-->

MAKSIMALKAN PERFORMA GENETIK DENGAN BERBAGAI CARA

Pentingnya fase brooding menjadi penentu keberhasilan budi daya unggas broiler. (Foto: Istimewa)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek agar potensi tersebut maksimal. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayam maksimal.

Perbuatan baik akan kembali kepada pelakunya, begitupun perbuatan buruk. Pepatah demikian berlaku dalam pemeliharaan ayam, kadang perlakuan yang diberikan dengan maksud baik pun bisa berdampak buruk, apabila kurang memahami karakteristik ayam modern. Oleh karena itu, peternak harus memahami bagaimana sejatinya memperlakukan si ayam zaman now agar performanya maksimal.

Penuhi Kebutuhan Dasar Ayam Modern
Regional Technical Manager Cobb-Vantress Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Di mana pada 1950-an presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkashanya 11,5%, sedangkan di masa kini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu menurut Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek yang gagal dipenuhi, potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Memang tidak bisa dipungkiri, kita harus memenuhi hal ini. Karena dalam standar kita ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” kata Amin.

Brooding Berhasil, Performa Stabil
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan dalam fase brooding.

“Pada prinsipnya brooding ini adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail dengan sebaik mungkin,” ucapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Ke semuanya akan berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Ia menekankan, brooding merupakan periode transisi di mana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal. Amin mengatakan, perlu dilakukan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

TANTANGAN DAN STRATEGI MANAJEMEN DARI GPS HINGGA KOMERSIAL


Dalam dua dekade terakhir, industri perunggasan global mengalami lompatan besar yang didorong kemajuan genetik broiler. Seleksi genetik yang semakin presisi telah menghasilkan ayam dengan pertumbuhan lebih cepat, efisiensi pakan yang lebih baik, serta kapasitas produksi daging yang semakin tinggi.

Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan baru yang menuntut pendekatan manajemen yang jauh lebih akurat, khususnya pada level pembibitan (breeder) hingga broiler komersial. Tren genetik broiler modern tidak lagi hanya berbicara tentang pertumbuhan, tetapi juga keseimbangan antara performa produksi, kesehatan, dan keberlanjutan sistem produksi.

Perubahan genetik ini memengaruhi seluruh rantai produksi, mulai dari great grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga broiler komersial. Setiap level memiliki karakteristik biologis dan kebutuhan manajemen yang berbeda, namun saling terhubung secara erat. Kesalahan pengelolaan pada level hulu akan berdampak langsung pada performa di level hilir.

Oleh karenaitu, pemahaman menyeluruh terhadap tren genetik terbaru menjadi kunci bagi praktisi perunggasan dalam menjaga daya saing dan profitabilitas.

Karakteristik Genetik Broiler Generasi Baru
Broiler modern cenderung menunjukkan kematangan seksual yang lebih awal, laju pertumbuhan yang agresif, serta respons yang sangat cepat terhadap perubahan nutrisi dan lingkungan. Pada sisi positif, hal ini membuka peluang peningkatan total produksi telur breeder, perbaikan feed conversion ratio (FCR), dan peningkatan output daging pada broiler komersial.

Namun di sisi lain, ayam dengan potensi genetik tinggi juga lebih sensitif terhadap kesalahan manajemen, terutama terkait pengaturan pakan, energi, dan komposisi nutrisi.

Salah satu karakter utama genetik baru adalah pola produksi yang lebih cepat naik (fast production increase) dengan puncak produksi yang dicapai lebih dini. Kondisi ini menuntut sistem manajemen yang proaktif, bukan reaktif. Peternak dan manajer farm tidak lagi memiliki ruang toleransi yang besar terhadap keterlambatan penyesuaian pakan atau ketidaktepatan alokasi nutrisi.

Dinamika Manajemen pada Level GPS
Pada level GPS, fokus utama bukan hanya pada kuantitas produksi telur, tetapi juga kualitas genetik dan konsistensi performa reproduksi. Ayam GPS membawa potensi genetik tertinggi, sehingga kesalahan kecil dalam manajemen dapat berdampak besar secara berantai hingga ke broiler komersial. Tren genetik terbaru menunjukkan bahwa ayam GPS juga mengalami kematangan lebih awal, sehingga program feeding dan body weight control harus disusun dengan sangat ketat.

Pengendalian cadangan lemak (fat reserve) menjadi isu krusial pada level ini. Fat reserve above the target pada breeding farm menunjukkan bahwa cadangan lemak tubuh breeder melebihi standar ideal. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan persistensi produksi telur, fertilitas, dan hatchability, serta meningkatkan risiko fatty liver. Umumnya, masalah ini berkaitan dengan kelebihan asupan energi, ketidakseimbangan energi-protein, atau manajemen feeding yang kurang presisi. Oleh karena itu, monitoring body weight, body composition, dan keseragaman flock menjadi fondasi utama dalam pengelolaan GPS modern.

Parent Stock, Titik Kritis Produksi dan Reproduksi
Level PS merupakan titik kritis yang menjembatani potensi genetik dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh: 
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

PERBAIKAN GENETIK DENGAN SEGALA EFEK SAMPINGNYA

Skema persilangan ayam broiler komersil. (Foto: Istimewa)

Peternakan ayam, terutama broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien. Industri ini terus berkembang dengan kemajuan dalam pemuliaan, nutrisi, dan praktik manajemen untuk memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat.

Selama bertahun-tahun, seleksi ayam pedaging telah difokuskan pada peningkatan efisiensi konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan, hasil daging, dan kualitasnya. Hal ini menghasilkan ayam dengan rasio konversi pakan yang tinggi dan laju pertumbuhan yang cepat, selain itu dagingnya empuk dan diterima secara luas di seluruh dunia.

Industri broiler telah berkembang pesat karena tingginya permintaan daging ayam. Broiler telah menjadi alternatif popular terhadap daging sapi dan babi, sebagian karena laju pertumbuhannya yang cepat dan biaya produksi yang lebih rendah, dengan lebih dari 70 miliar ayam dipotong setiap tahun di seluruh dunia (Mace & Knight, 2022). Peternakan unggas, khususnya produksi broiler, dianggap sebagai salah satu metode peternakan hewan yang paling efisien (Gržinić et al., 2023).

Genetika broiler telah memanfaatkan gudang materi genetik yang dikombinasikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan selama puluhan tahun. Hal ini memungkinkan penerapan, yang memungkinkan industri menyediakan produk daging yang terjangkau yang sebagian besar berasal dari sumber tanaman kepada konsumen global.

Seleksi genetika broiler selama 60 tahun terakhir telah berfokus secara sempit dan intensif pada sifat-sifat produksi yaitu laju pertumbuhan dan efisiensi pakan. Hal ini telah menyebabkan masalah kesejahteraan yang signifikan pada unggas yang dipelihara untuk daging termasuk gangguan kaki, penyakit kardiovaskular, dan akibatnya tingkat kematian yang tinggi, sementara unggas indukan mengalami pembatasan pakan yang parah.  Masalah tulang seperti kondronekrosis bakteri dan dyschondroplasia tibia lazim terjadi dan studi terbaru melaporkan prevalensi unggas dengan gangguan gaya berjalan sedang hingga berat berkisar antara 5.5-48.5 %.

Di seluruh dunia, lebih dari 70 miliar ekor broiler di sembelih setiap tahunnya. Skala produksi ayam pedaging yang sangat besar ini berarti bahwa masalah kesejahteraan tersebar luas dan kemungkinan akan meningkat keparahannya karena meningkatnya populasi manusia global, meningkatnya permintaan daging, dan fokus yang berkelanjutan pada efisiensi produksi di sektor pertanian.

Oleh karena itu, industri broiler mewakili beberapa masalah kesejahteraan hewan yang paling serius di bidang pertanian. Ada kebutuhan mendesak untuk mengatasi masalah ini dengan menjadikan sifat-sifat kesejahteraan sebagai prioritas utama dalam program pemuliaan dan mengintegrasikannya dengan tujuan pemuliaan lainnya. Banyak penelitian merekomendasikan penggunaan jenis unggas yang pertumbuhannya lebih lambat dan tidak memiliki masalah kesejahteraan yang sama. Mengatasi masalah kesejahteraan ini sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan unggas serta untuk penerimaan sosial dan keberlanjutan industri broiler di seluruh dunia.

Bagaimana Ayam Pedaging Komersial Telah Berevolusi
Selama kurang lebih 40 tahun antara 1970-2007, ayam broiler telah mengalami evolusi dalam hal... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENELISIK POTENSI GENETIK AYAM MODERN

Pertumbuhan genetik ayam broiler modern. (Sumber: Ourworldindata.org, 2024)

Genetik ayam ras menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya performa produksi yang mengarah ke efisiensi. Seperti pada broiler, dimana saat ini pertumbuhannya lebih cepat dengan kemampuan konversi pakan yang lebih baik. Begitu pun pada unggas layer masa kini yang mempunyai lifespan yang lebih lama dan produktivitas yang lebih tinggi dari masa sebelumnya.

Monster untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi serta seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya, broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan sehingga menghasilkan daging yang lebih banyak yang tentunya dapat memenuhi keinginan pasar.

Pada penelitian terbaru, bahkan beberapa strain seperti Hubbard flex, Ross 308, dan Cobb 500 dapat mencapa bobot badan 2,3-2,5 kg dalam waktu 30-35 hari saja. Bayangkan, dari seekor DOC dengan berat 35-50 gram berkembang delapan kali lipatnya dalam sebulan.
Begitupun dengan ayam petelur modern juga didesain untuk kebutuhan ini. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu. 
 
Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitasnya. Pada kurun waktu 1960 sampai 1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang, dengan masa pemeliharaan kurang lebih 30-an hari, ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal dari si ayam. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Dirinya juga menyebut bahwa ke depannya kemungkinan besar ternak broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram proteinnya jika dibandingkan komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot per hari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan dari broiler sangat luar biasa. Namun begitu, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler saat ini memanglah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026. (CR)

MENGUBAH KEBIASAAN “JAHAT” DENGAN KONSUMSI PANGAN SEHAT

Mengalihkan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengonsumsi protein hewani. (Foto: Istimewa)

“Omelan” istri terhadap suami untuk berhenti merokok cukup kuat pengaruhnya. Lebih kuat lagi apabila ada kejadian orang terdekat yang terserang penyakit kronis gara-gara “rajin” merokok sejak usia muda. Kisah ini buktinya.

Ini kisah nyata. Sepekan sebelum Lebaran Idul Fitri 1447 H lalu, tersiar berita duka di lingkungan Perumahan Bumi Sawangan Indah, Kota Depok, Jawa Barat. Alexandri, salah satu tokoh masyarakat di perumahan tersebut meninggal dunia, akibat kanker paru-paru akut. Diagnosis dokter yang menanganinya, penyebab terberat dari penyakit yang diderita disebabkan akibat konsumsi rokok.

Mendengar cerita sakit yang diderita orang tersebut sungguh memilukan. Sebelum berpulang, istri Alexandri sempat menyampaikan kepada dokter jika suaminya sudah merokok sejak masih sekolah menengah pertama (SMP). Jika dihitung sudah lebih dari 30 tahun merokok. Berbagai merek dan jenis rokok sudah dicobanya. Kendati ajal memang sudah jadi takdir, namun hadirnya penyakit kronis umumnya disebabkan oleh kebiasaan gaya hidup seseorang.

Gegara kejadian ini, rupanya sebagian tetangga terdekat mulai sadar dan pelan-pelan meninggalkan kebiasaan merokoknya. Setidaknya, mulai mengurangi. Para istri mereka tampaknya punya peran kuat mengingatkan suami.

“Ini memang jadi peringatan buat bapak-bapak di sini, biar bisa ngurangin rokok, termasuk suami saya. Hampir tiap hari saya ingetin suami, biar berhenti merokok. Saya bilang ke suami, itu udah ada contohnya,” tutur Hanifah, warga setempat.

Ibu rumah tangga ini mengaku tak bosan mengingatkan sang suami untuk pelan-pelan mengurangi rokok. Ia khawatir dengan kesehatan suami, setelah mengetahui kejadian memilukan tersebut.

“Sampai-sampai saya kadang bilang ke suami, Ayah kapan mau berhenti merokok. Ganti rokokmu dengan ayam goreng, itu lebih sehat,” lanjut Hanifah yang sehari-hari jualan ayam goreng.

Desakan ringan Hanifah kepada suaminya memang terlihat sederhana. Mengganti kebiasaan merokok dengan konsumsi ayam goreng, atau mungkin dengan camilan lain. Tetapi kalau dicerna ucapannya, ini pesan yang penting. Mengalihkan gaya hidup beracun ke gaya hidup yang lebih sehat.

Fenomena publik Indonesia dalam urusan rokok tiap tahun makin meningkat tingkat konsumsinya. Mengutip rilis yang dikeluarkan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT), akhir Mei 2026 lalu, jumlah perokok dewasa di Indonesia terus bertambah dalam satu dekade terakhir. Data Komnas PT menyebutkan jumlah pengguna produk tembakau di Indonesia meningkat sekitar 8,8 juta orang dalam kurun 10 tahun terakhir.

Data tersebut merujuk pada Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021, yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024. Hasil survei menunjukkan sebanyak 34,5% penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau. Angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan prevalensi merokok tertinggi di dunia.

Komnas PT menyebut Indonesia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang, ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.

Hasil “Omelan”
Hanifah yang mengaku tak pernah bosan mengingatkan suaminya untuk berhenti merokok, mungkin satu di antara sekian banyak istri yang bijak. Peran istri cukup besar dalam menjaga dan menyadarkan suami agar hidup sehat.

“Bukan apa ya, kalau suami sakit gara-gara rokok kan yang repot semua keluarga. Bukan cuma saya, tapi anak-anak juga bisa jadi korban, bisa ketularan penyakitnya. Pengeluaran uang juga jadi lebih boros,” ungkapnya.

Hanifah bercerita, meski baru beberapa bulan, “omelannya” kepada suami lumayan membuahkan hasil. Sang suami yang karyawan perusahaan swasta di Jakarta, perlahan mengurangi rokok. Sejak itu, Hanifah pun kerap membuatkan menu ayam goreng lebih banyak sebagai pengganti rokok. Tak ada hubungannya memang antara rokok dan ayam goreng, tapi kebetulan suaminya suka dengan ayam goreng.

Yes, alhamdulillah sudah mulai berubah, suami jarang ngerokok kalau di rumah. Tapi enggak tahu ya kalau di luar rumah, soalnya saya enggak bisa ngawasi terus,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Langkah kecil yang dilakukan ibu rumah tangga ini sebenaranya cukup efektif untuk mencegah keburukan merokok di lingkungan keluarga. Mengalihkan anggota keluarga ke jalan yang benar dan menggantinya dengan ayam goreng, telur, atau bisa dengan olahan menu lain yang menyehatkan.

Andai saja yang dilakukan Hanifah juga dilakukan oleh sebagian besar ibu rumah tangga di negeri ini, niscaya tingkat konsumsi sumber protein hewani di Indonesia bakal meningkat. Tentu saja dengan syarat, para suami mau berubah. Hingga saat ini, jika menyimak data tingkat konsumsi daging dan telur ayam di dalam negeri masih belum naik secara signifikan.

Data Kementerian Pertanian (Kementan) kuartal I 2026, menyebutkan konsumsi daging ayam di Indonesia pada 2025 tercatat mengalami tren peningkatan, mencapai rata-rata sekitar 13,21 kg/kapita/tahun. Angka ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan protein hewani masyarakat serta didukung oleh program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kementan mengklaim, rata-rata konsumsi per kapita meningkat sekitar 3% dari tahun sebelumnya, menempatkan daging ayam sebagai sumber protein hewani yang paling mendominasi di Tanah Air.

Total estimasi kebutuhan konsumsi daging ayam ras nasional mencapai sekitar 3,87 juta ton. Kebutuhan ini dapat terpenuhi dengan baik melalui produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, menjadikan pasokan daging ayam nasional surplus.

Kalau Sudah Kronis
Penyandingan antara tingkat konsumsi daging dan telur ayam dengan konsumsi rokok masyarakat Indonesia setiap tahun sering menjadi trending topik. Dua kutub yang saling berseberangan, kutub satu menyehatkan dan kutub lainnya jadi sumber penyakit. Trending topik sering terjadi di tiap pertengahan tahun, saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia, setiap 31 Mei.

Fenomena tahunan ini juga kerap mendapat perhatian dari para pakar gizi dari berbagai perguruan tinggi. “Fenomena semacam ini memang sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga kadang harus dikalahkan sama kebutuhan rokok yang hanya jadi candu dan sumber penyakit,” ungkap Pakar gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Erwanto kepada Infovet.

Dosen ini tak habis pikir, jika dalam sehari orang menghabiskan Rp 20.000 lebih untuk membeli rokok setiap hari. Artinya, dalam sebulan Rp 600.000 dibakar begitu saja. Ia mengamsusikan jika dibelikan telur, dengan aumsi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 20 kg telur. Keluarga sehat, gizi terpenuhi, rumah juga bersih tanpa asap rokok.

Erwanto berpendapat, masalah rendahnya tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia bukan semata-mata karena daya beli masyarakat masih rendah. Tetapi ini terkait erat dengan gaya hidup masing-masing orang. Gaya hidup tak melulu berkaitan dengan pergi ke club malam, karaoke, minum minuman keras, membeli barang-barang mewah, atau plesiran ke tempat wisata. Tapi, merokok pun jadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Pakar gizi ini berargumen, kalangan perokok sangat sulit untuk mengurangi jatah rokoknya. Bahkan, ketika tidak memiliki uang sekalipun, para perokok berat akan mencari cara lain untuk bisa mendapatkan rokok, entah dengan meminta atau utang ke warung tetangga.

“Artinya pokok persoalan utama adalah pemahaman masyarakat dan kebiasan sebagian masyarakat kita yang memang lebih untuk tetap merokok, bagaimana pun kondisinya,” katanya.

Sebab itu, Erwanto sependapat dengan anggapan sebagian orang bahwa merokok yang tiada henti merupakan salah satu gaya hidup buruk yang paling sulit dihentikan. Gaya hidup ini bukan hanya dilakukan orang-orang yang memiliki duit lebih, tapi juga orang-orang yang hidup pas-pasan. Orang akan berhenti merokok, biasanya kalau sudah terserang penyakit kronis. (AK)

STRATEGI CERDAS KENDALIKAN STRES OKSIDATIF, MENJAGA KESEHATAN DAN PERFORMA UNGGAS MODERN


Di banyak kandang modern, ayam terlihat aktif, bulu rapi, dan nafsu makan normal. Namun ketika ditimbang atau dievaluasi, performa justru tidak sesuai harapan. Bobot badan tertinggal, FCR memburuk, atau produksi telur mulai menurun tanpa sebab yang jelas. Kondisi seperti ini sering membuat peternak bingung. Salah satu penyebab yang kerap luput dari perhatian adalah stres oksidatif.

Stres oksidatif bukan penyakit menular dan tidak selalu menimbulkan gejala klinis yang mencolok. Justru karena sifatnya yang “diam-diam”, kondisi ini sering menjadi penyebab turunnya performa secara perlahan namun konsisten.

Apa Sebenarnya Stres Oksidatif Itu?
Stres oksidatif terjadi ketika tubuh ayam mengalami ketidakseimbangan antara zat perusak yang disebut radikal bebas dengan kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Dalam kondisi normal, radikal bebas selalu terbentuk sebagai bagian dari proses metabolisme. Masalah muncul ketika jumlahnya terlalu banyak, sementara sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengimbanginya.

Ketika hal ini terjadi, sel-sel tubuh ayam mulai mengalami kerusakan. Dinding sel menjadi rapuh, jaringan usus terganggu, fungsi hati menurun, dan sistem kekebalan melemah. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dan berproduksi justru habis untuk memperbaiki kerusakan di dalam tubuh.

Dari Mana Stres Oksidatif Berasal di Kandang?
Salah satu pemicu utama stres oksidatif adalah stres lingkungan, terutama suhu tinggi. Heat stress membuat ayam bekerja ekstra keras untuk menurunkan suhu tubuhnya. Proses ini meningkatkan pembentukan radikal bebas secara signifikan. Semakin lama ayam terpapar panas, semakin besar risiko kerusakan sel yang terjadi.

Selain suhu, kepadatan kandang yang tinggi, ventilasi kurang optimal, litter basah, dan kadar amonia yang tinggi juga memperparah kondisi stres. Ayam yang hidup dalam lingkungan seperti ini berada dalam tekanan terus-menerus, meskipun tidak terlihat sakit.

Dari sisi nutrisi, penggunaan bahan baku berkualitas rendah, lemak yang sudah teroksidasi, serta pakan yang tidak seimbang juga dapat menjadi sumber stres oksidatif. Bahkan proses vaksinasi dan infeksi ringan yang tidak terdeteksi pun dapat meningkatkan beban oksidatif tubuh ayam.

Mengapa Stres Oksidatif Merugikan?
Dampak stres oksidatif jarang bersifat langsung dan drastis. Namun dalam jangka menengah hingga panjang, kerugiannya sangat terasa. Ayam menjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC 

MENJAGA PRODUKTIVITAS AYAM SAAT STRES MENGANCAM

Ayam yang dipelihara dalam sistem open house. (Foto: Gemini)

Ketika stres oksidatif menyerang, berbagai solusi diupayakan agar ayam nyaman dan produksi tetap aman.

Pada hakikatnya stres panas adalah efek gabungan dari suhu dan kelembapan relatif udara pada ayam yang dikenal sebagai suhu efektif. Meningkatkan kelembapan udara pada suhu berapapun akan meningkatkan ketidaknyamanan ayam dan stres panas.

Peternak harus hati-hati memantau suhu dan kelembapan di lokasi mereka. Umumnya, pada siang hari, suhu meningkat dan kelembapan relatif menurun. Metode pendinginan terbaik selama periode kelembapan rendah adalah pendinginan evaporatif (fogger, mister-pembuat kabut atau cool pad).

Sedangkan pada malam hari ketika suhu turun dan kelembapan biasanya meningkat, kelembapan tambahan yang disediakan oleh pengabut dapat meningkatkan tekanan panas. Saat kelembapan tinggi, peningkatan pergerakan udara dengan menggunakan kipas saja akan mengurangi tekanan panas di kandang terbuka.

Pergerakan udara menghasilkan efek wind chill yaitu penurunan suhu udara yang dirasakan oleh tubuh akibat adanya aliran udara. Tabel indeks tekanan panas untuk ayam petelur komersial telah dikembangkan.

Mengetahui Aspek yang Wajib Dibenahi
Regional Technical Manager Cobb-Vantress, Amin Suyono, menyatakan bahwa penyebab heat stress memang ada pengaruh dari lingkungan, namun demikian kualitas aspek manajemen pemeliharaan juga dapat mengurangi maupun menambah risiko keparahan kasus.

Sebagai contoh manajemen perkandangan yang kurang baik. Mulai dari konstruksi, jenis kandang, kepadatan kandang, manajemen ventilasi, bahkan bahan baku konstruksi kandang juga akan memengaruhi aspek tersebut.

“Terlebih lagi di negara kita masih banyak sistem open, di mana ini akan meningkatkan risiko cekaman heat stress baik di musim panas, maupun musim dingin terlebih ketika salah dalam mengatur ventilasi (menutup rapat ventilasi, dan lain-lain). Oleh karenanya closed house jadi solusi instan,” tutur dia.

Meskipun begitu, dibutuhkan modal yang besar dalam membangun closed house yang juga disertai oleh daya listrik yang menunjang, serta tenaga kerja yang terampil. Jadi menurut Amin, hanya tinggal memilih saja yang penting sudah tau titik kritis dan cara mengakalinya. 
Selain kandang, Amin juga menyinggung mengenai nutrisi. Pemberian ransum dengan kandungan nutrisi, terutama protein kasar yang berlebih bisa memperparah kasus heat stress.

Kelebihan protein kasar akan diuraikan oleh tubuh ayam untuk dibuang bersama feses. Penguraian protein kasar ini akan menghasilkan panas tubuh yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pencernaan karbohidrat ataupun lemak. Selain itu, protein kasar yang terbuang bersama feses akan diuraikan oleh bakteri yang ada di dalam feses menjadi amonia dan panas.

Kesadaran untuk Mencegah dan Bersahabat dengan Cuaca
Di musim panas, nantinya kasus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satufaktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

STRES OKSIDATIF, MUSUH TAK KASATMATA DI BALIK TURUNNYA PERFORMA

Mekanisme Penghilangan panas pada ayam. (Sumber: Hy-Line 2016)

Dalam industri perunggasan modern, peternak sering kali berhadapan dengan situasi yang membingungkan. Ayam tampak sehat, konsumsi pakan relatif normal, tidak ada gejala penyakit yang mencolok, namun performa produksi perlahan menurun. Bobot badan tidak mencapai target, konversi pakan memburuk, produksi telur menurun, kualitas karkas berkurang, dan respons vaksinasi tidak optimal. Di balik berbagai gejala yang tampak samar tersebut, sering kali terdapat satu faktor yang luput dari perhatian, yaitu stres oksidatif.

Stres oksidatif atau di Indonesia biasa dikaitkan dan disebut dengan stres panas/heat stress bukanlah penyakit. Ia merupakan kondisi fisiologis ketika tubuh unggas mengalami ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dan kemampuan sistem antioksidan untuk menetralisirnya.

Kondisi ini dapat terjadi pada broiler, layer, breeder, itik, puyuh, hingga unggas lainnya. Bahkan pada peternakan dengan manajemen yang baik sekalipun, stres oksidatif tetap dapat muncul apabila faktor pemicunya tidak terkendali.

Memahami Radikal Bebas
Untuk memahami stres oksidatif, pertama-tama perlu memahami apa yang disebut radikal bebas. Tony Unandar selaku konsultan perunggasan dan Anggota Dewan Pakar ASOHI, mengatakan bahwa radikal bebas adalah molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan sehingga sangat reaktif.

Dalam tubuh unggas, radikal bebas sebenarnya terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses metabolisme normal. Setiap kali sel menghasilkan energi melalui respirasi di mitokondria, sebagian kecil oksigen akan berubah menjadi senyawa reaktif yang dikenal sebagai reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh ROS yakni superoksida (SO2-), radikal hidroksil (OH), dan lain sebagainya.

Selain ROS, terdapat pula reactive nitrogen species (RNS) yang berasal dari metabolisme nitrogen. Dalam jumlah terkendali, molekul-molekul ini justru memiliki fungsi penting. Mereka membantu sistem imun membunuh patogen, berperan dalam komunikasi antar sel, serta mengatur berbagai proses biologis. Masalah baru muncul ketika jumlah radikal bebas yang dihasilkan melebihi kemampuan tubuh untuk menetralisirnya. Pada saat itulah stres oksidatif mulai berkembang.

Mengapa Unggas Rentan Mengalami Stres Oksidatif?
Unggas modern memiliki karakteristik biologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap stres oksidatif dibandingkan nenek moyangnya. Broiler modern tumbuh sangat cepat. Dalam waktu sekitar 35 hari, berat badannya dapat mencapai lebih dari 2 kg. Pertumbuhan luar biasa ini membutuhkan aktivitas metabolisme yang sangat tinggi.

Hal tersebut diungkapkan oleh Guru besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, sekaligus konsultan perunggasan. “Semakin tinggi metabolisme, semakin banyak oksigen yang digunakan. Semakin banyak oksigen digunakan, semakin besar pula pembentukan ROS,” tutur Wayan.

Sementara pada ayam petelur modern yang mampu menghasilkan lebih dari 300 butir telur/tahun. Produktivitas yang tinggi ini juga meningkatkan tekanan metabolik yang besar terhadap tubuh. Dengan kata lain, kemajuan genetika yang menghasilkan unggas berproduksi tinggi secara tidak langsung juga meningkatkan risiko terjadinya stres oksidatif.

Ia melanjutkan bahwa unggas termasuk... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2026. (CR)

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah kebanyakan petani jagung di Indonesia hanya mengandalkan iklim dalam mengeringkan jagungnya dengan bantuan sinar matahari/manual. Mungkin ketika musim panas hasil pengeringan akan baik, namun pada musim basah (penghujan) tentu tidak bisa diandalkan.

“Jika pengeringan tidak sempurna, kadar air dalam jagung akan tinggi, sehingga disukai oleh kapang. Lalu kapang akan berkembang di situ dan menghasilkan toksin,” tambahnya.

Masih masalah iklim menurut Mega, Indonesia yang beriklim tropis merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

MINIMNYA KONSUMSI TELUR DAN DAGING AYAM DI TENGAH STOK BERLIMPAH, APA PENYEBABNYA?

Mengonsumsi telur dan daging ayam baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. (Foto: Gemini)

Kajian mengenai banyak mana konsumsi telur, kerupuk, dan rokok, masih terus menjadi bahasan, sebab tiga komoditas ini memiliki harga setara. Namun dari sisi manfaat kesehatan, sangat berbeda.

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkap produksi telur dan daging ayam di 2025 naik dibandingkan 2024. Angka produksi tersebut diklaim di atas kebutuhan konsumsi nasional. Dalam sebuah kesempatan, I Gusti Ketut Astawa, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilitas Pangan dari Bapanas, menyampaikan kepada wartawan bahwa swasembada perunggasan yang produksinya relatif melebihi kebutuhan, baik telur maupun daging ayam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi telur ayam pada 2024 mencapai 6,34 juta ton. Dan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Bapanas per 22 April 2025, produksi telur ayam di 2025 disebutkan naik 2,78% menjadi 6,52 juta ton. Angka ini melebihi kebutuhan konsumsi nasional yang sebesar 6,22 juta ton.

Lalu, berapa konsumsi telur dan ayam masyarakat Indonesia? Mengutip platform Instagram milik Bambang Suharno, digital creator, PT Gallus Indonesia Utama-Strategi & Insight Industri Peternakan, Veteriner, Akuakultur, menyebutkan bahwa konsumsi per orang Indonesia per tahun sekitar 150-200 butir telur dan 15 kg daging ayam. Masih jauh dibandingkan dengan konsumsi di negara-negara ASEAN lainnya.

Minimnya tingkat konsumsi dua makanan sumber protein tinggi ini karena alasan yang masih klasik, karena daya beli masyarakat rendah. Tapi mirisnya, konsumsi rokok di Indonesia tembus lebih dari 1.300 batang/orang/tahun, tertinggi di ASEAN, bahkan termasuk yang tertinggi di dunia. Padahal harga satu batang rokok setara dengan sebutir telur.

Informasi lainnya, berasal dari GoodStats, sebuah platform media di bawah naungan Good News From Indonesia, menyebutkan persentase pria perokok aktif di Indonesia sebanyak 73,2% per 2025, tertinggi di dunia. Artinya, saat ini hanya ada sekitar 26,8% pria Indonesia yang tidak merokok.

Tingginya angka perokok bisa membawa masalah serius dalam jangka panjang. Laporan Tobacco Atlas menyebut 268 ribu orang Indonesia meninggal tiap tahunnya akibat merokok. Beban biaya ekonomi yang ditimbulkan akibat merokok juga cukup signifikan, mencapai Rp 288 triliun/tahun.

Sebulan, Rp 750.000 Dibakar
Pola asupan gizi di masyarakat Indonesia masih memprihatinkan. Meyimak data di atas, tergambar jelas masih banyak penduduk Indonesia yang lebih memilih rokok sebagai kebutuhan dalam pengeluaran keuangan keluarga. Rokok kerap dianggap sebagai simbol keren, termasuk oleh kelompok masyarakat miskin. 

Data BPS per Maret 2025 menunjukkan rokok filter-kretek menyumbang sekitar 9,99-10,72% terhadap garis kemiskinan, baik di perdesaan maupun perkotaan. Angka ini menggambarkan pengeluaran untuk membeli rokok lebih besar dari pangan bergizi. Pengeluaran untuk rokok konsisten menempati posisi kedua setelah beras, mengalahkan belanja telur, ayam, dan sumber protein lainnya.

Data Direktorat Jenderal Kementerian Kesehatan menyebut, rata-rata perokok di Indonesia mengonsumsi 4.190 batang rokok/tahun, yang menimbulkan beban ekonomi dan kesehatan yang signifikan. Itu baru data di 2023. Bisa jadi saat ini jumlahnya lebih besar.

Selain itu, tingginya prevalensi merokok di perdesaan (30,8%) dibandingkan perkotaan (18,99%) membuat rumah tangga di desa lebih rentan miskin, karena pengeluaran tembakau. Ini menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Kenaikan belanja rokok meningkatkan peluang kemiskinan, karena dana yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga justru terpakai.

“Kondisi ini benar-benar memprihatinkan,” ujar ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yuny Erwanto PhD, kepada Infovet. Ia menyebut, fenomena semacam ini sungguh sulit diterima akal sehat. Kebutuhan asupan gizi untuk keluarga dikalahkan dengan kebutuhan rokok.

Ia pun memberikan gambaran kalkulasi kalau dalam sehari orang menghabiskan Rp 25.000 untuk membeli rokok, maka dalam sebulan Rp 750.000 dibakar begitu saja. “Tapi coba kalau dibelikan telur, dengan asmusi Rp 30.000, maka sebulan dia bisa beli 25 kg telur. Gizi keluarga bisa terpenuhi dan sehat,” ujarnya.

Guru Besar Pangan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UGM ini menyebut, perputaran uang untuk membeli rokok hanya akan berputar pada pabrik rokok dan cukai ke negara saja. Sementara jika uang dialihkan untuk konsumsi telur atau daging ayam, perputaran uangnya sangat luas. Mulai dari petani jagung, peternak, perusahaan pakan ternak, perusahaan pembibitan, usaha pemotongan hewan, hingga jalur pasar yang melibatkan pelaku usaha.

“Artinya, semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk konsumsi telur atau daging ayam secara tidak langsung akan membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” katanya.

Kerupuk juga Masih Dominan
Pola asupan gizi lainnya sebagian masyarakat yang masih kurang tepat adalah konsumsi kerupuk. Tingkat konsumsi kerupuk di Indonesia sangat tinggi dan merata di seluruh lapisan masyarakat, baik di perkotaan maupun perdesaan, menjadikannya makanan pendamping sehari-hari.

Merujuk data BPS pada 2022, konsumsi kerupuk di seluruh Indonesia mencapai 0,03 kg/orang/minggu. Angka tersebut lebih tinggi dari konsumsi makanan ringan lainnya. Untuk 2025, sangat memungkinkan makin tinggi jumlah konsumsinya.

Berdasarkan proyeksi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, rata-rata konsumsi kerupuk atau keripik/kapita/minggu diperkirakan meningkat sebesar 6,56%. Data spesifik angka final per tahun untuk 2025 belum dirilis resmi BPS, namun tren menunjukkan peningkatan konsumsi bahan pangan olahan (kerupuk) secara berkelanjutan.

Ternyata, kerupuk bukan hanya digemari di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. BPS mencatat, ekspor kerupuk, keripik, peyek, dan sejenisnya dari Indonesia mencapai US$37,77 juta pada 2023. Nilainya naik 1,35% dibandingkan setahun sebelumnya. Sementara ekspor kerupuk Indonesia pada 2022 mencapai 15.925,1 ton dengan nilai US$37,36 juta. Korea Selatan menjadi negara tujuan utama ekspor kerupuk Indonesia pada 2023. Disusul negara Belanda sebesar US$8,18 juta, lalu ada Tiongkok sebesar US$5,13 juta.

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk digemari karena ragam jenisnya, harganya terjangkau, dan menjadi pelengkap wajib bagi banyak hidangan utama sebagai lauk. Kurang afdol makan tanpa kerupuk, begitu ucapan sebagian orang.

Nah, jika membandingkan kandungan nutrisi di dalam kerupuk dengan telur dan daging ayam sudah pasti selisih jauh. Telur adalah sumber nutrisi lengkap (protein tinggi, vitamin, mineral) dengan kalori terukur, sementara kerupuk didominasi karbohidrat dan lemak jenuh/trans, serta minim nutrisi penting. Sebanyak 100 g telur (sekitar dua butir) mengandung ~154 kkal dan 12,4 g protein, sedangkan 100 g kerupuk mencapai ~500 kkal dan tinggi garam.

Dari sisi kandungan lemak dan kalori, telur mengandung lemak sehat dan kolesterol. Sebaliknya, kerupuk tinggi kalori dan lemak (terutama lemak gorengan) yang berisiko menyebabkan penumpukan lemak. Telur kaya akan kolin, selenium, yodium, fosfor, besi, serta vitamin A, B, D, dan K. Kerupuk umumnya minim vitamin dan mineral, justru sering tinggi kandungan garam (natrium) yang kurang baik jika berlebihan.

Mengonsumsi telur baik untuk gizi harian dan pertumbuhan. Konsumsi kerupuk berlebih berisiko tinggi terhadap penumpukan kolori, lemak, dan gangguan ginjal. Dengan demikian, konsumsi telur jauh lebih sehat dan padat gizi dibandingkan dengan kerupuk. Kerupuk sebaiknya dikonsumsi hanya sebagai camilan sesekali, bukan sebagai makanan harian.

Dari pengeluaran atau belanja, bisa disimak dari angka sebagai berikut: Harga sebutir telur setara dengan harga satu keping kerupuk untuk sekali makan, dan setara dengan satu batang rokok. Namun dari manfaatnya, telur tentu lebih bergizi dan menyehatkan. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

MUSUH DALAM SELIMUT YANG HARUS DIWASPADAI

Kapang/jamur dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Anomali iklim dan cuaca melanda, kekhwatiran insan perunggasan tetap sama, mikotoksin. Senyawa tak kasat mata yang bisa mencemari bahan baku dan pakan jadi tersebut masih menjadi momok bersama dalam industri pakan.

Sebagai negara tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi, berkisar di antara 2000-3000 mm/tahun, Indonesia merupakan negara yang cukup “nyaman” sebagai tempat hidup kapang/jamur.

Masalahnya kapang/jamur tersebut dapat tumbuh pada tanaman biji-bijian seperti jagung dan kedelai yang merupakan bahan baku pakan. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar biji-bijian yang digunakan sebagai sumber bahan pakan sangat rentan terhadap kontaminasi toksin yang dihasilkan oleh jamur tersebut.

Faktor iklim yang dimiliki Indonesia serta kualitas manajemen dan handling di lapangan, membuat mikotoksin tidak bisa dielakkan, sehingga mengakibatkan potensi kerugian yang besar.

Sejatinya, toksin dapat diartikan sebagai senyawa beracun yang diproduksi di dalam sel atau organisme hidup, dalam dunia veteriner disepakati terminologi biotoksin dalam menyebut mikotoksin maupun toksin lainnya, karena toksin diproduksi secara biologis oleh mahluk hidup memalui metabolisme bukan artificial (buatan).

Dalam industri pakan ternak sering didengar istilah mikotoksin (racun yang dihasilkan oleh kapang/jamur). Sampai saat ini cemaran dan kontaminasi mikotoksin dalam pakan ternak masih membayangi tiap unit usaha peternakan, tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia.

Berbagai Jenis Mikotoksin
Dalam industri pakan, setidaknya ada tujuh jenis mikotoksin yang sangat ditakuti mencemari bahan baku maupun pakan jadi, ketujuhnya kerap mengontaminasi dan menyebabkan masalah pada ternak. Terkadang dalam satu kasus, tidak hanya satu mikotoksin yang terdapat dalam sebuah sampel.

Menurut Nutrisionis BEC Feed Solution, Mega Pratiwi Saragi, masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas. “Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pengolahan jagung yang salah,” tuturnya.

Maksudnya adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2026. (CR)

PAHAMI PENGGUNAAN PROBIOTIK, PREBIOTIK, DAN POSTBIOTIK UNTUK KESEHATAN USUS DAN PERFORMA OPTIMAL

Data market sediaan probiotik di dunia. 

Probiotik, prebiotik, maupun postbiotik kini bukan lagi barang asing. Hampir di seluruh toko ternak, poultry shop, bahkan lewat online sediaan tersebut dapat diakses. Produsen penyedianya pun mulai banyak di Indonesia.

Maksimalkan Fungsi Probiotik: Kenali Cara Penggunaan
Probiotik dan prebiotik biasanya diberikan pada ternak melalui pakan dan air minum. Pastinya perbedaan rute pemberian juga akan berbeda pula trik penanganannya. Misalnya pada pakan, selama ini pakan ayam diberikan dalam bentuk mash, crumble, maupun pelet. Artinya probiotik dan prebiotik yang harus ada di dalam pakan akan sedikit merepotkan apabila melewati proses pelleting dengan suhu tinggi.

Suhu tinggi merupakan ancaman bagi bakteri, karena beberapa jenis bakteri rata-rata akan mati. Jika harus melewati proses pelleting (suhu 80-90 °C), setidaknya harus ada perlakuan khusus pada probiotik maupun prebiotiknya di dalam formulasi pakan tersebut.

Peneliti sekaligus staf pengajar mikrobiologi SKHB IPB University, Drh Agustin Indrawati, mengatakan bahwa hal tersebut perlu diperhitungkan. Berdasarkan beberapa literatur yang ia baca, beberapa jenis bakteri asam laktat sangat peka dengan suhu tinggi.

“Betul, harus dipertimbangkan. Jangan sampai menggunakan probiotik tetapi malah kehilangan bahan aktifnya, yaitu bakteri baik itu sendiri. Soalnya bakteri kurang suka suhu tinggi, saya beri contoh kalau kita bikin yoghurt, susu yang digunakan setelah dipanaskan harus ditunggu dulu sampai suhunya pas, kalau tidak bakteri starter si yoghurt itu juga mati kepanasan,” kata Agustin.

Ia menyarankan, apabila dirasa sulit menggunakan pakan dan harus melewati suhu pelleting, maka sediaan probiotik dan prebiotik harus dimodifikasi agar dapat melewati suhu tinggi tanpa banyak merusak bahan aktifnya.

Ditanyai pertanyaan yang sama, Prof Lenny van Erp dari HAS University Belanda, mengatakan bahwa para produsen di Eropa kebanyakan sudah memiliki teknologi untuk mengatasi masalah tersebut. Menurutnya adalah betul bahwa bakteri probiotik rentan terhadap suhu tinggi, namun dengan adanya perkembangan teknologi semua hal bisa dilakukan.

“Ada beberapa produsen yang sudah melakukan kapsulasi pada bakteri probiotiknya, jadi dilapisi pelindung (enkapsulasi) dari zat yang tahan suhu tinggi, sehingga bakteri di dalamnya dapat melewati suhu pelleting tanpa harus mati, sehingga khasiatsi bahan aktif masih ada. Begitu juga sama dengan prebiotik, sudah dilakukan proses enkapsulasi,” ujar Lenny.

Contoh lain yang ia sampaikan yakni dengan menggunakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

MEMBENTENGI UNGGAS DARI KOLIBASILOSIS MELALUI JALUR PAKAN

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci  bagi peternak modern. (Foto: Istimewa)

Di balik ambisi mengejar performa bobot badan dan produksi telur yang tinggi, sering kali peternak luput menyadari bahwa saluran pencernaan adalah medan tempur utama melawan bakteri Escherichia coli (E. coli).

Nutrisi dan pakan bukan lagi sekadar angka protein dan energi di atas kertas, melainkan instrumen pertahanan imunologi paling krusial yang menentukan ayam akan bertahan atau tumbang diterjang kolibasilosis.

Memahami korelasi antara kualitas bahan baku pakan dengan integritas usus menjadi kunci baru bagi peternak modern untuk memutus rantai ketergantungan pada antibiotik yang kian tidak efektif.

Gerbang Awal Masuknya Patogen
Pakan adalah jembatan pertama bagi bakteri patogen untuk menjangkau inangnya. Sering kali, bahan baku pakan seperti bungkil kedelai atau tepung ikan yang disimpan dalam kondisi lembap menjadi sarang pertumbuhan mikroba, termasuk E. coli. Kontaminasi ini tidak hanya membawa bakteri langsung ke dalam tembolok, tetapi juga menurunkan nilai nutrisi yang seharusnya diserap untuk pembentukan imun.

Banyak peternak terjebak membeli bahan pakan murah tanpa memperhatikan angka total plat count (TPC) mikroba di dalamnya. Padahal, bahan pakan yang terkontaminasi sejak awal akan membuat beban kerja usus menjadi sangat berat bahkan sebelum ayam mulai berproduksi. Di sinilah pentingnya audit kualitas bahan baku pakan secara berkala untuk memastikan tidak ada “penumpang gelap” yang ikut masuk ke dalam sistem metabolisme ayam.

Pengendalian kualitas harus dimulai dari gudang penyimpanan dengan sistem first in first out (FIFO) yang disiplin. Pastikan kadar air bahan pakan tetap di bawah 12% untuk menghambat aktivitas air yang menjadi syarat tumbuh bakteri. Nutrisi yang bersih adalah fondasi utama agar ayam memiliki status kesehatan yang stabil sejak umur dini.

Pemicu Peradangan Usus yang Halus
Zat antinutrisi seperti asam fitat, lektin, atau penghambat tripsin yang terdapat pada biji-bijian sering menjadi penyebab peradangan halus pada dinding usus. Ketika zat ini tidak terdegradasi dengan baik (misalnya melalui proses pemanasan atau penambahan enzim), mereka akan mengiritasi mukosa usus. Iritasi kronis ini merusak vili-vili usus yang berfungsi sebagai penyerap nutrisi sekaligus pagar pelindung.

Dinding usus yang teriritasi akan mengeluarkan cairan mukus berlebih sebagai mekanisme perlindungan diri. Sayangnya, mukus yang berlebih justru menjadi substrat atau makanan yang disukai bakteri E. coli untuk berkembang biak dengan cepat. Akibatnya, niat memberi nutrisi justru berakhir dengan ledakan populasi bakteri patogen di dalam lumen usus.

Peternak harus memastikan formulasi pakan menyertakan enzim pendegradasi antinutrisi yang tepat, seperti fitase atau protease. Penggunaan enzim ini bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi soal meminimalkan faktor iritan yang dapat membuka celah bagi E. coli untuk menempel dan menginfeksi. Tanpa penanganan antinutrisi, pakan terbaik sekalipun bisa menjadi pemicu munculnya kolibasilosis.

Protein Berlebih Jadi Nutrisi Mewah untuk Bakteri Jahat
Ambisi mengejar pertumbuhan cepat kerap mendorong peternak memberikan pakan dengan kadar protein sangat tinggi melampaui kebutuhan biologis ayam. Namun, protein yang tidak terserap dengan sempurna di usus halus akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026.

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

KOMBINASI PROBIOTIK, PREBIOTIK, SINBIOTIK, DAN POSBIOTIK AGAR PERFORMA APIK

Beberapa macam bakteri probiotik yang dapat digunakan. (Foto: Shutterstock)

Larangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) di Indonesia sudah hampir 10 tahun lalu diberlakukan, tepatnya sejak 2018. Sejak saat itu seluruh insan yang berkecimpung di dunia peternakan Indonesia berlomba-lomba mencari alternatifnya, di antaranya adalah probiotik, prebiotik, sinbiotik, dan postbiotik.

Mungkin masyarakat sudah sangat familiar dengan minuman ringan berasa asam yang mengklaim sebagai minuman yang mengandung probiotik. Lalu kemudian populer pula minuman sehat yang berasal dari susu yang rasanya juga sedikit asam bernama yoghurt. Seiring berjalannya waktu, produk-produk serupa beredar di pasaran.

Lalu apa itu probiotik? Terminologi probiotik berasal dari bahasa Yunani. Kata “pro” artinya mempromosikan dan “biotik” artinya kehidupan. Probiotik muncul pada awal abad ke-20 silam dan diperkenalkan oleh Elie Metchnikoff, yang kemudian dikenal sebagai sosok “Bapak probiotik”.

Dari situ kemudian muncul asosiasi perkumpulan para ahli probiotik yakni International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics (ISAPP) pada 2013. Mereka kemudian mendefinisikan probiotik sebagai mikroorganisme hidup yang dalam jumlah memadai dapat memberikan manfaat bagi kesehatan pada tubuh pada inangnya. Lalu kemudian orang awam mendefinisikannya sebagai bakteri baik dan jahat.

Sedangkan prebiotik didefinisikan sebagai senyawa natural dalam makanan yang tidak dapat dicerna usus, berfungsi sebagai suplemen untuk mendorong pertumbuhan mikroorganisme menguntungkan dalam sistem pencernaan. Kombinasi dari probiotik dan prebiotik disebut sinbiotik (eubiotik).

Andalan Utama Pengganti AGP
Pelarangan penggunaan AGP dalam pakan ternak memicu para produsen pakan mencari imbuhan pakan alternatif. Probiotik dan prebiotik merupakan satu di antaranya, mengapa? Hal ini dikarenakan probiotik dan prebiotik sudah lama digunakan dalam kehidupan manusia dan terbukti aman. Oleh karena itu, dengan analogi yang sama seharusnya juga dapat digunakan pada ternak.

Peneliti nutrisi pakan ternak dari Balitnak Ciawi, Prof Arnold Sinurat, mengatakan bahwa sejatinya memang AGP perlu digantikan. Hal ini merujuk pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Maret 2026. (CR)

KETIKA DAGING, SUSU, DAN TELUR MENJADI PENENTU MASA DEPAN BANGSA

Beberapa sumber protein hewani. (Foto: iStock)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap dipahami secara sederhana, anak-anak makan di sekolah, lalu pulang dengan perut kenyang. Padahal, bagi penulis yang lama bergelut di dunia akademik dan lapangan peternakan, MBG jauh lebih besar dari sekadar urusan perut. Ia adalah titik temu antara kebijakan negara, ilmu gizi, kerja keras peternak, dan harapan orang tua akan masa depan anak-anaknya.

Di balik setiap piring makan siswa ada keputusan penting, sumber gizi apa yang disajikan, dari mana asalnya, dan siapa yang diuntungkan. Di sinilah produk peternakan yakni daging, susu, dan telur, memiliki posisi yang tidak tergantikan. Ia bukan hanya komoditas, tetapi penentu kualitas tumbuh kembang, kecerdasan, bahkan daya saing generasi mendatang.

Tulisan ini bukan semata-mata pujian pada MBG, tetapi refleksi kritis dari sudut pandang akademisi lapangan. Bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada keberanian negara menempatkan produk peternakan lokal sebagai tulang punggung gizi, sekaligus sebagai penggerak ekonomi rakyat.

MBG: Investasi Peradaban
MBG seharusnya dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan belanja rutin tahunan. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk gizi anak hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia puluhan tahun ke depan. Negara-negara maju telah lama menempatkan gizi anak sebagai fondasi peradaban.

Dalam konteks ini, MBG bukan hanya urusan dapur sekolah, tetapi kebijakan strategis lintas sektor dari pendidikan, kesehatan, pertanian, dan peternakan. Jika salah memilih komposisi gizi, maka peluang emas ini bisa berubah menjadi program mahal dengan dampak minimal.

Sebagai akademisi, penulis melihat MBG sebagai laboratorium kebijakan. Di sinilah ilmu gizi, data stunting, dan realitas lapangan diuji secara nyata, bukan hanya di atas kertas laporan.

Sumber Gizi Lengkap yang Tak Tergantikan
Produk peternakan bukan hanya soal gizi anak sekolah, tetapi juga soal keberlangsungan hidup jutaan peternak rakyat. Ketika negara memilih daging, susu, dan telur sebagai sumber utama gizi MBG, pada saat yang sama negara sedang memilih untuk menghidupkan kandang-kandang kecil di desa.

Bagi peternak, kepastian bahwa produk mereka dibutuhkan secara rutin adalah bentuk keberpihakan paling nyata. MBG membuka ruang pasar yang stabil, terukur, dan berkelanjutan, sesuatu yang selama ini sulit diakses peternak kecil karena fluktuasi harga dan ketergantungan pada tengkulak.

Dengan menjadikan produk peternakan sebagai komponen utama MBG, negara sebenarnya sedang menautkan dua tujuan besar sekaligus, yakni memperbaiki gizi anak dan menjayakan peternak lokal.

Telur Ayam, Protein Murah dengan Dampak Besar
Di banyak desa, usaha ternak ayam petelur dijalankan oleh keluarga dengan modal terbatas. Telur menjadi penopang ekonomi harian, namun harganya sering jatuh ketika produksi melimpah. MBG dapat menjadi penyeimbang yang adil bagi kondisi ini.

Dengan kebutuhan telur dalam jumlah besar dan berkelanjutan, MBG menciptakan permintaan yang relatif stabil. Bagi peternak ayam petelur, ini berarti kepastian penyerapan hasil produksi dan peluang memperbaiki manajemen usaha tanpa dibayangi ketidakpastian pasar.

Setiap butir telur yang tersaji di piring anak sekolah sesungguhnya adalah bukti bahwa negara hadir hingga ke kandang rakyat. Anak mendapatkan gizi, peternak mendapatkan harapan.

Susu dan Kalsium: Fondasi Sunyi bagi Pertumbuhan Generasi
Peternak sapi perah selama ini hidup dalam tekanan biaya pakan dan harga jual susu yang tidak selalu berpihak. MBG berpotensi menjadi jalan keluar jika dirancang dengan keberpihakan pada susu segar lokal.

Keterlibatan koperasi susu dan peternak kecil dalam rantai pasok MBG akan menciptakan efek domino positif. Produksi meningkat, kualitas diperbaiki, dan pendapatan peternak menjadi lebih layak.

Ketika anak-anak terbiasa minum susu hasil peternak lokal, sesungguhnya kita sedang menanam dua fondasi sekaligus, yaitu tulang yang kuat dan ekonomi desa yang hidup.

Daging dan Zat Besi
Bagi peternak sapi dan kambing rakyat, pasar daging sering kali tidak ramah. Harga fluktuatif, rantai distribusi panjang, dan posisi tawar yang lemah menjadi persoalan klasik. MBG dapat mengubah peta ini jika dikelola dengan tepat.

Meski tidak disajikan setiap hari, kebutuhan daging yang terencana dalam MBG menciptakan pasar yang lebih pasti. Ini memberi ruang bagi peternak untuk merencanakan produksi, penggemukan, dan perbaikan kualitas ternak.

Dengan demikian, daging dalam MBG bukan sekadar menu bergizi, tetapi juga simbol keberpihakan negara pada peternak ruminansia sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.

Peternak Lokal di Balik Piring Anak Sekolah
Peternak lokal di balik piring anak sekolah jarang disadari, setiap menu MBG menyimpan cerita peternak di desa. Dari kandang sederhana, mereka menyumbang gizi bagi anak-anak yang mungkin tak pernah mereka temui.

Jika rantai pasok dikelola dengan adil, MBG bisa menjadi kebijakan pro-peternak rakyat. Bukan hanya menyerap produk, tetapi juga memberi kepastian harga. Inilah wajah keadilan pangan yang sering luput dari diskusi publik.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Kandang, Bukan dari Impor
Ketika MBG dijalankan dengan orientasi impor, maka yang terjadi hanyalah pemindahan anggaran negara ke luar negeri. Padahal, ketahanan pangan sejati justru dimulai dari kandang-kandang peternak rakyat yang selama ini berjuang dengan keterbatasan modal dan akses pasar.

Peternak lokal sebenarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan daging, susu, dan telur jika didukung dengan kebijakan yang konsisten. Dukungan tersebut tidak selalu berupa subsidi, tetapi bisa dalam bentuk kepastian serapan, regulasi harga yang adil, dan pendampingan teknis berkelanjutan.

MBG seharusnya menjadi momentum koreksi arah kebijakan pangan nasional, dari ketergantungan impor menuju kemandirian berbasis produksi dalam negeri.

MBG dan Peluang Kebangkitan Peternakan Rakyat
Permintaan besar dan rutin dari MBG membuka peluang kebangkitan peternakan rakyat yang selama ini stagnan. Pasar yang pasti memberi keberanian bagi peternak untuk meningkatkan skala usaha, memperbaiki kandang, dan mengadopsi teknologi sederhana.

Namun peluang ini tidak datang otomatis. Tanpa tata kelola yang berpihak, peternak kecil berisiko kembali tersisih oleh pemain besar. Karena itu, desain MBG harus memastikan keterlibatan koperasi, kelompok ternak, dan UMKM peternakan.

Jika dikelola dengan adil, MBG dapat menjadi tonggak sejarah kebangkitan peternakan rakyat di Indonesia.

Tantangan Mutu, Keamanan, dan Kontinuitas
Produk peternakan memiliki karakter mudah rusak dan sensitif terhadap penanganan. Oleh karena itu, rantai pasok MBG harus dirancang dengan standar mutu dan keamanan pangan yang ketat.

Bagi peternak, standar ini bukan ancaman, melainkan peluang untuk naik kelas. Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperoleh nilai tambah.

Di sinilah peran pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi krusial sebagai jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan.

Ilmu Peternakan yang Bekerja Diam-diam
Kualitas produk peternakan tidak lahir secara instan. Ia ditentukan sejak pemilihan bibit, manajemen pakan, hingga kesehatan ternak.

Ilmu peternakan sering kali bekerja di balik layar, namun menjadi penentu keberhasilan MBG. Tanpa pakan berkualitas dan manajemen yang baik, sulit mengharapkan produk bermutu tinggi.

MBG seharusnya juga mendorong pemanfaatan pakan lokal dan inovasi sederhana yang dapat diterapkan peternak rakyat.

Gizi Hewani dan Keadilan Sosial bagi Anak Indonesia
Akses terhadap protein hewani masih menjadi kemewahan bagi sebagian anak Indonesia. Kondisi ini menciptakan kesenjangan gizi yang berdampak jangka panjang.

MBG hadir sebagai instrumen keadilan sosial, memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh gizi yang layak.

Ketika produk peternakan lokal menjadi bagian dari MBG, keadilan sosial bagi anak bertemu dengan keadilan ekonomi bagi peternak.

Menghubungkan Sekolah, Peternak, dan Negara dalam Satu Ekosistem
MBG tidak boleh dipahami sebagai hubungan jual beli semata. Ia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem yang saling menguatkan. Sekolah menjadi titik distribusi gizi, peternak sebagai produsen, dan negara sebagai penjamin keberlanjutan.

Ketiganya harus terhubung dalam sistem yang transparan. Ekosistem inilah yang akan memastikan MBG berjalan konsisten dan berkelanjutan.

Menjaga Harapan di Setiap Butir Telur dan Tetes Susu
Pada akhirnya, MBG adalah tentang harapan yang dititipkan pada hal-hal sederhana, pada butir telur, tetes susu, dan potongan daging. Di sanalah gizi bertemu dengan kerja keras, dan kebijakan bertemu dengan kehidupan nyata.

Harapan orang tua agar anaknya tumbuh sehat, harapan guru melihat muridnya lebih fokus belajar, dan harapan peternak agar jerih payahnya dihargai. Harapan-harapan ini tidak lahir di ruang rapat, tetapi di kandang, di dapur sekolah, dan di meja makan keluarga.

Jika MBG dikelola dengan hati dan ilmu, maka dari kandang-kandang rakyat itulah masa depan bangsa perlahan dibangun.

Catatan Akademisi Lapangan
Sebagai akademisi yang kerap turun ke lapangan, penulis melihat langsung bagaimana peternak rakyat bekerja dalam sunyi. Mereka bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, merawat ternaknya dengan sumber daya terbatas, dan bertahan di tengah harga yang sering kali tak berpihak.

MBG menghadirkan harapan baru, bukan janji kosong, bahwa kerja keras itu akhirnya mendapat tempat dalam kebijakan negara. Namun harapan ini hanya akan menjadi kenyataan jika MBG dirancang secara adil, transparan, dan benar-benar berpihak pada produksi peternakan dalam negeri.

Pada titik inilah MBG diuji. Apakah ia berhenti sebagai program makan gratis, atau benar-benar menjadi jalan bersama menuju generasi yang lebih sehat dan peternakan rakyat yang berdaulat. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak,
Prodi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer