-->

MENGENAL PENYAKIT AFRICAN SWINE FEVER

Virus ASF sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 100% pada babi. (Foto: GETTY IMAGES)

Virus African Swine Fever (ASF) adalah virus DNA beruntai ganda termasuk dalam familie Asfarviridae sebagai agen penyakit ASF. Virus ini menyebabkan demam berdarah dengan tingkat kematian tinggi. Beberapa isolat dapat menyebabkan kematian hewan satu minggu setelah infeksi. Virus ini menginfeksi inang alami seperti babi hutan melalui vektor kutu dari genus Ornithodoros tanpa disertai gejala penyakit.

Selain itu, virus ASF juga ditularkan melalui kontak langsung dengan babi yang tertular, daging dan produk daging babi, sisa-sisa makanan (swilling feeding), peralatan, sepatu, hingga pakaian yang digunakan para pekerja atau pengunjung di peternakan babi yang tertular penyakit ASF.

Namun virus ASF bisa mati pada pemanasan suhu 56 derajat selama 70 menit atau suhu 60 derajat selama 20 menit. Kendati demikian, virus ASF bisa bertahan hidup pada sisa makanan dalam sampah yang terinfeksi virus ASF selama 3-6 bulan dan dalam keadaan frozen selama tiga tahun.

Gambar 1: Bentuk virus ASF secara fisik seperti model virus pada umumnya, tetapi sangat  jauh berbeda  secara molekular.

Penyakit ini tidak menyebabkan penyakit pada manusia atau tidak bersifat zoonosis. Virus ASF merupakan penyakit endemik di Afrika sub-Sahara dan menyebar ke Eropa melalui babi atau produknya yang dibawa oleh imigran maupun wisatawan Eropa. Virus ASF memiliki genom DNA beruntai ganda dan dapat menjangkau 190 kilobase, serta yang mengesankan karena mengkode hampir 170 protein, jauh lebih besar dari virus lain, seperti Ebola (beberapa strain hanya memiliki 7 protein).

Virus ASF memiliki kesamaan dengan virus DNA besar lainnya, misalnya poxvirus, iridovirus dan mimivirus. Virus ASF ini menyebabkan demam hemoragik, dimana sel targetnya terutama untuk bereplikasi terdapat pada makrofag sel monosit. Masuknya virus ke dalam sel inang dimediasi oleh reseptor, tetapi mekanisme endositosis yang tepat sampai saat ini belum jelas. Sel makrofag pada tahap awal diinfeksi oleh virus ASF, perakitan kapsid icosahedral terjadi pada membran retikulum endoplasma. Poliprotein diproses secara proteolitik membentuk kulit inti antara membran internal dan inti nukleoprotein. Membran sel plasma bagian luar sebagai inti partikel dari membran plasma. Protein virus mengkode protein yang menghambat jalur pensinyalan pada makrofag yang terinfeksi dan dengan demikian memodulasi aktivasi transkripsi gen respons imun. Selain itu, virus mengkode protein yang menghambat apoptosis sel yang terinfeksi untuk memfasilitasi produksi virion keturunannya. Protein membran virus dengan kemiripan protein adhesi seluler memodulasi interaksi sel yang terinfeksi virus dan viri ekstraseluler dengan komponen inang.

Hewan yang peka pada ASF ini adalah babi hutan, babi liar dan babi domestik. Babi yang terinfeksi dapat menunjukkan satu atau beberapa tanda-tanda klinis, seperti berwarna ungu kebiruan dan perdarahan (seperti bintik atau memanjang) di telinga, perut dan/atau kaki belakang, kemudian mata dan hidung keluar cairan, lalu terdapat merah pada kulit dada, perut, perineum, ekor dan kaki,  dan juga terjadi sembelit atau diare yang dapat berkembang dari mukoid menjadi berdarah (melena), muntah, induk babi yang bunting mengalami aborsi pada semua tahap kebuntingan, darah dan busa dari hidung/mulut dan mata, serta kotoran berdarah di sekitar ekor. Gejala klinis dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2. Gejala klinis pada penyakit African Swine Fever.

Oleh karena sifat virus yang sangat rumit dan memiliki genom besar, maka untuk menemukan obat misalnya vaksin saja juga sulit. Sampai saat ini peneliti belum mampu menemukan vaksin ASF, meskipun berbagai metoda pembuatan vaksin telah dilakukan. Metoda pembuatan vaksin ASF yaitu dimulai dari vaksin konvensional, vaksin DNA, rekombinan protein dan vaksin dari senyawa alami, sintetis dan obat.

Dengan alasan tersebut, maka virus ini sangat berbahaya apabila terjangkit wabah ASF, karena dapat menyebabkan kematian (mortalitas) 100%. Seluruh babi dalam suatu kandang atau wilayah akan mati secara keseluruhan. Selain kematian yang sangat tinggi juga akan kehilangan sumber protein dan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak dan masyarakat.

Berdasarkan kompleksitas susunan DNA dan protein virus ASF, sifat penyakitnya menyebabkan kematian sangat tinggi (mortalitas 100%), belum ditemukannya obat (vaksin) yang efektif dan aman, maka pemerintah harus menjaga secara ketat masuknya penyakit ini ke dalam wilayah Indonesia. Penting untuk diperhatikan bahwa penularan penyakit ini tidak bisa dicegah, karena hal tersebut menyebabkan tidak ada negara yang kebal terhadap penyakit ASF. Negara maju pun seperti Amerika dan negara-negara lain di Eropa dapat tertular penyakit ini walaupun telah melakukan biosekuriti. Apalagi di negara berkembang seperti Indonesia dan Asia pada umumnya, dimana peternaknya belum disiplin dalam menerapkan biosekuriti. Satu-satunya cara untuk mengeliminasi virus ASF melalui depopulasi dengan cara penguburan dan desinfeksi kandang serta peralatannya. ***

Oleh: Dr med vet Drh Abdul Rahman
Medik Veteriner Ahli Madya di P3H Direktorat Kesehatan Hewan

KEMENTAN DORONG PELAKSANAAN UJI ZURIAT BIBIT SAPI PERAH

Usaha peternakan sapi perah 


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya meningkatkan produksi ternak sapi perah secara nasional melalui peningkatan jumlah dan perbaikan mutu bibit sapi perah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan jumlah dan mutu ternak sapi perah yang unggul dan bermutu tinggi, dengan pelaksanaan uji zuriat untuk memilih ternak bibit sapi perah.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, menilai usaha peternakan sapi perah dapat ditingkatkan melalui penyedian bibit sapi perah dan jantan yang berkualitas. Harapannya, bisa mendorong peternak menghasilkan susu dengan kualitas yang lebih baik.

“Karena di saat pandemi COVID-19 ini, masyarakat sangat sadar dan memahami pentingnya konsumsi susu dengan berbagai macam jenis olahannya seperti keju dan mentega yang sering menjadi bahan utama beragam makanan untuk meningkatkan imunitas tubuh dan meminimalisir potensi terinfeksi penyakit,” kata Ketut dalam siaran persnya, Sabtu (27/6).

Ketut menambahkan berdasarkan  data statistik peternakan dan kesehatan hewan tahun 2019, populasi sapi perah nasional sebanyak 561.061 ekor dengan kebutuhan jumlah kebutuhan susu nasional tahun 2019 mencapai 4.332.880 ton.  Sementara produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) sebanyak 996.442 ton atau hanya mampu memenuhi 22 persen dari kebutuhan nasional.

Untuk itu, Kementan ingin menyeimbangkan antara kebutuhan dan produksi tersebut. Melalui Ditjen PKH, Kementan berupaya mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh peternak rakyat dengan meningkatkan populasi sapi perah dan peningkatan mutu genetik sapi perah.

Pada tahun 2020 ini, fokus kegiatan Kementan dalam peningkatan populasi sapi perah ini dilakukan melalui program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan). Selain itu, pemasukan bibit sapi perah untuk replacement induk juga dilakukan.

Sedangkan dalam hal peningkatan mutu genetik, langkah yang diambil adalah melalui program uji zuriat sapi perah nasional. Ketut menjelaskan, uji zuriat merupakan pengujian untuk mengetahui potensi genetik produksi susu sapi calon pejantan melalui produksi susu anak betinanya (Daughter Cow/DC) dan dilakukan untuk menghasilkan bibit pejantan unggul yang cocok dengan kondisi agroklimat Indonesia.

“Besarnya potensi peningkatan mutu genetik sapi perah di masyarakat ini menjadi salah satu tujuan kegiatan uji zuriat sapi perah nasional. Dan kami berharap meningkatnya produksi susu di masyarakat akan mendorong peningkatan produksi secara nasional," papar Ketut.

Pelaksanaan Kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah Nasional

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat Sapi Perah periode tahun 2011-2019, Ditjen PKH Kementan juga telah melibatkan stakeholder melalui bentuk kerja sama. Lewat kerja sama tersebut, menghasilkan 14 ekor pejantan unggul sapi perah hasil Uji Zuriat yaitu Bullionary, Farrel, Filmore, Formery, Flaunt, Florean, Fokker, Hostromsy, Goldsy, Perfentvil, Fortuner, SG. Gabe, SG. Bolton dan Aris.

Sugiono melanjutkan, keempat belas pejantan unggul hasil uji zuriat ini memiliki rataan produksi susu per hari sebanyak 16,77 kilogram (kg) per hari dengan dua kali pemerahan dan nilai persentase dari contemporary comparison/Relative Breeding Value-nya sebesar 112,75 persen. Dari nilai rataan produksi susu ini, menurut Sugiono, akan sangat berarti bagi peternak, karena dengan manajemen pemeliharaan sederhana peternak bisa memperoleh produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan sapi betina yang bukan dari keturunan hasil uji zuriat.

“Pendekatan melalui peningkatan mutu genetik ini lebih terasa manfaatnya pada peternak rakyat yang memiliki kepemilikan sapi perah yang terbatas,” jelas Sugiono.

Dari 14 ekor yang telah dilaunching tersebut, 8 ekor pejantan di antaranya adalah dari  Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang. Kemudian selanjutnya pejantan yang termasuk Uji Zuriat Periode III sebanyak 6 ekor, yaitu Glens (314107), Shoty (314108), Dominggo (314111) dari BBIB Singosari.

Di tempat terpisah, Kepala Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, Tri Harsi mengungkapkan, BIB Lembang mempunyai 3 calon pejantan unggul, yaitu Flate, Flanggo, dan Folegan. Ketiga calon pejantan unggul ini, diharapkan bisa dilaunching pada Hasil Uji Zuriat Sapi Perah Nasional pada Tahun 2020 ini.

Tri menyampaikan bahwa produksi semen beku Flate (314113), Flanggo (314115), dan Folegan (314118) sejak mulai diproduksi sampai dengan akhir Mei 2020 berturut- turut sebanyak 93.014 dosis, 75.034 dosis, dan 104.512 dosis. Sedangkan distribusi dari tiga calon pejantan unggul tersebut sampai dengan akhir Mei 2020 berturut-turut sebanyak 3.419 dosis, 3.750 dosis, dan 4.298 dosis.

“Distribusi semen beku calon pejantan unggul tersebut hanya dilakukan pada daerah peserta Uji Zuriat dan untuk keperluan Uji Zuriat," terang Tri.

Lebih lanjut, Tri menjelaskan di tengah pandemi covid-19 di Indonesia, pelaksanaan kegiatan Uji Zuriat baik koordinasi maupun monitoring evaluasi menjadi tantangan untuk dilaksanakan. Namun, ia berharap kegiatan Uji Zuriat pada Tahun 2020 dapat berlanjut sesuai jadwal yang direncanakan untuk melaunching calon pejantan unggul Indonesia. (republika.co.id)
 

KEMENTAN PASTIKAN HEWAN KURBAN ASUH BAGI MASYARAKAT

Pemotongan hewan kurban. (Foto: Humas PKH)

Dalam Upaya penjaminan kesehatan, keamanan dan kelayakan daging pada pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 1441 H, Kementerian Pertanian (Kementan) terus meningkatkan pengawasan teknis kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner hewan kurban.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, Kementan, saat membuka Program Bertani on Cloud Vol. 22 dengan Topik Pelatihan Juru Sembelih Halal, Selasa (30/6).

Menurutnya, dalam proses penyembelihan hewan kurban harus memenuhi dua aspek sekaligus, yakni kehalalan dan kesejahteraan hewan (Kesrawan). Kedua aspek tersebut sejalan dengan persyaratan prinsip dasar penyembelihan sehingga peran juru sembelih menjadi sangat penting dalam memastikan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban agar memenuhi persyaratan syariat Islam.

“Hari Raya Idul Adha sebentar lagi, jadi sangat penting sekali membekali para juru sembelih halal (Juleha) tersebut, apalagi ditengah wabah pandemi COVID-19 dengan memperhatikan  protokol kesehatan,” kata Ketut.

Untuk itu, Kementan telah melakukan serangkaian upaya mulai dari penyediaan regulasi, sosialisasi, pembinaan dan juga akan terlibat dalam pemeriksaan, serta pengawasan daging dan hewan kurban.

“Kementan berkomitmen memastikan bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di Indonesia dapat memenuhi persyaratan teknis dalam rangka menjamin daging kurban yang akan dibagikan kepada masyarakat sesuai kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal  (ASUH),” tegasnya.

Ketut menambahkan, berbagai pelatihan dan sosialisasi tentang pelaksanaan penyembelihan hewan kurban kepada masyarakat sangat penting untuk dilakukan secara massif dalam mengedukasi masyarakat khususnya bagi panitia kurban terkait penanganan hewan kurban, penyembelihan halal dan penanganan daging kurban yang higienis, baik melalui berbagai media secara langsung maupun tidak langsung. 

Terlebih dengan adanya pandemi COVID-19 saat dimana dilakukan pembatasan sosial (social distancing), pelatihan dan sosialisasi memanfaatkan beraneka ragam aplikasi dan sarana multimedia, sehingga informasi yang dibutuhkan masyarakat dapat berjalan efektif dan efisien.

Di Indonesia panduan tentang penyembelihan halal mengacu pada tiga regulasi utama, yaitu: 1) Halal Assurance System (HAS) 23103, Guideline of Halal Assurance System Criteria on Slaughterhouses. 2) Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) No. 196/2014 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok Jasa Penunjang Peternakan Bidang Penyembelihan Hewan Halal. 3) Standar Nasional Indonesia (SNI) 99002:2016 tentang Pemotongan Halal pada Unggas.

Direktur Kesehatan Masayarakat Veteriner, Syamsul Ma’arif menjelaskan titik kritis yang dapat menyebabkan daging menjadi tidak halal adalah cara penyembelihan hewan yang tidak sesuai dengan syariah agama Islam. Proses penyembelihan harus cepat, sekali ayun dan memotong tiga saluran, yaitu hulqum, mar’i dan wadjadain atau saluran napas (trachea), saluran makan (esofagus) dan pembuluh darah kiri dan kanan yang ada dibagian leher (arteri carotis comunis).

Selain itu, Syamsul juga menambahkan persyaratan prinsip dasar penyembelihan harus dilakukan, yakni penanganan ternak yang baik, penggunaan pisau yang tajam, teknik penyembelihan yang cepat dan tepat, satu kali penyembelihan sehingga tidak menginduksi kesakitan yang berlebihan, pengeluaran darah yang tuntas, serta kematian yang sempurna. (INF)

SATWA HARAPAN, BISNIS EFISIEN YANG MENJANJIKAN

Ulat hongkong, satwa harapan yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan. (Foto: Ist)

Ternak konvensional yang ada saat ini seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, babi, hanya sebagian kecil dari sumber daya hayati fauna yang ada. Masih ada banyak satwa lain yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber protein bagi manusia, baik dari mamalia, burung, reptilia, avertebrata maupun serangga.

Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Asnasth M. Fuah dalam presentasinya bertajuk “Satwa Harapan Pilihan Usaha Menjanjikan yang Efisien” dalam sebuah  pelatihan melalui online yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB pada Sabtu (27/6/2020). Hadir pula narasumber lain yakni Dr Yuni Cahya Endrawati (Dosen Fapet IPB) dan Koes Hendra Agus Setiawan (Founder PT Sugeng Jaya Group).

Asnath memaparkan, satwa harapan memiliki sejumlah keunggulan yakni efisiensi lahan dan ruang, efisiensi modal, mudah beradaptasi dan ramah lingkungan, relatif tahan penyakit, siklus hidup yang pendek dan nilai ekonomi yang tinggi.

Ia mencontohkan satwa harapan dengan budidaya jangkrik yang memiliki kadar protein 54-58%, kapasitas produksi telur pada luas lahan sekitar kurang dari  100 m2 atau setara dengan 20 kotak pemeliharaan mencapai 6-8kg/hari, dapat dipanen mencapai 200-250 kg/bulan dengan harga jual Rp 30.000-35.000/kg.

Contoh lainnya adalah budidaya lebah madu apis, yang memerlukan kawasan tanaman pakan yang mengandung nektar. Produksi madu 2 kg/stup/periode panen, dalam setahun bisa 3-4 periode panen. “Keunggulan lain budidaya lebah madu apis yakni integrasinya dengan kopi. Meningkatkan produksi madu dan kopi, lebah sebagai polinatornya,” jelas Asnath.

Satwa harapan lain yang berpotensi besar untuk dikembangkan, lanjut dia, antara lain budidaya lebah trigona, ulat hongkong, lebah propolis, ulat sutera bombyx mori, ulat sutera alam Indonesia attacus atlas, ulat sutera alam samia cynthia ricini, semut rangrang dan black soldier flies (BSF).

Agar dapat berkembang secara berkelanjutan, Asnath menegaskan tentang strategi yang dapat dilakukan, yakni adanya ketersediaan pakan dan bibit secara cukup dan berkelanjutan, penguatan kapasitas organisasi, sumber daya manusia dan kemitraan, pembenahan infrastruktur, sistem distribusi dan tata niaga, penguatan teknologi budidaya dan pasca panen, serta dukungan kebijakan menyangkut regulasi tata ruang dan kawasan budidaya. (IN)

STRATEGI PENGGEMUKAN TERNAK MENJELANG IDUL ADHA

Penggemukan ternak jelang hari raya Idul Adha (Foto: Ist)


Penggemukan ternak menjadi perhatian para peternak terutama menjelang momen-momen tertentu seperti Idul Adha. Dalam penggemukan ternak, pemberian pakan yang optimal menjadi kunci utama keberhasilan. Hal tersebut dikupas dalam Obrolan Peternakan edisi ke-3 tanggal 20 Juni 2020 yang merupakan persembahan dari Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Dr Ir Bambang Suwignyo SPt MP IPM ASEAN Eng, salah satu narasumber yang juga Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Kerja Sama Fapet UGM, mengatakan bahwa pelet pakan hijauan dapat menjadi pilihan pakan dengan berbagai keunggulan.

Gulma sebagai sumber bahan pakan utama untuk membuat pelet pakan hijauan adalah jenis bahan pakan yang lebih tahan terhadap situasi ekstrem, yaitu panas dan air yang sedikit (musim kemarau) dibandingkan dengan rumput konvensional sehingga hampir pasti tersedia/tumbuh sepanjang tahun.

Bambang menambahkan, pelet pakan hijauan juga mengandung serat protein kasar tinggi lebih dari 20%, karena campurannya dapat didesain dengan komponen utama yang dominan adalah rumput gulma bernutrisi tinggi. Kadar nutrisinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan pakan. Pada kadar protein kasar yang sama, pelet pakan hijauan lebih murah dibandingkan dengan konsentrat komersial. Pelet pakan hijauan dapat berupa murni hijauan atau dicampur bekatul atau konsentrat.

Pelet hijauan pakan memperkecil peluang pakan tersisa karena ternak tidak dapat memilih. Jika pakan diberikan dalam bentuk hijauan, akan banyak yang tersisa karena ternak memilih yang dimakan. Pakan yang tidak terpilih akan terinjak ternak, bercampur dengan kotoran, dan menumpuk.

Cara pembuatannya pun sangat mudah. Hijauan dicampur dan dimasukkan ke dalam mesin kemudian dikeringkan selama 2—3 hari jika panas terik. Setelah kering, warnanya menjadi hijau kecoklatan. Semakin tinggi kadar konsentrat, warna pelet makin cerah. Setelah itu, pelet paling baik disimpan di dalam drum plastik karena kedap air, kuat, dan ukuran dapat dipilih.

Bentuk pelet juga menjadi kompak tidak voluminous (rowa) sehingga mudah dipacking dan dimobilisasi. Sangat cocok untuk penanganan ternak dalam program rescue, misalnya bencana erupsi Merapi atau Gunung Agung beberapa waktu lalu.

Narasumber lain, Prof Dr Ir Ristianto Utomo SU, dosen di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Fapet UGM mengungkapkan alternatif lain pakan berkualitas adalah pakan komplet fermentasi.

Ini cara pembuatan pakan komplet fermentasi: (1) Hijauan dicacah dan dicampur. (2) Hijauan ditambahkan konsentrat sesuai formula dan diaduk hingga merata. (3) Hijauan dimasukkan dan dipadatkan di dalam drum plastik kemudian diperam sekitar satu minggu. (4) Setelah diperam, pakan siap diberikan kepada ternak.

Pakan komplet fermentasi merupakan hasil fermentasi dari pakan komplet dengan menggunakan mikrobia sebagai inokulan dan molases sebagai substrat. Proses fermentasi dapat menaikkan kecernaan pakan dan meningkatkan kualitas pakan. Selain itu, pakan komplet fermentasi dapat dibuat dalam jumlah yang banyak sehingga peternak memiliki cadangan pakan. Dengan demikian, peternak tidak perlu mencari pakan setiap hari.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Dr Ir Zaenal Bachruddin MSc IPU ASEAN Eng, dosen di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fapet UGM yang menjadi inventor dan pengembangan bakteri asam laktat, memaparkan tidak hanya secara ilmiah, namun juga pengalamannya mengimplementasikan hebatnya mikrobia ke dalam ternak domba.  

Bisnis pakan dengan konsep ada peran serta mikrobia ini dapat menjadi bisnis yang menjanjikan. Sementara itu sebagai pakan ternak, keberadaan mikrobia dalam pakan sangat menunjang kinerja produktivitas ternak. (Rilis/INF)  

WEBINAR UNSOED: PROSPEK PETERNAKAN DI ERA NORMAL BARU PASCA PANDEMI COVID 19


Sukses di pagelaran Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 6 (STAP-VI) tahun lalu, tahun ini, tepatnya Sabtu (27/06/2020), Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman kembali menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi dan Agribisnis Peternakan Seri 7 (STAP-VII). Kali ini, Panitia Pelaksana melibatkan Universitas Papua, Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) Bogor, Jurnal Animal Production, JIPVET untuk E-Prosiding, Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), dengan Majalah Infovet sebagai official Media Partner-nya serta didukung oleh kafapet-unsoed.com . Webinar ini dilaksanakan melalui aplikasi zoom dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Panitia Pelaksana (http://s.id/livestap7) diikuti oleh 250 orang peserta dari 76 institusi di seluruh Indonesia, mulai dari kalangan dosen, peneliti, praktisi dan mahasiswa.

Panitia Pelaksana Dr. Ir. Agustinah Setyaningrum, M.P., dalam sambutannya menyebutkan bahwa webinar ini diselenggarakan sebagai media penyebaran berbagai hasil penelitian dari para peneliti bidang peternakan di seluruh Indonesia dan dapat dijadikan sebagai ajang pertukaran informasi antar peserta mengenai topik-topik penelitian yang ditekuninya. “Sama dengan penyelenggaraan tahun lalu, tahun ini meskipun dilaksanakan dalam jaringan (daring), Panitia Pelaksana tetap membuat kelompok diskusi secara acak dengan harapan terjadi pertukaran keilmuan, pemikiran dan wacana yang lebih luas di antara peserta diskusi,” kata Panitia Pelaksana.

Prof Dr Ir Ismoyowati, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman yang menyambut dan membuka webinar ini berharap agar musibah pandemi COVID-19 tidak dijadikan sebagai alasan untuk tidak berkarya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dosen, peneliti dan mahasiswa. “Kami memberikan ruang untuk berdiskusi terkait bagaimana prospek ke depan dunia peternakan kita, karena semua kita paham bahwa produk ternak adalah pangan yang sarat dengan zat gizi yang dibutuhkan tubuh manusia untuk proses tumbuh kembang,” kata Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman.

Di webinar STAP-7 ini, Panitia Pelaksana menghadirkan pembicara utama, yaitu Prof Dr Ir Budi Santoso dari Universitas Papua yang berbicara tentang "Prospek Pengembangan Sapi Potong di Era Normal Baru Pascapandemi COVID-19". Kemudian, Prof. Dr. Ir. Ismoyowati Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman menghantarkan materi "Potensi Telur Sebagai Immunomodulatory Food di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19". Lalu, Dr Ir Bess Triesnamurti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor memaparkan materi terkait dengan "Pemuliaan Ternak di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19", sedangkan Ir Bambang Suharno Pimpinan Redaksi Majalah Infovet membahas tentang "Prospek Peternakan di Era Normal Baru Pasca Pandemi COVID-19" dari sudut pandang media.

Terkait dengan prospek peternakan di era normal baru, para narasumber sepakat bahwa pandemi COVID-19 dan era baru sedikit banyak telah mengubah tatanan sosial dan dampaknya dapat dirasakan dari semua lini kehidupan, terutama yang berhubungan dengan ekonomi masyarakat, terjadi penurunan karena dampak pemutusan hubungan kerja dan lainnya. Hal ini secara tidak langsung berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat terhadap pangan pokok termasuk pangan dari produk peternakan, yakni daging, susu dan telur. Penurunan daya beli terhadap produk ternak juga berdampak terhadap usaha budidaya, sehingga banyak peternak yang mengeluhkan perihal pandemi COVID-19 dengan beragam aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yang sejatinya aturan tersebut untuk keselamatan manusia itu sendiri. Namun demikian, menurut Prof Dr Ir Ismoyowati, masyarakat harus tetap mengonsumsi pangan bergizi agar dapat meningkatkan imunitas tubuh, salah satunya adalah mengonsumsi telur yang sering disebut sebagai immunomodulatory food.

Hal menarik lainnya dari webinar STAP-VII 2020 ini adalah pandemi COVID-19 disebut telah menumbuhkan gaya hidup baru dalam berbelanja, khususnya untuk produk peternakan melalui platform E-Commerce. “Penjualan daging beku melonjak tajam selama pandemi COVID-19 melalui penjualan online. Diharapkan pasca pandemi kebiasaan belanja daging beku akan berlanjut dan hal ini akan mendorong hilirisasi peternakan dan dapat mengurangi gejolak fluktuasi harga ,” kata Bambang Suharno, Pimpinan Redaksi Majalah Infovet.

Namun demikian Bambang memprediksi, masalah-masalah klasik peternakan seperti konlik tata ruang, konflik usaha skala kecil dan besar dan beberapa masalah lainnya masih akan berlanjut setalah pandemi berakhir. Ia menyarankan pemerintah melakukan perencanaan tata ruang untuk menjamin kepastian berusaha bagi peternak, meningkatkan infrastruktur rantai dingin untuk mengurangi gejolak harga, serta meningkatkan kampanye gizi khususnya ayam dan telur sebagai sumber protein yang berkualitas, produknya melimpah  dan terjangkau harganya.

Webinar STAP-VII ini ditutup setelah pelaksanaan seminar paralel melalui 10 channel yang mengelompok pada  empat bidang ilmu, yakni Teknologi Produksi Ternak, Teknologi Pakan dan Nutrisi Ternak, Teknologi Preservasi dan Pengolahan Hasil Ternak serta Sosial Ekonomi dan Agribisnis Peternakan. (Sadarman).

MEMBANGKITKAN UNGGAS LOKAL INDONESIA

Ternak ayam lokal Indonesia (Foto: Ist)

Di tengah pandemi COVID-19, sangat penting adanya pemenuhan protein hewani sebagai asupan gizi bagi tubuh agar terbangun sistem imun yang kuat dalam menangkal penyakit. Pemenuhan protein hewani tersebut bisa dipenuhi melalui unggas lokal Indonesia yang diharapkan bisa bangkit dan menjadi industri perunggasan yang lebih luas.

Hal tersebut mengemuka dalam seminar online Indonesia Livestock Club edisi kedua yang diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) bekerja sama dengan Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) dan Gabungan Pembibitan Ayam Lokal Indonesia (Gapali), Sabtu (27/6/2020).

Hadir sebagai pembicara, Ketua Gapali, Bambang Krista, yang memaparkan mengenai “Tantangan Pembibitan Ayam Lokal dan Alternatif Solusinya” mengatakan bahwa untuk menyentuh industrialisasi unggas lokal dibutuhkan roadmap, diantaranya strategi dalam pengendalian penyakit pada unggas lokal, menciptakan satu iklim usaha sehingga breeder daerah bisa berkembang dan peternak mudah mendapatkan bibit berkualitas dengan harga kompetitif.

“Bisnis ayam lokal/kampung boleh, tapi jangan kampungan. Ini saatnya ayam lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata Bambang. Belakangan ini kebutuhan pasar nasional ayam lokal/kampung terus meningkat.

Ia pun berharap, pemerintah tetap mengoptimalkan fungsinya sebagai instansi terkait untuk menghasilkan galur ayam lokal yang berkualitas. “Sementara peran swasta melalukan pengembangan dan memperbanyak galur yang dihasilkan itu,” ucapnya.

Galur ayam lokal Indonesia pun telah banyak dikembangkan oleh pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Peneliti Senior Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Prof Sofjan Iskandar, yang membahas materi mengenai “Otentifikasi dan Sertifikasi Unggas Lokal Indonesia”.

“Di Balitnak kita banyak menciptakan galur murni. Penetapan galur ini untuk otentifikasi unggas lokal di masing-masing daerah. Hal ini juga diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian No. 117/2014 tentang Penetapan dan Pelepasan Rumpun atau Galur Hewan,” ujarnya.

Hal ini dilakukan untuk memberikan pengakuan pemerintah terhadap rumpun atau galur hewan yang ada di suatu wilayah sumber bibit dan penghargaan negara terhadap galur baru hasil pemuliaan yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat. Agar terdapat perlindungan hukum dan menjamin kelestarian serta pemanfaatan unggas lokal bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Prof Sofjan pun memberikan beberapa contoh unggas lokal yang sudah ditetapkan rumpun atau galurnya, diantaranya ayam Sentul, ayam Pelung, itik Alabimaster maupun ayam KUB dan lain sebagainya. Kesemua galur tersebut memiliki ciri khas dan kemampuan produksi baik telur maupun daging yang sangat baik.

Seminar yang dihadiri sekitar 270 orang peserta dari berbagai profesi ini juga menghadirkan Ahli Genetika Unggas Fakultas Peternakan Unpad, Dr agr Ir Asep Anang, yang memberikan pembahasan mengenai “Teknik Merekayasa Ayam Pribumi (Lokal) Unggul (Pendekatan Industri). (RBS)

WASPADA LEUCOCYTOZOONOSIS PADA AYAM

Kejadian Leucocytozoonosis di lapangan masih cukup merepotkan di peternakan ayam. (Foto: Istimewa)

Apa itu Leucocytozoonosis? Leucocytozoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit darah Leucocytozoon sp, yang tergolong dalam famili Plasmodiidae. Di lapangan kejadian kasus sering dikelirukan dengan malaria unggas oleh infeksi Plasmodium sp, karena memang masih satu famili Plasmodiidae dan adanya kemiripan gejala klinis dari keduanya.

Siklus hidup Leucocytozoon meliputi fertilisasi dan perkembangan seksual terjadi di dalam tubuh insekta, sedangkan multiplikasi aseksual terjadi di dalam sel-sel jaringan hospes, yaitu fase skisogoni pada paru-paru, hati, jantung, usus, limpa dan ginjal, serta fase gametogoni terjadi di dalam eritrosit atau leukosit.

Penularan Leucocytozoonosis terjadi melalui gigitan insekta penghisap darah seperti Simulium sp (lalat hitam), Culicoides sp (agas) dan Ornithonyssus sp (tungau) yang bertindak sebagai vektor atau hewan perantara yang menyebarkan penyakit dari hewan sakit ke hewan yang sehat, dari satu lokasi peternakan ke lokasi peternakan lainnya.

Meskipun vektor insekta hanya bersifat infektif selama 18 hari, namun letupan kasus penyakit di lapangan berlangsung terus selama musim serangga. Hal ini disebabkan oleh generasi penerus insekta tersebut berkembang pesat dan menggigit unggas-unggas carrier, sehingga siklus kejadian penyakit seakan tidak pernah berhenti.

Gejala klinis bervariasi, dipengaruhi umur, jenis hewan dan kondisi hewan itu sendiri (umumnya usia > 3 minggu). Gejala klinis yang umumnya terlihat adalah penurunan nafsu makan, demam, haus, depresi, bulu kusam, kemudian pial dan jengger pucat.

Kejadian penyakit dapat berlangsung cepat dengan angka kematian bervariasi dari 10-80%.  Pada kasus akut, mortalitas dapat mencapai 80%, proses penyakit berlangsung cepat dan mendadak, dengan gejala demam, anemia, kelemahan umum, kehilangan nafsu makan, tidak aktif, lumpuh dan terjadi kematian. Ayam dapat mengalami muntah, mengeluarkan feses/kotoran berwarna hijau dan mati akibat perdarahan.

Perubahan patologi paling menonjol adalah ditemukan adanyanya perdarahan titik atau petechiae dengan ukuran yang bervariasi pada kulit, jaringan subkutan, otot dan berbagai organ lain, misalnya ginjal, hati, paru-paru, usus, limpa, timus, pankreas  dan bursa fabricius. Organ hati dan ginjal biasanya membengkak dan berwarna merah kehitaman.

Ornithonyssus sp bertindak sebagai salah satu vektor atau hewan perantara penyebar penyakit pada ayam. (Sumber: veterinaryparasitology.com)

Pengendalian dan Pencegahan
Pengendalian dan pencegahan adalah dengan tindakan paling efektif dengan cara menekan atau mengeliminasi hewan perantara (insekta) dan burung liar sebagai carrier, guna memutus siklus kejadian penyakit yang berulang di lokasi tersebut... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020) (AHD-MAS)

SERTIFIKASI NKV : WAJIB HUKUMNYA BAGI UNIT USAHA PETERNAKAN DAN PENGOLAHAN HASIL TERNAK

Kementan melalui Ditjennakkeswan akan menggalakkan sertifikasi NKV untuk unit usaha peternakan

Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Veteriner, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan sosialisasi Permentan No.11 tahun 2020 mengenai Nomor Kontrol Veteriner, melalui daring pada Selasa 23 Juni 2020 yang lalu. 

Permentan ini merupakan pembaruan dari Permentan No. 381 Tahun 2005 tentang Pedoman Sertifikasi Kontrol Veteriner Unit Usaha Pangan Asal Hewan. Aturan tersebut dikeluarkan untuk melengkapi peraturan yang telah ada sebelumnya. Misalnya hal seperti penandatangan NKV dilakukan oleh Pejabat Otoritas Veteriner, penambahan jenis unit usaha produk hewan baik pangan maupun non pangan menjadi 21, persyaratan dan pengangkatan auditor NKV oleh Gubernur, serta peraturan sanksi terhadap pelaku unit usaha produk hewan.

Dalam peraturan tersebut juga diatur bahwa masa berlaku NKV dibatasi menjadi hanya 5 tahun dan setelah itu harus disertifikasi ulang. Hal itu disampaikan oleh ujar Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, kata Drh Ira Firgorita dalam paparannya.

Ira juga menjelaskan mengenai ekanisme sertifikasi NKV untuk unit usaha produk hewan dimulai dari mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Provinsi. Jika lengkap, kemudian permohonan dilimpahkan ke Tim Auditor yang ditugaskan oleh Pejabat Otoritas Veteriner Provinsi, lalu dilakukan proses audit.

Dalam peraturan tersebut juga disebutkan bahwa sertifikat NKV juga wajib dimiliki oleh, rumah potong hewan ruminansia, babi dan unggas. Lalu, sarang burung walet, baik rumah, pencucian, pengumpulan atau pengolahan.

Di sektor hulu, usaha budidaya sapi perah dan unggas petelur juga diwajibkan memiliki sertifikat NKV. Hal itu disebabkan karena unit usaha tersebut langsung menghasilkan produk yang bisa langsung dkonsumsi manusia. Tidak luput juga sertifikat NKV harus dimiliki oleh unit pengolahan produk pangan asal hewan seperti susu, daging telur dan madu. Selain itu, unit usaha pengolahan hewan non pangan misalnya usaha garmen (jaket kulit) juga wajib memiliki sertifikat NKV.

Drh Syamsul Ma'arif selaku Dirketur Kesmavet, Ditjennakkeswan menambahkan, penegakan persyaratan NKV ini akan dilaksanakan secara bertahap dan memiliki skala prioritas. Dalam hal ini, yang diprioritaskan terlebih dahulu yaitu, produsen, unit usaha atau perusahaan yang berskala bisnis dan melayani kebutuhan untuk publik.

Dirinya juga mengutarakan beberapa hal yang sifatnya perlu dan akan segera ditindaklanjuti agar pelayanan kepada masyarakat khususnya audit dalam rangka sertifikasi NKV tidak terhambat.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin dalam melayani masyarakat, jika ada yang perlu ditindaklanjuti secara cepat, maka akan segera kami lakukan. Ini agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu dan terhambat,” tutup Syamsul.

PEMBERIAN PENGHARGAAN UNTUK KELOMPOK PETERNAK SAPI BX

Serah terima penghargaan sapi BX (Foto: Ist)

“Terima kasih ISPI atas penghargaan yang kami peroleh.” Ucapan rasa syukur dan senang ini diungkapkan  perwakilan Kelompok Cadas Sari, salah satu penerima penghargaan sapi BX. Serah terima penghargaan ini diselenggarakan di Di Desa Cipongkor KBB, Rabu (23/6/2020). 

Acara ini merupakan buah hasil dari pendampingan yang dilakukan Program Manager Unit (PMU) provinsi Jawa Barat dan satgas di tingkat kabupaten, serta anggota PC ISPI Jabar-1 yang ditunjuk oleh PB ISPI untuk melakukan pendampingan peternak pada Desember 2019 lalu.

Pendampingan ini fokus terhadap tiga kelompok diantaranya Kelompok Mekarmulya KBB, Cadas Sari Subang dan Mekarjaya Sumedang secara intensif selama 6 bulan.

“Penghargaan 1 ekor pedet betina, prestasinya mencapai 80% BH bunting sapi BX-nya. Satu kelompok lainnya dari KBB kelompok Mekar Mulya 73,3% betina BX yang bunting juga mendapatkan 1 ekor pedet betina,” kata Rochadi Tawaf, selaku pembimbing dari PMU dan penggiat Improvement Program Productive Female Cattle (I2PFC).

Dalam keterangan resminya, PMU menjalin kerjasama dengan Balai Pelatihan DKPP Cikole Lembang dan Fapet Unpad untuk melatih 24 anggota kelompok Peternak pada tanggal 4 dan 5 Februari 2020. Materi pokok antara lain mengenai biotek pakan, manajemen reproduksi, manajemen pengelolaan usaha, pengelolaan limbah dan organisasi kelompok. (NDV)

HALALBIHALAL FORMAT: INDUSTRI PETERNAKAN HADAPI ERA NEW NORMAL

Peternakan ayam broiler. (Foto: Infovet/Ridwan)

Selasa (23/6/2020), Forum Media Peternakan (FORMAT) sukses menyelenggarakan Halalbihalal Asosiasi Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dilaksanakan secara virtual dengan mengusung tema “Persiapan Masyarakat Peternakan dan Kesehatan Hewan Menghadapi Era New Normal”.

Kegiatan yang dimulai pukul 09:30 WIB ini dihadiri Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, yang menjadi pembuka acara. Dalam sambutannya, Ketut menyampaikan bahwa di era kenormalan baru ini, pemerintah terus berupaya membantu para peternak agar tidak mendapat kesulitan.

“Karena masih banyak kendala diantaranya biaya produksi yang masih tinggi, tetapi kami akan terus bekerja melayani peternak,” kata Ketut.

Ia pun mengimbau, diperlukan sikap bekerja yang sepenuh hati khususnya dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini. “Untuk menghadapi pandemi diperlukan sikap bekerja sepenuh hati untuk menjawab tantangan di industri peternakan,” tegasnya.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B. Utomo. Menurutnya, dalam menyikapi pandemi di era kenormalan baru diperlukan perubahan pola produksi dan pemasaran melalui online. Dalam arti penggunaan teknologi harus lebih ditingkatkan lagi.

Hal tersebut juga ditekankan oleh Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Eddy Wahyudin. Keduanya menyatakan diperlukannya penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam bisnis perunggasan.

“Pandemi ini adalah transisi pengelolaan, pengelolaan secara manual menjadi digital dan pengelolaan secara tradisional ke teknologi,” kata Eddy.

Sebab di saat COVID-19 mewabah, kebutuhan akan protein hewani yang mudah diperoleh yakni daging dan telur ayam sangat diperlukan masyarakat untuk meningkatkan sistem imun tubuh. Selain itu, bisnis ini pun telah mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. (INF)

INI SYARAT KEHALALAN PRODUK HASIL UNGGAS

Ilustrasi daging ayam. (Foto: Ist)

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim telah mewajibkan sertifikasi halal atas produk pangan yang beredar di masyarakat, sesuai UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Berdasar hal itu, maka produk hasil unggas baik daging, telur, beserta olahannya yang beredar di masyarakat harus memiliki sertifikat halal sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk produk unggas tersebut, para ulama bahkan juga telah menegaskan bahwa meski ternak unggas adalah halal (lidzaatihi), namun produk (daging) unggas tidak serta-merta identik dengan produk yang halal untuk dikonsumsi. Hal itu dijelaskan oleh Direktur Halal Science Center (HRC) Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Nanung Danar Dono PhD, dalam Indonesia Livestock Club (ILC) yang mengambil tema “Menjaga Kehalalan Produk Hasil Unggas” pada Sabtu (20/6/2020). 

Acara diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) bekerja sama dengan Indonesia Livestock Alliance (ILA), Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM dan Fakultas Industri Halal Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, melalui daring. Diskusi menghadirkan narasumber penting lain, yakni tenaga ahli LPPOM MUI, Dr Henny Nuraeni MSi dan Dosen Fakultas Industri Halal UNU Yogyakarta, Meita Puspa Dewi SPt MSc.

Nanung menjelaskan, daging ayam bisa menjadi haram jika tidak disembelih secara syar’i. “Daging unggas yang tidak disembelih secara syar’i hukumnya haram, begitu pula jika tercemar bahan haram lainnya ketika diolah jadi masakan,” katanya.

Lebih jauh Staf Pengajar Fakultas Peternakan UGM tersebut menguraikan tentang ayam yang disembelih tidak secara syar'i, antara lain pada saat disembelih unggas sudah dalam kondisi mati, atau pada saat disembelih tidak dibacakan Basmallah, kemudian penyembelihan menggunakan pisau yang tidak tajam, penyembelihan terlalu sempit sehingga tidak memutus tiga saluran di leher bagian depan, unggas belum mati namun tergesa-gesa ditenggelamkan di air panas dan dimasukkan di tong pencabutan bulu, atau unggas mati bukan karena disembelih namun karena kesakitan yang luar biasa. (IN)

MINIMALKAN STRES TERNAK SAAT TRANSPORTASI, TERAPKAN PRINSIP KESRAWAN

Untuk meminimalkan stres pada saat transportasi ternak, maka sangat dibutuhkan penerapan kesejahteraan hewan (Kesrawan/animal welfare). (Foto: Ist)

Proses transportasi ternak menjadi aktivitas yang rentan terhadap tekanan atau stres pada ternak yang diangkut. Faktor-faktor yang berkontribusi pada stres ternak saat transportasi diantaranaya yakni usia ternak, jenis kelamin, jenis ternak, status fisiologi dan adanya pengalaman sebelumnya.

“Stres pada ternak selama transportasi terbagi dalam dua kategori, yakni stres fisiologi dan stres fisik. Stres fisiologi misalnya kekangan, handling atau penanganan dan lingkungan baru. Sedangkan stres fisik antara lain lapar, haus, lelah, cedera dan panas,” kata Muhamad Baihaqi selaku pakar bidang produksi ternak ruminansia kecil, Fakultas Peternakan IPB, dalam Online Training bertema “Logistik Ruminansia Kecil (Domba/Kambing)” pada 19-20 Juni 2020.

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB tersebut juga menghadirkan narasumber penting lain, yakni Business Owner Mitra Tani Farm, Budi Susilo.

Untuk meminimalkan stres pada saat transportasi ternak, maka sangat dibutuhkan penerapan kesejahteraan hewan (Kesrawan/animal welfare). Baihaqi menjelaskan, yang dimaksud dengan Kesrawan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Ia menandaskan, prinsip kebebasan hewan pada pengangkutan atau transportasi dilaksanakan sesuai dengan regulasi pemerintah, yakni PP No. 95/2012, harus dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti, melukai dan/atau mengakibatkan stres, menggunakan alat angkut yang layak, bersih, sesuai dengan kapasitas alat angkut. Kemudian tidak menyakiti, tidak melukai, dan/atau tidak mengakibatkan stres, serta memberikan pakan dan minum yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak. (IN)

SILATURAHMI GOPAN DENGAN STAKEHOLDER PERUNGGASAN



Tepat pada hari Kamis, 18 Juni 2020 Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menggelar silaturahmi melalui daring zoom dengan para stakeholder di dunia perunggasan. Setya Winarno selaku ketua panitia membuka acara dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta. Ia mengutarakan tujuannya bahwa acara tersebut digagas selain untuk menjalin silaturahmi juga sebagai wadah “curhat” bagi para stakeholder dalam mempersiapkan perunggasan menghadapi new normal.


Hal senada juga diungkapkan oleh Herry Dermawan ketua umum GOPAN, ia mengatakan bahwa sektor perunggasan termasuk sektor yang terdampak oleh wabah covid-19. Selama ini dirinya mengaku banyak diajak rapat dan diskusi untuk menormalkan kondisi.

“kalau menurut saya, sebaiknya sektor pakan yang harus diberesin duluan, terutama stok jagung. menurunkan harga jagung gimana kalau enggak dengan impor?. Kalau impor kan katanya petani jagung rugi, BPS diminta survey petani jagung, ruginya berapa?, kita harus cari selanya supaya petani engak rugi, peternak juga untung. Saya juga sudah 20 hari setelah melaporkan belum ada follow up dari BPS, padahal ini penting lho,” tukas Herry.

Tanggapan juga datang dari Drh Syamsul Maarif, Direktur Kesmavet Ditjen PKH. Menurut dia perunggasan dalam negeri harus kompak karena musuh sebenarnya berasal dari luar.

“Negara yang mau memasukkan produk ke indonesia sudah ada antre ada 14 negara, kita harus menata perunggasan kita. Masalahnya persyaratan dalam negeri sama dengan persyaratan internasional. Kalau kita mempersyaratkan suatu negara kita juga harus ikut standar yang ditetapkan untuk negara lain. Oleh karenanya peternak mandiri juga harus maju,” tutur Syamsul.

Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo juga tidak mau ketinggalan untuk mengutarakan unek-uneknya. Desianto bilang dalam kondisi tejrepit seperti ini (Covid-19), isu gotong royong muncul, seharusnya stakeholder perunggasan kompak dan solid satu suara melawan importasi daging dan produk dari negara lain sejak dulu.

Menyangkut pakan, Desianto berkata bahwa 91 pabrik anggota GPMT 90% menghasilkan pakan unggas, sehingga bila importasi produk dari negara lain terjadi, sektor pakan juga pasti akan merugi. ia mengamini Herry yang mengatakan kalau harga jagung bisa ditekan di kisaran harga 2 – 4 ribu, dan waktu impornya tepat (tidak saat panen raya), maka bisa terjadi win win solution, petani untung, peternak untuk, produsen pakan juga untung.

“Perlu diketahui juga bahwa raw material pakan ada dua yakni lokal dan impor, produk lokal harusnya lebih banyak dipakai, saya setuju. Yang impor misalnya Soy bean meal itu dipakai kira - kira 4,5 – 5 juta pertahun. Enggak ada pilihan lain, memang kedelai kita produksinya saja kurang, jadi ya kita (GPMT) hanya bisa mengontrol yang hanya bisa dikontrol saja,” tutur Desianto.

Dalam diskusi juga membahas topik yang menarik misalnya saja kementan yang menantang produsen pakan untum memproduksi pakan generik kepada GPMT.

“Bisa diterima nggak performa nya?,kita bisa saja bikin itu, sekarang peternak mau apa tidak pakai itu?. Seharusnya patokan peternak juga sekarang jangan best perofrmance tapi best profit, asalkan feed cost bisa ditekan, panen mundur 1 – 2 hari tapi terjadi minimze cost production, kan untung juga. Kalau perlu dilakukan penghematan juga di sektor lain,”kata Desianto.

Sementara itu menurut Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI. Para stakeholder juga harus satu interpretasi terkait wacana new normal, agar semuanya dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru.

“Intinya kita enggak lepas dari manusia yang bekerja, intinya bagaimana melakukan perubahan perilaku. protein ini hewani penting supaya imunitas makin kuat dan badan tetap sehat, kalau kita rukun dan bisa berkampanye dalam menyuarakan konsumsi protein hewani ini akan lebih baik lagi. Terlebih lagi new normal gizi harus seimbang dan tercukupi,” tutur Irawati.

Ia juga meminta maaf atas keterbatasan tim teknis kesehatan hewan dari perusahaan obat hewan akibat kesulitan menjangkau peternak karena wabah covid-19. Tidak lupa ia mengingatkan para peternak bahwa nanti per 1 Juli 2020, antibiotik dengan bahan aktif colistin dilarang untuk digunakan di peternakan.

Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) melalui Ketua Umumnya Tommy Koencoro mengatakan bahwa bisnis RPA juga terkena dampak dari wabah Covid-19. ARPHUIN mengestimasi bahwa setiap tahun mereka menyerap 20% produksi ayam nasional.

Kini yang menjadi masalah adalah dari 5 tahun yang lalu sampai sekarang jumlah anggota mereka tidak megalami kenaikan dengan angka yang signifikan.

“Padahal syaratnya jadi anggota cuma punya NKV, tapi enggak ada yang mau daftar. Ketika harga murah masih bisa belanja ayam, broker nimbun ayam. Sekarang broker enggak kuat beli, masuk ke kita mahal juga, ya rugilah kita kalau kita jual terlalu mahal, masyarakat sedang cekak kantongnya,” tukas Tommy.

Lebih lanjut menurut Tommy, terkadang peternak salah paham sewaktu harga ayam hidup tinggi. Padahal ARPHUIN bisa menjadi buffer pemerintah. Ketika harga karkas naik yang misalnya di pasar dijual dengan harga sampai dengan Rp.40 ribu, ARPHUIN tetap menjual karkas dengan harga Rp. 28 -32 ribu saja.

Tommy berharap wabah ini segera berakhir dan terjadi penambahan jumlah anggota ARHPHUIN kedepannya.

“Omzet turun 40% karena Covid-19, RPA rugi. Kita harusnya bisa melakukan ekspor, ke Cina, Afrika, Arab, dll. masalahnya adalah bahan baku kita lebih mahal. Contoh, HPP kita sekitar Rp. 17 – 18 ribu, tetangga kita di Thailand, mereka HPP ayam di kandang Rp. 14 ribu-an dan karkas mereka laku dijual di angka 1,6 USD perkilogram. Posisi kita berani jual di USD 1,9-2 perkilogram, kemarin saya negosiasi dengan beberapa negara. Ini karena cost di hulu tinggi jadi enggak bisa ekspor juga, kalo harga cukup rendah, kita bisa bersaing di internasional,” kata Tommy.

Permasalahan bibit juga hal yang wajib dibenahi. Menurut Achmad Dawami Ketua Umum GPPU, bibit juga mempengaruhi produksi karena ketersediaannya. Jika bibit dan pakan langka, mau budidaya apa kita?, oleh karenanya Dawami concern dengan hal ini.

Dawami berujar bahwa 70% protein hewani Indonesia berasal dari unggas. Menurut catatannya, frozen food dari sektor perunggasan mengalami kenaikan omzet sejak Covid-19, artinya terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Lihat saja sekarang perkembangan meat shop menjamur. ini pasca Covid-19 enggak ga akan tertinggalkan karena nanti bisa jadi habit. Memotong mata rantai si produk supaya lebih dekat ke end user. Kalau kita baca UU pangan, ini ngeri lho, ketergantungan impor mempengaruhi ketahanan nasional, makanya kita harus bisa memotong rantai distribusi kita . Ketika harga turun, jualan ayam langsung door to door itu bagus,” kata Dawami.

Ia juga mengingatkan bahwasanya kaum milenial juga mempengaruhi pola hidup dan konsumsi.35-36% angkatan kerja kita adalah kamu milinenial, mereka berbeda dengan orang – orang  kalangan tua (old era), mereka sudah terbiasa mengonsumsi frozen food.

Sementara itu menurut Ketua Umum PINSAR yang juga anggota DPR – RI, Singgih Januratmoko yang mendapat bocoran dari BAPPENAS dan Kemenko Perekonomian bahwa ekonomi Indonesia akan berangsur normal tapi paling cepat dalam tempo 4 tahun. (CR)

TATA CARA PENYEMBELIHAN TERNAK KURBAN DI MASA PANDEMI, REKOMENDASI FAPET UGM

Ada kententuan umum dan khusus dalam penyembelihan ternak kurban di masa pandemi (Foto: Ist)


Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan ibadah kurban pada masa pandemi COVID-19, Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menyusun rekomendasi penyembelihan ternak kurban di era COVID-19 dari perspektif ilmu peternakan dan kesehatan umum.

Ir Nanung Danar Dono SPt, MP, PhD, IPM, ASEAN Eng selaku Direktur Pusat Kajian Halal  menyampaikan, rekomendasi ini perlu disusun untuk memberikan acuan bagi para pengurus takmir atau panitia kurban agar ibadah kurban dapat dilaksanakan sesuai kaidah syariat Islam dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Dengan demikian, terhindar dari kemungkinan tertular COVID-19 di tengah kerumunan masa dalam satu lokasi.
Selain itu, rekomendasi ini bertujuan melindungi panitia kurban dan warga masyarakat dari risiko tertular wabah penyakit berbahaya, serta tetap dapat melaksanakan ibadah kurban dengan sempurna sesuai rukun dan syarat ibadah berdasarkan syariat Islam.

Nanung menjelaskan, ada ketentuan umum dan khusus dalam penyembelihan hewan kurban di masa pandemi COVID-19.

Beberapa ketentuan umum yaitu: (1) Penyembelihan ternak kurban hanya dilaksanakan di wilayah yang diyakini aman menurut informasi resmi dari pemerintah. (2) Sebelum memutuskan akan menyelenggarakan penyembelihan ternak kurban di masjid, pengurus takmir hendaknya mengkaji dan mempertimbangkan dengan matang situasi dan kondisi terkini dengan memperhatikan fatwa ulama, ahli kesehatan (dokter), dan instruksi pemerintah. (3) Apabila diketahui di wilayah kecamatan setempat terdapat warga masyarakat yang positif menderita COVID-19, pengurus takmir masjid hendaknya tidak menyelenggarakan kegiatan penyembelihan ternak kurban.

Amanah yang telah dititipkan kepada pengurus takmir dapat disalurkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan melalui lembaga resmi yang amanah, seperti: Badan Amal Zakat Nasional (Baznas), Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Rumah Zakat (RZ), Dompet Duafa Republika, dan lain-lain. (4) Untuk meminimalkan risiko penularan COVID-19, proses penyembelihan sebaiknya dilaksanakan di rumah potong hewan (RPH) resmi milik pemerintah. (5) Apabila tidak memungkinkan disembelih di RPH dan diputuskan ternak akan disembelih di area masjid, hendaknya pengurus takmir/panitia kurban menyiapkan tim jagal (petugas penyembelih) yang memahami syarat sah penyembelihan ternak menurut ketentuan syariat Islam, amanah dengan tugasnya, dan konsisten mengikuti protokol kesehatan.

Adapun ketentuan khusus pelaksanaan kurban adalah pengurus takmir/panitia dapat membantu shohibul kurban menyediakan ternak kurban yang memenuhi syarat syari, yaitu umur kedewasaan hewan dan kesehatannya. 

Sebaiknya shohibul kurban menghindari membeli ternak kurban yang lemah, tidak lincah, terdapat lendir dan atau bercak darah di lubang-lubang di tubuhnya, dan tidak terinfeksi penyakit yang berbahaya, seperti: Anthrax, Aphthae epizooticae (penyakit mulut dan kuku), dll. Nanung menyarankan, ternak kurban dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sebaiknya lebih diprioritaskan untuk dibeli.

Jika diyakini aman, pengurus takmir dapat melaksanakan keseluruhan tata cara penyembelihan ternak kurban dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama, Pengurus takmir menunjuk tim khusus yang bertugas menyiapkan, mengawasi, dan memastikan seluruh panitia kurban dalam keadaan sehat. Panitia dan warga yang sedang sakit tidak diperkenankan hadir di lokasi penyembelihan. Kedua, pengurus takmir membatasi jumlah panitia kurban. Ketiga, pengurus takmir mendisinfeksi lokasi dan peralatan yang akan digunakan.

Keempat, pengurus takmir menyediakan hand sanitizer, air, sabun, masker, pisau penyembelihan (telah terasah sangat tajam), lokasi penyembelihan, tali, plastik alas daging, kaus tangan plastik, dan sebagainya. Penggunaan face shield lebih disarankan. Kelima, seluruh panitia dan warga masyarakat yang terlibat diwajibkan mengikuti protokol kesehatan umum COVID-19 secara konsisten dan penuh kesadaran. Keenam, pemotongan bagian-bagian tubuh ternak serta penimbangan potongan-potongan kecil daging dan tulang dapat dilaksanakan di area masjid dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Dekan Fapet UGM, Prof Dr Ir Ali Agus, DAA, DEA, IPU, ASEAN. Eng berharap semoga rekomendasi ini membantu memperjelas tatacara penyembelihan hewan kurban di masa pandemi COVID-19, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban secara tenang, tertib, dan nyaman, dengan tetap memperhatikan secara seksama dan disiplin protokol kesehatan sebagaimana yang dianjurkan oleh pemerintah. (Rilis/INF)












SEMINAR ONLINE II: PANDEMI VS BIOSEKURITI, PERLU DICERMATI PETERNAK UNGGAS

Seminar Pandemi vs Biosekuriti yang dihadiri oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi bidang peternakan. (Foto: Dok. Infovet)

PT Gallus Indonesia Utama melalui GITA Organizer dan Infovet kembali menyelenggarakan Seminar Online Kedua mengenai “Pandemi vs Biosekuriti pada Peternakan Unggas”. Seminar yang diselenggarakan Kamis (18/6/2020) diikuti oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi peternakan.

Serupa dengan seminar pertamanya, kegiatan yang kedua kalinya ini kembali menghadirkan National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu dan Poultry Technical Consultant, Baskoro Tri Caroko, serta dimoderatori langsung oleh Pemimpin Redaksi Majalah Infovet, Bambang Suharno.

Dalam sesi pertama, Alfred Kompudu menyampaikan mengenai implementasi biosekuriti tiga zona di usaha peternakan unggas. Dalam paparannya, ia memaknai biosekuriti sebagai tindakan atau pengamanan hidup yang perlu dicermati oleh peternak.

“Sebagai pengamanan hidup karena prinsip dari biosekuriti itu sendiri adalah mencegah mikroba masuk, berinteraksi, tumbuh dan berkembang, serta menyebar ke seluruh area kandang. Adapun elemen dari biosekuriti tersebut adalah isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi,” kata Alfred.

Manisfestasi dari biosekuriti dimaksud Alfred adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti tiga zona, yakni dengan cara membagi areal kandang dalam tiga zona, yakni zona merah, kuning dan hijau, dengan tujuan memberi keuntungan pada peternak.

“Keuntungan dari mencegah mikroba menginfeksi unggas, menyaring mikroba hingga tiga lapisan perlakuan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak kandang, memiliki daya saing perunggasan dari sisi kualitas produk yang dihasilkan, menurunkan ancaman resistensi antibiotik (AMR) bagi konsumen dan yang pasti telah sesuai dengan Good Farming Practices,” jelasnya. 

Terkait dengan bagaimana cara mengimplementasikan biosekuriti tiga zona tersebut, dijelaskan Alfred secara rinci, yaitu dimulai dari membuat layout (denah) kandang, penentuan areal mana saja yang dimasukkan ke dalam zona merah (areal kotor), kuning (areal perantara) dan hijau (areal bersih), kemudian membuat daftar risiko dari orang, benda dan hewan (OBH), lalu urutkan daftar risiko tersebut dari yang tertinggi, pikirkan bagaimana pengendalian daftar risiko dapat dilakukan dengan elemen biosekuriti, serta terakhir sosialisasikan dan berkomitmen untuk intens menerapkannya.

“Jika telah diimplementasikan, hal yang perlu dilakukan adalah monitoring dan evaluasi kegiatannya, mulai dari anak kandang, ternak dan produksinya, serta kesehatan dari ternak yang dipelihara,” ucap dia.

Pembicara seminar Baskoro dan Alfred, bersama Moderator Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Sementara pada sesi kedua, Baskoro Tri Caroko menyampaikan hal berkaitan dengan pentingnya disinfeksi pada peternakan unggas. Menurut dia, disinfeksi pada dasarnya adalah kegiatan pembasmian hama. Pelaksanaannya ditujukan untuk menonaktifkan virus dan mikroba lain pada berbagai karakteristik hidup yang dimilikinya.

“Fakta lapangan, vaksinasi saja tidak cukup atau tidak mampu memproteksi unggas hingga 100%, padahal risiko penularan penyakit sangat tinggi dari berbagai macam sumber penularan, sehingga upaya disinfeksi diperlukan agar ayam tetap sehat, serta dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal,” kata Baskoro.

Ia pun mengimbau kepada peternak untuk dapat menerapkan One Health, yakni mengendalikan penyakit lebih dini untuk kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang optimal.

“Implementasinya dapat dilakukan dengan cara menerapkan biosekuriti tiga zona, melakukan disinfeksi dengan baik dan tepat guna, amankan unggas dari sumber penularan penyakit, serta istirahatkan kandang selama 14 hari sebelum diisi kembali,” imbuhnya.

Ia juga mengajak peternak untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit menular di usaha peternakan unggas semasa pandemi COVID-19 melalui penerapan biosekuriti tersebut.

Upgrade manajemen pemeliharaan dan kesehatan, serta lakukan vaksinasi tepat guna, tepat waktu, tepat aplikasi dan terprogram dengan baik,” tandasnya. (Sadarman)

HALALBILAHAL VIA ZOOM ASOSIASI PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN


SOLUSI LOGISTIK JAGUNG UNTUK PAKAN

Sistem logistik jagung sebaiknya dibangun berbasis klaster, yaitu dengan mengelompokkan lokasi produksi jagung dan lokasi pabrik pakan yang berdekatan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Logistik melibatkan kegiatan terkait penyediaan, keamanan, penanganan material, pengangkutan, penyimpanan, pengemasan, distribusi, pemulangan, penggantian dan pembuangan barang. Untuk melakukan hal-hal tersebut, maka diperlukan biaya-biaya, termasuk biaya logistik.

Sistem produksi atau budidaya jagung dan pemanfaatan serta penggunaan jagung bukan bagian dari sistem logistik atau dengan kata lain, di luar masalah logistik. Adapun biaya logistik, merujuk pada biaya sumber daya riil publik dan swasta untuk mengangkut dan memindahkan barang, orang dan informasi dari satu lokasi ke lokasi lain, biasanya dari tempat produksi ke tempat pembelian atau konsumsi. Sedangkan yang dimaksud dengan tataniaga suatu komoditi adalah rantai transaksi atau bertemunya produsen dengan pembeli sampai kepada konsumen akhir.

Hal itu dijelaskan oleh Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan periode 2010-2015, Dr Mursyid Ma'sum, dalam acara seminar online Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) bertajuk “Strategi Ketahanan Pakan Lokal”.

Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (18/6/2020) dibuka secara resmi oleh Ketua Umum AINI, Prof Nahrowi, serta dihadiri narasumber penting lain, yakni Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Luki Abdullah dan Direktur PT Agriniaga Indonesia, Ismunandar.

Mursyid memaparkan, dalam membahas logistik jagung, maka harus dilihat dari perspektif yang lebih luas, yaitu logistik sebagai subsistem dari sistem tata niaga jagung ataupun supply chain jagung. Dengan kata lain, sistem logistik jagung harus “diletakkan” di antara persoalan segmen hulu, yakni petani dan sistem budi daya dan produksinya, serta segmen hilir, yakni industri pakan dan pengguna jagung lainnya. Hal ini untuk memperoleh sistem ataupun model logistik jagung yang holistik dan komprehensif.

“Atau dengan kata lain hal ini untuk menghindari penyelesaian secara parsial persoalan jagung sebagai bahan  pakan,” kata Mursyid sembari menyarankan, sistem logistik jagung sebaiknya dibangun berbasis klaster, yaitu dengan mengelompokkan lokasi produksi jagung dan lokasi pabrik pakan yang berdekatan dalam satu wilayah tertentu.

Dengan pendekatan berbasis klaster tersebut maka sistem logistik jagung akan dapat memperpendek rantai tata niaga antara produsen jagung dan pengguna. Sehingga hal ini dapat mengurangi biaya logistik, biaya transaksi dan illegal cost. Jika hal itu dapat diwujudkan, maka diharapkan dapat terjadi distribusi margin keuntungan yang lebih adil dan proporsional antara produsen, pedagang perantara, agen dan distributor jagung.

“Hal ini penting agar petani terus termotivasi untuk menanam jagung sebagai pilihan utamanya setelah tanaman padi,” pungkasnya. (IN)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer