-->

PEMBERIAN PENGHARGAAN UNTUK KELOMPOK PETERNAK SAPI BX

Serah terima penghargaan sapi BX (Foto: Ist)

“Terima kasih ISPI atas penghargaan yang kami peroleh.” Ucapan rasa syukur dan senang ini diungkapkan  perwakilan Kelompok Cadas Sari, salah satu penerima penghargaan sapi BX. Serah terima penghargaan ini diselenggarakan di Di Desa Cipongkor KBB, Rabu (23/6/2020). 

Acara ini merupakan buah hasil dari pendampingan yang dilakukan Program Manager Unit (PMU) provinsi Jawa Barat dan satgas di tingkat kabupaten, serta anggota PC ISPI Jabar-1 yang ditunjuk oleh PB ISPI untuk melakukan pendampingan peternak pada Desember 2019 lalu.

Pendampingan ini fokus terhadap tiga kelompok diantaranya Kelompok Mekarmulya KBB, Cadas Sari Subang dan Mekarjaya Sumedang secara intensif selama 6 bulan.

“Penghargaan 1 ekor pedet betina, prestasinya mencapai 80% BH bunting sapi BX-nya. Satu kelompok lainnya dari KBB kelompok Mekar Mulya 73,3% betina BX yang bunting juga mendapatkan 1 ekor pedet betina,” kata Rochadi Tawaf, selaku pembimbing dari PMU dan penggiat Improvement Program Productive Female Cattle (I2PFC).

Dalam keterangan resminya, PMU menjalin kerjasama dengan Balai Pelatihan DKPP Cikole Lembang dan Fapet Unpad untuk melatih 24 anggota kelompok Peternak pada tanggal 4 dan 5 Februari 2020. Materi pokok antara lain mengenai biotek pakan, manajemen reproduksi, manajemen pengelolaan usaha, pengelolaan limbah dan organisasi kelompok. (NDV)

HALALBIHALAL FORMAT: INDUSTRI PETERNAKAN HADAPI ERA NEW NORMAL

Peternakan ayam broiler. (Foto: Infovet/Ridwan)

Selasa (23/6/2020), Forum Media Peternakan (FORMAT) sukses menyelenggarakan Halalbihalal Asosiasi Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dilaksanakan secara virtual dengan mengusung tema “Persiapan Masyarakat Peternakan dan Kesehatan Hewan Menghadapi Era New Normal”.

Kegiatan yang dimulai pukul 09:30 WIB ini dihadiri Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, yang menjadi pembuka acara. Dalam sambutannya, Ketut menyampaikan bahwa di era kenormalan baru ini, pemerintah terus berupaya membantu para peternak agar tidak mendapat kesulitan.

“Karena masih banyak kendala diantaranya biaya produksi yang masih tinggi, tetapi kami akan terus bekerja melayani peternak,” kata Ketut.

Ia pun mengimbau, diperlukan sikap bekerja yang sepenuh hati khususnya dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini. “Untuk menghadapi pandemi diperlukan sikap bekerja sepenuh hati untuk menjawab tantangan di industri peternakan,” tegasnya.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B. Utomo. Menurutnya, dalam menyikapi pandemi di era kenormalan baru diperlukan perubahan pola produksi dan pemasaran melalui online. Dalam arti penggunaan teknologi harus lebih ditingkatkan lagi.

Hal tersebut juga ditekankan oleh Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), Herry Dermawan dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Eddy Wahyudin. Keduanya menyatakan diperlukannya penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam bisnis perunggasan.

“Pandemi ini adalah transisi pengelolaan, pengelolaan secara manual menjadi digital dan pengelolaan secara tradisional ke teknologi,” kata Eddy.

Sebab di saat COVID-19 mewabah, kebutuhan akan protein hewani yang mudah diperoleh yakni daging dan telur ayam sangat diperlukan masyarakat untuk meningkatkan sistem imun tubuh. Selain itu, bisnis ini pun telah mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. (INF)

INI SYARAT KEHALALAN PRODUK HASIL UNGGAS

Ilustrasi daging ayam. (Foto: Ist)

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim telah mewajibkan sertifikasi halal atas produk pangan yang beredar di masyarakat, sesuai UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH). Berdasar hal itu, maka produk hasil unggas baik daging, telur, beserta olahannya yang beredar di masyarakat harus memiliki sertifikat halal sesuai ketentuan yang berlaku.

Untuk produk unggas tersebut, para ulama bahkan juga telah menegaskan bahwa meski ternak unggas adalah halal (lidzaatihi), namun produk (daging) unggas tidak serta-merta identik dengan produk yang halal untuk dikonsumsi. Hal itu dijelaskan oleh Direktur Halal Science Center (HRC) Fakultas Peternakan UGM Yogyakarta, Nanung Danar Dono PhD, dalam Indonesia Livestock Club (ILC) yang mengambil tema “Menjaga Kehalalan Produk Hasil Unggas” pada Sabtu (20/6/2020). 

Acara diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Peternakan Indonesia (BPPI) bekerja sama dengan Indonesia Livestock Alliance (ILA), Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan UGM dan Fakultas Industri Halal Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, melalui daring. Diskusi menghadirkan narasumber penting lain, yakni tenaga ahli LPPOM MUI, Dr Henny Nuraeni MSi dan Dosen Fakultas Industri Halal UNU Yogyakarta, Meita Puspa Dewi SPt MSc.

Nanung menjelaskan, daging ayam bisa menjadi haram jika tidak disembelih secara syar’i. “Daging unggas yang tidak disembelih secara syar’i hukumnya haram, begitu pula jika tercemar bahan haram lainnya ketika diolah jadi masakan,” katanya.

Lebih jauh Staf Pengajar Fakultas Peternakan UGM tersebut menguraikan tentang ayam yang disembelih tidak secara syar'i, antara lain pada saat disembelih unggas sudah dalam kondisi mati, atau pada saat disembelih tidak dibacakan Basmallah, kemudian penyembelihan menggunakan pisau yang tidak tajam, penyembelihan terlalu sempit sehingga tidak memutus tiga saluran di leher bagian depan, unggas belum mati namun tergesa-gesa ditenggelamkan di air panas dan dimasukkan di tong pencabutan bulu, atau unggas mati bukan karena disembelih namun karena kesakitan yang luar biasa. (IN)

MINIMALKAN STRES TERNAK SAAT TRANSPORTASI, TERAPKAN PRINSIP KESRAWAN

Untuk meminimalkan stres pada saat transportasi ternak, maka sangat dibutuhkan penerapan kesejahteraan hewan (Kesrawan/animal welfare). (Foto: Ist)

Proses transportasi ternak menjadi aktivitas yang rentan terhadap tekanan atau stres pada ternak yang diangkut. Faktor-faktor yang berkontribusi pada stres ternak saat transportasi diantaranaya yakni usia ternak, jenis kelamin, jenis ternak, status fisiologi dan adanya pengalaman sebelumnya.

“Stres pada ternak selama transportasi terbagi dalam dua kategori, yakni stres fisiologi dan stres fisik. Stres fisiologi misalnya kekangan, handling atau penanganan dan lingkungan baru. Sedangkan stres fisik antara lain lapar, haus, lelah, cedera dan panas,” kata Muhamad Baihaqi selaku pakar bidang produksi ternak ruminansia kecil, Fakultas Peternakan IPB, dalam Online Training bertema “Logistik Ruminansia Kecil (Domba/Kambing)” pada 19-20 Juni 2020.

Acara yang diselenggarakan oleh Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) dan Fakultas Peternakan IPB tersebut juga menghadirkan narasumber penting lain, yakni Business Owner Mitra Tani Farm, Budi Susilo.

Untuk meminimalkan stres pada saat transportasi ternak, maka sangat dibutuhkan penerapan kesejahteraan hewan (Kesrawan/animal welfare). Baihaqi menjelaskan, yang dimaksud dengan Kesrawan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Ia menandaskan, prinsip kebebasan hewan pada pengangkutan atau transportasi dilaksanakan sesuai dengan regulasi pemerintah, yakni PP No. 95/2012, harus dilakukan dengan cara yang tidak menyakiti, melukai dan/atau mengakibatkan stres, menggunakan alat angkut yang layak, bersih, sesuai dengan kapasitas alat angkut. Kemudian tidak menyakiti, tidak melukai, dan/atau tidak mengakibatkan stres, serta memberikan pakan dan minum yang sesuai dengan kebutuhan fisiologis ternak. (IN)

SILATURAHMI GOPAN DENGAN STAKEHOLDER PERUNGGASAN



Tepat pada hari Kamis, 18 Juni 2020 Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) menggelar silaturahmi melalui daring zoom dengan para stakeholder di dunia perunggasan. Setya Winarno selaku ketua panitia membuka acara dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para peserta. Ia mengutarakan tujuannya bahwa acara tersebut digagas selain untuk menjalin silaturahmi juga sebagai wadah “curhat” bagi para stakeholder dalam mempersiapkan perunggasan menghadapi new normal.


Hal senada juga diungkapkan oleh Herry Dermawan ketua umum GOPAN, ia mengatakan bahwa sektor perunggasan termasuk sektor yang terdampak oleh wabah covid-19. Selama ini dirinya mengaku banyak diajak rapat dan diskusi untuk menormalkan kondisi.

“kalau menurut saya, sebaiknya sektor pakan yang harus diberesin duluan, terutama stok jagung. menurunkan harga jagung gimana kalau enggak dengan impor?. Kalau impor kan katanya petani jagung rugi, BPS diminta survey petani jagung, ruginya berapa?, kita harus cari selanya supaya petani engak rugi, peternak juga untung. Saya juga sudah 20 hari setelah melaporkan belum ada follow up dari BPS, padahal ini penting lho,” tukas Herry.

Tanggapan juga datang dari Drh Syamsul Maarif, Direktur Kesmavet Ditjen PKH. Menurut dia perunggasan dalam negeri harus kompak karena musuh sebenarnya berasal dari luar.

“Negara yang mau memasukkan produk ke indonesia sudah ada antre ada 14 negara, kita harus menata perunggasan kita. Masalahnya persyaratan dalam negeri sama dengan persyaratan internasional. Kalau kita mempersyaratkan suatu negara kita juga harus ikut standar yang ditetapkan untuk negara lain. Oleh karenanya peternak mandiri juga harus maju,” tutur Syamsul.

Ketua Umum GPMT Desianto Budi Utomo juga tidak mau ketinggalan untuk mengutarakan unek-uneknya. Desianto bilang dalam kondisi tejrepit seperti ini (Covid-19), isu gotong royong muncul, seharusnya stakeholder perunggasan kompak dan solid satu suara melawan importasi daging dan produk dari negara lain sejak dulu.

Menyangkut pakan, Desianto berkata bahwa 91 pabrik anggota GPMT 90% menghasilkan pakan unggas, sehingga bila importasi produk dari negara lain terjadi, sektor pakan juga pasti akan merugi. ia mengamini Herry yang mengatakan kalau harga jagung bisa ditekan di kisaran harga 2 – 4 ribu, dan waktu impornya tepat (tidak saat panen raya), maka bisa terjadi win win solution, petani untung, peternak untuk, produsen pakan juga untung.

“Perlu diketahui juga bahwa raw material pakan ada dua yakni lokal dan impor, produk lokal harusnya lebih banyak dipakai, saya setuju. Yang impor misalnya Soy bean meal itu dipakai kira - kira 4,5 – 5 juta pertahun. Enggak ada pilihan lain, memang kedelai kita produksinya saja kurang, jadi ya kita (GPMT) hanya bisa mengontrol yang hanya bisa dikontrol saja,” tutur Desianto.

Dalam diskusi juga membahas topik yang menarik misalnya saja kementan yang menantang produsen pakan untum memproduksi pakan generik kepada GPMT.

“Bisa diterima nggak performa nya?,kita bisa saja bikin itu, sekarang peternak mau apa tidak pakai itu?. Seharusnya patokan peternak juga sekarang jangan best perofrmance tapi best profit, asalkan feed cost bisa ditekan, panen mundur 1 – 2 hari tapi terjadi minimze cost production, kan untung juga. Kalau perlu dilakukan penghematan juga di sektor lain,”kata Desianto.

Sementara itu menurut Irawati Fari, Ketua Umum ASOHI. Para stakeholder juga harus satu interpretasi terkait wacana new normal, agar semuanya dapat beradaptasi dengan kebiasaan baru.

“Intinya kita enggak lepas dari manusia yang bekerja, intinya bagaimana melakukan perubahan perilaku. protein ini hewani penting supaya imunitas makin kuat dan badan tetap sehat, kalau kita rukun dan bisa berkampanye dalam menyuarakan konsumsi protein hewani ini akan lebih baik lagi. Terlebih lagi new normal gizi harus seimbang dan tercukupi,” tutur Irawati.

Ia juga meminta maaf atas keterbatasan tim teknis kesehatan hewan dari perusahaan obat hewan akibat kesulitan menjangkau peternak karena wabah covid-19. Tidak lupa ia mengingatkan para peternak bahwa nanti per 1 Juli 2020, antibiotik dengan bahan aktif colistin dilarang untuk digunakan di peternakan.

Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) melalui Ketua Umumnya Tommy Koencoro mengatakan bahwa bisnis RPA juga terkena dampak dari wabah Covid-19. ARPHUIN mengestimasi bahwa setiap tahun mereka menyerap 20% produksi ayam nasional.

Kini yang menjadi masalah adalah dari 5 tahun yang lalu sampai sekarang jumlah anggota mereka tidak megalami kenaikan dengan angka yang signifikan.

“Padahal syaratnya jadi anggota cuma punya NKV, tapi enggak ada yang mau daftar. Ketika harga murah masih bisa belanja ayam, broker nimbun ayam. Sekarang broker enggak kuat beli, masuk ke kita mahal juga, ya rugilah kita kalau kita jual terlalu mahal, masyarakat sedang cekak kantongnya,” tukas Tommy.

Lebih lanjut menurut Tommy, terkadang peternak salah paham sewaktu harga ayam hidup tinggi. Padahal ARPHUIN bisa menjadi buffer pemerintah. Ketika harga karkas naik yang misalnya di pasar dijual dengan harga sampai dengan Rp.40 ribu, ARPHUIN tetap menjual karkas dengan harga Rp. 28 -32 ribu saja.

Tommy berharap wabah ini segera berakhir dan terjadi penambahan jumlah anggota ARHPHUIN kedepannya.

“Omzet turun 40% karena Covid-19, RPA rugi. Kita harusnya bisa melakukan ekspor, ke Cina, Afrika, Arab, dll. masalahnya adalah bahan baku kita lebih mahal. Contoh, HPP kita sekitar Rp. 17 – 18 ribu, tetangga kita di Thailand, mereka HPP ayam di kandang Rp. 14 ribu-an dan karkas mereka laku dijual di angka 1,6 USD perkilogram. Posisi kita berani jual di USD 1,9-2 perkilogram, kemarin saya negosiasi dengan beberapa negara. Ini karena cost di hulu tinggi jadi enggak bisa ekspor juga, kalo harga cukup rendah, kita bisa bersaing di internasional,” kata Tommy.

Permasalahan bibit juga hal yang wajib dibenahi. Menurut Achmad Dawami Ketua Umum GPPU, bibit juga mempengaruhi produksi karena ketersediaannya. Jika bibit dan pakan langka, mau budidaya apa kita?, oleh karenanya Dawami concern dengan hal ini.

Dawami berujar bahwa 70% protein hewani Indonesia berasal dari unggas. Menurut catatannya, frozen food dari sektor perunggasan mengalami kenaikan omzet sejak Covid-19, artinya terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat.

“Lihat saja sekarang perkembangan meat shop menjamur. ini pasca Covid-19 enggak ga akan tertinggalkan karena nanti bisa jadi habit. Memotong mata rantai si produk supaya lebih dekat ke end user. Kalau kita baca UU pangan, ini ngeri lho, ketergantungan impor mempengaruhi ketahanan nasional, makanya kita harus bisa memotong rantai distribusi kita . Ketika harga turun, jualan ayam langsung door to door itu bagus,” kata Dawami.

Ia juga mengingatkan bahwasanya kaum milenial juga mempengaruhi pola hidup dan konsumsi.35-36% angkatan kerja kita adalah kamu milinenial, mereka berbeda dengan orang – orang  kalangan tua (old era), mereka sudah terbiasa mengonsumsi frozen food.

Sementara itu menurut Ketua Umum PINSAR yang juga anggota DPR – RI, Singgih Januratmoko yang mendapat bocoran dari BAPPENAS dan Kemenko Perekonomian bahwa ekonomi Indonesia akan berangsur normal tapi paling cepat dalam tempo 4 tahun. (CR)

TATA CARA PENYEMBELIHAN TERNAK KURBAN DI MASA PANDEMI, REKOMENDASI FAPET UGM

Ada kententuan umum dan khusus dalam penyembelihan ternak kurban di masa pandemi (Foto: Ist)


Dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan ibadah kurban pada masa pandemi COVID-19, Pusat Kajian Halal Fakultas Peternakan (Fapet) UGM menyusun rekomendasi penyembelihan ternak kurban di era COVID-19 dari perspektif ilmu peternakan dan kesehatan umum.

Ir Nanung Danar Dono SPt, MP, PhD, IPM, ASEAN Eng selaku Direktur Pusat Kajian Halal  menyampaikan, rekomendasi ini perlu disusun untuk memberikan acuan bagi para pengurus takmir atau panitia kurban agar ibadah kurban dapat dilaksanakan sesuai kaidah syariat Islam dengan tetap mengikuti protokol kesehatan. Dengan demikian, terhindar dari kemungkinan tertular COVID-19 di tengah kerumunan masa dalam satu lokasi.
Selain itu, rekomendasi ini bertujuan melindungi panitia kurban dan warga masyarakat dari risiko tertular wabah penyakit berbahaya, serta tetap dapat melaksanakan ibadah kurban dengan sempurna sesuai rukun dan syarat ibadah berdasarkan syariat Islam.

Nanung menjelaskan, ada ketentuan umum dan khusus dalam penyembelihan hewan kurban di masa pandemi COVID-19.

Beberapa ketentuan umum yaitu: (1) Penyembelihan ternak kurban hanya dilaksanakan di wilayah yang diyakini aman menurut informasi resmi dari pemerintah. (2) Sebelum memutuskan akan menyelenggarakan penyembelihan ternak kurban di masjid, pengurus takmir hendaknya mengkaji dan mempertimbangkan dengan matang situasi dan kondisi terkini dengan memperhatikan fatwa ulama, ahli kesehatan (dokter), dan instruksi pemerintah. (3) Apabila diketahui di wilayah kecamatan setempat terdapat warga masyarakat yang positif menderita COVID-19, pengurus takmir masjid hendaknya tidak menyelenggarakan kegiatan penyembelihan ternak kurban.

Amanah yang telah dititipkan kepada pengurus takmir dapat disalurkan ke daerah lain yang lebih membutuhkan melalui lembaga resmi yang amanah, seperti: Badan Amal Zakat Nasional (Baznas), Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), Rumah Zakat (RZ), Dompet Duafa Republika, dan lain-lain. (4) Untuk meminimalkan risiko penularan COVID-19, proses penyembelihan sebaiknya dilaksanakan di rumah potong hewan (RPH) resmi milik pemerintah. (5) Apabila tidak memungkinkan disembelih di RPH dan diputuskan ternak akan disembelih di area masjid, hendaknya pengurus takmir/panitia kurban menyiapkan tim jagal (petugas penyembelih) yang memahami syarat sah penyembelihan ternak menurut ketentuan syariat Islam, amanah dengan tugasnya, dan konsisten mengikuti protokol kesehatan.

Adapun ketentuan khusus pelaksanaan kurban adalah pengurus takmir/panitia dapat membantu shohibul kurban menyediakan ternak kurban yang memenuhi syarat syari, yaitu umur kedewasaan hewan dan kesehatannya. 

Sebaiknya shohibul kurban menghindari membeli ternak kurban yang lemah, tidak lincah, terdapat lendir dan atau bercak darah di lubang-lubang di tubuhnya, dan tidak terinfeksi penyakit yang berbahaya, seperti: Anthrax, Aphthae epizooticae (penyakit mulut dan kuku), dll. Nanung menyarankan, ternak kurban dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan sebaiknya lebih diprioritaskan untuk dibeli.

Jika diyakini aman, pengurus takmir dapat melaksanakan keseluruhan tata cara penyembelihan ternak kurban dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama, Pengurus takmir menunjuk tim khusus yang bertugas menyiapkan, mengawasi, dan memastikan seluruh panitia kurban dalam keadaan sehat. Panitia dan warga yang sedang sakit tidak diperkenankan hadir di lokasi penyembelihan. Kedua, pengurus takmir membatasi jumlah panitia kurban. Ketiga, pengurus takmir mendisinfeksi lokasi dan peralatan yang akan digunakan.

Keempat, pengurus takmir menyediakan hand sanitizer, air, sabun, masker, pisau penyembelihan (telah terasah sangat tajam), lokasi penyembelihan, tali, plastik alas daging, kaus tangan plastik, dan sebagainya. Penggunaan face shield lebih disarankan. Kelima, seluruh panitia dan warga masyarakat yang terlibat diwajibkan mengikuti protokol kesehatan umum COVID-19 secara konsisten dan penuh kesadaran. Keenam, pemotongan bagian-bagian tubuh ternak serta penimbangan potongan-potongan kecil daging dan tulang dapat dilaksanakan di area masjid dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Dekan Fapet UGM, Prof Dr Ir Ali Agus, DAA, DEA, IPU, ASEAN. Eng berharap semoga rekomendasi ini membantu memperjelas tatacara penyembelihan hewan kurban di masa pandemi COVID-19, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah kurban secara tenang, tertib, dan nyaman, dengan tetap memperhatikan secara seksama dan disiplin protokol kesehatan sebagaimana yang dianjurkan oleh pemerintah. (Rilis/INF)












SEMINAR ONLINE II: PANDEMI VS BIOSEKURITI, PERLU DICERMATI PETERNAK UNGGAS

Seminar Pandemi vs Biosekuriti yang dihadiri oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi bidang peternakan. (Foto: Dok. Infovet)

PT Gallus Indonesia Utama melalui GITA Organizer dan Infovet kembali menyelenggarakan Seminar Online Kedua mengenai “Pandemi vs Biosekuriti pada Peternakan Unggas”. Seminar yang diselenggarakan Kamis (18/6/2020) diikuti oleh akademisi, pemerintah, swasta dan asosiasi peternakan.

Serupa dengan seminar pertamanya, kegiatan yang kedua kalinya ini kembali menghadirkan National Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu dan Poultry Technical Consultant, Baskoro Tri Caroko, serta dimoderatori langsung oleh Pemimpin Redaksi Majalah Infovet, Bambang Suharno.

Dalam sesi pertama, Alfred Kompudu menyampaikan mengenai implementasi biosekuriti tiga zona di usaha peternakan unggas. Dalam paparannya, ia memaknai biosekuriti sebagai tindakan atau pengamanan hidup yang perlu dicermati oleh peternak.

“Sebagai pengamanan hidup karena prinsip dari biosekuriti itu sendiri adalah mencegah mikroba masuk, berinteraksi, tumbuh dan berkembang, serta menyebar ke seluruh area kandang. Adapun elemen dari biosekuriti tersebut adalah isolasi, kontrol lalu lintas dan sanitasi,” kata Alfred.

Manisfestasi dari biosekuriti dimaksud Alfred adalah dengan mengimplementasikan biosekuriti tiga zona, yakni dengan cara membagi areal kandang dalam tiga zona, yakni zona merah, kuning dan hijau, dengan tujuan memberi keuntungan pada peternak.

“Keuntungan dari mencegah mikroba menginfeksi unggas, menyaring mikroba hingga tiga lapisan perlakuan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak kandang, memiliki daya saing perunggasan dari sisi kualitas produk yang dihasilkan, menurunkan ancaman resistensi antibiotik (AMR) bagi konsumen dan yang pasti telah sesuai dengan Good Farming Practices,” jelasnya. 

Terkait dengan bagaimana cara mengimplementasikan biosekuriti tiga zona tersebut, dijelaskan Alfred secara rinci, yaitu dimulai dari membuat layout (denah) kandang, penentuan areal mana saja yang dimasukkan ke dalam zona merah (areal kotor), kuning (areal perantara) dan hijau (areal bersih), kemudian membuat daftar risiko dari orang, benda dan hewan (OBH), lalu urutkan daftar risiko tersebut dari yang tertinggi, pikirkan bagaimana pengendalian daftar risiko dapat dilakukan dengan elemen biosekuriti, serta terakhir sosialisasikan dan berkomitmen untuk intens menerapkannya.

“Jika telah diimplementasikan, hal yang perlu dilakukan adalah monitoring dan evaluasi kegiatannya, mulai dari anak kandang, ternak dan produksinya, serta kesehatan dari ternak yang dipelihara,” ucap dia.

Pembicara seminar Baskoro dan Alfred, bersama Moderator Bambang Suharno. (Foto: Dok. Infovet)

Sementara pada sesi kedua, Baskoro Tri Caroko menyampaikan hal berkaitan dengan pentingnya disinfeksi pada peternakan unggas. Menurut dia, disinfeksi pada dasarnya adalah kegiatan pembasmian hama. Pelaksanaannya ditujukan untuk menonaktifkan virus dan mikroba lain pada berbagai karakteristik hidup yang dimilikinya.

“Fakta lapangan, vaksinasi saja tidak cukup atau tidak mampu memproteksi unggas hingga 100%, padahal risiko penularan penyakit sangat tinggi dari berbagai macam sumber penularan, sehingga upaya disinfeksi diperlukan agar ayam tetap sehat, serta dapat tumbuh dan berproduksi dengan optimal,” kata Baskoro.

Ia pun mengimbau kepada peternak untuk dapat menerapkan One Health, yakni mengendalikan penyakit lebih dini untuk kesehatan manusia, hewan dan lingkungan yang optimal.

“Implementasinya dapat dilakukan dengan cara menerapkan biosekuriti tiga zona, melakukan disinfeksi dengan baik dan tepat guna, amankan unggas dari sumber penularan penyakit, serta istirahatkan kandang selama 14 hari sebelum diisi kembali,” imbuhnya.

Ia juga mengajak peternak untuk memutus mata rantai penyebaran penyakit menular di usaha peternakan unggas semasa pandemi COVID-19 melalui penerapan biosekuriti tersebut.

Upgrade manajemen pemeliharaan dan kesehatan, serta lakukan vaksinasi tepat guna, tepat waktu, tepat aplikasi dan terprogram dengan baik,” tandasnya. (Sadarman)

HALALBILAHAL VIA ZOOM ASOSIASI PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN


SOLUSI LOGISTIK JAGUNG UNTUK PAKAN

Sistem logistik jagung sebaiknya dibangun berbasis klaster, yaitu dengan mengelompokkan lokasi produksi jagung dan lokasi pabrik pakan yang berdekatan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Logistik melibatkan kegiatan terkait penyediaan, keamanan, penanganan material, pengangkutan, penyimpanan, pengemasan, distribusi, pemulangan, penggantian dan pembuangan barang. Untuk melakukan hal-hal tersebut, maka diperlukan biaya-biaya, termasuk biaya logistik.

Sistem produksi atau budidaya jagung dan pemanfaatan serta penggunaan jagung bukan bagian dari sistem logistik atau dengan kata lain, di luar masalah logistik. Adapun biaya logistik, merujuk pada biaya sumber daya riil publik dan swasta untuk mengangkut dan memindahkan barang, orang dan informasi dari satu lokasi ke lokasi lain, biasanya dari tempat produksi ke tempat pembelian atau konsumsi. Sedangkan yang dimaksud dengan tataniaga suatu komoditi adalah rantai transaksi atau bertemunya produsen dengan pembeli sampai kepada konsumen akhir.

Hal itu dijelaskan oleh Direktur Pakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan periode 2010-2015, Dr Mursyid Ma'sum, dalam acara seminar online Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI) bertajuk “Strategi Ketahanan Pakan Lokal”.

Seminar yang diselenggarakan pada Kamis (18/6/2020) dibuka secara resmi oleh Ketua Umum AINI, Prof Nahrowi, serta dihadiri narasumber penting lain, yakni Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Luki Abdullah dan Direktur PT Agriniaga Indonesia, Ismunandar.

Mursyid memaparkan, dalam membahas logistik jagung, maka harus dilihat dari perspektif yang lebih luas, yaitu logistik sebagai subsistem dari sistem tata niaga jagung ataupun supply chain jagung. Dengan kata lain, sistem logistik jagung harus “diletakkan” di antara persoalan segmen hulu, yakni petani dan sistem budi daya dan produksinya, serta segmen hilir, yakni industri pakan dan pengguna jagung lainnya. Hal ini untuk memperoleh sistem ataupun model logistik jagung yang holistik dan komprehensif.

“Atau dengan kata lain hal ini untuk menghindari penyelesaian secara parsial persoalan jagung sebagai bahan  pakan,” kata Mursyid sembari menyarankan, sistem logistik jagung sebaiknya dibangun berbasis klaster, yaitu dengan mengelompokkan lokasi produksi jagung dan lokasi pabrik pakan yang berdekatan dalam satu wilayah tertentu.

Dengan pendekatan berbasis klaster tersebut maka sistem logistik jagung akan dapat memperpendek rantai tata niaga antara produsen jagung dan pengguna. Sehingga hal ini dapat mengurangi biaya logistik, biaya transaksi dan illegal cost. Jika hal itu dapat diwujudkan, maka diharapkan dapat terjadi distribusi margin keuntungan yang lebih adil dan proporsional antara produsen, pedagang perantara, agen dan distributor jagung.

“Hal ini penting agar petani terus termotivasi untuk menanam jagung sebagai pilihan utamanya setelah tanaman padi,” pungkasnya. (IN)

CACING, PARASIT YANG (DIAM-DIAM) BIKIN PAILIT

Infestasi cacing dalam saluran pencernaan ayam dapat menimbulkan luka pada mukosa usus dan menjadi tempat masuknya penyakit lain. (Foto: Istimewa)

Perhatian sering kali lebih banyak tertuju pada penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri dan mikotoksin, namun masyarakat peternakan sering luput dengan penyakit parasitik seperti cacingan. Di luar sana, masih saja ditemui kasus kecacingan pada peternakan ayam.

Akibat dari penyakit kecacingan secara klinis memang tidak separah akibat dari penyakit viral maupun bakterial, sehingga cacingan dipandang sebelah mata. Pada awal kejadian, penyakit cacingan tidak menimbulkan kematian dan tidak terlihat pada data recording farm, berupa penurunan produksi telur. Namun pada kenyataannya di lapangan, kasus cacingan seringkali menjadi pintu pembuka bagi masuknya penyakit viral dan bakterial lain.

Infestasi cacing dalam saluran pencernaan ayam dapat menimbulkan luka pada mukosa usus dan menjadi tempat masuknya bakteri Clostridium sp, sebagai penyebab penyakit Nekrotik enteritis (NE). Oleh karena itu, pengendalian dan penanganan kasus penyakit NE tidak terlepas dari langkah-langkah pengendalian penyakit parasiter cacingan, selain pengendalian juga terhadap penyakit parasiter Koksidiosis.

Peternak tidak pernah tahu ayam menderita cacingan atau tidak, selama tidak melakukan pemeriksaan terhadap feses, untuk mencari kemungkinan adanya telur cacing, maupun potongan tubuh cacing. Dan biasanya, diketahui ternak mengalami kecacingan setelah dilakukan bedah bangkai, berkaitan dengan kasus lain yang sedang diperiksa. Jarang sekali dilakukan bedah bangkai khusus yang ditujukan untuk mengetahui ada/tidaknya infestasi cacing di dalam tubuh ayam. Sehingga diagnosa kecacingan ditegakkan setelah terlihat adanya cacing di dalam saluran pencernaan.

Nematoda atau Cacing Gilig
Cacing ini merupakan cacing saluran pencernaan yang paling umum. Parasit ini disebut cacing gilig karena berbentuk bulat serta tidak bersegmen dan merupakan kelompok parasit penting pada unggas sehubungan dengan banyaknya spesies dan dampak yang ditimbulkan.

Ada dua jenis siklus hidup nematoda, siklus hidup langsung dan siklus hidup tidak langsung. Pada cacing gilig dengan siklus hidup langsung, perkembangan siklus hidup terbagi atas empat bagian; (1) Telur yang dikeluarkan bersama feses. (2) Telur yang berada di lingkungan, berkembang, menetas dan tertelan oleh hospes. (3) Berkembang menjadi larva pada bagian proventrikulus. (4) Cacing dewasa di usus.

Pengendalian dan pengobatan ditujukan langsung pada hospes dengan tujuan mematikan dan mengeluarkan parasit secara langsung. Sedangkan pada cacing dengan siklus hidup tidak langsung, pengendalian dan pengobatan dapat ditujukan terhadap hospes sementaranya dan pengobatan terhadap hospes dengan tujuan mematikan dan mengeluarkan parasit secara langsung.

Infeksi Ascaridia sp. 
Spesies Ascaridia merupakan contoh utama parasit cacing yang sering ditemukan pada ayam. Siklus hidup spesies ini tidak membutuhkan hospes perantara. Penularan penyakit parasit ini melalui… (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2020)

Drh Yuni
PT ROMINDO PRIMAVETCOM

THEO LEKATOMPESSY KOMISARIS INDEPENDEN SIERAD PRODUCE

PT Sierad Produce Tbk (Foto:sieradproduce.com)


PT Sierad Produce Tbk selesai mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan pada Rabu (17/6/2020). Dalam rilis yang diterima Infovet, Sierad Produce mengangkat Theo Lekatompessy sebagai Komisaris Independen.

Theo Lekatompessy saat ini menjabat sebagai Komisaris Independen pada PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk, PT Pelayaran Tempuran Emas Tbk, and PT Cahayaputra Asa Keramik Tbk.

Selain itu, Theo juga merupakan Chairman of INSA Foundation (Indonesian National Shipowner's Association), Waki Ketua AEI (Asosiasi Emiten Indonesia), dan anggota KADIN (Kamar Dagang Industri) for Benelux Committee.  

Direktur Utama PT Sierad Produce Tbk, Tommy Wattimena usai RUPS perseroan seperti dikutip dalam keterangan resminya mengatakan rapat juga menyetujui perubahan nama perseroan sejalan dengan sinergi dengan Group.

Selanjutnya rapat menyetujui perubahan nama Perseroan sejalan dengan sinergi dengan Group. Ditampilkan logo baru Perseroan yang akan digunakan bersamaan dengan nama baru tersebut yang akan ditentukan kemudian oleh Direksi, setelah memperoleh persetujuan dengan instansi terkait yang berwenang.

Berikut susunan Dewan komisaris dan Direksi Sierad Produce hasil RUPS Tahunan, Rabu (17/6/2020) sebagai berikut:

Dewan Komisaris
Komisaris Utama (Komisaris Independen)    : Antonious Joenoes Supit
Komisaris                                                       : Sri Lestari Anwar
Komisaris                                                       : Setiawan Achmad
Komisaris Independen                                   : Theo Lekatompessy

Direksi
Direktur Utama                                               : Tomy Wattemena Widjaja
Wakil Direktur Utama (Independen)               : Soh Ching Ker
Direktur                                                           : Wayan Sumantra
Direktur                                                           : Sri Sumiyarsi

KINERJA GEMILANG SIERAD PRODUCE, LABA MENINGKAT 207,69%



(Keterangan Ki-ka) Theo Lekatompessy, Antonius J Supit, Tommy Wattimena, Sri Sumiyarsi (Foto: Ist)  

Rabu (17/6/2020), PT Sierad Produce Tbk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dengan menerapkan prosedur pencegahan COVID-19.

Perseroan membukukan Laba Bersih Tahun Berjalan sebesar Rp79,7 miliar naik 207,69% dibanding tahun 2018 sekitar Rp25,9 miliar dengan penjualan bersih sebesar Rp4.106 triliun meningkat 31,6% atau setara dengan Rp986 miliar dibandingkan penjualan bersih tahun 2018 sejumlah Rp3.120 triliun.

Enam mata acara disetujui antara lain pengangkatan Theo Lekatompessy sebagai Komisaris Independen Perseroan. Dalam RUPS, dipaparkan kinerja 2019 dan secara singkat kinerja kwartal I tahun 2020.

Direktur Utama Perseroan, Tommy Wattimena dalam keterangan resminya mengatakan kinerja menggembirakan ini merupakan hasil kerja keras tim antara manajemen dan seluruh karyawan, serta tenaga ahli kompeten Perseroan dalam menerapkan strategi bisnis yang berorientasi pada hasil.

“Tentunya kami tidak langsung merasa puas. Kami akan menjaga momentum pertumbuhan di tahun 2020 melalui serangkaian inovasi baru dan diferensiasi pasar,” tandas Tommy.

Melalui paparan singkatnya Tommy menjelaskan di tengah situasi pandemi COVID-19, Perseroan tetap membukukan kinerja positif berupa penjualan Perseroan pada kwartal pertama 2020 yang mencapai Rp1,15 triliun.

Nilai tersebut lebih meningkat dibandingkan kwartal pertama tahun 2019 sebesar Rp928 miliar dan laba usaha sebesar Rp59,2 miliar, dibandingkan kwartal pertama tahun 2019 sebesar Rp36,6 miliar.

Lebih lanjut Tommy menyampaikan tahun 2020 ini dimanfaatkan oleh Perseroan untuk mengeluarkan inovasi strategis dalam mengembangkan usahanya.

“Perseroan selalu berupaya mencari peluang usaha melalui inovasi yang memberikan nilai lebih kepada Perseroan maupun pelanggan dan pemangku kepentingan,” ujarnya.

Tahun 2020 Sierad berhasil menerapkan Halal Blockchain di Rumah Potong Ayam. Inovasi ini merupakan transformasi digital atas integritas dan transparansi data pada proses di Rumah Potong Ayam Perseroan.

“Selain jaminan kualitas produk, para pelanggan juga dapat secara langsung melakukan ketelusuran proses halal atas produk mulai dari awal produk masuk Rumah Potong Ayam hingga produk diterima oleh pelanggan,”/ terang Tommy.

PT Sierad Produce Tbk juga diketahui menjalin kerjasama dengan PT Great Giant Pineapple dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas pakan, menggunakan teknologi baru dalam bentuk ekstrak alami buah nanas (Bromelain) yang mampu meningkatkan berat badan ayam dan menurunkan tingkat kematian. Selain dari sisi kualitas produk, inovasi ini juga dapat memberikan efisiensi atas biaya produksi.

Program CSR

Tak hanya berinovasi, Perseroan juga tidak melupakan tanggung jawab sosialnya. Dibawah naungan Program Berbagi Cinta Jaga Sesama, Perseroan telah membangun infrastruktur Corporate Social Responsibility (CSR) yang sejalan dengan aktivitas usahanya dalam membantu langsung masyarakat di masa Pandemi COVID-19.

Perseroan memiliki target distribusi sumbangan sebanyak 100 ribu paket makanan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan kebutuhan selama pemberlakuan PSBB.

Kerja sama kemanusiaan ini dilakukan bersama dengan RedKendi, Rantang Hati dari Wahyoo, Gojek dan beberapa organisasi kemanusiaan lainnya. Program CSR tersebut tidak hanya sekedar memberi, namun juga dipastikan tepat guna sehingga manfaatnya sampai ke masyarakat penerima. (NDV)

DE HEUS ANIMAL NUTRITION MEMPERKUAT POSISINYA DI INDONESIA

PT Welgro dan PT Wirifa Sakti berhasil diakuisisi oleh De Heus Animal Nutrition

Tepat pada tanggal 2 Juni 2020 yang lalu, De Heus Animal Nutrition (De Heus) menyelesaikan proses akuisisi pabrik pakan miliki Neovia Indonesia (PT Welgro Feedmill dan PT Wirifa Sakti). Dengan selesainya proses akuisisi dua pabrik pakan yang berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur ini semakin memperkuat posisi De Heus di Indonesia.

Pada tahun 2019 volume penjualan kedua pabrik tersebut mencapai 125.000 ton, sebagaimana kita ketahui juga bahwa Welgro dan Wirifa berfokus pada pakan unggas, aqua dan babi. Bagi De Heus Indonesia, akuisisi ini adalah langkah penting dalam mewujudkan ambisinya untuk menjadi pemain terkemuka di pasar pakan ternak Indonesia.

Gabor Fluit, Business Group Director De Heus Asia mengatakan bahwa proses akuisisi ini dapat mempercepat strategi pertumbuhan De Heus di Indonesia.

"Kami berhasil melakukan penetrasi di sini (Indonesia) pada tahun 2018 melalui akuisisi PT Universal Agribisnisindo (UAB), dengan selesainya proses ini kami melihat adanya potensi meningkatkan peluang yang sangat baik untuk memperluas posisi kami di area peternakan dan satwa aquatik, tentunya juga kami ingin lebih dekat dengan pelanggan baru kami yang sudah ada di kedua daerah tersebut dan terus mengembangkan potensi kami," tuturnya.

Gabor juga berujar meskipun dampak dari wabah Covid-19 menyebabkan permintaan pakan ternak turun, bukan berarti tidak akan kembali normal. De Heus percaya situasi akan kembali normal dan pasar akan kembali pulih. De Heus sendiri tidak berpikir dalam jangka pendek, mereka juga konsisten dalam menerapkan teknologi baru dan mengaplikasikannya pada customer sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

"Sejak akuisisi UAB, De Heus telah mereplikasi cara pendekatan pasarnya yang kemudian berhasil dikembangkan di negara-negara Asia Tenggara lainnya, kami berusaha mendukung profesionalisasi lebih lanjut dari peternak independen di sektor peternakan dan aquatik dengan produk-produk pakan ternak berkualitas prima dan pendampingan teknis yang mumpuni. Selain itu, kami telah meningkatkan proses produksi, berinvestasi dalam pelatihan teknis personil dan memulai konstruksi jalur produksi baru untuk pakan ternak di pabrik pakan UAB yang ada, " urai Gabor.

Sementara itu Kay De Vreese, Presiden Direktur De Heus Indonesia juga menyatakan kegembiraannya dengan proses akuisisi tersebut.

"Kami sangat senang bahwa fokus kami pada peningkatan kualitas produk dan berbagi praktik terbaik diakui dan dihargai oleh pelanggan yang tumbuh secara signifikan di Indonesia. Kami akan terus menerapkan rencana investasi kami di tahun-tahun mendatang," tuturnya.

Ia melanjutkan bahwa pihaknya dengan senang hati menyambut Welgro dan Wirifa sebagai rekan baru di De Heus di Indonesia. 

"Kami telah mengenal Welgro dan Wirifa sebagai perusahaan yang dinamis dengan fokus pada peningkatan yang berkelanjutan, budaya ini sangat sesuai dengan budaya perusahaan De Heus," pungkasnya.

Bisnis pakan ternak sendiri tetap ramai, diperkirakan bahwa market size pakan ternak di Indonesia akan meningkat dan terus berkembang dari 19 juta ton pada 2019 menjadi 22 juta ton pada 2022. Dengan populasi Indonesia saat ini adalah 273 juta penduduk, tentunya ini menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar bagi protein hewani di Asia Tenggara. Permintaan protein hewani akan terus meningkat selama tahun-tahun mendatang karena pertumbuhan pendapatan dan populasi yang cepat, serta perubahan preferensi konsumen. (CR)

KEMENTAN GENJOT PERTAMBAHAN POPULASI SAPI BELGIAN BLUE

Sapi Belgian Blue,menjadi andalan Indonesia dalam memperbaiki genetik sapi Indonesia

Kementerian Pertanian terus berupaya memenuhi kebutuhan protein hewani bagi masyarakat terutama yang berasal dari daging sapi. Salah satunya adalah pengembangan sapi Belgian Blue (BB) yang sudah dilakukan sejak tahun 2017 melalui Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) ini sudah berhasil memproduksi embrio sapi BB murni pertama di Indonesia.

"Produksi ini menggunakan dua sapi donor jenis BB murni hasil Transfer Embrio (TE) di BET Cipelang yakni Srikandi dan Arimbi," ujar I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan RI, Selasa (9/6).

“Pengembangan sapi BB dilaksanakan oleh dua belas UPT lingkup Kementerian Pertanian yang berasal dari tiga eselon 1 di Kementerian Pertanian, yaitu Badan Litbang Pertanian BPPSDMP dan Ditjen PKH, dengan dukungan pakar pendamping yang berasal dari perguruan tinggi terbaik di Indonesia”, ucap Ketut.

Pengembangan BB sendiri dilakukan di UPT yang memiliki kondisi lingkungan yang berbeda, tujuannya untuk mengetahui lingkungan terbaik di Indonesia bagi sapi BB sehingga sapi BB bisa beradaptasi dan berkembang dengan baik di Indonesia.

"Pengembangan BB di Indonesia dilakukan dengan dua acara yaitu melalui TE dan Inseminasi Buatan (IB)," jelas Ketut.

Ketut menambahkan, embrio dan semen BB yang digunakan untuk program pengembangan BB berasal dari negara asalnya, yaitu Belgia. Hal ini dikarenakan, pihaknya ingin sapi BB yang dikembangkan di Indonesia berasal dari sapi BB asli dari Belgia.

Selain itu, penggunaan embrio dan semen BB dalam program pengembangan sapi BB ini dinilai Ketut memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan harus mendatangkan sapi BB hidup dari Belgia.

"Biayanya juga lebih murah dan handling lebih mudah dibandingkan menghandling sapi hidup. Embrio BB digunakan untuk menghasilkan sapi BB murni sedangkan semen beku digunakan untuk menghasilkan sapi BB persilangan," paparnya.

Jadi cara kerjanya yaitu dengan menanam atau menitipkan embrio pada sapi lokal Indonesia yang memenuhi syarat. Lalu, untuk semen BB disuntikan pada sapi lokal Indonesia yang juga sudah memenuhi syarat.

Karena, sapi BB murni yang merupakan hasil transfer embrio membutuhkan bantuan untuk kelahirannya. Sekitar 95% sapi BB murni lahir dengan bantuan caesar, sedangkan sapi BB persilangan seluruhnya (100%) dapat lahir secara normal.

"Sampai dengan hari ini, kami mencatat kelahiran 455 ekor sapi BB yang tersebar di seluruh UPT pelaksana pengembangan BB," ungkap Ketut.

Ketut menyebut, BET Cipelang bersama dengan UPT pelaksana lainnya telah mampu melaksanakan program pengembangan sapi BB yang dibuktikan dengan kelahiran sapi BB di seluruh UPT pelaksana. Sedangkan, Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dan Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang juga sudah mampu memproduksi semen beku sapi BB.

"Ini merupakan hal yang membanggakan bagi Kementan, kita sudah mampu memproduksi embrio sapi BB, dan memproduksi semen beku sapi BB," kata Ketut.

Diketahui, produksi embrio sapi BB murni ini sudah dilaksanakan pada 10 Februari 2020. Embrio yang dihasilkan dari sapi donor BET Cipelang ini berhasil menghasilkan embrio BB dengan komposisi darah BB 100 persen.

BET Cipelang sebagai satu-satunya UPT dengan tupoksi melaksanakan produksi, pengembangan dan distribusi embrio ternak telah mampu menghasilkan embrio sapi BB sebanyak 166 embrio (27 embrio BB murni dan 139 embrio BB persilangan).

"Embrio persilangan yang dihasilkan oleh BET Cipelang sudah dicoba untuk ditransferkan pada sapi resipien di BET Cipelang dan seluruhnya dapat lahir secara normal. Namun, untuk embrio BB murni belum dicoba," ucap Ketut.

Sapi BB persilangan ini, baik yang memiliki darah BB 50% mapun 75% mampu melahirkan secara normal, dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa sapi persilangan BB dengan sapi lainnya tidak memiliki kelainan reproduksi.

Sedangkan, semen beku BB yang dihasilkan oleh BBIB Singosari dan BIB Lembang terhitung sebanyak 27.862 dosis (17.579 dosis semen beku sapi BB murni dan 10.283 dosis semen beku BB persilangan).

Sebagai catatan, semen beku “Gatot Kaca” sapi BB jantan pertama di Asia Tenggara sudah dicoba untuk IB pada sapi Aceh di BPTUHPT Indrapuri. Sampai saat ini sudah terdapat 5 ekor sapi persilangan BB dengan sapi Aceh yang lahir, dan semuanya lahir secara normal.

Ketut menegaskan, dengan keberhasilan produksi semen dan embrio sapi BB oleh UPT lingkup Kementan, ketergantungan impor semen dan embrio beku BB Indonesia berkurang dan harapan pemenuhan kebutuhan daging akan dapat terwujud.

"Semen beku dan embrio beku BB ini akan didistribusikan kepada masyarakat setelah mendapatkan rekomendasi dari pakar pendamping pengembangan BB," tuturnya.

Lokasi sebaran tempat kelahiran sapi BB yaitu, BET Cipelang, BBPTUHPT Baturraden, BPTUHPT Padang Mengatas, BPTUHPT Sembawa, BPTUHPT Indrapuri, Balitnak, Polbangtan Bogor, BBPKH Cinagara, Polbangtan Yogyakarta - Magelang, Polbangtan Malang, BBPP Batu dan Loka Penelitian Sapi Potong Grati.

Sementara itu, Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Sugiono, mengatakan sebelum disebar ke masyarakat akan dilakukan kajian lebih dulu untuk mendapatkan data yang akurat terkait pertumbuhan sapi BB. Dikatakan Sugiono, saat ini pengembangan sapi BB sudah dikaji di tingkat UPT lingkup Kementan.

"Hasilnya bagus, kita akan kaji terus di tingkat peternak yang sudah bagus manajemenya, setelah itu baru didistribusikan ke masyarakat," imbuhnya.

Menurut Sugiono, sperma sapi BB baru bisa disebar ke masyarakat pada tahun 2022 setelah melalui tahapan kajian yang berjenjang dari lingkup UPT, dan uji coba di peternakan dengan manajemen pengelolaan yang bagus. Hal-hal yang akan dikaji sebelum disebar yaitu pertambahan bobot badan, pertumbuhannya baik, aspek kesehatan, dan aspek lingkungan.

"Kajiannya perlu dua tahun, dicoba dulu di kelompok tertentu, kalau punya manajemen bagus baru dilepas ke peternak. Tahun ini Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan) juga sudah pakai semen BB di wilayah tertentu," jelas Sugiono.

Ia berharap ke depannya, sapi BB ini bisa terus dikembangkan sebagai salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri yang kebutuhannya cukup tinggi.

"Sapi Belgian Blue ini memiliki bobot lebih besar dibanding sapi pada umumnya, jadi diharapkan dapat meningkatkan produksi daging sapi dalam negeri," pungkasnya.

Sekadar informasi, Sapi Belgian Blue atau yang lebih dikenal dengan Sapi BB ini merupakan sapi hasil pemuliaan yang dilakukan dalam kurun waktu yang sangat lama di negara asalnya, Belgia. Sapi ini merupakan hasil persilngan antara Sapi Shorthorn dengan sapi lokal Belgia saat itu.

Pembentukan sapi BB sendiri berawal dari upaya pemerintah Belgia untuk menghasilkan sapi dwiguna (penghasil susu dan penghasil daging). Namun, untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di negara tersebut, arah pengembangan sapi BB membentuk sapi BB ini menjadi sapi potong penghasil daging.

Program pemuliaan sapi Belgian Blue ini sendiri pada saat itu dipimpin oleh seorang professor dari Belgia yaitu Professor Hanset pada tahun 1973, dengan keunggulan sapi BB yaitu 'double muscling'.

Performa sapi BB yang besar dan potensi karkas yang dimilikinya sangat menarik negara lain untuk ikut mengembangkannya. Sapi BB ini sudah mulai tersebar ke 40 (empat puluh) negara di dunia. (INF)

PROGRAM PUASA BAGI AYAM PETELUR

Ternak ayam penghasil telur. (Sumber: Ist)

Bagi masyarakat yang awam terhadap peternakan tentu terdengar janggal jika ayam harus melakukan puasa, padahal biasanya hal tersebut dilakukan oleh manusia.

Namun suatu kenyataan bahwa dalam pemeliharaan ayam petelur (layer) baik komersial maupun bibit (breeder), program puasa wajib dilakukan untuk mencapai bobot badan ideal yang mendukung pencapaian tujuan akhir yaitu produksi telur atau anak ayam (DOC) maksimal.

Program puasa pada ayam petelur berlaku di seluruh dunia, dan bila tidak diterapkan sudah dapat ditebak produksi telur atau DOC-nya kemungkinan rendah, karena ketika ayam memasuki usia remaja (pullet) bisa mengalami kegemukan yang dapat mempengaruhi kedua hal tadi.

Hal tersebut pun pernah penulis saksikan di salah satu peternakan ayam breeder di Liangangang, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Peternakan tersebut gagal mencapai produksi telur dan DOC, disertai kerusakan pada kaki ternak, fertilitas dan daya tetas rendah karena diberikan pakan sebagaimana mengikuti pemeliharaan unggas pedaging (broiler).

Pemeliharaan broiler sama sekali tidak mengenal program puasa karena masa hidupnya relatif singkat (4-5 minggu) dan tujuan akhirnya adalah produksi daging, sehingga harus diberi pakan yang mengenyangkan bagi ayam.

Metode Pemberian Pakan
Metode pemberian pakan pada ayam petelur komersial maupun bibit relatif beragam dengan tujuan mencapai bobot badan pullet sesuai standar dengan tingkat keseragaman yang sama. Bila tidak tercapai bobot badan ideal dan tingkat keseragaman rendah tentunya akan berpengaruh pada produksi yang kurang optimal dan berimbas pada peternak akibat kerugian yang cukup tinggi dan sulit diperbaiki.

Untuk itu pemberian pakan harus benar-benar diperhatikan. Adapun beberapa metode pemberian pakan yang banyak dikenal dan diterapkan di seluruh dunia antara lain:

a. Metode Skip a Day Feeding. Pemberian pakan dilakukan secara dibatasi, yaitu dengan cara satu hari diberi pakan dan satu hari dipuasakan, lalu satu hari diberi pakan (skip a day), dengan tujuan mengontrol bobot badan ayam pullet. Metode ini diterapkan mulai ayam petelur berumur 4-20 minggu dan bisa pula digunakan jika ketersediaan tempat pakan (feeding space) terbatas, dengan syarat potong paruh (debeaking) benar-benar sempurna untuk mencegah munculnya sifat kanibalisme saat ayam dipuasakan.

b. Metode 4-3 Feeding. Pemberian pakan dapat juga dilakukan dengan metode 4-3, yaitu dalam tiap periode satu minggu, dimana empat hari makan dan tiga hari puasa. Contoh pullet berumur lima minggu, standar pakan per harinya 52 gram maka jumlah pakan satu minggunya 364 gram (52 gram x 7 hari = 364 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi empat hari makan menjadi 91 gram per pullet (364 gram : 4 = 91 gram). Jadi setiap hari makan ayam pullet diberi pakan 91 gram (Minggu, Selasa, Kamis, Sabtu), sedang tiga hari dipuasakan (Senin, Rabu dan Jum’at).

c. Metode 3-1-2-1 Feeding. Pemberian pakan dilakukan dengan cara tiga hari diberi pakan satu hari puasa, dua hari diberi pakan, kemudian satu hari puasa. Contoh pullet berumur 16 minggu, standar pakan per hari 106 gram maka satu minggu 623 gram (89 gram x 7 hari = 623 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi lima hari makan = 124,6 gram (623 gram : 5 hari = 124,6 gram). Jadi pada hari makan (Minggu, Senin, Selasa, Kamis, Jumat) diberikan pakan 124,6 gram, sedang Rabu dan Sabtu dipuasakan. Metode ini dilakukan bila jumlah pakan yang diberikan dengan metode skip a day sudah maksimal dan dilakukan pada periode ayam menjelang bertelur (laying period).

Antisipasi sebelum dan saat diterapkannya program puasa untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan antara lain:

• Jumlah ayam dalam kandang harus pasti, agar jumlah pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ayam. Pada periode tertentu perlu audit/hitung ulang jumlah ayam, sebaiknya saat seleksi dan grading.
• Jumlah tempat pakan dan minum sesuai dengan standar dengan jumlah ayam yang ada.
• Perlu pemberian vitamin dan anti-stres dalam air minum.
• Ventilasi udara dalam kandang dibuat senyaman mungkin.
• Perlu disiplin anak kandang/karyawan dalam pengisian catatan harian kandang.
• Batas antar kamar (pen) kandang harus rapat sehingga tidak memungkinkan ayam dari pen sebelah masuk ke pen lain, karena akan mengacaukan jumlah ayam.
• Jangan sekali-kali menghentikan pemberian air minum. Berikan air bersih dan higiene.
• Kondisi litter harus kering sehingga tidak memberi kesempatan gas amonia dan gas lainnya mengganggu pernapasan ayam.
• Lampu penerangan kandang dipasang sesuai standar yang telah ditetapkan.
• Kualitas pakan tetap dijaga dan seminimal mungkin tidak ada pakan yang terbuang.
• Bila ada ayam yang menunjukkan sifat kanibalisme, segera pindahkan ayam ke kandang tersendiri.
• Program puasa hanya diterapkan pada ayam remaja, tidak pada ayam yang sedang berproduksi. ***

Ir Sjamsirul Alam
Praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer