-->

Koordinasi Apik, Karantina dan AVSEC Gagalkan Pengiriman Telur Burung Unta

Petugas BKP Pekanbaru Menggagalkan penyelundupan Telur Burung Unta (Sumber foto : BKP)

Pekanbaru - Karantina Pekanbaru gagalkan pengiriman telur burung unta tujuan Yogyakarta. Telur yang dikemas dalam kardus berukuran 30x30x45 cm itu dikirim melalui jasa ekspedisi.

Kecurigaan bermula pada saat paket bertuliskan makanan tersebut diperiksa melalui x-ray oleh pihak kemanan (AVSEC) cargo Bandara SSK II Pekanbaru. Terlihat pada layar berbentuk seperti telur. Kemudian pihak AVSEC berkoordinasi dengan petugas Karantina Pekanbaru dan didapati kardus tersebut berisi 4 butir telur burung unta yang dilapisi kertas koran. 3 butir telur dalam keadaan utuh, sedangkan 1 butir telah pecah.

"Pengiriman telur ini tanpa disertai sertifikat kesehatan dari karantina. Jadi kami tahan. Pemilik sudah dihubungi untuk diberikan sosialisasi tentang prosedur dan kelengkapan dokumen karantina. Harapan kami kedepannya pengiriman telur burung unta dapat dilakukan sesuai dengan peraturan," ujar drh. Rissar Siringo-ringo, petugas Karantina Pekanbaru. (BKP)

Pelantikan Pengurus Besar ISPI Periode 2018-2022


      
Pengurus Besar ISPI Periode 2018-2022 Yang Baru dilantik (Sumber : Infovet/Cholill)
Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) melaksanakan acara pelantikan pengurus besarnya, Rabu (23/1) lalu di Gedung Pusat Informasi Agribisnis, Kementan, Jakarta. Dalam sambutannya, Ketua Umum ISPI periode 2018-2022 Didiek Purwanto mengatakan bahwa sarjana bidang peternakan di Indonesia yang tersebar di seluruh Indonesia diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pembangunan peternakan nasional, sebagai kekuatan dalam negeri terutama dalam penyediaan pangan asal hewan dengan pemanfaatan sumber daya lokal. 

Dalam acara tersebut dibacakan juga sambutan dari Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang diwakili oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono. Ia menyampaikan hal senada dengan Didiek, serta mengajak seluruh insan sarjana peternakan melalui ISPI, untuk sama-sama bahu-membahu bersama pemerintah dan para stakeholder peternakan lainnya, mendukung pembangunan kemandirian pangan asal ternak.

“Saya yakin dan percaya ISPI mampu mengambil berbagai peran untuk meningkatkan pembangunan di sub sektor peternakan. Keanggotaan ISPI yang berasal dari berbagai elemen, seperti akademisi, birokrasi, dan praktisi pelaku usaha di berbagai komoditi yakni sapi, kambing domba, unggas, pakan dan sapronak, dapat saling bersinergi antar elemen tersebut”, jelas Sugiono.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA dalam arahannya pada acara pelantikan tersebut juga mengharapkan agar ISPI dapat menjadi katalisator agar para lulusan sarjana peternakan dapat dengan mudah memperoleh pekerjaan melalui mempertemukan lembaga sertifikasi kompetensi bagi sarjana peternakan dengan perguruan tinggi. Disamping itu Syukur Iwantoro juga mengingatkan agar ISPI dapat menghilangkan sekat-sekat dan berkolaborasi dengan lembaga terkait untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan peternakan. Lebih lanjut Syukur Iwantoro juga berharap agar ISPI dapat membangun penyediaan pangan asal hewan yang sehat dan terjangkau bagi masyarakat. “Hal ini mengingat ISPI memiliki network dari pusat hingga daerah” imbuhnya.

Setelah sukses menyelenggarakan Kongres ke XII di Malang, akhir tahun lalu, ISPI semakin merapatkan barisan antar anggotanya. Tidak hanya pelantikan kepengurusan, turut pula diadakan Rapat Koordinasi antar bidang dan kelembagaan. ISPI sebagai wadah dan bentuk kerjasama para Sarjana Peternakan di Indonesia yang bertujuan untuk memajukan, mengembangkan dan mengamalkan ilmunya dalam pembangunan nasional.

Oleh karenanya diharapkan dapat terus memajukan peternakan di Indonesia dan menjadi mitra bagi pemerintah dalam meningkatkan konsumsi protein hewani. Didiek Purwanto berharap ISPI dapat menjadi tempat berkumpul, berdialog, bersosialisasi, dan berinteraksi bersama bagi anggota para Sarjana Peternakan, sehingga dapat mengembangkan keahlian dan potensi setiap anggotanya. “Langkah awal yang telah dilakukan ialah pemutakhiran anggota dengan mendata jumlah anggota secara online,” terangnya.

ISPI yang saat ini berusia setengah abad juga memiliki tugas yang sangat penting, yakni mengembangkan peternakan di Indonesia dan meningkatkan tingkat konsumsi masyarakat yang masih rendah akan protein hewani. Tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah ini dipandang oleh negara lain sebagai potensi pasar bagi mereka. Untuk itu, kita sebagai bangsa sendiri juga harus dapat memanfaatkan peluang ini. (CR)

Berikut susunan pengurus ISPI periode 2018-2022
Ketua Umum : Didiek Purwanto
Ketua I : Dr. Soeharsono, S.Pt., M.Si
Ketua II : Ir. Sugiono, MP
Ketua III : Ir. Suaedi Sunanto
Ketua IV : Ir. Robi Agustiar, S.Pt., IPM
Sekretaris Jenderal : Joko Susilo S.Pt.,
Wakil Sekjen I : Ismatullah Salim S.Pt., 
Wakil Sekjen II : Andang Indarto S.Pt.,
Bendahara Umum : Idha Susanti S.Pt., MM.,
Wakil Bendahara : Christine Septriansyah S.Pt.

Professor Nidom Foundation Adakan Workshop PCR Application

Foto bersama peserta workshop dan trainer (Foto: Dok. PNF)

Professor Nidom Foundation (PNF) mengadakan workshop ”PCR Application for Animal Healthcare” dengan mendatangkan dua ahli dari Genereach Biotechnology Taiwan. Dua trainer tersebut adalah Simon Chung dan Frank Chung.

Bertempat di kantor PNF Surabaya, workshop digelar pada Sabtu (19/1/2019) yang diikuti 31 peserta terdiri dari peternak, dokter praktisi hewan kesayangan (companion animals), instansi dinas peternakan, serta akademisi.

Materi yang disampaikan oleh Simon Chung, adalah pentingnya kecepatan diagnosis dengan perangkat yang sesuai. Penggunaan metoda PCR, maka diagnosis adalah konfirmasi bukan lagi suspek.

Hal ini mengingat penyakit Zoonosis akan menjadi penyakit utama di masa yang akan datang. Jadi kecepatan, dan ketepatan diagnosis pada hewan/ternak bukan hanya untuk mencegah kerugian, namun untuk antipasi dini terhadap adanya penyakit Zoonosis.

“Setelah kami mendirikan PNF sebagai lembaga riset mandiri, banyak inspiras bermunculan dari kegiatan riset yang ada. Salah satunya kecepatan dan ketepatan diagnosis pada hewan,” ungkap Prof CA Nidom, dihubungi Infovet, Rabu (23/1/2019).

Lanjutnya, ketepatan diagnosis ini terutama hewan ternak dan kesayangan. Selama ini untuk hewan-hewan tersebut yang banyak tersedia adalah obat, vaksin dan hasil inovasi lain yang digunakan untuk menjawab atau meningkatkan problematik produksi. Sementara kecepatan dan ketepatan analisis problematiknya, terutama penyebab penyakit belum banyak kemajuan.

Oleh karena itu, PNF berinisiatif utk menjawab persoalan tersehut melalui PADIA Lab (PNF Animal Diagnotic Laboratory) dengan motto "Oneday Service".

Melalui pelayanan dengan kecepatan dan ketepatan yang tinggi, maka peternak/pelaku ekonomi peternakan tidak kehilangan waktu untuk menunggu melakukan tindakan terhadap problematik yang timbul.

PADIA Lab didukung oleh para ahli kompeten dan ditunjang alat yang canggih. Pelayanan dibuka 24 jam penuh, sehingga sampel yang datang dari seluruh Indonesia akan segera dilayani dan hasilnya bisa ditunggu dalam kurun 24 jam.

“Dalam pengiriman specimen, kami rencankan untuk gunakan semacam sample tissue, untuk mengurangi resiko di dalam proses pengiriman dan menghindari penggunaan es dan dry ice yang sudah tidak diperbolehkan dalam pengiriman udara. Ini masih sedang dalam proses negosiasi dengan inovatornya,” urai Prof Nidom.

Alat PCR (Foto: Dok. PNF)

Salah satu alat canggih yang baru digunakan untuk menunjang servis tersebut adalah PCR model baru  yaitu Isolated Isotermal PCR (iiPCR) yang kerjanya cepat, tepat dan tidak perlu template (bahan uji) yang banyak. Waktu yang dibutuhkan total hanya 80 menit.

Prof Nidom mengemukakan, target diadakannya workshop ini agar pihak-pihak yang selama ini membutuhkan diagnosis lab yang cepat dan tepat dapat mengetahui sekaligus mencoba metoda iiPCR ini, sehingga tidak ada keraguan lagi bahwa hasil lab bisa dalam kurun 24 jam diketahui hasilnya. “Semoga menjadi jalan alternatif untuk diagnosis hewan/ternaknya,” pungkas Prof Nidom. (NDV)

Enrekang Akan Adopsi Sistem Peternakan Jepang

Kabupaten Enrekang mempunyai potensi besar dalam pengembangbiakan sapi (Foto: Tribunnews)

Kabupaten Enrekang, salah satu daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel)  yang tengah didorong dalam pengembangan sumber daya di sektor pertanian dan peternakan. Dalam sektor peternakan, daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Massenrempulu ini memiliki potensi besar dalam pengembangbiakan sapi.

"Enrekang ini adalah daerah yang sangat potensial sekali. Baik dari perkembangan pertanian, peternakan, dan pariwisatanya," ungkap Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah,  Selasa (22/1/2019).

Merangkum informasi dari www.jawapos.com, dalam waktu dekat, Gubernur Sulsel akan melakukan kunjungan lagi ke Jepang untuk meninjau manajemen pengelolaan peternakan di negeri Sakura tersebut. 

Nurdin memberikan gambaran umum bagaimana pemerintah di Jepang mengelola pertanian dan peternakan dengan sumber daya manusia dan teknologi yang sangat luar biasa.

"Beberapa waktu lalu kami ke Jepang. Mereka mengembangkan peternakan itu oleh pemerintah daerah. Petani di sekitarnya menitipkan ternaknya untuk digemukkan," sebut Nurdin.

Peninjauan di Negeri Sakura nantinya diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang terbaik dalam pengelolaan dua sektor utama Enrekang. Terutama untuk membantu mendorong upaya pengembangan hasil produksi utama masyarakat. (NDV)

Memerdekakan Peternak Rakyat

Prof Muladno.
Pada 19 September 2012 silam di salah satu hotel daerah Banda Aceh, keinginan untuk “mensarjanakan” peternak skala kecil (peternak rakyat) saya sampaikan dalam suatu pertemuan nasional yang dihadiri kepala dinas urusan peternakan dari 34 provinsi di Indonesia.

Keinginan itu dipicu oleh keprihatinan pribadi saya setelah berinteraksi dengan peternak rakyat di seluruh Indonesia sejak tahun 2001 dan menemukan fakta bahwa kondisi mayoritas peternak rakyat tidak berubah sejak saya menjadi mahasiswa fakultas peternakan di awal tahun 1980-an hingga kini.

Saya yakin, kondisi peternakan rakyat seperti itu bahkan sejak Indonesia merdeka. Jika ada perubahan yang terjadi saat ini, perubahan itu biasanya adalah jumlah peternak berkurang dan makin banyak kandang tak ada ternaknya. 

Dalam pertemuan nasional tersebut, ternyata hanya ada satu orang Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir Azril Azis, yang tertarik dengan konsep mensarjanakan peternak rakyat. Beliau meminta saya menerapkannya di Provinsi Sumsel mulai awal 2013.

Tiga kabupaten padat populasi ternak sapi dipilih sebagai uji coba untuk menerapkan konsep tersebut, yaitu Kabupaten Banyuasin Kecamatan Betung, Kabupaten Musi Banyuasin Kecamatan Sungai Lilin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir Kecamatan Mesuji Raya.

Dalam perjalanan mempersiapkan penerapan kegiatan tersebut, Dr Sofyan Sjaf, pakar sosiologi pedesaan IPB, mengusulkan nama Sekolah Peternakan Rakyat daripada Mensarjanakan Peternak Rakyat. Jadilah konsep pemikiran yang saya prensentasikan di Banda Aceh bernama Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) hingga kini.

Nama Sekolah Peternakan Rakyat disempurnakan lagi menjadi SPR-1111 yang bermakna bahwa di setiap SPR minimal sudah terdapat 1.000 ekor indukan dan maksimal 100 ekor pemacek milik peternak, minimal 10 strategi untuk mencapai 1 visi “peternak mandiri dan berdaulat”.

Deklarasi berdirinya SPR-1111 pertama kali di Indonesia diadakan di salah satu kantor desa di Kecamatan Betung, Kabupaten Banyuasin. Atas komitmen Bupati Banyuasin, di kecamatan tersebut telah didirikan pula gedung pertemuan Sekolah Peternakan Rakyat dengan prasasti yang tertempel di salah satu dindingnya. Para petinggi yaitu Presiden RI, Gubernur Sumatera Selatan dan Bupati Banyuasin telah hadir dan berdialog dengan peternak SPR di dekat kandang milik peternak pada 6 Desember 2014 lalu. 

Hingga kini SPR-1111 terus berjalan dan ada 31 SPR yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia tercatat sebagai binaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB. Tidak semua SPR berjalan dan beraktivitas secara mulus dalam proses pembelajaran dan pendampingannya. Fakta di lapangan sampai saat ini menunjukkan bahwa komitmen bupati sebagai pemegang otoritas di kabupaten sangat menentukan berhasil-tidaknya proses pendampingan dan pembelajaran partisipatif peternak rakyat bersama akademisi kampus.

Sentra Peternakan Rakyat
Pada 1 Juni 2015, saya diangkat menjadi Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian, berdasarkan Keputusan Presiden No. 75/2015. Karena konsep SPR-1111 terbukti berjalan dan mendapat respons baik dari komunitas peternak rakyat, konsep ini disetujui dijadikan program nasional tetapi dengan nama Sentra Peternakan Rakyat (SPR).

Filosofi yang terkandung dalam konsep SPR-1111 dan SPR sebenarnya sama.  Perbedaannya adalah bahwa SPR ini dibiayai dengan anggaran pemerintah pusat (APBN) dan bersifat kompetitif untuk mendapatkannya sedangkan SPR-1111 dibentuk atas inisiatif pemerintah kabupaten dengan anggaran APBD sendiri. Pada saat itu, saya usulkan dibentuk 500 SPR namun yang disetujui adalah 49 SPR yang tersebar di 47 kabupaten/kota. Sebagian besar anggaran APBN saat itu dialihkan untuk pembelian ternak sapi indukan.

Dengan kegiatan SPR, semangat peternak tumbuh dimana-mana karena mereka merasa mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Berbagai aktivitas untuk penguatan kelembagaan peternak dilaksanakan. Namun demikian program SPR terhenti di tengah jalan karena saya tidak bertahan lama di kursi kekuasaan sebagai Dirjen PKH. Pada 12 Juli 2016, saya diberhentikan dengan hormat sebagai dirjen dan diangkat sebagai staf ahli Menteri Pertanian RI. Karena berbagai pertimbangan, saya tidak bersedia menjadi staf ahli dan memilih kembali ke kampus IPB mengurus lagi peternak rakyat di bawah bendera SPR-1111 LPPM IPB.

Sebagaimana tradisi yang berjalan selama ini “ganti pejabat-ganti program”, maka program SPR diganti dengan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) di bawah kendali dirjen baru. SPR dibiarkan dan tidak dianggarkan lagi. Namun sebagian SPR masih bertahan dengan caranya masing-masing dan sebagian lagi layu atau mungkin mati.

Saat ini beberapa bupati yang wilayahnya terdapat SPR bekerjasama dengan rektor IPB untuk menggiatkan lagi SPR yang tidak diurusi pemerintah pusat. Melalui kerjasama rektor dan bupati, telah diselenggarakan kegiatan SPR-1111 di Sentra Peternakan Rakyat. SPR-1111 lebih berorientasi pada pendidikan peternak, sedangkan SPR lebih berorientasi pada penyediaan sarana-prasarana dan fasilitas bagi peternak. Dari waktu ke waktu, jumlah SPR-1111 binaan IPB terus bertambah seiring dengan makin dipahaminya konsep SPR-1111 secara lebih baik. Kabupaten dan perguruan tinggi makin bersinergi dalam membangun peternakan rakyat. 

Dalam waktu maksimum empat tahun, SPR-1111 dapat dinyatakan berstatus mandiri dan berdaulat setelah dilakukan penilaian oleh tim. Pada 18 Oktober 2017, dilaksanakan upacara wisuda SPR-1111 bersamaan dengan acara pembukaan expo internasional ILDEX di Kemayoran Jakarta. Enam ketua GPPT dan enam manajer dari enam SPR binaan IPB (terdiri dari Bojonegoro (tiga), sisanya dari Banyuasin, Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ilir) dilantik secara simbolis oleh Kepala LPPM IPB, Dr Prastowo.

Makna dari kelulusan ini secara substantif adalah bahwa SPR-1111 ini telah terbukti mampu mandiri dan berdaulat tanpa atau dengan bantuan pemerintah. Secara administratif, kerjasama antara pemerintah kabupaten dan IPB dalam rangka pendampingan dan pembelajaran partisipatif telah selesai, sehingga tak ada kewajiban bagi kedua instansi tersebut melakukan pembinaan lagi kepada peternak.

Atas keberhasilannya menerapkan konsep SPR-1111, dua Ketua Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) SPR Temayang Bojonegoro dan SPR Sungai Lilin Musi Banyuasin diundang oleh Duta Besar Indonesia untuk Austria, Djumala Darmansyah, dalam sebuah konferensi internasional yang berlangsung pada 19 September 2018 kemarin di Vienna, Austria. Mereka berdua menyampaikan kesaksiannya menerapkan konsep SPR-1111 dalam mewujudkan bisnis berjamaah di wilayah masing-masing.

Peternakan sapi skala rakyat. (Foto: Infovet/Ridwan)

Serikat Peternakan Rakyat Indonesia (SPRI)
Pada 10 November 2018, ketua GPPT dan enam manajer SPR-1111 yang telah dinyatakan lulus berkumpul di Jakarta. Selain mereka, hadir pula akademisi, pemitra, birokrat, pengusaha, perusahaan jasa asuransi dan tokoh peternak dari SPR-1111 yang masih aktif (belum lulus). Mereka bersepakat membentuk perkumpulan alumni SPR-1111, sehingga visi dan semangat kemandirian untuk berdaulat dapat dipertahankan dan ditingkatkan sepanjang waktu. 

Jadilah 10 November 2018 dinyatakan sebagai lahirnya Serikat Peternakan Rakyat Indonesia (SPRI) yang dideklarasikan di Gedung Perpustakaan Nasional lantai 17, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Pada saat bersamaan juga diadakan konsolidasi persiapan kerjasama antara Infrabanx, IPB dan SPRI dalam rangka kemitraan bisnis penggemukan dan pembiakkan sapi di Indonesia, serta penyebaran konsep SPR-1111 ke seluruh Indonesia.

Melalui kerjasama tersebut, rata-rata 750 ekor sapi bakalan per SPR dipelihara untuk penggemukan selama 3-4 bulan yang hasilnya dibagi secara proporsional antara infrabanx dan SPR. Selain itu, melalui kerjasama ini juga dilakukan konsolidasi perguruan tinggi untuk secara bersinergi melakukan pembelajaran partisipatif kepada para peternak di wilayah masing-masing, sehingga tidak hanya IPB saja yang bergerak “mendidik” para peternak untuk mencapai kemandirian dan kedaulatannya.

Ini merupakan kerjasama massif yang memerlukan dana besar dan melibatkan empat pilar utama, yaitu akademisi sebagai pengembang dan penyebar iptek, aparat pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, pelaku bisnis sebagai penyedia finansial maupun pemitra dan peternak sebagai pelaku utama dalam pembangunan peternakan di Indonesia. Ini pula yang saya inginkan ketika saya diberi amanah sebagai Dirjen PKH. 

Menjadi ironis karena justru Infrabanx of Canada yang memberi kesempatan luas untuk penerapan konsep SPR-1111 secara meluas di seluruh Indonesia. Dengan menyediakan dana lebih dari Rp 3 triliun, diharapkan 500 SPR-1111 terbentuk untuk menghasilkan komunitas peternak yang handal untuk pembangunan peternakan secara nasional di Indonesia. Saat ini proses untuk mencairkan dana dari Canada ke Indonesia sedang dilakukan.

Program Infrabanx tersebut berorientasi pada bisnis profesional. Seleksi terhadap peternak yang ingin ikut bermitra dalam program Infrabanx ini sangat ketat dengan harapan ternak dapat terus berkembang melalui penyediaan sapi indukan, sedangkan penyediaan daging dari dalam negeri makin tercukupi melalui pengadaan sapi bakalan. Peternak harus mampu menunjukkan kemauan dan kemampuan untuk merawat ternak, menyediakan pakan dan berbisnis secara berjamaah.

Proses panjang untuk menjadikan peternak mandiri dan berdaulat yang dimulai 19 September 2012 masih terus berjalan dan tidak boleh berhenti. Kaderisasi akademisi yang peduli kepada pemberdayaan peternak harus dilakukan. Kaderisasi peternak berjiwa pemimpin perubahan juga harus dipersiapkan agar semangat kemandirian menuju kedaulatan terus menggelora di hati sabubari peternak. 

Perjalanan mengubah pola pikir melalui SPR-1111 ini juga memberi pelajaran penting bagi pemerintah. Program apapun yang digulirkan kepada peternak harus dimulai dengan mempersiapkan mental, pikiran dan sumberdaya yang dimiliki peternak. Berbisnis berjamaah dalam jumlah besar yang dikendalikan melalui manajemen yang baik merupakan syarat mutlak agar semua program dapat berjalan dengan baik dan sukses. ***

Muladno
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB,
Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Festival Halal Qatar Targetkan Pengunjung Muda

Festival Halal Ternak tahun 2017 lalu (Foto: Gulf Times)

Festival Halal (Ternak) Qatar ke VIII digelar pada 2 hingga 10 Februari 2019 mendatang di Desa Katara.

Dilansir di Gulf Times, Selasa (22/1/2019), Festival Halal tersebut bertujuan melestarikan warisan, norma, dan budaya tradisional Qatar.

Edisi tahun ini, menyajikan serangkaian kegiatan berbeda dari penyelenggaraan sebelum-sebelumnya. Salah satunya, peran utama festival dalam mengajarkan masyarakat tentang sektor peternakan di negara itu.

"Festival ini membentuk platform unggulan bagi peternak untuk mempelajari praktik terbaik dalam profesi ini dan bertukar keahlian," kata Manajer Umum Desa Budaya Katara, Khalid bin Ibrahim al-Sulaiti.

Kegiatan Festival Halal itu menjadi salah satu agenda terbesar di Qatar dan wilayah selatan. Agenda itu berspesialisasi dalam bidang warisan ternak yang bertujuan mencerminkan suasana otentik kehidupan leluhur di Teluk, serta mendidik generasi muda.

Festival itu juga menampilkan pelelangan ternak pada jenis kambing dan domba terbaik. Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan kesadaran di kalangan pemuda tentang halal, Desa Budaya Katara mengundang pelajar mengunjungi festival ini setiap pagi.

Lebih dari 30 kios akan menawarkan produk susu, ternak, dan makanan lokal untuk meningkatkan suasana tradisional festival tersebut.

Festival Halal Qatar merupakan festival perdagangan hewan sebagai aspek penting dari tradisi Qatar. Festival itu mencakup kompetisi, lelang publik, dan lumbung yang akan menampilkan keturunan yang berbeda dari kambing dan domba, seperti domba Syria, domba Arab, dan kambing Aaridy. Selain itu, ada kegiatan hiburan dan edukasi terutama penargetan pengunjung muda. (Sumber: republika.co.id)

Geliat Pemasaran Susu Sapi di Rejang Lebong

Susu besar manfaatnya untuk anak-anak (Foto: Pixabay)

Strategi peternak sapi perah di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu dalam memasarkan susu sapi ini patut dicontoh. Guna menyerap produksi susu di Rejang Lebong, peternak dan dinas terkait menggulirkan gerakan minum susu dikalangan pelajar yang mereka namakan Gerimismas, dalam bentuk kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di Rejang Lebong .

"Kita akan melakukan penjualan susu sapi perah yang sudah dikemas dengan beberapa rasa ke sekolah-sekolah, karena memang susu sangat besar manfaatnya untuk anak-anak," ungkap Plt Kabid Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan Rejang Lebong sekaligus Kepala Puskeswan Curup, Drh Firi Asdianto.

Seperti diberitakan bengkulu.antaranews.com, Senin (21/1/2019), saat ini produksi susu sapi perah yang dihasilkan dua kelompok di Rejang Lebong mencapi 200 liter per hari, sedangkan yang terjual perharinya baru berkisar 50 persen saja.

"Dari 200-an liter susu segar yang dihasilkan ini langsung dibeli oleh koperasi baru 80 liter per hari. Sisanya harus dijual peternak sendiri dan jika tidak laku, kan sayang kalau terbuang begitu saja," ujarnya.

Dalam memaksimalkan penjualan susu segar yang dihasilkan dua kelompok peternak sapi perah yang ada di Desa Air Bening, Kecamatan Bermani Ulu Raya dan Desa Mojorejo, Kecamatan Selupu Rejang, pihaknya juga menawarkan usaha penjualan susu segar kepada masyarakat Rejang Lebong sehingga bisa membantu pemasaran produksi susu segar dari peternak.

Kalangan warga setempat yang tertarik membantu pemasaran susu peternak tersebut akan mereka dukung sepenuhnya dengan memberikan bantuan pinjaman alat untuk penjualan susu segar, antara lain lemari pendingin untuk tempat penyimpanan susu agar tidak cepat rusak.

Alat penyimpan susu ini mereka pinjam pakaikan kepada pelaku usaha susu di daerah itu. Apabila usahanya tidak produktif lagi, maka akan mereka diambil, guna diberikan kepada penjual susu lainnya yang membutuhkan.

Selain akan meminjamkan lemari pendingin, Dinas Pertanian dan Perikanan Rejang Lebong, imbuh Firi, juga akan memberikan bantuan wadah susu (cup) maupun alat pengemasan susu yang akan dijual itu sendiri. (NDV)

KUR Peternakan Klaster Sapi Segera Diluncurkan

Peternakan sapi perah di Dairy Village, Ciater, Subang (Foto: NDV/Infovet)

Direkur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Fini Murfiani mengemukakan saat ini fokus Kementerian Pertanian adalah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) peternakan rakyat untuk klaster sapi potong dan perah. 

“Perkiraan satu hingga dua bulan ke depan KUR untuk klaster sapi akan diluncurkan,” ungkap Fini, Kamis (18/1/2019), seperti dilansir dari situs berita antaranews.com.

Fini memastikan perbankan akan mulai menyalurkan KUR khusus kepada klaster sapi, terutama yang sudah mempunyai pembeli (offtaker).

"Kalau sapi potong sudah terklaster, dia akan tahu pasarnya dimana saja, dan mempunyai divisi penjualan sendiri, sehingga bisa membangun kemitraan dengan offtaker," ujarnya.

Ia menambahkan penguatan KUR peternakan rakyat ini dilakukan agar kerja para peternak sapi dapat lebih efisien untuk mendorong produksi.

"Klaster yang diharapkan nanti seperti korporasi petani. Jadi, lebih efisien jika berada dalam satu lokasi yang sama, tidak individual lagi," katanya. **

Penikmatnya Bertambah, Ternak Bebek Pedaging bisa Jadi Usaha Sampingan

Bibit bebek Peking. (Sumber: Istimewa)

((Makin banyaknya restoran dan warung tenda penyedia olahan daging bebek, menjadi indikator bahwa daging unggas ini mulai banyak penggemarnya. Bagi yang jeli, usaha ternak bebek pedaging bisa jadi sumber penghasilan tambahan yang menggiurkan.))

Menikmati daging bebek, ternyata tidak semua orang berani. Ada yang menganggap daging unggas ini mengandung kolesterol tinggi, ada juga yang beralasan kurang suka dengan aroma dagingnya. Bisa jadi, karena itulah restoran atau rumah makan penyedia daging bebek tidak setenar rumah makan yang menyediakan olahan daging ayam.

“Katanya sih kolesterolnya tinggi, karena itu saya ga berani makan daging bebek. Aromanya juga saya kurang suka,” ujar Rio Ardana, saat berbincang dengan Infovet di salah satu rumah makan di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Pria yang bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta ini mengaku sempat mencicipi daging bebek, namun karena ketidaksukaan dengan aromanya ia pun kembali beralih ke olahan daging ayam.

Lain halnya dengan Kendra Suhanda, atasan Rio Ardana di tempat kerjanya itu, justru tampak lahap menyantap bebek goreng bumbu pedas.

Rio dan Kendra hanyalah dua dari sekian banyak orang yang kurang suka dan suka menyantap daging bebek. Cara mengolah dan menyajikan daging unggas yang satu ini memang menjadi salah satu penentu, orang berminat atau tidak mengonsumsi daging bebek. Seorang chef di rumah makan tempat kami bersantap, mengatakan memang harus ada perlakuan sedikit beda saat mengolah daging bebek dibandingkan dengan mengolah daging ayam.

“Kalau cara masaknya kurang pas, memang kadang masih ada aroma kurang sedap untuk daging bebek. Tapi kami memiliki bumbu spesial sehingga bebek olahan kami jadi spesial,” tuturnya.

Namun, di balik minimnya pamor daging bebek, justru para pengelola restoran kelas atas justru mengolah daging unggas ini sebagai menu andalan. Harga per porsinya pun cukup mahal, bisa mencapai Rp 90.000. Padahal, untuk menu yang tak jauh beda di warung tenda hanya dipatok tak lebih dari Rp 20.000. Tentu saja, dengan teknik pengolahan yang sempurna akan menghasilkan sajian daging bebek yang istimewa.

Saat ini, di Jakarta dan di beberapa kota besar lainnya, penikmat daging bebek cukup banyak. Indikatornya bisa dilihat dari mulai menjamurnya warung makan, khususnya warung tenda, yang menyajikan olahan daging bebek. Bahkan, di Jakarta dan Depok sudah mulai banyak warung-warung makan yang khusus menyediakan menu daging bebek, khas masakan Madura. Tak sedikit pula restoran yang khusus menyediakan olahan daging bebek.

Usaha Sambilan Menguntungkan
Makin menggeliatnya usaha rumah makan yang menyajikan olahan daging bebek ini rupanya memantik sebagian orang untuk menggeluti usaha di sektor hulunya, yakni beternak bebek pedaging.

Salah satunya adalah Purwanto Joko Slameto di Boyolali, Jawa Tengah. Sejatinya, usaha yang ia tekuni itu merupakan sumber penghasilan sampingan. Ia sendiri berprofesi sebagai dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat.

Usaha sampingan yang ditekuni dosen ini tergolong berani. Maklum, dari lingkungan kerja yang terbiasa serba bersih ia justru tertarik dengan usaha ternak bebek yang harus terbiasa dengan aroma kandang yang kurang sedap. Tapi itulah fakta yang dilakukan oleh pria yang biasa disapa Joko ini. Sekarang, ia sudah menikmati sukses bisnis sambilan bebek muda.
Kisah sukses usaha sambilannya itu diawali pada 2005 silam. Dari kegemarannya menyantap daging bebek, mendorong Joko mendirikan usaha ternak bebek di bawah bendera usaha Anugerah Barokah Gede (ABG). Singkatan ABG memberikan kesan bahwa bebek yang diternak masih muda. Kata Joko, nama ABG digunakan untuk menarik perhatian.

Menurut pengakuannya, saat mengawali usaha ternak bebek, karena tidak berpengalaman, ia memulainya dengan melakukan ujicoba menernakkan bebek lokal. Dari 50 ekor bebek, hanya 30 ekor yang sukses dibesarkan saat itu. Dari sinilah Joko mulai giat mempelajari banyak hal mengenai budidaya bebek.

Pak dosen pun mulai lebih serius, ia merogoh kocek hingga Rp 1,5 juta untuk membeli sebanyak 200 ekor bebek muda dari daerah Solo, Jawa Tengah. Dengan memanfaatkan lahan seluas 100 m2 yang merupakan lahan tidak terpakai miliknya di Boyolali, ia menjalankan peternakan sembari mempelajari sistem usaha yang akan dikembangkan dan membangun jaringan untuk pemasaran.

Ia mengawinkan indukan bebek dengan perbandingan jantan dan betina 1:5. “Hasil bebek dari ternak kedua lumayan dengan tingkat kematiannya lebih kecil dibandingkan sebelumnya,” ujar Joko. 

Usahanya terus berlanjut hingga sekarang. Ia mengungkapkan, kunci sukses usahanya adalah memperkenalkan penjualan itik jantan muda dalam bentuk karkas. Ya, di tahun kedua usaha, Joko mulai mengembangkan bebek potong (karkas) dengan target dapat menyuplai bebek ke beberapa restoran yang menyediakan menu bebek di daerah Solo dan Yogyakarta. Lambat laun, usahanya berkembang dan pemasarannya merambah ke Surabaya pada 2007. 

Di sini, Joko mengetahui bahwa permintaan bebek hidup dan bebek ungkep (prasaji) cukup tinggi. Meski tingkat persaingannya juga cukup tinggi karena banyak peternak bebek dari daerah juga memasok, Joko mengaku ikut meramaikan persaingan itu.

Tahun 2008, ia mengepakan sayap usahanya ke Jakarta. Untuk memulai usahanya di Jakarta, ia mensurvei restoran-restoran yang menghidangkan bebek. Agar bisa lebih memasok untuk kebutuhan restoran, tahun 2008 Joko membuka sistem kemitraan.

Karkas bebek. (Sumber Istimewa)

Harga Cenderung Stabil
Harga daging bebek tergolong sepi dari isu fluktuasi harga seperti yang terjadi pada daging ayam. Harga daging bebek cenderung lebih stabil. Di pasaran, harga bibit bebek untuk jenis Peking KW (persilangan betina hibrida putih dan pejantan Peking) mencapai Rp 8.500 per ekor. Sedangkan untuk bibit jenis Hibrida Rp 7.500 dan jenis Mojosari Rp 9.300 per ekor. Sebagian besar peternak bebek pedaging masih berada di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebab itu, harga bibit bebek ini akan lebih tinggi jika dijual di pasaran luar Jawa.

Seperti halnya harga bibit, harga jual bebek pedaging dewasa juga tergolong stabil. Namun demikian, setiap penyedia daging unggas ini memiliki harga yang berbeda.

Farmbos, misalnya, platform online yang bergerak pada bidang agriculture ini mematok harga bebek pedaging untuk berat 1,5 kg seharga Rp 25.000, berat 2 kg seharga Rp 33.000 dan berat 3 kg seharga Rp 42.000. Sementara Agromart, marketplace yang berkantor di Bogor juga menjual berbagai jenis daging bebek dengan harga bervariasi. Untuk karkas bebek lokal/hibrida berkisar Rp 27.000-45.000 per ekor, bebek Peking beku 1,8-1,7 kg seharga Rp 65.000-67.000 per ekor. Ada juga daging bebek premium yang dihargai Rp 17.000-40.000 per ekor. Sementara di Surabaya, supplier daging bebek Nusantara Jaya Unggul mematok harga Rp 37.000 per ekor.

Perbedaan harga dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah lokasi peternakan. Di sentra peternakan seperti Boyolali dan Mojokerto, harga lebih murah dibanding harga di lokasi lain yang bukan sentra peternakan.

Selain itu, masalah pakan juga menjadi bagian dari penentu harga unggas ini. Bebek pedaging yang diberi pakan berkualitas (pakan pabrikan) tentu akan lebih mahal dibandingkan dengan bebek yang diberi pakan racikan peternak sendiri. Sementara soal rasa daging, sangat tergantung dari cara mengolahnya. (Abdul Kholis)

El Nino & Pelarangan AGP, Ujian Berat Bagi Peternakan Indonesia

Usaha peternakan broiler yang masih menggunakan kandang tradisional. (Sumber: rri.co.id)

Tahun 2018 lalu menjadi salah satu ujian berat bagi sektor peternakan Indonesia. Selain karena cuaca yang tak menentu akibat El Nino, para peternak juga “diuji” ketahanannya dengan pakan tanpa AGP, bagaimana mereka menghadapinya?

“Untuk menjadi pelaut yang andal, harus mengetahui cuaca”. Kutipan tersebut juga berlaku di dunia peternakan. Karena untuk menjadi peternak yang andal, juga harus bisa bersahabat dengan alam. Selain faktor internal, kesuksesan dalam usaha peternakan juga didukung faktor eksternal, salah satunya iklim dan cuaca. Khususnya bagi peternak yang menerapkan sistem kandang terbuka, mereka benar-benar harus bisa bersahabat dengan alam agar performa ternaknya terjaga.

Fenomena El Nino
El Nino merupakan fenomena penurunan curah hujan di wilayah Indonesia terutama di selatan khatulistiwa. Penyebabnya adalah menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik area khatulistiwa, akibatnya musim kemarau lebih panjang daripada musim hujan. Fenomena ini juga melanda negara-negara lain di dunia. Lahan pertanian menjadi yang paling berisiko terdampak kekeringan akibat El Nino.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa Indonesia bakal mengalami El Nino pada akhir September hingga awal Oktober 2018. Prediksi tersebut ternyata benar adanya, peternak merasakan bahkan sampai bisa dibilang “merindukan” datangnya hujan.

Dampak dari musim kemarau yang panjang bagi sektor peternakan tentunya tidak main-main, suhu tinggi pada siang hari dapat menyebabkan ternak stres, yang juga lebih penting adalah ketersediaan bahan baku pakan misalnya jagung.

Musim kemarau panjang tentunya menyebabkan suhu tinggi pada siang hari, terkadang suhu naik sangat ekstrem, sehingga menyebabkan cekaman pada ternak. Menurut Prof Agik Suprayogi, guru besar Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), iklim memegang peranan besar bagi produktivitas ternak dan kadang peternak sering acuh terhadap hal ini.

“Selain manajemen peternakan, jangan sekali-kali melupakan hal ini (iklim) apalagi ketika musim-musim yang sulit ditebak seperti itu, salah-salah nanti peforma ternak kita turun,” tutur Prof Agik.

Salah satu contoh iklim dapat memengaruhi maksud Prof Agik, yakni terhadap spesies hewan, misalnya sapi perah. “Sapi perah kan cocoknya di iklim dengan suhu sejuk dan dingin misalnya pegunungan, gimana coba kalau dipindahkan ke tengah kota? Produksinya turun toh,” ucapnya.

Ia melanjutkan, bahwa cekaman akibat suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah, selain dapat menyebabkan stres dan penurunan performa ternak, juga merupakan pelanggaran terhadap animal welfare.

“Bebas dari rasa ketidaknyamanan juga masuk dalam five freedom of animal welfare, oleh karenanya kalau peternak santai-santai saja menghadapi iklim ekstrem dan ternaknya dirawat “biasa-biasa saja” ruginya dua kali, sudah performa turun, dosa pula,” pungkasnya sambil berkelakar.

Mengapa rasa tidak nyaman pada ternak dapat menurunkan performa?, menurut penelitian yang dilakukan oleh Kamel (2016) pada ayam broiler, cekaman suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan... (CR)


Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Januari 2019.

Dirjen PKH: Upsus Siwab Tambah Populasi dan Pendapatan Peternak

Dirjen PKH bersama narasumber lain saat bincang agribisnis. (Foto: Infovet/Ridwan)

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita, mengatakan sejak peluncuran GBIB (Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan) dan Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting), populasi sapi di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Ini terbukti dari loncatan populasi sapi sepanjang 2014-2017 naik sebesar 3,86% per tahun dibanding 2012-2014 yang hanya 1,03% per tahun pertumbuhannya. Pelayanan IB sepanjang Januari 2017-Desember 2018 telah terealisasi sebanyak 7.964.131 ekor, dengan kelahiran pedet mencapai 2.743.902 ekor atau setara Rp 21,95 triliun dengan asumsi satu ekor pedet Rp 8 juta.

“Nilai yang sangat fantastis mengingat investasi Upsus Siwab pada 2017 sebesar 1,41 triliun rupiah, sehingga ada kenaikan nilai tambah di peternak sebesar 20,54 triliun rupiah,” kata Ketut, Selasa (8/1).

Ia menambahkan, Upsus Siwab memiliki esensi mengubah pola pikir peternak yang cara beternaknya masih bersifat sambilan menuju ke arah profit dan menguntungkan peternak. “Siwab ini kan untuk menambah populasi dan pendapatan peternak, jadi jangan sampai berhenti. Ini terus kita lakukan, siwab terus kita genjot,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, program Upsus Siwab ini juga mampu menurunkan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif bekerjasama dengan Baharkam Polri. Sepanjang Januari-Desember 2018 pemotongan betina produktif mencapai 8.514 ekor, jumlah tersebut menurun 57,12% dibanding tahun 2017 yang mencapai sekitar 17 ribu ekor. (RBS)

Gamang Menghadang Superbugs Datang

Ilustrasi Superbugs (Sumber: Jamanetwork.com)

Beberapa waktu lalu sempat ramai di media sosial ketika salah satu selebriti nasional, seorang penyanyi dan pemain sinetron Nadia Vega terserang penyakit yang sulit disembuhkan. Konon dia sakit akibat terserang bakteri superbugs, bakteri “super” berbahaya dan kebal terhadap antibiotik. Beruntung Nadia Vega mendapatkan penanganan yang baik di Singapura, bila tidak bakteri akan menjalar keberbagai organ tubuh dan menyebabkan kematian.

Apa yang dialami Nadia Vega adalah salah satu sinyal adanya fenomena alam yang populer disebut  Antimicrobial Resistance (AMR), fenomena alam dimana mikroorganisme seperti  bakteri, virus, parasit dan jamur tidak lagi peka terhadap efek obat anti mikroba.

Infeksi Ringan Mengantar Kematian

Di Indonesia ada 900.000 kasus tipes atau demam tifoid per tahun, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhi ini mengakibatkan kematian 20.000 penderitanya. Di dunia 21 juta manusia  per tahun terserang tipes, meninggal 220.000 orang, sisanya terselamatkan terutama berkat antibiotik. Bayangkan, apabila bakteri tersebut menjelma menjadi sejenis superbugs, yang tidak mempan terhadap antibiotik, maka dapat dipastikan jutaan manusia akan meninggal akibat penyakit tersebut. Belum lagi kematian akibat penyakit yang lain, seperti TBC, Kolera dan lain-lain. Apabila kedatangan berjenis-jenis  ”superbugs”  ini tidak diantisipasi, maka suatu saat dari sebuah infeksi bakteri yang ringan bisa berakhir fatal. Luka tersayat pisau dapur bisa mengantar kematian.

WHO/FAO memperkirakan 700.000 orang per tahun telah meninggal akibat AMR, dan tak terhitung jumlah binatang sakit yang tak merespon pengobatan. Bahkan Lord Jim O’Neill dan timnya yang dibentuk oleh pemerintah Inggris memperkirakan bahwa AMR  akan menyebabkan 10 juta kematian per tahun di tahun 2050, mengakibatkan kerugian lebih dari USD 100 Triliun. Jumlah kematian tersebut setara dengan kematian akibat perang dunia ke dua yang memakan korban 60 juta orang selama enam tahun.

Perkembangan AMR melaju pesat. Ironisnya kecepatan penemuan antibiotik generasi baru tidak secepat laju AMR. Untuk menemukan antibiotik baru perlu riset, dan perusahaan farmasi umumnya enggan mengalokasikan dana riset yang super mahal.

Alexander Fleming, ilmuwan  Scotlandia penemu pinisillin, ketika menyampaikan kuliahnya pada upacara penerimaan hadiah Nobel setengah abad yang lalu telah memberikan peringatan, bahwa akan ada waktu dimana pinisillin (antibiotik) bisa dibeli dimana saja, dan akan sangat bahaya bila ada yang mendapatkan dosis sedikit, karena  bisa menimbulkan kekebalan. Benar kata dia, beberapa  tahun kemudian mulai terlihat adanya bakteri yang kebal terhadap satu atau beberapa jenis antibiotik.

Timbulnya mikroba yang kebal antibiotik melalui berbagai mekanisme. Bakteri mensintesis suatu enzim yang menghancurkan antibiotik, misalnya Stapilokoki menghasilkan beta-laktamase, akibatnya bakteri tersebut kebal terhadap Pinisilin G. Di Indonesia , berdasarkan survei tahun 2013, di enam rumah sakit teridentifikasi E-coli dan Klebsiela pneumonia telah memproduksi enzim Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL), akibatnya antibiotik dari berbagai generasi sudah tidak mempan membunuhnya.

Bakteri juga bisa kebal antibiotik dengan merubah permeabilitasnya, ini dilakukan beberapa bakteri  terhadap tetrasiklin. Adapula bakteri yang mengembangkan perubahan struktur sasaran bagi antibiotik, beberapa bakteri merubah protein spesifik pada subunit 30s ribosom untuk menangkal serangan antibiotik aminoglikosida. Masih ada beberapa mekanisme lain yang memungkinkan bakteri menjadi kebal terhadap satu atau beberapa antibiotik.

Prudent Use of Antibiotics

AMR adalah tantangan signifikan bagi kesehatan publik, food safety dan food security/keamanan dan ketahanan pangan.

Sejak tahun 2002 diketahui telah terjadi  kebal kuman terhadap antibiotik di sejumlah rumah sakit di Indonesia.  Pemakaian obat-obatan pada ternak “dituduh” sebagai salah satu  penyumbang signifikan atas kejadian itu. Hal tersebut pantas dijadikan sebagai peringatan untuk  mawas diri bagi seluruh stakeholder peternakan dan kesehatan hewan.

Harus diakui, saat ini peternak masih banyak yang mediagnosa sendiri penyakit ternaknya, membeli antibiotik tanpa resep dokter, dan mengobati ternaknya sendiri tanpa pengawasan dokter hewan.  Mereka belum banyak mendapat informasi tentang AMR, dan yang sudah tahu jarang yang punya kesadaran untuk ikut berpartisipasi dalam menghadang laju AMR, di benaknya yang penting ternaknya selamat .

Namun harus diakui pula penyebab munculnya kebal kuman terhadap obat bisa juga disebabkan  karena tingginya penggunaan antibiotik pada manusia. Sebanyak 50-80 persen antibiotik diberikan kepada pasien secara tidak rasional atau tanpa indikasi, masyarakat masih mudah membeli antibiotik ditoko obat  ataupun apotik tanpa resep, masih ada kebiasaan pasien menebus setengah resep, dan tidak jarang karena ketidak tahuan pasien menghentikan penggunaan  antibiotik sebelum waktunya karena merasa sudah sembuh.  Selain itu, penyebaran kebal/resistensi antimikroba di rumah sakit disinyalir masih tinggi, karena pemahaman serta upaya pencegahan masih rendah.

Penggunaan antibiotik secara bijak (Prudent Use of Antibiotics) menjadi sangat penting dalam upaya melawan AMR.

*Penulis : Rakhmat Nuriyanto, Direktur PT Pyridam - Jakarta

Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Januari 2019.

PDHI Jateng Adakan Seminar Kewirausahaan Dokter Hewan



Seminar mengangkat tema Profesi, Etika, Hukum, dan Praktik Dokter Hewan dan Sharing Kewirausahaan Dokter Hewan akan diselenggarakan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Tengah 3. Kegiatan ini rencananya berlangsung pada Minggu (20/1/2019) di Eduwisata Terintegrasi Sapi PO Kebumen Depok, Sitiadi, Jawa Tengah.

Menurut Ketua Panitia, drh Heru Trisusila acara seminar ini berbarengan dengan pertemuan rutin pengurus dan anggota PDHI Cabang Jawa Tengah 3.

“Pertemuan rutin ini diharapkan sebagai wadah sharing kasus, interaksi langsung antar anggota serta pengurus di era digital sekarang ini,” ujar Heru.

Menghadirkan pemateri drh Bonifasius Suli Teruli (Ketua III PDHI). Pembicara kedua adalah drh Fidelis Sumantri (CEO K-One Petshop/Wakil Ketua Bidang Dana dan Kewirausahaan PDHI Jateng 3).

Jumlah peserta ditargetkan yang hadir sekitar 150 anggota PDHI Jateng 3. (NDV)

Perlunya Evaluasi Setelah Pelarangan AGP di Indonesia

Setahun pasca pelarangan AGP dalam pakan unggas perlu mendapat evaluasi dan pengkajian mendalam guna mencapai tujuan menekan AMR. (Sumber: Google)

Oleh: Budi Tangendjaja

Pelarangan AGP (Antibiotic Growth Promotor) sudah berjalan selama satu tahun semenjak pelarangannya digaungkan awal 2018 kemarin. Pemerintah masih mengijinkan penggunaan antibiotik dalam pakan melalui Petunjuk Teknis untuk Pakan Terapi (Medicated Feed). Penggunaan antibiotika pada tingkat peternak juga masih berjalan tanpa banyak perubahan.

Tetapi kelihatannya terjadi pergeseran penggunaan antibiotika, baik di peternak maupun di pabrik pakan. Berbagai upaya telah dikerjakan oleh para stakeholder industri peternakan, tetapi alangkah baiknya jika perjalanan satu tahun kebijakan pelarangan penggunaan AGP dalam pakan dievaluasi.

Hal penting yang perlu dipertimbangkan lagi untuk mencapai tujuan akhir menurunkan Antimicrobial Reistence (AMR) atau resistensi antimikroba pada manusia seperti diamanahkan oleh FAO dan WHO, perlu dibuatkan suatu rencana startegi jangka panjang bagi Indonesia. 

Perlunya Evaluasi
Belajar dari pengalaman negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu melakukan pelarangan penggunaan AGP, salah satunya yakni Denmark yang sudah melarang AGP selama 20 tahun. Ketika pelarangan dilakukan, ternyata pemakaian antibiotika yang diberikan resep oleh dokter hewan meningkat tajam, tetapi juga pemberian antibiotika pada manusia tetap berjalan dan tidak menurun. Pemakaian antibiotika untuk pengobatan meningkat sampai 2009-2010 setelah pelarangan lebih dari 10 tahun.

Perubahan pemakaian antibiotika di Denmark setelah pelarangan AGP dalam 20 tahun.

Berbeda dengan Denmark, adapun Belanda yang juga telah melakukan pelarangan AGP, penjualan antibiotika untuk hewan secara total...



Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Januari 2019.

Tahun 2019, Dinas Peternakan NTT Giatkan Industri Pakan

Lahan tanaman Lamtoro Taramba yang dikembangkan Dinas Peternakan NTT (Foto: Antara)   

Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur di tahun 2019 ini akan fokus pada pengembangan industri pakan untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi di wilayah provinsi berbasis kepulauan ini.

"Untuk industri pakan ternak akan kami kembangkan di beberapa kabupaten seperti Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Malaka, Sumba Timur dan Rote Ndao untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi di daerah tersebut," kata Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi di Kupang, Selasa (15/1/2019).

Dani menjelaskan, pada daerah-daerah itu akan disiapkan lahan seluas 500 hektare hingga 10.000 hektare untuk pengembangan pakan ternak. Upaya ini, ljuga diintegrasikan dengan lintas sektor lainnya seperti Dinas Kehutanan maupun masyarakat setempat.

Lanjutnya, pada sentra pengembangan industri pakan ini akan diperkuat dengan jenis-jenis tanaman yang bisa beradaptasi dengan lingkungan setempat. Salah satu tumbuhan yang menjadi fokus pengembangan adalah Lamtoro Taramba.

"Lamtoro Taramba oleh masyarakat lebih gampang, karena hanya ditanam dan berkembang dengan cepat. Tanaman Lamtoro Taramba juga memiliki kandungan protein yang cukup bagus untuk ternak sapi," katanya. (Sumber: antaranews.com)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer