-->

DI INGGRIS HEAT STRESS BERDAMPAK PADA DMI SAPI PERAH

Dengan suhu yang sekarang secara teratur mencapai 20°C dan lebih, peternak sapi perah Inggris diperingatkan bahwa sapi sangat rentan terhadap heat stress yang dapat mengakibatkan penurunan dry matter intakes (DMI) dan penurunan hasil susu.

Sapi beradaptasi dengan mengurangi DMI. Hal ini mengakibatkan penurunan ketersediaan nutrisi yang digunakan untuk sintesis susu dan juga dapat mengganggu fungsi rumen, yang dapat menyebabkan asidosis.

“Reformulasi ransum diperlukan selama periode peningkatan suhu untuk memperhitungkan penurunan DMI dan perubahan kebutuhan nutrisi. Pemeliharaan fungsi rumen yang normal juga penting,” kata Mark McFarland, feed additive product manager Lallemand Animal Nutrition.

Asupan turun ketika sapi menjadi terlalu panas karena mereka cenderung makan lebih jarang, dan dalam jumlah yang lebih besar, yang menghasilkan 'makan lamban'.

Ada langkah-langkah yang dapat dilakukan peternak untuk mengurangi efek heat stress. Yaitu memberikan naungan saat sapi berada di luar ruangan. Akses mudah ke air dingin yang bersih di dalam area penggembalaan juga sangat penting, idealnya dengan menjaga suhu air di bawah 20°C.

“Ketika memerah susu, jangan sampai overcrowding, terutama di area pengumpulan. Bagus juga untuk menambahkan kipas agar sapi di dalam antrian lebih dingin suhunya,” kata Mark.

Dengan meningkatnya heat stress di Inggris, Lallemand Animal Nutrition berkerjasama dengan Dr Tom Chamberlain, mengumpulkan live data untuk mengevaluasi resiko heat stress ini. (via dairyglobal.net)

STRUKTUR ORGANISASI BARU CEVA ANIMAL HEALTH INDONESIA

Ayatullah M. Natsir (kiri) dan Fauzi Iskandar. (Foto: Dok. Ceva)

Jakarta, 15 Juni 2021. Sebagai perusahaan yang tumbuh dan berkembang, dengan bangga Ceva Animal Health Indonesia memperkenalkan dua personelnya, yakni Ayatullah M. Natsir sebagai Poultry Business Unit Manager dan Fauzi Iskandar sebagai Veterinary Service Manager.

Dalam siaran persnya dijelaskan, sebelum mengemban jabatan barunya, Ayat bertanggung jawab sebagai Technical and Marketing Manager membawahi tim Veterinary Service dan Marketing. Sedangkan, Fauzi sebelumnya menjadi bagian dari tim Strategic Account.

Dengan adanya perubahan struktur organisasi yang baru ini, Ceva Indonesia berharap bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk pelanggan di industri perunggasan. Terlebih, tim Veterinary Service sebagai tim teknis akan berkolaborasi dan bersinergi dengan departemen tim lain untuk menjalankan salah satu value milik Ceva, yaitu Customer Passion. (INF)

PARLEMEN EROPA BERENCANA MELARANG PENGGUNAAN KANDANG PADA TAHUN 2027



Parlemen Eropa telah menyerukan diakhirinya caged farming dalam 6 tahun ke depan. Pemungutan suara mengikuti adanya lobi intensif oleh European Citizens Initiative “End the Cage Age”, yang dipimpin oleh 170 LSM di seluruh Eropa, yang mengumpulkan 1,4 juta tanda tangan dari warga Uni Eropa dan menuntut penghapusan kandang secara bertahap di peternakan. Anggota parlemen memberikan suara dengan 558 banding 37 dengan 85 abstain.

Meskipun UE telah melarang penggunaan kandang baterai, namun dirasa hal itu saja tidak cukup. Compassion in World Farming telah menyarankan langkah-langkah untuk memfasilitasi transisi dari kandang koloni ke sistem alternatif, yang mencakup dukungan keuangan bagi peternak dan persyaratan impor untuk memenuhi standar kesejahteraan UE.

Di Parlemen Eropa, sebuah kelompok kerja cage free farming yang didirikan pada tahun 2017 telah secara aktif mendukung inisiatif “End the Cage Age” dan pada bulan April 101 anggota parlemen dari berbagai partai politik menandatangani surat dukungan yang ditujukan kepada Komisaris Uni Eropa.

Sebuah mosi untuk resolusi juga telah diadopsi oleh komite AGRI. Anggota komite meminta Komisi untuk mempercepat peninjauan undang-undang kesejahteraan hewan dan mendukung penghapusan kandang secara bertahap dalam peternakan, mungkin pada tahun 2027. Mereka juga bersikeras untuk memastikan kepatuhan terhadap standar UE untuk semua produk yang diimpor ke UE.

Diharapkan bahwa Komisi Eropa pada 15 Juli 2021 akan membuat keputusan apakah akan memulai proses legislatif untuk melarang caged farming.

SESDITJEN PKH: JADIKAN KELEBIHAN PRODUKSI UNTUK TINGKATKAN KONSUMSI

Rembuk Perunggasan Nasional IX yang digelar secara langsung di Solo dan digelar secara daring. (Foto: Infovet/Ridwan)

Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Sesditjen PKH), Makmun Junaiddin, menyatakan kondisi oversupply dan fluktuasi harga daging dan telur unggas terus berulang tiap tahun. Pihaknya menilai sudah melakukan berbagai upaya termasuk cutting HE, pengaturan impor GP dan lain sebagainya untuk memperbaiki sektor perunggasan, namun belum menemui titik terang hingga kini.

Ia mengatakan kelebihan produksi hendaknya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan konsumsi daging dan telur ayam masyarakat Indonesia yang masih rendah. “Masa produksi naik terus, namun konsumsinya tidak,” kata Makmun dalam acara Rembuk Perunggasan Nasional yang dilaksanakan di Solo, Rabu (16/6/2021).

Hal senada juga disampaikan Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami. “Semua ini kembali kepada edukasi pentingnya konsumsi protein hewani. Ini yang saya harapkan dari kebersamaan ini yaitu promosi protein hewani yang berkesinambungan. Karena nyatanya konsumsi rokok di Indonesia jauh lebih tinggi daripada konsumsi ayam. Ini yang perlu diedukasikan,” tambah Dawami.

Meningkatnya konsumsi daging ayam dalam negeri tentunya akan menyerap kelebihan produksi, yang akan berkorelasi positif terhadap harga. Adapun upaya lain yang akan dilakukan untuk mengatasi fluktuasi harga unggas, kembali disampaikan Makmun, pihaknya akan berkonsentrasi di sisi hilir industri perunggasan.

“Produksi unggas kita sudah bagus, namun kita belum bisa mengolahnya. Maka dari itu, pembangunan rumah pemotongan hewan unggas (RPHU) sangat diperlukan. Kita akan sosialisasikan ini ke daerah-daerah untuk menyiapkan lokasi,anggaran, dan tetek bengek-nya, agar ini bisa diakses oleh peternak UMKM,” kata Makmun.

Lebih lanjut disampaikan, “Arahnya kita ingin peternak UMKM ini hadir juga di pengolahan, mengikuti perkembangan yang ada. Juga bisa membentuk koperasi, gotong royong dalam hal modal, SDM dan lainnya, sehingga peternak mampu berjuang di pasar.” (RBS)

TEGUH BOEDIYANA: INDUSTRI SUSU DALAM NEGERI DARURAT

Teguh Boediyana dalam ILC edisi 20 membahas tentang penantian kebangkitan persusuan Indonesia. (Foto: Istimewa)

Ketua Dewan Persusuan Nasional, Teguh Boediyana, dalam webinar Indonesia Livestock Club (ILC) edisi 20, Rabu (16/6/2021), mengatakan industri persusuan dalam negeri sudah berada pada kondisi “lampu merah”, atau bahkan disebut sebagai “darurat susu”. Sebab, lebih dari dua dekade terjadi kondisi yang memprihatinkan yang tercermin dari produksi susu segar dalam negeri (SSDN) yang stagnan dan hanya mampu memenuhi kurang dari 20% kebutuhan susu nasional.

“Indikasi kedaruratan persusuan Indonesia tersebut dapat dilihat dari produksi susu yang cenderung stagnan, populasi sapi yang masih rendah, jumlah koperasi susu primer yang menurun dan saat ini hanya tinggal 55 buah yang sebagian besar menangani susu segar di bawah 20 ton/hari, pemasaran susu masih tergantung  pada IPS dan produktivitas sapi masih rendah,” ungkap Teguh.

Walaupun saat ini bermunculan peternak sapi perah skala menengah dan besar sebagai tambahan dari peternakan rakyat, lanjut dia, populasi dan produktivitas sapi perah rakyat yang cenderung stagnan menghasilkan kurangnya pasokan SSDN untuk memenuhi dan mengimbangi makin meningkatnya permintaan susu.

Dijelaskan, peningkatan konsumsi susu dan produk olahannya dipengaruhi secara umum oleh meningkatnya kelas menengah, komposisi penduduk usia produktif, meningkatnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan peningkatan sektor pengolahan makanan dan minuman.

Bank Dunia (2018) melaporkan bahwa kelas menengah Indonesia meningkat sekitar 7% pertahun. Semua faktor ini secara akumulatif akan mendorong meningkatnya konsumsi hasil ternak, sehingga diperkirakan tingkat konsumsi susu/kapita orang Indonesia akan terus meningkat dalam jangka panjang.

“Tingginya permintaan atau kebutuhan susu secara nasional ini tentu merupakan peluang ekonomi besar untuk dimanfaatkan, khususnya bagi penguatan ekonomi rakyat dan ekonomi nasional secara umum. Tingginya konsumsi susu dan produk susu pada akhirnya juga akan berdampak kepada peningkatan kualitas SDM bangsa,” ucap dia.

Untuk itu, kata dia, sangat dinantikan kebangkitan persusuan domestik sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor susu yang tinggi seperti yang terjadi saat ini, sekaligus dapat memenuhi kebutuhan sendiri akan susu dan produk olahannya. (IN)

TALKSHOW KUPAS INTEGRASI HORIZONTAL DI INDUSTRI PERUNGGASAN


Ketua PPN Yudianto Yosgiarso, salah satu pembicara talkshow 

Perwujudan konsep integrasi horizontal di industri perunggasan secara perlahan namun pasti telah dirintis melalui wadah koperasi peternak. Hal ini disampaikan oleh  Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Ir Yudianto Yosgiarso dalam talkshow daring kerjasama AIPI, PATAKA, dan IPB pada Rabu (15/6).

Yudi menyebutkan saat ini, para peternak ayam petelur (layer) di Lampung bersatu dalam koperasi dengan arahan Ketua PPN Cabang Lampung Ir Jenny Soelistiani MM sekaligus berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Lampung. Tambah Yudi, di Lampung juga kini terdapat Kampung Layer.    

“Peternak layer di Kabupaten Blitar, Jawa Timur juga berhimpun dalam wadah Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar,” imbuhnya.

Kendati demikian, menurut Yudi menyatunya kekuatan peternak dalam koperasi ini tetap harus dijaga serta memerlukan pembinaan dari pemerintah.

 “Kami tentunya berharap kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Kementerian Pertanian, akademisi, para pelaku usaha perunggasan serta semua pihak terkait untuk memberi arahan dan fasilitas untuk peternakan rakyat,” tandas Yudi.

Lebih lanjut Yudi mengatakan cita-cita para peternak memiliki bibit (DOC) sendiri, juga mengenai harga pakan maupun bahan baku yang sering mengalami kenaikan ini agar memiliki kejelasan.” Jadi para peternak tidak tergantung pada perusahaan,” tuturnya.  

Prof Muladno selaku Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB adalah sosok yang memperkenalkan istilah Integrasi Horizontal Peternakan Rakyat.

Integrasi horizontal merupakan kerjasama kesetaraan empat pihak untuk saling memperkuat dalam ikatan kuat secara berkelanjutan. Empat pihak tersebut adalah peternak kecil-menengah yang terkonsolidasi dalam bentuk koperasi, kemudian perusahaan/pemitra pengayom koperasi, pemerintah kabupaten/kota sebagai fasilitator dan regulator serta perguruan tinggi sebagai pemegang otoritas pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM M Riza Damanik mengatakan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha amat dibutuhkan agar industri perunggasan bisa bangkit kembali.

“Konsep integrasi horizontal sejalan dengan apa dan yang ingin dilakukan pemerintah. Salah satu solusi yang kami tawarkan adalah dengan membentuk koperasi modern. Peternak skala kecil harus berhimpun dalam koperasi agar memiliki posisi tawar yang kuat,” terang Riza.   

Riza menambahkan pentingnya integrasi usaha hulu hilir dengan pelibatan kemitraan beberapa pihak dalam rantai pasok atau inklusif, adopsi teknologi, akses pembiayaan, terhubung dengen offtaker dan memiliki tata kelola manajemen profesional.  

“Tahun 2021, kami menargetkan 40 koperasi pangan modern dari total 100 koperasi yang ditargetkan dengan ada adanya keterlibatan lembaga tentunya akan memudahkan akses pembiayaan, termasuk asal LPDB yg tahun ini penuh untuk pembiayaan koperasi,” jelasnya.

Talkshow daring “Kebijakan Berbasis Evidence Dalam Integrasi Horizontal di Industri Perunggasan” ini juga dihadiri Prof Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro (Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia/AIPI) dan Ir Teguh Boediyana MSc (Ketua Komite Pendayagunaan Pertanian). (NDV)

 

FEED ADDITIVE MENGURANGI EMISI SAPI HINGGA SETENGAHNYA



Sebuah proyek baru di Denmark bertujuan untuk mengurangi emisi metana sapi perah hingga 50% melalui aditif pakan ternak triple action yang dikembangkan untuk membatasi pembentukan metana enterik.

Penelitian intensif telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir untuk menemukan cara mengurangi emisi metana dari ternak ruminansia, yang di Denmark bertanggung jawab atas hampir 40% total emisi gas rumah kaca dari pertanian Denmark dan 51% emisi dari kawanan ternak Denmark.

Penelitian menunjukkan bahwa cara terbaik dan paling realistis untuk mencapai emisi metana yang lebih rendah dari sapi adalah melalui pakan. Namun, sejauh ini, tidak ada solusi yang cukup efisien.

Sebuah tim di Universitas Aarhus, bagaimanapun, akan mengembangkan solusi melalui proyek penelitian, No-Methane, yang telah diberikan dana 16,1 juta kroner (US$ 2,6 juta) oleh Innovation Fund Denmark. Hasil dari pekerjaan yang dilakukan oleh para peneliti akan berarti bahwa sapi perah akan memiliki dampak yang jauh lebih kecil terhadap iklim. Dengan menggabungkan 3 agen berbeda, tim bertujuan untuk mengurangi proses pembentukan metana dalam rumen sapi tanpa mempengaruhi produktivitas dan kesehatan hewan.

Tim telah merancang pendekatan triple action:

Membatasi ketersediaan hidrogen. Hidrogen terbentuk ketika pakan difermentasi oleh bakteri rumen. Hidrogen digunakan oleh kelas mikroorganisme tertentu, yang disebut archaea, untuk membentuk metana. Proyek ini akan menggunakan bakteri probiotik spesifik yang dapat menggunakan hidrogen dalam proses lain sehingga archaea tidak memiliki akses ke begitu banyak hidrogen.

Membatasi archaea pembentuk metana dalam rumen. Hal ini dilakukan melalui strain khusus bakteri asam laktat (BAL) dan vira alami dalam rumen sapi.

Menghambat pembentukan metana dengan menggunakan senyawa tertentu. Senyawa ini menghambat enzim, yang dibentuk oleh archaea pembentuk metana, yang diperlukan untuk mengubah hidrogen menjadi metana. (via dairyglobal.net)

HIPRA MENGINISIASI WORLD POULTRY VIRTUAL CONGRESS 2021

Tampilan antarmuka HIPRA WVPC 2021, seperti bermain game online


Pandemi Covid-19 yang melanda dunia dua tahun belakangan ini tentunya membuat manusia harus menjaga jarak antara satu dengan yang lain. Kegiatan yang berpotensi membuat kerumunan pun dibatasi bahkan dilarang demi mencegah menyebar pandemi. Sebagai salah satu pemain besar dalam industri kesehatan hewan, HIPRA nyatanya tidak kehabisan akal. 

Perusahaan asal Negeri Matador tersebut menghelat konferensi perunggasan virtual tingkat dunia bertajuk World Poultry Virtual Congress 2021 yang digelar pada 14 - 17 Juni 2021. Tujuan dari digelarnya acara tersebut yakni sebagai edukasi berkelanjutan bagi para profesional yang bekerja di sektor perunggasan di seluruh dunia.

Dalam pidatonya yang disampaikan secara virtual, Joan Tarradas Mante Corporate Poultry Business Director HIPRA mengatakan bahwa dalam kondisi pandemi sekalipun permintaan akan protein hewani untuk dikonsumsi oleh manusia tidak akan pernah berhenti dan bahkan cenderung meningkat. Sementara itu dengan adanya pandemi dan berbagai pembatasan gerak, manusia harus memutar otak agar produksi protein hewani dari ternak bisa ditingkatkan. 

"HIPRA peduli akan hal ini, kami harap dengan adanya perhelatan ini dapat menambah wawasan para profesional dan juga menjadi ajang untuk berbagi mengenai perkembangan terkini terkait sains,teknologi, dan bisnis di dunia peternakan khususnya perunggasan di seluruh dunia," tutur Joan.

Untuk mengakses acara tersebut, peserta hanya tinggal masuk ke laman resmi HIPRA, melakukan registrasi, dan kemudian menikmati secara cuma - cuma seluruh rangkaian acaranya. Setelah registrasi selesai, peserta dapat menikmati berbagai fasilitas dan acara yang telah disediakan dalam kongres virtual tersebut. 

Yang tentunya menarik adalah dihadirkannya webinar terkait teknis, teknologi, serta perkembangan perunggasan terkini di setiap harinya oleh pembicara yang berbeda. Pembicara yang dihadirkan pun bukan kaleng - kaleng, tentunya mereka semua adalah expert dalam bidangnya yang reputasinya pun sudah mendunia.

Infovet sendiri berkesempatan mencoba masuk, berinteraksi, dan menikmati fasilitas yang disediakan dalam acara tersebut. Kita tidak perlu melakukan instalasi program atau sebagainya, cukup melakukan registrasi, login, dan enjoy the moment!

Tampilan yang diberikan dalam kongres virtual pun seperti layaknya bermain game online. Apabila sudah terbiasa bermain game online, kita tentu akan mudah berinteraksi melalui interface yang disediakan.

Dalam dunia virtual WVPC peserta juga dapat berkenalan, berinteraksi, chatting, dan melakukan kegiatan lainnya dengan peserta lain dari seluruh dunia. Intinya kegiatan ini bisa dibilang sangat berisi, menyenangkan, dan dapat dinikmati oleh kita yang bahkan gaptek sekalipun. Hanya saja dibutuhkan koneksi internet yang memadai serta spesifikasi komputer atau laptop yang cukup mumpuni agar tidak sering terjadi lag atau lemot saat berada dalam dunia virtual WVPC yang digagas oleh HIPRA ini. Tentunya ini menjadi suatu terobosan yang sangat inovatif di dunia peternakan, semoga dapat ditiru oleh pihak lainnya. (CR)

AGAR LAYER TETAP EKSIS BERTELUR

Fenanza Perkasa Putra, punya solusi tingkatkan persistensi bertelur layer

Peternak mana yang tidak mau jika ayam petelurnya nya memiliki performa yang baik dan konsisten?. Pastinya memiliki ayam petelur dengan performa yang konsisten menjadi dambaan semua peternak. Atas tujuan tersebut PT Fenanza Putra Perkasa mengadakan webinar bertajuk "Maintaining Persistency and Egg Shell Quality in Modern Laying Birds" pada hari Rabu (2/6) yang lalu. 

Tidak tanggung - tanggung, konsultan perunggasan sekelas Tony Unandar didapuk menjadi pembicara dalam webinar tersebut. Seperti yang diduga, webinar tersebut ramai dibanjiri oleh para peserta yang mencapai kurang lebih 200 orang. 

Memahami Genetik Layer Modern

Dalam paparannya Tony Unandar mengatakan bahwa ayam petelur modern sangat berbeda dengan ayam petelur jadul. Perbedaannya terutama pada masa pemeliharaan, kecepatan tumbuh, juga performa produksi. Secara rataan kata Tony, ayam petelur modern dapat bertelur hingga 500 butir dalam satu siklus pemeliharaan dalam waktu hingga 100 minggu. Sangat berbeda dengan ayam jadul yang hanya mampu menghasilkan setengahnya.

"Nah, karena genetik dari mereka sangat berbeda, perlakuan dan cara pemeliharaan yang harus diaplikasikan juga harus berbeda, jangan memelihara ayam modern dengan sistem jadul. Peternak kita kebanyakan masih belum terbuka mindset-nya," kata Tony.

Tony juga menyebutkan bahwa ada beberapa titik kritis pada masa pertumbuhan ayam petelur modern yang perlu diperhatikan. Misalnya dari DOC hingga pullet, ayam harus dipersiapkan dengan baik sehingga target bobot badannya pada saat memasuki masa laying tercapai dengan komposisi yang proporsional.

"Hingga usia 7 - 8 minggu itu perkembangan organ dalam, baru setelahnya (8-16) minggu perkembangan frame (tulang) dan otot ikut berkembang. Proporsi otot dan tulang serta perlemakan di tubuh ayam harus diperhatikan. Jadi bukan hanya bobotnya saja yang masuk, tapi perototan dan pertulangan harus memiliki proporsi yang baik, dengan konformitas yang baik, dan keseragamannya baik," tutur Tony.

Ia menyebutkan kebanyakan pada fase pullet peternak "malas" menyortir alias grading. Seperti yang tadi disebutkan, jika sudah terlihat masuk bobotnya maka ayam dianggap siap berproduksi, padahal dibutuhkan kondisi paling prima dan proporsional agar ayam dapat berproduksi secara baik dan konsisten di masa laying.

Selain itu Tony juga menyebutkan bahwa kebanyakan peternak kurang memperhatikan diet ayam pada masa pullet. Karena terlalu mengejar bobot badan, ayam diberikan pakan dengan energi yang terlampau tinggi, sehingga ayam terlihat gemuk dan bobotnya tercapai tetapi yang tumbuh bukanlah otot dan frame-nya tetapi justru gemuk karena lemak.

Menyadari Pentingnya Fungsi Hati

Hati merupakan organ yang perannya sangat penting dalam tubuh, termasuk ayam petelur. Tony Unandar menjabarkan lebih spesifik mengenai fungsi dan peran hati pada ayam petelur. Dimana hati sangat berperan dalam proses metabolisme dan detoksifikasi berbagai zat yang ada dalam tubuh ayam.

"Kalau saya melihat hati itu seperti organ yang dianaktirikan. Padahal hati ini ada hubungannya dengan produksi telur dan keberlangsungan fase bertelur pada laying period," tutur Tony.

Di dalam organ hati kata Tony, terjadi metabolisme lemak, protein, dan segala macam nutrisi lainnya. Nah, dalam hal ini nutrisi terutama glukosa akan dimetabolisme menjadi asam lipoprotein yang kemudian didistribusikan VLDL (Very Low Density Lipoprotein). Dimana VLDL digunakan sebagai sumber pemebntuk oosit (sel telur), yang jika jumlahnya berlebih akan ditimbun pada jaringan adiposa. Nah proses pembentukan VLDL di hati ini akan berjalan dengan smooth apabila fungsi organ hati berada dalam keadaan yang prima.

"Kebanyakan karena salah manajemen, di lapangan yang saya temukan adalah sindrom fatty liver, dengan bentukan hati yang pucat agak kekuningan. Jika ada temuan seperti ini, bisa dipastikan bahwa ayam tidak akan perform dengan baik, makanya ini jangan sampai terjadi," pungkas Tony.

Agar Hati Tetap Terjaga

Kita mungkin pernah mendengar potongan sajak ini "Hati itu kerajaan tubuh, kalau lalim anggota pun rubuh". Jika sajak tersebut dimaknai secara dentotatif, hal yang sama alias buruk juga akan terjadi. Oleh karenanya, mengigat pentingnya organ hati pada ayam petelur, patut kita beri perhatian lebih agar organ ini senantiasa dalam keadaan yang prima.

Alexander Peron Strategic Marketing & Technology Director Provimi memiliki salah satu solusi dalam menjaga organ hati agar tetap prima. Tim Provimi sadar betul bahwa problem yang tadi disebutkan oleh Tony tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

"Kami juga melihat ini juga menjadi masalah di seluruh dunia. Organ hati itu sangat penting dan harus dijaga agar fungsinya tetap prima, karena kaitannya dengan keberlangsungan laying period serta kualitas, dan kuantitas telur," tukas Alexander.

Solusi yang ditawarkan oleh Alexander yakni berupa produk dengan pemberian produk milik Provimi yang berisi asam - asam organik serta garamnya. Dengan menambahan produk tersebut, ayam jadi lebih prima, persistensi bertelurnya meningkat, dan kualitas dan kuantitas dari produksi telur yang dihasilkan juga baik.

"Kami sudah melakukan trial di berbagai negara, dan hasilnya memuaskan. Keuntungan jadi bertambah dan yang terpenting ternak dalam keadaan prima," tutup Alexander. 

PELANTIKAN DPP AINI PERIODE 2021-2024 SECARA DARING

Pelantikan DPP AINI secara daring. (Foto: Dok. AINI)

Karena masih dalam pandemi COVID-19, pelantikan Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (DPP AINI) periode 2021-2024, Jumat (11/6), dilaksanakan melalui daring.

Dipimpin langsung oleh Ketua Umum Dr Ir Osfar Sjofjan MSc IPU ASEAN Eng dan Sekjen Dr Ir Bambang Suwignyo MP IPM ASEAN Eng, pelantikan dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari hasil Kongres AINI yang dilakukan secara daring pada Sabtu, 6 Februari 2021.

DPP AINI yang telah dilantik tersebut akan bertugas untuk empat tahun mendatang dengan program kerja yang disepakati bersama antar pengurus. Dalam acara yang penuh keakraban tersebut, dilangsungkan juga acara halal bi halal (syawalan) dan siraman rohani dari ustaz Nanung Danardono PhD, Dosen Fakultas Peternakan UGM dengan mengangkat topik “Meningkatkan Amal, Meningkatkan Kualitas Insan.”

Osfar menegaskan tentang kesiapannya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan para anggota AINI dari wilayah di ujung barat hingga ujung timur, untuk turut memajukan ilmu dan teknologi pakan di Indonesia.

“Diharapkan terjalin kerja sama yang baik antara semua anggota dengan berbagai sektor, baik antar asosiasi maupun dengan lembaga pemerintah untuk bisa mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada,” ujar Osfar.

Dalam struktur DPP AINI tersebut, terdapat berbagai profesi, baik akademisi, pengusaha maupun birokrasi. Formasi dan komposisi seperti itu dimaksudkan agar terjadi kerja sama sinergis untuk kemajuan sektor nutrisi pakan di Indonesia. AINI juga diharapkan dapat menjadi jembatan untuk bisa memecahkan setiap permasalahan yang ada terkait nutrisi dan pakan, yang nantinya bisa teruskan ke pemerintah sebagai pemegang kebijakan. (IN)

SEKTOR PETERNAKAN BRASIL TAKUT KEKURANGAN BIJI-BIJIAN



Pemerintah Brasil berusaha untuk menenangkan sektor peternakan negara tersebut, yang telah meminta pemotongan pajak atas impor biji-bijian. Sektor peternakan Brasil khawatir akan kekurangan jagung dan kedelai karena harga tinggi dan perilaku spekulatif produsen biji-bijian.

Meskipun harga jagung baru-baru ini sedikit menurun di pasar internasional, sektor babi dan unggas Brasil menginginkan pemerintah turun tangan untuk mencegah kenaikan biaya terlalu tinggi.

Peringatan langsung yang mereka keluarkan kepada presiden Brasil Jair Bolsonaro merinci risiko kenaikan harga pada unggas dan babi. Para ahli juga berpendapat bahwa pasar akan cenderung mengurangi pasokan barang-barang ini. (via poultryworld.net)

AGAR PENYAKIT BAKTERIAL TIDAK VIRAL

Faktor mendasar terjadinya kasus infeksi penyakit bakterial adalah kurangnya kesadaran peternak akan manajemen pemeliharaan yang baik. (Foto: Istimewa)

Mengendalikan penyakit agar tidak bersarang dan berkembang di suatu peternakan unggas memang susah-susah gampang. Karena itu, dibutuhkan teknik yang jitu dan pengalaman yang mumpuni dalam mengendalikannya.

Ada di Lingkungan dan Kasat Mata
Seperti diketahui bahwa iklim Indonesia yang tropis menjadi salah satu faktor mengapa banyak mikroorganisme kerasan dan mampu bertahan hidup di lingkungan. Begitupun bakteri, entitas seperti bakteri patogen sejatinya sudah ada di lingkungan. Oleh sebab itu ibarat perang, peternak sudah lebih dahulu dikepung oleh musuh.

Bakteri penyebab penyakit seperti Mycoplasma gallisepticum, E. coli, Clostridium dan lainnya mampu bertahan hidup di lingkungan. Belum lagi bakteri yang berasal dari hewan seperti burung liar yang sering ditemui di kawasan peternakan. Faktor manusia juga bisa menjadi penunjang bagi bakteri patogen dapat menyebar di kawasan peternakan. Misalnya saja jika higiene dari petugas kandang yang kurang terjaga, tentunya dapat menulari ayam di flock yang berbeda.

Terkait masalah tersebut, peneliti serta dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof Drh Bambang Pontjo, mengingatkan peternak akan pentingnya memahami musuh yang kasat mata ini. Ia memberi contoh bakteri peyebab Chronic Respiratory Disease (CRD) yang bisa bertahan lama di suhu sekitar 20° C selama 1-3 hari, kemudian dalam kuning telur selama 18 minggu pada suhu 37° C atau selama enam minggu pada temperatur 20° C. Di dalam cairan allantois, mikroorganisme ini tetap infektif selama empat hari dalam inkubator, enam hari dalam suhu ruang dan 32-60 hari dalam lemari es.

“Kalau kita sudah tau musuh kita karakteristiknya seperti apa, seharusnya bisa kita perangi mereka. Jangan kita lengah dan acuh atau bahkan terlalu yakin bahwa kawasan peternakan kita benar-benar clear dari ancaman bakteri patogen,” kata Bambang. Setidaknya peternak harus berusaha meminimalisir kejadian penyakit, jika perlu dibuat target agar tidak ada kasus penyakit infeksius kendati sulit.

Hal senada juga disampaikan oleh peneliti dari Universitas Airlangga, Prof Suwarno, yang mengatakan bahwa faktor… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2021. (CR)

WEBINAR CBC: JELANG IDUL ADHA, HARGA SAPI DIPERKIRAKAN NAIK?

 

Manager Communication Yayasan CBC, Rizkan Primadia sebagai moderator webinar

Jelang Hari Raya Idul Adha 1442H, harga sapi diprediksi mengalami kenaikan karena ada kebutuhan untuk kurban. Ketua Umum Komunitas Sapi Indonesia (KSI) Pusat Budiono mengatakan, tingginya kebutuhan tersebut menyebabkan populasi menurun.

Budiyono memperkirakan, harga berat hidup daging sapi lokal menjelang Idul Adha akan naik antara Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram timbang hidup atau sekitar 10% dari harga saat ini, yakni Rp 48.000 sampai Rp 50.000 per kilogram timbang hidup.

Kata Budiyono, kenaikan ini sebenarnya sudah terjadi saat Idul Fitri. Budiyono menambahkan populasi sapi semakin sedikit, karena pemotongan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan lebaran sangat besar menjadi faktor.

“Populasi yang semakin berkurang ini, menurut saya disebabkan kurangnya peternak lokal yang melakukan pembiakan sapi,” ungkap Budiyono dalam Webinar Rantai Pasokan Sapi Menjelang Idul Adha 1442 H, Rabu (9/6). Webinar ini diselenggarakan oleh Yayasan Cattle Buffalo Club (CBC) dan Komunitas Sapi Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, Penggiat Komite Pendayagunaan Pertanian, Khudori menguraikan mekanisme pasar daging lebaran.

“Pola pergerakan harga daging sapi yang hampir sama terjadi di tahun 2014 hingga 2017. Polanya 7 hari sebelum puasa Ramadan naik, 7 hari sebelum Lebaran naik, sebulan sebelum Idul Adha juga naik,” terang Khudori.

Sementara pada tahun 2018 sampai tahun 2020, Khudori mengatakan pergerakan harga menyimpang dan tidak bisa dilihat polanya.

“Saat Idul Adha biasanya naik, di tiga tahun terakhir ini nggak naik. Kalau tahun lalu, faktor daya beli turut memengaruhi dan sampai sekarang belum pulih,” ujarnya.   

Indonesia akan sulit mencapai swasembada daging sapi jika tidak punya industri breeding. "Kita harus mulai kembangkan industri pengembangbiakan sapi, karena akan sangat sulit dan mustahil kita swasembada tanpa itu," tambah Khudori.

Prof Dr Ir Tjeppy D Soedjana MSc, Peneliti Kebijakan Peternakan, Badan Litbang Pertanian Kementan dalam acara yang sama mengatakan sumber biomasa pakan menjadi penentu perkembangan ternak ruminansia termasuk sapi sebagai salah satu alternatif jalan keluar pasokan sapi potong. (NDV)

 

 

 


INDONESIA LAYER FEED NUTRITION CONFERENCE DIGELAR SECARA VIRTUAL

Indonesia Layer Nutrition and Feed Technology Conferece digelar secara virtual

Indonesia Layer Feed Nutrition Conference digelar secara virtual pada Rabu, 9 Juni 2021. Acara tahunan yang digagas oleh US Soybean Export Council tersebut merupakan gelaran rutin yang digelar tiap tahunnya bergantian dengan Broiler Feed Nutrition Conference (USSEC), namum karena pandemi Covid-19 acara tersebut digelar secara virtual, kata Timothy Loh Regional Director USSEC South East Asia & Oceania.

Dalam sambutannya Timothy juga menyampaikan urgensi krisis pakan bagi ternak dalam masa pandemi yang masih belum selesai. Hal ini dikarenakan beberapa negara melakukan pembatasan kegiatan ekspor dan impornya. Namun begitu Timothy berjanji kepada para customernya di Indonesia bahwa USSEC berkomitmen untuk tetap melayani dan menjadi partner terbaik meskipun pandemi masih melanda, sehingga mereka tidak perlu khawatir.

Sesi pembuka presentasi disampaikan oleh Henry Hendrix, General Manager Hendrix Genetics. Dalam presentasinya Henry menyampaikan berbagai perkembangan terbaru mengenai genetik layer modern.Misalnya layer modern memiliki performa produksi yang baik ketimbang layer di tahun 90-an dimana pada layer modern, produksi telurnya masih tinggi pada usia 100 minggu-an. Berdasarkan data yang dijabarkan Henry, layer modern dapat bertelur sebanyak 505 butir dalam satu siklus hidup selama lebih dari 100 minggu, jauh berbeda pada tahun 90-an yang hanya dapat menghasilkan 260-an butir telur pada masa pemeliharaan yang hanya sampai 80-90 minggu.

Prof. Budi Tangendjaja hadir sebagai presenter kedua, dalam gilirannya ia menjabarkan performa produksi dan karakteristik layer di Indonesia. Di sini Prof. Budi menjabarkan berdasarkan data dan pengalamannya di lapangan selama menjadi konsultan. Sebagai contoh ia menjelaskan bahwa karakteristik peternakan layer di Indonesia masih didominasi peternak yang memelihara ayamnya secara tradisional. 

"Pemeliharaan masih sederhana, kandang masih tradisional, masih menganggap pakan dengan kadar protein tinggi adalah yang terbaik. Ini masih menjadi karakteristik peternak kita, jadi menurut saya peternak seperti menyia-nyiakan potensi genetik yang dimiliki layer modern. Makanya saya selalu ajak mereka untuk membenahi manajemen pemeliharaan, terutama di sisi pakan," tutur dia.

Namun begitu meskipun masih di dominasi peternakan tradisional, Budi mengungkapkan bahwa sebenarnya Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara penghasil telur terbesar di Asia bahkan dunia. Hal ini menurut Budi bukanlah tanpa dasar, Indonesia berada di peringkat 9 penghasil telur dunia menurut data FAO.

"Kita punya potensi, di Indonesia punya jagung, DOC layer jantan di sini laku, ayam afkir di sini laku, manure juga laku, peternak di sini banyak tertolong akibat kondisi - kondisi tadi, tinggal manajemennya saja diperbaiki dan jangan lupa peran pemerintah juga harus diperkuat dengan menghasilkan kebijakan yang produktif untuk dunia perunggasan di sini," pungkasnya. 

Perhelatan ini sejatinya digelar selama dua hari, yakni pada 9-10 Juni 2021. Pembicara yang terlibat di dalamnya pun bukan kaleng - kaleng, mereka adalah para ahli dan expert di bidang ayam petelur dan berpengalaman selama puluhan tahun di bidangnya. (CR)


MOU FAPET UGM DAN GLOBAL FOOD PARTNERS KEMBANGKAN PUSAT PELATIHAN CAGE-FREE

 

Dekan Fapet UGM menunjukkan dokumen MoU usai ditandatangani (Foto: Istimewa) 

Tren pangan global atau Global Food Trend termasuk hasil pangan ternak yaitu telur, daging, susu dari waktu ke waktu para konsumen memperhatikan aspek kesejahteraan hewan ternak. Pernyataan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEU IPU ASEAN Eng dalam acara penandatanganan MoU dengan Global Food Partners di bidang pembentukan pusat pelatihan cage-free.  

Selain Global Food Partners, AERES University of Applied Science juga turut menjalin kerjasama untuk mengembangkan pusat pelatihan cage-free (model kandang umbaran) untuk ayam petelur yang pertama di Indonesia serta Asia, tepatnya di kampus Bulaksumur Yogyakarta.

Pusat pelatihan ini nantinya mempertemukan produsen telur dan pemangku kepentingan industri lainnya untuk meningkatkan keberlanjutan jangka panjang dan daya saing industri telur di Indonesia dan di seluruh Asia. Pusat pelatihan cage-free juga menawarkan praktik terbaik dalam manajemen dan produksi telur dengan sistem kandang umbaran, yang berperan sebagai peternakan model bagi produsen telur sistem kandang umbaran.

Fapet UGM akan menjadi tuan rumah pusat pelatihan, menyediakan tanah, bangunan, infrastruktur, staf, pemeliharaan harian, dan sumber daya lainnya untuk kerja sama ini.

Global Food Partners telah merancang konten kursus, menghadirkan keahlian teknologi dan akan memberikan dukungan berkelanjutan melalui tim ahlinya.

Dalam seremoni penandatanganan MoU secara virtual yang diadakan Senin (7/6) ini dihadiri Dr Kate Hartcher Sr, Animal Scientist di Global Food Partners serta peneliti dan dosen Ilmu Perunggasan di Aeres University of Applied Sciences, Dr Jasper Heerkens.  

Ketika sesi tanya jawab dengan media, Ali Agus mengungkapkan aspek kesejahteraan ternak dalam konteks ini ayam petelur menjadi isu global. Para peternak pun dituntut mengadopsi memelihara ayam petelur dengan sistem cage-free dan tidak di kandang battery seperti yang memang sudah dikembangkan selama puluhan tahun.  

Ali Agus melanjutkan, tren ini perlu diantisipasi disamping telur yang dihasilkan harus bebas antibiotik dan tentu terbebas dari pencemaran lainnya.

“MoU bersama Global Food Partners ini mengembangkan fasilitas laboratorium pengembangan cage- free pada ayam petelur kemudian training center lab dan pangan sebagai model. Nantinya contoh aspek ekonomi maupun teknis seperti apa kita adopsi,” jelasnya.  

Selain itu wujud kerjasama tersebut secara teknis disebutkan Ali Agus, bentuk konkritnya akan dikembangkan kurikulum cage-free, hingga kualitas telur pun akan dipelajari. “Mahasiswa juga perlu kita berikan bekal tentang model cage-free ini,” tambah Ali Agus.

Lebih lanjut Ali Agus mengemukakan, tujuan jangka menengah ke Panjang nantinya, menurutnya model cage-free ini efisien dan efektif untuk peternak skala kecil di bawah 1000 ekor atau 2000 ekor. “Kalau bisa dipraktikkan, model ini sangat menarik,” imbuhnya.

Peternak kecil diharapkan selalu mengambil peran di bidang peternakan layer tentunya dengan menentukan segmentasi pasar ke depannya.

Sementara tujuan jangka pendek, Ali Agus menambahkan pihaknya mengambil model cage-free sederhana dengan jumlah kepemilikan tidak banyak.

“Kita transfer teknologi ke peternak yang mau mengadopsi model ini dengan pola unik dan spesifik. MoU ini mudah-mudahan bermanfaat bagi ilmu pengembangan khususnya di bidang Layer Farming,” harap Ali Agus. (NDV)

 

 

 

 

 

 

 


HARI SUSU SEDUNIA DAN HARI SUSU NUSANTARA 2021, FRISIAN FLAG INDONESIA ADAKAN E-TALKSHOW


Frisian Flag Indonesia serukan manfaat dan kebaikan susu.

Memeriahkan Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara 2021 yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, Frisian Flag Indonesia mengadakan e-talkshow dengan mengundang narasumber berpengalaman. Ketiga narasumber yang hadir diantaranya Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia Prof Dr Ir Hardinsyah MS, Psikolog dan Co-founder dari Tiga Generasi Saskhya Aulia kemudian Chef sekaligus Konsultan Kuliner Nanda Hamdalah serta Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia Andrew F Saputro.

Frisian Flag Indonesia (FFI) menyerukan akan manfaat dan kebaikan susu, khususnya dalam melengkapi asupan gizi di pagi hari. Seperti yang diketahui, pagi hari menjadi momen yang penting dalam menentukan kualitas hari seseorang. Memiliki rutinitas pagi yang baik dan terencana termasuk dengan merencanakan asupan yang terbaik, dapat berdampak pada kesiapan dan ketangguhan seseorang dalam menjalani hari.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F Saputro menyatakan, “Peringatan Hari Susu Sedunia dan Hari Susu Nusantara menjadi momen yang tepat untuk terus menyerukan kebaikan dan manfaat dari susu, khususnya sebagai asupan di pagi hari. Bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan fisik, kebaikan susu juga dapat berdampak pada kesejahteraan masyarakat baik peternak sapi lokal sebagai pahlawan gizi nasional, maupun masyarakat umum yang jadi kian produktif dengan dukungan gizi baik dari produk susu berkualitas.” (Sumber: Siaran Pers via www.frisianflag.com)


MENKO PEREKONOMIAN DUKUNG KAMPANYE KONSUMSI AYAM DAN TELUR

Mentan dan Menko Perekonomian bagikan paket ayam dan telur secara simbolis

Ada yang spesial pada Kamis (3/6) yang lalu, karena pada acara puncak Edukasi Gizi Ayam dan Telur yang diselenggarakan di IPB International Convention Center Bogor, dua menteri hadir. Yang pertama tentunya adalah menteri pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto. 

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga Hartarto membagikan secara simbolis, bingkisan daging ayam dan telur kepada perwakilan masyarakat. Pembagian paket ayam dan telur tersebut dihelat di tiga kota. Jakarta dibagikan sebanyak 1.000 paket, Bandung 5.000 paket, dan 1.000 paket di Bogor. Dengan dibagikannya paket ini diharapkan masyarakat semakin gemar mengonsumsi telur dan daging ayam.

"Industri peternakan yang tulang punggungnya peternakan rakyat harus dilindungi, pemerintah menjaga suplai dan demand agar harga stabil," ujar Airlangga Hartarto

Ia melanjutkan, langkah selanjutnya agar produksi peternakan unggas harus semakin efisien, agar makin menguntungkan peternak dan produknya bisa bersaing.

Di kesempatan yang sama Ketua Umum PINSAR Indonesia sekaligus ketua panitia pengarah acara yang bertahuk Silaturahmi Peternak dan Kampanye Konsumsi Ayam & Telur 2021tersebut, Singgih Januratmoko mengatakan bahwa tujuan dari acara ini untuk meningkatkan konsumsi ayam dan telur masyarakat Indonesia.

“Kita masih kalah jauh dalam konsumsi telur dan daging ayam dengan tetangga jiran, Malaysia dan Singapura," ujar Singgih Januratmoko yang juga anggota Komisi VI DPR RI.

Ia menyitir Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa konsumsi daging ayam nasional mencapai 12,79 kg per kapita dan telur 130.000 butir telur per kapita per tahun. Sementara Malaysia mencapai 30-40 kg daging ayam per tahun dan telur 460.000 butir telur per kapita per tahun.

Menurut Singgih hal itu harus jadi perhatian berbagai pihak. Pasalnya industri unggas itu tidak bergantung langsung pada impor, sebagian besar dapat dicukupi dalam negeri.

“Dan yang paling penting, ayam dan telur ini merupakan protein yang terjangkau. Dalam kondisi wabah Covid-19, ayam dan telur sangat penting untuk menjaga imunitas dan ketercukupan gizi," ujar Singgih.

Selain itu di hari dan tempat yang sama digelar acara silaturahmi peternak nasional. Seperti biasa, acara tersebut merupakan wadah bagi para stakeholder perunggasan untuk bertukar ide, gagasan, dan ajang mencari solusi terkait permasalahan di bidang perunggasan yang masih bisa dibilang belum sepenuhnya stabil. (CR)

PRODUK PETERNAKAN PENOPANG MASYARAKAT CERDAS 5.0

Prof Dr Tridjoko Wisnu Murti DEA saat memaparkan presentasinya. (Foto: Dok. IN)

Masyarakat Cerdas 5.0 merupakan masyarakat yang berpusat pada manusia dengan nilai-nilainya yang menyumbangkan kemajuan ekonomi dan pemecahan problem sosial termasuk kesehatan, oleh sistem yang mengintegrasikan ruang cyber dan ruang fisik. Ini mengembalikan sentuhan nilai kemanusiaan dalam sistem kemajuan industri.

Untuk menjaga manusia tetap cerdas dalam mengawal revolusi teknologi berperikemanusiaan, dibutuhkan gizi prima yang mencerdaskan masyarakat, antara lain pangan asal ternak, khususnya susu dan olahannya.

"Harapan utama pada masyarakat 5.0 tidak lain hidup sehat dan fungsional semakin lama," kata Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Tridjoko Wisnu Murti DEA, dalam Indonesia Livestock Club (ILC) edisi Syawalan 1442 H yang dilaksanakan melalui daring, Rabu (2/6/2021).

Diikuti sekitar 212 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, ILC ke-19 kalinya ini menghadirkan narasumber Guru Besar Fapet Universitas Halu Oleo Kendari, Prof Dr Ir Harapin Hafid MSi dan Staf Direktorat Kesmavet, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh Hastho Yulianto MM.

Dipaparkan Tridjoko, produk hasil olahan peternakan menjawab kebutuhan 7 miliar penduduk dunia, sekaligus mendukung adanya masyarakat cerdas. Pangan mewakili kepuasan terhadap kebutuhan vital yang tak tergantikan dan merupakan cetak dasar hidup, dapat diterjemahkan menurut Islam adalah 5 Sehat-6 Halal.

Lebih lanjut, kecernaan dan nilai biologi protein bioaktif yang tinggi dan penyedia protein untuk fungsi optimal organ tubuh seperti sistem kardiovaskular, syaraf, pencernaan dan kekebalan tubuh.

“Lemak bioaktif dalam wujud senyawa Conjugated linoleic acid bermanfaat untuk anti-diabetik, anti-kanker, anti-atherogenik dan modulasi kekebalan tubuh yang sedang tumbuh,” jelas Tridjoko. Demikian juga dengan gula laktosa unik yang ada hanya pada susu, memasok gula mono, galaktosa untuk otak yang sedang tumbuh.

Hidrolisis laktosa tersebut akan memunculkan galaktosa yang penting bagi transfer syaraf otak. Galaktosa adalah sebagai substrat untuk serebrosida, ganglioside dan mucoproteins di otak dan sistem syaraf.

“Senyawa itu juga mempunyai potensi theurapetik gangguan yang berpengaruh pada fungsi otak, seperti penyakit Alzheimer dan sindrom nefrotik,” pungkasnya. (IN)

BELAJAR LEBIH JAUH KUALITAS PULLET BERSAMA FARMSCO

Farmsco E-Learning Part 6, Lebih Dalam Mengenal Kualitas Pullet


Telur merupakan salah satu protein hewani yang paling ekonomis dan gemar dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan data FAO (2018), Indonesia masuk ke peringkat ke-4 sebagai negara penghasil telur dunia dibawah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.

Berkembangnya teknologi dalam sektor pembibitan dan genetik ternak tentunya juga mempengaruhi produksi ternak. Yang tentunya jika dibarengi dengan manajemen pemeliharaan yang baik akan menghasilkan performa produksi yang semakin optimal. 

Pada edisi ke-6 nya kali ini, PT Farmsco Feed Indonesia kembali menggelar webinar Farmsco E- Learningnya yang bertajuk "Kupas Tuntas Fase Pullet Layer Modern" pada Kamis (27/5) yang lalu. Kali ini kembali Farmsco berkolaborasi dengan Hendrix Genetics mengupas lebih dalam mengenai manajemen pullet yang baik dan benar.

Erwan Julianto selaku Technical Service Manager Hendrix Genetics Indonesia & Filipina menjadi pembicara utama. Dalam presentasinya yang berdurasi sekitar 40 menit, Erwan memaparkan berbagai hal mengenai ayam petelur modern. Dalam presentaisnya ia juga menjabarkan faktor - faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pullet.

Mulai dari genetik, tata cara pemeliharana, brooding, bahkan sampai pentingnya memiliki recording yang baik dijelaskan dengan apik oleh Erwan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh para peserta webinar. Salah satu yang ia garisbawahi dalam presentasinya adalah pentingnya mengejar target bobot badan pada masa pullet karena akan berpengaruh pada fase selanjutnya.

"Bobot badan di masa pullet ini penting untuk dikejar karena berkaitan juga dengan nanti fase peak laying. Produktivitas, kesehatannya, serta keuntungan yang didapat tentu akan baik jika persiapan di fase pullet baik, oleh karenanya penting sekali diberlakukan manajemen pemeliharaan yang baik," tutur Erwan.

Penyampaian mengenai manajemen oleh Erwan kemudian diperkuat oleh Intan Nursiam, Nutrisionis PT Farmsco Feed Indonesia. Berdasarkan paparannya, pemilihan dengan bentuk, serta kandungan nutrisi yang tepat akan menunjang manajemen pemeliharaan pullet agar tetap sehat dan nantinya akan memiliki performa yang baik pada fase puncak produksi.

"Memang disini agak tricky kadang memilih pakan memang tidak semudah itu, ada waktunya kapan harus ganti pakan yang tepat, pakan dengan bentuk apa yang dipakai, makanya kita harus benar - benar dapat mengambil keputusan dengan tepat," papar Intan.

Di akhir sesi, PT Farmsco Feed Indonesia mengadakan kuis seputar materi webinar. Sepuluh pemenang yang beruntung akan mendapatkan hadiah - hadiah menarik sebagai apresiasi dari PT Farmsco Feed Indonesia. (CR)

PEMDA JAWA BARAT DAN PINSAR INDONESIA GEBRAK KONSUMSI DAGING DAN TELUR AYAM

Dari kiri: Duta Ayam & Telur Indonesia, Kepala DKPP Jabar, Wagub Jabar, Ketua Penggerak PKK Jabar, Ketua Umum Pinsar Indonesia dan Julistio Djais. (Foto: Sjamsirul)

Sabtu 29 Mei 2021. Pemerintah Jawa Barat (Jabar) dan Pinsar (Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat) Indonesia yang difasilitasi PT Gallus Indonesia Utama (Majalah Infovet) dan USSEC (U.S Soybean Export Council) melanjutkan rangkaian kegiatan "Edukasi Gizi Ayam dan Telur 2021". Kegiatan berlangsung di Gedung Pakuan Bandung ini juga didukung berbagai perusahaan peternakan dan obat hewan.

Di tengah pandemi COVID-19 yang hingga kini belum tuntas, acara dilaksanakan dengan Prokes ketat. Tampak hadir sebagai narasumber Ir H. Jafar Ismail (Kepala Dinas Ketahanan Pangan & Peternakan Jabar/DKPP), H. Uu Ruzhanul Ulum (Wakil Gubernur Jabar), Atalia Praratya Kamil (Ketua Tim Penggerak PKK Jabar), Singgih Januratmoko (Ketua Umum Pinsar Indonesia) dan Julistio Djais (Dokter Gizi Anak).

Menurut Jafar, konsumsi daging dan telur ayam sangat penting bagi masyarakat, mengingat protein hewani ini mampu memperbaiki gizi sebagai usaha pencegahan peningkatan kasus stunting di Jabar.

"Oleh karena itu, ibu hamil perlu diperhatikan asupan gizinya terutama protein hewani dari daging  dan telur ayam. Karena manfaatnya untuk meningkatkan imunitas dan kecerdasan," ujar Jafar.

Hal serupa juga disampaikan Ruzhanul Ulum, bahwa Jabar yang sangat potensial dalam penyediaan protein hewani asal ayam, namun ternyata kasus stunting masih ada. Maka dari itu, kata dia, diperlukan kalaborisasi PKK se-Jabar dan seluruh pemerintah kabupaten/kota untuk serentak mengedukasi masyarakat akan pentingnya mengonsumsi daging dan telur ayam.

"Jangan para bapak lebih mementingkan beli rokok dan para ibu lebih mementingkan beli pulsa daripada membeli daging dan telur ayam sebagai perbaikan gizi anak, karena merekalah aset penerus bangsa ini," tutur Ruzhanul.

"Selain itu, peranan media juga penting dalam mendukung edukasi masyarakat untuk sadar gizi, disamping media perlu memberikan informasi yang benar dan menangkal isu-isu hoaks yang berkembang di masyarakat kita."

Konsumsi daging dan telur ayam jelas sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dijelaskan Julistio Djais, bahwa dalam daging dan telur ayam terdapat asam amino lengkap, terutama asam amino esensial yang memberi pengaruh terhadap pertumbuhan dan kekebalan.

"Tumbuh dan kembang anak sangat dipengaruhi kualitas pangan yang dikonsumsi, antara lain protein hewani yang salah satunya berasal dari daging dan telur ayam, yang merupakan sumber protein paling murah dari yang lainnya," kata Julistio.

Upaya-upaya peningkatan konsumsi protein tersebut juga terus dilakukan di Jabar. Atalia Praratya Kamil bersama sekitar 800 ribuan kader PKK-nya sudah melaksanakan berbagai edukasi tentang pentingnya asupan gizi sehat, aman dan berimbang. Ia juga menyebut bahwa stunting di Jabar turun dari 31,1% menjadi 26% (2021).

"Intervensi positif kita menuai hasil, namun diperlukan edukasi ekstra merubah pola kebiasaan untuk mengonsumsi daging dan telur ayam," ucap Atalia.

Ungkapan senada juga disampaikan Singgih Januratmoko. Pihaknya melalui Pinsar Indonesia juga terus berupaya meningkatkan kesejahteraan peternak dan konsumsi protein hewani masyarakat, berkolaborasi dengan banyak pihak menggelar berbagai kegiatan edukasi ke pelosok Tanah Air.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan simbolis makan ayam goreng dan telur rebus bersama sebagai bentuk kampanye edukasi gizi. Dilakukan pula penyerahan 5.000 paket daging dan telur ayam untuk daerah kasus stunting di Jabar. (SA)

PENGGUNAAN ANTIBIOTIK YANG RASIONAL DAN TEPAT SASARAN AGAR BAKTERI TAK KEBAL

Dalam budi daya usaha peternakan ayam, penggunaan suatu preparat antibiotika harus dievaluasi secara teknis dan ekonomis. (Foto: Dok. Infovet)

Pertumbuhan bisnis ayam broiler dari waktu ke waktu mengalami kenaikan yang signifikan. Berdasarkan data (FAO Agriculture Outlook 2020) produksi daging secara global untuk daging ayam broiler bisa 2-3 kali bahkan 7-8 kali lipat lebih tinggi dibanding komoditi lain seperti sapi dan domba/kambing, termasuk di Indonesia. Munculnya kandang-kandang modern dalam 3-5 tahun terakhir ini semakin mengonfirmasi bahwa persaingan usaha di sektor ayam ras pedaging konsisten mengalami pertumbuhan yang cepat.

Isu Global: Resistensi Antibiotik (Antimicobial Resistance/AMR)
Seiring dengan perkembangan industri broiler modern yang pesat, dunia digemparkan oleh isu resistensi antibiotik. Pada Juli 2014, telah diadakan pertemuan global “The Review on Antimicrobial Resistance” dimana dari hasil pertemuan menyatakan bahwa kasus infeksi bakteri yang sudah kebal/resisten terhadap antimikroba meningkat signifikan. Di Eropa dan Amerika Serikat saja, lebih dari 50.000 nyawa hilang tiap tahunnya karena resistensi ini pada kejadian infeksi sekunder bakteri pada penyakit malaria, HIV/AIDS dan TBC.

Dari pertemuan tersebut pula para ahli memperkirakan jumlah korban meninggal secara global di seluruh dunia mencapai sedikitnya 700.000 jiwa setiap tahun. Pada 2050, diprediksi naik mencapai 10 juta orang, jauh lebih tinggi dibanding penyakit Kanker, Diabetes, kecelakaan lalu lintas, Kolera, Tetanus, Measles dan Diarea.

Resistensi antibiotik turut meningkatkan risiko kematian yang secara langsung berpengaruh pada menurunnya usia harapan hidup suatu negara. Dari data yang dilansir WHO, setelah gelombang resistensi antibiotik rata-rata usia harapan hidup di negara-negara Asia Tenggara dibandingkan dengan Afrika, yakni 70 berbanding 58.

Atas pertimbangan itulah sehingga dalam budi daya usaha peternakan ayam, penggunaan suatu preparat antibiotika juga harus dievaluasi secara teknis dan ekonomis. Timbulnya kesadaran residu ataupun ketakutan akan resistensi dari suatu mikroba terhadap satu atau lebih dari satu jenis preparat antibiotika juga akan memberikan tekanan-tekanan tertentu pada dunia perunggasan dalam menggunakannya.

Dinamika Regulasi dan Realita
Dalam menyikapi isu AMR, Indonesia memberikan penegasan implementasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Kriteria obat hewan yang dilarang tercantum dalam... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2021.

Ditulis oleh:
Eko, DVM (commercial broiler farm consultant)

PENYAKIT BAKTERIAL HARUS DIHAMBAT SEBELUM TERLAMBAT!

Telur dapat menjadi sumber penularan zoonosis apabila tidak diperhatikan kualitasnya. (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam dunia mikroorganisme, bakteri merupakan salah satu yang paling sering dibicarakan. Terutama bakteri yang bersifat patogen. Celakanya, dalam dunia peternakan khususnya unggas, bakteri-bakteri patogen kerap kali menjadi permasalahan bagi peternak.

Menjaga kesehatan ternak demi menuai performa yang produktif wajib hukumnya. Terlebih lagi dalam perunggasan, selain penyakit non-infeksius, penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri sering kali mewabah. Kadang wabah dari infeksi bakteri yang terjadi di suatu peternakan ayam dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Oleh karenanya, dibutuhkan trik jitu dalam menanganinya.

Karena Bakteri Jadi Merugi
Kesuksesan mengontrol bakteri patogen, menghindari kontaminasi, mencegah multifikasi dan menyebabkan penyakit menurut Ensminger (2004), adalah salah satu kunci sukses menjaga performa dan produksi ternak. Namun tidak semua peternak mampu melakukannya. Cerita datang dari Junaidi, peternak asal Tanah Tinggi, Tangerang. Pernah ia mengalami kerugian akibat wabah penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD) kompleks beberapa tahun lalu.

Awal mula menjadi peternak broiler ia mengira bahwa memelihara ayam mudah, hanya tinggal memberi pakan dan menunggu saja, walaupun kenyataannya tidak. Dirinya baru mengetahui bahwa ayamnya terserang Colibacillosis ketika ada staf technical service suatu perusahaan obat mendatangi kandangnya.

“Saya enggak tahu-menahu awalnya, yang saya tahu penyakit ayam ya kalau enggak tetelo, flu burung,” tukas Junaidi. Ia kemudian perlahan belajar mengenai manajemen pemeliharaan yang baik dan benar dari berbagai sumber. Ketika diserang Colibacillosis, kerugian ekonomi yang diderita Junaidi mencapai 50% dari total ayamnya.

Sementara menurut Product Manager PT Sanbe Farma, Drh Dewi Nawang Palupi, mengingatkan kembali bahwa infeksi bakteri sangat berbahaya dan merugikan. Ia menegaskan, penyakit bakterial seperti Colibacillosis ditentukan oleh manajemen kebersihan kandang. Terlebih jika manajemen kebersihan kandang buruk dan tidak menerapkan sanitasi dalam kandang dan air minum.

“Kematian sekitar 1-2% dan bisa berlangsung lama bila tidak ditangani dengan baik. Jika terjadi di minggu pertama masa pemeliharaan, kematian bisa mencapai… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2021. (CR)

WEBINAR NASIONAL: GIZI AYAM DAN TELUR TINGKATKAN IMUNITAS DAN KESEHATAN TUBUH

Antusias peserta dalam Webinar Nasional Gizi Ayam dan Telur. (Foto: Infovet/Ridwan)

Selasa, 25 Mei 2021. “Gizi Ayam dan Telur untuk Meningkatkan Imunitas dan Kesehatan” menjadi tema yang diangkat dalam Webinar Nasional rangkaian kegiatan Edukasi Gizi Ayam dan Telur 2021 yang juga akan digelar di Bandung pada 29 Mei 2021.

Kegiatan webinar ini mendapat apresiasi penuh dari Ketua Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil, yang merupakan istri dari Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Saya sangat apresiasi sekali kepada penyelenggara dan semua pihak terkait dalam kegiatan ini. Saya harap ibu-ibu PKK terus membantu menyebarkan pentingnya konsumsi ayam dan telur bagi keluarga untuk meningkatkan konsumsi protein hewani,” kata Atalia dalam sambutannya. Daging dan telur ayam merupakan protein hewani paling murah dibanding protein hewani lainnya.

Kendati demikian, saat ini masih banyak isu-isu negatif mengenai ayam dan telur yang beredar di masyarakat. Seperti isu pemberian hormon pada daging broiler, kolesterol pada telur, penyebab bisul, hingga alergi yang membuat masyarakat takut. Ketidaktahuan informasi akan manfaat ayam dan telur membuat konsumsinya di Indonesia rendah dibanding negara ASEAN lainnya.

Hal itu seperti disampaikan Dewan Penasehat Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Rakhmat Nuriyanto MBA, yang menjadi narasumber. Ia menjelaskan, konsumsi telur di Indonesia baru 150 butir/kapita/tahun dan konsumsi daging ayam hanya 15 kg/kapita/tahun, sementara Malaysia sudah mencapai sekitar 300an butir/kapita/tahun dan daging ayam 33 kg/kapita/tahun.

“Produksi ayam dan telur itu tanpa penyuntikan hormon, tidak ada penelitian/rekomendasi penggunaan hormon pada ayam, pemerintah Indonesia juga melarang penggunaan hormon pertumbuhan. Ayam cepat besar itu karena dilakukan seleksi genetik, perbaikan teknologi pakan, pemeliharaan dan obat,” jelas Rakhmat.

Sementara untuk alergi, lanjut Rakhmat, hanya 1,5% orang dewasa dan 6% anak-anak alergi terhadap satu/berbagai bahan makanan. Untuk kejadian alergi pada telur memang ada, namun sedikit sekali, sementara alergi pada daging ayam sama sekali tidak ada.

“Beberapa isu-isu itulah yang sering disalahpahami oleh masyarakat. Padahal kedua pangan hewani tersebut masih menjadi pedoman gizi seimbang di banyak negara. Negara-negara yang konsumsi protein hewaninya tinggi memiliki angka usia harapan hidup yang lebih baik,” ungkap dia.

Mengenai gizi ayam dan telur juga disampaikan oleh Praktisi Kesehatan Anak, dr Triza Arif Santosa SpA. Ia memaparkan zat gizi dan mikronutrien yang terkandung dalam ayam dan telur, diantaranya Lutein, Xantin pada telur (fungsi pengelihatan, mencegah katarak dan kebutaan), Kolin, asam lemak Omega 3 pada telur (fungsi kecerdasan, mencegah demensia), kandungan vitamin A, D dan E, kemudian vitamin B komplek, zat besi dan zink pada daging ayam, memiliki komponen bioaktif/peptida protein (pada unggas) diantaranya Karnosin, Anserin, L-Karnitin, sebagai antioksidan melawan radikal bebas dan anti-stres/kelelahan, serta mengandung selenium antioksidan.

“Kalau kita bicara ayam dan telur ini merupakan protein dengan asam amino lengkap dan paling murah dibanding protein hewani lainnya. Untuk ibu hamil dan menyusui sangat dianjurkan sekali guna menunjang kesehatan bayinya,” kata Triza.

Lebih lanjut dijelaskan, kandungan lemak dan protein dalam 100 gram daging ayam memiliki lemak total (14 gram), lemak jenuh (3,8 gram), protein (27 gram), sedangkan per 100 gram telur memiliki lemak total (11 gram), lemak jenuh (3,3 gram) dan protein (13 gram).

“Yang sering dikhawatirkan adalah kandungan lemaknya, penyebab kolesterol, padahal lemak ini kan ada yang baik dan buruk bagi tubuh. Jadi tak usah khawatir konsumsi daging dan telur ayam, kandungan lemak jenuhnya sedikit. Oleh karena itu, konsumsi dua butir telur sehari masih sangat dianjurkan,” ucap dia. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah proses pengolahan/pencampuran/pemasakan daging dan telur ayam agar kandungan lemaknya tidak meningkat dan proteinnya tetap tinggi.

Pembicara (dari atas kiri): Rakhmat Nuriyanto, Triza Arif Santosa dan Jafar Ismail. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kegiatan yang dihadiri sebanyak 500 orang peserta ini juga menghadirkan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Ir H. Jafar Ismail MM, yang membahas mengenai penyediaan protein hewani asal unggas di Jawa Barat. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer