-->

MENJAGA “MESIN PRODUKSI” TETAP SEIMBANG PADA LAYER, BROILER, DAN BREEDER

Bagaimana NE terjadi di dinding usus.

Ketika Kandang Tampak Normal, tetapi Performa Tidak
Banyak peternak dan teknisi lapangan pernah menghadapi situasi ini. Vaksinasi sudah sesuai jadwal, biosekuriti berjalan, dan pemberian pakan sesuai kebutuhan, namun FCR tetap sulit turun, kotoran basah dan berbau tidak biasa, pertumbuhan tidak seragam, atau produksi telur tidak mencapai puncak yang diharapkan.

Dalam pengalaman di lapangan, sumber masalahnya sering sama, yakni keseimbangan sistem pencernaan terganggu. Saluran cerna adalah organ yang mengubah pakan menjadi daging dan telur. Sekitar 70% dari sistem imun unggas juga berkaitan dengan jaringan di sepanjang usus. Ketika usus bermasalah, efeknya merambat ke semua aspek produksi.

Apa yang Dimaksud Keseimbangan Sistem Pencernaan?
Usus yang sehat ditopang oleh tiga pilar yang bekerja bersama:
1. Mikrobiota seimbang: Bakteri menguntungkan (misalnya Lactobacillus dan Bifidobacterium) lebih dominan daripada bakteri merugikan seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella.

2. Integritas mukosa: Vili usus tinggi dan rapat, sehingga penyerapan nutrisi optimal dan patogen tidak mudah menembus dinding usus.

3. Pencernaan dan penyerapan efisien: Enzim endogen bekerja baik, pH saluran cerna stabil, dan pakan tercerna tuntas.

Gangguan keseimbangan ini disebut disbiosis. Disbiosis adalah penyebab umum di balik enteritis non-spesifik, necrotic enteritis (NE), wet litter, feed passage, hingga rendahnya daya serap nutrisi.

Mengapa Kasus Disbiosis Makin Menantang?
Ada beberapa faktor yang membuat tantangan ini semakin terasa:
• Larangan AGP: Sejak antibiotic growth promoter (AGP) dilarang melalui regulasi Permentan, peternak kehilangan “payung pengaman” yang selama ini menekan bakteri patogen. Manajemen kesehatan usus kini harus dibangun lewat pendekatan yang lebih menyeluruh.

• Cuaca dan iklim yang tidak menentu: Transisi musim, hujan berkepanjangan, dan suhu tinggi meningkatkan kelembapan litter, memicu stres panas, dan mempercepat pertumbuhan mikroba patogen. Data BMKG tentang pola cuaca dapat menjadi acuan antisipasi.

• Kualitas... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh A. Riwanda
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Head Office – Jl. Dr Saharjo, No. 264,
Tebet, Jakarta Selatan
Email: riwanda@romindo.net
www.romindo.co.id

MENGATASI GANGGUAN KESEIMBANGAN SISTEM PENCERNAAN UNGGAS


Ketika Saluran Pencernaan Menjadi Kunci Daya Saing
Dalam industri perunggasan modern, saluran pencernaan unggas tidak lagi dipandang sekadar sebagai organ pencerna pakan, melainkan sebagai pusat kendali performa, kesehatan, efisiensi produksi, dan bahkan citra produk akhir di mata konsumen.

Keseimbangan sistem pencernaan menentukan seberapa optimal nutrisi diserap, seberap akuat sistem imun bekerja, dan seberapa stabil performa produksi dapat dipertahankan di tengah tantangan penyakit, stres lingkungan, serta tuntutan global akan produk unggas yang aman, sehat, dan bertanggung jawab.

Gangguan keseimbangan sistem pencernaan sering kali menjadi awal dari berbagai masalah klasik di kandang, pertumbuhan tidak seragam, FCR memburuk, litter basah, meningkatnya kasus enteritis, hingga penurunan daya tahan terhadap penyakit. Dalam konteks ini, pendekatan parsial tidak lagi memadai. Industri dituntut untuk menerapkan strategi holistik yang mengintegrasikan nutrisi, manajemen, biosekuriti, dan kesehatan, sejalan dengan isu besar antimicrobial resistance (AMR) dan pendekatan One Health.

Tren Penggunaan Antibiotik, dari Ketergantungan Menuju Transformasi
Sebelum 2014, penggunaan antibiotik dalam industri unggas masih didominasi pendekatan preventif dan promotif, termasuk sebagai antibiotic growth promoter (AGP). Antibiotik menjadi solusi cepat untuk menjaga performa dan menekan penyakit pencernaan. Namun, seiring meningkatnya bukti ilmiah tentang AMR dan dampaknya terhadap kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, paradigma ini mulai berubah.

Sejak diberlakukan pembatasan dan pelarangan AGP di berbagai negara, termasuk Indonesia, industri unggas memasuki fase transisi yang menantang. Penurunan penggunaan antibiotic berdampak langsung pada meningkatnya tekanan penyakit pencernaan, terutama yang berkaitan dengan bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, E. coli, dan Salmonella. Di sisi lain, konsumen semakin kritis terhadap isu residu antibiotik, keamanan pangan, dan keberlanjutan produksi.

Isu AMR tidak hanya menjadi persoalan teknis peternakan, tetapi telah berkembang menjadi isu kesehatan global dalam kerangka One Health. Artinya, setiap keputusan di kandang memiliki implikasi hingga ke meja makan konsumen. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan sistem pencernaan tanpa ketergantungan pada antibiotik menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi industri.

Akar Masalah Ketidakseimbangan Sistem Pencernaan
Ketidakseimbangan sistem pencernaan unggas bersifat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet Oktober 2026. 

Ditulis oleh:
Henri E. Prasetyo drh MVet
Praktisi perunggasan, Nutritionist PT DMC

KONSISTEN MEMAKSIMALKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Organ pada saluran pencernaan ayam. (Sumber: Poultryhub, 2020)

Bicara masalah kesehatan ayam, penyakit infeksius memang datangnya lebih banyak dari saluran pernapasan. Tetapi bukan berarti mengabaikan masalah kesehatan saluran pencernaan, karena komplikasi dalam kasus ayam yang sakit kerap terjadi.

Semua aspek pemeliharaan sangat besar pengaruhnya dan mereka saling terkait. Sederhananya, ayam yang saluran pernapasannya sakit salah satu gejalanya bisa jadi tidak mau makan, ayam yang saluran pencernaannya sakit dan nutrisinya kurang mudah terinfeksi penyakit lain termasuk pernapasan.

Jangan Berat Sebelah
Dari kaca mata ilmu anatomi, saluran pencernaan ayam dapat dikelompokkan menjadi tujuh bagian yang terdiri dari tembolok (crop), lambung (proventriculus), ventriculus, usus halus, usus buntu (caecum), usus besar (colon), dan cloaca. Masing-masing bagian tubuh ini dihuni secara alami oleh mikroflora yang terdiri bakteri, protozoa, maupun jamur. Namun bagian yang paling banyak dihuni jenis bakteri adalah saluran usus.

Yang menjadi kunci kesuksesan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan yakni seimbangnya jumlah mikroorganisme yang ada pada saluran pencernaan. Jika keseimbangan tersebut bergeser, misalnya mikroorganisme patogen lebih banyak ketimbang mikroorganisme komensal dan yang menguntungkan, tentu akan merugikan ayam sebagai hospes.

Mengenai hal itu, David Marks seorang Poultry Consultant berpengalaman, menyatakan ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keseimbangan mikroflora di dalam usus. Faktor pertama yakni dari ransum dan air minum. Inilah alas an pentingnya mengecek kualitas pakan dan air minum. “Pakan yang nutriennya rendah dan tercemar mikotoksin, tidak higienis, serta mengandung cemaran feses kerap menimbulkan masalah pada ayam,” katanya.

Selain itu, air minum juga dapat menjadi media tumbuh kembang ideal bagi bakteri seperti E. coli maupun organisme patogen lainnya, sehingga dapat menyebabkan keseimbangan mikroflora usus terganggu.

Faktor kedua yakni stres. Stres terjadi karena reaksi fisiologis normal pada ayam dalam rangka beradaptasi dengan situasi baru, baik terkait lingkungan, maupun perlakuan ayam.

Lebih lanjut dijelaskan, stres juga menyebabkan panjang vili usus berkurang, sehingga mengakibatkan peningkatan frekuensi pergerakan usus dan pH intestinal dari usus. Kondisi inilah yang kemudian berdampak pada mikroflora usus, di mana koloni mikroflora menguntungkan menjadi berkurang dan koloni mikroflora merugikan justru meningkat. Efek lain yang dapat terjadi adalah diare dan munculnya infeksi sekunder bakterial.

Faktor ketiga yakni... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

PENCERNAAN AYAM: MASALAH DAN SOLUSINYA

Sistem pencernaan pada ayam. (Sumber :www.bing.com)

Saluran pencernaan (gastrointestinal tract/GIT) yang berfungsi dengan baik jauh lebih dari sekadar organ penyerapan nutrisi, ia bertindak sebagai pusat saraf dari berbagai proses fisiologis yang penting untuk kesehatan usus pada unggas. Fungsi yang tepat dari sistem pencernaan secara langsung memengaruhi pertumbuhan, konversi pakan, imunokompetensi, dan ketahanan terhadap penyakit.

Oleh karena itu, penerapan strategi yang bertujuan untuk menjaga dan mengoptimalkan kesehatan pencernaan merupakan prioritas dalam manajemen unggas, nutrisi, dan program kesehatan, terutama untuk mencegah enteritis.

Keseimbangan sistem pencernaan pada ayam sangat penting untuk kesehatan dan produktivitas mereka secara keseluruhan. Hal ini melibatkan fungsi yang tepat dari berbagai organ dan pemeliharaan keseimbangan antara ayam, mikrobiota usus, dan lingkungan usus.

Keseimbangan ini penting untuk mencerna dan menyerap nutrisi, mencegah masuknya patogen, dan menjaga keadaan homeostasis yang diinginkan. Faktor-faktor seperti stres, nutrisi pakan, dan keberadaan mikotoksin dapat mengganggu keseimbangan ini, yang dapat menyebabkan pertumbuhan, kesehatan, dan kinerja yang menurun. Fungsi penghalang sistem pencernaan yang memungkinkan nutrisi penting lolos dan membatasi zat berbahaya adalah aspek kunci dalam menjaga keseimbangan ini.

Dalam konteks peternakan unggas modern, di mana efisiensi dan kesejahteraan hewan semakin penting, kesehatan pencernaan diposisikan sebagai salah satu pilar fundamental untuk menjamin profitabilitas, keberlanjutan, dan ketahanan terhadap tantangan kesehatan dan lingkungan.

Pendukung Keseimbangan
Salah satu elemen terpenting dalam keseimbangan pencernaan unggas adalah mikrobiota usus, di mana ekosistem mikroba dinamis yang secara signifikan memengaruhi pencernaan, kekebalan, dan pertahanan terhadap patogen. Mikrobiota unggas terdiri dari beragam bakteri, jamur, virus, dan protozoa yang berinteraksi satu sama lain dan dengan inang. Spesies seperti Lactobacillus spp., Bifidobacterium spp., atau Saccharomyces spp., sangat penting untuk menjaga kesehatan usus pada unggas dan mencegah penyakit usus. Mereka memfermentasi substrat yang tidak dapat dicerna, yang mengarah pada produksi asam lemak rantai pendek (SCFA), yang mengatur pH usus, meningkatkan penyerapan nutrisi, dan memperkuat integritas epitel.

Selain itu, mikrobiota yang seimbang bertindak sebagai penghalang terhadap mikroorganisme patogen melalui mekanisme eksklusi kompetitif, produksi zat antimikroba, dan modulasi sistem kekebalan mukosa.

Di luar mikrobiota, kesehatan pencernaan didasarkan pada... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026.

Ditulis oleh:
Drh Arief Hidayat
Praktisi perunggasan

MENGEFEKTIFKAN KINERJA SALURAN PENCERNAAN

Kepadatan kandang harus diperhatikan agar meminimalisir stres. (Foto: Gemini)

Agar nutrisi yang ada pada ransum dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilai pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam, banyak tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap kali terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Apalagi kala keduanya berkomplikasi dan menimbulkan masalah yang cukup serius di lapangan.

Efisiensi dan Kinerja Saluran Cerna Adalah Kunci
Dalam dunia perunggasan sudah dipahami bahwa pakan memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup, baik ayam maupun peternaknya. Persentase terbesar dalam bisnis perunggasan berasal dari pakan, yakni sekitar 60-70%.

Siapa yang paling efisien dalam biaya pakan maka dialah yang akan mendapat margin terbesar. Hal tersebut juga sering ditemui dalam program-program kemitraan bisnis unggas, plasma berusaha seefisien mungkin untuk menghasilkan performa terbaik dengan pakan.

Dari kacamata lain, juga tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan genetik ayam di masa kini sangat pesat. Jika pada masa awal perkembangannya, broiler baru bisa dipanen dalam kurun waktu dua bulan, kini sudah bisa dipanen dalam waktu separuhnya. Hal yang hampir serupa juga terjadi pada ayam petelur yang genetiknya sudah berkembang sedemikian rupa hingga dapat menghasilkan telur yang banyak dalam kurun waktu tertentu.

Hal senada pernah diutarakan oleh Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Komang Wiryawan, dalam suatu seminar. Menurutnya, kini ayam memiliki pertumbuhan lebih cepat, namun memiliki kekurangan.

“Perkembangan ternak ayam terutama pedaging ini sangat luar biasa, sebab pada waktu berumur sehari bobotnya masih 40-an gram, lalu dalam waktu kurang dari sebulan bobotnya bisa mencapai lebih dari satu kilogram, itu artinya naik lebih dari 20 kali lipat,” ujarnya.

Kendati demikian, walaupun pertumbuhannya cepat, keluhan-keluhan peternak terutama masalah penyakit kerap datang menyerang. “Ayam modern bisa dibilang mudah stres kalau tidak dipelihara dengan baik pasti sakit, pakannya tidak cocok juga sakit, begitupun jika kandang kurang layak ayam juga sakit,” jelasnya.

Oleh karenanya perlu diterapkan manajemen yang baik dalam pemeliharannya, terutama pakan. “Karena makhluk hidup itu nutrisinya dari situ, kualitas pakan harus terjaga, coba lihat kalau nutrisinya tidak mendukung, pasti stres ayam, gampang terkena penyakit. Belum lagi kalau pakan terkontaminasi zat bahaya seperti mikotoksin, tentu akan makin parah,” ucapnya.

Dirinya juga tidak memungkiri bahwa aspek manajemen... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Oktober 2026. (CR)

GOTONG-ROYONG MENJAGA SALURAN CERNA AYAM YANG SEHAT

Performa produksi unggas sangat ditentukan kesehatan organ pencernaannya. (Foto: Istimewa)

Saluran cerna merupakan sistem tubuh yang berperan penting dalam performa unggas komersil. Saluran cerna terdiri dari paruh, esofagus, tembolok, proventrikulus, ampela, usus kecil, usus buntu, usus besar, dan kloaka. Makanan yang masuk ke dalam saluran cerna akan diserap dan menjadi nutrisi bagi peningkatan bobot tubuh dan perkembangan saluran reproduksi yang nantinya merupakan penghasil telur.

Performa produksi ke depan akan sangat ditentukan kesehatan oleh organ pencernaan tersebut. Oleh karena itu, gotong-royong untuk mengupayakan kesehatan saluran cerna penting untuk dilakukan.

Secara umum faktor yang dapat mengganggu kesehatan saluran cerna dapat dibedakan menjadi faktor infeksius dan non-infeksius.

Non-Infeksius
Faktor non-infeksius adalah faktor di luar agen penyakit yang dapat mengganggu kesehatan saluran cerna unggas. Umumnya faktor ini terkait erat dengan manajemen pemeliharaan, seperti:

• Kualitas pakan dan air: Kecukupan nutrisi akan membantu saluran pencernaan ayam mengalami perkembangan bobot dan ukuran yang baik. Bertambahnya jumlah vili usus dapat meningkatkan luas permukaan usus yang berfungsi untuk penyerapan zat-zat makanan dan ini baik untuk kesehatan ayam. Selain itu, kualitas air yang dikonsumsi juga berperan dalam menjaga kesehatan unggas. Air minum yang baik tidak berwarna dan tidak berbau, tidak mengandung logam berat berbahaya (Pb, Hg, As, dan lainnya), pH berkisar 6,0-8,0 dan tidak mengandung bakteri patogen.

• Stres: Dapat memengaruhi kesehatan pencernaan unggas sehingga menyebabkan penurunan nafsu makan dan feses berair. Banyak hal dapat menimbulkan stres pada unggas, seperti kandang terlalu padat, kadar amonia tinggi, cuaca ekstrem, pergantian pakan, transportasi, dan adanya infeksi penyakit. Selain itu, stres pada ayam dapat menyebabkan pelemahan sistem imun. Sistem imun berperan dalam mengenal, menghancurkan, dan menetralkan benda-benda asing atau sel abnormal yang berpotensi merugikan bagi tubuh.

Pencegahan utama untuk melindungi saluran cerna dari berbagai penyakit infeksius adalah... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2025. (SANBIO-MENSANA/ADV)

MEMBUAT PENCERNAAN BEKERJA OPTIMAL

Hindari ayam dari kondisi stres. (Sumber: Poultryworld.net)

Agar nutrisi yang terkandung di dalam pakan dapat diserap sempurna, dibutuhkan sistem pencernaan yang bekerja optimal. Saluran pencernaan yang berfungsi secara optimal akan mampu memaksimalkan nilaip pemanfaatan ransum melalui proses pencernaan dan penyerapan nutrisi.

Dalam aspek pemeliharaan ayam banyak sekali tantangan yang dihadapi peternak di masa kini. Masalah pada saluran pencernaan kerap terjadi, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius, atau bahkan kombinasi keduanya.

Seperti yang pernah dialami oleh Supendi Agustiyanto, peternak broiler kemitraan asal Rumpin Kabupaten Bogor. Ketika kebijakan pakan non-AGP mulai diberlakukan dirinya merasa performa ayam di kandangnya menurun cukup drastis. Hal ini semakin rumit karena juga diperparah dengan cuaca ekstrem, sangat panas di siang hari dan dingin di malam hari.

“Awalnya ayam cuma diare, terus saya kasih obat antidiare, namun bukannya sembuh malah diare berdarah gitu. Kemudian saya langsung telepon TS obat untuk konsultasi dan ternyata ayam saya kena koksi,” tutur Supendi.

Saat itu ayamnya sudah berusia 25-an hari, walaupun bobot badan masih di bawah standar, Supendi langsung melakukan panen dini ketimbang merugi lebih dalam dan melakukan pembenahan, utamanya dalam manajemen pemeliharaan.

Membenahi Manajemen
Disampaikan oleh Nutrisionis CV Kawa Jaya Sakti, William Widjaya, bahwa pemikiran peternak harus diubah di zaman sekarang, utamanya soal pakan. Dengan kondisi seperti saat ini, banyak perusahaan pakan mencari alternatif pengganti AGP untuk membantu peternak dalam menjaga performa ayam di kandang.

“Mereka masih menganggap pakan merek A, B, dan lain sebagainya sudah enggak sebagus dulu. Padahal tiap formula berbeda, tinggal bagaimana peternaknya,” kata dia.

Lebih lanjut disampaikan, saat ini AGP sudah dilarang penggunannya, berarti peternak harus mengupayakan peningkatan dari segi pemeliharaan, misal dengan menggunakan kandang sistem semi tertutup atau full tertutup (closed house).

Hal senada juga disampailan oleh Drh Agustin Polana, seorang praktisi perunggasan. “Pemerintah sudah mengesahkan bahwa AGP tidak boleh, sekarang ayo kita benahi yang lain. Pakan bukan satu-satunya yang memengaruhi performa saluran pencernaan, masih ada yang lainnya. Intinya, kita percayakan nutrisi pada yang ahli.”

Banyak Penyebabnya
Selain pakan, ada beberapa faktor lain yang wajib diperhatikan agar saluran pencernaan sehat dan bekerja secara optimal. Pertama, akibat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2025. (CR)

GANGGUAN EKUILIBRIUM GASTROINTESTINAL: DYSBIOSIS DAN GUT HEALTH

Gambaran patologi-anatomis problem dysbiosis lapangan sangatlah bervariasi, tergantung faktor penyebab yang umumnya lebih dari satu. Mulai dari perubahan dinding dan permukaan jaringan usus, kondisi lendir alias mukus yang ada, serta kondisi isi lumen usus. Oleh sebab itu, dalam menegakkan diagnosis lapangan terkait dengan dysbiosis haruslah dengan sistematika yang tepat dan secara holistik.

Oleh: Tony Unandar
Private Poultry Farm Consultant - Jakarta

Terminologi dysbiosis (dysbacteriosis) secara praktis mulai dikenal dan popular di tengah hingar-bingarnya kebijakan pelarangan penggunaan AGP (antibiotic growth promotor) dalam pakan ternak di banyak negara, termasuk Indonesia. Adalah Ducatelle et al., 2015; yang pertama kali mengemukakan pandangannya bahwa dysbiosis akan menjadi tantangan terselubung yang dahsyat dan tidak bisa dianggap enteng bagi aspek efisiensi industri perunggasan modern. Tulisan singkat ini selain berisi observasi dan diskresi penulis dalam mengulik kasus yang disebabkan multifaktor ini di lapangan, juga disertai pemahaman lebih lanjut melalui publikasi ilmiah yang tergolong paling gres.

Kesehatan Usus
Hippocrates (460-370 sebelum Masehi), bapak kedokteran purba pernah mengemukakan suatu dalil bahwa semua penyakit dimulai atau berasal dari saluran cerna, khususnya usus.  Pasca pakan non-AGP, dalil ini seolah memberikan inspirasi segar bagi beberapa peneliti perunggasan universal, dimana kondisi saluran cerna yang sehat (gut health) adalah dasar atau pondasi utama bagi kesehatan ayam modern, krusial untuk reaksi imunitas tubuh dan performa yang optimal, serta ekuilibrium fungsi-fungsi fisio-endokrin yang ujung-ujungnya adalah profit yang maksimal secara ekonomis (Shehata et al., 2022).

Untuk pertama kalinya pada 2016, kesehatan usus alias kesehatan saluran cerna didefinisikan sebagai suatu kondisi absennya pelbagai bentuk gangguan ataupun penyakit pada saluran cerna, sehingga kompetensi induk semang/hospes dalam mengekspresikan fungsi-fungsi fisiologisnya dapat terjadi secara optimal yang selanjutnya mampu meredam dengan baik dampak stresor yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik (Kogut, 2016).

Pada tahap lanjut, kesehatan usus didefinisikan sebagai suatu keadaan ideal yang stabil (steady state), dimana interaksi antara mikrobiom (mikrobiota usus) dan saluran usus berada dalam keadaan ekuilibrium yang simbiotik, dalam arti antara kesejahteraan hospes dan performa tidak lagi dibatasi oleh hal-hal terkait dengan disfungsi saluran usus itu sendiri (Celi et al., 2016).

Dari beberapa deskripsi di atas jelas bahwa secara holistik kesehatan usus terjadi akibat interaksi yang kompleks dan ekuilibrium dari pelbagai komponen, yaitu mikrobiota usus yang homeostatik (eubiosis), status umum hospes (dalam hal ini ayam) yang prima, dan kondisi lingkungan (environmental factors) yang ideal untuk menjaga kelangsungan kondisi homeostatik yang berkesinambungan (Wickramasuriya et al., 2022; Salahi et al., 2025).

Eubiosis dan Dysbiosis (Dysbacteriosis)
Dalam kondisi normal, tiap individu (ayam) yang sehat terdapat komunikasi dan regulasi dua arah yang intens antara... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Mei 2025. (TOE)

JANGAN REMEHKAN KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN

Menjaga kesehatan saluran cerna merupakan hal penting dalam rangka menjaga performa ayam, dari pertumbuhan maupun produktivitasnya. (Foto: Istimewa)

Menjaga kesehatan saluran pencernaan merupakan hal penting untuk dilakukan. Dalam rangka menjaga performa ayam, dari pertumbuhan maupun produktivitasnya. Pasalnya, pencernaan yang sehat membuat daya tahan penyakit meningkat. Saluran cerna sehat adalah cerminan daya tahan tubuh yang baik. Mengapa demikian? Karena hampir 70% komponen sistem kekebalan terdapat pada jaringan usus. Kondisi saluran pencernaan yang sehat dapat mencerna nutrisi yang ada dalam ransum. Apabila kesehatan pencernaan terganggu, pencernaan dan absorpsi nutrisi akan terpengaruh, sehingga kesehatan unggas, performa dan kesejahteraannya juga terganggu.

Adapun dampak ekonomis yang dirasakan sangat merugikan dari gangguan pencernaan pada ayam, seperti gangguan pertumbuhan, gangguan produksi telur, penurunan kuantitas dan kualitas bibit ayam yang dihasilkan dari satu breeding farm, adanya kematian, peningkatan jumlah ayam afkir, hingga penurunan efesiensi pakan. Namun demikian, yang juga tidak kalah pentingnya adalah terjadinya peningkatan biaya vaksinasi, pengobatan, sanitasi dan disinfeksi, serta biaya tenaga kerja.

Faktor yang dapat menimbulkan terjadinya gangguan pencernaan pada ayam sangat banyak dan dapat bersifat kompleks, mulai dari infeksi berbagai agen penyakit, rendahnya kualitas pakan, faktor budi daya (manajemen pemeliharaan), serta pengaruh iklim dan lingkungan.

Beberapa penyakit secara langsung dapat merusak dan mengganggu fungsi sistem pencernaan seperti Newcastle Disease (ND), Koksidiosis, Kolibasilosis, Kolera, Salmonelosis, Nekrotik Enteritis (NE), Infectious Stunting Syndrome, Helminthiasis. Beberapa penyakit atau faktor yang secara tidak langsung merusak fungsi organ pencernaan, akan tetapi memengaruhi perkembangan organ pencernaan diantaranya Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernapasan lain yang bersifat kronis, defesiensi nutrisi pakan, serta faktor praktik manajemen yang berpengaruh langsung pada kesehatan ayam.

Sistem Pencernaan Unggas
Saluran pencernaan adalah saluran yang terdiri dari beberapa organ yang masing-masing memiliki fungsi… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Februari 2023.

Ditulis oleh:
Drh Bayu Sulistya
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
JL. DR SAHARJO NO. 264, JAKARTA
Tlp: 021-8300300

WASPADA PENYAKIT PADA SALURAN CERNA

Faktor yang memengaruhi kesehatan saluran pencernaan. (Foto: Istimewa)

Sistem pencernaan merupakan sistem organ tubuh yang penting dalam menunjang performa ayam, baik dari pertumbuhan dan produktivitas. Kondisi saluran pencernaan yang sehat dibutuhkan untuk dapat mencerna nutrisi yang ada dalam ransum. Jika saluran pencernaan ayam mengalami gangguan, maka hal ini akan berisiko pada kesehatan dan performa tubuh ayam. Oleh karena itu, perlu mengetahui manajemen yang tepat dan solusi untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan demi mencapai performa optimal.

Jangan Sampai Saluran Pencernaan Bermasalah
Menurut Technical Education & Consultation PT Medion, Drh Christina Lilis, berdasarkan data yang diambil oleh timnya dalam tiga tahun terakhir, diketahui bahwa kasus penyakit pencernaan seperti Kolibasilosis, Koksidiosis dan Nektotik Enteritis (NE) masih menempati ranking 10 besar dan sering ditemukan pada ayam pedaging, sedangkan pada ayam petelur ditemukan juga kasus penyakit cacingan yang menyerang saluran pencernaan.

Penyakit Colibacillosis disebabkan oleh bakteri E. coli, merupakan penyakit yang bisa menular secara vertikal dari induk ke anak ayam melalui ovarium atau oviduk atau secara horizontal melalui kontak dengan bahan atau peralatan kandang yang tercemar. Hal ini berkaitan dengan rendahnya sanitasi dan kebersihan kandang, sehingga bakteri tersebut mudah mencemari lingkungan kandang.

Sedangkan Koksidiosis yang disebabkan parasit protozoa Eimeria sp. juga menjadi kasus yang sering muncul karena siklus hidupnya yang pendek dan perkembangbiakannya yang tinggi di dalam suatu lingkungan kandang dan menimbulkan penyakit. Koksidiosis kerap berkolaborasi dengan NE yang disebabkan oleh bakteri Clostridium perfringens.

“Hal ini dikarenakan bakteri tersebut merupakan flora normal yang hidup di dalam saluran pencernaan ayam, ketika kondisi ayam buruk dan didukung dengan kondisi lingkungan yang tidak nyaman, maka bakteri tersebut akan ikut menginfeksi,” tutur Lilis.

Ia melanjutkan, karena ketika kondisi tubuh ayam menurun dan konsentrasi bakteri terus bertambah, sehingga terjadi... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2022. (CR)

Deteksi Goncangan Kualitas Pakan dan Kesehatan Saluran Cerna Broiler Modern

Pakan dan faktor penting yang berhubungan dengannya.
Seiring dengan perkembangan terkini seputar kebijakan pemerintah dalam penggunaan antibiotik dan antikoksi yang dicampur sebagai imbuhan pakan sejatinya mempunyai tujuan yang sangat mulia. Selain untuk meminimalisir terjadinya resistensi antibiotik pada manusia oleh kandungan residu antibiotik yang tinggi pada produk peternakan (daging, telur dan susu), juga mendidik masyarakat peternakan secara umum untuk lebih cerdas dan visioner dalam menatap masa depan yang lebih sehat, kuat dan lebih kritis terhadap segala macam perubahan yang ada. Tentunya apa yang dicita-citakan bersama dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menyediakan protein hewani yang aman, sehat utuh dan halal, serta harga yang terjangkau, harus seiring dengan terjaganya kesehatan dan pertumbuhan hewan yang optimal, sehingga efisiensinya tetap terjaga dengan baik dan mendukung tercapainya iklim usaha peternakan yang lebih kondusif.

Nutrigenomic dan Broiler Modern
Perkembangan broiler modern terkait dengan kebutuhan asupan nutrisi untuk menunjang pertumbuhannya menjadi faktor dominan yang akhir-akhir ini banyak diteliti oleh pakar genetika dan pakar nutrisi di seluruh dunia. Tidak hanya penelitian mutakhir seputar kebutuhan zat gizi (nutrisi) agar bisa menunjang ekspresi fenotip dari potensi genetik yang dimilikinya, namun juga semakin banyak penelitian yang dilakukan untuk mencari produk pengganti antibiotik agar keterserapan zat gizi tersebut semakin optimal. Hal ini dirasakan penting seiring dengan tuntutan konsumen dan perkembangan zaman untuk memproduksi produk-produk peternakan yang sehat, minim residu antibiotiknya, bahkan produk organik yang dihasilkan tanpa menggunakan zat-zat kimia selama hewan dipelihara di kandang. Produk pengganti antibiotik yang banyak dilakukan penelitian diantaranya, penggunaan prebiotik, probiotik, asam organik, herbal (esensial oil/ekstrak tumbuh-tumbuhan), enzim, immunoglobulin Y dan antimikrobial golongan peptide (Gadde, 2017). (lihat gambar di atas).

Dalam industri peternakan ayam broiler, pakan menempati porsi yang dominan (65-70%) yang merupakan komponan terbesar yang berpengaruh pada harga pokok produksi. Sehingga monitoring terhadap kualitas pakan menjadi hal yang sangat penting untuk meminimalisir tingkat resiko baik terhadap kesehatannya ataupun pertumbuhannya.

Pakan mempunyai peranan yang vital dalam menunjang fungsi metabolisme tubuh untuk tumbuh dan bertahan melawan agen kuman penyakit. Tidak hanya itu, peranan pakan dalam menjaga suhu tubuh dan memperbarui sel-sel tubuh dan jaringan juga sangat penting. Secara fisiologi pakan vital dalam menjalankan aktivitas biologis lainnya, seperti bergerak, mata berkedip, jantung berdenyut, bahkan menggerakkan otot-otot pernafasan.
Secara rinci dijelaskan sebagai berikut: ***

Drh Eko Prasetio
Commercial Broiler Farm Consultant

Selengkapnya baca Majalah Infovet edisi Juni 2018.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer