Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Saluran Pencernaan | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

DONGKRAK PERFORMA MELALUI KINERJA SALURAN CERNA

Masalah pada pakan (cangkang sawit) dan saluran pencernaan yang bermasalah. (Foto: Istimewa)

Kesehatan usus sangat penting untuk pencernaan dan penyerapan nutrisi, karenanya merupakan faktor kunci dalam menentukan performa unggas. Masalah kesehatan usus sangat umum terjadi pada unggas dengan performa tinggi akibat tingginya asupan pakan, yang memberikan tekanan pada fisiologi sistem pencernaan.

Kelebihan nutrisi yang tidak tercerna dan terserap di usus halus dapat memicu disbiosis, yaitu perubahan komposisi mikrobiota di saluran usus. Disbiosis serta penyebab stres lainnya menimbulkan respons inflamasi dan hilangnya integritas antara sel-sel epitel, yang menyebabkan kebocoran usus (Richard et al., 2023 ).

Perkembangan Mikroba Usus
Sel epitel usus, mikroba, dan sistem kekebalan merupakan komponen ekosistem usus. Sebelum adanya penetasan telur skala besar di inkubator, penetasan metode alami membuat telur-telur tersebut bersentuhan dengan sarang atau ayam selama masa inkubasi dan dengan demikian memastikan transmisi vertikal mikrobiota induk ke anak ayam.

Namun di tempat penetasan komersial, anak ayam ditetaskan di lingkungan yang bersih dan tidak ada kontak dengan ayam betina. Oleh karena itu, mikrobiota usus anak ayam yang baru menetas sepenuhnya bergantung pada sumber lingkungan yang dapat menyebabkan penurunan keanekaragaman mikroba dan peningkatan kolonisasi patogen bawaan dari makanan yang berada di usus.

Anak ayam dapat memperoleh mikrobiota pada tahap embrio selama pembentukan telur di saluran telur dan selama pengangkutan melalui saluran reproduksi. Perolehan mikroba pasca penetasan bergantung pada berbagai faktor, seperti praktik produksi, pola makan, dan lingkungan. Dengan adanya modernisasi produksi ayam di tempat penetasan skala besar, transmisi vertikal alami mikrobiota dari ayam menjadi sangat berkurang.

Spesies pertama yang menghuni saluran pencernaan ayam adalah kelompok bakteri Coliform dan Sterptococcus fecal, yang melimpah pada hari ketiga setelah menetas. Mikrobiota usus kecil terbentuk pada usia sekitar dua minggu. Pada hari ke-40, Lactobacillus mendominasi mikroflora usus kecil. Mikrobiota cecal terbentuk dalam waktu 6-7 minggu dan didominasi oleh mikroba anaerobik fakultatif dan obligat, yang terdiri dari Clostridia, Enterobacteria, Streptococci fecal, Pediococci, dan Pseudomonas aeruginosa. Peningkatan komposisi dan kompleksitas mikroba pada saluran pencernaan bagian distal menyebabkan fluktuasi komposisi mikroba fecal.

Mikrobiota di Crop
Tembolok menampung komunitas bakteri besar yang terdiri dari sel bakteri dengan urutan 1 × 108 hingga 1 × 109 CFU g−1. Tembolok ini didominasi oleh bakteri gram positif seperti Lactobacillus spp. Spesies bakteria lain yang dikoleksi dari tembolok termasuk Bifidobacterium, Klebsiella pneumoniae, K. ozaenae, Escherichia coli, E. fergusonii, Enterobacter aerogenes, Eubacterium spp., Pseudomonas aeruginosa, Micrococcus luteus, Staphylococcus lentus, dan Sarcina spp.

Mikrobiota tembolok memfermentasi serat makanan menjadi asam lemak rantai pendek atau Short Chain Fatty Acid (SCFA). Asetat adalah SCFA utama dalam tanaman. SCFA menurunkan pH tanaman untuk menghambat pertumbuhan patogen yang berkoloni dan berkembang biak pada pH netral atau sedikit basa.

Mikrobiota di Proventrikulus dan Gizzard
Proventrikulus dan gizzard memiliki pH asam yang tidak ideal untuk kolonisasi mikroba. Asam lambung dapat menembus membran sel mikroba sehingga mengakibatkan penurunan pH intraseluler dan terganggunya gaya gerak proton trans-membran. Demikian pula asam laktat dan asam asetat mencegah kolonisasi patogen yang sensitif terhadap pH asam.

Lactobacilli merupakan spesies dominan pada proventrikulus dan gizzard. Enterobacteria laktosa-negatif, Enterococci, dan bakteri Coliform juga banyak ditemukan di proventrikulus dan gizzard. Konsentrasi bakteri dalam gizzard sama dengan tembolok, namun fermentasi bakteri terhambat oleh pH asam yang mengakibatkan penurunan konsentrasi asetat dan laktat dalam gizzard.

Mikrobiota di Usus Halus
Konsentrasi bakteri di usus kecil kira-kira... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2024.

Ditulis oleh:
Drh Bayu Sulistya
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
JL. DR SAHARJO NO. 264, JAKARTA
Tlp: 021-8300300

MEMBUAT SALURAN PENCERNAAN BEKERJA OPTIMAL

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Dok. Infovet)

Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak sekali tantangan yang dihadapi peternak masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Lebih berbahaya lagi ketika keduanya berkomplikasi.

Seperti yang pernah dialami peternak broiler kemitraan asal Rumpin, Kabupaten Bogor, Supendi. Ketika kebijakan pakan non-AGP mulai diberlakukan dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin rumit karena juga diperparah cuaca ekstrem, sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat anti-diare, nah setelah jalan dua hari bukannya sembuh enggak tahunya malah diare berdarah. Gimana enggak panik? Saya langsung telepon TS obat, besoknya dateng konsultasi dan ternyata ayam saya kena koksi,” tutur Supendi.

Saat itu untungnya ayam sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badannya di bawah standar, Supendi langsung melakukan panen dini ketimbang merugi lebih dalam. Ia langsung berbenah mencari tahu penyebabnya.

“Pakan enggak bermasalah, air minum juga, semua aspek sudah saya penuhi. Tetapi memang mungkin saya teledor di cara pemeliharaan, memang beda ya ketika AGP sudah enggak boleh lagi digunakan, cara pelihara juga harus berubah,” ungkap dia.

Merubah Mindset, Benahi Manajemen
Dilarangnya AGP memang kerap dijadikan kambing hitam. Tidak semua orang seperti Supendi, memiliki pemikiran positif dan mau merubah tata cara budidayanya. Di luar sana masih banyak peternak yang sangat yakin bahwa AGP adalah “dewa” yang harus hadir di setiap pakan unggasnya.

Nutrisionis PT Farmsco Indonesia, Intan Nursiam, mengakui bahwa saat ini mindset peternak harus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2023. (CR)

SEKALI LAGI SOAL GUT HEALTH

Gambar skematis struktur lapisan epitelium usus halus pada ayam modern, dimana terdapat bentukan kripta dan vili, serta sel-sel puncah dari zona kripta yang sudah mengalami proliferasi dan diferensiasi menjadi enterocytes, goblet cells, paneth cells dan enteroendocrine cells.

Oleh: Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant - Jakarta)

Pasca pelarangan penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promotors) dalam pakan, publikasi dan diskusi ilmiah terkait kesehatan saluran cerna (gut health) di tataran global maupun nasional seolah tak lekang oleh waktu.  Banyaknya faktor yang terlibat dan beragamnya interaksi antar faktor yang ada ternyata tidak mudah bagi seorang praktisi lapangan untuk melacak akar gangguan kesehatan saluran cerna yang kerap menerpa ayam modern. Tulisan singkat ini mencoba menelisik bagaimana secara alamiah sistem saluran cerna khususnya usus halus dalam menunaikan peranannya sebagai tempat proses pencernaan dan absorpsi nutrisi, serta sebagai bagian sistem pertahanan tubuh dalam menghadang laju patogen via mukosa.

Ditinjau dari sudut sistem pertahanan tubuh, permukaan selaput lendir (mukosa) dari saluran-saluran pernapasan, pencernaan (gastro-intestinal) dan reproduksi (oviduk) pada ayam modern dilindungi suatu lapisan sel-sel epitelium yang tidak hanya bertanggung jawab untuk mendeteksi keberadaan suatu mikroorganisme (komensal maupun patogen), tetapi juga penting peranannya untuk menginisiasi reaksi imunitas ayam dalam rangka mengontrol populasi serta aktivitas mikroba komensal dan/atau mikroorganisme (partikel) asing lainnya.

Itulah sebabnya, jika integritas lapisan epitelium terganggu oleh pelbagai sebab (misal heat stress), maka kondisi yang ada akan memperbesar peluang terjadinya sergapan patogen yang berada di sekitar mukosa karena lumpuhnya barier terdepan pertahanan tubuh tersebut.

Mukosa Saluran Cerna 
Pada dasarnya usus halus merupakan lokasi utama terjadinya proses pencernaan dan penyerapan bahan-bahan nutrisi bagi ayam modern. Sel-sel lapisan epitelium mukosa usus halus selain dapat bertindak sebagai “transporter” (pengangkut) unsur-unsur nutritif dari lumen usus ke dalam sistem sirkulasi dan melakukan sekresi beberapa enzim pencernaan serta hormon, juga berfungsi sebagai barier mekanis maupun imunofisiologis bagi bibit penyakit (patogen) melalui sekresi pelbagai molekul kimiawi seperti glikoprotein, lisosim ataupun defensin yang dapat membunuh patogen yang mengancam integritas dinding usus halus (Gilbert et al., 2007; Peterson et al., 2014).

Ditinjau dari sisi morfologisnya, lapisan epitelium mukosa usus halus tidak hanya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2023. (toe)

JANGAN REMEHKAN KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN

Menjaga kesehatan saluran cerna merupakan hal penting dalam rangka menjaga performa ayam, dari pertumbuhan maupun produktivitasnya. (Foto: Istimewa)

Menjaga kesehatan saluran pencernaan merupakan hal penting untuk dilakukan. Dalam rangka menjaga performa ayam, dari pertumbuhan maupun produktivitasnya. Pasalnya, pencernaan yang sehat membuat daya tahan penyakit meningkat. Saluran cerna sehat adalah cerminan daya tahan tubuh yang baik. Mengapa demikian? Karena hampir 70% komponen sistem kekebalan terdapat pada jaringan usus. Kondisi saluran pencernaan yang sehat dapat mencerna nutrisi yang ada dalam ransum. Apabila kesehatan pencernaan terganggu, pencernaan dan absorpsi nutrisi akan terpengaruh, sehingga kesehatan unggas, performa dan kesejahteraannya juga terganggu.

Adapun dampak ekonomis yang dirasakan sangat merugikan dari gangguan pencernaan pada ayam, seperti gangguan pertumbuhan, gangguan produksi telur, penurunan kuantitas dan kualitas bibit ayam yang dihasilkan dari satu breeding farm, adanya kematian, peningkatan jumlah ayam afkir, hingga penurunan efesiensi pakan. Namun demikian, yang juga tidak kalah pentingnya adalah terjadinya peningkatan biaya vaksinasi, pengobatan, sanitasi dan disinfeksi, serta biaya tenaga kerja.

Faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam sangat banyak dan dapat bersifat kompleks, mulai dari infeksi berbagai agen penyakit, rendahnya kualitas pakan, faktor budi daya (manajemen pemeliharaan), serta pengaruh iklim dan lingkungan.

Beberapa penyakit secara langsung dapat merusak dan mengganggu fungsi sistem pencernaan seperti Newcastle Disease (ND), Koksidiosis, Kolibasilosis, Kolera, Salmonelosis, Nekrotik Enteritis (NE), Infectious Stunting Syndrome, Helminthiasis. Beberapa penyakit atau faktor yang secara tidak langsung merusak fungsi organ pencernaan, akan tetapi memengaruhi perkembangan organ pencernaan diantaranya Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernapasan lain yang bersifat kronis, defesiensi nutrisi pakan, serta faktor praktik manajemen yang berpengaruh langsung pada kesehatan ayam.

Sistem Pencernaan Unggas
Saluran pencernaan adalah saluran yang terdiri dari beberapa organ yang masing-masing memiliki fungsi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2023.

Ditulis oleh:
Drh Bayu Sulistya
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
JL. DR SAHARJO NO. 264, JAKARTA
Tlp: 021-8300300

MALAPETAKA BILA TAK MENJAGA KESEHATAN SALURAN CERNA

Ancaman umum penyakit infeksius pada saluran pencernaan ayam. (Foto: Istimewa)

Saluran pencernaan merupakan suatu sistem organ yang mendukung suatu kehidupan mahluk hidup, termasuk unggas. Selain fungsinya yang vital untuk menunjang kehidupan, saluran pencernaan bisa menjadi malapetaka bagi ternak bila kesehatannya tidak terjaga dengan baik.

Kegiatan makan dan minum dilakukan mahluk hidup termasuk ayam dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang keberlangsungan hidup. Selain menunjang kehidupan, saluran pencernaan juga berkaitan dengan performa dan produksi ayam.

Kondisi saluran pencernaan yang sehat dibutuhkan untuk dapat mencerna nutrisi yang ada dalam pakan. Jika saluran pencernaan ayam mengalami gangguan, maka berisiko pada kesehatan dan performa tubuh. Oleh karena itu, perlu mengetahui manajemen yang tepat dan solusi untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan demi mencapai performa optimal.

Mengingat Kembali Fungsi Pentingnya
Saluran pencernaan merupakan organ yang berperan dalam menerima, mencerna dan menyerap nutrisi dari pakan, serta mengeluarkan sisa ransum yang tidak terserap. Kesehatan saluran pencernaan yang baik akan memberikan dampak signifikan pada pemanfaatan nutrisi pakan dalam tubuh ayam. Hal tersebut dijabarkan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Nahrowi.

Ia melanjutkan, saluran pencernaan memiliki vili usus yang panjang dan berbentuk menyerupai jari-jari di seluruh bagian usus yang berfungsi menyerap sari-sari makanan (nutrisi), yang menjulur dari dasar usus ke arah lumen usus dimana makanan akan dicerna dan diserap. Vili yang semakin panjang atau lebar akan meningkatkan area penyerapan nutrisi pada usus sehingga penyerapan nutrisi lebih optimal.

Saluran pencernaan ayam dimulai dari paruh dan berakhir di kloaka. Organ pada sistem pencernaan yaitu paruh, esofagus, tembolok, proventrikulus, ampela (gizzard), usus halus, usus buntu, usus besar dan kloaka. Saluran pencernaan juga dilengkapi beberapa organ aksesoris seperti hati, getah empedu dan pankreas.

Pada saluran pencernaan terdapat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2023. (CR)

KONSEP KESEHATAN USUS YANG (TERNYATA TIDAK) SESEPELE ITU

Foto: Istimewa

“Semua penyakit berawal dari usus/saluran pencernaan” kata Hippocrates, 460-370 SM. Apakah Anda setuju dengan pernyataan Hippocrates yang diutarakan jauh ratusan tahun sebelum masehi tersebut? Anda boleh setuju, boleh tidak. Namun kenyataannya jika berbicara lingkup spesies yang lebih kecil, ayam misalnya, mau tidak mau sepertinya saya setuju dengan pernyataan tersebut.

Dalam hubungan antara keberhasilan produksi dan kesehatan ayam, sangat lazim bahwa kebanyakan stakeholder menggolongkan dua faktor yang paling penting dan harus dijaga agar performa produksi tercapai dengan maksimal. Dua faktor tersebut adala kesehatan saluran pernapasan (beberapa menggunakan istilah respiratory integrity) dan kesehatan saluran pencernaan (gut health/gut integrity).

Fokus pada kesehatan saluran pencernaan. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita mendefinisikan gut health atau kesehatan usus? Istilah usus sudah jelas tetapi mengartikan kesehatan bisa menjadi tantangan tersendiri karena maknanya bisa sangat subjektif. Biasanya, kesehatan bisa diartikan sebagai kondisi tidak adanya penyakit. Kemudian kembali muncul pertanyaan, apakah hanya itu?

Dewasa ini, kesehatan usus didefiniskan sebagai kemampuan usus untuk melakukan fungsi fisiologisnya secara normal. Status kesehatan usus dihasilkan dari interaksi dinamis dari tiga komponen utama, mikrobioma, sistem kekebalan dan pengaruh eksternal, terutama nutrisi, mikroba, racun atau narkoba. Baru-baru ini, kesehatan usus alias gut health didefinisikan sebagai kemampuan usus untuk melakukan fungsi fisiologis normalnya, dimana mencakup fungsi mempertahankan homeostasis, sehingga mendukung kemampuannya untuk menghadapi faktor infeksius dan non-infeksius (Kogut et al., 2017).

Konsep kesehatan usus itu pula yang akhirnya membuat gagasan AGP digunakan pada masa lampau. AGP (antibiotic growth promotor) menjadi solusi yang sangat efisien dan efektif untuk mencapai status kesehatan usus meskipun pada akhirnya menimbulkan banyak pro dan kontra. Kita tahu selama beberapa dekade terakhir (atau bahkan lebih di beberapa negara), ada  kampanye global untuk mengurangi penggunaan antibiotik sebagai AGP dan mengadopsi pendekatan One Health untuk penggunaannya. Antibiotik yang sebelumnya sebagai pemacu pertumbuhan adalah imbuhan yang sangat berguna dan biasanya dianggap sebagai standar emas (gold standard) untuk membantu ternak mencapai potensi genetiknya.

Filsuf asal Jerman, Ludwig Feurbach (1848), pertama kali menyebutkan frase “We are what we eat”, kita adalah apa yang kita makan. Hal ini sepertinya benar adanya, karena kita sepakat pengaruh eksternal dimana salah satunya kondisi nutrisi yang mencakup jenis bahan baku yang digunakan, komposisi nutrisi, keseimbangan vitamin, makro dan mikro mineral dan lain sebagainya ternyata juga memberikan hasil yang berbeda pula dalam pertumbuhan hewan ternak.

Penggunaan AGP sekarang tidak lagi dilakukan. Mengurangi atau menghilangkan penggunaan AGP, bagaimanapun sering dikaitkan dengan terjadinya peningkatan insidensi gangguan usus. Memang masih ada beberapa kerancuan, tetapi jika total secara langsung melepas AGP (tanpa diiringi penambahan bahan pengganti) memang terdapat perubahan cukup signifikan terhadap kondisi usus.

Hal itu didukung beberapa parameter terkait jumlah mukosa, struktur dan fungsi epitel, gambaran vili-vili usus, jumlah bakteri koloni dalam usus, bahkan terdapat pula data terkait usus dan fungsinya sebagai organ imunitas (Broom, 2018).  Sehingga memahami hubungan antara pengaruh eksternal (nutrisi, faktor infeksius, lingkungan), faktor internal (mikrobiom/flora bakteri dalam usus) dan respon host (kondisi hewan) menjadi sangat penting untuk keberhasilan dalam mengurangi penggunaan antibiotik dalam pemeliharaan hewan ternak.

Usus yang baik dihuni oleh bakteri-bakteri yang membantu proses metabolisme dan pencernaan. Bakteri seperti bakteri asam laktat, bakteri yang memproduksi asam butirat, dan bakteri gram negatif seperti E. coli pun memiliki fungsi sendiri dalam habitat usus. Berbagai faktor telah dilaporkan memengaruhi pembentukan mikrobiota. Usia, makanan/diet dan obat-obatan umumnya dianggap sebagai faktor yang paling berpengaruh, tetapi sekarang faktor lingkungan, manajemen perkandangan, biosekuriti, litter/alas, semuanya telah terbukti ikut andil dalam keragaman mikrobiota usus. Pada tiga penelitian ditemukan hasil bahwa kontak dengan ayam dewasa memiliki pengaruh kuat pada komposisi mikrobiota usus anak ayam (Kubasova et al., 2019).

Penelitian lain juga menunjukkan faktor induk berpengaruh pada komposisi mikrobiota usus anak babi (PaBlack et al., 2015) dan penelitian lainnya menunjukkan bahwa usus hewan muda dipengaruhi pula oleh induk dan bisa jadi terkena mikroorganisme sebelum dilahirkan (babi) dan ditetaskan (unggas) (Leblois et al., 2017; Lee et al., 2019).

Respon host sendiri berarti kaitan saluran pencernaan dengan sistem organ yang lain, seperti contoh jika host/hewan ternak kita ternyata memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, pastilah ada efek yang ditimbulkan juga pada status kesehatan usus. Sehingga nantinya akan muncul pertanyaan, mana yang duluan mengganggu?

Akhirnya, kita dapat melihat sejumlah konsep komersial yang dikembangkan untuk mendukung topik ini, bahkan sekarang sudah banyak sekali berbagai jenis produk dan layanan yang tersedia di pasaran. Tujuan utama untuk mencapai status “healthy gut” yang menjadi fokus industri di era penggunaan antibiotik yang lebih bijaksana saat ini diantaranya meliputi penyediaan kandang pemeliharaan yang lebih modern, program vaksinasi dan kesehatan ternak, pencegahan penyakit imunosupresif, kesehatan induk, pemberian imbuhan non-AGP untuk ternak, nutrisi yang optimal serta terjangkau dan lain sebagainya.

Dua halaman sepertinya memang tidak akan cukup untuk membahas kesehatan usus yang ternyata tidak sesepele itu. Namun pada prinsip dan praktiknya, poin-poin penting terkait faktor eksternal, internal dan respon host harusnya sudah cukup mudah untuk diterapkan dengan pemahaman yang lebih sederhana. Seperti misalnya jika pada ayam broiler, jika pakan yang diberikan baik, manajemen pemeliharaan dan kesehatan baik, sumber indukan baik (sehingga DOC juga sehat), akan menghasilkan performa maksimal. ***

Ditulis oleh:
M. Yulianto (Ian) Wibowo
T&S Manager Anpario Biotech Indonesia,
dokter hewan dan peternak ayam broiler

MENGOPTIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Tantangan yang dihadapi peternak di masa kini amatlah banyak. Masalah pada saluran pencernaan merupakan persoalan klasik, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Lebih parah lagi ketika keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah di lapangan.

Sunardi peternak broiler kemitraan asal Tegal mengerti betul hal itu. Ketika kebijakan pakan non-AGP dimulai, dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin menjadi rumit, karena juga diperparah dengan cuaca ekstrem.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat anti diare, nah setelah jalan dua hari bukannya sembuh tapi malah diare berdarah gitu. Gimana enggak panik saya. Saat itu langsung telepon TS obat untuk konsultasi dan ternyata ayam saya kena koksi,” tutur Sunardi.

Saat itu untungnya ayam sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badannya di bawah standar, Sunardi langsung buru-buru melakukan panen dini ketimbang merugi. Ia juga langsung berbenah, semua aspek yang berkaitan dengan kasus langsung ia perbaiki dan mencari penyebabnya.

“Pakan ternyata enggak bermasalah, air minum juga, semua aspek saya sudah penuhi. Tetapi mungkin saya teledor di cara pemeliharaan, memang bedaya ketika AGP sudah enggak boleh lagi digunakan cara pelihara juga harus berubah,” ucapnya.

Merubah Mindset
Dilarangnya AGP kerap kali dijadikan alasan peternak di lapangan terkait masalah yang mereka alami. Tidak semua orang seperti Sunardi, memiliki pemikiran positif dan mau merubah tata cara budidayanya. Karena masih banyak peternak yang sangat yakin bahwa AGP adalah “dewa” yang harus ada di setiap pakan unggasnya.

Country Manager PT Alltech Indonesia, Drh Akhmad Harris Priyadi, mengakui bahwa saat ini mindset dari peternak harus diubah terkait pakan. “Semua produsen pakan pasti berlomba-lomba dengan keadaan yang ada saat ini tentang bagaimana menggantikan AGP dengan formulasi yang terbaik. Masalahnya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2022. (CR)

MENJAGA SALURAN PENCERNAAN TETAP AMAN

Kualitas bahan baku pakan memengaruhi saluran pencernaan. (Foto: Istimewa)

Mengapa saluran pencernaan memegang peran penting? Hakikatnya makhluk hidup memang butuh makan. Perlu diingat bahwa salah satu ciri dari makhluk hidup adalah butuh makan dan minum dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang keberlangsungan hidup.

Menjaga Efisiensi
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Seringkali didengar dalam seminar, kolokium dan lain sebagainya, bahwa persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya ayam broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini mereka sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang sangat banyak dalam kurun waktu tertentu.

Livestock Technical Manager PT Deheus Indonesia, Kokot Februhadi, dalam suatu webinar mengamini pernyataan di atas. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, mereka boleh saja kita sebut monster, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya. 

Namun diakui bahwa walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan peternak terutama masalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2022. (CR)

PENCERNAAN BERMASALAH, PRODUKSI GOYAH

Secara keseluruhan status kesehatan saluran pencernaan ayam yang buruk akan menimbulkan kerugian ekonomi sangat serius. (Foto: Istimewa)

Untuk mencapai target produktivitas ayam pedaging maupun petelur, kesehatan saluran pencernaan harus selalu mendapat perhatian serius agar puncak kemampuan genetik ayam dapat tercapai. Dengan semakin tingginya produktivitas ini, ayam menjadi semakin sensitif terhadap perubahan lingkungan dan ancaman penyakit, sehingga membutuhkan manajemen kesehatan saluran pencernaan yang lebih baik.

Penyakit saluran pencernaan menimbulkan kematian dan gangguan produksi daging maupun telur, meningkatkan jumlah ayam yang harus diafkir, meningkatkan nilai konversi pakan dan menurunkan daya tanggap kebal ayam. Secara keseluruhan, status kesehatan saluran pencernaan ayam yang buruk akan menimbulkan kerugian ekonomi sangat serius. Oleh sebab itu, berbagai ancaman penyakit terhadap kesehatan saluran pencernaan yang berasal dari virus, bakteri, parasit maupun jamur perlu dihilangkan atau dibatasi perkembangannya.

Faktor-faktor pendukung terjadinya penyakit gangguan pencernaan antara lain:

• Iklim dan cuaca. Fluktuasi temperatur atau kelembapan akan meningkatkan stres pada ayam, terutama pada kandang sistem terbuka, sehingga sensitivitas terhadap gangguan penyakit menjadi tinggi.

• Kualitas air minum. Pada peternakan yang menggunakan air permukaan karena sulitnya mendapat air tanah yang dalam, kualitas air minum merupakan masalah utama yang sering menjadi faktor pendukung utama timbulnya penyakit, terutama jumlah koliform yang di atas ambang normal.

• Kualitas pakan. Bahan baku pakan asal biji-bijian yang tidak dikelola dengan baik dapat diganggu dengan tumbuhnya jamur yang menghasilkan toksin.

Program Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Saat ini ancaman penyakit semakin kompleks, sehingga program kesehatan dan pencegahan penyakit semakin banyak dan membutuhkan biaya tinggi, oleh sebab itu harus dilakukan pemilihan program kesehatan dan biosekuriti yang tepat dan efisien.

Lakukan antisipasi dan penanggulangan permasalahan pencernaan di lapangan. Beberapa hal berikut wajib diperhatikan dalam upaya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2022.

Ditulis oleh:
Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

GANGGUAN PENCERNAAN PADA AYAM, PENYEBAB PERFORMA TIDAK OPTIMAL DAN PRODUKSI GOYAH

Gangguan pencernaan akan sangat merugikan karena berpengaruh pada pertumbuhan dan produktivitas ayam yang tidak optimal. (Foto: Istimewa)

Gangguan pencernaan ayam merupakan kondisi yang terjadi karena adanya masalah pada salah satu organ pada sistem pencernaan. Sistem pencernaan ayam bekerja menyerap nutrisi dalam pakan sehingga mampu memenuhi kebutuhan ayam. Selain itu sistem pencernaan juga bertugas memisahkan dan membuang bagian makanan yang tidak bisa dicerna dan tidak dibutuhkan dalam tubuh. Sehingga gangguan pencernaan akan sangat merugikan karena berpengaruh pada pertumbuhan dan produktivitas ayam yang tidak optimal.

Ayam mempunyai saluran pencernaan yang sederhana, yaitu terdiri dari paruh/rongga mulut, esofagus, tembolok, proventrikulus, ventrikulus, gizzard usus halus, seka, usus besar dan kloaka, serta dilengkapi kelenjar tambahan, yaitu hati, pankreas dan kantung empedu. Proses pencernaan pada ayam dimulai dari paruh yang memiliki fungsi untuk membantu pakan menuju esofagus. Esofagus berfungsi untuk meneruskan pakan yang masuk melalui paruh kemudian disalurkan menuju tembolok melalui gerakan peristaltik. Tembolok berfungsi sebagai tempat penyimpanan pakan sementara. Proventikulus terjadi proses pencernaan pencampuran makanan dengan getah lambung (HCL dan pepsin), selanjutnya makanan digiling dalam gizzard. Ventrikulus berfungsi untuk memecah dan menggiling partikel-partikel berukuran besar menjadi lebih kecil, halus dan lunak untuk memudahkan proses pencernaan selanjutnya.

Usus halus secara anatomis dibagi menjadi tiga bagian, yaitu duodenum, jejenum dan ileum yang memiliki fungsi sebagai tempat penyerapan (absorpsi) sari-sari makanan. Seka atau sekum merupakan tempat terjadinya proses pencernaan fermentatif. Usus besar memiliki fungsi untuk proses penyerapan air berperan sebagai lubang pengeluaran sisa pencernaan. Hati berfungsi untuk menetralkan kondisi asam dalam saluran usus, mengawali pencernaan lemak dengan membentuk emulsi dan detoksifikasi senyawa bersifat racun. Pankreas memiliki fungsi untuk menghasilkan enzim-enzim pankreatin, enzim-enzim tersebut yaitu trypsin, chymotrypsin, carboxypeptidase A dan B dan elastase (Pertiwi, 2017).

Ada banyak penyebab gangguan pencernaan bisa terjadi, beberapa diantaranya dijelaskan sebagai berikut:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2022.

Ditulis oleh:
Ir Syamsidar SPt MSi IPU
Marketing Support PT Sanbio Laboratories

SERI IMBUHAN PAKAN (BAGIAN 3) - ACIDIFIER (PENGASAM): SIFAT, MEKANISME DAN PENGARUHNYA

Asam organik sederhana umumnya berbentuk cairan sehingga larut dalam air dan dapat digunakan dalam air minum ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Salah satu bahan alternatif pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) yang banyak dipasarkan adalah acidifier atau pengasam. Bahan yang digunakan umumnya adalah asam organik yang bersifat asam lemah dibanding asam in-organik yang bersifat asam kuat seperti asam sulfat atau asam klorida.

Mekanisme asam organik dalam menghambat pertumbuhan mikroba berbeda dengan asam kuat yang hanya menurunkan pH. Oleh karena itu, perlu dijelaskan mengenai sifat dan mekanisme asam organik, penggunaannya beserta pengaruhnya terhadap terhadap ternak.

Kimia dan Sifatnya
Asam organik umumnya dicirikan dengan adanya gugus karboksilat dalam struktur kimianya. Berdasarkan strukturnya ada asam organik dengan gugus karboksilat sederhana (hanya satu), seperti asam formiat, asetat, propionat dan butirat, atau gugus karboksilat yang dikombinasi dengan gugus hidroksi seperti asam malat, tartarat, sitrat, laktat, atau gugus karboksilat beserta ikatan rangkap seperti asam fumarat dan sorbat.

Asam organik sederhana umumnya berbentuk cairan sehingga larut dalam air dan dapat digunakan dalam air minum ternak. Tetapi karena mudah menguap, sering kali dibuat menjadi garam natrium atau kalsium sehingga menjadi bentuk padatan dan dapat dicampur dalam pakan ternak.

Asam fumarat dan sitrat umumnya berbentuk padatan. Asam sitrat dapat larut dalam air tetapi asam fumarat hanya sedikit larut dalam air. Meskipun demikian, kebanyakan asam-asam ini dibuat garamnya agar meningkatkan kelarutan, seperti asam fumarat dapat ditingkatkan kelarutan dalam air dengan mereaksikan menjadi garam natrium. Apabila direaksikan menjadi garam kalsium, maka kelarutannya jauh lebih rendah. Sifat kelarutan ini penting untuk dipertimbangkan dalam penggunaannya karena pengasam bekerja dalam saluran pencernaan yang sifatnya mesti larut dalam air. Hampir semua enzim pencernaan bersifat hidrolisis yang bekerja dalam larutan. Kelarutan asam organik juga berpengaruh terhadap pH dan konstanta keseimbangan (pKa) sangat berperan dalam aktivitas atau kemampuan asam organik dalam memengaruhi mikroba usus.

Beberapa asam organik berbau juga berpengaruh terhadap ternak dan pekerja yang menggunakannya ketika akan dicampur ke dalam pakan. Oleh karenanya, asam organik jenis ini banyak direaksikan menjadi garamnya untuk mengurangi penguapan. Disamping rekasi kimia dalam bentuk garam. Teknologi lain yang dapat mengurangi penguapan adalah “coating” atau pelingkupan menggunakan minyak, sehingga asam organik seperti molekul yang dilingkupi minyak menjadi tidak mudah menguap.

Mekanisme Kerja
Kesehatan usus memegang peranan penting pada ternak karena usus merupakan tempat penyerapan zat gizi dan juga terbentuknya zat kekebalan untuk menangkal penyakit. Mikroba dalam usus juga berperan dalam kesehatan usus dan jenis maupun jumlah mikroba akan dipengaruhi oleh kondisi dalam usus.

Salah satu faktor lingkungan yang berperan adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022.

Ditulis oleh:
Prof Budi Tangendjaja
Konsultan Nutrisi Ternak Unggas

WEBINAR PENGENDALIAN PENYAKIT BERSAMA NOVINDO DAN IMA

Webinar “Launching Sangrovit WS: Research for Intestinal Integrity” yang diselenggarkan PT Novindo Agritech Hutama bersama PT Indovetraco Makmur Abadi (IMA). (Foto: Infovet/Ridwan)

Faktor kesehatan ternak menjadi hal utama dalam peningkatan produktivitas dan pengendalian patogen. Hal itu dibahas dalam webinar “Launching Sangrovit WS: Research for Intestinal Integrity” yang diselenggarkan PT Novindo Agritech Hutama bersama PT Indovetraco Makmur Abadi (IMA), Selasa (10/12/2021).

Researcher of Prof Nidom Foundation, Prof Dr Drh C. A. Nidom MS, selaku pembicara langsung membahas kontrol sitokin melalui penggunaan fitogenik. Dijelaskan, sitokin menjadi perhatian penting khususnya pada infeksi penyakit. Sitokin sendiri merangsang terbentuknya antibodi, namun perubahan sitokin yang berlebihan (banjir sitokin) menjadi sulit dikendalikan dan menyebabkan terjadinya inflamasi.

“Peradangan suatu patogen jelas merugikan, saat merusak sel untuk memperbanyak diri secara tidak sengaja patogen memengaruhi kesehatan host-nya. Adanya infeksi ini akan memicu rilisnya sitokin. Kinerja sitokin untuk memengaruhi organ lain bisa memberatkan gejala yang dialami hospes, sehingga memberikan efek penurunan performa,” ujar Nidom.

Untuk menghambat inflamasi, ia mengemukakan penggunaan fitogenik bisa memberikan efek pada ayam. Dijelaskan Nidom, senyawa aktif fitogenik bisa bekerja sebagai anti-inflamasi yang dapat menekan produksi sitokin dan menghindari terjadinya banjir sitokin.

“Juga sebagai antimikroba yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan merangsang pertumbuhan bakteri komensal pada usus. Kemudian juga sebagai antioksidan yang menghambat produksi Oksida Nitrat (NO) dan aktivitas NFKB,” jelasnya. Lebih lanjut, apabila sistem imun terjaga dengan baik pada saluran tubuh dan saluran pencernaan, tentu akan meningkatkan performa dan kualitas protein untuk dikonsumsi.

Hal tersebut juga diamini oleh Dr Tobias Steiner yang merupakan expert gut health, phytogenics and natural growth promoter, yang menjadi pembicara kedua. Tobias secara mendalam membahas mengenai penggunaan produk alami dari isoquinoline alkaloids (IQs) untuk mengatasi inflamasi pada saluran pencernaan.

Dijelaskan pula oleh Tobias, bahwa pemberian IQs tersebut pada ternak ayam mampu menstabilkan integritas usus, memberikan maintenance pada feed intake, meningkatkan performa ternak dan mereduksi stres yang dapat memengaruhi kesehatan ternak. (RBS)

MENEKAN GANGGUAN PENCERNAAN

Upaya menekan gangguan pencernaan pada ayam yang disebabkan agen infeksius maupun tidak, dalam penanganannya harus bersifat terpadu dan komprehensif. (Foto: Dok. Infovet)

Sampai saat ini masih banyak peternak yang mengeluhkan terjadinya gangguan pencernaan yang berakibat pada menurunnya produktivitas ayam yang dipeliharanya. Berbagai bentuk gangguan pencernaan tersebut dapat berupa meningkatnya konversi pakan, pertumbuhan terlambat, keseragaman berat badannya rendah dan terjadinya gangguan produksi seperti tertundanya waktu produksi, pencapaian puncak produksi tidak maksimal, ketahanan lamanya puncak produksi relatif singkat, serta pola produksi cenderung berfluktuasi.

Faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam sangatlah banyak dan dapat bersifat kompleks, yakni mulai dari infeksi berbagai agen penyakit, rendahnya kualitas pakan, faktor budi daya terkait manajemen pemeliharaan, serta pengaruh iklim dan lingkungan sekitar/dalam lokasi peternakan. Mengenai mekanisme terjadinya problem pencernaan pada ayam dapat berupa terjadinya gangguan perkembangan organ terkait dengan sistem pencernaan dan gangguan fungsi akibat terjadinya kerusakan secara langsung pada organ pencernaan yang bersifat vital.

Beberapa penyakit yang secara langsung dapat merusak dan mengganggu fungsi sistem pencernaan diantaranya Newcastle Disease (ND), Koksidiosis, Kolibasilosis, Kolera, Salmonellosis, Nekrotik Enteritis (NE), Infectious Stunting Syndrome, Helminthiasis.

Beberapa penyakit atau faktor yang secara tidak langsung merusak fungsi organ pencernaan, akan tetapi mempengaruhi perkembangan organ pencernaan, diantaranya Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernapasan lain yang bersifat kronis, defisiensi nutrisi pakan, serta faktor yang berhubungan dengan praktik manajemen yang berpengaruh langsung pada kesehatan ayam.

Penanggulangan di Lapangan
Upaya menekan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam yang disebabkan oleh agen infeksius maupun yang tidak bersifat infeksius, dalam penanganannya haruslah bersifat…

Oleh: Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

UPAYA MENGOPTIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Istimewa)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak sekali tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Lebih kece lagi ketika keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang epic di lapangan.

Seperti yang pernah dialami oleh Supendi peternak broiler kemitraan asal Bogor. Ketika kebijakan pakan non-AGP (Antibiotic Growth Promoter) mulai diberlakukan, dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin menjadi rumit, karena kemudian diperparah dengan cuaca ekstrem.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat anti-diare, setelah jalan dua hari bukannya sembuh namun malah diare berdarah gitu. Saya langsung telepon TS obat, besoknya dateng konsultasi dan ternyata ayam saya kena Koksi,” tutur Supendi.

Saat itu untungnya ayam sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badannya di bawah standar, Supendi langsung melakukan panen dini ketimbang merugi lebih lanjut. Ia pun langsung berbenah dan mencari tahu penyebabnya.

“Pakan sih tidak bermasalah, air minum juga, semua aspek saya sudah penuhi. Tetapi memang mungkin saya teledor di cara pemeliharaan. Memang beda ya ketika AGP sudah tidak boleh lagi digunakan, cara pelihara juga harus berubah,” ucap dia.

Mindset Harus Diubah
Dilarangnya AGP kerap kali dijadikan kambing hitam oleh peternak di lapangan terkait masalah yang mereka alami. Tidak semua orang seperti Supendi, memiliki pemikiran positif dan mau merubah tata cara budidayanya. Di luar sana banyak peternak sangat yakin bahwa AGP adalah “dewa” yang harus hadir disetiap pakan unggasnya.

Nutrisionis PT Farmsco Indonesia, Intan Nursiam, mengakui bahwa saat ini mindset peternak harus diubah terkait pakan. “Semua produsen pakan pasti berlomba-lomba dengan keadaan yang ada saat ini tentang bagaimana menggantikan AGP dengan formulasi yang terbaik. Masalahnya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021. (CR)

MENGURANGI GANGGUAN SALURAN PENCERNAAN

Kualitas bahan baku pakan mempengaruhi saluran pencernaan. (Foto: Istimewa)

Untuk tetap hidup suatu organisme termasuk hewan ternak butuh nutrisi. Nutrien didapat dari pakan dan minum yang kemudian digunakan untuk beraktivitas termasuk produksi. Namun, nutrisi terbaik saja tidak cukup, organ-organ pencernaan juga harus dijaga kesehatannya agar nutrisi yang terserap maksimal.

Mengapa saluran pencernaan memegang peran penting? Karena sudah menjadi hakikatnya makhluk hidup memang butuh makan. Perlu diingat bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah butuh makan dan minum dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang hidup. Organ pencernaan memegang peranan penting dalam mengolah makanan yang dimakan menjadi nutrisi yang nanti akan digunakan untuk keperluan hidup.

Efisiensi Nutrisi
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup. Seringkali didengar dalam seminar, kolokium dan lain sebagainya, bahwa persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Efisiensi dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut kerap ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, ayam broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini mereka sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa terjadi pada ayam petelur yang genetiknya berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur sangat banyak dalam kurun waktu tertentu.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Komang Wiryawan, mengatakan bahwa kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun begitu ayam modern memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, mereka boleh saja kita sebut monster, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Pun begitu, beliau mengakui bahwa walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres, kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kondisi kurang layak ayam juga sakit, lalu mati berjamaah,” ungkapnya.

Oleh karenanya, perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharan terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan juga harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres, gampang kena penyakit. Belum lagi kalau pakannya terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentunya akan makin parah,” jelas dia.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen juga turut berperan, tetapi ia menekankan yang terpenting adalah kualitas dan kuantitas nutrisi. “Ini hubungannya dengan efisiensi, orang kadang lupa kalau fungsi saluran pencernaan itu penting, walaupun kalau di broiler... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021. (CR)

URGENSI MENJAGA KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN PADA UNGGAS

Kesehatan saluran pencernaan unggas, penting untuk dijaga

Sistem penceraan pada unggas merupakan salah satu komponen penting yang dapat mempengaruhi performa. Untuk itu sangat penting agar saluran pencernaan ternak unggas dalam keadaan sehat agar performa tetap prima.

PT Sehat Cerah Indonesia bersama principal-nya Norel Animal Nutrition menggelar webinar tentang urgensi kesehatan saluran pencernaan unggas pada Rabu (28/7) yang lalu melalui daring Zoom Meeting. Webinar yang bertemakan "A healthy gut : The Key In Maximizing Genetic Potential" tersebut menghadirkan Prof. Budi Tangendjaja dan Allan Junsay sebagai narasumber.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Budi Tangendjaja yang merupakan peneliti BALITNAK dan konsultan nutrisi ternak menjadi pembicara pertama. Presentasinya membahas lebih dalam mengenai konsep menyehatkan saluran pencernaan unggas, terlebih lagi pada masa kini dimana antibiotik sudah dilarang digunakan sebagai growth promoter

Dirinya juga sedikit menyinggung kebijakan dilarangnya AGP yang pada 2018 lalu, dimana menurut Prof. Budi yang seharusnya dilarang bukanlah penggunaan AGP, melainkan peningkatan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik sebagai medikasi yang masih serampangan di lapangan.

"AGP bekerja lokal pada saluran cerna saja, tidak diserap sampai ke daging. Berbeda dengan antibiotik yang memang digunakan untuk pengobatan, kalau tidak tepat penggunaannya pasti akan terjadi residu dan menyebabkan kerugian bagi manusia. Sudah begitu, bakteri juga jadi resisten terhadap antibotik seperti yang sekarang lagi ramai - ramainya diberitakan di Kompas tuh," tutur Prof. Budi.

Prof. Budi juga menyinggung masalah lain berkaitan dengan pelarangan AGP dan kesehatan saluran pencernaan, yakni pentingnya penerapan biosekuriti yang baik di farm. Dirinya berkata bahwa salah satu cara meningkatkan performans dikala AGP dilarang yakni dengan meningkatkan dan mengaplikasikan program biosekuriti yang baik di farm, itulah poin utamanya. Sisanya yakni bagaimana kita cermat memilih bahan apa yang dapat digunakan dalam menggantikan AGP.

Pada presentasinya juga Prof. Budi mengkaji lebih dalam terkait penggunaan asam butirat sebagai pengganti AGP. Disitu beliau menekankan agar sebaiknya penggunaan asam butirat dalam pakan sebaiknya menggunakan sediaan yang sudah dienkapsulasi. Karena selain mencegah baunya yang menyengat, penggunaan asam butirat dalam bentuk raw biasanya tidak akan menunjukkan efek apa - apa karena asam butirat dapat dinetralisasi di dalam pakan baik oleh komposisi lainnya dan pemrosesan.

Presentasi kedua dibawakan oleh Allan Junsay yang merupakan Technical Support Manager Norel Animal Nutrition Asia Pacific. Allan mendalami lebih jauh mengenai penggunaan asam butirat dalam ransum ternak, terutama unggas dan monogastrik.

Kata Allan, salah satu fungsi dari asam butirat yakni efek bakterisidal yang cukup luas baik pada bakteri gram negatif maupun positif. Selain itu secara umum dijelaskan oleh Allan bahwa asam butirat juga dapat meningkatkan kesehatan saluran cerna melalui berbagai fungsi yakni memperpanjang ukuran villi usus, memperkuat tight junction pada usus, meningkatkan produksi sel mucin, yang berujung pada meningkatnya sistem imun pada saluran pencernaan.

Hal ini tentunya menurut Allan bukan hal yang sembarangan diklaim olehnya. Norel Animal nutrition beserta jajaran ahlinya telah melakukan penelitian mendalam terkait penggunaan asam butirat pada ternak terutama unggas. Oleh karenanya ia juga menyarankan agar peternak dan formulator yang bingung dalam memilih substituen AGP untuk mencoba beralih menggunakan asam butirat terutama yang diproduksi oleh Norel Animal Nutrition. (CR)

PENCERNAAN SEHAT PERFORMA HEBAT

Kualitas bahan baku pakan mempengaruhi saluran pencernaan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam kehidupannya makhluk hidup apapun termasuk ternak butuh nutrisi. Nutrien didapat dari makanan dan minuman yang kemudian digunakan untuk beraktivitas termasuk produksi. Namun nutrisi terbaik saja tidak cukup, organ-organ pencernaan juga harus dijaga kesehatannya agar nutrisi yang terserap dapat dimaksimalkan.

Mengapa saluran pencernaan memegang peran penting? Hakikatnya makhluk hidup memang butuh makan. Perlu diingat bahwa salah satu ciri dari makhluk hidup adalah butuh makan dan minum dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang keberlangsungan hidup.

Menjaga Efisiensi
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Seringkali didengar dalam seminar, kolokium dan lain sebagainya, bahwa persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%. 

Kembali diingatkan bahwa siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan. 

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, ayam broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini mereka sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang sangat banyak dalam kurun waktu tertentu.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Sumiati, pernah mengatakan dalam suatu acara seminar terkait pernyataan di atas. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan yang lebih cepat, namun begitu ayam modern memiliki kekurangan.
“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, mereka boleh saja kita sebut monster, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” kata Sumiati. 

Pun begitu, beliau mengakui bahwa walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap kali datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kondisi kurang layak ayam juga sakit, lalu mati berjamaah,” jelasnya.

Oleh karenanya, perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan juga harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit karena itu. Belum lagi kalau pakannya terkontaminasi oleh zat yang bahaya seperti mikotoksin, tentunya akan makin parah,” ucap dia.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen juga turut berperan, tetapi ia menekankan bahwa yang terpenting adalah… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020) (CR)

CLOSTRIDIOSIS, UPDATE PROBLEM UTAMA SALURAN PENCERNAAN PADA BROILER MODERN

Clostridiosis adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium sp. yang sangat mengganggu fungsi saluran pencernaan dalam menyerap nutisi/zat gizi yang terkandung dalam pakan. (Foto: Dok. Infovet)

Kesehatan saluran pencernaan ayam dalam satu tahun terakhir ini seolah-olah menjadi sesuatu yang tidak pernah membosankan untuk didiskusikan dan bahkan ini menjadi trending pembicaraan di dunia perunggasan paska implementasi regulasi pemerintah terkait pembatasan penggunaan antibiotik tertentu dan pelarangan penggunaan antibiotik sebagai pemicu pertumbuhan (growth promoter).

Bagaimana tidak, berasal dari saluran pencernaan yang sehat maka penyerapan nutrisi/zat gizi yang berasal dari pakan akan berjalan secara optimal. Dampak dari kondisi tersebut tidak hanya sekedar ayam akan tumbuh lebih optimal, namun juga lebih tahan terhadap serangan penyakit ataupun kondisi stres, baik oleh cuaca ataupun perlakuan tata laksana pemeliharaan yang kurang standard. Sebagus apapun komposisi nutrisi dari formula suatu pakan tertentu hanya akan memberikan kontribusi positif terhadap kesehatan ayam dan pertumbuhannya apabila dapat terserap sempurna. Hal tersebut bisa terjadi apabila saluran pencernaan dalam kondisi yang sehat dan tumbuh optimal.

Clostridiosis adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Clostridium sp. yang sangat mengganggu fungsi saluran pencernaan dalam menyerap nutisi/zat gizi yang terkandung dalam pakan. Bakteri ini termasuk bakteri gram positif, berkapsul, berbentuk batang dan bersifat anaerob dimana bakteri ini akan hidup dan bekembang lebih pesat saat kandungan oksigen dalam jaringan konsentrasinya rendah (hipoksia).

Pada fase vegetatif, bakteri ini mampu menginfeksi jaringan ayam dan selanjutnya memproduksi sitotoksin perusak jaringan (Oakley, et al., 2014). Ada dua macam jenis clostridium yang termasuk dominan menyerang ayam broiler modern, yakni Clostridium collinum (selain menyebabkan radang pada usus/enteritis, juga menyebabkan adanya warna kebiruan pada ujung sayap/blue wing disease) dan Clostridium perfringens yang tidak hanya bisa menyebabkan enteritis, namun juga bisa menyebabkan radang parah bahkan mengalami kematian sel/jaringan (gangrenous dermatitis) di lapisan kulit. Tingginya kasus enteritis sebagai gejala dominan dari kasus ini sering disebut sebagai NE (Necrotic enteritis), dimana radang pada usus menciri dengan adanya nekrosis (kematian sel) yang terjadi di sepanjang saluran pencernaan.

Bakteri ini resisten terhadap kebanyakan desinfektan. Merupakan mikroba lingkungan (ubiquitous microorganism) yang terdapat di dalam tubuh ayam, lingkungan, air minum, bahkan beberapa dijumpai dalam jumlah kecil di peralatan sarana pemeliharaan ayam. Sebagian besar bakteri tersebut dalam bentuk spora, dimana pada situasi anaerob maka akan berubah menjadi bentuk vegetatif.

• Faktor pencetus berulahnya Clostridium sp. di saluran pencernaan
a. Karakter broiler modern (dengan kecepatan tumbuh yang tinggi) cenderung lebih mudah mengalami gangguan pencernaan dengan adanya gangguan keseimbangan mikroflora usus. Kecepatan pertumbuhan broiler modern ini mempunyai... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020)

Eko Prasetio, DVM
Private Broiler Commercial Farm Consultant

KORELASI ANTARA MUSIM PENGHUJAN DENGAN PENYAKIT PENCERNAAN

Cuaca saat ini cenderung sulit diprediksi dan berubah-ubah, kondisi ini membawa dampak terhadap penurunan performa produksi ayam broiler. (Sumber: Animal Equality)

Berdasarkan info dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terbaru, bahwa perkiraan anomali musim penghujan sudah terpredisksi dari akhir tahun (sekitar Oktober 2019) hingga awal 2020 (berkisar Januari-Februari 2020), dengan puncak musim hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari hingga Februari.

Cuaca saat ini cenderung sulit diprediksi dan berubah-ubah. Kondisi ini tak pelak juga membawa dampak terhadap penurunan performa produksi ayam broiler. Di sisi lain, genetik ayam pedaging modern saat ini memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap suhu lingkungan dan DOC baru bisa mengatur suhu tubuhnya secara optimal pada umur minggu kedua. Oleh karena itu, DOC umur pemeliharaan minggu pertama hingga minggu kedua, peran brooder (pemanas) dan manajemen yang optimal sangat mempengaruhi dalam upaya menjaga suhu kandang tetap dalam zona nyaman hingga diakhir periode mampu mencapai produksi optimal.

Memasuki bulan Oktober merupakan awal perubahan dari musim kemarau ke musim penghujan. Banyak peternak yang terlambat menyadari untuk merubah tipe manajemen kandangnya. Kebanyakan dari mereka masih berpatokan dengan manajemen musim panas yang menitikberatkan kepada sirkulasi udara yang lancar dengan cara membuka lebar tirai kandang (untuk menghindari heat stress). Sehingga ketika musim hujan tiba-tiba datang, angin yang berhembus kencang disertai dengan air hujan akan masuk ke dalam kandang langsung mengenai ayam. Kondisi inilah menjadi pemicu awal terjadinya penyakit. Karena perubahan suhu lingkungan secara ekstrem akan menyebabkan penurunan kerja sistem imun tubuh. Secara fisiologis tubuh ayam akan merespon perubahan suhu ekstrem dengan membangkitkan mekanisme sistem imun.

Mewaspadai Peralihan Musim
Hal utama yang menjadi kendala pada musim peralihan dari kemarau ke penghujan adalah penurunan suhu menjadi lebih rendah. Suhu rendah inilah yang memicu pemanjangan masa brooding. Masa brooding yang dilakukan pada musim hujan, seharusnya dilakukan hampir sepanjang hari (siang dan malam) dan bahkan akan melebihi dari dua minggu (> 14 hari). 

Jika tidak dilakukan pemanasan ekstra pada siang hari, DOC tidak mendapatkan suhu yang ideal untuk pertumbuhannya dan akan kedinginan. Dampak lebih lanjut, pertumbuhan DOC tidak akan seragam, sehingga performanya menjadi buruk (bad uniformity). Keseragaman yang buruk merupakan indikasi lanjutan bahwa penyerapan nutrisi di dalam tubuh ayam tidak berjalan dengan semestinya, yang akhirnya berimbas pada buruknya efisiensi pakan (FCR tinggi).

Kemudian pergantian dari musim kemarau ke musim hujan biasanya akan diikuti dengan munculnya angin kencang dari arah yang tidak menentu. Kecepatan angin yang tinggi dan mengenai ayam secara langsung dapat membuat ayam terkena stres dingin (cold stress). Tindakan utama yang dilakukan oleh peternak adalah dengan menutup rapat tirai agar ayam tidak terkena angin langsung. Namun efek domino yang terjadi adalah sirkulasi udara dalam kandang akan berkurang, panas tubuh ayam akan meningkat dan akan menyebakan ayam terlihat terengah-engah (panting). Hal ini terjadi karena... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2020).

Drh Rizqy Arif Ginanjar
Technical Support PT Gold Coin Indonesia

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer