-->

PENGUATAN SISTEM KESEHATAN HEWAN NASIONAL

PCC II AIHSP yang diselenggarakan Kementerian PPN/BAPPENAS. (Foto: Istimewa)

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pertegas langkah stategis mendukung  kesehatan hewan nasional dalam kerangka program kerja sama Australia Indonesia Health Security Partnership (AIHSP).

Hal itu disampaikan Direktur Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan pada pertemuan Program Coordinating Committee (PCC) II AIHSP yang diselenggarakan Kementerian PPN/BAPPENAS secara virtual, Senin (10/1).

“Kementan mempersiapkan langkah kerja untuk implementasi program penguatan sistem kesehatan hewan nasional berkelanjutan” ujar Nuryani. Dijelaskan, program AIHSP selama dua tahun berjalan (2020-2021), telah menunjukkan arah yang tepat dalam mendukung ketahanan kesehatan (health security) yang menjadi prioritas pemerintah mendukung implementasi Instruksi Presiden No. 4/2019 tentang Peningkatan Kapasitas dalam Mencegah, Mendeteksi dan Merespon Wabah Penyakit, Pandemik, Global dan Kedaruratan Nuklir, Biologi dan Kimia.

Oleh karena itu, pihaknya dengan dukungan program AIHSP bersinergi dengan Kemenko PMK, Kementerian PPN/BAPPENAS, Kementerian Kesehatan Hewan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kemendikbudristek, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), WHO, FFCGI dan FAO.

“Program AIHSP telah dilaksanakan dengan pendekatan one health melibatkan multi-sektor dan multi-disiplin untuk mencapai kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang optimal,” tegasnya.

Nuryani menjelaskan, program AIHSP menetapkan lima tujuan prioritas, yaitu penguatan sistem surveilans penyakit hewan, kesiapsiagaan darurat dan respon, pengendalian penyakit hewan menular strategis dan zoonosis prioritas. Selain itu, program juga fokus pada penguatan kapasitas sumber daya kesehatan hewan dan pelibatan sektor swasta dalam pengendalian penyakit dan peningkatan produksi ternak.

Salah satu penguatan untuk sistem surveilans penyakit hewan diperlukan dukungan pemeliharaan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional yang terintegrasi Indonesia (iSIKHNAS)  dan pengembangan fitur iSIKHNAS termasuk untuk kewaspadaan dini, logistik, sumber daya manusia kesehatan hewan, produksi peternakan dan integrasi data dengan sistem informasi laboratorium dan mendukung sistem imformasi one health (SIZE).

Pada kesempatan yang sama, Minisiter Counsellor DFAT, Kirsten Bishop, menyampaikan dukungannya memperkuat sistem kesehatan hewan di Indonesia, juga mendukung kepemimpinan Indonesia di G20, dimana isu one health menjadi fokus utama Indonesia. 

Sementara perwakilan dari BRIN, Mego Pinandito, menyampaikan kesiapan dukungan kolaborasi riset sektor kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan. “Kami mendukung riset bidang pertanian kesehatan hewan sehingga kami terbuka untuk melakukan kolaborasi,” kata Mego. (INF)

WEBINAR PENGELOLAAN BUNGKIL INTI SAWIT SEBAGAI PAKAN

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar webinar bertema “Pengelolaan Bungkil Inti Sawit sebagai Pakan”, Rabu (12/1/2022).

Rektor IPB, Prof Dr Arif Satria SP MSi dalam sambutannya menuturkan saat ini dihadapkan pada situasi di mana perguruan tinggi dituntut untuk memberikan solusi kreatif maupun inovasi ke depan dijadikan trensetter atau perubahan.

“Penemuan sekaligus penelitian yang dilakukan Prof Nahrowi membanggakan dan memberi harapan baru bahwa bungkil inti sawit dapat menjadi bahan baku untuk pakan ternak. Selain itu, hal ini menunjukkan peran perguruan tinggi untuk berkreasi meningkatkan kreatifitas untuk mengembangkan inovasi yang berorientasi future practice,” jelas Arif.

Industri pakan pada Indonesia masih dihadapkan pada dinamika ketersediaan bahan standar pakan yang musiman, serta tidak berkelanjutan.

Pakan ternak merupakan hal yang krusial karena memegang kontribusi terhadap biaya pakan sebesar 80-85%, maka dari itu perlu adanya substitusi bahan pakan yang terjangkau dan berkualitas. Salah satu bahan pakan yang sedang dikembangkan yakni bungkil inti sawit.

Dalam webinar ini hadir Agus Sunanto MP, Direktur Pakan dan Plt Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak yang menyampaikan beberapa kebijakan dan pemanfaatan bungkil inti sawit sebagai pakan.

Agus mengatakan kebijakan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan ada dua hal, pertama adalah feed security untuk terkait menjamin ketersediaan pakan unggas dan ruminansia. Kedua adalah feed safety sebagai langkah meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pakan yang diproduksi dan diedarkan.

Pengembangan hijauan pakan ternak, menurut Agus sebaiknya memanfaatkan varietas hijauan pakan baru dan pemanfaatan lahan dengan sistem integrasi. Selanjutnya adalah pengembangan pakan olahan seperti bank pakan dari hijauan dan limbah pertanian.

Bahan pakan impor sudah sangat langka sehingga diperlukan pemanfaatan bahan pakan lokal. “Selain bungkil inti sawit sebagai bahan protein, maggot juga perlu dipertimbangkan untuk mengganti bahan pakan yang diimpor,” tambah Agus.

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Drh Desianto Budi Utomo PhD menjelaskan, pemanfaatan bahan pakan lokal di Indonesia mencapai 65%. Bungkil inti sawit belum diprioritaskan, dikarenakan tingkat kecernaan yang rendah dan masih sering ditemukannya sisa batok atau cangkang.

Lebih lanjut dijelaskan teknologi pengelolaan bungkil inti sawit dapat dilakukan dengan teknologi pemisahan cangkang, extruder (pemanasan dengan uap air dan tekanan tinggi), dan fermentasi dengan bakteri, kapang serta formulasi ransum dengan enzim. “Perlunya kerjasama antara peneliti, pemerintah, dan industri pakan serta perlu edukasi dalam peningkatan pemanfaatan sumber bahan pakan lokal,” kata Desianto.

Narasumber berikutnya dalam webinar yaitu Ir Didiek Purwanto IPU selaku Ketua ISPI membahas “Kontribusi Bungkil Inti Sawit dalam mendukung Industri Feedlot dan Dairy”. Perkebunan kelapa sawit nasional tahun 2019 di Indonesia memiliki luas lebih dari 16 juta hektar, sehingga sangat berpotensi untuk menggunakan bungkil inti sawit.

“Perlunya mengoptimalkan penggunaan bungkil sawit dengan terobosan strategis dengan tata niaga yang efisien, peningkatan kualitas, prioritas untuk kebutuhan dalam negeri dengan regulasi yang mendukung” tuturnya.

Dalam acara yang sama, Prof Dr Ir Nahrowi MSc selaku peneliti dari IPB sebagai menuturkan bungkil inti sawit merupakan hasil samping dari sawit dan sangat berpotensi karena harga yang murah dan ketersediaan yang terjamin, namun perlu ditingkatkan kualitasnya. Teknologi pangan yang sedang digunakan saat ini adalah dengan fraksinasi dan hidrolisa sehingga menghasilkan palmofeed dan mannan.

“Teknologi fraksinasi yang diikuti dengan proses hidrolisis tidak hanya dapat meningkatkan kualitas fisik, tetapi kualitas kimianya. Bungkil inti sawit terhidrolisis (palmofeed) dapat dipakai dalam campuran ransum unggas sebesar 12,5% yang masih dapat ditingkatkan lagi penggunaannya diikuti dengan penambahan enzim penghidrolisis serat,” terang Nahrowi. (NDV)

SEORANG PETERNAK BEBEK DI INGGRIS TERJANGKIT FLU BURUNG

Pensiunan pekerja kereta api dan ahli bebek, Alan Gosling, menjadi salah satu orang pertama di Inggris yang terjangkit flu burung. Pria berusia 79 tahun dari Buckfastleigh, Devon itu memiliki strain H5N1, mendorong dokter hewan untuk memusnahkan 160 bebek Muscovy di peternakan rumahan Gosling. Termasuk beberapa yang tinggal di rumahnya di barat daya Inggris. Para pejabat mengatakan tidak ada bukti penyebaran ke manusia lain setelah pelacakan kontak dekat, dan Gosling tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, hanya isolasi mandiri.

Wabah H5N1 saat ini adalah krisis flu burung terbesar yang tercatat di Inggris, dengan hingga 2 juta unggas diperkirakan telah dimusnahkan sejauh musim gugur dan musim dingin ini.

Profesor Mike Tildesley, profesor pemodelan penyakit menular di University of Warwick, mengatakan kasus itu muncul setelah 60-65 wabah flu burung H5N1 di peternakan di Inggris. Ia mengatakan kasus flu burung pada manusia sangat jarang terjadi.

Berbicara di program Today Radio BBC, Tildesely mengatakan bahwa jika kasusnya diketahui lebih awal, antivirus dapat membantu pasien. Gejalanya, kata dia, hampir mirip dengan virus corona di mana batuk dan demam biasa terjadi. (via poultryworld.net)

MENGAKALI BIAYA PAKAN AGAR LEBIH EFISIEN

Webinar interaktif dan menambah wawasan

Naiknya harga berbagai macam bahan baku pakan membuat formulator dan peternak harus memutar otak dalam formulasi pakan agar harganya tetap terjangkau. Atas dasar keresahan tersebut PDHI bersama Samyou International menggelar webinar bertajuk “Energi Mahal, Peranan Lipozyme Memaksimalkan Energi dalam Pakan” pada Jumat (7/1). Webinar terrsebut juga digelar dalam menyambut Hari Ulang Tahun PDHI yang ke-69 yang jatuh pada 9 Januari 2022.

Drh Muhammad Munawaroh selaku Ketua Umum PB PDHI mengatakan bahwa tingginya harga pakan menjadi concern tersendiri bagi PDHI. Hal ini tentunya akan menjadi beban bagi peternak karena pakan merupakan komponen tersbesar dalam suatu usaha budidaya ternak.

“Untuk itu dengan digelarnya acara ini peternak dan para formulator di produsen pakan diharapkan dapat lebih efisien dalam formulasi pakan dan outputnya dapat mengurangi harga pakan agar lebih terjangakau,” tutur Munawaroh.

Prof Budi Tangendjaja yang menjadi pembicara dalam webinar tersebut memaparkan bahwa mindset peternak masih saja salah terkait pakan. Menurut beliau, masih banyak peternak Indonesia menganggap bahwa pakan yang baik adalah pakan dengan kadar protein yang tinggi.

“Ini salah, padahal yang terpenting adalah nilai energinya dan terpenuhinya unsur – unsur makro dan mikro yang ada di dalam pakan. Makanya ini harus diluruskan, nah untuk energi ini kan mahal, jadi bagaimana caranya supaya energi di dala pakan ini cukup dan harganya murah,” tutur Budi.

Dalam suatu formulasi ransum pada pakan ternak Budi mengatakan bahwa ada lebih dari 30 jenis nutrient yang dibutuhkan dan nutrient – nutrient tersebut berasal dari beragam bahan baku. Oleh karenanya kecakapan formulator tidak hanya dinilai dari terpenuhinya suatu nilai gizi pada suatu formulasi pakan, tetapi juga dari segi ekonomis pakan.

“Singkatnya pakan itu harus bergizi, murah, dan aman bagi yang memakan (ternak). Formulator yang jago harus bisa menggunakan keahliannya dalam meracik pakan,” kata Budi.

Sebagaimana kita ketahui bahwa energi dalam pakan diperoleh dari jagung, namun karena ketersediaan dan kualitasnya, para formulator harus mencari substituent dari jagung. Sebut saja minyak, Indonesia merupakan salah satu penghasil CPO terbesar di dunia dimana CPO ini dapat dijadikan substituent jagung sebagai sumber energi.

Namun kata Budi, tidak semua ternak dapat mencerna minyak dengan baik, terutama pada ternak yang berusia muda dimana aktivitas enzim pankreasnya belum bekerja secara maksimal. Oleh karenanya dibutuhkan suplementasi enzim lipase secara eksogen dalam mempermudah ternak muda terutama ayam dalam mencerna minyak, dalam hal ini lemak.

“Anak ayam sampai umur 8 hari enzim pankreatiknya belum bekerja, bahkan bisa dibilang dia tidak punya enzim lipase yang bekerja di dalam ususnya, nah makanya ada penelitian yang menyebutkan bahwa penambahan enzim lipase dalam pakan membantu kecernaan lemak dan energi pada anak ayam,” tutur Budi.

Sementara itu Dr Zhang Yang selaku Direktur Teknik dan Aplikasi Nutrisi Hewan Mianyang Habio Engineering menyebutkan bahwa lemak merupakan unsur yang mengandung lebih banyak nutrisi daripada karbohidrat. Bahkan nilainya sampai 2,25x dari karbohidrat.

“Oleh karena itu sayang apabila ini tidak dimanfaatkan, apalagi Indonesia merupakan penghasil CPO terbesar yang merupakan sumber lemak pada ransum ternak,” tutur Dr Zhang.

Lebih lanjut, Zhang mengatakan bahwa lemak juga merupakan bahan pakan yang paling mahal di antara semua bahan saat ini. Namun, karena lemak kasar dalam bahan pakan umumnya tidak banyak dimanfaatkan, hal itu menyebabkan pemborosan biaya pakan yang besar. Beberapa alasan mengapa lipase digunakan antara lain lipase yang ada dalam tubuh tidak mencukupi, terutama ketika ternak berada di bawah pengaruh kepadatan yang tinggi, stres, dan adanya penyakit sub klinis.

“Solusinya adalah dengan memilih enzim lipase spesifik yang sesuai dengan karakteristik saluran pencernaan ternak serta memilih enzim lipase yang memiliki efisiensi enzimolisis tinggi untuk lemak kasar yang ada dalam beberapa bahan pakan,” pungkasnya. (CR)

 

AGAR SENANTIASA AMAN DI TIAP TAHUN

Siap siaga dalam menghadapi penyakit unggas. (Foto: Dok. Infovet)

Menghadapi tahun 2022, seharusnya pelaku budi daya perunggasan lebih aware dengan penyakit apa yang akan datang serta dapat mengantisipasinya. Karena penyakit merupakan salah satu tantangan yang pasti.

Jika bicara prediksi, tentunya tidak akan 100% akurat. Semua tergantung pada yang “di atas”. Namun begitu, tidak ada salahnya memperkirakan dan sedikit “meramal” apa yang akan terjadi di tahun depan, sambil mengambil ancang-ancang agar lebih siap.

Jangan Lengah dengan Penyakit Kambuhan
Konsultan senior perunggasan sekaligus anggota Dewan Pakar ASOHI, Tony Unandar, mengemukakan selama ini penyakit unggas yang terjadi di lapangan masih yang itu-itu saja walau berbeda musim.

“Kalau bisa dibilang kita masih berkutat dengan yang lama dan monoton, serta faktor yang sangat urgent untuk diperbaiki adalah pola pemeliharaan dari peternak kita,” tutur Tony.

Jika tidak ada upaya perbaikan sesegera mungkin, bukan hanya kasus penyakit yang terus berulang, tetapi tingkat keparahannya maupun jenis penyakit baru akan bertambah di masa depan.

“Saya beri contoh sederhana, pernah lihat panen di kandang semuanya langsung diangkut? Tidak kan, jangankan di peternakan kecil, yang besar juga ada begitu. Padahal bagusnya kan all in all out. Lalu kira-kira berapa persen peternakan di Indonesia yang biosekuritinya baik? Mayoritas jelek atau baik biosekuritinya? Saya tanya begitu saja kita langsung tersenyum kecut,” katanya kepada Infovet.

Tony berujar bahwa sebaik-baiknya obat baru yang ditemukan dan riset di bidang penyakit hewan, serta secanggih teknologi berkembang, bila tidak dibarengi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. (CR)

IRAN KEKURANGAN PAKAN TERNAK

Beberapa peternak Iran mencoba memberi makan ternaknya dengan pisang dan terong untuk menekan harga pakan yang tinggi dan pasokan yang rendah. Sebelumnya apel dan kentang juga digunakan sebagai bahan baku.

Mansour Pourian, kepala dewan pemasok ternak negara itu, membenarkan bahwa pada paruh kedua tahun ini, pasokan bahan pakan di Iran menjadi sangat langka sehingga para peternak beralih ke buah-buahan dan sayuran. Di bawah kebijakan pemerintah, bahan pakan yang tersedia pertama-tama didistribusikan ke peternak unggas, dan seringkali tidak ada yang tersisa untuk domba dan sapi.

FLU BURUNG DIDIAGNOSIS 675 KALI DI EROPA

Sejak Oktober 2021, virus telah terdeteksi 675 kali pada burung liar, dan 534 wabah telah dilaporkan pada unggas ternak. Selain itu, virus juga telah terdeteksi pada mamalia di beberapa negara yaitu pada rubah di Belanda dan Finlandia, pada anjing laut di Jerman dan Swedia, dan pada berang-berang di Finlandia.

Organisasi unggas Belanda, Avined, juga memperingatkan bahwa situasi di Eropa masih sangat tegang. Dalam beberapa hari terakhir, wabah telah diidentifikasi di peternakan ayam petelur besar di Veurne, Belgia, dan di peternakan kalkun.

Ada juga wabah flu burung yang dilaporkan di sebuah peternakan rumahan di Jerman. Kasus juga terus meningkat di Inggris, 57 wabah kini telah dilaporkan, 2 kasus terbaru pada 28 Desember 2021. Selain itu, Portugal dan Slovenia juga baru-baru ini melaporkan kontaminasi ke organisasi kesehatan hewan dunia, OIE.

EROPA MENGHADAPI EPIDEMI FLU BURUNG TERBESAR

Selain memerangi pandemi Covid-19, Eropa juga sedang berjuang dengan epidemi flu burung terbesar yang pernah ada, menurut lembaga kesehatan hewan Jerman Friedrich-Loeffler-Institut (FLI). Lebih penting lagi, akhir epidemi flu burung belum terlihat.

FLI memperingatkan bahwa situasi berkembang lebih dramatis daripada musim dingin lalu, dan musim semi masih jauh. Kasus baru dilaporkan setiap hari, baik di unggas liar atau di peternakan. Area distribusinya juga luas.

BISNIS UNGGAS IRAN MEMINTA PEMERINTAH UNTUK MENJAGA EKONOMI PASAR

Sekelompok organisasi peternakan unggas Iran telah mengajukan surat terbuka kepada Seyed Javad Sadati Nejad, Kementerian Jihad Pertanian, menyerukan untuk tidak menarik sisa-sisa ekonomi pasar dari industri produksi unggas.

Pemerintah Iran memiliki rencana untuk mengambil kendali penuh atas pasar unggas domestik. Sejak 2019, pihak berwenang mulai mengatur distribusi bahan pakan dan juga melarang perusahaan menaikkan harga eceran di atas tingkat tertentu dalam kebijakan batas harga di pasar makanan. Namun, sistem yang ada memungkinkan petani untuk menandatangani kontrak langsung dengan organisasi grosir atau pengecer. Pihak berwenang dilaporkan berencana untuk mengambil semua pasokan unggas di bawah kendali penuh, mengklaim ini dapat memperkenalkan ketertiban pada industri yang dilanda krisis.

Rencana baru tersebut menghadapi perlawanan keras dari organisasi peternak unggas, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat membahayakan industri lebih jauh. “Berbagai proposal penghapusan ekonomi pasar tidak akan menyelesaikan masalah; organisasi nasional industri perunggasan sangat menentang gagasan ini,” kata para peternak dalam surat yang ditandatangani oleh Asosiasi Nasional Produsen DOC, Persatuan Peternak Broiler Nasional dan Persatuan Koperasi Peternakan Ayam Petelur.

LOWONGAN KERJA PT CITRA INA FEEDMILL



Lowongan kerja (Sales & Technical Sevice) di PT CITRA INA FEEDMILL

Persyaratan: 
1. Laki-laki
2. Umur maks 30-40 tahun
3. Pendidikan Dokter Hewan/S1 Peternakan
4. Pengalaman di bidang broiler dan kemitraan broiler di area Jabodetabek, Jawa Barat dan Banten
5. Memiliki SIM A
6. Domisili di Jabodetabek

Kirim CV dan lampirannya ke: hrdga@citrafeed-indonesia.com

AVIAGEN LUNCURKAN LITERATUR TEKNIS BERBAHASA INDONESIA

Webinar peluncuran literatur teknis berbahasa Indonesia dari Aviagen. (Foto-foto: Infovet/CR)

Rabu (15/12/2021), Aviagen menggelar peluncuran literatur teknis berbahasa Indonesia. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

Hadirnya literasi teknis berbahasa Indonesia tersebut diharapkan dapat memudahkan para customer/user dari Aviagen, hal tersebut diungkapkan oleh Manajer Bisnis Aviagen Asia-Pasifik, Rafael Monleon. Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara penting di kawasan Asia yang banyak memiliki potensi, namun belum dapat memaksimalkan potensi tersebut.

“Kami sudah banyak menerjemahkan literatur dan guideline kami ke berbagai bahasa, lalu kami sadar bahwa Indonesia memiliki bahasa tersendiri dan kami rasa kami butuh untuk menerjemahkan yang kami miliki ke dalam bahasa Indonesia. Semoga ini dapat membantu para user kami di Indonesia,” tutur Rafael.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum Gabungan Pelaku Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami, turut mengatakan bahwasanya ini merupakan suatu inisatif yang baik dari Aviagen kepada para stakeholder di Indonesia. Pasalnya, menurut Dawami strain ayam milik Aviagen merupakan salah satu strain yang dominan digunakan dalam budi daya komersil maupun indukan (Parent Stock, Grand Parent Stock).

“Ini tentu akan mempermudah kita para user, semua guideline, literatur ilmiah dan lain sebagainya yang berkaitan dengan teknis yang tersedia dalam bahasa Indonesia jelas sangat berguna dan praktis. Mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya,” tutur Dawami.

(Dari kiri): Rafael Monleon dan Achmad Dawami.

Literatur Teknis Berbahasa Indonesia
Penjelasan lebih lanjut mengenai literatur yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia disampaikan oleh Manajer Transfer Teknis Global Aviagen, Dr Ting Lu. Dalam presentasinya ia menjelaskan maksud dan tujuan Aviagen melakukan translasi bahasa berbagai literatur tersebut, dokumen apa saja yang sudah beralih bahasa, bagaimana cara mendapatkan dokumen tersebut, serta menjelaskan mengenai aplikasi Aviagen.

“Untuk mendapatkannya pengguna bisa langsung mengakses laman website kami, kemudian setelah masuk dalam landing page silakan pilih wilayah dan bahasa, di situ sudah tersedia berbagai artikel dalam bahasa Indonesia,” jelas Ting Lu.

Infovet sendiri mencoba mengakses laman website Aviagen tersebut, di dalamnya terdapat berbagai macam literatur dan artikel teknis berbahasa Indonesia dengan berbagai macam tema, mulai tips dan trik beternak, manajemen pakan, hingga manajemen pengendalian penyakit. Semuanya dapat diakses melalui https://ap.aviagen.com/language-mini-site/show/id.

(Dari kiri): Ting Lu, Mike Block dan Greg Hitt.

Berbagi Tips & Trik Meningkatkan Feed Intake
Selanjutnya sesi dilanjutkan dengan presentasi teknis terkait cara memperbaiki asupan pakan pada broiler yang dibawakan Manajer Layanan Teknis Aviagen, Mike Block. Dalam presentasinya, Mike menjelaskan mengenai bagaimana mendorong agar ayam banyak memperoleh asupan pakan.

Dijelaskan, meningkatkan asupan pakan merupakan kunci keberhasilan dalam memaksimalkan potensi genetik yang dimiliki ayam. Masalahnya, terdapat berbagai faktor yang dapat menentukan keberhasilan dalam meningkatkan asupan pakan tersebut, seperti ventilasi udara, pencahayaan, suhu, kelembapan, kualitas air, fase brooding, jenis dan kualitas pakan, serta tantangan penyakit.

“Di masa kini perkembangan genetik broiler sudah sangat maju berbeda dengan puluhan tahun lalu, apalagi kami Aviagen sangat concern dengan perbaikan genetik ini. Untuk itu dalam memaksimalkan potensi genetik, ayam harus makan. Selain pakan yang berkualitas, asupan pakan dan nutrisinya harus mencukupi,” jelas Mike.

Lebih lanjut dikatakan, salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan asupan pakan yakni bagaimana membuat ayam nyaman dengan lingkungannya. Oleh karenanya dibutuhkan pengaturan di dalam kandang yang tepat agar memenuhi standar kenyamanan ayam, dimana ayam bisa makan dan hidup dengan tenang. Dengan begitu ayam mau makan dan potensi genetiknya termaksimalkan.

“Terutama pada saat brooding, anak ayam tidak dapat mengatur suhu tubuhnya sendiri, oleh karena itu fase ini sangat penting. Kalau kita gagal memanfaatkan kesempatan di fase ini, maka ke depannya akan sulit mengejar target performa bobot standar broiler, maka dari itu setting lingkungan kandang sebaik mungkin agar fase brooding berjalan mulus,” ucap Mike.

Ia juga bilang bahwasanya peternak harus memperhatikan setiap detail kecil di kandang dengan melakukan monitoring berkala. Karena menurutnya kerap kali hal tersebut luput dilakukan sehingga performa menjadi sedikit kendor.

Diakhir sesi webinar Mike dan Dr Ting Lu pun menjawab berbagai pertanyaan yang masuk kepada mereka mengenai aspek teknis maupun non-teknis. Sesi tersebut berjalan sangat interaktif dan pertanyaan yang masuk dijawab dengan memuaskan. (ADV/CR)

KASUS PENYAKIT PENTING DI 2021 DAN PREDIKSINYA DI 2022

Penyakit unggas masih akan didominasi penyakit viral dan potensi AI strain terbaru. (Foto: Dok. Infovet)

Tantangan fenomena penyakit di 2021 relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pergantian cuaca ekstrem dan kondisi suhu lebih panas terjadi di 2021, menyebabkan kondisi pemeliharaan ayam mengalami tantangan diantaranya:

• Kondisi ayam yang mengalami stres dan potensial imunosupresi yang diakibatkan fluktuasi suhu, kelembapan dan kecepatan angin.
• Bibit patogen lebih berkembang diakibatkan kondisi kelembapan lebih tinggi.
• Tantangan manajemen di kandang karena perubahan cuaca yang ekstrem.
• Tantangan pemenuhan kebutuhan energi di saat kondisi panas ekstrem.

Berdasarkan data dari 88 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara pada Oktober periode 1981-2010 di Indonesia adalah sebesar 27.0° C (dalam range normal 21.4° C - 29.8° C) dan suhu udara rata-rata pada Oktober 2021 adalah sebesar 27.6° C. Berdasarkan nilai-nilai tersebut, anomali suhu udara rata-rata di Oktober 2021 menunjukkan anomali positif dengan nilai sebesar 0.6° C. Anomali suhu udara Indonesia pada Oktober 2021 merupakan nilai anomali tertinggi sepanjang periode data pengamatan sejak 1981.

Untuk unggas yang masih dipelihara dengan sistem open house merasakan dampak negatif yang luar biasa terhadap anomali cuaca tersebut. Untuk kandang closed house kenaikan suhu lingkungan masih masih diantisipasi dengan adanya evaporative cooling pad sehingga suhu di dalam kandang bisa diturunkan sesuai target kebutuhan.

Dampak stres karena panas ini paling berbahaya menyebabkan penurunan kekebalan tubuh sehingga kemampuan imunitas untuk melawan penyakit menjadi berkurang, akibatnya kejadian penyakit potensial meningkat sepanjang 2021.

Koksidiosis & Nekrotik Enteritis
Penulis mencatat untuk kejadian Koksidiosis dan Nekrotik Enteritis (NE) di 2021 mengalami peningkatan dibanding sebelumnya. Faktor predisposisi lebih karena disebabkan kondisi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021.

Ditulis oleh:
Drh. Sumarno (Senior Manager AHS PT Sreeya Sewu Indonesia) &
Han (Praktisi Peternak Layer)

MENGULAS PENYAKIT 2021 DAN ANTISIPASI PENYAKIT 2022

Dibutuhkan langkah tepat dalam menghadapi tantangan penyakit perunggasan. (Foto: Istimewa)

Sebentar lagi tahun 2021 akan dilewati bersama. Suka-duka sudah dirasakan selama satu tahun kemarin. Analisis dan evaluasi perlu dilakukan agar suka-duka tidak berlalu begitu saja tetapi dapat digunakan untuk berpijak dan menentukan langkah ke depan dalam menghadapi tantangan dan menuai harapan.

Dari data laporan pemeriksaan kasus oleh seluruh Tim Veterinary Representive PT Romindo Primavetcom, terlihat pada semester I 2021, ditandai dengan tingginya kejadian kasus penyakit viral Newcastle Disease (ND) dan Infectious Bronchitis (IB), penyakit bakterial Chronic Respiratory Disease (CRD) dan Necrotic Enteritis (ND), serta penyakit parasiter Koksidiosis dan Cacingan (Ascariasis dan Helminthiasis).

Pada semester II 2021, ditandai dengan tingginya kejadian kasus penyakit viral ND dan penyakit bakterial Coryza dan Kolibasilosis. Sedangkan kejadian penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) dan Mikotoksikosis dilaporkan kejadiannya muncul terus sepanjang tahun ini.

Mengapa Penyakit Terus Muncul dan Mengganggu Peternakan
Penyakit IBD ditemukan di lapangan selama 2021, dengan angka kejadian kasus yang selalu tinggi setiap bulannya. Pada ayam layer bahkan mencapai angka kematian tinggi dan terjadi pada umur awal sekitar tiga minggu. Di kawasan padat ternak seperti di Jawa Timur, kejadian IBD cenderung berulang pada setiap periode masuk ayam. Pada ayam broiler kasus IBD seperti “langganan” disetiap periodenya. Di kawasan padat ternak wilayah Priangan Timur dan Sukabumi, kasus IBD cukup merepotkan peternak. Beberapa kasus outbreak IBD kadang dipicu oleh kasus Koksidiosis.

DOC yang sudah divaksinasi IBD di hatchery, relatif aman terhadap kasus IBD, tetapi seringkali rentan terhadap kasus ND. Ini dimungkinkan karena vaksin yang digunakan di hatchery saat ini, ada yang berasal dari IBD strain intermediate plus. Pada saat kualitas DOC kurang baik atau kualitasnya sangat bervariasi, vaksin IBD strain intermediate plus justru menimbulkan stres berlebih pada ayam dan tidak jarang menyebabkan atrofi bursa fabrisius. Ayam dengan atrofi bursa fabrisius tentu saja bersifat imunosupresif, sehingga kekebalan terhadap penyakit ND yang diharapkan didapat dari proses vaksinasi ND, menjadi tidak optimal hasilnya dan ayam rentan terhadap serangan ND.

Selain penyakit viral, penyakit bakterial juga masih mendominasi kejadian penyakit di lapangan. Yang terbanyak ditemukan adalah… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. 

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

RUSIA MEMPERTAHANKAN KUOTA IMPOR UNGGAS KARENA PRODUKSI MENYUSUT

Pemerintah Rusia mempertahankan kuota impor unggas 2022 pada level tahun ini sebesar 364.000 ton. Menyusutnya produksi dan rekor permintaan domestik menyebabkan keputusan ini.

Struktur kuota juga tetap sama, termasuk 100.000 ton daging cincang, 250.000 ton karkas, dan 14.000 ton daging kalkun tanpa tulang beku. Dalam kuota tidak ada bea masuk, sedangkan di luar kuota ditetapkan 65%.

Dalam 11 bulan pertama tahun 2021, Rusia mengimpor 198.900 ton unggas, naik 1,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam hal moneter, pasokan mencapai US$339,3 juta, 21,1% lebih banyak dibandingkan tahun-ke-tahun.

Sebagian besar daging unggas impor di Rusia digunakan dalam industri pengolahan daging untuk produksi produk setengah jadi dan siap masak.

PRODUKSI UNGGAS RUSIA MENURUN

Pada tahun 2021, produksi unggas Rusia turun 1,5% hingga 2% dibandingkan dengan tingkat tahun lalu menjadi 5 juta ton dalam berat pemotongan, termasuk 4,56 juta ton di sektor industri.

Pada tahun 2020, output sektor unggas sebesar 4,6 juta ton. Di sektor rumahan, produksi diyakini di atas 400.000 ton, meskipun dipertanyakan apakah data ini benar, mengingat sulit untuk memperkirakan produksi aktual di sektor ini.

Pada tahun 2021, peternak unggas Rusia menderita wabah flu burung dan kurangnya telur tetas. Dalam konteks ini, beberapa daerah berkinerja lebih buruk daripada yang lain, misalnya, di Ural, produksi unggas turun sebanyak 15%, dengan penurunan produksi yang nyata juga terlihat di Siberia. Penurunan segmen daging broiler telah dikompensasi oleh pertumbuhan kuat produksi kalkun.

PERMINTAAN UNGGAS RUSIA MELONJAK

Meskipun pandemi Covid-19, permintaan unggas tetap sangat kuat di Rusia. Penelitian yang dilakukan oleh lembaga Konsultasi Bisnis Rusia menunjukkan bahwa pada tahun 2020, unggas menyumbang 50,1% dari konsumsi daging Rusia. Ini diyakini sebagai level tertinggi yang pernah ada.

Konsumsi unggas per kapita Rusia mencapai 31 kg pada tahun 2020, 60% di atas tingkat yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Permintaan unggas yang tinggi menghambat penjualan di segmen lain dari pasar daging Rusia. Misalnya, konsumsi daging sapi per kapita Rusia 18,5% lebih rendah dari norma yang direkomendasikan.

UP DAN HPDKI KAMPAR GELAR KONTES TERNAK KAMBING 2021

Rektor UP Tuanku Tambusai, Prof Dr H Amir Luthfi, saat memberi sambutan pada Kontes Ternak Kambing 2021. (Foto: Infovet/Sadarman)

Universitas Pahlawan (UP) dan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Kampar menyelenggarakan Kontes Ternak Kambing 2021. Acara dilaksanakan di pelataran parkir UP, Selasa (28/12/2021), mengangkat tema “Upaya Melestarikan Kambing Lokal dan Meningkatkan Nilai Jual untuk Menumbuhkan Gairah Masyarakat Beternak Kambing”.

Ketua HPDKI Kampar, Kurnia Mutaqin, menyampaikan, “Event pertama untuk kontes ternak, meskipun tagline-nya untuk Kabupaten Kampar, namun peserta juga datang dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Riau.”

Sementara Pembina Program Studi Peternakan Fakultas Life Sciences UP, yang juga Wartawan Infovet Daerah Riau, Dr Ir Sadarman SPt MSc IPM, menyebut bahwa kontes ternak pada dasarnya ajang pencarian atau penjaringan kambing berkualitas baik, unggul dari sisi genetik untuk dikembangbiakan peternak.

“Kegiatan yang sangat baik, memberikan nilai positif pada usaha peternakan kambing lokal yang dipelihara peternak, khususnya di Kabupaten Kampar dan peternak lainnya di luar Kabupaten Kampar. Diharapkan dapat meningkatkan nilai jual kambing lokal, sehingga pendapatan peternak juga meningkat,” kata Sadarman yang juga Dosen Tetap Program Studi Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Rektor UP, Prof Dr H Amir Luthfi, menyambut baik atas terlaksananya kontes ternak. Ia sampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang mendukung acara ini.

“Saya memberikan apresiasi positif kepada para penggagas dan panitia pelakasana, baik dari UP maupun HPDKI Kampar. UP akan terus berkomitmen memajukan usaha peternakan, terutama peternak lokal yang harus bisa menghasilkan uang, tidak lagi beternak secara tradisional namun mereka mampu mengubah pola usaha peternakan ke arah modern, sehingga pendapatan mereka bisa meningkat,” kata mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Pada kontes tersebut ditetapkan pemenang dari empat kategori, yaitu jantan lokal, betina lokal, umum dan eksibisi. Dewan juri menetapkan pemenang kategori jantan lokal dari SIS Jaya Farm (I), Aan Farm (II) dan AJR Farm (III). Sementara kategori betina lokal diraih Hanif Farm (I dan II), serta Uwai Makmur Farm (III). Kategori umum dimenangkan Berkah Salo Farm (I), Devan Farm (II) dan Fadila Farm (III). Lalu kategori eksibisi diberikan kepada Fatur Farm (I), Azka Farm (II) dan Lukiy Farm (III). Sedangkan kategori favorit peserta dan pengunjung menetapkan kambing kacang milik Hanif Farm sebagai kambing paling disukai dan berhak membawa pulang hadiah satu ekor domba. (Sadarman)

MALAYSIA IZINKAN IMPOR AYAM BEKU DI TENGAH KELANGKAAN

Perusahaan di Sabah dan Serawak, Malaysia sekarang diijinkan untuk mengimpor ayam utuh beku hingga Februari 2022, demikian diumumkan Kementerian Pertanian dan Industri Pangan Malaysia.

Kementerian mengatakan bahwa keputusan ini dibuat untuk menutupi kekurangan pasokan ayam yang melibatkan pertimbangan impor hingga 10.000 mt atau 5,5 juta ayam per bulan. Untuk mengimpor ayam beku, perusahaan harus terdaftar di Komisi Perusahaan Malaysia dan memiliki fasilitas cold storage.

Ijin impor hanya akan diijinkan dari negara dan rumah potong hewan yang telah disetujui oleh pemerintah. Ini adalah tindakan sementara sampai pasokan dapat distabilkan oleh industri ayam lokal.

Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob, sebelumnya telah menyatakan bahwa pemerintah akan mengimpor ayam beku untuk memungkinkan masyarakat mendapatkan ayam dengan harga lebih rendah.

Berdasarkan pengamatan oleh Departemen Layanan Hewan Malaysia, negara tersebut menghadapi rata-rata kekurangan 18% pada bulan Oktober dan November dan mengantisipasi hal ini akan terus berlanjut. (via poultryworld)

AFRIKA SELATAN MEMBERLAKUKAN BEA MASUK ANTIDUMPING TERHADAP IMPOR AYAM

Afrika Selatan memberlakukan bea masuk antidumping sementara terhadap impor daging ayam bone-in dari Brasil dan 4 negara Uni Eropa, yaitu Denmark, Irlandia, Polandia, dan Spanyol.

Dari Januari 2022 hingga Juni 2022, negara tersebut memberlakukan bea masuk anti-dumping terhadap 9 negara – AS, Brasil, Spanyol, Polandia, Irlandia, Denmark, Jerman, Belanda, dan Inggris – yang secara teratur mengekspor daging ayam. Dalam 3 tahun terakhir, impor unggas Afrika Selatan telah menurun sebesar 63% dengan perkiraan penurunan lebih lanjut. Namun, produsen Afrika Selatan tetap tidak dapat memenuhi permintaan melalui produksi dalam negeri.

Bea masuk antidumping ini menyusul permohonan yang diajukan South African Poultry Association (SAPA) pada Januari 2021, yang menuduh impor daging ayam bone-in yang diimpor dari 5 negara itu dibuang ke pasar Southern African Customs Union. Bea masuk ini bersifat sementara dan akan berakhir pada 14 Juni 2022.

BEA MASUK ANTIDUMPING DI AFRIKA SELATAN

Dalam beberapa bulan terakhir Afrika Selatan dua kali mengeluarkan bea masuk antidumping. Pada Agustus 2021, bea masuk antidumping diumumkan untuk impor ayam bone-in dari Belanda, Jerman, dan Inggris. Sebelum tahun 2015, ekspor tiga negara tersebut ke Afrika Selatan bebas bea karena Perjanjian Kemitraan Ekonomi mereka dengan Afrika Selatan. Dengan pengumuman terakhir ini, Afrika Selatan kini menerapkan bea masuk anti-dumping ke 9 negara yang secara kolektif mewakili seluruh eksportir daging ayam bone-in ke Afrika Selatan.

Impor diduga telah merugikan ribuan pekerjaan Afrika Selatan dengan mendorong petani lokal skala kecil keluar dari pasar.

“Ini adalah solusi inovatif dan sangat disambut baik untuk masalah investigasi yang sangat panjang terhadap aplikasi untuk bea masuk antidumping,” kata pendiri FairPlay, Francois Baird. “Ini adalah kemenangan bagi industri unggas lokal, pekerjanya, dan peternak kulit hitam skala kecil yang telah menderita akibat dumping dan impor.”

MENCERMATI RAGAM PENYAKIT DAN RAMALANNYA DI 2022

Penyakit menjadi hambatan dalam budi daya unggas. (Foto: Dok Infovet)

Salah satu hambatan dalam industri peternakan unggas khususnya sektor budi daya adalah keberadaan penyakit. Baik penyakit yang sifatnya infeksius maupun non-infeksius, semuanya bisa jadi biang keladi kerugian bagi peternak. Menarik untuk dicermati ragam penyakit yang menghampiri di tahun ini dan bagaimana prediksinya ke depan.

Perunggasan sebagai industri terbesar di sektor peternakan Indonesia tentunya paling menjadi sorotan. Perlu dicatat, bahwa Indonesia merupakan produsen telur terbesar sedunia dan produsen broiler nomor 11 dunia, diperkirakan sekitar 4 juta orang bekerja di sektor perunggasan (Dirkeswan, 2021).

Oleh karena itu, segala macam hambatan termasuk penyakit harus bisa dikendalikan agar dapat memaksimalkan produksi. Tiap tahunnya, kejadian penyakit selalu terjadi dan jenisnya pun juga beragam, baik infeksius maupun non-infeksius. Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai jenis mikroorganisme patogen. Tentunya para stakeholder mau tidak mau harus berusaha survive dari hambatan ini.

Perlu diingat bahwa kejadian penyakit berhubungan dengan performa dan produktivitas. Kedua aspek itu akan langsung terkait pada nilai keuntungan yang didapat. Jadi, apabila peternak mampu mencegah terjadi penyakit, sudah pasti mendapat keuntungan lebih baik.

AI Menyeruak di 2021
Avian Influenza (AI) kembali mengudara di beberapa bulan terakhir di 2021, beberapa negara di Eropa dan Asia kena getahnya. Di Inggris dilaporkan virus AI H5N6 menyebabkan ratusan unggas mati dan ribuan lainnya harus dimusnahkan. Sementara di Norwegia virus AI H5NI memakan korban hingga 7.000 ekor ayam.

Korea Selatan juga terancam dengan keberadaan virus AI, ribuan unggas mati karena AI dan 770 ribu lainnya dimusnahkan. Sedangkan di Negeri Sakura sekitar 143.000 unggas harus dimusnahkan karena ratusan lainnya positif AI. Bahkan di China juga dilaporkan sebanyak 21 orang terinfeksi AI dari subtipe H5N6.

Pemerintah Indonesia sudah mewanti-wanti stakeholder perunggasan agar bersiap menghadapi AI, hal tersebut dikemukakan Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Nuryani Zainuddin.

Nuryani mengatakan, pihaknya telah mengirimkan surat edaran nomor 08113/PK.320/F/11/2021 terkait kewaspadaan nasional terhadap potensi masuknya AI ke Indonesia. “Kami meminta stakeholder agar lebih waspada, jangan sampai wabah kembali menyeruak seperti beberapa tahun lalu, dimana kondisi perunggasan kita luluhlantah akibat AI,” tutur Nuryani.

Ia mengatakan… Selengkanya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. (CR)

PENYAKIT YANG EKSIS DI 2021 DAN PREDIKSINYA DI 2022

Pemeriksaan serologi untuk kepastian vaksinasi dan booster, serta penerapan biosekuriti yang optimal untuk mencegah dan menanggulangi penyakit. (Foto: Istimewa)

Hampir di semua daerah peternakan, masalah yang timbul dengan tidak tercapainya performa yang diinginkan selalu berakar pada masalah yang hampir sama, karena kegagalan penerapan tata laksana pemeliharaan yang baku maupun akibat berjangkitnya penyakit tertentu. Anehnya akar permasalahan yang terinvertarisir dari tahun ke tahun kurang lebih sama.

Pada 2021, musim panas atau kemarau agak lebih panjang dari biasanya, ditambah situasi pandemi COVID-19, tetapi apapun sebabnya banyak peternak ayam ras petelur maupun pedaging yang mengeluhkan berdampak pada pencapaian performa ayam. Akibat penerapan manajemen yang tidak disesuaikan dengan kondisi lingkungan saat itu, ditambah berkurangnya tenaga lapangan yang menangani ayam karena pemberlakuan on-off kerja, maka beberapa penyakit yang teridentifikasi di 2021, juga diprediksi akan terjadi di tahun berikutnya.

• Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Kejadian penyakit ini terjadi pada ayam petelur walaupun kejadiannya secara sporadis. Serangan penyakit ini paling nyata adalah penurunan produksi telur sangat tinggi tanpa diikuti perubahan organ pasca kematian yang spesifik. Kasus ini banyak terjadi pada peternakan ayam petelur yang melaksanakan vaksinasi kurang terprogram baik dan penerapan biosekuriti kurang memadai. Penggunaan vaksin AI lengkap H5 dan H9 sudah diterapkan, karena kurangnya kontrol terhadap kekebalan yang diperoleh, menyebabkan vaksinasi ulang yang terlambat sehingga ayam terlanjur terinfeksi. Penerapan biosekuriti yang tidak memadai juga merupakan salah satu pemicu atau faktor pencetus utama serangan penyakit AI jenis ini. Dengan kondisi tersebut bukan tidak mungkin penyakit ini merupakan ancaman yang akan tetap eksis di tahun mendatang.

Newcastle Disease (ND). Walaupun untuk menangkal serangan penyakit ini paling banyak diprogramkan dalam program pemeliharaan kesehatan ayam baik pada ayam petelur maupun ayam pedaging, tetapi kejadian ND masih saja terjadi. Kejadian pada ayam pedaging relatif… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. (AHD)

FESTIVAL AYAM GHANA

Tahun ini, Festival Ayam Ghana diadakan di Accra untuk menyediakan platform bagi para pemain unggas untuk berinteraksi dan mengadvokasi lebih banyak konsumsi ayam produksi lokal.

Menurut koordinator festival, Asiwome Biekro, sekitar 95% ayam yang dikonsumsi di Ghana diimpor, menambahkan bahwa sektor ayam adalah salah satu industri utama yang dapat memacu pembangunan ekonomi Ghana, mencatat bahwa banyak pekerjaan akan diciptakan jika sektor lokal mengambil pangsa pasar 25%. (via poultryworld.net)

MEWASPADAI PENYAKIT VIRAL PADA AYAM PETELUR, AGAR PRODUKSI TETAP SUBUR

Apapun penyakit yang menyerang, produksi telur pasti akan turun. (Foto: Infovet/Ridwan)

Telur merupakan sumber protein hewani yang harganya relatif murah dan mudah ditemukan di pasar. Indonesia juga merupakan salah satu dari 10 negara penghasil telur terbanyak di dunia. Namun pada praktiknya, menghasilkan telur tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak penyakit yang menjadi hambatan.

Beternak layer komersil dan breeder bisa dibilang susah-susah gampang. Masa pemeliharaan yang lebih lama daripada ayam broiler, menjadi salah satu alasannya. Selain biaya pakan, yang perlu diperhitungkan adalah ancaman penyakit yang otomatis lebih berisiko dikarekanan lamanya masa pemeliharaan.

Pada dasarnya banyak faktor yang dapat menyebabkan gangguan pada produksi telur, misalnya saja manajemen pemeliharaan, nutrisi, stres, lingkungan dan penyakit. Beberapa penyakit pada layer terutama yang disebabkan oleh virus kerap menyerang dan menimbulkan kerugian ekonomis. Oleh karenanya, butuh perhatian lebih dalam menghadapi tantangan tersebut.

Kenali Betul Musuh Kita
Beberapa penyakit viral kerap kali menjadi “langganan” di kandang peternak layer. Seperti Infectious Bronchitis (IB), Newcastle Disease (ND), Egg Drop Syndrome (EDS) dan yang sedang hits yakni Avian Influenza (AI) H9N2 yang juga menjadi kontroversi di kalangan peternak, peneliti, akademisi dan pemerintah.

Terlepas dari itu tentunya tidak ada peternak yang ingin merugi akibat serangan penyakit viral tersebut, baik serangan secara tunggal maupun komplikasi. Pada dasarnya, semua penyakit infeksius viral maupun bakterial akan menghasilkan dampak buruk berupa penurunan produksi dan kualitas telur pada layer komersial dan breeder. Hal tersebut dikemukakan Factory Manager PT Sanbio Laboratories, Drh Arini Nurhandayani. 

Menurutnya, yang menjadi permasalahan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2021. (CR)

PENDAPATAN EKSPOR UNGGAS BRASIL NAIK 25,3%

Ekspor unggas Brasil naik 25,3% antara Januari dan November tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2020. Volume naik sebesar 9%. Pendapatan meningkat karena produk bernilai tambah diekspor dan karena depresiasi mata uang Brasil dalam kaitannya dengan dolar atau euro.

Asosiasi Protein Hewani Brasil (ABPA) menyatakan bahwa eksportir negara itu meraup US$ 6,944 miliar selama 11 bulan pertama tahun 2021, dibandingkan US$ 5,543 miliar pada tahun sebelumnya.

Dilihat dari volume, pengiriman daging ayam mencapai 4,198 juta ton antara Januari dan November pada 2021, meningkat 9,08% dibandingkan dengan 2020 (3,849 juta ton). (via poultryworld.net)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer