaga kualitasnya ketika dicairkan. Jangan mencairkan daging beku di suhu ruang karena rentan terkontaminasi bakteri. Selain itu, jangan pula membekukan daging yang telah dicairkan sebelumnya.

Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Ali Khomsan, harus ada perlakuan beda dalam mengolah daging beku sebelum sampai menjadi hidangan di meja makan. Ia menyarankan, proses pencairan daging beku dapat dilakukan dengan beberapa cara.

Pertama, bisa disimpan di ruang suhu kamar. Artinya, keluarga daging yang akan diolah dari freezer, lalu simpan di tempat biasa. Dalam beberapa jam, daging beku akan kembali menjadi daging segar untuk siap diolah.

Kedua, ada juga mencairkan daging beku dengan cara direndam di dalam air biasa, sehingga lama-kelamaan bekuan esnya akan meleleh. Selama ini, masih ada masyarakat yang melakukan pencairan daging beku langsung dengan merendam atau menyiramkan air panas. Memang, cara ini mempercepat waktu melelehkan bekuan es pada daging. Namun, cara ini sangat tidak disarankan.

Sebaiknya pencairan daging beku tidak dengan merendam pada air panas, karena performa dan tekstur dagingnya menjadi beda. “Pencairan yang baik itu bertahap, melalui rendaman air biasa atau di ruang suhu kamar. Itu lebih bagus hasilnya,” ujarnya.

Jika pencairan dilakukan dengan cara memanaskan daging beku, maka akan merusak performa dan tekstur daging. Selain itu, kandungan gizi pada daging akan mengalami  penuruann drastis.

Untuk menjaga kualitas daging, masukkan daging ke dalam kantong plastik anti-bocor. Kebocoran pada kantong tersebut dapat membahayakan keamanan makanan dan menyebabkan pertumbuhan bakteri. Rendam kantong berisi daging di dalam air dingin dan ganti airnya setiap 30 menit. Daging beku akan mengurangi suhu air, memperlambat proses pencairan jika air tidak diganti.

Cairkan daging dengan jumlah kecil dalam waktu kurang lebih satu jam. Potongan daging yang lebih besar bisa menghabiskan waktu 2-3 jam. Jika tekstur sudah sama seperti daging segar segera masak daging tersebut. (AK)

MUNAJAT CINTA IKA FKH IPB

Munas IKA FKH IPB 


Sabtu 12 Maret 2022 Ikatan Keluarga Alumni FKH IPB menggelar Musyawarah Nasional secara luring di Kampus FKH IPB Darmaga dan daring melalui Zoom Meeting. Tema yang diusung yakni munajat Cinta yang merupakan akronim dari Munas IKA dan Jalan - Jalan Civitas Akademika dimana selain Munas peserta yang ikut secara daring akan diajak melakukan tur virtual ke kampus FKH IPB dan melihat perkembangannya sekarang.

Dalam sambutannya Ketua Umum IKA FKH IPB periode 2016 - 2021 Drh Fitri Nursanti dalam sambutannya mengutarakan permintaan maafnya kepada para hadirin perihal Munas yang diundur karena pandemi Covid-19.

"Seharusnya Munas dilangsungkan pada tahun 2020 namun diundur sampai 2022, saya mohon maaf karena ini juga bukan keinginan kami dan segala keterbatasannya," tutur Fitri.

Ia juga berterima kasih kepada para pengurus IKA FKH IPB yang telah bekerja maksimal dalam menjalankan program - program yang telah disusun. Dirinya berharap Ketua Umum IKA selanjutnya dapat terus memajukan IKA dan terus mengharumkan nama almamater di kancah nasional.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut yakni Ketua Umum Himpunan Alumni IPB Walneg S. Jas. Ia mengapresiasi IKA FKH IPB sebagai salah satu organisasi alumni yang sangat aktif melaksanakan kegiatannya dan peduli pada adik - adik kelasnya.

"Saya dapat laporan kalau IKA FKH IPB memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan nilainya fantastis sampai lebih dari 1 milyar rupiah, ini sangat luar biasa, saya bangga dan salut kepada IKA FKH IPB. Semoga IKA FKH IPB terus bisa berkontribusi dalam kegiatan apapun termasuk kegiatan sosial," tuturnya.

Dekan FKH IPB Prof Drh Deni Noviana yang juga memberikan sambutan lebih lanjut juga memaparkan perkembangan kampus kekinian. Selain pembangunan beberapa infrastruktur baru, Deni juga mengatakan bahwa nantinya FKH IPB akan berubah nama menjadi Sekolah Kedokteran Hewan Bogor (SKHB). 

"Ini telah direncanakan sejak 2007, namun baru bisa dieksekusi sekarang. Hal ini pun telah lama digodog oleh rektorat secara matang. Kedepannya diharapkan akan menjadi lebih berkualtias dan kompetitif tanpa merubah kurikulum," kata dia.

Dalam acara Munas yang berlangsung terpilihlah Drh Gunadi Setiadarma sebagai Ketua Umum IKA FKH IPB yang baru. Semoga Ketua Umum IKA FKH IPB baru yang terpilih dapat menjalankan amanat tersebut dan semakin mengharumkan nama IKA di semua lini. 

IMPOR UNGGAS DUNIA DIPERKIRAKAN NAIK

Impor daging unggas tahunan mungkin meningkat 2,6 juta ton (20,3%), mencapai 15,8 juta ton pada tahun 2031. Pertumbuhan yang lebih besar akan terkonsentrasi di pasar negara berkembang di Asia, Amerika Latin, Afrika Sub-Sahara, dan Timur Tengah. Rusia, Ukraina, Uni Eropa, Taiwan dan Kanada diproyeksikan menunjukkan laju pertumbuhan yang jauh lebih lambat.

Impor unggas di kawasan Afrika dan Timur Tengah diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 22,3% dan 16,8%. Pada tahun 2031, gabungan kedua wilayah tersebut akan meningkatkan impor daging unggas sebesar 1 juta ton.

Di Meksiko, yang produksinya meningkat, impor mungkin meningkat lebih cepat. Akibatnya, impor daging unggas Meksiko akan tumbuh sekitar 17,6% menjadi hampir 1,3 juta ton antara tahun 2023 dan 2031. Impor unggas Amerika Tengah dan kawasan Karibia dapat melonjak 26,6% menjadi 1,1 juta ton pada tahun 2031. (via poultryworld.net)

KONSUMSI AYAM DUNIA DIPERKIRAKAN TUMBUH

Secara keseluruhan, konsumsi ayam dunia akan tumbuh sebesar 16,7% hingga tahun 2031. Proyeksi pertumbuhan permintaan untuk semua daging tertinggi di antara kawasan berkembang seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan Timur Tengah.

Laporan menunjukkan bahwa daging unggas memiliki pertumbuhan produksi dan konsumsi tertinggi dibandingkan dengan daging sapi dan babi. Ini karena produksi unggas telah menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (20,8%) daripada di negara-negara kaya (8,5%). (via poultryworld.net)

MODEL INCLUSIVE CLOSED LOOP: OPTIMISME MENAIKKELASKAN PETERNAK DOMBA KAMBING

Kadin menginisiasi model inclusive closed loop (Foto: Infovet)

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menginisiasi model kemitraan inclusive closed loop, sebuah sistem kerja sama di sektor agribisnis yang dapat menguntungkan para pelakunya dari hulu sampai hilir, termasuk peternak. Topik tersebut mengemuka dalam webinar ‘Inclusive Closed Loop, Upaya Menaikkelaskan Peternak Domba Kambing’, berkolaborasi dengan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI).

“Kondisi umum peternak domba dan kambing saat ini 93 persen adalah peternak kecil dengan skala usaha 3 sampai 10 ekor,” kata Tri Hardiyanto, Ketua KOMTAP Peternakan Kadin Indonesia membuka acara webinar, Kamis (10/3/2022).

Para peserta webinar

Tri menambahkan kualitas bibit dan produktivitas yang rendah kemudian inefisien perkandangan serta tidak adanya integrasi dengan sistem pasar, hal ini menguak sisi lain dari usaha ternak domba dan kambing di mana potensi pangsa pasar hilir domba dan kambing masih terbuka lebar baik domestik maupun potensi ekspor.

“Terlebih pangsa pasar khususnya yang terkait dengan ibadah seperti akikah dan kurban,” lanjutnya.

Program inclusive closed loop ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan dan peningkatan skala usaha peternak sekaligus menciptakan ekosistem di dalam stakeholder peternakan.

HPDKI juga telah melakukan terobosan dengan pendekatan closed loop untuk menuju arah korporasi peternakan. Ketua Umum HPDKI, Ir Yudi Guntara Noor SPt IPU menerangkan lima tahapan pendekatan tersebut.

“Dalam pendekatan closed loop HPDKI menitikberatkan pada pasar dan insentif harga sebagai tahap pertama. Berbicara agribisnis peternakan, jika pasarnya tidak ada maka insentifnya tentu sulit,” ujar Yudi yang juga KOMTAP Peternakan Kadin Indonesia.

Lebih lanjut Yudi mengungkapkan, lima tahun yang lalu insentif harga ternak ruminansia kecil terlalu rendah. Oleh sebab itu, HPDKI bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan membuka peluang ekspor.

“Kami melihat, murahnya harga ternak domba dan kambing di Indonesia ini menjadi sebuah daya saing untuk mengisi pasar ekspor. Begitu pasar ekspor dibuka, harga di tingkat peternak membaik. Insentif ini digunakan sebagai modal awal peternak untuk mau melakukan korporasi,” papar Yudi.

Yudi menambahkan, pasar untuk pelaku usaha ternak domba dan kambing terbuka dan makin banyak pilihan baik di lokal, ekspor, kuliner serta serapan dari kegiatan akikah dan hari raya kurban.

Tahapan kedua, Yudi melanjutkan yaitu skala usaha dan produktivitas. Dari tahap ini, akses pembiayaan skala usaha 5 ekor, HPKDI mencoba melakukan pendekatan agar peternak dapat memperoleh akses ke sumber keuangan untuk mengajukan program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

“Bunga dari program KUR ini yang cocok bagi para peternak. “Nilai 100 juta sekarang ini bisa untuk memelihara sampai 60 ekor penggemukan atau 30 ekor untuk membeli bibit pembiakan,” tambahnya.

Menurut Yudi yang berkaitan dengan produktivitas, skala usaha ternak domba dan kambing akan terus ditingkatkan.

Peternak kita termasuk medium type atau bukan penghasil. Di Indonesia, kambing punya nama sedangkan domba ini yang punya daging.

“Oleh karenanya kita perbaiki di peternakan domba dengan memasukkan pejantan unggul pada tahun 2018 atau dengan cross breed lalu menghasilkan sebuah jenis ternak persilangan lokal dan bibit unggul. Upaya persilangan ini produktivitas menunjukkan peningkatan 100 persen yakni dari segi penggemukkan 160-250 gram per ekor per hari,” sebut Yudi.

Sementara tahap ketiga adalah inklusi keuangan-KUR, keempat supply chain/integrasi hulu hilir, dan sustainability.

Berkelanjutan

Dr Ir Musdhalifah Machmud MT, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI mengatakan model kemitraan inclusive closed loop ini melibatkan multi stakeholder untuk membangun ekosistem rantai pasok yang terintegrasi.

Diantaranya kolaborasi pemerintah, akademisi, BUMN, BUMD, perbankan, pelaku usaha swasta, para peternak serta asosiasi yang menjalankan peran sesuai tugas dan fungsinya.

“Khusus untuk sektor peternakan perlu mapping stakeholder dan skema kemitraan. Mulai dari penyedia sapronak, pembiayaan, asuransi, teknologi, offtaker hinga pendampingan untuk memastikan ekosistem dari hulu ke hilir berkelanjutan,” ujar Musdhalifah.

Tantangan Usaha Ternak Domba dan Kambing

Tantangan usaha peternakan domba dan kambing, Musdhalifah menambahkan, diantaranya pemenuhan untuk penggemukan domba dan kambing di atas 5000 ekor atau dalam skala besar tidak ada. Sementara usaha breeding dihadapkan pada tantangan untuk mendapatkan bibit yang unggul.

Menurut Musdhalifah, tantangan ini menjadi peluang pengembangan usaha kambing domba baik breeding maupun penggemukan sehingga menjadi tumpuan masyarakat peternak untuk meningkatkan perekonomian keluarga hingga wilayahnya.

Sekretaris Ditjen PKH Drh Makmun MSc menuturkan peluang dan tantangan pengembangan domba dan kambing dapat dilakukan dengan langkah membangun kebersamaan. “Kita bangun dengan model kandang-kandang komunal. Jadi peternak dapat memperoleh kemudahan untuk menerima fasilitas dari pemerintah hingga pelayanannya. Saya pikir bisa ya dengan 1000 populasi ini, 1 kelompok 1 komunal dan kita pastinya mendorong terbentuknya korporasi,” papar Makmun.

Konsumsi Protein

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian Kadin Indonesia, Arif P Rakhmat menyampaikan data dari Badan Ketahanan Pangan menunjukkan konsumsi protein di Indonesia sebesar 62,05 gram per kapita, setiap harinya di tahun 2020.

Konsumsi protein asal pangan hewani sebanyak 21,28 gram atau 34,3 persen. Daging adalah sumber protein dari hewani dan menurut FAO, tingkat konsumsi daging di Indonesia masih jauh di bawah rata-rata tingkat konsumsi dunia.

“Dengan demikian pasar di dalam negeri untuk kebutuhan daging masih terbuka lebar dan optimis akan meningkat, seiring dengan tingkat kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kebutuhan daging di Indonesia memang masih banyak dipenuhi dari impor, hal ini harus disoroti karena ada faktor produktivitas dalam negeri.

“Hal ini juga terkait dengan tata kelola dan skala ekonomi yang menjadi unsur penting dan mendasar guna mencapai tingkat efisiensi, serta tingkat produktivitas yang optimal,” tandas Arif. (NDV)

AGRIBUSINESS OUTLOOK 2022, GELIAT BISNIS UNGGAS

Webinar Agribusiness Outlook 2022 “Geliat Bisnis Udang dan Unggas di Tahun Macan Air”. (Foto: Infovet/Ridwan)

Industri perunggasan saat ini masih menjadi tumpuan penghasil protein hewani masyarakat yang dikenal dengan harga murah. Namun tantangan yang semakin tinggi membuat fluktuasi harga unggas di tingkat konsumen dan peternak kerap terjadi.

Oleh karena itu, dibutuhkan kreatifitas dan inovasi dalam meningkatkan produksi. Hal itu disampaikan Dr Ir Rachmat Pambudy, dalam webinar Agribusiness Outlook 2022 “Geliat Bisnis Udang dan Unggas di Tahun Macan Air”, Kamis (10/3/2022).

“Dengan produksi di atas 3 miliar ekor, membuat bisnis perunggasan menjadi sangat penting. Kita berharap kebijakan pemerintah bisa memberikan arah baru bagi sektor perunggasan yang lebih stabil, kompetitif dan bergairah bagi peternak, begitupun di sektor udang kita,” kata Rachmat.

Salah satu tantangan berat yang masih menyertai bisnis perunggasan datang dari sektor pakan ternak. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Drh Desianto Budi Utomo, menyebutkan beberapa faktor yang membuat tingginya harga pakan.

“Pengenaan PPN dan bea masuk beberapa jenis bahan pakan impor masih menjadi salah satu faktor penyebab harga pakan mahal,” kata Desianto.

“Kemudian naiknya ongkos pengiriman dan kelangkaan kontainer, serta peningkatan harga jagung dan bahan pakan seperti soybean meal (SBM) maupun meat bone meal (MBM).” Harga jagung kini mencapai Rp 5.000-5.600, serta SBM dan MBM saat ini menyentuh harga Rp 10.000-11.000/kg.

Kenaikan bahan pakan tersebut, kata Desianto, menyebabkan harga pakan terkoreksi karena komponen bahan pakan berkontribusi 80-85% dari total biaya produksi pakan.

Lebih lanjut, tantangan lain yang juga menjadi ancaman adalah importasi ayam Brasil. Hal itu menjadi kekhawatiran karena biaya produksi ayam Brasil lebih rendah sehingga membuat harga menjadi sangat kompetitif.

Untuk mempersiapkan tantangan-tantangan tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Bidang Perekonomian, Dr Musdhalifah Machmud MT, menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya melakukan pengembangan industri perunggasan nasional.

Diantaranya dengan peningkatan produktivitas dan daya saing industri perunggasan melalui modernisasi budi daya dan rantai pasok, dorongan pengembangan industri pengolahan telur dan pengaturan tata niaga daging dan telur unggas.

“Kemudian juga stabilisasi harga daging dan telur ayam, serta stabilisasi harga pakan dan bahan baku pakan unggas, melakukan upaya peningkatan konsumsi masyarakat dan membentuk tim kajian untuk membuat road map perunggasan nasional,” kata Musdhalifah. (RBS)

ASOHI GELAR WEBINAR PERESEPAN POPULATIF

Webinar ASOHI, lebih tahu peresepan obat hewan dalam populasi


Kamis (10/3) ASOHI menggelar workshop online mengenai perespan populatif secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Dalam sambutannya Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari menyatakan bahwasanya tujuan diadakannya acara tersebut tentunya untuk menambah pengetahuan para dokter hewan terkait meresepkan obat secara populatif, terutama obat keras semisal antimikroba.

"Perlu saya ingatkan juga bahwa dalam Permentan 14 Tahun 2017 tentang klasifikasi obat hewan disebutkan bahwa penggunaan obat keras harus diresepkan oleh dokter hewan dan diawasi oleh dokter hewan. Makanya dokter hewan dan profesi terkait (apoteker) perlu mengetahui dan menjalankan ini," tutur Irawati.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Drh Nuryani Zainuddin mengapresiasi dan mendukung acara yang diadakan oleh ASOHI tersebut. Selain terakit peraturan pemerintah, menurut Nuryani isu AMR yang telah berhembus secara global juga menjadi perhatian pemerintah, itulah mengapa dalam peresepan obat hewan terutama antimikroba harus diperhatikan peresepannya sesuai peraturan perundangan, agar tidak menimbulkan residu pada produk hewan yang dikonsumsi.

"Semoga acara ini bisa terus digelar dan baik dokter hewan maupun apoteker kedepannya semakin berkompeten dalam melakukan peresepan," kata Nuryani.

Sesi pertama dimulai dengan refreshing kembali ilmu reseptir yang dibawakan oleh Muvita Rina Wati Apt. staff pengajar Fakultas Farmasi UGM. Dalam presentasinya peserta diingatkan kembali mengenai cara menulis resep, singkatan - singkatan yang digunakan dalam bahasa latin, serta etika dan kaidah - kaidah peresepan baik pada kedokteran manusia maupun hewan.

Narasumber kedua dalam acara tersebut yakni Dr Nunung Yuniarti Apt. yang juga berasal dari almamater yang sama. Nunung menjelaskan secara mendetail bagaimana menulis peresepan bagi hewan dalam suatu populasi baik pada pakan maupun air minum. 

"Untuk air minum dokter hewan harus tahu jumlah yang dibutuhkan, karena nanti tidak semua air akan terpakai, sehingga sisanya akan menjadi limbah dan tidak bisa dibuang begitu saja. Jadi harus panjang rencananya sampai ke eliminasi sisa airnya," kata Nunung.

Ia juga menjelaskan hal - hal yang perlu diperhatikan apabila dokter hewan meresepkan obat kepada suatu populasi.

"Dalam satu populasi mungkin tidak semua hewan sakit, ada yang sehat juga, nanti efeknya mungkin berbeda, makanya sebaiknya hewan yang sakit dipisahkan sebelum memberikan obat dalam populasi," tutur dia.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan brainstorming terkait perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, regulasi, dan teknis terkait obat hewan serta realita yang terjadi di lapangan. Diharapkan nantinya akan ada tindak lanjut dari pemerintah dari sektor ini karena hal ini tidak hanya menyangkut aspek kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut kesehatan manusia, dan lingkungan (CR).



MESKIPUN PERANG MHP TETAP BEROPERASI DI UKRAINA

Produsen unggas terbesar Ukraina, MHP, melanjutkan operasinya di Ukraina tetapi telah menangguhkan ekspor, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan di London Stock Exchange.

MHP, seperti semua perusahaan Ukraina, telah menghadapi kesulitan yang signifikan dengan rantai pasokan yang terkait dengan invasi Rusia.

MHP sedang mencari cara alternatif untuk mengirimkan pasokan kepada yang membutuhkan, kata perusahaan itu, menambahkan bahwa mereka juga menjanjikan pengiriman tanpa syarat dan gratis ke rumah sakit, masyarakat, dan semua yang menghadapi kondisi sulit.

“Tak perlu dikatakan lagi, karena jalur pasokan yang rusak, MHP saat ini tidak dapat mengekspor produk Ukraina apa pun,” kata MHP, seraya menambahkan bahwa ini telah mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan.

MHP menjelaskan, penjualan ekspor terhenti karena pelabuhan ditutup dan pengiriman ekspor dengan truk praktis tidak mungkin dilakukan.

Karena MHP saat ini tidak dapat mengekspor, fasilitas produksi telah berjalan pada pemanfaatan yang lebih rendah untuk sepenuhnya memenuhi konsumsi daging unggas domestik, dengan beberapa kelebihan stok yang dibekukan.

Sejauh ini, fasilitas produksi MHP di Ukraina tidak mengalami kerusakan fisik, karena sebagian besar aset produksi berlokasi di Vinnytsia Oblast wilayah yang belum tersentuh oleh pertempuran, kata MHP dalam pernyataan terpisah. (via poultryworld.net)

USDA: BRASIL AKAN TETAP MENJADI PENGEKSPOR UNGGAS TERATAS DEKADE MENDATANG

Menurut laporan Proyeksi Pertanian hingga 2031 USDA yang dirilis pada 1 Februari, Brasil akan tetap menjadi pengekspor ayam terbesar di dunia selama 10 tahun ke depan.

Menurut Departemen Pertanian AS (USDA), Brasil dapat menyumbang 32,5% dari pertumbuhan ekspor global selama dekade berikutnya, dengan pengiriman meningkat 19,6% menjadi 5,2 juta ton pada tahun 2031.

Selama waktu yang sama, ekspor ayam AS dapat meningkat 13,9% menjadi 4,3 juta ton pada dekade berikutnya. Uni Eropa diperkirakan akan meningkatkan perdagangan unggas luar negeri sebesar 15,9% menjadi hampir 2,9 juta ton, sementara Thailand untuk sementara akan naik sebesar 31,7% menjadi 1,4 juta ton.

MENARUH HARAPAN PADA TERNAK AYAM KUB

Minat beternak ayam KUB mulai tinggi. (Foto: Istimewa)

Ayam kampung unggulan ini mulai digemari masyarakat peternak skala rumahan. Ada juga yang sudah beternak hingga puluhan ribu ekor. Keuntungannya dikabarkan cukup menggiurkan.

Dalam tiga tahun terakhir usaha ternak ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) tampaknya makin digemari masyarakat. Tak hanya di kota sekitar Jakarta, di beberapa kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan luar Jawa, usaha skala kecil unggas ini mulai ramai. Skala usaha yang ditekuni beragam sesuai kemampuan modal, mulai dari ratusan ekor hingga ribuan ekor.

Ayam KUB merupakan ayam kampung hasil seleksi genetik yang memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu bertelur hingga mencapai 160-180 butir/ekor/tahun, masa mengeram berkurang hingga tinggal 10% sehingga ayam cepat bertelur kembali. Selain itu, ayam ini dapat tumbuh lebih cepat dari ayam kampung biasa.

Menurut literatur di situs Kementerian Pertanian, asal usul ayam KUB dimulai dari program Balitnak pada 1997 dengan mendatangkan indukan ayam kampung dari beberapa daerah di Jawa Barat seperti Cipanas, Cianjur, Jatiwangi, Pondok Rangon, Depok, Ciawi dan Jasinga. Kemudian pada 2010-2014 ayam KUB disosialisasikan melalui forum ilmiah.

Pelan tapi pasti, akhirnya pamor ayam KUB sudah menasional. Tak hanya di sekitaran Jawa Barat, di beberapa daerah sudah bermunculan peternak-peternak yang menggeluti usaha ayam KUB.

Beberapa karakteristik dan keunggulan jenis ayam ini diantaranya warna bulu beragam seperti ayam kampung pada umumnya, produksi telur per tahun bisa mencapai 160-180 butir/ekor dan lebih tahan terhadap serangan penyakit.

Agus Wiyono, salah satu peternak ayam KUB asal Mojokerto, menyebutkan makin banyaknya masyarakat menekuni usaha ternak ayam KUB. Ayam jenis ini masih tergolong ayam kampung seperti pada umumnya. Mudah dipelihara, tidak “rewel” dan pakan jauh lebih murah dibanding beternak ayam ras petelur atau pedaging.

“Itu salah satu alasan masyarakat memilih usaha ternak ini, karena lebih mudah dan pakan juga murah,” ujarnya kepada Infovet.

Agus yang juga seorang dokter hewan dan pernah bekerja di salah satu perusahan integrator peternakan ayam pedaging, saat ini mengembangkan ayam KUB 2 sebanyak 10 ribu ekor lebih.

Alasan Agus memilih ayam KUB karena untuk ayam ras broiler dan petelur sering mengalami persoalan, baik harga yang tidak stabil maupun persoalan harga pakan yang terus naik. Persoalannya hampir tiap tahun pasti ada.

“Kalau untuk peternak yang tidak besar seperti saya, agak sulit mengimbangi masalah kenaikan harga pakan dan penurunan harga telur maupun daging. Untuk peternak skala perusahaan besar mungkin tidak terlalu berasa,” ujarnya.

Ayam KUB 1 dan KUB 2
Usaha yang ditekuni Agus memang belum mencapai dua tahun, namun sudah mencakup penyedia pembibitan (DOC) dan pembesaran (pedaging). Jenis ayam KUB yang dipilih adalah ayam KUB 2. “Untuk ayam KUB 1 dulu pernah saya jalani, tapi karena masih kurang hasilnya, saya pindah ke ayam KUB 2,” ucap dia.

Menurut Agus, untuk jenis KUB 1 membutuhkan pakan yang kandungan proteinnya tinggi, sekitar 17%, sehingga biaya pemeliharaan masih cukup mahal. Sementara untuk jenis ayam KUB 2 kebutuhan proteinnya standar. “Saya mix sendiri untuk pakannya. Dengan pakan tersebut masa panen ayam bisa dilakukan pada ayam umur 60 hari atau dua bulan,” ungkapnya.

Pada masa panen tersebut, berat untuk ayam KUB pejantan bisa mencapai 1,5 kg dan betina mencapai 1,2 kg. Masa panen ayam KUB 2 lebih cepat dibanding ayam kampung biasa dan diternak ala kadarnya, yang mencapai enam bulan.

Yang menarik dari cara beternak ayam KUB 2 yang ditekuni Agus adalah soal pakannya. Dalam memberikan pakan, untuk ayam KUB pedaging, Agus tidak menggunakan pakan kimia, tapi organik. Juga tidak menggunakan obat-obatan.

Peternak ini hanya memberikan pakan mix yang berisi jagung 50%, dedak secukupnya, tepung kedelai 25-30%, vitamin dan tanpa konsentrat. “KUB itu genetiknya kan ayam kampung, jadi soal pakan tidak rewel,” jelasnya.

Pemberian pakan mix ini dimulai sejak usia DOC, jadi tidak menggunakan pakan pabrikan. “Kalau pakan untuk ayam ras itu harga pakan per sak saja sampai Rp 400 ribu. Ini berat untuk peternak kecil,” katanya.

Menurut Agus, ayam KUB memiliki banyak keunggulan dan potensi untuk dijadikan bisnis skala besar dengan beberapa pertimbangan. Pertama, permintaan daging ayam kampung semakin tinggi di pasaran.

Kedua, ayam KUB memiliki pertumbuhan lebih cepat dibanding ayam kampung biasa. Seekor ayam KUB dapat mencapai umur konsumsi dalam waktu dua bulan saja.

Ketiga, ayam KUB sudah beradaptasi dengan iklim Indonesia, sehingga lebih tahan penyakit dan mudah dalam perawatannya. Keempat, harga jual daging ayam kampung termasuk ayam KUB jauh lebih tinggi dari daging ayam potong atau broiler. Kelima, bisnis bahan makanan berbasis ayam akan selalu bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi maupun pandemi.

Demam Beternak Ayam KUB
Demam beternak ayam KUB di Jawa Timur diperkenalkan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) di beberapa kota. Di Kota Batu misalnya, ayam KUB sudah diternakkan banyak orang. Tak hanya para peternak berusia tua saja, tapi kalangan anak muda juga ada yang menjalaninya.

Seperti yang dilakukan Nur, warga Kota Batu ini sebelumnya bekerja sebagai tenaga lepas kemudian terkena dampak pandemi COVID-19. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia mencari peluang untuk berusaha secara mandiri.

Bermodal uang upah bulan yang masih tersisa, Nur mencoba memelihara dan membesarkan 100 ekor ayam KUB. Awalnya ia mengaku tidak berani membesarkan ayam dengan jumlah banyak. Ia pun coba ke BBPP Batu untuk mencari informasi tentang budi daya KUB. Setelah ditekuni ternyata memberikan prospek usaha yang bagus.

“Per ekor DOC harganya Rp 7.000. Saya beli 100 ekor Rp. 700.000,” ujarnya seperti yang ditulis situs BBPP Batu. Selama dua bulan membutuhkan pakan 200 kg atau sebanyak empat karung. Harga pakan per karung Rp 390.000. Apabila dikali empat berarti membutuhkan modal Rp 1.560.000. Dalam waktu dua bulan atau 60 hari, ayam sudah besar dan layak dijual ke pasaran.

“Biasanya membesarkan ayam kampung butuh waktu hingga tujuh bulan. Ini kelebihan ayam KUB, dua bulan sudah bisa panen,” ujarnya. Harga ayam KUB yang sudah siap panen cukup menggiurkan. Per ekor ayam Nur dihargai Rp 40.000, itu harga terendah. Jadi bila dihitung keuntungan bersih dari penjualan ayam per 100 ekor selama dua bulan mencapai Rp 1.740.000. Itu sudah dipotong biaya modal DOC dan pakan selama dua bulan.

Demam beternak ayam KUB juga terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di daerah ini, sebenarnya ayam KUB mulai dikenalkan Balitnak sejak 2012. Namun, baru beberapa tahun terakhir masyarakat di sana mulai beternak.

Dikutip dari laman situs BPTP NTB, ayam KUB diuji daya adaptasinya di Visitor Plot Aneka Ternak-Kebun Percobaan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB (BPTP NTB). DOC didatangkan sebanyak 230 ekor terdiri dari 200 ekor betina dan 30 ekor jantan.

Hasil yang diperoleh selama dua bulan pemeliharaan pada kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) BPTP NTB, berat badan ayam mencapai ± 600 gram/ekor pada jantan dan betina ± 581 gram/ekor. Dalam pengamatan, ayam ini sampai pada umur dua bulan tahan terhadap cuaca panas dan dapat beradaptasi pada daerah lembap Narmada, tingkat kematian terjadi 2%. Kini ayam KUB sudah berkembang pesat dan menyebar ke 10 kabupaten/kota yang ada di NTB.

Diharapkan demam beternak ayam KUB skala kecil di kalangan masyarakat tidak tergilas kekuatan peternakan integrator bermodal besar. Sehingga pemerataan kesejahteraan rakyat bisa terwujud. (AK)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer