-->

MEDIA KIT INFOVET


 




Address:

Grand  Pasar Minggu No. 88A, Jl. Rawa Bambu Jakarta Selatan , Indonesia 12520

Phone. 021-7829689, 78841279,  62813-2497-7287, Marketing: 62818-0659-7525  (Aida)

Email : majalah.infovet@gmail.com; infovet02@gmail.com, Website : www.majalahinfovet.com


CRANSWICK DIKECAM KARENA MEMBANGUN SALAH SATU PETERNAKAN UNGGAS TERBESAR DI EROPA

Produsen unggas dan daging babi Inggris, Cranswick, dikecam karena berencana membangun salah satu peternakan terbesar di Inggris.

Cranswick ingin menampung 870.000 ayam dan 14.000 babi di lokasi yang terhubung di Methwold dan Feltwell di Norfolk, yang mendapat dukungan dari mantan perdana menteri Inggris dan anggota parlemen daerah pemilihan Liz Truss.

Ketika ditanya tentang pandangannya tentang fasilitas yang diusulkan, Truss mengatakan bahwa dia "akan sangat senang tinggal di sebelah peternakan babi", dan mengatakan bahwa dia mendukung peternakan asalkan "tidak berdampak negatif pada penduduk setempat".

Meskipun dia telah menyuarakan kekhawatiran penduduk tentang potensi kebisingan dan polusi, dia mengatakan kepada media lokal, "Saya bangga dengan pertanian Norfolk dan percaya bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi negara kita. Saya mendukung pertanian asalkan tidak berdampak negatif pada penduduk setempat."

Namun, rencana tersebut dikritik oleh penduduk desa setempat dan aktivis hak asasi hewan, yang khawatir tentang potensi peningkatan lalu lintas kendaraan berat, polusi dari lokasi tersebut yang menyebabkan masalah kesehatan, dan berdampak buruk pada lingkungan alam.

Cranswick mengatakan bahwa skema kembar tersebut – yang akan menciptakan salah satu lokasi peternakan terbesar di negara tersebut – akan menjadi “pertanian modern yang berkelanjutan” yang akan membantu menghasilkan produk yang terjangkau, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan ekonomi lokal.

PERLUASAN INDUSTRI UNGGAS DI POLANDIA MEMICU MASALAH LINGKUNGAN

Sekelompok organisasi lingkungan Polandia telah bersatu melawan perluasan pesat segmen industri unggas industri, dengan meminta pihak berwenang untuk mengekang pertumbuhan lebih lanjut. Perdana Menteri Donald Tusk dilaporkan enggan memenuhi tuntutan tersebut.

Ada hampir 1.300 peternakan unggas industri yang beroperasi di Polandia, dan 2 peternakan lagi diperkirakan dibangun setiap bulan rata-rata, menurut Stop Industrial Farms Coalition, aliansi beberapa organisasi ekologi. Pada tahun 2023-2024, 32 peternakan industri baru telah dioperasikan, sementara puluhan sedang dalam pembangunan, dan 23 sedang dalam proses untuk mendapatkan izin konstruksi, kata para pemerhati lingkungan.

“Proses [perluasan industri unggas] sedang mendapatkan momentum. Tidak pernah seburuk ini sebelumnya,” Bartosz Zając, juru bicara Stop Industrial Farms Coalition, memperingatkan. “Wali kota dan kepala komune dibombardir dengan permohonan izin untuk membangun kandang ayam baru.”

Dilaporkan bahwa penduduk pemukiman yang terletak dekat dengan peternakan unggas industri berulang kali mengeluhkan bau busuk, polusi, dan bahaya kesehatan.

Selama kampanye pemilihan umum baru-baru ini, politisi Polandia dari partai politik Perdana Menteri Tusk berjanji untuk menyelesaikan masalah tersebut dan memberlakukan pembatasan terhadap klaster unggas – sebuah format tempat beberapa peternakan unggas besar berdiri berdampingan, berbagi infrastruktur umum.

“Para politisi yang membentuk pemerintahan hari ini berkeliling Polandia sebelum pemilihan umum dan berjanji untuk menyelesaikan masalah klaster peternakan. Sekarang mereka berkuasa, tetapi mereka tidak menepati janji mereka,” jelas Bartosz Zając.

“Polandia tengah menjadi kandang ayam Eropa,” lapor kantor berita daring lokal, Next Gazeta, mengutip meningkatnya kekhawatiran para pencinta lingkungan dan penduduk di beberapa wilayah atas perluasan industri unggas yang sedang berlangsung. Masalah ini dianggap sangat menegangkan di Mazovia, khususnya di daerah segitiga Żuromin – Mława – Ciechanów, salah satu pusat produksi daging ayam pedaging terbesar di negara tersebut. Peternakan terbesar, Wróblewo, dapat menampung 2,5 juta ayam pedaging, yang menghasilkan 17 juta ekor per tahun. Penduduk setempat memiliki cerita panjang tentang desakan kepada pemerintah setempat untuk membatasi pengembangan industri tersebut, meskipun peternakan merupakan sumber utama lapangan kerja di bagian negara ini.

Para ahli ekologi mengakui bahwa protes, bagaimanapun, jarang menghasilkan hasil yang berarti. “Bahkan jika penduduk bereaksi cepat [terhadap berita tentang pembangunan peternakan unggas], tidak ada jaminan bahwa protes tersebut akan memberikan dampak. Hukum di Polandia berpihak pada perusahaan-perusahaan besar,” kata Zając.

Namun, sebagian besar kotamadya akan mengadopsi rencana pembangunan pada akhir tahun 2025, yang menurut para ahli lingkungan akan membuat perusahaan unggas semakin sulit mendapatkan izin pembangunan baru.

MEMAKSIMALKAN PENGGUNAAN ENZIM


Nutrisi merupakan unsur yang sangat esensial yang diperoleh dari bahan baku pakan yang dimanfaatkan untuk pemeliharaan, pertumbuhan, produksi, dan reproduksi hewan. Kelompok nutrisi pada umumnya seperti karbohidrat (energi), protein (asam amino), lemak, mineral, vitamin, dan air. Performa ayam akan terbentuk optimal memerlukan asupan nutrisi yang tepat.

Dalam memberikan asupan pakan ada hal-hal yang harus diperhatikan agar nutrisi yang diberikan  sesuai dengan yang dibutuhkan. Dimana setiap bahan baku yang ada selama ini terbukti kualitasnya bervariasi. Kualitas yang bervariasi merupakan hal nyata terlihat dalam setiap melakukan pemeriksaan bahan baku. Bahan-bahan baku yang di masukkan dalam formulasi pakan juga terdapat zat anti-nutrisi.

Apa itu zat anti-nutrisi? Didefinisikan sebagai komponen biologis yang terdapat dalam pakan atau bahan baku pakan yang dapat mengurangi pemanfaatan nutrisi atau asupan pakan, sehingga menyebabkan gangguan fungsi pencernaan dan kinerja metabolisme. Tanin, fitat, inhibitor tripsin, NSP, glukosinolat, saponin, β-glukan, adalah beberapa zat anti-nutrisi penting yang ditemukan pada tanaman sebagai sumber bahan baku seperti jagung, gandum, SBM, dan dedak.

Ancaman-ancaman dari zat anti-nutrisi yang terjadi pada bahan baku yang digunakan dalam formulasi pakan antara lain:

• Gangguan kesehatan usus dan ekologinya.
• Peningkatan kerugian endogen.
• Terganggunya fungsi enzim endogen.
• NSP yang memengaruhi pembentukan viskositas (NSP larut) dan mekanisme penjebakan nutrisi atau efek sangkar (NSP tidak larut).
• Fitat yang setiap 1% menurunkan kecernaan pakan dalam kisaran 0,49-0,89% seiring dengan kencernaan nutrisinya.

Jagung merupakan sumber energi utama pakan di Indonesia yang mempunyai nilai rata-rata energi sebesar 3359 kkal/kg, namun memiliki nilai rata-rata yang berbeda di setiap bulannya. Kontribusi jagung terhadap nilai energi pakan minimal 50-65%.

Kemudian soybean meal (SBM) merupakan sumber utama protein atau asam amino untuk pakan yang berkontribusi pada suplai lysine (+70%) dan methionine (+30%). SBM di Indonesia dengan kandungan protein 46% mempunyai nilai serat kasar dan lemak kasar dengan variasi cukup besar yaitu 16% dan 25%.

Sedangkan dedak memiliki nilai nutrisi  sangat bervariasi pada setiap parameter yang dianalisis. Nilai serat kasar dan lemak kasar dedak memiliki variasi yang sangat besar, yakni 62,68% dan 22,78%, meskipun memiliki kadar air yang relatif lebih seragram.

Dengan kondisi bahan baku tersebut di atas dimana memiliki zat anti-nutrisi dan variasi kualitas yang berbeda yang dapat memengaruhi nilai nutrisi yang diharapkan, maka diperlukan imbuhan dalam pakan. Imbuhan yang ditambahkan dalam pakan yang sangat berpengaruh agar memberikan nilai nutrisi yang optimal adalah enzim.

Enzim berfungsi sebagai pencerna serat dan modulator mikroflora saluran cerna, serta meningkatkan ketersediaan potensial nutrien endogen (nutrisi yang tersedia di dalam bahan baku pakan). Enzim merupakan senyawa organik bermolekul besar berfungsi mempercepat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom

IKUTI "THE 2ND EQUIPMENT & INGREDIENT SOLUTION TO ANIMAL NUTRITION CONFRENCE (ENISTAN @ID 2024)"

 The 2nd Equipment & Ingredient Solution to Animal Nutrition Confrence (ENISTAN @ID 2024)  akan dilaksanakan pada:

  • Hari/Tanggal : Selasa, 16 Juli 2024
  • Waktu             : Jam 09.00 - 17.15 WIB
  • Lokasi             : Sari Pacific Hotel, MH Thamrin No. 6 Jakarta
  • Biaya               : Gratis (undangan terbatas)
Kegiatan akan menghadirkan topik dan pembicara yang sangat menarik.
Berikut form mohon diisi https://bit.ly/ENISTAN_2024, informasi selanjutnya dapat menghubungi GITA EO/Mariyam https://wa.me/6287778296375


KELOMPOK KESEJAHTERAAN HEWAN BERSELISIH DENGAN ORGANISASI PERDAGANGAN UNGGAS EROPA

Kelompok kesejahteraan hewan Compassion in World Farming telah membalas klaim oleh Asosiasi Produsen Unggas dan Perdagangan Unggas di Negara-negara UE (AVEC) seputar biaya tambahan yang terkait dengan Komitmen Ayam Eropa.

Dalam laporan yang dibuat oleh konsultan Inggris ADAS, AVEC mengatakan bahwa transisi penuh ke standar Komitmen Ayam Eropa akan mengakibatkan:

  • Biaya produksi tambahan sebesar 37,5% per kg daging.
  • Peningkatan konsumsi air sebesar 35,4%, yang setara dengan tambahan 12,44 juta meter kubik per tahun.
  • Peningkatan konsumsi pakan sebesar 35,5%, yang setara dengan tambahan 7,3 juta ton.
  • Peningkatan emisi gas rumah kaca sebesar 24,4% per kg daging yang diproduksi.

Penurunan sebesar 44% dari total daging yang diproduksi dibandingkan dengan metode produksi standar saat ini di lahan pertanian UE yang ada (>30kg/m²). Perlunya membangun 9.692 kandang unggas baru, dengan perkiraan biaya sebesar €8,24 miliar, untuk mempertahankan tingkat produksi saat ini.

Presiden AVEC, Gert-Jan Oplaat, menekankan pentingnya pilihan konsumen dan pengambilan keputusan yang terinformasi, “Meskipun Komitmen Ayam Eropa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan, penting untuk menyadari bahwa peningkatan ini disertai dengan implikasi ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Mengetahui bahwa konsumsi unggas UE diprediksi akan tumbuh di UE dalam 10 tahun ke depan, konsumen harus memiliki pilihan untuk memilih produk kesejahteraan yang lebih tinggi jika mereka menginginkannya, tetapi sangat penting bahwa pilihan standar dan terjangkau tetap tersedia.”

Namun Compassion mengatakan bahwa yang dilaporkan telah mencoba untuk memodelkan biaya ekonomi dan lingkungan dari produksi Komitmen Ayam Eropa tetapi gagal dalam memperhitungkan manfaat yang terkait dengan produksi kesejahteraan yang lebih tinggi – termasuk angka kematian yang lebih rendah, penggunaan antibiotik yang berkurang, dan kualitas daging yang lebih baik, yang secara signifikan dapat mengimbangi beberapa dampak ekonomi dan lingkungan ini.

Dikatakan bahwa Komitmen Ayam Eropa meningkatkan standar untuk kesejahteraan ayam pedaging di Eropa. Hal ini dapat memengaruhi biaya dan langkah-langkah lingkungan, tetapi bila dikombinasikan dengan strategi yang berhasil – seperti reformulasi pakan, pemanfaatan karkas secara penuh, atau pengembangan produk yang inovatif – hal ini dapat menjadi layak secara komersial dan lingkungan.

Kebutuhan akan standar kesejahteraan yang lebih baik dalam produksi ayam didukung oleh penelitian ilmiah dan opini publik, menurut Dr. Tracey Jones, Direktur Global Bisnis Makanan, Compassion in World Farming. Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) merilis opini ilmiah yang signifikan pada tahun 2023, yang menyerukan perubahan substansial dalam sistem produksi agar lebih selaras dengan kebutuhan kesejahteraan ayam. Rekomendasi mereka mencakup semua persyaratan utama Komitmen Ayam Eropa di peternakan (kepadatan ternak yang lebih rendah, ras yang tumbuh lebih lambat, pengayaan, dan cahaya alami) dan akan menginformasikan revisi undang-undang kesejahteraan hewan UE, termasuk pembaruan pada 'Petunjuk Broiler' (Petunjuk Dewan 2007/43/EC) tentang perlindungan ayam broiler. Kekhawatiran konsumen

Konsumen juga semakin peduli dengan kesejahteraan hewan, sebagaimana dibuktikan dalam Eurobarometer terbaru (jajak pendapat resmi Komisi Eropa) tentang kesejahteraan hewan (Oktober 2023), yang menunjukkan bahwa 84% warga Eropa yang disurvei menginginkan kesejahteraan hewan ternak lebih terlindungi di negara mereka.

Komitmen Ayam Eropa menyediakan kerangka kerja bagi produsen dan perusahaan untuk memberikan kesejahteraan yang lebih baik bagi ayam pedaging, yang memungkinkan mereka untuk menanggapi permintaan konsumen akan kesejahteraan yang lebih tinggi dan mengantisipasi potensi perubahan legislatif di UE.

Dr Jones menambahkan bahwa lebih dari 380 perusahaan telah mendaftar ke Komitmen Ayam Eropa, berjanji untuk hanya menawarkan kepada pelanggan mereka produk kesejahteraan yang lebih tinggi dari ayam yang lebih sehat dan lebih bahagia. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya menandatangani; banyak yang secara aktif berupaya untuk menerapkan serangkaian kriteria kesejahteraan yang lebih tinggi. Misalnya, Marks and Spencer di Inggris sekarang memiliki 100% ayam segar yang mematuhi Komitmen Ayam Eropa di rak-raknya dan sedang dalam jalur untuk mengubah ayam olahan dan bahan-bahannya untuk memenuhi tenggat waktu Komitmen Ayam Eropa 2026. Lebih dari 50 perusahaan dalam European Chicken Track terbarunya melaporkan kemajuan mereka dalam memenuhi persyaratan.

KONFERENSI USSEC: MEMAJUKAN NUTRISI TERNAK YANG BERKELANJUTAN DAN MENGUNTUNGKAN DI ASIA TENGGARA

 


PRODUSEN TELUR PRANCIS INGIN MEMENUHI PERMINTAAN YANG TERUS MENINGKAT

Produsen telur Prancis, selama 6 tahun ke depan, akan menginvestasikan €300 juta di lebih dari 300 kandang baru, atau hampir satu kandang seminggu, untuk menjaga produksi agar sejalan dengan meningkatnya konsumsi telur.

Dengan memproduksi lebih banyak di Prancis, organisasi untuk promosi telur, CNPO, ingin menyingkirkan pesaing asing dari pasar. "Tingkat swasembada telur di negara kami saat ini mencapai 99% – kami ingin mempertahankannya setidaknya pada tingkat itu," kata CNPO.

Tahun lalu, Prancis mengonsumsi setara dengan 224 telur per kepala, yang 45% di antaranya di rumah, 41% sebagai produk Ovo (misalnya, telur olahan dalam produk roti, pasta, dll.) dan 12% di restoran atau tempat lain di luar rumah. Total konsumsi 3% lebih tinggi daripada tahun 2022, sementara produksi meningkat sebesar 4% menjadi 14,3 miliar telur. Dengan angka tersebut, Prancis tetap menjadi produsen telur terbesar di UE, sebelum Spanyol dan Jerman.

Menurut sejumlah survei, konsumen Prancis menganggap telur sebagai sumber protein termurah dan bahan pangan anti-krisis yang khas. Namun, meskipun konsumsi terus tumbuh hingga 5,2% dalam beberapa bulan pertama tahun ini, produksi mengalami stagnasi dengan prediksi pertumbuhan kurang dari 1% pada tahun 2024, menurut perkiraan CNPO.

Untuk mempertahankan apa yang kini selalu disebut Prancis sebagai kedaulatan pangan untuk telur, industri tersebut meluncurkan ‘Plan de filière’ atau rencana sektor 2030. “Menghadapi antusiasme terhadap telur ini, sektor tersebut harus segera menata kembali keadaan setelah episode flu burung baru-baru ini,” kata organisasi tersebut.

BAGAIMANA MEMANFAATKAN ENZIM DALAM PAKAN?

Gambaran kerja enzim seperti gembok dan kuncinya, sehingga harus cocok. (Sumber: saylordotorg.github.io)

Enzim adalah biokatalis yang dapat mempercepat reaksi kimia. Tanpa adanya enzim, reaksi kimia akan berjalan lambat, tetapi dengan dibantu enzim maka reaksi kimia akan berjalan cepat. Sebagai contoh, perubahan nasi menjadi glukosa dalam sistem pencernaan manusia akan berjalan lambat, tetapi dengan adanya enzim amilase di dalam saluran pencernaan maka pati yang ada dalam nasi akan berubah menjadi glukosa dalam waktu cepat dan akan digunakan sebagai sumber energi dalam kehidupan.

Penggunaan enzim sudah lama dikenal dalam industri pangan maupun obat-obatan, sebagai contoh penggunaan enzim pektinase agar dapat menjernihkan jus buah yang tadinya keruh akibat adanya pektin dalam buah, menjadi molekul rantai pendek (glukoronat) sehingga jus buah menjadi lebih jernih. Dalam bidang pengobatan, tablet enzim diberikan kepada pasien yang menderita gangguan pencernaan karena masalah dalam lambungnya. Pemberian tablet campuran enzim akan membantu meningkatkan kemampuan mencerna makanan di dalam lambungnya.

Penggunaan enzim dalam pakan berkembang pesat dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, diawali dengan penemuan enzim fitase yang dapat mempercepat pemecahan fitat menjadi fosfor inorganik, sehingga ternak dapat memanfaatkan fosfor yang ada di dalam pakan tumbuhan. Sebab jika tidak diberikan enzim fitase, maka fosfor dalam fitat sedikit sekali dapat dipecah oleh enzim yang ada di dalam saluran pencernaan ternak monogastrik.

Pemakaian enzim yang terus meningkat dalam pakan ternak diakibatkan kemajuan teknologi untuk menghasilkan enzim yang makin efisien dan makin murah. Berbagai jenis enzim dikembangkan tidak hanya fitase, tetapi juga enzim lainnya seperti xylanase, beta glukanase, protease, lipase, mananase, amilase, dan sebagainya. Dalam tulisan ini diuaraikan bagaimana memanfaatkan enzim secara optimal sehingga dapat meningkatkan daya guna pakan dan juga mengurangi biaya pakan yang pada akhirnya mengurangi biaya produksi untuk menghasilkan daging maupun telur.

Mekanisme Kerja
Enzim merupakan senyawa protein dengan rantai peptida yang panjang dan bentuknya tiga dimensi. Dalam bentuk tiga dimensi, ada lokasi yang dikenal dengan lokasi aktif (active site) yang ketika enzim ”nempel” dengan substrat yang sesuai maka enzim akan bekerja untuk memecah substrat yang cocok tersebut. Sehingga enzim biasanya digambarkan sebagai gembok dan substrat yang akan dipecah adalah kunci. Kunci hanya bisa membuka gembok manakala sesuai, sehingga enzim hanya dapat bekerja ketika substrat yang menjadi target pemecahan enzim sesuai. Sebagai contoh enzim fitase akan memecah senyawa fitat, tetapi apabila suatu bahan pakan tidak mengandung fitat seperti meat bone meal, maka fitase tidak ada fungsinya atau enzim mananase diberikan pada ransum yang bahan bakunya tidak ada manan tetapi yang tersedia adalah amilum, maka enzim mananase tidak akan mampu memecah amilum yang struktur kimia berbeda dengan manan.

Oleh karena itu, penting untuk diperhatikan manakala ada suatu tawaran untuk menggunakan enzim, apakah enzim yang ditawarkan akan ”bekerja” pada ransum yang akan dipakai dan bahan baku pakan yang terdapat di dalamnya mempunyai senyawa kimia yang menjadi target penggunaan enzim tersebut. Enzim tidak berlaku umum, tetapi spesifik terhadap substrat yang ada dalam bahan baku pakan.

Di samping jenis enzim dan subsrat yang sesuai, enzim juga akan bekerja ketika... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.

Ditulis oleh:
Prof Budi Tangendjaja
Konsultan Nutrisi Ternak Unggas

DISNAKKESWAN SUMBAR SELENGGARAKAN SOSIALISASI SERTIFIKASI PUPUK ORGANIK ENTREPRENEUR MILENIAL

 

Antusiasme peserta kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Pupuk Organik.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Sukarli SPt MSi, membuka kegiatan Sosialisasi Sertifikasi Pupuk Organik Entrepreneur Milenal yang diselenggarakan secara daring, Kamis (4/7).  

“Melalui sosialisasi ini, kami perlu sampaikan setiap peredaran produk hasil pertanian diwajibkan memiliki sertifikasi untuk memastikan mutu produk yang dihasilkan,” kata Sukarli.

Pupuk organik, salah satu bahan bakunya adalah dari limbah peternakan yang kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk kompos.

“Setiap bahan baku yang dihasilkan oleh limbah peternakan jika diolah dengan SOP, maka dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Apakah pupuk kompos itu kemudian bisa otomatis menjadi pupuk organik, maka peran sertifikasi ini yang kami sosialisasikan,” imbuh Sukarli.

Sesi berikutnya adalah pemaparan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) Sumbar yang hari ini hadir sebagai pembicara yaitu Pastaliza STP MSi. Dipandu moderator Nirmala SPt MSi, Kepala Bidang Bina Usaha Disnakkeswan Sumbar sekaligus Ketua Panitia kegiatan ini.  

Pupuk organik sering disebut pupuk kompos adalah bahan yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, hijauan tanaman, kotoran hewan (padat dan cair) yang telah mengalami proses dekomposisi, serta digunakan untuk memasok hara tanaman dan memperbaiki ingkungan tumbuh tanaman.

“LSO dalam hal ini sebagai lembaga yang bertanggung jawab melakukan sertifikasi maupun verifikasi bahwa produk yang dijual atau dilabel sebagai ‘organik’ telah diproduksi, diolah, disiapkan, ditangani dan diimpor sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)," jelas Pastaliza.

Lebih lanjut dijelaskan mengenai peraturan dan standar yang digunakan dalam kegiatan sertifikasi pupuk organik diantaranya SNI 6729:2016 tentang Sistem Pertanian Organik; Permentan 64 Tahun 2013 tentang Sistem Pertanian Organik; Permentan No 1 Tahun 2019 tentang Pendaftaran Pupuk Organik, Pupuk Hayati Pembenah Tanah; Kepmentan 261 Tahun 2019 tentang Persyaratan Teknis Minimal Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah; Kepmentan 262 Tahun 2019 tentang Lembaga Uji Mutu dan Uji Efektifitas Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah.

Pastaliza menerangkan persyaratan sertifikasi pupuk organik antara lain SOP harus mengacu ke SNI 6729:2016 dan Permentan 64 tahun 2013 kemudian tidak boleh menggunakan bahan kimia sama sekali. “Jika akan menggunakan dekomposer pabrikan, harus sudah disertifikasi organik,” tandasnya.

Menyoroti kondisi tanah yang semakin padat dan keras sekaligus ketersediaan pupuk kimia yang langka karena harganya mahal, solusi untuk menghindari ketergantungan pemakaian pupuk kimia pada budidaya tanaman adalah dengan penggunaan pupuk organik. (NDV)

 

 

 

 

PERAN ENZIM PADA AYAM MODERN

Sistem pencernaan pada ayam modern terdiri dari saluran yang memanjang dari rongga mulut sampai kloaka dan komponen pelengkap seperti kelenjar ludah, hati, kelenjar empedu, dan pankreas.

Penambahan enzim-enzim tertentu (exogenous enzymes) dalam pakan ayam modern selain untuk mengoptimalkan kecernaan komponen nutrisi rantai panjang dalam bahan baku pakan, juga untuk mereduksi efek komponen yang mengganggu proses pencernaan dan/atau penyerapan unsur nutrisi pada saluran cerna ayam (anti-nutritive factors). Tulisan singkat ini memberikan gambaran sekilas terkait peranan exogenous enzymes dalam perjuangan optimalisasi performa ayam modern di tengah gonjang-ganjing ketersediaan dan kualitas bahan baku pakan.

Fisiologi Gastrointestinal Ayam
Sebelum masuk ke dalam lambung kelenjar alias proventrikulus via esofagus bawah (kerongkongan bawah), pakan yang dikonsumsi oleh ayam akan disimpan untuk sementara waktu di dalam tembolok atau krop. Krop sendiri merupakan divertikulum (pelebaran) dari kerongkongan yang berfungsi sebagai tempat proses pelunakan awal pakan oleh air minum, air liur yang kaya akan enzim amilase, serta ditopang oleh aktivitas beberapa bakteri komensal.

Di sisi lain, proventrikulus merupakan lambung ayam yang kaya akan sel-sel kelenjar yang menghasilkan asam lambung (HCl) dan enzim pepsin. Berhubung ayam kodratnya tidak mempunyai gigi-geligi dalam rongga mulutnya, maka setelah pakan mengalami proses asidifikasi (pengasaman) dan penguraian awal enzimatis di dalam proventrikulus, selanjutnya akan mengalami proses penghalusan partikel pakan secara mekanik yang terjadi di dalam gizzard atau lambung otot (Sturkie et al., 2015).

Secara mendasar proses pencernaan ayam sebenarnya mirip dengan hewan monogastrik lainnya. Sekresi cairan empedu oleh organ hati yang berfungsi untuk proses emulsifikasi komponen lemak pakan serta sekresi enzim-enzim pankreas seperti amilase, tripsinogen, lipase pankreas, kemotripsinogen, dan prokarboksipeptidase yang selanjutnya akan mengubah pakan menjadi bentukan kime (chyme) yang secara bertahap akan berjalan meninggalkan usus dua belas jari (duodenum) menuju ke usus penyerapan (jejunum).

Beberapa enzim lainnya baik yang disekresikan oleh sel-sel epitelium usus halus maupun berupa metabolit sekunder mikrobiom (microbiome) saluran cerna seperti maltase, isomaltase, sukrase, enterokinase, lipase, dan peptidase juga mempunyai kontribusi yang signifikan dan tidak bisa diabaikan pada tahap akhir proses pencernaan ayam (Oakley et al., 2014; Oakley dan Kogut, 2016).

Ayam mempunyai sepasang usus buntu (ceca) yang merupakan tempat terjadinya proses fermentasi ampas pakan oleh mikrobiom yang menetap di dalamnya (resident microbiome) dan menghasilkan beberapa asam lemak rantai pendek (short chain fatty acids) yang dapat digunakan oleh ayam sebagai sumber energi maupun untuk kesehatan epitelium mukosa saluran cerna itu sendiri (gut health).

Dari penjelasan fisiologis pencernaan ayam di atas, maka tak pelak bahwa kualitas fungsional sistem gastrointestinal (gut health) ayam sangatlah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.


Ditulis oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI-Jakarta)

MENGURANGI RISIKO ANCAMAN VIBRIOSIS MELALUI DIET DENGAN ASAM ORGANIK

Trouw Nutrition hadir di Asia-Pacific Aquafeed 2024 di Surabaya
(Foto : Wida)

Selko, merk produk Feed Additives dari Trouw Nutrition, akan mengungkap hasil penelitian terbarunya mengenai intervensi pakan untuk mengurangi ancaman Vibriosis dalam budidaya udang. Hasil studi akan dipresentasikan dalam acara Asia-Pacific Aquafeed 2024 di Surabaya, Indonesia, yang berlangsung dari 2 hingga 5 Juli 2024.

Saravanan Subramanian, Global Technical Commercial Manager Aquafeed at Selko®, akan membagikan hasilpenelitian mengenai efek diet aditif pakan berbasis asam organik (Selko® Selacid® GG) dalam mendukung udang yang mengalami Vibriosis.

Peneliti di Central Institute of Brackishwater Aquaculture, ICAR, India, melakukan penelitian terhadap kelangsungan hidup udang dan total beban Vibrio di hepatopankreas (HP) tujuh hari setelah diberikan Vibrio sp.

Udang dalam tiga kelompok perlakuan diberikan pakan dengan tingkat inklusi spesifik dari campuran asam organik Selacid® GG (0,1%, 0,2%, 0,3%) dan hasil penelitian dari setiap kelompok perlakuan akan dibandingkan dengan udang dalam kelompok kontrol positif dan negatif yang menerima pakan yang sama tanpa campuran asam organik. 

Dalam penelitian diperiksa parameter pertumbuhan termasuk final body weight, weight gain, specific growth rate, and survival rate dan didapatkan hasil bahwa udang yang diberi diet campuran asam organik 0,2% memiliki nilai yang signifikan lebih tinggi daripada kelompok kontrol positif. Selain itu, analisis mikroskopis menunjukkan adanya degenerasi dan nekrosis yang relatif lebih sedikit dari tubulus HP dan sel epitel HP, bersama dengan indikator peradangan yang lebih sedikit, di antara kelompok yang menerima campuran asam organik 0,2%.

Kelompok udang yang menerima campuran asam organik pada konsentrasi 0,2% dalam pakan memiliki nilai temuan Vibrio yang signifikan lebih rendah di HP diikuti dengan peningkatan imunitas, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Temuan ini menunjukkan bagaimana pengaruh intervensi nutrisi dapat membantu mengelola tantangan biologis yang mengancam pertumbuhan berkelanjutan dan ekonomi peternakan udang di seluruh dunia.

Dengan biaya finansial yang besar, kerugian tahunan yang terkait dengan Vibriosis di peternakan udang di India adalah $39,3 juta antara 2018-19. Karena asam organik memiliki sifat antimikroba, sehingga memberikan alternatif yang lebih baik daripada antibiotik dalam mengurangi pertumbuhan bakteri patogenik dan meningkatkan respons imunudang.

Subramanian mengatakan, "Penyakit yang disebabkan oleh Vibriosis bersama dengan patogen lainnya merupakan ancaman konstan bagi bisnis petambak udang, yang mengakibatkan tingginya angka mortalitas dan menyebabkan pertumbuhan lambat bagi udang. Penelitian ini lebih lanjut menunjukkan bukti terhadap penggunaan asam organik sebagai alternatif bagi produsen pakan dan petambak udang dalam mengelola tekanan penyakit dalam budidaya udang".

Pengunjung acara Asia-Pacific Aquafeed 2024 dapat mempelajari lebih lanjut tentang penelitian dan solusi Selko di stan Trouw Nutrition nomor 197 dan 19. (Wida)

IKUTI SEMINAR GRATIS SUSTAINABILITY IN INDONESIA POULTRY INDUSTRY VALUE CHAIN: OPPORTUNITIES & CHALLENGES

Bapak/Ibu/Saudara/i, dalam rangka memeriahkan gelaran 🌏🐔🐓🐟🦐🍳🥚🍗🕵🧑‍💼🤵🧕🙋 Indolivestock Expo dan Forum 2024 , PT. Gallus Indonesia Utama (Majalah Infovet) dan USSEC Indonesia akan menyelenggarakan Seminar/Talkshow "Sustainability in Indonesia Poultry Industry Value Chain: Opportunities & Challenges" pada:

🗓Hari/Tanggal: Jumat, 19 Juli 2024

⏱Jam : 13.00 WIB - selesai

🏢Lokasi : Ruang Theater 2 (Jakarta Convention Center, Senayan)

💰Biaya : GRATIS

Seminar/Talkshow ini akan menghadirkan pakar di bidang pakan yakni, Prof. Budi Tangendjaja serta narasumber hebat lainnya dan akan dipandu oleh Ir. Alfred Kompudu, S.Pt. MM. ASEAN Eng. (moderator).

🔊Segera daftarkan diri Anda! melalui link : https://bit.ly/seminar_takshow_INFOVET2024 (Kapasitas terbatas dan peserta terpilih akan kami hubungi)

Informasi: 📱 Mariyam 08777 829 6375

MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN ENZIM PADA PAKAN

Pakan ternak. (Sumber: neighborwebsj.com)

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam suatu usaha peternakan. Kurang lebih 60-70% cost yang dikeluarkan dalam suatu budi daya peternakan berasal dari pakan. Pasalnya kini produsen pakan serta peternak dihadapkan oleh masalah harga dan ketersediaan bahan baku pakan yang memungkinkan turunnya kualitas pakan.

Tentunya insan peternakan di Indonesia sudah tahu betul mengenai problem kenaikan harga dan ketersediaan bahan baku pakan yang selalu fluktuatif. Ditambah lagi kini berbagai problem tersebut diperkeruh dengan adanya faktor pasca pandemi COVID-19, perubahan iklim, krisis moneter dan pangan, serta masalah lainnya.

Dalam kondisi dunia yang tengah mengalami disrupsi dan ketidakpastian iklim bisnis, tentunya para produsen pakan dan peternak self mixing dituntut agar lebih efisien dalam formulasi pakan tanpa mengurangi kualitasnya.

Di tengah permasalahan tersebut hadir sebuah solusi dalam formulasi pakan, yakni dengan menggunakan feed additive dalam bentuk sediaan enzim. Seperti apakah penggunaan enzim dalam formulasi pakan? Bagaimanakah formulasinya? Serta enzim apa saja yang bisa digunakan dalam suatu formulasi?

Enzim Sang Katalisator Reaksi Kimia
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Nahrowi, menerangkan kepada Infovet bahwa enzim yakni  senyawa protein yang berfungsi sebagai katalisator bermacam reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh makhluk hidup. Yang dimaksud dengan katalisator yakni zat yang dapat mempercepat reaksi kimia, tetapi tidak mengubah keseimbangan reaksi atau tidak memengaruhi hasil akhir reaksi.

“Oleh karena itu enzim digadang-gadang bahwa dapat menjadi salah satu bahan alternatif yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas pakan ternak yang sudah banyak terbukti aman untuk ternak, manusia yang mengonsumsi hasil ternak, maupun bagi lingkungan,” tutur Nahrowi.

Lebih lanjut dijelaskan, berbagai macam fungsi enzim seperti:

• Memecah faktor anti-nutrisi yang terdapat dalam campuran pakan. Kebanyakan dari senyawa tersebut tidak mudah dicerna oleh enzim endogenous sehingga dapat mengganggu kelangsungan sistem pencernaan ternak dan berdampak buruk pada kesehatan serta performa ternak.

• Meningkatkan ketersediaan pati, protein, dan garam mineral yang terdapat pada dinding sel yang kaya serat, karena itu tidak mudah dicerna oleh enzim pencernaan sendiri atau terikat dalam ikatan kimia sehingga ternak tidak mampu mencerna.

• Merombak ikatan kimia khusus dalam bahan baku pakan yang biasanya tidak dapat dirombak oleh enzim yang dihasilkan ternak itu sendiri (enzim endogenous).

• Sebagai suplemen tambahan dari enzim yang diproduksi oleh ternak muda, dimana sistem pencernaannya belum sempurna sehingga enzim endogenous kemungkinan belum mencukupi.

Prof Nahrowi mengakui dengan penambahan enzim, produsen pakan dan peternak self mixing dapat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

AMUNISI BARU HIPRA CEGAH SWOLLEN HEAD SYNDROME

 

Foto Bersama Para Peserta Seminar
(Sumber : CR)

Salah satu produsen vaksin terkemuka asal Spanyol, HIPRA kembali melakukan acar launching produk vaksin terbarunya di IPB International Convention Center (IICC), Bogor pada Senin (24/6) yang lalu.

Acara tersebut dikemas dalam sebuah seminar bertajuk “Avian Metapneumovirus & Avisan SHS Vaccine Launch”. Dimana Bogor didapuk menjadi kota pertama dalam serangkaian roadshow mereka. Setelahnya, acara serupa bakal digelar di Solo, Blitar, dan Surabaya dari 24-28 Juni 2024.

Prof. I Wayan Teguh Wibawan, sebagai salah satu narasumber  menyampaikan bahwa pada kasus suatu infeksi yang diakibatkan oleh satu jenis virus maka akan menjadi gerbang bagi infeksi mikroba pathogen jenis lainnya. Maka penting untuk melakukan vaksinasi dalam rangka mencegah infeksi agen lainnya.

Ia juga menekankan bahwa tidak semua penyakit tidak dapat dicegah dengan tindakan biosekuriti, khususnya yang menyebar secara aerosol. Untuk penyakit yang bersifat aerosol ia menyebut bahwa tindakan vaksinasi memegang peran utama.

Selanjutnya kata Wayan, secara imunologis antibodi hanya akan bekerja saat virus itu belum masuk kedalam sel, sehingga penting untuk menciptakan herd immunity.

“Semakin banyak ayam yang memiliki imunitas yang baik maka lingkungan akan semakin baik pula. Karena lingkungan tercemar akibat shedding, dan shedding dapat dicegah dengan antibodi yang baik dan memperkecil paparan dengan virus pathogennya,” tegas Wayan.

Narasumber lainnya yakni  Dr Juan Luis Criado selaku Global Product Manager Hipra menyampaikan bahwa dalam rangka membasmi kontaminasi Swollen Head Syndrome (SHS) yang disebabkan oleh Avian Metapneumo Virus (AMPV) diperlukan solusi yang tepat.

Gejala klinis umum yang terlihat dari infeksi AMPV biasanya ngorok disertai nasal discharge, pembengkakan pada kepala yang kadang diikuti kematian. Selain itu kadang disertai dengan infeksi bakteri yang memicu kegagalan pada pemberian antibiotik kerap terjadi, dan juga banyaknya produksi telur pucat pada ayam petelur komersil maupun breeder.

“Untuk mengetahui infeksi virus kita harus menganalisis data dari laboratorium untuk hasil yang lebih pasti, tetapi secara visual gejala klinis dapat dilihat dari kualitas kerabang. Telur yang dihasilkan dari ayam yang terinfeksi AMPV memiliki kerabang yang lunak. Hasil penggunaan vaksinasi ini berpengaruh nyata terhadap performa ayam, antara kelompok ayam yang divaksin dan tidak divaksin dapat dilihat perbedaan dari jumlah produksi telur per ekor, rataan bobot telur yang dihasilkan, jumlah kilogram telur per ekor, telur sehat per ekor, telur pucat per ekor dan rasio konversinya,” tegas Juan.

Diperkuat oleh Dr Ong Shyong Wey selaku Regional Technical Marketing Manager HIPRA yang memaparkan bahwa mutasi virus AMPV yang semakin meluas, sehingga harus disertai pula dengan pembaruan strategi pembasmiannya.  AMPV dapat menyebabkan penyakit pada unggas di setiap umur dan dapat menyerang ayam broiler, layer dan breeder. Terjadi akibat replikasi Avian Metapneumovirus di saluran pernapasan bagian atas dan di saluran reproduksi setelah fase viremia pada layer dan breeder.

“Di Indonesia HIPRA lebih dulu mengenalkan vaksin killed sebelum mengenal vaksin live, sehingga peternak dalam pencegahan virus itu banyak yang menggunakan vaksin killed. Sekarang vaksin live sudah masuk ke Indonesia melalui launching vaksinasi hari ini. Penggunaan vaksin live dan killed dengan strain yang sama sebagai priming dan booster akan memaksimalkan imunitas dan proteksi pada ayam”.

Sebagai penutup, Drh Aditya Fuad Risqianto selaku Technical Service Manager Hipra Indonesia menampilkan data hasil studi prevalensi AMPV di Indonesia. Hasil Surveillance pada farm tanpa vaksinasi aMPV pada tahun 2022-2023 itu 94% positive. Apabila dibiarkan tentu akan mempengaruhi performa dan pendapatan. Apalagi bila disertai dengan double infection virus tentu akan mengakibatkan efek yang lebih besar.

“Program vaksin yang sudah ada hanya menggunakan vaksin kill saja, dengan penggunaan vaksin live ini menurunkan shedding agen patogen dan menghasilkan proteksi jangka panjang. Sehingga diharapkan tercipta herd immunity dan membuat ternak kebal terhadap serangan virus dan bakteri yang selama ini menghantui”. (CR)

 

FORUM KOMUNIKASI PELAYANAN PUBLIK BBPMSOH DUKUNG PRODUK OBAT HEWAN BERKUALITAS

 

Partisipasi aktif pelaku usaha dalam forum daring BBPMSOH
..

Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) menyelenggarakan Forum Komunikasi Pelayanan Publik, Jumat (28/6) secara daring. Sekitar 90 partisipan bergabung yang sebagian besar adalah para pelaku usaha obat hewan, anggota Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI).

Selain perusahaan obat hewan, juga diikuti oleh dinas peternakan dan pertanian terkait sekaligus akademisi.  

Drh Hasan Abdullah Sanyata selaku Kelapa BBPMSOH saat membuka acara mengemukakan beberapa poin penting. “BBPMSOH mempunyai tugas pokok melaksanakan pengujian mutu, sertifikasi, pengkajian dan pemantauan obat hewan. Mendukung program Kementerian Pertanian dalam hal ini kami turut menyampaikan pemerintah menggelar karpet merah, jadi monggo bagi bapak ibu sekalian untuk konsisten dalam menghadirkan produk obat hewan berkualitas hingga menambah nilai ekspor,” jelasnya.

Hasan menambahkan, dimulai dari sekarang kita harus bersiap terkait mendukung program presiden RI terpilih Prabowo yaitu makan siang dan susu gratis.

“Skema program makan siang gratis ini erat kaitannya dengan target percepatan penurunan stunting di mana akan membutuhkan sayur-mayur yang banyak, daging serta susu. Permintaan akan produk asal hewan diperkirakan meningkat hingga prediksi tumbuhnya peternakan di negeri kita,” urai Hasan.

Imbuhnya, dengan pertumbuhan kegiatan budidaya ternak, tentu membutuhkan produk-produk obat hewan yang berkualitas dan aman.

Agenda acara berikutnya yakni pemaparan Kepala Bagian Umum, Drh Cynthia Devy Irawati MM yang menginformasikan bahwa pada Juli – Oktober 2024 nantinya akan diadakan kegiatan Survei Penilaian Integritas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kegiatan tersebut bertujuan mencapai sertifikasi SNI ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP).

“Pimpinan dan seluruh pegawai BBPMSOH berkomitmen secara konsisten untuk mewujudkan penerapan SNI tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan dalam rangka mendukung upaya penecegahan praktik suap dalam bentuk apapun, dengan menerapkan tata nilai akhlak amanah dalam menjalankan tugaas dan fungsi,” terang Cynthia.

Dalam public hearing hari ini juga dijelaskan diantaranya Standar Pelayanan Publik Bimbingan Teknis Pengujian Obat Hewan, Standar Pelayanan Publik Layanan Informasi dan Dokumentasi, kemudian Sosialisasi Layanan Produk Perolehan Hasil Pertanian BBPMSOH serta Sosialisasi Monev Pelayanan Publik BBPMSOH. (NDV)

 

 

 

PENGEMBANGAN TERNAK PERAH UNTUK PENUHI KEBUTUHAN SUSU

Webinar Risnov Ternak #4. (Foto: Dok. Infovet)

“Konsumsi Susu Meningkat, Pengembangan Ternak Perah Terhambat?”, menjadi tema yang diangkat dalam webinar Risnov Ternak #4, Kamis (27/6/2024), yang merupakan kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Majalah Infovet.

“Tema yang diangkat sangat pas sekali dengan fakta di lapangan, dimana tantangan penyakit PMK membuat produksi dan populasi sapi perah menurun, namun permintaan susu kini meningkat sekitar 5 persen pertahun,” ujar Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, yang menjadi pembicara.

Dari data yang ia paparkan, produksi susu pada 2022 (sebelum PMK) mencapai 1.780.000 kg/hari, perlahan menurun menjadi 1.391.000 kg/hari pada 2023, dan 1.219.652 kg/hari pada 2024, berkurang hingga 171.000 kg/hari.

Hal yang sama juga terjadi pada populasi sapi perah, dimana pada 2022 (sebelum PMK) jumlah populasi sebanyak 239.196 ekor, menjadi 226.829 ekor pada 2023, dan turun kembali menjadi 204.741 ekor di 2024, berkurang sebanyak 22.088 ekor.

Selain itu lanjut Dedi, adapun persoalan hijauan pakan ternak (HPT), hingga ketersediaan bibit unggul yang juga masih menjadi tantangan. Dijelaskan dedi dari segi pakan, terjadi kekurangan lahan penanaman HPT, ketersediaan bahan baku yang terbatas, harga bahan baku fluktuatif, sampai persaingan dengan sektor ternak lain.

“Oleh karena itu diperlukan regulasi tentang penggunan lahan Perhutani dan Perkebunan untuk penanaman HPT. Ini sudah sering saya sampaikan. Selain itu, diperlukan bibit rumput unggul dan pengelolaan HPT oleh BUMN bisa menjadi solusi,” paparnya.

Sementara dari segi bibit, terbatasnya ketersediaan bibit sapi perah berkualitas dan masalah pemotongan sapi produktif masih kerap terjadi. “Perbanyak balai pembibitan milik pemerintah dan ketersediaan semen beku bibit unggul. Atau bisa melalui kebijakan impor bibit sapi untuk penambahan populasi sapi perah berkualitas, juga penyelenggaraan kontes ternak agar semakin menggairahkan peternak dalam menghasilkan bibit sapi berkualitas,” ungkap Dedi.

Sebab menurutnya, peluang bisnis peternakan sapi perah masih cukup tinggi. Apalagi kini masyarakat mulai meningkatkan kesadaran minum susu hingga rencana program minum susu gratis dari presiden terpilih.

“Sekitar 16 juta liter susu diperlukan untuk program susu gratis, ini membutuhkan effort yang tinggi dari seluruh stakeholder. Diharapkan ini menjadi perkembangan industri sapi perah yang lebih baik,” tukasnya.

Agar kebutuhan susu secara nasional terpenuhi, BRIN juga menyoroti budi daya pengembangan kambing perah yang dinilai potensial dan lebih murah. “Budi daya kambing perah sangat potensial, karena kemampuannya beradaptasi dengan pakan lokal yang sangat bervariasi,” kata Peneliti dari BRIN, Dwi Yuliastiani. 

Dijelaskan, budi daya kambing tidak hanya mengandalkan HPT, tetapi dengan pakan lokal hasil samping tanaman pangan, buah, umbi, hingga hasil samping perkebunan bisa digunakan. “Harus tetap diperhatikan pemberiannya, karena dengan manajemen pakan yang tepat maka akan didapat produksi dan kualitas susu yang baik,” sebutnya. (RBS)

LAWAN STUNTING, DISNAKKESWAN SUMBAR DAN JAPFA KOLABORASI PROGRAM CSR

Penyerahan simbolis bantuan telur untuk masyarakat Sumbar
Penyerahan simbolis bantuan telur untuk masyarakat Sumbar

Komitmen Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) tidak pernah kendur dalam mengupayakan percepatan penurunan stunting. Berkolaborasi dengan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumbar mendistribusikan bantuan 10.000 telur untuk masyarakat di Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang, Kota Solok, dan Kabupaten Agam.

Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh perwakilan Japfa kepada Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar Dr Ir Audy Joinaldy SPt MSc MM IPM ASEAN Eng, pada Selasa (14/5), kemudian akan disalurkan kepada masyarakat melalui Disnakkeswan Sumbar.

Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi, hadir mendampingi Wagub. Pada hari yang sama terdapat agenda pertemuan dengan perwakilan Japfa membahas dukungan Japfa dalam pengembangan UPT Unggas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Tahapnya masih penjajakan terkait program kerja sama dinas dengan Japfa dalam program unggulan pengembangan unggas di Sumbar,” ungkap Sukarli di ruang rapat kantor Wagub.

Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan, Nirmala SPt MSi, yang turut hadir mengemukakan program CSR Japfa dalam penanganan stunting akan dilakukan secara berkala. Selain itu, Disnakkeswan Sumbar memprioritaskan ketersediaan pangan dan produk peternakan untuk warga yang terdampak musibah banjir lahar hujan serta longsor.

“Harapannya kontribusi yang kami berikan ini dapat membantu pemerintah untuk penanganan stunting demi menciptakan generasi yang unggul,” katanya.

Perwakilan Japfa lainnya datang dalam pertemuan antara lain Andriawan Yudihananto (Head of Unit Padang), Nanang Andono (Head of Sales), dan Moch. Rais Aziz (Head of Marketing & Sales North Sumatera Poultry Breeding).

Penyediaan Pengembangan Sarana Pertanian

Lebih lanjut Sukarli mengungkapkan, Disnakkeswan Sumbar juga merealisasikan Program Penyediaan Pengembangan Sarana Pertanian.

Program tersebut bertujuan untuk menambah produktivitas masyarakat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menambah populasi ternak di Sumbar, terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan asal hewan, dan mewujudkan Sumbar Madani.

Salah satu perwujudan program ini dengan menyerahkan bantuan ayam KUB, pada Rabu (1/5). Penyerahan bantuan ayam KUB kepada kelompok tani di Kabupaten Pasaman Barat dilakukan langsung oleh Gubernur Sumbar, H. Mahyeldi Ansharullah SP, didampingi oleh Sukarli.

Secara keseluruhan program bantuan untuk kelompok tani ternak yang tersebar di 19 kabupaten/kota di Provinsi Sumbar antara lain bantuan ayam KUB 75.000 ekor (150 kelompok), itik 37.500 ekor (75 kelompok), puyuh 50.000 ekor (10 kelompok), kambing 600 ekor (20 kelompok), sapi 100 ekor (10 kelompok), mesin tetas kapasitas 500 butir (43 kelompok), dan mesin APPO (12 kelompok).

Sukarli menambahkan, selain bantuan yang disebutkan, peternak dalam budidaya dan pengolahan pupuk organik akan mendapatkan pendampingan, pembinaan, serta pengawasan.

“Terkait kemitraan dalam pengembangan unggas, kami bekerja sama dengan Japfa. Seperti sudah kita ketahui bersama, Japfa merupakan inti yang memiliki banyak mitra usaha dengan masyarakat di Sumbar dalam pengembangan unggas,” pungkasnya.

MEMBURUKNYA KINERJA KEUANGAN BAGI PENGOLAH UNGGAS TERBESAR DI UKRAINA

Pengolah unggas terbesar di Ukraina, MHP, mengalami penurunan laba bersih hampir tiga kali lipat akibat devaluasi hryvnia dan lonjakan biaya terkait konflik.

Selama kuartal pertama tahun 2024, MHP menghasilkan laba bersih sebesar US$16 juta dibandingkan dengan US$49 juta pada tahun sebelumnya, kata perusahaan dalam laporan triwulanannya.

Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh devaluasi tajam mata uang lokal Ukraina, hryvnia, yang mengakibatkan kerugian selisih kurs sebesar US$40 juta dibandingkan dengan keuntungan sebesar US$4 juta pada kuartal pertama tahun 2023, kata perusahaan tersebut.

Hryvnia secara konsisten kehilangan nilainya selama setahun terakhir. Pada akhir Mei 2024, Bank Nasional Ukraina menaikkan nilai tukar resmi dolar di atas 40 hryvnia – nilai tertinggi dalam sejarah – untuk pertama kalinya. Pada Mei 2023, kursnya mendekati 36 hryvnia per dolar.

“Perang terus berdampak besar pada operasi perusahaan,” kata MHP, mengutip serangan drone dan roket yang terus berlanjut serta pemadaman listrik sebagai tantangan utama. “Kami telah membuat pengaturan untuk pemadaman listrik dan menyiapkan alternatif lain untuk menggantikan pasokan dari jaringan energi nasional yang terus-menerus berada di bawah ancaman pemboman.”

Serangan udara dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan negara tersebut hanya memiliki kurang dari setengah kapasitas pembangkit listriknya, yang menyebabkan pemadaman listrik setiap hari selama 10 jam atau lebih, menurut perkiraan pejabat pemerintah.

MHP juga melaporkan bahwa akibat penembakan di wilayah Odessa, sebuah gudang yang sebagian disewakan oleh perusahaan untuk menyimpan produk daging ayam beku MHP hancur total, mengakibatkan hilangnya produk unggas senilai US$8 juta. Akibatnya, perusahaan menderita biaya terkait perang sebesar US$10 juta pada kuartal pertama tahun 2024, menurut perhitungan MHP.

PERAN ENZIM DALAM BERBAGAI SITUASI

Mekanisme kerja enzim. (Sumber: Antonio Blanco, Gustavo Blanco, in Medical Biochemistry, 2017)

Kondisi ketersediaan dan harga bahan baku pakan yang sulit diprediksi sangat memengaruhi pengambilan keputusan dalam menyusun formulasi pakan ayam. Menyusun ransum dengan harga terjangkau dan kualitas yang sesuai kebutuhan ayam menjadi tantangan tersendiri.

Hal tersebut membutuhkan “seni” meracik pakan yang tepat dengan menerapkan teknologi pakan. Salah satuya adalah pemakaian enzim untuk meningkatkan kecernaan nutrisi oleh tubuh ayam. Enzim merupakan jenis protein yang terdapat pada semua organisme hidup, yang memfasilitasi percepatan reaksi kimia. Enzim bekerja pada molekul tertentu (substrat, red) yang akan diubah menjadi molekul berbeda yang lebih mudah diserap oleh tubuh.

Jenis Enzim
Ada dua jenis enzim dalam tubuh ayam, yaitu endogen dan eksogen. Enzim endogen diproduksi oleh berbagai organ pencernaan di dalam tubuh. Lain halnya dengan enzim eksogen yang ditambahkan dari luar tubuh ayam.

Contoh enzim endogen di antaranya amilase dan lipase (lipase asam, netral, dan fosfolipase). Sedangkan enzim eksogen yang sering ditambahkan dalam pakan ayam antara lain fitase, xylanase, glukanase, protease, selulase, dan pektinase. Enzim eksogen ini dapat diberikan secara tunggal maupun enzim campuran (multi-enzim atau koktail enzim).

Penambahan enzim eksogen diharapkan dapat meningkatkan kecernaan dan ketersediaan nutrien bagi ternak. Selain itu, penambahan enzim eksogen juga diharapkan bisa mengurangi biaya pakan, meningkatkan fleksibilitas dalam formulasi pakan, memperbaiki kesehatan usus, dan kotoran menjadi lebih kering.

Enzim eksogen yang baik perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya ketersediaan substrat yang cukup dalam bahan baku pakan, ternak harus mampu memanfaatkan produk hasil kerja enzim, enzim harus berinteraksi secara efektif dan efisien dengan subtrat targetnya, serta yang tidak kalah penting enzim harus stabil selama dan setelah pengolahan pakan sampai di dalam saluran pencernaan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.

Ditulis oleh:
Nurhadi Baskoro Murdonugroho SPt

KOTORAN AYAM DALAM PAKAN TERNAK MENJADI SOROTAN DI AS

Kekhawatiran mengenai penyebaran flu burung pada sapi perah di AS telah mendorong Senator AS untuk memperkenalkan undang-undang yang bertujuan untuk menghilangkan praktik pabrik peternakan yang menambahkan kotoran hewan ke dalam pakan ternak.

Senator Demokrat AS Cory Booker (New Jersey) baru-baru ini memperkenalkan No Stools in Herds’ Troughs Act, yang secara khusus menargetkan praktik pemberian kotoran ayam kepada sapi di tempat penggemukan dan perusahaan susu skala besar.

Praktik peternakan yang rutin dilarang di Inggris menyusul epidemi Bovine spongiform encephalopathy (BSE), dan di Kanada, namun diperbolehkan di AS, meskipun praktik tersebut telah meningkatkan kekhawatiran kesehatan masyarakat karena risiko penyebaran penyakit dari ayam ke sapi.

PODODERMATITIS PADA BROILER

Pododermatitis terjadi pada broiler dan ayam buras. (Foto: Istimewa)

Industri ayam broiler telah tumbuh dengan baik di Indonesia. Kandang-kandang broiler dapat ditemukan dengan mudah di berbagai sentra produksi. Jawa Barat merupakan provinsi dengan populasi broiler terbesar di Indonesia, disusul Jawa Tengah dan Jawa Timur. Populasi broiler di Indonesia pada 2022 mencapai 3.114.028.000 ekor, mengalami peningkatan dibandingkan dengan 2021 yang berjumlah 2.899.208.000 ekor.

Industri broiler telah mampu mendongkrak perekonian di Indonesia, mulai dari industri hulu, breeding farm, hatchery, pabrik pakan, hingga ke hulu dan meja makan. Broiler telah mampu menyediakan ketersediaan kebutuhan protein bagi masyarakat karena dapat diproduksi dan dipanen dalam waktu yang singkat kurang lebih sebulan.

Tumbuh pesatnya industri broiler juga turut mengangkat bisnis kuliner berbahan daging ayam ras. Tak hanya itu, bagian ceker/kaki ayam pun juga tak luput dari buruan masyarakat. Ceker biasanya digunakan sebagai pelengkap menu sajian kuliner. Bagian tersebut juga memainkan peran penting secara ekonomi.

Terlepas dari ceker sebagai bahan kuliner, kaki ayam merupakan organ tubuh yang penting dalam menunjang mobilitas saat masih hidup. Organ tersebut berfungsi sebagai alat gerak dan menunjang bobot tubuh. Ayam memerlukan kaki yang sehat agar bisa mencapai tempat pakan dan minum, beraktivitas, dan lain sebagainya.

Erosi dan Infeksi pada Tapak Kaki
Broiler dapat mengalami erosi dan infeksi pada telapak kaki akibat berbagai faktor. Kondisi demikian disebut pododermatitis, foot pad pododermatitis (FPD), bumblefoot, atau bubulan, yang mengakibatkan kepincangan saat berjalan, malas berjalan, dan sering kali terlihat duduk di lantai kandang tanpa mau berpindah tempat dengan kondisi bobot badan yang menyusut.

Apabila ayam dengan kondisi tersebut jika diperhatikan telapak kakinya akan terlihat terjadinya edema, pembengkakan telapak kaki, erosi pada telapak kaki, ulcerasi atau perlukaan pada permukaan telapak kaki.

Kasus terjadinya ulcerasi pada bantalan tapak kaki bervariasi dari ringan sampai berat. Pada kasus ringan akan terlihat bantalan telapak kaki ayam bengkak kemerahan yang berlanjut munculnya warna kehitaman berupa titik. Perlukaan pada bantalan kaki yang meluas pada kasus berat bisa mengundang terjadinya infeksi kuman patogen.

Pododermatitis secara ekonomi merugikan peternak karena bobot tubuh ayam bisa menurun tidak sesuai dengan umurnya. Kondisi ini dapat dimaklumi karena broiler menjadi malas bergerak karena nyeri pada telapak kaki yang mengakibatkan konsumsi pakan tidak optimal. Broiler juga enggan mencapai tempat minum. Food conversion ratio (FCR) pada ayam yang mengalami pododermatitis juga meningkat, yang akan memengaruhi meningkatnya FCR populasi.

Kerugian ekonomi dialami peternak karena meningkatkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2024.

Ditulis oleh:
Ratna Loventa Sulaxono
Medik Veteriner Ahli Pertama pada
Loka Veteriner Jayapura
&
Sulaxono Hadi
Medik Veteriner Ahli Madya
Purna tugas di Kota Banjarbaru

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer