-->

SELAMAT JALAN PROF SOERIPTO



In Memoriam

Prof Drh Soeripto MVsc PhD dikenal sebagai Peneliti Utama di lembaga penelitian Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET UI) Bogor telah wafat meninggalkan para teman sejawatnya para dokter hewan, yang tak habis pikir dan sangat terkejut di pagi hari tanggal 30 November 2020.

Soeripto sejatinya adalah dokter hewan lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1974. Meniti karier pertama sebenarnya di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kemudian melanjutkan studi S2-nya di Melbourne University Australia dalam bidang Patologi Veteriner selesai pada 1977.

Setelah menyelesaikan studi S2, Soeripto dikembalikan ke Balai Penelitian Ternak Bogor sebagai Veterinary Services. Bekerja beberapa saat di tempat itu, akhirnya ia memutuskan untuk meneruskan studi S3-nya di universitas yang sama. Kali ini dipilih bidang Bacteriology. Praktis beliau sesudah 5 tahun (masuk program PhD tahun 1982 dan selesai tahun 1987) menyelesaikan studi S3. Bidang yang ditekuninya adalah Bacteriology khususnya Mycoplasma.

Prestasi yang sangat luar biasa dari Soeripto menurut catatan dari lembar SDM Badan Litbang adalah menjadi penerima royalty dari Melbourne University sampai saat ini untuk pengembangan vaksin TS11 pencegahan CRD pada ayam yang beredar di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Hampir seluruh hidupnya didekasikan untuk penelitian. Terbukti ia telah menghasilkan 91 karya tulis, 47 dalam bentuk buku, 3 buah artikel makalah berbahasa inggris, 10 buah artikel berbahasa inggris, 16 buah makalah berbahasa Indonesia dan 15 artikel ilmiah populer majalah peternakan.

Per 1 Desember 2004, Soeripto meraih jabatan Jenjang Fungsional sebagai APU, Ahli Peneliti Utama bidang penyakit unggas.

Berkat segala prestasi dan ketekunannya sebagai peneliti, maka pada 11 Agustus 2009 lalu pemerintah memberikan Profesor Riset kepada Soeripto. Ini juga sebenarnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang jatuh sehari sesudahnya. Soeripto lahir pada 12 Agustus 1946. Judul orasi guru besarnya adalah “Teknologi Vaksin Mutan MTGS 11: Solusi Tepat Program Penyakit Menahun pada Ayam.”

Soeripto adalah sosok yang selalu gembira, optimis dan selalu siap membantu. Dari pengalaman Penulis yang pernah meneliti di Balai Penelitian Veteriner di tahun 1988, beliau sempat memberikan arahan bagaimana mengambil sampel penelitian ayam kampung secara proporsional untuk penyusunan tesis nantinya.

Pria berputra tiga orang dan dianugerahi enam orang cucu ini bersaudara 12 orang sebagai anak keempat warisan orang tua yang tergolong generasi baby boomers, banyak anak. Lulusan SMA Teladan 1 Yogyakarta, sebagai dokter hewan tak lupa menyenangi majalah peternakan dan kesehatan hewan semisal Infovet, Poultry Indonesia, Trobos, Cat&Dog seperti yang Soeripto tulis dalam akun Facebook-nya.

Soeripto resmi purna tugas pada 1 September 2011. Ia dianggap sebagai contoh seorang peneliti yang tekun sampai akhir hayatnya. Tidak menyangka secepat itu dan mendadak sakit di seputar perutnya. Sakit sebentar, dibawa ke RS Senior di Tajur dan langsung menghembuskan napas terakhirnya tanpa meninggalkan pesan apapun. Tentu keluarga terdekat paling merasakan kehilangan sosok seorang ayah, suami dan eyang bagi anak, isteri dan cucunya.

Tapi kita semua dokter hewan, khususnya para peneliti merasa kehilangan seorang tokoh inovatif di bidang vaksin unggas. Semoga akan terus bermunculan sosok Soeripto muda di kalangan veteriner yang terus berinovasi membangun sektor peternakan dan kesehatan hewan Indonesia. Selamat jalan prof, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. ***

Depok, 30 November 2020
M. Chairul Arifin

ITIK MASTER, BIBIT NIAGA PENGHASIL TELUR

Indonesia memiliki beragam itik unggul yang melalui seleksi untuk pemurnian dan pembentukan galur baru yang memiliki daya adaptasi, kecepatan tumbuh dan produktivitas yang lebih tinggi. (Sumber: bptu)

Krisis ekonomi global menjadikan perekonomian Indonesia terdampak akan hal tersebut. kejadian itu membuat masyarakat berpikir kembali kepada potensi yang dimiliki Indonesia yakni memanfaatkan sumber daya hayati atau sumber daya alam potensial untuk dikembangkan. Salah satunya ternak itik. Saat ini cukup banyak daerah- daerah yang sudah menjadi sentra produksi itik lokal dan menjadi usaha pokok masyarakat.

Potensi bahan pakan itik yang tersedia sepanjang tahun dengan harga relatif murah, menjadi salah satu alasan para peternak. Itik dapat diberi pakan berupa sisa atau hasil sampingan pertanian dan perikanan seperti dedak padi, bungkil kelapa, bungkil kedelai, polard, kepala udang atau tepung ikan. Bahan pakan tersebut tersedia hampir di seluruh Indonesia. Disamping itu, kemajuan teknologi menciptakan pakan konsentrat yang tambah memudahkan peternak menyediakan ransum itik yang efesien dan praktis.

Patut disyukuri pula karena Indonesia memiliki beragam itik unggul yang melalui seleksi untuk tujuan pemurnian dan pembentukan galur itik baru yang memiliki daya adaptasi, kecepatan tumbuh, produktivitas daging dan telur yang lebih tinggi.

Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Kementerian Pertanian yang berlokasi di Ciawi, Bogor, setelah melakukan penelitian bertahun-tahun, sukses menemukan “itik Master” persilangan antara parent stock Mojomaster-1 Agrinak (jantan) dan Alabimaster-1 Agrinak (betina).

Keterangan: 
- Penetapan Galur Itik Alabimaster-1 Agrinak : SK Mentan No. 360/Kpts/PK. 040/6/2015
- Penetapan Galur Itik Mojomaster-1 Agrinak : SK Mentan No. 361/Kpts/PK.040/6/2015

Bermula penelitian yang dilakukan para pakar itik Balitnak diarahkan pada evaluasi kemampuan produksi berbagai jenis itik lokal dan akhirnya diperoleh itik hibrida MA (Mojosari x Alabio) yang dinamakan itik Master. Itik ini diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan dan berpotensi sebagai bibit penghasil telur dengan sistem pengandangan.

Keunggulan
A. Keunggulan Biologis
Ada beberapa keunggulan biologis dari itik Master yang tidak selalu dimiliki jenis itik lainnya, yaitu:
• Identifikasi jenis kelamin pada saat menetas mudah sekali, hanya berdasarkan warna bulu, dimana DOD (day old duck) jantan berwarna lebih gelap daripada betina.
• Pertumbuhan DOD jantan lebih cepat, sehingga cocok untuk penggemukan sebagai itik potong.
• Warna bulu spesifik dan sangat seragam.
• Warna kulit telur seragam hijau kebiru-biruan.

B. Keunggulan Teknis
Keunggulan teknis yang sangat menunjang perolehan keuntungan beternak itik Master dapat dilihat sebagai berikut:

Karakteristik Produksi Itik Master
Uraian
Ukuran
Keterangan
Rata-rata Produksi Telur per Tahun (butir)
265
15% lebih tinggi
Puncak Produksi Telur (%)
94
10-15% lebih tinggi
Umur pertama bertelur (minggu)
18
4 minggu lebih awal
Masa Produksi Telur (bulan/siklus)
10-12
Tanpa rontok bulu
Rasio penggunaan pakan (FCR)
3,2
-
Tingkat Kematian (%)
≤ 1%
Sangat rendah
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

Rekomendasi Kebutuhan Gizi Pakan
Untuk menunjang keunggulan genetik itik Master, perlu dipenuhi kebutuhan gizi pakannya seperti pada tabel berikut:

Kebutuhan Gizi Pakan Itik Master
Kebutuhan Gizi
Anak Itik
(0-8 minggu)
Dara
(8-20 minggu)
Dewasa
(≥ 20 minggu)
Protein (%)
17-20
16
17-19
Energi (Kkal/Kg)
3.100
2.300
2.800
Kalsium (%)
0,60-10,10
0,60-10,10
2,90-3,25
Fosfor tersedia (%)
0,60
0,60
0,60
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

• Contoh Formulasi Pakan
Pakan yang diberikan dapat dibuat sendiri (self mixing) atau diperoleh dalam bentuk konsentrat yang dibeli dari toko pakan ternak. Selanjutnya dicampur dengan sumber energi (misalnya dedak dan jagung) untuk memenuhi kebutuhan gizi itik. Contoh formula pakan itik bisa dilihat sebagai berikut:

Formula Pakan Itik Master
Bahan Pakan
Jumlah (Kg)
Pakan starter ayam ras
77,50
Dedak halus/polard
13,00
Dikalsium phosfat
2,00
Kapur
5,00
Premiks
0,10
Minyak sayur
2,00
Methionine
0,25
Lysine
0,25
Total
100,10
Kandungan
Gizi
Protein kasar (%)
17,24
Serat kasar (%)
5,85
Energi metabolisme (Kkal/Kg)
2651
Total Ca (%)
3,41
Total P (%)
1,12
Sumber: Balitnak, Ciawi, Bogor (2016).

Pilihan Usaha
Pada usaha ternak itik yang produk akhirnya berupa telur, daging, maupun produksi telur tetas, DOD dan pembesaran (pengemukan). Peternak pemula bisa memilih salah satunya atau kombinasi dari usaha produksi ternak itik.

a. Produksi telur konsumsi
Dihasilkan oleh itik petelur tanpa pejantan yang memiliki pola produksi (dari awal sampai puncak produksi) 2 bulan, akan bertahan 2-3 bulan kemudian berangsur menurun 4-5 bulan, hingga ke titik terendah. Pola ini akan mempengaruhi perencanaan usaha, dimana peternak sebaiknya memasukan itik baya (siap bertelur) 2,5 bulan sebelum prediksi harga telur itik tinggi (bulan puasa/hari besar keagamaan) dengan sistem all in-all out. Sebagai contoh, target produksi puncak diharapkan  5.000 butir/hari dengan prosentase produksi 90%, maka jumlah itik yang harus dipelihara sebanyak 5.650 ekor sudah termasuk dengan prediksi kematian maksimal 1%. Sedangkan untuk melayani customer tetap yang minta disuplai rutin 5.000 butir/hari, maka sistem masuk itik baya dilakukan secara bertahap. Misalnya, dalam satu tahun peternak memasukkan empat tahap itik baya dengan rataan produksi telur 65%/tahun dan waktu pemeliharaan satu periode bertelur, sehingga itik yang dipelihara sejumlah 7.800 ekor dibagi empat tahap menjadi 1.970 ekor tiap tiga bulan sudah termasuk prediksi kematian maksimal 1%. Untuk mencapai target produksi tersebut harus ditunjang dengan manajemen yang baik, luas lahan tersedia, perkandangan, sarana prasarana, peralatan kerja, tenaga kerja, penyediaan obat-obatan dan air minum, serta perlengkapan administrasi.

b. Produksi itik potong
Pada umumnya usaha itik potong berupa pembesaran dari itik petelur jantan dalam waktu 6-8 minggu. Biasanya permintaan pasar ialah itik potong dengan bobot antara 1,2-1,6 kg untuk konsumsi restoran atau warung makan. Peternak menentukan target produksi itik potong terlebih dulu sesuai permintaan pasar/customer, misalnya sejumlah 1.400 ekor dengan bobot 1,4 kg dan prediksi pencapaian bobot badan 45 hari. Maka dibuat perencanaan semua faktor produksi untuk mencapai target dengan memasukan DOD jantan sejumlah 1.450 ekor sudah termasuk hitungan prediksi kematian maksimal 2% dan afkir 1,5%. Misalnya ada permintaan customer setiap hari disediakan 200 ekor itik potong dengan bobot 1,4 kg, maka harus tiap lima hari sekali memasukkan (5 x 200) + (3,5% x 1.000) = 1.035 ekor dengan perhitungan memasuki umur 41 hari mulai dipilih yang besar (bobot 1,4 kg) sebanyak 200 ekor, demikian seterusnya di keluarkan setiap hari, dan setelah 45 hari itik potong sudah habis seluruhnya. Dengan demikian peternak dapat menjaga kepercayaan  customer terhadap suplai yang rutin.

c. Produksi DOD
Usaha produksi DOD (penetasan) merupakan segmen pasar tersendiri, karena para penetas memperoleh telur tetas dari peternak pembibit, walaupun masih dalam ruang lingkup usaha peternakan itik. Peternak dalam hal ini perlu menentukan target produksi DOD yang ingin dicapai, misalkan sejumlah 4.000 ekor/dua hari, kemudian disusun rencana penetasan sesuai target dimana dibutuhkan telur tetas dengan daya tetas 70%, sehingga perlu tersedia telur tetas sejumlah 100/70 x 4.000 butir = 5.715 butir.

d. Produksi itik baya (siap bertelur)
Usaha ini merupakan usaha tersendiri, dimana peternak memelihara itik sampai umur lima bulan kemudian dijual ke peternak telur konsumsi. Bila ada permintaaan itik baya rutin sejumlah 6.000 ekor, maka tidak mungkin untuk memelihara dengan pola digembalakan, tetapi harus dikandangkan. Untuk memenuhi target tersebut perlu diprediksi kematian 3% dan seleksi/afkir 3%, sehingga diperlukan DOD sebanyak 6.000 x 1,06 = 6.360 ekor. (SA)

PT SUI GELAR PELATIHAN PEMELIHARAAN AYAM KUB DI NTT

Dr. Tike Sartika menjadi salah satu narasumber pelatihan (Foto : SUI)


PT Sumber Unggas Indonesia (SUI) selaku pembibit Ayam Kampung menggelar pelatihan pemeliharaan Ayam KUB (Kampung Unggul Balitnak), di Kupang dan Atambua, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut berlangsung pada tanggal 27 – 30 November 2019. Sekitar 70 orang peserta akan menghadiri pelatihan di Kupang dan 50 orang lainnya di Atambua. Pelatihan tersebut sekaligus menjadi kegiatan introduksi Ayam KUB kepada peternak di NTT.

Ayam KUB sendiri merupakan Ayam Kampung asli Indonesia hasil seleksi Balai Penelitian Ternak Ciawi. Ayam KUB dapat tumbuh seberat 0,9-1 kg dalam waktu 70 hari. Selain itu Ayam KUB juga berpotensi sebagai Ayam Kampung petelur dengan produksi 160-180 butir perekor pertahun dengan puncak produksi mencapai 65-70%.

Denny Natsir, Direktur Marketing & Sales PT SUI menuturkan bahwa kandungan protein pada Ayam Kampung yang tinggi kiranya dapat menjadi dapat menjadi alternatif bagi masalah stunting di NTT. Selain itu ia juga berharap pelatihan ini juga dapat meningkatkan kebutuhan protein hewani bagi masyarakat NTT.

“Harapannya agar dari pelatihan ini muncul peternak – peternak Ayam Kampung mandiri baru di NTT, sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Target kita disini mudah – mudahan dapat mendistribusikan 10.000 ekor DOC Ayam Kampung per minggu,” tukas Denny.

PT SUI sendiri baru memperoleh izin menjadi penetasan Ayam Kampung di NTT pada tahun 2019. Meskipun begitu, PT SUI telah berpengalaman sejak 2011 sebagai perusahaan yang bergerak di ayam asli Indonesia dari hulu hingga ke hilir.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, PT SUI bermitra dengan Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) dan Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Belu. (SUI/CR)


PPJTOH Tingkatkan Tanggung Jawab dan Profesionalitas Insan Veteriner

Foto bersama acara PPJTOH angkatan XVII 2018. (Foto: Infovet/Ridwan)

Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) kembali menyelenggarakan Pelatihan Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PPJTOH) angkatan XVII, pada 4-6 Desember 2018. Kegiatan dilakukan untuk meningkatkan peran dan tanggung jawab, serta profesionalitas para dokter hewan maupun apoteker yang bekerja di perusahaan obat hewan maupun pabrik pakan ternak sebagai penanggung jawab obat hewan.

“Diharapkan lewat pelatihan ini lahir insan-insan veteriner yang bertanggung jawab dan bermanfaat untuk sharing ilmu maupun informasi antar sesama peserta,” ujar Ketua Panitia yang juga Wakil Sekjen ASOHI, Drh Forlin Tinora dalam sambutannya, Selasa (4/11).

Sementara ditambahkan oleh Ketua Umum ASOHI, Drh Irawati Fari, tugas dan tanggung jawab dokter hewan maupun apoteker sudah diatur oleh pemerintah. Sebagai penanggung jawab obat hewan, para dokter hewan yang menjadi peserta dituntut mampu bersikap tegas terhadap penggunaan obat hewan ilegal sekaligus membantu pemerintah menjalankan regulasi obat hewan dengan baik dan benar.

“Melalui pelatihan ini semoga peserta mendapat pengetahuan yang cukup dan memadai. Harus paham aturan mengenai obat hewan dan bisa menerapkannya dengan baik,” tambah Ira.

Pada kesempatan serupa, Direktur Kesehatan Hewan, Drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa, turut mengapresiasi kegiatan tersebut. “Perlunya pelatihan ini agar para dokter hewan lebih memahami penggunaan obat keras, obat bebas maupun obat bebas terbatas dalam lingkup kerjanya. Sebab obat hewan itu seperti pedang bermata dua, satu sisi baik-satu sisi lagi tidak jika digunakan secara sembarangan. Karena itu sangat dibutuhkan adanya penanggung jawab obat hewan ini,” kata Fadjar.

Dengan adanya PJTOH di perusahaan obat atau pakan, maupun di peternakan, obat hewan dapat digunakan secara rasional. PJTOH memiliki peran untuk memilih apakah obat hewan yang akan digunakan adalah legal, memiliki nomor registrasi, terdapat ijin usaha obat hewan, serta mengerti syarat dan teknis penggunaan obat keras, obat bebas dan obat bebas terbatas sesuai aturan yang berlaku.

“Tanggung jawab PJTOH sangat besar perannya di perusahaan. Karena jika ada kendala, misal obat hewan ilegal saja, itu yang pertama dipanggil adalah PJTOH-nya terlebih dulu selain pimpinan perusahaannya,” kata Drh Erna Rahmawati dari Subdit POH (Pengawas Obat Hewan), yang menjadi narasumber pada acara tersebut.

Acara yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut ini juga dijadwalkan mengundang sederet narasumber lain yang kompeten dibidangnya, diantaranya Drh Ni Made Ria Isriyanthi (Kasubdit POH), Drs Zulkifli (Biro Hukum), Prof Budi Tangendjaja (Peneliti Balitnak), Ir Ossy Ponsania (Kasubdit Mutu dan Keamanan dan Pendaftaran Pakan), Prof Widya Asmara (Ketua Komisi Obat Hewan), Drh M. Munawaroh (Ketua PDHI), Drh Ketut Karuni Natih (tim CPOHB), Drh Widarto (Koordinator PPNS Ditjen PKH), M. Zahid (BBPMSOH).

Kemudian pada Kamis (6/11), peserta pelatihan dijadwalkan mengunjungi Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) untuk melihat proses pengujian dan sertifikasi obat hewan secara langsung didampingi Kepala BBPMSOH Drh Sri Murkantini bersama timnya. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer