-->

AGAR PRODUKSI DAN KUALITAS KOLOSTRUM SAPI PERAH MENINGKAT



Sapi perah perlu menghasilkan setidaknya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22% untuk memenuhi kebutuhan pedet yang baru lahir. Namun, sekitar 25–60% sapi perah berpotensi menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak mencukupi atau dengan kualitas yang kurang baik berdasarkan standar yang direkomendasikan.

Menurut penelitian yang dikutip Selko, penggunaan Selko IntelliBond, yaitu sumber mineral mikro hidroksi (hydroxy trace minerals), dapat meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 liter per ekor tanpa menurunkan konsentrasi IgG dalam kolostrum.

Pentingnya manajemen kolostrum pada pedet
Manajemen kolostrum yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemeliharaan pedet. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah kolostrum yang dikonsumsi pedet dapat memengaruhi kekebalan tubuh, pertumbuhan, metabolisme, dan status hormonal pada masa awal kehidupannya.

Manajemen kolostrum yang baik juga tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolostrum yang tepat dapat berpengaruh terhadap produktivitas pada masa laktasi berikutnya serta umur produktif sapi. (Selko Feed Additives)
Ada beberapa alasan mengapa pedet harus mendapatkan kolostrum dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Kolostrum mengandung imunoglobulin
Kolostrum sapi mengandung berbagai jenis imunoglobulin, terutama IgG, IgA, dan IgM. IgG merupakan imunoglobulin yang paling dominan sehingga konsentrasi IgG sering digunakan sebagai parameter utama untuk menilai kualitas kolostrum.

Secara umum, kolostrum dianggap berkualitas baik apabila memiliki konsentrasi IgG ≥50 mg/mL.
Di tingkat peternakan, kualitas kolostrum dapat diperiksa secara praktis menggunakan kolostrometer atau refraktometer Brix. Nilai Brix minimal sekitar 22% umumnya berkorelasi dengan konsentrasi IgG sekitar 50 g/L atau lebih. Akan tetapi, manfaat kolostrum sebenarnya tidak hanya berasal dari kandungan antibodinya.

Kolostrum memberikan kekebalan pasif kepada pedet
Pedet yang baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sempurna. Mereka juga belum memiliki pengalaman imunologis terhadap berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Respons kekebalan pada pedet yang baru lahir juga relatif lambat. 

Oleh karena itu, antibodi maternal yang diperoleh melalui kolostrum menjadi sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai patogen pada minggu-minggu pertama kehidupannya.IgG, IgA, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum membantu menyediakan kekebalan pasif bagi pedet pada periode kritis tersebut. Karena itu, bukan hanya keberadaan kolostrum yang penting, tetapi juga seberapa cepat pedet mendapatkannya setelah lahir dan berapa banyak yang dikonsumsi.

Pedet membutuhkan energi dari kolostrum sejak jam-jam pertama kehidupannya
Kolostrum juga merupakan sumber energi yang sangat penting bagi pedet. Saat lahir, kandungan lemak tubuh pedet relatif sangat rendah, yaitu kurang dari 3% bobot tubuhnya. Sebagian lemak tersebut merupakan brown fat atau lemak cokelat yang kaya akan mitokondria.

Lemak cokelat memiliki fungsi penting dalam membantu pedet mempertahankan suhu tubuh melalui mekanisme non-shivering thermogenesis, yaitu produksi panas tanpa harus menggigil. Cadangan lemak cokelat tersebut berada di sekitar organ-organ vital, seperti jantung dan ginjal. Kolostrum menyediakan energi yang dibutuhkan untuk mengaktifkan mekanisme produksi panas tersebut. Menurut artikel Selko, kandungan energi kolostrum sekitar 5,4 kJ ME/L dan disebutkan sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan susu.

Pedet memang dapat bertahan hingga sekitar 15 jam tanpa mendapatkan kolostrum, tetapi cadangan energinya akan cepat terkuras apabila tidak mendapatkan kolostrum dalam beberapa jam pertama setelah lahir.

Ketika cadangan energi semakin menipis, suhu tubuh pedet dapat turun. Pedet kemudian menjadi lemah dan lesu. Pada kondisi hipotermia, refleks menyusu dapat menghilang sehingga pedet semakin tidak mampu minum. Dengan kata lain, semakin terlambat pedet mendapatkan kolostrum, semakin besar risiko terjadinya masalah kesehatan.

Kolostrum juga mengandung faktor pertumbuhan
Selain antibodi dan energi, kolostrum sapi mengandung berbagai growth factors atau faktor pertumbuhan yang berperan dalam perkembangan pedet.
Beberapa di antaranya adalah:
Insulin-like Growth Factor-1 (IGF-1)
Insulin-like Growth Factor-2 (IGF-2)
Transforming Growth Factor-alpha (TGF-α)
Transforming Growth Factor-beta (TGF-β)

Faktor-faktor tersebut berperan dalam menjaga integritas saluran pencernaan, mendukung pertumbuhan, serta membantu perkembangan sistem kekebalan pedet. Kolostrum sapi merupakan sumber penting faktor pertumbuhan tersebut bagi pedet yang baru lahir. 

Berapa banyak kolostrum yang dibutuhkan pedet?
Sebagai pedoman, pedet dianjurkan mendapatkan kolostrum sekitar 10–12% dari bobot lahirnya pada pemberian pertama. Untuk pedet sapi perah yang baru lahir, artikel ini merekomendasikan sedikitnya 4 liter kolostrum berkualitas baik dalam 12 jam pertama kehidupan.

Pemberian pertama idealnya dilakukan dalam 1–2 jam setelah kelahiran. Sebagai gambaran, pola pemberian yang disebutkan dalam artikel adalah:

Pemberian pertama:
3–4 liter kolostrum sesegera mungkin setelah lahir.
Pemberian kedua:
Sekitar 2 liter, enam jam kemudian.
Pemberian berikutnya:
Tambahan 1–2 liter pada sekitar 12 jam setelah lahir apabila memungkinkan.
Agar pola pemberian tersebut dapat dilakukan secara optimal, seekor sapi induk idealnya menghasilkan sedikitnya 6 liter kolostrum berkualitas baik dengan nilai Brix ≥22%. 

Apakah sapi perah menghasilkan kolostrum yang cukup?
Masalahnya, tidak semua sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup. Dalam salah satu penelitian yang melibatkan 1.731 laktasi sapi Holstein, sebanyak 62,6% sapi menghasilkan kurang dari 6 kg kolostrum pada pemerahan pertama.

Lebih jauh lagi, hanya 27,7% sapi yang menghasilkan sedikitnya 6 kg kolostrum dengan nilai Brix 22%. Penelitian dari University of New Hampshire juga menemukan bahwa sekitar 12% sapi tidak menghasilkan kolostrum sama sekali, sedangkan hampir 25% menghasilkan kolostrum dalam jumlah terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan pedetnya.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa sekitar 73% sapi dara yang baru pertama kali melahirkan (primiparous) dan 61% sapi yang telah beberapa kali melahirkan (multiparous) menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang tidak memadai. 

Dengan demikian, berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, diperkirakan sekitar 25–60% sapi perah dapat menghasilkan kolostrum yang jumlahnya tidak mencukupi atau tidak memenuhi standar kualitas yang direkomendasikan.

Ini merupakan persoalan penting dalam manajemen pedet karena produksi kolostrum yang rendah dapat menyulitkan peternak memenuhi kebutuhan pemberian kolostrum pada jam-jam pertama kehidupan.

Apa yang terjadi ketika sapi diberi Selko IntelliBond?
Salah satu pendekatan yang ditawarkan Selko adalah penggunaan Selko IntelliBond, yang mengandung mineral mikro dalam bentuk hydroxy trace minerals.

Menurut Selko, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan sumber mineral tersebut sebagai pengganti sumber mineral sulfat dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan performa sapi perah. Selko juga menyebutkan bahwa penggunaan IntelliBond dapat meningkatkan produksi Energy Corrected Milk (ECM) sekitar 1–1,5 kg per ekor per hari.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Professor Jose Santos dari University of Florida secara khusus mengevaluasi pengaruh pemberian IntelliBond selama periode close-up—yaitu periode menjelang kelahiran terhadap produksi kolostrum.

Penelitian University of Florida
Sebanyak 141 ekor sapi Holstein dilibatkan dalam penelitian tersebut. Sapi dibagi secara acak menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama:
30 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi mineral dalam bentuk sulfat.

Kelompok kedua:
31 ekor sapi dara dan 40 ekor sapi multiparitas diberi Selko IntelliBond sebagai pengganti penuh sumber mineral sulfat.

Perlakuan dimulai sekitar 21 hari sebelum sapi melahirkan.
Mineral tambahan yang diberikan terdiri atas:
Zinc (Zn): 30 mg/kg bahan kering ransum
Copper (Cu): 7 mg/kg bahan kering ransum
Manganese (Mn): 22 mg/kg bahan kering ransum

Produksi serta kualitas kolostrum kemudian dibandingkan pada pemerahan pertama setelah sapi melahirkan.

Hasil penelitian: produksi kolostrum meningkat
Penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn dari bentuk sulfat menjadi sumber mineral IntelliBond tidak memengaruhi konsumsi bahan kering sapi sebelum melahirkan. Namun, terdapat kecenderungan peningkatan produksi kolostrum sekitar 1,0 kg.

Pada sapi dara, produksi kolostrum meningkat dari rata-rata:
5,54 kg → 7,07 kg
Sementara pada sapi multiparitas:
4,89 kg → 5,47 kg

Jika sapi dara dan sapi multiparitas digabungkan, peningkatan produksi kolostrum pada pemerahan pertama mencapai sekitar 1 kg. Nilai p yang dilaporkan adalah 0,08, sehingga hasil tersebut lebih tepat disebut sebagai tendency atau kecenderungan, bukan perbedaan yang signifikan secara statistik pada tingkat konvensional p<0,05. 

Bagaimana dengan kualitas kolostrumnya?
Yang menarik, peningkatan volume kolostrum tersebut tidak diikuti dengan penurunan parameter kualitas utama.
Tidak ditemukan perbedaan yang berarti dalam:
persentase lemak,
persentase protein,
persentase laktosa,
total padatan,
jumlah sel somatik,
nilai Brix, maupun
konsentrasi IgG.

Nilai Brix pada kedua kelompok berada di sekitar 27%, sedangkan konsentrasi IgG berada pada kisaran 106–122 g/L, tergantung kelompok sapi.  Artinya, berdasarkan penelitian tersebut, peningkatan volume kolostrum tidak menyebabkan efek pengenceran terhadap konsentrasi IgG.

Bahkan, total IgG yang dihasilkan cenderung meningkat karena jumlah kolostrum yang diproduksi lebih banyak. Pada sapi dara, total IgG meningkat dari sekitar 574 g menjadi 735 g, sedangkan pada sapi multiparitas meningkat dari sekitar 572 g menjadi 615 g. Namun, perbedaan tersebut tidak mencapai tingkat signifikansi statistik yang dilaporkan dalam penelitian. 

Memanfaatkan senyawa tanaman untuk meningkatkan kualitas kolostrum
Selain IntelliBond, artikel Selko juga membahas produk lain yang disebut Fytera Lacteco. Fytera Lacteco disebut sebagai PhytoComplex yang dipatenkan dan digunakan sebagai bahan tambahan pakan alami untuk sapi.

Menurut beberapa penelitian yang dikutip Selko, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir sebelum kelahiran dapat meningkatkan kadar imunoglobulin dalam kolostrum dan memperbaiki proses transfer antibodi maternal kepada pedet. 

Dalam salah satu percobaan, pedet dari sapi yang mendapatkan Fytera Lacteco mencapai kadar IgG serum 24 g/L pada 24 jam setelah lahir, yang digunakan dalam penelitian tersebut sebagai ambang keberhasilan transfer imunitas maternal.

Dengan demikian, pendekatan yang ditawarkan Selko tidak hanya berfokus pada meningkatkan jumlah kolostrum, tetapi juga pada upaya mempertahankan atau meningkatkan kualitas imunologis kolostrum.

Membangun program manajemen kolostrum yang baik
Manajemen kolostrum merupakan bagian yang sangat penting dalam pemeliharaan pedet. Kolostrum memberikan tiga manfaat utama bagi pedet:

1. Antibodi untuk membangun kekebalan pasif.
2. Energi untuk membantu mempertahankan suhu tubuh dan memenuhi kebutuhan metabolisme awal kehidupan.
3. Faktor pertumbuhan yang mendukung perkembangan saluran pencernaan dan sistem kekebalan.

Karena itu, peternakan sapi perah perlu memastikan bahwa sapi mampu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik. Target yang disebutkan dalam artikel adalah setidaknya 6 liter kolostrum dengan nilai Brix ≥22% dari pemerahan pertama.
 
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai penelitian, sebagian besar peternakan berpotensi menghadapi masalah produksi kolostrum yang tidak mencukupi. Program peningkatan produksi kolostrum dapat meningkatkan volume kolostrum sekitar 1–3 liter per ekor, dan menurut artikel tersebut peningkatan volume tersebut dapat dicapai tanpa harus menurunkan konsentrasi IgG.

Sumber mineral yang digunakan dalam ransum dapat menjadi salah satu faktor yang berpengaruh. Penggantian sumber mineral sulfat dengan Selko IntelliBond dalam penelitian University of Florida meningkatkan produksi kolostrum pada pemerahan pertama sekitar 1 liter, tanpa menurunkan konsentrasi IgG. 

Sementara itu, pemberian Fytera Lacteco selama 30 hari terakhir kebuntingan dilaporkan dapat meningkatkan kadar imunoglobulin kolostrum dan memperbaiki transfer kekebalan pasif kepada pedet.

Kesimpulan
Manajemen kolostrum yang baik merupakan fondasi penting dalam keberhasilan pemeliharaan pedet. Pedet membutuhkan kolostrum bukan hanya sebagai sumber antibodi, tetapi juga sebagai sumber energi dan berbagai faktor pertumbuhan yang diperlukan untuk perkembangan awal tubuh dan sistem kekebalan.

Idealnya, pedet mendapatkan kolostrum berkualitas tinggi sesegera mungkin setelah lahir. Untuk mendukung program tersebut, sapi induk perlu menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang memadai.
Artikel Selko menunjukkan bahwa sekitar 25–60% sapi perah berpotensi tidak menghasilkan kolostrum dalam jumlah yang cukup sesuai standar yang direkomendasikan. 

Penelitian University of Florida yang melibatkan 141 ekor sapi Holstein menunjukkan bahwa penggantian sumber Zn, Cu, dan Mn berbasis sulfat dengan Selko IntelliBond hydroxy trace minerals cenderung meningkatkan produksi kolostrum sekitar 1 kg pada pemerahan pertama, tanpa menurunkan nilai Brix maupun konsentrasi IgG kolostrum. 

Dengan demikian, menurut artikel tersebut, pengelolaan sumber mineral mikro dapat menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan produksi kolostrum dan mendukung program manajemen pedet. (INF)

TROUW INGATKAN BAHAYA MIKOTOKSIN DALAM GLOBAL MYCOTOXIN REVIEW 2026

Dr Swamy Haladi Memberikan Penjelasan Mengenai Review Mikotoksi Global. (Foto: Infovet/CR)

Trouw Nutrition sebagai salah satu produsen feed additive terkemuka di dunia kembali menyelenggarakan webinar review mikotoksin global 2026 pada Kamis (5/2/2026). Dalam webinar tersebut, bertindak sebagai pembicara yakni Dr Swamy Haladi yang merupakan Commercial Technical Manager - Mycotoxin Risk Management, Trouw Nutrition. Dalam presentasinya ia menjabarkan beberapa hal terkait cemaran mikotoksin yang terdapat pada bahan baku serta pakan jadi.

Ia menuturkan, berdasarkan analisis terhadap lebih dari 115.000 sampel dari 46 negara, Trouw Nutrition melaporkan bahwa jumlah sampel yang terkontaminasi mikotoksin pada 2025 mengalami penurunan dibandingkan 2024. Sampel tersebut mencakup berbagai bahan baku pakan, termasuk biji-bijian, sumber protein, produk samping, silase, Total Mixed Rations (TMR), konsentrat, serta pakan lengkap.

"Penurunan paling signifikan terjadi pada tingkat kontaminasi fumonisin dan toksin T-2. Sebaliknya, tingkat deoksinivalenol (DON) dan zearalenon (ZEA) relatif serupa dengan tahun sebelumnya dan tetap lebih tinggi dibandingkan fumonisin. Sementara itu, rata-rata konsentrasi mikotoksin dalam sampel tahun 2024 dan 2025 dilaporkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan," paparnya.

Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun jumlah sampel terkontaminasi menurun, faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan kapang dan produksi mikotoksin masih berlanjut hingga 2025, khususnya di wilayah beriklim sedang. 

Selain existing mycotoxin yang sudah dikenal, ia juga berbicara mengenai enniatins. Mereka adalah kelompok mikotoksin “emerging (mikotoksin yang relatif baru mendapat perhatian) yang diproduksi terutama oleh jamur Fusarium, khususnya Fusarium avenaceum, F. tricinctum, dan F. poae.

Enniatins (misalnya enniatins A, A1, B, dan B1) merupakan senyawa siklik heksadepsipeptida yang bersifat ionofor, artinya mampu membentuk kompleks dengan ion (seperti K⁺, Na⁺, Ca²⁺) dan mengganggu keseimbangan ion dalam sel.

Walau belum diregulasi secara ketat seperti DON atau aflatoksin, enniatins mendapat perhatian karena dapat menyebabkan efek sitotoksik pada sel mamalia (in vitro), gangguan membran sel dan mitokondria, potensi imunosupresif dan antimikroba, serta memiliki efek sinergis dengan mikotoksin lain (toxic cocktail effect).

"Feed producer harus waspada dengan hal ini, karena enniatins juga bisa berbahaya, oleh karenanya kewaspadaan harus terus ditingkatkan," tuturnya.

Trouw sendiri menurut Dr Swamy terus berupaya memberikan pelayanan termasuk proteksi terhadap mikotoksin untuk para customer melalui Masterlabnya. Di sana customer dapat berkonsultasi sekaligus mengecek apakah bahan baku dan pakan jadinya masih aman dari batas kontaminan mikotoksin yang diperbolehkan. Selain itu beragam protofolio produk Trouw juga selalu tersedia dalam membantu customer dalam memecahkan masalah mikotoksin. (CR)

OPTIMISME DAN KOMITMEN KUAT TROUW NUTRITION INDONESIA DALAM BISNIS FEED ADDITIVE MELALUI KEPEMIMPINAN BARU

 

Yana Ariana, Country Manager Trouw Nutrition Indonesia. (Sumber : Istimewa)

Trouw Nutrition, pemimpin global dalam solusi nutrisi hewan, melakukan perubahan signifikan dalam bisnis feed additive dan young animal feed dengan menunjuk kepemimpinan baru di Indonesia. Hal ini memperkuat komitmennya untuk memberikan solusi nutrisi hewan yang inovatif melalui produk dan services-nya antara lain feed additive milik Trouw Nutrition - Selko®, Sprayfo, dan layanan pendukung seperti MyNutriOpt, NutriOpt on Adviser (NOA), Mycotoxin Adviser/Mycomaster, serta dukungan laboratorium dari Masterlab Netherland. Langkah strategis ini menegaskan komitmen perusahaan yang kuat terhadap pasar di Indonesia, yang diyakini memiliki potensi besar bagi industri peternakan.

“Ekonomi Indonesia berkembang pesat dengan tingkat konsumsi yang tinggi, menjadikannya pasar yang sangat menjanjikan untuk produk peternakan seperti feed additive dan young animal feed,” kata Alice Hibbert, General Manager Trouw Nutrition Asia Pasifik. “Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia, Indonesia menawarkan peluang yang besar bagi perusahaan yang ingin memperluas bisnis mereka di kawasan ini.”

Tim Trouw Nutrition Indonesia, yang dipimpin oleh Yana Ariana – Country Manager Trouw Nutrition Indonesia, memiliki keahlian teknis dan pemahaman mendalam tentang dinamika pasar lokal, dapat terbukti dari hasil kinerjanya tahun 2023. “Saya sangat antusias bisnis feed additive kami, Selko® telah mencapai kesuksesan yang luar biasa, hampir dua kali lipat pertumbuhannya pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian ini merupakan bukti dari kerja keras, dedikasi, dan strategi inovatif yang diterapkan oleh tim kami,” kata Yana.

“Kami yakin dengan kemampuan kami berbisnis yang didukung oleh tim teknis dan komersial yang kuat, bisnis kami akan berkembang lebih jauh. Selain itu, tahun ini kami juga berencana untuk memperbesar tim kami agar dapat menjangkau pasar lebih luas,” lanjutnya.

Dibawah kepemimpinan Yana, yang telah memiliki lebih dari dua puluh tahun pengalaman dan keahlian di bisnis peternakan, Trouw Nutrition Indonesia berada pada posisi yang baik untuk mengangkat segmen feed additive dan young animal feed ke tingkat kesuksesan yang lebih tinggi. Dengan memanfaatkan kemampuan R&D global dari Trouw Nutrition yang kuat untuk Selko® dan Sprayfo (pengganti susu untuk pedet), Yana berencana untuk terus mengembangkan bisnis yang mampu menjawab kebutuhan pasar yang terus berkembang.

“Kami percaya bahwa pasar produk nutrisi hewan di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya permintaan akan telur, daging ayam, sapi, dan susu yang berkualitas seiring dengan meningkatnya kesadaran kesehatan dan adopsi diet yang kaya protein,” kata Yana.

“Kami bangga membawa sebagian besar produk Selko® dan Sprayfo langsung dari Belanda, yang memiliki standar kualitas tinggi. Komitmen kami terhadap quality excellence menjamin bahwa setiap produk memenuhi kriteria jaminan kualitas yang ketat, memberikan solusi yang andal dan efektif untuk kesehatan dan nutrisi hewan,” lanjut Yana.

Trouw Nutrition Indonesia akan fokus pada empat program untuk Selko® di Indonesia yakni Trace Mineral Optimization, Feed Safety, Health and Performance,dan Phytogenic. Sementara itu, Sprayfo yang didukung oleh sains LifeStart, menawarkan rangkaian solusi lengkap pemeliharaan pedet yang dapat memastikan perkembangan optimal selama tahap awal kehidupan, sehingga menghasilkan sapi yang lebih sehat dan kuat yang siap untuk memproduksi susu lebih banyak,” tambahnya.

Trouw Nutrition akan hadir di pameran Indo Livestock pada 17-19 Juli 2024 di JCC Senayan Jakarta, dan akan memamerkan inovasi terbaru dalam teknologi nutrisi hewan, termasuk NutriOpt On-site Adviser (NOA) dan Selko® Continuous Dosing System untuk portofolio kesehatan hewan yang lengkap. NOA adalah alat mutakhir yang dirancang untuk menghadirkan presisi dan efisiensi dalam manajemen nutrisi hewan.

Alat dengan teknologi inovatif ini mampu memberikan hasil data analisis real-time terhadap bahan baku pakan dan pakan jadi yang berguna dan relevan untuk pengambilan keputusan, sehingga memungkinkan produsen / peternak mengoptimalkan strategi pakan yang cepat untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan bisnisnya. Sedangkan, Selko®️ Continuous Dosing System, merupakan alat penentuan dosis dengan teknologi sistem otomatis yang dirancang khusus sebagai solusi terobosan untuk aplikasi aditif berbahan cair pada bahan baku.

Alat yang sangat akurat dan konsisten ini dapat memastikan presisi penggunaan jumlah aditif cair sesuai kebutuhan untuk meningkatkan lama simpan, serta dapat mengurangi limbah dan meningkatkan kualitas nutrisi dan efisiensi pakan secara keseluruhan. (INF)


AGRI VISION 2021 : MEMBAHAS KEBERLANJUTAN SEKTOR PERTANIAN SECARA LUAS

Agro Vision 2021 : Fokus Kepada Keberlanjutan Sektor Pertanian

Sektor pertanian secara luas termasuk peternakan merupakan sektor penting karena berkaitan langsung dengan pangan. Namun sayangnya topik yang dibahas dalam sektor tersebut kebanyakan berfokus pada peningkatan produksi, padahal selain itu keberlanjutan (sustainability) dari sektor ini sangat penting untuk dijaga.

Beberapa tahun belakangan, stakeholders pertanian di penjuru belahan dunia sedang hangat - hangatnya membahas sustainability in farming. Seperti yang tadi disebutkan bahwa pangan akan berkaitan pula dengan kehidupan manusia. Atas dasar tersebut Trouw Nutrition (Nutreco Group) mengangkat isu ini pada konferensi dua tahunan mereka yakni Agri Vision. Karena pandemi Covid-19 yang masih melanda, event ini dihelat secara daring pada tanggal 7 Oktober 2021. 

Menjawab Berbagai Tantangan

Bicara masalah keberlanjutan, tentunya sektor pertanian juga tidak luput dari berbagai tantangan. Hal ini diutarakan oleh Fulco Van Lede yang merupakan CEO dari Nutreco dalam pidato pembukaan Agri Vision 2021.

"Tantangan utama kita adalah memberi makan penduduk dunia yang pada tahun 2050 diproyeksikan mencapai 50 Milyar jiwa.Selain itu, bisnis ini masih dicap sebagai bisnis yang kurang ramah lingkungan, jangan juga lupakan isu naiknya harga pangan yang di sebagian belahan dunia bisa dibilang tidak terjangkau, ini adalah problem kita bersama dan saya percaya bahwa dalam masalah terbesar tentunya ada kesempatan terbesar," tutur Fulco.

Hal senada juga diutarakan oleh Saskia Korink CEO Trouw Nutrition. Menurutnya permasalahan ini terlalu berat jika harus ditanggung oleh satu stakeholder saja, oleh karenanya kolaborasi apik antar stakeholder  dibutuhkan untuk menghadapi persoalan tersebut.

"Oleh karenanya event ini diadakan untuk menghubungkan para stakeholders agar dapat bertemu, mendiskusikan peluang, kerjasama, bahkan bisnis dengan catatan tetap berfokus pada isu sustainability ini," tutur Saskia.

Industri Protein Semakin Dinamis

Dalam Agri Vision 2021 dibahas pula mengenai industri protein, Justin Sherrard, ahli strategi protein hewani global di Rabobank memberi gambaran dunia dengan berbagai sumber protein hewani seperti daging yang dikembangkan di laboratorium atau sumber protein non-hewani. Dia menunjukkan bahwa pasar daging relatif matang ketimbang sumber protein lainnya.

"Ya, protein hewani akan terus tumbuh, tetapi sebagian besar pertumbuhan terjadi di negara berkembang. Bukan hanya karena tingkat kemakmurannya lebih tinggi, tetapi juga karena urbanisasi. Harapannya ini akan terus berkembang," tutur Justin.

Berbeda dengan pertumbuhan yang stabil dan tenang, Justin menunjuk situasi di pasar protein alternatif  yang lebih dinamis. 

"Gambarannya berbeda dan menarik ketika kita melihat pada pasar protein alternatif. Ada pertumbuhan dramatis. Industri ini sedang menarik orang-orang dan sumber daya manusia untuk berkecimpung di dalamnya. Ini sangat menarik karena pertumbuhannya," kata Justin.

Ketika dia ditanya tentang arti munculnya protein alternatif untuk produksi hewani, Justin mengatakan bahwa sebagian besar produk protein alternatif sekarang harganya lebih tinggi dan menawarkan margin yang lebih baik.

"Salah satu pilihan adalah membuat produk tersedia dalam skala besar dan membuatnya lebih terjangkau. Saya pikir protein tradisional akan menjadi salah satu yang dicari ketimbang protein alternatif, ” tukas Justin

Dalam forum yang sama, Marcel Sacco yang berpartisipasi atas nama Brasil Foods ikut berkomentar.

"Ini bukan tentang mengganti daging dengan sesuatu yang lain. Ini lebih kepada menawarkan lebih banyak pilihan kepada konsumen. Kami sesungguhnya dapat menggabungkan penawaran protein hewani yang ada dengan hal-hal baru," tutur dia.

Konsep "Petani Mercusuar"

Presentasi yang paling menginsipirasi dan menggugah pikiran dalam event tersebut datang dari Dr Rogier Schulte, profesor sistem pertanian dan ekologi di Wageningen University, Belanda. Dia mengatakan bahwa umat manusia kini berada di persimpangan jalan akan keberlanjutan, ia menggambarkan bahwa itu terjadi di mana-mana di seluruh dunia.

Dia melukiskan gambaran produksi pertanian yang inovatif, berorientasi masa depan, inklusif alam dan memperkenalkan konsep “petani mercusuar.” Yang dimaksud oleh Dr Rogier yakni sekelompok petani dengan tanaman dan hewan ternak yang berbeda, dari latar belakang dan budaya yang berbeda, bersama-sama mereka membentuk kelompok yang penuh dengan ide-ide inovatif. Dengan melakukan sesuatu bersama - sama mereka bukan hanya dapat melampaui solusi berpikir, tetapi juga sampai ke tahap di mana segala masalah dapat diselesaikan.

Diantara berbagai contoh peternakan yang ia soroti, Dr Rogier menyebutkan peternakan As Ziedi di Latvia, yang memiliki 2.000 sapi perah dengan 3.000 ha lahan subur dengan berbagai tanaman. 

“Susu adalah produk sampingan di peternakan tersebut. Produk utamanya adalah pupuk kandang. kotoran ternak yang dimasukkan ke dalam digester anaerobik (biogas) yang menyediakan listrik adalah produk juga merupakan produk sampingan. Produk utamanya adalah panas, karena itu memungkinkan ikan sturgeon dan belut tumbuh dan berkembang. Dalam waktu 2 tahun mereka bisa memanen ikan tersebut. Di sana kaviar adalah produk utamanya. Ini adalah peternakan kaviar yang didukung oleh sapi perah," tutur Dr Rogier.

Contoh lainnya yang ia sebutkan adalah sistem pertanian padi yang inklusif alam di Indonesia, dimana selain padi juga ikan dan bebek dipelihara pada waktu yang bersamaan. Kompleksitas ekologis tersebut bersifat saling menguatkan. Contoh lain datang dari Brasil, dimana agroforestri yang cerdas dapat mengembalikan struktur hutan hujan asli yang meningkatkan keanekaragaman hayati.

“Tidak ada solusi yang mudah. Tetapi itulah salah satu pelajaran yang kami petik. Itu sebabnya kita tidak bisa meninggalkannya di tingkat petani saja. Kita harus bekerja sama. Para petani mercusuar menawarkan inspirasi,” kada Rogier. (CR)



SELKO INTELLIBOND® C : MEMAKSIMALKAN PERFORMA DAN PRODUKSI TERNAK MONOGASTRIK

Selko Intellibond® C : Memaksimalkan produksi ternak monogastrik

Tembaga, atau dalam bahasa inggris disebut dengan copper, yang dalam bahasa latin disebut dengan cuprum (Cu) merupakan salah satu unsur kimia yang namanya sering kita dengar. Nyatanya copper memiliki efek bakterisidal dan fungisidal dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substituen antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) terutama pada ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Hal tersebut dibahas secara mendalam oleh Prof. Hans Stein, peneliti dari Illinois University dan Alice Hibbert Global Program Manager - Trace Mineral Trouw Nutrition dalam sebuah webinar bertajuk "Effect of hydroxy copper chloride on growth performance of monogastric animals" Rabu (28/7) lalu yang diadakan oleh PT Trouw Nutrition Indonesia

Menggali Manfaat Copper Pada Ternak Monogastrik

Prof. Hans Stein

Prof. Hans Stein lebih dulu menjabarkan secara detil efek pemberian hidroksi copper klorida sebagai imbuhan pakan pada babi. Dari kacamata nutrisi ternak, copper memiliki beberapa fungsi seperti antibakteri, sebagai mikronutrien, membantu dalam beberapa reaksi metabolisme, dan sebagai komponen dari metaloenzim (enzim yang berkaitan dengan logam). 

Lebih lanjut dalam presentasinya Prof. Stein menjabarkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya pada babi. Dimana copper dalam bentuk sediaan hidroksi copper klorida teruji dan terbukti dapat meningkatkan performa pertumbuhan, meningkatkan kecernaan nutrisi, meningkatkan performa bakteri baik pada saluran cerna, dan berfungsi dalam metabolisme lemak. 

Gambar 1. Penambahan Copper (Cu) pada ransum babi, mereduksi kasus diare (Espinosa et al, 2017)

"Intinya copper ini memiliki potensi yang jika diberikan dalam ransum babi dalam jumlah yang tepat, dapat membantu dalam meningkatkan kesehatan saluran cerna dan meningkatkan performa sistem imun babi," tukas Prof Stein.

Gambar 2. Efek Penambahan Copper pada kenaikan bobot badan babi (Espinosa et. al, 2017)


Selko Intellibond® C: Substituen AGP Kaya Manfaat

Alice Hibbert

Senada dengan Prof Stein, Alice Hibbert juga menjabarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh timnya di berbagai negara terkait efek copper sebagai imbuhan pakan pada ayam. Ia mengatakan bahwa ayam merupakan sumber protein hewani terbanyak yang dikonsumsi oleh manusia di dunia. Namun sayangnya, penggunaan antibiotik pada ayam di seluruh dunia merupakan yang kedua terbesar setelah babi, yakni 150 mg/1 kg ternak.

Selain itu Alice juga menyinggung mengenai isu Antimicrobial Resistance yang sudah mendunia dimana kita tahu bahwa salah satu penyebabnya adalah penggunaan antibiotik yang kurang terkontrol di sektor peternakan, terutama ayam.

“Kami dan tim berusaha mencari solusi dari sini dan memaksimalkan potensi copper agar dapat digunakan untuk mensubtitusi AGP. Kami juga telah banyak melakukan trial pada ayam, hasilnya pun bisa dibilang sangat baik dengan produk yang kami miliki yakni Selko Intellibond® C,” tutur Alice.

Selko Intellibond® C merupakan produk imbuhan pakan berbasis Copper Chlorida yang diproduksi dengan teknologi canggih agar dapat diserap dalam jumlah yang cukup oleh ternak. Produk ini telah melalui pengembangan selama lebih dari 20 tahun dan telah terbukti di seluruh dunia dapat meningkatkan performa ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Selko Intellibond® C memastikan kesehatan hewan dan produktivitasnya dengan bekerja secara langsung mendukung integritas jaringan, proses enzimatik, meningkatkan pertumbuhan bobot badan dan produktivitas, serta meningkatkan fungsi sistem imun.

Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh tim Trouw Nutrition menjabarkan manfaat yang didapat ketika menambahkan Selko Intellibond® C pada pakan ayam. Salah satunya terlihat pada Tabel 1 di bawah ini, dimana Selko Intellibond® C dapat menekan pertumbuhan bakteri E.coli dan C. perfringens (penyebab nekrotik enteritis).

Tabel 1. Efek penggunaan Selko Intellibond® C pada pakan ayam




Tidak hanya itu, dalam kondisi adanya Nekrotik Enteritis pun, penggunaan Selko Intellibond® C juga terbukti bahwa ayam tetap dapat memberikan performa terbaik. Hal ini sebagaimana terlihat pada Tabel 2. di bawah ini. 

Tabel 2. Penggunaan Selko Intellibond® C pada ayam yang terinfeksi NE

Bahkan, dalam trial lainnya, Alice juga membuktikan bahwa Selko Intellibond® C juga bekerja lebih baik ketimbang AGP yakni BMD dan sediaan sejenis yang berupa Copper Sulfat. Dengan demikian Alice mengatakan bahwa Selko Intellibond® C dapat menjadi bahan alternatif dalam mengurangi penggunaan antibiotik baik sebagai growth promoter maupun terapi suportif medikasi.

"Copper sulfat mungkin harganya lebih murah, tetapi sifatnya sangat reaktif ketimbang produk kami. BMD juga merupakan AGP yang sudah lama digunakan dalam pakan, namun karena isu keamanan pangan (food safety) penggunaannya mulai ditinggalkan, Selko Intellibond® C menawarkan sesuatu yang lebih baik dengan harga yang lebih terjangkau, jadi, mengapa harus ragu untuk beralih ke Selko Intellibond® C,” tutup Alice. (adv).




MENGGALI LEBIH DALAM POTENSI COPPER HIDROKLORIDA SEBAGAI IMBUHAN PAKAN




Tembaga, atau dalam bahasa inggris disebut dengan copper, yang dalam bahasa latin disebut dengan cuprum (Cu) merupakan salah satu unsur kimia yang namanya sering kita dengar. Nyatanya copper memiliki efek bakterisidal dan fungisidal dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substituen antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) terutama pada ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Hal tersebut dibahas secara mendalam oleh Prof. Hans Stein, peneliti dari Illinois University dan Alice Hibbert Global Program Manager - Trace Mineral Trouw Nutrition dalam sebuah webinar bertajuk "Effect of hydroxy copper chloride on growth performance of monogastric animals" Rabu (28/7) lalu.

Prof. Hans Stein lebih dulu menjabarkan secara detil efek pemberian hidroksi copper klorida sebagai imbuhan pakan pada babi. Dari kacamata nutrisi ternak, copper memiliki beberapa fungsi seperti anitbakteri, sebagai mikronutrien, membantu dalam beberapa reaksi metabolisme, dan sebagai komponen dari metaloenzim (enzim yang berkaitan dengan logam). 

Lebih lanjut dalam presentasinya Prof. Stein menjabarkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya pada babi. Dimana copper dalam bentuk sediaan hidroksi copper klorida teruji dan terbukti dapat meningkatkan performa pertumbuhan, meningkatkan kecernaan nutrisi, meningkatkan performa bakteri baik pada saluran cerna, dan berfungsi dalam metabolisme lemak. 

"Intinya copper ini memiliki potensi yang jika diberikan dalam ransum babi dalam jumlah yang tepat, main goal -nya adalah copper dapat membantu dalam meningkatkan kesehatan saluran cerna dan meningkatkan performa sistem imun babi," tukas Prof Stein.

Senada dengan Prof Stei, Alice Hibbert juga menjbarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh timnya di berbagai negara terkait efek copper sebagai imbuhan pakan pada ayam. Ia mengatakan bahwa ayam merupakan sumber protein hewani terbanyak yang dikonsumsi oleh manusia di dunia.

Selain itu Alice juga menyinggung mengenai isu Antimicrobial Resisstance yang sudah mendunia dimana kita tahu bahwa salah satu penyebabnya adalah penggunaan antibiotik yang kurang terkontrol di sektor peternakan, terutama ayam.

Oleh karenanya Alice mengatakan bahwa copper dapat menjadi bahan alternatif dalam mengurangi penggunaan antibiotik baik sebagai growth promoter maupun medikasi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam beberapa hasil penelitian yang dijabarkan oleh Alice, copper dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada unggas seperti C. perfringens, S. enteritidis, dan S. gallinarum.

"Kami juga sudah membandingkan penggunaan copper vs AGP (BMD) pada ayam, dan hasilnya penggunaan hidroksi copper klorida bisa berefek sama bahkan lebih baik dari BMD, selain itu cost yang dikeluarkan lebih rendah, dan yang terpenting performa juga tetap terjaga," tutur Alice. (CR)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer