-->

EMPAT PILAR PENTING MANAJEMEN BROILER MODERN

Kandang ayam broiler dengan sistem closed house. (Foto: Istimewa)

Ayam broiler terus berkembang genetiknya dari masa ke masa. Broiler sekarang ini berbeda dengan broiler beberapa dekade lalu. Karenanya penanganan peternakannya pun juga berubah.

Regional Technical Manager Cobb Asia Pacific, Amin Suyono, dalam sebuah webinar mempresentasikan empat pilar penting dalam manajemen broiler modern.

Pre-Heating
Lakukan pre-heating setidaknya 48 jam sebelum ayam datang, dengan tujuan 24 jam sebelum ayam datang target suhu sudah tercapai dan stabil. Pre-heating dilakukan dengan menyalakan pemanas atau heater lebih awal sebagai upaya untuk mencapai suhu kandang yang sesuai dengan kebutuhan ayam dan stabil sebelum ayam datang di kandang.

• Suhu lantai harus di pre-heated minimal 28° C.
• Ukur suhu litter, targetnya jika menggunakan furnace/force heaters suhu harus 32° C, jika menggunakan radiant heater suhu di bawah pemanas harus 40,5° C.
Ambient temperature sekitar 33° C.

Target suhu litter sangat penting karena anak ayam akan terpapar langsung dengan litter melalui telapak kakinya. Jika suhu udara sudah tercapai tapi suhu litter belum, anak ayam akan tetap merasa kedinginan.

Akibatnya anak ayam diam dan tidak aktif, mengurangi intake pakan dan air sehingga mengurangi pertumbuhan. Alas kandang yang masih dingin menyebabkan telapak kaki dingin sehingga menurunkan suhu tubuh internal.

Suhu internal anak ayam bisa diukur dengan menggunakan termometer yang dimasukkan dengan lembut ke kloaka. Cek minimal 15 ekor anak ayam per kandang. Suhu internal anak ayam harus dipertahankan pada 40-40,6° C.

Early Feed Intake
Maksimalkan intake pakan awal, caranya tambah feeder space dengan menggunakan kertas. Tutup 50% area brooding dengan kertas berkualitas bagus (bisa tahan lima hari), tempatkan kertas di kiri dan kanan tempat minum. Tempatkan pakan 75 gram/ekor di atas kertas dan tempat pakan lainnya sebelum ayam datang.

Setelah anak ayam datang taruh langsung di atas pakan sehingga early intake yang diharapkan bisa terjadi. Ayam bisa langsung mengenali dan mengonsumsi pakan jadi mereka tidak perlu mencari tempat pakan. Tempat minum dan air minum juga harus sudah tersedia.

Cara mengevaluasi early feed intake yaitu ambil sampel anak ayam 100 ekor merata di kandang dan diraba temboloknya (crop fill check). Targetnya 95% anak ayam temboloknya harus sudah terisi pakan dan air keesokan hari setelah penempatan. Target konsumsi pakan adalah 25% dari berat DOC pada 24 jam pertama.

Early feed intake penting karena ketika anak ayam makan lebih awal sistem pencernaannya mulai bekerja, vili usus tumbuh bagus, permukaan usus makin luas, sehingga pertumbuhan bisa lebih cepat. Metabolisme juga mulai berjalan, produksi panas tubuh dimulai, risiko kedinginan menghilang, dan kontrol suhu tubuh (termoregulator) akan bekerja lebih awal.

Jika anak ayam terlambat makan maka tidak ada produksi panas, suhu tubuh lebih rendah, lebih banyak ayam culling, kemampuan termoregulator tertunda.

Sebagai evaluasi apakah brooding yang dilakukan sudah benar, cek target tujuh hari meliputi berat badan 4,6 x berat DOC atau lebih dari 200 gram, deplesi di bawah 1% atau 1,25-1,5% bagi yang menjalankan program antibiotic free, keseragaman flock CV 8-10.

Ventilasi yang Optimal
Ventilasi berfungsi untuk memastikan sirkulasi udara di dalam kandang berjalan dengan baik, memenuhi kebutuhan udara yang berkualitas dengan suhu yang tepat sesuai kebutuhan ayam. Kemudian membuang panas yang berlebih dari dalam kandang. Membuang kelebihan kelembapan, gas beracun, serta mensuplai oksigen untuk kebutuhan ayam.

Kriteria kualitas udara yang baik meliputi oksigen minimum 19,6%, karbon dioksida maksimum 3.000 ppm, RH% (kelembapan) maksimum 70%, karbon monoksida maksimum 10 ppm, amonia maksimum 10 ppm, debu terhirup maksimum 3,4mg/m3 udara.

Jawaban untuk broiler modern adalah ventilasi aktif untuk closed house. Maintenance kandang juga harus bagus agar tidak terjadi kebocoran di kapasitas ventilasi. Dengan closed house selain bisa memanajemen kecepatan angin, ventilasi, juga bisa memanipulasi lighting, meningkatkan density hingga 40kg/m, serta bisa menjalankan sanitasi dan biosekuriti dengan lebih baik.

Pada sistem open house sulit untuk mendapatkan performa yang optimal karena ventilasinya pasif hanya tergantung pada aliran udara alami. Solusinya adalah instal stirring fan untuk membantu aliran udara di kandang. Atau lebih baik lagi berinvestasi upgrade ke closed house untuk strategi jangka panjang.

Manajemen Air Minum
Air merupakan nutrisi penting dalam produksi ternak. Sebanyak 70% berat badan ayam adalah air. Air berperan besar dalam regulasi suhu tubuh, juga untuk mengalirkan gas-gas, oksigen, dan karbon dioksida di dalam tubuh. Mentransport nutrisi, glukosa, asam amino, vitamin, mineral, dan membawa produk-produk limbah sisa metabolisme ke hati dan ginjal untuk dieliminasi.

Seekor broiler sampai dengan 35 hari (2,25 kg) mengonsumsi setidaknya total 6 liter air. Pada 24 jam pertama konsumsi air minum idealnya 1 ml/ekor/jam (1 hari 24 ml, kira-kira 50% berat DOC). Konsumsi air akan menstimulasi konsumsi pakan.

Untuk mengetahui dengan pasti kualitas air memang harus dilakukan tes laboratorium. Namun gampangnya jika air tidak bagus untuk manusia maka juga tidak bagus untuk ayam.
Higienitas dan sanitasi air minum harus dijaga. Sanitasi pipa yang buruk bisa meningkatkan pertumbuhan biofilm, yaitu lapisan mikroorganisme yang membentuk kerak/lendir di dalam pipa air. Merupakan tempat berkembangnya bakteri patogen termasuk E. coli.

Pencegahannya adalah dengan flushing pipa air minum secara rutin saat brooding tiga kali sehari, setelah itu sekali seminggu. Untuk sanitasi bisa klorinasi dengan level 3-4 ppm, menggunakan filter air dan penyinaran UV.

Broiler modern tumbuh lebih pesat, mengonversi pakan lebih baik, dan menghasilkan panas tubuh lebih banyak. Aplikasikan tips manajemen yang penting untuk mencapai performa optimal yaitu pre-heating, intake pakan seawal mungkin, ventilasi kandang yang memadai, serta air minum yang selalu tersedia dan higienis. ***

Ditulis oleh:
Nunung Dwi Verawati
Koordinator Peliputan & Redaksi Majalah Infovet

KANDANG OTOMATIS UNTUK BROILER DAN LAYER

(Foto: Istimewa)

Fitur menonjol yang dimiliki kandang ayam otomatis adalah efisiensi kerja. Beberapa pekerjaan dikerjakan oleh mesin secara otomatis sehingga menghemat waktu dan tenaga kerja. Namun selain itu, menurut Andy dari Retech Farming, China, ada beberapa aspek yang dipertimbangkan ketika memilih kandang otomatis untuk broiler maupun layer.

Pertama adalah apakah kandang tersebut bisa memenuhi kebutuhan. Misalnya jika menginginkan pembersihan manur bisa dilakukan secara otomatis, cepat dan benar-benar bersih. Maka kandang harus mempunyai fitur yang mampu melakukan hal tersebut.

Kedua adalah apakah kandang otomatis tersebut bisa meningkatkan produktivitas. Maka sebaiknya jika memungkinkan selain dari produsen juga mencari informasi ke peternakan yang sudah menggunakan alat tersebut. Juga mempelajari fitur-fitur kandang apakah sekiranya manfaat dari fitur tersebut bisa meningkatkan produktivitas.

Ketiga adalah harga dan daya tahan kandang. Apakah harganya terlalu mahal untuk sebuah investasi. Berapa tahun kandang tersebut bisa beroperasi dengan baik, apakah ada garansi dan bagaimana maintenance-nya.

Keempat adalah apakah kandang sesuai dengan desain farm yang dimiliki. Produsen yang baik tidak hanya menjual peralatan, tapi juga mempunyai pengetahuan memadai dan mampu memberi saran bagaimana kandang otomatis bisa memberikan hasil maksimal sesuai dengan desain farm yang ada.

Kandang Broiler Otomatis Tipe H
Kandang ini berbentuk seperti huruf H, karena itu umum disebut sebagai kandang tipe H, dengan fungsi pemberian pakan dan air minum otomatis, pengontrolan manur otomatis dan pemanenan ayam otomatis.

Sistem air minumnya memiliki 12 nipple, dengan enam nipple di setiap sisi kandang. Pipa jalur air dapat dinaik-turunkan sesuai tinggi ayam di umur yang berbeda-beda.

Setiap kandang memiliki dua feeding pan (tempat pakan). Dilengkapi dengan dispenser pakan, dari dispenser ini pakan akan dialirkan dan masuk ke dalam masing-masing tempat pakan.

Sistem pengontrolan manur otomatis membuat kotoran ayam bisa dibersihkan lebih efisien dan lebih sering. Terdapat belt dengan material plastik PP sebagai tempat menampung manur, yang dapat menggerakkan manur ke ujung kandang untuk ditampung. Vertikal dan horizontal belt bekerja bersama, dilengkapi dengan empat scraper sehingga manur dapat dibersihkan dengan tuntas. Manur akan bisa dikeluarkan dari kandang dengan cepat.

Ketika ayam sudah siap dipanen alas kandang akan ditarik keluar sehingga ayam akan jatuh pada belt. Kemudian belt akan membawa ayam ke ujung kandang lalu ditampung. Seterusnya dibawa ke catching platform di mana para pekerja akan mengambil ayam dari platform.

Pemanenan ini berlangsung efisien dan pekerja tidak perlu masuk ke dalam kandang. Kemampuan panennya bisa sampai sekitar 6.000 ekor/jam.

Kandang tipe H ini bertingkat, setiap kandang di setiap tingkat umumnya bisa menampung 100 ekor lebih ayam. Namun hal itu juga tergantung pada target berat panen. Misalnya berat panen yang ditargetkan 2 kg tentu jumlah ayam per kandang akan lebih sedikit dibanding dengan berat panen 1,2 kg.

Pengaturan kepadatan penting agar ayam tetap mempunyai ruang gerak yang cukup, namun tidak menjadikan mereka terlalu banyak beraktivitas. Ayam yang aktivitasnya berlebihan akan makan lebih banyak sehingga cost pakan lebih tinggi.

Alas kandang juga mempunyai batas maksimum berapa kilogram berat yang bisa ditahan dengan baik. Sehingga mengatur kepadatan sesuai target berat panen sangatlah penting.

Kandang Layer Otomatis Tipe H
Bentuknya sama dengan kandang tipe H untuk broiler. Perbedaannya kandang layer tipe H ini memiliki penampung pakan yang berfungsi juga sebagai troli pakan. Dari silo pakan akan dimasukkan ke penampung, kemudian penampung berjalan menebar pakan di tempat pakan.

Desain tempat pakan dibuat melebar di atasnya sehingga ayam lebih mudah makan dan mencegah pakan berceceran. Setelah ayam selesai makan, feeding collector akan bekerja mengumpulkan sisa pakan, dimasukkan kembali ke penampung agar bisa digunakan lagi.

Sistem air minumnya menggunakan dua pipa untuk memudahkan ayam. Juga jika salah satu pipa air bermasalah maka pipa yang satunya masih bisa bekerja agar ayam tidak kekurangan minum. Kandang disekat namun memiliki semacam sharing window, sehingga ayam bisa mengakses nipple air minum yang sama.

Layer memproduksi telur maka kandang juga dilengkapi dengan alat egg collector. Telur digerakkan oleh belt ke ujung kandang di mana terdapat elevator, berupa semacam rak bertingkat yang bisa berputar. Dari elevator telur dimasukkan ke dalam collecting station sehingga pekerja kandang bisa dengan mudah mengambil telur.

Untuk peternakan besar, masing-masing kandang layer tipe H bisa dihubungkan ke satu central egg collector, sehingga semua telur dari semua kandang akan berkumpul.

Pembersihan manur tidak jauh berbeda dengan kandang otomatis broiler tipe H. Belt penampung manur akan berjalan dan mengumpulkan manur di ujung kandang. Belt yang baik dalam kondisi normal akan bisa terus dipakai setidaknya selama delapan tahun.

Alas kandang didesain dengan kemiringan yang tepat, sekitar 8°. Karena jika terlalu miring ayam akan kesulitan berdiri, jika terlalu datar telur akan sulit untuk bergulir masuk ke belt penampung.

Kandang layer otomatis tipe H ini cocok digunakan pada peternakan dengan populasi tinggi, sekitar 30.000 ke atas. Untuk populasi sedang atau kecil direkomendasikan menggunakan kandang tipe A.

Kandang Layer Otomatis Tipe A
Kandang ini berbentuk seperti huruf A. Feeding system, drinking system dan egg collecting tidak jauh berbeda dengan kandang layer tipe H. Namun pengontrolan manurnya berbeda.

Terdapat deflector untuk mencegah manur jatuh pada ayam yang berada pada kandang di tingkat bawah. Juga untuk memastikan semua manur jatuh ke bawah kandang sehingga mudah dibersihkan. Pembersihan manur bisa dengan menggunakan belt berjalan. Opsi lainnya manur ditampung lalu dibersihkan menggunakan scraper.

Kelebihan kandang layer tipe A adalah fleksibilitasnya. Bisa dibuat beroperasi secara manual, semi otomatis, atau full otomatis. Pengoperasian manual berarti segala fungsi otomatis ditiadakan, termasuk belt pada sistem manur bisa dilepas. Bisa dioperasikan benar-benar manual, hanya kandang saja, yang tidak memerlukan tenaga listrik.

Untuk semi otomatis hanya sebagian fungsi otomatis yang dipasang misalnya hanya egg collecting atau hanya feeding system, sehingga lebih hemat biaya listrik. Sedangkan full otomatis membutuhkan listrik yang lebih besar dan disarankan agar di-support dengan generator sebagai cadangan sumber listrik. (NDV)

PERESMIAN TEACHING FARM CLOSED HOUSE FAPET UNPAD

Peresmian teaching farm closed house. (Foto: Istimewa)

Rabu (14/9/2022), di mulai pukul 10:30 WIB, di Desa Ciparangge, Jatinangor, Sumedang, diselenggarakan Peresmian Teaching Farm Closed House Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Padjajaran (Unpad), yang merupakan hibah dari PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI).

Hibah kandang closed house ini merupakan hibah ke-13 dari PT CPI yang dibangun selama delapan bulan dengan berbagai fasilitas pendukung yang diperlukan, seperti kandang dengan kapasitas 23.000 ekor, akses jalan beton menuju farm, kantor, gudang pakan ternak dan bangunan penunjang lainnya.

Dalam sambutannya Dekan Fapet Unpad, Rahmat Hidayat, menyatakan bahwa teaching farm closed house ini nantinya diharapkan memiliki lima manfaat, antara lain sebagai percontohan budi daya broiler yang ramah lingkungan, laboratorium lapangan bagi mahasiswa, meminimalisir gap antara industri dan pendidikan, tempat uji kompetensi untuk sertifikat keahlian, serta dapat diakses oleh masyarakat umum.

Sementara Wakil Dekan Fapet Unpad Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Riset, Indrawati Yudha Asmara, menyatakan kegiatan ini sejalan dengan jargon yang digunakan saat ini, yakni “Unpad Bergerak” dan “Kampus Merdeka” dengan tujuan meningkatkan kualitas SDM melalui rangkaian kegiatan salah satunya penerapan teknologi baru dengan menghadirkan kandang closed house.

Rektor Unpad, Prof Rina Indiastuti, yang juga hadir turut mengemukakan bahwa kehadiran kandang closed house ini merupakan aset dan kebanggaan bagi Unpad. “Diharapkan perlu juga tersedia magang bagi mahasiswa di toko hasil produksi peternakan, sehingga alumni siap untuk berwirausaha, disamping mendorong mahasiswa selalu menghadiri pameran teknologi peternakan skala nasional maupun internasional,” katanya.

Harapan senada juga disampaikan oleh Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Provinsi Jawa Barat, Indriantari, mewakili Kepala Dinas DKPP. “Berharap kehadiran teaching farm Fapet Unpad ini kelak terjadi sinergi antara peternakan rakyat dan industri peternakan, khususnya di bidang perunggasan. Dan terciptanya model pengembangan ayam ras pedaging di Jawa Barat, serta membentuk petani-peternak milenial,” harapnya.

Pada kesempatan tersebut juga turut dihadiri Presiden Direktur PT CPI Tjiu Thomas Effendy, Ketua BEM Fapet Unpad Tama Mahardika, serta Staf Khusus Menteri Koperasi dan UMKM Agus Santoso. Pada acara peresmian itu juga dilakukan peninjauan ke dalam kandang closed house yang berisi 23.000 DOC broiler. (SA)

MENGINTIP PERALATAN KANDANG BROILER CLOSED HOUSE

Kandang closed house dilengkapi peralatan canggih untuk menunjang performa ayam. (Foto-foto: Istimewa)

Kandang broiler modern (closed house) dilengkapi dengan berbagai peralatan yang bertujuan untuk memberikan lingkungan kepada ayam yang optimal, memenuhi kebutuhan nutrisinya dan perlindungan dari penyakit.

Pemberian Pakan
Ada banyak jenis feeder untuk broiler salah satunya adalah auto feeder. Bekerja dengan memindahkan pakan dari tempat penyimpanan ke saluran pakan lalu menyalurkannya ke control pan dimana ayam akan makan. Ketika control pan kosong, auto feeder akan menyala dan otomatis mengisinya lagi dengan pakan.

Item lain yang digunakan adalah baby chick feeder untuk ayam usia 0-14 hari. Ketinggian tempat pakannya menyesuaikan tinggi ayam yang masih kecil, kapasitasnya bisa menampung 3 kg pakan. Satu baby chick feeder bisa digunakan hingga sekitar 25 ekor.

Adapun super feeder yang juga bisa menjadi pilihan lebih praktis. Memiliki ketinggian tempat makan yang sama dengan baby chick feeder sehingga bisa digunakan untuk DOC. Ketika ayam sudah berumur lebih dari 14 hari, super feeder bisa digantung menggunakan screw hook sesuai ketinggian tubuh ayam. Untuk menaik-turunkan super feeder digunakan clip adjuster.

Super feeder mempunyai kapasitas 5 kg ke atas. Ada yang tanpa sekat dan ada yang bersekat dengan bertujuan agar pakan tidak terbuang ke lantai.

Sistem Air Minum
Ayam harus dipastikan mendapatkan air bersih dengan volume yang cukup dan akses tak terbatas. Tekanan air disesuaikan dengan umur ayam.

Water pressure regulator adalah bagian sangat penting dari sistem air minum ayam. Digunakan untuk mengontrol besarnya tekanan air di pipa. Ada regulator yang mempunyai fitur automatic flush untuk membersihkan secara otomatis.

Nipple drinker adalah tempat dimana ayam meminum air. Diletakkan cukup tinggi agar ayam bisa minum dengan cara mendongak. Hal itu sesuai dengan cara minum alami ayam, jika diperhatikan di alam liar ayam yang minum akan mengambil air dengan paruhnya lalu mendongak untuk menelan airnya.

Dosatron kit adalah alat untuk mencampur obat, vitamin, atau vaksin ke dalam air, dihisap dan disalurkan ke saluran pipa hingga ke nipple untuk diminum oleh ayam. End set adalah lubang angin untuk melepas udara di pipa, dimana dilepas keluar dari nipple.

Alat lain yang digunakan dalam drinker system adalah screw hook, selang insatalasi, pipa dan stop keran.

Pemanas
Masa brooding adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2022. (NDV)

TAHAPAN TEKNIS MEMBANGUN KANDANG CLOSED HOUSE

Ayam memerlukan lingkungan pemeliharaan yang nyaman. (Foto: Shutterstock)

Sistem perkandangan modern yang lebih dikenal dengan sistem kandang tertutup (closed house) di bangun dengan tujuan menciptakan lingkungan pemeliharaan yang nyaman bagi ayam.

Area Head Production West Java PT Charoen Pokphand Indonesia, Karno, menyarankan kepada peternak dalam membangun kandang closed house memerlukan konsultasi terlebih dahulu guna tercapainya efisiensi biaya dan produktivitasnya.

Terdapat beberapa tahapan teknis yang perlu diperhatikan dalam membangun kandang closed house, diantaranya pemilihan lahan, ukuran kandang, listrik dan genset, peralatan kandang (adanya ventilasi, evaporative systems, heating/brooding/lighting systems, drinker systems, feeding systems) serta konstruksi.

Pemilihan Lahan 
Beberapa faktor yang mutlak diperhatikan dalam memilih lahan atau lokasi kandang untuk usaha peternakan ayam antara lain: 
• Akses jalan memadai.
• Dekat dengan jaringan listrik 3 phase.
• Letak kandang tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk, serta telah mendapat izin dari masyarakat dan instansi terkait.
• Kualitas dan kuantitas air cukup sepanjang tahun.
• Lebih disarankan lahan yang datar.
• Panjang dan lebar lahan cukup untuk dibangun kandang (memanjang arah Timur-Barat).

Ukuran Kandang
Lebih lanjut, Karno menjelaskan spesifikasi teknis bangunan kandang closed house. “Panjang 120 meter dan lebar 12 meter. Tinggi per lantai 2 meter, jumlah lantai 1-3 lantai,” terang Karno saat menjadi narasumber pada Closed Poultry House Training yang diselenggarakan Sekolah Vokasi IPB, beberapa waktu lalu.

Karno menambahkan, arah kandang memanjang Barat-Timur dan kapasitas kandang per meter persegi 14-25 ekor atau 20.000-36.000 ekor/lantai.

Kebutuhan Daya Listrik Kandang Standar 2 Lantai
Sumber: Karno, PT Charoen Pokphand Indonesia.

Peralatan Kandang
Sistem ventilasi menjadi pokok dari sebuah kandang closed house. “Ventilation system ini dapat menggunakan exhaust fan berdiameter 52 inci terintegrasi dengan sensor dan kontrol panel (micro controller),” lanjut Karno.

Kelengkapan dari sistem ventilasi ini terdiri dari fan (kipas), evaporative cooling pad yang terintegrasi dengan sensor dan kontrol panel.

Dalam brooding system, Karno mengatakan dapat menggunakan space heater. Berikutnya adalah pemasangan watering system menggunakan sistem nipple dengan regulator tekanan air.

Pada tahap feeding system, Karno mengimbau untuk menggunakan sistem Auger Pan Feeding berpenggerak motor listrik. Hal ini bertujuan untuk mendistribusikan pakan ke seluruh kandang melalui pipa galvanis dengan screw conveyor atau auger.

Karno juga menambahkan, dalam aspek peralatan kandang closed house, diperlukan sarana penunjang. “Penting untuk menyediakan gudang penyimpanan pakan, sekam dan alat-alat untuk keperluan proses budi daya. Selain itu, pemilik juga perlu membangun mess untuk tempat tinggal karyawan,” ujar dia.

Menghitung Kebutuhan Kipas
Semua kebutuhan untuk pertumbuhan ayam harus tersedia di dalam kandang. Selain kebutuhan air minum dan ransum yang cukup serta berkualitas, pentingnya memerhatikan sistem ventilasi udara yang baik serta suhu dan kelembapan udara yang optimal.

Pada kandang closed house terjadi pergerakan udara yang stabil dan tingkat kelembapan udara di dalam kandang bisa diatur sesuai kebutuhan ayam.

Suhu yang dirasakan oleh tubuh ayam dinamakan suhu efektif. Suhu efektif ini dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu suhu ruangan (suhu yang terdeteksi di termometer), kelembapan dan kecepatan aliran udara dalam kandang (yang mengenai tubuh ayam).

Kendati suhu termometer tinggi, namun apabila terdapat aliran udara maka suhu yang dirasakan oleh tubuh ayam akan lebih rendah. Hal inilah yang dinamakan dengan chilling effect.

Tujuan menghitung kebutuhan kipas berdasarkan kecepatan diantaranya untuk menurunkan temperatur yang selanjutnya menimbulkan wind chill effect. Wind chill effect merupakan efek penurunan suhu yang dirasakan akibat adanya hembusan angin yang mengenai permukaan tubuh/kulit ayam.

Berikutnya menghitung berdasarkan pertukaran udara (air exchange) guna menyuplai oksigen lalu mengeluarkan gas-gas berbahaya (CO², NH3) dan mengeluarkan uap air agar mengurangi kelembapan udara maupun kelebihan panas.

Sistem closed house yang baik harus mampu menghasilkan kecepatan angin yang dibutuhkan untuk menghasilkan suhu yang sesuai bagi ayam. “Memastikan pertukaran udara terjadi dalam durasi yang sesuai. Misalnya dalam waktu 1 menit, seluruh volume udara di dalam kandang sudah dikeluarkan dan diganti dengan udara baru dari luar,” jelas Karno.

Kandang closed house yang sering dijumpai di Indonesia adalah kandang dengan tipe tunnel atau seperti terowongan yang dilewati oleh udara dengan kecepatan dan waktu tertentu. Satuan yang digunakan untuk mengukur berapa kecepatan udara (air velocity) adalah CFM atau Cubic Feet per Minute. “Menghitung kebutuhan kipas berdasarkan kebutuhan CFM/kg yakni 4,0-6,21 CFM/kg,” kata Karno.

Contoh Lighting Program
Sumber: Karno, PT Charoen Pokphand Indonesia.

Feeding & Drinker Systems
Ruang pakan (feeder space) yang cukup serta keseragaman flock merupakan poin penting untuk mencapai performa optimal.

Menurut Karno, apapun tipe feeder yang digunakan, yang terpenting adalah feeder space harus cukup. “Pakan harus selalu ada (full feed),” imbuhnya. Sementara untuk drinker systems ada beberapa persyaratan:
Water flow sesuai dengan umur ayam.
Ketinggian nipple selalu disesuaikan dengan umur ayam.
Kebersihan cup harus selalu dijaga.
Monitor konsumsi air minum dengan meteran air.
• Apabila ada perubahan konsumsi air, segera cek. Seperti juga jika ada kebocoran, water flow tak sesuai, nipple terlalu tinggi/rendah, saluran air mampet, ayam sakit dan lain sebagainya.

Konstruksi
Konstruksi bangunan kandang direkomendasikan menggunakan konstruksi rangka besi. Hal ini bertujuan untuk mengambil keuntungan dari masa manfaat bangunan yang relatif lebih panjang, diperkirakan mampu mencapai 20 tahun. Selain itu bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan bangunan akibat hama, tiupan angin, banjir dan fenomena alam lainnya. (NDV)

KOLABORASI CHAROEN POKPHAND INDONESIA BERSAMA UNPAD

Foto bersama usai penandatanganan perjanjian kersajama antara CPI dan Unpad


PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) kembali menjalin kerjasama bersama perguruan tinggi di negeri ini, kali ini mereka merajut kerjasama dengan Universitas Padjajaran (Unpad). Nota kesepahaman kerjasama antara CPI dan Unpad ditandatangani di Gedung Rektorat Unpad, Jatinangor, Jawa Barat (13/1) yang lalu. Kerjasama tersebut nantinya berupa pembangunan Closed Housed  dan pengembangan kewirausahaan yakni Enterpreneur Training Center (ETC).

 

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Peternakan Unpad Dr. Ir. Rahmat Hidayat menjelaskan, PT Charoen Pokphand Indonesia memberikan hibah berupa pembangunan closed house bernilai Rp 2,235 miliar sebagai media pembelajaran dan riset bagi Fapet Unpad, khususnya budidaya unggas.

 

“Closed house ini merupakan bagian dari rencana besar Fapet untuk pengembangan laboratorium lapangan untuk berbagai komoditas dan bidang ilmu peternakan yang terintegrasi dalam suatu sistem sustainable livestock technopark,” kata Rahmat.

 

Unggas sendiri menjadi bidang ilmu prioritas di Fapet Unpad. Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, kurang lebih sebanyak dua persen lulusan Fapet Unpad terserap di industri perunggasan. Selain itu, banyak guru besar dan jabatan akademik dosen yang dilahirkan dari riset mengenai perunggasan.

 

Rahmat juga mengatakan, selain wadah pengembangan budidaya unggas, closed house ini juga bermanfaat sebagai sarana Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, penambahan fasilitas pembelajaran modern, hingga peningkatan keterampilan kompetensi mahasiswa dan lulusan di bidang budidaya ayam broiler.

 

Dalam kesempatan yang sama Tjiu Thomas Effendy selaku Presiden Direktur PT CPI sekaligus Ketua Umum Charoen Pokphand Foundation Indonesia mengatakan bahwa CPI berkomitmen mendukung pembelajaran di perguruan tinggi melalui pembuatan closed house maupun teaching farm. Selain mendukung kegiatan perguruan tinggi, pembangunan closed house bertujuan untuk menyiapkan lulusan fakultas peternakan yang siap pakai dalam industri perunggasan.

 

“Selain materi perkuliahan, mahasiswa juga harus dibekali skill dan jiwa enterpreneur,” kata Thomas.

 

Karena itu, kerja sama ini juga dibarengi dengan implementasi program ETC. Tujuannya agar mahasiswa dapat memperoleh bekal mengenai pengelolaan budidaya unggas hingga mengelola unsur komersial yang diperoleh dari hasi budidaya tersebut. Bentuk lain kerja sama antara CPI dan Unpad adalah pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang memiliki nilai akademik baik namun kurang mampu secara finansial.

 

Rektor  Unpad Prof. Rina Indiastuti pun mengapresiasi terjalinnya kerja sama dengan CPI. Ia berharap pembangunan closed house diharapkan menjadi prototipe pembelajaran mahasiswa dalam mengelola budidaya unggas. Selain itu, fasilitas ini juga harus dapat mendukung peningkatan kualitas penelitian khususnya di Fapet Unpad.

 

Selain pembangunan closed house dan pengembangan ETC penandatanganan perjanjian kerjasama antara CPI dan Unpad juga terjalin dibidang kemitraan dengan anak perusahaan CPI yakni PT Multi Sarana Pakanindo dan PT Primafood International (CR).

 

 


WORK BASED ACADEMY, PROGRAM MAGANG TINGKATKAN KETERAMPILAN SARJANA PETERNAKAN

Yesakh Ryan saat magang pada peternakan broiler unit Kalimantan Tengah. (Foto: Istimewa)

Mencari pengalaman sebelum bekerja menjadi hal penting bagi sebagian besar manusia. Banyak cara untuk mendapatkan pengalaman, salah satunya melalui magang. Begitu pula dengan Yesakh Ryan, lulusan Universitas Palangka Raya program studi (prodi) Peternakan yang menjadi salah satu peserta Work Based Academy (WBA) batch 2.

WBA merupakan program kerja sama antara Fakultas Peternakan UGM dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. Yesakh Ryan sendiri saat ini ditempatkan pada peternakan broiler unit Kalimantan Tengah.

Ia bercerita sempat pesimis saat mendaftar program WBA. Hal ini karena banyak pendaftar lain yang berasal dari universitas ternama di Indonesia.

“Tetapi keinginan saya yang besar untuk berkarir di dunia perunggasan membuat saya semangat dan tetap maju. Saya berpikir, meskipun akhirnya tidak lolos, setidaknya saya pernah mencoba,” ucap Yesakh Ryan, saat sesi monitoring evaluasi rutin WBA yang dilakukan melalui daring, Jumat (15/1/2021).

Berkat usaha dan tekad yang besar, Yesakh dinyatakan lolos menjadi bagian WBA batch 2. Banyak hal yang sudah ia didapatkan, terutama pada materi yang kemudian diterapkan saat magang di lapangan. Pemahaman akan situasi lapangan dan cara mengatasi permasalahan menjadi pembelajaran yang didapatkan. Disana, ia juga mendapat bimbingan langsung oleh mentor berpengalaman di bidang perunggasan.

“Sebagian peternak belum semua mengetahui mengenai manajemen pemeliharaan kandang closed house yang sesuai dengan standar perusahaan. Hal ini mengakibatkan saat proses pemeliharaan kurang maksimal. Tetapi kendala tersebut dapat diatasi dengan mendiskusikan segala permasalahan dengan tim atau mentor saat di lapangan,” ucapnya.

Tentunya dengan pengalaman yang diperoleh saat magang, menjadikan Yesakh lebih unggul dan siap menghadapi dunia pekerjaan serta mampu bersaing dengan SDM dari dalam maupun luar negeri.

“Saya bersyukur bisa mendapat kesempatan luar biasa ini dan menjadikan saya tidak menyesal telah terjun di bidang peternakan,” ungkap Yesakh.

General Manager Human Capital PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, Ir M. Syafri Afriansyah, memaparkan bahwa setiap peserta WBA mendapatkan pendampingan dari mentor atau senior selama magang enam bulan.

“Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta dalam budi daya broiler menggunakan sistem closed house. Sehingga setiap peserta benar-benar mengetahui bagaimana business process dalam peternakan broiler yang dijalankan secara efisien,” tutur Syafri.

Sementara Dekan Fakultas Peternakan UGM sekaligus penggagas program WBA, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, menjelaskan bahwa lulusan program studi peternakan harus mampu menjawab tantangan perkembangan industri 4.0 atau disruption era.

“Adaptasi dengan adanya perubahan pola tersebut harus mampu dihadapi dengan bijaksana, yakni dengan meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan saat ini. Complex problem solving menjadi target keterampilan yang harus dimiliki oleh setiap peserta program WBA,” kata Prof Ali. (IN)

MANAJEMEN VENTILASI PADA CLOSED HOUSE MODERN

(Foto: Istimewa)

Pada Agustus 2020 terjadi kondisi lingkungan ekstrem, beberapa wilayah di Indonesia mengalami kondisi cauaca yang panas luar biasa. Hal ini berkorelasi terhadap peningkatan kejadian penyakit dengan mayoritas masih didominasi penyakit viral di ternak broiler maupun layer. Adapun data yang penulis himpun bekerja sama dengan PT Ceva sebagai berikut:

Gambar 1. Kejadian penyakit pada broiler Agustus 2020.

Gambar 2. Kejadian kasus penyakit layer Agustus 2020.

Penyakit pernapasan masih menjadi momok menakutkan bagi ayam broiler dimana dominasi penyakit masih seputar Newcastle Disease (ND) dan Chronic Respiratory Disease (CRD) yang berhubungan erat dengan manajemen ventilasi.

Kali ini penulis akan membahas manajemen ventilasi yang sesuai dengan kebutuhan ayam sehingga dapat meminimalisir kejadian penyakit pernapasan pada unggas.

Untuk mengendalikan kasus pernapasan ini, langkah yang paling penting adalah menjaga integritas sistem pernapasan dari gangguan berbagai faktor utama pemicunya. Hal ini dapat tercapai jika mampu menjaga sistem pernapasan, mulai saluran pernapasan bagian atas sampai bawah dengan memberikan kebututuhan udara sesuai kebutuhan unggas.

• Parameter Kenyamanan Ayam:
- Pencapaian suhu efektif disetiap umur dengan Index Heat Stress (IHS) <160
- Kelembapan <70%
- Suhu rectal (tubuh) ayam 39.5-40.6° C
- (Suhu tubuh - suhu lingkungan) > 8° C
- Suhu rata-rata siang - suhu rata-rata malam < 8° C
- Perilaku ayam aktif makan dan minum serta menyebar rata

Tata Laksana Manajemen Ventilasi
Konsep kandang sehat adalah berventilasi, yaitu adanya proses penggantian udara dalam ruang oleh udara segar dari luar, baik secara alami maupun dengan bantuan alat mekanis (kipas angin) yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen ayam dalam kandang, kemudian membuang gas beracun di dalam ruangan kandang, membatasi naiknya suhu panas dan kelembapan dalam kandang, serta menciptakan temperatur efektif sesuai kebutuhan ayam/fasenya.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas, maka minimum ventilasi yang direkomendasikan adalah sebagai berikut: (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2020)

Ditulis Oleh:
Drh Sumarno (Sr Mgr AHS Central
& East Java PT Sreeya Sewu Indonesia) &
Han (Praktisi layer)

KENYAMANAN KANDANG JADI “RUMAH IDAMAN” AYAM

Ternak ayam broiler yang dipelihara dalam kandang closed house. (Foto: Dok. Infovet)

Meskipun terbilang eksklusif karena tingginya biaya investasi, namun kandang closed house bisa dikatakan identik dengan “rumah idaman ayam”. Pasalnya, kondisi lingkungan yang dihasilkan dalam kandang closed house bisa diatur sesuai kebutuhan ayam. 

Beberapa keuntungan menggunakan kandang closed house diantaranya tidak terpengaruh perubahan lingkungan, kualitas udara yang tersedia lebih baik, pengaturan suhu, serta ayam pun menjadi lebih tenang, segar dan nyaman. Dengan manipulasi lingkungan tersebut, kepadatan ayam bisa ditingkatkan tanpa harus mendirikan bangunan kandang baru.

Kendati demikian, kandang closed house dengan segudang keunggulan tidak menjadi jaminan terbebas dari masalah stres ataupun penyakit pada ayam. Salah satu ancaman kesehatan ayam datang dari manajemen kelembapan yang buruk. Dampaknya, litter yang menggumpal akibat air dan kotoran menjadi sumber gas beracun, serta tempat berkembangnya virus dan bakteri yang mengancam kesehatan ayam. Salah satu ancaman besar dalam kandang closed house adalah munculnya amonia.

Dikenal mempunyai daya iritasi yang tinggi, keberadaan amonia dalam kandang harus diwaspadai. Dengan massa jenis lebih besar dari udara, amonia cenderung tidak mudah menguap ke atas dan terbuang ke udara. Karena itu ayam akan menghirup gas yang bisa mengiritasi mukosa membran pada mata dan saluran pernapasannya terus-menerus. 

Menurut Ritz et al., 2004, rekomendasi umum untuk kandungan amonia yang aman dan belum menimbulkan gangguan pada ayam di bawah 20 ppm. Lebih dari itu, amonia bisa menimbulkan kerugian. Selain merusak membran mata dan pernapasan, dampak lainnya membuat hambatan pertumbuhan dan penurunan produksi telur. Secara tidak langsung, amonia dengan kadar tinggi ternyata juga bisa memicu munculnya kasus infeksi penyakit-penyakit pada saluran pernapasan. Wajar saja, kerusakan membran saluran pernapasan melemahkan gerbang pertahanan terhadap infeksi bibit penyakit.

Efek lain dari tingginya kadar amonia adalah timbulnya gangguan pembentukan kekebalan tubuh, baik yang bersifat lokal maupun humoral. Pada produksi kekebalan lokal (IgA) yang terdapat dalam saluran pernapasan atas terjadi gangguan. Hal ini disebabkan rusaknya sel-sel epitel oleh iritasi amonia. Adapun kadar amonia yang tinggi dalam darah, akibat terhisap dalam jumlah besar, menyebabkan stres pada sel-sel limfosit sehingga produksi antibodi (IgG dan IgM) juga mengalami gangguan (North, 1984).

Pengaruh Amonia pada Ayam
Kadar Amonia (ppm)
Respon Petugas Kandang
Pengaruh Amonia pada Ayam
Kerusakan Pernapasan
Kerusakan Mata
Produksi Telur Menurun
Berat Badan Turun
20
Bau mulai tercium
Ringan
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
25-30
Bau tercium
Ringan
Ada (+)
Sedikit
Sedikit
50-60
Bau tajam
Ada (+)
Ada (+)
Ada (+)
Ada (+)
100
Iritasi hidung
Ada (+)
Ada (+)
Ada (++)
Ada (++)
200
Iritasi mata
Ada (++)
Ada (++)
Ada (+++)
Ada (+++)
Sumber: Disease of Poultry (2003) dalam Medion online.
Keterangan: Semakin banyak tanda (+) semakin parah.

Tepat Pengaturan
Salah satu prinsip dalam menurunkan suhu adalah sistem evaporasi dengan menggunakan colling pad, yaitu uap air yang dihasilkan colling pad akan dihisap kipas dan dialirkan ke dalam kandang. Efeknya, suhu yang awalnya tinggi menjadi lebih rendah. 

“Namun, ada masalah pada setting sistem elektrikalnya,” ujar Agus Yohani Slamet, pemilik Tembalang Poultry Equipment, sekaligus pengelola website peralatankandangayam.com dan kandangclosehouse.com.

Menurut Agus, kebanyakan teknisi mengatur aktivasi colling pad hingga suhu 25 atau 26° C. Artinya, colling pad akan berjalan atau aktif dialiri air hingga mencapai suhu tersebut. Adapun kipas dibuat off atau mati pada suhu 27° C. “Dampaknya, kelembapan menjadi tinggi. Salah satu indikatornya terlihat dari sekam yang menggumpal.” Jelasnya.

Agar performa kandang closed house optimal, pengaturan perlu dilakukan pada sistem elektrikal, yaitu cooling pad dan kipas. Untuk cooling pad, aktivasi sebaiknya diatur pada suhu 28,5 atau 29° C. Sementara kipas diatur pada suhu yang sama dengan cooling pad. Artinya, suhu kandang diatur pada suhu 29° C.

Setelah pengaturan suhu, selanjutnya adalah pengaturan waktu nyala dan mati cooling pad. “Cooling pad dibuat intermiten 6 menit menyala dan 5 menit mati,” jelas Agus. Pengaturan pada cooling pad dan kipas sebaiknya dibedakan antara siang dan malam hari. Jika kipas yang menyala pada malam hari sedikit, kandang menjadi pengap. Menurut Agus, kesalahan yang sering dilakukan peternak adalah mengandalkan Temtron, misalnya untuk sistem elektrikal otomatisnya dengan paramater suhu kandang yang rendah. 

“Pengalaman di Lombok, Nusa Tenggara Barat, kandang milik salah satu peternak dengan populasi 35 ribu ekor ayam bisa mencapai IP 401. Sistem elektrikal yang digunakan semi-otomatis,” ungkap Agus.

Indeks Produksi (IP) broiler merupakan parameter keberhasilan dalam beternak ayam. Di bawah 300 berarti buruk, antara 300-400 berarti baik, sedangkan di atas 400 diartikan excellent. Cara penghitungan Indeks Produksi sebagai berikut: Indeks Produksi (IP) = [Ayam hidup (%) x Berat rata-rata (kg)] : [Umur x FCR x 100%].

Dengan sistem semi-otomatis, mekanisme kerja alat tidak semata-mata diserahkan pada sistem otomatisnya. Peternak perlu melakukan pengaturan manual untuk merubah setting sehingga pengaturan saat membedakan setelan alat pada siang dan malam hari bisa dilakukan. 

Dengan pengaturan dan pengontrolan yang baik, serta rutin dan teratur, suhu lingkungan kandang akan lebih terjamin sesuai harapan ayam. Selain menghindarkan ayam dari stres akibat suhu tinggi, juga menghindari dari tingginya kelembapan yang berpengaruh pada kesehatan dan produksi. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer