-->

RISIKO MENGINTAI, GEGARA TERGIUR TELUR MURAH

Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, konsumen harus jeli saat membelinya. (Foto: Gemini)

Meski kondisi keuangan lagi tipis, sebaiknya jangan pernah tergiur dengan harga murah saat membeli telur. Teliti sebelum membeli dan pastikan telur yang dibeli masih segar. Jangan pertaruhkan kesehatan keluarga gara-gara terpikat harga murah.

Sepulang antar anak sekolah, Pak Rahmat mampir ke warung sembako tak jauh dari sekolah dasar anaknya. Pagi itu, ia “mewakili” istrinya untuk membeli satu kilogram telur ayam. Tak jauh dari warung sembako yang ia datangi, ada juga warung lain yang menjual telur ayam.

Dua warung ini menjual telur dengan harga berbeda, warung pertama memasang tulisan harga telur Rp 27.500/kg, sedangkan di warung kedua tertulis Rp 23.500/kg. Karena sedang penghematan anggaran rumah tangga, tanpa pikir panjang Pak Rahmat memilih ke warung yang menjual harga lebih murah. Lumayan, bisa hemat Rp 4.000, pikirnya.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, sejenak ia berpikir, kenapa dua warung yang berdekatan jual telur ayam dengan selisih harga yang lumayan. Sesampai di rumah, ia kembali mengecek telur yang ia beli. Satu per satu diamati warna kerabangnya. Tak ada yang beda dengan telur yang biasa ia beli.

“Tapi begitu telur saya guncang pelan, mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser atau terkocok. Hampir semuanya begitu. Karena penasaran, saya pecahkan satu butir. Ternyata kuning telurnya sudah enggak bulat utuh. Putih telurnya juga kelihatan lebih encer dari biasanya. Mungkin ini yang bikin harga jadi lebih murah,” tutur Pak Rahmat kepada Infovet.

Lantaran penasaran, pria berusia 60 tahunan ini mencari tahu melalui ponsel. Cek di Google, ternyata dugaannya tak meleset. Telur yang baru saja ia beli sudah menurun kualitasnya. “Nyesel aku tadi beli pilih yang murah,” ujarnya sambil tarik napas agak dalam.

Di artikel yang ia baca menyebutkan, telur yang mengeluarkan bunyi seperti cairan bergeser saat diguncang itu merupakan pertanda bahwa kualitas telur sudah menurun, tidak segar, meski masih layak konsumsi.

Penampakan putih telur yang encer, disebabkan waktu penyimpanan yang sudah cukup lama, bisa menyebabkan protein telur rusak dan strukturnya menjadi sangat cair. Kantung udara di dalam telur juga membesar. Cairan yang menguap lewat pori-pori cangkang membuat rongga udara di dalam telur semakin besar, sehingga ruang gerak bagian dalam menjadi longgar dan menciptakan bunyi kocokan.

Mengutip artikel yang ia baca, Pak Rahmat bilang, mengonsumsi telur yang kualitasnya menurun atau nyaris busuk berisiko menyebabkan keracunan makanan dan gangguan pencernaan berat akibat kontaminasi bakteri. Telur basi atau rusak sangat rentan ditumbuhi bakteri berbahaya seperti Salmonella. Jika ini terjadi, dapat berdampak pada infeksi saluran pencernaan.

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Dr Ir Ali Khomsan, mengingatkan bahwa memilih telur atau daging ayam yang berkualitas itu penting, karena berdampak pada kesehatan. Bagi anak-anak, orang dewasa, dan ibu menyusui, asupan gizi berupa protein hewani dari telur ayam yang berkualitas bagus sangat diperlukan.

“Kandungan asam amino yang ada di dalam telur dan daging ayam bagus untuk kesehatan tubuh. Asam amino berperan penting karena membantu pembentukan protein sebagai bahan dasar pembentuk sel, otot, serta sistem kekebalan tubuh,” ujar pakar gizi ini.

Ahli gizi ini menyarankan, konsumsi telur atau daging ayam bagi anak-anak sangat baik dan bisa dimulai sejak awal ibu-ibu menyusui bayinya. Daging ayam mengandung protein, zat besi, magnesium, vitamin, dan fosfor.

Perbedaan Lama dan Baru
Agar tak lagi salah memilih telur ayam, ada informasi dari laman bppsdmp.pertanian.go.id yang patut dijadikan rujukan. Untuk menjamin keamanan dan mutu telur konsumsi, pemerintah telah memperkuat perlindungan konsumen melalui Permentan No. 10/2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Selain itu, Standar Nasional Indonesia (SNI) 3926:2023 menetapkan persyaratan mutu telur konsumsi yang mencakup kesegaran, kebersihan, ukuran, serta kondisi fisik telur. Regulasi ini tidak hanya bertujuan melindungi konsumen, tetapi juga mendorong pelaku usaha agar lebih disiplin dalam menerapkan praktik produksi dan penanganan pascapanen yang baik.

Meski demikian, telur yang tidak layak konsumsi masih berpotensi beredar dan dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali ciri-ciri telur yang segar dan aman, serta lebih selektif dalam memilih telur demi menjaga kesehatan diri dan keluarga.

Lalu, seperti apa perbedaan telur ayam baru dan lama? Pada telur ayam baru, batas antara putih telur tebal dan tipis terlihat jelas, tidak terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur bulat, dan posisi di tengah dari putih telur yang tebal.

Sedangkan pada telur ayam lama, batas antara putih telur tebal dan tipis tidak jelas, terdapat bercak darah atau benda asing pada putih telur, bentuk kuning telur tidak bulat, dan posisi agak ke pinggir.

Saat membeli telur ayam, perhatikan kondisi fisiknya. Hindari telur yang kotor karena terdapat kotoran ayam atau bercak darah pada cangkang, retak pada cangkang, serta telur yang mengalami pengapuran yang ditandai dengan permukaan cangkang kasar dan adanya noda putih.

Selain itu, untuk mengetahui kondisi telur yang baik atau tidak dapat dilakukan dengan memasukkan telur dalam  larutan garam 10%. Telur yang baik akan tenggelam (kantung udara < 0,5 cm), telur kurang baik melayang (0,5-0,9 cm), dan telur tidak baik mengapung (> 0,9 cm).

Cara lain yang juga mudah adalah dengan mengguncang telur. Cara ini dilakukan dengan mengguncang telur dekat telinga. Untuk telur segar, tidak akan mengeluarkan suara seperti cairan bergeser saat diguncang, menunjukkan bahwa isi di dalamnya masih kental. Sedangkan telur tidak segar, akan terdengar suara seperti cairan bergerak, dan ini menandakan bahwa putih telurnya sudah encer dan kemungkinan besar sudah busuk.

Jeli Sebelum Membeli
Untuk mendapatkan telur yang berkualitas, ada kalanya konsumen juga perlu sedikit jeli saat membeli. Telur yang baik memiliki kerabang halus, warna merata dan bersih, tidak retak atau pecah, serta memiliki bentuk oval yang normal. Jika tersedia lampu peneropong di tempat penjualan, konsumen juga dapat memilih telur dengan kantong udara yang kecil pada bagian ujung tumpulnya.

Kualitas telur juga dipengaruhi lama penyimpanan. Telur yang baru dihasilkan memiliki kualitas lebih baik dibandingkan telur yang telah lama disimpan, terutama pada suhu ruang. Telur yang aman dikonsumsi adalah telur yang dihasilkan dari ayam sehat, telur yang baru dihasilkan, serta telur yang diolah secara benar dan sehat.

Setelah paham dengan memilih telur yang segar, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang benar. Pisahkan telur yang bersih dan kotor, besar-kecil, retak tidak retak, baru dan lama, serta bersihkan jika cangkang telur kotor dengan lap kain atau tisu kering untuk menjaga kebersihannya.

Simpan di baki atau tray telur dan/atau lemari pendingin (7-10 °C) dengan posisi bagian tumpul berada di atas. Gunakan telur yang lebih lama disimpan dibandingkan dengan telur yang baru (first in first out). Masa simpan telur di suhu ruang selama 15 hari dan di lemari pendingin 30 hari. Dengan penanganan seperti ini, keluarga akan lebih sehat dalam mengonsumsi telur. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PUNCAK HATN 2026: “MULAI DARI PETERNAK KITA BERGERAK” YOGYAKARTA CHICKEN AND EGG RUN

Pelepasan peserta Chicken and Egg Run dalam puncak acara HATN 2026. (Foto-foto: Istimewa)

“Mulai dari Peternak Kita Bergerak” kalimat ini diteriakan oleh ribuan peserta lomba  sebelum langkah pertama di garis start, dalam kegiatan Chicken and Egg Run pada puncak acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026, Minggu (18/10/2026), yang diselenggarakan PINSAR Indonesia di Yogyakarta.

Makna filosofis tersebut adalah peternak bukan sekadar objek, melainkan pelaku utama. Peternak harus dilibatkan dalam merumuskan kebijakan, penyampaian aspirasi, dan menentukan arah pembangunan industri perunggasan.

Peternak sebagai pusat perjuangan, di mana setiap kebijakan, program, dan langkah pembangunan peternakan harus berangkat dari kebutuhan, persoalan, dan kenyataan yang  dihadapi peternak di lapangan.

Peternak tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka perlu bersatu, membangun solidaritas, dan bekerja sama dengan pemerintah, asosiasi, akademisi, serta pelaku usaha lainnya. Bergerak untuk mewujudkan peternakan unggas yang produktif, berdaya saing, berkelanjutan, dan memberikan kesejahteraan yang layak bagi peternak dan masyarakat.

Foto bersama penyelenggara acara.

Hal tersebut selaras dengan sambutan staf Ahli Menteri Bidang Kebijakan Publik Kementerian Koperasi, Koko Haryono, sebelum melepas para peserta Chicken and Egg Run 2026.
Menurutnya, dalam mewujudkan peternakan yang produktif berdaya saing, peternak perlu berhimpun dalam koperasi. Koperasi dinilai dapat berperan membangun ekosistem usaha yang menghubungkan kegiatan peternakan dari hulu hingga hilir.

Ia juga berharap PINSAR Indonesia terus berperan dalam program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. “Kami Kementerian Koperasi siap mendukung tata kelola hingga akses pembiayaannya,” katanya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi PINSAR Indonesia yang menginisiasi acara ini, yang tidak hanya sekadar mempromosikan olah raga, tetapi sarat dengan unsur edukasi bagi masyarakat akan pentingnya konsumsi daging ayam dan telur, seperti yang disampaikan Ketua Umum PINSAR Indonesia, Singgih Januratmoko.

Para peserta yang berhasil meraih juara dalam Chicken and Egg Run.

Lebih jauh dijelaskan bahwa ajang ini merupakan upaya mengampanyekan pentingnya asupan protein hewani yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan. Ayam dan telur adalah sumber protein hewani yang berkualitas dan terjangkau.

“Saat ini tingkat konsumsi ayam masyarakat Indonesia berada pada 14 hingga 15 kilogram per kapita per tahun, sedangkan telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka ini dinilai masih sangat mungkin ditingkatkan, sehingga akan memberkan multiplier effect yang sangat menguntungkan bagi stakeholder perunggasan,” katanya.

Singgih berharap, melalui acara ini, masyarakat mendapatkan pembelajaran lebih dalam bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani  yang berkualitas, terjangkau, dan sangat dibutuhkan terutama bagi generasi masa depan.

Peserta yang berhasil meraih hadiah utama satu unit mobil listrik BYD.

Kegiatan PINSAR ini dilaksanakan selama dua hari. Diawali dengan Rakornas pada Sabtu (17/10/2026) yang diikuti para pengurus daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan Kalimantan. Kemudian dilanjutkan pada Minggu (18/10/2026) dengan peringatan HATN berupa kegiatan Chicken and Egg Run. Lomba ini diselenggarakan dengan tiga katagori, yakni 2,5 km, 5 km, dan 10 km, serta disediakan berbagai macam hadiah menarik, dengan hadirah utama satu unit mobil listrik BYD.

Minat masyarakat Yogyakarta sangat luar biasa, ditandai dengan banyaknya peserta yang mencapai hampir 3.000 orang. Selain itu, di lokasi acara juga diadakan Kuliner Pasar Kangen yang menawarkan berbagai makanan tradisional dan modern, yang juga dimeriahkan photobooth dan live music untuk menghibur para peserta maupun pengunjung lain di sepanjang acara.

Pembagian hadiah bagi peserta lomba kostum terbaik.

Ketua Panitia Pusat Peringatan HATN, Ricky Bangsaratoe, menilai bahwa acara peringatan  HATN yang diselenggarakan di Yogyakarta ini merupakan acara paling meriah yang pernah diselenggarakan PINSAR Indonesia.

“Event di Yogyakarta ini menjadi standar tinggi bagi penyelengara HATN berikutnya, yaitu PINSAR Kalimantan Barat pada 2027 mendatang,” katanya. Hal tersebut juga diamini oleh Rakhmat Nuriyanto, salah satu penggagas HATN sekaligus Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) periode 2010-2015, yang turut berpartisipasi pada kegiatan tersebut. (INF)

PROTEIN UP, STAKEHOLDERS PERUNGGASAN BAHAS PELUANG PRODUKSI CAGE-FREE

Foto bersama dalam kegiatan Protein Up di Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Rabu (30/9/2026). Sistem produksi cage-free mulai mendapat perhatian lebih luas dari pelaku usaha perunggasan nasional. Selain merespons tuntutan pasar dan perubahan preferensi konsumen, sistem tersebut dinilai membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan “Protein Up: Exploring New Opportunities in the Poultry Industry” yang mempertemukan lebih dari 150 pelaku industri, peternak, akademisi, dan pemangku kepentingan perunggasan di Yogyakarta.

Layer Farm Manager WMU, Ir Arif Afiata Rahmat SPt IPP, mengatakan bahwa cage-free tidak semestinya hanya dipandang sebagai perubahan sistem pemeliharaan, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan bisnis. “Cage-free perlu dilihat sebagai model bisnis berkelanjutan yang mampu mempertahankan produktivitas sekaligus menghasilkan telur berkualitas sesuai dengan permintaan konsumen,” ujarnya.

Saat ini, WMU tengah meningkatkan populasi ayam petelur cage-free dari sekitar 200.000 ekor menjadi 500.000 ekor pada 2027. Dengan ekspansi tersebut, WMU diproyeksikan menjadi salah satu produsen cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Kegiatan Protein Up diselenggarakan oleh Lever Foundation bersama PINSAR Indonesia, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), dan ASOHI Jogja. Forum tersebut digelar di FKH UGM sebagai bagian dari rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN).

Sejumlah produsen telur turut hadir, di antaranya Jatinom, Januputro, Megatech, dan Lourba Jaya. Kehadiran para produsen tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai cage-free mulai mendapatkan ruang lebih besar di tingkat peternak.

Namun, penerapan cage-free bukan sekadar mengganti sistem kandang. Perubahan tersebut turut menuntut kesiapan teknologi, manajemen pemeliharaan, biosekuriti, hingga strategi nutrisi. Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, memaparkan sejumlah pilihan teknologi perkandangan yang dapat digunakan dalam sistem cage-free, mulai dari floor system, aviary, hingga mobile house.

“Seiring dengan semakin berkembangnya sistem produksi ayam petelur cage-free dan semakin banyaknya pilihan peralatan yang tersedia, proses transisi menjadi lebih mudah dan semakin menarik bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar cage-free,” jelasnya.

Perubahan sistem pemeliharaan juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan nutrisi ayam. Nutritionist & Business Development Manager DMC, Drh Henri E. Prasetyo Mvet, mengatakan bahwa strategi pakan pada sistem cage-free perlu mempertimbangkan karakteristik ayam yang berbeda dibandingkan sistem kandang konvensional.

“Strategi nutrisi perlu mempertimbangkan tingkat aktivitas ayam yang lebih tinggi, kesehatan kaki dan kerabang telur, serta peluang menghasilkan telur dengan kualitas dan nilai fungsional yang lebih baik melalui pendekatan precision nutrition,” ungkap Henri.

Hal tersebut juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan WMU. Pengujian terhadap telur yang dihasilkan dari sistem cage-free dan kandang baterai menunjukkan adanya sejumlah perbedaan pada komposisi nutrien. Beberapa parameter ditemukan lebih tinggi pada telur cage-free, antara lain karoten, omega-3, omega-9, DHA, dan protein. Sementara itu, sejumlah parameter lain ditemukan lebih tinggi pada telur dari sistem kandang baterai.

Dari sisi kesehatan dan manajemen, penerapan cage-free juga membutuhkan perhatian lebih terhadap sejumlah faktor. Guru Besar FKH UGM, Prof Dr Drh Michael Haryadi Wibowo, menyoroti pentingnya penguatan manajemen kesehatan seiring dengan meningkatnya ruang gerak ayam dalam sistem cage-free.

“Penerapan sistem tersebut perlu didukung dengan biosekuriti yang lebih kuat, pengelolaan litter dan kotoran yang efektif, ventilasi yang baik, pengelolaan kualitas air, serta pemantauan kesehatan flock secara berkala. Dengan demikian, kebebasan bergerak dan kesempatan ayam mengekspresikan perilaku alaminya perlu berjalan beriringan dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” tambahnya.

Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Promosi, Pameran, dan Kampanye Gizi PINSAR Indonesia, Ricky Bangsaratoe, menilai tema yang diangkat dalam Protein Up relevan dengan perkembangan industri perunggasan saat ini.

Menurutnya, pembahasan dalam forum tidak hanya berkaitan dengan cage-free, tetapi juga mencakup pencegahan penyakit, manajemen pakan, efisiensi nutrisi, serta perkembangan teknologi perkandangan.

“Berbagai topik yang dibahas dalam kegiatan ini merupakan elemen penting dalam membangun industri perunggasan Indonesia yang semakin maju, sehat, efisien, berkelanjutan, dan kompetitif,” ujarnya.

Sementara itu, Lead of Supply Chain Engagement Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, mengatakan bahwa pertumbuhan permintaan telur cage-free juga didorong oleh komitmen pengadaan dari perusahaan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).

“Permintaan terhadap telur cage-free terus meningkat, salah satunya didorong kebijakan pengadaan dari perusahaan-perusahaan di sektor Horeka, seperti Swiss-Belhotel International, SuperIndo, Marriott, Hilton, Sodexo, Burger King, dan Circle K,” jelas Sandi.

Perusahaan-perusahaan tersebut merupakan bagian dari lebih dari 3.000 perusahaan secara global yang telah menyatakan komitmen untuk menggunakan 100% telur cage-free.

Dari sisi konsumen, survei GMO Research pada 2025 menunjukkan bahwa 81% konsumen Indonesia menilai ayam petelur seharusnya dipelihara dalam sistem cage-free. Sebanyak 55% responden juga menyatakan lebih tertarik berbelanja di jaringan restoran dan supermarket yang hanya menggunakan telur cage-free.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa penerapan sistem cage-free tidak lagi semata-mata berkaitan dengan perubahan sistem perkandangan di tingkat peternakan. Lebih jauh, perkembangan tersebut mulai berkaitan dengan perubahan kebutuhan pasar, kebijakan pengadaan perusahaan, inovasi teknologi, strategi nutrisi, hingga meningkatnya perhatian konsumen terhadap proses produksi pangan. (INF)

MELURUSKAN MISPERSEPSI KERACUNAN MASSAL MBG

Telur dan daging ayam broiler memiliki kandungan gizi yang menyehatkan tubuh. (Foto: Gemini)

Di tengah banyaknya kasus keracunan massal dalam Makan Bergizi Gratis (MBG), telur dan daging ayam broiler masih dianggap sebagai salah satu penyebab. Padahal, hasil pemeriksaan uji laboratorium membuktikan ada pemicu lain dalam kasus ini. Apa itu?

Kasus keracunan massal yang menimpa 411 pelajar dan santri akibat konsumsi telur dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) di Mojokerto, Jawa timur, beberapa waktu lalu cukup heboh. Dalam kasus yang terulang terjadi ini, telur dianggap sebagai salah satu penyebab para pelajar keracunan. Dalam kasus di tempat lain juga daging ayam pernah dianggap menjadi penyebab.

Dalam kasus keracunan yang terjadi selama ini, seoalah-olah dua makanan sumber protein hewani tersebut menjadi “tersangka”. Namun apa sebenarnya yang terjadi? Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan ternyata penyebab utamanya adalah cara mengolah dan penyajian telur ayam dari pihak Dapur MBG yang menjadi penyebab para pelajar keracunan.

Telur rebus yang sudah basi karena terlalu lama jeda dalam menyajikan MBG menjadi pemicu pelajar keracunan. Artinya, bukan telurnya yang menjadi penyebab. Telur ayam tetap menyehatkan, meskipun pakan ayam yang digunakan adalah pakan pabrikan. Pakan pabrikan ayam, bukan sumber racun pada telur dan daging ayam yang dihasilkan.

“Pakan untuk ayam yang akhirnya jadi telur dan daging berasal dari bahan baku pakan yang aman untuk dikonsumsi. Semua bahan yang ada dicampur sehingga memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh ayam baik petelur maupun pedaging,” ujar Yahya Munirudin, ahli pakan ternak kepada Infovet.

Memang aroma pakan pabrikan untuk ayam menyengat dan khas. Seperti ada aroma obat-obatan yang kurang nyaman saat tercium hidung. Aroma inilah yang dianggap sebagian orang bahwa pakan ayam pabrikan mengandung obat-obatan. Artinya, daging ayam broiler dan telur yang dihasilkan juga dianggap mengandung obat.

Kalau tak ada edukasi yang baik dan tepat, bisa jadi isu ini bakal membuat orang makin khawatir makan daging dan telur ayam. Orang yang semula sedikit mengonsumsi telur akan berhenti total. Ini yang perlu diluruskan.

Menurut Yahya, secara umum bahan baku pakan ayam berasal dari dua sumber, yaitu hewan dan tumbuhan. Untuk bahan pakan yang bersumber dari hewan antara lain tepung ikan, tepung tulang, dan lainnya. Sedangkan untuk bahan pakan ayam yang bersumber dari tumbuhan seperti kedelai, jagung, umbi-umbian, bekatul, dan lainnya. Sebagai pelengkap, pakan ayam juga ditambahkan vitamin dan zat pengawet pakan, yang semuanya aman.

“Untuk menghasilkan kualitas pakan yang baik, bahan pakan di pabrikan diseleksi dengan ketat. Bahan baku yang mengalami kerusakan, misalnya jagung yang sudah berjamur, sudah pasti ditolak masuk ke pabrik pakan,” ujarnya.

Ketatnya seleksi bahan pakan untuk ayam menjadi jaminan keamanan bagi produk daging dan telur ayam yang akan dikonsumsi oleh manusia. Ahli pakan ternak ini juga memastikan bahwa industri pakan ayam memiliki alat pendeteksi berteknologi tinggi untuk menjamin bahan pakan yang akan diolah memiliki kualitas yang baik atau sebaliknya.

Melalui Proses Roasting
Dalam proses pengolahan, menurut Yahya, industri pakan juga melakukan perlakuan khusus terhadap bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pakan olahan. Ia memberi contoh, sebelum diolah menjadi pakan jadi, kedelai dimatangkan terlebih dahulu, seperti melalui proses roasting. Proses ini bertujuan untuk menonaktifkan zat anti nutrisi yang ada di kedelai.

Dari sisi bahan pembuatan pakan sudah aman. Namun bagaimana dengan obat-obatan dalam proses pembuatan pakan? Pertanyaan ini juga masih bersarang di benak sebagian orang. Terjaminnya kualitas bahan pembuatan pakan ayam pabrikan, sebanding dengan harga produknya yang dianggap mahal oleh para peternak.

“Dari sisi proses pembuatan pakan, pabrik pakan tidak menggunakan obat-obatan sebagai bahan campuran. Tentang hal ini sudah diatur larangannya oleh pemerintah dalam penggunaan obat-obatan yang bisa berdampak pada kesehatan manusia yang mengonsumsiya. Permentan No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan, sejak 1 Januari 2018 Pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, bahan pakan diawasi dengan ketat sebelum diproses menjadi pakan. Quality control pakan pada industri dilakukan sejak pemasukan bahan pakan sampai menjadi produk akhir pakan. Untuk penggunaan obat-obatan hanya diberikan kepada ayam jika sakit. Tentu saja harus seusai aturan pakai. Makanya di kemasan obat-obatan biasanya disertakan peringatan “Harus dengan resep dokter hewan”.

“Penggunaan obat-obatan pengawasannya sudah ketat, tidak bisa sembarangan. Dan setiap pabrik obat hewan pasti ada dokter hewannya, sebagai penanggung jawab produk obatnya,” katanya.

Lupakan Mitos Buruk
Dari pemaparan proses dan sumber bahan pakan unggas yang disampaikan ahli pakan ternak tersebut, dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi hasil akhir ternak unggas berupa daging dan telur ayam yang menggunakan pakan pabrikan tetap menyehatkan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan tentang kandungan nutrisinya.

Sudah saatnya masyarakat mengabaikan berbagai mitos buruk yang berkembang tentang makan telur dan daging ayam. Di era digital sekarang ini, bisa dengan mudah untuk mendapatkan informasi yang tepat tentang kandungan nutrisi pada telur dan daging ayam. Carilah informasi dari sumber yang dipercaya dan lupakan hasutan orang-orang yang mengatakan bahwa telur dan daging ayam broiler itu berbahaya bagi kesehatan.

Perlu dipahami bahwa satu butir telur atau sepotong daging ayam, memiliki kandungan gizi luar biasa yang sangat dibutuhkan tubuh. U.S. Soybean Export Council, dua tahun lalu pernah merilis data yang menarik untuk disimak. Satu porsi telur (100 g) memiliki kandungan Vitamin D, memenuhi sekitar 10-60% dari nilai Recommended Dietary Allowances (RDA) negara-negara di Asia Tenggara. Mirip dengan telur, daging ayam adalah kaya juga akan vitamin D, dengan setiap 100 g dada ayam diperkirakan memiliki 0,29 g vitamin D.

Vitamin D mempromosikan pengaturan jumlah kalsium dan fosfat yang diserap tubuh, dan mendukung perkembangan tulang yang sehat. Selain itu, vitamin D mendukung fungsi normal sistem kekebalan tubuh, yang merupakan garis pertahanan pertama tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, individu didorong untuk mengeksplorasi kemungkinan peningkatan asupan vitamin D melalui konsumsi daging dan telur.

Sementara itu, 100 g dada ayam mengandung 13,3 mg vitamin B3 dan 0,6 mg vitamin B6. Di sisi lain, satu porsi telur (100 g) memiliki 0,01 mg vitamin B3 dan 0,2 mg vitamin B6. Direkomendasikan Nilai Nutrient Intake (RNI) untuk vitamin B3 adalah 16 mg untuk sebagian besar negara Asia Tenggara, sedangkan nilai untuk vitamin B6 berkisar 1,2-1,7 mg.

Oleh karena itu, kandungan vitamin B3 dan B6 yang tinggi terdapat pada telur dan daging unggas dapat dengan mudah memenuhi nilai RDA/RNI sebagian besar negara di kawasan ini. Vitamin B3 berfungsi dalam berbagai sistem enzim intraseluler, termasuk yang terlibat dalam energi produksi. Sedangkan vitamin B6 memainkan peran penting dalam fungsi sekitar 100 enzim yang mengkatalisis reaksi kimia penting dalam tubuh manusia. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

BREAKING THE CYCLE: MBG DAN KESEJAHTERAAN PETERNAK RAKYAT DALAM EKOSISTEM RANTAI PASOK BERKEADILAN

GOPAN forum di ILDEX Indonesia 2026. (Foto: Infovet/Ridwan)

Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) kembali menggelar forum strategis bertajuk "Breaking the Cycle: MBG dan Kesejahteraan Peternak Rakyat Membangun Ekosistem Rantai Pasok yang Berkeadilan". Acara yang diselenggarakan pada Rabu (16/9/2026), di Ruang Garuda 6B, ICE BSD, Tangerang, ini menjadi bagian dari rangkaian pameran peternakan internasional ILDEX Indonesia.

Forum ini menyoroti pentingnya memutus rantai permasalahan peternakan broiler yang kerap berulang, sekaligus mengoptimalkan peluang besar dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mendongkrak kesejahteraan peternak rakyat.

Panitia GOPAN Forum, Yusuf, menjelaskan bahwa tema tahun ini sengaja dibuat lugas dan sederhana mengingat kompleksitas persoalan perunggasan yang terus berulang dari tahun ke tahun. Menurutnya, evaluasi mendalam diperlukan guna menentukan arah perubahan ke depan.

"Terkait tema sangat sederhana karena kita melihat banyak persoalan yang terus berulang. Karena itu, apa yang harus kita ubah ke depannya? MBG memberikan peluang baru, oleh karena itu bagaimana peternakan rakyat dapat memanfaatkan peluang tersebut," ujar Yusuf.

Melalui forum ini, ia berharap pemerintah, Badan Gizi Nasional (BGN), dan para peternak dapat merumuskan arah kebijakan bersama dalam membangun industri peternakan nasional yang tangguh.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum GOPAN, Heri Dermawan, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor agar peternak rakyat tidak tertinggal di tengah dinamika industri modern.

Usai sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Agung Suganda. Ia mengungkapkan bahwa harga ayam saat ini menunjukkan tren perbaikan, yang turut didorong oleh guliran program MBG. Ke depan, program strategis ini akan semakin terintegrasi melalui kewajiban bagi rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) untuk masuk ke dalam marketplace yang disiapkan BGN.

"Saat ini Surat Edaran terkait optimalisasi penyerapan produk peternakan sedang difinalkan. Intinya, program MBG ini harus menyerap produksi para peternak yang ada di sekitar dapur MBG, baik untuk komoditas ayam maupun susu," ujar Agung.

Ia menambahkan, peluang perunggasan nasional masih sangat terbuka lebar, seiring dengan potensi peningkatan konsumsi per kapita. Tantangannya terletak pada bagaimana menjaga keseimbangan (supply and demand) antara volume produksi dan kebutuhan riil di lapangan.

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah kata Agung, juga mulai memberlakukan sejumlah regulasi ketat guna menciptakan keadilan dalam rantai pasok. Berdasarkan Permentan No. 10/2024, mulai 1 Januari 2027, distribusi DOC dengan skema 50% untuk internal dan 50% untuk eksternal wajib dijalankan pelaku industri. Agung mengapresiasi langkah awal yang telah diinisiasi oleh korporasi seperti Japfa Group dalam mematuhi aturan tersebut.

"Kemudian juga setiap peternak dengan kapasitas produksi unggas mencapai 60 ribu ekor atau lebih dalam per siklus pemeliharaan diwajibkan memiliki RPHU. RPHU inilah yang nantinya berfungsi sebagai marketplace penyedia karkas bagi dapur-dapur MBG di wilayah sekitar," jelasnya.

Di sisi lain, forum ini juga tidak menutup mata terhadap tantangan kenaikan harga pakan akibat melambungnya harga bahan baku. Harga jagung tercatat berada di kisaran Rp 6.200-7.500/kg tergantung wilayah, sementara dedak atau katul telah menyentuh angka Rp10.000/kg. Kondisi ini memberikan tekanan berat bagi perusahaan pakan untuk menahan kenaikan harga, meski dalam rapat koordinasi hari ini, upaya penahanan harga pakan, khususnya konsentrat layer, terus diupayakan demi melindungi peternak petelur di tengah variasi harga telur di berbagai daerah.

Pada kesempatan tersebut, hadir juga perwakilan dari PT Berdikari, Agus Wahyudi, yang turut memaparkan pandangannya dalam forum tersebut. Agus menyoroti pentingnya peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan dalam menjadi penyangga (buffer) stabilitas harga sekaligus mitra strategis bagi peternak rakyat.

Dalam pemaparannya, PT Berdikari berkomitmen untuk memperkuat sinergi hilirisasi melalui optimalisasi penyerapan hasil produksi peternak rakyat, sehingga distribusi komoditas protein hewani dapat menjangkau masyarakat secara merata, efisien, dan berkeadilan sejalan dengan visi besar program MBG.

Melalui Gopan Forum 2026, diharapkan terbangun komitmen bersama antara pemerintah, BGN, BUMN, dan peternak rakyat untuk mewujudkan industri perunggasan nasional yang adil, mandiri, dan berkelanjutan. (RBS)

PETERNAK PETELUR SOLO RAYA GELAR AKSI DAMAI

Aksi damai peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya di kawasan Bundaran Gladak, Solo. (Foto: Dok. Krishandrika)

Peternak petelur yang tergabung dalam Gabungan Peternak Petelur se-Solo Raya menggelar aksi damai di kawasan Bundaran Gladak, Solo, Rabu (5/8/2026). Dalam aksi yang berlangsung tertib tersebut, para peternak membagikan telur kepada masyarakat sebagai bentuk protes atas kondisi industri perunggasan yang kian memprihatinkan.

Ketua Pinsar Kabupaten Boyolali, sekaligus Penanggung Jawab Aksi Damai, Drh Krishandrika Immanuel Raharjo, mengungkapkan bahwa para peternak saat ini tertekan dari dua sisi. Di satu sisi, penyusun HPP melambung akibat tingginya harga pakan, sementara di sisi lain, harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan. Kondisi ini memaksa peternak harus menanggung kerugian.

“Pemerintah harus hadir dan tidak sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’. Langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini agar hal-hal yang tidak diinginkan dapat diantisipasi,” ujar Krishandrika dalam perbincangannya bersama Infovet, Kamis (6/8/2026).

Dalam aksi tersebut, terdapat beberapa poin yang menjadi tuntutan para peternak. Di antaranya penurunan harga pakan dan stabilisasi jagung dengan meminta pemerintah menstabilkan harga pakan. Jika diperlukan, pemerintah didesak membuka opsi impor jagung agar harganya dapat terealisasi sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP), yakni Rp 5.500/kg.

Kemudian meminta penghentian monopoli impor BKK, lalu mendesak pemerintah segera mengisi kekosongan posisi Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), dan meminta pembentukan Kementerian Peternakan yang khusus menangani sektor peternakan secara fokus.

Selain menyampaikan tuntutan teknis, Krishandrika juga menekankan pentingnya evaluasi tata niaga perunggasan nasional secara menyeluruh bukan parsial. Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi kebijakan antar kementerian dengan mengikis ego sektoral demi kepastian usaha peternak.

Terkait desakan pembentukan Kementerian Peternakan, Krishandrika menilai sektor peternakan dan kesehatan hewan memiliki cakupan yang terlalu luas jika hanya dijadikan bagian dari Kementerian Pertanian.

“Urusan kesejahteraan masyarakat ditopang oleh kecukupan protein hewani, begitu pula kesehatan manusia yang erat kaitannya dengan kesehatan hewan. Ke depan, sektor strategis ini harus dipegang oleh lembaga tersendiri dan dipimpin oleh pihak-pihak yang kompeten,” tukasnya. (INF)

TARGETKAN EKSPANSI BERTAHAP, WMU BERPELUANG JADI PRODUSEN TELUR CAGE-FREE TERBESAR DI ASIA TENGGARA

WMU menargetkan peningkatan kapasitas secara bertahap hingga 500.000 ekor pada 2027, yang berpotensi menjadikannya sebagai produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara. (Foto: Istimewa)

Kesadaran masyarakat terhadap produk pangan yang sehat dan aman, serta memperhatikan kesejahteraan hewan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejalan dengan tren tersebut, permintaan telur cage-free menunjukkan pertumbuhan konsisten. Kondisi ini mendorong sejumlah produsen telur mempertimbangkan transformasi maupun ekspansi kapasitas produksi cage-free. Salah satunya PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU), yang melalui rencana pengembangannya berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengatakan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia terus berkembang. Menurutnya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong perusahaan makanan multinasional, tetapi juga semakin banyak pelaku usaha dan perusahaan lokal yang mulai beralih menggunakan telur bebas sangkar.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027. Kami optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat. Karena itu, kami siapkan kapasitas produksi sejak sekarang agar siap mengantisipasi lonjakan permintaan yang dapat terjadi sewaktu-waktu,” ujar Mahawijaya di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai segmen pelanggan, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji. Selain itu, WMU juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri yang akan menyasar pasar ritel.

“Pengembangan ini bukan untuk menggantikan pasar yang sudah ada, melainkan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Di sisi lain, sebagai perusahaan terbuka, WMU juga memiliki komitmen terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” tambahnya.

Menanggapi rencana ekspansi tersebut, Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya atas langkah WMU dalam memperluas kapasitas produksi cage-free di Indonesia. Menurutnya, meningkatnya komitmen konsumen maupun pelaku usaha terhadap keberlanjutan dan kualitas pangan membuka peluang yang semakin besar bagi pertumbuhan pasar telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan telur cage-free terus meningkat, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, serta layanan makanan. Saat ini, lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free, termasuk berbagai merek internasional yang beroperasi di Indonesia seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International. Pada saat yang sama, juga semakin banyak perusahaan domestik yang mulai menerapkan atau sedang bertransisi menuju kebijakan pengadaan telur cage-free, seperti Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, Jiwa Jawi, dan masih banyak lagi,” kata Sandi.

Pertumbuhan produk cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar dan penyedia panel konsumen asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55% konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free. Selain itu, 72% responden juga setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Di sisi lain, studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan peternakan dengan sistem kandang konvensional.

“Selain didorong permintaan pasar dan aspek kualitas produk, ekspansi WMU juga sejalan dengan diterbitkannya Permentan Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan. Kami berharap langkah WMU dapat menginspirasi lebih banyak produsen telur di Indonesia untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kami juga akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free di Indonesia agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan beriringan,” tukasnya. (INF)

OPTIMALISASI FORMULASI PAKAN LAYER, ALTERNATIF DAN STRATEGI SMART NUTRITION

Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. (Foto: Istimewa)

Industri ayam petelur nasional saat ini menghadapi tekanan yang semakin kompleks. Biaya pakan masih mendominasi lebih dari 60-70% total biaya produksi, sementara volatilitas harga bahan baku utama seperti jagung dan bungkil kedelai terus meningkat akibat faktor global, iklim, logistik, dan dinamika pasar. Pada saat yang sama, tuntutan terhadap stabilitas produksi, kualitas, serta keberlanjutan sistem peternakan semakin tinggi.

Dalam situasi tersebut, pendekatan formulasi pakan yang hanya berorientasi pada least cost formulation tidak lagi memadai. Formulasi pakan harus berevolusi menjadi sistem yang lebih adaptif, presisi, dan berbasis pada respons biologis ayam. Penggunaan bahan baku alternatif yang dipadukan dengan strategi nutrisi cerdas (smart nutrition) menjadi salah satu pendekatan penting untuk menjaga daya saing produksi.

Namun demikian, pemanfaatan bahan baku alternatif tidak dapat dilakukan secara sederhana dengan mengganti bahan konvensional. Tanpa pemahaman memadai mengenai karakteristik nutrien, risiko antinutrisi, serta implikasi fisiologisnya terhadap ayam petelur, strategi ini justru berpotensi meningkatkan variabilitas performa dan menurunkan efisiensi biologis.

Peran Strategis Bahan Baku Alternatif
Dalam praktik industri pakan, bahan baku alternatif masih sering diposisikan sebagai solusi darurat ketika harga bahan baku utama melonjak atau pasokan terganggu. Pendekatan reaktif seperti ini pada kenyataannya justru meningkatkan risiko ketidak-konsistenan mutu pakan dan fluktuasi performa ayam petelur.

Pada pendekatan formulasi modern, bahan baku alternatif seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sistem pakan (feed resilience). Bahan baku alternatif mencakup berbagai kelompok, mulai dari sumber energi seperti singkong, sorgum, dan dedak padi, sumber protein seperti DDGS, palm kernel meal, dan canola meal, hingga berbagai hasil samping industri pertanian seperti wheat bran dan corn gluten feed.

Keunggulan utama bahan-bahan tersebut adalah fleksibilitas pasokan, peluang efisiensi biaya, serta kontribusinya terhadap prinsip ekonomi sirkular. Akan tetapi, pada ayam petelur, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menekan biaya ransum, melainkan bagaimana menjaga kestabilan produksi telur, persistensi produksi, serta kualitas kerabang dan internal telur.

Penggunaan bahan baku alternatif harus didasarkan pada prinsip strategic inclusion, yaitu penentuan level penggunaan yang realistis dan aman berdasarkan karakteristik fisiologis ayam petelur dan tujuan produksi jangka panjang. Bahan baku alternatif bukanlah pengganti mutlak, tetapi alat strategis untuk memperluas fleksibilitas formulasi.

Formulasi pakan layer yang terlalu agresif dalam menggunakan bahan baku alternatif tanpa dukungan strategi nutrisi yang memadai kerap berujung... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

MINIMNYA KONSUMSI TELUR DAN DAGING AYAM DI TENGAH STOK BERLIMPAH, APA PENYEBABNYA?

Mengonsumsi telur dan daging ayam baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. (Foto: Gemini)

Kajian mengenai banyak mana konsumsi telur, kerupuk, dan rokok, masih terus menjadi bahasan, sebab tiga komoditas ini memiliki harga setara. Namun dari sisi manfaat kesehatan, sangat berbeda.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 naik dibandingkan 2024. Angka produksi tersebut diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional. Dalam sebuah kesempatan, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, menyampaikan kepada wartawan bahwa swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam pada 2024 mencapai 6,34 juta ton. Dan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 22 April 2025, produksi telur ayam di 2025 disebutkan naik 2,78% menjadi 6,52 juta ton. Angka ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 6,22 juta ton.

Lalu, berapa konsumsi telur dan ayam masyarakat Indonesia? Mengutip platform Instagram milik Bambang Suharno, digital creator, PT Gallus Indonesia Utama-Strategi & Insight Industri Peternakan, Veteriner, Akuakultur, menyebutkan bahwa konsumsi per orang Indonesia per tahun sekitar 150-200 butir telur dan 15 kg daging ayam. Masih jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara ASEAN lainnya.

Minimnya tingkat konsumsi dua makanan sumber protein tinggi ini karena alasan yang masih klasik, karena daya beli masyarakat rendah. Tapi mirisnya, konsumsi rokok di Indonesia tembus lebih dari 1.300 batang/orang/tahun, tertinggi di ASEAN, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia. Padahal harga satu batang rokok setara dengan sebutir telur.

Informasi lainnya, berasal dari GoodStats, sebuah platform media di bawah naungan Good News From Indonesia, menyebutkan persentase pria perokok aktif di Indonesia sebanyak 73,2% per 2025, tertinggi di dunia. Artinya, saat ini hanya ada sekitar 26,8% pria Indonesia yang tidak merokok.

Tingginya angka perokok bisa membawa masalah serius dalam jangka panjang. Laporan Tobacco Atlas menyebut 268 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok. Beban biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat merokok juga cukup signifikan, mencapai Rp 288 triliun/tahun.

Sebulan, Rp 750.000 Dibakar
Pola asupan gizi di masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Meyimak data di atas, tergambar jelas masih banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih rokok sebagai kebutuhan dalam pengeluaran keuangan keluarga. Rokok kerap dianggap sebagai simbol keren, termasuk oleh kelompok masyarakat miskin. 

Data BPS per Maret 2025 menunjukkan rokok filter-kretek menyumbang sekitar 9,99-10,72% terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Angka ini menggambarkan pengeluaran untuk membeli rokok lebih besar dari pangan bergizi. Pengeluaran untuk rokok konsisten menempati posisi kedua setelah beras, mengalahkan belanja telur, ayam, dan sumber protein lainnya.

Data Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan menyebut, rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi 4.190 batang rokok/tahun, yang menimbulkan beban ekonomi dan kesehatan yang signifikan. Itu baru data di 2023. Bisa jadi saat ini jumlahnya lebih besar.

Selain itu, tingginya prevalensi merokok di perdesaan (30,8%) dibandingkan perkotaan (18,99%) membuat rumah tangga di desa lebih rentan miskin, karena pengeluaran tembakau. Ini menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Kenaikan belanja rokok meningkatkan peluang kemiskinan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga justru terpakai.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, kepada Infovet. Ia menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan dengan kebutuhan rokok.

Ia pun memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 25.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 750.000 dibakar begitu saja. “Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 25 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi dan sehat,” ujarnya.

Guru Besar Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini menyebut, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Sementara jika uang dialihkan untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

“Artinya, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kerupuk juga Masih Dominan
Pola asupan gizi lainnya sebagian masyarakat yang masih kurang tepat adalah konsumsi kerupuk. Tingkat konsumsi kerupuk di Indonesia sangat tinggi dan merata di seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadikannya makanan pendamping sehari-hari.

Merujuk data BPS pada 2022, konsumsi kerupuk di seluruh Indonesia mencapai 0,03 kg/orang/minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi makanan ringan lainnya. Untuk 2025, sangat memungkinkan makin tinggi jumlah konsumsinya.

Berdasarkan proyeksi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, rata-rata konsumsi kerupuk atau keripik/kapita/minggu diperkirakan meningkat sebesar 6,56%. Data spesifik angka final per tahun untuk 2025 belum dirilis resmi BPS, namun tren menunjukkan peningkatan konsumsi bahan pangan olahan (kerupuk) secara berkelanjutan.

Ternyata, kerupuk bukan hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. BPS mencatat, ekspor kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya dari Indonesia mencapai US$37,77 juta pada 2023. Nilainya naik 1,35% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor kerupuk Indonesia pada 2022 mencapai 15.925,1 ton dengan nilai US$37,36 juta. Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor kerupuk Indonesia pada 2023. Disusul negara Belanda sebesar US$8,18 juta, lalu ada Tiongkok sebesar US$5,13 juta.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk digemari karena ragam jenisnya, harganya terjangkau, dan menjadi pelengkap wajib bagi banyak hidangan utama sebagai lauk. Kurang afdol makan tanpa kerupuk, begitu ucapan sebagian orang.

Nah, jika membandingkan kandungan nutrisi di dalam kerupuk dengan telur dan daging ayam sudah pasti selisih jauh. Telur adalah sumber nutrisi lengkap (protein tinggi, vitamin, mineral) dengan kalori terukur, sementara kerupuk didominasi karbohidrat dan lemak jenuh/trans, serta minim nutrisi penting. Sebanyak 100 g telur (sekitar dua butir) mengandung ~154 kkal dan 12,4 g protein, sedangkan 100 g kerupuk mencapai ~500 kkal dan tinggi garam.

Dari sisi kandungan lemak dan kalori, telur mengandung lemak sehat dan kolesterol. Sebaliknya, kerupuk tinggi kalori dan lemak (terutama lemak gorengan) yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak. Telur kaya akan kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, serta vitamin A, B, D, dan K. Kerupuk umumnya minim vitamin dan mineral, justru sering tinggi kandungan garam (natrium) yang kurang baik jika berlebihan.

Mengonsumsi telur baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. Konsumsi kerupuk berlebih berisiko tinggi terhadap penumpukan kolori, lemak, dan gangguan ginjal. Dengan demikian, konsumsi telur jauh lebih sehat dan padat gizi dibandingkan dengan kerupuk. Kerupuk sebaiknya dikonsumsi hanya sebagai camilan sesekali, bukan sebagai makanan harian.

Dari pengeluaran atau belanja, bisa disimak dari angka sebagai berikut: Harga sebutir telur setara dengan harga satu keping kerupuk untuk sekali makan, dan setara dengan satu batang rokok. Namun dari manfaatnya, telur tentu lebih bergizi dan menyehatkan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

PERTAMA DI INDONESIA, BUKU PANDUAN BUDI DAYA AYAM PETELUR CAGE-FREE UNTUK JAWAB TUNTUTAN PASAR

Kondisi kandang bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas dan mendapat kesejahteraan yang lebih baik. (Foto-foto: Istimewa)

Dalam beberapa tahun terakhir, tren global menunjukkan meningkatnya kepedulian terhadap isu kesejahteraan hewan dan keamanan pangan, khususnya dalam sistem pemeliharaan ayam petelur. Dimana lebih dari 2.300 perusahaan pangan berkomitmen beralih ke penggunaan telur cage-free.

Menanggapi permintaan pasar yang kuat serta meningkatnya perhatian konsumen terhadap keamanan pangan, diterbitkan buku "Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia", pada Selasa, 1 Desember 2025. Buku ini ditulis oleh Sandi Dwiyanto dan Mutzu Huang dari Lever Foundation, dengan tujuan menyediakan metode produksi yang efisien serta analisis ekonomi untuk mendukung produksi telur cage-free berbasis volume.

Penyusunan buku tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertanian (Kementan), akademisi, asosiasi, perusahaan integrasi, serta peternak.

Sandi Dwiyanto menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk pangan yang lebih etis, aman, dan berkelanjutan terus meningkat. Sejalan dengan tren tersebut, perusahaan pangan global maupun domestik mulai beralih ke penggunaan telur 100% cage-free dalam rantai pasoknya. Di saat yang sama, Kementan juga telah menerbitkan Permentan No. 32/2025 tentang Kesejahteraan Hewan pertama di Indonesia pada akhir 2025 guna memperkuat daya saing sektor pangan nasional.

Bekerja sama dengan Pertanian Press sebagai penerbit, materi dalam buku ini telah disesuaikan sepenuhnya dengan praktik budi daya di Indonesia agar relevan dengan kondisi lokal, sekaligus memperkenalkan metode berkelanjutan dari tingkat internasional untuk kebutuhan pelaku industri perunggasan nasional.

"Melalui buku ini, kami ingin memberikan panduan yang tidak hanya mencakup konsep dan prinsip teknis, tetapi juga pengalaman lapangan, analisis ekonomi, serta praktik manajemen yang telah diterapkan oleh peternak di Indonesia maupun di negara lain. Kami berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi sektor perunggasan,” ujar Dwiyanto.

Buku ini pun mendapat banyak tanggapan dari para stakeholder perunggasan. Di antaranya dari Staf Ahli Menteri Pertanian Republik Indonesia Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, yang menekankan bahwa buku ini menjadi panduan penting di tengah dinamika industri perunggasan global, di mana isu kesejahteraan hewan, keamanan pangan, dan keberlanjutan yang semakin menjadi perhatian.

"Perubahan paradigma menuju sistem produksi yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan merupakan suatu keniscayaan. Di Eropa, sistem battery cage telah ditinggalkan. Australia, Amerika Serikat, Korea Selatan, serta sejumlah negara ASEAN juga bergerak ke arah yang sama. Indonesia perlu memposisikan diri sebagai bagian dari transformasi ini, bukan sekadar mengikuti, terutama ketika tuntutan pasar global dan komitmen perusahaan terhadap telur cage-free terus menguat setiap tahunnya,” tulisnya dalam kata pengantar buku tersebut.

Sementara itu, dari Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), sekaligus Anggota Komisi IV DPR RI, Heri Dermawan, turut memberikan apresiasinya.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan dalam industri pangan global mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana praktik budi daya dapat menjadi lebih berkelanjutan, adaptif terhadap kebutuhan pasar, serta tetap menjaga daya saing nasional. Buku ini memberikan gambaran yang komprehensif, mulai dari tren global dan standar kesejahteraan hewan hingga manajemen teknis dan analisis ekonomi, termasuk studi kasus peternakan di Tiongkok serta analisis bisnis di Indonesia yang dapat mendukung pengambilan keputusan strategis bagi peternak yang mempertimbangkan transformasi sistem,” ujarnya.

Buku “Budi Daya Ayam Petelur Cage-Free Skala Komersial di Indonesia".

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami,  yang juga memberikan kata pengantar, turut menyoroti perkembangan industri perunggasan global saat ini menunjukkan peningkatan perhatian terhadap sistem pemeliharaan ayam petelur yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.

Tren internasional ini, lanjut dia, tidak hanya mendorong munculnya berbagai regulasi baru di sejumlah negara, tetapi juga membentuk ekspektasi pasar terhadap standar produksi yang lebih tinggi.

Ia juga menambahkan, perubahan ini membuka peluang bagi sektor perunggasan Indonesia untuk mengakses segmen pasar baru, baik di dalam negeri maupun dalam rantai pasok global. Namun, peluang tersebut perlu direspons dengan tetap menjaga efisiensi produksi serta mempertimbangkan kondisi pasar domestik agar proses transisi dapat berlangsung secara realistis dan berkelanjutan.

"Saya berharap buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam memahami tren dan peluang tersebut, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan strategi yang tepat untuk menghadapi dinamika industri global,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diperkuat oleh hasil survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bersama GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa 72% konsumen berpendapat hotel, restoran, supermarket, dan perusahaan makanan seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Selain itu sebanyak 55% konsumen juga menyatakan bahwa mereka lebih cenderung memilih merek makanan yang hanya menggunakan 100% telur cage-free.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bagaimana budi daya cage-free, buku ini kini tersedia dan dapat diakses secara gratis melalui website Pertanian Press atau melalui link https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/book/202.  Kehadiran buku panduan ini diharapkan dapat menjadi referensi praktis sekaligus strategis bagi para pemangku kepentingan, khususnya peternak dan pelaku industri perunggasan, dalam memahami peluang pasar, menavigasi proses transisi, serta mengembangkan sistem produksi yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun global. (INF)

KETIKA DAGING, SUSU, DAN TELUR MENJADI PENENTU MASA DEPAN BANGSA

Beberapa sumber protein hewani. (Foto: iStock)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipahami secara sederhana, anak-anak makan di sekolah, lalu pulang dengan perut kenyang. Padahal, bagi penulis yang lama bergelut di dunia akademik dan lapangan peternakan, MBG jauh lebih besar dari sekadar urusan perut. Ia adalah titik temu antara kebijakan negara, ilmu gizi, kerja keras peternak, dan harapan orang tua akan masa depan anak-anaknya.

Di balik setiap piring makan siswa ada keputusan penting, sumber gizi apa yang disajikan, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan. Di sinilah produk peternakan yakni daging, susu, dan telur, memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia bukan hanya komoditas, tetapi penentu kualitas tumbuh kembang, kecerdasan, bahkan daya saing generasi mendatang.

Tulisan ini bukan semata-mata pujian pada MBG, tetapi refleksi kritis dari sudut pandang akademisi lapangan. Bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian negara menempatkan produk peternakan lokal sebagai tulang punggung gizi, sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat.

MBG: Investasi Peradaban
MBG seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan belanja rutin tahunan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gizi anak hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia puluhan tahun ke depan. Negara-negara maju telah lama menempatkan gizi anak sebagai fondasi peradaban.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya urusan dapur sekolah, tetapi kebijakan strategis lintas sektor dari pendidikan, kesehatan, pertanian, dan peternakan. Jika salah memilih komposisi gizi, maka peluang emas ini bisa berubah menjadi program mahal dengan dampak minimal.

Sebagai akademisi, penulis melihat MBG sebagai laboratorium kebijakan. Di sinilah ilmu gizi, data stunting, dan realitas lapangan diuji secara nyata, bukan hanya di atas kertas laporan.

Sumber Gizi Lengkap yang Tak Tergantikan
Produk peternakan bukan hanya soal gizi anak sekolah, tetapi juga soal keberlangsungan hidup jutaan peternak rakyat. Ketika negara memilih daging, susu, dan telur sebagai sumber utama gizi MBG, pada saat yang sama negara sedang memilih untuk menghidupkan kandang-kandang kecil di desa.

Bagi peternak, kepastian bahwa produk mereka dibutuhkan secara rutin adalah bentuk keberpihakan paling nyata. MBG membuka ruang pasar yang stabil, terukur, dan berkelanjutan, sesuatu yang selama ini sulit diakses peternak kecil karena fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.

Dengan menjadikan produk peternakan sebagai komponen utama MBG, negara sebenarnya sedang menautkan dua tujuan besar sekaligus, yakni memperbaiki gizi anak dan menjayakan peternak lokal.

Telur Ayam, Protein Murah dengan Dampak Besar
Di banyak desa, usaha ternak ayam petelur dijalankan oleh keluarga dengan modal terbatas. Telur menjadi penopang ekonomi harian, namun harganya sering jatuh ketika produksi melimpah. MBG dapat menjadi penyeimbang yang adil bagi kondisi ini.

Dengan kebutuhan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan, MBG menciptakan permintaan yang relatif stabil. Bagi peternak ayam petelur, ini berarti kepastian penyerapan hasil produksi dan peluang memperbaiki manajemen usaha tanpa dibayangi ketidakpastian pasar.

Setiap butir telur yang tersaji di piring anak sekolah sesungguhnya adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke kandang rakyat. Anak mendapatkan gizi, peternak mendapatkan harapan.

Susu dan Kalsium: Fondasi Sunyi bagi Pertumbuhan Generasi
Peternak sapi perah selama ini hidup dalam tekanan biaya pakan dan harga jual susu yang tidak selalu berpihak. MBG berpotensi menjadi jalan keluar jika dirancang dengan keberpihakan pada susu segar lokal.

Keterlibatan koperasi susu dan peternak kecil dalam rantai pasok MBG akan menciptakan efek domino positif. Produksi meningkat, kualitas diperbaiki, dan pendapatan peternak menjadi lebih layak.

Ketika anak-anak terbiasa minum susu hasil peternak lokal, sesungguhnya kita sedang menanam dua fondasi sekaligus, yaitu tulang yang kuat dan ekonomi desa yang hidup.

Daging dan Zat Besi
Bagi peternak sapi dan kambing rakyat, pasar daging sering kali tidak ramah. Harga fluktuatif, rantai distribusi panjang, dan posisi tawar yang lemah menjadi persoalan klasik. MBG dapat mengubah peta ini jika dikelola dengan tepat.

Meski tidak disajikan setiap hari, kebutuhan daging yang terencana dalam MBG menciptakan pasar yang lebih pasti. Ini memberi ruang bagi peternak untuk merencanakan produksi, penggemukan, dan perbaikan kualitas ternak.

Dengan demikian, daging dalam MBG bukan sekadar menu bergizi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada peternak ruminansia sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Peternak Lokal di Balik Piring Anak Sekolah
Peternak lokal di balik piring anak sekolah jarang disadari, setiap menu MBG menyimpan cerita peternak di desa. Dari kandang sederhana, mereka menyumbang gizi bagi anak-anak yang mungkin tak pernah mereka temui.

Jika rantai pasok dikelola dengan adil, MBG bisa menjadi kebijakan pro-peternak rakyat. Bukan hanya menyerap produk, tetapi juga memberi kepastian harga. Inilah wajah keadilan pangan yang sering luput dari diskusi publik.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Kandang, Bukan dari Impor
Ketika MBG dijalankan dengan orientasi impor, maka yang terjadi hanyalah pemindahan anggaran negara ke luar negeri. Padahal, ketahanan pangan sejati justru dimulai dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini berjuang dengan keterbatasan modal dan akses pasar.

Peternak lokal sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telur jika didukung dengan kebijakan yang konsisten. Dukungan tersebut tidak selalu berupa subsidi, tetapi bisa dalam bentuk kepastian serapan, regulasi harga yang adil, dan pendampingan teknis berkelanjutan.

MBG seharusnya menjadi momentum koreksi arah kebijakan pangan nasional, dari ketergantungan impor menuju kemandirian berbasis produksi dalam negeri.

MBG dan Peluang Kebangkitan Peternakan Rakyat
Permintaan besar dan rutin dari MBG membuka peluang kebangkitan peternakan rakyat yang selama ini stagnan. Pasar yang pasti memberi keberanian bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha, memperbaiki kandang, dan mengadopsi teknologi sederhana.

Namun peluang ini tidak datang otomatis. Tanpa tata kelola yang berpihak, peternak kecil berisiko kembali tersisih oleh pemain besar. Karena itu, desain MBG harus memastikan keterlibatan koperasi, kelompok ternak, dan UMKM peternakan.

Jika dikelola dengan adil, MBG dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Indonesia.

Tantangan Mutu, Keamanan, dan Kontinuitas
Produk peternakan memiliki karakter mudah rusak dan sensitif terhadap penanganan. Oleh karena itu, rantai pasok MBG harus dirancang dengan standar mutu dan keamanan pangan yang ketat.

Bagi peternak, standar ini bukan ancaman, melainkan peluang untuk naik kelas. Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperoleh nilai tambah.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan.

Ilmu Peternakan yang Bekerja Diam-diam
Kualitas produk peternakan tidak lahir secara instan. Ia ditentukan sejak pemilihan bibit, manajemen pakan, hingga kesehatan ternak.

Ilmu peternakan sering kali bekerja di balik layar, namun menjadi penentu keberhasilan MBG. Tanpa pakan berkualitas dan manajemen yang baik, sulit mengharapkan produk bermutu tinggi.

MBG seharusnya juga mendorong pemanfaatan pakan lokal dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan peternak rakyat.

Gizi Hewani dan Keadilan Sosial bagi Anak Indonesia
Akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini menciptakan kesenjangan gizi yang berdampak jangka panjang.

MBG hadir sebagai instrumen keadilan sosial, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh gizi yang layak.

Ketika produk peternakan lokal menjadi bagian dari MBG, keadilan sosial bagi anak bertemu dengan keadilan ekonomi bagi peternak.

Menghubungkan Sekolah, Peternak, dan Negara dalam Satu Ekosistem
MBG tidak boleh dipahami sebagai hubungan jual beli semata. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Sekolah menjadi titik distribusi gizi, peternak sebagai produsen, dan negara sebagai penjamin keberlanjutan.

Ketiganya harus terhubung dalam sistem yang transparan. Ekosistem inilah yang akan memastikan MBG berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Menjaga Harapan di Setiap Butir Telur dan Tetes Susu
Pada akhirnya, MBG adalah tentang harapan yang dititipkan pada hal-hal sederhana, pada butir telur, tetes susu, dan potongan daging. Di sanalah gizi bertemu dengan kerja keras, dan kebijakan bertemu dengan kehidupan nyata.

Harapan orang tua agar anaknya tumbuh sehat, harapan guru melihat muridnya lebih fokus belajar, dan harapan peternak agar jerih payahnya dihargai. Harapan-harapan ini tidak lahir di ruang rapat, tetapi di kandang, di dapur sekolah, dan di meja makan keluarga.

Jika MBG dikelola dengan hati dan ilmu, maka dari kandang-kandang rakyat itulah masa depan bangsa perlahan dibangun.

Catatan Akademisi Lapangan
Sebagai akademisi yang kerap turun ke lapangan, penulis melihat langsung bagaimana peternak rakyat bekerja dalam sunyi. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, merawat ternaknya dengan sumber daya terbatas, dan bertahan di tengah harga yang sering kali tak berpihak.

MBG menghadirkan harapan baru, bukan janji kosong, bahwa kerja keras itu akhirnya mendapat tempat dalam kebijakan negara. Namun harapan ini hanya akan menjadi kenyataan jika MBG dirancang secara adil, transparan, dan benar-benar berpihak pada produksi peternakan dalam negeri.

Pada titik inilah MBG diuji. Apakah ia berhenti sebagai program makan gratis, atau benar-benar menjadi jalan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan peternakan rakyat yang berdaulat. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer