-->

KEMENTAN DAN SWASTA MENYATUKAN KOMITMEN PERANGI AMR

Lokakarya Kementan Dengan Swasta, Membahas AMR
(Foto : Istimewa)


Dalam rangka meningkatkan kontribusi sektor kesehatan hewan dalam mencapai kesehatan masyarakat dengan tetap memastikan produktivitas perunggasan yang berkelanjutan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) serta dukungan dari Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID), menginisiasi lokakarya penting tentang pendekatan Keterlibatan Sektor Swasta/Private Sector Engagement (PSE) dalam pengendalian resistensi antimikroba.

Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Trembesi BSD, Tangerang Selatan (19/08). Dalam lokakarya tersebut dipertemukanlah pemangku kepentingan utama dari sektor pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha perunggasan untuk membahas penyusunan indikator pengendalian AMR di sektor kesehatan hewan melalui penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab dalam peternakan unggas.

Acara ini juga sebagai ajang inisiatif untuk mensinergikan arah kebijakan nasional jelang pemerintahan baru dan dalam rangka menyiapkan rencana aksi nasional Rencana Aksi Nasional (RAN) pengendalian AMR periode 2025-2029, dengan fokus pada pengurangan penggunaan antibiotik di peternakan unggas yang akan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Lokakarya ini memberikan ruang bagi sektor swasta untuk berkontribusi pada pengembangan regulasi dan kebijakan, yang kemudian menghasilkan komitmen signifikan dari sektor swasta yaitu menyetujui penyelarasan indikator target untuk RAN AMR 2025-2029 serta bekerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan strategi bersama guna menangani ancaman global "pandemi senyap" yang mendesak akibat AMR.

Komitmen tersebut meliputi dukungan terhadap larangan bertahap penggunaan antibiotik sebagai langkah pencegahan dalam peternakan unggas untuk mengatasi AMR dan mempromosikan praktik peternakan yang berkelanjutan. Selain itu, pertemuan ini juga membahas potensi implikasi dalam menyikapi dinamika perubahan arah kebijakan, memastikan pemerintah dan sektor swasta dapat selalu bersinergi membangun peternakan unggas yang lebih baik dan menjadikan Indonesia teladan bagi negara lain dalam pengendalian AMR bersama.

Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Imron Suandy, menyoroti pentingnya kesehatan hewan dalam kerangka kesehatan untuk semua, sehingga secara nyata berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih sehat.

“Program Penatagunaan Antimikroba yang sukses memerlukan kepemimpinan dan dedikasi yang kuat dari pemerintah dan sektor swasta. Di Indonesia, keterlibatan sektor swasta dalam industri unggas sangat besar, dengan banyak perusahaan aktif di berbagai tahapan rantai nilai unggas. Hari ini menandai awal upaya kolaboratif kami untuk bertindak bersama membangun bangsa, dan kita selalu dijadikan inspirasi bagi negara lain dalam pengendalian AMR di tingkat regional, langkah peran serta sektor usaha bersama dengan pemerintah ini tentu akan menjadi pendekatan yang akan kita bagun bersama ke depannya” kata Imron.

Sejak 2017, Indonesia telah menerapkan Rencana Aksi Nasional untuk Pengendalian Resistensi Antimikroba, yang disahkan melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan No. 7/2021. Rencana ini menekankan pentingnya melibatkan semua pemangku kepentingan utama untuk mencapai target pengendalian AMR, dengan PSE memainkan peran penting dalam mendorong kolaborasi efektif untuk mencapai tujuan kesehatan penting ini.

Country Team Leader FAO ECTAD, Luuk Schoonman, menekankan pentingnya kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan sektor swasta unggas untuk inisiatif ini. 

“Integrasi komitmen ini ke dalam Rencana Aksi Nasional menunjukkan dedikasi kita untuk meningkatkan praktik baik peternakan dan melindungi kesehatan masyarakat. Dukungan penuh FAO akan terus berlanjut sampai kita mencapai perbaikan yang substansial dan berkelanjutan,” kata Schoonman.

Team poultry health JAPFA Breeding Division, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Dalmi Triyono mengatakan bahwa dirinya mendukung strategi pemerintah untuk pengendalian AMR dengan mempromosikan penggunaan antibiotik yang tepat dan bertanggung jawab, dengan mengurangi penggunaan antibiotik untuk pencegahan pada peternakan unggas. 

"Komitmen kami lebih dari sekedar kepatuhan, memastikan praktik kesehatan unggas kami memenuhi standar tinggi dan keberlanjutan. Dengan menerapkan biosekuriti dan manajemen pemeliharaan yang tepat dan berkelanjutan, kami memastikan ternak sehat, produktif dan aman dikonsumsi," tuturnya.

Surveillance Analyst Assistant Manager, PT Medion Farma Jaya, Gian Pertela juga mengutarakan hal serupa dimana Medion juga mendukung setiap rencana pemerintah terkait penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional untuk kesehatan hewan. 

"Komitmen kami terhadap inisiatif ini mencerminkan dukungan terhadap kebijakan kesehatan yang bertanggung jawab dan dedikasi kami untuk berkontribusi pada upaya global melawan resistensi antimikroba, menjaga kesehatan hewan dan manusia, serta memastikan keberlanjutan industri peternakan di masa depan," kata dia.

Setelah lokakarya, sektor swasta, bekerja sama dengan pemerintah, akan menyusun indikator outcome dan output sebagai target untuk program intervensi. Program-program ini akan fokus pada peningkatan deteksi AMR melalui perbaikan sistem monitoring, pengujian laboratorium, dan data sharing, serta meningkatkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan Penatagunaan Antimikroba (PGA) melalui pembangunan kapasitas, meningkatkan kesadaran, dan memperkuat komitmen di kedua sektor. Acara ini melanjutkan pertemuan sebelumnya yang diadakan pada 15 Agustus 2024, yang memperkenalkan pentingnya Keterlibatan Sektor Swasta (PSE) dalam pengendalian AMR dan menetapkan indikator target untuk RAN AMR 2025-2029. (CR)

LASATO FEST, UPAYA TINGKATKAN DAYA SAING SEKTOR PETERNAKAN LOKAL

Suasana Lasato Fest 2024
(Foto : Istimewa)


Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) Kabupaten Garut, menggelar Lauk Sasatoan Festival (Lasato Fest) 2024 di SOR RAA Adiwijaya, Tarogong Kidul, Rabu (21/08/2024). Acara ini menampilkan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan, mulai dari gerakan sosialisasi gizi hingga pameran produk lokal.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat, Siti Rochani, menyatakan komitmennya untuk mendukung kegiatan Lasato Fest 2024 yang  di masa mendatang, guna mewujudkan zero new stunting. Kolaborasi antara pemerintah dan seluruh stakeholder, tambah Siti, perlu terus ditingkatkan agar kegiatan seperti ini lebih meriah dan berdampak luas.

"Yang jelas nanti semua mulai dari aspek dari pemerintah, stakeholder segala macam harus berkolaborasi," ujar Siti, di Garut,Kamis (22/8/2024).

Sementara itu, Kepala Diskannak Garut, Beni Yoga Gunasantika, menuturkan bahwa Lasato Fest bertujuan mendorong para pelaku usaha atau UMKM yang bergerak di sektor perikanan dan peternakan sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing melalui pengolahan yang menarik dan beragam.

"Dari peningkatan nilai tambah dan ekonomi daya saing tadi, pengolahan tentu ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut sehingga LPI (Laporan Perekonomian Indonesia) kita makin bagus ke depannya," ucapnya.

Lasato Fest 2024 berhasil menarik lebih dari 4.000 peserta, termasuk 3.000 siswa SD dan SMP serta 750 anggota Pramuka. Selain itu, Diskannak Garut juga menyediakan layanan kesehatan hewan, termasuk 100 vaksin rabies untuk hewan kesayangan yang dibawa oleh pengunjung.

Diskannak Garut juga menyediakan pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan, dengan menyediakan 100 vaksin rabies, untuk hewan kesayangan yang dibawa dalam kegiatan hari ini.

"Puskeswan itu (melayani) hewan kesayangan, dua terkait dengan pengendalian rabies, tentu dengan penyakit-penyakit lain yang ada di peternakan baik itu pengendalian PMK, untuk lato-lato dan sebagainya," tandasnya. (INF)

DESIANTO BUDI UTOMO KEMBALI PIMPIN GPMT

Foto Bersama Jajaran Pengurus GPMT Periode 2024-2028
(Foto :CR)


Kongres Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) yang ke - 15 sukses digelar pada 21-22 Agustus 2024 yang lalu di Episode Hotel, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Hasil dari kongres tersebut kembali menujuk Drh Desianto Budi Utomo sebagai Ketua Umum GPMT periode 2024 - 2028. 

Dalam pidatonya, Desianto berterima kasih kepada para anggota GPMT yang masih memberinya kepercayaan dalam menjalankan organisasi. Desianto juga mengatakan kedepannya industri peternakan khususnya pakan ternak akan kerap menghadapi berbagai tantangan, dimana tantangan tersebut hanya dapat dihadapi secara bersama - sama dengan kolaborasi antar stakholder yang solid. 

"Untuk mencapai tujuan bersama, kita harus selalu solid dalam bersinergi dan kolaborasi. Kedepannya kami berharap GPMT dapat menjadi mitra strategis bagi asosiasi, pemerintah, maupun stakeholder lain di industri peternakan dalam menghadapi isu dan tantangan kedepan," tuturnya. 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Drh Agung Suganda yang mewakili Menteri Pertanian pada hari itu juga memberikan sambutannya. Agung kembali mengingatkan akan pentingnya keberadaan industri pakan dalam membangun peternakan dan menyojong program ketahanan pangan nasional. 

"Keberadaan industri pakan tentunya juga memberikan dampak bagi ketersediaan protein hewani yang akan dikonsumsi masyarakat. Di sini tentu saja GPMT juga ikut andil dalam membangun bangsa melalui tersedianya pakan yang berkualitas dan terjangkau untuk para peternak," kata Agung. 

Agung juga mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah menyiapkan program makan bergizi gratis dimana tidak akan tersedia pangan yang mengandung gizi terutama protein hewani tanpa adanya peran serta GPMT terutama pada industri petrunggasan. 

"Sebagaiamana data yang disebutkan tadi, perunggasan menjadi tulang punggung dalam penyediaan protein hewani, negara kita mayoritas masyarakat mengonsumsi paling banyak telur dan daging ayam. Tentunya budidaya unggas menjadi prioritas, sehingga membutuhkan lebih banyak pakan untuk mencukupi kebutuhan unggas," tukas Agung.

Dirinya juga berharap agar GPMT selalu berusaha meningkatkan kualitas, daya saing, dan efisiensi dalam industri pakan. Ia juga berharap GPMT dapat mengoptimalkan penggunaan bahan baku pakan berbasis lokal ketimbang melakukan impor bahan baku. (CR)

Berikut ini adalah susunan pengurus GPMT periode 2024-2028

Ketua Umum
Desianto B. Utomo (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
Ketua
Johan (PT. Japfa Comfeed Indonesia)
Ketua
Tevi Melviana (PT. New Hope Indonesia)
Ketua
Bagus Pekik (PT. De Heus Indonesia)
Ketua
Deny Mulyono (PT. Central Proteina Prima)
Sekretaris Jenderal
Yetti Liza (PT. Malindo Feedmill)
Bendahara
Azrul Arifin (PT. Japfa Comfeed Indonesia)
BADAN PENGURUS PUSAT
Pakan Agro
a. Anang Hermanta (PT. Sinta Prima Feedmill)
b. Sulistiyono (PT CJ Feed and Care Indonesia)
Pakan Akua
a. Andhi Trapsilo (PT. Suri Tani Pemuka)
b. Fauzan (PT. Gold Coin Indonesia)
Bahan Baku
a. Yussar Wirawan (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
b. Yenny Wijaya (PT. Sreeya Sewu Indonesia)
c. Umi Fadhilah (PT. New Hope Indonesia)
Organisasi (Internal)
Helsintha (PT. CJ Feed and Care Indonesia)
Hubungan Antar Lembaga (Eksternal)
Firmansyah Sachroni (PT. Cargill Indonesia)
Legal
Wesly Manullang (PT. Charoen Pokphand Indonesia)
Sosial Media
Hendra Lukito (PT. Charoen Pokphand Indonesia)

GEBRAKAN AFFAVETI: SINERGISME DOKTER HEWAN DAN APOTEKER DI BIDANG OBAT HEWAN

Seminar sinergisme dokter hewan dan apoteker di bidang obat hewan. (Foto: Dok. Infovet)

Diawali pelantikan pengurus AFFAVETI periode 2024-2029, seminar Gebrakan AFFAVETI "Sinergisme Dokter Hewan dan Apoteker di Bidang Obat Hewan" digelar di Gedung Start Up Center IPB Taman Kencana, Sabtu (24/8/2024).

Sesuai tema yang diangkat, Ketua AFFAVETI, Drh Ni Made Ria Isriyanthi, mengatakan bahwa sinergisme ini menjadi suatu ajang ilmiah untuk bisa berbagi pengetahuan terkait farmasi veteriner ke depan.

"Ini menjadi suatu ajang ilmiah bagaimana kita bisa sharing ke depannya antara dokter hewan dan apoteker," katanya.

Seminar yang dipandu oleh Wakil Ketua I AFFAVETI, Dr Drh Andriyanto MSi, menghadirkan pembicara di antaranya Dr Apt Nunung Yuniarti SF MSi (Fakultas Farmasi, Apotek Veteriner UGM), Drh M. Munawaroh (Ketua PDHI), dan Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa PhD.

"Dengan beragam isu yang ada seperti AMR, medicated feed, kemudian adanya cara pembuatan obat hewan yang baik, dan cara distribusi obat hewan yang baik, sehingga memunculkan peran sinergisme antara apoteker dan dokter hewan," ujar Nunung Yuniarti.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa apotek veteriner memiliki peran utama, yakni menjamin ketersediaan obat hewan, menjamin penggunaan obat hewan yang benar dan aman, menjamin distribusi obat hewan yang benar dan aman, serta menyediakan kebutuhan terapi veteriner meliputi pelayanan resep veteriner, alat kesehatan, dan sarana penunjang lainnya.

Pada kegiatan tersebut juga ditampilkan pleno pembukaan Prodi Farmasi Veteriner SKHB IPB yang disampaikan oleh Dekan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, Dr Drh Amrozi, yang mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak di antaranya pemerintah, asosiasi, perusahaan, dan lain sebagainya. (RBS)

TERPILIH SECARA AKLAMASI, NI MADE RIA ISRIYANTHI RESMI DILANTIK SEBAGAI KETUA AFFAVETI

Ketua PDHI, M. Munawaroh, saat melantik pengurus AFFAVETI baru periode 2024-2029. (Foto: Dok. Infovet)

Terpilih secara aklamasi beberapa bulan lalu, Drh Ni Made Ria Isriyanthi PhD resmi menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (AFFAVETI) periode 2024-2029 menggantikan ketua sebelumnya Drh Min Rahminiwati.

"Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung saya menjadi ketua AFFAVETI," kata Ria, sapaan akrabnya saat memberikan sambutannya usai pelantikan di acara seminar Gebrakan AFFAVETI di Gedung Start Up Center IPB Taman Kencana, Sabtu (24/8/2024).

Mengemban tugas baru, ia langsung membeberkan beberapa program ke depan yang akan dilaksanakan bersama para pengurus AFFAVETI yang baru, di antaranya konferensi tahunan (seminar) dan pelatihan berkelanjutan untuk anggota. Kemudian program kerja sama lintas profesi, kolaborasi penelitian antar institusi, publikasi jurnal ilmiah, loka karya regulasi dan kebijakan obat hewan, serta program beasiswa penelitian, kampanye kesadaran penggunaan obat hewan yang bertanggung jawab, forum industri-akademia, hingga pengembangan platform digital asosiasi agar komunikasi antar anggota semakin mudah.

"Kami mohon dukungannya agar AFFAVETI bisa memberikan manfaat dan lebih memajukan Indonesia di bidang obat hewan," ucapnya.

Dukungan penuh disampaikan oleh Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI). Ketua PDHI, Drh M. Munawaroh, usai melantik secara resmi pengurus AFFAVETI periode 2024-2029, mengapresiasi program-program yang direncanakan AFFAVETI ke depan.

"Saya sangat apresiasi terhadap program-programnya, karena itu mari kita dukung bersama dan saya harapkan AFFAVETI bisa segera berlari," ujar Munawaroh.

Ia juga berharap AFFAVETI semakin kompak dan bisa bersinergi dengan asosiasi-asosiasi terkait lainnya secara nasional maupun internasional.

"Diharapkan di kepengurusan yang baru ini, AFFAVETI mampu dan selalu kompak, kami dari PDHI selalu mendukung program AFFAVETI dan semoga bisa bersinergi dengan pihak terkait lainnya seperti asosiasi dokter hewan sapi, kuda, satwa liar, dan lainnya. Semoga AFFAVETI semakin maju dan jaya. Selamat bekerja untuk kepengurusan AFFAVETI yang baru," tukasnya. (RBS)


Susunan Pengurus AFFAVETI 2024-2029:
Ketua Umum: drh. Ni Made Ria Isriyanthi, PhD
Wakil Ketua 1: Dr. drh. Andriyanto, MSi
Wakil Ketua 2: Dr. Apt. Bayu Febram Prasetyo, MSi
Sekretaris 1: Dr. drh. Aulia Andi Mustika, MSi
Sekretaris 2: Dr. drh. Amaq Fadholly, MSi
Bendahara 1: Dr. Apt. Lina Noviyanti Sutardi, MSi
Bendahara 2: Dr. drh. Anisa Rahma, MSi

MEMAHAMI KEBUTUHAN AYAM MODERN

Sukses tidaknya budi daya broiler salah satunya dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan pada fase brooding. (Foto: Dok. Infovet)

Perkembangan pesat di sisi genetik harus dibarengi dengan pengaplikasian yang apik dari berbagai aspek. Hal ini mutlak harus dilakukan oleh setiap pembudidaya agar performa ayamnya maksimal.

Key Account Technical Manager Cobb Asia Pacific, Amin Suyono, menjabarkan mengenai perkembangan genetik ayam broiler sejak 1950-an hingga kini. Dimana dahulu presentase daging dada yang dihasilkan oleh karkas hanya 11,5%, sedangkan sekarang ini presentasenya meningkat 2,5 kali lipatnya.

Meskipun begitu, kata Amin, dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik untuk memenuhi potensi genetik yang luar biasa tersebut. Yang apabila ada satu aspek saja gagal, maka potensi tersebut tidak termanfaatkan secara maksimal.

“Tidak bisa dipungkiri bahwa kita harus memenuhinya. Karena dalam standar kita, ayam memang diseleksi sedemikian rupa. Oleh karena perkembangan teknologi, maka tata laksana pemeliharaan haruslah tepat,” katanya.

Mulai dari Brooding
Dibutuhkan langkah konkret di lapangan agar performa broiler modern dapat mencapai potensi maksimalnya. Menurut Amin, sukses tidaknya membudidayakan broiler dapat diukur dari seberapa besar keberhasilan peternak pada fase brooding.

“Prinsipnya brooding adalah sprint bukan marathon, jadi dalam sprint start adalah kunci kemenangan. Kita harus fokus pada hal dasar dan menjalankan detail sebaik mungkin,” ungkapnya.

Aspek pertama yang perlu diperhatikan sebelum chick in menurutnya yakni dari segi sanitasi, disinfeksi, dan istirahat kandang. Semuanya berkaitan dengan kesehatan ayam karena sebelum ayam masuk, kandang dikondisikan harus sebersih mungkin dengan tingkat ancaman infeksius terendah.

Sebab, brooding merupakan periode transisi dimana ayam ditaruh di tempat dengan kondisi suhu yang berbeda dari sebelumnya. Apabila suhu brooding tidak tepat, maka intake pakan dan air minum tidak akan maksimal, kata Amin, perlu dilakukan pre-heating pada sekam setidaknya 48 jam sebelum ayam datang.

“Suhu sekam kalau bisa di-setting pada suhu 32-34° C, di situlah zona nyaman ayam yang kami rekomendasikan. Jika sudah nyaman ayam akan beraktivitas (makan dan minum) secara normal,” jelas dia.

Rekomendasi suhu kandang oleh Cobb dapat dilihat pada tabel-tabel berikut:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

PRAMUKA BANTU BAGIKAN OBAT HEWAN DAN DISINFEKTAN KEPADA PETERNAK

Para Anggota pramuka Memberikan Obat Hewan Kepada Peternak
(Foto : Istimewa)


Dalam rangka menyemarakkan Bulan Bakti Pramuka 2024, satuan karya Pramuka (Saka) Tarunabumi ranting Patimpeng melakukan aksi Pramuka Berbagi Krida Peternakan pada Minggu (18/8) yang lalu. Kegiatan ini merupakan wujud kepedulian anggota pramuka kepada sesama sebagai wujud implementasi satya dan darma pramuka.

Kegiatan yang dilakukan adalah membagikan obat cacing ternak sapi kepada para peternak sekaligus membantu melakukan penyemprotan desinfektan ke kandang sapi milik para peternak.

Saka Tarunabumi adalah organisasi Pramuka yang membidangi Pertanian termasuk peternakan, maka dengan melihat potensi peternakan sapi potong di sekitar Bumi perkemahan Massila, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone Sulsel pada kegiatan Jambore ranting Patimpeng. Saka Tarunabumi mengajak para peserta jambore, DKR dan pembina gudep untuk membantu masyarakat peternak disekitar.

“Kita diajak membantu masyarakat sekitar yang dominan peternak dengan membagikan obat cacing ternak untuk penggemukan sapi dan pembagian desinfektan kandang ternak secara gratis dengan dilakukan sendiri oleh anggota Pramuka” tutur A.Lukman selaku ketua Kwarran Patimpeng.

Para peserta jambore sangat antusias dan senang, melihat sapi-sapi yang akan diberi obat, sekaligus diberi kesempatan melakukan penyemprotan pada kandang ternak masyarakat.

"Kami sangat senang dengan kegiatan peternakan ini, sambil diberitahu cara beternak dan memberi makanan , juga kami berkesempatan membantu membersihkan kandang masyarakat” ujar Fahmi, salahsatu peserta jambore asal Desa Pationgi, Kec. Patimpeng

Kegiatan bagi-bagikan obat dan desinfektan secara gratis ini juga hasil kerjasama dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat. Selain pembagian juga dilakukan edukasi kepada para peserta jambore, kakak-kakak DKR serta pembina gudep, khusunya para peternak di wilayah bumi perkemahan. (INF)


MENJAGA KEAMANAN PAKAN

Jaminan keamanan pakan harus tercapai, karena hal itu akan menunjang jaminan keamanan pangan, sehingga masyarakat tidak ragu dalam mengonsumsi produk ternak. (Foto: Istimewa)

Pakan merupakan salah satu faktor dasar yang sangat penting dalam usaha peternakan, karena mempunyai pengaruh besar terhadap produktivitas ternak. Pakan dari sudut nutrisi merupakan unsur utama untuk menunjang kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, produksi, dan reproduksi ternak. Penjagaan keamanan pakan menjadi hal mendasar dalam pemenuhan keamanan produk pangan asal ternak.

Pakan adalah salah satu unsur segitiga emas pilar produksi peternakan, disamping pilar breeding yakni bibit yang berkualitas, serta pilar manajemen yakni pengelolaan dan cara budi daya ternak yang baik.

Pakan bahkan menduduki unsur utama yang memengaruhi biaya produksi peternakan. Menurut hasil survei struktur ongkos usaha peternakan 2017, yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), biaya pakan ayam ras pedaging menduduki 56,95%, ayam ras petelur 70,97%, sapi perah 67,08%, sapi pedaging 57,67%, kambing 51,80%, dan domba 51,94%.

Tidak hanya berperan utama dalam proses produksi peternakan, pakan juga menjadi kunci dalam keberlanjutan industri pakan dan peternakan, karena menjadi faktor utama dalam mencapai produktivitas dan jaminan keamanan pakan. Hal itu menjadi modal penting dalam faktor penjagaan keamanan pangan asal ternak beserta olahannya.

Syarat utama penjaminan keamanan pakan yakni bahan baku pakan yang berkualitas, formulasi pakan yang tepat, pemanfaatan teknologi dalam penjaminan mutu, dan penyimpanan serta distribusi untuk mencegah rekontaminasi.

Jika jaminan kualitas pakan dan keamanan pakan dapat terwujud, maka hal itu akan menunjang jaminan keamanan pangan, sehingga masyarakat tidak ragu dalam mengonsumsi produk ternak.

Bahan Baku Pakan
Bahan pakan berkualitas menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Untuk itu sangat diperlukan adannya kontrol kualitas (quality control/QC) untuk memastikan tidak terdapat kontaminasi atau pemalsuan bahan pakan. Melalui QC pula dapat diidentifikasi adanya faktor-faktor pembatas lain dalam penggunaan bahan pakan, seperti besarnya kandungan serat kasar atau kerapatan jenis, kandungan anti-nutrisi, kandungan asam amino esensial, nilai kecernaan, kandungan lemak kasar, keseimbangan mineral di dalamnya, efeknya terhadap daging, telur atau susu yang dihasilkan, palatabilitas, serta harga dan ketersediaan bahan baku pakan yang akan digunakan (Osfar, 2021).

Penerapan kontrol kualitas yang baik tidak hanya untuk menopang jaminan keamanan pakan, namun lebih dari itu juga dapat diraihnya berbagai manfaat, yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2024.

Ditulis oleh:
Andang S. Indartono
Pengurus Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI)
IG: @and4ng
Email: andang@ainionline.org

SCI MEMPERKENALKAN ANTI KOKSI FITOBIOTIK DI INDO LIVESTOCK 2024

SCI full teamdi hari ketiga gelaran IndoLivestock 2024.

Hari pertama pameran Indo Livestock 2024 tepatnya pada Rabu (17/7), PT Sehat Cerah Indonesia (SCI) memperkenalkan produk barunya yaitu Coccilip®, anti koksidiosis yang berbasis fitobiotik.

“Mencegah koksidiosis sangat penting untuk kesehatan usus yang lebih baik. Mikrobiota usus merupakan salah satu komponen pertahanan utama dalam saluran pencernaan terhadap patogen enterik, yang bekerja dengan memodulasi respons inang untuk membatasi kolonisasi patogen,” jelas Carlos Lopez, DVM, pembicara technical product presentation bertajuk “Coccilip®: New Phytobiotic Approaches for Coccidia Control”, yang dimoderatori oleh Product Manager PT SCI, Drh Margaretha Prayudhi Novantiana.

Anti koksi tradisional kimiawi yang selama ini banyak digunakan mempunyai beberapa masalah. Di antaranya adalah resistansi antimikroba, ekskresi bahan kimia ke dalam air minum yang berdampak negatif pada lingkungan, dan meningkatnya preferensi konsumen akan produk hewani dengan sedikit bahan kimia.

Coccilip® adalah fitobiotik berbasis minyak esensial dan asam lemak rantai menengah yang dirancang khusus untuk pencegahan dan pengendalian koksidia dalam produksi unggas. Terbukti ampuh melawan protozoa (koksidiosis, histomonas), melawan bakteri (Clostridium perfringens), meningkatkan kinerja zooteknis, bersifat antioksidan, dan meningkatkan integritas usus.

Coccilip® ada dua jenis, yaitu powder untuk dicampur di pakan dan liquid yang dicampur melalui air minum pada saat outbreak baik di broiler, layer dan breeder. Tidak hanya berefek sebagai anti koksi, akan tetapi juga bisa untuk menekan kejadian Necrotic enteritis (NE).

Berbagai uji coba telah dilakukan untuk membuktikan efikasi Coccilip®. Salah satunya dilakukan di peternakan komersial dengan riwayat koksidiosis di Castilla la Mancha, Spanyol, yang mempunyai populasi 40.000 ekor ayam layer (75% Hy-Line dan 25% Lohmann White).

Coccilip® diberikan sebanyak 0,7 l/1.000 l selama 10 hari, dari minggu ke-24 hingga ke-25. Hasilnya setelah 1,5 bulan sejak dimulainya uji coba, tidak ada kejadian koksidiosis yang teramati.

Peserta sangat antusias dalam sesi tanya jawab technical product presentation SCI.

SCI Promosikan Produk-produk Unggulan

Pada Indo Livestock tahun ini, selain Coccilip®, SCI juga mempromosikan produk-produk unggulan lain dari segmen feed additive dan farm product.

“Untuk segmen farm product kami menampilkan Escent L (liquid mycotoxins detoxifier), Liptosafe Pro (detoxifier, nutraceutical, and performance improver), dan powerful broad spectrum disinfectant yaitu Neogen Viroxide Super,” kata Direktur PT SCI, Drh Meiti Ifianti MM MBA.

“Sedangkan untuk segmen feed additive kami menampilkan BSG 510 (performance improver & AGP alternative), Enviva Pro (probiotic to control gut microflora intestinal & AGP alternative), Toxinor dan Toxiwall (mycotoxin complete solution), dan Basic Copper Chloride (new technology of copper resource).”

Booth SCI, Hall A 08 berkonsep open space sehingga customer bisa leluasa datang untuk berdiskusi dengan tim dan supplier SCI secara langsung. SCI juga memperkenalkan logo perusahaan terbaru dan laboratorium di Subang yang memberikan layanan lab diagnostic untuk seluruh trf SCI di Indonesia.

Wana hijau dan kuning, yang merupakan warna logo perusahaan, mendominasi nuansa booth SCI. Hijau melambangkan sumber kehidupan, kesegaran, rasa aman, dan juga sehat. Sedangkan kuning melambangkan kecerahan dan optimis. Kedua warna tersebut selaras dengan nama perusahaan.

Tim SCI sedang berdiskusi dengan customer.

“Kami juga membuka sesi konsultasi selama pameran Indo Livestock tentang penyakit unggas secara umum, berhubungan dengan service yang dapat dilakukan di laboratorium SCI,” tambah Meiti.

SCI bekerja sama dengan banyak principal dari berbagai negara di dunia. Pada event Indo Livestock kali ini principal yang dapat hadir adalah Innovad NV/SA Belgia, Lipidos Toledo SA (Liptosa) Spanyol, Norel Nutricion Animal Spanyol, Delacon Austria, XJ-BIO Cina, dan IFF Danisco Denmark. Pengunjung booth SCI dapat bertemu dan berkonsultasi langsung dengan tim technical dari principal tersebut. (ADV)89L

KONDISI AWAL DAN EKSPRESI GENETIK

Kesalahan pada penanganan awal telah terbukti mengakibatkan penampilan ayam selanjutnya yang tidak prima. (Foto: pexels.com)

Oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

Awal yang baik akan memberikan hasil yang baik. Ternyata, pepatah kuno tersebut juga berlaku pada proses pemeliharaan ayam modern. Pasalnya, kesalahan pada penanganan awal telah terbukti akan mengakibatkan penampilan ayam selanjutnya yang tidak prima alias kurang “tokcer” pada pertumbuhannya. Tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis di lapangan dan didukung beberapa hasil penelitian paling mutakhir.

Berdasarkan pengamatan lapangan, ada tiga masalah yang paling sering mengganggu ekspresi potensi genetik ayam modern, yaitu tingginya faktor stres yang ada, peradangan tali pusar (omphalitis), dan dehidrasi (kehilangan cairan tubuh yang berlebihan). Tulisan ini akan difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan masalah stres.

Stres dan Penampilan Akhir Ayam
Stres merupakan reaksi fisiologis normal ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait dengan lingkungan maupun perlakuan-perlakuan yang diterima oleh ayam. Proses adaptasi ini tentu membutuhkan sejumlah energi tertentu yang akan diperoleh dari sisa kuning telur yang ada, pakan, atau dari cadangan energi lain yang terdapat dalam tubuh ayam dalam bentuk glikogen otot.

Itulah sebabnya dalam kondisi stres yang tinggi, bobot badan ayam sangat sulit mencapai bobot yang sesuai standar, karena sebagian energi digunakan untuk mengeliminasi dampak stres yang terjadi.

Di lain pihak, tingginya faktor stres yang ada, terutama disebabkan oleh proses-proses yang terjadi di lingkungan penetasan, seperti seleksi dan penghitungan DOC, vaksinasi Mareks dan potong paruh (khusus DOC petelur), transportasi, serta kondisi di lingkungan induk buatan, dapat mengakibatkan kondisi umum DOC akan menurun, rendahnya nafsu makan, dan terganggunya penyerapan sisa kuning telur. Selanjutnya, hal ini tentu akan memperparah kondisi ayam secara umum.

Adanya faktor-faktor stres tersebut akan mengakibatkan peningkatan sekresi Adeno Cortico Streroid Hormone (ACTH) oleh kelenjar pituitari pada otak (Siegel et al., 1999). Salah satu efek utama dari tingginya kadar hormon ini adalah menurunnya laju metabolisme tubuh secara umum, termasuk menurunnya penyerapan sisa kuning telur yang masih ada.
Secara normal, sisa kuning telur yang ada pada DOC akan habis terserap dalam tempo 4-7 hari setelah menetas (hatching). Gangguan pada penyerapan akhir sisa kuning telur ini akan memberikan beberapa efek negatif pada perkembangan ayam selanjutnya, yaitu:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2024. (toe)

150 ANAK IKUTI LOMBA MEWARNAI YANG DISELENGGARAKAN DISNAKKESWAN SUMBAR

Anak-anak TK Kota Padang ceria mengikuti lomba mewarnai bertema peternakan (Foto: Istimewa) 

Keceriaan menghiasi wajah peserta didik dari Taman Kanak-Kanak (TK) wilayah kota Padang yang berkumpul di Aula Kantor Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Kamis (15/8/2024). Anak-anak ini telah bersiap mengikuti perlombaan mewarnai yang diselenggarakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumbar. 

Kurang lebih 150 anak memeriahkan perlombaan untuk memenangkan banyak hadiah seperti piagam, tropi, uang tunai, serta bingkisan menarik.

Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli bersama salah satu pemenang lomba (Foto: Istimewa)

Kegiatan ini diselenggarakan Disnakkeswan Sumbar bekerjasama dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sebagai salah satu upaya meningkatkan konsumsi protein hewani kepada anak-anak.

Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi mengemukakan melalui kegiatan lomba mewarnai TK se-Kota Padang ini diharapkan menambah wawasan anak-anak, serta semakin cinta terhadap produk peternakan seperti susu, telur dan daging ayam sebagai protein protein hewani yang bermanfaat untuk tumbuh kembang mereka. 

“Acara ini sekaligus mensosialisasikan program nasional gerakan minum susu dan pemberian makan bergizi kepada anak sekolah, demi mencapai generasi emas Indonesia 2045,” tandasnya.  

Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Ir Nirmala Puspita Dewi SPt MSi menambahkan kegiatan ini juga digelar dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi  protein hewani yang bernilai gizi tinggi dengan budget terjangkau yakni telur. 

“Sekaligus memberikan edukasi khususnya bagi anak-anak agar minum susu setiap hari agar sehat dan cerdas,” imbuh Nirmala. 

Lebih lanjut disampaikan Nirmala, aktivitas mewarnai sangat bagus untuk meningkatkan konsentrasi, fisik motorik, dan kreativitas anak. “Acara ini semoga juga kian menambah semangat juang anak-anak dalam rangka memperingati  HUT kemerdekaan RI ke 79,” katanya. 

Pada kesempatan yang sama, M Rais Azis selaku Head of Marketing Poultry Breeding PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sangat mendukung program nasional dalam pemberian makan bergizi bagi anak sekolah. Pihaknya juga men-support program nasional dengan memberikan bingkisan berupa susu, telur dan sosis untuk peserta lomba. 

“Kami berharap dengan lomba ini anak-anak dapat mengenal produk peternakan seperti susu sapi, daging ayam dan telur. Mereka pun jadi suka mengonsumsi sumber protein hewani,” tutup Azis. (NDV) 


IKUTI SEMINAR: SINERGISME DOKTER HEWAN DAN APOTEKER DI BIDANG OBAT HEWAN

Gebrakan AFFAVETI: Sinergisme Dokter Hewan dan Apoteker di Bidang Obat Hewan

Jangan lewatkan Pelantikan Ketua AFFAVETI 2024 dan Seminar Perdana AFFAVETI  yang akan dilaksanakan pada:

📌 Hari/tanggal: Sabtu, 24 Agustus 2024

🕗 Jam: 08.30 - 13.00 WIB

📍 Lokasi: Gedung Start Up Centre Lantai 5, Kampus IPB Taman Kencana, Kota Bogor

Acara Free - Kuota Terbatas

Untuk informasi pendaftaran dapat menghubungi di nomor 085784750924

OPTIMALISASI GENETIK AYAM MODERN SEJAK DINI

Berkat kemajuan di bidang teknologi dan seleksi breeding yang baik, ayam ras mengalami perkembangan genetik sangat pesat. (Foto: Istimewa)

Ayam ras jenis pedaging maupun petelur telah mengalami perjalanan sejarah panjang untuk mencapai performa seperti sekarang ini. Lebih dari seabad lalu melalui berbagai proses penelitian dan pemuliaan, dihasilkan ayam ras dengan performa genetik seperti sekarang. Namun begitu, masih ada saja kendala yang menyebabkan potensi genetiknya tidak dapat mencapai performa yang diinginkan.

Didesain untuk Memenuhi Kebutuhan Pasar
Berkat kemajuan di bidang teknologi dan seleksi breeding yang baik selama lebih dari 100 tahun, ayam ras mengalami perkembangan genetik yang sangat pesat. Hasilnya ayam broiler di masa kini semakin efektif dalam mengonversi pakan menjadi bobot badan, sehingga menghasilkan daging lebih banyak yang dapat memenuhi keinginan pasar.

Begitupun dengan ayam petelur modern yang juga didesain untuk kebutuhan produksi. Dengan potensi menghasilkan telur yang bahkan diklaim mencapai 500 butir dalam waktu 100 minggu.

Menurut Ketua Umum GPPU, Achmad Dawami, seleksi genetik broiler yang dilakukan selama ini telah meningkatkan produktivitas. Pada kurun waktu 1960-1970-an, untuk mencapai bobot hidup 1,3 kg membutuhkan masa pemeliharaan selama 84 hari, namun sekarang dengan masa pemeliharaan kurang lebih 38 hari ayam broiler sudah mampu mencapai bobot hidup 2,5 kg.

“Potensi genetiknya memang memungkinkan untuk seperti itu, namun di lapangan sangat jarang peternak yang dapat mencapai potensi genetik maksimal. Oleh karenanya ini masih menjadi PR bersama, soalnya kalau potensi ini dapat dimaksimalkan, produksi kita akan lebih baik dari sekarang,” tutur Dawami.

Ia juga menyebut ke depannya kemungkinan besar ayam broiler masih akan menjadi sumber protein hewani primadona bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Pasalnya harga per gram protein ayam broiler dibanding komoditas daging lainnya adalah yang termurah, sehingga hal ini juga akan berdampak pada tingginya permintaan pasar.

High Performance, High Maintenance
Memang benar dalam urusan performa ayam broiler tidak usah diragukan lagi dari segi pertumbuhan bobot perhari, konversi pakan, serta parameter pertumbuhan lainnya sangat luar biasa. Namun, sebagai kompensasinya aspek kekebalan tubuh dan kerentanan terhadap stres dari ayam menjadi berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof I Wayan Teguh Wibawan. Menurutnya, ayam broiler zaman now memanglah sebuah monster, hal tersebut karena dalam 30 hari saja ayam broiler dapat melipatgandakan bobot tubuhnya hampir puluhan kali lipat (sejak DOC) hingga fase finisher.

“Betul-betul monster by design, tapi sebenarnya mereka sangatlah rapuh. Rawan stres, rawan penyakit, ini sudah menjadi sebuah keniscayaan, bahwa tidak ada makhluk hidup yang superior, pasti ada aspek yang dikorbankan. Butuh intervensi dari manusia agar potensi genetik dari pertumbuhan mereka optimal,” kata Prof Wayan.

Ia menambahkan berbagai fakta dan data bahwa performa broiler yang dipelihara… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Agustus 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

FANCOM PERKENALKAN SISTEM VENTILASI MTT

Acara mini seminar Fancom BV dan MyFarm di Hotel Ibis, Palembang (Foto: Istimewa)

Sofin Faiz SPt selaku Poultry Specialist dan Agent Representatives Fancom BV dan Gondo Jcofs dari MyFarm Poultry Equipment hadir sebagai pembicara mini seminar MTT Ventilation System Fancom, Rabu (7/8/2024) di Hotel Ibis, Palembang.

"Sistem ventilasi dengan konsep green energy ini merupakan paradigma baru pada peternakan ayam di Indonesia," kata Sofin, dihubungi Redaksi Infovet belum lama ini.

Sofin Faiz saat memaparkan teknologi terkini yakni sistem ventilasi MTT (Foto: Istimewa) 

Lanjut dia, sistem Ventilasi MTT berfokus pada kenyamanan ayam yang tepat dan menjadikan produksi semakin optimal.

"MTT ventilation system terdiri dari kipas smart inverter dan controller pintar, yang bisa terhubung internet dan dapat diakses dari perangkat komunikasi elektronik," jelasnya.

Sementara itu, Gondo Jcofs memaparkan system cages layer baru dari MyFarm yang merupakan sistem kandang layer yang lebih efektif, dirancang dengan bahan terbaik sekaligus menunjang keawetan.

Selain dihadiri 70% peternak layer, 30% peternak broiler dan kemitraan, acara ini juga dihadiri oleh anggota Pinsar Ampera dan Mitra Alat Ternak selaku distributor.

“Teman-teman peternak sangat tertarik dengan materi yang diberikan. Diskusi pun berlangsung hangat dan menyenangkan, sehingga tidak terasa waktu juga yang harus memisahkan,” ungkap Sofin.

Peternak diharapkan memperoleh tambahan informasi teknologi terkini, sehingga bisa selalu beradaptasi dengan perubahan yang ada. “Tentunya dengan sistem ventilasi MTT ini nantinya akan menunjang optimalisasi produksi,” pungkas Sofin optimis. (NDV)

DUKUNG PETERNAKAN BROILER DI BINTAN UNTUK PENUHI PASAR EKSPOR SINGAPURA

Peternakan ayam di Pulau Bintan mendapat pembinaan untuk bisa ikut memenuhi permintaan pasar Singapura. (Foto: Istimewa)

Menjawab permintaan pasar ayam broiler di Singapura yang semakin bertambah, Kementerian Pertanian melalui Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan melakukan pembinaan ke peternakan ayam di Pulau Bintan.

Pasar ekspor ke negara tersebut telah dibuka sejak 2023 dan berasal dari dua peternakan di Gunung Kijang milik PT Indojaya Agrinusa, dengan pengiriman mencapai 110.796 ekor. Dalam upaya menambah sumber pasokan ekspor, dilakukan pembinaan terhadap peternakan ayam broiler agar memenuhi persyaratan kesehatan hewan dari Singapura.

Untuk mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Singapura, Singapore Food Agency (SFA) melakukan audit pada Toapaya Asri Farm di Kecamatan Toapaya, Kabupaten Bintan pada Selasa (13/8/2024), dengan didampingi oleh tim dari Direktorat Kesehatan Hewan beserta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Riau, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bintan.

Direktur Kesehatan Hewan, Drh Imron Suandy, menegaskan bahwa pemerintah memberikan penjaminan atas pemenuhan syarat kesehatan bagi ayam broiler hidup yang diekspor dari Indonesia ke Singapura. Ayam yang akan dikirim dipastikan bebas penyakit hewan seperti Avian influenza (AI), salmonella, dan penyakit unggas lainnya.

Penjaminan tersebut dilakukan secara khusus oleh Direktorat Kesehatan Hewan melalui sertifikasi kompartemen bebas AI. Sertifikasi diberikan bagi peternakan yang terbukti melakukan surveilans secara aktif dan kontinu terhadap keberadaan virus AI pada ayam, kandang, dan lingkungan sekitar. Sebagai pembuktian ayam bebas AI, dilakukan pengujian laboratorium yang dilakukan di Balai Veteriner Bukittinggi dan Balai Besar Veteriner Wates.

Selain itu, Singapura juga mempersyaratkan bebas Salmonella enteritidis untuk ayam yang akan diekspor dari Indonesia. Diketahui bahwa bakteri tersebut menular ke manusia melalui makanan dan menyebabkan sakit di saluran pencernaan. Untuk itu, dibutuhkan pengendalian agar ayam tidak mengandung bakteri sampai ke rantai pangan.

Imron menegaskan, untuk mengendalikan penyakit hewan menular pada broiler di Indonesia, peternakan harus menerapkan standar biosekuriti yang ketat. Pembatasan lalu lintas orang, barang, dan hewan, baik ke dalam maupun ke luar lingkungan peternakan wajib dilakukan untuk mencegah sirkulasi mikroba penyebab penyakit.

Kemudian kebersihan kandang, disinfeksi, vaksinasi, dan pemberian vitamin juga dilakukan sebagai upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan ayam. “Pasar ekspor produk hewan khususnya unggas dari Indonesia semakin meluas, hal ini disebabkan kita telah mampu memenuhi standar kesehatan hewan dunia dan semakin diperhitungkan di pasar internasional,” kata Imron. (INF)

IKUTI WEBINAR: DIGITAL MARKETING STRATEGIES FOR LIVESTOCK AND FISHERIES DEVELOPMENT

Di era digital yang semakin maju, perubahan adalah suatu keharusan. Bisnis, pemerintah, asosiasi, hingga lembaga non-profit harus bertransformasi untuk tetap kompetitif dan relevan. Jangan lewatkan kesempatan untuk belajar strategi digital marketing yang tepat guna dalam mengembangkan sektor peternakan dan perikanan.

📅 Hari/Tanggal: Selasa, 20 Agustus 2024

⏰ Waktu: 09.00 - 12.00 WIB

🎙 Narasumber: Davit Putra, S.Si

Praktisi Digital Marketing berpengalaman lebih dari 15 tahun, owner RWP Grup, konsultan digital marketing perusahaan, dan mentor ribuan pelaku usaha dalam transformasi digital.

🎤 Moderator: Bambang Suharno

Pemimpin Redaksi Infovet dan Info Akuakultur


Materi :

1. Mengenal Ragam Digital Marketing

2. Digital Marketing B2B dan B2C

3. Digital Marketing untuk Pemerintah dan Organisasi Non-Profit

4. Langkah-langkah Menjalankan Digital Marketing:

* Riset Pasar & Niche Market

* Website Sesuai Tipe Bisnis

* Mengubah Trafik Jadi Pembeli: Customer Journey dari Awareness Sampai Closing

* Meningkatkan Konversi Penjualan: O = H x J

💰 Biaya Investasi:

* Umum: Rp 300.000

* Tenaga Pengajar: Rp 200.000

* Mahasiswa: Rp 100.000

Transfer biaya ke:

Bank Mandiri: 1260002074119

BCA: 7330301681

a/n PT Gallus Indonesia Utama

Kirim bukti transfer ke email: teamgitaeo@gmail.com

🔗 Daftar sekarang: https://bit.ly/gita_digitalmarketing

Atau hubungi GITA EO/Mariyam di 08777 829 6375

VISION : BAKTI SOSIAL ALA PDHI JABAR VI

PDHI Jabar VI Sukses Menggelar Bakti Sosial Bertajuk Vison
(Foto : CR)


Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-79, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Barat VI yang meliputi Kota dan Kabupaten Sukabumi, serta Kabupaten Cianjur mengadakan acar bakti sosial bertajuk Vision (Veterinary Social Action). Acara tersebut digelar di Living Plaza Sukabumi pada Minggu 11 Agustus 2024 yang lalu. 

Ketua panitia Vision Drh Muhammad Supika dalam sambutannya menyatakan rasa syukurnya karena acara tersebut banyak mendapat dukungan dari masyarakat, komunitas, dan stakeholder di daerahnya sehingga dapat terlaksana dengan baik. Ia juga mengatakan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk pengabdian dokter hewan Indonesia khususnya di area kerja PDHI Jabar VI.

"Sebagaimana semboyan PDHI, manusya mriga satwa sewaka, kami di dalam acara ini berusaha memberikan yang terbaik bagi lingkungan sekitar kami baik dalam urusan kesehatan hewan serta menjamin kualitas bahan pangan asal hewan. Tentunya semua itu adalah bentuk pengabdian kami dalam mewujudkan kesejahteraan manusia melalui dunia hewan," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, ketua PDHI Jabar VI yakni Drh Riki Barata dalam sambutannya juga menyatakan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam acara tersebut. Menurutnya ini bukan kali pertama PDHI Jabar VI melakukan kegiatan bakti sosial, dimana setiap tahun acara bakti sosial rutin mereka gelar.

"Kami alhamdulillah setiap tahun proaktif melakukan acara serupa, bentuknya pun berbeda. Pada saat Covid kemarin, kami membagikan 1000 masker kepada masyarakat, kemudian ada juga kegiatan bakti sosial lain yang berkaitan dengan profesi," kata dia.

Dirinya juga berharap agar PDHI Jabar VI dapat terus rutin melaksanakan kegiatan serupa meskipun dengan bentuk yang berbeda tiap tahunnya. Karena menurutnya kegiatan bakti sosial amat krusial selain sebagai ajang eksistensi dan silaturahmi, tetapi juga sebagai pengejawantahan kepedulian dokter hewan kepada masyarakat.

Mewakili PJ Walikota Sukabumi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Sukabumi Adrian Hariadi menyampaikan rasa banggan dan mengapresiasi kegiatan tersebut setinggi - tingginya. Adrian menyebut bahwa PDHI Jabar VI merupakan salah satu mitra strategis Pemerintah Kota Sukabumi yang kiprahnya selalu dinantikan.

"Kami mendukung penuh kegiatan ini, dan juga menyambut baik acara ini. Kebetulan acara seperti ini sudah kesekian kalinya oleh PDHI Jabar VI dan kalau saya melihat dari antusiasme warga, acara ini bisa dibilang sukses. Semoga PDHI Jabar VI tetap eksis dan berkontribusi bagi wilayah kerjanya dengan kegiatan - kegiatan yang positif," tutup Adrian.

Minum Susu dan Makan Telur Sebagai Bentuk Kampanye Gizi
(Foto : CR)


Kegiatan Bermanfaat Nan Edukatif 

Masyarakat Antusias Mendonorkan Darah
(Foto : CR)

Dalam acara Vision tersebut terdapat berbagai rangkaian kegiatan yang dilangsungkan oleh PDHI Jabar VI. Mulai dari senam pagi, pemeriksaan kesehatan hewan gratis, layanan USG gratis, vaksinasi rabies gratis, donor darah, kampanye gizi protein hewani, expo dan bazar, serta acara talk show mengenai nutrisi hewan peliharaan. 

Dalam acara talkshow narasumber yang dihadirkan pun bukan kaleng - kaleng. Bertindak sebagai narasumber yakni Drh Moh Zaenal Abidin Mursyid selaku Veterinary Development Manager dari MARS Pet Nutrition. Talkshow tersebut dimoeratori oleh Drh Wingke yang juga merupakan salah satu dokter hewan praktisi hewan kecil asal Kota Sukabumi.

Semakin Meriah Dengan Adanya Doorprize dan Hadiah
(Foto : CR)

Secara gamblang Drh Abid banyak menjelaskan kepada masyarakat yang hadir akan pentingnya pemberian nutrisi hewan kesayangan secara seimbang. Ditambahkan dengan berbagai tips merawat hewan kesayangan dari Drh Wingke yang semakin membuat acara talkshow semakin meriah. Berbagai pertanyaan dari pemilik hewan pun ditanyakan langsung, sehingga terjadi disuksi yang interaktif dan menarik. 

Pemeriksaan Kesehatan Hewan Gratis
(Foto : CR)

Berdasarkan data yang dihimpun oleh panitia, sekitar 150 ekor hewan kesayangan yang terdiri dari berbagai macam spesies mulai dari kucing, anjing, ayam, dan hewan lain telah diperiksakan oleh tim dokter hewan dalam acara Vision tersebut. 

Dari kegiatan donor darah, sebanyak lebih dari 70 orang yang hadir dalam acara tersebut datang mendonorkan darahnya. Sejatinya ada 100 orang yang mendaftarkan diri, namun karena alasan kesehatan, hanya 70 orang saja yang diperbolehkan mendonorkan darahnya pada hari itu. 

Acara kian meriah dengan dibagikannya doorprize kepada peserta yang hadir. Doorprize diberikan secara diundi bagi mereka yang beruntung dan juga melalui kuis interaktif yang diadakan oleh panitia. Semoga kegiatan serupa dapat dilangsungkan oleh PDHI di cabang lainnya sebagai bentuk kepedulian dan eksistensi dokter hewan Indonesia dalam membangun bangsa. (CR)


''THINK GLOBALLY, ACT LOCALLY'' TERHADAP PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

(Foto: Istimewa)

Bersyukur bisa hadir pada lokakarya Foresight yang diadakan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO), pada 15-16 Juli 2024, di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta Pusat, bersama seorang kolega lain, mewakili Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI).

Pada lokakarya tersebut membahas tema meningkatnya ancaman perubahan iklim yang mengganggu produksi peternakan dan memicu penyakit zoonosis baru untuk mengidentifikasi tantangan masa depan subsektor peternakan di Indonesia, tema yang menarik bagi saya sebagai praktisi perunggasan.

Membaca undangan Ditjen PKH yang dikirimkan ketua ADHPI, Drh Dalmi Triyono, menerangkan bahwa kerangka acuan yang digunakan dalam lokakarya tersebut adalah Inisiatif Kebijakan dan Perencanaan Masa Depan Peternakan (Futures Livestock Policy and Planning (FLPP) Initiative) Mitigasi Dampak Perubahan Iklim terhadap Penyakit Zoonosis yang Muncul dan Muncul Kembali di Indonesia.

Dijelaskan dalam beberapa dekade mendatang, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan mengalami lonjakan permintaan makanan sumber protein hewani karena pertumbuhan penduduk, meningkatnya pendapatan, dan urbanisasi. Peningkatan permintaan akan mendorong investasi besar dalam peternakan dan rantai nilai terkait, yang sangat berdampak pada mata pencaharian, kesehatan masyarakat, dan lingkungan.

Ketika sektor peternakan berubah, interaksi baru antara manusia, hewan, dan satwa liar akan muncul, berpotensi mengarah pada ancaman kesehatan masyarakat baru. Ancaman ini mencakup penyakit zoonosis yang muncul dengan potensi pandemi, bahaya keamanan pangan, dan penyebaran patogen resistan antimikroba.

Dalam lokakarya tersebut, metode foresight akan disusun untuk mengikuti Model Foresight Generik seperti yang digariskan oleh Joseph Voros.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Drh Syamsul Ma’arif MSi, sebelum membuka lokakarya secara resmi, turut memberi apresiasi positif, bersyukur, dan mendorong solusi perubahan iklim serta pencegahan zoonosis dengan pendekatan One Health.

Pada hari pertama fokus pada “Input” mengumpulkan informasi tentang keadaan sektor peternakan Indonesia saat ini, termasuk tren, tantangan, dan peluang. Kemudian “Analisis” untuk identifikasi pola dan mencari pendorong utama perubahan. Diawali pemaparan tentang tren perubahan iklim 15-20 tahun ke depan disampaikan oleh Kadarsih MSi dari BMKG, dilanjutkan Drh Didi Prigastono dari industri perunggasan, Josep lay dari industri penggemukan sapi potong, dan Drh Dedy Fachrudin mewakili industri sapi perah. Semua peserta terlibat dalam “Interpretasi” untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang kekuatan mendasar yang membentuk sektor ini.

Terhadap perubahan tersebut para narasumber menyikapi dengan cara berbeda, sehingga menjadi sebuah kombinasi yang melengkapi dan saling menguatkan, dengan perubahan iklim tersebut agar lebih memperhatikan biosecurity, food security, dan social security.

Pada hari kedua, fokus beralih ke “Prospection” mengeksplorasi skenario masa depan potensial untuk sektor peternakan Indonesia. Peserta menggunakan alat dan teknik Foresight untuk membayangkan masa depan alternatif, dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti perubahan iklim, kemunculan penyakit, dan preferensi konsumen. “Output” dari latihan ini akan diterjemahkan ke dalam rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk kebijakan dan perencanaan.

Penulis (paling tengah) mewakili ADHPI saat lokakarya Foresight yang diadakan Ditjen PKH dan FAO di Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Tetapi dalam diskusi kecil kelompok, kami merasa ada yang kurang pas, karena aktualisasi bayangan perubahan yang kami presentasikan tersebut terlampau ekstrem. Kami khawatir menimbulkan gejolak, apalagi kondisi mental masyarakat saat ini sangat rapuh akibat perubahan yang terjadi, berpotensi menyebabkan gejolak sosial, sehingga bernegara bisa berubah ekstrem menjadi sosialis atau kapitalis.

Sehingga pada akhir sesi kami sampaikan bahwa menyikapi perubahan yang bakal terjadi di masa depan, sebaiknya “Berpikir Global tetapi Bertindak Lokal” (Think Globally, Act Locally) memahami masalah secara global, menyadari bahwa Indonesia juga terdampak akibat perubahan, tetapi mencari solusinya dengan tetap memperhatikan kepentingan dalam negeri dan kearifan sumber daya lokal agar kita tetap memiliki jati diri sebagai bangsa yang beradab, berbudaya, menjunjung tinggi perikemanusiaan, keadilan, dan persatuan untuk kesejahteraan rakyat dan kejayaan Indonesia. Berbeda dari konsep sosialis maupun kapitalis, maka gagasan itu kami namakan Sosio Capita Humanis.

Masih banyak yang ingin kami diskusikan, bersama tim dengan latar belakang berbeda, membahas strategi masa depan untuk kepentingan peternakan di Indonesia adalah sangat mengasyikan, tetapi karena terbatasnya waktu, lokakarya harus disudahi, dan ditutup resmi oleh Drh Imron Suandi MVPH selaku Direktur Kesehatan Hewan yang baru.

Semoga hasil pemikiran peserta dalam lokakarya tersebut bermanfaat sebagai kontribusi pada rencana strategis peternakan nasional yang tangguh menghadapi perubahan iklim, mencegah zoonozis, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. ***

Ditulis oleh:
Drh H. Baskoro Tri Caroko
Koordinator ADHPI Area Jabodetabek Banten

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer