-->

CERATES, EMPLASTRUM, DIPPING: OBAT UNTUK LEPUH KUKU DAN KUKU COPOT PADA SAPI PENDERITA PENYAKIT MULUT KUKU (PMK) - BAGIAN 3

Oleh Mochamad Lazuardi

Kemunculan PMK sapi di Indonesia hingga 9 Juni 2022, ternyata makin meluas dan cepat menyebar dengan gejala paling memberatkan yaitu luka lepuh dan gangrena pada kuku serta mengakibatkan kuku lepas. Pada kondisi demikian yang terjadi adalah sapi tidak mau berdiri dan hanya tidur-tiduran. Dampak tersebut bila berlangsung lama dan posisi tidur tak berubah, akan mengakibatkan penekanan kulit terhadap dasar lantai, sehingga terjadi kematian jaringan kulit. Bila hal tersebut terjadi dalam waktu lama, maka beresiko fatal terhadap diri sapi penderita PMK sehingga menimbulkan resiko kematian.

Awal luka lepuh pada kaki sapi baik dewasa atau tua, serta anak-anak maupun usia muda, akan menimbulkan gejala pincang. Tindakan awal dalam menyikapi kasus tersebut adalah melakukan pemeriksaan untuk menetapkan tiga hal. Tiga hal yang dimaksud adalah (1) tingkat keparahan, (2) strategi penetapan bentuk obat disesuaikan tingkat keparahan dan (3) kesuksesan jaminan frekuensi paparan bahan aktif obat terhadap luka dan (4) perilaku menahan sakit pada kaki dikaitkan hasil penetapan bentuk sediaan. Empat hal tersebut pada akhirnya menjadikan para peternak, perawat sapi PMK (termasuk tenaga medis veteriner) harus mengenal CERATES, EMPLATRUM dan DIPPING.

CERATES

Dalam sejarah obat vs., pengobatan cerates mulai diperkenalkan dalam jajaran sediaan obat setelah ditemukan senyawa parafin, kendati mengawali dibuatnya parafin tingkat farmasetik. Tingkat kemurnian farmasetik tersebut menjadikan parafin dapat digunakan untuk bidang medis (sekitar awal perang dunia ke II). Awal penggunaan medis pertama kali adalah digunakan untuk mengobati prajurit yang terluka akibat terkena bahan peledak atau luka bakar. Dalam perjalanan waktu akhirnya parafin cair dapat dibuat menjadi parafin padat, dan dikembangkan untuk tambahan senyawa penstabil kosmetika dalam bentuk lilin. Dengan kemunculan obat keperluan medis berbentuk lilin (cera bahasa latin), maka diberi nama CERATES. Komposisi obat tersebut berciri-ciri banyak mengandung lilin, sehingga sangat sesuai untuk luka lepuh PMK, serta mampu menjangkau tempat pelipatan kulit atau kuku. Formula lilin tersebut dapat bersifat pelindung kulit serta tidak mudah meluruh dan rontok mengikuti arah gravitasi bumi. Seandainya meluruh dan rontok ke bawah, masih tetap ada bagian dari formula lemak atau lilin yang menempel di kulit.

Secara umum bahan-bahan pembentuk cerates terdiri senyawa tunggal dan atau campuran seperti lemak alami atau lemak hewan (“gajih” bahasa jawa). Bisa juga digunakan lilin dari sarang lebah, parafin padat ditambah sedikit dengan parafin cair atau dapat juga dicampur dengan getah pohon (contoh getah pohon pinus atau getah pohon damar). Jenis lain yang juga sering digunakan untuk peningkatan konsistensi lilin adalah lemak ikan paus dengan catatan lemak ikan paus dipadukan dengan parafin padat. Komposisi formula cerates bercirikan sukar bercampur dengan air, sehingga bila diaplikasikan ke kulit atau luka lepuh, secara otomatis akan bersifat melindungi. Konsistensi obat jenis ini jauh lebih padat dibanding salap, sehingga tidak mudah meleleh pada akibat peningkatan suhu tubuh meskipun suhu tubuh mencapai 40 ℃.

Keunggulan cerates yaitu dapat menutupi lepuhan PMK pada kulit sehingga tidak mudah terinfeksi kuman yang terbawa air dari lantai kotor. Pada kasus kuku copot, maka pilihan terbaik adalah bentuk sediaan cerates. Sebagai pertimbangan mampu menjangkau pelipatan-pelipatan kulit dan atau kuku yang sukar dijangkau. Dengan demikian sensitivitas rasa sakit akibat lepuh di kulit kuku ataupun lepasnya kuku, dapat tertutupi. Perlu diketahui bahwa kaki hingga telapak kaki hewan golongan sapi dan kerbau merupakan wilayah sensorik terbaik, sehingga bila terdapat luka di daerah tersebut maka secara reflek hewan akan melindungi kaki yang sakit. Bentuk perlindungan diri salahsatunya adalah ternak tak mau berdiri dengan berumpu pada empat kaki mereka. Cerates dibentuk oleh sebagaian besar lilin, sehingga dalam proses pembuatannya harus dilakukan pelelehan lilin terlebih dahulu kemudian dilakukan penambahan bahan-bahan lain dalam keadaan hangat. Dengan demikian bila lilin mengental maka campuran tersebut terjerap didalamnya. Sediaan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menetralkan keseimbangan asam-basa di lantai atau tanah akibat urin sapi atau kotoran lainnya.

Kelemahan bentuk sediaan cerates yaitu bila komposisi tambahan lilin bercampur dengan bahan alami, maka sering terjadi komplek yang rancid. Oleh sebab itu untuk menghindari proses reaksi rancid (“tengik” bahasa jawa), maka persentase tambahan bahan alam hanya dibatasi (sekitar 10-20%). Ditinjau dari tingkat bahaya bila terkonsumsi, secara tidak sengaja oleh sapi, maka bahan-bahan pembawa di atas tidak akan membahayakan, kecuali disengaja diberikan oral dengan takaran berlebihan. Ditinjau dari ketahanan simpan sediaan cerates, maka sediaan ini termasuk lama disimpan. Dalam catan penelitian diketahui daya simpan senyawa tersebut antara 1-2 tahun terutama lilin atau parafin padat dengan catatan tempat penyimpanan harus kering serta bersuhu antara 20-25 ℃. Namun sebaliknya lilin atau lemak asal hewani atau nabati, tidak tahan lama bahkan hanya tahan beberapa hari meskipun disimpan dalam suhu dan tempat sesuai di atas.

Bahan-bahan alami sering berinteraksi dengan udara sehingga bisa mengalami proses kimiawi sekaligus merubah struktur molekul lilin atau lemak alami. Ditinjau dari keberadaan formula cerates, dapat disimpukan bahwa bahan pembentuk cerates termasuk parafin padat, mudah ditemui di tanah air. Dengan demikian dapat dipastikan permintaan sediaan cerates seharusnya dapat dipenuhi mengingat bahan-bahan tersebut tersedia di pasaran.

EMPLASTRUM

Tinjauan sejarah menunjukkan bahwa emplastrum mirip dengan pleister luka atau obat yang dilekatkan di daerah pegal-pegal dan digunakan untuk manusia. Prinsip emplastrum adalah kain dengan ditengahnya terdapat bahan obat aktif untuk tujuan target kerja, dimana kain tersebut dilekatkan pada kulit. Emplastrum sangat sesuai untuk kasus-kasus luka melepuh pada daerah kulit, mengingat wilayah kuku serta ujung kaki, sering beresiko terkontaminasi kotoran di lantai. Pada keadaan demikian kain yang dilekatkan akan bermanfaat sebagai pelindung luka lepuh atau luka terbuka. Isi bahan aktif yang ada di tengah kain dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga secara dinamis dapat disesuaikan dengan khasiat yang dikehendaki misal antiradang, antibiotika, anti rasa sakit lokal, dsb. Namun demikian volume yang diletakkan pada tengah emplastrum tidak boleh melebihi kain pelingkup, sehingga bahan aktif tak tercecer keluar.

Secara internasional atau nasional ukuran panjang atau lebar kain yang akan dilekatkan pada ujung kulit kaki atau kuku, tidak ada ketentuan. Namun perlu diketahui bahwa daya lekat tersebut menyebabkan tidak semua luka di kulit dapat diberi emplastrum, mengingat kain yang dilekatkan harus di lepas kembali pasca pengobatan. Pada kondisi demikian apabila sapi atau kerbau masih sensitif terhadap daerah luka diujung kaki, maka tidak mudah untuk ditarik lepas, sebab hewan akan selalu berontak. Untuk menghindari kesulitan membuka maka sediaan tersebut dibuat lebih panjang sehingga perlekatan dapat dilakukan pada daerah ujung kulit sehat. Penggunaan emplastrum pada luka lepuh PMK, harus diimbangi dengan penjagaan kebersihan lantai kandang atau tanah tempat pijakan kaki sapi PMK. Hal tersebut disebabkan masa buka emplastrum cukup lama, sehingga dalam rangka memperpanjang waktu buka harus diupayakan agar kain yang tetempel tetap bersih.

Modifikasi emplastrum masa kini terbuat dari polifinil tipis dan tembus pandang, sehingga dapat diprediksi tempat penempelan bahan aktif sesuai target obat. Modifikasi lain yaitu dibuat dengan sistem lekat terbatas, dan akan terlepas secara otomatis setelah 4-5 hari pasca perlekatan. Modifikasi tersebut amat menguntungkan perawat luka lepuh penderita sapi PMK, karena dapat dipastikan waktu penggantian emplastrum baru.

Pada luka lepuh terbuka akibat PMK, pemberian bahan aktif yang diletakkan di tengah emplastrum dapat berupa padat dan setengah padat. Hingga saat ini bahan aktif yang dipilihkan belum ada berbentuk cair, namun demikian dikemudian kelak dapat dibuat bentuk sediaan cair. Terdapat beberapa keuntungan bila bahan aktif emplastrum berbentuk setengah padat, salahsatunya adalah bersifat melapisi luka sekaligus akan memapar luka secara lama. Hal tersebut berbeda bila bahan aktif yang diletakkan ditengah emplastrum berupa padat. Bahan aktif padat, akan cepat mengering akibat terpapar oleh sekreta luka lepuh. Sehingga bila kelak kain dibuka maka bahan aktif padat tersebut terlihat melekat pada luka lepuh dan tidak mudah di bersihkan karena harus menarik epitel kulit yang terlekat di padatan bahan aktif.

Aplikasi emplastrum sangat menguntungkan pada sapi PMK dengan kuku copot, pada kondisi demikian dapat dilakukan pembebatan melingkar hingga 4-5 cm di atas kuku. Kondisi tersebut sangat membantu menghilangkan rasa nyeri saat telapak kaki di tapakkan di lantai atau di tanah, sehingga instink untuk berdiri semakin kuat. Pembebatan yang dimaksud diusahakan cukup kuat sehingga dipastikan bila kaki yang sudah dibebat menginjak lantai maka emplastrum tidak akan lepas. Ciri-ciri sapi penderita PMK nyaman dibebat dengan emplastrum, adalah cepat berdiri dan tidak mengangkat kaki saat berdiri.

DIPPING (RENDAM)

Sediaan tersebut di atas berasal dari bahasa Inggris dan dalam bahasa Indonesia dikenal rendam atau “celup” bahasa jawa. Teknik rendam untuk kasus luka melepuh pada kuku dan kuku copot pada sapi penderita PMK, amat sesuai dengan situasi kondisi pemelihara ternak. Bila pemelihara ternak memiliki waktu terbatas untuk kegiatan pemeliharaan, maka teknik rendam adalah pilihan yang paling tepat. Sebab cukup dengan memasukkan ke dua kaki pada obat yang telah diwadahi dalam tempat tertentu, dan dibiarkan terendam beberapa menit. Keuntungan bentuk sediaan ini adalah obat mampu menjangkau tempat-tempat pelipatan dalam hasil perendaman kaki. Keuntungan tambahan adalah aplikasi tersebut sangat praktis dan tak membutuhkan perangkat lain agar obat memapar di segala tempat diwilayah kaki yang terendam. Kerugian teknik rendam yaitu obat harus memiliki bentuk sediaan larut sempurna (solutio) sehingga bahan aktif yang terlarut oleh pelarut obat dapat mencapai tempat luka dengan kadar sama. Kerugian lain yaitu penggunaan sisa obat belum tentu dapat digunakan kembali, sebab jaringan kulit yang mati akan mengkontaminasi obat tersebut. Namun bila diyakini obat tak terkontaminasi bahan-bahan pengotor, maka bekas obat dapat digunakan kembali. Kerugian yang paling menonjol adalah hasil paparan obat cepat kering dan cepat hilang, pada keadaan demikian sangat tidakmenguntungkan untuk luka lepuh kronis sebab membutuhkan persyaratan pengobatan luka harus lama terpapar obat.

Upaya perendaman pada jenis sapi atraktif, tidak mudah dilakukan sebab sapi akan berusaha menendang. Pada keadaan demikian obat dalam wadah khusus akan ikut tertendang sehingga obat tidak dapat diaplikasikan. Jenis-jenis sapi atau kerbau yang mudah dilakukan perendaman kaki adalah sapi atau kerbau dengan temperamen tenang atau mudah dikendalikan.

Terdapat upaya modifikasi teknik perendaman dengan tujuan agar obat tetap terpapar secara lama, teknik tersebut dilakukan dengan meletakkan wadah di kaki sapi dan diikat kuat sehingga tetap melingkupi kaki sapi. Cara tersebut cocok dilakukan terhadap jenis sapi-sapi bertemperamen atraktif, sehingga upaya penempatan wadah untuk merendam kaki sapi cukup satu kali namun obat terus menerum merendam kaki sapi.

Penulis adalah Guru Besar Ilmu Farmasi Veteriner di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

EKSPANSI PIONIR UNGGAS ORGANIK BRASIL

Korin di Brasil akan menginvestasikan lebih dari €12 juta untuk melipatgandakan produksi ayam pedaging dan telur tanpa antibiotik dan bahan kimia.

Pelopor unggas organik Brasil ini akan menginvestasikan €12,8 juta (R$65 juta) untuk meningkatkan fasilitasnya di kota Ipeuna, negara bagian Sao Paulo. Perusahaan yang menganut prinsip 'agrikultur alami' ini memproduksi ayam, telur, madu, dan daging sapi tanpa antibiotik atau pestisida.

Dari total ini, €9 juta akan diinvestasikan ke pabrik baru pada paruh kedua tahun 2023 untuk memproduksi potongan daging unggas dan daging sapi yang sudah jadi. Sisa €3,8 juta akan ditujukan untuk peningkatan efisiensi di pabrik pengolahan unggas dan telur. (via poultryworld)

RUSIA INVESTASIKAN JUTAAN DOLAR UNTUK BREED BROILER SMENA-9

Pada tahun 2023, pihak berwenang Rusia berencana untuk membuat pusat pembiakan baru yang berfokus pada operasi persilangan Smena-9 di Oblast Moskow dalam upaya untuk mengurangi ketergantungan industri unggas pada genetika impor.

Proyek baru ini direncanakan akan dibangun sebagai bagian dari instruksi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memperkuat ketahanan pangan negara dengan mengurangi ketergantungannya pada pembelian asing.

“Kompleks pembiakan akan memenuhi kebutuhan peternak unggas, yang berarti mereka akan terus menyediakan untuk pasar domestik dengan produk makanan buatan sendiri yang berkualitas tinggi,” kata Perdana Menteri, Mikhail Mishustin.

Biaya investasi proyek ini adalah 4,5 miliar rubel (US$70 juta). Laporan pertama tentang rencana pemerintah untuk meluncurkan kompleks pembiakan baru diluncurkan pada bulan April ketika dilaporkan bahwa pengembangan basis pembiakan negara itu ditujukan untuk mendukung industri unggas dalam menghadapi sanksi.

Konstantin Korneev, direktur eksekutif Rincon Management, mengatakan bahwa membangun pusat pembiakan baru dari awal akan memakan waktu sekitar 2 tahun. Ditambahkannya, Smena-9 memiliki performa yang hampir menyamai persilangan internasional. (via poultryworld)

WEBINAR MITIGASI PENGUATAN INDUSTRI PERUNGGASAN NASIONAL

 

Indonesian Poultry Business Forum, Rabu (8/6).

Produksi daging ayam ras pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 3,88 juta ton sementara total kebutuhan mencapai 3,19 juta ton, maka diperkirakan terjadi surplus produksi sebesar 689 ribu ton.

Komoditas telur ayam ras, produksi pada tahun 2022 diperkirakan mencapai 5,92 juta ton sementara total kebutuhan mencapai 5,31 juta ton. Perkiraan terjadi surplus sebesar 615 ribu ton.

Hal tersebut mengemukaka dalam Indonesian Poultry Business Forum (IPBF) mengusung tema “Mitigasi, Penguatan dan Pemerataan Industri Perunggasan Nasional : Harga Pakan Menggila, dan Masih Perlukah SE Cutting?”. Acara diadakan secara daring pada Rabu (8/6).

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dr Ir Musdhalifah Machmud MT mengatakan Indonesia ke depan memiliki peluang untuk dapat melakukan ekspor ke Singapura pasca Malaysia menghentikan sementara pasokan livebird ke Singapura karena penataaan perunggasan dalam negeri.

Indonesia ke depan memiliki peluang untuk dapat melakukan ekspor ke Singapura pasca Malaysia menghentikan sementara pasokan livebird ke Singapura karena penataaan perunggasan dalam negeri.

Menurut Musdhalifah, beberapa peluang Indonesia diantaranya ketentuan untuk ekspor ayam hidup adalah barang bebas kecuali DOC (anak ayam/bibit).

“Selain itu Indonesia belum pernah ekspor ayam hidup ke Singapura. Saat ini masih menunggu proses approval-nya Phytosanitary di Singapura,” jelasnya.

Sementara itu melambungnya harga pakan yang disebabkan oleh kenaikan bahan pakan, menurut Ketua Umum GMPT, Desianto Budi Utomo PhD setiap perusahaan berbeda tergantung dari aspek, manajemen bahan pakan dan formulasi serta marketing strategy dan pricing policy.

Ketua Komtap Peternakan KADIN, Tri Hardiyanto, dalam acara yang sama menyatakan bahwa KADIN akan fokus dalam membantu dan mengawal para stakeholder baik dari asosiasi, peternak dan perusahaan untuk bersama-sama menguatkan perunggasan Tanah Air.

Menanggapi harga pakan yang begitu tinggi, menurut Tri, tentunya harus menjalankan stratregi supaya jagung surplus setiap tahunnya. “Kalau jagung sudah surplus, bahkan mau ekspor ke Malaysia bisa saja. Karena peluang Indonesia sangat besar,” tandasnya. (NDV)  

 

 

 

 

 

ELECTUARIUM, GARGARISMA, COLLYRIUM ORIS UNTUK TERAPI LUKA MELEPUH LIDAH & MULUT SAPI PENDERITA PENYAKIT MULUT KUKU (PMK) - BAGIAN 2

Oleh: Prof. Dr. Mochamad Lazuardi, Drh. M. Farm

Telah diketahui bersama bahwa gejala subklinis, hingga kronis fenotip penyakit PMK berupa luka melepuh pada lidah dan bibir ternak. Lepuhan tersebut merupakan abses steril, sehingga akan pecah menjadi luka terbuka 2-3 hari kemudian. Luka terbuka tersebut akan mudah mengalami superinfeksi akibat port de entry luka menjadi pintu masuk terjadinya sepsis bakteriemia ke seluruh tubuh. Dengan berjalannya waktu luka terbuka tersebut akan menjadi gangrena yang ditandai dengan meningginya bagian bibir luka terbuka tersebut, serta terasa hangat dengan warna kemerahan. Kondisi tersebut akan memunculkan luka bersekret dengan konsistensi kental. Seiring dengan kemunculan gangrena, akan terlihat sapi mengeluarkan liur berlebihan, serta penurunan nafsu makan minum & menurun. Bila sapi dapat bertahan, maka sapi akan sering tiduran di lantai serta lemah. Strategi awal yang harus dilakukan adalah memanfaatkan pengobatan lokal luka terbuka dan gangrena menggunakan sediaan oral dengan kerja lokal. Dalam dunia peracikan obat hewan, dikenal tiga jenis bentuk sediaan obat (BSO) yang sering digunakan untuk pengobatan kulit dengan kerja lokal. BSO yang dimaksud adalah Electuarium, Gargarisma dan Collyrium Oris dengan ciri konsistensi antara cair encer hingga kental dan digunakan untuk target terapi lokal. Ke tiga bentuk sediaan tersebut membentuk BSO solutio yaitu bahan aktif obat berupa serbuk (bobot) atau cair (volume) terlarut dalam bahan pembawa obat cair (volume). Konsep BSO ditandai dengan aturan yaitu bobot / volume (b/v) atau aturan volume / volume (v/v). Formulasi BSO solutio untuk sapi penderita PMK, sangat disyaratkan mengingat sapi PMK sebagai target terapi memiliki sensitivitas tinggi terhadap rangsangan bahan obat. Sehingga bila BSO obat tersebut tidak saling larut dikhawatirkan akan menimbulkan iritasi mukosa bibir, mulut atau rongga kerongkongan atau dapat menimbulkan refleks muntah.

Ditinjau dari profil ke tiga BSO tersebut, terlihat sangat jernih / bening dan dalam aplikasinya tidak perlu dikocok terlebih dahulu. Ditinjau dari mutu tingkat homogenitas bahan aktif dalam larutan bahan pembawa, solutio amat terjamin mengingat semua bahan aktif larut, sehingga terdispersi secara sempurna ke semua bagian bahan pelarutnya. Mutu tersebut hampir setara dengan BSO injeksi atau sediaan steril yang dirancang untuk penggunaan melalui perobekan lapisan kulit.

Ditinjau dari sejarah keberadaan di Indonesia, tiga BSO tersebut sebenarnya sudah lama digunakan oleh para klinisi bidang kedokteran maupun kedokteran hewan. Seiring dengan berjalannya waktu serta kecepatan perkembangan teknologi obat-obatan, maka ke tiga BSO tersebut menjadi terlupakan. Oleh sebab itu kemunculan kembali PMK (re-emerging diseases) dengan sifat-sifat spesifik virus PMK, maka ke tiga BSO tersebut dapat dimutakhirkan kembali. Sifat spesifik yang dimaksud adalah virus PMK mampu sembunyi dalam jaringan lemak terdalam pada kerongkongan sapi selama beberapa tahun, sehingga penderita sapi dengan mudah mengalami carier.

Ditinjau dari trend perkembangan obat hingga tahun 2022, tiga BSO tersebut masih tergolong banyak diminati oleh petani peternak, kendati banyak ditemui obat-obat modern haasil modifikasi obat-obat lama dan disesuaikan perkembangan IPTEK.

Electuarium

Sediaan ini dimasukkan dalam klasifikasi BSO antara cair dan setengah padat dengan konsistensi kental dan menggunakan bahan pembawa rasa manis. Sediaan tersebut dapat diberi tambahan bahan aktif (remedium cardinale) seperti, penekan rasa sakit, antiradang, anti mikroba dsb. Bahan pembawa yang dimaksud dapat terbuat dari campuran gula kental dan atau madu sera di tambah serbuk gumi arab. Serbuk tersebut dengan penambahan air sebanyak tujuh kali bobot bahan aktif, akan membentuk campuran lendir (mucilagenes) sehingga BSO tersebut menjadi lebih kental. Dalam aplikasi klinik BSO tersebut di gunakan dengan cara melaburkan pada permukaan lidah ataupun pada pangkal lidah dan dasar lidah. Pemberian BSO electuarium pada kasus PMK, amat menguntungkan mengingat bahan pembawa obat tersebut, dapat dimanfaatkan menjadi pelapis permukaan lidah. Sehingga memudahkan ternak sapi untuk menelan hijauan pakan ternak. Bahan pembawa electuarium juga memiliki khasiat sebagai penjaga keseimbangan asam-basa lingkungan mulut sapi. Sehingga lepuh pada lidah tidak akan dirasakan mengganggu oleh sapi penderita PMK akibat pakan yang masuk menjadi licin oleh bahan pembawa. Pada keadaan demikian tingkat keasaman terhadap pakan dapat di netralkan oleh bahan pembawa electuarium. Sebagai tambahan bahan aktif dengan target untuk membunuh virus, dapat diberikan senyawa-senyawa antiseptik-disinfektant serta anti jamur. Seandainya luka melepuh sudah membentuk gangrena dan atau kondisi superinfeksi, maka dapat ditambahkan antibiotika kerja lokal seperti neomycin sulfat. Sebagai tambahan untuk menekan keradangan, dapat dikombinasikan pula dengan obat-obat penekan keradangan (non-steroid atau steroid).

Beberapa keunggulan electuarium adalah dapat mengikuti irama gerak dan lekukan lidah sehingga selalu tetap menempel pada lidah. Akibat konsistensi kental tersebut, BSO electuarium tidak cepat luruh. Dengan demikian memiliki ketahanan menempel antara 4-5 jam. Waktu tersebut sudah cukup memaparkan suatu bahan aktif obat terhadap lepuh lidah penderita PMK. Seandainya sapi diberi pakan hijauan dengan bentuk crumbels, maka penempelan electuarium pada lidah lebih dari 5 jam. Luka lepuh pada PMK dapat diberikan setiap 8 jam sekali dengan harapan paparan lepuh oleh bahan aktif electuarium dapat selalu terjadi.

Kelemahan BSO electuarium yaitu, tidak tahan disimpan lama mengingat bahan pembawa tersebut berasal dari alami seperti madu dan gula merah. Bahan alami tersebut mudah berinteraksi dengan udara sehingga menyebabkan konsistensi kental berubah menjadi setengah padat atau konsistensi seperti mentega. Pada keadaan demikian maka electuarium tak dapat digunakan dan selalu harus dibuat baru. Kelemahan lain adalah sering merangsang serangga-serangga yang menyukai manis-manis. Kelemahan tersebut harus dijadikan perhatian keras mengingat sapi penderita PMK sering terduduk di lantai kandang. Pada kondisi demikian tidak mustahil serangga akan menuju bagian manis mulut sapi. Upaya pencegahan kemunculan serangga terhadap sapi penderita PMK, dapat dilakukan salahsatunya dengan mengembalakan sapi pada lapangan terbuka. Kebiasaan tersebut sangat membantu mencegah penularan PMK, sebab sinar matahari mampu membuat kering luka melepuh akibat PMK.

Gargarisma

Merupakan BSO cair yang terdiri dari antara bahan aktif terlarut dalam bahan pembawa dan umumnya memiliki kriteria v/v. Gargarisma termasuk BSO yang tidak direkomendasikan penggunaan hingga sampai lambung, namun hanya sebatas pangkal kerongkongan. Dengan demikian sangat cocok untuk kasus sapi penderita PMK kronis dimana jumlah virus banyak ditemukan pada pangkal kerongkongan. Bahan aktif yang dikandung dalam sediaan gargarisma umumnya adalah pengencer dahak, pelapis saluran kerongkongan (demulcent) serta pembersih saluran kerongkongan. Pemberian gargarisma pada hewan, sangat tidak aplikatif namun sangat bermanfaat manakala bertujuan untuk membersihkan kerongkongan hingga pangkal. Dalam aplikasi di lapangan sering dilakukan menggunakan drench dan bila telah mencapai kerongkongan, maka leher sapi di tarik kebawah agar dapat memuntahkan obat yang dimasukkan. Bila dilakukan dua hingga tiga kali, maka akan mampu memaparkan bahan aktif obat ke pangkal kerongkongan. Pada aplikasi medik, dapat dilakukan dengan memasukkan selang hingga sepertiga kerongkongan dan mengguyurkan sesuai volume yang dikehendaki. Cara tersebut sangat praktis namun gargarisma yang masuk akan tetelan ke lambung sapi. Resiko tertelan tersebut dapat diabaikan mengingat bahan aktif serta kadar yang digunakan tidak berbahaya untuk lambung. Sebagai bahan pembawa juga dapat berfungsi membantu pencernaan lambung, misal menggunakan bahan pembawa asam klorida dilutus 0,01 N. Komposisi tersebut akan berkhasiat ganda yaitu sebagai anti virus PMK pada wilayah ujung kerongkongan serta membantu meningkatkan pencernaan lambung. Khasiat bekerja ganda tersebut adalah salahsatu keunggulan gargarisma. Sehingga tidak perlu dilakukan upaya memuntahkan kembali. Kelemahan pemberian gargarisma adalah resiko masuknya bahan obat pada saluran nafas dan pada gilirannya dapat masuk ke paru. Kondisi tersebut sangat memungkinkan mengingat saluran kerongkongan dan saluran pernafasan memiliki kedekatan tempat.

Collyrium oris

Merupakan BSO cair dengan kerja lokal sekaligus dapat dimanfaatkan untuk membersihkan rongga mulut maupun luka lepuh bibir sapi penderita PMK. Ditinjau dari nama collyrium oris itu sendiri, dari bahas latin dan memiliki arti Indonesia sebagai cuci mulut. BSO ini memiliki komposisi b/v atau v/v, tergantung bahan aktif yang digunakan. Namun umumnya bahan aktif yang digunakan adalah serbuk, dengan daya kerja antiseptik-disinfektan. Sebagai senyawa pencuci mulut, hanya bisa melakukan pensucihama dan menetralkan keseimbangan asam-basa di rongga mulut. Penetralan keseimbangan asam-basa pada rongga mulut akan menekan kemunculan karang gigi sapi ataupun unsur-unsur pakan yang dapat merusak gigi sapi. Khusus pada kasus penderita PMK, penggunaan senyawa cuci mulut akan menghadang kemunculan infeksi lebih lanjut pada permukaan mukosa mulut yang masih belum terinfeksi virus PMK. Bila collyrium oris tersebut dibuat menjadi lebih hipertonis, maka senyawa aktif yang terkandung dalam sediaan tersebut dapat melakukan penetrasi kedalam sel-sel sehat disekitar mukosa mulut sapi. Kondisi tersebut sangat menguntungkan untuk mencegah penyebaran virus PMK pada sel yang masih sehat dirongga mulut. Peningkatan daya cuci mulut BSO collyrium oris dapat di tingkatkan dengan menambah bahan aktif dengan daya antibiotik dan antijamur. Keunggulan BSO collyrium oris yaitu mampu menembus sela-sela gigi atau tempat sulit di lingkungan rongga mulut, namun kerugian nya adalah tidak mudah mengaplikasikan pada hewan. Pada hewan penggunaan BSO ini memerlukan bantuan pemilik ternak / perawat ternak, dengan cara melakukan penyemprotan menggunakan alat penyemprot di sekitas rongga mulut.

Uraian ke tiga BSO tersebut harus diupayakan untuk tetap diingat oleh masyarakat luas mengingat semua bahan aktif dapat ditemukan di tanah air dan sangat memungkinkan untuk dikemas menjadi ke tiga BSO tersebut.

Penulis adalah Guru Besar Ilmu Farmasi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

PELETAKAN BATU PERTAMA PEMBANGUNAN INTERNATIONAL TRAINING CENTER FOR CAGE FREE FARM MODEL

 

Seremoni pembangunan pusat pelatihan internasional produksi dan manajemen telur cage free (Foto: Istimewa)

Selasa, 7 Juni 2022 telah berlangsung acara peletakan batu pertama dimulainya pembangunan Gedung Internasional Training Center for Cage Free Farm Model di Dusun Kalijeruk, Sleman Yogyakarta.

Pembangunan gedung tersebut sudah dirintis sejak satu tahun yang lalu. Namun, karena terjadi pandemi COVID-19 maka terpaksa ditunda. Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ir Budi Guntoro SPt MSi PhD IPU ASEAN Eng mengatakan pembangunan gedung ini dimaksudkan untuk kepentingan akademik. 

"Bagaimana percontohan ini bisa kita bangun supaya menjadi pusat pelatihan internasional di Asia Pasifik,” kata Budi dalam sambutannya di acara peletakan batu pertama, Selasa, diliput melalui kanal YouTube resmi Fakultas Peternakan UGM.

Dalam sambutannya, Budi memberikan apresiasi kepada pihak universitas dalam pendampingannya untuk mencari lahan, mengingat pembangunan gedung ini harus dapat segera dilakukan. Apabila tidak maka proyek percontohan ini akan dialihkan ke universitas lain atau negara lain.

Sejauh ini, peternakan ayam dengan sistem umbaran baru dapat dilakukan di Cina. UGM menjadi universitas pertama yang terpilih untuk menjadi percontohan sistem tersebut  di kawasan Asia Tenggara. Budi juga menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas telur yang dihasilkan oleh ayam umbaran berbeda jauh dengan ayam yang dipelihara menggunakan sistem kandang baterai.

Selain bekerja sama dengan Global Food Patners, UGM juga menggandeng Universitas Aeres, Belanda untuk memberikan pelatihan. Hal ini dikarenakan Universitas Aeres telah memiliki pengalaman dalam program peternakan dengan sistem umbaran. (NDV)

PPSKI DESAK PEMERINTAH SERIUS DALAM PENANGANAN PMK

PPSKI mendesak pemerintah agar serius menangani wabah PMK

Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kembali merebak di Indonesia tentunya sangat meresahkan terutama bagi peternak sapi dan kerbau. Keresahan yang dirasakan oleh peternak kemudian diejawantahkan oleh Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) untuk memberikan masukan dan mendesak pemerintah agar serius dalam menanggulangi wabah PMK.

Mereka juga menggelar diskusi publik bertajuk "Peternak Bertanya Pakar Menjawab : PMK & Penanganannya" secara luring dan daring melalui aplikasi Zoom Meeting pada Rabu (8/6) . Acara tersebut dihadiri oleh para peternak dan juga wartawan dari berbagai media nasional. Bertindak sebagai narasumber yakni Dr Drh Sofjan Sudrajat selaku mantan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Dalam diskusi tersebut Sofjan menceritakan sejarah masuknya PMK ke Indonesia dan upaya yang dilakukan dalam mengendalikan wabah PMK hingga akhirnya Indonesia dinyatakan bebas PMK pada tahun 1990.

"Sejarahnya panjang, dulu saya berjuang bersama rekan - rekan yang lain dalam menanggulangi wabah, sekarang karena ulah manusia - manusia yang serakah negara ini harus menanggung akibatnya. Saya padahal sudah mewanti - wanti akan hal ini sejak jauh hari, sekarang akhirnya kejadian juga kan," kata dia.

Berdasarkan pengalamannya Sofjan membeberkan tindakan yang harus dilakukan dalam menanggulangi wabah PMK mulai dari melakukan stamping out, vaksinasi massal, pengawasan lalu lintas ternak, isolasi, serta disinfeksi.

"Stamping out atau depopulasi selektif ini perlu dilakukan agar mengurangi jumlah virus yang ada di alam. Kalaupun tidak bisa, setidaknya pemerintah bisa coba program lain yang kira - kira mengurangi kerugian peternak, kompensasi ini mau enggak mau harus ada," tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PPSKI Drh Nanang Purus Subendro menyatakan bahwa pihaknya juga telah memberi masukan pada pemerintah terkait program kompensasi kerugian akibat wabah PMK.

"Misalnya begini, kami kumpulkan semua ternak yang terinfeksi di tiap daerah yang positif PMK, kita lakukan slaugther tapi kemudian dagingnya ditampung oleh BULOG atau lembaga pemerintah lain untuk disimpan dan dijual kemudian hari. Minimal ini mengurangi kerugian peternak akibat PMK," kata Nanang.

Pasalnya akibat PMK Nanang kerap mendapatkan laporan dari peternak dimana harga sapi dan kerbau di pasaran anjlok. Selain itu banyak pihak yang tidak bertanggung jawab yang memancing di air keruh dengan menawar harga ternak jauh di bawah standar.

"Kemarin ada laporan di Jabar, Jatim, Jateng ada irang bawa truk keliling peternakan, mereka menawar harga ternak sampai 50% dibawah harga standar, ini kan peternak jadi rugi. Selain itu mobilitas mereka dari kandang yang satu ke yang lain juga berpotensi menyebarkan virus PMK," tandasnya.

Masukan Bagi Pemerintah

Pada hari itu PPSKI juga memberikan beberapa poin masukan kepada pemerintah pusat dan peternak terkait mewabahnya PMK sebagaimana tertulis di bawah ini : 

1. Mendorong Pemerintah Pusat untuk segera menetapkan status “Kejadian Luar Biasa” atas meluasnya penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku di wilayah Negara Republik Indonesia.

2. Penyebaran dan dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Indonesia semakin meluas, sejak dinyatakan wabah di 4 kabupaten di Propinsi Jawa Timur dan 1 kabupaten di Propinsi Aceh ( SK Mentan No. 403 & 404 tanggal 9 Mei 2022 ), per tanggal 21 Mei 2022 penyebaran penyakit ini sudah mencapai 82 kabupaten / kota di 16 Provinsi dengan jumlah ternak terdampak 5,4 juta ekor dan 20,7 ribu ekor ternak sakit (Data Ditjen Peternakan & Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI). Data tersebut belum termasuk fakta-fakta dilapangan dimana banyaknya ternak sapi yang dipotong oleh para peternak setelah melihat ciri-ciri ternaknya terkena PMK tanpa melakukan test PCR (pemotongan ternak diduga PMK sebelum terkonfirmasi positif PMK). Untuk ternak sapi perah, PMK ini berakibat terhadap turunnya produksi susu secara drastis (mencapai 80%) yang berakibat hilangnya pendapatan harian para peternak sapi perah. Pulau Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah & Jawa Timur) merupakan propinsi utama ternak perah dimana saat ini sudah terlihat turunnya produksi susu harian secara total dari ketiga propinsi tersebut.

3. Mendorong terciptanya komunikasi yang kondusif dan terkontrol didalam pengaturan kebijakan dalam penanganan penyakit Kuku dan mulut, sehingga aktualisasi dan opersional di lapangan dapat di jalankan dengan baik dan terarah, hal ini sebagai upaya mengatasi kebingungan para peternak dalam memahami dan menjalankan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, khususnya pengaturan lalu lintas ternak serta produk turunannya, serta dalam rangka mempersiapkan hari raya Qurban dan Pelaksanaan hari raya Qurban nantinya. 

4. Meminta kepada Pemerintah untuk mempercepat proses pengadaan Vaksinasi PMK, karena Vaksinasi terhadap hewan yang masih sehat dari kemungkinan tertular PMK, merupakan hal yang harus segera dilaksanakan, belum tersedianya vaksin PMK di Indonesia dan terbatasnya kemampuan pemerintah dalam pengadaan vaksin PMK dalam jumlah yang mencukupi dan waktu yang cepat, membuat pemerintah harus melakukan terobosan kebijakan sehingga setiap waktu yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif untuk pengadaan vaksin PMK ini. Pihak Industri Peternakan yang juga memiliki resiko ternaknya tertular PMK (Industri Peternakan Sapi Potong, Sapi Perah, Domba/Kambing dan Industri Peternakan Babi) dapat dilibatkan secara langsung dalam penyediaan vaksin ini, termasuk keterlibatan Industri ini dalam membantu vaksinasi untuk para peternak di sekitar lokasi industrinya. 

5. Meminta kepada Pemerintah agar ketersediaan dana anggaran yang cukup besar baik dalam pengadaan vaksin PMK dan pelasanaan vaksinasinya (80% dari populasi ternak beresiko PMK), operasional pengawasan lalu lintas ternak, tindakan pengobatan, bantuan supporting untuk para peternak yang terdampak PMK, tindakan ganti rugi jika terjadi pemusnahan, permasalah kredit KUR akibat ternaknya terkena PMK dan lain-lain. Karena masih dimungkinkan bahwa PMK ini semakin meluas dan penanganannya dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

6. Mendorong terbentuknya kelembagaan Satuan Tugas Penanganan PMK yang terkoordinasi secara terpusat, layaknya penanganan pemerintah saat pandemic Covid19, atau wabah Flu Burung (Avian Influenza) yang lalu.

7. Meminta kepada pemerintah untuk memberhentikan Importasi Daging Kerbau dari India. 

8. Mendorong Pemerintah untuk melakukan “Stamping Out” dengan pemotongan bersyarat melibatkan BULOG,dan BULOG beralih fungsi menjadi penampung daging dari sapi korban dari penyakit PMK,  karena saat ini Sebagian Rumah Potong Hewan dipenuhi oleh ternak yang akan dipotong paksa akibat terkena penyakit mulut dan Kuku. 

9. Menghimbau kepada para Peternak sapi dan Kerbau di Indonesia agar lebih memperketat Biosecurity di masing-masing Kandang, agar ternak sapi dan kerbau yang masih sehat dapat terhindar dari penyakit mulut dan kuku. 

10. Menghimbau kepada Para Peternak sapi dan Kerbau di Indonesia agar segera melaporkan kepada petugas di daerah masing-masing apabila ditemukan gejala penyakit PMK di daerahnya (CR)

PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA SAPI: BAGAIMANA TEKNIK ELIMINASINYA? (BAGIAN 1)

Oleh : Prof. Dr. Mochamad Lazuardi, Drh. M. Farm

Penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi mewabah di Indonesia pertengahan April 2022, dan kita ketahui bersama bahwa penyakit tersebut sejak tahun 1983 tidak pernah muncul di Indonesia. Dengan ketidakmunculan penyakit tersebut, Indonesia mendapat predikat bebas PMK oleh World Organization for Animal Health yaitu suatu lembaga Internasional mengkontrol semua aspek persoalan penyakit hewan serta pengobatannya di seluruh Dunia.

Penyebab PMK & Gejala Tertular

Kita ketahui bersama bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh mikroba terkecil di sebut virus dengan ukuran antara 5.2 Angstrum (Å) atau sekitar 0,52 nanometer atau memiliki struktur molekul pentamer. Virus tersebut merupakan utaian pasangan basa tunggal dan hidup subur di sel hidup terutama yang berinti sel (eukaryot). Oleh sebab itu kasus gambaran klinik terhadap sapi penderita PMK adalah luka melepuh pada tempat-tempat mukosa mulut lidah bibir dan bagian tenggorokan. Luka-luka melepuh tersebut juga ditemui pada pada kulit sekitar kuku dan sela-sela kuku. Pada keadaan demikian sapi akan terlihat mengeluarkan liur serta sambil berjalan pincang. Dampak PMK tersebut sangat merugikan, karena tingkat penyebaran cukup cepat dan resiko kematian sangat tinggi. Bila menyerang pada sapi perah atau sapi bunting, maka resiko penurunan produksi serta resiko kematian induk akan sangat tinggi. Kematian terjadi akibat penurunan nafsu makan secara tiba-tiba dan sapi selalu tiduran akibat luka melepuh pada bagian kuku. Terdapat catatan khusus untuk terhadap penyakit PMK yaitu 1. PMK tidak menular pada manusia, 2. Tidak semua hewan dapat tertular PMK (hanya khusus untuk kelompok ruminan dan babi), 3. Dari kelompok hewan ruminan yang paling tak tahan adalah sapi dan kerbau. 4. Dugaan kuat penyebaran virus dapat dilakukan oleh hewan antara, 5. PMK tak diturunkan oleh induknya melalui janin.

Upaya Pencegahan Penyebaran PMK

PMK merupakan salahsatu penyakit yang mutlak harus dikendalikan dan umumnya di negara-negara maju dilakukan isolasi ketat. Bahkan ternak yang telah menderita PMK, dilakukan pemusnahan total. Sedemikian ketat perlakuan terhadap PMK, sehingga di negara-negara dengan kriteria bebas PMK masalah import ternak atau produk apapun dari ternak asal wilayah tidak bebas PMK adalah dilarang. Indonesia sebetulnya telah tergolong bebas PMK setelah berupaya bertahun-tahun dengan bantuan negara-negara maju untuk menghasilkan vaksin PMK (saat itu galur yang dipakai adalah tipe O java 83). Kota Surabaya dipilih untuk membangun pabrik vaksin PMK berbantuan negara Australia dengan teknologi produksi vaksin suspensi berbasis media ginjal anak hamster dan di inkatifkan menggunakan Asetil etilen imin atau formalin.

Secara teoritik strategi jitu pencegahan penyakit ini adalah mengidentifikasikan apakah sifat penyakit tersebut dapat dieliminir menggunakan antibodi hasil vaksinasi dengan virus serotipe tunggal atau kros-serotipe. Misalkan bila serotipe tunggal yaitu virus PMK galur O java 1983, maka pengebalan tubuh bagi sapi yang belum tertular hanya dapat dilakukan melalui antibodi spesifik PMK galur O java 1983. Kondisi tersebut sangat riskan mengingat rentang upaya kemunculan antibodi dirasakan sangat sempit yaitu hanya dapat dilakukan melalui vaksinasi serotipe tunggal. Akan lebih menguntungkan bila PMK dapat dieliminasi melalui kemunculan antibodi PMK hasil vaksinasi menggunakan galur vaksin kros-serotipe. Misal upaya perangsangan antibodi menggunakan virus PMK non-galur O (misal virus PMK galur Asia), dapat menghasilkan antibodi PMK dengan kemampuan mengeliminasi infeksi PMK yang menyerang berbagai galur. Ternyata dari laporan penelitian tahun 2017 studi didalam laboratorium diketahui bahwa penyakit PMK ini bersifat serotipe tunggal sehingga bagi sapi sehat harus muncul antibodi sesuai galur wabah yang ada. Namun dengan perkembangan IPTEK, mudah-mudahan melalui rekombinant atau cara lain menjadikan kandungan vaksin mampu menghasilkan antibodi semua galur infeksi.

Pemilihan Bahan Pensucihama

Pemilihan bahan pensucihama atau antiseptik-disinfektansia (AD), sangat penting dipahami mengingat virus PMK hanya dapat dimatikan melalui 5 hal yaitu (1) penggumpalan protein melalui AD. Selanjutnya (2) merusak susunan tubuh virus melalui penurunan pH media hidup, (3) merusak susunan tubuh virus melalui pemanasan. Demikian pula (4) merusak susunan pasangan basa virus melalui radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang lembayung ultra. Terakhir adalah (5) hilangnya inang sel hidup tempat virus berkembang. Dari ke lima hal tersebut yang dapat dilakukan oleh pemilik ternak adalah melakukan pensucihamaan semua kandang maupun perlengkapan tempat sarana prasarana perkandangan.

Terdapat 3 hal yang perlu dipilih dan dipilah mengenai bahan-bahan pensucihamaan yaitu (1) bahan AD untuk diri sapi sehat dan atau sapi penderita, (2) perangkat pensucihamaan untuk pakan dan minum atau suplemen lain. Demikian pula (3) bahan AD untuk perangkat kandang dan sarana prasarana pemelihara sapi. Pensucihamaan untuk diri sapi penderita maupun sapi sehat memiliki kriteria obat-obat dengan kera sebagai antivirus. Dengan demikian bahan antivirus tersebut tidak merusak kuman flora normal di tubuh sapi. Contoh antivirus potensial untuk membunuh virus PMK adalah larutan boorwater, larutan yodium tincture 2-3%, larutan kombinasi spritus citricum dengan boorwater pada kadar 2-3 %. Prinsip antiseptik yang digunakan untuk pengobatan luka melepuh pada sapi tidak boleh mengakibatkan racun terhadap tubuh sapi. Dengan demikian cara penggunaan yang paling tepat adalah melalui usapan menggunakan kapas atau kassa pada daerah melepuh. Perangkat pensucihamaan pakan dan minum dapat dilakukan menggunakan sinar lembayung ultra dan cukup disinari 10-20 menit. Pada sistem penyinaran radiasi tersebut yang harus diperhatikan adalah tidak boleh terkena manusia maupun ternak sapi mengingat dampak sinar dapat menimbulkan kanker kulit.

Perangkat pensucihamaan untuk kandang dan prasarana - sarana kandar terbagi menjadi tiga bagian yaitu (a) perangkat untuk mengusir lalat dan hewan kecil lain yang diduga sebagai hewan perantara. Selanjutnya (b) AD ramah lingkungan untuk pensucihamaan kandang perangkat sarana prasarana kandang. Terakhir (c) AD untuk pekerja perawat sapi. Perangkat pengusir lalat dan hewan kecil lain dapat menggunakan pensucihamaan model fumigasi dengan terlebih dahulu menyingkirkan ternak. Perangkat fumigasi dilakukan menggunakan larutan formalin yang diberi serbuk kalium permanganat dan dilakukan pemanasan sampai mendidih. Uap yang dihasilkan mampu mengusir semua hewan-hewan kecil yang selalu berada pada kandang sapi. Bahan kimia AD untuk membersihkan kandang serta perangkat sarana prasarana kandang dapat menggunakan bahan-bahan seperti chlorhexidine, larutan kalium permanganti 1/4000, asam kuat seperti asam klorida. Bahan kimia AD untuk para pekerja perawat kandang dan sapi dapat menggunakan AD yang dapat dibeli di apotik-apotik seperti rivanol, alkohol 70%, Gamexan, atau sabun hijau antiseptik. Perlu diketahui bahwa virus PMK tidak dapat di bunuh dengan obat-obat anti mikroba seperti antibiotika.

Strategi Pemotongan Rantai Penularan

Terdapat teknik pemotongan rantai penyebaran virus melalui 8 cara yaitu (a) memutus lalulintas ternak yang beresiko menular dari wilayah satu dengan wilayah lainnya. Selanjutnya (b) melakukan monitoring kewaspadaan lalu lintas manusia yang aktif bekerja di ternak sapi sumber penularan. Melakukan (c) kontrol ketat produk olahan asal hewan (PSAH) hasil ternak sapi dan kerbau asal wilayah wabah. Menempatkan (d) lampu sinar lembayung ultra pada semua lingkungan luar kandang terhadap wilayah-wilayah yang belum tertular wabah PMK. Lampu-lampu tersebut tetap nyala sepanjang malam hari, dengan demikian akan memberikan protektif bagian wilayah kandang. Memberikan (e) asupan vitamin dan suplement tinggi terhadap ternak-ternak yang belum tertular. Memberlakukan (f) management pemeliharaan ternak higienis dan terkontrol berbasis kartu kendali terhadap semua aspek beresiko penyebab penularan PMK termasuk pemberian vaksinasi. Melakukan (g) isolasi ketat terhadap ternak penderita dan melaporkan ke dinas terkait yang ada di wilayah tersebut agar dilakukan pengamanan secara ketat. Tetap (h) memandikan ternak secara teratur dengan penambahan antiseptik untuk mengeliminir virus PMK.

Pada proses perawatan dan produksi peternakan modern, teknologi yang digunakan untuk memutus rantai penularan tidak hanya menggunakan bahan kimia namun uga menggunakan gelombang suara ultrasonik. Demikian pula teknik pensucihama pada air sebagai sumber mandi dan pembersih kandang dilakukan pemanasan terlebih dahulu serta dilakukan filtrasi Diantara dua teknik tersebut yangpaling murah adalah menggunakan teknik air terlebih dahulu, sehingga air yang digunakan sudah melalui proses sterilisasi meskipun belum bebas dari zat protein pengotor penyebab panas tubuh (pirogen).

Manfaat Sinar Matahari

Peternak sapi dan kerbau di Indonesia, beruntung hidup dilingkungan tropis, sehingga dengan adanya sinar matahari akan mendukung pemutusan infeksi virus PMK pada ternak. Perlu diketahui dengan adanya sinar matahari menyebabkan liur sapi baik sehat atau sakit secara otomatis akan mengering, pada keadaan demikian sel inang tempat hidup virus akan musnah. Bila cara kebiasaan membiarkan ternak sapi makan rumput di padang luas sambil berpanas-panasan maka akan menyebabkan keringnya bekas luka disekitas mulut tempat sumber sel hidup virus PMK. Di negera-negara empat musim, terkadang dapat kita lihat saat musim panas tiba maka sekumpulan ternak sedang merumput padang penggembalaan seharian. Teknik tersebut hendaknya di budidayakan oleh para peternak sapi kerbau sebagai salahsatu upaya memutus rantai penularan virus PMK. Selama dilakukan penggembalaan pada padang penggembalaan, yang perlu diperhatikan adalah adanya hewan-hewan lain seperti burung yang sering hinggap di tubuh ternak. Para peneliti menyatakan bahwa beberapa burung disinyalir membawa virus-virus tertentu yang dapat menyerang ternak dan tidak menutup kemungkinan adalah virus PMK.

*Penulis adalah: Dosen Ilmu Farmasi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Ex President Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI) 2009-2017.

PERMINTAAN BESAR UNTUK AYAM DI NIGERIA

Seperti halnya di negara lain, ayam sangat banyak diminati di Nigeria. Namun, karena produksi hampir tidak memenuhi permintaan dan sangat sulit bagi perusahaan untuk mengimpor ayam secara legal, ayam itu diselundupkan ke Nigeria dalam jumlah besar.

“Pasar ayam diperkirakan 1,4-1,6 triliun kg (1,095 miliar unggas) per tahun saat ini, dan kapasitas kami saat ini sekitar 11 miliar unggas per tahun,” jelas Kenneth Obiajulu, CEO dan salah satu pendiri Agricorp International, perusahaan produksi rempah-rempah yang didirikan pada tahun 2018 yang juga telah memberdayakan lebih dari 5.000 petani kecil untuk meningkatkan pendapatan mereka sekitar 20% sambil memberi mereka akses pasar yang lebih baik.

Pada 2019, Bank Sentral Nigeria memperkirakan lebih dari 1,2 juta ton daging unggas diselundupkan ke Nigeria dari Republik Benin. Namun, dari semua negara Afrika, Nigeria adalah produsen telur terbesar dengan produsen ayam terbesar kedua.

Agricorp International memutuskan untuk melakukan sesuatu tentang kekurangan ini dan menginvestasikan lebih dari 20 miliar neira Nigeria (US$ 48,2 juta) dalam produksi, pemrosesan (dan akhirnya, ekspor) ayam. Obiajulu memimpin, memanfaatkan pengalamannya bekerja untuk Yayasan Bill & Melinda Gates, Yayasan Rockefeller, Bank Dunia, Heineken dan banyak lagi.

“Perusahaan kami sangat 'besar' dalam memengaruhi kehidupan dan komunitas. Kami melihat defisit dan ingin berinvestasi,” kata Obiajulu. “Kami melihat peluang untuk dapat mempekerjakan setidaknya 100.000 orang secara langsung dan tidak langsung, jadi kami telah menyusun tesis investasi untuk ternak dengan unggas untuk memulai.”

Pada bulan September, Agricorp mendapatkan sejumlah dana untuk membangun bisnis unggasnya dan memperluas bisnis rempah-rempahnya dan secara aktif mengejar lebih banyak lagi. (via poultryworld)

PETERNAKAN UNGGAS ORGANIK SEDANG MENINGKAT DI INGGRIS

Tanah yang melalui periode konversi 2 tahun menjadi organik naik 34% tahun lalu dibandingkan dengan tahun 2020, menurut statistik pemerintah Inggris.

Namun, angka tersebut didasarkan pada area yang relatif rendah dari lahan dalam konversi – area pertanian organik di Inggris kurang dari 3% dibandingkan dengan rata-rata UE lebih dari 9%.

Statistik dihitung dengan pemikiran baru-baru ini dari Humphrey Feeds and Pullets, yang mengatakan karena permintaan publik akan telur organik terus tumbuh, ia menerima semakin banyak pertanyaan dari produsen telur ayam yang ingin menemukan ransum organik yang tepat untuk ayam.

Berita itu menggembirakan Charles Kerr, CEO Organic Farmers and Growers, yang mengatakan ada keinginan kuat dari farmer untuk beralih ke praktik agroekologi.

RUSIA MEMPERKIRAKAN PENINGKATAN EKSPOR UNGGAS DAN TELUR MESKIPUN ADA SANKSI

Serikat produsen unggas Rusia, Rosptitsesoyuz, memperkirakan kenaikan 18,1% dalam ekspor daging unggas dari Rusia pada 2022 dibandingkan dengan 2021, menjadi 360.000 ton, Galina Bobyleva, direktur umum Rosptitsesoyuz, mengatakan selama konferensi Peternakan Rusia pada 19 Mei.

Pada tahun 2030, ekspor daging unggas diharapkan mencapai 638.000 ton, tambahnya.

Ekspor telur Rusia juga akan meningkat menjadi 570 juta unit pada 2022, dibandingkan dengan 506 juta unit tahun lalu. Pada tahun 2030, angka ini diproyeksikan melonjak menjadi 850 juta unit, kata Bobyleva.

Di sisi lain, impor unggas Rusia diperkirakan akan tetap relatif stabil, pada tahun 2022 mencapai 245.000 ton dibandingkan dengan 240.000 ton pada tahun 2021. Pada tahun 2030, diperkirakan turun menjadi 230.000 ton, kata Bobyleva.

AGAR TERHINDAR DARI PENYAKIT PERNAPASAN

Kandang terlalu padat dapat meningkatkan kemungkinan infeksi penyakit pernapasan. (Foto: Dok. Infovet)

Mengingat pentingnya sistem dan pencegahan penyakit pernapasan, tentunya tidak boleh menganggap remeh. Apalagi di tengah ketidakpastian harga produk perunggasan saat ini, penting rasanya menjaga pernapasan ayam agar peternak juga bisa “bernapas” panjang.

Dalam dunia medis ada tiga organ vital yang dapat menjadi penyebab kematian hewan maupun manusia, yakni otak, jantung dan paru-paru. Jika salah satu diantara ketiga sistem tersebut tidak bekerja dengan baik, bisa berujung kematian. Pada unggas komersil, pernapasan merupakan sistem yang kerap kali bermasalah dan rentan.

Alasan Penyakit Kerasan
Penyakit pernapasan sering terjadi dan cenderung berulang. Peternak yang sudah lama harusnya paham akan hal ini, karena beternak ayam pedaging maupun petelur yang kini pertumbuhan dan produksinya cepat, dibutuhkan manajemen yang baik, biosekuriti yang terjaga dan sebagainya.

Namun, perkembangan genetik yang cepat tidak diiringi penerapan cara beternak yang baik. Sehingga impaksinya dapat terlihat dari indeks performa dan hasil panen yang kurang memuaskan, serta mudahnya ayam terserang penyakit yang mengakibatkan mortalitas tinggi serta kerugian besar.

Drh Hari Wahjudi, dari PT Boehringer Ingelheim yang juga praktisi perunggasan, mengakui sudah kenyang melihat pemeliharaan ala kadarnya yang dilakukan peternak mitra. Padahal pihak penyedia (inti) sudah melakukan berbagai penyuluhan, seminar teknis dan lainnya dalam mendukung peternak plasma.

“Kadang kita sudah sampe berbusa ngomongnya kalau di lapangan, kita menggebu-gebu kasih materi, pas di kandang ternyata tidak diimplementasi oleh peternak,” tukas Hari. Kendati demikian, ada juga peternak yang benar-benar menjalankan manajemen dengan baik. Jika melihat itu, semangat Hari pun kembali.

Walau begitu, ia juga kerap dikomplain peternak mitra terkait performa DOC, pakan dan sapronak, namun setelah ditelaah lebih lanjut ternyata bukan disebabkan oleh hal tersebut, melainkan manajemen beternaknya yang memang kurang baik. Jika sudah begitu wajar apabila hasil yang dituai tidak optimal dan keuntungan yang didapat tidak maksimal.

Harus Mencegah
Jangan lupakan bahwa sebelum tahun 2003 Indonesia adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2022. (CR)

NAPINDO SELENGGARAKAN PRE LAUNCH INDO AGRITECH 2022 BERSAMA MAJ

Dr Dede Sulaeman ST MSi mempresentasikan topik jagung (Foto: Napindo)

Bertempat di Ruang Meeting Harmony, Hotel Harper Jakarta, PT Napindo Media Ashatama menyelenggarakan Pre-launch Indo Agritech 2022 Expo & Forum pada Rabu (30/5). Dalam acara tersebut, PT Napindo sekaligus mengadakan Mimbar Sarasehan & Forum Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ). 

Yulisha Mekarsari yang akrab disapa Lisa Rusli selaku Senior Project Manager PT Napindo Media Ashatama menyampaikan pagelaran Indo Agritech 2022 Expo & Forum bekerjasama dengan Masyarakat Agribisnis Jagung yang seharusnya diselenggarakan tahun 2020 mengalami penundaan. 

“Karena situasi pandemi COVID-19 tidak memungkinkan melangsungkan kegiatan pameran, sehingga Indo Agritech diundur dan akan digelar pada bulan Juli 2022,” kata Lisa.

Lisa Rusli, Senior Project Manager PT Napindo menyampaikan presentasi terkait pameran Indo Agritech (Foto: Napindo)

Lebih lanjut Lisa menjelaskan, Indo Agritech adalah bagian dari kegiatan pameran Indo Livestock, Indo Feed, Indo Dairy, Indo Vet, Indo Fisheries 2022 Expo & Forum.

“Indo Livestock sendiri sudah kami selenggarakan sejak tahun 2002. Seiring berjalannya waktu, di mana industri pertanian yang berkesinambungan dengan Indo Livestock cukup bertumbuh sehingga pada tahun 2008 sampai tahun 2019 kami melihat bahwa demand di industi pertanian meningkat di dalam kegiatan livestock,” jelas Lisa. 

Olah karenanya, PT Napindo Media Ashatama sebagai penyelenggara berinisiatif membuat kegiatan pameran Agritech yang bersinergi dengan Indo Livestock. 

Pada acara pre-launch Indo Agritech ini hadir Ketua Umum MAJ Dr KH Eman Suryaman MM dan Dr Dede Sulaeman ST MSi, Analis Prasarana dan Sarana Ahli Madya Ditjen PSP Kementan. (NDV)

INDO LIVESTOCK 2022: OPTIMISME BANGKITKAN GAIRAH DUNIA PETERNAKAN, PERTANIAN, DAN PERIKANAN

Presiden Jokowi mengunjungi Pameran Indo Livestock 2018 Expo&Forum (Foto: Dok. Infovet)

Pagelaran terbesar berskala internasional Indo Livestock akan kembali diadakan pada 6-8 Juli 2022 mendatang. Pameran Indo Livestock yang nantinya berlangsung di di Jakarta Convention Center (JCC) digelar bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agritech, Indo Vet, Indo Fisheries 2022 Expo&Forum. 

Selama tahun 2020 hingga tahun 2021, industri pameran di Tanah Air mengalami penurunan yang signifikan akibat pandemi COVID-19. “Dengan digelarnya pameran integrated ini diharapkan turut menjadi bagian dari kebangkitan industri MICE di Indonesia dan berperan efektif dalam pemulihan ekonomi nasional sekaligus dapat menggairahkan kembali dunia peternakan, pertanian, dan perikanan,” tutur Arya Seta Wiriadipura, Managing Director PT Napindo Media Ashatama dalam keterangan resminya, Senin (30/5).  

Mengusung tema “Sinergitas Menjaga Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Menuju Swasembada Nasional” Indo Livestock 2022 Expo&Forum menjadi lebih berbobot dengan ditampilkannya serangkaian acara seperti Sustainably Integrated Animal Industry Forum mengangkat tema “PMK-Momentum Mengubah Strategi Pembangunan Peternakan” yang berlangsung selama dua hari, 7-8 Juli 2022. 

Selain itu akan diselenggarakan pula Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), Seminar Finansial Inklusif dan MUNAS Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ), dan puluhan technical product  presentation

Pameran juga akan diikuti oleh lebih dari 18 negara termasuk 4 negara paviliun yaitu Indonesia, Belanda, Korea Selatan, dan Tiongkok. (INF)

PENURUNAN PRODUKSI UNGGAS DI INGGRIS

Margin yang ketat untuk ayam petelur, masalah flu burung yang sedang berlangsung dan dampak Covid-19 telah menyebabkan penurunan produksi unggas Inggris musim ini.

Produksi pakan unggas menyumbang 45% dari total jumlah pakan ternak yang diproduksi di Inggris Raya, menjadikannya sektor terbesar dibandingkan dengan sapi (29%), babi (14%) , domba (6%) dan lainnya (6%).

Dengan permintaan pakan ternak yang mencapai lebih dari 50% dari total konsumsi domestik sereal Inggris, kepentingannya jelas, menurut Badan Pengembangan Pertanian dan Hortikultura (AHDB). Meskipun makanannya bervariasi, makanan unggas terdiri dari sekitar 65% sereal, dengan gandum sebagai mayoritasnya.

AHDB mengatakan margin untuk produsen petelur menjadi semakin ketat, dengan meningkatnya biaya pakan, energi dan tenaga kerja, dan sedikit atau tidak ada peningkatan harga pembelian dari pengecer sebagai kompensasi. Organisasi tersebut mengatakan bahwa lebih dari 70% akan meninggalkan produksi telur dalam waktu satu tahun jika kenaikan harga dari pengecer tidak terjadi.

HALAL BIHALAL PDHI : PERKUAT SINERGI ANTAR STAKEHOLDER UNTUK ATASI PMK

Halal Bihalal PDHI bersama stakeholder di bidang kesehatan hewan


Masih dalam suasan Idul Fitri di Bulan Syawal 1443 H, PB PDHI mengadakan acara halal bihalal sekaligus silaturahmi bersama stake holder di bidang kesehatan hewan. Acara tersebut digelar di Hotel Grand Whiz Jakarta pada Minggu (29/5) yang lalu.

Drh Prabowo Respatiyo Caturroso selaku pembina PDHI mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para stakeholder dalam acara tersebut. Ia juga sedikit menyinggung terkait wabah PMK yang masuk kembali ke Indonesia setelah sekian lama menghilang. Menurutnya ini merupakan PR bagi para stakeholder di dunia peternakan, dan bukan saat yang tepat untuk saling menyalahkan satu sama lain.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PB PDHI Drh Muhammad Munawarroh membagikan sedikit pengalamannya ketika berkunjung ke Negeri Samba beberapa waktu yang lalu. Kata dia Brazil merupakan salah satu negara yang berhasil "hidup berdampingan" dengan PMK.

"Brazil memiliki dataran yang sangat luas, makanya mereka mengandalkan peternakan dan pertanian sebagai sektor andalan. Mereka juga serius menanganinya, makanya harga daging sapi di sana murah karena mereka sangat efisien dalam beternak," tuturnya.

Ia melanjutkan, untuk dapat hidup berdampingan bersama PMK, program vaksinasi yang baik dan efisien juga harus diterapkan. Meskipun belum bebas PMK, Brazil dinilai Munawarroh sangat concern dalam mencegah penyebarannya melalui program vaksinasi.

"Mereka memvaksin ternaknya rutin, vaksinasi PMK dilakukan dua kali dalam setahun dan booster diterapkan. Kita juga harus bisa seperti itu, baik dengan vaksin impor maupun vaksin yang kita buat sendiri nanti," tuturnya.

Setelah plesiran ke Brazil Munawarroh mengatakan bahwa saat ini PDHI sedang menyusun rekomendasi untuk penangan PMK kepada pemerintah. Nantinya rekomendasi PDHI akan langsung diberikan kepada Kementerian Sekretaris Negara agar segera dieksekusi secepatnya oleh presiden.

"Mudah - mudahan dalam waktu dekat segera selesai, dibaca oleh Pak Mensesneg, lalu segera dilakukan penanganan yang tepat dan efisien, mengingat PMK ini sangat menyeramkan dampaknya bagi ekonomi suatu negara, maka dari itu kita butuh bergerak cepat dan efisien. Kita juga harus meiliki kekompakan dan sinergi antar lembaga yang baik agar wabah ini bisa segera angkat kaki dari Inodnesia, atau minimal kita bisa hidup berdampingan dengan mereka tanpa saling menggangu," tukasnya. (CR)

SAPIMOO AJAK PETERNAK MENGENALI DAN MENCEGAH PMK

Drh Deddy dan Dr Ivan berdiskusi dalam talkshow 

Wabah PMK yang merebak belakangan ini semakin meluas, berdasarkan data terakhir PMK telah menginfeksi ternak di 18 provinsi di Indonesia. Agar dapat lebih memahami dan mencegah penularan PMK sekaligus mengedukasi masyarakat, Platform digital kesehatan hewan dan reproduksi sapi, Sapimoo mengadakan Talkshow online bertajuk "Apakah PMK Akan Menjadi Pandemi Peternakan Indonesia?". Acara tersebut digelar melalui daring Zoom Meeting pada Senin (30/5).

Narasumber yang dihadirkan yakni Drh Deddy Fachruddin Kurniawan selaku dokter hewan praktisi sapi perah dan Ketua PDHI Jawa Timur sekaligus founder sapimoo.com. Selain itu hadir juga Dr Ivan Sini sebagai praktisi kesehatan.

Drh Deddy menjelaskan secara detail mengenai PMK mulai dari sifat virus, cara penularan, gejala klinis yang ditemui bahkan sampai kepada kerugian besar yang dialami oleh suatu negara terkait wabah PMK.

"Ini penyakit yang sangat berbahaya, memang tidak zoonosis, tetapi kerugian ekonominya sangat besar bahkan untuk suatu negara. PMK ini penyakit sapi yang paling ditakuti oleh berbagai negara di seluruh dunia," tuturnya.

Sementara itu Dr Ivan membandingkan Covid-19 dengan PMK. Menurutnya ini sama seperti ketika wabah Covid-19 datang ke Indonesia beberapa tahun yang lalu dimana ada dua aspek yang harus dipilih sebagai prioritas yakni kesehatan dan ekonomi.

"Ini sangat mirip dengan Covid-19 nantinya seakan - akan harus ada yang "ditumbalkan", tapi kita enggak bisa begitu, keduanya ini harus kita keep supaya seimbang, kalau salah dalam mengambil kebijakan maka dua - duanya kita akan rugi," kata dia.

Berkaca dari masalah Covid-19 juga, Dr Ivan menyadari juga bahwa tenaga medis baik di bidang kesehatan manusia dan hewan terbatas, pastinya juga kita akan kewalahan dalam menghadapi suatu wabah, oleh karenanya sangat penting adanya sosialisasi sehingga minimal peternak dapat mengakses kebutuhan kesehatan hewannya secara online akibat keterbatasan tenaga medis.

Dalam acara tersebut juga disebutkan oleh Drh Deddy bahwa Sapimoo hadir sebagai salah satu solusi bagi masyarakat terutama peternak agar dapat melakukan konsultasi keswan dan reproduksi terutama pada sapi. 

Nantinya masyarakat dapat mengakses sapimoo.com lalu kemudian dapat berkonsultasi dengan dokter hewan terkait kesehatan hewan baik PMK, kesehatan reproduksi, maupun penyakit lain. Saat ini kata Drh Deddy, Sapimoo.com masih dapat diakses dalam bentuk website, namun begitu kedepannya dalam waktu dekat sapimoo.com mungkin akan menjadi aplikasi smartphone yang makin memudahkan masyarakat untuk mengaksesnya. 

Bagi masyarakat atau peternak yang hendak berkonsultasi mengenai aspek keswan dan reproduksi silakan akses www.sapimoo.com atau dapat menghubungi sapimoo.com melalui aplikasi WhatsApp di nomor 0811960074. (CR)

WEBINAR DAMPAK DAN ANTISIPASI MASUKNYA PMK BAGI PETERNAKAN BABI

 


“Sampai saat ini, peternakan babi kita tidak atau belum kena penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun demikian, kiita tetap harus waspada,” tandas Ketua Umum Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Dr Sauland Sinaga SPt Msi.

Pernyataan tersebut disampaikan Sauland dalam sesi akhir webinar nasional “Dampak dan Antisipasi Masuknya PMK di Indonesia Bagi Peternakan Babi” yang diadakan Jumat (27/5) secara daring.   

Pembicara webinar yaitu Dewan Pakar Bidang Kesehatan Hewan AMI, Drh Tri Satya Naipospos Hutabarat MPhil PhD yang berhalangan hadir, pemaparan presentasi diwakili oleh Drh Yohanes Simarmata MSc selaku Anggota Dewan Pakar Bidang Kesehatan Hewan AMI dan Ketua AMI Nusa Tenggara Timur.

Dipaparkan Yohanes diantaranya mengenai wabah PMK yang melanda peternakan babi yang terjadi di negara Asia Timur seperti di China, Taiwan, Korea Selatan, Korea Utara, dan Hongkong.

“Ada 7 kali wabah PMK yang terjadi sepanjang tahun 2010-2011 di peternakan babi pada negara tersebut. Wabah PMK pada babi paling besar terjadi di taiwan pada tahun 1997,” sebut Yohanes.  

Sebanyak 6.147 ribu peternakan babi dengan lebih dari 4 juta ekor trinfeksi dan 37,7% babi di Taiwan baik karena mati (0,18 juta ekor) atau dimusnahkan (3,85% juta ekor). Akibat wabah PMK, Taiwan tidak bisa melakukan ekspor babi dan produk babi selama 24 tahun.

Sementara Sauland menambahkan, kasus PMK di Inggris terjadi di tahun 2001 merujuk pada sumber DEFRA (Departement of Environment, Food, & Rural Affairs UK). Sebanyak 146.000 ekor babi dimusnahkan.

Lebih lanjut Sauland mengatakan ternak babi berpotensi terinfeksi PMK banyaknya melalui oral. “Bagaimanapun paling penting upaya mencegah PMK masuk ke peternakan babi dengan memperketat lalu lintas ternak antar pulau, antar provinsi maupun zona,” tegasnya.

Pada acara yang sama, Drh Arif Wicaksono selaku Kasubdit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Ditkeswan mengemukakan perihal pelaksanaan biosekuriti dan pengolahan swill feeding. Salah satu poin pentingnya adalah tidak disarankan memberikan pakan kepada ternak babi menggunakan sisa makanan.

Arif juga menjelaskan pengendalian lalu lintas ternak dalam hal ini pada tingkat peternak, pemerintah dengan bantuan berbagai pihak terkait melakukan pendampingan pada peternak untuk tidak menjual ternak sakit dengan melakukan terapi supportif pada hewan sakit. (NDV)

PETERNAKAN TELUR RUSIA MENDERITA KARENA KONFLIK DENGAN PENGECER

Serikat peternak unggas Rusia, Rosptitsesoyuz, telah mengajukan pengaduan ke Layanan Antimonopoli Federal mengklaim bahwa pengecer terbesar di negara itu memaksa peternak untuk menjual telur dengan harga di bawah biaya produksi.

Seperti yang dijelaskan oleh Galina Bobyleva, direktur umum Rosptitsesoyuz, pengecer terbesar menolak untuk membeli telur dengan harga lebih dari 35 rubel (US$0,58) per bungkus berisi 10 buah, kadang-kadang bahkan mencoba menekannya hingga 30 rubel (US$0,50), jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya produksi rata-rata.

Masalah tersebut diyakini terkait dengan tindakan anti-penimbunan dan kontrol harga yang dimulai oleh pemerintah Rusia pada awal Maret di tengah banyaknya sanksi ekonomi dari Barat. Pemerintah menetapkan bahwa rantai ritel besar dapat membatasi penjualan sejumlah “barang penting secara sosial”, seperti makanan pokok, dan membatasi seberapa tinggi mereka menaikkan harga.

RESEP DETEKSI DINI GANGGUAN PERNAPASAN

Awal gangguan pernapasan pada ayam modern kebanyakan tidak menunjukkan baik itu tampilan kesulitan bernapas dan/atau adanya pengeluaran cairan dari rongga hidung berlebihan, akan tetapi lebih sering adanya gejala sinusitis ringan dengan manifestasi kebengkakan pada area sinus-sinus hidung. Hal ini terjadi karena adanya titik lemah utama pada sistem pernapasan atas ayam yaitu tidak adanya katup antara rongga hidung dan sinus hidung.

Oleh: Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

Gangguan pernapasan seolah “lekat” dengan kehidupan ayam modern. Disamping secara normal memang terdapat cukup banyak mikroflora di permukaan mukosa sistem pernapasan ayam, kontak secara langsung dan kontinu dengan udara pernapasan sangat memungkinkan terjadinya infeksi mikroba kontaminan dalam udara pada sistem pernapasan ayam. Itulah sebabnya kasus pernapasan pada ayam modern kebanyakan kompleks, karena melibatkan multi-patogen.

Pada bangsa unggas (ayam), sistem pernapasannya sedikit banyak berbeda dengan bangsa hewan menyusui. Rasio volume paru-paru unggas dengan volume tubuhnya umumnya jauh lebih kecil dibanding pada hewan menyusui, karena paru-paru pada ayam bersifat masif alias tidak bisa mengembang. Di samping itu, pada ayam pertukaran gas/udara pernapasan terjadi di sepanjang kapiler-kapiler udara paru-paru yang berbentuk seperti jala (parabronkus), bukan di dalam alveolus (rongga udara dalam paru-paru). Itulah sebabnya mengapa ayam atau bangsa unggas secara umum sangat mudah mengalami keracunan secara per-inhalasi. Coba tengoklah sejarah medan perang kuno, banyak tentara sering menggunakan ayam atau unggas lainnya untuk mendeteksi adanya gas beracun yang disebar oleh pihak musuh.

Banyaknya faktor yang terlibat dalam gangguan pernapasan mengakibatkan sulitnya melakukan diagnosis di lapangan. Padahal seorang praktisi lapangan harus cepat bisa menentukan diagnosisnya secara akurat, sehingga langkah-langkah pencegahan atau tindakan terapi lainnya dapat sesegera mungkin dilakukan.

Contoh gangguan pernapasan yang sudah tidak asing adalah Chronic Complex Respiratory Disease (CCRD) yang selalu diartikan infeksi kompleks antara kuman mikoplasma dengan koli. Akan tetapi pada kenyataannya gangguan pernapasan yang memberikan gejala mirip CCRD kadang bisa disebabkan kombinasi infeksi suatu faktor/mikroorganisme dengan mikroorganisme lain. Itulah sebabnya mengapa gangguan pernapasan pada ayam modern sering disebut “CCRD-like” oleh beberapa praktisi perunggasan.

Penyebab “CCRD-like” dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1. Faktor penyebab primer, misalnya debu kandang dan/atau kadar amonia yang terlalu tinggi, adanya tantangan virus tertentu (IB, ND, ILT, AMPV) yang berasal dari vaksin aktif ataupun virus lapang, serta infeksi mikoplasma (Mg/Ms).
2. Faktor penyebab sekunder, misalnya kuman E. coli, Salmonella spp., Pasteurella spp., Gallibacterium spp. atau Avibacterium spp.

Faktor-faktor dari kedua kelompok di atas dapat membentuk beberapa kombinasi untuk memberikan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2022. (toe)

INGGRIS TERKENA WABAH FLU BURUNG BARU

Inggris telah menderita wabah flu burung lebih lanjut hanya beberapa hari setelah pemerintah mencabut pembatasan untuk ternak di luar ruangan. Kasus H5N1 dikonfirmasi pada kawanan free range di Lowdham, Nottinghamshire, dan Badan Kesehatan Tumbuhan Hewan telah memulai penyelidikan rute infeksi.

Pembatasan tersebut, yang ditetapkan tahun lalu pada akhir November, dicabut pada 2 Mei setelah lebih dari 100 kasus tercatat dalam wabah musim dingin yang lebih buruk di Inggris.

Aimee Mahony, kepala penasihat unggas NFU, mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah kawanan itu sudah terinfeksi sebelum larangan dicabut. Namun, dia mengatakan jelas bahwa flu burung tetap menjadi risiko serius bagi Inggris dan bahwa peternak harus tetap waspada dan mempertahankan tingkat biosekuriti yang ketat.

MEKSIKO MENANGGUHKAN TARIF IMPOR UNGGAS

Untuk memerangi inflasi, Meksiko telah mengumumkan penangguhan tarif impor untuk daging ayam dan 26 produk lainnya di antara input makanan dan pertanian.

Ketiadaan tarif, yang akan berlangsung selama satu tahun, berlaku bagi negara-negara yang berwenang untuk mengekspor produk-produk ini ke negara tersebut, yang dalam hal unggas, termasuk Brasil atau Argentina. Tidak ada kuota yang dicatat.

Saat ini, inflasi berada pada tingkat tahunan 7,68%, hampir dua kali lipat dari target bank sentral.

TUNISIA, POTENSI PROTES TERKAIT KENAIKAN HARGA UNGGAS DAN TELUR

Lonjakan harga pakan ternak akibat perang di Ukraina dan kenaikan biaya energi telah menimbulkan protes dari para peternak. Kenaikan harga unggas, telur dan susu di Tunisia akan terjadi.

Serikat pekerja di Tunisia telah memperingatkan bahwa gelombang kenaikan harga yang berulang dan penurunan daya beli di tengah krisis ekonomi yang parah dapat menyebabkan protes yang mungkin tidak dapat dikendalikan oleh pihak berwenang.

Berbicara tentang memastikan margin keuntungan bagi produsen, menteri pertanian Mahmoud Elyess Hamza mengatakan bahwa konsumen Tunisia harus mendukung peternak Tunisia. Diperkirakan dampak kenaikan harga gandum dan minyak pada anggaran Tunisia akan sedikit kurang dari sekitar US$1,7 miliar tahun ini.

OVOSTAR UNION HANYA MENGALAMI GANGGUAN OPERASIONAL KECIL KARENA PERANG

Produsen telur terbesar kedua di Ukraina, Ovostar Union, mengatakan bahwa operasi terus berlanjut di sebagian besar fasilitas produksi dan pemrosesan meskipun perang terjadi.

Fasilitas produksi utama Ovostar Union berada di wilayah Kyiv, di distrik Fastivskyi dan Bilotserkivskyi, di mana tidak ada perang parah yang terjadi. Kandang unggas di Vasilkiv dan Stavyshche, serta pabrik pengolahan telur di Vasilkiv, secara fisik tidak rusak dan tetap beroperasi.

Di sisi lain, pabrik pengolahan telur di Makariv, wilayah Kyiv, telah ditutup sementara sampai kota itu tidak diduduki oleh pasukan militer Ukraina pada akhir Maret.

“Pemeriksaan pabrik selanjutnya menunjukkan tanda-tanda kerusakan non-kritis pada bangunan administrasi dan manufaktur. Peralatan produksi dan stok produk telur utuh. Manajemen berharap pabrik dapat beroperasi kembali setelah pekerjaan perbaikan tempat selesai, ”kata perusahaan.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer