-->

BRASIL KEMBANGKAN VAKSIN UNTUK TOKSOPLASMOSIS BABI

Peneliti Brasil telah membuat kemajuan yang signifikan dalam mengembangkan vaksin melawan toksoplasmosis babi. Tim mengklaim itu adalah yang pertama di dunia.

Obatnya menggunakan protein rekombinan, yang merupakan metode yang dikatakan efektif dan berisiko rendah. Menurut profesor Joao Luis Garcia dari Department of Preventive Veterinary Medicine di State University of Londrina, PR, Brazil, perkembangan tersebut merupakan hasil dari proses penelitian yang panjang dan kemajuan bertahap dalam pengetahuan di seluruh dunia.

Saat ini, para ilmuwan sedang menguji vaksin DNA terhadap toksoplasmosis babi pada tikus dan fase berikutnya adalah yang terakhir: pengujian pada babi.

SEKOLAH VOKASI IPB GANDENG TRI GROUP DAN CHAROEN POKPHAND UPGRADE PENGETAHUAN CLOSED HOUSE

Kunjungan peserta dan pendamping training ke Mini Closed House Tri Group (29/1)

Seiring dengan bekembangnya kemajuan budidaya modern dan kemajuan teknologi perkandangan, Sekolah Vokasi (SV) Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Maastricht School of Management (Belanda) dan AERES University of Applied Sciences (Belanda) menggandeng Tri Group dan Charoen Pokphand Indonesia (CPI) mengadakan “SAS21 - Closed Poultry House Training”.

Kegiatan yang dimulai dengan webinar tentang Closed House Management pada 29 September lalu diikuti kurang lebih 265 peserta. Dilanjutkan dengan intensive training melalui metode pembelajaran Synchronous (pembelajaran dalam waktu yang bersamaan) dan Asynchronous (pembelajaran dalam waktu yang tidak bersamaan) dan dilaksanakan secara daring dan ditutup dengan farm visit perkandangan Mini Closed House dan Full Closed House (CHS).

Pria Sembada, Project Manager SAS21 SV IPB dalam kunjungannya di kandang Mini Closed House Tri Group menungkapkan “Kegiatan ini mendapat respon yang baik dari peserta, sebaran peserta pun cukup beragam berasal dari siswa SMK Peternakan, Mahasiswa, Alumni dan Peternak yang berasal dari seluruh Wilayah Indonesia. Sementara untuk sesi training sendiri berlangsung pada 18 – 28 Januari dan ditutup dengan program farm visit diikuti sebanyak 30 peserta”.

Ramadhanda Dwi Putra Mandiri, Direktur PT Tri Satya Mandiri (TSM – Tri Group) mengaku senang dilibatkan dalam program SAS21 ini. “Banyak sharing dan tukar informasi baik dari para trainer dan peserta. Melalui program SAS21 ini peserta mendapat pengetahuan tentang perkandangan dan budidaya ayam. Kami berterima kasih sudah dilibatkan pada kegiatan ini," papar Rama.

Selain mengunjungi Mini Closed House milik Tri Group, peserta “Closed Poultry House Training” SAS21 juga mengunjungi CHS SV IPB dan CPI di Sukabumi dan CHS mitra CPI di Gelumbang, Sumatera Selatan. (Jefri)

PERAN PROTEIN HEWANI WUJUDKAN GENERASI EMAS INDONESIA

Webinar peran protein hewani mewujudkan generasi emas Indonesia. (Foto: Infovet/Ridwan)

Senin (1/31/2022), Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner (Askesmaveti) bekerja sama dengan Agrina menyelenggarakan webinar “Peran Protein Hewani Mewujudkan Generasi Emas Indonesia.”

Untuk mewujudkan generasi emas penerus bangsa, Indonesia mendapat bonus demografi yang harus dimanfaatkan dengan baik. “Salah satunya melalui terpenuhinya protein hewani,” ujar Ketua Askesmaveti, Drh Sri Hartati MSi.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian, Drh Syamsul Ma’arif MSi, bahwa segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan produk hewani secara langsung atau tidak memengaruhi kesehatan manusia.

Kendati demikian, lanjut dia, masih banyak masyarakat yang salah paham dengan konsumsi pangan asal hewani ini. Masih banyak penyalahgunaan bahan berbahaya, praktik pemalsuan daging, penyebaran informasi yang tidak benar, penerapan higiene dan sanitasi yang belum memadai, rendahnya pemahaman dan lain sebagainya menjadi tantangan berat keamanan pangan di Indonesia.

Padahal melalui konsumsi protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal, dapat meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul. Hal itu seperti disampaikan Ahli Gizi Ibu dan Anak FKM UI, Prof Dr drg Sandra Fikawati MPH.

Ia menitikberatkan pada masalah stunting di Indonesia yang masih menjadi tantangan pengembangan SDM berkualitas. Dijelaskan, stunting akan menyebabkan kemampuan kognitif dan prestasi belajar rendah, tinggi tidak optimal, kualitas kerja tidak kompetitif.

“Kemudian kekebalan tubuh menurun sehingga mudah sakit, berisiko tinggi munculnya PTM (diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah), serta berdampak pada produktivitas ekomoni rendah,” jelas Prof Sandra.

Hal yang sama juga disampaikan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan BKKBN, Prof Drh M. Rizal M. Damanik Mrep Sc Phd, bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kondisi kekurangan gizi kronis. Data Survei Status Gizi Balita 2021, angka stunting nasional sebesar 24,20%.

Oleh karena itu, pada 1.000 pertama kehidupan yang merupakan periode emas pertumbuhan dan perkembangan anak, penting untuk memberikan asupan gizi yang kuat, diantaranya zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin, mineral).

Asupan protein bisa didapat dari nabati (tahu, tempe, kacang) dan hewani (daging, susu, telur, ikan). “Protein hewani sangat penting karena memiliki asam amino esensial (AAE) yang lengkap dan banyak dibanding protein nabati. Pangan hewani juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang beragam dan berkualitas yang bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh,” pungkasnya. (RBS)

ANGKA PRODUKSI AYAM PEDAGING 2021 TUNISIA NAIK, NAMUN TELUR TURUN

Pada tahun 2021, Tunisia mencatatkan peningkatan 6,2% ayam pedaging hidup dibandingkan tahun 2020. Sementara itu, produksi telur mencatat penurunan 5,5% dibandingkan tahun 2020.

Sementara itu, volume investasi di sektor pertanian mengalami peningkatan. Di provinsi Zaghouan, peningkatan hampir 330% pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020 dicatat oleh direktur lokal Badan Promosi Investasi Pertanian, Samir Marzouk. Dia mencatat bahwa 90 operasi investasi senilai 41,2 juta dinar (€12,4 juta) disetujui pada tahun 2021 melawan 99 operasi senilai 9,5 juta dinar (€2,9 juta) pada tahun 2020.

KEKURANGAN 4 JUTA TELUR DI TAIWAN

Permintaan telur harian Taiwan adalah sekitar 22 juta, tetapi saat ini terpasok lebih dari 18 juta, dan ada kekurangan sekitar 4 juta telur per hari.

Taiwan terakhir mengalami kekurangan telur pada Januari 2019, ketika negara itu mengimpor 1,4 juta telur dari AS dan Jepang.

Tahun Baru Imlek akan dirayakan di Taiwan hanya dalam beberapa hari, pada 1 Februari, tetapi penduduk Taiwan kesulitan untuk menemukan telur di supermarket lokal dan ratusan pemilik restoran telah menggunakan media sosial untuk mengeluh bahwa mereka tidak bisa mendapatkan telur.

MEWASPADAI KEMBALINYA AI

Dibutuhkan ketegasan agar AI tidak merebak. (Foto: Istimewa)

Avian Influenza (AI) pastinya akrab dan populer di telinga insan perunggasan Indonesia. Virus yang pernah meluluhlantahkan Indonesia pada 2003 silam dan menimbulkan trauma besar bagi sektor perunggasan kini hampir tidak terdengar lagi rimbanya, apa menghilang begitu saja?

Kasus Menyeruak di Belahan Dunia
Beberapa minggu belakangan di berbagai belahan dunia kasus AI nyatanya meningkat. Terbaru dilaporkan Israel dimana virus AI memakan korban bangau liar sebanyak 5.000 ekor. Otoritas berwenang di sana juga menyatakan sebanyak 300.000 lebih ayam petelur mati dan terkonfirmasi AI. Pemerintah Israel langsung memusnahkan 240.000 ekor ayam lainnya yang berada di sekitar lokasi yang terinfeksi. Subtipe virus yang dilaporkan menginfeksi beragam, mulai dari H5N1, H5N3, H5N6 dan H5N8 yang merupakan varian High Pathogenic Avian Influenza/HPAI dan berpotensi sebagai zoonosis.

Kementerian Pertanian Israel langsung mengisolasi kawasan yang terinfeksi AI. Selain itu memperketat lalu lintas unggas dan produk-produk perunggasan sementara dihentikan pemasarannya. Berdasarkan berita yang dirilis oleh Jerussalem post, dilaporkan bahwa kini diperkirakan Israel akan mengalami defisit telur konsumsi sebesar 14 juta butir/bulan dalam waktu dekat.

Hal serupa juga terjadi di beberapa Negara Eropa seperti Perancis, Republik Ceko dan Slovenia, dilaporkan mengalami outbreak AI. Kerugian ekonomi akibat wabah pun tak terhitung dan dipastikan pasokan protein hewani yang berasal dari ayam terancam.

Nasib sama juga dialami Negara Tirai Bambu, dimana ribuan jenis ternak unggas mati terinfeksi virus AI subtipe H5N6. Celakanya virus tersebut juga telah dilaporkan menginfeksi manusia. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) langsung mengeluarkan warning bagi para anggotanya terkait wabah AI yang menyeruak secara mendadak.

Bagaimana di Indonesia?
Menanggapi peringatan OIE dengan serius, Pemerintah Indonesia mengimbau para stakeholder perunggasan agar bersiap menghadapi AI, hal tersebut dikemukakan Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Drh Nuryani Zainuddin.

Nuryani mengatakan bahwa pihaknya telah mengirimkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022. (CR)

PELANTIKAN PEJABAT PIMPINAN TINGGI PRATAMA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTANIAN

Rabu, 26 Januari 2022, bertempat di Auditorium Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Menteri Pertanian, Dr H Syahrul Yasin Limpo, SH, MSi, MH melantik 16 (enam belas) Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di lingkungan Kementerian Pertanian.

Pelantikan dihadiri oleh para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya, Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama, Staf Ahli dan Staff Khusus Menteri Pertanian, serta dihadiri oleh Pejabat dari Kejaksaan Agung RI.

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama yang dilantik terdiri dari 12 (dua belas) JPT Pratama Eselon II-A dan 4 (empat) JPT Pratama Eselon II-B sebagai berikut:

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Eselon II-A

  1. Gunawan, SP, MSi sebagai Kepala Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, Sekretariat Jenderal;
  2. Ir Yuris Tiyanto, MM sebagai Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan;
  3. Ir Amirudin Pohan, MSi sebagai Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Ditjen Tanaman Pangan;
  4. Dr Inti Pertiwi Nashwari, SP, MSi sebagai Direktur Perbenihan Hortikultura, Ditjen Hortikultura;
  5. Ir Sukarman sebagai Direktur Perlindungan Hortikultura, Ditjen Hortikultura;
  6. Heru Tri Widarto, SSi, MSc sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Ditjen Perkebunan;
  7. Ir Hendratmojo Bagus Hudono, MSc sebagai Direktur Tanaman Tahunan dan Penyegar, Ditjen Perkebunan;
  8. Ardi Praptono, SP, MAgr sebagai Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Ditjen Perkebunan;
  9. Ir Baginda Siagian, MSi sebagai Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan;
  10. Drh Agung Suganda, MSi sebagai Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan;
  11. Tri Melasari, SPt, MSi sebagai Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan;
  12. Mangasi Situmeang, SH, LLM sebagai Inspektur Investigasi, Inspektorat Jenderal;

Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Eselon II-B

  1. Ir Parlin Robert Sitanggang sebagai Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya, Ditjen Perkebunan;
  2. Dr Wasis Sarjono, SPt, MSi sebagai Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan Cinagara, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian;
  3. Dr Sabir, SPt, MSi sebagai sebagai Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan Batu, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian; dan
  4. Drh Cicik Sri Sukarsih, MH sebagai Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya, Badan Karantina Pertanian.

Selamat dan sukses atas dilantiknya para pejabat JPT Pratama, semoga amanah dalam menjalankan tugas baru membangun pertanian dari hulu sampai ke hilir sesuai visi dan misi Kementerian Pertanian mewujudkan Pertanian Maju, Mandiri, Modern. (Sumber: Biro OK)

MENELUSURI KEMBALI SEPAK TERJANG AI

Vaksinasi diperlukan dalam penanganan AI untuk mengurangi gejala klinis dan mortalitasnya, serta selalu lakukan monitoring vaksinasi. (Foto: Istimewa)

Avian Influenza (AI), merupakan penyakit yang paling mendapat perhatian serius banyak peternakan. Berbagai macam upaya dilakukan agar peternakan ayam terhindar dari penyakit yang masih mengancam hingga 2021.

Hasil kajian lapangan menurut berbagai sumber ahli, penyebab AI di Indonesia masih disebabkan oleh virus AI tipe A, sub tipe H5N1 dan HPAI (High Patogenic Avian Influenza). Tingkat homologi (susunan asam amino) antara isolat virus AI dari ayam di tahun 2003 dan 2021 sudah berbeda antara satu sampai dua nukleotida pada rangkaian susunan asam aminonya, terutama pada susunan cleavage-site nya.

Saat ini sebagian besar gejala klinis dan kerusakan alat tubuh yang disebabkan AI berbeda dengan yang ditemukan pada awal wabah penyakit ini pada 2003. Menurut pengamatan para ahli, ada dua bentuk klinis Avian Influenza, HPAI ganas dengan kematian tinggi (sulit dibedakan dengan Newcastle Disease/ND) dan HPAI ringan dengan kematian rendah. Kedua bentuk klinis tersebut masih disebabkan oleh HPAI.

Gejala HPAI ganas ditandai dengan ayam terlihat lesu, kadang terlihat warna kebiruan pada jengger, pial, sekitar muka, dada, tungkai atau telapak kaki. Dapat terlihat gangguan pencernaan, produksi dan saraf. Peningkatan angka kematian (20-40% atau lebih). Pola kematian pada AI berbeda dengan pola kematian ND. Pada Avian Influenza, grafik tingkat kematian meningkat lebih tinggi dan dapat merupakan kelipatan jumlah kematian sebelumnya. Pada ayam petelur, produksi telur terhenti atau sangat menurun.

Gejala klinis HPAI bentuk ringan tersifat dengan adanya penurunan produksi telur yang drastis. Biasa ditemukan pada kelompok ayam dengan titer hasil antibodi yang rendah. Ayam mengalami depresi ringan atau tanpa gejala. Kadang terjadi gangguan pernapasan. Pada layer terjadi juga penurunan produksi telur, baik pada kuantitas maupun kualitas.

Pengaruh HPAI bentuk ringan pada ayam petelur menyebabkan gangguan kualitas telur, berat, ukuran, kerabang, yolk dan albumin. Gangguan tipe penyakit HPAI ringan menyebabkan ayam mudah terkena berbagai penyakit, khususnya ND dan IB. Gangguan respon terhadap pengobatan menjadi rendah, terutama disebabkan karena hati sebagai organ metabolisme utama mengalami gangguan.

Faktor yang Memengaruhi Kejadian AI
Untuk meningkatkan keberhasilan penanggulangan penyakit AI, peternak harus memperhatikan dan mengevaluasi beberapa faktor yang dapat memengaruhi kejadian AI pada suatu peternakan atau wilayah, yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022.

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264 JAKARTA
Telp: 021-8300300

SEPAK TERJANG AVIAN INFLUENZA DI INDONESIA

Serangan AI menyebabkan kerugian besar di peternakan. (Sumber: British Poultry)

Penyakit viral pada unggas khususnya broiler dan layer terus menjadi kendala peternak yang harus diberikan perhatian lebih. Avian influenza (AI) merupakan salah satu penyakit viral pada unggas yang selalu menjadi momok menakutkan sepanjang penyakit ini pertama kali menginfeksi unggas di Indonesia pada 2003.

Penyakit AI kini menjelma menjadi penyakit viral yang sulit dikendalikan apalagi dimusnahkan. Hal ini terbukti sudah 18 tahun penyakit ini masih sering ditemukan di sentra-sentra peternakan ayam di Indonesia. Kejadian penyakit AI dari masa ke masa mengalami perbedaan yang signifikan. Mulai dari gejala klinis yang ditimbulkan, tingkat mortalitas dan yang paling mencolok adalah perbedaan jenis virus AI yang menginfeksi.

Awal pertama kali virus AI menginfeksi gejala klinis yang khas ditemukan adalah jengger dan kaki yang kebiruan, namun saat ini gejala klinis tersebut sangat jarang sekali ditemukan. Mortalitas ayam akibat infeksi virus AI dulu dapat mencapai 100%, sedangkan saat ini dengan adanya program vaksinasi AI, mortalitas menjadi menurun 5-40% tergantung pada program vaksinasi AI yang dilakukan dan biosekuriti.

Berdasarkan hasil analisis genetik virus AI yang pertama kali ditemukan masuk dalam subtipe AI H5N1 clade 2.1.3, seiring dengan perkembangannya pada 2012 muncul AI baru yang berbeda sub clade yaitu AI subtipe H5N1 clade 2.3.2 yang awalnya di isolasi dari bebek kemudian menyerang semua jenis unggas. Virus AI subtipe H5N1 clade 2.3.2 inilah kemudian mendominasi infeksi yang terjadi pada unggas yang disebabkan oleh virus AI H5N1 pada 2015 hingga dipenghujung 2021. Walaupun demikian ditemukan materi genetik yang bervariasi meski dalam satu clade 2.3.2 ditandai dengan adanya beberapa sub clade 2.3.2.1c dengan jarak materi genetik antar strain 1-6%.

Di Indonesia, selain virus AI subtipe H5N1 (yang bersifat High Pathogenic Avian Influenza/HPAI) juga teridentifikasi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022.

Ditulis oleh:
Ir Syamsidar SPt MSi IPM
Marketing Support PT Sanbio Laboratories

FAKULTAS PETERNAKAN UGM DAN PT TROUW NUTRITION INDONESIA JALIN KERJA SAMA

 

Prof Budi Guntoro dan Presiden Direktur Trouw, Wully Wahyuni (Foto: Humas UGM) 

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM dan PT Trouw Nutrition Indonesia menjalin kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Penandatanganan nota kesepahaman bersama dilaksanakan Kamis, 20 Januari 2022 oleh Dekan Fapet UGM, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng dan Presiden Direktur PT Trouw Nutrition Indonesia, Wully Wahyuni.

“Sesuai dengan mandat pemerintah, mahasiswa diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melaksanakan studi, salah satunya di industri. Kerja sama dengan industri tidak selalu dalam dalam bentuk finansial, tetapi dapat berupa kegiatan akademik yang berjalan panjang. Fakultas juga dapat mengundang ahli di bidang industri untuk mengisi kuliah dengan fokus investasi pendidikan agar menjadi bekal mahasiswa,” jelas Prof Budi dalam siaran pers, Sabtu (22/1/2022).

Setelah penandatanganan nota kesepahaman bersama, Dekan berharap ada tindak lanjut kegiatan-kegiatan, misalnya magang mahasiswa yang dihargai dengan SKS. Penanggungjawab kerja sama adalah Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan.

Presiden Direktur PT Trouw Nutrition Indonesia berharap Fapet UGM dan PT Trouw Nutrition Indonesia dapat saling mengenal dan melengkapi.

“Sebagai pihak industri, kami membutuhkan penelitian dari para akademisi dan solusi untuk mengatasi tantangan. Untuk mendukung inovasi, diperlukan SDM dan future leaders yang andal,” ujar Wully.

Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakultas Peternakan, Prof Ir Yuny Erwanto SPt MP PhD IPM seusai acara penandatanganan mengatakan kerja sama diharapkan juga termasuk pembinaan peternak agar mampu menyusun ransum dengan tepat dan melakukan usaha peternakan yang presisi.

“Pengalaman Trouw Nutrition Indonesia dalam teknologi precision feed akan dilanjutkan ke precision farming, sehingga kesehatan dan produktivitas ternak meningkat serta keamanan pangan terjamin,” ujar Yuny. (INF)

MENGHINDARI TERJADINYA INFEKSI SCRAPIE

Gejala klinis Scrapie, kerontokan bulu, kegatalan, gangguan syaraf, kelemahan kaki belakang, keluar air liur berlebih. (Foto: Istimewa)

Scrapie merupakan penyakit neurodegeratif, fatal pada domba dan kambing menular melalui cairan foetus dari domba/kambing terinfeksi ke populasi. Masa inkubasi bervariasi, umumnya terjadi dalam kurun waktu setahun. Lamanya masa inkubasi tergantung pada berbagai faktor, genetik induk semang dan agen penyebab. Penyakit ini masih eksotis bagi Indonesia, belum pernah ditemukan dan terlaporkan kejadiannya pada sentra peternakan domba dan kambing di Indonesia.

Ada dua bentuk scrapie, atipikal dan klasikal. Scrapie atipikal secara klinis, patologi, biokimia dan epidemiologi berbeda dengan scrapie klasik. Scrapie atipikal tidak kontagius, degeneratif terjadi secara spontan dan banyak terjadi pada domba berusia tua. Scrapie atipikal pertama kali terlaporkan pada 1998 di Norwegia, juga ditemukan di Amerika Utara, Kanada, Kepulauan Falknad,  Australia dan New Zealand. Scrapie atipikal tidak termasuk penyakit wajib lapor OIE.

Importasi domba dan kambing serta produknya hendaknya dilakukan dengan hati-hati. Importasi dilakukan dari negara, bagian negara, zona atau kompartemen peternakan yang telah bebas scrapie. Untuk bisa dinyatakan bebas scrapie, negara/bagian negara/zona harus terlaporkan tidak ada kejadian scrapie paling kurang 25 tahun (Artkel 14.8.3 OIE, 2011). Beberapa bahan impor yang perlu diperhatikan diantaranya ternak domba dan kambing hidup, daging, kulit, gelatin, kolagen, wool dan minyak domba/kambing. Importasi dilakukan sesuai ketentuan yang diatur OIE.

Scrapie sudah diketahui keberadaannya di Inggris dan berbagai negara Eropa pada 250 tahun lalu dan menyebar ke berbagai negara. Penyakit juga menyerang ras domba pedaging berkepala hitam dan hasil silangannya. Kerugian ekonomi muncul karena domba dan kambing yang terserang harus dimusnahkan.

Etiologi
Protein khusus yang disebut dengan Prion (PrP), yang menyebabkan protein sel berubah bentuk, terdegradasi, berakumulasi dan menghancurkan sel. Akumulasi pada sel-sel neuron otak menyebabkan kerusakan pada sel neuron otak dan menimbulkan gejala syaraf. Prion penyebab memiliki sifat yang tahan panas dan tahan terhadap proses sterilsasi.

Neuron otak kambing yang dipenuhi dengan akumulasi protein Prion dengan warna kemerahan. (Schneider, 2020).

Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit yang lama menyebabkan munculnya gejala klinis juga lama setelah periode infeksi. Domba dan kambing dapat bertahap… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022.

Ditulis oleh:
Sulaxono Hadi (Medik Veteriner Ahli Madya) dan
Ratna Loventa Sulaxono (Medik Veteriner Ahil Pertama)

AYAM ABANG, AFKIRAN PETELUR YANG DIGEMARI MASYARAKAT DESA

Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. (Foto: Dok. Infovet)

Ayam abang menjadi salah satu bisnis “sisipan” bagi para peternak ayam petelur. Hanya ayam-ayam yang sudah dianggap “pensiun” bertelur ayam ini masuk dalam kandang ayam abang. Meski harganya terpaut jauh dengan ayam pullet, namun hasil jualnya menambah pundi-pundi peternak.

Pernah mendengar istilah ayam abang? Istilah unggas yang satu ini cukup dikenal masyarakat pedesaan, khususnya di daerah Jawa Tengah. “Abang” dari bahasa Jawa yang artinya merah. Jadi, ayam abang adalah ayam merah. Bukan ayam hias, melainkan ayam konsumsi lazimnya ayam pedaging broiler.

Ayam abang adalah ayam ras petelur yang sudah memasuki masa “pensiun” bertelur. Di kalangan peternak umumnya disebut ayam afkir, ayam yang sudah lewat masa produksinya. “Ayam ini merupakan ayam petelur yang sudah tidak mampu menghasilkan telur secara maksimal,” ujar Agus Wiyono, peternak asal Mojokerto kepada Infovet.

Menurut peternak yang juga dokter hewan ini, ayam abang usianya sekitar 80 minggu ke atas. Karena warna bulunya merah, maka masyarakat di daerahnya menyebut ayam abang. Daging ayam abang ini sedikit alot, karena umurnya sudah cukup tua.

Persoalan ayam petelur afkir ini pernah diatur ketentuannya oleh pemerintah. Pada 2019, Kementerian Pertanian menginstruksikan pengurangan produksi telur konsumsi dengan cara afkir final stock (FS) layer yang berumur Iebih dari 80 minggu pada peternak layer komersial berpopulasi Iebih dari 50.000 ekor. Instruksi itu disampaikan melalui Surat Edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 12141/SE/PK.230/F/11/2019 tertanggal 10 November 2019. Pelaksanaan afkir FS layer berumur lebih dari 80 minggu dilaksanakan bertahap mulai 10 November sampai 31 Desember 2019.

“Untuk hal tersebut diperintahkan kepada saudara pimpinan perusahaan dan peternak layer komersial melaksanakan poin-poin tersebut. Pelaksanaan kegiatan afkir FS layer yang berumur Iebih dari 80 minggu dilakukan pengawasan oleh tim pengawas pusat dan/atau dinas yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/kabupaten/kota,” ditegaskan dalam surat itu.

Instruksi afkir ayam layer komersil berumur lebih dari 80 minggu dikeluarkan untuk menyeimbangkan ketersediaan (supply) dengan kebutuhan (demand) telur konsumsi, sesuai Peraturan Menteri Pertanian No. 32/2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Penjualan ayam afkir petelur cukup ramai di pasar tradisonal. Di Jawa Tengah harga ayam abang per ekor bervariasi, mulai dari Rp 35.000-40.000 di tingkat produsen. Jika sudah dalam bentuk karkas, harganya bisa mencapai Rp 45.000-50.000/ekor. Harga ini lebih tinggi dibanding harga karkas ayam broiler yang berkisar Rp 29.000-33.000/ekor. Berat per ekor ayam abang menjadi perbedaan harga dengan ayam broiler. Ayam abang per ekornya rata-rata di atas 1 kg.

Harga ayam afkir petelur ini di bawah harga ayam tersebut masih jadi pullet yang mencapai Rp 70.000/ekor. Karena ayam afkir, sudah pasti harga lebih murah dibanding ketika masih produktif bertelur. 

Namun demikian, minat masyarakat untuk membeli ayam afkir cukup tinggi. “Ayam afkir sudah menjadi komoditas ayam pedaging atau ayam konsumsi masyarakat sejak lama. Ukurannya yang besar cukup digemari konsumen di daerah,” kata Agus.

Mata Rantai Penjualan
Pola penjualan ayam abang di pasar tradisonal hampir sama di setiap daerah. Umumnya penjual ayam abang ini sekaligus memberikan layanan potong dan pembeli menerimanya dalam keadaan sudah bersih. Ceker dan jeroan jadi satu paket dagingnya.

Dari pemantauan Infovet di salah satu pasar di Kota Pemalang, Jawa Tengah, untuk konsumen yang membeli dalam bentuk karkas satu paket akan dikenai biaya potong Rp 5.000/ekor.

Menurut Agus, berjualan ayam abang menjadi nilai tambah para peternak ayam petelur. Peternak sudah menikmati hasil penjualan telurnya. Di masa tua ayamnya, masih bisa dijual dengan harga cukup lumayan.

Hanya saja, jual beli ayam abang tidak bisa dilakukan secara rutin dalam rentang waktu yang pendek, misal setiap hari atau setiap minggu. Tapi menunggu ayam petelurnya memasuki masa afkir. “Peternak baisanya akan mensortir lebih dulu ayam-ayam petelur yang sudah dianggap afkir, untuk selanjutnya masuk ke penjualan sebagai ayam pedaging,” jelas Agus.

Mata rantai bisnis ayam abang ini tergolong pendek. Dari peternak biasanya langsung didrop ke lapak ayam di pasar-pasar tradisional. Peternak mensuplai ayam afkiran ke para pemilik lapak. Selanjutnya para pemilik lapak menjual ke konsumen dengan dua pilihan, yakni ayam hidup atau ayam potong, tentu ada selisih harga. Ada juga peternak yang langsung menjual ke konsumen.

Nurkhikmah, ibu rumah tangga asal Kota Pemalang, Jawa Tengah, mengaku sering membeli daging ayam abang di warung dekat rumahnya. Terkadang juga membeli di pasar dengan harga lebih murah. Dalam seminggu, setidaknya dua kali mengolah ayam abang untuk santapan keluarganya.

Menurut wanita 33 tahun ini, daging ayam abang lebih enak. Dagingnya tebal dan berasa seperti ayam kampung. “Kalau soal alot itu tergantung cara masaknya. Butuh waktu masak lebih lama agar dagingnya empuk,” ujar Nurkhikmah.

Di Pasar Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, hampir setiap hari lapak penyedia ayam abang menjual puluhan ekor. Di pasar ini ada dua lapak yang khusus menjual ayam abang. Di dua lapak ini disediakan juga tempat pemotongan ayam. Untuk ayam hidup per ekor dengan berat 1 kg lebih berkisar Rp 40.000-45.000. Namun jika dipotong dan dibersihkan, pembeli hanya diminta tambahan biaya Rp 5.000/ekor.

Khusus pada Rabu dan Minggu, kedua lapaknya paling ramai dikunjungi pembeli. Dua hari tersebut merupakan hari “Pasaran”, pengunjung pasar jauh lebih banyak dibanding hari lainnya. Biasanya lapak ayam abang ramai dikunjungi pembeli saat bulan Ramadan, menjelang Idul Fitri, atau tahun baru. (AK)

SERI IMBUHAN PAKAN (BAGIAN 3) - ACIDIFIER (PENGASAM): SIFAT, MEKANISME DAN PENGARUHNYA

Asam organik sederhana umumnya berbentuk cairan sehingga larut dalam air dan dapat digunakan dalam air minum ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Salah satu bahan alternatif pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP) yang banyak dipasarkan adalah acidifier atau pengasam. Bahan yang digunakan umumnya adalah asam organik yang bersifat asam lemah dibanding asam in-organik yang bersifat asam kuat seperti asam sulfat atau asam klorida.

Mekanisme asam organik dalam menghambat pertumbuhan mikroba berbeda dengan asam kuat yang hanya menurunkan pH. Oleh karena itu, perlu dijelaskan mengenai sifat dan mekanisme asam organik, penggunaannya beserta pengaruhnya terhadap terhadap ternak.

Kimia dan Sifatnya
Asam organik umumnya dicirikan dengan adanya gugus karboksilat dalam struktur kimianya. Berdasarkan strukturnya ada asam organik dengan gugus karboksilat sederhana (hanya satu), seperti asam formiat, asetat, propionat dan butirat, atau gugus karboksilat yang dikombinasi dengan gugus hidroksi seperti asam malat, tartarat, sitrat, laktat, atau gugus karboksilat beserta ikatan rangkap seperti asam fumarat dan sorbat.

Asam organik sederhana umumnya berbentuk cairan sehingga larut dalam air dan dapat digunakan dalam air minum ternak. Tetapi karena mudah menguap, sering kali dibuat menjadi garam natrium atau kalsium sehingga menjadi bentuk padatan dan dapat dicampur dalam pakan ternak.

Asam fumarat dan sitrat umumnya berbentuk padatan. Asam sitrat dapat larut dalam air tetapi asam fumarat hanya sedikit larut dalam air. Meskipun demikian, kebanyakan asam-asam ini dibuat garamnya agar meningkatkan kelarutan, seperti asam fumarat dapat ditingkatkan kelarutan dalam air dengan mereaksikan menjadi garam natrium. Apabila direaksikan menjadi garam kalsium, maka kelarutannya jauh lebih rendah. Sifat kelarutan ini penting untuk dipertimbangkan dalam penggunaannya karena pengasam bekerja dalam saluran pencernaan yang sifatnya mesti larut dalam air. Hampir semua enzim pencernaan bersifat hidrolisis yang bekerja dalam larutan. Kelarutan asam organik juga berpengaruh terhadap pH dan konstanta keseimbangan (pKa) sangat berperan dalam aktivitas atau kemampuan asam organik dalam memengaruhi mikroba usus.

Beberapa asam organik berbau juga berpengaruh terhadap ternak dan pekerja yang menggunakannya ketika akan dicampur ke dalam pakan. Oleh karenanya, asam organik jenis ini banyak direaksikan menjadi garamnya untuk mengurangi penguapan. Disamping rekasi kimia dalam bentuk garam. Teknologi lain yang dapat mengurangi penguapan adalah “coating” atau pelingkupan menggunakan minyak, sehingga asam organik seperti molekul yang dilingkupi minyak menjadi tidak mudah menguap.

Mekanisme Kerja
Kesehatan usus memegang peranan penting pada ternak karena usus merupakan tempat penyerapan zat gizi dan juga terbentuknya zat kekebalan untuk menangkal penyakit. Mikroba dalam usus juga berperan dalam kesehatan usus dan jenis maupun jumlah mikroba akan dipengaruhi oleh kondisi dalam usus.

Salah satu faktor lingkungan yang berperan adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2022.

Ditulis oleh:
Prof Budi Tangendjaja
Konsultan Nutrisi Ternak Unggas

PROJECT SAS21 CLOSED POULTRY HOUSE TRAINING

Kegiatan Project SAS21 Closed Poultry House Training kerjasama Sekolah Vokasi IPB dengan Maastrich School of Management (Belanda) dan AERES University of Applied Sciences (Belanda) resmi dibuka secara daring, Selasa (18/1). Pelatihan dimulai besok, 19 Januari hingga 31 Januari 2022 dan dilaksanakan secara hybrid (synchronous dan asynchronous).

Pelatihan dengan peserta dari berbagai kalangan termasuk pelajar SMK ini, diisi oleh para instruktur/trainer yang kompeten diantaranya Ernst Beitler (AERES University of Applied Sciences), Ramadhana Dwi Putra Mandiri (Direktur PT Tri Satya Mandiri/Tri Group), Karno (Area Head Production, West Java PT Charoen Pokphand Indonesia), Danang Priyambodo dan Gilang Ayuningtyas yang keduanya merupakan dosen Sekolah Vokasi IPB.

Huub Mudde PhD, Project Coordinator SAS21 dalam sambutannya mengatakan pelatihan ini dikembangkan orang-orang akademis dan korporasi. Selain itu merupakan bagian dari proyek jangka panjang. “Berharap kerjasama ini lebih mengeratkan bilateral antar negara dan pemerintahan untuk memperkuat edukasi vokasi agrikultur di Indonesia,” kata Huub.

Dalam acara pembukaan, Dekan Sekolah Vokasi IPB Dr Ir Arief Daryanto Mec mengemukakan pentingnya teaching factory bagi pendidikan vokasi dan SMK untuk memberi forum pembelajaran kepada para siswa. Nantinya diharapkan siswa lebih memahami mengenai apa yang dibutuhkan industri melalui triple helix, dengan menghadirkan suasana industri di proses pembelajaran.

“Pelatihan ini tentunya merupakan kerjasama yang bagus, efektif, dan efisien jika dikelola dengan baik. Di dalam pelatihan, peserta akan mendapatkan pembelajaran tentang kandang closed house itu seperti apa kemudian bedanya dengan kadang terbuka apa saja, termasuk mempelajari biosekuriti serta mengetahui sistem kandang tertutup yang dijalankan pada peternakan modern,” terang Arief.

Koordinator Pelatihan, Pria Sembada menambahkan pada 29 dan 30 Januari mendatang pelatihan ini juga diisi dengan kegiatan field visit.

Masih dalam acara pembukaan, pada sesi perkenalan para trainer, Ramadhana mengungkapkan sangat bahagia diberi kesempatan dan menjadi bagian dalam Closed Poultry House Training ini.

“Semoga berjalan dengan lancar, para pemateri dan peserta semua antusias mencapai tujuan untuk kebaikan peternakan serta kita semua belajar mengaplikasikan ilmu-ilmu baru nantinya,” urai Rama, sapaan akrabnya.

Syafri Afriansyah MBA, General Manger Human Capital PT Charoen Pokphand Indonesia menjelaskan industri peternakan bertumbuh di saat pandemi dan masih menjadi andalan.

“Bertumbuhnya industri ini berekspansi atau mengembangkan bisnisnya, serta membutuhkan teknologi sekaligus man power yang diharapan untuk mengisi fase pertumbuhan perusahaan,” pungkasnya. (NDV)

BANJIR IMPOR DAGING KERBAU INDIA, KEMANA SAPI LOKAL KITA?

Impor daging kerbau India terjadi di tengah klaim produksi meningkat, konsumsi stagnan dan neraca defisit. (Foto: Istimewa)

Tahun 2021 Indonesia telah mengimpor daging kerbau asal India sebanyak 80.000 ton. Jumlah tersebut terkoreksi dari sebelumnya dimana kuota impor daging kerbau India sepanjang 2016-2020 mencapai 100.000 ton/tahun. Hal ini tidak lepas dari program pemerintah menyediakan daging murah untuk masyarakat.

Direktur Operasional PT Berdikari Persero, Muhammad Hasyim, mengatakan berdasarkan hasil Rakortas (rapat koordinasi terbatas) 2018, Berdikari mendapat penugasan impor daging kerbau sebanyak 20.000 ton atau sekitar 714 kontainer. Memasuki 2019, impor daging sapi Brasil sebanyak 10.000 ton hanya terealisasi 3.500 ton. Pada 2020, impor daging kerbau 50.000 dan sapi Brasil sebanyak 10.000 dengan realisasi impor daging kerbau 24.724 ton dan sapi 1.900 ton.

“Untuk 2021 impor daging kerbau tidak ada penugasan kepada Berdikari, yang ada hanya impor daging dari Brasil sekitar 20.000 ton dan realiasinya saat ini kurang lebih 16.560 ton,” ungkap Hasyim dalam Webinar PATAKA ke-67 “Banjir Kerbau India, Kemana Sapi Lokal Kita?”, Kamis (13/1/2021). 

Ketua Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo), Didiek Purwanto, mengatakan melalui BUMN Pangan importasi daging kerbau beku India 2016-2021 sebanyak 39.524 ton (2016), tertinggi 93.970 ton (2019), menurun menjadi 73.780 (2021), sedangkan realisasi impor daging Brasil 16.706 ton (2021). Impor dengan harapan mencapai harga Rp 80.000/kg secara nasional. Tetapi realisasinya, harga daging sapi lokal dalam negeri rata-rata Rp 105.000-109.000/kg sepanjang 2019-2021. Dinilai program impor daging kerbau India belum berhasil menurunkan harga daging sapi lokal dalam negeri.

Sementara Ketua Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang Purus Subendro, mengatakan kebijakan impor daging kerbau bertujuan mulia menurunkan harga. Namun impor yang semakin meningkat khawatir terjadi banjir daging kerbau India ketika peternakan rakyat mulai bangkit.

Oleh karena itu menurut Direktur Eksekutif PATAKA, Ali Usman, kebijakan impor daging kerbau India harus dievaluasi. “Tataniaga harus dibenah, jangan hanya melihat sisi konsumen, tapi juga sisi produsen peternak rakyat. Biaya pemeliharaan sapi masih tinggi, hingga rantai pasok fasilitas masih minim, sehingga membuat harga daging sapi masih tinggi,” kata dia dalam keterangan tertulisnya.

Padahal berbagai program pemerintah untuk meningkatkan populasi tetapi defisit daging sapi masih cukup tinggi, sehingga Indonesia masih melakukan impor daging.

Ia mengusulkan, sistem informasi pangan dalam satu data supply-demand daging sapi harus dibangun. Tidak hanya data produksi, tapi angka konsumsi berbagai daerah. Sehingga pemerintah dapat mengetahui jumlah peternak dan ternaknya di tiap daerah, juga data biaya produksi pemeliharaan ternak, pasokan bahan baku pakan, penyediaan bibit, hingga sistem rantai pasok. Sehingga data harga daging bisa dilihat secara transparan oleh konsumen. (INF)

DUH! KONSUMSI ROKOK & PULSA LANGKAHI BELANJA TELUR DAN DAGING AYAM

Angka belanja rokok yang jauh lebih tinggi dari belanja makanan bergizi dapat memicu terjadinya kemiskinan dalam keluarga. (Foto: Dok. Infovet)

Data BPS menyebutkan, komoditi kedua belanja rumah tangga di Indonesia adalah rokok  sebanyak 12.2% di kota dan 10.9% di desa. Sedangkan belanja telur ayam di peringkat ketiga sebesar 4.3% di kota dan 3.7% di desa.

Tak ada yang membantah bahwa rokok adalah salah satu candu yang mengancam kesehatan manusia. Bahkan, tak sedikit lembaga kesehatan yang merilis fakta-fakta berbahaya tentang merokok. Organisasi tingkat dunia seperti World Health Organization (WHO) sudah menyatakan bahwa rokok adalah penyebab utama kematian dan penyakit di dunia.

Di 2021 WHO merilis, tiga juta orang mengalami kematian dini setiap tahunnya terkait konsumsi tembakau yang menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke, penyebab kematian utama di dunia. Di dalam negeri, Kementerian Kesehatan juga merilis tentang data yang didukung data dari WHO. Kematian tersebut termasuk 890.000 kematian para perokok pasif.

Meskipun sudah diketahui dan dipahami bahwa merokok merusak kesehatan, toh nyatanya konsumsi “bakar-bakaran di mulut” tetap berlangsung. Ini menjadi salah satu bukti bahwa rokok adalah candu yang nyata dan dilegalkan.

Jumlah perokok di Indonesia dari tahun ke tahun tetap bertengger di atas persentase 25% dari jumlah usia produktif. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, jumlah penduduk perokok umur 15 tahun ke atas 28,69%. Turun sedikit dibanding 2019 yang mencapai 29,03%.

Masih menyimak rilis BPS di 2020, laporan Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik 2020 menunjukkan bahwa konsumsi rokok menempati peringkat kedua dalam konsumsi rumah tangga di Indonesia pada Maret 2020. Data tersebut memperlihatkan komoditi utama belanja rumah tangga di Indonesia adalah beras sebanyak 20.2% di kota dan 25.3% di desa. Sedangkan rokok menempati peringkat kedua sebanyak 12.2% di kota dan 10.9% di desa.

Di peringkat ketiga ada telur ayam 4.3% di kota dan 3.7% di desa. Selanjutnya, daging ayam dengan angka 4.1% di kota dan 2.4% di desa. Peringkat kelima adalah mie instan dengan angka 2.3% di kota dan 2.1% di desa.

“Artinya kalau satu keluarga membelanjakan 100% uangnya, itu 12% untuk beli rokok. Beli telur dan daging hanya 4%, gimana mau satu keluarga sehat?” ujar Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, Dra Lenny Nurhayanti Rosalin MSc dalam webinar Kemen PPPA beberapa waktu lalu.

“Jadi satu orang yang membeli rokok di keluarga berarti egois, karena dia lebih memilih untuk beli rokok dibanding beli makanan bergizi.”

Rokok dan Pulsa 
Melihat angka belanja rokok yang jauh lebih tinggi dari belanja makanan bergizi dapat memicu terjadinya kemiskinan dalam keluarga. “Ya sudah pasti, orang uangnya untuk beli rokok bukan untuk beli gizi. Nanti anaknya kurang gizi, udah kurang gizi nanti sekolahnya terganggu. Kalau sekolahnya terganggu akhirnya pendidikannya tidak maksimal. Kalau pendidikannya tidak maksimal, ya dia pasti jadi SDM yang kurang berkualitas,” ucap Lenny.

“Kalau dia bukan SDM yang berkualitas, siapa yang mau menerima dia sebagai pekerja, berarti dia tidak produktif. Sementara itu, dia membutuhkan makan, minum dan lain sebagainya tapi dia tidak bisa bekerja, akhirnya muncullah kemiskinan.”

Itulah rangkaian pemaparan yang disampaikan Lenny dalam webinar tersebut. Miris memang. Data yang dirilis BPS adalah data yang terjadi saat masyarakat sudah memasuki masa pandemi COVID-19. Masa yang semestinya orang mementingkan asupan gizi untuk memperoleh kekebalan tubuh yang maksimal. Namun yang terjadi malah sebaliknya, menambah asupan nikotin ke dalam tubuh.

“Rokok kretek filter menjadi terbesar kedua terhadap garis kemiskinan,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto. Persentase kontribusi rokok pada angka kemiskinan hanya kalah dari komponen makanan, dalam hal ini beras, yang berada di posisi pertama.

Persoalan konsumsi rokok mengalahkan konsumi telur dan daging ayam juga pernah terjadi pada pengeluaran untuk membeli pulsa handphone dengan konsumsi telur dan daging ayam, pada beberapa tahun sebelumnya.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas, BPS) 2016 menunjukkan, dalam enam tahun terakhir, biaya pengeluaran pulsa bulanan masyarakat Indonesia terus meningkat. Rata-ratanya mengalahkan jumlah pengeluaran pembelian buah dan daging (termasuk daging ayam).

Jumlah rata-rata pengeluaran pulsa secara nasional per bulan pada 2016 mencapai Rp 22.182/kapita. Sedangkan pengeluaran buah Rp 19.268 dan daging Rp 20.526/kapita. Meski begitu, nilai pengeluaran pembelian pulsa belum mengalahkan rata-rata pengeluaran bulanan untuk kebutuhan pokok seperti beras, sebanyak Rp 64.566.

Dengan selisih sedikit berbeda, biaya pengeluaran pulsa telepon bulanan ini lebih tinggi dari biaya rata-rata pengeluaran SPP bulanan anak sekolah yakni sebesar Rp 21.276/kapita pada 2016. Dengan pengeluaran sebesar itu, kini posisi pulsa dalam masyarakat Indonesia bukan lagi kebutuhan tersier, melainkan kebutuhan sekunder setelah terpenuhinya kebutuhan pokok.

Budaya Suka Ngobrol
Fenomena “konsumsi” pulsa handphone dan rokok jauh lebih besar dibandingkan dengan konsumsi daging ayam mendapat perhatian dari para pakar gizi. Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, menyebutkan, fenomena semacam ini sungguh miris. Kebutuhan asupan gizi dikalahkan kebutuhan pulsa hanya untuk gaya hidup.

“Dapat dibayangkan dengan Rp 20.000 bisa makan daging, berarti kalau diasumsikan sebagai daging ayam hanya sekitar 0,5 kg sebulan. Kalau diasumsikan dengan daging sapi malah prihatin lagi, hanya setara 200 gram/bulan/kapita,” ujar Erwanto.

Dosen Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini berpendapat, perputaran uang untuk biaya komunikasi, dalam hal ini pulsa, hanya akan berputar pada kurang dari 10 perusahaan besar saja. Sementara untuk konsumsi daging perputaran uangnya sangat luas, mulai dari petani jagung dan bahan pakan lain, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha restoran, usaha pemotongan hewan beserta jalur pasar yang mereka lewati melibatkan banyak pelaku usaha.

“Artinya kalau semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk daging akan mempunyai daya ungkit bagi usaha yang terlibat dan akan membuka lapangan kerja yang jauh lebih besar dibandingkan dengan uang yang berputar untuk biaya pulsa,” ungkapnya.

Erwanto tak sependapat dengan anggapan peningkatan daya beli pulsa masyarakat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan. Sederhananya, masyarakat mau makan pulsa atau mau makan daging yang akan meningkatkan produktivitas? Jadi tidak ada hubungannya antara biaya pulsa yang tinggi dengan tingkat kesejahteraan.

Ia berargumen, kalangan yang menggunakan telepon atau data internet dalam rentang yang panjang dan kadang tidak terkontrol dapat terjadi pada semua segmen ekonomi. Bahkan, sampai yang tidak punya duit sekalipun, bila ada kesempatan mereka kadang akan menggunakan pulsa dan data tanpa kendali. “Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan budaya kita memang lebih suka ngobrol dan kurang produktif,” ucap dia.

Menurut pakar gizi ini, penyebab rendahnya konsumsi masyarakat terhadap daging ayam tidak sekadar karena faktor pengetahuan atau pemahaman. Kalau pengetahuan dan pemahaman lebih cenderung keseimbangan gizi yang sering tidak dipahami.

“Mungkin salah satu faktor yang menyebabkan masih rendahnya konsumsi daging ayam adalah kekhawatiran kandungan antibiotik dan obat-obatan pada ayam broiler yang tinggi, namun sebenarnya tidak separah yang dikhawatirkan,” pungkasnya. (AK)

UEA MENCABUT LARANGAN UNGGAS DARI INDIA

Uni Emirat Arab telah mencabut larangan impor telur dan produk unggas lainnya dari India. Larangan itu diberlakukan sekitar 5 tahun yang lalu karena kekhawatiran akan flu burung.

UEA bergantung pada impor tidak hanya makanan, tetapi hampir semua input untuk sektor unggas, mulai dari obat-obatan dan pengemasan hingga peralatan dan pakan.

Impor unggas pada tahun 2021 diperkirakan sebesar 415.000 mt dan untuk tahun 2022 sebesar 445.000 mt karena perdagangan pulih dan pasar mulai stabil. New Delhi telah meyakinkan bahwa mereka akan mengikuti norma dan standar keamanan hayati yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia untuk mencegah infeksi dari flu burung, yang memungkinkan negara itu masuk ke pasar UEA.

Telur, telur tetas, dan DOC akan diekspor dari India ke UEA, saat ini hanya dari 2 perusahaan di Tamil Nadu. UEA adalah mitra dagang terbesar ketiga India dengan perdagangan bilateral yang dilaporkan hampir US$60 miliar pada FY2020.

CHERKIZOVO BERENCANA MENGAKUISISI TAMBOV TURKI

Perusahaan Rusia Cherkizovo meluncurkan rencana untuk mengakuisisi 50% Tambov Turki dari Grupo Fuertes Spanyol. Tambov Turki saat ini berada di peringkat kedua produsen kalkun terbesar di Rusia. Kesepakatan itu akan dibayar dengan saham tambahan Cherkizovo Group. Akibatnya, Grupo Fuertes akan meningkatkan kepemilikannya di perusahaan Cherkizovo.

Saat ini, Grupo Fuertes memegang 8,58% saham di Cherkizovo. Sebelum konsolidasi, kedua perusahaan memiliki 50% saham di Tambov Turki.

Konsolidasi 100% Tambov Turki akan membantu Cherkizovo Group menyederhanakan manajemen aset dan memperkuat posisinya di pasar kalkun. Pada tahun 2021, Tambov Turkey tahap kedua diluncurkan, yang diharapkan dapat mendorong kapasitas produksinya menjadi 85.000 ton per tahun, mulai dari tahun 2022.

KOLABORASI CHAROEN POKPHAND INDONESIA BERSAMA UNPAD

Foto bersama usai penandatanganan perjanjian kersajama antara CPI dan Unpad


PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) kembali menjalin kerjasama bersama perguruan tinggi di negeri ini, kali ini mereka merajut kerjasama dengan Universitas Padjajaran (Unpad). Nota kesepahaman kerjasama antara CPI dan Unpad ditandatangani di Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jawa Barat (13/1) yang lalu. Kerjasama tersebut nantinya berupa pembangunan Closed Housed  dan pengembangan kewirausahaan yakni Enterpreneur Training Center (ETC).

 

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Peternakan Unpad Dr. Ir. Rahmat Hidayat menjelaskan, PT Charoen Pokphand Indonesia memberikan hibah berupa pembangunan closed house bernilai Rp 2,235 miliar sebagai media pembelajaran dan riset bagi Fapet Unpad, khususnya budidaya unggas.

 

“Closed house ini merupakan bagian dari rencana besar Fapet untuk pengembangan laboratorium lapangan untuk berbagai komoditas dan bidang ilmu peternakan yang terintegrasi dalam suatu sistem sustainable livestock technopark,” kata Rahmat.

 

Unggas sendiri menjadi bidang ilmu prioritas di Fapet Unpad. Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, kurang lebih sebanyak dua persen lulusan Fapet Unpad terserap di industri perunggasan. Selain itu, banyak guru besar dan jabatan akademik dosen yang dilahirkan dari riset mengenai perunggasan.

 

Rahmat juga mengatakan, selain wadah pengembangan budidaya unggas, closed house ini juga bermanfaat sebagai sarana Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, penambahan fasilitas pembelajaran modern, hingga peningkatan keterampilan kompetensi mahasiswa dan lulusan di bidang budidaya ayam broiler.

 

Dalam kesempatan yang sama Tjiu Thomas Effendy selaku Presiden Direktur PT CPI sekaligus Ketua Umum Charoen Pokphand Foundation Indonesia mengatakan bahwa CPI berkomitmen mendukung pembelajaran di perguruan tinggi melalui pembuatan closed house maupun teaching farm. Selain mendukung kegiatan perguruan tinggi, pembangunan closed house bertujuan untuk menyiapkan lulusan fakultas peternakan yang siap pakai dalam industri perunggasan.

 

“Selain materi perkuliahan, mahasiswa juga harus dibekali skill dan jiwa enterpreneur,” kata Thomas.

 

Karena itu, kerja sama ini juga dibarengi dengan implementasi program ETC. Tujuannya agar mahasiswa dapat memperoleh bekal mengenai pengelolaan budidaya unggas hingga mengelola unsur komersial yang diperoleh dari hasi budidaya tersebut. Bentuk lain kerja sama antara CPI dan Unpad adalah pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki nilai akademik baik namun kurang mampu secara finansial.

 

Rektor  Unpad Prof. Rina Indiastuti pun mengapresiasi terjalinnya kerja sama dengan CPI. Ia berharap pembangunan closed house diharapkan menjadi prototipe pembelajaran mahasiswa dalam mengelola budidaya unggas. Selain itu, fasilitas ini juga harus dapat mendukung peningkatan kualitas penelitian khususnya di Fapet Unpad.

 

Selain pembangunan closed house dan pengembangan ETC penandatanganan perjanjian kerjasama antara CPI dan Unpad juga terjalin dibidang kemitraan dengan anak perusahaan CPI yakni PT Multi Sarana Pakanindo dan PT Primafood International (CR).

 

 


FLU BURUNG DI ISRAEL: 30 TON BANGKAI BURUNG LIAR

The Times of Israel melaporkan bahwa setiap tahun sekitar 100.000 bangau mengunjungi Lembah Hula, dengan sekitar 40.000 tinggal di Israel hingga awal Maret ketika mereka bergabung dengan mereka yang kembali dari Afrika untuk terbang ke utara ke Eropa dan Asia untuk bersarang.

Otoritas Taman dan Alam Israel mengatakan 1 dari 5 bangau liar yang tinggal atau bermigrasi melalui Israel telah terinfeksi flu burung, dengan pihak berwenang memperkirakan harus memindahkan 25 hingga 30 ton bangkai.

PUKULAN TERBURUK BAGI SATWA LIAR DI ISRAEL

Wabah flu burung telah menewaskan lebih dari 5.200 burung bangau yang bermigrasi di Israel. "Ini adalah pukulan terburuk bagi satwa liar dalam sejarah negara ini," kata Menteri Lingkungan, Tamar Zandberg.

Menurut ilmuwan senior di Israel Nature and Parks Authority, Uri Naveh, virus flu burung menyerang Israel setiap tahun, tetapi wabah tahun ini jauh lebih besar daripada yang terlihat sebelumnya. 5.200 burung bangau yang mati merupakan angka yang luar biasa menurut ilmuwan tersebut.

Epidemi menyebar di cagar alam Hula, di utara negara antara pegunungan Lebanon dan Naftali. Lembah Hula adalah bagian dari rute yang ditempuh oleh 500.000 burung bangau yang bermigrasi setiap tahun.

CHERKIZOVO MENGAKUISISI PRODUSEN KALKUN KRASNOBOR

Produsen daging terbesar Rusia, Cherkizovo Group, telah mencapai kesepakatan untuk mengakuisisi produsen kalkun terbesar ketiga di negara itu, Krasnobor, seharga 1,9 miliar rubel (US$26 juta).

Kesepakatan ini akan memperkuat posisi Cherkizovo di pasar kalkun Rusia dan memberikan sinergi dengan kapasitas pemrosesan daging yang akan dibangun perusahaan di wilayah Tula, kata Cherkizovo dalam sebuah pernyataan.

FLU BURUNG: ISRAEL MENGANTISIPASI KEKURANGAN TELUR

Kekurangan jutaan telur diantisipasi karena wabah flu burung H5N1 patogen di Israel, menurut Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Israel.

Sekitar 200 juta telur dikonsumsi di Israel setiap bulan, diperkirakan saat ini akan terjadi kekurangan 14 juta telur karena flu burung. Untuk membantu meringankan kekurangan ini, menteri pertanian Israel, Oded Forer, telah memutuskan untuk segera membuka pasar Israel untuk impor bebas bea 70-100 juta telur.

WEBINAR MENINGKATKAN KUALITAS KERABANG TELUR

Webinar meningkatkan kualitas kerabang telur yang digelar Behn Meyer bekerja sama dengan Novindo. (Foto: Infovet/Ridwan)

PT Behn Meyer bersama PT Novindo Agritech Hutama bekerja sama menyelenggarakan webinar “How to Improve Eggshell Quality” pada Rabu (12/1/2022).

Webinar diawali dengan sambutan dari Executive Director Sales Behm Meyer Chemicals, Teddy Candinegara, beserta Direktur Utama Novindo Agritech Hutama, Drh Irawati Fari.

Acara yang dimulai pada pukul 13:30 WIB menghadirkan narasumber Private Poultry Consultant, Tony Unandar, yang menjelaskan mengenai kualitas kerabang telur pada ayam modern.

“Ternak ayam modern, baik itu layer komersil maupun breeder sudah berkembang luar biasa. Mulai bertelur lebih cepat dengan masa remaja lebih pendek, sudah mampu belajar bertelur di umur 15-16 minggu. Pada broiler breeder juga demikian, terjadi banyak perubahan,” ujar Tony.

Kendati demikian, dengan produktivitas yang tinggi dibutuhkan asupan mineral dan kalsium yang mencukupi bagi ayam. Apabila itu tak terpenuhi, akan berpengaruh pada kualitas telur yang dihasilkan, misal tipis dan mudah retaknya kerabang telur.

 “Telurnya lebih banyak dan beratnya lebih besar membutuhkan banyak mineral dan kalsium. Karena saat ayam di masa produksi akan terjadi pembongkaran kalsium dalam tulang, makin tinggi produksi makin tinggi pembongkaran kalsiumnya,” jelasnya.

“Oleh karena itu tantangan di masa pullet menjadi penting bagaimana kita bisa memberikan asupan mineral dan kalsium yang cukup untuk pembentukan kerangka dan kepadatan tulang. Apabila itu tidak terpenuhi bisa terjadi kelumpuhan atau terjadi osteoporosis ketika ayam di masa produksi dan berakibat pada penurunan nafsu makan yang berdampak pada buruknya kualitas telur yang dihasilkan.”

Hal senada juga diungkapkan Product Manager Intracare B.V, Lee Yee Cheng yang menjadi narasumber berikutnya. Ia mengemukakan dibutuhkan pemberian vitamin D3 dalam mengoptimalkan penyerapan kalsium, magnesium dan fosfor untuk pembetukan tulang dan integritas kerangka, sekaligus pertumbuhan sel dan sistem imum, agar performa ayam optimal. (RBS)

PROSPEK PRODUKSI KALKUN RUSIA

Pada tahun 2020, produksi daging kalkun Rusia naik 20,7% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi hampir 330.000 ton, menurut penelitian yang dilakukan oleh perusahaan konsultan yang berbasis di Moskow, Agrifood Strategies. Sementara itu, total pendapatan peternak kalkun komersial melebihi Rub50 miliar yang memecahkan rekor (US$800 juta).

Agrifood Strategies memperkirakan produksi kalkun domestik di Rusia pertumbuhannya stabil mencapai 400.000 ton pada tahun 2021, 550.000 ton pada tahun 2025, dan 600.000 ton pada tahun 2030. Ini akan menjadikan Rusia sebagai produsen kalkun terbesar kedua di dunia, menyusul Polandia dan Jerman.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer