-->

SOSIALISASI PENINGKATAN KESADARAN PENATAGUNAAN ANTIMIKROBA

Dirkeswan Nuryani Zainuddin saat memaparkan presentasinya dalam Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Penatagunaan Antimikroba untuk Dokter Hewan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Antimikroba merupakan penemuan besar yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, hewan dan lingkungan. Kendati demikian, antimikroba bagai pedang bermata dua, penggunaannya yang tinggi dan tidak bijak memacu meningkatnya resistansi mikroba atau antimicrobial resistance (AMR).

Data WHO 2014, menunjukkan kejadian AMR sudah merenggut 700 ribu jiwa dan diperkirakan meningkat 10 juta jiwa pada 2050 apabila tidak dikendalikan. Sementara survei AMU 2020, menunjukkan antibiotik enrofloxacine, amoxicillin, colistin, sulfadiazine, trimethoprim, ciprofloxacin dan tylosin masih cukup tinggi digunakan di enam provinsi di Indonesia.

Dari latar belakang tersebut, dilaksanakan Sosialisasi Peningkatan Kesadaran Penatagunaan Antimikroba untuk Dokter Hewan, Selasa (5/10/2021), atas kerja sama Kementerian Pertanian, FAO, USAID dan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI).

Dalam kegiatan tersebut dijelaskan, salah satu dampak residu antibiotik yang tertinggal di bahan pangan asal hewan sangat berbahaya bagi manusia. Hal tersebut bisa mengakibatkan reaksi alergi, toksisitas, memengaruhi flora usus, pengaruh buruk pada respon imun dan resistensi pada mikroorganisme.

“Selain berbahaya bagi kesehatan, residu antibiotik juga berpengaruh terhadap lingkungan dan ekonomi,” papar Prof Ida Tjahajati dari Universitas Gadjah Mada yang menjadi narasumber.

Ida menjelaskan, faktor pendorong terjadinya resistensi antimikroba pada sektor peternakan akibat dari penggunannya yang berlebihan, tidak sesuai dosis dan waktu henti, penerapan sanitasi dan higiene yang buruk, minimnya kesadaran, serta lemahnya kepatuhan dan kontrol penggunaan antimikroba.

Oleh karena itu, kesadaran masyarakat di sektor peternakan dan kesehatan hewan menjadi sangat penting dalam menegakkan penatagunaan antimikroba. Hal itu ditegaskan Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Nuryani Zainuddin.

Ia menjelaskan, tujuan penatagunaan antimikroba adalah untuk mengurangi kerusakan berkelanjutan akibat AMR pada hewan, manusia dan lingkungan, serta mengurangi konsumsi dan biaya antimikroba tanpa meningkatkan mortalitas. “Juga mengoptimalkan biaya perawatan kesehatan pada manusia maupun hewan,” katanya.

Lebih lanjut, adapun strategi penatagunaan antimikroba di bidang peternakan dan kesehatan hewan bisa dilakukan dengan menerapkan good farming practices, biosekuriti, biosafety, vaksinasi dan praktik kedokteran hewan yang baik. Dengan begitu, lanjut dia, bisa dipastikan penggunaan antimikroba dan risiko perpindahan mikroorganisme akan menurun.

“Penting juga untuk melakukan diagnosis tepat terhadap suatu kasus penyakit dan peresepan yang bertanggung jawab dari dokter hewan. Hal ini menjadi pendorong penggunaan antimikroba secara bijak dan bertanggung jawab,” pungkasnya. (RBS)

WEBINAR LAUNCHING SANGROVIT® WS: RESEARCH FOR INTESTINAL INTEGRITY

Sangrovit® WS adalah suplement tambahan yang mengandung komponen aktif dari zat phytogenic Quartenary Benzophenantridine Alkaloid (QBA) dan Protopine Alkaloid (PA) yang secara khusus diolah melalui proses yang telah dipatenkan. Membantu pencapaian feed intake bahkan saat terpapar agen infeksius dan non infeksius dengan menyediakan nutrisi yang membantu meningkatkan sistem pertahanan aktif dan meningkatkan absorbsi asam amino serta memberikan hasil positif pada kesehatan intestinal ternak. Sangrovit® WS dapat menghambat proses radang (anti inflamasi) pada dinding intestinal yang disebabkan oleh patogen, toksin dan antigen lain serta dapat meningkatkan absorbsi asam amino dan menghambat zat pembawa kode radang sehingga mukosa intestinal tetap sehat.

Informasi lebih detailnya, ikuti Webinar Launching Sangrovit WS: Research For Inestestinal Integirity yang akan dilaksanakan pada:

Hari/Tanggal: Selasa, 12 Oktober 2021
Waktu: 14.00 – 17.00 WIB

Speaker:

1. Prof. Dr. drh. C. A. Nidom, MS – Researcher of Prof. Nidom Foundation
2. Dr. Tobias Steiner - Product Management Sangrovit® Phytobiotics

Moderator: Retno Widiastutik - Technical Executive Poultry

Untuk mendapatkan link zooom meetingnya, silahkan untuk mengisi formulir ini: https://bit.ly/LaunchingSangrovitWS

Link Zoom Meeting dan Virtual Background akan didapatkan setelah melakukan registrasi dan mohon selama acara berlangsung agar dapat menggunakan virtual background tersebut.

TELUR CAGE FREE BERSERTIFIKAT PERTAMA DI VIETNAM DILUNCURKAN

Salah satu pemasok dan perusahaan pengolahan telur terbesar di Vietnam selatan, Vinh Thanh Dat (V Food) telah bergabung dengan gerakan global cage free dengan meluncurkan merek telur cage free pertama di negara tersebut.

Dua farm tanpa kandang berlantai satu di provinsi Dong Nai, sekitar 100 km sebelah utara kota Ho Chi Minh, menampung 6.000 ayam dan dapat memproduksi sekitar 1,5 juta telur cage free dalam setahun.

Di farm itu ayam dapat beristirahat di tempat bertengger yang tinggi dan mandi debu di alas sekam padi. V Food adalah produsen dan perusahaan pemrosesan pertama yang mendapatkan label Humane bersertifikat di Vietnam, memenuhi puluhan persyaratan untuk kesehatan, nutrisi, dan pengelolaan ayam cage free di bawah standar Humane Farm Animal Care (HFAC). (via Poultryworld.net)

PELUANG UNTUK EKSPOR AYAM ARGENTINA

Ekspor daging ayam Argentina pada tahun 2022 diproyeksikan meningkat 20% menjadi 180.000 mt. Produsen unggas negara itu mengantisipasi peluang untuk mengekspor persentase produksi yang lebih tinggi karena logistik pengiriman internasional yang lebih baik, terutama peningkatan ketersediaan kontainer pengiriman berpendingin.

Industri unggas Argentina terutama berfokus pada pasar domestik dan tidak terlalu bergantung pada ekspor dibandingkan dengan banyak sektor pertanian lainnya di negara tersebut. Dari pasar saat ini, China tetap menjadi target utama eksportir daging ayam Argentina. Selama 3 tahun terakhir, ekspor rata-rata 65% potongan ayam, 35% unggas utuh, dan ekspor daging ayam tahun 2021 diproyeksikan turun 5% dibandingkan tahun 2020, turun menjadi 150.000 mt. (via Poultryworld.net)

DI ARGENTINA DAGING SAPI LEBIH DISUKAI DARIPADA AYAM

Konsumsi ayam dalam negeri Argentina pada tahun 2022 diperkirakan turun 1% menjadi 2,13 juta ton karena pertumbuhan datar dalam produksi, dikombinasikan dengan logistik pengiriman yang lebih sederhana akan memungkinkan eksportir mengirim lebih banyak daging ayam ke luar negeri. Dan ekonomi yang membaik akan memungkinkan Argentina untuk mengkonsumsi lebih banyak protein yang disukai secara tradisional, daging sapi, dengan mengorbankan ayam.

Konsumsi daging unggas pada tahun 2021 diperkirakan mencapai 2,15 mmt, naik 4% dari tahun 2020. Karena ekonomi Argentina mulai pulih dari penurunan hampir 10% pada tahun 2020, harga ayam naik lebih lambat daripada daging sapi. Produksi yang lebih tinggi dan ekspor yang lebih rendah telah membantu menjaga harga ayam tetap rendah, mendorong pertumbuhan konsumsi. Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Argentina memperkirakan bahwa asupan protein per kapita tahunan di Argentina pada tahun 2020 adalah 50,2 kg daging sapi, 45,9 kg unggas, dan 15,6 kg babi. (via Poultryworld.net)

BERCAKAP - CAKAP SANTAI TENTANG NUTRISI KAMBING & DOMBA

Webinar nutrisi kambing domba bersama dokadil institute

Jumat (1/10) Dokadil Institute bersama Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Provinsi Sumatera Utara menggelar bincang santai melalui daring Zoom. Acara yang diberi nama "Cakap - Cakap di Saung Doka" tersebut sudah digelar yang ke-4 kalinya. Pada acara seri ke-4 tersebut tema yang dibahas yakni nutrisi pakan kambing - domba yang menghadirkan Hengki Ginting peternak asal Sumatera Utara.

Drh Adil Harahap selaku pimpinan dokadil Institut mengatakan bahwa acara tersebut bertujuan sebagai platform bagi para peternak kambing - domba di seluruh Indonesia untuk saling berbagi ilmu, pengetahuan, dan pengalaman mereka.

"Ini sudah seri ke-4, mudah - mudahan masih terus lanjut, kalau dilihat animo peserta cukup tinggi dan tema di setiap seri akan berbeda, yang pasti kami ingin menularkan hal yang baik dan cara beternak yang baik," tutur Adil.

Dalam presentasinya, Hengki yang merupakan alumnus fakultas peternakan Universitas Gajah Mada banyak membahas mengenai nutrisi kambing dan domba pada tiap fase kehidupannya. 

"Kunci beternak agar bisa terus langgeng itu salah satunya pakan, secara teknis dan ekonomis pakan inilah yang akan menjadi faktor pembeda, performa dari ternak dan keuntungan peternak juga akan tergantung dari bagaimana cara mengakali pakan," tutur Hengki.

Ia juga mengatakan bahwa peternak harus paham betul kebutuhan nutrisi pakan kambing - dombanya pada tiap fase kehidupan karena berbeda. Dengan mengetahui kebutuhan nutrisinya, peternak dapat mengambil ancang - ancang dalam pemberian pakan supaya efektif dan tepat sasaran.

Ia juga menyarankan kepada peternak agar lebih dapat memanfaatkan hasil bumi yang jumlahnya melimpah di daerah sekitarnya untuk dijadikan sumber nutrisi ternak mereka.

"Kan tidak semua peternak mampu juga beli konsentrat, makanya kita harus pandai - pandai mengakali supaya biayanya jadi efisien, kalau kami di sini memanfaatkan pelepah kelapa sawit yang dibuat silase," tutur Hengki.

Sesi tanya jawab pun berlangsung sangat interaktif dan seru, para peserta yang hadir dapat mengirimkan pertanyaan secara langsung maupun tertulis dan langsung dijawab oleh narasumber. (CR)

SUBSIDI BESAR UNTUK SEKTOR UNGGAS ARGENTINA

Pada Juli 2021, pemerintah Argentina mengumumkan pinjaman bersubsidi sebesar ARS$ 2 miliar (US$ 20 juta) untuk sektor unggas Argentina guna meningkatkan produktivitas. Suku bunga untuk pinjaman ini mencapai 22-24%, jauh di bawah tingkat inflasi tahunan yang secara resmi diperkirakan oleh bank sentral Argentina sebesar 51,8%. Diharapkan para produsen unggas yang mengambil keuntungan dari pinjaman ini akan menggunakannya untuk menggantikan farm yang sudah tua dengan farm unggas baru yang dimodernisasi.

Hanya 10% ayam Argentina yang saat ini diproduksi di farm yang memanfaatkan teknologi pemeliharaan ayam modern yang lengkap. Jika pinjaman ini dikelola dengan baik dan tersedia sebagaimana dimaksud, persentase itu dapat meningkat hingga 50% pada akhir tahun 2024. Dampak dari program ini dapat mulai dirasakan pada pertengahan tahun 2022 dan awal tahun 2023. (via Poultryworld.net)

PENINGKATAN PRODUKSI UNGGAS ARGENTINA DIPREDIKSI MENINGKAT

Produksi daging unggas di Argentina telah meningkat untuk memenuhi permintaan domestik, dan dengan pengumuman pemerintah sebesar US$ 20 juta dalam bentuk pinjaman bersubsidi untuk sektor ini, diharapkan ada peningkatan produktivitas lebih lanjut.

Produksi daging unggas di Argentina telah meningkat untuk memenuhi permintaan domestik, yang terus tumbuh selama tahun-tahun resesi (2018-2020) sebagai respons terhadap kenaikan harga daging sapi. Pada tahun 2022, produksi daging ayam diperkirakan sebesar 2,3 juta metrik ton (mmt), hanya naik sedikit dari perkiraan tahun 2021 sebesar 2.290 mmt (meningkat 3,3% dari tahun 2020).

Di Argentina, lebih dari 80% produksi daging ayam diproses di 54 pabrik yang diperiksa oleh pemerintah federal. Sisa produksi diproduksi di 40 pabrik tambahan yang dipantau dan dibatasi oleh otoritas provinsi hanya untuk penjualan domestik. Ayam broiler komersial dipotong pada umur 49-51 hari dengan bobot karkas 2,2-2,4 kg. Sekitar 950 juta unggas disembelih setiap tahun. Kapasitas pemotongan yang ada seharusnya memungkinkan peningkatan produksi hingga 2,45 mmt. (via Poultryworld.net)

MEMAKSIMALKAN AWAL PEMELIHARAAN

Keberhasilan pencapaian target berat badan pada umur tujuh hari juga ditentukan dari kualitas anak ayam. (Sumber: cidlines.com)

Tata laksana persiapan chick-in selalu diawali dengan proses sanitasi dan disinfeksi tempat atau kandang dan peralatan.

Persiapan Periode Awal Pemeliharaan
Keberhasilan periode awal pemeliharaan yang biasa disebut masa brooding, sangat ditentukan oleh persiapannya. Apabila persiapan dilakukan dengan minimal berarti peternak akan mendapatkan performa yang minimal. Untuk meningkatkan efektivitas periode brooding, penerapan biosekuriti harus dilaksanakan secara ketat, dimulai dari proses sanitasi dan disinfeksi.

Lakukan proses sanitasi dengan melakukan pembersihan sebaik mungkin. Gunakan disinfektan yang efektif dan tepat untuk membunuh berbagai mikroorganisme patogen, antara lain PRIMADIN yang spesifik untuk virus Gumboro. Kegagalan proses disinfeksi atau salah memilih disinfektan, mengakibatkan anak ayam rentan terhadap paparan penyakit sejak dini.

Indikator Keberhasilan
Pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam pada umur tujuh hari merupakan indikator keberhasilan tata laksana periode awal pemeliharaan. Pencapaian bobot ayam tersebut dapat digunakan peternak sebagai indikator apakah tata laksana brooding telah dilakukan sebaik-baiknya atau tidak. Bila pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam tidak tercapai, persiapan dan pelaksanaan brooding harus dievaluasi. Keberhasilan pencapaian target berat badan pada umur tujuh hari juga ditentukan dari kualitas anak ayam.

Kualitas anak ayam yang sejak awal kondisinya kurang baik akan menyebabkan tingginya biaya medikasi dan vaksinasi, tingginya konversi pakan dan berpengaruh pada tingkat hidup dari ayam dalam satu flock.

Secara umum anak ayam cukup rentan pada perlakuan dan perubahan kondisi lingkungan yang menyebabkannya mudah stres dan peka terhadap infeksi penyakit. Sehingga pada kebanyakan anak ayam yang mutunya kurang baik, cenderung mengalami keterlambatan dalam pertumbuhannya, sehingga pada akhirnya akan menghasilkan performa yang suboptimal.

Evaluasi kualitas anak ayam dilakukan dalam dua tahap, yaitu pada… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2021.

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA
Telp: 021-8300300

MEMPERTANYAKAN VALIDITAS DATA KETERSEDIAAN JAGUNG

Jagung, bahan baku esensial dalam pakan ternak

Jakarta (30/9/21). Pemerintah mengklaim produksi jagung surplus 2.7 juta ton secara nasional. Kemudian tersedia 120 ribu ton dengan Kadar Air 15 % - 17% di Kabupaten Grobogan, Semarang Jawa Tengah dan 15 ribu ton katanya ada di gudang perusahan di Provinsi Gorontalo.

Jikalau memang ada seharusnya pemerintah c.q Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) menugaskan Perum Bulog untuk serap jagung lokal di petani dan pabrikan. Sehingga Bulog segera melakukan operasi pasar di sentra peternak layer (ayam petelur) mandiri di Blitar Jawa Timur, Kendal Jawa Tengah dan Provinsi Lampung. “Masalahnya apakah jagung itu ada, ini masih diragukan oleh banyak pihak,” kata Ali Usman, Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA).

Dalam pernyataan sikap tersebut, Ali menyampaikan, dalam rakortas (rapat koordinasi terbatas) pada (22/9/2021) pemerintah sudah memutuskan tidak ada impor jagung, tetapi memaksimalkan serap jagung lokal. Hal ini dilakukan karena Kementan mengklaim stok jagung dalam negeri melimpah seperti di Grobogan dan Gorontalo. Kalau memang melimpah seharusnya pihak Kementan menugaskan Bulog untuk menyerap jagung disana. Sehingga stok jagung yang katanya ada itu dijadikan buffer stock nasional oleh Bulog.

Untuk operasi pasar, Bulog sebenarnya siap menyerap jagung lokal tetapi harga jagung masih tinggi di kisaran Rp 5.500 – 6.200 per kg sehingga Bulog sulit menjual jagung Rp 4.500 per kilogram ke peternak. Masalahnya, jika operasi pasar bersubsidi oleh Bulog melalui pendanaan komersial maka sangat membosankan Bulog, karena skema pinjaman Bulog masih menggunakan bunga komersial sebesar 8%.

“Walaupun ada pendanaan subsidi dari pemerintah melalui Kementerian Perdagangan. Maka mekanisme penugasan Bulog seperti juklak (petunjuk pelaksana) dan juknis (petunjuk teknis) seperti apa dan saya kira ini belum jelas. Karena itu, penting Kementan melakukan koordinasi dengan Kemendag untuk serap stok jagung oleh Bulog di Grobogan atau Gorontalo,” papar Ali dalam webinar PATAKA dengan tajuk “Tersandung Data Jagung” melalui zoom meeting Kamis (30/9/2021).

Validasi Data Jagung

Polemik harga jagung tidak lepas dari sengkarut data jagung yang disajikan oleh Kementan. Sebab data jagung tahun 2018 – 2021 stok akhir (ending stock) untuk tahun sebelumnya dan stok awal (beginning stok) tahun berikutnya selalu tidak sama. Bahkan beginning stok di awal tahun selalu tidak sama. Karena itu, perlunya validasi data prognosa jagung. Karena data prognosa jagung yang kurang valid dapat menyebabkan kebijakan pemerintah yang keliru.

Kemudian, kata dia, perlunya perbaikan data jagung juga terkait dengan perubahan luas lahan untuk tanam jagung selalu tidak sama dari tahun ketahun. Padahal tingkat keberhasilan panen sangat tergantung pada musim dan pupuk yang tersedia. Sedangkan perubahan data jagung harus dikonfirmasi ketika bencana alam menimpa seperti di NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur).

Selama ini sentra jagung berada di luar Jawa sedangkan kebutuhan jagung mayoritas ada di pulau Jawa. Seperti industri ayam broiler 11.8 juta ton pertahun, layer 3 juta ton pertahun, konsentrat layer 1.7 juta ton pertahun, breeder 2 juta ton per tahun dan lain-lain 1.1 juta ton dengan total kebutuhan 19 juta ton pertahun. Sedangkan prognosis jagung mencapai 22 juta ton di tahun 2021. Artinya Kementan mengklaim surplus 3 juta ton. “Kalau memang surplus seharusnya harga jagung stabil,” ungkapannya.

Solusi jangka pendek ini untuk menyelamatkan peternak. PATAKA menyarankan Kementan untuk menyerahkan data mentah jagung kepada BPS (Badan Pusat Statistik), hal ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo sehingga diharapkan satu data bidang Pertanian. Sehingga BPS bersama pihak Kementan untuk menghitung luas lahan potensi melalui Kerangka Sampel Area (KSA) seperti beras yang juga telah direvisi. Juga BPS dapat menghitung faktor produksi melalui pendekatan kualitas bantuan bibit, bantuan pupuk hingga potensi produksi jagung berdasarkan cuaca dan iklim. Sehingga produksi atau supply jagung lokal dapat ditentukan dalam negeri berapa. “Jika memang produksi melimpah data BPS yang bicara, kalau memang jagung kurang ya silahkan mau tingkatkan produksi dalam negeri atau impor,” ujarnya.

Karena itu, BPS harus segera mengambil langkah untuk menghitung data jagung sementara karena menunggu Sensus Tani 2023 masih lama. BPS dapat menganalisa jagung melalui angka produksi tahun 2010 – 2015. Pasalnya BPS tidak merilis data jagung sejak Kementan menyatakan produksi jagung meningkat sejak 2015. Kementan mengklaim produksi jagung dalam negeri meningkat 19,61 juta ton (2015), 23,58 juta ton (2016) dan 28,92 juta ton (2017) hingga tembus 30 juta ton (2018). Padahal menurut BPS, impor gandum melonjak 6,77 juta ton (2015) dan impor gandum melonjak tajam 9,77 juta ton di tahun berikutnya (2016).

Untuk solusi jangka panjang. PATAKA menyarankan pemerintah segera menerbitkan regulasi “Stabilisasi Harga Industri Perunggasan”. Gejolak industri perunggasan tidak hanya dirasakan peternak layer tetapi peternak mandiri broiler (ayam pedaging) juga mengalami yang sama. Harga pakan tinggi karena harga jagung selalu melonjak di atas Permendag Rp 4.500 per kilogram. Pemerintah dapat menghitung ulang HPP jagung di petani, HPP pakan untuk ternak broiler dan layer. Sehingga Kementan dan Kemendag dapat bersinergi untuk melahirkan regulasi stabilitas harga jagung, telur dan ayam.

“Yang penting petani peternak dapat menikmati keuntungan dalam berusaha, mereka saling ketergantungan. Jangan sampai saling menekan harga. Jika harga jagung melambung karena broker, silahkan pemerintah bertindak untuk menghapus rantai distribusi yang sangat panjang. Sehingga merugikan petani dan petani yang selama ini dilindungi oleh Undang-undang No.19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani,” tukas Ali. (INF)

MEMASTIKAN SEMUA ASPEK PEMELIHARAAN SIAP

Pada saat chick-in dan ayam masuk ke brooder, peternak harus memastikan bahwa kandang telah siap, baik secara kualitas dan kuantitas. (Sumber: wideopenpets.com)

Ayam yang stres ketika dimasukkan ke area brooding akan cenderung lebih banyak diam, tidak aktif makan dan minum. Imbasnya, masa-masa awal pertumbuhan yang optimal bisa hilang. Untuk menghindari hal ini dan bisa memenuhi semua kebutuhan anak ayam, tentu peternak perlu melakukan beberapa persiapan.

Disinfeksi
Pada saat chick-in dan ayam masuk ke brooder, peternak harus memastikan bahwa kandang telah siap, baik secara kualitas dan kuantitas infrastruktur harus memadai, kesiapan alat pemanas, pembatas, tempat pakan dan minum. Selain itu juga dipastikan bahwa semua peralatan yang dipakai sudah terdisinfeksi dengan baik, dengan istirahat kandang yang cukup.

Seperti yang acap kali dilakukan Hanafi, peternak asal Karawang. Dalam perlakuan membersihkan kandangnya, Hanafi menguras habis semua kotoran sisa periode sebelumnya, setelah itu ia lakukan pembersihan menggunakan campuran air dan detergen yang dimasukkan ke dalam pompa bertekanan tinggi, serta mencuci dan menyikat seluruh bagian kandang. Setelah dibilas dan kering, ia menyemprotkan disinfektan ke kandangnya. Disinfektan yang digunakan adalah pemutih pakaian dengan perbandingan 1 : 10 bagian.

“Diajarinnya begitu dan menurut saya sampai saat ini efektif. Saya tidak pernah pakai obat, karena mahal enggak sanggup. Yang penting seluruh bagian ter-cover, sikat yang bersih dan kalau perlu istirahat kandangnya dilebihkan beberapa hari,” tutur Hanafi kepada Infovet.

Sebelum DOC datang kira-kira 2-3 hari, Hanafi menyemprotkan kembali disinfektan ke sekam. Tujuannya untuk mengurangi mikroba patogen yang berada di dalam litter. Sekaligus mempersiapkan seluruh peralatan, baik pemanas, tempat pakan dan air minum yang jumlahnya sesuai dengan jumlah ayam, serta pemberian kertas koran di atas sekam untuk memudahkan DOC beraktivitas.

Jika menggunakan baby feeder, beberapa praktisi menganjurkan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2021. (CR)

BANTU KELOMPOK TERNAK PRODUKSI PAKAN KONSENTRAT

Pendampingan pengembangan pakan konsentrat di Kelompok Ternak Ayo Angon, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Pakan merupakan komponen sangat penting dalam usaha peternakan yang menyumbang hampir 70% dari keseluruhan biaya produksi. Manajemen pakan berkualitas akan menentukan keberhasilan usaha peternakan. Kekurangan pakan ternak yang kerap terjadi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, menjadi salah satu permasalahan besar yang dihadapi peternak.

Kekurangan sumber pakan ternak menyebabkan produktivitas menurun dan ongkos pakan meningkat yang berdampak pada kerugian. Salah satu solusi menyelesaikan permasalahan tersebut adalah transfer teknologi pembuatan pakan konsentrat ruminansia dengan bahan baku lokal yang dilakukan tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang diketuai Prof Dr Lies Mira Yusiati dan para ahli nutrisi, mendampingi Kelompok Ternak Ayo Angon, Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Program bertajuk “Program Pengabdian Berbasis Pemanfaatan Hasil Penelitian dan Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG)” itu dilaksanakan sejak Juni-Oktober 2021.

“Pendampingan pengembangan pakan di Kelompok Ternak Ayo Angon sebenarnya sudah dilakukan tahun sebelumnya. Akan tetapi masih sekadar pelatihan atau peningkatan pengetahuan peternak terkait cara pembuatan pakan konsentrat. Tahun ini program lebih dikembangkan untuk produksi skala besar. Selain itu, pakan konsentrat yang dihasilkan diperkaya dengan tambahan suplemen Rumen Undedradable Nutrient (RUN),” kata Lies yang juga Kepala Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fakultas Peternakan UGM, Minggu (26/9/2021).

Lies menjelaskan, selain peningkatan keterampilan dan pengetahuan terkait pakan, juga dilakukan program pengembangan mini pabrik pakan yang dilengkapi mesin pencampur pakan kapasitas satu ton.

“Diharapkan program ini dapat meningkatkan kemandirian kelompok ternak dalam menghasilkan pakan konsentrat yang tidak hanya digunakan sendiri tetapi dapat dijual kepada peternak lainnya,” ucapnya.

Bukan hanya pakan konsentrat biasa, pembuatan tersebut diperkaya dengan teknologi RUN, yang merupakan suplemen pakan mengandung proteksi asam lemak dengan asam amino yang telah dikembangkan di Laboratorium Biokimia Nutrisi, Fakultas Peternakan UGM. Diharapkan pakan konsentrat tersebut dapat memiliki nilai lebih untuk meningkatkan produktivitas ternak dan keuntungan peternak.

Staf Pengajar Fakultas Peternakan UGM yang juga menjadi anggota tim TTG, Dr Muhsin Al Anas, menambahkan bahwa kegiatan yang dijalankan terdiri dari empat program, yakni sosialisasi untuk transfer pengetahuan manajemen pakan, pembuatan pakan konsentrat, serta teknologi RUN.

“Juga pembuatan mesin mixer untuk produksi pakan konsentrat, pelatihan pembuatan teknologi suplemen pakan RUN dan pembuatan konsentrat ternak yang mengandung teknologi RUN,” katanya. (IN)

MEWASPADAI ANCAMAN BIOTOKSIN PADA AYAM

Webinar relaunch Calibrin Z. (Foto: Istimewa)

Toksin atau racun merupakan hal yang kerap didengar oleh manusia, dalam terminologi dunia peternakan toksin diidentikkan dengan mikotoksin. Pada kenyataannya, peternak belum menyadari betul bahwa toksin baik yang dihasilkan oleh jamur dan bakteri menyebabkan kerugian yang berdampak negatif pada performa ternak terutama unggas.

PT Novindo Agritech Hutama selaku salah satu perusahaan yang bergerak di bidang obat hewan melakukan edukasi lebih lanjut kepada masyarakat terutama peternak terkait dampak buruk toksin pada ternak. Kegiatan tersebut berupa webinar yang dilakukan pada Selasa (28/9) melalui daring zoom meeting.

Tony Unandar praktisi senior perunggaan sekaligus anggota dewan pakar ASOHI hadir sebagai narasumber utama. Dalam presentasinya Tony menjelaskan secara mendetail mengenai toksin dan dampak negatifnya pada ternak.

"Toksin tidak hanya dihasilkan oleh jamur saja (mikotoksin) tetapi juga bakteri, banyak peternak yang sering terlambat mendeteksi keberadaan toksin, dan bahkan kadang dokter hewan pun bisa "tertipu" dengan hal ini," kata Tony.

Ia menambahkan bahwa di Indonesia mindset peternak dan dokter hewan terpaku pada mikotoksin saja, sementara toksin bakterial masih luput dari perhatian. Terkait toksin bakteri, Tony menjelaskan mengenai endotoksin dan eksotoksin.

"Toksin bakteri ini bisa jadi lebih berbahaya, misalnya saja yang dihasilkan oleh C. perfringens, dimana ketika bakteri tersebut mati akibat pengobatan dengan antibiotik, toksinnya akan keluar dan memberikan dampak negatif di saluran pencernaan. Celakanya, produk pengikat toksin yang ada rerata belum banyak yang memiliki kapasitas untuk mengikat toksin bakteri ini," papar Tony.

Di sesi kedua, Dr. Kim Huang yang merupakan Regional Technical Service Manager Amlan International lebih lanjut membahas mengenai zat yang dapat mengikat berbagai jenis toksin baik dari jamur maupun bakteri.

"Sebuah unsur mineral yang bernama monmorilonite yang diaktivasi terbukti secara klinis dapat mengikat berbagai jenis toksin dari jamur maupun bakteri. Hal ini tentunya menjadi inovasi yang bagus dalam mengatasi permasalahan ini," tutur Kim Huang.

Kim juga menjelaskan bahwa mineral tersebut merupakan alternatif yang baik dalam substitusi antibiotik growth promoter yang tentunya juga ramah lingkungan. Oleh karenanya dengan penggunaan mineral tersebut, peternak tidak perlu khawatir lagi terkait performa ternaknya. (CR)

JANU PUTRA BANGUN PETERNAKAN GPS BERBASIS INDUSTRI 4.0

Seremoni peresmian peternakan GPS (Foto: Istimewa)

PT Janu Putra Sejahtera sebagai bagian dari Grup Janu Putra dengan dukungan De Heus Indonesia, meresmikan beroperasinya peternakan indukan ayam atau Grand Parent Stock (GPS) pada Senin (27/9). Peternakan berteknologi tinggi yang ramah lingkungan dan terkomputerisasi berbasis industri 4.0 ini dibangun di Giriwoyo, Wonogiri, Jawa Tengah.

“Pembukaan peternakan GPS dalam rangka meningkatkan standar performa pembibitan GPS menuju tingkat internasional dan menyediakan Parent Stock Day Old Chicks berkualitas tinggi,” ungkap pendiri Janu Putra Grup, Singgih Januratmoko dalam keterangan tertulis yang diterima Infovet.

Dalam pemaparannya, Singgih menyoroti konsumsi daging ayam per kapita nasional mencapai 11,6 kg per tahun yang masih jauh dibandingkan negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura. Konsumsi tersebut pada tahun mendatang diperkirakan mengalami kenaikan. Demikian pula pasar ekspor telur tetas atau Hatching Egg (HE) masih terbuka lebar menuju mancanegara.

Pembukaan peternakan GPS tersebut membutuhkan industri unggas yang profesional untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di dalam negeri. Karena kebutuhan tersebut, PT Janu Putra Sejahtera berkolaborasi dengan De Heus yang memiliki rekam jejak dalam bidang nutrisi hewan selama 100 tahun. Singgih yakin bahwa kerja sama dengan De Heus dapat berkontribusi dalam peningkatan industri unggas berskala nasional.

Menurut Singgih, pembangunan peternakan ayam GPS berteknologi tinggi, merupakan kebutuhan pasar yang terus berkembang, sekaligus komitmen De Heus dalam membangun rantai pasokan daging ayam yang aman sesuai dengan standar Global G.A.P.

“Produksi protein unggas di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang cukup besar ke depan. Kami memiliki gen dalam bertanggung jawab untuk mengatasi tantangan ini dan menemukan cara menghadapinya,” kata Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia.

Pihaknya secara profesional telah memenuhi tuntutan dalam membangun peternakan yang mengacu pada biosekuriti, kebersihan, keamanan pangan, kesejahteraan hewan, dan pengurangan penggunaan antibiotik. 

Kay menambahkan, sejak tiga tahun kehadiran De Heus di Indonesia, pihaknya sangat optimistis dengan industri unggas nasional, “Kami ingin memberikan warna baru bagi industri unggas, karena De Heus berkomitmen untuk mendukung dan tidak bersaing dengan peternak ayam pedaging komersial, sekaligus membangun aliansi strategis dengan UMKM dan peternak ayam skala lokal,” ujarnya. 

“Kami ingin menghasilkan daging ayam yang bersih, aman, anak ayam, dan telur tetas yang berkualitas, sehingga dapat diterima oleh pelanggan dalam maupun luar negeri. Selain itu, kami berpartisipasi di dalam rantai makanan yang bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan, stabil, dan berjangka panjang,” terang Singgih.

Singgih mengapresiasi De Heus terhadap dukungan kepada para peternak lokal untuk menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi, sekaligus memperkenalkan produk peternak mandiri kepada pelanggan potensial. Sehingga PT Janu Putra Sejahtera mampu melakukan ekspor telur tetas pada tanggal 9 September 2021. (Rilis/INF) 


PELATIHAN PJTOH ANGKATAN XXII DIGELAR ONLINE

Pelatihan PJTOH angkatan XXII 2021. (Foto: Dok. Infovet)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali melaksanakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) angkatan XXII pada 22-23 September 2021, melalui daring mengingat situasi pandemi COVID-19 yang belum usai.

Disampaikan Ketua Panitia, Drh Forlin Tinora, adapun materi yang disampaikan diantaranya mengenai perundang-undangan, kajian teknis (biologik, farmasetik, feed additive, feed suplement dan obat alami), serta materi pemahaman organisasi dan etika profesi.

“Hingga saat ini minat dokter hewan dan apoteker mengikuti pelatihan ini masih tinggi. Hal ini menunjukan kesadaran perusahaan dan para penanggung jawab teknis obat hewan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sesuai tugas dan tanggung jawabnya,” kata Forlin dihadapan 102 orang peserta.

Mengingat pentingnya tugas dan tanggung jawab PJTOH, ASOHI setiap tahun pun mengadakan pelatihan ini. “Diharapkan bagi yang belum sempat ikut, bisa berpartisipasi di angkatan berikutnya,” ucapnya.

Adapun tugas PJTOH yakni memberikan informasi peraturan perundangan bidang obat hewan; memberikan saran dan pertimbangan teknis mengenai jenis obat hewan yang akan diproduksi/diimpor; menolak produksi, penyediaan, peredaran dan repacking obat hewan ilegal; serta menolak peredaran dan repacking obat hewan yang belum mendapat nomor pendaftaran.

Sementara PJTOH di pabrik pakan memiliki tugas penting menolak penggunaan bahan baku atau obat hewan jadi yang dilarang dicampur dalam pakan ternak dan menyetujui penggunaan bahan baku obat hewan jadi yang dicampur dalam pakan yang memenuhi syarat mutu atau menolak apabila tidak sesuai dengan ketentuan peraturan di bidang obat hewan.

Pelatihan selama dua hari ini turut mengundang pihak-pihak berkompeten, diantaranya Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Pakan, BBPMSOH, Komisi Obat Hewan, tim CPOHB, Pusat Karantina Hewan, PPNS dan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia.

Selain pelatihan PJTOH tingkat dasar, ASOHI juga berencana meningkatkan pelatihan ke tingkat lanjutan. Hal itu disampaikan Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari. “Pelatihan tingkat lanjutan (advance) ini akan membahas topik yang lebih mendalam, sehingga ilmu dari pelatihan dasar ini terus meningkat sesuai perkembangan zaman,” kata Irawati. (INF)

KELANGKAAN UNGGAS SETELAH PABRIK PUPUK INGGRIS TUTUP

Penutupan 2 pabrik pupuk terbesar di Inggris karena lonjakan harga gas yang besar memiliki dampak besar pada sektor unggas negara tersebut. CO2 sebagai produk sampingan mereka, yang digunakan untuk pemingsanan (stunning) unggas menjadi sangat sedikit.

Kedua pabrik pupuk tersebut telah memutuskan untuk menangguhkan operasi karena produksi tidak lagi layak secara komersial.

Richard Griffiths, CE dari British Poultry Council, mengatakan CO2 harus menjadi agenda utama pemerintah, “Ini adalah salah satu hal yang tidak dipikirkan siapa pun sampai kekurangannya mengancam untuk merusak ketahanan pangan Inggris. Ada daftar prioritas untuk pengguna CO2 dalam keadaan darurat, tenaga nuklir, perawatan kesehatan, dan produksi ternak, dan kami membutuhkan pemerintah untuk bertindak atas hal itu. Kami menggunakan CO2 dalam proses pemotongan, pengemasan, dan tahap pendinginan produksi daging unggas. Jika salah satu dari tahapan tersebut diperlambat atau terganggu, maka pasokan makanan juga demikian.” (via Poultryworld.net)

UKRAINA KEKURANGAN OBAT ANTICOCCIDIAL

Produksi unggas Ukraina diperkirakan akan turun dalam beberapa bulan mendatang jika impor obat coccidiostat tidak segera dilanjutkan.

“Tanpa menggunakan aditif pakan ini, risiko kematian meningkat hingga lebih dari 80%. Terutama digunakan dalam peternakan unggas industri, di mana kesehatan unggas sangat penting karena kematian menyerang sangat besar dan tiba-tiba, ”kata Asosiasi Bisnis Eropa (EBA).

Impor coccidiostat ke Ukraina berhenti pada Mei 2021 karena kesenjangan dalam peraturan veteriner baru, yang juga mencegah bisnis meluncurkan produksi coccidiostat di negara itu.

Selama 2 tahun terakhir, Ukraina telah memperbaiki undang-undang kedokteran hewan untuk memenuhi standar Eropa. Pada akhir Agustus, Kementerian Ekonomi Ukraina memperkenalkan amandemen untuk membuka pendaftaran sebagian besar aditif pakan. Namun demikian, beberapa masalah masih tetap ada.

“Masalahnya, penggunaan koksidiostat belum diatur karena belum ditetapkannya kadar maksimum residu zat-zat tersebut pada produk pangan asal hewan,” jelas EBA.

“Saat ini, peternak unggas terpaksa mencari teknologi pengganti. Namun, dibutuhkan sekitar 6 bulan, dimana ada risiko signifikan kehilangan seluruh kawanan unggas. Selain itu, tidak mungkin untuk mengganti coccidiostat dalam peternakan unggas industri sepenuhnya. Setidaknya di Ukraina dan Uni Eropa, tidak ada contoh seperti itu,” komentar Dmitry Kirilyuk, manajer Asosiasi Bisnis Eropa. (via Poultryworld.net)

BROODING: MASA KRITIS, JANGAN SKEPTIS

Ketidakseriusan dalam fase brooding akan berujung pada kegagalan yang akan mengurangi keuntungan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Quality time pada saat brooding sangat diperlukan agar performa produksi maksimal, karena periode ini merupakan titik kritis dimana perkembangan, pertumbuhan dan potensi genetik ayam dipertaruhkan untuk mencapai target produksi. Terutama pada minggu pertama, masa ini merupakan awal perkembangan sistem rangka tubuh, sistem pencernaan dan sistem kekebalan.

Tujuan utama brooding yaitu menyediakan lingkungan yang nyaman, sehat untuk pertumbuhan ayam secara efisien dan ekonomis. Suhu, kualitas udara, kelembapan dan pencahayaan merupakan faktor kritis yang harus diperhitungkan.

Ketidakseriusan dalam fase ini akan berujung pada kegagalan yang akan mengurangi keuntungan di akhir. Jika recording bagus, dapat dilihat dan dibuktikan jika brooding berjalan dengan tidak baik, penurunan pertumbuhan dan perkembangan, konversi pakan yang buruk serta peningkatan kejadian penyakit, afkir dan kematian akan jelas terlihat.

Parameter Keberhasilan
Gagal atau tidaknya fase brooding, indikasinya yang paling mudah adalah pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam pada umur tujuh hari, menurut Technical Department Manager PT Romindo Primavetcom, Drh Yuni.

Pencapaian bobot ayam tersebut dapat digunakan peternak sebagai parameter baik atau buruknya sebuah tata laksana brooding. Bila pencapaian target berat badan dan tingkat keseragaman berat badan ayam tidak tercapai, maka persiapan dan pelaksanaan brooding harus dievaluasi peternak. Keberhasilan pencapaian target berat badan pada umur tujuh hari ditentukan oleh berbagai faktor seperti manajemen sirkulasi udara, air dan pakan.

Jangan Sepelekan
Secara umum ada beberapa titik kritis yang harus disiapkan peternak dalam masa brooding. Drh Eko Prasetio dari Tri Group melakukan penyederhanaan titik mana saja yang kritis dan butuh perhatian lebih.

“Pertama… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2021. (CR)

BELAJAR DARI JEPANG OPTIMALKAN KUALITAS BAHAN PAKAN

Workshop Optimalisasi Teknologi Pakan dalam Peningkatan Kualitas Pakan Lokal. (Foto: Istimewa)

Untuk memenuhi ketersediaan pasokan bahan pakan dalam negeri, limbah tanaman pertanian banyak digunakan untuk bahan pakan. Di Jepang, tanaman umbi-umbian seperti ketela digunakan sebagai pakan ternak. Namun hijauan dari tanaman tersebut tidak begitu sering digunakan sebagai pakan karena tingginya kelembapan, rendahnya kandungan nutrisi dan biaya pemrosesannya.

Hal itu diuraikan pakar nutrisi ternak dari Hiroshima University, Jepang, Prof Taketo Obitsu dalam Workshop Optimalisasi Teknologi Pakan dalam Peningkatan Kualitas Pakan Lokal, Sabtu (18/9/2021), yang diselenggarkan secara daring oleh Fakultas Peternakan UGM.

Dalam pemaparannya, Obitsu menggarisbawahi bahwa produksi pakan ternak dengan limbah pertanian dan mitigasi dampak lingkungan perlu diperhatikan. Dikatakan, beberapa bahan pakan, terutama konsentrat di Jepang masih diimpor.

Data 2019 menunjukkan bahwa 77% dari total hijauan di Jepang telah mampu dicukupi dari produksi dalam negeri, sementara konsentrat hanya berkisar 12%. Untuk sapi perah dan sapi potong, mayoritas kebutuhan konsentrat masih diimpor. “Berdasarkan hal tersebut, Jepang berusaha mengembangkan teknologi pakan dengan menggunakan bahan-bahan lokal,” kata Obitsu.

Untuk meningkatkan swasembada pakan, teknologi baru untuk menghasilkan silase tanaman jagung dan padi (termasuk dengan bijinya) telah dilakukan dengan dukungan pemerintah. Jepang mengembangkan silase tongkol jagung dan padi yang ditanam oleh peternak sapi perah.

“Silase tongkol jagung mulai dikenalkan di Jepang. Jagung yang akan digunakan untuk silase ditanam dengan sistem rotasi pada lahan subur. Jagung yang terdiri dari tongkol, kulit tongkol dan kernel diawetkan menjadi silase gulung dan dapat digunakan untuk menggantikan penggunaan biji jagung dalam ransum,” tukasnya. (IN)

MAKSIMALKAN PERAWATAN DI AWAL MASA KEHIDUPAN

Untuk mekamsimalkan potensi genetik unggas dibutuhkan perhatian khusus dalam masa awal pemeliharaan (brooding). (Foto: Infovet/Ridwan)

Dalam manajemen pemeliharaan ayam broiler, ada satu fase yang menjadi faktor pembeda, dimana pada masa tersebut sangat menentukan keberhasilan pemeliharaan. Brooding, tidak ada peternak yang tidak mengetahuinya, namun banyak yang lalai dalam menjalaninya. Nyatanya, di lapangan kegagalan pada fase ini masih sering dialami peternak dan membuat performa jadi tak menentu.

Setelah menetas, DOC langsung dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Apalagi sebagaiana diketahui ayam broiler di zaman now merupakan sebuah mesin biologis yang hebat. Karena dalam kurun waktu kurang lebih sebulan, broiler dapat melipatgandakan bobot tubuhnya hingga 20 kali lipat, dengan catatan potensi genetiknya dapat termaksimalkan.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, dibutuhkan perhatian khusus dalam masa awal pemeliharaan (brooding). Masa brooding mutlak dibutuhkan DOC. Brooding dimulai sejak DOC tiba di kandang, sampai mereka mencapai umur serta bobot tertentu dan tidak memerlukan pemanas lagi.

Pada dasarnya lama brooding tidak bisa disamakan antar satu peternakan dengan yang lain. Standarnya berada di kisaran 10-14 hari untuk anak ayam yang dipelihara di kandang terbuka (open house) dan 7-8 hari untuk di kandang closed house. Namun bisa bertambah lebih lama tergantung kondisi.

Memenuhi Kebutuhan Dasar
Beberapa praktisi perunggasan mengatakan bahwa pada tujuh hari pertama di masa brooding adalah masa-masa kritis yang butuh perhatian lebih. Seperti diutarakan Drh Christina Lilis dari PT Medion, bahwa pada fase ini DOC ditargetkan naik bobotnya sebanyak 4,5-5 kali lipat dari bobot lahir. Misalkan bobot DOC 40 gram, maka pada akhir minggu pertama diharapkan bobotnya mencapai 180-200 gram.

Brooding ini fase yang terjadi adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi September 2021. (CR)

INOVASI DAN TEKNOLOGI KEBERLANJUTAN SISTEM PRODUKSI PETERNAKAN

The 9th International Seminar on Tropical Animal Production (ISTAP), yang digelar Fakultas Peternakan UGM pada 21-22 September 2021. (Foto: Istimewa)

Tantangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat penting khususnya di era transformasi digital. Arsitektur ilmu pengetahuan berubah dengan cepat dan peran penting ilmuwan muda membangkitkan antusiasme dan budaya ilmiah adalah sangat utama. Hal ini penting khususnya dalam industri peternakan yang memainkan peranan penting dalam ketahanan pangan yang dipengaruhi perubahan iklim.

“Pengembangan inovasi dan teknologi untuk sistem produksi hewan yang berkelanjutan sangat penting dan harus diselaraskan dengan pencapaian tujuan yang berkelanjutan," kata Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbudristek, Aris Junaidi, dalam sambutan The 9th International Seminar on Tropical Animal Production (ISTAP).

Acara yang digelar Fakultas Peternakan UGM dilaksanakan secara daring pada 21-22 September 2021. Adapun topik yang diangkat dalam penyelenggaraan ISTAP ke-9 adalah “Innovation and Technologies on Sustainable Animal Production Systems”.

Sementara Dekan Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus, mengatakan lingkungan global saat ini telah mengalami transformasi substansial akibat perubahan iklim yang berdampak pada sektor pertanian. Sistem produksi ternak perlu terus diperbarui dan ditingkatkan untuk memenuhi permintaan pangan global. Di sisi lain, modifikasi sistem produksi ternak perlu memperhitungkan pengaruhnya terhadap lingkungan.

“Untuk kondisi Indonesia, keamanan pangan dan ketahanan pangan merupakan isu krusial. Produksi pangan yang cukup, terutama produk hewani dalam kondisi ketidakpastian lingkungan dan pemanasan global, benar-benar menjadi tantangan dan perlu solusi cerdas,” kata Ali Agus.

Terlebih lagi, produksi ternak merupakan bagian integral dari produksi pangan dan berkontribusi terhadap kualitas pasokan pangan manusia. Produksi ternak dan pertanian merupakan komponen penting dalam sistem pertanian terpadu di negara berkembang karena menghasilkan makanan berkualitas tinggi, memberikan kesempatan kerja, serta memperkaya mata pencaharian. (IN)

PETERNAK BROILER SIAPKAN "AMUNISI" KAWAL JANJI DAN ARAHAN PRESIDEN

Pertemuan peternak mandiri di Bogor


Pada tanggal 15 September yang lalu akhirnya perwakilan peternak ayam dapat bertatap muka secara langsung dengan Presiden - RI. Diawali oleh aksi nekat Suroto, peternak layer dari Blitar yang membentangkan spanduk dikala kunjungan Presiden, akhirnya Presiden memanggil peternak menuju istana.Dalam pertemuan tersebut, Presiden meminta peternak untuk mengemukakan masalahnya dan berjanji akan segera menyelesaikannya.

Dalam menindaklanjuti hal tersebut GOPAN mengadakan pertemuan di Botani Square pada Selasa (21/9) yang lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh peternak ayam mandiri Se -  Pulau Jawa. Herry Dermawan Ketua Umum GOPAN menyampaikan bahwa ada beberapa hal terkait isu perunggasan yang waktu itu ia kemukakan di depan Presiden. 

"Kalau Suroto cuma minta jagung dan harga jagung distandarkan, waktu itu saya mintanya lebih banyak, aji mumpung lah sekalian, kesempatan langka juga kan bisa ngomong di depan Pak Jokowi," tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang ia paparkan kepada Presiden pada saat itu diantaranya pemasaran hasil ayam broiler sering bermasalah, tingginya harga pakan dan Day Old Chick ( DOC ), serta isu mengenai data GPS yang berujung pada terjadinya over supply yang berkepanjangan.

Ketua Umum PINSAR, Singgih Januratmoko yang juga hadir dalam pertemuan tersebut juga menyampaikan bahwa dirinya telah memberikan usulan kepada Presiden agar Indonesia memiliki cadangan jagung sebesar 500 ribu ton dan dikelola oleh BUMN. 

"Kalau pemerintah punya stok, jika nanti harga jagung naik kan lebih mudah dikendalikan, selain itu stok juga bisa digunakan ketika memang jagung sedang langka dan berpotensi menaikkan harga pakan. Jadi semacam buffer begitu," tukas Singgih.

Di akhir pertemuan peternak mengambil beberapa langkah strategis yang akan segera dilakukan untuk menindaklanjuti janji dan arahan Presiden. Hal tersebut adalah : 

1. Pemasaran hasil ayam broiler sering bermasalah, terutama  yang dialami peternak mandiri kecil, karena sering bersaing dipasar tradisional dengan produksi dari perusahaan konglomerasi, oleh karena itu perlu adanya segmentasi produk ayam broiler. Perusahaan konglomerasi tidak  boleh  menjual ayam hidup, karena menjual ayam hidup merupakan segmen pasar peternak rakyat mandiri kecil.

2. Peternak rakyat mandiri sering dihadapkan tingginya harga pakan dan Day Old Chick ( DOC ) / anak ayam umur sehari, hal tersebut dipicu oleh tingginya harga jagung, dimana  jagung merupakan komposisi terbesar dari pakan ayam ( 50% ), sehingga peternak  akan mencoba mengupayakan  jagung dapat dijual dengan harga yang wajar dan ketersediaannya cukup. Seperti kondisi saat ini harga jagung yang mahal maka kami meminta pemerintah untuk melakukan import jagung untuk peternak mandiri lewat BUMN Pangan atau Koperasi.

3. Peternak juga akan mengusulkan pemerintah untuk mempunyai cadangan jagung pemerintah sebanyak 500.000 ton yang dilakukan oleh  BUMN Pangan.

4.  Ditetapkannya Harga Eceran Tertinggi ( HET ) Day Old Chick ( DOC ) / anak ayam  umur sehari dan Pakan, atau harga DOC disesuaikan dengan harga ayam hidup  yaitu sebesar 25 % dari harga ayam hidup, dan revisi harga acuan ayam hidup pada Permendag No. 07 tahun 2020.

5. Jika terjadi harga jual ayam hidup terendah ditingkat  peternak mandiri mohon BUMN  Pangan dapat ikut berperan untuk menyerap ayam-ayam  peternak mandiri dengan  ketentuan harga yang wajar dan dapat menjadi  cadangan pangan.

6. Ayam dimasukan keprogram bantuan-bantuan sosial baik tingkat  pusat, provinsi maupun kabupaten.

7. Kerataan kepemilikan indukan ayam ( Grand Parent Stock ) selanjutnya disebut  dengan GPS yang selama ini dikuasai oleh 2 ( dua ) perusahaan yang mendapat  kuota + 65 %. Peternak akan mengawal dan meminta kepada kementerian terkait agar DOC dapat didistribusikan secara merata dan  berkeadilan sehingga peternak mandiri yang naik kelas bisa juga mendapatkan   GPS tersebut. Dengan komposisi setiap perusahaan atau peternak mandiri mendapatkan kuota maksimal tidak lebih dari 20 %.

8. Terkait dengan  hal-hal tersebut  diatas yang bernuasa perlindungan terhadap  peternak rakyat mandiri kecil mohon diterbitkan PERPRES yang melindungi peternak mandiri.

9. Agar kondisi ini setiap saat dan setiap waktu bisa dilaporkan kepada  pemerintah ( Bapak Presiden ) kami meminta dibuat semacam team kecil  ( team monitoring dan evaluasi yang didalamnya ada perwakilan peternak  ungags rakyat mandiri ). (CR)


PATAKA NYATAKAN SIKAP TERKAIT DATA JAGUNG

Jagung, komoditi penting di sektor peternakan


Jakarta. (21/9/21). Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA), Ali Usman mengatakan, Desas-desus data jagung yang dinyatakan surplus sebesar 2,37 juta ton oleh Kementan tidak mendasar ditengah melambungnya harga jagung mencapai Rp 6.200 per kg.

Menurutnya padahal sudah jelas peternak Layer, Suroto berteriak terkait mahalnya harga jagung, sampai akhirnya terdengar ke telinga Presiden. Singkat cerita Presiden memerintahkan Kementan agar menurunkan harga jagung paling tinggi di angka Rp 4.500/kg khusus ke peternak layer.

Kenyataannya Per-tanggal 21/09/21 realisasi bantuan harga jagung wajar tersebut tersalurkan hanya 1.000 ton dari 30.000 ton yang dijanjikan Presiden. Rincian distribusi jagung Koperasi Blitar 350 ton, Koperasi Kendal 300 ton, Koperasi Lampung 200 ton dan Koperasi PPN 150 ton.

“Sedangkan Kementan masih bersikukuh bahwa jagung surplus, tetapi harga jagung masih tinggi di berbagai daerah terutama di Sumatera, Jawa, NTB, Kalimantan dan Jawa. Diluar harga bantuan Presiden kepada Peternak Blitar Jawa Timur. Kalau memang surplus seharusnya harga jagung lebih murah bukan sebaliknya. Lalu mau sampai kapan Desas-desus Jagung Surplus ini berlanjut,” tegas Ali.

Pasalnya, kata Ali, Presiden Joko Widodo baru mengetahui masalah jagung dari aksi nekat Suroto membentangkan poster di Blitar sehingga di undang ke Istana Merdeka. Dia kira harga jagung baik-baik saja karena Kementan surplus. Ali menyampaikan, munculnya fenomena Suroto adalah momentum menyadarkan pemerintah c.q Kementerian Pertanian bahwa Desas-desus Surplus Jagung harus segera di akhiri.

Sudah saatnya DPR RI mengambil langkah strategis untuk Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, KemenKo Ekonimi dan Kementerian Badan Pusat Statistik (BPS). Guna menghitung supply-demand dan neraca jagung nasional. Sehingga persoalan segera diakhir dan mencapai kesepatakan bahwa data Jagung kedepan harus dikelola oleh BPS tidak lagi dklaim sepihak oleh Kementan.

Karena itu, ego sektroral lembaga harus dibuang jauh-jauh, seharusnya Kementan koordinasikan ketika ada masalah sehingga terjadi harmonisasi petani-peternak. Petani-peternak bagian penggerak ekonomi negara, kedunya saling membutuhkan dan jangan saling menekan harga. Dan inilah momentum harmonisasi stakeholder perunggasan layer baik petani, peternak, pelaku usaha jagung, distributor jagung dan industri pakan.

THAILAND BERHARAP EKSPOR LEBIH BANYAK KE CHINA

Thailand mengharapkan pemerintah China akan menyetujui lebih banyak fasilitas ekspor daging ayam pada 2022. Proses audit sempat terganggu oleh pandemi Covid-19.

Pemerintah China telah mengaudit fasilitas pengolahan daging ayam di Thailand sejak 2017 setelah China melarang impor daging ayam Thailand karena wabah flu burung di negara itu pada 2004. China mencabut larangan itu pada 2018 dan menyetujui 9 fasilitas ekspor.

China kini telah menyetujui 22 fasilitas pemrosesan ekspor daging ayam Thailand dari 31 fasilitas yang telah disertifikasi oleh Departemen Pengembangan Peternakan Thailand. (via poultryworld.net)

PEMULIHAN LAMBAT PASAR UNGGAS THAILAND

Produksi daging ayam di Thailand diperkirakan akan meningkat sekitar 1% pada tahun 2021 dan 3% pada tahun 2022, sementara konsumsi domestik perlahan mulai meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi secara bertahap.

Meskipun jauh di bawah rata-rata tingkat pertumbuhan tahunan produksi daging ayam sebelum wabah Covid-19, total produksi daging ayam di Thailand meningkat sekitar 1% pada paruh pertama tahun 2021.

Kenaikan harga pakan mengakibatkan tingginya biaya produksi bagi peternak ayam pedaging pada semester I tahun 2021, naik 12% dari periode yang sama tahun 2020. Harga jagung naik 8%, dan bungkil kedelai 21%.

Industri pabrik pakan Thailand mengajukan petisi kepada pemerintah pada Juni 2021 untuk menurunkan tarif bahan pakan impor. Tarif rata-rata bahan pakan impor merupakan yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara. Diperkirakan produksi daging ayam pada tahun 2022 akan meningkat sekitar 3% dari tahun 2021 seiring dengan pemulihan bertahap konsumsi domestik dan ekspor daging ayam. (via poultryworld.net)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer