https://www.instagram.com/
INFOVET ACADEMY, DARI INFORMASI MENJADI KOMPETENSI
https://www.instagram.com/
BAKTI ALUMNI SUKSESKAN PROGRAM HILIRISASI DALAM MUNAS VI KAFAPET UNSOED
"Sinergi tersebut diperlukan agar riset dan inovasi dapat diterapkan menjadi teknologi, produk bernilai tambah, lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan peternak," ujar Agung.
Ia menambahkan, pembangunan peternakan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia. Ketahanan pangan, menurutnya, tidak hanya menyangkut karbohidrat, tetapi juga kecukupan protein hewani dari daging, susu, dan telur.
Untuk memperkuat kontribusi tersebut, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi dan daya saing peternakan melalui penguatan pembibitan, reproduksi, pakan, kesehatan hewan, investasi, dan kemitraan dengan peternak rakyat.
Sebab, lanjut dia, hilirisasi tidak boleh dimaknai hanya sebatas membangun fasilitas pengolahan. Hilirisasi harus membentuk ekosistem yang menghubungkan produksi, teknologi, pengolahan, distribusi, dan pasar.
“Hilirisasi harus memberikan manfaat nyata. Produksi harus semakin efisien, pasar semakin luas, dan nilai tambah yang dihasilkan harus dapat dirasakan peternak,” tegasnya.
Dalam upaya tersebut, perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai penghasil sumber daya manusia, riset, dan inovasi. Agung mendorong agar penelitian tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi teknologi dan model usaha yang mampu menjawab kebutuhan peternak dan industri.
Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Plt. Rektor Unsoed, Prof Ali Rokhman. Ia menilai hilirisasi membutuhkan hubungan yang semakin kuat antara pendidikan tinggi dan dunia industri, dengan alumni sebagai salah satu penggeraknya.
“Harus ada link and match antara dunia pendidikan tinggi dan dunia industri. Alumni memiliki jejaring dan pengalaman yang dapat menjadi jembatan antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat,” ujar Prof Ali.
Ia juga menambahkan, perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Munas VI Kafapet Unsoed diharapkan menjadi momentum untuk menyatukan ilmu, pengalaman, jejaring, inovasi, dan semangat pengabdian.
“Mari kita jadikan alumni sebagai energi kolaborasi dan hilirisasi sebagai jalan menuju kemandirian serta ketahanan pangan bangsa,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Novie Andri Setianto, menyampaikan bahwa hubungan alumni dengan kampus tidak berakhir setelah kelulusan. Alumni tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Bagi kami, alumni bukan sekadar mahasiswa yang telah lulus, tetapi mahasiswa yang telah menyelesaikan studi tanpa benar-benar meninggalkan kampus. Sejauh apapun melangkah, kampus Fakultas Peternakan selalu menjadi tempat untuk kembali,” kata Novie.
Menurutnya, seminar nasional dan Munas VI Kafapet Unsoed tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga sarana untuk merawat kebersamaan dan memperkuat kontribusi alumni bagi almamater serta pembangunan peternakan Indonesia.
Sementara itu, Ketua Umum Kafapet Unsoed, Teguh Sudaryatno, mengatakan subsektor peternakan dituntut semakin adaptif, efisien, dan inovatif dalam menghadapi perubahan serta tantangan global. Karena itu, alumni yang berkiprah di pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan penelitian perlu memperkuat sinergi dengan kampus dan masyarakat.
Diharapkan dari adanya forum ini dapat melahirkan gagasan baru, riset aplikatif, dan rekomendasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan peternak serta mendukung penguatan pangan nasional.
Munas VI Kafapet Unsoed juga menjadi bagian dari semangat Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 tahun 2026. Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, alumni, peternak, dan dunia usaha diharapkan mampu mendorong hilirisasi yang meningkatkan daya saing sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi peternak. (INF)
DRH DEDDY FACHRUDDIN KURNIAWAN ADAKAN AUDIENSI DENGAN ANGGOTA DPR
![]() |
| Drh Deddy Fachruddin Kurniawan dan Tim Melakukan Audiensi Bersama Anggota DPR (Foto : Sukma, 2026) |
Tokoh Muda Veteriner sekaligus Ketua PDHI Jawa Timur II, Drh. Deddy Fachruddin Kurniawan, M.Vet, memimpin delegasi dalam audiensi ke DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta 1 September 2026 lalu.
KADIN INDONESIA BAHAS PELUANG KERJA SAMA DENGAN PERWAKILAN URUGUAY
![]() |
| Drh Deddy Fachruddin Kala Menemui Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Kepada Infovet Deddy mengutarakan bahwa Uruguay, dengan jumlah penduduk yang hanya 3,5 juta (setara malang raya), memiliki jumlah sapi sebanyak 12juta ekor sapi (setara populasi di Indonesia).
"Oleh karena itu, Uruguay adalah salah satu penghasil susu dan daging terbaik di dunia yang mengekspor 75% dari produksi mereka, dengan market share tertinggi nya adalah Amerika-Eropa-China dan Jepang. Kita bisa bekerja sama dengan mereka," tutur Deddy.
Yang menarik adalah Uruguay memiliki definisi yang ketat tentang susu, Hukum Uruguay mendefinisikan susu sebagai produk biologis alami dan sekresi kelenjar ambing. Definisi ini yang membuat produk2 yang “mengaku” susu namun tidak merupakan sekresi alami dari kelenjar ambing, dilarang di uruguay. Hal ini juga yang mengakibatkan, konsumsi susu perkapita di Uruguay adalah salah satu yang tertinggi di dunia, yaitu sebesar 232/liter/kapita/tahun.
Indonesia dan Uruguay juga memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan kemitraan strategis di sektor pertanian dan peternakan. Salah satu peluang utama terletak pada kerja sama di industri susu. Indonesia terus memperkuat produksi daging sapi dan susu dalam negeri, sehingga membuka peluang bagi Uruguay untuk berkolaborasi dalam bidang pembibitan dan genetika ternak, peternakan sapi perah, pengembangan pakan, kesehatan hewan, pengolahan daging, serta industri pengolahan susu.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat mendorong investasi, transfer teknologi, serta pengembangan kapasitas produksi di Indonesia. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan ekspor produk pertanian ke Uruguay dan memperluas akses pasar ke kawasan Amerika Latin. Produk-produk yang berpotensi dikembangkan antara lain buah-buahan tropis, kopi, kakao, rempah-rempah, produk berbahan dasar kelapa, produk berbasis kelapa sawit, pupuk hayati, pupuk organik, serta berbagai produk pertanian bernilai tambah lainnya.
Bidang strategis lainnya adalah kerja sama dalam teknologi dan penelitian pertanian. Indonesia dan Uruguay dapat mendorong penelitian bersama di bidang bioteknologi, pupuk hayati, pertanian presisi, pertanian cerdas iklim (climate-smart farming), peningkatan produktivitas ternak, mekanisasi pertanian, serta sistem ketertelusuran digital (digital traceability).
Untuk mempercepat implementasi kerja sama, kedua negara dapat mengembangkan kegiatan business matching, pembentukan usaha patungan (joint venture), kemitraan penelitian, pertukaran teknologi, serta peluang investasi yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan para petani. (INF)
![]() |
| Suasana Pertemuan KADIN Indonesia dan Perwakilan Uruguay (Sumber : KADIN 2026) |
Drh Deddy Fachrudin Kurniawan MVet
SEARY 9.0 UNSOED ANGKAT ISU KEMANDIRIAN PANGAN DAN OPTIMALISASI SUMBER DAYA LOKAL
Acara dipandu oleh moderator Hilmy Abdurrasyid Ammar SPt MSc selaku dosen Fapet Unsoed, dan menghadirkan narasumber utama Ir Bambang Suharno selaku Direktur Utama PT Gallus Indonesia Utama sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Infovet.
SEARY 9.0 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Kegiatan ini diikuti sekitar 200 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dari Pulau Jawa maupun luar Jawa, di antaranya Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Palopo, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, UGM, UNDIP, UI, IPB, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, serta Unsoed dan sejumlah kampus di Purwokerto. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari fakultas peternakan, tetapi juga lintas disiplin ilmu seperti MIPA, ekonomi, biologi, dan pertanian yang relevan dengan isu SDGs.
Dekan Fapet Unsoed menyampaikan harapannya agar forum ini dapat menjadi wadah untuk menggali pengetahuan praktis dari narasumber yang berpengalaman di bidangnya. Sementara itu, Rektor Unsoed memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak perwakilan kampus dari berbagai daerah.
Ketua Umum UP3 M. Fikri Maulana Ibrahim, Ketua Panitia SEARY 9.0 Maulana Dwi Rahmaputra, serta Pembina UP3 Dr Tri Rachmanto Prihamnodo SPt MSi, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas suksesnya penyelenggaraan acara ini. Mereka juga menyampaikan terima kasih atas dukungan para alumni, termasuk para pendiri, yang terus setia mendampingi mahasiswa UP3 dalam berbagai kegiatan.
UP3 sendiri merupakan unit kegiatan mahasiswa Fapet Unsoed yang telah berdiri selama 34 tahun. Organisasi ini berawal dari aktivitas mahasiswa yang saat itu dipimpin oleh Adila Haqi dengan nama Aspirasi Mahasiswa (ASMA) . Hingga kini, alumni UP3 telah berkiprah di berbagai bidang, mulai dari industri peternakan, akademisi, birokrasi, hingga pelaku usaha. Sejak berdiri, UP3 terus berkembang dan turut membawa nama Fapet Unsoed dalam berbagai forum ilmiah di bidang peternakan.
![]() |
| Dari tiga kiri: Dr Agus Susanto, Dr Novia Andri, Bambang Suharno, Adila Haqi, Prof Akhmad Sodiq, Irlan (alumni), dan Prof Elly, saat seremoni pembukaan SEARY 9.0. |
Ia juga menyoroti tantangan dalam sektor peternakan, khususnya terkait rendahnya konsumsi produk peternakan di Indonesia. “Konsumsi telur di Indonesia sekitar 200 butir per orang per tahun, sementara konsumsi rokok mencapai 1.300 batang per orang per tahun. Padahal harga satu batang rokok setara dengan satu butir telur,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi peluang besar bagi pengembangan sektor peternakan. Apalagi saat ini sering terjadi oversupply ayam dan telur yang solusi jangka pendeknya mengandalkan afkir dini dan cutting produksi DOC . Belum ada upaya konkret yang menjadi langkah utama yaitu peningkatan konsumsi ayam dan telur. Padahal jika ini dilakukan, dampaknya tidak hanya menguntungkan peternakan, tetapi juga meningkatkan gizi serta pertumbuhan ekonomi.
Ia juga menambahkan, jika setiap orang di Indonesia meningkatkan konsumsi satu butir telur saja, maka dibutuhkan tambahan sekitar 280 juta butir telur, yang berpotensi menciptakan lapangan kerja bagi puluhan ribu orang.
Melalui forum ini, diharapkan lahir pemikiran dan kolaborasi lintas disiplin yang mampu mendorong optimalisasi sumber daya lokal guna memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus mendukung pencapaian SDGs. (INF)
YAPPI GELAR INDOLIVESTOCK SERVICES AWARD: DORONG SEMANGAT “FOOD FOR BETTER LIVES” MELALUI KETAHANAN PANGAN
![]() |
| Pengurus YAPPI. Dari kiri: Setya Winarno, Desianto B. Utomo, dan Bambang Suharno. (Foto: Infovet/Ridwan) |
Ketua YAPPI, Desianto B. Utomo, menjelaskan bahwa penghargaan ini menyasar perusahaan, lembaga, hingga perorangan yang aktif dalam kegiatan sosial berbasis pangan dan gizi. Bentuk kontribusi yang dimaksud sangat beragam, mulai dari pemberian bantuan pangan, penyelenggaraan bazaar pangan murah, hingga inisiatif berbasis komunitas yang rutin dilakukan kepada masyarakat.
“Intinya adalah bagaimana kontribusi mereka terkait pangan ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers YAPPI, Kamis (30/4/2026), di Telaga Seafood Restaurant, Cibubur.
Penerima penghargaan tidak dipilih secara sembarang. Terdapat proses penjaringan yang sistematis, mulai dari seleksi administrasi hingga tahap penetapan pemenang. Beberapa indikator penilaian utama yang menjadi acuan meliputi komitmen dan konsistensi, memiliki dampak sosial, tata kelola dan inovasi, hingga replikasi dan memiliki nilai inspiratif.
Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris YAPPI, Bambang Suharno, bahwa esensi dari penghargaan ini adalah pemberdayaan pangan yang berkelanjutan. Tujuannya bukan sekadar memberikan piala, tetapi memastikan bahwa akses pangan masyarakat terus terjaga melalui sinergi berbagai pihak.
Sementara itu, Bendahara YAPPI, Setya Winarno menceritakan sejarah singkat YAPPI yang telah berdiri sejak 2002. Dibentuk oleh berbagai organisasi profesi, YAPPI awalnya berfokus pada penilaian pelaku di bidang peternakan dengan nama Yayasan Pengembangan Peternakan Nasional. Namun seiring perkembangan zaman, sejak 2025, berubah menjadi Yayasan Pengembangan Pangan Indonesia dengan tetap menggunakan nama YAPPI.
Adapun kepengurusan YAPPI saat ini dipunggawai oleh Prof Dr Ir Muladno MSA (Pembina), Drh Desianto B. Utomo MSc PhD (Ketua), Drh Deddy Kusmanagandi MBA (Wakil Ketua), Bambang Suharno (Sekretaris), Winarno SP MSi (Wakil Sekretaris), dan Ir Setya Winarno (Bendahara).
“Kami memberikan penghargaan agar menjadi inspirasi bagi pihak lain, bukan untuk berkompetisi. Semakin banyak pihak yang ikut bergerak dan berkontribusi, maka akan semakin baik bagi ketahanan pangan kita,” pungkas Setya.
Melalui Indolivestock Services Award, YAPPI berharap semangat “Food for Better Lives” yang akan diselenggarakan bersamaan dengan Indolivestock Expo & Forum 2026, 16-18 Juni, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga tercipta ekosistem pangan yang mandiri dan berdaulat.
Bagi yang berminat ikut dalam penilaian Indolivestock Services Award 2026 bisa mengisi form di link pendaftaran berikut: https://bit.ly/Registration_Indolivestock_Award_2026. Pendaftaran paling lambat 11 Mei 2026. (RBS)
PERSIAPAN INDO LIVESTOCK 2026 MELALUI KOORDINASI BERSAMA KEMENTAN
Kegiatan dipimpin oleh Sekretaris Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin, selaku Ketua Pelaksana. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan sektor swasta dalam mendorong kemajuan industri peternakan nasional.
“Indo Livestock merupakan sarana promosi, diseminasi informasi, penguatan jejaring, serta pengembangan inovasi di bidang peternakan dan kesehatan hewan. Kolaborasi antara Ditjen PKH dan Napindo ditujukan untuk memperkuat kerja sama, sinergi, dan komitmen dalam penyelenggaraan pameran ini,” ujarnya saat membuka rapat koordinasi panitia tersebut.
Ia menambahkan, sinergi yang kuat antar pemangku kepentingan menjadi kunci dalam memperluas akses terhadap informasi dan teknologi, sekaligus mendorong peningkatan investasi dan kolaborasi bisnis di sektor peternakan dan kesehatan hewan secara berkelanjutan.
Melalui koordinasi ini, diharapkan penyelenggaraan Indo Livestock 2026 tidak hanya menjadi ajang pameran industri, tetapi juga platform strategis yang mampu mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan asosiasi dalam menciptakan ekosistem peternakan yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing global.
Pelaksanaan Indo Livestock 2026 akan menitikberatkan pada penguatan hilirisasi industri, peningkatan investasi, serta percepatan swasembada protein hewani di Indonesia. Pameran ini akan diselenggarakan pada 16-18 Juni 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet, dan Indo Fisheries 2026 Expo & Forum.
Sinergi lintas subsektor ini diharapkan mampu menghadirkan ekosistem industri yang berkesinambungan, sekaligus memperluas peluang kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.
Sebagai highlight utama, untuk pertama kalinya Indo Livestock 2026 akan menghadirkan Indo Livestock Grand Championship. Kompetisi ini difokuskan pada ternak ruminansia, khususnya sapi dan domba, sebagai upaya mendorong peningkatan mutu genetik dan standar kualitas di tingkat peternak nasional. Kehadirannya tidak hanya menjadi ajang unjuk kualitas ternak, tetapi juga sarana pertukaran pengalaman, ruang kolaborasi, serta penguatan jejaring antar pelaku industri.
Adapun program unggulan lainnya turut memperkaya rangkaian kegiatan, mulai dari Youth Farmers Day bertema “From Farm to Fame” yang menjadi wadah bagi generasi muda, startup, dan komunitas untuk mengeksplorasi inovasi di sektor peternakan. Selain itu, terdapat Zona Farmpreneurship yang akan menghadirkan berbagai model bisnis dan solusi peternakan modern bagi calon wirausaha dan investor. Seluruh rangkaian ini diperkuat dengan kegiatan business matchmaking, forum edukasi, serta presentasi teknis produk yang mendorong adopsi teknologi dan pengembangan industri peternakan.
Sebagai bagian dari dukungan terhadap peningkatan kualitas gizi masyarakat, Indo Livestock 2026 juga menginisiasi Sosialisasi SDTI (Susu, Daging, Telur, Ikan) dengan tema “Gizi Seimbang Generasi Gemilang”. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya konsumsi protein hewani dan pola makan sehat dengan target utama masyarakat luas, khususnya orang tua, tenaga pendidik, dan generasi muda.
Dengan skala yang semakin diperluas, penyelenggaraan ke-19 pameran internasional ini diproyeksikan menghadirkan lebih dari 600 peserta pameran dari 40 negara, termasuk 12 paviliun negara resmi. Ajang ini menargetkan kehadiran 20.000 pengunjung profesional yang terdiri dari para pemimpin industri, inovator, pembuat kebijakan, distributor, akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan buyers internasional. Target tersebut mencerminkan besarnya potensi kolaborasi dan dampak yang ingin dicapai melalui Indo Livestock 2026 Expo & Forum.
Rangkaian koordinasi dan persiapan yang intensif antara Ditjen PKH Kementan dan Napindo ditujukan untuk mengoptimalkan pelaksanaan Indo Livestock 2026. Sinergi yang terbangun diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pengembangan industri peternakan nasional serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. (INF)
PROF AKHMAD SODIQ KEMBALI TERPILIH JADI REKTOR UNSOED
Pemilihan digelar di Auditorium Laboratorium Terpadu Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed, dengan melibatkan unsur Senat Akademik serta perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unsoed, Prof Dwi Nugroho Wibowo, mengatakan dalam kontestasi ini Prof Akhmad Sodiq bersaing dengan dua kandidat lain, yaitu Prof Ali Rokhman dan Dr Adi Indrayanto.
“Berdasarkan hasil penghitungan, Prof Ali Rokhman meraih 35 suara, sementara Prof Akhmad Sodiq mengantongi 87 suara,” kata Dwi dalam siaran resminya, Rabu (1/4/2026).
Dwi memastikan seluruh tahapan pemilihan telah berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurutnya, seluruh proses pemilihan rektor telah dilaksanakan secara transparan, objektif, dan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kami mengapresiasi partisipasi aktif seluruh pihak yang terlibat dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ini,” terangnya.
Ia menjelaskan, sebelum masuk tahap pemilihan, panitia telah menjalankan berbagai proses mulai dari penjaringan bakal calon, seleksi administrasi, hingga penyampaian visi dan misi kandidat.
“Seluruh tahapan mulai dari pendaftaran hingga pemungutan suara, telah dilaksanakan sesuai mekanisme. Tahap pemilihan ini menjadi bagian paling krusial dalam keseluruhan proses,” jelasnya.
Ketua Bidang Media dan Publikasi Pengurus Pusat Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Unsoed (PP Kafapet Unsoed), Farid Dimyati, menambahkan bahwa Prof Akhmad Sodiq merupakan alumni Fapet yang memiliki segudang pengalaman birokrasi.
Sebelum menjabat menjadi Rektor Unsoed periode 2022-2026, ia juga pernah menjabat sebagai Dekan Fapet Unsoed selama dua periode, kemudian Wakil Rektor Unsoed Bidang Akademik, serta Rektor Pertama Universitas Nahdlatul Ulama Purwokerto.
“Jadi soal pengalaman mengurus birokrasi, Prof Sodiq sudah tidak diragukan lagi pengalaman dan jam terbangnya,” ujar Farid.
Ia melanjutkan, meski memiliki banyak kesibukan, Prof Akhmad Sodiq tercatat sebagai alumni yang rajin hadir dalam berbagai kegiatan kealumnian, baik di Purwokerto, Jakarta, maupun wilayah lain.
“Salah satu kelebihan beliau adalah rajin menyambung silaturahmi. Meski sibuk, beliau selalu hadir saat kegiatan alumni. Kami bangga beliau kembali terpilih menjadi Rektor Unsoed. Semoga mampu membawa Unsoed menjadi lebih maju dan mendunia ke depannya,” pungkasnya. (INF)
KEMENTAN PERKUAT PENGENDALIAN PENYAKIT HEWAN JELANG HBKN
PEMERINTAH BERENCANA ALOKASIKAN DANA TRILIUNAN KE SEKTOR PETERNAKAN SAPI
Oleh karena itu, Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT PII) mengadakan sarasehan bertajuk “4,8 T Alokasi Anggaran Pemerintah di Sektor Peternakan Sapi, Mewujudkan Pasokan Daging dan Susu untuk Program MBG yang Berkelanjutan” di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan yang menghadirkan para stakeholder peternakan ini menjadi sangat penting untuk membahas arah penggunaan anggaran tersebut, potensi dampak terhadap rantai pasokan, kesejahteraan peternak rakyat, inovasi industri, pemerataan pembangunan antar wilayah, hingga mitigasi berbagai risiko teknis dan pasar.
Sarasehan dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah dari luar Jawa, industri swasta, organisasi peternak, dan pelaku inovasi digital, untuk memperoleh pandangan komprehensif dan rekomendasi strategis. Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertanian, BUMN, asosiasi industri susu, asosiasi koperasi persusuan, serta KADIN Indonesia.
Ketua BKT Peternakan PII, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dari rencana integrasi peternakan sapi berbasis anggaran Rp 4,8 triliun, serta mengurai tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah dan industri, sekaligus merumuskan rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak.
"Kemudian yang cukup penting mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” ujarnya.
Pihaknya berjanji akan terus bersinergi dengan asosiasi peternakan untuk mengawal setiap anggaran dari pemerintah agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan peternak.
“Selain itu memastikan generasi muda ke depan mudah mendapatkan akses dalam mengonsumsi protein hewani. Karena mereka merupakan generasi bangsa yang akan membangun Indonesia berikutnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad, Prof Dr Ir Rahmat Hidayat SPt MSi IPM, mengemukakan bahwa saat ini industri peternakan diibaratkan berada pada dua kaki. Kaki pertama di antaranya ketimpangan populasi antara jumlah ternak dan masyarakat Indonesia, produksi belum optimal, umur peternak umumnya sudah senior, dan tingkat pendidikan peternak dan partisipasi kelembagaan yang masih rendah.
Sedangkan, salah satu kaki lagi terkait kebijakan program MBG yang memacu permintaan produk peternakan. “Maka dengan kondisi ini tantangan sekaligus kesempatan bagi stakeholder peternakan,” katanya. (INF)
KEMENTERIAN PERTANIAN RESMI TERBITKAN ATURAN BARU PELARANGAN OBAT HEWAN
Peraturan ini berfokus pada pelarangan golongan antibiotik dan obat-obatan tertentu yang sering digunakan pada ternak yang produknya ditujukan untuk konsumsi. Latar belakang diterbitkannya aturan ini adalah adanya perkembangan kebutuhan untuk melarang penggunaan antibiotik golongan fluorokuinolon serta sefalosporin generasi 3 dan 4 demi mencegah dampak negatif jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.
Dalam aturan tersebut, secara spesifik merinci jenis-jenis obat yang dilarang penggunaannya sebagai campuran pakan maupun pemberian langsung. Adapun kelompok obat hewan tertentu yang dilarang sebagai imbuhan pakan (feed additive) di antaranya Colistin; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; dan Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur).
Sementara kelompok obat hewan tertentu yang dilarang pemakaiannya secara oral, parental, topikal di antaranya Colistin; Ephedrin beserta turunannya; Paracetamol yang tidak berupa sediaan tunggal; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur), serta antibiotik yang dibuat dalam satu formula dengan bahan biologik, farmasetika, premix, dan obat hewan alami.
Dengan ditetapkannya peraturan ini pada 5 Januari 2026, maka Keputusan Menteri Pertanian Nomor 9736/PI.500/F/09/2020 tentang Perubahan atas Lampiran III Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/PERMENTAN/PK.500/F/09/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan resmi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko resistansi antimikroba (AMR) pada manusia yang bersumber dari konsumsi produk peternakan. (INF)
ASOHI SUMUT SELENGGARAKAN SEMINAR REGULASI OBAT HEWAN & OUTLOOK PETERNAKAN
Pada kesempatan tersebut, ASOHI Sumut menghadirkan tiga pembicara utama di antaranya Drh Arief Wicaksono MSi (Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan), Drh Bambang Sutrasno (Regional Head Sumatra PT CPI), dan Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum ASOHI).
Seminar antara lain memaparkan dan membahas topik-topik terkait adanya aturan-aturan baru izin berusaha obat hewan, perubahan kebijakan penunjukan PT Berdikari BUMN sebagai pengimpor jagung-SBM untuk pakan ternak, dinamika sektor kesehatan hewan dengan munculnya kebutuhan segera akan apotek veteriner di setiap provinsi, serta peluang usaha penyediaan obat hewan kesayangan, obat hewan kuda, dan obat hewan satwa liar, hingga imbas penerapan Permenkes No. 14/2021 kepada para kolega dokter hewan.
Terlebih lagi pasca kejadian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumatra Barat, tentunya bagi pelaku industri obat hewan dan peternakan perlu mengetahui bagaimana tren dinamika bisnis di 2026 ini. Secara nasional, Sumut sendiri berkontribusi 20-25% dari produksi hasil unggas (daging dan telur). Dampak yang segera dirasakan bagi peternakan Sumut di antaranya adalah terkomprominya suplai jagung, mengingat Aceh juga sebagai salah satu penyedia jagung bagi daerah sekitarnya, terutama Sumut. Di sisi lain, terputusnya sarana logistik seperti jalan-jalan utama yang masih tertimbun lumpur, jembatan penghubung yang terputus sangat berdampak pada pengiriman rutin hasil produksi unggas dari Sumut ke Aceh.
Selain itu, terkait program MBG dan rencana pemerintah di 2026 juga dibahas dalam seminar ini, khususnya dampaknya bagi peluang pertumbuhan demand daging maupun telur ayam yang sudah dipastikan porsinya dalam menu MBG. Kemudian persoalan menarik lainnya yakni seputar AMR, juga menjadi momen edukasi bagi pelaku usaha kesehatan hewan (ternak & non-ternak).
STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, satu aspek
kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal,
yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming
atau peternakan berkelanjutan.
Status kesehatan ternak
mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak.
Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas,
tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi
yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan
peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi
signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.
Efisiensi Produksi sebagai
Kunci Keberlanjutan
Di dalam sistem peternakan
berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu
mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini
berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi
lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca
per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan
iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision
Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.
Sebaliknya, ternak sakit sering
kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan
produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong
peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking)
ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada
akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint).
Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga
keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.
Pengelolaan Pencemaran dan
Limbah Peternakan
Peternakan berkelanjutan tidak
dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas
peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta
emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika
tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas
lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran
penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi
bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.
Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
![]() |
| Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit (Foto : Istimewa) |
Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan
Hewan dan Tanggung Jawab Sosial
Peran kesehatan ternak tidak
berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat
menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu
burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak
berkaitan erat dengan kesehatan manusia.
Pendekatan One Health yang
menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin
relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat
menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit
kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen.
Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk
peternakan baik di pasar domestik maupun global.
Peternakan berkelanjutan juga memposisikan
kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator
langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan
manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang,
dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan
bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan
mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.
Dewasa ini, masyarakat pun semakin
kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan
kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial.
Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi
pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.
Menatap Masa Depan Peternakan
melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan
Menjaga status kesehatan ternak
tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang
terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi
dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan
(dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan
kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.
Pemerintah dan pemangku
kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan
sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan
perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode,
inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak
sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan
nasional.
Di era pembangunan berkelanjutan,
kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan
ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan,
dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan
yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.
Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi
1. Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University
2. Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University
JAWA TIMUR SABET GELAR LUMBUNG UNGGAS NASIONAL, TARGET SWASEMBADA PANGAN SEMAKIN DEKAT
Secara keseluruhan, industri peternakan di Jatim telah memberikan kontribusi signifikan, yakni sebesar 10,23% terhadap PDRB Sektor Pertanian. Data produksi perunggasan Jatim mencatatkan angka yang impresif, dengan telur ayam ras mencapai 1,32 juta ton dan daging ayam sebanyak 1,51 juta ton.
Fokus Kebijakan Pemerintah: Dari Hulu Hingga Hilir
Dalam upaya mencapai visi Indonesia Emas 2045, yang salah satu misinya adalah mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur fokus pada penguatan ekosistem perunggasan secara menyeluruh.
Indyah pun mengungkap arah kebijakan pengembangan mencakup tiga pilar utama, yakni hulu (input) untuk peningkatan produksi bibit dan pakan lokal serta pengendalian penyakit hewan menular seperti AI dan ND; kemudian on-farm (budi daya) peningkatan produktivitas peternakan dan penerapan standar praktik baik (biosekuriti dan good practice); hilir (pasca panen) pengembangan produk olahan, promosi ekspor ke pasar internasional, penataan tata niaga, dan penguatan kelembagaan peternak melalui koperasi.
Di sisi hilir, potensi produk perunggasan Jatim juga telah menembus pasar global, dengan ekspor produk peternakan ke berbagai negara seperti Timor Leste, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Jepang.
Untuk mengkonsolidasikan langkah ini, tutur Indyah, pemerintah merancang rencana pengembangan peternakan ayam mendukung MBG (Membangun Bangsa Gemilang), dengan target ambisius untuk memproduksi telur sebesar 1,0 juta ton dan daging sebesar 1,5 juta ton. Program ini diperkirakan akan menyerap hingga 1.462.948 tenaga kerja.
Meski demikian, pemerintah mengakui adanya tantangan berupa fluktuasi harga (DOC dan pakan), daya saing peternak kecil, serta isu kesehatan hewan. Kebijakan yang terstruktur diharapkan mampu menciptakan stabilitas harga dan menjamin mutu produk demi menjaga keberlanjutan industry perunggasan Jawa Timur sebagai gerbang baru nusantara. (YR)
ASOHI JATIM GELAR OUTLOOK BISNIS PERUNGGASAN, BAHAS STRATEGI DAN PROYEKSI INDUSTRI PROTEIN HEWANI
Acara yang dimulai pukul 08:00-17:00 WIB ini dibuka secara resmi dengan sambutan dari tokoh kunci, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur DR Ir Indyah Aryani MM, serta Drh Suyud dan Drh Akhmad Harris Priyadi dari ASOHI.
Indyah yang juga merupakan salah satu pembicara utama memaparkan “Potensi Peternakan Jawa Timur & Kebijakan Pemda yang mendorong Kemajuan Perunggasan di Jawa Timur", memberikan panduan strategis mengenai dukungan pemerintah daerah.
Selain itu, aspek kesehatan juga menjadi fokus utama dengan kehadiran dua pakar terkemuka, yakni Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi yang menyajikan “Potret Bisnis Industri Obat Hewan 2025 & Outlook 2026”, serta Guru Besar FKH UGM Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo MP membahas “Review Penyakit Unggas 2025 dan Prediksi Kasus Penyakit 2026”, yang dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif.
Konferensi berlanjut dengan presentasi dari para pimpinan asosiasi yang mengupas kinerja industri secara rinci, ada dari DR Drh Desianto Budi Utomo MPhil PhD (Ketua Umum GPMT), Ir Achmad Dawami (Ketua Umum GPPU), dan Hidayaturrahman SE (Ketua PINSAR Provinsi Jawa Timur).
Sesi penutup yang sangat dinantikan disampaikan oleh DR Werner R. Murhadi SE MM CSA CIB CRP, selaku Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UBAYA. Ia memberikan pandangan menyeluruh mengenai “Outlook Ekonomi 2026 dan Analisa Bisnis Bahan Pangan Protein Hewani Jawa Timur”, memberikan kerangka ekonomi yang diperlukan bagi para pelaku usaha untuk menyusun strategi di tahun mendatang.
Acara yang dikoordinasikan oleh Recto Indah ini ditutup dengan sesi resume dan penutup, menegaskan komitmen para pelaku industri untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan potensi besar sektor perunggasan di Jawa Timur. (YR)
SEMINAR NASIONAL OUTLOOK BISNIS PETERNAKAN ASOHI 2026: SINERGI MEMBANGUN KETAHANAN DAN KEAMANAN PANGAN
![]() |
| Pemukulan gong oleh Dirkeswan Hendra Wibawa didampingi Ketua Umum ASOHI Akhmad Harris Priyadi membuka Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan ASOHI 2026. (Foto: Rubella) |
"Tahun depan masih banyak tantangan. Tentunya ASOHI sebagai pilar peternakan dan kesehatan hewan, kami mendukung usaha bersama untuk menciptakan industri peternakan dan kesehatan hewan yang kuat," ujar Ketua Umum ASOHI, Drh Akhmad Harris Priyadi, dalam sambutannya.
Berbagai tantangan mulai dari urusan produksi, perdagangan global, penyakit, isu antimicrobial resistance (AMR), hingga peluang dari program Makan Bergizi Gratis untuk keberlanjutan industri menyeruak dalam seminar ini.
"Salah satunya terkait isu AMR ini tahun depan harus terus kita lakukan edukasi kepada peternak (soal penggunaan yang sesuai aturan) untuk meminimalisir kejadian AMR," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, yang diwakili Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Hendra Wibawa MSi PhD, menyoroti jalannya program MBG sebagai peluang untuk meningkatkan industri yang berkelanjutan.
"Dengan adanya MBG yang bersumber dari protein nabati dan juga hewani, kita berusaha menjadikan peternakan dan kesehatan hewan maju berkelanjutan bagi masyarakat. Makna berkelanjutan ini sangat penting agar setiap program kita dimulai dan bisa berlanjut, serta manfaatnya bisa dirasakan masyarakat," kata Hendra.
Adapun beberapa upaya dilakukan khususnya dalam mendukung MBG melalui penjaminan kesehatan hewan di antaranya pencegahan, pengendalian, penanganan, hingga pemberantasan penyakit hewan, penguatan fungsi pelayanan kesehatan hewan, peningkatan penyediaan obat hewan dan alat kesehatan hewan yang berkualitas, serta monitoring status dan layanan kesehatan hewan. Hal ini untuk menciptakan tersedianya protein hewani yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Selain itu, ia juga menyinggung soal industri obat hewan yang saat ini masih dihadapkan oleh berbagai masalah seperti pandemi penyakit yang bisa muncul kapan saja, atau penyakit yang muncul akibat pemakaian antibiotik yang tidak sesuai penggunaannya.
"Pengawasan obat hewan terkait penggunaan, peredaran obat hewan termasuk obat hewan ilegal harus kita perketat, tentunya dengan bantuan dari bapak dan ibu semua agar bermafaat bagi masyarakat," ucapnya.
Kendati demikian, jika melihat peluang industri obat hewan ke depan, Hendra optimis sebab ekspor obat hewan tiap tahun trennya mulai meningkat. Dari data yang ia paparkan, tahun ini data realisasi ekspor obat hewan hingga Maret 2025 mencapai nilai 374.989.279,7 USD, dimana angka tersebut lebih besar dibanding total ekspor obat hewan pada 2024.
"Outlook obat hewan ke depan cukup cerah, kita jadikan momentum ini untuk bergerak bersama-sama mewujudkan industri yang lebih kuat dan berpihak kepada rakyat. Semoga masukan dari seminar ini bisa kita jadikan modal utama dalam menghadapi tantangan ke depan," tukasnya.
Dengan melibatkan pelaku usaha, asosiasi, regulator, akademisi, dan investor, seminar ini menjadi forum paling komprehensif untuk membaca peta bisnis peternakan Indonesia sebelum memasuki 2026. ASOHI menempatkan agenda ini bukan sekadar sebagai evaluasi tahunan, melainkan sebagai upaya menyusun arah bersama di tengah pertumbuhan, risiko, dan tuntutan keberlanjutan yang kian menguat. (RBS)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Polar atau pollard merupakan salah satu bahan pakan ternak primadona yang berasal dari hasil samping penggilingan gandum. Dalam industri pet...
-
Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet) Ayam abang menjadi salah satu bisnis “s...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Dalam dunia peternakan bebek, proses penetasan telur menjadi salah satu kunci utama keberhasilan produksi Day Old Duck (DOD). Terdapat dua c...
-
Artikel ini membahas secara singkat anatomi ayam (struktur tubuh ayam) meliputi bagian tubuh ayam dan fungsinya. Juga organ tubuh ayam dan f...
-
Foto: ilustrasi Meskipun sama-sama multi purpose breed, yaitu bisa dipelihara sebagai pedaging maupun petelur, namun perbedaan bebek Peking ...



.jpeg)



.jpg)











