![]() |
| Kontainer Berisi Daging Ayam Beku Mliki Suja, Siap Berangkat ke Timor Leste (Foto : Suja) |
Ditengah fluktuasi pasar produk perunggasan dalam negeri, membidik pasar ekspor merupakan salah satu alternatif mendapatkan cuan lebih. Beberapa perusahaan Indonesia mulai membangun jaringan internasional, bukan hanya demi cuan tetapi juga kehormatan.
Menjaga
Eksistensi & Konsistensi
Salah
satu perusahaan yang konsisten dalam melakukan ekspor produk perunggasan adalah
CJ Group. Berbagai produk perunggasan seperti telur tetas, DOC, bahkan daging
ayam beku telah berhasil mereka ekspor ke beberapa negara tetangga.
Terakhir
pada Selasa 15 Juli 2025 lalu PT Sumber Unggas Jaya (Suja) yang juga bagian CJ
Group telah berhasil melakukan ekspor karkas ayam beku ke Timor Leste. Ini merupakan
kedua kalinya Suja berhasil melakukan penetrasi pasar ke Timor Leste.
Dikatakan
oleh Direktur PT Suja Joo Yong Bum dalam sebuah wawancara ekslusif bersama
Infovet, PT Suja berhasil memberangkatkan 8,2 ton daging ayam beku ke Timor
Leste pada pengiriman pertama di tanggal 15 Juli lalu. Transaksi tersebut
bernilai 18.460 USD atau sekitar 301 Juta rupiah dalam kurs saat ini.
Ini
merupakan pengiriman pertama dimana pengiriman selanjutnya sampai semester 2
tahun ini Suja berencana melakukan pengiriman hingga 50 ton dalam 6 kali
pengiriman dengan total nilai 114.000 USD atau sekitar 1,8 Miliar Rupiah.
Ditemui
ditempat yang sama Head of Production & Export Department RPHU PT Suja
Pujiono mengatakan bahwa pada ekspor kedua ke Timor Leste ini kuantitasnya meningkat
daripada ekspor pertama. Pada ekspor pertama kata Puji, Suja berhasil
mengekspor total 33 ton karkas, sementara untuk kedua ini mereka sudah deal diangka
50 ton.
“Ini
pencapaian yang bagus, kita masih menargetkan lebih dari itu. Ini juga indikasi
bahwa produk kita diterima di sana, kami kira ini adalah suatu Langkah yang
bagus kedepannya” tuturnya.
| Sebalumnya Suja Juga Pernah Mengekspor Daging Ayam ke Timor Leste (Foto : CR) |
Meniti
Jalan Berliku
Pada
kenyataannya mengekspor produk ke luar negeri bukanlah urusan mudah. Ada
sekelumit proses yang rumit yang harus dilalui untuk dapat mengekspor produk.
Mulai dari hubungan G to G dan B to B, semuanya memakan tenaga,
biaya, dan waktu yang cukup banyak. Hal tersebut dikemukakan oleh Dewa Putu
Sumerta selaku komisaris PT Suja. Ia menceritakan bahwa berbagai tantangan
merintangi mereka, namun Suja tak pernah gentar dan mundur.
“Kita
harus sesuai standar internasional, memiliki kompartemen bebas AI, aspek logistik,
bea cukai, karantina, jaminan kualitas produk dan lain – lain. Pokoknya banyak
yang kita harus urus, namun dengan pengalaman kita sebagai pelaku industri dan
dukungan dari CJ Group akhirnya kita bisa tembus juga,” tutur pria yang akrab
dipanggil Pak Dewa tersebut.
Masalah
lain di Timor Leste kata Pujiono adalah mengenai cold chain management,
yang dinilainya kurang. Ia menjelaskan bahwa di Timor Leste sesungguhnya
terdapat cold storage, namun tidak seperti di Indonesia yang berupa
bangunan besar, di sana kebanyakan hanya berupa container yang diberikan
fasilitas pendingin.
Optimis
Menatap Pasar Luar Negeri
Ketika
ditanya Langkah lebih lanjut mengenai pasar di Timor Leste baik Dewa maupun
Puji sudah memikirkan kerangka untuk terus mengembangkan sayap Suja dan Cj
Group di sana.
Dalam
waktu dekat, kita juga akan mencoba ekspor HE atau DOC. Saat ini dalam proses
persetujuan pemerintah Timor Leste.
“DOC
dulu, baru pakan. Kalau bisnis perunggasan kan memang begitu biasanya, nah kami
melihat dan mendengar langsung dari warga yang juga peternak di sana juga sulit
mendapatkan DOC, makanya kami mungkin akan eksekusi rencana ini. Doakan saja
supaya ini terus berjalan,” pungkas Dewa.
Hal
ini dilakukan sejalan dengan program pemerintah Timor Leste yang memang tengah
menggenjot produksi pertanian, peternakan, dan kelautan mereka agar mengurangi
ketergantungan impor dari luar
Ditambahkan
oleh Pujiono, meskipun saat ini bisa dibilang kecil sekitar 8-10% dari total
pendapatan, Suja yakin dalam tiga tahun kedepan mampu menaikkan pendapatan
hingga 25%. Tentunya ini juga harus didukung dengan konsistensi dalam menjaga
kualitas produk.
“Dalam
jangka menengah kami menargetkan setidaknya ada lima negara yang akan menjadi
tujuan ekspor baru baik karkas ataupun produk olahan. Dalam jangka panjang kami
ingin membangun sistem distribusi regional yang stabil nan efisien, sehingga
kami dapat bersaing dengan pemain lainnya,” kata Dewa.
Ia
juga berharap agar apa yang dilakukan Suja dapat ditiru oleh perusahaan lain,
selain diversifikasi profit, menurutnya ekspor juga adalah soal harga diri
bangsa, karena selama ini Indonesia dikenal sebagai negara produsen perunggasan
namun bukan pemain besar dalam aktivitas pasar antarnegara.
“Kami
percaya bahwa ayam Indonesia punya daya saing tinggi di pasar regional, yang
dibutuhkan hanyalah konsistensi, kepercayaan, dan keberanian bersaing,” tutup
Dewa. (CR)


0 Comments:
Posting Komentar