-->

MENTAN SYL DUKUNG PROGRAM SATU JUTA TERNAK SAPI DI BALI

Ilustrasi peternakan sapi (Foto: Dok. Infovet)



Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mendukung sepenuhnya program Provinsi Bali mencapai Satu Juta Ternak Sapi Bali di 2025.

Hal tersebut disampaikannya saat menyaksikan penandatangan tiga nota kesepahaman antara Kementerian Pertanian dengan Gubernur Bali di Denpasar, 4 Januari 2020.

Salah satu nota kesepahaman tersebut adalah terkait Populasi Sejuta Sapi Bali Mendukung Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan).

Menurut Mentan, Bali merupakan provinsi yang memiliki potensi pertanian dan peternakan yang sangat besar. Dengan adanya nota kesepahaman ini, maka Kementan akan mendukung sepenuhnya program-program pertanian dan peternakan di Bali.

"Pada hari ini telah ditandatangani tiga buah nota kesepahaman antara Kementan dan Pemda Bali. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pembangunan pertanian menuju pertanian yang maju, mandiri, dan modern" ungkap Syahrul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Lebih lanjut Mentan juga menyampaikan harapannya bahwa dengan meningkatnya produksi dan produktivitas maka ke depan produksi pertanian tersebut bisa diekspor. Langkah ini lanjutnya sejalan dengan gerakan tiga kali ekspor atau Gratieks.

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster menyampaikan bahwa Provinsi Bali merupakan provinsi yang berbasis pertanian, dan penyediaan pangan merupakan salah satu program utama saat ini.

Dukungan Kementan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian di Bali dipandangnya sangat penting dalam membantu program Pemda dan masyarakat Bali.

"Bali kaya akan komoditas pertanian lokal seperti jeruk, salak, kopi, sapi, kambing dan lain-lain. Namun komoditas-komoditas ini belum diberdayakan secara optimal. Ke depan, diharapkan bantuan Kementan untuk mengoptimalkan potensi ini," jelasnya.

Khusus terkait Program satu juta ternak Sapi Bali pada 2025, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, I Ketut Diarmita menyampaikan target tersebut dapat dicapai apabila ada peningkatan jumlah induk sapi sebesar 30 persen-45 persen dari populasi saat ini, dan didukung oleh peningkatan kelahiran pedet sebesar 80 persen-85 persen dari Indukan jumlah sapi.

Sementara itu angka pemotongan sapi betina produktif di Bali harus bisa diturunkan hingga 5 persen-10 persen dari pemotongan tercatat saat ini, dan angka kematian pedet harus diturunkan ke angka di bawah 5 persen dari sapi yang lahir.

"Apabila parameter-parameter tersebut tercapai, maka program sejuta ternak Sapi Bali akan kita capai. Ditjen PKH selalu siap mendukung program ini, karena hal ini sejalan dengan Sikomandan, salah satu program penting dari bapak Mentan SYL," pungkasnya. (Sumber: liputan6.com)

GOPAN PEDULI BENCANA BANJIR

GOPAN menyalurkan bantuan kepada korban banjir di Cigudeg, Kab. Bogor (5/1)

Hujan deras yang turun beberapa hari belakangan di akhir tahun 2019 menyebabkan bencana banjir di beberapa wilayah Indonesia. Kabupaten Bogor menjadi salah satu wilayah terdampak banjir yang paling parah. Hingga saat ini jumlah pengungsi akibat banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bogor mencapai 15.000 orang, sementara itu korban meninggal dunia akibat bencana tersebut sebanyak 16 orang.

Atas dasar kemanusiaan, Gabungan Organiasai Peternak Ayam Nasional (GOPAN) merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada korban banjir. Melalui misi kemanusiaan bertajuk GOPAN Peduli, para peternak yang tergabung dalam GOPAN bertandang ke Desa Uruk, Cigudeng Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor pada hari Minggu (5/1) yang lalu.

Dalam lawatannya ke Desa Urug, GOPAN memberikan bantuan berupa BBM Solar sebanyak 200 liter serta bahan makanan berupa Mie instan. Bantuan BBM Solar sebanyak 200 liter tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar mesin ekskavator dalam membuka jalan yang terisolir akibat lumpur dan pohon tumbang.

Akses jalan desa yang tertutup akibat timbunan lumpur 


Berdasarkan kondisi yang terpantau di lapangan, akses jalan menuju desa terblokir sepanjang 3 km akibat lumpur dan pepohonan yang tumbang. Mesin eksavator yang tersedia tidak memiliki bahan bakar yang cukup untuk membersihkan sisa lumpur dan pepohonan yang menutupi akses jalan.

Kepala Desa Sukajaya Jaro Ata Iskandar mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada GOPAN. "Saya salut dengan kesolidan para peternak GOPAN, semoga Tuhan YME membalas dengan yang lebih banyak, semoga bantuan ini bisa berguna bagi para korban," tukas Jaro Ata.

Ia juga menuturkan mengenai kondisi di desanya dimana sebanyak sedikitnya 2.000 orang warga ikut terdampak banjir bandang. Selain itu sekitar 30 rumah hancur dan 200 rumah rusak akibat bencana banjir yang menimpa Desa uruk. Warga pun masih berharap uluran tangan dari pemerintah maupun swasta terkait kondisi yang dihadapinya.

Pada kesempatan yang sama, koordinator aksi kemanusiaan Sugeng Wahyudi menuturkan bahwa bantuan yang diberikan saat ini oleh GOPAN belum menyeluruh. "Rencananya GOPAN masih akan menggelontorkan bantuan lain berupa beras, makanan siap saji, mie instan, dan pakaian layak pakai seminggu dari sekarang," tutur Sugeng. Ia juga berharap kepada seluruh stakeholder di sektor perunggasan agar juga ikut membantu korban banjir yang melanda beberapa wilayah di mana saja. GOPAN juga masih membuka kesempatan bagi yang hendak memberikan bantuannya sampai tanggal 11 Januari 2020 nanti. (CR)



PINSAR INDONESIA BERI BANTUAN TELUR PADA KORBAN BANJIR LEBAK

Perwakilan Pinsar, Ricky Bangsaratoe (kiri) memberikan bantuan berupa telur (Foto: Istimewa)

Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia memberikan bantuan telur untuk korban banjir di wilayah Lebak Banten dan sekitarnya.

Ketua Umum Pinsar Indonesia Singgih Januratmoko mengatakan, aksi salah satu bentuk kepedulian bagi perternak unggas Indonesia atas musibah banjir yang menimpa Jabodetabek dan Lebak.

"Salah satu aksi peduli Pinsar Indonesoa peternak unggas untuk meringankan beban dari saudara-saudara kita yang terkena musibah dan mencukupi asupan protein saudara-saudara kita maka Pinsar menyumbangkan telur," kata Singgih saat dihubungi, Sabtu (4/1/2020).

Tak berhenti disitu, kata Singgih, Pinsar juga berencana akan memberikan bantuan ke wilayah Jakarta Barat.

"Hari Senin, besok kita akan memberikan bantuan di daerah Pos Pengumben, Jakarta Barat," katanya.

Pinsar turut prihatin atas musibah banjir yang melanda wilayah Jakarta dan sekitarnya. Anggota DPR dari Fraksi Golkar ini pun berharap tidak terjadi lagi peristiwa serupa. "Mari kita cari jalan dan solusi untuk tidak terjadi lagi musibah banjir ini," harapnya. (Sumber: www.teropongsenayan.com)

TIGA PENGGANJAL PRODUKSI SUSU SAPI INDONESIA

Ilustrasi susu sapi (Foto: Pixabay)



Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyebutkan tiga masalah yang menghambat produksi susu sapi Indonesia. Kondisi tersebut membuat kebutuhan susu masih didominasi oleh produk impor.

Teten mengatakan tiga masalah tersebut adalah bibit sapi yang tidak produktif, minimnya ketersediaan lahan untuk pakan, serta permodalan. Hal ini yang membuat selisih antara konsumsi dan produksi susu masih tidak seimbang. 

Imbuhnya, konsumsi susu mencapai 9 juta ton per tahun. Sedangkan dari data Badan Pusat Statistik, produksi susu sapi 2018 hanya 909 ribu ton. "Mereka (peternak) pernah jaya, tahun 1998 kemudian turun karena ada beberapa problem,” kata Teten di Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Guna meningkatkan produktivitas, sambung Teten, perlu peremajaan bibit agar menghasilkan sapi yang produktif. Selain bibit, pemerintah juga membuka kans impor sperma sapi untuk mendapatkan jenis yang bagus.

Lebih lanjut, Teten menjelaskan saat ini mayoritas peternak kecil telah memiliki koperasi sehingga semakin memudahkan untuk mendapatkan bantuan modal. “Kelembagaannya sudah bagus tinggal genjot produksi,” kata dia.

Menurut Teten, masih ada ruang besar bagi peternak untuk memacu produksi lantaran konsumsi masyarakat terus bertambah. Dia juga akan menggandeng Kementerian Pertanian untuk terus mencari cara manambah pasokan komoditas pangan.

 “Kalau permintaannya masih tinggi karena industri susu ini tumbuh 15% setahun,” ujar Teten.

Dari data BPS, produksi susu segar nasional pada 2018 turun 2% menjadi 909,6 ribu ton dari 928,1 ribu ton pada 2017. Padahal sejak tahun  2014 produksi susu segar nasional selalu meningkat. (Sumber: katadata.co.id)


PASCA ASF, DAGING BABI TETAP AMAN DIKONSUMSI

Kampanye makan daging babi yang aman dan sehat dilakukan di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara. (Foto: Humas PKH)

Dalam rangka meningkatkan konsumsi daging sebagai sumber protein hewani serta sosialisasi tentang keamanan daging babi terkait kasus ASF (African Swine Fever), Kementerian Pertanian (Kementan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Humbang Hasundutan bekerjasama dalam melakukan “Kampanye Makan Daging Babi yang Aman dan Sehat” yang dilaksanakan bersamaan dengan Pengangkatan Sumpah/Janji Anggota BPD Periode 2019-2025 di Pendopo BPKPAD, Humbang Hasundutan, Doloksanggul, Sumatra Utara (Sumut), Senin (30/12/2019). 

Dalam acara yang dihadiri hampir 600 orang peserta, Inspektur Jenderal Kementan, Justan Siahaan, menyampaikan bahwa Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasmin Limpo, memberi perhatian khusus pada kasus ASF. Karena menurutnya, kasus ASF dapat mengganggu penghidupan dan perekonomian masyarakat. Mentan pun telah berpesan agar diambil langkah-langkah strategis untuk membantu masyarakat menghadapi kasus ASF. 

Justan menegaskan, walaupun penyakit ASF belum ada obat dan vaksinnya, tapi penyakit ini tidak menular ke manusia. “Penyakit ASF dan juga penyakit Hog Cholera adalah penyakit yang hanya bisa menyerang ternak babi dan tidak menulari manusia. Jadi daging babi dan olahannya aman untuk dikonsumsi,” kata Justan. 

Sementara di tempat terpisah, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, mengatakan masyarakat tidak perlu ragu terkait keamanan daging babi dan olahannya, karena ASF bukan penyakit menular ke manusia. Pemerintah juga terus berupaya mendampingi masyarakat menghadapi masalah ini, salah satunya menyiapkan APBN 2019 sebanyak Rp 5 miliar untuk membantu operasional dan mengaktifkan 102 posko darurat.

“Kita harapkan dengan kampanye yang kita lakukan ini, masyarakat tidak perlu ragu lagi. Setelah perayaan Natal kemarin, saya harap menyambut tahun 2020 nanti masyarakat yang memang biasa mengonsumsi daging babi berbondong-bondong beli daging babi dan mengolahnya dengan baik, untuk meingkatkan asupan protein hewani keluarga,” ucap Ketut. 

Ia juga berpesan apabila dilakukan pemotongan babi sendiri, agar limbah sisa pemotongan dikubur dengan baik dan daging dari daerah tertular tidak di laliluntaskan ke daerah yang tidak tertular.

Sementara Bupati Humbang Hasundutan, Dosmar Banjarnahor, mengapresiasi langkah Kementan dan berharap tingkat konsumsi daging babi di Sumut, khususnya di Humbang Hasundutan kembali meningkat dan harga daging babi pulih seperti semula.

“Beternak babi merupakan sumber penghidupan masyarakat di sini. Masyarakat Humbang Hasundutan tidak bisa dipisahkan dari beternak babi. Apabila konsumsi daging babi meningkat, artinya peternak babi lokal akan terbantu untuk pulih,” kata Dosmar.

Ke depan, menurutnya peternakan babi akan dipelihara dengan sistem cluster dan terpusat di lokasi-lokasi tertentu untuk memudahkan pengelolaan. Ia juga menyampaikan ide kemungkinan merubah fokus peternakan di Humbang Hasundutan ke ternak lain, seperti kerbau dan sapi. (INF)

KEMENTAN KUNJUNGI KANDANG SAPI UNISMUH MAKASSAR DI BOLLANGI



Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH saat meninjau lokasi pembangunan kandang sapi Unismuh (Foto: Unismuh)


Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Sugiono meninjau pembangunan kandang sapi dan area penanaman rumput gajah Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar di Bollangi, Senin (30/12/2019).

Dalam kunjungannya, Sugiono dan rombongannya didampingi Rektor Unismuh Makassar, Prof Dr H Abdul Rahman Rahim SE MM, Direktur Utama PT Surya Pangan Indonesia (SPI) Unismuh, Dr Idham Khalid serta Kepala Pusdiklat Unismuh, Zulkifli.

Sugiono memuji pembangunan kandang sapi milik Unismuh Makassar. Sugiono dalam kesempatan tersebut, menyarankan kepada Rektor Unismuh Makassar untuk mempersiapkan SDM yang  memadai  dalam  mengelola usaha peternakan sapi tersebut.

“Saya siap berikan pelatihan diantaranya bagaimana cara mendekteksi sapi birahi, cara melakukan IB dan lainnya bagi tenaga ahli yang akan dipersiapkan nantinya,” pungkas Sugiono.(Sumber: www.unismuh.ac.id)

LIBATKAN PETERNAK MILENIAL, DOMPET DHUAFA KEMBANGKAN SENTRA PETERNAKAN KAMBING

Dompet Dhuafa - HKTI kembangkan sentra peternakan domba dan kambing (Foto: Dok. Dompet Dhuafa)



Lembaga filantropi dan kemanusiaan Dompet Dhuafa menggandeng Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) untuk pengembangan peternakan domba dan kambing."Sinergi dan kolaborasi ini untuk membangkitkan para peternak milenial mengembangkan peternakan domba dan kambing dengan skala ekonomi yang memadai,"ungkap Chief Communication Officer (CCO) Dompet Dhuafa, Guntur Subagja, Senin (30/12/2019).

Guntur Subagja bersama Ketua Umum Pemuda Tani HKTI Rina Saadah serta anggota pengurus, Dian Kresna, dan Tim Manajemen Pengenbangan Peternakan DD, Sigit Iko Sugondo, sebelumnya mengunjungi beberapa lokasi peternakan yang melibatkan para peternak muda di Bojonegoro dan Jember, Jawa Timur.

 "Untuk tahap awal kami mengembangkan tiga sentra ternak di Jawa Timur, satu sentra di Bojonegoro dan dua sentra di Jember dengan kapasitas produksi total 6.000 ekor,"papar Rina Saadah, ketum Pemuda Tani HKTI. Dompet Dhuafa menjadi pembeli (off-taker) kambing/domba yang dikembangkan Pemuda Tani HKTI. "Kami juga menggandeng Tanifund untuk pembiayaan modal peternakan yang dikelola milenial ini, dan kami menjadi penjamin dan off-taker,"jelas Guntur.

Domba dan kambing yang diproduksi para pemuda peternak untuk memenuhi kebutuhan pasar kurban Dompet Dhuafa. Selama ini para anggota kelompok ternak belum teintegrasi sehingga pengembangan ternak, khususnya penggemukan kambing, menjadi kurang efisien. "Dengan manajemen sentra ternak terintegrasi, para peternak akan mendapat pembinaan dan mampu bersaing,"jelas Sigit Iko Sugondo.

Rina mengajak para pemuda terlibat dan pengembangan peternakan ini, yang dalam tahap awal fokus pada penggemukan (fattening). Untuk tahap berikutnya akan melakukan pengembangbiakan (breeding). "Saatnya kita melakukan regenarasi petani dan peternak untuk kemandirian pertanian dan peternakan nasional,"ujar Rina.

Ia berharap kerja sama dengan Dompet Dhuafa tidak hanya untuk pasar kurban, tetapi juga bisa kontinyu untuk memenuhi pasar umum dan ekspor."Saat ini ada mitra kami yang baru mampu memenuhi sebagian permintaan ekspor ke Malaysia karena keterbatasan modal,"kata Rina Saadah.Pemuda Tani HKTI menyiapkan tim yang ahli di bidang peternakan, antara lain alumni IPB dan UGM, yang terjun langsung membimbing peternak. (Sumber: investor.id)



SEKELUMIT REVIEW PENYAKIT TERNAK 2019

Peternak disarankan lebih meningkatkan manajemen pemeliharaan ternak, terutama di bidang biosekuriti, untuk mencegah penyakit. (Foto: Dok. Infovet)

Salah satu hambatan dalam industri peternakan khususnya sektor budidaya adalah keberadaan penyakit. Baik penyakit yang sifatnya infeksius maupun non-infeksius, semuanya bisa jadi biang keladi kerugian bagi peternak. Menarik untuk dicermati ragam penyakit yang menghampiri di tahun ini dan bagaimana prediksinya kedepan.

Perunggasan, sebagai industri terbesar di sektor peternakan di Indonesia tentunya yang paling menjadi sorotan. Tiap tahunnya, kejadian penyakit selalu terjadi dan jenisnya pun juga beragam, baik infeksius maupun non-infeksius.

Sebagai negara tropis, Indonesia memang menjadi tempat yang nyaman bagi berbagai jenis mikroorganisme patogen. Tentunya para stakeholder yang berkecimpung mau tidak mau, suka tidak suka harus berusaha untuk bisa survive dari hambatan ini.

Yang patut diingat adalah bahwa kejadian penyakit akan berhubungan dengan performa dan produktivitas. Kedua aspek itu tentu saja akan langsung terkait pada nilai keuntungan yang didapat. Jadi, siapa saja yang dapat mencegah terjadi penyakit di suatu peternakan, apapun peternakannya, sudah pasti akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik.

Penyakit Unggas 2019
Larangan penggunaan AGP yang sudah berjalan hampir dua tahun mungkin masih sedikit terasa oleh peternak. Meskipun ada juga yang sudah dapat settingan terbaik dalam mengakali performa. Penyakit unggas utamanya broiler di 2019 ini masih bisa dibilang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa dibilang penyakit “klasik” seperti Chronic Respiratory Disease (CRD), CRD kompleks, Newcastle Disease (ND) dan Kolibasilosis kerap kali masih menjadi wabah di suatu peternakan.

Penyakit-penyakit infeksius yang menyerang saluran pernapasan masih bisa dibilang mendominasi kejadian penyakit di Indonesia. Data dari tim Technical Education & Consultation (TEC) PT Medion, menunjukkan bahwa selama 2019... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2019. (CR)

PERAN PENTING SDM DALAM MENGELOLA LIMBAH PETERNAKAN BERNILAI EKONOMIS

Pengukuhan Prof Ir Ambar Pertiwiningrum MSi PhD sebagai Guru Besar Fapet UGM (Foto: Istimewa)


Sumber Daya Manusia (SDM) berperan penting sebagai agent of change dan merupakan kunci keberhasilan pengelolaan peternakan terintegrasi, khususnya dalam hal pemanfaatan limbah peternakan. Limbah peternakan dan hasil ikutan ternak saat dipotong sangat bernilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara terpadu oleh SDM yang unggul dan lembaga yang selalu melakukan perubahan untuk peningkatan kemampuan. Dengan demikian, berdampak terhadap peningkatan perekonomian perdesaan dan dapat menurunkan efek gas rumah kaca.

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si., Ph.D., IPM., ASEAN. Eng saat ditemui di kampus Fakultas Peternakan UGM, Senin (23/12)

Ambar yang baru saja dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Peternakan tersebut mengatakan, peternakan terbukti berkontribusi pada pencemaran tanah dan air, yakni limbah peternakan menghasilkan emisi gas metan yang menyebabkan perubahan iklim. Fakta ini mendorong penerapan praktik peternakan terintegrasi yang dapat dikelola untuk menyuplai kebutuhan pangan dalam negeri dan sekaligus ramah lingkungan dengan dikelolanya limbah peternakan dengan baik dan bernilai ekonomi.

Menurut Ambar, diperlukan adanya revitalisasi pengelolaan limbah peternakan dan hasil ikutannya yang ramah lingkungan dan berorientasi ekonomi dengan prinsip 3R, yaitu: Reduce (mengurangi), Re- use (menggunakan kembali), dan Re-cycle (mendaur-ulang). Selain itu, revitalisasi pemeliharaan dan penanganan limbah peternakan juga harus mengacu pada circular economy atau ekonomi siklus sebagai praktik bisnis yang menguntungkan dengan memanfaatkan limbah dan produk samping/hasil ikutan dari aktivitas peternakan.

Circular economy didefinisikan sebagai sebuah sistem dengan mempertahankan nilai dari produk, material, dan sumber daya di dalam siklus ekonomi selama mungkin sehingga limbah dan hasil ikutan ternak dapat diminimalkan atau disebut dengan zero waste. Dalam konteks ini, circular economy tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah dengan prinsip 3R tetapi bagaimana merancang pemanfaatan limbah dan hasil ikutan menjadi produk yang berharga secara ekonomi dan bernilai jual tinggi.

Dengan penerapan prinsip circular economy, peternak dapat bertahan ketika ada guncangan fluktuasi harga pakan dan ternak. Mindset pengelolaan usaha peternakan perlu diubah secara terintegrasi agar menghasilkan nilai ekonomi tinggi. Limbah peternakan yang selama ini dianggap sampah, dengan konsep circular economy menjadikannya sebagai sumber pendapatan atau dengan kata lain “tambang emas”. Pengelolaan limbah peternakan dari hulu ke hilir mulai saat produksi sampai pascapanen, seperti kotoran ternak, sisa pakan, isi rumen, kulit, tulang dan sludge biogas dapat dimanfaatkan menjadi by-product memiliki nilai ekonomi.

Prinsip 3R dan circular economy dapat mengintegrasikan bidang peternakan dengan sektor nonpertanian. Ambar menyebutnya dengan sistem pertanian terintegrasi (Integrated Bio-cycle Farming System, IBFS) pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan sumber daya lainnya. Salah satu penerapan IBFS adalah adopsi teknologi biogas yang dikenal pertama kali di Assyria 10 tahun sebelum Masehi, yaitu memanfaatkan kotoran ternak untuk diolah menjadi sumber energi di perdesaan. Gas metana dalam biogas dapat dibakar dan menghasilkan energi panas untuk bahan bakar dan energi listrik.

Implementasi teknologi untuk mendukung sistem IBFS berprinsip 3R dan circular economy ini sangat membutuhkan sumber daya manusia (SDM) kompeten dan berjiwa entrepreneurship. Penguatan kompetensi SDM dalam pengelolaan limbah peternakan dan hasil ikutan ternak (by product) merupakan solusi pengelolaan peternakan secara komprehensif dan berdaya saing tinggi.

Pemberdayaan masyarakat peternak di perdesaan sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kompetensi SDM unggul, dan model penguatan kelembagaan dengan membuka ruang belajar formal dan informal. Selain itu, kompetensi kewirausahaan menjadi poin penting untuk mewujudkan peternakan terintegrasi sebagai lokomotif ekonomi lokal perdesaan dengan mewujudkan produk-produk dari limbah dan hasil ikutan peternakan menjadi bernilai tambah ekonomi yang berdaya saing.

Mencetak petani dan peternak muda melalui lulusan perguruan tinggi dan SMK bidang Agro merupakan solusi jitu dan strategis dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian. Revitalisasi peternakan dan pertanian dapat dilakukan melalui sistem pembelajaran Laboratorium Edukasi Tani (LARETA), yaitu sistem pembelajaran yang memanfaatkan konsep integrated farming system (pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan) dan ilmu lainnya berbasis zero waste dengan konsep circular economy khususnya terkait peternakan dan pertanian dalam satu kawasan. Tujuannya meningkatkan kompetensi generasi muda (lulusan pertanian/peternakan) dalam hardskill maupun softskill dalam transfer teknologi dan pengetahuan dari perguruan tinggi ke masyarakat.

Sinergitas antarpihak untuk konsep di atas perlu menerapkan model pentahelix, yaitu melibatkan berbagai peran: 1) akademisi, dalam hal ini universitas dan SMK; 2) mitra investasi; 3) pemerintah pusat dan daerah; 4) industri, korporasi dan UMKM; dan 5) mitra asosiasi profesional. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian-Kementerian Pertanian, ada berbagai manfaat kegiatan sinergis di sektor pertanian dari sudut pandang ekonomi, moral, dan sosial-politis. Manfaat ekonomi, yaitu mencakup peningkatan produktivitas dan efisiensi, menumbuhkan jaminan kualitas, kuantitas serta kontinuitas, mengurangi resiko kerugian, memberikan, meningkatkan sosial benefit, dan meningkatkan ekonomi secara nasional. Dari segi moral, diharapkan kemitraan usaha mampu menunjukkan upaya kebersamaan dan kesetaraan, serta dari sudut sosial-politis diharapkan dapat mencegah kesenjangan, kecemburuan sosial, dan gejolak sosial-politik. Masing-masing memiliki peran dan menjadi syarat vital dalam keberlanjutan operasional dan perkembangan circular economy sektor peternakan.

Revitalisasi kelompok ternak juga menjadi salah satu upaya penting dalam mengembangkan kemitraan antarpihak. Dalam peningkatan kualitas SDM peternak melalui pelatihan teknologi tepat guna dan pengelolaan agrobisnis, tentunya melibatkan peran profesional penyuluh, pendamping dan akademisi. Kelompok ternak mandiri perlu didorong untuk mengkonsolidasikan diri dalam kelembagaan berbadan hukum, seperti: Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Koperasi atau UMKM sehingga memudahkan transaksi dan kemitraan usaha agrobisnis. Melalui kelembagaan resmi, kelompok ternak diberikan kemudahan akses pasar dan permodalan dengan mitra investasi, misalnya perbankan, koperasi, dan korporasi. (Rilis Fapet UGM)



KASUS PENYAKIT PENTING DI 2019 DAN PREDIKSINYA DI 2020

Ternak ayam broiler. (Foto: Dok. Infovet)

Kejadian penyakit di 2019 pasca pencabutan AGP (Antibiotic Growth Promoter) di dalam pakan masih ditemukan tinggi, terutama untuk penyakit pernapasan dan pencernaan. Tahun ini benar-benar menjadi ujian berat bagi para pelaku insan perunggasan nasional, selain masalah tren harga LB (live bird) yang kerap berada di bawah HPP (harga pokok produksi), juga tantangan penyakit yang semakin kuat.

Berdasarkan pengalaman penulis, di sini akan dijelaskan review beberapa kasus penyakit paling penting dan sering terjadi sepanjang tahun 2019, baik yang menimpa ayam broiler maupun layer.

Newcastle Diseases (ND)
Temuan kasus di lapangan untuk kejadian ND masih menjadi momok menakutkan dan penyebab kerugian utama pada ternak broiler dan layer. Seperti digambarkan dari data berikut pada 2019 ditemukan kejadian kasus ND sebesar 29%, terbanyak dibanding kasus lain. Data dihimpun dari Januari-Juli 2019 dengan total kasus penyakit sebanyak 357 laporan kasus, (sumber: Ceva 2019).

Grafik kematian kejadian ND pada broiler dimulai di umur 17 sudah ada peningkatan kematian dan puncaknya di umur 25 hari. Kerugian yang ditimbulkan dari ND selain kematian juga dari kualitas karkas yang rusak/merah dan kematian waktu tunggu di pemotongan.

Penyakit ND sudah sangat tidak asing bagi peternak, karena sudah sejak 1926 teridentifikasi ada di Indonesia dan virus ND yang bersirkulasi dikategorikan vvND (velogenic viscerotropic Newcastle Disease). Virus ini juga bisa menyerang mulai unggas usia muda hingga masa produksi dengan gejala klinis mulai munculnya kematian yang sering pada ayam muda atau mengakibatkan penurunan produksi telur pada layer.

Gejala yang muncul juga tergantung dari kekebalan ayam dan biasanya tergantung usia tantangan, kepadatan virus yang menantang dan jenis virus ND-nya. Berdasarkan publikasi ilmiah miller et all. (2014), menyebutkan bahwa virus ND yang bersirkulasi di Indonesia didominasi sub genotipe VIIi dan VIIh yang juga teridentifikasi di beberapa negara Asia (Malaysia, China, Kamboja dan Pakistan). Virus sub genotipe VIIi ini masih dekat kekerabatannya dengan virus ND yang bersirkulasi pada 1983-1990.

Virus ND genotipe VII mampu bereplikasi, mengakibatkan reaksi peradangan dan respon cytokine yang hebat di jaringan limfoid (limpa, timus dan bursa) dibandingkan genotipe V (herts 33) berdasarkan laporan Z. Hu et all. (2015).

Jika infeksi terjadi di masa produksi, “Cytokine storm” yang lebih hebat ini akan mengakibatkan ayam yang terinfeksi menunjukkan gejala... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2019).

Drh Sumarno
Head of AHS Central & Outer Island, PT Sierad Produce Tbk

MALAYSIA LARANG IMPOR DAGING BABI DARI RI, MENTAN: ITU RISIKO

Pemerintah Malaysia larang impor babi dari Indonesia (Foto: nypost.com)



Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo angkat bicara soal pemerintah Malaysia yang melarang impor daging babi asal Indonesia. "Itu salah satu risiko. Kalau terjangkit, maka saya tetapkan daerah khusus saja yang terjangkit," katanya, Rabu, 25 Desember 2019.

Hal itu disampaikan Syahrul menanggapi pelarangan impor daging babi asal Indonesia karena temuan ternak babi di beberapa wilayah di Indonesia terjangkit wabah demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Pemerintah daerah telah diperintahkan untuk mengisolasi daerah terjangkit agar penyebaran wabah tidak semakin meluas.

Menurut Syahrul, wabah tersebut hanya menjangkiti beberapa 16 kabupaten/kota di Sumatera Utara. Kabupaten atau kota tertular yakni Pematang Siantar, Dairi, Medan, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Karo, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Samosir, Simalungun, Pakpak Bharat, Langkat, dan Tebing Tinggi.

Adapun ternak babi yang sudah positif terjangkit, kata Syahrul, harus dimusnahkan. "Pengamanan sesuai prosedur memang kita harus musnahkan di sana dan itu dalam proses," ujarnya.

Sebelumnya pemerintah Malaysia memutuskan untuk menghentikan impor daging babi asal Indonesia untuk sementara waktu. Larangan yang diberlakukan per 13 Desember 2019 ini dipicu wabah ASF yang muncul di sejumlah wilayah di Indonesia.

Selain melarang importasi daging babi, Wakil Menteri Pertanian dan Industri Berbasis Pertanian Malaysia, Sim Tze Tzin, pun melarang wisatawan dari luar negeri membawa produk berbahan baku daging babi ke negeri jiran. Petugas imigrasi Malaysia memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk turis dari luar negeri mengingat periode ini merupakan masa puncak liburan akhir tahun.

Langkah pelarangan ini pun disebut Sim dilakukan untuk melindungi industri daging babi Malaysia. Dia mengatakan bahwa industri babi lokal bernilai US$ 1,21 miliar dan berjalan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. (Sumber: bisnis.tempo.co)

TANGANI WABAH ASF DI SUMUT, PEMERINTAH BENTUK POSKO DARURAT

Tim gabungan membentuk posko darurat dan membantu masyarakat Sumut menangani wabah ASF. (Foto: Humas PKH)

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita, menyampaikan bahwa Posko Darurat dan Tim Gerak Cepat (TGC) telah bergerak dalam penanganan kasus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika di Sumatra Utara (Sumut).

"Posko darurat telah dibentuk disemua tingkatan, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, bahkan tingkat kecamatan. Saat ini jumlah posko di tingkat kecamatan sudah berjumlah 102 posko, hampir sesuai dengan jumlah kecamatan tertular" ujar Ketut dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/12/2019).

Sebelumnya, Kementan telah mengumumkan adanya kejadian penyakit ASF di Sumut melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) No. 820/Kpts/PK.32/M/12/2019 tentang pernyataan wabah ASF di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Sumut pada 12 Desember 2019. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa penyebab utama kematian babi di Sumut disebabkan oleh ASF.

Disampaikan Ketut, bahwa pengendalian ASF di Sumut dilakukan secara terintegrasi oleh tim gabungan antar instansi daerah yang melibatkan TGC Ditjen PKH, Balai Veteriner Medan, serta dinas ketahanan pangan dan peternakan provinsi bersama dinas PU, dinas kesehatan dan kepolisian.

"Salah satu permasalahan yang ditangani bersama TGC dengan kepolisian adalah penanganan bangkai babi yang dibuang ke sungai. Hal ini terjadi pada awal kasus kematian babi di Sumut Oktober 2019 lalu," jelas dia.

Melalui kerjasama ini, lanjut Ketut, telah dilakukan pengawasan agar pembuangan bangkai babi dapat dicegah, dan bersama tim gabungan dilakukan pengumpulan serta penguburan bangkai ternak babi.

"Saat ini kasus pembuangan bangkai telah menurun, akan tetapi pengawasan harus tetap dilakukan, selain juga mengawasi lalu lintas ternak babi dan produknya," ucapnya.

"Tim gabungan saat ini terus melanjutkan pelaksanaan kegiatan di posko darurat dan lapangan untuk melakukan pengawasan, sosialisasi dan bimbingan teknis tentang ASF. Kementan juga telah mengalokasikan APBN sebesar lima milyar rupiah untuk mendukung operasional di lapangan."

Sebelumnya diberitakan bahwa penyakit ASF telah terjadi di 16 kabupaten/kota di Provinsi Sumut. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (ISIKHNAS), sampai minggu kedua Desember 2019, total kematian ternak babi yang terjadi di Sumut mencapai 28.136 ekor. (INF)

PENINGKATAN POPULASI DAN PRODUKTIVITAS TERNAK TERUS DIDORONG

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita saat mendampingi kunjungan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, di BPTU-HPT Sembawa. (Foto: Humas PKH)

Pemerintah saat ini terus fokus meningkatkan populasi dan kualitas genetik sapi untuk menjamin peningkatan populasi dan produksi ternak dengan cepat.

Hal itu dikatakan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, pada kunjungan kerja ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pembibitan Ternak Unggul-Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Sembawa, Senin (23/12/2019).

"Kami puas melihat kinerja UPT ini, namun sayang jumlah sapinya hanya 1.200 ekor, kurang nendang. Seharusnya tiap UPT perbibitan maksimalkan lahan yang ada, misalnya memelihara 10.000 ekor sapi per UPT. Pasti akan mampu menjadi sumber replacement bibit sapi peternak kita di lapangan," kata Mentan Syahrul melalui keterangan tertulisnya. 

Syahrul menambahkan, upaya peningkatan populasi, produksi dan produktivitas ternak harus dilakukan secara lebih masif dan cerdas, dengan memanfaatkan teknologi peternakan terkini.

Sementara, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita, di lokasi yang sama saat mendampingi Mentan, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan populasi dengan meningkatan penyediaan semen beku berkualitas lewat berbagai UPT. 

"Khusus BPTU-HPT Sembawa, Balai ini merupakan salah satu sumber penghasil pejantan (bull) berkualitas, serta bibit indukan Sapi Ongole bermutu," kata Ketut.

Ia juga mengemukakan bahwa BPTU-HPT Sembawa merupakan UPT yang mengelola komoditas sapi sebanyak 1.200 ekor dan ayam berjumlah 13.217 ekor. 

"Populasi bibit ternak ini disebarkan hampir ke seluruh wilayah Indonesia, sesuai dengan kebutuhan masing-masing provinsi dan penugasan dari kementerian," pungkas Ketut. (INF)

KEMENTAN: STOK PANGAN ASAL HEWAN AMAN JELANG NATAL 2019 DAN TAHUN BARU 2020

Konpres ketersediaan pasokan dan harga bahan pangan asal hewan jelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 oleh Dirkesmavet, Syamsul Ma'arif. (Foto: Infovet/Ridwan)

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) memastikan stok pangan asal hewan (daging dan telur) aman dan tercukupi menjelang Natal 2019 dan Tahun Baru 2020.

"Saat ini komponen kebutuhan pokok (daging dan telur) untuk hari-hari besar kita jamin dan bisa kita penuhi," kata Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH, Syamsul Ma'arif, mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada Konferensi Pers Ketersediaan Pasokan dan Harga Pangan Asal Hewan Menjelang Hari Raya Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, di Gedung C Ditjen PKH, Kementan, Senin, (23/12/2019).

Hal itu dibuktikan melalui data Ditjen PKH, untuk ayam ras sesuai laporan realisasi produksi secara online dari para pelaku usaha perunggasan, potensi produksi tahun 2019 dan data konsumsi daging ayam ras sesuai hasil Kajian Konsumsi Bahan Pokok (Bapok) BPS 2017 sebesar 12,13 kg/kapita/tahun, diperkirakan kebutuhan daging ayam pada 2019 sebesar 3.251.745 ton, sedangkan ketersediaan mencapai 3.488.709 ton, jadi terdapat surplus sebanyak 236.964 ton, atau rata-rata surplus sebesar 19.747 ton per bulan.

"Surplus ini selain sebagai buffer stock juga berpotensi menjadi sumber devisa melalui ekspor ataupun diolah menjadi produk olahan untuk menambah nilai jualnya. Karena itu, pentingnya peningkatan mutu dan keamanan produk pangan dan non-pangan asal hewan dalam rangka pemenuhan persyaratan negara tujuan ekspor," ucap Syamsul.

Sementara, terkait kondisi stok telur ayam ras, Syamsul menyebut, berdasarkan hasil kajian Tim Analisa dan Asistensi Supply-Demand Ditjen PKH 2019 dan data konsumsi telur sesuai dengan hasil Kajian Konsumsi Bapok BPS 2017 sebesar 17,69 kg/kapita/tahun, diperkirakan ketersediaan telur ayam ras di Indonesia sebesar 4.753.382 ton dengan angka kebutuhan 4.742.240 ton, sehingga masih ada surplus sebanyak 11.143 ton atau 929 ton per bulan.

Lebih lanjut, untuk perhitungan kebutuhan dan ketersediaan daging sapi pada 2019 ini, kebutuhan nasional daging sapi diperkirakan sekitar 686.271 ton dengan asumsi konsumsi sebesar 2,56 kg/kapita/tahun. Adapun ketersediaan daging sapi berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 404.590 ton yang dihasilkan dari 2,02 juta ekor sapi yang dipotong. 

Berdasarkan data tersebut, kata dia, masih diperlukan tambahan sebanyak 281.681 ton yang dipenuhi melalui impor, yakni impor sapi bakalan setara 99.980 ton, impor daging sapi 92.000 ton dan daging kerbau 100.000 ton. Dari impor tersebut ada buffer stock sebanyak 10.299 Ton.

"Adapun khusus untuk Desember 2019, kita masih ada stok 75.735 ton yang terdiri dari stok daging sapi lokal, stok sapi bakalan di feedlotter, stok daging dan jeroan di gudang importir, stok daging kerbau di Bulog dan stok daging sapi tambahan di Berdikari. Dengan kebutuhan daging sebesar 56.538 ton, maka pada Desember ini masih ada surplus 19.197 ton," jelas Syamsul.

Dengan data-data tersebut, Syamsul menegaskan pihaknya yakin bahwa sampai akhir tahun 2019 dan memasuki 2020, stok pangan asal hewan mencukupi dengan harga relatif stabil.

"Untuk perkembangan harga kami lihat tidak terlalu ada gejolak yang tinggi. Data kami pada November-Desember 2019 (minggu ketiga) untuk daging sapi rerata harga nasional di tingkat konsumen Rp 111 ribu/kg, sementara di produsen Rp 45 ribu/kg/bobot hidup. Begitu juga pada harga rata-rata daging broiler di konsumen stabil di Rp 35 ribu/kg, sementara di produsen tercatat Rp 20 ribu/kg. Kemudian harga rata-rata telur ayam ras di konsumen Rp 25 ribu/kg, di produsen Rp 21 ribu/kg. Perkembangan harga ada kenaikan sedikit, tetapi relatif stabil," jelasnya.

Ia juga menambahkan, upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan memperhatikan beberapa aspek penting, yakni kecukupan stok, distribusi dan kenaikan permintaan. Kementan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk melakukan penghitungan supply-demand bahan pangan pokok asal hewan secara periodik melalui Rapat Koordinasi Teknis yang dikoordinir Kemenko Perekonomian, bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan BPS. (RBS)

DINAMIKA PENYAKIT UNGGAS DI INDONESIA

Manajemen kesehatan pada peternakan harus kombinasi antara biosekuriti, vaksinasi dan medikasi. (Foto: Dok. Infovet)

Dapat diamati insidensi dari emerging disease pada hewan ternak dan manusia terus meningkat, hal ini utamanya disebabkan oleh meningkatnya kontak antara hewan liar, hewan ternak dan manusia (Astill, 2018). Pun di Indonesia, beberapa penyakit yang sudah ada sejak beberapa dekade lalu bisa tetap dijumpai sekarang dengan tingkat insidensi yang semakin meningkat, sedangkan beberapa penyakit tetap menjadi endemik hingga saat ini. Pola berulang cenderung terjadi dan persistensi, tren penyakit yang paling banyak ditemui cenderung tidak berubah dari tahun ke tahun.

Iklim dan Globalisasi sebagai Faktor Utama Predisposisi
Indonesia merupakan negara beriklim tropis dimana terbagi menjadi dua musim, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Musim penghujan yang ditandai dengan tingginya curah hujan menciptakan iklim yang kondusif termasuk bagi penyakit Newcastle Disease (ND), Avian Influenza (AI) dan Infectious Bursal Disease (IBD). Temperatur dan suhu rendah mengakibatkan virus bertahan lebih lama dan meningkatkan resiko penyakit, sehingga pengendalian penyakit lebih sulit dilakukan (Mitchell, 2017).

Suhu yang rendah pun mengakibatkan ayam cenderung makan lebih banyak, minum lebih sedikit dan cenderung berkelompok untuk menghangatkan tubuhnya, dengan kata lain jarak yang dekat akan meningkatkan resiko transmisi penyakit.

Sebaliknya, suhu yang hangat akan menyebabkan virus sulit untuk bertahan, namun level kelembaban yang tinggi dapat memperparah masalah pernapasan dan penyakit enterik. Ayam pun cenderung untuk lebih sedikit makan dan lebih sering minum. Suhu yang ekstrem, baik dingin atau panas akan menyebabkan ayam stres, meningkatkan sensitivitas terhadap penyakit dan mempengaruhi performa produksi (Mitchell, 2017).

Perubahan iklim secara global turut mempengaruhi penyebaran suatu penyakit, seperti contohnya perubahan rute migrasi burung akibat berkurangnya sumber makanan dan air di rute normal sebelumnya. Pertemuan jenis burung yang berbeda diakibatkan perubahan migrasi ini pun menyebabkan resiko transmisi penyakit meningkat, contohnya dalam kasus penyebaran Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI).

Namun di luar itu semua, Abolnik (2017) memandang jika penyebaran penyakit lebih disebabkan oleh faktor globalisasi, yaitu meningkatnya permintaan makanan yang diikuti dengan intensifikasi sistem produksi dan meningkatnya impor dan ekspor yang mengakibatkan seringkali lalu lintas menjadi tidak terkontrol.

Penyakit Viral
Pembahasan tren penyakit yang terjadi saat ini dan tahun mendatang, dapat dimulai dengan penyakit yang disebabkan oleh virus. Seringkali digolongkan sebagai... (Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2019).

Oleh: Drh Diptya Cinantya
Technical and Marketing Manager Hipra Indonesia

SEMINAR TUNGGAL & LAUNCHING BUKU BERSAMA TONY UNANDAR

Launching buku Tony Unandar. (Foto: Dok. Infovet)

Dalam budidaya unggas, kesehatan menjadi prioritas untuk mencapai produksi maksimal. Kasus penyakit yang kerap merepotkan menjadi musuh utama bagi peternak. Apalagi ditambah dengan adanya perubahan iklim dan dilarangnya penggunaan AGP (Antibiotic Growth Promoter). Tentunya ini membutuhkan beberapa trik dalam pemeliharaan ternak unggas modern.

Melihat kondisi itu, PT Gallus Indonesia Utama (GITA) melalui divisi Infovet bekerjasama dengan GITA Pustaka dan GITA Organizer, menyelenggarakan seminar Manajemen Kesehatan Unggas Modern di Era Bebas AGP, dengan narasumber utama Tony Unandar selaku private consultant farm, sekaligus me-launching bukunya yang berjudul "Manajemen Kesehatan Unggas Modern" terbitan Gita Pustaka.

"Dalam seminar kali ini kita sekaligus launching buku Pak Tony. Beliau selama ini juga turut membantu memberikan informasi seputar kesehatan unggas melalui artikel-artikel yang dimuat di Infovet sejak 1992," ujar Direktur Utama PT Gallus, Bambang Suharno, yang juga Pimpinan Redaksi Majalah Infovet dalam sambutannya.

Seminar yang dimulai sejak pukul 13:00 WIB dihadiri Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, dan dipadati sekitar 70 orang peserta yang terdiri dari kalangan praktisi kesehatan unggas, feedmill dan perwakilan perusahaan yang bergerak di industri perunggasan.

Seminar dipadati puluhan peserta yang berkecimpung di bidang perunggasan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Dimoderatori oleh Direktur HRD PT Gallus, Rakhmat Nuriyanto, seminar diawali dengan pembahasan oleh Tony mengenai bagaimana peternak bisa memanajemen kesehatan unggas dengan baik.

Menurutnya ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam manajemen kesehatan unggas modern, khususnya di era pelarangan AGP.

"Ada tiga hal yang harus menjadi perhatian dalam memanajemen kesehatan unggas modern, yakni genetik ayam itu sendiri baik broiler maupun layer, kemudian manajemen pemeliharaan dan lingkungan. Semuanya akan saling berkaitan," kata Tony.

Selanjutnya Tony juga menjabarkan lebih jauh mengenai faktor-faktor baik ekstrinsik maupun intrinsik yang mempengaruhi performa di lapangan beserta cara menangani performa unggas agar tetap terjaga. (INF)

BAGAIMANA KONDISI PENYAKIT DI TAHUN DEPAN?

Penyakit unggas di tahun depan akan tetap begitu-begitu saja apabila tidak ada peningkatan dari segi pemeliharaan. (Foto: Dok. Infovet)

Di tahun depan, sepertinya beberapa penyakit pernapasan diprediksi masih akan terjadi di Indonesia. Namun begitu, perlu kiranya dilakukan peningkatan terutama dalam upaya pencegahan.

Bicara prediksi, tentunya tidak akan 100% akurat. Semua masih tergantung pada yang “di atas” juga. Namun begitu, tidak ada salahnya memperkirakan dan sedikit meramal apa yang akan terjadi di tahun depan, sambil mengambil ancang-ancang agar lebih siap.

AI Sedang Kurang Hits
Memang jika dilihat lebih lanjut persoalan wabah AI (Avian influenza) di Indonesia tahun ini, sepertinya AI bisa dibilang kurang hits. Namun hal tersebut bukan berarti peternak bisa santai, terutama dalam pemeliharaan. Semakin zaman berubah, bibit-bibit penyakit juga akan berubah menyesuaikan diri dalam upaya bertahan hidup layaknya manusia. Oleh karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan secara maksimal, berkesinambungan dan konsisten.

Seperti disampaikan oleh National Laboratory Advisor FAO ECTAD Indonesia, Drh Nining Hartiningsih. Menurutnya, sepanjang 2019 ini kejadian AI di Indonesia bisa dibilang berkurang. Kendati demikian, tidak berarti peternak lengah dengan menurunnya wabah yang terjadi. Kemungkinan, kata dia, wabah AI berkurang karena seleksi alam, utamanya musim.

“Virus AI kemungkinan kurang bisa bertahan dengan musim panas yang berjalan sepanjang tahun ini, walaupun hujan tetapi tidak seperti tahun lalu, relatif lebih panas suhu di tahun ini,” kata Nining.

Tidak lelah mengingatkan, Nining mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai peneliti tetap berjalan. Sejak 2011 lalu, Nining beserta timnya merintis sistem bernama IVM (Influenza Virus Monitoring). Sistem ini merupakan program yang melibatkan semua stakeholder yang berkecimpung di dunia perunggasan. Tujuannya adalah untuk memonitoring, mengetahui dan mempelajari sifat, karakterisitik, bahkan genetik dari virus AI di Indonesia.

Sejak AI mewabah pada 2003 silam, kini AI sudah berkembang sedemikian cepat. Bukan hanya H5N1 beserta berbagai strainnya, kini H9N2 juga menjadi momok menakutkan bagi peternak unggas Indonesia. Vaksinasi merupakan salah satu upaya dalam pengendaliannya.

“Masih banyak yang harus diketahui tentang AI dan saya rasa ketika penyakit ini sedang... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Desember 2019. (CR)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer