-->

BROILERX, SISTEM PENDETEKSI SUHU KANDANG AYAM DARI FAPET UGM

Fakultas Peternakan UGM menciptakan sebuah sistem pendeteksi performa kandang ayam yang memudahkan peternak memantau ayam dari sebuah aplikasi yang diinstal di handphone. Sistem tersebut bernama BroilerX, yang merupakan salah satu brand yang dikembangkan oleh PT Integrasi Teknologi Unggas.

Ketua Tim Riset and Developments BroilerX, Galuh Adi Insani, SPt, MSc yang merupakan dosen Fakultas Peternakan UGM menjelaskan tentang BroilerX dalam Workshop Internet of Things (IoT) Smart Poultry Farming yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Agustus 2021 melalui zoom yang dihadiri lebih dari 100 peserta.

Menurutnya, penggunaan teknologi ini penting karena ayam broiler di Indonesia rentan terkena heat stress yang berdampak pada performa ayam broiler. IoT mampu mencatat suhu, kelembaban, kadar ammonia, kadar CO2 di kandang dan dapat dilaporkan secara realtime sehingga peternak dapat melakukan tindakan secepat mungkin ketika terjadi perubahan pada komponen yang memengaruhi kondisi kenyamanan ayam. Teknologi tersebut memiliki fitur berupa early warning system yang akan memberikan notifikasi di aplikasi Android maupun di web desktop, sehingga ayam yang kondisinya menurun dari efek lingkungan yang semakin kurang mendukung, dapat diselamatkan secepat mungkin.

Sistem ini dibuat dan dikembangkan sebagai langkah melengkapi dan menyempurnakan sensor dan peralatan yang ada di kandang closed house dalam upaya mengatur lingkungan mikro di dalam kandang. Kandang closed house sekarang hanya dilengkapi dengan sensor saja tanpa melakukan proses record data perubahan kondisi di dalam kandang seperti suhu, kelembaban, kadar amonia, kadar CO2, dan lain sebagainya.

Sedangkan dengan memanfaatkan IoT, hal tersebut sangat dimungkinkan, sehingga jika terdapat kasus penurunan performa dari ayam, dapat dilakukan proses pelacakan dan perbaikan. Sistem yang diciptakan oleh tim BroilerX memiliki sensor yang dapat mendeteksi perubahan kondisi lingkungan dan kedepannya akan dapat dilengkapi dengan sistem automasi atau sistem lain yang bekerja, seiring banyaknya data yang dapat dicatat dan memberikan insight.

Jati Pikukuh, CEO BroilerX yang juga menjadi narasumber dalam acara tersebut mengatakan, BroilerX membantu peternak ayam untuk membuat kandang tetap merata kesejukannya. Selama ini, bagian depan kandang saja yang sejuk sedangkan bagian belakang panas, dan banyak peternak tidak mengetahuinya, dikarenakan pada area tersebut tidak dilengkapi sensor yang digunakan untuk mengukur kondisi kandang dan dapat dipantau secara online dengan memanfaatkan peran dari IoT. Padahal, di Indonesia suhu dan kelembapan tinggi.

Kualitas udara di dalam kandang penting karena beberapa alasan. Dilihat dari aspek kesehatan, kualitas udara yang baik dapat meningkatkan kesejahteraan karyawan, menurunkan angka penyakit, dan meningkatkan produktivitas. 

Jati mengungkapkan, alat yang ia ciptakan bersama timnya mudah digunakan oleh peternak di Indonesia. BroilerX memiliki komponen yang murah tetapi bagus. Jati dan timnya memang berniat untuk membuat IoT dengan harga terjangkau karena alat buatan luar negeri bisa mencapai 28 juta rupiah. Bahkan, negara-negara lain seperti Kanada dan Singapura pun tertarik dengan alat buatan Jati dan timnya. Peternak dapat mencoba sistem SaaS (Softeware as a Service) tersebut di alamat saas.broilerx.com untuk mempermudah dalam proses pengelolaan administrasi peternakan.

Dengan sistem tersebut, peternak dapat memantau kondisi kandang dengan aplikasi BroilerX yang dapat diinstal di handphone. Aplikasi dapat menampilkan fitur online recording, stok, grafik performa kandang, dan sebagainya.

Narasumber lain, Yutiman selaku Engineer KMTek PT Karya Merapi Teknologi mengatakan, BroilerX menggunakan Lora (Long Range), yaitu suatu pengembangan hardware yang di dalamnya terdapat modul komunikasi low power yang dapat mentransmisikan data dengan rentang sejauh 15 km, tanpa menggunakan paket data, sehingga cocok dipasang di lingkungan pedesaan yang sulit sinyal internet. Setting dari alat Lora ini dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan media wifi atau bluetooth dan akan terkoneksi ke software dan dapat dipantau datanya dari software tersebut secara realtime dan online.

Menurut Yutiman, IoT merupakan keniscayaan karena sekarang adalah era smart farming. Masyarakat sehari-hari telah terbiasa dengan IoT. Semua berbasis big data, basis internet dengan TI bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa mendukung industri peternakan.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus, DAA, DEA, IPU, ASEAN Eng yang memberikan sambutan dalam workshop tersebut mengatakan, dirinya mengapresiasi tim BroilerX untuk mewujudkan smart farming di kandang closed house. BroilerX merupakan upaya mengejar ketinggalan, yaitu karya anak bangsa yang akan meramaikan start up.

Ali sangat mendukung lahirnya BroilerX yang memudahkan petani peternak yang dapat mengikuti ternak hour by hour yang terjadi di dalam kandang (temperatur, kelembapan, kadar amoniak) dan bisa jadi hingga mampu mendeteksi penyakit. BroilerX memudahkan para user menjadi peternak yang benar-benar modern yang dapat mengontrol kandang dari jarak jauh. (Rilis)

PENYAKIT VIRUS: TIDAK MENGENAL MUSIM

Serangan penyakit viral pada ternak broiler modern tak kenal musim. (Foto: Dok. Infovet)

Beternak ayam memang susah-susah gampang, mungkin begitulah keluhan yang sering didengar dari beberapa peternak. Berbagai aspek menjadi alasan dalam sulitnya beternak, salah satunya penyakit. Peternak sudah tidak asing lagi dengan penyakit-penyakit seperti Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Gumboro, Marek’s dan lain sebagainya.

Selain itu, ada faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit, misalnya perubahan cuaca yang tidak menentu dan ekstrem, sanitasi dan biosekuriti yang kurang baik, serta kesalahan dalam manajemen pemeliharaan dapat menyebabkan ayam lebih sering terinfeksi penyakit.

Mengantisipasi Musim Kering
Berdasarkan lokasi dan posisinya, Indonesia merupakan Negara tropis dimana hanya terdapat dua musim, hujan dan kemarau. Kedua musim tersebut memiliki potensi yang sama pada serangan penyakit.

Berdasarkan data terbaru BMKG (2021), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2021. Hal tersebut disampaikan oleh Drh Eko Prasetyo dari Tri Group dalam sebuah webinar mengenai perunggasan. 

Menurut Eko, perubahan musim yang ekstrem dari musim penghujan menuju musim kemarau atau sebaliknya menjadi salah satu faktor predisposisi terjadinya serangan penyakit infeksius seperti virus, terutama bagi ayam broiler modern.

Hal ini tentu saja berkaitan dengan genetik broiler modern, dimana mereka memiliki beberapa karakteristik peka dengan pergantian suhu dan kelembapan di lingkungannya. “Jika terjadi perubahan suhu sangat ekstrem, misalnya di musim kemarau suhunya sangat tinggi dan perbedaan suhu antara malam dan siang mencapai lebih dari 8° C, bisa dipastikan ayam akan mudah stres,” tutur Eko.

Lebih lanjut, ketika terjadi pergeseran keseimbangan antara lingkungan, hospes (ayam) dan agen infeksius (bakteri, virus, parasit dan sebagainya), maka yang akan terkena dampak negatif adalah hospes. Terlebih lagi stres dapat mengakibatkan sistem imun ayam tidak bekerja maksimal.

Dijelaskan bahwa stres akan memicu sekresi hormon Adenocorticotropin pada kelenjar pituitary yang kemudian akan meningkatkan sekresi hormon Kortikosteron yang mempengaruhi fungsi sistem imun. Jika sudah begini penyakit akan mudah masuk karena imunosupresi.

Berdasarkan pengalama Eko, di musim kering alias kemarau ketika diawali adanya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2021. (CR)

CHINA BERSIAP UNTUK TAHUN PRODUKTIF DI PETERNAKAN UNGGAS

Pada tahun 2022, produksi daging ayam di China diperkirakan akan melampaui tahun 2021 karena harga yang meningkat, permintaan yang mendorong konsumsi nasional, dan fasilitas baru yang memperluas kapasitas produksi.

Sementara itu, total impor daging ayam ke China diperkirakan meningkat 3% sementara ekspor diperkirakan tumbuh 4% tahun depan.

Pada tahun 2021, harga daging babi turun dan banyak konsumen China beralih dari ayam ke babi. Harga ayam yang rendah ditambah dengan biaya pakan yang tinggi dan permintaan konsumen yang lemah menekan margin keuntungan bagi produsen kecil dan menengah. Diharapkan pada tahun 2022, produsen besar yang menahan kerugian laba tahun 2021 diperkirakan akan menyerap sebagian besar pangsa pasar yang hilang oleh produsen kecil pada tahun 2021.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa perusahaan telah mempublikasikan rencana untuk mengembangkan peternakan, dan pada tahun 2022, produksi daging ayam diperkirakan akan melebihi tahun 2021 karena harga pulih, permintaan meningkatkan konsumsi nasional, dan fasilitas baru memperluas kapasitas produksi. Diharapkan investasi sebelumnya, fasilitas baru dan pemain baru dalam produksi ayam akan meningkatkan kapasitas dan memperluas produksi ayam broiler.

Pada tahun 2022, permintaan konsumen akan daging ayam diperkirakan akan tumbuh karena harga ayam menjadi lebih kompetitif dibandingkan daging babi. Sektor jasa makanan dan tren makan sehat juga akan meningkatkan permintaan.

Di Cina, daging ayam olahan menyumbang hampir 15% dari total konsumsi ayam. Kategori ini diperluas selama pandemi Covid-19 karena layanan makanan dan sektor ritel disesuaikan dengan permintaan konsumen untuk pengiriman rumah yang cepat dan nyaman.

Pada tahun 2022, harga ayam domestik diperkirakan akan meningkat, gangguan pelayaran dan pelabuhan internasional membaik, dan permintaan daging ayam untuk mendukung impor China yang kuat. Oleh karena itu, impor daging ayam diperkirakan akan meningkat sebesar 3% pada tahun 2022 menjadi 930.000 mt. Impor pada tahun 2021 diperkirakan akan menurun dari tingkat yang sangat tinggi pada tahun 2020 karena gangguan pelayaran internasional dan harga ayam domestik yang lebih rendah. Bahkan dengan turunnya harga daging ayam di dalam negeri, harga daging ayam impor tercatat antara 20 hingga 50% lebih rendah dari harga daging ayam dalam negeri.

Pada tahun 2022, ekspor produk daging ayam China diperkirakan akan tumbuh sebesar 4% menjadi 440.000 mt. Ekspor daging ayam China ke Jepang dan Hong Kong, masing-masing sebagai pasar ekspor terbesar pertama dan kedua, diperkirakan akan membaik karena sektor jasa makanan diperkirakan akan kembali ke level sebelum Covid-19. China terutama mengekspor produk daging ayam olahan ke Jepang dan produk daging ayam beku ke Hong Kong. (via poultryworld.net)

MEKSIKO KEKURANGAN SAYAP AYAM

Persatuan Peternak Unggas Nasional Meksiko telah melaporkan kekurangan sayap ayam di pasar internalnya, sehingga harganya melonjak 25% dibandingkan tahun 2020.

Alasan pertama kenaikan harga adalah meningkatnya permintaan konsumen terhadap sayap selama pandemi, dan alasan kedua adalah kenaikan harga pakan, terutama jagung dan kedelai. Keadaan ini mempengaruhi berbagai perusahaan termasuk Buffalo Wild Wings, Santas Alitas, WingStop, Wings Army dan Wings Factory.

Arturo Calderon, presiden eksekutif Persatuan Petani Unggas Nasional, menjelaskan bahwa permintaan sayap tidak dapat dengan mudah dipenuhi. “Semua pola perilaku pasar rusak oleh pandemi Covid-19. Seekor ayam hanya memiliki 2 sayap dan kami tidak dapat memproduksi lebih banyak karena permintaan untuk bagian selain sayap tidak tumbuh ke tingkat yang sama,” katanya. (via poultryworld.net)

PENYAKIT VIRAL YANG MASIH “VIRAL”

Penyakit viral pada ternak broiler masih menjadi momok menakutkan. (Foto: Tim Scrivener)

Unggas merupakan salah satu penyumbang pangan hewani terbesar dalam pemenuhan kebutuhan protein manusia. Selain karena harganya yang sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat, unggas juga mudah didapatkan serta mampu memberikan kandungan gizi yang cukup bagi kebutuhan manusia.

Produk utama yang dihasilkan unggas berupa karkas, jeroan dan telur. Perkembangan populasi perunggasan dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan 5-10% (BPS). Perkembangan ini juga diikuti dengan tantangan risiko penyakit yang dari tahun-ketahun terus mengintai.

Salah satu penyakit pada unggas yang sangat berbahaya dan memiliki risiko tinggi yaitu penyakit viral. Penyakit viral dapat menyebabkan kematian yang sangat tinggi dalam waktu yang cepat, penurunan produksi telur yang tajam, serta performa ayam yang buruk khususnya pada ayam broiler.

Jenis penyakit viral pada unggas yang masih viral sepanjang tahun dan menjadi musuh peternak adalah Avian Influenza (AI), Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Bursal Disease (IBD), Egg Drop syndrome (EDS) dan Inclution Body Hepatitis (IBH). Virus-virus tersebut mendominasi kejadian kasus penyakit viral unggas dari tahun ke tahun. Karena sifat virus yang cepat menular yang terus bermutasi memunculkan beragam variasi sehingga merupakan momok yang tidak pernah habis.

Berdasarkan data kasus penyakit pada unggas yang terkonfirmasi uji laboratorium melalui uji polymerase chain reaction (PCR) dan sekuensing pada 2016-2020 menunjukkan bahwa penyakit viral didominasi oleh penyakit ND. Penyakit tersebut disebabkan oleh virus yang termasuk dalam famili Paramyxoviridae yang dapat menimbulkan kematian tinggi hingga 100% dan penurunan produksi. Strain patogen yang saat ini sering ditemukan adalah ND genotipe 7. 

Penyakit viral selanjutnya yang juga banyak dijumpai di peternakan dan sangat merugikan adalah… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2021.

Ditulis oleh:
Ir Syamsidar SPt MSi IPM
Marketing Support PT Sanbio Laboratories

INVESTASI SDM UNTUK MASA DEPAN AGRIBISNIS


Pelaku ekonomi kreatif nasional, Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau yang akrab dipanggi Ipang Wahid mengharapkan lebih banyak lagi generasi milenial yang menggeluti dunia agribisnis. Owner Frezz Farm Aquagriculture ini menyayangkan bisnis pertanian kerap dipandang sebelah mata. 

“Lima masalah pertanian kita antara lain keterbatasan lahan, teknik budidaya, dipandang sebelah mata, rantai niaga yang merugikan petani, dan akses permodalan,” urai Ipang Wahid saat menjadi pemateri webinar Grand Launching PT Swasembada Agri Solusi, Sabtu (7/8/2021).

Ipang Wahid lantas menyebutkan sejumlah poin yang harus diperhatikan untuk memulai dan mengembangkan bisnis pertanian, bisa mulai dengan riset, lalu follow akun yang cocok dengan interest kita, cari tahu dengan mengikuti kursus/magang, kemudian menentukan model bisnis untuk memulai dengan skala kecil.

Tantangan saat ini dalam upaya membesarkan sektor pertanian kita adalah orientasi digital. “Kita ajak milenial untuk terjun ke sektor pertanian dan peternakan dengan cara kekinian, tentunya dengan memotivasi serta pengetahuan seputar manajemen produksi, pembiayaan, pemasaran,” terangnya. 

Terkait dengan upaya mengajak generasi muda dan menciptakan SDM peternakan yang unggul, Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN ENG mengemukakan tentang program Work Based Academy

Dalam paparan materinya, Prof Ali menerangkan Word Based Academy merupakan program bekerja dan belajar yang digagas oleh Fapet UGM dan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk yang diharapkan menjadi terobosan dalam menghasilkan SDM peternakan yang terampil dan unggul.

“Kunci sukses industri perunggasan di Brazil adalah investasi SDM. Kita perlu menyiapkan SDM sarjana peternakan yang unggul disamping faktor lahan, industri, inovasi dan usaha serta regulasi usaha,” tuturnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi IV DPR RI H Charles Mekyansah S Sos M I Kom memaparkan data ekspor pertanian sepanjang tahun 2020 mencapai 451,8 triliun rupiah. Angka tersebut naik dibandingkan tahun sebelumnya. Perlu dicatat pertumbuhan tersebut terjadi di tengah pandemi yang membuat perekonomian nasional dan dunia mengalami kontraksi. Sehingga perlu diapresiasi serta menumbuhkan optimisme masa depan sektor pertanian. (NDV)

TOKOH PENTING HADIRI GRAND LAUNCHING PT SWASEMBADA AGRI SOLUSI

Sejumlah tokoh penting turut hadir dan menyaksikan secara virtual Grand Launching PT Swasembada Agri Solusi (Swasembada Enterprise), Sabtu (7/8/2021). Diantaranya pelaku pelaku ekonomi kreatif nasional, Irfan Asy'ari Sudirman Wahid, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Prof Dr Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, dan Anggota Komisi IV DPR RI H Charles Mekyansah S Sos M I Kom.

Ketiga tokoh tersebut juga diundang sebagai pembicara webinar yang masuk dalam rangkaian acara peresmian Swasembada Enterprise. 

Hadir pula sekaligus menyampaikan kata sambutan yakni Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Dr Ir Kasdi Subagyono MSc dan Asisten Sekretaris Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Sleman, Drs Budiharjo MSi yang mewakili Bupati Kabupaten Sleman Dra Hj Kustini Sri Purnomo.  

Kasdi dalam sambutannya menyampaikan rasa bahagia dan syukur atas peresmian Swasembada Enterprise yang diketahui bergerak di bidang konsultan, kemitraan, dan aggregator yang berfokus pada pengembangan hulu-hilir pada sektor peternakan dan pertanian.

Sekilas menampilkan materi presentasi, Kasdi menyampaikan bahwa pencapaian kinerja sektor pertanian tumbuh pesat atau positif dan tertinggi di masa pandemi COVID-19 saat ini.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Kasdi menyebutkan posisi pertumbuhan PDB Triwulan II tahun 2020 (Q to Q), sektor pertanian tumbuh pada posisi 16,24 persen. “Selanjutnya pertumbuhan PDB menurut lapangan usaha Triwulan III 2020 tumbuh (Year on Year) senilai 2,15 persen. Triwulan IV 2020 tumbuh 2,59 persen (Year on Year),” terangnya. 

Lanjut Kasdi, total pertumbuhan sektor pertanian di tahun 2020 yaitu 1,75 persen. Pada Triwulan I tahun 2021 pun tumbuh 2,95 persen. Menurut Kasdi, sektor pertanian senantiasa menunjukkan nilai pertumbuhan yang positif dan cukup signifikan.

“Hari ini, kami membuka secara resmi grand launching Swasembada Enterprise. Adanya kegiatan webinar juga kami memiliki harapan dapat memberikan semangat baru dan formula pemikiran positif, sebagai kerangka dukungan pada kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dan jajaran Pemda. Tentunya dalam upaya menggerakkan pertanian agar lebih berdaya saing dan bernilai tinggi di dalam memfasilitasi penyediaan pangan maupun peningkatan kesejahteraan petani,” tutupnya. (NDV) 

PELATIHAN PEMBELAJARAN SUKSES BAGI RANCHER MUDA

Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Rancher yang dilaksanakan Fapet UGM melalui daring. (Foto: Istimewa)

Fakultas Peternakan (Fapet), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kembali menyelenggarakan rangkaian Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) Rancher pada 4-5 Juli 2021, untuk menyambut 334 mahasiswa baru (Rancher Muda). Tahun ini, tema yang diangkat dalam PPSMB adalah “Rancher Muda Berwawasan sebagai Agen Perubahan dalam Harmoni Dinamika Transisi.”

Rancher muda diharapkan mengetahui lebih mendalam tentang Fakultas Peternakan UGM dan peran strategis bidang peternakan dalam pembangunan Indonesia. Adanya pandemi COVID-19 membuat PPSMB Rancher dilaksanakan secara online dengan pembelajaran secara asynchronous dan synchronous.

Materi pembelajaran meliputi pengenalan Fapet UGM, sistem layanan akademik dan kemahasiswaan, bincang alumni mengenai peluang mahasiswa peternakan di bidang industri dan kewirausahan, serta inaugurasi sebagai penutup rangkaian kegiatan PPSMB 2021.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Dr Ir Ali Agus DAA DEA IPU ASEAN Eng, menyampaikan bahwa Fapet UGM menyediakan fasilitas dan sistem pendidikan yang didukung oleh tenaga pendidik berkompeten, sehingga dapat membantu mahasiswa baru menjadi insan peternakan yang unggul dan membanggakan.

Hal tersebut terbukti bahwa program studi ilmu dan industri peternakan mendapatkan akreditasi tinggat internasional yakni ASIIN (Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, der Naturwissenschaften und der Mathematik), merupakan lembaga akreditasi internasional dari Jerman untuk displin ilmu rekayasa, matematika dan sains, pertanian, biologi.

“Lapangan pekerjaan di dunia industi peternakan yang menghasilkan daging, susu, telur, madu dan hasil turunannya sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, jangan disia-siakan atas kesempatan yang dimiliki sebagai bagian dari mahasiswa Fapet UGM,” kata Ali Agus.

“Mahasiswa Fapet UGM harus berprestasi dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, sehingga mampu bersaing dan adaptif di era disruption ini.” (IN)

1.000 PAKET UNTUK WARGA TERDAMPAK COVID-19 DI BOGOR

 

Penyerahan secara simbolis bantuan 1.000 paket (Foto: Istimewa)


Startup lokal Meyer Food yang bergerak di sektor ritel dan usaha supplier ayam bersama HappyFresh, PT Ceva Animal Health Indonesia, dan PT AEON Indonesia mendistribusikan bantuan kepada 1.000 warga terdampak COVID-19 di Kota Bogor. Dalam Program “Bersama Lawan COVID #PastiBisa”, keempat perusahaan ini berkolaborasi membagikan bantuan 1.000 paket berisi ayam potong, telur, madu, susu bubuk, hand sanitizer, disinfectan soap, face mask, dan mi instan. 

Wakil Walikota Bogor Dedie Rachim menerima secara simbolis 1.000 paket esensial dan sanitasi tersebut. Dedie mengungkapkan kolaborasi keempat perusahaan yang diinisiasi oleh Meyer Food ini patut diapresiasi. Kegiatan berbagi ini diadakan pada Kamis, 5 Agustus 2021.

“Kami berharap gerakan ini bisa terus dilaksanakan dan semakin banyak warga khususnya lapisan menengah ke bawah dan terdampak COVID yang terbantu,” tutur Dedie, dikutip dalam siaran pers yang diterima Infovet, Jumat (6/8/2021). 

Athalia Permatasari, Co-Founder & COO Meyer Food mengatakan, “Kami percaya masih banyak dari masyarakat kita yang bahkan lebih takut jika kelaparan dibandingkan dengan COVID itu sendiri. Oleh karena itu, kami menggalang Donasi 1000 paket sembako dan sanitasi kepada 1000 KK yang terdampak COVID di Bogor. Hal ini tidak akan mengubah hidup mereka, tapi paling tidak akan menyelamatkan hari-hari mereka.” 

Menurut Co-Founder & CTO HappyFresh, Fajar Budiprasetyo kegiatan seperti ini telah menjadi bagian dari misi HappyFresh yang ingin melayani masyarakat Indonesia untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. 

“Khususnya di era pandemi COVID-19 ini, tak hanya kebutuhan pangan yang layak dan berkualitas yang perlu diperhatikan, tetapi juga memastikan pendistribusian yang mengutamakan protokol kesehatan. Kami berharap bantuan ini setidaknya dapat mengembalikan senyum dan semangat masyarakat untuk terus berjuang menghadapi pandemi ini bersama-sama”, imbuh Fajar. 

Hal senada juga disampaikan oleh Demak Tambunan, General Manager Marketing PT AEON Indonesia dan Ayatullah M Natsir, Poultry Business Unit Manager PT Ceva Animal Health Indonesia. 

“Pandemi COVID-19 merupakan situasi yang sangat sulit untuk seitap orang, kami senang menjadi bagian dari program kolaborasi ini dan berharap bisa bermanfaat untuk warga yang kurang mampu serta terdampak COVID.” 

Ayatullah mengatakan bahwa sebagai perusahan kesehatan hewan yang turut berkontribusi menjaga keamanan dan kesehatan pangan (ayam dan telur) di Indonesia, program kolaborasi antar perusahaan ini menunjukan bukti semangat kebersamaan kami untuk saling berbagi dan peduli #wesharewecare. 


Momen pembagian paket bantuan kepada warga (Foto:Istimewa) 

Salah seorang penerima bantuan Siti Dari Bogor Timur mengaku sangat berterima kasih atas bantuan itu “Satu keluarga saya terpapar COVID, terlebih saya juga sudah kehilangan pekerjaan semenjak tahun lalu, bantuan ini sangat berarti,” ungkapnya. 

Yanti salah seorang warga dari Bogor Barat juga bersyukur bisa memperoleh bantuan ini, karena selama pandemi ia juga kehilangan pekerjaan dan terlebih saat ini ia juga terkena COVID sekaligus sedang menjalani isolasi mandiri, sehingga bantuan ini bermanfaat sekali. 

“Kami berharap program ini bisa berkelanjutan dan juga menggerakkan orang lain dan berbagai organisasi lainnya untuk melakukan hal yang sama,” pungkas Athalia. (Rilis/INF)


FGD FORMAT : RAMBU - RAMBU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI PERUNGGASAN

FGD FORMAT, membahas penggunaan antibiotik di perunggaan lebih mendalam

Beberapa waktu yang lalu harian Kompas mengangkat tema terkait Antimicrobial Resisstance (AMR) pada laman utamanya. Lalu kemudian digelar pula acara konferensi pers antara YLKI bekerjasama dengan beberapa LSM terkait temuan bakteri yang resisten antimikroba pada produk perunggasan (karkas).

Sebagai upaya klarifikasi atas isu tersebut, Forum Media Peternakan (FORMAT) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) mengenai penggunaan antibiotik di sektor perunggasan melalui daring Zoom Meeting pada Kamis (5/8). FGD ini sengaja dibatasi pesertanya hanya pengurus Format dan para wartawan media anggota Format, sedangkan narasumber yang diundang adalah para pimpinan asosiasi terkait dengan isu ini yaitu Pinsar Indonesia, GOPAN, Pinsar Petelur Nasional, GPMT, GPPU, ASOHI, PDHI serta perwakilan pemerintah yaitu Ditkeswan. FGD  dibuka oleh Ketua Format Suhadi Purnomo dan dipandu oleh sekretaris Format Yopi Safari

Pada kesempatan pertama Drh Rakhmat Nuryanto Ketua Bidang Kesmavet PINSAR Indonesia mengatakan bahwa isu bakteri kebal antibiotik terutama E.Coli sebenarnya adalah isu yang sudah lama terjadi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Ia mengutip beberapa laporan dan hasil penelitian terkait isu tersebut.

"Permasalahannya, yang duluan mengangkat isu tersebut adalah media mainstream, sehingga masyarakat menjadi geger. Itu tidak bisa dihindari dan memang dampak sosio-ekonominya cukup besar," tutur Rakhmat. 

Rakhmat sendiri menyayangkan hal tersebut, padahal menurutnya bakteri sekebal apapun terhadap antimikroba akan tetap mati dengan cara dimasak . Jadi untuk meredam isu tersebut ia menyarankan pada stakeholder untuk meng-counternya dengan menyarankan pada masyarakat agar tidak takut makan ayam dan telur.

Selain itu menurut Rakhmat, sektor peternakan bukanlah satu - satunya sektor yang harus disalahkan dari terjadinya AMR. Kesalahan pola konsumsi antibiotik pada manusia juga memegang peranan yang besar atas terjadinya AMR.

Senada dengan Rakhmat, Ketua Umum PB PDHI Dr. Drh Muhammad Munawaroh juga menyayangkan hal tersebut. Menurutnya hal tersebut hanya menyebabkan kepanikan belaka di masyarakat sehingga masyarakat menjadi takut untuk mengonsumsi daging dan telur ayam.

Peternak Bicara

Dalam forum tersebut juga hadir perwakilan PINSAR Petelur Nasional (PPN) yakni Yudianto Yosgiarso. Menurutnya di lapangan sebisa mungkin peternak tidak menggunakan antibiotik maupun obat, karena hal tersebut juga merupakan cost tambahan produksi. 

Ia juga mendukung upaya pemerintah dalam menggalakkan program sertifikasi NKV di Indonesia. Menurutnya dengan adanya program tersebut, peternak dapat lebih meningkatkan sisi manajemen pemeliharaan dimana dengan manajemen yang baik, tidak dibutuhkan penggunaan obat - obatan termasuk antibiotik dalam jumlah yang banyak.

"Saya sangat mendukung itu dan sudah melihat sendiri bahwa dengan memperbaiki cara beternak, obat - obatan termasuk antibiotik dapat dikurangi. Makanya saya dukung program pemerintah ini dan kalau bisa semua peternak ayam petelur juga meneruskan langkah baik ini," tuturnya.

Pendapat Yosgiarso juga didukung oleh Herry Dermawan, Ketua Umum GOPAN. Ia memaparkan bahwasanya penggunaan antibiotik dapat ditekan dengan cara menerapkan biosekuriti yang baik sehingga ayam tetap sehat dan performanya baik.

"Di Priangan Timur sana, kami (termasuk saya), memanen ayam di umur 23-24 harian, karena kami sadar nanti kalau dipanen di umur 28 hari keatas banyak tantangan penyakit. Dengan  dipanen 24 hari, peternak sudah mulai menerapkan cara pemeliharaan yang sangat minim menggunakan obat. Jadi faktanya peternak sendiri sudah melakukan upaya mengurangi penggunaan obat-obatan termasuk antibiotik," kata Herry.

Namun begitu kata Herry, isu yang ditimbulkan oleh pemberitaan negatif terkait ayam membuat peternak cukup terpukul. Terlebih lagi ketika peternak menghadapi anjloknya harga ayam terkait masalah supply dan demand. Oleh karenanya Herry mengatakan bahwa isu ini harus bisa segera diredam untuk mencegah dampak sosio - ekonomi yang lebih hebat lagi.

Memperkuat Pengawasan dan Komunikasi

Pemerintah pun sebenarnya tidak tinggal diam dalam menghadapi masalah ini. berbagai peraturan telah dikeluarkan oleh pemerintah dalam mengurangi penggunaan antibiotik yang serampangan. Mewakili Direktur Kesehatan Hewan Drh Ni Made Ria Isriyanthi, PhD pun menjabarkan berbagai regulasi terkait penggunaan antibiotik pada ternak.

Menurut Ria, berbagai upaya kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementan bersama stakeholder di luar sektor peternakan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan pengawasan peredaran obat hewan bersama stakeholder . 

"Kami sedang menggodok aturan bagaimana caranya agar sediaan obat hewan ilegal tidak dijual di marketplace . Ini masih butuh waktu dan kami diskusikan juga dengan ASOHI," tutur Ria.

Sementara itu Ketua Umum ASOHI Drh Irawati Fari dalam forum ini mengutarakan, bahwa sebagai mitra pemerintah pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam menjalankan kebijakan pengendalian AMR.

"Kami juga mengerti kalau permasalahan ini tidak bisa kami selesaikan sendiri. ASOHI pun telah mewanti - wanti anggotanya agar selalu menaati peraturan yang berlaku, dan kami membuktikan itu. Berbagai kolaborasi dengan pihak lain juga telah kami jalankan agar bisa mereduksi dampak dari AMR, karena kami paham isu ini sifatnya global dan dampak sosio - ekonominya pun besar," tutur Irawati.

Dalam kesempatan yang serupa, Drh Desianto Budi Utomo Ketua Umum GPMT ikut menyatakan pendapat. Ia menjabarkan bahwa semua pabrik pakan anggota GPMT dipastikan sudah mematuhi semua peraturan terkait antibiotik baik AGP maupun medikasi.

"Kami ikuti sesuai peraturannya dan setiap anggota kami wajib memiliki dokter hewan yang menjadi PJTOH (Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan) di pabrik masing - masing, jika nanti terjadi praktik yang tidak sesuai tentunya akan mudah dilacak," kata Desianto.

Sementara itu, Ketua Umum GPPU Ahmad Dawami mengatakan bahwa memang isu perunggasan yang diangkat Kompas beberapa waktu belakangan efeknya cukup mencengangkan. Meskipun ia mengetahui pasti bahwa orang - orang di sektor perunggasan akan menanggapinya dengan santai, tetapi di luar sektor perunggasan pasti dampaknya akan berbeda.

"Kita santai karena kita ngerti, yang lain kan enggak ngerti. Makanya ini kita harus bisa mengubah mindset orang - orang ini agar enggak takut makan ayam dan telur," tutur Dawami.

Ia menyoroti pola komunikasi yang ada di masyarakat dimana sebenarnya banyak beredar isu tak sedap mengenai perunggasan, mulai dari hormon, telur palsu, antibiotik, dan lain sebagainya. 

Selain itu Dawami juga menyoroti ketegasan pemerintah dalam melakukan sanksi pada pihak yang dinilai menyalahi aturan.Menurutnya, pemerintah harus lebih tegas dalam memberikan sanksi, jangan hanya memberikan sanksi administratif, bila perlu penutupan izin usaha.

Drh Munawaroh juga sangat menyoroti sisi komunikasi dari isu ini. Menurutnya, sektor peternakan kurang aktif dalam mengampanyekan sisi baiknya kepada masyarakat luas. Sehingga berita - berita hoaks jadi semakin susah ditangkis.

"Selama ini saya enggak pernah lihat di TV, koran, ada kampanye "Ayo makan daging dan telur Ayam!" padahal ini penting. Makanya kalau dibutuhkan ayo kita bikin kampanye yang masif, PDHI siap membantu mengedukasi masyarakat juga kok. Kalau komunikasinya berjalan dengan baik pasti bisa kita naikkan konsumsi protein hewani kita," tutur Munawaroh.

Ia juga meminta agar FORMAT senantiasa melakukan upaya terbaik dalam meng-counter pemberitaan di media mainsteam. Karena menurutnya FORMAT sebagai media yang berfokus di sektor peternakan lebih paham dan mengerti terkait seluk - beluk peternakan ketimbang media mainstream (CR).



RUMAH SEHAT ALUMNI IPB DAN RUMAH SEHAT PKH GELAR WEBINAR BIOENERGY POWER

 



Webinar Bioenergy Power digelar Sabtu, 7 Agustus 2021

Rumah Sehat BEP Alumni IPB +++ berkolaborasi dengan Rumah Sehat BEP PKH (Peternakan dan Kesehatan Hewan) +++ siap menggelar webinar bertajuk “Bioenergy Power dan Gizi Seimbang di Masa Pandemi COVID-19”. Acara yang diadakan hari Sabtu, 7 Agustus 2021 ini didukung oleh tiga kementerian yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan serta Kementrian Pemuda dan Olahraga.

Mengutip dari siaran pers yang diterima Infovet, Kamis (5/8/2021), materi dalam webinar ini sangat bermanfaat bagi masyarakat luas, di mana  saat ini kita telah memasuki gelombang kedua di masa pandemi COVID-19, untuk itu Dr dr Windhu Purnomo dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga akan memaparkan bagaimana kita menyikapi keadaan ini. 

Ketua panitia webinar, Ir Cecep Fathoni MBA menjelaskan peserta yang telah terdaftar sekitar 500 orang dengan keragaman umur yang terbanyak 60 - 70 tahun (52 %). Ia menambahkan tujuan webinar ini sendiri antara lain sebagai alternatif kegiatan positif dan bermanfaat yang dapat dilakukan dengan mudah di rumah pada masa Pandemi COVID-19. 

Pembicara dalam webinar selanjutnya yaitu, dr Nizmawardini MKes MSi selaku Funtional Medicine dan pelatih BEP akan menerangkan kiat-kiat mempertahankan imunitas dengan gizi seimbang dan Bioenergy Power. Secara detail Dr Ir FX Hari Witono DAA akan mengupas manfaat Bioenergy Power bagi kesehatan. Kegiatan ini nantinya dimoderatori Ir Ruri Sarasono MBA.  

Acara ini terselenggara dengan sponsor dari perusahaan-perusahaan seperti Charoen Pokphand Indonesia, Japfa Comfeed Indonesia, De Heus, Nutricell dan Farmsco Feed Indonesia. (Rilis/INF)


KRISIS INDUSTRI UNGGAS IRAN SEMAKIN DALAM

Pasar uanggas Iran dikabarkanberada di ambang krisis penuh, dan jika kekurangan bahan pakan tidak ditangani dengan benar, harga bisa mencapai rekor tertinggi.

Selama beberapa minggu terakhir, industri unggas Iran telah dilanda pemadaman listrik yang dikombinasikan dengan panas yang tidak normal.

Gholamhossein Jafar, ketua dewan Serikat Petani Unggas Nasional, mengklaim bahwa banyak peternakan kehilangan seluruh populasi ayam mereka selama pemadaman karena mereka tidak memiliki sumber pasokan listrik cadangan. Beberapa peternakan unggas di Iran memposting foto ribuan ayam mati yang dilaporkan mati saat listrik padam.

Farhad Giahi, presiden Serikat Petani Unggas Guilan, mengatakan bahwa para petani di seluruh negeri segera menyewa generator tenaga diesel agar tidak kehilangan bisnis mereka jika terjadi pemadaman baru. Dalam beberapa kasus, katanya, pemadaman berlangsung lebih dari lima jam yang mengakibatkan kegagalan sumber pembangkit listrik alternatif.

Mohammad Reza Hosseina, anggota Kamar Dagang Iran, memperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah saat ini, harga ayam diperkirakan akan mencapai 100.000 toman (US$23,6) per kg (eceran). “Ini akan menciptakan krisis sosial dan keamanan yang parah,” Hosseina memperingatkan, menambahkan bahwa harga daging merah juga diperkirakan akan meroket. Saat ini, harga ayam di pasar terbuka mencapai 40.000 toman (US$ 9,4) per kg.

Pemerintah mendistribusikan ayam dengan harga subsidi negara sebesar 24.900 toman (US$5,8) per kg, tetapi saat ini, hampir tidak mungkin menemukan unggas dengan harga seperti itu di dalam negeri. Jika ramalan itu menjadi kenyataan, ayam kemungkinan akan menjadi tidak terjangkau oleh sebagian besar populasi Iran. Selama setahun terakhir, harga ayam di pasar bebas di Iran naik lebih dari dua kali lipat, memicu protes di kalangan warga. (via poultryworld.net)

ARGENTINA MENAWARKAN DISKON PINJAMAN KE SEKTOR UNGGAS

Pemerintah Argentina mengumumkan diskon 30% pada pembiayaan publik untuk proyek unggas dan babi untuk meningkatkan produksi daging nasional untuk pasar internal dan luar negeri dan untuk menuai manfaat ekonomi dan sosialnya.

Menurut Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Argentina, kegiatan peternakan memiliki peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja dan pasokan makanan. Dewan direksi bank sentral Argentina, BCRA, memutuskan untuk menawarkan diskon 30% kepada perusahaan, terlepas dari ukurannya, yang berinvestasi dalam produksi ayam atau babi.

Produksi ternak secara intensif memainkan peran penting dalam rencana pemerintah untuk menciptakan peluang di seluruh negeri, terutama di provinsi pedesaan.

Konsumsi ayam di Argentina meningkat 72,9% dalam 20 tahun terakhir. Orang Argentina mengkonsumsi 26,6 kg unggas per kapita pada tahun 2000 dibandingkan dengan 46 kg per kapita tahun lalu. (via poultryworld.net)

HISTOPATOLOGI DAN PATOGENESIS NE PADA AYAM PETELUR

Prevalensi NE terjadi paling tinggi di awal produksi. (Foto: Dok. Infovet)

Sektor perunggasan merupakan sektor usaha yang menjadi tulang punggung sumber protein hewani di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Penyakit pencernaan merupakan penyakit penting yang menjadi konsen pada industri perunggasan karena menimbulkan penurunan produksi, peningkatan kematian, menurunkan tingkat kesejahteraan ungags dan meningkatkan risiko kontaminasi produk unggas untuk konumsi manusia.

Selama ini dikenal penyakit Necrotic Enteritis (NE) di seluruh dunia menyerang pada broiler, menyebabkan kerugian ekonomi sangat signifikan di seluruh dunia. Menurut Van der Sluis (2000), total kerugian ekonomi secara global yang ditimbulkan oleh outbreak NE pada peternakan broiler diperkirakan lebih dari U$ 2 juta.

Sementara pada peternakan layer/ayam petelur, penyakit tersebut bisa menyerang sejak fase starter, grower, developer  hingga laying, dengan predisposisi manajemen kurang optimal disebabkan oleh Clostridium perfringens yang bersifat akut atau subakut.

Manajemen nutrisi secara kualitas dan kuantitas sangat penting untuk mencapai produktivitas. Secara kuantitas, kebutuhan pakan ayam petelur tercermin dari daily feed intake-nya. Ayam pada fase produksi puncak, membutuhkan feed intake yang optimal. Produksi 95% membutuhkan feed intake 115-120 gram pakan/ekor/hari. Menjadi sangat berbahaya jika produksi puncak, namun tidak di-support feed intake optimal. Sebaliknya, feed intake yang tidak maksimal tidak akan mendapatkan hasil produksi yang maksimal pula. Feed intake secara umum dapat dipengaruhi beberapa hal meliputi ketersediaan pakan, ketersediaan air minum, bahan baku pakan,  keseragaman ayam, status kesehatan, pencahayaan, stressor (cuaca terlalu panas atau dingin).

Pakan yang berkualitas bagi ayam petelur adalah pakan yang memiliki unsur nutrisi memadai bagi produksi, pertumbuhan, kesehatan dan tidak mengandung unsur non-pakan yang berbahaya bagi ayam. Pakan yang baik tidak akan memperberat kerja sistem pencernaan dan lebih memproteksi kerja saluran pencernaan pada jangka waktu lama. Kesehatan ayam akan menghindari kerugian, menghindari tingginya kematian dan menghindari penurunan produksi, serta menghindari risiko cemaran mikrobia pada produk peternakan. Kerusakan secara fisik, kimiawi dan biologis pada saluran pencernaan akan berakibat munculnya penyakit.

Sebanyak empat ayam layer berasal dari peternakan di Lampung dengan riwayat umur 28-30 minggu (puncak produksi), kematian 5-10% dari populasi dan penurunan produksi telur hingga 20%. Empat ayam layer diterima dalam konsidi masih hidup, dilakukan eutanasi dan dinekropsi di laboratorium patologi. Pengamatan dilakukan pada perubahan setiap organ masing masing ayam. Organ yang mengalami perubahan diambil sampel untuk pengujian polymerase chain reaction (PCR) untuk penyakit Avian Influenza. Organ yang mengalami perubahan menciri lainya diproses untuk pengujian histopatologi meliputi fiksasi, trimming, embedding, sectioning, pewarnaan hematoxyline eosin (HE) dan pembacaan preparat histopatologi. Fiksasi dilakukan dengan menyimpan potongan jaringan ke dalam buffered neutral formalin 10% selama 24 jam. Jaringan selanjutnya dilakukan trimming, dehidrasi, embedding, kemudian dipotong dengan mikrotom 3-5 mikron dilanjutkan dengan pewarnaan HE.

Hasil nekropsi menunjukan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2021.

Ditulis oleh:
Drh Joko Susilo MSc
Medik Veteriner, Balai Veteriner Lampung
Koresponden Infovet daerah Lampung

IPB GELAR KULIAH UMUM TROPICAL FEED PRODUCTION

Kuliah Umum Seri I tentang Tropical Feed Production yang diselenggarakan IPB. (Foto: Infovet/Sadarman)

Produksi pakan ternak di daerah tropis menjadi bahasan menarik jika dikaitkan dengan upaya menambah populasi ternak. Penambahan populasi sejalan dengan peningkatan jumlah pakan yang akan dikonsumsi. Demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Peternakan (Fapet) IPB, Prof Dr Ir Nahrowi dalam Kuliah Umum Seri I tentang Tropical Feed Production, Selasa (3/8/2021), secara daring yang diselenggarakan Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB.

Lebih lanjut dipaparkan Nahrowi, Indonesia mempunyai beranekaragam bahan pakan yang bisa dikonsumsi ternak secara langsung maupun melalui preservasi terlebih dahulu.

“Kita punya banyak pilihan bahan pakan lokal, misalnya produk samping perkebunan dan pengolahan produk utama dari kelapa sawit, ada onggok sebagai produk samping dari pengolahan ubi kayu menjadi tepung tapioka dan masih banyak lagi,” kata Nahrowi.

Bahan-bahan pakan lokal tersebut bisa diberikan langsung, namun tidak sedikit juga yang perlu diolah dahulu sebelum diberikan pada ternak, misalnya pemberian bungkil inti sawit pada ternak. Menurut Prof Nahrowi, bungkil inti sawit merupakan produk samping dari pengolahan buah kelapa sawit.

“Produk samping ini mengandung protein cukup tinggi, ada mannan di dalamnya yang dapat difungsikan untuk berbagai macam keperluan, namun perlu diingat bungkil inti sawit masih banyak mengandung tempurung, sehingga perlu dilakukan pemisahan, salah satunya melalui proses pengayakan,” jelasnya.

Kandungan mannan dalam bungkil inti sawit disebut Nahrowi dapat berperan sebagai anti-nutrisi, sehingga pemberiannya untuk unggas perlu dikaji lebih jauh. Dijelaskan, mannan pada dasarnya dikelompokan dalam anti-nutrisi, namun fungsi mannan juga perlu dikaji dengan baik.

“Mannan itu masuk dalam kelompok polisakarida dan sering disebut polisakarida mannan, zat aktif ini dapat meningkatkan respon kekebalan dan mampu menghambat kolonisasi bakteri yang merugikan ternak, sehingga mannan akan menjadi non-nutrien yang diperhitungkan di masa mendatang,” ucap dia.

Pada kesempatan yang sama, Dr Rahmat Hidayat dari Fapet Unpad, memaparkan produksi pakan lokal untuk ruminansia yang utamanya adalah rumput atau hijauan, sehingga produksinya perlu ditingkatkan. Peningkatan produksi hijauan pakan harus dibarengi penambahan lahan, sebab permasalahannya banyak alih fungsi lahan yang dijadikan perumahan atau perkebunan.

Untuk mengatasi hal itu, eksplorasi sumber bahan pakan baru adalah solusinya. “Banyak sumber bahan pakan baru yang bisa diberikan pada sapi, baik dari produk samping kelapa sawit dan pabrikannya, maupun dari produk samping industri lainnya. Intinya bisa dikonsumsi ternak dan tidak menimbulkan keracunan,” kata Rahmat.

Oleh karena bahan pakan ternak di daerah tropis sangat beragam, semuanya dapat diberikan pada ternak, namun perlu dipreservasi terlebih dahulu karena ada beberapa yang memiliki kandungan anti-nutrisi ataupun bentuk dari bahan pakan lokal itu sendiri. Preservasi dan pengayaan diperlukan, terutama untuk meningkatkan kecernaan bahan pakan tersebut, juga untuk meningkatkan utilitasnya. (Sadarman)

RATUSAN BURUNG PIPIT MATI MASSAL DI SUKABUMI, FLU BURUNG MEREBAK KEMBALI?

Burung pipit mati massal yang direkam warga


Warganet dibuat heboh dengan video viral kematian massal burung pipit yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Dalam video tersebut, belasan ekor burung pipit, bondol atau emprit tergeletak mati di sekitar kawasan pemukiman warga.

Dilansir dari laman teras.id, video viral ersebut dibagikan oleh akun YouTube Ganesha Adventure, Kamis 29 Juli 2021. Video berdurasi 55 detik yang direkam seorang pria itu menggambarkan sejumlah burung pipit mati tergeletak di lantai yang diduga di halaman rumah atau jalan pemukiman. "Fenomena alam langka, pagi-pagi waktu keluar lihat burung mati tidak tahu kenapa," kata si perekam.

Belum diketahui penyebab kematian massal burung ini. Firman Panthera, salah seorang aktivis lingkungan di Sukabumi menyebut ia masih berusaha mencari tahu lokasi video tersebut dan mengatakan bahwa fenomena ini merupakan tanda bahaya. "Jelas ini tanda bahaya bagi lingkungan karena ada kematian massal dari satwa yang sehari-hari hidup berdampingan dengan masyarakat," kata Firman.

Firman menyarankan instansi terkait secepatnya mencari tahu lokasi dalam video tersebut. Harus dipastikan penyebab kematiannya, karena dikhawatirkan berdampak pada lingkungan sekitar.

Jika penyebabnya adalah diracun, maka harus segera ditindaklanjuti karena bangkai burung pipit yang mati tersebut berada di pemukiman. "Di permukiman itu ada kucing, banyak anak-anak bermain, jadi harus disterilisasi, biar tidak berdampak kepada satwa bahkan manusia disekitar," katanya.

Anggota relawan Komunitas Konflik Satwa Liar Jabodetabek dan Sukabumi, Igor, mengatakan bahwa kemungkinan mati massalnya burung pipit ada tiga penyebab. Pertama, burung pipit tersebut memakan racun dari ladang sawah yang selesai di semprot kimia oleh petani. Namun, untuk memastikan hal itu tinggal diukur jarak dari lokasi penemuan bangkai burung pipit ke sawah.

“Indikasi paling masuk akal dugaannya ya karena makan berbahan kimia dari ladang sawah milik petani. Burung itu biasanya berkoloni, ketika memakan makanan yang sudah disemprot kimia otomatis akan mati," katanya seperti dikutip dari laman sukabumiupdate.com partner Teras.id, 29 Juli 2021.

Kemungkinan kedua adalah terpapar virus Covid-19 yang selama ini sudah mengarah ke satwa liar. Dan kemungkinan yang ketiga adalah karena faktor alam, atau sebuah pertanda semacam fenomena alam yang akan terjadi bencana besar di wilayah tersebut.

“Indikasi-indikasi ini tentunya perlu lebih lanjut diteliti, tetapi saya lebih kepada indikasi burung pipit memakan racun dari ladang petani karena itu hal yang paling mungkin,“ ujarnya.

Sementara itu Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi Drh Asep Kurnadi mengatakan banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Menurutnya dua faktor yang paling mungkin menjadi biang keladi kejadian tersebut adalah Serangan AI dan Keracunan pestisida.

"Hingga kini kami sudah turun ke lapangan dan mengambil sampel, untuk pemerikasaan AI sampel yang diambil sudah tidak memungkinkan untuk diperiksa karena sudah membusuk, sementara dugaan kuat kami mereka keracunan pestisida yang digunakan oleh petani, nanti kita lihat hasil surveilansnya," tutur Asep. (CR)

PELATIHAN DARING GENETIK SAPI LOKAL SESI 3

Pelatihan daring genetik sapi lokal sesi 3. (Foto: Dok. Infovet)

Pelatihan secara daring soal genetik sapi lokal kembali dilanjutkan. Pada sesi 3 kali ini pelatihan dilaksanakan pada Jumat (30/7/2021) dengan kerja sama Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian bersama UNE (University of England-Australia) dan MLA (Meat and Livestock Australia) yang difasilitasi GITA Organizer dan Majalah Infovet.

Pelatihan kali ini diikuti 92 peserta dari berbagai perusahaan dan instansi terkait. Prof Julius van der Werf yang menjadi narasumber langsung menampilkan “Wrap up Modul 1” yang menyangkut to day‘s plan, desicions in breeding programs, animal breeding in nutshell, question breeding objectives, question (trait) measurement, design example, identifity the breeding program in you case.

Julius menyoroti tentang SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk sapi pedaging dengan beberapa pertanyaan lanjutan dan dianalisis dengan logical process, breeding objactives trait and selection criteria traits dan which traits in the selection index.

Adapun peserta yang mewakili grup 2, Agung dari BBTUHPPT (Balai Besar Ternak Unggul & HPT) Baturaden, mempresentasikan Breeding Program (case study from BBTUHPPT Baturaden farm) dengan topik The traits of Saanen Goat, menyangkut increase the milk production, economic contribution andviability, population Saanen from July dan distribution  of Saanen on 2021 (male, female and location), yang langsung ditanggapi oleh Lecture Shool of Envirnental and Rural Science UNE, Dr Samuel Clark.

Peserta berikutnya mewakili grup 4, Yayu Kholifah dari BBIB (Balai Besar Inseminasi Buatan) Singosari Malang, mempresentasikan “Breeding Program: Genetic Improvement for Beef Cattle (Performance Test)” menyangkut traits to be considered (body weight, body length, girth, shoulder height and scrotal circumference/bull), related  or correlated traits (direct related trait body weight, correlatedtraits body weight, girth, shouder height and scrotal circumference/bull, all these traits should be recorded at birth, weaning, 1 year olds and 2 years olds, pedigreegrandsire, grandam, sire and dam), other consideration (culture, market).

Sementara peserta selanjutnya mewakili grup 5, Irma dari beef cattle memprentasikan dengan topik “Breeding Objectives of Kebumen Ongole Crossbreed (PO) Cattle” menyangkut identifity  the traits to be considered, weather these traits will be measured orinformed by correlated traits, is the SNI suitable as a breeding objective dan other consideration about breeding objective.

Pada acara question & answer, Julius dibantu Samuel Clark menjawab keseluruhan pelatihan dari peserta. Pelatihan terus akan dilanjutkan pada Agustus-September 2021 mendatang. (SA)

KEKURANGAN PAKAN MENGANCAM INDUSTRI UNGGAS GHANA

Menurut Asosiasi Peternak Unggas Ghana, kekurangan pakan yang akut mengancam kelangsungan hidup industri unggas di negara itu. Selain itu, juga terjadi wabah flu burung yang sangat patogen.

“Semua peternakan unggas di Ghana berada di ambang kehancuran jika tidak ada tindakan drastis yang diambil oleh pemerintah untuk mempertahankan industri ini,” ketua asosiasi, Isaac Essiaw, mengatakan, seraya menambahkan bahwa tingginya biaya pakan terutama disebabkan oleh kenaikan harga jagung, yang merupakan bagian penting dari pakan unggas.

Selain itu, harga bahan pakan lainnya, termasuk dedak gandum, juga meningkat, yang dikaitkan dengan curah hujan rendah yang tidak seperti biasanya selama musim 2021.

Penurunan tajam di sektor unggas

Sektor unggas Ghana telah, selama lebih dari 2 dekade, mengalami penurunan tajam dengan banyak peternakan unggas komersial yang didirikan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an telah runtuh atau hampir runtuh. Alasannya, belakangan ini, adalah tingginya biaya atau tidak tersedianya jagung.

Asosiasi Peternak Unggas Ghana telah mengadakan diskusi dengan pemerintah Ghana dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencari cara mengatasi tantangan tersebut. Sementara itu, asosiasi memperingatkan bahwa runtuhnya industri unggas akan memperburuk pengangguran, yang selanjutnya berdampak negatif terhadap perekonomian. (via poultryworld.net)

NE & KOKSIDIOSIS: DYNAMIC DUO PEMBAWA KERUGIAN

Perdarahan hebat pada usus, gejala klinis yang biasa diamati pada kasus NE. (Foto: Dok. Gold Coin)

Kombinasi dari dua jenis yang berbeda atau yang biasa disebut dengan istilah duet juga berlaku dalam penyakit unggas. Sangat familiar dengan penyakit CRD kompleks sebagai penyakit mematikan pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh infeksi Mycoplasma gallisepticum dan E. coli. Tak kalah mematikan yakni duet antara Nekrotik Enteritis (NE) dan Koksidiosis. Kombinasi keduanya “sukses” membuat peternak ketar-ketir.

Awal Mula
Jika peternak ditanya apakah ayamnya sudah pernah kena Koksidiosis atau Nekrotik Enteritis? Pasti peternak sepakat menjawab “Jangan sampai kena,”. Koksidiosis dan NE, keduanya sama-sama “beroperasi” di saluran cerna, utamanya usus. Bedanya disebabkan oleh protozoa (Eimeria sp.) dan bakteri (Clostridium perfringens).

Berdasarkan buku teks atau diktat perkuliahan penyakit unggas, secara keseluruhan ada 12 jenis Eimeria yang dibedakan berdasarkan lokasi lesio, bentuk lesio, bentuk dan ukuran berbagai stadium perkembangan (ookista, schizont, merozoit), lokasi di jaringan dan waktu sporulasinya.

Dari ke-12 jenis Eimeria tersebut, ada sembilan spesies yang mampu menginfeksi ayam, yaitu E. acervulina, E. brunetti, E. maxima, E. necratix, E. mivati, E. mitis, E. praecox, E. tenella dan E. hagani. Namun dari ke-9 spesies itu tidak kesemuanya bersifat patogen pada ayam. Ada lima spesies Eimeria sp. yang patogen pada ayam, yaitu E. tenella, E. maxima, E. necratix, E. acervulina dan E. brunetti, kesemuanya menjadi momok bagi peternak.

Serupa dengan Koksidiosis, NE juga mengakibatkan kerusakan pada usus, penyakit bakterial ini bersifat sporadik pada ayam yang disebabkan infeksi Clostridium perfringens tipe A dan C. Seperti yang disebutkan di atas, di lapangan kasus Koksidiosis dan NE biasanya berjalan seirama.

Hal ini bisa terjadi karena saat Koksidia menyerang terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan pada ileum yang men-trigger adanya kolonisasi bakteri anaerob, yaitu Clostridium perfringens. Adanya kolonisasi bakteri anaerob tentunya berujung pada serangan NE atau kematian jaringan usus.

Tak Kenal Ampun
Pada sebuah webinar beberapa waktu yang lalu, Drh Lussya Eveline dari PT Medion, menyatakan bahwa kedua penyakit yang sering “hangout bareng” ini benar-benar mematikan. “Kalau sudah kena penyakit ini akan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2021. (CR)

MENGGALI LEBIH DALAM POTENSI COPPER HIDROKLORIDA SEBAGAI IMBUHAN PAKAN




Tembaga, atau dalam bahasa inggris disebut dengan copper, yang dalam bahasa latin disebut dengan cuprum (Cu) merupakan salah satu unsur kimia yang namanya sering kita dengar. Nyatanya copper memiliki efek bakterisidal dan fungisidal dalam konsentrasi tertentu sehingga dapat dimanfaatkan sebagai substituen antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP) terutama pada ternak monogastrik seperti babi dan unggas.

Hal tersebut dibahas secara mendalam oleh Prof. Hans Stein, peneliti dari Illinois University dan Alice Hibbert Global Program Manager - Trace Mineral Trouw Nutrition dalam sebuah webinar bertajuk "Effect of hydroxy copper chloride on growth performance of monogastric animals" Rabu (28/7) lalu.

Prof. Hans Stein lebih dulu menjabarkan secara detil efek pemberian hidroksi copper klorida sebagai imbuhan pakan pada babi. Dari kacamata nutrisi ternak, copper memiliki beberapa fungsi seperti anitbakteri, sebagai mikronutrien, membantu dalam beberapa reaksi metabolisme, dan sebagai komponen dari metaloenzim (enzim yang berkaitan dengan logam). 

Lebih lanjut dalam presentasinya Prof. Stein menjabarkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh timnya pada babi. Dimana copper dalam bentuk sediaan hidroksi copper klorida teruji dan terbukti dapat meningkatkan performa pertumbuhan, meningkatkan kecernaan nutrisi, meningkatkan performa bakteri baik pada saluran cerna, dan berfungsi dalam metabolisme lemak. 

"Intinya copper ini memiliki potensi yang jika diberikan dalam ransum babi dalam jumlah yang tepat, main goal -nya adalah copper dapat membantu dalam meningkatkan kesehatan saluran cerna dan meningkatkan performa sistem imun babi," tukas Prof Stein.

Senada dengan Prof Stei, Alice Hibbert juga menjbarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh timnya di berbagai negara terkait efek copper sebagai imbuhan pakan pada ayam. Ia mengatakan bahwa ayam merupakan sumber protein hewani terbanyak yang dikonsumsi oleh manusia di dunia.

Selain itu Alice juga menyinggung mengenai isu Antimicrobial Resisstance yang sudah mendunia dimana kita tahu bahwa salah satu penyebabnya adalah penggunaan antibiotik yang kurang terkontrol di sektor peternakan, terutama ayam.

Oleh karenanya Alice mengatakan bahwa copper dapat menjadi bahan alternatif dalam mengurangi penggunaan antibiotik baik sebagai growth promoter maupun medikasi. Hal ini bukan tanpa alasan, karena dalam beberapa hasil penelitian yang dijabarkan oleh Alice, copper dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen pada unggas seperti C. perfringens, S. enteritidis, dan S. gallinarum.

"Kami juga sudah membandingkan penggunaan copper vs AGP (BMD) pada ayam, dan hasilnya penggunaan hidroksi copper klorida bisa berefek sama bahkan lebih baik dari BMD, selain itu cost yang dikeluarkan lebih rendah, dan yang terpenting performa juga tetap terjaga," tutur Alice. (CR)


PERJANJIAN PERDAGANGAN DAGING UNGGAS INGGRIS DAN JEPANG

Daging unggas dari Inggris akan memasuki Jepang dengan perkiraan hal itu akan meningkatkan industri hingga £65 juta (US$90 juta) selama 5 tahun, menurut pemerintah Inggris.

Inggris telah mengamankan akses pasar ke Jepang untuk impor daging unggas. Dengan konsumsi unggas yang meningkat di Jepang menjadikan pasar Jepang menjanjikan bagi eksportir daging unggas Inggris.

Victoria Prentis, Menteri Pangan Inggris mengatakan, “Kami bekerja keras untuk membuka pasar baru bagi bisnis pertanian pangan kami, dan ini adalah peluang signifikan bagi sektor unggas Inggris.”

Pembukaan pasar mengikuti serangkaian negosiasi selama 4 tahun terakhir antara pejabat Inggris dan Jepang untuk menyetujui persyaratan kesehatan hewan tertentu. Manfaat dari pengembangan bisnis ini akan dirasakan di seluruh rantai pasokan di seluruh Inggris.

Kesepakatan Animal Health Requirements antara Defra dan Japanese Ministry of Agriculture untuk ekspor daging unggas segar dan olahan diselesaikan pada April 2021 dan menghasilkan kesepakatan sertifikat kesehatan ekspor dan pembukaan akhir pasar pada Juni 2021. (via poultryworld.net)

MEMBUAT PAKAN AYAM LOKAL

 


Bagaimana membuat pakan ayam lokal secara mudah dan murah? Peneliti Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Dr Cecep Hidayat SPt MSi menerangkan secara teknis. Dalam kegiatan Bimtek Virtual, Rabu (28/7), Cecep menguraikan antara lain: 

1. Timbang bahan pakan yang akan digunakan sesuai dengan formulasi ransum yang telah dibuat.

2. Pisahkan bahan pakan  yang telah ditimbang tersebut berdasarkan jumlahnya, ada kelompok dengan jumlah besar dan kecil.

3. Untuk Bahan pakan dengan kuantitas kecil, seperti mineral kalsium, fosfor, asam amino metionin, lysin disatukan terlebih dahulu semuanya menjadi satu. Lalu campur (campuran 1). 

4. Campur bahan pakan hasil menimbang dengan jumlah besar, seperti  contoh jagung, dedak, bungkil kedelai dan lain-lain.

5. Ambil sekitar 1-3 kg campuran 2, masukan ke campuran 1, lalu campurkan. Hasil pencampuran tersebut dimasukan ke campuran 2. Lalu campur campuran 1 dan 2 tersebut sampai mencampur dengan baik.

6. Ransum sudah bisa digunakan.


AI DAN COVID-19 MENDORONG HARGA BROILER POLANDIA NAIK TINGGI

Harga grosir rata-rata unggas di Polandia melonjak 33% selama tahun lalu, mencapai PLN3,99 per kg (US$ 1,02). Ini merupakan level tertinggi sejak 2014. Harga rata-rata daging kalkun naik 40%, mencapai angka tertinggi yang pernah ada, PLN 6,50 per kg (US$ 1,67).

Kementerian Pertanian Polandia memperkirakan harga rata-rata ayam mencapai PLN 6,64 (US$ 1,7) per kg, naik 56% dibandingkan dengan tahun lalu. Bank PKO BP memperkirakan bahwa pada paruh kedua tahun 2021, harga bisa naik lagi 20-25%. Alasan utama di balik tren ini adalah kenaikan biaya pakan, rendahnya dinamika pemotongan ayam di seluruh UE, dan epidemi flu burung (AI) yang terus berlanjut. Meskipun ada kenaikan harga, peternak unggas Polandia dilaporkan mengalami penurunan profitabilitas selama tahun lalu.

Antara November 2020 dan Juni 2021, Polandia mencatat 355 wabah AI. Epidemi melanda peternakan dengan 13,9 juta unggas, termasuk 1,9 juta kalkun. Wabah terakhir tercatat pada akhir Juni di provinsi Masovian di sebuah peternakan non-komersial dengan 106 unggas.

Ekspor unggas Polandia turun sebesar 2,3% pada paruh pertama tahun 2021. Polandia adalah pengekspor unggas terbesar di Uni Eropa, dan ekspor merupakan tulang punggung industri unggas negara tersebut. Permintaan yang lebih rendah memaksa perusahaan untuk memotong harga ekspor. (via poultryworld.net)

URGENSI MENJAGA KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN PADA UNGGAS

Kesehatan saluran pencernaan unggas, penting untuk dijaga

Sistem penceraan pada unggas merupakan salah satu komponen penting yang dapat mempengaruhi performa. Untuk itu sangat penting agar saluran pencernaan ternak unggas dalam keadaan sehat agar performa tetap prima.

PT Sehat Cerah Indonesia bersama principal-nya Norel Animal Nutrition menggelar webinar tentang urgensi kesehatan saluran pencernaan unggas pada Rabu (28/7) yang lalu melalui daring Zoom Meeting. Webinar yang bertemakan "A healthy gut : The Key In Maximizing Genetic Potential" tersebut menghadirkan Prof. Budi Tangendjaja dan Allan Junsay sebagai narasumber.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Budi Tangendjaja yang merupakan peneliti BALITNAK dan konsultan nutrisi ternak menjadi pembicara pertama. Presentasinya membahas lebih dalam mengenai konsep menyehatkan saluran pencernaan unggas, terlebih lagi pada masa kini dimana antibiotik sudah dilarang digunakan sebagai growth promoter

Dirinya juga sedikit menyinggung kebijakan dilarangnya AGP yang pada 2018 lalu, dimana menurut Prof. Budi yang seharusnya dilarang bukanlah penggunaan AGP, melainkan peningkatan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik sebagai medikasi yang masih serampangan di lapangan.

"AGP bekerja lokal pada saluran cerna saja, tidak diserap sampai ke daging. Berbeda dengan antibiotik yang memang digunakan untuk pengobatan, kalau tidak tepat penggunaannya pasti akan terjadi residu dan menyebabkan kerugian bagi manusia. Sudah begitu, bakteri juga jadi resisten terhadap antibotik seperti yang sekarang lagi ramai - ramainya diberitakan di Kompas tuh," tutur Prof. Budi.

Prof. Budi juga menyinggung masalah lain berkaitan dengan pelarangan AGP dan kesehatan saluran pencernaan, yakni pentingnya penerapan biosekuriti yang baik di farm. Dirinya berkata bahwa salah satu cara meningkatkan performans dikala AGP dilarang yakni dengan meningkatkan dan mengaplikasikan program biosekuriti yang baik di farm, itulah poin utamanya. Sisanya yakni bagaimana kita cermat memilih bahan apa yang dapat digunakan dalam menggantikan AGP.

Pada presentasinya juga Prof. Budi mengkaji lebih dalam terkait penggunaan asam butirat sebagai pengganti AGP. Disitu beliau menekankan agar sebaiknya penggunaan asam butirat dalam pakan sebaiknya menggunakan sediaan yang sudah dienkapsulasi. Karena selain mencegah baunya yang menyengat, penggunaan asam butirat dalam bentuk raw biasanya tidak akan menunjukkan efek apa - apa karena asam butirat dapat dinetralisasi di dalam pakan baik oleh komposisi lainnya dan pemrosesan.

Presentasi kedua dibawakan oleh Allan Junsay yang merupakan Technical Support Manager Norel Animal Nutrition Asia Pacific. Allan mendalami lebih jauh mengenai penggunaan asam butirat dalam ransum ternak, terutama unggas dan monogastrik.

Kata Allan, salah satu fungsi dari asam butirat yakni efek bakterisidal yang cukup luas baik pada bakteri gram negatif maupun positif. Selain itu secara umum dijelaskan oleh Allan bahwa asam butirat juga dapat meningkatkan kesehatan saluran cerna melalui berbagai fungsi yakni memperpanjang ukuran villi usus, memperkuat tight junction pada usus, meningkatkan produksi sel mucin, yang berujung pada meningkatnya sistem imun pada saluran pencernaan.

Hal ini tentunya menurut Allan bukan hal yang sembarangan diklaim olehnya. Norel Animal nutrition beserta jajaran ahlinya telah melakukan penelitian mendalam terkait penggunaan asam butirat pada ternak terutama unggas. Oleh karenanya ia juga menyarankan agar peternak dan formulator yang bingung dalam memilih substituen AGP untuk mencoba beralih menggunakan asam butirat terutama yang diproduksi oleh Norel Animal Nutrition. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer