-->

TANTANGAN & PELUANG INDUSTRI PERUNGGASAN PASCA PANDEMI

Farmsco E-Learning Part 9 : Kupas Tuntas Masalah Perunggasan Nasional Pasca Pandemi

PT Farmsco Feed Indonesia kembali mengadakan webinar bertajuk Farmsco E-Learning pada Selasa (31/8) melalui aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming Youtube. Dalam webinar kali ke-9 ini tema yang diangkat adalah "Tantangan & Peluang Industri Perunggasan Pasca Pandemi". Animo peserta pun sangat tinggi, hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 350-an peserta hadir.

Vice President PT Farmsco Feed Indonesia Park Ju Hyun dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh peserta dan narasumber yang hadir dan berpartisipasi dalam acara tersebut. Ia juga bilang bahwa tema yang diangkat kali ini bertujuan untuk membuka pikiran dan wawasan para insan perunggasan Indonesia dalam mempertahankan perunggasan nasional dikala pandemi maupun pasca pandemi.

"Kita memang masih dalam masa pandemi, semua kebiasaan berubah, oleh karenanya kita harus saling menjaga satu sama lain agar perunggasan ini tetap hidup. Tantangan yang ada di depan mata kita harus disikapi dengan bijak, oleh karenanya mari kita bertukar pikiran, ide, dan gagasan baru. Kami akan fasilitasi itu," tutur Park.

Iqbal Alim Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak Direktorat Bibit dan Produksi Ternak dalam keynote speech-nya mengatakan bahwa ditengah pandemi sekalipun perunggasan masih sangat menjanjikan. Namun begitu ada beberapa masalah yang masih merintangi perunggasan hingga saat ini.

"Beberapa masalah merupakan masalah lama seperti over supply dan fluktuasi harga telur dan ayam ras. Pandemi ini memunculkan masalah baru yaitu turunnya daya beli dan konsumsi. Selain itu ada masalah lain seperti masuknya ayam Brazil, pembukaan pasar, dan lain - lain," tutur Iqbal.

Iqbal menyatakan bahwa pemerintah berusaha semaksimal mungkin dalam mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Terlebih lagi unggas merupakan primadona sumber protein hewani masyarakat Indonesia. Iqbal juga menyingung bahwasanya ditengah pandemi ini masih ada titik terang bagi perunggasan nasional, terutama dari ekspor. 

"Beberapa produsen kita sudah bisa ekspor produk olahannya ke luar negeri, oleh karena itu ini bisa terus kita dorong dan seperti kata Pak Menteri juga bahwa kami akan mendukung semua produsen yang memang mau mengekspor," tukas Iqbal.

Narasumber selanjutnya yakni Ketua Umum GPPU Achmad Dawami. Dalam paparannya ia memaparkan secara gamblang permasalahan perunggasan dari hulu hingga hilir. Misalnya saja masalah kelebihan stok DOC FS yang hingga kini masih menjadi momok baik bagi peternak dan pembibit.

"Kita selalu melakukan cutting dan afkir dini sebagai solusi jangka pendek, tetapi solusi jangka panjangnya enggak pernah ketemu. Kita semua harus memikirkan ini, karena ini jga bukan peternak saja yang merugi, pembibit juga loh, memang dikiranya menghasilkan HE itu enggak pakai pakan?, enggak ada biaya pemeliharaannya?," tutur Dawami.

Lebih lanjut ia melanjutkan bahwa sebelum pandemi berlangsung pun mulai ada perubahan pola konsumsi. Terlebih lagi dengan kemajuan teknologi dan faktor generasi milenial yang ingin melakukan semuanya dengan praktis.

"Dulu mata rantai industri ini cukup panjang, kini ketika teknologi maju dan pandemi juga sekarang rantai pasok jadi semakin pendek.Tinggal pegang HP, tau - tau kita sudah bisa beli ayam, telur, dan lainnya. Makanya ini kita (stakeholder) juga harus melakukan perubahan agar dapat bertahan," tutur Dawami.

Dalam webinar tersebut juga dibahas permasalahan terkait pakan ternak. Tentunya Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo yang langsung "turun gunung" memaparkan hal tersebut. Kata dia dalam situasi pandemi kini masalah yang dihadapi sektor pakan kian pelik, selain kenaikan harga bahan baku, ongkos kirim dari negara asal juga naik. Ia juga menyoroti turunnya permintaan pakan yang menurut survey GPMT dialami oleh 8 dari 10 perusahaan anggot GPMT.

"Ini benar - benar sulit, tetapi kita mau tidak mau suka tidak suka harus bertahan, bagaimanapun caranya. Oleh karenanya kami sangat ingin menyeriusi ini bersama pemerintah dan stakeholder lain, karena pakan ini adalah faktor esensial. Tidak bisa peternakan apapun berjalan tanpa adanya pakan," kata Desianto.

Dari sektor peternakan layer diwakili oleh Jenny Soelistiani Ketua Umum Pinsar Petelur Lampung. Berdasarkan hasil diskusi dan tukar pikiran yang telah ia lakukan dengan berbagai pihak, Jenny mengatakan bahwa masalah yang dihadapi oleh peternak layer kurang lebih sama. Namun begitu Jenny juga menyatakan bahwa pandemi membuat masalah baru, tetapi juga membuka peluang baru.

"Masalah barunya ya itu penurunan daya beli, pakan juga makin mahal. Tetapi dengan berkurangnya supply di negara lain, kita juga punya peluang untuk mengekspor hasil ternak kita ke luar negeri, enggak usah jauh - jauh, ke tetangga kita dulu aja," kata Jenny.

Oleh karena itu sejak beberapa tahun belakangan wanita asal Metro Lampung tersebut getol mengampanyekan sertifikasi NKV pada anggota asosiasinya di Lampung. Hal ini tentunya untuk memenuhi persyaratan agar produksi telur peternak bertambah value-nya. Dan ia juga berharap agar hal serupa juga dilakukan di daerah lain.

"NKV dengan level 1 itu bisa ekspor, itu artinya sudah terjamin produknya. Makanya saya ajak peternak di tempat saya untuk berjuang di situ. Karena ini juga peluang, selain itu tanggung jawab kita juga sebagai peternak untuk menjamin bahwa produk yang kita hasilkan adalah produk yang berkualitas dan terjamin mutunya," tutup Jenny.

Sebagai penutup peternak sekaligus Dewan Pembina GOPAN Tri Hardiyanto mengatakan bahwa memang semua masalah yang dihadapi baik sebelum maupun sesudah masa pandemi merupakan sebuah keniscayaan. Dan untuk menghadapinya semua harus bersabar dan berusaha semaksimal mungkin terutama dalam beradaptasi dengan perubahan.

"Apa yang tadi disampaikan oleh para narasumber lain adalah benar, mulai dari konsumsi turun, harga pakan dan DOC melonjak, fluktuasi harga ayam, ini adalah sebuah takdir yang harus kita hadapi bersama. Hanya saja kita harus lebih kompak dan bersatu dalam menghadapinya, karena ini adalah masalah bersama," tutur Tri. (CR)


PELUNCURAN SMART BROILER FARMING DI PERINGATAN HARI PETERNAKAN & KESEHATAN HEWAN

Produk aplikasi smart broiler farming diluncurkan dalam Indonesia Livestock Club (ILC) Edisi 23 secara daring. (Foto: Istimewa)

Fakultas Peternakan UGM menghilirisasikan risetnya dengan menciptakan sebuah sistem pendeteksi performa kandang ayam yang memudahkan peternak memantau ayam broiler melalui sebuah aplikasi bernama BroilerX, salah satu merek yang dikembangkan PT Integrasi Teknologi Unggas pada peringatan Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kamis (26/8/2021).

Produk aplikasi smart farming tersebut diluncurkan dalam Indonesia Livestock Club (ILC) Edisi 23 secara daring tersebut dihadiri Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Nasrullah, Rektor UGM Prof Panut Mulyono dan Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Ali Agus. ILC bertajuk “Unggas Merdeka dengan Big Data” diikuti sekitar 230 peserta dengan narasumber utama Founder sekaligus Direktur Utama BroilerX Jati Pikukuh dan Direktur Utama Tropic Darmawan.

Dirjen PKH Nasrullah dalam kesempatan itu menyambut baik inovasi tersebut. Ia mengatakan, “Semakin banyak atau besar data yang dipegang, maka akan semakin real dan tepat sasaran dalam analisis pengambilan kebijakan yang dilakukan pemerintah. Permasalahan besar kita sekarang adalah peternak masih belum terbuka tentang data, sehingga menyulitkan dalam pengambilan kebijakan yang sistematis terukur tepat sasaran,” kata Nasrullah.

Ia berharap inovasi yang dihadirkan benar-benar dimanfaatkan peternak dan dikembangkan sebaik mungkin, serta dapat membantu pemerintah dalam pemetaan masalah di industri perunggasan dan menghadirkan solusi aktual dan konkrit berdasarkan big data secara real time.

Pada kesempatan yang sama, Ali Agus juga mengemukakan tentang BroilerX yang merupakan produk generasi milenial karya anak bangsa dari mahasiswa UGM, sangat layak untuk mendapatkan ruang untuk terus berkembang dan berkiprah di negeri sendiri.

“BroilerX hadir dengan semangat untuk menghadirkan solusi teknologi yang dapat dimanfaatkan peternak untuk semakin mengefisienkan manajemen produksi budi daya mereka,” katanya. (IN)

BRASIL BERENCANA UNTUK MENUMBUHKAN PRODUKSI BEBEK

Brazil dikenal sebagai eksportir utama ayam pedaging dan saat ini berencana untuk mengembangkan produksi bebek. Produsen dan pemerintah Brasil akan meningkatkan sektor daging bebek menggunakan pembelajaran dari sektor ayam pedaging.

Pasar bebek dunia mengalami pertumbuhan selama beberapa dekade terakhir. Data FAO menunjukkan produksi daging itik meningkat 54,3% dari 3,1 juta ton menjadi 4,8 juta ton antara 2004 dan 2020. Sementara itu, ekspor melonjak dari 159.900 ton menjadi di atas 300.000 ton antara 2003 dan 2018.

Menurut ABPA, Brasil memproduksi 4.120 ton dan mengekspor 3.900 ton daging bebek pada tahun 2020, volume 26,55% lebih tinggi dari tahun sebelumnya, menghasilkan devisa US$ 10,5 juta untuk negara itu tahun lalu. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah tujuan utama dan masing-masing membeli 1.390 ton dan 1.000 ton. (via poultryworld.net)

BERANTAS TUNTAS GANGGUAN PENCERNAAN

Ternak ayam broiler. (Foto: Dok. Infovet)

Data analisa BMKG untuk Agustus 2021, menunjukan bahwa curah hujan menengah dikisaran 100-300 mm dengan kelembapan di atas 80% dan suhu permukaan 23-29° C. Hal ini akan berdampak kondisi di Agustus relatif lebih dingin dan berkorelasi dengan strategi pengendalian manajemen dan kesehatan unggas. Pada kondisi tersebut, tantangan gangguan penyakit pencernaan sangat potensial terjadi mengingat kondisi lingkungan mendukung bibit patogen untuk tumbuh, berkembang dan menyebabkan gangguan sistem pencernaan.

Usus atau intestine terdiri dari usus halus (duodenum, jejenum dan ileum) serta usus besar. Usus halus terbentang dari ventriculus sampai bagian ileosekal yang merupakan tempat pertautan sekum. Bagian setelah ileosekal menuju kloaka disebut usus besar. Dibagian usus halus terdapat sel-sel epitel vili yang berperanan dalam proses pencernaan dan penyerapan pakan. Sedangkan dibagian usus besar terjadi penyerapan air.

Sejumlah penyakit dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada usus halus. Sebagai contoh adalah infeksi protozoa. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan usus untuk mencerna dan menyerap nutrisi pakan, akibatnya bobot badan ayam menurun atau terjadi hambatan pertumbuhan (Zalizar et al., 2007).

Tantangan pengendalian gangguan pencernaan semakin kompleks pasca dicabutnya penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan sejak 2018. AGP secara umum digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri patogen dalam usus dan biasanya spesifik mengarah ke bakteri gram positif yaitu Clostrodium perfringens. Bakteri ini adalah agen penyebab penyakit Necrotic enteritis (NE). Dengan dilarangnya penggunaan AGP, maka kemungkinan besar kemunculan penyakit ini akan sering terjadi.

Menurut Paiva D. and McElroy A J. (Appl. Poult. Res. 23: 557-566), menyatakan bahwa kejadian NE meningkat setelah dilarangnya penggunaan antibiotik sebagai AGP. Masih menurut Paiva D. and McElroy A J., bahwa kejadian NE yang bersifat sub klinis menyebabkan kerugian ekonomi lebih besar. Kejadian NE seperti fenomena gunung es, dimana yang bersifat sub klinis justru lebih besar dibandingkan dengan klinisnya. Kejadian NE subklinis ditandai dengan ayam tampak tidak sehat, average daily gain (ADG) yang tidak tercapai dan feed conversion ratio (FCR) yang buruk.

Kejadian NE seperti fenomena gunung es. (Gambar: Istimewa)

Hubungan NE dan Koksidiosis, serta  Dampak Ekonominya
Kemunculan NE pada broiler tidak bisa lepas dari infeksi parasit awal yakni Koksidiosis. Gejala jika dilihat dari ekskreta yang di keluarkan broiler pun hampir sama cirinya, yakni cenderung berdarah. Infeksi awal NE pada saluran pencernaan akan mengikuti… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021.

Ditulis oleh:
Eko Prasetyo Bayu S Spt
(Staff Region PT Karya Satwa Mulia, Mustika Grup) dan
Drh Sumarno Wignyo
(Senior Manager AHS PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk)

PRODUK AYAM OLAHAN INDONESIA HADIR DI BANGLADESH UNTUK PERTAMA KALINYA

Syahrul Yasin Limpo dikala Melepas Ekspor Produk Ayam Olahan di Karawang
(Sumber : CR)

Jum'at (27/8) yang lalu Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melepas ekspor perdana produk ayam olahan dari PT Raja Jeva Nisi di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Produk tersebut nantinya akan dinikmati masyarakat di Bangladesh.

Disela kunjungannya pria yang akrab disapa SYL tersebut mengutarakan rasa bangganya kepada PT Raja Jeva Nisi yang telah membuktikan bahwa produk perunggasan Indonesia berkualitas dan memiliki daya saing di kancah Internasional. Dirinya juga mengungkapkan bahwa Kementan akan terus berkomitmen dalam mendukung siapa saja pelaku industri perunggasan yang hendak mengekspor produknya ke luar negeri. 

"Kami akan persilakan dan akan kami beri karpet merah kepada Bapak/Ibu sekalian yang memang berkomitmen untuk membantu menyukseskan juga program pemerintah (GRATIEKS). Ini adalah upaya anak bangsa yang harus diapresiasi karena menunjukkan pada dunia bahwa dalam keadaan pandemi sekalipun, bukan menjadi halangan bagi kita untuk ekspor," tutur Mantan Gubernur dua periode tersebut.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, Direktur PT Raja Jeva Nisi, Ariefin mengatakan bahwasanya ini adalah kali pertama Indonesia mengekspor produk olahan ayam berupa chicken nugget ke Bangladesh. Pada hari itu 3 dari 18 ton produk diberangkatkan ke Bangladesh, sisanya berangsur - angsur dikirim hingga bulan Desember 2021.Bicara nilai Rupiah Ariefin mengatakan bahwa nilai ekspor perusahaan yang dipimpinnya mencapai sekitar Rp 1,1 Miliar. 

"Kelihatannya masih sedikit ya, tapi ini suatu pencapaian yang apik untuk kami, mengingat kami baru berdiri sejak 5 tahun yang lalu, dan dalam tempo tersebut kami sudah bisa melakukan ekspor. Kalau bisa dibilang penglaris-lah," tutur Ariefin.

Ariefin juga berujar bahwasanya selain Bangladesh kemungkinan dalam waktu dekat ini PT Raja Jeva Nisi juga akan melakukan ekspor ke 3 negara lainnya. Namun begitu ia enggan menyebut negara mana saja yang akan menjadi targetnya.

"Setelah ini ada 3 lagi mungkin, mereka juga sepertinya sudah deal. Tapi nanti-lah kita kasih tahunya, yang jelas dengan adanya ekspor ini tentu membuktikan bahwa kualitas produk kami bukan kaleng - kaleng, semoga bisa terus berkembang kedepannya," tutup Ariefin.

PT Raja Jeva Nisi merupakan group dari perusahaan PT Taat Indah Bersinar. Dari budidaya Grand Parent Stock hingga pengolahan daging unggas untuk menjadi nugget, sosis, spicy wing, karage dan pengolahan yang lain. Saat ini produk dari PT Raja Jeva Nisi telah tersebar di beberapa modern market, marketplace, dan pasar Internasional.

Visi dan misi dari PT Taat Indah Besinar (Group) adalah untuk menjadi perusahaan dalam negeri yang berdaya saing internasional, dan menyinari Indonesia. Dengan slogan: Bangkit, melejit dan menyinari Indonesia melalui produksi protein hewani yang berkualitas untuk kecerdasan bangsa. (CR)

 


TEKAN PENYEBARAN PENYAKIT DENGAN BIOSEKURITI DAN DISINFEKSI

Direktur Kesehatan Hewan, Nuryani Zainuddin, saat menjadi keynote speaker dalam webinar nasional biosekuriti dan disinfeksi. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kemunculan penyakit viral pada ternak unggas berkaitan erat dengan keberhasilan/kegagalan program biosekuriti. Biosekuriti merupakan program yang dirancang untuk melindungi ayam terhindar dari bibit penyakit dari luar dan agar bibit penyakit tidak menyebar keluar peternakan, serta tidak menginfeksi peternakan lain.

Hal tersebut dibahas dalam webinar nasional “Biosekuriti dan Disinfeksi Farm di Tengah Pandemi”, Kamis (26/8/2021), yang merupakan rangkain kegiatan Hari Ayam Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) 2021 yang akan dipusatkan di Kupang, NTT. Kegiatan ini dilaksanakan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia didukung Kementerian Pertanian, Pemerintah Provinsi NTT, USSEC, FAO dan Gita Organizer.

“Biosekuriti menjadi hal utama dalam meminimalisir penyebaran penyakit. Dengan ayam yang sehat kita bisa menekan biaya kesehatan dan mendapat keuntungan yang baik. Penerapan biosekuriti dan disinfeksi menjadi hal utama dalam pencegahan penyakit khususnya di masa pandemi COVID-19 ini, dimana penyebaran virus semakin tinggi,” kata Ketua Pelaksana yang juga pengurus Pinsar Indonesia, Ricky Bangsaratoe.

Hal senada juga diungkapkan Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen PKH, Nuryani Zainuddin dan Plt Kepala Dinas Peternakan Provinsi NTT, Johanna Lisapaly. Keduanya menyebut bahwa penerapan biosekuriti dan perlakuan disinfeksi memegang peranan penting dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit pada ternak unggas.

Lebih jauh soal biosekuriti dibahas Koordinator Substansi Pencegahan dan Penyebaran Penyakit Hewan, Ditkeswan, Arif Wicaksono. Dalam paparannya, ia menyebutkan elemen biosekuriti yang terdiri dari isolasi, kontrol lalu lintas, serta cleaning dan disinfeksi.

“Hal itu untuk mencegah penularan penyakit dengan isolasi atau pemisahan, kemudian membatasi pergerakan manusia, hewan, maupun benda yang akan memasuki kandang, serta pembersihan sebagai usaha mensterilkan sesuatu dengan disinfeksi,” kata Arif.

Adapun dijelaskan Arif mengenai biosekuriti tiga zona yang kini sudah banyak diterapkan di beberapa peternakan unggas Indonesia. Dimana pada prinsipnya program tersebut membagi beberapa zona (merah, kuning dan hijau) sebagai pembatas untuk menekan masuk dan keluarnya sumber penyakit.

Pada kesempatan yang sama, penekanan biosekuriti tiga zona diperkuat National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu. “Biosekuriti tiga zona ini dapat mencegah kuman menginfeksi ternak, menyaring kuman hingga tiga lapisan perlakuan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sesuai good farming practices, serta meningkatkan daya saing perunggasan,” kata Alfred.

Selain biosekuriti, lanjut dia, pembersihan dan disinfeksi juga menjadi kunci utama meminimalisir munculnya penyakit. “Pembersihan kandang mampu membunuh kuman hingga 80%. Namun melakukan disinfeksi tanpa pembersihan adalah hal yang sia-sia,” ucap dia.

Dalam menggunakan disinfektan, Alfred juga menekankan pentingnya memperhatikan keselamatan diri. Karena disinfekatan merupakan racun berbahaya apabila masuk ke dalam tubuh.

“Dalam melakukan pemberian disinfektan sebaiknya gunakan alat pelindung diri, baca label, ikuti petunjuk dan aturan dalam kemasan, juga kebutuhan larutan disinfektan (luas P x L: 300 ml/m2, volume 300 ml x 2.5 = 750 ml/m3). Dan perlu diketahui bahwa disinfektan tidak bekerja maksimal jika ada benda organik dan disinfektan membutuhkan waktu kontak di industri peternakan ayam selama 10 menit,” pungkasnya. (RBS)

AYAM BETER LEVEN DI SUPERMARKET BELANDA

Pada akhir tahun 2023, ayam segar yang dijual di semua supermarket Belanda akan mendapatkan setidaknya 1 bintang Beter Leven (Better Life).

“Ini adalah pencapaian yang luar biasa, yang pertama di dunia. Kami bangga dengan supermarket Belanda dan sektor ayam yang mereka pilih untuk peternakan yang lebih ramah hewan,” kata Anne Hilhorst dari Wakker Dier, organisasi kesejahteraan hewan di Belanda.

Jaringan supermarket nasional, Boni, adalah jaringan supermarket terakhir yang beralih ke ayam dengan bintang 1 Beter Leven sebagai standar minimum untuk produk ayam segarnya. Awal tahun ini, jaringan supermarket Belanda lainnya mengumumkan bahwa mereka hanya akan menawarkan kepada pembeli mereka hanya ayam segar dengan setidaknya tanda kualitas Beter Leven 1 bintang.

Ayam dengan 1 bintang Beter Leven, adalah jenis yang lebih sehat yang tumbuh lebih lambat dan dengan kecepatan yang lebih sehat daripada berbagai jenis lainnya. Kondisi hidup mereka juga lebih baik karena menikmati sinar matahari, lebih banyak ruang dan memiliki akses ke alam bebas. Tanda kualitas Beter Leven adalah tanda kualitas independen dari Animal Protection.

Untuk menghasilkan ayam dengan tanda kualitas Beter Leven, peternak harus menyediakan area luar yang tertutup untuk unggas, yang akan membutuhkan investasi tambahan. Jan Verhoijsen, ketua organisasi peternak LTO/NOP, mengatakan peternak unggas harus dapat memperoleh kembali investasi di masa mendatang. “Itu pada akhirnya harus dibayar oleh konsumen.” (via poultryworld.net)

LANJUTAN PELATIHAN ONLINE GENETIK TERNAK

Lanjutan pelatihan daring genetik ternak lokal. (Foto: Istimewa)

Jumat (6/8/2021), lanjutan pelatihan genetik sapi lokal kembali dilaksanakan.

Pada sesi 4 ini, yang dihadiri 75 peserta, narasumber Samuel Clark mengupas Modul 2 tentang perkenalan dengan evaluasi genetika menyangkut introduksi evaluasi gen, tujuan program breeding, langkah awal evaluasi hewan ternak, recording performa dengan EBV dan lain sebagainya yang menyangkut genetik dan pemeliharaan ternak sapi.

Diakhir kegiatan seperti biasa peserta mendapat pekerjaan rumah untuk mengupas studi kasus animal in record, how are very managed dan traits to record.

Sementara pada pelatihan sesi 5, Jumat (13/8/2021), yang dihadiri 94 peserta, lebih banyak membahas mengenai swine breeding programme oleh perwakilan grup 3, cattle breeding programme dan pemuliaan kambing oleh BBTUHPPT, Baturaden dan pembahasan genetic evaluation dan genetic breeder oleh Samuel Clark.

Sedangkan di pelatihan sesi 6 yang dilaksanakan Jumat (20/8/2021), sebagai pembukaan training dihadapan 76 peserta, ditampilkan narasumber Catriona Millen dari Agriculture Business Research Institute (ABRI) mengenai “Practical Data Recording and Management” salah satunya menyangkut pengembangan rencana pembibitan (breed plan) sapi potong di Australia yang merupakan terbaik di dunia dengan penggunaan sistem evaluasi genetik, menggunakan 80 lebih asosiasi perbibitan lintas 14 negara, disamping itu dievaluasi tentang pertumbuhan, karkas dan fertilitas EBVs berbarengan dalam sebuah model multi-sifat, kasus kelahiran dan penjinakan yang menyangkut data base dari 40 juta ternak.

Dalam breed plan ini terjadi kalaborisasi antara MLA, ABRI, UNE, DPI dan para breeder lainnya. ABRI sebagai sentral breed plan peran pelaksana kerjanya sebagai pembuat program dan pengerjaan langsung dengan produsen daging sapi di Australia untuk membantu mereka mendapatkan pelayanan hasil evaluasi genetik terbaik. Kemudian penataan program breeding antara lain, individu tiap ternak menyangkut sistem identifikasi ternak yang memiliki ciri khas dan informasi bibit yang akurat.

Dari studi kasus di Australia terhadap 227 kasus kelahiran sapi hasil AI (Artificial Insemination) di back-up oleh tetuanya. Minimal 12 (5,3%) dari 227 kelahiran dikategorikan kurang baik sebagai induk. Dapat disimpulkan bahwa yang terpenting dalam penataan breeding program ialah sistem identifikasi ternak yang memiliki ciri khas, tanggal kelahiran dan informasi bibit yang akurat, silsilah ternak yang akurat, ukuran sifat tercatat dalam tiap unit dan patokan metodologi yang digunakan secara konsisten dilaksanakan secara utuh.

Catriona kemudian juga menyajikan analisis tentang genetik keturunan, genetik persilangan, recording terseleksi dan keturunan terkecil dari sapi potong.

Webinar yang sudah berjalan 6 sesi ini merupakan kerja sama antara Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, didukung MLA (Meat & Livestock Australia) dan UNE (University of New England) Australia, serta difasilitasi oleh GITA Organizer. (SA)

MENGURANGI GANGGUAN SALURAN PENCERNAAN

Kualitas bahan baku pakan mempengaruhi saluran pencernaan. (Foto: Istimewa)

Untuk tetap hidup suatu organisme termasuk hewan ternak butuh nutrisi. Nutrien didapat dari pakan dan minum yang kemudian digunakan untuk beraktivitas termasuk produksi. Namun, nutrisi terbaik saja tidak cukup, organ-organ pencernaan juga harus dijaga kesehatannya agar nutrisi yang terserap maksimal.

Mengapa saluran pencernaan memegang peran penting? Karena sudah menjadi hakikatnya makhluk hidup memang butuh makan. Perlu diingat bahwa salah satu ciri makhluk hidup adalah butuh makan dan minum dalam rangka memperoleh nutrisi untuk menunjang hidup. Organ pencernaan memegang peranan penting dalam mengolah makanan yang dimakan menjadi nutrisi yang nanti akan digunakan untuk keperluan hidup.

Efisiensi Nutrisi
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup. Seringkali didengar dalam seminar, kolokium dan lain sebagainya, bahwa persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Efisiensi dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut kerap ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, ayam broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini mereka sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa terjadi pada ayam petelur yang genetiknya berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur sangat banyak dalam kurun waktu tertentu.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Komang Wiryawan, mengatakan bahwa kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun begitu ayam modern memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, mereka boleh saja kita sebut monster, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari 1 kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Pun begitu, beliau mengakui bahwa walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres, kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kondisi kurang layak ayam juga sakit, lalu mati berjamaah,” ungkapnya.

Oleh karenanya, perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharan terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan juga harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres, gampang kena penyakit. Belum lagi kalau pakannya terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentunya akan makin parah,” jelas dia.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen juga turut berperan, tetapi ia menekankan yang terpenting adalah kualitas dan kuantitas nutrisi. “Ini hubungannya dengan efisiensi, orang kadang lupa kalau fungsi saluran pencernaan itu penting, walaupun kalau di broiler... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021. (CR)

IMPOR KEDELAI TRANSGENIK MEMBANTU SEKTOR UNGGAS INDIA YANG KESULITAN

Bantuan telah diberikan kepada industri unggas India dengan dilaporkannya persetujuan impor 15 mt kedelai transgenik untuk pakan unggas.

Industri perunggasan India telah menghadapi berbagai tantangan selama 18 bulan terakhir, termasuk wabah flu burung, kenaikan tajam harga pakan, dan desas-desus yang menuduh virus corona dan daging ayam saling terkait, yang semuanya berdampak negatif pada konsumsi.

Industri unggas India sebelumnya telah melobi impor kedelai untuk mengatasi kekurangan domestik dan menjinakkan harga, tetapi terhalang oleh area abu-abu peraturan mengenai bahan-bahan yang dimodifikasi secara genetik. (via poultryworld.net)

APABILA PULLET LAYER OVERWEIGHT

Apa yg harus dilakukan apabila pullet layer over bodyweight? Apakah harus menunda produksi juga?

Secara umum tidak masalah ketika berat ayam berada di atas standar. Tetapi lebih penting untuk mengetahui perkembangan pada usia yang lebih muda.

Misalnya ketika berat badan 5 minggu terlalu rendah, peternak mencoba untuk mengkompensasi berat badan dengan pakan lebih banyak protein. Ini hanya menghasilkan otot dan tidak ada perkembangan.

Juga mempertimbangkan perkembangan tubuh adalah penting untuk memutuskan menunda produksi atau tidak.

(Sumber: Kokot Februhadi, De Heus Indonesia)

PROGRAM PENCAHAYAAN UNTUK AYAM LAYER

Bagaimana management program pencahayaan layer yang baik, mulai dari DOC sampai dewasa? Rekomendasi program pencahayaan untuk iklim panas seperti di Indonesia sebagai berikut:

  • Hari 1: 23 jam.
  • Hari 2: 22 jam.
  • Minggu 1: 20 jam.
  • Minggu 3: 18 jam.
  • Minggu 4: 16 jam.
  • Minggu 5: 15 jam.
  • Minggu 6: 14 jam.
  • Minggu 7: 13 jam.
  • Minggu 8: 12 jam.

Ketika pemeliharaan akhir tercapai (17 minggu) ketika ayam mencapai target berat badan tingkatkan cahaya dengan 1 jam per minggu menjadi 16 jam per hari.

(Sumber: Kokot Februhadi, De Heus Indonesia)

CARA DEBEAKING UNTUK MENDAPATKAN PULLET AYAM LAYER YANG OPTIMAL

Bagaimana cara debeaking yang bagus untuk mendapatkan pullet ayam layer yang optimal? Debeaking (potong paruh) yang tepat dimulai dengan peralatan yang baik dan orang-orang yang terlatih dengan baik. Untuk debeaking yang baik dibutuhkan program pelatihan.

Tujuan utama potong paruh adalah untuk menghindari kanibalisme/saling patuk dan pakan sisa. Potong paruh pertama dilakukan saat pullet berumur 10 hari, potong paruh kedua (bila perlu) dilakukan saat pullet berumur 8-10 minggu.

Persiapan sebelum potong paruh antara lain:

  • Hentikan makan 12 jam sebelum potong paruh.
  • Jangan memotong paruh ayam yang sakit.
  • Sediakan vitamin dan elektrolit yang mengandung vitamin K dalam minum selama 2 hari sebelum dan sesudah potong paruh.
  • Atur suhu kandang sedemikian rupa agar ayam merasa nyaman, jangan lakukan potong paruh saat udara panas, ayam harus dapat minum air bersih.
  • Beri pakan sesaat setelah potong paruh.
  • Jaga ketebalan pakan di tempatnya beberapa hari setelah potong paruh, jangan sampai tipis, paruh sakit saat terbentur tempat pakan.
  • Lakukan hanya orang yang berpengalaman.
  • Lakukan potong paruh dengan tidak terburu-buru, lakukan dengan hati-hati.
  • Beri tambahan lampu 1 jam lebih lama selama 3-5 hari.

(Sumber: Kokot Februhadi, De Heus Indonesia)

GANGGUAN PENCERNAAN AKIBAT PENYAKIT VIRAL PADA AYAM

Kesehatan organ pencernaan ayam yang baik akan mendukung proses penyerapan nutrisi yang optimal. (Foto: Istimewa)

Organ pencernaan memiliki peran sangat penting dalam keberhasilan budi daya ayam. Organ-organ pencernaan berperan dalam penyerapan pakan, pemecahan nutrisi yang diperlukan tubuh, serta penyerapannya dalam aliran darah dan eliminasi “sampah” dari sisa proses pencernaan.

Organ-organ pencernaan terdiri dari saluran makanan, liver dan pankreas. Saluran makanan terdiri dari mulut, esofagus, tembolok, proventrikulus, gizzard, usus halus, sekum, usus besar dan kolon. Kemudian untuk liver terletak di bawah jantung, organ ini berperan dalam pembentukan cairan empedu, metabolisme (karbohidrat, lipid, protein), penyimpanan (lemak, glikogen dan vitamin larut lemak), detoksifikasi, serta berperan dalam siklus sel darah merah. Sementara pankreas berperan dalam produksi cairan pankreas yang mengandung berbagai enzim pencernaan, serta berperan dalam produksi hormon insulin dan glukagon yang berpengaruh dalam metabolisme karbohidrat. Apabila terjadi kerusakan pada organ pencernaan oleh penyakit, fungsi yang seharusnya dilakukan akan terganggu dan berpengaruh pada performa ayam.

Kesehatan organ pencernaan yang baik akan mendukung proses penyerapan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang terserap optimal akan membantu sistem kekebalan tubuh ayam dan kemampuan ayam dalam berproduksi. Walaupun demikian, tantangan penyakit viral yang memiliki predisposisi di saluran pencernaan seringkali mengganggu proses pencernaan ini. Salah satu agen penyakit penyebab gangguan di organ pencernaan adalah virus. Virus dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa saluran pencernaan yang merupakan pintu masuk bakteri patogen seperti E. coli dan Salmonella sp., menurunkan kekebalan permukaan saluran pencernaan akibat kerusakan yang ditimbulkan, serta malabsorpsi dan maldigesti yang dapat berlanjut pada defisiensi nutrisi. Kekurangan nutrisi ini dapat memberikan gangguan pertumbuhan maupun perkembangan organ limfoid. Gangguan perkembangan organ limfoid akan mempengaruhi respon imunologis dan peningkatan kasus infeksi.
Beberapa penyakit viral yang sering ditemukan menyerang sistem pencernaan ayam sebagai berikut:… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2021.

Ditulis oleh: 
Drh Aprilia Kusumastuti MSi
Marketing Support PT Sanbio Laboratories

PELANTIKAN PENGURUS PUSAT KAFAPET UNSOED PERIODE 2021-2026

Pelantikan Pengurus Pusat Kafapet Unsoed melalui daring. (Foto: Istimewa)

Setelah sukses menyelanggarakan Musyawarah Nasional V Keluarga Alumni Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Munas V Kafapet Unsoed) pada Juni lalu, Ketua Umum terpilih beserta calon Pengurus Pusat Kafapet Unsoed periode 2021-2026 dilantik pada Sabtu (21/8/2021). Acara terselenggara secara hybrid yakni di Purwokerto, Jawa Tengah dan secara daring.

Menurut Ketua Umum Kafapet Unsoed terpilih, Bambang Rijanto Japutra, pelantikan pengurus ini merupakan mandat Munas, sehingga harus segera terselenggara. Meskipun pelantikan masih dalam suasana pandemi, tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat para panitia maupun calon pengurus.

“Karena masih ada kebijakan PPKM, acara luring dihadiri sangat terbatas dengan protokol ketat. Selebihnya para calon pengurus hadir secara daring dari rumah masing-masing,” ujar Bambang dalam keterangan tertulisnya.

Ia menjelaskan, kepengurusan yang baru dilantik merupakan representasi dari lintas angkatan dan wilayah dengan total pengurus berjumlah 34 orang dengan komposisi 10% dari angkatan 80-an, 40% angkatan 90-an dan 50% angkatan 2000-an, dengan calon pengurus termuda berasal dari angkatan 2015. Adapun latar belakang calon pengurus berasal dari beragam profesi, birokrat, praktisi, akademisi, industri, media dan lain-lain.

“Setelah dilantik, kami akan mengadakan Musyawarah Kerja (Musker) yang rencananya dilakukan pada September besok. Untuk mekanismenya masih dibahas karena kondisi juga masih pandemi,” ucap dia.

Dalam menjalankan roda organisasi ke depan, ada beberapa rencana prioritas program kerja yang akan dilakukan, seperti pembukaan wilayah/cabang baru di setiap kabupaten/provinsi, program beasiswa alumni, pelatihan dan kuliah umum. Sejauh ini sudah terbentuk 17 Kafapet wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara untuk target kepengurusan, akan membentuk 13 wilayah baru lagi sehingga nanti bisa mencapai 30 Kafapet wilayah.

“Saya berharap dalam lima tahun masa kepengurusan nanti rekan-rekan pengurus tetap semangat untuk mengabdi kepada almamater, bangsa dan negara. Melalui semangat gotong royong, saya yakin program kerja yang nanti diputuskan bisa terlaksana dengan baik dan sukses,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Unsoed Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr Kuat Puji Prayitno SH MHum, turut menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas soliditas alumni peternakan di tengah kesibukannya masing-masing.

“Alumni merupakan bagian keluarga besar Unsoed yang menjadi mitra pengembangan faksultas dan universitas untuk menjadi lebih baik lagi. Alumni mengambil peran dan sangat berkontribusi untuk kemajuan fakultas,” kata Kuat.

Sementara, Dekan Fakultas Peternakan Unsoed, Dr Ir Triana Setyawardani MP, mengharapkan dukungan dari alumni untuk bersinergi, harmonis dan kolabortaif dengan pihak kampus, sehingga rencana kerja organisasi diharapkan bisa selaras dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut.

“Pada program MBKM yang sudah dicanangkan Kemendikbud, ada program magang. Di sinilah peran alumni memberikan fasilitas kepada adik-adik mahasiswa untuk magang di industri alumni tersebut berkiprah. Kami berharap peran serta alumni lebih besar,” kata Triana. (INF)

RESEP SREEYA BERTAHAN DARI PANDEMI BERKEPANJANGAN

Sreeya Sewu Indonesia, positif thinking di tahun 2021


Ganasnya pandemi Covid-19 yang sudah berjalan dua tahun belakangan ini telah banyak membuat perusahaan gulung tikar. Namun tidak demikian dengan perusahaan integrasi perunggasan PT Sreeya Sewu Indonesia. Mereka tetap menorehkan catatan positif ditengah pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden Direktur mereka Tommy Wattimena pada acara public expose pada Senin (16/8) yang lalu di Jakarta. 

Sreeya berhasil menutup tahun 2020 dengan tingkat profitabilitas yang positif.Mereka berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 28,27 miliar selama 2020. 

"Penjualan bersih sebesar Rp 4,34 triliun atau meningkat 7,21 persen dibandingkan penjualan bersih tahun 2019 sebesar Rp 4,05 triliun,” kata Tommy usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta.

Kemudian ia melanjutkan bahwa pada  tahun 2021, di kuartal pertama terjadi peningkatan penjualan bersih mencapai Rp 1,28 triliun. Angka ini meningkat 13,32 persen dibandingkan kuartal pertama tahun 2020 sebesar Rp 1,13 triliun.

Namun laba perusahaan sedikit terjadi penurunan pada kuartal pertama 2021 yang hanya mencapai Rp 34,68 miliar. Angka ini turun sebesar Rp 24,77 miliar bila dibandingkan kuartal pertama tahun 2020 sebesar Rp 59,45 miliar.

Meski terjadi penurunan, dari sisi operasional, perusahaan berhasil meningkatkan kapasitas produksi pakan ternak dan makanan olahan. 

Ditanya target kinerja 2021, Tommy menyebut tahun 2021 ini masih pandemi sehingga situasinya masih tidak pasti. Namun dia optimistik kinerja PT Sreeya masih akan positif seperti tahun 2020. 

"Saya sangat yakin akan tumbuh sebesar double digit sampai akhir tahun. Ada faktor eksternal yang jadi tantangan, misalnya harga jagung belum membaik, harga kedelai masih tinggi, demand masih rendah sehingga profitability akan terdampak. Tapi, di dalam perusahaan kami sangat solid dan kuat. Jadi bisa double growing dan bisa kontinu pertumbuhannya," tutur Tommy. 

Dirinya juga menyebut sejak Covid 19 masuk Indonesia pada Maret 2020, terjadi penurunan aktivitas ekonomi secara nasional, termasuk yang dialami Sreeya. Hal itu akibat penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dikeluarkan pemerintah. 

Kebijakan itu menyebabkan kelebihan pasokan ayam yang dialami Sreeya pada tahun 2020 karena daya beli masyarakat menurun. Kelebihan pasokan ayam menyebabkan pelemahan harga ayam broiler dan ayam umur sehari atau Day Old Chick (DOC). 

Di sisi lain, ada berbagai risiko usaha yang perlu diatasi Sreeya sepanjang 2020. Diantaranya fluktuasi harga bahan baku SBM (Soy bean Meal) atau bungkil kacang kedelai yang tinggi. Kemudian pelemahan harga DOC dan live bird serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. 

Risiko lainnya adalah instruksi program pemusnahan (culling program) melalui Kementerian Pertanian yang bertujuan menstabilkan harga ayam. Hal itu mengakibatkan kenaikan biaya bahan baku dan berimbas pada kenaikan beban biaya produksi perusahaan. 

“Perseroan berhasil membuat transformasi bisnis dalam situasi sulit tersebut. Itu dilakukan melalui penerapan Halal Blockchain di Rumah Potong Ayam berupa transformasi digital atas transparansi data dan ketelusuran halal. Kemudian meluncurkan inovasi pakan ternak dengan ekstrak alami buah nanas (Bromelain) yang mampu meningkatkan berat badan ayam dan menurunkan tingkat kematian,” jelas Tommy. 

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Foods PT Sreeya Sewu Indonesia Dicky Saelan menjelaskan  strategi yang dijalankan perusahaan tahun 2021.

Menurutnya, perusahaan menjalankan strategi performance to solution yakni peningkatan kualitas produk pakan ternak, keunggulan pelayanan yang cepat tanggap, serta menyediakan solusi terbaik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. 

Perseroan juga meningkatkan kapasitas pembibitan (breeding) untuk menunjang utilisasi produksi pakan ternak. Kemudian memperluasan penerapan sistem Smart Farm agar para peternak lebih mudah mengontrol manajemen budidaya ayam dalam meningkatkan produktivitasnya.

Di sektor hilir, lanjut Dicky, perusahaan membangun distribusi rantai dingin (cold chain) dan logistik yang kuat, peningkatan eksekusi penjualan dengan dukungan dari Command Centre, dan peningkatan portofolio food melampaui sektor poultry.

Untuk meningkatkan gairah konsumen, perusahaan membuat strategi promosi yang menarik dan meningkatkan kualitas ayam untuk mendongkrak nilai tambah produk perusahaan. 

Selain itu, perusahaan melakukan langkah antisipasi penguatan manajemen risiko untuk menjaga pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Caranya dengan menjaga kelancaran arus kas melalui efisiensi biaya dan menerapkan penggunaan CAPEX berdasarkan tingkat prioritas. 

“Dalam menjaga dan memperkuat pertumbuhan pendapatan, di kuartal ke dua, perusahaan telah meluncurkan inovasi produk bernilai tambah yaitu Produk Ayam Nanas, produk ayam pertama di Indonesia yang diberi pakan ekstrak nanas sehingga menghasilkan daging ayam yang lebih sehat, empuk dan gurih. Selain itu, perseroan meluncurkan Produk Pakan Burung premium Pertama di Indonesia menggunakan formula khusus yang dilengkapi dengan protein serangga,” jelas Dicky.

Di sisi lain, sejak dimulainya pelaksanaan vaksin Gotong Royong oleh Pemerintah di bulan Mei 2021, Sreeya bergerak aktif dan cepat melaksanakan kegiatan vaksinasi Covid 19 untuk seluruh karyawan di berbagai lokasi di Indonesia. Hingga saat ini, perusahaan telah berhasil melaksanakan vaksinasi sebanyak 3.657 karyawan atau 97 persen karyawan. 

Adapun hasil RUPS menetapkan Antonious Joenoes Supit sebagai Komisaris Utama. Ia didampingi dua Komisaris yaitu Eddy Tamboto dan Ted Margono. Bertindak sebagai Komisaris Independen adalah Theo Lekatompessy. 

Dalam jajaran direksi, ditetapkan Direktur Utama dipegang Tommy Wattimena Widjaja. Ia dibantu Wakil Direktur Utama (Independen) Soh Ching Ker serta didampingi dua direktur yaitu Wayan Sumantra dan Sri Sumiyarsi

GGF-KEMENKES-HABITAT FOR HUMANITY INDONESIA, JALIN KERJA SAMA UNTUK BANTU SESAMA

GGF serahkan donasi 2.500 kg buah jambu kepada perwakilan Kemenkes, dr Mukti Eka Rahadian Mkes MPH. (Foto: Istimewa)

Great Giant Foods (GGF) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Habitat for Humanity Indonesia kembali menjalin kerja sama dalam upaya mendukung tenaga kesehatan yang bertugas dimasa pandemi COVID-19.

Dukungan berupa donasi uang tunai senilai Rp 300 juta untuk dukungannya dalam Program Tempat Singgah Pejuang Medis. Acara serah terima donasi dilakukan secara virtual pada Jumat (13/8/2021) dan donasi diserahkan Direktur External Affairs PT Great Giant Pineapple (GGP), Welly Soegiono, kepada National Director Habitat for Humanity Indonesia Susanto Samsudin.

Sedangkan kerja sama antara GGF dengan Kemenkes berupa donasi buah jambu sebanyak 2.500 kg yang diserahkan kepada Rumah Sakit Darurat COVID-19 Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Acara serah terima dilakukan pada Kamis (12/8/2021) yang diwakili oleh Head of FMCG GGF, Eva Arisuci Rudjito, kepada RSDC Asrama Haji yang diwakili dr Mukti Eka Rahadian Mkes MPH sebagai penangggung jawab logistik Filantropi, sekaligus MPH Koordinator Bidang Analisis Lingkungan Strategis Kemenkes.

Selain itu, bantuan lain sebelumnya berupa susu, jus dan makanan berbahan ayam juga diberikan kepada 18 rumah sakit di Jakarta, Tangerang hingga Bogor. Bantuan tersebut untuk meningkatkan imunitas para tenaga kesehatan yang bertugas di masa pandemi.

Welly Soegiono, mengatakan bahwa dalam masa pandemi COVID-19, pihaknya terus melakukan kegiatan sosial. Mulai pembagian gratis masker, hazmat, makanan sehat dan buah-buahan, susu hingga oksigen di beberapa rumah sakit di Jawa, Bali dan Lampung.

“Hal ini semata sebagai bentuk kepedulian kami kepada masyarakat dan tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak di masa pandemi ini. Harapan saya dengan bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat dan pemerintah dalam menanggulangi penyebaran COVID-19,” kata Welly dalam keterangan tertulisnya.

Pada kesempatan yang sama, Susanto Samsudin, juga mengatakan bahwa lonjakan penularan COVID-19 yang semakin meningkat mendorong pihaknya melanjutkan program Tempat Singgah Pejuang Medis yang sebelumnya telah membantu lebih dari 1.900 tenaga kesehatan yang melayani pasien COVID-19. Saat ini program lanjutan itu mulai berjalan lagi dan telah membantu 42 tenaga kesehatan.

“Kita perlu mendukung mereka karena jika mereka tumbang, maka kita pun tumbang. Kami berterima kasih juga kepada GGF yang memiliki semangat mendukung kami dalam menjalankan program ini. Semoga kerja sama ini dapat terus dilakukan demi Indonesia kuat menghadapi situasi pandemi,“ kata Susanto.

Kerja sama tersebut mendapat apresiasi tinggi dari Kemenkes. Hal itu disampaikan dr Mukti Eka Rahadian. “Semoga bantuan yang diberikan dapat memberi manfaat, terutama bagi tenaga kesehatan yang bertugas dan para pasien di Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Haji Pondok Gede. Semoga ini menjadi amal ibadah kita kepada Tuhan,” katanya. (INF)

SELKO INTELLIBOND® C : MEMAKSIMALKAN PERFORMA DAN PRODUKSI TERNAK MONOGASTRIK

Selko Intellibond® C : Memaksimalkan produksi ternak monogastrik

Tembaga, atau dalam bahasa inggris disebut dengan copper, yang dalam bahasa latin disebut dengan cuprum (Cu) merupakan salah satu unsur kimia yang namanya sering kita dengar. Nyatanya copper memiliki efek bakterisidal dan fungisidal dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substituen antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) terutama pada ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Hal tersebut dibahas secara mendalam oleh Prof. Hans Stein, peneliti dari Illinois University dan Alice Hibbert Global Program Manager - Trace Mineral Trouw Nutrition dalam sebuah webinar bertajuk "Effect of hydroxy copper chloride on growth performance of monogastric animals" Rabu (28/7) lalu yang diadakan oleh PT Trouw Nutrition Indonesia

Menggali Manfaat Copper Pada Ternak Monogastrik

Prof. Hans Stein

Prof. Hans Stein lebih dulu menjabarkan secara detil efek pemberian hidroksi copper klorida sebagai imbuhan pakan pada babi. Dari kacamata nutrisi ternak, copper memiliki beberapa fungsi seperti antibakteri, sebagai mikronutrien, membantu dalam beberapa reaksi metabolisme, dan sebagai komponen dari metaloenzim (enzim yang berkaitan dengan logam). 

Lebih lanjut dalam presentasinya Prof. Stein menjabarkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya pada babi. Dimana copper dalam bentuk sediaan hidroksi copper klorida teruji dan terbukti dapat meningkatkan performa pertumbuhan, meningkatkan kecernaan nutrisi, meningkatkan performa bakteri baik pada saluran cerna, dan berfungsi dalam metabolisme lemak. 

Gambar 1. Penambahan Copper (Cu) pada ransum babi, mereduksi kasus diare (Espinosa et al, 2017)

"Intinya copper ini memiliki potensi yang jika diberikan dalam ransum babi dalam jumlah yang tepat, dapat membantu dalam meningkatkan kesehatan saluran cerna dan meningkatkan performa sistem imun babi," tukas Prof Stein.

Gambar 2. Efek Penambahan Copper pada kenaikan bobot badan babi (Espinosa et. al, 2017)


Selko Intellibond® C: Substituen AGP Kaya Manfaat

Alice Hibbert

Senada dengan Prof Stein, Alice Hibbert juga menjabarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh timnya di berbagai negara terkait efek copper sebagai imbuhan pakan pada ayam. Ia mengatakan bahwa ayam merupakan sumber protein hewani terbanyak yang dikonsumsi oleh manusia di dunia. Namun sayangnya, penggunaan antibiotik pada ayam di seluruh dunia merupakan yang kedua terbesar setelah babi, yakni 150 mg/1 kg ternak.

Selain itu Alice juga menyinggung mengenai isu Antimicrobial Resistance yang sudah mendunia dimana kita tahu bahwa salah satu penyebabnya adalah penggunaan antibiotik yang kurang terkontrol di sektor peternakan, terutama ayam.

“Kami dan tim berusaha mencari solusi dari sini dan memaksimalkan potensi copper agar dapat digunakan untuk mensubtitusi AGP. Kami juga telah banyak melakukan trial pada ayam, hasilnya pun bisa dibilang sangat baik dengan produk yang kami miliki yakni Selko Intellibond® C,” tutur Alice.

Selko Intellibond® C merupakan produk imbuhan pakan berbasis Copper Chlorida yang diproduksi dengan teknologi canggih agar dapat diserap dalam jumlah yang cukup oleh ternak. Produk ini telah melalui pengembangan selama lebih dari 20 tahun dan telah terbukti di seluruh dunia dapat meningkatkan performa ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Selko Intellibond® C memastikan kesehatan hewan dan produktivitasnya dengan bekerja secara langsung mendukung integritas jaringan, proses enzimatik, meningkatkan pertumbuhan bobot badan dan produktivitas, serta meningkatkan fungsi sistem imun.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh tim Trouw Nutrition menjabarkan manfaat yang didapat ketika menambahkan Selko Intellibond® C pada pakan ayam. Salah satunya terlihat pada Tabel 1 di bawah ini, dimana Selko Intellibond® C dapat menekan pertumbuhan bakteri E.coli dan C. perfringens (penyebab nekrotik enteritis).

Tabel 1. Efek penggunaan Selko Intellibond® C pada pakan ayam




Tidak hanya itu, dalam kondisi adanya Nekrotik Enteritis pun, penggunaan Selko Intellibond® C juga terbukti bahwa ayam tetap dapat memberikan performa terbaik. Hal ini sebagaimana terlihat pada Tabel 2. di bawah ini. 

Tabel 2. Penggunaan Selko Intellibond® C pada ayam yang terinfeksi NE

Bahkan, dalam trial lainnya, Alice juga membuktikan bahwa Selko Intellibond® C juga bekerja lebih baik ketimbang AGP yakni BMD dan sediaan sejenis yang berupa Copper Sulfat. Dengan demikian Alice mengatakan bahwa Selko Intellibond® C dapat menjadi bahan alternatif dalam mengurangi penggunaan antibiotik baik sebagai growth promoter maupun terapi suportif medikasi.

"Copper sulfat mungkin harganya lebih murah, tetapi sifatnya sangat reaktif ketimbang produk kami. BMD juga merupakan AGP yang sudah lama digunakan dalam pakan, namun karena isu keamanan pangan (food safety) penggunaannya mulai ditinggalkan, Selko Intellibond® C menawarkan sesuatu yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau, jadi, mengapa harus ragu untuk beralih ke Selko Intellibond® C,” tutup Alice. (adv).




REPUBLIK DOMINIKA MENINGKATKAN IMPOR DAN PRODUKSI UNGGAS

Karena African Swine Fever terdeteksi di Republik Dominika, negara tersebut meningkatkan impor dan produksi daging unggas untuk memenuhi permintaan yang meningkat.

Pemerintah Dominika telah memutuskan untuk meningkatkan produksi daging unggas lokal, dan meningkatkan impor unggas, untuk memasok populasi dan menghindari spekulasi harga.

Limber Cruz, menteri pertanian negara itu, mengindikasikan bahwa produksi unggas telah meningkat dari 18 juta unit/bulan yang dikonsumsi di dalam negeri menjadi 19,3 juta unit. Cruz mengatakan, “Kontainer daging unggas akan tiba. Masyarakat tidak boleh putus asa, karena ayam masuk dan mereka tidak perlu khawatir, akan ada pasokan di Republik Dominika.” Dia mengaitkan peningkatan permintaan dengan faktor-faktor seperti pembukaan ekonomi dan lapangan kerja, yang meningkatkan konsumsi hingga 15%, dan pertumbuhan pariwisata yang tidak terduga. (via poultryworld.net)

CEGAH VIRUS DI KANDANG AGAR TIDAK VIRAL!

Vaksinasi, salah satu upaya mencegah penyebaran virus. (Foto: Istimewa)

Dua tahun sudah dunia di teror wabah penyakit viral (COVID-19). Layaknya manusia, hewan pun bisa terserang penyakit yang disebabkan oleh virus. Beberapa diantaranya menyebabkan kerugian ekonomis bahkan yang bersifat zoonosis layaknya Avian Influenza (AI) dapat menyebabkan ditutupnya lalu lintas hewan antar negara dan kepanikan massal.

Seperti diketahui, virus merupakan mikroorganisme yang familiar dan sangat sering didengar, namun tidak dapat dilihat secara kasat mata. Dalam hal penyakit unggas, beberapa jenis virus sangat berbahaya apabila menginfeksi unggas, misalnya saja Newcastle Disease (ND). Maka dari itu, dibutuhkan strategi khusus dalam menangkal ancaman penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus.

Musuh yang Tak Kasat Mata
Tanpa disadari keberadaan virus memang sudah ada di lingkungan. Di tanah, kandang, air, sapronak, pakaian, alat transportasi dan lain sebagainya, jika dilihat secara mikroskopis pasti akan terdapat virus. Tidak seperti bakteri, virus bisa dikatakan benda hidup juga benda mati. Hal ini karena ketika berada di lingkungan, virus mampu melakukan “hibernasi” atau disebut dorman. Namun, jika virus ada pada inang dan inang tersebut merupakan specific host-nya, maka ia akan menginfeksi dan menyebabkan penyakit. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), Prof I Wayan Teguh Wibawan, yang juga konsultan perunggasan, prinsip ini mutlak harus dipahami peternak.

“Kan sering di peternak kita dengar dari mulut mereka, kalau ditanya buat apa pakai antibiotik ini-itu, mereka masih banyak yang bilang kalau antibiotik bisa ngobatin ND, Gumboro, itu kan salah,” paparnya. Oleh karena itu, Wayan mengimbau para dokter hewan perunggasan agar lebih mendidik peternak supaya tidak salah kaprah.

Selain itu, virus merupakan mikroorganisme yang sulit dibunuh, beberapa jenis virus kata Wayan, dapat hidup dalam suhu tinggi dan rendah. Apabila keadaan lingkungan tidak menguntungkan, virus tidak mati melainkan dorman sampai ia bertemu inangnya dan barulah virus aktif menginfeksi.

Belum lagi sifat adaptasi virus yang luar biasa hebat, adaptasi yang dimaksud Wayan yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2021. (CR)

PDHI LAMPUNG SELENGGARAKAN WEBINAR COVID-19 PADA HEWAN DAN PRODUKNYA

Webinar PDHI Lampung 


Jum'at 13 Agustus 2021 PDHI Lampung mengadakan webinar via daring zoom meeting bertajuk "Covid-19 Pada Hewan dan Produk Hewan, Perlukah Dikhawatirkan?". Webinar tersebut dihadiri lebih dari 400 peserta dari Sabang sampai Merauke. 

Ketua Umum PDHI Lampung Drh Nanang Purus Subendro mengatakan bahwasanya isu tentang Covid-19 kian merebak luas bahkan beberapa waktu belakangan beberapa jenis hewan diduga terinfeksi Covid-19 seperti harimau di Kebun Binatang Ragunan yang menyita perhatian publik. Oleh karena itu Nanang mengingatkan betapa pentingnya isu ini untuk dibahas oleh dokter hewan agar dapat mengedukasi masyarakat lebih jauh.

Narasumber pertama yang menyajikan materi yakni Drh Harimurti Nuradji peneliti Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor. Dalam presentasinya beliau banyak memaparkan tentang seluk beluk Coronavirus baik pada hewan dan manusia. Dirinya juga banyak menjelaskan mengenai kemungkinan Covid-19 dapat menginfeksi hewan dari manusia karena kesamaan reseptor virus Covid-19 dengan beberapa hewan domestik dan hewan liar.

"Sebagaimana kita ketahui bahwa reseptor Covid-19 adalah ACE-2 (Angiotensin Converting Enzyme 2) yang dimiliki oleh beberapa jenis hewan seperto kucing, mink , dan beberapa hewan lainnya. Oleh karena itu jika ada kemiripan mungkin hal tersebut terjadi," tukas Harimurti.

Ia juga memaparkan bahwasanya institusinya (BBALITVET Bogor) telah melakukan screening dan surveilans Covid-19 pada hewan peliharaan seperti kucing dan anjing, terutama yang pemiliknya merupakan penyintas Covid-19. Dari hasil pemeriksaan tersebut belum ditemukan adanya kucing dan anjing yang terinfeksi oleh Covid-19. Terakhir ia berpesan kepada pemilik hewan dan dokter hewan di seluruh Indonesia agar masyarakat jangan sampai takut memelihara hewan karena belum ada bukti secara ilmiah Covid-19 dapat menular dari hewan ke manusia.

Tak kalah penting, narasumber kedua Drh Dyah Ayu Widiasih Kepala Departemen Kesmavet FKH UGM. Ia banyak memaparkan mengenai cemaran Covid-19 pada produk hewan seperti daging sapi, ikan, dan bahkan produk olahan.

"Sudah beberapa kali ekspor ikan RI ditolak oleh Tiongkok karena tercemar oleh Covid-19, tentunya ini merugikan negara. Tiongkok juga pernah menolak impor daging ayam dari Brasil karena juga tercemar oleh Covid-19. Makanya ini penting agar devisa suatu negara tidak berkurang," tutur Dyah.

Dyah mengutarakan bahwa kemungkinan tercemarnya produk - produk tadi disebabkan oleh pekerja dalam rantai produksi yang kemungkinan positif Covid-19 baik bergejala maupun tidak. Oleh karenanya sangat penting menerapkan SOP kesehatan pekerja yang baik dikala pandemi sedang berlangsung.

Namun begitu, Dyah juga menyatakan bahwa menurut hasil investigasi WHO, FAO, dan OIE belum ada kasus Covid-19 yang diakibatkan karena mengonsumsi produk yang tercermar oleh Covid-19, jadi masyarakat dihimbau untuk tidak takut mengonsumsi produk asal hewan, terlebih lagi sumber protein hewani sangat penting dalam membentuk sistem imun yang baik.(CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer