Bank agribisnis Rabobank memperkirakan produksi babi akan diuntungkan oleh biaya pakan yang lebih rendah serta peningkatan produktivitas. Namun, bank tersebut memperingatkan bahwa perdagangan dapat tetap terdampak oleh ketegangan geopolitik serta tantangan kesehatan.
Setiap 3 bulan, bank tersebut merilis laporan triwulanan daging babi global – sama seperti yang dilakukannya untuk semua sektor peternakan lainnya, dengan masukan dari banyak analis pasar senior bank di bidang protein hewani.
Negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung terus memicu ketidakstabilan di pasar daging babi global, tulis bank tersebut dalam siaran pers, khususnya merujuk pada pasar antara 2 blok perdagangan terbesar di dunia: AS dan Tiongkok. Meskipun Tiongkok telah mengurangi impor dari AS dalam beberapa tahun terakhir – sebagian besar karena peningkatan produksi lokal – Tiongkok tetap menjadi importir utama daging babi varietas AS. Hasil negosiasi saat ini antara kedua negara dapat memiliki implikasi yang luas bagi perdagangan global, kata Rabobank. Bagi Amerika Serikat, kondisinya tampak cerah pada paruh pertama tahun 2025. Harga babi mencapai US$ 110 per seratus pon (ukuran di AS untuk menyatakan nilai per 100 lbs = 45,4 kg), yang 23% lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya di tahun 2024.
Dalam tinjauannya, bank tersebut menyoroti fakta bahwa Tiongkok mempertahankan tarif tambahan sebesar 10% atas impor daging babi AS sebagai respons terhadap tarif AS di negara lain. Bank tersebut menyebutkan bahwa impor daging babi varietas AS oleh Tiongkok turun 15% pada paruh pertama tahun 2025 dibandingkan dengan tahun 2024.
Namun, perdagangan daging babi global diperkirakan akan tumbuh, tambah bank tersebut. Terdapat kekurangan pasokan di Meksiko, Asia Tenggara (misalnya Filipina), serta Jepang. Hal ini menguntungkan negara-negara pengekspor seperti Brasil (ekspor tumbuh pesat, +18% pada paruh pertama tahun 2025) serta negara-negara di Uni Eropa (+5%).
Berkaitan dengan penyakit babi, kesehatan ternak tetap menjadi perhatian utama bagi produsen di seluruh dunia. Demam Babi Afrika (ASF) terus menyebar di beberapa wilayah Asia dan Eropa, tulis bank tersebut, sementara Sindrom Pernapasan dan Reproduksi Babi (PRRS) menghambat produktivitas di Amerika Utara dan Spanyol. Selain itu, bank tersebut juga menyoroti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menambah ketidakpastian perdagangan. Biosekuriti canggih, otomatisasi, dan operasi tanpa awak membantu mengurangi risiko ini.
Terakhir, terkait harga jagung, bank tersebut menyatakan bahwa harga yang lebih rendah terus turun berkat kondisi cuaca AS yang menguntungkan dan panen jagung yang melimpah di Brasil. Namun, pasar kedelai dan bungkil kedelai menunjukkan sinyal yang beragam. Mandat biofuel yang diusulkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) untuk tahun 2026 dan 2027 mendukung harga kedelai, sekaligus memberikan tekanan terhadap harga bungkil kedelai, tulis bank tersebut.
0 Comments:
Posting Komentar