-->

FLU BURUNG MUNCUL DI SELURUH EROPA

Pada musim dingin ini, di banyak negara Eropa, kasus pertama flu burung pada kawanan unggas komersial telah ditemukan. Pihak berwenang di seluruh Eropa memperingatkan bahwa risiko flu burung yang sangat patogen (HPAI) meningkat pesat dan kewaspadaan maksimum sangat diperlukan di semua peternakan unggas.

Austria, misalnya, baru-baru ini dilanda wabah besar HPAI, yang menyebabkan pemusnahan lebih dari 200.000 unggas. Pihak berwenang kesehatan bahkan harus memanggil tentara untuk membantu operasi tersebut. Tentara juga membantu membangun biosekuriti sehingga kendaraan di peternakan yang terinfeksi dapat dibersihkan secara menyeluruh untuk mencegah penyebaran virus lebih lanjut. Departemen kesehatan dan urusan sosial di Wina segera menaikkan tingkat risiko ke tinggi untuk seluruh negeri.

Dalam beberapa minggu terakhir, Prancis telah melaporkan 1 wabah HPAI H5 pada kawanan 51.000 unggas di Morbihan, satu lagi pada peternakan dengan 7.500 bebek yang divaksinasi (2 dosis) di sektor foie gras, dan satu di peternakan dengan 30.000 bebek yang divaksinasi (1 dosis) di sektor daging. Secara total, negara tersebut telah mengumumkan 6 wabah unggas, 2 wabah unggas dalam penangkaran, dan 10 kasus liar sejak awal musim. Prancis melaksanakan kampanye vaksinasi mulai 1 Oktober 2023 hingga 30 September 2024. Mulai 1 Oktober 2024, kampanye vaksinasi wajib akan terus berlanjut dengan strategi yang sama, kata departemen pertanian. Dalam konteks ini, Prancis bertujuan untuk menyediakan semua informasi yang diperlukan untuk memahami rencana vaksinasi.

Setelah wabah pertama di Bavaria di Jerman selatan di tempat pemeliharaan angsa dan tempat pemeliharaan unggas campuran pada akhir Oktober, wabah HPAI H5 lebih lanjut dilaporkan di negara bagian yang sama di tempat pemeliharaan unggas campuran yang memelihara kalkun, ayam, bebek, dan angsa.

Di Inggris Raya, kasus pertama HPAI H5 pada unggas komersial ditemukan pada tanggal 5 November di peternakan ayam petelur lepas yang memelihara 20.000 ayam di East Yorkshire, tepat di pantai Laut Utara. Itu adalah tempat pertama yang terinfeksi HPAI H5 di negara tersebut sejak pertengahan Februari 2024. Semua pemelihara burung dan unggas di Inggris Raya didesak untuk tetap waspada dan mengambil tindakan untuk melindungi hewan mereka setelah peningkatan lebih lanjut dalam tingkat risiko flu burung, kata Departemen Lingkungan Hidup, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra). Tingkat risiko di mana biosekuriti yang baik diterapkan secara konsisten setiap saat tetap dinilai rendah dengan ketidakpastian yang rendah dan tingkat risiko pada burung liar tetap dinilai tinggi.

Hongaria telah mengalami peningkatan tajam dalam wabah unggas HPAI H5N1, dengan 30 wabah dilaporkan pada minggu pertama bulan November saja. Wabah tersebut terpusat di selatan, area padat untuk produksi unggas, serta di bagian timur negara tersebut. Mayoritas dari 30 wabah ini memengaruhi sektor foie gras dengan 21 di bebek foie gras dan 3 di tempat angsa foie gras.

Di Bulgaria, rencana vaksinasi serta reorganisasi sektor bebek sedang berlangsung setelah wabah AI sebelumnya. Italia baru-baru ini melaporkan 2 wabah di peternakan unggas di bagian utara negara tersebut.

Irlandia sejauh ini belum melaporkan wabah apa pun. Namun, menteri pertanian telah memperingatkan tentang peningkatan risiko terhadap kawanan unggas dari serangan flu burung, “Dalam beberapa minggu terakhir, telah terjadi banyak wabah flu burung pada kawanan unggas di seluruh Eropa. Wabah ini disebabkan oleh galur virus H5N1 yang sangat patogenik. Selain itu, ada sejumlah kasus virus flu burung H5N5 yang terdeteksi pada burung liar di Inggris Raya musim gugur ini. Meskipun kami belum mendeteksi kasus seperti itu pada unggas atau burung liar Irlandia tahun ini, risikonya kini meningkat. Ini karena burung liar kini bermigrasi untuk musim dingin, sementara suhu yang lebih dingin dan jam siang yang lebih pendek berarti virus flu burung apa pun yang menyebar ke lingkungan oleh burung liar yang terinfeksi dapat bertahan lebih lama.”

PERUSAHAAN UNGGAS UKRAINA MERENCANAKAN INVESTASI BESAR DI SLOVAKIA

EU Poultry, pengolah unggas Slovakia yang dimiliki oleh pengusaha Ukraina Dmytro Borodavka, telah meluncurkan rencana untuk menginvestasikan hampir €50 juta untuk perluasan kapasitas di negara tersebut.

Berdasarkan rancangan yang diajukan kepada pemerintah Slovakia, EU Poultry bermaksud membangun pabrik pengolahan unggas baru di dekat desa Bošany di wilayah pemerintahan Trenčín di Slovakia bagian barat.

Catatan penjelasan proyek tersebut mengungkapkan bahwa "fasilitas tersebut akan mengolah daging unggas menjadi produk setengah jadi dan mengirimkannya ke pusat distribusi". Pembangunan dijadwalkan akan dimulai pada Q2 tahun 2025 dan selesai pada Q3 tahun 2026.

Perusahaan EU Poultry telah menjadi relatif terkenal di Slovakia berkat model bisnisnya, yang melibatkan impor unggas dari Ukraina dan pengolahan serta pengemasan selanjutnya di Slovakia, Openiazoch, kantor berita Slovakia, melaporkan. Daging yang diolah dengan cara ini dikirim ke Uni Eropa dengan label Slovakia, demikian menurut publikasi tersebut, seraya menambahkan, “Faktanya, model ini bekerja dengan sempurna untuk Borodavka. EU Poultry telah menjadi salah satu perusahaan makanan terbesar di negara tersebut selama keberadaannya yang singkat.”

Menurut informasi resmi, perusahaan yang diluncurkan pada tahun 2017 ini menjadi produsen makanan terbesar ketujuh di Slowakia tahun lalu.

Pendapatan EU Poultry melonjak dari €16 juta pada tahun 2017 menjadi €160 juta pada tahun 2023. Pada tahun 2022, pendapatannya mencapai €106 juta, dan pada tahun 2021, menjadi €49 juta. Tahun lalu merupakan tahun yang sangat sukses bagi EU Poultry dengan perolehan laba bersih sebesar €13,1 juta, yang lebih besar daripada gabungan laba bersih selama 6 tahun sebelumnya.

MENTERI KOPERASI SAMBUT WKU PETERNAKAN KADIN, BAHAS KORPORATISASI KOPERASI PETERNAKAN

 

Pertemuan Menteri Koperasi dengan WKU Kadin Bidang Peternakan Kadin bersama jajarannya. (Foto: Istimewa)

Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi menyambut Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia beserta jajarannya, Rabu (11/12). 

Budi Arie menuturkan ke depannya bersama Kadin bersama-sama dalam memperluas jangkauan koperasi peternakan di Tanah Air.

“Cita-cita pak Prabowo dan Kementerian Koperasi ingin memperbesar jangkauan dari koperasi peternakan. Jadi tentunya dalam mempercepat program ini, kami akan melakukan berbagai upaya dan dukungan termasuk dari Kadin Bidang Peternakan,” kata Budi Arie di Kantor Kementerian Koperasi dan UMKM, Jakarta. 

WKU Bidang Peternakan Kadin Indonesia, Drh Cecep Muhammad Wahyudin SHMH menambahkan harapannya koperasi peternakan yang sudah eksis seperti Koperasi Peternak Sapi Perah (KPSP) maupun koperasi peternak ayam petelur dan broiler dan lainnya akan digabungkan atau sebagai korporatisasi koperasi.

“Pengelolaan koperasi seperti korporate mulai dari struktur organisasi dan kepengurusannya, diharapkan terwujudkonsep integrasi horizontal. Jadi setiap rantai bisnis peternakan dikelola sesuai keahlian,” urai Cecep. 

Hal ini, imbuh Cecep, diharapkan menjadi solusi sekaligus terobosan perkembangan di masa depan untuk mencapai target swasembada pangan khususnya di bidang peternakan. Di hadapan awak media, Budi Arie menyampaikan sektor peternakan menjadi prioritas dalam rangka mensukseskan program Makan Bergizi Gratis. (NDV) 


BARLEY BERKECAMBAH SEBAGAI SUPLEMEN PAKAN POTENSIAL UNTUK AYAM PETELUR

Dengan biaya pakan yang menjadi pengeluaran utama bagi peternak unggas, perbedaan harga antara barley pakan seharga £148 per ton dan pakan ayam petelur seharga £310 per ton telah memicu minat untuk menemukan alternatif yang lebih ekonomis. Salah satu solusi potensial adalah penggunaan barley berkecambah sebagai suplemen nutrisi untuk ayam petelur.

Untuk mengeksplorasi ide ini, para peneliti di Pusat Inovasi dan Keterampilan Unggas Allermuir SRUC, yang didanai oleh pemerintah Skotlandia, melakukan penelitian untuk menyelidiki apakah melengkapi pakan ayam petelur yang diternakkan di alam bebas dengan barley berkecambah dapat membantu mengurangi biaya pakan. Tujuannya adalah untuk menentukan apakah penghematan ini dapat dicapai tanpa memengaruhi produksi telur atau kesehatan ayam.

Barley berkecambah mengacu pada biji-bijian barley yang telah bertunas dengan merendamnya dalam air dan membiarkannya memulai proses perkecambahan di lingkungan yang terkendali. Proses hidroponik melibatkan penanaman barley tanpa tanah dan di bawah cahaya terang selama 7-8 hari hingga terbentuk akar yang tebal.

Metode ini telah terbukti memberikan manfaat nutrisi dibandingkan barley yang tidak berkecambah. Barley yang bertunas yang dihasilkan mengandung 5,7% protein kasar, 2,9% serat kasar, dan 51% bahan kering.

Penelitian ini melibatkan pemberian barley berkecambah dalam jumlah yang berbeda kepada 5 ayam betina dewasa dalam jangka waktu 42 hari. Setiap kandang diberi asupan harian sebesar 0g, 15g, 30g, atau 45g per ayam betina, dengan 6 kali ulangan per perlakuan. Data harian dikumpulkan mengenai asupan pakan, konsumsi barley berkecambah, dan produksi telur, sementara berat badan ayam betina dan kualitas telur diukur pada hari ke-0, ke-21, dan ke-42 penelitian.

Temuan utama dari penelitian ini mengungkapkan bahwa berat badan ayam betina tetap stabil, terlepas dari jumlah barley berkecambah yang dikonsumsi. Peneliti juga mencatat bahwa semakin banyak barley berkecambah yang dimakan ayam betina, semakin sedikit pakan yang mereka butuhkan, terutama pada paruh kedua penelitian.

Meskipun berat telur tidak terpengaruh oleh asupan barley berkecambah (rata-rata antara 60,8 g hingga 61,5 g), tingkat bertelur menurun sebesar 1,4%, 4,7%, dan 5,1% karena konsumsi barley berkecambah meningkat dari 0 g menjadi 15 g, 30 g, dan 45 g/ayam/hari, masing-masing, dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak diberi suplemen. Penurunan ini lebih menonjol selama paruh kedua penelitian (hari ke-21 hingga ke-42).

Selain itu, peneliti SRUC mencatat sedikit penurunan kekuatan kulit telur, tetapi kekuatan kulit telur tetap dalam standar komersial yang dapat diterima, dengan hanya 0,3% telur yang menunjukkan retakan.

Meskipun penelitian ini menyoroti potensi penghematan biaya dari pengurangan penggunaan pakan, penurunan produksi telur pada asupan barley berkecambah yang lebih tinggi menimbulkan kekhawatiran. Peneliti menyimpulkan bahwa meskipun jelai berkecambah dapat mengurangi biaya pakan, keseimbangan antara penghematan pakan dan produksi telur perlu dipertimbangkan secara cermat terkait keuntungan finansial bagi petani. Eksplorasi lebih lanjut mengenai keseimbangan optimal antara suplementasi barley berkecambah dan produksi telur diperlukan sebelum praktik ini dapat diadopsi secara luas.

PAKISTAN MENCABUT LARANGAN IMPOR GMO, INDUSTRI UNGGAS BERSIAP BANGKIT

Mengatasi penolakan keras dari organisasi perlindungan lingkungan, pemerintah Pakistan telah mencabut larangan impor kedelai GMO. Keputusan penting ini diharapkan dapat membantu sektor unggas.

Pusat Keamanan Hayati Nasional (NBC), regulator negara bagian yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi potensi risiko GMO terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, telah secara resmi mengesahkan impor kedelai GMO dengan memberikan lisensi impor kepada 39 perusahaan. Keputusan ini menyusul perdebatan sengit selama berbulan-bulan antara pejabat pemerintah, organisasi bisnis, dan petani mengenai keamanan GMO dan dampak langkah tersebut terhadap rantai pasokan pangan negara tersebut.

Asosiasi Unggas Pakistan (PPA) menyambut baik langkah tersebut, yang menggambarkannya sebagai hal penting untuk menjaga pasokan protein yang stabil, terutama setelah larangan impor kedelai GMO yang berkepanjangan. Namun, keputusan tersebut dikritik oleh beberapa organisasi bisnis lokal, yang menyatakan kekhawatiran tentang potensi dampaknya terhadap pertanian lokal dan lingkungan. Khususnya, para pegiat lingkungan mengklaim dalam sebuah pernyataan bahwa hal itu dilakukan "tanpa melakukan penilaian risiko lokal yang diwajibkan oleh Peraturan Keamanan Hayati Pakistan dan Protokol Cartagena, yang menyerukan penilaian untuk memastikan keamanan produk GMO bagi kesehatan manusia, lingkungan, dan keanekaragaman hayati lokal".

Sektor industri makanan Pakistan menghadapi krisis, yang mengancam keamanan pangan, lapangan kerja, dan kepercayaan internasional terhadap sektor pertanian negara tersebut, kata Dr. Vaqar Ahmed, direktur eksekutif bersama dan kepala Institut Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan, sebuah lembaga pemikir yang telah lama mengadvokasi pencabutan larangan GMO, dalam sebuah pernyataan pada bulan Oktober.

Ahmed memperkirakan bahwa 42% warga Pakistan kekurangan gizi, dan kenaikan harga unggas, sumber protein utama negara tersebut, dapat memperburuk situasi. Ia memperkirakan harga telah melonjak hingga Rs350 (US$4,15) per kg, terkadang melebihi Rs500 (US$5,9), dibandingkan dengan hanya Rs175 (US$2) pada awal 2022.

Krisis saat ini diyakini sebagian besar dipicu oleh larangan impor GMO yang diberlakukan pada Oktober 2022, ketika sebuah investigasi mengungkap impor kedelai GMO dalam jumlah besar dan tidak terkontrol dengan baik ke negara tersebut. Larangan GMO mendatangkan malapetaka pada industri unggas.

“[Larangan GMO] ini menciptakan krisis besar dalam industri unggas secara keseluruhan, karena bahan baku protein utama untuk pakan ayam tiba-tiba menjadi tidak tersedia. Peternak ayam pedaging mulai panik dan berhenti menempatkan anak ayam di kandang mereka. Hal ini menyebabkan penurunan produksi yang sangat besar,” jelas Muhammad Salman Sabir, seorang analis lokal.

Asosiasi Unggas Pakistan (PPA) memperingatkan bahwa hampir 60% peternak unggas di negara tersebut terkena dampak krisis, dengan banyak yang bangkrut. Namun, peneliti independen percaya masalah tersebut mungkin dibesar-besarkan. Pada tahun 2023, pasar unggas Pakistan menurun sebesar 5,8% untuk pertama kalinya sejak tahun 2015, mengakhiri tren kenaikan selama 7 tahun, menurut perhitungan IndexBox, sebuah lembaga pemikir.

KANADA: TANAMAN ANTIMIKROBA DITELITI UNTUK PENGENDALIAN BAKTERI PADA UNGGAS

Di Kanada, ekstrak dari tanaman native sedang diteliti efektivitasnya dalam pengendalian bakteri pada ayam.

Penelitian penting telah dilakukan di bidang ini. Pada bulan Juli 2024, sekelompok ilmuwan dari Polandia dan Irak menerbitkan tinjauan atas penelitian utama yang berkaitan dengan efek suplementasi 'fitobiotik' pada sistem kekebalan dan status antioksidan, kinerja pertumbuhan, dan mikrobiota usus ayam pedaging.

Tinjauan ini menyimpulkan bahwa "penggunaan fitobiotik dalam jumlah dan proporsi yang tepat dalam pakan untuk ayam pedaging memengaruhi fungsi saluran pencernaan dengan baik, antara lain, dengan merangsang mikrobiota yang bermanfaat dan sekresi enzim pencernaan. Selain itu, pengenalan aditif pakan tersebut berdampak pada pengurangan peradangan, mendukung fungsi sistem kekebalan tubuh, dan memiliki pengaruh positif pada hasil produksi."

Seorang ahli mikrobiologi di Lethbridge Polytechnic di Alberta saat ini sedang mengamati 2 tanaman yang ditemukan di wilayah selatan provinsi tersebut. Dr Sophie Kernéis-Golsteyn akan menentukan tingkat efektivitas ekstrak kedua tanaman itu dalam melindungi ayam dari bakteri Avian Pathogenic E. coli (APEC).

Tim Kernéis-Golsteyn telah menguji tanaman asli untuk mengetahui sifat antibiotiknya sejak 2016, dengan mengumpulkan 150 sampel. 2 tanaman spesifik yang menunjukkan hasil paling menjanjikan dari penelitian tersebut adalah dari genus Rumex dan Potentilla.

ROBOT UNTUK MENDETEKSI KEMATIAN AYAM PETELUR DI KANDANG

Peneliti Tiongkok mengklaim bahwa deteksi ayam petelur yang mati di kandang dapat dilakukan dengan lebih baik oleh robot untuk menghindari pekerjaan manual yang memakan waktu dan tenaga kerja.

Saat ini, staf peternakan harus memeriksa setiap ayam yang dikandang secara manual dan segera mengeluarkan unggas yang mati untuk mencegah penyebaran penyakit di dalam kandang.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Pusat Penelitian Teknologi Informasi di Akademi Ilmu Pertanian dan Kehutanan Beijing ini ingin melihat apakah robot dapat memperlancar proses tersebut. Mereka mengembangkan robot khusus untuk meningkatkan efisiensi pemeriksaan, mengurangi tenaga kerja manual, dan memungkinkan identifikasi cepat ayam yang mati.

Teknologi seperti pembelajaran mendalam untuk deteksi dan identifikasi waktu nyata, penentuan posisi berbasis kode QR untuk pelokalan yang tepat, dan navigasi otonom untuk pergerakan yang lancar di peternakan digunakan. Ini mengotomatiskan proses pemeriksaan yang membosankan dengan memvisualisasikan dan menentukan lokasi ayam yang mati di dalam kandang.

Dalam uji coba eksperimental, robot tersebut mencapai akurasi deteksi sebesar 90,61% dengan menggabungkan sistem pencahayaan tambahan, mengatur kecepatan inspeksi sebesar 9 m per menit, dan menyempurnakan algoritma dengan parameter nilai probabilitas sebesar 0,48 dan parameter rasio area sebesar 0,05.

Selain itu, robot tersebut menunjukkan tingkat deteksi palsu yang rendah sebesar 0,14% dan tingkat deteksi palsu yang jelas minimal sebesar 0,06%.

Dibandingkan dengan metode inspeksi manual tradisional, sistem robotik tersebut tidak hanya mengotomatiskan tugas tetapi juga secara signifikan mengurangi kebutuhan tenaga kerja dan meningkatkan manajemen efisiensi peternakan telur skala besar secara keseluruhan.

Dengan akurasi dan kecepatannya yang tinggi, para peneliti mengatakan bahwa robot tersebut menghadirkan solusi yang layak untuk operasi unggas modern, memastikan pembuangan ayam yang mati tepat waktu dan berkontribusi pada kebersihan peternakan dan kesejahteraan hewan yang lebih baik.

PROGRAM KERJA BIDANG PETERNAKAN KADIN FOKUS PERTUMBUHAN INDUSTRI OBAT HEWAN

Rapat Koordinasi dipimpin WKU Bidang Peternakan Kadin Indonesia, Cecep Muhammad Wahyudin (Foto: Humas Kadin)

Dalam Rapat Koordinasi Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Periode 2024-2029 di Ruang Muchtar Riady, Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Rabu (4/12) dipaparkan Program Kerja Bidang Peternakan.

Program Kerja Bidang Peternakan Kadin Indonesia, salah satunya fokus pada pertumbuhan industri obat hewan lokal yang meliputi premiks, vaksin, obat-obatan, disinfektan. Dalam upaya meningkatkan daya saing dan menekan biaya produksi.

Menambah komponen herbal didalam basis penguatan obat hewan juga menjadi bagian dalam program Komtap Non Ruminansia (Unggas), guna memaksimalkan penggunaan bahan baku obat hewan dalam negeri.

Pada kegiatan rapat koordinasi tersebut hadir WKU Bidang Peternakan, Drh Cecep Muhammad Wahyudin SH MH beserta para pengurus yang diantaranya para Ketua Komisi Tetap (Komtap) dan Wakil Ketua Komtap. 

Terdapat lima Komtap Peternakan di bawah kepemimpinan WKU. Diantaranya Komtap Bidang Peternakan Non Ruminansia (Unggas), Komtap Bidang Peternakan Ruminansia Pedaging/Potong (Sapi, Domba, Kambing), Komtap Bidang Peternakan Ruminansia Perah (Sapi, Domba, Kambing Susu), Komtap Bidang Investasi dan Pengembangan Kemitraan, Komtap Bidang Hubungan Kerjasama Antar Pelaku Usaha, Pemerintah, dan Media

Selain fokus pada obat hewan, Komtap Bidang Peternakan Non Ruminansia (Unggas) mempunyai beberapa program kerja jangka pendek lainnya yaitu mempersiapkan sarana, dan supply chain untuk sumber protein hewani asal unggas, seperti ayam dan telur. “Dengan memberikan sarana produksi peternakan (pakan, obat-obatan, vaksin) yang baik serta aman dikonsumsi oleh masyarakat,” tandas Cecep, dihubungi redaksi Infovet, Senin (9/12). 

Selanjutnya adalah mendorong produksi jagung lokal sebagai bahan baku pokok pakan unggas, sehingga dapat menurunkan biaya dari penyediaan sumber protein hewani yang berasal dari unggas.

Sementara itu, Komtap Bidang Peternakan Ruminansia Perah (Sapi, Domba dan Kambing Susu) juga ke depannya melaksanakan program minum susu segar untuk peningkatan gizi dan ekonomi masyarakat melalui budidaya sepasang kambing perah.

“Komtap Bidang Peternakan Ruminansia Pedaging dan Potong (Sapi, Domba, Kambing) melakukan advokasi hambatan perijinan perusaha guna percepatan investasi di sektor peternakan,” lanjut Cecep.

Pengendalian penyakit PMK dan LSD melalui penyediaan vaksin PMK dan LSD juga menjadi bagian dari program kerja lainnya. Penyediaan vaksin PMK untuk para peternak yang saat ini ketersediaan stok vaksin pemerintah sudah kadar luarsa dan habis. “Sampai saat ini belum ada alokasi vaksin untuk para peternak kembali dalam rangka pengendalian penyakit PMK dan LSD,” tutupnya. (NDV)

JANGAN LEWATKAN WEBINAR NASIONAL PERUNGGASAN KOLABORASI INFOVET & BRIN


Di tengah bisnis peternakan di 2024 yang stagnan, bagaimana kinerja perusahaan publik perunggasan? Bagaimana pula perkembangan ekonomi perunggasan dan strategi inovasi ke depan? Dan bagaimana arah riset peternakan untuk mendukung daya saing perunggasan?

Untuk menjawab itu semua, ikuti Webinar Nasional “Kinerja Industri Perunggasan 2024 dan Strategi Inovasi ke Depan” yang akan diselenggarakan oleh Majalah Infovet bekerja sama dengan Pusat Riset Peternakan BRIN.

Kegiatan akan diselenggarakan pada:

• Kamis, 19 Desember 2024
• Pukul 10:00-12:00 WIB
• Platform: Zoom

Opening Speech: Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D. (Kepala Organisasi Riset  Pertanian dan Pangan BRIN).

Narasumber & Topik:
Victor Stefano (Research Analyst Danareksa Sekuritas, Pengamat Perusahaan Publik Peternakan)
Kinerja Perusahaan Publik Peternakan 2024 dan Prediksi 2025

Dr. Drh. Santoso, M.Si (Kepala Pusat Riset Peternakan, BRIN)
Perkembangan dan Penerapan Teknologi serta Arah Riset Peternakan Unggas

Prof. Dr. Nyak Ilham (Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkular BRIN)
Perkembangan Ekonomi Perunggasan Nasional dan Tantangan ke Depan

Perlu diikuti oleh para pelaku bisnis peternakan; CEO/manager/tim marketing perusahaan; investor; akademisi; peneliti; pemerintah; pengamat bisnis, dan lain-lain yang berminat.

Investasi dapat ditransfer ke rek (Bank Mandiri 1260002074119 atau BCA 7330301681 a/n PT Gallus Indonesia Utama atau scan QRIS (bukti pembayaran dapat diemail ke: anothergitastudio@gmail.com

• Umum : Rp 300.000/orang
• Akademisi : Rp. 150.000/orang
• CIVITAS BRIN :  GRATIS
Free E-Certificate

Daftar sekarang! Klik: https://bit.ly/webinar_INFOVET_BRIN
Info: Mariyam (0877-7829-6375)

WKU BIDANG PETERNAKAN KADIN, BARGAINING POSITION PARTNER SETARA MENTERI

WKU dan Pengurus Bidang Peternakan Kadin Indonesia 2024-2029 (Foto: Humas Kadin)

Pengusaha dan owner D'Colonel Resto, Drh Cecep Muhammad Wahyudin SH MH dikukuhkan sebagai Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Peternakan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Periode 2024-2029. Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie secara resmi telah mengukuhkan kepengurusan pada Rapimnas 2024, di Hotel Mulia Jakarta, Minggu (1/12).

Secara terpisah, dihubungi redaksi Infovet, Senin (9/12) Cecep mengatakan pada periode-periode kepengurusan Kadin sebelumnya, bidang peternakan  sebagai Komite Tetap (Komtap) dengan dibawah WKU Bidang Pertanian. 

"Pada kepengurusan 2024-2029, jabatan di bidang peternakan lebih naik kelas yakni WKU. Tentunya dengan ini, lebih mempunyai kekuatan dan bargaining position menjadi partner setara dengan menteri," jelas Cecep.

Lebih lanjut, alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB University ini menerangkan fungsi Kadin sejatinya menjadi rumah bersama bagi para pengusaha peternakan.

Ada lima Komisi Tetap (Komtap) Peternakan di bawah kepemimpinan WKU. Antara lain Komtap Bidang Peternakan Non Ruminansia (Unggas), Komtap Bdang Peternakan Ruminansia Pedaging/Potong (Sapi, Domba, Kambing), Komtap Bidang Peternakan Ruminansia Perah (Sapi, Domba, Kambing Susu), Komtap Bidang Investasi dan Pengembangan Kemitraan, Komtap Bidang Hubungan Kerjasama Antar Pelaku Usaha, Pemerintah, dan Media. 

“Komtap Bidang Investasi dan Pengembangan Kemitraan berfungsi memperkuat bagaimana proses perkembangan industri peternakan, serta mengakomodir para investor yang akan masuk ke Indonesia maupun yang ada di Indonesia,” ujar Cecep.

Cecep Muhammad Wahyudin
Cecep Muhammad Wahyudin (Foto: Humas Kadin)

Pengembangan dalam bidang peternakan Kadin Indonesia ini diharapkan dapat menjadi mediator antar industri peternakan hingga terwujudnya kemitraan yang adil.

Mengawali kepengurusannya, pada Rabu 4 Desember 2024, Cecep juga mengundang media peternakan khususnya untuk hadir dalam kegiatan Rapat Koordinasi di Menara Kadin Indonesia, Jakarta. (NDV)

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN BIOFILM PADA SALURAN AIR MINUM AYAM

Air minum untuk ayam seringnya berasal dari air tanah. Air tersebut mengandung mikroorganisme dan mineral yang bisa membentuk semacam lumut yang bernama biofilm.

Biofilm terbentuk biasanya diawali dengan pembentukan kerak pada dinding pipa oleh mineral seperti Fe dan Ca. Kemudian mikroorganisme seperti alga dan bakteri mengeluarkan lapisan lendir dan membentuk koloni di dinding pipa.

Prosesnya terjadi secara alami, namun akan lebih cepat terjadi jika ayam diberikan vitamin dan obat melalui air minum. Kandungan bahan tambahan polisakarida pada obat dan vitamin akan menjadi media berbiaknya bakteri yang menghasilkan biofilm.

Setidaknya ada tiga resiko yang ditimbulkan oleh biofilm. Pertama, saluran air minum dan nipple bisa tersumbat.

Pada kandang litter jika nipple yang tersumbat hanya sedikit, ayam masih bisa minum dari nipple lain. Namun jika banyak yang tersumbat akan menjadi masalah yang lebih besar, ayam akan dehidrasi sehingga menurunkan produksi. Sedangkan untuk kandang baterai akibatnya bisa lebih fatal, karena ketika nipple tersumbat ayam tidak bisa mengakses nipple lain untuk minum.

Kedua, bakteri-bakteri patogen penyebab penyakit bisa berkoloni pada biofilm. Sehingga menjadi sumber penyakit yang mengancam kesehatan ayam.

Ketiga, biofilm meningkatkan kelangsungan hidup bakteri dengan melindungi mereka dari paparan langsung antibiotik dan disinfektan.

Biofilm harus dibersihkan berkala. Kalau dibiarkan akan makin menebal dan makin susah dibersihkan.

Pencegahan bisa dilakukan secara teratur dengan pemberian disinfektan tertentu yang dicampurkan ke air. Biasanya setelah diberi disinfektan, air dibiarkan di dalam pipa paralon semalaman, besoknya saluran air dibilas baru kemudian dialiri air untuk minum ayam.

Lalu, bagaimana cara membersihkan pipa paralon dari lumut atau biofilm?

Pembersihan biofilm bisa dilakukan menggunakan hidrogen peroksida yang telah distabilisasi. Sehingga dapat bekerja dengan baik tanpa terpengaruh pH air, bisa bekerja optimal pada saluran air yang pipanya panjang, dan tidak merusak komponen-komponen nipple. Selain membersihkan biofilm, hidrogen peroksida juga mampu membersihkan kerak pada pipa.

ISU PENYAKIT UNGGAS 2025 DAN PERAN PJTOH DI PABRIK PAKAN TERNAK

Seminar Bisnis Perunggasan Overview 2024 dan Outlook 2025 diadakan GPMT, Selasa (3/12/2024) di Hotel Avenzel, Cibubur.

Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Drh Irawati Fari menyampaikan di tahun 2024 penyakit yang masih mendominasi sektor perunggasan diantaranya Newcastle Disease (ND), Necrotic Enteritis (NE), dan Swollen Head Syndrome (SHS) yang kini kerap disebut AMVP atau Avian Metapnumonia. 

Penyakit yang disebabkan oleh parasit dan disebarkan oleh serangga antara lain cacing, kutu, dan lalat masih harus dihadapi di peternakan ayam komersial.  

Angka kejadian penyakit cacingan masih cukup tinggi di lapangan. “Penanganan kasus cacingan dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing yang umumnya digunakan di air minum. Jika ayam sudah terkena cacing pita, lebih efektif dicampurkan ke dalam pakan,” tutur Ira saat menjadi salah satu pembicara di seminar Bisnis Perunggasan Overview 2024 dan Outlook 2025 yang digelar GPMT, Selasa (3/12/2024) di Hotel Avenzel, Cibubur. 

Selain cacingan, penyakit karena kutu juga diobati melalui pakan serta pencegahannya dengan toxin binder. 

Dalam pemaparan prediksi penyakit unggas di tahun 2025, Ira mengatakan kemungkinan terjadinya mutasi strain virus Avian Influenza (AI) dan penyakit metabolite atau Nutritional Related Diseases. 

“Penyakit metabolite ini dikaitkan ketika para pelaku usaha pakan atau feedmill dihadapkan dengan kondisi bahan baku yang kurang bagus. Oleh karenanya, dibutuhkan feed additive untuk mengimbangi bahan baku tersebut, sehingga perfomance dari pakan lebih stabil,” tambah Ira.  

Ira juga menyoroti Antimicrobial Resistance (AMR) yang menjadi hot issue di tahun ini, sekaligus pemerintah menerapkan National Action Program untuk lebih memperketat penggunaan antibiotik di dalam pakan.   

Tantangan serta peluang industri obat hewan di tahun 2025, salah satunya berfokus pada peran Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) yang berada di perusahaan obat hewan dan pabrik pakan ternak.  

“Pencampuran obat dalam pakan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter hewan atau dokter hewan sebagai penanggung jawab teknis obat hewan,” kata Ira. 

Lebih lanjut dijelaskan bahwa peresepan obat hewan di feedmill dilaksanakan oleh PJTOH dokter hewan. Situasinya ketika dari customer perlu mengunakan golongan antibiotika, dokter hewan yang berada di feedmill harus meresepkan, kemudian nutrisionis membuatkan sesuai resep dari dokter hewan pabrik pakan maupun dokter hewan dari peternakannya itu sendiri. (NDV)

SEMINAR OUTLOOK GPMT DAN PERANNYA DALAM PENINGKATAN GIZI NASIONAL

Seminar Outlook GPMT, Selasa (3/12/2024) berjalan dengan sukses. (Foto: NDV)

Para perwakilan dari perusahaan pakan ternak yang juga angggota Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) hadir menyemarakkan seminar Bisnis Perunggasan Overview 2024 dan Outlook 2025, di Hotel Avenzel, Cibubur, Selasa (3/12/2024).

Direktur Kewaspadaan Pangan dan Gizi Badan Pangan Nasional Badan Pangan Nasional, Nita Yulianis SP MSi menjadi salah satu pembicara dalam seminar yang mengangkat tema “Peran GPMT dalam Ketahanan Pangan serta Peningkatan Gizi Nasional”. 

“Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 tentang Badan Gizi Nasional, menjadi landasan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam hal ini sektor pentahelic untuk bersama membantu percepatan penganeragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal,” tutur Nita.

Dalam kesempatan tersebut. Nita memaparkan simulasi perhitungan kebutuhan telur dan daging ayam ras untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dimulai 2 Januari 2025.

Penerima Manfaat terdiri atas siswa, ibu hamil sebanyak 15.420.000 orang dan dicanangkan untuk tahun 2029 sebanyak 82.900.000 orang. 

“Telur akan diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu. Jumlah minggu yang kami simulasikan, waktu efektif pelaksaan program dalam 1 tahun yaitu 46 minggu, dengan perhitungan 52 minggu dikurangi 4 minggu Ramadan lalu terdapat masa libur 1 minggu Idulfitri dan 1 minggu Natar,” papar Nita.

Lebih lanjut Nita menjabarkan, pemberian nasi kepada penerima manfaat sebanyak 5 kali per minggu 75 gram/orang per hari setara beras, telur 3 kali per minggu 1 butir/orang (60 gram), daging ayam 2 kali per minggu 50 gram/orang, serta daging sapi/kerbau 3 kali per bulan 50 gram/orang. 

“Simulasi tersebut berdasarkan rekomendasi porsi Isi Piringku Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI,” imbuh Nita. 

Kebutuhan telur per dapur untuk program MBG di tahun 2025 diasumsikan senilai 180 kilogram.  Jumlah dapur tahun 2025 sebanyak 5.140 unit yang dapat melayani lebih kurang 3.000 penerima manfaat. 

Nita juga menyebutkan penyaluran daging ayam ras mencapai 771 ton di tahun 2025 dengan melihat data produksi daging ayam ras di tahun 2024 senilai 3.880.202 ton. Sementara itu, produksi telur ayam ras 6.346.871 ton untuk kebutuhan penyaluran tahun 2025 sebanyak 925 ton.

(Dari kiri) Bagus Pekik, Nita Yulianis, Nur Saptahidayat, Asrokh Nawawi, Ibnu Edy Wiyono. (Foto: NDV)

Kondisi Serapan Jagung

Drh Nur Saptahidayat MSc dalam acara yang sama menyampaikan proyeksi pembelian jagung pabrik pakan tahun 2025 diprediksi mengalami peningkatan sebesar 4,89%. “Perlu antisipasi potensi peningkatan kebutuhan jagung dari program MBG,” tandasnya.

Produksi pakan tahun 2025 diperkirakan akan mengalami peningkatan dengan faktor pendorong dari aspek internasional. “Tren penurunan harga bahan pakan dunia yang diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2025,” ujar Nur Saptahidayat.

Sementara di awal tahun 2025, diperkirakan terjadi peningkatan demand seiring implementasi program MBG.

Menjelang akhir tahun harga jagung mengalami penurunan menjadi Rp 5.271/kg. Kontinuitas pasokan, manajemen stok dan ketersediaan bahan substitusi menyebabkan harga relatif stabil mendekati akhir tahun. 

Andil Perunggasan dalam Pertumbuhan Ekonomi

Asrokh Nawawi selaku Ketua IV Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) mengatakan industri perunggasan mempunyai 5 peran penting selain sebagai penyedia pangan juga pendukung pertumbuhan ekonomi. 

“Produksi unggas menyumbang 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) peternakan,” ujar Nawawi. 

Perunggasan penopang pertumbuhan industri baik pembibitan, pakan, dan RPHU. Ditambah, perunggasan turut menyerap tenaga kerja nasional serta penghasil devisa negara.  

Pada 2024 terjadi peningkatan tren konsumsi daging ayam menurut data OECD , ditengarai dengan momen Pemilu 2024 dan kegiatan bakti sosial yang mayoritas menyajikan menu daging ayam.  

Proyeksi pertumbuhan bisnis unggas di tahun 2025 dipastikan cemerlang dengan pertumbuhan ekonomi senilai 5,1% + 0,1%. Peluang ekspor dengan memanfaatkan kondisi surplus dapat membantu stabilisasi harga. 

Pemanfaatan teknologi dalam pemasaran maupun produksi diprediksi semakin diyakini meningkatkan produktivitas, diantaranya dengan inovasi teknologi robotic atau IoT dan didukung dengan perkembangan genetik yang lebih baik. 

Seminar sesi pertama ditutup dengan pemaparan Ibnu Edy Wiyono, Country Director Indonesia at US Soybean Export Council dilanjutkan dengan Q&A yang dipandu Ir A Bagus Pekik SPt IPU ASEAN Eng sebagai moderator. (NDV)

SEBANYAK 50 EKOR SAPI PERAH IMPOR TIBA DI TANAH AIR

Sapi perah bunting jenis Frisian Holstein asal Australia yang tiba di Indonesia. (Foto: Istimewa)

Sebanyak 50 ekor sapi perah bunting jenis Frisian Holstein asal Australia tiba di Indonesia, menandai dimulainya upaya percepatan investasi di subsektor peternakan dan diharapkan dapat mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Minum Susu yang digaungkan pemerintah.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Agung Suganda, menegaskan bahwa kedatangan sapi perah bunting ini merupakan bagian dari rencana blueprint Kementerian Pertanian untuk mendorong peran investor dalam meningkatkan populasi sapi perah di Indonesia. Rencana ini sejalan dengan target pemerintah untuk menambah 1 juta ekor sapi perah dalam lima tahun ke depan.

“Kedatangan sapi perah bunting ini merupakan wujud komitmen nyata sektor swasta untuk berperan dalam percepatan investasi di Indonesia. Kami mengapresiasi PT Juang Jaya Abdi Alam yang telah memulai investasi strategis ini,” kata Agung saat menyaksikan kedatangan sapi perah di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa (3/12/2024).

Ia menambahkan, impor akan dilakukan secara bertahap dan diharapkan dapat menjadi contoh bagi investor lain untuk turut berkontribusi dalam pembangunan subsektor peternakan.

Sapi perah dalam keadaan bunting antara 3 hingga 7 bulan ini rencananya akan ditempatkan di Lampung untuk mendukung penyediaan susu di provinsi tersebut. “Harapannya selain menghasilkan pedet, sapi-sapi ini juga akan mulai memproduksi susu untuk kebutuhan lokal pada pertengahan tahun depan,” ucap Agung.

Selain sapi perah bunting, pada kesempatan yang sama juga didatangkan 600 ekor bibit domba dan kambing perah, yang terdiri dari 400 ekor domba Droper dan 200 ekor kambing perah jenis Saanen. Bibit ternak ini milik PT Samana Agri Yasa dan rencananya akan dikirim ke instalasi karantina di Cilacap, Jawa Tengah.

Kedatangan sapi perah bunting, domba, dan kambing perah ini merupakan langkah dalam mempercepat investasi sapi perah nasional, sekaligus mendukung program MBG. (INF)

USAHA YANG MEMBUAHKAN HASIL

Peternakan penghasil telur wajib memiliki sertifikat NKV, dimana di dalamnya terdapat bagian dari penerapan biosekuriti. (Sumber: veterinariadigital.com)

Ada peribahasa yang berbunyi "Apapun yang kamu perbuat maka ia akan kembali kepadamu." Dalam semua aspek tentu hal ini akan berlaku, termasuk biosekuriti. Banyak hal baik yang didapat dari aplikasi biosekuriti yang konsisten dan berkesinambungan.

Prinsip paling hakiki dari biosekuriti adalah mencegah penyakit agar tidak masuk dan keluar dari suatu peternakan, apapun caranya. Dalam aplikasinya terserah kepada masing-masing peternak. Namun karena alasan budget rata-rata peternak abai terhadap aspek biosekuriti.

Setidaknya minimal ada tujuh aspek yang harus dilakukan dalam menjaga biosekuriti di peternakan menurut Hadi (2010), yakni kontrol lalu lintas, vaksinasi, recording flock, menjaga kebersihan kandang, kontrol kualitas pakan, kontrol air, dan kontrol limbah peternakan.

Hewan Produktif, Manusia Sehat
Banyak peternak di Indonesia menanyakan efektivitas penerapan biosekuriti. Sebagai contoh, Infovet pernah melakukan kunjungan ke Lampung dimana FAO ECTAD Indonesia beserta stakeholder peternakan di Lampung sedang menyosialisasikan biosekuriti tiga zona pada peternak layer.

Kusno Waluyo, seorang peternak layer asal Desa Toto Projo, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, bercerita mengenai keputusannya menerapkan konsep biosekuriti tiga zona. Peternak berusia 46 tahun ini memang sudah terkenal sebagai produsen telur herbal. Hal ini diakuinya karena ia sendiri memberikan ramuan herbal sebagai suplementasi pada pakan ayamnya. Hasilnya cukup memuaskan, namun Kusno masih kurang puas karena merasa masih bisa lebih efektif lagi.

“Akhirnya saya mengikuti program FAO yang ada di sini, saya coba ikuti saja. Ternyata benar, biaya yang dikeluarkan makin irit, hasilnya lebih jos,” tutur pemilik Sekuntum Farm tersebut.

Namun begitu, ia enggan bercerita mengenai modal yang dikeluarkan dalam pembangunan fasilitas biosekuriti miliknya. Tetapi dengan sejumlah uang yang digelontorkan, menurutnya hasil yang diperoleh benar-benar menguntungkan.

Kusno mengungkapkan, salah satu tolok ukur suksesnya penerapan biosekuriti di kandangnya adalah saat ayam di kandangnya menginjak usia sekitar 29 minggu, produksi telurnya stabil di angka 90% lebih. Selain itu dalam data juga disebutkan bahwa tingkat kematian ayam di peternakannya sangat rendah, hanya 1% dari 30.000 ekor populasi.

“Di farm sini per hari enggak melulu ada yang mati mas, enggak seperti sebelumnya,” ucap dia.

Faktanya, sebenarnya konsep biosekuriti tiga zona yang ramai digalakkan bersama FAO merupakan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

MEMAHAMI PERAN KRUSIAL BIOSEKURITI

Penerapan biosekuriti merupakan salah satu cara efektif meningkatkan performa ternak. (Foto: Istimewa)

Banyak peternak memandang bahwa biosekuriti adalah barang mahal. Padahal harga yang dibayar merupakan investasi jangka panjang dalam perbaikan manajemen peternakannya.

Biosekuriti Murah, Komitmennya Berubah Mahal
Baik peternak skala besar maupun skala kecil, seharusnya bisa menerapkan biosekuriti secara sederhana. Guru Besar SKHB IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan, mengemukakan bahwa semakin sederhana suatu farm, konsep biosekuriti yang diterapkan bisa disederhanakan pula.

“Kita punya konsep biosekuriti tiga zona yang sudah lama dipopulerkan oleh FAO, konsep ini harusnya bisa diaplikasikan peternak, dan seharusnya mereka tahu kalau konsep ini bisa disesuaikan dengan budget, hitung-hitung investasi lah,” katanya.

Prof Wayan yang sudah berpengalaman sebagai konsultan perunggasan mengatakan bahwa konsep biosekuriti tiga zona merupakan salah satu cara efektif meningkatkan performa.

Sehingga menurutnya, yang mahal bukanlah biaya dari pengaplikasian biosekuritinya melainkan komitmen dari peternak untuk mau merubah cara beternak dan konsisten dalam menjalankan aplikasi biosekuriti di kandangnya.

“Asal konsep yang diberikan dijalankan, komitmen dari seluruh karyawan tentang kesehatan hewan kuat, bisa kok pasti. Sudah begitu, investasi yang dikeluarkan juga enggak mahal dan bisa berlangsung lama, ini juga akan menghemat budget dari sektor obat-obatan,” jelas dia.

Peternak Bisa Jadi Agen Perubahan
Nyatanya tidak semua peternak saklek dan betah dengan manajemen beternak yang “begitu-begitu saja”. Bambang Sutrisno contohnya, ia merupakan salah satu peternak layer binaan FAO di Desa Kopeng, Semarang, yang mengimplementasikan biosekuriti tiga zona.

“Saya dapat informasi dari peternak lain, dinas, sama FAO sendiri yang waktu itu sedang kampanye... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

IKA FKH IPB UNIVERSITY DORONG PRIORITASKAN PENYEDIA PROTEIN HEWANI LOKAL PADA PROGRAM MBG

IKA FKH IPB Memberikan Rekomendasi Kepada Pemerintah Terkait Program MBG
(Foto : Istimewa)


Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University menyerukan perhatian khusus terhadap peran peternak lokal dalam mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.

Dalam acara bertajuk Vet Vaganza dan Makan Bergizi Gratis di Kampus Cilibende, Kota Bogor pada Minggu (24/11) yang lalu , IKA FKH IPB menyampaikan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memprioritaskan penyedia protein hewani lokal demi meningkatkan kesejahteraan peternak Indonesia.

Empat Rekomendasi Strategis
Sekretaris Jenderal IKA FKH IPB, Deddy Fachruddin Kurniawan, menjelaskan empat rekomendasi penting yang diusulkan dalam mendukung program tersebut. Pertama, IKA FKH IPB mendukung penuh Program MBG sebagai langkah strategis untuk mencerdaskan dan menyehatkan generasi muda Indonesia.

Kedua, mereka mendorong penerapan pengawasan ketat terhadap kualitas pangan bergizi berbasis protein hewani oleh dokter hewan guna memastikan keamanan pangan yang sesuai dengan standar ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

Ketiga, mereka meminta Presiden Prabowo melalui BGN untuk memberikan prioritas kepada penyedia protein hewani lokal, seperti daging, susu, dan telur, agar program ini juga memberikan dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan peternak dalam negeri.

Keempat, IKA FKH IPB menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung pelaksanaan program ini dengan melibatkan para alumninya dalam berbagai bentuk kontribusi.

Rekomendasi ini secara resmi diserahkan kepada Kepala BGN, Prof. Dadan Hindayana, di hadapan Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, dan sekitar 500 anggota Pramuka yang turut hadir.

Peran Strategis Program MBG
Ketua kegiatan, Kukuh Galih Waskita, menjelaskan bahwa Program MBG merupakan solusi penting untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data, rata-rata konsumsi energi penduduk Indonesia saat ini masih berada sedikit di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG). Program ini diharapkan mampu memperbaiki status gizi anak-anak dari keluarga miskin serta meringankan beban ekonomi mereka.

“Jika diimplementasikan secara tepat, program ini tidak hanya akan meningkatkan gizi masyarakat tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi peternak dan petani lokal,” ujar Kukuh.

Komitmen IPB University
Rektor IPB University, Prof. Arif Satria, menegaskan pentingnya memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung keberhasilan Program MBG. Ia menyatakan bahwa program ini memiliki potensi besar dalam menciptakan keterkaitan antara sektor agribisnis dan masyarakat pedesaan.

“Demand-nya sudah jelas. Kebutuhan untuk bahan pangan seperti ayam, susu, sayuran, dan buah-buahan menjadi peluang besar bagi sektor peternakan dan pertanian lokal untuk berkembang,” ungkap Prof. Arif.

IPB University juga telah merancang tiga pusat layanan di Sekolah Vokasi, Agribusiness and Technology Park (ATP) Cikarawang, dan Kecamatan Jasinga untuk mendukung implementasi program ini. Pusat-pusat tersebut akan berfungsi sebagai laboratorium lapang yang melibatkan mahasiswa dan dosen dalam penelitian dan pelatihan guna memastikan keberlanjutan dan efektivitas program.

Dampak Jangka Panjang
Selain meningkatkan status gizi generasi muda, Program MBG diharapkan mampu menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pedesaan. Dengan melibatkan petani dan peternak lokal sebagai penyedia utama, program ini menciptakan pasar baru yang berkelanjutan.

IKA FKH IPB University, bersama IPB University, optimistis bahwa kolaborasi ini akan menjadi model pemberdayaan yang tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat tetapi juga kesejahteraan ekonomi Indonesia secara menyeluruh. (CR)

PELATIHAN FORMULASI PAKAN SAPI PERAH ALA CENTRAS IPB UNIVERSITY

Para Peserta Pelatihan Formulasi Pakan Sapi Perah
(Foto : CR)

CENTRAS (Center for Tropical Animal Studies) IPB University mengadakan pelatihan bertajuk "Formulation, Production, and Rapid Test of Dairy Cattle Feed Quality", yang dilaksanakan pada Rabu-Kamis (20-21/11) di Ibis Styles Bogor Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, dan kunjungan pada Jumat (22/11) di Nutricell Pacific, Tangerang Selatan. 

Tujuan dari kegiatan tersebut yakni untuk menggali lebih dalam mengenai pentingnya formulasi pakan yang tepat, proses produksi yang efisien, serta penerapan uji cepat untuk memastikan kualitas pakan yang optimal. Selain itu acara tersebut juga dimaksudkan untuk  memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi para peternak, pengusaha pakan, dan praktisi di bidang ini.

Ketua CENTRAS IPB University Prof Nahrowi dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata komitmen CENTRAS dalam mencari solusi atas berbagai tantangan di sektor peternakan sapi perah khususnya dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas. 

Peternakan sapi perah di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan yang kompleks. Yang palingh mendasar adalah produktivitas dan kualitas susu sapi perah yang masih rendah. Ia menyebut ada beberapa faktor salah satunya adalah kualitas pakan yang belum bagus. 

"Peternak kita terutama skala kecil banyak menghabiskan waktu untuk mencari hijauan pakan. Ini paradigma yang harus kita ubah, supaya waktunya itu dihabiskan di kandang untuk memantau sapi-sapinya," tutur Nahrowi.

Dirinya juga menyoroti mengenai isu kebutuhan susu nasional terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi dan adanya program pemerintah seperti makan bergizi gratis dimana minum susu menjadi salah satu yang digaungkan.

"Ironisnya ketergantungan kita pada impor susu juga terus meningkat karena produksi kita tidak cukup, terlebih setelah terjadi wabah PMK. Alhasil ini tantangan besar yang memerlukan perubahan mendasar khususnya dalam pendekatan budidaya dan pakan ternak sapi perah," jelas Prof Nahrowi.

Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nur Saptahidhayat yang juga memberikan sambutannya melalui daring mengatakan bahwa isu di sektor sapi perah sejatinya semakin menarik, apalagi beberapa waktu lalu sempat terjadi demonstrasi yang bahkan sampai ada kegiatan mandi susu.

"Ini menggambarkan bahwasanya permasalahan di sapi perah ini ternyata tidak sesederhana itu, tidak hanya masalah produksi distribusi dan penyerapan pun juga bermasalah. Demonstrasi justru membuka wawasan semua pimpinan nasional, bahkan sampai ada pertemuan yang baru pertama kali pertemuan membahas sapi perah yang bahkan dihadiri oleh Mensesneg, Menko, dan juga kedepan akan ada diskusi bersama Menhan. Ini memang agak diluar apa yang pernah ia bayangkan," tuturnya. 

Ia menegaskan permasalahan persusuan menjadi permasalahan nasional yang menjadi fokus para petinggi negara, karena bersamaan dengan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak terlepas dari peran sapi perah yaitu dalam rangka menyediakan susu. 

"Semua lini menjadi penting terkait dengan pengembangan sapi perah, salah satu lini yang tidak kalah penting adalah penyediaan pakan, menjadi satu hal yang mutlak. Dimana-mana kita selalu mendiskusikan tentang sapi terutama sapi perah dan yang menjadi topik paling hangat adalah terkait dengan pakan," pungkas Sapta.

JALIN KERJASAMA DENGAN KPUN DAN IPB, JAPFA DUKUNG KEBERLANJUTAN UMKM PETERNAK UNGGAS

Melalui kerjasama dengan KPUN dan IPB, JAPFA menciptakan ekosistem yang lebih stabil dan menguntungkan peternak. (Foto: Dok. JAPFA)

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) resmi menjalin kerjasama strategis dengan Komunitas Peternak Unggas Nasional (KPUN) bersama Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui sistem kemitraan yang mendukung keberlanjutan usaha peternak unggas skala UMKM.

Program ini bertujuan untuk memastikan keuntungan yang berkelanjutan bagi peternak, terutama saat menghadapi tantangan volatilitas harga ayam hidup yang sering terjadi akibat oversupply atau penurunan permintaan pasar.

Berlokasi di Sekolah Vokasi IPB Sukabumi, Jawa Barat, kandang ayam modern dengan kapasitas hingga 45.000 ekor ini berdiri di atas lahan milik IPB seluas 13 Ha. 

Kerjasama ini menawarkan solusi terpadu bagi peternak, mulai dari pendampingan teknis, akses terhadap pakan berkualitas dan anak ayam umur sehari dari JAPFA, hingga dukungan riset dan teknologi dari IPB. 

Melalui kerjasama ini, JAPFA berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang lebih stabil dan menguntungkan bagi para peternak, sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil ternak secara berkelanjutan.

Harwanto, Direktur JAPFA menjelaskan bahwa kerjasama ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk mendukung pertumbuhan sektor peternakan nasional, khususnya di tingkat UMKM. "Kami memahami tantangan besar yang dihadapi para peternak dalam mengelola usaha mereka di tengah fluktuasi pasar. “Melalui program kemitraan ini, kami ingin memberikan jaminan keuntungan sekaligus mendorong efisiensi dan keberlanjutan usaha mereka," ujar Harwanto dalam siaran pers yang diterima redaksi Infovet, Kamis (28/11/2024).

Ketua KPUN, Alvino menyampaikan, "Kerjasama ini tidak hanya memberikan jaminan harga maupun pasar bagi peternak, tetapi juga memberdayakan mereka melalui peningkatan pengetahuan dan teknologi. Kami optimis bahwa program ini akan menjadi model yang sukses untuk menghadapi tantangan industri unggas di masa depan."

Dukungan dari Sekolah Vokasi IPB yang menyediakan tempat sebagai sarana good farming practice menjadi elemen kunci dalam kemitraan ini, menjadi tempat belajar-mengajar secara langsung bagi siswa untuk menerapkan ilmu pengetahuannya di lapangan. 

Dekan Sekolah Vokasi IPB University Dr Aceng Hidayat M T bersama Solidaritas Alumni Sekolah Peternakan Rakyat Indonesia (SASPRI) Nasional yang dipimpin oleh Wali Utama SASPRI Prof Dr Ir Muladno MSA yang juga Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, menyambut baik inisiatif ini dan menekankan pentingnya kolaborasi antara komunitas peternak, perusahaan, dan institusi pendidikan. "Kami ingin memberikan kontribusi nyata dalam membangun ekosistem peternakan unggas yang lebih kokoh, dengan memanfaatkan keunggulan akademik dan inovasi yang kami miliki," ujar Aceng.

Dengan terjalinnya kerjasama ini JAPFA, KPUN, dan IPB berharap dapat menciptakan dampak positif yang signifikan terhadap kesejahteraan peternak UMKM, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen unggas terbesar di dunia. (Rilis/INF) 


BIOSEKURITI, MUDAH DIUCAPKAN SULIT DITERAPKAN

Celup kaki, tindakan biosekuriti paling sederhana. (Sumber: feedsandpullets.co.uk)

Biosekuriti, suatu kata yang mudah diucapkan namun sulit untuk diterapkan. Pada kenyataannya, di Indonesia banyak peternak yang menyesuaikan praktik biosekuriti sesuai budget yang dimiliki alias seadanya.

Tentu hal tersebut bukan salah peternak, karena banyak juga permasalahan lain yang semakin memusingkan peternak, terutama peternak mandiri di era ini. Terlebih dengan disrupsi yang terjadi dan efek buruk menahun yang disebabkan fluktuasi harga sapronak, livebird, dan telur.

Namun begitu, yang perlu digarisbawahi adalah biosekuriti merupakan suatu hal yang wajib dikerjakan. Suka atau tidak, biosekuriti menjadi salah satu instrumen pendukung kesuksesan dalam usaha budi daya peternakan.

Menyamakan Persepsi
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof Drh Michael Haryadi Wibowo, pernah berujar bahwa biosekuriti didefinisikan sebagai segala macam upaya untuk mencegah masuk dan keluarnya bibit penyakit ke dalam suatu area peternakan, agar ternak yang dipelihara di dalamnya bebas dari ancaman infeksi penyakit.

Biosekuriti juga berfungsi agar suatu penyakit tidak menulari peternakan lain dan lingkungan sekitar, juga tidak menularkan penyakit kepada manusia di dalamnya.

“Jadi apapun upaya pencegahan seperti misalnya vaksinasi ternak atau disinfeksi, melarang orang asing keluar masuk peternakan, semua itu masuk ke dalam definisi biosekuriti. Jadi memang wajib, sudah jadi makanan sehari-hari,” tutur Prof Michael.

Ia melanjutkan bahwasanya dalam benak peternak, biosekuriti itu membuat gerbang besar, semprotan otomatis, ruang mandi, fumigasi, dan sebagainya. Inilah yang menjadi salah kaprah di kalangan peternak sampai hari ini.

“Kalau bentuk dan upayanya itu baru yang disesuaikan dengan budget, misalnya mau pakai vaksin ND namun budget terbatas, kan varian produknya banyak, yang murah sampai mahal bisa kita pakai. Yang penting itu jangan sampai enggak divaksin. Disinfektan juga banyak, dari yang pabrikan sampai yang racikan, bisa dipakai buat kandang. Yang penting dilakukan, murah atau mahalnya tergantung peternak, tapi yang penting adalah aplikasinya,” tambahnya.

Jadi menurut Michael apapun yang peternak lakukan selama dasar ilmiahnya benar, sumber dan aplikasinya benar, maka upaya itu boleh dilakukan. Karena ia memahami bahwa tidak semua peternak mampu bermewah-mewahan dalam mengaplikasikan biosekuriti di peternakannya.

Butuh Komitmen dan Konsistensi
Dosen FKH UGM dan konsultan kesehatan unggas, Prof Charles Rangga Tabbu, mengatakan bahwa biasanya kendala dari penerapan biosekuriti di lapangan adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

BIOSEKURITI KETAT AYAMKU KUAT

Ilustrasi ayam broiler. (Foto: Istimewa)

Dalam sebuah diskusi yang memperbincangkan bagaimana upaya memperkecil terjadinya kasus penyakit dan mempertahankan titer antibodi yang terbentuk tetap tinggi, serta mengurangi kejadian superinfeksi dimana titer antibodi terlihat tinggi tetapi ayam tidak masalah.

Dalam diskusi tersebut, fokus diskusi selalu tertuju pada diagnosis penyakit, kerugian yang disebabkan oleh penyakit, jenis vaksin yang sesuai dan program vaksinasi yang ideal. Ternyata, topik diskusi mengenai biosekuriti merupakan topik yang kurang menarik untuk diperbincangkan. Umumnya peternak sudah merasa cukup bila telah melakukan vaksinasi dan/atau pemberian obat maupun vitamin.

Bila terjadi diskusi mengenai biosekuriti, sering kali dilontarkan pertanyaan, apa manfaatnya biosekuriti? Mengapa perlu dilakukan tindakan biosekuriti? Apa yang dimaksud dengan biosekuriti yang ketat? Bagaimana prosedur ideal biosekuriti?

Bila terjadi penyakit yang disebabkan oleh agen infeksius, idealnya pendekatan penanganan kasus dititikberatkan pada evaluasi biosekuriti. Perlu ditemukan apakah terdapat kekurangan pada tindakan biosekuriti yang telah dilakukan.

Pendekatan analisis biosekuriti misalnya dilakukan pada kasus penyakit gumboro. Pada ayam pedaging, gumboro biasanya menyerang pada titik kritis umur 2-3 minggu. Pada periode ini, titer antibodi asal induk umumnya sudah rendah, sehingga ayam menjadi rentan terhadap virus gumboro asal lapang. Peternak umumnya melakukan satu kali vaksinasi gumboro pada umur 14 hari. Hal ini menjadikan kekebalan yang digertak oleh vaksin dapat tercapai optimal mulai umur 28 dan puncaknya pada umur 35 hari. Oleh sebab itu, bila tindakan biosekuriti kurang optimal, virus gumboro asal lapang dapat menimbulkan penyakit sejak umur 2 minggu. Kasus penyakit akan muncul lebih awal pada anak ayam dengan titer antibodi asal induk yang rendah.

Pada peternakan ayam petelur dengan populasi yang padat, pelaksanaan biosekuriti sangat penting dilakukan. Contoh penyakit yang paling dihindari adalah Mareks. Meskipun anak ayam petelur telah diberikan vaksinasi mareks pada umur satu hari di tempat penetasan, masih diperlukan waktu sampai umur 3 minggu hingga kekebalan terhadap tantangan virus mareks menjadi optimal. Bila proses sanitasi dan disinfeksi kandang starter tidak optimal, infeksi virus mareks dapat terjadi seawal mungkin sebelum kekebalan asal vaksin muncul.

Perlunya biosekuriti yang ketat dikaitkan dengan karakteristik peternakan ayam komersial di Indonesia, yaitu belum adanya perwilayahan dalam budi daya peternakan untuk sektor 1, 2, dan 3. Hal ini dikuatkan dengan lokasi peternakan yang berdekatan dan cenderung berkelompok pada suatu wilayah tertentu. Umur ayam yang sangat bervariasi dalam suatu peternakan, kualitas tata laksana kandang yang kurang, distribusi sapronak dan pronak yang belum memadai, serta jumlah operator yang tinggi.

Mengingat hal tersebut di atas maka berbagai ancaman penyakit yang berasal dari virus, bakteri, parasit, maupun jamur harus... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Departemen Manganer
PT Romindo Primavetcom
0812-8644-9471

SUPER UNGGAS JAYA SUKSES MELEBARKAN SAYAP KE TIMOR - LESTE

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Bersama Direksi Suja Melakukan Seremonial Peresmian Ekspor
(Foto : CR)


Jumat 22 November 2024 menjadi hari yang bersejarah bagi PT Super Unggas Jaya (Suja), pada hari itu mereka mereka resmi melebarkan sayap pemasarannya ke negara tetangga, Timor - Leste. Seremonial pelepasan ekspor berlangsung di Rumah Pemotongan Ayam mereka yang berlokasi di Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Konsisten Membuka Pasar Ekspor

Han Jung Kyu selaku Presiden Direktur PT Sumber Unggas Jaya dalam pidatonya mengungkapkan rasa syukur, bahagia, dan bangganya terutama kepada para staff yang telah bekerja keras mewujudkan ekspor tersebut. Tak kurang sebanyak 33 ton karkas ayam dengan merk Super Chick berangkat menuju Timor - Leste, transaksi tersebut bernilai 1,2 Miliar Rupiah.

"Ini menjadi sejarah penting dalam berdirinya perusahaan kami, kami berkomitmen untuk terus mengembangkan ekspor produk unggas, tidak hanya ke Timor-Leste, tetapi juga ke berbagai negara lain," tutur Han.

Ia melanjutkan, sejatinya pada 5 November 2024 yang lalu, Suja berhasil mengekspor 2,5 ton produk olahan daging ke Thailand. Selain itu, pada Oktober lalu, mereka jugatelah mengirimkan sampel produk ke Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand sebagai langkah untuk memperluas pasar global.

Dirinya juga menyebut bahwa kedepannya Suja juga akan meningkatkan volume ekspor ke Timor - Leste hingga 100 ton per tahun. Dalam waktu dekat Suja juga tengah menjajaki ekspor produk olahan daging ke Filipina, dengan target pengiriman dimulai pada tahun 2025. Bahkan mereka berniat memperluas ekspor karkas ayam ke Malaysia dan Korea Selatan.

"Kepada para mitra usaha dan rekan-rekan di industri peternakan, marilah kita terus bekerja sama agar sektor ini semakin maju, berdaya saing global, dan mendukung perekonomian Indonesia. Terima kasih atas perhatian dan kerja sama yang telah diberikan," pungkas pria asal Korea Selatan tersebut.

Antusiasme Dalam Menatap Tantangan Kedepan

Apolo Justino França da Silva, Atase Perdagangan Timor Leste yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasi kepada PT Super Unggas Jaya atas keberhasilannya dalam mengekspor produk karkas ayam ke Timor-Leste. Sebagai negara yang baru bergabung dalam organisasi internasional seperti WTO dan ASEAN, dirinya sangat menghargai dukungan dan kerja sama dari Indonesia.

"Ekspor ini adalah wujud nyata hubungan baik antara kedua negara. Kami berkomitmen untuk membuka peluang investasi baru dan mendukung pertumbuhan perdagangan, khususnya di sektor peternakan. Semoga kerja sama ini terus berkembang di masa depan," tutur Apolo.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh Agung Suganda yang turut hadir mengucapkan selamat atas ekspor karkas ayam oleh Suja. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata bahwa industri perunggasan Indonesia mampu bersaing di pasar global.

"Kami terus mendukung upaya ekspor produk unggas ke berbagai negara, termasuk Jepang, Singapura, dan Timur Tengah. Khusus untuk PT Suja, kami berharap target ekspor ke Korea Selatan dapat terealisasi pada tahun depan," tutur Agung

Dalam sambutannya ia menyebut surplus produksi unggas di dalam negeri perlu dimanfaatkan untuk menembus pasar ekspor. Hingga September 2024, nilai ekspor produk unggas Indonesia mencapai USD 7,25 juta, meningkat 40,61% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan potensi besar sektor peternakan untuk berkontribusi terhadap perekonomian nasional.

Han Jung Kyu menyambut baik tantangan yang diberikan oleh Dirjen, dirinya menyebut bahwa Suja adalah salah satu bagian dari CJ Group salah satu produsen pangan terkemuka di dunia. Oleh karenanya ia memohon dukungan dari semua pihak dalam rangka menyukseskan hal tersebut, yang jelas Suja tidak akan pernah berhenti berkembang dan mengharumkan nama Indonesia. (Adv)



SOLUSI UNTUK MELAWAN PARASIT DARAH

Tryponil untuk pengobatan parasit darah trypanosomiasis (surra) dan Imochem 120 efektif untuk pengobatan babesiosis dan anaplasmosis.




UNISMA SUKSES MENGGELAR KONTES AYAM PELUNG

Para Pemilik Ayam Pelung Yang Menjuarai Kontes
(Foto  : Fapet UNISMA)


Himaprodi Fakultas Peternakan Unisversitas Islam Malang bekerja sama dengan Himpunan Peternak dan Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) DPD Malang Raya mengadakan Kontes ayam pelung terbuka “FAPET UNISMA CUP 1 2024” di Halaman Depan Kampus Unisma Malang, Minggu (17/11/2024).

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk pengembangan ilmu pengetahuan mahasiswa tentang ayam pelung, menguatkan jejaring Fakultas Peternakan dengan masyarakat umum khususnya peternak lokal, serta  upaya menjaga pelestarian budaya dan plasma nutfah khususnya ayam pelung yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta menghasilkan bibit ayam pelung berkualitas, dari segi suara, penampilan dan bobot badan.

Ayam pelung merupakan ayam asli Indonesia yang memiliki suara yang indah. Dengan demikian, banyak sekali masyarakat yang memelihara ayam pelung untuk dilatih suaranya sehingga bisa diikutsertakan dalam lomba dan memiliki harga jual yang tinggi. Kontes ayam pelung merupakan upaya menaikkan citra peternakan di kalangan masyarakat dengan melibatkan organisasi perunggasan yang sudah berpengalaman dan terpercaya dalam melakukan penilaian selama kontes ayam pelung.

Wakil Dekan Bidang 2 Fakultas Peternakan, Nisa’us Sholikah, S.Pt., M.Pt., berharap dengan digelarnya Kontes Ayam pelung ini dapat menumbuhkan sinergi antara penggemar ayam pelung dengan akademisi dan mahasiswa untuk menjaga sumberdaya genetika ayam pelung.

“Kontes Ayam Pelung Terbuka ini merupakan kali pertamanya kontes ayam pelung diselenggarakan  oleh Fakultas Peternakan Universitas Islam Malang. Kontes Ayam Pelung Piala Rektor 2023 di ikuti oleh 180 Peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah," tuturnya.

Ketua Panitia acara, Akmal Maulana  menyatakan rasa terima kasihnya kepada pihak Fakultas Dan pihak DPD HIPPAPI Malang Raya, panitia, serta seluruh penggemar pelungers seluruh indonesia. Menurutnya HIPPAPI merupakan Salah satu wadah yang memfasilitasi penggemar pelung untuk menyalurkan hobi Serta menjadi wadah untuk pelestari budaya khas Indonesia.

"Kami berharap kedepannya kontes ini terus dapat dilaksanakan, sehingga masyarakat semakin berminat memelihara dan memnudi dayakan ayam pelung ini sebagai salah satu ayam asli Indonesia," tutupnya. (INF)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer