-->

PROGRAM PUASA BAGI AYAM PETELUR

Ternak ayam penghasil telur. (Sumber: Ist)

Bagi masyarakat yang awam terhadap peternakan tentu terdengar janggal jika ayam harus melakukan puasa, padahal biasanya hal tersebut dilakukan oleh manusia.

Namun suatu kenyataan bahwa dalam pemeliharaan ayam petelur (layer) baik komersial maupun bibit (breeder), program puasa wajib dilakukan untuk mencapai bobot badan ideal yang mendukung pencapaian tujuan akhir yaitu produksi telur atau anak ayam (DOC) maksimal.

Program puasa pada ayam petelur berlaku di seluruh dunia, dan bila tidak diterapkan sudah dapat ditebak produksi telur atau DOC-nya kemungkinan rendah, karena ketika ayam memasuki usia remaja (pullet) bisa mengalami kegemukan yang dapat mempengaruhi kedua hal tadi.

Hal tersebut pun pernah penulis saksikan di salah satu peternakan ayam breeder di Liangangang, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Peternakan tersebut gagal mencapai produksi telur dan DOC, disertai kerusakan pada kaki ternak, fertilitas dan daya tetas rendah karena diberikan pakan sebagaimana mengikuti pemeliharaan unggas pedaging (broiler).

Pemeliharaan broiler sama sekali tidak mengenal program puasa karena masa hidupnya relatif singkat (4-5 minggu) dan tujuan akhirnya adalah produksi daging, sehingga harus diberi pakan yang mengenyangkan bagi ayam.

Metode Pemberian Pakan
Metode pemberian pakan pada ayam petelur komersial maupun bibit relatif beragam dengan tujuan mencapai bobot badan pullet sesuai standar dengan tingkat keseragaman yang sama. Bila tidak tercapai bobot badan ideal dan tingkat keseragaman rendah tentunya akan berpengaruh pada produksi yang kurang optimal dan berimbas pada peternak akibat kerugian yang cukup tinggi dan sulit diperbaiki.

Untuk itu pemberian pakan harus benar-benar diperhatikan. Adapun beberapa metode pemberian pakan yang banyak dikenal dan diterapkan di seluruh dunia antara lain:

a. Metode Skip a Day Feeding. Pemberian pakan dilakukan secara dibatasi, yaitu dengan cara satu hari diberi pakan dan satu hari dipuasakan, lalu satu hari diberi pakan (skip a day), dengan tujuan mengontrol bobot badan ayam pullet. Metode ini diterapkan mulai ayam petelur berumur 4-20 minggu dan bisa pula digunakan jika ketersediaan tempat pakan (feeding space) terbatas, dengan syarat potong paruh (debeaking) benar-benar sempurna untuk mencegah munculnya sifat kanibalisme saat ayam dipuasakan.

b. Metode 4-3 Feeding. Pemberian pakan dapat juga dilakukan dengan metode 4-3, yaitu dalam tiap periode satu minggu, dimana empat hari makan dan tiga hari puasa. Contoh pullet berumur lima minggu, standar pakan per harinya 52 gram maka jumlah pakan satu minggunya 364 gram (52 gram x 7 hari = 364 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi empat hari makan menjadi 91 gram per pullet (364 gram : 4 = 91 gram). Jadi setiap hari makan ayam pullet diberi pakan 91 gram (Minggu, Selasa, Kamis, Sabtu), sedang tiga hari dipuasakan (Senin, Rabu dan Jum’at).

c. Metode 3-1-2-1 Feeding. Pemberian pakan dilakukan dengan cara tiga hari diberi pakan satu hari puasa, dua hari diberi pakan, kemudian satu hari puasa. Contoh pullet berumur 16 minggu, standar pakan per hari 106 gram maka satu minggu 623 gram (89 gram x 7 hari = 623 gram). Jumlah pakan satu minggu dibagi lima hari makan = 124,6 gram (623 gram : 5 hari = 124,6 gram). Jadi pada hari makan (Minggu, Senin, Selasa, Kamis, Jumat) diberikan pakan 124,6 gram, sedang Rabu dan Sabtu dipuasakan. Metode ini dilakukan bila jumlah pakan yang diberikan dengan metode skip a day sudah maksimal dan dilakukan pada periode ayam menjelang bertelur (laying period).

Antisipasi sebelum dan saat diterapkannya program puasa untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan antara lain:

• Jumlah ayam dalam kandang harus pasti, agar jumlah pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ayam. Pada periode tertentu perlu audit/hitung ulang jumlah ayam, sebaiknya saat seleksi dan grading.
• Jumlah tempat pakan dan minum sesuai dengan standar dengan jumlah ayam yang ada.
• Perlu pemberian vitamin dan anti-stres dalam air minum.
• Ventilasi udara dalam kandang dibuat senyaman mungkin.
• Perlu disiplin anak kandang/karyawan dalam pengisian catatan harian kandang.
• Batas antar kamar (pen) kandang harus rapat sehingga tidak memungkinkan ayam dari pen sebelah masuk ke pen lain, karena akan mengacaukan jumlah ayam.
• Jangan sekali-kali menghentikan pemberian air minum. Berikan air bersih dan higiene.
• Kondisi litter harus kering sehingga tidak memberi kesempatan gas amonia dan gas lainnya mengganggu pernapasan ayam.
• Lampu penerangan kandang dipasang sesuai standar yang telah ditetapkan.
• Kualitas pakan tetap dijaga dan seminimal mungkin tidak ada pakan yang terbuang.
• Bila ada ayam yang menunjukkan sifat kanibalisme, segera pindahkan ayam ke kandang tersendiri.
• Program puasa hanya diterapkan pada ayam remaja, tidak pada ayam yang sedang berproduksi. ***

Ir Sjamsirul Alam
Praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad

KUNCI KURANGI KEMATIAN AYAM SAAT TRANSPORTASI

Transportasi unggas yang baik juga menjadi kunci penting untuk mengurangi kematian. (Sumber: Istimewa)

Dalam usaha peternakan ayam broiler, layer, maupun breeder, peternak pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk  memperoleh keuntungan (profit). Kendati demikian, ada saja hal-hal yang bisa memangkas pendapatan peternak selain masalah penyakit, manajemen pemeliharaan dan lain sebagainya, salah satu adalah kematian ayam saat transportasi dari kandang menuju tempat pemasaran, atau pemindahan ke Rumah Pemotongan Ayam (RPA). Semakin jauh jarak yang ditempuh dan semakin banyak muatan yang dibawa, maka semakin besar resiko kematian ayam terjadi.

Hal ini terutama disebabkan ayam mudah terkena stres panas karena ayam adalah ternak yang tidak memiliki kelenjar keringat untuk mengatur stabilitas suhu tubuhnya. Ayam menstabilkan suhu tubuhnya melalui sistem termoregulasi, yaitu meningkatkan detak jantung, meningkatkan pernapasan, membuka sayap dan konsumsi air minum. Oleh karena itu, peternak sebagai pemilik dan pelaku transportasi ayam perlu peka terhadap masalah tersebut bila ingin meminimalisir angka kematian saat pengangkutan.

Transportasi DOC
Anak ayam umur sehari (day old chick/DOC) adalah makhluk yang sangat rentan, dimana secara alamiah memerlukan perlindungan dan kehangatan sang induk dan terbebas dari suhu panas yang mencekam maupun suhu dingin yang berlebihan, disamping resiko gangguan jenis hewan lainnya. Maka peternak perlu mencari solusi mengatasi ketiga permasalahan tersebut selama dalam pengelolaannya termasuk saat transportasi, yaitu:

1. Penyediaan boks DOC khusus yang terbuat dari bahan kardus, memiliki lubang ventilasi cukup di kiri-kanan, depan-belakang dan penutup boks dan memberi alas berupa potongan kertas sebagai saat terjadi guncangan atau terjadi kemiringan. Juga dinding boks dibuat agak miring agar pada saat ditempatkan berdampingan dengan yang lain tidak saling menutupi lubang ventilasi.

2. Kapasitas pengisian DOC, harus mengikuti standar internasional yang ditentukan, yaitu 100-102 ekor/boks.

3. Mengatur peletakan sementara boks DOC sebelum transportasi, yaitu boks disusun berkelompok dengan jumlah dan tinggi tertentu di ruang yang sejuk (ruang berkipas angin/AC), sehingga memudahkan penghitungan jumlah boks dan memberi kenyamanan pada DOC.

4. Fasilitas kendaraan pengangkut DOC, ada dua macam kendaraan pengangkutan DOC, yaitu kendaraan boks tertutup rapat tetapi dilengkapi kipas angin/AC untuk transportasi jarak jauh (luar kota) dan kendaraan yang baknya memiliki atap tetapi disamping kiri, kanan, depan dan belakang sebagian berdinding kawat dilengkapi tirai/terpal untuk mencegah percikan hujan pada transportasi jarak dekat.

5. Sanitasi kendaraan, kebersihan kendaraaan pengangangkut DOC sangat penting diperhatikan dengan cara pencucian, sanitasi atau fumigasi sebalum kendaraan dioperasikan, mengingat rawan kontaminasi kuman/bibit penyakit karena kendaraan sering berhubungan dengan dunia luar farm/peternakan.

6. Kehati-hatian saat pengangkutan, dalam arti kendaraan diusahakan seminimal mungkin berhenti selama melakukan perjalanan (kendaraan harus langsung menuju tempat tujuan) terutama bagi kendaraan yang tidak dilengkapi kipas angin/AC.

7. Jangan memberikan pakan/minum sebelum transportasi, hal ini karena DOC selama 2x24 jam tahan tidak makan/minum karena memiliki egg yolk sebagian cadangan makanan/minum. Oleh karena itu diusahakan DOC sampai di tempat tujuan dalam tenggang waktu 2x24 jam dan bila melebihi harus diberi pakan/minum di perjalanan. Bila DOC selanjutnya diangkut menggunakan pesawat terbang atau kapal laut, tetap kondisi penyimpanan baik di bandara, bagasi pesawat, maupun pelabuhan, diusahakan berada di ruang khusus berkipas angin/AC (suhu berkisar 20 °C).

8. Kehati-hatian saat bongkar-muat, dimana selama berlangsungnya bongkar muat jangan sampai boks DOC tertindih dan rusak, juga jangan diperlakukan secara kasar (dilempar).

Transportasi Ayam Remaja/Dewasa
Caranya sedikit berbeda dengan transportasi DOC, namun beberapa hal perlakuannya sama. Pengangkutan ayam remaja/dewasa perlu memenuhi beberapa faktor agar dapat menekan tingkat kematian, diantaranya:

1. Pilihan waktu transportasi, sebaiknya dipilih pada menjelang pagi (subuh) atau malam hari dengan pertimbangan bahwa pada kedua waktu itu udara sejuk/dingin dan jalan masih lengang (terhindar dari kemacetan), karena ayam besar sangat rentan terhadap stres panas. Namun bila terpaksa harus diangkut siang hari sebaiknya dengan kendaraan berkipas angin/AC atau truk bak terbuka.

2. Gunakan keranjang ayam plastik/bambu ukuran besar (kapasitas 15-20 ekor) atau kecil (kapasitas 12-15 ekor) dengan asumsi berat ayam 1,0-1,2 kg/ekor). Pengisian ayam jangan melebihi standar masing-masing keranjang tersebut agar terhindar dari hal buruk.

3. Jangan memberikan pakan penuh selama 8-12 jam sebelum transportasi, agar tidak banyak pakan mubazir terbuang, disamping agar dalam perjalanan tidak banyak feses yang keluar, tetapi boleh memberikan air minum bervitamin anti-stres.

4. Jangan berikan antibiotik minimal 2-10 hari sebelum transportasi, agar organ tubuh tidak terpacu menjadi berat hingga ayam tidak tahan terhadap stres fisik selama perjalanan.

5. Atur keranjang ayam pada truk pengangkut sedemikian rupa, agar ventilasi udara tetap mencukupi, dan bila diangkut siang hari berikan ranting berdaun di keranjang paling atas untuk memberikan keteduhan dan kesejukan bagi ayam.

6. Keranjang dan kendaraan transportasi harus bersih dan steril, dalam arti sebelum dan sesudah digunakan harus dicuci, disanitasi atau difumigasi untuk memotong siklus kuman penyakit yang kemungkinan terbawa dari peternakan ayam lain atau terkontamunasi selama transportasi.

7. Kendaraan tidak berhenti/istirahat di tengah jalan agar ayam tidak banyak mati. Kemudian proses bongkar muat ayam dilakukan tidak kasar, agar ayam tidak cacat (patah kaki/patah sayap) atau stres dan kemudian mati.

8. Catatan jumlah ayam di surat jalan dan di keranjang harus sesuai, ini untuk menjaga kepercayaan pemberi tugas transportasi ayam (pemilik peternakan) kepada pengendara dan petugas pengawalan ayam yang diangkut. Bila terjadi kehilangan ayam dalam jumlah tertentu harus ada sanksi.

Demikianlah mengenai kunci mengurangi resiko kematian ayam saat transportasi, semoga bermanfaat bagi semua pelaku yang terlibat. ***

Ir Sjamsirul Alam
Praktisi perunggasan, alumni Fapet Unpad

MEMBEDAH PENYEBAB STRES PADA AYAM

Kepadatan kandang yang tinggi akan menyebabkan kanibalisme pada ayam, tidak meratanya konsumsi ransum, polusi udara, kualitas litter menurun dan lain-lain, yang berbuntut ayam menjadi stres bahkan berujung kematian. (Sumber: Istimewa)

Dalam pemeliharaan ayam, baik ayam pedaging (broiler), ayam petelur (layer) maupun ayam pembibit (breeder) susah-susah gampang karena berbagai faktor akan menghambat keberhasilan selama perjalanan hidupnya, antara lain salah satunya terpaan stres yang disebabkan berbagai hal. Seringkali peternak menganggap enteng masalah tersebut padahal  fenomena tersebut nyata terlihat secara kasat mata.

Stres adalah sebuah kondisi atau keadaan dimana terjadi ketegangan secara fisik atau psikologis dan stres itu wajar terjadi pada kehidupan, dimana tuntutannya harus menyesuaikan pada situasi/kondisi yang terjadi. Stres ternyata tidak hanya dialami oleh manusia, tetapi sering juga terjadi pada unggas yang kemudian berdampak pada lambatnya pertumbuhan dan penurunan produksi, bahkan kematian. Biasanya stres dibarengi dengan adanya perubahan fisiologis di dalam tubuh ayam, seperti perubahan detak jantung, peredaran darah menjadi lebih cepat, kehausan dan hilangnya rasa lapar.

Ciri dan Cara mengatasi Stres pada Ayam
Ada beberapa ciri-ciri stres pada ayam yang dapat dilihat secara kasat mata oleh peternak, yaitu ayam tampak gelisah di dalam kandang, seringkali membentangkan sayap, lebih banyak minum untuk menurunkan suhu tubuhnya, nafsu makan menurun, kecepatan bernapas lebih tinggi (terlihat megap-megap). Jika ayam menunjukkan hal tersebut, maka perlu segera melakukan penanganan untuk menghindari sesuatu yang tidak diharapkan.

Stres yang terjadi pada ayam dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya tekanan eksternal dan internal, seperti perubahan cuaca/musim secara tiba-tiba, kelelahan, sakit, kegaduhan, transportasi, pemeliharaan rutin, perkandangan, kepadatan ayam, luas kandang, tingkat produksi, perubahan air minum dan pakan secara mendadak. Apabila lambat atau tidak segera ditangani peternak maka stres akan mengundang kerugian.

Sebelum melakukan penanganan terhadap terjadinya stres, peternak harus terlebih dahulu mencari/mendiagnosis penyebab stres yang sebenarnya, baru kemudian melakukan tindakan yang diperlukan sesuai dengan penyebabnya, sehingga tepat sasaran dan tidak mubazir. Beberapa penyebab stres pada ayam dan cara menanganinya sebagai berikut: (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi April 2020) (SA)

PERADABAN BARU SAPI BX DI INDONESIA

Ternak sapi BX. (Foto: Kementan)

Heboh soal pemberitaan kantor berita ABC di berbagai media pada Desember 2019 lalu, bahwa ratusan sapi BX (Brahman Cross) asal Australia bantuan pemerintah Indonesia untuk program perbibitan sapi mengalami malnutrisi dan mati. Namun demikian hal itu dibantah pemerintah yang menyatakan bahwa sapi-sapi tersebut dalam kondisi baik.

Dalam kegiatan tersebut pemerintah menyalurkan sapi-sapi bantuan ini ke puluhan kelompok peternak dan UPTD disentra-sentra pengembangan sapi di Indonesia. Namun dikhawatirkan dampak dari pemberitaan tadi menjadi polemik baru mengenai hubungan dagang antara Indonesia dan Australia. Seperti yang pernah terjadi pada peristiwa pemotongan brutal terhadap sapi BX asal Australia di RPH Indonesia 2011 silam, yang berakhir dengan penyetopan impor sapi asal Australia dan mengharuskan mengikuti standarisasi rantai pasok ternak sapi Australia (Exporter Supply Chain Assurance System/ESCAS).

Pemeliharaan Ekstensif
Sapi BX ini merupakan jenis sapi hasil persilangan antara sapi Brahman dengan berbagai bangsa sapi seperti Santa Gertrudies, Limousine, Simental, Angus, Hereford dan lainnya. Sapi-sapi persilangan tersebut lebih dikenal dengan ACC (Australia Commercial Cross) atau BX jika sapi Brahmannya lebih dominan.

Sapi-sapi ini hidup dan dikelola dalam sistem ranch, yaitu pemeliharaan secara ekstensif dilepas-liarkan di padang penggembalaan. Sapi-sapi ini tumbuh dan berkembang, serta bereproduksi di alam bebas. Boleh disebut tanpa sentuhan teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan (IB) yang biasa dilakukan di dalam negeri.

Para peternak hanya menyiapkan makanan tambahan berupa mineral blok dan mengendalikan air yang berasal dari sumber air (embung) di tengah padang gembala. Pada musim tertentu mereka melakukan “mustering”, yaitu suatu periode untuk mengumpulkan ternak, menyeleksi, memilih, memisahkan ternak yang kecil dan besar, atau yang sakit, pemilihan jantan dan betina, untuk kemudian diatur kembali rasionya dalam kelompok ternak tersebut. 

Rasio lahan yang biasa digunakan di Australia bisa mencapai lebih dari 2 hektar per ekor. Bisa dibayangkan bila seorang peternak di Australia memiliki ternak 500 ekor, maka lahan yang dipakai tidak kurang dari 1.000 hektar. Apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk Australia yang sekitar 24,5 juta orang, sedangkan jumlah populasi sapinya sekitar 25 juta ekor. Data ini bertolak belakang dengan kondisi di Indonesia, dimana populasi penduduknya lebih dari 260 juta, sementara populasi sapinya hanya sekitar 16 juta ekor.

Kematian Sapi
Kematian sapi indukan dan anakannya yang terjadi selama ini pada kelompok peternak penerima bantuan, umumnya disebabkan oleh sistem pemeliharaan yang dilakukan berbeda dengan pemeliharaan ternak tersebut di negara asalnya. Bisa dibayangkan bahwa sapi BX yang asalnya hidup di alam bebas, kini hidup dikurung dengan hidung yang dikeluh. Apalagi sapi ini juga memiliki sifat berahi tersembunyi (silent heat) yang akan sulit diketahui manusia. Biasanya peternak di Indonesia menyebut gejala birahi ini dengan 3B (Beureum, Bareuh, Baseuh). Jadi jika sapi-sapi ini minta kawin, hanya jantannya saja yang mengetahuinya. Kesimpulannya bahwa para peternak akan sulit mendeteksi sapi ini kapan akan dilakukan IB.

Selain itu, sapi BX ini juga ternyata memiliki sifat keibuan (mothering ability) yang rendah. Ditambah lagi jika sapi ini terlalu gemuk atau terlalu kurus, akan sulit bunting. Sifat-sifat inilah yang tidak dipahami peternak rakyat, sehinga sapi sulit bunting. Namun, seandainya sapi tersebut bunting (bawaan dari Australia) sampai melahirkan, ternyata pedet yang baru dilahirkan tersebut sudah mati di kandang, hal ini diakibatkan pedet terinjak-injak karena sifat mothering ability yang rendah.

Berdasarkan kondisi tersebut, sapi-sapi ini harus sangat diperhatikan agar pakan yang diberikan tidak menimbulkan kegemukan maupun kekurangan, serta diberikan kandang khusus untuk melindungi pedet dari sifat induknya yang agak liar. Hal ini berbeda dengan sapi-sapi lokal di Indonesia, khususnya sapi Bali, dalam kondisi apapun mereka tetap bisa bunting dan melahirkan pedet dengan baik.

Sebenarnya sapi BX lebih jinak ketimbang bangsa sapi lainnya. Namun pada kasus ini, dapat dibayangkan dari kehidupan bebas di alam terbuka tanpa hadirnya manusia, kini mereka dikandangkan yang serba tertutup dengan kesibukan manusia di sekitarnya.

Berdasarkan pengamatan, ternyata sebaiknya distribusi sapi kepada peternakan rakyat perlu dilakukan domestikasi terlebih dahulu oleh industri atau korporasi/lembaga peternakan yang memahami perilaku sapi BX. Sebab hasil dari domestikasi ini dipastikan anak keturunannya (pedet) sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan di Indonesia.

Sebagaimana diketahui bahwa kehidupan peternak sapi potong rakyat di Jawa, usahanya tidak berbasis lahan (non-land based). Peternak memberikan hijauan pakan dan konsentrat berasal dari hasil ikutan usaha taninya. Sebagian besar usaha ternak sapi potong di Jawa memberikan jerami padi sebagai hijauan pakan utamanya. Hanya sebagian kecil yang memberikan tambahan berupa ampas tahu, singkong (onggok), ataupun dedak padi. Pada kondisi ini para ahli pakan sudah menduga bahwa kasus kematian pedet dan indukan pasca melahirkan, utamanya disebabkan karena kualitas pakan yang tidak standar. Sehingga sapi-sapi terlihat kurus pasca melahirkan atau gemuk melibihi dari yang diharapkan bagi masa suburnya seekor sapi betina.

Peradaban Baru
Berdasarkan fenomena yang terjadi pada kasus penyebaran sapi indukan dan ketidakberhasilan pengembangan sapi BX beberapa waktu lalu. Penulis menyimpulkan bahwa sapi BX asal Australia sesungguhnya tengah menjalani peradaban baru. Yaitu perubahan kultur atau budaya pemeliharaan yang bersifat ekstensif, dimana sapi-sapi bebas mencari pakan dan kawin, kini berada pada kultur budidaya intensif yang dikandangkan.

Perubahan ini telah disalahartikan oleh khalayak, bahwa sapi-sapi tersebut telah dibuat steril, diberikan sapi-sapi potong bukannya produktif dan sebagainya. Padahal sesungguhnya, sapi-sapi tersebut sedang melakukan proses adaptasi terhadap perubahan budaya pemeliharaan. Jika dibandingkan dengan sapi-sapi yang dipelihara di kebun sawit, tampak lebih banyak keberhasilan ketimbang yang dilakukan atau dipelihara secara intensif di kandang peternakan rakyat. Hal ini disebabkan perbedaan sistem pemeliharaan tidak terlalu signifikan dari negara asalnya.

Distribusi Sapi BX
Berdasarkan beberapa pengalaman baik dan buruknya sistem pemeliharaan sapi BX di tingkat peternak maupun perusahaan, kiranya perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, pengembangan sapi BX sebaiknya tidak diberikan kepada peternak rakyat secara langsung dari negara asalnya. Sapi-sapi ini perlu dilakukan domestikasi oleh korporasi yang kredibel. yaitu perusahaan/lembaga yang sangat paham terhadap pemerliharaan sapi BX sebagaimana di negara asalnya. Kondisi ini sesuai dengan amanat UU No. 41 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, bahwa perbibitan dan pengembangbiakan adalah tugas pemerintah. Oleh karenanya, kegiatan breeding dan pembiakan harus dilakukan oleh UPTD Pemerintah atau program sapi sawit yang dikelola pemerintah/swasta, kemudian anakannya (pedet) disebarkan kepada masyarakat peternak. Hal ini mengingat pemerintah bertekad bahwa pada 2020 ini akan melakukan importasi sebayak 1.500 ekor sapi betina bahkan bisa melebihi target.

Kedua, distribusi kepada peternak rakyat yang dilakukan secara intensif dalam kandang sebaiknya berupa sapi bakalan untuk penggemukan. Jadi pada masalah ini peternakan rakyat tidak dibebankan oleh usaha perbibitan dan pembiakan.

Ketiga, partisipasi menghasilkan pedet-pedet asal sapi BX impor dapat pula dilakukan oleh para pengusaha feedlot yang difasilitasi pemerintah sebagai insentif. Program ini akan mempercepat kehadiran sapi-sapi bakalan asal sapi BX bagi pengembangan peternakan sapi potong rakyat. Perusahaan feedloter nantinya dapat menghasilkan pedet-pedet jantan/betina yang didistribuskan kepada peternakan UPTD/sapi sawit maupun peternakan rakyat yang berminat.

Pola-pola pengembangan ini mungkin bisa menjadi jawaban atas ketidakberhasilan pengembangan sapi yang terjadi selama ini. Semoga pemerintah dapat mengkaji ulang arah pengembangan sapi potong di dalam negeri jika akan menggunakan sapi indukan BX sebagai salah satu model pengembangannya. ***

Rochadi Tawaf
Dewan Pakar Yayasan CBC Indonesia

ITIK MASTER, BIBIT NIAGA PENGHASIL TELUR

Indonesia memiliki beragam itik unggul yang melalui seleksi untuk pemurnian dan pembentukan galur baru yang memiliki daya adaptasi, kecepatan tumbuh dan produktivitas yang lebih tinggi. (Sumber: bptu)

Krisis ekonomi global menjadikan perekonomian Indonesia terdampak akan hal tersebut. kejadian itu membuat masyarakat berpikir kembali kepada potensi yang dimiliki Indonesia yakni memanfaatkan sumber daya hayati atau sumber daya alam potensial untuk dikembangkan. Salah satunya ternak itik. Saat ini cukup banyak daerah- daerah yang sudah menjadi sentra produksi itik lokal dan menjadi usaha pokok masyarakat.

Potensi bahan pakan itik yang tersedia sepanjang tahun dengan harga relatif murah, menjadi salah satu alasan para peternak. Itik dapat diberi pakan berupa sisa atau hasil sampingan pertanian dan perikanan seperti dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, polard, kepala udang atau tepung ikan. Bahan pakan tersebut tersedia hampir di seluruh Indonesia. Disamping itu, kemajuan teknologi menciptakan pakan konsentrat yang tambah memudahkan peternak menyediakan ransum itik yang efesien dan praktis.

Patut disyukuri pula karena Indonesia memiliki beragam itik unggul yang melalui seleksi untuk tujuan pemurnian dan pembentukan galur itik baru yang memiliki daya adaptasi, kecepatan tumbuh, produktivitas daging dan telur yang lebih tinggi.

Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Kementerian Pertanian yang berlokasi di Ciawi, Bogor, setelah melakukan penelitian bertahun-tahun, sukses menemukan “itik Master” persilangan antara parent stock Mojomaster-1 Agrinak (jantan) dan Alabimaster-1 Agrinak (betina).

Keterangan: 
- Penetapan Galur Itik Alabimaster-1 Agrinak : SK Mentan No. 360/Kpts/PK. 040/6/2015
- Penetapan Galur Itik Mojomaster-1 Agrinak : SK Mentan No. 361/Kpts/PK.040/6/2015

Bermula penelitian yang dilakukan para pakar itik Balitnak diarahkan pada evaluasi kemampuan produksi berbagai jenis itik lokal dan akhirnya diperoleh itik hibrida MA (Mojosari x Alabio) yang dinamakan itik Master. Itik ini diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan berpotensi sebagai bibit penghasil telur dengan sistem pengandangan.

Keunggulan
A. Keunggulan Biologis
Ada beberapa keunggulan biologis dari itik Master yang tidak selalu dimiliki jenis itik lainnya, yaitu:
• Identifikasi jenis kelamin pada saat menetas mudah sekali, hanya berdasarkan warna bulu, dimana DOD (day old duck) jantan berwarna lebih gelap daripada betina.
• Pertumbuhan DOD jantan lebih cepat, sehingga cocok untuk penggemukan sebagai itik potong.
• Warna bulu spesifik dan sangat seragam.
• Warna kulit telur seragam hijau kebiru-biruan.

B. Keunggulan Teknis
Keunggulan teknis yang sangat menunjang perolehan keuntungan beternak itik Master dapat dilihat sebagai berikut:

Karakteristik Produksi Itik Master
Uraian
Ukuran
Keterangan
Rata-rata Produksi Telur per Tahun (butir)
265
15% lebih tinggi
Puncak Produksi Telur (%)
94
10-15% lebih tinggi
Umur pertama bertelur (minggu)
18
4 minggu lebih awal
Masa Produksi Telur (bulan/siklus)
10-12
Tanpa rontok bulu
Rasio penggunaan pakan (FCR)
3,2
-
Tingkat Kematian (%)
≤ 1%
Sangat rendah
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

Rekomendasi Kebutuhan Gizi Pakan
Untuk menunjang keunggulan genetik itik Master, perlu dipenuhi kebutuhan gizi pakannya seperti pada tabel berikut:

Kebutuhan Gizi Pakan Itik Master
Kebutuhan Gizi
Anak Itik
(0-8 minggu)
Dara
(8-20 minggu)
Dewasa
(≥ 20 minggu)
Protein (%)
17-20
16
17-19
Energi (Kkal/Kg)
3.100
2.300
2.800
Kalsium (%)
0,60-10,10
0,60-10,10
2,90-3,25
Fosfor tersedia (%)
0,60
0,60
0,60
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

• Contoh Formulasi Pakan
Pakan yang diberikan dapat dibuat sendiri (self mixing) atau diperoleh dalam bentuk konsentrat yang dibeli dari toko pakan ternak. Selanjutnya dicampur dengan sumber energi (misalnya dedak dan jagung) untuk memenuhi kebutuhan gizi itik. Contoh formula pakan itik bisa dilihat sebagai berikut:

Formula Pakan Itik Master
Bahan Pakan
Jumlah (Kg)
Pakan starter ayam ras
77,50
Dedak halus/polard
13,00
Dikalsium phosfat
2,00
Kapur
5,00
Premiks
0,10
Minyak sayur
2,00
Methionine
0,25
Lysine
0,25
Total
100,10
Kandungan
Gizi
Protein kasar (%)
17,24
Serat kasar (%)
5,85
Energi metabolisme (Kkal/Kg)
2651
Total Ca (%)
3,41
Total P (%)
1,12
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

Pilihan Usaha
Pada usaha ternak itik yang produk akhirnya berupa telur, daging, maupun produksi telur tetas, DOD dan pembesaran (pengemukan). Peternak pemula bisa memilih salah satunya atau kombinasi dari usaha produksi ternak itik.

a. Produksi telur konsumsi
Dihasilkan oleh itik petelur tanpa pejantan yang memiliki pola produksi (dari awal sampai puncak produksi) 2 bulan, akan bertahan 2-3 bulan kemudian berangsur menurun 4-5 bulan, hingga ke titik terendah. Pola ini akan mempengaruhi perencanaan usaha, dimana peternak sebaiknya memasukan itik baya (siap bertelur) 2,5 bulan sebelum prediksi harga telur itik tinggi (bulan puasa/hari besar keagamaan) dengan sistem all in-all out. Sebagai contoh, target produksi puncak diharapkan  5.000 butir/hari dengan prosentase produksi 90%, maka jumlah itik yang harus dipelihara sebanyak 5.650 ekor sudah termasuk dengan prediksi kematian maksimal 1%. Sedangkan untuk melayani customer tetap yang minta disuplai rutin 5.000 butir/hari, maka sistem masuk itik baya dilakukan secara bertahap. Misalnya, dalam satu tahun peternak memasukkan empat tahap itik baya dengan rataan produksi telur 65%/tahun dan waktu pemeliharaan satu periode bertelur, sehingga itik yang dipelihara sejumlah 7.800 ekor dibagi empat tahap menjadi 1.970 ekor tiap tiga bulan sudah termasuk prediksi kematian maksimal 1%. Untuk mencapai target produksi tersebut harus ditunjang dengan manajemen yang baik, luas lahan tersedia, perkandangan, sarana prasarana, peralatan kerja, tenaga kerja, penyediaan obat-obatan dan air minum, serta perlengkapan administrasi.

b. Produksi itik potong
Pada umumnya usaha itik potong berupa pembesaran dari itik petelur jantan dalam waktu 6-8 minggu. Biasanya permintaan pasar ialah itik potong dengan bobot antara 1,2-1,6 kg untuk konsumsi restoran atau warung makan. Peternak menentukan target produksi itik potong terlebih dulu sesuai permintaan pasar/customer, misalnya sejumlah 1.400 ekor dengan bobot 1,4 kg dan prediksi pencapaian bobot badan 45 hari. Maka dibuat perencanaan semua faktor produksi untuk mencapai target dengan memasukan DOD jantan sejumlah 1.450 ekor sudah termasuk hitungan prediksi kematian maksimal 2% dan afkir 1,5%. Misalnya ada permintaan customer setiap hari disediakan 200 ekor itik potong dengan bobot 1,4 kg, maka harus tiap lima hari sekali memasukkan (5 x 200) + (3,5% x 1.000) = 1.035 ekor dengan perhitungan memasuki umur 41 hari mulai dipilih yang besar (bobot 1,4 kg) sebanyak 200 ekor, demikian seterusnya di keluarkan setiap hari, dan setelah 45 hari itik potong sudah habis seluruhnya. Dengan demikian peternak dapat menjaga kepercayaan  customer terhadap suplai yang rutin.

c. Produksi DOD
Usaha produksi DOD (penetasan) merupakan segmen pasar tersendiri, karena para penetas memperoleh telur tetas dari peternak pembibit, walaupun masih dalam ruang lingkup usaha peternakan itik. Peternak dalam hal ini perlu menentukan target produksi DOD yang ingin dicapai, misalkan sejumlah 4.000 ekor/dua hari, kemudian disusun rencana penetasan sesuai target dimana dibutuhkan telur tetas dengan daya tetas 70%, sehingga perlu tersedia telur tetas sejumlah 100/70 x 4.000 butir = 5.715 butir.

d. Produksi itik baya (siap bertelur)
Usaha ini merupakan usaha tersendiri, dimana peternak memelihara itik sampai umur lima bulan kemudian dijual ke peternak telur konsumsi. Bila ada permintaaan itik baya rutin sejumlah 6.000 ekor, maka tidak mungkin untuk memelihara dengan pola digembalakan, tetapi harus dikandangkan. Untuk memenuhi target tersebut perlu diprediksi kematian 3% dan seleksi/afkir 3%, sehingga diperlukan DOD sebanyak 6.000 x 1,06 = 6.360 ekor. (SA)

SISTEM PERKANDANGAN DAN PAKAN ITIK

Ternak itik. (Sumber: Istimewa)

Kandang untuk itik yang dipelihara dengan sistem intensif sangat penting, agar usaha peternakan memberi nilai yang ekonomis.

Dalam pembuatan kandang sebaiknya memperhatikan adanya sinar matahari yang masuk dalam kandang untuk menghindari lantai basah atau lembab demi menjaga kesehatan itik.
Adapun manajemen perkandangan itik dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
a. Terkurung basah: Lahan yang dibutuhkan lebih luas, di dalam kandang harus disediakan kolam.
b. Terkurung kering: Cukup disediakan tempat umbaran dengan air minum harus  adlibitum (cukup sepanjang waktu).
c. Model baterai: Modal lebih tinggi, terutama untuk pembuatan kandang, produksi dan kualitas telur terkontrol. Ukuran kandang setiap unit 45 x 35 x 55 cm.

Berdasarkan lantainya, kandang itik dapat dibedakan menjadi tiga tipe:
a. Kandang litter: Lantai kandang terbuat dari tanah, kandang ini sesuai diterapkan pada tanah pasir atau tanah yang mampu menyerap air, misalnya daerah sekitar pantai. Dinding kandang dibuat rapat setinggi 0,5-1 m dari tanah, bagian atas dapat dibuat dinding berjeruji baik dari bambu ataupun kayu. Kandang diusahakan menghadap ke Timur, agar pada pagi hari mendapat sinar matahari yang cukup. Kapasitas ideal kandang itik adalah 16 m2 untuk 100 ekor itik (4 x 4m). Tinggi kandang minimal 2,5 m dan luas umbaran semakin luas semakin baik. Kandang lantai litter sesuai untuk itik petelur.
b. Kandang lantai slat (panggung): Alas kandang (lantai) dibuat minimal 0,5 m dari tanah, slat dapat menggunakan kayu atau bambu, bagian depan dipasang papan berposisi miring untuk menghubungkan tanah dan lantai kandang. Kandang ini lebih efisien dan sehat, karena kotoran itik lansung jatung ke tanah, akan tetapi memerlukan biaya lebih besar. Kandang lantai slat sesuai untuk itik pedaging.
c. Kombinasi antara litter dan slat, yang sesuai untuk itik pedaging.

Nutrisi Pakan 
Pakan itik diberikan dalam bentuk crumble pada periode awal (starter), biasanya digunakan pakan pabrikan atau complete feed. Pakan yang diberikan pada periode pertumbuhan dan produksi akan lebih efisien dalam bentuk pasta, yaitu pakan kering ditambah dengan air perbandingan 1:1.

Bentuk bill/paruh itik yang lebar menyebabkan banyak pakan tercecer apabila pakan diberikan dalam bentuk kering (tepung). Selain itu, tingkah laku makan itik adalah selalu minum setelah makan.

Kandungan nutrien pakan untuk itik dibedakan berdasarkan periode pemeliharaan atau umur itik seperti disajikan pada Tabel 1 berikut:

Gizi
Awal
(0-8 Minggu)
Pertumbuhan
(9-18 Minggu)
Produksi
(>18 Minggu)
Protein kasar (%)
18-20
15-17
17-19
Energi (kkal EM/kg)
3.000
2.700-3.000
2.700-3.000
Metionin (%)
0,37
0,29
0,37
Lisin (%)
1,05
0,74
1,05
Ca (%)
0,6-1,0
0,6-1,0
2,90-3,25
P tersedia (%)
0,6
0,6
0,6

Contoh susunan bahan pakan itik bisa dilihat pada Tabel 2 berikut:

No.
Bahan Pakan
(%)
Pakan A
(konvensional)
Pakan  B
Pakan C
Pakan D
Pakan E
1.
Jagung giling
40




2.
Ampas kelapa
-
-
-
-
-
3.
Ampas tahu
-
22,2
-
-
-
4.
Bihun afkir
-
-
30,8
-
-
5.
Cangkang udang
-
-
-
12,1
25,6
6.
Dedak padi
35
22,2
34,3
30,5
37,1
7.
Ikan rucah
-
44,4
17,0
21,2
24,4
8.
Kangkung
-
-
-
-
-
9.
Keong
-
-
17,9
-
-
10.
Konsentrat
25
11,2
-
-
12,1
11.
Limbah restoran
-
-
-
-
-
12.
Nasi kering
-
-
-
32,8
-
13.
Roti tawar kering
-
-
-
-
-
14.
Tepung kapur
-
-
-
3,24
0,66
15.
Premiks
-
-
-
1,16
0,14
Kandungan nutrien pakan
Protein kasar (%)
17
23,3
37,1
18,2
18,5
ME (kkal/kg)
2800
2915
2747
2998
2910
Kalsium (%)
3,04
2,34
0,81
3,14
3,17
Fosfor (%)
1,60
1,38
0,62
1,03
1,63

Tulisan dirangkum berdasarkan materi Prof Dr Ismoyowati SPt MP,
Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer