-->

SEKTOR PERUNGGASAN INDIA MENDESAK IMPOR PAKAN REKAYASA GENETIKA DI TENGAH MELONJAKNYA BIAYA

Sektor perunggasan India berada di persimpangan jalan karena melonjaknya biaya pakan mengancam profitabilitas dan keberlanjutan. Dengan negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung dengan AS, para pemimpin industri mendesak akses ke pakan rekayasa genetika (GM) untuk meringankan beban. Namun, proposal tersebut telah memicu perdebatan sengit mengenai tarif, ketahanan pangan, dan dampak jangka panjang terhadap pertanian domestik.

Seiring India semakin dekat untuk menyelesaikan kesepakatan dagang dengan AS, perdebatan semakin intensif mengenai tarif untuk produk-produk pertanian utama. Peternak unggas di India mendesak pihak berwenang untuk mempertimbangkan membuka pasar bagi impor produk rekayasa genetika (GM) dari AS dalam upaya untuk meningkatkan profitabilitas industri yang sedang terpuruk, Ricky Thaper, Sekretaris Bersama Federasi Unggas India, mengatakan kepada media berita lokal Asian Agribiz.

Melonjaknya biaya pakan tetap menjadi perhatian utama bagi peternak unggas India. Pada tahun pemasaran 2025/2026, industri ini diproyeksikan mengalami penurunan profitabilitas rata-rata 50% akibat kenaikan tajam harga jagung dan kedelai, demikian menurut Crisil Rating, sebuah lembaga konsultan lokal, dalam sebuah laporan berdasarkan survei terhadap 30 peternakan unggas pada Februari 2025.

EFSA: RISIKO PENYEBARAN FLU BURUNG KE EROPA MELALUI PERDAGANGAN

Migrasi musiman burung liar dan impor produk-produk tertentu dari AS – seperti produk yang mengandung susu mentah – dapat menjadi jalur potensial untuk memasukkan genotipe flu burung yang sangat patogen (HPAI) yang saat ini menyerang sapi perah AS ke Eropa, menurut laporan baru yang dirilis oleh EFSA (European Food Safety Authority).

Para ilmuwan EFSA menyoroti bahwa persinggahan utama di Eropa dengan populasi burung yang padat, seperti Islandia, Inggris, Irlandia, Skandinavia barat, dan lahan basah yang luas seperti Laut Wadden di pesisir Belanda, Denmark, dan Jerman, akan menjadi tempat yang bermanfaat untuk deteksi dini virus selama migrasi musiman burung liar.

Laporan tersebut juga mempertimbangkan potensi masuknya virus ke Eropa melalui perdagangan, menyimpulkan bahwa impor produk yang mengandung susu mentah dari daerah terdampak di AS tidak dapat sepenuhnya dikesampingkan dan oleh karena itu dapat menjadi jalur potensial. Impor sapi perah dan daging sapi juga dapat menjadi jalur potensial untuk masuknya virus. Namun, virus ini jarang terdeteksi pada daging, impor hewan sangat terbatas, dan peraturan perdagangan yang ketat diberlakukan untuk daging dan hewan hidup yang masuk ke Uni Eropa.

Laporan EFSA juga memberikan gambaran umum situasi di AS, di mana 981 peternakan sapi perah di 16 negara bagian terdampak flu burung antara Maret 2024 dan Mei 2025. Setelah ditinjau oleh otoritas AS, laporan tersebut menyoroti bahwa pergerakan ternak, biosekuriti yang rendah, dan penggunaan peralatan peternakan bersama berkontribusi terhadap penyebaran virus. Pada akhir tahun, EFSA akan menilai potensi dampak genotipe HPAI ini yang memasuki Eropa dan merekomendasikan langkah-langkah untuk mencegah penyebarannya.

BISAKAH RUSIA MENCAPAI 1 JUTA TON EKSPOR DAGING DAN UNGGAS PADA TAHUN 2025?

Perluasan ekspor daging broiler diperkirakan akan mendorong ekspor daging dan unggas Rusia melampaui angka signifikan 1 juta ton tahun ini.

Selama 6 bulan pertama tahun 2025, ekspor daging dan hewan hidup Rusia menunjukkan pertumbuhan yang solid, yang juga menandakan potensi peningkatan lebih lanjut di akhir tahun, ungkap Sergey Dankvert, kepala badan veteriner negara Rusia Rosselhoznadzor, dalam sebuah acara industri di Moskow.

“Tahun lalu, angka ekspor adalah 860.000 ton, tetapi kami sudah mampu mengekspor 1 juta ton daging dan produk jadi, jeroan, hewan hidup, dan produk asal hewan pada tahun 2025,” kata Dankvert.

Eksportir daging dan unggas terkemuka Rusia juga meluncurkan rencana ambisius untuk meningkatkan ekspor tahun ini. Pada tahun 2025, Cherkizovo, produsen daging terbesar Rusia, memproyeksikan peningkatan penjualan sebesar 25% kepada pelanggan asing, ungkap Sergey Mikhailov, CEO Cherkizovo, dalam Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg. Tahun lalu, ekspor, yang 70%-nya berupa daging broiler, menghasilkan 9% dari pendapatan perusahaan.

Selain itu, ekspor kalkun dari Rusia sedang booming, Mikhailov mengindikasikan. “Dinamika ekspor kalkun sangat baik. Pada kuartal pertama tahun 2025, pengiriman dalam bentuk fisik dan moneter meningkat lebih dari 60%. Dari semua kategori produk kami, ini adalah pertumbuhan yang paling mengesankan,” ujarnya.

Cherkizovo terutama mengekspor produknya ke Tiongkok, Kazakhstan, Kirgistan, Azerbaijan, dan Belarus. Tahun lalu, penjualan ke Arab Saudi melonjak 350% dan ke Uzbekistan 200%.

PASAR TELUR IRAN TERJEBAK DALAM BAKU TEMBAK PERANG DENGAN ISRAEL

Produksi telur di Iran tidak mengalami kerusakan langsung selama perang 12 hari dengan Israel, tetapi logistik dan penjualan ke konsumen menghadapi gangguan jangka pendek yang signifikan, ujar Mohammad Moradi, CEO Serikat Peternak Unggas Pusat, kepada pers setempat.

Laporan berkala menunjukkan bahwa pengiriman makanan ke beberapa kota di Iran mengalami kekacauan selama fase aktif konflik. Dalam beberapa kasus, kekurangan produk memicu gejolak harga. Menurut Moradi, peristiwa serupa terjadi di pasar telur.

“Selama beberapa hari ini, masalah penjualan produk menjadi topik yang sangat memprihatinkan karena kami berjuang untuk mencegah potensi “penyalahgunaan” situasi yang ada. Rekan-rekan kami di serikat dan produsen telur telah melakukan yang terbaik agar produk mencapai konsumen akhir tepat waktu, bahkan di kota-kota yang mengalami peningkatan kemacetan,” kata Moradi, seraya mencatat bahwa terlepas dari tantangan ini, produksi telur di Iran tetap berjalan tanpa gangguan.

Produsen telur Iran terutama mengaitkan gejolak harga di pasar selama perang dengan pengecer yang tidak bermoral. "Sayangnya, dalam situasi seperti itu, beberapa orang mungkin memanfaatkannya, dan itu tidak mengada-ada," tambah Moradi.

Namun, Moradi menekankan, masalah awal terkait transportasi dan logistik telur relatif singkat.

Meskipun kesepakatan damai telah dicapai, industri telur Iran sedang bersiap menghadapi eskalasi konflik baru. "Bahkan jika ada tantangan baru, langkah-langkah yang diperlukan telah diambil untuk memastikan pasokan bahan baku, transportasi, dan produksi yang berkelanjutan," kata Moradi.

Sementara itu, Moradi menyuarakan kekhawatiran bahwa konsumsi telur, yang terhambat oleh krisis ekonomi umum negara itu selama beberapa tahun terakhir, dapat menurun lebih jauh dalam beberapa bulan mendatang. Ia mencatat bahwa industri telur Iran bersiap menghadapi penurunan konsumsi telur musiman selama bulan-bulan musim panas, dan penjualan telur diperkirakan akan menurun selama 2 bulan ke depan. "Dalam situasi seperti ini, pemerintah diharapkan mendukung produsen agar mereka tidak mengalami kerugian jika terjadi kelebihan pasokan," ujar Moradi.

Iran saat ini memproduksi sekitar 115.000 ton telur per bulan, melebihi permintaan di pasar domestik. Menurut Moradi, ekspor telur tampaknya tidak tersentuh oleh perang dengan Israel. Ia memperkirakan bahwa sejak awal tahun, negara tersebut telah mengekspor sekitar 27.000 ton telur. Iran mengekspor telur terutama ke negara-negara tetangga di Timur Tengah.


BRASIL DESAK TIONGKOK DAN UNI EROPA UNTUK CABUT LARANGAN IMPOR UNGGAS

Para pejabat tinggi pemerintah Brasil telah mengadakan perundingan dengan Tiongkok dan Uni Eropa untuk mendapatkan kembali akses ke pasar penjualan utama yang hilang akibat wabah flu burung.

Tiongkok sedang mempertimbangkan untuk mencabut larangan impor daging ayam dari Brasil, yang diberlakukan pada Mei 2025 menyusul wabah flu burung di sebuah peternakan unggas komersial di wilayah Rio Grande do Sul, Menteri Pertanian Brasil Carlos Favaro menjelaskan, saat berbicara di KTT BRICS di Rio de Janeiro.

Sebelum larangan tersebut, Brasil menyumbang hampir setengah dari impor daging ayam Tiongkok, yang diperkirakan mencapai 495.000 ton pada tahun 2024.

Favaro tidak memberikan rincian lebih lanjut, hanya menyatakan bahwa Presiden Lula da Silva memimpin negosiasi atas nama Brasil.

HARGA TELUR DI KAWASAN BALTIK MASIH TERTEKAN

Dampak wabah flu burung di Lituania dan Polandia masih terasa di pasar telur regional dan, menurut para pelaku pasar lokal, dapat memicu krisis baru.

Meskipun harga telur eceran di Lituania telah meningkat secara moderat selama beberapa minggu terakhir, harga grosir mengalami pertumbuhan dua digit, ungkap Aleksandrs Izgorodins, analis di Citadele Bank. Disparitas ini menunjukkan bahwa pelaku usaha belum sepenuhnya membebankan kenaikan biaya kepada konsumen, karena permintaan masih relatif lemah.

Namun, tren ini kemungkinan besar tidak akan berlangsung lama. "Jika harga grosir terus meningkat dalam jangka waktu yang panjang, kenaikan harga telur eceran selanjutnya tidak akan terelakkan," ujar Izgorodins.

Situasi harga di pasar telur kawasan Baltik sebagian besar didorong oleh kekhawatiran akan kekurangan, karena wabah flu burung baru-baru ini telah membunuh ratusan ribu ayam di Lituania dan jutaan di Polandia. Meskipun demikian, Lituania masih dapat memenuhi permintaan telurnya sendiri, tegas Gytis Kauzonas, direktur Asosiasi Unggas Lituania. Industri ini memiliki kapasitas untuk memproduksi 800-880 juta telur pada tahun 2025, tambahnya.

“Angka ini benar-benar dapat memenuhi kebutuhan Lithuania sepenuhnya, terutama karena sejumlah besar telur diekspor ke luar Lithuania, termasuk ke Latvia. Banyak produk telur olahan diekspor ke seluruh Eropa, bahkan mencapai Amerika atau Jepang,” ujar Kauzonas.

INVESTIGASI GLOBAL MENGUNGKAP PENYALAHGUNAAN YANG MELUAS DI PETERNAKAN TELUR INDUSTRI

Aktivis kesejahteraan hewan mengklaim bahwa investigasi terbesar di dunia terhadap peternakan telur industri telah menyoroti kondisi kandang yang kotor.

Investigasi oleh Open Wing Alliance – sebuah koalisi yang terdiri dari hampir 100 organisasi yang didirikan oleh The Humane League – mengamati kondisi di 35 negara. Investigasi tersebut menemukan penyalahgunaan yang meluas terhadap ayam petelur yang terjebak di kandang yang penuh sesak dengan bukti unggas yang terluka, bangkai yang membusuk, dan kondisi yang rentan terhadap penyakit.

Meskipun sebagian besar perusahaan makanan, seperti The Hershey Companby, Hormel Foods, dan Barilla, setuju untuk menghapus kandang dari rantai pasokan telur mereka dan beralih ke status bebas kandang, perusahaan lain lebih lambat dalam berubah.

Laporan tersebut menyatakan bahwa perusahaan makanan seperti Walmart, Zensho Holdings, Aeon, dan Inspire Brands terus mendapatkan keuntungan dari pengadaan telur dari ayam di kandang yang sudah ketinggalan zaman, yang mendorong investigasi untuk berfokus pada dari mana keempat pemimpin industri ini mendapatkan telur dari kandang.

KOPERASI PRANCIS MELUNCURKAN RENCANA AMBISIUS UNTUK SEKTOR UNGGAS

Koperasi pertanian Prancis Maïsadour meningkatkan komitmennya untuk menyusun sektor unggas yang berkelanjutan dan menguntungkan yang berakar di wilayahnya. Koperasi tersebut meluncurkan rencana untuk mendorong terciptanya dan berkembangnya bangunan peternakan dan mendukung generasi peternak baru.

Maïsadour, yang berpusat di area pertanian barat daya, adalah koperasi multi-segi yang terlibat dalam unggas, jagung, benih tanaman pangan, sayuran, produksi bebek untuk industri foie gras, serta budidaya ikan trout dan salmon.

Dengan proyek unggasnya, perusahaan tersebut menanggapi meningkatnya konsumsi unggas. Rencana pengembangan baru untuk sektor tersebut adalah untuk memenuhi kebutuhan produksi langsung, khususnya untuk memasok lokasi pemrosesan Fermiers du Sud-Ouest, sambil meletakkan dasar bagi kebangkitan berkelanjutan sektor tersebut. Untuk tujuan ini, Koperasi berencana membangun 150 kandang ‘Liberté’ baru untuk 450.000 unggas, 15 bangunan standar pada tahun 2029 untuk 3 juta ayam, dan 50 bangunan terbuka untuk 700.000 unggas tambahan.

IKA FAPET UNPAD BERI MASUKAN TENTANG PERUBAHAN RUU PKH

Ikatan Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (IKA Fapet Unpad) memberikan masukan tentang perubahan RUU Peternakan dan Kesehatan Hewan, melalui Daftar Inventarisasi Masalah.

IKA Fapet Unpad berharap agar Daftar Inventarisasi Masalah dapat menjadi pijakan bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang tepat, efektif, dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong kemajuan sektor peternakan nasional yang mandiri dan berdaya saing.

Beberapa hal penting yang menjadi perhatian IKA Fapet Unpad dalam Daftar Inventarisasi Masalah adalah sebagai berikut:

  1. RUU PKH, sebaiknya dipisahkan antara RUU Peternakan dengan RUU Kesehatan Hewan, karena bidang Kesehatan Hewan sangat luas, jika terdapat dalam RUU PKH, menjadi sangat terbatas fungsi dan manfaat dari UU Kesehatan Hewan tersebut.
  2. Kebijakan Umum dan Strategis Pemerintah: Keterkaitan RUU dengan Program Pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), RUU Peternakan perlu memperkuat peran program pemerintah sebagai pemicu produksi peternakan dalam negeri. Tanpa pengaturan yang jelas, kebijakan ini berisiko mendorong investasi berbasis impor dan kontraproduktif terhadap upaya penguatan sektor peternakan nasional.
  3. Rasio Impor vs Produksi Domestik (contohnya TKDN/Tingkat Komponen dalam Negeri): RUU harus mengatur komitmen terhadap penggunaan produk peternakan lokal dengan mekanisme keterlibatan komponen dalam negeri sebagai bentuk keberpihakan terhadap peternak dan industri dalam negeri.
  4. Teknologi dan Inovasi: Smart Farming dan Transformasi Digital, dalam RUU perlu pasal khusus mengenai adopsi teknologi digital (IoT, AI, big data, blockchain) dalam sistem peternakan, perlindungan data, dan standardisasi sistem manajemen peternakan presisi.
  5. Pengembangan Terknologi (contohnya Kultur Sel dan Bioteknologi): RUU perlu mengatur terkait dukungan teknologi dalam pengembangannya tanpa mengabaikan aspek etika, keamanan pangan, mutu, labelisasi dan kehalalan. (seperti produk hasil kultur sel/daging buatan).
  6. Rekayasa Genetik dan Biosafety: RUU perlu mengatur tentang ternak GMO (Genetically Modified Organism), kloning, atau paten plasma nutfah. RUU harus mengatur terkait etika, biosafety, dan evaluasi risiko terhadap lingkungan serta kesehatan manusia.
  7. Kelembagaan Profesi: Pemisahan Kewenangan Profesi, RUU harus mengatur batas kewenangan yang jelas antara dokter hewan dan sarjana peternakan/insinyur peternakan sesuai ruang lingkup dan bidang keahliannya.
  8. Penguatan Peran Profesi Peternakan: RUU harus mengatur pengakuan dan pengaturan hukum bagi profesi keinsinyuran peternakan dalam institusi pemerintah, perusahaan, dan kelembagaan lainnya.
  9. Lingkungan dan Kesejahteraan: RUU harus mengatur terkait perubahan Iklim dan peternakan berkelanjutan melalui pengaturan mitigasi emisi ternak, pengelolaan limbah, pengukuran jejak karbon dan insentif bagi peternakan ramah lingkungan (strategi net-zero).
  10. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare): RUU harus memuat standar internasional merujuk pada aturan seperti Five Freedoms dan OIE/WOAH.
  11. Ekonomi Peternakan dan Perlindungan Pelaku usaha peternakan: RUU harus mengatur kesejahteraan peternak melalui jaminan atas pendapatan layak, perlindungan harga, akses terhadap asuransi dan jaminan sosial, serta mekanisme pengawasan ketimpangan kemitraan dan praktik pasar yang merugikan.
  12. Perlindungan serta Pemberdayaan Peternak Mandiri dan UMKM: RUU perlu memuat pasal khusus tentang kemitraan yang adil, akses input, perlindungan harga dasar, dan keberpihakan anggaran untuk peternak kecil dan UMKM.
  13. Industri Hilir dan Ekspor: RUU harus mengatur terkait penguatan aspek hilirisasi, standar produk olahan, branding, insentif, dan fasilitasi ekspor, termasuk pusat logistik, sertifikasi halal internasional, dan sistem traceability.
  14. Ketahanan dan Krisis Pangan: Resiliensi Sistem Pangan Nasional, RUU perlu mengatur cadangan protein hewani nasional, sistem alarm dini, dan strategi ketahanan pangan menghadapi disrupsi global.
  15. Perlindungan Pemanfaatan lahan; RUU harus mengatur tentang pemanfaatan lahan desa, lahan ex-tambang, perkebunan dan lahan tidur untuk peternakan.
  16. Perlindungan Terhadap Plasma Nutfah Ternak Asli Indonesia: Sebagai komitmen pemerintah dalam upaya melestarikan plasma nutfah ternak asli Indonesia yang telah diakui dan ditetapkan sebagai rumpun agar bisa tetap lestari.
  17. Penguatan SDM Peternakan: RUU perlu menegaskan bahwa profesi peternakan harus hadir secara aktif dan berkontribusi dalam semua intitusi/kelembagaan yang terkait dengan sektor peternakan.
  18. Advokasi dan Perlindungan Peternak: RUU perlu mengatur tentang perlindungan khusus berupa kebijakan afirmatif, insentif, hingga dan subsidi langsung kepada peternak rakyat
  19. Tatakelola Logistik: RUU harus mendorong sistem distribusi dan tata niaga yang transparan, adil, serta melindungi peternak dari praktik kartel atau permainan harga, seperti pada komoditas ayam dan telur.
  20. Peran Pemerintah dari Hulu ke Hilir: RUU perlu memperkuat peran negara dalam mendukung peternakan rakyat secara menyeluruh: dari bibit, budidaya, hingga hilirisasi dan pemasaran.

Berdasarkan serangkaian daftar inventarisasi pokok-pokok permasalahan tersebut, IKA Fapet Unpad berharap agar RUU Peternakan yang tengah disusun dapat menjadi landasan hukum/instrumen yang adaptif, aplikatif, responsif, dan implementatif terhadap perkembangan zaman, serta berpihak pada peternak rakyat, pelaku usaha peternakan nasional, dan keberlanjutan lingkungan. Penyusunan regulasi yang komprehensif dan visioner merupakan kunci untuk memperkuat kedaulatan pangan, mewujudkan kesejahteraan masyarakat peternakan, serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045. (Rilis)


TAK PERLU SUSU FORMULA, CUKUP RAJIN KONSUMSI TELUR

Konsumsi telur rebus sangat dianjurkan bagi ibu hamil atau menyusui. (Foto: Pixabay)

Nutrisi dalam telur ayam, menurut para ahli gizi, mampu memacu produksi air susu ibu (ASI). Lupakan banyaknya mitos soal konsumsi telur ayam yang justru menyesatkan.

Di era serba digital sekarang ini, ternyata masih banyak mitos menakutkan di tengah masyarakat. Terutama di masyarakat pedesaan yang cenderung masih memegang “tradisi kebiasaan” orang tua mereka di zaman dulu. Salah satu mitosnya, mengonsumsi telur setiap hari dianggap membahayakan kesehatan ibu hamil dan setelah anak lahir.

“Kata orang tua sih, kalau lagi hamil jangan kebanyakan makan telur, nanti bayinya banyak bisulan. Air susu ibunya juga jadi amis,” tutur Siti Ruminah, warga Kampung Pegiringan, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, kepada Infovet.

Ibu muda ini baru saja melahirkan anak kedua. Umur bayinya masih sekitar tiga bulan. Oleh orang tuanya, Ruminah dilarang makan telur setiap hari. Dia hanya diizinkan makan telur seminggu sekali, sekadar untuk lauk, dan itupun hanya sebutir. Selebihnya, ibu dari Ruminah hanya menyarankan makan sayur dan tempe-tahu. Makan ikan pun jarang, karena dianggap lebih amis dibandingkan telur.

Arahan orang tua semacam ini rupanya sudah menjadi “tradisi” di kampung tersebut. Padahal, lokasi kampung ini tidak berada di pelosok atau pegunungan. Masih dalam jarak sekitar 15 km dari pusat Kota Pemalang. Tapi sebagian masyarakatnya masih memegang teguh mitos dalam urusan makan telur.

Berbeda dengan yang dialami Ruminah, wanita lainnya yakni Rina Nurkhikmah justru sebaliknya. Ia rajin konsumsi telur rebus selama masa kehamilan dan setelah melahirkan. Warga Desa Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang ini juga melahirkan anak kedua. Bahkan, setiap hari ia mengaku makan telur dua butir.

“Tiap pagi saya makan dua telur rebus. Kadang buat sarapan, kadang juga buat nyemil sambil minum teh,” katanya kepada Infovet.

Alasan ibu muda ini rutin mengonsumsi telur ayam setiap pagi menginspirasi banyak wanita sebaya di kampungnya yang juga ikut mengonsumsi telur. Terutama teman-teman dekatnya. “Kata dokter kandungan protein dan omega 3-nya tinggi, bagus buat ibu-ibu yang sedang menyusui bayi. Termasuk yang lagi hamil,” sebutnya.

Tak Perlu Sufor
Saat ini, Rina memang masih memiliki anak yang baru berumur sekitar enam bulan lebih beberapa hari. Awalnya, ia enggan mengonsumsi telur rebus tiap hari. Selain bosan, kadang berasa mual setelah konsumsi telur.

Namun setelah mendengar penjelasan dari dokter kandungan dan dokter anak, setiap kali kunjungan pemeriksaan, ia pun menjadi rutin mengonsumsi telur. Menurut dokter anak, kandungan telur sangat bagus untuk produksi air susu ibu (ASI).

Dan ternyata benar, produksi ASI ibu muda ini cukup berlimpah sejak mengonsumsi telur rebus tiap pagi. “Alhamdulillah anak saya sehat. Saya tidak perlu nambahin pakai sufor (susu formula),” ungkapnya.

Tentu saja bukan hanya telur yang ia konsumsi, Rina juga rajin mengonsumi sayur dan buah. Susu berbahan kacang-kacangan juga menjadi pelengkap minumannya setiap pagi. Namun, konsumsi telur sangatlah dianjurkan agar ASI yang dihasilkan berkualitas.

Menirukan pesan dokter, menurut Rina, telur ayam sumber protein yang harganya murah. Untuk mendapatkannya pun tak sulit, tak perlu jauh-jauh ke pasar. “Saya biasanya beli di warung dekat rumah,” tambahnya.

ASI Semakin Berkualitas
Menurut praktisi kesehatan anak, dr Triza Arif Santosa SpA, makan telur saat hamil dan menyusui aman, asalkan benar-benar dimasak dengan baik. Tak disarankan mengonsumsi telur mentah atau setengah matang, karena kemungkinan tercemar bakteri berbahaya seperti salmonela.

Bakteri tersebut bisa menyebabkan keracunan. Memasak telur sampai matang sempurna akan membunuh bakteri, sehingga akan mengurangi risiko keracunan bakteri salmonela saat hamil atau menyusui.

Journal of Health, Population, and Nutrition, menuliskan bahwa manfaat telur rebus untuk ibu hamil dan menyusui dapat meningkatkan kualitas ASI. Wanita hamil membutuhkan minimal 450 mg kolin. Sementara wanita yang sedang menyusui membutuhkan sekitar 550 mg kolin.

Selain untuk ASI, telur juga meningkatkan kecerdasan otak bayi sejak kandungan. Mengonsumsi telur dalam jumlah yang cukup dapat membantu pertumbuhan janin dan bayi yang menyusu ASI. Karena mengandung asam amino esensial yang tidak dapat disintetis oleh tubuh.

Menurut jurnal tersebut, kandungan vitamin D pada telur terkonsentrasi di kuning telur, jadi makan telur utuh sangat dianjurkan, bukan hanya bagian putih telurnya. Wanita hamil dan menyusui membutuhkan lebih banyak vitamin D dibandingkan wanita tidak hamil. Nutrisi ini penting untuk kesehatan, termasuk menjaga kesehatan tulang, mendukung fungsi kekebalan tubuh, dan menstimulasi perkembangan janin. Hanya dalam satu kapsul “ajaib” kebutuhan nutrisi ibu dan janin sudah terpenuhi.

ASI menjadi satu-satunya makanan bernutrisi lengkap untuk bayi. Kualitas ASI yang baik juga dapat berpengaruh pada perkembangan otak si kecil. Untuk itu, para ibu perlu mengonsumsi makanan yang tinggi protein, kalsium, hingga omega 3 agar bayi tetap sehat. Telur ayam adalah sumber omega 3 yang paling murah dari sisi harga dan mudah didapatkan.

Lupakan Mitos Soal Telur
Cukup banyak mitos seputar makan telur bagi ibu hamil yang masih beredar di masyarakat hingga sekarang, di antaranya ibu hamil yang makan telur khawatir kulit anaknya saat lahir akan belang seperti panu dan bisulan.

Ada juga mitos bahwa ibu hamil yang makan telur mentah atau setengah matang dapat mempermudah proses persalinan. Menurut banyak ahli nutrisi, menyebutkan mitos ini yang paling berisiko secara medis. Telur mentah atau setengah matang justru dapat membahayakan ibu hamil karena berisiko terkontaminasi bakteri salmonela yang dapat menyebabkan keracunan makanan dan komplikasi lainnya.

Gejala yang akan muncul akibat infeksi bakteri ini adalah demam tinggi, muntah, sakit perut, sakit kepala, diare, dan dehidrasi. Pada beberapa kasus, tingkat keparahan gejala bisa sangat berat hingga menyebabkan persalinan prematur bahkan keguguran.

Jika seorang ibu hamil sedang mengidam atau ingin makan telur, sebaiknya hindari menyajikan telur setengah matang atau telur mentah. Jangan pernah ambil risiko di saat hamil dengan makanan yang masih belum sempurna kematangannya.

Selain memperhatikan tingkat kematangan telur, sebaiknya ibu hamil juga segera mengonsumsi telur setelah dimasak untuk menghindari kontaminasi bakteri. Terlalu lama membiarkan makanan, terlebih yang tidak diolah dengan baik, dapat memicu tumbuhnya bakteri penyebab penyakit listeriosis. Jika terjadi pada ibu hamil, infeksi ini berisiko tinggi menyebabkan keguguran bahkan bayi meninggal dalam kandungan atau stillbirth.

Berikut beberapa panduan dalam memilih dan menyajikan telur yang perlu ibu hamil pahami, di antaranya hindari membeli telur yang cangkangnya retak dan kotor, cuci telur sampai bersih dan keringkan cangkangnya, simpan telur dalam lemari es pada tempat yang terpisah dengan makanan lain, hindari konsumsi telur mentah atau setengah matang, sajikan telur dengan cara digoreng dan direbus sampai benar-benar matang, cuci tangan sebelum dan setelah memasak telur, serta pastikan telur sudah benar-benar matang, biarkan telur di dalam air mendidih hingga kira-kira 10-12 menit sewaktu merebus telur.

Telur sangat bermanfaat bagi perkembangan janin jika disajikan dengan cara yang baik dan benar. Bagi para ibu hamil, khususnya yang tinggal di pedesaan, sangat penting untuk sadar nutrisi. Lupakan mitos-mitos yang menyeramkan dan tidak benar terkait konsumsi telur. ***


Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

KUPAS TUNTAS PENYAKIT PERNAPASAN DI CHICK DAY 2025

Penyakit merupakan salah satu hambatan dalam budi daya perunggasan. Terlebih lagi penyakit infeksius yang menyerang saluran pernapasan, jika tidak diatasi secara tepat efeknya akan sangat merugikan.




BIOBON: YEAST-BASED MYCOTOXIN BINDER

4-in-1 protection: Detox, degrade toxin, strengthen immunity, and keep birds triving. Targets mycotoxins without touching essential nutrients.



MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BABI INDUKAN MELALUI SINKRONISASI BERAHI

Suasana Webinar Ceva 
(Sumber : CR)

Wabah African Swine Fever (ASF) yang melanda Indonesia beberapa tahun lalu dampaknya masih terasa hingga kini. Salah satu dampak yang paling kentara adalah sulitnya mendapatkan stok bibit babi untuk penggemukan.

Dalam rangka meningkatkan produktivitas indukan dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, tentunya dibutuhkan manajemen pemeliharaan dan trik tertentu agar indukan dapat menghasilkan bibit yang berkualitas secara berkelanjutan.

Ceva Animal Health Indonesia selaku pelaku industri obat hewan mencermati isu ini dengan baik. Mereka mengadakan webinar mengenai produktivitas babi indukan yang berjudul Reproductive Management Through Synchronization of Gilts melalui Zoom Meeting pada Selasa (22/7) yang lalu. Dalam acara tersebut yang bertindak sebagai pembicara adalah Dr Irawin Nimmansamai, Swine APAC Vet Service Manager Ceva Animal Health dan  dimoderatori oleh Drh Bintang Mas Kamdoro.

Dalam presentasinya, Dr Irawin menyampaikan bahwa produktivitas indukan dipengaruhi oleh berbagai hal mulai dari pakan, manajemen pemeliharaan, hingga status kesehatan. Selain itu ia juga menekankan bahwa potensi genetik babi saat ini sangat luar biasa, di Eropa bahkan dalam setahun indukan babi dapat melahirkan 35-40 ekor anakan. Sementara di beberapa negara Asia yang maju seperti Cina, 30-35 ekor anakan adalah hal yang lumrah. 

"Untuk mencapai itu, selain manajemen pemeliharaan yang baik juga tentunya harus dilakukan trik agar siklus kehamilan dan melahirkan dari indukan berjalan dengan baik. Karena jika terlalu lama dibiarkan non produktif, peternak juga akan rugi dari segi pakan dan tempat," tutur dia. 

Dr Irawin mengatakan bahwa salah satu trik yang dapat digunakan dalam mengakali hal ini adalah sinkronisasi berahi. Sinkronisasi berahi adalah upaya manipulasi atau pengaturan siklus reproduksi hewan betina agar berahi (estrus) terjadi secara serempak dalam suatu kelompok. Pada ternak babi, yang memiliki sistem reproduksi poliestrus (birahi sepanjang tahun), sinkronisasi berahi sangat berguna terutama pada peternakan skala menengah hingga besar yang menerapkan sistem batch mating atau kawin kelompok.

Siklus estrus babi betina (gilt dan sow) umumnya berlangsung selama 18–24 hari, dengan rata-rata 21 hari. Namun dalam kondisi normal, waktu berahi antar-individu tidak selalu bersamaan. Hal ini menyulitkan manajemen reproduksi, terutama penjadwalan inseminasi buatan (IB) dan pemanenan hasil ternak secara serempak. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi sinkronisasi berahi.

Dr Irawin mengatakan bahwa sinkronisasi berahi dapat dilakukan dengan penggunaan sediaan hormonal yang berupa progrsteron sintetis misalnya alternogest. Sediaan tersebut telah banyak digunakan di berbagai negara untuk melakukan sinkronisasi berahi pada babi indukan. 

Tujuan dari sinkronisasi berahi selain menyamakan waktu birahi antar-individu dalam satu kelompok, tentunya juga dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dengan menurunkan waktu dan tenaga dalam deteksi birahi harian.

"Ini tentunya akan memudahkan pengaturan logistik dan sumber daya (seperti penyediaan semen beku, jadwal tenaga kerja, vaksinasi, dan pakan laktasi). Meningkatkan produktivitas dan profitabilitas secara keseluruhan dalam sistem peternakan babi komersial," tutur Dr Irawin. 

Dari webinar tersebut dapat disimplkan bahwa sinkronisasi berahi merupakan teknologi penting dalam sistem reproduksi babi modern. Meskipun metode hormonal membutuhkan biaya tambahan, manfaat jangka panjang berupa efisiensi, konsistensi produksi, dan keuntungan ekonomi membuatnya layak dipertimbangkan terutama pada skala usaha menengah hingga besar. Kombinasi antara teknologi dan manajemen yang baik akan mendukung keberhasilan program reproduksi dan meningkatkan daya saing industri peternakan babi. (CR)

ARGININE DAN TRYPTOPHAN UNTUK PRODUKSI TELUR YANG STABIL DAN OPTIMAL

Produksi telur yang optimal merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam industri peternakan unggas, namun berbagai faktor dapat memengaruhi kemampuan produksi telur. Faktor-faktor tersebut sangatlah kompleks, mulai dari nutrisi, manajemen, hingga kesehatan hewan, semuanya berperan penting dalam menentukan tingkat produksi telur.




FESTIVAL AYAM TELUR DAN SUSU 2025, RELEVAN DENGAN PROGRAM MBG

Talkshow hari pertama gelaran Festival Ayam Telur dan Susu, Sabtu 19 Juli 2025. (Foto: NDV)

Festival Ayam Telur dan Susu (FATS) relevan dan sejalan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu langkah strategis Indonesia dalam mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mempersiapkan sumber daya manusia dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Hal ini dikemukakan Rudi Sarasono selaku Direktur Utama PT Permata Kreasi Media, penyelenggara ILDEX Indonesia dan FATS 2025.

“Dalam pelaksanaannya, MBG bertujuan untuk mengatasi permasalahan gizi buruk dan stunting Indonesia, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak-anak, kesehatan ibu hamil serta ibu menyusui sebagai penerima manfaat,” kata Rudi saat membuka gelaran FATS di Lapangan Hijau Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (19/7/2025).

Berkolaborasi dengan Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), kegiatan FATS tahun ini diselenggarakan di kawasan Lapangan Hijau Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan pada Sabtu dan Minggu 19 - 20 Juli 2025. 

Berbagai agenda acara memeriahkan FATS 2025 antara lain talkshow, seminar, kreasi mahasiswa untuk menu makanan MBG, bazaar, hiburan, dan senam jantung sehat. Lomba Poster yang bertema Gizi & Kecerdasan untuk siswa SLTA digelar hari sebelumnya.  

Talkshow pada hari pertama bertema “Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Rantai Pasok Bahan Pangan” menghadirkan narasumber I  Made Dewa Agung K.N  (Tenaga Ahli Badan Gizi Nasional), I Ketut Wirata (Direktur Kesmavet, Kemenetrian Pertanian) dan Cecep Muhammad Wahyudin Wakil (Ketua Umum  Bidang Peternakan, KADIN).  

Hari kedua digelar lalkshow mengangkat topik “Protein Hewani sebagai Sumber Gizi Anak Bangsa” mengundang nara sumber Rizal M Damanik (Guru Besar IPB University), Audy Joinaldy (Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia), serta Hasudungan A. Sidabalok (Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian DKI).

Dalam kesempatan yang sama Rektor UAI, Prof Dr Ir Asep Saefudin MSc mengatakan Universitas Al Azhar Indonesia merasa terhormat menjadi mitra kegiatan FATS 2025.

Menurut Asep, kegiatan ini sejalan dengan komitmen UAI dalam meningkatkan literasi gizi di Masyarakat sekaligus memperkuat peran pendidikan tinggi dalam membangun generasi sehat dan cerdas. 

“Tema yang diusung ini sangat relevan dengan upaya kita bersama dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Kami mendorong keterlibatan mahasiswa dalam merespons isu strategis bangsa, termasuk melalui pengembangan menu dan edukasi gizi dalam mendukung program MBG. Kami berharap kolaborasi ini mempu meningkatkan kesadaran pentingnya konsumsi  protein hewani, serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi perbaikan gizi dan kualitas SDM Indonesia,” paparnya.

Dirjen PKH Agung Suganda membuka EXSACT-A 2025 International Seminar

FATS 2025 juga dihadiri oleh Kepala Kantor Komunikasi Presiden, Dirjen Peternakan & Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda yang turut membuka Exsact-A International Seminar “Nourishing Minds: Innovations From Poultry, Eggs, and Milk”.

Selain itu hadir pula Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan KADIN, Walikota Jakarta  Selatan, Staf Ahli Badan Pangan Nasional, Ketua Umum Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia, Ketua & Pengurus Asosiasi Terkait, pelaku usaha peternakan, mahasiswa,  penggerak PKK DKI dan masyarakat umum. (NDV

NUTRISI YANG PRESISI SEPANJANG MUSIM

Penyediaan bahan baku yang berkualitas mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan tidak dirusak oleh keberadaan jamur yang mudah tumbuh di iklim tropis. (Foto: allaboutfeed.net)

Menyajikan pakan presisi sebagai inovasi yang signifikan dalam industri pakan akan mengubah cara dalam menyediakan pakan yang presisi dan bagaimana hal itu dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sebab, hewan memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda setiap musim, misalnya hewan membutuhkan lebih banyak energi dan protein selama musim dingin.

Dengan mengoptimalkan asupan nutrisi, pakan presisi dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pakan, mengurangi biaya produksi, dan mengurangi dampak lingkungan. Sistem pemberian pakan yang menggunakan teknologi informasi untuk mengoptimalkan asupan nutrisi hewan, termasuk penggunaan teknologi seperti sensor, monitor, serta sistem pemberian pakan otomatis dapat mengukur dan menyesuaikan pakan berdasarkan kebutuhan hewan.

Berbagai tantangan dalam menyajikan pakan yang presisi merupakan hal yang perlu diperhitungkan matang-matang agar tidak menjadi bumerang dalam pelaksanaannya. Tantangan iklim/cuaca, dimana Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis, maka tingkat kelembapan umumnya relatif mencapai 70-90% dan suhu yang relatif konstan. Standar suhu ruangan yang nyaman umumnya berkisar antara 20-24°C dan kelembapan ruangan yang ideal biasanya berada di antara 40-60%. Kelembapan udara jika melebihi 60%, dapat menyebabkan beberapa dampak negatif, seperti pertumbuhan jamur.

Penyediaan bahan baku yang berkualitas mempunyai nilai nutrisi yang tinggi dan tidak dirusak oleh keberadaan jamur yang mudah tumbuh di iklim tropis menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan bahan baku pakan yang masih tergantung impor juga memengaruhi komposisi formulasi pakan. Bahkan jika ada gejolak kurs Dollar dan Euro seperti saat ini, akan memengaruhi harga bahan baku yang berakibat harga pakan melambung. Sedangkan harga pronak tidak serta-merta naik secara signifikan, yang berujung komposisi dalam formulasi pakan akan berubah menyesuaikan harga yang kompetitif.

Ayam modern yang mempunyai potensi genetik tinggi, seperti pada broiler mempunyai karakteristik tumbuh lebih cepat dan nafsu makan tinggi, sedangkan pada layer mempunyai karakteristik bobot tubuh lebih ringan, dewasa kelamin lebih awal, konsumsi pakan lebih sedikit, dan produktivitas lebih tinggi.

Ayam modern mempunyai aktivitas metabolisme lebih tinggi, kebutuhan nutrien tinggi, dan lebih rentan stres. Dengan kondisi ayam modern yang mempunyai potensi genetik tinggi, perlu diupayakan dengan penyediaan pakan yang presisi.

Faktor-faktor penting untuk penyediaan pakan yang presisi antara lain adanya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2025.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Departement Manager
PT Romindo Primavetcom
Telp: 0812-8644-9471

SUJA TERUS BERUPAYA PENETRASI PASAR INTERNASIONAL PRODUK PERUNGGASAN

Kontainer Berisi Daging Ayam Beku Mliki Suja, Siap Berangkat ke Timor Leste
(Foto : Suja)


Ditengah fluktuasi pasar produk perunggasan dalam negeri, membidik pasar ekspor merupakan salah satu alternatif mendapatkan cuan lebih. Beberapa perusahaan Indonesia mulai membangun jaringan internasional, bukan hanya demi cuan tetapi juga kehormatan. 

Menjaga Eksistensi & Konsistensi

Salah satu perusahaan yang konsisten dalam melakukan ekspor produk perunggasan adalah CJ Group. Berbagai produk perunggasan seperti telur tetas, DOC, bahkan daging ayam beku telah berhasil mereka ekspor ke beberapa negara tetangga.

Terakhir pada Selasa 15 Juli 2025 lalu PT Sumber Unggas Jaya (Suja) yang juga bagian CJ Group telah berhasil melakukan ekspor karkas ayam beku ke Timor Leste. Ini merupakan kedua kalinya Suja berhasil melakukan penetrasi pasar ke Timor Leste.

Dikatakan oleh Direktur PT Suja Joo Yong Bum dalam sebuah wawancara ekslusif bersama Infovet, PT Suja berhasil memberangkatkan 8,2 ton daging ayam beku ke Timor Leste pada pengiriman pertama di tanggal 15 Juli lalu. Transaksi tersebut bernilai 18.460 USD atau sekitar 301 Juta rupiah dalam kurs saat ini.

Ini merupakan pengiriman pertama dimana pengiriman selanjutnya sampai semester 2 tahun ini Suja berencana melakukan pengiriman hingga 50 ton dalam 6 kali pengiriman dengan total nilai 114.000 USD atau sekitar 1,8 Miliar Rupiah.

Ditemui ditempat yang sama Head of Production & Export Department RPHU PT Suja Pujiono mengatakan bahwa pada ekspor kedua ke Timor Leste ini kuantitasnya meningkat daripada ekspor pertama. Pada ekspor pertama kata Puji, Suja berhasil mengekspor total 33 ton karkas, sementara untuk kedua ini mereka sudah deal diangka 50 ton.

“Ini pencapaian yang bagus, kita masih menargetkan lebih dari itu. Ini juga indikasi bahwa produk kita diterima di sana, kami kira ini adalah suatu Langkah yang bagus kedepannya” tuturnya.

Sebalumnya Suja Juga Pernah Mengekspor Daging Ayam ke Timor Leste
(Foto : CR)

Meniti Jalan Berliku

Pada kenyataannya mengekspor produk ke luar negeri bukanlah urusan mudah. Ada sekelumit proses yang rumit yang harus dilalui untuk dapat mengekspor produk. Mulai dari hubungan G to G dan B to B, semuanya memakan tenaga, biaya, dan waktu yang cukup banyak. Hal tersebut dikemukakan oleh Dewa Putu Sumerta selaku komisaris PT Suja. Ia menceritakan bahwa berbagai tantangan merintangi mereka, namun Suja tak pernah gentar dan mundur.

“Kita harus sesuai standar internasional, memiliki kompartemen bebas AI, aspek logistik, bea cukai, karantina, jaminan kualitas produk dan lain – lain. Pokoknya banyak yang kita harus urus, namun dengan pengalaman kita sebagai pelaku industri dan dukungan dari CJ Group akhirnya kita bisa tembus juga,” tutur pria yang akrab dipanggil Pak Dewa tersebut.

Masalah lain di Timor Leste kata Pujiono adalah mengenai cold chain management, yang dinilainya kurang. Ia menjelaskan bahwa di Timor Leste sesungguhnya terdapat cold storage, namun tidak seperti di Indonesia yang berupa bangunan besar, di sana kebanyakan hanya berupa container yang diberikan fasilitas pendingin.

 

Optimis Menatap Pasar Luar Negeri

Ketika ditanya Langkah lebih lanjut mengenai pasar di Timor Leste baik Dewa maupun Puji sudah memikirkan kerangka untuk terus mengembangkan sayap Suja dan Cj Group di sana.

Dalam waktu dekat, kita juga akan mencoba ekspor HE atau DOC. Saat ini dalam proses persetujuan pemerintah Timor Leste.

“DOC dulu, baru pakan. Kalau bisnis perunggasan kan memang begitu biasanya, nah kami melihat dan mendengar langsung dari warga yang juga peternak di sana juga sulit mendapatkan DOC, makanya kami mungkin akan eksekusi rencana ini. Doakan saja supaya ini terus berjalan,” pungkas Dewa.

Hal ini dilakukan sejalan dengan program pemerintah Timor Leste yang memang tengah menggenjot produksi pertanian, peternakan, dan kelautan mereka agar mengurangi ketergantungan impor dari luar

Ditambahkan oleh Pujiono, meskipun saat ini bisa dibilang kecil sekitar 8-10% dari total pendapatan, Suja yakin dalam tiga tahun kedepan mampu menaikkan pendapatan hingga 25%. Tentunya ini juga harus didukung dengan konsistensi dalam menjaga kualitas produk.

“Dalam jangka menengah kami menargetkan setidaknya ada lima negara yang akan menjadi tujuan ekspor baru baik karkas ataupun produk olahan. Dalam jangka panjang kami ingin membangun sistem distribusi regional yang stabil nan efisien, sehingga kami dapat bersaing dengan pemain lainnya,” kata Dewa.

Ia juga berharap agar apa yang dilakukan Suja dapat ditiru oleh perusahaan lain, selain diversifikasi profit, menurutnya ekspor juga adalah soal harga diri bangsa, karena selama ini Indonesia dikenal sebagai negara produsen perunggasan namun bukan pemain besar dalam aktivitas pasar antarnegara.

“Kami percaya bahwa ayam Indonesia punya daya saing tinggi di pasar regional, yang dibutuhkan hanyalah konsistensi, kepercayaan, dan keberanian bersaing,” tutup Dewa. (CR)

 

MUSIM BERGANTI, NUTRISI HARUS TETAP PRESISI

Ilustrasi kandang ayam layer. (Foto: Dok. Mensana)

Efisiensi saat ini hampir menjadi bahasan di sebagian kalangan masyarakat, termasuk di budi daya perunggasan. Efisiensi menjadi sesuatu yang harus dicapai untuk memastikan profitabilitas usaha unggas yang dijalankan tercapai secara optimal.

Dalam budi daya unggas, efisiensi mengandung arti sebagai upaya untuk mencapai tingkat produktivitas tertinggi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal, baik dari sisi input seperti pakan, tenaga kerja, dan lain-lain, maupun dari output seperti produksi daging ayam dan telur.

Saat ini aspek pakan menjadi titik fokus untuk dilakukan efisiensi, mengingat pakan merupakan komponen biaya tertinggi dalam budi daya unggas dan nutrisi pakan memegang peranan penting dalam produktivitas ternak. Oleh karena itu, sangat penting untuk menemukan keseimbangan antara kebutuhan nutrisi ternak dan nutrisi yang disediakan dalam pakan untuk dapat memaksimalkan keuntungan.

Pemberian pakan dengan nutrisi yang presisi merupakan praktik penyesuaian dan pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, tidak berlebihan, dan tidak kekurangan. Untuk mengurangi kesenjangan antara kandungan nutrisi dalam pakan dengan nutrisi yang dibutuhkan ternak, maka perlu dilakukan formulasi pakan yang tepat dan sesuai.

Jika nutrisi yang diberikan berlebihan, nantinya akan terbuang dan tentu dapat membebani biaya pakan karena nutrisi yang dibuang tidak menjadi output produksi yang memiliki nilai jual. Selain itu, nutrisi yang berlebih juga dapat membebani metabolisme tubuh ternak, seperti ketika kandungan protein di pakan yang berlebih akan memicu proses deaminasi yang memerlukan energi dan memicu stres metabolisme, khususnya di wilayah panas karena dapat meningkatkan beban panas tubuh.

Nutrisi yang presisi merupakan dasar kesehatan, produktivitas, dan profitabilitas. Menurut Moss et al. (2021), dalam mengimplementasikan konsep nutrisi yang presisi, diperlukan pemenuhan tiga persyaratan utama yang meliputi karakteristik bahan baku pakan yang digunakan, ketepatan dalam menentukan kebutuhan nutrisi harian ternak dan manajemen yang ketat, serta cermat dalam pemenuhan dua persyaratan tersebut. Genetik, jenis kelamin, usia, dan kondisi lingkungan harus menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan persyaratan-persyaratan di atas.

Lingkungan terutama cuaca atau musim dapat memengaruhi kedua persyaratan dalam implementasi nutrisi yang presisi. Indonesia merupakan negara yang terletak pada garis khatulistiwa dengan iklim tropis yang mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Suhu harian di Indonesia dapat melebihi 35° C dengan fluktuasi antara 29-36° C dengan kelembapan 70-80% (Hery, 2010).

Pergantian musim ini menjadi tantangan dalam mempertahankan nutrisi agar tetap presisi. Musim yang berbeda dapat menghasilkan karakteristik bahan baku pakan yang berbeda, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Pemantauan kualitas bahan baku pakan pada musim yang berbeda sangat penting dilakukan untuk memastikan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2025.

Ditulis oleh:
Wardiman SPt
Feed Formulator PT Mensana Aneka Satwa

PT MALINDO FOOD DELIGHT EKSPOR 40 TON PRODUK OLAHAN AYAM KE EMPAT NEGARA

Seremoni pengguntingan pita dalam acara pelepasan ekspor produk olahan ayam

Produk olahan ayam PT Malindo Food Delight diekspor ke empat negara sekaligus  yakni Uni Emirat Arab (UEA), Oman, Singapura, dan Jepang. Pelepasan ekspor ini dilakukan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Dr Drh Agung Suganda MSi di kawasan pabrik PT Malindo Food Delight, Cikarang, Senin (14/7/2025).

Direktur PT Malindo Food Delight, Ir Rewin Hanrahan mengemukakan ekspor ke negara UEA merupakan yang perdana. Total volume ekspor mencapai 40 ton dengan nilai transaksi US$ 149.000 atau setara Rp2,4 miliar. 

Rewin Hanrahan

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda mengapresiasi keberhasilan PT Malindo Food Delight dalam mengembangkan pasar ekspor. 

Sebanyak 40 ton produk yang diekspor, 11 ton di antaranya dikirim ke Uni Emirat Arab. Selain itu, 11 ton dikirim ke Oman, 12 ton ke Singapura, dan 6 ton ke Jepang. Agung berharap ekspor ke kawasan Timur Tengah, khususnya Arab Saudi dapat segera terwujud. 

“Kita punya jemaah haji setiap tahun tidak kurang dari 221 ribu orang dan jemaah umrah nyaris setiap hari ada yang umrah ke sana. Tentu di kateringnya jika ada olahan yang diproduksi Malindo akan semakin mantap. Karena rasanya sama dengan yang di sini,” lanjut Agung.

Menurut Agung, dukungan ekspor produk olahan unggas merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk mendorong hilirisasi dan memperluas pasar. Hilirisasi dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurai tekanan di pasar domestik.

“Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian komersial, namun juga bukti nyata bahwa produk peternakan Indonesia siap bersaing di pasar global serta berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” tandasnya. 

Rewin menambahkan bahwa semua produk olahan yang diekspor telah memenuhi standar internasional dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

“Ini berkat dukungan Kementan yang terus mendorong dan memfasilitasi pelaku industri untuk menembus pasar ekspor. Karena hal ini tidak dapat berhasil tanpa G to G,” ujar Rewin.

Dia menyebut ekspor perdana ke Uni Emirat Arab sebagai momentum penting bagi perluasan pasar. Sementara permintaan dari Jepang dan Singapura tetap stabil, memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok pangan global.

“Ke depan kami berkomitmen terus meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar ekspor, dan memperkuat sistem mutu serta penelusuran produk demi membawa nama baik Indonesia di panggung internasional,” ujar Rewin.

Produk yang diekspor mencakup berbagai merek seperti Sunny Gold, Ciki Wiki, Sohib, dan Lulu. Rewin mengatakan beberapa negara tujuan meminta formula yang disesuaikan dengan kesukaan pasar mereka. (NDV)

CJ INDONESIA GELAR SEMINAR NUTRISI YANG PRESISI PADA UNGGAS

Pembicara seminar (dari kiri): Henri E. Prasetyo, Ruben Kriseldi, Jae Cheol Kim, dan Roxanne Barrion, dipandu oleh Sally Cho. (Foto-foto: Dok. Infovet)

CJ Indonesia bekerja sama dengan Majalah Infovet menggelar seminar hybrid CJ Indonesia Seminar 2025 “Precision Poultry Nutrition: Optimizing Amino Acid Profiles for Enhanced Efficiency” yang berlangsung di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa (15/7/2025).

Kegiatan diawali pembukaan oleh Marketing Director CJ Indonesia Ryan Ji dan dipandu oleh CJ Bio APAC Marketing Sally Cho, dengan menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten di bidangnya.

Suasana seminar.

Mengawali sesi pertama seminar, Ruben Kriseldi PhD dari Aviagen, memaparkan mengenai Optimizing Amino Acid Profile to Enhance Growth Performance and Efficiency in Poultry Production. Ia menjelaskan mengenai perbandingan penggunaan branched-chain amino acid (BCAA) di antaranya leucine, isoleucine, dan valine pada unggas terhadap respons dari body weight dan FCR.

Sementara itu, Nutrisionist DMC, Henri E. Prasetyo DVM MVsc, turut menambahkan pemaparan soal Optimizing Broiler Performance with Low Protein Diet Towards Sustainable Poultry Nutrition. Ia menjabarkan bagaimana meningkatnya biaya protein, tekanan lingkungan akibat emisi nitrogen, serta tantangan efisiensi dan keberlanjutan bagi industri unggas.

Sesi tanya jawab.

“Tujuan dari low protein diet (LDP) adalah untuk mengurangi level dari crude protein, kemudian diharapkan bisa mempertahankan performa dan efisiensi pakan, serta dapat mengurangi ekskresi nitrogen,” jelasnya.

Disimpulkan juga bahwa LDP dapat menjadi solusi nutrisi yang presisi dan ramah lingkungan, sekaligus dibarengi dengan pembenahan secara holistik dari sisi formulasi pakan, manajemen, dan evaluasi terhadap performa unggas.

Foto bersama usai pemberian cinderamata.

Pada sesi kedua, Global Head of Technical CJ BIO, Dr Jae Cheol Kim, turut menyampaikan materi mengenai Precision Nitrogen Nutrition for Efficient Poultry Production dan ATSC Poultry Manager CJ BIO, Dr Roxanne Barrion mengenai Functional Benefits from Amino Acids to Boost Poultry Production Efficiency.

Roxanne menjelaskan beberapa asam amino esensial yang berperan penting dalam menggertak respons imunitas pada unggas broiler, juga berkontribusi terhadap penurunan kondisi stres yang berdampak pada performa produksi dan kualitas telur, serta tingkat mortalitas pada unggas layer. Sedangkan pada breeder, pemberian asam amino esensial mampu meningkatkan daya tetas/kesuburan telur dan memperpanjang masa simpannya. (RBS)

VAKSINASI PMK TERUS DIGENCARKAN UNTUK MENJAGA DAN TINGKATKAN KEKEBALAN TERNAK

Pemeriksaan PMK pada hewan ternak. (Foto: Istimewa)

Penguatan upaya pengendalian penyakit mulut dan kuku (PMK) melalui vaksinasi nasional secara bertahap terus digaungkan. Setelah vaksinasi Tahap I (Februari-April 2025) selesai, kini vaksinasi Tahap II digencarkan pada Juli-September 2025, sebagai bagian dari strategi pemberian vaksin booster untuk menjaga dan meningkatkan kekebalan ternak secara berkelanjutan.

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), kembali mencanangkan Bulan Vaksinasi PMK sebagai ajakan nasional bagi pemerintah daerah, asosiasi, perguruan tinggi, peternak, serta pelaku usaha untuk bersama-sama mendukung percepatan vaksinasi di seluruh wilayah Indonesia.

“Bulan Vaksinasi PMK menjadi momentum untuk mempercepat cakupan vaksinasi demi melindungi ternak dan menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Dirjen PKH, Agung Suganda, di Jakarta, Jumat (11/7/2025).

Ia menekankan, vaksin booster pada tahap kedua ini sangat penting dilakukan untuk mempertahankan tingkat kekebalan hewan terhadap virus PMK, terutama di wilayah-wilayah dengan lalu lintas ternak yang tinggi atau berisiko tinggi penularan.

“Perlindungan terhadap ternak sama artinya dengan perlindungan terhadap sumber penghidupan peternak dan ekonomi pangan kita. Mari kita sukseskan bersama Bulan Vaksinasi PMK,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan, Hendra Wibawa, menjelaskan bahwa vaksinasi bukan hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas dan ketepatan waktu. “Pemberian vaksin booster pada periode ini bertujuan memperkuat antibodi yang sebelumnya telah terbentuk. Tanpa booster, kekebalan akan menurun dan bisa membuka peluang virus kembali menyerang,” kata Hendra.

Ia juga mengimbau vaksinasi harus didukung dengan praktik biosekuriti di tingkat peternak. “Vaksin saja tidak cukup. Peternak juga harus disiplin menjaga kebersihan kandang, membatasi lalu lintas hewan, dan melapor jika ada gejala klinis pada ternak,” imbuh dia.

Pemerintah menegaskan bahwa vaksinasi PMK merupakan bagian dari strategi jangka panjang menuju Indonesia bebas PMK. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha peternakan, hingga kesadaran para peternak. (INF)

MUSIM BERUBAH, NUTRISI TETAP PRESISI: KUNCI SUKSES DALAM MANAJEMEN PAKAN AYAM

Dengan pendekatan formulasi pakan yang lebih presisi dan disesuaikan dengan perubahan musim, peforma ayam bisa dipastikan optimal sepanjang tahun. (Foto: Istimewa)

Menjaga nutrisi yang presisi dalam pakan ayam komersial sepanjang musim membutuhkan pendekatan yang holistik, mengingat perubahan suhu, kelembapan, dan faktor lingkungan lainnya dapat memengaruhi konsumsi pakan, metabolisme, dan peforma ayam.

Dengan pendekatan formulasi pakan yang lebih presisi dan disesuaikan dengan perubahan musim, peforma ayam bisa dipastikan optimal sepanjang tahun. Menghindari stres panas (heat stress) yang mengakibatkan stres oksidatif sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan produktivitas ayam komersial.

K. C. Mountzouris (*) • V. V. Paraskeuas • E. Griela, dari Laboratory of Nutritional Physiology and Feeding, Department of Animal Science, Agricultural University of Athens, Athens, Greece, pada penelitiannya tentang “Adaptive Poultry Gut Capacity to Resist Oxidative Stress” bahwa stres oksidatif mengakibatkan inflamasi pada mukosa usus dan berpengaruh pada tingkat penyerapan nutrisi pada pakan.

J. M. Díaz Carrasco (*) • L. M. Redondo • N. A. Casanova • M. E. Fernández Miyakawa dari Instituto de Patobiología Veterinaria (IPVET), Instituto Nacional de Tecnología Agropecuaria (INTA) - Consejo Nacional de Investigaciones Científicas y Técnicas (CONICET), Castelar, Buenos Aires, Argentina, pada penelitiannya tentang “The Role of Farm Environment and Management in Shaping the Gut Microbiota of Poultry” salah satunya membahas tentang strategi intervensi manajemen pemeliharaan dan nutrisi terhadap kondisi lingkungan kandang. Pada penelitian ini banyak membahas pengaruh manajemen dan nutrisi dalam mengendalikan mikrobiota yang ada di saluran pencernaan.

Reformulasi Berdasarkan Musim
Pada saat puncak musim kemarau sering sekali kondisi suhu rata-rata saat siang hari lebih dari 33-35° C, hal ini mengakibatkan ayam cenderung banyak minum dibandingkan makan. Pada strategi formulasi pakan, nutrisionis sering menggunakan beberapa bahan baku dengan tingkat kecernaan lebih tinggi untuk mengurangi produksi panas metabolik.

Penggunaan bahan baku yang memiliki “heat increament” atau panas metabolik tinggi seperti jagung, sering... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2025.

Ditulis oleh:
Drh Henri E. Prasetyo MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionis PT DMC  

SADITA SAMBUT DELEGASI PERUSAHAAN UKRAINA, BAHAS KERJA SAMA TEKNOLOGI KESEHATAN HEWAN

Kunjungan bisnis perusahaan farmasi mineral ke Sadita diharapkan bermanfaat besar bagi peternakan Indonesia (Foto: Istimewa)

PT Satwa Medika Utama (Sadita) menerima kunjungan dua perwakilan perusahaan farmasi mineral asal Ukraina, Dr Dinesh dari Malaysia dan Mr Ravshan dari Uzbekistan, Rabu (9/7/2025). 

Pertemuan berlangsung di kantor cabang Sadita, Makassar. Dalam kunjungan tersebut, dibahas rencana kerja sama strategis dalam menghadirkan produk kesehatan hewan berbasis teknologi tinggi yang efisien dan ramah lingkungan, sebuah teknologi yang bahkan belum pernah hadir sebelumnya di pasar Indonesia.

Direktur PT Satwa Medika Utama, Drh Ilsan Arvan Nurgas MSi menyambut langsung para tamu internasional tersebut. Ilsan mengungkapkan rasa syukur dan antusiasmenya terhadap peluang kolaborasi yang terbuka lebar ini.

“Sekarang kita harus membuka peluang baru untuk masa depan. Kami juga tidak tahu kenapa Mr Ravshan dan Dr Dinesh memilih Sadita untuk kunjungan pertama, tapi semoga dari kedua belah pihak dapat menjadi partner di masa depan,” ujar Ilsan dalam keterangan resmi yang diterima Infovet. 

Menurut penjelasan dari Dr Dinesh, produk yang dibawa oleh perusahaan asal Ukraina ini memiliki efisiensi yang luar biasa, hanya dengan 1 liter produk dapat digunakan untuk 15 ribu liter air. Ini tentu menjadi terobosan baru yang sangat relevan dengan tantangan di dunia peternakan, di mana efektivitas dan efisiensi menjadi kebutuhan utama.

“Kami percaya Sadita telah memiliki customer di mana-mana. Kami melihat Sadita sebagai mitra yang mempunyai jaringan kuat dan pemahaman lapangan yang baik,” ungkap Dr Dinesh.

Lebih dari sekadar kunjungan bisnis, pertemuan ini membuka peluang besar untuk masa depan dunia peternakan di Indonesia. Dengan jaringan distribusi Sadita yang sudah tersebar luas, kehadiran teknologi dari Ukraina ini diyakini bisa memberi manfaat besar bagi peternak, terutama dalam meningkatkan performa dan kesehatan hewan ternak secara menyeluruh.

Sadita berharap bahwa kerja sama ini bukan hanya sebatas proyek, tetapi bisa berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang membawa dampak positif dalam 5 hingga 10 tahun mendatang bagi industri peternakan nasional. (INF)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer