-->

MENUAI HASIL APLIKASI BIOSEKURITI

Mencuci kandang merupakan bagian dari tindakan biosekuriti. (Foto: Istimewa)

Pentingnya aspek biosekuriti terkadang membuat orang salah kaprah, oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan dan pemahaman mendalam. Selain itu, kini penerapan biosekuriti dapat berbuah manis bagi siapapun yang mengaplikasikannya.

Prinsip paling hakiki dari biosekuriti adalah mencegah penyakit agar tidak masuk dan keluar dari suatu peternakan, apapun caranya. Dalam aplikasinya terserah kepada masing-masing peternak, namun begitu karena alasan budget rata-rata peternak abai terhadap aspek biosekuriti. 

Setidaknya minimal ada tujuh aspek yang harus dilakukan dalam menjaga biosekuriti di peternakan menurut Hadi (2010), yakni: 1) Kontrol lalu lintas. 2) Vaksinasi. 3) Recording flock. 4) Menjaga kebersihan kandang. 5) Kontrol kualitas pakan. 6) Kontrol air. 7) Kontrol limbah peternakan. Sangat mudah diucapkan, namun sulit diimplementasikan.

Hewan Produktif, Manusia Sehat

Banyak peternak di Indonesia menanyakan efektivitas penerapan biosekuriti. Sebagai contoh Infovet pernah melakukan kunjungan ke Lampung dimana FAO ECTAD Indonesia beserta stakeholder peternakan di Lampung sedang menyosialisasikan biosekuriti tiga zona pada peternak layer di sana.

Kusno Waluyo seorang peternak layer asal Desa Toto Projo, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, bercerita mengenai keputusannya untuk hijrah dari sistem beternak konvensional menjadi rasional, bisa menjadi salah satu rujukan jika ingin mengetahui efektivitas penerapan biosekuriti.

Peternak yang berusia 46 tahun tersebut memang sudah terkenal sebagai produsen telur herbal. Hal ini diakuinya karena ia sendiri memberikan ramuan herbal sebagai suplementasi pada pakan ayamnya. Hasilnya memang cukup memuaskan, namun ia masih kurang puas karena merasa masih bisa lebih efektif lagi.

“Akhirnya saya mengikuti program FAO yang ada di sini, saya dengar dari Ketua PPN Lampung kalau ini bagus, makanya saya coba ikutin saja. Ternyata benar, biaya yang dikeluarkan makin irit, hasilnya lebih jos,” tutur pemilik Sekuntum Farm tersebut.

Kendati demikian, Kusno enggan bercerita mengenai modal yang ia keluarkan dalam pembangunan fasilitas biosekuriti miliknya, tetapi dengan sejumlah uang yang ia gelontorkan menurutnya hasil yang diperoleh benar-benar menguntungkan.

Salah satu tolak ukur suksesnya penerapan biosekuriti di kandang Kusno adalah saat ayam di kandangnya menginjak usia sekitar 29 minggu produksi telurnya stabil di angka 90% lebih. Selain itu dalam data juga disebutkan bahwa tingkat kematian ayam di peternakannya sangat rendah, hanya 1% dari 30.000 ekor populasi. “Di farm sini per hari enggak melulu ada yang mati, enggak kaya sebelumnya,” ucap dia.

Menurut National Technical Advisor FAO ECTAD, Alfred Kompudu, sebenarnya konsep biosekuriti tiga zona merupakan pengejawantahan dari program EPT2 (Emerging Pandemic Threats Programme) yang telah lama menjadi fokus FAO di Indonesia.

“Melalui program ini kita berkomitmen membantu pemerintah dalam meanggulangi pandemi penyakit, terutama zoonosis, program ini sudah lama berjalan dan masih akan lanjut sepertinya di Indonesia,” tutur Alfred.

Selain itu kata dia, dengan adanya wabah COVID-19 penerapan biosekuriti tiga zona yang baik dan benar bukan hanya menguntungkan peternak dari segi ekonomis karena ternaknya sehat dan produktivitasnya meningkat, tetapi juga… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020) (CR)

MENGURANGI DAMPAK AMR PADA SEKTOR PETERNAKAN ALA MEIJI INDONESIA

Bakteri B. subtilis yang diisolasi dari natto bisa menjadi alternatid pengganti AGP

Pelarangan AGP pada sektor peternakan di Indonesia memang sudah dilakukan sejak 2018 yang lalu. Meskipun sempat terkendala dengan beberapa hal, nyatanya sektor peternakan Indonesia masih dapat bertahan dengan kondisi tanpa AGP.

Dalam rangka meneruskan langkah tersebut PT Meiji Indonesia selaku salah satu pemain dalam industri farmasi menggelar seminar daring bertajuk Embracing AGP-Free Era and Reducing AMR Risk. Acara berlangsung pada 26 Agustus 2020 tepat pukul 13.30 WIB.

Acara dibuka dengan sambutan dari Presiden Direktur PT Meiji Indonesia Masanobu Sato, ia menyebut acara ini sebagai acara pembuka yang bertujuan dalam mefasilitasi masyarakat khususnya stakeholder di dunia peternakan mengenai informasi terkini di dunia peternakan.  Rencananya PT Meiji Indonesia juga hendak mengadakan seminar yang sama secara rutin tiap bulannya, ia juga menyampaikan bahwa PT Meiji Indonesia selalu berkomitmen untuk memberikan solusi terbaik bagi kesehatan hewan di Indonesia.

Prof Budi Tangendjaja sebagai pembicara pertama membuka sesi pertama seminar pada hari itu. Dalam presentasinya Budi mengatakan bahwa sangat penting dalam menjaga saluran pencernaan ternak, terutama unggas. Menjaga kesehatan saluran cerna, artinya menjaga agar performa tetap stabil. Terlebih lagi sistem pemeliharaan di Indonesia yang masih banak menganut pemeliharaan dengan sistem tradisional yang tentunya membuat ayam menjadi lebih mudah berkontak dengan agen mikrobiologis pathogen.

Belum lagi manajemen pemeliharaan yang bisa dibilang “begitu – begitu saja”, tentunya beternak dengan cara seperti ini tanpa mengindahkan kaidah hygiene dan sanitasi semakin membuat ayam lebih berisiko terinfeksi penyakit terutama di saluran pencernaan.

Budi juga menyinggung mengenai pemakaian Antibiotik sebagai Growth Promoter pada ternak yang sudah dilakukan berpuluh tahun yang lalu. Namun penggunaan antibiotik baik pada hewan dan manusia yang serampangan menyebabkan residu dan bahkan resistensi antimikroba yang kian mengkhawatirkan. Oleh karenanya penggunaan antibiotik sebagai growth promoter pada ternak sudah dilarang dan pemakaiannya pun kini diawasi.

Berbagai jenis zat akhirnya banyak diteliti oleh para ilmuwan dunia untuk menggantikan penggunaan antibiotik sebagai growth promoter. Salah satunya adalah bakteri dari jenis Bacillus subtilis natto ang diisolasi dari natto alias makanan khas Jepang yang terbuat dari kedelai yang ternyata dapat digunakan sebagai substituent AGP.

Hal ini disampaikan oleh Atsushi Tahara DVM dari Meiji Seika Pharma , induk perusahaan PT Meiji Indonesia. Natto sendiri merupakan pangan khas Jepang, salah satu manfaat dari natto yakni mampu menunjang dan memperbaiki sistem pencernaan.

Bakteri Bacillus subtilis BN yang telah diisolasi dari natto tadi juga ternyata memiliki efek yang sama pada ternak. Penggunaan bakteri Bacillus subtilis sebagai probiotik pada ternak telah diujicobakan oleh Meiji Seika Pharma dan terbukti dapat memperbaiki performa ternak, melindungi saluran pencernaan agar tetap sehat, serta meningkatkan produksi ternak tanpa menunjukkan efek samping yang merugikan ternak.

Acara pada hari itu diakhiri dengan sesi tanya jawab antara peserta webinar dengan kedua narasumber. Sangat banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta hingga tidak semua pertanyaan dapat dijawab secara live. PT Meiji Indonesia juga membagikan door prize kepada 10 pendaftar webinar pertama dan penanya dengan pertanyaan terbaik (CR).

REFLEKSI HARI LAHIR PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN DI TENGAH HIMPITAN PANDEMI

Drh. M. Chairul Arifin
Tanggal 26 Agustus merupakan hari lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Tanggal ditetapkan karena berdasarkan penelusuran sejarah pada tanggal tersebut tepatnya ditahun 1836 pemerintah Hindia-Belanda menerbitkan ketetapan melalui plakat yang berisi tentang pelarangan pemotongan ternak betina bertanduk atau yang kita kenal betina produktif, baik ternak ruminansia besar maupun kecil.

Plakat ini dipandang oleh para senior, pakar, akademisi, praktisi, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya merupakan era dimulainya campur tangan pemerintah sejak 184 tahun yg lalu dan diputuskanlah sebagai hari lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. Kini 26 Agustus 2020, kalau dirunut sejarahnya maka Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) kita telah berumur 184 tahun dan kita secara resmi baru mengingatnya sejak 2003 dalam bentuk  peringatan hari lahir diikuti dengan Bulan Bhakti 26 Agustus-26 September. Berarti kita secara tak sadar telah memperingatinya 17 kali baik di pusat maupun daerah.

Merajut Masa Depan

Memperingati hari lahir peternakan dan kesehatan hewan ada baiknya kita melakukan refleksi diri, bermuhasabah dengan semata tujuan untuk lebih meningkatkan peran di masyarakat dengan bekerja lebih baik lagi untuk kepentingan para peternak Indonesia yang berjumlah lebih dari 6 juta rumah tangga peternak

Dalam hal ini pertama-tama kita kembali dulu ke aspek penanganan pengendalian pemotongan ternak betina produktif, asal-muasal ditetapkannya hari lahir PKH yang sampai sekarang masih diberlakukan pemerintah.

Sampai sekarang pengendalian pemotongan betina produktif malah ditetapkan dalam UU PKH yang dilengkapi dengan instrumen Peraturan Menteri Pertanian lengkap dengan sanksinya bila seseorang memotong ternak betina produktif (Pasal 18 UU PKH No. 41/2014 dan Permentan No. 35/2011).

Pelaksanaan Pelarangan Pemotongan Betina Produktif

Tetapi tidak bisa dipungkiri lagi di lapangan bahwa masih terjadi pemotongan ternak betina produktif yang disebabkan tuntutan ekonomi peternak. Maka sudah sejak lama diupayakan pengendaliannya oleh pemerintah. Mungkin sejak berdirinya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang didahului oleh Direktorat Kehewanan di pusat dan daerah upaya penghentian pemotongannya dilakukan dengan berbagai program dari pemberian insentif sampai memakai tindakan represif dengan menempatkan polisi di berbagai rumah pemotongan hewan (RPH) untuk melarang pemotongan betina produktif tersebut.

Namun apa hasilnya? Di RPH yang diawasi polisi tentu saja terjadi penurunan drastis pemotongan betina produktif. Tetapi ibarat balon, jika ditekan di satu sisi maka akan terjadi penggelembungan di sisi lain. Terjadi pemotongan betina produktif di sekitar RPH yang dijaga oleh Polri atau terjadi pemotongan di tempat-tempat pemotongan hewan milik rakyat yang luput pengawasan.

Dari fenomena ini dan melihat upaya pengendalian pemotongan betina produktif yang sudah lebih 1,5 abad, apakah kita tidak perlu berpikir ulang pelarangan ternak betina produktif tersebut? Coba kita lihat bersama bahwa Pemerintah Hindia-Belanda menerapkan kebijaksanaan tersebut demi peningkatan populasi dan produksi ternak sapi dan kerbau. Pada waktu itu populasinya sangat kurang dan tehnologi IB ET dan berbagai rekayasa genetik belum ada dan berkembang seperti sekarang ini.

Memang terjadi kenaikan populasi sapi dan kerbau. Dari yang semula populasi sapi 1,5 juta ekor dan kerbau 2 juta ekor di tahun sebelum 1922, meningkat menjadi 3 juta ekor sapi dan 3 juta ekor kerbau di 1936. Tetapi perlu diketahui pula bahwa Pemerintah Hindia-Belanda pernah pula mendatangkan sapi Onggole dari India secara besar-besaran pada 1917 ke pulau Sumba. Sapi-sapi itu dikawin-silangkan dengan sapi Jawa yang bertubuh kecil sehingga menjadi sapi Peranakan Ongole (PO) seperti yang kita ketahui sekarang.

Kemudian dihubungkan dengan data sensus ternak BPS diadakan sejak 1967 sampai Sensus Pertanian saat ini serta berbagai survei menunjukkan bahwa ratio ternak betina dewasa produktif komposisinya ternyata tetap pada kisaran 44-45%. Artinya komposisi ternak dialam itu sangat mendukung keberlanjutan populasi (sustainibility) sebagaimana dilaporkan oleh survei UGM pada 2011 lalu, karena struktur komposisinya ini menunjukkan nilai NRR-nya lebih dari 1 (satu). Struktur seperti ini mendukung kegiatan pembibitan sapi sekaligus melestarikan populasinya.

Jadi, tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan tentang adanya penurunan populasi ternak karena adanya pemotongan ternak betina produktif. Pelarangan itu hanya dapat dikenakan kepada ternak bibit dan calon bibit, serta ternak yang bunting yang ditentukan oleh dokter hewan dan pengawas mutu bibit. Selebihnya dapat dipotong atau diseleksi untuk disingkirkan sesuai UU PKH No. 41/2014.

Pelarangan pemotongan ternak betina produktif itu telah menimbulkan paranoid tersendiri bagi peternak budi daya dan petugas pemerintah sendiri. Pada masa pandemi COVID-19 ini marilah kita berpikir ulang untuk merajut masa depan. Masih tepatkah adanya aturan pelarangan pemotongan ternak betina yang sudah berumur 184 tahun diteruskan? Disrupsi kebijakan sangat diperlukan mumpung momentumnya tepat agar tidak menghambat usaha peternakan rakyat yang sekaligus dapat menjadi insentif investasi swasta dan masyarakat.

Pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB)

Pada saat ini pemerintah sangat gencar dan massif dalam melaksanakan IB. Teknologi ini pernah diintroduksikan oleh Prof Zeit, seorang dokter hewan Belanda tahun 1950-an dan banyak mendidik orang pribumi untuk menjadi dokter hewan. Maka didirikanlah semacam AI Center di Ungaran Semarang. Entah karena terjadi revolusi fisik pada waktu itu program IB terhenti.

Kini setelah lebih dari 80 tahun kegiatan IB dilanjutkan oleh pemerintah melalui berbagai program, yaitu INSAP (Inseminasi Sapi Potong), Gerakan Sejuta IB, Program Swasembada Daging Sapi, Upaya Khusus dan SIKOMANDAN. Program ini berupaya mengintegrasikan IB dengan kegiatan lainnya. 

Kegiatan ini sebenarnya baik dalam artian teknis peningkatan produksi dan populasi. Tetapi satu hal yang dilupakan pemerintah yaitu sebenarnya pelaksanaan IB merupakan sarana untuk peternak agar dapat mandiri dan berswadaya dalam pelaksanaan IB. Ini tidak terjadi tapi yang ada malah tingkat ketergantungan peternak sengaja dibuat tinggi oleh pemerintah dari sejak produksi semen, distribusinya sarana-prasarana, sampai pelaksanaannya oleh para inseminator lapangan.
Pada kesempatan ini mari kita berpikir ulang untuk menjadikan gerakan IB itu perlahan kita serahkan pada dunia swasta. Prinsipnya “tidak ada makan siang yang gratis”. Peternak itu sebenarnya mau membayar asal kualitas pelayanannya baik. Sudah waktunya IB itu diserahkan pada peternak dan swasta dan tidak dimonopoli pemerintah. Harus dibedakanana yang bersifat public good dan private good.

Obat Hewan

Senada dengan itu langkah yang lebih maju telah dilakukan di bidang obat hewan oleh pemerintah. Walaupun pemerintah sendiri memiliki produsen obat hewan Pusvetma, tetapi pemerintah membuka lebar dunia swasta untuk bersama memproduksi obat hewan.

Di sini biarkan saja terjadi “persaingan” yang adil dan sehat antara pemerintah dan dunia swasta dalam hal obat hewan. Walaupun sebenarnya produksi obat hewan itu merupakan ranah private good dan memberikan porsi ini kepada swasta agar lebih efisien.
Coba kita lihat misalnya adanya stok semen beku dan obat hewan di tempat produksi di pemerintahan. Pasti masih ada tumpukan yang menambah beban bagi APBN untuk maintenance-nya. Kalau di swasta karena menerapkan efisiensi tinggi hal itu tak terjadi.

Perbibitan dan Kesehatan Hewan

Kita sudah mengetahui bahwa tugas dan fungsi pemerintah banyak bertumpu terutama pada bidang perbibitan dan kesehatan hewan/masyarakat veteriner sebagaimana diamanatkan dalam UU PKH No. 18/2014. Dalam hal perbibitan tugas pemerintah mengembangkan bibit ternak khususnya ternak besar yang belum sepenuhnya dikuasai dan dilakukan oleh masyarakat, beda dengan ayam ras yang sudah sepenuhnya dilakukan oleh swasta atau asosiasinya. Sehingga timbul pertanyaan sekarang sudah tepatkah policy breeding untuk ternak besar dan kecil, serta operasionalisasinya di lapangan? Untuk itu pemerintah telah mendirikan berbagai UPT Pembibitan Ternak baik untuk menghasilkan benih dan bibit ternak.

Hasilnya setelah Indonesia 75 tahun merdeka, belum dapat melihat bahwasannya berbagai UPT tersebut benar-benar dapat menghasilkan bibit yang sebenarnya sesuai standar ilmiah. UPT kita lebih bersifat mengembangkan budi daya ketimbang menghasilkan bibit yang benar. Apakah hal ini kita teruskan dari generasi ke generasi tanpa akhir? Diperlukan keberanian untuk merevitalisasi fungsi-fungsi UPT tersebut agar tidak berada dalam zona nyaman seperti sekarang ini, karena sistem perbibitan ternak dan berbagai perangkat aturan dan ketesediaan sumber daya manusia pembibitan telah kita miliki serta didukung dana memadai, sehingga sayang sekali hal tersebut belum dimanfaatkan dengan benar.

Refleksi dalam bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakatnya veteriner memang telah menunjukkan adanya perubahan berarti dalam berparadigma. Paradigma lama yang terkenal yaitu maximum security, artinya sama sekali tidak boleh masuk ternak ataukah produk-produk ternak dari negara yang belum bebas dari daftar penyakit list A OIE. Perlakuan ini kemudian berganti menjadi zone base tidak lagi country base. Jadi kemungkinan Indonesia untuk impor atau ekspor ternak dan produknya menjadi terbuka dari berbagai negara. Perubahan kebijakan ini dipandang sebagai langkah cukup berani karena di lain pihak dapat memutus kartel, monopoli perdagangan internasional ternak dan produknya yang selama ini terjadi.

Tetapi, di dalam negeri sendiri kesehatan hewan dihadapkan pada kegiatan program pemberantasan penyakit menular strategis yang tidak pernah tuntas. Contoh program pembebasan penyakit Antraks, Rabies, SE, Jembrana dan belakangan timbul emerging diseases seperti Flu Burung dan African Swine Fever. Pembebasan negara dari suatu penyakit dengan memakai pola seperti sekarang ini rasanya tidak memadai lagi, malahan penyakit tersebut sudah menjadi keseharian para peternak.

Diperlukan pola lain yaitu lebih banyak melibatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangannya dari sejak mitigasi dan pencegahan penyakit sampai ke tingkat pemberantasan dan pengendaliannya, daripada mengatakan bahwa tugas pengendalian dan pemberantasan itu semata tugas pemerintah. Analisis resiko dapat menjadi beban bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Hentikanlah pendapat bahwa tugas-tugas kesehatan hewan itu selalu menjadi domain pemerintah, diganti menjadi tugas kolaborasi antara masyarakat peternak dan swasta serta seluruh stakeholder yang ada. Perlu perubahan pola pikir bahwa penanggulangan penyakit itu bukan untuk memuaskan hati pejabat dan pimpinan, tetapi untuk kepentingan client kita yaitu para peternak dan masyarakat. Oleh karena itu, perbanyak program yang melibatkan masyarakat, karena tugas menjadi enteng kalau melibatkan masyarakat.

Muhasabah ini ditujukan tidak saja kepada pemerintah dan para pemangku kepentingan, tetapi juga kepada diri penulis yang pernah ikut mengalami pasang surutnya birokrasi PKH dari dulu hingga sekarang. Remembering the past and Reinventing the Future untuk merajut masa depan peternakan dan kesehatan hewan Indonesia. Selamat Hari Lahir Peternakan dan Kesehatan Hewan Indonesia. ***



Ditulis oleh: M. Chairul Arifin
Pegawai Kementan (1979-2006),
Staf Perencanaan (1983-2005),
Tenaga Ahli PSDS (2005-2009)

HUT ISPI KE-52 TAHUN: BERSAMA BANGUN PETERNAKAN INDONESIA

Koordinasi Nasional dan HUT ke-52 Tahun ISPI yang dilakukan secara daring, Rabu (26/8/2020). (Foto: Dok. Infovet)

Berbarengan dengan Hari Kebangkitan Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diperingati pada Agustus-September tiap tahunnya, Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) turut menyelenggarakan hari jadinya dengan menggelar pertemuan secara daring “Koordinasi Nasional dan HUT ke-52 Tahun ISPI” konsolidasi organisasi dan menetapkan langkah bersama untuk pembangunan industri peternakan Indonesia, Rabu (26/8/2020).
“Tidak terasa perjalanan ISPI sudah mencapai usia 52 tahun dalam mengoptimalkan potensi pembangunan peternakan dalam negeri. Banyak dinamika yang terjadi dengan bermacam karakter yang dinamis kita tetap berupaya memberikan gagasan yang strategis dan konstruktif. Sudah saatnya kita berdiri sendiri membangun industri peternakan dalam negeri di era globalisasi,” ujar Ketua Umum PB ISPI, Ir Didiek Purwanto dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan perlunya bahu-membahu seluruh elemen dalam pembangunan sektor peternakan dan kesehatan hewan Tanah Air.
“Mari kita bersinergi bersama, tidak ada lagi dikotomi antara peternakan dan kesehatan hewan. Kita bergandengan bersama untuk membangun kemajuan industri peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia,” ucapnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Drh M. Munawaroh, yang turut hadir dalam acara.
“Kita bisa saling membantu, diharapkan ke depan kita bisa terus bersinergi dengan ISPI. Mari kita selalu berkoordinasi dalam mendampingi pemerintah mengambil kebijakan yang bermanfaat, selain mampu memberikan pemenuhan protein hewani bagi masyarakat,” kata Munawaroh.
“Ini menjadi momentum yang luar biasa, semoga ISPI semakin maju dan berkembang. Tentunya ini menjadi kebanggan tersendiri.”
Apresiasi lain juga datang dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, Ir Nasrullah, melalui video singkatnya.
“Semoga ISPI semakin solid dan lebih nyata lagi dalam membangun sektor peternakan di Indonesia, khususnya di era pandemi COVID-19 ini. Kami mengajak ISPI untuk bersama-sama membangun industri peternakan, ini menjadi kiprah nyata sarjana peternakan Indonesia. Bravo ISPI,” tukas Dirjen PKH.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08:30 WIB ini dihadiri sebanyak 120 peserta, diantaranya pemimpin cabang dan anggota ISPI yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, serta para tamu undangan, termasuk salah satunya pendiri ISPI Ir Ign Kismono. Peserta juga disajikan beberapa penayangan video tribute ISPI yang merangkum perjalanan dan kegiatan ISPI.
Pada kesempatan yang sama juga secara langsung dilakukan soft launching buku “Refleksi 50 Tahun ISPI” oleh ketua umum. Buku tersebut berisi mengenai sejarah perjalanan ISPI dari awal berdiri hingga saat ini dan visi ISPI di tahun mendatang. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi peningkatan peran dan eksistensi ISPI oleh para anggota. (RBS)

BIOSEKURITI, UJUNG TOMBAK KESEHATAN UNGGAS

Semua kendaraan yang ingin masuk ke kandang wajib dilakukan disinfeksi. (Foto: Istimewa)

Secara alamiah kemunculan kasus penyakit dalam suatu lingkungan peternakan ayam tidaklah terjadi secara mendadak alias revolutif, akan tetapi terjadi bertahap sesuai dengan interaksi antara bibit penyakit yang ada dengan ayam yang dipelihara. Pemahaman atas tulisan ini tentu saja akan mempermudah peternak untuk melakukan tindakan pencegahan penyakit dalam lingkungan peternakan secara efektif dan strategis.

Kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kondisi kemunculan kasus penyakit. Data dari BMKG untuk kondisi lingkungan pada Juni 2020 menyatakan sangat ekstrem perbedaan cuaca yang hujan lebat di Sumatra Utara dengan cuaca panas di Pulau Jawa.

Data yang dihimpun oleh tim Ceva Indonesia mengenai kasus penyakit yang dominan pada Juni 2020 untuk di Pulau Jawa dan Sumatra adalah sebagai berikut:

Broiler (Total 31 Kasus)

Layer (Total 54 Kasus)

CCRD (24%)

ND (16,7%)

NE (20%)

Helminthiasis (14,3%)

ND (16%)

AI H9 (11,9%)

Heatstroke (16%)

CCRD (9,5%)

DOC Quality (12%)

NE (9,5%)

 

Mikotoksikosis (9,5%)

CRD (9,5%)

Kali ini penulis ingin menitikberatkan kejadian kasus penyakit viral seperti yang ditampilkan data di atas yang masih menjadi momok menakutkan bagi para peternak. Kemunculan kasus penyakit viral tidak lain berkaitan erat dengan keberhasilan/kegagalan program biosekuriti.

Biosekuriti adalah program yang dirancang untuk melindungi ayam agar terhindar dari bibit penyakit dari luar dan agar bibit penyakit tidak menyebar keluar peternakan yang dapat menginfeksi peternakan lain. Maka dalam operasionalnya dikenal tiga konsep utama, yaitu pengendalian lalu lintas (transportasi), isolasi dan sanitasi.

1. Pengaturan Transportasi/Lalu Lintas

Pengaturan lalu lintas bertujuan menyeleksi agar barang-barang yang masuk ke lingkungan kandang hanyalah barang-barang yang benar-benar diperlukan. Yang boleh masuk diantaranya adalah bibit (DOC/pullet), ransum, air, peralatan yang penting, vaksin, obat disinfektan dan pekerja. Selain itu, semua kendaraan yang ingin masuk ke kandang wajib dilakukan disinfeksi terlebih dahulu.

Selain lingkungan yang bersih alias minim bibit penyakit, agar ayam yang dipelihara juga akan tetap sehat jika tidak ada induksi bibit penyakit baru ke lingkungan ayam yang dipelihara. 

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mencegah induksi atau kontak baru antara ayam yang dipelihara dengan bibit penyakit yang patogen, yaitu:... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020)


Ditulis oleh: Han (Praktisi peternakan layer) &

Drh Sumarno (Senior Manager AHS PT Sierad Produce)

KENAPA SREEYA MEMBUAT PAKAN DENGAN EKSTRAK NANAS?


Tantangan bisnis perunggasan ada 4 yaitu penyakit, performa, manajemen. Terakhir adalah pemerintah menetapkan non AGP, sehingga pakan tidak memakai AGP dan berefek performa di kandang menurun. Meskipun ada solusi seperti prebiotik namun jatuhnya lebih mahal.

Menjawab tantangan terkait pakan tersebut Sreeya Sewu Indonesia bekerjasama dengan GGP memproduksi pakan yang diberi ekstrak nanas.

Ekstrak nanas mengandung enzim bromelain yang sebenarnya adalah enzim protease. Enzim yang membuat pencernaan ayam menjadi sehat sehingga penyerapan nutrisi di usus jadi lebih baik

Enzim tersebut secara alami ada di pankreas jadi tidak berbahaya bagi tubuh. Selain itu kandungan vitaminnya tinggi dan mempunyai efek anti peradangan.

Sreeya telah mengaplikasikan pakan ekstrak nanas di kandang internal. Dimulai pada populasi kurang dari 1000 ekor kemudian ditingkatkan pada populasi yang lebih besar. Akhirnya pada Juni 2020 lalu mulai diaplikasikan ke free market.

Pada saat dicoba pada populasi kecil, hasilnya dalam 7 hari bobot ayam lebih tinggi, tapi sampai panen berat cenderung sama dengan pakan standar. Lalu dilakukan percobaan dalam skala besar, dan berat pada umur 21 hari ke atas lebih tinggi dari standar.

Feed intake lebih tinggi yang menunjukkan ayamnya sehat dan FCR lebih rendah. Tes yang dilakukan pada usus menunjukkan penyerapan nutrisi lebih baik. Di tingkat konsumen ayam yang diberi pakan ekstrak nanas cenderung lebih disukai secara aroma, tekstur, dan rasa.

(Sumber: Kelvin Mosara, Senior Manager Business Improvement/CRM, PT Sreeya Sewu Indonesia)

SERAPAN DAGING AYAM BERKURANG, PETERNAK DIMINTA TURUNKAN PRODUKSI

Pedagang daging ayam di Denpasar sepi pembeli 

Anjloknya harga daging ayam potong di pasaran saat ini disebabkan produksi berlebih di tengah permintaan yang menurun hingga 50 persen. Kondisi ini membuat pelaku usaha melakukan mulai mengurangi jumlah produksinya. Sehingga kerugian bagi peternak ayam bisa sedikit ditekan. Meski begitu, mengurangi produksi secara bersama-sama juga bukan upaya yang mudah.

Ketua Perhimpunan Isan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Broiler Bali Ketut Yahya Kurniadi mengatakan, mengurangi produksi bersama-sama itu bukan persoalan yang mudah. 

“Karena saat ini kondisi daya beli masyarakat menurun, sehingga diperlukan adanya kesepakatan antara peternak, baik perorangan ataupun perusahaan untuk menurunkan jumlah produksi,” jelasnya.

Saat ini, dikatakannya, jumlah ayam di peternak surplus, bahkan banyak ayam dengan berat 3 kilogram di peternak. Jika tidak ditata, maka akan terjadi ke depan, yang memiliki modal paling kuat akan bisa bertahan. Sementara peternak dengan modal pas-pasan akan sulit bertahan, hingga akhirnya berpengaruh terhadap pemutusan tenaga kerja.

Dengan demikian, Yahya mengatakan, pihaknya mengharapkan dukungan dari pemerintah untuk ikut mengendalikan produksi. Pengurangan produksi ini diharapkannya memang dirasakan dan diikuti semua peternak.

Disinggung soal pengendalian dari sisi DOC, Yahya menerangkan, itu memang penyelesaian yang bagus dengan memangkas produksi sumber (bibit). 

“Namun permasalahan yang terjadi di lapangan tidak sesimpel itu. Karena produksi doc di Bali saat ini sudah sangat mencukupi kebutuhan peternak dan kebutuhan pasar,” ungkapnya.

Saat ini, harga DOC di Bali lebih mahal dibandingkan DOC yang didatangkan dari Jawa. Hal ini diakuinya juga menimbulkan masalah baru. Tidak sedikit peternak yang bermain dengan mendatangkan DOC dari Jawa.

“Harga doc di Bali Rp 4.500 per ekornya. Sementara di Jawa Rp 2.500 per ekor. Ini menjadi sumber permasalahan, dan memancing peternak mengambil doc dari Jawa, sehingga produksi di Bali tetap surplus,” tambahnya. (INF)

COVID-19 MEREBAK DITJEN PKH LAKUKAN LOCKDOWN

Sejumlah ASN di Ditjen PKH positif terjangkit Covid-19


Kabar kurang mengenakkan kali ini datang dari Kementerian Pertanian. Pasalnya beberapa orang pegawai Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan terkonfirmasi positif Covid-19. Kabar ini awalnya datang dari pesan berantai melalui daring WhatssApp Group yang kemudian menyebar.

Menjawab hal tersebut Plt Sekretaris Jenderal Ditjen PKH, Makmun membenarkan kabar berita tersebut. "Iya betul hingga saat ini ada beberapa yang sudah positif, bukan hanya kami, ditjen perkebunan juga ada," tutur dia kepada Infovet.

Menanggapi hal ini Ditjen PKH akan melakukan lockdown selama tiga hari pada gedung C utamanya pada lantai 6-9 mulai dari tanggal 24-26 Agustus 2020. Selain itu juga akan dilakukan disinfeksi pada seluruh ruangan, mobil dinas, monil jemputan ditjen PKH dan uji Swab pada seluruh karyawan Ditjen PKH.

Pegawai yang sudah dinyatakan positif berdasarkan uji PCR juga telah diwajibkan melakukan isolasi mandiri serta tindak penanganan lainnya berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Mereka juga diwajibkan untuk melaporkan perkembangan penyakitnya kepada atasan langung yang nantinya akan langsung dilaporkan kepada Plt Sesditjen PKH.

Pada masa lockdown seluruh pegawai melakukan pekerjaannya dari rumah dan wajib melaporkannya sesuai dengan surat edaran sebelumnya terkait Work From Home. Sedangkan bagi pegawai yang dinyatakan negatif Covid-19 berdasarkan PCR dapat melakukan kegiatan pertemuan di luar kantor atau dinas luar kantor tanpa mengindahkan protokol kesehatan Covid-19. 

Sumber terpercaya lainnya menyebutkan bahwa sebanyak 15 orang ASN di Ditjen Peternakan dan Keswan yang terkonfirmasi positif PCR. Enam orang staf berasal dari Sesditjen PKH, lim orang dari Direktorat Pakan Ternak, satu orang dari Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, satu orang dari Direktorat P2HP, dan dua orang dari Direktorat Kesehatan Hewan. (CR)

PENTINGNYA SISTEM LOGISTIK HALAL PRODUK HASIL TERNAK

Training online mengenai logistik halal pada produk hasil ternak yang dilaksanakan FLPI dan Fapet IPB. (Foto: Istimewa)

Sistem logistik produk hasil ternak merupakan jasa atau layanan usaha yang terkait dengan penyembelihan, pengolahan, penyimpanan, pengemasan, pendistribusian, penjualan dan penyajian. Jasa logistik seperti itu sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 31/2019 yang merupakan turunan dari UU No. 33/2014 tentang jaminan produk halal (JPH), harus memiliki sertifikat halal. 

Sertifikasi jasa Logistik halal dimaksudkan untuk menjaga status kehalalan produk dalam ruang lingkup aktivitas logistik, yakni logistics cycle seperti serving customers, product selection and procurement, inventory management, storage and distribution, serving customers. Adapun fasilitas yang kontak langsung dengan produk harus bersifat bebas babi dan bebas produk non-halal.

Hal itu disampaikan Senior Advisor LPPOM MUI sekaligus Dosen Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Dr Ir Muslich MSi dalam Training Online tentang logistik halal pada produk hasil ternak. Acara berlangsung pada Rabu (19/8/2020), diselenggarakan Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB.

Lebih lanjut Muslich menjelaskan, dalam melakukan aktivitas logistik harus bebas babi, maksudnya adalah fasilitas tidak pernah kontak dengan bahan turunan babi (Porcine-Derived Material/PDM).

“Jika pernah kontak dengan PDM, maka harus dicuci tujuh kali dengan air dan salah satunya menggunakan tanah, debu atau cleaning agent hingga warna, bau dan rasanya. Setelah pencucian ini fasilitas tidak boleh lagi kontak dengan PDM,” kata Muslich.

Dalam hal fasilitas penyimpanan dingin untuk daging dan produk olahannya, hal itu harus bersifat khusus (dedicated). Fasilitas penyimpanan dingin dan suhu biasa untuk produk selain daging dan produk olahannya boleh digunakan untuk menyimpan bahan atau produk halal dan produk yang tidak disertifikasi selama dapat menjamin bahwa tidak ada kontaminasi produk non-halal. 

“Produk yang ditangani juga harus diidentifikasi dengan jelas agar dapat ditangani sesuai standar, seperti identifikasi produk yang jelas halal seperti aneka produk buah dan sayur, serta produk yang telah bersertifikat halal,” jelasnya. 

Ia menandaskan, untuk menjaga logistik halal, perusahaan harus pula mempunyai prosedur tertulis untuk menjamin terjaganya status halal produk di setiap tahapan proses bisnis, sejak dari transportasi dan penerimaan, penanganan (handling), penyimpanan, saat proses berjalan, hingga transportasi produk.

“Prosedur tertulis juga harus dimiliki dalam hal ketertelusuran produk, penanganan produk yang tidak sesuai kriteria, training dan audit internal, serta kaji ulang manajemen,” pungkasnya. (IN)

SREEYA SMART FARM SOLUTION, WAJAH PETERNAKAN DI MASA DEPAN

Kandang closed house bertujuan agar keadaan di dalam kandang bisa dikondisikan dengan baik. Contohnya adalah suhu dimana mempunyai kebutuhan kenyamanan yang berbeda dalam pertumbuhannya. Misalnya anak ayam membutuhkan suhu 34 derajat tapi ketika sudah berumur tiga puluh lima hari hanya butuh suhu 19 derajat.

Kunci mendapatkan produktivitas yang baik adalah dengan memberikan kenyamanan temperatur pada ayam. Agar ayam terhindar dari heat stress yang akan mengganggu pola makan mereka.

Dalam closed house hal tersebut bisa diatur dengan menyesuaikan heater dan kipas. Namun bagaimanapun closed house ada kekurangannya, yaitu:

  1. Pengumpulan data masih manual, diambil dan dicatat di kertas, kebanyakan diambil 2 x sehari sekitar jam 8 pagi dan 3 sore.
  2. Pengoperasian kipas masih manual, misalny pengecekan jam 8 pagi suhu 30 derajat maka kipas diset berdasarkan suhu itu, masalahnya dari rentang jam 8 pagi hingga 3 sore temperatur tidak selalu sama, temperatur selalu bergerak. Maka dengan demikian kita tidak bisa mengontrol dengan baik.
  3. Respon terhadap farm monitoring masih inefisien dan tidak efektif, seringkali 1 operator memegang 2 sampe 3 kandang, mereka harus berpindah-pindah dari satu kandang ke kandang lain sehingga tidak efektif. Owner kandang pun jika ingin mengecek keadaan kandang musti telepon dulu, lewat chatting, dan sebagainya.
  4. Analisa data tidak efisien karena terbatasnya data yang dikumpulkan, sedangkan data itu sangat penting karena dari data bisa diketahui kondisi kesehatan ayam. Pengumpulan data dan analisa yang baik membuat pengambilan keputusan tidak terlambat.

Sreeya Sewu Indonesia menjawab 4 challenge di atas dengan Sreeya Smart Farm Solution:

Data gathering by sensors.

Pengumpulan data dilakukan secara digital, bisa disubmit di handphone, dan pengumpulan data banyak yang menggunakan sensor (misalnya untuk temperatur dan kelembaban).

Fan automation.

Dalam sehari bisa dapat 200 sampe 300 data temperatur, data dikirim ke internet/cloud dan dikirim serta diproses oleh suatu algoritma ke kipas. Kipas akan langsung menghitung seberapa besar kecepatan yang diperlukan. Data update tiap 10 menit karenanya fan automation juga bergerak per 10 menit.

Desktop and phone application.

Semua data di-compile di aplikasi handphone maupun laptop/pc dan bisa diakses oleh semua orang. Tidak hanya orang yang ada di kandang, owner yang di luar kandang pun bisa mengecek kandang langsung secara live.

Easy to use trend analytical dashboard.

Data mudah dilihat tren analisanya, misalnya perkembangan body weight bisa dilihat dari hari pertama sampai hari ke sekian.

Smart farming ini sudah diterapkan di kandang internal Sreeya dan kandang mitra. Hasilnya ada peningkatan IP antara 3 sampai 7%. (Sumber: Melvin Winata, Business Development Manager, PT Sreeya Sewu Indonesia)

KEKURANGAN JAGUNG MELUMPUHKAN INDUSTRI UNGGAS NIGERIA

Industri unggas Nigeria berada di ambang kehancuran dan dapat kehilangan sekitar N1 triliun (US $ 2,6 miliar) setiap tahun, serta mengancam setidaknya 1 juta pekerjaan.

Bank Sentral Nigeria mengeluarkan arahan pada bulan Juni yang melarang impor jagung. Namun, direktur program Lagos Business School Agribusiness Programme, menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat semakin memperparah kesengsaraan para peternak unggas mengingat jagung sangat langka dan, jika tersedia, sangat mahal.

Dua bulan kemudian Gbemisoye Agboola, ketua Poultry Association of Nigeria (PAN), atas nama banyak pemangku kepentingan di industri, termasuk Day Old Chicks Merchants Association of Nigeria, Livestock Industry Foundation for Africa (LIFA), dan Feed Millers Association of Nigeria, mengimbau presiden Nigeria Muhammadu Buhari untuk membantu menyelamatkan industri unggas.

Peternak di ambang kehancuran karena mereka tidak bisa mendapatkan jagung untuk menghasilkan pakan atau mereka tidak mampu membeli pakan jadi untuk memberi makan ayam mereka. Harga jagung, yang sebelumnya N80 / kg (US $ 0,21) pada Maret 2020, telah naik ke N180 / kg (US $ 0,47) hari ini dan masih terus meningkat.

Jagung adalah pakan utama di Nigeria, menempati porsi antara 50% hingga 70%. Permintaan jagung juga tinggi untuk konsumsi manusia. Hal ini, kata Agboola, telah mengakibatkan persaingan yang tidak sehat untuk mendapatkan makanan dan pakan yang penting ini.

PAN cabang negara bagian Oyo, meminta presiden untuk melonggarkan larangan impor jagung untuk jangka waktu sebelum musim tanam berikutnya.


PENTINGNYA ISTIRAHAT KANDANG MINIMAL 14 HARI

Istirahat kandang yang biasa dilakukan setelah panen sekilas seperti merugikan peternak, karena produksi terhenti. Namun justru pengosongan kandang itu bertujuan agar siklus pemeliharaan selanjutnya menjadi tetap produktif.

Setelah ayam dipanen di kandang akan banyak terdapat material seperti feses, bulu, dan lainnya juga bibit penyakit. Maka tahapannya biasanya kandang dibersihkan terlebih dahulu hingga benar-benar bersih. Kemudian kandang disemprot dengan disinfektan untuk meminimalkan bibit penyakit yang ada.

Setelah kandang bersih dan sudah didisinfeksi maka harus diistirahatkan selama minimal 14 hari. Jadi kandang dibiarkan sebisa mungkin benar-benar kosong. Jika harus ada aktivitas pekerja maka aktivitas itu sangat dibatasi.

Fungsi istirahat kandang sangat penting, karena untuk memutus siklus hidup bibit penyakit. Jika bibit penyakit hidup tidak menempel pada induk semang (ayam) dan tidak pada lingkungan yang ideal baginya, maka lama-kelamaan ia akan mati. Kalau tidak mati maka kemampuannya untuk menyerang ayam akan melemah.

Dihilangkannya atau dikuranginya waktu istirahat kandang bisa mengakibatkan kerepotan dan kerugian. Karena bibit penyakit akan terus ada dan penyakit yang sama akan terus berulang. Selain itu ayam yang dipelihara dengan jeda istirahat kandang imunitasnya lebih baik dibanding ayam yang dipelihara tanpa istirahat kandang.

Jadi istirahat kandang ini meski kelihatannya ‘merugikan’ tapi sebenarnya justru menguntungkan. (Sumber: forum pembaca Majalah Infovet)

DIRJEN PKH BERHARAP INFOVET BANYAK SOSIALISASIKAN KEGIATAN EKSPOR PETERNAKAN


Redaksi Infovet pada Selasa (18/8/2020) bertemu dengan Dr Ir Nasrullah MSc, yang pada 6 Agustus 2020 lalu dilantik sebagai Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang baru.

Pada pertemuan itu Nasrullah mengungkapkan keprihatinannya mengenai masyarakat selama ini tahunya Indonesia bisanya hanya mengimpor produk hasil peternakan saja.

Padahal di bidang peternakan Indonesia cukup banyak melakukan ekspor. Diantaranya adalah ekspor domba dan kambing ke Uni Emirat Arab sejak tahun 2018.

Pada tahun yang sama Indonesia juga mengekspor domba ekor tipis ke Malaysia. Kemudian pada 2019 ada permintaan kambing dari Timor Leste dan Malaysia. 

Tak kalah membanggakan adalah ekspor obat hewan yang sudah menembus 93 negara.

“Kami di Ditjen PKH berharap Majalah Infovet sebagai salah satu rekan media, dapat membuat satu kolom khusus yang memuat pemberitaan mengenai pencapaian ekspor sub sektor peternakan,” imbau Nasrullah, ditemui di ruang kerjanya, Gedung C Kementerian Pertanian Jakarta. (NDV)


BRITISH EGG ACADEMY DIDIRIKAN INGGRIS

Kurangnya SDM di industri telur Inggris telah mendorong salah satu pengecer besar negara itu untuk bergabung dengan akademisi, produsen, dan pemangku kepentingan untuk mendirikan British Egg Academy.

Meskipun industri telur Inggris bernilai lebih dari £1 miliar, hanya ada sedikit pelatihan yang tersedia saat ini.

Morrisons, supermarket terbesar ke-4 di Inggris, bekerja sama dengan Chippindale Foods dan 27 perusahaan industri telur untuk membantu mendirikan dan mempromosikan akademi ini di Bishop Burton College, dekat Beverley, Yorkshire.

Kualifikasi satu tahun, mulai Januari 2021, akan menjadi Diploma Level 2 Pertanian dengan pelatihan dan pembelajaran berbasis kerja dari perusahaan pendukung. Penilaian dilakukan melalui metode tradisional dan kontemporer seperti penilaian praktis dan tertulis serta pembelajaran campuran.

Pengalaman kerja merupakan bagian besar dari program dan juga mendapat peluang penempatan seluruh negeri.

GPS EAR TAG UNTUK MENGELOLA TERNAK SAPI

Perusahaan asal Belanda mOOvement mengembangkan GPS ear tag yang dapat digunakan peternak sapi di area yang luas untuk mengelola ternak mereka dari jarak jauh. Peternak bisa tahu di mana sapi mereka berada dan apakah kondisinya sehat.

GPS ear tag ini bekerja dengan cara pelacakan dan penelusuran. Dilengkapi baterai kecil bertenaga surya dan sekaligus solar panel kecil, ear tag mengirim sinyal ke antena yang terhubung ke satelit.

Data masuk ke cloud lalu dikirim kembali ke perangkat sehingga peternak bisa bisa memantau sapi-sapinya. Di masa mendatang ear tag ini dikembangkan agar dapat mengumpulkan dan mengirim lebih banyak data.

Produk ini populer di kalangan peternak di wilayah yang luas seperti Afrika bagian selatan, Australia, dan Amerika Selatan.

GPS ear tag dihubungkan ke antena dan beroperasi melalui LoRA network, yang menggunakan frekuensi radio. Jangkauannya 6 hingga 8 kilometer dan perangkat antena tidak lebih besar dari kotak sepatu.

Posisi optimal antena ditentukan sebelumnya, setelah itu dipasang pada ketinggian 10 meter. Jumlah antena yang dipasang tergantung pada luasnya area.

HARGA MATI BIOSEKURITI

Menggunakan masker dan sarung tangan merupakan penerapan biosekruti. (Foto: Istimewa)

Banyak peternak mungkin mengidamkan kandang closed house dengan segala peralatannya yang canggih dan efisien. Namun semua akan terasa percuma apabila tidak didukung oleh manajemen biosekuriti yang baik dan benar.

Di era non-AGP (antibiotic growth promoter) yang sudah berlangsung kurang lebih dua tahun ini, peternak sudah pasti mengerti bahwa performa ayam di lapangan sedikit berkurang ketimbang pada saat AGP masih boleh digunakan. Berbagai upaya dijajaki peternak dalam mendapatkan performa yang baik, bagi yang mampu akan membangun dan berinvestasi pada closed house, bagaimana dengan yang tidak?

Jangan buru-buru berkecil hati jika tidak dapat membangun closed house, ingat selalu bahwa penerapan biosekuriti yang baik juga akan mendongkrak performa ternak. Fokus beternak adalah membuat hewan senyaman dan sesehat mungkin agar performa mereka meningkat, baik layer maupun broiler.

Yang sering peternak lupakan yakni manajemen biosekuriti yang baik dan benar. Padahal dalam usaha budi daya unggas, manajemen biosekuriti sudah seperti mengucap "dua kalimat syahadat" dalam ajaran Islam alias wajib dilaksanakan dan sangat diproritaskan. Bukan tanpa alasan, hal ini karena biosekuriti merupakan benteng pertahanan utama dalam menghalau berbagai penyakit infeksius. Perlu diingat kembali bahwa prinsip biosekuriti adalah langkah-langkah pengamanan biologik yang dilakukan untuk mencegah menyebarnya agen infeksi patogen pada ternak.

Drh Muhammad Azhar selaku Sekretaris Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI), mengatakan bahwa biasanya kendala penerapan biosekuriti di lapangan paling utama adalah keengganan peternak sendiri.

“Kemitraan, integrator, bahkan peternak mandiri besar mereka pasti punya staf kesehatan hewan, punya program kesehatan hewan, punya program biosekuriti dan lainnya, tetapi kenapa performa jelek kadang menyalahkan hal lain? Bisa dibilang aplikasinya di lapangan yang kurang oleh petugas kandangnya, entah karena malas, lupa, atau apapun itu, harusnya tidak bisa ditolerir seperti itu,” tutur Azhar kepada Infovet.

Ia menambahkan, “Dalam beternak, bukan pemberian obat, antibiotik atau jamu, yang penting itu bagaimana caranya ayam sehat. Percuma juga kalau kita berikan obat terus tapi performa enggak bagus-bagus, malah bahaya buat yang makan (daging ayam). Ini peternak yang sering mindset kaya gitu.”

Menurutnya, bahwa penerapan biosekuriti tidak hanya dapat diterapkan di farm, tetapi juga pada tiap komponen rantai pasokan, sehingga menjaga keamanan pangan yang dikonsumsi alias healthy from farm to table. 

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Irawati Fari. Menurutnya, era non-AGP kini penerapan biosekuriti harus digalakkan. “Kemarin masih ada AGP cukup terbantu peternak, namun karena peraturannya sudah begini (dilarang), mau bagaimana? Ya dari dulu sih harusnya biosekuriti itu diaplikasikan dengan baik, bukan sekarang-sekarang saja,” kata Ira.

Ia menyebut bahwa dirinya beserta perusahaan tidak henti-hentinya menggalakkan aplikasi biosekuriti yang baik pada peternak. Apalagi ketika kondisi wabah COVID-19 merebak, seharusnya… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020) (CR)

TARGET BESAR SUMATERA UTARA MENJADI LUMBUNG DOMBA KAMBING NASIONAL 2023

Wagub Sumatera Utara (Tengah) bersama Safwan Khayat dan drh Adil dikala kunjungan silaturahmi ke peternak kambing domba (sumber : Adil)


Domba dan kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari permintaan pasokan domba dan kambing dari provinsi terdekat serta dari negara tetangga, Malaysia. Indonesia melalui Sumatera Utara sudah beberapa kali mengekspor domba ke Malaysia. Hal ini merupakan indikasi bahwa domba kambing Sumatera Utara memiliki kualitas dan daya saing kuat di pasar internasional. 

Menghadapi tingginya demand tadi, produktivitas peternakan domba dan kambing tentunya perlu ditingkatkan. Hal ini sesuai dengan arahan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara untuk membuat Sumatera Utara sebagai Lumbung Ternak Domba Kambing Nasional 2023. Peternak domba kambing perlu diberikan fasilitas dan akses terhadap kemudahan dalam beternak. Hal ini akan menumbuhkan kepercayaan tersendiri bagi peternak domba dan kambing.

Menyongsong target yang dicanangkan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara dalam hal Lumbung Ternak Domba Kambing Nasional 2023 tersebut, Kapala BNN Serdang Bedagai Safwan Khayat, menginisiasi Silaturahmi peternak domba kambing Sumatera Utara. Selain menjabat sebagai Kepala BNN, Safwan juga merupakan peternak domba di Kota Binjai. Acara silaturahmi ini dimaksudkan agar membuka diskusi antara peternak domba kambing di Sumatera Utara dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. 

Silaturahmi Peternak Domba Kambing Sumatera dilaksanakan pada Sabtu (15/8)di Az Zahra Farm, Jl. Samanhudi, Pasar VI, Kec. Binjai Selatan, Kota Binjai. Acara ini merupakan silaturahmi yang kedua setelah tahun lalu dilaksanakan di Kab. Batu Bara. Acara silaturahmi ini dihadiri oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah, Walikota Binjai Muhammad Idaham, Bupati Langkat Terbit Rencana Perangin-Angin, serta seluruh perangkat dinas baik tingkat Provinsi Sumatera Utara serta tingkat Kota Binjai dan Kab. Langkat. Acara ini juga menghadirkan drh. Bobby Benedictus Chrisenta yang merupakan salah satu dokter hewan praktisi sekaligus peternak domba dan kambing di Kab. Karo.

Agenda utama silaturahmi tersebut adalah menghimpun masukan dari peternak domba kambing Sumatera Utara dan menggali fakta di lapangan yang dihadapi oleh para peternak. Silaturahmi ini memberikan kesempatan kepada para peternak domba kambing memberikan saran dan masukan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam mengambil kebijakan-kebijakan terkait peternakan domba dan kambing.

“Acara silaturahmi seperti ini sangat bagus. Melalui acara silaturahmi ini, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memperoleh bahan masukan terhadap kebijakan-kebijakan atau program-program peternakan yang sudah, sedang dan akan ditetapkan. Pada akhirnya Pemerintah mampu memberikan kenyamanan dan keuntungan untuk para peternak sehingga mampu menggenjot produksi ternak, sehingga Sumatera Utara Lumbung Domba Kambing Nasional 2023,” ungkap Musa Rajekshah, dalam sambutannya.

“Peternak domba dan kambing di Sumatera Utara bisa dikatakan merupakan peternak yang mandiri dan bisa belajar sendiri. Peternak memang butuh sosialisasi terkait ilmu dasar serta kebutuhan beternak, seperti obat-obatan hewan, pakan hewan, dan lain-lain. Namun yang lebih dibutuhkan oleh peternak domba kambing adalah akses kepada pemerintah,” ungkap Safwan Khayat.

“Dengan akses yang terbuka, saya yakin peternak domba kambing bisa bersinergi dengan Pemerintah dengan sangat baik. Sinergi yang sangat baik ini, saya yakin Sumatera Utara Lumbung Domba Kambing Nasional 2023 bisa tercapai,” tambah drh. Bobby.

Usaha-usaha yang dapat diturunkan dari ternak domba dan kambing cukup beragam. Mulai dari akikah, kurban, makanan berbahan dasar daging domba/kambing, kulit, serta susu. Secara pribadi dalam acara silaturahmi tersebut, drh. Adil Harahap memperkenalkan produk olahan susu kambing kepada Wakil Gubernur Sumatera Utara.

“Ini merupakan susu kambing yang dihasilkan oleh peternak-peternak binaan saya di Kota Tanjungbalai dan Kab. Asahan. Susu kambing ini sudah melewati proses pasteurisasi. Pasteurisasi merupakan proses pengolahan susu yang bertujuan untuk membunuh organisme pathogen (merugikan), seperti bakteri, protozoa, kapang, dan khamir, sehingga susu ini aman dikonsumsi dan memberikan manfaat yang sangat baik untuk tubuh kita,” ungkap drh. Adil Harahap secara pribadi kepada Wakil Gubernur.

“Saya cukup terkesan dengan susu kambing yang sudah saya minum tadi. Saya senang ada produk-produk seperti ini di Sumatera Utara, apalagi produk ini dihasilkan langsung oleh peternak Sumatera Utara. Produk seperti ini dapat menghasilkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan taraf ekonomi masyarakat secara langsung. Selain itu, susu ini akan menciptakan masyarakat dengan tubuh yang sehat dan gizi terpenuhi,” ungkap Musa Rajekshah. 

“Saya akan dukung penuh dan bantu drh. Adil Harahap dan Bapak Safwan Khayat dalam mengurus proses perizinan di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) di Kementerian Pertanian. Bantu saya dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk membuat hal seperti ini juga, tapi dalam skala yang lebih besar, yaitu skala Provinsi Sumatera Utara,” tambahnya.

Sekedar informasi, susu kambing merupakan susu yang dihasilkan oleh kambing betina setelah menghasilkan susu kolostrum. Susu kambing memiliki nilai protein yang cukup tinggi dan dipercaya berkhasiat untuk tubuh dan gangguan kesehatan.  Susu kambing diyakini memiliki lebih banyak khasiat seperti kecernaannya yang tinggi, alergenisitas yang rendah, komposisi kimia bermanfaat, dan lebih mirip dengan susu manusia dibandingkan susu sapi. Susu kambing dapat menjadi salah satu susu alternatif selain susu sapi yang saat ini menjadi susu komersial. 

Beternak kambing perah mulai dilirik oleh masyarakat Sumatera Utara. Hal ini disebabkan karena permintaan pasar dan nilai ekonomi yang cukup tinggi di Sumatera Utara. Semoga dengan berkembangnya ternak kambing perah di Sumatera Utara dapat memberikan peningkatan ekonomi bagi masyarakat serta manfaat kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsinya. (Adil/INF)

PROTAS: SOSIALISASI PERMENTAN NO. 45/2019 DAN SIMPOL

PROTAS sosialisasi Permentan No. 45/2019, aplikasi SIMPOL dan kebijakan baru lainnya. (Foto: Dok. Infovet)

Rabu, 19 Agustus 2020, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali menggelar Program Temu Anggota ASOHI (PROTAS) melalui aplikasi zoom. Kegiatan kali ini fokus pada sosialisasi Permentan No. 45/2019 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik di Bidang Pertanian, aplikasi SIMPOL (Sistem Informasi Pendaftaran Online) obat hewan dan aturan baru lainnya.

“Di situasi COVID-19 ini pemerintah tetap produktif terkait banyaknya kebijakan baru. Tapi kami rasa perlu ada kejelasan kembali dari pemerintah khususnya pada Permentan 45, karena ini menjadi hot issue di kalangan industri obat hewan. Saya harap lewat PROTAS kali ini kita bisa berdiskusi untuk mencari solusi sesuai harapan kita bersama,” ujar Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari.

Hal senada juga disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal ASOHI, Drh Forlin Tinora, yang menjadi moderator. “Banyak aturan pemerintah yang bagi anggota ASOHI masih perlu di-review kembali, salah satunya Permentan 45 ini.”

Sebelumnya ASOHI melalui surat resminya telah memberikan masukan kepada Direktorat Kesehatan Hewan (Ditkeswan), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, terkait Permentan No. 45/2019 pada Pasal 77 ayat 1 bagian f nomor 4: menyebutkan mencantumkan persyaratan sertifikat Good Manufacturing Practice (GMP) untuk pemenuhan komitmen pendaftaran obat hewan jadi dan Pasal 96 ayat 1 bagian a nomor 9: mencantumkan persyaratan untuk sertifikat GMP untuk pemenuhan komitmen pemasukan bahan baku obat hewan.

Berdasarkan informasi dari anggota ASOHI, bahwa anggota yang melakukan pendaftaran obat sediaan feed additive, biologik dan biologik kit, serta bahan baku teregistrasi ditolak pada tahap proses verifikasi karena tidak melampirkan sertifikat GMP. Setelah dilakukan pendataan, di beberapa negara seperti USA, Eropa, Korea, China dan lain-lain, tidak menggunakan sertifikat GMP, melainkan Fami-QS atau FCA (Feed Chain Alliance) untuk feed additive dan bahan baku, serta sertifikat ISO untuk biologik kit. Untuk itu diajukan permohonan kepada pemerintah agar meninjau ulang Permentan dan menambahkan bahwa sertifikat Fami-QS, FCA untuk feed additive dan bahan baku, serta ISO untuk biologik kit dapat diterima sebagai alternatif yang setara dengan GMP.

Hal itupun langsung ditanggapi Ditkeswan melalui surat resminya kepada ASOHI. Berdasarkan pertimbangan bahwa FAMI-QS, FCA maupun ISO diterbitkan oleh pihak ketiga yang merupakan lembaga sertifikasi non-pemerintah di negara asal, maka pemenuhan persyaratan GMP harus dipenuhi dengan melampirkan surat pernyataan dari otoritas negara asal yang memuat informasi bahwa produsen tersebut telah menerapkan GMP berdasarkan sertifikasi yang telah diperoleh produsen (FAMI-QS, FCA atau ISO) dan melampirkan FAMI-QS, FCA atau ISO yang dimiliki produsen yang masih berlaku.  

Pemenuhan persyaratan GMP sebagaimana persyaratan di atas juga berlaku untuk pemasukan obat hewan sesuai Permentan No. 45/2019 Pasal 96, terutama untuk pemasukan feed additive, bahan baku obat hewan yang negara asalnya memberlakukan FAMI-QS, FCA dan untuk negara asal yang memberlakukan ISO untuk produk biologik kit.

“Pemerintah terus berupaya menjamin mutu dan kualitas obat hewan agar aman bagi ternak dan manusia, juga agar dapat berdaya saing di pasar internasional. Kita harapkan sinergi dan dukungan ASOHI untuk terus memberi masukan agar pelayanan kami tetap berkualitas dan tetap menjadi mitra yang baik,” ujar Kepala Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Drh Maidaswar, yang turut hadir dalam PROTAS.

Kegiatan yang dihadiri sebanyak 236 peserta ini turut menampilkan pembicara Kasubdit POH, Drh Ni Made Ria Isriyanthi yang membahas kebijakan di bidang obat hewan dan Ketua Umum ASOHI yang menampilkan dinamika dan proyeksi industri obat hewan di tengah pendemi COVID-19. (RBS)

TRAINING ONLINE SOAL MENGOLAH LIMBAH PETERNAKAN

Memanfaatkan limbah kotoran ternak dengan tepat bisa menguntungkan. (Foto: Istimewa)

Meningkatnya permintaan pangan asal ternak seperti daging, susu dan telur telah mengakibatkan adanya perbesaran skala usaha, perubahan dari sistem ekstensif ke sistem intensif, serta adanya akumulasi jumlah kotoran. Hal tersebut mengakibatkan masalah lingkungan, jika limbah ternak tersebut tidak dikelola dengan baik.

“Limbah peternakan merupakan semua buangan dari usaha peternakan berupa limbah padat (solid), cair (liquid) dan gas (gaseous),” kata Dosen Fakultas Peternakan IPB, Dr Ir Salundik, dalam Training Online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB dengan tema “Satwa Harapan, Harapan Satwa#3: Teknologi Limbah Peternakan, Efisiensi Produksi Maggot dan Cacing Tanah” Sabtu (15/8/2020).

Lebih lanjut Salundik memaparkan, limbah ternak dapat dikategorikan dalam bentuk cair (hingga 5% padatan), lumpur/semi padat (5-25% padatan), padat (lebih dari 25% padatan) dan gas.

“Menghadapi banyaknya limbah maka harus dilakukan perencanaan pengelolaan dan pengolahan limbah, yang meliputi penentuan sistem dan tipe pengolahan limbah, penentuan ukuran (skala), lokasi pengolahan, fasilitas pengolahan, biaya instalasi dan manajemen proses pengolahan,” jelasnya.

Manfaat dari adanya pengelolaan dan pengolahan, lanjut dia, adalah untuk mengurangi potensi pencemaran yang meliputi fisik, biologi dan kimia, serta untuk meningkatkan atau menambah nilai guna limbah, sehingga memiliki nilai ekonomi.

“Dengan demikian bagi yang telah mendapatkan manfaat positif limbah peternakan, maka kotoran ternak yang menjijikkan dan bau, bagi mereka baunya seperti bau uang,” tukasnya. (IN)

PENGGUNAAN DRONE UNTUK PETERNAKAN SAPI


Mengelola area ternak yang luas dan memantau ternak adalah pekerjaan yang memakan waktu. Namun, dengan adanya drone atau Unmanned Aerial Vehicles (UAV) hal itu bisa diatasi.

Penggunaan drone untuk memantau ternak sapi perlahan mulai digunakan di beberapa negara. Israel dan Australia saat ini kabarnya sudah menggunakan banyak cattle monitoring drone.

Drone dapat digunakan untuk menghitung jumlah hewan, memantau hewan yang sakit, memantau perilaku hewan yang tidak biasa, kelahiran anak sapi, dan sebagainya. Menggunakan drone untuk memantau ternak dapat memberikan hasil yang lebih cepat, fleksibel, dan lebih banyak waktu untuk fokus pada aktivitas penting lainnya.

Para peneliti telah mengembangkan cara penggunaan drone di peternakan selama beberapa tahun terakhir. Sebuah studi oleh Jung dan Ariyur (2017) berhasil menggunakan empat drone quadcopter untuk menggiring ternak ke kandang dengan menggunakan perangkat pembuat kebisingan yang dipasang pada drone.

Menghitung ternak menggunakan drone adalah aplikasi populer lainnya untuk menghemat waktu dan memberikan manajemen peternakan yang lebih baik. Namun, kesalahan penghitungan dengan drone dapat terjadi karena pergerakan sapi dan tipe lanskap (padang rumput yang lebat, rumput kering, lahan kosong, dsb).

Drone komersial untuk peternakan sapi sudah tersedia di pasaran, misalnya DJI dan Barger Drone. Dilengkapi dengan sensor, software, dan beberapa opsi untuk memantau ternak.

Barger Drone menyediakan fitur seperti penerbangan otomatis ke tangki air untuk memeriksa ketinggian air, menggembalakan ternak, memeriksa pagar, dan aplikasi seluler yang memungkinkan ponsel menganalisis foto yang diambil oleh drone.

DJI juga menyediakan fitur serupa dan selain itu memiliki opsi untuk menambahkan kamera termal yang dapat melihat sapi di bawah kanopi pepohonan, membedakan hewan dari sumber panas lainnya, dan juga dapat berguna dalam mendeteksi predator di dekatnya. (Sumber: dairyglobal.net)

PETERNAK LAYER INGGRIS MEMAINKAN MUSIK UNTUK AYAM-AYAMNYA


Glenn Hart adalah peternak layer di UK yang selama 4 tahun ini ‘menerapi’ 60 ribu lebih ayamnya dengn musik. Ia yakin musik yang tepat dapat menurunkan kecemasan dan stres pada ayam.

Ayam perlahan-lahan diperkenalkan pada musik, yang dimainkan pada waktu-waktu berbeda dalam sehari untuk membantu mengontrol rutinitas makan dan tidur mereka.

Glenn mengatakan hasilnya ayam menjadi jauh lebih tenang. Namun dari segi produktivitas memang belum ditemukan musik secara langsung bisa meningkatkan produksi telur. Lebih lanjut Glenn menuturkan musik yang diputar sebaiknya bervariasi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa jumlah floor eggs berkurang saat musik dimainkan di kotak kandang karena suara musik menarik ayam ke sana. Artinya para pekerja tidak perlu meluangkan waktu untuk mengambil telur di lantai dan dapat lebih fokus pada pekerjaannya. (Sumber: poultryworld.net)

WEBINAR SERIES #1 INDO LIVESTOCK EXPO & FORUM


WEBINAR SERIES #1 INDO LIVESTOCK EXPO & FORUM – Road To The Most Comprehensive Livestock Event 2021
Tema:
INDO LIVESTOCK AWARD WINNER EXPERIENCES
Pandemi Covid-19 Sebagai Momentum Perbaikan Usaha Peternakan di Indonesia
Sambutan:
Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc. * (Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,  Kementerian Pertanian RI)*
Keynote speaker:
Prof. Dr. Ir. Muladno, MSA. (Guru Besar IPB, Dewan Pembina YAPPI, Anggota AIPI, Dirjen PKH Periode 2015 – 2016)
Moderator: Ir. Setya Winarno (Pengurus YAPPI)
Narasumber:
  1. Hidayatur Rahman  (Owner Jatinom Indah)
  2. Slamet Wuryadi (Praktisi Peternakan Puyuh, Duta Petani Milenial Pembangunan Pertanian Kementan RI)
Hari, Tanggal : Senin, 31 Agustus 2020
Waktu : 14.00 – 16.00 WIB
Platform : Aplikasi Zoom
REGISTRASI: https://bit.ly/INDOLIVESTOCK2021
* peserta diharapkan sudah bergabung 15 menit sebelum webinar dimulai
* agenda dan pembicara dapat berubah tanpa pemberitahuan sebelumnya
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
  • Jessy Kamelanti : +62 85759990403 / jessy@napindo.com
  • Anita Mira Saraswati : +62 81295364613 / anita.ms@napindo.com 
  • Septia Rahayu : +62 878 8145 8635 /  septia.napindo@gmail.com
Atas partisipasi dan kehadirannya, kami mengucapkan terima kasih

BIOSEKURITI, GARDA TERDEPAN KESEHATAN UNGGAS

Disinfeksi sebelum masuk dan keluar kandang. (Foto: Infovet/CR)

Biosekuriti merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha budi daya peternakan ayam. Biosekuriti ini pada prinsipnya merupakan serangkaian program dalam rangka meminimalkan kontak dengan unggas lain dan membatasi kontak dengan manusia yang akan memasuki areal peternakan. Dengan mewabahnya berbagai penyakit unggas pada akhir-akhir ini, maka program biosekuriti menjadi mutlak dan penting untuk dilakukan secara benar dan teratur.

Manajemen Biosekuriti

Dalam manajemen biosekuriti, sasaran utama adalah mencegah kontaknya ayam dengan agen infeksius berupa virus, bakteri, parasit dan jamur. Untuk itu, pada setiap unit farm peternakan, perlu dibuat prosedur standar operasional (SOP) biosekuriti yang baku.

Terdapat tujuh tahapan pembuatan SOP biosekuriti: 

• Menentukan sasaran biosekuriti, misal terhadap Avian influenza (AI), Gumboro, Mikoplasma, E. coli dan lain-lain.

• Memilih cara pengendalian yang sesuai dengan kondisi dan sumber potensial agen infeksi di masing-masing unit farm. 

• Membuat SOP yang bersifat spesifik untuk masing-masing unit farm dan melakukan pelatihan berkesinambungan untuk seluruh pekerja, agar SOP yang telah dibuat dapat dipahami dan dilaksanakan secara baik dan benar.

• Mencatat dan mendokumentasikan seluruh tindakan operasional biosekuriti dan secara berkala dilakukan pemeriksaan/audit. Catatan ini meliputi pelaksanaan vaksinasi, jadwal kontrol binatang pengerat, pencatatan buku tamu, pemberian disinfektan dan lain sebagainya.

• Memonitor efektivitas operasional biosekuriti dan memastikan bahwa mekanisme biosekuriti yang dibuat untuk mencegah agen infeksi dapat bekerja dengan baik.

• Meninjau status kesehatan ayam. Dengan adanya pencatatan tindakan biosekuriti, maka catatan tersebut dapat selalu dibandingkan dengan data statistik produksi maupun data deplesi. Bila terdapat permasalahan produksi ataupun deplesi, dapat diartikan bahwa perlu ada pembenahan pada SOP bisekuriti.

• Meninjau kembali sasaran biosekuriti, yang merupakan proses lanjutan untuk menentukan apakah langkah-langkah biosekuriti yang sudah ditetapkan perlu ada perubahan atau tidak.

Program Biosekuriti, Perlindungan dari Luar Meliputi:

1. Kontrol Lalu Lintas Orang dan Kendaraan

- Mengunci pintu gerbang/menempatkan penjaga pintu.

- Hanya ada satu jalan untuk keluar-masuk.

- Disinfeksi pengunjung, dipping kaki, mencuci tangan, semprot, mandi.

- Memakai baju, sepatu, topi penutup kepala khusus.

- Untuk kendaraan, bersihkan semua kotoran yang ada di bak, roda dan sekitarnya. Semprot dengan air tekanan tinggi pada celah-celah bagian bawah, agar bahan-bahan organik bisa lepas dan bersih.

- Lakukan penyemprotan dengan… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020)


Drh Yuni

Technical Department Manager

PT ROMINDO PRIMAVETCOM

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer