-->

PROBIOTIK ASLI INDONESIA AMPUH GANTIKAN AGP

Ilustrasi. (Istimewa)

Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang biasa berupa Bakteri Asam Laktat (BAL) yang dapat memberikan manfaat kesehatan pada inangnya. Umumnya pemberian probiotik dapat memperbaiki keseimbangan atau memulihkan flora usus. Pada unggas, probiotik bakteri asam laktat ternyata efektif untuk dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti Antibiotic Growth Promoter (AGP).

Sejak awal 2018 lalu, pemerintah telah secara resmi memberlakukan pelarangan penggunaan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan (AGP). Penggunaan alternatif pengganti AGP pun marak, mulai dari herbal, minyak esensial, asam organik, probiotik, prebiotik, maupun enzim. 

Kali ini pembahasan di fokuskan pada pemberian probiotik, yakni BAL yang diperoleh dari saluran pencernaan ayam kampung asli Indonesia yang sudah dewasa dan memiliki kesehatan yang baik. BAL diambil dari ayam yang dipelihara dengan sistem diumbar, serta pemberian pakan dan air minumnya tidak pernah terpapar antibiotik maupun bahan kimia, juga berbagai obat untuk ayam.

Guru Besar Laboratorium Ilmu Ternak Unggas, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) Yogyakarta, Prof Dr Ir Sri Harimurti, mengatakan, dari 100 lebih strain bakteri asam laktat yang ditemukan, terdapat tiga bakteri yang paling unggul digunakan sebagai probiotik pada unggas, yaitu Lactobacillus murinus-Ar3, Streptococcus thermophilus-Kp2 dan Pediococcus acidilactici-Kd6.

Ia telah meneliti ketiga strain bakteri tersebut secara mendalam selama lebih dari 10 tahun, baik sebagai kultur tunggal maupun sebagai kultur campuran.

Bakteri asam laktat tersebut terbukti mampu melekat (adherence) pada sel epitel usus ayam dan ketika diberikan dalam jumlah memadai yakni 107-109 CFU/ekor/hari, akan sangat bermanfaat terhadap respon imum ayam.

“Probiotik BAL asli Indonesia tersebut diisolasi dari saluran pencernaan ayam kampung asli Indonesia, yakni ayam Blorok, ayam Kapas dan ayam Cemani/Kedu Hitam,” kata Sri dalam sebuah seminar tentang peran peternakan dalam menghasilkan produk pangan yang sehat di Kampus Fapet UGM Yogyakarta, Senin (7/1). 

Ketiga bakteri asam laktat tersebut, lanjut dia, memiliki sejumlah keunggulan, antara lain dapat meningkatkan produktivitas unggas, meningkatkan kesehatan saluran pencernaan, meningkatkan imunitas dan memiliki karakterisitik ideal dan unggul sebagai probiotik BAL untuk unggas.

“Mikroen kapsulan probiotik ini kini sudah diproduksi berbasis standar kepentingan industri. Produktivitas dan stabilitasnya pun masih dapat ditingkatkan,” tukasnya. (IN)

KANDANG RAKYAT DIGITAL (MINI CLOSED HOUSE)

Protoype kandang rakyat digital menganut prinsip dasar kandang closed house. (Foto: Dok. Rama)

Industri perunggasan diketahui terus bertransformasi. Demikian pula dengan modernisasi perkandangan budidaya unggas.

Perkembangan peternak yang beralih ke sistem kandang full closed house maupun semi closed house semakin hari juga bertambah. Sistem kandang closed house dinilai mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam usaha perunggasan. 

Terlepas dari mereka yang lebih dulu meng-upgrade kandangnya menjadi closed house, kegalauan masih melanda sebagian peternak yang mempertimbangkan tingginya biaya investasi untuk beralih dari kandang yang semula open house menjadi closed house
Terobosan baru kandang mini closed house atau disebut juga dengan prototype “kandang rakyat digital” ini, barangkali dapat mengubah pikiran peternak. 

Kandang rakyat digital ini dikembangkan oleh peternak milenial, Ramadhana Dwi Putra Mandiri (Rama). Dalam sebuah seminar yang digelar Desember 2019 lalu, pria kelahiran 1992 ini menjabarkan konsep kandang rakyat digital yang menawarkan berbagai kemudahan.

Bukan saja soal biaya yang lebih terjangkau, model kandang mini closed house ini sangat efisien, ekonomis, ramah lingkungan, portabel dan berteknologi, serta berpeluang untuk bersaing dengan model kandang skala Industri.

Rama menjelaskan, modernisasi perkandangan budidaya unggas dengan mengadopsi sistem closed house, namun peralatan manual atau disebut kandang dengan tunnel house system (semi closed house).

Cost 
Berapa kira-kira biaya untuk mengubah kandang dari open house ke tunnel house system hingga ke full closed house

Adapun biaya upgrade kandang dari open house ke tunnel yaitu Rp 15.000-20.000/ekor. Sementara biaya peralihan dari kandang tunnel ke sistem closed house yakni Rp 30.000-40.000/ekor. Membangun kandang tunnel dari awal membutuhkan biaya Rp 40.000-50.000/ekor. Sementara biaya pembuatan closed house Rp 60.000-70.000/ekor. 

Modernisasi kandang sebagai salah satu syarat untuk keberlangsungan usaha yang semakin kompetitif di era milenial dengan tantangan pasar global. Hasil dari modernisasi perkandangan ini pun dirasakan banyak membawa manfaat positif bagi peternak.

Hasil modernisasi dari sisi cost/HPP mengalami penurunan, karena ada perbaikan perfoma yang didapatkan. Selain itu, kematian sedikit dan FCR (feed convertion ration) terkoreksi baik, bobot rata-rata dicapai meningkat, perfoma yang tercapai sesuai standar hingga pencapaian efisiensi. 

Menurut Rama, kandang rakyat digital ini merupakan kandang zaman now yang beradaptasi dengan tantangan ketika harus memindahkan lokasi peternakan dari area hijau luas yang padat penduduk untuk meminimalisir risiko.

“Kandang rakyat digital atau mini closed house ini bangunannya portabel. Bisa pindah kapan saja dan pemasangannya pun mudah, karena sudah ada skrup-skrup dan nomornya,” jelas Rama. 

Untuk memproduksi material bangunan kandang ini membutuhkan waktu 2-3 minggu. Sementara untuk waktu pemasangan maksimal tiga minggu untuk finishing atau running kandang tersebut. Ini merupakan terobosan baru mengingat waktu sempit serta sulitnya membangun kandang closed house yang besar.

Mini closed house mempunyai kapasitas populasi 7.500-15.000 ekor ayam. Prototype kandang rakyat digital ini menganut prinsip dasar kandang closed house

Selain sudah menerapkan tunnel system, kandang ini juga telah menerapkan sistem integrasi, dimana peternak bisa langsung melihat laporan produksi akunting, tata laksana, sistem operator di kandang dan kelengkapan SOP (standar operasional prosedur), serta dilengkapi juga dengan fasilitas early warning system.

“Kami telah mengembangkan kandang model mini closed house ini di daerah Tajur Halang. Periode tiga sudah jalan dan saat ini menuju periode keempat,” kata Rama.

Pengembangan prototype dengan prinsip perkandangan yang baik, manajemen sistem yang baik pula dan pemeliharaan SOP yan apik bisa menembus performance ideal ayam broiler modern. “Sistem sudah komputerisasi sekaligus tersambung pada aplikasi di handphone. Kita dapat melihat informasi perubahan ayam dari hari ke hari, bahkan jam berapa ada, sangat detail. Ditambah sistem sensor untuk menghitung bobot ayam,” urainya.

Guna Meningkatkan Performa
Merujuk pada pemaparan Rama dalam presentasinya, diuraikan faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang guna meningkatkan performa ayam. 

Dijelaskan, dasar dalam pembuatan kandang ayam terdapat tiga hal utama yang menjadi pondasi keberhasilan produksi.

“Tiga hal utama dalam membangun kandang ayam yang penting diperhatikan. Pertama, topografi perkandangan. Topografi perkandangan maksudnya apakah dibangun di lokasi Utara atau Selatan, atau di pegunungan dan pantai. Kita mempertimbangkan tantangan cuaca maupun kelembapan yang berbeda, karena poin ini menjadi faktor utama keberhasilan produksi broiler,” terang Rama.

Kedua, adalah sisi bangunan kandang yang akan dibuat untuk dioperasikan. Ketiga yang tak kalah penting yaitu menyusun performa produksi ayam yakni manajemen. 

Rama menambahkan, sisi topografi dan bangunan kandang merupajan hal yang sudah berlaku dan untuk memodifikasi kandang memang memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Poin ketiga pada manajemen ini yang dapat kita maksimalkan dengan inovasi dan masih bisa kita tingkatkan lagi,” sambungnya.

Membuat kandang ayam juga penting memperhatikan apakah di kawasan tersebut ketersediaan airnya memadai, kemudian juga memperhatikan kondisi/karakter tanah. “Karakter tanah ini apakah termasuk kondisi tanah sawah atau tanah merah,” ujarnya.

Perkandangan ideal kuncinya terletak pada floor plan, daya topang, serta pembiayaan. Pada poin houses building meliputi instalasi atap, sirkulasi kipas, tunnel door design, evaporative pad design, fogging system dan peralatan.

Indikator standar dalam membuat perkandangan fasilitas broiler antara lain tahap manajemen yang meliputi fase sebelum ayam datang, pemasukan ayam, pembesaran, pengaturan ventilasi, ketersediaan air, manajemen nutrisi, biosekuriti dan sanitasi, serta dokumentasi data performa (record track performance). (NDV)

PERGANTIAN MUSIM, WASPADAI PENYAKIT CRD



Peternakan ayam broiler (Foto: Infovet)


Anomali cuaca atau pergantian musim yang tidak menentu menyebabkan ribuan ayam boiler di Kabupaten Blitar, Jatim terserang penyakit Chronic respiratory disease (CRD). 
Akibatnya pertumbuhan ayam tidak saja menjadi lambat, tetapi juga rawan kematian.

Pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan, menyebabkan suhu udara di Kabupaten Blitar memang relatif kurang stabil.

Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab ribuan ayam broiler di sejumlah peternakan mudah terserang penyakit CRD atau yang dilebih dikenal dengan sebutan cekrek.

Penyakit ini menyerang pada pernapasan ayam yang disebabkan bakteri Myclopasma gallisepticum. Dampaknya bukan saja pertumbuhan ayam menjadi lambat, tetapi juga rawan pada risiko kematian.

Untuk mengatasi hal tersebut Raditya Maarif, salah satu peternak ayam boiler asal Dusun Donomulyo, Desa Slumbung, Kecamatan Gandusari, harus ekstra menjaga kebersihan kandangnya.

"Dengan cara menaburkan sekam baru, menambah blower, dan selain itu menyemprot kandang dengan desinfektan agar kondisi kandang tetap steril dari berbagai macam bakteri," kata Raditya.

Lulusan sarjana salah satu kampus di Malang ini juga menambahkan, penanganan kebersihan kandang ini harus cepat dilakukan. Jika tidak, ayam akan mudah terserang penyakit yang berdampak pada risiko kematian. (Sumber: jpnn.com)

MENELISIK PROBLEM AYAM PETELUR MODERN

Perkembangan genetik ayam petelur modern memang sangat spektakuler. Jika diikuti dengan perbaikan tata laksana pemeliharaan yang sesuai, mampu menghasilkan paling tidak 350 butir telur per hen house selama 75 minggu produksi. (Foto: Dok. Infovet)

Oleh: Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant – Jakarta)

Jargon “more eggs less feed” tampaknya sudah “lengket” dengan  karakteristik umum Ayam Petelur Modern (APM). Sadar atau tidak, sekarang para peternak ayam petelur tengah berhadapan dengan ayam petelur “gaya baru”. Keengganan untuk mengikuti perubahan tata laksana pemeliharaan yang seiring dengan perkembangan genetik APM tersebut tentu saja akan memengaruhi penampilan (performance) akhir ayam yang dipelihara. Ujung-ujungnya, tidak saja menyebabkan keuntungan yang sudah di depan mata melayang, tetapi juga dapat menjadi faktor pencetus masalah baru yang kompleks dan terkesan misterius.  Gangguan produksi telur APM pada sindroma obesitas yang diikuti oleh “yolk peritonitis” misalnya, adalah suatu contoh yang paling representatif dan sering terjadi di lapangan.

Perkembangan genetik APM memang sangat spektakuler. Jika diikuti dengan perbaikan tata laksana pemeliharaan yang sesuai, maka seekor APM mampu menghasilkan paling tidak 350 butir telur per hen house selama 75 minggu produksi atau sebanyak 429 butir telur per hen house selama 90 minggu produksi. Bandingkan dengan sebelumnya, pada tahun 2000 ke bawah, rata-rata hanya 319 butir telur per hen house selama 75 minggu produksi. Itu saja tidak cukup. Bobot telurnya pun lebih besar, yang tadinya berkisar antara 56-62 gram per butir menjadi 60-65 gram per butir. Perbaikan penampilan fenotip ini tentu saja menuntut kualitas pullet yang baik, dimana perkembangan bobot badan dan keseragaman ayam selama masa pullet harus seiiring berkembang.

Salah satu sifat APM yang sangat menonjol adalah keseimbangan pembentukan dasar konformasi tubuh (antara kerangka dan per-ototan) yang sangat dominan paling telat sampai ayam berumur 6 minggu. Itulah sebabnya, pada saat APM berumur 4 minggu, maka bobot badan harus mencapai bobot minimal yang ditentukan berdasarkan standar strain yang ada dan dengan keseragaman ayam yang harus di atas 80%. Melalui timbang bobot badan dan “grading” seratus persen pada umur 4 minggu tersebut, maka peternak hanya mempunyai kurun waktu dua minggu untuk memperbaikinya, karena puncak pertumbuhan hiperplasia untuk organ-organ visceral terjadi antara 4-6 minggu.

Gangguan pertumbuhan pada fase ini tentu berarti terhambatnya perkembangan tipe hiperplasia (pertambahan jumlah sel) dari sel tulang (osteoblast), sel otot (sarcoplasma) maupun sel-sel sistem tubuh lainnya. Pencapaian bobot badan yang sesuai bobot standar strain merupakan suatu indikator yang baik untuk membaca kecukupan nutrisi yang diperoleh APM selama masa pullet dari minggu ke minggu. Di sisi lain, tatalaksana pemeliharaan yang telaten sesuai dengan “pakem” yang ada dapat memperbaiki keseragaman pullet dari waktu ke waktu.

Pertumbuhan hiperplasia tersebut terus berlanjut sampai ayam berumur 8-10 minggu, tergantung jenis sistem tubuh. Yang jelas, pertumbuhan hiperplasia kerangka tubuh (framing) sudah mendekati jenuh pada saat ayam berumur 8-10 minggu, sedangkan pertumbuhan hiperplasia per-ototan (fleshing) mendekati jenuh ketika pullet berumur 6-8 minggu. Itulah sebabnya, tidak tercapainya bobot badan ayam pada umur 6 minggu akan membawa dampak yang cukup signifikan pada penampilan produksi (% hen day), kualitas telur dan total deplesi dari flok ayam yang bersangkutan pada fase produksi.



Gangguan pertumbuhan hiperplasia kerangka tubuh akan membatasi pertumbuhan matriks tulang, yaitu tempat untuk menyimpan senyawa kalsium yang sangat dibutuhkan pada saat produksi. Kerangka tubuh yang relatif lebih kecil akan mengakibatkan kelebihan nutrisi yang dikonsumsi pada fase-fase selanjutnya dan dengan mudah dideposit menjadi lemak tubuh, khususnya lemak perut (abdomen).  Ini berarti, obesitas lebih mudah terjadi. Pada APM, cadangan energi yang baik adalah otot kerangka, bukan pada lemak tubuh. Itulah sebabnya, pada saat menjelang produksi telur (umur 14 minggu), ketebalan lemak abdomen tidak boleh lebih dari 0,5 cm.

Di samping itu, strain-strain baru dari APM cenderung mempunyai konversi pakan yang sangat baik pada saat umur 8-12 minggu. Keteledoran dalam mengelola pemberian pakan akan memperbesar peluang terjadinya obesitas alias kegemukan. Dalam fase ini juga sering terjadi menurunnya keseragaman ayam. Paling banyak disebabkan karena pola pemberian pakan yang ceroboh. Oleh sebab itu, monitor respon pakan dalam bentuk monitor bobot badan ayam secara mingguan sangat dianjurkan secara ketat pada fase ini.

Pada kejadian obesitas, tingginya deposit lemak abdomen akan mengakibatkan beberapa hal pada masa produksi seperti: a) Meningkatnya kasus prolaps yang diikuti dengan kanibalisme dan kematian ayam. b) Tingginya kejadian mati mendadak akibat terjadinya perlemakan hati (Fatty liver syndrome). c) Meningkatnya kasus “floating eggs” (ovum terlempar ke dalam rongga perut) yang berlanjut dengan yolk peritonitis. Kondisi terakhir ini biasanya berkembang menjadi lebih parah jika terjadi infeksi sekunder oleh kuman Koli.

APM yang umumnya mempunyai kerangka tubuh (body frame) relatif lebih kecil alias ramping dibandingkan dengan ayam petelur klasik tentu akan mempunyai kepekaan yang lebih tinggi terhadap efek obesitas. Menyempitnya liang pubis merupakan suatu contoh yang paling representatif. Kondisi ini jelas akan mengakibatkan gangguan fisiologis saat ayam akan bertelur, yaitu dalam bentuk manifestasi prolaps yang terjadi beberapa saat setelah peletakan telur. Prolaps yang ditemukan akibat adanya obesitas biasanya terjadi beberapa minggu sebelum puncak produksi telur dan terus berlanjut hingga 2-4 minggu setelah puncak produksi tercapai. Keadaan inilah yang mengakibatkan penyusutan (deplesi) ayam selama produksi akan meningkat antara 0,2-0,3% per minggu atau bahkan lebih. Padahal dalam kondisi normal, penyusutan ayam selama produksi adalah maksimal 0,1% per minggu.



Obesitas juga akan mengakibatkan gangguan fisiologis bagian infundibulum dari oviduk (saluran reproduksi). Kondisi ini akan mengakibatkan tidak selarasnya pembukaan ujung infundibulum dengan sel telur (ovum) yang dilemparkan dari indung telur pada saat ovulasi terjadi. Tegasnya, pada ayam yang mengalami obesitas, adanya “floating eggs” yang diikuti dengan yolk peritonitis merupakan suatu hal yang paling sering ditemukan. Itulah sebabnya, mengatasi kasus yolk peritonitis di lapangan sering kali membawa rasa frustasi. Bagaimana tidak, kuman Koli (Escherichia coli) yang sering dituding menjadi penyebabnya seolah tidak bergeming sedikitpun dengan preparat antibiotika. Benarkah kuman Koli sebagai penyebab utama? Atau problem resistensi preparat antibiotika terhadap kuman Koli memang sudah terjadi? Perlu diketahui, ditemukannya kuman Koli pada pemeriksaan di laboratorium merupakan efek lanjutan proses obesitas tersebut di atas. Jadi selama problem obesitas masih dituntaskan pada individu-individu ayam dalam suatu flok, maka kejadian yolk peritonitis seolah-olah terjadi berulang-ulang dan tidak memberikan respon yang baik terhadap program pengobatan dengan antibiotika. Infeksi sekunder jelas terjadi beberapa saat setelah terjadinya “floating eggs”.

Di atas telah disebutkan bahwa obesitas juga akan mempermudah terjadinya Fatty liver syndrome (FLS). Pada kasus yang ringan, adanya FLS jelas akan mengakibatkan terganggunya sintesa albumin di dalam jaringan hati. Dengan demikian, putih telur cenderung akan lebih encer dan/atau rasionya dibandingkan dengan kuning telur cenderung akan menurun. Ujung-ujungnya adalah bobot telur akan menjadi lebih ringan dan/atau telur akan menjadi lebih kecil dari ukuran standar strain. Manifestasi FLS juga akan mengakibatkan menurunnya respon terhadap vaksin, terutama baik terhadap kekebalan humoral maupun terhadap kekebalan sel.



Untuk mengatasi hal tersebut, lakukan beberapa langkah umum seperti berikut:
• Yakinkan konsumsi pakan APM pada awal kehidupannya tercapai. Untuk ini, temperatur indukan buatan (brooder) harus sesuai dengan yang dibutuhkan dan frekuensi pemberian pakan sebanyak 6-9 kali per hari untuk minggu pertama, serta 4-6 kali per hari untuk minggu kedua dan seterusnya sangat dianjurkan. Pakan untuk minggu pertama sebaiknya diberikan ad libitum (secukupnya) dan selanjutnya ditata sesuai dengan respon pertumbuhan ayam pada minggu-minggu berikutnya.
• Lakukan pengecekan kebutuhan energi dan protein yang dapat dicerna dari strain ayam yang dipelihara berdasarkan buku penuntun pemeliharaan ayam. Dengan demikian, pengaturan jumlah pakan yang diberikan per hari tidak menyimpang dari yang dibutuhkan ayam.
• Lakukan seleksi yang ketat terhadap APM yang ada, terutama setelah minggu pertama. APM yang relatif kecil harus dipisahkan dan dikumpulkan menjadi satu kelompok tersendiri atau dibuang.
• Lakukan penimbangan bobot secara berkala, dianjurkan dimulai di minggu pertama dan segera setelah vaksinasi Gumboro atau ND yang kedua. Pada saat ayam berumur 4 minggu dianjurkan ditimbang 100% dari populasi, sedangkan lebih dari 4 minggu, maka penimbangan sebaiknya dilakukan setiap minggu sebanyak 3-5% dari total populasi, tergantung pada keseragaman ayam pada penimbangan sebelumnya.
• Monitor bobot badan APM tersebut sebaiknya juga disertai dengan analisa keseragaman ayam. Pada saat ayam berumur 4 minggu, sebaiknya keseragaman tidak boleh kurang dari 80%. Keseragaman ayam ini diharapkan terus meningkat dan pada saat menjelang produksi telur, keseragaman diharapkan tidak kurang dari 85%.
• Petakan dan bandingkan bobot badan, serta keseragaman aktual ayam dengan kurva standar yang sesuai dengan standar strain.
• Penambahan pakan untuk ayam yang berumur 8-12 minggu harus dengan kehati-hatian yang tinggi. Yang jelas, efek penambahan pakan akan mengakibatkan penambahan bobot badan dalam tempo 7-14 hari. Oleh sebab itu, penambahan pakan yang terlalu agresif tentu saja akan mempermudah terjadinya obesitas. (toe)

KEMENTAN DAN GERAKAN TIGA KALI EKSPOR

Mentan Syahrul Yasin Limpo (Foto: Dok. Kementan)


Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) adalah program yang tengah disosialisasikan Kementerian Pertanian (Kementan) Melalui program ini, Mentan Syahrul Yasin Limpo mengajak seluruh pemangku kepentingan agribisnis untuk melakukan gerakan bersama meningkatkan ekspor pertanian tiga kali lipat.

“Kementan memiliki lima langkah strategis Kementan dalam pencapaian Gratieks berdasarkan landasan hukum Permentan Nomor 19 Tahun 2019,” kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ir Fini Murfiani MSi.

Fini menguraikan lima langkah tersebut diantaranya meningkatkan volume ekspor, mendorong pertumbuhan eksportir baru, menambah negara mitra dagang, menambah ragam komoditas ekspor, dan meningkatkan frekuensi pengiriman.

Melalui Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan dalam program Gratieks ini juga mendorong para produsen obat hewan untuk bersama-sama meningkatkan nilai ekspor obat hewan.

“Indonesia berada di nomor 14 dalam ekspor vaksin ke dunia dan nomor 1 di asia. Kita pasti bisa lebih dari ini,” semangat Fini saat menjadi pembicara dalam kegiatan Pertemuan Produsen Obat Hewan di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Tahun 2020, Fini mengatakan, untuk ekspor obat hewan ditargetkan mencapai angka 689 ton.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Sub Bidang Eksportir Asosiasi Obat Hewan (ASOHI) Peter Yan menyampaikan sejumlah usulan kepada pemerantah. Antara lain pemerintah diharapkan menyediakan data potensi negara tujuan sebagai referensi dan assessment awal untuk mengambil keputusan.  

Usulan lainnya kepada pemerintah agar mengupayakan perihal melobi larangan impor obat hewan dari Indonesia, seperti negara dan Nepal dan Filipina yang melarang produk vaksin dari Indonesia untuk masuk negara mereka. (NDV)

KINERJA EKSPOR OBAT HEWAN DIPACU MELALUI PROGRAM GRATIEKS

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat memberikan pengarahan. 

Subdit Pengawasan Obat Hewan (POH), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan menyelenggarakan Pertemuan Produsen Obat Hewan, Rabu (8/1/2020) di Gedung C Kantor Kementan, Jakarta. Acara ini menjadi ajang sosialisasi program Kementan terkini yaitu Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks).

Hadir Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh I Ketut Diarmita MP yang memberikan pengarahan didampingi Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ir Fini Murfiani MSi dan Kasubdit POH Drh Ni Made Ria Istriyanthi PhD

Kasubdit POH dalam presentasinya menjelaskan peran obat hewan dalam peningkatan ekspor subsektor peternakan.

“Perlu dilakukan upaya bersama dalam meningkatkan kinerja ekspor obat hewan antara pemerintah dan pelaku usaha obat hewan,” kata Ria.

Para produsen obat hewan yang hadir di Gedung C, Kantor Kementan.

Dalam upaya tersebut, Ria menegaskan Kementan melalui Subdit POH, Direktorat Kesehatan Hewan memfasilitasi pelaku usaha hewan dalam penerapan CPOHB serta percepatan proses pendaftaran obat hewan khusus ekspor.

“Kami juga akan mendampingi semasa proses joint inspection auditor dari negara pengimpor, termasuk akses market dan harmonisasi peraturan terkait eksportasi maupun registrasi obat hewan di negara tujuan ekspor,” terangnya.

Selain itu bentuk upaya peningkatan ekspor obat hewan akan dilakukan pengembangan produk pengganti AGP seperti obat alami dan premiks yang berkualitas.

Sementara, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan mengemukakan Gratieks merupakan ajakan Mentan, Syahrul Yasin Limpo kepada seluruh stakeholder agribisnis untuk melakukan gerakan bersama meningkatkan ekspor pertanian tiga kali lipat. (NDV)


SEMINAR PURNA TUGAS, PERAN PETERNAKAN HASILKAN PRODUK PANGAN SEHAT

Dr Ir Setiyono SU saat menyampaikan materinya pada Seminar Purna Tugas di Fakultas Peternakan UGM, Bulaksumur, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Daging merupakan salah satu komoditi peternakan dengan permintaan yang tinggi untuk konsumsi manusia sebagai sumber pangan yang tinggi akan protein.

Pertimbangan konsumen dalam memilih bahan pangan adalah dari kandungan gizi, cita rasa, aspek kesehatan dan keamanan pangan. Hal itu disampaikan oleh Dosen Fakultas Peternakan UGM (Universitas Gadjah Mada), Dr Ir Setiyono SU, dalam sebuah Seminar Purna Tugas bertajuk “Peran Peternakan dalam Menghasilkan Produk Pangan yang Sehat” di Fakultas Peternakan UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (7/1/2020).

Dijelaskan oleh Setiyono bahwa ada beberapa aspek penting yang sangat mempengaruhi kualitas daging, yakni ragam pakan yang diberikan pada ternak dan cara pemeliharannya.

“Pakan yang baik adalah yang memenuhi kesehatan ternak, baik untuk pertumbuhan dan kenaikan berat badan, serta tujuan pemeliharaan ternak. Sehingga produk hasil ternak itu menjadi bahan pangan yang menyehatkan,” kata Setiyono. Oleh karenanya, pakan yang diberikan harus bebas dari residu pestisida, bebas residu antibiotik dan bebas residu logam berat.

Selain dari pemberian pakan, lanjut dia, produk pangan asal hewan yang dihasilkan juga tergantung dari cara pemeliharaan ternak yang dilakukan. Ia mencontohkan, ternak yang dipelihara di daerah pembuangan sampah, tentunya akan memiliki kualitas daging yang buruk, yakni banyak mengandung logam berat dan cemaran-cemaran dari mikrobia, baik itu aflatoksin, dioksin maupun residu pestisida.

“Cemaran-cemaran tersebut harus dihilangkan dengan cara memelihara minimum selama tiga minggu dengan pemberian pakan yang baik dan berkualitas dan bebas dari cemaran-cemaran berbahaya,” pungkasnya. (AS)

MENTAN SYL DUKUNG PROGRAM SATU JUTA TERNAK SAPI DI BALI

Ilustrasi peternakan sapi (Foto: Dok. Infovet)



Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendukung sepenuhnya program Provinsi Bali mencapai Satu Juta Ternak Sapi Bali di 2025.

Hal tersebut disampaikannya saat menyaksikan penandatangan tiga nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dengan Gubernur Bali di Denpasar, 4 Januari 2020.

Salah satu nota kesepahaman tersebut adalah terkait Populasi Sejuta Sapi Bali Mendukung Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan).

Menurut Mentan, Bali merupakan provinsi yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang sangat besar. Dengan adanya nota kesepahaman ini, maka Kementan akan mendukung sepenuhnya program-program pertanian dan peternakan di Bali.

"Pada hari ini telah ditandatangani tiga buah nota kesepahaman antara Kementan dan Pemda Bali. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pertanian menuju pertanian yang maju, mandiri, dan modern" ungkap Syahrul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Lebih lanjut Mentan juga menyampaikan harapannya bahwa dengan meningkatnya produksi dan produktivitas maka ke depan produksi pertanian tersebut bisa diekspor. Langkah ini lanjutnya sejalan dengan gerakan tiga kali ekspor atau Gratieks.

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan bahwa Provinsi Bali merupakan provinsi yang berbasis pertanian, dan penyediaan pangan merupakan salah satu program utama saat ini.

Dukungan Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian di Bali dipandangnya sangat penting dalam membantu program Pemda dan masyarakat Bali.

"Bali kaya akan komoditas pertanian lokal seperti jeruk, salak, kopi, sapi, kambing dan lain-lain. Namun komoditas-komoditas ini belum diberdayakan secara optimal. Ke depan, diharapkan bantuan Kementan untuk mengoptimalkan potensi ini," jelasnya.

Khusus terkait Program satu juta ternak Sapi Bali pada 2025, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan target tersebut dapat dicapai apabila ada peningkatan jumlah induk sapi sebesar 30 persen-45 persen dari populasi saat ini, dan didukung oleh peningkatan kelahiran pedet sebesar 80 persen-85 persen dari Indukan jumlah sapi.

Sementara itu angka pemotongan sapi betina produktif di Bali harus bisa diturunkan hingga 5 persen-10 persen dari pemotongan tercatat saat ini, dan angka kematian pedet harus diturunkan ke angka di bawah 5 persen dari sapi yang lahir.

"Apabila parameter-parameter tersebut tercapai, maka program sejuta ternak Sapi Bali akan kita capai. Ditjen PKH selalu siap mendukung program ini, karena hal ini sejalan dengan Sikomandan, salah satu program penting dari bapak Mentan SYL," pungkasnya. (Sumber: liputan6.com)

GOPAN PEDULI BENCANA BANJIR

GOPAN menyalurkan bantuan kepada korban banjir di Cigudeg, Kab. Bogor (5/1)

Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan di akhir tahun 2019 menyebabkan bencana banjir di beberapa wilayah Indonesia. Kabupaten Bogor menjadi salah satu wilayah terdampak banjir yang paling parah. Hingga saat ini jumlah pengungsi akibat banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bogor mencapai 15.000 orang, sementara itu korban meninggal dunia akibat bencana tersebut sebanyak 16 orang.

Atas dasar kemanusiaan, Gabungan Organiasai Peternak Ayam Nasional (GOPAN) merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada korban banjir. Melalui misi kemanusiaan bertajuk GOPAN Peduli, para peternak yang tergabung dalam GOPAN bertandang ke Desa Uruk, Cigudeng Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor pada hari Minggu (5/1) yang lalu.

Dalam lawatannya ke Desa Urug, GOPAN memberikan bantuan berupa BBM Solar sebanyak 200 liter serta bahan makanan berupa Mie instan. Bantuan BBM Solar sebanyak 200 liter tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar mesin ekskavator dalam membuka jalan yang terisolir akibat lumpur dan pohon tumbang.

Akses jalan desa yang tertutup akibat timbunan lumpur 


Berdasarkan kondisi yang terpantau di lapangan, akses jalan menuju desa terblokir sepanjang 3 km akibat lumpur dan pepohonan yang tumbang. Mesin eksavator yang tersedia tidak memiliki bahan bakar yang cukup untuk membersihkan sisa lumpur dan pepohonan yang menutupi akses jalan.

Kepala Desa Sukajaya Jaro Ata Iskandar mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada GOPAN. "Saya salut dengan kesolidan para peternak GOPAN, semoga Tuhan YME membalas dengan yang lebih banyak, semoga bantuan ini bisa berguna bagi para korban," tukas Jaro Ata.

Ia juga menuturkan mengenai kondisi di desanya dimana sebanyak sedikitnya 2.000 orang warga ikut terdampak banjir bandang. Selain itu sekitar 30 rumah hancur dan 200 rumah rusak akibat bencana banjir yang menimpa Desa uruk. Warga pun masih berharap uluran tangan dari pemerintah maupun swasta terkait kondisi yang dihadapinya.

Pada kesempatan yang sama, koordinator aksi kemanusiaan Sugeng Wahyudi menuturkan bahwa bantuan yang diberikan saat ini oleh GOPAN belum menyeluruh. "Rencananya GOPAN masih akan menggelontorkan bantuan lain berupa beras, makanan siap saji, mie instan, dan pakaian layak pakai seminggu dari sekarang," tutur Sugeng. Ia juga berharap kepada seluruh stakeholder di sektor perunggasan agar juga ikut membantu korban banjir yang melanda beberapa wilayah di mana saja. GOPAN juga masih membuka kesempatan bagi yang hendak memberikan bantuannya sampai tanggal 11 Januari 2020 nanti. (CR)



PINSAR INDONESIA BERI BANTUAN TELUR PADA KORBAN BANJIR LEBAK

Perwakilan Pinsar, Ricky Bangsaratoe (kiri) memberikan bantuan berupa telur (Foto: Istimewa)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia memberikan bantuan telur untuk korban banjir di wilayah Lebak Banten dan sekitarnya.

Ketua Umum Pinsar Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan, aksi salah satu bentuk kepedulian bagi perternak unggas Indonesia atas musibah banjir yang menimpa Jabodetabek dan Lebak.

"Salah satu aksi peduli Pinsar Indonesoa peternak unggas untuk meringankan beban dari saudara-saudara kita yang terkena musibah dan mencukupi asupan protein saudara-saudara kita maka Pinsar menyumbangkan telur," kata Singgih saat dihubungi, Sabtu (4/1/2020).

Tak berhenti disitu, kata Singgih, Pinsar juga berencana akan memberikan bantuan ke wilayah Jakarta Barat.

"Hari Senin, besok kita akan memberikan bantuan di daerah Pos Pengumben, Jakarta Barat," katanya.

Pinsar turut prihatin atas musibah banjir yang melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya. Anggota DPR dari Fraksi Golkar ini pun berharap tidak terjadi lagi peristiwa serupa. "Mari kita cari jalan dan solusi untuk tidak terjadi lagi musibah banjir ini," harapnya. (Sumber: www.teropongsenayan.com)

TIGA PENGGANJAL PRODUKSI SUSU SAPI INDONESIA

Ilustrasi susu sapi (Foto: Pixabay)



Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyebutkan tiga masalah yang menghambat produksi susu sapi Indonesia. Kondisi tersebut membuat kebutuhan susu masih didominasi oleh produk impor.

Teten mengatakan tiga masalah tersebut adalah bibit sapi yang tidak produktif, minimnya ketersediaan lahan untuk pakan, serta permodalan. Hal ini yang membuat selisih antara konsumsi dan produksi susu masih tidak seimbang. 

Imbuhnya, konsumsi susu mencapai 9 juta ton per tahun. Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik, produksi susu sapi 2018 hanya 909 ribu ton. "Mereka (peternak) pernah jaya, tahun 1998 kemudian turun karena ada beberapa problem,” kata Teten di Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Guna meningkatkan produktivitas, sambung Teten, perlu peremajaan bibit agar menghasilkan sapi yang produktif. Selain bibit, pemerintah juga membuka kans impor sperma sapi untuk mendapatkan jenis yang bagus.

Lebih lanjut, Teten menjelaskan saat ini mayoritas peternak kecil telah memiliki koperasi sehingga semakin memudahkan untuk mendapatkan bantuan modal. “Kelembagaannya sudah bagus tinggal genjot produksi,” kata dia.

Menurut Teten, masih ada ruang besar bagi peternak untuk memacu produksi lantaran konsumsi masyarakat terus bertambah. Dia juga akan menggandeng Kementerian Pertanian untuk terus mencari cara manambah pasokan komoditas pangan.

 “Kalau permintaannya masih tinggi karena industri susu ini tumbuh 15% setahun,” ujar Teten.

Dari data BPS, produksi susu segar nasional pada 2018 turun 2% menjadi 909,6 ribu ton dari 928,1 ribu ton pada 2017. Padahal sejak tahun  2014 produksi susu segar nasional selalu meningkat. (Sumber: katadata.co.id)


PASCA ASF, DAGING BABI TETAP AMAN DIKONSUMSI

Kampanye makan daging babi yang aman dan sehat dilakukan di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara. (Foto: Humas PKH)

Dalam rangka meningkatkan konsumsi daging sebagai sumber protein hewani serta sosialisasi tentang keamanan daging babi terkait kasus ASF (African Swine Fever), Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan bekerjasama dalam melakukan “Kampanye Makan Daging Babi yang Aman dan Sehat” yang dilaksanakan bersamaan dengan Pengangkatan Sumpah/Janji Anggota BPD Periode 2019-2025 di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara (Sumut), Senin (30/12/2019). 

Dalam acara yang dihadiri hampir 600 orang peserta, Inspektur Jenderal Kementan, Justan Siahaan, menyampaikan bahwa Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasmin Limpo, memberi perhatian khusus pada kasus ASF. Karena menurutnya, kasus ASF dapat mengganggu penghidupan dan perekonomian masyarakat. Mentan pun telah berpesan agar diambil langkah-langkah strategis untuk membantu masyarakat menghadapi kasus ASF. 

Justan menegaskan, walaupun penyakit ASF belum ada obat dan vaksinnya, tapi penyakit ini tidak menular ke manusia. “Penyakit ASF dan juga penyakit Hog Cholera adalah penyakit yang hanya bisa menyerang ternak babi dan tidak menulari manusia. Jadi daging babi dan olahannya aman untuk dikonsumsi,” kata Justan. 

Sementara di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan masyarakat tidak perlu ragu terkait keamanan daging babi dan olahannya, karena ASF bukan penyakit menular ke manusia. Pemerintah juga terus berupaya mendampingi masyarakat menghadapi masalah ini, salah satunya menyiapkan APBN 2019 sebanyak Rp 5 miliar untuk membantu operasional dan mengaktifkan 102 posko darurat.

“Kita harapkan dengan kampanye yang kita lakukan ini, masyarakat tidak perlu ragu lagi. Setelah perayaan Natal kemarin, saya harap menyambut tahun 2020 nanti masyarakat yang memang biasa mengonsumsi daging babi berbondong-bondong beli daging babi dan mengolahnya dengan baik, untuk meingkatkan asupan protein hewani keluarga,” ucap Ketut. 

Ia juga berpesan apabila dilakukan pemotongan babi sendiri, agar limbah sisa pemotongan dikubur dengan baik dan daging dari daerah tertular tidak di laliluntaskan ke daerah yang tidak tertular.

Sementara Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor, mengapresiasi langkah Kementan dan berharap tingkat konsumsi daging babi di Sumut, khususnya di Humbang Hasundutan kembali meningkat dan harga daging babi pulih seperti semula.

“Beternak babi merupakan sumber penghidupan masyarakat di sini. Masyarakat Humbang Hasundutan tidak bisa dipisahkan dari beternak babi. Apabila konsumsi daging babi meningkat, artinya peternak babi lokal akan terbantu untuk pulih,” kata Dosmar.

Ke depan, menurutnya peternakan babi akan dipelihara dengan sistem cluster dan terpusat di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan pengelolaan. Ia juga menyampaikan ide kemungkinan merubah fokus peternakan di Humbang Hasundutan ke ternak lain, seperti kerbau dan sapi. (INF)

KEMENTAN KUNJUNGI KANDANG SAPI UNISMUH MAKASSAR DI BOLLANGI



Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH saat meninjau lokasi pembangunan kandang sapi Unismuh (Foto: Unismuh)


Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Sugiono meninjau pembangunan kandang sapi dan area penanaman rumput gajah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Bollangi, Senin (30/12/2019).

Dalam kunjungannya, Sugiono dan rombongannya didampingi Rektor Unismuh Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim SE MM, Direktur Utama PT Surya Pangan Indonesia (SPI) Unismuh, Dr Idham Khalid serta Kepala Pusdiklat Unismuh, Zulkifli.

Sugiono memuji pembangunan kandang sapi milik Unismuh Makassar. Sugiono dalam kesempatan tersebut, menyarankan kepada Rektor Unismuh Makassar untuk mempersiapkan SDM yang  memadai  dalam  mengelola usaha peternakan sapi tersebut.

“Saya siap berikan pelatihan diantaranya bagaimana cara mendekteksi sapi birahi, cara melakukan IB dan lainnya bagi tenaga ahli yang akan dipersiapkan nantinya,” pungkas Sugiono.(Sumber: www.unismuh.ac.id)

LIBATKAN PETERNAK MILENIAL, DOMPET DHUAFA KEMBANGKAN SENTRA PETERNAKAN KAMBING

Dompet Dhuafa - HKTI kembangkan sentra peternakan domba dan kambing (Foto: Dok. Dompet Dhuafa)



Lembaga filantropi dan kemanusiaan Dompet Dhuafa menggandeng Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk pengembangan peternakan domba dan kambing."Sinergi dan kolaborasi ini untuk membangkitkan para peternak milenial mengembangkan peternakan domba dan kambing dengan skala ekonomi yang memadai,"ungkap Chief Communication Officer (CCO) Dompet Dhuafa, Guntur Subagja, Senin (30/12/2019).

Guntur Subagja bersama Ketua Umum Pemuda Tani HKTI Rina Saadah serta anggota pengurus, Dian Kresna, dan Tim Manajemen Pengenbangan Peternakan DD, Sigit Iko Sugondo, sebelumnya mengunjungi beberapa lokasi peternakan yang melibatkan para peternak muda di Bojonegoro dan Jember, Jawa Timur.

 "Untuk tahap awal kami mengembangkan tiga sentra ternak di Jawa Timur, satu sentra di Bojonegoro dan dua sentra di Jember dengan kapasitas produksi total 6.000 ekor,"papar Rina Saadah, ketum Pemuda Tani HKTI. Dompet Dhuafa menjadi pembeli (off-taker) kambing/domba yang dikembangkan Pemuda Tani HKTI. "Kami juga menggandeng Tanifund untuk pembiayaan modal peternakan yang dikelola milenial ini, dan kami menjadi penjamin dan off-taker,"jelas Guntur.

Domba dan kambing yang diproduksi para pemuda peternak untuk memenuhi kebutuhan pasar kurban Dompet Dhuafa. Selama ini para anggota kelompok ternak belum teintegrasi sehingga pengembangan ternak, khususnya penggemukan kambing, menjadi kurang efisien. "Dengan manajemen sentra ternak terintegrasi, para peternak akan mendapat pembinaan dan mampu bersaing,"jelas Sigit Iko Sugondo.

Rina mengajak para pemuda terlibat dan pengembangan peternakan ini, yang dalam tahap awal fokus pada penggemukan (fattening). Untuk tahap berikutnya akan melakukan pengembangbiakan (breeding). "Saatnya kita melakukan regenarasi petani dan peternak untuk kemandirian pertanian dan peternakan nasional,"ujar Rina.

Ia berharap kerja sama dengan Dompet Dhuafa tidak hanya untuk pasar kurban, tetapi juga bisa kontinyu untuk memenuhi pasar umum dan ekspor."Saat ini ada mitra kami yang baru mampu memenuhi sebagian permintaan ekspor ke Malaysia karena keterbatasan modal,"kata Rina Saadah.Pemuda Tani HKTI menyiapkan tim yang ahli di bidang peternakan, antara lain alumni IPB dan UGM, yang terjun langsung membimbing peternak. (Sumber: investor.id)



SEKELUMIT REVIEW PENYAKIT TERNAK 2019

Peternak disarankan lebih meningkatkan manajemen pemeliharaan ternak, terutama di bidang biosekuriti, untuk mencegah penyakit. (Foto: Dok. Infovet)

Salah satu hambatan dalam industri peternakan khususnya sektor budidaya adalah keberadaan penyakit. Baik penyakit yang sifatnya infeksius maupun non-infeksius, semuanya bisa jadi biang keladi kerugian bagi peternak. Menarik untuk dicermati ragam penyakit yang menghampiri di tahun ini dan bagaimana prediksinya kedepan.

Perunggasan, sebagai industri terbesar di sektor peternakan di Indonesia tentunya yang paling menjadi sorotan. Tiap tahunnya, kejadian penyakit selalu terjadi dan jenisnya pun juga beragam, baik infeksius maupun non-infeksius.

Sebagai negara tropis, Indonesia memang menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai jenis mikroorganisme patogen. Tentunya para stakeholder yang berkecimpung mau tidak mau, suka tidak suka harus berusaha untuk bisa survive dari hambatan ini.

Yang patut diingat adalah bahwa kejadian penyakit akan berhubungan dengan performa dan produktivitas. Kedua aspek itu tentu saja akan langsung terkait pada nilai keuntungan yang didapat. Jadi, siapa saja yang dapat mencegah terjadi penyakit di suatu peternakan, apapun peternakannya, sudah pasti akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik.

Penyakit Unggas 2019
Larangan penggunaan AGP yang sudah berjalan hampir dua tahun mungkin masih sedikit terasa oleh peternak. Meskipun ada juga yang sudah dapat settingan terbaik dalam mengakali performa. Penyakit unggas utamanya broiler di 2019 ini masih bisa dibilang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa dibilang penyakit “klasik” seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), CRD kompleks, Newcastle Disease (ND) dan Kolibasilosis kerap kali masih menjadi wabah di suatu peternakan.

Penyakit-penyakit infeksius yang menyerang saluran pernapasan masih bisa dibilang mendominasi kejadian penyakit di Indonesia. Data dari tim Technical Education & Consultation (TEC) PT Medion, menunjukkan bahwa selama 2019... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2019. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer