-->

ANIMO TINGGI, BIMTEK BUDIDAYA AYAM KAMPUNG UNGGUL DIIKUTI 500 PESERTA

Dr Tike Sartika saat memaparkan materi budidaya beternak ayam KUB


Animo masyarakat pemerhati peternakan sangat tinggi terhadap pengembangan ayam kampung cukup besar. Hal ini terlihat dari banyaknya peserta yang mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek)  Budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (Ayam KUB) yang diselenggarakan secara daring oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak).

Tercatat 500 lebih peserta dari berbagai kalangan yang bergabung dalam bimtek pada Jumat (9/7). Kepala Bagian Tata Usaha Puslitbangnak, Ir Narta MSi dalam sambutannya mewakili Kepala Puslitbangnak sangat mengapresiasi minat peserta yang ingin mengetahui secara detail mengenai tata cara budidaya ayam kampul unggul sekaligus strategi pemasarannya.

Narta mengatakan tujuan diselenggarakannya bimtek ini adalah lebih memasyarakatkan lagi ayam kampung unggul sebagai bagian berkontribusi dalam upaya menyediaan konsumsi daging dan protein hewani, sekaligus berperan serta dalam mencegah stunting.

“Sebagai informasi, pelopor ayam KUB yaitu Dr Tike Sartika selaku peneliti dari Balai Penelitian Ternak (Balitnak). Saat ini bibit asli ada di Balitnak dan kami usahakan menyebarkan bibitnya melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setiap provinsi bagi yang ingin membudidayakan,” terang Narta.

Beranjak pada acara inti, dipandu oleh moderator Dr Andi Saenab dan pembicara dalam Bimtek yakni Dr Tike Sartika peneliti ahli utama Balitnak memaparkan materi ‘Budidaya Beternak Ayam KUB’.

“Ayam kampung asli dulu didatangkan pada tahun 1997-1998 dari sekitar kawasan Ciawi, Cigudeg, Depok, Cianjur, dan Jatiwangi. Selanjutnya dikumpulkan menjadi satu populasi dasar seleksi untuk menghasilkan bibitnya,” urai Tike.

Lebih lanjut dijelaskan, ayam kampung asli diseleksi selama enam generasi, dari seleksi peningkatan produksi telur dan penurunan sifat mengeram.   

 “Benar memang penelitian ayam kampung unggul ini membutuhkan waktu serta biaya banyak, karena sifatnya berkesinambungan,” tuturnya. (NDV)

KEKAVA GO GREEN BESAR-BESARAN


Putnu Fabrika Kekava, pengolah unggas terbesar di Latvia, berencana untuk berinvestasi besar-besaran dalam teknologi ramah lingkungan dan membangun pembangkit listrik tenaga surya sendiri untuk mengurangi emisi karbon.

Langkah ini merupakan bagian dari program hijau yang dicanangkan Linas Agro Group, induk perusahaan Putnu Fabrika Kekava. Perusahaan menjelaskan bahwa ikatan perdagangan yang kuat dengan Skandinavia adalah salah satu faktor yang mendorong perusahaan menuju operasi yang lebih berkelanjutan.

"Baik konsumen dan mitra bisnis kami di kawasan Baltik dan Skandinavia mengharapkan produk diproduksi secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Ini sangat penting di Skandinavia, di mana persyaratan keberlanjutan secara bertahap menjadi lebih tinggi," kata Andrijus Pranckevics, Chairman of the Board Putnu Fabrika Ķekava.

Andrijus memperkirakan bahwa Kekava mengkonsumsi lebih dari 23.000 MWh listrik, lebih dari 700.000 m3 air, dan 80.000 MWh gas per tahun.

“Kami berencana untuk menerapkan strategi keberlanjutan yang ambisius pada tahun 2030, dan kami memiliki rencana aksi yang jelas. Ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sumber daya, termasuk mengurangi jumlah air yang digunakan dalam produksi, membatasi efek rumah kaca dengan mengurangi emisi gas dan air, dan memperkenalkan pengemasan yang berkelanjutan, dan bahkan standar keselamatan kerja dan kesejahteraan hewan yang lebih tinggi," tambah Andrijus. (via poultryworld.net)

LEBIH PAHAM MANAJEMEN KESEHATAN & REPRODUKSI KAMBING DAN DOMBA

Menambah wawasan dan ilmu di bidang kambing dan domba melalui webinar


Sabtu (10/7) Program Studi Di luar Kampus (PSDKU) Unpad mengadakan webinar mengenai manajemen ternak domba dan kambing yang bertajuk "Meningkatkan Efektivitas Reproduksi dan Manajemen Kesehatan Domba dan Kambing" Via daring Zoom meeting. Sebanyak lebih dari 200 peserta hadir menyaksikan webinar tersebut.

Waskita Julian selaku ketua panitia acara tersebut mengatakan bahwa digelarnya webinar tersebut bertujuan untuk menambah edukasi dan wawasan peserta baik peternak, mahasiswa, calon peternak, dan petugas lapangan di bidang kambing dan domba. Dirinya juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung jalannya acara tersebut.

Narasumber pertama dalam acara tersebut yakni Ir Kundrat Hidajat staff pengajar Fakultas Peternakan Unpad. Dalam presentasinya Kundrat membahas lebih dalam mengenai manajemen reproduksi pada kambing dan domba. Secara detail Kundrat menjabarkan hal - hal penting dan beberapa titik kritis pada reproduksi kambing dan domba termasuk penyakit reproduksinya.

"Reproduksi ini penting untuk diketahui dan dimanage, yang ingin saya garisbawahi terutama adalah terkait recording. Peternak kita didominasi oleh peternak - peternak berskala kecil, sehingga jarang melakukan recording yang apik, padahal dari recording kita bisa banyak mengetahui seluk - beluk peternakan kita," tutur Kundrat.

Kundrat juga menekankan bahwa sejatinya Indonesia diberkahi dengan iklim tropis sehingga kambing dan domba dapat berkembang biak di setiap musim. Oleh karenanya seharusnya Indonesia dapat menjadi negara penghasil kambing dan domba dibanding negara - negara 4 musim. 

Presenter kedua yakni Drh Dwi Cipto Budinuryanto yang juga staff pengajar di program studi Kedokteran Hewan Unpad. Dalam presentasinya ia banyak mengulas manajemen pemeliharaan serta penyakit - penyakit penting pada kambing dan domba yang sering ditemui di Indonesia.

"Penyakit pada domba dan kambing mirip - mirip, ada yang infeksius dan non-infeksius. Intinya kita harus benar - benar mencegahnya dengan mengaplikasikan biosekuriti di peternakan kita," tutur Dwi.

Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, Dwi merasa bahwa para peternak kambing dan domba di Indonesia terutama yang berskala kecil kurang memperhatikan aspek biosekuriti. Entah karena memang tidak mengerti atau enggan mengaplikasikannya di farm karena kendala budget.

Sebagai penutup, para narasumber kembali menghimbau utamanya kepada para peternak bahwa beternak haruslah serius. Karena hewan ternak adalah bentuk investasi, yang apabila dirawat dengan sepenuh hati dengan manajemen terbaik, hasil yang mereka berikan pada pemiliknya juga akan baik, pun sebaliknya. (CR)


PERUBAHAN BISNIS UNGGAS DI ARAB SAUDI

Saudi Food and Drug Authority (SFDA) baru-baru ini menerapkan beberapa langkah baru yang secara signifikan akan mempengaruhi pasar unggas impor Saudi. Sementara itu, produksi unggas lokal sedang digalakkan.

Ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan untuk mendiversifikasi ekonominya, dan sebagai bagian dari tujuan Saudi Vision 2030, Kementerian Lingkungan Air dan Pertanian Saudi (MEWA) mendorong produsen lokal untuk secara drastis meningkatkan produksi. Negara ini memproduksi 900.000 ton daging ayam pada tahun 2020, menyumbang 60% dari konsumsi domestik dengan perkiraan mendekati 1,55 juta ton per tahun.

MEWA mengharapkan produksi lokal mencapai 80% pada tahun 2025 dan 100% pada tahun 2030. Untuk mencapai ini, kementerian menawarkan berbagai insentif kepada produsen daging ayam lokal termasuk hingga US$ 187 juta per tahun sebagai subsidi berbasis produksi langsung. Almarai, peternakan sapi perah Saudi terbesar dan produsen daging ayam terbesar ketiga, baru-baru ini mengumumkan rencana ekspansi unggas besar-besaran dengan biaya US$ 1,8 miliar, yang akan menggandakan produksi unggasnya selama 5 tahun ke depan.

Di bawah Visi 2030, pemerintah Saudi mendorong perusahaan asing untuk berinvestasi di pasar Saudi, terutama peternakan unggas. Sebagai imbalannya, Arab Saudi menawarkan kepemilikan 100% kepada produsen “lokal” dan akses ke subsidi berbasis produksi langsung yang juga ditawarkan kepada peternak unggas lokal. (via poultryworld.net)

ISAINI KE-6 DIIKUTI PARA AHLI NUTRISI DAN PAKAN KELAS DUNIA

Kegiatan ISAINI ke-6 yang dilaksanakan secara daring. (Foto: Istimewa)

Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) bekerja sama dengan Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tuan rumah menyelenggarakan The 6th International Seminar of Animal Nutrition and Feed Science (ISAINI), 7-8 Juli 2021, melalui daring. Seminar internasional tersebut merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan AINI setiap dua tahun sekali.

ISAINI kali ini mengangkat tema “Sistem Produksi Ternak Tropis dan Kesejahteraan Ternak untuk Pencapaian Pembangunan Berkelanjutan.” Sebagaimana dilaporkan ketua Panitia ISAINI ke-6, Bambang Suwignyo, peserta ISAINI berasal dari delapan negara yang meliputi Indonesia, Australia, Netherlands, Malaysia, Perancis, Filipina, Timor Leste dan Tiongkok. Para peserta mempresentasikan hasil riset mereka sesuai dengan tema yang diangkat.

Seminar yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dr Ika Dewi Ana, menyampaikan apresiasinya dan sangat mendukung adanya kegiatan ISAINI ini.

“Seminar internasional turut mendukung capaian UGM tidak hanya dalam menghasilkan publikasi berkualitas (publisher terindex), namun juga adanya suplai ide-ide segar yang dihasilkan dari riset yang telah di jalankan oleh para peneliti,” kata Ika.

Sementara Deputi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Ismunandar, yang turut hadir menyinggung salah satu tema penelitian “Transition to Circular-Bio Economy” sebagai salah satu upaya mendayagunakan hasil samping atau by product pertanian khususnya hasil samping peternakan. Peternakan memiliki peran penting dalam pergerakan perekonomian mulai dari hulu hingga hilir, sehingga dalam pelaksanaannya diperlukan pendekatan teknologi untuk mengoptimalkan hasilnya.

“Seminar ini menjadi sarana bagi UGM dan seluruh pihak terkait dalam membantu Indonesia mengembangkan peternakan di daerah tropis dengan riset terbarukan. Harapannya peternakan di Indonesia bisa menjadi lebih maju dan menjadi terdepan,” kata Ismunandar.

Selain mengundang BRIN, turut hadir pula para pembicara ahli yang berasal dari empat negara, diantaranya Prof Dr Ali Agus sebagai perwakilan akademisi di Indonesia, Marlina dan Ferdy selaku perwakilan industri pakan di Indonesia, Prof Dr Yutaka Uyeno (Jepang), Dr Karen Harper (Australia) dan Dr Chung Ki Yong (Korea). (IN)

JEPANG MEMBUKA PASARNYA UNTUK UNGGAS INGGRIS

Inggris telah mengamankan akses pasar ke Jepang untuk impor daging unggas Inggris, membuka peluang baru bagi peternak Inggris, produsen dan eksportir di ekonomi terbesar ketiga di dunia. Perjanjian tersebut diperkirakan bernilai hingga £13 juta per tahun.

Jepang terkenal secara internasional karena keamanan pangannya yang ketat dan kontrol impornya. Pembukaan pasar untuk produk unggas segar dan olahan Inggris ini menunjukkan standar tinggi metode produksi unggas Inggris. Dengan konsumsi unggas yang meningkat di Jepang dan fokusnya pada produk baru yang berkualitas, pasar ini menjadi target baru yang signifikan dan menjanjikan bagi eksportir daging unggas Inggris.

Victoria Prentis, Menteri Pangan Inggris, mengatakan, “Unggas kami yang berkualitas tinggi dengan rasa yang luar biasa terkenal di seluruh dunia, seperti juga standar tinggi keamanan pangan dan kesejahteraan hewan yang ditunjukkan oleh peternak dan produsen di seluruh Inggris. Kami bekerja keras untuk membuka pasar baru untuk bisnis pangan kami, dan ini adalah peluang signifikan bagi sektor unggas Inggris. Pembukaan pasar mengikuti serangkaian negosiasi kompleks selama 4 tahun terakhir antara pejabat Inggris dan Jepang untuk menyetujui persyaratan kesehatan hewan tertentu. Manfaat dari pengembangan ini akan dirasakan di seluruh rantai pasokan di seluruh Inggris dan akan membuka peluang baru bagi peternak Inggris.”

Ranil Jayawardena, Menteri Perdagangan Internasional Inggris, menambahkan, “Ini adalah berita fantastis bagi petani dan produsen makanan di seluruh Inggris Raya yang sekarang dapat memanfaatkan pasar baru ini dan mengekspor daging unggas ke Jepang,ekonomi terbesar ketiga di dunia, untuk pertama kalinya." (via poultryworld.net)

BICARA KHASIAT SEDIAAN HERBAL

Penggunaan herbal sudah lama digunakan pada ternak unggas. (Foto: Istimewa)

Sediaan herbal dan minyak esensial digadang-gadang sebagai sediaan alternatif pengobatan yang alami, aman dan berkhasiat. Namun, perlu juga ditelusuri seberapa jauh sediaan tersebut dapat memberikan khasiat dan mafaat.

Kaya Khasiat
Sebagaimana disebutkan bahwa terdapat kurang lebih 9.000-an spesies tanaman yang berkhasiat sebagai obat untuk ternak, khususnya unggas. Dari berbagai macam khasiat yang ada, sederhananya penggunaan sediaan herbal berupa jamu berkhasiat menambah nafsu makan, menurunkan angka kematian dan lain sebagainya.

Namun sebenarnya, dalam level yang lebih mikro alias di tingkat molekular banyak manfaat yang didapat dari penggunaan sediaan herbal dan minyak esensial. Misalnya sebagai anti-inflamasi, memperbaiki performa saluran pencernaan, memenuhi kebutuhan nutrisi, anti-bakterial, antivirus, anti-parasitik dan lain sebagainya.

Beberapa fungsi sediaan herbal. (Sumber: Istimewa)

Kusno Waluyo, merupakan satu dari banyak peternak yang merasakan khasiat herbal pada ayam petelur. Dirinya mengaku sudah 13 tahun menambahkan suplementasi herbal dalam ransum ayam petelurnya. Selama itu pula dirinya mengaku mendapat… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021. (CR)

PERINGATAN HARI ZOONOSIS SE-DUNIA : MARI PERANGI ZOONOSIS!

Memperingati Hari Zoonosis Se-Dunia, semua sektor harus bersatu melawan zoonosis


Memperingati hari zoonosis se-dunia yang jatuh pada 6 Juli 2021 yang lalu Direktorat Kesmavet Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama FAO ECTAD Indonesia dan USAID mengadakan webinar bertajuk Kesmavetalk bertajuk "Mari Bersama Perangi Zoonosis!"pada Rabu (7/7) yang lalu. Acara tersebut dapat diakses via daring youtube dan instagram melalui channel Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner. Tujuannya adalah memberikan edukasi kepada masyarakat terkait ancaman Zoonosis bagi kehidupan manusia. 

Narasumber yang dihadirkan pun bukan kaleng - kaleng, mereka adalah Drh Denny Widaya Lukman (pengajar FKH IPB), Drh Tjahjani Widiastuti (koordinator kelompok zoonosis, Ditkesmavet), dan Drh NLP Indi Dharmayanti (Kepala BBALITVET Bogor), yang dimoderatori oleh Drh Ahmad Gozali (FAO ECTAD Indonesia).   

Drh Tjahjani mengatakan bahwa pemerintah telah membuat strategi dalam memerangi penyakit hewan menular strategis (ada 15 jenis) yang diantaranya bersifat zoonosis, utamanya pada 5 penyakit yang berpotensi sangat berbahaya seperti AI, Rabies, Anthrax, Brucellosis, dan Leptospirosis. Meskipun begitu bukan berarti 10 penyakit lainnya dianaktirikan oleh pemerintah.

"Kami juga dalam memerangi ini tidak bisa sendiri, oleh karenanya kami melakukan kolaborasi dengan sektor lain seperti kesehatan manusia dan kesehatan lingkungan. Oleh karenanya kerjasama ini sangat berarti dalam memerangi zoonosis dan mencegah terjadinya wabah dan pandemi baru," tuturnya.

Drh Denny Widaya Lukman juga mengatakan yang hampir serupa dimana penyakit zoonotik merupakan ancaman yang selalu mengintai manusia. Oleh karenanya kewaspadaan yang lebih diperlukan agar nantinya tidak terjadi lagi wabah zoonotis seperti misalnya AI dulu.

Ia juga menekankan agar para ahli dapat lebih banyak lagi mengedukasi masyarakat terkait zoonosis. Hal ini karena dirinya banyak mendapat berita dan kabar terkait salah kaprah, hoax, dan disinformasi masyarakat mengenai Zoonosis, seperti misalnya kasus toxoplasmosis.

"Selama ini masyarakat suka menuduh kucing sebagai biang keladi toxoplasma, padahal bisa jadi manusia tidak tertular dari kucing saja, makan daging setengah matang, atau minum susu kambing tanpa dimasak misalnya, itu kan juga faktor risiko tinggi. Makanya edukasi dan komunikasi itu penting," kata Denny.

Denny juga mengatakan bahwa memberikan informasi dan edukasi pada masyarakat sangat mudah diucapkan namun sulit dilakukan. Hal ini juga berkaitan dengan derasnya arus informasi dan teknologi, sehingga masyarakat mudah percaya dan tidak dapat menentukan mana informasi yang benar dan hoax.

Terkait dengan Covid-19 yang dikabarkan dapat menginfeksi hewan,  Drh NLP Indi Dharmayanti banyak menjabarkan data mengenai hal tersebut. Ia memaparkan berbagai data terkait penularan Covid-19 pada hewan seperti harimau, cerpelai, dan lain sebagainya dari berbagai negara. Namun begitu berdasarkan data dan hasil riset yang ia dan timnya lakukan di BBALITVET di Indonesia sendiri belum pernah ada kasus penularan Covid-19 dari manusia ke hewan peliharaan.

Misalnya saja pada saat awal pandemi, ia dan timnya langsung mengambil sampel dari kucing yang dipelihara oleh penderita Covid-19 dan melakukan pengujian serologis terhadap sampel dari kucing tersebut, hasilnya pun negatif. Ia juga menjabarkan hasil pengujian lainnya pada hewan pelihara dari penderita Covid-19 seperti anjing dan kelinci, hasilnya dari 12 sampel semuanya pun negatif.

"Kami sudah lakukan hal tersebut, meskipun hasilnya negatif, bukan berarti tidak ada potensi penularan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Karena berdasarkan hasil dari software modelling kami potensi itu tetap ada, makanya tetap harus waspada, jaga kesehatan kita, hewan peliharaan kita, dan juga lingkungan kita," tutur Indi.

Diskusi dan pertanyaan - pertanyaan dari para penonton berlangsung menarik hingga acara berakhir. Semoga saja dengan adanya acara tersebut dapat menambah edukasi masyarakat Indonesia terkait zoonosis, dan efek positifnya dapat ditularkan dan dibagikan kepada masyarakat lainnya  di seluruh penjuru negeri. (CR)

TELUR DAN AYAM POPULER DI RUMAH TANGGA BRASIL

Telur dan ayam menjadi protein hewani favorit di rumah Brasil selama pandemi. Sebuah survei yang dipresentasikan oleh Asosiasi Protein Hewani Brasil menunjukkan bahwa 98,5% rumah tangga mengonsumsi beberapa jenis protein hewani pada periode tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Center for Advice and Market Research, menyimpulkan bahwa telur adalah favorit, dengan 96% kehadiran di menu makanan rumah tangga Brasil, diikuti oleh ayam (94%), babi (80%), daging sapi (79%) dan ikan (65%). Sebelumnya daging sapi adalah daging kedua yang paling banyak dikonsumsi di Brasil. Alasan di balik perubahan ini mungkin karena harga daging sapi naik lebih dari dua kali lipat sejak 2019. Selain itu, tingkat pengangguran yang tinggi dan tren pendapatan yang menurun di Brasil juga mempengaruhi.

Dilakukan selama masa pandemi, survei menunjukkan bahwa sebagian besar konsumsi daging terjadi di rumah tangga. Efek lainnya adalah belanja online. Pembeli digital ayam, telur, dan babi meningkat lebih dari dua kali lipat selama pandemi. (via poultryworld.net)

PETERNAK IRAN KRITIK KEBIJAKAN PEMERINTAH SOAL PASAR AYAM PEDAGING

Peternak unggas Iran khawatir bahwa pemerintah dapat memperdalam krisis di segmen produksi daging broiler dengan mengijinkan lebih banyak daging unggas impor.

Dewan Menteri Iran telah memberi lampu hijau untuk impor 120.000 ton ayam dengan nilai tukar 42.000 rial per dolar.

Impor unggas yang murah dapat memperburuk situasi bagi peternak unggas.

Arsalan Ghasemi, Ketua Komisi Pertanian Kamar Kooperasi, mengkritik keputusan untuk memerangi kenaikan harga dengan membiarkan lebih banyak ayam impor murah masuk ke pasar domestik. “Jika jumlah mata uang yang sama yang sekarang ingin mereka keluarkan untuk mengimpor ayam dihabiskan untuk produksi dalam negeri pada waktu yang tepat, pasar ayam tidak akan begitu tidak sehat seperti sekarang,” kata Arsalan. Peternak unggas sudah menderita kerugian, dan impor murah secara signifikan dapat memperburuk keadaan mereka.

Kapasitas produksi yang dirancang dari industri unggas Iran mendekati 2,3 juta ton, sedangkan permintaan domestik berkisar antara 1,8 dan 1,9 juta ton per tahun. Di bawah kebijakan yang tepat, Iran dapat dengan mudah swasembada daging ayam pedaging, menurut Arsalan. Masalahnya, bagaimanapun, adalah bahwa Iran mengalami kekurangan bahan pakan yang tajam. Banyak peternakan unggas harus mengurangi populasi unggas mereka selama beberapa bulan terakhir, karena biaya yang meroket dan kurangnya pakan.

Peternak unggas Iran telah menulis surat kepada Kementerian Pertanian yang meminta lebih banyak uang untuk dibelanjakan untuk mengimpor bahan pakan. Kurangnya devisa saat ini menjadi faktor utama penghambat impor bahan pakan, dan produsen mempertanyakan mengapa mata uang dihabiskan untuk mengimpor daging ayam broiler, bukan jagung dan kedelai.

Habib Asdalhnzhad, wakil direktur National Poultry Union juga mengatakan bahwa industri unggas Iran berada di ambang kekurangan DOC. Harga di segmen ini melonjak dari 4.200 toman ($1) menjadi 7.500 toman ($1,7), yang dapat membawa lebih banyak masalah bagi peternak unggas Iran. (via poultryworld.net)

SELAMAT JALAN DRH HANANTO, SOSOK YANG MEMBUMI DAN RAMAH

 



Perjumpaan saya dengan Drh Hananto PT Bantoro pertama kalinya di tahun 2012. Saya memperoleh tugas untuk mewawancarai pak Hananto mengenai pengendalian lalat.

 

Saat itu terbersit di benak saya, pak Hananto sosok yang membumi, supel serta menggambarkan pribadi yang tidak mudah marah karena sangat murah senyum.

 

Kendati jarang berjumpa secara langsung lagi, namun saya masih sering menghubungi beliau melalui email untuk bertanya seputar kesehatan hewan. Selain beliau juga di beberapa kesempatan saya hubungi kembali untuk meminta kesediaan beliau untuk menulis di salah satu rubrik Majalah Infovet.

 

Pernah ketika saya bertugas di beberapa area pameran Indo Livestock, pak Hananto

memanggil saya. Beliau mengingat saya dengan baik. Begitu juga sewaktu bertemu di setiap seminar yang digelar PT Novindo Agritech Hutama, beliau sering menyapa saya.  

 

Mendengar kabar beliau telah berpulang ke Yang Maha Kuasa di hari Senin, 5 Juli 2021 kemarin saya terkejut. Langsung mengonfirmasi ke teman-teman yang ada di Novindo diantaranya mbak Yuni Lestari, mas Rizal Iqhbal serta mbak Retno Widiastutik.

 

Tim Novindo sangat merasa kehilangan dan sedih, atas kepergian pak Hananto. Sosok pak Hananto yang dikenal timnya sebagai pribadi yang sangat baik.

 

Saya pun masih terkenang dengan perkenalan hingga penjelasan beliau seputar bidang kesehatan hewan yang gamblang dan mudah saya mengerti. Beliau tahu latar belakang saya bukan dari kedokteran hewan maupun peternakan, namun atmosfer yang terasa ketika berbincang dengan beliau seperti layaknya teman.  

 

Sekilas perjalanan karir almarhum Drh Hananto, bersama ibu Drh Irawati Fari dan ibu Drh Forlin Tinora Siregar berkarir di perusahaan Novartis sejak tahun 1993. Saat itu, bernama PT Citraguna Saranatama yang merupakan importir serta distributor Ciba Geigy di Indonesia yang kemudian berubah menjadi Novartis Indonesia.

 

Setelahnya Drh Hananto turut berperan dalam mendirikan PT Novindo Agritech Hutama dan PT Dwimitra Agritech Hutama bersama Drh Irawati Fari, Drh Forlin Tinora Siregar, Ir Joko Raharjo, Ir Imam Akbarudin serta Drh Ketut Sukadrana.

 

Drh Hananto merupakan alumni Fakultas Kedokteran Hewan UGM, berkarir sebagai Head of Technical & Marketing PT Novindo Agritech Hutama dan Direktur PT Dwimitra Agritech Hutama.

 

Selamat jalan pak Hananto. Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa..

 

Segenap tim Majalah Infovet dan keluarga besar PT Gallus Indonesia Utama turut berduka cita sedalam-dalamnya. **(NDV)

 



HERBAL & ESSENTIAL OIL “GELANDANG BERTAHAN” PENJAGA KESEHATAN UNGGAS

Banyak manfaat serta keuntungan penggunaan herbal dan essential oil pada ternak unggas. (Foto: Dok. Infovet)

Permasalahan utama yang merupakan tantangan terberat di peternakan ayam adalah munculnya penyakit, sehingga pengelolaanya perlu dilakukan secara efisien dan sesuai kebutuhan ayam modern. Perubahan iklim yang diprediksi sebagai efek pemanasan global menyebabkan pola musim hujan dan kemarau berubah tidak menentu. Kenaikan suhu lingkungan ini akan membawa berbagai dampak yang spesifik, termasuk ke dunia peternakan, antara lain meningkatnya stres panas pada ayam.

Pada ayam broiler, saat suhu kandang mencapai 40.6° C selama tiga jam  dapat menyebabkan kematian (Al-Ghamdi, 2008). Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi suhu yang relatif tinggi antara siang dan malam hari. Akibatnya stamina tubuh ayam menurun sehingga mudah terinfeksi penyakit yang menyebabkan produktivitas menurun. Data dari BMKG untuk kondisi lingkungan pada Juni 2021 menyatakan curah hujan rendah dan mulai berlangsung musim kemarau.

Sementara prediksi penyakit yang terjadi pada Juni 2021 pada broiler dan layer adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kondisi heat stress seperti CRD dan penyakit viral. Hal ini erat kaitannya dengan faktor stres yang menyebabkan kemampuan ayam memproduksi antibodi berkurang, seperti dijelaskan dalam mekanisme di bawah ini:


Ayam broiler modern fast growing menghasilkan output panas yang lebih tinggi dan ini menyebabkan ayam fast growing lebih sensitif terhadap panas lingkungan. Ayam merupakan hewan homeothermic dan tidak mempunyai kelenjar keringat, kondisi biologis seperti ini pada saat heat stress menyebabkan ayam kesulitan membuang panas tubuhnya ke lingkungan. Sehingga tantangan heat stress yang tinggi perlu dilakukan tindakan untuk menjaga kesehatan dan performa ayam tetap terjaga. Salah satu strategi terbaik meningkatkan sistem imunitas unggas adalah dengan penggunaan herbal dan essential oil yang terbukti menjadikan unggas lebih sehat dan aman.

Indonesia terkenal sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, salah satunya potensi tanaman herbal untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit unggas. Sebagian besar obat herbal berasal dari ekstrak tanaman, diantaranya kunyit, jahe, lengkuas, temulawak, lempuyang dan kencur dapat dibuat ramuan yang berguna untuk memperlancar peredaran darah dan membuat unggas lebih sehat.

Manfaat Utama Herbal dan Essential Oil
Selama ini diketahui tanaman herbal dan essential oil memiliki berbagai nutrisi dan senyawa kimia yang berkhasiat. Saat ini peternak sudah mulai memanfaatkan ramuan herbal untuk mengurangi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021.

Ditulis oleh:
Drh Sumarno Wignyo
Senior Manager AHS PT Sreeya Sewu Indonesia

BEGINI PENANGANAN DAGING HEWAN KURBAN SAAT PANDEMI

Penanganan daging hewan kurban saat pandemi (Foto: Humas Fapet UGM)


Dalam kegiatan ‘Pelatihan Penyembelihan Hewan Kurban’ yang diselenggarakan secara daring pada Rabu, 30 Juni 2021, Dosen Fapet UGM Prof Dr Ir Nurliyani MS mengemukakan, penanganan daging kurban setelah disembelih pun perlu diperhatikan agar terjaga kebersihannya.

Menurut Nurliyani, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam penanganan daging kurban semasa pandemi COVID-19 saat ini. Antara lain aspek higiene makanan, aspek petugas, dan aspek peralatan. Dilihat dari aspek higiene makanan, hindari tangan manusia yang kontak langsung dengan daging, hindari lalat dan serangga lainnya, hindari peralatan yang kontak dengan daging (pisau, talenan, alas, dan meja), hindari air yang kotor, lantai/tanah dan alas yang kotor.

"Dari aspek petugas, orang yang bertugas memotong daging harus menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan. Selain itu, petugas harus menjaga lingkungan sekitar pemrosesan daging kurban," kata Nurliyani dalam keterangan resminya. 

Petugas harus mengenakan alat pelindung diri yang berbeda-beda tergantung dari kewajibannya. Petugas di area kotor harus memakai masker, sepatu boots, kacamata goggle atau face shield dan sarung tangan sekali pakai. Petugas di area bersih menggunakan masker, penutup kepala, face shield, sarung tangan, celemek pelindung (apron) dan alas kaki.

Sementara dari aspek peralatan, alat yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat teknis higiene dan sanitasi, yaitu terbuat dari bahan yang tidak mencemari daging. Hindari penggunaan plastik hitam daur ulang karena elastisitasnya sangat berbeda dengan plastik bening yang masih bagus. Plastik hitam mudah sobek dan baunya menyengat. 

Setiap unsur daging memiliki kandungan lemak yang dapat menyerap bebauan dan rasa yang terdapat di sekitarnya. "Apabila kemasan yang digunakan untuk membungkus daging berupa plastik daur ulang yang mengandung bahan kimia berbahaya, dikhawatirkan dapat mengubah kualitas daging. Panitia lebih disarankan membungkus daging yang akan dibagikan dengan kantong plastik bening atau besek," jelasnya.  

Dosen Fapet UGM dan Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan Ir Nanung Danar Dono SPt MP PhD IPM ASEAN Eng mengatakan dalam memilih hewan kurban harus diperhatikan beberapa hal. 

Nanung menjabarkan hewan yang dipilih hendaknya hewan yang jantan, dengan badan tegap, tubuh simetris proporsional, gerakannya lincah, nafsu makan normal, dan aktif. Kuku kaki juga dipastikan sehat dan utuh, hewan tidak pincang saat berjalan. Selain itu, mata berbinar hidung basah berembun, pandangan tenang, dan bulu-bulu halus mengkilap dan lembut. Perhatikan juga bahwa tidak ada bercak darah atau darah mengalir pada lubang-lubang tubuh. Hindari membeli hewan qurban yang dipelihara di tempat pembuangan sampah.

Pada saat menyembelih hewan kurban, Nanung menganjurkan agar hewan dibaringkan menghadap kiblat dengan santun dan penuh kasih sayang. Kaki harus diikat dengan kuat dan pada saat menyembelih harus dipastikan bahwa pisau memotong 3 saluran pada leher bagian depan, yaitu saluran nafas, saluran makanan, dan 2 pembuluh darah. 

Sebelum hewan kurban benar-benar mati, penyembelih dilarang keras menusuk jantungnya, menguliti, memotong ekornya, dan sebagainya. Reflek ekor, mata, dan kaki dapat menjadi petunjuk apakah hewan sudah benar-benar mati atau belum. (INF)

PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN DI KALA PANDEMI


Ilustrasi penyembelihan hewan kurban (Foto: Humas Fapet UGM) 

Fakultas Peternakan (Fapet) UGM melalui Halal Research Center membagikan teknik penyembelihan hewan kurban yang halal dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

Ir Nanung Danar Dono SPt MP PhD IPM ASEAN Eng selaku dosen Fapet UGM dan Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan dalam Pelatihan Penyembelihan Hewan Kurban yang diselenggarakan secara daring pada Rabu, 30 Juni 2021 mengungkapkan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurai kerumunan pada saat menyembelih hewan Kurban.

Pertama, membatasi atau mengurangi jumlah panitia yang terlibat. Pengurus takmir masjid berwenang untuk menentukan jumlah panitia. Kedua, membatasi atau mengurangi jumlah ternak yang disembelih di lokasi. “Hewan kurban yang tidak dapat disembelih di masjid dapat dititipkan kepada lembaga AMIL yang amanah untuk dikirim ke daerah atau negara lain yang lebih membutuhkan,” tutur Nanung, dalam keterangan resminya. 

Ketiga, membagi waktu penyembelihan menjadi 3-4 hari. Panitia dapat memanfaatkan kesempatan menyembelih di Hari Tasyrik. Keempat, membagi lokasi penyembelihan menjadi 3-4 tempat. Lokasi penyembelihan dapat dibagi per wilayah RT.

Nanung menambahkan, panitia kurban juga harus menyediakan air dan sabun dan atau hand sanitizer secara cukup. Anak-anak dan warga lanjut usia (di atas 50 tahun) serta warga yang sakit hendaknya tidak dilibatkan dalam penyembelihan hewan. Selain itu, sohibul kurban tidak harus hadir di lokasi penyembelihan. Shohibul kurban dapat menyaksikan penyembelihan secara online, melalui ZOOM, Webex, Google Meet, YouTube, atau media lainnya.

Jika lokasi penyembelihan termasuk zona merah atau hitam, pilihan terbaik adalah hewan disembelih di rumah potong hewan resmi milik pemerintah. (INF)

PEDOMAN WELFARE AYAM PETELUR TAIWAN DIPERBARUI

Taiwan telah merevisi pedoman resminya untuk kesejahteraan ayam petelur untuk pertama kalinya sejak diperkenalkan pada tahun 2015, menurut Environment and Animal Society of Taiwan. Perubahan tersebut memberikan peningkatan kesejahteraan hewan yang signifikan untuk ayam petelur yang dibesarkan di kandang bebas, lumbung, atau sistem yang diperkaya.

Pedoman hukum wajib untuk setiap telur berlabel 'cage free', 'barn', atau 'kandang yang diperkaya', dan diperkirakan mempengaruhi sekitar 10% dari 40 juta ayam petelur Taiwan. Peningkatan ini dilakukan segera setelah pihak berwenang mengumumkan penurunan suku bunga bagi petani yang berinvestasi dalam sistem tanpa kandang sebagai bagian dari skema pinjaman berbunga rendah pemerintah.

Salah satu perubahan yang paling signifikan adalah peningkatan jumlah ruang yang harus disediakan oleh peternakan bebas sangkar untuk setiap ayam, sekarang menyediakan setidaknya 1 meter persegi per 10 unggas, yang sebelumnya per 12 unggas. Pedoman yang diperbarui juga melarang praktik pergantian bulu paksa, menentukan bahan kotak sarang, desain tempat bertengger, dan ukuran tempat berteduh, dan mengharuskan peternakan menyediakan area terpisah untuk ayam yang sakit atau terluka. (via poultryworld.net)

UZBEKISTAN MEMPERKENALKAN SUBSIDI UNTUK UNGGAS

Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev telah menyetujui paket bailout untuk industri unggas dalam negeri, yang membuat produsen ayam pedaging dan petelur mendapat subsidi baru dan keringanan pajak yang bertujuan untuk menahan kenaikan harga di pasar domestik.

Mulai Juni 2021, peternakan unggas memenuhi syarat untuk mendapatkan subsidi sebesar 500 soum (US$0,047) per 10 butir telur dan 1.000 soum (US$0,095) per kilogram daging unggas yang dijual di pasar domestik, kata Mirziyoyev dalam dekrit yang dikeluarkan pada 18 Juni.

Keputusan tersebut disetujui tak lama setelah pemerintah Uzbekistan menemukan bahwa produsen telur menderita kerugian, sementara produsen daging broiler mengalami penurunan tajam dalam profitabilitas karena biaya tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya terutama terkait dengan biji-bijian yang mahal di pasar global.

Saat ini, produksi mengalami kerugian bersih sebesar 15 soum (US$0,0015) dari memproduksi dan menjual 1 butir telur, sementara menghasilkan laba bersih hanya 369 soum (US$0,034) dari produksi dan penjualan 1 kg daging ayam pedaging, menurut perkiraan pemerintah. Diyakini bahwa profitabilitas di segmen daging broiler telah berkurang lebih dari setengahnya selama tahun lalu.

Salah satu tujuan dari subsidi baru ini adalah untuk menekan harga domestik yang meningkat pesat sejak awal tahun. Selain itu, Mirziyoyev memerintahkan untuk memotong separuh tarif pajak untuk pajak properti, pajak tanah, dan pajak untuk penggunaan sumber daya air untuk semua peternakan unggas di negara itu hingga Juli 2024.

Pada 1 Juli 2022, pemerintah juga akan mensubsidi 50% biaya logistik untuk ekspor daging dan telur ayam ras, serta impor kedelai melalui jalan darat, kereta api, dan udara. (via poultryworld.net)

MERAIH PELUANG TREN BUDI DAYA AYAM BEBAS SANGKAR

Pola budi daya ayam bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak bebas sesuai nalurinya. (Foto: Istimewa)

Kesejahteraan ternak atau hewan (Kesrawan) semakin kuat disorot banyak negara di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Hal itu tidak terlepas dari peningkatan kesadaran masyarakat dunia akan tren konsumsi pangan protein hewani, kepedulian pada kelestarian lingkungan, kesehatan dan kesejahteraan hewan. Kenyataan itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa kandang baterai konvensional dilarang di Uni Eropa dan banyak negara bagian di Amerika Serikat.

Hal itu dibahas dalam Indonesia Livestock Club (ILC) edisi 21, Rabu (30/6/2021) dengan menghadirkan Guru Besar Fapet UGM Prof Dr Ali Agus, Manajer PT Inti Prima Satwa Sejahtera Roby T. Dharma Gandawijaya dan owner Rasyid Barokah Farm Muhammad Ridwan

Dalam webinar tersebut dijelaskan bahwa kandang ayam baterai dianggap sebagai tempat yang kurang sesuai dan berukuran kecil, sehingga ayam tidak dapat bergerak bebas atau mengekspresikan perilaku alaminya. Tren tersebut menuntut seluruh pemangku kepentingan bidang peternakan untuk tidak hanya fokus pada produksi semata, namun juga perlu memerhatikan aspek Kesrawan dalam usahanya.

Dijelaskan pula tren Kesrawan dalam hal ini pada sistem produksi telur dengan pola budi daya ayam bebas sangkar (cage free), memungkinkan ayam bergerak bebas sesuai nalurinya. Kemudian makan, minum, bersarang, bertengger dan berinteraksi dengan ayam lainnya.

Sistem bebas sangkar membuat setiap ayam lebih nyaman dan terhindar dari stres, dirawat dan dipelihara dengan baik menggunakan lima prinsip kesrawan. Pertama, terbebas dari rasa lapar dan haus. Kedua, bebas dari rasa tidak nyaman. Ketiga, kebebasan dari rasa sakit, cidera, dan penyakit. Keempat, bebas mengekspresikan tingkah laku alaminya. Kelima, bebas dari rasa takut dan tertekan.

Menurut Ali Agus, tren masa depan budi daya ayam bebas sangkar akan didorong dan ditarik oleh berbagai faktor. “Isu Kesejahteraan ternak, permintaan konsumen, gerakan pecinta atau penyayang hewan, regulasi pemerintah (insentif, grading egg quality), tata niaga yang mengikat (perusahaan multinasional), pasar segmented dan harga jual telur,” kata Dekan Fakultas Peternakan UGM tersebut.

Untuk strategi implementasi di Indonesia, kata dia, perlu untuk belajar dari praktik keseharian, dimulai dari populasi yang tidak terlalu besar, misalnya di bawah 10 ribu ekor. “Strategi berikutnya adalah perlu dilakukan penelitian berkesinambungan seputar aspek dalam budi dayam ayam bebas sangkar, peningkatan kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga penelitian, serta perlu adanya pembentukan asosiasi usaha sejenis, yakni lembaga tempat berinteraksi para praktisi budi daya ayam bebas sangkar,” tukasnya. (IN)

EKSPOR UNGGAS INGGRIS KE UE TURUN 70%

Pemeriksaan-pemeriksaan yang memakan waktu telah mengakibatkan ekspor daging Inggris ke Uni Eropa turun tajam sejak awal tahun 2021.

Ekspor unggas secara keseluruhan turun 69% pada kuartal pertama tahun ini dan berdampak signifikan terhadap kelangsungan bisnis. Ekspor ayam mengalami penurunan volume sebesar 62% dan penurunan nilai sebesar 67%, dari sekitar £90 juta menjadi hanya £30 juta, menurut statistik Pemerintah Inggris.

Alasan penurunan tersebut adalah kesulitan dengan birokrasi Brexit dan hambatan di perbatasan Inggris-Uni Eropa. Karena Inggris sekarang dikategorikan sebagai "negara ketiga", bisnis Inggris telah dikenakan sejumlah persyaratan yang dikenakan pada impor, termasuk kontrol sanitasi dan fitosanitasi (SPS) internasional. (via poultryworld.net)

ASOSIASI PERUNGGASAN MINTA DAGING AYAM, TELUR DAN PAKAN JANGAN KENA PPN

Daging ayam. (Foto: Istimewa)

Bocornya isu PPN (Pajak Pertambahan Nilai) terhadap bahan pokok ramai menjadi perbincangan. Banyak yang menilai hal itu semakin mencekik rakyat apalagi di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang urung usai.

Anggota DPR RI, Singgih Januratmoko, yang juga Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), berharap produk industri perunggasan beserta penunjangnya tidak dikenai pajak.

“Karena kalau dikenakan PPN ini pasti akan terjadi kenaikan cost produksi. Mengingat kondisi sekarang saja masih jauh dari harapan teman-teman peternak. Harapan peternak untuk ayam, telur dan pakan, serta industri penunjangnya tidak dikenakan PPN,” tutur Singgih dalam webinar “Dampak RUU PPN Terhadap Industri Strategis Nasional” yang digelar Pataka, Senin (1/7/2021).

Hal senada juga disampaikan Ketua Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN), Herry Darmawan. “Jangankan mikirin pajak, untuk mikirin hidupnya saja peternak sudah terengah-engah. Kita saat ini tengah dibebani penurunan harga ayam, itu dulu yang harus dibenahi, apalagi ditambah isu RUU PPN ini yang belum ada tapi sudah dilempar ke publik,” kata Herry.

Kendati demikian, ia tetap memperjuangkan agar industri perunggasan beserta penunjangnya tidak tersangkut pajak. “Saya sedang perjuangkan ini. Apabila pakan ternak dan obat hewan dikenai pajak, mungkin mereka bisa bayar, tapi bayarnya pakai duit peternak yang beli. Intinya jangan sampai pemerintah membebani pajak kepada peternak,” harapnya.

Walau belum pasti PPN dikenakan ke daging dan telur ayam maupun pakan ternak, namun hal ini menjadi batu sandungan bagi peningkatan konsumsi dua protein hewani tersebut, mengingat konsumsinya di Indonesia masih sangat rendah.

Hal itu disampaikan Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Achmad Dawami. Ia khawatir kesadaran masyarakat terhadap konsumsi protein hewani paling murah di Indonesia ini akan semakin menurun.

“Sebab saat ini edukasi terkait itu juga masih rendah. Jangan sampai kebutuhan prima ini membebani masyarakat yang akan mempermahal harganya dan memperkecil konsumsi protein hewani masyarakat,” ucap Dawami.

Kondisi itu juga menjadi perhatian Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), Irawati Fari. “Kita lihat dulu kondisi masyarakat seperti apa. Contohnya ibu rumah tangga, ketika harga telur naik Rp 1.000 saja mereka pasti heboh. Karena apabila industri unggas dikenakan pajak, otomatis akan dibebani ke konsumen, dan bisa jadi akan terjadi pengurangan pembelian konsumsi protein hewani,” kata Irawati.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Keuangan, Yustinus Prastowo, mengemukakan bahwa RUU PPN dirancang untuk mengatur dan menata kembali ke dalam sistem agar terdata secara baik. “Tidak terbesit sedikitpun pemerintah berniat mengenakan pajak untuk masyarakat bawah,” kata Yustinus.

Ia menjelaskan, skema PPN bahan pokok nantinya diperuntukan untuk komoditas yang bukan menjadi kebutuhan masyarakat luas. “Untuk kebutuhan masyarakat terkait bahan pokok, barang esensial tidak dipungut PPN, untuk barang sekunder bisa dengan PPN final rate (1%) dan barang lainnya bisa dengan tarif lebih rendah lagi,” paparnya.

Adapun usulan pengenaan PPN diantaranya general rate (12%), lower rate/GST (5%/7%), high rate (15%-25%) dan eskpor (0%). “Untuk industri strategis bisa dikenai tarif rendah, final rate atau bahkan tidak dipungut. Dan dari 11 bahan pokok, kemungkinan daging (sapi) dan beras akan dikenakan PPN, mengingat adanya gap yang masih sangat lebar,” ucap dia.

Dua hal tersebut disampaikan Yustinus, karena kelompok menengah ke atas masih menikmati PPN 0% pada barang dan jasa tertentu, termasuk bahan pokok. Padahal daya beli dan jenis harganya berbeda. Contohnya daging sapi biasa dengan daging wagyu atau beras biasa dengan beras premium. (RBS)

GPMT MENGUSULKAN PEMERINTAH PERTIMBANGKAN IMPOR JAGUNG

 

Ketua GPMT, Timbul Sihombing 

Dalam situasi pasokan dan harga tidak kondusif yang berpengaruh pada efisiensi produksi serta harga final pakan, para produsen pakan ternak berharap pemerintah mengambil kebijakan strategis. Kebijakan strategis ini diantaranya importasi gandum pakan sebagai substitusi dan impor jagung ketika pasokan terbatas dan harga mengalami lonjakan.

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan kebijakan impor jagung untuk pakan ternak. Hal itu seiring naiknya harga jagung lokal sebagai bahan baku pakan.

“Kami usulkan impor jagung sifatnya on and off dan dikendalikan oleh pemerintah dan idealnya pemerintah punya buffer stock untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan,” kata Ketua GPMT, Timbul Sihombing dalam diskusi virtual katadata bertema “Geliat Industri Perunggasan: Harga Pakan, DOC dan Ayam Hidup”, Rabu (30/6).

“Ketika harga sudah diluar batas kewajaran perlu dipilih opsi impor jagung tapi tentu ini harus hati-hati dan tetap dikendalikan pemerintah. Idealnya, pemerintah punya cadangan stok nasional yang bisa menjaga stabilitas suplai dalam negeri,” tambahnya.

Timbul menjelaskan, harga pakan secara keseluruhan pada 2019-2020 tidak terdapat fluktuasi meski pada akhir 2020 mulai terdapat indikasi kenaikan harga. Terutama untuk pakan ternak ayam broiler. Terlebih lagi, 90 persen dari total produksi pakan ternak diperuntukan untuk unggas.

Stok jagung saat ini di pabrik pakan ternak tercatat mencapai level yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Stok yang terbatas ini diikuti dengan harga jagung yang relatif masih tinggi. Timbul juga mengemukakan persediaan jagung nasional pada Mei hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi selama 34 hari ke depan.

“Sebagai pembanding tahun lalu pada Mei stok jagung untuk pemenuhan pakan nasional bisa untuk 59 hari,” ujarnya.

Pasokan jagung untuk produksi pakan sendiri dipasok dari produksi lokal. Timbul menyebutkan pasokan jagung lokal masih tersedia, tetapi harga masih relattinggi. Harga rata-rata jagung pipil kering dengan kadar air 15 persen pada Mei 2021 tercatat berada di kisaran Rp5.472 per kilogram (kg) sampai Rp6.233 per kg. Sebagai perbandingan, pada Mei 2020 harga jagung pipil kering dengan kualitas yang sama masih berada di kisaran Rp3.302 per kg sampai Rp4.320 per kg.

Selain harga tinggi jagung lokal yang menjadi komponen utama pakan, harga bungkil kedelai impor juga stabil tinggi sebagai imbas dari terbatasnya pasokan dan naiknya permintaan China sebagai salah satu importir terbesar kedelai. Kendati demikian, Timbul menyebutkan aktivitas impor tetap dilakukan pabrik.

Timbul memastikan pabrik pakan akan terus menyerap dan mengutamakan produksi jagung lokal. (NDV)

 

MEMANFAATKAN SEDIAAN HERBAL & MINYAK ESENSIAL UNTUK KESEHATAN TERNAK

Kunyit, salah satu herbal “langganan” digunakan untuk ternak. (Foto: Istimewa)

Ada sekitar 40 ribu spesies tanaman di dunia dan sekitar 30 ribu diantaranya ada di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Sekitar 9.600-an spesies tanaman tadi telah terbukti memiliki khasiat sebagai obat. Sedangkan 1.000-an diantaranya dimanfaatkan sebagai obat herbal tradisional (jamu) oleh masyarakat Indonesia.

Di Indonesia obat herbal lebih akrab disapa dengan sebutan jamu. Sejak zaman nenek moyang dulu, masyarakat Indonesia telah lama memanfaatkan herbal sebagai obat. Dari pengertiannya, obat herbal adalah obat yang zat aktifnya dari tanaman (daun, batang, akar, kayu, buah, ataupun kulit kayu). Obat herbal terkadang juga sering disebut sebagai jamu. Bahkan bisa dibilang jamu merupakan salah satu identitas bangsa ini.

Di masa kini tren gaya hidup manusia semakin berubah, termasuk dalam hal kesehatan. Manusia kini menganut tren back to nature alias kembali ke alam, sehingga banyak diantaranya yang mengonsumsi obat herbal dan jamu demi menunjang kesehatan. Begitupun dengan hewan khususnya ternak, kenyataannya sediaan herbal juga dapat digunakan sebagai terapi dalam kesehatan hewan ternak.

Herbal Bukan Cuma Jamu
Jamu memang sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Penggunaannya pun juga tidak terbatas hanya pada manusia saja, tetapi juga pada hewan. Seringkali didengar bahkan melihat ada kontes ternak, karapan sapi, atau event sejenisnya, pemilik hewan kerap memberikan jamu agar lebih prima kondisi ternaknya pada saat kontes.

Nah, sebenarnya sediaan herbal tradisional bukan cuma jamu, ada beberapa kategori sediaan berdasarkan pengelompokkannya. Seperti diutarakan dosen mata kuliah farmasi veteriner FKH IPB, Rini Madyastuti. Menurut Rini, obat herbal di Indonesia terdiri atas tiga golongan, yakni jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Jamu merupakan obat bahan alam yang sediaannya masih berupa bentuk aslinya (daun, rimpang, batang dan lainnya). Setelah lolos uji pra-klinik, jamu naik kelas menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT). Tingkat paling tinggi disebut sebagai fitofarmaka, dimana kemanan dan khasiat obat bahan alam sudah lolos uji pra-klinik dan uji klinik serta bahan baku dan produk jadinya sudah terstandarisasi. Namun begitu, pembagian tersebut hanya ada pada sediaan obat manusia.

“Untuk hewan mungkin sepertinya belum, tetapi saya lihat semakin kemari kayaknya makin banyak sediaan herbal, apalagi untuk ternak unggas. Tentunya ini indikasi positif untuk sediaan herbal, semoga semakin bergairah juga untuk industrinya menggunakan sediaan herbal,” tutur Rini.

Selain jamu, beberapa jenis tanaman dapat menghasilkan minyak esensial (essential oil) yang juga dapat digunakan dalam menjaga kesehatan manusia dan hewan. Minyak esensial inilah yang juga kemudian dimanfaatkan manusia sebagai sediaan obat maupun imbuhan pakan yang dikenal hingga sekarang ini.

Herbal dan Minyak Esensial (Semakin) Berkembang
Dilarangnya penggunaan antibiotik sebagai growth promoter (AGP) beberapa tahun lalu menyebabkan para produsen dan distributor obat hewan berpikir untuk menemukan alternatif penggantinya. Di sisi lain, beberapa jenis sediaan herbal dan minyak esensial dapat digunakan.

Perkembangan jenis produk herbal dan minyak esensial seperti dipaparkan Kasubdit POH, Ditjen PKH, Kementerian Pertanian (Kementan), Drh Ni Made Ria Isriyanthi. Hal ini ditandai dengan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2021. (CR)

RESMI!, INDONESIA LUNCURKAN PROGRAM KETAHANAN KESEHATAN GLOBAL UNTUK CEGAH PANDEMI BERIKUTNYA

Peluncuran Program Ketahanan Kesehatan Global, kolaborasi Kementerian Pertanian, FAO, dan USAID dilakukan secara virtual, Selasa (29/6)

Pandemi COVID-19 menunjukkan bagaimana wabah penyakit menular memiliki dampak kesehatan, ekonomi, politik, dan sosial yang sangat signifikan. COVID-19 menyebar di hampir seluruh negara di dunia dan tidak ada negara yang sepenuhnya siap menghadapi pandemi berikutnya. 

Berbagai ancaman pandemi berkaitan dengan penyakit “zoonosis”, penyakit hewan  yang menjangkit pada manusia. Artinya, perhatian terhadap penyakit pada hewan dan ancaman munculnya penyakit zoonosis menjadi prioritas pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. 


Indonesia, bersama 70 negara lainnya, bekerja untuk mempercepat dukungan politik dan multi sektoral untuk kesiapan ketahanan kesehatan melalui inisiasi global, yang disebut Global Health Security Agenda (GHSA) – untuk menjaga dunia aman dari ancaman penyakit menular. 


Untuk mendukung GHSA ini, Kementerian Pertanian bersama dengan  Badan Pangan dan Pertanian Dunia melalui Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) resmi meluncurkan Program Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Security Programme / GHSP) hari ini secara daring. 


Kasdi Subagyono, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian mengatakan “Saya berharap agar sinergi dan harmonisasi pelaksanaan proyek GHSP dengan proyek lainnya di Kementerian Pertanian dapat berjalan dengan tetap memastikan aspek administrasi yang baik dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku, dengan mengambil best practices dan lesson learned dari pengalaman implementasi proyek-proyek sebelumnya. 


Saya juga ingin menyampaikan penghargaan kepada semua mitra kerja Kementerian Pertanian baik dari kementerian/lembaga, asosiasi serta mitra pembangunan internasional, khususnya FAO Indonesia dan USAID, yang selama ini telah mendukung dan secara bersama-sama bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam upaya penguatan layanan kesehatan hewan nasional yang berkelanjutan. Harapannya upaya yang kita lakukan juga dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).” ujar Kasdi. 


Selain itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pelopor GHSA dan telah aktif berkontribusi sebagai anggota tetap Tim Pengarah sejak tahun 2016 – 2024. Kontribusi besar Indonesia dalam inisiatif global ini juga mendapat perhatian besar dari presiden. 

"Kerja sama ini diharapkan bisa melakukan pencegahan, deteksi dini dan pengendalian penyakit-penyakit menular baru, terutama yang berpotensi mengancam kesehatan dan ekonomi Indonesia. Selain itu, semoga bisa berkontribusi pada peningkatan kesehatan manusia, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," papar Nasrullah. 

Nasrullah menambahkan, program ini juga selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintah, terutama terkait keamanan pangan dan kesehatan. Ia berharap program ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan komitmen bersama dalam melangkah ke depan. 

GHSP adalah program baru dari kolaborasi panjang Kementerian Pertanian dan FAO ECTAD-USAID dalam mencegah pandemi. Kerja sama ini berawal saat  pandemi Avian Influenza pada tahun 2006, dimana Indonesia merupakan negara dengan kasus flu burung H5N1 dengan kematian manusia terbanyak hingga tahun 2014. 


Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia telah menurun secara signifikan, situasi endemik virus H5N1 masih menjadi ancaman bagi industri perunggasan dan kesehatan manusia. Selain flu burung, banyak daerah di Indonesia yang masih endemik penyakit zoonosis seperti rabies dan antraks. 


Program GHS yang akan berjalan selama empat tahun ke depan berfokus pada dukungan teknis di empat area: a) Kolaborasi multi sektor dan pengembangan kebijakan; b) Surveilans, laboratorium dan identifikasi risiko; c) Kesiapsiagaan dan respons penyakit dengan One Health; d) Kesehatan unggas nasional dan pengendalian resistansi antimikroba. 


Dukungan FAO dan USAID untuk program ini 


FAO dan USAID bekerja sama dengan pemerintah membangun kapasitas untuk mencegah ancaman pandemi yang berasal dari Zoonosis di Indonesia, sehingga negara dapat dengan cepat merespons dan mengendalikan wabah zoonosis.  


Bersama dengan Pemerintah Indonesia, FAO memperkuat kapasitas kesehatan hewan di berbagai daerah dan memberikan pelatihan dan dukungan teknis pada surveilans penyakit, diagnostik laboratorium, pelaporan dan investigasi wabah, serta kesiapsiagaan dan respons melalui pendekatan One Health. 


“Selain dampak kesehatan yang luar biasa, COVID-19 telah mengganggu ketahanan pangan dan ekonomi dunia. Secara global, setidaknya lebih dari 132 juta orang diprediksi menderita sebagai akibat dari COVID-19. Kita tidak ingin keadaan darurat kesehatan global seperti ini terjadi lagi. Kita perlu mendeteksi potensi wabah sedini mungkin dan FAO selalu siap bekerja sama dengan Indonesia untuk merespons lebih awal dan secara efektif.” kata Richard Trenchard, Perwakilan ad interim FAO untuk Indonesia. 


“Merupakan suatu kehormatan untuk terus bekerja sama dengan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang muncul,” kata Pelaksana Tugas Wakil Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Indonesia Laura Gonzales. “Melalui pendekatan One Health, Program Ketahanan Kesehatan Global USAID akan menurunkan risiko zoonosis dan penyakit infeksi, resistansi antimikroba, serta ancaman biologis lainnya dengan memperkuat sistem kesehatan hewan Indonesia. GHS akan melanjutkan keberhasilan sebelumnya - dan pembelajaran yang kita dapatkan dari respons COVID-19 - untuk lebih mengasah kemampuan deteksi, kesiapsiagaan, serta respons zoonosis dan penyakit infeksi di Indonesia.”

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer