-->

SUMBER UNGGAS INDONESIA BERBAGI ILMU DI BALI

Prof. Sofjan (Baju Putih) menjelaskan materi kepada peserta pelatihan (Foto : Roni)


Perusahaan penghasil bibit Ayam Lokal unggul, PT Sumber Unggas Indonesia (PT SUI) kembali menggelar pelatihan bisnis peternakan ayam kampung unggulan di Bali, Kamis, (12/12).  Pelatihan tersebut dihadiri sebanyak 25 peserta yang terdiri dari peternak, pengusaha kuliner, karyawan seasta, dan mahasiswa.

Materi yang diberikan PT SUI kepada peserta meliputi Pengenalan Ayam Lokal, Manajemen Pemeliharaan dan Kandang yang Ideal, Pakan Ayam Lokal dan Pemberiannya, Biosecurity dan penerapannya, dan Keuntungan Berbisnis dengan Sumber Unggas Indonesia. Masing-masing materi tersebut dibawakan oleh Prof. Dr. Sofjan Iskandar (mantan Peneliti Balitnak), Carlim (Direktur Operasional PT SUI), PT Medion (perusahaan obat hewan), dan Febroni Purba (Manager Marketing & Sales PT SUI).

Carlim memaparkan bahwa pemeliharaan Ayam kampung perlu dikerjakan dengan maksimal mulai dari penanganan anak ayam saat masuk kandang, suhu kandang yang optimal setiap minggu, vaksin dan obat, kebersihan kandang dan penanganan pada saat panen, tak ubahnya seperti ayam ras.

Sofjan Iskandar yang juga penemu atau peneliti ayam Sentul Seleksi mengenalkan jenis-jenis ayam asli Indonesia dan potensinya. Sofjan menenegaskan bahwa ayam lokal kita tidak kalah dalam produksi dengan ayam-ayam joper atau super yang banyak beredar di masyarakat. Untuk itu, kata dia, peternak tidak perlu khawatir menggunakan ayam lokal Indonesia sepeti Ayam KUB, Ayam Sentul, Ayam Gaok, Ayam Merawang, dll.

Bali dipilih sebagai lokasi pelatihan dinilai karena potensi kebutuhan ayam kampung cukup besar. Manager Marketing & Sales PT Sumber Unggas Indonesia dalam paprannya mengatakan Bali memiliki potensi kuliner yang menjanjikan. “Jumlah penduduk Bali 4,3 juta, jumlah wisatawan mancanegara sekitar 400-500 ribu per bulan, ditambah lagi katakanlah 1 juta wisatawan dalam negeri per tahun. Bali adalah salah satu destinasi wisata andalan Indonesia yang memiliki potensi kuliner yang membutuhkan pasokan ayam kampung, salah satunya produk ayam Betutu. Ini peluang yang bagus bagi usaha kuliner,” katanya. (Roni)


PENTINGNYA MEMPERHATIKAN LINGKUNGAN KANDANG

Masalah paling serius yang dihadapi ayam pada umur awal adalah keterbatasan lingkungan dan manajemen pemeliharaan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Mengendalikan lingkungan ayam merupakan salah satu parameter produksi yang vital, diantaranya berasal dari pengumpulan data dan hasil pemantauan di kandang. Sebagaimana dikutip dari artikel DR Dhia Alchalabi, Poultry International (2001), informasi yang baik dan bisa diandalkan adalah penting untuk pengambilan keputusan, sedangkan pengumpulan data yang tidak akurat akan menyebabkan kesalahan dalam mengambil keputusan.

Pada tahap awal perlu diidentifikasi apa saja kebutuhan ayam dan kendala yang terdapat di peternakan. sebab, ayam modern saat ini berbeda dibandingkan 10 tahun lalu. Oleh karena itu, dibutuhkan kondisi lingkungan yang lebih baik untuk hasil yang lebih apik.

Hal yang sama juga diterapkan pada cara pemberian pakan. Menggunakan pakan jenis apapun, hasilnya tetap akan tergantung pada kondisi lingkungan. Karena pakan tidak berubah setiap hari sedangkan lingkungan selalu berubah-ubah.

Ayam yang menderita gangguan kesehatan atau kerusakan paru-paru pada minggu pertama pertumbuhan sudah pasti tidak akan berpenampilan baik selanjutnya, namun bisa dibantu apabila lingkungannya mendukung. Oleh sebab itu, sangat penting menyediakan lingkungan yang baik dan sehat sejak hari pertama pemeliharaan (DOC/day old chick). Meskipun membutuhkan investasi cukup mahal untuk pengumpulan data dan sistem pemantauannya.

Pasalnya, masalah paling serius yang dihadapi ayam di umur awal adalah keterbatasan lingkungan dan manajemen pemeliharaan. DOC seringkali menderita akibat suhu tinggi, kelembaban rendah dan naiknya konsentrasi karbon dioksida, ditambah sistem ventilasi yang buruk. Situasi seperti itu tercipta karena banyak peternak berupaya menghemat biaya bahan bakar dengan membatasi ventilasi dan meresirkulasi udara dalam kandang dengan pemanasan ulang.

Tindakan ini menjadi lebih parah pada malam hari karena kandungan gas berbahaya, suhu dan kelembaban bisa melewati kisaran yang direkomendasikan. Jika cuaca buruk sepanjang hari, maka situasi sulit seperti ini akan terus berulang pada siang dan malam. Menyebabkan penurunan kesehatan ayam dan produksi sepanjang siklus pemeliharaan.

Pengendalian parameter lingkungan yang bisa dipantau secara ilmiah menjadi hal penting. Sistem ini dapat digunakan membantu manajer untuk mendidik peternak dengan cara memberikan demonstrasi praktis atas teknik pengendalian parameter lingkungan yang penting. Peternak harus menyadari bahwa lingkungan yang lebih baik bagi ayam berarti memberikan keuntungan baginya.

Mengukur Parameter
Banyak faktor lingkungan mempengaruhi pertumbuhan ayam, serta biaya kesehatan konsumen, peternak dan ayam itu sendiri. Adalah penting untuk memantau, mengukur dan mengendalikan parameter-parameter yang bisa mempengaruhi produksi dan menyadari bahwa parameter tersebut saling berkaitan. Parameter-parameter penting tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor lingkungan dan manajemen.

Faktor- faktor lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap tingkat produksi daging dan telur ayam. Termasuk di dalamnya adalah suhu, kelembaban, cahaya (lama hari siang dan intensitasnya), kadar amonia, karbon dioksida, oksigen, serta kondisi ventilasi udara (pergerakan udara), energi surya dan kualitas udara.


Penempatan Sensor
Lokasi penempatan sensor suhu juga penting diperhatikan untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai penyebaran suhu dalam kandang. Beberapa patokannya sebagai berikut:

• Tempatkan alat (probe) pada area lingkungan ayam yang efektif (lingkungan mikro).
• Selalu menempatkan alat pada posisi masuk (inlet) untuk memperoleh data suhu dan kelembaban relatif dari udara luar dan pada posisi keluar (exhaust fan) untuk mengetahui rata-rata parameter dalam kandang.
• Tempatkan alat pada sisa daerah lainnya seperti dekat tempat minum dan jalur tempat makan (feeder), sehingga bisa diketahui apakah sistem ventilasi sudah cukup dan bekerja dengan baik untuk daerah yang seharusnya.
• Bagi area kandang menjadi dua atau tiga blok memanjang sisi kandang. Tempatkan alat diagonal mulai dari dekat tempat minum di posisi inlet dan berakhir di dekat tempat makan (fan). Tempatkan beberapa alat pada aliran udara untuk memperoleh gambaran mengenai perubahan suhu pada sistem ventilasi yang sedang bekerja. Tempatkan beberapa alat antara fan untuk memperoleh gambaran mengenai peningkatan suhu pada saat sistem ventilasi sedang berjalan atau dimatikan. 
• Periksa alat sesering mungkin untuk memastikan tidak terjadi pergeseran, kotor atau rusak dan bersihkan setiap minggu. Apabila periode pemrograman tidak bisa meliput sepanjang periode pemeliharaan, buat catatan di bawah alat untuk melakukan program ulang sebelum kehilangan data. Baca data seminggu sekali untuk menghindari kehilangan data apabila terjadi kerusakan alat. 
• Alat tidak boleh bersentuhan dengan dinding maupun permukaan lainnya.
• Lindungi alat dari ayam dan gangguan luar (sinar matahari dan hujan). Jika ditempatkan di luar lindungi dengan gelas plastik yang dilubangi untuk mempertahankan ventilasi yang cukup di sekeliling alat.

Pemahaman Data dari Alat
Adanya perbedaan antara suhu di luar, sisi keluar/pinggir (fan) dan di dalam kandang akan memberikan informasi berguna tentang apa yang terjadi di dalam kandang. Apabila perbedaan antara suhu luar dan dekat/pinggir fan berkisar 4°C, maka berarti suhu udara luar menyedot panas di dalam tetapi tidak cukup untuk menurunkan suhu ke tingkat yang diinginkan, ataupun pergerakan udara rendah, hingga suhu di dalam akan meningkat sejalan dengan perubahan waktu.

Apabila perbedaan suhu luar dan dekat/pinggir fan kurang dari 2°C, maka bisa berarti udara luar tidak menyedot panas di dalam dan tidak menurunkan suhu di dalam kandang. Situasi ini dapat terjadi pada musim dingin atau malam hari, biasanya udara mengarah langsung ke atap kandang, atau juga karena pergerakan udara tinggi, maupun suhu dan kelembaban relatif di dalam bisa meningkat.

Kemudian apabila terdapat perbedaan yang tinggi antara suhu di dalam dan dekat/pinggir fan maka berarti bagian sisi kandang (pinggir) ini tidak memperoleh udara yang cukup atau ada kemungkinan terjadi peningkatan kadar karbon dioksida, amonia dan suhu.

Lalu, apabila suhu dari salah satu alat yang diletakkan di dalam kandang berubah secara mendadak, ini berarti terjadi suatu perubahan arah udara, juga bisa karena sistem ventilasi pada tahapan yang lebih tinggi/cepat sedang diaktifkan, atau alat menyentuh bagian permukaan yang lebih dingin atau lebih panas.

Daftar Parameter Lingkungan
Selama masa pertumbuhan ayam broiler akan menghasilkan gas dan produk limbah. Produk ini akan berakumulasi sepanjang waktu dan menyebabkan perubahan substansial terhadap kualitas udara dalam kandang. Cemaran utama yang biasa terjadi dalam udara adalah debu, amonia, karbon dioksida, oksigen dan uap air yang dapat menimbulkan efek merugikan.

Pengaruh langsung dari debu dan amonia meliputi kerusakan fisik permukaan lambung, yang menyebabkan menurunnya resistensi terhadap penyakit, berkurangnya konsumsi makan dan pada kondisi yang parah menyebabkan buruknya pertumbuhan.

Kehadiran gas berbahaya akan menekan pengambilan oksigen, mengingat adanya kompetisi antara unsur-unsur kimia secara langsung. Ini penting diperhatikan sebab ascites cenderung terjadi pada tingkat oksigen yang rendah. Kandungan tinggi dari karbon dioksida dan karbon monoksida juga membatasi pengambilan oksigen. Pada kadar konsentrasi yang lebih tinggi, kehadiran kedua gas tersebut bisa berakibat fatal.

Kelembaban Relatif
Tingkat kelembaban lingkungan berpengaruh langsung terhadap kehilangan panas laten tubuh ternak. Tingkat kelembaban juga secara tidak langsung mempengaruhi penampilan ternak akibat konsentrasi debu dan bakteri patogen meskipun masih sedikit dokumentasi ilmiah yang mendukung keterkaitan ini. Meningkatnya kelembaban akan merugikan produksi ternak pada suhu tinggi.

Pada umumnya perubahan kelembaban tidak menimbulkan respon terhadap pertumbuhan ternak pada suhu lingkungan di bawah 24°C. Alat pengukur kelembaban harus diletakkan berdekatan dengan alat suhu. Beberapa sensor suhu mempunyai sensor kelembaban sehingga memungkinkan untuk mengukur kelembaban relatif. (INF)

Cemaran Udara Paling Penting dan Pengaruhnya
Amonia (NH3)
Dapat dideteksi dengan penciuman pada konsentrasi di atas 20 ppm. >10 ppm menyebabkan kerusakan permukaan paru-paru, >20 ppm meningkatkan kepekaan terhadap penyakit pernapasan dan >50 ppm menurunkan laju pertumbuhan. Rekomendasi batas atas adalah 10 ppm
Karbon dioksida (CO2)
>0,35% (3500 ppm) menimbulkan nodul-nodul kartilaginus pada paru-paru yang berkaitan dengan ascites. Fatal pada konsentrasi tinggi. Rekomendasi batas atas 2500 ppm
Debu
Menyebabkan kerusakan permukaan paru-paru. Meningkatkan kepekaaan terhadap serangan penyakit. Gunakan ventilasi untuk mengurangi debu.
Kelembaban
Pengaruhnya bervariasi menurut suhu. Pada 29°C Rh 70% menghambat pertumbuhan karena ayam tidak mampu mendinginkan dirinya sendiri. Kualitas litter memburuk pada kelembaban tinggi menyebabkan poenurunan kualitas produk pada saat prosesing. Rekomendasi dalam kisaran 65-75%.
DR Dhia Alchalabi, Poultry International, 2001.

FGD ISPI ; PERLU KONSORSIUM PEMERINTAH, PENELITI DAN PELAKU USAHA UNTUK KEMBANGKAN GENETIK AYAM LOKAL

Mark Cooper, Muladno, Cece Sumantri, Didiek Purwanto, Sugiono, Asep Anang, Dominic
Untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan, perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. Demikian catatan penting yang dibacakan oleh Prof Muladno di acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI) yang berlangsung di Swiss-Bellhotel, Intermark BSD City, Kamis 12 Desember 2019.

Para peserta FGD
FGD diselenggarakan ISPI antara lain untuk menyikapi berita di Bisnis Indonesia (18 November 2019 dan 2 Desember 2019) dan beberapa berita di media sosial tentang keberadaan GGPS broiler produksi lokal di Indonesia yang akan memproduksi GPS. Dalam berita tersebut disampaikan bahwa  Kementerian Pertanian tengah mempersiapkan program produksi bibit ayam Grand Parent Stock/GPS) broiler guna menekan importasi induk ayam potong. Program pengembangan ini telah berjalan di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jika dapat beroperasi secara konvensional, Kementan mengklaim ada efisiensi biaya mencapai Rp415 miliar.

FGD dihadiri oleh sekitar 70an orang dari kalangan pakar genetika dan pemuliaan ternak dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian, pelaku industri pembibitan unggas, pimpinan asosiasi perunggasan dan sejumlah tamu undangan. Tampak hadir Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Sugiono mewakili Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, mantan Ketua Umum GPPU Drh. Paulus Setiabudi dan Krissantono, Ketua Umum GPPU Achmad Dawami, Penasehat GPMT Drh.Sudirman, Ketua Umum Pinsar Indonesia yang juga anggota DPR Singgih Januratmoko, Senior ISPI Dr Rakhmat Pambudy serta sejumlah tokoh perunggasan lainnya

FGD dengan tema "Siapkah Indonesia Mandiri dalam Pembibitan Ayam Broiler?" dipandu oleh Prof Dr Muladno sebagai moderator dengan narasumber Prof Cece Sumantri (IPB), Prof Asep Anang (Fapet Unpad), serta Dominic Elfick dari Aviagen dan Mark Cooper dari Cobb Vantress USA.

Prof Cece menyampaikan materi tentang Teknologi Molekuler dalam Mendukung Pembibitan Ayam Broiler, Prof Asep Anang tentang Merancang Pembibitan Ayam Broiler di Indonesia, sedangkan Dominic dan Mark Cooper menyampaikan tentang modern broiler breeding berdasarkan pengalaman di perusahaan masing-masing.

Ketua Umum PB ISPI Didek Purwanto mengatakan acara FGD ini dimaksudkan untuk mendiskusikan secara terbuka tentang pembibitan ayam broiler. "Kami sengaja mengundang pakar-pakar genetika dan pemuliaan ternak untuk membahas tema ini yang selanjutnya akan menjadi masukan untuk pemerintah," ujar Didiek.

Adapun Direktur Perbibitan dan produksi Ternak Sugiono menyampaikan terima kasih atas inisiatif PB ISPI untuk mengadakan FGD ini. Ia menampaikan usaha perunggasan menghadapi berbagai masalah dan sering terjadi polemik. "Kita ambil positifnya, bahwa situasi ini membuat kita bisa berkumpul dan berdiskusi untuk mencari solusi," ujar  Sugiono yang mengikuti acara FGD ini hingga selesai.

Setelah 4 narasumber menyampaikan materinya, moderator memberikan kesempatan semua pakar untuk memberi tanggapan, dilanjutkan tanggapan dari kalangan pelaku usaha.

Resume FGD
Menurut Sekjen PB ISPI Joko Susilo, PB ISPI telah membentuk Tim Perumus yang saat ini sedang menyusun naskah resmi hasil FGD untuk disampaikan ke pihak terkait.  Adapun resume FGD yang dibacakan oleh moderator menurut catatan Infovet ada 9 poin yaitu sebagai berikut:
  1. Upaya penggunaan sumberdaya ayam lokal Indonesia sebagai sumber bibit yang diciptakan melalui cara-cara pemuliaan berdasarkah kaidah ilmiah yang benar, yang sudah dilakukan agar terus dilanjutkan dengan monitoring dan pengawasan yang sangat ketat serta berkelanjutan.  
  2. Indonesia telah memiliki sumberdaya genetik ayam lokal sebanyak 33 rumpun, agar dioptimalkan potensinya sebagai fondasi pembentukan bibit galur murni untuk ayam pedaging. Saat ini  baru menghasilkan 9 rumpun yang dilakukan oleh perguruan tinggi, lembaga penelitian dan perusahaan swasta yang selama ini dilakukan secara sendiri-sendiri, harus lebih dioptimalkan melalui sinergi kolaborasi yang lebih baik antara akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi.
  3. Semua pilar harus konsisten/istiqomah dengan profesionalitas masing-masing untuk memberikan yang terbaik bagi pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal di Indonesia. Akademisi, peneliti berkontribusi dalam IPTEK dan penelitian; pelaku usaha berbisnis secara produktif dan efisien; dan pemerintah berkontribusi melahirkan regulasi yang kondusif bagi pengembangan bisnis perbibitan ayam lokal.
  4. Pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal sebagai sumber bibit perlu diarahkan ke arah yang lebih spesifik, segmented, dan khas Indonesia dengan target pasar khusus, tanpa harus bersaing dengan sumber bibit komersial yang selama ini sudah ada, dan telah dikembangkan oleh principle selama berpuluh-puluh tahun melalui dukungan teknologi, seleksi genetik dan finansial yang sangat kuat, sehingga hampir tidak mungkin pengembangan ayam GGPS melalui ayam broiler yang telah beredar di Indonesia. 
  5. Upaya peningkatan konsumsi protein unggas yang masih rendah, maka perlu pengembangan pembentukan galur ayam lokal (merujuk poin no 2) dilakukan secara berdampingan dengan industri broiler yang saat ini sudah berjalan untuk melengkapi kebutuhan protein hewani masyarakat.  
  6. Akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi perlu memperkuat sinergisitas untuk meningkatkan efisiensi produktivitas dalam menghasilkan inovasi berbasis sumberdaya genetik ayam lokal dan lingkungan spesifiknya.
  7. Informasi dan sampel sumberdaya genetik ayam lokal dalam berbagai bentuknya perlu dihimpun dan dikonsolidasikan secara nasional dalam database yang kuat untuk digunakan sebagai landasan dalam pengembangan iptek yang langsung dapat dimanfaatkan para akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku usaha/praktisi
  8. Perlu segera dibentuk konsorsium yang terdiri dari akademisi, peneliti, pelaku usaha/praktisi, dan pemerintah yang secara profesional, terencana, dan terarah untuk mengembangkan dan melanjutkan pengembangan sumberdaya genetik ayam lokal secara berkelanjutan.
  9. Pemerintah dalam hal ini direktorat perbibitan sebagai leading sector dan regulator harus memulai gerakan bersama membangun pembibitan sumber daya genetik ayam lokal sebagai pelengkap dalam pemenuhan protein hewani unggas. ***
Materi FGD dapat diunduh di website resmi ISPI, www.pb-ispi.org





SEMANGAT PETERNAK ERA MILENIAL DALAM BERINOVASI

Para pembicara Seminar Atap Peternakan di Hotel Sapphire, Rabu (11/9). (Foto: Infovet) 


Kunci dalam bisnis peternakan ayam adalah menguntungkan. Pada era milenial saat ini, para peternak diharuskan siap dengan perubahan dan bersemangat mencari inovasi dalam upaya meningkatkan performa ayam broiler maupun petelur.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Harian Gopan, Sigit Prabowo saat membuka seminar atap peternakan yang mengusung topik “Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap yang Kuat dan Menguntungkan”.

Menurut Sigit, aspek pembangunan kandang yang nyaman sangat penting termasuk menempuh langkah melakukan pembaharuan atau meng-upgrade kandang lawas. “Ayam berhak menempati kandang yang layak dan nyaman sebagai tempat tinggalnya,” kata Sigit di hadapan peserta seminar yang diadakan di Hotel Sapphire, Tangerang, Rabu (11/12).

Lebih lanjut dijelaskan Sigit, pembuatan kandang yang nyaman menjadi poin utama lagi karena organ tubuh ayam yang sangat bekerja keras dalam mencapai produksi maksimal ada pada jantung, hati, paru, kemudian ginjal membutuhkan oksigen yang cukup dan berkualitas.

“Memacu produksi atau bobot badan ayam broiler modern saat ini sudah semakin singkat pencapaiannya, oleh karenanya dibutuhkan kandang-kandang yang nyaman untuk ditempati ayam,” tutupnya.

Seminar yang digelar PT Djabesmen ini menghadirkan pembicara handal seperti Setya Winarno (praktisi perunggasan), Ramadhana Dwi Putra Mandiri (peternak milenial/pengembang mini closed house system), dan Eko Yunianto (Sales Manager PT Djabesmen). (NDV)  


MEWASPADAI AVIAN ENCEPHALOMYELITIS

Serangan AE kerap memiliki kemiripan dengan ND, karena ayam mengalami kelumpuhan. (Sumber: Istimewa)

Penyakit Avian Encephalomyelitis (AE) atau biasa disebut dengan epidemic tremor mungkin masih terasa asing di telinga. Penyakit AE jelas kalah populer jika dibandingkan dengan penyakit viral lainnya, seperti ND, IBD, maupun IB yang lebih populer di Indonesia.  Ketidakpopuleran AE ini membuatnya masih dipandang sebelah mata oleh para pelaku usaha perunggasan Indonesia, padahal AE merupakan salah satu penyakit viral yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar bagi peternakan ayam petelur dan breeding.

Masih Asing di Telinga
AE disebabkan oleh virus RNA dari genus enterovirus dan termasuk ke dalam famili Picornaviridae. Virus AE dapat menyerang ayam (buras dan ras), kalkun, burung dara dan burung puyuh. Strain virus lapangan yang pernah dikoleksi menunjukkan bahwa virus ini bersifat enterotropik (berkembang biak di dalam tubuh inang) dan memperbanyak diri di saluran pencernaan. Unggas yang terinfeksi menyebarkan virus melalui feses selama beberapa hari sampai beberapa minggu. AE biasanya dicirikan dengan adanya gejala kelainan syaraf seperti tremor, sebagai akibat adanya infeksi di Sistem Syaraf Pusat (SSP).

Transmisi penularan AE terjadi secara vertikal dan horizontal. Transmisi vertikal merupakan penularan infeksi yang terjadi dari induk ayam kepada anak ayam (transovarial).  Transmisi vertikal terjadi jika induk unggas terinfeksi AE pada masa produksi telur, sehingga virus menular pada anak ayam. Transmisi horizontal adalah penularan infeksi yang terjadi dari ayam yang terinfeksi ke ayam yang belum terinfeksi melalui lingkungan, makanan dan air minum yang terkontaminasi feses.  

Gejala Klinis
Masa inkubasi AE bervariasi, mulai dari 5-14 hari tergantung dari rute infeksi. Masa inkubasi melalui rute infeksi transovari berkisar antara 1-7 hari, sedangkan masa inkubasi melalui rute oral mencapai lebih dari 10 hari.

Gejala klinis pada anak ayam yang terinfeksi secara vertikal biasanya muncul pada minggu pertama setelah menetas, sedangkan gejala klinis pada anak ayam yang terinfeksi secara horizontal muncul setelah anak ayam berumur 2-4 minggu. Gejala klinis utama yang muncul pada anak ayam yang terinfeksi secara horizontal maupun vertikal adalah ataksia dan kelemahan kaki. Kelemahan kaki ini bervariasi, mulai dari duduk di atas persendian tarsus, sampai paresis yang mengarah pada kelumpuhan total maupun parsial, dengan gejala klinis berupa berbaring di salah satu sisi tubuh (recumbency). Tremor (gemetaran) di kepala dan leher juga merupakan gejala klinis yang sering muncul pada kasus AE, sehingga penyakit AE sering disebut dengan epidemic tremor. Tremor di kepala dan leher terlihat jelas pada saat anak ayam terkejut atau pada saat anak ayam ditaruh secara terbalik di atas tangan. Gejala klinis AE ini hanya muncul pada saat ayam berumur kurang dari empat minggu.

Gejala klinis lain yang biasanya muncul antara lain, bobot badan kurang dari standar, sebagian DOC mengalami leher yang terpuntir ke bawah (tortikolis), lemah dan lama-kelamaan ambruk diakhiri dengan kematian. Dari hasil bedah anak ayam yang sakit, ditemukan perdarahan pada otak, peradangan pada laring dan trakea, serta bursa fabricius membengkak. Diagnosis terhadap kasus ini pun akhirnya beragam, antara lain dugaan akibat kualitas DOC yang buruk, serta dugaan serangan penyakit Gumboro, ND , AI, Marek's, serta AE.

Pada ayam dewasa infeksi AE biasanya bersifat subklinis (tidak terlihat secara kasat mata). Infeksi AE pada ayam dewasa menyebabkan penurunan produksi telur serta penurunan daya tetas telur. Penurunan produksi telur akibat infeksi AE terjadi secara mendadak sebesar 5-10%, tetapi setelah dua minggu produksi telur akan kembali normal, serta tidak ditemukan adanya kelainan pada kerabang telur.

Pada ayam breeder, penurunan daya tetas telur dapat mencapai angka 5% sebagai akibat kematian embrio ayam. Pada beberapa kasus, beberapa minggu setelah infeksi, kekeruhan dari lensa mata (katarak) dapat terjadi pada ayam yang bertahan atau selamat dari infeksi. Tingkat kesakitan dan tingkat kematian akan bervariasi tergantung dari jumlah telur yang terinfeksi dan status kekebalan tubuh dari ayam. Pada beberapa kasus outbreak yang pernah terjadi di sebuah breeding farm, tingkat morbiditas dan mortalitas mencapai lebih dari 50%. Artinya, penyakit ini sangat merugikan peternak secara ekonomi. Belum lagi apabila datang penyakit lain yang bersifat oportunistik, tentunya dengan berkurangnya kinerja sistem pertahanan tubuh ayam pada saat terserang AE, ayam akan sangat rentan terserang oleh agen penyakit lain.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof I Wayan Teguh Wibawan, mengatakan bahwa secara praktis, gejala klinis AE pada ayam telah banyak dicurigai dan mirip dengan ND. Namun pada AE ada penekanan respon imun, hal ini terlihat dari penurunan titer antibodi ND, IB atau AI secara cepat dibandingkan biasanya.

“Secara ilmiah, diperlukan peneguhan diagnosa yang kompleks agar benar-benar jelas titik permasalahannya. Karena gejala klinis AE dan ND sangat mirip, sehingga keduanya kerap dikelirukan,” kata Wayan kepada Infovet. Yang paling sering ia soroti yakni adanya gejala klinis berupa gangguan koordinasi, sangat mirip dengan gejala ND tipe syaraf. Perbedaannya adalah derajat kematian pada ayam tidak setinggi pada serangan ND.

Jika titer antibodi ND pada kelompok ayam secara umum masih protektif (nilai HI di atas 64), tetapi ada peningkatan kematian yang signifikan dengan gejala tortikolis, maka penyakit AE perlu dipertimbangkan. Kerugian yang ditimbulkan juga bisa sangat besar, tidak hanya berupa kematian, tetapi juga mengganggu performa produksi dan meningkatkan kepekaan ayam terhadap berbagai macam penyakit.

Teknik Diagnosis
Pada pemeriksaan patologi anatomi ayam yang terinfeksi AE tidak ditemukan adanya kelainan anatomi mencolok yang menjurus kepada penyakit AE. Kelainan anatomi yang mungkin ditemukan adalah titik berwarna abu-abu atau putih pada permukaan otot gizzard (ampela). Pada pemeriksaan histologi, lesio mikroskopik pada SSP ditemukan di otak (cerebellum dan batang otak) dan spinal cord (sumsum tulang belakang). Lesio ini berupa degenerasi dan nekrosis sel syaraf (neuron), serta gliosis.

Diagnosa pada kasus AE dilakukan berdasarkan sejarah, gejala klinis, serta pemeriksaan histopatologis otak dan batang otak. Cara terbaik dalam melakukan diagnosa AE adalah dengan melakukan isolasi dan indentifikasi virus. Virus diisolasi dari otak dan duodenum beserta pankreas. Pada ayam dewasa atau ayam produksi, diagnosa AE dapat dibantu dengan melakukan pemeriksaan titer antibodi terhadap virus AE. Selain itu, dapat pula digunakan uji serologis berupa uji ELISA dalam mendeteksi “tamu tak diundang” ini.

Diferensial diagnosa dari gejala syaraf yang muncul pada kasus AE di anak ayam adalah encephalitis yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Infectious Bronchitis (IB), lentogenik Newcastle Disease (ND) dan Egg Drop Syndrome 76 (EDS 76), serta defisiensi vitamin A, E dan Riboflavin juga dapat dijadikan diferensial diagnosa dari kasus AE.
  
Oleh karenanya dibutuhkan pengujian lebih lanjut dalam meneguhkan diagnosis AE. Uji yang dapat mendukung peneguhan diagnosis diantaranya Isolasi dan identifikasi virus dengan PCR (Polymerase Chain Reaction), uji serologis (untuk mengukur titer antibodi AE) berupa ELISA, Virus Neutralization Test, maupun Flourescent Antibody Test.

Pencegahan
Tidak ada tindakan pengobatan yang terbukti efektif untuk mengobati infeksi AE. Apabila ada ayam yang dicurigai terinfeksi AE, ayam segera diisolasi atau dimusnahkan. Ayam yang diisolasi dapat diberikan berupa terapi suportif, seperti pemberian vitamin dan antibiotik tetapi pemberian antibiotik tidak terlalu direkomendasikan, kecuali apabila ditemukan penyakit bakterial lainnya yang juga menginfeksi ayam secara bersamaan.

Namun begitu, AE dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi. Program vaksinasi dilakukan pada saat pullet breeder atau pullet layer berumur 9-15 minggu tergantung kondisi ayam dengan menggunakan vaksin aktif komersial. Vaksin yang seringkali penulis temukan di lapangan adalah kombinasi vaksin fowl pox dan AE. Selain itu, perlu juga diterapkan biosekuriti yang ketat dan konsisten agar tidak menulari ternak yang sehat.

Pemberian immunostimulan seperti vitamin E juga dapat dilakukan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ayam, sehingga dihasilkan titer antibodi yang maksimal setelah vaksinasi dilakukan. Program vaksinansi AE di breeding sangat penting untuk mencegah terjadinya transmisi vertikal dan memastikan anak ayam memiliki maternal antibodi. ***


Drh Cholillurrahman
Redaksi Majalah Infovet

KEMENTAN MINTA PELAKU USAHA PERUNGGASAN CIPTAKAN IKLIM USAHA YANG KONDUSIF



Dirjen PKH menerima kedatangan peternak. (Foto: Humas Kementan)

Menyikapi situasi perunggasan saat ini, khususnya terkait tuntutan dari perwakilan peternak unggas, Kementerian Pertanian melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita meminta agar semua pelaku usaha menjaga iklim usaha yang kondusif. “Kita kapan majunya kalau saat ini sedikit-sedikit demo, peternak juga harus berpikir maju dan modern, sehingga hasil usahanya akan lebih efisien,” ucap I Ketut Diarmita hari ini Rabu (11/12) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta.

Ketut menegaskan bahwa Pemerintah selama ini selalu berupaya menjaga kestabilan dan peningkatan produksi dalam pemenuhan kebutuhan daging ayam nasional. "Kita jaga agar produksi daging ayam dapat memenuhi kebutuhan dan masyarakat bisa punya akses ke protein hewani yang terjangkau" ungkap Ketut. “Selebihnya kita juga mendorong para pelaku usaha untuk ekspor,” tandasnya.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa masalah pengaturan harga sebenarnya bukan kewenangan Kementerian Pertanian. Namun demikian, sebagai pembina peternak di Indonesia, dirinya selalu ada di garda terdepan dalam membela kepentingan peternak, oleh karena itu Ditjen PKH yang dipimpinnya telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam rangka menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan daging ayam nasional.

Menegaskan komitmennya dalam membela kepentingan peternak Indonesia, Ketut menerima masukan dari perwakilan peternak dalam mengkaji ulang susunan Tim Ahli Analisa Ketersediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Lanjut Ketut menjelaskan bahwa dalam rangka stabilisasi produksi DOC FS, Pemerintah telah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen PKH No. 12859/SE/PK.230/F/11/2019 tanggal 29 November 2019 tentang Pengurangan/Cutting Telur Tertunas (HE) umur 19 hari. Pengurangan akan dilakukan sebanyak 5 juta per minggu atau 21 juta selama bulan Desember 2019, khususnya di Pulau Jawa.

Hal ini dilakukan berdasarkan perkiraan realisasi produksi pada bulan Desember 2019 sebanyak 280.890.348 ekor, sedangkan kebutuhan DOC FS bulan Desember sebanyak 259.619.227 ekor atau ada surplus sebanyak 21.271.120, sehingga jika DOC dikurangi sebanyak 21 juta selama bulan Desember 2019 maka prediksi realisasi produksi menjadi imbang antara produksi dengan kebutuhan.

"Langkah ini diambil untuk mempercepat berkurangnya produksi DOC FS dengan harapan peternak mandiri menikmati harga HPP yang stabil sesuai Permendag No 96 Tahun 2018", tegas Ketut.

Untuk memperkuat langkah tersebut, Pemerintah juga telah memerintahkan afkir dini PS umur 60 minggu sampai 31 Desember 2019. Afkir dini PS ini akan mengurangi produksi DOC FS sekitar 2 juta per minggu.

Terkait harga, Ketut membeberkan data harga ayam hidup (live bird) dan daging ayam yang secara rutin dipantau oleh timnya. Menurutnya harga live bird secara nasional pada awal Desember ini cukup baik. Sebagai contoh, Ketut menyebutkan rerata harga live bird di regional Sumatera ada diangka Rp. 20.862 di tingkat produsen, dan Rp. 32.328 di tingkat konsumen. Sementara di Jawa, harga rerata live bird adalah Rp. 18.318, dengan harga di tingkat konsumen sebesar Rp. 33.626, dengan harga terendah Rp. 16,000,- di Kabupaten Tuban Jawa Timur, sedangkan harga tertinggi tercatat sebesar Rp.19.500 di Kabupaten Bogor Jawa Barat.

"Artinya bahwa harga di tingkat produsen dan konsumen berimbang dan ada dikisaran yang cukup baik. Hal ini menunjukkan supply dan demand ada pada titik keseimbangan" pungkasnya. (Sumber: Rilis Kementan)


SEMPAT KECEWA, PETERNAK AKHIRNYA BISA CURHAT KE DIRJEN PKH

Peternak "menggerebek" Dirjen PKH (Foto : Jefri)

Sekitar dua puluh orang perwakilan peternak ayam yang melakukan demonstrasi di Kementerian Pertanian Rabu (11/12) diterima oleh Kasubdit Unggas dan Aneka Ternak, Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Drh Makmun M.Sc. Pertemuan tersebut dalam rangka mendengarkan keluhan peternak agar ditindaklanjuti oleh pemerintah. Dalam pertemuan yang berlangsung di Gedung C Kementan tersebut, Makmun meminta maaf sebesar - besarnya kepada para perwakilan peternak.

"Saya sebagai tuan rumah memohon maaf kepada bapak - bapak sekalian apabila penyambutan dari kami kurang berkenan. Saya juga meminta maaf karena Pak Dirjen tidak dapat menemui bapak sekalian karena sedang ada pekerjaan lain," tukas Makmun.

Mendadak tensi berubah ketika perwakilan peternak mendengar pernyataan Makmun tadi. Kekecewaan pun juga terlihat jelas dari semua perwakilan peternak. Salah satu perwakilan peternak yang bersuara mengungkapkan kekecewaannya yakni peternak asal Bogor, Kadma Wijaya.

"Saya sangat kecewa hari ini, Pak Dirjen tidak ada di sini, padahal kami sudah sebanyak ini. Mohon maaf, bukan bermaksud mengecilkan, kalau Pak Makmun saja yang menerima, kami kan bisa bertemu dengan Pak Makmun kapan saja, kalau ketemu sama Pak Dirjen kan jarang - jarang," ungkap Kadma.

Selain Kadma, seorang perwakilan peternak dari Magelang juga mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, penerimaan yang dilakukan oleh Kementan hari itu sangat tidak manusiawi. Mulai dari ketika tidak dibolehkannya peternak memasuki kawasan Kementan, hingga ketidakhadiran Dirjen dalam pertemuan tersebut.

Dengan semakin memanasnya tensi dan untuk mencegah hal - hal yang tidak diinginkan Sugeng Wahyudi yang juga salah satu koordinator aksi mengambil inisiatif agar peternak segera angkat kaki dari kawasan Kementan. Mereka pun memutuskan untuk memberikan rapor merah sekaligus tuntutan mereka kepada Makmun dan hendak melipir ke gedung A untuk menemui perwakilan Menteri Pertanian dan melakukan hal yang sama.

Dalam perjalanan menuju gedung A, seorang peternak mendapatkan info bahwa Dirjen PKH sedang berada di gedung Pusat Informasi Agribisnis Kementan. Syahdan mereka pun langsung menggerebek tempat tersebut dan bertemu dengan Dirjen PKH I Ketut Diarmita beserta Pejabat sekelas Direktur lainnya.

Dalam pertemuan yang berlangsung alot, beberapa kesepakatan dihasilkan oleh mereka. Salah satunya mengenai akan dilibatkannya perwakilan peternak untuk mengetuai tim ahli yang dibuat oleh Ditjen PKH dalam menghitung supply - demand DOC.

Ketika dikonfirmasi oleh Infovet, Dirjen PKH hanya menjawab secara normatif dan terkesan adem ayem atas hal tersebut. "Ya biasalah peternak, wajar kalau mereka cari saya, pokoknya nanti ini akan kita godok kembali, yang jelas ini butuh waktu dan butuh koordinasi lebih lanjut secara hukum, terima kasih," tutur Ketut. (CR)


SEMINAR ATAP PETERNAKAN DIGELAR PT DJABESMEN

Seminar PT Djabesmen (Foto: Infovet)


PT Djabesmen menggelar seminar atap peternakan dengan tema “Meningkatkan Produktivitas Ayam dengan Atap yang Kuat dan Menguntungkan”. Seminar yang digelar di Hotel Sapphire, Tangerang, Rabu (11/12) ini dihadiri para peternak dan pelaku bisnis perunggasan.

Sejak tahun 1971 PT Djabesmen telah memproduksi berbagai bentuk dan ukuran atap fiber semen dengan mutu sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia). Terlihat di banyak provinsi Tanah Air, kandang-kandang peternakan ayam menggunakan atap Djabesmen.

“Dari pantauan tim Djabesmen yang mengunjungi kandang-kandang ayam di daerah, terlihat banyak bangunan yang menggunakan atap Djabesmen. Hal ini membawa kami untuk lebih dekat lagi dengan kawan-kawan peternak,” ungkap Pepy Alamsjah selaku Chief of Marketing PT Djabesmen saat memberikan kata sambutan.

Lanjut Pepy, Djabesmen menilai menggerakkan usaha/bisnis peternakan ayam tidak mudah. Karenanya, Djabesmen membuktikan komitmennya untuk membantu para peternak dalam meningkatkan efisiensi melalui inovasi.

“Mudah-mudahan melalui acara seminar-seminar seperti ini, Djabesmen dapat memberikan sumbangsih serta membantu meningkatkan efisiensi peternakan. Semoga makin sukses,” pungkasnya. (NDV)  


BENTUK KEKECEWAAN, PETERNAK BAGIKAN AYAM GRATIS

Peternak membagikan ayam gratis kepada masyarakat di depan kantor Kementan sebagai bentuk kekecewaan. (Foto: Infovet/Ridwan)

Rabu (11/12), peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) kembali menggelar aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian (Kementan).

Dalam aksinya, sebagai bentuk protes terhadap gejolak perunggasan, peternak rakyat membagikan 1.000 ekor ayam gratis kepada masyarakat sebelum membubarkan diri.

"Kita bagikan ayam gratis sebagai bentuk protes kami. Tolong masyarakat doakan perjuangan kami," kata perwakilan peternak Jawa Barat saat membagikan ayam gratis.

Ratusan peternak yang mengenakan ikat kepala berwarna merah berkumpul sejak pagi di depan kantor Kementan. Aksi damai dilakukan untuk menuntut perbaikan industri perunggasan yang terus bergejolak secara berulang-ulang.

"Kami akan terus sampaikan tuntutan kami sampai semua diperbaiki," kata peternak perwakilan Solo, Alam.

Tuntutan peternak diantaranya meminta perbaikan harga ayam di tingkat peternak, perbaikan harga DOC dan pakan, ketegasan peraturan, pengendalian keseimbangan supply-demand, keadilan pasar, pembubaran tim ahli perunggasan Kementan, hingga pencopotan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, yang dinilai tidak mampu memperbaiki kondisi perunggasan Indonesia.

"Pemerintah enggak bisa mengurus industri ini. Oversupply terus terjadi, bubarkan tim ahli perunggasan, tim ini sangat ahli membohongi rakyat," kata salah satu perwakilan peternak Lamongan, Jawa Timur.

Dalam aksinya ratusan peternak hadir dari berbagai wilayah di Indonesia, diantaranya peternak daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera, hingga Kalimantan. (RBS)

DEMO PETERNAK: RAPOR MERAH INDUSTRI PERUNGGASAN

Aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian, Rabu (11/12). (Foto: Infovet/Ridwan)

Rabu (11/12), peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara (PPRN) kembali menggelar aksi damai di depan kantor Kementerian Pertanian (Kementan).

Dari pantauan Infovet, ratusan peternak yang mengenakan ikat kepala berwarna merah menuntut perbaikan industri perunggasan yang terus bergejolak secara berulang-ulang.

"Kami akan terus menyampaikan tuntutan kami sampai semua diperbaiki," kata salah satu peternak dalam orasinya.

Tuntutan peternak diantaranya meminta perbaikan harga ayam di tingkat peternak, perbaikan harga DOC dan pakan, ketegasan peraturan, pengendalian keseimbangan supply-demand, keadilan pasar, pembubaran tim ahli perunggasan Kementan, hingga pencopotan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan.

"Sudah 10 bulan belakangan kami terus merugi hingga triliunan rupiah. Ini merupakan rapor merah perunggasan nasional. Pemerintah enggak becus mengurus industri ini," timpal peternak lain yang juga melakukan orasi.

Sampai berita ini diturunkan, aksi damai peternak rakyat di depan kantor Kementan masih berlangsung. (RBS)

SURAT EDARAN KEMENTAN TENTANG PELARANGAN PENGGUNAAN COLISTIN PADA HEWAN

I Ketut Diarmita (Foto: Istimewa)


Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengeluarkan surat edaran berisikan Pelarangan Penggunaan Colistin pada Hewan. Surat edaran ini ditandatangani Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Drh I Ketut Diarmita MP pada 9 Desember 2019. 

Dalam surat edaran tersebut dinyatakan bahwa Colistin merupakan last drug of choice untuk penyakit infeksi saluran pencernaan dan bakterimia yang disebabkan oleh bakteri multidrugs resistence pada manusia yang dalam penggunaan secara luas berpotensi menimbulkan bakteri resisten. Colistin dalam daftar WHO masuk dalam kelompok Highest Critically Important  Antimicrobials for Human Medicine (WHO) dan dalam daftar OIE masuk kelompok Veterinary Highly Important Antimicrobial Agents (OIE).

Berdasarkan berbagai informasi dan pertimbangan ilmiah, Dirjen PKH, Kementan melarang penggunaan Colistin pada hewan (ternak maupun non-ternak) melalui berbagai rute pemberian, baik secara tunggal maupun kombinasinya.

Selasa (10/12/2019) Infovet telah mengonfirmasi ke Subdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan Kementan bahwa surat edaran ini resmi. Berikut ini secara lengkap surat edaran dari Kementan perihal pelarangan Colistin.







DISNAK KABUPATEN SORONG GELAR PASAR MURAH



Pasar murah digelar Dinas Peternakan Sorong (Foto: infopublik.id)

Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Sorong, Papua Barat menggelar pasar murah, khususnya kebutuhan akan telur, telur puyuh, daging ayam dan pentolan bakso.

Kegiatan yang berlangsung di pelataran halaman Kantor Bupati Sorong di kilometer 24 Aimas mendapat sambutan baik dari para Aparatur Sipil Negara yang hadir mengikuti apel gabungan Organisasi Perangkat Daerah, Senin (9/12/2019).

Wakil Bupati  Sorong Suka Harjono dalam arahannya, dengan adanya pasar murah ini sebenarnya untuk membantu para pegawai serta masyarakat.

Apalagi menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan seperti Natal dan jelang tutup tahun 2019, beberapa kebutuhan pokok secara otomatis akan meningkat seiring dengan permintaan konsumen di pasaran.

Telur ayam dan berbagai jenis barang yang dijual harganya sangat miring dengan harga yang ada di pasar, dimana khusus untuk telur ayam harga dalam kisaran Rp 65.000/ ram.

Adanya kegiatan ini diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat, khususnya yang ada di Kabupaten Sorong.

Harga telur ayam lokal bervariasi dari petani ternak yang merupakan binaan dari Dinas Peternakan Kabupaten Sorong.

Harga telur per ram tertinggi Rp 50.000 dan terendah Rp 38. 000. Sedangkan telur puyuh Rp 40.000/ram. Untuk ayam beku ukuran satu kilogram lebih Rp 50.000 /ekor. Sementara pentolan bakso (isi 50) seharga Rp 30.000/bungkusnya. (Sumber: infopublik.id)

MENTAN LEPAS EKSPOR PRODUK DAGING AYAM OLAHAN DAN PAKAN TERNAK KE TIMOR LESTE




PT Japfa Comfeed Indonesian Tbk (Foto: Perseroan) 


Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus mendorong ekspor produk pertanian dan peternakan. SYL melepas ekspor produk peternakan berupa daging ayam olahan dan pakan ternak yang dilakukan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (8/12/2019).

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk mengekspor produk daging ayam olahan dan pakan ternak ke Timor Leste dengan nilai mencapai Rp 506 miliar.

Pelepasan ekspor ini langsung dilakukan SYL bersama Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Ito Sumardi dan Bupati Sidoarjo Saiful Ilah.

Kementan akan terus berupaya untuk mendorong ekspor berbagai komoditas pertanian dan peternakan untuk menambah daya saing Indonesia.

Ekspor yang dilakukan PT Japfa membuktikan bahwa kemampuan perunggasan Indonesia sudah dapat memenuhi kebutuhan internasional.

Kebutuhan daging unggas, telur dan produk turunannya seperti Nugget, Bakso masih diminati pasar luar negeri dan Kementan terus mendorong pelaku usaha agar melakukan diversifikasi produk. Telur ayam siap dipasarkan.

Pihaknya berkomitmen untuk mendorong volume ekspor sebanyak tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan dan mendorong perusahaan besar agar bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Saya resmi melepas produk ekspor dari PT Japfa dengan nilai Rp 506 miliar dan kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negara pengekspor produk peternakan terbesar,” ujar dia dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (9/12/2019).

SYL juga berkomitmen untuk mendorong ekspor pertanian karena sangat menjanjikan, di saat ekonomi global yang tidak menentu pasti produk pertanian dan peternakan masih dibutuhkan karena berurusan dengan perut.

Produk pertanian dan peternakan masih mempunyai prospek yang cukup cerah dan termasuk komoditas unggulan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita mengatakan volume ekspor produk peternakan pada 2018 sudah mencapai US$ 640 juta atau meningkat 2,42% jika dibandingkan tahun 2017 yang mencapai US$ 625 juta.

Kegiatan ekspor seperti ini harus didorong, jika dilakukan terus menerus maka tidak menutup kemungkinan target peningkatan ekspor sebanyak tiga kali lipat bisa dicapai.

Kementan juga terus mendorong agar industri perunggasan bisa melakukan diversifikasi dan mampu bersaing di pasar dunia.

Di samping itu, Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk Ito Sumardi mengatakan nilai ekspor sebesar Rp 506 miliar terbilang tinggi untuk kawasan Timur Leste dan permintaan di sana cukup tinggi. Pihaknya juga berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di dalam negeri dan mendorong ekspor sesuai dengan visi Presiden Joko Widodo.

“Kami optimistis, kabinet Indonesia maju ini bisa memperlancar bisnis pengusaha dan tentunya kami akan terus ekspor,” ujar dia. Permintaan pasar yang paling utama adalah kualitas produk dan tentunya Indonesia sudah dikenal sebagai produsen unggas terbaik di dunia.Produsen unggas terbaik masih dipegang Brasil dan Australia. (Sumber: investor.id)



LUNCURKAN VAKSIN, MENTAN MINTA BISA INTERVENSI DUNIA

Mentan Syahrul dalam kegiatan Launching Inovasi Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner di BB Litvet Bogor. (Foto: Humas Kementan)

Dalam rangka Launching Inovasi Teknologi Kesehatan Unggas Veteriner, di Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet), Kementerian Pertanian (Kementan), Bogor, Kamis (5/12), Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, menyatakan keinginannya untuk mengembangkan inovasi dan teknologi vaksin unggas yang dapat dimanfaatkan berbagai pihak dari dalam maupun luar negeri.

“Saya berharap kita dapat mengintervensi dunia, jadi tidak hanya memanfaatkan vaksin dari luar, tetapi mampu menciptakan vaksin sendiri untuk dapat dimanfaatkan negara lain dalam meningkatkan kesehatan unggas, sehingga populasi dan produksi akan lebih baik,“ kata Mentan Syahrul dalam siaran persnya.

Ia menyebut, program Kementan dalam bidang peternakan yakni pengembangan dan peningkatan populasi ternak unggas, salah satunya ayam kampung terus digalakkan. “Tentunya kita berharap populasi ternak semakin berkembang, namun akselerasi dan perkembangan yang cepat juga rentan terhadap berbagai hama, virus dan penyakit, untuk itu kita harus dapat mengantisipasinya,“ jelas dia.

Ia juga menambahkan, melalui inovasi dan teknologi BB Litvet dipercaya dapat mengantisipasi masalah dan tantangan terkait kesehatan hewan, mengingat ancaman virus global saat ini semakin meningkat. 

“Kita perlu melakukan penelitian dan riset terhadap segala permasalahan kesehatan hewan, para ahli peneliti dan dokter hewan kita hebat dan tidak kalah dengan negara lain,” ucap Mentan Syahrul.

Dalam kegiatan tersebut, BB Litvet meluncurkan beberapa vaksin untuk unggas, diantaranya vaksin AI (Avian influenza) bivalen, vaksin AI kombinasi HPAI (High Pathogenic Avian Influenza) dan LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza), vaksin ND GTT 11 dan teknologi diagnosa kit ELISA DIVA yang digunakan untuk membedakan hasil vaksinasi dan infeksi AI.

“Nantinya vaksin kita juga terbuka untuk para pengusaha dan investor yang ingin berinvestasi, kalau perlu kita lakukan diplomasi perdagangan dengan negara lain terhadap vaksin yang kita miliki,“ pungkasnya. (INF)

WASPADAI ANCAMAN ASF DARI TIMOR LESTE, KEMENTAN LATIH PETUGAS LAPANGAN DI NTT

Foto: Dokumentasi Kementan

Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus berupaya melakukan penguatan sistem pelayanan kesehatan hewan nasional di Indonesia. Salah satu fokus penguatan saat ini adalah terkait upaya pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit African Swine Fever (ASF) yang merupakan ancaman potensial bagi populasi babi di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini penting karena ASF sudah mewabah di Timor Leste.

Antisipasi terhadap kejadian tersebut, Ditjen PKH melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) kepada 50 orang petugas lapang yang berasal dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi NTT dan kabupaten/kota yang ada di Pulau Timor. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dari tanggal 4 Desember 2019 di Hotel On the Rock Kupang.

Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, penyebaran penyakit ASF ini sangat cepat dan telah mendekati perbatasan wilayah Negara Republik Indonesia di NTT, sehingga potensi ancaman masuknya penyakit ini semakin besar. "Kondisi ini memerlukan kewaspadaan dini dan harus segera diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis" ungkap Ketut.

Oleh karenanya, sesuai amanat Undang-Undang No.18 Tahun 2009 dan Peraturan Pemerintah No. 47 Tahun 2014, tindakan teknis yang harus dilakukan adalah deteksi cepat, pelaporan cepat dan pengamanan cepat. "Sangat penting untuk diidentifikasi potensi lokasi timbulnya penyakit dan sebaran populasi babi" ungkap Ketut.

Untuk berhasilnya deteksi, pelaporan dan penanganan cepat, lanjut Ketut, diperlukan adanya pemahaman peternak terkait gejala klinis penyakit ASF. Setiap ada perubahan pada babi yang dipelihara, seperti penurunan nafsu makan dan peningkatan kasus kematian, peternak diharapkan segera melaporkan kejadiannya kepada petugas lapang dinas. "Pemahaman petugas terkait ASFmenjadi kunci utama penanganan yang cepat dan efektif, sehingga kasus dapat ditangani dan meminimalisir kerugian" tambahnya.

Ketut juga menjelaskan bahwa ASF ini merupakan penyakit yang belum ditemukan vaksin dan obatnya yang efektif, untuk itu tindakan teknis dalam pencegahan, pengendalian dan pemberantasan difokuskan pada surveilans, biosekuriti dan dilanjutkan dengan tindakan depopulasi, disposal dan dekontaminasi.

Melalui bimtek ini, harapnya, menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petugas tentang penyakit ASF, serta memberikan kesempatan petugas untuk dapat melakukan praktek langsung di lapangan. “Kompetensi-kompetensi yang dimiliki petugas tersebut sangat penting untuk mengantisipasi ancaman masuk, terjadinya, dan potensi menyebarnya penyakit” tutup Ketut. (Rilis Kementan)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer