Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini FKH IPB | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

KONTES AYAM KETAWA NASIONAL


[KONTES AYAM KETAWA NASIONAL 2023]
TOTAL HADIAH HINGGA JUTAAN RUPIAH

Calling out pencinta ayam ketawa di seluruh Indonesia!! 
Kontes Ayam Ketawa Nasional 2023 merupakan ajang perlombaan dalam keindahan kokok ayam yang diselenggarakan secara offline pada tanggal 10 September 2023 bertempat di Telaga Inspirasi IPB University, Dramaga, Bogor.

Kontes ayam ketawa nasional 2023 ini mengusung tema "Warisan Budaya Indonesia" dengan tema pokok: Sound of Indonesia's Secret Heritage 

Yuk, segera daftar dan jangan lewatkan kesempatan mendapat hadiah berupa uang hingga jutaan rupiah, trofi dan juga sertifikat ✨ ✨✨

đź—“TIMELINE PERLOMBAANđź—“
Pendaftaran online: 
1 Agustus-16 September 2023

Pendaftaran on the spot (offline): 
17 September 2023 pukul 06.30

đź’¸BIAYA PENDAFTARANđź’¸
• Kategori slow:
Rp 125.000
• Kategori dangdut:
Rp 125.000
• Kategori remaja: 
Rp 125.000
• Kategori durasi: 
Rp 125.000
• Kategori disco: 
Rp 125.000
• Kategori kerajinan bunyi: 
Rp 125.000
• Kategori GC: 
Rp 150.000

✏AKSES LINK GUIDEBOOK
✏AKSES LINK PENDAFTARAN ONLINE 

IG: @kaknas.ipb
#KompetisiAyamKetawaNasional2023
#KAKNAS2023
#LombaKAKNAS2023

Contact Person:
Arfah (0812-5374-4554) 
Viya (0823-5404-3544)

Himpunan Mahasiswa Profesi Ornithologi dan Unggas
Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis
IPB University

LOMBA FOTOGRAFI AYAM KETAWA


[KOMPETISI FOTOGRAFI AYAM KETAWA KAKNAS 2023] 
TOTAL HADIAH HINGGA JUTAAN RUPIAH

Halo para pecinta fotografi!! 
Kontes Ayam Ketawa Nasional 2023 menyelenggarakan kompetisi fotografi Ayam Ketawa yang dilakukan secara offline atau on the spot pada saat kegiatan KAKNAS 2023 berlangsung, yaitu pada tanggal 17 September 2023.

Kompetisi fotografi offline KAKNAS 2023 kali ini bertemakan "Indonesia Traditional Heritage : Laughing Chicken Through the Lens" dengan 3 subtema:

1. Artistic Laughing Chicken Expression
2. Capture the Culture
3. Let Their Sound be Seen

Yuk, segera daftar dan jangan lewatkan kesempatan mendapat uang pembinaan dengan total hingga jutaan rupiah ✨ ✨✨

đź—“TIMELINE PERLOMBAANđź—“
Pendaftaran: 
22 Agustus-15 September 2023

Penjurian: 
17 September 2023

Penilaian fotografi terfavorit:
17 September 2023

Pengumuman pemenang :
17 September 2023

đź’¸BIAYA PENDAFTARANđź’¸
• Early bird (22 Agustus-15 September 2023): 
1 foto Rp30.000

• Reguler (10 September 2023):
1 foto Rp50.000
2 foto Rp75.000
3 foto Rp100.000

✏AKSES LINK GUIDEBOOK
✏AKSES LINK BERKAS PENDAFTARAN
✏AKSES LINK PENDAFTARAN

IG: @kaknas.ipb
#KompetisiAyamKetawaNasional2023
#KAKNAS2023
#LombaKAKNAS2023
#Fotografi
#Lombamahasiswa

Contact Person:
Arfah (0812-5374-4554) 
Viya (0823-5404-3544)

Himpunan Mahasiswa Profesi Ornithologi dan Unggas
Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis
IPB University

LOMBA FOTOGRAFI UNGGAS HIAS


[KOMPETISI FOTOGRAFI UNGGAS HIAS KAKNAS 2023]

TOTAL HADIAH HINGGA JUTAAN RUPIAH

Calling out pencinta unggas hias & fotografi di seluruh Indonesia!! 
Kontes Ayam Ketawa Nasional 2023 menyelenggarakan kompetisi fotografi unggas hias yang dilakukan secara online mulai tanggal 24 Juli-12 September 2023.

Kompetisi fotografi online KAKNAS 2023 kali ini bertemakan "Indonesian Endemic Ornamental Birds" dengan 4 subtema:

1. Exploring The Beauty in Advanced Indonesia
2. Birds In Motion, Freezing The Moment
3. Show Their True Colors
4. Their Beauty and Their Nature

Yuk, segera daftar dan jangan lewatkan kesempatan mendapat uang pembinaan dengan total hingga jutaan rupiah ✨ ✨✨

đź—“️TIMELINE PERLOMBAANđź—“️
Pendaftaran dan pengumpulan karya: 
24 Juli-12 September 2023

Penjurian: 
13-15 September 2023

Penilaian fotografi terfavorit:
13-15 September 2023

Pengumuman pemenang :
17 September 2023

đź’¸BIAYA PENDAFTARANđź’¸
1 foto Rp50.000
2 foto Rp75.000
3 foto Rp100.000

✏️AKSES LINK GUIDEBOOK
klik disini
✏️AKSES LINK BERKAS PENDAFTARAN
klik di sini
✏️AKSES LINK PENGUMPULAN KARYA 
klik di sini 

Follow Juga instagramnya: @kaknas.ipb
#KompetisiAyamKetawaNasional2023
#KAKNAS2023
#LombaKAKNAS2023
#Fotografi
#Lombamahasiswa

Contact Person:
Arfah (0812-5374-4554) 
Viya (0823-5404-3544)

Himpunan Mahasiswa Profesi Ornithologi dan Unggas
Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis
IPB University

TRANSFORMASI FKH IPB UNIVERSITY MENJADI SKHB

Rektor IPB University Prof Arif Satria Memberikan Sambutannya

Melalui Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 328 Tahun 2021, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) secara resmi bertransformasi menjadi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB). Sejalan dengan hal tersebut, digelar “Launching SKHB” bertempat di Aula Serbaguna SKHB Kampus IPB Dramaga Bogor, (28/12).

“Transformasi tersebut dilakukan dalam rangka penguatan terhadap profesi dokter hewan dalam menjawab berbagai tantangan global. Seperti one health, ketahanan pangan, bioteknologi medis, penyakit zoonosis dan tenaga dokter hewan spesialis,” ungkap Dekan SKHB IPB University, Prof Deni Noviana

Prof Deni menjelaskan, transformasi FKH menjadi SKHB berawal dari proses yang panjang sejak 2018. Sebagai lembaga studi kedokteran hewan tertua di Indonesia, transformasi tersebut membuka pintu bagi pengembangan keilmuan di SKHB yang beradaptasi dengan perkembangan zaman.

“Kedepannya, SKHB akan mengembangkan prodi serumpun seperti Prodi Sarjana Sains Biomedis dan Prodi Farmasi. Tidak menutup kemungkinan, akan dibuka Program Pendidikan Spesialis Dokter Hewan. Oleh karena itu, kami meminta dukungan dari segala pihak,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Rektor IPB University, Prof Arif Satria berpesan, sudah saatnya SKHB berfokus dalam menghasilkan insan pembelajar yang cepat, lincah dan tangguh. Selain itu, ia mendorong mahasiswa SKHB agar kelak menjadi technopreneur.

“Mahasiswa SKHB akan dibekali ilmu bisnis dan manajemen. Setelah lulus, mereka menjadi pencipta kesempatan, bukan penunggu kesempatan. Kami membentuk mahasiswa yang memiliki mindset kuat dan adaptif terhadap perubahan,” jelasnya.

Prof Arief berharap, SKHB dapat memberikan sumbangsih besar melalui inovasi yang dikembangkan, khususnya dalam pengembangan vaksin. Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai mitra menjadi kunci dalam memajukan SKHB IPB University menjadi pusat ilmu kedokteran hewan yang unggul di Indonesia.

“ SKHB harus memberikan perubahan untuk kemajuan. Selain berkolaborasi dengan banyak mitra, inovasi perlu dikembangkan. Semakin banyak inovasi yang dihasilkan, semakin banyak inspirasi yang ditebar. Itulah awal kemajuan bangsa, menginspirasi tidak hanya dengan kata, namun juga disertai karya,” harapnya.

Dalam kesempatan ini juga dilaksanakan penandatangan kerjasama antara IPB University dan Polda Metro Jaya. Kerjasama tersebut menyangkut pemeliharaan dan konservasi K-9 (anjing pelacak). Tidak sampai di situ, Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran, MSi menegaskan kerjasama yang telah disepakati ini juga berupa riset bersama dan magang mahasiswa.

“Tidak hanya K-9 saja, kami berharap unit ini dapat menjadi ekosistem dan wahana pelestarian satwa endemik Indonesia yang hampir punah. Kerjasama ini merupakan wujud gerak bersama Polda Metro Jaya dengan IPB University. Apabila dilandasi sinergitas dan kerjasama yang solid, manfaatnya dapat terasa bagi semua pihak,” pungkasnya.

Selain itu, dilaksanakan penandatangan perjanjian kerjasama antara SKHB IPB University dengan beberapa mitra, yaitu PT Royal Canin Indonesia, Koperasi Peternak Garut Selatan (KPGS) Cikajang, Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang dan Super Unggas Jaya. (INF)


FKH IPB UNIVERSITY BERTANSFORMASI MENJADI SKHB

FKH IPB University, bertansformasi menjadi SKHB

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University akan berubah namanya menjadi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB), hal tersebut diinformasikan oleh Dekan SKHB IPB University, Prof drh Deni Noviana disela - sela acara Munajat Cinta IKA FKH IPB Sabtu (12/3).

Ia menyampaikan, perubahan ini dilakukan untuk memenuhi Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2013 tentang Anggaran Dasar Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Peraturan Majelis Wali Amanat Nomor 06/MWA-IPB/P/2020 tentang Struktur dan Organisasi Kerja IPB yang mengatur tentang penegakan kegiatan akademik. dari satu ruang lingkup studi atau memiliki karakteristik tertentu harus dilaksanakan dalam bentuk sekolah.

“FKH merupakan bagian dari IPB University yang memiliki satu ruang lingkup kajian. Melalui Surat Keputusan Rektor IPB Nomor 328 Tahun 2021, berubah nama menjadi Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB),” ujarnya.

Lebih dari itu, lanjutnya, perubahan ini dilakukan untuk memperkuat profesi dokter hewan untuk menjawab tantangan dan isu global seperti One Health, ilmu biomedis, bioteknologi klinis, dan spesialisasi kedokteran hewan di bidang kesehatan hewan.

Namun, Prof Deni menyatakan bahwa SKHB IPB University memiliki kurikulum yang ditetapkan secara nasional sama dengan FKH IPB University oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) dengan Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan Indonesia (AFKHI). Kurikulum ini mengacu pada standar International Day 1 Competency Office International des Epizooties (OIE).

“Dengan bentuk sekolah ini, SKHB IPB University dapat membentuk program-program baru di bawah SKHB seperti biomedis, farmasi, spesialisasi veteriner, dan program lain dalam lingkup studi yang sama,” jelasnya.

Seiring dengan itu, lanjutnya, FKH IPB University bertransformasi menjadi SKHB mulai 28 Desember 2021, namun proses transisi dan penyesuaian administrasi berlangsung selama satu tahun.

“Pada masa itu nama dan atribut FKH IPB University masih bisa digunakan sesuai kebutuhan. Oleh karena itu, kami mohon dukungan dan kerjasama dari semua pihak,” pungkasnya. (CR)

MUNAJAT CINTA IKA FKH IPB

Munas IKA FKH IPB 


Sabtu 12 Maret 2022 Ikatan Keluarga Alumni FKH IPB menggelar Musyawarah Nasional secara luring di Kampus FKH IPB Darmaga dan daring melalui Zoom Meeting. Tema yang diusung yakni munajat Cinta yang merupakan akronim dari Munas IKA dan Jalan - Jalan Civitas Akademika dimana selain Munas peserta yang ikut secara daring akan diajak melakukan tur virtual ke kampus FKH IPB dan melihat perkembangannya sekarang.

Dalam sambutannya Ketua Umum IKA FKH IPB periode 2016 - 2021 Drh Fitri Nursanti dalam sambutannya mengutarakan permintaan maafnya kepada para hadirin perihal Munas yang diundur karena pandemi Covid-19.

"Seharusnya Munas dilangsungkan pada tahun 2020 namun diundur sampai 2022, saya mohon maaf karena ini juga bukan keinginan kami dan segala keterbatasannya," tutur Fitri.

Ia juga berterima kasih kepada para pengurus IKA FKH IPB yang telah bekerja maksimal dalam menjalankan program - program yang telah disusun. Dirinya berharap Ketua Umum IKA selanjutnya dapat terus memajukan IKA dan terus mengharumkan nama almamater di kancah nasional.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut yakni Ketua Umum Himpunan Alumni IPB Walneg S. Jas. Ia mengapresiasi IKA FKH IPB sebagai salah satu organisasi alumni yang sangat aktif melaksanakan kegiatannya dan peduli pada adik - adik kelasnya.

"Saya dapat laporan kalau IKA FKH IPB memberikan beasiswa kepada mahasiswa dan nilainya fantastis sampai lebih dari 1 milyar rupiah, ini sangat luar biasa, saya bangga dan salut kepada IKA FKH IPB. Semoga IKA FKH IPB terus bisa berkontribusi dalam kegiatan apapun termasuk kegiatan sosial," tuturnya.

Dekan FKH IPB Prof Drh Deni Noviana yang juga memberikan sambutan lebih lanjut juga memaparkan perkembangan kampus kekinian. Selain pembangunan beberapa infrastruktur baru, Deni juga mengatakan bahwa nantinya FKH IPB akan berubah nama menjadi Sekolah Kedokteran Hewan Bogor (SKHB). 

"Ini telah direncanakan sejak 2007, namun baru bisa dieksekusi sekarang. Hal ini pun telah lama digodog oleh rektorat secara matang. Kedepannya diharapkan akan menjadi lebih berkualtias dan kompetitif tanpa merubah kurikulum," kata dia.

Dalam acara Munas yang berlangsung terpilihlah Drh Gunadi Setiadarma sebagai Ketua Umum IKA FKH IPB yang baru. Semoga Ketua Umum IKA FKH IPB baru yang terpilih dapat menjalankan amanat tersebut dan semakin mengharumkan nama IKA di semua lini. 

SAMBUT HARI SUSU SE-DUNIA BEM FKH IPB GELAR WEBINAR



Hari susu se-dunia atau World Milk Day jatuh pada tanggal 1 Juni yang lalu. Dalam menyambut event tersebut, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan IPB (BEM FKH IPB) mengadakan webinar dengan tema "Bisnis Susu ala Dokter Hewan".

Narasumber yang dihadirkan tentunya juga orang - orang yang sudah tidak diragukan lagi kompetensinya di bidang sapi perah Indonesia. Mereka adalah Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan dan Drh Muhammad Dwi Satrio yang juga merupakan alumnus FKH IPB.

Antusiasme peserta pun terbilang tinggi, hal ini terlihat dari jumlah yang lalu - lalang masuk ke dalam aplikasi google meeting, kurang lebih 150-an orang hadir dalam webinar tersebut. Mereka pun bukan hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dosen, ASN, peternak, bahkan praktisi sapi perah.

Seminar dibuka dengan paparan dari Drh Muhammad Dwi Satriyo yang bertajuk bisnis susu ala dokter hewan. Dalam presentasi dengan durasi 30 menit, Drh Satrio membagikan pengalamannya sebagai dokter hewan, peternak, dan pengusaha di bidang persusuan. 

Menurutnya konsumsi susu di Indonesia masih sangat rendah ketimbang negara - negara lain di Asia Tenggara apalagi dunia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, namun menurutnya yang terpenting adalah kesejahteraan peternak sapi perah. 

"Harga susu di Indonesia rendah, jauh ketimbang di negara - negara Asia tenggara maupun dunia, oleh karenanya peternak enggan membesarkan skala usahanya. Padahal kalau kita lihat negara tetangga saja, Malaysia misalnya, harga susunya lebih tinggi dari kita, sudah begitu konumsi susu negeri Jiran dua kali bahkan tiga kali lipat lebih tinggi daripada kita," tutur Satriyo. 

Belum lagi ketika bicara kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terhadap peternakan sapi perah, misalnya saja ia mencontohkan di kawasan Cisarua dekat tempat tinggalnya. Menurutnya, pemerintah harus lebih berpihak pada peternak sapi perah, supaya produksi susu bisa meningkat.

"Dulu di sini masih banyak tanah kosong, tumbuh banyak rerumputan bagus itu untuk hijauan pakan ternak ruminansia. Namun sekarang yang banyak tumbuh adalah villa - villa, lahan hijauan berkurang, jadi sulit buat kasih hijauan ke sapi, mau tidak mau peternak membeli rumput dengan harga yang kurang ekonomis, sementara harga susu segitu - segitu saja," papar Satriyo.

Satriyo juga membagikan tips beternak agar produksi susu meningkat, diantaranya dengan memberikan pakan terbaik, meningkatkan manajemen pemeliharaan, dan tetap menjaga sanitasi lingkungan dan hygiene di peternakan. Hal ini akan berpengaruh kepada produksi dan kualitas susu, karena kualitas susu juga menjadi hal yang menentukan dalam penentuan harga susu.

Sementara itu di presentasi kedua Drh Deddy Fakhruddin Kurniawan mengajak peserta untuk lebih mengubah mindset tentang persusuan di Indonesia. Ia mencontohkan bahwa di negara terbelakang, berkembang, dan negara maju mindset peternaknya berbeda.

"Kalau kita negara berkembang, pasti masih membicarakan soal peningkatan konsumsi dan produksi, sementara di negara maju sana mindset sudah berbeda, mereka bicara tentang genetik, animal welfare dan yang nomor satu adalah proud alias kebanggan terharap produk susu yang mereka hasilkan, kita kapan?," tukas Deddy.

Ia juga mengatakan bahwa di negara - negara maju, kampanye minum susu dilakukan secara masif dan terstruktur. Hal ini dilakukan karena mereka tahu betul bahwa susu juga merupakan sumber protein yang esensial bagi tubuh. 

"Konsumsi susu negeri paman Sam itu 9 - 10x lipat lebih tinggi dari negeri kita, konsumsi susu India, itu 4-5x lebih tinggi daripada Indonesia. Padahal, kalau menurut data penduduk dunia, Indonesia ini kan penduduknya paling banyak ke-4 atau ke-5 se-dunia, seharusnya konsumsinya ya nomor segitu juga," tukas Deddy.

Oleh karenanya menurut Deddy, perlu dilakukan juga kampanye masif yang terstruktur dan berkelanjutan agar masyarakat Indonesia gemar mengonsumsi susu. Apalagi kalau susu yang dihasilkan berasal dari peternakan lokal, selain menyehatkan, tentunya bangga dengan produk peternak lokal, dan kita juga membantu peternak lokal kita, support our local farmer!. (CR)



KELELAWAR BUAH BERPOTENSI JADI PENYEBAR VIRUS CORONA DI INDONESIA

Konsumsi Daging Kelelawar, Faktor Risiko Penularan Virus Corona


Ahli patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Prof Drh Agus Setiyono MS, PhD, APVet, menilai virus corona berpeluang menyebar di wilayah Indonesia lewat kelelawar pemakan buah. Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Prof Agus bersama Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang, tentang kelelawar buah. Dalam penelitian tersebut ditemukan enam jenis virus baru pada kelelawar buah dengan daerah sampel yaitu Bukittinggi, Bogor, Panjalu (Ciamis), Gorontalo, Manado, dan Soppeng (Sulawesi Selatan).

Enam virus tersebut adalah coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaherpesvirus, paramyxovirus, dan gammaherpesvirus. Menurut Prof Agus, mengonsumsi kelelawar buah dapat berisiko terpapar virus corona bila preparasi kelelawar menjadi bahan makanan dilakukan secara kurang tepat. Virus corona dapat berada di dalam tubuh kelelawar tanpa menimbulkan persoalan medis bagi kelelawar dan virus ini tidak secara khusus hidup di dalam kelelawar buah. “Hewan lain juga memiliki kemungkinan menjadi induk semang virus ini,” ungkap Prof Drh Agus.

Ia menilai letak geografis kelelawar buah tidak menjadi penentu penyebaran virus karena virus ini secara umum terdapat pada kelelawar buah di mana pun berada. Prof Agus menilai penyebaran corona virus dari kelelawar buah di Indonesia terinfeksi virus corona. Menurut dia, kelelawar terbang sangat jauh dan dapat berpindah tempat tinggal (habitat) mengikuti musim buah sebagai makanan pokoknya. “Kelelawar memiliki sistem imun yang unik. Ada berbagai virus yang berdiam dalam tubuhnya dan bukan hanya virus corona, tapi banyak lagi patogen yang berpotensi zoonosis (penyakit yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia atau sebaliknya). Dan hal ini tidak 'dihalau' sebagai benda asing oleh kelelawar,” terang Prof Agus.

Coronavirus atau virus corona muncul di Wuhan, China, pada awal tahun 2020. Virus jenis baru ini telah menewaskan 80 orang dan telah menyebar ke berbagai negara. Spekulasi ataupun dugaan bermunculan mengenai penyebab asal virus tersebut. Salah satunya berasal dari sup kelelawar, sebuah makanan populer di Wuhan.

Prof Agus memberikan saran untuk dapat melakukan pencegahan terhadap serangan virus corona, yakni tidak bersentuhan dengan kelelawar, baik langsung maupun tidak langsung. Kedua, tidak memakan buah sisa masak pohon yang digerogoti kelelawar, meskipun biasanya ini yang paling manis.

Ketiga, sebaiknya bagi sebagian masyarakat dengan budaya mengonsumsi sayur atau lauk dari kelelawar mulai mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan mengonsumsi kelelawar. “Masih banyak pangan fungsional yang baik dan menyehatkan,” tutupnya (CR).




FKH IPB GELAR SEMINAR OBAT HEWAN INDONESIA

Foto bersama kegiatan seminar nasional obat hewan Indonesia oleh Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB. (Foto: Infovet/Sadarman)

Divisi Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Obat Hewan Indonesia” untuk lebih dalam menggali informasi dan prospek industri obat hewan di Indonesia.

“Kita semua adalah calon dokter hewan yang kelak akan bersinggungan dengan obat hewan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kita mengkaji bagaimana prospek bisnis obat hewan Indonesia ke depannya,” kata Ketua Pelaksana, Ilham Maulidandi Rahmandika, dalam sambutannya.

Menyambung sambutan ketua pelaksana, Ketua Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB, Drh Huda S. Darusman, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. “Seminar ini adalah akhir dari kegiatan atau aktivitas mahasiswa di Divisi Farmakologi dan Toksikologi, sehingga dapat saya katakan bahwa seminar nasional ini adalah cinderamata dari Divisi Farmakologi dan Toksikologi, yang dikerjakan langsung oleh mahasiswa,” kata Huda.

Sementara Dekan FKH IPB, Prof Drh Srihadi Agungpriyono, yang didaulat menyambut dan membuka kegiatan ini menyebut bahwa menjadi mahasiswa FKH harus aktif, tidak hanya dalam perkuliahan namun juga dalam kegiatan internal dan eksternal kampus.

Menurutnya, pelaksanaan seminar ini penting diketahui para calon dokter hewan ke depannya. Mengingat peluang kerja dokter hewan sangat beragam dan semua itu didasarkan atas kecakapan intelektual dan kemampuan dari masing-masing individu.

“Dokter hewan itu harus mengerti obat, karena obat dapat menyembuhkan dan bahkan dapat menjadi penyebab kematian jika tidak digunakan sesuai dengan dosis dan aplikasinya,” ucap Srihadi.

Acara yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution Sabtu (30/11/2019), menghadirkan pembicara utama Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, dan pembicara lain diantaranya Drh Ni Made Ria Isriyanthi, Drh Lusianingsih Winoto (PT SHS), Drh Ayu Berlianti, Drh Mukhlas Yasi Alamsyah, Drh Beni Halaludin dan Ir Suaedi Sunanto.

Dalam paparannya, Fadjar Sumping menyampaikan mengenai perkembangan obat hewan Indonesia. Menurutnya dalam bisnis obat hewan, Indonesia memiliki aturan sebagai landasan dalam membuat, mengedarkan dan menggunakan obat hewan untuk kepentingan penyembuhan penyakit hewan dan ternak. Diantara aturan tersebut, obat hewan yang dibuat dan disediakan untuk diedarkan harus memiliki nomor pendaftaran, diuji dan disertifikasi agar dapat digunakan di bawah pengawasan dokter hewan berwenang, terutama untuk obat keras. (Sadarman)

OPTIMALISASI KONSEP ONE HEALTH DALAM PENCEGAHAN FOOD BORNE DISEASE

Pembicara seminar pada kegiatan RAP 2019 yang dilaksanakan di Bogor. (Foto: Infovet/Sadarman)

Himpunan Profesi (Himpro) Ruminansia, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Institut Pertanian Bogor (IPB), menyelenggarakan kegiatan Ruminant Action Project (RAP), pada Minggu (13/10/2019), di salah satu pusat perbelanjaan di Bogor, bertajuk “Optimalisasi Konsep One Health dalam Pencegahan Food Borne Disease”.

Ketua Panitia Pelaksana RAP, Sri Wahyuni, menyebutkan bahwa pelaksanaan RAP 2019 sengaja dilakukan di pusat perbelanjaan karena diakhir kegiatan diadakan kegiatan lomba memasak. “Ada lomba memasak dan pesertanya kebanyakan dari pengunjung dan dari kelompok-kelompok mahasiswa,” ujar Yuni kepada Infovet ditemui disela-sela acara.

Sementara Ketua Himpro Ruminansia FKH IPB, Agung Nulhakim, menyatakan acara tahunan ini menjadi mega program kerja (mega proker) dari Himpro Ruminansia. “Tahun lalu kita sukses mengedukasi masyarakat pedesaan, tahun ini kita kembali mengedukasi masyarakat perkotaan. Tentunya tema acara disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” kata Agung.

Terkait tema acara, Dekan FKH IPB yang diwakili oleh Dr Drh Sri Rahmatul Laila, menyebut bahwa konsep OH sejatinya adalah mencegah penyakit hewan menular, ternak ke manusia dan sebaliknya, yang melibatkan semua stakeholders, baik pemerintah, akademisi dan pihak lainnya yang berkaitan dengan Kesmavet. 

Ia pun turut memberi apresiasi terhadap kegiatan tersebut. “Salut dan bangga dengan mereka dalam mendesain acara ini dan perlu dicontoh oleh Himpro lainnya,” kata Sri Rahmatul Laila yang juga dosen FKH IPB.

Kegiatan menghadirkan narasumber diantaranya Ketua Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (Askesmaveti), Drh Sri Hartati dan dosen Kesmavet FKH IPB, Dr Drh Herwin Pisestyani.

Tampil sebagai pembicara pertama, Sri Hartati memaparkan materi food borne disease, bahaya dan cara pencegahannya. Menurutnya, produk ternak seperti daging, susu dan telur merupakan bahan pangan tinggi protein, sehingga mudah terpapar mikroba. “Bahan pangan asal hewan harus Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), sehingga fungsinya bukan hanya mengenyangkan, namun juga dapat menyehatkan,” jelasnya.

Agar produk ternak yang dihasilkan menyehatkan bagi konsumen, kata dia, diawali dengan manajemen pemeliharaan yang baik hingga manajemen pemotongan yang higienis, untuk menjamin produk ternak tidak terpapar mikroba maupun bahan cemaran lainnya.

Sementara pembicara kedua, Herwin Pisestyani, menjelaskan mengenai bahaya penyakit bawaan pangan asal hewan. Ia menyebut, resiko food borne disease sejalan dengan peningkatan kebutuhan pangan asal ternak, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap orang berisiko terpapar penyakit tersebut. “Penyakit asal bahan pangan cukup banyak, pada 2018 tercatat ada sekitar 61 kasus fatal akibat food borne disease,” kata Herwin. Rata-rata awal mula kasus dari kebiasaan buruk individu yang terlibat dalam menangani dan memproses produk ternak itu sendiri.

Ia mengimbau, konsumen tetap mewaspadai kondisi bahan pangan yang akan atau sudah dibeli, terutama terkait dengan penanganan dan penyimpanannya. (Sadarman)

VETVAGANZA 2019 : BUKAN SEKEDAR REUNI


Bertemu dengan kawan lama alias reuni tentunya akan menjadi sesuatu yang menenangkan. Hal inilah yang terjadi di acara Vet Vaganza 2019 lalu di Lapangan IPB Baranang Siang, Bogor (18/8) yang lalu. Acara tersebut merupakan ajang silaturahmi alumni FKH IPB lintas angkatan yang rutin digelar setiap 2 – 3 tahun sekali.

Ketua Panitia drh Dodi Irawan Suparno menghaturkan rasa terimakasihnya kepada semua pihak yang membantu menyukseskan acara ini, ia juga mengapresiasi kepada seluruh angkatan yang telah hadir dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) FKH IPB drh Fitri Nursanti Poernomo juga mengatakan bahwa Vet Vaganza sedianya bukan hanya ajang silaturahmi tetapi juga ajang penggalangan dana beasiswa untuk mahasiswa FKH IPB yang tidak mampu.“ Tradisi ini sudah ada sejak dulu, kami hanya meneruskannya. Nantinya harapan kami tradisi ini harus dilanjutkan,” tutur Fitri. Dalam acara tersebut, diserahkan bantuan beasiswa yang terkumpul dari alumni sebesar 120 juta rupiah.

Donasi Beasiswa IKA FKH IPB untuk Mahasiswa FKH IPB

Turut pula hadir Ketua Umum Himpunan Alumni IPB Ir R. Fathan Kamil, menurutnya ajang seperti ini, selain bermanfaat dan menjalin silaturahmi juga menunjukkan bahwa alumni IPB memiliki ikatan yang solid. Hal senada juga dituturkan oleh Dekan FKH IPB drh Srihadi Agung Priyono.

Selain itu acara juga diramaikan oleh penampilan dari klinik musik FKH IPB. Klinik musik merupakan grup musik yang beranggotakan mahasiswa FKH IPB dan cukup populer pada tahun 80-an. Lagu yang dibawakan oleh klinik musik sangat bernuansa kampus, riang, jenaka dan sesekali bernada mengkritik pemerintahan pada masa itu.

Turut memeriahkan acara juga hadir Rektor IPB University, Dr. Arif Satria. Bukan cuma sekedar hadir, orang no.1 di IPB tersebut juga menyumbang lagu dalam Vet Vaganza 2019. Semua yang hadir pun turut mengapresiasi penampilan “Mr. Rektor”. (CR)

DEKAN FKH IPB : TETAP TENANG HADAPI CACAR MONYET

Indonesia sempat digemparkan dengan penyakit cacar monyet beberapa waktu yang lalu. Meskipun  ditemukan di Singapura, keberadaan penyakit tersebut membuat Indonesia sebagai negara tetangga patut waspada.

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), Prof. Drh Srihadi Agungpriyono menyebut bahwa penyakit cacar monyet alias Monkeypox merupakan penyakit yang eksotik. Sebabnya, penyakit ini belum pernah dilaporkan penyebarannya di Indonesia.

Penyakit ini (cacar monyet) belum pernah dilaporkan ada di Indonesia baik pada hewan maupun manusia. Sehingga penyakit ini dalam istilah kesehatan hewan dikategorikan sebagai penyakit eksotik," kata pria yang akrab disapa Pak Yoni, dalam keterangannya kepada wartawan.

Lebih lanjut ia menambahkan, cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan virus monkeypox masuk ke dalam genus Orthopoxvirus, family Orthopoxviridae. Penyakit ini seperti smallpox (cacar) pada manusia, disebabkan variola yang berkerabat dengan cacar monyet, tetapi bersumber pada hewan.

"Hewan yang peka terhadap cacar monyet di antaranya monyet, kera, rodensia, dan mamalia kecil. Sumber virus di hewan bisa berasal dari lesio kulit, urin, feses, eksudat dari mulut, hidung, dan konjungtiva, serta semua jaringan hewan terinfeksi," imbuhnya.

Penularan dari hewan ke hewan melalui kontak langsung dengan sumber virus misalnya melalui gigitan, cakaran, dan endusan. Penularan diduga juga dapat terjadi melalui rute aerosol atau kontak dekat.
Sedangkan penularan dari hewan ke manusia dapat melalui kontak langsung dengan lesio (kulit), darah, dan cairan (eksudat) hewan terinfeksi, gigitan dan cakaran, melalui aerosol saat kontak dekat dengan hewan terinfeksi, serta konsumsi daging hewan liar yang dikenal 'bush meat' merupakan kasus pada manusia di Afrika.
Dari aspek kesehatan hewan, maka otoritas veteriner perlu membuat kebijakan tentang tindakan-tindakan preventif terkait masuknya hewan-hewan, terutama rodensia dan 'exotic pet' dari negara endemik.
Cacar monyet, memicu kekhawatiran masyarakat Indonesia

"Ini penyakit zoonotik, maka perlu ada koordinasi antara bidang kesehatan, kesehatan hewan, satwa liar, dan instansi terkait, untuk segera membuat serta mengambil langkah tindakan preventif termasuk kesiapsiagaan darurat atau emergency preparedness terkait masuknya virus Monkeypox," ungkap dia.
Pria yang merupakan dosen anatomi tersebut pun berharap komunikasi, informasi dan edukasi harus segera disusun untuk meredam keresahan dan kekhawatiran masyarakat terkait virus tersebut.
"Para pakar di FKH IPB sepakat agar masyarakat tidak perlu khawatir yang berlebihan namum tetap perhatikan himbauan dan saran yang disampaikan oleh pemerintah melalui instansi terkait," tutupnya.

FKH IPB MEMBIDIK AKREDITASI EROPA

Dalam rangka meningkatkan mutu dan kualitasnya agar setara di tingkat internasional, Faklutas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor kini menjajaki akreditasi pendidikan kedokteran hewan dari badan akreditasi kedokteran hewan Eropa. Sebelumnya FKH IPB juga telah terakreditasi oleh ASEAN University Network Quality Asurance (AUN-QA).

Pada tanggal 11-13 Februari lalu, Prof. StĂ©phane Martinot, selaku Presiden of the European Association of Establishments for Veterinary Education (EAEVE) berkunjung ke FKH IPB dalam rangka kunjungan informatif terkait EAEVE dan sistem akreditasi European System of Evaluation of Veterinary Training (ESEVT). 

Dalam kesempatan tersebut Prof. Martinot mendapatkan penjelasan mengenai FKH IPB serta proses pembelajaran yang disampaikan oleh Dekan FKH IPB, Prof Srihadi Agungpriyono, Wakil Dekan bidang Akademik dan Kemahasiswaan Prof. Agus Setiyono, serta Direktur Eksekutif Rumah Sakit Hewan Pendidikan (RSHP) FKH IPB Prof. Deni Noviana. 

Prof Martinot juga meninjau beberapa aktivitas belajar mengajar, baik perkuliahan maupun praktikum yang sedang berlangsung, sekaligus meninjau aktivitas dan fasilitas penunjang di RSHP FKH IPB dan di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR) FKH IPB.

Prof. Martinot bersama staff pengajar dan Dekan FKH IPB (Sumber : fkh.ipb.ac.id)

Tidak berhenti sampai disitu,  Prof. Martinot juga melakukan kunjungan ke salah satu mitra akademik kegiatan ekstramural dalam Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH), yakni Direktorat Polisi Satwa Baharkam Polri di Kelapa Dua, Depok. Prof. Martinot juga berkunjung ke Jakarta Aquarium, salah satu lembaga konservasi eksitu yang menjadi tempat berkiprah para alumni dalam bidang medik konservasi satwa aquatik.

Secara umum, Prof. Martinot terkesan dengan aktivitas dan fasilitas di FKH IPB yang dianggap sudah memadai. Sambil memberikan masukan dan beberapa catatan untuk perbaikan dan peningkatan aktivitas, sarana dan proses pembelajaran, beliau menyarankan FKH IPB melanjutkan proses ini ke tahap penyusunan Self Evaluation Report (SER) agar segera dapat mengajukan usulan kunjungan konsultatif pada tahun 2020.

Langkah yang ditempuh oleh FKH IPB ini juga mendapat suara positif dan dukungan dari stakeholder. Dalam salah satu agenda kunjungan, Prof. Martinot bertemu dan berdiskusi dengan Ketua Ikatan Alumni FKH IPB, Drh. Fitri Nursanti Poernomo Ketua PDHI Cabang Jawa Barat II, Drh. Soenarti Daroendio, dan Kepala Subdirektorat Pengamatan Penyakit Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh. Boedhy Angkasa.

Prof. Srihadi Agungpriyono, Dekan FKH IPB, berharap FKH IPB dapat segera menyiapkan dan menyempurnakan serta melakukan berbagai upaya yang diperlukan untuk persiapan proses akreditasi sesuai dengan saran yang diberikan oleh Prof. Martinot. Tekad dan dukungan semua sivitas akademika dan tenaga kependidikan maupun para stakeholder sangat diharapkan untuk mewujudkan harapan ini.

Tidak lupa juga Prof. Martinot mengundang Dekan dan perwakilan IPB untuk menghadiri General Assembly meeting EAEVE di Zagreb, Kroasia pada 30-31 Mei yang akan datang sebagai langkah berikutnya untuk menjadi associate member di EAEVE. (Sumber : fkh.ipb.ac.id)

Silaturahmi IKA FKH IPB

IKA FKH IPB Mengadakan silaturahmi. (Foto: Infovet/Cholill)

Sabtu 12 Januari 2019, sejumlah dokter hewan yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB (IKA FKH IPB) mengadakan silaturahmi di Gedung Alumni IPB, Bogor. Acara tersebut dihadiri Dekan dan Wakil Dekan FKH, IPB Prof Drh Srihadi Agung Priyono dan Dr Drh Agus Setiyono.

Ketua IKA FKH IPB, Drh Fitri Nursanti Purnomo, dalam sambutannya mengapresiasi anggota yang datang ke acara tersebut. “Selain dalam rangka menyambung tali silaturahmi antar angkatan, acara ini juga bertujuan membahas program-program kerja IKA FKH IPB yang telah berjalan sepanjang 2018 dan sosialisasi program IKA FKH IPB 2019. Semoga program yang telah berjalan bisa dilanjutkan dengan konsisten serta tahun 2019 semua program dapat terealisasi,” pungkasnya.

Sementara, Prof Drh Srihadi Agung Priyono dalam pidatonya mengingatkan tentang pentingnya menjaga silaturahmi antar alumni. Pria yang akrab dipanggil Yoni itu, juga mengingatkan bahwa dokter hewan alumni IPB harus bisa menjaga nama baik almamater dan mampu bersaing di tingkat global.

“Banyak alumni kita yang sudah go international, itu bagus, tapi tetap jangan seperti kacang lupa kulit, silaturahmi kita sesama mantan mahasiswa tetap harus dijaga, bila perlu kita berkontribusi bagi adik-adik kita yang sekarang masih menempuh pendidikan di kampus,” tutur Yoni.

Kontribusi yang dimaksud yakni salah satunya menyukseskan program beasiswa untuk mahasiswa FKH IPB yang kurang mampu. Sejak 2012 lalu IKA FKH IPB terus konsisten menyalurkan bantuan beasiswa kepada mahasiswa FKH IPB yang dianggap kurang mampu. Dana diperoleh secara kolektif dari alumni FKH IPB yang dikoordinir melalui masing-masing ketua angkatan. (CR)

Small Animal Acupuncture Class di Rumah Sakit Hewan Pendidikan FKH IPB

Kegiatan Small Animal Acupuncture Class (Foto: Istimewa)

Small Animal Acupuncture Class merupakan program yang dimiliki Chi Institute of Traditional Chinese Veterinary Medicine di Reddick, Florida, USA. Program tersebut merupakan pelatihan pengobatan akupuntur untuk small animal.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan hewan di wilayah Asia Pasifik, Chi Institute mengembangkan program Small Animal Acupuncture Class di beberapa negara seperti China, Taiwan, Korea, Jepang, dan Indonesia. Program Small Animal Acupuncture Class ini terdiri dari 5 sesi yang dijalankan secara online dan onsite.

Di Indonesia, sesi 1-2 onsite telah dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bali. Dilanjutkan dengan sesi 3-4 onsite yang bertempat di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Sedangkan sesi 5, yang disertai dengan ujian tertulis dan lisan, bertempat di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Small Animal Acupuncture Class sesi 4 terlaksana di Rumah Sakit Hewan Pendidikan FKH IPB pada  12-14 Desember 2018. Pada sesi ini, diikuti 18 orang peserta dokter hewan yang berasal dari 6 negara yaitu Indonesia (6 orang), Malaysia (6 orang), Singapura (3 orang), Filipina (1 orang), India (1 orang), dan Hong Kong (1 orang).

Foto bersama peserta

Sesi 4 terdiri dari kegiatan seminar (review sesi 1-4 online) dan workshop (canine point lab) yang berlangsung selama 3 hari. Pada hari terakhir, para peserta juga diperkaya dengan beberapa contoh kasus klinis yang dapat ditangani dengan akupuntur maupun modalities yang lain seperti herbal medicine, tui na massage dan food therapy.

Ketua PB PDHI (kiri) beri sambutan

Acara berlangsung dengan lancar dan sukses. Kegiatan hari pertama dibuka oleh Ketua PDHI Cabang Jawa Barat II, Drh Soenarti D. Waspada, MS, MARS dan Direktur Eksekutif RSHP FKH IPB, Prof Drh Deni Noviana, PhD, DAiCVIM. Pada hari ketiga, peserta juga dikunjungi oleh Ketua PB PDHI, Drh M. Munawaroh, MS yang sekaligus memberikan sertifikat kepada para peserta. (INF)

Hindari Stres Hewan, Hasilkan Daging Berkualitas Prima

Kegiatan Pelatihan Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Ruminansia di Fakultas Peternakan IPB.

Status fisiologis hewan yang akan disembelih, sangat berpengaruh pada kualitas daging yang dihasilkan. Oleh karenanya, penanganan yang tidak welfare pada saat sebelum dan selama proses penyembelihan akan menimbulkan stres dan mengaktifasi sistem simpatis.

Menurut pengajar FKH IPB Supratikno, dalam Pelatihan Manajemen dan Sistem Penjaminan Mutu RPH Ruminansia yang diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) di Bogor, Selasa (11/12/2018) lalu, pada saat stres, darah akan lebih banyak dialirkan ke otak dan otot rangka dan sistem simpatis akan bekerja mengkonstrisikan buluh darah.

“Jika hewan dalam kondisi ini disembelih maka proses kematiannya menjadi lama, hewan meronta-ronta sehingga daging menjadi memar serta darah banyak tertinggal di dalam daging,” kata Supratikno.

Pada hewan yang stres kronis berkepanjangan, maka cadangan glikogen otot sangat sedikit sehingga proses pembentukan asam laktat sangat sedikit dan PH daging tetap tinggi menyebabkan daging menjadi dark, firm dan dry (DFD).

Supratikno menjelaskan, hewan yang stres akut sesaat sebelum disembelih akan terjadi pemecahan glikogen yang tinggi lalu menyebabkan pembentukan asam laktat dan penurunan PH terlalu cepat di jam pertama setelah penyembelihan.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil sembelihan dengan kualitas yang prima, maka prinsip-prinsip kesejahteraan hewan dalam proses penangangan hewan yang akan disembelih harus diterapkan secara benar. Hindari hewan mengalami stres saat sebelum disembelih, sehingga dihasilkan daging yang berkualitas tinggi. (AS)

Moment Haru pada Orasi Purnabakti Prof Dr med vet drh Hj Mirnawati B Sudarwanto


Bogor – INFOVET. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, Prof Dr med vet drh Hj Mirnawati B Sudarwanto menyampaikan orasi purnabakti di IPB International Convention Center, Bogor, Rabu (20/12/2017).

Acara spesial ini dimeriahkan dengan berbagai hiburan dan suasana haru menghiasi ungkapan testimoni atau kisah-kisah dari para rekan serta sahabat Prof Mirnawati. Selain Kepala Divisi Kesmavet FKH IPB, Dr drh Denny Widaya Lukman MSi, pemberi testimoni lain adalah Drh Setyo Widodo PhD selaku dosen FKH IPB yang menuturkan bahwa Prof Mirna merupakan sosok penuh inspiratif.

Drh Setyo Widodo PhD dalam kesempatan tersebut juga membacakan puisi karyanya berjudul “Halaman Terakhir”, dipersembahkan untuk Prof Mirnawati.

Lahir di Yogyakarta pada 11 Desember 1947, Prof Mirnawati meraih Gelar Sarjana Kedokteran Hewan tahun 1972 di FKH IPB. Pendidikan dilanjutkan untuk meraih gelar Dokter Hewan di institusi yang sama dan lulus tahun 1974. Doktor (S3) diraih pada tahun 1982 di Justus Liebig Universität, Jerman dalam bidang Hygiene dan Teknologi Susu.

Bidang ilmu Prof Mirnawati diangkat sebagai guru besar adalah Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner. Penelitian yang dikembangkannya sebelum dan sesudah pengangkatan sebagai guru besar adalah Mastitis terutama mastitis subklinik, higiene pangan, mikrobiologi susu dan produk olahannya, keamanan pangan asal hewan.

Prof Mirnawati menghasilkan pereaksi/reagens untuk deteksi Mastitis subklinik yang di beri nama Pereaksi IPB-1. Pereaksi IPB-1 dikembangkan sejak tahun 1985 dan resmi digunakan tahun 1993. Seiring perjalanan waktu pereaksi IPB-1 terus dikembangkan dan dimodifikasi untuk memperoleh pereaksi yang stabil, sensitif, spesifik dan harganya terjangkau. (nu)

ARTIKEL TERPOPULER

ARTIKEL TERBARU

BENARKAH AYAM BROILER DISUNTIK HORMON?


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer