-->

NUTRITION BEYOND INGREDIENTS: INOVASI ALLTECH UNTUK INDUSTRI PAKAN BERKELANJUTAN

Seminar mempertemukan pemimpin industri, akademisi, pemerintah, asosiasi, serta para profesional dalam industri peternakan. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Industri peternakan menghadapi kompleksitas baik dari segi tuntutan efisiensi produksi, ancaman Antimicrobial Resistance (AMR), hingga tuntutan keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut Alltech mengangkat paradigma “Nutrition Beyond Ingredients”, menempatkan nutrisi yang memberikan manfaat ekonomi, fondasi kesehatan ternak, keamanan pangan, dan keberlangsungan lingkungan secara bersamaan.

Pendekatan ini menjadi nilai tambah sekaligus diferensiasi Alltech dalam mendampingi transformasi sektor peternakan Indonesia.

PT Alltech Biotechnology Indonesia berkolaborasi dengan ILDEX Indonesia menyelenggarakan seminar “Nutrition Beyond Ingredients: Driving Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector” pada Kamis, 23 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere, Tangerang Selatan.

Acara dimoderatori oleh Dr Ir Audy Joinaldy SPt, MSc, MM M IP, IPU ASEAN ENG yang memastikan diskusi berjalan dinamis, serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka seminar, Heng Aik Jin, Regional Director Alltech Biotechnology Malaysia & Indonesia menuturkan tema seminar yang diusung sangat relevan dengan kondisi industri peternakan Indonesia sekarang ini. Menurutnya, pemintaan terhadap protein hewan terus meningkat, namun di saat yang sama industri dihadapkan pada banyak tantangan.

“Tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau produce more with the same resources,” tutur Heng.

Nutrisi tidak hanya berbicara mengenai bahan baku, akan tetapi juga bagaimana sains, inovasi, nutrisi yang presisi serta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mendukung kesehatan serta performa ternak sekaligus membangun industri peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.

Kemandirian Pakan, Kunci Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi sebagai keynote speaker mengatakan saat ini dunia dalam turbulensi, dimana ketegangan geopolitik kemudian adanya perang dagang dan krisis iklim mengguncang rantai pasok pangan dan pakan.

Nuryani juga memberikan gambaran supply demand peternakan Indonesia di tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Ia menambahkan, dibalik keberhasilan tersebut masih tersimpan tantangan besar terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor seperti bungkil kedelai, meat bone meal, poultry product meal, dan juga feed additive tertentu juga belum optimalnya pemanfaatan bahan baku lokal. Distribusi pakan yang belum efisien dan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan hijauan juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Produksi Pakan Nasional Tumbuh

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menjelaskan bahwa industri pakan Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi pakan nasional pada 2025 mencapai sekitar 20,3 juta ton dan diproyeksikan tetap tumbuh sekitar enam persen pada 2026, didorong meningkatnya populasi ayam broiler dan layer, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Harga jagung domestik masih berfluktuasi, pasokan soybean meal (SBM) bergantung pada impor kemudian harga asam amino meningkat. Sementara, perubahan regulasi impor dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi struktur biaya industri.

Menurut Tevi, kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif melalui diversifikasi sumber bahan baku, manajemen persediaan yang lebih baik, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, penguatan kemitraan antara produsen pakan, peternak, pemasok bahan baku, dan pemerintah. Ketahanan industri pakan, lanjut Tevi, tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membeli bahan baku murah tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.

Inovasi Mannan-Rich Fraction (MRF)

Dr Ronan Power, Vice President and Chief Scientific Officer Alltech mengajak peserta melihat nutrisi dari perspektif yang lebih luas.

Sebagai perusahaan berbasis sains yang mengembangkan berbagai solusi nutrisi dan kesehatan hewan melalui berbagai riset ilmiah, inovasi Alltech bukan saja diarahkan untuk meningkatkan performa ternak, namun juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari visi global Alltech dalam mendukung pertanian berkelanjutan, dengan entitas bisnis Planet of Plenty ™.

Ronan menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan merupakan titik awal seluruh keberhasilan produksi. “Healthy Gut = Healthy Animal” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasinya.

Gut health integrity tidak hanya mendukung kesehatan saluran pencernaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan baku pakan.

Usus yang sehat juga memungkinkan penyerapan nutrien berlangsung lebih optimal, efisiensi konversi pakan meningkat, performa produksi lebih baik sehingga ketergantungan terhadap penggunaan antibiotik dapat dikurangi.

Selain itu, Ronan juga menyoroti meningkatnya ancaman AMR yang menjadi perhatian dunia. Data global yang dipaparkan menunjukkan pada 2019 sekitar 1,27 juta kematian secara langsung berkaitan dengan AMR, sementara hampir lima juta kematian berkaitan dengan resistensi antimikroba.

Tingginya tingkat resistensi pada isolat Escherichia coli maupun Salmonella memperlihatkan pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan. Menurut Ronan, solusi harus dimulai dari peningkatan kesehatan usus dan pengelolaan mikrobiota yang lebih baik, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan secara alami.

Alltech mengembangkan inovasi bahan pakan bioaktif alami Mannan-Rich Fraction (MRF). Berbagai studi komersial pada broiler maupun layer yang dipaparkan Ronan menunjukkan MRF membantu mengaglutinasi patogen di saluran pencernaan, mengurangi penyebaran gen resistensi antibiotik antarbakteri dan meningkatkan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.

Selain itu memperbaiki performa broiler dan layer, menekan mortalitas hingga lebih dari 20 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

Industri Unggas Terintegrasi Vertikal

US Grains Consultant, Prof Dr Budi Tangendjaja PhD dalam kesempatan yang sama menegaskan efisiensi produksi pakan harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan rantai pasok industri unggas. Tujuan utama industri bukan sekadar menghasilkan pakan termurah, melainkan menghasilkan daging maupun telur dengan biaya produksi paling efisien sesuai kebutuhan pasar.

Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi mulai dari pengadaan bahan baku, logistik, formulasi, operasional feedmill, hingga manajemen pemberian pakan di kandang dikelola secara efisien.

Prof Budi juga menegaskan bahwa industri unggas modern semakin mengarah pada sistem integrasi vertikal, dimana setiap mata rantai produksi saling terhubung dan sebagai bagian dari sistem bersama. Dalam kondisi tersebut baik pemanfaatan teknologi digitalisasi, formulasi presisi, indikator kinerja hingga pengendalian biaya di setiap lini menjadi faktor yang menentukan daya saing industri. (ADV)

BBPMSOH GELAR WEBINAR KULTUR SEL, TEKNOLOGI STRATEGIS MENJAWAB TANTANGAN KESEHATAN HEWAN

Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH)

Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.

Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.

Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.

Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.

Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin

Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).

Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.

Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.

Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.

Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH.

Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan

Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.

“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.

Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.

“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)

BBVF PUSVETMA KAWAL PENGENDALIAN PMK NASIONAL MELALUI MONITORING PASCAVAKSINASI

Kegiatan webinar dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten. (Foto: Dok BBVF Pusvetma)

Pelaksanaan monitoring pascavaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahun 2025 oleh Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma secara nasional, mengonfirmasi efektivitas program vaksinasi di lapangan. Pengujian terhadap 3.845 sampel serum ternak di 8 provinsi menunjukkan, proporsi antibodi protektif (SP-O positif) pascavaksinasi dasar dan booster mampu bertahan optimal hingga kisaran 73%–100% pada H+56.

Capaian ini secara langsung berhasil menekan proporsi Non-Structural Protein (NSP) positif hingga tersisa 26%, membuktikan kekuatan proteksi imun dalam melindungi populasi ternak.

Dalam webinar bertajuk "Monitoring Pascavaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat (17/7/2026), Kepala BBVF Pusvetma, Drh Edy Budi Susila MSi menegaskan bahwa pemantauan pascavaksinasi adalah instrumen wajib untuk mengawal Roadmap Pengendalian dan Pembebasan PMK 2035 yang ditetapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Program vaksinasi harus didukung dengan penerapan biosecurity, biosafety, surveilans serta pengendalian lalu lintas ternak," tandas Edy. Melalui webinar ini, Pusvetma sebagai laboratorium referensi nasional PMK sekaligus produsen vaksin Aphthovet PMK ingin memberikan pemahaman mengenai efektivitas vaksin di lapangan, serta pentingnya monitoring pascavaksinasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program pengendalian PMK.

Wabah PMK yang kembali muncul pada tahun 2022, Pusvetma bersama balai veteriner di berbagai daerah secara konsisten melakukan pemantauan terhadap sirkulasi virus PMK. Hasil sequencing yang dilakukan hingga 2026, menunjukkan bahwa virus yang beredar di lapangan adalah Serotype O/ME-SA/Ind-2001e.

Webinar ini dipandu moderator Drh Indah Purnama Sari MSi selaku Medik Veteriner Ahli Madya, serta host oleh Drh Ribby Ansharieta MSi. Dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten.

Perkuat Sistem Vaksinasi

Membuka presentasinya, Dr drh Dewi Noor Hidayati MSi, Medik Veteriner Ahli Madya Pusvetma sebagai pembicara webinar menuturkan Pusvetma sebagai salah satu produsen vaksin PMK lokal, memiliki tanggung jawab untuk memastikan mutu vaksin tetap terjaga hingga diaplikasikan di lapangan.

"Kami ingin mengetahui bagaimana kualitas vaksin Aphthovet PMK setelah digunakan di lapangan, sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program vaksinasi yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner di daerah. Data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat sistem vaksinasi dan memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan pengendalian PMK ke depan," jelas Dewi.

PMK masih menjadi ancaman aktif, karena merupakan penyakit hewan yang sangat mudah menular (contagious) sekaligus termasuk penyakit lintas batas (transboundary animal disease).

Posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara endemis PMK membuat kewaspadaan terhadap masuknya virus maupun munculnya serotipe baru. Oleh sebab itu, perlunya ditingkatkan melalui deteksi dini dan pemantauan berkesinambungan.

Dinamika Respons Imun dan Hasil Monitoring

Lebih lanjut, Dewi memaparkan monitoring dilakukan terhadap 3.845 sampel serum yang berasal dari 62 kabupaten/kota di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-28, ke-42, dan ke-56 setelah vaksinasi dasar untuk melihat dinamika pembentukan antibodi.

Pemeriksaan serologis dilakukan menggunakan metode ELISA dengan dua parameter utama, yaitu SP-O (Structural Protein O) dan NSP (Non-Structural Protein).

Uji ELISA SP-O digunakan untuk mengetahui respons antibodi terhadap hasil vaksinasi maupun infeksi alami, sedangkan antibodi NSP menjadi indikator adanya paparan virus lapang, bukan akibat vaksinasi.

Interpretasi kedua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi efektivitas vaksin. Kombinasi hasil SP-O positif dan NSP negatif menunjukkan kondisi ideal, yaitu kekebalan terbentuk melalui vaksinasi tanpa adanya indikasi paparan virus lapang.

Pada periode kedua pelaksanaan vaksinasi, proporsi ternak dengan antibodi SP-O positif meningkat dan semakin stabil, berkisar 73-100%, sementara proporsi antibodi NSP cenderung menurun. Temuan ini membuktikan vaksinasi membentuk respons kekebalan yang baik.

Dokumentasi riwayat vaksinasi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian PMK. Data mencakup waktu vaksinasi, jenis vaksin yang digunakan, hingga identitas ternak akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas program vaksinasi dan mendukung pengambilan keputusan apabila diperlukan vaksinasi booster.

Monitoring juga memperlihatkan keberhasilan vaksinasi sangat dipengaruhi berbagai faktor di lapangan. Antara lain penyimpanan dan distribusi vaksin (cold chain), ketepatan waktu pemberian booster, teknik vaksinasi, kondisi kesehatan ternak saat divaksin, hingga biosekuriti kandang dan pengendalian lalu lintas ternak menjadi faktor yang menentukan terbentuknya kekebalan optimal.

Pusvetma menegaskan monitoring pascavaksinasi bukan sekadar kegiatan evaluasi internal, melainkan bagian dari kepentingan nasional sekaligus mendukung tahapan Progressive Control Pathway (PCP) menuju status bebas PMK. (ADV)

ELANCO PADUKAN INOVASI PRODUK, LAYANAN TEKNIS, DAN AKTIVITAS INTERAKTIF DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Elanco Indonesia. (Foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Berpartisipasi dalam pameran Indo Livestock yang diselenggarakan 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, PT Elanco Animal Health Indonesia menampilkan berbagai inovasi produk serta layanan melalui aktivitas interaktif menarik.

Selain memperkenalkan produk terbaru salah satunya adalah AviPro™ IB-ND C131, di ajang Indo Livestock kali ini Elanco hadir untuk dekat dengan customer dalam suasana yang lebih casual.

Pelanggan setia maupun visitors yang mengunjungi stan Elanco diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan syarat sederhana, yaitu subscribe channel YouTube dan mengikuti akun Instagram Elanco Indonesia. Setelah itu mereka dapat mengikuti permainan padel untuk memperoleh hadiah, juga menikmati suguhan kopi.

Area stan Elanco menghadirkan permainan padel bagi pengunjung untuk memenangkan merchandise menarik.

Stan Elanco mengusung konsep ruang terbuka dipadukan dekorasi ilustrasi kartun ayam yang merepresentasikan peran perusahaan dalam mendukung penyediaan pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Visual tersebut menggambarkan komitmen Elanco sebagai perusahaan yang fokus pada solusi kesehatan hewan, menjaga produktivitas ternak, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami merupakan bagian dari industri sapronak yang turut serta berperan dalam menyediakan pangan ASUH. Melalui inovasi dan solusi kesehatan hewan, kami berkomitmen berkontribusi dalam rantai produksi pangan Indonesia,” jelas Senior Manager Marketing PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Muhamad Aura Maulana.

Bukan hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri peternakan, stan Elanco menjelma sebagai ruang diskusi yang hangat dan nyaman. Elanco berhasil menciptakan pengalaman mengesankan, dengan menghadirkan ruang interaksi yang aktif dan bermakna.

Pengunjung akan mengikuti permainan interaktif di stan Elanco.

Unggulkan AviPro™ IB-ND C131

Salah satu produk yang di-highlight oleh Elanco adalah AviPro™ IB-ND C131, vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap Newcastle disease (ND) dan infectious bronchitis (IB).

Kompleksnya tantangan penyakit pernapasan pada unggas, Elanco merilis AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap ND dan IB dalam satu aplikasi.

Vaksin dirancang aman serta dapat diaplikasikan sejak DOC, tanpa menimbulkan reaksi pascavaksin yang berarti atau mengganggu performa awal ayam. “Salah satu keunggulan AviPro™ IB-ND C131 adalah kemampuannya dalam memberikan respons imun optimal, meski anak ayam masih memiliki maternal derived antibody atau MDA. Perlindungan terhadap IB dan ND dapat terbentuk sejak awal masa pemeliharaan,” jelas Aura.

Selain itu, AviPro™ IB-ND C131 mampu memberikan perlindungan hingga delapan minggu. Kombinasi tersebut membantu peternak menyederhanakan program vaksinasi, tanpa mengurangi kualitas perlindungan terhadap dua penyakit respirasi utama.

Elanco hadirkan ruang diskusi yang bermakna.

Bersiap Meluncurkan AviPro 304

Tidak hanya memperkenalkan produk yang telah tersedia, Elanco juga mengungkapkan rencana peluncuran AviPro 304, vaksin kombinasi generasi terbaru yang menjadi salah satu inovasi penting perusahaan di bidang kesehatan unggas.

Setelah memperkenalkan AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin live kombinasi untuk perlindungan dini terhadap ND dan IB, Elanco juga tengah mempersiapkan peluncuran AviPro™ 304 ND-IB-MG.

Kehadiran vaksin inaktif tiga komponen tersebut akan melengkapi portofolio AviPro™, memberikan pilihan program vaksinasi yang lebih menyeluruh bagi peternak, khususnya dalam menghadapi tantangan ND, IB, dan Mycoplasma gallisepticum (MG).

Keunggulan paling menonjol dari AviPro™ 304 adalah vaksin inaktif kombinasi yang mengandung antigen Newcastle disease (ND), Infectious Bronchitis (IB) tipe Massachusetts, dan Mycoplasma gallisepticum (MG). Kombinasi tiga antigen dalam satu vaksin memberikan kemudahan dalam program vaksinasi breeder maupun layer, sekaligus membantu meningkatkan respons antibodi terhadap ketiga agen penyakit tersebut setelah program priming menggunakan vaksin hidup yang sesuai. Peternak memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyusun program vaksinasi, sehingga interval vaksin dapat diatur lebih efisien dan optimal.

Sebagai vaksin inaktif berbasis oil emulsion, AviPro™ 304 dirancang untuk menghasilkan respons antibodi yang kuat dan mempertahankan kekebalan dalam jangka waktu yang lebih lama sebagai bagian dari program vaksinasi breeder dan layer.

Solusi Menyeluruh untuk Industri Peternakan

Kehadiran Elanco di pameran Indo Livestock 2026, menegaskan komitmennya sebagai penyedia solusi kesehatan hewan yang lengkap. Di sektor unggas, Elanco menghadirkan portofolio produk dan layanan mencakup vaksin, pengendalian penyakit usus, kesehatan saluran pencernaan, enzim, probiotik, formulasi pakan, hingga pendampingan teknis di lapangan.

“Sebagai perusahaan global pada kesehatan hewan, keikutsertaan Elanco di Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri peternakan di Indonesia,” tandas Aura.

Selama pameran berlangsung, banyak customer memanfaatkan kesempatan berkonsultasi mengenai penyusunan program vaksinasi, kasus necrotic enteritis (NE), evaluasi lesion score, intestinal integrity, formulasi nutrisi, penggunaan feed additive, hingga berbagai tantangan kesehatan unggas lainnya.

Tim technical Elanco sigap memberikan pendampingan mulai dari fase hatchery hingga ayam memasuki masa produksi. Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena solusi yang diberikan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan yang dihadapi customer.

Sementara di sektor ruminansia, Elanco juga memiliki portofolio vaksin untuk mendukung pengendalian berbagai penyakit penting, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) bermerk dagang Bioaftogen®, sehingga perusahaan terus memperkuat posisinya sebagai mitra kesehatan hewan di Tanah Air.

Menjawab Tantangan Industri Melalui Pencegahan

Di tengah tantangan industri peternakan yang dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku impor, mengambil contoh soybean meal dan berbagai komponen pakan lainnya, Elanco memandang strategi pencegahan penyakit menjadi investasi yang semakin penting bagi peternak.

Menurut Aura, ketika biaya produksi meningkat, menjaga kesehatan ternak melalui program vaksinasi yang efektif menjadi salah satu cara untuk mempertahankan produktivitas sekaligus menekan kerugian akibat penyakit.

Elanco terus memperkuat posisi dan portofolio produk pencegahan sebagai bagian dari solusi jangka panjang bagi industri peternakan di Indonesia. (ADV)

CLARIANT PERKUAT KUALITAS PAKAN LEWAT INOVASI CLAY MINERAL DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Clariant bersama IMCD Indonesia. (Foto-foto: Infovet/NDV)

Keikutsertaan PT Clariant Adsorbents Indonesia di pameran Indo Livestock yang berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, menyedot perhatian pengunjung. Selain booth yang ramai pengunjung, technical seminar yang diadakan Clariant juga mendapatkan antuasisme tinggi dari peserta.

Mengusung “Inovasi Penggunaan Clay Mineral dalam Industri Peternakan”, seminar eksklusif Clariant berlangsung di Teater 3 NICE PIK 2, di hari kedua Indo Livestock Rabu, (17/6).

“Kami cukup surprised, tidak menduga pengunjung booth Clariant akansebanyak ini. First time kami membuka booth di ajang Indo Livestock, luar biasa senang bisa berinteraksi langsung dengan para customer,” ungkap Regional Manager Asia Pacific for Feed Business Clariant Adsorbents, Erika Kusuma Wardani, ditemui Infovet pada Selasa (16/6).

Erika mengemukakan, pameran peternakan berskala internasional seperti Indo Livestock membuka banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri, salah satunya untuk membuka kesempatan mendapatkan peluang bisnis.

“Kami juga menjadikan ajang pameran untuk branding, awareness, dan berbagi ilmu tentang clay. Kegiatan ini juga semakin relevan seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat,” imbuhnya.

Dalam IDL 2026, Clariant menggandeng salah satu distributor yaitu PT IMCD Indonesia. Business Development Manager Animal Health Division PT IMCD Indonesia, Edy Chandra dan Rizal Iqhbal Putra melihat prospek bisnis toxin binder terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya perhatian industri terhadap kualitas pakan.

Clariant & IMCD Indonesia team berinteraksi langsung dengan customer.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

Clay Specialist

Memiliki pengalaman panjang dan keahlian mendalam dalam pengembangan solusi berbasis clay, Clariant menghadirkan produk toxin binder untuk menjawab kebutuhan industri peternakan modern.

Produsen clay terbesar di dunia ini berpengalaman sudah 30 tahun lebih di Indonesia, mengelola 39 tambang clay di seluruh dunia, serta memiliki 57 jenis clay yang dipasarkan di seluruh dunia, sementara untuk Asia Pacific saat ini telah dipasarkan ke 14 negara.

Perbedaan dan jenis-jenis bentonit.

Clariant tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pemahaman ilmiah mengenai karakteristik clay dan kemampuannya mengikat mikotoksin secara efektif. Melalui pendekatan ini, Clariant berkomitmen membantu industri peternakan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pakan yang lebih aman.

Tantangan industri peternakan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, kualitas pakan menjadi fondasi utama dalam menjaga performa dan kesehatan ternak.

Keberhasilan program kesehatan ternak selain pengaplikasian vaksinasi atau manajemen pemeliharaan, juga bergantung dari pemberian pakan yang aman dan berkualitas.

Pakan yang terkontaminasi mikotoksin dapat menurunkan konsumsi pakan, mengganggu fungsi organ, melemahkan sistem imun, hingga menyebabkan respons vaksinasi menjadi tidak optimal.

“Mikotoksin sering menjadi penyebab utama nutrisi dalam pakan tidak terserap sempurna. Hal ini mengganggu sistem imun dan dampaknya efektivitas vaksinasi berpotensi tidak tercapai secara optimal,” ujar Erika.

Sebagai penyedia utama produk khusus berbasis clay, antara lain bentonite, attapulgite, zeolite, saponite, kerolite, sepiolite, dan lainnya; Clariant memberikan solusi dalam meningkatkan kualitas pakan ternak melalui lini produk toxin binder. Secara selektif menargetkan mikotoksin dengan tetap mempertahankan nutrisi pakan yang penting.

Berbeda dengan banyak produk toxin binder yang masih bergantung pada bahan baku impor, Clariant mengembangkan solusi berbasis sumber daya lokal yang dipadukan dengan pengalaman global dalam teknologi adsorben mineral.

Seminar Clay Mineral

Foto bersama peserta seminar.

Sesi seminar Clariant menghadirkan pembicara yakni Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan peneliti Mycotoxin Research Group Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ika Sumantri, S.Pt. M.Si. M.Sc. Disusul dengan pemaparan materi dari Erika Kusuma Wardani.

Mengawali materi presentasinya, Prof Ika menyebutkan jamur tumbuh optimal pada suhu 25-37°C dengan kelembapan 80-85%. Kemudian produksi mikotoksin meningkat pada lingkungan yang cenderung basa (alkali).

Prof Ika menerangkan alur perpindahan mikotoksin sedari pakan terkontaminasi kemudian dimakan ternak hingga menimbulkan residu yang masuk ke susu, telur, daging yang dikonsumsi manusia.

Menurutnya, mikotoksin bukan sekadar persoalan kualitas pakan, melainkan ancaman yang memengaruhi kesehatan ternak, produktivitas, hingga keamanan pangan. Dalam kondisi iklim tropis seperti Indonesia, pengendalian mikotoksin harus dilakukan secara preventif melalui peningkatan kualitas pakan, penyimpanan, dan penerapan manajemen peternakan yang baik, serta penggunaan toxin binder berbasis clay yang tepat.

Sementara Erika menjelaskan bahwa kemampuan bentonit dalam mengikat mikotoksin dipengaruhi kualitas mineralnya. Bentonit dengan luas permukaan yang lebih besar, volume mikro pori yang tinggi, serta struktur pori yang optimal memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik terhadap mikotoksin.

Erika menggarisbawahi bahwa toxin binder yang baik tidak hanya efektif mengikat toksin, tetapi juga harus tetap menjaga ketersediaan nutrisi bagi ternak.

Rangkaian produk Clariant di antaranya Toxisorb™, Bentomax™, dan Terrana™ hadir sebagai solusi pengikat multitoksin berbasis clay mineral 100% alami.

Bentomax™ tampil sebagai solusi mycotoxin binder yang tak tertandingi. Diformulasikan dari kalsium bentonit pilihan berkualitas tinggi hanya menargetkan mycotoxin tanpa menyerap nutrisi pakan, sehingga nilai gizi tetap terjaga optimal, dan pastinya terjual dengan harga yang affordable.

Hasil pengujian menunjukkan Toxisorb™ Premium mampu bekerja sinergis dengan enzim fitase dalam meningkatkan pelepasan fosfor dari asam fitat.

Lebih lanjut, Erika mengungkapkan bahwa Toxisorb™ Premium juga memiliki kemampuan mengadsorpsi endotoksin yang dihasilkan bakteri gram-negatif. Kemampuan ganda ini menjadi nilai tambah di tengah tantangan peternakan modern, ketika kualitas bahan baku pakan semakin dipengaruhi perubahan iklim dan risiko kontaminasi.

Fungsi tambahan Toxisorb™ Premium dalam mengadsorpsi endotoksin ini menunjukkan bahwa produk tidak hanya berperan sebagai toxin binder, tetapi juga mendukung kesehatan saluran pencernaan ternak. (ADV)

DUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN, JAPFA TAMPILKAN INOVASI DAUR ULANG AIR DAN EKONOMI SIRKULAR DI INVIROTECH 2026

Booth JAPFA di INVIROTECH diminati oleh murid-murid dari berbagai Sekolah Menengah. (Foto-foto: JAPFA)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berpartisipasi dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, JAPFA menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju energi yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Tim JAPFA menjelaskan daur ulang air pada anak-anak Sekolah Dasar.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya ketersediaan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan fasilitas daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di berbagai unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.”

Booth JAPFA tak pernah sepi dari pengunjung.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 atau sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kolaborasi dengan masyarakat atau kelompok masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor energi dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara di seluruh fasilitas operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, energi biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapasitas terpasang 1,8 MWp di berbagai unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan kinerja finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

VAKSINDO PERLUAS AKSES PASAR GLOBAL MELALUI EKSPANSI KE KAWASAN EAEU

Pertemuan membahas rencana ekspor produk Vaksindo ke negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4). (Foto-foto: Infovet/NDV)

PT Vaksindo Satwa Nusantara kembali menunjukkan kiprahnya di pasar internasional dengan melaksanakan persiapan mengekspor vaksin ke kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Langkah ekspansif ini bukan sekadar pencapaian bisnis, namun mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang semakin diperhitungkan dalam industri kesehatan hewan global.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pertanian yang disampaikan melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi. “Kami sangat mendukung penuh terhadap upaya perluasan pasar vaksin hewan Indonesia ke kawasan EAEU,” kata Agung dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4).

Agung memberikan apresiasi kepada PT Vaksindo Satwa Nusantara. “Vaksindo menunjukkan komitmen dan kinerja yang kuat sebagai produsen vaksin hewan nasional, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri namun juga berhasil menembus pasar internasional,” lanjutnya.

Audiensi ini dihadiri oleh delegasi Rosselkhoznadzor, I. A. Samoilova, kemudian Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara, Dr Teguh Y. Prajitno beserta tim auditor Good Manufacturing Practices (GMP) Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).

Melalui proses audiensi ini, pemerintah berharap dapat memperoleh hasil yang positif sebagai langkah awal membuka akses ekspor vaksin hewan Indonesia ke negara anggota EAEU yaitu Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan.

“Tentunya kita semua sangat berharap rencana ekspor vaksin ke negara Rusia ini akan sukses. Dukungan untuk Vaksindo kami berikan dengan memperhatikan regulasi yang ada dan melakukan percepatan sesuai dengan prosedur negara pengimpor,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Hendra pun menyampaikan bahwa pemerintah optimis, mengingat pengalaman Vaksindo yang telah mengekspor vaksin dan obat hewan ke lebih dari 20 negara.

Perkuat Kapabilitas Riset Berstandar Internasional

Selama beberapa tahun terakhir, Vaksindo memperkuat kapabilitas riset dan pengembangan serta memastikan produknya memenuhi standar internasional yang ketat. Ekspansi ke negara kawasan Eurasian menjadi bukti bahwa produk vaksin unggas buatan dalam negeri mampu bersaing, baik dari sisi efektivitas maupun keamanan.

Suasana audiensi berlangsung interaktif.

Permintaan dari negara-negara ini terhadap vaksin unggas yang diproduksi Vaksindo, menjadi bukti nyata pengakuan pasar internasional terhadap kualitas produk dalam negeri.

“Kami mengembangkan dan memproduksi vaksin yang terjamin efikasinya, sesuai dengan standar ISO 9001:2015, ISO 17025 dan tentunya CPOHB serta GMP. Didukung penelitian yang komprehensif,” tandas Teguh Y. Prajitno.

Lini produk utama Vaksindo yang rencananya akan diekspor meliputi vaksin ND, AI, IB, IBD. Sebagai pabrik vaksin hewan pertama di Indonesia sejak 1983, Vaksindo memproduksi vaksin untuk segmen hatchery, breeding, dan peternakan komersial.

Produk Vaksindo telah menjangkau lebih dari 24 negara baik di kawasan Asia dan beberapa negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan portofolio produk Vaksindo telah memenuhi standar internasional (GMP & ISO).

Dengan fondasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, dan visi global yang semakin jelas, Vaksindo berada pada jalur pertumbuhan menjanjikan. Vaksindo hadir sebagai kebanggaan industri dalam negeri dan berkontribusi nyata untuk kesehatan hewan dunia. (ADV)

CAPAIAN STRATEGIS DISNAKKESWAN PROVINSI SUMATERA BARAT DALAM PENGUATAN SEKTOR PETERNAKAN

Disnakkeswan Sumbar melakukan sosialisasi konsumsi protein hewani dalam rangka peringatan Hari Susu Nusantara

Sektor peternakan Sumatera Barat bukan sekadar urusan memelihara ternak hewan, melainkan denyut nadi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) membuktikan komitmen tersebut melalui deretan pencapaian yang tidak hanya di atas kertas, tetapi berdampak langsung ke peternak dan masyarakat.

Dari surplus produksi telur yang melimpah hingga garda terdepan perlindungan dari wabah penyakit, menjadi bukti bagaimana transformasi peternakan di Sumbar didorong untuk lebih maju, sehat, dan berdaya saing.

Disnakkeswan Sumbar telah menyalurkan bantuan ternak dan alat serta mesin peternakan, untuk meningkatkan produksi dan populasi peternakan.

Untuk ruminansia, di antaranya adalah penyaluran 40.000 liter N2 cair, plastic sheet, dan plastic glove untuk optimalisasi reproduksi sapi. Ditambah bantuan 20 ekor ternak sapi Simental beserta obat­obatannya. Lengkap dengan 4 unit mesin pencacah pakan ternak.

“Kami juga menyerahkan 5 ekor pejantan pemacek sapi pesisir untuk peningkatan mutu genetik, guna pelestarian plasma nutfah Sumatera Barat,” kata Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi. “Untuk ruminansia kecil sudah disalurkan 240 ekor kambing beserta obat-obatannya.”

Terkait peternakan unggas, 4.000 ekor itik dan 6.000 ekor ayam KUB disalurkan pada masyarakat/peternak. Semua beserta pakan dan obat­obatannya. Selain itu Disnakkeswan Sumbar juga memberikan bantuan 16 unit mesin tetas telur.

“Produksi peternakan Sumbar mengalami surplus. Ketersediaan telur mencapai 363.332 ton dan kebutuhannya sekitar 328.244 ton. Ketersediaan daging ayam 70.544 ton jauh melampaui kebutuhan sebesar 47.610 ton.” Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi menjelaskan. “Ketersediaan susu sekitar 975 ton dibandingkan kebutuhan sebesar 591 ton. Kemudian ketersediaan daging sapi mencapai sekitar 26.581 ton sementara kebutuhan berada di angka 24.367 ton.”

Sosialisasi peningkatan konsumsi protein hewani juga terus dilakukan. Ditindaklanjuti dengan penyaluran telur 12.000 butir dan susu 3.000 botol.

Produksi yang tinggi tentu tidak akan berarti tanpa adanya jaminan kesehatan dan keamanan pangan. Disnakkeswan Sumbar tak henti bekerja keras sebagai ‘perisai’ yang melindungi ternak hewan dan manusia dari ancaman penyakit.

Terkait penyakit hewan menular strategis (PHMS), Disnakkeswan Sumbar berhasil merealisasikan 30.000 vaksinasi rabies dari target 30.000 dosis, 2.000 vaksinasi Jembrana dari target 2.200 dosis, 50.375 vaksinasi PMK dari target 50.375 dosis, 3.000 vaksi nasi Septicaemia Epizootica (SE) dari target 3.000 dosis.

Selain itu berhasil menerbitkan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk 11 unit usaha, dari target 10 unit usaha pada unit usaha produk asal hewan. Pelatihan Juru Sembelih Halah (Juleha) berhasil meluluskan 80 orang juleha ruminansia dan 50 orang juleha unggas.

Kemudian sebanyak 374 Sertifikasi Veteriner diterbitkan untuk hewan, dan 4.949 untuk produk hewan, terkait lalu lintas HPM (Hewan, Produk Hewan, dan Media Pembawa Penyakit Hewan Lainnya).

Layanan pengujian mutu produk peternakan Disnakkeswan Sumbar telah menambah ruang lingkup akreditasi ISO 17025 2017 dengan parameter oksitetrasiklin, penisilin, tilosin dan kanamisin (bioassay) untuk laboratorium kesmavet, serta parameter kadar air dan kadar abu untuk laboratorium pakan.

“Kami telah memproduksi telur fertil 64.932 butir, DOC ayam KUB 39.481 ekor, pullet 3.268 ekor, serta menghasilkan 2.560 ekor ayam afkir untuk konsumsi,” terang Sukarli. “Di Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Barat juga telah diuji 2.164 sampel aktif dan 5.075 sampel pasif. Telah dilakukan pula pelayanan USG terhadap 75 pasien, pelayanan bedah terhadap 369 pasien, pelayanan rawat inap sebanyak 1.384 pasien, pelayanan rawat jalan sebanyak 4.610 pasien, dan pelayanan pengujian PCR.”

Untuk mendukung peternakan sapi Disnakkeswan Sumbar telah mendistribusikan 55.800 dosis semen beku. Serta melakukan pelestarian dan pemanfaatan pakan lokal yang efektif untuk peningkatan produksi ternak sapi.

“Disnakkeswan Sumbar juga menjadi wadah penelitian dan riset yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan BRIN, serta tujuan magang dari mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas,” pungkas Sukarli. “Kami juga melakukan launching penetapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada 3 UPTD lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.” (ADV)

SEABAD NEWCASTLE DISEASE: KOMITMEN CEVA MENGAWAL MASA DEPAN PERUNGGASAN

Country Director PT Ceva Animal Health Indonesia, Edy Purwoko, turut mendampingi Dirkeswan pada seremoni pembukaan The Guards of A Century. (Foto-foto: Istimewa)

Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada kesehatan unggas, PT Ceva Animal Health Indonesia terus berperan aktif meningkatkan awareness peternak terhadap penyakit Newcastle Disease (ND). Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi berkelanjutan, layanan teknis di lapangan, hingga publikasi laporan disease surveillance setiap bulan sebagai sumber informasi terkini bagi industri.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui forum ilmiah internasional yang diinisiasi oleh Ceva Santé Animale bertajuk The Guards of A Century: 100 Years with Newcastle Disease. Diselenggarakan pada 10-12 Februari 2026 di Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center, acara ini menghadirkan ilmuwan, otoritas veteriner, dan pelaku industri vaksin dari 15 negara dalam satu panggung kolaborasi global.

Sejumlah pakar dunia turut hadir dalam forum ini. Sesi pembuka disampaikan oleh Dr Hendra Wibawa, MSc, PhD, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Ia mengulas sejarah penemuan ND di Indonesia sekaligus menegaskan langkah-langkah sistematis pemerintah dalam pengendalian penyakit ini melalui penguatan kebijakan, biosekuriti, vaksinasi, dan sistem laboratorium. Dilanjutkan oleh Prof Ian Brown dari The Pirbright Institute, Inggris, yang memaparkan laporan pertama TM Doyle tentang penyakit “baru” di Newcastle-upon-Tyne serta perjalanan panjang riset dan kemajuan ilmiah ND di Weybridge. Paparannya memberikan perspektif global tentang bagaimana pengendalian ND berkembang selama 100 tahun terakhir.

Pembaruan klasifikasi genetik virus ND dijelaskan oleh Dr Kiril Dimitrov, DVM, PhD, yang menyoroti pentingnya sistem penamaan yang lebih terstandarisasi secara global. Sementara itu, Dr Atsushi Yasuda dan Dr Moto Esaki membagikan pengalaman pengembangan awal vaksin HVT-F hingga evolusinya menjadi vaksin HVT/ND modern.

Dari sisi epidemiologi, Prof Dr JA (Arjan) Stegeman dari Utrecht University menekankan pentingnya strategi vaksinasi dalam memutus transmisi virus di tingkat populasi.

Prof Dr Vilmos Palya, Scientific Expert Ceva, menjelaskan perjalanan pengembangan dan konfirmasi teknologi rHVT-F dalam membangun respons imun yang optimal. Melengkapi sesi tersebut, Dr Marcelo Paniago memaparkan hasil berbagai uji tantangan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. “Hasil uji menunjukkan kemanjuran vaksin rHVT-F terhadap genotipe NDV velogenik yang muncul,” tegasnya.

Sebagai penutup, Mustafa Seckin Sandikli, Global Poultry Director Ceva Santé Animale, menegaskan komitmen berkelanjutan Ceva dalam mendukung kemajuan dan keberlanjutan industri unggas dunia.

Momen bersama seluruh peserta usai meninjau berbagai fasilitas di lingkungan BRMP Veteriner.

Kementan Apresiasi Ceva

Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Ceva atas komitmennya menyelenggarakan konferensi internasional ini.

Hendra menuturkan bahwa ND masih menjadi penyakit hewan strategis dengan dampak besar bagi produktivitas unggas di dunia.

“Di luar tantangan teknis di tingkat lapangan, penyakit ini juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas pasokan pangan asal hewan, perdagangan, dan ketahanan pangan secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Hendra, penguatan sistem juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas laboratorium. “Untuk memastikan mutu dan keandalan pengujian diagnostik yang menjadi dasar kebijakan tersebut, pemerintah memperkuat kapasitas laboratorium sebagai pilar utama sistem kesehatan hewan,” ujarnya.

Salah satu momen berkesan dalam rangkaian acara adalah kunjungan ke Balai Besar Perakitan dan Modernisasi (BRMP) Veteriner Kementerian Pertanian. Di lokasi inilah para peserta berkesempatan melihat langsung tempat virus ND pertama kali dipelajari di Indonesia—sebuah situs bersejarah yang menandai awal perjalanan panjang riset ND di tanah air. (ADV)

NOVUS LUNCURKAN PROVENIA® FEED SOLUTION, SOLUSI PROTECTED BENZOIC ACID UNTUK KESEIMBANGAN USUS

Seminar “Restoring Intestinal Balance for Peak Performance” dihadiri oleh para nutrisionist, R&D feedmill, formulator, peternak broiler, serta pelaku industri pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

"Gut health merupakan salah satu faktor yang penting untuk animal performance dalam industri kita. Solusi dari NOVUS yang merupakan fokus acara hari ini adalah launching produk terbaru protected benzoic acid, PROVENIA® Feed Solution. Saya juga berharap dari acara ini kita mendapat tambahan masukan dari hasil diskusi yang akan disampaikan oleh para pembicara kita hari ini,” kata Regional Sales Director NOVUS Indonesia & Malaysia, Rika Riantika, saat membuka launching produk dan seminar Restoring Intestinal Balance for Peak Performance, Rabu (20/8).

Rika Riantika

Sementara itu, Managing Director NOVUS Asia Pacific, Rajeev Murthy, menyampaikan bahwa beberapa tahun terakhir NOVUS meluncurkan dan menjalankan Project Destiny. Sebuah rencana strategis multifase untuk mengalihkan fokus perusahaan ke solusi gut health yang berorientasi pada pelanggan. Langkah ini merupakan penyesuaian untuk mengarahkan NOVUS ke arah yang lebih kolaboratif dan keberlanjutan.

Rajeev Murthy

“Kami mengevaluasi platform atau produk apa saja yang bisa kami tambahkan banyak value ke industri, pasar mana yang bisa kami operasikan dengan sukses, dan di mana kami harus mengalokasikan sumber daya, energi, dan fokus kami,” ujar Rajeev.

“Kami berfokus pada tiga platform yang kami yakini dapat membuat perbedaan besar. Yakni mineral, enzim, dan gut health, yang merupakan platform penting bagi industri karena prioritas produksi terus berubah.”

Optimalisasi Fungsi Usus, Kunci Masa Depan Industri Unggas Berkelanjutan

Selama 30-40 tahun terakhir permintaan protein hewani di dunia semakin meningkat. Diproyeksikan satu dekade mendatang permintaan akan meningkat 14%, dimana unggas menjadi industri utama protein hewani.

“Tapi bagaimana kita berproduksi dengan efisien jika kita sendiri menghadapi berbagai masalah dan tantangan? Lebih dari 50 tahun kita sangat bergantung pada penggunaan antibiotik untuk meningkatkan kinerja ternak. Karena alasan inilah kita perlu fokus pada fungsi usus,” kata Global Head Nutritional Consultancy Services, Vetworks, Dr Miriam Alberto-Tempra.

Miriam Alberto Tempra

Dengan meningkatnya permintaan akan produksi pangan dan pakan, industri didorong untuk memproduksi ayam dan telur dengan cara paling efisien. Kualitas pakan juga menjadi pertimbangan utama karena memengaruhi kesehatan usus.

Penting juga untuk mengetahui fungsi usus karena akan menjadi pertimbangan dalam mengoptimalkan performa ayam. Keberhasilan produksi protein hewani yang efisien dan berkelanjutan sangat dipengaruhi fungsi usus.

Minggu Pertama, Pondasi Sistem Pencernaan untuk Performa Optimal

Private Poultry Farm Consultant, Tony Unandar, menjelaskan bahwa dibanding hewan lain saluran pencernaan ayam lebih pendek. Karena itu membutuhkan kinerja yang maksimal, supaya pakan bisa dirubah menjadi nutrisi tunggal yang bisa diambil ayam untuk pertumbuhan dan produksi.

Tony Unandar

Ayam membutuhkan bakteri dari lingkungannya untuk menjaga keseimbangan bakteri dalam ususnya supaya memberikan efek positif pada ayam itu sendiri. Hal ini membutuhkan kondisi tertentu dalam usus.

“Masalahnya pada ayam kecil status mikrobium ini belum stabil sampai akhir minggu pertama. Sedangkan dia membutuhkan pertumbuhan yang cepat namun bantuan mikroba belum banyak, sekresi enzim belum maksimal, perkembangan anatomi ususnya belum maksimal,” terang Tony.

“Kondisi inilah yang membutuhkan kita memberikan beberapa suplementasi nutrisi atau bahan yang bisa mempercepat perkembangan anatomis usus, mempercepat settle-nya kolonisasi mikroflora usus, dan mempercepat kelangsungan proses pencernaan yang mendekati optimal.”

Dasar pembentukan saluran cerna pada ayam ditentukan oleh pertumbuhan minggu pertama. Jika di minggu pertama pertumbuhan ayam tidak maksimal, artinya dasar pertumbuhan sistem pencernaan tidak optimal. Akibatnya FCR-nya tidak akan bagus, fungsi usus sebagai penyerap nutrisi maupun untuk mucosal immunity akan lemah.

“Maka nutrisi tunggal yang tidak diserap akan dimanfaatkan sejumlah bakteri yang ada dalam usus. Itulah awal mula terjadinya dysbiosis, bakteri menggunakan nutrisi yang tidak bisa diserap oleh ayam untuk menghasilkan metabolit yang merusak sel epitel ayam,” tambah Tony.

PROVENIA® Feed Solution, Teknologi Protected Benzoic Acid untuk Kesehatan Usus Ayam

Technical Services Manager NOVUS Indonesia & Malaysia, Priskila Sophia Hutapea SPt MSi, memperkenalkan PROVENIA® Feed Solution produk baru dari Novus International. PROVENIA® Feed Solution merupakan protected blend of organic acid, dimana komposisi utamanya adalah benzoic acid yaitu minimal 48%.

Priskila Sophia Hutapea

Asam organik merupakan salah satu solusi dari semua portofolio probiotik yang saat ini tersedia di lapangan. Merupakan solusi yang paling cepat kelihatan hasilnya dalam hal memodulasi bakteri di saluran pencernaan ternak. Karena efektivitas dari asam organik bisa punya kontak langsung dengan bakteri patogen terutama bakteri gram negatif,” kata Priskila.

Asam organik bekerja sebagai pathogen inhibition, memiliki efektivitas yang langsung terhadap bakteri patogen gram negatif, seperti Salmonella dan E. coli. Mampu menstimulasi populasi bakteri baik. Ketika populasi bakteri patogen turun, tentu populasi bakteri baik akan bertambah.

Efektivitas asam organik berbeda-beda tergantung pKa dan pH lingkungan di mana asam organik itu berada. Di antara beragam jenis asam organik yang ada, benzoic acid menjadi pilihan terbaik terkait kesehatan usus ayam. Karena memiliki kemampuan antibakterial yang sangat kuat di kondisi pH usus netral, selektivitas terhadap sifat antibakterialnya, dan memicu gut diversity.

PROVENIA® Feed Solution dengan benzoic acid sebagai salah satu komponen utamanya, merupakan satu-satunya patented protected benzoic acid. Benzoic acid, fumaric, dan formic acid menempel di granule lalu diproteksi sehingga sangat mudah untuk ditangani, tidak berdebu, non irritating. Ketika dicampur di pakan ataupun premix menghasilkan homogenitas yang bagus dan tidak terjadi caking.

Metode protection akan melindungi benzoic acid sehingga tidak akan dicerna dan tidak akan diserap di saluran pencernaan atas. Hanya akan lepas di saluran percernaan belakang dimulai dari duodenum, dan sekali rilis benzoic acid dan bahan lainnya langsung lepas, dimana benzoic acid akan mempunyai efek yang paling utama. Benzoic acid harus diproteksi karena bekerja hanya di saluran pencernaan bagian belakang, dimana bakteri patogen paling banyak terdapat.

Riset Novus pada 2007, membandingkan antara free benzoic dengan protected benzoic acid. Ketika tidak diproteksi maka bisa dicerna dan diserap di saluran pencernaan atas. Selanjutnya ketika mencapai saluran pencernaan bagian belakang tidak terlihat lagi efeknya.

Sebaliknya, data riset menunjukkan protected benzoic acid dirilis mulai dari duodenum dan hasilnya terlihat hingga di usus besar. Sebesar 65-70% dari active ingredient dilepaskan di duodenum dan juga jejunum diteruskan sampai ke belakang.

Beberapa ujicoba membuktikan PROVENIA® Feed Solution mampu meningkatkan average daily gain sebanyak 2,75% di hari ke-35 dan FCR turun hampir tiga poin. PROVENIA® Feed Solution juga memiliki efektivitas jika dikombinasikan dengan essential oil, hasilnya body weight naik signifikan dan FCR juga turun signifikan, serta mampu memperbaiki sel epitel usus.

Karena efek yang baik pada kesehatan usus, PROVENIA® Feed Solution juga berkontribusi terhadap better litter quality. Karena mampu mencegah wet dropping yang menyebabkan wet litter, bisa menyebabkan penyakit atau insiden di kaki ayam dan menimbulkan level amonia yang tinggi.

“Efektivitas benzoic acid pada PROVENIA® Feed Solution selain menurunkan populasi bakteri patogen, sekaligus meningkatkan populasi bakteri Lactobacillus. Maka produksi dari asam laktat akan meningkat. Akibatnya populasi Clostridium cluster yang menghasilkan buteric acid akan meningkat. Sehingga selain antibakterial, gut microbiota diversity, juga mendapatkan natural production acid continuously di sekum,” pungkas Priskila.

Pemberian plakat sebagai tanda terima kasih kepada para pembicara.

Para peserta seminar pun antusias mengikuti jalannya acara dan aktif terlibat dalam tanya jawab dengan para pembicara. Peserta yang beruntung mendapatkan door prize menarik. NOVUS juga memberikan plakat penghargaan sebagai tanda terima kasih kepada para pembicara. (ADV)

Testimonial


Dr Pristian Yuliana SPt MSi (Head of Department R&D, QA/QC PT Kerta Mulya Saripakan)

“Seminar yang sangat menarik, informatif, dan terkini terutama tentang heat stress dan AGP. Berdasarkan pemaparan para pembicara dan penyajian data, produk PROVENIA® Feed Solution yang di-launch NOVUS ini cukup bagus, high technology, dan secara technical baik. Penggunaan produk juga bisa untuk ternak hewan monogastrik. Menurut saya, market juga akan luas dari farm yang self mixing, feedmill premix dapat diterima.”


RD Satrya Wira Hamidjaya (Manager Quality Control Department PT Charoen Phokpand Indonesia)

“Materi yang dikupas sangat terbaru dan faktual. Apalagi saat ini case koksi banyak terjadi. Penjabaran mengenai keunggulan benzoic acid ini dapat menjadi solusi dan produk PROVENIA® Feed Solution saya rasa akan diterima positif di market Indonesia.”

EDUKASI MAKANAN BERGIZI HINGGA PERAYAAN KEMANUSIAAN WARNAI HUT KE-40 BBPMSOH

bbpmsoh
Penyampaian materi tentang gizi dan konsumsi telur ayam disajikan lewat dongeng. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Masyarakat sekitar Gunung Sindur, Bogor, bersuka cita mendatangi acara Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Fair, Kamis (21/8). BBPMSOH Fair diselenggarakan dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 BBPMSOH dan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Acara disemarakkan dengan berbagai bakti sosial, mulai dari edukasi dan berbagi makanan bergizi berupa susu dan telur untuk siswa-siswi SDN Gunung Sindur dan SDN Flamboyan Gunung Sindur.

Perayaan kemanusiaan juga hadir lewat aksi nyata. Salah satunya dengan mendistribusikan bantuan ke Jalur Gaza yang disalurkan melalui Komite Nasional Rakyat Palestina, wilayah Banten. Tim BBPMSOH juga melaksanakan kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa.

Tak ketinggalan, yang membuat acara ini semakin menarik adalah tampak antrian para pawrent (sebutan untuk pemilik anabul). Mereka mendatangi posko pemeriksaan, serta vaksinasi gratis untuk kucing dan anjing.

Antrian para pawrent bersama kucing dan anjing untuk dicek kesehatannya.

Selain itu, terdapat pasar murah sembako dan kuliner UMKM seperti kue mochi, aneka masakan rumah, berbagai olahan ayam kampung, ayam negeri, puyuh dan bebek, hingga minuman segar.

Pengadaan bazaar ini disambut gembira oleh masyarakat. Selain dapat membeli beras dengan harga murah, mereka juga terlihat gembira mendapat potongan harga saat membeli produk skincare dari brand Wardah. Adapun juga layanan kesehatan yaitu bekam serta butik antik yang menjual pakaian bekas layak pakai, yang juga diminati masyarakat.

Membaur Bersama Masyarakat

Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata menuturkan gelaran BBPMSOH Fair ini merupakan tasyakuran memperingati hari jadi ke-40 yang dikhususkan untuk masyarakat sekitar Gunung Sindur.

Hasan Abdullah Sanyata

“Kami selalu membuat program, kegiatan yang bisa dinikmati seluruh lini masyarakat dan tim BBPMSOH dapat membaur bersama mereka,” tutur Hasan. Imbuhnya, keberadaan BBPMSOH juga harus menyentuh kebutuhan masyarakat.

BBPMSOH merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Pada 2 Agustus 1985, dilakukan peresmian penggunaan gedung BBPMSOH oleh Menteri Pertanian Ir Achmad Affandi.

Konsisten Sosialisasi Gizi

Melalui peringatan hari jadinya yang ke-40, BBPMSOH menunjukkan konsistensinya dalam meningkatkan pemahaman mas yarakat akan pentingnya asupan gizi yang seimbang, terutama dalam memperhatikan konsumsi protein yang cukup.

“Kami selalu mendukung program pemerintah, khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah. BBPMSOH juga berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengendalian penyakit hewan melalui penjaminan mutu obat hewan di Indonesia,” lanjut Hasan.

Kepala Bagian Umum BBPMSOH, Drh Cynthia Devy Irawati MM, menambahkan bahwa agenda “Sosialisasi dan Gerakan Makan Bergizi untuk Anak SD” bertujuan meningkatkan pemahaman kepada masyarakat akan manfaat telur ayam sebagai sumber gizi yang mudah diakses dan terjangkau.

Kegiatan ini sukses terlaksana berkolaborasi dengan aparatur setempat seperti Kecamatan Gunung Sindur, Kelurahan Gunung Sindur, Polsek Gunung Sindur, Koramil Gunung Sindur, dan Puskesmas Gunung Sindur.

Dukungan Perusahaan Obat Hewan

Momen pemberian piagam penghargaan kepada ASOHI atas dukungannya terhadap BBPMSOH.

“BBPMSOH sangat berterima kasih atas dukungan Asosiasi Obat Hewan Indonesia, PT Agroveta Husada Dharma, PT Eben Haezer, PT Agro Makmur Sentosa, PT Mensana Aneka Satwa, PT Sanbio Lab, PT Novindo Agritech Hutama, PT Romindo Primavetcom, PT Zoetis Animalhealth Indonesia, PT EMVI Indonesia, PT Nutricell Pasific,” sebut Hasan.

PT Agroveta Husada Dharma dan PT Eben Haezer menyumbangkan bingkisan susu cair, sementara itu PT Agro Makmur Sentosa, PT Mensana Aneka Satwa, PT Novindo Agritech Hutama, dan PT Sanbio Laboratories memberikan paket makanan.

PT Romindo Primavetcom dan PT Zoetis Animalhealth Indonesia menyumbangkan vaksin rabies. PT EMVI Indonesia menghibahkan 100 dosis obat tetes kutu anjing dan kucing, serta PT Nutricell Pasific memberikan sebanyak 16 boks pet food. (ADV)

TAMPILKAN INOVASI PRODUK PETERNAKAN, STAND DISNAKKESWAN PROVINSI SUMBAR TARIK PERHATIAN

Tim Disnakkeswan Sumbar bersama Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Dr Ir Audy Joinaldy. (Foto­foto: Istimewa)

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) kembali hadir pada pameran Indo Livestock 2025 Expo & Forum yang berlangsung di Grand City Convex, Surabaya, 2-4 Juli 2025.

Menempati stand No. 10, Disnakkeswan Sumbar menampilkan berbagai produk UMKM olahan dari peternakan, seperti dadiah, rendang 3 in 1, rendang susu, hingga minuman sarang burung walet. Produk-produk unggulan dan inovasi di bidang peternakan yang dipamerkan ini menarik minat pengunjung Indo Livestock 2025.

“Inovasi terbaru yaitu rendang susu yang merupakan produk khas Sumbar,” ungkap Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi.

Sejak hari pertama penyelenggaran pameran, tim Disnakkeswan Sumbar banyak menerima pertanyaan seputar produk yang ditampilkan. Kepala Bidang Bina Usaha Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi, mengungkapkan banyak pengunjung yang tertarik untuk bekerja sama.

“Banyak sekali tamu atau pengunjung, baik dari perorangan maupun perusahaan ingin berkolaborasi. Mereka ingin mengetahui lebih banyak sekaligus membantu memasarkan produk terutama dadiah dan minuman sarang burung walet,” tutur Nirmala.

Produk unggulan seperti dadiah merupakan yogurt tradisional khas Minangkabau. Dadiah memiliki berbagai manfaat, antara lain meningkatkan kesehatan pencernaan, membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah. Selain itu, dadiah juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung probiotik alami.

Lebih lanjut Nirmala mengemukakan, inovasi lainnya yang juga banyak ditanyakan oleh pengunjung adalah rendang 3 in 1.

“Rendang 3 in 1 ini di dalamnya terdapat rendang daging sapi, rendang suir daging sapi, rendang ubi singkong. Produk yang sangat ekonomis dan banyak pengunjung pameran yang mencicipi dan responsnya positif,” ujar Nirmala.

Bersertifikasi dan Berdaya Saing

Kepala Disnakkeswan Sumbar (dua dari kiri) dan tim.

Produk-produk dari UMKM dan para pelaku usaha dari Sumatra Barat terjamin halal dan berkualitas baik karena telah memiliki sertifikasi halal dan PIRT.

Sertifikasi ini penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar.

“Kita memang menampilkan produk di pameran Indo Livestock masih dalam jumlah yang terbatas. Setelah melihat antuasias pengunjung, kami bergerak cepat untuk nantinya berkoordinasi dengan para pelaku usaha jadi akan kami follow up untuk menetapkan langkah promosi berikutnya,” tandas Nirmala.

Sementara itu, Sukarli menambahkan, Indo Livestock 2025 merupakan pameran internasional terkemuka di industri peternakan, pengolahan hasil ternak, dan kesehatan hewan yang selalu sukses digelar dan tentu memberikan dampak positif untuk Sumbar.

Melalui Indo Livestock 2025, produk peternakan Sumbar hingga hilirisasinya bisa semakin dikenal dan memiliki pasar lebih luas. Tak hanya lokal, namun nasional hingga internasional. Selain itu juga berdampak pada kemajuan UMKM.

Ikon Bukittinggi

Stand Disnakkeswan Sumbar dipadati pengunjung pameran.

Selain aneka ragam produk olahan hasil peternakan khas Provinsi Sumbar, booth Disnakkeswan Sumbar juga menampilkan hiasan ikon Kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang dan Rumah Gonjong.

Tim Disnakkeswan Sumbar sekaligus turut serta mempopulerkan Kota/Kabupaten Provinsi Sumbar, serta dengan senang hati menyambut kedatangan perusahaan dan instansi-instansi lain untuk berkolaborasi.

Untuk berinteraksi maupun menjalin kerjasama, dapat mengunjungi https://disnak.sumbarprov.go.id/ dan Instagram @disnakkeswan_sumbar. (ADV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer