-->

ZOETIS MEMBAWA SOLUSI ND, IBD, IB, DAN REOVIRUS DI ILDEX INDONESIA 2026

Foto bersama peserta seminar. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

Setelah cukup lama absen dari ajang pameran industri perunggasan, Zoetis Indonesia kembali menyapa para pelaku industri secara langsung di ajang ILDEX Indonesia 2026. Kehadiran ini menjadi momentum bagi Zoetis untuk kembali memanfaatkan pameran sebagai ruang interaksi dengan pelanggan, praktisi, akademisi, sekaligus berbagi perkembangan terbaru seputar kesehatan unggas.

“Namun Zoetis sebenarnya selama ini terus aktif dan berkontribusi di dunia perunggasan. Kami secara rutin menggelar seminar teknis yang dikemas dengan nama Poultry Master Class dan ada Hatchery Master Class,” terang Ulrich Erik Ginting, General Manager Zoetis Indonesia.

“Kami berharap bagi peternak kami bisa terus menjadi solusi. Agar kasus penyakit di farm jadi seminimal mungkin, dan ayam sehat terus hingga panen. Juga bagi konsumen agar mereka selalu mendapatkan daging ayam yang sehat.”

Kali ini Poultry Master Class 2026 diadakan di ILDEX pada Rabu (16/9), di ruang Garuda Hall, ICE BSD dengan tema “Bridging the Future: Every Healthy Chick Starts with a Protected Breeder”. Menghadirkan dua pembicara Dr Nicky Love BVSc, BVSc (Hons), MRCVS, Zoetis Global Hatcheries Technical and Veterinary Services Manager, dan Dr Kalen Cookson, DVM, MAM, DACP, Global Director Clinical Research, Zoetis Inc.

Seminar mengangkat sejumlah isu yang masih menjadi tantangan di lapangan. Newcastle disease (ND), khususnya genotipe VII, menjadi salah satu topik yang mendapat sorotan, di samping itu tantangan infectious bursal disease (IBD) atau gumboro dan reovirus.

Pada hari berikutnya, Kamis (17/9), Dr Nicky juga menjadi pembicara di seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) dan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), untuk memperingati 100 tahun hari ND sedunia, dengan tema “The Newcastle Disease Centennial International Seminar: A Century of Learning, Protecting Tomorrow”.

Hadapi ND Genotipe VII dengan Perlindungan Vaksin yang Tepat

Dr Nicky memaparkan bahwa karakteristik virus ND genotipe VII yang menunjukkan tingkat replikasi virus yang tinggi serta respons imun bawaan yang intens, mediator apoptosis yang mengakibatkan kerusakan parah pada jaringan limfoid. Protein M, F, dan HN menentukan tingkat replikasi yang tinggi tersebut.

Penelitian pada flock broiler yang terinfeksi virus ND genotipe VII, tingkat kematiannya berkisar antara 5­55%. Gejala klinis utama meliputi gangguan pernapasan, dengan atau tanpa gejala saraf, serta diare berwarna hijau keputihan.

Sedangkan pada pullet dan layer patogenisitasnya bergantung pada berbagai faktor seperti spesies, galur, umur, status kekebalan, dan status reproduksi. Penurunan produksi telur antara 20­60% disertai penurunan kualitas telur (menghasilkan telur tanpa cangkang, bercangkang lunak, retak, berukuran kecil, atau cacat bentuk).

Virus ND genotipe VII bisa ditangani dengan baik oleh produk vaksin Zoetis, Poulvac® Procerta® HVT-ND. Sebuah vaksin rekombinan HVT yang memiliki keunggulan bisa memicu respons imun yang berbeda, dapat memberikan perlindungan memadai secara mandiri atau melengkapi strategi vaksinasi lain saat digunakan bersamaan.

“On site immunity dari vaksin ini begitu cepat. Pada 14 hari sudah memproteksi di 75%, lalu di umur 19 hari proteksi meningkat menjadi 93%,” kata Dr Nicky. “Menariknya, vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND ini mengatasi virus­virus di lapangan. Contohnya di Indonesia yang saat ini naik daun virus ND genotipe VII. Studi yang dilakukan di Malaysia dan Thailand juga membuktikan vaksin ini bisa memberikan perlindungan yang optimal dan menurunkan viral shedding.”

Lebih lanjut Dr Nicky mencontohkan efikasi vaksin Poulvac® Procerta® HVT-ND terhadap tantangan virus ND genotipe VII pada Ayam SPF (specific pathogen free) di Malaysia. Pemberian tunggal Poulvac® Procerta® HVT-ND terbukti efektif memberikan perlindungan. Tingkat perlindungan yang ditunjukkan berkisar antara 95%­100% saat diberikan secara subkutan atau in ovo. Perlindungan tetap teramati baik dengan maupun tanpa penggunaan vaksin ND hidup dan inaktif lainnya.

Poulvac® Procerta® HVT-ND dirancang dengan tujuan menghasilkan perlindungan terhadap ND yang paling cepat dan paling tangguh. Kompatibilitas Poulvac® Procerta® HVT-ND dengan vaksin lain merupakan kunci dalam merancang program vaksinasi yang optimal. Terbukti efektif melawan virus ND genotipe VII.

IBD dan Reovirus, Silent Threat pada Unggas

Sementara itu Dr Kalen Cookson men jelaskan bahwa IBD varian bisa menyebabkan kerusakan bursa dan imunosupresi yang signifikan tanpa gejala kritis yang jelas dan dapat menjadi silent killers. Sehingga surveillance aktif sangat penting meskipun tidak terlihat secara klinis. Semakin dini terinfeksi IBD, semakin besar resiko terjadinya imunosupresi berat dan juga berkepanjangan.

Keberhasilan proteksi terhadap IBD varian pada progeny sangat bergantung pada kombinasi priming breeder yang baik, kualitas vaksin killed yang tinggi, dan juga maternal immunity yang cukup untuk menunda infeksi lapangan pada periode awal kehidupan.

Mirip dengan IBD, infeksi reovirus juga dapat bersifat insidious atau diam­diam. Efek pada pullet tidak terlalu terlihat, tapi dapat menyebabkan masalah kaki pada breeder, bahkan berdampak pada performa broiler juga turunannya.

Program vaksinasi reovirus pada breeder sebaiknya dibangun sejak dini, dengan vaksin live untuk priming. Kemudian dilanjutkan dengan booster atau vaksin primer sebelum vaksin killed agar breeder terlindungi dan dapat menghasilkan maternal antibody yang kuat untuk progeny.

“IBD varian dan juga reovirus semakin banyak ditemukan dari hasil surveillance. Sehingga program vaksinasi breeder perlu dibuat lebih komprehensif untuk memberikan perlindungan yang optimal pada progeny,” jelas Dr Kalen.

Selanjutnya Dr Kalen memaparkan vaksin Poulvac Maternavac® 4 yang memiliki kemampuan cross protection kuat terhadap berbagai IBD varian. Termasuk perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru, terhadap VVIBD terbaru, juga IBDV varian.

Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan dasar perlindungan reovirus yang kuat dengan serokonversi reovirus yang tinggi dibandingkan produk kombinasi.

Dr Kalen mengatakan, “Poulvac Maternavac® 4 memiliki kemampuan tak tertandingi dalam memberikan perlindungan silang terhadap berbagai varian IBDV tipe A2. Vaksin ini memberikan perlindungan silang yang lebih baik terhadap subtipe baru Del­E yang serupa dengan SHG­19, serta perlindungan silang yang lebih unggul terhadap vvIBDV tipe A3 dan varian IBDV tipe A4. Poulvac Maternavac® 4 juga memberikan perlindungan dasar terbaik terhadap reovirus dengan tingkat serokonversi reovirus tertinggi dibandingkan produk IBD/Reo lainnya.”

Booth Zoetis Jadi Ruang Interaksi

Booth Zoetis Indonesia di ajang ILDEX 2026 menjadi salah satu titik temu bagi perusahaan dengan para pelaku industri perunggasan. Selama pameran berlangsung, booth Zoetis ramai dikunjungi oleh peternak, mitra bisnis, distributor, serta profesional di bidang kesehatan hewan. Para pengunjung berkesempatan berdiskusi langsung dengan tim Zoetis mengenai berbagai solusi kesehatan hewan dan perkembangan industri perunggasan, sekaligus mempererat hubungan dengan pelanggan dan mitra di Indonesia.

Booth Zoetis Indonesia juga menawarkan aktivitas interaktif bagi pengunjung berupa semacam permainan berhadiah. Pengunjung yang beruntung mendapatkan berbagai merchandise menarik dari Zoetis. Aktivitas ini membuat suasana booth lebih hidup, sekaligus menjadi cara Zoetis untuk menciptakan interaksi yang lebih santai dan dekat dengan para pengunjung pameran. (ADV)

BET CIPELANG MENUJU BESTGEN, MEMBAWA GENOMIK KE MASA DEPAN PETERNAKAN INDONESIA

Acara talkshow mendapat antusiasme dari para pengunjung ILDEX. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang membawa semangat baru dalam keikutsertaannya dalam ILDEX Indonesia 2026 yang berlangsung 16-18 September di ICE BSD, Tangerang. Tidak hanya tampil di area pameran, BET Cipelang juga menggelar talkshow yang menjadi momentum untuk mensosialisasikan arah transformasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian.

Talkshow mengusung topik “Precise Improvement Through Genetic Selection: Membangun Peternakan Indonesia Berbasis Genetik Unggul.”

Melalui forum yang diselenggarakan di hari kedua ILDEX pada Kamis (17/9), BET Cipelang memperkenalkan inovasi pengembangan bioteknologi, analisis genomik, sertifikasi genetik, hingga pembangunan bank genomik sebagai bagian dari roadmap menuju BET to BEStGen (Balai Embrio dan Sertifikasi Genomik).

CEO PT Moosa Genetika Farmindo, Drh Deddy F. Kurniawan MVet, dalam pemaparannya menekankan bahwa peternakan memiliki peran penting dalam menyediakan protein hewani bagi masyarakat.

Ia menyoroti tantangan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan protein. Di tengah pertumbuhan penduduk produktif dan meningkatnya jumlah konsumen, kebutuhan terhadap protein hewani akan terus berkembang. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat sektor peternakan tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan konvensional. “Kita butuh sistem peternakan yang presisi,” katanya.

Teknologi menjadi semakin penting untuk meningkatkan kemampuan produksi sekaligus efisiensi peternakan. Salah satunya yang menjadi perhatian adalah genomik.

Perkembangan teknologi genomik membuka peluang untuk membawa peternakan menuju tingkat presisi yang lebih tinggi. Jika selama ini seleksi ternak banyak dilakukan berdasarkan tampilan fisik dan performa yang terlihat, pemetaan genom memungkinkan potensi genetik dibaca melalui data yang lebih spesifik.

Gagasan tersebut sejalan dengan transformasi yang tengah disiapkan BET Cipelang. Kepala BET Cipelang, Deasy Zamanti SPt MSi, menjelaskan bahwa perubahan tersebut berangkat dari kebutuhan agar tupoksi BET Cipelang lebih representatif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan peternakan saat ini.

BET Cipelang tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi embrio, inseminasi, atau teknologi reproduksi, tetapi mulai bergerak menuju pemanfaatan informasi genetik untuk mengidentifikasi potensi ternak secara lebih presisi.

Salah satu persoalan yang ingin dijawab adalah keterbatasan recording di Indonesia. Pencatatan silsilah dan performa ternak secara konsisten masih menjadi tantangan.

Deasy menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan BET Cipelang melihat potensi genetik tidak hanya dari satu individu, melainkan dalam suatu populasi. Dengan menganalisis materi genetik dari sekumpulan ternak, individu dengan potensi terbaik dapat diidentifikasi untuk mendukung program pemuliaan. “Proses peningkatan mutu genetik dapat dilakukan lebih cepat dan terarah,” ujarnya.

Transformasi itu kemudian diwujudkan melalui BEStGen, paradigma seleksi ternak diharapkan bergeser dari pengamatan fisik menuju pemetaan berbasis data presisi.

Pengembangan genomik tersebut memperluas makna teknologi transfer embrio sapi yang selama ini menjadi kompetensi utama BET Cipelang. Embrio ternak tidak lagi sekadar dipandang sebagai hasil teknologi reproduksi, namun dapat menjadi bagian dari pengembangan genetik.

Materi genetik yang terdapat di dalam embrio ternak dapat dianalisis untuk mengetahui karakter unggul yang ingin dikembangkan. “Sertifikasi genomik dan genetik menjadi fondasi penting, sebelum teknologi rekayasa genetik dapat dikembangkan lebih jauh,” imbuh Deasy.

Di sisi lain, BET Cipelang juga menyiapkan Bank Genomik. Fasilitas tersebut akan menjadi repository material genetik plasma nutfah ternak Indonesia. Deasy menggambarkannya sebagai sebuah “tabungan” material genetik yang tersimpan dapat dimanfaatkan untuk penelitian, konservasi, maupun pengembangan sumber daya genetik di masa depan.

Edukasi dan Bisnis

Kehadiran BET Cipelang di ajang ILDEX 2026, mendapat respons baik dari para visitors yang menunjukkan adanya ketertarikan terhadap apa yang sedang dikembangkan BET Cipelang dari sisi edukasi maupun peluang bisnis.

Selain pelaku industri, kehadiran BET Cipelang juga mendapat perhatian dari perwakilan Kedutaan Besar Belanda yang datang ke booth untuk berdiskusi. Tak sekadar show off, bagi BET Cipelang, ILDEX menjadi ruang untuk menjajaki kolaborasi dan memperkuat koneksi dengan berbagai asosiasi, komunitas, pelaku industri, hingga mitra internasional.

Keikutsertaan di ILDEX tahun ini diharapakan dapat membuat BET Cipelang semakin dikenal publik. “Siapa yang bawa patung sapi? Nah, pengunjung mengenali sebagai khas BET Cipelang. Ini juga bagian dari promosi,” ujar Deasy diselingi tawa. (ADV)

ADM ESSAY COMPETITION 2026: MENGANGKAT GAGASAN GENERASI MUDA UNTUK MASA DEPAN INDUSTRI PETERNAKAN INDONESIA

Senyum sumringah para pemenang ADM Essay Competition bersama dosen pembimbing, juri, serta tim ADM. (Foto-foto: Dok. ADM & Dok. Infovet)

Keberlanjutan industri peternakan nasional membutuhkan gagasan-gagasan baru yang mampu menjawab berbagai tantangan yang semakin kompleks. Berangkat dari kebutuhan tersebut, ADM Animal Nutrition Indonesia mengadakan lomba ADM Livestock Innovation Essay Competition 2026 dengan mengusung tema “Empowering Future Leaders for The Sustainable Animal Industry”, program ini merupakan bagian dari campaign “ADM Next Generation Thinking” yang diusung oleh ADM. Kompetisi yang diikuti 180 tim dari 46 universitas dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia ini, telah berhasil menarik minat akademisi muda serta menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan ide, gagasan, dan solusi yang berdampak bagi masa depan industri peternakan Indonesia.

Wully Wahyuni, S.Pt., M.B.A., Country General Manager/Director ADM, mengatakan bahwa ADM Livestock Innovation Essay Competition 2026 merupakan sebuah inisiatif perdana dari ADM yang menghadirkan kompetisi esai bagi mahasiswa di industri peternakan Indonesia.

“Kompetisi ini lahir dari kolaborasi antara kebutuhan industri peternakan, visi perusahaan, serta potensi dan kreativitas generasi muda di lingkungan akademik. Melalui kompetisi ini, mahasiswa diberikan ruang untuk melihat berbagai persoalan di industri peternakan dari sudut pandang yang lebih luas sekaligus menawarkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya kepada para peserta dan undangan yang hadir dalam acara ADM Winner Inauguration 2026 di ADM Pasuruan Plant, Pasuruan, Jawa Timur.

Wully menambahkan bahwa ADM ingin menghadirkan program yang memiliki dampak jangka panjang (impactful) bagi pengembangan sumber daya manusia di industri peternakan.

“Kompetisi ini dirancang agar peserta tidak hanya menghasilkan sebuah esai, akan tetapi juga melalui proses panjang. Mulai dari menggali ide, menyusun gagasan, bekerjasama dalam tim hingga mempresentasikan hasil karya. Aspek teamwork juga menjadi nilai penting yang ingin dibangun ADM,” terangnya.

Kompetisi ini berlangsung cukup panjang dimulai sejak Februari hingga Agustus 2026, diawali dengan pendaftaran peserta hingga tahap penyisihan dan penjurian 10 finalis. Selain melibatkan juri internal, ADM juga menggandeng dua juri tamu yang turut berkontribusi dalam industri peternakan yaitu Bayu Sesarahardian, S.Pt., M.P., M.Sc. selaku Senior Manager of Feed Technology PT Sinta Prima Feedmill dan Henri Eko Prasetyo, D.V.M., M.V.Sc., selaku Nutritionist & Business Development Manager PT Dinamika Megatama Citra.

ADM Winner Inauguration 2026 merupakan acara puncak selebrasi yang digelar ADM pada 11 Agustus 2026 di ADM Pasuruan Plant. Selain mengundang para mahasiswa pemenang kompetisi ini, ADM juga mengundang para dosen pembimbing untuk turut hadir.

Kegiatan diawali dengan agenda utama yaitu Winner Announcement & Awarding, sebagai bentuk penghargaan atas inovasi, gagasan, keberanian, teamwork dan semangat para akademisi muda.

Juara I Essay Competition diraih oleh tim beranggotakan Anjeli Astriani, Dini Aruni Karunia Romadhoni, Bangkit Setiyoko dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan esai berjudul “Meatsafe: Pengembangan Aplikasi Keamanan Pangan Asal Daging Terintegrasi Augmented Reality dan Artificial Apps sebagai Langkah Memperkuat Kesehatan Masyarakat”. Selain berhasil menyabet gelar Juara I, tim UGM ini berhasil membawa pulang 3 piala sekaligus yaitu : Juara I Essay Competition, Best Presentation & Best Creative Video.

Juara II Essay Competition diraih oleh tim beranggotakan Roihan M Iqbal, Zahran Putra Arganta, Muhammad Rayhan Shadiq dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan esai berjudul “CoolBarn: Smart Coating dari Minyak Jelantah untuk Mengatasi Heat Stress dan Emisi pada Kandang Ternak di Indonesia”.

Juara III Essay Competition diraih oleh tim beranggotakan Siti Yunita, Syafira Nabilah Azzahrah, Bagus Setiyawan dari Universitas Lambung Mangkurat. Dengan esai berjudul “Buffalo Pack: Inovasi Edible Film Gelatin Kulit Kerbau sebagai Solusi Pengemasan Tanpa Plastik dalam Mendukung Circular Economy”.

Special Recognition Award diberikan kepada IPB University dengan esai berjudul “BioChroma: Inovasi Smart Bio-Litter Mikrogranul Berbasis Limbah Ruminansia untuk Netralisasi Amonia dan Monitoring Visual pH Kandang Unggas”, karya Ahmad Sabil Alifian, Bobi Setiawan, Febrianti Galingging.

Selanjutnya para peserta dan tamu undangan berkesempatan untuk mengikuti tour di ADM Pasuruan Plant. Diawali dengan ADM Lab Introduction, dimana peserta dapat menyaksikan pemaparan materi singkat tentang ADM laboratorium, fasilitas dan services yang ditawarkan.

Dilanjutkan dengan SINCRO Services Introduction, SINCRO merupakan sebuah ekosistem terintegrasi yang menghadirkan solusi dan layanan cerdas yang dibangun di atas tiga pilar utama: Control, Nutrition, dan Performance. Kemudian peserta dipandu untuk berkeliling pabrik, melihat fasilitas dan teknologi serta cara kerja mesin otomatis hingga ke finish product.

Sustainability dan Tantangan Industri Jadi Sorotan

Kegiatan dilanjutkan dengan interactive talk show dengan tema Industry Outlook & Career dimana para narasumber tidak sekadar menjawab pertanyaan yang diajukan, namun juga memberikan beberapa insights seputar industri peternakan dan tips untuk para future leaders.

Isu keberlanjutan (sustainability) menjadi salah satu topik utama yang dibahas dalam talk show. Bayu menyampaikan bahwa keberlanjutan tidak lagi hanya berbicara mengenai aspek ekonomi, tetapi juga mencakup lingkungan dan sosial.

“Kalau kita bicara sustainability, ada tiga pilar utama, yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. Saat ini perusahaan tidak cukup hanya fokus pada produktivitas, efisiensi, dan keuntungan, tetapi juga harus melihat bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.

Menurut Bayu, tuntutan pasar juga semakin mendorong industri untuk menghasilkan produk yang aman dan memiliki nilai keberlanjutan, terutama untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Ia menambahkan, “Customer sekarang semakin memperhatikan food security dan food hygiene. Karena itu, industri juga perlu bergerak menuju sertifikasi yang lebih berkelanjutan.”

Sementara itu Henri membenarkan bahwa kondisi saat ini berbeda dibandingkan 5 ataupun 10 yang lalu. Sekarang demand sudah berkembang, konsumen daging dan telur sudah sangat aware dengan free antibiotic serta berfokus pada produk pangan yang memiliki value tinggi.

Henri juga membagikan tipsnya terkait future leader. Menurutnya, seorang future leader pertama-tama harus memiliki learning agility, yaitu kemauan untuk terus belajar dan tidak membatasi diri hanya pada satu bidang atau industri.

“Justru dengan membuka diri terhadap berbagai perspektif dan pengetahuan baru, kita dapat melihat sebuah permasalahan secara lebih luas. Misalnya, saya sangat mengapresiasi teman-teman dari ITB yang memiliki latar belakang berbeda tetapi mau belajar mengenai industri peternakan. Bagi saya, itu adalah salah satu bentuk nyata dari learning agility,” jelasnya.

Selain kemampuan belajar, sambung Henri, future leader juga harus memiliki kemampuan berkolaborasi. Orang yang pintar atau memiliki kompetensi tinggi tidak akan memberikan dampak yang maksimal jika tidak terbuka terhadap perspektif orang lain. Karena itu, ia melihat kolaborasi antara pemerintah, akademisi (academia atau researchers), industri, dan peternak menjadi sangat penting. Riset yang dilakukan di kampus seharusnya tidak hanya berhenti menjadi jurnal, tesis, atau disertasi, tetapi juga harus relevan dengan kebutuhan industri dan memberikan solusi yang benar-benar dapat diterapkan di lapangan. Henri juga melihat ajang kompetisi esai ADM ini sebagai salah satu contoh yang mendorong keterbukaan dan kolaborasi tersebut.

Dorong Inovasi yang Memberikan Dampak Nyata

Dalam kesempatan yang sama, Yan Andria selaku Regional Director of Quality and Food Safety Animal & Pet Nutrition ADM menilai bahwa inovasi yang dibutuhkan industri saat ini bukan hanya sekadar menciptakan sesuatu yang baru, tetapi harus mampu memberikan dampak nyata dan menjadi sebuah breakthrough.

Ia mengatakan, ADM saat ini juga terus mengembangkan inovasi melalui pendekatan lokalisasi produk (regionalization), sehingga produk yang sebelumnya hanya didatangkan dari luar dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal.

Menurut Yan, ide-ide yang muncul dari mahasiswa dalam kompetisi ini juga memiliki potensi untuk menjadi masukan bagi perkembangan bisnis ADM. Ide tidak selalu harus langsung menjadi sesuatu yang besar, dari satu ide bisa muncul sub-ide lain yang dapat dieksplorasi lebih lanjut.

Wully menambahkan, bahwa ADM sangat mengapresiasi antusiasme, ide, gagasan, inovasi, semangat, serta teamwork generasi muda pada kegiatan ini. “Melalui kegiatan ini, ADM berharap mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman berkompetisi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memahami permasalahan industri secara langsung dan menghasilkan solusi yang relevan, serta kompetisi ini dapat menjadi agenda tahunan yang diadakan oleh ADM,” tutup Wully. (ADV)

NUTRITION BEYOND INGREDIENTS: INOVASI ALLTECH UNTUK INDUSTRI PAKAN BERKELANJUTAN

Seminar mempertemukan pemimpin industri, akademisi, pemerintah, asosiasi, serta para profesional dalam industri peternakan. (Foto-foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Industri peternakan menghadapi kompleksitas baik dari segi tuntutan efisiensi produksi, ancaman Antimicrobial Resistance (AMR), hingga tuntutan keberlanjutan. Menjawab tantangan tersebut Alltech mengangkat paradigma “Nutrition Beyond Ingredients”, menempatkan nutrisi yang memberikan manfaat ekonomi, fondasi kesehatan ternak, keamanan pangan, dan keberlangsungan lingkungan secara bersamaan.

Pendekatan ini menjadi nilai tambah sekaligus diferensiasi Alltech dalam mendampingi transformasi sektor peternakan Indonesia.

PT Alltech Biotechnology Indonesia berkolaborasi dengan ILDEX Indonesia menyelenggarakan seminar “Nutrition Beyond Ingredients: Driving Feed Efficiency, Industry Resilience, and Sustainable Growth in Indonesia Livestock Sector” pada Kamis, 23 Juli 2026 di Hotel Santika Premiere, Tangerang Selatan.

Acara dimoderatori oleh Dr Ir Audy Joinaldy SPt, MSc, MM M IP, IPU ASEAN ENG yang memastikan diskusi berjalan dinamis, serta interaksi yang bermakna antara pembicara dan peserta sepanjang sesi.

Membuka seminar, Heng Aik Jin, Regional Director Alltech Biotechnology Malaysia & Indonesia menuturkan tema seminar yang diusung sangat relevan dengan kondisi industri peternakan Indonesia sekarang ini. Menurutnya, pemintaan terhadap protein hewan terus meningkat, namun di saat yang sama industri dihadapkan pada banyak tantangan.

“Tantangan industri saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan sumber daya yang sama atau produce more with the same resources,” tutur Heng.

Nutrisi tidak hanya berbicara mengenai bahan baku, akan tetapi juga bagaimana sains, inovasi, nutrisi yang presisi serta teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pakan, mendukung kesehatan serta performa ternak sekaligus membangun industri peternakan yang tangguh dan berkelanjutan.

Kemandirian Pakan, Kunci Menjaga Ketahanan Pangan Nasional

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi diwakili oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr Drh Nuryani Zainuddin MSi sebagai keynote speaker mengatakan saat ini dunia dalam turbulensi, dimana ketegangan geopolitik kemudian adanya perang dagang dan krisis iklim mengguncang rantai pasok pangan dan pakan.

Nuryani juga memberikan gambaran supply demand peternakan Indonesia di tahun 2025 yang menunjukkan capaian positif. Ia menambahkan, dibalik keberhasilan tersebut masih tersimpan tantangan besar terutama tingginya ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor seperti bungkil kedelai, meat bone meal, poultry product meal, dan juga feed additive tertentu juga belum optimalnya pemanfaatan bahan baku lokal. Distribusi pakan yang belum efisien dan dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan hijauan juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi secara serius.

Produksi Pakan Nasional Tumbuh

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Tevi Melviana, menjelaskan bahwa industri pakan Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif. Produksi pakan nasional pada 2025 mencapai sekitar 20,3 juta ton dan diproyeksikan tetap tumbuh sekitar enam persen pada 2026, didorong meningkatnya populasi ayam broiler dan layer, serta implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Harga jagung domestik masih berfluktuasi, pasokan soybean meal (SBM) bergantung pada impor kemudian harga asam amino meningkat. Sementara, perubahan regulasi impor dan pelemahan nilai tukar rupiah turut memengaruhi struktur biaya industri.

Menurut Tevi, kondisi tersebut menuntut industri untuk semakin adaptif melalui diversifikasi sumber bahan baku, manajemen persediaan yang lebih baik, digitalisasi rantai pasok, inovasi formulasi pakan, penguatan kemitraan antara produsen pakan, peternak, pemasok bahan baku, dan pemerintah. Ketahanan industri pakan, lanjut Tevi, tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan membeli bahan baku murah tetapi juga kemampuan mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi secara menyeluruh.

Inovasi Mannan-Rich Fraction (MRF)

Dr Ronan Power, Vice President and Chief Scientific Officer Alltech mengajak peserta melihat nutrisi dari perspektif yang lebih luas.

Sebagai perusahaan berbasis sains yang mengembangkan berbagai solusi nutrisi dan kesehatan hewan melalui berbagai riset ilmiah, inovasi Alltech bukan saja diarahkan untuk meningkatkan performa ternak, namun juga mengurangi dampak terhadap lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari visi global Alltech dalam mendukung pertanian berkelanjutan, dengan entitas bisnis Planet of Plenty ™.

Ronan menekankan bahwa kesehatan saluran pencernaan merupakan titik awal seluruh keberhasilan produksi. “Healthy Gut = Healthy Animal” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam presentasinya.

Gut health integrity tidak hanya mendukung kesehatan saluran pencernaan, tetapi juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrisi, sehingga membantu mengurangi dampak tingginya biaya bahan baku pakan.

Usus yang sehat juga memungkinkan penyerapan nutrien berlangsung lebih optimal, efisiensi konversi pakan meningkat, performa produksi lebih baik sehingga ketergantungan terhadap penggunaan antibiotik dapat dikurangi.

Selain itu, Ronan juga menyoroti meningkatnya ancaman AMR yang menjadi perhatian dunia. Data global yang dipaparkan menunjukkan pada 2019 sekitar 1,27 juta kematian secara langsung berkaitan dengan AMR, sementara hampir lima juta kematian berkaitan dengan resistensi antimikroba.

Tingginya tingkat resistensi pada isolat Escherichia coli maupun Salmonella memperlihatkan pembatasan penggunaan antibiotik saja tidak cukup menyelesaikan persoalan. Menurut Ronan, solusi harus dimulai dari peningkatan kesehatan usus dan pengelolaan mikrobiota yang lebih baik, sehingga kebutuhan penggunaan antibiotik dapat ditekan secara alami.

Alltech mengembangkan inovasi bahan pakan bioaktif alami Mannan-Rich Fraction (MRF). Berbagai studi komersial pada broiler maupun layer yang dipaparkan Ronan menunjukkan MRF membantu mengaglutinasi patogen di saluran pencernaan, mengurangi penyebaran gen resistensi antibiotik antarbakteri dan meningkatkan sensitivitas bakteri terhadap antibiotik.

Selain itu memperbaiki performa broiler dan layer, menekan mortalitas hingga lebih dari 20 persen, meningkatkan efisiensi penggunaan pakan sekaligus berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca.

Industri Unggas Terintegrasi Vertikal

US Grains Consultant, Prof Dr Budi Tangendjaja PhD dalam kesempatan yang sama menegaskan efisiensi produksi pakan harus dilihat sebagai bagian dari keseluruhan rantai pasok industri unggas. Tujuan utama industri bukan sekadar menghasilkan pakan termurah, melainkan menghasilkan daging maupun telur dengan biaya produksi paling efisien sesuai kebutuhan pasar.

Hal tersebut hanya dapat dicapai apabila seluruh rantai produksi mulai dari pengadaan bahan baku, logistik, formulasi, operasional feedmill, hingga manajemen pemberian pakan di kandang dikelola secara efisien.

Prof Budi juga menegaskan bahwa industri unggas modern semakin mengarah pada sistem integrasi vertikal, dimana setiap mata rantai produksi saling terhubung dan sebagai bagian dari sistem bersama. Dalam kondisi tersebut baik pemanfaatan teknologi digitalisasi, formulasi presisi, indikator kinerja hingga pengendalian biaya di setiap lini menjadi faktor yang menentukan daya saing industri. (ADV)

BBPMSOH GELAR WEBINAR KULTUR SEL, TEKNOLOGI STRATEGIS MENJAWAB TANTANGAN KESEHATAN HEWAN

Drh Anik Winanningrum MSi, Kepala Bagian Umum BBPMSOH (keempat dari kiri) bersama Tim Pelaksana webinar. (Foto-foto: Dok. BBPMSOH)

Menyemarakkan HUT ke-41, Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menggelar beberapa rangkaian acara. Salah satunya adalah webinar “Kultur Sel Dalam Laboratorium Veteriner: Prinsip, Aplikasi dan Tantangan”, diadakan pada Jumat (10/7). Kegiatan ini mendapat antuasiasme yang tinggi dari para akademisi, pelaku usaha obat hewan dan praktisi laboratorium dari berbagai institusi.

Membuka webinar, Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata, menegaskan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan hewan. Laboratorium veteriner kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana pengujian, tetapi berkembang menjadi pusat inovasi yang mendukung penelitian, diagnosis penyakit, mendukung pengembangan vaksin sekaligus evaluasi keamanan dan mutu obat hewan.

Hasan menyampaikan, teknologi kultur sel kini menjadi salah satu fondasi penting dalam berbagai aktivitas laboratorium veteriner modern. “Teknologi kultur sel menjadi bagian penting dalam pengembangan vaksin, mulai dari ujian efikasi dan keamanan produk veteriner maupun produk bahan biologis hingga penelitian yang mendukung pengendalian berbagai penyakit hewan strategis,” lanjut Hasan.

Menurutnya Hasan, di tengah meningkatnya ancaman penyakit hewan baik yang berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi besar maupun penyakit zoonotik, penguasaan teknologi kultur sel menjadi kompetensi yang semakin penting bagi laboratorium veteriner di Indonesia.

Aplikasi Strategis dan Pengujian Vaksin

Beranjak pada sesi webinar dipandu moderator Drh Ernes Andesfha MSi dan pemaparan materi disampaikan oleh Medik Veteriner Madya BBPMSOH, Drh Rahajeng Setiawaty MSi. Mengulas prinsip dasar kultur sel, jenis-jenis kultur sel, aplikasi dalam bidang veteriner, hingga penerapan Good Cell Culture Practice (GCCP).

Dijelaskan bahwa kultur sel merupakan teknik memelihara sel hidup secara in vitro dalam kondisi terkontrol sehingga sel tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di luar organisme asalnya.

Dalam lingkup veteriner, aplikasi kultur sel sangat luas mencakup isolasi dan identifikasi virus, serta riset dasar mekanisme infeksi seluler. Selain itu, metode ini mendukung penuh prinsip 3R (Replacement, Reduction, Refinement) demi mengurangi ketergantungan pada hewan percobaan secara etis, serta memberikan hasil eksperimen dengan reproduksibilitas tinggi.

Sebagai otoritas pengujian mutu obat hewan, BBPMSOH memanfaatkan teknologi kultur sel secara intensif dalam pengujian mutu, kandungan, dan potensi vaksin aktif maupun inaktif sebelum dipasarkan. Pengujian seperti Serum Netralisasi Tes (SNT) atau Virus Neutralization Test (VNT) dilakukan pada vaksin unggas (Reo, SHS, IBD/gumboro, IBH) hingga non-unggas seperti lumpy skin disease (LSD) dan penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pengujian VNT PMK di BBPMSOH telah sukses melalui uji profisiensi internasional bersama Pirbright Institute (WRLFMD) di Inggris. Skor performa yang diperoleh yaitu 3 dari 4.

Beragam Cytopathic Effect (CPE) pada kultur sel dari koleksi BBPMSOH.

Tantangan dan Inovasi Masa Depan Kesehatan Hewan

Keberhasilan kultur sel sangat ditentukan oleh penerapan GCCP. Mulai dari SDM atau personel yang terlatih, fasilitas laboratorium yang memadai seperti Biosafety Cabinet (BSC) II, penggunaan reagen berkualitas, dokumentasi, pencatatan lengkap serta uji kontaminasi secara rutin.

“Inovasi kultur sel 3 Dimensi atau 3D ke depannya untuk disease modelling, serta cultured meat berbasis sel puncak akan terus mengalami perkembangan,” tutur Rahajeng.

Lebih lanjut Rahajeng mengatakan, kultur sel dalam bentuk 3D dinilai lebih merepresentasikan sifat asli sel lebih baik. Biasanya dipakai pada stem sel mesenkim, berbentuk bulat atau spherical kemudian digunakan untuk disease modelling.

“Penerapan teknologi dan inovasi berkelanjutan dalam kultur sel dibersamai penguatan kompetensi SDM, kami yakin akan memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia. Selain itu juga mendukung implementasi pendekatan One Health,” pungkasnya. (ADV)

BBVF PUSVETMA KAWAL PENGENDALIAN PMK NASIONAL MELALUI MONITORING PASCAVAKSINASI

Kegiatan webinar dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten. (Foto: Dok BBVF Pusvetma)

Pelaksanaan monitoring pascavaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahun 2025 oleh Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma secara nasional, mengonfirmasi efektivitas program vaksinasi di lapangan. Pengujian terhadap 3.845 sampel serum ternak di 8 provinsi menunjukkan, proporsi antibodi protektif (SP-O positif) pascavaksinasi dasar dan booster mampu bertahan optimal hingga kisaran 73%–100% pada H+56.

Capaian ini secara langsung berhasil menekan proporsi Non-Structural Protein (NSP) positif hingga tersisa 26%, membuktikan kekuatan proteksi imun dalam melindungi populasi ternak.

Dalam webinar bertajuk "Monitoring Pascavaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat (17/7/2026), Kepala BBVF Pusvetma, Drh Edy Budi Susila MSi menegaskan bahwa pemantauan pascavaksinasi adalah instrumen wajib untuk mengawal Roadmap Pengendalian dan Pembebasan PMK 2035 yang ditetapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

"Program vaksinasi harus didukung dengan penerapan biosecurity, biosafety, surveilans serta pengendalian lalu lintas ternak," tandas Edy. Melalui webinar ini, Pusvetma sebagai laboratorium referensi nasional PMK sekaligus produsen vaksin Aphthovet PMK ingin memberikan pemahaman mengenai efektivitas vaksin di lapangan, serta pentingnya monitoring pascavaksinasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program pengendalian PMK.

Wabah PMK yang kembali muncul pada tahun 2022, Pusvetma bersama balai veteriner di berbagai daerah secara konsisten melakukan pemantauan terhadap sirkulasi virus PMK. Hasil sequencing yang dilakukan hingga 2026, menunjukkan bahwa virus yang beredar di lapangan adalah Serotype O/ME-SA/Ind-2001e.

Webinar ini dipandu moderator Drh Indah Purnama Sari MSi selaku Medik Veteriner Ahli Madya, serta host oleh Drh Ribby Ansharieta MSi. Dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten.

Perkuat Sistem Vaksinasi

Membuka presentasinya, Dr drh Dewi Noor Hidayati MSi, Medik Veteriner Ahli Madya Pusvetma sebagai pembicara webinar menuturkan Pusvetma sebagai salah satu produsen vaksin PMK lokal, memiliki tanggung jawab untuk memastikan mutu vaksin tetap terjaga hingga diaplikasikan di lapangan.

"Kami ingin mengetahui bagaimana kualitas vaksin Aphthovet PMK setelah digunakan di lapangan, sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program vaksinasi yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner di daerah. Data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat sistem vaksinasi dan memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan pengendalian PMK ke depan," jelas Dewi.

PMK masih menjadi ancaman aktif, karena merupakan penyakit hewan yang sangat mudah menular (contagious) sekaligus termasuk penyakit lintas batas (transboundary animal disease).

Posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara endemis PMK membuat kewaspadaan terhadap masuknya virus maupun munculnya serotipe baru. Oleh sebab itu, perlunya ditingkatkan melalui deteksi dini dan pemantauan berkesinambungan.

Dinamika Respons Imun dan Hasil Monitoring

Lebih lanjut, Dewi memaparkan monitoring dilakukan terhadap 3.845 sampel serum yang berasal dari 62 kabupaten/kota di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-28, ke-42, dan ke-56 setelah vaksinasi dasar untuk melihat dinamika pembentukan antibodi.

Pemeriksaan serologis dilakukan menggunakan metode ELISA dengan dua parameter utama, yaitu SP-O (Structural Protein O) dan NSP (Non-Structural Protein).

Uji ELISA SP-O digunakan untuk mengetahui respons antibodi terhadap hasil vaksinasi maupun infeksi alami, sedangkan antibodi NSP menjadi indikator adanya paparan virus lapang, bukan akibat vaksinasi.

Interpretasi kedua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi efektivitas vaksin. Kombinasi hasil SP-O positif dan NSP negatif menunjukkan kondisi ideal, yaitu kekebalan terbentuk melalui vaksinasi tanpa adanya indikasi paparan virus lapang.

Pada periode kedua pelaksanaan vaksinasi, proporsi ternak dengan antibodi SP-O positif meningkat dan semakin stabil, berkisar 73-100%, sementara proporsi antibodi NSP cenderung menurun. Temuan ini membuktikan vaksinasi membentuk respons kekebalan yang baik.

Dokumentasi riwayat vaksinasi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian PMK. Data mencakup waktu vaksinasi, jenis vaksin yang digunakan, hingga identitas ternak akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas program vaksinasi dan mendukung pengambilan keputusan apabila diperlukan vaksinasi booster.

Monitoring juga memperlihatkan keberhasilan vaksinasi sangat dipengaruhi berbagai faktor di lapangan. Antara lain penyimpanan dan distribusi vaksin (cold chain), ketepatan waktu pemberian booster, teknik vaksinasi, kondisi kesehatan ternak saat divaksin, hingga biosekuriti kandang dan pengendalian lalu lintas ternak menjadi faktor yang menentukan terbentuknya kekebalan optimal.

Pusvetma menegaskan monitoring pascavaksinasi bukan sekadar kegiatan evaluasi internal, melainkan bagian dari kepentingan nasional sekaligus mendukung tahapan Progressive Control Pathway (PCP) menuju status bebas PMK. (ADV)

ELANCO PADUKAN INOVASI PRODUK, LAYANAN TEKNIS, DAN AKTIVITAS INTERAKTIF DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Elanco Indonesia. (Foto: Infovet/NDV & Istimewa)

Berpartisipasi dalam pameran Indo Livestock yang diselenggarakan 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, PT Elanco Animal Health Indonesia menampilkan berbagai inovasi produk serta layanan melalui aktivitas interaktif menarik.

Selain memperkenalkan produk terbaru salah satunya adalah AviPro™ IB-ND C131, di ajang Indo Livestock kali ini Elanco hadir untuk dekat dengan customer dalam suasana yang lebih casual.

Pelanggan setia maupun visitors yang mengunjungi stan Elanco diajak mengikuti berbagai permainan interaktif dengan syarat sederhana, yaitu subscribe channel YouTube dan mengikuti akun Instagram Elanco Indonesia. Setelah itu mereka dapat mengikuti permainan padel untuk memperoleh hadiah, juga menikmati suguhan kopi.

Area stan Elanco menghadirkan permainan padel bagi pengunjung untuk memenangkan merchandise menarik.

Stan Elanco mengusung konsep ruang terbuka dipadukan dekorasi ilustrasi kartun ayam yang merepresentasikan peran perusahaan dalam mendukung penyediaan pangan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal). Visual tersebut menggambarkan komitmen Elanco sebagai perusahaan yang fokus pada solusi kesehatan hewan, menjaga produktivitas ternak, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami merupakan bagian dari industri sapronak yang turut serta berperan dalam menyediakan pangan ASUH. Melalui inovasi dan solusi kesehatan hewan, kami berkomitmen berkontribusi dalam rantai produksi pangan Indonesia,” jelas Senior Manager Marketing PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Muhamad Aura Maulana.

Bukan hanya menjadi tempat bertemunya pelaku industri peternakan, stan Elanco menjelma sebagai ruang diskusi yang hangat dan nyaman. Elanco berhasil menciptakan pengalaman mengesankan, dengan menghadirkan ruang interaksi yang aktif dan bermakna.

Pengunjung akan mengikuti permainan interaktif di stan Elanco.

Unggulkan AviPro™ IB-ND C131

Salah satu produk yang di-highlight oleh Elanco adalah AviPro™ IB-ND C131, vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap Newcastle disease (ND) dan infectious bronchitis (IB).

Kompleksnya tantangan penyakit pernapasan pada unggas, Elanco merilis AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin hidup kombinasi yang memberikan perlindungan terhadap ND dan IB dalam satu aplikasi.

Vaksin dirancang aman serta dapat diaplikasikan sejak DOC, tanpa menimbulkan reaksi pascavaksin yang berarti atau mengganggu performa awal ayam. “Salah satu keunggulan AviPro™ IB-ND C131 adalah kemampuannya dalam memberikan respons imun optimal, meski anak ayam masih memiliki maternal derived antibody atau MDA. Perlindungan terhadap IB dan ND dapat terbentuk sejak awal masa pemeliharaan,” jelas Aura.

Selain itu, AviPro™ IB-ND C131 mampu memberikan perlindungan hingga delapan minggu. Kombinasi tersebut membantu peternak menyederhanakan program vaksinasi, tanpa mengurangi kualitas perlindungan terhadap dua penyakit respirasi utama.

Elanco hadirkan ruang diskusi yang bermakna.

Bersiap Meluncurkan AviPro 304

Tidak hanya memperkenalkan produk yang telah tersedia, Elanco juga mengungkapkan rencana peluncuran AviPro 304, vaksin kombinasi generasi terbaru yang menjadi salah satu inovasi penting perusahaan di bidang kesehatan unggas.

Setelah memperkenalkan AviPro™ IB-ND C131 sebagai vaksin live kombinasi untuk perlindungan dini terhadap ND dan IB, Elanco juga tengah mempersiapkan peluncuran AviPro™ 304 ND-IB-MG.

Kehadiran vaksin inaktif tiga komponen tersebut akan melengkapi portofolio AviPro™, memberikan pilihan program vaksinasi yang lebih menyeluruh bagi peternak, khususnya dalam menghadapi tantangan ND, IB, dan Mycoplasma gallisepticum (MG).

Keunggulan paling menonjol dari AviPro™ 304 adalah vaksin inaktif kombinasi yang mengandung antigen Newcastle disease (ND), Infectious Bronchitis (IB) tipe Massachusetts, dan Mycoplasma gallisepticum (MG). Kombinasi tiga antigen dalam satu vaksin memberikan kemudahan dalam program vaksinasi breeder maupun layer, sekaligus membantu meningkatkan respons antibodi terhadap ketiga agen penyakit tersebut setelah program priming menggunakan vaksin hidup yang sesuai. Peternak memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyusun program vaksinasi, sehingga interval vaksin dapat diatur lebih efisien dan optimal.

Sebagai vaksin inaktif berbasis oil emulsion, AviPro™ 304 dirancang untuk menghasilkan respons antibodi yang kuat dan mempertahankan kekebalan dalam jangka waktu yang lebih lama sebagai bagian dari program vaksinasi breeder dan layer.

Solusi Menyeluruh untuk Industri Peternakan

Kehadiran Elanco di pameran Indo Livestock 2026, menegaskan komitmennya sebagai penyedia solusi kesehatan hewan yang lengkap. Di sektor unggas, Elanco menghadirkan portofolio produk dan layanan mencakup vaksin, pengendalian penyakit usus, kesehatan saluran pencernaan, enzim, probiotik, formulasi pakan, hingga pendampingan teknis di lapangan.

“Sebagai perusahaan global pada kesehatan hewan, keikutsertaan Elanco di Indo Livestock 2026 merupakan wujud komitmen kami untuk terus menghadirkan solusi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan industri peternakan di Indonesia,” tandas Aura.

Selama pameran berlangsung, banyak customer memanfaatkan kesempatan berkonsultasi mengenai penyusunan program vaksinasi, kasus necrotic enteritis (NE), evaluasi lesion score, intestinal integrity, formulasi nutrisi, penggunaan feed additive, hingga berbagai tantangan kesehatan unggas lainnya.

Tim technical Elanco sigap memberikan pendampingan mulai dari fase hatchery hingga ayam memasuki masa produksi. Pendekatan ini menjadi nilai tambah karena solusi yang diberikan tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi aktual di lapangan yang dihadapi customer.

Sementara di sektor ruminansia, Elanco juga memiliki portofolio vaksin untuk mendukung pengendalian berbagai penyakit penting, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK) bermerk dagang Bioaftogen®, sehingga perusahaan terus memperkuat posisinya sebagai mitra kesehatan hewan di Tanah Air.

Menjawab Tantangan Industri Melalui Pencegahan

Di tengah tantangan industri peternakan yang dipengaruhi fluktuasi harga bahan baku impor, mengambil contoh soybean meal dan berbagai komponen pakan lainnya, Elanco memandang strategi pencegahan penyakit menjadi investasi yang semakin penting bagi peternak.

Menurut Aura, ketika biaya produksi meningkat, menjaga kesehatan ternak melalui program vaksinasi yang efektif menjadi salah satu cara untuk mempertahankan produktivitas sekaligus menekan kerugian akibat penyakit.

Elanco terus memperkuat posisi dan portofolio produk pencegahan sebagai bagian dari solusi jangka panjang bagi industri peternakan di Indonesia. (ADV)

CLARIANT PERKUAT KUALITAS PAKAN LEWAT INOVASI CLAY MINERAL DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Clariant bersama IMCD Indonesia. (Foto-foto: Infovet/NDV)

Keikutsertaan PT Clariant Adsorbents Indonesia di pameran Indo Livestock yang berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, menyedot perhatian pengunjung. Selain booth yang ramai pengunjung, technical seminar yang diadakan Clariant juga mendapatkan antuasisme tinggi dari peserta.

Mengusung “Inovasi Penggunaan Clay Mineral dalam Industri Peternakan”, seminar eksklusif Clariant berlangsung di Teater 3 NICE PIK 2, di hari kedua Indo Livestock Rabu, (17/6).

“Kami cukup surprised, tidak menduga pengunjung booth Clariant akansebanyak ini. First time kami membuka booth di ajang Indo Livestock, luar biasa senang bisa berinteraksi langsung dengan para customer,” ungkap Regional Manager Asia Pacific for Feed Business Clariant Adsorbents, Erika Kusuma Wardani, ditemui Infovet pada Selasa (16/6).

Erika mengemukakan, pameran peternakan berskala internasional seperti Indo Livestock membuka banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri, salah satunya untuk membuka kesempatan mendapatkan peluang bisnis.

“Kami juga menjadikan ajang pameran untuk branding, awareness, dan berbagi ilmu tentang clay. Kegiatan ini juga semakin relevan seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat,” imbuhnya.

Dalam IDL 2026, Clariant menggandeng salah satu distributor yaitu PT IMCD Indonesia. Business Development Manager Animal Health Division PT IMCD Indonesia, Edy Chandra dan Rizal Iqhbal Putra melihat prospek bisnis toxin binder terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya perhatian industri terhadap kualitas pakan.

Clariant & IMCD Indonesia team berinteraksi langsung dengan customer.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

Clay Specialist

Memiliki pengalaman panjang dan keahlian mendalam dalam pengembangan solusi berbasis clay, Clariant menghadirkan produk toxin binder untuk menjawab kebutuhan industri peternakan modern.

Produsen clay terbesar di dunia ini berpengalaman sudah 30 tahun lebih di Indonesia, mengelola 39 tambang clay di seluruh dunia, serta memiliki 57 jenis clay yang dipasarkan di seluruh dunia, sementara untuk Asia Pacific saat ini telah dipasarkan ke 14 negara.

Perbedaan dan jenis-jenis bentonit.

Clariant tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pemahaman ilmiah mengenai karakteristik clay dan kemampuannya mengikat mikotoksin secara efektif. Melalui pendekatan ini, Clariant berkomitmen membantu industri peternakan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pakan yang lebih aman.

Tantangan industri peternakan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, kualitas pakan menjadi fondasi utama dalam menjaga performa dan kesehatan ternak.

Keberhasilan program kesehatan ternak selain pengaplikasian vaksinasi atau manajemen pemeliharaan, juga bergantung dari pemberian pakan yang aman dan berkualitas.

Pakan yang terkontaminasi mikotoksin dapat menurunkan konsumsi pakan, mengganggu fungsi organ, melemahkan sistem imun, hingga menyebabkan respons vaksinasi menjadi tidak optimal.

“Mikotoksin sering menjadi penyebab utama nutrisi dalam pakan tidak terserap sempurna. Hal ini mengganggu sistem imun dan dampaknya efektivitas vaksinasi berpotensi tidak tercapai secara optimal,” ujar Erika.

Sebagai penyedia utama produk khusus berbasis clay, antara lain bentonite, attapulgite, zeolite, saponite, kerolite, sepiolite, dan lainnya; Clariant memberikan solusi dalam meningkatkan kualitas pakan ternak melalui lini produk toxin binder. Secara selektif menargetkan mikotoksin dengan tetap mempertahankan nutrisi pakan yang penting.

Berbeda dengan banyak produk toxin binder yang masih bergantung pada bahan baku impor, Clariant mengembangkan solusi berbasis sumber daya lokal yang dipadukan dengan pengalaman global dalam teknologi adsorben mineral.

Seminar Clay Mineral

Foto bersama peserta seminar.

Sesi seminar Clariant menghadirkan pembicara yakni Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan peneliti Mycotoxin Research Group Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ika Sumantri, S.Pt. M.Si. M.Sc. Disusul dengan pemaparan materi dari Erika Kusuma Wardani.

Mengawali materi presentasinya, Prof Ika menyebutkan jamur tumbuh optimal pada suhu 25-37°C dengan kelembapan 80-85%. Kemudian produksi mikotoksin meningkat pada lingkungan yang cenderung basa (alkali).

Prof Ika menerangkan alur perpindahan mikotoksin sedari pakan terkontaminasi kemudian dimakan ternak hingga menimbulkan residu yang masuk ke susu, telur, daging yang dikonsumsi manusia.

Menurutnya, mikotoksin bukan sekadar persoalan kualitas pakan, melainkan ancaman yang memengaruhi kesehatan ternak, produktivitas, hingga keamanan pangan. Dalam kondisi iklim tropis seperti Indonesia, pengendalian mikotoksin harus dilakukan secara preventif melalui peningkatan kualitas pakan, penyimpanan, dan penerapan manajemen peternakan yang baik, serta penggunaan toxin binder berbasis clay yang tepat.

Sementara Erika menjelaskan bahwa kemampuan bentonit dalam mengikat mikotoksin dipengaruhi kualitas mineralnya. Bentonit dengan luas permukaan yang lebih besar, volume mikro pori yang tinggi, serta struktur pori yang optimal memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik terhadap mikotoksin.

Erika menggarisbawahi bahwa toxin binder yang baik tidak hanya efektif mengikat toksin, tetapi juga harus tetap menjaga ketersediaan nutrisi bagi ternak.

Rangkaian produk Clariant di antaranya Toxisorb™, Bentomax™, dan Terrana™ hadir sebagai solusi pengikat multitoksin berbasis clay mineral 100% alami.

Bentomax™ tampil sebagai solusi mycotoxin binder yang tak tertandingi. Diformulasikan dari kalsium bentonit pilihan berkualitas tinggi hanya menargetkan mycotoxin tanpa menyerap nutrisi pakan, sehingga nilai gizi tetap terjaga optimal, dan pastinya terjual dengan harga yang affordable.

Hasil pengujian menunjukkan Toxisorb™ Premium mampu bekerja sinergis dengan enzim fitase dalam meningkatkan pelepasan fosfor dari asam fitat.

Lebih lanjut, Erika mengungkapkan bahwa Toxisorb™ Premium juga memiliki kemampuan mengadsorpsi endotoksin yang dihasilkan bakteri gram-negatif. Kemampuan ganda ini menjadi nilai tambah di tengah tantangan peternakan modern, ketika kualitas bahan baku pakan semakin dipengaruhi perubahan iklim dan risiko kontaminasi.

Fungsi tambahan Toxisorb™ Premium dalam mengadsorpsi endotoksin ini menunjukkan bahwa produk tidak hanya berperan sebagai toxin binder, tetapi juga mendukung kesehatan saluran pencernaan ternak. (ADV)

DUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN, JAPFA TAMPILKAN INOVASI DAUR ULANG AIR DAN EKONOMI SIRKULAR DI INVIROTECH 2026

Booth JAPFA di INVIROTECH diminati oleh murid-murid dari berbagai Sekolah Menengah. (Foto-foto: JAPFA)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berpartisipasi dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, JAPFA menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju energi yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Tim JAPFA menjelaskan daur ulang air pada anak-anak Sekolah Dasar.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya ketersediaan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan fasilitas daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di berbagai unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.”

Booth JAPFA tak pernah sepi dari pengunjung.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 atau sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kolaborasi dengan masyarakat atau kelompok masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor energi dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara di seluruh fasilitas operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, energi biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapasitas terpasang 1,8 MWp di berbagai unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan kinerja finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

VAKSINDO PERLUAS AKSES PASAR GLOBAL MELALUI EKSPANSI KE KAWASAN EAEU

Pertemuan membahas rencana ekspor produk Vaksindo ke negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4). (Foto-foto: Infovet/NDV)

PT Vaksindo Satwa Nusantara kembali menunjukkan kiprahnya di pasar internasional dengan melaksanakan persiapan mengekspor vaksin ke kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Langkah ekspansif ini bukan sekadar pencapaian bisnis, namun mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang semakin diperhitungkan dalam industri kesehatan hewan global.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pertanian yang disampaikan melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi. “Kami sangat mendukung penuh terhadap upaya perluasan pasar vaksin hewan Indonesia ke kawasan EAEU,” kata Agung dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4).

Agung memberikan apresiasi kepada PT Vaksindo Satwa Nusantara. “Vaksindo menunjukkan komitmen dan kinerja yang kuat sebagai produsen vaksin hewan nasional, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri namun juga berhasil menembus pasar internasional,” lanjutnya.

Audiensi ini dihadiri oleh delegasi Rosselkhoznadzor, I. A. Samoilova, kemudian Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara, Dr Teguh Y. Prajitno beserta tim auditor Good Manufacturing Practices (GMP) Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).

Melalui proses audiensi ini, pemerintah berharap dapat memperoleh hasil yang positif sebagai langkah awal membuka akses ekspor vaksin hewan Indonesia ke negara anggota EAEU yaitu Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan.

“Tentunya kita semua sangat berharap rencana ekspor vaksin ke negara Rusia ini akan sukses. Dukungan untuk Vaksindo kami berikan dengan memperhatikan regulasi yang ada dan melakukan percepatan sesuai dengan prosedur negara pengimpor,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Hendra pun menyampaikan bahwa pemerintah optimis, mengingat pengalaman Vaksindo yang telah mengekspor vaksin dan obat hewan ke lebih dari 20 negara.

Perkuat Kapabilitas Riset Berstandar Internasional

Selama beberapa tahun terakhir, Vaksindo memperkuat kapabilitas riset dan pengembangan serta memastikan produknya memenuhi standar internasional yang ketat. Ekspansi ke negara kawasan Eurasian menjadi bukti bahwa produk vaksin unggas buatan dalam negeri mampu bersaing, baik dari sisi efektivitas maupun keamanan.

Suasana audiensi berlangsung interaktif.

Permintaan dari negara-negara ini terhadap vaksin unggas yang diproduksi Vaksindo, menjadi bukti nyata pengakuan pasar internasional terhadap kualitas produk dalam negeri.

“Kami mengembangkan dan memproduksi vaksin yang terjamin efikasinya, sesuai dengan standar ISO 9001:2015, ISO 17025 dan tentunya CPOHB serta GMP. Didukung penelitian yang komprehensif,” tandas Teguh Y. Prajitno.

Lini produk utama Vaksindo yang rencananya akan diekspor meliputi vaksin ND, AI, IB, IBD. Sebagai pabrik vaksin hewan pertama di Indonesia sejak 1983, Vaksindo memproduksi vaksin untuk segmen hatchery, breeding, dan peternakan komersial.

Produk Vaksindo telah menjangkau lebih dari 24 negara baik di kawasan Asia dan beberapa negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan portofolio produk Vaksindo telah memenuhi standar internasional (GMP & ISO).

Dengan fondasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, dan visi global yang semakin jelas, Vaksindo berada pada jalur pertumbuhan menjanjikan. Vaksindo hadir sebagai kebanggaan industri dalam negeri dan berkontribusi nyata untuk kesehatan hewan dunia. (ADV)

CAPAIAN STRATEGIS DISNAKKESWAN PROVINSI SUMATERA BARAT DALAM PENGUATAN SEKTOR PETERNAKAN

Disnakkeswan Sumbar melakukan sosialisasi konsumsi protein hewani dalam rangka peringatan Hari Susu Nusantara

Sektor peternakan Sumatera Barat bukan sekadar urusan memelihara ternak hewan, melainkan denyut nadi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) membuktikan komitmen tersebut melalui deretan pencapaian yang tidak hanya di atas kertas, tetapi berdampak langsung ke peternak dan masyarakat.

Dari surplus produksi telur yang melimpah hingga garda terdepan perlindungan dari wabah penyakit, menjadi bukti bagaimana transformasi peternakan di Sumbar didorong untuk lebih maju, sehat, dan berdaya saing.

Disnakkeswan Sumbar telah menyalurkan bantuan ternak dan alat serta mesin peternakan, untuk meningkatkan produksi dan populasi peternakan.

Untuk ruminansia, di antaranya adalah penyaluran 40.000 liter N2 cair, plastic sheet, dan plastic glove untuk optimalisasi reproduksi sapi. Ditambah bantuan 20 ekor ternak sapi Simental beserta obat­obatannya. Lengkap dengan 4 unit mesin pencacah pakan ternak.

“Kami juga menyerahkan 5 ekor pejantan pemacek sapi pesisir untuk peningkatan mutu genetik, guna pelestarian plasma nutfah Sumatera Barat,” kata Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi. “Untuk ruminansia kecil sudah disalurkan 240 ekor kambing beserta obat-obatannya.”

Terkait peternakan unggas, 4.000 ekor itik dan 6.000 ekor ayam KUB disalurkan pada masyarakat/peternak. Semua beserta pakan dan obat­obatannya. Selain itu Disnakkeswan Sumbar juga memberikan bantuan 16 unit mesin tetas telur.

“Produksi peternakan Sumbar mengalami surplus. Ketersediaan telur mencapai 363.332 ton dan kebutuhannya sekitar 328.244 ton. Ketersediaan daging ayam 70.544 ton jauh melampaui kebutuhan sebesar 47.610 ton.” Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi menjelaskan. “Ketersediaan susu sekitar 975 ton dibandingkan kebutuhan sebesar 591 ton. Kemudian ketersediaan daging sapi mencapai sekitar 26.581 ton sementara kebutuhan berada di angka 24.367 ton.”

Sosialisasi peningkatan konsumsi protein hewani juga terus dilakukan. Ditindaklanjuti dengan penyaluran telur 12.000 butir dan susu 3.000 botol.

Produksi yang tinggi tentu tidak akan berarti tanpa adanya jaminan kesehatan dan keamanan pangan. Disnakkeswan Sumbar tak henti bekerja keras sebagai ‘perisai’ yang melindungi ternak hewan dan manusia dari ancaman penyakit.

Terkait penyakit hewan menular strategis (PHMS), Disnakkeswan Sumbar berhasil merealisasikan 30.000 vaksinasi rabies dari target 30.000 dosis, 2.000 vaksinasi Jembrana dari target 2.200 dosis, 50.375 vaksinasi PMK dari target 50.375 dosis, 3.000 vaksi nasi Septicaemia Epizootica (SE) dari target 3.000 dosis.

Selain itu berhasil menerbitkan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk 11 unit usaha, dari target 10 unit usaha pada unit usaha produk asal hewan. Pelatihan Juru Sembelih Halah (Juleha) berhasil meluluskan 80 orang juleha ruminansia dan 50 orang juleha unggas.

Kemudian sebanyak 374 Sertifikasi Veteriner diterbitkan untuk hewan, dan 4.949 untuk produk hewan, terkait lalu lintas HPM (Hewan, Produk Hewan, dan Media Pembawa Penyakit Hewan Lainnya).

Layanan pengujian mutu produk peternakan Disnakkeswan Sumbar telah menambah ruang lingkup akreditasi ISO 17025 2017 dengan parameter oksitetrasiklin, penisilin, tilosin dan kanamisin (bioassay) untuk laboratorium kesmavet, serta parameter kadar air dan kadar abu untuk laboratorium pakan.

“Kami telah memproduksi telur fertil 64.932 butir, DOC ayam KUB 39.481 ekor, pullet 3.268 ekor, serta menghasilkan 2.560 ekor ayam afkir untuk konsumsi,” terang Sukarli. “Di Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Barat juga telah diuji 2.164 sampel aktif dan 5.075 sampel pasif. Telah dilakukan pula pelayanan USG terhadap 75 pasien, pelayanan bedah terhadap 369 pasien, pelayanan rawat inap sebanyak 1.384 pasien, pelayanan rawat jalan sebanyak 4.610 pasien, dan pelayanan pengujian PCR.”

Untuk mendukung peternakan sapi Disnakkeswan Sumbar telah mendistribusikan 55.800 dosis semen beku. Serta melakukan pelestarian dan pemanfaatan pakan lokal yang efektif untuk peningkatan produksi ternak sapi.

“Disnakkeswan Sumbar juga menjadi wadah penelitian dan riset yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan BRIN, serta tujuan magang dari mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas,” pungkas Sukarli. “Kami juga melakukan launching penetapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada 3 UPTD lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.” (ADV)

SEABAD NEWCASTLE DISEASE: KOMITMEN CEVA MENGAWAL MASA DEPAN PERUNGGASAN

Country Director PT Ceva Animal Health Indonesia, Edy Purwoko, turut mendampingi Dirkeswan pada seremoni pembukaan The Guards of A Century. (Foto-foto: Istimewa)

Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada kesehatan unggas, PT Ceva Animal Health Indonesia terus berperan aktif meningkatkan awareness peternak terhadap penyakit Newcastle Disease (ND). Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi berkelanjutan, layanan teknis di lapangan, hingga publikasi laporan disease surveillance setiap bulan sebagai sumber informasi terkini bagi industri.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui forum ilmiah internasional yang diinisiasi oleh Ceva Santé Animale bertajuk The Guards of A Century: 100 Years with Newcastle Disease. Diselenggarakan pada 10-12 Februari 2026 di Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center, acara ini menghadirkan ilmuwan, otoritas veteriner, dan pelaku industri vaksin dari 15 negara dalam satu panggung kolaborasi global.

Sejumlah pakar dunia turut hadir dalam forum ini. Sesi pembuka disampaikan oleh Dr Hendra Wibawa, MSc, PhD, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Ia mengulas sejarah penemuan ND di Indonesia sekaligus menegaskan langkah-langkah sistematis pemerintah dalam pengendalian penyakit ini melalui penguatan kebijakan, biosekuriti, vaksinasi, dan sistem laboratorium. Dilanjutkan oleh Prof Ian Brown dari The Pirbright Institute, Inggris, yang memaparkan laporan pertama TM Doyle tentang penyakit “baru” di Newcastle-upon-Tyne serta perjalanan panjang riset dan kemajuan ilmiah ND di Weybridge. Paparannya memberikan perspektif global tentang bagaimana pengendalian ND berkembang selama 100 tahun terakhir.

Pembaruan klasifikasi genetik virus ND dijelaskan oleh Dr Kiril Dimitrov, DVM, PhD, yang menyoroti pentingnya sistem penamaan yang lebih terstandarisasi secara global. Sementara itu, Dr Atsushi Yasuda dan Dr Moto Esaki membagikan pengalaman pengembangan awal vaksin HVT-F hingga evolusinya menjadi vaksin HVT/ND modern.

Dari sisi epidemiologi, Prof Dr JA (Arjan) Stegeman dari Utrecht University menekankan pentingnya strategi vaksinasi dalam memutus transmisi virus di tingkat populasi.

Prof Dr Vilmos Palya, Scientific Expert Ceva, menjelaskan perjalanan pengembangan dan konfirmasi teknologi rHVT-F dalam membangun respons imun yang optimal. Melengkapi sesi tersebut, Dr Marcelo Paniago memaparkan hasil berbagai uji tantangan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. “Hasil uji menunjukkan kemanjuran vaksin rHVT-F terhadap genotipe NDV velogenik yang muncul,” tegasnya.

Sebagai penutup, Mustafa Seckin Sandikli, Global Poultry Director Ceva Santé Animale, menegaskan komitmen berkelanjutan Ceva dalam mendukung kemajuan dan keberlanjutan industri unggas dunia.

Momen bersama seluruh peserta usai meninjau berbagai fasilitas di lingkungan BRMP Veteriner.

Kementan Apresiasi Ceva

Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Ceva atas komitmennya menyelenggarakan konferensi internasional ini.

Hendra menuturkan bahwa ND masih menjadi penyakit hewan strategis dengan dampak besar bagi produktivitas unggas di dunia.

“Di luar tantangan teknis di tingkat lapangan, penyakit ini juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas pasokan pangan asal hewan, perdagangan, dan ketahanan pangan secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Hendra, penguatan sistem juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas laboratorium. “Untuk memastikan mutu dan keandalan pengujian diagnostik yang menjadi dasar kebijakan tersebut, pemerintah memperkuat kapasitas laboratorium sebagai pilar utama sistem kesehatan hewan,” ujarnya.

Salah satu momen berkesan dalam rangkaian acara adalah kunjungan ke Balai Besar Perakitan dan Modernisasi (BRMP) Veteriner Kementerian Pertanian. Di lokasi inilah para peserta berkesempatan melihat langsung tempat virus ND pertama kali dipelajari di Indonesia—sebuah situs bersejarah yang menandai awal perjalanan panjang riset ND di tanah air. (ADV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer