-->

TEMU KANGEN KLVI, WUJUD AKTUALISASI DIRI PARA DOKTER HEWAN SENIOR

Momen foto bersama Ketua Umum KLVI, Dirkeswan, pihak Vaksindo (Foto-foto: Infovet/NDV)

Para dokter hewan senior yang tergabung dalam Paguyuban Keluarga Lansia Veteriner Indonesia (KLVI) menyelenggarakan acara temu kangen dan berkumpul di Cafetaria PT Vaksindo Satwa Nusantara Plant 1, Bogor, Selasa (13/1/2026).

Pertemuan rutin ini sebagai perwujudan untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kesehatan mental, serta aktualisasi diri pada lansia tangguh (sehat, aktif, mandiri, produktif). Ketua Umum Paguyuban KLVI, Prof Dr Drh Fachryan Hasmi Pasaribu, mengatakan pertemuan ini rutin terlaksana setiap tiga bulan sekali.

"KLVI kami bagi menjadi lima sektor yaitu Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Bogor. Tahun lalu, pertemuan diadakan di Bandung. Mengawali 2026 ini, kebagian di Jakarta,” tutur Prof Fachryan sembari menambahkan bahwa paguyuban ini dalam proses transformasi sebagai organisasi. Program-program untuk jangka panjang juga tengah dirapikan.

Koordinator Paguyuban Keluarga Lansia Veteriner Sektor Jakarta, Drh Didi Aswadi MM, menyebutkan saat ini anggota paguyuban di sektor Jakarta sekitar 300 orang. Sementara jumlah anggota keseluruhan dari lima sektor mencapai 1.000 orang lebih yang aktif.  

Keanggotaan KLVI awalnya bersifat eksklusif dokter hewan, bertujuan sebagai media bersilaturahmi dan bertukar pikiran para dokter hewan senior Indonesia. Dilandasi semangat kekeluargaan dan persatuan, keanggotaan KLVI tidak terbatas hanya pada dokter hewan saja, akan tetapi juga anggota keluarganya.

KLVI digagas pertama kali oleh 13 orang dokter hewan senior dan secara resmi dibentuk pada 6 Juli 1996, di kediaman Drh Soetopo, di Jakarta. Para senior yang terlibat di antaranya 1) Drh Soetopo, 2) Drh Soekobagyo, 3) Drh Soetikno, 4) Drh Suwadi Sindurejo, 5) Drh Hutabarat, 6) Drh ZB Tafal, 7) Drh Markoen, 8) Drh Tamyis, 9) Drh Ishak, 10) Drh Dharmojono, 11) Drh Sugiri, 12) Drh IGN Teken Temadja, dan 13) Drh Martono. Di antara para pendiri tersebut, saat ini Drh Dharmojono menjadi satu-satunya pendiri awal yang masih mendampingi KLVI.

Layanan Konsultan

Dari kanan ke kiri: Dirkeswan Drh Hendra Wibawa MSi PhD, Dr Teguh Prajitno, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD bercengkrama sembari mengunjungi perkantoran PT Vaksindo Satwa Nusantara

Saat ini KLVI tengah mencanangkan program layanan profesional yang memberikan saran, bimbingan, analisis manajemen maupun memberikan pendampingan teknis guna meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta kesehatan hewan ternak.

“Nantinya tim konsultan dari KLVI memiliki tugas mulai dari merencanakan metode budi daya, merumuskan pakan, mengelola kandang, dan mengatasi masalah penyakit untuk memaksimalkan hasil dan keuntungan bisnis peternakan,” jelas Didi. 

Sementara ditambahkan juga oleh Fachryan, KLVI juga akan bekerja sama dengan perbankan dalam pembuatan kartu anggota (KTA) yang multifungsi.

“Melalui program ini, sinergi antara bank dengan KLVI diwujudkan dalam bentuk nyata yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh anggota. Selain itu, kartu ini juga berfungsi sebagai identitas resmi anggota KLVI,” lanjut Fachryan.

Saran Dokter Hewan Senior Dibutuhkan 

Kegiatan temu kangen diisi dengan keseruan bernyanyi bersama

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, yang hadir di dalam acara KLVI menyampaikan, “Menurut saya kegiatan seperti ini tidak hanya sekadar temu kangen maupun silaturahmi. Bagi kami yang berada dalam jajaran Ditjen PKH, keberadaan acara ini merupakan wadah bagi kami menimba ilmu dari para dokter hewan senior yang telah membangun fondasi sistem peternakan dan kesehatan hewan.”

Bukti dari kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan yang telah dibuat para senior ini adalah dimana tantangan yang dihadapi pada masa itu dengan keterbatasan sumber daya, mereka mampu buat konklusi yang signifikan untuk pembangunanan peternakan Tanah Air. 

“Salah satu monumental peristiwa yang patut kita contoh yaitu para dokter hewan senior ini sangat berperan dalam membebaskan Indonesia dari wabah PMK dan diakui Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau WOAH pada tahun 1990,” lanjut Hendra. 

Senada dengan Hendra, Head of Animal Health and Livestock Equipment Japfa (Vaksindo), Dr Teguh Yodiantara Prajitno, menuturkan para dokter hewan senior dalam KLVI ini telah merumuskan pilar, sekaligus pengalaman yang mereka lalui dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini..   

“Kami yang berada di sini saat ini, sudah diberikan rambu-rambu dan tinggal dikembangkan. Ketika terjadi outbreak penyakit, input-input para senior ini sangat penting,” tutur Teguh. 

Hubungan antargenerasi memegang peran penting dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan dari generasi ke generasi.

“Ketika kita bicara mengenai swasembada pangan, dibutuhkan suplai protein yang konsisten serta sustain. Kontrol keamanan pangan asal hewan di Indonesia terutama yang berkaitan dengan higienitas dan sanitasi, ujung tombaknya ada pada dokter hewan,” tandasnya.  

Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD dari Kementan menambahkan pada momen tertentu, para dokter hewan senior dilibatkan dalam kegiatan edukasi masyarakat mengenai gizi, dalam tata kelola program investasi sapi hingga saat terjadi outbreak PMK yang kembali melanda Indonesia.  

“Kami mengajak para senior untuk turut merespon kehawatiran masyarakat perihal kebijakan pemerintah, kemudian manfaat bagi stakeholder. Pesan atau perspektif yang mereka sampaikan, berbasis pengalaman dan jam terbang dalam menghadapi tantangan di industri peternakan dan kesehatan hewan,” pungkasnya. (NDV) 

PEMERINTAH BERENCANA ALOKASIKAN DANA TRILIUNAN KE SEKTOR PETERNAKAN SAPI

Sarasehan soal 4,8 T untuk peternakan sapi yang digelar di Unpad. (Foto: Istimewa)

Kini industri peternakan menjadi atensi pemerintah, terutama untuk pemenuhan gizi masyarakat melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan, dan swasembada pangan sesuai dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Beberapa produk peternakan yang harganya mudah dijangkau dan menjadi menu andalan program MBG adalah daging ayam dan telur. Namun memungkinkan pula jika daging sapi bisa menjadi variasi menu MBG satu kali dalam sepekan.

Setelah menggulirkan anggaran Rp 20 triliun untuk perunggasan, kini pemerintah juga berencana mengucurkan dana Rp 4,8 triliun untuk peternakan sapi sebagai dukungan atas program MBG untuk pasokan daging dan susu yang berkelanjutan. Strategi yang dibangun adalah pengembangan peternakan besar yang tersentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur.

Oleh karena itu, Badan Kejuruan Teknik Peternakan Persatuan Insinyur Indonesia (BKT PII) mengadakan sarasehan bertajuk “4,8 T Alokasi Anggaran Pemerintah di Sektor Peternakan Sapi, Mewujudkan Pasokan Daging dan Susu untuk Program MBG yang Berkelanjutan” di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/1/2026).

Kegiatan yang menghadirkan para stakeholder peternakan ini menjadi sangat penting untuk membahas arah penggunaan anggaran tersebut, potensi dampak terhadap rantai pasokan, kesejahteraan peternak rakyat, inovasi industri, pemerataan pembangunan antar wilayah, hingga mitigasi berbagai risiko teknis dan pasar.

Sarasehan dihadiri pemerintah pusat, pemerintah daerah dari luar Jawa, industri swasta, organisasi peternak, dan pelaku inovasi digital, untuk memperoleh pandangan komprehensif dan rekomendasi strategis. Dengan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertanian, BUMN, asosiasi industri susu, asosiasi koperasi persusuan, serta KADIN Indonesia.

Ketua BKT Peternakan PII, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSc PhD IPU ASEAN Eng APEC Eng, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dari rencana integrasi peternakan sapi berbasis anggaran Rp 4,8 triliun, serta mengurai tantangan struktural yang perlu diantisipasi pemerintah dan industri, sekaligus merumuskan rekomendasi yang membangun untuk kebijakan, investasi, dan penguatan kelembagaan peternak.

"Kemudian yang cukup penting mendorong kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan peternak,” ujarnya.

Pihaknya berjanji akan terus bersinergi dengan asosiasi peternakan untuk mengawal setiap anggaran dari pemerintah agar dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesejahteraan peternak.

“Selain itu memastikan generasi muda ke depan mudah mendapatkan akses dalam mengonsumsi protein hewani. Karena mereka merupakan generasi bangsa yang akan membangun Indonesia berikutnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan Unpad, Prof Dr Ir Rahmat Hidayat SPt MSi IPM, mengemukakan bahwa saat ini industri peternakan diibaratkan berada pada dua kaki. Kaki pertama di antaranya ketimpangan populasi antara jumlah ternak dan masyarakat Indonesia, produksi belum optimal, umur peternak umumnya sudah senior, dan tingkat pendidikan peternak dan partisipasi kelembagaan yang masih rendah.

Sedangkan, salah satu kaki lagi terkait kebijakan program MBG yang memacu permintaan produk peternakan. “Maka dengan kondisi ini tantangan sekaligus kesempatan bagi stakeholder peternakan,” katanya. (INF)

PERMINDO BAWA TUGAS MULIA PERJUANGKAN KEBERADAAN PETERNAK RAKYAT MANDIRI

Foto bersama para punggawa PERMINDO. (Foto: Infovet/Ridwan)

Rabu (14/1/2026). Bertempat di BMB Space Bogor, Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (PERMINDO), menggelar pertemuan bersama awak media dalam rangka memperkenalkan asosiasi yang baru dibentuk tersebut untuk memperjuangkan keberadaan peternak rakyat mandiri.

Mengawali pertemuan, Sekretaris Jenderal PERMINDO, Heri Irawan, memberikan apresiasi kepada para awak media yang hadir sekaligus memperkenalkan hadirnya PERMINDO dalam dinamika industri perunggasan Tanah Air.

PERMINDO sendiri dibentuk untuk memperjuangkan aspirasi dan memperkuat posisi peternak rakyat mandiri dalam wadah kolektif, serta mendorong kemandirian dan kesejahteraan mereka utamanya dalam kemudahan memperoleh sarana dan produksi ternak (sapronak), salah satunya terkait harga dan ketersediaan DOC.

Pihaknya pun berharap, keberadaan asosiasi ini dapat membantu peternak skala kecil mendapat perhatian untuk tetap mampu bertahan dan bertumbuh, serta menjaga sumber penghasilan mereka dalam ekosistem industri yang berkeadilan.

Tak hanya itu, ditambahkan juga oleh Ketua Umum PERMINDO, Kusnan, bahwa hadirnya asosiasi ini juga membawa misi mulia, yakni memberikan edukasi kepada anak-anak muda agar mau menekuni usaha peternakan unggas sebagai penghasil protein hewani bagi masyarakat.

"Jadi nanti kalau kita ke peternakan ketemunya bukan hanya orang tua saja, tapi juga anak-anak muda. Ini misi kita sangat mulia dan merupakan bagian dari ibadah juga," katanya.

Oleh sebab itu, ia yakini dengan adanya kegiatan ini, suara maupun aspirasi peternak rakyat mandiri bisa tersampaikan dan memastikan usaha mereka terus tumbuh dan berkembang bersama-sama, sehingga menciptakan iklim usaha yang sehat. (RBS)

MANAJEMEN KESEHATAN UNGGAS BERKEMAJUAN PASCA PELARANGAN AGP

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan. (Foto: Gemini)

Telur, Ayam, dan Rasa Syukur yang Terlupakan
Pada seminar Infovet yang digelar dalam ajang ILDEX Indonesia 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan, September kemarin, Saya membuka sesi dengan pertanyaan sederhana kepada para peserta. “Siapa yang pernah makan telur?” Seluruh tangan langsung terangkat. Pertanyaan kedua pun Saya lontarkan, “Siapa yang pernah makan daging ayam?” Lagi-lagi, semua menjawab “pernah”.

Namun ketika ditanya, “Siapa yang pernah bersyukur kepada Allah SWT atas terciptanya telur dan ayam?” Ruang seminar mendadak hening. Tak ada satu tangan pun yang terangkat. Momen hening itulah yang menjadi titik awal refleksi kita semua, betapa sering manusia menikmati hasil unggas, namun lupa bersyukur atas nikmat besar yang dikaruniakan Sang Pencipta.

Ayam dan telur bukan sekadar komoditas pangan. Mereka adalah bagian dari sistem kehidupan yang saling berhubungan, manusia diberi rezeki dari unggas dan manusia pula yang bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Di sinilah dasar filosofi animal welfare sejati, rasa syukur yang diwujudkan dalam tanggung jawab manusia menjaga kesejahteraan makhluk yang dipeliharanya.

Dari Antibiotik ke Holistik: Perubahan Paradigma Besar
Sejak pemerintah melarang penggunaan antibiotic growth promoter (AGP), sektor perunggasan Indonesia menghadapi tantangan baru. AGP sebelumnya menjadi penopang performa pertumbuhan unggas, menjaga kesehatan usus, dan menekan penyakit.

Namun pelarangan itu bukan akhir segalanya, justru ini momentum untuk bertransformasi menuju manajemen kesehatan unggas yang lebih berkemajuan, berbasis pendekatan holistik.

Pendekatan holistik berarti memandang kesehatan unggas bukan semata dari aspek medis, tetapi dari tiga faktor besar yang saling berinteraksi, yakni perlakuan manusia, perilaku unggas, dan perubahan lingkungan. Ketiganya berperan besar dalam memicu atau mencegah penyakit di peternakan komersial.

Perlakuan Manusia
Manusia memegang peran sentral. Peternak dan operator kandang adalah khalifah fil-ardh, wakil Tuhan di bumi, yang diberi amanah menjaga makhluk hidup lainnya. Maka, revolusi manajemen kesehatan unggas dimulai dari revolusi mindset bahwa setiap tindakan manusia di farm harus mencerminkan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap kesejahteraan unggas.

Langkah nyata dimulai dengan standarisasi kemampuan perawatan: Operator layer idealnya mampu mengelola minimal 3.000 ekor dan operator broiler minimal 7.000 ekor dalam sistem open house. Angka yang rasional untuk menyesuaikan beban kerja dengan UMR serta efisiensi kerja.

Kemampuan operator bukan sekadar teknis, tetapi juga mental, berempati terhadap unggas yang mereka rawat. Karena ayam yang diperlakukan dengan baik akan tumbuh optimal, sehat, dan produktif. Maka, kesejahteraan unggas harus diimbangi dengan kesejahteraan operator kandang. Operator yang lelah, tidak cukup istirahat, atau tidak dihargai, sulit memberikan perawatan optimal.

Perilaku Unggas
Unggas modern, baik broiler maupun layer, telah beradaptasi jauh dari perilaku alaminya. Mereka tinggal dalam kandang tertutup dengan ruang gerak terbatas, sirkulasi udara minim, dan aktivitas makan, minum, hingga buang kotoran dilakukan di tempat yang sama.

Akibatnya, udara kandang cepat tercemar amonia, suhu dan kelembapan meningkat, serta kualitas oksigen menurun. Kondisi ini jika dibiarkan menciptakan apa yang disebut zoonotic pools, sumber penularan penyakit yang terus berulang.

Solusinya bukan sekadar disinfektan atau antibiotik, tetapi rehabilitasi lingkungan kandang. Beberapa langkah sederhana namun efektif antara lain mempercepat pelebaran area brooding agar sirkulasi udara lancar; menjaga litter agar tetap kering dan gembur, tidak menggumpal atau jenuh; membuat selokan di sekeliling kandang agar air hujan tidak masuk ke kolong; hingga mengatur ventilasi sehingga udara tetap kaya oksigen dan bebas amonia.

Dengan manajemen mikroklimat yang baik, unggas bisa tumbuh sesuai potensi genetiknya tanpa harus bergantung pada antibiotik.

Perubahan Lingkungan Global
Perubahan iklim ekstrem (climate change) kini menjadi tantangan nyata. Gagal panen di berbagai negara menyebabkan kelangkaan bahan baku pakan, yang berdampak langsung pada penurunan kualitas ransum unggas.

Dampaknya nyata di lapangan pertumbuhan broiler tidak sesuai target, FCR membengkak, DOC layer tidak seragam, daya tahan tubuh menurun, sampai produksi telur tidak stabil.

Solusi rehabilitasi dilakukan melalui upgrade formulasi dan manajemen pakan dengan menambahkan acidifier, toxin binder, prebiotik, probiotik, simbiotik, dan hepatoprotektor dalam bentuk matriks tepung agar tercampur merata, serta meninjau ulang program vaksinasi, memilih vaksin yang tepat, dan menerapkan teknik vaksinasi tanpa stres.

Manajemen Holistik: Integrasi Ilmu dan Empati
Pendekatan holistik dalam manajemen kesehatan unggas bukan hanya konsep ideal. Ini adalah strategi praktis, efektif, dan efisien yang bisa diterapkan di farm komersial. Prinsip utamanya “Perbaiki manusia dan lingkungannya, maka unggas akan sehat dengan sendirinya.”

Holistik berarti memperhatikan semua faktor, yakni manusia, hewan, dan lingkungan, serta menghilangkan pengaruh negatif di antara ketiganya. Hasilnya adalah program mitigasi dan rehabilitasi yang menyentuh akar masalah, bukan sekadar gejala permukaan.

Ciri khas manajemen holistik adalah sebagai berikut: Adaptif terhadap kemampuan operator kandang. Praktis dan mudah diterapkan. Efektif mengurai sumber penyakit. Efisien karena menjadi bagian dari rutinitas kerja harian, bukan tambahan beban.

Menuju Produksi ASUH dalam Konstelasi One Health
Tujuan akhir dari semua penerapan manajemen holistik ini adalah terwujudnya produksi telur dan daging unggas yang ASUH (aman, sehat, utuh, halal). Kesehatan unggas tidak bisa dipisahkan dari kesehatan manusia dan lingkungan. Inilah esensi konsep One Health, sinergi antara manusia, hewan, dan ekosistem untuk menciptakan keberlanjutan pangan yang sehat.

Dengan revolusi mindset, disiplin manajemen, dan empati terhadap makhluk hidup lain, sektor perunggasan Indonesia bukan hanya bertahan pasca pelarangan AGP, tetapi juga bertransformasi menjadi lebih modern, beradab, dan berkemajuan.

Manajemen kesehatan unggas yang berkemajuan bukanlah soal seberapa canggih teknologi kandang atau mahalnya suplemen pakan, tetapi seberapa dalam rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap kehidupan. Dengan empati, ilmu, dan keteladanan, manusia dapat menjadi penentu kesejahteraan unggas, yang pada akhirnya ikut menyejahterakan manusia itu sendiri. ***

Strategi Holistik Mitigasi dan Rehabilitasi

Faktor

Masalah Umum

Strategi Mitigasi dan Rehabilitasi

Perlakuan Manusia

Kurangnya empati dan standar kerja operator kandang

Revolusi mindset, pelatihan empati, standarisasi perawatan, dan peningkatan kesejahteraan operator.

Perilaku Unggas

Kepadatan tinggi, kualitas udara buruk, litter basah

Pelebaran brooding, ventilasi baik, pengaturan litter kering, dan sanitasi rutin.

Perubahan Lingkungan

Perubahan iklim, kelangkaan bahan baku pakan, stres panas

Formulasi pakan dengan acidifier, toxin binder, probiotik, dan upgrade program vaksinasi tanpa stres.


Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
The 1st Winner Veterinary Poultry Technical Consultant - Inpova Award 2019
Koordinator ADHPI Wilayah Jabodetabek & Banten

KEMENTERIAN PERTANIAN RESMI TERBITKAN ATURAN BARU PELARANGAN OBAT HEWAN

Ilustrasi obat hewan. (Foto: Gemini)

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 63/KPTS/PK.300/F/01/2026, pemerintah secara resmi menetapkan aturan baru mengenai Pelarangan Penggunaan Obat Hewan pada Ternak yang Produknya untuk Konsumsi Manusia.

Peraturan ini berfokus pada pelarangan golongan antibiotik dan obat-obatan tertentu yang sering digunakan pada ternak yang produknya ditujukan untuk konsumsi. Latar belakang diterbitkannya aturan ini adalah adanya perkembangan kebutuhan untuk melarang penggunaan antibiotik golongan fluorokuinolon serta sefalosporin generasi 3 dan 4 demi mencegah dampak negatif jangka panjang bagi kesehatan masyarakat.

Dalam aturan tersebut, secara spesifik merinci jenis-jenis obat yang dilarang penggunaannya sebagai campuran pakan maupun pemberian langsung. Adapun kelompok obat hewan tertentu yang dilarang sebagai imbuhan pakan (feed additive) di antaranya Colistin; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; dan Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur).

Sementara kelompok obat hewan tertentu yang dilarang pemakaiannya secara oral, parental, topikal di antaranya Colistin; Ephedrin beserta turunannya; Paracetamol yang tidak berupa sediaan tunggal; Ciprofloxacin; Norfloxacin; Levofloxacin; Ofloxacin; Oxolinic acid; Sefalosporin generasi 3 dan 4 (kecuali Ceftiofur), serta antibiotik yang dibuat dalam satu formula dengan bahan biologik, farmasetika, premix, dan obat hewan alami.

Dengan ditetapkannya peraturan ini pada 5 Januari 2026, maka Keputusan Menteri Pertanian Nomor 9736/PI.500/F/09/2020 tentang Perubahan atas Lampiran III Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/PERMENTAN/PK.500/F/09/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan resmi dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir risiko resistansi antimikroba (AMR) pada manusia yang bersumber dari konsumsi produk peternakan. (INF)

ASOHI SUMUT SELENGGARAKAN SEMINAR REGULASI OBAT HEWAN & OUTLOOK PETERNAKAN

Seminar Outlook Peternakan 2026 ASOHI Sumut. (Foto-foto: Dok. ASOHI Sumut)

Bertempat di Hotel Grand Mercure-Medan, Selasa (6/1/2026), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Daerah Sumatra Utara (Sumut) menyelenggarakan kegiatan seminar mengenai Update Regulasi Obat Hewan dan Outlook Peternakan 2026.

Seminar outlook peternakan merupakan yang pertama kalinya digelar ASOHI Sumut di bawah kepengurusan baru, Ir Taviv Ritonga, dengan dukungan ASOHI Pusat. Seminar dihadiri oleh Drh Tesra mewakili Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan tingkat I; Drh Christina Sianturi mewakili Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan tingkat II; Kepala Bvet Medan Drh Arif Hukmi; Ketua PDHI Sumut; anggota ASOHI Sumut; peternak; pabrik pakan; asosiasi perunggasan; dan beberapa peserta yang hadir dari Pekanbaru.

Pada kesempatan tersebut, ASOHI Sumut menghadirkan tiga pembicara utama di antaranya Drh Arief Wicaksono MSi (Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementan), Drh Bambang Sutrasno (Regional Head Sumatra PT CPI), dan Drh Akhmad Harris Priyadi (Ketua Umum ASOHI).

Seminar antara lain memaparkan dan membahas topik-topik terkait adanya aturan-aturan baru izin berusaha obat hewan, perubahan kebijakan penunjukan PT Berdikari BUMN sebagai pengimpor jagung-SBM untuk pakan ternak, dinamika sektor kesehatan hewan dengan munculnya kebutuhan segera akan apotek veteriner di setiap provinsi, serta peluang usaha penyediaan obat hewan kesayangan, obat hewan kuda, dan obat hewan satwa liar, hingga imbas penerapan Permenkes No. 14/2021 kepada para kolega dokter hewan.

Terlebih lagi pasca kejadian bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumatra Barat, tentunya bagi pelaku industri obat hewan dan peternakan perlu mengetahui bagaimana tren dinamika bisnis di 2026 ini. Secara nasional, Sumut sendiri berkontribusi 20-25% dari produksi hasil unggas (daging dan telur). Dampak yang segera dirasakan bagi peternakan Sumut di antaranya adalah terkomprominya suplai jagung, mengingat Aceh juga sebagai salah satu penyedia jagung bagi daerah sekitarnya, terutama Sumut. Di sisi lain, terputusnya sarana logistik seperti jalan-jalan utama yang masih tertimbun lumpur, jembatan penghubung yang terputus sangat berdampak pada pengiriman rutin hasil produksi unggas dari Sumut ke Aceh.

Selain itu, terkait program MBG dan rencana pemerintah di 2026 juga dibahas dalam seminar ini, khususnya dampaknya bagi peluang pertumbuhan demand daging maupun telur ayam yang sudah dipastikan porsinya dalam menu MBG. Kemudian persoalan menarik lainnya yakni seputar AMR, juga menjadi momen edukasi bagi pelaku usaha kesehatan hewan (ternak & non-ternak).

Bantuan kemanusiaan oleh ASOHI Sumut.

Selain menggelar seminar, sebelumnya ASOHI Sumut juga melaksanakan kegiatan Bantuan Kemanusiaan Bencana Alam Sumatra Utara dan Aceh pada Jumat (2/1/2026). Dalam kegiatan tersebut ASOHI Sumut membagikan makanan, perlengkapan kesehatan, dan perlengkapan lain seperti kain dan sarung kepada para korban bencana banjir dan longsor di Desa Tanjung Jati, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. (INF)

KEPENGURUSAN PDHI CABANG JAWA BARAT V 2025-2029, DIWARNAI KALANGAN MUDA

Wakil Walikota Bekasi (berseragam cokelat) bersama Ketua Umum PB PDHI dan seluruh pengurus PDHI Cabang Jawa Barat V. (Foto-foto: NDV)

Pelantikan pengurus Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V masa bakti 2025 – 2029 dihadiri Wakil Walikota Bekasi, Dr H Abdul Harris Bobihoe. Acara yang berlangsung meriah ini digelar di Harris Convention Hall, Bekasi, Selasa (6/1/2026). 

Dalam sambutannya Ketua Umum PD PDHI, Dr drh Munawaroh MM mengungkapkan apresiasinya terhadap susunan kepengurusan PDHI Cabang Jawa Barat V yang dipenuhi oleh kalangan muda. 

“Susunan kepengurusan yang diisi anak muda semakin marak di berbagai organisasi, demikian juga dengan PDHI yang sudah seperti rumah kita sendiri. Tentunya semoga kepengurusan yang baru ini semakin memajukan profesi dokter hewan,” harapnya.

Munawaroh berpesan, “Bersinergilah dengan pemerintah daerah. Baik dalam kaitannya dengan pelaksanaan program pemenuhan protein hewani maupun program yang bertujuan menekan populasi kucing liar, serta penanganan penyakit Zoonosis.

Wakil Walikota Bekasi dalam sambutannya menuturkan, peran dokter hewan tidak terbatas hanya pada sektor kesehatan hewan saja, tetapi juga merupakan garda terdepan dalam kesehatan global melalui konsep yang kenal dengan One Health.

“Peran dokter hewan semakin kompleks di masa medatang. Mulai dari dinamika perubahan iklim, peningkatan lalu lintas hewan dan produk hewan hingga munculnya penyakit-penyakit baru atau bersumber dari hewan,” tuturnya.

Terkhusus di Kota Bekasi, ia menyatakan terdapat sejumlah isu kesehatan hewan yang menjadi perhatian serius. Satu contohnya penelantaran dan overpopulasi hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.

Selain itu, penyakit hewan ternak juga menjadi perhatian, mengingat Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pernah menjadi masalah serius. Lonjakan kasus pada tahun 2022 akibat kurangnya sertifikasi kesehatan dan karantina hewan yang masuk, sehingga hal itu juga perlu diperhatikan lebih lanjut kedepannya.

Bazaar produk seperti pet food, obat hewan dan peralatan praktik klinik hewan turut menyemarakkan acara pelantikan.

Launching Website

Seremoni pelantikan pengurus ditandai dengan serangkaian agenda mulai dari pembacaan serta penyerahan SK, launching DANAKITA sekaligus website PDHI https://pdhi-jabar5.or.id/

Puncak acara pelantikan, di sesi siang hari kepanitiaan mengadakan seminar dan talkshow terkait mental health issue dalam profesi dokter hewan dan mengundang dr Nindita Pinastikasari SpKJ SH MH. 

Selain diisi oleh seminar, kegiatan pelantikan ini disemarakkan dengan bazaar berbagai produk mulai dari pet food, obat khususnya untuk hewan kesayangan, hingga peralatan praktik klinik hewan.

Ketua PDHI Cabang Jawa Barat V, drh Mirjawal MM menyerahkan plakat ucapan terima kasih kepada dr Nindita Pinastikasari SpKJ, SH, MH.

Program Kerja

Drh Mirjawal MM, Ketua PDHI Cabang Jawa Barat V memaparkan beberapa program kerja kepengurusan masa bakti 2025-2029. 

“Belum lama ini kami mengumpulkan donasi dan terkumpul 50 juta dalam sepekan. Tepatnya pada Desember 2025 lalu, PDHI Jawa Barat V berkolaborasi dengan PDHI Sumatera Barat telah mengirimkan relawan sekaligus bantuan kepada masyarakat terdampak banjir di Sumatera dan Aceh,” kata Mirjawal.  

Lebih lanjut disebutkan program peningkatan kompetensi sejawat melalui pelatihan, seminar, workshop juga akan dilaksanakan secara berkala. Guna memperkuat peran dokter hewan dalam isu kesehatan masyarakat, keamananan pangan, dan kesejahteraan hewan. 

PDHI Jawa Barat V juga menyusun program penertiban klinik dokter hewan yang belum berizin, bekerjasama dengan pemerintah daerah.  

Kegiatan sosial profesi juga menjadi program prioritas diantaranya menyelenggarakan program vaksinasi rabies, steril pada hewan liar, vaksinasi dan berkontribusi dalam manajemen kesehatan hewan kurban.  

Mirjawal menambahkan, program pemutihan juga diberlakukan. “Bagi anggota yang menunggak iuran pada tahun-tahun sebelumnya, kami bebaskan. Jadi mulai dari awal membayar di periode 2025 langsung saja,” ungkapnya. 

Program berikutnya yaitu apabila anggota menyetorkan iuran pada saat penyelenggaraan pelantikan, secara otomatis terproteksi oleh BPJS Ketenagakerjaan.  

“PDHI adalah rumah kita bersama untuk bertumbuh mengabdi untuk masyarakat. Mari kita bekerja dengan hati, melangkah dengan visi, berkolabaorsi dengan harmoni demi kemajuan profesi dokter hewan dan kebermanfatan untuk masyarakat,” pungkas Mirjawal.

Susunan Pengurus PDHI Cabang Jawa Barat V Masa Bakti 2025-2029

Dewan Penasehat:

drh Rudi Hartanto Panggabean

Dr drh Muhammad Munawaroh MM

drh Harsono Edi

drh Yusuf Haykal SE

drh Sariyanti MSi 

drh Vici Eko Handayani

drh Khaizir Hasan

Ketua: drh Mirjawal MM

Wakil Ketua 1: drh Vici Imsar

Wakil Ketua 2: drh Wahyudi 

Sekretaris: drh Denni Kurnia

Wakil Sekretaris: drh M Yovan Khalis

Bendahara: drh Norma Sari

Wakil Bendahara:drh Miqsalmina

Kepala Kantor: drh Zulhady Tanjung

Sekretariat Pengurus

Koordinator Wilayah Kabupaten Bekasi: drh Jeck Ruben Simatupang

Organisasi & Keanggotaan

Ketua: drh Maryori Firdaus 

Anggota: 

drh Ni Ketut Sariasih

drh Indra Gani

drh Moma Silvia

Pendidikan & Pengembangan Profesi

Ketua: drh Enny Maya

Anggota: 

drh Faizin Huzanni

drh Hefri Yunaldi

drh Resty Chandra Dwiparina

Advokasi & Perlindungan Hukum

Ketua: drh Yuni Lestyorini MH

Anggota:

drh Carwan SE SH MH

drh Wahyu Ramadhan

drh Muhammad Arif

Usaha & Dana

Ketua: drh Muhammad Iqbal

Anggota:

drh Robbi Nofria Miska

drh Elysabeth Vanessa Tirta Santi

drh Nurul Yaqien

Hubungan & Pengabdian Masyarakat 

Ketua: drh Adenan Abdilla

Anggota: 

drh Eko Prasetyo

drh Dahlia Dhestinia

drh Foni Maikal

drh Yohana Kumala Sari

Kesejahteraan Anggota

Ketua: drh Eri Seiawan

Anggota: 

drh Nalia Putriyanda

drh Affan Nur Alamsyah

drh Feny

(NDV)

REGULASI KESRAWAN DITERBITKAN, ARAH PENGEMBANGAN TELUR BEBAS SANGKAR KIAN TERBUKA

Budi daya ayam petelur sistem cage-free memungkinkan ayam mengekspresikan perilaku alamiahnya. (Foto: Istimewa)

Pemerintah resmi menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2025  tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Kewan (kesrawan). Regulasi ini menjadi landasan hukum penting untuk memastikan praktik pengelolaan ternak sejalan dengan prinsip kesrawan, termasuk mendukung sistem produksi unggas yang memenuhi standar kesrawan, termasuk sistem produksi telur bebas sangkar (cage-free).

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner (Dirkesmavet) Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Wiratha, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan pangan menuntut sistem produksi ternak, yang tidak hanya mengedepankan efisiensi, tetapi juga prinsip etika. Menurutnya, kesrawan berkaitan erat dengan produktivitas ternak, keamanan pangan, dan kepercayaan publik.

Ia juga menekankan bahwa kesrawan bukan sekadar isu moral, melainkan bagian penting dalam menjaga mutu pangan dan keberlanjutan sektor peternakan, selain juga bagian dari komitmen global Indonesia dalam kerangka One Health dan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kesadaran publik terhadap perlakuan etis terhadap hewan terus meningkat. Konsumen kini semakin kritis terhadap cara hewan dipelihara dan disembelih. Oleh karena itu, edukasi serta pengawasan berkelanjutan di sepanjang rantai produksi pangan menjadi sangat penting guna mendorong perubahan sikap dan perilaku menuju praktik yang lebih menjunjung kesrawan,” ujarnya dalam sebuah acara daring pada Rabu (31/12/2025).

Seiring terbitnya regulasi tersebut, pemerintah akan melanjutkan langkah dengan menyusun petunjuk teknis pelaksanaan sertifikasi kesrawan dan mempersiapkan SDM yang dibutuhkan untuk mendukung implementasinya. Sertifikasi kesrawan nantinya akan dilaksanakan pemerintah daerah melalui dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan.

“Salah satu fokus pemerintah ke depan adalah menyiapkan dan mencetak auditor di berbagai daerah, agar proses sosialisasi dan sertifikasi penerapan kesrawan dapat berjalan lebih masif, efektif, dan implementatif. Sertifikasi ini diharapkan dapat membuka peluang pasar baru serta meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia, khususnya telur bebas sangkar, baik di pasar domestik maupun global,” tambahnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Kepala Tim Pelaksana Kesrawan Ditkesmavet Kementan, Septa Walyani, menjelaskan bahwa penerapan sistem cage-free menjadi penting karena memungkinkan ayam petelur mengekspresikan perilaku alaminya, yang merupakan salah satu indikator utama kesrawan.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa lingkungan pemeliharaan ayam petelur dengan sistem bebas sangkar dapat menurunkan tingkat stres dan risiko penyakit. Dengan demikian, penggunaan antibiotik dapat ditekan dan berkontribusi pada upaya global dalam pencegahan resistansi antimikroba,” jelas Septa di Jakarta, Kamis (11/12/2025).

Pandangan tersebut diperkuat temuan European Food Safety Authority (EFSA) yang menyatakan bahwa risiko salmonella lebih tinggi pada sistem kandang baterai dibandingkan dengan cage-free. Berdasarkan analisis data dari 5.000 peternakan di 24 negara, EFSA mencatat bahwa peternakan ayam petelur bebas sangkar memiliki tingkat kontaminasi salmonella yang jauh lebih rendah bahkan hingga 25 kali lebih rendah untuk beberapa jenis strain.

Menanggapi terbitnya regulasi tersebut, selaku Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah pemerintah yang dinilai sejalan dengan dinamika global. Menurutnya, regulasi ini menjadi sinyal kuat bagi pelaku usaha bahwa isu kesrawan kini semakin terintegrasi dengan tuntutan pasar dan komitmen perusahaan global, khususnya dalam penyediaan telur bebas sangkar.

“Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen perusahaan pangan global terhadap penggunaan telur cage-free meningkat signifikan. Regulasi ini memberikan arah dan kepastian bagi transisi yang lebih terstruktur di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan perubahan preferensi konsumen yang mendorong kebutuhan akan sistem produksi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dengan regulasi ini, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kuat untuk memenuhi ekspektasi pasar global,” ujarnya. 

Tren tersebut semakin diperkuat survei konsumen yang dilakukan Lever Foundation bekerja sama dengan GMO Research pada Juli 2025. Survei menunjukkan bahwa mayoritas responden (72%) berpendapat hotel, restoran, supermarket, perusahaan makanan kemasan, serta pelaku usaha sejenis seharusnya hanya menggunakan telur bebas sangkar dalam rantai pasok mereka. Dari aspek harga, sebanyak 71% responden bersedia membayar lebih mahal, dengan kisaran 10-40% untuk telur cage-free. Dan dalam konteks restoran, 72% responden bersedia membayar lebih untuk menu yang menggunakan telur cage-free, dengan mayoritas masih dapat menerima kenaikan harga sebesar 5-20% per porsi.

Hak ini sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan makanan besar, supermarket, hingga jaringaan hotel global di Indonesia yang juga telah membuat komitmen atau sedang dalam proses menerapkan kebijakan telur cage-free. (INF)

TANIN: DARI ANTINUTRISI MENJADI PRIMADONA BARU DUNIA PETERNAKAN

Zat tanin dalam bentuk serbuk. (Foto: Istimewa)

Di dunia peternakan, istilah antinutrisi terdengar seperti vonis. Ia seolah menjadi kambing hitam di balik rendahnya performa ternak dan menurunnya efisiensi pakan. Di antara sederet zat yang masuk kategori ini, tanin menempati posisi “paling tersangka.”

Tanin dikenal karena kemampuannya mengikat protein dan menurunkan kecernaan. Para peternak dulu mengeluh ternaknya enggan makan daun ber-tanin tinggi seperti Calliandra atau Acacia. Para peneliti pun memberi label “tanin itu racun nutrisi.”

Namun, dunia berubah. Ilmu pengetahuan berkembang, yang dulu dianggap racun, kini justru menjadi primadona baru, bukan hanya di laboratorium, tapi juga di ladang dan kandang.

Senyawa Kecil dengan Peran Besar
Tanin adalah senyawa polifenol alami yang banyak ditemukan pada daun, kulit kayu, biji, dan buah berbagai tanaman tropis. Ia terbentuk sebagai bentuk “senjata pertahanan” tanaman terhadap serangan serangga, jamur, atau herbivora.

Sifat khas tanin adalah kemampuannya mengikat protein dan logam. Dalam konteks pakan, sifat ini yang dulu dianggap negatif, karena menghambat kecernaan protein di rumen, tetapi seperti dua sisi mata uang, kemampuan itu pula yang kini justru dimanfaatkan untuk kebaikan.

Tanin terbagi dua jenis utama, yakni tanin terkondensasi (condensed tannin/CT) banyak terdapat di leguminosa seperti Indigofera zollingeriana dan Leucaena leucocephala, umumnya aman dan bermanfaat dalam kadar moderat. Serta tanin terhidrolisis (hydrolyzable tannin/HT) terdapat pada Acacia nilotica atau Chestnut, bersifat lebih reaktif dan berisiko jika berlebih.

Dari Penghambat Menjadi Pengatur
Sebuah lompatan besar dalam riset nutrisi ternak terjadi ketika para ilmuwan menemukan bahwa efek tanin sangat bergantung pada dosisnya.

Dalam kadar tinggi (>5% bahan kering), tanin memang bisa menurunkan konsumsi dan kecernaan pakan. Namun dalam dosis rendah hingga sedang (2-4%), tanin justru bekerja cerdas, ia mengatur pelepasan protein agar tidak terdegradasi di rumen, melainkan langsung diserap di usus halus. Inilah konsep protein bypass, salah satu tonggak penting dalam efisiensi pakan ruminansia.

Penelitian Min et al. (2003), menunjukkan bahwa tanin terkondensasi membentuk kompleks protein-tanin yang stabil di rumen, namun terurai pada pH asam usus. Artinya, protein tidak “terbuang” untuk bakteri rumen, tapi “diselamatkan” untuk tubuh ternak.

Hasilnya? Efisiensi nitrogen meningkat, pertumbuhan ternak lebih optimal, dan limbah nitrogen yang mencemari lingkungan berkurang. Dari sini, tanin mulai dikenal bukan lagi sebagai penghambat, tetapi pengatur alami metabolisme.

Potensi yang Terlupakan
Indonesia sejatinya memiliki kekayaan tanaman pakan leguminosa yang mengandung tanin dalam kadar ideal. Sebut saja Indigofera zollingeriana, Calliandra calothyrsus, Gliricidia sepium, dan Acacia mangium.

Sayangnya, selama puluhan tahun potensi ini tidak tergarap maksimal. Padahal menurut penelitian Wina et al. (2015), Indigofera zollingeriana mengandung protein kasar 25-31% dan tanin terkondensasi sekitar 2-3%, kadar yang justru ideal untuk meningkatkan efisiensi protein tanpa menurunkan konsumsi.

Bahkan penelitian lanjutan oleh Setyaningsih et al. (2019), pada kambing perah menunjukkan bahwa ekstrak tanin dari Acacia mangium mampu menurunkan kadar amonia rumen dan memperbaiki profil fermentasi. Produksi susu meningkat, sementara bau akibat gas metana menurun signifikan.

Artinya, tanin bukan sekadar zat kimia di daun, tetapi bagian dari solusi nyata menuju peternakan tropis yang efisien dan ramah lingkungan.

Temuan ini menegaskan bahwa senyawa tanin dari tanaman tropis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas pakan sekaligus menjaga kesehatan ternak. Dengan kemampuan menghambat degradasi berlebih dan menekan aktivitas mikroba penghasil gas, tanin dinilai sebagai solusi alami menuju sistem peternakan rendah emisi dan berkelanjutan di masa depan.

Tanin untuk Langit yang Lebih Biru
Isu perubahan iklim kini menuntut dunia peternakan untuk berbenah. Ruminansia seperti domba, kambing, kerbau, dan sapi menghasilkan gas metana (CH₄) dari fermentasi di rumen. Gas ini memiliki potensi pemanasan global 28 kali lebih besar dibanding karbon dioksida.

Setiap kali sapi mengunyah, sesungguhnya bumi sedikit memanas, namun tanin membawa harapan. Berbagai penelitian termasuk Jayanegara et al. (2020), menunjukkan bahwa suplementasi tanin terkondensasi sebesar 3% dari bahan kering pakan dapat menurunkan produksi metana hingga 25% tanpa menurunkan kecernaan total.

Bagaimana caranya? Tanin menekan populasi methanogen, mikroba penghasil metana; tanin menggeser fermentasi dari jalur asetat ke propionat, menghasilkan lebih banyak energi dan lebih sedikit gas; serta tanin mengurangi hidrogen bebas di rumen, bahan baku utama pembentukan metana.

Inovasi yang Terus Berkembang
Teknologi pakan modern kini membawa tanin melangkah lebih jauh. Dari sekadar daun pahit di kebun, kini tanin hadir dalam bentuk ekstrak murni dan suplemen pakan.

Ekstrak tanin dari Quebracho, Chestnut, dan Acacia sudah lama digunakan di Eropa dan Amerika sebagai natural methane inhibitor dan rumen modifier. Di Indonesia, penelitian sedang gencar dilakukan untuk mengekstraksi tanin dari bahan lokal seperti kulit jengkol, daun mangga, hingga kulit buah kakao.

Lebih dari itu, tanin juga berperan sebagai antioksidan dan antiparasit alami. Hoste et al. (2015), melaporkan bahwa tanin dapat menurunkan infeksi cacing Haemonchus contortus pada kambing tanpa menggunakan obat kimia sintetis. Artinya tanin tidak hanya menyehatkan ternak, tapi juga menyehatkan sistem produksi, menjadikannya bagian penting dari konsep pakan fungsional (functional feed).

Aditif Potensial dalam Pembuatan Silase
Dalam dunia peternakan modern, silase sudah menjadi bagian penting dari sistem pakan, terutama saat musim kemarau ketika hijauan sulit didapat. Namun, tidak semua silase memiliki kualitas yang baik. Banyak peternak masih menghadapi masalah seperti silase cepat rusak, aroma menyengat, tekstur berlendir, hingga pertumbuhan jamur. Masalah ini umumnya terjadi karena proses fermentasi yang tidak sempurna dan aktivitas mikroba yang berlebihan.

Untuk mengatasi hal tersebut, para peneliti mulai melirik tanin sebagai bahan aditif alami dalam pembuatan silase. Tanin dikenal sebagai senyawa polifenol yang terdapat pada banyak tanaman tropis seperti Indigofera zollingeriana, Acacia mangium, dan Chestnut (Castanea spp.). Dahulu, tanin dianggap antinutrisi karena bisa mengikat protein dan menurunkan daya cerna. Namun kini, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa tanin dalam dosis rendah mampu memperbaiki proses fermentasi silase.

Bagaimana Tanin Bekerja dalam Silase?
Tanin memiliki kemampuan mengikat protein dan karbohidrat larut, membentuk kompleks yang lebih stabil selama proses ensilase. Ikatan ini bersifat reversibel, artinya nutrien tersebut akan terlepas kembali di saluran pencernaan bagian bawah, bukan di rumen. Dengan begitu, protein kasar lebih terlindungi dari degradasi berlebihan dan ternak bisa memanfaatkannya lebih efisien.

Selain itu, tanin juga memiliki sifat antimikroba alami. Senyawa ini dapat menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, sehingga silase menjadi lebih awet dan aromanya tetap segar. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa tanin membantu menurunkan kadar amonia dan pH silase, dua indikator penting dari fermentasi yang sehat.

Bukti dari Penelitian di Lapangan
Penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin dari Acacia dan Chestnut pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. Protein dalam silase lebih terjaga dan tidak banyak hilang selama penyimpanan. Tanin juga membantu menekan gas metana dari ternak tanpa mengganggu proses pencernaan di rumen. Jadi, penggunaan 2% tanin Acacia bisa menjadi pilihan aditif alami yang menjaga kualitas silase sekaligus ramah lingkungan (Sadarman et al., 2020).

Penambahan tanin pada silase ampas kecap dapat membuat silase lebih stabil karena pH-nya turun dan pembusukan protein berkurang. (Foto: Istimewa)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tanin terkondensasi (CT) maupun tanin terhidrolisis (HT) pada ampas kecap tidak memengaruhi kecepatan degradasi, yang dilihat dari fraksi larut (a), laju degradasi (c), dan nilai kecernaan efektif (ED). Namun, terdapat penurunan nyata (p<0,05) pada fraksi yang berpotensi terdegradasi (b) dan total potensi degradasi (a+b) bahan kering (BK) serta bahan organik (BO), baik pada ampas kecap yang difermentasi maupun yang tidak. Dengan demikian, ekstrak CT dan HT dari Acacia dan Chestnut memiliki efek pelindung terhadap nutrien yang mudah terdegradasi dari ampas kecap. Menariknya, efek perlindungan tersebut serupa pada silase maupun bahan yang tidak diensilase (Sadarman et al., 2021).

Hasil penelitian Sadarman et al. (2022), membuktikan bahwa penambahan 0,50% tanin Chestnut mampu meningkatkan kualitas fisik silase kelobot jagung (Zea mays). Silase yang dihasilkan memiliki warna lebih cerah, tekstur padat namun tidak keras, suhu stabil, dan pertumbuhan jamur minimal. Kondisi ini membuat silase lebih tahan disimpan dan lebih disukai ternak.

Studi lain yang dilaporkan Sadarman et al. (2024), menunjukkan bahwa penambahan 2% tanin Chestnut pada pakan komplit berbasis limbah kelapa sawit yang diensilase dapat menghasilkan silase dengan protein kasar lebih tinggi dibandingkan tanpa tanin, sementara kadar lemak dan serat kasar tetap sama. Kandungan abu menurun, menandakan fermentasi berlangsung lebih efisien. Bahkan, tanin memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air, aroma, amonia, dan total asam lemak volatil (VFA), parameter utama yang menentukan mutu silase.

Bagi peternak, penggunaan tanin sebagai aditif silase menawarkan berbagai keuntungan nyata, antara lain menekan kehilangan bahan kering (BK) selama proses fermentasi; melindungi protein kasar agar tidak cepat terurai oleh mikroba rumen; menjaga aroma, warna, dan tekstur silase agar tetap segar dan disukai ternak; menghambat pertumbuhan jamur dan bakteri pembusuk, memperpanjang umur simpan; menstabilkan suhu silase, mencegah panas berlebih yang dapat merusak nutrien; menurunkan emisi amonia dan metana, membantu peternakan menjadi lebih ramah lingkungan.

Dengan hasil tersebut, tanin kini dianggap sebagai aditif potensial yang murah, alami, dan ramah lingkungan untuk meningkatkan mutu silase, terutama di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman sumber tanin seperti Indigofera dan Akasia mudah tumbuh di lahan kering, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai bahan lokal untuk pembuatan pakan fermentasi.

Pemanfaatan tanin sebagai aditif silase tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas pakan, tetapi juga menjadi langkah strategis menuju peternakan hijau dan berkelanjutan. Dengan kualitas silase yang lebih baik, ternak tumbuh optimal, efisiensi pakan meningkat, dan gas metana yang dihasilkan dari pencernaan dapat ditekan.

Artinya, dengan langkah sederhana menambahkan tanin dalam proses pembuatan silase, peternak turut berkontribusi menjaga bumi dari dampak perubahan iklim. Tanin tidak lagi menjadi “musuh” dalam pakan, melainkan sekutu baru peternak cerdas dalam menghadirkan produksi ternak yang efisien, sehat, dan ramah lingkungan.

Rahasia Keberhasilan Tanin
Namun, seperti segala hal di dunia nutrisi, keseimbangan adalah kunci. Tanin yang berlebihan bisa menurunkan palatabilitas (selera makan), menekan mikroba rumen, dan mengganggu penyerapan mineral. Kadar ideal tanin dalam pakan sebaiknya tidak melebihi 5% bahan kering.

Oleh karena itu, peternak dan formulator pakan perlu memahami kadar tanin dalam bahan pakan dan menyesuaikan dosisnya secara ilmiah. Teknik analisis seperti in vitro gas production kini banyak digunakan untuk menentukan batas optimal penggunaan tanin. Dengan pendekatan ilmiah, “si pahit” bisa menjadi “si penyelamat” atmosfir bumi.

Peternak Mulai Menyadari
Di berbagai daerah Indonesia, peternak mulai membuka mata. Di Riau dan Jawa Barat, banyak kelompok peternak menanam Indigofera zollingeriana sebagai hijauan unggulan. Produksinya tinggi, taninnya moderat, dan ternak tampak lebih sehat.

“Dulu kami takut memberikan daun Indigofera karena katanya ada tanin. Tapi setelah diuji di laboratorium kampus, ternyata malah bikin kambing cepat gemuk,” ujar seorang peternak di Kampar.

Cerita serupa datang dari Nusa Tenggara Timur, daun Calliandra yang dulu dibuang kini difermentasi atau diensilase dengan molases menjadi pakan bernilai tinggi. Dari pengalaman lapangan ini, menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya soal laboratorium, tapi soal keberanian mengubah cara pandang.

Tanin dan Masa Depan Peternakan Hijau
Ketika dunia berbicara tentang sustainable livestock, kerap dibayangkan teknologi mahal atau alat canggih. Padahal, sebagian jawabannya bisa ditemukan di daun-daun hijau yang tumbuh di sekitar manusia.

Tanin mengajarkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang baru, kadang cukup dengan memahami ulang apa yang sudah ada di alam. Kini, berbagai lembaga penelitian mulai mempromosikan konsep “livestock low carbon”, pakan berbasis tanin menjadi bagian dari strategi global menekan emisi metana.

Peternakan tidak lagi hanya soal produksi daging dan susu, tapi juga tentang tanggung jawab ekologis. Dalam konteks ini, tanin hadir sebagai jembatan antara produktivitas dan keberlanjutan.

Dari Musuh Menjadi Mitra
Transformasi tanin dari “antinutrisi berbahaya” menjadi “nutrisi cerdas” adalah kisah luar biasa tentang perubahan paradigma. Ia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan bisa mengubah cara dalam melihat alam.

Tanin bukan lagi antagonis dalam pencernaan, melainkan mitra dalam efisiensi dan keberlanjutan. Ia bukan penghalang produktivitas, tapi penjaga keseimbangan antara ternak, manusia, dan bumi.

Peternakan masa depan bukan hanya tentang teknologi tinggi, tetapi tentang kearifan memanfaatkan sumber daya alami dengan ilmu pengetahuan yang benar. Tanin adalah simbol dari gagasan itu, dari yang dulu ditolak karena ketidaktahuan, kini diterima karena pemahaman.

Karena sesungguhnya, sebagaimana ungkapan para ahli nutrisi, “Tidak ada zat yang benar-benar berbahaya, yang berbahaya adalah ketidaktahuan menggunakannya.” Tanin mengajarkan bahwa alam selalu menyediakan solusi. ***

Ditulis oleh:
Assoc Prof Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM
Dosen Ilmu Nutrisi dan Pakan Ternak Prodi Peternakan UIN Suska Riau
Wartawan Infovet Daerah Riau

STATUS KESEHATAN TERNAK, PILAR UTAMA PETERNAKAN DAN LINGKUNGAN BERKELANJUTAN

Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dalam konteks ini, satu aspek kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal, yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming atau peternakan berkelanjutan.

Status kesehatan ternak mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak. Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas, tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.

Efisiensi Produksi sebagai Kunci Keberlanjutan

Di dalam sistem peternakan berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.

Sebaliknya, ternak sakit sering kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking) ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint). Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.

Pengelolaan Pencemaran dan Limbah Peternakan

Peternakan berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.

Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit
(Foto : Istimewa)


Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan Hewan dan Tanggung Jawab Sosial

Peran kesehatan ternak tidak berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak berkaitan erat dengan kesehatan manusia.

Pendekatan One Health yang menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen. Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk peternakan baik di pasar domestik maupun global.

Peternakan berkelanjutan juga memposisikan kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang, dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.

Dewasa ini, masyarakat pun semakin kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial. Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.

Menatap Masa Depan Peternakan melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan

Menjaga status kesehatan ternak tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan (dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.

Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode, inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan nasional.

Di era pembangunan berkelanjutan, kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan, dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.

Peternakan berkelanjutan tidak akan terwujud tanpa perhatian serius terhadap kesehatan ternak. Menjaga ternak tetap sehat berarti menjaga masa depan pangan nasional, gizi dan kesehatan masyarakat, kesejahteraan peternak, dan keberlanjutan bumi. 

 Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi

1.     Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University

2.     Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University

DAFTARKAN SEGERA DALAM PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXVIII


Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) akan kembali menyelenggarakan Pelatihan PJTOH Angkatan XXVIII dengan topik menarik, termasuk peraturan terbaru terkait perizinan dan KBLI 2025.
- PP No. 28/2025
- Permentan No. 34/2025
- Peraturan BPS No. 7/2025

Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi dokter hewan, dokter hewan praktisi, apoteker, akademisi kedokteran hewan & farmasi, regulatory officer, production manager obat hewan, dan lain sebagainya.

Dengan menghadirkan narasumber di antaranya dari Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Pakan, BBPMSOH, Tim CPOHB, BKPM, ASOHI, PDHI, dan IAI.

Diselenggarakan pada:
Tanggal: 10-12 Februari 2026
Tempat: Luminor Hotel Bogor & BBPMSOH
Waktu: 07:30-17:00 WIB

Link pendaftaran: https://bit.ly/PPJTOH_28

Investasi:
- Rp 3.000.000 (ANGGOTA ASOHI)
- Rp 3.500.000 (NON ANGGOTA ASOHI)

Info rek a.n ASOHI Bank Mandiri Cab. Pasar Minggu Pejaten 126.009.8041.451
Bukti transfer kirim ke email: asohipusat@gmail.com

CP: Aida (0818-0659-7525)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer