-->

TELUR CEPLOK SARAPAN RUTIN SANG JUARA

Telur ceplok plus sambal kecap yang menggugah selera. (Foto: Istimewa)

Dua butir telur ceplok tiap sarapan menjadi sumber energi mahasiswa ini mengikuti aktivitas di kampus. Selain praktis, harga telur juga terjangkau bagi anak kosan.

Perawakannya tinggi besar dan cenderung pendiam. Mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, ini baru saja memenangkan kompetisi karya tulis ide bisnis berbasis Information Technology (IT). Ia berhasil memperoleh juara pertama lomba tingkat nasional yang diadakan Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Data, Universitas Sebelas Maret Solo (UNS), Solo, Jawa Tengah, bulan lalu.

Namanya Muhammad Faiz Ramadhan. Mahasiswa Fakultas Komputer semester 8 ini sudah dua kali meraih juara satu dan satu kali juara dua tingkat nasional di lomba yang serupa. Ayahnya seorang konsultan di Kementerian Ketenagakerjaan juga kerap mendapat penghargaan. Mungkin karena bakat turunan atau mungkin dasarnya ia anak yang cerdas.

Akan tetapi, kecerdasan anak ini tak lepas dari terpenuhinya gizi setiap hari. Faiz, begitu ia biasa disapa, mengaku tak terlalu suka dengan makanan siap saji. Namun ia juga kurang doyan dengan sayur. Ia mengaku paling suka makan telur ceplok plus sambal kecap.

“Tiap pagi sarapan selalu pakai telur ceplok sama sambel kecap. Praktis bikinnya, karena pagi-pagi harus berangkat kuliah,” ujarkan kepada Infovet.

Dalam sekali sarapan minimal dua telur ceplok ia makan, bahkan kadang sampai tiga butir. Faiz mengaku kadang berasa bosan, tapi dalam seminggu rata-rata lima hari sarapan dengan telur ceplok. “Kalau pas lagi bosan paling ganti tempe atau tahu sama sambel kecap,” ujarnya.

Menurutnya, kesibukan jadwal kuliah di pagi hari membuatnya harus berpikir simpel dalam urusan sarapan. Kebetulan di tempat kosnya ada dapur untuk dipakai bersama mahasiswa lainnya. Cukup lima menit bikin telur ceplok, selesai.

Bukan tanpa alasan Faiz menyukai telur ceplok. Selain alasan hemat, menurutnya kandungan nutrisi dalam satu butir telur mewakili banyak gizi yang dibutuhkan tubuh. Selain memenuhi nutrisi untuk kecerdasan otak, nutrisi dalam telur juga cukup bagus buat daya tahan tubuh.

“Selain murah, ya itu, saya baca di literatur kandungan gizinya sangat banyak dan hampir semua yang dibutuhkan tubuh ada di telur, termasuk untuk kecerdasan otak,” katanya.

Kisah Faiz mengingatkan Infovet terhadap sosok Daffa Maheswara Wiryawan, siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Pondok Pinang, Jakarta, yang juga sering mendapat juara satu tingkat nasional dalam kompetisi robotik. Kisahnya pernah dimuat di Majalah Infovet pada 2017 lalu. Daffa juga penggemar ayam goreng dan telur sambal balado.

Umur Daffa saat itu baru 15 tahun, namun postur tubuhnya tinggi besar. Menunjukkan asupan gizi anak berprestasi ini sangat terpenuhi. Menurut ayahnya, Didik Tri Cahyo, sang anak paling gemar makan ayam goreng dan telur bumbu pedas.

“Anak saya kreatif, karena saya kasih gizi yang cukup baik. Dia doyan banget makan ayam goreng dan telur bumbu pedas. Jarang sekali saya memberi tambahan suplemen atau vitamin,” tutur sang ayah.

Didik menceritakan, hampir setiap hari istrinya menyediakan ayam goreng kesukaan buah hatinya. Terkadang, memasak telur sambal pedas sebagai pelengkap. Tentu saja sayuran tidak dilupakan.

Kenapa ayam dan telur? ”Daging ayam dan telur kan gizinya tinggi dan mudah didapat. Bisa dibeli di pasar atau di tukang sayur yang lewat depan rumah,”katanya.

Bisa jadi asupan gizi dua menu (telur dan daging ayam) inilah yang membuat Faiz dan Daffa memiliki otak yang encer. Dalam berbagai literatur tentang gizi dan kesehatan menyebutkan bahwa ayam dan telur mengandung asam amino esensial yang bermanfaat untuk kesehatan dan kecerdasan otak.

Konsumsi Masih Rendah
Rahasia kecerdasan Faiz dan Daffa semestinya bisa menginspirasi masyarakat, khususnya kaum ibu untuk menyediakan menu daging ayam atau telur sebagai menu harian di keluarganya. Kalaupun tak bisa setiap hari, setidaknya tiga kali dalam seminggu.

Dibandingkan dengan harga bahan lauk pauk lainnya, per kilogramnya tidaklah jauh beda. Namun, untuk urusan kandungan nutrisi, tetap saja telur dan daging ayam lebih baik. Dari sisi rasa juga bisa lebih nikmat, tergantung cara mengolahnya.

Tingkat konsumsi telur ayam di Indonesia sampai saat ini memang masih belum menunjukkan angka yang menggembirakan. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata orang Indonesia mengonsumsi sekitar 6,69 kg telur ayam ras/kapita/tahun pada 2023. Level konsumsi tersebut turun 5,5% dibanding 2022 (year-on-year/yoy), tapi masih lebih tinggi dibanding lima tahun lalu.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, orang Indonesia setiap bulannya mengonsumsi telur sebanyak 10,09 butir dengan nilai pengeluaran setara Rp 18.623/bulan/kapita. Telur dimaksud adalah telur ayam ras, telur ayam kampung, telur itik, telur puyuh, telur asin, telur penyu, dan telur angsa. Dikutip dari publikasi BPS, “Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia per Provinsi” berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2023, disebutkan bahwa konsumsi telur terbanyak adalah warga DKI Jakarta dengan porsi mencapai 13,64 butir. Dengan nilai pengeluaran untuk konsumsi telur mencapai Rp 24.524/kapita/bulan.

Secara nilai, konsumsi telur terendah terjadi di Gorontalo dengan nilai hanya Rp 9.653/kapita/bulan, sedangkan secara volume terendah dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hanya 3,94 butir/kapita/bulan.

Suntik Hormon?
Banyak faktor memang yang menjadi pemicu rendahnya konsumsi telur dan daging ayam di Indonesia. Tingkat daya beli (kesejahteraan) masyarakat dan masih adanya mitos-mitos yang belum runtuh. Mitos tentang konsumsi telur bisa munculkan bisul pada anak, konsumsi telur dapat menaikkan kolesterol, dan lain sebagainya masih tetap “di hati” sebagian masyarakat.

Masih banyak orang  takut makan telur karena kolesterol. Ada juga yang beranggapan bahwa daging ayam broiler juga mengandung suntikan hormon yang berbahaya jika dikonsumsi. Tapi anehnya, mereka tidak takut merokok yang jelas-jelas ada peringatan bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan jatung, paru-paru, ibu hamil, dan lainnya.

Isu negatif semacam ini memang harus dijernihkan. Anggapan bahwa ayam pedaging (broiler) bisa cepat besar karena disuntik hormon sama sekali tidak beralasan. Sebab harga satu dosis hormon sekali suntik bisa mencapai 5 U$D (Rp 65.000), padahal harga ayam di pasar masih berkisar Rp 30.000/ekor. Jelas tidak masuk akal peternak menyuntik ayamnya dengan hormon.

Di sisi lain, mitos masyarakat bahwa telur penyebab bisul juga harus “dianulir”. Kasus ini hanya terjadi pada orang-orang  tertentu yang  menderita alergi telur yang jumlahnya sedikit sekali.

Orang yang tidak memiliki riwayat alergi pada telur tidak perlu khawatir, karena justru telur mengandung protein hewani dengan asam animo yang sangat lengkap dan bermanfaat untuk pertahanan tubuh, perbaikan sel-sel tubuh dan sel-sel otak, sehingga manfaatnya untuk kesehatan dan juga kecerdasan.

Telur mengandung kolesterol baik, bukan kolesterol jahat. Banyak kasus kolesterol di masyarakat pada umumnya bukanlah karena telur maupun komoditi peternakan lainnya, melainkan karena cara masaknya yang menggunakan minyak secara berulang-ulang, hingga menghasilkan kolesterol jahat.

Peneliti Nutrisi Telur asal Amerika Serikat, Dr. Don Mc Namara, dalam sebuah tulisannya pernah menyebutkan bahwa telur dalam menu makanan akan dapat mengurangi risiko sakit jantung, kanker payudara dan usus, penyakit mata, kehilangan massa otot pada manula, membantu menjaga berat badan, serta meningkatkan kecerdasan otak. ***


Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

INDUSTRI UNGGAS IRAN BANGKIT KEMBALI

Setelah kekacauan produksi tahun lalu, para peternak unggas Iran telah menstabilkan produksi dan bahkan meluncurkan kembali ekspor. Namun, menurut pelaku pasar lokal, beberapa masalah sistemik terus mengganggu industri unggas.

Produksi unggas Iran bangkit kembali pada tahun Persia 1403, dimulai pada 23 Maret 2024, Ali Ebrahimi, ketua dewan Persatuan Nasional Peternak Unggas Goshti, mengatakan kepada kantor berita lokal Balag.

Ebrahimi mengingat bahwa tahun lalu, Iran harus menggunakan impor ayam untuk mengisi kekosongan di pasar domestik yang ditinggalkan oleh produksi dalam negeri yang hancur.

Namun, tahun ini, pasar memiliki beberapa surplus produksi, yang memungkinkan para peternak untuk melanjutkan ekspor ayam. Ia mengungkapkan bahwa Iran telah mendapatkan kembali posisi sebagai eksportir unggas bersih pada tahun berjalan, menjual sekitar 13.000 ton unggas kepada pelanggan asing, terutama di Irak.

Harga ayam juga telah stabil. Ebrahimi mengatakan bahwa selama defisit yang parah, harga per kg daging ayam pedaging naik hingga 30.000 toman, terkadang mencapai 40.000 toman. Sekarang, harganya berkisar pada level yang nyaman yaitu 25.000 hingga 27.000 toman per kg, kira-kira setara dengan US$2,5 per kg, meskipun menghitung biaya barang-barang Iran dalam mata uang internasional sulit karena sistem pertukaran mata uang nasional membingungkan.

Laporan sesekali menunjukkan bahwa Iran mengalami penurunan tajam dalam konsumsi daging ayam pedaging karena kenaikan harga tahun lalu.

Ebrahimi mengindikasikan bahwa Iran diharapkan memproduksi 3 juta ton unggas tahun ini, yang akan lebih dari cukup untuk memenuhi permintaan domestik sepenuhnya. Ia memuji langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk membantu peternak unggas memulihkan operasi, dengan mencatat bahwa 'konsumen akhir paling diuntungkan dari kebijakan negara'.

Namun, para pejabat memperingatkan bahwa meskipun ada perbaikan jangka pendek, industri unggas Iran masih menghadapi beberapa masalah lama yang mendorongnya ke krisis. Misalnya, Mohammad Ali Rezaei, kepala Komisi Pertanian Kamar Dagang, telah meminta pemerintah untuk menangani masalah utama yang melumpuhkan industri unggas, yaitu adanya berbagai nilai tukar Rial, mata uang nasional.

Ia menjelaskan, “Fluktuasi nilai tukar yang ekstrem telah menyulitkan para manajer peternakan unggas untuk merencanakan secara akurat input dan bahan baku yang dibutuhkan. Hal ini, pada gilirannya, menyebabkan peningkatan biaya produksi dan ketidakstabilan dalam rantai pasokan.”

Tantangan utamanya adalah naik turunnya nilai tukar, ditambah dengan kebijakan pemerintah yang tidak konsisten di bidang ini, membuat prediksi biaya produksi menjadi tugas yang sangat sulit. Akibatnya, Rezaei mengakui, para investor tidak bersedia untuk memompa uang mereka ke industri unggas. Rezaei menegaskan, nilai tukar mata uang nasional tunggal akan menjadi dasar bagi pembangunan berkelanjutan sektor ini.

KEMENTAN: GERAKAN MINUM SUSU DI BANYUMAS BERJALAN LANCAR

Siswa-siswi SD sedang minum susu. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), memastikan kelancaran program Gerakan Minum Susu bagi siswa Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Program yang dimulai sejak Senin (5/8/2024), bertujuan meningkatkan gizi anak-anak sekolah melalui peningkatan konsumsi susu. Hal tersebut disampaikan Dirjen PKH, Agung Suganda, saat meninjau pelaksanaan program di SDN Kalisube, Senin (12/8). Ia menegaskan pentingnya program ini sebagai komitmen pemerintah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup sejak dini.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian dan juga didukung Pj Bupati Banyumas, program ini bertujuan memastikan anak-anak kita mendapatkan asupan gizi yang cukup. Kami percaya bahwa peningkatan konsumsi susu akan berdampak positif terhadap perkembangan fisik, mental, dan kecerdasan anak-anak,” kata Agung.

Ia juga mengimbau pentingnya kerja sama dari semua pihak untuk kelancaran program ini. “Kami ajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendidik, hingga orang tua siswa untuk mendukung program ini agar berjalan dengan baik dan memberikan manfaat maksimal bagi setiap anak,” imbuhnya.

Selama minggu pertama pelaksanaan program tersebut sebanyak 6.454 botol susu segar yang telah dipasteurisasi berukuran 200 ml telah didistribusikan. Dari jumlah tersebut sebanyak 5.728 botol (88,8%) habis, sementara 672 botol (10,4%) tidak habis diminum, dan 54 botol (0,8%) tidak diminum karena alasan alergi atau ketidakhadiran siswa.

Menanggapi hal itu, Ditjen PKH terus memantau dan memberikan edukasi agar siswa menghabiskan susu secara bertahap. Dinas Kesehatan bersama Puskesmas setempat juga melakukan monitoring berkala pasca minum susu.

Sekretaris Daerah Banyumas, Agus Nur Hadie, turut mengungkapkan optimistisme bahwa program ini akan memberikan manfaat signifikan bagi perkembangan anak-anak di Banyumas. “Dari Gerakan Minum Susu ini, kita berharap anak-anak menjadi lebih cerdas, memiliki ketahanan tubuh yang kuat, dan menjadi semakin sehat,” katanya.

Sementara Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Nasrullah, menambahkan bahwa pelaksanaan Gerakan Minum Susu ini turut mendukung ketahanan pangan nasional dan mendorong peningkatan produksi susu dalam negeri.

“Program ini tidak hanya meningkatkan gizi anak, tetapi juga sebagai langkah strategis mendukung ketahanan pangan nasional. Ini juga membuka peluang bagi peternakan lokal untuk berkembang,” ucap Nasrullah.

Untuk memastikan manfaat dari program tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman tengah mengumpulkan data untuk melakukan evaluasi dampak melalui pengukuran berat badan, tinggi badan, dan kadar hemoglobin dalam darah siswa di empat sekolah yang terlibat. Evaluasi ini akan dilakukan tiga kali selama pelaksanaan program.

Dengan pemantauan dan evaluasi ketat, Ditjen PKH berharap dapat berhasil meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak SD di Banyumas, serta menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. (INF)

MIMPI PANJANG INDUSTRI SAPI PERAH DATARAN RENDAH DI INDONESIA

Foto bersama seluruh peserta talkshow (Dok. NDV)

Banyak aspek yang perlu dikaji secara mendalam untuk mewujudkan mimpi swasembada susu dan pengembangan industri sapi perah nasional. Mulai dari aspek breeding, reproduksi, pakan, budidaya, kesehatan hewan, dan lingkungan.

Hal tersebut dikemukakan Dr Ir Arief Arianto MSc, Agr selaku Plt Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sabtu 10 Agustus 2024 dalam talkshow bertajuk ‘Mimpi Panjang Industri Sapi Perah Dataran Rendah di Indonesia’.

Arief Arianto (Dok. NDV)

Arief menjelaskan strategi pengembangan industri sapi perah berbeda dengan pendekatan yang selama ini di lakukan yaitu di dataran tinggi, karena menyesuaikan kondisi optimal untuk kehidupan sapi perah yang kebanyakannya adalah jenis sapi perah subtropis.

Indonesia tidak memiliki sumber daya genetik sapi perah lokal. Sejarah panjang perkembangan industri sapi perah Indonesia diawali dengan introduksi sapi Ayrshire, Jersey, dan Milking Shorthorn pada tahun 1880 dari Australia. Kemudian dilanjutkan dengan introduksi sapi FH dari Belanda pada awal abad ke-XX yang menjadi cikal bakal berkembangnya peternakan sapi perah di Indonesia hingga saat ini. 

Perkembangan sapi perah tidak sepesat sapi potong. “Populasi sapi perah kita saat ini hanya 400.000-500.000 ekor atau sekitar 2,9% dibandingkan populasi sapi potong yang mencapai 17,6 juta ekor,” sebut Arief. 

Menurut data BPS tahun 2023, dalam 20 tahun terakhir ini, populasi sapi perah hanya meningkat 43%, yakni dari 354.253 ekor pada tahun 2020 menjadi 507.075 ekor pada tahun 2023. 

Perkembangan populasi sapi perah yang lambat tidak terlepas dari asumsi bahwa sapi-sapi perah subtropis hanya adaptif di dataran tinggi yang memiliki suhu dan kelembaban rendah, sehingga kebijakan kawasan pengembangannya menjadi terbatas. 

Kedua, ada anggapan mengonsumsi susu bukan merupakan budaya Indonesia, serta sering memberikan image negatif kepada anak bangsa sendiri denga berseloroh bahwa jika anak-anak Indonesia diberi minuman susu pasti akan diare. “Pola pikir demikian harus mulai kita rubah untuk mendorong perkembangan industri susu nasional,” imbaunya.  

Pemahaman ini perlu ditanamkan untuk memperbaiki kualitas SDM Indonesia ke depan. Rendahnya kualitas SDM tidak terlepas dari rendahnya konsumsi protein hewani yang mengandung zat gizi yang lengkap dan penting, untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Konsumsi susu nasional saat ini adalah sekitar 16,3 liter/kapita/tahun. Merupakan yang terendah di ASEAN. Konsumsi susu Malaysia mencapai 36,2 liter/kapita/tahun, Myanmar mencapai 26,7 liter/kapita/tahun, Thailand mencapai 22,2 liter/kapita/tahun, dan Filipina mencapai 17,8 liter/kapita/tahun. Oleh karena itu, harus dilakukan terobosan untuk meningkatan produksi dan konsumsi susu nasional, melalui kebijakan dan kegiatan riset yang mendukung perkembangan industri susu dari hulu hingga ke hilir.        

Tentunya akan banyak kendala yang dihadapi untuk mengadaptasikan ternak di luar agroekosistem. Arief mengatakan hal ini menjadi tantangan bagi periset BRIN untuk menemukan inovasi dan menghasilkan teknologi dalam mempertahankan, serta meningkatkan produktivitas sapi perah di dataran rendah. 

“Kami berharap dari talkshow ini, akan dapat merumuskan rekomendasi kebijakan yang tepat untuk akselerasi perkembangan industri susu nasional yang terpadu mulai dari on farm hingga off farm,” ungkap Arief.

Overview Industri Peternakan Sapi Perah Terintegrasi  

Senada dengan Arief, Plt Kepala Pusat Riset Peternakan, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Prof Dr Drh Herdis MSi mengatakan susu sapi merupakan produk protein hewan yang sangat penting karena mengandung asam amino esensial untuk kecerdasan otak.

Herdis

“Kita ketahui program pemerintah yang akan datang salah satunya adalah mencanangkan susu gratis. Ternyata program susu gratis ini sudah dirintis oleh pemerintah Inggris tahun 1921 dan sekarang sudah dilaksanakan 52 negara,” terang Herdis. 

Herdis dalam paparannya menyajikan data persediaan susu sapi perah nasional yang masih terlihat flat perkembangannya dari ke tahun ke tahun. “Kita lihat bapak ibu hadirin semua, dari tahun 2021 hingga 2022 volumenya masih sekitar setengah jutaan,” sebutnya.

Peternakan susu sapi dari data yang dipaparkan terkumpul di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah hampir 90% dari peternakan susu sapi di Indonesia. 

Herdis menambahkan, Indonesia masih mengimpor dengan presentase 81% dari kebutuhan susu nasional. “Kita lihat dari data yang saya peroleh, terdapat gap 81,2% antara permintaan kebutuhan susu dengan produksi nasional. Hal ini menjadi tantangan kembali, untuk bersama-sama mengurangi gap tersebut,” ujarnya.

Sharing Experiences PT Global Dairy Alami

Rizal Fauzi ST, Agriservices Manager Procurement PT Global Dairy Alami Subang (GDA) sebagai salah satu narasumber mengatakan ketika pebisnis melakukan usaha, tentukan harus memastikan barang tersebut akan laku atau tidak. Maka jika melihat jumlah importasi susu dan produksi susu dalam negeri, hal tersebut adalah peluang bisnis peternakan yang besar.

Rizal Fauzi

PT Global Dairy Alami secara legalitas didirikan pada tahun 2017. Sampai saat ini, populasi sapi di PT GDA mencapai 5.400 dan akhir tahun 2024 diperkirakan populasi penuh. “Jadi mungkin yang akan kami lakukan seleksi demi seleksi, mana sapi yang bisa kita keep, serta mana yang bisa kita berdayakan lagi dengan peternak rakyat,” ungkap Rizal.

Rizal mengklasifikasikan menjadi tiga faktor utama untuk memastikan bisnis GDA berkelanjutan. “Membahas climate requirement, saya rasa semua orang peternakan memahami,” katanya.

Dalam presentasinya, pada sub bahasan Temperature Humidity Index (THI) 67, Rizal mengatakan  nilainya bukan sekedar suhu panas akan tapi kelembabannya tinggi. Melihat iklim di Indonesia, di puncak gunung sekalipun kelembabannya pasti di atas 70%. 

Dijelaskan Rizal, diperlukan langkah merekayasa lingkungan supaya sapi tetap nyaman di tempat panas sekalipun. Terpenting perlu diperhatikan adalah masalah THI bukan masalah suhu, karena kalau soal sekadar panas di-spray air selesai, tapi kalau lembab di-spray air menambah tingkat kepengapan. “Jadi jatuhnya dingin tapi pengap dan sapi sudah tentu kepanasan. Kita juga harus perhatikan waktu istirahat sapi, gimana mau istirahat kalau dia kepanasan,” terangnya.

Imbuh Rizal, biasanya sapi-sapi dapat dibantu dengan penambahan kipas dan lebih penting lagi menurunkan kelembaban dengan mempercepat arah aliran angin. Langkah tersebut untuk menurunkan temperatur di badan sapi tanpa membuat sapi pengap.

“Jadi mau enggak mau ya kita basahin badannya kemudian kita semprot kipas, seperti kita habis mandi dikipasin terus jadi dingin. Tetapi jangan sampai spray saja, jadi badan sapi harus benar-benar basah,” jelasnya. 

Berikutnya ada persoalan utility. Pada kawasan pegunungan electricity and fuel kemudian water source, waste management memang terbatas. 

“Kalau di dataran rendah itu mudah sekali dan yang paling penting adalah pakan dan akses logistiknya,” tambah Riza. 

Berbicara mengenai pakan dan logistik akan terus-menerus menjadi beban selama beroperasi. Apabila masalahnya tidak lekas diselesaikan akan menjadi cost produksi berlebih.

Strategi Besar Pemerintah 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr Drh Agung Suganda MSi dalam kesempatan yang sama memaparkan strategi besar untuk mencapai swasembada susu dan mengembangkan industri sapi perah nasional.

Agung Suganda

Agung mengungkapkan bahwa konsumsi susu per kapita di Indonesia saat ini mencapai 16,1 liter per tahun, angka yang masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Brunei. 

Adapun demikian Agung menekankan tren positif pertumbuhan konsumsi susu rata-rata sebesar 6% per tahun, yang mencerminkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi susu. Selain itu, dengan dicanangkannya Program Minum Susu Gratis bagi 82,9 juta siswa sekolah/pesantren dan ibu hamil, maka konsumsi susu per akpita akan jauh lebih meningkat lagi.

Menanggapi tantangan ini, Ditjen PKH telah merumuskan sejumlah inisiatif strategis untuk meningkatkan produksi susu segar dalam negeri. Fokus utamanya adalah meningkatkan kualitas genetik dan produksi bibit sapi perah, impor sapi perah dari negara-negara maju, pengembangan cluster khusus sapi perah, serta pemanfaatan lahan potensial.

"Dengan strategi-strategi ini, kami berharap tidak hanya meningkatkan produksi susu domestik, namun juga memperkuat kesejahteraan peternak lokal dan menciptakan ekosistem industri susu yang lebih berkelanjutan di Indonesia," ujar Agung.

Pemerintah berencana membangun industri peternakan sapi perah terintegrasi atau Mega Farm di luar pulau Jawa. Proyek ini dirancang untuk mencakup seluruh rantai pasok industri, mulai dari pengembangan lahan hingga pembangunan fasilitas pengolahan susu. Hingga Agustus 2024, sebanyak 63 perusahaan telah berkomitmen untuk terlibat dalam proyek ini melalui pemasokan sapi perah impor dengan total populasi sapi perah mencapai 1,03 juta ekor.

"Ini adalah langkah besar dalam mencapai swasembada susu yang akan meningkatkan daya saing industri peternakan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah," tambahnya.

Selain itu, Ditjen PKH juga mendorong kampanye edukasi konsumsi susu, termasuk melalui program Gerakan Minum Susu bagi anak sekolah dasar di Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Program ini melibatkan 5.636 siswa di 36 SD/MI yang bertujuan menanamkan kebiasaan sehat sejak dini serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya susu, dengan harapan dapat mendukung swasembada susu dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Peneliti Ahli Utama, Pusat Riset Peternakan BRIN Ir Anneke Anggraeni MSi PhD menyebutkan agribisnis sapi perah nasional merupakan sumber gizi, pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan nasional.

Anneke Anggraeni

Lebih lanjut, Anneke mengupas konsep peternakan terpadu untuk meningkatkan produktivitas sapi perah terpadu.

Peternakan sapi perah terpadu (integrated dairy farming) adalah pengembangan peternakan sapi perah terintegrasi dengan sistem pertanian berdasarkan agroekosistem spesifik antara lain pada dataran tinggi, sedang, dan rendah. 

Drs Dedi Setiadi SP dari Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) menyatakan pihaknya turut bersiap berkontribusi mensukseskan Program Minum Susu Gratis Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo-Gibran.

Dedi Setiadi

Selain melakukan kampanye kesadaran minum susu segar bagi kesehatan dan mencegah stunting di keluarga, GKSI juga mempunyai pelayanan koperasi anggota peternak. Antara lain penampungan susu, pemasaran susu, simpan pinjam, inseminasi buatan serta kesehatan hewan, layanan antar sembako, sarana prasarana peternakan, menyediakan pakan konsentrat, dan rutin mengadakan kegiatan pelatihan. 

"Model peternakan sapi perah rakyat modern juga telah dikelola dengan manajemen yang baik di Dairy Village, Ciater Subang dengan rataan produksi > 20 lt / ekor/ hari. Pemerahan dengan mesin, bebas pencemaran limbah ternak sekaligus dapat menjadi tempat pelatihan beternak modern,” tutup Dedi. (NDV) 

FLEMISH INSTITUTE MEMBANGUN UJI COBA PAKAN BERTEKNOLOGI TINGGI

Flanders Research Institute for Agriculture, Fisheries and Food (ILVO) akan membangun Feed Pilot baru, fasilitas berteknologi tinggi tempat pakan uji yang tepat dapat dibuat sesuai dengan persyaratan ilmiah, untuk penelitian nutrisi pada hewan ternak yang paling penting.

Fasilitas baru tersebut, yang pembangunannya akan dimulai tahun ini, menggantikan 2 jalur produksi pakan yang ada yang tidak memenuhi standar terbaru baik secara energetik, ergonomis, maupun teknologi, jelas lembaga tersebut.

ILVO telah lama memiliki jalur penelitian unik dalam menguji efisiensi, keberlanjutan (dampak pada iklim dan lingkungan) dan kesehatan pakan yang baru diformulasikan untuk sapi, babi, dan hewan kecil. Permintaan akan keahlian tersebut masih terus tumbuh, sebagian karena munculnya aliran samping dari produksi fermentasi baru. Aliran produk sampingan tersebut, sebagai bahan baku pakan potensial, memerlukan banyak penelitian.

ILVO Feed Pilot baru di Melle dekat Ghent di Belgia mencakup unit produksi besar dan kecil serta gudang penyimpanan. Pabrik-pabrik tersebut akan dilengkapi dengan teknik yang dapat mengukur berbagai parameter dan memungkinkan analisis keberlanjutan. Sensor memantau secara terus-menerus dan mengarahkan produksi yang paling hemat energi.

Feed Pilot akan memudahkan pembuatan batch yang lebih kecil untuk kasus yang lebih eksperimental, misalnya hanya 100 kg untuk studi pencernaan khusus pada unggas. Awalnya, Feed Pilot hanya akan bekerja untuk penelitian ILVO internal, tetapi lembaga tersebut akan mengajukan izin hukum untuk memproduksi pakan (eksperimen) bagi pihak ketiga. Bagi lembaga penelitian lain dan bagi perusahaan swasta di Flanders, hal ini akan menciptakan lebih banyak peluang menuju inovasi dan peningkatan nilai ekonomi.

MUNAS KE-6, SINGGIH JANURATMOKO KEMBALI PIMPIN PINSAR INDONESIA

Singgih Januratmoko kembali terpilih menjadi Ketua Pinsar Indonesia periode 2024-2029. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR Indonesia) mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 di Yogyakarta, Sabtu (10/8/2024), bertajuk "Meneguhkan Kedaulatan Peternak Rakyat Menuju Indonesia Emas".

Pada Munas tersebut, Singgih Januratmoko kembali terpilih menjadi Ketua Umum Pinsar Indonesia periode 2024-2029, didampingi oleh Prof Muladno sebagai Ketua Dewan Pembina, dan Drh Hartono sebagai Ketua Dewan Pengawas.

Dalam pembukaan acara, Ketua Panitia Munas, Ricky Bangsaratoe, menyampaikan apresiasinya kepada para delegasi yang hadir dari 33 provinsi di seluruh Indonesia. Ia menekankan pentingnya acara ini sebagai wadah bagi para peternak unggas rakyat untuk bersatu dan menyuarakan aspirasi mereka.

"Acara ini adalah milik kita, oleh kita, dan untuk peternak unggas rakyat Indonesia," ujar Ricky dengan semangat.

PINSAR Indonesia merupakan organisasi yang mewadahi berbagai pelaku usaha di sektor perunggasan, terutama yang berasal dari kalangan peternak rakyat. Organisasi ini terdiri dari peternak kecil, petani, pedagang, dan berbagai pihak lain yang berperan dalam rantai produksi dan distribusi unggas di Indonesia. Dari produksi ayam pedaging hingga pemasaran produk, PINSAR Indonesia terus berusaha memperkuat industri perunggasan tanah air yang menjadi pilar penting dalam menyediakan sumber protein hewani yang terjangkau bagi masyarakat.

Munas ke-6 Pinsar Indonesia di Yogyakarta.

Ketua Umum PINSAR Indonesia periode 2024-2029, Singgih Januratmoko, menyampaikan bahwa Munas ke-6 ini memiliki makna yang sangat penting bagi masa depan industri perunggasan nasional, terutama dengan adanya program baru dari pemerintah yang berfokus pada peningkatan gizi anak-anak melalui penyediaan susu dan makanan bergizi gratis di sekolah-sekolah.

Singgih juga mengingatkan bahwa satu dekade terakhir merupakan masa sulit bagi industri perunggasan, terutama bagi peternak ayam ras pedaging. Kelebihan produksi yang berkepanjangan dan menurunnya konsumsi daging ayam di masyarakat membuat banyak usaha peternakan broiler terpuruk.

“Melihat situasi ini kami berharap Munas kali ini dapat menjadi momentum penting bagi kita semua untuk berbenah dan berkontribusi dalam mendukung program pemerintah yang baru,” katanya.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan PINSAR Indonesia dapat semakin memperkuat posisinya dalam memajukan sektor perunggasan rakyat, serta berkontribusi dalam pencapaian cita-cita Indonesia Emas 2045. (Sadarman)

DIRJEN PKH BARU AGUNG SUGANDA TAMPIL PERDANA, UNGKAP TEKAD KEMBANGKAN SAPI PERAH DI SEMINAR BRIN-INFOVET


Sabtu, 10 Agustus 2024, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) yang baru saja dilantik 9 Agustus, Dr. drh. Agung Suganda, MSi, melakukan penampilan perdananya di Seminar Nasional bertajuk “Mimpi Panjang Industri Sapi Perah Dataran Rendah di Indonesia”. Seminar  ini diselenggarakan oleh Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan INFOVET, sebagai bagian dari rangkaian acara Indonesia Research & Innovation Expo (InaRI Expo 2024) di Gedung International Convention Center (ICC), KST Soekarno, Cibinong, Bogor.

Dalam seminar yang berlangsung secara hybrid ini, Agung Suganda menyatakan tekadnya untuk memajukan pengembangan sapi perah di Indonesia, khususnya di dataran rendah, sebagai langkah strategis dalam mendukung program minum susu gratis. Ia menegaskan pentingnya inovasi dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan keberhasilan program tersebut.


“Pengembangan industri sapi perah di dataran rendah memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan susu nasional. Kami di Ditjen PKH siap mengawal dan mendukung penuh inisiatif ini,” ungkap Agung Suganda dalam papaparannya.

Seminar yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menghadirkan beberapa narasumber lainnya yang turut membahas berbagai aspek pengembangan industri sapi perah. Plh Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Dr. Ir. Arief Arianto, MSc, membuka acara dengan sambutannya yang menekankan pentingnya riset dan inovasi dalam sektor peternakan.


Prof. Dr. drh. Herdis, M.Si., memberikan pandangan memengenai “Overview Industri Sapi Perah Terpadu di Daratan Rendah”, di mana ia menjelaskan kondisi terkini dan tantangan yang dihadapi industri sapi perah di Indonesia. 

Rijal Fauzi, ST, dari PT Global Dairy Alami, Subang, berbagi pengalaman dalam mengembangkan industri sapi perah di dataran rendah. Ia menyoroti pentingnya teknologi dan manajemen modern untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas susu.

Sementara itu, Drs. Dedi Setiadi, SP., Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), membahas “Peranan Koperasi dalam Pengembangan Produksi Susu Indonesia”, menekankan peran vital koperasi dalam menjaga keberlanjutan produksi dan kesejahteraan peternak.

Sebagai penutup, Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D., Peneliti Pusat Riset Peternakan BRIN, menyampaikan materi tentang “Peternakan Terpadu Sapi Perah di Dataran Rendah”, di mana ia memaparkan konsep peternakan terpadu yang efisien dan ramah lingkungan.

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Windu Negara, S.Pt., M.Si., ini berhasil menarik perhatian banyak peserta, baik yang hadir langsung di lokasi maupun yang mengikuti secara daring. Mereka antusias mendiskusikan berbagai peluang dan tantangan dalam mengembangkan industri sapi perah di Indonesia.

Seminar Nasional ini menjadi momen penting bagi Agung Suganda untuk memperkenalkan visinya sebagai Dirjen PKH yang baru, sekaligus menunjukkan komitmennya dalam memajukan sektor peternakan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

LEUCINE, ASAM AMINO ESENSIAL YANG TERABAIKAN




PETERNAK UNGGAS KAZAKHSTAN MEMUJI LARANGAN TRANSIT RUSIA ATAS UNGGAS AS

Setelah berbulan-bulan mempertimbangkan, otoritas Rusia akhirnya memberlakukan larangan impor dan transit unggas AS. Seperti yang diharapkan, tindakan tersebut terutama akan merugikan ekspor unggas AS ke Kazakhstan, yang mengalir melalui wilayah Rusia.

Pengawas veteriner Rusia Rosselkhoznadzor mengatakan pembatasan tersebut diberlakukan karena serangkaian wabah flu burung yang tercatat di berbagai wilayah AS. Rosselkhoznadzor juga menekankan bahwa mereka tidak sendirian dalam melarang impor AS.

“Pusat Keamanan Pangan Hong Kong telah menangguhkan impor unggas dan produk unggas, termasuk telur, dari Amerika Serikat karena merebaknya wabah flu burung yang sangat patogen di beberapa negara bagian Amerika. Keputusan itu diambil setelah Departemen Pertanian AS melaporkan beberapa kasus flu burung di peternakan unggas komersial di Minnesota, Iowa, dan North Carolina,” kata Rosselkhoznadzor dalam sebuah pernyataan.

Peternak unggas Kazakhstan, yang telah lama mendesak pihak berwenang untuk melindungi pasar domestik dari impor, menyambut baik langkah tersebut.

“Kami sepenuhnya mendukung Federasi Rusia dalam membatasi impor produk unggas dari Amerika Serikat,” kata Ruslan Sharipov, Presiden Persatuan Peternak Unggas Kazakhstan, yang menekankan bahwa Kazakhstan “memiliki masalah besar dengan ayam impor”.

“Daging unggas dalam jumlah besar dengan harga dumping dan kaki ayam Amerika memasuki pasar kami,” kata Sharipov.

AGUNG SUGANDA RESMI MENJABAT DIRJEN PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Dr Drh Agung Suganda MSi. (Foto: Istimewa)

Dr Drh Agung Suganda MSi, resmi dilantik menjadi Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) menggantikan Dr Ir Nasrullah MSc.

Pelantikan dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, di Auditorium Kantor Pusat Kementan, Jumat (9/8/2024).

Pada kegiatan tersebut, Mentan mengimbau bahwa adanya pergantian pejabat merupakan hal yang biasa. Ia juga meminta kepada setiap pejabat yang baru dilantik untuk selalu mengabdi kepada bangsa dan negara.

“Kita harus melakukan yang terbaik. Kita harus berjibaku dan bergandeng tangan untuk bisa mencapai swasembada pangan ke depan,” kata Amran.

Adapun sekilas info mengenai Agung Suganda merupakan pria kelahiran Indramayu, 1976. Ia menamatkan pendidikan dokter hewan dan S2 di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University dan S3 di Universitas Hasanuddin.

Perjalanan karirnya tergolong cepat. Sebelum menjabat Dirjen PKH, Agung sempat menjadi Kepala Pusvetma Surabaya, kemudian pernah menjadi Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak (Dirbitpro).

Selain melantik Dirjen PKH, ada juga beberapa pejabat tinggi lingkup Kementerian Pertanian lainnya yang juga dilantik, di antaranya: 

• Dr Ir Nasrullah MSc sebagai Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional

• Dr Ir Suwandi MSi sebagai Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian

• Dr Ir Prihasto Setyanto MSc sebagai Staf Ahli Bidang Lingkungan Pertanian

• Ir Ali Jamil MP PhD sebagai Staf Ahli Bidang Infrastuktur Pertanian

• Andi Nur Alam Syah STP MT sebagai Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian

• Dr Yudi Sastro SP MP sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan

• Dr Idha Widi Arsanti SP MP sebagai Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. (INF)

INDO LIVESTOCK RESEARCH AND INNOVATION AWARD 2024

Foto para peraih Indo Livestock Research & Innovation Award 2024 bersama dewan juri dan panitia. (Foto: Istimewa)

Sebagai bentuk komitmen dalam industri pengembangan peternakan Indonesia, Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI), bekerja sama dengan Napindo selaku penyelenggara pameran Indo Livestock, memberikan penghargaan Indo Livestock Research and Innovation Award 2024 kepada para insan peternakan.

Penghargaan yang dibalut dalam acara Executive Gathering Indo Livestock yang digelar pada hari pertama pameran (17/7/2024), juga bekerja sama dengan Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University (PSP3-IPB), Asosiasi Fakultas Kedokteran Hewan (AFKHI), Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI), Solidaritas Alumni SPR Indonesia (Saspri), yang didukung oleh Ditjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek.

Indo Livestock Research & Innovation Award 2024 diikuti oleh 24 perguruan tinggi negeri dan swasta, melibatkan 20 magister, 24 doktor, dan 22 profesor yang mengikutsertakan 61 hasil karya penelitian.

Setelah melalui serangkaian proses penilaian oleh dewan juri, diputuskan lima penerima penghargaan dengan nama Widhi Catha Satwa Nugraha, sebagai berikut: (INF)

Pemenang Indo Livestock Research and Innovation Award 2024

Kategori Sapi Pedaging:
Prof. Dr. Mochamad Lazuardi (Universitas Airlangga)
Judul Penelitian/Inovasi: “Perangkat Uji Cepat Karkas Ayam dan Sapi Terhadap Kandungan Air Berlebih dan Proses Pembuatannya”

Kategori Sapi Perah:
Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU (Universitas Muhammadiyah Malang)
Judul Penelitian/Inovasi: “Probiotik Ternak Plus Inovasi Untuk Ketahanan, Keamanan Dan Keberlanjutan Peternakan Sapi Perah”

Kategori Kambing-Domba
(Universitas Gadjah Mada)
• Prof. Ir. Nafiatul Umami, SPt., MP., PhD., IPM., ASEAN Eng
• Prof. Dr. Ir. Bambang Suhartanto, DEA., IPU
• Dr. Teguh Wahyono, S.Pt, M.Si
Judul Penelitian/Inovasi: “Rumput Unggul Gama Umami (Pennisetum purpureum Var Gama Umami) sumber Biomasa Pakan Serat untuk Ruminansia”

Kategori Unggas:
(Universitas Wijaya Kusuma)
• Dr. drh. Siti Gusti Ningrum
• drh. Adhitya Yoppy Ro Candra, M.Si
• drh. Hana Cipka Pramuda Wardhani, M.Vet
• drh. Kartika Purnamasari, M.Si
• Dr.drh. Andreas Berny Yulianto, M.Vet
Judul Penelitian/Inovasi: “Aplikasi SEAMON sebagai Pembersih Sarang Burung Wallet di Dunia Industri”

Kategori Aneka Ternak:
(Universitas Mulawarman)
• Prof. Dr. Enos Tangke Arung, S.Hut, MP
• Prof. Dr. Irawan Wijaya Kusuma, S.Hut, MP
• Dr. dr. Swandari Paramita, M.Kes
• Ir. Julinda Romauli Manullang, MP
• Nurul Puspita Palupi, SP, MP
• Dr. Ir. Syafrizal, MP
Judul Penelitian/Inovasi: “Identifikasi dan Klasifikasi Senyawa Aktif Produk Lebah Tanpa Sengat (Trigona spp) untuk Bahan Obat dan Kosmetik”

NARA (NORTH AMERICAN RENDERERS ASSOCIATION)


 

VAKSIN FLU UNTUK PEKERJA PETERNAKAN AS DI TENGAH WABAH FLU BURUNG

Untuk menghindari penyebaran dan mutasi virus flu burung lebih lanjut, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS berencana untuk menghabiskan US$10 juta untuk mengekang infeksi flu burung pada pekerja peternakan, termasuk US$5 juta untuk vaksin flu musiman.

Wabah flu burung yang sedang berlangsung telah menginfeksi kawanan unggas di hampir setiap negara bagian AS sejak 2022 dan lebih dari 170 kawanan sapi perah di 13 negara bagian sejak Maret, menurut Departemen Pertanian AS. Selain itu, 13 pekerja peternakan unggas dan sapi perah telah tertular virus tersebut di Colorado, Michigan, dan Texas, menurut laporan dari CDC. Dari kasus-kasus tersebut, 9 terdeteksi pada bulan Juli di antara para pekerja di 2 peternakan unggas yang terjangkit flu burung di Colorado, lapor Reuters.

Meskipun kasus manusia tambahan mungkin terjadi, risiko bagi masyarakat umum dari flu burung tetap rendah, menurut direktur utama CDC, Nirav Shah.

Reuters selanjutnya melaporkan bahwa US$5 juta akan dialokasikan untuk organisasi termasuk Pusat Kesehatan Pekerja Pertanian Nasional untuk mendidik dan melatih pekerja tentang perlindungan diri dari flu burung, dan US$5 juta lainnya untuk menyediakan suntikan flu musiman bagi pekerja pertanian.

Meskipun vaksin flu musiman tidak memberikan perlindungan dari flu burung, dorongan vaksin dapat mengurangi risiko pekerja terinfeksi flu musiman dan flu burung pada saat yang sama, yang dapat menyebabkan mutasi virus flu, Shah menambahkan, lebih lanjut mencatat bahwa CDC berharap untuk memvaksinasi semua sekitar 200.000 pekerja peternakan di negara itu selama musim suntikan flu tahun ini dan bekerja sama dengan negara bagian untuk mengembangkan rencana untuk menjangkau para pekerja.

IKUTI SEMINAR: MIMPI PANJANG INDUSTRI SAPI PERAH DATARAN RENDAH DI INDONESIA?

Dalam rangka memeriahkan dan mendukung Indonesia Research & Innovation Expo (InaRI Expo 2024) 8 - 11 Agustus 2024,  OR Pertanian dan Pangan Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN) bersama INFOVET (Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan) bermaksud menyelenggarakan Seminar Nasional – Talkshow secara hybrid bertemakan “Mimpi Panjang Industri Sapi Perah Dataran Rendah di Indonesia?” 

Seminar Nasional – Talkshow direncanakan pada:

  • Hari/Tanggal: Sabtu, 10 Agustus 2024
  • Waktu: Jam 09.00 – 12.00 WIB
  • Tempat: Ruang 8 Lt. 2 Gedung International Convention Center (ICC) BRIN, KST Soekarno Cibinong Bogor

Jumlah Peserta: Diperkirakan 100 orang (offline) dan lebih dari 1.000 (online dan livestreaming Youtube)

Seminar Nasional - Talkshow akan menghadirkan Narasumber yang kompeten dengan topik bahasan terkini, diantaranya:

  1. Sambutan Kepala OR Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D.
  2. Paparan Ka PR Peternakan, Overview Industri Sapi Perah Terpadu di Daratan Rendah Prof. Dr. drh. Herdis, M.Si.\
  3. ”Arah Kebijakan Pengembangan Sapi Perah” Dr. Ir. Nasrullah. M.Sc. IPU (Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan)*
  4. “Pengembangan Industri Sapi Perah Dataran Rendah” (sharing experiences) Rijal Fauzi, ST (PT. Global  Dairy Alami, Subang)
  5. ”Peranan Koperasi dalam Pengembangan Produksi Susu Indonesia” Drs. Dedi Setiadi, SP. (Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia / GKSI)
  6. ”Peternakan Terpadu Sapi Perah di Dataran Rendah” Ir. Anneke Anggraeni, M.Si., Ph.D. (Peneliti Pusat Riset Peternakan BRIN)
  7. Moderator: Dr. Windu Negara, S.Pt., M.Si. (Peneliti Pusat Riset Peternakan BRIN)

Catatan : *) dalam konfirmasi

Masuk PAMERAN: GRATIS

Biaya untuk pembuatan e-sertifikat seminar/talkshow (tergantung kategori yang dipilih)

Informasi dan Pendaftaran: klik link: https://bit.ly/semnas_talkshow_BRIN 

Jika berminat untuk support sponsor bisa Hub Mariyam 08777 829 6375 

Terima kasih

INDONESIA DAN VIETNAM JAJAKI POTENSI KERJA SAMA PETERNAKAN

Kegiatan kunjungan kerja Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam ke Indonesia. (Foto: Istimewa)

Dalam upaya memperkuat kerja sama bilateral di sektor pertanian, khususnya subsektor peternakan, Deputy General Director dari Departemen Produksi Peternakan Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam, Chinh X. Tong, melakukan kunjungan kerja ke Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Selasa (6/8/2024).

Kunjungan tersebut bertujuan meningkatkan kolaborasi dalam bidang peternakan dan kesehatan hewan antara kedua negara.

Chinh X. Tong disambut oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian. Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai isu strategis, termasuk pengembangan sapi perah dan industri susu yang potensial bagi kedua negara.

“Kami sangat menghargai kunjungan ini sebagai bentuk komitmen untuk memperkuat hubungan dan kerja sama di sektor peternakan. Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat besar bagi kedua negara, khususnya dalam peningkatan produksi dan kualitas peternakan,” ujar Nasrullah, saat menyampaikan apresiasinya atas kunjungan Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam.

Nasrullah menyampaikan komitmen Indonesia dalam memberikan kemudahan bagi para investor Vietnam. Salah satunya ia turut membeberkan peluang ekspor kerja sama di sektor unggas.

“Saat ini komoditas telur di Indonesia surplus sebanyak 15%. Kami dapat membantu memenuhi konsumsi protein hewani masyarakat Vietnam melalui ekspor daging ayam, hatching eggs, dan produk olahan ayam dari Indonesia,” ucapnya.

Pemerintah Indonesia juga telah menyampaikan surat kepada Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam terkait akses pasar untuk komoditas hatching egg, DOC, poultry, dan poultry product dari Indonesia.

Chinh X. Tong mengungkapkan harapannya agar kunjungan ini dapat membuka peluang baru dalam pengembangan sektor peternakan. “Konsumsi daging sapi dan susu di Vietnam sangat tinggi, namun kami memiliki lahan yang terbatas. Kami berharap dapat belajar dari Indonesia,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan melalui kerja sama yang lebih erat, kedua negara dapat saling berbagi pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan peternak di kedua negara.

Kunjungan ini diharapkan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Vietnam, serta mendorong pertumbuhan sektor peternakan yang berkelanjutan di kedua negara. Kerja sama ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan produksi dan kualitas peternakan. (INF)

EKSPOR DAGING SAPI BERSERTIFIKAT ‘BEBAS DEFORESTASI’ BARU ARGENTINA KE UE

Raksasa daging sapi Argentina meningkatkan permainannya dengan memperkenalkan skema sertifikasi baru yang menjamin ekspor daging UE-nya berasal dari sumber berkelanjutan yang bebas dari deforestasi.

Argentina telah ditakdirkan untuk mengekspor sekitar 50.000 ton daging sapi setiap tahunnya ke UE, yang merupakan 7% dari total ekspor daging sapinya yang bernilai sekitar $500 juta. Tiongkok adalah pasar daging sapi utamanya yang menerima 80% dari ekspor. Namun, peraturan impor pangan baru yang diberlakukan oleh UE untuk meningkatkan keberlanjutan telah mendorong Argentina untuk melihat ke depan dan menawarkan skema sertifikasi baru ini untuk daging sapi. Argentina mengatakan bahwa mereka adalah salah satu negara pengekspor daging sapi pertama yang melakukan analisis risiko dan memastikan keterlacakan dan sertifikasi dari salah satu produk ekspor utamanya.

Sejak 2023, rantai peternakan dan daging Argentina telah berupaya untuk mematuhi peraturan UE 2023/111. Selama acara di Brussels di kediaman Duta Besar Argentina di UE, Institut Promosi Daging Sapi Argentina (IPCVA) memperkenalkan skema sertifikasi baru yang sesuai.

Skema baru ini mematuhi persyaratan UE yang terintegrasi ke dalam platform VISEC (Sectoral Vision Gran Chaco). Alat inovatif ini, yang dikembangkan untuk memastikan keterlacakan dan sertifikasi produk bebas deforestasi dan melibatkan seluruh rantai ternak, menjamin bahwa pengiriman ke pasar Eropa akan berasal dari tempat peternakan yang tidak mengalami deforestasi. Ini memastikan kepatuhan terhadap Peraturan UE 2023/1115 (EUDR) yang disetujui pada pertengahan 2023 dan mulai berlaku pada 30 Desember 2024.

INDUSTRI UNGGAS RUSIA SEMAKIN BERGANTUNG PADA IMIGRAN

Peternak unggas Rusia mengintensifkan upaya mereka untuk merekrut pekerja dari India, Afrika, dan bahkan Korea Utara untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang terus-menerus terjadi di sektor pertanian.

Defisit tenaga kerja telah menjadi tantangan utama bagi ekonomi Rusia dalam 2 tahun terakhir, jajak pendapat berulang kali menunjukkan. Sebuah studi oleh Bank Sentral Rusia pada bulan April 2024 menunjukkan bahwa 70% perusahaan Rusia mengalami kekurangan tenaga kerja.

Menurut laporan dari Institut Ekonomi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, negara tersebut saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja sebanyak 4,8 juta, situasi yang memburuk dengan cepat pada tahun 2022 dan 2023, yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

Industri unggas, yang masalah ketenagakerjaannya sudah terlihat sebelum tahun 2022, telah terpukul keras oleh masalah tersebut karena populasi yang menyusut di daerah pedesaan. Pasar tenaga kerja sulit, karena penelitian terbaru oleh platform pekerjaan terkemuka di negara itu menunjukkan bahwa tidak ada wilayah di Rusia dengan sumber daya tenaga kerja berlebih, juru bicara Cherkizovo, produsen daging ayam pedaging terbesar di Rusia, mengatakan kepada publikasi lokal Agroinvestor.

"Kami, seperti sebagian besar pengusaha Rusia, secara aktif memperluas sumber perekrutan personel, termasuk melibatkan pekerja migran," kata juru bicara itu.

Cherkizovo mencoba menarik pekerja dari donor tenaga kerja tradisional Rusia, seperti Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Kazakhstan, dan Belarus, tetapi juga berupaya merekrut pekerja di India dan Sri Lanka.

Tahun ini, sangat sedikit karyawan yang datang ke Rusia untuk bekerja di sektor pertanian, Agroinvestor melaporkan, mengutip sumber lokal.

Hal ini terutama terkait dengan depresiasi rubel Rusia, yang berarti bahwa pekerja asing mulai mendapatkan penghasilan lebih sedikit. Irina Koziy, CEO Berry Union, juga memperingatkan bahwa beberapa faktor lain membuat pekerja enggan mencari peluang kerja di Rusia.

"Masuk ke Rusia menjadi sangat rumit. Ada beberapa kasus ketika calon pekerja migran ditahan di perbatasan selama 12 jam dan kemudian dipulangkan. Setelah itu, warga negara asing lebih memilih bekerja di negara lain. Pekerja dari negara-negara Asia Tengah yang secara tradisional datang ke Rusia semakin memilih bekerja di Turki, Eropa, atau Tiongkok,” akunya.

Ini bukan pertama kalinya kekurangan tenaga kerja di industri unggas Rusia mengemuka. Pada bulan September 2023, surat kabar Rusia Kommersant, mengutip beberapa peternakan unggas, melaporkan bahwa beberapa perusahaan berjuang untuk mengisi antara 25% dan 30% lowongan.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, perusahaan-perusahaan Rusia telah menaikkan upah bulanan hampir dua kali lipat selama tahun lalu, tetapi masalahnya tetap ada, Agroinvestor melaporkan.

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI: PROBIOTIK BACILLUS LICHENIFORMIS UNTUK MENGURANGI NECROTIC ENTERITIS (NE) DI PETERNAKAN







AIR MINUM BERKUALITAS MENUNJANG PRODUKTIVITAS

Konsumsi air minum dapat menjadi indikasi kesehatan atau baik/buruknya praktik manajemen pemeliharaan. (Foto: Istimewa)

Memasuki musim kemarau, ketersediaan air dan penyediaan air berkualitas kerap bermasalah, padahal ketersediaan air menjadi prioritas pertama bagi peternak setelah kecukupan pakan.

Meskipun potensi air tanah di Indonesia relatif cukup ketersediaannya, dimana sumber air tanah dapat diperoleh dari dua kedalaman, yaitu air tanah dangkal umumnya berada pada kedalaman kurang dari 40 m dari permukaan tanah. Air tanah ini sangat mudah dipengaruhi kondisi lingkungan setempat. Hal ini disebabkan karena tidak dipisahkan oleh lapisan batuan yang kedap. Jika terjadi hujan, air yang meresap ke dalam tanah akan langsung menambah air tanah ini.

Sementara untuk air tanah dalam keberadaannya cukup dalam sehingga untuk mendapatkannya harus menggunakan alat bor besar. Air tanah ini berada pada kedalaman antara 40-150 m. Dimana tidak dipengaruhi oleh kondisi air permukaan setempat karena dipisahkan oleh lapisan batuan yang kedap. Air tanah ini mengalir dari daerah resapannya di daerah yang bertopografi tinggi.

Peternak di Indonesia umumnya menggunakan sumber airnya dari air tanah yang mempunyai kedalaman 40-60 meter untuk kebutuhan ayamnya. Pilihan peternak ini sangat tepat, karena menurut berbagai sumber yang penulis peroleh bahwa air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup dan sebagai salah satu zat nutrisi dalam tubuh.

Konsumsi air minum dapat menjadi indikasi kesehatan atau baik/buruknya praktik manajemen pemeliharaan. Ketika konsumsi air minum turun, maka harus segera dievaluasi kemungkinan penyebabnya. Beberapa di antaranya yaitu terinfeksi penyakit, kondisi lingkungan kandang terlalu dingin, jumlah dan distribusi tempat minum tidak merata, tempat minum ayam kotor, kualitas air jelek seperti kejernihan dan warna air. Sehingga ketersediaan air berkualitas harus tercukupi di sebuah peternakan karena unggas banyak membutuhkan air, sehingga perlu cadangan air di lokasi peternakan, serta penyimpanan yang tepat sesuai kebutuhan air harian peternakan unggas.

Kebutuhan air yang pertama untuk konsumsi. Konsumsi air yang diperlukan unggas dapat mencapai dua kali lipat dari kebutuhan pakannya atau sekitar 1,8-2 kali (suhu udara 21° C) dari kebutuhan pakan harian. Konsumsi air dapat melebihi bila suhu udara yang terjadi mencapai 30° C.

Kebutuhan kedua untuk penyemprotan/pembersihan kandang (disinfeksi kandang), disinfeksi tempat pakan dan minum, disinfeksi kendaraan peternakan, serta kebutuhan harian karyawan. Sehingga diperlukan air sebanyak dua kali dari konsumsi harian unggas dalam satu peternakan. Unggas mampu bertahan 15-20 hari tanpa pakan, tetapi tanpa air 2-3 hari bisa mati. Begitu pentingnya air, maka perlu diperhatikan kualitas maupun kuantitasnya.
Air memiliki porsi sebesar 50-65% dari massa tubuh unggas dewasa, sedangkan pada DOC  kandungan air mencapai 90% pada masa tubuhnya. Selain sebagai zat nutrisi dalam komponen tubuh, air juga berpengaruh terhadap... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Jl. DR Sahardjo No. 264
Tebet, Jakarta Selatan
Phone: 0812-8644-9471
Email: agus.damar@romindo.net

PENTINGNYA MENJAGA KUALITAS AIR MINUM

Ayam harus dipastikan mendapatkan air minum berkualitas. (Foto: Istimewa)

Technical and Sales Support Manager Neogen, Anthony Pearson, dalam sebuah seminar pernah berkata bahwa menjaga kualitas elemen air minum menjadi penting apabila berbicara esensi hidup ayam. Sama pentingnya dengan membicarakan pakan, nutrisi, dan kebutuhan oksigen.

“Sesuatu dari luar yang masuk ke dalam tubuh ayam secara sengaja (pakan, air minum, obat-obatan) harus dipastikan aman untuk dikonsumsi oleh ayam, kadang kita suka lengah akan hal ini,” tutur Anthony.

Ia melihat di beberapa negara berkembang khususnya di benua Asia dan Afrika, perhatian pembudidaya terhadap kualitas air masih belum mendalam. Padahal, menurutnya air minum yang dikonsumsi oleh ayam diupayakan sama atau mendekati kualitasnya dengan yang dikonsumsi manusia.

Hal tersebut juga disetujui oleh Tony Unandar selaku private poultry consultant, sekaligus Anggota Dewan Pakar ASOHI. Ketika bicara mengenai mikroba pada sistem air minum dan dampaknya pada kesehatan serta performa ayam, itu sama pentingnya dengan aspek lain seperti pakan dan biosekuriti.

Dia mengungkapkan, akibat pelarangan penggunaan antibiotic growth promoters (AGP) pada pakan, peternak harus lebih memperhatikan kualitas air minum supaya gangguan pada saluran pencernaan jauh berkurang.

Lanjutnya, patogen masuk ke kandang ayam umumnya melalui tiga rute, yakni udara, air, dan pakan. Ketiga hal ini sangat dibutuhkan ayam. Sumber air yang tidak higienis dapat mengandung total coliform, E. coli, dan patogen lainnya yang mengganggu kesehatan ayam.
Bakteri-bakteri bersama alga dalam air akan membentuk koloni yang berwujud biofilm yang semakin lama semakin menebal. Tentunya sangat mengganggu saluran instalasi air minum dan berpotensi menyumbat nipple. Untuk itu monitoring terhadap biofilm harus rutin dilakukan.

“Biofilm sulit diterobos oleh antiseptik biasa. Jika dapat diterobos, berarti antiseptiknya memiliki teknologi dan mekanisme tersendiri. Antiseptik yang mengandung hidrogen peroksida, copper (Cu), dan silver (Ag) menjadi solusi efektif untuk mencegah dan menghancurkan biofilm,” ujar Tony.

Sementara menurut Sales & Marketing Manager dari Intracare BV, Arjan van de Vondervoort, mengungkapkan salah satu cara meningkatkan kebersihan/higiene dan sterilisasi di air minum yang terkontaminasi menjadi tempat berkembang biaknya mikroorganisme berbahaya, sehingga dapat menurunkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PENTINGNYA KUALITAS BAHAN BAKU DALAM MENUNJANG KUALITAS PAKAN

Foto Bersama Peserta Seminar
(Foto : Istimewa)


Sudah menjadi rahasia umum bahwa pakan menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam suatu usaha peternakan. Soyvbean meal alias bungkil kedelai yang banyak digunakan dalam formulasi ransum sebagai sumber protein, merupakan salah satu bahan baku pakan yang hampir tak tergantikan layaknya jagung. Fluktuasi harga kualitasnya pun  masih menjadi isu yang kerap dibahas oleh para pelaku industri. 

Dari background tersebut, United States Soybean Export Council (USSEC) bersama Gabungan Produsen Makanan ternak (GPMT) membahasnya dalamn sebuah seminar. Seminar dengan tema  “Soybean Meal Cost Evaluation tersebut digelar di Hotel Grand Zuri BSD pada Selasa (30/7) yang lalu. Empat Orang narasumber didapuk menjadi pembicara dalam seminar yang dihadiri oleh para pelaku dalam industri pakan tersebut. 

Kualitas Bahan Baku Menentukan Kualitas Produk Akhir

Prof Budi Tangendjaja selaku Technical Consultant USSEC Indonesia memaparkan pentingnya konsistensi dari kualitas suatu bahan pakan. Bahan baku impor kadang memiliki kandungan berbeda. Hal tersebut itu dikarenakan banyak faktor mulai dari produsen yang berbeda. Menurutnya akan lebih baik membeli bahan baku dari satu produsen yang dapat mensuplai dengan jumlah besar dalam satu tempat yang sama. Karena konsistensi bukan hanya dilihat dari kandungannya, tetapi dipengaruhi asal kedelainya, cara penyimpanan, cara distribusi. 

“Konsistensi dari kualitas bahan baku pakan itu penting. Ada banyak nutrien yang dibutuhkan dalam suatu formulasi ransum, oleh karena itu memilih bahan baku jangan hanya memperhatikan satu parameter saja, seperti misalnya protein. Harga protein ini biasanya mahal, tetapi melihat energi itu lebih penting, pertimbangkan juga serat. Serat yang tinggi itu indikasi energi rendah, sulit dicerna seringkali mengurangi efisiensi pakan. Jangan sampai pakan yang kita pakai ini kandungan gizinya rendah dengan biaya yang tinggi,” Budi menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Neneth Reas selaku Regional Technical Director USSEC-SEA, ia menjelaskan terkait teknologi canggih yang digunakan dalam suatu rantai processing bahan baku pakan, misalnya kedelai. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas seluruh rantai pasok mulai dari penanaman hingga pengolahan semuanya menggunakan teknologi canggih.

“Semua aspek diperhatikan, pemilihan bibit yang tahan terhadap hama, penyakit dan herbisida. Apliklasi teknologi seperti GPS, drone dan sensor untuk memantau kondisi lahan secara real-time, data yang didapat mempermudah pemupukan, irigasi, dan aplikasi pestisida yang aman. Big data pun dipergunakan untuk memantau cuaca dan mempermudah pengambilan keputusan karena disertai data. Begitupun pada proses pengolahan mulai dari penghancuran dan penggilingan menggunakan alat yang canggih. Yang lebih penting semua proses ini sudah mematuhi protokol yang ada,” ujar Neneth.

Berkualitas Dalam Segala Aspek

Jessica Swan, Senior Merchandiser AG Processing Inc. mengklaim bahwa idealnya kedelai  ditanam berasal pada tanah yang subur dan dikelola dengan baik manajemennya dari segi penanaman hingga pemanenan. Di Amerika Serikat sendiri terdapat peraturan yang melarang  pekerja dibawah umur ataupun perbudakan, yang menjadi concern isu sosial.  ia juga menjelaskan segi isu lingkungan dimana budidaya kedelai di Amerika wajib memiliki sertifikat ramah lingkungan.

"Masyarakat peduli akan isu sosial - lingkungan, kami berusaha meningkatkan kualitas kami bahkan sampai menyentuh ke isu tersebut. Bahkan kami telah memperoleh sertifikasi SSAP (US Soy Sustainability Assurance Protocol ), selain itu telah menjadi komitmen bagi kami untuk mengurangi jejak karbon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan,” jelasnya.

Diperkuat oleh pernyataan Ibnu Edy Wiyono, Country Representative USSEC yang menjelaskan bahwa SSAP (U.S. Soy Sustainability Assurance Protocol) adalah protokol yang bertujuan untuk memastikan bahwa kedelai yang diproduksi oleh petani AS memenuhi standar sustainability.

SSAP berisi detail terkait berbagai aspek mulai dari kesuburan tanah, penggunaan air, upaya pengurangan emisi gas karbon, meminimalisir penggunaan bahan kimia, dan juga isu sosial seperti mempertimbangkan kesejahteraan pekerja dan tidak mempekerjakan anak dibawah umur.

"Sertifikat ini memberikan kepastian bagi semua pihak,  produsen bukan hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga melindungi sumber daya alam, mengurangi emisi, dan mendukung kesejahteraan sosial. SSAP juga memastikan kualitas produk yang tinggi. Dengan memenuhi standar SSAP yang ketat, kedelai AS menjadi lebih kompetitif di pasar global dan memenuhi persyaratan regulasi internasional. (INF)



ORGANISASI UNGGAS KANADA MENGECAM KRITIK BARU

Organisasi unggas nasional di Kanada berupaya semaksimal mungkin agar pesan dalam artikel baru tentang manajemen pasokan tidak diterima oleh publik, pejabat pemerintah, dan pihak lain.

Roger Pelissero, ketua Egg Farmers of Canada, Tim Klompmaker, ketua Chicken Farmers of Canada, Darren Ference, ketua Turkey Farmers of Canada, dan Brian Bilkes, ketua Canadian Hatching Egg Producers bergabung bersama Dairy Farmers of Canada untuk membuat pernyataan terbaru yang mengecam artikel tersebut.

Produksi daging unggas, telur, dan produk susu Kanada dikontrol di bawah 'manajemen pasokan', sebuah sistem di mana peternak komersial menerima harga yang terjamin untuk barang mereka. Untuk menjadi produsen komersial, para peternak ini harus membeli 'kuota', sejumlah produksi yang dialokasikan untuk memastikan pasokan memenuhi permintaan. Alokasi diperbarui setiap tahun.

Artikel yang mengkritik manajemen pasokan muncul di surat kabar nasional dan ditulis oleh Jake Fuss (direktur, Studi Fiskal) dan Alex Whalen (direktur, Atlantic Canada Prosperity) di Fraser Institute. Fraser Institute kemungkinan merupakan lembaga pemikir paling terkenal di Kanada, tempat staf melakukan penelitian dan menghasilkan sikap kebijakan yang berkaitan dengan banyak bidang yang sangat memengaruhi kualitas hidup warga Kanada.

Dalam artikel tersebut, Fuss dan Whalen mencatat bahwa 'Kanada dapat menurunkan tagihan belanjaan dengan menghapus manajemen pasokan'. "Tanpa bentuk proteksionisme ini," mereka menyatakan, "toko kelontong di Kanada dapat menyediakan pilihan produk susu dan unggas yang lebih luas bagi konsumen dan berpotensi menurunkan biaya di supermarket. Karena manajemen pasokan, rata-rata rumah tangga Kanada membayar sekitar CAN$300 hingga $444 tambahan setiap tahun untuk belanjaan."

Pada saat yang sama, 'pajak karbon' nasional yang meningkat menyebabkan harga bahan bakar, makanan dan barang-barang lainnya melonjak, dan memaksa keluarga Kanada ke bank makanan dalam jumlah yang sangat besar. Sejak diperkenalkan pada tahun 2019, "pajak karbon telah menambah biaya satu liter bensin sebesar 17,6 sen".

Namun, organisasi unggas Kanada menyatakan bahwa saran bahwa "menghancurkan sistem manajemen pasokan yang sudah lama berlaku di Kanada dapat menjadi 'cara yang bermanfaat untuk menurunkan tagihan belanjaan'...terlalu sederhana dan jelas salah".

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer