-->

ILMUWAN TIONGKOK BERHASIL KEMBANGKAN ANJING GMO PERTAMA DI DUNIA


Ilmuwan Cina mengklaim berhasil membuat anjing GMO pertama di dunia

Ilmuwan dari Key Laboratory of Regenerative Biology di Guangzhou Institutes of Biomedicine and Health, Cina, mengklaim sebagai yang pertama menggunakan modifikasi genom untuk menggandakan massa otot anjing.

Temuan mereka, baru-baru ini diterbitkan dalam edisi terbaru Journal of Molecular Cell Biology, temuan ini dikatakan telah membuka jalan baru di bidang rekayasa genetika. Untuk penelitian terbaru ini, para ilmuwan menggunakan 65 embrio anjing beagle, dengan fokus pada gen yang dikodekan untuk myostatin, protein yang menghambat pertumbuhan otot. Dengan menyuntikkan kompleks enzim CRISPR-Cas9 ke dalam embrio, tujuannya adalah untuk melumpuhkan gen myostatin dalam DNA gigi taring. Dengan myostatin dihapus, anjing beagle akan dapat mencapai tingkat pertumbuhan otot yang baru.
Studi terobosan menghasilkan kelahiran 27 anak anjing. Para ilmuwan melaporkan hanya dua ekor anjing dari hasil percobaan tersebut, yakni anjing jantan yang mereka beri nama Hercules dan seekor anjing betina yang mereka beri nama Tiangou, mengalami gangguan pada gen myostatin mereka.

Para peneliti mengatakan bahwa pengeditan gen ternyata tidak lengkap di Hercules, hal ini memungkinkan persentase sel ototnya untuk terus memproduksi myostatin. Tetapi dengan Tiangou, pengeditan gen benar-benar selesai, menghasilkan otot paha yang tumbuh jauh lebih besar daripada otot-otot lainnya. Para ilmuwan mengatakan anjing-anjing itu memiliki lebih banyak otot dan diharapkan memiliki kemampuan berlari yang lebih kuat, yang bisa menjadi anjing pemburu dan militer yang unggul.
Jauh sebelum itu, di masa lalu, ilmuwan Cina telah melakukan penyuntingan gen pada kambing, kelinci, tikus, monyet, dan bahkan embrio manusia. Sementara para ilmuwan mengatakan studi khusus ini dilakukan untuk mempelajari lebih lanjut tentang modifikasi gen untuk perawatan penyakit manusia, seperti Parkinson dan distrofi otot, sulit untuk tidak bertanya-tanya apa lagi yang mungkin mereka lakukan. (CNBC/CR)

LAB-GROWN CHICKEN MEAT DISETUJUI DI SINGAPURA

Perusahaan AS, Eat Just Inc, telah memperoleh persetujuan regulasi di Singapura untuk memproduksi dan menjual daging ayam lab-grown.

Daging tersebut dikatakan berkualitas tinggi dan dibuat dari sel-sel hewan. Mengusung merek GOOD Meat, produk ini nantinya akan dipasarkan secara komersial.

Tim Eat Just telah menyiapkan dokumentasi tentang karakterisasi daging ayam yang dikembangkan, juga proses produksinya. Validasi keamanan dan kualitas dikatakan menunjukkan bahwa produk mereka telah memenuhi standar daging unggas, dengan kandungan mikrobiologis yang sangat rendah dan jauh lebih bersih daripada ayam konvensional.

Analisis juga menunjukkan bahwa daging ayam yang diproduksi mengandung protein tinggi, komposisi asam amino yang beragam, kandungan relatif tinggi dalam lemak tak jenuh tunggal yang sehat, dan merupakan sumber mineral yang kaya.

Badan Pangan Singapura mengatakan telah meninjau data yang berkaitan dengan proses, kontrol manufaktur, dan pengujian keamanan sebelum memberikan persetujuan. Daging yang akan dijual sebagai nugget ini akan dibandrol dengan harga premium. (Sumber poultryworld.net)

PERUNGGASAN PASCA PANDEMI

Ternak unggas. (Sumber: Agrarindo.com)

Dunia sedang menghadapi ancaman pandemi COVID-19 yang telah membunuh lebih dari 1 juta orang di dunia. Sampai saat ini semua orang disarankan untuk tetap menjaga jarak, rajin mencuci tangan dan menggunakan masker lantaran vaksin belum ditemukan. Konon, ketiga hal itu akan terus dilakukan meskipun vaksin sudah ditemukan. Dampak dari pandemi ini sangat luar biasa, makhluk yang tak kelihatan ini juga telah memporak-porandakan ekonomi di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Kira-kira pertanyaan banyak orang sama, apa dan bagaimana setelah pandemi ini berakhir khususnya di sub sektor perunggasan?

Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal terutama di sektor peternakan, khususnya perunggasan. Hari ini banyak orang lebih waspada dalam mengonsumsi makanan. Apalagi ada rumor bahwa COVID-19 bisa menular lewat makanan. Di sisi lain, ada tantangan dalam teknis perunggasan yaitu produksi, kekebalan dan kesehatan pada ternak unggas. Ketiga hal tersebut tentu menjadi pembahasan yang berkelanjutan. Lantas kita bertanya bagaimana para pelaku usaha menyikapi dampak pandemi ini dan bagaimana itu jika dikaitkan dengan kepastian keamanan pangan bagi konsumen? Muara dari semua produksi peternakan adalah pangan.

Kita harus akui bahwa masih banyak kelemahan terkait soal kesehatan ternak atau pengendalian penyakit yang terjadi, baik itu dalam kandang hingga kualitas daging pada makanan yang tersedia di meja makan. Dalam banyak praktik di kandang, tak sedikit pelaku usaha masih tetap menggunakan antibiotik dalam melancarkan pembesaran ternak unggas. Masih banyak pula rumah pemotongan ayam (RPA) yang belum menerapkan standar pemotongan yang memenuhi syarat higienis dan sanitasi untuk menjamin kualitas daging. Pandemi COVID-19 ini seharusnya menjadi momentum bagi industri peternakan di Indonesia dalam meningkatkan keamanan pangan asal hewan.

Penggunaan Antibiotik
Penggunaan antibotik pada pakan unggas masih menjadi diskusi yang berkelanjutan sampai hari ini. Meskipun antibiotic growth promoter (AGP) pada pakan sudah dilarang di Indonesia, tapi penggunaannya masih dilakukan oleh sejumlah praktisi peternakan khususnya pada ternak broiler. Dilema dari AGP adalah satu sisi mendorong pertumbuhan bagi ternak, di sisi lain berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Resisten antibiotik menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat secara global baik langsung maupun tidak langsung.

Resisten antibiotik dapat menular ke manusia secara langsung adalah dengan mengonsumi unggas, sedangkan yang tidak langsung bisa terjadi lewat kotoran unggas yang mencemari lingkungan (air dan tanah). Diperlukan upaya secara cepat dan berkelanjutan dalam menemukan alternatif antibiotik misalnya prebiotik, probiotik dan senyawa antimikroba. Bahan kimia nabati menunjukkan bahwa dalam suplementasi pakan asam kaprilat, rantai asam lemak secara konsisten mengurangi kolonisasi Campylobacter pada ayam broiler (Solis de los Santos, dkk., 2008; 2009; 2010). Kemampuan in vitro dari thymol dan carvacrol untuk menghambat Campylobacter jejuni dan Salmonella Enteritidis dalam isi sekal ayam (Kollanoor Johny, dkk., 2010). Probiotik dan prebiotik dalam studi Arsi et al. (2015 b) menunjukkan bahwa prebiotik tidak secara konsisten mengurangi Campylobacter. Namun, prebiotik secara signifikan menurunkan beban Campylobacter bila digunakan dalam kombinasi dengan probiotik spp. (Arsi dkk., 2015).

Keamanan Pangan
Bahan pangan asal ternak nomor dua paling besar dikonsumsi di dunia adalah unggas, setelah daging babi. Tapi konsumsi daging nomor wahid di Indonesia adalah daging unggas. Oleh sebab itu, perhatian semua pihak pada unggas tak boleh disepelekan. Namun berapa banyak rumah potong atau tempat pemotongan hewan unggas yang ada telah memenuhi syarat higiene dan sanitasi? Dengan mudah kita menemukan tempat pemotongan yang tidak layak di pasar atau di sekitar rumah.

Tempat pemotongan yang tidak layak ini ditandai dengan ciri-ciri kotor, sistem penangan limbah yang tidak memadai, darah atau limbah berceceran di tanah, bangunan yang terbuat dari kayu, kandang penampungan ayam hanya berjarak 2-5 meter, pekerja yang tidak mengenakan perlengkapan yang standar (tidak bersih) dan sebagainya. Kondisi tempat pemotongan seperti ini amat berpotensi membahayakan kesehatan manusia karena kontaminasi bakteri patogen.

Penyakit yang ditimbulkan jika produk pangan terkontaminasi bakteri patogen adalah infeksi dan keracunan. Infeksi yang dimaksud akibat tertelannya mikroba dan berkembang biak di dalam alat pencernaan. Gejala yang timbul dari sini diketahui adalah sakit perut, pusing, muntah dan diare (Bruckle, dkk., 1987). Sekitar 60-70% penyakit diare disebabkan makanan yang mengandung mikroba patogen (Winarno, 2004). Sedangkan keracunan agak berbeda dengan infeksi, yaitu mikroba terlebih dahulu bertumbuh dalam bahan pangan kemudian tertelan oleh manusia. WHO mendata secara global bahwa 1 dari 10 orang di dunia sakit akibat keracunan makanan dan 420.000 orang meninggal dunia akibat keracunan makanan.

Dalam upaya menjaga agar produk pangan asal hewan terjamin higien dan sanitasinya, pemerintah telah membuat peraturan yang cukup jelas. Bahwa untuk produk mentah pangan (karkas) yang dikomersialkan wajib memiliki sertifikat kontrol veteriner. Tapi sayangnya, hal ini masih langka di Indonesia. Kita dengan mudah menemukan tempat pemotongan yang tidak memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Beberapa waktu lalu, salah satu pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian mengungkapkan hanya sedikit sekali RPA di Indonesia yang memiliki NKV. Padahal, berdasarkan Undang-Undang No. 18/2009 juncto No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pasal 60 menyebutkan bahwa “Setiap orang yang mempunyai unit usaha produk hewan wajib mengajukan permohonan untuk memperoleh nomor kontrol veteriner…”

Tantangan COVID-19 terhadap Unggas
Meskipun kesamaan dalam susunan genetik manusia dan ayam adalah sekitar 60%, sistem kekebalan manusia dan spesies unggas sangat berbeda, sehingga protokol, jenis dan aplikasi vaksinasi berbeda (Hafez dan Attia, 2020). Beberapa studi terbaru tampaknya menujukkan COVID-19 tidak menular pada ternak unggas. Kendati demikian, penerapan biosekuriti yang ketat di lokasi kandang harus dipertahankan untuk membatasi penyebaran COVID-19 ke peternakan. Karena kemungkinan terjadinya mutasi bisa terjadi (Montse dan Bender, 2020).

Meskipun saat ini belum ada bukti bahwa makanan dapat menyebarkan COVID-19, masyarakat global dihadapkan pada pertimbangan dalam pembelian makanan. Bakteri dan virus bisa tumbuh di suhu 5-60° C. Sebaiknya jika masyarakat hendak memesan daging unggas bawalah kotak pendingin dan es untuk menjaga makanan pada suhu yang dingin selama diperjalanan. Jangan biarkan daging unggas berada pada suhu ruang selama lebih dari 2 jam. Setelah sampai di rumah, daging unggas dimasukkan ke dalam kulkas atau freezer untuk penyimpanan yang aman.

Pandemi ini sebetulnya momentum yang tepat dalam rangka membenahi kualitas produk perunggasan nasional. Ini merupakan tanggung jawab bersama baik dari pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi dan masyarakat. Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan perlu menindak tegas pelaku usaha yang tidak memiliki NKV, karena ini berkaitan dengan nyawa manusia. Masyarakat memiliki peran yang cukup penting dalam memilih produk unggas yang sudah terjamin mutunya. Bagi pelaku usaha, sudah saatnya lebih peduli pada lingkungan dan masyarakat, tidak semata-mata mengejar profit belaka (People, Planet, Profit). Perguruan tinggi menjadi ujung tombak dalam mengedukasi masyarakat dan juga dalam melakukan riset/inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Semoga pandemi ini cepat berlalu. Usaha perunggasan Indonesia semakin maju. ***

Oleh: Febroni Purba (Praktisi Peternakan Unggas Lokal)

MENGUBAH BULU AYAM MENJADI MAKANAN

Ilmuwan Thailand Sorawut Kittibanthorn dikabarkan sedang meneliti tentang cara untuk mengubah bulu ayam menjadi makanan. Konsepnya adalah mengubah komponen nutrisi yang ditemukan pada bulu ayam menjadi bubuk, yang kemudian dapat diubah menjadi sumber makanan kaya protein yang dapat dimakan.

Sorawut yang sedang belajar untuk Magister Material Futures di London, mengatakan bahwa bulu ayam mengandung protein. Jika dapat diubah menjadi makanan akan sangat membantu mengurangi limbah, mengingat setiap tahunnya jutaan ton bulu ayam dibuang.

Di Eropa sendiri sekitar 2,3 juta ton bulu ayam dibuang tiap tahun, dan diperkirakan akan meningkat hingga 30%.

Ide Sorawut ini masih perlu melalui fase penelitian dan pengembangan lainnya. Namun prototipe karyanya menyangkut nugger ayam dan pengganti steak telah menerima beberapa sambutan positif. (Sumber Poultryworld.net)

ULANG TAHUN PDHI KE-68 SEKALIGUS MERESMIKAN GEDUNG BARU

Sabtu (9/1/2021) Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) genap berusia 68 tahun.

Perayaan ulang tahun yang juga dilakukan secara online ini ditandai dengan peresmian Grha Dokter Hewan. Gedung yang terletak di Jl Joe No 9, Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu menjadi kantor pusat PB PDHI yang baru.

"Alhamdulillah di usia yang telah mencapai 68 tahun, pada hari ini PDHI mendapatkan kado istimewa dari PB PDHI periode 2018-2022, yaitu sebuah bangunan permanen sebagai kantor pusat PDHI dengan diberi nama Grha Dokter Hewan," demikian kata Drh Muhammad Munawaroh, MM, Ketua Umum PB PDHI.

Dalam acara tersebut juga diperkenalkan program Sadosabu, Satu Dokter Hewan Satu Buku. Program yang menghasilkan 5 buku karya para dokter hewan.

Grha Dokter Hewan sendiri terwujud diantaranya dari sumbangsih dana anggota PDHI yang tercapai sekitar 1 miliar rupiah. Dalam acara Yayasan Hemerazoa juga menyerahkan bantuan 100 juta rupiah guna membantu pelunasan gedung senilai 2 miliar rupiah yang ditargetkan lunas pada Mei 2021. (NDV)

REKTOR UP: PENGEMBANGAN PETERNAKAN HARUS DILAKUKAN SECARA HOLISTIK

Rektor UP Bangkinang, Prof Dr Amir Luthfi. (Foto: Dok. Infovet)

Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) Bangkinang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Prof Dr Amir Luthfi, menyebut bahwa pengembangan usaha peternakan harus dilakukan secara menyeluruh. Hal itu disampaikan ketika Infovet berkunjung ke kampus yang dinahkodainya, Senin (4/1/2021).

Menurut Prof Amir, usaha peternakan merupakan bidang usaha yang sangat menjanjikan. Dari usaha inilah dihasilkan bahan pangan kaya protein dan gizi lainnya yang dibutuhkan tubuh.

“Daging, susu dan telur itu asalnya dari ternak kan, nah jika mereka dipelihara dengan baik maka produktivitas mereka pun juga lebih baik,” ujar Prof Amir.

Program Studi Peternakan yang digagasnya bertujuan untuk menampung para generasi muda yang mau memikirkan nasib pangan Riau secara regional dan Indonesia dimasa mendatang.

“Kami berharap para generasi muda yang akan melanjutkan kuliah, mereka mau bergabung dengan kita, Program Studi Peternakan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai,” ucapnya.

Terkait itu, Prof Amir pun telah menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan, termasuk meringankan biaya melalui penyediaan beasiswa.

“Kita siapkan beasiswa bagi mereka yang mau bergabung dengan kita,” kata Prof Amir yang juga mantan Rektor UIN Suska Riau.

Dengan pengembangan usaha peternakan secara menyeluruh atau holistik, ia menyebut bahwa memelihara ternak tidak cukup hanya membiarkan ternak mendapatkan pakan sendiri. Namun sesuai dengan makna dari beternak, maka seluruh hal yang berhubungan dengan ternak harus dipenuhi.

Gambaran lugas yang ia sampaikan, selain menyediakan pakan, peternak juga harus menyediakan kandang dan memeliharanya dengan baik sesuai standar pemeliharaan dari masing-masing jenis ternak yang dipelihara. Diapun menyebut bahwa usaha ternak yang menguntungkan sejatinya terletak pada kemampuan peternak dalam memanfaatkan seluruh lini kegiatan, mulai dari hulu hingga hilir.

“Kita yang memelihara hingga menjadikannya sebagai bahan pangan olahan inilah yang diharapkan, keuntungan yang lebih menguntungkan bagi peternak,” ungkapnya.

Dari gagasan itu, Prof Amir berharap agar Program Studi Peternakan hasil besutannya mampu menghasilkan para lulusan yang melek teknologi kewirausahaan.

“Kita berharap para lulusan peternakan, sebelum mereka lulus, mereka harus mempunyai satu proposal yang akan mereka jadikan acuan untuk membuat dan mengembangkan usaha di bidang peternakan,” kata dia.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pihaknya terus berbenah dengan memperbanyak jejaring kerja sama dengan berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta, termasuk dengan media massa, salah satunya Majalah Infovet.

Di samping itu dalam waktu dekat, Prof Amir juga akan membangun Pusat Penelitian dan Pengembangan Ternak yang diarahkan kepada pengembangan ternak lokal, seperti Kerbau Kuntu (Kerbau Kampar) yang menjadi plasma nutfah Kabupaten Kampar.

“Kita akan siapkan program yang arahnya pada pengembangan ternak kerbau, ini akan menjadi proyek besar yang akan menghasilkan artikel-artikel ilmiah yang dapat memperkaya keilmuan terkait ternak kerbau tersebut," tandasnya. (Sadarman)

JANGAN SAMPAI SALMONELLA MERAJALELA

Salmonella dapat menjadi bakteri yang dapat mengontaminasi pangan asal hewan, terutama telur. (Foto: Dok. Infovet)

Masyarakat Indonesia sudah sangat familiar dengan penyakit tifus, penyakit infeksius pada saluran pencernaan ini sering terjadi di Indonesia. Namun yang perlu diketahui, penyakit ini juga dapat ditularkan dari produk pangan asal hewan misalnya telur dan daging ayam.

Salmonella sp adalah agen etiologi yang dapat mengakibatkan salmonellosis pada manusia dan hewan. Salmonellosis merupakan penyakit enterik yang umum dan tersebar luas di dunia. Bakteri ini adalah penyebab diare akut dan kronis bahkan kematian yang signifikan dibanyak spesies hewan maupun manusia.

Salmonella sp adalah bakteri gram negatif berbentuk batang yang merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah beriklim tropis, khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk. (Brooks et al, 2001). Sumber infeksi dari Salmonella adalah dari feses ataupun urin manusia dan hewan carrier, pencemaran air minum, makanan yang tercemar, tiram dan ikan, serta dapat juga diperantara oleh lalat dan debu. Salmonella juga dapat bersumber dari dalam tubuh hewan yang terinfeksi (Lawrie, 2003).

Berdasarkan beberapa data penelitian, kejadian penyakit ini pada manusia di dunia pada tahun 2000 mencapai 21,6 juta kasus  yang memakan korban 216 ribu jiwa. Lebih dari 90% kasus terjadi di Asia (Crump et al, 2004). Sementara itu, Swiss pada 2001 melaporkan terjadinya 2.677 serangan salmonellosis pada manusia (tingkat insiden 32 kasus/100.000 penduduk/tahun), kejadian ini meningkat 8% dari tahun sebelumnya (Statistic of the Swiss Federal Office for Public Health, 2002).

Salah satu spesies bakteri ini yang sering menimbulkan masalah kesehatan penting adalah Salmonella typhi yang menyebabkan penyakit tifus. Bopp (2003), memperkirakan Salmonella typhi menjadi penyebab dari kurang lebih 16,6 juta kasus dan 600.000 kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Berdasarkan laporan Ditjen Pelayanan Medis Kemenkes RI, pada 2008 demam tifoid menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah kasus 81.116 dengan proporsi 3,15%, urutan pertama ditempati oleh diare dengan jumlah kasus 193.856 dengan proporsi 7,52%.

Selain S. typhi spesies S. enteritidis juga ditengarai menjadi penyebab salmonellosis pada manusia. S. enteritidis banyak ditemukan pada produk hewan seperti daging dan telur ayam. Bakteri tersebut memang dapat mengontaminasi secara horizontal maupun vertikal. Terdapat tiga macam serotipe S. enteritidis yang berkaitan dengan egg-borne disease outbreak yang terjadi di negara-negara Eropa, Amerika dan Inggris. Wabah salmonellosis pada manusia tersebut disebabkan oleh S. enteritidis phage tipe 4, 8 dan 23 (Kementan 2016).

Aspek Keswan
Infeksi S. enteritidis pada DOC ayam pedaging umur di bawah tujuh hari bersifat sistemik dan dapat menimbulkan kematian. Hal ini disampaikan oleh Drh Sri Estuningsih, dosen FKH IPB. Pada usia muda, ketika sistem imunitas tubuh ayam belum sempurna, infeksi ini bersifat lethal.

“Pada DOC yang mati biasanya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet eds Desember 2020 (CR)

AVIAN INFLUENZA MEREBAK DI INDIA

Angsa liar, salah satu biang keladi merebaknya AI di India

India dibuat heboh dengan munculnya wabah flu burung di lima negara bagian, saat pandemi virus corona masih melanda. Hal ini menyebabkan Kementerian Lingkungan India segera mengeluarkan peringatan nasional.

“Flu burung telah menginfeksi unggas - unggas di sabuk Barwala, distrik Panchkula di utara negara bagian Haryana, kami sejauh ini sampai tanggal 6 Januari 2021 tercatat 350.000 unggas mati di distrik itu, semuanya diduga mati karena flu," papar Mukesh Kumar Ahuja, wakil komisaris departemen peternakan.

"Arahan dari Kementerian terkait sedang diikuti dan distrik itu berada di bawah pengawasan ketat terhadap gejala pada hewan lain," ungkap Ahuja.

Wabah itu juga menewaskan 2.400 burung migran di negara bagian utara Himachal Pradesh. 
“Hingga Senin malam, kami telah mencatat kematian 2.403 ekor angsa liar yang semuanya positif virus H5N1. Ini serius dan kami mengikuti pedoman dari Kementerian untuk menghentikan penyebaran virus ke unggas peliharaan,” ujar Dr Munish Batta, wakil direktur epidemiologi di departemen peternakan.

Angsa - angsa liar tersebut tiba di Danau Bendungan Pong, yang terletak di negara bagian Himachal, dari Asia Tengah, Rusia, Mongolia, dan wilayah lain pada musim dingin setelah melintasi pegunungan Himalaya. Januari lalu, lebih dari 100.000 burung itu berada di danau.

Batta lebih lanjut mengatakan radius 10 kilometer di wilayah sekitar danau dalam pengawasan ketat setelah lima bangkai angsa pertama dinyatakan positif flu burung, dan pariwisata telah ditangguhkan.

Kebun binatang juga jadi korban

Sebanyak 589 bangkai burung gagak dan merpati di sebuah kebun binatang di Gopalpur, negara bagian Rajasthan, ditemukan positif flu burung.

“Kami tidak mengetahui sumber pasti darimana virus AI tersebut berasal, sejauh ini kami memastikan bahwa unggas yang mati dikubur atau dibakar dan area tersebut didisinfeksi, sesuai pedoman Kementerian,” papar Dr Virender Singh, direktur departemen peternakan negara bagian Rajasthan.

Sementara itu negara bagian tengah Madhya Pradesh dan negara bagian selatan Kerala juga melaporkan lebih dari 10.000 unggas mati, termasuk bebek, gagak, dan merpati, selama sepekan terakhir.

Menurut media lokal Mathrubhumi, negara bagian Kerala telah menyatakan flu sebagai "bencana" dan mengatakan akan memusnahkan 48.000 bebek.

Untuk menghindari penyebaran unggas peliharaan dan unggas ternak, Kementerian Lingkungan Hidup mengeluarkan peringatan nasional kepada negara-negara bagian dan mengarahkan mereka mengambil langkah serius dalam hal ini.

“Mempertimbangkan situasi gawat ini, kementerian meminta semua negara bagian atau teritori serikat untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang mungkin untuk mencegah penularan penyakit, jika ada, pada hewan, burung dan manusia lain. Pengawasan terhadap kematian satwa liar, terutama perlu menjadi prioritas, dan negara bagian diminta melaporkan kejadian kematian tersebut kepada kementerian ini,” papar pernyataan Kementerian Lingkungan Hidup tersebut. (Reuters/CR)

LEUCOCYTOZOONOSIS, ANCAMAN LATEN PARASIT DARAH PADA UNGGAS

Prevalensi infeksi pada unggas di Indonesia cukup tinggi. Kinerja produksi pada layer dapat terganggu akibat infeksi Leucocytozoonosis. (Sumber: hightoppoultry.com)

Leucocytozoonosis merupakan penyakit parasit pada unggas yang disebabkan oleh parasit darah, Leucocytozoon spp. Ada dua jenis Leucocytozoon spp, yang ganas pada unggas yaitu L. sabrazesi dan L. caulleryi (Zhao, 2016). Nama lain penyakitnya adalah Malaria Like.

Leucocytozoonosis pada unggas menyebabkan anemia karena kerusakan sel-sel darah merah, yang mengakibatkan gejala anemis, kepucatan, lemah, penurunan produksi dan juga kematian pada unggas. Semua jenis unggas dapat terinfeksi parasit ini, bahkan burung pinguin keberadaannya di kutub selatan juga terinfeksi parasit ini sebagaimana dilaporkan oleh Argilla et al., 2013. Infeksi Leucocytozoonosis pada pinguin dada kuning (Megadyptes antipodes) prevalensinya mencapai 73,7% dengan pengujian menggunakan polymerase chain reaction (PCR). Pada burung dara, Nath et al., (2014) menemukan prevalensinya 2% di Bangladesh dan 12% pada ayam.

Infeksi pada unggas komersial dapat terjadi pada layer, broiler, ayam buras, itik dan entok. Kinerja produksi pada layer dapat terganggu akibat infeksi Leucocytozoonosis. Prevalensi infeksi pada unggas di Indonesia cukup tinggi. Balai Pengujian Veteriner (BVet) Banjarbaru pada 2019 telah melakukan pengujian ulas darah yang diambil di berbagai kabupaten di Kalimantan. Dari sebanyak 904 ulas darah yang diperiksa mikroskopis dengan pewarnaan Giemsa, sebanyak 287 positif Leucocytozoonosis atau prevalensinya 31,75%. Proporsi pengujian adalah 1:2, diantara tiga ekor unggas salah satu diantaranya terinfeksi Leucocytoozoonosis.

Serangan epidemik Leucocytozoonosis mengakibatkan kematian pada layer sekitar 7,75%. Walaupun kematiannya relatif rendah, tetapi penyakit parasit darah ini berakibat pada penurunan produksi yang sangat signifikans, berkisar 42-84% (Sawale et al., 2018).

Kerugian ekonomi yang sangat besar akan dialami peternak layer bila ayam yang sedang produksi terserang penyakit ini. Prevalensi pada ayam layer di Kalimantan pada beberapa kabupaten sentra ayam layer mencapai 29.17% (BVet Banjarbaru, 2019). Bisa diperkerikan kerugian yang terjadi bila infeksi terjadi pada layer di Indonesia yang jumlahnya mencapai 181.752.456 ekor atau pada ayam layer di Sulawesi Selatan yang mencapai populasi 12.426.412 ekor (Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2018).

(a) Ayam tampak pucat dan lemah karena serangan Leucocytozoon spp. (b) Gametosit Leucocytozoon spp. pada ulas darah ayam.

Siklus Hidup
Penyebaran infeksi Leucocytozoonosis tidak terlepas dari peran… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020.

Ditulis oleh:
Drh Sulaxono Hadi
Medik Veteriner Ahli

DAMPAK BURUKNYA MANAJEMEN KELEMBABAN DI FEED MILL


Pellet sering dipilih karena menawarkan homogenitas dan keseragaman nutrisi. Beberapa spesies lebih menyukai pelet daripada bentuk pakan lain seperti crumble atau meal. Pellet bisa lebih mudah dimakan, lebih mudah dicerna dan meningkatkan berat badan serta FCR.

Tetapi penyusutan, daya tahan pellet, dan jamur (semua dipengaruhi oleh tingkat kelembaban) dapat berdampak negatif pada kualitas pellet.

Ayam pedaging, misalnya, lebih menyukai pelet utuh dan akan menyingkirkan remah dari feeder, yang menyebabkan limbah pakan. Ayam yang lebih besar sering berkerumun di tempat makan dan hanya menyisakan remah untuk ayam yang lebih kecil. Remah tersebut tidak seimbang secara nutrisi.

Efisiensi Feed Mill

Penyusutan

Sering pellet memiliki kadar air di bawah 11%, sedangkan kadar air optimal pakan unggas biasanya antara 12% dan 14%. Pabrik yang mengurangi efek penyusutan, melalui manajemen kelembaban, dapat menghasilkan lebih banyak pakan hingga 3% dari volume bahan baku yang sama.

Pellet Durability Index

Kelembaban memengaruhi gelatinisasi pati, yang merupakan kunci dari pellet durability index (PDI). PDI yang terlalu tinggi membuang energi dan mengorbankan throughput. Pellet dengan PDI yang terlalu rendah, lebih mungkin rusak selama proses pelleting, selama pengangkutan dan penyimpanan. Di pabrik, remah yang terjadi memperlambat produksi, bahan halus yang berlebihan menyerap kelembapan dan merangsang pertumbuhan jamur.

Kualitas Pakan

Jamur dapat tumbuh dalam pakan yang kelembapannya tidak dikelola dengan baik. Pertumbuhan jamur sering terjadi karena:

  • Bahan yang terlalu lembab
  • Adanya remah halus yang berlebihan yang menyerap kelembapan dan merangsang pertumbuhan jamur
  • Pakan yang belum didinginkan dengan benar
  • Kondensasi dalam kantong pakan memungkinkan perkembangan populasi jamur

Setiap pakan yang disimpan, jika tidak segera digunakan, beresiko tumbuh jamur. Jika pakan yang terkontaminasi diberikan kepada ayam, akibatnya performa ayam menjadi rendah, dan timbul masalah kesehatan yang terkait dengan kontaminan seperti mikotoksin. (Sumber: Anitox)

MENGANTISIPASI PENYAKIT DI TAHUN DEPAN

Hindari penyakit dengan mengaplikasikan manajemen pemeliharaan yang baik. (Foto: Infovet/Ridwan) 

Menghadapi tahun 2021, seharusnya pelaku budi daya perunggasan lebih aware dengan apa yang akan datang serta dapat mengantisipasi penyakit yang datang.

Jika bicara prediksi, tentunya tidak akan 100% akurat, semua masih tergantung pada Tuhan Yang Maha Esa. Namun begitu, tidak ada salahnya memperkirakan dan sedikit “meramal” apa yang akan terjadi di tahun depan sembari mengambil ancang-ancang agar lebih siap.

Balada Lagu Lama
Melihat apa yang sudah dipaparkan oleh narasumber sebelumnya, sebenarnya ada pola yang terus berulang yang kerap terjadi tiap tahunnya. Hampir setiap tahun penyakit unggas yang mendominasi bisa dibilang begitu-begitu saja.

Hal ini juga yang menjadi perhatian Tony Unandar selaku private poultry consultant sekaligus anggota dewan pakar ASOHI. Yang ia lihat selama ini penyakit unggas yang terjadi di lapangan masih yang itu-itu saja, berbeda musim memang penyakitnya juga berbeda, tetapi penyakit yang muncul sama.

“Kalau bisa dibilang kita masih berkutat dengan yang lama dan monoton, serta faktor yang sangat urgent untuk diperbaiki adalah pola pemeliharaan dari peternak-peternak kita,” tutur Tony.

Jikalau tidak ada upaya perbaikan dalam hal ini sesegera mungkin, bukan hanya kasus penyakit yang terus berulang akan terjadi, tetapi tingkat keparahannya maupun jenis penyakit baru akan bertambah di masa depan.

“Saya beri contoh yang simple, anda pernah lihat panen di kandang semuanya langsung diangkut? Enggak kan, jangankan di peternakan kecil, yang besar juga begitu ada. Padahal bagusnya kan all in all out, lalu kira-kira berapa persen peternakan di Indonesia ini yang biosekuritinya baik? Mayoritas jelek atau baik biosekuritinya? Saya tanya begitu saja kita langsung tersenyum kecut kan?,” tutur Tony kepada Infovet.

Ia juga berujar bahwa sebaik-baiknya obat baru yang ditemukan, sebaik-baiknya riset di bidang penyakit hewan dan secanggih teknologi berkembang, bila tidak dibarengi dengan manajemen yang baik dan benar, penyakit apapun akan mudah menyerang dan cenderung berulang.

“Kita masih hobi memelihara penyakit, jadi ya seperti inilah potret perunggasan kita. Sebaiknya kita jangan meremehkan ini, agak bosan juga sebenarnya begitu-begitu saja memang permasalahan kita dari dulu, padahal zaman kan berkembang,” ucap dia.

Jangan Kasih Kendor Biosekuriti
Yang diutarakan Tony Unandar tidaklah salah, memang pada kenyataannya beberapa hal acap kali terlihat... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020. (CR)

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI DAGING SAPI NASIONAL



Oleh: Ir Wignyo Sadwoko, MM 
(Perencana Ahli Madya)
Sapi potong merupakan salah satu ternak sumber protein hewani yang sudah lama dipelihara masyarakat dengan rata-rata pemeliharaan 2-3 ekor per rumah tangga yang dikelola secara bersama-sama dengan usaha tani lainnya. Model pemeliharaan ini sangat banyak di masyarakat kita, sehingga menjadikan tingkat produktivitas hasil dan efisiensi usaha sangat rendah. 

Disisi lain, peningkatan permintaan daging sapi sejalan dengan pertambahan penduduk ternyata lebih cepat dari pertumbuhan populasi dan produktivitas sapi dalam negeri. Penyediaan daging nasional saat ini belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri karena pertumbuhan populasi dan produktivitas sapi dalam negeri masih belum optimal. Pada tahun 2019, permintaan daging sapi nasional mencapai 686.270 ton, dengan rata-rata konsumsi per kapita sebesar 2,56 kilogram dengan penyediaan daging sapi dalam negeri sebesar 490.420,8 ton atau baru mampu menyediakan 71,46 % dari kebutuhan daging nasional.


Permintaan terhadap daging sapi diyakini akan mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, tingginya kesadaran untuk mengkonsumsi pangan bergizi tinggi dan berkembangnya industri kuliner yang menyajikan bahan baku berbasis daging sapi. yang merupakan kebutuhan dasar manusia, pemenuhannya merupakan bagian hak asasi yang dijamin oleh negara. Sebagaimana diamanatkan pada Undang Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan, bahwa negara berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi seimbang, secara merata di seluruh wilayah NKRI sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal. 

Oleh karenanya pemenuhan konsumsi pangan harus didasarkan atas produksi dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya dan kearifan lokal secara optimal. Terkait dengan daging sapi, pemerintah pernah mencanangkan Program Swasembada Daging Sapi pada awal tahun 2000 yang dilanjutkan dengan upaya peningkatan kelahiran melalui kegiatan Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB) pada tahun 2015 – 2016  dan melalui Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) pada tahun 2017 – 2019. Kegiatan Upsus Siwab  bertujuan untuk mendorong percepatan pertambahan populasi sapi di dalam negeri dilaksanakan melalui kegiatan optimalisasi reproduksi pada sapi dengan perkawinan buatan (IB) dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas anakan yang dihasilkan, disamping juga untuk memperbaiki kualitas genetik ternak lokal yang ada. 

Memasuki tahun 2020 kegiatan Upsus SIWAB dikembangkan lebih luas cakupannya, tidak hanya sekedar pertambahan populasi sapi namun sudah diarahkan sampai dengan penyediaan produksi daging melalui kegiatan SIKOMANDAN (Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri) yang di-launching oleh Menteri Pertanian pada bulan Pebruari 2020 di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

SAPI DAN KERBAU KOMODITAS ANDALAN NEGERI (SIKOMANDAN)

Kegiatan SIKOMANDAN sebagaimana yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17 Tahun 2020 pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan produksi yang merupakan penjabaran dari berbagai fungsi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan yang dikemas dalam kegiatan yang terintegrasi dan berkelanjutan dari hulu sampai hilir dalam rangka penyediaan daging sapi. 

Peningkatan produksi merupakan out come dari kegiatan SIKOMANDAN dilaksanakan secara terintegrasi dan saling menunjang menjadi satu kesatuan kegiatan yang meliputi (a)  peningkatan kelahiran; (b) peningkatan produktivitas; (c) pengendalian penyakit dan gangguan reproduksi; (d) penjaminan keamanan dan mutu pangan; dan (e) distribusi dan pemasaran.  Selanjutnya serangkaian kegiatan tersebut dirangkai dalam Proses Bisnis SIKOMANDAN meliputi 4 (empat) proses yang dimulai dengan (1) Peningkatan Kelahiran dalam rangka mendorong pertumbuhan populasi; (2)  Peningkatan Produktivitas dalam rangka meningkatkan produktivitas sapi dan kerbau dalam menghasilkan daging; (3) Peningkatan Keamanan dan Mutu Pangan melalui proses pemotongan/penyediaan daging yang Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH); dan (4) Kegiatan Distribusi dan Pemasaran dalam rangka penyediaan daging bagi masyarakat di seluruh wilayah secara cukup.  

Secara skematis bentuk keterkaitan antar proses bisnis tersebut digambarkan sebagai berikut:    

Sinergitas Kegiatan SIKOMANDAN
 

IMPLEMENTASI SIKOMANDAN

Melihat siklus bisnis dari SIKOMANDAN, keempat proses bisnis harus bersinergi antar kegiatan (proses bisnis) menjadi kunci dalam meningkatkan populasi dan penyediaan daging sapi untuk masyarakat. Dimana keluaran (output) dari proses awal akan menjadi masukan (input) untuk kegiatan berikutnya.  

Implementasi kegiatan SIKOMANDAN  dimulai dengan pengaturan dan pelayanan reproduksi, baik dalam aspek perkawinan maupun kesehatan reproduksinya sehingga akan dihasilkan kelahiran dari anak sapi yang sehat dengan kualitas yang baik. 

Anakan sapi yang sudah terdata pada iSIKHNAS selanjutnya dipelihara dan  anak sapi betina dipelihara untuk replacement dan penambahan populasi sementara yang jantan untuk produksi daging. Mengingat bahwa pada umumnya pemotongan sapi  dilakukan pada berat belum mencapai berat optimal (Survey IPB, 20112) maka diperlukan upaya peningkatan produktivitas melalui kegiatan tunda potong (penggemukan) dengan pemberian pakan yang baik sehingga diperoleh berat optimal.

Selanjutnya sapi jantan yang telah  mencapai  berat optimal tersebut dapat dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) untuk memenuhi kebutuhan daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) bagi masyarakat di seluruh wilayah melalui pengaturan distribusi dan pemasaran, baik dalam bentuk sapi hidup maupun daging. 

Namun dengan mekanisme perencanaan dan pengalokasian anggaran yang bertumpu pada unit kerja eselon II yang sekaligus merupakan perwujudan tugas dan fungsinya, maka sinergisme atau keterpaduan dari setiap kegiatan yang tergambarkan  dalam proses bisnis SIKOMANDAN masih sulit diwujudkan. 

Solusi untuk menghindari hal tersebut, pelaksanaan SIKOMANDAN harus dikemas dengan pendekatan pembangunan melalui pengembangan kawasan atau dengan membangun cluster-cluster produksi dengan manajemen usaha dalam bentuk korporasi.

Melalui pendekatan pengembangan kawasan (cluster) korporasi peternak, akan menjadi langkah awal menuju industrialisasi peternakan sapi potong berbasis sumberdaya lokal. Dalam pelaksanaannya, pengembangan kawasan/cluster sapi potong dibangun dalam satu kesistiman agribisnis diharapkan mampu memicu terjadinya kombinasi kegiatan strategis berskala ekonomi, baik pada tataran on farm maupun off farm sebagaimana siklus bisnis SIKOMANDAN. 

Pelaksanaan SIKOMANDAN dengan pendekatan pengembangan kawasan/cluster dan pengelolaan secara korporasi akan memudahkan dalam mewujudkan sinergitas antar kegiatan (proses bisnis) dalam meningkatkan populasi  dan menghasilkan produksi daging.

DUKUNGAN DANA UNTUK INDUSTRI UNGGAS NIGERIA

Central Bank of Nigeria telah menggelontorkan dana 12,55 miliar naira Nigeria (US $31 juta) untuk meningkatkan produksi telur dan daging serta menciptakan lebih banyak pekerjaan bagi rakyat Nigeria.

Ezekiel Ibrahim, presiden Poultry Association of Nigeria, baru-baru ini memperingatkan bahwa industri unggas di Nigeria mungkin terpaksa ditutup pada Januari 2021 jika tindakan segera tidak diambil oleh pemerintah untuk mengatasi mahalnya harga biji-bijian, di antara tantangan lainnya. Uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Nigeria diatur untuk mendukung peternak unggas kecil, menengah dan besar di negara tersebut.

Biaya pakan telah meningkat lebih dari 75% antara Maret dan November 2020, dan situasinya telah mengancam hingga 10 juta pekerjaan.

Antara kuartal terakhir 2019 dan November 2020, peternak unggas telah menerima total N12,55 miliar (US $31 juta) dari berbagai bank komersial dan NIRSAL Microfinance Bank. 639 peternak unggas juga telah menerima dana sebesar N1,99 miliar (US $4,8 juta). N1,59 miliar (US $4 juta) juga telah disalurkan ke 898 peternak unggas di seluruh negeri untuk mengurangi dampak Covid-19 pada operasi mereka.

Lebih lanjut dilaporkan bahwa dana tambahan akan diberikan kepada peternak unggas sebelum akhir tahun 2020 untuk membantu keterjangkauan dan aksesibilitas telur, daging ayam broiler dan DOC, serta untuk membantu menciptakan lapangan kerja.

PROGRAM BANK PAKAN DORONG PENGEMBANGAN SAPI PERAH

Pakan merupakan unsur utama penentu harga produk pangan asal ternak. (Foto: Istimewa)

Penyediaan pakan menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan sapi perah di Indonesia. Tantangan tersebut antara lain penggunaan rumput dengan jerami padi, aplikasi teknologi pengolahan pakan, penyediaan lahan penghasil pakan hijauan, serta konsentrat yang belum terstandar.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia (AINI), Prof Nahrowi, dalam pembukaan acara Pendampingan Manajemen Pakan Peternak Sapi Perah melalui aplikasi daring, Selasa (29/12). Acara diselenggarakan oleh AINI dan Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), berlangsung pada Desember 2020 hingga April 2021.

Nahrowi mengharapkan bahwa dalam menghadapi permasalahan pakan di Indonesia yakni seputar ketahanan pakan, keamanan pakan dan aspek lingkungan, para pemangku kepentingan di bidang persusuan yakni para pelaku usaha yang tergabung dalam KPBSU, pemerintah dan akademisi ataupun peneliti dapat bersinergi memajukan industri persusuan Indonesia.

Direktur Pakan, Ditjen PKH, Drh Makmun Junaidin pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang arah kebijakan pakan nasional yang mengacu pada dua hal utama, yakni keamanan pakan dan ketahanan pakan.

“Ketahanan pakan yakni menjamin ketersediaan pakan unggas dan pakan ruminansia, serta keamanan pakan yakni meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pakan yang diproduksi dan yang diedarkan,” kata Makmun.

Untuk mencapai hal itu, telah dicanangkan strategi pencapaian program yakni dengan pengembangan hijauan pakan ternak, pengembangan pakan olahan dan bahan pakan, serta pengembangan mutu dan keamanan pakan. Makmun menambahkan, karakteristik penyediaan pakan untuk ruminansia adalah sebagian besar diproduksi oleh pabrik pakan skala menengah (PPSM) dan kecil atau kelompok pabrik pakan skala besar hanya 1 % dari total produksi pakan, serta mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal spesifik lokasi.

Karena pakan merupakan unsur utama penentu harga produk pangan asal ternak, yang pada sapi perah mencapai 67%, maka pemerintah telah mendorong adanya lumbung pakan di tingkat peternak, terutama dalam menghadapi musim kering. Konsep lumbung pakan tersebut dituangkan dalam program bank pakan. 

“Ini bertujuan untuk membentuk kelembagaan usaha pakan, mengoptimalkan pemanfaatan bahan pakan lokal, melakukan pengolahan, pengawetan, dan penyediaan pakan secara berkelanjutan, serta mengoptimalkan pemanfaatan peralatan dan teknologi pengolahan pakan,” tandasnya. (IN)

DAMATE MEMULAI KEMBALI PRODUKSI BEBEK DI RUSIA

Perusahaan Rusia Damate memulai kembali pabrik pemrosesan daging bebek terbesar di negara itu di Oblast Rostov.

Awal tahun 2020, Damate mengakuisisi Donstar, bekas produsen daging bebek terbesar di Rusia. Donstar, yang merupakan anak perusahaan dari produsen kalkun terbesar kedua di Rusia, Eurodon, telah berhenti beroperasi sejak 2018 dan bangkrut pada tahun 2020 karena masalah keuangan menyusul kebangkrutan perusahaan induknya.

Damate dilaporkan memiliki kapasitas produksi 27.000 ton daging bebek pada tahun 2017 dan mengumumkan rencana untuk meluncurkan proyek di Oblast Rostov dengan kapasitas sebesar 70.000 ton per tahun.

Penjualan keseluruhan daging bebek di pasar Rusia berjumlah sekitar 55.000 ton pada 2019. Analis Rusia yakin pasar bebek Rusia diperkirakan akan mencapai 100.000 ton.

KASUS PENYAKIT PENTING DI 2020 & PREDIKSINYA DI 2021 MENDATANG

Tahun 2021 terkait penyakit unggas masih akan didominasi oleh penyakit viral. (Foto: Dok. Infovet)


Fenomena kejadian penyakit pada unggas sepanjang 2020 relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pergantian cuaca yang ekstrem dan kondisi suhu yang lebih panas dibandingkan tahun sebelumnya bisa dilihat pada gambar di bawah yang menyebabkan kondisi pemeliharaan ayam mengalami tantangan, diantaranya:

• Kondisi ayam yang mengalami stres dan potensial imunosupresi yang diakibatkan fluktuasi suhu, kelembapan dan kecepatan angin.
• Bibit patogen lebih berkembang diakibatkan kondisi kelembapan lebih tinggi.
• Tantangan manajemen di kandang karena perubahan cuaca yang ekstrem.
• Tantangan pemenuhan kebutuhan energi di saat kondisi panas ekstrem.

Dampak stres karena panas ini paling berbahaya menyebabkan penurunan kekebalan tubuh, sehingga kemampuan imunitas untuk melawan penyakit menjadi berkurang, akibatnya kejadian penyakit potensial meningkat sepanjang 2020.

Berdasarkan pengalaman penulis, di sini akan dibagikan beberapa kasus penyakit paling penting dan sering terjadi di 2020, baik yang menimpa ayam broiler maupun layer.

Chronic Respiratory Diseases (CRD)
Mycoplasmosis terutama yang disebabkan oleh Mycoplasma Gallisepticum (MG) merupakan ancaman nyata dan sangat berperan dalam gangguan sistem ini. Kuman MG yang menempel di silia sel pernapasan akan mengeluarkan endotoksin kemudian melemahkan sistem mukosiliaris. Sumber kontaminasi MG di broiler farm terutama dari burung liar, mobilitas pekerja kandang, kendaraan yang terkontaminasi, serta DOC yang terkontaminasi akibat infeksi vertikal dari induknya.

Sejatinya Mycoplasma mudah mati dalam lingkungan dengan temperatur dan kadar oksigen yang tinggi, kelembapan relatif rendah dan hampir semua jenis disinfektan mampu membunuhnya. Tetapi kondisi ventilasi kandang yang buruk akan mengakibatkan kelembapan udara dan kadar amonia dalam kandang meningkat dan konsekuensinya adalah tekanan oksigen akan menurun. Hal ini yang menyebabkan Mycoplasma yang sudah berada di permukaan sel pernapasan akan berkembang biak dengan cepat dan menggangu sistem mukosiliaris, sehingga rentan akan munculnya infeksi sekunder.

Kontrol yang paling tepat untuk meminimalkan munculnya kasus pernapasan yang dipicu oleh MG adalah melalui kedisiplinan pelaksanaan program sanitasi, pemilihan DOC yang minim kontaminasi MG dan didukung dengan pengaturan ventilasi atau tata laksana kandang yang berhubungan dengan kecukupan oksigen di kandang. Program kontrol di broiler dengan antibiotik khusus untuk MG merupakan pilihan terakhir dan program tersebut sebaiknya didasarkan dengan melihat status MG di DOC yang diterima pada saat kedatangan. Untuk memudahkan kontrol, sangat disarankan memilih DOC yang induknya sudah divaksinasi dengan vaksin MG live.

Inclusy Body Hepatitis (IBH)
IBH menjadi momok yang menakutkan bagi para peternak, hakekat penyakit ini mirip dengan Infectious Bursal Disease (IBD) tetapi lebih hebat dampaknya terhadap mortalitas dan perubahan organ kekebalan tubuh.

Kematian yang disebabkan IBH bisa… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020

Ditulis oleh:
Drh Sumarno (Senior Manager AHS PT Sreeya Sewu Indonesia)
& Han (Praktisi Peternak Layer)

THROW BACK PENYAKIT UNGGAS 2020

ND masih menjadi momok menakutkan bagi peternak unggas Indonesia. (Sumber: Istimewa)

Penyakit merupakan salah satu hambatan yang merintangi dalam suatu usaha budi daya peternakan, khususnya unggas. Baik penyakit infeksius maupun non-infeksius semuanya bisa jadi biang keladi kerugian bagi peternak. Menarik untuk dicermati ragam penyakit yang menghampiri di tahun 2020 dan bagaimana prediksinya ke depan.

Perunggasan, sebagai industri terbesar di sektor peternakan Tanah Air tentunya yang paling menjadi sorotan. Tiap tahunnya, kejadian penyakit selalu terjadi dan jenisnya pun juga beragam, baik infeksius maupun non-infeksius.

Maklum saja, sebagai negara tropis Indonesia memang menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai jenis mikroorganisme patogen. Tentunya para stakeholder yang berkecimpung mau tidak mau, suka tidak suka harus berusaha untuk bisa survive dari hambatan ini.

Yang patut diingat adalah bahwa kejadian penyakit akan berhubungan dengan performa dan produktivitas, kemudian kedua aspek itu tentu saja akan langsung terkait pada nilai keuntungan yang didapat. Jadi, siapa saja yang dapat mencegah terjadi penyakit di suatu peternakan, apapun peternakannya, sudah pasti akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik.

Catatan Penting 2020
Tahun 2020 peternak dianggap sudah dapat beradaptasi dengan ketiadaan Antibiotic Growth Promoter (AGP). Hal ini dikemukakan oleh Technical Support PT Mensana Aneka Satwa, Drh Arief Hidayat. Meskipun begitu, ia menyebut bahwa ada juga peternak yang masih kesulitan dengan setting-an terbaik dalam mengakali performa.

Menurut Arief juga tahun 2020 kasus kejadian penyakit unggas yang terjadi tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Kasus penyakit unggas yang banyak terjadi pada broiler masih didominasi oleh penyakit CRD kompleks, Gumboro dan sedikit laporan mengenai Slow Growth oleh cemaran Mikotoksikosis.

Sedangkan pada layer kasus penyakit masih didominasi penyakit yang sebabkan penurunan produksi pada ayam masa bertelur seperti ND (G7), AI (H9N2) , IB dan Coryza, sedangkan untuk fase starter-grower-prelayer (pullet) di dominasi oleh IBD dan ND.

Arief menggarisbawahi bahwasanya penyakit layaknya CRD kompleks dan dan Colibacillosis rata-rata disebabkan oleh kesalahan dalam manajemen pemeliharaan.

“Manajamen pemeliharaan yang kurang baik akan membuat penyakit ini kerap berulang, karena sebagaimana kita ketahui si agen penyakit inikan sifatnya oportunis. Jadi manajemen pemeliharaan tentunya harus benar-benar diperhatikan,” tutur Arief.

Selain itu jangan lupakan faktor cuaca dan iklim yang dapat mempengaruhi pola serangan penyakit. Menurut Arief, ketika terjadi peralihan musim alias pancaroba seperti sekarang ini, ayam akan mengalami stres, sehingga ternak akan mengalami imunosupresi yang kemudian akan memudahkan agen infeksius patogen semakin gencar menyerang.

Terkait penyakit Gumboro, hal ini juga diamini oleh Technical & Marketing Manager PT Ceva Animal Health Indonesia, Drh Ayatullah Natsir. Gumboro juga masih menjadi penyakit langganan di perunggasan Indonesia.

“Gumboro tetap hits di 2020, banyak kasus menyerang ayam pullet. Laporan kasus gumboro 2020 di database kami kurang lebih sekitar 70 kasus sampai Oktober kemarin,” papar Ayatullah.

Ia berujar bahwa dengan merebaknya penyakit semacam ND, Gumboro dan beberapa kejadian Inclusion Body Hepatitis (IBH), artinya terjadi peningkatan kasus imunosupresi di lapangan. Ketiga penyakit tadi juga dikenal sebagai penyakit yang dapat menyebabkan imunosupresi pada ayam.

Terkait penyakit-penyakit imunosupresif, Technical Manager PT Boehringer Ingelheim, Drh Hari Wahjudi, juga ikut memberikan pendapat. Dalam sebuah webinar ia memaparkan bahwasanya peternak harus lebih diedukasi mengenai Gumboro.

“Gumboro ini memang agak tricky, pengendaliannya tidak cukup hanya vaksin. Sediaan vaksin yang digunakan jika salah juga akan berimbas nantinya. Peternak juga harus lebih diedukasi lagi mengenai ini dan memang saya menemukan banyak penyakit ini pada 2020,” tutur Hari.

Ancaman Baru Mengintai?
Di tahun 2020 ini bisa dibilang tidak ada penyakit… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (CR)

PENCEGAHAN AI DENGAN MELIBATKAN LASER

Laser sedang diujicobakan di peternakan unggas free range Belanda untuk menghilangkan ancaman kontaminasi flu burung dari burung liar.

Penelitian tentang penggunaan laser sebagai pengusir burung liar telah dilakukan sejak tahun 1970-an, pertama sebagai pencegahan serangan burung di lapangan terbang dan kemudian untuk mengusir burung liar yang menyebabkan kerusakan tanaman pertanian.

Penelitian saat ini dilakukan dengan cara menakut-nakuti bebek liar dan burung liar lainnya menggunakan laser pada platform 6 meter di atas permukaan tanah. Peternakan free range dilaser antara pukul 5 sore dan 10 pagi, dengan padang rumput di sekitarnya (hingga 600 meter jauhnya) dilaser pada waktu yang sama.

Hasilnya tidak ada burung liar yang mendekat di sekitar peternakan saat laser beroperasi.

EVALUASI DAN PREDIKSI PENYAKIT 2020 KE 2021

Selain penyakit viral, penyakit bakterial pada unggas juga masih mendominasi kejadian penyakit di lapangan. (Foto: Istimewa)


Hari berganti, tahun berlalu. Tanpa terasa sudah berada di penghujung tahun 2020. Semua yang diperjuangkan di Tahun ini, mari menganalisis dan evaluasi demi kemajuan diwaktu yang akan datang, di tahun 2021.

Pada 2020, dari laporan pemeriksaan kasus oleh para dokter hewan lapangan PT Romindo di seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa kasus penyakit ND (Newcastle Disease), IBD (Infectious Bursal Disease), CRD, NE, Coryza dan Kolibasilosis kejadiannya selalu tinggi setiap bulannya. Selain itu, penyakit Mikotoksikosis juga dilaporkan terjadi di semua wilayah.

Seperti diketahui bersama bahwa penyakit ND adalah salah satu penyakit pernapasan dan sistemik yang disebabkan oleh virus, bersifat akut dan sangat mudah menular dan menyerang berbagai jenis unggas terutama ayam. Pada 2020, gejala klinis ND yang muncul bersifat akut yang berupa pendarahan dan nekrosis pada saluran pencernaan dengan angka kematian tinggi (velogenic viscerotropic). Ada pula dengan gejala klinis pada saluran pernapasan dan syaraf, tanpa perubahan pada saluran pencernaan dengan angka kematian tinggi (velogenic neurotropic). 

Pada 2020 dilaporkan adanya peningkatan jumlah kasus IBD dibanding tahun sebelumnya dan kasusnya tersebar merata. Ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan penyakit ini masih belum optimal dan aman, artinya program vaksinasi IBD, baik aplikasinya maupun pemilihan strain vaksin IBD. Pemakaian vaksin IBD live dengan strain intermediate dan intermediate-plus, kadang kala diberikan pada anak ayam baik broiler, layer maupun breeder. Hal ini akan menyebabkan terjadinya atropi bursa fabrisius sebagai organ limfoid primer yang berakibat terganggunya proses pembentukkan kekebalan secara umum.

Selain penyakit viral, penyakit bakterial juga masih mendominasi kejadian penyakit di lapangan. Yang terbanyak ditemukan adalah penyakit CRD, CRD komplek, Kolibasilosis, NE dan Coryza. Kasus penyakit bakterial ini jumlahnya lebih dari setengah keseluruhan kasus yang ditangani oleh tim Romindo di lapangan. Hal ini dikarenakan masih mengedepankan tindakan pengobatan terhadap penyakit daripada pencegahan. Ketika ayam terlihat gejala klinis sakit saat itulah diberikan produk antibiotika. Padahal kalau dicermati, kasus penyakit bakterial ini sifatnya lebih rutin dan terpola. Jadi mestinya dapat dilakukan program pencegahan penyakit, pada saat ayam masih terlihat sehat.

Untuk itu, perlu dipertimbangkan program lain, yaitu vaksinasi terhadap Mycoplasmosis (MG dan MS), terutama pada ayam layer dan breeder, agar ayam mendapatkan kekebalan lokal MG dan MS sejak awal pemeliharaan hingga afkir. Hal ini karena kuman MG dan MS ini selalu ada di lapangan dan menginfeksi ayam setiap saat. Sehingga dengan memberikan kekebalan lokal sejak awal, maka kondisi tubuh ayam selalu siap menghadapi serangan bakteri Mycoplasma dari lapangan. Efek positif lainnya adalah pemakaian antibiotika misalnya golongan tylosin sebagai pencegahan MG dan MS dapat dikurangi bahkan dihilangkan, sehingga dapat menghemat biaya pengobatan.

Penyakit Coryza atau Snot, pada 2020 ini semakin bandel dan susah dikendalikan. Hal ini terjadi karena ada penyakit lain yang secara diam-diam “membukakan pintu” bagi masuknya bakteri Haemophilus spp. ke dalam tubuh ayam. Penyakit ini adalah AmPV (Avian Metapneumovirus), dengan gejala klinis swollen head syndrome atau kebengkakan di daerah kepala bagian atas. Ketika terjadi outbreak Coryza, perlu dilakukan pemeriksaan serologis terhadap APV, karena meskipun ayam tidak divaksin APV tetapi hasil serologisnya biasanya positif terhadap APV. Ini menunjukkan bahwa ayam sudah terinfeksi APV dan berlanjut menjadi outbreak Coryza. Sering kali APV berjalan tanpa gejala klinis, apabila tidak ada infeksi sekunder yang menyertai.

Helminthiasis atau cacingan, baik karena cacing gilig maupun cacing pita kejadiannya cukup menggangu di lapangan. Pengobatan terhadap cacingan biasanya cukup berhasil tetapi pada beberapa kasus, kejadian cacingan kambuh kembali dalam waktu singkat. Hal ini dimungkinkan karena penanganan kasus cacingan tidak disertai dengan penanganan vektor pembawa, misalnya lalat. Oleh karena itu, penanganan cacingan yang optimal harus dibarengi dengan meminimalkan populasi lalat di lokasi farm.

Mikotoksikosis, adalah penyakit yang disebabkan karena adanya cemaran Mikotoksin dalam pakan. Pada 2020, kasus Mikotoksikosis ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik pada broiler, layer maupun breeder. Tingkat keparahan bervariasi mulai dari hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur, penurunan kualitas telur, kerusakan organ-organ dalam tubuh dan sebagai imunosupresan menurunkan sistem kekebalan dan mendukung munculnya kasus penyakit lain. Hal ini karena Mikotoksin dapat menghambat penyerapan asam amino dan menghambat penyerapan mineral khususnya Ca dan P. 

Lebih jauh lagi, pencemaran multi-mikotoksin dosis rendahlah yang paling banyak ditemui di lapangan. Padahal multi-mikotoksin ini dapat menimbulkan dampak aditif maupun sinergistik pada ayam. Oleh karena itu, tidak ada level aman untuk Mikotoksin.

Prediksi Penyakit 2021
Pada 2021, diprediksi penyakit ayam cenderung muncul... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020

Drh Yuni
Technical Department Manager
PT ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl. DR Saharjo No. 264, JAKARTA.
Telp: 021-8300300

TAHUN BERGANTI PENYAKIT MENANTI, BAGAIMANA MENGHADAPINYA?

Beberapa penyakit viral dan bakterial masih menghantui peternakan unggas di Indonesia. (Foto: Dok. Infovet)

Tahun 2020 tinggal menunggu hitungan hari, namun begitu di tahun itu penyakit unggas tetap datang silih berganti. Sebagai bentuk introspeksi diri, mari sama-sama mengevaluasi apa saja penyakit yang terjadi di 2020 demi masa depan yang lebih baik lagi.

Meskipun 2020 sempat terkendala COVID-19, PT Mensana Aneka Satwa dan PT Sanbio tetap melakukan kunjungan kepada peternak. Berdasarkan laporan kunjungan dari para dokter hewan dan technical services di seluruh penjuru Indonesia, pada 2020 kasus penyakit unggas yang banyak terjadi pada broiler masih didominasi oleh penyakit CRD kompleks, Gumboro dan sedikit laporan mengenai Slow Growth oleh cemaran Mikotoksikosis.

Sedangkan pada ternak layer, kasus penyakit masih didominasi penyakit yang sebabkan penurunan produksi pada ayam masa bertelur seperti ND (G7), AI (H9N2), IB dan Coryza, sedangkan untuk fase starter-grower-prelayer (pullet) di dominasi oleh IBD dan ND.

Bisa dibilang penyakit-penyakit pada 2020 masih didominasi penyakit klasik layaknya CRD kompleks, ND, Coryza dan Gumboro. Sementara itu tim Mensana-Sanbio belum menemukan adanya penyakit infeksius baru yang menginfeksi unggas di Indonesia.

Penyakit disebutkan di atas merupakan penyakit infeksius yang disebabkan virus dan bakteri. Sebagaimana diketahui bersama misalnya saja Gumboro alias Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit yang hampir selalu ada dan ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan umumnya pada broiler.

Mencegah Penyakit Viral
Gumboro masih bisa dibilang merupakan salah satu momok di peternakan unggas Indonesia. Selain tidak bisa disembuhkan, penyakit ini juga dapat menurunkan kinerja sistem imun (imunosupresif) karena menyerang sistem imun ayam. Oleh karena itu, amatlah penting bagi peternak untuk mengutamakan pencegahan terhadap penyakit ini.

Penyakit viral lainnya yang masih sering ditemui di lapangan yakni ND, terutama dari genotipe 7 alias ND (G7). Serupa dengan Gumboro, penyakit ND juga masih menjadi “primadona” dan banyak dijumpai di peternakan unggas rakyat. Namun begitu, ND (G7) ini bersifat lebih ganas daripada strain lainnya dan dapat menyebabkan mortalitas 50-90%, dengan tingkat morbiditas di atas 80%.

Dalam mencegah berbagai penyakit viral pada unggas, tentunya dibutuhkan program vaksinasi yang tepat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam suatu program vaksinasi yaitu:
• Kondisi ayam. Ayam dengan kondisi sehat akan menghasilkan titer antibodi yang baik. Oleh karena itu, sangatlah penting agar ayam dijaga tetap sehat dan tidak mengalami stres sebelum waktu vaksinasi.

• Faktor manusia. Vaksinator harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam melakukan vaksinasi. Abai terhadap hal ini tentunya juga akan mengakibatkan kegagalan vaksin.

• Lingkungan. Peternak harus dapat mengondisikan kandang sedemikian rupa agar ayam tetap nyaman dan tidak stres. Perhatikan kepadatan, ventilasi dan faktor lainnya. Ingat, stres akan menurunkan imunosupresi dan juga dapat menjadi faktor kegagalan program vaksinasi.

• Metode vaksinasi. Vaksinasi harus dilakukan dengan cara/metode yang tepat, teknik yang tepat dan waktu yang tepat untuk meningkatkan presentase keberhasilan vaksinasi dan menghasilkan titer antibodi yang baik.

• Kualitas vaksin. Sebagai salah satu produsen vaksin terkemuka di Indonesia, PT Sanbio Laboratories telah banyak memproduksi vaksin unggas berkualitas. Produk vaksin Gumboro dan ND (G7) milik Sanbio, Sanavac IBD Series, Sanavac Gumboro Series dan Sanavac ND (G7) Series merupakan vaksin berkualitas dan homolog dengan virus di lapangan. Selain itu, produk vaksin Sanbio merupakan produk yang telah teregistrasi di Kementerian Pertanian dan terjamin mutu dan kualitasnya. Banyak peternak telah membuktikan hal ini.

Mengatasi Penyakit Bakterial
Di 2020, penyakit bakterial juga masih mendominasi peternakan unggas di Indonesia. Penyakit-penyakit semacam CRD kompleks dan Infectious Coryza masih menjadi langganan dan kerap ditemui oleh tim Mensana-Sanbio di lapangan.

Penyakit CRD kompleks sebaiknya… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2020 (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer