-->

PENDANAAN FLU BURUNG, INGGRIS MENINGKATKAN PERANG MELAWAN PENYAKIT ZOONOSIS

Pertarungan Inggris melawan flu burung telah menerima dorongan setelah pengumuman uang tambahan untuk mengatasi penyakit zoonosis.

Hingga £200 juta (€239 juta) sedang diinvestasikan di laboratorium Animal Plant and Health Agency (APHA) milik pemerintah di Weybridge, Surrey, untuk mengatasi flu burung dan tuberkulosis sapi.

Uang tersebut dibelanjakan untuk perbaikan laboratorium ilmiah dan telah menjadi yang terdepan dalam menangani wabah flu burung terbesar yang pernah tercatat. Wabah Covid-19 telah menegaskan kembali pentingnya meningkatkan ketahanan untuk membantu mencegah pandemi di masa depan.

MASTITIS PADA KAMBING PERAH

Mastitis, salah satu penyakit yang dapat memengaruhi produksi susu kambing. (Foto: Istimewa)

Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang berkembang pesat populasinya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Populasi kambing di Indonesia pernah mengalami penurunan pada 2016, tetapi setelah itu populasinya menanjak terus hingga 2019 (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2019). Untuk memperbaiki mutu genetik kambing yang ada di Indonesia, telah dikembangkan kambing Boer untuk tipe kambing pedaging dan Saanen untuk kambing perah.

Kedua jenis kambing ini berkembang terus di Indonesia mendampingi ras kambing yang sudah ada, seperti Peranakan Etawa (PE), Senduro, Kaligesing, Jawa Randu, kambing kacang dan kambing khas lokal lainnya. Kambing tipe perah Saanen telah menyebar ke berbagai daerah, serta mampu menghasilkan daging dan susu. Masyarakat peternak kambing mudah memasarkan susu kambing karena banyak permintaan walaupun harga relatif lebih tinggi dibanding susu sapi.

Secara global populasi kambing perah meningkat pesat di berbagai benua. Perkembangan populasi kambing perah yang paling pesat terjadi di Afrika, namun populasi terbanyak ada di Benua Asia dengan tingginya presentase produksi susu.

Persentase kenaikan perkembangan kambing perah di Asia sebesar 3,1% dari tahun 1990-2018, produksi susu kambing juga naik sebesar 27,9%. Dibandingkan dengan Afrika, peningkatan populasi kambing perah terjadi sebesar 32,0%, sedangkan produksi susunya meningkat hanya berkisar 15,1% (Miller et al., 2019).

Produksi susu kambing dipengaruhi oleh berbagai faktor, genetik, kualitas dan kuantitas pakan, serta penyakit. Salah satu penyakit yang dapat memengaruhi produksi susu kambing adalah Mastitis, infeksi pada kelenjar mamae yang memproduksi air susu.

Faktor Predisposisi
Susu kambing mengandung protein cukup tinggi, media yang baik untuk pertumbuhan bakteri aerob. Sesaat sebelum melahirkan, ambing kambing dipenuhi air susu cukup banyak, sehingga bila dilihat dari belakang tampak menonjol dan konsistensi terasa berisi cairan. Air susu pertama yang disebut kolostrum terproduksi sesaat setelah anak kambing lahir dan beberapa hari tampak berwarna kuning kental, suatu hal yang normal karena mengandung banyak antibodi yang bermanfaat untuk bekal pertahanan anak kambing yang baru lahir.

Kebiasaan kambing setelah kenyang adalah duduk di lantai. Kondisi lantai yang kotor akan banyak terkontaminasi bakteri. Ujung puting ambing yang terbuka paska menyusui dan ada banyak sisa air susu yang menempel mengundang bakteri untuk tumbuh berkembang dan masuk vertikal ke dalam ambing. Bakteri berkembang dalam ruang ambing yang banyak mengandung air susu dan menginfeksi jaringan ambing. Terjadi peradangan pada jaringan ambing. Produksi air susu terganggu dan induk kambing tidak mau menyusui karena kondisi nyeri akibat peradangan.

Agen Penyebab
Terdapat kuman di lingkungan kandang kambing yang mampu menyebabkan infeksi dan peradangan pada ambing kambing. Bakteri yang terbanyak menyebabkan infeksi adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022.

Ditulis oleh:
Sulaxono Hadi
Medik Veteriner Ahli Madya

DE HEUS INDONESIA AJAK PETERNAK PAHAMI TATA KELOLA PEMELIHARAAN BROILER TROPIS

Jan van den Bink memaparkan materi webinar

Selasa (8/3) salah satu produsen pakan ternak yakni De Heus menggelar webinar bertajuk Tata Kelola Pemeliharaan Broiler di Daerah Tropis melalui daring Zoom Meeting. Dua narasumber yakni Jan van den Brink dan Kokot Februhadi didapuk menjadi narasumber.

Dalam presentasinya Jan van den Brink selaku Senior Specialist Poultry PT De Heus Indonesia mengatakan bahwa manajemen pemeliharaan broiler di daerah tropis dan sub tropis berbeda. Terlebih lagi di Indonesia banyak peternak yang masih melakukan budidaya secara tradisional (open housed), ini juga yang menjadi perhatian Jan.

Ia juga menyebut dalam manajemen pemeliharaan broiler ada beberapa aspek yang harus diperhatikan seperti biosekuriti, pakan, kualitas air minum, brooding, dan bahkan aspek ventilasi. Jan memberi contoh misalnya pada aspek ventilasi, menurutnya ventilasi akan mempengaruhi suhu dan kelembapan yang akan mempengaruhi kenyamanan dan performa ayam.

"Kita harus tahu bahwa tidak ada angka mutlak suhu dan kelembapan untuk ayam, semua harus kita setting sedemikian rupa, dan di setiap daerah caranya akan berbeda. Oleh karenanya kita musti bertindak berdasarkan apa yang kita lihat, dengar, dan sentuh, bukan hanya berpatokan pada buku," tuturnya.

Sementara itu di waktu yang sama Kokot Februhadi selaku Poultry Training Manager PT De Heus Indonesia menitikberatkan presentasinya pada manajemen persiapan kandang sebelum chick in dan manajemen cleaning kandang pasca panen.

"Untuk urusan ini kita harus menyamakan persepsi tentang istilah istirahat kandang, soalnya yang saya dapati istilah ini maknanya berbeda - beda bagi para peternak. Sehingga jika ini saja sudah ada ketidaksamaan persepsi maka akan berbeda hasilnya juga," tutur Kokot.

Kokot lebih lanjut menjelaskan apa - apa saja yang harus dilakukan oleh peternak dalam mempersiapkan kandang menjelang chick in dan semua yang musti disiapkan oleh peternak setelah ayam dipanen sampai habis.

Sesi diskusi dan tanya jawab yang digelar pun berjalan interaktif dan solutif, para penanya dapat dengan mudah memahami penjelasan dari para narasumber. Setelahnya diadakan kuis dan pembagian doorprize bagi para peserta yang beruntung. (CR)

KRISIS UKRAINA, UNI EROPA BERUSAHA MENGURANGI GANGGUAN PASOKAN BIJI-BIJIAN

Uni Eropa dilaporkan akan mempertimbangkan untuk mengizinkan petani menggunakan lahan kosong untuk menanam tanaman protein untuk unggas dan pakan ternak. Hal itu dimaksudkan untuk membantu mengimbangi gangguan pasokan setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Ukraina dan Rusia adalah dua pengekspor biji-bijian terbesar di dunia. Namun, setelah invasi Rusia ke Ukraina, harga gandum Eropa telah mencapai rekor tertinggi dan telah terjadi gangguan pada pasokan biji-bijian.

Kelompok koperasi Prancis, InVivo, adalah salah satu perusahaan pertanian terbesar di Eropa. CE dari kelompok tersebut, Thierry Blandinieres, mengatakan bahwa konflik yang sedang berlangsung dapat memiliki efek yang bertahan lama pada pasokan gandum Ukraina, dengan beberapa perkiraan menunjukkan bahwa produksi gandum negara itu dapat turun setidaknya setengahnya dan membuat pasar dunia kekurangan 20 juta ton gandum.

“Kami meminta potensi produksi Uni Eropa untuk dilepaskan,” kata Blandiieres.

Upaya mencari pengganti pasokan Ukraina telah dilakukan, di antaranya dengan menggunakan lahan yang disisihkan untuk menanam tanaman protein

“Sejumlah negara anggota menyarankan bahwa kami mungkin dapat menggunakan lahan yang disisihkan untuk menanam tanaman protein,” kata Menteri Pertanian Prancis, Julien Denormandie.

Komisi Eropa akan mengeksplorasi opsi, yang akan mengubah aturan kebijakan pertanian Uni Eropa tentang melestarikan tanah dan keanekaragaman hayati. Proposal akan dipresentasikan pada pertemuan menteri yang akan datang akhir bulan ini (21 Maret).

InVivo mengatakan pengabaian aturan lahan yang disisihkan di bawah Kebijakan Pertanian Bersama UE berpotensi meningkatkan area budidaya sebesar 10-15% dan meningkatkan produksi gandum UE. Dukungan keuangan, bagaimanapun, diperlukan untuk mengimbangi melonjaknya harga pupuk bagi petani Uni Eropa untuk memperluas produksi tanaman.

Janusz Wojciechowski, Komisaris Pertanian Uni Eropa, mengatakan bahwa Uni Eropa juga akan mempelajari langkah-langkah bantuan untuk sektor babi dan unggas, dan akan membahas dengan organisasi internasional bantuan kemanusiaan untuk Ukraina dan kebutuhan negara-negara yang biasanya bergantung pada Ukraina untuk komoditas pangan. (via poultryworld.net)

DAFTAR SEGERA WEBINAR INCLUSIVE CLOSED LOOP, UPAYA MENAIKKELASKAN PETERNAK DOMBA KAMBING

Kadin Indonesia sebagai rumah besar pelaku usaha, berkomitmen untuk mendorong, memperbanyak dan menguatkan usaha ekonomi kerakyatan melalui program-program “Inclusive Closed Loop” dengan partisipasi dunia usaha dan dukungan kebijakan pemerintah.

Bekerjasama dengan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), Kadin Indonesia akan mengadakan kegiatan webinar zoom dengan tema “Inclusive Closed Loop, Upaya Menaikkelaskan Peternak Domba Kambing” yang akan diselenggarakan:

Informasi lebih lanjut:

  • Wiwik (0813 1503 6874)
  • Jefri (0813 1028 4610)

LOWONGAN KERJA PAKAN SERASI, SALES & TECHNICAL SERVICE

Pakan Serasi membutuhkan tenaga sales dan technical service untuk wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Persyaratan:

  • Laki-laki.
  • Umur maksimal 35 tahun.
  • Pendidikan dokter hewan/S1 Peternakan.
  • Memiliki pengalaman minimal 2 tahun dalam menangani breeding farm, layer farm, broiler farm termasuk kemitraannya.
  • Memiliki SIM A dan SIM C.
  • Domisili Jabodetabek, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Kirim lamaran (CV + berkas pendukung) ke alamat email: pakanserasi@yahoo.co.id

Terakhir pengumpulan berkas tanggal 31 Maret 2022.

KEMENTAN SIAPKAN SUMBERDAYA TANGANI LSD DI RIAU

Lumpy Skin Disease pada seekor sapi 
(Sumber : Ditjen PKH)

Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah menyampaikan siap kerahkan sumberdaya untuk menangani penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi yang telah ditemukan di Provinsi Riau. Hal tersebut Ia sampaikan di Jakarta, Sabtu (05/03). 

Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi telah ditemukan di Indonesia yaitu di Provinsi Riau, setelah sebelumnya juga terjadi di beberapa negara di Asia termasuk di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja. 

"Untuk penanganan LSD di Riau, kita akan kerahkan dokter hewan dan paramedik staf Kementan di Riau untuk membantu melakukan vaksinasi," kata Dirjen PKH Nasrullah. 

Ia sebutkan bahwa Kementan telah melaksanakan berbagai upaya pencegahan masuknya penyakit LSD ini ke Indonesia.  “Upaya-upaya kewaspadaan tersebut telah dilakukan sejak penyakit ini masuk ke Asia Tenggara sejak tahun 2019”, jelasnya. Lebih lanjut Nasrullah meminta kepada semua peternak dan juga dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan, baik di kabupaten maupun provinsi agar melakukan pembatasan lalu lintas ternak untuk pencegahan penyebarluasan penyakit LSD ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Nuryani Zainuddin, Direktur Kesehatan Hewan, Kementan telah mengeluarkan Surat Edaran kewaspadaan penyakit LSD kepada para pemangku kepentingan di seluruh Indonesia sebanyak 4 kali sejak itu.  

"Kita gencarkan juga sosialisasi tentang LSD melalui berbagai media serta webinar berseri tentang kesiapsiagaan terhadap LSD pada tahun 2021," tutur Nuryani. 

Upaya peningkatan kewaspadaan tersebut, menurut Nuryani membuat petugas di lapang dapat mendeteksi secara cepat kejadian LSD, melaporkan dan menanganinya. 

"Sistem kita telah berhasil mendeteksi dengan cepat, hal ini didukung dengan sistem pelaporan real-time iSIKHNAS dan kemampuan laboratorium kesehatan hewan yang baik, sehingga penyakit dapat dikonfirmasi dengan segera," tambahnya. 

Ia katakan, sesuai arahan Bapak Mentan SYL, Timnya akan gerak cepat segera melakukan berbagai langkah pengamanan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dari LSD ini. 

"Strategi utama adalah vaksinasi, namun ini harus didukung dengan deteksi dini dan penelurusan kasus, pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, serta komunikasi, informasi dan edukasi," imbuhnya. 

Lebih lanjut Nuryani menyampaikan, penanganan LSD ini akan menantang, karena selain dapat disebarkan oleh lalu lintas sapi tertular dan produknya yang mengandung virus, LSD dapat juga ditularkan melalui perantara mekanik seperti gigitan serangga. 

Ia kembali menegaskan bahwa LSD tidak menular dan tidak berbahaya bagi manusia. Ia menghimbau agar masyarakat tidak perlu panik dan terus mendukung berbagai upaya penanganan yang akan dilakukan oleh pemerintah. 

"Kita telah siapkan sumberdaya yang cukup untuk penanganan LSD ini," pungkasnya. (INF)

LAUNCHING BUKU PANDUAN LENGKAP KELAHIRAN SAPI

Launching buku review proses kelahiran sapi via daring


Angka kelahiran yang tinggi dalam konteks peternakan sapi merupakan hal yang penting dan tentunya membahagiakan bagi peternak. Namun begitu, hampir semua peternak dan petugas medis pada suatu peternakan sapi agak was - was dalam menghadapi proses kelahiran satu indukan.

Namun sekarang nampaknya kekhawatiran tersebut perlahan akan mulai berkurang. Drh Deddy Fachruddin Kurniawan bersama Drh Langgeng Priyatno dalam waktu dekat ini telah merilis karya terbaru hasil kolaborasi mereka yang berjudul Panduan Lengkap Kelahiran Sapi. Review buku rilisan terbaru mereka pun digelar via daring melalui zoom meeting dan live streaming youtube channel Dairy Pro TV. Dalam peluncuran buku panduan tersebut, kembali Drh Deddy menggandeng Veterinary Indie Publishing (VIP) yang dipimpin oleh Drh Arief Ervana sebagai penerbitnya.

Secara gamblang Drh Deddy Fachruddin menjelaskan bahwa buku tersebut terdiri atas beberapa bagian mulai dari kondisi indukan sebelum kelahiran, fisiologis kebuntingan, hal - hal yang berpengaruh terhadap kebuntingan, persiapan yang harus disiapkan dalam menghadapi kelahiran, serta nilai ekonomis dari sapi yang bunting dan tidak bunting. 

"Kelahiran itu sebetulnya penuh dengan kompleksitas, kita sama - sama mengusahakan agar kelahiran berjalan secara normal, tetapi bila memang tidak bisa normal, akan seperti apa langkah yang diambil?, bagaimana kalau harus lahir melalui SC?(Sectio Cesaria), nah ini juga ada nanti di dalam bukunya," tutur Deddy.

Lebih lanjut Drh Langgeng Priyanto menjelaskan isi buku tersebut. Menurutnya sebagian isi buku tersebut juga berasal dari pengalaman yang ia dan Drh Deddy alami selama menjadi praktisi di dunia persapian.

"Saya sering dapat pasien yang kondisinya susah lahir, kadang terlambat peternaknya melapor, jadi bingung mereka mau ngapain. Enggak jarang juga yang memang sudah terlambat untuk ditangani, nah untuk itu dengan adanya buku ini kami paparkan kondisi sapi dan bilamana indukan harus lahir secara normal, maupun SC, pokoknya di dalam buku ini kami beberkan semuanya," tutur dia.

Untuk sementara bagi yang ingin memiliki buku tersebut VIP membuka pre order hingga tanggal 16 Maret 2022, hal tersebut ditegaskan oleh Drh Arief Ervana. Barulah setelah masa pre order ditutup, buku tersebut akan dicetak dalam jumlah terbatas sesuai dengan jumlah pemesan. Dalam acara tersebut juga dibagikan gratis 10 buah buku bagi yang beruntung. Jadi, tunggu apa lagi! segera follow instagram @penerbitvip dan dapatkan bukunya sekarang! (CR)



UPAYA PENGAMANAN DARI ANCAMAN TOKSIN

Perhatikan teknik pengeringan dan penyimpanan jagung sebagai bahan pakan ternak agar tak terkontaminasi mikotoksin. (Foto: Istimewa)

Mikotoksin sangat berbahaya bagi kelangsungan performa peternakan unggas. Kontaminasi mikotoksin pada unit usaha unggas dapat menyebabkan kerugian sangat besar.

Meminimalisir Risiko
Beragam alasan mendasari mengapa mikotoksin harus dan wajib diwaspadai. Menurut Technical Manager PT Elanco Animal Health Indonesia, Drh Agus Prastowo, mikotoksin dapat merusak performa secara diam-diam. Hal ini tentu saja karena mikotoksin selalu ditemukan dalam pakan (dengan kadar berbeda), tidak memiliki symptom yang spesifik dan semakin panjang periode pmeliharaannya, maka akan semakin berbahaya.

“Membunuh diam-diam dan tanpa gejala itu lebih berbahaya, mungkin untuk kematian mikotoksin ini kurang, tetapi kalau sudah kena jadinya imunosupresif. Pas kita yakin ayam sehat ternyata imunnya enggak bagus, pas ada masuk penyakit, kena, matinya banyak, sudah pasti rugi. Makanya ini bahaya banget,” tutur Agus.

Dirasa menurut Agus sangat sulit mendeteksi keberadaan mikotoksin pada bahan baku pakan karena tidak terlihat, tidak berbau dan tidak berasa. Ia memberi contoh misalnya toksin dari jenis zearalenone yang dapat berikatan dengan komponen nutrisi yang berbeda-beda. Jika zearalenone berikatan, misalnya dengan glikosida, (ikatan zearalenone-glikosida), maka toksin zearalenone akan sulit terdeteksi dengan metode konvensional.

“Itu namanya masked mikotoksin, kalau ikatan itu sampai terurai setelah tercampur dengan empedu di duodenum, maka sifat toksik zearalenone itu akan keluar dan membahayakan yang memakannya. Selain zearaleone, beberapa toksin seperti fumonisin dan okratoksin juga bisa membentuk ikatan seperti tadi,” jelas dia.

Jadi apa yang harus dilakukan dalam menghadapi toksin? Sebagian besar… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022. (CR)

BABI AUCKLAND ISLAND

Babi liar langka berasal dari Selandia Baru.

Babi jenis kecil yang bisa berwarna hitam, cokelat dan putih. Bentuknya memiliki ciri lebih liar dengan kepala dan moncong yang panjang dan sempit, serta ekor yang lurus.

Sumber gambar: rarebreeds.co.nz

BABI ARAPAWA ISLAND

Ini adalah jenis babi liar langka yang berasal dari Selandia Baru.

Tubuhnya lebih besar dari breed Auckland dengan moncong yang lebih pendek. Umumnya mereka cukup berbulu dan berpola hitam dan cokelat, meskipun warna lain juga ada.

Sumber gambar: wikipedia

BABI ANGELN SADDLEBACK

Berasal dari Jerman dikembangkan pada tahun 1937 dengan menyilangkan Landrace dengan Wessex Saddleback. Ini adalah jenis yang langka.

Jenis babi besar berwarna hitam dengan kaki dan dada berpita putih. Babi jantan biasanya memiliki berat sekitar 350 kg, dan betina 300 kg. Menghasilkan daging yang cukup berlemak.

Sumber gambar: wikipedia

BABI AMERICAN YORKSHIRE

Juga dikenal sebagai Yorkshire atau Large White, adalah breed paling populer di Amerikat Serikat. Ini adalah varietas Amerika dari English Large White yaitu Yorkshire White. Jenis Yorkshire pertama kali diimpor ke Amerika pada tahun 1930an.

American Yorkshire adalah jenis besar dengan tubuh berotot dan punggung yang panjang dan lurus. Wajahnya panjang, dan telinganya biasanya kecil dan tegak.

Kulitnya berwarna merah muda dengan bulu putih dan, biasanya, bebas noda. Babi jantan memiliki berat sekitar 250 hingga 350 kg, sedangkan babi betina memiliki berat sekitar 200 hingga 295 kg. Yorkshire Amerika adalah jinak di alam dan ibu yang sangat baik.

Mereka menghasilkan rata-rata tiga belas anak babi per induk dan menghasilkan susu dalam jumlah besar. Mereka adalah jenis yang kuat yang dapat mengatasi iklim yang berbeda.

Dianggap sebagai jenis yang baik untuk daging karena lemak punggungnya rendah dan persentase daging tanpa lemak yang tinggi. Mereka juga digunakan untuk persilangan untuk meningkatkan keturunan jenis lainnya.

Sumber gambar: wikipedia

DOKTER HEWAN DAN PARAMEDIK DIKERAHKAN UNTUK TANGANI LSD DI RIAU

Tim dikerahkan tangani kasus LSD di Provinsi Riau. (Foto: Istimewa)

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah, siap kerahkan sumber daya untuk tangani penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada sapi di Provinsi Riau. Hal tersebut ia sampaikan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (5/3/2022).

"Untuk penanganan LSD di Riau, kita akan kerahkan dokter hewan dan paramedik staf Kementan di Riau untuk membantu melakukan vaksinasi," kata Nasrullah.

LSD pada sapi ditemukan di Provinsi Riau, setelah sebelumnya juga terjadi di beberapa negara di Asia termasuk di Asia Tenggara, seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos dan Kamboja.

Nasrullah menambahkan, Kementan telah melaksanakan berbagai pencegahan kewaspadaan sejak LSD masuk Asia Tenggara pada 2019.

Pada waktu yang sama Direktur Kesehatan Hewan, Kementan, Nuryani Zainuddin, juga telah mengeluarkan Surat Edaran kewaspadaan penyakit LSD kepada para pemangku kepentingan di seluruh Indonesia sebanyak empat kali.

"Kita gencarkan sosialisasi tentang LSD melalui berbagai media serta webinar berseri tentang kesiapsiagaan terhadap LSD pada 2021," tutur Nuryani.

Upaya peningkatan kewaspadaan tersebut, kata dia, membuat petugas lapangan dapat mendeteksi secara cepat kejadian LSD, melaporkan dan menanganinya.

"Sistem kita telah berhasil mendeteksi dengan cepat, hal ini didukung sistem pelaporan real time iSIKHNAS dan kemampuan laboratorium kesehatan hewan yang baik, sehingga penyakit dapat dikonfirmasi segera," ucapnya.

Sesuai arahan Menteri Pertanian, timnya bergerak melakukan berbagai langkah pengamanan untuk mencegah penyebaran LSD lebih lanjut.

"Strategi utama adalah vaksinasi, namun ini harus didukung deteksi dini dan penelurusan kasus, pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, serta komunikasi, informasi dan edukasi," ucapnya.

Namun menurutnya penanganan LSD akan menantang, karena selain dapat disebarkan oleh lalu lintas sapi tertular dan produknya yang mengandung virus, LSD dapat ditularkan melalui perantara mekanik seperti gigitan serangga.

Kendati demikian, ditegaskan bahwa LSD tidak menular dan tidak berbahaya bagi manusia. Nuryani mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik dan ikut mendukung upaya penanganan oleh pemerintah. (INF)

BABI AMERICAN RED WATTLE

Juga dikenal sebagai Red Wattle, jenis ini dibawa ke Amerika Serikat (mungkin oleh pemukim Prancis dari Kaledonia Baru) dan beradaptasi dengan baik, menjadikannya jenis yang populer di Amerika. Jumlahnya menurun dengan cepat karena mereka telah dikawin silangkan untuk meningkatkan produksi daging.

Seperti namanya, jenis ini biasanya berwarna merah dan memiliki dua pial (jumbai seperti kambing) yang tergantung di dagu. Warnanya dapat bervariasi dari sepenuhnya merah hingga merah dengan bintik hitam, hingga sebagian besar hitam.

Mereka terkenal karena tahan banting dan kemampuan mencari makan, membuat mereka beradaptasi dengan berbagai kondisi iklim dan ideal untuk perkebunan kecil di luar ruangan atau di padang rumput. Induk babi menjadi ibu yang sangat baik, menghasilkan 9-10 anak babi dan jumlah susu yang baik. Mereka memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat baik. Red Wattle memiliki sifat jinak dan mudah dijinakkan, menjadikannya jenis yang bagus untuk pemelihara babi pemula.

Red Wattle menghasilkan daging dengan kualitas yang sangat baik. Ramping, lembut dan juicy dengan rasa seperti daging sapi.

Sumber gambar: wikipedia

BABI AKSAI BLACK PIED

Aksai Black Pied adalah ras babi Rusia. Dikembangkan pada tahun 1952 di peternakan eksperimental di Kazakhstan untuk mengoptimalkan produksi daging. Babi lokal disilangkan dengan Large Whites dan Berkshires, dan keturunannya kemudian disilangkan dengan Large Whites dan Estonian Bacon untuk memaksimalkan produksi daging dan bacon. Populasi telah menurun sejak tahun 1980.

Bertubuh sedang hingga besar yang dicirikan oleh warna bulu putih krem dengan bintik-bintik tidak rata abu-abu tua hingga hitam. Berat rata-rata babi betina adalah 245 kg, dan babi jantan adalah 317 kg. Tubuh dan kaki kekar, moncong besar, telinga panjang dan tegak. Betina memiliki sekitar 9 atau 10 anak babi sekali melahirkan.

Babi Aksai Black Pied biasanya dibiakkan secara komersial untuk produksi daging. Induk juga disilangkan secara komersial dengan ras Landrace dan Kaukasia Utara.

Sumber gambar: breedslist.com

MELACAK GERAK-GERIK TOKSIN T-2

Jagung berjamur. (Sumber: Istimewa)

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang dihasilkan oleh beberapa kapang beracun dari tiga genus utama, yaitu Aspergillus, Fusarium dan Penicilium. Bersifat “ubiquitous” alias mudah ditemukan di alam bebas, sangat tahan pada suhu tinggi dan cenderung mempunyai karakter lipofilik serta sangat beracun bagi manusia ataupun hewan. Spektrum toksikologisnya sangat luas, sehingga bentuk manifestasi klinis dan patologi-anatomisnya sangat variatif, baik pada hewan secara umum, maupun pada unggas khususnya. Toksisitasnya bisa bersifat akut atau kronis, dengan bentuk gangguan bersifat karsinogenik, genotoksisitas, imunotoksisitas, mutagenisitas, maupun teratogenisitas. Selain itu, dampak sinergistik antar beberapa jenis mikotoksin sudah dibuktikan secara in-vitro maupun in-vivo oleh para ahli toksikologi. Tulisan singkat ini mencoba meneropong mikotoksin dari kelompok Trikotesen, khususnya toksin T-2 yang juga jamak ditemukan pada ayam modern.

Sekilas Mikotoksin
Di atas telah disebutkan secara biologis mikotoksin adalah senyawa toksik yang merupakan metabolit sekunder kapang Aspergillus, Fusarium dan Penicilium yang menginvasi biji-bijian ketika masih dalam fase pertumbuhan di ladang dan/atau bahan baku/pakan selama penyimpanan, terutama jika suhu dan kelembapan sangat ideal untuk pertumbuhan kapang tersebut (Shamsudeen et al., 2013).

Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2012, memperkirakan kurang lebih 25% dari makanan manusia dan hewan terkontaminasi satu atau beberapa jenis mikotoksin. Usaha-usaha untuk membuat dekontaminasi secara fisik maupun dengan adsorben kimiawi sejauh ini masih terbatas (Huwig et al., 2001; Shetty dan Jesperson, 2006).

Gambar 1: Toksisitas relatif beberapa jenis mikotoksin terhadap hewan ternak (food producing animals). Di lapangan kasus keracunan Aflatoksin-B1 (AFB1), toksin T-2 dan Okratoksin-A pada ayam modern mempunyai prevalensi cukup tinggi sepanjang tahun, baik pada level ayam bibit (parent stock) maupun ayam komersil (final stock).

Hampir sama dengan polutan lingkungan lainnya, mikotoksin sangat mengganggu kesehatan dan produktivitas hewan, unggas khususnya (Zain, 2011; Katole et al., 2013). Lebih dari 350 jenis mikotoksin sudah diidentifikasi di alam, misalnya kelompok Aflatoksin (AF), Okratoksin (OT), Fumonisin (F) dan kelompok Trikotesen (Patil, 2014).

Gambar 2: Dampak metabolik pada kasus keracunan mikotoksin umumnya sudah dimulai dari saluran cerna (gastrointestinal tract) yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan gangguan asupan nutrisi bagi induk semang, baik makro-nutrisi maupun mikro-nutrisi. Selanjutnya, mikotoksin yang terabsorpsi dapat mengganggu atau bahkan merusak kedua organ yang berfungsi untuk detoksikasi bagi induk semang, yaitu hati dan ginjal. Bagan ini menunjukkan patogenesis dampak metabolik mikotoksin pada umumnya terhadap ayam modern tipe petelur, baik ayam bibit (grand parent ataupun parent stock) atau ayam petelur komersil, yaitu gangguan produksi telur (% hen day) serta kualitas kerabang telur.

Mengenal Kelompok Trikotesen
Trikotesen (TCT) adalah sekelompok mikotoksin yang dihasilkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022. (toe)

Ditulis Oleh:
Tony Unandar (Anggota Dewan Pakar ASOHI)

MUSIM PENGHUJAN MIKOTOKSIN TETAP JADI ANCAMAN

Mekanisme kerja mikotoksin. (Sumber: Hosam El-Din, 2013)

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dari suatu usaha budi daya peternakan maupun perikanan. Oleh karena itu, kualitas pakan harus terjamin dan aman dikonsumsi untuk ternak, apalagi dari ancaman mikotoksin.

Data dari Badan Pusat Statistik terkit survei struktur ongkos peternakan pada 2017, menunjukkan bahwa persentase terbesar dari komponen biaya peternakan adalah pakan. Untuk ayam pedaging sekitar 57% biaya berasal dari pakan, sedangkan ayam petelur jauh lebih tinggi yakni diangka 70%. Pada ternak ruminansia rata-rata ongkos pakan berkisar 51-67%.

Tentunya dengan biaya sebesar itu pakan diharapkan dapat menjadi sumber nutrisi dalam menunjang performa ternak agar tetap sehat. Namun, bagaimana jika ternyata dalam pakan malah terdapat cemaran mikotoksin yang merugikan kesehatan ternak yang berujung pada kerugian ekonomi peternak akibat ternakya sakit?. Oleh karenanya hal tersebut perlu dicermati peternak agar pakan yang dikonsumsi aman dan menyehatkan ternak.

Sekilas Mikotoksin
Sebagaimana diketahui mikotoksin merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan oleh kapang alias jamur pada kondisi lingkungan yang ideal, mikotoksin bisa tumbuh pada hampir semua jenis komoditi hasil pertanian di seluruh dunia, tentunya yang disoroti dalam pakan yakni jagung. Hingga kini, lebih dari 300 jenis toksin telah teridentifikasi yang berasal lebih dari 100.000 spesies kapang/jamur.

Menurut Regional Technical & Marketing Director Biomin, Justin Tan, dalam sebuah webinar mengatakan masalah mikotoksin merupakan masalah klasik yang terus berulang dan sangat sulit diberantas di seluruh dunia terutama di negara beriklim tropis.

“Banyak faktor yang memengaruhi kenapa mikotoksin sangat sulit diberantas, misalnya saja dari cara pemanenan, pengolahan dan bahkan penyimpanan bahan baku pakan yang salah,” tuturnya.

Justin memberi contoh... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022. (CR)

KESIAGAAN HADAPI MIKOTOKSIN DI MUSIM PENGHUJAN


Saat ini mikotoksin semakin mendapat perhatian serius dan harus diwaspadai karena mikotoksin hampir selalu ditemukan di setiap bahan baku pakan. Mikotoksin meski dalam jumlah rendah namun terus-menerus ada dalam bahan baku pakan, akan menyebabkan penurunan efisiensi produksi dan meningkatkan kepekaan ayam terhadap berbagai jenis infeksi penyakit yang disebabkan melemahnya sistem pertahanan tubuh.

Mikotoksikosis merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh mikotoksin dan penyakit tersebut timbul jika unggas mengonsumsi pakan atau bahan yang mengandung mikotoksin. Berdasarkan tempat proses tumbuhnya jamur yang memproduksi toksin dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu:

1. Field Fungi. Jamur yang tumbuh pada masa tanam di ladang/lahan pertanian (contoh: Fusarium).

2. Storage Fungi. Jamur yang tumbuh pada masa penyimpanan di gudang (contoh: Aspergillus sp. dan Penicillium sp.). Pada masa tanam tanaman jagung, kandungan jamur semakin meningkat seiring pertumbuhan tanaman tersebut. Toksin yang dihasilkan jamur semakin meningkat. Pada masa penyimpanan, kandungan jamur meningkat seiring masa penyimpanan dan kondisi yang ideal bagi pertumbuhannya.

Gejala klinis mikotoksikosis biasanya tergantung dari jenis dan kadar mikotoksin. Variasi gejala klinis tersebut dapat berupa gangguan pertumbuhan, gangguan produksi telur, gangguan daya tetas telur, gangguan pencernaan, perdarahan pada kulit, kerusakan jaringan pada paruh, rongga mulut dan gangguan akibat efek imunosupresi.

Mikotoksin akan menyebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022.

Ditulis oleh: Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, Jakarta
Telp: 021-8300300

SEKILAS TENTANG MIKOTOKSIN

Mikotoksin tumbuh pada berbagai komoditas terutama produk pertanian seperti jagung untuk pakan ternak. (Foto: Thinkstock)

Mikotoksin adalah metabolit sekunder produk dari kapang berfilamen, dimana dalam beberapa situasi dapat berkembang pada makanan yang berasal dari tumbuhan maupun dari hewan. Fusarium sp, Aspergillus sp dan Penicillium sp merupakan jenis kapang paling umum menghasilkan racun mikotoksin dan sering mencemari pakan ternak. Kapang tersebut tumbuh pada bahan pangan atau pakan, baik sebelum dan selama panen atau saat penyimpanan yang tidak tepat (Binder 2007; Zinedine & Manes 2009).

Kata mikotoksin berasal dari dua kata, mukes yang berarti kapang (Yunani) dan toxicum yang mengacu pada racun (Latin). Mikotoksin tidak terlihat, tidak berbau dan tidak dapat dideteksi oleh penciuman atau rasa, tetapi dapat mengurangi kinerja produksi ternak secara signifikan (Binder 2007).

Sebagai produk metabolisme jamur atau kapang, mikotoksin tumbuh pada berbagai komoditas terutama produk pertanian seperti kacang tanah, jagung dan sebagainya. Beberapa toksin/racun jamur ini diproduksi pada kelembapan lebih dari 75% dan temperatur di atas 20° C, dengan kadar air bahan baku pakan di atas 16%.

Beberapa jamur/fungi yang diketahui dapat menghasilkan mikotoksin yang sangat berbahaya di peternakan adalah Aspergillus flavus (Aflatoksin B1) dan A. Ochraceus (Okratoksin), Fusarium (Zearalenone/F2, Fumonisin, DON/Dioksinivalenol/Vomitoksin, T2/Trichothecenes dan Penicillium viridicatum atau P. palitans (Okratoksin).

Beberapa jenis kapang dapat memproduksi lebih dari satu jenis mikotoksin dan beberapa mikotoksin diproduksi oleh lebih dari satu spesies kapang (Zain, 2011).  Kapang merupakan bagian normal dari mikroflora.

Ternak dapat terpapar mikotoksin setelah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022. (AHD-MAS)

PRANCIS AKAN MELARANG CULLING DOC JANTAN

Industri unggas di Prancis memiliki waktu hingga akhir 2022 untuk menghentikan culling DOC jantan, yang mempengaruhi hingga 50 juta anak ayam di Prancis setiap tahun. Peternak dan produsen sekarang perlu menggunakan metode alternatif untuk memastikan bahwa anak ayam jantan tidak pernah dilahirkan.

Produsen harus menunjukkan bahwa mereka setidaknya telah memesan mesin identifikasi jenis kelamin pada akhir Maret. Mereka yang gagal melakukannya akan menghadapi denda.

Ini mengikuti pengumuman tahun lalu oleh Menteri Pertanian Jerman, Julia Klockner, untuk melarang culling ayam jantan.

HATI-HATI! ENTEROTOKSEMIA SEBABKAN KEMATIAN KAMBING DAN DOMBA

Enterotoksemia merupakan penyakit penting karena menimbulkan kerugian besar bagi peternak kambing dan domba di seluruh dunia. (Foto-foto: Istimewa)

Satu bulan terakhir penulis mendapat cukup banyak pertanyaan terkait kematian mendadak pada kambing. Rekan sejawat penulis dari Kabupaten Pesawara Lampung menanyakan kematian seekor cempe Peranakan Etawa bersamaan dengan kondisi induknya yang tiba-tiba ambruk. Beberapa informasi terkait pakan yang diberikan adalah rumput dan ampas tahu.

Adapula peternak kambing perah di Bogor yang memberikan informasi bahwa terjadi kematian beberapa ekor dalam kurun waktu satu minggu. Gejala klinisnya meliputi ternak semula sehat, kemudian menunjukan gejala tidak mau makan, pada cempe terkadang diikuti diare dan mati mendadak.

Gambaran perubahan pasca kematian menunjukan adanya kerapuhan pada hati, ukuran membesar, hati dan paru mengalami adhesi/menempel pada tulang rusuk, keluar cairan bening ataupun cairan kemerahan hingga berbentuk gelatin dari rongga perut, serta menciri pada perdarahan/hemoragik pada lumen usus ataupun pada lapisan serosa.

Kejadian yang sama juga dilaporkan kerabat dokter hewan di Provinsi Jambi, yang membuka usaha breeding kambing Jawarandu. Ia mengeluhkan kejadian kematian kambingnya secara mendadak. Dalam satu minggu telah terjadi kematian dengan gejala klinis seperti di atas sejumlah empat ekor indukan. Masa inkubasi penyakit sangat cepat, dari mulai tidak mau makan, kejang dan kaku otot pada cempe, diare berakhir kematian.

Adapula yang melaporkan kejadian di Kabupaten Purworejo, Jawa tengah. Terjadi peningkatan laporan kasus kambing atau domba sakit dengan gejala klinis sama seperti di Lampung, Bogor dan Jambi. Disampaikan kejadian terjadi di beberapa Kecamatan di Purworejo, dengan mortalitas cukup tinggi serta penanganan dengan antibiotik yang hasilnya belum memuaskan.

Berdasarkan informasi di atas, penulis membaca beberapa referensi jurnal dan buku terkait kematian pada kambing dan domba. Jurnal terbaru 2020 berjudul “The Challenges of Diagnosis and Control of Enterotoxaemia Caused by Clostridium perfringens in Small Ruminants” oleh Rajveer Singh Pawaiya dkk. Hasil kesimpulan sementara bahwa kematian tersebut disebabkan penyakit yang dikenal sebagai enterotoksemia, pulpy kidney disease, atau juga dikenal over eating disease.

Enterotoksemia merupakan peristiwa terjadinya toksifikasi pada alat pencernaan (usus) yang diserap oleh pembuluh darah dan terdistribusi ke seluruh tubuh. Enterotoksemia dapat disebabkan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2022.

Ditulis oleh:
Drh Joko Susilo MSc
Medik Veteriner, Balai Veteriner Lampung
Koresponden Infovet daerah Lampung

MEKSIKO BATASI IMPOR UNGGAS DARI INDIANA, AS

Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Meksiko telah mengumumkan bahwa negara tersebut akan membatasi impor produk unggas dari Indiana di AS karena wabah flu burung yang sangat patogen di peternakan kalkun.

“Mengingat wabah flu burung yang sangat patogen yang terletak di peternakan kalkun di negara bagian Indiana, yang dikonfirmasi oleh otoritas kesehatan Amerika Serikat, Meksiko membatasi masuknya produk unggas dari wilayah itu,” kata sebuah pernyataan.

Layanan Nasional untuk Kesehatan, Keamanan, dan Kualitas Agrifood Meksiko (Senasica) mencatat bahwa meskipun ini merupakan tindakan pencegahan, impor segala jenis unggas atau produk unggas yang telah diproduksi, berasal dari, atau transit melalui Indiana dilarang.

DUKUNGAN PROGRAM DESA PETERNAKAN TERPADU BERKELANJUTAN

Dukungan program Peternakan Terpadu Lanjutan BUMDes Bersama. (Foto: Istimewa)

Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) mendukung program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan yang dilaksanakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Peternakan Terpadu. Hal tersebut disampaikan Dirjen PKH, Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah, di kantornya, Senin (21/2/2022).

Ia sampaikan program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan untuk mengintegrasikan program dan kegiatan kementerian/lembaga, pemda, pemerintah desa dan mitra terkait di desa khususnya sektor peternakan. “Kolaborasi diharapkan mempercepat keberhasilan pembangunan  peternakan nasional,” kata Nasrullah.

Ia menambahkan, kolaborasi dan sinergitas diutamakan mendukung percepatan pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, pemulihan ekonomi, pemerataan pembangunan wilayah dan ketahanan pangan.

Sementara Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Kementan, Agung Suganda saat mendampingi Menteri Desa, PDTT di Kudus, Selasa (15/2/2022), mengatakan, BUMDes Peternakan Terpadu menjadi model sistem pengelolaan peternakan dari hulu ke hilir.

“Ke depannya desa-desa yang memiliki potensi sektor peternakan akan dikembangkan sebagai sentral penyedia daging. Partisipasi dan kontribusi seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan program ini,” kata Agung.

Pilot project Program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan berada pada tujuh kabupaten, yaitu Bandung, Cirebon, Kebumen, Nganjuk, Jombang, Lumajang dan Kudus. Tiap BUMDes Bersama melibatkan sekitar 5-10 desa di sekitarnya. Ketujuh BUMDes Bersama yang menjadi proyek percontohan mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari Kemendes PDTT dan pihak ketiga.

Agung optimis potensi peternakan yang dimiliki Kabupaten Kudus. Menurutnya, potensi peternakan di sana mampu menjaga ketersediaan pangan hewani di kawasan Jawa Tengah dan sekitarnya. “Saya optimis Kudus untuk program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan ini,” ucapnya.

Bupati Kudus, HM Hartopo, menyampaikan apresiasinya atas bantuan untuk pembangunan program tersebut. Ia berharap ini bisa memenuhi target penggemukan lebih dari 15 kg setiap bulannya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar, mengungkapkan program Desa Peternakan Terpadu Berkelanjutan merupakan tindaklanjut instruksi presiden. Harapannya sebagian dana desa dialokasikan untuk peningkatan ketahanan pangan, utamanya ketersediaan daging.

“BUMDes di sini bergerak di bidang pembibitan dan penggemukan sapi, peternakan kambing dan domba, ayam petelur, biogas, serta pupuk organik,” katanya. (INF)

PETERNAK AYAM SE-WILAYAH PRIANGAN JABAR BERSIAP UNJUK RASA KE JAKARTA

Kegiatan konsolidasi Perkumpulan Peternak Ayam Priangan di Ciamis (Foto: Istimewa)


Peternak ayam se-wilayah Priangan, Jawa Barat berencana melakukan unjuk rasa ke Jakarta pada Jum’at, 25 Februari 2022 mendatang. Aksi ini dilatarbelakangai ditengah ketidakpastian harga jual ayam ras pedaging hidup tingkat peternak (on farm) yang kerap menghantui peternak rakyat di seluruh Indonesia.

Pada Senin (21/2/2022) telah berlangsung kegiatan silaturahim dan konsolidasi peternak yang tergabung dalam Perkumpulan Peternak Ayam Priangan, di Ciamis yang dihadiri puluhan anggotanya.

Aksi turun ke jalan nantinya, peternak akan kembali mempertanyakan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.7 tahun 2020 di mana harga acuan ayam hidup Rp19.000-Rp21.000 per kg. Pada kenyataanya di lapangan, aturan tersebut tidak terealisasi.

Peternak lagi-lagi dibuat menderita dengan harga DOC saat ini yaitu Rp8.000 – Rp8.500 per ekor serta harga pakan yang menyentuh Rp 8.500 per kg. Oleh karena itu Harga Pokok Produksi (HPP) di tingkat peternak rakyat di kandang saat ini sudah mencapai Rp20.000-Rp22.000 ribu per kg hidup namun harga pasar ayam hidup berkisar Rp14.000 per kg.

Ketua Perkumpulan Peternak Ayam Priangan, Jogin Setiadin dalam kegiatan silaturahim dan konsolidasi peternak mengatakan masalah ini akan terus terjadi.

“Semenjak dari tahun 2009 hingga saat ini masalah seperti supply-demand lalu situasi pandemi COVID-19, cutting DOC dan sebagainya,” kata Jogin, seperti dalam rilis yang diterima redaksi Infovet, Senin (21/2/2022).

Jogin menambahkan, saat ini masalah juga karena over supply dan adanya program cutting yang seharusnya perlu pengawasan ketat dari pemerintah. “Di lapangan banyak sekali DOC yang box polos namun kualitas super. Ini perlu ditelusuri karena seharusnya stock bisa terkendali dengan adanya cutting ini,” lanjut dia.

Adapun diskusi tersebut juga menyoroti adanya perubahan UU No. 6/1967 ke UU No. 41/2014 j.o UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang mengakibatkan masuknya perusahaan integrasi yang dahulu berbisnis anak ayam sehari (DOC) sebagai pembibit kini memasuki era hilirisasi. Karena aturan tersebut mau tidak mau peternak rakyat harus menghadapi persaingan dengan pemodal besar.

Menurut Iwang, peternak asal Tasikmalaya yang hadir menyatakan. “Kami disini mengkritisi juga regulasi yang menyebabkan peternak rakyat babak belur setiap tahunnya, karena inti permasalahannya ini ada di sana. Sehingga semenjak adanya Undang-Undang yang membolehkan pemain besar berbudidaya baik di broiler (pedaging) maupun di layer (petelur), peternak rakyat tinggal menjadi penonton saja. Kami tetap menginginkan Presiden langsung memberikan Kepres perlindungan kepada peternak mandiri,” imbuhnya.

Hadir pula peternak ayam petelur, H Ismail mengatakan peternak layer pun kewalahan dengan situasi sekarang karena HPP mencapai Rp20.000-Rp21.000 per kg. “Harga bulan ini pernah menyentuh Rp14.00-Rp15.000 per kg. Saya minta pemerintah hadir untuk peternak di wilayah kami,” harapnya.

Menurut peternak ayam asal Ciamis sekaligus Sekretaris Perkumpulan Peternak Ayam Priangan H Kuswara Suwarman menuturkan dengan kondisi sekarang ini, peternak rakyat ayam broiler sudah tidak kuat lagi untuk berproduksi karena harga jual di kandang sudah sangat rendah yaitu Rp14.000 per kg, padahal modal peternak Rp21.000 per kg.

“Melihat kondisi ini kami peternak rakyat se-Priangan berencana unjuk rasa ke Jakarta pada 25 Februari nanti, karena kejadian ini sudah tidak bisa ditolerir lagi mengingat kami terus merugi,” pungkasnya. (NDV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer