-->

PERSIAPAN MAKSIMAL, HARAPKAN HASIL OPTIMAL

Persiapkan awal pemeliharaan yang maksimal agar pertumbuhan ayam optimal. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pada awal minggu kehidupannya, ayam membutuhkan panas tertentu sampai bulu-bulu tubuhnya tumbuh dengan lengkap/sempurna. Periode indukan/brooding merupakan masa kritis pada periode kehidupan anak ayam dan sangat berpengaruh kepada pertumbuhan dan hasil akhir (performance) di masa kemudian. Indukan dapat diartikan atau didefinisikan sebagai tempat menjaga atau memelihara ayam mulai umur satu hari/day old chick (DOC) sampai lepas masa pemenuhan akan kebutuhan pemanas buatan yang selanjutnya bertujuan agar dapat tumbuh baik hingga usia yang diinginkan, misalnya 4-6 minggu.

Indukan yang efisien adalah ditandai oleh dihasilkannya ayam yang sehat, tingkat kematian rendah dan pertambahan bobot badan (weight gains) baik. Dengan demikian indukan yang baik adalah yang dapat mendukung keluarnya potensi genetik ayam tersebut secara optimal.

Untuk mendapatkan apa yang disebutkan di atas, perlu kiranya mengetahui bagaimana cara untuk mendapatkannya, maka itu sebaiknya ikuti prosedur berikut sebagai pedoman.

A. Mempersiapkan Kandang Sebelum DOC Datang
1. Segera setelah ayam terjual/panen habis, keluarkan seluruh sekam/litter (untuk kandang postal), kotoran, bulu-bulu, debu dan kotoran lainnya dari lantai, langit-langit, dinding, serta peralatan yang terpakai selama pemeliharaan secepat dilakukan. Jangan sisakan litter bekas di sekitar kandang, demikian juga serangga, cacing/telur cacing, tikus dan burung liar harus dalam kondisi yang terkontrol. Buang seluruh kotoran, bakar bulu-bulu ayam, potong dan rapihkan rumput dan semak/tanaman liar, serta perbaiki jalan di sekitar areal kandang/farm.

2. Setelah kandang kosong… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2021. (MAS-AHD)

TANTANGAN PERDAGANGAN DI SEKTOR DAGING MERAH DAN SAPI TERUS BERLANJUT

 



Kemitraan Indonesia-Australia untuk Ketahanan Pangan di Sektor Daging Merah dan Sapi atau The Indonesia-Australia Partnership on Food Security in the Red Meat and Cattle Sector (atau the Partnership) merilis Joint State of the Industry (JSOI) 2021 Mid-Year Update Report, yaitu laporan Status Industri Indonesia Australia yang merangkum status perdagangan sapi hidup dan produk daging sapi secara bilateral antara Australia dan Indonesia.  

Laporan JSOI terbaru menyoroti tantangan finansial yang saat ini masih dihadapi oleh usaha penggemukan (feedlot) dan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Australia dan Indonesia yang sangat terkendala oleh terbatasnya pasokan dan harga sapi yang tinggi. Banyak di antara usaha tersebut yang melaporkan telah mengalami kerugian operasional. Sementara itu, industri daging merah dan sapi Indonesia terus mengalami tekanan akibat COVID-19. 

Dr Riyatno, Co-Chair Partnership Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi industri saat ini. “PPKM yang diberlakukan di seluruh Indonesia sebagai upaya mengendalikan pandemi COVID-19 varian Delta secara signifikan melemahkan daya beli konsumen dan permintaan daging sapi. Laporan terbaru JSOI menyajikan sejumlah informasi penting bagi pemerintah dan industri di masa sulit ini. Namun begitu, turunnya angka kasus aktif dan kasus baru COVID-19, serta upaya gencar perluasan vaksinasi COVID-19 di seluruh Indonesia, diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang diperkiraan akan naik lebih dari 4% tahun ini."

Chris Tinning, Co-Chair Partnership Australia, menyatakan bahwa kemungkinan kondisi akan membaik pada paruh kedua tahun 2022.  “Curah hujan yang baik di Australia tahun ini membantu produsen Australia untuk meningkatkan kembali populasi sapi dan mempertahankan  stok sapi mereka.  Oleh karena itu, harga ekspor sapi hidup yang tinggi saat ini seharusnya bisa turun pada paruh kedua tahun 2022, dan bisa meredakan tekanan keuangan yang dialami usaha feedlot dan RPH di Australia dan Indonesia.  Saya senang Laporan JSOI terbaru rilis, sehingga dapat membantu pemerintah dan kelompok industri melalui masa ekonomi yang tidak pasti ini.” (Rilis/INF)

 

 

 

BEBAS DARI FLU BURUNG, INGGRIS TETAP WASPADA

Pelaku industri unggas Inggris didesak untuk mendaftar ke webinar flu burung gratis setelah Inggris akhirnya dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.

Webinar berlangsung pada 13 September dan dirancang untuk memberikan informasi terbaru kepada peserta tentang latar belakang untuk memperkirakan risiko wabah flu burung di masa depan, mencakup keterbatasannya dan berbagi informasi tentang apa yang telah dipelajari dari musim AI sebelumnya.

Sementara kemajuan yang signifikan telah dibuat oleh industri dan pemerintah dalam menangani wabah AI dalam beberapa tahun terakhir, terutama dalam hal komunikasi, manajemen penyakit dan kurangnya penyebaran sekunder. Webinar mengeksplorasi faktor-faktor penghubung lemah yang biasa ditemukan dalam kasus pengenalan primer AI ke dalam kawanan.

Acara tersebut berlangsung setelah pengumuman oleh kepala petugas kesehatan hewan Inggris, Christine Middlemiss, bahwa standar internasional telah dipenuhi untuk menyatakan negara itu bebas dari flu burung. Namun, dia kembali mengimbau kepada seluruh peternak unggas untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda penyakit tersebut. Flu burung yang sangat patogen terus bersirkulasi baik pada burung liar maupun burung penangkaran di Eropa dan saat musim dingin mendekat, risiko burung liar bermigrasi yang terbang ke Inggris selama beberapa bulan mendatang akan berarti bahwa risiko untuk unggas domestik kemungkinan besar akan meningkat. (poultryworld.net)

PATAKA DESAK PERPRES BARU KOMODITAS PETERNAKAN STRATEGIS

Ternak ayam broiler. (Foto: Infovet/Ridwan)

Carut-marut bisnis perunggasan tidak lepas dari persaingan usaha antar korporasi, peternak menengah atas hingga skala kecil (peternak rakyat). Misalnya komoditas ayam broiler yang mengalami pertumbuhan signifikan pada perusahaan skala integrasi melalui PMA/DAN panjang dua dekade.

Hal itu membuat Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) mendesak terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) terkait perbaikan komoditas peternakan strategis.

Dalam keterangan tertulisnya, Jumat (17/9/2021), Ketua Pataka, Ali Usman, membeberkan tumbangnya para peternak skala rakyat akibat persaingan usaha yang dinilai tidak sehat. Salah satunya jebloknya harga ayam panen (live bird) yang kerap berada di bawah harga acuan pemerintah Rp 19.000-21.000/kg.

"Hal itu akibat meluapnya pasokan (oversupply) di hulu, meskipun dilakukan cutting tetapi persoalan masih terjadi. Derasnya investasi asing yang juga diperbolehkan melakukan budi daya membuat oversupply terjadi," jelas Usman.

Selain ternak broiler, lanjut dia, usaha ternak layer kini juga mengalami nasib serupa. Kelebihan produksi membuat harga telur terpuruk. Apalagi ditambah lesunya permintaan karena PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) akibat pandemi COVID-19.

Usman juga menambahkan, selain oversupply, persoalan langkanya pasokan jagung dan harganya yang melambung juga membuat biaya pakan membengkak. Padahal sebanyak 40-60% jagung merupakan komponen utama pakan ternak unggas. Harga jagung pun kini berada di atas Rp 6.000/kg.

Desakan dari peternak pun, kata dia, sudah terdengar sampai ke telinga presiden, akibat salah satu peternak membentang poster soal mahalnya harga jagung.

“Meskipun presiden telah menerima kunjungan dari perwakilan peternak, saya merasa pesimis persoalan ini bisa diselesaikan dengan cepat. Mengingat pasokan jagung dalam negeri langka. Sekalipun ada impor, harga jagung dunia juga mahal menyentuh di atas Rp 5.000/kg sampai ke Indonesia,” jelas Usman.

Lebih jauh diungkapkan, persoalan industri peternakan broiler dan layer bukan masalah baru. Oversupply terjadi selama dua dekade, tetapi pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian belum mampu menuntaskan. Padahal dalam UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam Pasal 32 Ayat (1) mengatakan pemerintah dan pemerintah daerah mengupayakan agar sebanyak mungkin warga masyarakat menyelenggarakan budi daya ternak. Artinya pemerintah berkewajiban membina dan memfasilitasi masyarakat untuk mengajak berusaha, sehingga tercipta usaha peternakan yang dapat membantu usaha rakyat dan memajukan roda perekonomian.

“Selama ini banyak peternak melakukan budi daya tetapi kegairahan peternak merasa terganggu akibat kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap peternak rakyat," ucapnya.

Oleh karena itu, Pataka mendesak Presiden Joko Widodo segera menerbitkan Perpres tentang Komoditas Peternakan Strategis guna melindungi peternak rakyat. Perpres menata industri perunggasan dari hulu-hilir agar semua pihak dapat diuntungkan.

"Presiden harus mengajak seluruh stakeholder untuk bertumbuh bersama agar industri perunggasan berkembang dengan baik. Sebab nilai bisnis perunggasan lebih dari Rp 500 triliun. Semua pelaku usaha anak bangsa harus bisa menikmati, jangan hanya kelompok usaha tertentu, terutama perusahaan asing," pungkasnya. (INF)

PENGURANGAN UMUR SIMPAN AYAM DI ARAB SAUDI DITOLAK

Pihak berwenang di Arab Saudi telah membuat keputusan untuk menangguhkan aturan yang menentukan masa simpan hanya 3 bulan untuk daging ayam beku sejak hari penyembelihan.

Arab Saudi telah mengusulkan pemotongan umur simpan ayam beku dari 1 tahun menjadi 3 bulan, sebuah keputusan yang akan menimbulkan tantangan logistik bagi pemasok lokal dan eksportir asing.

Namun, otoritas kesehatan Saudi kini telah menerima bukti dari negara-negara pengekspor unggas dan pemangku kepentingan lokal dan menarik tindakan tersebut. Yang membahayakan pasokan internasional karena periode penyimpanan yang singkat, sementara produk harus tetap bertahan di rak-rak toko sebelum dibeli, setelah waktu yang dibutuhkan untuk pengangkutan. (via poultryworld.net)

MAHASISWA UGM KEMBANGKAN SUPLEMEN PAKAN RUN

Tim mahasiswa UGM yang mengembangkan inovasi suplemen pakan RUN untuk ternak domba. (Foto: Istimewa)

Rumen Undegradable Nutrient (RUN) merupakan suplemen pakan ternak ruminansia yang dikembangkan menggunakan teknologi proteksi, sehingga tidak didegradasi atau dicerna oleh mikroba rumen. Nutrien atau bahan yang digunakan sebagai penyusun RUN adalah lemak yang berasal dari crude palm oil (CPO) dan asam amino (arginin, metionin dan lisin).

Inovasi suplemen pakan RUN dilakukan oleh tim mahasiswa UGM dalam ajang Program Kreativitas Mahasiswa yang diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaam, Riset dan Inovasi 2021.

Inovasi ini dilakukan dengan melihat fakta bahwa pakan memiliki peran besar dalam produktivitas ternak. Hanya saja, sebagian besar pakan yang diberikan kepada ternak ruminansia berasal dari limbah pertanian dengan kualitas rendah, karena tinggi serat dan rendah protein. Apalagi di negara tropis seperti Indonesia, menyebabkan kandungan serat dalam hijauan pakan ternak menjadi tinggi, sehingga sulit dicerna ternak. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan nutrien tidak terpenuhi, sehingga produktivitas ternak kurang optimal.

Mahasiswa UGM yang terdiri dari Muhammad Evan Magistrama, Rizqi Rahadian Pramana, Jason Saut Hamonangan Siregar dan Almas Aufar Zhafran Romala Nabila, melakukan inovasi berdasarkan penelitian yang telah dilakukan untuk menghasilkan RUN tersebut.

Ketua tim peneliti, Muhammad Evan Magistrama di Yogyakarta, Selasa (14/9), menyampaikan penggunaan asam lemak dari CPO dapat menjadi sumber energi. Hal ini didukung dengan keberadaan asam amino. Arginin merupakan asam amino potensial dalam metabolisme kreatin untuk pembentukan otot. Selain itu, metionin dan lisin berperan dalam metabolisme energi untuk mendukung produktivitas ternak.

“Analisis ekonomi yang telah kami lakukan menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi RUN dapat meningkatkan keuntungan 50% lebih besar dibanding perlakuan kontrol. Hal ini didapat karena terjadi peningkatan efisiensi dari budi daya domba yang dilakukan, yakni PBBH yang signifikan dengan konversi pakan yang rendah,” kata Evan.

Ia menambahkan, apabila domba yang dipelihara berjumlah 100 ekor, penggunaan RUN dalam waktu 21 hari mampu meningkatkan keuntungan lebih besar, yakni 6-7 juta dibandingkan tanpa penambahan RUN.

“Teknologi RUN dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan keuntungan peternakan rakyat. Diharapkan hasil penelitian ini tidak sekadar menjadi penelitian semata, akan tetapi perlu dikembangkan menjadi inovasi bernilai ekonomi yang dikemas dalam bentuk start-up mahasiswa,” pungkasnya. (IN)

WEBINAR SIGNIFY INDONESIA SOAL PENCAHAYAAN DI KANDANG CLOSED HOUSE

Webinar mengenai “Inovasi Pencahayaan untuk Produktivitas Kandang Closed House” yang diinisiasi Signify Indonesia. (Foto: Infovet/Ridwan)

Pencahayaan yang diprogram dengan baik di dalam kandang menjadi salah satu faktor penting dalam manajemen pemeliharaan ayam. Pencahayaan berpengaruh pada proses kematangan organ dan pertumbuhan ayam.

“Segi pencahayaan kandang turut memengaruhi perbaikan produktivitas ayam. Dan hal ini tentunya juga berpengaruh pada hasil produksi ternak yang berkualitas,” ujar Direktur Komersial Leader Signify Indonesia, Raymon, dalam webinar “Inovasi Pencahayaan untuk Produktivitas Kandang Closed House”, Kamis (16/9), yang diinisiasi Signify Indonesia bekerja sama dengan Majalah Infovet.

Hal tersebut juga diamini oleh Pakar Peternakan Universitas Padjajaran, Dr Sauland Sinaga yang menjadi narasumber. Ia mengungkapkan, kenyamanan pencahayaan dalam kandang berpengaruh pada faktor fisiologis yang juga memengaruhi potensi biologis ayam. “Khususnya pada kandang closed house yang memang sistem pencahayaannya tergantung pada lampu,” kata Sauland.

Iapun menjelaskan intensitas cahaya yang dibutuhkan unggas tidak perlu terlalu tinggi. Karena apa yang ditangkap oleh penglihatan ayam berbeda dengan manusia. “Kita berpikir 50 watt saja kadang masih redup, padahal bagi ayam itu sudah cukup tinggi, karena gelombang cahaya yang diterima ayam lebih luas. Sehingga ayam membutuhkan cahaya yang nyaman,” ungkap dia.

Jadi kata Sauland, peternak bisa memilih lampu berwarna kehijauan redup untuk pemeliharaan ayam. Ia juga menegaskan, jangan pernah menggunakan lampu berwarna merah karena hal tersebut berpeluang ayam menjadi kanibal karena meningkatkan perasaan fighting ayam.

Lebih lanjut dipaparkan, pada fase gelap atau redup ini juga membantu ayam mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Disinilah terjadi pembentukan hormon melatonin secara optimal yang menginduksi peningkatan sekresi hormon pertumbuhan.

“Optimalnya hormon melatonin juga meningkatkan sistem imun. Karena pada waktu terang hormon tersebut tidak bekerja optimal. Dengan waktu istirahat yang baik tubuh ayam juga melakukan recovery sel-sel yang rusak, mengoksidasi radikal bebas, meningkatkan penyerapan vitamin dan menurunkan peristaltik usus dan sekum yang terjadi peningkatan kecernaan mineral dan serat, serta meningkatkan produksi enzim pitase dan produksi inositol (vitamin B 8) yang memengaruhi sistem saraf pusat otak untuk tenang,” jelas Sauland yang juga Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia.

Hal senada juga dikemukakan Pakar Bisnis dan Teknologi Signify Indonesia, Budi Novianto. Dikatakan dalam pemeliharaan ternak ayam, pemberian cahaya yang nyaman pada saat ayam beraktivitas dan istirahat turut memegang peranan penting dalam pertumbuhan.

“Dari situlah kami lakukan inovasi teknologi pada lampu kandang yang mampu memberikan kenyamanan pada ayam. Dengan inovasi teknologi ini program lampu kandang tersebut memiliki simulasi seperti matahari terbit dan tenggelam, sehingga ayam benar-benar nyaman dibuatnya,” kata Budi.

Lebih lanjut dijelaskan dari beberapa penelitian yang dilakukan, penggunaan lampu tersebut turut memengaruhi kebaikan bobot badan ayam, memperbaiki konversi pakan hingga menurunkan angka deplesi pada populasi ayam. (RBS)

RENEWABLE NATURAL GAS DARI KOTORAN UNGGAS

BP dan CleanBay Renewables telah menandatangani perjanjian 15 tahun di mana BP akan membeli renewable natural gas (RNG) yang diproses dari kotoran unggas (campuran pupuk kandang, bulu dan litter) dan menjualnya sebagai bahan bakar untuk sektor transportasi AS.

Menurut CleanBay Renewables, solusi ampuh ini tidak hanya mengurangi polusi udara, tanah, dan air, tetapi juga menguntungkan peternak, komunitas, dan bisnis lokal. CleanBay Renewables mengelola proses ini dengan mencampurkan kotoran unggas dengan air dalam sistem tertutup yang dikenal sebagai digester anaerobik. Salah satu produk akhir adalah biogas, yang termasuk metana. Biogas tersebut dapat diolah menjadi RNG dan digunakan untuk bahan bakar kendaraan.

Pendekatan CleanBay dibangun di atas upaya keberlanjutan komunitas peternakan dengan memanfaatkan kembali kotoran unggas, yang lebih dari 14 juta ton diproduksi setiap tahun di AS, ke dalam RNG dan pupuk organik.

Melalui perjanjian ini, tim perdagangan dan pengiriman BP akan menjual bahan bakar ke pelanggannya, awalnya di California. Ada permintaan yang kuat untuk bahan bakar RNG di negara bagian ini karena insentif dari Standar Bahan Bakar Karbon Rendah. Kendaraan berbahan bakar RNG diperkirakan menghasilkan emisi gas rumah kaca hingga 95% lebih rendah daripada yang berbahan bakar bensin atau solar berdasarkan siklus hidup, menurut studi Departemen Energi AS.

Perjanjian dengan bp ini secara langsung mendukung pembiayaan untuk fasilitas bio-konversi aktif pertama CleanBay Renewables di Maryland. Fasilitas ini dapat mendaur ulang lebih dari 150.000 ton kotoran unggas setiap tahun menjadi 100.000 ton pupuk, 750.000 mmbtu RNG. (via poultryworld.net)

SWOLLEN HEAD SYNDROME DAN CARA PENGENDALIANNYA

I Wayan Teguh Wibawa

PT Intervet Indonesia/MSD Animal Health dan PT SHS International, didukung oleh Majalah Infovet dan GITA EO, menyelenggarakan webinar Mengenal Penyakit Swollen Head Syndrome dan Cara Mengatasinya, pada Rabu 15 September 2021.

Diikuti 300 peserta dari berbagai kalangan usaha perunggasan, dan stakeholder perunggasan, webinar ini dipandu oleh moderator Drh Aulia Reza Pradipta, Technical Support Poultry Business Unit MSD Animal Health Indonesia.

Sebagai narasumber pertama adalah Prof Dr Drh I Wayan Teguh Wibawan, MS, pakar dari FKH IPB, yang membawakan materi Swollen Head Syndrome dan Cara Pengendalian.

Penyebab penyakit swollen head syndrome adalah avian metapneumovirus. Infeksi oleh virus tersebut akan menyebabkan cairan radang yang bersifat cair. “Tujuan cairan ini adalah untuk mengeluarkan material-material virus yang menginfeksi,” kata I Wayan. “Namun cairan radang ini mengakibatkan ketidaknyamanan bagi ayam dan juga merupakan bahan berbiak bagi bakteri penginfeksi sekunder dan hal ini memperparah gejala penyakit.”

Swollen head syndrome menyebabkan pembengkakan di seluruh area kepala. Yaitu di intramandibular, intrakutan, dan intrasinovial.

Swollen head syndrome

Avian metapneumovirus menyerang sel-sel saluran pernapasan dan saluran reproduksi. Hal ini membawa dampak yang serius terhadap integritas saluran pernapasan dan produktivitas ayam.

Infeksi avian metapenumovirus yang disertai dengan infeksi sekunder juga bisa mengakibatkan gangguan pernapasan, penurunan feed intake, stres, penurunan produktivitas, peningkatan kepekaan terhadap penyakit pernapasan lain, dan kegagalan respon tubuh ayam terhadap vaksin.

Swollen head syndrome dapat dicegah dengan penerapan biosekuriti dan vaksinasi. Vaksinasi diperlukan karena tidak semua penyakit dapat dicegah hanya dengan tindakan biosekuriti, khususnya yang penyebarannya bersifat aerosol (lewat udara). Untuk penyakit seperti ini vaksinasi memegang peran yang utama.

Vaksin menjadi pilihan pertama karena dapat menginduksi antibodi, yang bisa berperan secara lokal di mukosa (port of entry penyakit) maupun berperan sistemik. Vaksin juga dapat menginduksi sel Tc yang membersihkan virus dari sel-sel yang terinfeksi.

Vaksin yang digunakan bisa vaksin aktif atau vaksin inaktif. Vaksin aktif merangsang timbulnya kekebalan lokal di permukaan mukosa, berperan Imunoglobulin A, berespon cepat meskipun masa kerja antibodi tidak lama. Vaksin aktif juga menginduksi kerja cellular mediated immunity, yakni mekanisme clearence virus yang menginfeksi sel.

Sedangkan vaksin inaktif (killed vaccine) menginduksi antibodi sirkulatif, humoral mediated immunity, yang bertugas menahan infeksi ketika virus masih ada di luar sel.

Untuk bakteri infeksi sekunder yang sering menyertai dan memperparah gejala penyakit SHS, dapat ditangani dengan pengobatan antibiotik.

Aulia Reza Pradipta dan Marwan Nasution

Selanjutnya, narasumber kedua Drh Marwan Nasution, Technical Manager Poultry Business Unit MSD Animal Health, mempresentasikan produk vaksin dari MSD Animal Health untuk pencegahan penyakit swollen head syndrome. Yaitu Rhino CV dan RT Inact.(NDV)

INDONESIA - FAO ERATKAN KERJASAMA UNTUK SISTEM PANGAN BERKELANJUTAN

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ketika melakukan pertemuan virtual bersama FAO

Pemerintah Republik Indonesia dan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) tegaskan kerjasama yang lebih erat untuk sistem pangan yang berkelanjutan di Indonesia. Komitmen tersebut ditegaskan kembali dalam pertemuan virtual Kepala Perwakilan FAO yang baru Rajendra Aryal saat menyerahkan surat kepercayaan (credential letter) kepada Menteri Luar Negeri HE Retno Marsudi di Jakarta (13/9).

Marsudi menyoroti ketahanan Indonesia di sektor pertanian yang ditunjukkan dengan Pertumbuhan Produk Domestik (PDB) yang meningkat 2,19% year-on-year di tengah terjadi perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

“Saya berharap FAO akan terus mendukung pembangunan pertanian di Indonesia dengan fokus pada bidang-bidang strategis seperti peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi konsumsi pangan pokok, penguatan cadangan pangan dan sistem logistik, pengembangan pertanian modern dan promosi tenaga ahli pertanian," ujar Marsudi. 

Aryal mengakui pencapaian Indonesia dan menegaskan kembali komitmen FAO untuk memberikan lebih banyak dukungan dalam upaya teru menerus untuk melakukan transformasi sistem pangan Indonesia menjadi lebih berkelanjutan.

“Pemerintah Indonesia telah menunjukkan upaya luar biasa untuk mengatasi dampak negatif pandemi terhadap kehidupan masyarakat. FAO akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk memberikan perlindungan kepada petani kecil dan keluarganya, pekerja pangan di semua sektor, dan mereka yang sangat rentan,” kata Aryal.

Pertemuan tersebut juga menyoroti bahwa transformasi sistem pertanian pangan akan bertumpu pada digitalisasi pertanian seperti e-agriculture dan inovasi. “Kita perlu melihat bagaimana inovasi teknologi dan digitalisasi, seperti e-agriculture, dapat membantu petani dan konsumen mengatasi masalah kerawanan pangan, masalah gizi dan berkurangnya sumber daya alam,” tambah Aryal.

KolaborasiLebih Kuat dibawah Kerjasama Selatan-Selatan Dan Triangular (South -South and Triangular Cooperation)

Dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak menyepakati pentingnya Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular. Menteri berharap FAO akan terus mempromosikan dan memfasilitasi kerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya di seluruh dunia di bawah Kerjasama Selatan dan Selatan dan Triangular.

“Indonesia telah mencapai berbagai keahlian teknis di sektor pangan, pertanian, perikanan dan kehutanan, dan FAO berkomitmen terhadap keahlian dan praktik baik Indonesia melalui kerjasama selatan-selatan dan segitiga (triangular), tidak hanya di Kawasan Asia-Pasifik, tetapi secara global," kata Aryal.

Rajendra Aryal adalah seorang profesional pembangunan internasional dengan pengalaman lebih dari 26 tahun di semua (seluruh) aspek ketahanan pangan, mata pencaharian berkelanjutan, rantai nilai pertanian, pembangunan ketahanan, dan pemulihan di hampir 30 negara di Asia, Afrika, dan Eropa sebelum pindah ke Indonesia. Sebelumnya Aryal adalah Kepala Perwakilan FAO di Afghanistan, penasihat senior program ketahanan menghadapi bencana di Roma dan juga koordinator program ketahanan dalam menghadapi bencana di Indonesia pada tahun 2005. (CR)

RANGKAIAN SESI 7-9 PELATIHAN DARING GENETIK TERNAK LOKAL

Pelatihan genetik ternak lokal sesi ke-8. (Foto: Istimewa)

Kegiatan Online Training on Indonesia Cattle Local Genetics memasuki sesi ke-7. Pada Jumat (27/8), pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak bersama MLA (Meat & Livestock Australia) dan UNE (University of New England) Australia yang difasilitasi GITA Organizer dan Majalah Infovet ini, dimulai dengan sesi tanya-jawab dan diskusi oleh narasumber Prof Julius van der Werf dan Dr Samual Clark dengan para peserta yang berjumlah 72 orang.

Salah satu perwakilan dari grup 3, Chakra, langsung mempresentasikan home work sesi sebelumnya mengenai Pemuliaan Ternak Babi yang sudah dilakukan menyangkut data genetik aditif (heritabilitas), data lingkungan yang permanen (repeatability), data korelasi genetik, estimasi heritabilitas dan korelasinya, yang langsung ditanggapi Julius.

Sementara peserta lain dari grup 5, Rosi, melanjutkan presentasi sebelumnya menyoal Madura Cattle yang telah dilakukan. Beberapa aspek yang dibahas mengenai bagaimana cara mengidentifikasi silsilah ternak, pencatatan dan perekaman yang dibahas oleh Samuel Clark.

Kemudian pada Jum’at (3/9), pelatihan sesi ke-8 yang diikuti 78 peserta langsung dibuka oleh Prof Dr Ir VM Ani Nurgiartiningsih dari Fapet Unbraw. Dilanjutkan presentasi Julius yang memberikan gambaran bagaimana pemuliaan pada ternak berlangsung. Contohnya ayam ras pedaging yang kini berhasil menaikkan pertumbuhan bobot badannya dengan waktu yang singkat, serta perbaikan genetik sapi perah yang difokuskan pada peningkatan produksi susu dan masalah fertilitas.

Perubahan genetik, kata Julius, dapat dikerjakan sepenuhnya dan sangat menguntungkan. Namun dibutuhkan respon dan etika dalam pendekatannya, selain pengetahuan tentang perubahan biologis yang terjadi. 

Sedangkan pada Jumat (10/8), pelatihan sesi ke-9 yang dihadiri 68 peserta, Julius membahas mengenai design of breeding programs. Sebagai kesimpulan, Julius mengemukakan bahwa manfaat konsep ini untuk meminimalisir inbreeding disebabkan perkawinan relatif dan bisa memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan, koefisien inbreeding relatif  untuk beberapa basis populasi dan hal itu sangat bermanfaat untuk mempertimbangkan percepatan F rather dari pada nilai absolutnya, serta teori selalu hidup untuk keseimbangan kecepatan F dan perkembangan genetik. (SA)

DAGING HALAL MENYUMBANG 40% DARI EKSPOR UNGGAS BRASIL

Antara Januari dan Agustus 2021, daging ayam halal telah menyumbang 40% dari ekspor unggas Brasil. Jumlahnya mencapai lebih dari 1 juta ton.

Proyeksi yang dibuat oleh konsultan Garra International ini menggunakan data dari ABPA (Brazilian Association of Animal Protein).

Halal dalam hal daging ayam, diatur bahwa penyembelihan harus dilakukan dengan cara tertentu, meminimalkan penderitaan hewan yang disembelih. Baru setelah itu, daging ayam tersebut akan mendapat sertifikasi layak untuk diekspor ke negara-negara seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab, dan juga Eropa yang dihuni banyak umat Islam.

“Pasar halal tumbuh dari tahun ke tahun, bukan hanya karena permintaan dari negara-negara Arab, tetapi juga karena komunitas muslim di seluruh dunia. Timur Tengah dan Afrika Utara tentu saja sangat relevan, tetapi China dan Eropa juga telah meningkatkan permintaan mereka di segmen itu juga,” tegas Matias Hees, CCO, Garra. Sejak Januari hingga Mei tahun ini, Arab Saudi mengimpor ayam halal Brasil terbanyak (26%), disusul Uni Emirat Arab. Namun, negara-negara lain, banyak yang tidak memiliki mayoritas Muslim, menerima 27%, menurut data ABPA.

“Hubungan kami dengan orang Arab kuat karena kami memasok protein yang memenuhi persyaratan sanitasi mereka. Kami bekerja untuk menjangkau berbagai tempat di dunia, dengan daging berkualitas, dan menghormati budaya”, kata Renato Gheller, manajer protein ayam di Garra International. (via poultryworld.net)

PRODUK NUTRICELL RAMBAH NEGERI GINSENG

Pelepasan Ekspor Produk Obat Hewan Milik Nutricell Menuju Korea Selatan

Senin (13/9) PT Nutricell Pacific kembali melakukan ekspor produknya, tidak tanggung - tanggung kali ini Korea Selatan yang jadi tujuan ekspor Nutricell. Acara seremonial ekspor tersebut dilangsungkan di Kantor Nutricell yang berlokasi di Komplek Pergudangan Taman Tekno, Tangerang Selatan.

Sebanyak 28 ton sediaan imbuhan pakan dengan nilai lebih dari USD 254 ribu (sekitar Rp 3,6 Milyar) dikirimkan ke Korea Selatan pada hari itu. Dalam sambutannya CEO PT Nutricell Pacific Suaedi Sunanto  tak hentinya menyatakan rasa syukur atas raihan yang telah dicapai perusahaannya.

"Ini sudah yang ke-3 kalinya untuk kami, dan ini merupakan salah satu pencapaian yang apik bagi kami. Apalagi ini terasa sangat spesial karena perusahaan kami baru saja merayakan perayaan ulang tahun yang ke-6. Saya rasa ini adalah suatu karya yang dapat kami persembahkan untuk negeri ini, oleh karena itu semua saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah sudi membantu kami dalam mewujudkan hal ini," tutur Suaedi.

Ia juga mengatakan bahwa Nutricell memiliki komitmen untuk menghadirkan produk yang memenuhi standar kualitas global mulai dari kualitas produk, keamanan, ketelusuran (traceability),  dan tentu saja standar keberlangsungan (sustainability).

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah juga mengapresiasi pencapaian Nutricell. Menurutnya Nutricell merupakan salah satu perusahaan yang dapat dijadikan contoh sukses dalam membantu pemerintah menjalankan program GRATIEKS Pertanian (Gerakan Tiga Kali Ekspor Pertanian).

"Seperti apa yang diamanatkan oleh Pak Menteri, kami selalu mendukung siapa saja yang ingin ekspor, akan kami gelar karpet merah bagi siapa saja yang ingin ekspor. Tentunya kami juga tidak akan mempersulit, malah akan kami bantu semaksimal mungkin, kalau untuk ekspor, Ditjen PKH Sabtu - Minggu tidak libur!," kata Nasrullah sembari berkelakar.

Sebagai informasi Nasrullah juga menyampaikan bahwa ekspor komoditas peternakan pada tahun 2021 periode bulan Januari-Juli tercatat mencapai 192.034 ton dengan nilai USD 807.587.385 atau setara Rp 11,7 triliun.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2020 (YoY), volume ekspor mencapai 175.022 ton dengan nilai sebesar USD 466.838.460, nilai ini meningkat sebesar 9,72% dan nilai ekspor meningkat sebesar 72,9%. Oleh karenanya dirinya akan terus menghimbau dan membantu perusahaan mana saja yang bergerak di bidang peternakan dalam melakukan ekspor, karena ekspor menunjukkan bahwa Indonesia tetap bisa bersaing dengan luar negeri.

Produk Unggulan, Kearifan Lokal

Direktur Technical Nutricell, Wira Wisnu Wardhana mengatakan bahwa sejatinya Indonesia memiliki potensi dalam hal sumber bahan baku. Banyak hal yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena kekayaan sumber daya alamnya.

"Bahan baku kita lakukan penelitian mendalam kandungannya, khasiatnya, keunggulan dan kekurangannya, lalu kita berikan nilai tambah agar dapat dimanfaatkan oleh ternak. Dengan begitu akan ada value yang didapat sehingga bermanfaat," tutur Wira.

Ia menuturkan Nutricell selalu berkomitmen dalam mengembangkan produk-produk feed additive dan feed supplement berbasis sumberdaya lokal, melalui riset, dan investasi dalam kemampuan analisa dan manajemen. (CR)





CSR PT HUTAMA KARYA: PONDOK PESANTREN KEMANDIRIAN PANGAN

Serah terima bantuan kandang ayam closed house dan budidaya ternak ayam broiler di Pondok Pesantren Ansharullah, Minggu 5 September 2021.

Masyarakat Indonesia saat ini terdampak pandemi COVID-19 yang akibatnya banyak yang mengalami persoalan pekerjaan, kekurangan bahan makanan pokok, dan sebagainya. Salah satu yang ikut terpukul adalah pondok pesantren. Hal itulah yang mendorong Ir Lukman Edy, Wakil Komisaris Utama PT Hutama Karya mencetuskan program CSR Pondok Pesantren Kemandirian Pangan.

Agar Pesantren Mandiri Pangan

Lukman Edy

“Saya merasa tergerak, minimal kebutuhan pokok untuk kebutuhan pangan di pondok pesantren terpenuhi,” kata Lukman. “Mengapa CSR berupa kandang ayam, selain ayam-ayamnya bisa dijual untuk membantu penghasilan dan membayar gaji tenaga pengajar juga hasil ternak daging ayamnya bisa dimakan para santri.”

Pondok Pesantren Ansharullah di Jl Banteng PKU Bangkinang Km 38, Desa Pulau Birandang, Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar, Riau, adalah ponpes pertama yang menerima CSR tersebut.

Hutama Karya sebagai fasilitator menyediakan kandang dan mendampingi sampai dengan ponpes mandiri. Dalam artian sampai ponpes memperoleh akses sumber/lembaga keuangan misalnya perbankan syariah sehingga bisa dibantu permodalan untuk pengembangan peternakan.

Ke depannya ponpes juga diharapkan dapat mengelola dan membudidayakan ayam broiler secara mandiri untuk dapat dipasarkan, dan membangun peluang bisnis yang baru sekaligus memenuhi kebutuhan pangan di lingkungan pesantren.

Hidayat Noor

“Saya ditugaskan Hutama Karya sebagai konsultan program CSR ini,” terang Hidayat Noor, SPt. “Selanjutnya, saya merekrut tim teknis dari Bandung untuk membangun kandang. Juga mengadakan bimbingan teknik dan pelatihan, dua orang dari Pondok Pesantren Ansharullah ke Bandung untuk mengikuti training. Saya turut memberikan pelatihan dan kontrol saat kandang dibangun.”

Di sisi lain program budidaya ternak ayam broiler ini adalah bentuk dukungan dan kepedulian Hutama Karya, dalam melaksanakan program tanggung jawab sosial dan lingkungan yang berfokus pada kegiatan pembinaan masyarakat/komunitas.

Pembangunan Kandang dan Pelatihan

Pada tahun 2020 Hutama Karya membangun kandang closed house berkapasitas 5.000 ekor di lahan Ponpes Ansharullah. Selain menyediakan lahan ponpes menyediakan sapronak, juga DOC yang disuplai oleh PT Semesta Mitra Sejahtera.

Pembangunan sempat terhambat karena pandemi COVID-19 dan faktor lemahnya kapasitas listrik di daerah ponpes.

Intan Savitri

“Hingga saat ini belum ditemukan kendala serius dalam pengelolaan budidaya broiler. Ada pun beberapa kendala yang pernah dihadapi di antaranya terkait dengan ketersediaan aliran listrik untuk kandang ayam. Tetapi kendala tersebut sudah ditangani oleh pihak peternak dengan menambah daya listrik kandang ayam sekaligus membeli genset sebagai sumber daya listrik tambahan di kandang ayam,” kata Intan Savitri, Asisten Manajer CSR/PKBL Hutama Karya.

Sebelum masa chick in, dua orang dari Ponpes Ansharullah dikirim ke Bandung selama 14 hari untuk pelatihan. Diantaranya mereka mengikuti bimbingan teknis pengenalan ayam, juga diajak melihat langsung kandang closed house modern. Selain memberikan pelatihan, Hutama Karya juga mendampingi dan mengawasi proses budidaya broiler di ponpes.

Kandang closed house dipilih karena dinilai efektif. Secara tidak langsung mencegah perubahan suhu ekstrim yang mungkin dapat terjadi di dalam kandang ayam agar menjadi lebih stabil. Selain itu, model kandang closed house dapat memperpanjang daya tahan hidup ayam broiler dibandingkan dengan menggunakan model kandang open house.

Panen Perdana

Panen perdana pada 23 Agustus 2021 di kandang Ponpes Ansharullah memberikan hasil yang memuaskan. Chick in 5.000 ekor menghasilkan ayam terpanen 4.772 ekor dengan berat total 8.315 kg pada umur 30 hari. Hasil IP tercatat 395 pada BW 1,74; FCR 1,38; deplesi 4,6% dengan laba kotor diperoleh Rp 28.056.450,- atau Rp 5.611,- per ekor. Ditambah dengan penjualan pupuk laba totalnya mencapai 30 juta rupiah lebih.

Sebagian hasil panen dijual dan sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan pesantren. Hasil ini cukup memuaskan tetapi manajemen meminta hasil ditingkatkan dengan beberapa catatan evaluasi.

M Nur SHI, Pimpinan Pondok Pesantren Ansarulloh bersyukur menerima bantuan CSR dari Hutama Karya.

M Nur

“Kami senang dan sangat berterima kasih dengan bantuan CSR dari PT Hutama Karya berupa kandang budidaya ayam broiler. Kandang ini membantu sekali dalam upaya menunjang kelancaran kegiatan pondok pesantren dan upaya menuju kemandirian pangan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi protein hewani,” kata Nur.

Nur sendiri ikut turun ke lapangan, mengikuti training agar tahu secara langsung bagaimana memelihara ayam broiler, menjaga dan meningkatkan produksinya.

Nur mengatakan, ”Kita sudah jalan satu tahap, adanya unit usaha budidaya broiler adalah prospek yang sangat bagus. Ke depannya kami berharap bisa dilakukan penambahan satu unit kandang lagi, karena ini sangat bagus sekali untuk menuju kemandirian pangan. Lahan pondok pesantren masih bisa menampung tiga kandang. Anak kandangnya sendiri satu dari pondok pesantren dan satu dari mantan anak kandang yang sudah punya pengalaman cukup lama.”

Bantuan CSR Hutama Karya membawa banyak manfaat untuk Ponpes Ansharullah. Selain menciptakan peluang usaha ekonomi produktif, santri mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan budidaya ayam broiler. Dengan sendirinya tercipta lapangan kerja untuk santri dan melatih mereka berwirausaha.

Pesantren juga meningkat kemandiriannya untuk mencukupi kebutuhan pangan untuk santri dan masyarakat sekitar ponpes. Ke depannya diharapkan akan meningkatkan perekonomian pesantren serta membangun jaringan perekonomian antar pesantren.

Pengembangan Program CSR

Momen meninjau kandang di Ponpes Ansharullah.

Apabila dalam pelaksanaan program budidaya ternak ayam broiler di Ponpes Ansharullah mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang positif, ke depannya Hutama Karya berencana menerapkan program yang sama pada beberapa pondok pesantren lainnya.

Hidayat menginformasikan program ini akan terus dikawal dan dikembangkan ke wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan manajemen yang lebih profesional. Koordinasi dengan Lukman Edy selaku penggagas CSR tetap terus dilakukan. Diharapkan program CSR ini memberi manfaat sebesar-besarnya kepada warga pesantren dan lingkungan, serta turut membangkitkan gairah peternakan broiler dikalangan pemula. (ADV/NDV)

SUMBER PROTEIN ALTERNATIF HOME GROWN UNTUK UNGGAS INGGRIS

Temuan tentang sumber protein alternatif home grown dapat membantu sektor unggas Inggris menjauh dari impor kedelai yang tidak berkelanjutan.

Pada saat pasokan kedelai global terlihat semakin rapuh, penelitian telah menemukan bahwa menanam gandum dan biji vetch, tailing biji-bijian dan kacang olahan semuanya ditemukan menawarkan nutrisi alternatif yang baik untuk monogastrik, dan bisa menjadi pertumbuhan di pertanian.

Saat ini, sebagian besar kedelai yang diimpor ke Inggris digunakan untuk membuat makanan dan pakan ternak, tetapi dari impor ini, dua pertiganya ditemukan pada tahun 2019 berasal dari sumber dengan potensi risiko deforestasi, menurut UK Roundtable on Sustainable Soybean.

Masalah rantai pasokan saat ini dari China dan India tahun ini menyebabkan harga kedelai melonjak hingga 80% di tahun ini hingga Juni. Kesimpulan dari kolaborasi laboratorium lapangan 3 tahun antara petani dan peneliti sekarang menawarkan jalan menuju sistem yang didasarkan pada produksi dan sumber pakan regional. Para petani telah bekerja dengan Pusat Penelitian Organik di laboratorium lapangan bersama dengan Petani Inovatif.

Laboratorium lapangan melihat 3 kemungkinan sumber protein: bibit berkecambah, meningkatkan nilai gizi kacang melalui perlakuan panas dan dehulling, menyimpan tailing biji-bijian.

Semua ditemukan memiliki nilai sebagai sumber pakan home growing. Semua percobaan telah berhasil dengan caranya sendiri, kata Dr Lindsay Whistance, peneliti ternak senior di Pusat Penelitian Organik.

Mike Mallett, yang secara organik memelihara 3.000 ayam petelur di Suffolk, menjalankan uji coba benih berkecambah sebagai bagian dari lab lapangan dan mengatakan ayam Inggris perlu diberi makan dengan pakan yang berasal dari Inggris. “Saya telah mencoba menghilangkan kedelai dari pakan ayam saya selama 9 tahun dan telah menanam berbagai jenis tanaman, termasuk bunga matahari dan lupin. Tapi pertanian kami terlalu dingin, atau mungkin terlalu basa. Vetch, bagaimanapun, adalah sesuatu yang di pertanian kami dapat tumbuh dengan baik. ”

Vetch juga memiliki keuntungan karena berguna dalam sistem pertaniannya, tambah Mallett, karena Vetch memperbaiki lebih banyak nitrogen daripada kacang polong dan buncis, dan merupakan tanaman antar-tanaman yang sangat baik, terutama dengan gandum dan juga memperbaiki struktur tanah.

Namun, biji vetch memang mengandung racun untuk penghambat monogastrik dan tripsonin, yang memengaruhi frekuensi dan ukuran bertelur. Tapi Mallett menemukan bahwa dengan berkecambah dia bisa mengurangi ini sambil melestarikan nutrisi mikro dan protein lainnya. “Itu juga berarti saya memiliki hijauan untuk memberi makan ayam ketika mereka berada di dalam ruangan selama musim dingin ketika ada lebih sedikit hijauan di luar ruangan.” (via poultryworld.net)

MENINGKATKAN KESEHATAN DAN PRODUKTIVITAS AYAM TANPA AGP

Direktur Pakan, Agus Sunanto, saat menjadi keynote speaker dalam webinar “Training Formulasi Pakan Tanpa AGP”. (Foto: Infovet/Ridwan)

Dampak penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada industri ayam ras menjadi alasan pemerintah melarang AGP yang biasanya digunakan melalui pakan. Walau diketahui penggunaannya dapat membantu menekan bakteri patogen di saluran pencernaan.

Namun dalam jangka panjang pemberian AGP dapat menimbulkan residu antibiotik pada produk unggas yang berbahaya dikonsumsi manusia, yang turut meningkatkan kasus antimicrobial resistant (AMR).

“Survei WHO pada 2014 menyebutkan angka kematian global akibat AMR sebanyak 700 juta jiwa (low estimate) dan diperkirakan meningkat menjadi 10 juta jiwa di tahun 2050 mendatang. Banyak negara di Eropa melarang semua jenis antibiotik sebagai growth promoter,” ujar Direktur Pakan Ditjen PKH Kementerian Pertanian, Agus Sunanto, dalam webinar “Training Formulasi Pakan Tanpa AGP”, Rabu (8/9/2021), yang merupakan rangkaian kegiatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2021 di Provinsi NTT pada Oktober mendatang.

Pelarangan AGP di Indonesia telah diatur melalui berbagai regulasi, diantaranya UU No. 18/2009 jo UU No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, Permentan No. 22/2017 mengenai Pendaftaran dan Peredaran Pakan dan Permentan No. 65/2007 tentang Pengawasan Mutu dan Keamanan Pakan.

Dipaparkan Agus, tujuan dari pelarangan AGP tersebut untuk mencegah terjadinya residu obat pada ternak dan resitensi mikroba patogen, mencegah gangguan kesehatan pada manusia, serta menjaga kesehatan lingkungan.

Oleh karena itu, kata dia, langkah strategis yang bisa diupayakan untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ayam bisa menggunakan alternatif seperti probiotik, prebiotik, asam organik, minyak esensial, enzim, maupun feed supplement berkualitas.

“Juga dengan penerapan biosekuriti tiga zona, peningkatan kualitas pakan dan pemilihan DOC yang sehat, berkualitas dan bersertifikat,” ungkap Agus.

Hal senada juga disampaikan Direktur Nutricell Pacific, Wira Wisnu, yang menjadi narasumber. Dikatakan di era bebas AGP sekarang ini, pelaku budi daya unggas harus lebih jeli dalam perbaikan pemeliharaan.

Dijelaskan Wira, beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk mengoptimalkan performa ayam yakni dengan memperhatikan kepadatan kandang, kebutuhan air, ketersediaan dan kualitas pakan.

“Serta bagaimana kita mengatur temperatur, kelembapan, oksigen, manajemen pH saluran pencernaan (keseimbangan mikroflora), pengelolaan organ hati dan usus, serta meminimalisir kondisi stres pada ayam,” katanya. (RBS)

MANFAAT PENGIKAT PELET BERBASIS RUMPUT LAUT DALAM DIET AYAM PEDAGING

Pelet berkualitas tinggi tahan terhadap penanganan yang kasar, seperti selama pengangkutan, penyimpanan, dan pengangkutan di jalur pakan. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan bahan pengikat dari sumber alami seperti rumput laut tidak hanya membantu mencapai kualitas pelet yang diinginkan tetapi juga meningkatkan performa ayam.

Selain itu juga meningkatkan kualitas pakan yang menurunkan biaya produksi dengan mengurangi debu dan pemborosan pakan. Pengikat pelet dari sumber alami seperti rumput laut dapat berkontribusi pada lingkungan yang lebih baik dan mungkin meningkatkan preferensi untuk produk daging.

Rumput laut merupakan sumber hidrokoloid yang penting, seperti agar, alginat, dan karagenan. Hidrokoloid ini dapat digambarkan sebagai karbohidrat yang larut dalam air yang digunakan untuk meningkatkan viskositas larutan untuk membentuk gel. Berdasarkan sifat-sifat rumput laut tersebut, peneliti dari Universitas Malaysia Pahang melakukan penelitian untuk mengevaluasi manfaat penggunaan pengikat pelet berbahan dasar rumput laut.

Dalam penelitian ini, 2 spesies rumput laut, Kappaphycus alvarzeii dan Sargassum polycystum digunakan sebagai pengikat pelet untuk mengevaluasi manfaatnya terhadap kualitas pelet, kinerja pertumbuhan, efisiensi pakan dan karakteristik karkas ayam pedaging umur 1-35 hari. Pakan terdiri dari kontrol (tanpa aditif), pengikat komersial dan 3 level rumput laut; Rumput Laut 1: pakan dasar + S. polycystum pada 2%, 5%, dan 10%, dan Rumput Laut 2: pakan dasar + K. alvarezii pada 2%, 5%, dan 10%.

Kualitas pelet diukur dengan menggunakan Pellet Durability Index (PDI), bersama dengan kekerasan pelet untuk semua diet. PDI terutama menunjukkan kemampuan pelet untuk menahan gesekan selama penyimpanan dan transportasi. Dalam hal kekerasan pelet, secara umum diterima bahwa pelet yang lebih keras juga akan lebih tahan lama.

Hasil pengukuran PDI dan kekerasan pellet yang dilakukan pada pellet yang dihasilkan dengan penambahan serbuk rumput laut (K. alvarezii dan S. polycystum) menunjukkan adanya peningkatan kualitas pellet. Perlakuan dengan S. polycystum ditambahkan menunjukkan skor PDI lebih tinggi dari kontrol, K. alvarezii dan diet pengikat komersial. Sementara PDI K. alvarezii dan pengikat komersial tidak lebih baik dari pakan kontrol, untuk kedua spesies rumput laut, nilai PDI lebih tinggi untuk tingkat inklusi 2% dan 5% daripada tingkat 10%.

Dalam hal kekerasan pelet, K. alvarezii pada 5% menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan dengan sisa diet, sedangkan S. polycystum dan pengikat komersial lebih baik daripada kontrol. Dibandingkan dengan S. polycystum, nilai kekerasan yang lebih besar dari K. alvarezii dikaitkan dengan kapasitas pembengkakan dan kapasitas retensi air yang lebih besar yang meningkatkan sifat fisik dan struktural pelet. Selain itu, K. alvarezii menunjukkan kekuatan gel yang lebih besar dan viskositas yang lebih tinggi dibandingkan dengan S. polycystum. Hal ini disebabkan oleh jenis kandungan polisakarida pada kedua spesies tersebut. Sementara K. alvarezii menghasilkan karagenan, S. polycystum tidak menghasilkan karagenan melainkan alginat. Karagenan dapat membentuk gel yang kuat dan kaku bila dicampur dengan air.

Semua tingkat penambahan rumput laut yang berbeda menunjukkan peningkatan asupan pakan selama fase starter dan grower-finisher. Perbandingan antara 2 spesies rumput laut menunjukkan bahwa rumput laut merah (K. alvarezii) lebih dapat diterima oleh ayam daripada rumput laut coklat, S. polycystum. Pertambahan berat badan lebih banyak untuk K. alvarezii dibandingkan dengan diet S. polycystum. Ayam yang diberi pakan K. alvarezii 2% memiliki pertambahan bobot badan tertinggi dibandingkan dengan tingkat inklusi 5% dan 10% dari spesies rumput laut yang sama.

Rasio konversi pakan (FCR) yang diukur selama periode finisher lebih baik untuk K. alvarezii dan S. polycystum dibandingkan dengan kontrol pada tingkat inklusi 2% dan 5%. Tingkat inklusi 10% untuk K. alvarezii dan S. polycystum lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. FCR terbaik diamati dengan diet 2% K. alvarezii. Hal ini disebabkan kualitas pelet yang lebih baik diamati dengan K. alvarezii sebagai pengikat pelet yang baik akan menjaga semua bahan utuh dan dapat dengan mudah dikonsumsi oleh ayam.

Para peneliti menyimpulkan bahwa spesies rumput laut K. alvarezii dan S. polycystum pada 2-5% dapat berfungsi sebagai pengikat pelet potensial yang meningkatkan kinerja pertumbuhan dan efisiensi pakan pada ayam pedaging tanpa efek buruk pada parameter karkas. Selain itu, karena kandungan hidrokoloid dan sifat-sifat lainnya, seperti kapasitas pengembangan, kapasitas retensi air dan kapasitas pembentukan gel, kedua spesies rumput laut ini dapat meningkatkan kualitas pelet dalam pakan ayam pedaging. (via poultryworld.net)

SEKTOR UNGGAS BULGARIA OPTIMIS MESKIPUN ADA TANTANGAN

Sektor perunggasan Bulgaria mengalami tahun yang penuh tantangan pada 2020, dengan pertumbuhan yang berkelanjutan terhenti untuk pertama kalinya dalam 10 tahun. Namun, prospek untuk tahun 2021 dan 2022 tetap optimis.

Tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi industri perunggasan. Di Bulgaria, dimulai dengan persediaan unggas 2% lebih tinggi dari tahun 2019 tetapi berakhir dengan stok akhir 10,3% lebih rendah. Peternakan mengurangi stok karena berkurangnya permintaan lokal dan ekspor dan meningkatnya biaya produksi.

Perkiraan industri menunjukkan peningkatan 35-50% dalam biaya produksi antara Mei 2020 dan Januari 2021, sementara harga pasar tahunan tahun 2020 untuk ayam pedaging turun 3% menjadi € 145,98/100 kg dibandingkan dengan € 183,95/100 kg untuk rata-rata UE.

Produksi daging ayam pedaging turun 2,5% dan menyumbang 79% (78% pada 2019) dari daging unggas yang diproduksi secara komersial, dibandingkan dengan daging bebek (16%).

Konsumsi unggas mengalami penurunan sebesar 3,7% pada tahun 2020. Hal ini disebabkan oleh penjualan eceran yang tidak mengimbangi penurunan industri jasa makanan. Total konsumsi daging unggas kemungkinan akan menyaksikan pertumbuhan marjinal diikuti oleh pemulihan pada tahun 2022.

Pada tahun 2020, impor, yang didominasi oleh daging ayam pedaging (94% dari total impor daging unggas), menurun secara substansial karena permintaan domestik yang lebih rendah – dengan volume 10,9% dan nilai 18,3% dari 2019. Pemasok utama adalah Polandia (20%), Hongaria (20%), dan Rumania (18%).

Namun, pendapatan ekspor terutama berasal dari produk bebek. Ekspor menurun karena permintaan ekspor yang lebih rendah oleh Yunani, Siprus, dan Belgia serta hilangnya Inggris sebagai pasar UE. Ekspor turun sebesar 22,5% berdasarkan volume dan 25,3% berdasarkan nilai karena harga ekspor yang lebih rendah. Ekspor daging itik ke pasar ekspor utama Prancis dan Belgia terpukul keras akibat pandemi Covid-19.

Pada tahun 2020, untuk daging ayam pedaging, ekspor mengalami penurunan sebesar 28,1% secara tonase dan sebesar 32,8% secara nilai. Yunani adalah pasar utama dan menyumbang 44% dari ekspor daging broiler, diikuti oleh Rumania (20%). Perbedaan antara harga rata-rata daging broiler di Bulgaria dan EU-27 memberikan keuntungan bagi eksportir lokal. Pada tahun 2020, harga rata-rata tahunan Bulgaria adalah € 145,98/100 kg dibandingkan dengan € 183,95/100 kg untuk rata-rata UE.

Diperkirakan bahwa produksi daging ayam pedaging tahun 2021 akan sedikit meningkat dibandingkan tahun 2020. Karena pendapatan konsumen, layanan makanan, dan pariwisata sebagian besar mendorong permintaan daging unggas domestik, konsumsi tahun 2021 kemungkinan akan tumbuh sedikit. Pemulihan yang lebih kuat dalam permintaan dan produksi lokal diharapkan pada tahun 2022. (via poultryworld.net)

MENEKAN GANGGUAN PENCERNAAN

Upaya menekan gangguan pencernaan pada ayam yang disebabkan agen infeksius maupun tidak, dalam penanganannya harus bersifat terpadu dan komprehensif. (Foto: Dok. Infovet)

Sampai saat ini masih banyak peternak yang mengeluhkan terjadinya gangguan pencernaan yang berakibat pada menurunnya produktivitas ayam yang dipeliharanya. Berbagai bentuk gangguan pencernaan tersebut dapat berupa meningkatnya konversi pakan, pertumbuhan terlambat, keseragaman berat badannya rendah dan terjadinya gangguan produksi seperti tertundanya waktu produksi, pencapaian puncak produksi tidak maksimal, ketahanan lamanya puncak produksi relatif singkat, serta pola produksi cenderung berfluktuasi.

Faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam sangatlah banyak dan dapat bersifat kompleks, yakni mulai dari infeksi berbagai agen penyakit, rendahnya kualitas pakan, faktor budi daya terkait manajemen pemeliharaan, serta pengaruh iklim dan lingkungan sekitar/dalam lokasi peternakan. Mengenai mekanisme terjadinya problem pencernaan pada ayam dapat berupa terjadinya gangguan perkembangan organ terkait dengan sistem pencernaan dan gangguan fungsi akibat terjadinya kerusakan secara langsung pada organ pencernaan yang bersifat vital.

Beberapa penyakit yang secara langsung dapat merusak dan mengganggu fungsi sistem pencernaan diantaranya Newcastle Disease (ND), Koksidiosis, Kolibasilosis, Kolera, Salmonellosis, Nekrotik Enteritis (NE), Infectious Stunting Syndrome, Helminthiasis.

Beberapa penyakit atau faktor yang secara tidak langsung merusak fungsi organ pencernaan, akan tetapi mempengaruhi perkembangan organ pencernaan, diantaranya Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernapasan lain yang bersifat kronis, defisiensi nutrisi pakan, serta faktor yang berhubungan dengan praktik manajemen yang berpengaruh langsung pada kesehatan ayam.

Penanggulangan di Lapangan
Upaya menekan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam yang disebabkan oleh agen infeksius maupun yang tidak bersifat infeksius, dalam penanganannya haruslah bersifat…

Oleh: Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

TELUR CAIR NABATI BARU DIPATENKAN

Perusahaan portofolio Eat Beyond, Nabati Foods, telah mematenkan produk telur cair nabati barunya, Nabati Plant Eggz, di Kanada, AS dan Australia, dan sedang dalam proses pengajuan di Eropa dan China.

Alternatif telur cair, yang dibuat oleh perusahaan teknologi pangan yang berbasis di Kanada, terbuat dari protein lupin dan kacang polong untuk meniru konsistensi dan tekstur telur ayam konvensional. Nabati Plant Eggz dirancang untuk menjadi pengganti yang mudah untuk telur ayam.

Rasa dan tekstur dibuat sedekat mungkin dengan telur ayam asli. Sehingga saat dibuat omelet, hasilnya bisa dikatakan sama dengan omelet dari telur asli. (via poultryworld.net)

UPAYA MENGOPTIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Istimewa)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak sekali tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Lebih kece lagi ketika keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang epic di lapangan.

Seperti yang pernah dialami oleh Supendi peternak broiler kemitraan asal Bogor. Ketika kebijakan pakan non-AGP (Antibiotic Growth Promoter) mulai diberlakukan, dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin menjadi rumit, karena kemudian diperparah dengan cuaca ekstrem.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat anti-diare, setelah jalan dua hari bukannya sembuh namun malah diare berdarah gitu. Saya langsung telepon TS obat, besoknya dateng konsultasi dan ternyata ayam saya kena Koksi,” tutur Supendi.

Saat itu untungnya ayam sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badannya di bawah standar, Supendi langsung melakukan panen dini ketimbang merugi lebih lanjut. Ia pun langsung berbenah dan mencari tahu penyebabnya.

“Pakan sih tidak bermasalah, air minum juga, semua aspek saya sudah penuhi. Tetapi memang mungkin saya teledor di cara pemeliharaan. Memang beda ya ketika AGP sudah tidak boleh lagi digunakan, cara pelihara juga harus berubah,” ucap dia.

Mindset Harus Diubah
Dilarangnya AGP kerap kali dijadikan kambing hitam oleh peternak di lapangan terkait masalah yang mereka alami. Tidak semua orang seperti Supendi, memiliki pemikiran positif dan mau merubah tata cara budidayanya. Di luar sana banyak peternak sangat yakin bahwa AGP adalah “dewa” yang harus hadir disetiap pakan unggasnya.

Nutrisionis PT Farmsco Indonesia, Intan Nursiam, mengakui bahwa saat ini mindset peternak harus diubah terkait pakan. “Semua produsen pakan pasti berlomba-lomba dengan keadaan yang ada saat ini tentang bagaimana menggantikan AGP dengan formulasi yang terbaik. Masalahnya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021. (CR)

VIV ASIA JANUARI 2022 DIBATALAKAN

Penyelenggara VNU telah memutuskan untuk membatalkan VIV (Vakbeurs Innovatieve Veehouderij/Trade Fair for Innovative Animal Farming) Asia yang direncanakan untuk Januari 2022. Biasanya, VIV Asia berlangsung pada bulan Maret setiap 2 tahun sekali. Edisi reguler terakhir diadakan pada Maret 2019.

Edisi tahun ini awalnya ditunda menjadi September tahun ini, kemudian menjadi Januari 2022. Keputusan terakhir edisi VIV Asia berikutnya akan berlangsung pada saat seperti biasa, dalam hal ini pada tanggal 8-10 Maret 2023.

Tempatnya akan berada di Bangkok's Impact Challenger, hall 1-3. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tempat VIV Asia bertempat di Bangkok International Trade and Exhibition Centre (BITEC).

Acara ini akan diadakan di co-location dengan acara Meat Pro Asia, yang diselenggarakan oleh Messe Frankfurt dan VNU Asia Pasifik.

Alasan reschedule terkait dengan situasi Covid-19 di Asia Tenggara. Perkembangan terakhir telah memaksa pihak berwenang Thailand untuk menerapkan langkah-langkah ketat baru, termasuk pembatasan perjalanan. Selain itu, program vaksinasi di berbagai negara Asia belum sepenuhnya berjalan. (via poltryworld.net)

PLAINVILLE FARMS MELAKUKAN PENYELIDIKAN INTERNAL

Rekaman yang menunjukkan pekerja menendang, menginjak dan memukuli kalkun di peternakan yang memasok Plainville Farms telah mendorong supermarket AS terkemuka, Whole Foods, untuk menangguhkan semua pembelian dari perusahaan itu dan menarik produk dari tokonya.

Investigasi oleh kelompok kesejahteraan hewan, People for the Ethical Treatment of Animals (PETA), menunjukkan pekerja yang tertangkap kamera melempar kalkun seperti bola basket dan mencoba mematahkan leher kalkun.

Dalam sebuah pernyataan, Plainville Farms mengatakan telah melakukan penyelidikan internal dan jika ada karyawannya yang terlibat, mereka akan dimintai pertanggungjawaban. (via poultryworld.net)

RUSIA NAIK DI PERINGKAT GLOBAL PRODUKSI KALKUN

Pada tahun 2020, Rusia meningkatkan produksi kalkun sebesar 20% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 330.000 ton, menjadikannya produsen kalkun terbesar keempat di dunia.

Jika semuanya berjalan dengan baik, tingkat produksi diperkirakan akan mencapai 400.000 ton tahun ini, mendorong negara itu ke posisi ketiga dalam peringkat global.

“Upaya konsolidasi dalam industri akan mengamankan pertumbuhan tambahan dan membiarkan negara itu menjadi produsen kalkun terbesar kedua di dunia dalam 2-3 tahun ke depan, di depan Polandia, Jerman, Prancis, dan pemimpin sejarah lainnya,” kata Agrifood Strategies. (via poultryworld.net)

DAMATE MENINGKATKAN PRODUKSI KALKUN

Untuk memperluas penjualan ke luar negeri, produsen kalkun terbesar Rusia, Damate, telah membuka ekspor produk kalkun ke Afrika Barat.

Damate telah mengekspor 100 ton sosis kalkun dengan merek Salima ke Ghana, Liberia, dan Benin.

Sebelumnya, Damate terutama berfokus pada ekspor kalkun beku ke Afrika. Pada paruh pertama tahun 2021, pasokan ini berjumlah 3.500 ton untuk 500 juta rubel (US$ 6,5 juta).

Damate mengekspor kalkun ke 31 negara, termasuk China, UEA, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Eropa. Perusahaan bermaksud untuk meningkatkan ekspor ke Afrika. Saat ini, Damate sedang bekerja untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk meluncurkan penjualan ke negara-negara baru.

Pertumbuhan ekspor baru-baru ini dikaitkan dengan dimulainya produksi pabrik baru Damate untuk pemrosesan kalkun canggih di Penza Oblast seharga 9 miliar rubel (US$ 120 juta). Kinerja produksi yang dirancang adalah 303 ton per hari.

Fasilitas ini dikatakan sebagai pabrik pemrosesan kalkun canggih terbesar di Eropa. Pabrik itu memiliki otomatisasi dan robotika tingkat tinggi. (via poultryworld.net)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer