-->

DISINFEKTAN GRATIS UNTUK PETERNAK BABI DI NABIRE

ASF, Masih Menghantui Indonesia


Pemkab Nabire hingga kini terus melakukan langkah-langkah strategis dalam mencegah masuknya virus African Swine Fever (ASF) di daerah ini. Mereka pun tak tinggal diam dan telah mengeluarkan edaran terkait pencegahan virus bahaya ini, serta rutin melakukan monitoring terhadap seluruh ternak babi.

Selain itu, Pemkab Nabire juga telah menyediakan desinfektan secara gratis kepada para peternak babi. Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, Drh I Dewa Ayu Dwita mengatakan, untuk mendapatkan desinfektan, cukup peternak melaporkan kepada mereka.

"Jadi mereka datang kepada kami di kantor, dan sampaikan berapa populasi ternak yang dimiliki, dan alamat pasti," kata Ayu kepada Tribun-Papua.com, di Nabire, Jumat, (23/02/2024).

Setelah dilaporkan, maka pihaknya akan mendata, dan selanjutnya memberikan desinfektan.

"Jadi kami akan memberikan sesuai kebutuhan dari peternak, agar distribusi desinfektan pun tersalurkan dengan baik," ujarnya. (INF)


FLUKTUASI HARGA MENGGILA BIKIN PUSING PETERNAK BABI DI BALI

Ternak Babi di Bali, Fluktuasi Harganya Merugikan Peternak
(Foto : Detik)

Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali mengeluhkan anjloknya harga babi yang tak kunjung mendapatkan atensi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali. Peternak frustasi karena harga babi sudah anjlok sejak tiga bulan terakhir.

Ketua GUPBI Bali I Ketut Hari Suyasa mengungkapkan harga babi saat ini Rp 28 ribu per kilogram (kg), sementara harga pokok produksi menyentuh Rp 40 ribu. Menurutnya, salah satu faktor anjloknya harga ternak itu akibat isu meningitis di Gianyar yang disebut-sebut sebagai akibat mengonsumsi daging babi.

"Dari harga Rp 42 ribu menjadi Rp 33 ribu per kg, hingga jatuh pada titik terendah (Rp 28 ribu per kg). Isu meningitis bisa kami kendalikan, tapi dikeluarkan lagi isu meningitis di Singaraja dan Klungkung," keluh Hari ketika dikonfimasi wartawan, Sabtu (23/9/2023).

Menurut Hari, para peternak di Bali semakin frustasi karena harga bibit babi juga jatuh ke titik terendah, yakni dari Rp 1,2 juta menjadi Rp 500 ribu. "Mereka menganggap sama sekali tidak ada upaya penyelamatan dari pemerintah," sebut Hari.

Di sisi lain, Hari mengakui terjadi over populasi babi di Bali yang saat ini berjumlah 1.600 ekor. Ia juga menduga telah terjadi kompetisi atau persaingan bisnis yang tidak sehat oleh pengirim babi di wilayah tujuan.

"Tiga bulan lalu sudah kami minta ke Bapak (Wayan) Koster selaku Gubernur Bali pada saat itu untuk melakukan normalisasi harga atau penetepan harga. Sehingga konflik-konflik di luar ini tidak menimbulkan efek kepada peternak," imbuhnya.

GUPBI Bali, kata Hari, sudah menjadwalkan bertemu Koster sebanyak tiga kali saat masih menjabat sebagai Gubernur Bali. Hanya saja, pertemuan tersebut selalu dibatalkan.

"Pemerintah tidak ada tindak lanjut. Tapi kami terus mencoba mengkomunikasikan kepentingan-kepentingan peternak," keluhnya.

Hari sempat menyarankan pemerintah agar melaksanakan mepatung (urunan membeli babi untuk dikonsumsi) massal. Menurutnya, mepatung massal dapat menjadi solusi agar tidak terjadi panic selling di tingkat peternakan rakyat.

Dengan mepatung, Heri melanjutkan, kepentingan peternak yang ingin harga babi mahal dan kepentingan konsumen daging babi murah dapat bertemu. Menurutnya, kegiatan tersebut sempat dilakukan oleh warga Desa Taro, Gianyar, beberapa waktu lalu.

Ia berharap Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya dapat melakukan penyelamatan keluhan para peternak babi tersebut. "Itu anjuran kami. Yang kami sayangkan anjuran dari GUPBI ke pemerintah malahan yang melakukan rakyat. Kan lucu pemerintah tidak pernah berkaca," tandas Heri. (INF)


DISTANAK PROVINSI SULUT TANGGAP CEPAT KEMATIAN BABI DI MINAHASA UTARA

Tim Distanak Melakukan Penyemprotan Disinfektan
(Sumber : Tribun Minut)

Menanggapi kasus kematian 24 ekor babi beberapa waktu yang lalu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Pemprov Sulut bersikap tanggap dengan turun langsung ke peternakan di Minahasa Utara Jumat (21/7). Tampak tim turun dengan APD lengkap. Mereka memeriksa keadaan kandang serta babi. 

Selain melakukan pengambilan sampel organ untuk menemukan penyebab kematian babi, tim tersebut juga melakukan penyemprotan disinfektan di sekitar area peternakan. Tidak berhenti sampai disitu, tim juga bertemu dengan pemilik peternakan dan melakukan sosialisasi tentang penyakit pada babi dan biosekuriti.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Kadistanak) Sulut Nova Pangemanan mengatakan, pihaknya gencar melakukan sosialisasi kepada warga tentang pentingnya biosekuriti. Nova menuturkan, hal terpenting bagi peternak saat ini adalah meningkatkan serta pengaplikasian biosekuriti. Sebut dia, virus yang dapat menyerang babi saat ini cukup marak. Selain ASF, ada pula beberapa virus lainnya yang dapat menyebabkan kematian babi.

"Jadi aspek kebersihan dan biosekuriti ini sangat penting, melalui penerapan biosekuriti yang baik dalam peternakan babi, dapat menurunkan risiko babi terserang penyakit" kata dia. (INF)


PETERNAK BABI DI BALI BERHARAP TUAI KEUNTUNGAN MENYAMBUT GALUNGAN

Peternak Babi Di Bali, Masih Merugi

Awal Agustus 2023 nanti, umat Hindu di Bali merayakan hari raya Galungan. Dalam perayaan Galungan ini diharapkan harga babi akan menunjukkan tren positif. Minimal diharapkan, harga babi terkoreksi diangka Rp40.000 per kilogram hingga Rp45.000 per kilogram. 

Namun sayangnya menurut Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) I Ketut Hari Suyasa hal itu memang cukup sulit. Apalagi mengingat hingga saat ini belum terjadi pergerakan harga babi. 

"Kami memprediksi pergerakan tidak begitu besar, karena saat ini harga babi di peternak masih Rp35.000 per kilogram. Sehingga, sudah 3 bulan terakhir ini peternak merugi," katanya Kamis, 20 Juli 2023. 

Harga Pokok Produksi (HPP) peternak saat ini mencapai Rp40.000 per kilogram, sementara harga jual jauh di bawah itu. Sementara itu, untuk ketersediaan saat ini, Hari Suyasa mengatakan sangat aman. Hanya saja nilai jual yang belum bisa memberi keuntungan bagi peternak. 

Selain harga jual yang rendah, Hari Suyasa juga mengatakan, peternak dihadapkan dengan HPP tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh harga pakan yang terus melonjak. Ia mengatakan 75 persen nilai produksi babi dipengaruhi oleh harga pakan. 

"Mirisnya 90 persen bahan baku pakan babi adalah produk dalam negeri. Namun dengan itu juga belum mampu memberikan nilai yang layak untuk para peternak," terangnya. 

Jika harga pakan tidak bisa dikendalikan, dia berharap pemerintah bisa memberikan subsidi untuk menekan nilai produksi. Demikian pula pemerintah daerah diharapkan bisa memberikan perhatian bagi peternak babi, setidaknya bisa mengintervensi harga babi. 

Menurutnya yang terjadi saat ini, babi di  Bali dibeli murah, namun dijual malah di luar Bali. (INF)



PETERNAKAN TAK BERIZIN DIEKSEKUSI, PULUHAN EKOR BABI DIEVAKUASI

Babi Yang Dievakuasi Oleh Aparat Setempat 
(Sumber : Istimewa)

Puluhan ekor babi dari peternakan yang berada di tengah permukiman Desa Mlese, Kecamatan Gantiwarno, ditertibkan dan dipindahkan oleh Satpol PP dan Damkar Klaten bersama Muspika dibantu warga, Selasa (21/3/2023).

Proses eksekusi pemindahan puluhan babi itu dilakukan menindaklanjuti kesepakatan sebelumnya jika pemilik sanggup mengosongkan kandang babi dalam rentang sebulan.

Sebanyak 91 ekor babi milik Sugiyarto dipindahkan ke salah satu kandang ternak di wilayah Kecamatan Jogonalan. Sebelumnya, peternakan babi tak berizin yang berada di tengah permukiman itu dikeluhkan warga. Selain menyebabkan polusi bau, ternak babi itu mencemari saluran air.

Sumirah, warga sekitar mengapresiasi tindakan yang telah dilakukan oleh unsur Muspika tersebut. Menurutnya tindakan tersebut seharusnya sudah dilakukan sejak lama mengingat warga sekitar yang sangat terganggu dengan keberadaan peternakan tersebut. 

"Baunya enggak enak, sering ada kendaraan masuk keluar, kita jadi enggak tenang. Mudah - mudahan kegiatan peternakan mereka enggak ada lagi, soalnya di sini sudah sangat padat pemukimannya," tutur Sumirah. 

Kepala Bidang Penegakan Perda Satpol PP dan Damkar Kabupaten Klaten, Bambang Saptono mengatakan bahwa eksekusi ini dilakukan sesuai dengan standar dan operasional prosedur yang berlaku. Sehingga pemilik peternakan dipastikan sudah legowo dengan tindakan yang diambil oleh perangkat pemerintah.

"Sebelumnya kami lakukan pengecekan, surat izinnya tidak ada, kelengkapan legalnya juga tidak lengkap. Sesuai peraturan yang berlaku langsung kami tindak agar tidak timbul tindakan - tindakan main hakim sendiri dari masyarakat," ujar Bambang. (INF)









TITIK KRITIS BIOSKURITI DALAM MENCEGAH ASF

Ruang shower untuk mandi keramas dan ganti baju dan shower mobil yang mau masuk resticted area. Shower untuk alat transportasi harus lebih ketat demikian juga dipping untuk roda. (Foto: Istimewa)

Ternak babi pada beberapa provinsi dan kabupaten/kota memegang peran penting untuk memenuhi kebutuhan protein dan menunjang perekonomian keluarga. Babi juga memegang peran dalam kehidupan adat/budaya masyarakat di Indonesia. Kondisi populasi babi di Indonesia tidak terlepas dari dampak penyakit pandemik yang menyerang populasi babi lintas benua dan lintas batas negara. African Swine Fever (ASF) merupakan salah satu penyakit viral menular yang paling ditakuti peternak babi karena dahsyatnya serangan dan akibat yang ditimbulkan bisa membunuh 90% lebih populasi babi dalam kandang dengan waktu singkat.

Setelah adaya serangan Hog Cholera atau Classical Swine Fever (CSF) yang mengglobal, populasi babi di Indonesia telah meunjukkan peningkatan hingga 2021, menyusul adanya vaksinasi untuk mencegah CSF. Berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2021, jumlah ternak babi di Indonesia tercatat 8.011.776 ekor dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencapai 7.622.724 ekor. Gairah beternak babi muncul lagi setelah ditemukan vaksin Hog Cholera yang beredar luas di pasar global dan dipakai luas di Indonesia.

Penurunan populasi babi terjadi lagi setelah populasi menunjukkan peningkatan. Infeksi global ASF yang juga menyerang peternakan babi di Indonesia menurunkan populasi babi dunia dan juga Indonesia. Belum ditemukan vaksin efektif terhadap infeksi virus ASF yang mematikan babi hutan dan babi domestik. Penurunan populasi babi akibat kematian massal menyebabkan kurangnya stok babi yang tersedia di pasar. Jumlah permintaan daging babi untuk konsumsi yang tidak sebanding dengan penyediaan menyebabkan pergeseran harga menunju kenaikan harga daging babi di berbagai daerah. Kenaikan harga daging babi bisa juga menyumbang kenaikan angka inflasi di beberapa tempat.

Serangan ASF terhadap babi domestik biasanya didahului dengan serangan pada babi hutan. Adanya kontaminasi lingkungan pemeliharaan babi domestik oleh virus ASF yang berasal dari babi hutan yang dibawa peternak/pekerja yang juga memiliki hobi berburu babi hutan berpotensi menyebabkan terjadinya infeksi pada babi domestik.

Kontaminasi virus ASF pada lingkungan peliharaan juga bisa terjadi karena terbawanya babi hutan yang mencari pakan di sekitar lingkungan peliharaan babi domestik atau akibat babi domestik yang dipelihara secara ektensif dan memasuki kawasan babi hutan yang sakit atau mati karena ASF. 

Selain itu, peran caplak Ordithodoros spp. babi hutan yang merambat, menggigit babi domestik akan memindahkan virus ASF ke dalam tubuh babi domestik. Serangan ASF di Jerman pada 2020, didahului dengan kematian massal babi hutan. Kematian babi hutan di Jerman akibat serangan ASF mencapai 4,200 ekor (Sehl-Ewert, 2020).

ASF menyebabkan tingkat kematian tinggi pada babi domestik disertai perdarahan pada berbagai organ tubuh babi terserang, menyebabkan kerusakan sistem hemopoetik, menyebabkan deplesi pada organ limfoid, menyebabkan limfofenia, serta imunodefisiensi (Salguero FJ, 2020). Perdarahan pada berbagai organ tubuh dan kulit terjadi karena penurunan drastis jumlah trombosit, terjadi trombositopenia. Virus ASF bereplikasi pada sel-sel fagosit mononuklear dan sel-sel retikuloendotelial (Wales et al., 2021).

Tidak Semua Farm Terserang ASF
Secara peracute serangan ASF ditandai dengan adanya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2022.

Ditulis oleh:
Sulaxono Hadi
Medik Veteriner Ahli Madya
Balai Veteriner Banjarbaru

PIG QUALITY CONFERENCE 2022 DIGELAR SECARA DARING

Dr Megan Edwards mempresentasikan materinya

Pig Quality Conference 2022 dihelat secara daring per tanggal 15 September 2022 yang lalu. Rencananya acara tersebut akan melakukan streaming secara berkala setiap kamis sampai empat minggu ke depan, tepatnya hingga 6 Oktober 2022. Lebih dari 200 peserta dari 16 negara menghadiri konferensi online tersebut pada 15 September lalu.

Seminar diawali oleh Dr Megan Edwards, konsultan nutrisi dari Integral Nutrition. Dalam presentasinya beliau membahas mengenai berbagai cara dalam mengefisienkan cost pakan. Secara garis besar, Dr Megan membahas beberapa hal seperti penggunaan bahan baku alternatif dan imbuhan pakan.

Peternak Wajib Me-review Program Pemberian Pakan

Banyak peternakan di Asia terus memberi makan ternak babi mereka dua atau tiga kali diet dari mulai penyapihan hingga akhir, akan tetapi perlu untuk meninjau program pemberian pakan saat ini, kata Dr Edwards. Kenyataannya adalah praktik pemberian pakan seperti itu tidak memungkinkan utilisasi nutrisi secara efisien.

“Bukan berarti harus ada enam fase, tapi harus ditinjau dan dilihat apakah fasenya cukup. Saya pikir empat atau lima fase akan ideal, ”jelasnya.

Mencari Sumber Fosfor Alternatif

Saat ini, tepung ikan merupakan bahan baku sumber asam amino dan fosfor yang dapat dicerna, produsen pakan babi kini mulai mengurangi ketergantungan penggunaan tepung ikan. Dr Edwards mengatakan bahwa dalam diet jagung dan SBM, dosis fitase yang relatif rendah dapat melepaskan fosfor. Dalam kasus lain misalnya dedak padi, bahan umum di Asia, ada peluang untuk membuka lebih banyak sumber fosfor organik.

“Industri harus mempertimbangkan sumber fosfor lain yang tersedia dan memastikan penggunaan enzim fitase yang optimal. Selain itu, kita harus mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mempengaruhi efikasi fitase,” jelasnya. (CR)


MENGENAL "PIG HOTEL", PETERNAKAN BABI SUPER MODERN DI NEGERI TIRAI BAMBU

Tampak Luar "Pig Hotel" Terbesar di China

Daging babi merupakan jenis daging konsumsi populer di China. Demi memproduksi daging babi lebih modern, para peternak China membangun hotel khusus para babi yang dilengkapi teknologi canggih!.

Jika di Indonesia ayam adalah daging konsumsi paling populer, berbeda dengan di China dimana masyarakatnya suka mengonsumsi daging babi. Sayangnya produksi daging babi di sana sempat dilanda masalah akibat wabah Demam Babi Afrika (ASF).

Banyak babi ternak terinfeksi hingga mati akibat wabah ini. Para peternak lantas mencari cara menciptakan peternakan babi yang lebih aman dan bertahan untuk jangka waktu lama.

Mereka tak ragu menginvestasikan miliaran dollar demi membuat fasilitas pemeliharaan babi canggih dan modern. Sebutannya 'pig hotels' atau 'hotel babi' yang tampak seperti hotel komersial untuk manusia pada umumnya.

Tadinya hotel babi dibuat hanya tingkat 2 atau 3 lantai, tapi kini ada yang 10 lantai! Di hotel babi ini ada puluhan ribu babi yang diternakkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga China.

Mengutip Oddity Central (22/8), akhir Agustus 2022, Zhongxin Kaiwei Modern Farming, sebuah perusahaan swasta di Hubei, bahkan akan menyelesaikan sebuah hotel babi setinggi 26 lantai. Hotel babi ini disebut-sebut sebagai peternakan modern terbesar di dunia.

Berlokasi di kota Ezhou, hotel babi ini terdiri dari 2 bangunan besar seluas 400 ribu meter persegi. Hotel babi bakal dilengkapi mesin pemberi pakan otomatis, sistem penyaringan udara, dan desinfektan udara canggih.

Tak hanya itu, Zhongxin Kaiwei Modern Farming juga menerapkan sistem pengolahan limbah berbasis biogas. Nantinya kotoran babi akan didaur ulang menjadi energi bersih yang bisa dipakai untuk pembangkit tenaga listrik atau pemanas.

Hotel babi terbesar di China ini harapannya bisa menghasilkan 54.000 ton daging babi per tahun dari 600 ribu babi yang dipelihara.

Tampak Dalam Hotel Babi Terbesar di China

Sebenarnya peternakan babi canggih seperti konsep hotel babi ini sudah lebih dulu hadir di Eropa. Beberapa masih beroperasi hingga kini, tapi tak sedikit juga yang akhirnya ditutup karena masalah manajemen maupun penolakan dari publik.

Hanya saja, hotel babi yang ada di Eropa tidak pernah ada yang tingginya lebih dari 3 lantai. Sementara hotel babi di China membawa model peternakan modern ini jauh ke 'tingkat' yang lebih tinggi.

Sampai tahun 2019, peternakan babi seperti ini sebenarnya ilegal di China, tapi ketika wabah flu babi Afrika melanda, semua berubah. Saat itu harga daging babi konsumsi melambung tinggi.

Pemerintah China akhirnya mencabut larangan operasional hotel babi. Harapannya dapat memenuhi permintaan daging babi konsumsi di pasaran. Sejak itulah semakin banyak hotel babi muncul di seluruh negeri.

"Dibandingkan dengan peternakan babi tradisional, ini menghemat lahan dan lebih ramah lingkungan. Sistem peternakan ini menghemat energi dan sumber daya" klaim salah satu investor hotel babi.

Tetapi rupanya model peternakan hotel babi ini tetap kontroversial. Selain kekhawatiran tentang kualitas hidup babi yang amat buruk, para ahli menyatakan keprihatinannya tentang biosekuriti hotel babi.

Zheng Zhicheng, direktur urusan masyarakat dari konglomerat pertanian New Hope Group, mengatakan bahwa wabah flu babi Afrika pada akhirnya di hotel babi dapat membawa kerugian besar. Hal ini lantaran wabah akan lebih sulit untuk dikendalikan.


WEBINAR SERUM KONVALESEN UNTUK MENCEGAH ASF

Webinar AMI bicara mengenai serum konvalesen untuk mencegah ASF. (Foto: Infovet/Sadarman)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) menyelenggarakan webinar mengenai Serum Konvalesen untuk mencegah African Swine Fever (ASF), Jumat (10/12/2021), yang diikuti peserta dari berbagai wilayah Indonesia khususnya peternak babi, akademisi dan praktisi.

Ketua AMI, Dr Sauland Sinaga, mengatakan bahwa ASF harus dicarikan solusi untuk membantu para peternak babi. “Demam babi ini sangat meresahkan peternak, produknya berupa daging yang menjadi pangan bagi non-muslim, penyumbang devisa bagi negara, sehingga perlu dicarikan solusinya untuk meminimalkan ASF ini,” kata Sauland.

Lebih lanjut dikatakan, jika terapi plasma konvalesen dapat digunakan untuk imunisasi pasif dan dapat meminimalisir orang meninggal akibat COVID-19 sehingga memiliki harapan baru penyembuhan pasien, maka pada babi pun diharapkan demikian, serum konvalesen dapat digunakan sebagai vaksinasi pasif mencegah ASF.

Penggunaan serum konvalesen ASF dinilai memungkinkan, mengingat metode plasma konvalesen telah diadopsi dalam penurunan kasus COVID-19, menggunakan bagian plasma darah penyintas yang ditransfusikan ke tubuh pasien positif COVID-19 dengan golongan darah yang sama oleh pendonor.

Menurut Ahli Virologi dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Drh I Wayan Teguh Wibawan, yang menjadi narasumber menyebutkan, plasma darah merupakan bagian dari darah yang bewarna kekuningan yang mengandung albumin, antibodi (imunoglobulin) dan protein fibrinogen (zat pengatur pembekuan darah).

“Antibodi yang terbentuk akibat infeksi alam bersifat poliklonal, artinya di dalam serum terdapat berbagai jenis antibodi yang bereaksi spesifik terhadap berbagai epitope virus ASF, lalu antibodi tersebut bisa bekerja selama virus belum masuk ke dalam sel, sehingga penggunaan serum konvalesen ASF dapat mencegah ASF pada babi yang dipelihara peternak,” kata Wayan.

Wayan yang juga Guru Besar FKH IPB ini, menegaskan bahwa plasma darah bukanlah serum, karena keduanya mempunyai kandungan berbeda, yaitu serum juga mengandung zat protein, hormon, glukosa, elektrolit dan antibodi, namun tidak mengandung zat pembekuan darah. Secara sederhana dapat dikatakan serum adalah plasma minus faktor pembeku darah.

Mengkaji pada tren pengembangan ASF, ditambahkan narasumber lain yakni Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Karantina Hewan, Kementerian Pertanian, Dr Drh Anak Agung Gde Putra, bahwa ASF sangat menular dengan case fatality rate sangat tinggi, sehingga perlu dilakukan pencegahan dan pengendalian dengan upaya serum konvalesen yang diambil dari babi yang pernah menderita ASF dan dinyatakan sembuh.

Angin segar tersebut hadir melalui serum SCoVet ASF. Kepala Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) Surabaya, Drh Agung Suganda, memaparkan bahwa SCoVet ASF merupakan produk biologis berupa serum dari babi yang sembuh ASF dan mengandung antibodi terhadap ASF.
“ASF merupakan penyakit viral, artinya tidak tersedia obat yang dapat menyebuhkan, hal yang sama dengan vaksin, sehingga SCoVet ASF dapat dijadikan alternatif imuno-profilaksis yang dapat membantu meningkatkan imunitas, sehingga kasus ASF dapat diminimalkan,” kata Agung.

Terkait dosis yang sudah diujicobakan, ia mengungkapkan sejauh ini telah dilakukan berdasarkan periode pemeliharaan babi, yaitu babi pada periode starter dapat diinjeksikan secara intramuskuler 1 ml/ekor, grower 2 ml/ekor, babi dara 3 ml/ekor dan babi dewasa 4 ml/ekor. Injeksi SCoVet ASF masing-masing dilakukan tiga kali dengan interval per-injeksi dalam 10 hari.

Sejauh ini, lanjut dia, pemberian SCoVet ASF telah dilakukan hampir di seluruh Indonesia, terutama di pusat usaha peternakan babi. “Kita telah mendistribusikan SCoVet ASF di tujuh provinsi yang disebarkan ke 12 kabupaten dan kota, termasuk alokasi pusat dan Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, dengan total 7.525 vial setara dengan 120.400 ml,” jelas Agung.

Hasil monitoring pelaksanaan pemberian serum konvalesen veteriner ASF pada babi menunjukkan capaian positif. Hal ini terlihat dari data yang dilaporkan para dokter hewan dari tujuh provinsi sebagai kantong ternak babi di Indonesia, yaitu total babi disuntik SCoVet ASF yang diamati sebanyak 3.850 ekor, jumlah babi hidup setelah penyuntikan SCoVet ASF sebanyak 2.743 ekor (71,2%), jumlah babi mati setelah penyuntikan SCoVet ASF sebanyak 1.107 ekor (28,8%).

Penggunaan SCoVet ASF juga dinyatakan Agung aman diberikan pada babi (termasuk babi bunting, menyusui dan anak babi) sesuai dosis yang disarankan. "Perlu diperhatikan efikasi SCoVet ASF sangat tergantung pada status kesehatan dan tingkat stres babi, ketepatan dosis, pelaksanaan penyuntikan dan penerapan biosekuriti yang baik, sehingga hasil yang didapat bisa optimal,” ucapnya.

Bicara soal bisekuriti, dikatakan Dr Drh Anak Agung Gde Putra, tidak serta merta berhasil meminimalisir penyakit apabila sisi lainnya tidak diperhatikan. “Kebanyakan penyakit juga datang dari pakan yang dikonsumsi babi, misalnya pemberian pakan sisa manusia, perlu dimasak dulu sebelum diberikan pada babi,” kata Anak Agung. Hal ini diperkuat temuan yang dirilis EFSA Journal 2014, babi yang mengonsumsi pakan sisa manusia berisiko 35% terpapar ASF.

Oleh karena itu disimpulkan dalam webinar untuk mengantisipasi masuk dan menyebarnya ASF ke daerah bebas ASF dapat dilakukan melalui surveilans terstruktur, sistematis dan massif. Kemudian perlunya pemberian SCoVet ASF secara tuntas dengan dosis yang disarankan, juga memperkuat manajemen budi daya dan penerapan biosekuriti dengan baik dan benar. (Sadarman)

PENDEKATAN NEW NORMAL BETERNAK BABI PASCA ASF

Webinar pendekatan new normal beternak babi pasca ASF di Indonesia pada rangkaian FLEXcitement yang diinisiasi PT Boehringer Ingelheim. (Foto: Infovet/Ridwan)

African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit infeksius pada babi bersifat hemoragik yang disebabkan oleh virus DNA beruntai ganda, dalam famili Asfarviridae dan genus Asfivirus. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi pada babi domestik dan babi liar.

Virus yang sudah masuk ke Indonesia ini memiliki penyebaran yang cepat melalui lalu lintas ternak dan produk babi yang tercemar melalui swill feeding yang digunakan untuk pakan. “ASF bisa menyebar melalui pakan. Oleh karena itu, apabila peternak tidak yakin dengan pakan, khususnya pakan sisa restoran itu wajib di masak terlebih dahulu,” jelas Sauland Sinaga yang menjadi pemateri acara FLEXcitement “Pendekatan New Normal Beternak Babi Pasca ASF di Indonesia” yang diinisiasi PT Boehringer Ingelheim, Kamis (7/10/2021).

FLEXcitement merupakan kegiatan berskala global yang digelar PT Boehringer Ingelheim. Selama 6-7 Oktober 2021, FLEXcitement dilaksanakan secara virtual, dimana peserta bisa mengaksesnya melalui internet dan menikmati ragam informasi, presentasi dari para pembicara internasional mengenai peternakan babi.

Pada kesempatan tersebut Sauland yang juga Ketua Asosiasi Mogastrik Indonesia (AMI), menjelaskan proses pemasakan pakan sisa untuk ternak babi bisa dilakukan selama 2 menit dengan suhu 70 derajat untuk mengeliminasi ASF. “Karena bila tidak itu sangat berisiko tinggi. Karena itu harus kita ubah pengelolaan pakan untuk ternak babi ini,” jelasnya.

Sauland mengemukakan, perbaikan pakan bisa dilakukan dengan pemberian enzim, toxin binder, mineral, oil, maupun probiotik. Teknologi tersebut, kata dia, wajib digunakan peternak babi skala rakyat saat ini.

“Atau bisa dengan fermentasi pakan maupun perlakuan sanitasi pakan sebelum diberikan pada ternak. Bisa juga peternak memanfaatkan pakan dari singkong, palm kernel meal dan palm kernel cake. Ini bisa menjadi alternatif dan dalam beberapa penelitian hasilnya baik. Jadi janganlah terkendala dengan pakan yang bisa membuat harga babi menjadi mahal,” ucap dia.

Selain pakan, lanjut Sauland, untuk meminimalisir masuknya ASF ke farm adalah dengan memperbaiki manajamen budi daya, dengan fokus utama pembatasan pergerakan manusia, disinfeksi dan penerapan biosekuriti ketat.

“Buat zona merah, kuning dan hijau. Batasi keluar masuknya orang dan barang. Lakukan pula disinfeksi pada kendaraan. Juga penerapan all in all out, khususnya pada pembesaran ternak babi,” terang Sauland.

“Beri pelatihan pula pada anak kandang untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mereka dalam budi daya ternak babi. Karena SDM menjadi kunci pencegahan ASF. Saya yakin dengan begitu kita bisa mencegah ASF di new normal ini.”

Sementara Feliks Adi Nugroho, technical swine dari Boehringer Ingelheim Indonesia yang membawakan materi Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome (PRRS) virus menekankan hal serupa.

“Virus akan menjadi lebih buruk apabila peternak tidak menerapkan sistem all in all out. Buatlah kandang terpisah sesuai fasenya untuk meminimalisir risiko penyebaran penyakit,” kata Feliks.

Feliks pun memberikan saran pencegahan dan kontrol penyakit pada ternak babi. Pertama, melakukan indentifikasi tujuan (mengontrol atau mengeliminasi penyakit). Kedua, menetapkan status (shedding atau exposure status) penyakit melalui pengecekan di laboratorium.

Ketiga, memahami kekurangan manajemen (biosekuriti, lokasi, produksi dan lain sebagainya). Keempat, membangun solusi sesuai tujuan awal (pencegahan infeksi, peningkatan kekebalan dan lain-lain) atau dengan melaukan vaksinasi.

“Walau vaksinasi bukan menjadi solusi tunggal, namun bisa memberikan proteksi terhadap ternak. Pemberian vaksinasi pada semua fase umur babi berpengaruh pada peningkatan kekebalan dan menurunkan kasus penyakit, memperbaiki FCR, mortalitas, morbiditas dan culling rate rendah,” jelas Feliks.

Adapun langkah kelima, lanjut dia, dengan implementasi dan monitoring solusi yang telah ditetapkan. “Dari langkah-langkah yang sudah kita buat, bisa kita lakukan monitoring dengan checking biosekuritinya, hasil vaksinasi atau manajemen untuk mengetahui hasilnya,” pungkasnya. (RBS)

PELATIHAN FORMULASI PAKAN BABI BATCH II

Webinar mengenai pelatihan formulasi ransum babi. (Foto: Infovet/Sadarman)

Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) kembali menyelenggarakan webinar Training Formulasi Ransum Babi Batch II, Selasa (13/4/2021). Acara ini diikuti peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya para peternak babi, akademisi dan praktisi.

Ketua Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Dr Sauland Sinaga, sebagai penyelenggara, menyambut baik atas terlaksananya kegiatan yang sudah kedua kalinya ini.

“Ini menunjukkan akan pentingnya tata cara memformulasikan pakan untuk babi. Peserta pun tetap banyak hingga pelaksanaan kedua ini,” kata Sauland.

Kegiatan yang digelar atas kerja sama GITA Organizer, Infovet dan US Soybean Export Council (USSEC) Indonesia, menghadirkan pembicara Feed and Nutrition Consultant PT Tekad Mandiri Citra, Ir Hariyanto Sutikno, yang membawakan materi formulasi kebutuhan ransum induk babi.

Dijelaskan, “Memaksimalkan pemberian pakan pada induk babi penting dilakukan mengingat induk akan memasuki masa kawin (mating), gestasi (bunting hingga melahirkan) dan laktasi (menyusui).”

Lebih lanjut dijelaskan, pakan yang diberikan pada masing-masing periode berbeda, yaitu pakan untuk periode induk sebelum dikawinkan (pree-sow) tujuh hari sebelum dikawinkan, pakan untuk induk bunting 0-100 hari dan pakan untuk induk menyusui yang dimulai dari hari ke-101 pasca melahirkan hingga penyapihan (weaned).

“Kesalahan dalam memformulasikan pakan induk babi dapat berdampak pada feed intake, padahal dalam pemberian pakan induk babi, feed intake harus dimaksimalkan, artinya Ketika feed intake rendah maka nutrient intake akan rendah. Akibatnya macam-macam, bisa saja rendahnya bobot badan anak babi sapihan, skor tubuh sow juga rendah dan terjadi peningkatan jumlah afkir dari sow yang dipelihara,” jelas Hariyanto.

Untuk mengatasi hal ini maka menurutnya perlu upaya memformulasikan pakan induk babi dengan baik, mengawinkan induk babi sesuai dengan standar bobot badan (120-130 kg) dan memberikan pakan dalam jumlah cukup (2,50 kg/ekor untuk babi bunting dan minimal 5 kg/ekor untuk babi laktasi), serta pakan harus diberikan 2-3 kali/hari.

Selain formulasi pakan dengan baik, upaya menjaga kesehatan dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh induk babi juga penting. Hal ini disampaikan Business Consultant PT Better Pharma Indonesia, Drh Michael Indra Wahyudi. Menurutnya, pertahanan induk babi terhadap paparan bibit penyakit dapat diperkuat oleh pakan berkualitas, menjaga kesehatan mukosa usus, menjaga kestabilan populasi mikroflora dan meningkatkan system kekebalan tubuh induk babi itu sendiri.

“Untuk mendapatkan bahan pakan berkualitas lumayan sulit, apalagi jika formulasi pakan dilakukan sendiri oleh peternak, sehingga konten nutrien dari pakan hasil formulasi sulit didapatkan sesuai dengan standar yang disarankan,” kata Michael.

Untuk mendapatkan pakan hasil formulasi berkualitas, lanjut dia, dianjurkan untuk menggunakan imbuhan pakan dari produk sintetis yang sudah dikomersialisasikan maupun herbal.

“Kedua jenis produk imbuhan pakan tersebut sama-sama dapat berperan sebagai imbuhan pakan yang dapat memberikan benefit pada induk babi dan pada peternak itu sendiri,” pungkasnya. (Sadarman)

WASPADA ANCAMAN “TERBANG” VIRUS ASF

Memperketat biosekuriti, salah satu upaya mencegah penularan virus ASF. (Foto: Istimewa)

Demam Babi Afrika (African Swine Fever/ASF) yang merongrong peternakan babi di Indonesia beberapa waktu lalu, dirasa masih meresahkan peternak. Hal ini dikarenakan sampai saat ini belum ditemukannya vaksin yang tepat untuk mengatasinya.
 
Sehingga perlu dipelajari bagaimana mencegah ASF dan meresponnya agar lebih sigap dalam menghadapinya. Pembelajaran mengenai mekanisme penularan penyakit merupakan salah satu upaya dalam menyusun strategi pengendalian suatu penyakit.

Potensi Serangga sebagai Vektor ASF 
Serangga dan beberapa jenis artropoda berpotensi sebagai vektor dalam penyebaran ASF. Misalnya caplak dari genus Ornithodoros merupakan vektor yang berperan penting dalam penularan ASF.

Oleh karena itu, salah satu tindakan pencegahan ASF selain melakukan pengawasan biosekuriti yang ketat dan menerapkan regulasi transportasi lalu lintas babi/produk babi, juga penting melakukan pengontrolan vektor.

Mengingat penyakit demam babi ini merupakan penyakit yang baru masuk di Indonesia pada 2019 lalu, maka belum dilakukan studi lanjut mengenai potensi keterlibatan vektor dalam penularan ASF di Indonesia.

Tulisan ini akan mengulas mengenai tingkat risiko vektor yang memiliki kontribusi besar dalam penularan ASF, sehingga dapat mengarahkan strategi kontrol vektor yang efektif dan antisipasi penyebaran ASF secara signifikan dengan memahami kompetensi keterlibatan vektor di Indonesia.

Mengenal Vektor pada Penularan ASF
Penularan penyakit oleh vektor terjadi ketika seekor vektor memperoleh penyakit dari satu hewan dan menularkannya ke hewan lain. Penyakit ditularkan oleh vektor baik secara mekanis maupun biologis. Transmisi mekanis berarti… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2020)

Ditulis oleh:
Drh Pebi P. Suseno (Medik Veteriner, Ditjen PKH)
Drh Fitrine Ekawasti MSc (Peneliti Parasitologi, BBLitvet)

KEMUNCULAN FLU BABI DI TIONGKOK, BERBEDA DENGAN ASF

Muncul penyakit Flu babi di Tiongkok yang berpotensi zoonosis. (Foto: Ist)

Temuan virus baru Flu babi (Swine flu) G4 EA H1N1 yang dipublikasi oleh ilmuwan Tiongkok baru-baru ini, menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, tak sama dengan kasus African Swine Fever (ASF).

Hal tersebut dikatakan agar masyarakat tak bingung membedakan kedua penyakit tersebut. “Kasus penyakit pada babi yang ada di Indonesia saat ini adalah ASF, bukan Flu babi,” kata Ketut dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (1/7/2020).

Ia menambahkan, penyakit Flu babi yang dilaporkan oleh ilmuwan Tiongkok disebabkan oleh virus infulenza H1N1 galur baru dan berpotensi menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Sementara pada kasus ASF yang ada di Indonesia tidak dapat menular ke manusia.

“Sejak akhir 2019, kasus ASF dilaporkan di Indonesia tepatnya di Sumatra Utara. Kementan terus memantau perkembangan kasusnya dan berdasarkan data yang ada, tidak pernah ada laporan kejadian ASF pada manusia di seluruh negara tertular,” jelas Ketut.

Pihaknya pun sejak laporan ASF di China pada 2018 secara konsisten terus melakukan pengendalian dan mensosialisasikan ASF ke provinsi/kabupaten/kota melalui edaran, maupun sosialisasi secara langsung, memberikan pelatihan dan simulasi. 

Sedangkan menanggapi kewaspadaan Flu babi khususnya galur baru ini, Ketut menegaskan akan menerapkan berbagai langkah mengurangi potensi masuk dan menyebarnya Flu babi di Indonesia. Diantaranya dengan memperkuat kapasitas deteksi laboratorium kesehatan hewan, serta meminta jejaring laboratorium tersebut untuk melakukan surveilans deteksi dini penyakit Flu babi. Selain itu, para petugas karantina juga diminta meningkatkan keamanan di pintu-pintu pemasukan untuk mengawasi masuknya hewan dan produk yang memiliki potensi risiko pembawa penyakit. 

“Masyarakat tak perlu khawatir. Pemerintah terus memantau dan berupaya agar penyakit ini tidak terjadi di Indonesia. Pengawasan sistematis terhadap virus influenza pada babi adalah kunci sebagai peringatan kemungkinan munculnya pandemi berikutnya. Kita akan siapkan juga rencana kontingensinya,” pungkas Ketut. (INF)

MENGENAL PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER

Virus ASF sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 100% pada babi. (Foto: GETTY IMAGES)

Virus African Swine Fever (ASF) adalah virus DNA beruntai ganda termasuk dalam familie Asfarviridae sebagai agen penyakit ASF. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi. Beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan satu minggu setelah infeksi. Virus ini menginfeksi inang alami seperti babi hutan melalui vektor kutu dari genus Ornithodoros tanpa disertai gejala penyakit.

Selain itu, virus ASF juga ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang tertular, daging dan produk daging babi, sisa-sisa makanan (swilling feeding), peralatan, sepatu, hingga pakaian yang digunakan para pekerja atau pengunjung di peternakan babi yang tertular penyakit ASF.

Namun virus ASF bisa mati pada pemanasan suhu 56 derajat selama 70 menit atau suhu 60 derajat selama 20 menit. Kendati demikian, virus ASF bisa bertahan hidup pada sisa makanan dalam sampah yang terinfeksi virus ASF selama 3-6 bulan dan dalam keadaan frozen selama tiga tahun.

Gambar 1: Bentuk virus ASF secara fisik seperti model virus pada umumnya, tetapi sangat  jauh berbeda  secara molekular.

Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau tidak bersifat zoonosis. Virus ASF merupakan penyakit endemik di Afrika sub-Sahara dan menyebar ke Eropa melalui babi atau produknya yang dibawa oleh imigran maupun wisatawan Eropa. Virus ASF memiliki genom DNA beruntai ganda dan dapat menjangkau 190 kilobase, serta yang mengesankan karena mengkode hampir 170 protein, jauh lebih besar dari virus lain, seperti Ebola (beberapa strain hanya memiliki 7 protein).

Virus ASF memiliki kesamaan dengan virus DNA besar lainnya, misalnya poxvirus, iridovirus dan mimivirus. Virus ASF ini menyebabkan demam hemoragik, dimana sel targetnya terutama untuk bereplikasi terdapat pada makrofag sel monosit. Masuknya virus ke dalam sel inang dimediasi oleh reseptor, tetapi mekanisme endositosis yang tepat sampai saat ini belum jelas. Sel makrofag pada tahap awal diinfeksi oleh virus ASF, perakitan kapsid icosahedral terjadi pada membran retikulum endoplasma. Poliprotein diproses secara proteolitik membentuk kulit inti antara membran internal dan inti nukleoprotein. Membran sel plasma bagian luar sebagai inti partikel dari membran plasma. Protein virus mengkode protein yang menghambat jalur pensinyalan pada makrofag yang terinfeksi dan dengan demikian memodulasi aktivasi transkripsi gen respons imun. Selain itu, virus mengkode protein yang menghambat apoptosis sel yang terinfeksi untuk memfasilitasi produksi virion keturunannya. Protein membran virus dengan kemiripan protein adhesi seluler memodulasi interaksi sel yang terinfeksi virus dan viri ekstraseluler dengan komponen inang.

Hewan yang peka pada ASF ini adalah babi hutan, babi liar dan babi domestik. Babi yang terinfeksi dapat menunjukkan satu atau beberapa tanda-tanda klinis, seperti berwarna ungu kebiruan dan perdarahan (seperti bintik atau memanjang) di telinga, perut dan/atau kaki belakang, kemudian mata dan hidung keluar cairan, lalu terdapat merah pada kulit dada, perut, perineum, ekor dan kaki,  dan juga terjadi sembelit atau diare yang dapat berkembang dari mukoid menjadi berdarah (melena), muntah, induk babi yang bunting mengalami aborsi pada semua tahap kebuntingan, darah dan busa dari hidung/mulut dan mata, serta kotoran berdarah di sekitar ekor. Gejala klinis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Gejala klinis pada penyakit African Swine Fever.

Oleh karena sifat virus yang sangat rumit dan memiliki genom besar, maka untuk menemukan obat misalnya vaksin saja juga sulit. Sampai saat ini peneliti belum mampu menemukan vaksin ASF, meskipun berbagai metoda pembuatan vaksin telah dilakukan. Metoda pembuatan vaksin ASF yaitu dimulai dari vaksin konvensional, vaksin DNA, rekombinan protein dan vaksin dari senyawa alami, sintetis dan obat.

Dengan alasan tersebut, maka virus ini sangat berbahaya apabila terjangkit wabah ASF, karena dapat menyebabkan kematian (mortalitas) 100%. Seluruh babi dalam suatu kandang atau wilayah akan mati secara keseluruhan. Selain kematian yang sangat tinggi juga akan kehilangan sumber protein dan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak dan masyarakat.

Berdasarkan kompleksitas susunan DNA dan protein virus ASF, sifat penyakitnya menyebabkan kematian sangat tinggi (mortalitas 100%), belum ditemukannya obat (vaksin) yang efektif dan aman, maka pemerintah harus menjaga secara ketat masuknya penyakit ini ke dalam wilayah Indonesia. Penting untuk diperhatikan bahwa penularan penyakit ini tidak bisa dicegah, karena hal tersebut menyebabkan tidak ada negara yang kebal terhadap penyakit ASF. Negara maju pun seperti Amerika dan negara-negara lain di Eropa dapat tertular penyakit ini walaupun telah melakukan biosekuriti. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia dan Asia pada umumnya, dimana peternaknya belum disiplin dalam menerapkan biosekuriti. Satu-satunya cara untuk mengeliminasi virus ASF melalui depopulasi dengan cara penguburan dan desinfeksi kandang serta peralatannya. ***

Oleh: Dr med vet Drh Abdul Rahman
Medik Veteriner Ahli Madya di P3H Direktorat Kesehatan Hewan

PEMDA BALI DAN KEMENTAN TANGANI KASUS KEMATIAN BABI DI BALI

Penerapan biosekuriti pada kandang ternak babi (Foto: Dok. Kementan)

Kasus kematian babi dalam satu bulan terakhir telah ditemukan pada beberapa lokasi peternakan di wilayah Kabupaten/Kota Denpasar, Badung, Tabanan, dan Gianyar. Sampai saat ini tercatat jumlah kematian babi total sebanyak 888 ekor.

Ida Bagus Wisnuardhana, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, menyebutkan peningkatan kasus kematian ini kemungkinan akibat masuknya agen penyakit baru dan didukung faktor lingkungan kandang yang kurang bersih/sehat.

"Penularan dapat terjadi melalui kontak antara babi sakit dengan babi sehat atau sumber lainnya seperti pakan, peralatan kandang, dan sarana lainnya," jelasnya pada acara Kampanye Daging Babi Aman Dikonsumsi, di Denpasar, Jumat (7/2/2020)

Wisnuardhana menduga kasus kematian babi di beberapa kabupaten/kota ini disebabkan oleh virus, dan hal ini telah menimbulkan kerugian ekonomi akibat bertambahnya kematian dan membuat peternak menjual babi secara tergesa-gesa dengan harga murah.

Berdasarkan hasil penelusuran ke lokasi kasus, babi yang mati menunjukkan tanda klinis seperti demam tinggi, kulit kemerahan terutama pada daun telinga, inkordinasi, dan pneumonia. Menurutnya ini merupakan kasus suspek ASF. Indikasi ini juga didukung hasil pengujian laboratorium BBVet Denpasar, namun untuk konfirmasi masih memerlukan pengujian dan diagnosa di laboratorium rujukan yg saat ini sedang dalam proses.

"Walaupun belum ada diagnosa definitif, namun langkah-langkah penanganan penyakit tetap dilakukan sesuai dengan standar. Semua ini dilakukan dengan dukungan dan koordinasi yang intensif bersama Kementan," tegasnya.

Adapun langkah-langkah strategis Pemda Bali dan Kementan untuk mencegah penyebaran penyakit adalah melalui pembentukan jejaring informasi dan respon cepat penanganan kasus, investigasi terhadap sumber penularan, pengambilan sampel babi untuk pemeriksaan laboratorium.

"Melalui komunikasi, informasi dan edukasi yang melibatkan desa adat, asosiasi peternak babi dan masyarakat peternak, kita ajak mereka untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit pada babi dengan menerapkan biosekuriti pada kandang," tambah Wisnuardhana. Ia juga menyampaikan bahwa telah dilakukan pengawasan terhadap tempat–tempat pemotongan babi, untuk memastikan kesesuaian tata cara pemotongan ternak dengan standar oprasional prosedur.

Sementara itu, Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Fadjar Sumping Tjatur Rasa menyambut gembira bahwa saat ini kasus kematian babi di daerah tertular sudah tidak ada lagi. Penurunan kasus kematian babi tersebut merupakan indikator keberhasilan strategi yang dilakukan. Hal tersebut dapat dicapai dengan dukungan peternak yang memberikan kontribusi besar dalam penerapan biosekuriti pada kandang ternaknya.

"Selain peternak, saya juga harapkan komitmen dan peran serta pedagang dalam menjaga biosekuriti pada saat pengambilan dan pengiriman ternak babi dari satu kandang ke kandang lainnya, sampai ke pasar dan/atau RPH Babi," tambahnya.

Dalam rangka mendukung pengendalian penyakit babi ini, Ditjen PKH telah memberikan bantuan berupa desinfektan sebanyak 20 kg dan 90 liter, alat pelindung diri (APD/PPE) sebanyak 50 unit, dan sprayer sebanyak 15 unit.

Lebih lanjut Fadjar menjelaskan bahwa dalam rangka memulihkan kepercayaan peternak dalam melakukan usahanya, serta memberikan kenyamanan dan ketentraman bathin masyarakat dalam mengkonsumsi daging babi, Pemerintah menjamin keamanan pangan konsumsi daging babi yang sehat, dan mendukung kegiatan kampanye serupa di wilayah lainnya. (Rilis Kementan)


GERAKAN #SAVEBABI MEREBAK DI SUMATERA UTARA

Suasana Aksi #SaveBabi di Medan (Dokumentasi Kompas.com)

Babi bisa dibilang tidak dapat terpisahkan dari adat suku Batak. Berbagai acara adat semisal upacara pernikahan kurang nampol rasanya tanpa kehadiran si ekor melingkar tersebut. Terlebih lagi Sumatera Utara, beberapa waktu yang lalu sempat dihebohkan dengan kematian ribuan ekor babi akibat ASF dan Hog Cholera. Tentunya kekhawatiran akan kekurangan suplai daging babi terus menghantui masyarakat di sana.

Atas dasar kekhawatiran tersebut ratusan warga di Sumatera Utara yang terdiri dari kalangan peternak babi, pengusaha rumah makan, penjual daging, penjual pakan ternak, dan penikmat daging babi melakukan aksi protes. Mereka memulai aksi damai tersebut dengan nama #SaveBabi. Aksi tersebut dilakukan pada Selasa (21/1) di Wisma Mahena, Medan.

Dalam aksi tersebut, ketua gerakan #SaveBabi Boassa Simanjutak mengungkapkan kekecewaan masyarakat terhadap langkah yang akan diambil oleh Pemprov Sumatera Utara terkait pemusnahan babi secara massal setelah merebaknya ASF. Ia juga menilai bahwa pemerintah telah lalai dalam menjalankan tugasnya terkait penetapan status ASF.

"Pemerintah lalai, selalu menganggap sepele tidak melakukan penelitian yang mendalam sehingga masyarakat bingung. Padahal babi itu komoditas penting bagi orang Batak," tutur dia.

Dalam pertemuan tersebut, kalangan peternak babi juga mengeluhkan kerugian ekonomi yang diderita akibat kematian massal ternak babinya. Mereka juga menolak pemusnahan massal yang hendak dilakukan Pemprov, karena hanya akan menambah kerugian.

Sekretaris panitia, Hasudungan Siahaan mengatakan bahwa aksi ini hanya awal. Nantinya ia menyebut bahwa aksi serupa akan digelar pada tanggal 3 Maret mendatang di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara. 

"Selain aksi, kami juga akan membentuk tim pengacara yang akan menjalankan upaya hukum melalui class action. Jalur hukum ditempuh untuk meminta ganti rugi kepada pemerintah terkait babi yang mati," tutur Hasudungan.

Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Sumatera Utara, Azhar Harahap menegaskan bahwa tidak akan ada pemusnahan babi massal terkait penyakit Hog Cholera dan ASF. 

"Ada yang menebar isu bahwasanya Pak Gubernur hendak memusnahkan ternak babi secara massal. Padahal statement itu tidak pernah ada, selama saya dampingi ternak babi di Sumatera Utara tidak akan dimusnahkan," Kata Azhar. (CR)

PASCA ASF, DAGING BABI TETAP AMAN DIKONSUMSI

Kampanye makan daging babi yang aman dan sehat dilakukan di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara. (Foto: Humas PKH)

Dalam rangka meningkatkan konsumsi daging sebagai sumber protein hewani serta sosialisasi tentang keamanan daging babi terkait kasus ASF (African Swine Fever), Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan bekerjasama dalam melakukan “Kampanye Makan Daging Babi yang Aman dan Sehat” yang dilaksanakan bersamaan dengan Pengangkatan Sumpah/Janji Anggota BPD Periode 2019-2025 di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara (Sumut), Senin (30/12/2019). 

Dalam acara yang dihadiri hampir 600 orang peserta, Inspektur Jenderal Kementan, Justan Siahaan, menyampaikan bahwa Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasmin Limpo, memberi perhatian khusus pada kasus ASF. Karena menurutnya, kasus ASF dapat mengganggu penghidupan dan perekonomian masyarakat. Mentan pun telah berpesan agar diambil langkah-langkah strategis untuk membantu masyarakat menghadapi kasus ASF. 

Justan menegaskan, walaupun penyakit ASF belum ada obat dan vaksinnya, tapi penyakit ini tidak menular ke manusia. “Penyakit ASF dan juga penyakit Hog Cholera adalah penyakit yang hanya bisa menyerang ternak babi dan tidak menulari manusia. Jadi daging babi dan olahannya aman untuk dikonsumsi,” kata Justan. 

Sementara di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan masyarakat tidak perlu ragu terkait keamanan daging babi dan olahannya, karena ASF bukan penyakit menular ke manusia. Pemerintah juga terus berupaya mendampingi masyarakat menghadapi masalah ini, salah satunya menyiapkan APBN 2019 sebanyak Rp 5 miliar untuk membantu operasional dan mengaktifkan 102 posko darurat.

“Kita harapkan dengan kampanye yang kita lakukan ini, masyarakat tidak perlu ragu lagi. Setelah perayaan Natal kemarin, saya harap menyambut tahun 2020 nanti masyarakat yang memang biasa mengonsumsi daging babi berbondong-bondong beli daging babi dan mengolahnya dengan baik, untuk meingkatkan asupan protein hewani keluarga,” ucap Ketut. 

Ia juga berpesan apabila dilakukan pemotongan babi sendiri, agar limbah sisa pemotongan dikubur dengan baik dan daging dari daerah tertular tidak di laliluntaskan ke daerah yang tidak tertular.

Sementara Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor, mengapresiasi langkah Kementan dan berharap tingkat konsumsi daging babi di Sumut, khususnya di Humbang Hasundutan kembali meningkat dan harga daging babi pulih seperti semula.

“Beternak babi merupakan sumber penghidupan masyarakat di sini. Masyarakat Humbang Hasundutan tidak bisa dipisahkan dari beternak babi. Apabila konsumsi daging babi meningkat, artinya peternak babi lokal akan terbantu untuk pulih,” kata Dosmar.

Ke depan, menurutnya peternakan babi akan dipelihara dengan sistem cluster dan terpusat di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan pengelolaan. Ia juga menyampaikan ide kemungkinan merubah fokus peternakan di Humbang Hasundutan ke ternak lain, seperti kerbau dan sapi. (INF)

TANGANI WABAH ASF DI SUMUT, PEMERINTAH BENTUK POSKO DARURAT

Tim gabungan membentuk posko darurat dan membantu masyarakat Sumut menangani wabah ASF. (Foto: Humas PKH)

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, menyampaikan bahwa Posko Darurat dan Tim Gerak Cepat (TGC) telah bergerak dalam penanganan kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Sumatra Utara (Sumut).

"Posko darurat telah dibentuk disemua tingkatan, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, bahkan tingkat kecamatan. Saat ini jumlah posko di tingkat kecamatan sudah berjumlah 102 posko, hampir sesuai dengan jumlah kecamatan tertular" ujar Ketut dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/12/2019).

Sebelumnya, Kementan telah mengumumkan adanya kejadian penyakit ASF di Sumut melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang pernyataan wabah ASF di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumut pada 12 Desember 2019. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa penyebab utama kematian babi di Sumut disebabkan oleh ASF.

Disampaikan Ketut, bahwa pengendalian ASF di Sumut dilakukan secara terintegrasi oleh tim gabungan antar instansi daerah yang melibatkan TGC Ditjen PKH, Balai Veteriner Medan, serta dinas ketahanan pangan dan peternakan provinsi bersama dinas PU, dinas kesehatan dan kepolisian.

"Salah satu permasalahan yang ditangani bersama TGC dengan kepolisian adalah penanganan bangkai babi yang dibuang ke sungai. Hal ini terjadi pada awal kasus kematian babi di Sumut Oktober 2019 lalu," jelas dia.

Melalui kerjasama ini, lanjut Ketut, telah dilakukan pengawasan agar pembuangan bangkai babi dapat dicegah, dan bersama tim gabungan dilakukan pengumpulan serta penguburan bangkai ternak babi.

"Saat ini kasus pembuangan bangkai telah menurun, akan tetapi pengawasan harus tetap dilakukan, selain juga mengawasi lalu lintas ternak babi dan produknya," ucapnya.

"Tim gabungan saat ini terus melanjutkan pelaksanaan kegiatan di posko darurat dan lapangan untuk melakukan pengawasan, sosialisasi dan bimbingan teknis tentang ASF. Kementan juga telah mengalokasikan APBN sebesar lima milyar rupiah untuk mendukung operasional di lapangan."

Sebelumnya diberitakan bahwa penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumut. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), sampai minggu kedua Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut mencapai 28.136 ekor. (INF)

AFRICAN SWINE FEVER, ANCAMAN BAGI PETERNAKAN BABI DI INDONESIA



Beberapa waktu belakangan ini beberapa Negara di Asia dibuat ketar-ketir dengan penyakit African Swine Fever (ASF). Indonesia termasuk yang ikut siaga perihal datangnya penyakit ini, lalu apakah sebenarnya virus ASF itu?

Sejarah ASF
Pertama kalinya ASF dilaporkan terjadi di Montgomery, Kenya, Afrika pada tahun 1921. Di Kenya, ASF sukses memakan banyak korban babi yang diimpor dari Eropa. Kemudian kejadian ASF di luar Afrika dilaporkan terjadi di Portugal pada tahun 1957, tingkat kematian yang disebabkan oleh ASF pada saat itu mencapai 100%. Tiga tahun kemudian, ASF menyebar sampai ke Semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal, dll) sampai kurang lebih 20 tahun Spanyol dan Portugal baru bisa mengeradikasi penyakit tersebut pada 1994 dan 1995. Tentunya dengan mewabahnya ASF di sana pada waktu itu kerugian ekonomi yang diderita amatlah besar.

Agen Penyakit
ASF merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari family Asfaviridae yang memiliki double stranded DNA. Virus ini hanya menyerang babi dan akan mengakibatkan demam yang disertai dengan perdarahan pada berbagai organ. Tingkat kematian yang dilaporkan pada babi domestik sangat tinggi bahkan mencapai 100%.

Secara patologi anatomis, ASF hampir menyerupai dengan Hog Cholera. Perbedaannya, pada penyakit Hog Cholera atau Classical Swine Fever (CSF) akan menujukkan gejala khas berupa ginjal yang berubah bentuk seperti telur kalkun dan terjadi lesion button ulcer pada usus. Sedangkan babi yang mati akibat ASF secara patologi anatomis akan menunjukkan kelainan berupa perdarahan hebat pada limpa hingga berwarna kehitaman, dan konsistensi limpa akan rapuh. Virus ASF menyerang secara akut, kematian akan terjadi kurang lebih satu minggu setelah infeksi, bahkan bisa kurang.

Inang alami dari virus ini adalah babi hutan, yang lebih celaka lagi virus ini dapat menular melalui vektor berupa caplak dari genus Ornithodoros yang ada pada babi. Virus ASF juga diketahui sebagai satu-satunya virus DNA utas ganda yang dapat menyebar melalui gigitan vektor. 

Jika pada Hog Cholera sudah tersedia vaksinnya, ASF hingga saat ini belum juga ditemukan vaksinnya. Cara untuk mendeteksi ASF hingga kini adalah dengan menempatkan hewan sentinel (hewan yang sudah divaksin CSF) pada suatu populasi. Ketika ASF menyerang dan babi yang divaksin CSF mati, dapat menjadi bantuan dalam mengindikasikan penyebab kematian babi tersebut. Selain itu, apabila terjadi kematian babi secara mendadak juga direkomendasikan untuk mengambil sampel dan dilakukan uji ELISA. Sampel yang diambil bisa berupa darah maupun organ tertentu seperti limpa dan usus.

Dengan tingkat penularan yang cepat disertai morbiditas dan mortalitas tinggi (hingga 100%) amatlah wajar jika Indonesia mengkhawatirkan penyakit ini. Virus dapat menyebar dan menginfeksi inang dengan cara kontak langsung. Penyebaran virus ASF antar Negara dengan laut sebagai barrier alami adalah melalui swill feeding seperti layaknya PMK. Swill feeding adalah tindakan pemberian ransum yang mengandung bahan baku berupa daging atau organ atau derivat dari hewan yang diberi pakan. Misalnya ransum untuk babi dilarang menggunakan derivat yang berasal dari babi. Belum lagi penularan secara tidak langsung melalui produk olahan babi yang terinfeksi oleh ASF serta kontaminasi virus yang terbawa pada sapronak dan sarana transportasi. Selain itu, virus ASF juga sangat tahan berada di luar hospesnya, sehingga sulit untuk dieradikasi keberadaannya di alam.

Mengapa Indonesia Harus Waspada?
Babi memang bukan ternak utama yang dikonsumsi oleh Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam. Namun begitu, babi berkontribusi tinggi pada devisa Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor babi ternak Indonesia ke Singapura pada Semester I 2019 tercatat 14.893,3 ton atau tumbuh dari 13.194,5 ton. Sedangkan data Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2017, total ekspor babi ternak mencapai 28 ribu ton senilai US$ 59,9 juta.

Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengatakan bahwa Indonesia masih bisa unjuk gigi dalam meningkatkan nilai ekspor babinya ke Singapura. Namun begitu, Indonesia harus bisa mengamankan diri dari ancaman penyakit seperti CSF dan ASF.

“Makanya kami sangat waspada dengan adanya ASF ini, Timor Leste sudah resmi terjangkit ASF, oleh karenanya Indonesia benar-benar harus lebih waspada dan memaksimalkan usaha agar tidak tertular,” kata Fadjar. 

Terkait kabar kematian ribuan ekor babi di Sumatera Utara beberapa waktu yang lalu, Fadjar mengatakan, hal tersebut bukanlah akibat ASF, melainkan CSF. “Sudah dikonfirmasi bahwa itu Hog Cholera, bukan ASF, jadi tolong jangan bikin rumor-rumor yang tidak jelas,” ucap dia.

Dalam rapat koordinasi Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) yang digelar di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu, pemerintah sudah menyiapkan langkah strategis lintas sektoral, yakni pedoman Kesiapsiagaan Darurat Veteriner ASF (Kiatvetindo ASF). Terdapat empat tahapan penanggulangan, yaitu tahap investigasi, tahap siaga, tahap operasional dan tahap pemulihan. Hal lain adalah sosialisasi terkait ASF di wilayah-wilayah risiko tinggi, membuat bahan komunikasi, informasi dan edukasi untuk di pasang di bandara, pemantauan dan respon terhadap kasus kematian babi yang dilaporkan melalui iSikhnas, membuat penilaian risiko masuknya ASF ke Indonesia sehingga membantu meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Pusat Karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani, Agus Sunanto, menegaskan bahwa Badan Karantina Pertanian (Barantan) akan turut melakukan upaya antisipatif. Hal yang dilakukan diantaranya memperketat serta meningkatkan kewaspadaan pengawasan karantina di berbagai tempat pemasukan negara.

Beberapa kali Barantan berhasil menggagalkan masuknya komoditas yang berpotensi membawa virus ASF, seperti daging babi, dendeng, sosis, usus dan olahan babi lainnya. Sebagai contoh, Karantina Pertanian Bandara Intenasional Soekarno Hatta sepanjang 2019 hingga September kemarin telah menyita komoditas petensial ASF sebanyak 225,28 kg yang berasal dari barang bawaan penumpang.

Selain melakukan pengawasan, Agus menjelaskan pihaknya merangkul semua instansi, baik di bandara, pelabuhan dan poslintas batas negara, seperti Bea dan Cukai, Imigrasi, unsur airlines, agen travel serta dinas peternakan di daerah. Menurut Agus, Kementan telah menghitung potensi kerugian kematian akibat ASF. Apabila dihitung 30% saja populasi terdampak, maka kerugian peternakan babi dapat mencapai Rp 7,6 triliun. (CR)

Negara-negara di Asia yang Terjangkit Wabah ASF

Negara
Terjangkit
Estimasi Populasi Babi
China
Agustus 2018
441.000.000
Monggolia
Januari 2019
50.000
Vietnam
Februari 2019
27.000.000
Korea Utara
April 2019
3.000.000
Kamboja
April 2019
2.000.000
Laos
Juni 2019
4.000.000
Myanmar
Agustus 2019
18.000.000
Filipina
September 2019
12.500.000
Korea Selatan
September 2019
11.000.000
Timor Leste
September 2019
400.000
Populasi Terancam
518.950.000









Berbagai sumber.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer