TIGA PILAR TERJADINYA PENYAKIT
| Peternakan ayam broiler. (Foto: Dok. Infovet) |
Dalam suatu populasi, disadari atau tidak, hewan ternak dalam hal ini ayam yang dipelihara, dalam hitungan detik harus selalu berinteraksi dengan sejumlah mikroorganisme di sekelilingnya dalam suatu lingkungan tertentu (mileu) yang menopang keduanya. Atribut yang terkait dengan komponen lingkungan itu sendiri seperti kelembaban dan temperatur tentu saja dapat mempengaruhi serta memodulasi interaksi yang terjadi diantara keduanya.
Yang jelas, dalam kondisi normal, interaksi yang terjadi adalah interaksi yang harmonis, artinya terjadi keseimbangan antara daya tahan tubuh ayam dengan kemampuan menginfeksi dari mikroorganisme yang ada. Interaksi yang dimaksud dapat dilihat melalui ilustrasi gambar 1 berikut:
Selanjutnya, dengan adanya karakter "dinamika" yang merupakan suatu ciri dari kehidupan, maka kondisi harmoni tersebut di atas pada kenyataannya tidaklah kekal. Dengan berjalannya waktu, maka akan ada perubahan-perubahan yang kadang kala menguntungkan atau bahkan dapat merugikan kondisi hewan ternak yang dipelihara. Jika ini yang terjadi, maka hewan ternak mungkin saja akan sakit atau akan menunjukkan penampilan (performance) yang tidak memuaskan dengan derajat yang bervariasi.
Ada beberapa kondisi yang dapat mengubah keseimbangan yang terjadi, yaitu:
a. Terjadinya perubahan pada hewan ternak sendiri, misalnya menurunnya kondisi tubuh secara umum dan/atau meningkatnya tantangan mikroorganisme yang ada di sekeliling hewan ternak yang dipelihara. Menurunnya kondisi tubuh hewan ternak secara umum bisa disebabkan oleh berkurangnya kualitas dan kuantitas nutrisi yang diperoleh, tingginya faktor stres atau adanya faktor-faktor yang dapat menekan respon pertahanan tubuh hewan ternak secara umum (adanya faktor imunosupresi). Di lain pihak, meningkatnya tantangan mikroorganisme di sekeliling hewan ternak mungkin disebabkan oleh pelaksanaan konsep biosekuriti yang tidak konsisten, waktu istirahat kandang yang minim, atau tingginya tingkat kegagalan program vaksinasi maupun medikasi yang ada. Yang jelas, perubahan pada sisi mikroorganisme lingkungan bisa dari aspek jumlah (meningkatnya jenis atau kepadatan mikroorganisme patogen) atau aspek kualitas (meningkatnya keganasan mikroorganisme yang bersangkutan). Gambar 2 merupakan ilustrasi dari apa yang baru dijelaskan.
b. Kondisi pada hewan ternak ataupun mikroorganisme yang ada di sekelilingnya tidak berubah, akan tetapi terjadi perubahan pada lingkungan yang mendukungnya. Perubahan pada kondisi lingkungan bisa berupa perubahan pada temperatur, kelembaban atau terjadinya polusi dari lingkungan sekitar hewan ternak. Yang jelas, perubahan yang terjadi justru akan memberikan kondisi yang sulit untuk hewan ternak atau mungkin memberikan kondisi yang menguntungkan bagi mikroorganisme yang ada di sekitar hewan ternak yang dipelihara. Dengan kata lain, terjadinya perubahan pada kondisi lingkungan akan memberikan efek negatif pada hewan ternak, tapi di lain pihak mungkin akan memberikan efek positif pada mikroorganisme lingkungan. Pada keadaan ini keseimbangan tentu saja akan terganggu (lihat gambar 3).
Dari uraian di atas, sangatlah jelas bahwa terjadinya ledakan kasus penyakit dalam lingkungan suatu peternakan bukanlah suatu kejadian yang sifatnya revolutif atau suatu kejadian yang dramatis, akan tetapi lebih merupakan suatu proses yang sifatnya evolutif. Oleh sebab itu, ada tiga hal mendasar yang saling terkait dalam usaha mencegah terjadinya kasus-kasus penyakit infeksius di dalam lingkungan peternakan secara sistematis, yaitu:
1. Usaha-usaha untuk mengurangi jenis dan jumlah mikroorganisme (terutama yang patogen) di sekeliling hewan ternak yang ada (aspek mikroorganisme).
2. Usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kontak antara hewan ternak yang dipelihara dengan mikroorganisme patogen (aspek lingkungan).
3. Usaha-usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan ternak yang dipelihara (aspek hewan ternak).
Aspek Mikroorganisme (Patogen)
Yang jelas, untuk mengurangi jumlah maupun jenis mikroorganisme patogen yang ada di sekeliling hewan ternak, maka pertama-tama harus mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasinya secara tepat. Jika identifikasi sudah dapat dilakukan, maka dengan mudah akan mengetahui aspek-aspek epidemiologisnya (cara penyebaran, kecepatan menyebar, pola kematian hewan ternak, tanda-tanda klinis yang paling dominan, dll), serta aspek patogenesisnya (perjalanan penyakit di dalam tubuh hewan ternak).
Identifikasi mikroorganisme patogen dapat dilakukan dengan menganalisa data yang berasal dari anamnese (sejarah penyakit dalam suatu lingkungan peternakan), pengamatan gejala klinis, pengamatan bedah bangkai atau bahkan dengan bantuan hasil-hasil pemeriksaan laboratorium.
Selanjutnya, dengan mengetahui jenis mikroorganisme yang ada, maka dapat diketahui model penularannya dari sutu ternak ke ternak lainnya, atau bahkan dari suatu peternakan ke peternakan lainnya. Sampai pada tahap ini sebenarnya sudah dapat diambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegahnya, terutama pada titik-titik tertentu, dimana merupakan titik atau fase kunci dari tahapan penularan suatu mikroorganisme di alam.
Dengan diidentifikasinya mikroorganisme patogen di sekeliling hewan ternak yang dipelihara, dapat diketahui pula media apa yang digunakan oleh mikroorganisme patogen tersebut untuk menyebar, apakah feses (kotoran hewan ternak), percikan batuk, air liur atau bahkan ketombe bulu (pada ternak unggas). Bahan-bahan ini tentu akan mendapatkan perlakuan khusus, agar penyebaran mikroorganisme patogen dapat dicegah sedini mungkin.
Pada sisi lain, dengan diidentifikasinya mikroorganisme patogen yang ada, maka kegagalan dalam penggunaan program dan jenis desinfektan juga dapat dikurangi. Sebagai contoh, desinfektan dari kelompok fenol atau kresol tidak mempunyai potensi yang baik dalam membunuh kuman-kuman yang dapat membentuk spora (misalnya Clostridium).
Aspek Lingkungan (Mileu)
Suatu kasus penyakit di dalam lingkungan suatu peternakan bisa saja terjadi akibat hewan ternak terinduksi oleh mikroorganisme yang mempunyai strain atau jenis yang baru yang masuk ke dalam lingkungan peternakan yang bersangkutan. Ini berarti telah terjadi perubahan pada kondisi lingkungan peternakan tersebut. Hewan ternak menjadi sakit karena tidak atau belum mempunyai kekebalan yang cukup, karena belum pernah terinduksi pada fase-fase sebelumnya.
Oleh sebab itu, dalam aspek lingkungan ini tercakup usaha-usaha dalam mengontrol lalu-lintas kendaraan (vehicles), peralatan-peralatan peternakan (fomites), atau bahkan karyawan yang sebenarnya dapat menjadi media tranportasi suatu mikroorganisme untuk masuk ke dalam lingkungan suatu flok atau peternakan.
Melaksanakan sanitasi yang baik dan mengurangi frekuensi lalu-lintas kendaraan, peralatan peternakan dan karyawan tentu saja dapat mencegah terjadinya kontak antara hewan ternak dengan mikroorganisme patogen yang tidak diinginkan.
Selanjutnya, keberadaan hewan liar (ferret animals) di dalam lingkungan suatu peternakan jelas dapat memperbesar peluang terkontaminasinya lingkungan peternakan yang bersangkutan dengan mikroorganisme patogen dengan strain atau bahkan jenis yang baru. Model untuk mengontrol hewan-hewan liar yang mungkin dapat menjadi perantara penularan suatu mikroorganisme patogen harus disesuaikan dengan jenis hewan-hewan liar yang ada, apakah berupa hewan pengerat (tikus), anjing liar, pelbagai jenis burung, atau bahkan serangga (insekta).
Masuknya mikroorganisme patogen di dalam suatu lingkungan peternakan bisa juga melalui bahan-bahan pakan (atau pakan ternak) atau air, yang digunakan baik sebagai air minum atau untuk keperluan lainnya. Untuk mencegah terjadinya induksi oleh mikroorganisme patogen ke dalam suatu peternakan melalui cara ini, maka sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap pakan dan sumber-sumber air secara rutin, sehingga tercemarnya lingkungan peternakan dapat dicegah sedini mungkin.
Aspek Hewan Ternak (Induk Semang)
Hewan ternak relatif tahan dalam menghadapi tantangan bibit penyakit bila kondisi tubuhnya baik. Kondisi ini dapat tercapai bila keberadaan energi dan bahan-bahan nutrisi di dalam pakan dalam keadaan cukup. Hewan ternak yang mengalami defisiensi nutrisi lebih mudah terserang penyakit.
Kondisi tubuh hewan ternak juga dapat ditingkatkan melalui program-program vaksinasi yang efektif dan tepat waktu, sehingga dapat menstimulasi terbentuknya kekebalan yang sesuai dan cukup, terutama pada fase-fase rawan selama kehidupan hewan ternak yang bersangkutan.
Dalam kondisi tertentu, penggunaan preparat antibiotika dengan tujuan untuk mengurangi peluang terjadinya kasus-kasus infeksius tentu saja sangat membantu memperbaiki kondisi tubuh hewan ternak secara umum. Preparat antibiotika yang dipakai tentu saja harus disesuaikan dengan mikroorganisme yang ada.
Selanjutnya, kondisi tubuh hewan ternak dapat saja turun karena tingginya faktor stres yang diperoleh. Penanganan hewan ternak yang kasar, program-program vaksinasi yang terlalu sering, dan terlalu padatnya hewan ternak dalam suatu lingkungan peternakan jelas dapat menstimulasi tingginya faktor stres. Oleh sebab itu, untuk mengurangi tingginya faktor-faktor stres yang berhubungan dengan tata laksana peternakan, maka sangat dianjurkan setiap peternakan menerapkan tata laksana yang baku dengan standar operasional yang jelas.
Kondisi tubuh hewan ternak dapat juga terganggu dengan adanya faktor-faktor imunosupresi (faktor yang dapat menekan respon pertahanan tubuh). Hal ini tentu saja dapat dicegah jika mampu mengidentifikasi faktor-faktor imunosupresi yang ada, apakah berupa infeksi virus yang subklinis, adanya kontaminasi mikotoksin dalam pakan, atau kondisi-kondisi lainnya.
Akhirnya, pemilihan jenis atau strain hewan ternak yang relatif tahan/resistan atau sesuai dengan kondisi lingkungan peternakan setempat juga sangat membantu mencegah terjadinya kasus-kasus infeksius yang mungkin terjadi. ***
Oleh: Tony Unandar
(Private Poultry Farm Consultant)
KEMENTAN DAN BPS SEPAKATI SATU DATA PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN
![]() |
| Ilustrasi peternakan ayam (Foto: Pixabay) |
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) menggelar
sosialisasi Kebijakan dan Petunjuk Teknis Pengumpulan, Pengolahan, dan
Penyajian Data Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, di Depok, Jawa Barat pada
2 hingga 4 Desember 2019.
Dalam
kesempatannya, Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengatakan, data dan informasi
sangat berperan penting dalam proses pembangunan, termasuk dalam pembangunan
Subsektor Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Menurutnya,
Kementan khususnya Ditjen PKH menyadari bahwa tantangan yang dihadapi subsektor
peternakan dan kesehatan hewan ke depan cukup berat.
Berdasarkan
proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pusat
Statistik (BPS) hasil SUPAS tahun 2015, penduduk Indonesia 2020 diperkirakan
mencapai 269,60 juta jiwa dan pada 2035 diproyeksikan mengalami peningkatan
menjadi 304,21 juta jiwa.
Seiring
dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan akan pangan
termasuk pangan asal ternak akan semakin meningkat.
"Peningkatan
itu tidak hanya dari aspek kuantitas atau jumlahnya, namun termasuk juga
peningkatan kualitas atau mutu pangan yang dihasilkan, serta pemenuhan
persyaratan keamanan, kesehatan, dan kehalalan," ujar Ketut.
Tantangan-tantangan
dalam pembangunan subsektor peternakan dan kesehatan hewan di masa yang akan
datang ini lanjutnya, membutuhkan pemecahan atau solusi melalui proses
perencanaan yang baik dan didukung oleh data hingga informasi yang berkualitas.
"Selain
menjadi basis dalam perencanaan, data dan informasi juga menjadi ukuran
keberhasilan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, seperti halnya kinerja
peningkatan populasi dan produksi ternak serta kinerja pembangunan ekonomi Sub
Sektor Peternakan dan Kesehatan Hewan seperti PDB/PDRB, NTP/NTUP, Investasi,
Ekspor-Impor, Tenaga Kerja, dan lainnya," urai Ketut.
Sementara
itu, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, M Habibullah menjelaskan bahwa
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia,
dinyatakan bahwa Satu Data Indonesia adalah kebijakan tata kelola data
pemerintah untuk menghasilkan data yang akurat, mutakhir, terpadu, dan dapat
dipertanggungjawabkan, serta mudah diakses dan dibagipakaikan antar Instansi
Pusat dan Instansi Daerah.
Sejalan
dengan kebijakan satu data Indonesia tersebut, sebelumnya Menteri Pertanian
Syahrul Yasin Limpo dalam arahannya menyatakan bahwa dalam 100 hari harus bisa
menyeragamkan data.
Oleh
karena itu dalam 100 hari kerja, Kementan akan melakukan upaya-upaya
dalam rangka mewujudkan Satu Data Pertanian yaitu Membangun Komando Strategis
Pertanian tingkat Kecamatan (Konstratani), Pengembangan Agriculture War Room
(AWR), dan pengakurasian data utamanya lahan dan produksi.
Menindaklanjuti
hal tersebut maka Ditjen PKH bekerja sama dengan Pusdatin Kementan, BPS RI, dan
Politeknik Statistika STIS melakukan revisi atas Keputusan Direktur Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 798/Kpts/OT.140/F/10/2012 tentang Petunjuk
Teknis (juknis) Pengumpulan dan Penyajian Data Peternakan.
Juknis
baru ini akan dijadikan sebagai standar prosedur baku dalam hal Pengumpulan,
Pengolahan, dan Penyajian Data Peternakan dan Kesehatan Hewan baik di pusat
maupun Dinas yang Melaksanakan Fungsi Pembangunan Peternakan dan Kesehatan
Hewan di provinsi maupun kabupaten/kota seluruh Indonesia yang memenuhi prinsip
Satu Data Indonesia.
"Harapannya
juknis ini juga dapat digunakan dalam proses pendataan ternak oleh Konstratani
yang akan dibangun oleh Kementan," ungkap Habibullah. (Sumber: jpnn.com)
KOLABORASI TROUW NUTRITION INDONESIA DENGAN BPMSP DALAM MENJAMIN KEAMANAN DAN KUALITAS PAKAN
| PT Trouw Nutrition Indonesia, menjadi partner BPMSP dalam uji kualitas pakan dan bahan baku pakan (Foto : CR) |
Untuk menghasilkan pakan ternak yang berkualitas prima tentunya juga dibutuhkan kualitas bahan baku yang prima. Keamanan dan kualitas pakan tentunya akan terjamin melalui pengujian laboratorium.
Atas dasar tersebut Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Pakan (BPMSP) berkomitmen bersama Masterlab Asia yang merupakan bagian dari PT Trouw Nutrition Indonesia untuk melangsungkan kerjasama. Secara simbolis penandatanganan MoU tersebut dilakukan di markas PT Trouw Nutrition Indonesia di Cibitung, Bekasi pada 3 Desember 2019. Kerjasama tersebut nantinya akan berjalan terhitung pada 1 Januari 2020 - 31 Desember 2020.
Ditemui oleh Infovet pada acara tersebut, Kepala BPMSP Irwandi mengatakan bahwa bisnis pakan ternak di Indonesia mengalami peningkatan. Hal ini kata Irwandi dapat dilihat dari bertambahnya sampel yang diujikan di BPMSP.
"Selama tahun 2018 lalu kita sudah menguji sekitar 3.888 sampel dengan 27.464 parameter uji, di tahun 2019 ini baru sampai bulan Oktober sampel yang masuk dan diujikan sudah mencapai 3.998 dengan 25.177 parameter uji," tukas Irwandi.
Ia juga menambahkan BPMSP sebagai lembaga yang ditunjuk pemerintah dalam mengeluarkan sertifikasi pakan tentunya juga memiliki kekurangan. Oleh karenanya dalam mengatasi kekurangan dan juga meningkatkan kepuasan para pengguna jasa, BPMSP menggaet PT Trouw Nutrition Indonesia dalam hal ini.
"Kami sudah yakin dengan PT Trouw, lima tahun belakangan ini kami sudah bekerjasama, dan hari ini kami nyatakan komitmen bersama kami. Masterlab sudah memenuhi semua persyaratan, tim audit kami juga sudah melakukan audit dan hasilnya PT Trouw secara teknis memenuhi bahkan melampaui persyaratan. Saya berharap ini menjadi kerjasama yang baik dan saling menguntungkan," tutur Irwandi.
Sementara itu, Ivan Kupin Presdir PT Trouw Nutrition Indonesia menunjukkan rasa bangganya dapat menjadi partner lembaga sekelas BPMSP. Dirinya berharap dengan adanya kerjasama ini kualitas pakan dan bahan baku pakan ternak di Indonesia dapat lebih ditingkatkan.
"Saya ucapkan terima kasih kepada BPSMP sudah mempercayai kami. Tentunya kami juga akan melakukan yang terbaik untuk hal ini. Saya senang karena ini adala pengakuan bahwa PT Trouw Nutrition Indonesia adalah penyedia solusi yang profesional. Sekali lagi terima kasih atas epercayaan yang diberikan," kata Ivan.
Selesai acara penandatanganan MoU, Kepala BPSMP beserta undangan yang hadir diajak berkeliling laboratorium milik Masterlab Asia. Dengan dukungan teknologi canggih semacam Near Infra-Red (NIR), Atomic Absorption Spectofotometer serta peralatan lainnya, tentunya uji kualitas pakan serta bahan baku pakan akan terjamin akurasinya. Selain itu Masterlab Asia juga mengantongi akreditasi ISO 17025:2017, sehingga sistem manajemen mutu laboratorium sudah sesuai dengan standar internasional. (CR)
SEGERA DAFTAR, GRATIS BUKU DAN KALENDER BAGI PESERTA SEMINAR TONY UNANDAR
Berpengalaman sebagai Private Poultry Farm Consultant selama bertahun-tahun, Tony Unandar MSi telah banyak membantu breeding farm dan peternakan unggas komersial dalam meningkatkan kinerja peternakan unggas melalui manajemen kesehatan unggas modern.
| Tony Unandar |
Pengalamannya
sebagai tenaga ahli di perusahaan multinasional dan pengalaman aktif di
organisasi dan forum perunggasan internasional,
serta pendalaman ilmunya di berbagai scientific
congress ditambah “jam terbang” dan reputasi menangani kasus-kasus lapangan
membuat kemampuan analisanya semakin tajam. Tidak heran jika semakin banyak
perusahaan mempercayakan Tony Unandar
sebagai konsultan.
Artikelnya
di Majalah Infovet yang berisi
kajian kasus-kasus aktual selalu ditunggu-tunggu oleh para praktisi perunggasan
maupun dunia akademis.
Majalah Infovet bersama Gita Event Organizer dan Gita
Pustaka dengan bangga menyelenggarakan seminar “Manajemen Kesehatan Unggas Modern di Era Bebas AGP” yang secara
khusus akan menghadirkan Tony Unandar.
Seminar
ini sekaligus akan diisi dengan agenda launching
buku karya Tony Unandar berjudul “Manajemen
Kesehatan Unggas Modern” yang menguraikan bagaimana kiat-kiat implementasi
manajemen kesehatan unggas modern, yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Yuk,
segera daftar seminar ini yang diselenggarakan pada:
Hari/Tanggal : Jum’at, 20 Desember 2019
Pukul : 12.30 – 16.30 WIB
Tempat : Hotel Sahati, Ragunan
Jakarta Selatan
Biaya
Pendaftaran : Rp 450.000/orang (kuota
hanya untuk 100 orang)
WA 08777 829 6375 (Mariyam), SMS 0818 0659 7525 (aida)
Disarankan Pendaftaran online dengan klik link: http://bit.ly/SEMINAR-INFOVET
Peserta
seminar mendapatkan gratis 1 eksemplar buku
Manajemen Kesehatan Unggas Modern senilai Rp. 100.000 karya Tony Unandar
dan Kalender Bisnis Pernakan - Infovet 2020
senilai Rp. 75.000. Nah, jangan sampai lewatkan kesempatan bernilai ini.
Daftar segera!
PAKAN TERAPI, ALTERNATIF NAIKKAN PERFORMA?
![]() |
| Self-mixing harus senantiasa dibimbing. (Sumber: Istimewa) |
Fenomena pakan terapi (medicated feed) muncul setelah larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) diberlakukan setahun lalu. Kendati demikian, apakah penggunaan pakan terapi akan berpengaruh pada peningkatan performa ternak?
Aspek Teknis
Karena sifatnya yang dikhususkan untuk terapi atau tindakan kuratif, maka dosis antibiotik atau obat-obatan yang diberikan harus sesuai dosis pengobatan. Oleh karenanya, penggunaan dan pembuatan pakan terapi ini harus diawasi oleh dokter hewan.
Namun beberapa kalangan peternakan masih mengkhawatirkan proses pengawasan tersebut, salah satunya peneliti dari Balitnak Ciawi, Prof Budi Tangendjadja. Menurutnya, pengawasan dokter hewan mungkin akan ketat pada perusahaan produsen pakan, namun bagaimana di tingkat peternak mandiri yang meracik pakannya sendiri?
“Kalau menurut saya it’s ok pemerintah juga sudah mengatur, untuk perusahaan besar enggak perlu diragukan lagi aspek teknisnya, selain mesin untuk mixing terjamin, sumber daya manusianya juga ada, di perusahaan besar dokter hewannya pasti ada. Tapi kalau self-mixing gimana? Di Jawa Timur banyak self-mixing, siapa yang mengawasi mereka? Dinas? Technical service? Dari dulu kita lemah dalam fungsi pengawasan ini,” ujar Budi.
Kekhawatiran beliau memang cukup beralasan, karena berdasarkan pengamatan kemampuan peternak dalam memproduksi pakan self-mixing masih minim. Budi menjelaskan, kebanyakan peternak menggunakan mixer vertikal yang dipakai untuk mencampur konsentrat, jagung giling dan dedak padi dengan proporsi 35, 45-50 dan 15-20%. Cara kerja mixer tersebut sangat berbeda dengan mixer horizontal yang dimiliki pabrikan pakan, sehingga kemampuan untuk mencampur bahan dalam jumlah kecil diragukan.
Meskipun beberapa peternak mencoba membuat premix (pre-mixing), yaitu campuran imbuhan pakan dalam jumlah kecil menjadi campuran yang lebih besar (misalnya 50 kg per ton), untuk kemudian dimasukkan dalam mixer utama. Tetapi kemampuan mengaduk secara merata dari mixer vertikal yang berkapasitas 1-2 ton jarang diuji, sehingga tidak diketahui apakah ransum yang dibuat sudah homogen.
Selain itu, Budi juga menekankan aspek... (CR) Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2019.
FKH IPB GELAR SEMINAR OBAT HEWAN INDONESIA
![]() |
| Foto bersama kegiatan seminar nasional obat hewan Indonesia oleh Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB. (Foto: Infovet/Sadarman) |
Divisi Farmakologi dan Toksikologi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), menyelenggarakan seminar nasional bertajuk “Obat Hewan Indonesia” untuk lebih dalam menggali informasi dan prospek industri obat hewan di Indonesia.
“Kita semua adalah calon dokter hewan yang kelak akan bersinggungan dengan obat hewan. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kita mengkaji bagaimana prospek bisnis obat hewan Indonesia ke depannya,” kata Ketua Pelaksana, Ilham Maulidandi Rahmandika, dalam sambutannya.
Menyambung sambutan ketua pelaksana, Ketua Divisi Farmakologi dan Toksikologi FKH IPB, Drh Huda S. Darusman, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. “Seminar ini adalah akhir dari kegiatan atau aktivitas mahasiswa di Divisi Farmakologi dan Toksikologi, sehingga dapat saya katakan bahwa seminar nasional ini adalah cinderamata dari Divisi Farmakologi dan Toksikologi, yang dikerjakan langsung oleh mahasiswa,” kata Huda.
Sementara Dekan FKH IPB, Prof Drh Srihadi Agungpriyono, yang didaulat menyambut dan membuka kegiatan ini menyebut bahwa menjadi mahasiswa FKH harus aktif, tidak hanya dalam perkuliahan namun juga dalam kegiatan internal dan eksternal kampus.
Menurutnya, pelaksanaan seminar ini penting diketahui para calon dokter hewan ke depannya. Mengingat peluang kerja dokter hewan sangat beragam dan semua itu didasarkan atas kecakapan intelektual dan kemampuan dari masing-masing individu.
“Dokter hewan itu harus mengerti obat, karena obat dapat menyembuhkan dan bahkan dapat menjadi penyebab kematian jika tidak digunakan sesuai dengan dosis dan aplikasinya,” ucap Srihadi.
Acara yang diselenggarakan di Auditorium Andi Hakim Nasution Sabtu (30/11/2019), menghadirkan pembicara utama Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan), Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, dan pembicara lain diantaranya Drh Ni Made Ria Isriyanthi, Drh Lusianingsih Winoto (PT SHS), Drh Ayu Berlianti, Drh Mukhlas Yasi Alamsyah, Drh Beni Halaludin dan Ir Suaedi Sunanto.
Dalam paparannya, Fadjar Sumping menyampaikan mengenai perkembangan obat hewan Indonesia. Menurutnya dalam bisnis obat hewan, Indonesia memiliki aturan sebagai landasan dalam membuat, mengedarkan dan menggunakan obat hewan untuk kepentingan penyembuhan penyakit hewan dan ternak. Diantara aturan tersebut, obat hewan yang dibuat dan disediakan untuk diedarkan harus memiliki nomor pendaftaran, diuji dan disertifikasi agar dapat digunakan di bawah pengawasan dokter hewan berwenang, terutama untuk obat keras. (Sadarman)
TIGA SISTEM APLIKASI DITJEN PKH MENANG LOMBA INOVASI TIK 2019
![]() |
| Momen Mentan memberikan penghargaan (Foto: Humas Kementan) |
SISCOBETI dan SIMREK Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian masing-masing mendapatkan peringkat II dan III kategori aplikasi layanan publik, sedangkan SIBETI mendapatkan peringkat III aplikasi layanan internal, Lomba Inovasi Teknologi informasi Komunikasi (TIK) 2019. Hal tersebut diumumkan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada saat Upacara Peringatan HUT KORPRI ke-48 di Kantor Pusat Kementan, Jakarta, 29 November 2019.
Menurut Nasrullah, Sekretaris Ditjen PKH, SIMREK PKH adalah layanan rekomendasi dan perizinan bidang peternakan dan kesehatan hewan sedangkan aplikasi SISCOBETI dan SIBETI merupakan layanan yang dibangun oleh Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, sebuah unit pelaksana teknis dibawah Ditjen PKH. Pengembangan aplikasi-aplikasi tersebut lanjutnya, bertujuan untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akurat serta mampu menjembatani pelayanan masyarakat.
“Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian terkait Pertanian Indonesia yang Maju, Mandiri dan Modern, Kami di Ditjen PKH berkomitmen untuk menjadi penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, efisien, dengan tolok ukur transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan melalui pemanfaatan teknologi,” ungkapnya.
Nasrullah kemudian menjelaskan bahwa SIMREK berbasis online untuk pelaku usaha peternakan yang membutuhkan berbagai surat rekomendasi, dalam bentuk dokumen perizinan seperti surat rekomendasi, surat persetujuan, dan surat keterangan terkait ekspor dan impor.
"Kami melayani 25 jenis izin rekomendasi yang bisa diajukan secara online, sehingga pemohon hanya perlu satu kali datang ke Kementan untuk validasi dokumen. Sistem ini terintegrasi dengan Indonesia National Single Window (INSW) di bawah naungan Kementerian Keuangan", ungkapnya.
Sementara itu, Kepala BET Cipelang, Oloan Parlindungan yang mendapatkan penghargaan E-Leadership Terbaik atas prestasinya dalam pemanfaatan inovasi teknologi dalam layanan BET pada Lomba Inovasi TIK 2019 ini menjelaskan bahwa aplikasi SISCOBETI dibangun untuk memudahkan seluruh stakeholder mendapatkan layanan yang ada di BET Cipelang secara online sehingga dapat diakses dimanapun dan kapanpun, sedangkan SIBETI merupakan aplikasi layanan internal adalah aplikasi internal BET Cipelang untuk memudahkan penanggung jawab kegiatan melakukan rekapitulasi dan analisis data teknis, sehingga pimpinan untuk mudah untuk me-monitor dan evaluasi kinerja balai. (Sumber: Rilis Kementan)
PASCA FREE AGP, KONSEKUENSI REGULASI DAN UPAYA MENJAGA PERFORMA AYAM DENGAN PAKAN TERAPI
| Penggunaan antibiotik dalam pakan masih diperbolehkan melalui pakan terapi yang penggunaannya harus sesuai aturan pemerintah. (Foto: Dok. Infovet) |
Kebijakan penggunaan antibiotik dalam dunia peternakan dua tahun terakhir ini benar-benar menjadi tema dan trending topik yang selalu seru untuk dikupas lebih rinci dan detail. Tidak hanya berdampak terhadap perubahan pola strategi dalam menyusun formula pakan, namun juga startegi tata cara pemeliharaan termasuk sistem biosekuritinya.
Zaman telah berubah, waktu berganti dan strategi untuk bisa bertahan hidup dengan efisiensi terbaikpun mengalami penyesuaian. Titik-tolak perubahan ini terjadi seiring dengan penegasan implementasi Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 14/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan pada bagian kelima. Kriteria obat hewan yang dilarang tercantum dalam Pasal 15 ayat 1. Kebijakan tersebut sesuai amanat Undang-Undang No. 18/2009 juncto No. 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Secara tersurat, esensi dari Permentan No. 14/2017 mengatur penggunaan antibiotik yang dicampur dalam pakan tidak lagi diperbolehkan. Kendati demikian, pencampuran antibitoik dalam pakan saat ini hanya boleh digunakan dengan resep dokter hewan dan dalam monitoring yang ekstra ketat. Berbeda dengan era sebelumnya dimana antibiotik masih diizinkan sebagai pemicu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor/AGP). Namun dengan adanya penegasan pemerintah terkait pelarangan penggunaan antibiotik, menjadi paradigma baru bagi industri peternakan khususnya untuk menyediakan produk-produk peternakan yang lebih ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).
Konsekuensi yang harus dihadapi dari hal tersebut terjadi tidak hanya di kalangan peternak, namun juga terjadi di semua stakeholder yang berhubungan dengan industri peternakan (feed mill, breeding farm, perusahaan obat hewan dan imbuhan pakan, perusahaan penyedia bahan baku pakan dan sebagainya). Sehingga tantangan kuman penyakit, baik virus ataupun bakteri harus disikapi dengan melakukan antisipasi lebih dini dan lebih serius dibandingkan sebelumnya. Jangan sampai bakteri menjadi kebal (resistant) terhadap berbagai jenis antibiotik, sehingga akan menjadi bom biologis yang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia.
Isu Resistensi Antimikroba (AMR/Antimicrobial Resistance)
Pada Juli 2014 silam pernah diadakan pertemuan global “The Review on Antimicrobial Resistance” dimana dari hasil pertemuan tersebut menyatakan bahwa kasus infeksi bakteri yang kebal/resisten terhadap antimikroba meningkat sangat signifikan. Di Eropa dan Amerika Serikat saja lebih dari 50.000 nyawa hilang tiap tahunnya karena kasus resistensi ini pada kejadian infeksi sekunder bakteri penyakit malaria, HIV/AIDS dan TBC.
Dari pertemuan itu juga para ahli memperkirakan jumlah korban meninggal secara global di seluruh dunia mencapai sedikitnya 700.000 setiap tahun. Pada 2050, jumlah ini diprediksi naik mencapai 10 juta orang, jauh lebih tinggi dibandingkan korban meninggal akibat kanker, diabetes, kecelakaan lalu lintas, kolera, tetanus, measles, diarea dan kolera.
Dari total jumlah tersebut, korban terbesar sekitar 4 juta orang dari Afrika dan Asia. Bahkan prediksi biaya kesehatan untuk mengatasi kasus resistensi ini mencapai hingga 100 triliun dolar AS per tahun. Selain itu resistensi antibiotik juga turut meningkatkan risiko kematian yang secara langsung berpengaruh pada menurunnya usia harapan hidup suatu negara.
• Konsekuensi di Kalangan Peternak
Terbukti semua peternak berbenah diri. Bagi para peternak yang mempunyai anggaran cukup, tidak tanggung-tanggung langsung menyulap kandangnya dari open house (kandang terbuka) menjadi semi closed house (tunel) bahkan full closed house (kandang tertutup) dengan evaporative cooling system.
Tantangan kuman dari luar bisa ditekan karena kandang dalam kondisi tertutup 24 jam, dimana hanya area inlet (tempat udara masuk) saja yang dibuka. Harapannya jumlah kontaminan bibit penyakit bisa di tekan seoptimal mungkin. Tidak hanya itu, di kalangan peternak yang masih menggunakan sistem kandang terbuka pun tidak mau kalah. Mereka mencari... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi November 2019.
Oleh: Drh Eko Prasetio
Private Commercial Broiler Farm Consultant
BUPATI BLORA TANDATANGANI KERJASAMA BIDANG PETERNAKAN DENGAN PT SURYA AGROPRATAMA
| Bupati Blora Djoko Nugroho |
Bupati Blora Djoko Nugroho menyambut baik peluncuran Program Kerjasama di Bidang Peternakan dengan Memberdayakan Peternakan Rakyat yang digelar di The Icon, Hotel Morrissey, Jakarta, Kamis (28/11/2019). Program kerjasama ini merupakan diwujudkan melalui penandatanganan kerjasama antara PT Surya Agropratama (PT SAP) dengan Infrabanx, LPPM IPB, serta PT SAP dengan Kabupaten Blora.
Kerjasama dengan Kabupaten Blora berupa implementasi kemitraan dengan peternakan rakyat di wilayah tersebut.
Djoko mengemukakan Kabupaten Blora memiliki masyarakat peternakan yang besar dan menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menjadi sentra pengembangan produksi sapi potong.
“Ada tiga jenis ternak yang diusahakan di Kabupaten Blora yaitu ternak besar, ternak kecil, dan unggas. Sapi potong merupakan jenis ternak besar terbanyak di di Kabupaten Blora,” kata Djoko.
Setiap tahunnya, lanjut Djoko, jumlah sapi yang tersebar di wilayah Kabupaten Blora terus mengalami peningkatan cukup bagus. Tidak heran, jika Blora dikenal banyak orang dengan sebutan “Lumbung Ternak di Jawa Tengah.”
Tahun 2019, jumlah sapi yang tersebar di semua wilayah Blora menembus angka 239.000 ekor. Sementara sebelumnya, di tahun 2017 jumlah sapi sebanyak 222.000 ekor, tahun 2018 sebanyak 231.000 ekor. (NDV)
PT SAP LUNCURKAN PROGRAM KERJASAMA PEMBERDAYAAN PETERNAKAN RAKYAT UNTUK SAPI POTONG
| Foto Bersama Setelah Penandatangan Kerjasama (Foto: NDV/Infovet) |
Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang digagas Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Prof Dr Muladno MSA, di tahun 2019 ini tercatat sebanyak 34 SPR-IPB yang telah dideklarasikan di 22 kabupaten di 10 provinsi. Perkembangan SPR yang pesat ini tak terlepas dari perwujudan kerjasama LPPM IPB dengan PT Surya Agropratama.
PT Surya Agropratama (SAP) adalah perusahaan agrobisnis yang memiliki peternakan sapi dan memproduksi susu segar yang berkomitmen untuk turut mensejahterakan peternakan rakyat.
| Bernardi Rahaju |
Untuk mewujudkannya, PT SAP membentuk struktur “konsorsium” guna mendukung peternakan rakyat yang terdiri dari pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, dan investor.
“Tujuan dari konsorsium ini untuk memberikan edukasi peternak rakyat menjadi kelompok peternak yang profesional, sekaligus mewujudkan kemitraan dalam rantai produksi yang teratur, sehingga secara keseluruhan rantai produksi sapi potong menjadi sustainable,” ungkap Bernardi Rahaju, Direktur PT Surya Agropratama dalam peluncuran Program Kerjasama di Bidang Peternakan Dengan Memberdayakan Peternakan Rakyat di Jakarta, (28/11/2019).
Pada acara peluncuran Program Kerjasama di Bidang Peternakan Dengan Memberdayakan Peternakan Rakyat turut hadir Darren S Dimoelyo, Direktur Utama PT Surya Jaya Abadi Perkasa (PT SJAP) sebagai Agriculture Sector Sponsor, Dr Ir Aji Hermawan MM selaku Kepala LPPM IPB, Prof Dr Muladno MSA Guru Besar Fakultas Peternakan IPB yang juga sebagai Penggagas Konsep Sekolah Peternakan Rakyat, serta Sebastian S Subba dari Master Agent Infrabanx INHC 103.
Penandatanganan kemitraan ini diwujudkan melalui penandatanganan beberapa kerjasama. Pertama, kerjasama antara Infrabanx dengan PT Surya Agro Pratama untuk pendanaan dan dukungan teknis investasi di bidang peternakan. Kedua, kerjasama antara PT SAP dengan LPPM IPB untuk Program Train of Trainers atas konsep SPR ke perguruan tinggi lainnya. Ketiga, kerjasama antara PT SAP dan Kabupaten Blora untuk implementasi kemitraan dengan peternakan rakyat di wilayah Kabupaten Blora. (NDV)
PT SUI GELAR PELATIHAN PEMELIHARAAN AYAM KUB DI NTT
![]() |
| Dr. Tike Sartika menjadi salah satu narasumber pelatihan (Foto : SUI) |
PT
Sumber Unggas Indonesia (SUI) selaku pembibit Ayam Kampung menggelar pelatihan
pemeliharaan Ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak), di Kupang dan Atambua, Nusa
Tenggara Timur. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 27 – 30 November
2019. Sekitar 70 orang peserta akan menghadiri pelatihan di Kupang dan 50 orang
lainnya di Atambua. Pelatihan tersebut sekaligus menjadi kegiatan introduksi Ayam
KUB kepada peternak di NTT.
Ayam
KUB sendiri merupakan Ayam Kampung asli Indonesia hasil seleksi Balai
Penelitian Ternak Ciawi. Ayam KUB dapat tumbuh seberat 0,9-1 kg dalam waktu 70
hari. Selain itu Ayam KUB juga berpotensi sebagai Ayam Kampung petelur dengan
produksi 160-180 butir perekor pertahun dengan puncak produksi mencapai 65-70%.
Denny
Natsir, Direktur Marketing & Sales PT SUI menuturkan bahwa kandungan
protein pada Ayam Kampung yang tinggi kiranya dapat menjadi dapat menjadi
alternatif bagi masalah stunting di
NTT. Selain itu ia juga berharap pelatihan ini juga dapat meningkatkan
kebutuhan protein hewani bagi masyarakat NTT.
“Harapannya
agar dari pelatihan ini muncul peternak – peternak Ayam Kampung mandiri baru di
NTT, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Target kita disini mudah –
mudahan dapat mendistribusikan 10.000 ekor DOC Ayam Kampung per minggu,” tukas
Denny.
PT
SUI sendiri baru memperoleh izin menjadi penetasan Ayam Kampung di NTT pada
tahun 2019. Meskipun begitu, PT SUI telah berpengalaman sejak 2011 sebagai
perusahaan yang bergerak di ayam asli Indonesia dari hulu hingga ke hilir.
Dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut, PT SUI bermitra dengan Australia-Indonesia
Partnership for Promoting Rural Incomes through Support for Markets in
Agriculture (PRISMA) dan Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dinas Peternakan dan
Kesehatan Hewan Kabupaten Belu. (SUI/CR)
BOGASARI LEPAS EKSPOR PAKAN TERNAK
![]() |
| Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat melepas ekspor komoditas pertanian (Foto: Kementan) |
PT Bogasari Flour Mills, anak usaha Indofood Sukses Makmur melepas ekspor wheat
bran pellet untuk pakan ternak sebanyak 7.700 ton ke Filipina dari pelabuhan
Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (27/11/2019). Nilai ekspor pellet tersebut
mencapai Rp 132 miliar. Pellet merupakan produk sampingan gandum.
Direktur
Indofood Sukses Makmur, Fransiscus Welirang, khusus tahun ini, total ekspor
produk pakan ternak oleh Bogasari ke Filipina sejak awal tahun hingga November
2019 telah mencapai 58 ribu ton atau senilai Rp 158 miliar. Adapun, total
ekspor pellet ke seluruh negara tujuan ekspor pellet pada periode yang sama
mencapai 273 ribu ton dengan nilai diperkirakan tembus Rp 726 miliar.
"Pellet
ini menjadi salah satu bahan baku pakan ternak, pasar kita di Asia Timur.
Selain Filipina, ada Jepang, Vietnam, Cina, Jepang, dan Korea. Timur Tengah
khususnya Arab Saudi juga sudah," kata Fransiscus dalam pelepasan ekspor
di Pelabuhan Tanjung Priok, Rabu (27/11/2019).
Ia
mengungkapkan, bahan baku pembuatan pellet untuk pakan ternak digunakan dari
dedak gandum. Adapun dedak gandum merupakan sisa dari proses pengolahan gandum
impor menjadi tepung terigu.
Gandum impor yang diolah itu, sebanyak 75 persen
menjadi tepung terigu dan sisanya, 25 persen yang menjadi dedak gandum
dijadikan pellet sehingga seluruhnya menjadi barang yang bernilai. (Sumber:
republika.co.id)
AKSI DAMAI PETERNAK AYAM DI KEMENDAG
![]() |
| Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri menerima peternak yang melakukan demonstrasi (Foto : CR) |
Dalam aksinya kali ini, PPRN meminta agar pemerintah menetapkan regulasi terkait harga acuan ayam hidup (live bird). Salah satu koordinator aksi, Parjuni mengatakan bahwa dengan adanya harga acuan yang jelas dan pasti maka dapat melegakan nafas peternak.
"Kalau sudah ada regulasinya nanti peternak bisa lebih untung, enggak kaya sekarang, harga sudah ada acuan, tapi masih disuruh tetap turun. Yang rugi kan jadi peternaknya lagi," tuturnya.
Ia melanjutkan, sebenarnya dalam Permendag No. 96 tahun 2018 harga acuan memang telah diatur, namun begitu masih ada yang harus diperbaiki.
"Di Permendag harga acuan live bird Rp. 18.000 - Rp. 20.000 perkilogram, untuk Pulau Jawa mungkin tidak ada masalah, namun rekan - rekan kami di Kalimantan misalnya, kan harga Sapronaknya juga berbeda (lebih mahal), makanya harga acuan itu harus diatur juga berdasarkan daerahnya," ungkap Parjuni.
Tuntutan lain yang disuarakan peternak yakni kestabilan harga bibit ayam umur sehari (DOC). Salah satu peserta aksi, Sugeng Wahyudi menuturkan bahwasanya saat ini acuan harga untuk DOC juga harus ditegaskan.
"Harga DOC kan variatif ya, tergantung perusahaan breeding, ada yang murah (Rp.3.000-an) sampai yang mahal (Rp.5.000-an), nah ini harus diatur juga dan kami mohon agar Kemendag ikut andil dalam hal ini.
Ia menambahkan bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi dan butuh campur tangan pemerintah untuk urusan perunggasan di hulu dan hilir. Karena menurut Sugeng, saat ini peternak rakyat yang selalu dirugikan dengan kondisi perunggasan yang carut - marut.
Aksi peternak ditanggapi oleh Sekretaris Direktorat Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra. Ia mengajak perwakilan peternak dari tiap daerah untuk masuk dan berdiskusi.
"Saya rasa tuntutan peternak ini logis, dan kami juga akan berusaha untuk mengakomodir semua tuntutan tersebut. Saya harap aksi ini tetap berjalan baik dan damai, yakinlah bahwa pemerintah ada untuk rakyat," tukasnya.
Kemudian sekitar 15 orang perwakilan peternak dari berbagai daerah berdiskusi dengan pihak Kemendag. Diskusi digelar secara tertutup bersama Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga. Hingga berita ini diturunkan, hasil diskusi masih belum diumumkan. (CR)
KEMENTAN DORONG PENGUSAHA DI LINGGA UNTUK EKSPOR TELUR ASIN KE SINGAPURA
![]() |
| Telur asin (Foto: Pexels) |
Nilai
impor Singapura di tahun 2018 untuk telur bebek mencapai 16,3 juta dolar AS. Peluang
besar ini harus ditangkap para pengusaha di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau
(Kepri).
Hal
tersebut disampaikan Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian
Pertanian (Kementan), Fini Murfiani di Biz Hotel Batam, Senin (25/11/2019) usai
hadir dalam acara “Temu Bisnis Sinergitas Antar Daerah Guna Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional”.
Lanjut Fini, Kementan mendorong pengusaha di Kabupaten Lingga untuk mengembangkan
peternakan bebek dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar telur bebek di Singapura.
Selain
letak geografis Lingga yang sangat menguntungkan karena berdekatan dengan
Singapura, menurut Fini, aktivitas di Lingga juga terbilang masih lengang. Kondisi
ini dinilai sangat mendukung untuk peternakan bebek, mengingat bebek termasuk
ternak yang mudah stres apabila mendengar suara bising yang berlebihan.
"Singapura
itu masuk dalam daftar lima besar sebagai negara pengimpor telur bebek di
dunia. Karena itu, pengusaha Lingga harus menangkap peluang pasar ini,"
kata Fini.
Menurut
Fini, nilai impor Singapura tahun 2018 untuk telur bebek yang masuk ke kategori
preserve (yang sudah diawetkan) atau cooked (dimasak) mencapai 16,3 juta
dolar AS.
Bahkan,
angka impor ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
"Ini
baru telur asin atau telur dalam keadaan preserve
(yang sudah diawetkan) dan telur yang sudah diolah atau dimasak,"
jelasnya.
Fini
melihat peluang pasar ekspor telur bebek dari bumi "Bunda Tanah
Melayu" itu cukup potensial karena berdekatan dengan Singapura.
Apalagi
selama ini, Singapura melakukan impor telur bebek dari Indonesia masih sangat
terbatas, tentunya hal ini membuka peluang besar untuk pengusaha di Lingga.
"Bahan
baku pakan banyak tersedia di Lingga. Jadi, tinggal menyiapkan pabrik
pengolahannya. Sehingga harga pakan bisa bersaing," paparnya.
Bupati
Lingga Alias Wello mengatakan cukup tertarik dengan informasi tersebut. Pria
yang akrab disapa Awe ini berjanji akan meminta Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan
Kabupaten Lingga untuk mendalami peluang pengembangan peternakan bebek yang
disarankan.
"Benar
apa yang dikatakan Bu Fini, kami punya bahan baku pakan yang melimpah. Sagu
kami banyak dan masih murah. Bahan pakan lainnya seperti dedak dan ikan, juga
sudah tersedia di sini," terang Awe usai berbincang dengan Direktur
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Kementerian Pertanian di Biz Hotel.
Awe
menambahkan, secepatnya akan mengumpulkan pengusaha Lingga agar peluang bisnis
ini cepat terealisasi di Lingga, sehingga selain penghasil Udang tambak
terbesar se-Kepri, Lingga juga merupakan pengekspor telur asin terbesar ke
Singapura. (Sumber: kompas.com)
ISPI PILIH 25 PESERTA UNTUK IKUTI PROGRAM PENYIAPAN SDM PETERNAKAN
![]() |
| Program pelatihan kerja untuk lulusan baru di bidang peternakan (Foto: Dok. ISPI) |
Guna
mempersiapkan kualitas sumber daya manusia peternakan di masa mendatang, Ikatan
Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) bekerjasama dengan Indonesia-Australia Partnership on Food Security in the Red Meat
and Cattle Sector (Partnership)
menyelenggarakan program pelatihan kerja untuk lulusan baru di bidang
peternakan.
Program
yang bertajuk “ISPI-Red Meat and Cattle
Partnership Internship Program for Fresh Graduate” ini diselenggarakan
pertama kalinya tahun 2019 ini dengan diikuti 25 orang sarjana peternakan
dengan pengalaman kerja maksimal 2 tahun yang berasal dari berbagai daerah di
Indonesia.
Peserta
terpilih dari sekitar 140 pendaftar yang berasal dari 32 universitas di seluruh
Indonesia melalui dua tahap seleksi, yaitu administrasi dan wawancara. Mereka
ditempatkan selama tiga bulan disembilan perusahaan yang bergerak dalam bidang
pembiakan sapi dan sapi potong seperti PT Citra Agro Buana Semesta, PT Astra
Menara Rachmat, PT Juang Jaya Abdi Alam, dan PT Buana Karya Bakti yang tersebar
di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Muhsin
Al Anas selaku Koordinator Program ISPI tersebut menyatakan bahwa program ini
bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan teknis lulusan program
studi peternakan terutama yang baru lulus (fresh
graduate), sehingga memiliki pemahaman mengenai proses bisnis di industri
peternakan secara nyata.
“Program
ini merupakan kontribusi ISPI dalam menyiapkan SDM Indonesia Unggul sesuai
dengan visi pembangunan Indonesia menuju negara maju 2045. Tidak hanya
mempersiapkan sarjana unggul yang siap kerja di industri peternakan, kerja sama
dengan Partnership ini diharapkan juga dapat meningkatkan daya saing dan
pemikiran-pemikiran inovatif para sarja ini dalam menyiapkan sektor peternakan
dalam revolusi industri 4.0 di Indonesia,” ungkap Muhsin. (AS)
ARTIKEL POPULER MINGGU INI
-
Cara Menghitung FCR Ayam Broiler. FCR adalah singkatan dari feed convertion ratio, yaitu konversi pakan terhadap daging. FCR digunakan untuk...
-
Di dunia ini terdapat beberapa jenis ayam terbesar di dunia. Baik dari segi tinggi badannya, ukuran badannya, maupun berat badannya. Di anta...
-
Foto bersama sebagian peserta Munas AMI. (Foto-foto: Dok. Gallus) Musyawarah Nasional (Munas) III Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI) secar...
-
Berikut ringkasan tema yang dibawakan oleh Dr Ir Sangley Randa, MSc. Pada webinar Campus Online AMI (Asosiasi Monogastrik Indonesia) "T...
-
Sumber: Balitbangtan Kementan Ayam KUB adalah ayam kampung galur (strain) baru, merupakan singkatan dari Ayam Kampung Unggul Balitbangtan. A...
-
Prof Dr Ismoyowati SPt MP, dari Unsoed, membawakan materi Mekanisme Kemitraan dalam Budidaya Ayam Broiler, dalam webinar Charoen Pokphand In...
-
Salah satu ciri telur asin yang berkualitas adalah bagian kuning telurnya yang tampak masir. (Foto: Istimewa) Bukan hanya cara menyimpannya,...
-
Para pembicara seminar. Dari kiri: Henrik Nielsen, Manmohan Singh, dan Prama Rangga Respati, yang dipandu oleh Agung Puji Haryanto. (Foto-fo...
-
Cara menjadi mitra JAPFA untuk kemitraan ayam pedaging adalah dengan melalui PT Ciomas Adisatwa, yang merupakan anak perusahaan dari PT JAPF...
-
Menyediakan bahan pangan, terutama sumber protein hewani yang berkualitas bagi penduduk Indonesia merupakan masalah yang tidak mudah. sem...














