-->

CJ INDONESIA SEMINAR 2025, NUTRISI YANG PRESISI: MENGOPTIMALKAN ASAM AMINO UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PRODUKSI

Saat ini sebagian besar formulasi untuk kebutuhan komersial sudah cukup dengan menambahkan methionine, lysine, threonine, dan terkadang valine. Dan merasa telah mencukupi seluruh kebutuhanasam amino. Tetapi yang kerap terabaikan adalah adanya beberapa asam amino yang berlebih (excess). Konsep nutrisi yang presisi (precise nutrition) adalah meminimalkan kelebihan asam amino yang masuk ke dalam tubuh unggas serta penggunaanasam amino sintetis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi unggas. Pada dasarnya, Unggas dapat tumbuh dan berkembang bergantung pada asam amino, bukan pada protein. Jika semua asam amino terpenuhi, maka unggas akan tumbuh secara efisien.




FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN RENDAHNYA PERFORMA REPRODUKSI SAPI PERAH

Rendahnya performa reproduksi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seringkali gabungan dari beberapa masalah.

Nutrisi yang tidak adekuat. Energi negatif terutama di awal laktasi, sapi kekurangan energi untuk mempertahankan produksi susu dan mulai berovulasi kembali. Defisiensi mineral/vitamin yaitu kekurangan selenium, tembaga, fosfor, vitamin A, atau vitamin E dapat mengganggu fungsi ovarium dan kesuburan. Manajemen deteksi birahi yang buruk, peternak tidak dapat mendeteksi tanda-tanda birahi dengan akurat atau melewatkan waktu optimal untuk inseminasi, ini adalah penyebab umum lama kosong yang panjang.

Inseminasi yang tidak tepat. Inseminasi terlalu cepat atau terlalu lambat dari puncak birahi. Kurangnya keterampilan inseminator dalam menyimpan semen, handling, atau deposisi semen. Cekaman panas (heat stress) secara signifikan menurunkan ekspresi birahi, kualitas oosit, dan tingkat kebuntingan.

Penyakit Reproduksi:

  • Metritis/Endometritis: Infeksi rahim pasca-melahirkan yang dapat menyebabkan peradangan kronis dan mengganggu kebuntingan.
  • Ovarium Kista: Gangguan hormonal yang menyebabkan folikel tidak berovulasi atau korpus luteum tidak mengalami regresi.
  • Brucellosis, Leptospirosis, BVD: Penyakit infeksius yang dapat menyebabkan keguguran, infertilitas, atau kelahiran prematur.
  • Kondisi Tubuh yang Buruk (Body Condition Score/BCS): Sapi yang terlalu kurus atau terlalu gemuk cenderung memiliki masalah reproduksi.
  • Genetik: Beberapa sapi secara genetik memang memiliki kesuburan yang rendah.

TEKNOLOGI YANG DIGUNAKAN DALAM PRODUKSI SUSU SAPI PERAH

Produksi susu sapi perah modern banyak mengadopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kesehatan hewan.

Pemerahan Otomatis (Automatic Milking Systems/Robotic Milking): Robot yang dapat memerah sapi secara otomatis, mendeteksi birahi, menganalisis kualitas susu, dan memantau kesehatan sapi.

Identifikasi dan Pemantauan Sapi Otomatis: Menggunakan tag RFID (Radio Frequency Identification) atau sensor pada kalung/kaki sapi untuk memantau aktivitas, konsumsi pakan, suhu tubuh, dan pola pergerakan (indikator birahi atau penyakit).

Analisis Susu In-line: Sensor yang terintegrasi pada sistem pemerahan untuk menganalisis komponen susu (lemak, protein, laktosa), jumlah sel somatik (indikator mastitis), dan bahkan mendeteksi ketosis.

Sistem Pakan TMR (Total Mixed Ration): Penggunaan mesin pencampur pakan untuk memastikan sapi mendapatkan ransum yang homogen dan seimbang nutrisinya.

Software Manajemen Peternakan: Aplikasi komputer untuk mencatat data individu sapi (produksi susu, reproduksi, kesehatan, silsilah), menganalisis performa, dan membuat keputusan manajemen.

Ventilasi dan Pendinginan Kandang Otomatis: Sistem kipas, sprayer, atau fogger yang diatur otomatis berdasarkan suhu dan kelembaban untuk mengurangi cekaman panas pada sapi.

Teknologi reproduksi ada beberapa macam. Inseminasi Buatan (IB), metode utama untuk membiakkan sapi secara selektif. Sinkronisasi Birahi, penggunaan hormon untuk mengatur siklus estrus sapi sehingga dapat diinseminasi secara bersamaan.

Determinasi Jenis Kelamin Semen (Sexed Semen), semen yang telah diproses untuk menghasilkan anak sapi jantan atau betina sesuai keinginan. Embrio Transfer (ET), memindahkan embrio dari sapi donor unggul ke sapi resipien untuk mempercepat peningkatan genetik.

PARAMETER MANAJEMEN REPRODUKSI SAPI PERAH YANG BAIK

Manajemen reproduksi yang baik sangat vital karena sapi harus beranak secara teratur untuk dapat terus memproduksi susu. Parameter kunci meliputi:

Lama Kosong (Days Open): Periode dari melahirkan hingga sapi bunting kembali. Idealnya sekitar 85-110 hari. Lama kosong yang terlalu panjang berarti sapi tidak akan mulai siklus laktasi berikutnya dalam waktu yang tepat, sehingga terjadi penurunan produksi susu kumulatif.

Service Per Conception (S/C): Jumlah inseminasi per kebuntingan. Idealnya kurang dari 2. Angka S/C yang tinggi menunjukkan masalah kesuburan atau deteksi birahi yang buruk.

Calving Interval (Interval Beranak): Waktu antara dua kelahiran berturut-turut. Idealnya sekitar 12-13 bulan (sekitar 365-400 hari). Interval yang lebih panjang menunjukkan sapi tidak bunting kembali dengan cepat.

Conception Rate (Angka Kebuntingan): Persentase sapi yang bunting dari seluruh sapi yang diinseminasi. Target yang baik adalah > 40%.

Pregnancy Rate (Angka Kebuntingan Kumulatif): Jumlah sapi yang bunting dibagi dengan jumlah sapi yang berpotensi bunting dalam periode waktu tertentu. Ini adalah indikator performa reproduksi yang komprehensif.

Detection Rate (Angka Deteksi Birahi): Persentase sapi yang birahi terdeteksi dan diinseminasi. Idealnya > 70%. Deteksi birahi yang akurat dan tepat waktu sangat penting.

Heat-to-Service Interval: Waktu dari awal birahi hingga sapi diinseminasi. Inseminasi pada waktu yang tepat sangat penting untuk keberhasilan kebuntingan.

PENYAKIT YANG BERDAMPAK PADA PRODUKSI SUSU

Banyak penyakit yang merugikan dan berdampak pada produksi susu, seringkali diawali dengan penurunan nafsu makan dan gangguan metabolisme. Berikut contohnya.

Mastitis (radang ambing) adalah penyakit paling umum dan merugikan pada sapi perah. Infeksi pada ambing menyebabkan peradangan, nyeri, dan penurunan kualitas serta kuantitas susu. Sapi seringkali menunjukkan demam dan penurunan nafsu makan.

Ketosis merupakan gangguan metabolik yang terjadi ketika sapi tidak dapat memenuhi kebutuhan energi yang sangat tinggi di awal laktasi (peak lactation), sehingga tubuh memecah cadangan lemak. Ini menyebabkan penurunan nafsu makan yang parah, depresi, dan penurunan produksi susu.

Asidosis rumen (acidosis) terjadi akibat konsumsi pakan karbohidrat tinggi yang cepat difermentasi atau perubahan pakan yang mendadak. Menyebabkan pH rumen turun drastis, menurunkan nafsu makan, kembung, diare, dan dapat menyebabkan laminitis (radang kuku).

Displaced abomasum adalah pergeseran posisi abomasum (salah satu lambung sapi) yang sering terjadi pasca-melahirkan. Menyebabkan penurunan nafsu makan drastis, nyeri, dan penurunan produksi susu.

Milk fever (hipokalsemia) adalah kekurangan kalsium parah yang sering terjadi di sekitar periode melahirkan. Menyebabkan sapi lesu, tidak mau makan, bahkan lumpuh. Produksi susu akan sangat terpengaruh atau bahkan terhenti.

Laminitis merupakan peradangan pada lamina kuku yang menyebabkan sapi pincang. Meskipun tidak langsung mengganggu metabolisme, rasa sakit akibat laminitis membuat sapi enggan bergerak, mengurangi waktu makan, dan pada akhirnya menurunkan produksi susu.

Penyakit infeksius lainnya seperti Bovine Viral Diarrhea (BVD), Johne's Disease, Paratuberculosis, atau penyakit parasit (cacingan, koksidiosis) dapat menyebabkan penurunan nafsu makan kronis, gangguan pencernaan, dan akhirnya menurunkan produksi susu secara signifikan.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI SUSU SAPI PERAH

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi perah sangat kompleks dan saling berkaitan. Genetik, pakan/nutrisi, dan manajemen kesehatan merupakan faktor-faktor utama.

Potensi genetik seekor sapi untuk memproduksi susu sangat bervariasi. Sapi dari ras-ras tertentu (misalnya Holstein, Friesian) memiliki potensi genetik yang lebih tinggi untuk produksi susu dibandingkan ras lainnya. Seleksi genetik yang tepat dan program pemuliaan dapat secara signifikan meningkatkan rata-rata produksi susu dalam suatu populasi.

Pakan dan nutrisi adalah faktor paling kritis dan seringkali menjadi pembatas produksi. Sapi perah membutuhkan asupan nutrisi yang memadai dan seimbang untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, dan yang terpenting, produksi susu. Kualitas dan kuantitas pakan (hijauan dan konsentrat) serta ketersediaan air bersih sangat mempengaruhi. Kekurangan energi, protein, vitamin, atau mineral akan langsung menurunkan produksi susu.

Sapi yang sehat akan berproduksi optimal. Penyakit, terutama yang bersifat infeksius seperti mastitis (radang ambing), brucellosis, atau penyakit metabolik seperti asidosis atau ketosis, dapat menurunkan produksi susu secara drastis, bahkan menyebabkan produksi terhenti. Program vaksinasi, biosekuriti, dan penanganan penyakit yang cepat dan tepat sangat penting.

Selain itu juga ada faktor lingkungan, Suhu, kelembaban, dan ventilasi kandang yang tidak nyaman dapat menyebabkan cekaman panas (heat stress) yang menurunkan nafsu makan dan produksi susu. Manajemen laktasi meliputi frekuensi pemerahan, teknik pemerahan yang benar, dan waktu laktasi (puncak laktasi, akhir laktasi) juga mempengaruhi. Manajemen reproduksi bertujuan agar sapi beranak secara teratur sehingga akan memiliki siklus laktasi yang berkelanjutan.


FEB UI LATIH BUMDES PETERNAKAN DI YOGYAKARTA, TINGKATKAN KAPASITAS MANAJEMEN DAN KEUANGAN

Event Pengmas BUMDes UI di Yogyakarta (Foto: Istimewa)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud komitmen terhadap Tri Dharma perguruan tinggi yang mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Tim Pengabdian Masyarakat FEB UI berupa pelatihan dasar-dasar manajemen bagi BUMDes bidang peternakan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Berkolaborasi dengan Pusat Pengembangan Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), BRI Insurance, dan PT Fenanza Putra Perkasa.

Tim Pengabdian Masyarakat FEB UI terdiri dari empat dosen, yaitu Dr Elok Savitri Pusparini (Ketua Tim), Prof Rofikoh Rokhim PhD, Dr Dwi Nastiti Danarsari, Muhammad Budi Prasetyo MSM, serta satu mahasiswa pascasarjana Ilmu Manajemen yaitu Drh Fendy Fadillah Akbar MSc dari PT Fenanza Putra Perkasa. 

Agenda kegiatan dimulai dengan kunjungan ke beberapa BUMDes di Yogyakarta dan Klaten untuk melihat langsung proses bisnis peternakan yang dijalankan pelaku usaha BUMDes, Rabu (13/8/2025). Keesokan harinya, 14 Agustus, dilaksanakan pelatihan yang diikuti perwakilan BUMDes dan BUMKal di bidang peternakan dari Yogyakarta dan sekitarnya.

Menurut Elok Savitri Pusparini, BUMDes di bidang peternakan memiliki potensi besar untuk mengelola sumber daya desa secara mandiri dan meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD). Potensi ini disertai tantangan dalam pengelolaan organisasi dan keuangan. “Kami berkolaborasi dengan Pusat Pengembangan Ternak Fakultas Peternakan UGM, guna memberikan pembekalan manajemen dan pengelolaan keuangan untuk melengkapi pengetahuan teknis peternakan yang telah dimiliki para pelaku BUMDes,” jelasnya.

Tim Pengabdian Masyarakat FEB UI berkesempatan untuk berbagi pengetahuan dan wawasan kepada para pelaku usaha BUMDes bidang peternakan. Pelatihan dibuka oleh Rofikoh Rokhim, yang menekankan pentingnya peran BUMDes, serta manajemen usaha yang efektif untuk keberlanjutan bisnis. 

Sesi berikutnya disampaikan oleh Dr Elok Savitri Pusparini mengenai dasar-dasar pengelolaan organisasi dan kewirausahaan. Sementara itu, Fendy Fadillah Akbar membahas pengelolaan operasional BUMDes. 

Dalam sesi keuangan, Dwi Nastiti Danarsari memaparkan dasar-dasar pengelolaan dan penyusunan laporan keuangan sederhana. Pemaparan selanjutnya oleh Muhammad Budi Prasetyo MSM yang membahas pengelolaan modal dan perencanaan investasi. Tim BRI Insurance memberikan materi mengenai pentingnya proteksi aset usaha.

Narasumber berikutnya yaitu Dr Muhsin Al Anas dari Pusat Pengembangan Ternak, Fakultas Peternakan UGM. “Para pelaku usaha BUMDes di bidang peternakan tidak hanya mampu menjalankan operasional usaha, tapi juga semakin terbuka wawasannya terkait dengan pentingnya pengelolaan organisasi dan keuangan usaha,” ujarnya. 

Elok Savitri Pusparini berharap kegiatan yang dilaksanakan oleh civitas akademika FEB UI ini dapat memberikan manfaat nyata bagi peserta dalam jangka panjang, sekaligus menciptakan social impact positif bagi masyarakat. (INF/Rilis) 

MENGHINDARI DAMPAK IMUNOSUPRESI

Pilih vaksin yang tepat untuk mencegah penyakit, terutama penyakit penyebab imunosupresi. (Foto: iStock)

Imunosupresi merupakan masalah utama bagi industri perunggasan, tetapi angka aktual yang menunjukkan skala masalah tersebut sulit ditemukan. Infeksi agen penyakit dan faktor lingkungan, serta adanya kesalahan manajemen dapat memperburuk masalah kejadian imunosupresi.

Untuk menghindari dampak imunosupresi pada ayam, peternak perlu menciptakan lingkungan kandang yang nyaman, memastikan pakan berkualitas, melakukan vaksinasi yang tepat, dan menerapkan biosekuriti yang ketat. Sebab, imunosupresi atau penurunan kekebalan tubuh membuat ayam lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegah dan mengatasi imunosupresi pada ayam:

1. Manajemen Pemeliharaan yang Baik (Good Husbandry Practices)
Kenyamanan kandang dapat diciptakan dari lingkungan kandang yang nyaman dengan memastikan ventilasi yang baik, suhu yang sesuai, dan kepadatan kandang yang tidak berlebihan. Suhu yang nyaman untuk ayam bervariasi tergantung pada usia dan jenis ayam. Umumnya, ayam paling bahagia pada suhu sedang hingga hangat antara 18-30°C. Ayam yang baru menetas (DOC) membutuhkan suhu yang lebih hangat, sekitar 32-35°C di minggu pertama, kemudian diturunkan bertahap setiap minggunya. Ayam dewasa lebih toleran terhadap suhu yang lebih rendah, sekitar 20-25°C. Kepadatan kandang yang tidak berlebihan memberikan suasana nyaman ayam dalam kandang, berikut kepadatan yang ideal berdasarkan jenis ayam.

a. Kepadatan kandang  yang ideal untuk ayam broiler:
• Fase starter (0-14 hari): 10-12 ekor/m²
• Fase grower (15-27 hari): 8-10 ekor/m²
• Fase finisher (28 hari ke atas): 6-8 ekor/m²

b. Kepadatan Kandang Ideal untuk ayam petelur:
• Fase grower (0-17 minggu): 9-14 ekor/m² (floor), 25-29 ekor/m² (cage)
• Fase dewasa (18 minggu ke atas): 7-17 ekor/m² (floor), 19-22 ekor/m² (cage)

Berikan pakan yang memenuhi kebutuhan nutrisi ayam, terutama pada fase starter yang penting untuk perkembangan organ kekebalan tubuh. Ayam broiler memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda dengan ayam petelur. Ayam broiler membutuhkan pakan dengan kandungan protein dan energi tinggi untuk pertumbuhan cepat, sementara ayam petelur membutuhkan pakan dengan kalsium tinggi untuk pembentukan telur.

2. Vaksinasi yang Tepat
Jadwal vaksinasi dapat dilakukan sesuai jadwal yang direkomendasikan dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan peternakan. Pilih vaksin yang tepat untuk mencegah penyakit yang umum menyerang di daerah setempat, terutama penyakit... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Departemen Manager
PT Romindo Primavetcom 
HP: 0812-8644-9471

MENCEGAH IMUNOSUPRESI PADA AYAM: KUNCI SUKSES PETERNAKAN MODERN


Imunosupresi pada ayam komersial adalah kondisi dimana sistem kekebalan ayam melemah, sehingga ayam menjadi rentan terhadap infeksi. Hal ini berdampak negatif pada peforma produksi dan kesejahteraan ayam.

Menurut penelitian Xiaoli Ma, dkk, yang ditulis pada kumpulan jurnal Poultry Scince Volume 102, Issue 12, Desember 2023 yang berjudul “Stress-induced immunosuppression inhibits immune response to infectious bursal disease virus vaccine partially by miR-27b-3p/SOCS3 regulatory gene network in chicken”. Beliau menyatakan imunosupresi akibat stres atau Stress-induced immunosuppression (SIIS) merupakan salah satu masalah umum dalam produksi unggas intensif, yang sering kali mengurangi efek pencegahan dan pengendalian berbagai vaksin, termasuk vaksin virus penyakit gumboro atau infectious bursal disease virus (IBDV), dan membawa kerugian ekonomi sangat besar bagi industri unggas. Hal ini sangat penting untuk diketahui apa saja penyebab terjadinya imunosupresi dan strategi pencegahannya.

Faktor Penyebab Imunosupresi
Problem penyebab imunosupresi yang paling tinggi adalah faktor infeksi virus, bakteri, dan parasit. Program kesehatan yang tidak berjalan dengan baik seperti biosekuriti, sanitasi, serta program vaksinasi yang ketat akan menjadi pintu masuknya infeksi penyakit.

Problem infeksi virus seperti gumboro atau IBD, Marek’s disease, chicken anemia virus (CAV), dan reovirus merupakan beberapa infeksi virus yang paling sering mengakibatkan imunosupresi pada ayam.

Sementara pada problem infeksi bakteri seperti Mycoplasma spp, Salmonella spp, dan E. coli juga berdampak terhadap imunosupresi pada ayam, begitupun infeksi jamur dan parasit seperti aspergillosis, coccidiosis, dan histomoniasis.

Keseimbangan nutrisi pada pakan ayam sangat berdampak terhadap sistem imunitas dalam menjaga kesehatan ayam. Defisiensi vitamin dan mineral seperti vitamin A, C, E, B, zinc selenium dan copper berpengaruh penting dalam pembentukan sistem imun tubuh ayam.

Pemilihan bahan baku pakan, terutama sumber protein alternatif yang sulit dicerna akan mengakibatkan defisiensi asam amino esensial seperti metionin dan lisin. Kontaminasi pakan oleh mikotoksin seperti aflatoksin dan okratoksin dapat merusak sistem imun tubuh ayam.

Ayam modern sangat rentan terhadap... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo Drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

BANGUN PERTAHANAN AYAM SEJAK DINI: CEGAH IMUNOSUPRESI

Perhatikan kualitas DOC. (Foto: Istimewa)

Pernah mendengar ungkapan “mencegah lebih baik daripada mengobati?”. Dalam budi daya unggas pepatah ini berlaku sangat mutlak terutama saat berbicara soal imunosupresi.

Ketika sistem kekebalan tubuh ayam melemah, bukan hanya risiko penyakit yang meningkat, tapi juga performa produksi bisa anjlok. Tak pelak, kerugian ekonomi pun mengintai di balik kandang. Maka dari itu, mencegah imunosupresi bukan sekadar pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk menjamin keberhasilan budi daya.

Kunci Pertama: Fase Brooding yang Optimal
Segala pencapaian dalam peternakan modern bermula dari satu fase krusial, brooding. Masa awal kehidupan ayam, baik broiler maupun layer merupakan periode emas, dimana organ kekebalan tubuh terbentuk dan berkembang.

Bila fase tersebut terganggu, maka pertahanan alami ayam akan lemah sejak awal. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof Michael Haryadi Wibowo, menekankan pentingnya menjaga brooding tetap optimal.

“Peternak harus mampu mengendalikan faktor-faktor penekan imunitas seperti penyakit infeksi, parasit, dan mikotoksin,” jelasnya. Tidak kalah penting adalah menghindari stres akibat manajemen ventilasi yang buruk, pakan yang terlambat, atau suhu kandang yang tak sesuai.

Selain itu menurut Michael, langkah strategis yang biasanya dieksekusi adalah early feeding. Pemberian pakan sesegera mungkin usai menetas, akan menstimulasi perkembangan organ pencernaan dan meningkatkan imun lokal di saluran cerna.

“Jangan lupakan juga kenyamanan suhu. Brooder harus dijaga di atas 30°C agar feed intake optimal dan imun tubuh terbentuk dengan maksimal,” lanjutnya.

Biosekuriti dan Vaksinasi Tepat, Kekebalan Lebih Kuat
Biosekuriti dan vaksinasi adalah senjata utama mencegah penyakit. Tapi di era modern, keduanya bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi cerdas. Apalagi dengan teknologi vaksin terkini yang menghadirkan beberapa jenis inovasi. Mulai dari jenis vaksin (immune-complex, vektor vaksin), sampai cara vaksinasi (hatchery vaccination, in ovo vaccination). Kesemuanya diklaim dapat memberikan perlindungan lebih efisien dan tahan lama.

Menurut Drh Fauzi Iskandar dari PT Ceva Animal Health Indonesia, ragam teknologi vaksin kekinian memungkinkan vaksinasi dilakukan sejak dini di hatchery, bahkan sejak dalam telur, in ovo vaccination.

“DOC yang divaksin di hatchery cenderung lebih siap menghadapi tantangan lapangan karena sudah memiliki sistem imun yang tergertak sejak dini,” kata Fauzi.

Pilihan metode pun makin beragam. Ada yang disuntikkan ke kantung amnion saat inkubasi, ada pula yang dilakukan saat DOC baru menetas. Metodenya bisa subkutan atau semprot, semua disesuaikan dengan kondisi farm dan tujuan vaksinasi.

Fauzi melanjutkan, teknologi vaksin sekarang akan bersinergi positif dengan diterapkannya biosekuriti yang baik. Ia meyakinkan kepada seluruh peternak di Indonesia bahwa mengaplikasikan biosekuriti sampai hal sedetail apapun akan menurunkan risiko ayam dari imunosupresi, bahkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025. (CR)

DIRJEN PKH: PENTINGNYA VAKSINASI UNTUK MENGENDALIKAN PMK

Dirjen PKH Agung Suganda. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Pengendalian penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) melalui berbagai strategi terus digaungkan pemerintah. Melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), strategi pengendalian PMK salah satunya melalui vaksinasi masih terus berjalan.

"Program vaksinasi massal kita lakukan melalui dua periode. Periode pertama Januari-Maret kita lakukan vaksinasi 2,1 juta dosis dan pada periode kedua yang sedang berjalan Juli-September kita targetkan 1,9 juta dosis, saat ini masih sekitar 1,3 juta dosis lagi yang harus kita masifkan," ujar Dirjen PKH, Agung Suganda, saat Media Briefing Strategi Nasional Pengendalian PMK, Selasa (26/8/2025), di Jakarta.

Strategi vaksinasi massal ini, lanjutnya, dinilai sangat efektif dan penting dalam pencegahan PMK, serta diharapkan dapat menggertak sistem imunitas pada ternak, apalagi saat lalu lintas ternak sedang tinggi seperti menjelang momen kurban.

"Ini kita ambil jaraknya enam bulan, sangat efektif dan sangat memengaruhi kekebalan pada ternak, semoga di November, Desember, hingga Januari (2026) sudah terbangun kekebalannya. Kita terus upayakan untuk mengantisipasi pergerakan ternak pada saat kurban (2026) yang biasanya itu tujuh bulan sebelumnya sudah banyak lalu lintas ternak," tambahnya.

Dengan periode vaksinasi ini, Agung menyebut penurunan kasus PMK bisa diredam secara signifikan. "Karena itu harus terus kita gaungkan agar peternak juga meningkat kesadarannya untuk melakukan vaksinasi dalam menjaga kesehatan ternaknya. Saya harap akhir tahun nanti tidak ada peningkatan kasus PMK," ucapnya.

Selain itu, pemerintah juga tengah mengupayakan pembagian zona pengendalian PMK, di antaranya Zona Pemberantasan di daerah Pula Jawa dan Lampung yang memiliki populasi dan kasus yang tinggi, kemudian Zona Pencegahan di daerah-daerah yang populasi sapi dan kasusnya cukup rendah seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan NTB, serta Zona Bebas PMK di daerah Maluku dan Maluku Utara, Papua, dan NTT yang sampai saat ini tidak terdeteksi PMK dan tanpa program vaksinasi.

"Saat ini kita juga sudah melakukan permohonan dokumen pengakuan kepada badan kesehatan hewan dunia bahwa Indonesia memiliki daerah yang bebas PMK tanpa vaksinasi dan kita usulkan juga dokumen pengakuan Indonesia memiliki program pengendalian PMK yang terkendali, untuk menuju Indonesia bebas PMK di 2035 mendatang. Sebab ini sangat penting agar subsektor peternakan dan kesehatan hewan tumbuh positif dan mengundang banyak investor," ungkap Agung.

Sementara itu ditambahkan oleh perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, bahwa dengan pencegahan PMK yang terpadu tentu akan memberikan proteksi terhadap kesehatan ternak, masyarakat, dan menjaga nilai perekonomian serta ketahanan dan stabilitas pangan.

"Hal ini tidak hanya baik bagi indonesia, tetapi juga pada dunia. Maka dari itu kita harus terus melakukan kolaborasi dalam mengendalikan PMK di Indonesia," tukasnya.

Foto bersama dalam kegiatan Media Briefing Strategi Pengendalian PMK.

Media Briefing Strategi Nasional Pengendalian PMK: Bangkitkan Peternakan, Jaga Ketahanan Pangan merupakan inisiasi dari FAO bersama Kementerian Pertanian yang didukung oleh Pemerintah Australia. Pada kegiatan ini juga disampaikan materi talkshow seputar pengendalian PMK. (RBS)

MENGANTISIPASI IMUNOSUPRESI AGAR TIDAK MERUGI

Kasus imunosupresi merupakan masalah besar bagi industri perunggasan. (Foto: Istimewa)

Imunosupresi adalah kata yang sering terdengar di kalangan praktisi kesehatan unggas. Masalahnya, imunosupresi bukanlah suatu penyakit, melainkan kondisi yang kerap menerpa ayam tanpa menunjukkan gejala klinis (subklinis).

Memahami Imunosupresi
Sistem kekebalan berfungsi untuk mengenali, menetralisasi, dan mengeliminasi patogen dalam tubuh. Selain itu juga berperan mengenali kembali patogen yang masuk dengan adanya sel memori, serta mencegah terjadinya imunopatologi (kerusakan sel-sel kekebalan). Jika fungsi kekebalan ini terganggu, maka akan terjadi suatu kondisi yang disebut imunosupresi.

Dikemukakan oleh Guru Besar SKHB IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, bahwa imunosupresi didefinisikan sebagai suatu kondisi terganggunya respons imun secara sementara atau permanen akibat gangguan terhadap sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit.

Kondisi tersebut tentunya meningkatkan kerentatan bagi suatu organisme untuk menghalau agen patogen yang menginfeksi dari luar.

Menurutnya, imunosupresi merupakan masalah besar bagi industri perunggasan, namun memang belum ada data pasti yang menunjukkan sejauhmana permasalahan ini, karena imunosupresi biasanya bersifat subklinis. Terlebih lagi katanya, ayam modern meskipun performa tinggi nyatanya lebih rentan terhadap penyakit ketimbang di zaman dahulu.

“Kalau faktor penyebabnya banyak, bisa dari infeksi patogen atau faktor lingkungan, termasuk kesalahan manajemen. Hal-hal tersebut dapat menyebabkan imunosupresi dan interaksi antara keduanya biasanya memperburuk kondisi tersebut,” tutur Prof Wayan.

Ia melanjutkan, stres dari lingkungan seperti pada periode akhir inkubasi, penetasan, dan penanganan DOC yang kurang baik juga dapat menyebabkan imunosupresi. Stresor lainnya termasuk kondisi kandang yang tidak optimal dan cemaran mikotoksin pada hatchery juga memungkinkan terjadinya imunosupresi.

Imunosupresi Akibat Faktor Non-Infeksius
Jika merujuk pada faktor non-infeksius, yang paling umum memungkinkan terjadinya imunosupresi yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025. (CR)

SEBUAH STUDI MENUNJUKKAN POTENSI TINGGI BLACK SOLDIER FLY DALAM PAKAN PUYUH

Sekelompok ilmuwan Rusia dari Akademi Kedokteran Hewan Kazan telah mendesak industri pakan untuk mengkaji secara cermat potensi penggantian tepung daging dan tulang serta aditif pakan impor dengan larva black soldier fly (BSF).

Para peneliti melakukan percobaan dengan 3 kelompok puyuh petelur, masing-masing kelompok terdiri dari 21 ekor. Kelompok pertama menerima pakan biasa, kelompok kedua menerima pakan yang sama dengan penambahan 3% larva kering alami, dan kelompok ketiga menerima pakan dengan penambahan 7% larva.

Di akhir percobaan selama 2 bulan, para peneliti memeriksa komposisi telur menggunakan kromatografi gas.

Analisis menunjukkan bahwa suplementasi pakan dengan BSF memberikan hasil nyata. Misalnya, pada telur puyuh yang menerima suplemen alami, kandungan lisin meningkat sebesar 17%, metionin sebesar 16%, dan triptofan sebesar 21%.

Kandungan beberapa asam lemak juga meningkat. Misalnya, kandungan asam linoleat meningkat sebesar 25%, dan kandungan asam linolenat meningkat sebesar 250% di atas kadar pada kelompok kontrol.

Menurut para peneliti, membudidayakan BSF untuk digunakan dalam industri unggas merupakan strategi yang layak untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap impor. Saat ini, Rusia mengimpor sekitar 95% aditif pakan untuk memenuhi permintaan domestik, terutama dari Tiongkok.

“Alternatif ramah lingkungan ini tidak hanya memecahkan masalah substitusi impor, tetapi juga meningkatkan nilai gizi telur puyuh, kandungan asam amino esensialnya meningkat hingga 21%,” kata para ilmuwan.

Membesarkan larva membutuhkan lebih sedikit sumber daya daripada memproduksi tepung daging dan tulang, tegas para ilmuwan, seraya menambahkan bahwa serangga tumbuh dengan cepat dan mengolah limbah organik, sehingga menghasilkan siklus produksi tertutup. Ini berarti limbah yang dihasilkan oleh serangga dapat digunakan sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhannya, menciptakan sistem yang mandiri. Universitas Agraria Negeri Kazan menekankan dalam pernyataannya bahwa mereka yakin teknologi ini juga dapat digunakan untuk ayam, bebek, dan kalkun.

MHP AKUISISI LEBIH DARI 92% SAHAM GRUPO UVESA SPANYOL

Perusahaan pangan dan agribisnis yang berbasis di Ukraina, MHP, telah resmi menyelesaikan akuisisi lebih dari 92% saham Grupo Uvesa, salah satu produsen unggas dan babi terintegrasi vertikal terbesar di Spanyol.

Penutupan transaksi ini dimungkinkan setelah selesainya periode aksesi Perjanjian Pembelian Saham (SPA), yang ditandatangani pada Maret 2025, dan setelah memperoleh semua persetujuan regulatori yang diperlukan. Khususnya, MHP menerima izin dari otoritas antimonopoli Ukraina, Spanyol, Arab Saudi, Serbia, Montenegro, dan Kosovo, serta persetujuan pengendalian merger dan subsidi asing dari Komisi Eropa.

Setelah itu, transaksi resmi selesai. Perusahaan menjadi pemilik lebih dari 92% saham Uvesa, setelah mencapai kesepakatan dengan semua penjual. MHP kini mengendalikan proses inti dan aktivitas operasional perusahaan.

Fokus Grupo Uvesa adalah pada produksi unggas, tetapi perusahaan ini juga memiliki divisi babi yang cukup besar, dengan peternakan babi terintegrasi di seluruh Spanyol. Perusahaan ini berfokus pada peternakan inseminasi, pembiakan, farrowing, dan finishing. Grupo Uvesa juga memiliki 3 fasilitas manufaktur pakan di Spanyol. Perusahaan ini berkantor pusat di Tudela, Navarra di wilayah utara negara tersebut, dan didirikan pada tahun 1964.

ASF DI PETERNAKAN DI POLANDIA

Jumlah peternakan yang terjangkit ASF di Polandia juga terus meningkat pada musim panas ini. Saat ini, jumlahnya mencapai 11 tahun ini. Jika tren berlanjut, jumlah total peternakan yang terinfeksi pada musim panas ini akan jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2024, ketika gelombang musim panas menyebabkan total 44 peternakan yang terinfeksi.

Enam dari wabah pada tahun 2025 terjadi di peternakan yang relatif kecil di Provinsi Lublin, di wilayah timur negara tersebut, tempat virus tersebut telah ada sejak tahun 2014. Lima lainnya terjadi di berbagai provinsi di wilayah barat negara tersebut, termasuk 3 peternakan dengan lebih dari 1.000 babi.

BABI MATI DI LADANG JAGUNG JERMAN, KARENA ASF?

Surat kabar pertanian terkemuka Jerman, Top Agrar, melaporkan kasus aneh di mana seekor babi peliharaan mati baru-baru ini ditemukan di ladang jagung di distrik Borken, juga di Rhine Westphalia Utara. Hewan seberat 100 kg yang ditemukan oleh pemburu tersebut memiliki lesi di panggul dan perut, dan tidak ada tanda telinga yang terdeteksi, yang berarti asal hewan tersebut tidak dapat dideteksi.

Sebuah laboratorium mengonfirmasi bahwa hewan tersebut tidak terinfeksi ASF, namun mengapa ia berakhir di ladang jagung masih menjadi misteri. Pemerintah setempat memperingatkan bahwa, untuk mengekang penyebaran ASF, sangat penting untuk mengikuti prosedur biosekuriti jika ada bangkai yang perlu dikeluarkan dari peternakan.

ASF JERMAN: JUMLAH KASUS BABI HUTAN DI NRW MENINGKAT MENJADI 78

Jumlah wabah Demam Babi Afrika (ASF) pada babi hutan di negara bagian Rhine-Westphalia Utara, Jerman, telah meningkat menjadi 78. Wabah juga telah dilaporkan di utara kota Erndtebrück, di distrik Siegen-Wittgenstein.

Dalam pembaruan terbaru dari sistem informasi kesehatan hewan Jerman (TSIS), jumlah kasus di distrik Siegen-Wittgenstein meningkat dari 7 menjadi 29, dengan mayoritas kasus berada di dekat kota Bad Berleburg, tetapi untuk pertama kalinya juga relatif dekat dengan kota Erndtebrück. Kota tersebut dekat dengan perbatasan zona infeksi II yang telah ditetapkan, yang seharusnya membatasi penyebaran virus dengan penggunaan pagar.

Saat ini belum ada laporan tentang zona infeksi yang harus digambar ulang dan pagar tambahan yang harus dipasang. Di distrik tetangga Olpe, jumlah kasus terus mencapai 49, sehingga total kasus pada babi hutan saja menjadi 78.

PRAKIRAAN RABOBANK UNTUK BABI GLOBAL: BIAYA LEBIH RENDAH, TANTANGAN GEOPOLITIK

Bank agribisnis Rabobank memperkirakan produksi babi akan diuntungkan oleh biaya pakan yang lebih rendah serta peningkatan produktivitas. Namun, bank tersebut memperingatkan bahwa perdagangan dapat tetap terdampak oleh ketegangan geopolitik serta tantangan kesehatan.

Setiap 3 bulan, bank tersebut merilis laporan triwulanan daging babi global – sama seperti yang dilakukannya untuk semua sektor peternakan lainnya, dengan masukan dari banyak analis pasar senior bank di bidang protein hewani.

Negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung terus memicu ketidakstabilan di pasar daging babi global, tulis bank tersebut dalam siaran pers, khususnya merujuk pada pasar antara 2 blok perdagangan terbesar di dunia: AS dan Tiongkok. Meskipun Tiongkok telah mengurangi impor dari AS dalam beberapa tahun terakhir – sebagian besar karena peningkatan produksi lokal – Tiongkok tetap menjadi importir utama daging babi varietas AS. Hasil negosiasi saat ini antara kedua negara dapat memiliki implikasi yang luas bagi perdagangan global, kata Rabobank. Bagi Amerika Serikat, kondisinya tampak cerah pada paruh pertama tahun 2025. Harga babi mencapai US$ 110 per seratus pon (ukuran di AS untuk menyatakan nilai per 100 lbs = 45,4 kg), yang 23% lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya di tahun 2024.

Dalam tinjauannya, bank tersebut menyoroti fakta bahwa Tiongkok mempertahankan tarif tambahan sebesar 10% atas impor daging babi AS sebagai respons terhadap tarif AS di negara lain. Bank tersebut menyebutkan bahwa impor daging babi varietas AS oleh Tiongkok turun 15% pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024.

Namun, perdagangan daging babi global diperkirakan akan tumbuh, tambah bank tersebut. Terdapat kekurangan pasokan di Meksiko, Asia Tenggara (misalnya Filipina), serta Jepang. Hal ini menguntungkan negara-negara pengekspor seperti Brasil (ekspor tumbuh pesat, +18% pada paruh pertama tahun 2025) serta negara-negara di Uni Eropa (+5%).

Berkaitan dengan penyakit babi, kesehatan ternak tetap menjadi perhatian utama bagi produsen di seluruh dunia. Demam Babi Afrika (ASF) terus menyebar di beberapa wilayah Asia dan Eropa, tulis bank tersebut, sementara Sindrom Pernapasan dan Reproduksi Babi (PRRS) menghambat produktivitas di Amerika Utara dan Spanyol. Selain itu, bank tersebut juga menyoroti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menambah ketidakpastian perdagangan. Biosekuriti canggih, otomatisasi, dan operasi tanpa awak membantu mengurangi risiko ini.

Terakhir, terkait harga jagung, bank tersebut menyatakan bahwa harga yang lebih rendah terus turun berkat kondisi cuaca AS yang menguntungkan dan panen jagung yang melimpah di Brasil. Namun, pasar kedelai dan bungkil kedelai menunjukkan sinyal yang beragam. Mandat biofuel yang diusulkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk tahun 2026 dan 2027 mendukung harga kedelai, sekaligus memberikan tekanan terhadap harga bungkil kedelai, tulis bank tersebut.

INDUSTRI BABI IRLANDIA MENUNJUKKAN TANDA-TANDA PEMULIHAN

Sumber daya babi di Irlandia, yang mengalami kontraksi tajam pada tahun 2022 akibat perang di Ukraina, telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada paruh pertama tahun 2025, produksi rumah potong hewan Irlandia naik 6,4% dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspor ternak hidup ke Irlandia Utara naik 25% menjadi 18.383 ekor dibandingkan dengan paruh pertama tahun 2024, menurut laporan lembaga penelitian pertanian Irlandia, Teagasc.

Harga babi Irlandia naik dari €2,09 pada bulan Januari tahun ini ke puncaknya di €2,26 pada bulan Juni. Hingga Juli 2025, harga tersebut kembali turun ke level yang lebih moderat. Harga babi di Irlandia dan Uni Eropa diperkirakan akan relatif stabil hingga akhir tahun 2025, karena pasokan babi yang terus terbatas dan tingginya harga konsumen untuk sumber protein alternatif. Ekspor daging babi meningkat secara substansial sebesar 8% pada paruh pertama tahun 2025, didorong oleh peningkatan volume ekspor ke Irlandia Utara dan Polandia.

ASF VIETNAM: WABAH KEMBALI MEMBURUK

African Swine Fever (ASF) telah melanda Vietnam dengan parah pada akhir Juli dan awal Agustus. Jumlah babi yang terinfeksi meningkat tiga kali lipat hanya dalam 2 minggu, menurut media pemerintah negara tersebut.

Kantor berita internasional Reuters melaporkan perkembangan terbaru. Kantor berita tersebut mengutip surat kabar Vietnam Tien Phong, yang menyatakan bahwa negara tersebut telah mendeteksi 972 wabah ASF tahun ini, sementara pada pertengahan Juli hanya 514.

Jumlah babi yang terinfeksi telah meningkat menjadi lebih dari 100.000 dari 30.000 pada periode yang sama, kata surat kabar tersebut, mengutip Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Vietnam (MARD). Semua babi yang terinfeksi telah mati atau telah dimusnahkan.

Nguyen Xuan Duong, ketua Asosiasi Peternakan Hewan Vietnam, mengatakan, “ASF telah menyebar dalam skala yang sangat besar, menyebar ke seluruh negeri, dan secara serius memengaruhi industri peternakan, terutama pasokan daging babi.” Ia menambahkan bahwa tidak ada provinsi yang aman dari penyakit ini.

Perdana Menteri Vietnam, Pham Minh Chinh, mengirimkan arahan mendesak kepada provinsi-provinsi dan instansi pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah guna mengendalikan penyakit ini, yang menurut pemerintah mengancam pasokan pangan.

Vietnam adalah negara pertama yang memperkenalkan vaksin ASF yang telah digunakan secara komersial sejak 2023, namun para pejabat mengatakan tingkat vaksinasi rendah karena kekhawatiran tentang biaya dan efisiensi. Duong mengatakan, "Vaksinasi hanyalah alat pendukung yang tidak dapat menggantikan langkah-langkah pencegahan dasar."

TELAAH LAPANGAN: GERAK-GERIK IMUNOSUPRESI

Problem infeksi jamur (mikosis) pada jaringan kulit (epidermis) atau jaringan selaput lendir (mukosa) dengan prevalensi yang tinggi dapat menjadi indikasi (petunjuk awal) adanya problem imunosupresi subkronis sampai kronis pada suatu populasi ayam di lapangan.

Oleh: Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant - Jakarta)

Drama gangguan respons imunitas alias imunosupresi pada ayam modern ibarat kinerja hembusan angin yang semilir, secara kasat mata tidak tampak namun efeknya dapat dirasakan secara signifikan.

Seiring dengan peningkatan performa ayam akibat perbaikan genetik yang cukup progresif dan kondisi iklim yang terus gonjang-ganjing, perjalanan kasus imunosupresi di lapangan seolah mendapatkan karpet merah.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sepintas bagi para kolega praktisi lapang terkait faktor penyebab dan dinamika kasus imunosupresi pada ayam modern, termasuk bagaimana mendeteksinya di lapangan secara sistematik serta strategi taktis mereduksi dampak yang ditimbulkannya.

Sekilas Respons Imunitas Ayam
Hampir sama seperti pada mamalia, sistem imunitas ayam modern terdiri dari dua komponen dasar yang saling berinteraksi satu sama lain, yaitu sistem pertahanan non-spesifik (innate immune system) dan sistem kekebalan (adaptive immune system).

Sistem pertahanan non-spesifik ini secara mendasar merupakan gugus pertahanan terdepan (first line of defense) dalam sistem imunitas yang bertujuan untuk melawan pelbagai bentuk patogen (virus, bakteri, jamur, atau parasit) dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menginisiasi reaksi spesifik pada sistem kekebalan.

Sistem imunitas dapatan (adaptive immune system) yang diaktivasi pada tahap lanjut dan didasarkan atas pengenalan molekul asing yang spesifik berasal dari patogen dengan terminologi antigen (PAMPs/Pathogen-Associated Molecular Patterns). Responsnya umumnya berlangsung 3-4 minggu setelah adanya aktivasi awal oleh kombinasi antara sinyal dari respons innate immunity dan pengenalan antigen yang dimediasi oleh sel-sel limfost. Ini berarti, pada induksi primer sistem adaptive immunity sangat tergantung dengan respons innate immunity dalam rangka bereaksi terhadap keberadaan patogen (Kasper et al., 2022).

Sinyal dari respons innate immunity akan mendorong ekspansi secara selektif dan aktivasi populasi sel-sel limfosit T dan B dengan spesifisitas sesuai dengan jenis tantangan patogen yang sedang berlangsung. Mekanisme efektor utama dalam sistem adaptive immunity adalah dengan memproduksi sejumlah antibodi oleh sel limfosit B, menghancurkan sel induk semang yang sudah terinfeksi oleh cytotoxic T-cells, dan pelbagai mekanisme mengeliminasi patogen yang terkait dengan rentetan aktivitas lanjut helper T-cells (Sproul et al., 2000; Radoja et al., 2006).

Yang juga perlu diingat bahwa aktivasi sistem adaptive immunity akan menghasilkan sejumlah sel-sel memori, baik sel B ataupun sel T. Adaptive immunity juga akan memberikan proteksi yang relatif lama dan spesifik untuk menghadang laju invasi patogen yang sama di kemudian hari (Cheeseman, 2007; Schat et al., 2014; Kasper et al., 2022).

Deskripsi Imunosupresi
Kemungkinan adanya kondisi yang bersifat imunosupresif di lapangan sebenarnya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2025. (toe)

BABI LIAR MENGANCAM TANAMAN DAN PETERNAKAN BABI DI BRASIL

Pertanian dan peternakan Brasil menghadapi ancaman serius: dengan populasinya yang terus bertambah tak terkendali, babi liar telah menjadi gangguan. Hewan ini bertanggung jawab atas kerugian jutaan dolar di lahan pertanian, dan berpotensi menjadi pembawa penyakit zoonosis.

Babi liar merupakan hewan eksotis di Brasil. Keberadaan mereka secara keseluruhan menghadirkan potensi risiko lebih dari €9 miliar per tahun, menurut Konfederasi Pertanian dan Peternakan Brasil (CNA).

Masalah ini telah ada selama lebih dari 6 dekade, dengan diperkenalkannya babi untuk produksi daging. Beberapa dari mereka berhasil lolos selama bertahun-tahun. Mereka beradaptasi, bercampur, dan berkembang biak dengan cepat di Brasil, menjadi reservoir atau jalur penularan potensial penyakit babi.

Dengan sedikit predator alami, spesies ini menyebar lebih dari 3.500 km dari selatan ke utara. Migrasi tersebut tidak terjadi secara alami – melainkan mengikuti jaringan jalan dan melibatkan "lompatan" ratusan kilometer. Para ahli mengaitkan penyebaran babi liar yang cepat dengan aktivitas manusia, termasuk pembiakan ilegal untuk berburu.

Asosiasi Pemburu Brasil memperkirakan jumlah hewan ini di negara tersebut telah melampaui 3 juta – angka yang belum diverifikasi secara resmi. Perburuan mendapatkan izin dari Institut Lingkungan Brasil (IBAMA) pada tahun 2013 sebagai strategi pengendalian, tetapi juga menjadi dalih untuk wisata berburu.

Dalam beberapa tahun terakhir, operasi kepolisian telah mengungkap lokasi pembiakan ilegal. Di Santa Catarina – negara bagian penghasil daging babi terkemuka di Brasil – 21 babi liar disita dalam kondisi ilegal di kotamadya Monte Carlo. Investigasi mengungkapkan hewan-hewan yang dilepaskan untuk berburu.

Antara tahun 2019 dan 2022, IBAMA merilis data tahunan tentang perburuan babi liar. Menurut badan tersebut, 333.000 hewan dibunuh antara tahun 2019 dan 2021, dengan 465.000 ditembak pada tahun 2022 saja. Sejak itu, tidak ada angka baru yang dipublikasikan.

Laporan kerusakan sangat banyak. Misalnya, di negara bagian São Paulo, Renato Prince, presiden Serikat Pedesaan Monteiro Lobato, melaporkan babi liar yang "memakan bahkan anak sapi." Dalam sebuah wawancara dengan O Estado de S. Paulo, ia menyatakan bahwa wilayah tersebut telah menghadapi masalah ini selama 8 tahun, tetapi serangannya semakin parah dalam 3 tahun terakhir. Sebagai peternak sapi perah, ia menanam jagung di lahan seluas 10 hektar, tetapi 70% tanamannya hancur. Ia beralih ke sorgum, yang juga hampir habis dimakan. "Dalam satu malam, kawanan 30 hingga 40 babi melahap ladang. Satu-satunya alternatif kami sekarang adalah rumput," katanya.

Contoh lain, di kota Lucas do Rio Verde, negara bagian Mato Grosso, serikat pekerja pedesaan setempat melaporkan kerugian sekitar €3,3 juta akibat kerusakan 3% lahan jagung yang ditanami di kota tersebut.

MENINGKATNYA PERMINTAAN DAGING BABI RUSIA DARI BELARUS

Selain permintaan Tiongkok, juga terjadi peningkatan permintaan daging babi Rusia dari negara tetangganya, Belarus, sebagaimana dijelaskan oleh Sergey Yushin, ketua Asosiasi Daging Nasional Rusia, dalam sebuah wawancara dengan Forbes cabang Rusia.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Belarus merupakan produsen dan eksportir daging babi terkemuka, mengirimkan sekitar 60.000 ton daging babi per tahun ke Rusia, kata Yushin. Namun, akibat "lanskap epidemi yang rumit", negara tersebut kini perlu mengimpor daging babi dalam jumlah besar untuk menjembatani kesenjangan antara penawaran dan permintaan. Agroexport mengatakan bahwa Belarus muncul sebagai importir daging babi Rusia terbesar pada awal tahun 2025, membelinya seharga US$ 100 juta. Pada tahun 2025, Rusia akan mengekspor 8% daging babi olahan, dengan total nilai ekspor diperkirakan melebihi US$ 1 miliar, menurut Persatuan Produsen Daging Babi Rusia (RUPP).

NILAI EKSPOR DAGING BABI RUSIA MELAMPAUI UNGGAS

Untuk pertama kalinya, Rusia menghasilkan pendapatan terbesar dari ekspor daging babi dibandingkan jenis daging lainnya, termasuk unggas, dalam 4 bulan pertama tahun 2025. Selama bulan-bulan tersebut, ekspor daging babi Rusia bernilai US$ 298 juta dan ekspor unggas senilai US$ 295 juta.

Hal tersebut disampaikan oleh Agroexport, sebuah badan pemerintah Rusia yang memfasilitasi ekspor pertanian. Peningkatan ekspor daging babi Rusia yang berkelanjutan – kini mencapai 130.000 ton – menandai pergeseran yang nyata dalam perdagangan pangan negara tersebut, ujar Ilya Iliushin, kepala Agroexport.

Selama beberapa tahun terakhir, unggas mendominasi ekspor pangan Rusia, meskipun kesenjangan antara pendapatan ekspor dari ekspor unggas dan daging babi secara konsisten menyempit. Pada periode yang sama di tahun 2024, peternak Rusia menghasilkan US$ 225 juta dari penjualan unggas dan US$ 151 juta dari penjualan daging babi ke pelanggan asing. Tiongkok telah menjadi pendorong utama ekspor daging babi Rusia, kata Iliushin, menjelaskan bahwa penjualan ke pasar ini melonjak lebih dari 6 kali lipat di awal tahun, mencapai US$ 50 juta.

INDUSTRI TETAP WASPADA SETELAH LAPORAN PERTAMA LUMPY SKIN DISEASE DI EROPA

Lumpy skin disease (LSD) telah terdeteksi untuk pertama kalinya di Prancis dan Italia. Pihak berwenang di kedua negara telah mengonfirmasi bahwa mereka telah menerapkan langkah-langkah penanggulangan sesuai dengan standar internasional untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.

Wabah LSD yang menular dikonfirmasi untuk pertama kalinya di Prancis pada 29 Juni 2025 di sebuah peternakan sapi di Chambéry, di wilayah Savoie dekat Pegunungan Alpen. Pihak berwenang di Prancis telah membatasi pergerakan sapi dalam radius 50 km dari wabah di wilayah-wilayah tersebut – Savoie, Haute-Savoie, Ain, dan Isere – untuk mengendalikan penyakit tersebut.

LSD tersebar luas di Afrika Utara, tetapi baru-baru ini muncul di Italia di mana pihak berwenang mengonfirmasi penyakit tersebut. Pada 23 Juni 2025, wabah baru dilaporkan di Sardinia dan Lombardy di Italia utara. Menurut laporan, Inggris telah membatasi impor sapi hidup, susu mentah dan produk susu, plasma nutfah, dan jeroan karena wabah baru-baru ini di Prancis.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer