-->

MENJAGA KEAMANAN & KUALITAS PAKAN

Jagung bahan baku pakan yang rentan tercemar mikotoksin. (Foto: iStock)

Pakan merupakan faktor utama dalam budi daya perunggasan, 70 bahkan 80% biaya budi daya dalam beternak berasal dari pakan. Dalam menghasilkan pakan yang berkualitas tentunya didukung oleh penggunaan bahan baku yang berkualitas dan serangkaian proses tertentu.

Apalagi dikala kondisi seperti sekarang yang bisa dibilang harus lebih efisien dikarenakan kenaikan harga berbagai bahan baku pakan yang secara langsung menaikkan harga pakan. Kualitas pakan adalah harga mati dari para produsen pakan agar produk mereka tetap digemari para penggunannya.

Risiko di Dalam Pakan
Pakan yang baik dan berkualitas harus memenuhi persyaratan mutu yang mencakup kualitas nutrisi, kualitas teknis, keamanan pakan, dan nilai bioekonomis penggunaan pakan. Keamanan pakan adalah bagian dari keamanan pangan, karena pakan merupakan salah satu mata rantai awal dari keseluruhan mata rantai makanan.

Dalam sebuah seminar perunggasan, Tony Unandar selaku konsultan perunggasan pernah berujar bahwa selain udara dan lingkungan, pakan juga dapat menjadi pintu masuk bagi mikroba patogen ke dalam tubuh ayam.

Artinya, pakan yang tercemar oleh mikroba patogen atau kualitasnya buruk akan membawa dampak buruk pula bagi pertumbuhan, kesehatan, dan performa ayam. Alih-alih untung, peternak bisa jadi buntung akibat hal tersebut.

Sementara menurut Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Dewi Apri Astuti, kualitas pakan berbanding lurus dengan kualitas bahan bakunya. Dalam menjaga kualitas bahan baku pakan, produsen terkendala dari bahan pakan yang bersifat sensitif dan rentan terhadap kerusakan akibat perubahan kondisi lingkungan. Ada beberapa kerusakan kerap terjadi akibat kesalahan penanganan dan penyimpanan, antara lain:

• Kerusakan fisik: Diakibatkan oleh kesalahan handling saat panen, mesin, atau transportasi. Misalnya kerusakan pada biji jagung (broken kernel). Biasanya kerusakan fisik tidak memengaruhi kualitas, tetapi lebih kepada estetika.

• Kerusakan biologis: Disebabkan oleh serangan hama seperti tikus, burung, kutu, dan lain-lain. Misalnya ketika bungkil kedelai diserang hama kutu, maka nutrisi dari bahan tersebut akan berkurang.

• Kerusakan mikrobiologis: Diakibatkan oleh mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, yang dapat menyerap nutrisi dalam bahan pakan dan menghasilkan substansi yang bersifat racun bagi ternak (toksin). Contoh jagung yang terserang jamur, maka jamur tersebut menyerap nutrisi dari jagung dan akan menghasilkan berbagai jenis toksin yang berbahaya bagi ternak mulai dari penurunan produktivitas hingga kematian.

• Kerusakan kimiawi: Biasanya terjadi pada beberapa jenis imbuhan pakan,  yang berubah susunan kimia aktifnya akibat kesalahan penyimpanan (tidak sesuai rekomendasi). Contoh, apabila bahan seperti asam organik yang disimpan tidak sesuai dengan rekomendasi, menyebabkan caking (akibat dari reaksi hidrolisis). Apabila asam organik sudah caking biasanya sangat rentan menguap karena sifat asam organik yang volatil.

“Apalagi di tengah kondisi sekarang ini, selain harga bahan baku yang melonjak, kualitasnya terkadang tidak stabil. Oleh karena itu, sangat penting mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang baik dan stabil,” kata Dewi.

Ia memberi contoh, misalnya... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2024.

Ditulis oleh:
Drh Cholillurahman
Redaksi Majalah Infovet

KESERUAN KONTES TERNAK DAN RAGAM KEGIATAN LIVESTOCK EXPO 2024


Kontes ternak domba dan kambing di ajang Livestock Expo 2024 (Foto: Istimewa)

Perhatian masyarakat tertuju pada penyelenggaraan Livestock Expo 2024 di Pasar Ternak Payakumbuh yang terletak di Jalan Panglima Polim, Payobasung, Kota Payakumbuh. Salah satu kegiatan yang menyita perhatian adalah kontes fashion show kambing dan domba hias.

Pengunjung terlihat ramai untuk menonton kontes tersebut di hari pertama dibukanya Livestock Expo, Selasa (22/10). Keseruan lainnya di antaranya perlombaan pacu itik, lomba menyajikan burger tercepat, dan kompetisi solo song di mana peserta menyanyikan lagu dengan tema peternakan yaitu Babendi Bendi, Ayam Den Lapeh, dan Roda Padati.

Gubernur Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), Audy Joinaldy, ketika membuka Livestock Expo 2024 mengatakan untuk membangkitkan semangat peternak serta pelaku usaha bidang peternakan, Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar menyelenggarakan Livestock Expo 2024 bertema “Peningkatan Produksi Daging, Susu dan Telur dalam mendorong Program Pembangunan Peternakan”.

Audy menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat menjaring bibit unggul dan sumber daya genetik ternak lokal untuk dikembangkan sekaligus memotivasi kelompok tani ternak, pelaku usaha peternakan, petugas teknis peternakan dalam mengelola dan mengembangkan usahanya.

Melalui booth pameran, selain sebagai ajang mempromosikan produk-produk pangan olahan hasil peternakan, juga membuka kesempatan lebar bagi pelaku usaha peternakan maupun UMKM untuk membangun jaringan bisnis sehingga dapat menjalin kerja sama yang saling menguntungkan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Kadisnakkeswan) Sumbar, Sukarli SPt MSi, mengemukakan pengembangan dan penerapan teknologi dibutuhkan agar usaha peternakan lebih efektif dan efisien, produksi dan produktivitas meningkat lebih cepat.

KaDisnakkeswan Sumbar menyerahkan tongkat pelaksanaan kepada tuan rumah Livestock Expo 2025 yang akan diadakan di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Oleh karenanya diperlukan SDM yang mampu menguasai teknologi kemudian mengaplikasikan ilmunya kepada masyarakat, khususnya peternak.

“Pelaku usaha harus update dan memiliki kemauan mengembangkan usahanya, tidak hanya pada produksi ternak namun juga meningkatkan keterampilan dalam mendistribusikan produk olahan hasil peternakan,” tutur Sukarli.

Dalam kesempatan itu, Sukarli me-launching inovasi bidang peternakan terkini yaitu Pusat Pelayanan Informasi (PIL-PKH) sebagai bentuk Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Terpadu.  

PIL-PKH ini nantinya akan melayani secara menyeluruh informasi di bidang kesehatan hwan dan informasi lainnya di Puskeswan maupun Pos IB di wilayah masing-masing.  

Pestanya Insan Peternakan 

Livestock Expo 2024 yang berlangsung dari 22-24 Oktober ini merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkewan Sumbar. Sedangkan untuk kontes ternak oleh Bidang Produksi dan Teknologi.

Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Nirmala Puspita Dewi SPt MSi, mengatakan para peternak sangat antusias berpartisipasi.

“Mereka berharap acara ini di tahun-tahun mendatang diperbanyak lagi kategori ternaknya. Selain itu, istilahnya orang Minang ‘Iko Baralek Nyo Urang Peternakan’ bahwa Livestock Expo ini pestanya insan peternakan,” ungkap Nirmala.

Stand Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lima Puluh Kota.
Lanjut dia, Livestock Expo juga dijadikan ajang silaturahmi para stakeholder peternakan khususnya di Sumbar juga dihadiri pejabat Pemprov dan Kabupaten Kota Payakumbuh. Para akademisi, organisasi PDHI dan ISPI, mitra perusahaan dari Charoen Pokphand Indonesia, Japfa, dan Medion.

Program DaSuTe 

Sesuai dengan tema tahun ini “Peningkatan Produksi Daging, Susu dan Telur dalam mendorong Program Pembangunan Peternakan”. Nirmala menambahkan, poin terbesar dari kegiatan kontes ternak dalam rangkaian Livestock Expo 2024 guna meningkatkan produktivitas ternak. Sejalan dengan Pemprov Sumbar yang terus menggiatkan Program Konsumsi DaSuTe (Daging, Susu, Telur).

Pelaksanaan pemberian susu dan telur dibersamai dengan sosialisasi manfaat konsumsi daging ayam bagi pengunjung yang mendatangi area pameran, berjalan lancar.

Bagi-bagi susu dan telur untuk pengunjung maupun warga yang melewati area Livestock Expo.

Booth pameran menampilkan promosi produk olahan hasil ternak, antara lain susu aneka rasa, telur, daging, rendang telur, rendang suwir, es krim berbahan susu kambing, dadiah (susu kerbau fermentasi), telur asin, hingga pupuk organik berbahan baku limbah ternak.

Berbagai produk olahan peternakan yang ditampilkan tersebut sudah bersertifikasi, berinovasi, dan berdaya saing.

Perhelatan Livestock Expo 2024 dimeriahkan senam massal, vaksinasi rabies gratis untuk anjing dan kucing, serta seminar wirausaha yang salah satunya mengangkat tema “Kualitas Bahan Baku Penunjang Kesuksesan Beternak Bebek”. (ADV)


KONTROL KUALITAS PAKAN SECARA MENYELURUH

Pengawasan penyimpanan bahan baku. (Foto: Istimewa)

Pakan merupakan salah satu aspek penting dalam keberhasilan produksi ternak selain dari genetik dan lingkungan. Pakan juga merupakan komponen terbesar dalam biaya pemeliharaan unggas yang mencakup hampir 70-80% dari seluruh total biaya pemeliharaan.

Tentunya kualitas dan kuantitas pakan menjadi titik kritis yang harus diperhatikan guna mendukung performa yang optimal dari ternak yang dipelihara. Pakan yang diberikan harus memiliki kualitas baik yang sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Pakan yang berkualitas harus mampu memenuhi kebutuhan nutrisi ternak dan memiliki palatabilitas tinggi. Pakan yang baik juga harus memiliki kecernaan yang tinggi guna memastikan nutrisi yang terkandung pada pakan dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh ternak.

Selain itu, pakan yang berkualitas harus terbebas dari racun (toxin) maupun zat anti-nutrisi yang dapat memberikan dampak merugikan dalam mencapai performa optimal. Oleh karena itu, kontrol kualitas pakan menjadi poin penting untuk memastikan bahwa pakan yang dikonsumsi ternak memiliki kualitas yang baik.

Kontrol kualitas atau quality control (QC) pada pakan merupakan proses yang dilakukan guna memastikan pakan yang diberikan telah memenuhi standar dan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Kontrol kualitas pakan harus dilakukan mulai dari penerimaan dan penyimpanan bahan baku, proses pencampuran bahan baku (mixing), dan pemberian pakan itu sendiri. Pada proses tersebut dilakukan berbagai macam pemeriksaan dan juga pengawasan guna memastikan bahwa pakan yang dihasilkan memiliki kualitas yang diharapkan.

Kontrol Kualitas Saat Penerimaan Bahan Baku 
Penerimaan bahan baku merupakan gerbang utama dalam program pengendalian mutu pada pabrik pakan maupun di peternak. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa bahan baku yang diterima memiliki spesifikasi yang sesuai.

Khususnya pada peternak self mixing, kontrol kualitas bahan baku sangat penting untuk memastikan bahan baku yang digunakan sesuai dengan bahan baku yang dimasukan ke dalam perhitungan formulasi.

Pada saat penerimaan bahan baku, sebaiknya dilakukan uji fisik maupun uji kimia. Karakteristik fisik ditentukan agar dalam penerimaan bahan baku dapat diseleksi apakah suatu bahan dapat diterima atau ditolak. Sedangkan uji kimia dapat menghasilkan nilai analitis yang dapat digunakan sebagai dasar dalam memformulasikan pakan.

Uji fisik meliputi uji organoleptik yang merupakan metode pengujian suatu bahan menggunakan panca indera secara kualitatif. Pengujian organoleptik yang diamati adalah warna, tekstur, aroma, dan ada atau tidaknya kontaminan.

Salah satu bahan baku pakan yang dominan digunakan adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2024.

Ditulis oleh:
Wardiman SPt
Formulator PT Mensana Aneka Satwa

PENELITI INDONESIA MENANGKAN KOMPETISI PENANGGULANGAN SAMPAR KAMBING DAN DOMBA

Rizma Rizkia Nurdianti (Foto: DW)


Belum lama ini peneliti asal Indonesia yang bermukim di Jerman, Risma Rizkia Nurdianti bersama timnya terdiri dari periset Achmad Fadillah, Syabilla Rivenia dan Istianah Maryam Jamilah terpilih sebagai pemenang kompetisi riset yang diadakan Badan PBB FAO (Food and Agriculture Organization of United Nations) dalam kategori “Riset Tantangan Transformasi Penanggulangan Penyakit pada Hewan Ruminansia Kecil atau Peste des Petits Ruminants (PPR) pada Anak Kambing atau Domba”.

Penyakit Peste des Petits Ruminants sering disingkat menjadi PPR juga dikenal dengan istilah “penyakit virus ruminansia kecil" atau sampar pada kambing dan domba.

Penyakit yang disebabkan virus Paramyxovirus ini ditandai dengan gejala seperti demam, lesi pada mulut dan hidung, diare, serta infeksi saluran pernapasan. "Mulanya  tertular dari makanan, kandang kotor, kemudian interaksi sesama hewan. Muncul demam seperti pada manusia, 40-41 derajat celsius, kemudian disusul dengan lendir yang keluar dari hidung, mulut, bahkan telinga. Kemudian tidak sedikit juga menyebabkan kematian dan mortalitasnya 80-100%.," tutur Risma kepada DW.

Terutama pada anak kambing dan domba, PPR dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi pada hewan yang terinfeksi. Penularan penyakit ini biasanya terjadi melalui kontak langsung antara hewan yang terinfeksi dan hewan yang sehat, serta melalui udara.

Risma mengimbau masyarakat tidak mengonsumsi kambing atau domba yang terpapar virus PPR: "Meskipun PPR terutama menyerang kambing dan domba, mengonsumsi daging dari hewan yang sakit dapat menimbulkan risiko kesehatan akibat infeksi sekunder atau kontaminasi," tandasnya. (Sumber: Deutsche Welle - DW)


PENTINGNYA KONTROL KUALITAS PAKAN

Kualitas bahan baku pakan di lapangan bisa berubah-ubah. (Foto: Shutterstock)

Pakan sangat menentukan produktivitas ternak sehingga kontrol kualitas bahan baku pakan sangat penting dilakukan peternak. Diketahui bahwa kualitas bahan baku pakan di lapangan selalu berubah-ubah tergantung wilayah, cuaca, musim, penanganan pasca panen, tempat penyimpanan, dan adanya kecurangan penambahan bahan tertentu dengan tujuan harga murah.

Jika tidak dikontrol kualitasnya, maka akan merugikan peternak. Terlebih biaya pakan mengambil porsi terbesar dalam biaya produksi peternakan. Ketika penulis melakukan pemeriksaan terhadap bahan baku pakan ternak ditemukan mengandung tambahan bahan tertentu. Adanya bahan tambahan  ini akan mengakibatkan nilai nutrisi tidak sebenarnya. Contohnya bekatul atau dedak yang ditambahkan gilingan sekam. Fungsi sekam yaitu sebagai bahan pengisi atau penambah bobot dari bekatul atau dedak. Namun sayangnya sekam mengandung serat kasar yang tinggi sehingga susah dicerna ternak unggas.

Contoh lain bahan baku pakan yang juga sering dipalsukan adalah tepung ikan dan meat bone meal (MBM). Tepung ikan sering dicampur dengan urea, sedangkan MBM dicampur dengan tepung bulu. Penambahan urea maupun tepung bulu akan meningkatkan kadar protein kasar, namun urea tidak dapat dimanfaatkan tubuh ayam bahkan beracun.

Kontrol kualitas bahan baku utamanya adalah mengendalikan kandungan kualitas yang bervariasi. Variasi bahan baku di antaranya berpengaruh terhadap kandungan protein dan komposisi asam amino. Keduanya (protein dan AA) merupakan komponen nutrisi paling mahal dalam menyusun pakan unggas.

Selanjutnya adalah energi (metabolik) dan fosfor yang memberikan beban biaya termahal dalam formulasi pakan. SBM/bungkil kedelai merupakan sumber protein paling ekonomis diandalkan karena kandungan protein yang tinggi (46-48%) dan komposisi/profil asam amino konsisten. Perbedaan asal sehingga dikenal SBM Brasil, SBM Argentina, SBM USA, SBM India membuktikan variasi nyata yang ada di antara jenis bahan baku tersebut. Dalam operasional sehari-hari penerimaan SBM dari satu asal saja bisa memperlihatkan adanya perbedaan dalam kandungan nutrisinya. Adapun factor-faktor yang berkontribusi terhadap variasi tersebut bisa disebabkan cara prosesing (derajat cooking yang pada kondisi ekstrem menyebabkan under-cooked dan over-cooked).

Produk yang tiba di feedmill bisa saja berasal dari beberapa pabrik yang mempunyai cara pengolahan berbeda. Faktor lain yang tidak boleh dilupakan adalah teknik sampling, karena tekstur SBM tidaklah sangat homogen, terkadang ditemukan kontaminan hull atau patahan batang. Mengingat SBM dan jagung merupakan bahan baku sumber protein yang digunakan dalam persentase tinggi, maka perubahan kecil dalam nilai nutrisi kedua bahan baku tersebut yang tidak diantisipasi akan berdampak pada performa unggas.

Kecuali masalah-masalah di atas dalam kontrol bahan baku yang digunakan dalam pembuatan pakan memenuhi standar kualitas, maka masih banyak hal-hal yang perlu diperhatikan agar pakan yang dihasilkan berkualitas baik:... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2024.

Ditulis oleh:
Drh Damar
Technical Department Manager
PT Romindo Primavetcom
Jl. DR Sahardjo No. 264
Tebet, Jakarta Selatan
HP: 0812-8644-9471
Email: agus.damar@romindo.net

KABUPATEN BLITAR RAIH PENGHARGAAN LOMBA AGRIBISNIS PETERNAKAN

Kabupaten Blitar raih dua penghargaan ketahanan pangan di ajang lomba agribisnis peternakan Jatim 2024.
(Foto : Istimewa)

Kabupaten Blitar kembali menorehkan prestasi gemilang dengan memborong dua penghargaan di ajang Lomba Penilaian Manajemen Kelompok Agribisnis Peternakan Provinsi Jawa Timur 2024. Penghargaan ini menjadi motivasi tersendiri bagi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar untuk terus meningkatkan kualitas sektor peternakan di wilayahnya. Ini sejalan dengan program strategis nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dalam upaya swasembada pangan, khususnya di sektor peternakan.

Penghargaan yang diraih oleh Kabupaten Blitar ini tidak hanya menjadi simbol pencapaian, tetapi juga menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus mendukung peningkatan usaha di bidang peternakan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan, khususnya dalam penyediaan populasi sapi pedaging dan sapi perah yang menjadi fokus utama.

“Penghargaan ini menjadi pemicu bagi kami di Disnakkan Kabupaten Blitar untuk terus mendorong masyarakat, kelompok ternak, dan juga investor untuk meningkatkan usahanya di bidang peternakan. Dengan demikian, kita bisa mendukung target swasembada pangan sektor peternakan yang diharapkan oleh pemerintah pusat,” ujar Nuraini Nadzifah, S.Pt., M.Pt., Kabid Budidaya dan Pengembangan Peternakan Disnakkan Kabupaten Blitar, dalam keterangannya, Rabu (23/10/2024).

Ajang Prestisius Berbasis Agribisnis

Lomba yang diselenggarakan oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada kelompok ternak yang berhasil menerapkan sistem agribisnis peternakan secara efektif. Berdasarkan DPA SKPD Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, program ini juga bertujuan untuk membina dan memotivasi para peternak agar dapat meningkatkan prestasi mereka melalui pembinaan berkelanjutan.

Lomba ini melibatkan beberapa kategori, di antaranya penilaian terhadap kelompok ternak sapi perah dan kambing/domba. Proses penilaian dilakukan melalui dua tahap, yaitu penilaian profil kelompok tani ternak dan verifikasi lapang. Aspek yang dinilai meliputi manajemen hulu, proses budidaya, aspek hilir, kelembagaan, serta inovasi yang diterapkan oleh kelompok ternak.

Kabupaten Blitar Borong Dua Penghargaan

Dalam kompetisi tersebut, Kabupaten Blitar berhasil membawa pulang dua penghargaan penting. Kelompok ternak Genjong Sinergi dari Dusun Genjong, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, dinobatkan sebagai juara kedua untuk kategori sapi perah. Sementara itu, kelompok tani Mugi Mulyo dari Desa Ploso, Kecamatan Selopuro, meraih juara kedua di kategori kambing/domba.

Kemenangan ini tidak terlepas dari kerja keras dan inovasi yang dilakukan oleh kedua kelompok tersebut. Menurut Nuraini, kelompok ternak yang berhasil memenangkan lomba ini memiliki keunggulan yang khas, baik dari segi kelembagaan maupun inovasi dalam budidaya.

“Keunggulan utama dari kelompok ternak yang juara adalah manajemen kelembagaannya yang bagus, budidayanya yang baik, serta inovasi-inovasi yang mereka miliki. Mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak dimiliki oleh kelompok ternak lain, dan ini yang membuat mereka unggul,” jelas Nuraini.

Mendorong Inovasi dan Peningkatan Usaha

Keberhasilan Kabupaten Blitar dalam meraih dua penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi kelompok ternak lainnya untuk terus meningkatkan usaha mereka. Nuraini berharap agar kelompok ternak pemenang mampu mempertahankan posisinya dan terus berinovasi di masa mendatang. Inovasi-inovasi baru diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan usaha peternakan di Kabupaten Blitar, sehingga dapat berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional.

“Harapannya, mereka bisa terus mempertahankan kinerja dan inovasi mereka, bahkan mampu menciptakan inovasi baru yang lebih baik. Dengan begitu, usaha mereka bisa semakin berkembang dan memberikan keuntungan yang lebih besar,” tambah Nuraini.

Penghargaan yang diraih Kabupaten Blitar ini merupakan bukti nyata dari komitmen daerah dalam mendukung ketahanan pangan, khususnya di sektor peternakan. Diharapkan dengan pencapaian ini, Kabupaten Blitar dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya meningkatkan kualitas agribisnis peternakan dan mendorong swasembada pangan di tingkat nasional. (INF)

DISPERTAN KAUR LAKUKAN VAKSINASI PENYAKIT NGOROK

Pelaksanaan vaksinasi SE di Desa Selasih Kecamatan Kaur Selatan Oleh Petugas
(Foto : Dinas Pertanian Kabupaten Kaur)


Setelah melakukan berbagai upaya akhirnya Dinas Pertanian Kabupaten Kaur mendapatkan pasokan vaksin penyakit sapi ngorok  atau Septicaemia Epizootica (SE) dari Kementrian Pertanian. Dimana jumlah vaksin yang diterima sebanyak 1000 dosis.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kaur Kastilon Sirad melalui Kabid Peternakan Rahmat Fajar  mengatakan vaksin ini akan diberikan kepada hewan ternak yang berada di Kecamatan Kaur Selatan hingga Kecamatan Nasal.

"Alhamdulillah akhirnya kita dapat suplay vaksin  SE  dari kementrian ya untuk jumlahnya cukup lumayan yakni 1000 dosis dan hari ini kita sudah mulai laksanakan vaksinasi,"ungkapnya

Rahkmat Fajar menjelaskan sapi atau kerbau yang dapat diberikan vaksin ini ialah yang sedang tidak sakit serta sudah berusia lebih dari 3 bulan.  Sementara untuk sapi  atau kerbau yang  sedang hamil diperbolehkan untuk diberikan vaksin.

Penyakit sapi ngorok atau   septicaemia epizootica  (SE) merupakan penyakit yang penularannya terhadap hewan ternak  sangat cepat. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri pasteurella multocida yang menyerang saluran pernapasan dan akan menyebabkan kematian pada hewan ternak.

Sementara itu Kepala Desa Selasih Iskandar Muda menyabut baik dengan adanya pemberian vaksin sapi ngorok massal ini. Menurutnya ini sangat membantu  para peternak sehingga  hewan ternaknya terhindar dari penyakit sapi ngorok yang sangat merugikan peternak ini.

"Kami sangat berterima kasih kepada dinas terkait yang telah menurunkan tim ke  desa kami untuk memberikan vaksin  karena ini sangat membantu, " ungkapnya

Warga yang memiliki hewan ternak yang belum terserang penyakit sapi ngorok dihimbau untuk bekerja sama dalam mengkondisikan hewan ternaknya agar diberikan vaksinasi. Sehingga pelaksananya vaksin massal dapat  berjalan dengan optimal. (INF)

FAPET UNHAS GELAR MUSYARAWAH PEMBANGUNAN PETERNAKAN BERSAMA WARGA

Mahasiswa FAPET UNHAS Bersama Peserta Musyawarah
(foto : FAPET UNHAS)


Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (UNHAS) melalui Program Perencanaan Pembangunan Peternakan (P3) melaksanakan Musyawarah Pembangunan Peternakan di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sabtu-Minggu, 12-13 Oktober 2024.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan masyarakat melalui praktik lapang yang dapat berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup warga lokal.

Dalam kegiatan ini pula, mahasiswa diberdayakan melalui Forum Group Discussion (FGD) bersama aparat desa untuk mendiskusikan keresahan para peternak di Desa Pucak, serta kapasitas para peternak, terutama terkait permasalahan pakan yang terbatas dan mahalnya harga pakan. Selain itu, minat beternak di sebagian warga Desa Pucak juga masih rendah, karena kekhawatiran akan gagal dalam beternak yang membutuhkan modal cukup tinggi.

Program ini berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, serta dosen Fakultas Peternakan UNHAS, yang turut mendukung pelaksanaan Musrenbang. Panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memfasilitasi praktik lapang ini.

Salah satu desa yang menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan praktik lapang ini adalah Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.

Dalam kegiatan praktik lapang, terdapat agenda berupa Forum Group Discussion bersama Bapak Abdul Razak selaku Kepala Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.

Forum Group Discussion (FGD) yang diadakan bersama Kepala Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Abdul Razak menyampaikan, sebenarnya, Desa Pucak memiliki potensi untuk mengembangkan sektor peternakan, namun terhambat oleh kendala biaya.

Abdul Razak menambahkan bahwa, meskipun warga Desa Pucak memiliki kemampuan dan keterampilan dalam beternak, tingginya biaya operasional, terutama dalam hal penyediaan pakan dan infrastruktur, menjadi penghalang utama bagi perkembangan peternakan di desa tersebut.

Olehnya itu, dengan adanya bantuan atau subsidi dari pemerintah, baik dalam bentuk modal maupun pelatihan teknis, desa ini dapat lebih optimal dalam mengembangkan sektor peternakan yang berpotensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia menambahkan, sebagian besar warga Desa Pucak hanya menjadikan beternak sebagai pekerjaan sampingan. Misalnya, warga yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) memanfaatkan beternak untuk menambah penghasilan.

" Hanya sedikit warga Desa Pucak yang menjadikan beternak sebagai mata pencaharian utama, dikarenakan tingginya biaya pakan ternak,"jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kendala utama dalam beternak adalah biaya operasional yang tinggi, terutama dalam penyediaan pakan berkualitas. Hal ini menyebabkan banyak warga lebih memilih pekerjaan lain sebagai sumber penghasilan utama.

Meski begitu, potensi peternakan di Desa Pucak sebenarnya cukup besar, terutama jika didukung oleh bantuan pemerintah atau pihak terkait dalam bentuk subsidi pakan atau pelatihan pengelolaan peternakan yang lebih efisien.

Diketahui, di Desa Pucak, pernah dilaksanakan program peternakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.

Program ini memberikan satu ekor sapi kepada setiap kelompok yang terdiri dari empat warga atau lebih untuk diternak dan dibudidayakan.

Harapan warga, dapat memelihara sapi tersebut hingga tumbuh besar dan berkembang biak, sehingga dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi mereka.

Namun, program ini tidak berjalan sesuai rencana karena kendala utama yang dihadapi adalah masalah pakan ternak. Ketersediaan pakan yang sulit didapat di wilayah Desa Pucak menjadi hambatan signifikan.

Banyak warga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pakan berkualitas di sekitar desa, sementara untuk membeli pakan dari luar daerah membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Kondisi ini menyebabkan banyak warga kesulitan memenuhi kebutuhan pakan sapi mereka, yang pada akhirnya berdampak pada keberlanjutan program tersebut.

Diharapkan ke depannya, pemerintah atau pihak terkait dapat memberikan solusi dalam bentuk bantuan atau subsidi pakan, serta pelatihan kepada warga mengenai pengelolaan pakan ternak yang lebih efisien dan berkelanjutan, agar program peternakan serupa dapat memberikan hasil yang lebih optimal bagi warga Desa Pucak.

Adapun dosen pendamping dalam kegiatan paraktek lapang perencanaan pembangunan peternakan yang terlibat adalah Prof. Dr. Ir. Sitti Nurani Sirajuddin, S.Pt., M.Si. dan Indrawirawan, S.Pt dan Mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin sebanyak 22 orang yang terdiri dari praktikan dan kakak asisten serta mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin. (INF)

BEBEK HIBRIDA, PEDAGING YANG DINANTI PASAR

Peluang pasar usaha bebek hibrida masih terbuka. (Foto: jagadtani.com)

Asal ada niat, siap kerja keras, dan tak gengsi dengan bau kandang, ternak unggas ini bisa menjadi pilihan para peternak pemula. Pelaku usahanya masih sedikit dan peluang pasarnya terbuka.

Pernah mendengar sebutan bebek hibrida? Mungkin sering. Bebek hibrida merupakan salah satu dari banyak jenis bebek pedaging yang diternakkan di Indonesia. Dengan cita rasa daging gurih dan empuk, bebek jenis ini juga mulai bertelur lebih awal dibandingkan bebek jenis lain.

Sesuai namanya, bebek hibrida dihasilkan melalui perkawinan silang antara bebek Peking pejantan dan bebek petelur jenis Khaki Campbell betina. Berbeda dengan bebek peking yang cenderung berwarna putih rata, persilangan pertama ini dapat menghasilkan anakan dengan tiga jenis warna, yaitu putih, hitam, dan cokelat.

Dari hasil peranakan pertama ini, dilakukan seleksi lanjutan dengan mengambil anakan berwarna putih. Selanjutnya, anakan berwarna putih dikawinkan kembali dengan bebek peking, hingga selanjutnya menghasilkan anakan yang berwarna putih rata.

Sejumlah keunggulan itu tampaknya yang menjadi sumber inspirasi bagi orang ingin membuka usaha ternak bebek. Terlebih, pelaku usaha ternak bebek pedaging tak sebanyak usaha ternak bebek petelur. Artinya, potensi pasar masih terbuka.

Melihat adanya potensi yang menjanjikan membuat pria asal Tangerang Selatan, Syaugi tertarik untuk terjun menjadi peternak bebek pedaging. Prinsip Syaugi, selama kebutuhan makan dari setiap masyarakat masih ada, maka peluang bisnis di sektor pertanian dan peternakan sangat menjanjikan.

Apalagi disaat banyaknya pengangguran saat ini, beternak bebek pedaging bisa menjadi salah satu jawaban untuk tetap meraih keuntungan. “Modal awal saya dulu sekitar Rp 60 juta, alhamdulillah sekarang sudah balik modal,” tuturnya.

Cepat Dipanen
Peternak lain yang menekuni usaha ternak bebek hibrida adalah Maharli di Kediri, Jawa Timur. Usaha yang ditekuni peternak ini sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Salah satu yang menginspirasi Maharli membuka usaha ternak bebek pedaging adalah karena peluang pasarnya besar.

Menurutnya, seiring waktu minat masyarakat atas bebek pedaging di pasaran terus meningkat. Saat ini produk olahan makanan dari bebek pedaging yang beragam juga mengalami peningkatan permintaan, seperti bebek panggang, bebek penyet, bebek goreng, dan olahan lainnya.

Selain dagingnya yang lebih empuk, berkat perpaduan dengan karakteristik bebek peking, bebek hibrida memiliki sejumlah keunggulan lain. Jika dibandingkan dengan bebek lokal, keunggulan bebek hibrida pedaging di antaranya memiliki masa panen lebih singkat dan pertumbuhan bobotnya cepat.

Baik Maharli maupun Syaugi, memilih jenis bebek hibrida sebagai ladang usahanya karena terbilang cukup cepat untuk dipanen. Maharli menuturkan, bebek jenis hibrida termasuk usaha yang cepat dalam mendapatkan keuntungan.

Mudah Perawatannya
Berbeda dengan Maharli yang tergolong peternak skala besar, Syaugi justru memilih skala sedang. Maklum, lokasi ternak milik Syaugi masih di dalam kota. Dengan ternak skala sedang, jumlah bebek tak lebih dari 5.000 ekor, bau yang ditimbulkan dari peternakan bebeknya tak terlalu mengganggu masyarakat sekitar. “Saya hanya fokus di pembesaran, hasilnya juga lumayan,” ujarnya.

Syaugi membeli bibit bebek hibrida dari produsen di Kediri. Setelah sampai di kandang peternakan maka dilanjutkan pemeliharaan untuk pembesaran. Ketika memasuki masa panen, peternak ini mendapatkan keuntungan yang lumayan, di mana saat ini harga bebek per kilogramnya masih stabil diharga Rp 25.000 di kadang. Ia tak perlu repot dalam hal pemasarannya, sebab banyak pengepul yang langsung datang ke kandang.

Syaugi dan Maharli sependapat, bahwa perawatan bebek hibrida terbilang mudah. Bebek hibrida memiliki ketahanan tubuh cukup kuat terhadap penyakit, sehingga jarang sekali ditemui bebek yang sakit ataupun harus bergantung pada jenis obat-obatan tertentu.

“Tapi kita juga harus tetap rutin menjaga kebersihan kandang dan ketersediaan pakan minumnya. Pakan bebek menjadi yang terpenting dalam tahap pembesaran ini, kurang pakan bisa rendah bobot ketika dipanen,” ujar Syaugi.

Sedangkan untuk mengurangi bau di kandang, ia menggunakan sekam dan secara rutin membalik tanah selama dua hari sekali. Sehingga menjaga kondisi tanah tetap kering dan membuat populasi bebek di kandang lebih nyaman.

Untuk penyemprotan disinfektan, dilakukan ketika DOD (bibit bebek) sebelum dimasukkan ke kandang. Lalu, dilanjutkan nanti ketika bebek sudah memasuki usia remaja ke dewasa selama dua minggu sekali.

Keunggulan Bebek Hibrida
Putra Perkasa Genetika, perusahaan yang berkiprah di industri peternakan dan pembibitan unggas sejak 1988, dalam situsnya menuliskan lima keunggulan daging bebek hibrida. Lima keunggulan ini menjadi salah satu parameter bahwa peluang pasar daging unggas yang satu ini memiliki prospek cerah.

Pertama, tekstur dagingnya lebih empuk. Berbeda dengan jenis bebek lainnya yang biasanya memiliki daging cenderung alot dan juga keras. Jika diperhatikan lebih jauh, tekstur daging hibrida memiliki kemiripan dengan ayam kampung. Banyak pedagang lebih memilih antara keduanya karena banyak disukai sebagian besar pembeli. Bahkan, peminat dari jenis ini telah tersebar mulai dari skala rumahan, warung pinggir jalan, hingga restoran mewah. Jadi, tidak heran jika permintaannya cenderung naik dari tahun ke tahun.

Kedua, rasanya lebih gurih. Daging bebek memiliki rasa lebih gurih dari daging ayam. Namun, beberapa orang justru tidak menyukai daging bebek karena beberapa alasan. Terlepas dari hal tersebut, secara umum daging bebek hibrida pedaging memiliki tekstur daging lebih gurih. Bahkan, cita rasanya memiliki kecocokan yang tinggi terhadap lidah masyarakat lokal.

Ketiga, rendah kolesterol. Hasil persilangan antara jenis peking dan lokal ini ternyata memiliki kandungan kolesterol rendah. Memang ada fakta, bahwa bebek memiliki kandungan kolesterol lebih tinggi dari ayam. Namun, berbeda dengan tipe hibrida yang kandungan kolesterolnya sangat rendah. Lemak dalam daging pun cenderung lebih rendah. Saat diolah, jenis bebek ini tidak ada gumpalan lemak yang terlihat.

Keempat, cocok untuk beragam olahan. Kebanyakan orang akan mengolahnya dengan cara digoreng dan bakar. Namun, banyak warung makan memberikan varian masakan berbeda. Hal tersebut karena tipe pedaging memiliki kemungkinan lebih banyak untuk dikreasikan. Beberapa warung makan menggunakannya sebagai bahan dasar rica-rica saus pedas. Ada juga yang menyediakan olahan dengan cara digoreng kemudian ditambahkan saus pedas manis.

Kelima, populer di kalangan peternak. Bebek hibrida pedaging saat ini populer di kalangan peternak. Permintaan pasarnya sangat tinggi dari waktu ke waktu. Melihat hal ini, tentu banyak peternak mulai tertarik untuk membudidayakannya. Pasarnya masih terbuka karena minimnya persaingan.

Dengan sejumlah keunggulan tersebut, maka bebek hibrida pedaging memiliki potensi yang menarik untuk menjadi ladang usaha bagi masyarakat. Jenis bebek ini juga bisa menjadi peluang bisnis, karena tingkat keuntungan yang cukup tinggi. Masa panennya bisa cukup 40 hari, asal pakan dan perwatannya bagus.

Dengan daya tahan yang lebih kuat dibandingkan ayam. Ternak bebek hibrida dinilai cocok dicoba bagi peternak pemula. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

INOVASI KEKINIAN PAKAN TERNAK KAMBING FAPET UNJA

Mengolah Batang Pisang Untuk Alternatif Hijauan
(Foto  : FAPET UNJA)


Tim pengabdian Fakultas Peternakan Universitas Jambi (UNJA) mengimplementasikan teknologi pakan inovatif berupa fermentasi batang pisang sebagai alternatif hijauan untuk ternak sapi, kegiatan ini berlangsung di Desa Kota Baru, Kecamatan Geragai, Tim kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini terdiri atas Prof. Dr. Ir. Adriani, Msi., Prof. Ir.Darlis, MS.c, Ph.D, Prof. Dr.Ir. M. Afdal, MS.c. Dr. Ir Mairizal, MP. Dan Jul Andayani, SPt. MP

Prof. Dr. Ir. Adriani, Msi Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam pengolahan pakan fermentasi dari batang pisang cavendis yang banyak tersedia didesa Kota Baru sebagai penganti hijauan pakan, sehingga peternak tidak lagi mencari rumput setiap hari. Kegiatan ini merupakan Upaya dari perguruan tinggi dalam melakukan transfer hasil-hasil penelitian yang sudah berhasil dilakukan dan diterapkan dimasyarakat.

“Mitra yang menjadi sasaran kegiatan adalah anggota kelompok tani Suka Maju, mitra kegiatan ini memiliki 82 ekor sapi dan 37 ekor kambing, disisi lain banyak tersedia limbah batang pisang cavendis yang belum dimanfaatkan, bahkan menjadi limbah yang mencemari lingkungan disekitar perkebunan,”ujar Prof. Adriani.

Prof. Adriani juga mengatakan peternak ruminansia (sapi dan kambing) sering kesulitan mendapatkan hijauan pakan karena lahan yang ada sudah menjadi perkebunan kelapa sawit dan pertanian.

“Para petani belum memanfaatkan limbah batang pisang cavendis untuk ternak ruminansia, padahal banyak tersedia dilokasi kegiatan. Potensi batang pisang cavendis di desa Kota Baru lebih dari 10 ha, kondisi ini menghasilkan batang pisang 555-666 ton permusim atau lebih kurang 8 bulan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dilakukan diskusi dan koordinasi dengan mitra dan disepakati usulan kegiatan berupa pelatihan fermentasi batang pisang sebagai pakan ternak ruminansia untuk sapi dan kambing,”ungkap Prof. Adriani.

Prof. Adriani menambahkan bahwa pendekatan yang digunakan pada kegiatan pengabdian ini adalah partycipatory rural approach (PRA) yaitu proses pendidikan dan tranfer ilmu pengetahuan melalui cara penyuluhan, pelatihan, praktek pembuatan batang pisang fermentasi dan pemberian batang fermentasi untuk ternak sapi.

“Kegiatan pengabdian dimulai dari koordinasi dengan kelompok tani untuk menyepakati teknis kegiatan, kegiatan penyuluhan dilakukan pada kelompok tani mengenai potensi limbah untuk pakan ternak, dan proses fermentasi batang pisang cavendis. Setelah kegiatan penyuluhan, dilanjutkan dengan praktek pembuatan batang pisang fermentasi. Komposisi pakan yang dibuat terdiri atas batang pisang cavendis yang sudah dicacah sebanyak 90% ditambah dengan dedak sebanyak 10%. sebagai aktivator untuk proses fermentasi digunakan EM4 1%,”tambah Prof. Adriani.

Prof. Adriani juga menceritakan proses persiapan pakan ini dimulai dengan batang pisang tercacah terlebih dahulu dan dilakukan dengan baik lalu dilakukan pengurangan kadar air dengan cara dipress menggunakan mesin press sampai kadar air sekitar 60%. Semua bahan dimasukan kedalam drum dengan cara dipadatkan. Setelah padat dilakukan penutupan dengan rapat untuk menjaga proses fermentasi secara anaerop. Semua bahan diaduk rata, kemudian dilakukan proses fermentasi salama 15-21 hari. Setelah itui pakan batang pisang fermentasi sudah bisa diberikan kepada sapi atau kambing yang sebelumnya diangin-anginkan terlebih dahulu.

“Keuntungan dari pakan fermentasi adalah mengandung bakteri menguraikan dalam pakan, sehingga ternak dapat mencerna makanan dengan lebih mudah dan efektif., membantu meningkatkan nilai nutrisi dalam pakan dan bisa disimpan dalam waktu lama yang bisa digunakan sebagai cadangan penganti hijauan,”kata Prof. Adriani.

Kegiatan pengabdian masyarakat di kelompok tani Suka Maju berlangsung sukses, dengan partisipasi aktif dari peserta dalam penyuluhan, praktik, dan pemberian pakan fermentasi kepada ternak mereka. (INF).

DINAS PETERNAKAN PROVINSI ACEH GELAR AKSI PENCEGAHAN BRUCELLOSIS DI BERBAGAI DAERAH

Vaksinasi Brucellosis Pada Ternak Untuk Mencegah Penularan
(Sumber : Istimewa)


Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh melalui Dinas Peternakan mengambil langkah cepat dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit zoonosis Brucellosis dengan menurunkan tim khusus ke berbagai kabupaten/kota. Tindakan ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Penjabat (Pj) Gubernur Aceh untuk memantau serta memeriksa kesehatan ternak guna mencegah penyebaran penyakit berbahaya ini yang dapat mengancam kesejahteraan ekonomi peternak.

Kepala Dinas Peternakan Aceh, Zalsufran, menyatakan bahwa tim telah disebar ke berbagai wilayah, termasuk Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan, dan beberapa kabupaten lainnya. Menurut Zalsufran, pengalaman dari penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sebelumnya menjadi motivasi utama untuk mencegah Brucellosis sejak dini. Walaupun Aceh tercatat sebagai wilayah yang tercepat dalam mengatasi PMK, kerugian yang diderita para peternak masih sangat besar. Oleh karena itu, penanganan Brucellosis, yang juga berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan, perlu dilakukan dengan lebih serius.

"Dari total populasi sapi dan kerbau di Aceh yang mencapai lebih dari 560 ribu ekor, sampel darah akan diambil dari 4.376 ternak yang tersebar di 21 kabupaten/kota," jelas Zalsufran. Ia juga menambahkan bahwa langkah preventif, seperti sanitasi kandang, vaksinasi, dan pemisahan ternak yang terinfeksi, sangat diperlukan untuk menekan potensi penyebaran.

Tim Dinas Peternakan juga menyarankan para peternak untuk secara aktif memeriksa kesehatan ternak mereka, terutama saat mendatangkan ternak baru. Pemeriksaan di laboratorium sebelum ternak tersebut digabungkan dengan ternak lain di kandang menjadi langkah yang sangat penting.

Jika ditemukan kasus positif Brucellosis, pemotongan bersyarat akan dilakukan dengan pengawasan ketat. Hal ini guna memastikan penyakit tidak menyebar lebih luas dan ternak yang terinfeksi dapat ditangani dengan cepat.

Sari, Sub Koordinator Pengawasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan Aceh, menjelaskan bahwa Brucellosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Brucella dan dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Penyakit ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi peternak karena dapat menimbulkan kemandulan pada ternak, keguguran, penurunan produksi susu, dan bahkan kematian.

Untuk mencegah hal ini, pemerintah Aceh menjadikan Simeulue dan Sabang sebagai contoh daerah yang berhasil bebas dari Brucellosis. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keberlanjutan kesehatan hewan di seluruh wilayah Aceh, sekaligus memastikan perekonomian peternak tetap stabil.

Langkah konkret yang diambil oleh Dinas Peternakan Aceh termasuk pengambilan sampel darah dan pemberian vitamin pada ternak di berbagai desa, seperti yang dilakukan pada ternak milik Ridwan di Gampong Latong dan Azhari di Gampong Alue Seupeung. Sampel darah tersebut akan diuji di laboratorium guna memastikan tidak ada penyebaran Brucellosis.

Selama lima hari ke depan, tim lapangan akan terus melakukan pemeriksaan menyeluruh di berbagai desa untuk memastikan seluruh ternak di Aceh tetap dalam kondisi sehat.

Intinya, pemerintah Aceh berkomitmen untuk menjaga kesehatan ternak dan melindungi peternak dari ancaman penyakit zoonosis yang dapat merugikan perekonomian lokal. Dengan langkah cepat dan terkoordinasi, Aceh berharap dapat mengendalikan penyebaran Brucellosis dan menjaga kesejahteraan para peternak di wilayah tersebut. (INF)

 


ASOHI SELENGGARAKAN SEMINAR AMR

Seminar AMR yang digelar ASOHI di Menara 165. (Foto: Dok. Infovet)

"Rencana Kebijakan Pemerintah Terkait Penggunaan Antimikroba di Industri Peternakan" menjadi tema dalam seminar antimicrobial resistance (AMR) yang diselenggarakan Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) di Menara 165, Jakarta, Selasa (22/10/2024).

"Hari ini kita dapat berkumpul mengikut seminar Rencana Kebijakan Pemerintah Terkait Penggunaan Antimikroba di Industri Peternakan. Kita lihat obat hewan terutama antimikroba cukup banyak digunakan di peternakan terkait hasil produksi ternak untuk konsumsi, dengan harapan pelaku obat hewan bisa menyediakan produk antimikroba yang aman digunakan dan mengikuti aturan yang berlaku sehingga saat produk peternakan dikonsumsi manusia itu aman," ujar Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari.

Penggunaan antimikroba yang berlebihan dan tanpa pengawasan dinilai telah memicu risiko munculnya AMR. Resistansi antimikroba pun sudah menjadi isu global dan dibicarakan di berbagai belahan dunia, karena dampak yang ditimbulkannya sangat besar.

"Banyak kasus yang terjadi, salah satunya ketika pasien sudah minum antibiotik berkali-kali lipat atau dengan mengonsumsi obat keras namun masih tidak sembuh, bahkan berakhir kematian," jelasnya.

Begitupun di industri peternakan, dahulu sebelum Indonesia menerapkan pelarangan penggunaan antibiotik sebagai growth promoter (AGP) masih bebas digunakan dan cenderung berlebihan dalam penggunaannya, bahkan tanpa resep. Hal tersebut menjadi perhatian pemerintah agar penggunaan antibiotik tidak lagi digunakan secara bebas di peternakan, namun harus dengan resep dokter hewan.

"Kalau dahulu antibiotik masih bebas digunakan sebagai AGP atau pemacu pertumbuhan. Namun dengan dijalankannya program pengendalian AMR ini pemerintah mulai mengkaji pelarangan penggunaan antibiotik sebagai AGP pada 2018, obat hewan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dilarang digunakan di peternakan yang produknya dikonsumsi oleh manusia," ungkap Irawati.

Walau dalam pelaksanaanya belum berjalan dengan baik, ASOHI bersama para stakeholder dan asosiasi terkait pun menginisiasi pertemuan dengan pemerintah agar implementasi dari aturan AMR berjalan sesuai yang diharapkan. Hingga pada akhirnya terbit keputusan pemerintah tentang petunjuk penggunaan obat hewan dalam pakan dan peternakan melalui resep dokter hewan untuk kebutuhan terapi.

"Alhamdulillah sampai sekarang walau masih perlu perbaikan kita sudah berupaya menjalankan sesuai aturan yang berlaku. Semoga dari seminar ini kita dapat menambah wawasan untuk menghasilkan produk ternak yang aman dan sehat dikonsumsi manusia sehingga terhindar dari AMR," pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, turut menghadirkan pembicara di antaranya Guru Besar Mikrobiologi dan Bioteknologi Farmasi Fakultas Farmasi UI Prof Amarila Malik, Senior Director of Government Engagement Fleming Fund Country Grant to Indonesia Dr Emil Agustiono, dan Ketua Tim Kerja Pengawasan Peredaran Obat Hewan Kelompok Substansi Pengawasan Obat Hewan Ditkeswan Drh Mario Lintang Pratama mewakili Direktur Kesehatan Hewan.

Adanya pelarangan beberapa penggunaan antimikroba sudah melalui beberapa tinjauan. Dijelaskan Mario Lintang bahwa tinjauan dari WHO salah satunya untuk golongan flouroquinolon diimbau untuk tidak digunakan karena berpotensi meningkatkan AMR.

"Tinjauan dari WHO ada beberapa kriteria sampai akhirnya diputuskan imbauan untuk tidak menggunakan golongan flouroquinolon, sebenarnya  sebagai bentuk peringatan. Mengikuti kesuksesan pelarangan colistin, pelarangan ini menjadi tinjauan yang sangat penting," katanya.

Kendati demikian, ada beberapa produk alternatif yang bisa digunakan. Seperti saat AGP dilarang, ada beberapa produk seperti accidifier, probiotik, dan lain sebagainya yang bisa digunakan.

"Walau belum sama seperti saat AGP digunakan, penggunaan alternatif dan perbaikan dalam pemeliharaan salah satunya dengan biosekuriti mampu memberikan hasil yang baik," tukasnya. (RBS)

FAPET UNJA GELAR SEMINAR NASIONAL

Foto Bersama Peserta Seminar Nasional
(Sumber : unja.ac.id)


Fakultas Peternakan (FAPET) Universitas Jambi (UNJA) gelar Seminar Nasional VI yang merupakan hasil-hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat bertema “Implementasi IPTEK Peternakan, Perikanan dan Veteriner dalam Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional”,  secara luring di Yello Hotel Jambi dan daring melalui zoom meeting pada Rabu, (16/10/2024).

Kegiatan dibuka oleh PJS Gubernur Jambi, Dr. H. Sudirman, S.H., M.H, dan dihadiri oleh Rektor UNJA, Helmi, Dekan Fakultas Peternakan UNJA, Prof. Dr. Ir. Agus Budiansyah, M.S., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Asraf, S.Pt., M.Si, serta pejabat dari dinas terkait tingkat kabupaten / kota.

Acara Ini menghadirkan 4 Pemateri, yaitu Dr. Ir. Audy Joinaldy S.Pt., M.Sc., M.M., M.IP., IPM, ASEAN.Eng. merupakan Wakil Gubernur Sumatera Barat, Herpandi, S. Pi., M.Si., Ph. D. dari Universitas Sriwijaya, drh. Meilina Waty Aritonang, M. Pt. dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan Provinsi Jambi, dan Dr. Bayu Rosadi, S.Pt., M.Si. dari Universitas Jambi.

Dalam sambutannya PJS. Gubernur Jambi, Dr. H. Sudirman, S.H,M.H, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan untuk mendiskusikan ini hasil penelitian yang telah dilakukan.

“Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mendiskusikan hasil penelitian yang telah dilakukan, Besar harapan saya agar penelitian yang dilakukan FAPET UNJA lebih implementatif untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas serta kesediaan ternak di Provinsi Jambi termasuk menghadirkan solusi atas permasalahan yang dihadapi peternakan dan peternak di Provinsi Jambi.” ujar Sudirman.

Rektor UNJA, Helmi mengatakan bahwa tema dalam Seminar ini menjadi salah satu program strategis untuk pemerintahan tahun 2024 -2029 dan UNJA sudah siap menghilirisasikan hasil penelitian.

“Tema dalam kegiatan ini menjadi salah satu program strategis untuk pemerintahan tahun 2024 -2029. Seperti yang disampaikan oleh Pak Pjs Gubernur Jambi tadi bahwa memang dibutuhkan peningkatan hasil -hasil penelitian dari Universitas Jambi untuk mendukung ketahanan pangan di Provinsi Jambi dan Nasional, UNJA sudah siap menghilirisasikan hasil penelitian, produksi hasil penelitian sudah didiskusikan, mudah-mudahan kedepannya kita dapat berkolaborasi untuk implementasi hasil penelitian dosen UNJA dan tahun ini dapat kita tindak lanjuti.” tutur Helmi.

Acara berlanjut dengan penyerahan cinderamata oleh pihak FAPET UNJA kepada narasumber, Penandatanganan MoA dan IA oleh setiap Kepala Dinas serta sesi foto bersama. Setelah sesi pembukaan, dilanjutkan dengan pemaparan materi dari masing-masing narasumber dan diakhiri sesi tanya jawab. (INF)

WORKSHOP, SOSIALISASI, DAN PENDAMPINGAN SERTIFIKASI HALAL RPA OLEH DOSEN POLTEK NEGERI JEMBER

Foto Bersama Para Peserta 
(Sumber : Istimewa)


Bagi umat muslim, makanan halal dan toyib menjadi aspek penting. Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama menetapkan kewajiban sertifikasi halal mulai 18 Oktober 2024. Hal tersebut sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 33 tahun 2024 tentang Jaminan Produk Halal.

Sertifikasi tersebut wajib bagi produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia. Kewajiban sertifikasi berlaku pada produk makanan dan minuman, bahan baku, bahan tambahan pangan dan bahan penolong untuk produk makanan dan minuman, serta produk hasil sembelihan dan jasa penyembelihan.

Terkait dengan hal tersebut, dosen Jurusan Peternakan Politeknik Negeri Jember mengadakan workshop sosialisasi dan pendampingan sertifikasi halal bagi RPA. Kegiatan ini merupakan pendanaan dari program INOVOKASI pendanaan tahun 2024 Program Penerapan Teknologi Tepat Guna.

Kegiatan yang digagas oleh tim yang diketuai oleh Dr. Rosa Tri Hertamawati yang beranggotakan Anang Febri Prasetyo, Shokhirul Imam, Agus Hadi Prayitno, Wahyu Suryaningsih, dan Reikha Rahmasari ini meliputi kegiatan workshop manajemen rumah potong ayam menghasilkan karkas Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) untuk prosesing karkas, serta penyembelihan Halal.

Ketua Program Dr. Rosa Tri Hertamawati dalam sambutannya menyampaikan kegiatan tersebut bertujuan untuk membantu para pelaku usaha dibidang kuliner untuk mendapatkan sertifikasi halal.  “kegiatan ini merupakan kegiatan awal untuk menuju sertifikasi halal RPA. Hal ini dilakukan karena ada perintah untuk sertifikasi halal bagi produk-produk hewani, rumah makan yang menggunakan produk sembelihan juga akan mencari sertifikasi halal. Jika produk tidak tersertifikasi maka akan mendapat sanksi tertulis hingga penarikan produk dari peredaran," jelasnya. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari Kepala Bagian QA-QC RPA Palosari Jombang Ainur Rochman yang menyampaikan tentang manajemen rumah potong ayam menghasilkan karkas Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedure (SSOP) untuk prosesing karkas. Materi dimulai dengan memaparkan kondisi RPA Palosari saat pertama kali beliau bekerja.

“Manajemen RPA sangat buruk, pekerja tidak standar, seperti ada yang pakai kaos, ada yang pakai kemeja, tidak berpakaian, tidak menggunakan masker, dan hal lainnya”, katanya. Penjelasan dilanjutkan dengan bagaimana beliau berdiskusi dengan pemilik untuk melakukan perbaikan.

“Diperlukan komitmen dari semua pihak, manajemen yang baik: penerapan GMP dan SSOP, adanya Quality Assurance dan Quality Control pada semua aspek dari hulu hingga hilir, sampai pelayanan terhadap konsumenpun sangat diperhatikan untuk mengembangkan dan mempertahankan usaha RPA," pesan Aan.

Materi selanjutnya adalah penjelasan tentang pentingnya setifikasi Halal pada produk hewan, termasuk RPA. Materi mengenai halal disampaikan oleh Kasang Heru Cokro F dari Madani Halal Center. Kasang menyampaikan landasan kenapa perlunya sertifikasi halal, halal diihat dari zat, proses pengolahan dan proses perolehannya.

“Sertifikasi halal ada dua jenis, yaitu Reguler bagi usaha skala besar, menengah, kecil dan mikro yang menggunakan bahan-bahan sembelihan dan Self declare untuk usaha skala mikro dan kecil,” terang kasang.

Untuk mendapatkan sertifikat halal, Kasang berpesan agar pemilik usaha menerima masukan dan saran-saran dari pendamping. Syarat wajib yang harus dimiliki oleh RPA adalah memiliki Juru sembelih halal (Juleha), dokter hewan dan penyelia halal, melampirkan semua informasi mengenai bahan baku yang digunakan. Pengajuan sertifikasi halal dapat dilakukan melalui SiHalal. 

Kegiatan workshop ini disambut baik oleh peserta workshop yang merupakan pemilik usaha dan pekerja dari Rumah Potong Ayam Semar Mesem dan Rumah Potong Unggas itik Nusa Jaya Abadi. Antusias dari peserta ditandai dengan munculnya beberapa pertanyaan terkait bagaimana tahap awal memperbaiki manajemen RPA dan memperoleh sertifikat halal.

Selanjutnya diakhir kegiatan, tim pengabdian menyerahkan sertifikat kepada narasumber dan foto bersama dengan semua peserta. Adanya kegiatan workshop ini diharapkan menjadi langkah awal bagi perolehan sertifikat halal bagi pemilik usaha RPA yang ada di Jember. (INF)


ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer